P. 1
Hutang Piutang

Hutang Piutang

|Views: 567|Likes:
Published by AnnikHariyani
bahaya hutang
bahaya hutang

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: AnnikHariyani on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2015

pdf

text

original

JAUHI TIGA PERKARA

Ditulis oleh Ustadz Agus Handoko, MA Manusia diciptakan kemuka bumi ini untuk mengelola sesuatu yang ada didalamnya dengan sebenar-benarnya, dan juga untuk menghamba kepada Sang Khalik Allah Swt.dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.Setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggung jawabannya di akherat kelak, maka jalan apa yang akan ditempuh itulah pilihan setiap individu, yang pada akhirnya manusia akan merasakan bahagia atau sengsara. Rasulullah saw memberikan jaminan kepada kaum muslimin selama mereka terbebas dari tiga perkara sebelum kematian terjadi pada dirinya, beliau bersabda: ‫ث‬ ٍ َ ‫ء ﻣِﻦْ ﺛ َﻼ‬ ٌ ْ‫ِي‬ ‫ ﻣَﻦْ ﻣَ ﺎتَ وَ ھ ُﻮَ ﺑ َﺮ‬: َ‫ْﺠَ ﻨ ﱠﺔ‬ ‫ﺪﯾْﻦُ دَﺧَﻞَ اﻟ‬ ‫ل وَ اﻟ ﱠ‬ ُ ْ‫ْﻐُﻠ ُﻮ‬ ‫ﺮ وَ اﻟ‬ ُ‫ﺒ‬ ْ‫ﻜ‬ ِ ‫أ َْﻟ‬ Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong, fanatisme dan utang maka ia akan masuk surga (HR. Tirmidzi(. Hadis diatas menunjukkan kepada kita semua sebagai ummat Nabi Muhammad untuk hindari tiga perkara tersebut yaitu : memiliki sifat sombong, fanatisme kepada golongan dan juga memiliki hutang yang belum dibayar. Kesemuanya parkara tersebut berdampak negatif bagi setiap jiwa muslim.

1.

Sombong.

Sombong adalah sifat yang dimiliki manusia dengan menganggap dirinya lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, Rasulullah Saw bersabda: ‫ﱠﺎس‬ ِ ‫ﻖ وَ ﻏَﻤْﻂ ُ اﻟﻨ‬ ‫ْﺤَ ﱢ‬ ‫ﺮ اﻟ‬ ُ َ ‫ﺮ ﺑ َﻄ‬ ُ‫ﺒ‬ ْ‫ﻜ‬ ِ ‫ا َْﻟ‬ Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR. Muslim). Sombong merupakan sifat iblis laknatullah, dengan sebab itulah ia divonis ingkar/kafir kepada Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt : "Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (QS 7:11-13, lihat pula QS 40:60).

Ada banyak dampak negatif atau bahaya dari sifat sombong ini, diantara adalah: Pertama, Tidak senang pada saran apalagi kritik, hal ini karena ia sudah merasa sempurna, tidak punya kekurangan, apalagi bila kesombongan itu tumbuh karena usianya yang sudah tua dengan segudang pengalaman, ia akan menyombongkan diri kepada orang yang muda, atau sombong karena ilmunya banyak dengan gelar kesarjanaan. Kedua, Tidak senang terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, hal ini karena apa yang menjadi sebab kesombongannya akan tersaingi oleh orang itu yang menyebabkan dia tidak pantas lagi berlaku sombong, karenanya orang seperti ini biasanya menjadi iri hati (hasad) terhadap keberhasilan, kemajuan dan kesenangan yang dicapai orang lain, bahkan kalau perlu menghambat dan menghentikan kemajuan itu dengan cara-cara yang membahayakan seperti memfitnah, permusuhan hingga pembunuhan. Ketiga, Menolak kebenaran meskipun ia meyakininya sebagai sesuatu yang benar, hal ini difirmankan Allah Swt di dalam Al-Qur’an: Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS 27:14). Keempat, Dibenci Allah Swt yang menyebabkannya tidak akan masuk syurga. Allah Swt berfirman: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23). Di dalam hadits, Rasulullah Saw bersabda: ٍ◌ ْ‫ة ﻣِﻦْ ﻛِﺒﺮ‬ ٍ‫ر‬ ‫ل ذَ ﱠ‬ ُ ‫ﻣِﺜﻘ َﺎ‬ ْ ‫ﮫ‬ ِ ِ ‫ْﺒ‬ ‫ْﺠَ ﻨ ﱠﺔ َ ﻣَﻦْ ﻛَﺎنَ ﻓ ِﻰ ﻗ َﻠ‬ ‫ﻞ اﻟ‬ ُ ُ‫ﻻ َ ﯾ َﺪْﺧ‬ Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan (HR. Muslim).

2.

Ta'asshub atau Fanatisme.

Ta'asshub atau yang dikenal fanatic kepada perorangan atau kelompok tertentu, hal tersebut terjadi ditengah-tengah masyarakat dan tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan berdasarkan organisasi maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan ashabiyah. Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan, hal ini karena memang Allah Swt mengakuinya, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal

mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS 49:13). Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilainilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat dilarang di dalam Islam, apalagi bila seseorang sampai mengajak orang lain untuk bersikap demikian, lebih-lebih bila seseorang siap mati untuk semua itu, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu sebagai umatnya, hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw: ‫ﻋ‬ َ ‫ﺔ وَ ﻟ َﯿْﺲَ ﻣِﻨ ﱠﺎ ﻣَﻦْ ﻣَ ﺎتَ ﻋَﻠ َﻰ‬ ٍ ‫ﺔ وَ ﻟ َﯿْﺲَ ﻣِﻨ ﱠﺎ ﻣَﻦْ ﻗ َﺎﺗ َﻞَ ﻋَﻠ َﻰ ﻋَﺼَ ﺒ ِ ﯿﱠ‬ ٍ ‫َﻋَﻰ ﻋَﺼَ ﺒ ِ ﯿﱠ‬ ‫ﺔﻟ َﯿْﺲَ ﻣِﻨ ﱠﺎ ﻣَﻦْ َﺎدا ِﻟ‬ ٍ ‫ﺼَ ﺒ ِ ﯿﱠ‬ Bukan golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah (HR. Abu Daud)

3.

Utang.

Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri, sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim harus hati-hati dalam masalah utang, Rasulullah Saw bersabda: ‫ْﻦ ﻓ َﺎ ِﻧ ﱠﮫُ ھَﻢﱞ ﺑ ِﺎﻟﻠ ﱠ ﯿْﻞِ وَ ﻣَ ﺬَﻟ ﱠﺔ ٌ ﺑ ِﺎﻟﻨ ﱠﮭ َﺎ ِر‬ ِ ‫ﺪﯾ‬ ‫◌ِ اﯾﱠﺎﻛُﻢْ وَ اﻟ ﱠ‬ Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR. Baihaki) Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar, ia tidak boleh menyepelekannya meskipun nilainya kecil. Bila seorang muslim memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa menjadi manusia yang terbaik. Rasulullah Saw bersabda: ً‫ﺮھ ُﻢْ ﻗ َﻀَ ﺎء‬ ُ‫ﯿ‬ ْ َ‫ﱠﺎس ﺧ‬ ِ ‫ﺮ اﻟﻨ‬ ُ‫ﯿ‬ ْ َ‫ﺧ‬ Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang (HR. Ibnu Majah). Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena utang yang tidak dibayar akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia, kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya, Rasulullah Saw bersabda:

َ ‫ﺎتَ وَ ھ ُﻮَ ﯾ َﻨْﻮ ِىْ ﻗ َﻀَ ﺎءَه ُ ﻓ َﺄ َ ﻧ َﺎ وَ ﻟ ِﯿﱡﮫُ وَ ﻣَﻦْ ﻣَ ﺎتَ وَ ﻻ َﯾ َﻨْﻮ ِىْ ﻗ َﻀَ ﺎءَه ُ ﻓ َﺬَاﻟ ِﻚَ اﻟاﱠ‬ ‫َﺎنْ ﻓﻣََﻤَﻦ‬ ِ ‫ﯾﻨ‬ ْ‫د‬ َ ُ‫ﺪﯾْﻦ‬ ‫رﻟﱠ‬ ٌ ‫ﯾﻨ َﺎ‬ ْ‫د‬ ِ ‫ﺬ‬ ٍ ِ ‫ﮫ ﻟ َﯿْﺲَ ﯾ َﻮْ ﻣَ ﺌ‬ ِ ِ ‫ﺴﻨ َﺎﺗ‬ َ َ‫ﺬِىْ ﯾُﺆْ ﺧَ ﺬُﻣِﻦْ ﺣ‬ ٌ‫وَ ﻻ َدِرْ ھَﻢ‬. Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu tidak ada emas dan perak (HR. Thabrani). Ketiga perkara tersebut jangan sampai terjadi pada diri kita sebagai ummat Islam. Sehebat apapun orang/golongan/partai yang kita ikuti, namun ketika berbuat salah maka seyogyanya bagi kita untuk mengislahnya jangan taklid buta. Hindari sifat yang selalu mendewakan diri sendiri, mengenggap lebih dari orang lain. Milikilah sifat yang selalu menerima pemberian dari Allah Swt (Qona'ah), jangan sampai kita memiliki hutang karena selalu tidak puas terhadap rizki yang kita dapatkan. Wallahu A'lam Bisshawab.

SUMBER : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1264:jauhi-tigaperkara&catid=22:pengajian

HUTANG… NIKMAT atau BENCANA
Date : February 6th, 2012Category : PERENUNGANAuthor : nur11 Comments

“Kalau tidak punya hutang, hidup tidak semangat”. Pernah dengar slogan hidup yang seperti itu. Saya pernah mendengar slogan seperti itu, didengungkan oleh orang yang gemar berhutang, padahal orang yang berhutang punya kewajiban mengembalikan uang yang dihutang. Dalam proses pengembalian uang hutang yang kadang terasa memberatkan inilah sebagai penyemangat bekerja untuk mencari uang, sebagai target yang harus bisa terpenuhi. Menerima uang hutang memang terasa nikmat, karena kita menerima uang tanpa harus bekerja. Ada orang yang menjajakan teman-temannya sebagai tanda syukur karena uang hutangnya sudah turun. Ada yang rumahnya langsung berubah total seakan istana keraton, mobilnya menjadi mewah dan baru, tanah sawahnya luas membentang, semua itu karena hutang. Alangkah nikmatnya ya… ya… nikmat di depan, nikmat ketika uang itu baru kita terima. Tapi ketika kita menuju kepada kewajiban, adakah nikmat itu akan hadir lagi. Kewajiban orang berhutang adalah mengembalikan uang yang telah di hutang sesuai perjanjian awal ketika akan berhutang. Ketika jatuh tempo merupakan waktu yang paling dihindari. Pusing kepala rasanya ketika uang setoran belum ada, belum lagi bila debt collector yang tak kenal ampun datang menagih hutang kita. Di Sragen jawa tengah ada juragan lele yang menjadi penjambret karena terbelit utang 70 juta, uang hasil jambretan di8gunakan untuk mengembalikan hutang. Nah… kalau sudah begini hutang itu nikmat atau bencana ya… Di bawah ini saya coba copy paste tulisan Ustadz Abu Bakar M. Altway, di situs http://www.alsofwah.or.id , mengenai fikih hutang agar kita berhati-hati sebelum melangkah jauh untuk berhutang dalam jumlah besar. Juga agar kita tidak mudah berhutang atau berhutang dengan niat tidak mengembalikan. Simak saja ulasannya walau panjang tapi sangat bermanfaat. Dalam kehidupan di dunia manusia membutuhkan orang lain. Risalah Islam, mengatur hubungan antar sesama manusia sedemikian rupa, agar tumbuh kepedulian dan tidak saling menzalimi satu sama lain. Di antara hubungan tersebut adalah urusan utang piutang. Seperti penjelasan berikut: 1. Hukum Memberikan Pinjaman Hukum memberikan pinjaman adalah sunnah apabila peminjam dalam kondisi sangat membutuhkan. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‫ﯿﮫ ِ ﻓ ِﻲ‬ ْ َ ‫ﷲ ُ ﻋَﻠ‬ ‫ب ﯾ َﻮْ مِ اﻟْ ﻘ ِﯿ َﺎﻣَ ﺔ ِ وَ ﻣَﻦْ ﯾ َﺴﱠﺮَ ﻋَﻠ َﻰ ﻣُ ﻌْﺴِ ﺮٍ ﯾ َﺴﱠﺮَ ﱠ‬ ِ َ‫ﷲ ُ ﻋَﻨْﮫ ُ ﻛُﺮْ ﺑ َﺔ ً ﻣِﻦْ ﻛُﺮ‬ ‫ب اﻟﺪﱡﻧْ ﯿ َﺎ ﻧ َﻔ ﱠﺲَ ﱠ‬ ِ َ‫ﻣِﻦٍ ﻛُﺮْ ﺑ َﺔ ً ﻣِﻦْ ﻛُﺮ‬ ‫ﻣ‬ ُ ْ‫ﻣَﻦْ ﻧ َﻔ ﱠﺲَ ﻋَﻦْ ﺆ‬ ِ ‫اﻟﺪﱡﻧْ ﯿ َﺎ وَ ا ْﻵﺧِ ﺮَ ة‬ “Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan

kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim) Namun hukumnya dapat berubah menjadi haram, apabila pemberi pinjaman mengetahui atau mempunyai dugaan kuat bahwa peminjam akan menggunakannya untuk suatu maksiat atau sesuatu yang diharamkan. 2. Hukum Meminjam Adapun hukum meminjam adalah dibolehkan (mubah), namun dengan dua syarat:
 

Peminjam mengetahui bahwa dirinya sanggup untuk membayar, misalnya ada sesuatu yang diharapkan dapat digunakan untuk membayar. Adanya kesungguhan untuk membayar pinjaman tersebut.

Apabila kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka haram baginya meminjam. Rasulullah mengancam orang-orang yang mengutang dengan niat tidak membayar, beliau bersabda, “Barangsiapa mengambil harta orang lain (utang) dan berniat melunasinya, niscaya Allah akan melunasi utang itu. Dan barangsiapa mengambil harta orang lain (utang) dan berniat menghilangkannya (tidak melunasi), niscaya Allah akan membinasakannya” (HR. al-Bukhari) 3. Keutamaan Memberi Pinjaman Secara umum membantu orang yang sedang dalam kesulitan sangatlah dianjurkan di dalam Islam. Banyak hadits yang secara khusus menganjurkan hal tersebut dan menyebutkan keutamaannya yang sangat besar. Di antaranya adalah, “Tidaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim lainnya sebanyak dua kali kecuali akan bernilai seperti sedekah sekali.” (HR. Ibnu Majah) Juga hadits lain Rasulullah bersabda, “Seorang lelaki masuk ke dalam Surga, kemudian ia melihat di atas pintu Surga tertulis: “Sedekah dibalas sepuluh kali lipat, sedangkan memberikan pinjaman dibalas delapan belas kali lipat” (HR. ath-Thabrani & al-Baihaqi) Abdullah Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh, memberi utang dua kali lebih aku sukai daripada memberi sedekah sekali.”

4. Utang Adalah Kebiasaan Buruk Yang Sangat Berbahaya Bagi Pelakunya Meskipun berutang adalah hal yang dibolehkan di dalam Syariat Islam, namun selayaknya seseorang tidak gampang mengambil utang dari saudaranya, kecuali bila benar-benar dalam keadaan sangat terdesak, karena utang merupakan sesuatu yang dapat membawa dampak buruk bagi pelakunya. Di antara doa yang sering Rasulullah panjatkan di dalam shalatnya adalah, ِ‫ﻚ ﻣِﻦَ اﻟْﻤَﺄ ْﺛ َﻢِ وَ اﻟ ْﻤَﻐْﺮَم‬ َ ِ ‫ُﻮذ ﺑ‬ ُ ‫اﻟﻠ ﱠﮭ ُﻢﱠ إ ِﻧ ﱢﻰ أ َﻋ‬ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan utang”. Seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau berlindung dari perbuatan utang?’ Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya apabila seseorang berutang maka dia akan berbicara lalu berdusta, kemudian berjanji lalu tidak menepatinya” (HR. al-Bukhari) Dan inilah realita yang terjadi di tengah masyarakat, sebagian besar orang yang berutang selalu menunda-nunda kewajibannya dengan cara berdusta dan berjanji namun tidak ditepati. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memang tidak mempunyai keinginan untuk melunasinya. 5. Ancaman Bagi Orang Yang Menunda dan Enggan Membayar Utang 1. Orang yang mampu membayar utang namun menunda-nundanya disebut sebagai pelaku kezaliman. Rasulullah bersabda, “Perbuatan orang kaya yang menunda-nunda pembayaran utangnya adalah suatu kezhaliman” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 2. Orang yang sengaja menolak melunasi utang kelak berjumpa dengan Allah sebagai pencuri. Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang berutang dengan niat tidak akan melunasinya, niscaya dia akan bertemu Allah (pada hari Kiamat) dalam keadaan sebagai pencuri” (HR. Ibnu Majah dengan sanad Shahih). 3. Jiwa orang yang berutang dan belum melunasinya tertahan. Rasulullah bersabda, “Jiwa seorang mukmin tertahan oleh utangnya hingga utang tersebut terlunasi” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad shahih). 4. Rasulullah enggan menshalatkan Jenazah orang yang mempunyai utang hingga utangnya dilunasi atau adanya seseorang yang menjamin untuk melunasinya. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, ‘Rasulullah biasanya menolak menshalatkan seseorang yang wafat dalam keadaan masih memiliki utang. Suatu ketika dihadirkan ke hadapan beliau mayat seseorang, lalu beliau bertanya, ‘Apakah dia mempunyai utang?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya, dua dinar.’ Beliau bersabda, ‘(Kalau begitu) shalatkanlah saudara kalian ini.’ Maka Abu Qatadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, biarlah aku yang menanggung dua dinar itu.’ Maka beliau pun menshalatkannya” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i, dengan sanad shahih).

5. Dosa menanggung (tidak membayar) utang tidak akan diampuni sekalipun pelakunya mati syahid. Rasulullah bersabda,“Seluruh dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang.” (HR. Muslim) Sungguh sangat memprihatinkan sikap sebagian orang yang menganggap remeh kewajiban untuk menunaikan hak orang lain, khususnya dalam masalah utang piutang. Padahal begitu besar ancaman bagi orang yang menyepelekan masalah ini. Karena itu hendaknya orang yang berutang berupaya keras untuk melunasi utangnya dan segera menyelesaikan kewajibannya begitu ada kemampuan untuk itu. Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk melunasi utangnya niscaya Allah akan membantunya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba mempunyai niat untuk melunasi utangnya kecuali ia akan mendapatkan pertolongan dari Allah” (HR. al-Hakim dengan sanad Shahih) 6. Amal kebaikan orang yang mempunyai utang akan digunakan untuk melunasi utangnya kelak di akherat. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan menanggung utang satu Dinar atau satu Dirham, maka akan dilunasi dari kebaikannya, karena di sana tidak ada lagi Dinar maupun Dirham.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad Shahih). 6. Anjuran Bagi Orang Yang Memberikan Pinjaman Meskipun orang yang memberikan pinjaman berhak untuk menagih harta yang dipinjamkannya, namun terdapat ketentuan-ketentuan syari’at yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah: 1. Memberikan tenggat waktu kepada peminjam yang belum mampu untuk melunasi pinjamannya. Allah berfirman, artinya, “Dan apabila (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka tangguhkanlah hingga dia mendapatkan kemudahan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” .(QS. al-Baqarah: 280) 2. Menagih dengan sopan, “Barangsiapa menagih haknya hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya maupun gagal.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad Shahih) 3. Menghapuskan utang, baik keseluruhannya maupun sebagiannya bagi peminjam yang diketahui tidak mampu untuk melunasi utangnya. Firman Allah, artinya, “Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 280) Demikian tulisan beliau, semoga bermanfaat.

Pembaca kami juga menyukai

SUMBER : http://zizzahaz.com/2012/02/06/hutang-nikmat-atau-bencana/

ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG / ‫اﻹﺳ ﻼﻣﻲ اﻟﻔﻘ ﮫ ﻓ ﻲ اﻟﻘ ﺮض آداب‬
Posted on Maret 2, 2012 | 11 Komentar

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc

DOA AGAR TERBEBAS DARI HUTANG Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman. Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. PENGERTIAN HUTANG PIUTANG: Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah AlQardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. (Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili)

Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya. (Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dari Mauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29). Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga. HUKUM HUTANG PIUTANG: Hukum Hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini: Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah I: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245) Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi’, bahwa Nabi r pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah sesekor unta ruba’i terbaik?” Beliau bersabda, “Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang .”(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan Muslim dalam kitab Almusaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600) Nabi r juga bersabda: “Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389)). Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma‘ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman). Adapun hokum berhutang atau meminta pinjaman adalah diperbolehkan, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi r pernah berhutang. (HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086)). Namun meskipun berhutang atau meminta pinjaman itu diperbolehkan dalam syariat Islam, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang,

menurut Rasulullah r, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah r: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari). Rasulullah r pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah r bersabda: “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya .” (HR. Muslim). Bagaimana Islam mengatur berhutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini: BEBERAPA ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG: [1]. Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan. Dalilnya firman Allah I: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksisaksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 282) Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “ini merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat : “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”. (Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim, III/316). [2]. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang.

Kaidah fikih berbunyi : “Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba”. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan. Dengan kata lain, bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama. Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. (Lihat Al-Fatawa Al-Kubra III/146,147) Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah ta’ala. Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata : “Hendaklah diketahui, tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu, atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. Atau juga dengan tidak dilafadzkan, akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak terlarang mengambil tambahan. (Lihat AlMulakhkhash Al-Fiqhi, Shalih Al-Fauzan, II/51). [3]. Kebaikan sepantasnya dibalas dengan kebaikan Dari Abu Hurairah t, ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu.orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah I membalas dengan setimpal”. Maka Nabi r bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”.( HR. Bukhari, kitab Al-Wakalah, no. 2305) Dari Jabir bin Abdullah t ia berkata: “Aku mendatangi Nabi r di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh, no. 2394) [4]. Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah berbuat zhalim dan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti: a). Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar b). Berhutang untuk sekedar bersenang-senang c). Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi. d). Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya.

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Nabi r bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah I akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah I akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh, no. 2387) Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang, karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas. Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya, sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya, ketika seseorang bertekad pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik, maka Allah I membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. Allah I melelahkan badannya dalam mencari, tetapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi? [5]. Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya, membeli, menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya. Dasarnya adalah sabda Nabi: “Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.” (HR. Abu Daud no.3504, At-Tirmidzi no.1234, AnNasa’I VII/288. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”). Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan. [6]. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman. Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan. Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. [7]. Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan. Rasulullah r bersabda: “Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya”. (HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’, dan selainnya). [8]. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas hutangnya atau pengurangan, dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya. Dari Jabir bin Abdullah t, ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, akan tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Nabi r meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau. Beliau r berkata, “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku.” (Maka) akupun melakukannya. Beliau r

pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR. Bukhari kitab Al-Istiqradh, no. 2405). [9]. Bersegera melunasi hutang Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Sebab orang yang menundamenunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. Sebagaimana sabda Nabi r: “Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezhaliman”. (HR. Bukhari no. 2400, akan tetapi lafazhnya dikeluarkan oleh Abu Dawud, kitab Al-Aqdhiah, no. 3628 dan Ibnu Majah, bab Al-Habs fiddin wal Mulazamah, no. 2427). Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, ia berkata, telah bersabda Rasulullah r: “Sekalipun aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari, kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang”. (HR Bukhari no. 2390) [10]. Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo. Allah I berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280). Diriwayatkan dari Abul Yusr, seorang sahabat Nabi, ia berkata, Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat, pent), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya.” (Shahih Ibnu Majah no. 1963) Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang piutang. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang lapang, halal dan berkah, serta terbebas dari lilitan hutang. Amin. [Sumber: Majalah PENGUSAHA MUSLIM, Edisi, Tanggal 15 November 2010]

O
BAHAYA HUTANG
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIEM. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tiada rasa permusuhan kecuali atas orang-orang yang zhalim. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam. Wa ba’du: Ketika kebanyakan manusia mulai lupa atau melupakan kadar bahaya yang timbul karena hutang, bahkan mereka mempermudah perkaranya hingga terkadang menghantarkannya ke sel penjara atau menjual seluruh hak miliknya untuk melunasi hutang-hutangnya. Bertolak dari hal tersebut, saya tergerak untuk menulis artikel ini guna mengulas masalah hutang, efek-efek bahayanya dunia akhirat. Karena hal itu bukan berhenti hingga di ruang bui atau habisnya harta benda untuk menutupinya tetapi lebih dari itu akan menimbulkan rasa penyesalan mendalam pada hari kiamat. Alangkah besar penyesalan seorang hamba yang mengambil harta orang lain dan tidak mengembalikannya. Sungguh hal itu melebihi kehinaan di dunia yang selalu menunggu untuk dibayar dan dilunaskan pada hari tersebut. Yaitu suatu hari orang yang pailit datang dengan kefakiran, kelemahan dan kehinaannya. Ia tidak mampu melunasi hutangnya dan tidak pula mengemukakan uzurnya. Maka pada saat itu, diambillah (pahala) amal-amalnya yang dengan susah payah ia kumpulkan dengan menghabiskan usianya lalu berpindah ke tangan orang-orang yang menuntutnya sebagai ganti harta yang belum dikembalikan. Belumkah kalian mendengar hadits Nabi r tentang orang yang muflis (pailit)? Demikian pula dalam hadits lain beliau r bersabda: “Sungguh janganlah kamu mati dengan meninggalkan hutang. Karena hal itu –taruhannya- adalah kebaikan dan keburukan. Pada saat nanti tiada lagi dinar dan dirham dan Allah tidak akan men-zhalimi seorangpun”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih) Oleh karena itu, hendaknya seseorang itu selalu berpikir agar catatannya bersih dari bentuk kezhaliman terhadap temannya, terutama masalah hutang yang dia anggap remeh tapi amat besar di sisi Allah. Jika telah jelas kadar bahaya dan efek yang ditimbulkan hutang, maka ikutilah wasiat-wasiat berikut ini: Setiap orang harus merasa besar efek yang diwariskan hutang dan adanya hadits yang amat keras dalam perkara ini, karena hutang disamakan dengan kekafiran dalam balasannya. Dari Abi Sa’id Al-Khudriy ia berkata, saya mendengar Rasul r bersabda: “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan lilitan hutang”. Maka ada salah seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apakah sama antara kekafiran dengan lilitan hutang?” Beliau menjawab: “Ya”. (HR. Nasa-i tapi dilemahkan oleh Al-Albani)

Hutang merupakan bendera kelemahan dan kehinaan. Allah menghinakan seseorang dengannya. Olah karenanya, jika Allah menginginkan kehinaan seorang hambaNya, maka Allah lilitkan hutang kepadanya. Dari Ibnu Umar, Nabi r bersabda: “Hutang adalah bendera milik Allah di atas bumi, jika Dia menghendaki kehinaan seorang hambaNya maka ditaruhlah –hutang tersebut- di lehernya”. (HR. Hakim) Bebas dari hutang mendatangkan kebahagiaan, kebebasan dan ketenangan. Dari Ibnu Umar ia berkata, saya mendengar Rasulullah memberi wasiat kepada seseorang dengan ucapan beliau: “Minimalkan (kurangilah) dosamu niscaya akan memudahkan kematianmu dan minimalkanlah hutang niscaya kamu hidup bebas tanpa ikatan”. (HR. Baihaqi) Bertolak dari seringnya Nabi r memohon perlindungan diri dari hutang mendorong seorang sahabat menanyakannya. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya jika seseorang berhutang maka dia akan berdusta saat berbicara dan tidak menepati janjinya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Sebab biasanya hutang menjadi penyebab yang menghantarkan seseorang berbohong dan tidak menepati janjinya. Maka dari itu, sebaiknya orang yang tertimpa hutang atau yang amat menghawatirkan dirinya terlilit hutang memperbanyak doa berikut ini: ((Allaahumma Anta taksyiful maghrami wal ma’tsami faksyifhu ‘annii. Allaahumma innii a’uudzubika minal ma’tsami wal maghram = Ya Allah Engkau Maha menyingkapkan (mengenyahkan) hutang dan dosa, maka singkapkanlah dari diri hamba. Ya Allah, hamba memohon perlindungan diri dari terpaan dosa dan lilitan hutang)). Ketidak tahuan manusia akan dampak buruk sebab hutang menjadikan mereka amat mengandalkannya bahkan dalam masalah yang paling sepele sekalipun. Jika mereka tahu haditshadits Nabi yang amat keras dalam hal hutang niscaya mereka tidak berani melakukannya. Sungguh telah termaktub dalam berbagai riwayat bahwa Nabi r menolak untuk men-shalatkan orang mati yang meninggalkan hutang. Di antaranya suatu ketika didatangkan seorang mayit agar beliau berkenan men-shalatkannya, tapi beliau berkata: “Shalatkanlah teman kalian karena sesungguhnya dia memiliki tanggungan hutang”. (HR, Tirmidzi, beliau berkata, hadits ini adalah hasan shahih). Hal ini terjadi di permulaan Islam, setelah Allah memenangkan RasulNya maka beliau bersabda: “Saya lebih berhak terhadap setiap mukmin dari dirinya sendiri, siapa saja yang meninggalkan hutang maka saya yang menanggungnya sedangkan yang meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya”. Oleh karena itu, setiap orang yang meninggal dunia dan belum melunasi hutangnya maka pelunasannya akan diambilkan dari pahala-pahala amal kebajikannya. Demikian pula keterangan akan kerasnya peringatan mengenai hutang adalah seseorang yang mati syahid tidak boleh memasuki surga jika belum melunasi hutangnya. Dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy ia berkata: “suatu saat Nabi r duduk sedangkan jenazah ditaruh (di liang lahat). Maka beliau memandang ke langit lalu menurunkannya dan terus meletakkan tangan ke kening beliau sambil berkata: “Subhaanalllaah, subhaanallaah. Attasydid telah diturunkan”. Muhammad berkata: Kami tahu lalu diam hingga datang hari besoknya saya tanyakan kepada beliau: “Apa tasydid yang telah diturunkan, ya Rasul?” Beliau menjawab: “Mengenai hutang. Demi Dzat yang menguasai diriku jika seseorang terbunuh fi sabilillah (mati syahid) lalu hidup kemudian terbunuh lalu hidup kemudian terbunuh lagi sedangkan dia memiliki tanggungan hutang maka tidak bisa masuk surga hingga terselesaikan hutangnya”. Dalam Shahih Muslim disebutkan: “Allah mengampuni segala dosa orang yang mati syahid kecuali hutang”.

Sedangkan dalam Musnad Imam Ahmad termaktub: “Sesungguhnya teman kalian tertahan di pintu surga sebab hutangnya (yang belum terlunaskan)”, dari hadits Samurah. Sungguh tidak berhutang dan lebih mengutamakan selamat itu jauh lebih baik daripada mengambil hutang yang menyibukkannya. Sehingga ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membayarnya di waktu mendatang. Padahal karena hal itu, seseorang dapat terpelanting masuk neraka. Sebab pahala-pahalanya diambil dan diberikan kepada orang-orang yang mengutanginya. Jika tidak cukup, maka dosa-dosa mereka ditimpakan kepadanya. Sebagian orang sampai kepada kondisi bahwa ia berhutang untuk liburan ke luar negeri hingga akhirnya keberatan dalam melunasinya. Hal itu, terjadi karena ketidak tahuannya akan bahaya hutang dan mengikuti orangorang kaya. Maka dia terjerembab kepada hal yang amat dibenci Allah yaitu orang miskin yang sombong serta berlari dari celaan keluarga. Imam Khathabi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud sebuah hadits marfu’: “Akan datang suatu masa bahwa seseorang binasa ditangan isterinya, orang tua dan anaknya. Maka mereka mencelanya dengan kefakiran dan membebaninya dengan sesuatu di luar kemampuannya lalu dia memasuki pintu-pintu yang melenyapkan diennya hingga akhirnya dia hancur dan binasa”. Sesungguhnya banyak hutang dapat mendatangkan kefakiran dan hilangnya keberkahan dari harta yang ada serta mengingatkan kepada kehancuran dan kerugian. Sebagian orang ada yang bergaji jutaan rupiah, tapi dia tetap mengeluhkan lilitan hutang. Hal ini merupakan hasil dari jeleknya menejemen keuangannya dan menjatuhkan dirinya ke lembah perkreditan dalam membeli barang-barang mewahnya. Maka tambal sulamnya semakin lebar, hingga akhirnya menyulitkan hidupnya dalam jangka yang lama dengan income yang tidak seimbang dengan tuntutan-tuntutan dari pihak pengutang. Ini tiada lain kecuali sebab ifrath (tindakan berlebihlebihan) nya. Padahal Allah telah berfirman: “ Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (amat pelit) dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya (amat royal tanpa perhitungan). Karena itu akan menjadikanmu tercela dan menyesal“ (QS. Al-Isra’: 29) dan “ Dan orang-orang yang jika membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir “ (QS: Al-Furqan: 67). Sedangkan dalam hadits disebutkan: “Tidak akan jatuh miskin orang yang bertindak sederhana (tindakan tengah-tengah antara kikir dan berlebih-lebihan)” . Sesungguhnya meminjam dengan niat tidak mengembalikannya adalah termasuk tindakan khianat dan pencurian. Nabi r bersabda: “Siapa saja yang menikahi seorang wanita dengan suatu mahar padahal ia berniat tidak ingin memberikannya maka ia adalah pe-zina. Dan siapa saja yang berhutang sedangkan ia berniat untuk tidak mengembalikannya maka ia termasuk pencuri”. Dalam riwayat Thabrani: “Ia akan bertemu Allah sebagai pencuri”. Dalam riwayat lain: “Ia mati saat kematiannya sebagai penghianat sedangkan penghianat (tempat kembalinya) di neraka”. (HR. Thabrani). Dalam kesempatan yang lain Nabi bersabda:”Siapa saja yang mengambil harta kawannya dengan niat membayarnya maka Allah akan menunaikan untuknya (memudahkannya) dan siapa saja yang mengambilnya dengan niat merusakkannya maka Allah akan menghancurkannya”. (HR. Bukhari) Pemberi hutang yang menolong kawannya akan dilindungi Allah. Seperti keterangan sebuah hadits dari Anas, Nabi r bersabda: “Saat diriku di-isra’kan saya melihat catatan di pintu surga, sedekah itu dengan sepuluh kalinya sedangkan pinjaman dengan delapan belas. Maka saya

tanyakan kepada Jibril, bagaimana mungkin pinjaman itu lebih baik daripada sedekah. Maka dia menjawab: Karena orang yang meminta itu –biasanya- saat meminta dia masih punya sesuatu sedangkan orang yang meminjam –biasanya- tidak meminjam kecuali terdesak kebutuhan”. (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain: “Siapa saja yang meringankan peminjamnya atau membebaskannya –dari pelunasan hutang- maka akan berada di bawah naungan ‘Arsy Allah pada hari kiamat”. Allah berfirman: “ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka tangguhkanlah sampai dia berkelapangan (mampu membayarnya), dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui“. (QS: Al-Baqarah: 280) Siapa saja yang mengambil harta kawannya (meminjamnya) lalu mati dan tidak meninggalkan sesuatu untuk menggantinya maka sungguh ia telah membuka pintu dosa besar. Nabi r bersabda: “Sesungguhnya dosa terbesar di sisi Allah setelah dosa-dosa besar yang terlarang adalah seseorang yang mati dengan tanggungan hutang tanpa meninggalkan sesuatu untuk melunasinya”. (HR. Abu Daud dari Abi Musa Al-Asy’ari) Sesungguhnya hutang itu adalah kesusahan pada malam hari dan kehinaan pada siang hari. Barang siapa yang merasa bahwa hutang itu adalah suatu bentuk kehinaan bagi seseorang niscaya ia tidak berani melakukannya. Dalam hadits: “Kemuliaan seorang mukmin adalah (tergantung pada) shalatnya di malam hari sedangkan kehormatannya adalah merasa cukup dari (pertolongan) manusia”. Sedangkan Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Kabsyah Al-Anmari: “Seorang hamba tidak membuka pintu permintaan kecuali Allah membukakan pintu kefakiran untuknya”. (Hasan Shahih) Janganlah suka meniru. Dengan melihat si fulan membuka suatu usaha dan berhasil, lalu yang lain ramai-ramai mengikutinya dengan meminjam uang yang amat banyak. Kemudian terjun ke bidang tersebut dan ingin dalam sehari semalam menjadi seorang tajir yang berhasil. Kenapa saudara terjun ke bidang yang terkadang mendatangkan kebangkrutan yang pada akhirnya hanya memperbesar jumlah hutang yang tidak terlunasi. Jangan bertindak membabi buta dalam hal yang di luar kemampuan saudara, karena keselamatan diri saudara di atas segala-segalanya. Maka dari itu, janganlah mengambil hutang sehingga saudara menimbangnya masak-masak. Pikirkan terlebih dahulu jalan keluar darinya jika ternyata saudara bangkrut, bagaimana cara melunasinya (ada jaminan yang bisa diandalkan atau tidak). Hindarilah hutang semampu saudara, karena sang maut datang tanpa permisi. Sederhanakan kebutuhan belanja saudara dan jangan berlebih-lebihan hingga tidak menyesal nantinya. Saudara –semoga Allah merahmatimu- ketahuilah, bahwa jika saudara terlilit hutang maka jadikanlah pikiran utamamu adalah melunasinya. Seperti ungkapan, setiap orang yang selalu memikirkan hutangnya maka dia melunasinya dan berusaha untuk menguranginya. Karena ada sebagian orang yang berhutang tanpa pikiran untuk melunasinya, maka akan kita dapati dia selalu berhutang setiap bulan tanpa menghiraukan berapa besarnya. Saat ditagih, dia mulai menutup-nutupinya dan jika sudah tiba waktu pelunasannya maka dia meminta tambahan tenggang waktu bahkan terkadang dia marah jika ditagih. Sebagian yang lain ada yang memecahkan masalah hutangnya dengan hutang yang lain (gali lobang tutup lobang). Maka dia seperti orang yang bangkit dari sebuah liang lalu jatuh terjerembab di sebuah lobang yang lebih besar. Dia membeli mobil dengan kredit lalu dia jual dengan kontan. Padahal masalah ini

mengandung unsur riba seperti fatwa sebagian ulama, utamanya bagi orang yang bertujuan untuk mendapatkan harta dengan cash. Janganlah saudara berhutang kecuali dalam keadaan terjepit dan darurat. Tahukah saudara arti darurat? Yaitu sesuatu yang –jika tidak dilakukan- menyebabkan kerusakan dunia dan akhirat. Contohnya mengakhirkan nikah, padahal dia hawatir jatuh ke lembah perzinaan. Dalam hadits diterangkan: “Ada tiga kelompok yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, diantaranya adalah: orang yang ingin menikah”. Termasuk wasiat yang berharga adalah: menepati janni, tidak mengulur-ulur waktu yang telah disepakati, tidak memakan harta orang lain, tidak mengingkari hutang. Karena sebagian orang yang meminjam sejumlah uang mendatangi saudara dalam keadaan amat sopan, tahu diri dan berpura-pura takwa dan dapat dipercaya. Lalu meminta pinjaman dari saudara sejumlah uang, padahal saudara amat membutuhkannya entah pada hari itu atau besoknya. Kemudian dia menyanjung saudara atau dengan mengatas namakan orang yang sulit untuk ditolak. Setelah itu saudara kabulkan permintaannya tanpa saksi dan atau catatan resmi karena rasa malu. Padahal Allah menyuruh kita untuk selalu mencatat hutang yang berjangka. Perintah itu adalah sunnah. Setelah itu, dia mengambil pinjaman lalu pergi seusai berterima kasih. Kemudian saudara tidak pernah melihatnya lagi. Setelah itu saudara mencarinya untuk menagihnya karena telah habis tenggang waktunya. Padahal kebutuhan saudara amat memerlukan uang tersebut. Sedangkan dia selalu menghindar jika ketemu saudara. Hingga saudara terdesak untuk mendatangi rumahnya dan mengetuk pintunya, tapi jawaban yang saudara dapati ialah, ia tidak ada atau sedang tidur atau sedang keluar kota. Pada akhirnya saudara mencari solusi dan perantara melalui temanteman yang lain. Saat ketemu saudara, dia malah berkata: Saudara, tagihan macam apa ini, hingga saya sangat terganggu dan amat malu, apakah saudara takut saya tidak akan membayarnya? Jika dia orang baik-baik, maka dia akan membayar hutangnya kepada saudara tapi dengan sedikit demi sedkit. Hal ini akan menjadikan saudara tidak senang, harta saudara berbalik menjadi fitnah untuk diri saudara dan hilang waktu saudara yang amat berguna hanya untuk menagih hutang tersebut. Saudara tidak dapat memanfaatkan harta saudara sedikitpun karena dia mengembalikannya sedikit demi sedikit. Jika dia bukan orang baik-baik, maka dia akan memakan seluruh harta saudara dan setiap bertemu saudara dia akan berkata: Saya tidak memiliki tanggungan apa pun dari saudara, silakan saudara melapor ke pengadilan. Karena dia tahu bahwa saudara tidak memiliki tanda bukti hitam di atas putih ataupun saksi. Kalaupun saudara memiliki tanda bukti, apakah saudara sabar menghadapi orang yang mengambil hutang seperti ini? Sesungguhnya lenyapnya harta itu lebih mudah daripada mendatangkan tanda bukti dan atau saksi. Wahai orang-orang yang suka memberi pinjaman, waspadalah..karena kebaikan itu hanya dibalas dengan kebaikan pula. Akhirnya, saya berdoa kepada Allah agar berkenan memberikan taufiq kepada kita dalam menghindari jeratan hutang yang akhirnya kita tak mampu menyelesaikannya di dunia. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga dan para sahabatnya. Amien (ABU NABIEL AM. AFANDI) sumber : http://www.nouralislam.org/indonesian/indofiles/fiqh/bahaya.htm

Akibat Orang Yang Enggan Membayar Hutangnya
Posted by : anton fariska Selasa, 30 April 2013

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Risalah kali ini adalah lanjutan dari risalah sebelumnya. Pada risalah sebelumnya, kami telah menjelaskan mengenai keutamaan orang yang memberi pinjaman, keutamaan memberi tenggang waktu pelunasan dan keutamaan orang yang membebaskan sebagian atau keseluruhan hutangnya. Pada risalah kali ini agar terjadi keseimbangan pembahasan, kami akan menjelaskan beberapa hal mengenai bahaya orang yang enggan melunasi hutangnya. Semoga bermanfaat. Keutamaan Orang yang Terbebas dari Hutang Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‫ْن‬ ِ ‫دﯾ‬ ‫واﻟ ﱠ‬ َ ِ‫واﻟْﻐُﻠ ُول‬ َ ‫ْر‬ ِ ‫ﻛﺑ‬ ِ ْ‫ﻧﱠﺔ ﻣِنَ اﻟ‬ َ َ‫ث دَﺧَ ل َ اﻟْﺟ‬ ٍ َ ‫ء ﻣِنْ ﺛَﻼ‬ ٌ ‫َرى‬ ِ ‫ُو ﺑ‬ َ ‫وھ‬ َ ‫د‬ َ َ‫ح اﻟْﺟَ ﺳ‬ ُ ‫ﻣَنْ ﻓَﺎرَ قَ ا ﻟرﱡو‬ “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.” Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ٌ‫ﮫ ﻟ َﯾْسَ ﺛَمﱠ دِﯾﻧَﺎرٌ وَ ﻻ َ دِرْ ھَم‬ ِ ِ‫َو دِرْ ھَمٌ ﻗ ُﺿِ ﻰَ ﻣِنْ ﺣَ ﺳَ ﻧَﺎﺗ‬ ْ ‫ﮫ دِﯾﻧَﺎرٌ أ‬ ِ ‫وﻋَﻠ َ ْﯾ‬ َ َ‫ﻣَنْ ﻣَﺎت‬ “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu

Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.” Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut. Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‫ﮫ‬ ُ ْ‫ﮫ ﺣَ ﺗﱠﻰ ﯾُﻘْ ﺿَﻰ ﻋَ ﻧ‬ ِ ِ‫د ْﯾﻧ‬ َ ِ ‫ﱠﻘَﺔ ﺑ‬ ٌ ‫ِن ﻣُﻌَ ﻠ‬ ِ ‫ُؤﻣ‬ ْ ‫ﻧَﻔْسُ اﻟْﻣ‬ “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi) Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142) Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‫ﺎرﻗًﺎ‬ ِ َ‫ﷲ َ ﺳ‬ ‫ﮫ إ ِ ﯾﱠﺎه ُ ﻟ َﻘِﻰَ ﱠ‬ ُ ‫ُوﻓ ﱢ َﯾ‬ َ ‫ُو ﻣُﺟْ ﻣِﻊٌ أ َنْ ﻻ َ ﯾ‬ َ ‫وھ‬ َ ‫دﯾْﻧًﺎ‬ َ ُ‫دﯾﱠن‬ َ ‫أ َ ﱡﯾﻣَﺎ رَ ﺟُ لٍ َﯾ‬ “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih) Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181) Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya.” Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َ ‫وال‬ َ ْ‫ﻣَنْ أ َﺧَ َذ أ َﻣ‬ ُ‫ﷲ‬ ‫ﮫ ﱠ‬ ُ َ‫د إ ِﺗْﻼ َﻓَ ﮭَﺎ أ َﺗْ ﻠ َﻔ‬ ُ ‫ُرﯾ‬ ِ ‫اﻟﻧﱠﺎس ﯾ‬ ِ “Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411). Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya. Masih Ada Hutang, Enggan Disholati Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut. Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.

Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289) Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َ‫دﯾْن‬ ‫ب إ ِﻻ ﱠ اﻟ ﱠ‬ ٍ ْ‫د ﻛُل ﱡ ذَ ﻧ‬ ِ ‫ﯾُﻐْ ﻔَرُ ﻟِﻠﺷﱠﮭِﯾ‬ “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886) Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya pada Bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ُ ‫وﯾَﻘ ُول‬ َ ‫ة‬ ِ َ ‫«ﺎنَ ﯾَدْ ﻋُو ﻓِﻰ اﻟﺻﱠ ﻼ‬ َ‫ْﺛَم وَ اﻟ ْﻣَﻐْ رَ ِم ﻛ‬ ِ ‫ك ﻣِنَ اﻟْ ﻣَﺄ‬ َ ِ ‫اﻟﻠ ﱠﮭُمﱠ إ ِﻧﱢﻰ أ َﻋُوذُ ﺑ‬ » . َ‫ﷲِ ﻣِن‬ ‫ﮫ ﻗَﺎﺋِل ٌ ﻣَﺎ أ َﻛْ ﺛَرَ ﻣَﺎ ﺗَﺳْ ﺗَ ﻌِﯾذُ ﯾَﺎ رَ ﺳُول َ ﱠ‬ ُ َ ‫ﻓَﻘَﺎل َ ﻟ‬ َ ‫د « اﻟْ ﻣَﻐْ رَ ِم ﻗَﺎل‬ ‫إ ِنﱠ اﻟرﱠ ﺟُ ل َ إ َِذا ﻏَ ِرمَ ﺣَ ﱠ‬ َ‫د ﻓَﺄ َﺧْ ﻠ َف‬ َ َ‫وﻋ‬ َ‫و‬ َ َ‫ﻓَﻛَذب‬ َ َ‫ » ث‬. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397) Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Ibnu Baththol, 12/37) Adapun hutang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang: Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut. Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya. Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya. Orang-orang semacam inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. (Syarh Ibnu Baththol, 12/38)

Itulah sikap jelek orang yang berhutang sering berbohong dan berdusta. Semoga kita dijauhkan dari sikap jelek ini. Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat? Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.” Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang). Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah. َ ‫ھﻠِﮭَﺎ ﻻ‬ ْ َ ‫دﯾْﻧًﺎ ﻓَﻘَﺎل َ ﻟ َﮭَﺎ ﺑَﻌْ ضُ أ‬ َ ُ‫دان‬ ‫وﺧَ ﻠِﯾﻠ ِﻰﻛَ ﺎﻧَتْ ﺗَ ﱠ‬ َ ‫ك ﻋَﻠ َ ْﯾﮭَﺎ ﻗَﺎﻟ َتْ ﺑَﻠ َﻰ إ ِﻧﱢﻰ ﺳَ ﻣِﻌْ تُ ﻧَﺑ ِ ﯾﱢﻰ‬ َ ِ‫ﺗَﻔْﻌَ ﻠِﻰ وَ أ َﻧْﻛَرَ َذﻟ‬ -‫ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﯾﮫ وﺳﻠم‬ُ ‫«َﻘ ُول‬ ‫د ﯾ‬ ‫ﮫ ﻓِﻰ اﻟ ﱡ‬ ُ ْ‫ﷲ ُ ﻋَ ﻧ‬ ‫داه ُ ﱠ‬ ‫داءَ ه ُ إ ِﻻ ﱠ أ َ ﱠ‬ ََ‫دأ‬ ُ ‫ﮫ ﯾ ُِرﯾ‬ ُ ‫ﮫ أ َﻧﱠ‬ ُ ْ‫ﷲ ُ ﻣِﻧ‬ ‫دﯾْﻧًﺎ ﯾَﻌْ ﻠ َمُ ﱠ‬ َ ُ‫ُﺳان‬ ‫د‬ ‫ِنْﻠ ٍِمﻣ َﯾ ﱠ‬ ْ ‫» ﻧْ ﯾَﺎ ﻣَﺎ ﻣ‬. Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih kecuali kalimat fid dunya -di dunia-) Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas. Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ُ‫ﷲ‬ ‫ﮫ ﻣَﺎ ﻟ َمْ ﯾَﻛُنْ ﻓِﯾﻣَﺎ ﯾَﻛْرَ ه ُ ﱠ‬ ُ َ‫دﯾْﻧ‬ َ َ‫ِن ﺣَ ﺗﱠﻰ ﯾَﻘْﺿِ ﻰ‬ ِ ‫ﷲ َ ﻣَﻊَ اﻟدﱠاﺋ‬ ‫إ ِنﱠ ﱠ‬ “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih) Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ً‫ﺧﯾَﺎرَ ﻛُمْ أ َﺣْ ﺳَ ﻧُﻛُمْ ﻗ َﺿَ ﺎء‬ ِ ‫إ ِنﱠ‬ “Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393) Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Dari artikel 'Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Hutangnya — Muslim.Or.Id' Sumber : http://antonfariska.blogspot.com/2013/04/akibat-orang-yang-enggan-membayar.html

AKIBAT MELAMBATKAN PEMBAYARAN HUTANG
22 08 2007 Sidang jumaat yang di rahmati Allah, Marilah kita sama-sama mempertingkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah S.W.T dengan menjunjung segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kehidupan di zaman moden ini, banyak membawa cabaran kepada umat Islam bagi memenuhi keperluan hidup. Terdapat di kalangan mereka yang menghabiskan umurnya, mencari rezeki siang dan malam semata-mata untuk memenuhi tuntutan nafsunya. Di samping itu terdapat juga di kalangan mereka yang sanggup berhutang di sana sini, ibarat kata pepatah: “Berhutang sekeliling pinggang” untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia. Dalam Islam berhutang memang di haruskan. Islam memberi galakan kepada umatnya, agar memberi bantuan kepada saudara-saudaranya, lebih-lebih lagi dalam hal keperluan asasi. Umpamanya perkara-perkara yang berkaitan dengan makan dan minum, tempat tinggal, pelajaran dan sebagainya. Sebagaimana dalam sebuah hadis :Maksudnya : [Daripada Abu Hurairah ( r.a ) berkata seseorang , Ya Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik? beliau bersabda : "memasukkan kepada saudara kamu kegembiraan atau melunaskan hutangnya atau memberi roti (makanan) kepadanya]. Hadis ini menerangkan antara pekerjaan yang paling baik ialah menolong menjelaskan hutang seseorang. Persoalan sekarang ialah sebahagian orang Islam sengaja melambatlambatkan membayar hutang apabila tiba waktu hendak membayarnya. Berbagai-bagai alasan akan di berikan untuk mengelak atau menangguhkan pembayaran hutang tersebut. Sesungguhnya melambat-lambatkan bayaran hutang, amatlah besar sekali akibatnya dalam kehidupan manusia, bukan sahaja di dunia, bahkan juga di akhirat. Antaranya:

1. Mereka akan ditimpa kehinaan dan hilang maruahnya. 2. Hidup mereka tidak mendapat keredhaan Allah. 3. Mereka di golongkan dalam perbuatan zalim. 4. Amalan kebajikan mereka tidak diberkati. Apabila seseorang itu berhutang, bermakna dia mula meletakkan belenggu di batang lehernya, dan belenggu itu tidak dapat dilaksanakan, kecuali hutang tersebut dijelaskan. Kalau tidak sempat dijelaskan, hutang itu akan terus di bawa sampai ke hari pengadilan di akhirat. Yang mana ketika itu tiada lagi pembayaran dengan ringgit atau dolar, tetapi pembayaran dengan amalan-amalan kebajikannya. Bagaimana kalau tidak ada amalan kebajikan?, kita akan dihumban ke dalam api neraka. Demikianlah akibat tidak menjelaskan hutang. Oleh yang demikian, Islam menganjurkan antara perkara yang wajib di segerakan di atas dunia ini, selain dari jenazah hendaklah segera dikebumikan, dan anak perempuan yang dipinang orang hendaklah segera dikahwinkan, maka hutang-piutang hendaklah segera dibayar atau dilangsaikan, untuk mengelakkan terabai membayarnya. Sidang jumaat yang di rahmati Allah, Cuba kita insafi bersama-sama, kalau kita membuka gerai runcit dan memberi hutang kepada pelanggan-pelanggan kita, tiba-tiba pelanggan kita tidak membayar hutang pada waktunya, sudah tentu kita menghadapi kerumitan untuk meneruskan perniagaan. Kemungkinan terpaksa menutup perniagaan kita. Begitu juga seseorang yang melanjutkan pelajaran melalui pinjaman, dan telah mengikut perjanjian membayar balik bila tiba masanya, tetapi kita mengabaikan perjanjian tersebut, sudah tentu pihak yang memberi pinjaman sukar meneruskan perkhidmatan seperti itu, kepada generasi yang berikutnya. Bukankah perbuatan itu menyekat pembangunan masyarakat dan kemajuan negara?. Mereka termasuk dalam golongan mereka yang mungkir janji, iaitu satu daripada sifat orang munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud : ” Tanda orang-orang munafik itu ada tiga” :1. Apabila bercakap dia dusta 2. Apabila berjanji dia mungkir janji 3. Apabila diamanahkan dia khianat. Tegasnya, orang yang dusta, mungkir janji dan pecah amanah adalah tergolong dalam kumpulan orang yang dikutuk oleh Allah dan boleh menjejaskan kemajuan sesuatu masyarakat dan negara . Sidang jumaat yang di rahmati Allah ,

Islam sangat mengambil berat dalam soal pembayaran hutang, dalam ertikata lain , hutang adalah merupakan satu syarat untuk mendapat keredhaan Allah. Seseorang yang berhutang, hendaklah berniat dalam hatinya untuk menunaikan hutang tersebut, kerana Allah akan memudahkan baginya bila dia hendak menunaikannya. Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud : [Semua dosa-dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya]. Sabdanya lagi : [Dan barangsiapa yang berhutang, kemudian ia berniat tidak akan membayar hutangnya, lalu ia mati, maka Allah akan bertanya di hari kiamat: " Apakah kamu mengira bahawa aku tidak akan menuntut hak hambaku?, maka di ambillah amal kebaikan orang itu, dan di berikan pada orang yang memberi hutang, dan jika tidak mempunyai amal kebaikan, maka dosa-dosa orang yang memberi hutang itu, di berikan pada orang-orang yang berhutang]. Muslimin yang di rahmati Allah, Rasulullah S.A.W. mengingatkan kita bahawa orang yang berhutang terikat dengan pembayaran. Dia mesti menjelaskan hutangnya semasa di dunia, kerana apabila dia dah mati dan dia masih lagi menanggung hutang, maka rohnya akan tergantung sehinggalah dijelaskan hutang tersebut. Sepertimana sabda Rasulullah S.A.W : [Jiwa orang-orang mukmin tergantung dengan hutangnya (iaitu tidak di hukum kepadanya selamat atau celaka) sehinggalah dia menjelaskan hutangnya]. Abu Said R.a berkata : “Telah di bawa kepada Rasulullah S.A.W jenazah untuk disembahyangkan, lalu Nabi bertanya: Apakah mayat ini masih menanggung hutang?, Sahabat menjawab: Ya, Nabi bertanya: “Apakah ia ada meninggalkan harta untuk membayarnya?, jawab Sahabat: Tidak. Nabi bersabda : “Sembahyanglah kamu kepada kawanmu itu, Nabi sendiri tidak ikut menyembahyangkannya. Kemudian Ali Bin Talib berkata: “Biarlah saya yang membayar hutangnya”. Sesudah itu, Nabi segera maju menyembahyangkannya, lalu ia berkata kepada Ali, Semoga Allah membebaskan tanggunganmu (dirimu) dari api neraka, sebagaimana kamu membebaskan tanggungan saudara yang muslim itu. Tidaklah seorang Muslim yang membayar hutang saudaranya, melainkan Allah akan membebaskan tanggungannya (dirinya) dari api neraka pada hari kiamat kelak. Bayangkanlah jika seseorang itu berhutang dengan badan-badan yang berkaitan dengan orang ramai, umpamanya pihak kerajaan, koperasi, bank dan tabung kebajikan dan sebagainya, maka sudah pasti urusan hutang tersebut sangat rumit untuk di selesaikan, apabila tiba di hari akhirat nanti, kerana dia melibatkan banyak pihak. Apalah ertinya kita menyuapkan kemewahan kepada anak isteri kita, sedangkan pada masa yang sama kita menipu orang lain dengan memungkiri perjanjian kita. Allah S.W.T. berfirman : [Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah serta sempurnakanlah perjanjian-perjanjian].

(Surah Al-Maidah ayat :1) Mematuhi perjanjian, sangat penting dan wajib di dalam Islam, tetapi banyak berlaku mungkir janji dan pecah amanah, di mana apa yang tersebut di dalam perjanjian tidak dilaksanakan. Oleh itu seseorang yang berhutang janganlah menangguhkan bayaran, apabila mempunyai peluang untuk membayarnya. Perbuatan tersebut, adalah tergolong dalam perbuatan orang yang zalim dan dia berhak mendapat hukuman Allah di atas perbuatannya. Sabda Rasulullah S.A.W. : Maksudnya : [Penangguhan (hutang) oleh orang yang berkuasa membayar, adalah satu kezaliman, halallah maruahnya dan jika hukuman ke atasnya (iaitu pemberi hutang) boleh mengambil tindakan ke atasnya dan maruahnya]. Sidang jumaat yang di rahmati Allah sekalian, Lihatlah, betapa besarnya bahaya yang di bawa oleh hutang, melenyapkan kebaikan dan mengheret kita ke neraka. Oleh itu sebagai orang Islam kita mestilah sedaya-upaya menjauhi perbuatan tersebut dengan menyegerakan membayar hutang yang telah kita lakukan atau yang telah kita janjikan pembayarannya. Janganlah kita fikir bahawa kita bijak kerana berjaya menyembunyikan hutang kita, tetapi ingatlah sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang tersembunyi. Kita mesti mempunyai sifat bersyukur kepada Allah S.W.T dengan apa yang ada pada kita, dan melaksanakan sifat amanah dan tanggungjawab agar kita dilindungi dari bahaya di dunia dan di akhirat akibat hutang kita. Biarlah hendaknya kita kembali menemui Allah S.W.T dengan hati yang aman damai, selamat sejahtera, tiada sebarang sangkutan di dunia ini yang perlu di selesaikan. [Dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh, merekalah ahli-ahli syurga mereka kekal di dalamnya].

SUMBER : http://eirdna.wordpress.com/2007/08/22/akibat-melambatkan-pembayaran-hutang

Seputar Kita

Kadang kita melewatkan hal kecil yang akan berefek besar dalam kehidupan kita. Teruslah motivasi diri dengan terus berbagi……..Karena tanpa kita sadari setiap detik waktu kita tak akan pernah kembali, jadikan berharga, jadikan bermanfaat….
HUTANG itu….
30 November 2011 by isnanos in Artikel Islam | Permalink

Hutang akan menyebabkan seseorang itu menanggung amanah yang harus ditunaikan yaitu melunasi hutang. Jika saat hidupnya hutang tersebut belum dilunasi, maka apabila dia meninggal dunia hutang tersebut hendaklah dibayar oleh harta warisan yang ditinggalkannya sebelum dibagi-bagikannya kepada waris-warisnya. Demikianlah beratnya tuntutan Islam dalam kewajiban membayar hutang. Dari hutang perlu dijelaskan juga, Jangan sengaja tidak membayar hutang sehingga menyebabkan hutang tersebut tertahan begitu lama dengan berbagai alasan yang diberikan mengenainya sehingga kadang-kadang menyebabkan kesusahan kepada orang yang memberi hutang. Dalam keadaan-keadaan lain, hubungan kedua belah pihak menjadi tidak baik, bahkan seperti bermusuhan. Kadang-kadang penangguhan itu bukan kerana tidak mampu membayar hutang, tetapi sengaja dimundurkan. Menurut Rasulullah SAW orang yang sengaja melambatkan atau meremehkan pembayaran hutang dalam keadaan dia bisa melunasi hutangnya dengan segera adalah melakukan kezaliman. Demikian ditegaskan oleh Rasullullah SAW dalam sabdanya yang artinya: “Orang kaya yang sengaja melambatkan pembayaran hutang adalah suatu kezaliman.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, Rasulullah SAWbesabda yang artinya: “Sengaja melambatkan hutang oleh orang yang memiliki harta (untuk membayar hutang) itu dapat menghalalkan kehormatannya dan menghalalkan hukumannya. “ Maksud hadis di atas, Ibnu Hajar Al-Haitsami berpendapat bahwa orang-orang yang sengaja melengah-lengahkan pembayaran hutang sedangkan dia berkecukupan untuk melunasi menyebabkan kehormatannya bisa dirusak dengan menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Walau bagaimanapun hal yang boleh diceritakan itu hanyalah mengenai buruk perangainya kerana melengah-lengahkan hutang itu saja.

Adapun menceritakan keburukannya yang lain adalah haram hukumnya karena orang yang dizalimi itu hanya dibenarkan menceritakan kezaliman dalam perkara menangguhkan hutang saja. Dalam perkara menghalalkan hukuman padanya berarti dia boleh dihukum kanea perbautan sengaja menahan hutang. Menurut Ibnu Hajar lagi, sengaja menahan pembayaran hutang dalam keadaan berkemampuan itu adalah melakukan dosa besar. Risiko menanggung hutang itu, selain memikul tanggungjawab membayarnya, ialah bahaya yang lebih besar yang akan menimpa kepada diri si penghutang jika hutang tidak dibayar. Diantaranya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah, sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Roh seseorang mukmin itu tergantung-gantung (yakni dihalangi daripada tempat yang mulia) karena hutanngnya sehingga hutangnya itu dibayar.” Dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu umar ra Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa mati, sedangkan dia msih menanggung hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan diambilkan (ganti) dari kebaikannya, karena di sana tidak ada dinar dan tidak ada pula dirham.” (Hadis riwayat Ibnu Majah). Di antara risikonya lagi, suatu perisitiwa pernah terjadi saat Rasulullah SAW enggan mensholati jenazah apabila beliau mengetahui orang yang meninggal itu masih mempunyai tanggungan hutang. Tindakan beliau itu jelas menunukkan tentang ketidaksukaan beliau terhadap orang-orang yang berhutang. Tindakan seperti ini memberi pelajran kepada kita tentang akibat berhutang. JIka si penghutang benar-benar tidak bisa membayar hutangnya dalam jangka atau tempoh yang dijanjikan atau ditentukan, berterus-teranglah kepada pemberi utang dan berundinglah bagaimana cara yang baik dan menguntungkan keduabelah pihak untuk membayar hutangnya. Dari sini mari kita hilangkan sifat dan tabiat suka berhutang kecuali dalam perkara yang benarbenar perlu dan mendesak. Bebaskanlah diri dari hutang-hutang agar hidup dalam keadaan tenang di dunia dan di akhirat kelak

SUMBER : http://isnanos.wordpress.com/2011/11/30/hutang-dalam-islam

Cara bijak menghadapi si tukang Hutang!!!
By joetrizilo

Seperti janji saya sama bro Icaq’s untuk membuat artikel tentang sikap kita apabila ada sodara yang selalu pinjem uang. Untuk Bro Icaq’s…. artikel ini spesial buat dirimu, namun untuk sahabat, rekan, teman semua juga boleh baca dan berkomentar kok. 2. Icaq’s – Maret 14, 2011 Yg jd masalah tiap nabung digangguin sama sodara (pinjam uang) Manusia dilahirkan selain sebagai makluk individu juga sebagai makluk sosial [ini pelajaran waktu SMP]. Manusia ditakdirkan tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain [katanya kalo mau hidup sendiri hidup aja di hutan].. Manusia akan selalu hidup bersama manusia lainnya karena adanya dorongan dan kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama, tanpa adanya bantuan dari sesama [minimal orang tua sendiri] manusia tidak akan bisa berbicara, berjalan bahkan tidak akan bisa ngeblog dan berkomentar seperti saat ini. Balik ke permasalahan pinjam meminjam. Bagaimana menghadapi sodara , teman, rekan, pacar yang suka minjem uang ke kita??? apakah harus dikasih pinjem ato tidak?? kalo dikasih pinjeman yang dulu aja belum dibayar, nggak di kasih ntar dibilangin pelit!!! memang serba salah seperti buah simalakama…. Cerita seperti diatas mungkin pernah kita alami bahkan mungkin sering banget. Dulu saya selalu tak berdaya kalo sudah dihadapkan pada permasalahan klasik seperti itu [ndak tegaan], bahkan banyak pinjaman yang nyangkut karena tak tega menagih [jumlah yg nyangkut kalo dihitung lumayan banyak loh, tapi tak apa... yang lalu biarlah berlalu...]. Namun dengan bertambahnya usia serta

saya berumah tangga & punya anak istri, akhirnya ketemu juga bagaimana cara menghadapi permasalahan klasik itu dengan lebih bijak. Pertama…. Kesulitan kita, ya kita sendiri yang harus menyelesaikan Resapi kalimat di bawah ini; Siapakah yang akan merasakan kesulitan keuangan kita kalo bukan kita sendiri [kalo sudah berkeluarga anak istri juga akan ikut merasakan] Itulah kalimat yang dulu selalu saya ulang-ulang agar saya bisa menemukan arti sesungguhnya dari kalimat itu… disaat saya merokok sambil termenung munculah cahaya putih berjubah panjang… Ada apa cu??? aa.a.a.a… anu….. Mbah siapa??? ha.ha.ha.ha aku adalah….. [malah ngelantur...] “iya..ya.. seandainya saya susah pasti yang akan merasakan saya sendiri orang lain belum tentu ikut merasakan kesulitanku” jawaban dari kalimat diatas. Kedua…. Sikap ketegasan dalam diri kita sendiri. Ketegasan ini saya artikan keteguhan terhadap prinsip hidup, ketegasan ini tidak saya artikan sebagai sikap kaku terhadap orang lain. Misalnya; kita sudah mempunyai target tertentu yang harus dicapai, ya harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya. [hati ndak boleh letoi] Ketiga…. Cari tahu yang sesungguhnya kebenaran alasan si peminjam. Ini yang paling penting.. loh kok??? Orang minta bantuan kita pasti ada sebab-musababnya…. dan saya membagi sebab-musababnya menjadi 3 kategori: Emergensi, Kebutuhan dasar dan kebiasaan.
  

Emergensi…… juga bisa diartikan darurat dan tidak bisa diabaikan, harus segera diatasi secepatnya, misalnya si peminjam sedang tertimpa musibah, sakit keras dan sebagainya. Kebutuhan dasar…. Makan, pakaian dan tempat tinggal.. misalnya selama 2 hari tidak makan, diusir dari kontrakan dan lainya. Kebiasaan…. Hobynya memang pinjam uang.

Keempat… Belajar mengolah kalimat. Ambil sayur kata satu ikat, masukkan bawang merah, bawang putih, garam, gula dan jadilah sayur kata bening… ha.ha.ha…. Yang dimaksud mengolah kalimat adalah berusahalah mencari padanan kata yang bermakna sama namun lebih halus. Maksudnya apa???? begini lo, rangkailah sebuah kalimat yang tidak menyinggung perasaan orang namun maksudnya sama. masih susah dimengerti!!!! wis contohnya begini : Anak lagi malas belajar trus kita menginginkan dia tidak malas belajar.

“Cepat belajar!!! kalo tidak mau belajar nanti ayah kunci di kamar mandi!!!” dengan nada keras sedikit membentak. “Nak… ayah kok kangen sama pelajaran SD ya, ayo gantian sama ayah baca bukumu biar kangen ayah terobati….” Dua kalimat yang sama tujuannya namun mempunyai dampak psikologis berbeda karena berbeda penyampaiannya. Kelima… Lebih baik berbagi daripada menagih hutang. Salah satu kelemahan saya adalah tidak tega menagih uang yang dipinjam orang…. rasanya berat lidah ini untuk berucap… nah saya lebih suka berbagi dari pada meminjami, karena meminjami berarti uang kita masih ada tapi kalo berbagi berarti uang kita sudah tidak ada… dengan kata lain berbagi tidak akan mengharap uang kembali…. Trus…. mana cara menghadapi permasalahan klasik itu dengan lebih bijak??? Tinggal gabungkan saja 5 unsur diatas… selesai dah…. Contohnya begini :

Ada teman/keluarga yang berniat pinjam uang dengan alasan untuk biaya berobat anaknya yang sedang mengalami kecelakaan sepeda motor…. Kalo nilai pinjamnya kecil ya saya kasih aja namun kalo nilainya besar sekali melebihi kemampuan saya, ya saya kasih pinjam sesuai kemampuan saya saja. Ada teman/keluarga saya yang katanya sudah 2 hari tidak makan dan berniat pinjam uang untuk beli beras..… Saya datangi rumahnya sambil saya bawakan beras… tidak perlu pinjam karena beras 5 kilo harganya sama dengan rokok 5 bungkus yang saya bakar…. untuk alasan yang seperti ini saya lebih suka memberikan barang daripada uang. Ada teman/keluarga saya yang berniat pinjam uang dengan alasan yang macem-macem dan dianya mamang sering pinjem [hoby]…. Saya menolak permintaannya dan mencari alasan yang halus namun saya tawari dia dengan sejumlah uang yang menurut saya pantas, misalnya begini; sebelumnya saya minta maaf, bukannya tidak mau minjemi tapi uang saya sudah terlanjur saya pakai untuk indent Ducati Diavel, jadi sekali lagi maaf banget ya…. Tapi kalo mau, ini ada sedikit uang… ndak usah dibalikin… bawa aja… biasanya teman yang hobby minjem pasti mau menerima tawaran seperti ini, juga jangan lupa berilah saran supaya dia berubah dan mau berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Dan saya juga batasi hanya 3 kali saja… Cara ini cocok sekali untuk orang yang sudah keluarga, sebab dalam keluarga kita juga harus mempertimbangkan sikap dan perasaan istri kita… jangan sampai masalah sepele malah bisa membuat keharmonisan rumah tangga terganggu…

Untuk bro Icaq’s…. pertanyaan sampean sudah terjawab pada contoh no.3… kalo masih kurang jelas dan mau sharing sama saya, silahkan….. Juga untuk temen, sobat dan brother semua monngo dishare pendapatnya ato pernah punya pengalaman lain juga bisa di share…. Maaf contoh diatas bukan bermaksud menyombongkan diri ato apalah, namun saya hanya berniat sharing dan berbagi pengalaman hidup… karena saya sudah menganggap bro semua adalah sedulur…. semoga berguna….

—-Salam Hangat Dari Borneo——Berusaha berbagi walau satu huruf—

SUMBER : http://joetrizilo.wordpress.com/2011/03/25/cara-bijak-menghadapi-si-tukanghutang

Menciptakan Keajaiban Rezeki dengan Sedekah
1Mar2013 Filed under: Sukses Islami Author: renunganislami

Download Free and Amazing Slides – Panduan Lengkap untuk Meraih SUKSES ISLAMI Rezeki dan sedekah merupakan dua hal yang menjadi hubungan sebab akibat. Siapa yang suka memberi sedekah, maka akan banyak dan lancar lah rezekinya. Demikian pula bagi sebagian orang yang mengalami rezeki yang sulit, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan jarangnya ia melakukan ibadah sedekah. Sedekah merupakan bentuk ibadah sosial yang erat kaitannya dengan orang-orang di sekitar. Ibadah sedekah merupakan bagian dari muamalah yang akan memudahkan kehidupan seseorang dalam bergaul di masyarakat. Orang akan lebih menyukai mereka yang suka bersedekah dibanding dengan mereka yang jarang melakukan sedekah. Pernahkah Anda memperhatikan korelasi rezeki dan sedekah dalam hidup Anda? Sedekah secara langsung telah dijanjikan oleh Allah balasannya 10 kali lipat dari jumlah awal seseorang melakukan sedekah. Jika zakat bisa dikatakan sebagai upaya proteksi terhadap kekayaan yang kita miliki, maka sedekah merupakan bentuk investasi. Sedekah merupakan investasi bisnis yang tak pernah rugi. Tidak ada orang yang karena rajin bersedekah lalu hidupnya menjadi miskin. Yang ada justru sebaliknya, seseorang menjadi kaya raya dengan banyak melakukan sedekah. Di samping sedekah bisa memancing rezeki, ada banyak fungsi sedekah yang lainnya yang akan dirasakan manfaatnya oleh mereka yang melakukan ibadah sosial yang satu ini.

Berikut ini beberapa diantaranya yang bisa menjadi pedoman dan menjadi motivasi untuk Anda terus melakukan ibadah sedekah: 1. Sedekah dapat menentramkan jiwa yang sedang dalam banyak masalah. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena ibadah sedekah akan menimbulkan pahala bagi pelakunya. Segala sesuatu yang menentramkan hati dan jiwa, maka itulah yang dinamakan dengan pahala. Maka bila hidup Anda selalu galau dan penuh masalah, perbanyak lah sedekah untuk menciptakan ketenangan dalam kehidupan. 2. Sedekah dapat melunasi hutang-hutang Anda. Sedekah menjadi upaya pembuka pintu rezeki. Meskipun Anda memiliki banyak hutang, jangan pernah berhenti melakukan ibadah sedekah. Karena dari sedekah inilah pintu-pintu rezeki Anda akan terbuka. Allah akan membuka krankran rezeki Anda yang bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutang Anda. Sedekah memiliki berbagai manfaat luar biasa bagi yang melakukannya, meskipun ia adalah sosok yang banyak hutang. 3. Sedekah juga bisa melancarkan seorang ibu yang sulit melahirkan. Ada banyak pengalaman orang yang melakukan sedekah, termasuk diantaranya mereka yang sedang dalam masa kritis antara hidup dan mati saat melahirkan. Ibadah sedekah yang dibarengi dengan doa dari orang yang disedekahi akan membukakan kemudahan cara dalam melahirkan. 4. Sedekah dapat membantu orang dekat dengan jodohnya. Ada orang yang sulit menemukan jodoh dalam hidup ini. Sedekah menjadi salah satu cara untuk mengatasinya. Bila Anda ingin mendapatkan jodoh yang berkualitas, maka perbanyak dan perbaikilah kualitas dari sedekah Anda. Jodoh, anak, materi dan sebagainya merupakan bagian dari rezeki. Jadi jelas bahwa rezeki dan sedekah memiliki kaitan yang sangat erat. Pintu-pintu rezeki bisa dibuka melalui ibadah sedekah yang rutin. Tentunya dengan tidak meninggalkan ibadah zakat yang sifatnya wajib. Ibadah sedekah hukumnya sunnah, sedangkan ibadah zakat hukumnya wajib, jadi zakat tetap menjadi hal pertama yang harus diprioritaskan sebelum sedekah. Jangan sibuk memikirkan kenapa rezeki Anda sulit, namun disisi lain Anda lupa melakukan ibadah sedekah. Sebab rezeki dan sedekah menjadi dua hal yang sangat berhubungan. Bersedekah lah sekarang, dan bersiap lah menjadi orang kaya penuh keberkahan. SUMBER : http://renunganislami.net/menciptakan-keajaiban-rezeki-dengan-sedeka

Karma
Semua agama besar dan baik berbicara tentang hukum karma. Jika tidak, mengapa semuanya berkhotbah dan menyuruh kita untuk menjadi baik bila perbuatan kita tidak ada akibatnya? Karena itu hukum karma dan kelahiran kembali selalu disinggung di dalam semua agama besar. Kadang itu diterangkan dengan lebih jelas, suatu saat ia diimplikasikan. Hukum-hukum kita diciptakan untuk melindungi tata hidup masyarakat, dan juga ada hukum universal yang menjaga tata hidup dan kebaikan semua makhluk hidup di alam semesta. Kita bukan hanya warga suatu negara, tetapi juga warga alam semesta dan tiap negara ibarat sebuah rumah. Sebab itu kita juga harus mengetahui hukum-hukum universal dan jika kita menghargainya, hukum tersebut akan melindungi kita dari kehidupan di tingkat-tingkat yang lebih rendah. Hukum manusia dibuat oleh manusia. Tetapi jika kita melihat dari sudut pandang transendental, kita melihat bahwa mereka juga diatur oleh sejenis kekuatan tak tampak yang lain. Kekuatan tak tampak ini dalam bahasa Sansekerta disebut “karma” yang artinya hukum sebab dan akibat. Ia disinggung dalam Alkitab sebagai Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai (Galatia 6:7). Ada karma baik dan karma buruk, tetapi keduanya tetap berarti keterikatan di Bumi. Setelah inisiasi, karma dari kehidupan-kehidupan lampau akan dihapus, tetapi Guru tidak menyentuh karma dari kehidupan sekarang. Jika tidak, kalian akan segera meninggal. Kita harus tinggal dulu di sini sejenak untuk ikut memberkahi dunia dan menolong teman-teman kita. Setelah itu, kita dapat pergi ke Surga dan kembali lagi kapan pun, jika itu yang kita inginkan. Karma adalah kekuatan yang tak tampak, sangat adil, dan kuat. Apa yang telah kita perbuat akan kembali kepada kita: Ini adalah hukum sebab dan akibat. Kita punya karma karena kita memiliki komputer ini, pikiran kita, otak yang dimaksudkan untuk merekam setiap pengalaman di dunia fisik ini. Karena itu kita punya karma. Baik atau buruk, kita mencatatnya di sini. Itulah yang kita sebut karma. Apa itu karma? Hanyalah pengalamanpengalaman, baik atau buruk, reaksi-reaksi kita, pengalaman-pengalaman belajar kita di banyak kehidupan. Dan karena kita memiliki sesuatu yang disebut hati nurani, kita tahu bahwa kita harus baik, tetapi kadang kala kita berbuat buruk. Hal-hal yang buruk membebani kita, seperti terlalu banyak sampah atau koper. Karena hukum gravitasi, ia menarik kita turun dan mempersulit kita mendaki gunung. Karena banyak disiplin moral di dunia, banyak aturan, banyak kebiasaan di berbagai negara yang berbeda mengungkung kita dengan apa yang disebut konsep tentang baik dan buruk, bersalah dan tidak berdosa. Sebab itu, kita berhubungan dengan orang-orang di dunia, dan kita mempunyai pengalaman-pengalaman baik dan buruk, berdosa dan tidak, bergantung kepada kebiasaan-kebiasaan setempat, dan hukum dari suatu negara. Mengertikah? Itu menjadi kebiasaan bahwa kita berpikir seperti itu, bahwa jika kita berbuat ini, kita berdosa, kita berbuat itu, kita orang yang jahat, dsb. Dan semuanya terekam di sini. Itu yang membuat kita bertumimbal lahir dan membuat kita terikat di dunia fisik ini atau dunia yang sedikit lebih tinggi. Kita tidak cukup bebas, tidak cukup ringan untuk mengapung di atas permukaan. Ini karena semua konsep dan semua pandangan salah ini.

P. Guru, Anda berbicara tentang apa yang Anda sebut keberuntungan. Sebagian orang menggunakan sebutan nasib, meskipun keberuntungan terdengar lebih spiritual. Bagaimana tentang kehendak bebas? G. Itu adalah pilihan sebelum kelahiran fisik kita dan selama kehidupan fisik kita. Tetapi setelah mati, kita tidak dapat memilih kecuali jika kita punya jasa-jasa baik yang kita kumpulkan pada kehidupan sebelum mati tersebut. Contohnya, sebelum kita dilahirkan di dunia ini, kita punya pilihan untuk menjadi suatu pribadi, tetapi ketika kita datang ke dunia, kita berubah tergantung situasi dan kehendak masyarakat. Lalu kita kehilangan kehendak bebas kita sekalian. Kita pikir kita bebas, tetapi tidak. P. Jadi, kehendak bebas yang sejati, pilihan sejati, pilihan sesungguhnya ada sebelum kita lahir. Lalu kita tertutup tirai atau maya, dan kita tidak ingat perjanjiannya. Akankah Anda menyebut itu sebagai kontrak? G. Benar, perjanjiannya dengan Tuhan, dengan hati nurani kita. P. Guru sebelumnya berbicara tentang karma, apakah kita punya kendali tentang keinginan kita untuk menjadi apa di kehidupan mendatang, atau akankah seseorang memberitahu kita tentang menjadi apa kita kelak? G. Tidak seorang pun dapat memberitahu Anda akan menjadi apa nanti, karena ini adalah perbuatan Anda sendiri, yang buahnya akan menentukan menjadi apa Anda di kehidupan mendatang. Jika Anda ingin mengatur kelahiran Anda yang akan datang, Anda harus punya kebijaksanaan untuk menentukan jalan Anda sendiri dan mengembalikan kekuatan terbesar Anda sendiri. Saat itu Anda bisa mengendalikan. Tetapi saat ini Anda terlalu lemah. P. Dapatkah kita mengurangi karma kita dengan berdoa? G. Ya, dapat, jika kita cukup bersungguh hati. Karena kesungguhan hati dan permohonan doa yang khusuk adalah sejenis meditasi. Dalam keadaan perasaan yang meditatif, kita dapat mencapai kedalaman kemuliaan kita, kelimpahan kita, gudang berkah kita, dan itu mempunyai efek, yakni membersihkan. Hanya jika kita benar-benar bersungguh hati dan secara mendalam berharap pengampunan, maka doa akan menolong. P. Dapatkah kita membagi-bagi karma kita dalam beberapa kehidupan, jadi kita menderita sedikit saja di setiap kehidupan? G. Ya, Anda dapat berbuat itu, tetapi Anda akan lebih menderita. Saya beritahu mengapa. Karena di tiap kehidupan kita sudah punya karma, dan jika Anda menambah karma kehidupan ini lagi, Anda hanya lebih menderita. Tiap kehidupan, Anda sudah punya cukup karma untuk dijalani, untuk menderita, dan bila Anda menambahkan karma kehidupan ini, saya pikir Anda akan lebih menderita, semakin bertambah dan bukannya berkurang. P. Apakah dosa dari si ayah akan menurun pada anaknya?

G. Sampai taraf tertentu, ya. Kita sebut ini sebagai karma kolektif. Itu berarti pembayaran kolektif dalam suatu keluarga. Di atas itu, setiap orang punya hasil kolektif yang buruk karena perbuatan buruk ataupun hasil kebaikan dari kebajikan. Karma berarti keduanya, perbuatan baik dan buruk, bukan hanya yang buruk. Banyak orang menggunakannya dalam arti yang negatif. P. Guru yang terkasih, harap jelaskan, karma macam apa yang menghasilkan diktator yang menyebabkan perang yang membunuh jutaan orang, dan membuat jutaan lainnya menderita? G. Itu adalah karma kolektif dari umat manusia, yang sebagaimana saya jelaskan sebelumnya, adalah hasil sampingan dari hubungan antar manusia dengan makhluk lain di dunia ini atau dunia-dunia lain. Dan hasil samping semacam itu menjadi suatu energi yang sangat kuat yang menggantung di atmosfer Bumi. Dan ketika sudah terlalu pekat, ia harus diwujudkan dalam bentuk yang terlihat, seperti seorang diktator yang sangat berkuasa yang membunuh jutaan orang, dan sebagainya. Maka dari itu, orang-orang itu sebetulnya tidak sepenuhnya layak dipersalahkan. Tetapi, diri kita sendiri yang harus dipersalahkan. Jika setiap orang dari kita menjalani hidup bajik, mentaati Silasila, dan berhenti membunuh dalam bentuk apapun, termasuk pembunuhan tidak langsung dengan menjalankan pola makan vegetarian, maka dunia ini tidak akan pernah melahirkan diktator semacam itu sejak awal. Pengalaman mengerikan ini adalah untuk mengingatkan kita tentang jalan kebajikan, dan jika kita belum cukup terbangunkan, maka hal semacam ini akan terus berulang untuk mengingatkan kita lagi hingga seluruh umat manusia terbangunkan. P. Dapatkah Anda membahas karma, bagaimana kita membayar hutang karma masa lampau, dan apa hubungan ini dengan Pencerahan? G. Karma adalah istilah Sansekerta untuk hukum Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai, yaitu hukum untuk alam semesta yang lebih rendah. Ketika seorang Guru menginisiasi Anda, Dia akan menarik Anda lebih tinggi lagi ke atas. Karena itu, karma di bawah dapat dibakar dan tak mempengaruhi Anda. Dia hanya meninggalkan sedikit agar Anda dapat meneruskan kehidupan ini, yang juga sudah diperlancar dan dilumasi dengan kekuatan Guru. Setelah inisiasi, Anda tidak punya lagi karma simpanan, maka Anda tidak perlu lahir kembali jika Anda tidak ingin. Jika Anda ingin lahir kembali, itu mudah sekali. Kita dapat menciptakan karma atau kita dapat meminjam dari banyak makhluk hidup untuk turun ke bumi. Inisiasi adalah penghancuran semua karma di masa lampau, tidak meninggalkan kesempatan bagi makhluk hidup untuk kembali lagi di masa depan. SUMBER : http://www.godsdirectcontact.or.id/akudatang/Karma.htm

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->