PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. Hasan Walinono. Nana Sudjana. Dr. 2. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya. . Prof. hingga penyusunan tesis ini. Atas bantuan berbagai pihak. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. Dr. Prof. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Dr. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1. 3. Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. proses penelitian. Oleh sebab itu.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. Prof. I Made Putrawan.

xxxxxxxxxx . Jakarta. Akhirnya. 6. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. 5. Kabupaten Cianjur. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. tak ada gading yang tak retak. Hasan Iskandar. Januari 2008 Penulis. 7. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut.4. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan. Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. Untuk itu. ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. Bapak R.

.......................................... DAFTAR ISI ............................................. 10 10 17 27 37 C...................................... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS ............................................. B............................................................................................................................................................................................................................ B................... Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah .......... Manfaat Penelitian .................. Batasan Masalah ..... Identifikasi Masalah ... BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS .............................. C.................... Bab III METODOLOGI PENELITIAN ............. D....................... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ......... A.......................... E.. Mutu Pelayanan Sekolah ................................................................................................................................................. B.......................................................... Tujuan Penelitian .............................................................................................................. Bab I PENDAHULUAN . Latar Belakang Masalah .......................................................... RINGKASAN TESIS .......................................................................................... Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ......................................................................DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN .............................. A................................... D... KATA PENGANTAR ................................................ Konsep Dasar Kultur Sekolah ............ A.................. Rumusan Masalah ..................

............................. Pembahasan Hasil Penelitian ..... 5...................................... B...................................................................Penelitian ............ D..................................... 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA ...................... 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ....... Metode Penelitian ............................... E............................. Kesimpulan ..................... Teknik Pengumpulan Data Penelitian ........ C.. Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ............................ F......................................................................................................... B.................................. G.................................................. Saransaran ......... A. Instrumen Penelitian ............................... 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN .............................................................................. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur ................................................................ C................................. 3......... Lampiran ...... A.................. ................................... Unit Analisis .... Teknik Analisis Data .......................................... Temuan Penelitian .. 2..................... 4.................. ........................................... 129 132 1.............................................

5 . Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.BAB I PENDAHULUAN A. Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya.

kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya. Demikian pula halnya dengan pendidikan.melainkan perlu dibentuk. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). mandiri. maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. dibangun. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya. sehat. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. Pasal 3 Undang-undang No. cakap. Ibarat bangunan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. berilmu. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. berakhlak mulia. keluarga dan lingkungan masyarakat. 6 . kreatif. Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas.

dan iklim (climate) organisasi. rasa (feel). keyakinan ( belief). Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah. sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. emosi. Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik. dan nilainilai yang sama. kepribadian. Sementara itu. sifat (tone).Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah. nilai-nilai. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. Secara sederhana. budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. Kultur sekolah pada dasarnya 7 . dan ego yang beragam. suasana (atmosphere). kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab. lingkungan (milieu). Dengan kata lain. Secara umum.

sifat. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. rasa. suasana. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat. Berdasarkan uraian di atas. B. lingkungan. atau tim. Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi. guru-guru.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah. Aspek itu adalah iklim. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik. Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . Dalam konteks pendidikan. Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. departemen. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan.

yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah. 9 . Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut. Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer. Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer. Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal.

misi. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru. komite sekolah. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. Apakah seluruh warga sekolah (guru. Apakah visi. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi. staf sekolah. siswa. 8. Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. siswa. Hal ini sejalan 10 . dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4. misi. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3. serta unsur lainnya yang terkait)? 2.1. komite sekolah. serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan.

Agar penelitian ini tidak meluas. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. 1. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. p. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3. 3. 2. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut. masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. D. Metode Penelitian Administrasi. (Bandung: Alfabeta. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2. Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono.dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 31 11 . Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. 2004).

hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 .E. melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. serta dinas pendidikan. Kedua. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah. sekolah. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. Pertama. penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa. Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. Ketiga.

belief. 1. 2003).” Sedangkan Vijay Santhe. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization. (Jakarta: PT Rineka Cipta. Budaya Organisasi. dalam Taliziduhu 3.bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian. law. Edward Burnet Tylor. p 43 Ibid 13 . menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban. art. custom. taken in its wide ethnographic sense. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. is that complex whole which includes knowledge. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society.

dalam konteks yang lebih kecil. hukum. kebiasaan dan kemampuan. 1 Ibid 14 .” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil. kepercayaan. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong. 10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. etos. Deal dan Kent D. Number 91. seperti iklim. (ERIC Digest. seni. keyakinan. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah.uoregon.budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common. Leadership for School Culture . p.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. 1993) pada situs http://www. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan. dan sejarah/riwayat. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat.

(a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. upacara.. Dengan demikian. Hennry Jay. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun. upacara agama. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies. dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. dalam anggota warga atau komunitas sekolah. dan kepala sekolah . & Riel. Hennry Jay Baker dan Margareth M." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. 1999). pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. Margareth M. Paul E. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. 8 15 . mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam.uci. Montreal. yang meliputi latar atau setting sekolah. kepercayaan atau keyakinan. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda.peristiwa dan waktu yang panjang. download tanggal 30 Januari 2008. nilainilai. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya. 6 7 Ibid Baker. p. Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru. dari http://www. para siswa.edu/. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah. tradisi. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya.

Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran. Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional. 24 16 .2. semakin baik kultur sekolah. Frymer dan Sergiovanni (1984). (Jakarta: Depdiknas. semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. 2002) p. Sebaliknya. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8. Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif. afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. sikap. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. Artinya. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME.

p. (Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 9 10 Shermerchorn. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya. (New York: John Wiley & Sons Inc. ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. p. 1994). Oleh karena itu. Managing Organizational Behavior. harapan. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. perilaku. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. Taliziduhu. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). 426 Ndraha. 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. 1999). Teori Budaya Organisasi. yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. John R. 75 17 . et al.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. Jr. Sekolah merupakan organisasi pendidikan.

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini.omjay. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. Oleh karena itu. seperti keberadaan guru yang berkualitas. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12.pakguruonline.com.8m. Bukti terakhir. hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri.proses transmisi kultural antar generasi tersebut. (artikel bebas pada http://www. Dalam dunia pendidikan. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim. Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik.pendidikan. yakni berupa kultur sekolah". Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz.wordpress. pada http://www. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah.net/pradigma_pdd_ms_depan_36. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan.com&wijayalabs. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. bukannya kultur masyarakat secara umum. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .html. artikel Kultur Sekolah. tetapi juga dalam wujud non-fisik. tanpa tahun). download 21 .

f) partisipasi orang tua siswa. 3 Ibid 22 . analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. h) hubungan akrab di antara guru. ritual. dan.terhadap fenomena sosial. dan. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. guru. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. staf administrasi maupun siswa. p. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. Dengan kata lain. b) sikap dan motivasi kerja guru. sikap. e) ideologi organisasi yang kuat. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13. seperti. Namun demikian. c) komunitas sekolah yang tertib. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. normanorma. a) rangsangan untuk berprestasi. d) pemahaman tujuan sekolah. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. g) kepemimpinan kepala sekolah. Artinya. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit.

menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. moral. 4 23 . Perpaduan unsur siswa. p. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. guru. dan 14 Wijaya Kusumah. Menurut Deal dan Peterson (1999). Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. kebiasaan keseharian. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. 1. guru. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. tradisi. Op. seperti kepala sekolah. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah.Cit. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi.variabel.

mengembangkan budaya bersih. menyelenggarakan konferensi 24 . dan dedikatif terhadap pencapaian visi. bekerja keras. budaya kerjasama (team work). petugas administrasi. Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi). siswa.simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. jujur. ludaya kepemimpinan (leadership). serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). terintegratif. adil. kreatif. Budaya sekolah merupakan ciri khas. toleran dan cakap dalam memimpin. guru. lima hari belajar. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. kreatif. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. shalat Dzuhur berjamaah. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. mampu menjadi teladan. doa sebelum/sesudah belajar. dan masyarakat sekitar sekolah. melaksanakan tadarus. karakter atau watak. hafalan Juz Amma. doa bersama menyambut UN/US. studi amaliah Ramadhan. menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa.

Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. kegiatan olah raga dan kesenian. penerbitan majalah sekolah. studi siswa. kunjungan industri. pengembangan teman asuh. kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya. infaq. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. staf administrasi bahkan siswa 25 . pengelolaan ZIS (zakat. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS. peningkatan disiplin. pelepasan pengenaan seragam sekolah. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. 2. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. banding. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. berbuka puasa bersama. dan sejenisnya. dan sebagainya. pentas seni. PHBN. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. pengembangan kesadaran lingkungan. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. kegiatan praktek ibadah. PORSENI. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. bakti sosial. Biarlah guru.kasus.

Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. struktur organisasi. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. mana segi positif dan mana negatif. orang tua. kepuasan terhadap kelas. perlu kolaborasi antara kepala sekolah. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. dan. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. guru. Untuk membangun visi sekolah ini. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. staf. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. b) mampu membangun tim kerjasama. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. dan siswa. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. 3. c) belajar dari guru. dan produktivitas sekolah. nilai-nilai dan normanorma. staf administrasi dan tenaga profesional. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. Karena. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah.

Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga. dalam proses pembelajaran. Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. penggunaan logo dan emblim sekolah. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu. serta kegiatan-kegiatan lainnya. Carolyn. (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. guru. serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. 1996). 15 Turner. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan. Sebagai latar. penggunaan seragam. analisis perkembangan. p. Exploring School Culture. Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. 10 27 . saling menghargai. Jane and Crang. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah.

mengembangkan. Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. (4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada.Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. Dengan cara ini 28 . atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat. (1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. memper-tahankan. kebiasaan. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya. (2) Mengembangkan nilai-nilai. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif.

Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem. Aileen Mitchel. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. 1998). 23 29 . Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. p. C. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. Dalam konteks manajemen umum.pula. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah.

(Bandung: IKIP Bandung. M. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998.. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan. 1998). Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: PT Ghalia Indonesia. mempertimbang-kan.. serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution. 2004). dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya. Nur. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak. kekuasaan. 172 Abdullah NS. Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan.29 30 . dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh. p.” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang.tugas semata kepada staf. 18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas. p.

Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19. Aileen Mitchel. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. 16 Ibid. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi. Op. Akan tetapi. p.Cit. prosedur. diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart. 2. dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal. p. perintah.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan. Oleh karena itu. 18 31 . Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20.

Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. serta komunikasi berjalan secara maksimal. 21 Ibid. p. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. prosedur. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya. dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. 17 32 . perintah. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut. dan lain-lain yang tidak perlu. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21. memberi nasihat.dapat tercapai dengan cepat. tepat. Secara esensial. Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka. Berdasarkan pendapat di atas. Akan tetapi.

a. Oleh karena itu. 24 33 . Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan). uang tes sumatif (sekolah swasta). maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. uang pendaftaran ulang. uang karyawisata. p. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. sumbangan bulanan atau SPP. Artinya. Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan. Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. dan sebagainya. Cit. sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. Op. Lebih jauh.

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25. D. imajinasi. Aileen Mitchel. Cit. p. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. dan kematangan. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. Atas dasar itu. pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat. penundaan program. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen. Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. 32 37 . dan efisien. selalu mengharapkan perubahan. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan. Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran..Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. fleksibel. Op.

M. Nur.Cit. dan (h) standar penilaian pendidikan. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya. 67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 . Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun. maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (b) standar proses. 26 Dalam lingkungan pendidikan. Op. Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas. (e) standar sarana dan prasarana. (f) standar pengelolaan. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi.1. p. (c) standar kompetensi lulusan.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. (g) standar pembiayaan.

(Jakarta: Depdiknas. 4 39 . dan output pendidikan . barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah.28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum.tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. para siswa. 2. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat. Dalam konteks pendidikan. 2002). p. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah). pengertian mutu mencakup input. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama. komite sekolah. Setlah kedua unsur tersebut. Konsep Dasar MPMBS. proses.

sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. proses belajar mengajar. proses pengelolaan kelembagaan. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. tujuan. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. program. Makin tinggi tingkat kesiapan input. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. deskripsi tugas. 40 .29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. karyawan. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah.untuk berlangsungnya proses. Dengan demikian. Input harapan-harapan berupa visi. siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. Oleh karena itu. guru termasuk guru BP. proses pengelolaan program. serta yang lainnya. misi. makin tinggi pula mutu input tersebut. dan sebagainya). proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. rencana. peraturan perundang-undangan. bahan. uang. perlengkapan. dan proses monitoring dan evaluasi. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah.

kurikulum. inovasinya. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). EBTANAS. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. EBTA. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). seperti misalnya IMTAQ. kesenian. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan. karya ilmiah. siswa. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. uang. efisiensinya. olah raga. khususnya prestasi belajar siswa. keterampilan kejuruan. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. efektivitasnya. kejujuran. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. produktivitasnya. berupa nilai ulangan umum. lomba akademik. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik.(guru. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. peralatan. dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis. dihayati. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. kualitas kehidupan kerjanya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 . Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. dan (2) prestasi non-akademik. kesopanan. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran. a. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. pelaksanaan. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. Fokus pada pelanggan. 42 . Mengembangkan kebebasan yang terkendali. serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. dan pengawasan. Untuk mencapai sasaran mutu tersebut. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. 3. Memiliki obsesi terhadap kualitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. tugas. c. d.

mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. pp. 30 Nasution. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu.30 f. Mengembangkan kerja sama tim. Memiliki kesatuan tujuan. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi. Op. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. misi. Cit. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. 195-196 43 . h. Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia. e. dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. Secara skematis. g. Oleh karena itu.

Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya. dimensi sumber daya manusia. Misi. melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan. dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. p. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya.Perencanaan Menetapkan Visi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas. 198 44 .1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Untuk mencapai sasaran mutu sekolah. baik dimensi manajemen. serta dimensi 31 Ibid.

memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. pekerjaannya me-miliki kontribusi.infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. dia tahu posisinya di mana. bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah. inovatif. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. pada umumnya. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. Selanjutnya. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. komitmen yang tinggi pada dirinya. BAB III 45 . dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang. berani mengambil resiko. gigih. Akhirnya. dia bertanggung jawab. dan sebagainya). misi.

penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. 2. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. 1. Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 1. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. Kabupaten Cianjur. 3. dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah. B. Sedangkan secara khusus. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah.METODOLOGI PENELTIAN A. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah.

yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap. Tabel: 3. tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 . Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini. Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian. 2.

Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. atau lukisan secara sistematis.Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. gambaran. set kondisi. sistem pemikiran. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. 2004). ataupun peristiwa sekarang. Jadi. p. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. Metode Penelitian Administrasi. Oleh karena itu. atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. 11 48 . permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. objek. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki. Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. (Bandung: Alfabeta. 32 Sugiyono. Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif.

maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. Berkaitan dengan hal di atas. Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah. bidang tugas. komite sekolah. dan guru-guru. 2. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. 1. Observasi 49 . maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih. E. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat.D.

arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. pengembang-an materi pembelajaran. Instrumen Penelitian 50 . dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). 3. d. c. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). serta e. perencanaan evaluasi. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik. dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. arsip. Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. F. b. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS. data prestasi guru. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a. laporan-laporan.

Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”. Pelaksanaan program sekolah 4. 6. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup. 8.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. Pengawasan pelaksanaan program 7. 5. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. Untuk mengungkap data tersebut di atas. yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. 3. 51 . 2. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. Secara global. Tabel 3.

32 33 Masyarakat (Orang tua 22. 17. 12. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. 52 . Siswa 19. Pimpinan sekolah 13. 15. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9. 30 20. 31 21. 18. 21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. 11. Guru-guru 16.

Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan. pengamatan. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. 38 39 Peningkatan PBM 29. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. 36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. 35 Pembinaan kesiswaan 25.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. dan sejenisnya. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. upacara bendera. dan sebagainya. pelaksanaan peringatan hari besar Islam. dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. 28. pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. 37 27. upacara PHBN. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . Indikator yang baik. 40 Penciptaan 30. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi.

dokumen sekolah. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . serta konklusi dan verifikasi data. penampilan data. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. yakni terdiri atas reduksi data. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G. dengan langkah-langkah sebagai berikut. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. yakni dari hasil angket. 1. serta pengamatan secara langsung. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. teori.

network. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah.banyak. Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian. sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. 2. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut. chart. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . data disajikan dalam bentuk matriks. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah. Pada tahap reduksi data. Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola. tema. 3. Selanjutnya. 1. ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian.

grafik. 3. Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. BAB IV 56 . Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian. tabel matriks. Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. 2. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.pengembangan kultur sekolah. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian.

SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar. Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K. Secara terperinci. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). Selain itu. H.225 meter persegi. A. Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6. Kecamatan Karangtengah.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2. Kabupaten Cianjur. Saleh KM 7. data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut. 1 ruang laboratosrium IPA. 1 ruang perpustakaan. 6 orang guru bantu. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi. Desa Sukasari. 57 .HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya. serta 9 orang guru honor sekolah. Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R.

Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih. Kabupaten Cianjur. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah. inovatif. • Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. B. kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders. berilmu. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. guru-guru. 58 . mandiri. prestasi. • Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. sehat dan Islami. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan.

Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 . Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah. Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. 1. pengawasan pelaksanaan program sekolah. yakni perencanaan pengembangan sekolah. jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis. serta persentase pada setiap opsi.Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. a. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah. pelaksanaan program sekolah. maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket.

b. Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. d. dilakukannya sendiri Tidak. hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang.86 24. meminta bantuan salah seorang guru 60 .63 13. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS.86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS. maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan. b. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS.Opsi F % a. Ya. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan. Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64.51 a. c.32 10.

yakni sebanyak 24 orang (64.76 37 100 61 . Sementara itu. Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64.43 c. 21 56. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b. kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan.86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut.81 a.86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru. 8 responden (21. 12 32. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. sebagian besar guru. dan 5 orang guru (13. Tidak. Dari 37 responden.c.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah.

43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 .76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola. sebanyak 21 orang guru (56. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b.76 a.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. 12 orang guru (32. 12 32. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56. 4 10. Dari 37 responden. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui.72 c.Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS.

81 24. 21 orang guru (58. b. 4 10. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10.32 a. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan.06 63 . Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah.dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah.81 d. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Sedangkan 12 orang guru (32. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. 20 54.

06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.57 a. Ya. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. sebanyak 20 orang guru (54. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67. Dari 37 responden.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah. 4 guru (10. Selanjutnya. Sementara itu. 9 guru (24. selalu 64 .32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan.81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja.

Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32. c. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. b. siswa. kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah. serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah.b.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. e.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran. Dari 37 responden. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut. 25 orang guru (67. staf tata usaha. d. 65 .57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah.

Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Tim 66 . dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54. serta perubahan-perubahan lainnya. Ya. perubahan personal pembantu kepala sekolah. Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. c. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat. Pada konteks ini. Perubahan struktur organisasi sekolah. Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan. b. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif.Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum.06 32. Pembina Siswa. 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik.43 13.51 100 a. selalu Kadang-kadang Tidak pernah.

apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 .16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran. Meskipun demikian. Tidak pernah. Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Ya. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. selalu. sebanyak 14 orang responden (37. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62.16 37.Pembangunan Fisik Sekolah.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. b.84 100 a. Dilakukan secara bertahap.

efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56. d. Jumlah Total 24 13 64.86 35. Ya. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.a. Ya. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 .76 43. Ya. c. b. Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. Tidak pernah. Akan tetapi.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah.14 c.24 0 0 a. b. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64.

14 37. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 . 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. 20 54. Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah.11 0 a. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c. b. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah.76 %).84 d.

Sangat perlu.05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b. 20 orang guru (54. Tidak. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan.84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. 14 orang gur (37. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Kesimpulan Sementara: 70 .belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu. c. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a. Sekali-sekali boleh.

guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel. Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a. Ya. b. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. Di sisi lain. tapi tidak terlalu ketat. Selalu Ya. c. Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . c. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah.

Kegiatan monitoring ini dilakukan …. atau 10.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah. atau 67. b. dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru.81 67.57 %). atau 21. Nomor Opsi a. d. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan.62 10.62 %). 72 .81 %). pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru. Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21. c. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden.57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah. Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester.

Meskipun demikian. monitoring juga dilakukan oleh …. c. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 .43 32. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden). b. d. Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya.14 100 a.43 0 35.42 %). PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri. Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32. monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden. 13 orang guru lainnya (35.Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. atau 32.

sedangkan 5 orang guru (13. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21. Kadang-kadang program. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah. Berdasarkan penyajian data di atas. 24 responden lainnya (64. b. Menurut 8 responden (21. komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah.52 a. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya.62 64.86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah. Komite 74 . dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya.62 %).52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. c.86 13.Opsi F Ya.

d.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi. b. Sebaliknya. d. Ya.76 43. 16 guru lainnya (43.76 %). 75 . Pada konteks ini. Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56. c. selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan.24 0 0 100 a.

Ya. Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan. 21 37 57. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Ya. Meskipun demikian. 16 responden (43.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja.76 100 Analisis: 21 responden (57. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b.Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan.76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 . Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja.24 a.

Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 . c. Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78.76 0 100 a. Ya.a. b. Sementara itu.38 21. selalu dilakukan demikian. perbaikan 29 8 0 37 78. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43. 8 responden lainnya (21.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa.24 56. b. c.62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi.62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang.

Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas. Sementara itu. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi. kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini. 21 orang responden (56. Dari 37 responden guru. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. sebanyak 16 orang (43. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. Pada kasus seperti ini. 78 . pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan.program dan atau pada pelaksanaannya.

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

Pertanyaan Nomor 25: 82 . saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah.24 45. b. c. sedang-kan 17 responden lainnya (45. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43. Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah.95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih.95 0 89. Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43.49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman.32 orang responden (86.24 %).19 a.

maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS). efektivitas. produktivi-tas. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik.52 0 100 a. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. efektivitas. b. produktivitas. Komponen Guru-guru 83 .86 21. Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan. Ya. c. yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah. kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas. Ya.Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas.62 13. b. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. d.

Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 . Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a.Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut.11 c. Ya. 0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91. b.89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik.89 8. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah.

20 orang responden guru (54. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78. Ya. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.a. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b.62 10. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan.81 13. 0 0 37 100 Analisis: 85 . semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. sedangkan 8 orang (21. d. Ya. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54.05 21. 8 21. b. Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga. c. Sementara itu.62 c.38 a.

Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 .30 a. Sementara itu. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97. Tidak. 0 0 36 97.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang. semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Ya.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar.Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b. Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu.

Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. Tidak. serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa.49 0 10. Ya.81 a. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut. Tentu saja. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik. c. karena siswa juga warga sekolah. b. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah. keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal. Tidak. Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . c.

49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. d. Akan tetapi. Sementara itu. 32 responden (86. 88 . Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. Ya. c. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru.81 0 a. Dalam akademis bidang akademis Ya. Hanya dalam bidang non akademis saja.19 0 10.dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. b. siswa memiliki peran yang tidak sedikit. Hanya dalam bidang akademis saja. Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah. Tidak. Ya. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan.

Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 . 29 78. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b. termasuk teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan pengamatan 29 responden (78. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer.38 c.62 a.38 %). Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. komputer. Ya.19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis.Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89.

d. pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 .menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. terutama para orang tua siswa. Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi. Di samping itu. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini. Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis.

Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. c.mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18.08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah.92 81. Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. c. 4 25 10.62 a. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung.81 67.08 0 100 a. Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81. Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani.57 91 . b.

3.57 %) dari 37 responden guru.secara material tidak membebani mereka d. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 . Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah. Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. Kemampuan manajerial kepala sekolah. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik. kompetensi dan sikap profesional guru. Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67.

Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. a. peningkatan PBM. pembinaan kegiatan ekstrakurikuler. atau setiap hari selama beberapa 93 .78 70. d. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. pembinaan kesiswaan. c. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. setra pengembangan nilai-nilai. b. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah.27 a. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut.

shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran. dan sejenisnya).09 100 0 78. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan. e. j. l. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5. h. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ………………. g. Mengelola kegiatan ZIS (zakat.09 responden (78. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. 37 0 29.41 5. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah. lomba da’wah. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. 94 .menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. f. Mengembangkan budaya bersih diri.62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS.41 100 100 k. i.62 Analisis Pada dasarnya. pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29. infaq.

89 0 0 94. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. Menerbitkan majalah sekolah. g. f.59 0 0 62. ………………. h. Pada konteks pembinaan siswa. waktu. dan yang lainnya). j. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. d. 95 . i. c. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. e.2 100 100 100 40. k.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera).b. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a. 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23.54 91. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Rata-rata Pilihan b. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran.

serta penerbitan majalah. yakni pelaksanaan widyawisata. tolak peluru. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN. g. Atletik (lari. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut. dll.2 responden (62. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah.30 27.73 97. c. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64.) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 .Penerapan disiplin siswa secara konsisten. penyelenggaraan teman asuh.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah.86 29. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23.03 64. e. Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah. lempar cakram. loncat jauh. LDKS.86 a. d. b. f. loncat tinggi. pelaksnaan bakti sosial. c.

73 %).h. Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas. j.30 %). Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah.53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan. d. kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola. kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa. i.53 Analisis Rata-rata 11. dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29.86 %). sepak bola (36 orang atau 97. Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11. Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64. Berdasarkan tampilan data di atas. dan tenis meja (24 orang atau 64.67 0 0 0 31.03 %). Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 . futsal (10 orang atau 27.67 responden (31.86 %).

86 0 0 0 0 0 8. Seni musik (band. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. i. e. c. f. g. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 . Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah.Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64. h. d. b.11 a.

b.05 59.76 54. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya.45 %. PKS.Opsi a. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra ………….67 % 100 0 56. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR). c. f..67 orang responden.43 0 50. e.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa. Sebanyak rata-rata 18. g. atau 50. UKS/PMR.46 32. pramuka. d. Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 . Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi.

pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah.33 5. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian. b. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 . ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif. Membentuk komunitas belajar) mandiri. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e. Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. pengamatan. f. Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah. 2 24 4. Oleh karena itu. c. d.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa.86 11.a.41 64.

08 %).30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah.97 89. 37 27 33 100 72.19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah.30 %). dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83.78 81. b. f. menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97. Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83. Pada konteks ini. sebanyak rata-rata 33 responden (89. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 . Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81.19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.08 97.yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a. d. Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e. c. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %).78 %).

35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 .35 18. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72.29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah.05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. ditumbuhkan. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum ……………………. Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah.05 51. b.86 0 47. Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan.97 %). Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. c.92 64.5 % 54. d. kemudian 19 responden (51. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a. e.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %).

terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Meskipun demikian. C. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual. 103 . 24 responden (64.bersih diri dan bersih lingkungan. Akan tetapi. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum.

peran guru-guru. serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah. Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. sikap hidup dan keterampilan hidup. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. pengawasan pelaksanaan program. Selain itu. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah. pandangan hidup. pelaksanaan program sekolah. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 . profesi-onalitas guru dan staf sekolah. pengelolaan pembelajaran. yakni. peran komite sekolah. seperti perencanaan pendidikan. luar sekolah dan keluarga. 1. diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah.Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan.

Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. Pelaksanaan di luar sekolah. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah. Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. serta kultur sekolah. 105 . maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation". suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. yakni: proses belajar mengajar. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar.dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. Konsekuensi dari pemyataan ini. meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. kepemimpinan dan manajemen sekolah.

dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas. nilai-nilai. suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. Namun. padahal kultur negara- 106 . Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Oleh karena itu. Dalam dunia pendidikan. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. sikap hidup. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. Bukti terakhir. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. perilaku. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. yang mencakup cara berpikir. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. sikap. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah.

2006). p. guru. 48 107 .33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. seperti keberadaan guru yang berkualitas. sikap. staf administrasi maupun siswa. Paradigma Pendidikan Masa Depan. tetapi juga dalam ujud non-fisik. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz.negara tersebut berbeda. ritual. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. bukannya kultur masyarakat secara umum. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif.com. p. 33 34 Lukman El-Hakim. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. (Jakarta: Endonesa. 47 Ibid. yakni berupa kultur sekolah". para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. Oleh karena itu. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. normanorma. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah.

misi. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 2001). b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. 51 Depdiknas. h) hubungan akrab di antara guru. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. 35 Namun demikian. 35 36 Ibid. Artinya. d) pemahaman tujuan sekolah. b) sikap dan motivsi kerja guru. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. c) komunitas sekolah yang tertib. dan. serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. g) kepemimpinan kepala sekolah. a) rangsangan untuk berprestasi. Buku I. f) partisipasi orang tua siswa. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. p. melainkan lewat berbagai variabel. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah. 32 108 . penerapan sistem pengawasan. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. seperti. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. p. dan. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. 36 Dengan kata lain. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru.Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi. e) ideologi organisasi yang kuat.

Kepala sekolah. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. nilai-nilai dan normanorma. non-fisik. mana segi positif dan mana negatif. dan sumber daya manusia. komite sekolah. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. tenaga tata usaha. yang meliputi faktor-faktor fisik. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah.2. dan produktivitas sekolah. 49 109 . guruguru. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. sebagai unsur pimpinan sekolah. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor.Cit. Untuk membangun visi sekolah ini. kepuasan terhadap kelas. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Op. harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. perlu 37 Lukman El-Hakim. 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. p. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Biarlah guru. struktur organisasi.

staf administrasi dan tenaga profesional. Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. c) belajar dari guru. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. staf. b) mampu membangun tim kerjasama. Karena. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. dan siswa. p. orang tua. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman. guru. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. 50 110 .kolaborasi antara kepala sekolah. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting. dan.

Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. Untuk itu instruksi. Sekolah. Dalam kaitan inilah. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. kerja efektifdan efisien. Upaya peningkatan kualitas sekolah. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. Semakin besar otoritas 111 . Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. dan. Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan.fenomena masyarakat secara efisien. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah. lewat action research. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Untuk itu.

sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. guru. seperti kepala sekolah. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. 112 . Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. moral. Oleh karena itu. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. Nilai. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah.

Cit.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting. Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. serta tidak menguasai materi. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar. 53 113 . sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak. Op. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR.Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini.39 39 Lukman El-Hakim. p. Penelitian yang mencakup 1. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.

pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. guruguru. sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Dalam menuju era globalisasi. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Untuk itu. Di samping itu. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. terutama para pengguna jasa pendidikan. 3. keinginan berprestasi. kebersamaan dan 114 . Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak.

pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 . secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat. sebagamana dikutip oleh Budisatyo. pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. memperingatkan ". yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan. Dari aspek non-fisik. termasuk di Indonesia. khususnya negara-negara di dunia barat. Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju. Winarno Surachmad (1986). memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa. membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.. dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.tanggung jawab. Di samping itu.. Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan.

Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan. 40 Barangkali. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal. Selasa.com download tanggal 29 Desember 2007 116 . sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri. kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo. setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah. 23 Agustus 2005). yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan.suara-merdeka_online. Di sisi lain.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah. pendapat tersebut sangat ekstrim. artikel pada http://www. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah.

serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 . Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang. Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya. sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik.pembelajaran. pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual. baik pendidikan akademis maupun non-akademis. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa.

1. dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. Oleh sebab itu. 118 .bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya.

Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar. kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah. Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif. yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. 3. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler.2. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis.

adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. 1. 120 . tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan. B. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut. Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. kontekstual. Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. Oleh sebab itu. dan akuntabilitas.

Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 . Oleh sebab itu. pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. Oleh karena itu. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi. 4. dan siswa) serta komite sekolah. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. guru. Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. 3. Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. tata usaha.2.

dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. 6. baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. bantuan orang tua siswa. 5. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan). yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka. Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 . Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah.

dan sebagainya. biologi. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian. 8. dan penulisan karya ilmiah remaja. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. fisika. tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah.pendidikan. pengamatan. 7. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. IPS. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. Dengan demikian. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 . Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika.

Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan .perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. 1998. Bandung: IKIP Bandung 124 129 . DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS.

com Lindelow. 1999. 1996. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. 2nd edition. Ketentuan Umum 2003a. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 2000. V. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan." In School Leadership: Handbook for Excellence . M. Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional. J. Lucia Press 125 . Jakarta: Endonesa. Yusuf (1995). Kompetensi. Buku I. 2001. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta Ndraha. " School-Based Management. Jakarta Gunung Agung. Taliziduhu. E. John. Principles of Total Quality Management. and Heynderickx. 1994. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Hadari (1981). Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994). Delray Beach: Published by St. Teori Budaya Organisasi. Taliziduhu. James. Nasution. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. Budaya Organisasi. Jakarta Bumi Aksara. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Abin Syamsuddin. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. 2002. 2003. Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi. 2003. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. 2004.Ahmad Sanusi. Lukman El-Hakim. 1998. Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan. Nur. Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun.

Sanusi. al. 23 Agustus 2005). Ahmad. Metode Penelitian Administrasi. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager. J. Bandung: Grafindo Media Utama. Bandung: Alfabeta Turner. Clifford. artikel pada 126 . Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. Jakarta Gunung Agung Stewart. Webster’s New Colligiate Dictionary. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. dari http://www. Robert J Starrat (1979). Supervision: Human Perspective. 1994. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . (1990). Hennry Jay. Montreal. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. New York. Thomas. John R. Ltd. Australia: Allen & Unwin Pty. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. NSW 2059 Woolf.. North Sydney. Seno. Managing Organizational Behavior . 1977. & Riel. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. 1998. A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney. Henry Boosley. 2004. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Shermerchorn. Winarno Hami.P.uci. Aileen Mitchel. 1984. (1980). et al. Jr. Exploring School Culture. Jane and Crang. Margareth M. 1992. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya. Carolyn. Jakarta Gunung Agung. Napier Street. USA Siagian S. et. Selasa. John Wiley & Sons Inc. 1996. ---------(1983). PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. 1999. Depdiknas Sergiovanni.edu/. Filasafat Administrasi. Peranan Staf dalam Management. New York: Me Graw-Hill Book Company.

Sara. 39 pada ERIC.htm. Clearinghouse on Educational Management.edu. Leadership for School Culture . 1983. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni. New York: Basic Books.pendidikan. download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 .depdiknas. The Good High School: Portrait of Character and Culture. http://eric.uoregon.8m.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta.wa.us/guru_masa_depan.uoregon. downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah.suara-merdeka_online.com&wijayalabs. Tulisan pada http://www.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni.wordpress. tanpa tahun).com .edu.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis.http://www. ERIC Digest. Trends and Issues: the Role of School Leader.com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong. 1993. (artikel bebas pada http://www.eddept. Number 91.go. Artikel pada http://www. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . h. Kinerja Guru.au/centoff/cpr/publications. Artikel Artikel pada http://www. pada situs http://www. Guru Masa Depan.html.omjay.

Guru-guru 47.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32. 46. 36. Evaluasi program pengembangan sekolah 41. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. 37. Pengawasan pelaksanaan program 38. 42. 45. 43. 128 . Pimpinan sekolah 44. 33. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 39. Pelaksanaan program sekolah 35. 40. 34.

Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah. 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang. 33 54.55. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten. Siswa 50. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. dan sebagainya. Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. 31 32 52. melaksanakan peringat-an hari besar Islam. 37 129 . melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. upacara PHBN.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. Masyarakat (Orang tua siswa) 53. 30 51. upacara bendera.

pengamatan. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60. 59. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. mengembangkan cinta lingkungan. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa. 41 Pengembang.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. 40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61. dan sejenisnya. Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian.62. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan.

Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada.Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. 1. Tidak pernah 2. 4. Selalu b. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Sering c. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. Ya. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu. Jarang d. c. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 . kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a. Jika RPS disusun setiap tahun. meminta bantuan salah seorang guru c. Tidak. b. dilakukannya sendiri b. Tidak. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran.

Tidak pernah. Pembina Siswa. Kadang-kadang menerima d. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. b. Ya. staf sekolah dan c. 132 . d. Ya. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. 6. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Kadang-kadang c. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Jarang menerima e. c. Ya. b. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. Sering menerima c. selalu b. Dilakukan secara bertahap. Tidak pernah. 8. 135 5. selalu. selalu b. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat.a. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Tidak pernah 7. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. b.

apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. b. Sekali-sekali boleh. Ya. d. Ya. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. c. c. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. b. c. c. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Tidak. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. d. b.9. 12. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. Ya. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. Tidak pernah. b. Menurut Bapak/Ibu. 11. 13. 10. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Sangat perlu. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan.

Selalu b. Setiap semester 15. 17. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. monitoring juga dilakukan oleh …. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Ya. Ya. Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a.a. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. a. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. Ya. b. tapi tidak terlalu ketat. Ya. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. Kelompok guru senior yang dipercayai d. d. Setiap triwulan d. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. Setiap minggu b. Tidak pernah 18. Sebagai Controlling Agency. a. Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Kadang-kadang dievaluasi c. c. Ya. 19. Sama sekali tidak. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Setiap awal bulan c. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Sebagai bahan mendatang. selalu b. b. c. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. 16. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. 14. Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. Wakil kepala sekolah b. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. Ya. PKS Urusan Kurikulum) c. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu.

efektivitas. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah.b. Sebaiknya seperti itu b. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. 20. selalu dilakukan demikian. Disimpan saja. Tidak pernah 22. perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. Ya. Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. 23. Tidak memiliki daya ramal c. Samar-samar. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. Kadang-kadang ada target 135 . Kadang-kadang c. b. Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. produktivitas. b. c. c. c. Ya. 21. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. c. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. b. Ya. Ya b. Tidak tahu 24. Ya. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. Tidak. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. Menggunakan arahnya. selalu b. Kadang-kadang dilakukan seperti itu. c.

Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . 31. Selalu dilibatkan b. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. 29. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. 28. d. b. b. c. 27. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Ya. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. Menurut Bapak/Ibu. Tidak pernah memberikan target secara khusus. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. b.d. c. Tentu saja. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. Kadang-kadang saya terlibat juga. Tidak. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. Ya. Tidak. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a. Ya. 26. Tidak. karena siswa juga warga sekolah. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. 30. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. b. Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. c. Menurut pandangan Bapak/Ibu. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung. Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. c. Ya. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. Ya. Ya.

. Ya. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. Ya. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. b. e. 33. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Hanya dalam bidang akademis saja. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. b. c. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. c. 34. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Sebagian terbebani. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. Hanya dalam bidang non akademis saja. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. b. c. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. d. c. Ya. d. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. Apakah masyarakat di sekitar sekolah. terutama para orang tua siswa.b. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. 32. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. c. Tidak. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. internet)? a. d. komputer. 137 . b. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a.

k. Menerbitkan majalah sekolah. f. i. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. infaq. Mengembangkan budaya bersih diri. h. d.. apa saja yang sampai saat ini 37. …………………………. j. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama.. h. i. b. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. dan sejenisnya). g. Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis …………. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. 36. g. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. dll. dan yang lainnya). Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran. c. tolak peluru. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. f. h.) 138 . d. e. b. j. j. lomba da’wah. i. e.f. l. lempar cakram. waktu. loncat tinggi. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. k. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). c. Atletik (lari. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. loncat jauh. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. shadaqah). g.

Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri. e. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a... c. i... b.. b.. Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 .. d. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39.. f. f. c. g.... d... Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan. 40. Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian.. g... Seni musik (band.. e. c... Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a. d...... b... Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a..38. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik ... OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra ………….. 41. pengamatan. f. h.. e.... Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. b.. c.

c. perlu dipertahankan.. f........ Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah..... dan dikembangkan di sekolah? a.. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan. e... b......d. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum. . ……………….. d... 42...... Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan.. 140 . Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. e............ Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful