P. 1
Perbaikan Ringan Kelistrikan Otomotif

Perbaikan Ringan Kelistrikan Otomotif

|Views: 341|Likes:
Published by Mulyo Utomo

More info:

Published by: Mulyo Utomo on May 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2014

pdf

text

original

KONSEP KELISTRIKAN

A. Listrik Listrik merupakan salah satu energi yang banyak digunakan untuk menggerakkan berbagai peralatan atau mesin. Energi listrik tidak dapat dilihat secara langsung, namun dampak atau akibat dari energi listrik dapat dilihat seperti sinar atau cahaya bola lampu, dirasakan seperti saat orang tersengat listrik, dibauh seperti bauh dari kabel yang terbakar akibat hubung singkat, didengar seperti suara bel atau radio. Dalam otomotif, baterai memegang peranan yang penting untuk menghidupkan mesin. Selain baterai juga ada sistem starter, sistem pengapian (ignition system), sistem pengisian (charging system), dan sistem penerangan (lighting system) seperti lampu kepala/depan (headlight), lampu belakang (tail light), lampu rem (brake light), lampu sein/tanda belok (turn signal lights), klakson (horn) dan lampu-lampu instrumen/indikator.

Gambar 1. Efek listrik Listrik merupakan sumber energi yang paling mudah dikonversi menjadi energi yang lain, sehingga sebagian besar komponen sistem kelistrikan otomotif merupakan konversi energi listrik menjadi energii yang dikehendaki. Contoh komponen kelistrikan: 1) Baterai merubah energi listrik menjadi energi kimia 2) Motor starter merubah energi listrik menjadi energi gerak

3) Lampu merubah energi listrik menjadi cahaya dan panas 4) Pematik rokok merubah energi listrik menjadi panas 5) Solenoid merubah energi listrik menjadi magnet, dan sebagainya. 1. Jenis Listrik Listrik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu: a. Listrik Statis Listrik statis merupakan suatu keadaan dimana elektron bebas sudah terpisah dari atomnya masing-masing, tidak bergerak hanya berkumpul dipermukaan benda tersebut. Listrik statis dapat dibangkitkan dengan cara menggosokkan sebuah gelas kaca dengan kain sutra. Setelah digosok gelas kaca akan bermuatan positip dan kain sutra akan bermuatan negatip.

Gambar 2. Listrik statis b. Listrik Dinamis Listrik dinamis merupakan suatu keadaan terjadinya aliran elektron bebas dimana elektron ini berasal dari elektron yang sudah terpisah dari inti masing-masing. Elektron bebas tersebut bergerak bolak-balik melewati suatu penghantar.

a). Tipe DC

b). Tipe AC

Gambar 3.

Listrik dinamis

a) Tipe DC

b). Tipe AC

Listrik dinamis dikelompokkan menjadi dua yaitu listrik arus searah (Direct Current) dan arus bolak-balik (Alternating Current). Listrik arus searah elektron bebas bergerak dengan arah tetap, sedangkan listrik arus bolak-balik elektron bergerak bolak-balik bervariasi secara periodik terhadap waktu. Baterai merupakan sumber listrik arus searah, sedangkan alternator merupakan sumber arus bolak-balik. 2. Teori Aliran Listrik Terdapat dua teori yang menjelaskan bagaimana listrik mengalir: a. Teori Electron (Electron theory) Teori ini menyatakan listrik mengalir dari negatip baterai ke positip baterai. Aliran listrik merupakan perpindahan elektron bebas dari atom satu ke atom yang lain.

b. Teori konvensional (Conventional theory)

Teori ini menyatakan listrik mengalir dari positip baterai ke negatip baterai. Teori ini banyak digunakan untuk kepentingan praktis, teori ini pula yang kita gunakan untuk pembahasan aliran listrik pada buku ini

Gambar 5. Teori aliran listrik 3. Arus Listrik Besar arus listrik yang mengalir melalui suatu konduktor adalah sama dengan jumlah muatan (elektron bebas) yang mengalir melalui suatu titik penampang konduktor dalam waktu satu detik. Arus listrik dinyatakan dengan simbol I (intensitas) dan besarnya diukur dengan satuan ampere (disingkat A). Bila dikaitkan dengan elektron bebas, 1 Ampere= Perpindahan elektron sebanyak 6,25 x 1018 suatu titik konduktor dalam waktu satu detik.

1Detik

Tabel 1. Satuan arus listrik yang sangat kecil dan besar. Gambar 6. Aliran listrik Satuan Dasar A Arus Kecil µA mA kA Arus Besar MA

Simbol

Dibaca

Ampere

Micro Ampere 1 x 10-6 1/ 1.000.00 0

Mili Ampere 1 x 10 -3 1/1.000

Kilo Ampere 1 x 103 1 x 1.000

Mega Ampere 1 x 106 1 x 1.000.000

Perkalian

1

Contoh Konversi: 1). 1.000. 000 µA = 1.000 mA = 1. A = 0,001 kA 2). 0,5 MA = 500 kA = 500. 000 A = 500.000.000 mA 3). 5 A = 5.000 mA = 5.000.000 µA

A

Gambar 7. Mengukur arus listrik

Mengukur besarnya arus yang mengalir pada suatu rangkaian menggunakan amper meter, pemasangan amper meter dilakukan secara seri dengan beban.

4. Tegangan Listrik Tabung A dan B berisi air, dimana permukaan air tabung A lebih tinggi dari permukaan air tabung B, dihubungkan melalui sebuah pipa maka air akan mengalir dari tabung A ke tabung B (gambar a). Besarnya aliran air ditentukan oleh perbedaan tinggi permukaan air kedua tabung, ini disebut dengan tekanan air.

Hal yang sama juga akan terjadi bila kutub listrik A yang mempunyai muatan positip dihubungkan dengan kutub B yang bermuatan negatif oleh kabel C (gambar b), maka arus listrik akan mengalir dari kutub A ke kutub B melalui kabel C. Hal ini terjadi karena adanya kelebihan muatan positip pada kutub A dan kelebihan muatan negatif pada B yang menyebabkan terjadinya beda potensial (tegangan listrik). Perbedaan ini menyebabkan tekanan/tegangan menyebabkan arus listrik mengalir. Beda tegangan ini biasa disebut Voltage.

A Pipa

Tegangan Air

Tegan
Tegangan adalah tekanan

Aliran Air

Gambar (a)

Gambar (b) Gambar 8. Konsep Tegangan

Satuan tegangan listrik dinyatakan dengan Volt dengan simbol V. 1 Volt adalah tegangan listrik yang mampu mengalirkan arus listrik 1 A pada konduktor dengan hambatan 1 ohm. Tabel dibawah menunjukkan satuan tegangan listrik yang sangat besar dan kecil. Tabel 2. Satuan Tegangan Listrik Satuan Dasar V Volt 1 Tegangan Kecil µV Micro Volt 1 x 10-6 mV Mili Volt 1 x 10 3

Tegangan Besar kV Kilo Volt 1 x 103 MV Mega Volt 1 x 106

Simbol Dibaca Perkalian

1/ 1.000.000

1/1.000

1 x 1.000

1 x 1.000.000

Contoh Konversi: 1.700.000 µV = 1. 700 mV = 1,7 V 0,78 MV = 780 KV = 780. 000 V = 780.000.000 Mv Mengukur besar tegangan listrik menggunakan volt meter, pengukuran dilakukan secara paralel, cara pemasangan alat ukur seperti gambar dibawah ini.

12

Gambar 9. Mengukur tegangan baterai 5. Tahanan/Resistansi Listrik Air dengan tekanan yang sama akan mengalir lebih cepat bila dialirkan melalui pipa yang besar, pendek dan permukaan dalamnya halus dibandingkan dengan bila air dialirkan melalui pipa yang ukurannya kecil, panjang dan permukaan bagian dalamnya kasar. Hal ini karena kondisi dari pipa akan berpengaruh terhadap aliran air. Besarnya hambatan ini dikatakan sebagai tahanan pipa. Kejadian ini juga berlaku untuk listrik yang mengalir melalui suatu kabel, dimana listrik juga akan mengalami hambatan. Hambatan yang dialami listrik ini disebut tahanan/resistansi listrik.

A

Pipa lebih besar

A

Pipa lebih kecil

B
Aliran air besar

B
Aliran air lebih kecil

Satuan tahanan listrik dinyatakan dengan huruf R (Resistor) dan diukur dengan satuan OHM (W ). Satu ohm adalah tahanan listrik yang mampu menahan arus listrik yang mengalir sebesar satu amper dengan tegangan 1 V. Tabel 3. Satuan tahanan listrik yang sangat besar dan kecil. Satuan Dasar W Ohm 1 Tegangan Kecil µW Micro Ohm 1 x 10-6 1/ 1.000.000 mW Mili Ohm 1 x 10 -3 1/1.0 00 Tegangan Besar kW Kilo Ohm 1 x 103 1x 1.000 MW Mega Ohm 1 x 106 1x 1.000.000

Simbol Dibaca Perkalian

Contoh Konversi: 1.985 mW = 1, 985 W 0,89 MW = 890 kW = 890.000 W Mengukur tahanan suatu benda maupun rangkaian menggunakan Ohm meter. Amper meter, Volt meter dan Ohm meter merupakan besaran listrik yang sering diukur, untuk itu dibuat alat yang dapat mengukur ketiga parameter tersebut yaitu AVO meter atau multi meter.

Gambar 11. Mengukur tahanan relay B. HUKUM OHM Tahun 1827 seorang ahli fisika Jerman George Simon Ohm (17871854) meneliti tentang resistor. Hukum Ohm menjelaskan bagaimana hubungan antara besar tegangan listrik, besar tahanan dan besar arus yang mengalir. Hukum Ohm mengatakan bahwa besar arus mengalir berbanding lurus dengan besar tegangan dan berbanding terbalik dengan besar tahanan. Hukum ini dapat ditulis:

Gambar 12. Hukum Ohm

V = I x R

………. (1)

Contoh: Tentukan besar arus (I) yang melewati lampu R= 2 W , bila tegangan (V) sebesar 12 Volt, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 13. Hukum Ohm pada tahanan konstan Solusi: Gambar 13. Tegangan 12 V, tahanan lampu 2 Ohm, maka besar arus yang mengalir adalah I = V/R = 12/ 2 = 6 Amper C. DAYA LISTRIK Hukum Joule menerangkan tentang daya listrik. Terdapat hubungan antara daya listrik dengan tegangan, arus maupun tahanan. Besar daya listrik diukur dalam watt. Satu watt merupakan besar arus mengalir sebesar 1 Amper dengan beda potensial 1 volt. Hukum Joule dapat ditulis Daya listrik = Tegangan x Arus

P = VxI

……………… (2)

P = Daya listrik (watt) V = Tegangan (Volt) I = Arus listrik (Amper) Bila di subtitusikan hukum Ohm dimana V = I R , maka daya listrik: P = V x I = IR x I = I2 x R

P = I 2R

..……………… (3)

Bila disubtitusikan hukum Ohm dimana I = V/R, maka: P =RxI2 = R x (V/R)2 = V2 / R

P = V 2R

……………… (4) Dari ketiga rumusan tersebut daya listrik dapat dirumuskan:

P = VxI

P = I 2R

P = V2 / R

Dalam banyak kasus pada komponen sistem kelistrikan hanya ditentukan tegangan dan daya. Besar arus arus yang mengalir jarang ditentukan, misal bola lampu kepala tertulis 12 V 55/60 W. Arti dari tulisan tersebut adalah bola lampu kepala menggunakan tegangan 12 V, pada posisi jarak dekat daya yang diperlukan 55 watt, sedangkan saat jarak jauh daya yang diperlukan 60 watt. Contoh: Tentukan besar arus yang mengalir pada sebuah lampu kepala 12V 55/60 W, saat lampu jarak dekat maupun saat jarak jauh. Solusi: Dengan menggunakan rumus I = P/ V didapatkan besar arus a. Jarak dekat I dekat = Pdekat / V = 55 / 12 = 4,58 A b. Jarak jauh I jauh = P jauh / V = 60 / 12 = 5 A D. Rangkaian seri, paralel dan kombinasi Rangkaian komponen dalam sistem kelistrikan ada tiga macam yaitu rangkaian seri, rangkaian paralel dan rangkaian seri paralel atau kombinasi. Pemahaman jenis dan karakteristik rangkaian sangat penting sebagai dasar memeriksa dan menentukan sumber gangguan pada sistem kelistrikan. 1. Rangkaian Seri Aplikasi rangkaian seri sangat banyak digunakan pada kelistrikan otomotif. Sistem starter, pengatur kecepatan motor kipas evaporator AC merupakan beberapa contoh aplikasi rangkaian seri.

Gambar 14. Rangkaian seri a. Karakteristik rangkaian seri: 1) Tahanan total (Rt) merupakan penjumlahan semua tahanan

(Rt ) = R1 + R2

………..

(1)

2) Arus yang mengalir pada rangkaian sama besar

I = I1 = I2

………………

(2)

I

…………………….( 3)

3) Tegangan total (Vt) merupakan penjumlahan tegangan : V t = V1 + V2 Besar V1dan V2 adalah:
V V

………...

(4)

………………………

V

V

………………………

Soal

1. Tentukan besar Rt, I , I1 , I2, , I3, V1, V2 dan V3, pada rangkaian seri di atas bila diketahui R1=2 W dan R2= 4 W dan R3= 6 W sedangkan sumber tegangan 12V. Penyelesaian Berdasarkan contoh gambar 3.8 di atas besarnya masing-masing tahanan, kuat arus dan tegangan dapat dihitung sebagai berikut: Ø Tahanan total Rtotal = R1 + R2 + R3 = 2 +4 +6 = 12 W Ø Arus listrik I è I Besar arus I = I1 = I2, = I3 = 1 A Ø Penurunan tegangan Penurunan tegangan pada R1 è V1 = R1 x I =2 x1A =2V Penurunan tegangan pada R2 è V2 = R2 x I =4 x1A =4V Penurunan Tegangan pada R3 è V3 = R3 x I =6 x1A =6V Besar tegangan total (V) merupakan penjumlahan dari V1 + V2 + V3 V = V1 + V2 + V3 12 = 2 + 4 + 6 2. Rangkaian Paralel è = 1A

Gambar 18. Rangkaian parallel

a. Karakteristik rangkaian parallel: 1) Tegangan pada rangkaian sama yaitu : V = V1 = V2 …………………………………………… 2) Besar arus mengalir adalah: I = I1 + I2 …………………………………………..

(7) (8)

Besar arus mengalir pada rangkaian parallel mengikuti Hukum Kirchoff I, yang menyatakan jumlah arus listrik yang masuk pada suatu titik cabang sama dengan jumlah arus yang keluar pada titik cabang tersebut. 3). Besar tahanan total (Rt) adalah:

=

+

Berdasarkan contoh gambar 18 di atas besarnya masing-masing tahanan, kuat arus dan tegangan dapat dihitung sebagai berikut: Ø Tahanan total

=

+

=
dengan menyamakan penyebutnya maka diperoleh nilai

= = 1,1 Ω è Rt = 1.1 Ω
Ø Arus yang melewati masing-masing hambatan

I1 =

A

I2 =

A

I3 =

A

Jadi I total = I1 + I2 + I3 = 6 + 3 + 2 = 11 A

è I=

=

= 11 A

Tegangan pada pada contoh gambar 18 untuk masingmasing resistor pada rangkaian paralel sama dengan tegangan baterai, yaitu sebesar 12 V. 3). Rangkaian Seri–Paralel

Gambar 19. Rangkaian seri parallel

Contoh 1: Sistem kelistrikan mempunyai 2 klakson dengan daya berbeda. klakson LH 12V/ 60 W dan klakson RH 12V/ 36 W. Tentukan : a) Tahanan klakson LH dan RH b) Tahanan total c) Arus pada klakson LH dan RH d) Arus yang melewati saklar klakson dan yang melalui sekering.

Gambar 19. Sistem Klakson Tanpa Relay Solusi: a). Tahanan klakson adalah: Klakson LH R1 = V2 / P = 122 / 60 = 2,4 W Klakson RH R2 = V2 / P = 122 / 36 = 4 W b). Besar tahanan total (Rt) adalah: Rt = ( R1 x R2) : (R1 +R2) = (2,4 x 4) : (2,4 + 4) = 9,6 : 6,4 = 1,5 W c). Besar arus yang mengalir melalui klakson Horn LH I1 = V/ R1 = 12 / 2,4 = 5 A Horn RH I2 = V / R2 = 12 / 4 = 3 A d). Besar arus mengalir melalui saklar klakson maupun sekering merupakan total arus yang mengalir melalui kedua klakson, yaitu:

I = I1 + I2 = 5+ 3 = 8A atau I = V / Rt = 12 / 1,5 = 8 A Arus yang mengalir pada saklar klakson sangat besar sehingga percikan api pada kontak saklar klakson besar, saklar klakson cepat kotor, tahanan kontak meningkat dan bunyi klakson lemah. Guna mengatasi permasalahan tersebut maka rangkaian klakson dipasang relay. Bila diketahui tahanan lilitan relay sebesar 60 W , tentukan: Tahanan total Arus pada klakson LH dan RH Arus yang melewati saklar klakson Arus yang melalui sekering.

a) b) c) d)

Gambar 20.

Sistem Klakson Dengan Relay

Solusi: a) Tahanan total (Rt) Tahanan pada rangkaian terdiri dari: R1 (tahanan klakson LH ) = 2, 4 W R2 (tahanan klakson RH) = 4 W R3 (tahanan relay) = 60 W Dengan rumus (14) besar Rt adalah 1/ Rt = 1/R1 + 1/ R2 + 1/R3

= 1/2,4 + 1/ 4 + 1/ 60 = 25/ 60 + 15/ 60 + 1/ 60 = 41/60 Rt = 60/ 41 = 1,463 W b) Besar arus yang mengalir melalui klakson Horn LH I1 = V/ R1 = 12 /2, 4 = 5 A Horn RH I2 = V / R2 = 12 / 4 = 3 A c) Arus yang melalui saklar klakson merupakan arus yang melewati lilitan relay I3 = V/ R3 = 12/ 60 = 0,2 A d) Arus melewati sekering merupakan total arus yang melewati rangkaian I = I1 + I2 + I 3 = 5 + 3 + 0,2 = 8,2 A Atau I = V/ Rt = 12 / 1,463 = 8,2 A Tabel 5. Perbandingan besar arus yang melewati komponen dalam sistem klakson No 1 Parameter Klakson LH · Daya · Tahanan · Arus Klakson RH · Daya · Tahanan · Arus Horn switch Fuse Beban rangkaian Tanpa relay 60 W 2,4 W 5A 36 W 4W 3A 8A 8A 96 W Dengan relay 60 W 2,4 W 5A 36 W 4W 3A 0,2 A 8,2 98,4 W Selisih 0 0 0 0 0 0 7,8 A 0,2 A 2,4 W

1/Rt

2

3 4 5

Dari pemasangan relay pada rangkaian tersebut mampu mengurangi arus yang melalui saklar klakson sebesar 7,8 A yaitu dari 8 A menjadi 0,2 A sehingga saklar klakson lebih awet. Dengan menambah relay arus listrik dari baterai bertambah 0,2 A atau beban listrik bertambah 2,4 W.

E. Memeriksa gangguan ringan pada rangkaian/sistem kelistrikan Gangguan pada rangkaian kelistrikan yang umum terjadi ada tiga macam yaitu: 1) Gangguan pada rangkaian karena nilai tahanan membesar 2) Gangguan karena hubung singkat 3) Ganguan dari komponen-komponen kelistrikan itu sendiri. Gangguan – gangguan ini jika tidak ditangani dengan benar, maka akan menyebabkan rangkaian kelistrikan tidak bekerja dengan normal atau bahkan akan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih parah pada komponen–komponen rangkaian. Agar rangkaian kelistrikan tersebut dapat bekerja secara normal kembali, maka diperlukan pemeriksaan pada komponen–komponen rangkaian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan dimana gangguan itu terjadi dan penyebabnya. Jika letak dan penyebab gangguan sudah diketahui maka langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan. 1). Gangguan rangkaian kelistrikan karena nilai tahanan membesar Gangguan ini biasanya disebabkan Karena rangkaian terbuka atau terjadinya korosi pada bagian–bagian tertentu dari rangkaian, dapat juga disebabkan karena kontak saklar yang tidak baik/kotor.

Gambar 24. Gangguan yang disebabkan nilai tahanan membesar Gambar 24.a menunjukkan bahwa, lampu tidak menyala akibat rangkaian terputus atau terbuka, dan arus tidak dapat mengalir. Sedangkan gambar b lampu tidak menyala/redup diakibatkan arus yang mengalir ke lampu terlalu kecil, karena nilai tahanan membesar. Nilai tahanan dapat membesar karena saklar kotor atau sambungan kabel berkarat/korosi. 2). Gangguan karena hubung singkat Hubung singkat dapat terjadi apabila ada kabel penghantar yang berhubungan langsung dengan penghantar lain atau pada ground.

Gambar 25. Gangguan karena hubung singkat

Gambar 25.a menunjukkan adanya hubung singkat diantara dua kabel penghantar. Lampu atas seharusnya tidak menyala, sedangkan lampu bawah menyala. Akibat adanya hubung singkat antara kabel lampu atas dan kabel lampu bawah, maka lampu atas ikut menyala. Sedangkan gambar 25.b lampu pada rangkaian tidak menyala akibat adanya hubung singkat antara kabel dengan ground, sekering pada rangkaian dapat terputus karena arus yang mengalir terlalu besar.

3). Gangguan karena kerusakan komponen Kerusakan pada komponen kelistrikan adalah penyebab utama rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja.

Gambar 26. Gangguan akibat kerusakan komponen

Gambar 26.a menerangkan lampu tidak menyala karena filamen lampu terputus. Gambar 26.b menunjukan adanya kerusakan pada batere baik pada kotak batere ataupun korosi pada terminal–terminalnya dan ini menjadikan batere tidak dapat mensuplai kebutuhan energi pada rangkaian dan pada akhirnya rangkaian kelistrikan tidak dapat bekerja. F. Peralatan untk memeriksa gangguan pd rangkaian system kelistrikan. Macam-macam peralatan yang dapat digunakan untuk memeriksa gangguan pada rangkaian kelistrikan seperti pada gambar dibawah. Peralatan ini biasa digunakan untuk memeriksa kontinuitas dari suatu rangkaian dan mengukur nilai tahanan, arus atau tegangan dari suatu rangkaian kelistrikan.

Gambar 27. Macam-macam peralatan pemeriksa rangkaian

Peralatan-peralatan yang biasa digunakan antara lain: a) Jumper wire b) Test lamp c) Self-Powered test light d) AVO Digital e) AVO Analog f) VOLT – AMP Tester g) Combination meter/Digital probe

1. Menggunakan Tes lamp Selain dengan jumper wires pemeriksaan kontinuitas dapat dilakukan dengan tes lamp, penggunaan tes lamp lebih menguntungkan

dibandingkan jumper karena penggunaan tes lamp tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada komponen kelistrikan yang sedang diperiksa. Gambar dibawah menunjukkan cara pemeriksaan kontinuitas pada rangkaian, jika tes lamp nyala berarti ada kontinuitas antara titik yang diperiksa dengan sumber arus/positip batere, sebaliknya jika tes lamp tidak nyala berarti tidak ada kontinuitas.

Gambar 29. Pemeriksaan kontinuitas dengan tes lamp

Langkah pemeriksaan : 1). Pastikan bahwa batere dalam kondisi baik 2). Pastikan saklar pada posisi ON 3). Hubungkan penjepit dari tes lamp dengan negatip batere/ground 4). Hubungkan colok tes lamp pada terminal sekring, jika lampu tes menyala berarti ada kontinuitas antara positip batere dengan kaki depan sekring jika lampu tidak nyala berarti jaringan kabel antara positip batere dengan kaki sekring terputus. 5). Lakukan pemeriksaan tahap berikutnya pada saklar, konektor seperti gambar 29. sampai menemukan tidak adanya kontinuitas dengan ditandai tes lamp tidak nyala.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->