P. 1
Laporan Explorasi Daerah Matarape

Laporan Explorasi Daerah Matarape

|Views: 27|Likes:

More info:

Published by: Erwin Hutapea Sinaga on May 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1
  • 1. 1 Latar Belakang
  • 1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan
  • Tabel 1.1 Batas Wilayah Eksplorasi PT. Fajar Matarape Mining
  • 1.4 Akses Daerah Penyelidikan
  • 1.5 Waktu, Pelaksana dan Peralatan
  • BAB 2
  • GEOGRAFI DAN GEOLOGI
  • 2.1 Geografi
  • 2.1.1 Keadaan Lingkungan
  • 2.1.2 Sosial, Ekonomi dan Budaya
  • 2.1.3 Iklim
  • 2.2 Geologi Regional
  • 2.2.1 Geomorfologi Regional
  • 2.2.2 Stratigrafi Regional
  • 2.2.3 Struktur Geologi Regional
  • 2.2.3 Geologi Daerah Penyelidikan
  • 2.2.3.1 Geomorfologi Daerah Penyelidikan
  • 2.2.2 Stratigrafi Daerah Penyelidikan
  • Stratigrafi Indonesia, 1996)
  • 2.2.2.1 Peridotit
  • 2.2.2.2 Slate
  • 2.2.2.3 Batulempung
  • 2.2.2.4 Konglomerat
  • 2.2.3 Struktur Geologi Daerah Penelitian
  • 2.2.3.1 Sesar Geser Lomboolaro
  • 2.2.3.2 Sesar Naik Lomboolaro
  • BAB III
  • METODOLOGI DAN TAHAPAN PENYELIDIKAN
  • 3.1 Metodologi Penyelidikan
  • 3.1.1 Metode pemetaan geologi permukaan
  • 3.1.2 Metode Test pit
  • 3.2 Tahapan Penyelidikan
  • 3.2.1 Tahap persiapan
  • 3.2.2 Tahapan penyelidikan lapangan
  • 3.2.3 Tahapan pengolahan data
  • 3.2.4 Tahap pembuatan laporan
  • TAHAP PENYELIDIKAN
  • BAB IV
  • Hasil dan Pembahasan
  • 4.1 Hasil Pemetaan Geologi (Geological Surface Mapping)
  • 4.1.1 Area Blok Satu
  • 4.1.2 Area Blok Dua
  • 4.1.3 Area Blok Tiga
  • 4.2 Hasil Test Pit
  • 4.2 .1 Hasil Test Pit-01
  • 4.2.2 Hasil Test Pit-02
  • 4.2.3 Hasil Test Pit-03
  • 4.2.4 Hasil Test Pit-04
  • BAB V
  • TANGGAPAN MASYARAKAT
  • BAB VI
  • PERENCANAAN EKSPLORASI LANJUTAN
  • BAB VII

LA POR AN

1

LAPORAN EKSPLORASI- 2011

BAB 1 PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Berdasarkan

hasil

penelitian

geologi terdahulu,

wilayah

Matarape

Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah termasuk salah satu daerah yang memiliki potensi nikel yang cukup besar. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan logam nikel di dunia yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, maka peluang bagi perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan untuk membuka areal penambangan nikel di daerah ini sangatlah besar. Berdasarkan surat keputusan Bupati Morowali dengan nomor 188.15/SK 0867/TAMBEN/07, PT. Fajar Matarape Mining yang berpusat di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara adalah salah satu perusahaan yang merencanakan melakukan eksplorasi dan eksploitasi bahan galian nikel di daerah tersebut, yang nantinya sangat berguna bagi masyarakat dalam hal menambah lapangan kerja baru dan juga meningkatkan pendapat masyarakat sekitar lokasi penambangan, oleh karena itu sebelum tahap penambangan, PT. Fajar Matarape Mining melakukan kegiatan eksplorasi guna mengetahui secara terukur kualitas dan cadangan nikel yang ada di Wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. 1.2 Maksud dan Tujuan

1
PT. FAJAR MATARAPE MINING

2
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

Penelitian eskplorasi nikel yang akan dilakukan di daerah ini dimaksudkan sebagai syarat yang harus dilakukan untuk bahan pengajuan memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP), dengan tujuan untuk mengetahui letak, bentuk, kualitas dan jumlah sumberdaya (cadangan) bahan galian Nikel (Ni) di wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah. 1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan Secara administratif daerah penyelidikan termasuk pada wilayah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah dan secara geografis daerah ini dibatasi oleh titik koordinat seperti yang terlihat pada Tabel 1.1 dan Peta Lokasi (Gambar 1.1). Luas daerah penyelidikan sebesar 502 Ha. Tabel 1.1 Batas Wilayah Eksplorasi PT. Fajar Matarape Mining
Garis Bujur (BT) No.Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (BT) 122.299 122.319 122.319 122.314 122.314 122.311 122.311 122.310 122.310 (LS) -3.213 -3.213 -3.214 -3.231 -3.233 -3.233 -3.237 -3.237 -3.240 No.Titik 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Garis Lintang (LS) (BT) 122.308 122.308 122.307 122.307 122.306 122.306 122.305 122.305 122.99 (LS) -3.240 -3.242 -3.242 -3.245 -3.245 -3.247 -3.247 -3.226 -3.226

PT. FAJAR MATARAPE MINING

3
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

Gambar 1.1 Peta Lokasi Daerah Penyelidikan

1.4 Akses Daerah Penyelidikan Akses untuk menuju ke daerah penyelidikan dapat di tempuh melalui perjalanan darat maupun laut. Perjalanan darat melalui Kota Kendari (Sulawesi Tenggara) ke arah utara menuju Kabupaten Marowali (Sulawesi Tengah), tepatnya pada daerah Desa Matarape Kecamatan Menui Kepulauan. Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dengan waktu kurang lebih enam jam. Sedangkan untuk perjalanan laut dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih lima jam dari Kota Kendari.

PT. FAJAR MATARAPE MINING

4
LAPORAN EKSPLORASI- 2011

1.5

Waktu, Pelaksana dan Peralatan Kegiatan eksplorasi ini dilaksanakan selama 1 bulan. Jadwal kegiatan

eksplorasi ini ditunjukkan pada Tabel 1.2 berikut : Tabel 1.2 Jadwal Kegiatan eksplorasi oleh PT. Fajar Matarape Mining
No 1 2 3 4 5 Testpit Analisis Laboratorium Analisis Data Terpadu Penyusunan laporan Kegiatan Pemetaan Geologi
Minggu -I Minggu- II Minggu- III Minggu- IV

Tenaga ahli yang dilibatkan pada pelaksanaan kegiatan eksplorasi ini terdiri dari : 1. Ketua Tim merangkap tenaga ahli geologi 3 orang 2. Tenaga Lokal 18 orang. Peralatan yang digunakan pada kegiatan eksplorasi ini terdiri dari : 1. GPS, kompas geologi, palu geologi dan loupe masing-masing 3 buah 2. Peta topografi skala 1 : 50.000 sebanyak 2 lembar 3. Pita ukur dan kamera masing-masing 3 buah 4. Kantong sampel, spidol permanen, buku lapangan dan alat tulis menulis seperti pensil, mistar, busur derajat, penghapus.

PT. FAJAR MATARAPE MINING

vegetasi dan tataguna lahan. Secara umum mata pencaharian mereka adalah merotan dan sebagian kecil berkebun jambu mete dan tanaman lainnya.3° – 23.5 5 LAPORAN EKSPLORASI.1. 2.8° dan di daerah dataran rendah berkisar 31. sosial ekonomi dan budaya penduduk setempat serta informasi rona awal lingkungan seperti iklim. 2. Ekonomi dan Budaya Penduduk yang bermukim di sekitar lokasi penyelidikan terdiri dari beberapa suku antara lain suku Tolaki.3 Iklim Daerah penyelidikan beriklim tropis basah dicirikan oleh Suhu udara untuk dataran tinggi berkisar antara 22. dan suku asli setempat yakni suku Bungku. FAJAR MATARAPE MINING .1 Geografi 2.1 Keadaan Lingkungan Kondisi umum daerah penyelidikan yang akan diuraikan di bawah ini meliputi kondisi topografi.2011 BAB 2 GEOGRAFI DAN GEOLOGI 2. Bugis.1. Makassar. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah penelitian yaitu sarana pendidikan berupa satu unit Sekolah Dasar (SD) dan sarana kesehatan terdapat satu unit posyandu pembantu serta sarana ibadah berupa mesjid.1° c dengan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 72-82 %. topografi. Rata-rata PT.2 Sosial.1.

2. 2. Gambar 2. Pegunungan menempati bagian tengah dan barat lembar.1° c.1 Geomorfologi Regional Secara regional daerah penyelidikan termasuk dalam lembar peta Lasusua – Kendari yang terletak pada lengan tenggara Pulau Sulawesi. 1993). Morfologi lembar Lasusua – Kendari dapat dibedakan menjadi empat satuan yaitu pegunungan.90° c.1 Peta Geomorfologi daerah Lasusua-Kendari (data citra globalmaper). perbukitan terdapat pada bagian barat dan timur. sedangkan rata-rata suhu minimum terjadi pada bulan Juni 22.6 LAPORAN EKSPLORASI. perbukitan. dkk.2 Geologi Regional 2. morfologi kras terdapat di Pegunungan PT. FAJAR MATARAPE MINING . kras dan dataran rendah (Rusmana.2011 suhu maksimum berkisar 32.

sekala 1:250. yang dicirikan oleh himpunan batuan malihan. Rusmana. Aalaa Konaweha dan Aalaa Lasolo.2 Stratigrafi Regional Stratigrafi regional sekitar daerah penyelidikan Secara umum termasuk Mandala Geologi Sulawesi Timur.000 ( Gambar 2. Batuan yang terdapat di Lajur Tinodo yang merupakan batuan alas adalah batuan malihan Paleozoikum (Pzm) dan diduga berumur Karbon.2. dan Lajur Hialu oleh endapan kerak samudra/ofiolit.2). yaitu Lajur Tinodo dan Lajur Hialu.2011 Matarombeo dan di bagian hulu Sungai Waimenda serta Pulau Labengke.7 LAPORAN EKSPLORASI. Berdasarkan himpunan batuan dan pencirinya. basal. Sulawesi. dkk. Secara garis besar kedua mendala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo.. 1975). Batuan-batuan yang tersingkap di daerah kegiatan inventarisasi berumur mulai dari Paleozoikum sampai Kuarter. sungai di daerah ini umumnya berpola aliran meranting (dendritik). serpentinit. Daerah penelitian terdapat pada morfologi perbukitan dan dataran rendah. (1993) pada Peta Geologi Lembar Lasusua – Kendari. menurut E. 2. Dataran rendah terdapat didaerah pantai dan sepanjang aliran sungai besar dan muaranya. seperti Aalaa Kokapi. gabro. geologi Lembar Lasusua – Kendari dapat dibedakan dalam dua lajur. dkk. Lajur Tinodo dicirikan oleh batuan endapan paparan benua. Puncak yang terdapat pada satuan perbukitan adalah Gunung Meluhu (517 meter) dan beberapa puncak lainnya yang tidak memiliki nama. Pualam PT. 1985). Satuan perbukitan ini umumnya tersusun oleh batuan sedimen dengan ketinggian berkisar 75 – 750 meter diatas permukaan laut. (Rusmana. dan batuan sedimen pelagos Mesozoikum (Sukamto. FAJAR MATARAPE MINING .

Pada kala Eosen hingga Miosen Tengah. FAJAR MATARAPE MINING . Pada Permo -Trias di daerah ini diduga terjadi kegiatan magma yang menghasilkan terobosan antara lain aplit PTr (ga). harsburgit. pada lajur ini terjadi pengendapan Formasi Salodik (Tems). yang menerobos batuan malihan Paleozoikum.8 LAPORAN EKSPLORASI. Gambar 2. Hubungan dengan Formasi Meluhu adalah menjemari. dunit dan serpentintit. Batuan ofiolit ini tertindih tak selaras oleh Formasi Matano (Km) yang berumur Kapur Akhir. Formasi Meluhu (TRJm) .2 Peta Geologi Regional Lembar Lasusua-Kendari Batuan yang terdapat di Lajur Hialu adalah batuan ofiolit (Ku) yang terdiri dari peridotit.2011 Paleozoikum (Pzmm) menjemari dengan batuan malihan Paleozoikum terutama terdiri dari pualam dan batugamping terdaunkan.secara tak selaras menindih Batuan Malihan Paleozoikum. Pada zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala (TRJt). dan terdiri dari batugamping berlapis bersisipan rijang pada bagian bawahnya. Batuan sedimen PT.

Pada Kala Plistosen Akhir terbentuk batugamping terumbu koral (Ql) dan Formasi Alangga (Opa) yang terdiri dari batupasir dan konglomerat. Sesar Lasolo aktif hingga kini. Sesar tersebut diduga ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala Oligosen (Simandjuntak.. baik di Lajur Tinodo maupun di Lajur Hialu. Formasi Meluhu dan Formasi Matano. dicirikan dengan batuan asal paparan benua. mempunyai arah baratlaut-tenggara. membagi Lembar Lasusua – Kendari. Formasi ini mendindih takselaras semua formasi yang lebih tua.3 Struktur Geologi Regional Struktur geologi yang dijumpai di daerah kegiatan adalah sesar. sebelah barat Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo. Sesar Lasolo berarah baratlaut – tenggara. Sebelah timurlaut sesar disebut Lajur Hialu. 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo.9 LAPORAN EKSPLORASI. dicirikan dengan batuan asal kerak samudera dan sebelah baratdaya sesar disebut Lajur Tinondo. yang kemudian diikuti oleh sesar bongkah. Pada Kala Miosen Tengah Lajur Hialu terdorong oleh benua kecil Banggai-Sula. dkk. menjadi dua bagian. yaitu beranjaknya batuan ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga. Jenis lipatan berupa lipatan antiklin. FAJAR MATARAPE MINING . PT. 2.2. yang bergerak ke arah barat.2011 tipe molasa berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal membentuk Formasi Pandua (Tmpp). Sesar Anggowala juga merupakan sesar utama. rawa dan pantai. sesar mendatar menganan (dextral). Sesar dan kelurusan umumnya berarah baratlaut – tenggara searah dengan Sesar geser jurus mengiri Lasolo. yang menyebabkan terseserkannya Lajur Hialu di atas Lajur Tinondo. lipatan dan kekar. Batuan termuda di lembar peta ini ialah Aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan sungai.

2. difoto ke arah Barat Laut.1 Kenampakan bentangalam bergelombang/miring landai.10 LAPORAN EKSPLORASI. membentuk kelurusan. Bentangalam ini dikontrol oleh proses denudasional dan leterisasi dengan arah penyebaran relatif meliputi bagian utara hingga selatan daerah penelitian. Pada Kala Miosen Akhir sampai Pliosen pengangkatan kembali berlangsung. PT. menunjukkan arah tak beraturan. Foto 2.3. meliputi desa Matarape dan desa Dongala. FAJAR MATARAPE MINING .1 Geomorfologi Daerah Penyelidikan Geomorfologi daerah penyelidikan termasuk bentangalam bergelombang/miring landai (Van Zuidam. pada batugamping kekar ini tampak teratur. Kekar pada batuan beku umumnya. dimana pada pantai timur dan tenggara lembar dicirikan dengan undak-undak pantai dan sungai serta pertumbuhan koral.2011 setempat di jumpai lipatan rebah dan lipatan sinklin.3 Geologi Daerah Penyelidikan 2.2. Kekar terdapat pada semua jenis batuan. 2. 1985).

2011 Relief berupa dataran bergelombang miring hingga landai. dimana pelapukan fisika ditandai dengan adanya peretakan-peretakan pada batuan penyusun daerah penelitian. (Foto 2. Sungai permanen yaitu sungai yang tidak tergantung PT. Jenis sungainya berupa sungai permanen. Sementara pelapukan kimia ditandai dengan adanya perubahan warna batuan. Sungai yang mengalir pada satuan bentangalam ini adalah Sungai Lomboolaro yang arah alirannya relatif dari arah barat laut ke arah tenggara. FAJAR MATARAPE MINING . Proses yang bekerja pada satuan bentangalam ini adalah proses pelapukan pada batuan beku ultrabasa dan batuan sedimen lainnya. tetapi tidak terjadi perubahan komposisi batuan.11 LAPORAN EKSPLORASI. Jenis pelapukannya berupa pelapukan kimia dan fisika.1).2 Sungai Loboolaro yang memperlihatkan Kenampakan bentuk penampang dasar lembah menyerupai huruf “V” difoto rlatif kearah Tenggara. Foto 2. Kenampakan langsung di lapangan memperlihatkan kondisi kemiringan lereng yang landai membentuk plana kuda. dengan kemiringan lereng 30o -60o . yang semula berwarna putih keabu-abuan menjadi berwarna coklat dan kebiru-biruan.

2).12 LAPORAN EKSPLORASI.2 Stratigrafi Daerah Penyelidikan Daerah penyelidikan tersusun oleh tiga jenis batuan yaitu batuan beku ultrabasa. FAJAR MATARAPE MINING . Stadia sungai pada satuan bentangalam ini yaitu berstadia remaja menjelang dewas (Foto 3. peridotit Pembahasan dan uraian dari urutan satuan stratigrafi daerah penyelidikan dari tua ke muda adalah sebagai berikut : yaitu PT. dan keseragaman ciri fisik yang dapat diamati di lapangan yang meliputi jenis batuan. konglomerat 2.2011 musim. maka penamaan dan pembagian serta penentuan kelompok satuan batuan didasarkan atas litostratigrafi tidak resmi. 1996). Batuan beku ultrabasa terdiri dari dunit dan peridotit. Berdasarkan parameter di atas maka stadia daerah satuan bentangalam ini yaitu stadia dewasa. dengan urutan dari yang muda sampai yang tertua sebagai berikut : 1. batulempung 3. batuan sedimen dan batuan metamorf. maka daerah penelitian dibagi dalam empat (4) batuan tidak resmi. dominasi batuan. keseragaman ciri litologi. Berdasarkan hal tersebut. Pola salurannya yang relatif bermeander atau berkelok dan profil lembah sungainya secara umum berbentuk “V”. Berdasarkan ciri litologinya. jenis batuan metamorf yakni slate. 2. slate 4.2. posisi stratigrafi dan serta hubungan stratigrafi antar satuan batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia. sedangkan batuan sedimen terdiri dari konglomerat dan batulempung.

ganularitas faneritik. kristalinitas holokristalin. Satuan peridotit ini terdiri dari litologi pridotit dan dunit.2.2.74 % dari luas keseluruhan daerah penyelidikan. komposisi mineral yaitu olivin. yang menempati kurang lebih sekitar 2.2011 2. Peridotit dijumpai di lapangan dengan ciri – ciri warna abu-abu kehitaman pada kondisi segar dan coklat pada kondisi lapuk.6) Foto 2. Penyebaran satuan ini relative dari arah timur laut– barat daya.1 Peridotit Satuan peridotot di daerah penyelidikan. 1922 dalam Alzwar. PT. piroksin.13 LAPORAN EKSPLORASI.3 Kenampakan Singkapan peridotit dengan Arah foto ke selatan. struktur massive.plagioklas dan garnierite. dkk. 1988 ) sehingga batuan ini dinamakan Peridotit (foto 2. tekstur yang terdiri.095 Km2 atau sekitar 41. FAJAR MATARAPE MINING . Berdasarkan klasifikasi batuan (Wentworth. M.

Foto 2.2. 2. dengan cirri fisik dalam keadaan segar berwarna abu-abu kemerahan. tekstur kristoblastik. komposisi material disusun oleh mineral lempung. PT. dkk. sedangkan dalam keadaan lapuk berwarna merah kecoklatan. (Simanjuntak. maka satuan peridotit daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan peridotit pada formasi Batuan Ofiolit (Ku) yang berumur Perem . 1955 ) (foto 3.2.8). 1993).4 Kenampakan Singkapan Slate dengan Arah foto selatan barat daya. Hubungan stratigrafi antara satuan peridotit dengan satuan slate yang ada di atasnya adalah tidak selaras.2011 Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik.(Travis.2 Slate Satuan slate ini menempati sekitar 11.14 LAPORAN EKSPLORASI. struktur batuan foliasi (salty cleavage).28 % atau sekitar 566 Km2 dari keseluruhan lokasi penelitian. FAJAR MATARAPE MINING . Penyebaran satuan ini relatif berada pada bagian utara barat laut Lithologi penyusun satuan ini meliputi slate.

M. Berdasarkan klasifikasi batuan sedimen klastik menurut (Wentworth. struktur berlapis. 1988 ) sehingga batuan ini dinamakan Batulempung (foto 2. Penyebaran satuan ini relative dari arah utara – selatan.2011 Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. (Simanjuntak.2. tekstur klastik yang terdiri. 1922 dalam Alzwar. FAJAR MATARAPE MINING . kemas tertutup.48 % atau sekitar 175 Km2 dari luas keseluruhan daerah penyelidikan. 1993).15 LAPORAN EKSPLORASI. (Simanjuntak. Hubungan stratigrafi antara satuan slate dengan satuan batulempung yang ada di atasnya dan satuan peridotit yang ada di bawahnya adalah tidak selaras. maka satuan batulempung daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan batulempung pada Formasi Pandua (Tmpp) yang berumur Miosen dimana lingkungan pengendapannya adalah pada daerah laut dangkal. dkk. yang menempati kurang lebih sekitar 3.5) Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik. dkk. 2.3 Batulempung Satuan batulempung di daerah penyelidikan.2. 1993). ukuran butir lempung. dkk. sortasi baik. Batulempung dijumpai di lapangan dengan ciri – ciri warna putih kehijauan pada kondisi segar dan coklat muda pada kondisi lapuk. maka satuan slate daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan slate pada Formasi Tokala (TJt) yang berumur Kapur dimana lingkungan pengendapannya adalah pada daerah laut dangkal. PT. Satuan batulempung ini terdiri dari litologi batulempung.

tekstur piroklastik. PT. dari keseluruhan lokasi penyelidikan. FAJAR MATARAPE MINING .4 Konglomerat Satuan konglomerat ini menempati sekitar 2. kemas terbuka.50 %. struktur tidak berlapis. dkk. sortasi jelek. 2.2.184 Km2 atau sekitar 43. Satuan Konglomerat ini terdiri dari lithologi konglomerat dengan ciri – ciri warna kuning-kebiru-biruan pada kondisi segar dan coklat muda pada kondisi lapuk. Berdasarkan klasifikasi Wentworth. Hubungan stratigrafi antara satuan batulempung dengan satuan konglomerat yang ada di atasnyan selaras dan satuan slate yang ada di bawahnya adalah tidak selaras. Penyebaran satuan ini relatif berada pada bagian utara dan memanjang hingga kearah selatan. batuan ini dinamakan Konglomerat (foto 2.16 LAPORAN EKSPLORASI. M.5 Kenampakan Singkapan batulempung dengan Arah foto ke timur. 1988).2.2011 Foto 2. ukuran butir bongkah-pasir kasar. 1922 (dalam Alzwar.6) .

Berdasarkan dari kesamaan ciri fisik.2011 . (Simanjuntak. dkk. Foto 2. maka satuan konglomerat daerah penyelidikan dapat disebandingkan dengan konglomerat pada formasi Pandua (Tmpp) yang berumur Miosen dimana lingkungan pengendapannya adalah pada laut dangkal.6 Kenampakan Singkapan Konglomerat pada dengan Arah foto ke utara. FAJAR MATARAPE MINING . Hubungan stratigrafi antara satuan koglomerat dengan satuan batulempung yang ada di bawahnya adalah selaras. PT. 1993).17 LAPORAN EKSPLORASI.

3 Peta Geologi Daerah Penyelidikan 2.2011 Gambar 2. FAJAR MATARAPE MINING . PT. dan interpretasi pada peta topografi daerah penelitian. baik yang bersifat primer maupun sekunder.18 LAPORAN EKSPLORASI.3 Struktur Geologi Daerah Penelitian Pembahasan mengenai struktur geologi daerah penyelidikan dapat memberikan gambaran tentang keberadaan pola struktur geologi.2. dan mekanisme gaya yang menyebabkan terjadinya struktur pada suatu daerah. Penentuan struktur geologi tersebut didasarkan pada data-data yang diperoleh.

breksi sesar.2011 Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang diperoleh selama tahapan penelitian di lapangan.2.19 LAPORAN EKSPLORASI.1 Sesar Geser Lomboolaro Penentuan struktur sesar geser Lomboolaro yang berkembang pada daerah penyelidikan dilakukan berdasarkan pada interpretasi peta topografi dan keterdapatan data di lapangan berupa bidang sesar. dijumpai adanya ciri-ciri struktur geologi seperti kedudukan batuan. zona hancuran. drag fold.2 Sesar Naik Lomboolaro Penentuan struktur sesar naik Lomboolaro yang berkembang pada daerah penyelidikan dilakukan berdasarkan pada interpretasi peta topografi dan keterdapatan data di lapangan berupa bidang sesar. dan mata air. kekar. PT. breksi sesar. konglomerat slate dan batulempung yang mengalami struktur regional yang berkembang pada daerah penelitian yakni berumur Perem.3. Sesar geser lomboolaro terletak pada bagian tengah daerah penyelidikan.3. Berdasarkan hal tersebut maka struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian berupa struktur sesar yaitu. milonit. Sesar Naik Lomboolaro 2. Penentuan umur pembentukan struktur geologi daerah penyelidikan didasarkan pada umur relatif batuan yaitu batuan beku. Jalur sesar ini melewati jalur sungai Lomboolaro. 1. dan penjajaran mata air. milonit. yang relatif memanjang arah selatan menenggara – utara barata laut. 2. Sesar Geser Lomboolaro 2.2. breksi sesar. FAJAR MATARAPE MINING . drag fold.

20 LAPORAN EKSPLORASI. FAJAR MATARAPE MINING . yang relatif memanjang arah barat daya – timur laut. PT. Sesar naik lomboolaro terletak pada bagian tengah daerah penyelidikan. Penentuan umur pembentukan struktur geologi daerah penyelidikan didasarkan pada umur relatif batuan yakni batuan beku dan konglomerat dan mengalami struktur regional yang berkembang pada daerah penyelidikan yakni berumur Perem.2011 dan penjajaran mata air. Jalur sesar ini memotong jalur sungai Lomboolaro.

1 Metodologi Penyelidikan Metode yang digunakan pada penyelidikan eksplorasi ini terdiri atas dua jenis yakni metode pemetaan geologi permukaan (Surface Geological Mapping) dan metode sumur uji (test pit).2011 BAB III METODOLOGI DAN TAHAPAN PENYELIDIKAN 3. penyebaran dan kualitasnya secara megaskopis.1 Metode pemetaan geologi permukaan Metode pemetaan geologi permukaan di daerah penyelidikan bertujuan untuk memperoleh gambaran umum tentang susunan stratigrafi dan struktur geologi daerah penyelidikan serta memperoleh gambaran umum jenis litologi batuan pembawa unsur Ni.21 LAPORAN EKSPLORASI.1. FAJAR MATARAPE MINING . 3.1 Metode Pemetaan Geologi Permukaan 21 PT. Foto 3.

Pengeplotan lokasi singkapan batuan dilakukan dengan menggunakan alat GPS.2011 Data yang dihasilkan dari kegiatan ini sangat bermanfaat untuk penentuan lokasi titik bor dan sumur uji/parit uji. juga melakukan sampling yaitu pengambilan sampel untuk mengetahui kondisi batuan atau kualitas laterit yang terdapat pada daerah tersebut. Foto 3.2 Metode Pengambilan Sampel dengan Trancing PT. Dalam melakukan pemetaan geologi permukaan. selain melakukan pencacatan kondisin geologi setempat. Data singkapan batuan pembawa unsur Ni dicatat dan di sampling untuk kemudian di lakukan uji laboratorium. Setiap pengambilan sampel laterit dilakukan secara kuartering untuk mendapatkan kualitas kadar yang merata. Pengambilan sampel dilapangan dilakukan dengan dua metode yakni pengambilan sampel scara trancing pada laterit yang tersingkap dengan ketebalan diats 3 meter.22 LAPORAN EKSPLORASI. Sedangkan metode yang kedua yaitu dengan pengambilan sampel laterit pada singkpan dipermukaan dengan mengali tanah sampai kedalaman (30-50) cm. FAJAR MATARAPE MINING .

variasi litologi atap dan lantai. Pada endapan berlapis. Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapan-endapan berlapis. Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau residual). Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan endapan yang dicari. ketebalan lapisan. karakteristik variasi endapan secara vertical.2011 3. zona residual. variasi vertical masing-masing zona serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan. Pembuatan sumur uji ini dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih (>4 m). PT. FAJAR MATARAPE MINING . pembuatan test pit atau sumur uji ditujukan untuk mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan. pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas-batas zona lapisan (zona soil. serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling. Pada umumnya suatu deretan (series) sumur uji dibuat searah jurus sehingga pola endapan dapat di korelasikan dalam arah vertikal dan horisontal. zona lateritik). 1.2 Metode Test pit Test pit (sumur uji) merupakan salah satu cara dalam pencarian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertical.23 LAPORAN EKSPLORASI. ketebalan masingmasing zona. 2.1.

2.2 Tahapan Penyelidikan Beberapa tahapan yang harus dilakukan pada penyelidikan tahap awal antara lain : 3.1 Tahap persiapan Pada tahap ini di lakukan pengurusan berbagai macam keperluan untuk mempermudah kegiatan penyelidikan. FAJAR MATARAPE MINING .3 Metode Pembuatan Sumur Uji (Test Pit) 3. Pada tahap ini dilakukan pengurusan administrasi seperti pengurusan izin eksplorasi ke pemerintah daerah setempat dalam hal ini ke pemerintah daerah Kabupaten Marowali. PT.24 LAPORAN EKSPLORASI.2011 Foto 3. pengumpulan data-data sekunder berupa laporan hasil penelitian terdahulu dan persiapan peralatan yang dibutuhkan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

2. melakukan pencatatan lapangan berupa pencacatan singkapan batuan. Pada tahapan ini juga dilakukan pengambilan data sarana dan prasarana serta kondisi sosial budaya daerah setempat.3 Tahapan pengolahan data Pada tahap ini.25 LAPORAN EKSPLORASI. Sedangkan data primer adalah hasil dari PT.2 Tahapan penyelidikan lapangan Pada tahapan ini dilakukan pengambilan data secara langsung di lapangan. Pencatatan titik pengambilan conto batuan dengan menggunaka GPS (Global Positioning System) guna memperlancar dan mempermudah penentuan titik lokasi pada peta. dan pencatatan struktur batuan. Pengolaha data dilakukan dengan mengkorelasikan antara data primer maupun data sekunder. Setiap singkapan yang dijumpai dilapangan dilakukan penyamplingan sebagai conto batuan. dengan menyusuri puncak bukit. punggung bukit. 3.2011 3. kondis geomorfologi.2. data-data yang telah dikumpulkan kemudian di olah dan dianalisis untuk kemudian di jadikan rujukan dalam pembuatan peta geologi daerah penyelidikan serta untuk memberikan gambaran awal kondisi laterit di daerah tersebut. yang dimaksud data sekunder adalah jenis data yang suda ada sebelumnya dan membantu dalam pegolahan data sekunder yang diperoleh dari lapangan. FAJAR MATARAPE MINING . menyusuri sungai dan lerenglereng bukit. Dalam pengambilan contoh batuan dilakukan secara detail dengan jarak kurang lebih 250 m antar singkapan. Contoh data sekunder yang sangat dibutuhkan adalah peta topografi dan peta geologi regional.

pembuatan peta lintasan. FAJAR MATARAPE MINING . peta geologi daerah penyelidikan dan peta perencanaan pengeboran.Uji Laboritorium .1 Diagram Alir Tahapan Penyelidikan PT. Tahapa pengolahan data bagian dari analisis laboritoriu.Admnistrasi .Alat & Bahan PENYELIDIKAN LAPANGAN .2011 pengambnilan data lapangan yang menjadi panduan pokok dalam menarik suatu kesimpulan tentang kondisi daerah penyelidikan.4 Tahap pembuatan laporan Pada tahap ini bagian dari pelaporan tentang semua bentuk kegiatan yang dilakukan dilapangan.Pembuatan Peta Lintasan . TAHAP PENYELIDIKAN TAHAP PERSIAPAN .2.Pembuatan Peta Geologi TAHAP PENYUSUNAN LAPORAN - Gambar 3. dan hasil akhir yang dicapai dari kegiatan eksplorasi serta merupakan pandangan/ pedoman untuk perencanaan kedepannya.Referensi .Pemetaan/Survey Geologi Permukaan . 3.Trancing-Sampling .Test Pit (Uji Sumur) PENGOLAHAN DATA .26 LAPORAN EKSPLORASI.

5 Ha atau sekitar 3. terdapat 52 stasiun (pada lampiran) dari luas keseluruhan daerah penyelidikan yaitu 502 Ha. Daerah penyelidikan disusun oleh tiga jenis batuan diantaranya batuan sedimen. batuan metamorf dan batuan beku.5 Ha atau sekitar 41.1 Peta Blok Area Potensi Daerah Penyelidikan PT. FAJAR MATARAPE MINING .28 %.1 Hasil Pemetaan Geologi (Geological Surface Mapping) Hasil pemetaan geologi yang dilakukan dilokasi penyelidikan. Jenis batuan sedimen terdiri dari batulempung dengan luas sekitar 17.74 % Gambar 4. Sedangkan jenis batuan metamorf yaitu batu sabak (slate) dengan luas sekitar 56.48 % dan konglomerat dengan luas sekitar 218. Jenis batuan beku ultrabasa berupa peridotit yang terlaterisasi sekitar 209.50 %..6 Ha atau sekitar 11.4 Ha atau sekitar 43.2011 BAB IV Hasil dan Pembahasan 4.27 27 LAPORAN EKSPLORASI.

Blok ini terdapat pada bagian utara disisi bagian barat kawasan wilayah pertambangan.2011 Luas keseluruhan singkapan laterit dibagi dalam tiga Blok (Gambar 4. tataguna lahan berupa hutan. dan terdapat sungai kecil yang mengalir melewati kawasan blok tersebut. Blok 1.28 LAPORAN EKSPLORASI. Foto 4. Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni. sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan.74 %.1 Singkapan laterit yang terdapat pada blok satu. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai sasaran utama dalam melakukan eksplorasi lanjutan. Blok 2 dan Blok 3. kemirimgan lereng rata-rata 25o-30o. PT. 4.1.4 Ha atau sekitar 15.1 Area Blok Satu Blok satu merupakan daerah prospek pertama dengan luas area blok adalah 79. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. FAJAR MATARAPE MINING .1) berdsarkan letak prospek hasil survey geologi anatara lain.

tataguna lahan berupa hutan.9 Ha atau sekitar 19.45 %.1. kemirimgan lereng rata-rata 15o-25o.2 Area Blok Dua Blok dua merupakan daerah prospek lanjutan dari blok satu dengan luas area blok adalah 96.2 Singkapan laterit yang terdapat pada blok dua PT. dan terdapat sungai kecil yang mengalir disekitar kawasan blok tersebut yang berjarak sekitar 800 m dari batas blok dua. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai target kedua dalam melakukan eksplorasi lanjutan begitupun eksploitasi. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. Foto 4. Blok ini terdapat pada bagian utara disisi bagian timur kawasan wilayah pertambangan. FAJAR MATARAPE MINING . Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni.29 LAPORAN EKSPLORASI.2011 4. sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan.

3 Singkapan laterit yang terdapat pada blok tiga. Dimana kondisi akses jalan terbuka yang merupakan bekas jalan loging. Dari hasil survey bahwa daerah tersebut sangat memungkinkan dijadikan sebagai target cadangan ketiga dalam melakukan eksplorasi lanjutan begitupun eksploitasi.30 LAPORAN EKSPLORASI.1. kemirimgan lereng rata-rata 25o-30o. tataguna lahan berupa hutan. PT. dan terdapat sungai kecil yang mengalir disekitar kawasan blok tersebut yang berjarak sekitar 700 m dari batas blok dua.3 Area Blok Tiga Blok tiga merupakan daerah prospek lanjutan dari blok dua dengan luas area blok adalah 33.55 %. FAJAR MATARAPE MINING . sebagai sarana pendukung kelancaran eksplorasi lanjutan.2011 4. Foto 4.2 Ha atau sekitar 6. Kondisi geomorfologi pada blok tersebut yakni. Blok ini terdapat pada bagian selatan disisi bagian barat kawasan wilayah pertambangan.

31 LAPORAN EKSPLORASI.2 Hasil Test Pit Hasil pemetaan geologi permukaan selain untuk menentukan luas daerah prospek. Gambar 4. FAJAR MATARAPE MINING . juaga bagian dari penentuan titik pembuatan sumur uji (test pit).2011 4. Berdsarkan kondisi geologi lapangan pembuatan sumur uji dilakuka pada setiap blok untuk mengetahui kemenerusan derajat kadar endapan nikel setiap kedalaman.2 Peta Test Pit pada Daerah Penyelidikan PT.

semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar unsure Ni megalami kenaikan. pada blok pertama terdapat satu tespit (Tp-03) . dapat dilihat pada (Gambar 4.201 33.2) dan stiap blok terdapat tespit diantaranya. dan sebaliknya kadar Fe mengalami penurunan. Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsure Fe turun.681 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar.080 0.060 1.9” dan E 122o18’22. pada garis merah yang merupakan unsure Ni.2011 . kandungan kadar Ni mengalami kenaikan.3 Grhapic of grade & depth ratio).1 Hasil Test Pit-01 Tespit satu (Tp-01) terdapat pada blok ketiga dengan titik kordinat (S3o13’50.209 29.3 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 1.71 0.49 0.64 0. FAJAR MATARAPE MINING . bahwa setiap kedalaman permeter. Berdasarkan hasil laboritorium PT.527 0.2 .463 36.230 448 676 435 314 170 188 145 133 0. IOL Indonesia Kendari (Tabel 4. blok kedua terdapat dua tespit (Tp-02 & Tp-04) dan blok ketiga teradapat satu testpit (Tp-03) .627 0.364 33. 4.5”) dengan kedalaman sampai empat meter.1 Data Kadar Test Pit 01 pada area Blok .542 0. Terdapat empat titik pembuatan testpit (Gambar 4.860 1. sedangkan PT.99 0.32 LAPORAN EKSPLORASI.1 ). Tabel 4.

33 LAPORAN EKSPLORASI.3 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit satu. Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsure Ni akan PT. kandungan kadar Ni naik.5” dan E122o18’45. 4. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun. Berdasarkan hasil laboritorium PT.4”) dengan kedalaman sampai empat meter. FAJAR MATARAPE MINING . Gambar 4. dan sebaliknya kadar Fe turun. IOL Indonesia Kendari (Tabel 4.2011 garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.2. bahwa setiap kedalaman permeter.2 Hasil Test Pit-02 Tespit dua (Tp-02) terdapat pada blok kedu dengan titik kordinat (S3o13’11.2 ).

400 0.2 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) 0.43 1.4 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit dua.527 42.460 0.798 0.4 Grhapic of grade & depth ratio).19 0.2 Data Kadar Test Pit 02 pada area Blok .985 41.34 LAPORAN EKSPLORASI. FAJAR MATARAPE MINING .369 31.380 0.2011 naik dan unsur Fe turun. dapat dilihat pada (Gambar 4.460 0.734 41.580 535 1136 956 507 123 150 153 133 0.744 0.18 0.80 0. PT. Tabel 4.435 Gambar 4.

dan sebaliknya kadar Fe turun.628 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) PT.05 0.11 0.3 ).3 Data Kadar Test Pit 03 pada area Blok .3 Hasil Test Pit-03 Tespit dua (Tp-03) terdapat pada blok pertama dengan titik kordinat (S3o13’22.2011 Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar.970 0.262 47. sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.229 46.870 1. 4.2.35 LAPORAN EKSPLORASI. Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsur Fe turun.980 1. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun.000 532 1206 1477 707 1855 1426 100 104 133 132 171 187 0. pada garis merah yang merupakan unsure Ni. FAJAR MATARAPE MINING .11 0.790 0.209 50. dapat dilihat pada (Gambar 4. Berdasarkan hasil laboritorium PT.1 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 0.844 0.262 1.015 51.13 0.08 0.5”dan E122o18’07.010 0.5 Grhapic of grade & depth ratio).565 1.968 0.6”) dengan kedalaman sampai enam meter. Tabel 4. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar unsure Ni megalami kenaikan.633 48.503 0. bahwa setiap kedalaman permeter. IOL Indonesia Kendari (Tabel 4.398 46.11 0. kandungan kadar Ni naik.

PT. pada garis merah yang merupakan unsure Ni. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar Ni naik. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun.36 LAPORAN EKSPLORASI. Gambar 4. FAJAR MATARAPE MINING . sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.2011 Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsure kadar.5 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit tiga.

IOL Indonesia Kendari (Tabel 4. semakin dalam semakin bergeser kekiri menandakan bahwa kadar Fe turun.6 Grhapic of grade & depth ratio).78 0.480 0.550 593 903 678 618 119 139 141 120 0. Berdasarkan hasil laboritorium PT.4 ).418 0. dan sebaliknya kadar Fe turun.2011 4. sedangkan garis warna coklat yang merupakan garis kadar Fe.28 0. bahwa setiap kedalaman permeter.627 0.28 0.390 0.4 Hasil Test Pit-04 Tespit dua (Tp-04) terdapat pada blok pertama dengan titik kordinat (S 3o13’03.551 Ni (%) Co (ppm) Cu (ppm) Mg (%) Mn (%) Fe (%) Dari gambaran grhapic of grade & depth ratio bahwa setiap kedalaman permeter megalami perubahan unsur kadar.4”) dengan kedalaman sampai empat meter.37 LAPORAN EKSPLORASI.8” dan E122o18’35.612 38. kandungan kadar Ni naik.51 0.3 Data Kadar Test Pit 04 pada area Blok -2 Kedalaman (meter) 0-1 1-2 2-3 3-4 0.410 0. PT. dapat dilihat pada (Gambar 4. FAJAR MATARAPE MINING . Dengan demikian bahwa semakin dalam maka unsur Ni akan naik dan unsur Fe turun. semakin dalam garisnya semakin bergeser kekanan yang menandakan bahwa kadar Ni naik.116 37. Tabel 4.741 38. pada garis merah yang merupakan garis unsur Ni.410 38.2.643 0.

PT.38 LAPORAN EKSPLORASI.2011 Gambar 4.6 Grhapic of grade & depth ratio pada testpit empat. FAJAR MATARAPE MINING .

Foto 5. Sebagian besar 39 PT.2011 BAB V TANGGAPAN MASYARAKAT Desa matarape merupakan desa terpencil yang berada di Kecamatan Kepulauan Manui Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah. FAJAR MATARAPE MINING . mendapat sambutan yang hangat dikalangan masyarakat.39 LAPORAN EKSPLORASI. dimana sebagian besar masyarakat mata pencaharianya bergantung terhadap hasil hutan. Fajar Matarape Mining.1 Partisipasi masyarakat dalam kegiatan eksplorasi awal. dengan kondisi hasil hutan yang semakin berkurang akibat produksi besar-besaran oleh perusahaan. dengan jumlah penduduk sekitar 200 jiwa. misalnya kayu bantalan dan rotan. Hadirnya perusahaan tambang pada daerah tersebut akan memberikan peluang kerja kepada masyarakata. Masuknya perusahaan tambang dalam hal ini PT. menyebabkan penghasilan masyarakat daerah tersebut terancam.

2011 masyarakat desa Matarape menginginkan keberlanjutan kegiatan eksplorasi ini hingga samapai tahap eksploitasi.40 LAPORAN EKSPLORASI. dalam sosialisasi tersebut sebagian besar masyarakat mendukung kehadiran perusahaan ini demi mengurangi tingkat pengangguran yang ada di desa Matarape maupun sekitarnya. FAJAR MATARAPE MINING . PT. Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Kepala Desa Matarape pada tanggal 8 januari 2011.

2011 BAB VI PERENCANAAN EKSPLORASI LANJUTAN Dari hasil pemetaan geologi permukaan dan hasil sumur uji (testpit) yang dilakukan. FAJAR MATARAPE MINING .  Pembangunan infrastruktur berupa basecamp. serta beberapa indikasi yang dijumpai dilapangan berupa mineral dan batuan pembawa unsure Ni.41 LAPORAN EKSPLORASI.  Pemetaan topografi dengan sekala 1 : 10. dengan demikian perlu dilakukan eksplorasi detail untuk mengetahui kualitas dan kuantitas cadangan nikel yang terdapat pada daerah penyelidikan. perbaikan jalan. 41 PT. Dalam perencanaan eksplorasi detail beberapa hal yang akan dilakukan diantaranya. perbaikan jembatan. perencanaan akses pembutan jaty.000 dengan interval kontur 10 meter  Pemboran detail dengan spasi 25 meter untuk mengetahui korelasi potensi cadangan endapan nikel.

42 PT. berupa GPS. Hasil eksplorasi awal daerah penyelidikan. 4. dan perlengkapan lainnya. Adapun beberapa fasilitas dan sarana prasana yang harus diadakan yakni. Pengadaan alat-alat geologist. Pengadaan kendaraan roda empat.42 LAPORAN EKSPLORASI. guna memperlancar kegiatan eksplorasi. FAJAR MATARAPE MINING . berupa drilling dan buldoser. menjadi pedoman untuk melanjutkan kegiatan eksplorasi. 5. Pengadaan sarana tempat (basecamp) bagi karyawan. pengadaan fasilitas dan sarana prasana eksplorasi guna memperlancar pelaksanaan kegiatan eksplorasi. 3. 1.2011 BAB VII REKOMENDASI Kegiatan eksplorasi detail sangat menentukan kondisi kuantitas dan kualitas cadangan bahan galian nikel (Ni). Pengadaan alat-alat komunikasi lapangan. palu geologi. Pengadaan alat-alat berat. 2. Kompas Geologi. 6. olehnya itu kami dari Tiem Geologist merekomendasikan. Pengadaan fasilitas keamanan kerja (savety).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->