PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. 3. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Atas bantuan berbagai pihak. Dr. Prof. Dr. hingga penyusunan tesis ini. . Dr. 2. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya. proses penelitian. Nana Sudjana.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. Prof. I Made Putrawan. Hasan Walinono. Prof. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1. Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. Oleh sebab itu.

ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. tak ada gading yang tak retak. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut.4. 7. xxxxxxxxxx . Hasan Iskandar. Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. Untuk itu. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. Akhirnya. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. Kabupaten Cianjur. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan. 6. Jakarta. Januari 2008 Penulis. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. Bapak R. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. 5.

........................................................................................................ Konsep Dasar Kultur Sekolah ............. A............................................................................... Bab I PENDAHULUAN ............. E........... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ....... C............. B.......DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN ........................................ B.................................................................................................................................................... Batasan Masalah ............. DAFTAR ISI ........ BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS ..................................... Mutu Pelayanan Sekolah ....... KATA PENGANTAR ..................................................................................................... Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah ........................................................................................................................ Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ................................. D............................ A................................................................................... Rumusan Masalah ........................................ D.......... Tujuan Penelitian . Identifikasi Masalah ..... 10 10 17 27 37 C......... B...................................... A................... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS .......................................... RINGKASAN TESIS ................................................................................................... Manfaat Penelitian ............................................................................ Latar Belakang Masalah .................. Bab III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................

G......................... Saransaran .................................... Lampiran .... 2......................... 4................................................... 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA .Penelitian ......................... Unit Analisis ................................ 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN ....... E........... 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN .. Temuan Penelitian .................................................................................... B.................. C............... 129 132 1............... Metode Penelitian . Teknik Analisis Data ............ Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ............................ A............................................................................. ......... Instrumen Penelitian ...................................... C.......................................................................................................... 5............................................................................................................................ Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur ........... B............ Teknik Pengumpulan Data Penelitian ...... A.... F.. D...................................... ..... Kesimpulan .............................................. 3................................. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................................................

5 . Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah.BAB I PENDAHULUAN A. Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya.

mandiri. perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. Demikian pula halnya dengan pendidikan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. berilmu. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya.melainkan perlu dibentuk. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. sehat. cakap. keluarga dan lingkungan masyarakat. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. berakhlak mulia. kreatif. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. 6 . dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pasal 3 Undang-undang No. Ibarat bangunan. kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. dibangun.

proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. Kultur sekolah pada dasarnya 7 . kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab. dan nilainilai yang sama. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. kepribadian. Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah.Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah. Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik. dan ego yang beragam. lingkungan (milieu). dan iklim (climate) organisasi. suasana (atmosphere). rasa (feel). Secara umum. sifat (tone). keyakinan ( belief). Secara sederhana. emosi. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. nilai-nilai. Dengan kata lain. sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. Sementara itu.

Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik. Berdasarkan uraian di atas. Dalam konteks pendidikan. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan. sifat. Aspek itu adalah iklim. Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. guru-guru. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat. suasana. departemen. atau tim. lingkungan. rasa. B.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah.

Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer. Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut. Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal. 9 . yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer. Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah.

siswa. 8. Hal ini sejalan 10 . serta unsur lainnya yang terkait)? 2. komite sekolah. Apakah visi. serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. staf sekolah. misi. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3. siswa. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. Apakah seluruh warga sekolah (guru. Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru.1. komite sekolah. misi. Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4.

masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 31 11 . Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. 2. (Bandung: Alfabeta. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono. 3. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3. Agar penelitian ini tidak meluas. 2004). Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. D.dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut. p. 1. Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2. Metode Penelitian Administrasi.

hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. Kedua. penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. Secara teoritis. Ketiga. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa. serta dinas pendidikan. sekolah. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah.E. Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 . Pertama. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan.

(Jakarta: PT Rineka Cipta. Edward Burnet Tylor. menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha. belief. custom. dalam Taliziduhu 3. Budaya Organisasi. is that complex whole which includes knowledge. art. 1. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. p 43 Ibid 13 .” Sedangkan Vijay Santhe. taken in its wide ethnographic sense. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society. law. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization. 2003).bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian.

” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. 1993) pada situs http://www. Deal dan Kent D. hukum.budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common. keyakinan. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil. dalam konteks yang lebih kecil. etos. 1 Ibid 14 . (ERIC Digest. Number 91. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong. seni. seperti iklim. kebiasaan dan kemampuan. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai.uoregon.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat. kepercayaan. Leadership for School Culture . dan sejarah/riwayat. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. 10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. p. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati.

Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya. Dengan demikian. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda..peristiwa dan waktu yang panjang. 6 7 Ibid Baker. upacara agama. dan kepala sekolah . 1999). para siswa. Hennry Jay Baker dan Margareth M. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies. pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. p. dalam anggota warga atau komunitas sekolah. & Riel. Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. 8 15 . Paul E. dari http://www. download tanggal 30 Januari 2008. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah. yang meliputi latar atau setting sekolah. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun. Margareth M. nilainilai. Hennry Jay. mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam. tradisi. kepercayaan atau keyakinan. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya. dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. Montreal.uci. (a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association.edu/. upacara.

Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif. Sebaliknya. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. semakin baik kultur sekolah. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. Frymer dan Sergiovanni (1984). semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya. semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. Dengan demikian. (Jakarta: Depdiknas. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8. tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. 24 16 .2. 2002) p. afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. Artinya. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. sikap. Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional.

Oleh karena itu. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari. 1999). Taliziduhu. bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. 426 Ndraha. 75 17 . 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. p. Jr. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. Managing Organizational Behavior.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif. Teori Budaya Organisasi. (Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 1994). harapan. perilaku. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). 9 10 Shermerchorn. (New York: John Wiley & Sons Inc. et al. Sekolah merupakan organisasi pendidikan.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. John R. p. Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya.

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12. artikel Kultur Sekolah. Dalam dunia pendidikan. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim.proses transmisi kultural antar generasi tersebut.wordpress.com&wijayalabs. download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah.pakguruonline. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. seperti keberadaan guru yang berkualitas. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. yakni berupa kultur sekolah". Oleh karena itu.net/pradigma_pdd_ms_depan_36. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. tetapi juga dalam wujud non-fisik. tanpa tahun). kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan.html. bukannya kultur masyarakat secara umum. hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. (artikel bebas pada http://www. download 21 . dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. pada http://www.com. Bukti terakhir. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda.8m. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .omjay.pendidikan.

seperti. g) kepemimpinan kepala sekolah. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. sikap. d) pemahaman tujuan sekolah. staf administrasi maupun siswa. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. Dengan kata lain. normanorma. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. f) partisipasi orang tua siswa. Namun demikian. 3 Ibid 22 . dan. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13.terhadap fenomena sosial. c) komunitas sekolah yang tertib. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. dan. guru. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. a) rangsangan untuk berprestasi. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. h) hubungan akrab di antara guru. e) ideologi organisasi yang kuat. Artinya. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. b) sikap dan motivasi kerja guru. ritual. p.

Menurut Deal dan Peterson (1999). p. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. Op. dan 14 Wijaya Kusumah. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. guru. kebiasaan keseharian. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. guru. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. 1. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. seperti kepala sekolah. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. moral. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya.Cit. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku.variabel. Perpaduan unsur siswa. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. 4 23 . tradisi. materi pelajaran dan antar siswa sendiri.

simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. kreatif. budaya kerjasama (team work). lima hari belajar. ludaya kepemimpinan (leadership). Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi). serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. karakter atau watak. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. melaksanakan tadarus. shalat Dzuhur berjamaah. terintegratif. doa bersama menyambut UN/US. bekerja keras. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. adil. petugas administrasi. dan dedikatif terhadap pencapaian visi. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). dan masyarakat sekitar sekolah. mampu menjadi teladan. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. jujur. siswa. menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa. kreatif. guru. menyelenggarakan konferensi 24 . Budaya sekolah merupakan ciri khas. mengembangkan budaya bersih. toleran dan cakap dalam memimpin. doa sebelum/sesudah belajar. hafalan Juz Amma. studi amaliah Ramadhan.

penerbitan majalah sekolah. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS. pelepasan pengenaan seragam sekolah. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. 2. berbuka puasa bersama. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. kegiatan praktek ibadah. kunjungan industri. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. infaq. peningkatan disiplin. bakti sosial. PHBN. Biarlah guru. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. pengembangan teman asuh. Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. staf administrasi bahkan siswa 25 . kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya.kasus. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. pengelolaan ZIS (zakat. dan sejenisnya. banding. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. pentas seni. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. pengembangan kesadaran lingkungan. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama. kegiatan olah raga dan kesenian. dan sebagainya. PORSENI. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. studi siswa.

d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. dan. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. mana segi positif dan mana negatif. struktur organisasi. Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . guru. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. c) belajar dari guru. perlu kolaborasi antara kepala sekolah. nilai-nilai dan normanorma. kepuasan terhadap kelas. dan produktivitas sekolah. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. b) mampu membangun tim kerjasama. Karena. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. staf administrasi dan tenaga profesional. Untuk membangun visi sekolah ini. orang tua. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. dan siswa. staf. 3. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan.

Exploring School Culture. Sebagai latar. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu.Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. penggunaan logo dan emblim sekolah. penggunaan seragam. Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. p. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga. saling menghargai. Jane and Crang. meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. analisis perkembangan. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. serta kegiatan-kegiatan lainnya. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. 1996). (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. 15 Turner. dalam proses pembelajaran. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. 10 27 . Carolyn. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah. guru.

(1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat. (2) Mengembangkan nilai-nilai. (4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah. Dengan cara ini 28 . Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. mengembangkan.Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. kebiasaan. memper-tahankan. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya.

istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. 1998). (Yogyakarta: Penerbit Kanisius.pula. p. C. Aileen Mitchel. 23 29 . Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. Dalam konteks manajemen umum. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah.

dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh.” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang.29 30 . (Jakarta: PT Ghalia Indonesia. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan. M. 2004). mempertimbang-kan. Nur. Manajemen Mutu Terpadu. 18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak. (Bandung: IKIP Bandung. 172 Abdullah NS. dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution. p..tugas semata kepada staf.. p. kekuasaan. 1998). Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan.

prosedur. Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan. 2. Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20. Oleh karena itu. Aileen Mitchel. p. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi. diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart. Op.Cit. dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal. Akan tetapi. 16 Ibid. p. Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. 18 31 . perintah.

Secara esensial. Akan tetapi. dan lain-lain yang tidak perlu. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut. perintah. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya. 17 32 . 21 Ibid. memberi nasihat. serta komunikasi berjalan secara maksimal. p. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. tepat. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21. Berdasarkan pendapat di atas. Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka.dapat tercapai dengan cepat. dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. prosedur.

Cit. uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. uang pendaftaran ulang. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. Op. Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. Lebih jauh. Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). uang tes sumatif (sekolah swasta). Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. p. sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. sumbangan bulanan atau SPP. Artinya. Oleh karena itu. dan sebagainya. Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan).a. uang karyawisata. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan. maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. 24 33 .

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

Atas dasar itu. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen. Aileen Mitchel. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. imajinasi. Op. D. pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat.. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. selalu mengharapkan perubahan. dan kematangan. Cit. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25. penundaan program. dan efisien. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan. Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. 32 37 . p.Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. fleksibel. Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran.

67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 . Nur. (c) standar kompetensi lulusan. 26 Dalam lingkungan pendidikan. M.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution.1. Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi. (b) standar proses. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (g) standar pembiayaan.Cit. Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun. dan (h) standar penilaian pendidikan. p. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan. Op. (f) standar pengelolaan. (e) standar sarana dan prasarana. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya.

barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah).28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. p. komite sekolah. Dalam konteks pendidikan. 4 39 .tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu. yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah. dan output pendidikan . pengertian mutu mencakup input. Setlah kedua unsur tersebut. Konsep Dasar MPMBS. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat. proses. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama. (Jakarta: Depdiknas. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. para siswa. 2002). Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum. 2.

Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. uang. proses pengelolaan kelembagaan. guru termasuk guru BP. Input harapan-harapan berupa visi. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. karyawan. rencana. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. Makin tinggi tingkat kesiapan input. Dengan demikian. perlengkapan. makin tinggi pula mutu input tersebut. proses belajar mengajar. bahan. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. deskripsi tugas.untuk berlangsungnya proses. dan sebagainya).29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan. program. proses pengelolaan program. tujuan. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. misi. proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu. dan proses monitoring dan evaluasi. sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. serta yang lainnya. peraturan perundang-undangan. 40 .

sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). efisiensinya. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. karya ilmiah. dan moral kerjanya. kesopanan. lomba akademik. uang. EBTANAS. kurikulum. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 . olah raga. kejujuran. siswa. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. inovasinya. dan (2) prestasi non-akademik. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis. kesenian. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan.(guru. dihayati. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. berupa nilai ulangan umum. keterampilan kejuruan. kualitas kehidupan kerjanya. seperti misalnya IMTAQ. efektivitasnya. peralatan. khususnya prestasi belajar siswa. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). produktivitasnya. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. EBTA. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengembangkan kebebasan yang terkendali. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. tugas. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. 42 . serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. 3. a. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. c. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran. Memiliki obsesi terhadap kualitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Fokus pada pelanggan. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. Untuk mencapai sasaran mutu tersebut. pelaksanaan. dan pengawasan. d.

mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia. pp. Cit. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Oleh karena itu.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja. h. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. Op. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi. Mengembangkan kerja sama tim. yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah.30 f. e. Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. misi. 30 Nasution. Memiliki kesatuan tujuan. 195-196 43 . Secara skematis. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. g.

dimensi sumber daya manusia. 198 44 . melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan.1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu.Perencanaan Menetapkan Visi. p. Misi. Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya. dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. Untuk mencapai sasaran mutu sekolah. serta dimensi 31 Ibid. baik dimensi manajemen. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas.

dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang. dan sebagainya). inovatif. berani mengambil resiko. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. pada umumnya.infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. Akhirnya. BAB III 45 . dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. gigih. Selanjutnya. dia tahu posisinya di mana. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. dia bertanggung jawab. dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. komitmen yang tinggi pada dirinya. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah. misi. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. pekerjaannya me-miliki kontribusi.

Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. 3. Kabupaten Cianjur. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. B. penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. Sedangkan secara khusus.METODOLOGI PENELTIAN A. 1. 2. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah. 1. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah.

Tabel: 3. Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian. 2.yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 . tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini.

Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. set kondisi. Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. objek. Metode Penelitian Administrasi. Oleh karena itu. atau lukisan secara sistematis. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki. 2004). dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. Jadi. gambaran. p. sistem pemikiran. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif. ataupun peristiwa sekarang. (Bandung: Alfabeta.Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. 11 48 . dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. 32 Sugiyono. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri).

E. maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. dan guru-guru. Berkaitan dengan hal di atas. 2. maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan. 1.D. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. komite sekolah. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. Observasi 49 . serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih. Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah. bidang tugas.

b. laporan-laporan. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). pengembang-an materi pembelajaran. data prestasi guru. F. 3. perencanaan evaluasi. Instrumen Penelitian 50 . dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. serta e. d. c. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a. dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). arsip. Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik.

Pelaksanaan program sekolah 4. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. Pengawasan pelaksanaan program 7. yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Untuk mengungkap data tersebut di atas. 6. 2. 5. Tabel 3. Secara global.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. 8. 51 . 3.Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”.

21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. 32 33 Masyarakat (Orang tua 22. 15. 18. 31 21. 30 20. Siswa 19. 52 . 11. 12. Guru-guru 16. 17. Pimpinan sekolah 13.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9.

dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. Indikator yang baik. upacara PHBN. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. 28. pelaksanaan peringatan hari besar Islam. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. pengamatan. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. 38 39 Peningkatan PBM 29. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. dan sejenisnya. 35 Pembinaan kesiswaan 25. dan sebagainya. upacara bendera. 37 27. dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan. 36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. 40 Penciptaan 30. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS.

menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. yakni dari hasil angket. 1. penampilan data. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting. teori. dokumen sekolah. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. yakni terdiri atas reduksi data. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya. dengan langkah-langkah sebagai berikut. serta pengamatan secara langsung. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . serta konklusi dan verifikasi data.

Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola. Selanjutnya. chart. 1. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas. Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. network. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. tema. ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian. 3. data disajikan dalam bentuk matriks. sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian.banyak. 2. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian. Pada tahap reduksi data. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah.

dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. tabel matriks. Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. BAB IV 56 . Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. 3.pengembangan kultur sekolah. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. 2. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian. grafik.

1 ruang laboratosrium IPA.225 meter persegi.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya. 57 . Saleh KM 7. A. Desa Sukasari. SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar. Kabupaten Cianjur. Secara terperinci. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi. 6 orang guru bantu. Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. 1 ruang perpustakaan. Kecamatan Karangtengah.HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R. serta 9 orang guru honor sekolah. Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6. data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut. Selain itu. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). H.

• Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. B. 58 . mandiri.Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. • Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih. kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders. prestasi. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden. Kabupaten Cianjur. berilmu. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. sehat dan Islami. inovatif. guru-guru. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah.

a. yakni perencanaan pengembangan sekolah.Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah. 1. pelaksanaan program sekolah. Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis. Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. serta persentase pada setiap opsi. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah. pengawasan pelaksanaan program sekolah. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 . jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati.

hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64. dilakukannya sendiri Tidak. meminta bantuan salah seorang guru 60 .32 10.86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS.51 a.63 13. c. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS. Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan. d.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan.86 24. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS. Ya. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21.Opsi F % a. Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64. b. b. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun.

kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan. Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10.43 c. sebagian besar guru.c. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. 21 56.86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah. Sementara itu.86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut. 12 32. Tidak. dan 5 orang guru (13. 8 responden (21. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b.76 37 100 61 . yakni sebanyak 24 orang (64. Dari 37 responden.81 a.

12 orang guru (32.76 a. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. sebanyak 21 orang guru (56. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56. Dari 37 responden. sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. 4 10.76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 . 12 32.43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah.Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS.72 c. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS.

20 54.32 a. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Sedangkan 12 orang guru (32.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. 4 10. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10. b. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.81 d. 21 orang guru (58.81 24.43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan.06 63 .dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja.

06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Ya.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami.32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. selalu 64 . sebanyak 20 orang guru (54. Dari 37 responden. Sementara itu. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. 9 guru (24.57 a. 4 guru (10.81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. Selanjutnya.

serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah.b. Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32.57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah. siswa. 65 . e. b. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut. c. 25 orang guru (67. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah. kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru. Dari 37 responden. d. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. staf tata usaha.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran.

43 13. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat.51 100 a. b.06 32. c. Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Pembina Siswa. Ya. Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif. 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik.Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Perubahan struktur organisasi sekolah. serta perubahan-perubahan lainnya. selalu Kadang-kadang Tidak pernah. perubahan personal pembantu kepala sekolah. Tim 66 . dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54. Pada konteks ini.

Dilakukan secara bertahap. Meskipun demikian. Ya. selalu. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 .16 37. sebanyak 14 orang responden (37. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran. Tim Pembangunan Fisik Sekolah.Pembangunan Fisik Sekolah. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62. Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62.84 100 a.16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Tidak pernah.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. b.

dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. Tidak pernah. Ya.14 c. b.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. Akan tetapi. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah.24 0 0 a. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56.76 43. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 . b.a. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. d. Jumlah Total 24 13 64. Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. c.86 35. Ya. Ya. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.

84 d.76 %). 20 54. 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat. b. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya.11 0 a. 14 37. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 . Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56.

Sangat perlu. c. Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu.84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b.belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. Sekali-sekali boleh. Tidak. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan. 20 orang guru (54. Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a.05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali. Kesimpulan Sementara: 70 . Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. 14 orang gur (37.

Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah. Di sisi lain. Selalu Ya. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a. c. tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. c. b. tapi tidak terlalu ketat. Ya.

72 . c. Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. Nomor Opsi a.57 %). atau 10. d. pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru. atau 67.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah.81 67. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester. dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru. b.62 10.57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah.62 %).81 %). atau 21. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden. kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan.

Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri. Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32.43 32. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 . b.42 %).Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. c. 13 orang guru lainnya (35. Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya.43 0 35. atau 32. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden). monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden. d. Meskipun demikian.14 100 a. monitoring juga dilakukan oleh ….

86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah. b. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah.62 64. Menurut 8 responden (21. Berdasarkan penyajian data di atas. c.86 13. Kadang-kadang program. sedangkan 5 orang guru (13.Opsi F Ya. komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu.52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21. dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya. 24 responden lainnya (64.52 a. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d.62 %). Komite 74 . Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

c.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi.24 0 0 100 a. Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56. b. 16 guru lainnya (43. selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan. Sebaliknya. 75 . Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. d. Ya.76 43.76 %). d. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56. Pada konteks ini.

24 a. Meskipun demikian. 16 responden (43. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. 21 37 57. Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan.76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja.Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Ya. Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi. Ya. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 . apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43.76 100 Analisis: 21 responden (57. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas.

Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 .38 21.24 56. Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa. Ya. selalu dilakukan demikian. b. 8 responden lainnya (21.62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. b.62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang. c. Sementara itu.a. c. perbaikan 29 8 0 37 78.76 0 100 a. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43.

serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. Dari 37 responden guru. Sementara itu. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. 78 .24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas. Pada kasus seperti ini. 21 orang responden (56. pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan.program dan atau pada pelaksanaannya. sebanyak 16 orang (43. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu.

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

95 0 89. b. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43.32 orang responden (86.24 45. c. Pertanyaan Nomor 25: 82 . Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43.95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan.24 %).19 a. sedang-kan 17 responden lainnya (45. saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah.49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman.

Ya. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah. b.52 0 100 a. Komponen Guru-guru 83 . kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. d. produktivitas. produktivi-tas. c. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS).86 21. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. efektivitas.62 13. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. Ya.Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. b. efektivitas. Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan. sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas.

Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah. Ya.11 c.89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. b. Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 .Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut.89 8. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a. 0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91.

d. sedangkan 8 orang (21.a. Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga. Sementara itu. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78. Ya. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan. 0 0 37 100 Analisis: 85 .38 a. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 20 orang responden guru (54.05 21.62 c.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif. Ya. b.81 13. c. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b. 8 21. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah.62 10. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah.

0 0 36 97. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 .Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Ya. semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar.30 a. Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang. Tidak.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar. Sementara itu. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu.

keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas.49 0 10. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik. karena siswa juga warga sekolah. Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. Tidak. Tidak. c. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. Tentu saja. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86. Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. b. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah. serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa. Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . Ya.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal. c.81 a.

19 0 10. Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah.49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. Sementara itu.dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. b. Hanya dalam bidang non akademis saja. Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89. Ya.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. 32 responden (86.81 0 a. Hanya dalam bidang akademis saja. Ya. Tidak. 88 . Akan tetapi. siswa memiliki peran yang tidak sedikit. Dalam akademis bidang akademis Ya. c. d. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan.

Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 . Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b. 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media. komputer. 29 78.62 a. Ya. termasuk teknologi informasi dan komunikasi. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer.38 c.19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Berdasarkan pengamatan 29 responden (78. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21.38 %).

Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi.menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut. d. terutama para orang tua siswa. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Di samping itu. pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 .

Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b.81 67. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah. Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81.57 91 . c. 4 25 10. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan.mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18.08 0 100 a. b. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya.08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan.62 a.92 81. Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. c.

Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. kompetensi dan sikap profesional guru. Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani.57 %) dari 37 responden guru. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 . Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67. para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. Kemampuan manajerial kepala sekolah. 3.secara material tidak membebani mereka d. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi.

atau setiap hari selama beberapa 93 . Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. c. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. pembinaan kesiswaan. pembinaan kegiatan ekstrakurikuler. d. peningkatan PBM. setra pengembangan nilai-nilai.27 a. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah.78 70. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah. a. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut. b. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83.

l.menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah.09 100 0 78. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ………………. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan. shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran.62 Analisis Pada dasarnya. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. h. Mengembangkan budaya bersih diri.41 100 100 k.09 responden (78. 37 0 29. infaq. lomba da’wah. i. dan sejenisnya).41 5. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. 94 . pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik.62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah. e. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. f. g. j.

Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. h. Pada konteks pembinaan siswa.59 0 0 62.89 0 0 94. Rata-rata Pilihan b. dan yang lainnya). Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. j. f. k. c. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh.54 91. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. 95 . e.b. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a. ………………. d.2 100 100 100 40. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. g. waktu. i. Menerbitkan majalah sekolah.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23.

f. loncat jauh.86 a. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23.2 responden (62. d.) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 . Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64. LDKS. serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah. yakni pelaksanaan widyawisata. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut. loncat tinggi.86 29. lempar cakram.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah.03 64. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN. pelaksnaan bakti sosial. c. tolak peluru. e. Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah.30 27. Atletik (lari. c. g.73 97. serta penerbitan majalah. penyelenggaraan teman asuh. b. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. dll.Penerapan disiplin siswa secara konsisten.

Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 . dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. j.86 %). bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29.67 responden (31. d.53 Analisis Rata-rata 11. futsal (10 orang atau 27. dan tenis meja (24 orang atau 64. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan.86 %).53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11.67 0 0 0 31. kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa. Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64. Berdasarkan tampilan data di atas.03 %). kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola. Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah. sepak bola (36 orang atau 97. Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas.73 %).h.30 %). i.

h. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 . e.11 a. f.Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. g. b. d. i. c. Seni musik (band. Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah.86 0 0 0 0 0 8.

Sebanyak rata-rata 18.Opsi a. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR).. g.67 orang responden. Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 . OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. pramuka. Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18.43 0 50. atau 50.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa.45 %. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya.46 32. UKS/PMR. e. d.76 54. PKS. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS.05 59.67 % 100 0 56. b. c. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi. f.

Oleh karena itu. f.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 .41 64. Membentuk komunitas belajar) mandiri. pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah.a. 2 24 4. Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional.33 5. pengamatan. ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e.86 11. c. b. d. Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah.

78 %).19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.30 %). f. Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83.30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %). 37 27 33 100 72. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah.08 %).78 81. menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97.yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a. d. sebanyak rata-rata 33 responden (89. Pada konteks ini. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 .19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah.08 97. Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e. c. dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83.97 89. b. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81.

c. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72. Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah.05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. d. e. Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan.92 64. ditumbuhkan.05 51.35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 .29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %).35 18.86 0 47. b.5 % 54. kemudian 19 responden (51. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum ……………………. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54. Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17.97 %).

24 responden (64. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. 103 . Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya. C.bersih diri dan bersih lingkungan. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah. Akan tetapi. Meskipun demikian. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum.

Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. profesi-onalitas guru dan staf sekolah. diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah. pelaksanaan program sekolah. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 . luar sekolah dan keluarga. serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah.Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan. sikap hidup dan keterampilan hidup. peran guru-guru. peran komite sekolah. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. 1. seperti perencanaan pendidikan. pengawasan pelaksanaan program. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah. pengelolaan pembelajaran. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. Selain itu. yakni. pandangan hidup.

Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. Konsekuensi dari pemyataan ini. Pelaksanaan di luar sekolah.dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. yakni: proses belajar mengajar. serta kultur sekolah. sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation". 105 . meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. kepemimpinan dan manajemen sekolah. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah.

dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. nilai-nilai. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. Dalam dunia pendidikan. perilaku. Namun. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. padahal kultur negara- 106 . sikap hidup. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. yang mencakup cara berpikir. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. Oleh karena itu. sikap. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. Bukti terakhir.

2006). yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. 33 34 Lukman El-Hakim. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. p. sikap. Paradigma Pendidikan Masa Depan. p. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. ritual. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. tetapi juga dalam ujud non-fisik. seperti keberadaan guru yang berkualitas. staf administrasi maupun siswa. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.negara tersebut berbeda. 47 Ibid. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. yakni berupa kultur sekolah". (Jakarta: Endonesa. bukannya kultur masyarakat secara umum. Oleh karena itu. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai.com. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. 48 107 .33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. normanorma. guru. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik.

Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. seperti. 36 Dengan kata lain. e) ideologi organisasi yang kuat. 35 Namun demikian. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. f) partisipasi orang tua siswa. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. p. serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah. misi. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. 2001). serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. dan. p. g) kepemimpinan kepala sekolah. 35 36 Ibid. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. c) komunitas sekolah yang tertib. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 51 Depdiknas. dan. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. d) pemahaman tujuan sekolah. h) hubungan akrab di antara guru. b) sikap dan motivsi kerja guru. a) rangsangan untuk berprestasi. penerapan sistem pengawasan. Buku I. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi. 32 108 . melainkan lewat berbagai variabel. Artinya.

Cit. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. dan produktivitas sekolah. yang meliputi faktor-faktor fisik. komite sekolah. struktur organisasi. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. dan sumber daya manusia. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. Kepala sekolah. mana segi positif dan mana negatif. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. tenaga tata usaha. p. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. perlu 37 Lukman El-Hakim. kepuasan terhadap kelas. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. 49 109 . nilai-nilai dan normanorma. sebagai unsur pimpinan sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini.2. Biarlah guru. Op. guruguru. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor. non-fisik.

kolaborasi antara kepala sekolah. staf. b) mampu membangun tim kerjasama. orang tua. Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. Karena. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. 50 110 . dan. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman. guru. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. dan siswa. p. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. c) belajar dari guru. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. staf administrasi dan tenaga profesional. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting.

kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. Upaya peningkatan kualitas sekolah. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. Dalam kaitan inilah. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah.fenomena masyarakat secara efisien. Untuk itu instruksi. Semakin besar otoritas 111 . Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. lewat action research. Sekolah. kerja efektifdan efisien. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. dan. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. Untuk itu. Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection.

dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. guru. 112 . tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. Nilai. moral. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan. Oleh karena itu. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. seperti kepala sekolah. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru.

Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar.39 39 Lukman El-Hakim. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak. Penelitian yang mencakup 1. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar. 53 113 . Op. serta tidak menguasai materi. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil.Cit. Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. p.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting.Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan.

sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak. 3. terutama para pengguna jasa pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. kebersamaan dan 114 . sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. guruguru. Dalam menuju era globalisasi. Di samping itu. keinginan berprestasi. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. Untuk itu. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi.

Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. memperingatkan ". membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan. secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat.. sebagamana dikutip oleh Budisatyo. bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 .tanggung jawab. pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Dari aspek non-fisik. pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. termasuk di Indonesia.. Winarno Surachmad (1986). Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan. dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa. memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. Di samping itu. Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju. yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. khususnya negara-negara di dunia barat. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan.

Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri. Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah. kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo. Di sisi lain. sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya. Selasa. setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah.suara-merdeka_online. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan.com download tanggal 29 Desember 2007 116 . (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. 40 Barangkali. yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". artikel pada http://www. pendapat tersebut sangat ekstrim. 23 Agustus 2005).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya. baik pendidikan akademis maupun non-akademis. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 .pembelajaran. Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya. pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual. Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang. serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa. sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik.

penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. Oleh sebab itu. 1. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan.bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. 118 . Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu. dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut.

Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif. Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . 3.2. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia. pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar. kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman.

dan akuntabilitas. B. kontekstual. Oleh sebab itu. tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan. 120 . Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut.adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. 1.

Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. Oleh karena itu. dan siswa) serta komite sekolah. Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. 4. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi.2. guru. 3. Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 . tata usaha. Oleh sebab itu.

hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. bantuan orang tua siswa. yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet. 5. dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. 6. Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan). Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 .

Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. biologi. 7. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. 8. Dengan demikian. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah.pendidikan. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa. tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. dan sebagainya. Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. dan penulisan karya ilmiah remaja. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 . pengamatan. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian. fisika. IPS.

Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998.perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. 1998. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan . Bandung: IKIP Bandung 124 129 . DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS.

2nd edition. Delray Beach: Published by St. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. 2003. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. 2001. Jakarta Gunung Agung. Manajemen Mutu Terpadu.Ahmad Sanusi. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta Bumi Aksara. Buku I. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Ketentuan Umum 2003a. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994). Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. " School-Based Management. Hadari (1981). Jakarta: Endonesa. M. 2002. Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran. Lucia Press 125 . Budaya Organisasi. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. Lukman El-Hakim. Taliziduhu. Principles of Total Quality Management. Abin Syamsuddin. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional. 2003. 1998. J. 2004. James. Taliziduhu. Administrasi Pendidikan. and Heynderickx. 1999. Kompetensi. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Yusuf (1995). V. Nasution. Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. Teori Budaya Organisasi." In School Leadership: Handbook for Excellence . (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan.com Lindelow. Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. 1996. Nur. 1994. Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi. Jakarta Ndraha. E. John. Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD.

Managing Organizational Behavior . et. Jakarta Gunung Agung. al. Winarno Hami.edu/. 2004. Montreal. Carolyn. 1984. John Wiley & Sons Inc. New York: Me Graw-Hill Book Company. Webster’s New Colligiate Dictionary. (1980). A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney. USA Siagian S. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. North Sydney. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager. Aileen Mitchel. 1996. J.uci. Ahmad. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Ltd. artikel pada 126 . dari http://www. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. New York. Peranan Staf dalam Management. download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. Shermerchorn. Australia: Allen & Unwin Pty. Metode Penelitian Administrasi. Margareth M. 1994. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. Selasa. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . Seno.. PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya. 1992. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. Depdiknas Sergiovanni. Bandung: Grafindo Media Utama. Exploring School Culture.P. Jr. Napier Street. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. ---------(1983). Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. et al. Filasafat Administrasi. NSW 2059 Woolf. Jakarta Gunung Agung Stewart. Henry Boosley. 23 Agustus 2005). Jane and Crang. (1990). Thomas. Bandung: Alfabeta Turner. 1999. & Riel. Hennry Jay. Robert J Starrat (1979).Sanusi. Supervision: Human Perspective. 1998. Clifford. 1977. John R.

com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta. 1993. (artikel bebas pada http://www. Tulisan pada http://www.htm. 39 pada ERIC. Clearinghouse on Educational Management. ERIC Digest.omjay. New York: Basic Books.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis.uoregon. download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 .depdiknas. http://eric.com .pendidikan. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni. Guru Masa Depan. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . Trends and Issues: the Role of School Leader.go. The Good High School: Portrait of Character and Culture.edu.au/centoff/cpr/publications.suara-merdeka_online. Sara. downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah. Leadership for School Culture .eddept. Number 91. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni. Kinerja Guru.wordpress. tanpa tahun). h.com&wijayalabs.us/guru_masa_depan. Artikel pada http://www.8m.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot. pada situs http://www. 1983.wa.uoregon.edu. Artikel Artikel pada http://www. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta .http://www.html.

Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32. 36. 43. 37. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Evaluasi program pengembangan sekolah 41. 46. Pelaksanaan program sekolah 35. 45. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. 128 . Guru-guru 47. Pengawasan pelaksanaan program 38. 39. 42. Pimpinan sekolah 44. 33. 40. 34.

dan sebagainya. 31 32 52.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. melaksanakan peringat-an hari besar Islam. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang. melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah. Siswa 50. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56. 37 129 . Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. Masyarakat (Orang tua siswa) 53. 33 54. upacara PHBN. upacara bendera. Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. 30 51. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten.55.

menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian. 59. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . pengamatan. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan. Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. mengembangkan cinta lingkungan. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. 41 Pengembang. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa.62. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. dan sejenisnya. 40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61.

meminta bantuan salah seorang guru c. Jika RPS disusun setiap tahun. Selalu b. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3. Sering c. Tidak. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 .Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. c. 1. Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada. Ya. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a. Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu. 4. b. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. Tidak. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Tidak pernah 2. Jarang d. dilakukannya sendiri b.

Tidak pernah. 132 . membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Sering menerima c. d. c. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Kadang-kadang c. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. Ya. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. Jarang menerima e. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. Ya. b. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. 6. Tidak pernah. Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 8. staf sekolah dan c. Kadang-kadang menerima d. b. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. selalu b. selalu b.a. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Pembina Siswa. selalu. 135 5. Ya. Tidak pernah 7. b. Dilakukan secara bertahap.

untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. c. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. c. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. c. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Tidak pernah. Sangat perlu. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. 12. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . d. 13. Tidak. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. c. b. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. b. 10. Ya. 11. b. Ya. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. d. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. Ya. Sekali-sekali boleh. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. Menurut Bapak/Ibu. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. b. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan.9.

Kegiatan monitoring ini dilakukan …. 14. Ya. c. Ya. Setiap minggu b. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. 17. Kelompok guru senior yang dipercayai d. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Setiap semester 15. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. a. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Setiap awal bulan c. a. Tidak pernah 18. d. Ya. Setiap triwulan d. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. b. monitoring juga dilakukan oleh …. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. c. PKS Urusan Kurikulum) c. Sebagai bahan mendatang. Sebagai Controlling Agency. selalu b. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. Kadang-kadang dievaluasi c. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. Selalu b. Sama sekali tidak. Ya. Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. Ya. b. tapi tidak terlalu ketat. 19. Ya.a. Wakil kepala sekolah b. 16.

Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. selalu dilakukan demikian. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. 23. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a. Menggunakan arahnya. Tidak. Ya. Tidak tahu 24. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. 20. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. c. c. c. Ya. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. b. Ya. Ya b. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. c. produktivitas. Kadang-kadang ada target 135 . b. Disimpan saja. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. 21. Kadang-kadang dilakukan seperti itu. efektivitas. c. Sebaiknya seperti itu b. selalu b. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. Tidak pernah 22. Samar-samar. Tidak memiliki daya ramal c. perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25.b. Ya. b. Kadang-kadang c.

Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. b. 28. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. b.d. Ya. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. c. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Ya. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. Ya. 31. c. c. 30. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. karena siswa juga warga sekolah. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. Tidak. d. Ya. Kadang-kadang saya terlibat juga. Selalu dilibatkan b. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a. Tidak. Ya. b. Tentu saja. 29. Tidak. 27. Ya. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. Tidak pernah memberikan target secara khusus. b. Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . Menurut pandangan Bapak/Ibu. c. Menurut Bapak/Ibu. Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. 26.

Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Sebagian terbebani. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. e. 32. c. Ya. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. c. d. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. internet)? a. Hanya dalam bidang non akademis saja. c. c. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. d. 33. komputer. Hanya dalam bidang akademis saja. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. terutama para orang tua siswa.b. Tidak. Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a. b.. b. 34. Ya. b. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. b. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Ya. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. 137 . Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. d. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. Apakah masyarakat di sekitar sekolah. c. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya.

Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis …………. d. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh.f. c. f. tolak peluru.. dan yang lainnya). j. b. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. g. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. l. lempar cakram. Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. loncat tinggi. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. d. h. loncat jauh. e. j. waktu.. dll. apa saja yang sampai saat ini 37. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama. infaq. 36. k. Mengembangkan budaya bersih diri. i. g. …………………………. h. g. f. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. Menerbitkan majalah sekolah. shadaqah). i. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran. h. dan sejenisnya). k. e. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. Atletik (lari. j. i. c. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. lomba da’wah.) 138 . Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. b.

. e.... Seni musik (band. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39. d. h. c. c.... OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. b.. Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri. f. g. e. Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan... Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. d......... g. pengamatan. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a.. 40.. b.. e. Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 .. f.... 41.38. b.. b. c. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik .... i.. c. Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian. f. d... Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a. Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a....

b. dan dikembangkan di sekolah? a...... 140 .. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah........... Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah. Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan....... 42. e. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum.... Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan... d... Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. ……………….d..... Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah... e..... .. perlu dipertahankan. f. c.