KEBIJAKAN PUBLIK DALAM TINJAUAN EKONOMI ISLAM Oleh: Sasli Rais1 1.

PENDAHULUAN Peran efektif bagi negara sebagai mitra, katalisator dan fasilitator tidak dapat dihindarkan untuk mewujudkan visi dan misi ekonomi Islam. Al-Qur’an hanya menyediakan norma-norma dan menganjurkan kaum muslimim untuk menaatinya. Diharapkan kaum muslimin akan mengikuti petunjuk Al-Qur’an itu. Tetapi, mereka belum tentu bersedia melakukannya, terutama jika lingkungan moral secara umum telah merosot. Baqir AshShadr melihat bahwa intervensi negara dalam lapangan kehidupan ekonomi sangat diperlukan untuk menjamin keselarasannya dengan norma-norma Islam tersebut.2 Karena itu pemerintah berperan menyediakan berbagai barang publik untuk mendorong pembangunan dan kesejahteraan bersama melalui kebijakan publik dan fiskalnya. Kebijakan publik (public policies) merupakan rangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan (termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak) yang dibuat oleh badan dan pejabat pemerintah, diformulasikan di dalam bidang-bidang isu sejak pertahanan, energi, kesehatan sampai ke pendidikan, kesejahteraan dan kejahatan. Dalam salah satu bidang isu tersebut terdapat banyak isu kebijakan, yaitu serangkaian arah tindakan pemerintah yang aktual ataupun yang potensial yang mengandung konflik di antara segmen-segmen yang ada dalam masyarakat. Isu kebijakan yang ada biasanya merupakan hasil konflik definisi mengenai masalah kebijakan. Contohnya, sebagian besar segmen dalam masyarakat memandang kesejahteraan sebagai isu kebijakan; kesejahteraan sebagai suatu masalah yang melibatkan nilai-nilai ekonomi, sosial, politik dan budaya yang tidak terpenuhi. Dalam realitasnya kesejahteraan merupakan suatu gabungan dari masalah-masalah seperti tuntutan dan bahkan lebih dari itu. Di bawah ini gambar tentang tiga komponen yang berpengaruh terhadap kebijakan publik.

1 Makalah Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Magister Universitas Indonesia, Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah, PSKTI, UI tahun 2002. 2 M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam, (Jakarta :Gema Insani Press, 2001), Cetakan Pertama, hal. 63.

Halaman :

1

Pengantar Analisis Kebijakan Publik (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Pelaku kebijakan. 1999). agen-agen pemerintah. Guna membiayai kebijakan publik tersebut diperlukan adanya kebijakan fiskal. para pelaku kebijakan merupakan produk dari sistem kebijakan. William N. Sistem kebijakan adalah produk manusia yang subyektif yang diciptakan melalui pilihan-pilihan yang sadar oleh para pelaku kebijakan. misalnya kelompok warga negara. yang bersifat eksklusif. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. hal. Halaman : 2 . hal 34. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. 110. Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. sistem kebijakan berisi proses yang bersifat dialektis. di mana seseorang yang memiliki benda tersebut mempunyai hak secara legal untuk mengeluarkan orang lain dari 3 Sasli Rais. Barang-barang yang melingkupi kepentingan umum itu disebut barang atau jasa publik. perserikatan buruh. sistem kebijakan adalah realitas obyektif yang dimanifestasikan ke dalam tindakan-tindakan yang teramati berikut konsekuensinya.2. disarikan dari gambar 3. Oleh karena itu. berarti berbicara tentang bagaimana penganggaran dan pembelanjaan negara dalam usahanya untuk membiayai kegiatan ekonomi publik. akhlak dan syariah. Edisi Ke-2. mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pembuat kebijakan dan kebijakan publik. Dunn. lingkungan kebijakan maupun kebijakan publik itu sendiri harus selalu berpedoman terhadap akidah. pemimpin terpilih dan para analis kebijakan sendiri –sering menangkap secara berbeda informasi yang sama mengenai lingkungan kebijakan. yaitu para individu atau kelompok individu yang mempunyai andil di dalam kebijakan karena mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah. Ekonomi publik merupakan ilmu ekonomi yang membahas masalah barangbarang dan jasa-jasa yang melingkupi kepentingan umum. maka kita akan membahas sesuatu yang berhubungan dengan barang publik atau jasa yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak. partai politik. dan Karnaen Parwataatmadja. Barang atau jasa spesifik. yang berarti bahwa dimensi obyektif dan subyektif dari pembuatan kebijakan tidak terpisahkan di dalam prakteknya. Sedangkan dalam ekonomi Islam tiga komponen itu baik pelaku kebijakan. Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam. Lingkungan kebijakan (policy environment) yaitu konteks khusus di mana kejadian-kejadian di sekeliling isu kebijakan terjadi. 2002. Barang atau jasa publik dibedakan menjadi tiga (3) jenis : 1.Gambar 1: Tiga Elemen Sistem Kebijakan3 PELAKU KEBIJAKAN AKIDAH AKHLAK SYARI’AH LINGKUNGAN KEBIJAKAN KEBIJAKAN PUBLIK Kesejahteraan Inflasi Pengangguran Diskriminasi Gelandangan Analisis Kebijakan Kelompok Warga Negara Serikat Pekerja Partai Instansi Keadilan Ekonomi Ekonomi Upah Personil Perkotaan Definisi dari masalah kebijakan tergantung pada pola keterlibatan pelaku kebijakan (policy stakeholders) yang khusus.

Pengantar Analisis Kebijakan Publik (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Tidak ada seorangpun yang dapat dilarang untuk mengkonsumsi udara segar. masalah perkotaan.4 Sistem laissez faire yang tidak mampu menjamin kondisi kesempatan kerja yang penuh atau cukup luas. Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Parwataatmadja. peradilan pidana dan masalah internasional. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dalam sistem ekonomi Islam adalah siapa. 3. Dunn. Visi ekonomi Islam adalah diperolehnya kebaikan atau kesejahteraan di dunia dan di akhirat bagi umat manusia (Surat Al-Baqarah.6 seperti melalui kebijakan publik. termasuk ekonomi publik yang akan kita bahas ini. yang tidak bersifat eksklusif karena dapat dikonsumsi oleh semua orang. seperti ingkungan. Kebijakan publik yang juga sejalan dengan Islam adalah misalnya jaminan undangundang terhadap kebebasan bagi setiap orang untuk melakukan usaha (business entry). kesempatan kerja dan perburuhan. 2002. 1992). Guna mewujudkan visi dan misi itu diperlukan adanya mekanisme pengaturan agar masyarakat yang sejahtera dapat diwujudkan. ilmu dan teknologi. keamanan publik. atau pelayanan-pelayanan yang bersifat phisik) selalu didasarkan pada harga pasar. pembangunan ekonomi dan sosial. dengan cara bagaimana dan kepada siapa berbagai barang dan jasa itu harus diadakan. Cetakan Pertama. Barang atau jasa kolektif. Sebagai kebalikan dari ekonomi private. ayat 201). Padahal munculnya usaha-usaha baru umumya membawa inovasi. maka kita harus memahami terlebih dahulu visi. kesejahteraan sosial. komunikasi. Kebijaksanaan Fiskal dan Ekonomi Publik Dalam Islam. misi dan mekanisme pengaturannya dalam ekonomi Islam. dalam M. hal. 4 5 6 William N. Monopoli. 110. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. dan persediaan energi dikelola atau diproduksi oleh organisasi publik (pemerintah). di sana terdapat UU tentang usaha kecil (small business acts) yang tujuan pokoknya adalah memberikan jaminan tentang free entry atau kebebasan berusaha. Dawam Rahardjo. yang lebih banyak membahas pada masalah kepentingan individu atau swasta. Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. hal 7-8. Sedangakan misi ekonomi Islam terwujudnya persamaan martabat di antara umat manusia sehingga di sini perlu ditegakkan keadilan. hal. Pertama-tama sesuai dengan doktrin pemuliaan Allah SWT terhadap manusia. bertentangan dengan prinsip kebijakan publik dalam ekonomi Islam. transfortasi. pemerintah dapat menyediakan dengan harga yang murah dan terjangkau semua orang. Halaman : 3 . Edisi Ke-2. rumah.5 Karena itu maka salah satu kebijakan publik yang bersifat mendasar menurut Islam adalah memberikan ruang yang lebih besar bagi anggota masyarakat untuk memilih dan mengambil keputusan. kesehatan. maka setiap manusia atau warga negara harus dapat memperoleh penghidupan yang sesuai dengan martabat kemanusiaan. Negara USA misalnya. Parwataatmadja. Barang atau jasa setengah kolektif adalah barang-barang spesifik yang mana produksinya mempunyai efek ganda kepada masyarakat. M. Barang atau jasa publik yang bersifat barang kolektif dan setengah kolektif. 2. Meskipun sekolah dasar dapat disediakan oleh swasta akan tetapi karena dipandang sebagai hal yang penting. Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam. termasuk kebijakan fiskal. tanpa kecuali. termasuk apakah mereka itu muslim maupun non muslim. oligopoli dan monopsoni merupakan salah satu faktor yang menghambat timbulnya usaha-usaha baru.keuntungan yang diperolehnya. Rusli Karim (Ed). pertahanan. Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang kebijakan publik. air atau jalan yang disediakan oleh pemerintah. Alokasi dari barang-barang spesifik ini. Karnaen A. 1999). yang ditentukan oleh penawaran dan permintaan. sebagai contoh : mobil. pendidikan. 87. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Nilai paling fundamental yang mendasari prinsif ini adalah sifat rahman dari Tuhan yang diperuntukkan kepada hamba-hamba-Nya dan bahkan semua makhluk hidup.

Dengan demikian Rasulullah SAW. Kebijakan Publik pada masa Pemerintahan Rasulullah SAW. Parwataatmadja. maka seluruh anggota masyarakat diwajibkan. di Madinah belum mempunyai sumber keuangan publik (kebijakan fiskal) yang dapat dimobilisasi untuk membiayai administrasi dan pembangunan. perang Uhud tahun ke-3 H dan perang lainnya setelah tahun ke-6 H. Pemerintahan Rasulullah SAW. Langkah-langkah reformasi kebijakan publik yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain : 1). c. berisi : a. Kemudian membentuk pasukan sukarela untuk berjihad mempertahankan diri dari serangan musuh. Seluruh anggota masyarakat tanpa kecuali berkewajiban mempertahankan keamanan negara dari serangan luar. pepohonannya tidak boleh ditebang. d.6 4). Rasulullah SAW. hal. Pembentukan sukarela dengan semangat jihad ini telah berhasil mempertahankan Madinah dari serangan kaum musrik Quraisy pada perang Badar tahun ke-2 H. maka reformasi kebijakan publik dapat dimulai agar sesuai dengan ajaran Islam. menetapkan Madinah sebagai wilayah anti pelanggaran. Kemerdekaan agama dijamin. op. pusat pendidikan (bidang pendidikan).2. b. Membangun masjid utama sebagai tempat untuk berbagai kegiatan Membangun masjid mempunyai prioritas tinggi karena merupakan sarana untuk membangun dan memperkuat akidah serta akhlak. Rasulullah SAW. dalam membiayai kebijakan publik saat itu disamping pajak dan zakat. denda. kekerasan ataupun peperangan. 5). dan penduduknya tidak boleh membawa senjata untuk perkelahian. 3). Membangun sistem pertahanan Guna membela dan mempertahankan kedaulatan negara. baitul maal (bidang ekonomi). Negara tidak secara langsung mengeluarkan fiskalnya untuk gaji tentara tetapi tentara dibolehkan men6gambilnya melalui pendapatan bagian rampasan perang berupa senjata. Setiap golongan masyarakat diakui mempunyai hak tertentu dalam bidang politik. mengeluarkan piagam (charter) yang didukung oleh semua pihak. diberi kewenangan dan otoritas secara mutlak untuk menyusun peraturan dan tata tertib umum yang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat. unta. Dengan tertanamnya akidah yang kuat pada diri pengikut Rasulullah SAW. yaitu : padang rumputnya tidak boleh dipotong.l. Halaman : 4 . terdapat pula infak (swadaya) untuk merubah keadaan secara perlahan-lahan dengan mengatasi masalah yang menjadi prioritas tinggi. Menetapkan konstitusi Madinah Rasulullah SAW. 2). Menciptakan kedamaian (keamanan) Madinah dihuni oleh beberapa suku yang masih sering bertikai.cit. Saat itu tidak ada tentara yang resmi karena semua muslim yang mampu boleh menjadi tentara. 11-12.. Masjid juga dapat dimultifungsikan sebagai tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan publik. dll. kantor pemerintahan. Perdamaian/keamanan perlu segera diciptakan keamanan publik sehingga untuk itu Rasulullah SAW. seperti a. Masjid ini dibangun berdasarkan infak (swadaya) masyarakat sehingga tidak membebani kebijakan fiskal negara. markas besar tentara (bidang pertahanan). a.l. kuda. Membentuk Majelis Syuro dan Sekretariat Negara 6 Karnaen A. mahkamah agung. dll.

Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press. ketika pendapatan yang diperoleh dari khums. termasuk kebijakan fiskal yang dijalankannya. mungkin karena saat itu khalifah lebih banyak menjalankan dan meredam terjadinya gejolak golongan yang tidak menjalankan terhadap apa yang telah diputuskan pemerintah.7 6). seperti adanya golongan yang menentang pembayaran zakat.Untuk melengkapi pemerintahan. dll. cukup tinggi. Membentuk tentara untuk menjaga dan melindungi tapal batas. Cetakan Pertama. Pembangunan dua kota bisnis : Kufah (untuk bisnis dengan Romawi) dan Basrah (bisnis dengan Persia). 7 9 Karnaen A. Menyempurnakan fungsi Baitul Maal. Kebijakan Publik Masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun (11-60H/632-661 M) Semasa pemerintahan Al-khulafa’ Ar-Rasyidun ini ajaran Islam dan tauladan Rasulullah SAW. 25.9 6). Parwataatmadja. Mereka menjalankan tugasnya dengan sukarela dan membiayai sendiri hidupnya dari sumber yang tidak mengikat. karena zakat. hal. 10 Adiwarman A. jizya (pajak untuk jaminan non muslim). Rasulullah SAW. kharaj dan jizya baru ditetapkan pada tahun ke-7 H maka Baitul Maal yang dibentuk pada awal pemerintahan mungkin masih berbentuk pusat pengumpulan dan pembagian kekayaan publik yang belum melembaga. kharaj (pajak atas tanah). memerintahkan agar pegawai Baitul Maal. Kadim As-Sadr. 13-14. op. 2001). pendidikan dan kebudayaan dan kesejahteraan sosial.. Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer (Jakarta : Gema Insani Press. hal 40 8 Adiwarman A. Kebijakan publik yang dibangun semasa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun antara lain : Semasa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib tidak banyak kebijakan publik. seperti : kepentingan dakwah. Tahun ke-6 H. 2).cit. serta pemimpin dan penanggung jawab keseluruhan administrasi negara membentuk majelis syuro yaitu semacam lembaga tinggi negara yang ikut merumuskan berbagai kebijaksanaan. Parwataatmadja. 5). Majelis ini anggotanya terdiri dari pemimpin kaum yang sebagian dari mereka bertanggung jawab mencatat wahyu. Kebijakan publik lainnya. 6). qadi besar dan mufti. sebagai kepala negara. Pengawasan terhadap kebersihan jalan. pemimpin di bidang hukum. sebagai air minum publik bagi musafir dan masyarakat. Mengatur perjalanan pos.10 Semasa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan kebijakan publik yang dilakukannya antara lain : 1). 3). zakat. Membentuk Baitul Maal. 2001).cit. Karim. Karnaen A. dll. orang yang dikirim ketempat jauh untuk menyebarkan agama dan pejabat lainnya mendapatkan gaji yang dibayarkan dari dana ini.8 3. Halaman : 5 . golongan dan daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintahan pusat Islam. Utusan negara telah dikirim ke berbagai negara. Melakukan penggalian kanal dari Fustat (Kairo) ke Suez untuk memudahkan transfortasi dagang antara semananjung Arab dan Mesir. op. semacam sekretariat negara dalam bentuk yang masih sederhana dibentuk. hal. Cetakan Pertama. dan bertangung jawab mengurus tamu-tamunya di sekretariat negara. Rasulullah SAW. Menurut Dr. betul-betul diterapkan secara konsisten sehingga dari segi terbentuknya suatu sistem ekonomi telah diletakkan fondasinya yang kemudian dilanjutkan pembangunannya. Karim. Bilal bertugas mengurus keperluan rumah tangga Rasulullah SAW. Semasa Khalifah Umar bin Khattab kebijakan publik yang dibangun yaitu : 1). hal. golongan yang murtad dari Islam. 26. Mewakafkan sumur. 4).

Kebutuhan akan keadilan dan kewajaran dalam perpajakan. yang membahas norma-norma kehidupan sosial (fard’ul al-kifayah).E. seperti pembuatan jembatan. Mamluk Mesir. Kebijakan Publik di masa Daulah Umaiyyah (132-656H / 749/1258M) Pada masa ini hanya penulis temukan Abu Yusuf (113-182H / 731-798M) –hidup di masa Khalifah Hisyam (105H/724M). seperti : bendungan.12 Al-Ghazali (451-505H / 1055-1111M) –hidup di masa Khalifah Al-Qa’im (422H/1031M) sampai Khalifah Al-Mustazhir (487H/1094M).cit. Kebijakan Publik di masa Daulah ‘Abbasiyah I (132-656H / 749/1258M) Orientaslis C.2).E. Kewajiban penguasa. Saranya untuk pembangunan fasilitas publik. Bosworth.dalam kitabnya “Ihya ‘Ulum Al-Din”. Penerimaan dan pengeluaran publik. tidak dipenuhi dari penerimaan normal. d. e. Pengangkatan ini dapat mengabsah kan pemerintahan Mamluk dan sekaligus menjdi kekuatan moral untuk melawan tentara salib dan bangsa Mongol. Beberapa pemikir yang dalam kitabnya membahas tentang kebijakan publik antara lain pada masa ini antara lain: Mawardi (364-450H / 974-1075M) –hidup di masa Khalifah Ath-Tha’i (363H/741M) sampai Khalifah Al-Qa’im (422H/1031M). op.sebagai jurist pertama yang secara eksklusif menekuni kebijaksanaan ekonomi (kebijakan publik) dalam bukunya Al-Kharaj yang penekanannya pada : a. yaitu : a. Preregatif negara untuk menghibahkan tanah. Kewajiban penguasa untuk menolong rakyat yang kekurangan dan tidak ada jalan untuk mendapatkan penghasilan untuk hidupnya melalui baitul maal. Khalifah inilah yang memimpin tentara untuk merebut kembali Baghdad tetapi gagal dan meninggal 11 12 Karnaen A.13 6. op. b. termasuk masjid.cit. Pajak yang melewati batas yang ditetapkan hanya boleh untuk membiayai pertahanan dan lain-lain. Bosworth memberikan catatan bahwa empat (4) periode pertama Daulah ‘Abbasiyah yang berkedudukan di Bagdad dipandang sebagai Zaman Emas yaitu suatu zaman ketika kebijakan-kebijakan Islam yang murni berkembang pesat. Baybars mengundang seorang dari anggota keluarga ‘Abbasiyah yang berhasil lolos datang ke Kairo untuk diangkat sebagai khalifah (659H/1261M). Tanggung jawab ekonomi penguasa terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat serta pengembangannya. hal 58 13 Karnaen A. pengairan. jembatan. b. Tanah publik. c. tidak lama setelah kekhalifahan Bagda ditumbangkan bangsa Mongol. Membangun prasarana ekonomi. jalan. Parwataatmadja. Kebijakan Publik Masa Daulah ‘Abbasiyah II (656-1342H / 1258-1944M) Menurut catatan G.dalam bukunya AlAhkam Al-Sultaniyyah membahas pemerintahan dan administrasi yang berisi tentang kebijakan publik. hal 62 Halaman : 6 . hal 41 Karnaen A. Parwataatmadja. 3). c. Mendirikan gedung pengadilan.11 4. “Al-‘Amal” dan “Al-Tibr Al-Masbuk”. Parwataatmadja.cit. d. Tanah umum (common). b. op. Menentang keras pengenaan pajak pertanian dan anjuran penggantian suatu retribusi tetap atas tanah dengan pajak atas hasil produksi pertanian yang dikenakan secara propossional. 5. dam dan perkerjaan irigasi. seperti : a.

88. op. op. Dawam Rahardjo. dikenal dikotomi antara public goods (barang umum) versus (barang swasta) private goods. Karena ia dapat dinikmati secara incividual namun pengadaan pendidikan pada saat ini dan menurut ajaran Islam harus dilakukan untuk setiap penduduk. hal. peranan swasta dapat lebih besar. Oleh sebab itu. Halaman : 7 . ia menyarankan negara untuk mengurangi pajak dan meningkatkan pengeluran publik dalam mengatasi masalahnya. perpajakan penting untuk membayar biaya pemerintahan dan membiayai semacam pengeluaran umum (barang dan jasa publik) yang banyak orang berat untuk menanggung atau berada di luar tujuan mereka. Namun.15 7. Kebijakan lain yang esensial menurut Islam adalah pengembangan iptek. Oleh karena itu. anggaran untuk pendidikan dan peningkatan mutu sumber daya manusia perlu mendapat prioritas. makin maju suatu negara. Kegiatan penelitian dan eksprimen dapat dilakukan baik oleh negara maupun swasta. langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mendorong dan 14 15 Karnaen A. menjamin keadilan dan mengurusi pekerjaan publik seperti : membangun jembatan dan jalan. Di masa ‘Abbasiyah II beberapa pemikir yang memiliki dan berkonsentrasi terhadap kebijakan publik dan fiskal antara lain : Ibn Khaldun (732-808H / 1332/1404 M) –hidup mulai Khalifah Al-Mustakfi I (701H/1302M) sampai Khalifah Al-Musta’in (808H/1406). Kehidupan yang berbudaya mensyaratkan adanya satu kitabnya Muqaddimah membahas bagaimana pajak yang tinggi akan mematikan dorongan (incentive) yang mengakibatkan penurunan produksi dan pengurangan pemerintahan dengan beberapa staf untuk memelihara pertahanan. Cetakan Pertama. Pada tingkat pendidikan menengah. penyelenggaraannya dapat dilakukan secara individual atau swasta. secara langsung atau tidak langsung.cit. Di lain pihak. keduanya dapat diwakili dalam kata ‘’goods”. karena meningkatnya peran swasta. persentase alokasi anggaran untuk pendidikan dapat makin menurun. Di sini pendidikan dapat menjadi private goods dan market goods yang perkembangannya diserahkan mekanisme pasar. Namun.dalam upaya itu. Sepeninggalnya diangkat kembali seorang khalifah ‘Abbasiyah. Pada tingkat pendidikan tinggi. peranan negara harus cukup besar.16 Konsekuensinya dalam kebijakan fiskal adalah bahwa anggaran pemerintah perlu diarahkan kepada pendidikan dasar dan menengah.cit. Namun. Parwataatmadja. hal. Khalifah Al-Mutawakkil III (923H/1517M)-dalam karyanya Hujjah Allah Al-Balighah mengemukakan pandangannya tentang keuangan negara. dan karena itu maka negara perlu menyelenggarakannya. yang pada akhirnya menghasilkan pendapatan total yang lebih kecil. pada tingkat ini. hukum dan ketertiban. 78-79 Karnaen A. Kebijaksanaan Fiskal dan Ekonomi Publik Dalam Islam. Kebijakan Publik Masa Kini Dalam teori mengenai barang (goods) dan jasa. swasta memiliki kesempatan untuk berperan. sedangkan swasta dapat mendukung. Di negara-negara sedang berkembang. Pendidikan pada dasarnya termasuk ke dalam kategori private goods. Parwataatmadja. Hanya saja memang lingkungan birokrasi itu kurang kondusif terhadap iklim kreatif dan inovatif. Makin tinggi tingkat pendidikan. Pendidikan dasar harus disediakan oleh negara. Oleh karenanya. 81-82 16 M. dalam M. yang pemanfaatannya tidak bersifat eksklusif. yang selanjutnya disebut Daulah ‘Abbasiyah II dengan pusat pemerintahan di Kairo. Rusli Karim (Ed). 1992). karena negara berkepentingan dengan mutu. kebijaksanaan harus bersifat lebih longgar bagi peranan swasta.14 Shah Wali Allah (1114-1176H – 1703/1762M) -yang hidup di masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah II. iptek adalah tergolong public goods. Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Namun. hal.dalam penduduk karena penduduk akan pindah ke wilayah lain. peranan negara masih juga penting.

pemerintah dapat turun tangan melalui UU dan peraturan. Lembaga itu pada dasarnya berfungsi menjaga kepentingan masyarakat dan mencegah tindakan-tindakan yang tidak adil oleh mereka yang diberi amanah kekuasaan formal. Salah satu fungsi kebijakan fiskal yang penting adalah fungsi distributifnya. Pajak yang sama dengan pajak perusahaan telah dikenakan kepada LSM. misalnya kamar dagang dan industri. Hal ini tentunya merugikan golongan berpendapatan rendah. Pengadaan market goods dan private goods pada dasarnya harus lebih banyak diserahkan kepada swasta melalui mekanisme pasar. Di bidang ekonomi. jasa teknologi modern dan langka dokter ahlinya. Yang diperlukan hanyalah pengaturan.memberikan insentif kepada perusahaan swasta dan kelompok profesional dalam LSM untuk melakukan pengembangan iptek. Fasilitas fiskal dapat merupakan instrumen yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kebijakan publik. Karena pemerintah tidak terlibat langsung dalam mobilisasinya. Pemerintah dapat mendorongnya dengan fasilitas fiskal. sesuai dengan prinsif syura. maka barangkali masyarakat akan lebih termotivasi. perlindungan dan pemberian insentif. asosiasi pengusaha. Demikian pula kepada penerbitan buku-buku ilmiah dan pendidikan. Hanya apabila terjadi dan untuk mencegah distorsi. Kesehatan memang suatu private goods. Sedangkan pemerintah dapat membantu dengan menyediakan primary health care atau kesehatan umum (public health) yang tergolong ke dalam public goods. Dengan UU dan peraturan ini masyarakat dapat membentuk berbagai lembaga hisbah. hal ini mendorong orientasi profit kepada LSM yang sebenarnya tidak dikehendaki. organisasi Halaman : 8 . Dengan perkataan lain. Langkah preventif itu adalah melalui keluarga berencana dan memelihara kesehatan lingkungan. Sektor kebijaksanaan publik yang tidak kurang pentingnya dalam pandangan Islam adalah bidang kesehatan. Tetapi. kesehatan dasar adalah suatu collective goods yang diputuskan bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah. Dewasa ini. yang telah mendirikan di seluruh propinsi. Kebijakan publik. badan-badan penerbitan mendapat berbagai insentif fiskal. Aktor dari fungsi distributif ini adalah pemerintah. Infaq dan Shadaqah (BAZIS). Fungsi ini umumnya dilaksanakan dengan memungut pajak progresif dan penekanan kepada pajak langsung. Konsekuensi dalam kebijaksanaan fiskal adalah memberikan subsidi bagi pengembangan iptek atau memberikan keringanan pajak bagi perusahaan swasta dan perorangan yang memberikan sumbangan kepada LSM yang mengembangkan iptek. sesuai dengan prinsif “Waamruhum syuraa bainahum” dan “Wasyaawirhum fir amri” adalah memberikan insentif perpajakan kepada siapa yang bersedia membayar zakat. Ini akan mendorong masyarakat membayar kepada Badan Amil Zakat. yaitu negara dan pemerintah. menurut Islam mengarah kepada peranan negara dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia (basic human needs). Sikap yang paling tepat untuk menciptakan keluarga dan masyarakat sehat adalah bersikap preventif. Untuk mengatasi hal itu masyarakat dapat mendirikan yayasan-yayasan kesehatan. Namun. Di negara-negara maju yang menghargai perkembangan ilmu. Akibatnya. apalagi dengan bertambahnya kepadatan penduduk dan industrialisasi yang menimbulkan sumber-sumber penyakit. kabupaten dan kecamatan. terutama oleh masyarakat bukannya kuratif yang dilakukan oleh rumah sakit. fungsi distributif ini dapat pula dilaksanakan sendiri oleh masyarakat melalui pelembagaan ZIS dan harta agama lainnya. Dana yang terkumpul ini dapat memperkuat baik Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) maupun bank syariah dan BPRS lainnya. baik pajak perorangan maupun pajak perusahaan (corporate tax). Namun meskipun begitu pengadaannya tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pasar. fungsi hisbah ini dapt dijalankan melalui LSM dan asosiasi para pelaku ekonomi. ekstensifikasi pajak masih bersifat “tidak pandang bulu”. mau tak mau akan merupakan market goods. sebabnya adalah karena kebutuhan dan permintaan terhadap kesehatan itu sangat besar. infaq dan shadaqah. seperti hibah dan wakaf. Mengacu kepada ajaran Islam kebijakan publik yang dapat didukung oleh partisipasi masyarakat.

yaitu “hendaknya kekayaan itu jangan hanya beredar di antara segelintir orang”. Prinsif ini dapat diwujudkan ke dalam lembaga-lembaga negara. Dengan perkataan lain. Fungsi ini dijalankan terutama melalui lembaga perpajakan. namun dalam kenyataannya. Padahal air itu di Indonesia pada umumnya melimpah. air bersih dan air minum merupakan barang langka. tetapi juga alokatif. Dalam Al-Qur’an diajarkan prinsif al-ma’un atau tanggungjawab sosial. Lagi pula harus diingat bahwa apabila perusahaan dan konsumen tidak mau menanggulangi public goods yang negatif itu. menurut Islam adalah dalam pemberantasan kemiskinan dan kepincangan pendapatan masyarakat. di berbagai daerah. “shadaqah”. Negara mempunyai kewajiban untuk pengadaannya. Artinya. Namun air produksi PDAM di daerah pedesaan. Prinsif ini mengandung arti “mengurangi kekayaan untuk didistribusikan kepada yang miskin atau kekurangan”. yang dalam hal tertentu berarti sama. Negara dapat dan mungkin malahan harus melakukan intervensi dalam masalah ini. Sementara itu. dengan diproduksinya air merk “aqua” dan sejenisnya (sebagai simbol air minum) dan dijual di pasar. apakah dengan tindakan yang lebih langsung atau mendorong swasta dan masyarakat sendiri untuk melaksanakan doktrin itu. Saat ini. sebab dengan begitu masyarakat memiliki hanya pilihan. diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Umumnya. tentu saja dengan bantuan pemerintah setempat. Atas dasar ini. yang membayar ongkos tidak hanya perusahaan yang bersangkutan tetapi juga konsumen. Islam memang mengajarkan prinsif transfer yang disimbolkan dengan istilah “zakat”. Negara sebenarnya hanya bertugas menjamin terlaksananya ajaran ini. Namun pajak bukan hanya berfungsi distributif. air minum sudah merupakan market goods dan private goods. melaksanakan tanggungjawab sosial (corporate social responsibility). misalnya polusi. Fungsi alokatif dari pajak. Mereka. Caranya adalah dengan melakukan internalisasi ongkos untuk membiayai pelaksanaan tanggungjawab sosial itu. maka beban untuk mengatasinya akan jatuh ketangan negara. Kebijakan publik yang Islami adalah menciptakan iklim di mana perusahaanperusahaan swasta. menurut Islam. Sedapat mungkin sumberdaya itu tetap berada di tangan masyarakat. Di sini. Tanggungjawab negara yang lain. masih dinilai cukup mahal. Lembaga bantuan hukum (LBH) . Hal itu sudah dilakukan dengan pendirian PDAM. atau asosiasi organisasi profesional. pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan akan cenderung untuk mengurangi pendapatan pajak. Misalnya saja mengenai penyediaan air bersih atau air minum. misalnya dengan menciptakan proyekproyek padat karya. maka konsekuensinya adalah bahwa kebijakan fiskal akan cenderung untuk mencegah kontraksi moneter yang terjadi karena intensifikasi pajak. penyakit. setidaknya harus membayar ongkos terhadap berbagai external diseconomies yang ditimbulkannya.buruh dan tani. Islam tidak menghendaki adanya konsentrasi kekayaan di tangan segelintir manusia. selain tidak dapat menjangkau seluruh daerah pedesaan. Birokrasi cenderung untuk mengurangi dan mengandung unsur-unsur yang mengurangi efisiensi. Melalui lembaga syura maka masyarakat dapat memperluas pilihan dan mengembangkan inovasi. sebab kalau tidak maka seluruh masyarakat dapat terkena predikat “mendustakan agama”. yang bercorak LSM. Halaman : 9 . sejalan dengan prinsif yang lain. yang berarti melibatkan masyarakat sendiri untuk mengatasi masalah-masalah publik dan meningkatkan kesejahteraan umum. Apabila kita menganut prinsif syura. “infaq”. terutama yang besar. diarahkan untuk memperkuat swadaya masyarakat sendiri. maka pendapatan negara dapat dibantu. maka negara berfungsi untuk melakukan redistribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat. Di sini masyarakat lokal dapat mengambil prakarsa untuk melakukan pengadaan air secara swadaya. pengangguran dan berbagai hal lainnya yang tidak adil apabila harus dibayar oleh mereka yang tidak ikut menikmati manfaat produksi dan masyarakat berpendapatan rendah. Namun. penerimaan negara dari pajak dapat besar. merupakan hal yang esensial dalam Islam. dengan diikutsertakannya konsumen untuk membayar ongkos dampak diseconomies. keterlibatan negara dan lembaga-lembaga yang merupakan perwujudan dari kepentingan kolektif. tetapi anggaran pengeluaran dapat menjadi besar pula.

Besarnya peranan negara secara teknis tergantung pada tingkat perkembangan ekonomi itu sendiri tetapi juga tergantung dari hasil kesepakatan mengenai pembagian fungsi antara pemerintah dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. terutama saat-saat liburan sekolah dan harihari raya keagamaan. inovasi dan kerja keras untuk mencapai kesejahteraan umum. Pertama. Tetapi apabila kita mendasarkan diri pada prinsif syura. Pertama. timbulnya usaha-usaha kecil dan usaha-usaha rumah tangga yang modern. Para pemikir Islam pada umumnya cenderung untuk menempatkan peranan negara yang aktif. terutama untuk mencegah pengangguran. sampai saat ini alat-alat transfortasi meskipun sebagian telah ditangani pemerintah. menumbuhkan peranan setiap individu dalam meningkatkan kualitas hidupnya sesuai dengan martabat manusia yang dimuliakan oleh Tuhan. Kedua. Prinsif ini berlaku tidak saja terhadap unit-unit ekonomi kecil dan tradisional. melalui perundang-undangan berdasarkan syariah. -seperti armada darat oleh DAMRI. Kecenderungan ini akan mendukung pertumbuhan fiskal. mengendalikan perekonomian ke arah perkembangan yang lebih stabil. gejolak konjungtur dan kemerosotan daya beli masyarakat. Kedua. maka tujuan-tujuan kebijakan publik sebaiknya dapat dicapai secara lebih mandiri melalui masyarakat sendiri. menjaga stabilitas dan keberlangsungan perkembangan ekonomi dalam proses kemajuan. Peranan negara dipandang sebagai perwujudan amanah untuk mengembangkan dan memelihara kelestarian sumber daya alam. terutama Idul Fitri untuk umat Islam dan Natal untuk umat Kristiani-namun sering sekali pihak private tanpa diketahui oleh pihak pelaku kebijakan (pemerintah) ataupun diketahuinya melakukan pelanggaran-pelanggaran sengaja karena pihak private merasa bahwa pelaku kebijakan dalam hal ini dapat diberikan insentif yang tak legal atau dalam kata lain “disuap”. Peranan dapat lebih besar. tetapi hal ini perlu diimbangi dengan pengembangan lembaga hisbah sebagai alat kontrol sosial. menciptakan distribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat secara adil dan merata. termasuk bandaranya sehingga transfortasi swasta tidak semena-mena melakukan tindakan dalam menaikkan tarif angkutan atau perjalanan. Salah satu perwujudan dari prinsif ini adalah koperasi dan usaha bersama (yang secara formal bukan berbadan hukum koperasi). Dalam proses modernisasi dan globalisasi terdapat dua kecenderungan. diarahkan kepada pemanfaatan sumber daya alam yang merupakan anugerah Tuhan itu. Keempat. secara efisien untuk kesejahteraan seluruh masyarakat. termasuk terminalnya. Kelima. armada kereta api oleh PT KAI. Setidak-tidaknya negara memberi kesempatan yang cukup luas kepada masyarakat untuk menangani masalah-masalah yang mereka hadapi. Demikian juga dengan bidang transfortasi. armada laut oleh PELNI. karena meningkatnya kebutuhan pengaturan dan penanggulangan external diseconimies. termasuk proses formalisasi sektor informasi. Negara juga mengemban tugas untuk mengembangkan sumber daya manusia.Kebijakan publik dalam Islam juga mengarah kepada pembentukan unit-unit usaha yang bersifat kekeluargaan dan kerjasama. termasuk stasiunnya. mengarahkan alokasi sumberdaya sehingga dapat dicapai keseimbangan antara efisiensi dan partisipasi masyarakat yang luas dalam kegiatan usaha serta melakukan redistribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat sehinga tidak timbul kepincangan dan ketidakadilan sosial. tetapi juga yang besar dan modern. Namun pelaksanaan amanah itu perlu diimbangi dengan lembaga hisbah untuk mencegah penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan masyarakat. maka negara juga berperan Halaman : 10 . baik dalam penerapan undang-undang yang berdasarkan syariah. melalui pendidikan dan iptek. karena koleksi pajak akan lebih mudah diselenggarakan. termasuk pelabuhannya oleh PT ASDP dan armada udara oleh GIA. Tugas negara adalah memberikan iklim dan insentif terhadap perwujudan sistem kelembagaan ekonomi di tingkat mikro ini. menumbuhkan proses kebersamaan yang memberi peluang bagi berkembangnya kreativitas. adalah terjadinya transformasi dari unit-unit usaha skala kecil kepada skala besar atau menengah yang lebih mampu merespon pasar. Ketiga. Kebijakan publik menurut Islam yang berdasarkan tauhid mengandung beberapa ciri. Guna memperkuat peranan masyarakat. Sementara itu peranan negara juga cenderung makin besar.

Dawam. Cetakan Pertama. M. Dunn. Karnaen A. tidak selalu harus melalui mekanisme birokrasi negara. William N. Cetakan Pertama. Norma dan Etika Ekonomi Islam. seperti prasarana dan kelembagaan. Sebagian besar pengadaan barang-barang privat pada dasarnya diserahkan kepada masyarakat atau swasta. DAFTAR PUSTAKA Chapra. Cetakan Pertama. . (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Pemerintah berkewajiban mengadakan pengaturan dan pengawasan apabila terdapat pihak swasta yang masuk ke wilayah kebutuhan publik. (Jakarta : Gema Insani Press. (Jakarta : Gema Insani Press. sehingga dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan kemampuan swadayanya dalam memecahkan masalah-masalah mereka sendiri secara lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung kepada pemerintah. Adiwarman A. . 1992). Kebijakan publik yang dibuat pemerintah seharusnya diberikan kepada warga negara (masyarakat) dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. Islam dan Pembangunan Ekonomi. iptek. 3). 2002. negara perlu mendorong masyarakat untuk menyelenggarakan berbagai bentuk usaha bersama berdasarkan kekeluargaan. 2001). diterjemahkan Ikhwan Abidin Basri. Kebijakan fiskal. Halaman : 11 . 1999). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Sungguhpun demikian. juga berfungsi mengarahkan alokasi sumber daya. melalui mekanisme pasar. 2). (Jakarta :Gema Insani Press bekerjasama dengan Tazkia Institute. bidang transfortasi. Edisi Ke-2. (Jakarta :Gema Insani Press bekerjasama dengan Tazkia Institute. Umer. dll.l. Etika Ekonomi dan Manajemen. Qardhawi. diterjemahkan Zainal Arifin dan Dahlia Husin.. Ekonomi Islam : Suatu Kajian Kontemporer. KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat penulis paparkan dari makalah ini a. . 8. : 1). Yusuf. melainkan sejauh mungkin dapat dilaksanakan berdasarkan usaha bersama. 1997). Cetakan Pertama. 2000). Campur tangan negara hanya diperlukan apabila terjadi dan untuk mencegah berbagai distorsi yang disebabkan karena gagalnya mekanisme pasar. Parwataatmadja. seperti.penting dalam pengadaan sumber daya derivatif lainnya. melalui berbagai fasilitas intensif. Karim. Rusli. Cetakan Pertama. bahan ajar pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah. Cetakan Pertama. . Rahardjo M. Karim M. disamping melaksanakan fungsi stabilisator dan fungsi distributif untuk menciptakan keadilan sosial. 2001). diterjemahkan Ikhwan Abidin Basri. (Yogyakarta : Tiara Wacana bekerjasama dengan P3EI UII. Masa Depan Ilmu Ekonomi : Sebuah Tinjauan Islam. Berbagai Aspek Ekonomi Islam. Proses-proses pengambilan keputusan yang sifatnya kolektif. Pemerintah pada dasarnya berkewajiban menyediakan kebutuhan publik melalui kebijakannya. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. pendidikan. Peranan negara perlu diimbangi dengan partisipasi masyarakat yang berdasarkan swadaya. (Yogyakarta : Tiara Wacana. 1990).