PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

Hasan Walinono. Dr. . Dr. 3.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. Oleh sebab itu. Prof. proses penelitian. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. Prof. baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Nana Sudjana. Atas bantuan berbagai pihak. Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. Dr. Prof. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. 2. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1. I Made Putrawan. hingga penyusunan tesis ini.

5. Untuk itu. Akhirnya. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. Januari 2008 Penulis. xxxxxxxxxx . Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. Jakarta. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut. 7. tak ada gading yang tak retak. Hasan Iskandar. Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. Bapak R. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. 6. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. Kabupaten Cianjur.4.

.................................................................. Rumusan Masalah ....................... B.............................................................. KATA PENGANTAR ...................... Identifikasi Masalah ......................................... C................ Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah .... RINGKASAN TESIS .......... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS ................................................. A............. DAFTAR ISI ................... BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS ......................................................................................................................................................... E.. Bab I PENDAHULUAN ... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ...............DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN .................. Bab III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... A......... D......................... Latar Belakang Masalah ........... Tujuan Penelitian ................................... D................ A...................................................................................... B.. Manfaat Penelitian ............................... B..................................................................... Mutu Pelayanan Sekolah ............................................................................................................ Konsep Dasar Kultur Sekolah .......................... Batasan Masalah ............................................ 10 10 17 27 37 C................................................................................................ Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ........................................................................................................................................

..... Unit Analisis ......... Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur .................................................................................... Pembahasan Hasil Penelitian ................... Instrumen Penelitian .................... D.... Teknik Analisis Data ............. 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA ....... A..................................... Saransaran ..................................................... 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN ................ 129 132 1......................... Temuan Penelitian ................... 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... Teknik Pengumpulan Data Penelitian ......................... G......... 5............... C.............. 2.... 3................................. E............................................... C... F.... .... B........................... 4.............................................................................................................. Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ............. Kesimpulan ..................................Penelitian ........... ........................................................................................... Lampiran ........................................................................................................................ B.................... A......................... Metode Penelitian .....

Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. 5 .BAB I PENDAHULUAN A. Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah. Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya.

berilmu. berakhlak mulia. keluarga dan lingkungan masyarakat. Demikian pula halnya dengan pendidikan. Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. mandiri.melainkan perlu dibentuk. Pasal 3 Undang-undang No. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. kreatif. sehat. perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya. dibangun. jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. Ibarat bangunan. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya. cakap. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. 6 .

Secara umum. Sementara itu. kepribadian. Dengan kata lain.Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah. emosi. budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. Secara sederhana. Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik. suasana (atmosphere). proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. nilai-nilai. Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah. dan iklim (climate) organisasi. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. dan nilainilai yang sama. sifat (tone). keyakinan ( belief). sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. Kultur sekolah pada dasarnya 7 . dan ego yang beragam. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. rasa (feel). kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab. lingkungan (milieu).

Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . rasa. B. departemen. sifat. Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. suasana. Aspek itu adalah iklim. Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. guru-guru. Dalam konteks pendidikan. Berdasarkan uraian di atas. dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. lingkungan. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan. atau tim. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat.

Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal. Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif. Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer. Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut. Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah. yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. 9 .

siswa. staf sekolah. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. siswa. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3. dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4. Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. Hal ini sejalan 10 . serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. Apakah visi. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi.1. Apakah seluruh warga sekolah (guru. komite sekolah. 8. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. misi. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan. komite sekolah. serta unsur lainnya yang terkait)? 2. misi.

masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. 2. 31 11 .dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono. Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut. Metode Penelitian Administrasi. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. (Bandung: Alfabeta. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. p. 1. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3. 2004). 3. D. Agar penelitian ini tidak meluas. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah.

E. Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. sekolah. Ketiga. Pertama. Kedua. melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. serta dinas pendidikan. penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 . Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan. Secara teoritis. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa.

taken in its wide ethnographic sense. belief. p 43 Ibid 13 . dalam Taliziduhu 3. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Edward Burnet Tylor. custom. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society. menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha. law. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization. 2003).” Sedangkan Vijay Santhe. is that complex whole which includes knowledge. Budaya Organisasi. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban.bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian. art. 1. (Jakarta: PT Rineka Cipta.

10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. Number 91. 1993) pada situs http://www. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah. hukum. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai.” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. (ERIC Digest. 1 Ibid 14 . kebiasaan dan kemampuan. dan sejarah/riwayat. Leadership for School Culture . dalam konteks yang lebih kecil.uoregon. etos. p. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. seni. kepercayaan. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati. seperti iklim. Deal dan Kent D. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat. keyakinan.budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong.

dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies. Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru. dari http://www." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. dan kepala sekolah . upacara agama. Margareth M.peristiwa dan waktu yang panjang.uci. p. kepercayaan atau keyakinan. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. tradisi. & Riel. 1999). Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. upacara. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya. Paul E. nilainilai. 6 7 Ibid Baker. Hennry Jay. download tanggal 30 Januari 2008.edu/. Montreal. Hennry Jay Baker dan Margareth M. mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam. dalam anggota warga atau komunitas sekolah. 8 15 . pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. yang meliputi latar atau setting sekolah. para siswa. Dengan demikian. (a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya.. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun.

Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. sikap. Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran. Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional. semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya. Artinya. Sebaliknya. Frymer dan Sergiovanni (1984). semakin baik kultur sekolah. 24 16 . (Jakarta: Depdiknas. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. Dengan demikian.2. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8. Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif. tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME. 2002) p.

yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. 426 Ndraha.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif. p. 9 10 Shermerchorn. harapan. 75 17 . Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya. perilaku. Sekolah merupakan organisasi pendidikan. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. Taliziduhu. Jr. p. Oleh karena itu. Teori Budaya Organisasi. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. John R. (Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. (New York: John Wiley & Sons Inc. 1994). Managing Organizational Behavior. 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. et al. ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. 1999).

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

tetapi juga dalam wujud non-fisik.proses transmisi kultural antar generasi tersebut. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. Dalam dunia pendidikan. artikel Kultur Sekolah. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12.html.wordpress. Bukti terakhir. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .com&wijayalabs. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. Oleh karena itu. bukannya kultur masyarakat secara umum. Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah.pakguruonline. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah.pendidikan. tanpa tahun). yakni berupa kultur sekolah".net/pradigma_pdd_ms_depan_36.8m. pada http://www. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. seperti keberadaan guru yang berkualitas. download 21 .omjay. (artikel bebas pada http://www. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz.com.

Dengan kata lain. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. a) rangsangan untuk berprestasi. sikap.terhadap fenomena sosial. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. b) sikap dan motivasi kerja guru. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. g) kepemimpinan kepala sekolah. c) komunitas sekolah yang tertib. f) partisipasi orang tua siswa. h) hubungan akrab di antara guru. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. dan. d) pemahaman tujuan sekolah. seperti. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. normanorma. Artinya. e) ideologi organisasi yang kuat. ritual. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. 3 Ibid 22 . guru. p. dan. staf administrasi maupun siswa. Namun demikian. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain.

seperti kepala sekolah. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. Op. kebiasaan keseharian. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah.Cit. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. 1. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. p. tradisi. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. moral.variabel. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. 4 23 . tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Menurut Deal dan Peterson (1999). dan 14 Wijaya Kusumah. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. Perpaduan unsur siswa. budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku. guru. guru. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah.

dan dedikatif terhadap pencapaian visi. hafalan Juz Amma. lima hari belajar. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). studi amaliah Ramadhan. petugas administrasi. doa bersama menyambut UN/US. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. toleran dan cakap dalam memimpin. karakter atau watak. kreatif. mengembangkan budaya bersih. guru. menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa. menyelenggarakan konferensi 24 . ludaya kepemimpinan (leadership). bekerja keras. budaya kerjasama (team work). serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. terintegratif. dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. jujur. siswa. mampu menjadi teladan. melaksanakan tadarus. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. doa sebelum/sesudah belajar. adil. shalat Dzuhur berjamaah. kreatif.simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi).

kegiatan olah raga dan kesenian. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. kunjungan industri. penerbitan majalah sekolah. kegiatan praktek ibadah. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS. dan sebagainya. kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. dan sejenisnya. pentas seni. pelepasan pengenaan seragam sekolah. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. berbuka puasa bersama. 2. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. pengelolaan ZIS (zakat. banding. bakti sosial. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. PORSENI. staf administrasi bahkan siswa 25 . dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. PHBN. studi siswa.kasus. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. peningkatan disiplin. infaq. Biarlah guru. pengembangan teman asuh. pengembangan kesadaran lingkungan. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama.

dan. nilai-nilai dan normanorma. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini. kepuasan terhadap kelas. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. c) belajar dari guru. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. struktur organisasi. guru. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. orang tua. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. mana segi positif dan mana negatif. Karena. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. staf administrasi dan tenaga profesional. 3. dan siswa. dan produktivitas sekolah. staf.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . perlu kolaborasi antara kepala sekolah. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. b) mampu membangun tim kerjasama. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan.

Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. Jane and Crang. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan. Sebagai latar. 1996). Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. analisis perkembangan. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. penggunaan logo dan emblim sekolah. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah.Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. 10 27 . serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. Exploring School Culture. dalam proses pembelajaran. serta kegiatan-kegiatan lainnya. penggunaan seragam. saling menghargai. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga. guru. 15 Turner. Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. p. Carolyn. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu.

(4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah.Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. mengembangkan. (1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya. (2) Mengembangkan nilai-nilai. Dengan cara ini 28 . atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat. kebiasaan. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif. Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. memper-tahankan.

kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. p. C. Dalam konteks manajemen umum. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 1998). istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.pula. 23 29 . Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem. Aileen Mitchel. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah. Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis.

melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh.29 30 . mempertimbang-kan. dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak. (Jakarta: PT Ghalia Indonesia.tugas semata kepada staf. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan.. Manajemen Mutu Terpadu. 172 Abdullah NS. dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya. serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution. p. (Bandung: IKIP Bandung. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. p. Nur. Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. M. 18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas.. kekuasaan. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan. 2004). 1998).” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Oleh karena itu. perintah. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan. prosedur. Aileen Mitchel. 18 31 . Akan tetapi. dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal. 16 Ibid.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. Op. 2. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi. Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20.Cit. diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart. p. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. p. Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19.

dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. Berdasarkan pendapat di atas. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. dan lain-lain yang tidak perlu.dapat tercapai dengan cepat. perintah. 17 32 . Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka. tepat. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. prosedur. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Secara esensial. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya. Akan tetapi. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. p. memberi nasihat. 21 Ibid. serta komunikasi berjalan secara maksimal. Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21.

uang tes sumatif (sekolah swasta).a. Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan). Cit. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. sumbangan bulanan atau SPP. Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. dan sebagainya. maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. Op. Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. Oleh karena itu. p. Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Lebih jauh. uang pendaftaran ulang. Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. 24 33 . uang karyawisata. uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). Artinya. sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan.

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

imajinasi. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. Atas dasar itu. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat. p. fleksibel. penundaan program.Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25.. dan kematangan. 32 37 . Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. selalu mengharapkan perubahan. dan efisien. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. Aileen Mitchel. Cit. D. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran. Op.

Cit. M. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (c) standar kompetensi lulusan. (g) standar pembiayaan. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya. Nur.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. (e) standar sarana dan prasarana. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan. p.1. (b) standar proses. Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas. 26 Dalam lingkungan pendidikan. (f) standar pengelolaan. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi. Op. Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun. dan (h) standar penilaian pendidikan. 67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 . maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu.

Dalam konteks pendidikan. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. pengertian mutu mencakup input. dan output pendidikan . serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah. 2. (Jakarta: Depdiknas. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. komite sekolah. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. 4 39 . Setlah kedua unsur tersebut. p. Konsep Dasar MPMBS. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat. proses. barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah). 2002).28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama. para siswa.tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu.

proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. serta yang lainnya. siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dengan demikian. proses belajar mengajar. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Oleh karena itu. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. dan sebagainya). tujuan. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. misi. dan proses monitoring dan evaluasi. uang.untuk berlangsungnya proses. deskripsi tugas. proses pengelolaan program. proses pengelolaan kelembagaan. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. makin tinggi pula mutu input tersebut. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan. rencana. Makin tinggi tingkat kesiapan input. Input harapan-harapan berupa visi. guru termasuk guru BP. perlengkapan. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah.29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. bahan. peraturan perundang-undangan. karyawan. program. sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. 40 .

menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. siswa. dan (2) prestasi non-akademik. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). efektivitasnya. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. kesenian. lomba akademik. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. kualitas kehidupan kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. berupa nilai ulangan umum. kesopanan. inovasinya. khususnya prestasi belajar siswa. uang.(guru. EBTANAS. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). seperti misalnya IMTAQ. EBTA. olah raga. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis. dihayati. kurikulum. kejujuran. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. dan moral kerjanya. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. keterampilan kejuruan. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. karya ilmiah. produktivitasnya. efisiensinya. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. peralatan. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 .

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. dan pengawasan. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. Mengembangkan kebebasan yang terkendali. d. 42 . Untuk mencapai sasaran mutu tersebut.tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. a. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. 3. tugas. pelaksanaan. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran. Memiliki obsesi terhadap kualitas. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. Fokus pada pelanggan. Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. c.

30 f. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. g. Mengembangkan kerja sama tim. 195-196 43 . yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah. Memiliki kesatuan tujuan. mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. 30 Nasution. misi. Cit. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. pp. dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. e.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. Op. Secara skematis. Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia. h. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu. Oleh karena itu. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu.

dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. baik dimensi manajemen. serta dimensi 31 Ibid. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya.Perencanaan Menetapkan Visi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas. p. melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan.1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya. Misi. 198 44 . Untuk mencapai sasaran mutu sekolah. dimensi sumber daya manusia.

dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. Akhirnya. pada umumnya. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang.infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. berani mengambil resiko. komitmen yang tinggi pada dirinya. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. BAB III 45 . bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. dia tahu posisinya di mana. pekerjaannya me-miliki kontribusi. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. inovatif. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. gigih. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. dia bertanggung jawab. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. Selanjutnya. dan sebagainya). misi.

2. maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. 1. penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah. Kabupaten Cianjur. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.METODOLOGI PENELTIAN A. 1. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. Sedangkan secara khusus. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. 3. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah. B. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007.

1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 . 2. Tabel: 3. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini. tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah. Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian.yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap.

atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif. Jadi. (Bandung: Alfabeta. 2004). ataupun peristiwa sekarang. Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. 32 Sugiyono. sistem pemikiran. Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. gambaran. permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki. 11 48 . set kondisi. Oleh karena itu. objek. Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. p. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. atau lukisan secara sistematis. dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. Metode Penelitian Administrasi.

Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. bidang tugas. serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih. maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan.D. komite sekolah. Berkaitan dengan hal di atas. 1. 2. Observasi 49 . dan guru-guru. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat. E.

pengembang-an materi pembelajaran. data prestasi guru. perencanaan evaluasi. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a. dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). 3. F. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. serta e. b. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik. c. arsip. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. Instrumen Penelitian 50 . rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). d. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian. laporan-laporan. Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

51 . 3. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. Pelaksanaan program sekolah 4. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. 8. Untuk mengungkap data tersebut di atas. Pengawasan pelaksanaan program 7. 5.Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”. 2. 6.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. Tabel 3. Secara global. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup.

Pimpinan sekolah 13. 17. 12. Siswa 19. Guru-guru 16. 21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. 15. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10. 11. 32 33 Masyarakat (Orang tua 22. 52 .Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9. 31 21. 18. 30 20.

upacara PHBN. pelaksanaan peringatan hari besar Islam. dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. 40 Penciptaan 30. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. dan sebagainya.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. Indikator yang baik. dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . pengamatan. 36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. 37 27. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan. pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. 38 39 Peningkatan PBM 29. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi. dan sejenisnya. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. 35 Pembinaan kesiswaan 25. Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. 28. upacara bendera.

serta konklusi dan verifikasi data. 1. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. teori. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G. yakni terdiri atas reduksi data.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya. serta pengamatan secara langsung. dokumen sekolah. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. dengan langkah-langkah sebagai berikut. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. penampilan data. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. yakni dari hasil angket. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting.

ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian. 2. chart. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. network. Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas. Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Selanjutnya. Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian.banyak. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola. Pada tahap reduksi data. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . tema. data disajikan dalam bentuk matriks. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. 1. 3.

grafik. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian. Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. 3. dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. tabel matriks. Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian.pengembangan kultur sekolah. 2. BAB IV 56 . Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian.

57 . Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. Secara terperinci. serta 9 orang guru honor sekolah. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K. 1 ruang perpustakaan. 6 orang guru bantu. Kecamatan Karangtengah. Saleh KM 7. SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya. H.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2.225 meter persegi. 1 ruang laboratosrium IPA. Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6.HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Kabupaten Cianjur. A. Desa Sukasari. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R. Selain itu. data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut.

58 . prestasi. mandiri. B. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. Kabupaten Cianjur. • Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. inovatif. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden. berilmu. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih. kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders.Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan. sehat dan Islami. guru-guru. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah. • Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah.

maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. yakni perencanaan pengembangan sekolah. Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis. serta persentase pada setiap opsi. pengawasan pelaksanaan program sekolah. a. 1. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 . Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah.Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. pelaksanaan program sekolah.

Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64. meminta bantuan salah seorang guru 60 . maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun.86 24.86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS. d.Opsi F % a. c. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS. b.51 a.32 10. dilakukannya sendiri Tidak.63 13. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang. Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Ya. b.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21. hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64.

86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah. 21 56. kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan. Tidak.c. yakni sebanyak 24 orang (64.76 37 100 61 . Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. 12 32. 8 responden (21. Sementara itu. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64. Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10. sebagian besar guru.43 c.86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah. Dari 37 responden.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru.81 a. dan 5 orang guru (13. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b.

Dari 37 responden. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56.72 c.76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola.43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. sebanyak 21 orang guru (56. 4 10.76 a.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b. 12 32.Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS. 12 orang guru (32. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 . sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS.

b. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10.81 24. 20 54. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. 4 10.dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah.81 d. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS.06 63 . Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 21 orang guru (58. Sedangkan 12 orang guru (32.32 a. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c.

06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah. selalu 64 . dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. sebanyak 20 orang guru (54. 9 guru (24. Selanjutnya.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.57 a.81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Dari 37 responden. Ya. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67.32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Sementara itu. 4 guru (10.

65 . Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut. serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. b. 25 orang guru (67. siswa. d.b. kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru.57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah. staf tata usaha. e. Dari 37 responden.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah. c.

Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Perubahan struktur organisasi sekolah. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS.06 32. Pada konteks ini. selalu Kadang-kadang Tidak pernah.43 13. Pembina Siswa. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat. b. Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54. 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik.51 100 a. Tim 66 . Ya. c. Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. serta perubahan-perubahan lainnya. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif. perubahan personal pembantu kepala sekolah.

dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran. Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak.84 100 a.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. Ya. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. sebanyak 14 orang responden (37. Tidak pernah. Meskipun demikian. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 .16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62. selalu. b.16 37. Dilakukan secara bertahap.Pembangunan Fisik Sekolah. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62.

Jumlah Total 24 13 64.14 c. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Ya. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.86 35. b. Ya. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64. c. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas.24 0 0 a.76 43. Akan tetapi. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 .a.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. Ya. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. Tidak pernah. d. b. Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif.

Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah.84 d. Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 . 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah.11 0 a. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c.76 %). Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8. b. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan. 14 37. 20 54.

20 orang guru (54. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. 14 orang gur (37. Kesimpulan Sementara: 70 .84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan.05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Sekali-sekali boleh. c.belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan. Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b. Sangat perlu. Tidak.

b. Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa. Selalu Ya. tapi tidak terlalu ketat. guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. c. c.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah. Ya. Di sisi lain.

Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester.81 %).62 10. atau 21. b. atau 67.57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah. Nomor Opsi a. atau 10. Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21.57 %). kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden. 72 .62 %). c.81 67. d. dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru. pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru.

Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden). Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. b.14 100 a.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 . d. Meskipun demikian. monitoring juga dilakukan oleh …. PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden.42 %). Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32. 13 orang guru lainnya (35.Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu.43 0 35. atau 32.43 32. c.

Berdasarkan penyajian data di atas. Kadang-kadang program.86 13.52 a. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah.62 %). Komite 74 . 24 responden lainnya (64. komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah.52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu.62 64. sedangkan 5 orang guru (13.Opsi F Ya. memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21. c. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya. Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya.86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah. Menurut 8 responden (21. b.

24 0 0 100 a. d. c.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan. b. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi. Ya. Pada konteks ini. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut. 75 . Sebaliknya.76 43. selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi. Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56. 16 guru lainnya (43.76 %). d.

Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan. 16 responden (43.Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan.24 a. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. 21 37 57. Ya. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas.76 100 Analisis: 21 responden (57. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Meskipun demikian. Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi. Ya. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu.76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 . Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b.

62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa.38 21.76 0 100 a. 8 responden lainnya (21. Ya. Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43. Sementara itu.62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. c. Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 . b. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang. selalu dilakukan demikian.a.24 56. perbaikan 29 8 0 37 78. c. b.

Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini.program dan atau pada pelaksanaannya. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. sebanyak 16 orang (43.24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. 21 orang responden (56. Pada kasus seperti ini. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. Dari 37 responden guru. kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu. 78 . Sementara itu. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi.

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah.95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih.49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman.19 a.24 45. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43. sedang-kan 17 responden lainnya (45. Pertanyaan Nomor 25: 82 .95 0 89. c. saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah. b. Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43.32 orang responden (86. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan.24 %).

yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah. b. c. efektivitas. Komponen Guru-guru 83 . Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan. Ya. efektivitas. d. Ya. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. produktivi-tas.52 0 100 a. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis.62 13. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik. sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas. produktivitas. b.86 21.Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS). tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas.

Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 . Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik.89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik.11 c.89 8. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91. Ya. 0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91.Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a. b. Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah.

20 orang responden guru (54. Ya.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif.38 a. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. d. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78.05 21. c. Sementara itu. b.81 13. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 8 21. sedangkan 8 orang (21.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan.62 c.62 10.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah. Ya. 0 0 37 100 Analisis: 85 . Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga.a. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54.

30 a. semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b. Sementara itu.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97. Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78. Tidak. Ya.Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu. 0 0 36 97. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 .

serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa. Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas.49 0 10. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut. Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . c. Tentu saja.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal. Tidak. b. Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik.81 a. karena siswa juga warga sekolah. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah. Tidak. Ya. c.

Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah. 32 responden (86. Hanya dalam bidang akademis saja. Hanya dalam bidang non akademis saja.19 0 10. c. 88 . Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89.81 0 a. b.dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. Ya. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. Ya. Akan tetapi. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan. Sementara itu. Tidak. siswa memiliki peran yang tidak sedikit. d.49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. Dalam akademis bidang akademis Ya.

Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media. termasuk teknologi informasi dan komunikasi. Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. Ya. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 .38 c. Berdasarkan pengamatan 29 responden (78. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21.19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. komputer.62 a.38 %). Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b. 29 78.

terutama para orang tua siswa. d. Di samping itu. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh.menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 . Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi.

c.08 0 100 a. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. 4 25 10.92 81. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. c. Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani.81 67.62 a. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya.57 91 .08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu. b. Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah.mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18.

57 %) dari 37 responden guru. Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67. Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 .secara material tidak membebani mereka d. para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. Kemampuan manajerial kepala sekolah. 3. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. kompetensi dan sikap profesional guru. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah.

peningkatan PBM. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut. atau setiap hari selama beberapa 93 . c.78 70. d. a.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah.27 a. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. pembinaan kegiatan ekstrakurikuler. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah. b. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. setra pengembangan nilai-nilai. pembinaan kesiswaan.

j. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan.41 100 100 k. h. pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29. l.menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. i. lomba da’wah.09 responden (78. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. e. dan sejenisnya). g.62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik. f. 94 . Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan.41 5. infaq.62 Analisis Pada dasarnya. shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah. Mengembangkan budaya bersih diri. 37 0 29. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5.09 100 0 78. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ……………….

Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). e. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. j.54 91. i. Rata-rata Pilihan b. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. dan yang lainnya). 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Menerbitkan majalah sekolah.2 100 100 100 40.89 0 0 94. g. waktu. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a. d. h. Pada konteks pembinaan siswa. c. ………………. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. 95 . k. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran.b. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. f.59 0 0 62.

c. Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah. lempar cakram.) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 . g. e. LDKS. serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23. b. f. serta penerbitan majalah.86 a. c. d.73 97. penyelenggaraan teman asuh. yakni pelaksanaan widyawisata. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64.Penerapan disiplin siswa secara konsisten.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah. loncat jauh. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN.03 64.86 29. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. tolak peluru. pelaksnaan bakti sosial. Atletik (lari. dll. loncat tinggi.30 27.2 responden (62.

86 %). Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan. Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah.73 %).03 %). Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas. kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola. Berdasarkan tampilan data di atas. dan tenis meja (24 orang atau 64. kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa.h. i.86 %). j.30 %).67 0 0 0 31. sepak bola (36 orang atau 97. Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11. bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29. d. Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 .53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.53 Analisis Rata-rata 11. futsal (10 orang atau 27.67 responden (31. dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.

Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64. f. Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah. d.86 0 0 0 0 0 8. g. e. c. h. b.11 a. i. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. Seni musik (band. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 .

UKS/PMR. atau 50. g. Sebanyak rata-rata 18.76 54. pramuka. f. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR). Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18.67 % 100 0 56. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya.67 orang responden.Opsi a. Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini. d. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 .43 0 50. PKS. c. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS. b.. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi.05 59.46 32.45 %.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. e.

Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah. 2 24 4.86 11.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa.a. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian.33 5. Oleh karena itu. Membentuk komunitas belajar) mandiri. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e. Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. f. pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah. d. b. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 . ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif. c.41 64. pengamatan.

30 %). d. Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. sebanyak rata-rata 33 responden (89. 37 27 33 100 72.08 %). Pada konteks ini. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 . f.78 %). menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97. b. Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e.19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah.78 81. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah.97 89.30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83.08 97. Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83. c. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %).yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a.19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah.86 0 47. ditumbuhkan. Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum …………………….97 %). Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah. b. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17. c.5 % 54.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %).35 18. d. e.92 64. Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan. kemudian 19 responden (51.29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72.35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 .05 51. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah.

bersih diri dan bersih lingkungan. Meskipun demikian. terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik. 24 responden (64. Akan tetapi. Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum. 103 . C.

sikap hidup dan keterampilan hidup. Selain itu. peran guru-guru. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah. peran komite sekolah. profesi-onalitas guru dan staf sekolah. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 . diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah. pengelolaan pembelajaran. seperti perencanaan pendidikan. luar sekolah dan keluarga. pelaksanaan program sekolah. yakni.Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. pengawasan pelaksanaan program. Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. pandangan hidup. 1.

Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. Konsekuensi dari pemyataan ini. sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. Pelaksanaan di luar sekolah.dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah. 105 . meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. kepemimpinan dan manajemen sekolah. suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. serta kultur sekolah. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. yakni: proses belajar mengajar. maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation".

Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. Namun. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. nilai-nilai. Oleh karena itu. sikap hidup. perilaku.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan. sikap. suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Bukti terakhir. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. padahal kultur negara- 106 . Dalam dunia pendidikan. dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. yang mencakup cara berpikir. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas.

sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. yakni berupa kultur sekolah". Paradigma Pendidikan Masa Depan. p. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. 33 34 Lukman El-Hakim. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. staf administrasi maupun siswa. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. seperti keberadaan guru yang berkualitas. 48 107 .33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. bukannya kultur masyarakat secara umum. guru. normanorma. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. sikap. ritual. Oleh karena itu. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas.negara tersebut berbeda. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. 2006). p. 47 Ibid. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial.com. (Jakarta: Endonesa. tetapi juga dalam ujud non-fisik.

dan. 2001). dan. seperti. 36 Dengan kata lain. 35 Namun demikian. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. a) rangsangan untuk berprestasi. serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah. h) hubungan akrab di antara guru. f) partisipasi orang tua siswa. melainkan lewat berbagai variabel. b) sikap dan motivsi kerja guru. misi. serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. p. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Buku I. p. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. 51 Depdiknas. 32 108 . Artinya.Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. g) kepemimpinan kepala sekolah. c) komunitas sekolah yang tertib. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. e) ideologi organisasi yang kuat. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. penerapan sistem pengawasan. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi. 35 36 Ibid. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. d) pemahaman tujuan sekolah. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi.

harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. sebagai unsur pimpinan sekolah. 49 109 . 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. non-fisik.2. dan produktivitas sekolah. p. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor. yang meliputi faktor-faktor fisik. tenaga tata usaha. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Kepala sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. mana segi positif dan mana negatif. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. guruguru. kepuasan terhadap kelas. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. perlu 37 Lukman El-Hakim. struktur organisasi. komite sekolah.Cit. nilai-nilai dan normanorma. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Untuk membangun visi sekolah ini. dan sumber daya manusia. Op. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Biarlah guru. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog.

c) belajar dari guru. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman. 50 110 . Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. staf. dan siswa. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. staf administrasi dan tenaga profesional. guru. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan.kolaborasi antara kepala sekolah. p. orang tua. Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. Karena. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting. b) mampu membangun tim kerjasama. dan. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat.

kerja efektifdan efisien. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. lewat action research. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. dan. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Semakin besar otoritas 111 .fenomena masyarakat secara efisien. Dalam kaitan inilah. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. Upaya peningkatan kualitas sekolah. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. Untuk itu instruksi. Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. Untuk itu. Sekolah. Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan.

dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah. dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. seperti kepala sekolah. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. 112 . moral. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru. guru. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. Nilai.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Oleh karena itu.

Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar.39 39 Lukman El-Hakim.Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan.Cit. Op. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. 53 113 . Penelitian yang mencakup 1. Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. p. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak. serta tidak menguasai materi.

Untuk itu.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. terutama para pengguna jasa pendidikan. 3. guruguru. pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. keinginan berprestasi. kebersamaan dan 114 . Di samping itu. Dalam menuju era globalisasi. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel.

dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan. pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan. Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan. memperingatkan ".. sebagamana dikutip oleh Budisatyo. Winarno Surachmad (1986). bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 . Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju.. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa. termasuk di Indonesia. secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. khususnya negara-negara di dunia barat. Di samping itu.tanggung jawab. yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. Dari aspek non-fisik. membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.

artikel pada http://www. Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan. setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah.com download tanggal 29 Desember 2007 116 . Di sisi lain. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. pendapat tersebut sangat ekstrim. sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Selasa. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. 23 Agustus 2005). kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo. yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan. 40 Barangkali. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal.suara-merdeka_online.

serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa.pembelajaran. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya. pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual. Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang. sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik. baik pendidikan akademis maupun non-akademis. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 . Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya.

dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. 118 . Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya. diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya.bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. 1. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. Oleh sebab itu.

pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. 3.2. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia. kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.

B. 120 . dan akuntabilitas. Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. kontekstual. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut.adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. Oleh sebab itu. tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. 1.

4.2. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 . 3. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi. Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. guru. Oleh karena itu. tata usaha. Oleh sebab itu. dan siswa) serta komite sekolah.

6. Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan). yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. bantuan orang tua siswa. baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet.kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 . hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. 5.

Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. fisika. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. 7. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 . Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan.pendidikan. dan penulisan karya ilmiah remaja. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika. tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian. IPS. Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. 8. pengamatan. Dengan demikian. biologi. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa. dan sebagainya. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan.

Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS. Bandung: IKIP Bandung 124 129 .perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan . 1998.

Manajemen Mutu Terpadu. John. M. and Heynderickx. Ketentuan Umum 2003a. Taliziduhu. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta Gunung Agung. 2004. " School-Based Management. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Endonesa. 1999. E. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. Principles of Total Quality Management. Taliziduhu. 2nd edition. 2001. Teori Budaya Organisasi. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994). 2000. 2003. Nur. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional. Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran." In School Leadership: Handbook for Excellence . Delray Beach: Published by St. Yusuf (1995). 1996. 2002. Lukman El-Hakim. Budaya Organisasi. Administrasi Pendidikan. Abin Syamsuddin. 1994.Ahmad Sanusi. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. Nasution. Jakarta Bumi Aksara. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 1998. Buku I. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. J. James. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Lucia Press 125 . Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi. Jakarta Ndraha.com Lindelow. Hadari (1981). 2003. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. V. Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan. Kompetensi.

Aileen Mitchel. 1999. Winarno Hami.uci. Bandung: Alfabeta Turner. Exploring School Culture. download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. Metode Penelitian Administrasi. Montreal. 1994.edu/. Napier Street. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. 1977. Robert J Starrat (1979). Thomas. NSW 2059 Woolf. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Jr. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. Carolyn. PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Jakarta Gunung Agung Stewart. ---------(1983). (1990). 1992. Margareth M. & Riel. al. et al. Filasafat Administrasi. Jakarta Gunung Agung. John Wiley & Sons Inc. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. Jane and Crang. USA Siagian S. Bandung: Grafindo Media Utama. Australia: Allen & Unwin Pty. Ltd. 1998. Hennry Jay. Clifford. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. Depdiknas Sergiovanni. John R. Seno. Webster’s New Colligiate Dictionary. North Sydney.P. 1996.. dari http://www. 1984. Peranan Staf dalam Management. Shermerchorn. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Managing Organizational Behavior . Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. New York. A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney.Sanusi. New York: Me Graw-Hill Book Company. et. J. 23 Agustus 2005). Ahmad. (1980). 2004. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . Selasa. Henry Boosley. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya. artikel pada 126 . Supervision: Human Perspective.

39 pada ERIC.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot.depdiknas. tanpa tahun).suara-merdeka_online.com .eddept. h. Clearinghouse on Educational Management.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis. http://eric. Leadership for School Culture . downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni. 1983.us/guru_masa_depan.com&wijayalabs. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta .html. (artikel bebas pada http://www.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta.uoregon. Artikel pada http://www. Guru Masa Depan. Kinerja Guru.pendidikan. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 .edu.htm. New York: Basic Books. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni.edu.com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong. Number 91. ERIC Digest.go. Artikel Artikel pada http://www.8m.uoregon. Trends and Issues: the Role of School Leader.http://www.wa. Tulisan pada http://www. pada situs http://www. The Good High School: Portrait of Character and Culture.wordpress.omjay. 1993.au/centoff/cpr/publications. Sara.

128 . 36. Pimpinan sekolah 44. Pelaksanaan program sekolah 35. 33. 39. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. Evaluasi program pengembangan sekolah 41. 46. 37. Pengawasan pelaksanaan program 38. 34. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 40.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32. 42. Guru-guru 47. 45. 43.

dan sebagainya. 30 51. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. upacara PHBN. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik.55. Masyarakat (Orang tua siswa) 53. 37 129 . 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang. melaksanakan peringat-an hari besar Islam. melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. 33 54. upacara bendera. Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. Siswa 50. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. 31 32 52. keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah.

pengamatan. 40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61. menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian. dan sejenisnya. 41 Pengembang.62. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. 59. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. mengembangkan cinta lingkungan.

dilakukannya sendiri b. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. Jarang d. Ya. c. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. Sering c. Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3. meminta bantuan salah seorang guru c.Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. b. 1. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Tidak pernah 2. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. Tidak. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 . kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a. Jika RPS disusun setiap tahun. Tidak. Selalu b. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu. 4.

8. Sering menerima c. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. Ya. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Kadang-kadang menerima d. d. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. 6. b. Ya. Kadang-kadang c. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Ya. 135 5. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. selalu b. Tidak pernah. b. Tidak pernah.a. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. Dilakukan secara bertahap. Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. staf sekolah dan c. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. selalu. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Tidak pernah 7. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. selalu b. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. c. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. b. Pembina Siswa. 132 . Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. Jarang menerima e.

apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. 12. Sekali-sekali boleh. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. b. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. Sangat perlu. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. b. b. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. c. c. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. c. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Ya. Tidak. d. Ya. Menurut Bapak/Ibu. Tidak pernah. b. 13. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu.9. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. c. Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. d. Ya. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. 10. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. 11.

Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. Setiap minggu b. Sama sekali tidak. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Kelompok guru senior yang dipercayai d. Setiap awal bulan c. Ya. b. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. Ya. c. 19. Ya. monitoring juga dilakukan oleh …. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Selalu b. Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a. Kadang-kadang dievaluasi c. PKS Urusan Kurikulum) c. selalu b. a. Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. Ya. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Ya. c. Setiap semester 15. d. b. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. a. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. Ya. 14. 16. Wakil kepala sekolah b. 17. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Sebagai Controlling Agency. Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. tapi tidak terlalu ketat. Setiap triwulan d. Sebagai bahan mendatang. Tidak pernah 18. Jika dilakukan evaluasi kegiatan.a.

Tidak. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a. perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. b. c. selalu b. 21. selalu dilakukan demikian.b. Sebaiknya seperti itu b. produktivitas. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. b. Ya. Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. Tidak pernah 22. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. Ya. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. Ya. Kadang-kadang dilakukan seperti itu. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. c. c. Ya. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. Tidak memiliki daya ramal c. Disimpan saja. Menggunakan arahnya. Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. efektivitas. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. b. Kadang-kadang c. Samar-samar. 23. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. c. Kadang-kadang ada target 135 . Tidak tahu 24. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah. 20. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. Ya b. c.

Ya. c. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. Tidak. Selalu dilibatkan b. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. 30. b. Tidak pernah memberikan target secara khusus. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. Menurut pandangan Bapak/Ibu. Ya. 26.d. b. b. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. b. Ya. Tidak. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. c. Kadang-kadang saya terlibat juga. 28. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a. d. c. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. karena siswa juga warga sekolah. Ya. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. Ya. Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. 29. 31. Tentu saja. Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. Ya. Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung. 27. Tidak. Menurut Bapak/Ibu. c.

Tidak. c. Ya. c. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. internet)? a. 32. b. Apakah masyarakat di sekitar sekolah.b. b. b. 137 . 34. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. terutama para orang tua siswa. Ya. d. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. c. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a. d.. Hanya dalam bidang non akademis saja. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. Sebagian terbebani. komputer. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. c. Hanya dalam bidang akademis saja. b. d. Ya. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. 33. e. c. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya.

36. lomba da’wah. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. waktu. Menerbitkan majalah sekolah.) 138 . h. b. …………………………. Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis …………. infaq. j. b. Mengembangkan budaya bersih diri. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. c. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam.f. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. h. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama. k. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran. Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. Mengelola kegiatan ZIS (zakat.. apa saja yang sampai saat ini 37. lempar cakram. j. dll. g. g. i. l. h. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. i. i. f. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional.. dan yang lainnya). shadaqah). j. g. loncat jauh. c. e. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. tolak peluru. Atletik (lari. loncat tinggi. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. dan sejenisnya). Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). k. d. d. e. f.

pengamatan. b... Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a... b..... f. d.. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39... Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a... 40..... Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 .. c. b. i. c. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik . 41.. Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian.. c. d. f.38. c. e. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a.. b.. e. f... g. h.. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. e.. d... Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri.... g. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a... Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan.. Seni musik (band..

.... Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan. 42........ b.d. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah..... e. e.... f. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. dan dikembangkan di sekolah? a... perlu dipertahankan... d... c. Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah......... 140 .. .. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum. ………………..... Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful