LA POR AN

1

LAPORAN EKSPLORASI- 2011

BAB 1 PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Berdasarkan

hasil

penelitian

geologi terdahulu,

wilayah

Matarape

Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah termasuk salah satu daerah yang memiliki potensi nikel yang cukup besar. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan logam nikel di dunia yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, maka peluang bagi perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan untuk membuka areal penambangan nikel di daerah ini sangatlah besar. Berdasarkan surat keputusan Bupati Morowali dengan nomor 188.15/SK 0867/TAMBEN/07, PT. Fajar Matarape Mining yang berpusat di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara adalah salah satu perusahaan yang merencanakan melakukan eksplorasi dan eksploitasi bahan galian nikel di daerah tersebut, yang nantinya sangat berguna bagi masyarakat dalam hal menambah lapangan kerja baru dan juga meningkatkan pendapat masyarakat sekitar lokasi penambangan, oleh karena itu sebelum tahap penambangan, PT. Fajar Matarape Mining melakukan kegiatan eksplorasi guna mengetahui secara terukur kualitas dan cadangan nikel yang ada di Wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. 1.2 Maksud dan Tujuan

1
PT. FAJAR MATARAPE MINING

2
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

Penelitian eskplorasi nikel yang akan dilakukan di daerah ini dimaksudkan sebagai syarat yang harus dilakukan untuk bahan pengajuan memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP), dengan tujuan untuk mengetahui letak, bentuk, kualitas dan jumlah sumberdaya (cadangan) bahan galian Nikel (Ni) di wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah. 1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan Secara administratif daerah penyelidikan termasuk pada wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah dan secara geografis daerah ini dibatasi oleh titik koordinat seperti yang terlihat pada Tabel 1.1 dan Peta Lokasi (Gambar 1.1). Luas daerah penyelidikan sebesar 502 Ha. Tabel 1.1 Batas Wilayah Eksplorasi PT. Fajar Matarape Mining
Garis Bujur (BT) No.Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (BT) 122.299 122.319 122.319 122.314 122.314 122.311 122.311 122.310 122.310 (LS) -3.213 -3.213 -3.214 -3.231 -3.233 -3.233 -3.237 -3.237 -3.240 No.Titik 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Garis Lintang (LS) (BT) 122.308 122.308 122.307 122.307 122.306 122.306 122.305 122.305 122.99 (LS) -3.240 -3.242 -3.242 -3.245 -3.245 -3.247 -3.247 -3.226 -3.226

PT. FAJAR MATARAPE MINING

3
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

Gambar 1.1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan

1.4 Akses Daerah Penyelidikan Akses untuk menuju ke daerah penyelidikan dapat di tempuh melalui perjalanan darat maupun laut. Perjalanan darat melalui Kota Kendari (Sulawesi Tenggara) ke arah utara menuju Kabupaten Marowali (Sulawesi Tengah), tepatnya pada daerah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan. Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dengan waktu kurang lebih enam jam. Sedangkan untuk perjalanan laut dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih lima jam dari Kota Kendari.

PT. FAJAR MATARAPE MINING

4
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

1.5

Waktu, Pelaksana dan Peralatan Kegiatan eksplorasi ini dilaksanakan selama 1 bulan. Jadwal kegiatan

eksplorasi ini ditunjukkan pada Tabel 1.2 berikut : Tabel 1.2 Jadwal Kegiatan eksplorasi oleh PT. Fajar Matarape Mining
No 1 2 3 4 5 Testpit Analisis Laboratorium Analisis Data Terpadu Penyusunan laporan Kegiatan Pemetaan Geologi
Minggu -I Minggu- II Minggu- III Minggu- IV

Tenaga ahli yang dilibatkan pada pelaksanaan kegiatan eksplorasi ini terdiri dari : 1. Ketua Tim merangkap tenaga ahli geologi 3 orang 2. Tenaga Lokal 18 orang. Peralatan yang digunakan pada kegiatan eksplorasi ini terdiri dari : 1. GPS, kompas geologi, palu geologi dan loupe masing-masing 3 buah 2. Peta topografi skala 1 : 50.000 sebanyak 2 lembar 3. Pita ukur dan kamera masing-masing 3 buah 4. Kantong sampel, spidol permanen, buku lapangan dan alat tulis menulis seperti pensil, mistar, busur derajat, penghapus.

PT. FAJAR MATARAPE MINING

sosial ekonomi dan budaya penduduk setempat serta informasi rona awal lingkungan seperti iklim. FAJAR MATARAPE MINING .1° c dengan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 72-82 %.3 Iklim Daerah penyelidikan beriklim tropis basah dicirikan oleh Suhu udara untuk dataran tinggi berkisar antara 22. 2.1 Keadaan Lingkungan Kondisi umum daerah penyelidikan yang akan diuraikan di bawah ini meliputi kondisi topografi.2011 BAB 2 GEOGRAFI DAN GEOLOGI 2.8° dan di daerah dataran rendah berkisar 31. Rata-rata PT. 2. topografi.3° – 23. Ekonomi dan Budaya Penduduk yang bermukim di sekitar lokasi penyelidikan terdiri dari beberapa suku antara lain suku Tolaki. vegetasi dan tataguna lahan. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah penelitian yaitu sarana pendidikan berupa satu unit Sekolah Dasar (SD) dan sarana kesehatan terdapat satu unit posyandu pembantu serta sarana ibadah berupa mesjid. dan suku asli setempat yakni suku Bungku.1. Secara umum mata pencaharian mereka adalah merotan dan sebagian kecil berkebun jambu mete dan tanaman lainnya.2 Sosial. Bugis. Makassar.1.1 Geografi 2.1.5 5 LAPORAN EKSPLORASI.

6 LAPORAN EKSPLORASI. perbukitan terdapat pada bagian barat dan timur. FAJAR MATARAPE MINING .2 Geologi Regional 2. dkk.90° c. Pegunungan menempati bagian tengah dan barat lembar.2. kras dan dataran rendah (Rusmana.1 Geomorfologi Regional Secara regional daerah penyelidikan termasuk dalam lembar peta Lasusua – Kendari yang terletak pada lengan tenggara Pulau Sulawesi. Gambar 2. morfologi kras terdapat di Pegunungan PT.1° c. Morfologi lembar Lasusua – Kendari dapat dibedakan menjadi empat satuan yaitu pegunungan. sedangkan rata-rata suhu minimum terjadi pada bulan Juni 22. perbukitan. 1993). 2.1 Peta Geomorfologi daerah Lasusua-Kendari (data citra globalmaper).2011 suhu maksimum berkisar 32.

seperti Aalaa Kokapi. Batuan-batuan yang tersingkap di daerah kegiatan inventarisasi berumur mulai dari Paleozoikum sampai Kuarter.2011 Matarombeo dan di bagian hulu Sungai Waimenda serta Pulau Labengke. Daerah penelitian terdapat pada morfologi perbukitan dan dataran rendah. Puncak yang terdapat pada satuan perbukitan adalah Gunung Meluhu (517 meter) dan beberapa puncak lainnya yang tidak memiliki nama. Berdasarkan himpunan batuan dan pencirinya. Satuan perbukitan ini umumnya tersusun oleh batuan sedimen dengan ketinggian berkisar 75 – 750 meter diatas permukaan laut. serpentinit.. menurut E.2. basal. 2. Batuan yang terdapat di Lajur Tinodo yang merupakan batuan alas adalah batuan malihan Paleozoikum (Pzm) dan diduga berumur Karbon. sekala 1:250. dkk. dan Lajur Hialu oleh endapan kerak samudra/ofiolit. Pualam PT. geologi Lembar Lasusua – Kendari dapat dibedakan dalam dua lajur.000 ( Gambar 2.2 Stratigrafi Regional Stratigrafi regional sekitar daerah penyelidikan Secara umum termasuk Mandala Geologi Sulawesi Timur. Secara garis besar kedua mendala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo. Dataran rendah terdapat didaerah pantai dan sepanjang aliran sungai besar dan muaranya. Aalaa Konaweha dan Aalaa Lasolo. Rusmana. 1985). (Rusmana. sungai di daerah ini umumnya berpola aliran meranting (dendritik). yaitu Lajur Tinodo dan Lajur Hialu. Lajur Tinodo dicirikan oleh batuan endapan paparan benua. FAJAR MATARAPE MINING . yang dicirikan oleh himpunan batuan malihan.2). 1975). Sulawesi. (1993) pada Peta Geologi Lembar Lasusua – Kendari. gabro.7 LAPORAN EKSPLORASI. dkk. dan batuan sedimen pelagos Mesozoikum (Sukamto.

dunit dan serpentintit. Hubungan dengan Formasi Meluhu adalah menjemari. FAJAR MATARAPE MINING . Batuan sedimen PT. dan terdiri dari batugamping berlapis bersisipan rijang pada bagian bawahnya.secara tak selaras menindih Batuan Malihan Paleozoikum. harsburgit.2 Peta Geologi Regional Lembar Lasusua-Kendari Batuan yang terdapat di Lajur Hialu adalah batuan ofiolit (Ku) yang terdiri dari peridotit. Gambar 2. Batuan ofiolit ini tertindih tak selaras oleh Formasi Matano (Km) yang berumur Kapur Akhir. Pada zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala (TRJt). Pada kala Eosen hingga Miosen Tengah.8 LAPORAN EKSPLORASI.2011 Paleozoikum (Pzmm) menjemari dengan batuan malihan Paleozoikum terutama terdiri dari pualam dan batugamping terdaunkan. pada lajur ini terjadi pengendapan Formasi Salodik (Tems). Pada Permo -Trias di daerah ini diduga terjadi kegiatan magma yang menghasilkan terobosan antara lain aplit PTr (ga). Formasi Meluhu (TRJm) . yang menerobos batuan malihan Paleozoikum.

2. rawa dan pantai. FAJAR MATARAPE MINING . dicirikan dengan batuan asal paparan benua. Sesar Lasolo berarah baratlaut – tenggara. dkk. Sesar tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala Oligosen (Simandjuntak. menjadi dua bagian. Sesar Lasolo aktif hingga kini. lipatan dan kekar. Sesar dan kelurusan umumnya berarah baratlaut – tenggara searah dengan Sesar geser jurus mengiri Lasolo. dicirikan dengan batuan asal kerak samudera dan sebelah baratdaya sesar disebut Lajur Tinondo. yang kemudian diikuti oleh sesar bongkah. yaitu beranjaknya batuan ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga. Batuan termuda di lembar peta ini ialah Aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan sungai. yang bergerak ke arah barat. Sesar naik ditemukan di daerah Wawo. 2. Sebelah timurlaut sesar disebut Lajur Hialu.2011 tipe molasa berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal membentuk Formasi Pandua (Tmpp). yang menyebabkan terseserkannya Lajur Hialu di atas Lajur Tinondo.3 Struktur Geologi Regional Struktur geologi yang dijumpai di daerah kegiatan adalah sesar. sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo. PT. Formasi Meluhu dan Formasi Matano.. sesar mendatar menganan (dextral).9 LAPORAN EKSPLORASI. membagi Lembar Lasusua – Kendari. Formasi ini mendindih takselaras semua formasi yang lebih tua. baik di Lajur Tinodo maupun di Lajur Hialu. 1983). Pada Kala Plistosen Akhir terbentuk batugamping terumbu koral (Ql) dan Formasi Alangga (Opa) yang terdiri dari batupasir dan konglomerat. Pada Kala Miosen Tengah Lajur Hialu terdorong oleh benua kecil Banggai-Sula. Sesar Anggowala juga merupakan sesar utama. mempunyai arah baratlaut-tenggara. Jenis lipatan berupa lipatan antiklin.

2. Kekar pada batuan beku umumnya. 2. 1985). Foto 2. Kekar terdapat pada semua jenis batuan.2011 setempat di jumpai lipatan rebah dan lipatan sinklin. menunjukkan arah tak beraturan.2.10 LAPORAN EKSPLORASI. dimana pada pantai timur dan tenggara lembar dicirikan dengan undak-undak pantai dan sungai serta pertumbuhan koral.3 Geologi Daerah Penyelidikan 2.1 Geomorfologi Daerah Penyelidikan Geomorfologi daerah penyelidikan termasuk bentangalam bergelombang/miring landai (Van Zuidam. difoto ke arah Barat Laut. PT.3.1 Kenampakan bentangalam bergelombang/miring landai. Bentangalam ini dikontrol oleh proses denudasional dan leterisasi dengan arah penyebaran relatif meliputi bagian utara hingga selatan daerah penelitian. Pada Kala Miosen Akhir sampai Pliosen pengangkatan kembali berlangsung. pada batugamping kekar ini tampak teratur. FAJAR MATARAPE MINING . membentuk kelurusan. meliputi desa Matarape dan desa Dongala.

FAJAR MATARAPE MINING . Sungai permanen yaitu sungai yang tidak tergantung PT. (Foto 2. dengan kemiringan lereng 30o -60o . Kenampakan langsung di lapangan memperlihatkan kondisi kemiringan lereng yang landai membentuk plana kuda. Jenis pelapukannya berupa pelapukan kimia dan fisika. dimana pelapukan fisika ditandai dengan adanya peretakan-peretakan pada batuan penyusun daerah penelitian. Sementara pelapukan kimia ditandai dengan adanya perubahan warna batuan. Sungai yang mengalir pada satuan bentangalam ini adalah Sungai Lomboolaro yang arah alirannya relatif dari arah barat laut ke arah tenggara. Jenis sungainya berupa sungai permanen.2 Sungai Loboolaro yang memperlihatkan Kenampakan bentuk penampang dasar lembah menyerupai huruf “V” difoto rlatif kearah Tenggara.1). Proses yang bekerja pada satuan bentangalam ini adalah proses pelapukan pada batuan beku ultrabasa dan batuan sedimen lainnya.11 LAPORAN EKSPLORASI.2011 Relief berupa dataran bergelombang miring hingga landai. tetapi tidak terjadi perubahan komposisi batuan. Foto 2. yang semula berwarna putih keabu-abuan menjadi berwarna coklat dan kebiru-biruan.

dan keseragaman ciri fisik yang dapat diamati di lapangan yang meliputi jenis batuan. jenis batuan metamorf yakni slate. Stadia sungai pada satuan bentangalam ini yaitu berstadia remaja menjelang dewas (Foto 3. slate 4. sedangkan batuan sedimen terdiri dari konglomerat dan batulempung. Pola salurannya yang relatif bermeander atau berkelok dan profil lembah sungainya secara umum berbentuk “V”. maka daerah penelitian dibagi dalam empat (4) batuan tidak resmi. keseragaman ciri litologi.12 LAPORAN EKSPLORASI.2 Stratigrafi Daerah Penyelidikan Daerah penyelidikan tersusun oleh tiga jenis batuan yaitu batuan beku ultrabasa. Berdasarkan ciri litologinya. konglomerat 2. 2. Berdasarkan parameter di atas maka stadia daerah satuan bentangalam ini yaitu stadia dewasa. batulempung 3. posisi stratigrafi dan serta hubungan stratigrafi antar satuan batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia. batuan sedimen dan batuan metamorf.2011 musim.2. dominasi batuan. 1996). maka penamaan dan pembagian serta penentuan kelompok satuan batuan didasarkan atas litostratigrafi tidak resmi. FAJAR MATARAPE MINING . dengan urutan dari yang muda sampai yang tertua sebagai berikut : 1. Batuan beku ultrabasa terdiri dari dunit dan peridotit.2). Berdasarkan hal tersebut. peridotit Pembahasan dan uraian dari urutan satuan stratigrafi daerah penyelidikan dari tua ke muda adalah sebagai berikut : yaitu PT.

yang menempati kurang lebih sekitar 2. M. ganularitas faneritik.2. Satuan peridotit ini terdiri dari litologi pridotit dan dunit. 1922 dalam Alzwar.plagioklas dan garnierite. piroksin. FAJAR MATARAPE MINING .6) Foto 2.2011 2. struktur massive. Peridotit dijumpai di lapangan dengan ciri – ciri warna abu-abu kehitaman pada kondisi segar dan coklat pada kondisi lapuk.74 % dari luas keseluruhan daerah penyelidikan. kristalinitas holokristalin.3 Kenampakan Singkapan peridotit dengan Arah foto ke selatan. Berdasarkan klasifikasi batuan (Wentworth. komposisi mineral yaitu olivin. 1988 ) sehingga batuan ini dinamakan Peridotit (foto 2. PT. Penyebaran satuan ini relative dari arah timur laut– barat daya.2.095 Km2 atau sekitar 41.1 Peridotit Satuan peridotot di daerah penyelidikan. tekstur yang terdiri. dkk.13 LAPORAN EKSPLORASI.

Foto 2.2 Slate Satuan slate ini menempati sekitar 11. dkk. Penyebaran satuan ini relatif berada pada bagian utara barat laut Lithologi penyusun satuan ini meliputi slate. PT. 1955 ) (foto 3.28 % atau sekitar 566 Km2 dari keseluruhan lokasi penelitian. dengan cirri fisik dalam keadaan segar berwarna abu-abu kemerahan.2011 Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. maka satuan peridotit daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan peridotit pada formasi Batuan Ofiolit (Ku) yang berumur Perem . (Simanjuntak. Hubungan stratigrafi antara satuan peridotit dengan satuan slate yang ada di atasnya adalah tidak selaras. sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna merah kecoklatan.8).(Travis.2. komposisi material disusun oleh mineral lempung.2.14 LAPORAN EKSPLORASI. 1993).4 Kenampakan Singkapan Slate dengan Arah foto selatan barat daya. struktur batuan foliasi (salty cleavage). FAJAR MATARAPE MINING . tekstur kristoblastik. 2.

1993).48 % atau sekitar 175 Km2 dari luas keseluruhan daerah penyelidikan. maka satuan batulempung daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan batulempung pada Formasi Pandua (Tmpp) yang berumur Miosen dimana lingkungan pengendapannya adalah pada daerah laut dangkal.3 Batulempung Satuan batulempung di daerah penyelidikan. dkk.2011 Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. ukuran butir lempung. (Simanjuntak. Penyebaran satuan ini relative dari arah utara – selatan. maka satuan slate daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan slate pada Formasi Tokala (TJt) yang berumur Kapur dimana lingkungan pengendapannya adalah pada daerah laut dangkal. 1988 ) sehingga batuan ini dinamakan Batulempung (foto 2. tekstur klastik yang terdiri.2. Hubungan stratigrafi antara satuan slate dengan satuan batulempung yang ada di atasnya dan satuan peridotit yang ada di bawahnya adalah tidak selaras. struktur berlapis. FAJAR MATARAPE MINING .15 LAPORAN EKSPLORASI. Berdasarkan klasifikasi batuan sedimen klastik menurut (Wentworth. M. Batulempung dijumpai di lapangan dengan ciri – ciri warna putih kehijauan pada kondisi segar dan coklat muda pada kondisi lapuk. kemas tertutup. dkk. PT.2. sortasi baik. 2. dkk. (Simanjuntak. Satuan batulempung ini terdiri dari litologi batulempung. yang menempati kurang lebih sekitar 3. 1922 dalam Alzwar.5) Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. 1993).

1988). 1922 (dalam Alzwar.2011 Foto 2. tekstur piroklastik. M. dari keseluruhan lokasi penyelidikan. Berdasarkan klasifikasi Wentworth. 2.2.6) . sortasi jelek.50 %. FAJAR MATARAPE MINING . dkk. batuan ini dinamakan Konglomerat (foto 2.5 Kenampakan Singkapan batulempung dengan Arah foto ke timur. Satuan Konglomerat ini terdiri dari lithologi konglomerat dengan ciri – ciri warna kuning-kebiru-biruan pada kondisi segar dan coklat muda pada kondisi lapuk. Hubungan stratigrafi antara satuan batulempung dengan satuan konglomerat yang ada di atasnyan selaras dan satuan slate yang ada di bawahnya adalah tidak selaras. ukuran butir bongkah-pasir kasar. Penyebaran satuan ini relatif berada pada bagian utara dan memanjang hingga kearah selatan.184 Km2 atau sekitar 43. kemas terbuka. struktur tidak berlapis.2. PT.16 LAPORAN EKSPLORASI.4 Konglomerat Satuan konglomerat ini menempati sekitar 2.

6 Kenampakan Singkapan Konglomerat pada dengan Arah foto ke utara.2011 . FAJAR MATARAPE MINING .Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. (Simanjuntak. dkk. PT. Foto 2.17 LAPORAN EKSPLORASI. maka satuan konglomerat daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan konglomerat pada formasi Pandua (Tmpp) yang berumur Miosen dimana lingkungan pengendapannya adalah pada laut dangkal. Hubungan stratigrafi antara satuan koglomerat dengan satuan batulempung yang ada di bawahnya adalah selaras. 1993).

Penentuan struktur geologi tersebut didasarkan pada data-data yang diperoleh. dan mekanisme gaya yang menyebabkan terjadinya struktur pada suatu daerah.18 LAPORAN EKSPLORASI. baik yang bersifat primer maupun sekunder.2011 Gambar 2. FAJAR MATARAPE MINING .3 Struktur Geologi Daerah Penelitian Pembahasan mengenai struktur geologi daerah penyelidikan dapat memberikan gambaran tentang keberadaan pola struktur geologi.3 Peta Geologi Daerah Penyelidikan 2. PT.2. dan interpretasi pada peta topografi daerah penelitian.

kekar. breksi sesar. dan mata air. Berdasarkan hal tersebut maka struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian berupa struktur sesar yaitu.2 Sesar Naik Lomboolaro Penentuan struktur sesar naik Lomboolaro yang berkembang pada daerah penyelidikan dilakukan berdasarkan pada interpretasi peta topografi dan keterdapatan data di lapangan berupa bidang sesar. dan penjajaran mata air. 2. zona hancuran.19 LAPORAN EKSPLORASI. yang relatif memanjang arah selatan menenggara – utara barata laut. milonit. Sesar geser lomboolaro terletak pada bagian tengah daerah penyelidikan.2.1 Sesar Geser Lomboolaro Penentuan struktur sesar geser Lomboolaro yang berkembang pada daerah penyelidikan dilakukan berdasarkan pada interpretasi peta topografi dan keterdapatan data di lapangan berupa bidang sesar. drag fold. Sesar Naik Lomboolaro 2. breksi sesar.3. dijumpai adanya ciri-ciri struktur geologi seperti kedudukan batuan. milonit. 1.2011 Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang diperoleh selama tahapan penelitian di lapangan. konglomerat slate dan batulempung yang mengalami struktur regional yang berkembang pada daerah penelitian yakni berumur Perem. Penentuan umur pembentukan struktur geologi daerah penyelidikan didasarkan pada umur relatif batuan yaitu batuan beku.3. Jalur sesar ini melewati jalur sungai Lomboolaro. drag fold. Sesar Geser Lomboolaro 2. PT.2. FAJAR MATARAPE MINING . breksi sesar.

20 LAPORAN EKSPLORASI. PT. yang relatif memanjang arah barat daya – timur laut.2011 dan penjajaran mata air. Jalur sesar ini memotong jalur sungai Lomboolaro. FAJAR MATARAPE MINING . Penentuan umur pembentukan struktur geologi daerah penyelidikan didasarkan pada umur relatif batuan yakni batuan beku dan konglomerat dan mengalami struktur regional yang berkembang pada daerah penyelidikan yakni berumur Perem. Sesar naik lomboolaro terletak pada bagian tengah daerah penyelidikan.

Foto 3. FAJAR MATARAPE MINING .1 Metode Pemetaan Geologi Permukaan 21 PT.1 Metode pemetaan geologi permukaan Metode pemetaan geologi permukaan di daerah penyelidikan bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang susunan stratigrafi dan struktur geologi daerah penyelidikan serta memperoleh gambaran umum jenis litologi batuan pembawa unsur Ni. penyebaran dan kualitasnya secara megaskopis.2011 BAB III METODOLOGI DAN TAHAPAN PENYELIDIKAN 3.1 Metodologi Penyelidikan Metode yang digunakan pada penyelidikan eksplorasi ini terdiri atas dua jenis yakni metode pemetaan geologi permukaan (Surface Geological Mapping) dan metode sumur uji (test pit).21 LAPORAN EKSPLORASI. 3.1.

Data singkapan batuan pembawa unsur Ni dicatat dan di sampling untuk kemudian di lakukan uji laboratorium. Foto 3. selain melakukan pencacatan kondisin geologi setempat. juga melakukan sampling yaitu pengambilan sampel untuk mengetahui kondisi batuan atau kualitas laterit yang terdapat pada daerah tersebut. Pengambilan sampel dilapangan dilakukan dengan dua metode yakni pengambilan sampel scara trancing pada laterit yang tersingkap dengan ketebalan diats 3 meter.2 Metode Pengambilan Sampel dengan Trancing PT. Setiap pengambilan sampel laterit dilakukan secara kuartering untuk mendapatkan kualitas kadar yang merata.22 LAPORAN EKSPLORASI. Sedangkan metode yang kedua yaitu dengan pengambilan sampel laterit pada singkpan dipermukaan dengan mengali tanah sampai kedalaman (30-50) cm. Dalam melakukan pemetaan geologi permukaan. Pengeplotan lokasi singkapan batuan dilakukan dengan menggunakan alat GPS.2011 Data yang dihasilkan dari kegiatan ini sangat bermanfaat untuk penentuan lokasi titik bor dan sumur uji/parit uji. FAJAR MATARAPE MINING .

karakteristik variasi endapan secara vertical. serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling. PT.2011 3. Pada endapan berlapis.2 Metode Test pit Test pit (sumur uji) merupakan salah satu cara dalam pencarian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertical. variasi litologi atap dan lantai. pembuatan test pit atau sumur uji ditujukan untuk mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan. zona residual. 1. Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapan-endapan berlapis. ketebalan lapisan. Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau residual). variasi vertical masing-masing zona serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan. Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan endapan yang dicari. FAJAR MATARAPE MINING .1. Pada umumnya suatu deretan (series) sumur uji dibuat searah jurus sehingga pola endapan dapat di korelasikan dalam arah vertikal dan horisontal. Pembuatan sumur uji ini dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih (>4 m).23 LAPORAN EKSPLORASI. zona lateritik). pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas-batas zona lapisan (zona soil. ketebalan masingmasing zona. 2.

2011 Foto 3. FAJAR MATARAPE MINING . pengumpulan data-data sekunder berupa laporan hasil penelitian terdahulu dan persiapan peralatan yang dibutuhkan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Pada tahap ini dilakukan pengurusan administrasi seperti pengurusan izin eksplorasi ke pemerintah daerah setempat dalam hal ini ke pemerintah daerah Kabupaten Marowali.2 Tahapan Penyelidikan Beberapa tahapan yang harus dilakukan pada penyelidikan tahap awal antara lain : 3.24 LAPORAN EKSPLORASI.3 Metode Pembuatan Sumur Uji (Test Pit) 3.2. PT.1 Tahap persiapan Pada tahap ini di lakukan pengurusan berbagai macam keperluan untuk mempermudah kegiatan penyelidikan.

Pencatatan titik pengambilan conto batuan dengan menggunaka GPS (Global Positioning System) guna memperlancar dan mempermudah penentuan titik lokasi pada peta.2 Tahapan penyelidikan lapangan Pada tahapan ini dilakukan pengambilan data secara langsung di lapangan. Contoh data sekunder yang sangat dibutuhkan adalah peta topografi dan peta geologi regional.2011 3. data-data yang telah dikumpulkan kemudian di olah dan dianalisis untuk kemudian di jadikan rujukan dalam pembuatan peta geologi daerah penyelidikan serta untuk memberikan gambaran awal kondisi laterit di daerah tersebut.25 LAPORAN EKSPLORASI. dengan menyusuri puncak bukit. kondis geomorfologi. Sedangkan data primer adalah hasil dari PT. FAJAR MATARAPE MINING . Pengolaha data dilakukan dengan mengkorelasikan antara data primer maupun data sekunder. 3. Pada tahapan ini juga dilakukan pengambilan data sarana dan prasarana serta kondisi sosial budaya daerah setempat. menyusuri sungai dan lerenglereng bukit. Dalam pengambilan contoh batuan dilakukan secara detail dengan jarak kurang lebih 250 m antar singkapan. Setiap singkapan yang dijumpai dilapangan dilakukan penyamplingan sebagai conto batuan. punggung bukit. yang dimaksud data sekunder adalah jenis data yang suda ada sebelumnya dan membantu dalam pegolahan data sekunder yang diperoleh dari lapangan. melakukan pencatatan lapangan berupa pencacatan singkapan batuan.3 Tahapan pengolahan data Pada tahap ini. dan pencatatan struktur batuan.2.2.

Tahapa pengolahan data bagian dari analisis laboritoriu. TAHAP PENYELIDIKAN TAHAP PERSIAPAN .2.Pembuatan Peta Geologi TAHAP PENYUSUNAN LAPORAN - Gambar 3.Referensi .Uji Laboritorium .26 LAPORAN EKSPLORASI. pembuatan peta lintasan.1 Diagram Alir Tahapan Penyelidikan PT. FAJAR MATARAPE MINING .Trancing-Sampling .Alat & Bahan PENYELIDIKAN LAPANGAN .Test Pit (Uji Sumur) PENGOLAHAN DATA . 3.2011 pengambnilan data lapangan yang menjadi panduan pokok dalam menarik suatu kesimpulan tentang kondisi daerah penyelidikan. peta geologi daerah penyelidikan dan peta perencanaan pengeboran.Pembuatan Peta Lintasan .Pemetaan/Survey Geologi Permukaan . dan hasil akhir yang dicapai dari kegiatan eksplorasi serta merupakan pandangan/ pedoman untuk perencanaan kedepannya.Admnistrasi .4 Tahap pembuatan laporan Pada tahap ini bagian dari pelaporan tentang semua bentuk kegiatan yang dilakukan dilapangan.

5 Ha atau sekitar 41. Jenis batuan beku ultrabasa berupa peridotit yang terlaterisasi sekitar 209.48 % dan konglomerat dengan luas sekitar 218.1 Hasil Pemetaan Geologi (Geological Surface Mapping) Hasil pemetaan geologi yang dilakukan dilokasi penyelidikan.74 % Gambar 4. Sedangkan jenis batuan metamorf yaitu batu sabak (slate) dengan luas sekitar 56.4 Ha atau sekitar 43.27 27 LAPORAN EKSPLORASI. Daerah penyelidikan disusun oleh tiga jenis batuan diantaranya batuan sedimen. terdapat 52 stasiun (pada lampiran) dari luas keseluruhan daerah penyelidikan yaitu 502 Ha. Jenis batuan sedimen terdiri dari batulempung dengan luas sekitar 17.6 Ha atau sekitar 11. FAJAR MATARAPE MINING .5 Ha atau sekitar 3.2011 BAB IV Hasil dan Pembahasan 4. batuan metamorf dan batuan beku.50 %..28 %.1 Peta Blok Area Potensi Daerah Penyelidikan PT.

Blok 2 dan Blok 3.28 LAPORAN EKSPLORASI.74 %. Blok 1.1 Singkapan laterit yang terdapat pada blok satu. kemirimgan lereng rata-rata 25o-30o.1 Area Blok Satu Blok satu merupakan daerah prospek pertama dengan luas area blok adalah 79. Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni.1) berdsarkan letak prospek hasil survey geologi anatara lain.4 Ha atau sekitar 15. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai sasaran utama dalam melakukan eksplorasi lanjutan.2011 Luas keseluruhan singkapan laterit dibagi dalam tiga Blok (Gambar 4. PT. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. 4. FAJAR MATARAPE MINING . dan terdapat sungai kecil yang mengalir melewati kawasan blok tersebut. tataguna lahan berupa hutan. Blok ini terdapat pada bagian utara disisi bagian barat kawasan wilayah pertambangan. Foto 4.1. sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan.

2 Area Blok Dua Blok dua merupakan daerah prospek lanjutan dari blok satu dengan luas area blok adalah 96. tataguna lahan berupa hutan. Foto 4.2011 4.29 LAPORAN EKSPLORASI. sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan. Blok ini terdapat pada bagian utara disisi bagian timur kawasan wilayah pertambangan.1. Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni.45 %. dan terdapat sungai kecil yang mengalir disekitar kawasan blok tersebut yang berjarak sekitar 800 m dari batas blok dua. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai target kedua dalam melakukan eksplorasi lanjutan begitupun eksploitasi. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. FAJAR MATARAPE MINING . kemirimgan lereng rata-rata 15o-25o.2 Singkapan laterit yang terdapat pada blok dua PT.9 Ha atau sekitar 19.

tataguna lahan berupa hutan.1.2011 4.3 Area Blok Tiga Blok tiga merupakan daerah prospek lanjutan dari blok dua dengan luas area blok adalah 33.3 Singkapan laterit yang terdapat pada blok tiga. dan terdapat sungai kecil yang mengalir disekitar kawasan blok tersebut yang berjarak sekitar 700 m dari batas blok dua.2 Ha atau sekitar 6. FAJAR MATARAPE MINING . kemirimgan lereng rata-rata 25o-30o. Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni.55 %. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai target cadangan ketiga dalam melakukan eksplorasi lanjutan begitupun eksploitasi. Blok ini terdapat pada bagian selatan disisi bagian barat kawasan wilayah pertambangan. PT. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. Foto 4. sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan.30 LAPORAN EKSPLORASI.

2 Hasil Test Pit Hasil pemetaan geologi permukaan selain untuk menentukan luas daerah prospek. FAJAR MATARAPE MINING . juaga bagian dari penentuan titik pembuatan sumur uji (test pit). Berdsarkan kondisi geologi lapangan pembuatan sumur uji dilakuka pada setiap blok untuk mengetahui kemenerusan derajat kadar endapan nikel setiap kedalaman.31 LAPORAN EKSPLORASI.2 Peta Test Pit pada Daerah Penyelidikan PT.2011 4. Gambar 4.

1 Hasil Test Pit-01 Tespit satu (Tp-01) terdapat pada blok ketiga dengan titik kordinat (S3o13’50.542 0.9” dan E 122o18’22. bahwa setiap kedalaman permeter.080 0. pada garis merah yang merupakan unsure Ni.201 33.2 .1 ). 4. blok kedua terdapat dua tespit (Tp-02 & Tp-04) dan blok ketiga teradapat satu testpit (Tp-03) .64 0.681 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar unsure Ni megalami kenaikan.5”) dengan kedalaman sampai empat meter.364 33.49 0.627 0.71 0.32 LAPORAN EKSPLORASI.527 0. IOL Indonesia Kendari (Tabel 4. dapat dilihat pada (Gambar 4.060 1. pada blok pertama terdapat satu tespit (Tp-03) . sedangkan PT.2011 . Terdapat empat titik pembuatan testpit (Gambar 4.230 448 676 435 314 170 188 145 133 0. FAJAR MATARAPE MINING . Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsure Fe turun.209 29.3 Grhapic of grade & depth ratio).99 0.860 1. Berdasarkan hasil laboritorium PT.3 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 1.2) dan stiap blok terdapat tespit diantaranya. kandungan kadar Ni mengalami kenaikan.463 36. Tabel 4. dan sebaliknya kadar Fe mengalami penurunan.1 Data Kadar Test Pit 01 pada area Blok .

kandungan kadar Ni naik.4”) dengan kedalaman sampai empat meter.2 ).5” dan E122o18’45. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun. FAJAR MATARAPE MINING . Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsure Ni akan PT.2 Hasil Test Pit-02 Tespit dua (Tp-02) terdapat pada blok kedu dengan titik kordinat (S3o13’11. bahwa setiap kedalaman permeter. 4.33 LAPORAN EKSPLORASI. dan sebaliknya kadar Fe turun. Berdasarkan hasil laboritorium PT. Gambar 4.2.2011 garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe. IOL Indonesia Kendari (Tabel 4.3 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit satu.

380 0.580 535 1136 956 507 123 150 153 133 0.460 0. Tabel 4.34 LAPORAN EKSPLORASI. dapat dilihat pada (Gambar 4.400 0.4 Grhapic of grade & depth ratio).43 1.744 0.18 0.798 0.4 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit dua.435 Gambar 4.2011 naik dan unsur Fe turun.527 42. FAJAR MATARAPE MINING .985 41.460 0.80 0.19 0.369 31.2 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) 0. PT.734 41.2 Data Kadar Test Pit 02 pada area Blok .

35 LAPORAN EKSPLORASI.209 50. Berdasarkan hasil laboritorium PT.844 0. kandungan kadar Ni naik.229 46.628 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) PT.565 1.3 Hasil Test Pit-03 Tespit dua (Tp-03) terdapat pada blok pertama dengan titik kordinat (S3o13’22. bahwa setiap kedalaman permeter.633 48.2011 Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar. dapat dilihat pada (Gambar 4.970 0.13 0.11 0.11 0. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar unsure Ni megalami kenaikan.870 1.000 532 1206 1477 707 1855 1426 100 104 133 132 171 187 0.1 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 0.3 ).262 47.398 46.11 0.2.790 0. sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.5”dan E122o18’07.262 1.05 0. 4.3 Data Kadar Test Pit 03 pada area Blok .980 1. Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsur Fe turun.968 0. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun. FAJAR MATARAPE MINING . IOL Indonesia Kendari (Tabel 4.08 0. pada garis merah yang merupakan unsure Ni. Tabel 4.010 0.6”) dengan kedalaman sampai enam meter.5 Grhapic of grade & depth ratio).015 51.503 0. dan sebaliknya kadar Fe turun.

FAJAR MATARAPE MINING . semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun. pada garis merah yang merupakan unsure Ni.36 LAPORAN EKSPLORASI. PT. Gambar 4.5 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit tiga. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar Ni naik.2011 Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar. sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.

IOL Indonesia Kendari (Tabel 4. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun. bahwa setiap kedalaman permeter.612 38. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar Ni naik.78 0.116 37.627 0.410 38. kandungan kadar Ni naik.28 0.418 0.551 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsur kadar.480 0.51 0.550 593 903 678 618 119 139 141 120 0.643 0.4”) dengan kedalaman sampai empat meter.2.3 Data Kadar Test Pit 04 pada area Blok -2 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 0. Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsur Fe turun.4 Hasil Test Pit-04 Tespit dua (Tp-04) terdapat pada blok pertama dengan titik kordinat (S 3o13’03. Berdasarkan hasil laboritorium PT. dan sebaliknya kadar Fe turun.8” dan E122o18’35.390 0.28 0.741 38.2011 4.4 ). pada garis merah yang merupakan garis unsur Ni.410 0. sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe. FAJAR MATARAPE MINING . dapat dilihat pada (Gambar 4. PT.37 LAPORAN EKSPLORASI. Tabel 4.6 Grhapic of grade & depth ratio).

FAJAR MATARAPE MINING .2011 Gambar 4.6 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit empat.38 LAPORAN EKSPLORASI. PT.

Fajar Matarape Mining. misalnya kayu bantalan dan rotan. FAJAR MATARAPE MINING . dimana sebagian besar masyarakat mata pencaharianya bergantung terhadap hasil hutan. Sebagian besar 39 PT. menyebabkan penghasilan masyarakat daerah tersebut terancam. Masuknya perusahaan tambang dalam hal ini PT. Hadirnya perusahaan tambang pada daerah tersebut akan memberikan peluang kerja kepada masyarakata.1 Partisipasi masyarakat dalam kegiatan eksplorasi awal. dengan kondisi hasil hutan yang semakin berkurang akibat produksi besar-besaran oleh perusahaan. Foto 5. mendapat sambutan yang hangat dikalangan masyarakat.2011 BAB V TANGGAPAN MASYARAKAT Desa matarape merupakan desa terpencil yang berada di Kecamatan Kepulauan Manui Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa.39 LAPORAN EKSPLORASI.

PT. dalam sosialisasi tersebut sebagian besar masyarakat mendukung kehadiran perusahaan ini demi mengurangi tingkat pengangguran yang ada di desa Matarape maupun sekitarnya.2011 masyarakat desa Matarape menginginkan keberlanjutan kegiatan eksplorasi ini hingga samapai tahap eksploitasi. FAJAR MATARAPE MINING .40 LAPORAN EKSPLORASI. Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Kepala Desa Matarape pada tanggal 8 januari 2011.

dengan demikian perlu dilakukan eksplorasi detail untuk mengetahui kualitas dan kuantitas cadangan nikel yang terdapat pada daerah penyelidikan.  Pembangunan infrastruktur berupa basecamp. serta beberapa indikasi yang dijumpai dilapangan berupa mineral dan batuan pembawa unsure Ni.000 dengan interval kontur 10 meter  Pemboran detail dengan spasi 25 meter untuk mengetahui korelasi potensi cadangan endapan nikel. perbaikan jembatan. perencanaan akses pembutan jaty.41 LAPORAN EKSPLORASI. 41 PT. perbaikan jalan. FAJAR MATARAPE MINING .2011 BAB VI PERENCANAAN EKSPLORASI LANJUTAN Dari hasil pemetaan geologi permukaan dan hasil sumur uji (testpit) yang dilakukan.  Pemetaan topografi dengan sekala 1 : 10. Dalam perencanaan eksplorasi detail beberapa hal yang akan dilakukan diantaranya.

4. pengadaan fasilitas dan sarana prasana eksplorasi guna memperlancar pelaksanaan kegiatan eksplorasi. dan perlengkapan lainnya. olehnya itu kami dari Tiem Geologist merekomendasikan. Pengadaan kendaraan roda empat.42 LAPORAN EKSPLORASI. 1. guna memperlancar kegiatan eksplorasi. 42 PT. FAJAR MATARAPE MINING . menjadi pedoman untuk melanjutkan kegiatan eksplorasi.2011 BAB VII REKOMENDASI Kegiatan eksplorasi detail sangat menentukan kondisi kuantitas dan kualitas cadangan bahan galian nikel (Ni). Pengadaan alat-alat komunikasi lapangan. Adapun beberapa fasilitas dan sarana prasana yang harus diadakan yakni. 2. Kompas Geologi. Pengadaan alat-alat berat. 3. Pengadaan alat-alat geologist. Pengadaan sarana tempat (basecamp) bagi karyawan. Hasil eksplorasi awal daerah penyelidikan. 6. 5. berupa GPS. berupa drilling dan buldoser. Pengadaan fasilitas keamanan kerja (savety). palu geologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful