P. 1
Tingkat Kehadiran Karyawan

Tingkat Kehadiran Karyawan

|Views: 551|Likes:

More info:

Published by: Rizky Sigit Tri Cahyo on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2015

pdf

text

original

(Tingkat

Kehadiran

Karyawan).

KETIDAKHADIRAN KARIYAWAN
Semangat kerja dapat diukur melalui absensi /presensi pegawai ditempat kerja, tanggung jawabnya terhadap pekerjaan, disiplin kerja, kerja sama dengan pimpinan atau teman sejawat dalam organisasi serta tingkat produktivitas kerjanya. (Hasley, 1 992;67). Untuk mengukur tinggi rendahnya semangat kerja pegawai dapat melalui unsurunsur semangat kerja tersebut yang meliputi : Presensi (tingkat kehadiran), Disiplin Kerja, Kerja Sama, dan Tanggung Jawab. Presensi merupakan kehadiran pegawai yang berkenaan dengan tugas dan kewajibannya. Pada umumnya instasi atau lembaga selalu memperhatikan pegawainya untuk datang dan pulang tepat waktu, sehingga pekerjaan tidak tertunda. Ketidak hadiran seorang pegawai akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja, sehingga instansi atau lembaga tidak bisa mencapai tujuan secara optimal. Presensi atau kehadiran pegawai dapat diukur melalui : a. Kehadiran karyawan ditempat kerja. b. Ketepatan keryawan datang atau pulang c. Kehadiran pegawai apabila mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan atau acara dalam instansi. Dengan adanya tingkat absensi yang baik maka dapat meningkatkan disiplin pegawai. Sedangkan yang dimaksud dengan disiplin adalah suatu sikap,

Jam istirahat tidak dihitung sebagai jam kerja.tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahan atau instansi baik tertulis maupun tidak (Nitisemito. 4. 3. Menghasilkan pekerjaan yang memuaskan. 199). d. b. Kehadiran karyawan dicatat dengan kartu hadir (lime Card) pada saat maupun pada saat pulang kerja. Jumlah jam kerja bagi karyawan adalah 40 hari seminggu. c. 2. Ketepatan waktu. . Setiap karyawan wajib hadir dan mulai bekerja pada waktu yang tidak ditetapkan. Mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh perusahaan (kepatuhan pada peraturan) e. Memiliki tanggung jawab yang tinggi. Agar perusahaan dapat berjalan dengan baik dan berkembang maka dibuatlah suatu aturan yaitu yang biasa disebut peraturan perusahaan.  Tingkat disiplin kerja dapat dilihat dari : a. Mampu memanfaatkan dan menggerakkan perlengkapan dengan baik. Penetapan waktu kerja didasarkan kepada kebutuhan-kebutuhan perlu dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1982. Peraturan perusahaan dapat diartikan ialah suatu kumpulan aturan yang dibuat oleh seorang pemimpin perusahaan agar terciptanya suatu keteraturan antara para pimpinan dan para karyawan sehingga terciptanya keselarasan dalam bekerja. Ketentuan yang berhubungan dengan waktu dan kehadiran pegawai biasanya diatur dengan ketentuan-ketentuan sbb : 1. 5.

Kinerja yang menurun . dan hal tersebut akan dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Jika tidak hadir kerja karena sakit.. Kepuasan kerja rendah 2.6. Pengisian kartu hadir (Time Card) harus dilakukan oleh karyawan yang bersangkutan sendiri. maka wajib membawa surat keterangan dokter setelah Ia wasuk kerja kembali. gejala stres di tempat kerja. 8. Karyawan yang tidak masuk kerja kerena sakit atau karena alasan lain yang dapat diterima Perusahaan. Jika ketidak hadiran karena hal-hal lain. wajib memberitahukan kepada atasannya pada hasil tersebut secara tertulis atau telephone selambatlambatnya pada hari kerja berikutnya. 9. 7. ia diwajibkan membuat pemberitahuan tertulis dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. SEBAB KETIDAK HADIRAN KARYAWAN KARNA STRES D TEMPAT KERJA. yaitu meliputi: 1. 10. Pengisian yang dilakukan oleh orang lain merupakan pelanggaran kedisiplinan. kecuali dengan izin atasan langsung dan karena alasan-alasan yang dapat diterima. Karyawan yang tidak mengindahkan kewajiban tersebut dianggap mungkir dan akan dikenakan sanksi. Keterlambatan masuk kerja atau meninggalkan tempat kerja sebelum jam kerja berakhir dianggap sebagai tindakan ketidak disiplinan dan merupakan pelanggaran tata tertib.

Kesediaan untuk mengorbankan diri ini melibatkan adanya kesadaran untuk mengabdikan diri kepada perusahaan. loyalitas terhadap perusahaan sebagai perilaku.3. . Kreatifitas dan inovasi kurang 7. yang didalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha memberikan pelayanan dan perilaku yang terbaik (Rasimin.Barrold (Muhyadi. yaitu proses dimana seseorang karyawan mengambil keputusan pasti untuk tidak keluar dari perusahaan apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim. kesediaan melakukan pengawasan diri dan kemauan untuk menonjolkan kepentingan diri sendiri. pengabdian dan kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau lembaga. yaitu sejauh mana seseorang karyawan mengidentifikasikan tempat kerjanya yang ditunjukan dengan keinginan untuk bekerja dan berusaha sebaik-baiknya dan kedua. Pengabdian ini akan selalu menyokong peran serta karyawan dalam perusahaan.1989) mengemukakan bahwa loyalitas adalah kemauan bekerja sama yang berarti kesediaan mengorbankan diri. Pengambilan keputusan jelek 6. Komunikasi tidak lancar 5. Semangat dan energi menjadi hilang 4. TINGKAT LOYALITAS KARYWAN ecara umum loyalitas dapat diartikan dengan kesetiaan. Hal ini selaras dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990) yang menyatakan bahwa loyalitas adalah kesetiaan. kepatuhan dan ketaatan. Steers & Porter (1983) berpendapat bahwa pertama. Semua yang disebutkan di atas perlu dilihat dalam hubungannya dengan kualitas kerja dan interaksi normal individu sebelumnya.1988). loyalitas kepada perusahaan sebagai sikap. Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif.

Khusus untuk angkatan kerja meliputi antara lain: a) Bekerja b) Punya pekerjaan tapi sementara tidak bekerja c) Mencari pekerjaan (pengangguran terbuka). Survei ini khusus dirancang untuk mengumpulkan informasi/ data ketenagakerjaan. seperti Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Konsep ini membagi penduduk usia kerja (digunakan 15 tahun ke atas) dan penduduk bukan usia kerja (kurang dari 15 tahun). Sumber utama data ketenagakerjaan adalah Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Survei tersebut dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik di seluruh Indonesia. yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. pengumpulan data ketenagakerjaan dipadukan dalam kegiatan lainnya. Pada beberapa survei sebelumnya. dan Survei . Mulai Tahun 2005. Selanjutnya penduduk usia kerja dibagi menjadi dua kelompok. SAKERNAS dilaksanakan secara semester I (bulan Pebruari) dan Semester II (bulan Agustus). Sensus Penduduk (SP).KONSEP ANGKATAN KERJA (USIA) Konsep dan definisi angkatan kerja yang digunakan mengacu kepada The Labor Force Concept yang disarankan oleh International Labor Organization (ILO).

2001. dalam rangka menyesuaikan dengan konsep ILO. sedangkan tahun 1994 . dan kelompok penduduk yang tidak mencari pekerjaan. Pada tahun 19861993. Hasil Sakernas tahunan pada 2003 disajikan menurut provinsi karena jumlah sampel yang mencukupi (67. mulai tahun 2001 ditambahkan kategori baru yaitu: pekerja bebas di pertanian dan pekerja bebas di non pertanian. . Selain itu. konsep Pengangguran Terbuka diperluas yaitu di samping mencakup penduduk yang aktif mencari pekerjaan. Sejak tahun 2002 hingga sekarang. mencakup pula kelompok penduduk yang sedang mempersiapkan usaha/pekerjaan baru. kemudian dilanjutkan pada tahun 1977 dan 1978. yang mengacu pada KILM (the Key Indicators of the Labour Market) yang direkomendasikan oleh ILO (theInternational Labour Organization). karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan serta kelompok penduduk yang tidak aktif mencari pekerjaan dengan alasan sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.072 rumah tangga). di samping Sakernas tahunan dilakukan pula Sakernas Triwulanan. Status pekerjaan yang pada Sakernas 2000 hanya 5 kategori. Sakernas dilaksanakan secara tahunan yaitu setiap bulan Agustus. Sakernas diselenggarakan secara triwulanan di seluruh provinsi di Indonesia. konsep status pekerjaan dan pengangguran mengalami perluasan dan penyempurnaan. Sakernas Triwulanan ini dimaksudkan untuk memantau indikator ketenagakerjaan secara dini di Indonesia.Penduduk Antar Sensus (Supas). Inflation factor yang digunakan dalam penghitungan angka final hasil Sakernas 2003 didasarkan pada total penduduk Indonesia berumur 0 tahun ke atas per provinsi hasil proyeksi penduduk. Sejak Sakernas 2001. Sakernas pertama kali diselenggarakan pada tahun 1976.

ketidakhadiran karyawan karena cuti hari raya. Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja. Tingkat pengangguran = Tingkat pengangguran terbuka ( Pengangguran terbuka dibagi Angkatan kerja dikali 100)+ Tingkat pengangguran setengah pengangguran terpaksa. Setengah penganggur adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu yang masih mencari pekerjaan atau yang masih bersedia menerima pekerjaan lain.Penduduk Usia Kerja adalah Penduduk yang berumur 15 tahun keatas. Setengah pengangguran yang dimaksudkan defenisi itu disebut sebagai setengah pengangguran terpaksa. atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran. cuti liburan. atau cuti yang sudah direncanakan. . HARI-HARI KETIDAKHADIRAN KARYAWAN. Sedangkan orang yang bekerja dibawah 35 jam per minggu namun tidak mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain dikelompokkan sebagai setengah pengangguran sukarela. Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan.

kondisi kerja. kesempatan untuk promosi. Pelecehan seksual di tempat kerja dilarang. Pengusaha dilarang memecat pekerja atau memaksa pekerja mengundurkan diri oleh karena mereka hamil. keterlaluan dan menyinggung perasaan pihak penerima. menguntit atau komunikasi yang cabul.3. atau perilaku lain apapun yang bersifat seksual yang menurunkan martabat perempuan atau laki-laki. Komentar atau lelucon yang menyinggung. Pertanyaan yang mengganggu tentang kehidupan pribadi atau tubuh. Pengusaha dilarang mewajibkan pekerja menjalani tes kehamilan selama proses perekrutan atau setelah sudah dipekerjakan. Sebuah tindakan dianggap sebagai pelecehan seksual di tempat kerja jika karyawan merasa bahwa reaksi mereka terhadap tindakan tersebut dapat mempengaruhi keputusan tentang status pekerjaan mereka atau mempengaruhi evaluasi kenerjanya. atau pemutusan hubungan kerja. ergonomi. Tindakan seksual yang menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman juga merupakan pelecehan seksual. seperti penyerangan fisik. tindakan lisan atau fi sik atau isyarat yang bersifat seksual. paparan yang tidak senonoh. atau karena status pernikahan. pelukan atau ciuman yang tidak dikehendaki. Ajakan yang tidak diinginkan untuk berhubungan seksual atau kencan. . kecuali pekerjaan tersebut memiliki resiko yang signifikan untuk keamanan dan kesehatan pekerja beserta anak yang dikandung ataupun yang disusui berdasarkan konsultasi dengan dokter yang tersertifikasi HIPERKES (higiene perusahaan. Penghinaan atau ejekan yang bernada seksual. sedang menjalani cuti hamil. Pelecehan seksual dapat melibatkan tindakan-tindakan seperti:        Sentuhan. Menatap atau mengerling. kekerasan seksual. Jenis Kelamin Jenis kelamin seseorang tidak boleh digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan perekrutan. Pengusaha harus memperhatikan dan menjalankan prinsip persamaan antara laki-laki dan perempuan. Pelecehan seksual adalah segala tindakan bersifat seksual verbal atau fisik yang tidak diinginkan. akses untuk mendapatkan pelatihan. tidak diinginkan.2. dan tidak boleh melakukan diskriminasi atas dasar jenis kelamin. keselamatan dan kesehatan kerja). Perilaku-perilaku yang juga menjadi suatu tindak pidana berdasarkan hukum pidana. upah. Pengusaha harus memberikan upah yang setara bagi pekerja laki-laki dan perempuan yang melakukan pekerjaan dengan nilai yang sama. permintaan untuk melakukan perbuatan seksual.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->