PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

. Prof. Dr. I Made Putrawan. baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1. Nana Sudjana. Dr. Oleh sebab itu. Prof. Prof. Dr. hingga penyusunan tesis ini. 2. Hasan Walinono. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. Atas bantuan berbagai pihak. Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. proses penelitian. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. 3.

Kabupaten Cianjur. 7. Untuk itu. Akhirnya. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. Hasan Iskandar. Januari 2008 Penulis. Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut. Bapak R. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. 5. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan.4. 6. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. Jakarta. xxxxxxxxxx . tak ada gading yang tak retak.

........................... 10 10 17 27 37 C......................... Batasan Masalah ....................... A....................................................... DAFTAR ISI .................... A.......... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS ................................................................................ RINGKASAN TESIS ............................................................ D.......................................................................................................................................... BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS ................................................................................................................ Identifikasi Masalah . Manfaat Penelitian .......... D.... B................................................ Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ..................................................................................... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ....................... B.............................. Bab III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... Mutu Pelayanan Sekolah ..................................................................... Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah ........................................................... C........................... E............... Rumusan Masalah ........................................ Tujuan Penelitian ........................................................................... Konsep Dasar Kultur Sekolah ............... B... Latar Belakang Masalah ............ KATA PENGANTAR ...................... A... Bab I PENDAHULUAN ...................................................................DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN ...............................................

................................................................. 2............. Unit Analisis ................................. E.............................................. 3.................. 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN .............................................................................. ............. Temuan Penelitian ................................. B................................. F........................................ Lampiran ..........................Penelitian ......................... 4........ Pembahasan Hasil Penelitian ...... Teknik Analisis Data ...... Teknik Pengumpulan Data Penelitian ......................... Metode Penelitian ..... Saransaran ........................ C......................................................................................................................... B.......................................................................................... ...... 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ A................ G..................... 129 132 1.................... 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA ............ D........ A......... 5.......... Kesimpulan .............................................. C............ Instrumen Penelitian ............. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur ............ Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ...................

Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya. 5 .BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah.

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Demikian pula halnya dengan pendidikan. mandiri. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya. Pasal 3 Undang-undang No. berilmu. cakap. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). sehat. jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. keluarga dan lingkungan masyarakat. perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya.melainkan perlu dibentuk. berakhlak mulia. kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. Ibarat bangunan. dibangun. kreatif. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. 6 . maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas.

Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik. rasa (feel). sifat (tone). Kultur sekolah pada dasarnya 7 . kepribadian. dan ego yang beragam. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. nilai-nilai. dan iklim (climate) organisasi. emosi. Secara sederhana. proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. keyakinan ( belief). Sementara itu. suasana (atmosphere). Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah. lingkungan (milieu).Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah. Dengan kata lain. budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. Secara umum. dan nilainilai yang sama. kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab.

rasa. dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. suasana. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. guru-guru. B. atau tim. sifat. Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat. Berdasarkan uraian di atas. Dalam konteks pendidikan. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan. Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi. departemen. Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . Aspek itu adalah iklim. lingkungan.

Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif. Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang. Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer. Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut. yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. 9 . Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer. Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah.

Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. 8. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. Hal ini sejalan 10 . siswa. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi. Apakah visi. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. misi. misi. siswa. komite sekolah. staf sekolah. Apakah seluruh warga sekolah (guru. komite sekolah. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3.1. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4. Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru. serta unsur lainnya yang terkait)? 2. serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan.

Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono. (Bandung: Alfabeta. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. Agar penelitian ini tidak meluas. Metode Penelitian Administrasi. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3.dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. 2. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. p. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. 3. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. 1. masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. 2004). Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. D. 31 11 . Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut.

Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian. sekolah.E. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 . penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa. Kedua. Pertama. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan. serta dinas pendidikan. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. Secara teoritis. Ketiga. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa.

p 43 Ibid 13 .” Sedangkan Vijay Santhe. is that complex whole which includes knowledge. custom. art. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. 1. (Jakarta: PT Rineka Cipta. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society. menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha. dalam Taliziduhu 3. law. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization.bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian. 2003). Budaya Organisasi. belief. taken in its wide ethnographic sense. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban. Edward Burnet Tylor.

keyakinan. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat.uoregon. Leadership for School Culture . seni.” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. dan sejarah/riwayat. 10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. dalam konteks yang lebih kecil. kebiasaan dan kemampuan. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai. 1 Ibid 14 . 1993) pada situs http://www. kepercayaan. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. seperti iklim. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat. Deal dan Kent D. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil. hukum. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong. Number 91. p. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. (ERIC Digest. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah. etos.budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common.

yang meliputi latar atau setting sekolah.edu/. p. Hennry Jay. nilainilai. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya. & Riel. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya. Paul E. pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies. Dengan demikian. download tanggal 30 Januari 2008. para siswa.peristiwa dan waktu yang panjang. upacara. (a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. 1999). Hennry Jay Baker dan Margareth M. 8 15 . kepercayaan atau keyakinan.uci." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. dan kepala sekolah . tradisi. Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda. Margareth M. mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah.. upacara agama. Montreal. dari http://www. 6 7 Ibid Baker. dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. dalam anggota warga atau komunitas sekolah.

tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Frymer dan Sergiovanni (1984). afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. Dengan demikian. sikap.2. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. 24 16 . Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. Artinya. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. 2002) p. Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. (Jakarta: Depdiknas. semakin baik kultur sekolah. Sebaliknya. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya. Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional.

(Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 1994). (New York: John Wiley & Sons Inc. 1999). yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. 9 10 Shermerchorn. 426 Ndraha. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. p. Teori Budaya Organisasi. perilaku. Taliziduhu. 75 17 . Managing Organizational Behavior. Sekolah merupakan organisasi pendidikan.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. harapan. et al. 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. John R. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. Oleh karena itu.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya. Jr. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari. p.

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

Bukti terakhir. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. tanpa tahun). sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12. Oleh karena itu. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda.wordpress. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. tetapi juga dalam wujud non-fisik. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .8m. (artikel bebas pada http://www. seperti keberadaan guru yang berkualitas. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. artikel Kultur Sekolah. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. download 21 . download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah. hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. bukannya kultur masyarakat secara umum.omjay.com&wijayalabs.com.pendidikan. Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. yakni berupa kultur sekolah". yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim. pada http://www. Dalam dunia pendidikan.html.proses transmisi kultural antar generasi tersebut.net/pradigma_pdd_ms_depan_36.pakguruonline.

ritual. Dengan kata lain. guru. e) ideologi organisasi yang kuat. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. h) hubungan akrab di antara guru. dan. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. seperti. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. d) pemahaman tujuan sekolah.terhadap fenomena sosial. p. b) sikap dan motivasi kerja guru. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. 3 Ibid 22 . yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. a) rangsangan untuk berprestasi. dan. sikap. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. Artinya. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. g) kepemimpinan kepala sekolah. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. staf administrasi maupun siswa. c) komunitas sekolah yang tertib. normanorma. Namun demikian. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. f) partisipasi orang tua siswa.

Cit. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. p. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku. Perpaduan unsur siswa. moral. Menurut Deal dan Peterson (1999).variabel. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. seperti kepala sekolah. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. 1. dan 14 Wijaya Kusumah. 4 23 . tradisi. Op. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. guru. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. guru. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. kebiasaan keseharian. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat.

menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa. budaya kerjasama (team work). Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. bekerja keras. shalat Dzuhur berjamaah. studi amaliah Ramadhan. dan dedikatif terhadap pencapaian visi. terintegratif. karakter atau watak. ludaya kepemimpinan (leadership). kreatif. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. doa bersama menyambut UN/US. Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi). serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). guru. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. dan masyarakat sekitar sekolah. siswa. mampu menjadi teladan. kreatif. Budaya sekolah merupakan ciri khas. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. hafalan Juz Amma.simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. lima hari belajar. mengembangkan budaya bersih. melaksanakan tadarus. jujur. petugas administrasi. menyelenggarakan konferensi 24 . adil. toleran dan cakap dalam memimpin. doa sebelum/sesudah belajar.

dan sejenisnya. kunjungan industri. kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya. infaq. 2. PHBN. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. staf administrasi bahkan siswa 25 . kegiatan praktek ibadah. Biarlah guru. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. pengelolaan ZIS (zakat. PORSENI. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. berbuka puasa bersama. pentas seni. pengembangan teman asuh. penerbitan majalah sekolah. bakti sosial. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama. studi siswa. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. pengembangan kesadaran lingkungan.kasus. peningkatan disiplin. banding. kegiatan olah raga dan kesenian. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. dan sebagainya. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. pelepasan pengenaan seragam sekolah.

nilai-nilai dan normanorma. dan. mana segi positif dan mana negatif. dan produktivitas sekolah. c) belajar dari guru. b) mampu membangun tim kerjasama.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. Karena. staf administrasi dan tenaga profesional. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. guru. kepuasan terhadap kelas. orang tua. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . struktur organisasi. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. dan siswa. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. perlu kolaborasi antara kepala sekolah. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. 3. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. staf. Untuk membangun visi sekolah ini. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah.

Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. Carolyn. Sebagai latar. p. Exploring School Culture. 15 Turner. Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. Jane and Crang. guru. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu. analisis perkembangan. 1996). meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. saling menghargai. penggunaan logo dan emblim sekolah. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan. (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. dalam proses pembelajaran. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. serta kegiatan-kegiatan lainnya. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga.Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. penggunaan seragam. Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. 10 27 .

(2) Mengembangkan nilai-nilai. Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. kebiasaan. (4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah. mengembangkan. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya. Dengan cara ini 28 .Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif. (1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. memper-tahankan. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada. atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat.

Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. p. kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. Aileen Mitchel. 23 29 .pula. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah. 1998). C. Dalam konteks manajemen umum.

p.29 30 . Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan. Nur. 18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas.” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Manajemen Mutu Terpadu. 2004). serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution. M. 172 Abdullah NS. p. 1998)... mempertimbang-kan. melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh. Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. (Bandung: IKIP Bandung. dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998.tugas semata kepada staf. dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. kekuasaan. (Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19. perintah. Akan tetapi. 16 Ibid. Oleh karena itu. diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. 2. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi. p. Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20. 18 31 . prosedur. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan. Aileen Mitchel. p. dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal.Cit. Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. Op.

21 Ibid. dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. p. dan lain-lain yang tidak perlu.dapat tercapai dengan cepat. 17 32 . serta komunikasi berjalan secara maksimal. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. Berdasarkan pendapat di atas. perintah. memberi nasihat. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. Secara esensial. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. prosedur. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Akan tetapi. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. tepat. Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka. Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut.

sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. Cit. Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. Oleh karena itu. Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. uang karyawisata. Op. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. 24 33 . hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. p. uang tes sumatif (sekolah swasta). Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan). Lebih jauh. dan sebagainya. Artinya. sumbangan bulanan atau SPP. maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). uang pendaftaran ulang.a. Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan.

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan. D. p. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. dan efisien. Op.Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. fleksibel. 32 37 . serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25. Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran. selalu mengharapkan perubahan. Cit. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen.. penundaan program. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. dan kematangan. Aileen Mitchel. Atas dasar itu. Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. imajinasi.

(g) standar pembiayaan. Op. dan (h) standar penilaian pendidikan. (c) standar kompetensi lulusan. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi. Nur.Cit. Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas.1. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya. (b) standar proses. p. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan. Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun. (e) standar sarana dan prasarana. (f) standar pengelolaan. 26 Dalam lingkungan pendidikan. maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution. M.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 .

Setlah kedua unsur tersebut. yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah). 4 39 . p. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum.tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu. serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah. komite sekolah. pengertian mutu mencakup input. yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. para siswa. dan output pendidikan . 2. Dalam konteks pendidikan. Konsep Dasar MPMBS. 2002). (Jakarta: Depdiknas. proses.28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama.

Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. 40 . tujuan. bahan. Dengan demikian. peraturan perundang-undangan. serta yang lainnya. uang. misi. proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. program. perlengkapan. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. proses pengelolaan program. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. Input harapan-harapan berupa visi. proses belajar mengajar. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah.29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. dan sebagainya). siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. dan proses monitoring dan evaluasi. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. karyawan. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. guru termasuk guru BP. Oleh karena itu. proses pengelolaan kelembagaan. deskripsi tugas. makin tinggi pula mutu input tersebut.untuk berlangsungnya proses. rencana. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan. Makin tinggi tingkat kesiapan input.

uang. kejujuran. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. efisiensinya. siswa. karya ilmiah. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan. kualitas kehidupan kerjanya. keterampilan kejuruan. berupa nilai ulangan umum. efektivitasnya. peralatan. seperti misalnya IMTAQ. dan (2) prestasi non-akademik. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. EBTANAS. EBTA. khususnya prestasi belajar siswa. kurikulum.(guru. dan moral kerjanya. lomba akademik. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. inovasinya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 . Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. kesopanan. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. produktivitasnya. dihayati. kesenian. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). olah raga.

dan pengawasan. a. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. c. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. Untuk mencapai sasaran mutu tersebut. Mengembangkan kebebasan yang terkendali. Fokus pada pelanggan. tugas. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. d. 3.tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. pelaksanaan. Memiliki obsesi terhadap kualitas. 42 .

misi. h. Secara skematis. Memiliki kesatuan tujuan. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. pp.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. Oleh karena itu.30 f. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. Cit. e. 195-196 43 . dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. g. 30 Nasution. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. Mengembangkan kerja sama tim. Op. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.

dimensi sumber daya manusia. serta dimensi 31 Ibid. Untuk mencapai sasaran mutu sekolah. 198 44 . p. dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya.Perencanaan Menetapkan Visi. baik dimensi manajemen. melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan. Misi.1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya.

dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang. komitmen yang tinggi pada dirinya. Akhirnya. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. berani mengambil resiko. memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. dia bertanggung jawab.infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. gigih. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. pekerjaannya me-miliki kontribusi. inovatif. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. pada umumnya. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. dan sebagainya). BAB III 45 . dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah. dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. dia tahu posisinya di mana. misi. Selanjutnya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.

3. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 2. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah. maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. Sedangkan secara khusus. 1. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. B. penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah.METODOLOGI PENELTIAN A. Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kabupaten Cianjur. 1. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah.

Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian. tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah. 2. Tabel: 3. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini.yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 .

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. Jadi. Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. atau lukisan secara sistematis. 32 Sugiyono. ataupun peristiwa sekarang. gambaran. 11 48 . sistem pemikiran. Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. set kondisi. 2004). p. Oleh karena itu.Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. (Bandung: Alfabeta. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). objek. Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. Metode Penelitian Administrasi. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya.

2. E. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. bidang tugas. dan guru-guru. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat. maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan.D. serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih. Berkaitan dengan hal di atas. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah. 1. komite sekolah. maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. Observasi 49 .

d. serta e. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. c. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik. arsip. Instrumen Penelitian 50 . pengembang-an materi pembelajaran. F. perencanaan evaluasi. dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian. dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS. laporan-laporan. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). data prestasi guru. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 3. b.

yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. Pengawasan pelaksanaan program 7. Untuk mengungkap data tersebut di atas. 8. 51 . 6. 3. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. Secara global. Tabel 3. Pelaksanaan program sekolah 4. 2.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup.Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”. 5.

52 .Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. Guru-guru 16. 15. Pimpinan sekolah 13. 21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. 30 20. 12. 17. 11. Siswa 19. 31 21. 32 33 Masyarakat (Orang tua 22. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10. 18.

Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi. upacara bendera. 38 39 Peningkatan PBM 29. dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . pelaksanaan peringatan hari besar Islam. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. pengamatan. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. upacara PHBN. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. 36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. 28. 37 27. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. 40 Penciptaan 30. 35 Pembinaan kesiswaan 25. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan. dan sejenisnya. Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan. Indikator yang baik. dan sebagainya.

dengan langkah-langkah sebagai berikut.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G. dokumen sekolah. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. teori. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting. pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. serta pengamatan secara langsung. penampilan data. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. yakni terdiri atas reduksi data. yakni dari hasil angket. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. 1. serta konklusi dan verifikasi data.

ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian. network. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. 1. Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola. Selanjutnya. chart.banyak. data disajikan dalam bentuk matriks. Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas. Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah. 2. 3. tema. Pada tahap reduksi data. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut.

dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. tabel matriks. BAB IV 56 . 2. Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. 3. Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian. grafik. Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian.pengembangan kultur sekolah.

Kecamatan Karangtengah. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R. Desa Sukasari. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya.HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. 57 . H. 1 ruang perpustakaan.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2. A. Kabupaten Cianjur. Secara terperinci. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K. 1 ruang laboratosrium IPA.225 meter persegi. Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar. serta 9 orang guru honor sekolah. 6 orang guru bantu. data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut. Selain itu. Saleh KM 7. Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi.

Kabupaten Cianjur. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. prestasi. berilmu. 58 . sehat dan Islami. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden. guru-guru. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah. kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah. inovatif.Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih. • Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. B. • Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. mandiri.

Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis. pelaksanaan program sekolah. Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati. 1. maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah. pengawasan pelaksanaan program sekolah. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran.Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 . Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. serta persentase pada setiap opsi. a. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah. yakni perencanaan pengembangan sekolah. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket.

86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21.63 13. Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. b. Ya. meminta bantuan salah seorang guru 60 . b.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan.Opsi F % a.32 10. hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64. Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS.86 24. d. dilakukannya sendiri Tidak. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang.51 a. c. maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan.

Dari 37 responden. 21 56.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru. yakni sebanyak 24 orang (64. Sementara itu. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b. Tidak. dan 5 orang guru (13.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah. sebagian besar guru.76 37 100 61 . Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64. kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan.86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah. 8 responden (21. 12 32.c.43 c.86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui.81 a.

76 a. 12 orang guru (32.43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. 4 10. sebanyak 21 orang guru (56.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 .76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola. Dari 37 responden. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. 12 32. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b. sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui.Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS.72 c.

Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Sedangkan 12 orang guru (32.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS.dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah.81 24. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 21 orang guru (58.06 63 .43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat.32 a. b. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c. 4 10.81 d. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. 20 54.

membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat.06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. 9 guru (24. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67. 4 guru (10. Ya. Sementara itu. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka.81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja.32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami. sebanyak 20 orang guru (54.57 a. Dari 37 responden. selalu 64 . Selanjutnya. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.

d.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. 65 . Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32. c.57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah. staf tata usaha.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah. serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah. Dari 37 responden.b. e. siswa. kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru. b. 25 orang guru (67. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut.

Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS.43 13. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif.Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum.51 100 a. Ya. 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54.06 32. Perubahan struktur organisasi sekolah. Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan. c. selalu Kadang-kadang Tidak pernah. Pada konteks ini. b. Pembina Siswa. serta perubahan-perubahan lainnya. Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. perubahan personal pembantu kepala sekolah. Tim 66 .

84 100 a.16 37. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran. sebanyak 14 orang responden (37. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62.Pembangunan Fisik Sekolah.16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. selalu. Dilakukan secara bertahap. Meskipun demikian. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 . Tidak pernah. b. Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Ya.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62.

efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56.24 0 0 a. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.14 c.a. b.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.76 43. Tidak pernah. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64. Ya. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 . Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. Akan tetapi. Jumlah Total 24 13 64. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah.86 35. d. Ya. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. b. c. Ya. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas.

84 d. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. 20 54. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah. b. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 .11 0 a. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8. Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56. 14 37. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.76 %).

Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu. Sangat perlu. c.84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Sekali-sekali boleh. Kesimpulan Sementara: 70 .05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b. Tidak. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan.belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. 14 orang gur (37. 20 orang guru (54. Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a.

c. Ya. guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel. Di sisi lain. c. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. tapi tidak terlalu ketat.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah. Selalu Ya. Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa. b. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu.

dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru.81 67. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan. atau 21. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu.62 10. Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21. Nomor Opsi a. pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru.81 %).62 %). d. Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester. b.57 %).57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah. 72 . c.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah. atau 10. atau 67.

Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu.43 32. Meskipun demikian. 13 orang guru lainnya (35. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden). Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32. d.43 0 35.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya. b. monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden.42 %). Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 . Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya.14 100 a. atau 32. PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri. monitoring juga dilakukan oleh …. c.

memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d.62 64.Opsi F Ya.86 13. dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya. Komite 74 .86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah.62 %). komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. c. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. 24 responden lainnya (64. Berdasarkan penyajian data di atas.52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. b. Kadang-kadang program. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah.52 a. sedangkan 5 orang guru (13. Menurut 8 responden (21. Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

75 . Pada konteks ini. Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi. d. Sebaliknya. selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi. Ya. c. d.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut. 16 guru lainnya (43.76 %).76 43. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56.24 0 0 100 a. b.

21 37 57. Ya.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b. Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan. Meskipun demikian.76 100 Analisis: 21 responden (57. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43.76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. Ya. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu. Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 . tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. 16 responden (43.24 a.Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja.

c. Sementara itu.62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. b. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43.38 21. c.62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi.76 0 100 a. perbaikan 29 8 0 37 78. b. selalu dilakukan demikian. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa. Ya. Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 . Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78.24 56. 8 responden lainnya (21.a.

Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu. Dari 37 responden guru. 21 orang responden (56. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. sebanyak 16 orang (43. pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi.program dan atau pada pelaksanaannya. 78 .24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. Pada kasus seperti ini. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini. Sementara itu. kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

95 0 89. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan.24 45. Pertanyaan Nomor 25: 82 . Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah.24 %).19 a. Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43. sedang-kan 17 responden lainnya (45.32 orang responden (86. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih. b.95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43. saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah.49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman. c.

b. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS). Komponen Guru-guru 83 .Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. c. Ya. sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas.62 13. produktivi-tas. efektivitas. efektivitas. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik. yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. d.52 0 100 a. kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. b. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. produktivitas. Ya.86 21. Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan.

b. Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah. Ya. 0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a.89 8.89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik.Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut.11 c. Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 . Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91.

62 c. Ya. c.05 21. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan. b. 8 21.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif. Ya. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah. sedangkan 8 orang (21.a.38 a. Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga. 0 0 37 100 Analisis: 85 . Sementara itu. 20 orang responden guru (54. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78.81 13.62 10. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b. d. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah.

Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 . Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78. Ya.30 a. 0 0 36 97. Sementara itu. Tidak. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b. semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97.Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu.

49 0 10. b. Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . Tidak. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik. serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. c. Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86. Ya. Tidak.81 a. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal. Tentu saja. karena siswa juga warga sekolah. Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas. c.

Ya. 88 .dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah. Akan tetapi. Tidak. Ya. 32 responden (86. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan. c.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. Hanya dalam bidang akademis saja. b.19 0 10.81 0 a.49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. Hanya dalam bidang non akademis saja. siswa memiliki peran yang tidak sedikit. Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89. Sementara itu. d. Dalam akademis bidang akademis Ya. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru.

29 78. termasuk teknologi informasi dan komunikasi. 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media.38 %).62 a.38 c. Ya. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 .19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b.Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89. Berdasarkan pengamatan 29 responden (78. komputer.

pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. Di samping itu. Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi. Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 .menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut. Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. terutama para orang tua siswa. d. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini.

08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu. c. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah.81 67. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan.08 0 100 a.92 81. Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. c. Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. b.62 a. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya.mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18. Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81. 4 25 10. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan.57 91 .

secara material tidak membebani mereka d. 3. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah. para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik. kompetensi dan sikap profesional guru. Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 . Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. Kemampuan manajerial kepala sekolah.57 %) dari 37 responden guru.

27 a. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. pembinaan kesiswaan. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. c. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah. b. pembinaan kegiatan ekstrakurikuler.78 70. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. atau setiap hari selama beberapa 93 . penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. peningkatan PBM. a. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. setra pengembangan nilai-nilai.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah. d.

lomba da’wah.62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah. 94 . e. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5. Mengembangkan budaya bersih diri.62 Analisis Pada dasarnya. l. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah.41 5. pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29.41 100 100 k. infaq. 37 0 29.09 responden (78. f. dan sejenisnya). g.menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. h. i. shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran.09 100 0 78. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ………………. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik. j.

59 0 0 62. i. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. d. h. g. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial.b. Menerbitkan majalah sekolah. f. Rata-rata Pilihan b. ………………. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a. j.54 91. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera).2 100 100 100 40. k. 95 . dan yang lainnya). Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. e.89 0 0 94. waktu. Pada konteks pembinaan siswa. c. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat.

d.86 29.) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 .73 97.Penerapan disiplin siswa secara konsisten. c. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut.30 27. loncat jauh. f. loncat tinggi. yakni pelaksanaan widyawisata. c. LDKS. Atletik (lari. pelaksnaan bakti sosial. serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah. g.03 64. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23. dll.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64. lempar cakram. b. tolak peluru. penyelenggaraan teman asuh. serta penerbitan majalah. e. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah.86 a.2 responden (62.

53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Berdasarkan tampilan data di atas. i.86 %). Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan. d. dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola.67 0 0 0 31. Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11.03 %). dan tenis meja (24 orang atau 64. futsal (10 orang atau 27. bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29. sepak bola (36 orang atau 97.67 responden (31. Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 . Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64.53 Analisis Rata-rata 11.73 %). Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas. j. kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa.86 %).30 %).h.

Seni musik (band. b. i. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya.Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64.86 0 0 0 0 0 8. e. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 .11 a. c. h. g. f. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. d. Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah.

b.67 % 100 0 56.76 54. c.43 0 50. PKS. atau 50.Opsi a. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS. e.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa. f. UKS/PMR. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya.67 orang responden. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 . OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. g.05 59. d. Sebanyak rata-rata 18. Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18. Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini. pramuka. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR).46 32..45 %.

Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Membentuk komunitas belajar) mandiri. pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 . f. pengamatan.41 64. 2 24 4. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e. Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah. b.86 11. Oleh karena itu.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa.a. c. ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif. d. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian.33 5.

19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81. dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83. f.08 97. Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83.08 %). b.97 89.19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah. 37 27 33 100 72. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %). menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97.30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. d.78 %). c.78 81.30 %). Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah. sebanyak rata-rata 33 responden (89.yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 . Pada konteks ini. Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e.

86 0 47. e.29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah. d. Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah. b. c. ditumbuhkan.5 % 54.97 %).35 18.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %). Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum …………………….92 64.35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 . Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. kemudian 19 responden (51. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72.05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah.05 51.

24 responden (64.bersih diri dan bersih lingkungan. Akan tetapi.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. Meskipun demikian. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik. 103 . C. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya. terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah. Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual.

yakni. peran komite sekolah. peran guru-guru. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah. 1. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 . pelaksanaan program sekolah. luar sekolah dan keluarga. seperti perencanaan pendidikan.Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan. Selain itu. pengawasan pelaksanaan program. profesi-onalitas guru dan staf sekolah. pandangan hidup. sikap hidup dan keterampilan hidup. Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah. pengelolaan pembelajaran.

sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. Pelaksanaan di luar sekolah. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. Konsekuensi dari pemyataan ini. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah. suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar. 105 .dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. yakni: proses belajar mengajar. maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation". Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. serta kultur sekolah. kepemimpinan dan manajemen sekolah.

sikap. sikap hidup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. nilai-nilai. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. Dalam dunia pendidikan.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. padahal kultur negara- 106 . dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu. Namun. perilaku. meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. Bukti terakhir. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. yang mencakup cara berpikir. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan.

kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. normanorma. bukannya kultur masyarakat secara umum. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah.negara tersebut berbeda. Oleh karena itu.com. p. 33 34 Lukman El-Hakim. sikap. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial. (Jakarta: Endonesa. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. yakni berupa kultur sekolah".33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. ritual. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. 48 107 . yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik. p. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Paradigma Pendidikan Masa Depan. guru. staf administrasi maupun siswa. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. tetapi juga dalam ujud non-fisik. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. 2006). 47 Ibid. seperti keberadaan guru yang berkualitas.

Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. 51 Depdiknas. h) hubungan akrab di antara guru. 35 Namun demikian. c) komunitas sekolah yang tertib. a) rangsangan untuk berprestasi. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. f) partisipasi orang tua siswa. serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. Artinya. 35 36 Ibid. g) kepemimpinan kepala sekolah. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi. 36 Dengan kata lain. b) sikap dan motivsi kerja guru.Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. e) ideologi organisasi yang kuat. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. seperti. dan. 2001). antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. misi. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. melainkan lewat berbagai variabel. d) pemahaman tujuan sekolah. p. penerapan sistem pengawasan. 32 108 . analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Buku I. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. dan. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. p.

struktur organisasi. non-fisik. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. kepuasan terhadap kelas. Untuk membangun visi sekolah ini.2.Cit. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. perlu 37 Lukman El-Hakim. yang meliputi faktor-faktor fisik. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. p. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. nilai-nilai dan normanorma. 49 109 . komite sekolah. sebagai unsur pimpinan sekolah. Op. Biarlah guru. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. Kepala sekolah. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. dan sumber daya manusia. 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. guruguru. tenaga tata usaha. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. mana segi positif dan mana negatif. dan produktivitas sekolah.

akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. 50 110 . Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. guru. orang tua. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. dan.kolaborasi antara kepala sekolah. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting. Karena. staf administrasi dan tenaga profesional. b) mampu membangun tim kerjasama. dan siswa. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. c) belajar dari guru. p. staf. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah.

fenomena masyarakat secara efisien. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. Upaya peningkatan kualitas sekolah. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. kerja efektifdan efisien. Untuk itu instruksi. Semakin besar otoritas 111 . Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. dan. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah. Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. Dalam kaitan inilah. lewat action research. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Untuk itu. Sekolah. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat.

Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. seperti kepala sekolah. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. moral. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. Nilai. dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. Oleh karena itu. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. guru. 112 . Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. materi pelajaran dan antar siswa sendiri.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah.

Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik. p. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting. sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Penelitian yang mencakup 1. 53 113 .Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.39 39 Lukman El-Hakim. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai. Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar. serta tidak menguasai materi.Cit. Op.

dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak. Di samping itu. guruguru. keinginan berprestasi. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. terutama para pengguna jasa pendidikan. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Untuk itu. 3. Dalam menuju era globalisasi.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. kebersamaan dan 114 .

pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. memperingatkan ". pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. khususnya negara-negara di dunia barat. secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat. memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. Dari aspek non-fisik. termasuk di Indonesia. yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 .. Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa.tanggung jawab. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan. Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan.. sebagamana dikutip oleh Budisatyo. Winarno Surachmad (1986). dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan. Di samping itu. membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.

sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya.com download tanggal 29 Desember 2007 116 . kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Di sisi lain. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal. 23 Agustus 2005). Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri. yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan. Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah. 40 Barangkali. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan. Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Selasa. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. pendapat tersebut sangat ekstrim.suara-merdeka_online. artikel pada http://www. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya. baik pendidikan akademis maupun non-akademis. sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya.pembelajaran. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 . serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa. Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang.

118 . serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu.bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. Oleh sebab itu. diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya. 1. penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula.

Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif. Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar.2. yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten. 3. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah.

Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. Oleh sebab itu. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut. kontekstual. Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. 1. dan akuntabilitas.adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. B. 120 . tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan.

2. 3. Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. 4. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. dan siswa) serta komite sekolah. Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. Oleh sebab itu. Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 . pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. tata usaha. guru. Oleh karena itu.

Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 . Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. 5. hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet. dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. bantuan orang tua siswa. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan).kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. 6. yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka.

tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian. IPS. Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. fisika. dan penulisan karya ilmiah remaja. biologi. 7. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 . Dengan demikian. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. 8. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika. dan sebagainya. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan.pendidikan. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. pengamatan. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS. Bandung: IKIP Bandung 124 129 .perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan . Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. 1998.

Lucia Press 125 . Principles of Total Quality Management. E. Jakarta Gunung Agung.Ahmad Sanusi. James. Administrasi Pendidikan. Hadari (1981). 2nd edition. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. Yusuf (1995). (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Teori Budaya Organisasi. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Nur. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. Abin Syamsuddin. Manajemen Mutu Terpadu. Nasution. Buku I. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran. Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. Lukman El-Hakim. Taliziduhu. 2003. Budaya Organisasi. " School-Based Management. M. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. 2004. 1999. 2002. J. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994). Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun." In School Leadership: Handbook for Excellence . Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional. Taliziduhu. and Heynderickx.com Lindelow. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. V. 2000. Jakarta: Endonesa. Jakarta Ndraha. 1996. Jakarta Bumi Aksara. Kompetensi. Ketentuan Umum 2003a. 1994. 2001. 1998. John. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Delray Beach: Published by St. Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi.

Webster’s New Colligiate Dictionary. et. Margareth M. (1990). & Riel. (1980). Depdiknas Sergiovanni. New York. Selasa. PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. 2004. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. John Wiley & Sons Inc. Jakarta Gunung Agung Stewart. Carolyn. Jane and Crang. Filasafat Administrasi. Bandung: Alfabeta Turner. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. Henry Boosley. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . Hennry Jay.Sanusi. ---------(1983). 1999. John R. New York: Me Graw-Hill Book Company. Napier Street. Peranan Staf dalam Management. Clifford. Metode Penelitian Administrasi. North Sydney. NSW 2059 Woolf. artikel pada 126 .edu/. A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney. et al. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. 1992. 1998. Montreal. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. 1977. J. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. 1996. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager.uci. al. Winarno Hami. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. Shermerchorn. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. Seno. Ahmad. dari http://www. Bandung: Grafindo Media Utama. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Jr. Thomas. Supervision: Human Perspective. 1994. USA Siagian S. Robert J Starrat (1979). Managing Organizational Behavior . download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. Aileen Mitchel. Australia: Allen & Unwin Pty.. Ltd. 23 Agustus 2005). 1984. Exploring School Culture.P. Jakarta Gunung Agung.

ERIC Digest. (artikel bebas pada http://www.8m.wordpress.edu. Sara. h. The Good High School: Portrait of Character and Culture.suara-merdeka_online. Trends and Issues: the Role of School Leader.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot. 39 pada ERIC. download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 . Guru Masa Depan.go. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni.depdiknas. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni.edu. downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel pada http://www.eddept.uoregon.htm.html.com&wijayalabs. Artikel Artikel pada http://www.pendidikan.com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong.com . Leadership for School Culture .omjay. http://eric. Number 91. Tulisan pada http://www.us/guru_masa_depan.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis.uoregon.wa. 1983. Clearinghouse on Educational Management. tanpa tahun). pada situs http://www.http://www.au/centoff/cpr/publications. 1993. New York: Basic Books.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . Kinerja Guru.

128 . 39. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 40. 42. Guru-guru 47. 45. Pimpinan sekolah 44.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32. 43. 46. Evaluasi program pengembangan sekolah 41. Pengawasan pelaksanaan program 38. 33. Pelaksanaan program sekolah 35. 34. 37. 36. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah.

30 51. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56. 31 32 52. keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah. Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. melaksanakan peringat-an hari besar Islam. Masyarakat (Orang tua siswa) 53.55. 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. upacara bendera. Siswa 50. 33 54. melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten. 37 129 . melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. dan sebagainya. upacara PHBN.

dan sejenisnya. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa.62. menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian. Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. 41 Pengembang. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. 40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61. 59. pengamatan. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60. mengembangkan cinta lingkungan. mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi.

Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. Tidak. 1. Jarang d. c. Jika RPS disusun setiap tahun. b. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. Ya. Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada. Tidak.Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. Sering c. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. Selalu b. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 . Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. dilakukannya sendiri b. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. Tidak pernah 2. meminta bantuan salah seorang guru c. 4. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a.

Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. 6. Sering menerima c. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Tidak pernah. selalu. selalu b. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. Tidak pernah 7.a. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. staf sekolah dan c. 132 . Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. b. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Pembina Siswa. Jarang menerima e. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Tidak pernah. c. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. d. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. Kadang-kadang c. selalu b. Kadang-kadang menerima d. 8. 135 5. b. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Ya. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. b. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. Ya. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Ya. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Dilakukan secara bertahap.

dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Tidak pernah. Ya. 12. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . c. 10. Ya. 11. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. b. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. d.9. 13. Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. c. b. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Sekali-sekali boleh. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. Menurut Bapak/Ibu. c. Tidak. c. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. d. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. Sangat perlu. b. Ya. b.

Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. Setiap semester 15. Tidak pernah 18. Ya. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. Wakil kepala sekolah b. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. Setiap triwulan d. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Selalu b. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. 17. Ya. Jika dilakukan evaluasi kegiatan. b. 19. c. monitoring juga dilakukan oleh …. Ya. Sebagai Controlling Agency. 16. b. Ya. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu.a. tapi tidak terlalu ketat. PKS Urusan Kurikulum) c. Kadang-kadang dievaluasi c. Ya. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. a. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. a. Sebagai bahan mendatang. Setiap awal bulan c. Sama sekali tidak. d. Setiap minggu b. selalu b. Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a. 14. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. Ya. c. Kelompok guru senior yang dipercayai d.

b. Ya. c. Ya. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. produktivitas. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. b. selalu b. Kadang-kadang ada target 135 . perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25. c. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. Kadang-kadang c. Tidak pernah 22. b. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. Tidak. b. Tidak tahu 24. Disimpan saja. Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. 23. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. 21. Tidak memiliki daya ramal c. c. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. c. Menggunakan arahnya. Ya. Samar-samar. 20. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. Ya. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. Kadang-kadang dilakukan seperti itu. efektivitas. Sebaiknya seperti itu b. c. selalu dilakukan demikian. Ya b. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a.

Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. Tidak. 31. Ya. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. b. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Ya. Tidak. Ya. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. Tentu saja. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. Ya. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 30. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. Ya. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. 26. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. Kadang-kadang saya terlibat juga. Ya. 27. Tidak. Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. c. c. Menurut Bapak/Ibu. Menurut pandangan Bapak/Ibu. d.d. karena siswa juga warga sekolah. b. c. 29. b. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a. b. Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. Selalu dilibatkan b. 28. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . Tidak pernah memberikan target secara khusus. c.

32. b. internet)? a. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. b. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. Tidak. Sebagian terbebani. Ya. Apakah masyarakat di sekitar sekolah. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka.. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. d. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. komputer. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. c. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. 34. e. Ya. d. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. c. Hanya dalam bidang non akademis saja. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. Ya. terutama para orang tua siswa. d. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. c. 137 . b. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a. c. Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Hanya dalam bidang akademis saja. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. b.b. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. c. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. 33. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu.

dan sejenisnya). Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. …………………………. e. j. g. waktu. d. c. Mengembangkan budaya bersih diri..) 138 . Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). dll. g. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. tolak peluru. Menerbitkan majalah sekolah. infaq. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. lempar cakram. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. k. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. shadaqah). c. i. g. f. Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. apa saja yang sampai saat ini 37. j. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. lomba da’wah. i. dan yang lainnya). i. loncat tinggi. b. k. d. h. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama. Atletik (lari. f. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat.. h. h. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. e.f. b. l. Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis …………. loncat jauh. j. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. 36. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran.

b. Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 .. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. 41. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik ... Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian. Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a... pengamatan.. Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri.. e. d. i... c. f.. g.. c... e. b. 40... Seni musik (band.. d.. f... h. f... b.38. g.. c. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a.... Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a....... e.. c. d. b.... dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39. Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan.

Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum...... b.... ...... f. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi.. Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. dan dikembangkan di sekolah? a....... ………………. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah..... e. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan.. 42.. 140 .d.... e. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah........ c.. d... perlu dipertahankan. Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful