I.

PENDAHULUAN Blighted ovum (kehamilan kosong) merupakan salah satu jenis keguguran yang terjadi pada awal kehamilan. Disebut juga anembryonic pregnancy, blighted ovum terjadi ketika telur yang dibuahi berhasil melekat pada dinding rahim, tetapi tidak berisi embrio, hanya terbentuk plasenta dan kulit ketuban yang ditandai dengan adanya kantung gestasi. Kegagalan telur biasanya terjadi saat usia 6 minggu, sehingga dapat diabsorbsi kembali oleh uterus. Kasus ini terjadi ditandai dengan ancaman keguguran atau abortus sebelumnya.1,2,3 Abortus merupakan suatu keadaan dimana terjadinya pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat hasil konsepsi kurang dari 500 gram. Abortus merupakan komplikasi paling sering dari kehamilan dan dapat menjadi stress emosional bagi pasangan yang mengharapkan anak. Pada kehamilan yang secara klinis diketahui, angka gagalnya kehamilan sebesar 15% untuk usia gestasi 20 minggu dihitung dari haid pertama haid terakhir. Blighted ovum dianggap merupakan kejadian kromosomal random yang terjadi pada sekitar 1:5 hingga 1:10 kasus abortus. 1,2 Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Perkembangan kehamilan dimulai dengan tumbuhnya villi korionik pada permukaan luar blastokist dan berimplantasi ke dinding rahim. Villi memproduksi gonadotropin yang merangsang pituitary melepaskan lutenizing hormone (LH), yang berperan memicu corpus luteum di ovarium membentuk progesterone dalam jumlah banyak. Normalnya, pada tingkat ini, massa inner cell mulai membelah dan berdiferensiasi menjadi organ-organ. Sekitar usia 6 minggu, fetus mulai mengembangkan sirkulasinya, dan setelah 8 minggu villi chorialis mengatur sirkulasi dan membentuk plasenta. Namun pada blighted ovum, kantung amnion tidak berisi fetus yang disebabkan berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna, dan

2 hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap tertanam di dalam rahim.5,6,7 Plasenta menghasilkan hormon hCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon hCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif.2,3 II. ETIOLOGI Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, penyakit kencing manis (diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta-hCG serta faktor imunologis seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Risiko juga meningkat bila usia suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi turun. Teori lain menunjukkan bahwa blighted ovum disebabkan sel telur yang normal dibuahi sperma yang abnormal. Penyebab terjadinya blighted ovum ini sulit dipisahkan dengan penyebab abortus pada umumnya, karena faktor-faktor penyebab gagalnya perkembangan hasil konsepsi ini dapat mengarah ke gagalnya mempertahankan kehamilan.3,4 A. Faktor Genetik Abnormalitas kromosom orang tua dan beberapa faktor imunologi berhubungan dengan blighted ovum dan abortus secara umum telah diteliti. Pada tahun 1981 Granat dkk mendeskripsikan adanya translokasi 22/22 pada pria yang istrinya mengalami 6 kali abortus secara berurutan,. Pada tahun 1990, Smith dan Gaha menemukan insiden yang cukup besar dari carrier translokasi kromosom pada suatu penelitian terhadap keluarga abortus habitualis dan didapatkan 15 balanced reciprocal translocations

2. Kelainan kromosom yang paling banyak menyebabkan abortus habitualis adalah balanced translocation yang menyebabkan konsepsi trisomi. Kelainan kongenital termasuk fusi duktus Mulleri yang inkomplit atau defek resorpsi septum. sementara pada endometriosis berhubungan dengan faktor imunologi. Kelainan anatomi didapat yang potensial menyebabkan abortus seperti adhesi intra uterine (Sindroma Asherman) yang disebabkan oleh kuretase endometrium atau evakuasi hasil konsepsi yang terperangkap terlalu dalam dan berulang. Wanita–wanita dengan septum intrauterin memiliki risiko abortus spontan sebesar 60%. leiomioma yang mempengaruhi arah dari kavum uteri dan endometriosis. paparan diethylstilbestrol (DES) dan kelainan servik uterus. Kelainan Anatomi Kelainan anatomi mungkin berupa kelainan kongenital atau kelainan yang didapat. tetapi dapat juga terjadi pada trimester pertama. Apabila embrio berimplantasi pada septum karena endometrium pada septum berkembang buruk dapat menyebabkan kelainan plasenta.4.3 dan 9 fusi robertsonian pada populasi ini. Kelainan struktural kromosom yang lain adalah mosaicism.5 . Pada paparan diethylstilbestrol (DES) intra uterine dapat menyebabkan kelainan uterus.3.2. kebanyakan abortus pada trimester dua.8 B. yang paling sering adalah hipoplasia yang dapat menyebabkan abortus pada trimester pertama dan kedua. serviks inkompeten dan persalinan prematurus.7. Hubungan keadaan ini dengan adanya keguguran berulang secara teori ialah bahwa pada kasus adesi dan leiomioma terjadi adanya gangguan suplai darah. Single gene disorder dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan yang seksama terhadap riwayat keluarga atau dengan mengidentifikasi pola dari kelainan yang dikenal dengan pola keturunan. single gene disorder dan inverse dapat menyebabkan abortus habitualis.

9 Sekresi LH yang abnormal juga memiliki akibat langsung pada perkembangan oosit. Keadaan gangguan sekresi luteinizing hormone biasanya berhubungan dengan adanya polikistik ovarium. yang terjadi pada usia kehamilan 7–9 minggu. sekresi luteinizing hormone yang abnormal dapat menimbulkan keguguran secara tidak langsung dengan cara meningkatkan kadar hormon testosteron. 4 Hipotiroid merupakan gangguan endokrin lain yang dihubungkan dengan adanya abortus berulang. Keguguran juga dapat terjadi apabila trofoblas tidak dapat menghasilkan progesteron yang seharusnya menggantikan progesteron dari korpus luteum ketika korpus luteum menghilang. dan pada endometrium menyebabkan maturasi yang tidak sinkron. Kelainan Hormonal Faktor–faktor endokrinologi yang berhubungan dengan abortus dan blighted ovum termasuk insufisiensi fase luteal dengan atau tanpa kelainan dimana luteinizing hormone (LH) hipersekresi. atau bila pemakaian hormon progesteron pada endometrium dan desidua terganggu. Dipihak lain. .4 Mekanisme yang mungkin menyebabkan terjadinya keguguran pada penderita diabetes mellitus ialah gangguan aliran darah pada uterus terutama sekali pada kasus-kasus dengan diabetes mellitus tahap lanjut. Abortus spontan terjadi pada kehamilan kurang dari 10 minggu jika korpus luteum gagal untuk memproduksi progesteron yang cukup. diabetes mellitus. menyebabkan penuaan yang prematur. adanya gangguan distribusi progesteron ke uterus. dan penyakit tiroid. Perkembangan pada kehamilan awal tergantung pada produksi estrogen yang dihasilkan oleh korpus luteum sampai kecukupannya terpenuhi diproduksi oleh perkembangan trofoblast.2.4 C. terutama sekali sebagai akibat disfungsi korpus luteum dan ovulasi yang sering menyertai penyakit tiroid.

Tidak didapatkan adanya hubungan yang nyata dengan keguguran dan hubungan ini masih perlu . Karena pada awal kehamilan tubuh membutuhkan kadar hormon tiroid yang lebih tinggi. adanya antitiroid antibodi dapat menjadi suatu petanda bagi seseorang untuk terjadi peningkatan risiko terjadinya abnormalitas tiroid yang dapat berakhir pada keguguran. Mycoplasma hominis.2. Terjadi pertumbuhan berlebih dari bakteri anaerob dan lactobacilli yang normal tidak ada atau tidak banyak terdapat. Bakterial vaginosis disebabkan karena terganggunya flora normal dari vagina. Organisme-organisme tersebut dapat menjadi penyebab keguguran apabila4:  Telah ada dalam waktu yang lama tanpa menimbulkan gejala pada ibu secara nyata sehingga keadaan ini menjadi tidak terdiagnosis dan tidak diobati  Memiliki jalur untuk masuk ke lingkungan intrauteri sehingga menginfeksi jaringan fetus dan/atau menstimulasi terjadinya proses radang. Terdapat bukti bahwa vaginosis bakterialis berhubungan dengan keguguran dan juga menjadi faktor risiko terjadinya persalinan preterm. namun tidak ada hubungan yang meyakinkan dengan abortus berulang.4 D. Adanya organisme tersebut pada saat terjadinya keguguran tidak dapat dianggap sebagai bukti organisme tersebut sebagai penyebab dari keguguran. dan Toxoplasma gondii. Chlamydia trachomatis. Infeksi Saluran Reproduksi Walaupun keguguran telah dihubungkan dengan organisme seperti Ureaplasma urealyticum.5 Antitiroid antibodi juga dihubungkan dengan abortus berulang. Kelainan-kelainan regulasi hormonal tersebut juga mampu menyebabkan kegagalan perkembangan atau pembentukan janin.

4 E. Terdapat teori yang menyatakan bahwa keguguran merupakan akibat dari aktifasi imunologi sebagai respon dari adanya organisme patologis. Golongan I antigen MHC penting utnuk mengenali struktur dalam menolak respon mediator dengan limposit T sitotoksik. Antigen MHC golongan I (human leucocyte antigens (HLA)-A. Golongan II gen-gen MHC desebut gen-gen respon imun.6 dibuktikan. HLA-B dan HLA-C) dan antigen MHC golongan II (HLA-DF. tatapi kemaknaan HLA-G masih spekulasi karena ia merupakan trofoblas yang unik dan ada hipotasis yang mengatakan bahwa HLA-G penting untuk gestasi yang berhasil dan respon terhadap HLA-G yang menyimpang akan mengakibatkan abortus.3. Faktor-faktor imunologi terbagi dua. Imunologik Respon imunologi diatur oleh gen-gen dari major histocompability complex (MHC) yang berlokasi pada kromosom G. Akhir-akhir ini. secara genetik diatur dan dipercaya untuk menyebabkan penyakit.4 1. Respon imun seluler T helper 1 yang abnormal melibatkan sitokin interferon-γ (IFN-γ) dan tumor nekrosis factor (TNF) merupakan hipotesis yang paling sering dikemukakan untuk kegagalan imunologi reproduksi. yaitu:2. Hipotesis ini menyatakan bahwa konseptur merupakan target local dan respon cell . antigen golongan I MHC nonclassical truncated yang dikenal HLA-G telah dipaparkan dalam sitotrofoblas manusia dan sel trofoblas JEG-3.4 Golongan II antigen MHC menunjukkan antigen untuk limposit T dan memulai imunitas. Kelainan imunitas seluler Endometrium dan desisua manusia penuh dengan sel-sel imun dan inflamasi yang mampu mensekresi sitokin. HLA-DP dan HLA-DQ) menentukan kompatibilitas imunologik jaringan.

tetapi mekanisme dari hubungan ini belum dapat dijelaskan.7 mediate imun yang akan menyebabkan abortus. Antifosfolipid antibodi termasuk juga lupus antikoagulan (walaupun tidak terdapat sistemik lupus eritematosus) dan antibodi terhadap kardiolipin dan phospatydilgliserin. Kelainan imunitas humoral Antifosfolipid antibodi adalah autoantibodi yang ditujukan melawan fosfolipid yang bermuatan negatif. pertumbuhan janin terhambat . Kadar TNF dan interleukin 2 yang tinggi didapatkan di serum perifer pada wanita-wanita yang mengalami abortus dibandingkan dengan wanita hamil normal.2. Pada wanita-wanita yang mengalami abortus. meskipun mekanismenya belum bisa dipaparkan. yang merupakan komponen esensial dari membran sel yang memiliki peranan penting dalam fusi selmembran sel. kematian janin dalam rahim. ketuban pecah sebelum waktunya. antigen trofoblas mengaktivasi makrofag dan limfosit.2. Juga dihubungkan sebagai penyebab dari komplikasi kehamilan yang lain apabila kehamilan berlanjut hingga trimester ketiga.4 Mekanisme imun seluler lain yang berperan dalam abortus seperti defisiensi sel supresor dan aktivasi makrofag berhubungan dengan kematian janin. Ekspresi antigen golongan II MHC yang abnormal atau ekspresi Golingan I MHC yang tinggi pada sitotrofoblas menimbulkan respon dari IFN-γ yang mengakibatkan abortus melalui serangan sitotoksik sel T yang tinggi. IFN-γ dan TNF yang ditunjukkan dengan menghambat pertumbuhan embrio in vitro dan perkembangan serta fungsi dari trofoblast. seperti persalinan prematur. trombosis dan keguguran berulang. Secara klinis antifosfolipid antibodi dihubungkan dengan trombositopenia.4 2. mengakibatkan respon imun seluler oleh sitokin T helper 1.

Uteroplasental trombosis dianggap sebagai penyebab utama dari berakhirnya kehamilan. nikotin dan alkohol. obat antineoplasma. antibodi antitrofoblas. 2 F. Anti kardiolipin IgG atau IgM dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan ELISA. 4 Prevalensi dari antifosfolipid antibodi ini pada populasi antenatal secara umum adalah sekitar 2% dibandingkan dengan ibu-ibu yang mengalami keguguran berulang yaitu sekitar 15%.7 Lupus antikoagulan menyebabkan tes koagulasi yang bergantung dengan phospholipid seperti activated partial thromboplastin time (APTT) menjadi memanjang dan dan tetap demikian walaupun telah ditambah dengan plasma yang normal. memastikan kebenaran hasil positif ini. anestesi. Mekanisme untuk terjadinya keguguran akibat dari antifosfolipid antibodi adalah peningkatan tromboksan dan penurunan sintesis prostasiklin sehingga menimbulkan adesi platelet pada pembuluh darah di plasenta.7 Keadaan immunologik lain yang mungkin juga menyebabkan terjadinya keguguran ialah antibodi antisperma. demikian juga radiasi. Tingkat keberhasilan kehamilan pada keadaan yang tidak diobati ialah sekitar 10-15% dan keguguran berulang seringkali merupakan manifestasi awal penyakit. dan defisiensi blocking antibody.4.4. terutama logam berat dan paparan yang lama terhadap pelarut organik. Faktor Lain Faktor lain yang berhubungan dengan keguguran berulang termasuk juga zatzat racun pada lingkungan. dapat dibuktikan.8 dan juga preeklampsia. obat-obatan seperti antiprogestogen. Latihan yang berat juga belum dapat dibuktikan secara pasti menyebabkan terjadinya Namun keadaan ini masih belum Hasil pemeriksaan yang positif sebaiknya dulangi kembali setelah beberapa minggu untuk .

6 IV. Pada pemeriksaan dengan inspekulo. Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi. ostium uteri bias tertutup (yang didiagnosis dengan abortus imminens) atau terbuka (abortus inkomplit). mual dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness). sekitar usia 10 minggu. Koitus dihubungkan dengan adanya persalinan preterm tetapi untuk terjadinya keguguran belum dapat dipastikan. GEJALA KLINIK Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. dan keluhan kehamilan akan berkurang. Keluhan antara lain berupa keluar bercak darah akibat berkurangya kadar hormon. yang diikuti nyeri dan abortus komplit.9 keguguran berulang.5. . namun cara yang kedua lebih akurat pada usia kehamilan yang sangat dini. Pada usia 7 minggu dipastikan tidak ada fetus. Pencitraan USG dapat dilakukan transabdominal maupun transvaginal. bahkan saat dilakukan tes kehamilan baik planotest maupun laboratorium hasilnya pun positif.7. dapat terjadi perdarahan intermiten atau kontinu. Jika mulai terjadi proses keguguran atau sirkulasi fetus dan villi korialis mulai tidak stabil. sehingga tanda-tanda hamil dapat menghilang dan akhirnya pada pemeriksaan. karena tidak tampaknya fetus.2. 5 Pada beberapa kasus. Gejala penderita dengan blighted ovum menyerupai keguguran pada umumnya. payudara mengeras. DIAGNOSIS Blighted ovum dapat segera terdeteksi segera pada pemeriksaan ultrasonografi pada minggu 6. Hal ini dapat membingungkan bagi penderita karena terjadi perubahan dari kondisi hamil menjadi tidak hamil. pasien dianggap tidak hamil.10 III. serta terjadi pembesaran perut. dapat terjadi resorpsi kehamilan kosong.

Kantung gestasi mulai tampak pada pertengahan minggu ke 4. Gambar 1.10 Pada usia 8 dan 9 minggu. Sehingga. Dikutip dari William’s Gynecology Gambar 2. Gambaran USG Blighted Ovum Dibandingkan dengan Kehamilan Normal Tidak ditemukan fetal pole. detak jantung bayi atau pulsasi sudah dapat terdeteksi. dan yolk sac normalnya tampak pada minggu 5. embrio dapat terlihat jelas mulai pertengahan minggu 5 pada pemeriksaan USG tranvaginal. Sedangkan pada gambar di sebelah kanan tampak gambaran hiperechoic berupa fetal pole di dalam ges sac. dengan kantung gestasi (ges sac) diameter lebih dari 10 mm tanpa yolk sac. diameter 15 mm tanpa mudigah pada USG transvaginal atau lebih dari 25 mm pada USG transabdominal. Blighted ovum pada uterus bicornu unicolis . jika perhitungan HPHT tepat.

dikontrol gula darahnya. sehingga deteksi penyebab dan penatalaksanaan yang tepat perlu dilakukan. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan. PENATALAKSANAAN Jika telah didiagnosis blighted ovum. Produksi hormone ini akan menjadi 2 kali lipat tiap 72 jam. memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat. dan 80-85% kehamilan selanjutnya pada berlangsung hingga aterm. Namun. Jika penurunan kadar beta-hCG ini terjadi lebih dini. maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). bila menderita penyakit disembuhkan dulu. dan pada tes urin pada hari ke 12-14 hari. V.11 Pemeriksaan kadar hormon pada kehamilan dapat juga membantu pemeriksaan dimana beta-hCG dibentuk oleh plasenta. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga kejadian ini tidak berulang. Kadarnya akan mencapai jumlah tertinggi pada kehamilan usia 8-11 minggu lalu menurun. Penderita keguguran akan memiliki pertanyaan menyangkut risiko berulangnya keguguran atau blighted ovum. Beberapa peneliti menyatakan riwayat blighted ovum tidak memberikan risiko keguguran selanjutnya. Untuk mencegah terjadinya blighted ovum. dapat dicurigai terjadinya blighted ovum. maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH. berbagai penelitian menggambarkan 2550% wanita dengan riwayat keguguran dapat mengalami keguguran ulang. imunisasi rubella pada wanita yang hendak hamil. pada pemeriksaan darah hormon ini dapat dideteksi pada hari 11 setelah konsepsi. Hasil kuretase akan dianalisis untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. melakukan pemeriksaan kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun. Normalnya. . menghentikan kebiasaan merokok agar kualitas sperma/ovum baik. Hal ini sangat berhubungan dengan etiologi dari keguguran.

dilakukannya pemeriksaan VDRL dan APTT  Uji fungsi tiroid. tindakan evakuasi dilakukan untuk mengeluarkan sisa hasil konsepsi. Selain itu ultrasonografi transvaginal juga berperan dalam menentukan adanya polikistik ovarium selain untuk memeriksa kelainan pada uterus atau rongga uterus. panjang serviks. hasil konsepsi sebaiknya dikirim ke bagian histologi untuk konfirmasi diagnosis dan untuk kariotiping.4 Pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan rutin apabila menemukan adanya abortus dan blighted ovum ialah sebagai berikut. termasuk hormone stimulasi tiroid dan antibodi antitiroid  Pemeriksaan platelet Hal ini juga berarti Kemudian harus . dilakukan follow up dan konseling pada pasien. pemeriksaan Follicle Stimulating hormone serta testosteron untuk memeriks adanya hipersekresi Luteinizing hormone atau adanya sindroma polikistik ovarium.12 Apabila. IgG dan IgM anticardiolipin antibodi dan antinuclear faktor. Pada keguguran dimana fetus telah terbentuk maka kariotipe fetus harus diperiksa dan pasangan tersebut disarankan agar bersedia dilakukan pemeriksaan autopsi.4  Periksa kariotipe kedua pasangan  Lakukan histerosalfingografi atau apabila terdapat ahlinya lakukan ultrasonografi transvaginal atau histeroskopi untuk melihat kelainan bentuk uterus.  Pemeriksaan Glycosylated hemoglobin (HbA1c) apabila pasien diketahui mengidap diabetes mellitus atau memiliki riwayat keluarga dengan diabetes mellitus  Penapisan antifosfolipid antibodi untuk Lupus antikoagulan. Pada terhentinya kehamilan pada trimester pertama. adanya septum uterus. penting untuk untuk diperiksa apakah terdapat kelainan pada uterus seperti uterus bikornus. 2. ataupun adanya adhesi intrauterus  Pemeriksaan luteinizing hormon pada hari 3-6 siklus.

Abnormal : Sperma yang abnormal bentuknya kurang dari 15 % disebut teratozoopsermia.0 Abnormal : pH yang tinggi atau lebih rendah dapat mengganggu penetrasi Normal : Tidak ada sel darah putih atau bakteri. PH. Sebelum dilakukan pengambilan sampel sperma (semen) harus melakukan abstinen/tidak mengeluarkan sperma/ ejakulasi 2 . Komponen Analisis Sperma Volume Normal : minimal 2 mL .13  Pemeriksaan sperma Hal-hal yang perlu diperiksa pada sediaan sperma antara lain volume. Normal : 300 mg per 100 mL ejakulat Abnormal :Tidak adanya fruktosa memperlihatkan tidak adanya vesikula seminalis atau blokade pada organ ini.5 hari sebelumnya.5 mL per ejakulasi Abnormal : Volume yang rendah atau bahkan yang berlebih dapat menyebabkan masalah kesuburan Normal : Kurang dari 60 menit Abnormal: Masa mencair yang lama bisa merupakan tanda infeksi Normal : 20–150 juta per mL Abnormal : Jumlah yang rendah kadang masih bisa menghasilkan keturunan secara normal. waktu mencairnya. Waktu mencair Jumlah sperma Bentuk sperma Gerakan sperma pH Sel darah putih Kadar fruktosa . Abnormal : Jika sebagian besar geraknya tidak normal akan menyebabkan masalah fertilitas. Hal ini bertujuan agar sperma dalam kondisi paling baik. jumlah sel sperma per mililiter. Normal : Minimal 70% memiliki bentuk dan struktur normal.1–8. Normal : Minimal 60% sperma bergerak maju ke depan atau minimal 8 juta sperma per-mL bergerak normal maju ke depan. jumlah sel darah putih dan kadar fruktosanya.6. Tabel 1. Normal : pH of 7. Abnormal : Bakteri dan sel darah putih yg banyak menunjukkan adanya infeksi. gerakan sperma.

Faktor Genetik Bila ditemukan adanya tanda-tanda abnormalitas dari genetik maka perlu dilakukan konsultasi terhadap ahli genetik. dikatakan bahwa tindakan ini memiliki hasil yang cukup memuaskan. Juga dilakukan biopsi testis (zakar) dalam kondisi yang sangat ekstrim (steril misalnya).14 Jika ditemukan jumlah sperma yang rendah atau tingginya abnormalitas. tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal atau histeroskopi untuk memeriksa kelainan tersebut .  Kultur serviks untuk mikoplasma. namun tindakan operatif ini hanya dapat dilakukan oleh klinisi yang telah mendapatkan pelatihan yang . Tindakan operatif untuk menghilangkan septum uterus ataupun perlengketan dapat dilakukan dengan cara reseksi transervikal histeroskopi. ureaplasma dan klamidia. yaitu : A. Metode pemeriksaan yang dapat digunakan ialah histerosalfingografi. Kelainan Anatomi Bentuk dari kavum uteri harus diperiksa pada setiap wanita yang mengalami keguguran tiga kali atau lebih secara berturut-turut untuk mengeluarkan kemungkinan penyebab berupa kelainan bentuk dari uterus.4.7 Defek yang kecil tidak berarti harus dilakukan operasi. Tindakan metroplasti abdominal dilakukan pada keadaan terdapatnya septum uterus. follicle-stimulating hormone (FSH). Pemeriksaan lain dilakukan setelah pemeriksaan rutin ini didapatkan penemuan yang positif. perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pengukuran kadar hormon: testosteron. tetapi tindakan ini belum pernah dilakukan evaluasi prospektif secara baik dan dikatakan memiliki hubungan dengan keadaan infertilitas postperatif. luteinizing hormone (LH). 7 B. selain itu kemungkinan untuk terjadinya kehamilan yang normal kecil. Perlu dilakukan konseling terhadap pasangan karena pemeriksaan dari keadaan ini memerlukan biaya yang besar. atau hormon prolaktin.

inkompeten serviks. Namun pada penelitian ternyata didapatkan bahwa tidak adanya bukti yang mendukung secara nyata bahwa pemberian hormon progesteron tidak mengurangi risiko terjadinya keguguran .2. diawasi secara hati-hati karena adanya kemungkinan implantasi pada tempat yang kurang ideal. tetapi evaluasi rutin mengenai pendataran dan dilatasi serviks perlu dilakukan setiap kunjungan antenatal. ukuran dari mioma tersebut. dan lebih baik bila dilakukan pemeriksaan ultrasonografi transvaginal.4 Tindakan operatif tersebut berupa miomektomi.15 memadai serta memiliki pengalaman dalam tindakan operatif dengan histeroskopi. 4 Ada peningkatan risiko terjadinya persalinan preterm dan juga abortus pada wanita dengan kelainan uterus walaupun telah dilakukan perawatan antenatal yang intensif. Pada keadaan adhesi intrauterin (Sindroma Asherman). Perlengketan dapat dilepaskan kembali. dengan menggunakan histeroskopi kemudian dialkukan pemasangan IUD selama 6 minggu untuk mencegah terjadinya perlengketan Antibiotik berspektrum luas perlu diberikan sampai 1 minggu Perkembangan janin pada kehamilan setelah tindakan harus postoperasi. Pemberian GnRH selama tiga bulan juga dapat mengurangi . Hal ini sering dihubungkan dengan adanya Pemberian tokolitik oral sebagai profilaksis tidak disarankan.4 C. diagnosis didapatkan dari histerosalfingografi atau dari histeroskopi.2. atau kadar progesteron serum kurang dari 15 nmol/L selama lima siklus berturut-turut.4 Mengenai leiomyoma maka perlu dilakukan tindakan operatif bila mioma tersebut berupa mioma submukosa. Abnormalitas Hormonal Gangguan fase luteal ditegakkan dengan cara pemeriksaan suhu basal dimana fase luteal berlangsung selama kurang dari 10 hari.

kehamilan yang berhasil.16 Hipersekresi luteinizing hormon ditegakkan apabila kadar hormon tersebut pada pemeriksaan darah meningkat 10 IU/L atau lebih. dan aspirin dapat menimbulkan perdarahan . Tanpa pengobatan hanya didapatkan 10-15% Pengobatan dengan aspirin dosis rendah (75 Belum ditemukan perlunya dilakukan imunisasi kecuali pada kasus penyakit rubella. sehingga perlu dilakukan pemeriksaan darah secara serial. Pengobatan keadaan ini dadalah dengan pemberian GNRH analog yang akan menekan luteinizing hormone. gastrointestinal.4 D.7 mg/hari) atau heparin dosis rendah (5000-10000 unit tiap 12 jam) telah dilakukan dan menunjukkan adanya perbaikan pada kehamilan baik itu dipergunakan sebagai obat tunggal atau kombinasi. Tetapi pemakaian obatobatan ini memiliki risiko. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan apabila telah ditemukan adanya gejala gangguan tiroid.4 Pemeriksaan bagi wanita tanpa adanya gejala atau riwayat diabetes mellitus tidak perlu dilakukan. GAMBARAN HISTOPATOLOGI Heparin jangka panjang diketahui dapat menyebabkan osteoporosis. Sebagai alternatif dapat dilakukan pemeriksaan kadar luteinizing hormon pada urine dimana hipersekresi lutinizing hormon ditegakkan bila konsentrasi dala urin sebesar 100IU/L atau lebih. Imunologik Pemeriksaan anticardiolipin harus dilakukan pada semua wanita dengan riwayat abortus berulang.2.7 VI.4. Infeksi Saluran Reproduksi Mengenai penatalaksanaan infeksi saluran reproduksi ini tentusaja disesuaikan dengan jenis organisme yang menginfeksi. E. Pemeriksaan tiroid secara rutin juga belum dapat mendeteksi gangguan fungsi tiroid. Pengendalian kadar gula darah yang optimal sebelum kehamilan merupakan cara untuk keberhasilan kehamilan.

Berdasarkan dari penelitian ini dan adanya hubungan antara antifosfolipid antibodi (aPL) dengan adanya trombosis plasenta pada abortus habitualis. Plasenta dari wanita yang menderita aPL memiliki plasenta yang lebih fibrosis. para penemu sepakat mengatakan bahwa adanya trombosis pada plasenta menyebabkan infark dan menimbulkan kematian fetus. Pada penelitian De Wolf dkk. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa dengan peningkatan kadar MSAFP menyebabka peningkatan insiden kematian janin (63% berbanding6%) dan kematian perinatal (77% berbanding 15%) dibandingkan dengan kadar yang . Pada pemeriksaan histologik didapatkan deposit IgG dan fibrin di dalam atau disekeliling desidua. Kenyataannya pada wanita dengan aPL didapatkan plasentanya trombosis atau infark. atherosis pembuluh desidua (infiltrasi dinding pembuluh darah oleh sel-sel dengan sitoplasma yang jernih atau foamy cytoplasm) dan inti yang menebal. villi hipovaskular. didapatkan adanya gambaran vaskulopati desidua yang nekrotik pada pasien dengan aPL.17 Pada penelitian awal didapatkan adanya gambaran infark yang luas dan nekrosis pada plasenta wanita yang mengalami abortus yang disebabkan antifosfolipid antibodi. Pada penelitian ini didapatkan administrasi sistemik pada fraksi IgG pada wanita dengan aPL menyebabkan abortus. Ciri-cirinya adalah nekrosis fibrinoid. Penelitian ini memberikan bukti yang kuat untuk penyebab trombosis pada janin mati pada wanita dengan aPL. Ia juga menemukan bukti adanya vaskulopati desidua pada suatu model murine dengan kehamilan antifosfolipid.5-8 Pada penelitian kasus-kontrol yang lain didapatkan mengenai hubungan antara patologi plasenta dan aPL dan didapatkan bahwa 47 kehamilan menghasilkan janin mati. Peningkatan kadar ini tidak bias dijelaskan dan ditemukan pada 13 dari 60 kehamilan dengan aPL.5-8 Penelitian lain menyebutkan adanya hubungan antara peningkatan kadar MSAFP dan keguguran dengan wanita dengan aPL. trombosis dan membran yang infark dan sedikit memiliki vaskulosinsitial dibandingkan dengan wanita tanpa aPL.

Adanya intra stroma bukan merupakan gambaran yang spesifik pada plasenta trisomi karena mungkin sel-sel ini didapatkan pada kromosom normal. D atau E. perubahan vesikuler yang fokal tetapi hampir 50% secara makroskopik normal. sel-sel ini ditemukan oleh Phillippe dan Bouė pada tahun 1969 dan 1970. Dill dan Poland pada tahun 1976. tampak villi trofoblas hipoplastik dan tampak sel sitotrofoblastik dalams troma villi. Adanya sel-sel tersebut merupakan gambaran khas dari plasenta trisomi dan adanya deskuamasi dari lapisan trofoblastik. Hampir 50% pada plasenta trisomi. Dill dan Poland pada tahun 1976 menyatakan bahwa sel-sel tersebut dapat tampak pada seluruh jenis sindroma trisomi. tetapi Honorė. Cohen pada tahun 1972 dan Honorė. Phillippe dan Bouė pada tahun 1969 menyatakan bahwa banyak sel-sel tampak pada kasus-kasus trisomi C. Pada pemeriksaan histologi sebagaian dari plasenta ini menunjukkan perubahan fokal villi-villi yang hidrofili dan difus.3-5 Plasenta dari embrio dengan kromosom trisomi jarang memiliki gambaran yang bervariasi bila dilihat dengan mata telanjang meskipun ada yang tampak mikrositik. villinya tidak menunjukkan perubahan villi tetapi ada juga yang menunjukkan sel-sel stroma immatur yang persisten dari sel-sel sitotrofoblastik intra stroma.4-8 . Pada aPL peningkatan kadar MSAFP pada trimester dua bisa merupakan marker untuk kerusakan palsenta pada trimester dua.18 normal.

abnormalitas anatomis. .19 Gambar 3. dengan tropoblas defektif dengan lacuna yang membesar dan kantung korion yang kosong. fibrosis. trombosis. membrane yang sedikit vakulosinsitial. infeksi dan faktor imunologik.  Penting untuk didapatkan informasi mengenai keadaan pasien yang dapat membantu dalam perawatan untuk kehamilan berikutnya. Perbandingan Gambaran Histologi Kehamilan Normal dengan Abnormal Pada gambar A tampak ovum normal berimplantasi pada usia 11-12 hari. sedangkan pada gambar B tampak konsepsi abnormal. masalah endokrinologis. Serta dihubungkan dengan permasalahan lain yang beragam atau gabungan berbagai factor. dan akan meluruh Dikutip dari William’s Gynecology VII. Blighted ovum juga diperkirakan terjadi akibat pembuahan ovum oleh sperma yang abnormal. RINGKASAN  Penyebab dari abortus ialah masalah genetik. infark.  Gambaran plasenta pada blighted ovum adalah villi yang hipovaskular.

Saifuddin AB. 246-250 6. 1997.963-979 3. In: Clin obstet gynecol 37. In: Clin obstet gynecol 37. 1996. 635-645 9. 646-664 . Hatasaka HH: Recurrent miscarriage: epidemiologic factors. 2008:298-325 4. Brent RL. First trimester abortion. Dalam: Wiknjosastro H. Schorge JO. In: Danforth’s Obstetric and Gynecology 10th ed. Hill JA: Recurrent spontaneous early pregnancy loss. Rachimhadhi T: Ilmu kandungan. In: Berekj JS. Edisi ketiga.20 VII. 1994. 693-704 8. Roby KF: Implantation factors. Schaffer JI. 625-634 7. Lippincott Williams & Wilkins. Hoffman BL. RUJUKAN 1. Rachimhadhi T: Ilmu kebidanan. Dalam: Wiknjosastro H. Halvorson LM. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Wibowo B. Pennsylvania: Williams & Wilkins Co. Hunt JS. 2009:61-70 5. Scott JR. Branch DW. 1994. In: Williams Gynecology 22 nd ed. Beckman DA: The contributional of environmental teratogens to embryonic and fetal loss. Wiknjosastro H: Kelainan dalam lamanya kehamilan. New York: McGrawHill. Wiknjosastro H: Gangguan bersangkutan dengan konsepsi. 1994. definitions and incidence. Saifuddin AB. Ward K: Genetic factors in recurrent abortion. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Byrne JLB. In: Clin obstet gynecol 37. Adashi EY. New York. Early pregnancy loss. 1994. Porter FT. Prawirohardjo S. In: Clin obstet gynecol 37. 1994. 302-312 2. Bradshaw KD. Cunningham FG. Hillard PA: Novak’s gynecology 12th edition.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful