P. 1
MTBS

MTBS

|Views: 140|Likes:
MTBS adalah salah satu topik FL yang di adakah oleh FK UNS guna mengembangkan ketrampilan lapangan mahasiswa-mahasisiwi FK UNS
MTBS adalah salah satu topik FL yang di adakah oleh FK UNS guna mengembangkan ketrampilan lapangan mahasiswa-mahasisiwi FK UNS

More info:

Published by: Ratna Prabawati Nopiutami on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

MODUL FIELD LAB EDISI REVISI II

TIM REVISI 1. Annang Giri Moelyo, dr, SpA, MKes. 2. Widardo, Drs, MSc. 3. Galih Herlambang, SKed.

KETERAMPILAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS)

Ucapan terima kasih kepada : Dr. Diffah Hanim, Dra, MSi.

Tim Revisi :
Annang Giri Moelyo, dr, SpA, MKes. Widardo, Drs, MSc. Galih Herlambang, SKed.

FIELD LAB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

1

.KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa jalla........ Program Kemenkes dalam MTBS ..... Tinjauan Pustaka ... Salah satu kompetensi yang harus dimiliki adalah kedokteran komunitas......... Modul ini sudah mengalami revisi ke-2 dimana revisi pertama dilakukan pada tahun 2010.......... dengan demikian perlu dilakukan bentuk pembelajaran yang mendukung tercapainya kompetensi tersebut melalui kegiatan laboratorium lapangan...................... Pendahuluan ............ Skala Penilaian . 21 BAB V............... 7 BAB III.. Strategi Pembelajaran ............ karena atas berkah dan karunia-Nya Modul Field lab : Ketrampilan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) ini dapat tersusun...... Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS diharapkan nantinya akan dapat melayani masyarakat luas.. Modul ini disusun oleh tim revisi modul Field lab FK UNS dimana diawali oleh koordinator Field lab FK UNS.......... Surakarta................ dengan tuntutan kompetensi profesi dokter yang sudah berbeda dibandingkan jaman dulu......................... Dalam melaksanakan KIPDI III Fakultas Kedokteran UNS melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)................. dalam menangani masalah terutama masalah kesehatan individu maupun masyarakat terutama anak-anak................ 18 BAB IV.. tim Field Lab mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada pihak yang telah membantu tersusunnya manual dengan topic Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)........ Januari 2013 Tim Penyusun DAFTAR ISI BAB I............ Akhir kata....... Dokter masa depan diharapkan adalah seorang dokter yang mumpuni... 25 Daftar Pustaka ...... 4 BAB II......................... 27 2 3 ....................... Semoga pelaksanaan laboratorium lapangan topik MTBS ini dapat berjalan lancar.....

Jika ada masalah dalam pertumbuhannya atau kecenderungan yang mengarah pada suatu masalah. penting bagi mahasiswa FK UNS sebagai calon dokter untuk mempelajari pelaksanaan MTBS di tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini puskesmas. manajemen kasus. Selain itu. Modul ini menjelaskan cara memberikan konseling pada ibu berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan anaknya. muncullah program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan. identifikasi tindakan.8 juta kematian balita di negara berkembang tahun 2005. 2008). 2009). Hal di atas dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas pelayanan kesehatan. Biasanya ibu sangat ingin tahu hasil pengukuran yang telah dilakukan. Kegiatan MTBS memiliki tiga komponen khas yang menguntungkan.BAB I. 2009). Lebih dari setengahnya disebabkan dari 5 kondisi yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati antara lain: pneumonia. memberikan imunisasi. baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit. lebih dari sepuluh juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun. pengobatan. diare. Dokter sebagai salah satu petugas pelayanan kesehatan perlu memiliki pemahaman di atas. mencegah trauma. MTBS mengintegrasikan perbaikan sistem kesehatan. Perbaikan kesehatan anak dapat dilakukan dengan memperbaiki manajemen kasus anak sakit. dan memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pertolongan kasus balita sakit (Wijaya. sistem kesehatan dan praktek di keluarga dan komunitas. Perlu adanya integrasi dari ketiga faktor di atas untuk memperbaiki kesehatan anak tersebut sehingga tercipta peningkatan derajat kesehatan anak. Depkes RI. malaria. memperbaiki sistem kesehatan. mencegah penyakit lain dan memperbaiki dukungan psikososial (Soenarto. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh masalah dalam ketrampilan petugas kesehatan. nasihat selanjutnya adalah memberikan makanan yang sesuai umur anak. status gizi. yaitu: meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit. PENDAHULUAN A. dan hak anak (Soenarto. sehingga ibu harus dijelaskan tentang hal ini. 2009). praktek kesehatan oleh keluarga dan masyarakat. Jika anak tumbuh dengan baik. Pengetahuan. campak dan malnutrisi dan seringkali kombinasi beberapa penyakit (Soenarto. lima kondisi di atas menyebabkan 10. Penilaian balita sakit dengan MTBS terdiri atas klasifikasi penyakit. perawatan di rumah dan kapan kembali. keyakinan dan ketrampilan petugas pelayanan kesehatan dalam penerapan MTBS perlu ditingkatkan guna mencapai keberhasilan MTBS dalam meningkatkan derajat kesehatan anak khususnya balita. 2009). sehingga anak akan tumbuh dengan baik. Pelaksanaan MTBS tidak terlepas dari peran petugas pelayanan kesehatan. memperbaiki gizi. Berdasarkan alasan tersebut. maka perlu mewawancarai ibu untuk mengidentifikasikan 4 5 . Latar Belakang Setiap tahun. 2009. MTBS merupakan suatu manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan. Oleh karena itu. (Wijaya.

keluarga yang 6 7 . New York: United Nations Children’s Fund. tidak adanya orang dewasa yang bertanggung jawab di siang hari atau sanitasi yang buruk atau tidak tersedianya air bersih.1 Kurangny a Asupan Gizi Status Gizi dan Penyakit P Kurangnya Ketersediaan Pangan tingkat Rumah Tangga Perilaku/Asuhan Ibu dan Anak yang Kurang Kurangnya Pelayanan kesehatan Dan Lingkungan tidak sehat Seperti dijelaskan dalam diagram tersebut. untuk menunjukkan kemungkinan penyebab kurang gizi (under nutrition). Misalnya. terdiri dari 2 bagian yaitu: • Mencari penyebab kurang gizi (under nutrition) • Mencari penyebab kelebihan gizi (overweight) Banyak faktor sosial dan lingkungan yang bisa mempengaruhi pemberian makanan. misalnya kurangnya asupan gizi dan penyakit. Sebagai contoh. Sering tidak mungkin untuk mengatasi masalah tersebut.penyebab masalahnya. 1 Penyebab kelebihan gizi (“overweight”) biasanya berasal dari kondisi lingkungan. sehingga tidak akan menolong jika menasihati ibu untuk memberi makan anak lebih sering. Maka sangat perlu untuk menentukan penyebab timbulnya masalah pada anak sebelum memberikan konseling. Dalam mencari penyebab. UNICEF (1990) Strategy for improved nutrition of children and women in developing countries. akan lebih baik jika keluarga disarankan mendapatkan bantuan dari sumber lain. Dalam situasi ini. pola asuh dan pertumbuhan anak. perlu mempertimbangkan Penyebab di lingkungan rumah seperti : kondisi lingkungan rumah. maka untuk mengatasi penyebab langsung masalah kurang gizi. tetapi petugas kesehatan dapat membantu ibu untuk memahami dan berpikir untuk mengatasinya. Pada tahun 1990 UNICEF mengembangkan diagram berikut. seorang anak kurus karena keluarganya kekurangan bahan makan.

Anak-anak merasa tidak aman bermain diluar rumah. agar ibu atau pengasuh tidak akan lupa atau merasa tertekan perasaannya. Tujuan Pembelajaran Adapun tujuan pembelajaran pada topik keterampilan MTBS ini adalah diharapkan mahasiswa : 1. pola asuh dan pertumbuhan anak. Maka. B. dan memberikan kesempatan pada petugas kesehatan untuk memberikan nasihat tambahan. Mampu menilai status gizi balita (klinis dan antropometris) menurut aturan WHO (2005) dan memeriksa adanya penyakit penyerta. Mampu melakukan pendampingan konseling balita sakit berdasarkan pedoman MTBS berupa perawatan di rumah dan pemberian nasehat berupa kapan kembali untuk tindak lanjut. 5. 4. Sebaiknya tidak terlalu banyak saran. Selama konseling. perlu direncanakan tindakan yang dapat dilakukan oleh ibu atau pengasuh anak untuk memaksimalkan pertumbuhan anak. serta beri dorongan agar ibu membawa kembali anaknya untuk tindak lanjut. Mampu melakukan dan menyarankan tindakan berdasarkan klasifikasi balita sakit pada pedoman MTBS. Perubahan itu membutuhkan waktu dan tidak mungkin memecahkan akar masalah dalam 1 kali konseling. 8 9 . untuk memecahkan masalah kelebihan gizi dibutuhkan upaya penyelesaian masalah lingkungan disamping pengaturan makanan yang baik. Mampu menentukan klasifikasi masalah balita sakit dengan menggunakan pedoman MTBS. Kunjungan berikutnya memberi kesempatan pada ibu untuk melaporkan keberhasilannya. 2. mereka akan menghabiskan waktu dengan menonton televisi. atau bermain video games. Sarankan tindakan penting dan yang mungkin untuk dilakukan.sibuk merasa pemenuhan makanan cepat saji yang tinggi energi lebih baik dari pada meluangkan waktu untuk merencanakan makanan seimbang. Karena itu sangat penting untuk melakukan tindak lanjut dan memantau pemberian makan. 3. Mampu melakukan penilaian balita sakit dengan menggunakan pedoman MTBS.

Memperbaiki kinerja petugas kesehatan. (Soenarto. 2008). 2008. 2009) Materi MTBS terdiri dari langkah penilaian. identifikasi tindakan. Bagan pengobatan terdiri dari petunjuk cara komunikasi yang baik dan efektif dengan ibu untuk memberikan obat dan dosis pemberian obat. dan hijau (perawatan di rumah) sesuai dengan urutan keparahan penyakit (Depkes RI. perawatan di rumah dan kapan kembali. konseling. Klasifikasi bukan merupakan diagnosis penyakit yang spesifik. 10 11 . pengobatan. Wijaya. Materi MTBS terdiri dari langkah penilaian. . 2. Alur konseling merupakan nasihat perawatan termasuk pemberian makan dan cairan di rumah dan nasihat kapan harus kembali segera maupun kembali untuk tindak lanjut (Surjono et al. 1998). status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan (Surjono et al. klasifikasi penyakit. Meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan. baik yang harus diberikan di klinik maupun obat yang harus diteruskan di rumah. Surjono. et al. perawatan di rumah dan kapan kembali untuk tindak lanjut. Memperbaiki kualitas pelayanan dengan biaya lebih murah. identifikasi tindakan. 2009. klasifikasi penyakit. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. Tiap klasifikasi menentukan karakteristik pengelolaan balita sakit. pengobatan. Setiap klasifikasi penyakit mempunyai nilai suatu tindakan sesuai dengan klasifikasi tersebut. yaitu merah (penanganan segera atau perlu dirujuk). Tiap klasifikasi mempunyai warna dasar. World Health Organization (WHO) telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan kematian. status gizi. kuning (pengobatan spesifik di pelayanan kesehatan). baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam bahasa Inggris yaitu Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu manajemen melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan. Memperbaiki status gizi. Sasaran MTBS adalah anak umur 0-5 tahun dan dibagi menjadi dua kelompok sasaran yaitu kelompok usia 1 hari sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun (Depkes RI. TINJAUAN PUSTAKA 4. 5. 3. konseling. Kegiatan MTBS merupakan upaya yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar seperti puskesmas. 2008). A. Depkes RI. Klasifikasi dalam MTBS merupakan suatu keputusan penilaian untuk penggolongan derajat keparahan penyakit. MTBS telah digunakan di lebih dari 100 negara dan terbukti dapat: 1. Menurunkan angka kematian balita. Bagan penilaian anak sakit terdiri dari petunjuk langkah untuk mencari riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik.BAB II. 1998). kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.

Depkes RI. petugas akan menentukan jenis tindakan/pengobatan. Alur Bagan Pendekatan MTBS Kegiatan MTBS memiliki 3 komponen khas yang menguntungkan. 2009. petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien apabila sudah dilatih). Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS). yaitu: Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter. Setelah itu petugas akan mengklasifikasikan semua gejala berdasarkan hasil tanyajawab dan pemeriksaan. Ketika anak sakit datang ke ruang pemeriksaan. Di bawah ini adalah gambaran pendekatan MTBS yang sistematis dan terintegrasi tentang hal-hal yang diperiksa pada pemeriksaan.Gambar 1. misalnya anak dengan klasifikasi pneumonia berat atau penyakit sangat berat akan dirujuk ke dokter puskesmas. 2008) Berikut ini gambaran singkat penanganan balita sakit memakai pendekatan MTBS. 2008) 13 . Berdasarkan hasil klasifikasi. anak dengan masalah gizi akan dirujuk ke ruang konsultasi gizi. Petugas memakai tool yang disebut Algoritma MTBS untuk melakukan penilaian/pemeriksaan dengan cara: menanyakan kepada orang tua/wali. dst. dimulai dengan memeriksa tanda-tanda bahaya umum seperti: Apakah anak bisa minum/menyusu? Apakah anak selalu memuntahkan semuanya? Apakah anak menderita kejang? Kemudian petugas akan melihat/memeriksa apakah anak tampak letargis/tidak sadar? Setelah itu petugas kesehatan akan menanyakan keluhan utama lain: Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas? Apakah anak menderita diare? Apakah anak demam? Apakah anak mempunyai masalah telinga? Memeriksa status gizi Memeriksa anemia Memeriksa status imunisasi Memeriksa pemberian vitamin A Menilai masalah/keluhan-keluhan lain (Depkes RI. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan). anak yang imunisasinya belum lengkap akan dilengkapi. Seorang balita sakit dapat ditangani dengan pendekatan MTBS oleh petugas kesehatan yang telah dilatih. (Wijaya. apa saja keluhan-keluhan/masalah anak 12 kemudian memeriksa dengan cara 'lihat dan dengar' atau 'lihat dan raba'. petugas kesehatan akan menanyakan kepada orang tua/wali secara berurutan.

Depkes RI. Memeriksa status penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi. Menjelaskan kepada ibu tentang aturan-aturan perawatan anak sakit di rumah. setelah itu melakukan langkah-langkah tindakan/ pengobatan yang telah ditetapkan dalam penilaian/ klasifikasi. Dengan cara sekarang (berdasarkan hasil penelitian) akan sulit untuk meningkatkan CDR. Strategi Promosi MTBS Untuk meningkatkan penemuan penderita tuberkulosis.Berdasarkan hasil penilaian hal-hal tersebut di atas. (Wijaya. Aspek positif dari data yang ada adalah walaupun Case Detection Rate (CDR) rendah (karena penemuan pasif) tetapi target cure rate tercapai. Alasan yang dapat menjelaskan mengapa dinas kesehatan kabupaten dan Puskesmas tidak dapat membuat kebijakan dalam penemuan penderita tuberkulosis dan penyakit infeksi anak Balita lainnya karena tidak adanya pendanaan yang cukup untuk melakukan modifikasi serta 14 15 . 2009. cara menyusui yang baik. ISPA. Memeriksa masalah dan keluhan lain. Memberikan konseling bagi ibu. cara merawat tali pusat. yaitu MTBS. ini menunjukkan bahwa 85% dari yang ditemukan sembuh berarti ada pemutusan rantai penularan dengan sekitarnya. petugas akan mengklasifikasi keluhan/penyakit anak. Menasihati ibu kapan harus kembali kepada petugas kesehatan. Penilaian dan klasifikasi bayi muda di dalam MTBM terdiri dari: Menilai dan mengklasifikasikan untuk kemungkinan penyakit sangat berat atau infeksi bakteri. Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah. misal: anjuran pemberian makanan selama anak sakit maupun dalam keadaan sehat. Dengan CDR yang masih rendah walaupun yang ditemukan 85% sembuh ternyata masih banyak anak Balita penderita TB di lapangan belum ketemu dan diobati yang merupakan sumber penularan. dll. Menilai dan mengklasifikasikan diare. Tindakan yang dilakukan antara lain: Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah. misal aturan penanganan diare di rumah. dan lain-lain. mengatasi masalah pemberian ASI secara sistematis dan terperinci. Malaria. menasihati ibu cara memberikan cairan tambahan pada waktu bayinya sakit. Memeriksa dan mengklasifikasikan ikterus. 2008) B. DBD secara dini pada anak Balita diperlukan puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) setiap daerah menerapkan suatu metode yang bersifat aktif selektif. yaitu dengan MTBS. menjelaskan kepada ibu tentang jadwal imunisasi pada bayi kurang dari 2 bulan. Di sini diuraikan secara terperinci cara mengajari ibu tentang cara meningkatkan produksi ASI. Sebaiknya dinas kesehatan kabupaten dan Puskesmas menerapkan metode penemuan penderita tuberkulosis dengan cara aktif selektif yang terintegrasi dengan pelayanan gizi dan kesehatan dasar di Posyandu maupun di Polindes. kapan harus kunjungan ulang. yang disebut juga Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Selain itu di dalam MTBS terdapat penilaian dan klasifikasi bagi Bayi Muda berusia kurang dari 2 bulan. Memeriksa dan mengklasifikasikan kemungkinan berat badan rendah dan atau masalah pemberian Air Susu Ibu (ASI).

facilitates decentralization di hampir seluruh Puskesmas di setiap Kecamatan. Artinya MTBS mampu menghemat pembelian obat.different MoH departments and technical programmes work together with professional societies. and pooling of resources). Oleh karena itu perlu promosi MTBS yang dapat membantu mencegah penularan berbagai penyakit pada anak dan menolong penyembuhan anak balita sakit di kota maupun di perdesaan. Namun dalam perkembangannya ada sembilan penyakit yang harus dicegah pada anak balita. rather than an array of disease -specific courses. Sampai saat ini strategi yang dikembangkan seperti terlihat pada Gambar 2.attend one training course.receive holistic care Ministry of Health . Artinya MTBS di hampir seluruh Negara berkembang merupakan pelayanan kesehatan anak balita sakit secara komprehensif karena dapat mengkombinasikan pemeriksaan lima penyakit yang dominant diderita anak balita. Menurut Lesley Bamford dari National Department of Health tahun 2008 yang mengatakan bahwa Comprehensive approach to the care of the ill child. Selanjutnya MTBS juga mampu sebagai emphasizes capacity building at district level . C. Di samping itu MTBS juga potential cost savings through (rational use of drugs. and provide integrated care Families and Communities . Strategi Promosi MTBS di Negara berkembang pembiayaan kesehatan anak adalah MTBS pada pelayanan kesehatan dasar seperti di Puskesmas dan beberapa Posyandu yang sudah maju dan rutin melakukan kegiatan pemantauan status gizi dan kesehatan anak balita. which attempts to ensure appropriate and combined treatment of the five major diseases. reduces missed opportunities.provide support and essential resources for the prevention and treatment of major childhood illnesses Health Care Providers . MTBS Pilihan terbaik bukan yang lainnya Dilihat dari cost-effective child health strategy included in the basic package of essential health services maka model MTBS yang dikembangkan di hampir seluruh negara berkembang maka pilihan termurah dari aspek 16 17 .promote appropriate home care and safe and supportive environments for healthy growth and development Children . Gambaran penyakit tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.pendanaan program penurunan angka kesakitan dan kematian anak Balita. menurunkan tingkat kesalahan pemeriksaan dan dapat merupakan penggabungan sumberdaya pelayanan kesehatan anak balita sakit di Puskesmas. Health Facilities . universities and others to plan and implement the strategy Gambar 2.

Gambar 3. Oleh karena itu. Namun sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa kualitas kolostrum dan ASI pada ibu menyusui penderita TB-Paru apakah masih sama dengan ibu menyusui yang memiliki status gizi dan kesehatan yang baik. Terdiri dari 3 macam yaitu: Bronchus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan. Selanjutnya MTBS pada bayi yang masih mendapat ASI ternyata bayi lebih cepat berhasil sembuh 18 19 . Penelitian ini telah mengkaji hal tersebut pada ibu menyusui yang menderita tuberkulosis. Jumlah lisosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi. Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran pencernaan. Oleh karena itu. Ternyata ada perbedaan psikologis dalam pemberian ASI eksklusif enam bulan antara penderita TB dan ibu menyusui yang sehat. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan. Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran pencernaan. Immunoglobulin A (IgA) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. 2002). perlu penelitian tentang kualitas kolostrum ASI pada penderita TB Paru hubungannya dengan status gizi bayinya. enzim yang melindungi bayi terhadap bakteri (E.49% of child deaths Perinatal (20%) Respiratory diseases (17%) Diarrhoeal diseases (17%) Measles (8%) Malaria (7%) Injuries (6%) Congenital (4%)) HIV/AIDS (3%)) All other (18%) Malnutrition is estimated to contribute to around 50% of all childhood deaths. dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu. Pemberian MP-ASI yang terlalu dini mengganggu penyerapan zat besi dalam ASI. ASI mengandung zat anti infeksi. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan. terjangkau dan bernilai gizi tinggi selain ASI. Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Lisosim. Begitu pula pada ibu menyusui penderita penyakit kronis seperti tuberkulosis akan tetap dapat memproduksi ASI yang cukup untuk bayi mereka. dkk (2009) menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif enam bulan merupakan jaminan ketahanan pangan bagi bayi-bayi yang sehat maupun sedang sakit. ASI sebagai makanan dan obat dalam MTBS Dari aspek imunologik. Hasil penelitian Hanim. disarankan untuk memberi ASI eksklusif (hanya diberi ASI hingga berumur 6 bulan). coli dan Salmonella) dan virus. ibu tetap dapat memproduksi ASI yang cukup untuk bayi mereka (WHO. Tidak ada bahan makanan yang selalu tersedia setiap saat. Sekretori IgA tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. Lima penyebab kematian anak balita D. Namun meskipun menderita anemi. bersih dan bebas kontaminasi. karena ASI saja merupakan makanan lengkap untuk bayi hingga berumur 6 bulan. Berdasarkan hal tersebut tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan.

Component III: Household and Community component – 16 key messages about child care at household and community levels. Health education activities for individual diseases Interventions to improve family and community practices Family and commu nity Drug supply and management District level management of health services Health system development Health system Nutrition (Vitamin A) Appropriate infant feeding Gambar 4.disbanding bayi yang tidak mendapat ASI secara eksklusif. Adapun gambaran umum pelaksanaan MTBS hubungannya dengan system pengembangan pelayanan kesehatan anak dapat dilihat pada Gambar 4. Component II: Ensuring that health facility supports required to provide effective IMCI care are in place. PROGRAM KEMENKES UNTUK MTBS DI PUSKESMAS Rencana Aksi MTBS 2009-2014 Health worker skills Component I: Improving case management skills of first level workers through training and follow-up. Keterkaitan Pelayanan Kesehatan Anak dalam MTBS MTBS EPI Early diagnosis of HIV infection PMTCT Plus Gambar 5. Case management guidelines and training for individual diseases Integrated case management guidelines. training and follow-up BAB III. Peran serta Masyarakat dalam MTBS 20 21 .

Intervensi Gizi dan Kesehatan dalam MTBS Memberikan perawatan/pengobatan di Rumah Sakit dan Puskesmas pada anak balita gizi buruk disertai penyakit penyerta b. MP-ASI dan makanan tambahan 4. Pendampingan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa MP-ASI bagi anak 6-23 bulan dan PMT pemulihan pada anak 24-59 bulan kepada balita gizi kurang baik yang memiliki penyakit penyerta ataupun tidak ada penyakit penyerta 8. mengenali dan menanggulangi secara dini balita yang mengalami gangguan pertumbuhan melalui revitalisasi Posyandu 2. Advokasi dan pendampingan MTBS a.Strategi Menuju MTBS: 1. Diskusi dan rapat kerja dengan DPRD secara berkala tentang pelaksanaan dan anggaran MTBS c. Melakukan pendampingan di semua Puskesmas di setiap Kabupaten a. Menggalang kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan swasta/dunia usaha dan masyarakat untuk mobilisasi sumberdaya dalam rangka meningkatkan daya beli keluarga untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi seimbang 6. Meningkatkan Perilaku Sadar Gizi dengan : • Memantau berat badan • Memberi ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan • Makan beraneka ragam • Menggunakan garam beryodium • Memberikan suplementasi gizi sesuai anjuran 7. dalam manajemen dan melakukan tatalaksana gizi buruk untuk mendukung fungsi Posyandu yang dikelola oleh masyarakat melalui revitalisasi Puskesmas 3. seperti kapsul Vitamin A. advokasi dan sosialisasi tentang makanan sehat dan bergizi seimbang dan pola hidup bersih dan sehat 5. Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dan keluarga dalam memantau tumbuh kembang balita. Menyiapkan materi/strategi advokasi MTBS b. Meningkatkan kemampuan petugas. Menanggulangi secara langsung masalah gizi yang terjadi pada kelompok rawan melalui pemberian intervensi gizi (suplementasi). Mewujudkan keluarga sadar gizi melalui promosi gizi. 22 23 .

konfirmasi dengan DKK. . Wonogiri.Laporan bentuk CD dibuat dengan isi laporan individu dan kelompok 25 24 . Sukoharjo. Tahap persiapan : • Satu kelompok dipandu 1 instruktur lapangan (dokter/peyugas puskesmas). Boyolali). • Lokasi: 6 DKK yang mempunyai kerjasama dengan FK UNS (Sragen. Klaten. 2-7 halaman (tidak termasuk cover dan halaman pengesahan). • Sebelum pelaksanaan. Puskesmas dan kelompok mahasiswa. • Peraturan yang harus dipenuhi mahasiswa : . Tahap Pelaksanaan : • Pelaksanaan di lapangan 2 hari. untuk melakukan penerapan MTBS dan didampingi instruktur atau petugas puskesmas terkait.Mahasiswa datang sesuai jam kerja Puskesmas. diharap mahasiswa menghubungi instruktur lapangan (nomor telepon instruktur lapangan tersedia di Field lab).bisa dilakukan waktu lain diluar jadwal yang sudah ditentukan atas kesepakatan pihak puskesmas dengan mahasiswa tanpa mengganggu kegiatan perkuliahan.Mengikuti kegiatan yang ada di wilayah kerja puskesmas yang bersangkutan.Mahasiswa harus memakai jas laboratorium di lapangan. jas lab dikancingkan dengan rapi.BAB IV. • Tiap mahasiswa membuat cara kerja. Pembuatan Laporan Tiap mahasiswa membuat laporan perorangan dua eksemplar. sesuai jadwal dari pengelola KBK FK UNS. sebelum pelaksanaan diserahkan pada instruktur lapangan untuk diperiksa. isi : I. • Pembagian kelompok dilakukan oleh pengelola Field Lab. sesuai jadwal dari tim pengelola KBK FK UNS. yaitu jam 07. 3. • Pembekalan materi dan teknis pelaksanaan diberikan pada kuliah pengantar field lab. . ditunjukkan dengan lembar tanda tangan persetujuan instruktur lapangan Puskesmas dan Fakultas. STRATEGI PEMBELAJARAN Strategi pembelajaran yang harus dilakukan mahasiswa sebagai berikut : 1. Cara Kerja (singkat) 2. Tujuan Pembelajaran II. Alat/Bahan yang diperlukan III.30 menemui instruktur dan mengikuti kegiatan sesuai arahan instruktur. sedangkan untuk FK UNS selain laporan buku juga diwajibkan menyerahkan laporan berupa: . singkat dan jelas. • Pada saat kuliah pengantar dilakukan pretest untuk mahasiswa. Hari I : bimbingan oleh instruktur lapangan dan pelaksanaan penerapan MTBS di puskesmas Hari II : pengumpulan laporan dan evaluasi • Apabila waktu pelaksanaan kegiatan Field lab dirasakan kurang. Jumlah laporan yang dikumpulkan untuk Puskesmas sesuai kesepakatan dengan instruktur. hari ketiga kegiatan harus diserahkan instruktur lapangan untuk disetujui/ disahkan. ditulis di buku tulis. Karanganyar.

• Format Laporan : Halaman cover : judul berbeda-beda tiap mahasiswa Lembar pengesahan instruktur lapangan Daftar Isi I. • 26 27 . • • NILAI AKHIR MAHASISWA : : 1x Pretest + 3 x Lapangan + 1 x Postes 5 Batas nilai yang dinyatakan lulus adalah 70 %. akan dilakukan remidi yang akan dijadwalkan oleh field lab. Postes dilaksanakan di Fakultas Kedokteran sesuai jadwal pengelola Field Lab. Lokasi PKM dan tahun pelaksanaan.- CD dikumpulkan dengan diberi Label : Nama Kelompok. Apabila ada mahasiswa yang membuat laporan sama persis dengan temannya (baik sama atau beda kelompok) akan dikembalikan. • Tata Cara Penilaian : • Instruktur memberi penilaian terhadap mahasiswa sesuai dengan skala penilaian yang ditetapkan dalam buku panduan. Penutup V. Pembahasan IV. Pendahuluan dan Tujuan pembelajaran Uraikan secara singkat tentang program dan penerapan MTBS di puskesmas II. Daftar Pustaka • Satu (1) eksemplar laporan diserahkan pada instruktur lapangan. III. Bila remidi tidak lulus maka mengulang semester depan. Kegiatan yang dilakukan Mahasiswa menulis hasil pengamatan pelaksanaan MTBS yang dilakukan. satu (1) laporan diserahkan pada pengelola field lab setelah disahkan instruktur lapangan (laporan diserahkan field lab paling lambat 1 minggu sesudah pelaksanaan). Bila ada mahasiswa mendapat nilai kurang dari 70 %.

. 75% benar 4 : melakukan.... Laporan 2 3 4 Isi laporan sesuai kegiatan yang dilakukan Format laporan sesuai panduan JUMLAH NILAI Keterangan 0 : tidak melakukan 1 : melakukan... Prosedur Pelaksanaan Melakukan pengamatan pelaksanaan MTBS di puskesmas Melakukan penilaian anak balita sakit berdasarkan keluhan dan pemeriksaan sesuai bagan MTBS Menentukan klasifikasi penyakit sesuai bagan MTBS Menentukan penanganan/tindakan masalah berdasarkan bagan MTBS Memberikan konseling perawatan di rumah berdasar bagan MTBS Memberikan konseling tentang perawatan tindak lanjut berdasar bagan MTBS Menilai status gizi balita (klinis dan antropometris) menurut aturan WHO (2005) dan memeriksa adanya penyakit penyerta Melakukan pengisian form MTBS dari puskesmas 3. Sikap dan Perilaku Menunjukkan kedisiplinan (datang tepat waktu) Menunjukkan penampilan rapi dan sikap sopan terhadap staf puskesmas dan atau masyarakat yang dilayani 3... Keterangan 0 1 1. 50% benar 3 : melakukan. Persiapan Membuat format rencana kerja sesuai panduan 2..... 25% benar 2 : melakukan.BAB V.X 100 % = .... 100% benar Jumlah Nilai NILAI : -------------------.% 52 28 29 ... SKALA PENILAIAN No.

et al. Yati.pdf (Diakses 1 Maret 2010). MTBS: Strategi Untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak.Daftar Pustaka Foto Kegiatan Chaturvedi dan Kanupriya Chaturvedi. Disampaikan pada Simposium Pediatri TEMILNAS 2009 Surakarta 01 Agustus 2009. National Department of Health. 2009. Memberi pelayanan pada masyarakat Aplikasi MTBS pada pasien Puskesmas Wonogiri II Mahasiswa mempelajari form MTBS 30 31 . Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Awi M.1998. Depkes RI.chnrl. Overview of IMCI strategy and implementation. Soenarto. Dalam: http://www. Department Child and Adolescent Health and Development.Diunduh dari : http://infodokterku. Achmad. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). WHO.com/ index. 2002.net/ publikasi/pdf/MTBS. Alan R. Studi Pengembangan Puskesmas Model Dalam Implementasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Surjono. IMCI: new developments and trends. Lesley Bamford. Endang DL.php?option=com_content&view=article&id=37:ma najemen-terpadu-balita-sakit-mtbs&catid=27: helathprograms&Itemid=44 (Diakses 1 Maret 2010). 2003. 2008. Tumbelaka. 2008. Adaptation of the Integrated Management of Newborn and Childhood Illness (IMNCI) Strategy for India. Jeneva Wijaya. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->