KEBIJAKAN PUBLIK DALAM TINJAUAN EKONOMI ISLAM Oleh: Sasli Rais1 1.

PENDAHULUAN Peran efektif bagi negara sebagai mitra, katalisator dan fasilitator tidak dapat dihindarkan untuk mewujudkan visi dan misi ekonomi Islam. Al-Qur’an hanya menyediakan norma-norma dan menganjurkan kaum muslimim untuk menaatinya. Diharapkan kaum muslimin akan mengikuti petunjuk Al-Qur’an itu. Tetapi, mereka belum tentu bersedia melakukannya, terutama jika lingkungan moral secara umum telah merosot. Baqir AshShadr melihat bahwa intervensi negara dalam lapangan kehidupan ekonomi sangat diperlukan untuk menjamin keselarasannya dengan norma-norma Islam tersebut.2 Karena itu pemerintah berperan menyediakan berbagai barang publik untuk mendorong pembangunan dan kesejahteraan bersama melalui kebijakan publik dan fiskalnya. Kebijakan publik (public policies) merupakan rangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan (termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak) yang dibuat oleh badan dan pejabat pemerintah, diformulasikan di dalam bidang-bidang isu sejak pertahanan, energi, kesehatan sampai ke pendidikan, kesejahteraan dan kejahatan. Dalam salah satu bidang isu tersebut terdapat banyak isu kebijakan, yaitu serangkaian arah tindakan pemerintah yang aktual ataupun yang potensial yang mengandung konflik di antara segmen-segmen yang ada dalam masyarakat. Isu kebijakan yang ada biasanya merupakan hasil konflik definisi mengenai masalah kebijakan. Contohnya, sebagian besar segmen dalam masyarakat memandang kesejahteraan sebagai isu kebijakan; kesejahteraan sebagai suatu masalah yang melibatkan nilai-nilai ekonomi, sosial, politik dan budaya yang tidak terpenuhi. Dalam realitasnya kesejahteraan merupakan suatu gabungan dari masalah-masalah seperti tuntutan dan bahkan lebih dari itu. Di bawah ini gambar tentang tiga komponen yang berpengaruh terhadap kebijakan publik.

1 Makalah Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Magister Universitas Indonesia, Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah, PSKTI, UI tahun 2002. 2 M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam, (Jakarta :Gema Insani Press, 2001), Cetakan Pertama, hal. 63.

Halaman :

1

Pelaku kebijakan. Barang-barang yang melingkupi kepentingan umum itu disebut barang atau jasa publik. para pelaku kebijakan merupakan produk dari sistem kebijakan. misalnya kelompok warga negara. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. 110. Sedangkan dalam ekonomi Islam tiga komponen itu baik pelaku kebijakan. yang bersifat eksklusif. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. sistem kebijakan berisi proses yang bersifat dialektis.2. disarikan dari gambar 3. Halaman : 2 . mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pembuat kebijakan dan kebijakan publik. Lingkungan kebijakan (policy environment) yaitu konteks khusus di mana kejadian-kejadian di sekeliling isu kebijakan terjadi. Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. William N. Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam. berarti berbicara tentang bagaimana penganggaran dan pembelanjaan negara dalam usahanya untuk membiayai kegiatan ekonomi publik. hal. hal 34. Barang atau jasa spesifik. lingkungan kebijakan maupun kebijakan publik itu sendiri harus selalu berpedoman terhadap akidah. perserikatan buruh. Barang atau jasa publik dibedakan menjadi tiga (3) jenis : 1. Guna membiayai kebijakan publik tersebut diperlukan adanya kebijakan fiskal. partai politik. yang berarti bahwa dimensi obyektif dan subyektif dari pembuatan kebijakan tidak terpisahkan di dalam prakteknya. dan Karnaen Parwataatmadja. sistem kebijakan adalah realitas obyektif yang dimanifestasikan ke dalam tindakan-tindakan yang teramati berikut konsekuensinya. pemimpin terpilih dan para analis kebijakan sendiri –sering menangkap secara berbeda informasi yang sama mengenai lingkungan kebijakan. Dunn. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. akhlak dan syariah.Gambar 1: Tiga Elemen Sistem Kebijakan3 PELAKU KEBIJAKAN AKIDAH AKHLAK SYARI’AH LINGKUNGAN KEBIJAKAN KEBIJAKAN PUBLIK Kesejahteraan Inflasi Pengangguran Diskriminasi Gelandangan Analisis Kebijakan Kelompok Warga Negara Serikat Pekerja Partai Instansi Keadilan Ekonomi Ekonomi Upah Personil Perkotaan Definisi dari masalah kebijakan tergantung pada pola keterlibatan pelaku kebijakan (policy stakeholders) yang khusus. 1999). 2002. di mana seseorang yang memiliki benda tersebut mempunyai hak secara legal untuk mengeluarkan orang lain dari 3 Sasli Rais. Ekonomi publik merupakan ilmu ekonomi yang membahas masalah barangbarang dan jasa-jasa yang melingkupi kepentingan umum. maka kita akan membahas sesuatu yang berhubungan dengan barang publik atau jasa yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak. Oleh karena itu. Sistem kebijakan adalah produk manusia yang subyektif yang diciptakan melalui pilihan-pilihan yang sadar oleh para pelaku kebijakan. yaitu para individu atau kelompok individu yang mempunyai andil di dalam kebijakan karena mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah. Edisi Ke-2. agen-agen pemerintah.

Barang atau jasa kolektif. Barang atau jasa publik yang bersifat barang kolektif dan setengah kolektif. termasuk apakah mereka itu muslim maupun non muslim. Cetakan Pertama. Karnaen A. Nilai paling fundamental yang mendasari prinsif ini adalah sifat rahman dari Tuhan yang diperuntukkan kepada hamba-hamba-Nya dan bahkan semua makhluk hidup. Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang kebijakan publik. yang ditentukan oleh penawaran dan permintaan. yang tidak bersifat eksklusif karena dapat dikonsumsi oleh semua orang. Monopoli. hal 7-8. ilmu dan teknologi. kesehatan. Kebijakan publik yang juga sejalan dengan Islam adalah misalnya jaminan undangundang terhadap kebebasan bagi setiap orang untuk melakukan usaha (business entry). Dunn. Guna mewujudkan visi dan misi itu diperlukan adanya mekanisme pengaturan agar masyarakat yang sejahtera dapat diwujudkan. Dawam Rahardjo. 87. Sedangakan misi ekonomi Islam terwujudnya persamaan martabat di antara umat manusia sehingga di sini perlu ditegakkan keadilan. Barang atau jasa setengah kolektif adalah barang-barang spesifik yang mana produksinya mempunyai efek ganda kepada masyarakat. masalah perkotaan. transfortasi. seperti ingkungan. 2002. Meskipun sekolah dasar dapat disediakan oleh swasta akan tetapi karena dipandang sebagai hal yang penting.6 seperti melalui kebijakan publik. hal. Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Negara USA misalnya. maka setiap manusia atau warga negara harus dapat memperoleh penghidupan yang sesuai dengan martabat kemanusiaan. Kebijaksanaan Fiskal dan Ekonomi Publik Dalam Islam. misi dan mekanisme pengaturannya dalam ekonomi Islam. Padahal munculnya usaha-usaha baru umumya membawa inovasi. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dalam sistem ekonomi Islam adalah siapa. oligopoli dan monopsoni merupakan salah satu faktor yang menghambat timbulnya usaha-usaha baru. Parwataatmadja. 1992).4 Sistem laissez faire yang tidak mampu menjamin kondisi kesempatan kerja yang penuh atau cukup luas. dengan cara bagaimana dan kepada siapa berbagai barang dan jasa itu harus diadakan. Sebagai kebalikan dari ekonomi private. air atau jalan yang disediakan oleh pemerintah. pendidikan. Tidak ada seorangpun yang dapat dilarang untuk mengkonsumsi udara segar.keuntungan yang diperolehnya. Parwataatmadja. Alokasi dari barang-barang spesifik ini. kesempatan kerja dan perburuhan. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. ayat 201). maka kita harus memahami terlebih dahulu visi. bertentangan dengan prinsip kebijakan publik dalam ekonomi Islam. pembangunan ekonomi dan sosial. dalam M. Visi ekonomi Islam adalah diperolehnya kebaikan atau kesejahteraan di dunia dan di akhirat bagi umat manusia (Surat Al-Baqarah. Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. sebagai contoh : mobil. Rusli Karim (Ed). komunikasi. Edisi Ke-2.5 Karena itu maka salah satu kebijakan publik yang bersifat mendasar menurut Islam adalah memberikan ruang yang lebih besar bagi anggota masyarakat untuk memilih dan mengambil keputusan. termasuk ekonomi publik yang akan kita bahas ini. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. M. pemerintah dapat menyediakan dengan harga yang murah dan terjangkau semua orang. dan persediaan energi dikelola atau diproduksi oleh organisasi publik (pemerintah). Halaman : 3 . rumah. tanpa kecuali. Pertama-tama sesuai dengan doktrin pemuliaan Allah SWT terhadap manusia. pertahanan. 2. 4 5 6 William N. 1999). termasuk kebijakan fiskal. keamanan publik. Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam. atau pelayanan-pelayanan yang bersifat phisik) selalu didasarkan pada harga pasar. yang lebih banyak membahas pada masalah kepentingan individu atau swasta. kesejahteraan sosial. peradilan pidana dan masalah internasional. 3. 110. Pengantar Analisis Kebijakan Publik (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. hal. di sana terdapat UU tentang usaha kecil (small business acts) yang tujuan pokoknya adalah memberikan jaminan tentang free entry atau kebebasan berusaha.

Masjid ini dibangun berdasarkan infak (swadaya) masyarakat sehingga tidak membebani kebijakan fiskal negara. menetapkan Madinah sebagai wilayah anti pelanggaran. Kemerdekaan agama dijamin. Langkah-langkah reformasi kebijakan publik yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain : 1). mahkamah agung. kuda. markas besar tentara (bidang pertahanan). d. mengeluarkan piagam (charter) yang didukung oleh semua pihak. 2). dll. a. Dengan demikian Rasulullah SAW. b.. Setiap golongan masyarakat diakui mempunyai hak tertentu dalam bidang politik. terdapat pula infak (swadaya) untuk merubah keadaan secara perlahan-lahan dengan mengatasi masalah yang menjadi prioritas tinggi. maka reformasi kebijakan publik dapat dimulai agar sesuai dengan ajaran Islam. denda. 5). maka seluruh anggota masyarakat diwajibkan. Pemerintahan Rasulullah SAW. Dengan tertanamnya akidah yang kuat pada diri pengikut Rasulullah SAW. unta. c. Perdamaian/keamanan perlu segera diciptakan keamanan publik sehingga untuk itu Rasulullah SAW. di Madinah belum mempunyai sumber keuangan publik (kebijakan fiskal) yang dapat dimobilisasi untuk membiayai administrasi dan pembangunan. kekerasan ataupun peperangan. Saat itu tidak ada tentara yang resmi karena semua muslim yang mampu boleh menjadi tentara. yaitu : padang rumputnya tidak boleh dipotong.l. Rasulullah SAW. pepohonannya tidak boleh ditebang. Menetapkan konstitusi Madinah Rasulullah SAW. pusat pendidikan (bidang pendidikan). seperti a. Seluruh anggota masyarakat tanpa kecuali berkewajiban mempertahankan keamanan negara dari serangan luar. dalam membiayai kebijakan publik saat itu disamping pajak dan zakat. Pembentukan sukarela dengan semangat jihad ini telah berhasil mempertahankan Madinah dari serangan kaum musrik Quraisy pada perang Badar tahun ke-2 H. Membentuk Majelis Syuro dan Sekretariat Negara 6 Karnaen A. baitul maal (bidang ekonomi).l. berisi : a. dll. op. Parwataatmadja. hal.cit. Membangun sistem pertahanan Guna membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Menciptakan kedamaian (keamanan) Madinah dihuni oleh beberapa suku yang masih sering bertikai. kantor pemerintahan. diberi kewenangan dan otoritas secara mutlak untuk menyusun peraturan dan tata tertib umum yang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat. Negara tidak secara langsung mengeluarkan fiskalnya untuk gaji tentara tetapi tentara dibolehkan men6gambilnya melalui pendapatan bagian rampasan perang berupa senjata. 11-12. Rasulullah SAW.6 4). perang Uhud tahun ke-3 H dan perang lainnya setelah tahun ke-6 H. Masjid juga dapat dimultifungsikan sebagai tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan publik. Membangun masjid utama sebagai tempat untuk berbagai kegiatan Membangun masjid mempunyai prioritas tinggi karena merupakan sarana untuk membangun dan memperkuat akidah serta akhlak. Halaman : 4 . Kemudian membentuk pasukan sukarela untuk berjihad mempertahankan diri dari serangan musuh. dan penduduknya tidak boleh membawa senjata untuk perkelahian.2. Kebijakan Publik pada masa Pemerintahan Rasulullah SAW. 3).

Kadim As-Sadr. sebagai air minum publik bagi musafir dan masyarakat. Kebijakan publik lainnya. 6). kharaj (pajak atas tanah). Utusan negara telah dikirim ke berbagai negara. Tahun ke-6 H. golongan dan daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintahan pusat Islam. serta pemimpin dan penanggung jawab keseluruhan administrasi negara membentuk majelis syuro yaitu semacam lembaga tinggi negara yang ikut merumuskan berbagai kebijaksanaan.cit. 3). kharaj dan jizya baru ditetapkan pada tahun ke-7 H maka Baitul Maal yang dibentuk pada awal pemerintahan mungkin masih berbentuk pusat pengumpulan dan pembagian kekayaan publik yang belum melembaga. Cetakan Pertama. jizya (pajak untuk jaminan non muslim). 25. sebagai kepala negara. Karim. Halaman : 5 . 13-14. 26. memerintahkan agar pegawai Baitul Maal. hal. 2). Parwataatmadja.Untuk melengkapi pemerintahan. 7 9 Karnaen A. seperti adanya golongan yang menentang pembayaran zakat. qadi besar dan mufti. pendidikan dan kebudayaan dan kesejahteraan sosial. termasuk kebijakan fiskal yang dijalankannya. zakat. Mewakafkan sumur. hal 40 8 Adiwarman A. 2001). Melakukan penggalian kanal dari Fustat (Kairo) ke Suez untuk memudahkan transfortasi dagang antara semananjung Arab dan Mesir. Bilal bertugas mengurus keperluan rumah tangga Rasulullah SAW. 10 Adiwarman A. hal. betul-betul diterapkan secara konsisten sehingga dari segi terbentuknya suatu sistem ekonomi telah diletakkan fondasinya yang kemudian dilanjutkan pembangunannya. semacam sekretariat negara dalam bentuk yang masih sederhana dibentuk.. 5). ketika pendapatan yang diperoleh dari khums. dll. Karnaen A. Pembangunan dua kota bisnis : Kufah (untuk bisnis dengan Romawi) dan Basrah (bisnis dengan Persia). Rasulullah SAW. Semasa Khalifah Umar bin Khattab kebijakan publik yang dibangun yaitu : 1).9 6). op. Karim. Kebijakan Publik Masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun (11-60H/632-661 M) Semasa pemerintahan Al-khulafa’ Ar-Rasyidun ini ajaran Islam dan tauladan Rasulullah SAW. Membentuk tentara untuk menjaga dan melindungi tapal batas. Menyempurnakan fungsi Baitul Maal. pemimpin di bidang hukum. 2001).8 3. 4).cit. karena zakat. Menurut Dr. golongan yang murtad dari Islam. Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press. Membentuk Baitul Maal.10 Semasa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan kebijakan publik yang dilakukannya antara lain : 1). cukup tinggi. seperti : kepentingan dakwah. Mengatur perjalanan pos. orang yang dikirim ketempat jauh untuk menyebarkan agama dan pejabat lainnya mendapatkan gaji yang dibayarkan dari dana ini. hal. Kebijakan publik yang dibangun semasa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun antara lain : Semasa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib tidak banyak kebijakan publik. Mereka menjalankan tugasnya dengan sukarela dan membiayai sendiri hidupnya dari sumber yang tidak mengikat. Pengawasan terhadap kebersihan jalan. Cetakan Pertama. Majelis ini anggotanya terdiri dari pemimpin kaum yang sebagian dari mereka bertanggung jawab mencatat wahyu.7 6). dan bertangung jawab mengurus tamu-tamunya di sekretariat negara. dll. op. mungkin karena saat itu khalifah lebih banyak menjalankan dan meredam terjadinya gejolak golongan yang tidak menjalankan terhadap apa yang telah diputuskan pemerintah. Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press. Parwataatmadja. Rasulullah SAW.

jalan.12 Al-Ghazali (451-505H / 1055-1111M) –hidup di masa Khalifah Al-Qa’im (422H/1031M) sampai Khalifah Al-Mustazhir (487H/1094M). Penerimaan dan pengeluaran publik. Bosworth memberikan catatan bahwa empat (4) periode pertama Daulah ‘Abbasiyah yang berkedudukan di Bagdad dipandang sebagai Zaman Emas yaitu suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang murni berkembang pesat. Pengangkatan ini dapat mengabsah kan pemerintahan Mamluk dan sekaligus menjdi kekuatan moral untuk melawan tentara salib dan bangsa Mongol. Parwataatmadja.dalam kitabnya “Ihya ‘Ulum Al-Din”. Bosworth. Saranya untuk pembangunan fasilitas publik. Beberapa pemikir yang dalam kitabnya membahas tentang kebijakan publik antara lain pada masa ini antara lain: Mawardi (364-450H / 974-1075M) –hidup di masa Khalifah Ath-Tha’i (363H/741M) sampai Khalifah Al-Qa’im (422H/1031M). Mendirikan gedung pengadilan. hal 62 Halaman : 6 . Parwataatmadja. op. 3). Kewajiban penguasa. Kewajiban penguasa untuk menolong rakyat yang kekurangan dan tidak ada jalan untuk mendapatkan penghasilan untuk hidupnya melalui baitul maal.13 6. Khalifah inilah yang memimpin tentara untuk merebut kembali Baghdad tetapi gagal dan meninggal 11 12 Karnaen A. d. hal 41 Karnaen A. 5. jembatan. b. Preregatif negara untuk menghibahkan tanah. yang membahas norma-norma kehidupan sosial (fard’ul al-kifayah).2). c.dalam bukunya AlAhkam Al-Sultaniyyah membahas pemerintahan dan administrasi yang berisi tentang kebijakan publik. Kebijakan Publik di masa Daulah Umaiyyah (132-656H / 749/1258M) Pada masa ini hanya penulis temukan Abu Yusuf (113-182H / 731-798M) –hidup di masa Khalifah Hisyam (105H/724M). b. seperti pembuatan jembatan. c. termasuk masjid. Kebutuhan akan keadilan dan kewajaran dalam perpajakan. yaitu : a. dam dan perkerjaan irigasi. seperti : bendungan. Tanah publik. b.E. Kebijakan Publik Masa Daulah ‘Abbasiyah II (656-1342H / 1258-1944M) Menurut catatan G. Tanggung jawab ekonomi penguasa terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat serta pengembangannya. Pajak yang melewati batas yang ditetapkan hanya boleh untuk membiayai pertahanan dan lain-lain.11 4. Baybars mengundang seorang dari anggota keluarga ‘Abbasiyah yang berhasil lolos datang ke Kairo untuk diangkat sebagai khalifah (659H/1261M). Kebijakan Publik di masa Daulah ‘Abbasiyah I (132-656H / 749/1258M) Orientaslis C. hal 58 13 Karnaen A.E. Tanah umum (common). Menentang keras pengenaan pajak pertanian dan anjuran penggantian suatu retribusi tetap atas tanah dengan pajak atas hasil produksi pertanian yang dikenakan secara propossional.cit. “Al-‘Amal” dan “Al-Tibr Al-Masbuk”. op.cit.sebagai jurist pertama yang secara eksklusif menekuni kebijaksanaan ekonomi (kebijakan publik) dalam bukunya Al-Kharaj yang penekanannya pada : a. Mamluk Mesir. tidak lama setelah kekhalifahan Bagda ditumbangkan bangsa Mongol. pengairan. Membangun prasarana ekonomi.cit. tidak dipenuhi dari penerimaan normal. seperti : a. d. e. op. Parwataatmadja.

Di sini pendidikan dapat menjadi private goods dan market goods yang perkembangannya diserahkan mekanisme pasar. Sepeninggalnya diangkat kembali seorang khalifah ‘Abbasiyah.16 Konsekuensinya dalam kebijakan fiskal adalah bahwa anggaran pemerintah perlu diarahkan kepada pendidikan dasar dan menengah. Oleh karena itu. anggaran untuk pendidikan dan peningkatan mutu sumber daya manusia perlu mendapat prioritas. Pendidikan pada dasarnya termasuk ke dalam kategori private goods. 88. ia menyarankan negara untuk mengurangi pajak dan meningkatkan pengeluran publik dalam mengatasi masalahnya. peranan negara masih juga penting. op. karena negara berkepentingan dengan mutu. iptek adalah tergolong public goods.15 7. Rusli Karim (Ed). op. 81-82 16 M. hal.14 Shah Wali Allah (1114-1176H – 1703/1762M) -yang hidup di masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah II.dalam upaya itu. hukum dan ketertiban. Di masa ‘Abbasiyah II beberapa pemikir yang memiliki dan berkonsentrasi terhadap kebijakan publik dan fiskal antara lain : Ibn Khaldun (732-808H / 1332/1404 M) –hidup mulai Khalifah Al-Mustakfi I (701H/1302M) sampai Khalifah Al-Musta’in (808H/1406). Namun. keduanya dapat diwakili dalam kata ‘’goods”. Pada tingkat pendidikan menengah. 78-79 Karnaen A. Kebijakan Publik Masa Kini Dalam teori mengenai barang (goods) dan jasa. Parwataatmadja. Oleh sebab itu. Pada tingkat pendidikan tinggi. Namun. makin maju suatu negara. langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mendorong dan 14 15 Karnaen A. yang pada akhirnya menghasilkan pendapatan total yang lebih kecil. karena meningkatnya peran swasta. persentase alokasi anggaran untuk pendidikan dapat makin menurun. 1992). Namun. penyelenggaraannya dapat dilakukan secara individual atau swasta. hal. Parwataatmadja.cit. Di lain pihak. Oleh karenanya. Makin tinggi tingkat pendidikan. dan karena itu maka negara perlu menyelenggarakannya. kebijaksanaan harus bersifat lebih longgar bagi peranan swasta. dikenal dikotomi antara public goods (barang umum) versus (barang swasta) private goods. Kehidupan yang berbudaya mensyaratkan adanya satu kitabnya Muqaddimah membahas bagaimana pajak yang tinggi akan mematikan dorongan (incentive) yang mengakibatkan penurunan produksi dan pengurangan pemerintahan dengan beberapa staf untuk memelihara pertahanan. Di negara-negara sedang berkembang. Halaman : 7 . yang pemanfaatannya tidak bersifat eksklusif. Kebijaksanaan Fiskal dan Ekonomi Publik Dalam Islam. pada tingkat ini. Karena ia dapat dinikmati secara incividual namun pengadaan pendidikan pada saat ini dan menurut ajaran Islam harus dilakukan untuk setiap penduduk. Kebijakan lain yang esensial menurut Islam adalah pengembangan iptek. Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Hanya saja memang lingkungan birokrasi itu kurang kondusif terhadap iklim kreatif dan inovatif. Pendidikan dasar harus disediakan oleh negara. hal.cit. Namun. perpajakan penting untuk membayar biaya pemerintahan dan membiayai semacam pengeluaran umum (barang dan jasa publik) yang banyak orang berat untuk menanggung atau berada di luar tujuan mereka. secara langsung atau tidak langsung. Kegiatan penelitian dan eksprimen dapat dilakukan baik oleh negara maupun swasta. Dawam Rahardjo. swasta memiliki kesempatan untuk berperan. peranan swasta dapat lebih besar. sedangkan swasta dapat mendukung. peranan negara harus cukup besar. yang selanjutnya disebut Daulah ‘Abbasiyah II dengan pusat pemerintahan di Kairo. dalam M. Cetakan Pertama. menjamin keadilan dan mengurusi pekerjaan publik seperti : membangun jembatan dan jalan.dalam penduduk karena penduduk akan pindah ke wilayah lain. Khalifah Al-Mutawakkil III (923H/1517M)-dalam karyanya Hujjah Allah Al-Balighah mengemukakan pandangannya tentang keuangan negara.

Pajak yang sama dengan pajak perusahaan telah dikenakan kepada LSM.memberikan insentif kepada perusahaan swasta dan kelompok profesional dalam LSM untuk melakukan pengembangan iptek. Dengan UU dan peraturan ini masyarakat dapat membentuk berbagai lembaga hisbah. sesuai dengan prinsif “Waamruhum syuraa bainahum” dan “Wasyaawirhum fir amri” adalah memberikan insentif perpajakan kepada siapa yang bersedia membayar zakat. yang telah mendirikan di seluruh propinsi. Karena pemerintah tidak terlibat langsung dalam mobilisasinya. maka barangkali masyarakat akan lebih termotivasi. Sikap yang paling tepat untuk menciptakan keluarga dan masyarakat sehat adalah bersikap preventif. hal ini mendorong orientasi profit kepada LSM yang sebenarnya tidak dikehendaki. Pengadaan market goods dan private goods pada dasarnya harus lebih banyak diserahkan kepada swasta melalui mekanisme pasar. Di negara-negara maju yang menghargai perkembangan ilmu. Kebijakan publik. yaitu negara dan pemerintah. Langkah preventif itu adalah melalui keluarga berencana dan memelihara kesehatan lingkungan. Kesehatan memang suatu private goods. Mengacu kepada ajaran Islam kebijakan publik yang dapat didukung oleh partisipasi masyarakat. sesuai dengan prinsif syura. Pemerintah dapat mendorongnya dengan fasilitas fiskal. Sedangkan pemerintah dapat membantu dengan menyediakan primary health care atau kesehatan umum (public health) yang tergolong ke dalam public goods. Hanya apabila terjadi dan untuk mencegah distorsi. Demikian pula kepada penerbitan buku-buku ilmiah dan pendidikan. sebabnya adalah karena kebutuhan dan permintaan terhadap kesehatan itu sangat besar. Ini akan mendorong masyarakat membayar kepada Badan Amil Zakat. baik pajak perorangan maupun pajak perusahaan (corporate tax). badan-badan penerbitan mendapat berbagai insentif fiskal. menurut Islam mengarah kepada peranan negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia (basic human needs). Untuk mengatasi hal itu masyarakat dapat mendirikan yayasan-yayasan kesehatan. Fungsi ini umumnya dilaksanakan dengan memungut pajak progresif dan penekanan kepada pajak langsung. Tetapi. seperti hibah dan wakaf. Hal ini tentunya merugikan golongan berpendapatan rendah. Aktor dari fungsi distributif ini adalah pemerintah. Salah satu fungsi kebijakan fiskal yang penting adalah fungsi distributifnya. perlindungan dan pemberian insentif. fungsi hisbah ini dapt dijalankan melalui LSM dan asosiasi para pelaku ekonomi. Lembaga itu pada dasarnya berfungsi menjaga kepentingan masyarakat dan mencegah tindakan-tindakan yang tidak adil oleh mereka yang diberi amanah kekuasaan formal. Sektor kebijaksanaan publik yang tidak kurang pentingnya dalam pandangan Islam adalah bidang kesehatan. infaq dan shadaqah. mau tak mau akan merupakan market goods. Dewasa ini. Di bidang ekonomi. misalnya kamar dagang dan industri. Fasilitas fiskal dapat merupakan instrumen yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik. kabupaten dan kecamatan. apalagi dengan bertambahnya kepadatan penduduk dan industrialisasi yang menimbulkan sumber-sumber penyakit. pemerintah dapat turun tangan melalui UU dan peraturan. Dengan perkataan lain. organisasi Halaman : 8 . terutama oleh masyarakat bukannya kuratif yang dilakukan oleh rumah sakit. Konsekuensi dalam kebijaksanaan fiskal adalah memberikan subsidi bagi pengembangan iptek atau memberikan keringanan pajak bagi perusahaan swasta dan perorangan yang memberikan sumbangan kepada LSM yang mengembangkan iptek. Infaq dan Shadaqah (BAZIS). ekstensifikasi pajak masih bersifat “tidak pandang bulu”. Namun. fungsi distributif ini dapat pula dilaksanakan sendiri oleh masyarakat melalui pelembagaan ZIS dan harta agama lainnya. Namun meskipun begitu pengadaannya tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Akibatnya. jasa teknologi modern dan langka dokter ahlinya. kesehatan dasar adalah suatu collective goods yang diputuskan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah. asosiasi pengusaha. Yang diperlukan hanyalah pengaturan. Dana yang terkumpul ini dapat memperkuat baik Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) maupun bank syariah dan BPRS lainnya.

Apabila kita menganut prinsif syura. “infaq”. menurut Islam. “shadaqah”. pengangguran dan berbagai hal lainnya yang tidak adil apabila harus dibayar oleh mereka yang tidak ikut menikmati manfaat produksi dan masyarakat berpendapatan rendah. yang membayar ongkos tidak hanya perusahaan yang bersangkutan tetapi juga konsumen. Islam tidak menghendaki adanya konsentrasi kekayaan di tangan segelintir manusia. dengan diproduksinya air merk “aqua” dan sejenisnya (sebagai simbol air minum) dan dijual di pasar. Sementara itu. Misalnya saja mengenai penyediaan air bersih atau air minum.buruh dan tani. Namun air produksi PDAM di daerah pedesaan. Lagi pula harus diingat bahwa apabila perusahaan dan konsumen tidak mau menanggulangi public goods yang negatif itu. maka beban untuk mengatasinya akan jatuh ketangan negara. Tanggungjawab negara yang lain. Di sini. masih dinilai cukup mahal. Artinya. melaksanakan tanggungjawab sosial (corporate social responsibility). maka pendapatan negara dapat dibantu. Prinsif ini mengandung arti “mengurangi kekayaan untuk didistribusikan kepada yang miskin atau kekurangan”. keterlibatan negara dan lembaga-lembaga yang merupakan perwujudan dari kepentingan kolektif. yaitu “hendaknya kekayaan itu jangan hanya beredar di antara segelintir orang”. Islam memang mengajarkan prinsif transfer yang disimbolkan dengan istilah “zakat”. Kebijakan publik yang Islami adalah menciptakan iklim di mana perusahaanperusahaan swasta. namun dalam kenyataannya. Birokrasi cenderung untuk mengurangi dan mengandung unsur-unsur yang mengurangi efisiensi. Namun. Mereka. sebab dengan begitu masyarakat memiliki hanya pilihan. Caranya adalah dengan melakukan internalisasi ongkos untuk membiayai pelaksanaan tanggungjawab sosial itu. di berbagai daerah. setidaknya harus membayar ongkos terhadap berbagai external diseconomies yang ditimbulkannya. Namun pajak bukan hanya berfungsi distributif. Lembaga bantuan hukum (LBH) . diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan dasar manusia. penerimaan negara dari pajak dapat besar. yang berarti melibatkan masyarakat sendiri untuk mengatasi masalah-masalah publik dan meningkatkan kesejahteraan umum. Hal itu sudah dilakukan dengan pendirian PDAM. Negara sebenarnya hanya bertugas menjamin terlaksananya ajaran ini. Umumnya. yang dalam hal tertentu berarti sama. yang bercorak LSM. Negara mempunyai kewajiban untuk pengadaannya. dengan diikutsertakannya konsumen untuk membayar ongkos dampak diseconomies. tetapi anggaran pengeluaran dapat menjadi besar pula. selain tidak dapat menjangkau seluruh daerah pedesaan. Padahal air itu di Indonesia pada umumnya melimpah. tentu saja dengan bantuan pemerintah setempat. sejalan dengan prinsif yang lain. Saat ini. atau asosiasi organisasi profesional. apakah dengan tindakan yang lebih langsung atau mendorong swasta dan masyarakat sendiri untuk melaksanakan doktrin itu. maka konsekuensinya adalah bahwa kebijakan fiskal akan cenderung untuk mencegah kontraksi moneter yang terjadi karena intensifikasi pajak. sebab kalau tidak maka seluruh masyarakat dapat terkena predikat “mendustakan agama”. Sedapat mungkin sumberdaya itu tetap berada di tangan masyarakat. pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan akan cenderung untuk mengurangi pendapatan pajak. Fungsi alokatif dari pajak. diarahkan untuk memperkuat swadaya masyarakat sendiri. merupakan hal yang esensial dalam Islam. air minum sudah merupakan market goods dan private goods. air bersih dan air minum merupakan barang langka. Dengan perkataan lain. Fungsi ini dijalankan terutama melalui lembaga perpajakan. Negara dapat dan mungkin malahan harus melakukan intervensi dalam masalah ini. Dalam Al-Qur’an diajarkan prinsif al-ma’un atau tanggungjawab sosial. penyakit. Atas dasar ini. tetapi juga alokatif. Prinsif ini dapat diwujudkan ke dalam lembaga-lembaga negara. Halaman : 9 . misalnya dengan menciptakan proyekproyek padat karya. Melalui lembaga syura maka masyarakat dapat memperluas pilihan dan mengembangkan inovasi. menurut Islam adalah dalam pemberantasan kemiskinan dan kepincangan pendapatan masyarakat. terutama yang besar. misalnya polusi. Di sini masyarakat lokal dapat mengambil prakarsa untuk melakukan pengadaan air secara swadaya. maka negara berfungsi untuk melakukan redistribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat.

baik dalam penerapan undang-undang yang berdasarkan syariah. maka negara juga berperan Halaman : 10 . Besarnya peranan negara secara teknis tergantung pada tingkat perkembangan ekonomi itu sendiri tetapi juga tergantung dari hasil kesepakatan mengenai pembagian fungsi antara pemerintah dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Demikian juga dengan bidang transfortasi. Kelima. termasuk bandaranya sehingga transfortasi swasta tidak semena-mena melakukan tindakan dalam menaikkan tarif angkutan atau perjalanan. armada laut oleh PELNI. menjaga stabilitas dan keberlangsungan perkembangan ekonomi dalam proses kemajuan. Guna memperkuat peranan masyarakat. inovasi dan kerja keras untuk mencapai kesejahteraan umum. Ketiga. Sementara itu peranan negara juga cenderung makin besar. armada kereta api oleh PT KAI. termasuk stasiunnya. diarahkan kepada pemanfaatan sumber daya alam yang merupakan anugerah Tuhan itu. mengarahkan alokasi sumberdaya sehingga dapat dicapai keseimbangan antara efisiensi dan partisipasi masyarakat yang luas dalam kegiatan usaha serta melakukan redistribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat sehinga tidak timbul kepincangan dan ketidakadilan sosial. tetapi hal ini perlu diimbangi dengan pengembangan lembaga hisbah sebagai alat kontrol sosial. gejolak konjungtur dan kemerosotan daya beli masyarakat. menumbuhkan proses kebersamaan yang memberi peluang bagi berkembangnya kreativitas. Pertama. Salah satu perwujudan dari prinsif ini adalah koperasi dan usaha bersama (yang secara formal bukan berbadan hukum koperasi). sampai saat ini alat-alat transfortasi meskipun sebagian telah ditangani pemerintah. termasuk proses formalisasi sektor informasi. Negara juga mengemban tugas untuk mengembangkan sumber daya manusia. tetapi juga yang besar dan modern. karena meningkatnya kebutuhan pengaturan dan penanggulangan external diseconimies. Dalam proses modernisasi dan globalisasi terdapat dua kecenderungan. secara efisien untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.Kebijakan publik dalam Islam juga mengarah kepada pembentukan unit-unit usaha yang bersifat kekeluargaan dan kerjasama. Peranan negara dipandang sebagai perwujudan amanah untuk mengembangkan dan memelihara kelestarian sumber daya alam. timbulnya usaha-usaha kecil dan usaha-usaha rumah tangga yang modern. termasuk pelabuhannya oleh PT ASDP dan armada udara oleh GIA. Peranan dapat lebih besar. Tugas negara adalah memberikan iklim dan insentif terhadap perwujudan sistem kelembagaan ekonomi di tingkat mikro ini. -seperti armada darat oleh DAMRI. Tetapi apabila kita mendasarkan diri pada prinsif syura. melalui pendidikan dan iptek. Keempat. Kebijakan publik menurut Islam yang berdasarkan tauhid mengandung beberapa ciri. Kedua. mengendalikan perekonomian ke arah perkembangan yang lebih stabil. Pertama. melalui perundang-undangan berdasarkan syariah. menciptakan distribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat secara adil dan merata. Para pemikir Islam pada umumnya cenderung untuk menempatkan peranan negara yang aktif. karena koleksi pajak akan lebih mudah diselenggarakan. maka tujuan-tujuan kebijakan publik sebaiknya dapat dicapai secara lebih mandiri melalui masyarakat sendiri. Setidak-tidaknya negara memberi kesempatan yang cukup luas kepada masyarakat untuk menangani masalah-masalah yang mereka hadapi. terutama Idul Fitri untuk umat Islam dan Natal untuk umat Kristiani-namun sering sekali pihak private tanpa diketahui oleh pihak pelaku kebijakan (pemerintah) ataupun diketahuinya melakukan pelanggaran-pelanggaran sengaja karena pihak private merasa bahwa pelaku kebijakan dalam hal ini dapat diberikan insentif yang tak legal atau dalam kata lain “disuap”. termasuk terminalnya. adalah terjadinya transformasi dari unit-unit usaha skala kecil kepada skala besar atau menengah yang lebih mampu merespon pasar. Namun pelaksanaan amanah itu perlu diimbangi dengan lembaga hisbah untuk mencegah penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan masyarakat. terutama saat-saat liburan sekolah dan harihari raya keagamaan. Kedua. terutama untuk mencegah pengangguran. Prinsif ini berlaku tidak saja terhadap unit-unit ekonomi kecil dan tradisional. menumbuhkan peranan setiap individu dalam meningkatkan kualitas hidupnya sesuai dengan martabat manusia yang dimuliakan oleh Tuhan. Kecenderungan ini akan mendukung pertumbuhan fiskal.

Cetakan Pertama. (Jakarta :Gema Insani Press bekerjasama dengan Tazkia Institute. M.. Campur tangan negara hanya diperlukan apabila terjadi dan untuk mencegah berbagai distorsi yang disebabkan karena gagalnya mekanisme pasar. 1992). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat penulis paparkan dari makalah ini a. (Jakarta : Gema Insani Press. Karnaen A. Parwataatmadja. (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Halaman : 11 . 8. Islam dan Pembangunan Ekonomi. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. seperti. Berbagai Aspek Ekonomi Islam. Rahardjo M. diterjemahkan Ikhwan Abidin Basri.penting dalam pengadaan sumber daya derivatif lainnya. 1990). bidang transfortasi. Cetakan Pertama. Cetakan Pertama. Pemerintah pada dasarnya berkewajiban menyediakan kebutuhan publik melalui kebijakannya. melalui mekanisme pasar. Kebijakan publik yang dibuat pemerintah seharusnya diberikan kepada warga negara (masyarakat) dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. (Jakarta : Gema Insani Press. Karim M. seperti prasarana dan kelembagaan. Pemerintah berkewajiban mengadakan pengaturan dan pengawasan apabila terdapat pihak swasta yang masuk ke wilayah kebutuhan publik. Dunn. Sebagian besar pengadaan barang-barang privat pada dasarnya diserahkan kepada masyarakat atau swasta. . dll. sehingga dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemampuan swadayanya dalam memecahkan masalah-masalah mereka sendiri secara lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung kepada pemerintah. 2). (Yogyakarta : Tiara Wacana. melainkan sejauh mungkin dapat dilaksanakan berdasarkan usaha bersama. 2001). Kebijakan fiskal. Cetakan Pertama. (Jakarta :Gema Insani Press bekerjasama dengan Tazkia Institute. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam. negara perlu mendorong masyarakat untuk menyelenggarakan berbagai bentuk usaha bersama berdasarkan kekeluargaan. 2000). DAFTAR PUSTAKA Chapra. Yusuf. tidak selalu harus melalui mekanisme birokrasi negara. . : 1). Proses-proses pengambilan keputusan yang sifatnya kolektif. Qardhawi. Sungguhpun demikian. 2002. 2001). Etika Ekonomi dan Manajemen. William N. diterjemahkan Zainal Arifin dan Dahlia Husin. . . Norma dan Etika Ekonomi Islam. Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer. 1997). pendidikan. Cetakan Pertama. Karim. juga berfungsi mengarahkan alokasi sumber daya. melalui berbagai fasilitas intensif. diterjemahkan Ikhwan Abidin Basri.l. (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Adiwarman A. Edisi Ke-2. Umer. Peranan negara perlu diimbangi dengan partisipasi masyarakat yang berdasarkan swadaya. Cetakan Pertama. 3). 1999). disamping melaksanakan fungsi stabilisator dan fungsi distributif untuk menciptakan keadilan sosial. Dawam. Rusli. iptek.