Pengaruh Perlakuan Terhadap Kadar Asam Sianida (HCN) Kulit Ubi Kayu Sebagai Pakan Alternatif Oleh : Sri

Purwanti *)

Pendahuluan Pangan produk peternakan terutama daging, telur dan susu merupakan komoditas pangan hewani yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan. Pangan produksi peternakan sangat elastis terhadap pendapatan masyarakat, sehingga besar kecilnya konsumsi pangan asal ternak dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat. Menurut Saragih (2000), bahwa

pembangunan peternakan tidak terlepas dari sub sektor lain yang erat kaitannya dengan sub sektor peternakan. Salah satu jenis tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh petani di Sulawesi Selatan yaitu tanaman ubi kayu. Potensi nilai ekonomi dan sosial ubi kayu merupakan bahan pangan yang berdaya guna, bahan baku berbagai industri dan pakan ternak. Di Sulawesi Selatan khususnya di Makassar, tanaman ubi kayu ditanam pada luas lahan 378 ha dengan kapasitas produksi masing-masing 55 ton/tahun, yang berlokasi di Kecamatan Tamalate, Panakkukang dan Biringkanaya (Anonim, 2005). Selain itu wilayah

pengembangan produksi komoditi ubi kayu juga terdapat di Kabupaten Tana Toraja, Soppeng, Bone, Sinjai, Bulukumba, Sidrap dan Mamuju. Untuk menunjang program pembangunan peternakan khususnya dalam rangka penyediaan protein hewani, menekan biaya pakan merupakan keharusan karena biaya pakan berkisar 60 – 80% dari seluruh biaya produksi. Salah satu sumberdaya lokal potensial yang belum dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam yaitu limbah kulit ubi kayu yang merupakan limbah dari mata rantai proses produksi pembuatan tapioka. Limbah tersebut sebaiknya dalam keadaan kering (dijemur) atau ditumbuk dijadikan tepung (Rukmana, 1997), tetapi salah satu

1

63 0. Kimia Makanan Ternak. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai informasi ilmiah bahwa kulit ubi kayu sebagai pakan alternatif yang aman bagi ternak unggas dan mencegah pencemaran lingkungan oleh limbah pengolahan ubi kayu.22 0. Kandungan Nutrisi Limbah Ubi Kayu Bahan Daun (%) Kulit (%) Onggok (%) Sumber : Bahan Kering 22.25 Lemak 9.76 Serat Kasar 25. thermometer. Sudaryanto (1989).50 Protein 21.47 P 0. Materi Penelitian ini menggunakan seperangkat alat untuk mengukus.73 82.71 15.59 0. Bahan yang digunakan yaitu kulit ubi kayu segar diiris-iris dengan ukuran 1 x 2 cm dan bahan-bahan kimia untuk analisa kadar HCN.11 10.03 Ca 0. 2 .01 HCN mg/kg 143.00 74. Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan Juni s/d Oktober 2005 di Laboratorium Pakan Ternak Terpadu dan analisa kadar HCN di Laboratorium Kimia Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.51 TDN 61.29 1. serta alat-alat untuk analisa kadar HCN.72 0. timbangan dan baskom.3* B.45 85.72 1. Fapet UH (2005) Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penurunan kandungan kadar HCN pada kulit ubi kayu dengan beberapa proses pelakuan dalam potensinya sebagai pakan alternatif.20 0.faktor penghambat dalam penggunaan limbah kulit ubi kayu yaitu adanya kadar asam sianida (HCN) yang merupakan faktor anti nutrisi.45 8. Rukmana (1997) menyatakan bahwa limbah ubi kayu termasuk salah satu bahan pakan ternak yang mempunyai energi (Total Digestible Nutrient = TDN) tinggi dan kandungan nutrisi tersedia dalam jumlah memadai.33 17. seperti pada tabel 1 berikut : Tabel 1. Makassar. * Hasil Analisa Lab.

Penekanan yang cukup tinggi terjadi pada perlakuan D yaitu 5. Nilai rata-rata penekanan kadar HCN kulit ubi kayu dari setiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 2 berikut : Tabel 2. 16. D = Kulit ubi kayu dikukus + dijemur dibawah sinar matahari selama 12 jam Pengolahan Data. Dimana kadar HCN kulit ubi kayu tanpa perlakuan sebesar 143.01) terhadap penekanan kadar HCN.32 16.8 mg/100 g dan 5. dengan empat perlakuan dan lima ulangan dengan susunan perlakuan sebagai berikut : A = kulit ubi kayu dicuci.76 Keterangan : a. Rata-rata penekanan kadar HCN untuk perlakuan A. B = kulit ubi kayu di kukus (100°C).42 8. Hasil dan Pembahasan Kadar HCN yang merupakan faktor anti nutrisi pada kulit ubi kayu dapat dilakukan penekanan dengan berbagai cara dan dengan tingkat penekanan HCN yang berbeda-beda sesuai dengan perlakuan. B. C dan D masing-masing 89. C = Kulit ubi kayu dikeringkan (dioven 100°C selama 12 jam).05).88 5.b.76 mg/100 g. dan hasil analisa dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Gaspersz.42 mg/100 g. Hasil analisa ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (p<0.32 mg/100 g. 8. Rata-Rata Nilai HCN Kulit Ubi Kayu dengan Beberapa Perlakuan Perlakuan (mg/100 g) A B C D a b c cd Kadar HCN 89. 1991).01) antara setiap perlakuan. Data yang diperoleh diolah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. kecuali antara perlakuan C dan D tidak memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata.76 mg/100 g.3 mg/100 g dalam 3 Parameter .Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan unit percobaan sebanyak 2 kg kulit ubi kayu.c nilai rataan diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perbedaan tidak nyata (p > 0. Hasil uji Beda Nyata Terkecil (BNT) memperlihatkan bahwa semua perlakuan berbeda sangat nyata (p<0.

sangat ampuh untuk mencegah terbentuknya HCN yang beracun.32 mg/100 g) dan masuk pada kategori jenis ubi kayu yang beracun. B dan C bahwa sampel kulit ubi kayu hanya mengalami satu kali proses saja. C dan D masuk pada kategori tidak beracun dengan nilai HCN kurang dari 50 mg/kg. Proses pemanasan ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan racun HCN. supaya proses pemanasan dan pengeringan lebih sempurna. Ubi kayu yang akan dipanaskan harus dipotong-potong menjadi bagian yang kecil. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Dengan proses ganda dalam hal penekanan kadar HCN kulit ubi kayu (perlakuan D) dapat menekan sekecil mungkin kadar HCN dimana beberapa perlakuan 4 . menjemur hingga kemudian dimasak adalah proses untuk mengurangi kadar HCN. Begitupun dengan setiap proses perlakuan memberikan tingkat penekanan kadar HCN yang berbeda. merendam dalam air. Kesimpulan dan Saran Dari hasil analisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji BNT dan dari pembahasan. Selain itu menurut Irmansyah (2005) bahwa dengan cara merebus. kandungan zat racun ubi kayu dikategorikan beracun. Proses pencucian dalam air mengalir dan pemanasan yang cukup. seperti di bawah terik matahari. Sebagaimana pernyataan Ichwan (2003) bahwa penggunaan ubi kayu dalam pakan ternak perlu didahului dengan proses pemanasan. Penekanan yang besar pada perlakuan D ini bisa dilihat adanya perlakuan berulang dalam hal penurunan kadar HCN pada kulit ubi kayu yaitu dengan cara mengukus (90 -100°C) dimana kadar HCN menguap sejalan dengan terjadinya penguapan pada saat mengukus kemudian dilanjutkan dengan menjemur dibawah sinar matahari selama ± 12 jam juga bertambah hilangnya HCN seiring dengan berkurangya kadar air bahan pada saat dijemur.bahan kering (BK). Proses dengan pencucian ternyata masih memberikan nilai HCN yang tinggi (89. Dibandingkan dengan perlakuan A. bila kadar HCN antara 80-100 mg/kg ubi yang diparut dan untuk perlakuan B. mengiris kecil-kecil. Menurut Rukmana (1997). Kadar HCN pada kulit ubi kayu sangat bervariasi sesuai dengan jenis atau varietasnya. mengupas.

2003. W. USESE Foundation dan Pusat Studi Pembangunan IPB. Daftar Pustaka Anonim.geocities. Irmansyah. 2005.indomedia. Agribisnis Berbasis Peternakan. Ichwan. Agromedia Pustaka. *) Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Armico. 2005. Sebagai pakan yang rendah HCN. Dari Limbah menjadi Pakan Ternak. Yogyakarta.masuk dalam kategori tidak beracun. V.doc (Akses Agustus 2005) Rukmana. Ubi Kayu Budidaya dan Pascapanen. 2000. sehingga aman untuk dikonsumsi. 1991. 1997. H.com/bernas/9807/03/UTAMA/03uta2. Awas. Bogor. B.com/persampahan/kompos. Makassar 90245 5 . Metode Perancangan Percobaan.R. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. Bandung. (Akses http://www. B. disarankan agar sebaiknya mengetahui potensi kulit ubi kayu yang tersedia sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan penyediaan pakan sepanjang waktu. Tak Semua Tiwul Aman Dimakan. Gaspersz. http : //www. Saragih. Kanisius. M.htm April 2005).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful