P. 1
Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan.doc

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan.doc

|Views: 606|Likes:
Published by Harry D. Fauzi

More info:

Published by: Harry D. Fauzi on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2014

pdf

text

original

Sections

  • No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX
  • RINGKASAN TESIS
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • A.Latar Belakang Masalah
  • B.Identifikasi Masalah
  • C.Batasan Masalah
  • D.Rumusan Masalah
  • E. Manfaat Penelitian
  • A.Konsep Dasar Kultur Sekolah
  • 1. Pengertian Kultur Sekolah
  • 2. Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu
  • 3. Membangun Kultur Sekolah
  • B.Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi
  • 1. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah
  • 2. Peran Kepala Sekolah
  • C.Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah
  • 1. Pengertian Pemberdayaan
  • 2. Esensi Pemberdayaan
  • D.Mutu Pelayanan Sekolah
  • 1. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah
  • 2. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah
  • 3. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah
  • A.Tujuan Penelitian
  • B.Tempat dan Waktu Penelitian
  • 1. Tempat Penelitian
  • 2. Waktu Penelitian
  • C.Metode Penelitian
  • D.Unit Analisis
  • E. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
  • 1. Angket
  • 2. Observasi (Obsevation)
  • 3. Studi Dokumentasi
  • F. Instrumen Penelitian
  • G.Teknik Analisis Data
  • 1. Reduksi Data
  • 2. Display Data
  • 3. Kesimpulan dan Verifikasi
  • A.Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur
  • B.Temuan Penelitian
  • 1. Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur
  • Kesimpulan Sementara:
  • Kesimpulan
  • Kesimpulan Sementara
  • 3. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan
  • b. Pembinaan Kesiswaan
  • c. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler
  • d. Peningkatan PBM
  • C.Pembahasan atas Temuan Penelitian
  • 1. Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur
  • 2. Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur
  • Sekolah
  • dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah
  • A.Kesimpulan
  • B.Saran-saran
  • SUMBER-SUMBER DARI INTERNET
  • Petunjuk Khusus

PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Hasan Walinono. Dr. . Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. Prof. Oleh sebab itu. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. proses penelitian. Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. Atas bantuan berbagai pihak. 2. Prof. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya. Dr. 3.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. hingga penyusunan tesis ini. Dr. I Made Putrawan. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1. Prof. Nana Sudjana. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.

Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. Untuk itu. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. 6. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan. ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. Akhirnya. Kabupaten Cianjur. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. tak ada gading yang tak retak. Januari 2008 Penulis. Jakarta. Bapak R. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini.4. Hasan Iskandar. 5. Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. 7. xxxxxxxxxx .

....... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS .......................................... Identifikasi Masalah ... 10 10 17 27 37 C....................................... Mutu Pelayanan Sekolah ..................................................... Bab III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... B.................................. Konsep Dasar Kultur Sekolah .......... D...................................... BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS ........... Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah ...................................................................................................... RINGKASAN TESIS .............. E.................. Rumusan Masalah .......... A........................................ Tujuan Penelitian ...... A....................................................... Latar Belakang Masalah ...................................... KATA PENGANTAR .... Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ................................. B......... A...... Bab I PENDAHULUAN ..................... DAFTAR ISI .............. C....................................................................... B...............................................................DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN .... Batasan Masalah ............................. D........................................... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. Manfaat Penelitian ........................................................................................

.................................... D.......................................................................... 4....... A............................. 5.... F....................................................................... B....... Kesimpulan .................................................................. ....................................... Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur ............................... 3... C.......... A........ Saransaran .................................................................. B............................ Pembahasan Hasil Penelitian ............. 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA .................................. Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ............................................. Temuan Penelitian ....... C......Penelitian ............................................... Metode Penelitian ................................................................................ . Lampiran ........................................................ 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN .......................... 2.......................................................... G....... Instrumen Penelitian ....... 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN .................................. Teknik Analisis Data .............. E..................... 129 132 1.... Teknik Pengumpulan Data Penelitian .. Unit Analisis ...........................................

Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya.BAB I PENDAHULUAN A. 5 . Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

melainkan perlu dibentuk. cakap. keluarga dan lingkungan masyarakat. berakhlak mulia. Ibarat bangunan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. kreatif. Pasal 3 Undang-undang No. berilmu. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah. kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya. Demikian pula halnya dengan pendidikan. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). sehat. jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya. dibangun. mandiri. Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. 6 . dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kultur sekolah pada dasarnya 7 . emosi. kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab. kepribadian. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. Secara umum. suasana (atmosphere). dan iklim (climate) organisasi. Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. Sementara itu. dan nilainilai yang sama. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. nilai-nilai. lingkungan (milieu). Dengan kata lain. sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. Secara sederhana. keyakinan ( belief). dan ego yang beragam. proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. rasa (feel). budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. sifat (tone). Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah.Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah.

Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah. Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi. Berdasarkan uraian di atas. suasana. lingkungan. B. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat. guru-guru. dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan. sifat. Aspek itu adalah iklim. Dalam konteks pendidikan. atau tim. departemen. rasa.

yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. 9 . Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang. Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal. Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah. Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut. Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer.

Apakah seluruh warga sekolah (guru. komite sekolah. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. Apakah visi. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3. misi. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. misi. komite sekolah.1. siswa. siswa. Hal ini sejalan 10 . Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru. dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4. staf sekolah. Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan. serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. 8. serta unsur lainnya yang terkait)? 2.

Metode Penelitian Administrasi. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. p. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. 1. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2. 2. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. D. (Bandung: Alfabeta. 2004). Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3. Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. 3. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut.dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Agar penelitian ini tidak meluas. 31 11 . Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah.

melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 . serta dinas pendidikan. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. Secara teoritis. Pertama. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. Ketiga. Kedua. sekolah. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.E. penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha. art. custom. is that complex whole which includes knowledge. p 43 Ibid 13 . 2003).” Sedangkan Vijay Santhe. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization. Budaya Organisasi. law. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. taken in its wide ethnographic sense.bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian. Edward Burnet Tylor. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban. (Jakarta: PT Rineka Cipta. belief. dalam Taliziduhu 3.

Leadership for School Culture . 1993) pada situs http://www. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. Number 91. kebiasaan dan kemampuan.uoregon. kepercayaan.budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common. 1 Ibid 14 . seni. p.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. hukum.” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. (ERIC Digest. Deal dan Kent D. keyakinan. seperti iklim. 10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil. dalam konteks yang lebih kecil. etos. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai. dan sejarah/riwayat.

(a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association.uci. Hennry Jay Baker dan Margareth M.. pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. tradisi. nilainilai. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun. Hennry Jay. Montreal. dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. yang meliputi latar atau setting sekolah. para siswa. p. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda. Paul E. Margareth M." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. & Riel. 6 7 Ibid Baker. dalam anggota warga atau komunitas sekolah. 1999).edu/. dan kepala sekolah . download tanggal 30 Januari 2008. mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam. kepercayaan atau keyakinan. dari http://www.peristiwa dan waktu yang panjang. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah. 8 15 . upacara. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya. Dengan demikian. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya. upacara agama.

2002) p. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. 24 16 . Dengan demikian. Sebaliknya. Artinya. Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran.2. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8. semakin baik kultur sekolah. Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional. Frymer dan Sergiovanni (1984). semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME. (Jakarta: Depdiknas. semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya. sikap. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif.

harapan. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. (New York: John Wiley & Sons Inc. Oleh karena itu. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. John R. 1994). p. et al. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. 426 Ndraha. 9 10 Shermerchorn. Sekolah merupakan organisasi pendidikan. (Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif. Taliziduhu.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. p. perilaku. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. Teori Budaya Organisasi. 75 17 . Managing Organizational Behavior. bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. Jr. 1999).

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah.com&wijayalabs. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. (artikel bebas pada http://www. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. Dalam dunia pendidikan. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim. download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik.net/pradigma_pdd_ms_depan_36. Bukti terakhir. download 21 . dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. tetapi juga dalam wujud non-fisik.html. yakni berupa kultur sekolah". artikel Kultur Sekolah. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .wordpress.proses transmisi kultural antar generasi tersebut.pendidikan. tanpa tahun).8m.pakguruonline. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12. bukannya kultur masyarakat secara umum. Oleh karena itu. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. seperti keberadaan guru yang berkualitas.com. pada http://www. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini.omjay.

c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. a) rangsangan untuk berprestasi. dan. b) sikap dan motivasi kerja guru. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. staf administrasi maupun siswa. p. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. h) hubungan akrab di antara guru. Namun demikian. g) kepemimpinan kepala sekolah. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. d) pemahaman tujuan sekolah. normanorma. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. c) komunitas sekolah yang tertib. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. guru. e) ideologi organisasi yang kuat. seperti. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. Artinya. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi.terhadap fenomena sosial. dan. f) partisipasi orang tua siswa. sikap. 3 Ibid 22 . Dengan kata lain. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. ritual.

Perpaduan unsur siswa. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. 1. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh.Cit. guru. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Op. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. kebiasaan keseharian. moral. 4 23 . dan 14 Wijaya Kusumah. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa.variabel. Menurut Deal dan Peterson (1999). p. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. guru. budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. seperti kepala sekolah. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. tradisi. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. materi pelajaran dan antar siswa sendiri.

guru. terintegratif. karakter atau watak. lima hari belajar. menyelenggarakan konferensi 24 . melaksanakan tadarus. dan masyarakat sekitar sekolah. hafalan Juz Amma. jujur. menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa. bekerja keras. dan dedikatif terhadap pencapaian visi.simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. ludaya kepemimpinan (leadership). Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi). siswa. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). shalat Dzuhur berjamaah. kreatif. doa bersama menyambut UN/US. Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. Budaya sekolah merupakan ciri khas. studi amaliah Ramadhan. budaya kerjasama (team work). Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. toleran dan cakap dalam memimpin. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. petugas administrasi. doa sebelum/sesudah belajar. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. mampu menjadi teladan. mengembangkan budaya bersih. kreatif. serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. adil.

dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya. pengelolaan ZIS (zakat. studi siswa.kasus. 2. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. infaq. bakti sosial. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. staf administrasi bahkan siswa 25 . dan sejenisnya. banding. PORSENI. Biarlah guru. berbuka puasa bersama. pentas seni. penerbitan majalah sekolah. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. kegiatan olah raga dan kesenian. pengembangan teman asuh. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. dan sebagainya. kunjungan industri. pelepasan pengenaan seragam sekolah. PHBN. kegiatan praktek ibadah. pengembangan kesadaran lingkungan. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. peningkatan disiplin. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS.

Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. dan siswa. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. perlu kolaborasi antara kepala sekolah. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. nilai-nilai dan normanorma. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini. staf. Karena. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. c) belajar dari guru. staf administrasi dan tenaga profesional. 3. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. guru. b) mampu membangun tim kerjasama. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. mana segi positif dan mana negatif. orang tua. dan produktivitas sekolah. struktur organisasi. kepuasan terhadap kelas. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. dan.

meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. guru. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. analisis perkembangan. serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. saling menghargai. dalam proses pembelajaran. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga. p. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. 1996). penggunaan logo dan emblim sekolah. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. serta kegiatan-kegiatan lainnya. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. 10 27 . Jane and Crang. 15 Turner. Carolyn. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah. Exploring School Culture.Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. Sebagai latar. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan. penggunaan seragam. Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah.

atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada. mengembangkan. Dengan cara ini 28 . memper-tahankan. (2) Mengembangkan nilai-nilai. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya.Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. (1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. kebiasaan. Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. (4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif.

Dalam konteks manajemen umum. p. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. 23 29 . kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. 1998). istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. Aileen Mitchel. Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah. C. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis. Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem.pula.

18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak. 2004). Nur. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan.29 30 ..” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang. M. (Bandung: IKIP Bandung. p. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan.. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. p.tugas semata kepada staf. melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh. Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. mempertimbang-kan. 1998). dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya. 172 Abdullah NS. dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. Manajemen Mutu Terpadu. (Jakarta: PT Ghalia Indonesia. kekuasaan. serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution.

diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart. p. 16 Ibid. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20. p. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. Aileen Mitchel. perintah.Cit. Oleh karena itu. Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. prosedur. 2. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan. 18 31 . dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal. Op. Akan tetapi. Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19.

tepat. Akan tetapi. perintah. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. serta komunikasi berjalan secara maksimal.dapat tercapai dengan cepat. 21 Ibid. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. 17 32 . Berdasarkan pendapat di atas. prosedur. Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya. dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya. p. dan lain-lain yang tidak perlu. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. memberi nasihat. Secara esensial. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. Artinya. maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. uang tes sumatif (sekolah swasta). uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan). Oleh karena itu. uang karyawisata. 24 33 . hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. Cit. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan. Op. sumbangan bulanan atau SPP. dan sebagainya. uang pendaftaran ulang. sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. p. Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. Lebih jauh.a.

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

dan efisien. Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran.. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. D. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen. selalu mengharapkan perubahan. Op. Aileen Mitchel. penundaan program. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan.Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. dan kematangan. imajinasi. Cit. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25. Atas dasar itu. p. pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. fleksibel. 32 37 .

Op. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya. (b) standar proses. 26 Dalam lingkungan pendidikan. M. 67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 . Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas. dan (h) standar penilaian pendidikan.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. (f) standar pengelolaan. (e) standar sarana dan prasarana. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi. Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan.1. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (c) standar kompetensi lulusan. maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution. (g) standar pembiayaan.Cit. p. Nur.

Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. (Jakarta: Depdiknas. p. dan output pendidikan . Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat.28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. proses. yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. 2. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama. Dalam konteks pendidikan. barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. komite sekolah. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah). serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah. 4 39 . 2002). pengertian mutu mencakup input. Konsep Dasar MPMBS. Setlah kedua unsur tersebut. para siswa.tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu.

peraturan perundang-undangan. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. proses pengelolaan kelembagaan. misi. proses pengelolaan program. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. program. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. 40 .untuk berlangsungnya proses. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. deskripsi tugas. makin tinggi pula mutu input tersebut. karyawan. Makin tinggi tingkat kesiapan input. Oleh karena itu. perlengkapan. sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. uang.29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. serta yang lainnya. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. dan proses monitoring dan evaluasi. proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. bahan. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. tujuan. Input harapan-harapan berupa visi. Dengan demikian. rencana. proses belajar mengajar. dan sebagainya). guru termasuk guru BP.

seperti misalnya IMTAQ. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). uang. inovasinya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 . berupa nilai ulangan umum. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan. lomba akademik. dan (2) prestasi non-akademik. dan moral kerjanya. keterampilan kejuruan. EBTANAS. olah raga. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. siswa. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. kesenian. kurikulum. kejujuran. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. dihayati. efektivitasnya. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. kesopanan.(guru. kualitas kehidupan kerjanya. efisiensinya. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. produktivitasnya. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. peralatan. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis. EBTA. karya ilmiah. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. khususnya prestasi belajar siswa.

Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. tugas. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. Untuk mencapai sasaran mutu tersebut. serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. dan pengawasan. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. Fokus pada pelanggan. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. d. pelaksanaan. a. Memiliki obsesi terhadap kualitas. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. 42 .tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. 3. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. Mengembangkan kebebasan yang terkendali. c.

Mengembangkan kerja sama tim. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. Memiliki kesatuan tujuan. g.30 f. misi. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. 195-196 43 . Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. h. dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. Op. e. Secara skematis. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu. mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. Cit. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. Oleh karena itu. pp. 30 Nasution. yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi.

Untuk mencapai sasaran mutu sekolah. Misi.Perencanaan Menetapkan Visi. melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan. baik dimensi manajemen. 198 44 . dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya. dimensi sumber daya manusia. serta dimensi 31 Ibid. p. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas.1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya.

misi. Akhirnya. pekerjaannya me-miliki kontribusi. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. gigih. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dan sebagainya). BAB III 45 .infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. pada umumnya. memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. dia tahu posisinya di mana. inovatif. Selanjutnya. komitmen yang tinggi pada dirinya. dia bertanggung jawab. berani mengambil resiko.

Sedangkan secara khusus. 1. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 3. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007. B. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Kabupaten Cianjur. 1.METODOLOGI PENELTIAN A. 2.

tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini. Tabel: 3.yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap. Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 . 2.

gambaran. 32 Sugiyono. objek. Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. Oleh karena itu. Jadi. dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. 2004). Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. Metode Penelitian Administrasi. ataupun peristiwa sekarang. baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. (Bandung: Alfabeta. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). p. set kondisi. sistem pemikiran. 11 48 . Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki.Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. atau lukisan secara sistematis. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana.

Berkaitan dengan hal di atas. maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan. Observasi 49 . Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. 2. Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. dan guru-guru. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. bidang tugas. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat. E. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. komite sekolah. serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih. 1.D.

d. serta e. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a. arsip. c. dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS. Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. b. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). pengembang-an materi pembelajaran. arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. 3. laporan-laporan. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. perencanaan evaluasi. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). data prestasi guru.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik. dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). Instrumen Penelitian 50 . dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian. F.

Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. Pengawasan pelaksanaan program 7. Secara global.Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”. 8. Tabel 3. 5. yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup. Pelaksanaan program sekolah 4.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. 51 . 2. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. 3. 6. Untuk mengungkap data tersebut di atas.

21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. 32 33 Masyarakat (Orang tua 22. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10. 15. Siswa 19. 30 20. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. 18.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9. Pimpinan sekolah 13. 17. 12. Guru-guru 16. 52 . 31 21. 11.

Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. dan sebagainya. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi. Indikator yang baik. 28. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. upacara PHBN.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. 38 39 Peningkatan PBM 29. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. pengamatan. 37 27. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan. 36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. dan sejenisnya. pelaksanaan peringatan hari besar Islam. 40 Penciptaan 30. upacara bendera. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24. 35 Pembinaan kesiswaan 25. Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan.

pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. serta konklusi dan verifikasi data. 1. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. dengan langkah-langkah sebagai berikut. serta pengamatan secara langsung. yakni terdiri atas reduksi data. dokumen sekolah. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting. penampilan data. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. teori. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . yakni dari hasil angket. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G.

sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Pada tahap reduksi data. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut. Selanjutnya. network. 1. Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. 3. ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian. Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas.banyak. 2. tema. chart. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan. data disajikan dalam bentuk matriks. Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola.

BAB IV 56 . Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian. tabel matriks. 2. Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi.pengembangan kultur sekolah. 3. grafik. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian.

SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar. Kecamatan Karangtengah. H. 1 ruang perpustakaan. Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. 57 . Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6. 6 orang guru bantu. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). Selain itu. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya.HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Secara terperinci. 1 ruang laboratosrium IPA. Desa Sukasari. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi. Kabupaten Cianjur.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2. A. Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R. serta 9 orang guru honor sekolah. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K.225 meter persegi. data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut. Saleh KM 7.

• Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders. inovatif. Kabupaten Cianjur. 58 . mandiri. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden. • Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan. guru-guru. sehat dan Islami. B. berilmu.Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah. prestasi.

yakni perencanaan pengembangan sekolah. pengawasan pelaksanaan program sekolah. Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. a. maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 .Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah. pelaksanaan program sekolah. Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah. serta persentase pada setiap opsi. 1.

b.Opsi F % a. Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64. dilakukannya sendiri Tidak. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS.63 13. hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64. maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS.86 24. Ya. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang. meminta bantuan salah seorang guru 60 . d. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21.32 10.86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan. c. Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.51 a. b.

sebagian besar guru. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui.c.76 37 100 61 . 8 responden (21. Sementara itu. dan 5 orang guru (13. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru. yakni sebanyak 24 orang (64. Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10.86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut.43 c. kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan. Tidak. 21 56.86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b.81 a. Dari 37 responden. 12 32.

Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS. sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 . Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b.43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. 12 32.76 a.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. sebanyak 21 orang guru (56.72 c. Dari 37 responden. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS.76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola. 4 10. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56. 12 orang guru (32.

Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. 21 orang guru (58.06 63 .81 d.dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.81 24.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS. 4 10. 20 54. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan.32 a. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c. b. Sedangkan 12 orang guru (32. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10.43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui.

selalu 64 .06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. 9 guru (24.81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Ya.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami. Dari 37 responden. Selanjutnya. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 4 guru (10. Sementara itu. sebanyak 20 orang guru (54. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67.57 a.

Dari 37 responden.57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah. e. serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah.b. 65 . d.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran. Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. c. siswa. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. b. 25 orang guru (67. staf tata usaha. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut. kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru.

06 32. serta perubahan-perubahan lainnya. Pembina Siswa. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54. perubahan personal pembantu kepala sekolah. b. selalu Kadang-kadang Tidak pernah. Perubahan struktur organisasi sekolah.43 13. Tim 66 . 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat. Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan. Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif. Ya. c. Pada konteks ini.51 100 a. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS.Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum.

Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 . Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. selalu. Tidak pernah. sebanyak 14 orang responden (37. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62. Dilakukan secara bertahap.16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62. Meskipun demikian. b. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah.Pembangunan Fisik Sekolah. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran.16 37. Ya.84 100 a.

seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. b. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Ya.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 .a. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. c. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56.76 43. Ya. Jumlah Total 24 13 64. b. Akan tetapi. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.24 0 0 a.86 35. Ya. Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. Tidak pernah. d.14 c.

b. 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. 20 54. 14 37.76 %). Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 . Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan.11 0 a.84 d. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8.

apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a. 14 orang gur (37. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. c. 20 orang guru (54.84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Sangat perlu. Sekali-sekali boleh.belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Kesimpulan Sementara: 70 . Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. Tidak. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b.05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali.

Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. c. Selalu Ya. c. guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. b.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah. Di sisi lain. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. Ya. tapi tidak terlalu ketat. tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa.

Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden. 72 . atau 67.62 10.81 67. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu.57 %). Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester. kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan.62 %). d. pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru.57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah. dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. b. atau 21.81 %). Nomor Opsi a. c. atau 10.

b.43 0 35. atau 32. c. Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32. monitoring juga dilakukan oleh …. 13 orang guru lainnya (35. Meskipun demikian. d. Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya. monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden. Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya.42 %).Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden).43 32. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 .14 100 a.

Komite 74 . Kadang-kadang program. Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21.62 %). b.86 13. sedangkan 5 orang guru (13. Menurut 8 responden (21. c. Berdasarkan penyajian data di atas.62 64. 24 responden lainnya (64.52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya.52 a. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah.Opsi F Ya.86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah.

Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi. c. Sebaliknya. d. Pada konteks ini. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. Ya. 75 . selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi. d. b.76 43.76 %). 16 guru lainnya (43.24 0 0 100 a. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan.

76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu.24 a. Ya. Meskipun demikian. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Ya. 21 37 57. Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 .76 100 Analisis: 21 responden (57. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi. 16 responden (43.Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan.

perbaikan 29 8 0 37 78. Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78. b.38 21. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43.a. Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 . b. Sementara itu.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa.76 0 100 a.24 56. 8 responden lainnya (21.62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. Ya. selalu dilakukan demikian. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang. c.62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. c.

pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. Pada kasus seperti ini. sebanyak 16 orang (43. 21 orang responden (56. Sementara itu. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. 78 . kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan.24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif.program dan atau pada pelaksanaannya. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. Dari 37 responden guru.

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43.32 orang responden (86.24 %).19 a.24 45. sedang-kan 17 responden lainnya (45.95 0 89. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43. b. Pertanyaan Nomor 25: 82 .95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan. saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih. c.49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman. Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah.

sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas. c. b. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS).62 13. yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah.86 21. efektivitas. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. b. produktivitas. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik. Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan.52 0 100 a. Ya. d. Ya. kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. efektivitas. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. Komponen Guru-guru 83 . tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. produktivi-tas.Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas.

0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91. Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a. b. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91.Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 .89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. Ya.89 8. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik.11 c.

0 0 37 100 Analisis: 85 . 8 21. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.a. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah.62 c. c.05 21. Ya. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b.62 10. d. sedangkan 8 orang (21. 20 orang responden guru (54. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78. b. Ya. Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif.81 13. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan.38 a. Sementara itu. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah.

30 a. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 .Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97. Sementara itu.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar. 0 0 36 97. Ya. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. Tidak. semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78.

Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. Tidak. serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86. keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas. Tentu saja. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik. b. Tidak. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah. c. Ya. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. karena siswa juga warga sekolah.81 a. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut. c.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal.49 0 10.

Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah. Ya. Ya. b.81 0 a. Akan tetapi. d. Sementara itu. siswa memiliki peran yang tidak sedikit. 88 . 32 responden (86. Tidak.19 0 10.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. Hanya dalam bidang akademis saja.dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. c. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru. Hanya dalam bidang non akademis saja. Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89. Dalam akademis bidang akademis Ya.49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan.

62 a.38 %). Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b. termasuk teknologi informasi dan komunikasi. 29 78. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 . Berdasarkan pengamatan 29 responden (78.38 c. komputer. Ya. 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media.Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89.19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis.

Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 . pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini. Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi. terutama para orang tua siswa. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. d. Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut.menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. Di samping itu.

Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21.62 a. c. 4 25 10.08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu.92 81. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan.57 91 . Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81.81 67. Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan.mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18.08 0 100 a. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. b. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah. c.

Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. 3.secara material tidak membebani mereka d. Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah.57 %) dari 37 responden guru. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. kompetensi dan sikap profesional guru. Kemampuan manajerial kepala sekolah. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 . Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik.

pembinaan kegiatan ekstrakurikuler.78 70. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. a. b. peningkatan PBM. d. atau setiap hari selama beberapa 93 . setra pengembangan nilai-nilai. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah. pembinaan kesiswaan. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut.27 a. c. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah.

41 5. j. h.41 100 100 k. l. dan sejenisnya). infaq.09 100 0 78. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ………………. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. i. lomba da’wah. g.62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah.09 responden (78. shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran. Mengembangkan budaya bersih diri. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. e. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah. 94 . f.62 Analisis Pada dasarnya.menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. 37 0 29. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan.

e. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat.54 91. d. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. Rata-rata Pilihan b. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. c. 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula.59 0 0 62.89 0 0 94. dan yang lainnya). i. h. k.2 100 100 100 40. j. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. ………………. Menerbitkan majalah sekolah. f. waktu. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. Pada konteks pembinaan siswa. g.b. 95 .

86 a. tolak peluru.03 64. serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah.Penerapan disiplin siswa secara konsisten.73 97.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut. g. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23. f. lempar cakram.2 responden (62. loncat jauh. e. dll. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. penyelenggaraan teman asuh. LDKS. serta penerbitan majalah. c.30 27.86 29.) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 . Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah. Atletik (lari. c. pelaksnaan bakti sosial. yakni pelaksanaan widyawisata. loncat tinggi. d. b.

Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas. bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29. Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah. dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 .67 responden (31.03 %). sepak bola (36 orang atau 97.86 %).73 %). Berdasarkan tampilan data di atas.30 %). Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11.53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. dan tenis meja (24 orang atau 64. i. Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64. kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola.h. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan. futsal (10 orang atau 27.67 0 0 0 31.86 %). kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa. j. d.53 Analisis Rata-rata 11.

d.Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64. g. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya.86 0 0 0 0 0 8. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah. Seni musik (band. f. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 . i. c. e.11 a. b. h.

67 orang responden. e. g. pramuka. PKS..05 59.Opsi a. Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 . atau 50. Sebanyak rata-rata 18. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra ………….46 32. b.76 54.43 0 50. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi.67 % 100 0 56. UKS/PMR.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa. f. Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR). d.45 %. c.

pengamatan. Membentuk komunitas belajar) mandiri. f. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 . b. ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian. Oleh karena itu. pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e.a. c. d. Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa.86 11. Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional.33 5.41 64. 2 24 4.

Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81.78 %). c.19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah.19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. f.yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a.08 97. d.30 %).30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %).97 89. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 . menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97.08 %). Pada konteks ini. Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e. 37 27 33 100 72.78 81. b. dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83. sebanyak rata-rata 33 responden (89. Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah.

b. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72.05 51. Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan.35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 .05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %). c.29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah. ditumbuhkan. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54. Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum ……………………. kemudian 19 responden (51.86 0 47. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. e. d.5 % 54.35 18.92 64. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a.97 %).

103 .bersih diri dan bersih lingkungan. Meskipun demikian.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum. 24 responden (64. terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Akan tetapi. Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya. C. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah.

Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. pelaksanaan program sekolah. serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah. peran guru-guru. 1. pandangan hidup. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 .Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan. pengawasan pelaksanaan program. diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah. yakni. Selain itu. pengelolaan pembelajaran. seperti perencanaan pendidikan. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. luar sekolah dan keluarga. peran komite sekolah. sikap hidup dan keterampilan hidup. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. profesi-onalitas guru dan staf sekolah.

yakni: proses belajar mengajar. Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation". Konsekuensi dari pemyataan ini. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. Pelaksanaan di luar sekolah. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar. 105 . Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah. serta kultur sekolah. sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan.dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. kepemimpinan dan manajemen sekolah.

sikap hidup. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. padahal kultur negara- 106 . meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. perilaku. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. yang mencakup cara berpikir. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan. sikap. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. Namun. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Oleh karena itu. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah. Dalam dunia pendidikan. nilai-nilai. Bukti terakhir.

sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. ritual. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik. 47 Ibid. Oleh karena itu. yakni berupa kultur sekolah". yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial. p. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai.33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. bukannya kultur masyarakat secara umum. seperti keberadaan guru yang berkualitas. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. staf administrasi maupun siswa. (Jakarta: Endonesa. Paradigma Pendidikan Masa Depan. 33 34 Lukman El-Hakim. normanorma. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. tetapi juga dalam ujud non-fisik.com. sikap. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. p. 2006). guru. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah.negara tersebut berbeda. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. 48 107 .

serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah. dan. seperti. 32 108 . 35 36 Ibid. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. f) partisipasi orang tua siswa. 51 Depdiknas. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. misi. c) komunitas sekolah yang tertib. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. penerapan sistem pengawasan. Artinya. b) sikap dan motivsi kerja guru. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. 2001). b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. 35 Namun demikian. melainkan lewat berbagai variabel. d) pemahaman tujuan sekolah. h) hubungan akrab di antara guru. g) kepemimpinan kepala sekolah. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. p. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi.Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. a) rangsangan untuk berprestasi. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. dan. serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. e) ideologi organisasi yang kuat. 36 Dengan kata lain. Buku I. p.

mana segi positif dan mana negatif. Biarlah guru. struktur organisasi. harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. dan produktivitas sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. non-fisik. yang meliputi faktor-faktor fisik. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Kepala sekolah. komite sekolah. guruguru. tenaga tata usaha. sebagai unsur pimpinan sekolah. nilai-nilai dan normanorma. kepuasan terhadap kelas. Op. dan sumber daya manusia. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. 49 109 . p. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor. perlu 37 Lukman El-Hakim. 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh.2. Untuk membangun visi sekolah ini.Cit.

dan siswa. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. p. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. orang tua. dan. guru. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman.kolaborasi antara kepala sekolah. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Karena. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. staf. b) mampu membangun tim kerjasama. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. 50 110 . Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. staf administrasi dan tenaga profesional. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. c) belajar dari guru.

Semakin besar otoritas 111 . Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. Untuk itu instruksi. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. kerja efektifdan efisien. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. Sekolah. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Upaya peningkatan kualitas sekolah. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. dan. lewat action research. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. Dalam kaitan inilah. Untuk itu. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah.fenomena masyarakat secara efisien.

materi pelajaran dan antar siswa sendiri. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan. Nilai. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. Oleh karena itu. guru. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. moral. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. 112 . Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah. dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. seperti kepala sekolah. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah.

serta tidak menguasai materi. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar.39 39 Lukman El-Hakim.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik. p. Op.Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak.Cit. Penelitian yang mencakup 1. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting. Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar. 53 113 .

pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Untuk itu. kebersamaan dan 114 . terutama para pengguna jasa pendidikan. Dalam menuju era globalisasi. 3. Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi. keinginan berprestasi. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. Di samping itu. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. guruguru. sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak.

sebagamana dikutip oleh Budisatyo. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa.tanggung jawab. Di samping itu. membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan. Dari aspek non-fisik. termasuk di Indonesia. Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan. bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 . pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat... pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. khususnya negara-negara di dunia barat. Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju. Winarno Surachmad (1986). yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. memperingatkan ". Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan.

guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan. artikel pada http://www. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. pendapat tersebut sangat ekstrim. 23 Agustus 2005). 40 Barangkali. setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah. yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan. kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo.com download tanggal 29 Desember 2007 116 . Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Selasa.suara-merdeka_online.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". Di sisi lain. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri. sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan.

Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang. sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik. baik pendidikan akademis maupun non-akademis. Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa. pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual.pembelajaran. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 . serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat.

Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. 1. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan.bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. Oleh sebab itu. 118 . diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut.

kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten. yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. 3. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar. Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif.2. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia.

adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan. Oleh sebab itu. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. 120 . dan akuntabilitas. kontekstual. B. 1.

Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. Oleh sebab itu. pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. Oleh karena itu. Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. guru. 4. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. tata usaha. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. dan siswa) serta komite sekolah. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi. 3.2. Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 .

baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 . Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah.kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. 5. bantuan orang tua siswa. dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan). Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet. 6. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan.

dan penulisan karya ilmiah remaja. dan sebagainya. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 . Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. biologi. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa. fisika.pendidikan. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah. pengamatan. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika. 7. Dengan demikian. tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. IPS. 8. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian.

Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan . Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998.perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. Bandung: IKIP Bandung 124 129 . DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS. 1998.

2003. James. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. E. 2004. Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. Taliziduhu. Manajemen Mutu Terpadu. 2000. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994).com Lindelow. Hadari (1981). Jakarta Gunung Agung. Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Ndraha. Jakarta: Endonesa. Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. Teori Budaya Organisasi. Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional. Taliziduhu. " School-Based Management. J. 2nd edition. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. Lucia Press 125 . 1999. 1998. 1994. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. Buku I. Principles of Total Quality Management. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. John. Ketentuan Umum 2003a. (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yusuf (1995). Abin Syamsuddin. 2002. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. 2001. Kompetensi." In School Leadership: Handbook for Excellence . Nasution. Administrasi Pendidikan. V. Budaya Organisasi. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi. Lukman El-Hakim. 2003. 1996. Delray Beach: Published by St. Nur. Jakarta Bumi Aksara.Ahmad Sanusi. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun. and Heynderickx. M.

1994. Supervision: Human Perspective. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Filasafat Administrasi. Carolyn. Peranan Staf dalam Management. Bandung: Alfabeta Turner. Metode Penelitian Administrasi. 23 Agustus 2005). North Sydney. artikel pada 126 . et al. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. Shermerchorn.. dari http://www.uci. Henry Boosley. Robert J Starrat (1979). Hennry Jay. al. Depdiknas Sergiovanni. New York: Me Graw-Hill Book Company. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya.P. (1990). John Wiley & Sons Inc. 1984. ---------(1983). PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Napier Street. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. Webster’s New Colligiate Dictionary. Jakarta Gunung Agung. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager. 1998. Managing Organizational Behavior . Aileen Mitchel. Jane and Crang. New York. (1980). Australia: Allen & Unwin Pty. Winarno Hami. Bandung: Grafindo Media Utama. download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. 1996. Exploring School Culture. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. John R. Thomas. J. 2004. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . Selasa. 1999. Ltd. Seno. Jakarta Gunung Agung Stewart.edu/. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. 1977. & Riel. USA Siagian S. Montreal. NSW 2059 Woolf. Clifford. Margareth M. A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney. Ahmad. 1992. (Jakarta: Suara Merdeka On-line.Sanusi. Jr. et.

suara-merdeka_online. http://eric.http://www. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . The Good High School: Portrait of Character and Culture.eddept.depdiknas. Number 91.pendidikan. 39 pada ERIC.wa. pada situs http://www. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni.uoregon. 1993. downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah. h. Tulisan pada http://www.com&wijayalabs. ERIC Digest.com . Artikel Artikel pada http://www.go. 1983.edu.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis. Guru Masa Depan. Sara.us/guru_masa_depan. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni. Clearinghouse on Educational Management. download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 . Leadership for School Culture .com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta .htm. Artikel pada http://www.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot. Kinerja Guru. Trends and Issues: the Role of School Leader.uoregon.edu. (artikel bebas pada http://www.omjay.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta.au/centoff/cpr/publications.html.8m.wordpress. New York: Basic Books. tanpa tahun).

34. 46. Evaluasi program pengembangan sekolah 41. 37. 45. 128 . Pengawasan pelaksanaan program 38. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. Guru-guru 47. 42. Pelaksanaan program sekolah 35. 43. 33. Pimpinan sekolah 44. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. 40. 36. 39.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32.

Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56. 30 51. keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. 37 129 . dan sebagainya. melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. upacara PHBN. Masyarakat (Orang tua siswa) 53.55. melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. Siswa 50. 33 54.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten. 31 32 52. Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. upacara bendera. 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang. Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. melaksanakan peringat-an hari besar Islam.

40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61. mengembangkan cinta lingkungan. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . 59.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. dan sejenisnya. mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan. menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian. 41 Pengembang. pengamatan. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60.62.

melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3.Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. Jika RPS disusun setiap tahun. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. meminta bantuan salah seorang guru c. Tidak. Jarang d. 4. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. dilakukannya sendiri b. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a. Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu. Selalu b. Tidak pernah 2. Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada. Sering c. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. b. Tidak. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 . c. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. Ya. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. 1.

Dilakukan secara bertahap. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Kadang-kadang c. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. 135 5. 6. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. Ya. 8. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. selalu. Ya. Ya. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. selalu b. Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. b. Pembina Siswa. Tidak pernah. Sering menerima c. Tidak pernah 7. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. b. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. b.a. Tidak pernah. staf sekolah dan c. 132 . Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. Jarang menerima e. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. d. selalu b. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. Kadang-kadang menerima d. c.

Sekali-sekali boleh. Sangat perlu. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. 12. Tidak. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. c. b.9. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. 11. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. c. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. 10. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. d. d. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Ya. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. c. b. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. Ya. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. b. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan. 13. b. Ya. Menurut Bapak/Ibu. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. c. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. Tidak pernah.

Ya. selalu b. 14. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Ya. 17. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. Wakil kepala sekolah b. Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. a. Ya. d. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. PKS Urusan Kurikulum) c. tapi tidak terlalu ketat. Sebagai bahan mendatang. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. Ya. a. Sebagai Controlling Agency. Setiap triwulan d. b.a. Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Selalu b. 19. Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a. c. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Tidak pernah 18. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. c. Kadang-kadang dievaluasi c. Setiap awal bulan c. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. Setiap minggu b. Setiap semester 15. Ya. b. Kelompok guru senior yang dipercayai d. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. 16. Sama sekali tidak. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. monitoring juga dilakukan oleh …. Ya. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu.

Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. 21. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. selalu b. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a. Tidak. b. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. c. 23. Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. Ya b. b. Kadang-kadang dilakukan seperti itu. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah.b. c. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. selalu dilakukan demikian. Menggunakan arahnya. Samar-samar. Ya. c. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. Tidak pernah 22. Tidak tahu 24. efektivitas. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. Tidak memiliki daya ramal c. Sebaiknya seperti itu b. b. 20. c. Kadang-kadang c. Ya. Kadang-kadang ada target 135 . c. Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. Ya. produktivitas. Disimpan saja. Ya.

apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. c. Ya. b. 31. Ya. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. Ya. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. 26. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. Tidak. Menurut pandangan Bapak/Ibu.d. c. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. 27. karena siswa juga warga sekolah. Tidak. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Menurut Bapak/Ibu. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a. Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . b. Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. Ya. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. Kadang-kadang saya terlibat juga. c. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. Tentu saja. Tidak. 28. b. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. c. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. 29. Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. Selalu dilibatkan b. Ya. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. d. Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. Ya. Tidak pernah memberikan target secara khusus. 30. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. b. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung.

Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Ya. c. Apakah masyarakat di sekitar sekolah. c. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. 137 . b. Ya. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. d. Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Sebagian terbebani.. b. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Hanya dalam bidang non akademis saja. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. internet)? a. c. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. d. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Tidak. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. 32. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. 34. terutama para orang tua siswa. c.b. komputer. b. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. Ya. b. e. c. d. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a. Hanya dalam bidang akademis saja. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. 33.

Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). f. lomba da’wah. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. Menerbitkan majalah sekolah. apa saja yang sampai saat ini 37. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. j. i. j. k. h. loncat jauh. infaq. tolak peluru. b. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. j. d. e. loncat tinggi.f. c. i. lempar cakram. g. k. b. Mengembangkan budaya bersih diri. g. dll. c. e. l.. f. waktu. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. h.) 138 . i. Atletik (lari. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama. dan sejenisnya). d. 36. Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis ………….. dan yang lainnya). Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran. shadaqah). Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. …………………………. Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. h. g.

.. pengamatan. Seni musik (band. c. e. f. Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39. h.. e... c. 41... b... f..... Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a.. c. Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan. d. d...... f. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a.. g. Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a.. e. b.. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik . c. Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 . d. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra ………….. 40.. Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a.. Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri....38.. g..... b... i. b.

...... perlu dipertahankan.. ………………... Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah...... d.. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. b. dan dikembangkan di sekolah? a... 42...... f. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah. Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan....d...... Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum.. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan. 140 ..... . e. c. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. e......

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->