15.

DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
Dalam kehidupan dan aktivitas manusia sehari-hari, lahan merupakan bagian dari lingkungan sebagai sumberdaya alam yang mempunyai peranan sangat penting untuk berbagai kepentingan bagi manusia. Lahan dimanfaatkan antara lain untuk pemukiman, pertanian, peternakan, pertambangan, jalan dan tempat bangunan fasilitas sosial, ekonomi dan sebagainya. Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan luas lahan garapan cenderung makin kecil, keadaan ini menyebabkan meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan. Kemudian di daerah perladang berpindah kenaikan kepadatan penduduk juga meningkatkan tekanan penduduk terhadap lahan karena naiknya kebutuhan akan pangan akibatnya diperpendeknya masa istirahat lahan (Soemarwoto, 2001). Selanjutnya, (Siwi, 2002) menyatakan bahwa meningkatnya kepadatan penduduk daya dukung lahan pada akhirnya akan terlampaui. Hal ini menunjukkan bahwa lahan di suatu wilayah tidak mampu lagi mendukung jumlah penduduk di atas pada tingkat kesejahteraan tertentu (Mustari et.al., 2005). Lingkungan secara alami memiliki kemampuan untuk memulihkan keadaannya. Pemulihan keadaan ini merupakan suatu prinsip bahwa sesungguhnya lingkungan itu senantiasa arif menjaga keseimbangannya. Sepanjang belum ada gangguan “paksa” maka apapun yang terjadi, lingkungan itu sendiri tetap bereaksi secara seimbang. Perlu ditetapkan daya dukung lingkungan untuk mengetahui kemampuan lingkungan menetralisasi

parameter pencemar dalam rangka pemulihan kondisi lingkungan seperti semula. Apabila bahan pencemar berakumulasi terus menerus dalam suatu lingkungan, sehingga lingkungan tidak punya kemampuan alami untuk menetralisasinya yang mengakibatkan perubahan kualitas. Pokok permasalahannya adalah sejauh mana perubahan ini diperkenankan. Tanaman tertentu menjadi rusak dengan adanya asap dari suatu pabrik, tapi tidak untuk sebahagian tanaman lainnya. Contoh, dengan buangan air pada suatu sungai mengakibatkan peternakan ikan mas tidak baik pertumbuhannya, tapi cukup baik untuk ikan lele dan ikan gabus. Berarti daya dukung lingkungan untuk kondisi kehidupan ikan emas berbeda dengan daya dukung lingkungan untuk kondisi kehidupan ikan lele gabus. Kenapa demikian, tidak lain karena parameter yang terdapat dalam air tidak dapat dinetralisasi lingkungan untuk kehidupan ikan emas. Ada saatnya makhluk tertentu dalam lingkungan punya kemampuan yang luar biasa beradaptasi dengan lingkungan lain, tapi ada kalanya menjadi pasif terhadap faktor luar. Jadi faktor daya dukung tergantung pada parameter pencemar dan makhluk yang ada dalam lingkungan. 2.2 Pengertian Daya Dukung Daya dukung lingkungan adalah Kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua makhluk hidup yang meliputi ketersediaan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar atau tersedianya

cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Keberadaan sumberdaya alam di bumi tidak tersebar merata sehingga daya dukung lingkungan pada setiap daerah akan berbedabeda. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dijaga agar terus berkesinambungan dan tindakan eksploitasi harus dihindari. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut : 1. Memanfaatkan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dengan hati-hati dan efisien, misalnya : air, tanah dan udara. 2. Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran). 3. Mengembangkan metode penambangan dan pemprosesan yang lebih efisien serta dapat didaur ulang. 4. Melaksanakan etika lingkungan dengan menjaga kelestarian alam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam#cite_no te-sdabio1-1). Pengertian (konsep) dan ruang lingkup daya dukung lingkungan menurut UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; sedangkan pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan

2001 : 6). dan kemampuan memperbarui diri.pdf). Daya dukung lingkungan diartikan sebagai kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia (Sunu. sumberdaya dan lingkungan yang ada. (1999). daya dukung lingkungan pada hakekatnya adalah daya dukung lingkungan alamiah. Sedangkan menurut Lenzen dan Murray (2003). di mana jumlah populasi tersebut tidak dapat lagi didukung oleh sarana. Menurut Soemarwoto (2001). daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen. kebutuhan hidup manusia dari lingkungan dapat dinyatakan dalam luas area yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan manusia. Daya dukung lingkungan adalah kapasitas atau kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan organisme secara sehat sekaligus mempertahankan produktivitas. Daya dukung lingkungan/carrying capacity adalah batas atas dari pertumbuhan suatu populasi. Atau secara lebih singkat dapat dijelaskan sebagai batas aktivitas manusia yang berperan dalam perubahan lingkungan. Konsep ini berasumsi bahwa terdapat kepastian keterbatasan lingkungan yang bertumpu pada pembangunan (Zoer’aini.id/assets/data/arsip/UU_32_ Tahun_2009. yaitu berdasarkan biomas tumbuhan dan hewan yang dapat dikumpulkan dan ditangkap per satuan luas dan waktu di daerah itu. Menurut Khanna et al.go. Luas area untuk mendukung .makhluk hidup lain (http://www. 1997).komisiinformasi. yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity). kemampuan adaptasi.

 Jumlah penduduk maksimum yang dapat didukung oleh suatu lingkungan tanpa merusak lingkungan tersebut.  Jumlah populasi maksimum dari organisme khusus yang dapat didukung oleh suatu lingkungan tanpa merusak lingkungan tersebut. Rata-rata kepadatan suatu populasi atau ukuran populasi dari suatu kelompok manusia di bawah angka yang diperkirakan akan meningkat dan di atas angka yang diperkirakan untuk menurun disebabkan oleh kekurangan . Carrying capacity atau daya dukung lingkungan mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang panjang. Lenzen juga menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkat keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan. Daya dukung lingkungan dapat pula diartikan kemampuan lingkungan memberikan kehidupan organisme secara sejahtera dan lestari bagi penduduk yang mendiami suatu kawasan. kebutuhan hidup manusia kemudian dibandingkan dengan luas aktual lahan produktif. Perbandingan antara jejak ekologi dengan luas aktual lahan produktif ini kemudian dihitung sebagai perbandingan antara lahan tersedia dan lahan yang dibutuhkan.kehidupan manusia ini disebut jejak ekologi (ecological footprint). Definisi daya dukung lingkungan/carrying capacity :  Jumlah organisme atau spesies khusus secara maksimum dan seimbang yang dapat didukung oleh suatu lingkungan.  Jumlah makhluk hidup yang dapat bertahan pada suatu lingkungan dalam periode jangka panjang tanpa membahayakan lingkungan tersebut.

Adanya konsep Carrying Capacity (CC) berdasarkan sebuah pemikiran bahwa lingkungan mempunyai batas kapasitas maksimum guna mendukung pertumbuhan populasi penduduk yang berbanding lurus dengan azas manfaatnya. apabila pemanfaatan SD melebihi kapasitas daya tampung SD akan tetapi populasi tidak optimum sehingga melebihi kebutuhan populasi. Kapasitas pembawa akan berbeda untuk tiap kelompok manusia dalam sebuah lingkungan tempat tinggal. apabila SD yang tersedia telah dimanfaatkan semaksimal mungkin dan telah melebihi daya dukung SD dalam memenuhi kebutuhan populasi penghuninya. 2. Kapasitas daya tampung (CC) dibedakan atas 4 (empat) tingkatan. tempat tinggal.sumberdaya. dan kondisi sosial dari masing-masing lingkungan tempat tinggal tersebut. CC Subsistem. Apabila kemampuan optimum telah terpenuhi. Carrying Capacity/CC (kapasitas daya tampung) merupakan kemampuan optimum lingkungan untuk memberikan kehidupan yang baik dan memenuhi syarat kehidupan terhadap penduduk yang mendiami lingkungan tersebut. Untuk mengurangi disparitas pemenuhan kebutuhan masing-masing individu akan sumberdaya (SD) maka diperlukan sebuah teknologi yag dapat membantu memperbesar kapasitas sumberdaya (SD). sedangkan populasi cenderung meningkat maka akan terjadi persaingan dalam memperebutkan sumberdaya (SD). CC Maksimum. disebabkan oleh jenis makanan. yaitu : 1. .

Kedua kelompok faktor ini saling mempengaruhi. CC Optimum. 2007) 2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Daya Dukung Daya dukung berkelanjutan ditentukan oleh banyak faktor.3. 1 Carrying Capacity Indicator (Rolasisasi. Apabila . Gambar 2. Misalnya hutan adalah salah satu faktor ekologi dalam sistem pendukung kehidupan. apabila pemanfaatan SD yang ada berada di bawah rata-rata kebutuhan populasi. 4. Faktor biofisik penting yang menentukan daya dukung daya dukung berkelanjutan ialah proses ekologi yang merupakan sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman jenis yang merupakan sumberdaya gen. apabila kapasitas daya tampung SD berada di bawah rata-rata kebutuhan populasi. CC Suboptimum. baik faktor biofisik maupun sosial-budaya-ekonomi. Hutan melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang kita perlukan untuk pernafasan kita.

bahkan menentukan dalam daya dukung berkelanjutan. Mahluk hidup secara keseluruhan merupakan sistem dalam daur materi. kerusakan daur materi akan mengancam kelangsungan hidup semua mahluk hidup. Sebaliknya kekayaan pada salah satu pihak mengandung kekuatan untuk pembangunan. Rusaknya daur materi akan mengakibatkan pencemaran. Tetapi pada lain pihak kemelaratan juga merupakan cambuk untuk perjuangan memperbaiki nasib diri sendiri. waduk dan saluran irigasi. adalah ketersedian bahan baku dan energi. Dan lebih hebatnya lagi . akumulasi limbah dari aktivitas produksi (termasuk manajemen limbahnya) dan . Faktor-faktor yang dapat menentukan daya dukung lingkungan dalam kondisi baik atau tidak antara lain. Kerusakan hutan akan mengakibatkan rusaknya tata air dan terjadinya erosi tanah. menurunkan produksi ikan dan memperbesar bahaya banjir. Kemelaratan pada salah satu pihak merupakan hambatan untuk pembangunan. Sebab akhirnya manusialah yang menentukan apakah pembangunan akan berjalan terus atau terhenti. Hutan juga mempunyai fungsi orologi yaitu melindungi tata air dan tanah dari erosi. kandungan oksigen dalam udara akan menurun dan kehidupan kita akan terganggu.proses fotosintesis terhenti atau menurun dengan drastis karena hutan atau tumbuhan pada umumnya habis atau sangat berkurang. Faktor sosial budaya juga mempunyai peranan yang sangat penting. Erosi tanah akan menurunkan kesuburan tanah yang berarti menurunkan produksi dan menambah biaya produksi. menyebabkan pendangkalan sungai.

tentu interaksi antar makhluk hidup yang ada di dalam lingkungan. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya pelestarian yang paling baik. Untuk itu. sehingga memerlukan pendekatan yang multidimensi Proses perencanaan pembangunan dengan konsep daya dukung mengandung pengertian adanya kemampuan dari alam dan sistim lingkungan buatan untuk mendukung kebutuhan yang melibatkan keterbatasan alam yang melebihi kemampuannya. biologi dan persepsi atau psikologis. karena dalam prosesnya akan selalu memperhatikan daya dukung lingkungan sehingga dapat dijadikan modal pembangunan untuk generasi-generasi selanjutnya. yang secara tidak langsung dapat menyebabkan degradasi atau kerusakan lingkungan. Hal ini penting mengingat bahwa interaksi antara kegiatan pengelolaan dengan ekosistem dari kawasan tersebut akan tergambarkan dengan sangat kompleks. Dalam penentuan daya dukung suatu kawasan perlu diperhatikan setidaknya tiga aspek utama. pengendalian. ekonomi dan sosial. pemulihan dan juga pengembangan kawasan lingkungan hidup. yaitu ekologi. Dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup (pengelolaan). Keterbatasan fisik lingkungan dapat ditoleransi jika terdapat kompensasi biaya untuk menghindari resiko atau bahaya yang terjadi. sebelum melakukan pengelolaan hendaknya ditentukan terlebih dahulu nilai dari daya dukung lingkungan yang menjadi targetnya. Dengan demikian pembangunan hanya dapat . akan selalu ada kegiatan-kegiatan seperti kegiatan pemanfaatan (termasuk penataan dan pemeliharaan). Dengan kata lain daya dukung harus mampu mencakup daya dukung lingkungan fisik.

masyarakat. 2001). pemeliharaan mutu lingkungan. Daya dukung lingkungan yaitu kemampuan sebidang lahan dalam mendukung kehidupan manusia (Sumarwoto. Cara ini kemungkinan tidak relevan dengan kasus perkembangan kota. 3. tetapi pada level tertentu dibatasi agar tidak mengalami proses degradasi serta sesuai dengan ketentuan standart. pertimbangan biaya pemeliharaan dan kepuasaan pengguna sumberdaya. Misalnya : daya dukung untuk wilayah pertanian. Implementasi daya dukung lingkungan dapat dilakukan dengan tiga cara : 1. Cara ini kemungkinan dapat lebih meluas dan relevan terutama untuk ambang batas udara dan air. Kemudian Notohadiprawiro (1991) menjelaskan bahwa daya dukung tersebut dinilai menurut ambang batas kesanggupan lahan sebagai suatu ekosistem untuk menahan keruntuhan akibat dampak penggunaan. waktu dan tempat (Suryanto. 2. Model ini dipakai untuk manajemen sumberdaya. Contoh implementasi model ini adalah ijin pembuangan limbah yang disesuaikan dengan kapasitas jaringan air. Selain aspek fisik.dilakukan pada tempat yang memiliki zona potensial. kehutanan dan kegiatan wisata. namun dapat relevan dalam kasus . Daya dukung lingkungan disusun pada level minimum sebagai aktivitas baru yang dapat diakomodasikan sebelum terjadi perubahan yang nyata dalam lingkungan yang ada. 2007). Pembahasan daya dukung meliputi : tingkat penggunaan lahan. Perubahan dapat diterima. daya dukung juga tergantung pada kondisi sosial. tujuan pengelolaan. Kapasitas lingkungan diterima sebagai aktivitas baru.

Penggunaan lahan di bawah kelayakan memang memenuhi kriteria kesesuaian (menghemat penggunaan lahan). wawasan lingkungan dan wawasan ekonomi bila diterapkan secara bersama-sama. Gambar 2.2 Kemampuan. sehingga lahan digunakan secara tidak efisien dan menjadi suatu sistem yang mantap semu (metastable). Pemanfaatan yang melampaui ukuran kelayakan berarti melanggar kedua kriteria tata guna lahan (kesesuaian dan wawasan lingkungan). 2007). Daya Dukung. Dalam hal ini penggunaan lahan terpaksa disubsidi dengan bahan dan energi berupa teknologi.drainase yang menyebar pada lahan pertanian basah (Suryanto. Kesesuaian. Kemudian Notohadiprawiro (1991) menjelaskan bahwa tata ruang secara umum memenuhi kriteria kesesuaian lahan. namun potensi ekonomi lahan tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Kemanfaatan danKelayakan Lahan Dalam Tata Guna Lahan .

Setiap daerah memiliki karakteristik geografi yang berbeda-beda serta ditambah dengan kegiatan manusia dengan berbagai kepentingannya. sebagian masyarakat masih kurang memperhatikan dampak lingkungan sehingga mengakibatkan berkurangnya daya dukung lingkungan. 2001: 10). . melainkan dapat berkembang sesuai dengan faktor yang mendukungnya. sehingga daya dukung lingkungan akan sangat bervariasi. Lingkungan yang berada di sekitar kita sangat bervariasi. hal ini juga menunjukkan bervariasinya kemampuan pendukung dari lingkungan tersebut. kesuburan tanah. Hal ini akan dapat berlaku sebaliknya. daya tampung lingkungan binaan dan daya tampung lingkungan sosial. yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia akan berkurang. Dalam UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. merinci daya dukung lingkungan menjadi tiga. Namun. perubahan cuaca. Ada beberapa kebutuhan informasi sumberdaya lahan yang diperlukan diketahui. Di daerah yang kondisi daya dukung lingkungannya masih relatif baik. Daya dukung tidak mutlak. 1994). yaitu : tanah. yaitu faktor geografi (iklim. faktor sosial budaya dan iptek (Supardi. erosi). iklim. Perkembangan teknologi dan kemajuan industri akan berdampak pada kualitas daya dukung lingkungan yang pada akhirnya akan merusak lingkungan itu sendiri (Sunu. UU ini tidak merinci lebih jauh bagaimana daya dukung tersebut dapat diukur ataupun dihitung. yakni daya dukung lingkungan alam.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan . Vegetasi merupakan salah satu unsur lahan. Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Selain faktor-faktor tersebut diatas. 1998: 25). derajat kemiringan lereng. yang dapat berkembang secara alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia baik pada masa yang lalu atau masa kini. kecepatan dan arah angin. dan posisi pada bentang alam. curah hujan. Informasi tentang tanah pada akhirnya akan menunjukkan kondisi keragaman sifat lahan yang sangat penting dalam penilaian kemampuan lahan serta tindakantindakan budidaya yang diperlukan.topografi dan formasi geologi.7 % per tahun. Vegetasi dapat dipertimbangkan sebagai petunjuk untuk mengetahui potensi lahan dan kesesuaian lahan bagi suatu kegunaan tertentu melalui kehadiran tanaman-tanaman indikator (Sitorus. Informasi iklim mencakup data tentang : temperatur. faktor lain yang mempengaruhi daya dukung yaitu  Produktivitas Lahan. Kondisi topografi berpengaruh secara tidak langsung terhadap kualitas tanah termasuk ancaman erosi dan potensi lahan untuk diusahakan. Informasi tentang topografi dan formasi geologi meliputi : ketinggian lahan di atas permukaan air laut. vegetasi dan kondisi sosial ekonomi. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia.

Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yang mendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional. khusus pada kedelai sangat memprihatinkan. Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) Produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun. Sulitnya melakukan peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain . Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkan konsekwensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar. (2) Peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa.menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar. Keragaan total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun pada ketiga komoditas pangan utama di atas menunjukkan kesenjangan yang terus melebar. Keragaman di atas menunjukkan bahwa laju pertumbuhan produksi pangan nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun. sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. dan kita semakin tergantung pada negara asing.

2002) (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Jagung dan Kedelai di lahan lebak/pasang surut dengan penerapan teknologi konvensional hasilnya masih . Dari sisi perluasan areal lahan tanaman pangan ini upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut (Alihamsyah. E.19 juta hektar dan sekitar 9.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi sebesar 48.seperti permukiman. Produktivitas rata-rata tanaman pangan padi. Memanfaatkan lahan lebak dan Pasang Surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS. 2000). Akan tetapi mengingat padatnya penduduk di pulau Jawa keberadaan lahan tanaman pangan tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti hortikultura. Kedua pilihan di atas mutlak harus di barengi dengan menerapkan teknologi produktivitas mengingat sebagian besar lahan tersebut tidak subur untuk tanaman pangan. dkk.201.794..2002). Luas lahan pasang surut dan Lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 20. Lahan irigasi Indonesia sebesar 10. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata dan/atau membuka areal baru pertanian pangan sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.2 juta hektar telah di reklamasi untuk pertanian (Ananto.5 juta hektar berpotensi untuk pertanian serta 4.

Lahan kering di Indonesia sebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. S. Melihat kenyataan di atas maka solusi terbaik adalah: (1) pemerintah sebaiknya memberikan ijin legal atas hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani yaitu semacam HGU untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut. 2. (2) memberikan bimbingan teknologi budidaya .8 ton/ha. 2002). Namun.rendah yaitu : secara berturut turut sekitar 3. Ada 300.6 – 1. OPT dan cekaman Air (Moeljopawiro. padi huma dan kedelai serta kacang tanah.5 – 3. Di Pulau Jawa yang padat penduduk. banyak pula lahan tidur yang terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan seperti jagung. keracunan tanah dan kendala Bio fisik seperti pertumbuhan gulma yang pesat. rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0.5 ton/ha.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar.8 ton/ha dan 0. Kendala utama pengembang di lahan ini adalah keragaman sifat fisiko-kimia seperti pH yang rendah.5 ton/ha dan padi huma 1. tetapi pemanfaatannya berdampak positif bagi peningkatan produksi pangan. meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah.. Secara alamiah hal ini membantu penambahan luas lahan pertanian pangan.5 ton/ha dan kedelai 0.1 ton/ha.2 ha/KK petani. seperti jagung 2. kesuburan rendah.

(2) Penerapan pola pertanian organik ramah lingkungan dalam menjaga kesuburan tanah. dan pertanian terpadu.5 ton/ha yang dilakukan dengan 2 kali MT maka akan terjadi penambahan produksi sebesar: 1. tumpang sari.khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati guna meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (3) Melibatkan stakeholder dan swasta yang memiliki komitmen menunjang dalam sistem Agribisnis tanaman pangan sehingga akan menjamin kepastian pasar. Sarana Input teknologi produktivitas dan nilai tambah dari usaha tani terpadunya. Sebagai contoh jika 150. Pengelolaan lahan kering untuk pertanian dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi produktivitas organik agar memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat. dan . berarti akan mensubstitusi lebih dari 60% impor Jagung. Berbagai praktek explorasi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lahannya hendaklah dihindari. Multiple effek dari usaha tani tanaman pangan ini sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar dan bagi kepentingan nasional. dapat dilakukan upaya strategis dalam menghindari degradasi lahan melaui: (1) Penerapan pola usaha tani konservasi seperti agroforestry.000 ha lahan ini digunakan untuk budidaya Jagung jika dengan tambahan teknologi produktivitas organik dapat menghasilkan rata-rata 6. untuk menjamin keberlajutan pengusahaan lahan. Penggunaan lahan diatas daya dukung lahan haruslah disertai dengan upaya konservasi yang benar-benar. Oleh karena itu.95 juta ton jagung.

kegiatan usahatani tersebut juga menyebabkan kerusakan sumberdaya lahan dan lingkungan di wilayah hilir.  Tingkat kesuburan tanah. Disamping menyebabkan ketidak-berlanjutan usahatani di wilayah hulu. Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan terjadinya kemerosotan kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain. kerusakan sarana irigasi. sementara tanaman mengambil unsur hara tidak hanya N (nitrogen) dalam jumlah yang banyak. Unsur hara pokok yang . Penurunan produktivitas usaha tani secara langsung akan diikuti oleh penurunan pendapatan petani dan kesejahteraan petani.(3) Penerapan konsep pengendalian hama terpadu merupakan usaha-usaha yang harus kita lakukan untuk menjamin keberlanjutan usaha pertanian kita dan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik. Erosi tanah merupakan faktor utama penyebab ketidak-berlanjutan kegiatan usahatani di wilayah hulu. maka akan terjadi pengurasan hara lainnya. bahaya banjir dimusim penghujan dan kekeringan dimusim kemarau. Erosi yang intensif di lahan pertanian menyebabkan semakin menurunnya produktivitas usaha tani karena hilangnya lapisan tanah bagian atas yang subur dan berakibat tersembul lapisan cadas yang keras. Misalnya petani menggunakan urea (hanya mengandung hara N) dalam dosis tinggi secara terus menerus. yang akan menyebabkan ketidak-berlanjutan beberapa kegiatan usaha ekonomi produktif di wilayah hilir akibat terjadinya pengendapan sedimen. dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah.

sekitar 60 persen areal sawah di Jawa kadungan bahan organiknya kurang dari 1 persen. namun yang demikian sulit dilakukan. Sementara. sehingga apabila tidak ditambahkan akan terjadi pengurasan hara lainnya (15 hara) dan pada saatnya akan terjadi kemerosotan kesuburan karena terjadi kekurangan hara lain. akan mempercepat terjadinya pengusan hara sejenis dalam jumlah tinggi dalam kurun waktu yang pendek. sehingga tanah akan semakin remah. Penanaman varietas padi unggul secara mono cultur tanpa adanya pergiliran tanaman.dibutuhkan tanaman semuanya ada 16 unsur. sistem pertanian bisa menjadi sustainable (berkelanjutan) jika kandungan bahan organik tanah lebih dari 2 %. Namun jika penambahan bahan organik tidak diberikan dalam jangka panjang kesuburanfisiknya akan semakin menurun. Memang seyogyanya semua hara yang dibutuhkan tanaman perlu ditambahkan. Hal ini kalau dibiarkan terus menerus tidak menutup kemungkinan terjadinya defisiensi atau kekurangan unsur hara tertentu dalam tanah. . Dilaporkan dipersawahan yang intensif missal Delanggu diduga kekurangan hara mikro Zn dan Cu. Bahan oraganik tanah disamping memberikan unsur hara tanaman yang lengkap juga akan memperbaiki struktur tanah. Akibat dari ditinggalkannya penggunaan pupuk organik berdampak pada penyusutan kandungan bahan organik tanah. bahkan banyak tempat-tempat yang kandungan bahan organiknya sudah sampai pada tingkat rawan. Kecuali dengan penambahan pupuk organik secara periodik yang mengandung hara lengkap yang sekarang semakin jarang dilakukan petani.

Sebagai contoh lahan yang terus dipupuk dengan Urea (N) cenderung menampakkan respon kesuburan tanaman seketika. Telah diketahui bahwa mikro-organisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke . Di lahan sawah/irigasi dengan berbagai upaya program revolusi hijau yang telah ada tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik jenuh (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun. kemudian diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang serta teknik pengolahan tanah yang tepat. tetapi berdampak pada cepat habisnya bahan organik tanah karena memacu berkembangnya dekomposer dan bahan organik sebagai sumber makanan mikroba lain habis (< 1%). Pemakaian pupuk kimia. revolusi hijau dengan mengandalkan pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan.Tingkat kesuburan lahan pertanian produktif terus menurun. Upaya yang harus dilakukan adalah melakukan Soil Management untuk mengembalikan kesuburan tanah dengan memasukkan berbagai ragam mikroba pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan membangun bahan organik tanah. Akibatnya disamping hilangnya mikroba pengendali keseimbangan daya dukung kesuburan tanah. alkali dan pestisida yang terus menerus menyebabkan tumpukan residu yang melebihi daya dukung lingkungan yang jika tidak terurai akan menjadi “racun tanah” dan tanah menjadi “Sakit”. ketidak-seimbangan mineral dan munculnya mutan-mutan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang kontra produktif.

Hal ini berarti bakal calon penerapan varietas unggul berproduktivitas tinggi harus dilakukan pengawalan dan manajemen teknologi penyerta dengan baik dan diterapkan secara paripurna. Untuk mendapatkan performa hasil maksimal dari tanaman unggul baru yang diharapkan memerlukan persyaratan-persyaratan khusus “Presisi” dalam budidayanya seperti kesuburan lahan. pemupukan. yaitu : kegiatan/aktivitas manusia. Hibrida dan PTB. sekumpulan mikroorganisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Pada kenyataannya baik tanaman unggul seperti padi VUB. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri. 2003) dan/atau perlakuan spesifik lainnya.tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi mengendalikan keseimbangan kesuburan tanah sebagaimana mestinya. mengamankan dari OPT (Anonim. dan kedelai serta Jagung hibrida akan mampu berproduksi tinggi jika pengawalan manajemen budidayanya dipenuhi dengan baik. Untuk hal tersebut petani harus diberikan dampingan dan memanejemen budidaya secara intensif.4 Analisis Daya Dukung Wilayah Pedesaan Konsep daya dukung lingkungan meliputi tiga faktor utama. Hasilnya lebih rendah dari varietas lokal. Selain itu. bahkan dapat menguntungkan tanaman (Mashar. Prinsip-prinsip hayati yang demikian telah diungkapkan dalam kaidah-kaidah penerapan pupuk hayati (misal : Bio P 2000 Z). 2. Kualitas lingkungan dapat terjaga dan terpelihara dengan baik apabila manusia mengelola . 2000). tetapi jika tidak justru terjadi sebaliknya. sumberdaya alam dan lingkungan.

daya dukung pada batas antara minimum dan optimim. Dalam hal ini perhitungan didasarkan pada besarnya luasan penggunaan lahan (Soerjani. Sedangkan variabel pokok yang harus diketahui dalam analisis daya dukung lingkungan adalah potensi lahan dan jumlah penduduk (Kaiser. Hal ini bertujuan untuk mempelajari dampak dari pertumbuhan penduduk dan sistim pembangunan kota. Angka ini diperoleh berdasarkan konsep tata ruang arsitektur bangunan yang harus memperhitungkan “arsitektur alam” antara 1/3 . Prosedur analisis daya dukung lingkungan meliputi : melihat faktor pembatas/ambang batas atau mengidentifikasikan kualitas lingkungan dan geografi. 1987 : 10 – 12). Dalam menerapkan konsep daya dukung lingkungan perlu dilakukan analisis mengenai daya dukung yang membandingkan kebutuhan antara tata guna lahan dengan lingkungan alam atau sistem lingkungan buatan. Daya dukung lingkungan terkait dengan kapasitas ambang batas sebagai dasar untuk membatasi rekomendasi pertumbuhan. Batas ini dianggap baik karena jika penggunaan sumberdaya alam melebihi 70 % sampai 100 % akan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan dan keadaan akan menjadi semakin buruk.70 % memberikan kualitas yang cukup baik.2/3 dari seluruh ruang yang dirubah/dikelola manusia harus dikelola untuk berkembang secara alami (Zoer’aini. dan pengamatan lingkungan. 1995). Daya dukung kualitas yang dikelola antara 30 % . sistim fasilitas umum. 1997). Pesatnya perkembangan di sektor industri dan pemukiman berdampak pada berkurangnya lahan–lahan yang subur sehingga pembangunan pertanian khususnya .

dengan sumber mata pencaharian utama di bidang pertanian. Salah satu pemicu alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lain adalah rendahnya isentif bagi petani dalam berusaha tani dan tingkat keuntungan berusahatani relatif rendah. Alih fungsi lahan banyak terjadi justru pada lahan pertanian yang mempunyai produktivitas tinggi menjadi lahan non-pertanian. Daerah pertanian ini umumnya sudah dilengkapi dengan infrastruktur pengairan sehingga berproduksi tinggi. sekitar 30% (sekitar satu juta ha) lahan sawah di pulau Jawa. hama dan penyakit. Selain itu. dan sekitar 17% (0. Banyak areal lumbung beras nasional kita yang beralih guna seperti dipantura dan seperti pusat pembangunan di dalam pinggir perkotaan. tidak tersedianya sarana produksi dan pemasaran. Tantangan tersebut dapat kita lihat puluhan ribu hektar lahan pertanian yang produktif setiap tahun beralih fungsi menjadi sektor non pertanian. Dilaporkan dalam periode tahun 1981-1999. Konversi lahan pertanian yang semakin meningkat akhir-akhir ini merupakan salah satu ancaman terhadap keberlanjutan pertanian dipedesaan.6 juta ha) di luar pulau Jawa telah menyusut dan beralih ke nonpertanian. Dengan demikian di perdesaan sangat potensil terjadi konflik sosial atau fisik masalah lahan . Alih . usaha pertanian dihadapkan pada berbagai masalah yang sulit diprediksi dan mahalnya biaya pengendalian seperti cuaca. terutama terhadap ketersedian sumberdaya lahan. terutama ke areal industri dan perumahan.pelestarian swasembada pangan menghadapi tantangan yang cukup berat. Masalah lahan lebih nyata terlihat di daerah perdesaan karena kurang lebih 80 persen penduduk tinggal di perdesaan.

kesenjangan yang terjadi merupakan cermin bias dari pembangunan yang lebih mengarah ke kota. dari tahun ke tahun jumlah penduduk miskin terus bertambah. Daya dukung lahan dapat diketahui melalui perhitungan daya tampung lahan. 2) Kesenjangan.guna lahan sawah ke areal pemukiman dan industri sangat berpengaruh pada ketersedian lahan pertanian. Daya dukung lahan dihitung dari kebutuhan lahan per kapita. dengan rumus sebagai berikut : A = L/P A = Daya dukung lahan L = Luas Lahan (ha) P = Populasi Penduduk (jiwa) Apabila nilai daya dukung lahan tersebut melebihi nilai yang ditentukan maka dikatakan populasi penduduk . Pembangunan nasional yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi mengabaikan pemerataan dan menjadikan pendekatan keamanan (stabilitas politik) sebagai pengawalnya telah menggerakkan ekonomi nasional. Nilai yang didapat dari hasil perhitungan daya tampung dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui kawasan mana saja yang berada pada kondisi ambang batas yang masih dapat dimanfaatkan. Beberapa masalah yang merupakan hasil dari suatu proses pembangunan yaitu 1) Kemiskinan. Namun gagal menjadikan gerak ekonomi nasional tersebut sebagai pendorong laju perkembangan desa. Daya dukung lahan berdasarkan daya tampung. dan ketersediaan pangan serta fungsi lainnya. dihitung dengan menggunakan variabel luasan fungsi lahan dibagi dengan jumlah penduduk eksisting.

Populasi Penduduk (jiwa) 10. 6. 2.000 250. Kormody (1969) dalam Hadi .000 1.1 Konsumsi Lahan Per Kapita No.057 Sumber : Yeates et al. 1980 Tabel 2.000 500.000 2.000 Konsumsi lahan (ha/jiwa) 0.000 50. 4. 8.061 0.1 menunjukkan bahwa ukuran penggunaan lahan di wilayah perkotaan untuk ukuran jumlah populasi penduduk tertentu membutuhkan konsumsi lahan dengan luasan tertentu.000 25.000. sejumlah ahli biologi mendefinisikan daya dukung lingkungan sebagai jumlah populasi dari mahluk yang dapat didukung oleh tempat hidup (habitat).000. Hubungan antara manusia dengan lingkungan fisik dapat mencerminkan daya dukung lingkungan.086 0. 3.076 0.100 0. 7. 1.070 0. Nilai daya dukung lahan yang ditunjukkan dengan konsumsi lahan per kapita untuk berbagai ukuran populasi kota menurut Yeates et al (1980) sebagai berikut : Tabel 2.pada wilayah tersebut sudah melebihi daya dukung lingkungannya (di luar ambang batas). Semakin besar jumlah penduduk kota maka semakin kecil konsumsi lahan per ha per kapitanya. 5.091 0.000 100.066 0.

daya. dan hal yang demikian ini menunjukkan kondisi lapar lahan.(2001 : 11) menyebutkan bahwa populasi seharusnya selalu berada pada titik keseimbangan di mana lingkungan dapat mendukung. keadaan. Batas di antara titik keseimbangan tersebut yang dinamakan daya dukung lingkungan. dan makhluk hidup. 2. Berdasarkan definisi maka dapat diketahui komponen yang ada di dalam lingkungan hidup antara lain adalah ruang. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. Akan tetapi. termasuk manusia dan perilakunya. Yang dimaksud dengan lingkungan hidup berdasarkan UU No. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.6 Daya Dukung dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan SDA dan Lingkungan Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. manusia dan aktivitas. Menurut Soemarwoto (1985 dan 1990) dalam Hadi (2001 : 12) menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi pula tingkat permintaan terhadap lahan. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Jika ketersediaan lahan tidak mencukupi maka respon yang muncul di antaranya adalah membuka hutan dan menanami daerah rawan erosi. .

Pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. Upaya pembangunan di berbagai sektor yang semakin meningkat menyebabkan akan semakin meningkat pula dampaknya terhadap lingkungan hidup. budaya. Lingkungan hidup merupakan ekologi terapan/applied ecology dengan tujuan agar manusia dapat menerapkan prinsip dan konsep pokok ekologi dalam lingkungan hidup. Oleh karena itu. keserasian. ekonomi dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Dalam UU No.Sunu (2001 : 10) menjelaskan bahwa ruang merupakan sesuatu di mana berbagai komponen lingkungan hidup menempati dan melakukan proses sehingga antara ruang dan komponen lingkungan merupakan satu kesatuan. yang mempunyai aspek sosial. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. dan keseimbangan subsistem. Lingkungan hidup sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. 32 Tahun 2009 selanjutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan . pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya.

2. Pembangunan nasional perlu memperhatikan aspek berkelanjutan secara seimbang. 2001 : 2). Pembangunan berkelanjutan menghendaki penerapan perencanaan tata ruang (spasial planning). Emil Salim dalam Hadi (2001 : 3) menjelaskan hal yang harus diperhatikan dalam konsep pembangunan berkelanjutan : 1. 3. yaitu kebutuhan dan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. pengembangan. Penerapan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hal ini sesuai dengan hasil Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup yang diadakan di Stockholm tahun 1972 dan Deklarasi Lingkungan Hidup KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992. pemulihan.hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan. Dalam hal ini terdapat dua konsep utama yang dikemukakan. Perencanaan pembangunan menghendaki adanya standar lingkungan. Pembangunan berkelanjutan menurut World Commission on Environmental and Development diartikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Hadi. yang keduanya . pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup. pemanfaatan. Dengan demikian diperlukan pengaturan agar lingkungan tetap mampu mendukung kegiatan pembangunan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. pemeliharaan.

karena persoalan lingkungan ke depan akan semakin kompleks. Persoalan lingkungan adalah persoalan semua. Landasan filosofi tentang konsep pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka pembangunan ekonomi adalah sangat penting bagi pembangunan ekonomi nasional. telah ditetapkan perangkat hukum perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan hidup. yang diatur dalam UndangUndang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. pengelolaan lingkungan hidup selain mengacu pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam era otonomi daerah. juga pada Undang-Undang No. Dalam mengatasi berbagai permasalahan. Dalam Undang-undang ini. Demikian pula pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg tahun 2002. perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup . baik pemerintah. membahas dan mengatasi kemerosotan kualitas lingkungan hidup dunia. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan kewajiban pemerintah untuk menerapkan sustainable development sebagai solusi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Selain itu. Undangundang ini memandang dan menghargai arti penting hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi warga negara. dunia usaha maupun masyarakat pada umumnya.menyepakati prinsip bahwa pembangunan harus memperhatikan dimensi lingkungan dan manusia.

meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup untuk menciptakan check and balances melalui pola kemitraan.yang meliputi kebijakan : (1) Kebijakan Perencanaan. a. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN Tahun 2010 – 2014 menyatakan bahwa untuk pengembangan kapasitas pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup perlu dilakukan berbagai upaya seperti menyusun. (2) Kebijakan Pemanfaatan. (5) Kebijakan Pengawasan. mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan dana dekonsentrasi lingkungan. Inventarisasi Lingkungan Hidup . dan proposal pendanaan lingkungan dari luar negeri dan integrasi instrumen lingkungan dalam perbankan nasional. menyusun panduan ekonomi ekosistem lahan basah. (6) Penegakan Hukum. (4) Kebijakan Pemeliharaan. dan penyusunan RPPLH. Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui tahapan inventarisasi lingkungan hidup. kerangka Indonesia Environment Fund Stategy. penetapan wilayah ekoregion. program insentif lingkungan. melakukan kajian ekonomi ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun. mengembangkan Debt for Nature Swaps (DNS) bidang lingkungan hidup. menyempurnakan. kegiatan adiwiyata. kegiatan aliansi strategis masyarakat peduli lingkungan. (3) Kebijakan Pengendalian. dan mengkaji peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. meratifikasi konvensi internasional di bidang lingkungan hidup dan instrumennya. serta menyusun buku panduan penyusunan PDRB Hijau.

laut maupun di udara berupa tanah. b. Inventarisasi lingkungan hidup dilaksanakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai sumberdaya alam : (1) Potensi dan ketersediaan. (3) Bentuk penguasaan. (5) Bentuk kerusakan. (2) Jenis yang dimanfaatkan. (7) inventarisasi dan pemetaan tipe ekosistem dan (8) kegiatan-kegiatan pendidikan dan latihan. (6) penatagunaan sumber daya alam seperti hutan. (3) pemetaan agroekologi. (6) Konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat pengelolaan. (6) ekonomi. energi. c. (4) pemetaan vegetasi dan kawasan hutan. Inventarisasi lingkungan hidup di tingkat wilayah ekoregion dilakukan untuk menentukan daya dukung dan daya tampung serta cadangan sumberdaya alam.Kegiatan inventarisasi lingkungan hidup dilakukan dengan tujuan lebih mengetahui potensi sumber alam di darat. (4) flora dan fauna. Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) . Penetapan Wilayah Ekoregion Penetapan wilayah ekoregion dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesamaan : (1) karakteristik bentang alam. (7) kelembagaan masyarakat. fauna dan lain sebagainya serta produktifitasnya yang diperlukan bagi pembangunan. penelitian dan pengembangan teknologi. tanah dan air. air. (3) iklim. flora. (5) sosial budaya. (2) pemetaan geologi dan hidrogeologi. Contoh kegiatan dalam inventarisasi ini adalah antara lain : (1) pemetaan dasar wilayah darat dan wilayah laut. (2) daerah aliran sungai. (5) pemetaan kemampuan tanah. dan (8) hasil inventarisasi lingkungan hidup. (4) Pengetahuan pengelolaan.

RPPLH disusun oleh Menteri. RPPLH diatur dengan Peraturan Pemerintah (nasional) atau Peraturan Daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Gubernur. Gambar 2. (2) RPJMD (Prov. (2) keberlanjutan produktifitas lingkungan hidup. Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dan secara hierarkhis. . pemanfaatan sumberdaya alam dilakukan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan mempehatikan : (1) keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup. Acuan penyusunan RPPLH adalah : (1) RPJMN (nasional). Kab/Kota).4 Tahapan Penyusunan RPPLH Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH. dan (3) keselamatan. mutu hidup. dan kesejahteraan masyarakat. Mengenai pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Apabila RPPLH belum tersusun. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.

(5) Amdal. maka sesuai amanat UU No. (11) Analisis risiko lingkungan hidup. (2) Penanggulangan. Pencegahan. a. (7) Perizinan. (3) Pemulihan. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut : (1) Pencegahan. (6) UKL-UPL. (12) Audit lingkungan hidup. (8) Instrumen ekonomi lingkungan hidup. dan/atau program. b. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Instrumen pencegahan kerusakan lingkungan hidup terdiri atas : (1) KLHS. Adapun dalam KLHS sedikitnya harus memuat : (1) Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan. (2) Tata ruang. (9) Peraturan perundangundangan berbasis lingkungan hidup. . rencana. (4) Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. (3) Kinerja layanan/jasa ekosistem. (13) Instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan. 32 tahun 2009 bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah diwajibkan untuk membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). (2) Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup. (10) Anggaran berbasis lingkungan hidup. (3) Baku mutu lingkungan hidup.

(6) Tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.5 Tahapan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk mengembalikan fungsi hutan dan atau lahan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sesuai dengan daya dukungnya.(4) Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. Gambar 2. (5) Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. adapun upaya pemulihan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: . Penanggulangan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk menghentikan meluas dan meningkatnya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup serta dampaknya.

Gambar 2.6 Tahapan Pemulihan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pemeliharaan lingkungan hidup adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga pelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya penurunan atau kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh perbuatan manusia. pengawetan dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam. Pencadangan sumberdaya alam merupakan sumberdaya alam yang tidak dapat dikelola dalam kurun waktu tertentu. Konservasi sumberdaya alam meliputi kegiatan pencadangan. Pemeliharaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui konservasi dan pencadangan sumberdaya alam serta pelestarian fungsi atmosfer. Pelestarian sumberdaya alam meliputi upaya mitigasi dan .

. dan perlindungan terhadap hujan asam (Mawardi.adaptasi perubahan iklim. 2010). perlindungan lapisan ozon.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful