TRIAGE

Pengertian Triage
Triage adalah suatu proses yang mana pasien digolongkan menurut tipe dan tingkat kegawatan kondisinya. Triage terdiri dari upaya klasifikasi kasus cedera secara cepat berdasarkan keparahan cedera mereka dan peluang kelangsungan hidup mereka melalui intervensi medis yang segera. Sistem triage tersebut harus disesuaikan dengan keahlian setempat. Prioritas yang lebih tinggi diberikan pada korban yang prognosis jangka pendek atau jangka panjangnya dapat dipengaruhi secara dramatis oleh perawatan sederhana yang intensif. Sistem triase ini digunakan untuk menentukan prioritas penanganan kegawat daruratan. Sehingga tenaga medis benar-benar memberikan pertolongan pada pasien yang sangat membutuhkan dengan penanganan secara cepat dan tepat, dapat menyelamatkan hidup pasien tersebut. Tujuan Triage Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa. Tujuan triage selanjutnya adalah untuk menetapkan tingkat atau derajat kegawatan yang memerlukan pertolongan kedaruratan. Kode Warna International Dalam Triage : 1. Prioritas 1 atau Emergensi: warna MERAH (kasus berat) Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan intervensi segera, perdarahan berat,pasien dibawa ke ruang resusitasi, waktu tunggu 0 (nol) Misalnya: ·Asfiksia, cedera cervical, cedera pada ·Trauma kepala dengan koma dan proses shock ·Fraktur terbuka dan fraktur ·Luka bakar > 30 % / Extensive Burn dan Shock tipe apapun maxilla cepat compound

yang

2. Prioritas 2 atau Urgent: warna KUNING (kasus sedang) Pasien dengan penyakit yang akut, mungkin membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki, waktu tunggu 30 menit, area critical care. Misalnya: · Trauma thorax non asfiksia · Fraktur tertutup pada tulang panjang · Luka bakar terbatas ( < 30% dari TBW ) · Cedera pada bagian / jaringan lunak

3. Prioritas 3 atau Non Urgent: warna HIJAU (kasus ringan) Pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang minimal, luka lama, kondisi yang timbul sudah lama, area ambulatory / ruang P3. · Minor injuries · Seluruh kasus-kasus ambulant / jalan 4. Prioritas 0: warna HITAM (kasus meninggal) · Tidak ada respon pada semua rangsangan · Tidak ada respirasi spontan · Tidak ada bukti aktivitas jantung · Tidak ada respon pupil terhadap cahaya

Metode TRIAGE
A. START ( Simple triage And Rapid Treatment) Adalah suatu system yang dikembangkan untuk memungkinkan paramedic memilah korban dalam waktu yang singkat kira – kira 30 detik.Yang perlu diobservasi : Respiration, Perfusion, dan Mental Status ( RPM ).System START di desain untuk membantu penolong untuk menemukan pasien yang menderita luka berat. START didasarkan pada 3 observasi : RPM ( respiration, perfusion, and Mental Status ) 1. Respiration / breathing Jika pasien bernafas, kemudian tentukan frekuensi pernafasanya, jika lebih dari 30 / menit, korban ditandai Merah / immediate. Korban ini menujukkan tanda – tanda primer shock dan butuh perolongan segera. Jika pasien bernafas dan frekuensinya kurang dari 30 / menit, segera lakukan observasi selanjutnya ( perfusion and Mental status ). Jika pasien tidak bernafas, dengan cepat bersihkan mulut korban dari bahan – bahan asing. 2. Perfusion or Circulating Bertujuan untuk mengecek apakah jantungnya masih memiliki kemampuan untuk mensirkulasikan darah dengan adekuat, dengan cara mengecek denyut nadi. Jika denyut nadi lemah dan tidak teratur korban ditandai immediate. Jika denyut nadi telah teraba segera lakukan obserbasi status mentalnya. 3. Mental status Untuk mengetesnya dapat dilakukan dengan memberikan instruksi yang mudah pada korban tersebut : “buka matamu” atau “ tutup matamu “.

tag warna biru : korban dengan cedera yang sangat berat dan tidak memungkinkan untuk dilakukan resusitasi. METTAG (Triage tagging system) Sistem METTAG digunakan untuk memprioritaskan tindakan atas korban dan melakukan resusitasi di tempat. . Selain 4 warna di atas. dan hitam) . kuning.R :30 P:2” M: IKUT B. Tag warna pada METTAG sama dengan Kode Warna International Dalam Triage (merah. ada juga yang mengkategorikan menjadi 5 warna. hijau.

.. dan peringanan (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan. pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan.e. jenis pemeriksaan dan prosedur. serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup besar. merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors).PATIENT SAFETY (KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT) Rhudy Marseno* *Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas 1. yang dapat mencederai pasien. LATAR BELAKANG PATIENT SAFETY Hampir setiap tindakan medic menyimpan potensi resiko. kesalahan tindakan) atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu. Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien.e. bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD). kesalahan perencanaan). error of execusion) or the use of a wrong plan to achieve an aim (i. tetapi cedera serius tidak terjadi. diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya). medical error didefinisikan sebagai: The failure of a planned action to be completed as intended (i. karena keberuntungan (misalnya. Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) merupakan suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission).. error of planning). Artinya kesalahan medis didefinisikan sebagai: suatu Kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang diharapkan (yaitu.pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat). Banyaknya jenis obat. Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) . Menurut Institute of Medicine (1999).. tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan).

tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai.atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission). atau justru luput dari perhatian kita semua. program bersama dengan berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan berkomunikasi. the American Hospital Asosiation (AHA) Board of Trustees mengidentifikasikan bahwa keselamatan dan keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas strategik. Building a Safer Health System” melaporkan bahwa dalam pelayanan pasien rawat inap di rumah sakit ada sekitar 3-16% Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/Adverse Event). Institute of Medicine. Tahun 2000. yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien. telah dikeluarkan pula Kepmen nomor 496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. Di Indonesia. Pada November 1999. tahun 2004. pelaksanaan terapi. metode penggunaan obat. dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan yang tidak layak. Menindaklanjuti penemuan ini. Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan fenomena gunung es. karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. WHO mencanangkan World Alliance for Patient Safety. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan. kegagalan alat atau system yang lain. menggunakan cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau observasi. tidak dicatat. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia(PERSI) yang . tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan. Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau keterlambatan diagnose. dan bukan karena “underlying disease” atau kondisi pasien. tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta monitor dan follow up yang tidak adekuat. Mereka juga menetapkan capaian-capaian peningkatan yang terukur untuk medication safety sebagai target utamanya. Amerika Serikat dalam “TO ERR IS HUMAN.

I. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. . Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan. kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasisolusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sistem tersebut meliputi a s e s m e n r e s i k o .Keselamatan pasien ( patient safety ) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. PENGERTIAN PATIENT SAFETY Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. .berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien di rumah sakit. 2006) 3. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit thdp pasien dan masyarakat. Terlaksananya program-program pencegahan shg tidak terjadi pengulangan KTD. Depkes R. 2. pelaporan dananalisis insiden. TUJUAN PATIENT SAFETY Tujuan “Patient safety” adalah 1. Menurunnya KTD di RS 4.(Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah sakit. identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien. 3. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RS 2. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegahterjadinya cedera yan disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atautidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan. maka dikembangkan system Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada.

4. Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada “Hospital Patient Safety Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health Organizations. sound-alike medication names) 2) Pastikan identifikasi pasien 3) Komunikasi secara benar saat serah terima pasien 4) Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar 5) Kendalikan cairan elektrolit pekat 6) Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan 7) Hindari salah kateter dan salah sambung slang 8) Gunakan alat injeksi sekali pakai 9) Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.yaitu: 1. USA. Illinois. 2 May 2007). rupa dan ucapan mirip (look-alike. tahun 2002). 2. yaitu: 1) Perhatikan nama obat. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PATIENT SAFETY Pelaksanaan “Patient safety” meliputi 1. Hak pasien Standarnya adalah . Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre for Patient Safety.

Karena itu. Kriterianya adalah 1) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan 2) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan 3) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan.Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD 2. Mendidik pasien dan keluarga Standarnya adalah RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Kriterianya adalah: Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan.Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat: 1) Memberikan info yg benar. di RS harus ada system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. lengkap dan jujur 2) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab 3) Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti . jelas.

4) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan 5) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS 6) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa 7) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati 3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan Standarnya adalah RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Kriterianya adalah: 1) koordinasi pelayanan secara menyeluruh 2) koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya 3) koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi 4) komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan 4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien Standarnya adalah .

2) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP & program mengurangi KTD. menganalisis secara intensif KTD. mengkaji. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien Standarnya adalah 1) Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan “7 Langkah Menuju KP RS ”. 2) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja 3) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif 4) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis 5. .RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada. memonitor & mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data. 3) Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP 4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur. sesuai dengan ”Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”. & melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP. Kriterianya adalah 1) Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik. & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.

6) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden 7) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan 8) Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan 9) Tersedia sasaran terukur. Mendidik staf tentang keselamatan pasien . 5) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden. 3) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden. termasuk asuhan kepada pasien yang 4) terkena musibah.5) Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS & KP. 2) Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden. membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis. dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien 6. Kriterianya adalah 1) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

. 3) menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. 2) Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat. pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas. 2) RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien. Standarnya adalah 1) RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Kriterianya adalah 1) disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien. Kriterianya adalah 1) memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien 2) mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.Standarnya adalah 1) RS memiliki proses pendidikan. 7.

“ciptakan kepemimpinan & budaya yang 1. Tujuh langkah menuju keselamatan pasien RS (berdasarkan KKP-RS No. Pimpin dan dukung staf anda. terbuka dan adil” Bagi Rumah sakit:  Kebijakan: tindakan staf segera setelah insiden. pasien. langkah kumpul fakta. “bangunlah komitmen &focus yang kuat & jelas tentang KP di RS anda” Bagi Rumah Sakit:   Ada anggota Direksi yg bertanggung jawab atas KP Di bagian-2 ada orang yg dpt menjadi “Penggerak” (champion) KP . keluarga    Kebijakan: peran & akuntabilitas individual pada insiden Tumbuhkan budaya pelaporan & belajar dari insiden Lakukan asesmen dg menggunakan survei penilaian KP Bagi Tim:   Anggota mampu berbicara. dukungan kepada staf.2) Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada 3. peduli & berani lapor bila ada insiden Laporan terbuka & terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yg tepat 2.001-VIII2005) sebagai panduan bagi staf Rumah Sakit Bangun kesadaran akan nilai keselamatan Pasien.

Kembangkan sistem pelaporan. “pastikan staf Anda agar dg mudah dpt melaporkan kejadian/insiden serta RS mengatur pelaporan kpd KKP-RS” Bagi Rumah sakit: . serta manfaat gerakan KP Tumbuhkan sikap ksatria yg menghargai pelaporan insiden 3. mencakup KP Kembangkan indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko Gunakan informasi dr sistem pelaporan insiden & asesmen risiko & tingkatkan kepedulian thdp pasien Bagi Tim:    Diskusi isu KP dlm forum2. & langkah memperkecil risiko tsb 4. serta lakukan identifikasi & asesmen hal yg potensial brmasalah” Bagi Rumah Sakit:    Struktur & proses mjmn risiko klinis & non klinis. tentukan akseptabilitas tiap risiko.  Prioritaskan KP dlm agenda rapat Direksi/Manajemen Masukkan KP dlm semua program latihan staf Bagi Tim:    Ada “penggerak” dlm tim utk memimpin Gerakan KP Jelaskan relevansi & pentingnya. “kembangkan sistem & proses pengelolaan risiko. utk umpan balik kpd mjmn terkait Penilaian risiko pd individu pasien Proses asesmen risiko teratur. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko.

bila tlh terjadi insiden Prioritaskan pemberitahuan kpd pasien & kel. mencakup semua insiden & minimum 1 x per tahun utk proses risiko tinggi Bagi Tim: . bila terjadi insiden Segera stlh kejadian. mengidentifikasi sebab Kebijakan: kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis/RCA) atau Failure Modes & Effects Analysis (FMEA) atau metoda analisis lain. Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden.pelatihan & dorongan semangat kpd staf agar selalu terbuka kpd pasien & kel. ke dlm maupun ke luar yg hrs dilaporkan ke KKPRS – PERSI Bagi Tim:  Dorong anggota utk melaporkan setiap insiden & insiden yg telah dicegah tetapi tetap terjadi juga. sbg bahan pelajaran yg penting 5. Belajar dan berbagi pengalaman tentang Keselamatan pasien. 6. “kembangkan cara-cara komunikasi yg dg pasien” terbuka Bagi Rumah Sakit    Kebijakan : komunikasi terbuka ttg insiden dg pasien & keluarga Pasien & keluarga mendpt informasi bila terjadi insiden Dukungan. “dorong staf anda utk melakukan analisis akar masalah utk belajar bagaimana & mengapa kejadian itu timbul” Bagi Rumah Sakit:   Staf terlatih mengkaji insiden scr tepat. tunjukkan empati kpd pasien & kel. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. (dlm seluruh proses asuhan pasien Bagi Tim:    Hargai & dukung keterlibatan pasien & kel.

dokter gigi. Di Rumah Sakit 1. . Anggota: dokter. Cegah cedera melalui implementasi system Keselamatan pasien. tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya. penyesuaian pelatihan staf & kegiatan klinis. “Gunakan informasi yg ada ttg kejadian/masalah utk melakukan perubahan pd sistem pelayanan” Bagi Rumah Sakit:  Tentukan solusi dg informasi dr sistem pelaporan. asesmen risiko. Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit. perawat. penggunaan instrumen yg menjamin KP    Asesmen risiko utk setiap perubahan Sosialisasikan solusi yg dikembangkan oleh KKPRS-PERSI Umpan balik kpd staf ttg setiap tindakan yg diambil atas insiden Bagi Tim:    Kembangkan asuhan pasien menjadi lebih baik & lebih aman Telaah perubahan yg dibuat tim & pastikan pelaksanaannya Umpan balik atas setiap tindak lanjut ttg insiden yg dilaporkan LANGKAH LANGKAH KEGIATAN PELAKSANAAN PATIENT SAFETY ADALAH a. audit serta analisis  Solusi mencakup penjabaran ulang sistem.  Diskusikan dlm tim pengalaman dari hasil analisis insiden Identifikasi bgn lain yg mungkin terkena dampak & bagi pengalaman tersebut 7. dengan susunan organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter. kajian insiden.

Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal tentang insiden 3. Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit c. b. 3. 5. Di Provinsi/Kabupaten/Kota 1.2. Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis berdasarkan hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan. Menyusun panduan nasional tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit . Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) secara rahasia 4. Membentuk komite keselamatan pasien Rumah Sakit dibawah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia 2. Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit. Di Pusat 1. Melakukan advokasi program keselamatan pasien ke rumah sakit-rumah sakit di wilayahnya 2. Melakukan advokasi ke pemerintah daerah agar tersedianya dukungan anggaran terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.

Mengembangkan laboratorium uji coba program keselamatanpasien. Encourage open reporting Belajar dari pengalaman. patient safety ini harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya. ada delapan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan budaya Patient safety ini 1.3. PERSI Daerah dan rumah sakit pendidikan dengan jejaring pendidikan. 2006. Mencatat tindakan-tindakan yang membahayakan pasien sama pentingnya dengan mencatat . Tetapi supaya keselamatan pasien ini bisa dikembangkan dan semua staf merasa mendapatkan dukungan. Empat CEO RS yang terlibat dalamsafer patient initiatives di Inggris mengatakan bahwa tanggung jawab untuk keselamatan pasien tidak bisa didelegasikan dan mereka memegang peran kunci dalam membangun dan mempertahankan fokus patient safety di dalam RS. Koordinator patient safety dan manajer RS harus membuat budaya yang mendorong pelaporan. 3. Selain itu. menurut Hasting G. Put the focus back on safety Setiap staf yang bekerja di RS pasti ingin memberikan yang terbaik dan teraman untuk pasien. 4. Melakukan sosialisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. Tetapi dengan memecah kompleksitas ini dan membuat langkahlangkah yang lebih mudah mungkin akan memberikan peningkatan yang lebih nyata. Think small and make the right thing easy to do Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien mungkin membutuhkan langkahlangkah yang agak kompleks. meskipun itu sesuatu yang salah adalah pengalaman yang berharga. 2.

Involve patients in safety efforts Keterlibatan pasien dalam pengembangan patient safety terbukti dapat memberikan pengaruh yang positif. Dimasukkannya perwakilan masyarakat umum dalam komite keselamatan pasien adalah salah . 6. tetapi akan terus berkembang. sistem berfikir.tindakan-tindakan yang menyelamatkan pasien. pengembangan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien sudah dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran dan keperawatan. Use systems-wide approaches Keselamatan pasien tidak bisa menjadi tanggung jawab individual. Dengan perubahan data mortalitas dari tahun ke tahun. Staf juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. Build implementation knowledge Staf juga membutuhkan motivasi dan dukungan untuk mengembangkan metodologi. Di Inggris. 5. dan implementasi program. sehingga diharapkan sesudah lulus kedua hal ini sudah menjadi bagian dalam budaya kerja. Pemimpin sebagai pengarah jalannya program disini memegang peranan kunci. Make data capture a priority Dibutuhkan sistem pencatatan data yang lebih baik untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan kualitas dari waktu ke waktu. maka peningkatan yang terjadi hanya akan bersifat sementara. Perannya saat ini mungkin masih kecil. 7. Pengembangan hanya bisa terjadi jika ada sistem pendukung yang adekuat. Diskusi terbuka mengenai insiden-insiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staf. 4. klinisi dan manajer bisa melihat bagaimana manfaat dari penerapan patient safety. Tetapi jika pendekatan patient safety tidak diintegrasikan secara utuh kedalam sistem yang berlaku di RS. Misalnya saja data mortalitas.

Develop top-class patient safety leaders Prioritisasi keselamatan pasien.44/2009 “Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. Diperlukan kepemimpinan yang kuat.” b. pembangunan sistem untuk pengumpulan data-data berkualitas tinggi. mendorong budaya tidak saling menyalahkan. Secara sederhana pasien bisa diarahkan untuk menjawab ketiga pertanyaan berikut: apa masalahnya? Apa yang bisa kubantu? Apa yang tidak boleh kukerjakan? 8. Pasal 53 (3) UU No. tim yang kompak. dan melibatkan pasien dalam lingkungan kerja bukanlah sesuatu hal yang bisa tercapai dalam semalam. ASPEK HUKUM TERHADAP PATIENT SAFETY Aspek hukum terhadap “patient safety” atau keselamatan pasien adalah sebagai berikut UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit 1. Dengan kepemimpinan yang baik. Pasal 58 UU No. serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety.satu bentuk kontribusi aktif dari masyarakat (pasien). masing-masing anggota tim dengan berbagai peran yang berbeda bisa saling melengkapi dengan anggota tim lainnya melalui kolaborasi yang erat.36/2009 “Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien. 5.36/2009 . Pasal 32n UU No. memotivasi staf. Seringkali RS harus bekerja dengan konsultan leadership untuk mengembangkan kerjasama tim dan keterampilan komunikasi staf. c. Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum a.

R terhadap seseorang.1) “Setiap orang berhak menuntut G. Hak Pasien .. dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam Pelkes yang diterimanya.44/2009 “Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS. “ 4. Pasal 29b UU No.” “….44/2009 ”Memberi pelayanan kesehatan yang aman.44/2009 Tentang Rumah sakit “Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensif.” 3.44/2009 “Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. bermutu.” c.tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa 2) atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. Bukan tanggung jawab Rumah Sakit Pasal 45 (1) UU No.” b. antidiskriminasi. tenaga kesehatan. Pasal 45 (2) UU No. Pasal 46 UU No.” 2. Tanggung jawab Hukum Rumah sakit a. dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.

risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.44/2009 “Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana” 5.44/2009 1) RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien 2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden.44/2009 “Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi” c. Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien Pasal 43 UU No. dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. Pasal 32j UU No. Pasal 32d UU No.a. dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan” d. 3) RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri . Pasal 32e UU No. menganalisa. alternatif tindakan. Pasal 32q UU No.44/2009 “Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional” b.44/2009 “Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis.

. SISTEM PENCACATAN DAN PELAPORAN PADA PATIENT SAFETY a. Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien c. Assessment risiko b. Pelaporan dan analisis insiden d. Kemampuan belajar dari insiden e. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System tersebut meliputi: a. MANAJEMEN PATIENT SAFETY Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan system Pencacatan dan Pelaporan serta Monitoring san Evaluasi 7. Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera. Di Rumah Sakit 1. Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien. Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko 6. Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.4) Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.

Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera. Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit. Di Propinsi Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah menerima produk-produk dari Komite Keselamatan Rumah Sakit c. b. Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit. 5.2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) merekapitulasi laporan dari rumah sakit untuk menjaga kerahasiaannya 2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis yang telah dilakukan oleh rumah sakit . Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia. Di Pusat 1. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja 4. 3.

8. MONITORING DAN EVALUASI a. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahan satu kali. rumah sakit terkait dan rumah sakit lainnya. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Keselamatan Pasien Rumah Sakit di rumah sakit-rumah sakit 2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis laporan insiden bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai laboratorium uji coba keselamatan pasien rumah sakit 4. Di Rumah sakit Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah sakit. REFERENSI . Di propinsi Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit di wilayah kerjanya c. Di Pusat 1. terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja b.3.

tepat. Veronica. 2. b. (2010) Community&Patient Safety Dalam Perspektif Hukum Kesehatan. (2011) Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien (KP) Rumah Sakit. cermat b. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety). Knteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan Langkah Untuk Mengembangkan Budaya Patient Safety. Komalawati. Pabuti. Aumas. Tugas BSB : a.04/2006 Hal. Trisasi. Indonesia 4. Membantu mengatasi dan memulihkan dampak bencana c. teknis media dan unsur non medis. Tenaga manajemen terdiri dari unsur yang bekerja di bawah Dinas Kesehatan dan Rusetempat (pemerintah & Swasta) yang terkait dengan penangan bencana. Membantu kesiapan masyarakat dalam melakukan penyiapan dan mitigasi bencana d. 2005 BSB. a. Lestari. Menangani penderita/ korban akibat kejadian bencana dengan cecepat. Buletin IHQN Vol II/Nomor. dokter Puskesmas . Menciptakan kondisi yang mendukung agar masyarakat mau memanfaatkan tim BSB secara efisien dan efektif KEANGGOTAAN Keanggotaan BSB daerah Meliputi unsur manjemen. Tenaga Teknis medis adalah perangkat tenaga medis ramah sakit.1. Proceedings of expert lecture of medical student of Block 21st of Andalas University.1-3 3.

organisasi profesi lain.c. higien. Komponen penunjang Ø Komponen komunikasi Ø Komponen transportasi . dan organisasi sosial lainnya terlibat KEDUDUKAN. Pasca Bencana BSB melaksanakan survailans epidemiologi untuk pengendalian penyakit menular. bertugas sebagai Reaksi Cepat dalam penanganan korban bencana (Rapid Response) serta melaksanakan penilaian kebutuhan yang berhubungan dengan penaggulangan masalah kesehatan akibat bencana (Rapid Health Asesment) 3. DAN FUNSI BSB DAERAH 1. Tenaga non medis adalah unsur awam umum dan awam khusus. Dalam Keadaan bencana : Semua anggota BSB di bawah Kepala Dinas Kesehatan setempat dengan koordinasi Satkorlak/ satlak PBP. Komponen pra rumah sakit Komponen intra rumah sakit Komponen antar rumah sakit 2. Dalam Keadan sehari-hari/ tidak terjadi bencana : Tujuan yang tergabung dalam BSB berada di dalam unit kerjanya masing 2. TUGAS. dan sanitasi lingkungan serta membantu rehabilitasi stress paska trauma Komponen Utama BSB Daerah 1.

Komponen sumber daya manusia Ø Tenaga kesehatan : perawat mahir.Ø Komponen Pendanaan 3. Maka dari itu untuk menjamin profesionalitas kemampuan pendukung komponen Brigade Siaga Bencana perlu diselenggrakan pelatihan khusus mengenai penanganan kegawatdaruratan sehari-hari maupun bencana baik untuk tenaga kesehatan maupun non kesehatan. awam khusus 4. Peningkatan mutu hanya dapat dicapai apabila dilakukan perbaikan pada semua komponen tanpa kecuali. dokter. dokter spesialis Ø Tenaga non kesehatan : awam umum. Adapun jenis pelatihan penanganan kegawatdaruratan : JENIS SDM Awam Umum Awam Khusus Ø Polisi Ø Pemadam Kebakaran Ø Pramuka Ø PMI KEMAMPUAN YANG HARUS DIMILIKI PPGD awam umum PPGD awam khusus . Pada kenyataannya saau ini komponen pra rumah sakit adalah satu komponen yanng masih lemah. Koordinasi antara tim kesehatan dan non kesehatan dalam bentuk kerja sama Lintas Sektor Komponen –komponen tersebut harus dapat berinteraksi secara efektif dan efisien untuk menjamin berhasilnya pelayanan gawat darurat yang bermutu.

ACLS Diagnosa dan terapi alternatif . BLS. ATLS.Ø Hansip Ø Driver Ambulance 118 Ø Organisasi profesi lain Perawat Mahir Dokter Umum Dokter Specialis PPGD perawat. AlS PPGD dokter.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful