PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN SEKOLAH PADA SMP NEGERI 3 KARANGTENGAH KABUPATEN CIANJUR

RD. ABIMANYU BIN ARJUNA
No. Reg. XXXXXXXXXXXXXX

Tesis yang disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh gelar Magister Administrasi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA (S-2) MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA 2007

iv

RINGKASAN TESIS
EPO KURNIA: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur, Tesis, Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, 2008 untuk mendeskripsikan (1) aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; (2) komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah; dan (3) aspek yang diberdayakan dalam peningkatan mutu layanan sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket yang disebarkan kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif serta dibantu dengan pengkajian melalui observasi, studi dokumentasi, dan studi ke-pustakaan. Hasil penelitian menunjukkan

ABSTRACT This research was conducted to know School Culture Development in Building Quality of School Service at SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. The method used on this research is descriptive method qualitative, while technique of data collecting used is questionnaire technique propagated to 37 responder of the SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Data obtained to be analysis by using technique qualitative analysis and also assisted with the study of passing observation, documentation study, and bibliography study. Result of research indicate that (1) the headmaster as leader and manager was have capability in coordinated entire school component so that can develop the planning and execution was raise of school quality as according to plan which have been formulated what entirely have an effect on to forming of school culture quality oriented; (2) school component consisted of the headmaster as head institute, all teacher as development executor of school quality, and also all student as subject education represent the factors determining formed its good school culture; (3) SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur have owned the positive school culture which can be made for development of school service. Penelitian tentang Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah bertujuan

bahwa (1) kepala sekolah selaku pimpinan dan manajer memiliki kapabilitas dalam mengkoordinasikan seluruh komponen sekolah sehingga dapat mengembangkan perencanaan

v

dan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan, pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan, pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkesinambungan, serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif; yang seluruhnya berpe-ngaruh terhadap pembentukan kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu; (2) komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala se-

teks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik, terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. Saran yang disampaikan adalah (1) sekolah harus selalu mengembangkan akuntabilitas sekolah agar dapat melayani publik secara maksimal, (2) program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan; dan (3) pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif

kolah selaku pimpinan lembaga, para
guru sebagai pelaksana pengembangan mutu sekolah, serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik serta telah dapat membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu; (3) pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah, tradisi-tradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik meskipun pada beberapa kon-

vi

. Dr. Hasan Walinono. Atas bantuan berbagai pihak. Dr. I Made Putrawan. Nana Sudjana. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Alhamdulillah kesulitankesulitan itu dapat teratasi sehingga karya tulis ini akhirnya dapat terwujudkan. 3. Kesulitan dan hambatan tentu saja banyak ditemui selama persiapan. Dr. 2. karena atas izin dan kekuasaan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis yang mengambil judul ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama. Oleh sebab itu. baik dari segi teknis maupun teknis penulisan. proses penelitian.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadlirat Allah Azza wazalla. selaku Pembimbing II yang memberikan bantuan dan arahan dalam berbagai aspek persiapan penyusunan tesis hingga penyelesaiannya. hingga penyusunan tesis ini. Prof. Prof. Prof. selaku Pembimbing I yang telah memberikan kemudahan-kemudahan pelaksanaan penelitian dan proses penyusunan tesis ini serta berbagai bimbingan dan petunjuk berharga sejak persiapan penelitian hingga terwujudnya tesis ini. amatlah patut jika pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada 1.

Bapak R. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan ujicoba penelitian. 5. Berbagai pihak yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian. Kabupaten Cianjur. Hasan Iskandar. ABIMANYU BIN ARJUNA NIRMP. Untuk itu. 7. Kepala SMP Negeri 3 Karangtengah. Pada karya tulis ini sudah barang tentu akan banyak ditemukan kelemahan-kelemahan serta kekurangan. tak ada gading yang tak retak. 6. Staf pengajar Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan hingga penyusunan tesis ini. khususnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi untuk klengkapan tesis ini. Kabupaten Cianjur yang telah turut berpartisipasi dalam pengumpulan data untuk penelitian ini. Jakarta. Akhirnya. Januari 2008 Penulis. xxxxxxxxxx .4. Para guru SMP Negeri 3 Karangtengah. dapatlah kiranya kelemahan-kelemahan serta kekurangan tersebut menjadi bahan kajian bagi penelitian lebih lanjut.

... ii iii iv v vii 1 1 4 6 7 8 Bab II TINJAUAN TEORITIS .............................................................................................. D.............................. Mutu Pelayanan Sekolah ... A........................ B........... Bab III METODOLOGI PENELITIAN ..................... BUKTI PENGERSAHAN PERBAIKAN TESIS ............. DAFTAR ISI ........ B.................................................. D........................................... 10 10 17 27 37 C............................... E.................................................................................................................................................................................................................................................... Tempat dan Waktu 45 45 46 3 ...... KATA PENGANTAR ................................................ Bab I PENDAHULUAN ........................... RINGKASAN TESIS ................................... Manfaat Penelitian ............................................................ B............... Konsep Dasar Kultur Sekolah ........... Batasan Masalah .........DAFTAR ISI halaman LEMBAR PERSETUJUAN ..... A...................................................................................................... C.......................................................................................... Tujuan Penelitian ......... Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah .............. Rumusan Masalah ........................... Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah ..................................................................... Latar Belakang Masalah ............................................................................................ A............... Identifikasi Masalah .......................................................

.......... Unit Analisis . 5........................... 2..................... 129 132 1............................................................... A................................ Pembahasan Hasil Penelitian . F................................................................................................. D........................................................................................................... E...........................................Penelitian .......................................................................................................... Teknik Pengumpulan Data Penelitian ........... Instrumen Penelitian Dokumentasi SMP Negeri 3 Karangtengah Data Visual SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian 4 ............................. A........................... G....................... Kesimpulan . Lampiran ........... Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur ...................................................................................................... Saransaran ..... Temuan Penelitian ...... 4................ B.................... ....... Metode Penelitian ..................................................... 122 122 124 DAFTAR PUSTAKA .......... C. 47 48 49 50 53 Bab IV HASIL PENELITIAN .................. 57 57 58 106 Bab V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... Instrumen Penelitian .......... 3....... B...... C....................... .................... Teknik Analisis Data .............

Salah satu penunjang utama bagi keberhasilan pendidikan di sekolah adalah terciptanya kultur sekolah yang kondusif melalui pengembangan kultur sekolah yang dilandasi nilai-nilai akhlaqul karimah. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kompetensi yang seimbang dalam penguasaan Iptek dan Imtak yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. 5 .BAB I PENDAHULUAN A. Kultur sekolah yang demikian tidak akan tercipta dengan sendirinya.

perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba merupakan tanggung jawab bersama ketiga pilar pendidikan untuk menanganinya. jika 1 ketiga pilar tersebut tidak seimbang kekuatannnya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. jika salah satu pilar tidak seimbang dengan kekuatan pilar-pilar lainnya. berakhlak mulia. Terwujudnya tujuan pendidikan nasional di atas sangat tergantung pada 3 (tiga) pilar pendidikan yaitu lembaga pendidikan (formal dan nonformal). maka sulit sekali mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. Upaya peningkatan mutu pendidikan termasuk di dalamnya penanganan masalah-masalah seperti perkelahian pelajar. Demikian pula halnya dengan pendidikan. Pasal 3 Undang-undang No. maka bangunan tersebut akan miring bahkan roboh. berilmu. sehat. kultur sekolah yang kondusif bagi pembelajaran perlu dibangun dan dikembangkan. 6 . Dalam upaya memperkuat pilar lembaga pendidikan jalur sekolah agar menghasilkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang disebutkan di atas. Ibarat bangunan. cakap. keluarga dan lingkungan masyarakat. kreatif.melainkan perlu dibentuk. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. dibangun. mandiri. dikembangkan dan dipelihara secara bertahap melalui berbagai program dan kegiatan yang melibatkan semua anggota komunitas sekolah.

Secara umum. Kultur sekolah pada dasarnya 7 . Sementara itu. lingkungan (milieu). Aspek-aspek yang terlibat di dalam sebuah kultur atau budaya sekolah meliputi latar atau setting sekolah. proses penerapan manajemen yang baik terutama terletak pada kemampuan kepala sekolah dalam mempengaruhi seluruh warga sekolah untuk berprestasi dan meningkatkan kinerja. kepala sekolah harus memiliki kemampuan dalam melakukan pemberdayaan semua komponen yang ada di bawahnya sehingga seluruh komponen sekolah dapat melakukan kinerja secara sadar dan bertanggung jawab. Hasil penjumlahan dan interaksi berbagai orang tersebut membentuk budaya organisasi. kepribadian. suasana (atmosphere). dan ego yang beragam. budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang memiliki tujuan. Kesadaran atas tindakan yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah dalam melaksanakan fungsi dan kewajibannya inilah yang akan mampu menciptakan kultur sekolah yang baik. dan nilainilai yang sama. keyakinan ( belief).Penciptaan kultur sekolah yang baik dan kondusif sangat erat hubungannya dengan sikap dan cara pandang warga sekolah atas sistem pengelolaan sekolah. Secara sederhana. Dengan kata lain. sifat (tone). rasa (feel). nilai-nilai. emosi. dan iklim (climate) organisasi. Budaya organisasi sangat erat berkaitan dengan budaya sekolah di mana berbagai aspek terlibat di dalamnya. sebuah sekolah atau organisasi terdiri dari sejumlah orang dengan latar belakang. Sistem pengelolaan sekolah itu sendiri sangat banyak diwarnai dan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah dalam menerapkan serta mengembangkan sistem manajemen yang baik.

Dalam konteks pendidikan. serta warga sekolah lainnya bekerja dan berhubungan satu sama lainnya yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah. Iklim juga menjadi parameter untuk mengukur kondusif atau tidaknya suatu perkembangan organi-sasi yang 8 . dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecakapan hidup siswa yang diharapkan. rasa. Istilah iklim ini mengacu kepada suasana yang muncul dan dirasakan pada saat bekerja dalam suatu organisasi. kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar fisik. Aspek itu adalah iklim. Berdasarkan uraian di atas. sifat. B. penelitian tentang “Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” perlu dilakukan. guru-guru. Identifikasi Masalah Dalam kehidupan setiap organisasi ada satu aspek yang dapat mempengaruhi proses perkembangannya di mana setiap manajer akan memiliki kesempatan atau peluang untuk mengadakan perubahan yang berarti di dalamnya. lingkungan.merupakan tradisi yang berkembang di sebuah sekolah di mana kepala sekolah. Tumbuh kembang nilai-nilai kecakapan hidup para siswa ini pada dasarnya merupakan realisasi dari pelayanan yang diberikan sekolah sebagai lembaga pendidikan kepada masyarakat. suasana. departemen. atau tim.

Kondisi seperti ini akan menyebabkan rendahnya kinerja seluruh komponen sekolah. yang pada gilirannya akan menyebabkan terpuruknya sekolah dalam pencapaian prestasi. Untuk mengembangkan sebuah budaya sekolah diperlukan kemampu-an memahami iklim atau suasana kinerja sebuah organisasi dari seorang manajer.bersumber dari suasana emosi para personal organisasi yang tumbuh akibat kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh manajer. Ketidakseimbangan serta ketidakberpihakan personal sekolah terhadap sesuatu secara berlebihan akan menyebabkan timpangnya proses pengelolaan sekolah yang akan berakibat muncul-nya budaya sekolah yang kurang kondusif. Berdasarkan uraian tersebut diidentifikasi sejumlah permasalah-an yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap penumbuhan dan perkembangan kultur sekolah yang kondusif seperti berikut ini. Pada konteks ini diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan mengetahui suasana yang ber-kembang dalam tubuh organisasi sehingga konsep-konsep kultur sekolah dapat diterap-kan secara optimal. Faktor utama yang mempengaruhi pe-numbuhan kultur sekolah adalah sikap dan cara pandang seluruh personal sekolah terhadap pengelolaan pendidikan secara menyeluruh dan seimbang. 9 . Proses penumbuhan dan pengembangan kultur atau budaya dalam sebuah sekolah ditentukan oleh berbagai faktor yang ada di dalam lembaga tersebut.

dan tujuan pengembangan sekolah kepada seluruh warga sekolah? 4. komite sekolah. misi. siswa. Apakah kepala sekolah (beserta stafnya) melakukan sosialisasi visi. Apakah guru-guru melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya? Bagaimanakah tanggapan para siswa atas budaya persekolahan di mana mereka menuntut ilmu dan mengembangkan dirinya? C. Hal ini sejalan 10 . Apakah seluruh warga sekolah (guru. Apakah seluruh komponen sekolah melaksanakan program yang telah dirumuskan sesuai dengan fungsinya serta jadwal yang telah ditetapkan? 6. Batasan Masalah Agar masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan. serta masyarakat sekitar) mengetahui dan memahami kandungan visi dan misi sekolah? 5. maka perlu dilakukan pembatasan dalam masalah yang telah dirumuskan. Apakah visi. 8.1. Apakah kepala sekolah menerapkan manajemen terbuka sesuai dengan nafas manajemen berbasis sekolah? 7. misi. siswa. staf sekolah. serta unsur lainnya yang terkait)? 2. dan sasaran pengembangan sekolah merupa-kan pencerminan kehendak dan cita-cita seluruh warga sekolah? 3. komite sekolah. Apakah sekolah memiliki visi dan misi yang dirumuskan secara kolektif (bersama-sama dengan seluruh guru.

Aspek budaya apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan mutu layanan sekolah? 1 Sugiono. 3. 1. p. Metode Penelitian Administrasi. Aspek apa saja yang dapat dikembangkan dalam membentuk kultur sekolah? 2.dengan yang dikemukakan oleh Sugiono bahwa setiap penelitian yang akan dilakukan harus berangkat dari masalah. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. maka sebenarnya pekerjaan penelitian itu 50% telah selesai 1. Bila dalam penelitian telah dapat menemukan masalah yang betul-betul masalah. D. Rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut 1. 31 11 . 2. 2004). Rumusan Masalah Agar penelitian ini dapat terarah dan mencapai sasaran. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. (Bandung: Alfabeta. diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. masalahmasalah yang dikaji perlu dirumuskan. Siapa saja yang seharusnya berperan dalam pengembangan kultur sekolah? 3. Agar penelitian ini tidak meluas.

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kon-tribusi atau manfaat langsung kepada guru sebagai pelaksana pendidikan.E. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan saran dan pemikiran serta wawasan pengetahuan kepada guru dalam hal pengembangan kultur sekolah secara lebih terarah dan kontekstual. Kedua. terutama dalam proses kinerja guru yang meliputi pelaksanaan proses pembelajaran siswa. keterlibatan guru dalam pengembangan profesional. agar pengembangan kultur sekolah dapat dijadikan 12 . Ketiga. Secara teoritis. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur. serta dinas pendidikan. hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada guru dalam memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik untuk mencapai kompetensi. khususnya SMP Negeri 3 Karangtengah. melalui pengkajian konseptual dan temuan- temuan di lapangan. serta pengaruhnya terhadap perkembangan prestasi siswa. Pertama. penelitian ini diharapkan sumbangan pemikiran yang bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada sekolah. sekolah. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan deskripsi atau gambaran tentang pemahaman guru atas pengembang-an kultur sekolah serta pengaruhnya terhadap guru dalam meng- implementasikan penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi di sekolah. Manfaat Penelitian Sebagai bentuk penelitian.

belief. dalam Taliziduhu 3. is that complex whole which includes knowledge. (Jakarta: PT Rineka Cipta. BAB II TINJAUAN TEORITIS A. dalam Taliziduhu 2 menjelaskan bahwa ”culture or civilization. Budaya Organisasi. Konsep Dasar Kultur Sekolah Pengertian Kultur Sekolah Kultur merupakan terjemahan dari kata culture yang mengandung makna budaya atau peradaban. taken in its wide ethnographic sense. 2003). 1. and any other capabilities anda habits acquired by man as a member of society. Edward Burnet Tylor. law. custom. p 43 Ibid 13 .” Sedangkan Vijay Santhe.bahan perbandingan sesuai dengan karakteristiknya serta temuan-temuan penelitian. art. menjelaskan bahwa 2 3 Taliziduhu Ndraha.

kebiasaan dan kemampuan. Suatu tinjauan literatur atas kultur sekolah yang dilakukan oleh Terrence E. seni. Number 91. (ERIC Digest. 10 Cheng4 mengemukakan bahwa dunia pendidikan belum memiliki definisi yang pasti tentang kultur sekolah. 1 Ibid 14 . kepercayaan. etos. Istilah ini sering diidentikkan dengan berbagai istilah yang mendekati. 1993) pada situs http://www. Peterson5 mengungkapkan bahwa definisi kultur meliputi "pola teladan dalam nilai-nilai. Deal dan Kent D. Leadership for School Culture .budaya adalah ”the set of important assumption (often unstated) that members of a community share in common.uoregon.” Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa kultur merupakan sesuatu hal yang kompleks dan utuh. serta kebiasaan lain yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat. dan tradisi yang telah dibentuk dan menjadi milik sekolah setelah melewati rangkaian 4 5 Cheng Yin Cheong. kultur atau budaya ini dapat pula terjadi pada lingkungan sekolah. seperti iklim. keyakinan. Kompleksitas tersebut sering menjadi sebentuk anggapan dasar yang penting dan tidak dinyatakan secara eksplisit serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah komunitas masyarakat. dan sejarah/riwayat. dan akan meliputi aspek-aspek pengetahuan. hukum. Penggunaan istilah kultur sekolah serta pemahamannya digunakan sebagai satu bentuk upaya dalam membuat arah bagi pembentukan lingkungan sekolah yang kondusif dan suasana belajar yang stabil.edu/ download tanggal 30 Januari 2008. dalam konteks yang lebih kecil. p.

nilainilai.peristiwa dan waktu yang panjang. 6 7 Ibid Baker.uci. dapatlah disimpulkan bahwa kultur sekolah dapat digambarkan sebagai pola keteladanan yang meliputi norma-norma. kepercayaan atau keyakinan. para siswa. pemikiran-pemikiran yang muncul pada setiap anggota warganya. (a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. mungkin dalam derajat atau tingkat penafsiran yang bermacam-macam. serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang berpengaruh di sekitarnya.. p. Kultur sekolah ini dibentuk oleh berbagai aspek yang telah lama mempengaruhi sistem kinerja dan kebiasaan yang hidup di sekolah tersebut. Paul E. Riel 7 mengemukakan bahwa kultur sekolah merupakan sebuah sistem atau keyakinan yang dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah dalam melakukan tindakan-tindakan. Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies." Definisi ini menunjukkan adanya upaya dalam menciptakan suatu lingkungan belajar yang efisien. Montreal. Para ahli lebih memusatkan pada nilai-nilai inti diperlukan untuk memberi pembelajaranran dan mempengaruhi pola pikir generasi muda. yang meliputi latar atau setting sekolah. sistem keyakinan yang berkembang di dalamnya. kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan sekolah. Hennry Jay. upacara. dan kepala sekolah . Dengan demikian. tradisi. & Riel. dari http://www.edu/. 8 15 . Heckman (1993) 6 menegaskan bahwa kultur sekolah itu merupakan "keyakinanan yang dianut oleh para guru. upacara agama. Hennry Jay Baker dan Margareth M. dalam anggota warga atau komunitas sekolah. download tanggal 30 Januari 2008. dan pemahaman atas tradisi turun-temurun. Margareth M. 1999).

Frymer dan Sergiovanni (1984). (Jakarta: Depdiknas. Dengan demikian. Sebaliknya. lembaga pendidikan dan formal pelatihan yang untuk menyelenggarakan pembimbingan mengembangkan potensi peserta didik menjadi kompetensi. Kultur Sekolah dalam Konteks Peningkatan Mutu Sekolah merupakan pengajaran. maka sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu menghasilkan lulusannya yang mempunyai keseimbangan kompetensi iptek dan imtak yang tinggi. ucapan dan tindakannya sehari-hari yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan konsep kompetensi di atas. Artinya. semakin baik kultur sekolah. 2002) p. semakin tinggi kualitas lulusan sekolah tersebut. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai korelasi positif yang signifikan dengan kualitas lulusan. tetapi juga keimanan dan ketakwaannya (imtak) kepada Tuhan YME. sikap. afektif dan psikomotorik peserta didik dalam pikiran. kompetensi yang dimaksud bukan hanya kompetensi yang menyangkut ilmu dan teknologi (iptek) saja. Yang dimaksud dengan kompetensi di sini adalah tampilan keseimbangan kemampuan kognitif. 24 16 . Hasil penelitian tersebut memberi isyarat kepada para pengelola pendidikan di mana pun tentang 8 Departemen Pendidikan Nasional. semakin buruk kultur sekolah semakin rendah kualitas lulusannya.2. sebagaimana dikutip oleh Depdiknas 8.

Yang membedakannya hanya terletak pada hal-hal yang menyangkut metoda dan orientasi pengembangannya. p. ucapan dan tindakan para anggota komunitas sekolah serta kondisi fisik lingkungan sekolahnya sehari-hari.betapa pentingnya menciptakan kultur sekolah yang kondusif.9 Nilai-nilai itu diidentifikasi. Managing Organizational Behavior. ditanamkan dan diaktualisasikan melalui raga. 9 10 Shermerchorn. perilaku. Kultur organisasi adalah sistem kepercayaan dan nilai-nilai bersama yang berkembang di dalam organisasi dan mengarahkan perilaku anggotaanggotanya. 10 Dengan demikian maka secara sederhana kultur sekolah dapat dikatakan sebagai suasana kehidupan di sekolah yang dilandasi sistem nilai tertentu yang ditunjukkan oleh sikap. p. John R. Jr. 1994). (New York: John Wiley & Sons Inc. Sekolah merupakan organisasi pendidikan. yakni ukuran kehidupan yang dianggap/diyakini benar. agar mutu lulusan sekolah dapat terus meningkat ke arah yang lebih baik. cita-cita dan keyakinan suatu masyarakat yang bersumber dari agama atau filsafat kehidupannya. bagus dan baik menurut standar/kriteria/prosedur berdasarkan. et al. (Jakarta: Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. 426 Ndraha. kultur sekolah relatif sama dengan kultur organisasi pada umumnya. sikap dan pendirian tertentu yang berulang-ulang dan konsisten sehingga masyarakat dapat mengamati atau merasakannya. 1999). Oleh karena itu. 75 17 . harapan. Taliziduhu. Yang dimaksud dengan ‘nilai’ di sini adalah nilai kehidupan personal (personal living value) atau nilai sosial (social living value). Teori Budaya Organisasi.

3.

Membangun Kultur Sekolah Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan. Kultur sekolah sebagai kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai yang dianut sekolah, yakni dalam bentuk bagaimana warga sekolah seperti komite sekolah, yayasan (untuk swasta), kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa bekerja, belajar, dan berhubungan satu sama lain. Kultur sekolah merupakan faktor esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang optimis, berani tampil, berperilaku kooperatif, membangun dan memiliki kecakapan personal dan akademik Dewasa ini, dunia berubah dengan cepat, tuntutan masyarakat juga berubah sehingga kemampuan sumber daya manusia menjadi lebih kompetitif. Untuk itu, sekolah perlu meningkatkan kualitas. Ini harus dimulai dari unsur pimpinan sekolah untuk mampu memahami lingkungan

sekolahnya secara holistik. Melalui pemahaman kultur sekolah ini, kepala sekolah akan memiliki bekal untuk membentuk nilai, keyakinan, dan sikap yang diperlukan untuk membangun sekolah. Kultur sekolah yang positif menghargai kesuksesan, menekan-kan pencapaian dan kolaborasi, serta mengikat suatu komitmen pada staf dan siswa untuk belajar. Kultur sekolah yang negatif menyalahkan siswa serta warga sekolah lainnya atas prestasi yang diperoleh, menghindari kolaborasi, dan selalu ada pertentangan antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang negatif semestinya diubah ke arah positif. Untuk mengubahnya kepala sekolah harus

18

memahami kultur yang ada, mengubah variasi hubungan antarwarga sekolah, perubahan dilakukan melalui dialog, perlahan-lahan dengan kesabaran, dan komitmen, serta perubahan dimulai dari atas dengan contoh perbuatan yang bersifat keteladanan. Kultur sekolah yang positif akan menghasilkan produk kultur yang baik pula, seperti peningkatan kinerja individu dan kelompok, peningkatan kinerja sekolah atau institusi, terjamin hubungan yang sinergis di antara warga sekolah, tugas dilaksanakan dengan perasaan senang, timbul iklim akademik, kompetisi dengan kolaborasi, serta interaksi yang menyenangkan. Berdasarkan uraian di atas, peran kultur sekolah adalah untuk memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah, serta membuat suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan tidak mudah mengeluh. Kultur sekolah yang kondusif, antara lain, ditandai dengan adanya iklim terbuka (open climate), budaya positif (positive culture), budaya terbuka (open culture), dan suasana batin yang menyenangkan (enjoyable spiritual atmosphere) di antara warga sekolah. Atas dasar ini, keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif harus mampu memberikan pengalaman, baik bagi tumbuh kembangnya keyakinan dan ketakwaan, perilaku kebersamaan dalam kehidupan, pengetahuan dan keterampilan akademik, etos kerja, semangat belajar, partisipasi, demokratis, dan wawasan kebangsaan siswa serta warga sekolah lainnya.

19

B.

Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membentuk Prestasi Sekolah Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat

berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa

menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah

menunjukkan bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar

20

(artikel bebas pada http://www. yakni berupa kultur sekolah". Hal ini menunjuk-kan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam wujud fisik.wordpress.pendidikan. artikel Kultur Sekolah. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis . download 21 . download tanggal 30 Januari 2008 Wijaya Kusumah. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman 11 12 Anonim. tanpa tahun). Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz.8m.net/pradigma_pdd_ms_depan_36. hasil TIMSS11 (The Third international Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. tetapi juga dalam wujud non-fisik. seperti keberadaan guru yang berkualitas. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini.com&wijayalabs.omjay.pakguruonline.html. Oleh karena itu. para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah.com. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif.proses transmisi kultural antar generasi tersebut. pada http://www. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. Bukti terakhir. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. Dalam dunia pendidikan. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah12. padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. bukannya kultur masyarakat secara umum.

terhadap fenomena sosial. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. b) sikap dan motivasi kerja guru. normanorma. guru. Artinya. c) komunitas sekolah yang tertib. h) hubungan akrab di antara guru. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. e) ideologi organisasi yang kuat. dan. 3 Ibid 22 . a) rangsangan untuk berprestasi. f) partisipasi orang tua siswa. sikap. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Dengan kata lain. Namun demikian. melainkan lewat berbagai 13 tanggal 30 Januari 2008. dan. p. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. g) kepemimpinan kepala sekolah. d) pemahaman tujuan sekolah. seperti. Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris13. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. staf administrasi maupun siswa. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. ritual.

sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. guru. Perpaduan unsur siswa.variabel. seperti kepala sekolah. Salah satu keunikan dan keunggulan sebuah sekolah adalah memiliki budaya sekolah (school culture) yang kokoh. sebagaimana dikutip oleh Wijaya Kusumah 14. p. dan 14 Wijaya Kusumah. Op. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka.Cit. Faktor Pembentuk Kultur Sekolah Nilai. dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas. materi pelajaran dan antar siswa sendiri. dan perkembangan para siswa tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. kebiasaan keseharian. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. 1. serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. tradisi. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. moral. guru. Menurut Deal dan Peterson (1999). budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah. menjadikan sebuah sekolah unggul dan favorit di masyarakat. 4 23 .

serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak. guru. jujur. terintegratif. bekerja keras. LOKETA (Lomba Keterampilan Agama). Sebuah sekolah harus mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan. ludaya kepemimpinan (leadership). mampu menjadi teladan. menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa. dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. mengembangkan budaya bersih. dan masyarakat sekitar sekolah. kreatif. petugas administrasi. adil. shalat Dzuhur berjamaah. toleran dan cakap dalam memimpin. kreatif.simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan meliputi pengembangan budaya pengucapan salam. melaksanakan tadarus. siswa. studi amaliah Ramadhan. doa sebelum/sesudah belajar. Dalam pengembangan nilai-nilai religi (keagamaan) dapat diterapkan penanaman perilaku atau tatakrama yang tersistematis dalam pengamalan agamanya masing-masing sehingga terbentuk kepribadian dan sikap yang baik (akhlaqul Karimah) serta disiplin dalam berbagai hal. budaya kerjasama (team work). menyelenggarakan konferensi 24 . dan dedikatif terhadap pencapaian visi. Budaya sekolah merupakan ciri khas. Budaya sekolah yang harus diciptakan agar tetap eksis adalah mengembangkan budaya keagamaan (religi). doa bersama menyambut UN/US. hafalan Juz Amma. lima hari belajar. karakter atau watak.

bakti sosial. disiplin pengembangan ekstrakurikuler. infaq. Peran Kepala Sekolah Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. peningkatan disiplin. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. shadaqah) serta peringatan hari-hari besar Islam. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain MOS. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. PHBN. penerbitan majalah sekolah. kegiatan olah raga dan kesenian. 2. pengembangan teman asuh. pengelolaan ZIS (zakat. pemeliharaan nilai-nilai tradisi. studi siswa. Di samping kedua bentuk pengembangan kegiatan siswa di atas. kunjungan industri. pelepasan pengenaan seragam sekolah. berbuka puasa bersama. pengembangan kesadaran lingkungan. staf administrasi bahkan siswa 25 . Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. dan sejenisnya. Budaya kerja sama dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebersamaan dan rasa sosial melalui kegiatan bersama. kunjungan museum dan widyawisata kegiatan lainnya. dapat pula dikembangkan berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat meningkatkan kebersamaan. banding.kasus. Pengembangan budaya kerja sama (team work) dapat pula dilakukan. PORSENI. dan sebagainya. pentas seni. kegiatan praktek ibadah. Biarlah guru.

Karena. Menumbuhkan dan Mengembangkan Kultur Sekolah Positif 26 . akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. nilai-nilai dan normanorma. kepuasan terhadap kelas. b) mampu membangun tim kerjasama. c) belajar dari guru. Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. Untuk membangun visi sekolah ini. dan siswa. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. staf. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. orang tua. struktur organisasi. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. guru. perlu kolaborasi antara kepala sekolah. dan produktivitas sekolah. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. staf administrasi dan tenaga profesional. Kultur sekolah akan baik apa-bila: a) kepala dapat berperan sebagai model. mana segi positif dan mana negatif.menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. dan. 3. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah.

penggunaan logo dan emblim sekolah. sekolah (terutama sekolah yang telah lama berdiri) memiliki budaya turun-temurun yang diwariskan sebagai tradisi melembaga. dalam proses pembelajaran. yang kemudian dikukuhkan menjadi bagian dari kebiasaan sekolah. Kultur sekolah yang positif dikembangkan melalui rangkaian kegiatan penilaian. saling menghargai. 15 Turner. Exploring School Culture. Hal-hal seperti pelaksanaan wisuda lulusan dengan upacara tertentu yang telah berlangsung secara terus-menerus merupakan contoh yang paling mudah untuk diidentifikasi. baik sebagai latar maupun sebagai sistem. p. serta kegiatan-kegiatan lainnya. Faktor eksternal sekolah dapat muncul dari akibat merembesnya pengaruh budaya massa ke dalam lingkungan pergaulan sekolah. (A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning. meningkatkan dan memperkuat identitas sekolah. serta selalu memonitor proses perjalanan sekolah secara keseluruhan.Sebuah sekolah tidak akan pernah mencapai sebuah tingkat perkembangan kultur sekolah yang baik sebelum tumbuh rasa aman. adalah contohcontoh konkret dari faktor internal sekolah. serta kebebasan pengembangan diri bagi warga sekolah di dalamnya. Jane Turner dan Carolyn Crang 15 mengemukakan bahwa penumbuhan kultur sekolah akan sangat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. analisis perkembangan. Sebagai latar. Budaya seperti ini dapat masuk melalui siswa. penggunaan seragam. 10 27 . 1996). guru. Kegiatan pelantikan siswa baru melalui upacara tertentu. Jane and Crang. Carolyn.

(4) Menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan pewujudan obsesi prestasi secara wajar melalui berbagai aktivitas di kalangan siswa dan guru sehingga muncul tradisi juara di kalangan warga sekolah. Pengembangan-pengembangan lain dapat pula dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan sekolah sehingga sekolah memiliki banyak alternatif dalam menumbuhkan. Dengan cara ini 28 . mengembangkan. (3) Meningkatkan kepatuhan pemahaman aturan warga untuk sekolah akan disiplin serta dan terhadap mencapai keteraturan kenyamanan belajar dan bekerja serta mengiplementasikannya. atau kegiatan yang dianggap baik tetapi kurang memperoleh perhatian menjadi sebentuk identitas atau kegiatan sekolah yang khas dan dapat menarik perhatian masyarakat.Penumbuhan kultur sekolah yang positif dapat dilakukan melalui halhal sebagai berikut. memper-tahankan. kebiasaan. serta memperkuat nilai-nilai serta tradisi sekolah yang ada. (1) Mempertahankan nilai-nilai yang dianggap baik dan positif sebagai identitas atau karakter sekolah. (5) Mengembangkan usaha kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat merangsang tumbuhnya kreativitas dan aktivitas seluruh komunitas sekolah secara positif. (2) Mengembangkan nilai-nilai.

pula. Pemberdayaan di sini bukan sekedar pelimpahan 16 Stewart. Pengertian Pemberdayaan Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan atas kata empowering yang pada awalnya digunakan dalam konteks manajemen bisnis. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. istilah pemberdayaan me-rupakan konsep yang mengacu kepada cara praktis dan produktif untuk memperoleh hasil terbaik dari suatu tujuan dengan mengembangkan lebih dari sekedar pendelegasian agar kekuasaan ditempatkan secara tepat sehingga dapat digunakan secara efektif16. Apa sesungguhnya yang dinamakan dengan pemberdayaan? 1. Pemberdayaan sebagai Upaya Penciptaan Kultur Sekolah Upaya lain yang dapat dilakukan guna menumbuhkan dan mengembangkan kultur sekolah adalah proses pemerdayaan kapasitas kelembagaan sekolah. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius. p. kultur sekolah yang diharapkan akan dapat tercipta dan terbina sehingga sekolah memiliki eksistensi yang kokoh. 1998). Pengembangan kultur sekolah melalui pemberdayaan artinya meningkatkan efektivitas dan kreativitas setiap kom-ponen sekolah agar lebih berdaya guna sehingga dapat menumbuhkan kultur sekolah yang diinginkan dalam segi manajemen sumber daya manusia. 23 29 . Istilah ini berkaitan erat dengan pemindahan atau pendelegasian wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) kepada staf pada suatu sistem. Aileen Mitchel. Dalam konteks manajemen umum. C.

Nasution (2004) memberikan definisi lain mengenai pember-dayaan yang berbunyi ”pemberdayaan dapat diartikan sebagai pelibat-an karyawan yang benar-benar berarti. dan tanggung jawab kepada staf dalam arti yang sebenarnya.. dan menindaklanjuti masukan tersebut apakah diterima ataukah tidak.tugas semata kepada staf. mempertimbang-kan. kekuasaan. p. 172 Abdullah NS. (Jakarta: PT Ghalia Indonesia.29 30 .” 17 Abdullah NS (1998) menambahkan rumusan pemberdayaan melalui tulisannya pada Mimbar Pendidikan dengan ungkapan pember-dayaan budaya organisasi berarti membantu membuat agar organisasi (dalam hal ini lembaga pendidikan) memiliki budaya organisasi yang lebih kuat atau lebih berdaya dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan- hambatan dalam mengimplementasikan visi dari pimpinan organisasi ke arah keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Manajemen Mutu Terpadu. M. Nur. 1998). (Bandung: IKIP Bandung. melainkan juga pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh. 18 Dari ketiga konsep rumusan pemberdayaan di atas. dapat disusun sebuah definisi bahwa pemberdayaan adalah pelibatan seluruh komponen organisasi dalam melaksanakan visi organisasi (lembaga pendidikan) untuk mencapai posisi yang lebih baik di masa mendatang melalui pendelegasian secara utuh wewenang. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998. serta dengan menghilangkan sebanyak mungkin 17 18 Nasution. pemberdayaan tidak sekedar hanya memiliki masukan tetapi juga memperhatikan. 2004). p..

p. prosedur. p.hambatan yang akan muncul dan memberikan penekanan lebih kuat terhadap nilai-nilai positif. Berbagai teori manajemen tentang tugas dan fungsi seorang manajer selalu bersumber dari kedua aspek ini 19. Esensi Pemberdayaan Manajemen selalu berhubungan dengan wewenang ( authority) dan kekuasaan (power) yang merupakan modal utama untuk meng-gerakkan sebuah sistem organisasi. kekuasaan dan wewenang sangat tampak tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan sebagai pelaksana laju dan perkembangan sebuah organisasi. perintah. Oleh karena itu. Aileen Mitchel. 16 Ibid. 18 31 . diperlukan upaya-upaya pendekatan lebih manusiawi dalam menggerakkan laju dan perkembangan organisasi sehingga tujuan-tujuan 19 20 Stewart. 2. dan sebagainya yang digunakan untuk mengefektifkan lajunya roda organisasi guna mencapai tujuan secara maksimal. Para staf lebih banyak bertindak menunggu perintah dari atasan daripada bertindak sendiri sesuai dengan aturan secara kreatif. Akan tetapi. Sebagian besar gaya manajemen lama yang bertumpu pada manajer yang mempunyai wewenang dan kekuasaan untuk memerintahkan agar suatu pekerjaan dapat diselesai-kan dengan cepat dan tepat ternyata sering memiliki kendala kemanusiaan yang menjauhkan hubungan komunikasi interpersonal dan antarpersonal dalam manajemen tersebut20. Op.Cit. Wewenang dan kekuasaan ini kemudian melahirkan berbagai aturan.

Kewibawaan semacam itu tidak akan pernah lenyap karena mampu memberdayakan stafnya. yang merintangi organisasi untuk mencapai tujuannya.dapat tercapai dengan cepat. prosedur. serta komunikasi berjalan secara maksimal. p. perintah. dan lain-lain yang tidak perlu. Pemberdayaan ber-tujuan menghapuskan hambatan-hambatan sebanyak mungkin guna membebaskan organisasi dan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Manajer yang memiliki kewibawaan akan lebih mendukung kreativitas dan aktivitas staf daripada memerintah mereka. 17 32 . dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan tidak pelak lagi akan mengakibatkan berkurangnya sebagian wewenang dan kekuasaan para manajer. Berdasarkan pendapat di atas. Akan tetapi. seorang manajer berwibawa akan selalu memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk membimbing. memberi nasihat. tepat. pemberdayaan mencakup aspek-aspek operasional sebagai berikut. Secara esensial. melepaskan mereka dari halangan-halangan yang hanya memper-lamban reaksi dan merintangi aksi mereka21. Manajer seperti itu akan mampu memastikan bahwa stafnya bertindak tepat tanpa perlu membuat daftar peraturan yang panjang ataupun perintah-perintah yang keras. 21 Ibid. Pemberdayaan pada dasarnya bermaksud meniadakan segala peraturan. dan membantu staf dalam mengambil keputusan sendiri berdasarkan bimbingan yang diberikannya.

uang karyawisata. hasil penjualan dari produknya diperoleh dengan cara mengalikan jumlah barang atau jasa yang dijual/diproduksi dengan harga jual atau tarifnya. untuk memperoleh hasil usaha yang maksimal diperlukan pendekatan-pendekatan dengan pengguna jasa agar sekolah memiliki akuntabilitas yang sesuai dengan harapan masyarakat. p. Op. Oleh karena itu. uang tes sumatif (sekolah swasta). uang pendaftaran ulang. 24 33 . dan sebagainya. pelanggan pada konteks pendidikan adalah para siswa dan orang tua siswa yang menitipkan anakanaknya pada lembaga pendidikan. maka di bidang pendidikan hasil penjualannya memiliki komponen yang sangat banyak 22. uang dana tahunan (ada yang menyebut juga uang bangunan dan sejenisnya). sumbangan bulanan atau SPP. Sekolah sebagai sebuah sistem manajemen memperoleh hasil penjualan produknya melalui uang pendaftaran pada penerimaan siswa baru PSB). Jika pada hasil bisnis murni (bidang non kependidikan). sekolah sebagai penyelenggara dan pelayan masyarakat dalam bidang pendidikan 22 Abdullah NS. Lebih jauh. Demikian pula halnya dengan sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Cit.a. Sekolah harus memiliki kedekatan dengan masyarakat pemakai jasa pendidikan. Sebuah organisasi yang memberdayakan dirinya adalah organisasi yang dekat dengan pelanggannya. Dekat dengan Pelanggan Pelanggan untuk organisasi atau lembaga pendidikan adalah masyarakat pengguna jasa pendidikan. Artinya.

memperoleh kepercayaan maksimal berdasarkan produk yang dihasilkannya berupa kualitas hasil pendidikan melalui siswa-siswanya. b. Banyak Staf sebagai Sumber Daya ungkapan yang disampaikan oleh bermacam-macam

organisasi tentang staf. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa staf adalah sumber daya yang paling penting dan paling berharga dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, pendapat ini pada umumnya hanya berhenti pada ujung lidah belaka. Banyak organisasi gagal menangkap, apalagi

memanfaatkan dan menggunakan, pengetahuan dan pengertian yang bahkan dimiliki oleh staf junior atau tingkat rendahan tentang pelanggan dan kebutuhan-kebutuhan mereka. Demikian pula halnya yang terjadi pada lingkungan pendidikan. Pada banyak sekolah, terutama di daerah, para manajer lebih suka membebani stafnya (guru dan tata usaha) dengan peraturan dan prosedur, yang jelas dirancang untuk mencegah staf menggunakan inisiatif sendiri untuk memberi kepada pelanggan apa yang mereka butuhkan. Alhasil, staf akan kaku berpegang pada peraturan dan prosedur, bahkan juga pada saat-saat di mana jelas mereka harus mengambil inisiatif kebijaksanaan. Hal ini tidak hanya mengakibatkan buruknya pelayanan kepada pelanggan, tetapi juga pada akhirnya akan merusak semangat staf23. Perlakuan manajer (khususnya pada bentuk manajemen pamong yang selama ini berlaku di lembaga-lembaga pendidikan tingkat SD dan
23

Stewart, Aileen Mitchel, Op. Cit. p. 25

34

SMP) yang menganggap stafnya adalah pelaku yang harus patuh kepada peraturan dan prosedur kerja tidak akan menjamin pelayanan yang baik kepada pelanggan. Cara demikian juga tidak akan menimbulkan dedikasi dan perhatian staf kepada pekerjaan mereka. Jika seorang manajer menganggap stafnya sebagai setengah manusia, maka sudah dapat dipastikan bahwa organisasi pun akan mendapatkan setengah komitmen dan lebih sedikit lagi minat dan energi yang diberikan oleh staf. Dalam sebuah organisasi yang diberdayakan, staf akan merasa aman untuk menggunakan akal sehat dan inisiatifnya jika dihadapkan pada situasisituasi tertentu yang membutuhkan penanganan khusus. Seorang guru yang menyampaikan kebijakannya dalam mengatasi suatu masalah sesungguhnya dapat menggunakan akal sehatnya bahwa yang dilakukannya pada dasarnya sesuai dengan yang digariskan dalam peraturan dan prosedur kerja lembaga. c. Sesuai Kapasitas Staf dengan perkembangan hubungan kemanusiaan dan

perubahan ilmu tingkah laku pada manajemen modern, maka orang-orang mulai memberikan perhatian serius pada pengaruh penting faktor manusia dalam efektivitas organisasi. Perspektif sumber daya manusia menekankan pentingnya sumber daya manusia sehingga poin utama manajemen adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia di sekolah untuk lebih berperan dan berinisiatif. Nurkholis mengemukakan bahwa organisasi yang diberdayakan bertujuan untuk membangun lingkungan yang sesuai dengan para konstituen sekolah untuk ber-partisipasi secara luas dan

35

mengembangkan potensi mereka. Peningkatan kualitas pendidikan terutama berasal dari kemajuan proses internal, khususnya dari aspek manusia 24. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa staf sebuah organisasi merupakan asset yang sangat berharga dan sangat penting. Potensi yang dimiliki oleh para staf ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan bagi seorang manajer dalam mengembangkan kinerja organisasinya. Akan tetapi, ada kalanya sejumlah (atau bahkan sebagian besar) staf pada lembaga pendidikan tidak begitu memahami kapasitas dirinya jika suatu ketika dihadapkan kepada pertanyaan: tugas tambahan apa yang dapat Anda lakukan di samping tugas pokok Anda sebagai guru? Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kapasitas staf yang dioptimalkan sesuai dengan potensi dirinya masing-masing merupakan inti dari pemberdayaan. Akan tetapi, pada konteks lain para manajer dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan dan pengetahuan para stafnya dan meniadakan rintangan-rintangan yang sekiranya akan menghalangi staf dalam menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka.

d.

Manajemen yang Fleksibel

24

Nurkolis. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Artikel Artikel pada http://www.depdiknas.go.id/MBS_di_SLTPN_9_Jakarta.html downloaded tanggal 16 September 2004, p. 4

36

Hasil yang sudah pasti akan diperoleh adalah berkurangnya pemborosan dan kebocoran anggaran. serta terbangunnya suatu tim kerja yang kompak dan kreatif di mana staf menjadi sumber daya yang dimanfaatkan secara penuh. Kemampuan yang bersumber dari potensi tersebut akan tampak lebih rumit dan lebih sulit diperoleh karena hal tersebut merupakan keterampilan manusiawi (people skills) atau kecakapan hidup (life skills) yang menuntut pemahaman. melainkan oleh seluruh personal yang ada pada sistem manajemen..Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang memiliki kecepatan reaksi atas berbagai fenomena yang berkembang di sekitarnya maupun di dunia global. serta bekerja optimal dengan berusaha mengantisipasi tuntutan-tuntutan yang muncul di masa depan maupun di masa sekarang ini 25. Kemampuan mengantisipasi kondisi seperti di atas jelas bukan hanya harus dimiliki oleh seorang manajer saja. 32 37 . dan kematangan. dan efisien. p. Op. fleksibel. Pemberdayaan menuntut penggunaan dan optimalisasi potensi unsur manajemen yang lain lebih dari sekedar yang dituntut oleh bentuk-bentuk manajemen lama. kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah. pemberdayaan memungkinkan organisasi-organisasi untuk mampu menanggapi pelanggan dan tuntutan-tuntutan masyarakat secara cepat. selalu mengharapkan perubahan. 25 Mutu Pelayanan Sekolah Stewart. Atas dasar itu. Cit. Manajemen yang fleksibel adalah manajemen yang berorientasi ke masa depan. penundaan program. D. Aileen Mitchel. imajinasi.

67 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pedidikan 38 . maka unsur yang terlibat membangun pelayanan pendidikan 26 27 Nasution. Jasa pelayanan pendidikan yang digariskan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 sesungguhnya mengacu kepada konteks standar nasional pendidikan yang secara tegas digariskan pada pasal 2 yang mengamukakan bahwa Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: (a) standar isi. (g) standar pembiayaan. diperlukan sebentuk strategi pelayanan minimal yang berorientasi kepada mutu. Op. (b) standar proses. 26 Dalam lingkungan pendidikan. (f) standar pengelolaan. Pelayanan Jasa Pendidikan di Sekolah Sekolah merupakan lembaga yang bertugas sebagai pelayan jasa pendidikan bagi masyarakat sekitarnya.1. Jika standar pelayanan minimal mengacu kepada pasal 2 PP 19 Tahun 2005 di atas. Nur. jasa yang dimaksud pada konteks ini adalah jasa pelayanan pendidikan sesuai dengan kandungan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. M.27 Untuk mencapai standar nasional pendidikan sebagaimana digariskan di atas. Menurut Kotler dalam Nasution jasa (service) adalah aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apa pun.Cit. (c) standar kompetensi lulusan. p. (d) standar pendidik dan tenaga ke-pendidikan. (e) standar sarana dan prasarana. dan (h) standar penilaian pendidikan.

tersebut adalah semua warga sekolah secara terpadu. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan memiliki tugas tugas dan tanggung jawab paling luas yang membawahi seluruh komponen sekolah. Atas dasar landasan teori di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan jasa pendidikan adalah aktivitas yang diberikan oleh sekolah (bersama seluruh komponen yang terlibat di dalamnya) kepada masyarakat dengan menetapkan batas-batas pelayanan minimal melalui standar pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Masing-masing komponen warga sekolah tersebut secara sadar membangun komitmen menuju tujuan yang sama. barulah kemudian muncul unsur-unsur lain secara berurutan. Konsep Dasar MPMBS. Mengembangkan Budaya Mutu dalam Pelayanan Sekolah Secara umum. pengertian mutu mencakup input. 4 39 . serta masyarakat yang berada di dalam lingkungan sekolah. para siswa. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. p. Unsur kedua adalah guru sebagai person paling depan dalam melaksanakan layanan jasa kepada masyarakat. proses. dan output pendidikan . yakni staf sekolah (terdiri atas tenaga administrasi sekolah dan pembantu pelaksana sekolah). Dalam konteks pendidikan.28 Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan 28 Direktorat PLP. 2. Setlah kedua unsur tersebut. komite sekolah. 2002). yakni memberikan pelayanan bermutu kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing. (Jakarta: Depdiknas.

peraturan perundang-undangan. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. makin tinggi pula mutu input tersebut. rencana. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. perlengkapan. sebuah proses pendidikan dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah 29 Ibid. 40 .29 Dalam pendidikan berskala mikro di tingkat sekolah. proses belajar mengajar. Dengan demikian. proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. bahan. program. Input harapan-harapan berupa visi. siswa) dan sumberdaya lainnya (peralatan. karyawan. deskripsi tugas. dan proses monitoring dan evaluasi. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsung-nya proses disebut input. proses pengelolaan kelembagaan. misi. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainnya. uang. Oleh karena itu. guru termasuk guru BP. serta yang lainnya. dan sasaransasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. proses pengelolaan program. tujuan. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. Makin tinggi tingkat kesiapan input. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses pendidikan.untuk berlangsungnya proses. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. dan sebagainya).

Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. kualitas kehidupan kerjanya. kesopanan. karya ilmiah. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak 41 . efektivitasnya. keterampilan kejuruan. kejujuran. Output pendidikan pada dasarnya merupakan hasil kinerja sekolah secara keseluruhan. peralatan. dan (2) prestasi non-akademik. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. dihayati. dan sebagainya) dilakukan secara harmonis.(guru. dan kegiatankegiatan ekstrakurikuler lainnya. lomba akademik. efisiensinya. olah raga. dan benar-benar mampu member-dayakan peserta didik. kurikulum. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). uang. khususnya prestasi belajar siswa. mampu men-dorong motivasi dan minat belajar. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. produktivitasnya. EBTA. EBTANAS. seperti misalnya IMTAQ. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. dan moral kerjanya. kesenian. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus-menerus (mampu mengembangkan dirinya). inovasinya. siswa. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. berupa nilai ulangan umum.

tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. Memiliki obsesi terhadap kualitas. Memiliki pemahaman terhadap struktur pekerjaan. Perubahan- perubahan ini tidak terjadi dalam satu kali atau satu siklus belaka. Strategi untuk Mendorong Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pada dasarnya. diperlukan perubahan sikap dan pandangan sekolah (beserta seluruh warganya) atas paradigma layanan pendidikan. serta tanggung jawabnya sebagai guru sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Untuk mencapai sasaran mutu tersebut. d. Scholtes dalam Nasution mengemukakan bahwa strategi pengembangan kualitas layanan selalu mengacu kepada faktor-faktor berikut ini. tetapi berlangsung secara terus-menerus sehingga pada setiap periode akan diperoleh selalu peningkatan mutu layanan pendidikan. 42 . Fokus pada pelanggan. Mengembangkan kebebasan yang terkendali. pengembangan mutu layanan sekolah sangat bergantung kepada pola manajemen yang diterapkan di dalamnya serta komitmen seluruh komponen terhadap sasaran mutu. 3. tugas. pelaksanaan. dan pengawasan. yang mengandung makna bahwa guru dan staf sekolah lainnya harus selalu peka terhadap segala situasi perkembangan zaman sehingga dapat melakukan b. c. a. mengandung makna bahwa tujuan utama organisasi adalah untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan melalui suatu cara pelayanan yang bernilai. mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah secara agresif berusaha mencapai kualitas pelayanan pendidikan tertentu dalam rangka melampaui harapan pelanggannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa standar pelayanan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu. artinya setiap komponen sekolah (terutama guru) memiliki pemahaman mendalam tentang peran.

Secara skematis. kepala sekolah sebagai manajer serta guru-guru sebagai pelaksana pengembangan sasaran mutu.30 f. dan strategi sekolah dalam mencapai sasaran mutu. Dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaannya. belajar terusmenerus dan belajar sepanjang hayat merupakan unsur yang fundamental dalam pengembangan mutu pelayanan sekolah. Pola manajemen kualitas tersebut mengacu kepada siklus perencanaan --> pelaksanaan --> peninjauan --> perbaikan ---> evaluasi --> perbaikan. Prinsip ini didasarkan kepada keyakinan bahwa kerja sama tim akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada bekerja secara individu. Memiliki kesatuan tujuan. Cit. Mencari kesalahan dalam sistem dalam upaya mengatasi masalah dan memperbaiki kinerja. Pengembangan kebebasan di sini mengandung makna sebagai upaya guru dalam memenuhi atau melampaui harapan pelanggannya. h. Oleh karena itu. siklus manajemen kualitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. mengembangkan sistem manajemen kualitas yang dapat diukur dan diperbaiki secara bertahap dan bekesinambungan. misi. Op. mesin yang paling penting dalam lingkungan kerja adalah pikiran manusia.improvisasi pekerjaan dalam kerangka aturan yang berlaku. Kesatuan tujuan ini secara filosofis dan strategis tertuang dalam visi. Dalam era teknologi informasi dan teknologi tinggi. pp. g. yang mengandung makna bahwa seluruh komponen sekolah memiliki kesatuan tujuan yang sama dalam mengembangkan mutu layanan sekolah. Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. 195-196 43 . e. 30 Nasution. Mengembangkan kerja sama tim.

dimensi sumber daya manusia. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perubahan-perubahan men-dasar dalam berbagai dimensi sebagaimana dikemukakan pada gambar di atas. 198 44 . Perubahan-perubahan ini bukanlah hanya sekedar formalitas yang hanya berlangsung seketika kemudian berjalan lagi apa adanya. Misi. dan Prinsipprinsip Kualitas Penyebarluasan Kebijakan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Manajemen Kualitas Mengembangkan Rencana Kualitas 3 – 5 tahun Identifikasi Hubungan Sebab Akibat Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Tinjau Ulang Standarisasi Kemajuan Mengembangkan Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Pertemuan antara Tim Perbaikan Kualitas dan Manajemen Tinjau Ulang Sasaran dan Tujuan Kualitas Tahunan Mengembangkan Rencana Awal Implementasi Gambar 2. serta dimensi 31 Ibid. baik dimensi manajemen. melainkan sebuah proses yang dinamis dan berkesinambung-an sesuai dengan tuntutan zaman serta perkembangan demi per-kembangan yang berlangsung di dalam maupun di luar konteks pendidikan. Untuk mencapai sasaran mutu sekolah.Perencanaan Menetapkan Visi. p. diperlukan kepaduan yang utuh secara kohesif dan koherensif setiap dimensi yang ada di dalamnya.1 Manajemen Kualitas dalam Pelayanan Mutu Sekolah31 Pemberdayaan sekolah selalu diarahkan kepada sasaran mutu.

misi. BAB III 45 . memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. komitmen yang tinggi pada dirinya. dan strategi pengembangan sekolah jangka panjang. sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. inovatif. Selanjutnya. Keterukuran ini biasanya ditandai dengan indikator-indikator pencapaian tujuan yang dirumuskan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebagai penjabaran dari visi. bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. gigih. memiliki ciri-ciri pekerjaan adalah miliknya. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.infrastruktur pendidikan yang dilandasi oleh visi dan misi sekolah yang jelas dan terukur. dia bertanggung jawab. Akhirnya. dan sebagainya). dia memiliki kontrol ter-hadap pekerjaannya. pekerjaannya me-miliki kontribusi. dia tahu posisinya di mana. berani mengambil resiko. pada umumnya. bertanggung jawab terhadap kinerja sekolah.

Aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah dibatasi pada ruang lingkup manajemen sekolah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kabupaten Cianjur. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian 45 Penelitian ini dilaksanakan bertempat di SMP Negeri 3 Karangtengah. maka kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pengembangan kultur sekolah. penelitian ini akan mendeskripsikan hal-hal sebagai berikut. Berdasarkan ketiga tujuan yang dikembangkan dalam rumusan di atas. 1. Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah. B. 1. 2. Sedangkan secara khusus.METODOLOGI PENELTIAN A. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan Pengembangan Kultur Sekolah dalam Membangun Mutu Pelayanan Sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur tahun 2007. dan (2) peningkatan mutu layanan sekolah. SMP Negeri 3 Karangtengah dianggap sebagai sekolah 46 . 3. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah.

yang memiliki potensi dalam mengembang-kan kultur sekolah secara konsisten karena sekolah ini merupakan sekolah yang relatif baru serta memiliki peluang dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara bertahap. Tabel: 3. tetapi menggali informasi dari sekolah sebagai latar alamiah. Penelitian ini tidak melakukan interverensi apa pun terhadap sekolah sebagai latar penelitian. 2.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan Bulan keNo 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Kegiatan 1 Pengajuan Judul Pengajuan Proposal Penelitian Seminar Proposal Penyusunan Instrumen Penelitian Pengajuan Izin Penelitian Pengumpulan Data/ Pelaksanaan Penelitian Pengklasisfikasian Data Analisis dan Interpretasi Data Hasil Penelitian X X X X X X X X 2 3 4 5 6 7 47 . Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan berpedoman kepada jadwal yang telah disusun sebagai berikut ini.

Metode Penelitian Metode penelitian memandu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian akan dilakukan. set kondisi. atau menghubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Dalam penelitian tentang ”Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur” ini digunakan metode deskriptif. objek. dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel lain. (Bandung: Alfabeta. dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel lainnya. Jadi. dengan alat apa dan prosedur yang bagaimana. 2004). sistem pemikiran.Pelaksanaan Bulan keNo 9 Jenis Kegiatan 1 Penulisan Laporan 2 3 4 5 6 7 X C. 11 48 . baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan. Sugiyono32 mengemukakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri. Penelitian deskriptif memberikan deskripsi. baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). atau lukisan secara sistematis. permasalahan dalam penelitian deskriptif adalah permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri. Metode Penelitian Administrasi. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian atas kelompok manusia. 32 Sugiyono. ataupun peristiwa sekarang. Oleh karena itu. gambaran. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diselidiki. p.

Unit Analisis Untuk memperoleh data dan gambaran secara tepat dan mendalam tentang objek penelitian. Penggunaan angket ini dimaksudkan untuk memperoleh data sesuai dengan indikator-indikator penelitian yang merupakan penjabaran dari rumusan masalah.D. Observasi (Obsevation) Penggunaan teknik observasi bertujuan untuk melengkapi data yang dikumpulkan melalui angket dengan maksud upaya validasi. E. maka unit analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah kepala sekolah. 2. dan guru-guru. 1. Observasi 49 . Berkaitan dengan hal di atas. komite sekolah. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik sebagai berikut. maka peneliti memilih unit-unit analisis sebagai responden dengan mendasarkan kepada posisi jabatan. Angket Instrumen angket yang digunakan dalam peneltiian ini me-rupakan instrumen utama. Kepada ketiga komponen ini diberikan angket sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang tepat. bidang tugas. serta fungsi dari tiap-tiap unit analisis yang dipilih.

arsip. Data yang dikumpulkan merupakan dokumen dalam bentuk catatan-catatan. F. data prestasi guru. 3. laporan-laporan. b. Data yang bersifat dokumen dalam penelitian ini meliputi a. pengembang-an materi pembelajaran. dan atau peristiwa yang terekam dan berhubungan dengan fokus penelitian. serta pencapaian standar ketuntasan belajar minimum (SKBM). perencanaan evaluasi. khususnya administrasi guru mata pelajaran yang terdiri atas silabus pembelajaran. c. laporan prestasi sekolah yang telah dicapai dalam bidang akademik maupun non akademik. arsip sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan programprogram sekolah. dokumen Rencana dan Program Pengembangan Sekolah (RPPS). Instrumen Penelitian 50 . serta e. d. Studi Dokumentasi Pengumpulan data melalui studi dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data dan informasi yang dikumpulkan melalui angket dan observasi. rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). dokumen lain yang berkaitan dengan pelaksanaan program sekolah sesuai dengan kandungan RPPS.dilakukan dengan pengamatan langsung dan terus-menerus terhadap kegiatan setiap unsur sekolah sesuai dengan fokus permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

Tabel 3.Dalam penelitian ini akan diungkapkan ”Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur tahun 2007”. Pelaksanaan program sekolah 4. 8. instrumen penelitian disusun dalam bentuk angket tertutup dengan kisi-kisi instrumen sebagai berikut. Pemilihan teknik angket tertutup ini untuk menghindari pembiasan informasi sehingga pembahasan hasil penelitian tidak meluas. 5. 3. yakni angket yang di dalamnya menyediakan beberapa opsi jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Pengawasan pelaksanaan program 7. 51 . Secara global.2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 1. Untuk mengungkap data tersebut di atas. 6. 2. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah Nomor Item 1–2 3–4 5–6 7–8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembang an kultur sekolah. digunakan instrumen penelitian berupa angket dalam bentuk angket terutup.

30 20.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Indikator memonitor pelaksanaan program 9. Pimpinan sekolah 13. 18. 31 21. Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah Nomor Item 16 17 – 18 19 20 Evaluasi program pengembangan sekolah 10. 21 22 – 23 24 – 25 26 27 – 28 29 14. Guru-guru 16. 32 33 Masyarakat (Orang tua 22. 15. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembang an kultur sekolah. Siswa 19. 17. 52 . 12. 11.

36 Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler 26. Menumbuhkan budaya lingkungan bersih lingkungan. dan penerapan budaya tertib dan protektif 41 53 . dan penyelenggaraan forum diskusi Islam Penerapan disiplin siswa secara konsisten. pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa. 28. pelaksanaan kegiatan Ramadhan yang bervariasi. penumbuhan kegiatan-kegiatan penelitian. pelaksanaan peringatan hari besar Islam.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati siswa) 23. dan sejenisnya. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Penerapan budaya salam kepada setiap warga sekolah. Indikator yang baik. pembiasaan shalat dzuhur berjamaah. pelaksanaan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. 35 Pembinaan kesiswaan 25. 40 Penciptaan 30. 37 27. pengamatan. dan sebagainya. upacara bendera. yang aman dan pengembangan cinta nyaman lingkungan. Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kesenian Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Penumbuhan komunitas belajar di antara siswa. upacara PHBN. 38 39 Peningkatan PBM 29. pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Nomor Item 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangka n dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah 24.

serta pengamatan secara langsung. dokumen sekolah. Indikator Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi. yakni terdiri atas reduksi data. Reduksi Data Langkah ini merupakan suatu proses pemilihan. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Teknik analisis data yang digunakan didasarkan kepada konsep Miles and Hubermann sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum Nomor Item 42 G. pemusatan perhatian dan penyederhanaan data. dengan langkah-langkah sebagai berikut. di samping merupakan satu bagian yang tidak teripsahkan dari tahap-tahap lainnya. 1. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian memiliki kedudukan sangat penting. penampilan data.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Pengembangan nilai-nilai 31. dan metode dalam bentuk urian rinci dan sistematis dalam mengemukakan hal-hal yang dianggap penting. serta konklusi dan verifikasi data. teori. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi. Tahap reduksi data dilakukan mengingat hasil perolehan data dari angket yang bersumber dari responden akan beragam dan berjumlah 54 . menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. yakni dari hasil angket.

Proses ini dilakukan agar dapat diperoleh data temuan penelitian. 3. chart. 2. atau grafik sehingga memungkinkan data hasil penelitian tidak tercampur dengan sejumlah data yang belum diolah.banyak. (b) komponen sistem sekolah yang berperan dalam 55 . Kesimpulan dan Verifikasi Tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi dimaksud-kan sebagai upaya dalam mencari pola. pada penelitian ini dilakukan langkah-langkah tindakan sebagai berikut. sehingga diperlukan pemilahan dan pemilihan pokok-pokok jawaban yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. network. data disajikan dalam bentuk matriks. tema. Selanjutnya. Aspek yang dirumuskan itu meliputi (a) aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. Tahap ini dilakukan setelah data yang akurat diperoleh sebagai bentuk temuan penelitian. 1. Pada tahap reduksi data. Display Data Penampilan data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu dari sebuah penelitian. Berdasarkan tahapan proses pengolahan data di atas. ataupun model dari suatu hal yang sering muncul shingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat memperjelas hasil penelitian. dilakukan pengelompokan data berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan.

Pada tahap display data (penampilan data) dilakukan tindakan dan langkah penyajian data dalam bentuk chart. Langkah ini dimaksudkan untuk mempermudah pembacaan data yang diperoleh pada penelitian. tabel matriks. dan (c) aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Pada tahap pengambilan kesimpulan dan verifikasi. grafik. BAB IV 56 . Dilakukan langkah pemilihan dan pemilahan data yang kemudian dihubungkan dengan topik-topik yang dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Langkah pengambilan kesimpulan inilah yang selanjutnya menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Data yang diperoleh ini kemudian diverifikasi ke dalam bentuk kesimpulan penelitian.pengembangan kultur sekolah. 2. Langkah ini diambil dengan tujuan data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara lebih akurat dan lengkap sehingga memudahkan untuk pengolahan lebih lanjut. dan sebagainya tentang semua data yang telah direduksi. 3.

Sekolah ni berdiri di atas tanah seluas 6. Hasan Iskandar sebagai Kepala Sekolah dengan dibantu oleh 21 orang guru tetap (PNS). Saleh KM 7. Profil SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berada di Jalan Terusan K. serta 9 orang guru honor sekolah. Pengelolaan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dijalankan oleh Bapak R.225 meter persegi. tugas-tugas administrasi sekolah dijalankan oleh 3 orang tenaga pelaksana tata usaha tetap (PNS) dan 6 orang tenaga 57 honorer lainnya. A. Secara terperinci. 6 orang guru bantu. Selain itu.000 meter persegi dengan status Hak Pakai serta luas bangunan seluruhnya adalah 2. serta 1 ruang keterampilan masing-masing berukuran 7 x 15 meter persegi. Fasilitas prasarana sekolah terdiri atas 19 ruang belajar siswa masing-masing berukuran 7 x 9 meter persegi. SMP Negeri 3 Karangtengah yang didirikan pada tahun 1997 kini mempunyai siswa yang berjumlah 758 orang siswa dan terbagi dalam 19 rombongan belajar.HASIL PENELITIAN Bab ini menyajikan data hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Desa Sukasari. Kabupaten Cianjur. 57 . data hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut. 1 ruang perpustakaan. 1 ruang laboratosrium IPA. H. Kecamatan Karangtengah.

mandiri. • Menumbuhkembangkan kesadaran mesyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Pemerolehan data dalam penelitian ini dupayakan objektif dengan menyampaikan sejumlah item pertanyaan dengan disertai opsi jawaban yang dipilih oleh sebanyak 37 responden.Visi yang dirumuskan sebagai landasan filosofis sekolah adalah “Terwujudnya profil lulusan yang bertauhid. • Meningkatkan pelayanan terbaik dalam mengantarkan para siswa untuk memiliki kemantapan iman. inovatif. prestasi. berilmu. Kabupaten Cianjur. berakhlakul karimah guna memelihara harkat dan martabat bangsa ” dengan misi-misi sekolah sebagai berikut. ilmu dan amal sholeh melalui pengelolaan pendidikan yang profesional. dan anggota komite sekolah dari SMP Negeri 3 Karangtengah. Temuan Penelitian Hasil penelitian yang disajikan adalah hasil analisis data dan informasi yang diperoleh melalui angket yang disampaikan kepada kepala sekolah. guru-guru. sehat dan Islami. 58 . kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan harapan dan tuntutan stake holders. B. Mengupayakan kualitas dan kapabilitas lulusan yang memiliki keterampilan. • • Mengkondisikan lingkungan sekolah yang bersih.

serta persentase pada setiap opsi. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih Aspek yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 59 . 1. Perencanaan Program Pengembangan Sekolah Untuk mendeskripsikan proses perencanaan pengembangan sekolah di SMP Negeri 3 Karangtengah. disediakan tiga indikator yang masingmasing diikuti oleh pertanyaan sebagai berikut. dengan mengacu kepada subsubmasalah serta indikator yang dirumuskan dalam kisi-kisi angket. yakni perencanaan pengembangan sekolah. Agar hasil penelitian ini dapat dianalisis.Temuan hasil penelitian ini disajikan berdasarkan urutan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. jumlah pilihan yang diperoleh pada setiap opsi. pengawasan pelaksanaan program sekolah. Sekolah Pada rumusan ini terdapat empat aspek yang diamati. maka hasil dari setiap item pertanyaan akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang memuat pertanyaan penelitian. Indikator 1: Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Pertanyaan Nomor 1 Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. pelaksanaan program sekolah. Setiap aspek yang diamati diteliti dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang hasilnya disajikan berikut ini. a. dan evaluasi pelaksanaan program sekolah.

Di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.82 100 Analisis Program kerja tahunan yang berbentuk rencana pengembangan sekolah seharusnya disusun oleh sekolah sebagai acuan kegiatan yang dilaksanakan selama tahun pelajaran berjalan.86 24. c. dan 4 responden menyatakan kadang-kadang. maka responden yang memilih opsi kadang-kadang dapat diabaikan.51 a. Selalu Sering Jarang Tidak pernah Jumlah Total 24 9 4 37 64. meminta bantuan salah seorang guru 60 . apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 5 % 21.63 13. b. b. Ya. dilakukannya sendiri Tidak. 9 orang guru menyatakan bahwa kepala sekolah sering menyusun RPS. hal tersebut tercermin melalui pilihan 24 orang responden (64.86 %) dari 37 orang guru yang menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program kerja tahunan dalam bentuk RPS. Karena mayoritas responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menyusun program tahunan dalam bentuk RPS. d.32 10. Pertanyaan Nomor 2 Jika RPS disusun setiap tahun.Opsi F % a.

8 responden (21. dan 5 orang guru (13. Indikator 2: Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Pertanyaan Nomor 3 Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 % 10. 21 56. Dari 37 responden. yakni sebanyak 24 orang (64.c.63 %) menyatakan bahwa RPS tersebut disusun sendiri oleh kepala sekolah. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah Jumlah Total 24 37 64.43 c.76 37 100 61 .86 %) menyatakan bahwa program tahunan dalam bentuk RPS tersebut disusun dengan melibatkan seluruh guru dan staf sekolah. sebagian besar guru. Sementara itu.81 a.51 %) menyatakan bahwa RPS disusun oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh beberapa orang guru. 12 32.86 100 Analisis Dalam menyusun RPS tersebut. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah Jumlah Total b. Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. kepala sekolah seharusnya melibatkan seluruh komponen sekolah agar hasil yang diperoleh lebih mencerminkan pendapat dan keinginan warga sekolah secara keseluruhan. Tidak.

12 orang guru (32. perlu ditempu cara tertentu agar proses pengesahan ber-langsung objektif 62 .76 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarah-kan bersama Komite Sekola.72 c.43 %) menyatakan bahwa RAPBS disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. 12 32. Dari 37 responden.43 37 100 Analisis Dalam pengesahan RAPBS oleh Komite Sekolah dan Kepala Sekolah. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui Jumlah Total b.76 a. Pertanyaan Nomor 4 Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 % 56.Analisis: Langkah selanjutnya dari penyusunan program kegiatan adalah menyusun RAPBS. sedangkan 4 orang responden lainnya menyatakan bahwa RAPBS dibuat sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. sebanyak 21 orang guru (56. 4 10.

b. Sedangkan 12 orang guru (32.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah dan komite sekolah telah menyepakati isi atau kandungan RAPBS sebelum musyawarah dengan orang tua siswa secara keseluruhan dimulai sehingga acara musyawarah tersebut hanya berfungsi sebagai upaya legalisasi pengesahan RAPBS.43 %) menyatakan bahwa RAPBS diajukan oleh Komite Sekolah kepada mastarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. Mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan.32 a. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. 20 54. 4 10. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari.81 24. 21 orang guru (58.81 d. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka c. 4 orang responden menyatakan bahwa RAPNS tersebut diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Indikator 3: Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Pertanyaan Nomor 5 Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 4 9 % 10.dan tetap menjaga akuntabilitas sekolah. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat.06 63 . Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja.

81 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja.57 a. selalu 64 . 4 guru (10. Dari 37 responden. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. 9 guru (24. Selanjutnya.32 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang beberapa orang guru dan staf sekolah dan menyampaikan program sekolah secara lisan. 4 orang guru lainnya menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dengan cara mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. Pertanyaan Nomor 6 Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 25 % 67. Sementara itu. Ya. sebanyak 20 orang guru (54.06 %) menyatakan bahwa sosialisasi program sekolah dilakukan dengan cara mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Langkah sosialisasi ini sangat bergantung kepada kepala sekolah.Jumlah Total 37 100 Analisis Program yang disusun oleh kepala sekolah bersama-sama warga sekolah harus disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait agar dapat diketahui dan dipahami.

e. Dari 37 responden. b. Sering menerima Kadang-kadang menerima Jarang menerima Tidak pernah Jumlah Total 12 0 0 0 37 32.43 0 0 0 100 Analisis: Dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. staf tata usaha. Kesimpulan Sementara: Berdasarkan penyajian data di atas dapat disusun kesimpulan sementara yang mengemukakan bahwa kepala sekolah memiliki kapabilitas dalam membuat perencanaan pengembangan sekolah serta dapat mengkoordinasikan berbagai komponen yang ada di sekolah. sedangkan 12 orang responden lainnya (32. 65 . kepala sekolah menerima masukan dan saran dari guru-guru.b.42 %) menyatakan bahwa kepala sekolah sering menerima masukan dan saran.57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah. c. 25 orang guru (67. d. siswa. serta komite sekolah agar rancangan rencana pengembangan sekolah dapat memuat berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi sekolah. Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek ini terdapat tiga indikator dengan enam item pertanyaan sebagai berikut.

Perubahan ini diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas dan produktivitas sekolah dalam mencapai sasaran pendidikan.Indikator 4: Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Pertanyaan Nomor 7 Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. perubahan personal pembantu kepala sekolah. Pada konteks ini. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. c. b. Perubahan struktur organisasi sekolah. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 20 12 5 37 % 54. 20 orang responden menyatakan bahwa kepala sekolah selalu melakukan perubahan personal sekolah secara periodik.06 32. Tim 66 . Pertanyaan Nomor 8: Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. kepala sekolah harus selalu berani melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang garapan di sekolah secara proporsional dan sehat. Pembina Siswa. selalu Kadang-kadang Tidak pernah. serta perubahan-perubahan lainnya. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah Jumlah Total Analisis Untuk membangun kultur sekolah yang dinamis dan kondusif.51 100 a.43 13. Ya.

Tim Pembangunan Fisik Sekolah. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 23 14 37 % 62. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS. Indikator 5: Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pertanyaan Nomor 9: Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah.16 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah.Pembangunan Fisik Sekolah. selalu.16 37.84 100 a. Meskipun demikian. Tidak pernah. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata Jumlah Total Analisis: Sebanyak 23 orang dari 37 responden (62. Dilakukan secara bertahap. b. Kondisi seperti ini akan sangat mendukung pengembangan kultur sekolah yang baik dan menyenangkan bagi semua pihak. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 67 . dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran.84 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah tidak pernah membentuk kelompok kerja tertentu karena biasanya yang masuk ke dalam kelompok kerja adalah orang-orang itu juga setiap tahun. sebanyak 14 orang responden (37. Ya.

Pertanyaan Nomor 10: Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. 13 responden lainnya mengemukakan bahwa penetapan staf pembantu kepala sekolah dilakukan sendiri oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 % 56. Ya.24 0 0 a.a.76 43. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada Warga sekolah tidak bekerja dengan baik 68 . Ya. karena penunjukan para pembantu kepala sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah.86 35. c. Akan tetapi. Jumlah Total 24 13 64. b. Tidak pernah.86 %) guru menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. d. Ya.14 c. 0 37 0 100 Analisis: Sebanyak 24 orang dari 37 responden (64. b.

76 %). kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah.11 0 a. 20 54. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 3 0 % 8. lebih dari 50 % guru tetap melaksana-kan tugasnya sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu Jumlah Total c. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah.84 d. b. seluruh guru dan staf sekolah tetap melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan yang telah digariskan.ketika kepala sekolah tidak ada Jumlah Total Analisis: Ketika kepala sekolah tidak berada di tempat. Hal ini dikemukakan oleh sebanyak 21 responden dari 37 orang guru (56. Ada saat-saat tertentu ketika siswa sudah tidak menampakkan lagi semangat 69 . 37 100 Indikator 6: Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 11: Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. 14 37. sedangkan 16 guru lain menyatakan bahwa ketika kepala sekolah tidak ada.05 37 100 Analisis: Proses pembelajaran tidak selamanya dinamis dan bergairah.

05 %) menyatakan bahwa mereka biasanya mengganti model pembelajaran seketika dengan yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu sehingga kelas menjadi bergairah kembali. c. Kesimpulan Sementara: 70 . Sekali-sekali boleh. 14 orang gur (37. karena dalam inovasi dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan Jumlah Total b.belajar yang tinggi dan mengikuti kegiatan pembelajaran apa adanya. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 % 0 a. Sangat perlu. Tidak.84 %) menyatakan bahwa mereka berusaha memotivasi siswa untuk bergairah kembali dengan menyajikan cerita-cerita segar yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. 20 orang guru (54. Guru yang baik akan berusaha membangkitkan motivasi dan semangat siswa yang lesu tadi dengan ebrbagai cara. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. Seluruh responden menyatakan bahwa dalam inovasi dan improviasai selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. 0 37 0 100 37 100 Analisis: Seluruh responden (37 orang atau 100 %) sepakat menyatakan bahwa inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan. Pertanyaan Nomor 12: Menurut Bapak/Ibu. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja.

Ya. guru selalu berusaha merangsang siswa agar bergairah dalam belajar dengan berbagai cara dengan fleksibel. Di sisi lain. Pengawasan Pelaksanaan Program Sekolah Pada aspek pengawasan pelaksanaan program sekolah ini terdapat tiga indikator sebagai alat pengukur dengan masing-masing disertai pertanyaan sebagai berikut. Selalu Ya. Sama sekali tidak Jumlah Total Analisis: 71 . c. semua komponen sekolah melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. b. tapi tidak terlalu ketat. Para guru dan staf tata usaha bekerja hanya karena ada kepala sekolah. Inovasi dan improvisasi dilakukan dalam rangka menumbuhkan dinamika pembelajaran. tetapi ketika kepala sekolah tidak ada pun mereka tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya selaku guru yang memberikan pelayanan kepada siswa. Indikator 7: Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Pertanyaan Nomor 13: Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. c. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 37 0 37 % 0 100 0 100 a.Dalam aspek pelaksanaan program pengembangan sekolah.

62 %).57 %). c. Setiap minggu Setiap awal bulan Setiap triwulan Setiap semester Jumlah Total Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 8 4 25 37 % 0 21.57 100 Analisis: Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu sekolah. Kegiatan monitoring ini menurut para guru dilakukan setiap awal bulan (dikemukakan oleh 8 responden. Nomor Opsi a. Monitoring yang dilakukan oleh kepala sekolah ini ditafsirkan oleh para guru sebagai kunjungan supervisi dan pembinaan ke dalam kelas yang dilakukan setiap satu semester.Seluruh responden guru menyatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah. 72 . pada setiap triwulan (dikemukakan oleh 4 orang guru.62 10. atau 67. atau 21. Pertanyaan Nomor 14 Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. atau 10. d.81 67. kepala sekolah menerapkan pengawasan melekat kepada seluruh komponen sekolah tetapi tidak secara kaku sehingga setiap guru merasa nyaman bekerja dalam situasi tidak di bawah tekanan. dan setiap semester (dikemukakan oleh 25 orang guru.81 %). Kegiatan monitoring ini dilakukan …. b.

atau 32. oleh staf kepala sekolah yang ditunjuk (dinyatakan oleh 12 orang responden).43 0 35. monitoring juga dilakukan oleh ….14 100 a. b. Indikator 9: Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Pertanyaan Nomor 16: Sebagai Controlling Agency. PKS Urusan Kurikulum) Kelompok guru senior yang dipercayai Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya Jumlah Total Analisis: Selain oleh kepala sekolah sendiri. Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 12 12 0 13 37 % 32. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 73 . Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah.14 %) menyatakan bahwa monitoring sesungguhnya dilaksanakan pula oleh seluruh komponen sekolah sesuai dengan fungsinya. monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu dilakukan juga oleh wakil kepala sekolah (dinyatakan oleh 12 orang responden.42 %). d. 13 orang guru lainnya (35.Indikator 8: Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Pertanyaan Nomor 15: Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu.43 32. Wakil kepala sekolah Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. c. Meskipun demikian.

Komite 74 .Opsi F Ya.86 13. Kadang-kadang program. Menurut 8 responden (21.62 %). Semua komponen sekolah melaksanakan pengawasan terhadap jalannya pengembangan mutu sekolah sesuai dengan tugas dan fungsinya. c. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS Jumlah Total d. b.52 %) menyatakan bahwa staf komite sekolah datang ke sekolah tetapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu.52 a. 24 responden lainnya (64. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. komite sekolah telah melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Berdasarkan penyajian data di atas. memantau pelaksanaan 8 24 5 % 21. 0 37 0 100 Analisis: Komite sekolah memiliki fungsi sebagai badan pengawas pelaksanaan pengembangan mutu di sekolah.86 %) menyatakan bahwa komite sekolah kadang-kadang saja memantau pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah.62 64. sedangkan 5 orang guru (13. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. dapat disimpulkan bahwa pengawasan pelaksanaan program peningkatan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur sudah berjalan sesuai dengan fungsinya.

Ya. Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Pada aspek evaluasi pelaksanaan program pengembangan sekolah terdapat tiga indikator dan empat item pertanyaan yang diaju-kan kepada para responden sehingga diperoleh data sebagai berikut. b. ada sebagian guru yang masih berpikir sempit mengenai makna evaluasi dalam sebuah kegiatan sehingga kagiatan evaluasi di sini hanya dilakukan ketika suatu program menemui kegagalan. c. 16 guru lainnya (43. Sebaliknya. d. 75 . d.76 %).76 43.24 0 0 100 a. Indikator 10: Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Pertanyaan Nomor 17: Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 21 16 0 0 37 % 56. Pada konteks ini. selalu Kadang-kadang dievaluasi Lebih sering tidak pernah dievaluasi Tidak pernah Jumlah Total Analisis: Program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah selalu dievaluasi.sekolah juga melakukan fungsinya dengan mengawasi pelaksanaan program peningkatan mutu sekolah sesuai dengan kapasitasnya. Pendapat ini dinyatakan oleh 21 orang responden (56.24 %) menyata-kan bahwa program kegiatan peningkatan mutu yang dilaksanakan di sekolah kadang-kadang saja dievaluasi.

Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Indikator 11: Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Pertanyaan Nomor 19: Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 76 .Pertanyaan Nomor 18: Jika dilakukan evaluasi kegiatan. hal tersebut dapat digolongkan ke dalam bentuk monitoring terpadu. Data di atas menunjuk-kan bahwa kegiatan-kegiatan sekolah yang dilakukan selalu diakhir dengan evaluasi.24 %) menyatakan bahwa evaluasi kinerja dan hasil tidak hanya dilakukan pada akhir program saja. Adapun ada bentuk evaluasi di tengah-tengah program berjalan. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan Jumlah Total b. 21 37 57. Ya. tetapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Ya.24 a. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 16 % 43.76 100 Analisis: 21 responden (57. Meskipun demikian.76 %) menyatakan bahwa evaluasi program peningkatan mutu serta program-program lainnya yang dilaksanakan di sekolah dilakukan pada setiap akhir program berjalan. 16 responden (43. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas.

62 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi digunakan sebagai bahan kajian untuk didokumentasikan. selalu dilakukan demikian. Disimpan saja Jumlah Total Analisis: Sebanyak 29 responden (78.62 0 100 Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi.39 %) menyatakan bahwa hasil evaluasi biasanya digunakan sebagai bahan masukan bagi perbaikan dan pengembangan program di masa mendatang jika akan ada lagi program serupa. b. 8 responden lainnya (21. c. Indikator 12: Revisi program dilakukan berdasarkan temuan pada evaluasi Pertanyaan Nomor 20: Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? Nomor Opsi Jumlah Pemilih Opsi Jawaban F 16 21 0 37 % 43. b. Sebagai bahan masukan bagi program di masa mendatang. Ya. Sementara itu.76 0 100 a. Kadang-kadang dilakukan seperti itu Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan Jumlah Total Analisis: Dalam pelaksanaan program kegiatan ada kalanya terjadi kesalahankesalahan kecil yang bersifat misinformation atau salah persepsi dalam 77 . c. perbaikan 29 8 0 37 78.a.38 21.24 56.

Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang ditampilkan di atas.76 %) menyatakan bahwa kepala sekolah kadang-kadang saja melakukan koreksi. dapat disusun kesimpuan tentang aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pem-bentukan kultur sekolah sebagaimana terurai berikut ini. 21 orang responden (56. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. serta berusaha mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. kepala sekolah segera melakukan koreksi untuk memper-baiki kesalahan-kesalahan kecil tersebut dan mempublikasikannya kepada pihak-pihak terkait yang berkepentingan.24 %) menyata-kan bahwa kepala sekolah selalu melakukan koreksi apabila terjadi kesalahan pada program maupun pelaksanaannya. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi kepada mutu.program dan atau pada pelaksanaannya. Dari 37 responden guru. pelaksana-an program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. sebanyak 16 orang (43. Sementara itu. Pada kasus seperti ini. 78 .

Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya, maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Oleh sebab itu, penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 2. Sekolah Ada empat komponen yang diduga berperan dalam pengem-bangan kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. Komponen-komponen tersebut dianggap paling dominan dan menentukan pengembangan iklim dan kultur sekolah. Keempat kom-ponen tersebut meliputi pimpinan sekolah, guru-guru, siswa, dan orang tua siswa. Masingmasing komponen ini diteliti dengan mengajukan sebanyak 14 pertanyaan dengan pilihan jawaban masing-masing sesuai dengan indikator yang dirumuskan. a. Komponen Pimpinan Sekolah Ada tiga indikator yang digunakan untuk melihat bagaimana komponen pimpinan sekolah membentuk kultur sekolah yang kondusif. Pada komponen ini diajukan 5 (lima) pertanyaan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. Indikator 13: Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur

79

Pertanyaan Nomor 21:
Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 25 9 0 34

% 67,57 24,32 0 91,89

a. b. c.

Ya Kadang-kadang Tidak pernah Jumlah Total

Analisis: Komitmen merupakan landasan bagi setiap orang dalam

melaksanakan sesuatu kegiatan guna mencapai target atau tujuan akhir. Penciptaan kultur sekolah yang baik tidak mungkin dapat terwujud tanpa adanya komitmen dari unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sebanyak 25 responden (67,57 %) menyatakan bahwa kepala sekolah memiliki komitmen yang baik terhadap terciptanya kultur sekolah yang kondusif di SMP Negeri 3 Karangtengah. Sementara itu 9 responden lainya (24,32 %) menyatakan kadnag-kadnag saja komitmen kepala sekolah tersebut muncul dan diperbincangkan, sedangkan sebanyak 3 orang responden tidak memberikan pilihan. Indikator 14: Kepala sekolah menetapkan sasaran mutu sekolah Pertanyaan Nomor 22:
Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

80

Opsi a. b. c. Ya, selalu Samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan Tidak. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja Jumlah Total

F 32 5 0 37

% 86,49 13,51 0 100

Analisis: 32 orang responden (86,49 %) menyatakan bahwa kepala sekolah selalu merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaransasaran mutu yang jelas dan spesifik, sedangkan 5 responden lainnya menyatakan samar-samar, karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan jika kondisi tidak memungkinkan.

Pertanyaan Nomor 23:
Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman?
Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih

F 32 1 4 37

% 86,49 2,70 10,81 100

a. b. c.

Sebaiknya seperti itu Tidak memiliki daya ramal Tidak tahu Jumlah Total

Analisis:

81

24 45. Indikator 15: Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Pertanyaan Nomor 24: Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dengan 16 17 0 33 % 43.24 %).49 %) menyatakan bahwa rumusan pengembangan sekolah yang disusun sebaiknya memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu 4 responden lainnya tidak memilih. sedang-kan 17 responden lainnya (45. Dirumuskan begitu kebutuhan sekolah.95 %) menyatakan bahwa perumusan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan melalui analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu sekolah menjadi lebih realistis. saja sesuai Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis Menggunakan perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas arahnya Jumlah Total Analisis: Cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah dilakukan dan dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuh-an sekolah. Sedangkan pilihan lainnya dapat diabaikan.32 orang responden (86. Pertanyaan Nomor 25: 82 . Hal ini dikemukakan oleh 16 responden (43. b.19 a.95 0 89. c.

produktivitas. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS.86 21. d. c. kemampuan kepala sekolah dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. b. Kesimpulan Sementara Berdasarkan tampilan data di atas dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa kepala sekolah sebagai komponen yang secara langsung membentuk kultur sekolah ternyata telah memiliki persyaratan yang diperlukan. efektivitas. yakni komitmen kepala sekolah terhadap pembentukan kultur sekolah. Ya. sedangkan 8 responden menyatakan bahwa rumusan dalam RPS tidak jelas. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 24 8 5 0 37 % 64. efektivitas. Komponen Guru-guru 83 .52 0 100 a.Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. produktivi-tas. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. b. Ya. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas Kadang-kadang ada target Tidak pernah memberikan target secara khusus Jumlah Total Analisis Sebanyak 24 responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. Tiga hal yang menjadi karakteristik kepala sekolah yang memiliki peluang menciptakan kultur sekolah yang baik.62 13. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah yang dirumuskan dengan jelas dalam rencana pengembangan sekolah (RPS).

Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik.Pada komponen guru-guru ini disusun 3 (tiga) indikator dengan 4 (empat) pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan hasil sebagai berikut. b. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturanaturan yang baku dari pemerintah Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun Jumlah Total 34 3 91. Komitmen ini merupakan modal utama dalam pengembangan kultur sekolah. Indikator 16: Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 26: Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % a. 0 37 0 100 Analisis: Hampir seluruh guru (34 orang atau 91.11 c.89 8.89 %) guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik. Indikator 17: Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 27: Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 84 . Ya.

81 13. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah Jumlah Total b. b. 8 21. d.a.38 a. Selalu dilibatkan Kadang-kadang saya terlibat juga. Ya. 20 orang responden guru (54. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah Jumlah Total 20 8 4 5 37 54. Ya.62 c. Pertanyaan Nomor 28: Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah.62 10. c.52 100 Analisis: Dalam penyusunan rumusan sasaran dan target peningkatan mutu sekolah.62 %) menyatakan kadang-kadang saja dilibatkan. sedangkan 8 orang (21.05 %) menyatakan selalu dilibatkan secara aktif. masing-masing 4 responden dan 5 responden menyatakan bahwa mereka jarang dan tidak pernah dilibatkan dalam perumusan sasaran pengembangan sekolah. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 29 % 78. 0 0 37 100 Analisis: 85 .05 21. Sementara itu.

Tidak. 0 0 36 97. Data ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran guru SMP Negeri 3 Karangtengah 86 . semua guru diberi peluang yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah.30 Analisis: Hampir seluruh guru (36 dari 37 responden) memiliki pandangan bahwa perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola secara baik dan benar.38 %) dari jumlah responden seluruhnya 37 orang. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar.30 a. Pernyataan ini dikemukakan oleh 29 responden (78. 8 responden lainnya menyatakan bahwa hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan mutu sekolah. Indikator 18: Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Pertanyaan Nomor 29: Menurut pandangan Bapak/Ibu.Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 36 % 97. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah Jumlah Total b. Ya. Sementara itu.

Indikator 19: Siswa berpartisipasi dalam membentuk kultur sekolah yang baik Pertanyaan Nomor 30: Menurut Bapak/Ibu. Tidak. c. Ya. c. karena siswa juga warga sekolah. Tentu saja.Cianjur atas pengembangan kualitas sekolah melalui pembelajaran yang baik dan benar sudah berada pada batas yang maksimal. b. Tidak. tiga faktor utama dalam diri guru-guru akan menentukan pembentukan kultur sekolah.81 a. Ketiga faktor tersebut adalah komitmen guru-guru terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 32 0 4 % 86. Siswa akan dengan sendirinya ikut 87 . keterlibatan guru dalam merumuskan tujuan-tujuan situasional sekolah secara jelas dan tegas. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru.49 0 10. Kesimpulan Sementara Sebagaimana kepala sekolah. serta keterlibatan langsung guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berkualitas yang akan diterapkan secara konsisten kepada para siswa. Komponen Para Siswa Pada komponen siswa dilihat melalui tiga indikator dan tiga pertanyaan yang diajukan kepada para responden dengan hasil sebagai berikut.

Akan tetapi. Ya.dalam situasi yang berlangsung Jumlah Total 36 97. banyak orang menduga bahwa karakter siswa di sekolah dapat dibentuk oleh kondisi guru. Dalam akademis bidang akademis Ya.49 %) menyatakan bahwa siswa merupakan salah satu komponen yang turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik. Hanya dalam bidang akademis saja. c. Indikator 20: Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Pertanyaan Nomor 31: Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F dan non 33 0 4 0 % 89. Tidak. 88 . siswa memiliki peran yang tidak sedikit. Sementara itu. Ya.81 0 a.30 Analisis Sebagai salah satu komponen pembentuk kultur sekolah. b. 32 responden (86. Sikap siswa tidak dapat dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru dan peraturan sekolah.19 0 10. 4 respoden menyatakan bahwa siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung sehingga dianggap bukan sebagai komponen yang menentukan. d. Hanya dalam bidang non akademis saja.

38 %). 0 0 37 100 Analisis: Siswa yang memiliki budaya berprestasi adalah siswa yang tidak gagap teknologi dan selalu berusaha mencari informasi melalui berbagai media. Hanya sedikit saja siswa yang mampu 89 .38 c. Berdasarkan pengamatan 29 responden (78. internet)? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Indikator 21: Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Pertanyaan Nomor 32 Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. 29 78. Ya.19 %) bahwa selama ini siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet Jumlah Total b. termasuk teknologi informasi dan komunikasi.Jumlah Total 37 100 Analisis: Berdasarkan pendapat 33 orang responden (89. komputer.62 a. siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum memiliki kecenderungan dalam penggunaan teknologi tinggi seperti internet dan komputer.

pada umumnya siswa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menjadi penentu terbentuknya kultur sekolah yang kondusif dan baik. Kedua indikator ini dianggap cukup mewakili mengingat peran orang tua siswa merupakan komponen pendukung dalam pengembangan kultur sekolah. terutama para orang tua siswa. Siswa turut bepartisipasi aktif dalam mewujudkan kultur sekolah yang baik melalui pemenuhan tugasnya sebagai siswa secara menyeluruh. d. Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah sebagai berkut.menggunakan teknologi komputer dan akses internet sedangkan selebihnya sama sekali belum memahami dengan benar. Di samping itu. Kesimpulan Sementara Kecuali kemampuan dan keterbiasaan siswa dalam mengguna-kan teknologi tinggi. Komponen Orang Tua Siswa Ada dua indikator dan dua pertanyaan yang diajukan kepada para responden pada komponen orang tua siswa ini. para siswa juga memiliki kecenderungan untuk mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademis maupun non akademis. Pertanyaan Nomor 33: Apakah masyarakat di sekitar sekolah. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan 90 . Indikator 22: Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik.

mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 7 30 0 37 % 18. b.08 0 100 a.57 91 . Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung.92 81.81 67. c. Jumlah Total Analisis: Sebanyak 30 responden (81. Sebagian orang tua berpartisipasi meskipun secara material terbebani. c. Sedangkan 7 responden lain berkeyakinan bahwa pada umumnya orang tua siswa selalu mendukung program-program sekolah. 4 25 10. Indikator 23: Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pem-bentukan kultur sekolah yang baik dengan cara men-dukung programprogram pengembangan mutu sekolah Pertanyaan Nomor 34: Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 8 % 21. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. Orang tua hanya mau berpartisipasi jika b.62 a. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan.08 %) menyatakan bahwa pada umumnya para orang tua siswa memberikan dukungan terhadap setiap program yang digulirkan oleh sekolah demi peningkatanb mutu. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya.

Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah 92 . para orang tua siswa menyatakan hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka.57 %) dari 37 responden guru. para guru sebagai pelaksana pe-ngembangan mutu sekolah. Jumlah Total 0 37 0 100 Analisis: Ada kecenderungan para orang tua takut mengeluarkan biaya bagi pendidikan anak-anaknya. Pandangan ini dikemukakan oleh 25 orang responden (67. Sedangkan 12 responden lainnya memiliki pandangan bahwa orang tua mau berpartisipasi meskipun secara material terbebani. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. Setiap dikomunikasikan adanya pro-gram sekolah yang baru. 3. kompetensi dan sikap profesional guru.secara material tidak membebani mereka d. Kesimpulan Berdasarkan sajian data yang dipaparkan di ata dapat disimpul-kan bahwa komponen-komponen sekolah yang terdiri atas kepala sekolah selaku pimpinan lembaga. serta para siswa sebagai subjek pendidikan merupakan faktor-faktor yang menentukan terbentuknya kultur sekolah yang baik. serta peranan aktif siswa secara integral membangun kultur sekolah yang berorientasi kepada peningkatan mutu. Kemampuan manajerial kepala sekolah.

penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. b.27 a. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu.78 70. pembinaan kesiswaan. Baik buruknya sekolah dalam berbagai segi akan dilihat dari keempat faktor ini sehingga perlu diamati dan diteliti. c.Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah mengamati enam faktor atau komponen yang terdiri atas pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul-karimah Pada komponen pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakulkarimah terdapat duabelas opsi pada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada responden. Keenam faktor ini merupakan unsur dominan dan sangat nyata tampak sebagai bentuk pelayanan sekolah. peningkatan PBM. pembinaan kegiatan ekstrakurikuler. Pertanyaan Nomor 35: Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 37 31 26 % 100 100 83. Hasil yang diperoleh dari responden adalah sebagai berikut. atau setiap hari selama beberapa 93 . d. a. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. setra pengembangan nilai-nilai.

62 %) menyatakan bahwa nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia telah menjadi bagian dari budaya sekolah. Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama ………………. infaq. Mengembangkan budaya bersih diri. f. dan sejenisnya). g. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. sedangkan belum berkembangnya pengelolaan ZIS dikaitkan dengan kondisi mayoritas warga sekolah yang berasal dari kelompok ekonomi kelas bawah yang agak sulit dalam pembiasaan pengeluaran infak dan shadaqah. l.41 100 100 k. shadaqah) Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan agama (lomba mengahafal Al-Quran.41 5. lomba da’wah. e.09 100 0 78. i. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. 94 .09 responden (78.menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Rata-rata Pilihan 37 37 2 2 37 37 100 100 5. Hanya dua hal yang belum berkembang secara baik. 37 0 29.62 Analisis Pada dasarnya. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. Aspek forum diskusi ilmiah keagamaan erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seperti memiliki rasa enggan untuk mengkaji agama (Islam) berdasarkan cara pandang keilmuan. j. h. yakni penyelenggaraan forum diskusi keagamaan serta pengelolaan ZIS. pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlakul karimah di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah menunjukkan budaya positif karena sebanyak rata-rata 29.

c. 95 . Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera).59 0 0 62. j.89 0 0 94. waktu. i. k. dan yang lainnya). Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat.2 100 100 100 40. e.b. d. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. Pembinaan Kesiswaan Pertanyaan Nomor 36 Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 37 % 100 a.70 Analisis Kondisi dan perilaku siswa yang baik dan kondusif merupakan salah satu indikator kultur sekolah yang baik pula. Pada konteks pembinaan siswa. 37 37 37 15 34 0 0 35 0 0 23. Menerbitkan majalah sekolah. f. h.54 91. g. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. Rata-rata Pilihan b. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek budaya positif pembinaan siswa sebagian besar telah dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. ………………. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh.

) Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja 96 . serta penyelenggaraan upacara khusus pelepasan siswa lulusan telah menjadi bagian dari agenda rutin sekolah. Hanya ada empat aspek yang belum ditumbuhkan sebagai tradisi sekolah. f. Hal ini diduga karena berkaitan dengan faktor kemampuan finansia. Atletik (lari.Penerapan disiplin siswa secara konsisten. g. c.70 %) yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah.86 a.86 29. c. dll.03 64. tolak peluru. loncat tinggi. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler Indikator 26: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler olah raga prestasi Pertanyaan Nomor 37: Kegiatan ekstrakurikuler olahraga apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Indikator sebagai Opsi Jawaban Jumlah Pemilih bagi F 0 0 24 11 36 10 24 % 0 0 64. e. penyelenggaraan teman asuh. Hal ini dinyatakan oleh ratarata 23. pelaksnaan bakti sosial. rata-rata masyarakat yang belum berada pada taraf yang memungkinkan terlaksananya kegiatan tersebut. b. d. loncat jauh. lempar cakram.30 27.73 97. pelaksanaan pembinaan melalui kegiatan upacara bendera setiap hari Senin serta upacara PHBN. yakni pelaksanaan widyawisata. LDKS. serta penerbitan majalah.2 responden (62.

Tenis lapangan Bulu tangkis ……… Rata-rata Pilihan 0 0 0 11. ternyata jenis olah raga etletik dan renang tidak menjadi pilihan. Dari banyaknya jenis olah raga yang dapat dikembangkan oleh sekolah. bola basket (dipilih oleh 11 orang atau 29. Berdasarkan tampilan data di atas.86 %).67 responden (31. j. i. kemudian tenis lapangan dan bulu tangkis juga sama sekali bukan menjadi pilihan siswa. Kondisi di atas dimungkinkan karena pada umumnya daerah di sekitar sekolah merupakan daerah landai yang banyak terdapat lapangan cukup luas. sepak bola (36 orang atau 97. dan tenis meja (24 orang atau 64.67 0 0 0 31.73 %). futsal (10 orang atau 27.30 %).53 Analisis Rata-rata 11. Jumlah tersebut mengacu kepada jenis-jenis olah raga bola voli (dipilih oleh 24 orang atau 64. dapat disimpulkan bahwa pengembangan olah raga prestasi belum menjadi sebuah tradisi kuat bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. d. Peningkatan PBM Indikator 27: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya Pertanyaan Nomor 38: 97 .03 %).h.86 %).53 %) menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler olahraga prestasi merupakan salah satu bentuk kegiatan siswa yang dikembangkan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur. kecuali untuk bidang olah raga permainan sepak bola.

c.Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F 0 0 0 24 0 0 0 0 0 3 % 0 0 0 64. Seni musik (band.86 0 0 0 0 0 8. b. i. Indikator 28: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 39: Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi Jawaban Jumlah Pemilih 98 .11 a. Hal ini dinyatakan oleh 24 responden yang hanya memilih jenis kesenian degung sebagai media pengembangan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya. g. f. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama …………. Rata-rata Pilihan Analisis Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya tampaknya bukan merupakan pilihan bagi warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya positif sekolah. d. e. h.

.Opsi a. Kegiatan-kegiatan serupa ini dapat menumbuh-kan budaya positif organisasi. atau 50.45 %. OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra …………. Sebanyak rata-rata 18. c. d. dan Paskibra merupakan kegiatan yang dipilih oleh siswa dalam pengembangan dirinya.45 Analisis Kegiatan keorganisasian dan keterampilan merupakan salah satu bentuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler siswa. UKS/PMR.67 % 100 0 56.67 orang responden. menyatakan bahwa kegiatan keorganisasian seperti OSIS. Hanya ada satu kegiatan yang belum dapat ditumbuhkan di sekolah ini.76 54. e. Indikator 29: Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler organisasi dan keterampilan Pertanyaan Nomor 40: Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? Nomor Opsi Opsi Jawaban Jumlah Pemilih F % 99 . f. yakni pengembangan kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR).46 32.43 0 50.05 59. pramuka. g. b. Rata-rata Pilihan F 37 0 21 20 22 12 0 18. PKS.

Membentuk komunitas belajar) mandiri.a. Satu-satunya kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan pemantapan siswa kelas X yang dikaitkan dengan persiapan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Hal ini dianggap wajar karena sebagian besar mayarakat pendidikan dan masyarakat umum di Cianjur masih memiliki anggapan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan UN merupakan tolok ukur utama bagi kualitas pembinaan siswa dan layanan pendidikan di sekolah. c. 2 24 4. Pertanyaan Nomor 41: Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah 100 . dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik Mengadakan kegiatan pemantapan bagi siswa kelas X dalam menghadapi UN Rata-rata Pilihan e. pengamatan. d. b. belajar (kelompok 0 0 0 0 0 0 0 0 Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompokkelompok kegiatan penelitian.86 11.71 Analisis Pada pengembangan dan peningkatan kemampuan kognitif siswa. Oleh karena itu. f.33 5. pengembangan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat pengembangan kemampuan individual belum menjadi perhatian sekolah.41 64. ternyata belum menjadi pilihan warga SMP Negeri 3 Karangtengah dalam penumbuhan dan pengembangan budaya sekolah yang positif.

Melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah Rata-rata Pilihan e. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah. menerapkan budaya terib dan protektif (dipilih oleh 36 responden atau 97.19 Analisis Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman merupakan faktor yang menjadi identitas penting dalam mengindikasi adanya pengembangan kultur positif di sekolah. melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah (dipilih oleh 37 responden atau 100 %). sebanyak rata-rata 33 responden (89. Pada konteks ini.30 %).78 81.08 97.78 %). Keenam kegiatan tersebut meliputi menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan (dipilih oleh 31 responden atau 83. c. dan kebiasaan Jumlah Pemilih F 31 30 36 37 % 83.30 100 Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah. Opsi Jawaban Menumbuhkan kesadaran bersih lingkungan. 37 27 33 100 72. d. melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan 101 . b. menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan (dipilih oleh 30 responden atau 81. f.97 89.yang aman dan nyaman? Nomor Opsi a.19 %) menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada enam kegiatan pokok yang selalu dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.08 %).

d.92 64. dan melarang pedagang memasuki lingkunan sekolah (27 responden atau 72.86 0 47. Nilai-nilai ini bersumber dari berbagai aspek yang ada di sekitar sekolah serta yang melekat pada warga sekolah. b. Rata-rata Pilihan Jumlah Pemilih F 20 19 7 24 0 17. kemudian 19 responden (51.memasuki kawasan sekolah (37 responden atau 100 %).05 51. Opsi Jawaban Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. dan dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu? Nomor Opsi a. peneltiian ini menunjukkan 20 responden (54.05 %) memberikan pernyataan bahwa SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur berusaha mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah.35 18. e.5 % 54. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum ……………………. ditumbuhkan. Dari empat nilai budaya positif yang dapat ditumbuhkembangkan dalam membentuk kultur positif di sekolah.97 %).29 Analisis Nilai-nilai merupakan unsur penting yang harus tumbuh dalam membangun sebuah kultur sekolah.35 %) menyatakan bahwa sekolah ini selalu berupaya menumbuhkan dan mengembangkan budaya 102 . Pertanyaan Nomor 42: Nilai-nilai apa saja yang saat ini dipertahankan. c.

Pembahasan atas Temuan Penelitian Pembahasan hasil penelitian dilakukan sebagai pendalaman atas temuan-temuan empiris dari sisi keilmuan sehingga fenomena yang diungkap dalam penelitian ini memperoleh kejelasan konseptual. SMP ini belum menunjukkan adanya upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi yang sesungguhnya menjadi barometer bagi masyarakat dalam hal kualitas budaya sekolah serta layanan sekolah pada umumnya. 103 . Meskipun demikian. 24 responden (64. Kesimpulan Sajian data yang berkaitan dengan aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah di atas memberikan penjelasan bahwa pada dasarnya SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur telah memiliki budaya atau kultur sekolah positif yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan layanan sekolah. terutama dalam pengembangan budaya prestasi baik di kalangan siswa maupun kalangan guru dan warga sekolah lainnya. pada beberapa konteks ternyata pula SMP Negeri 3 Karangtengah belum dapat menumbuhkan dan mengembangkannya dengan baik. Akan tetapi.bersih diri dan bersih lingkungan.86 %) menyatakan bahwa warga sekolah berupaya menumbuhkembangkan budaya santun dan taat hukum. Tradisitradisi positif yang berkembang di kalangan siswa dan guru merupakan landasan kokoh bagi terciptanya kultur sekolah yang baik. C.

serta partisipasi aktif siswa dalam membentuk kultur sekolah. pengawasan pelaksanaan program. peran komite sekolah. Dampak yang diharapkan dengan membangun kultur sekolah tersebut adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang dikaji melalui aspek-aspek yang dapat diberdayakan. dan evaluasi program pengembangan sekolah sebagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. Selain itu. pengelolaan pembelajaran. pandangan hidup. Sekolah Pendidikan dalam arti luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya. diungkapkan pula peranan sejumlah komponen sekolah dalam membentuk kultur sekolah yang terdiri atas peran pimpinan sekolah. peran guru-guru. serta prestasi siswa dalam bidang akademis dan non akademis. Upaya untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut bisa dilaksanakan di sekolah.Hasil pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan angket kepada 37 responden guru SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur dimaksudkan untuk mengungkapkan aspek perencanaan. profesi-onalitas guru dan staf sekolah. Kegiatan di sekolah direncanakan dan Faktor-faktor yang Dikembangkan dalam Membentuk Kultur 104 . sikap hidup dan keterampilan hidup. seperti perencanaan pendidikan. 1. yakni. pelaksanaan program sekolah. luar sekolah dan keluarga.

Dengan mendasarkan pada konsep pendidikan tersebut di atas. sebab praktek pendidikan harus mendasarkan pada teori-teori pendidikan dan giliran berikutnya teori-teori pendidikan harus bersumber dari suatu pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan. yakni: proses belajar mengajar. yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Pelaksanaan pendidikan dalam keluarga dilaksanakan secara informal tanpa tujuan yang dirumuskan secara baku dan tertulis. maka sesungguhnya pendidikan merupakan pembudayaan atau "enculturation". 105 . suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dalam suatu budaya tertentu. maka praktek pendidikan harus sesuai dengan budaya masyarakat akan menimbulkan penyimpangan yang dapat muncul dalam berbagai bentuk goncangan-goncangan kehidupan individu dan masyarakat. kepemimpinan dan manajemen sekolah. meski memiliki rencana dan program yang jelas tetapi pelaksanaannya relatif longgar dengan berbagai pedoman yang relatif fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Konsekuensi dari pemyataan ini. Tuntutan keharmonisan antara pendidikan dan kebudayaan bisa pula dipahami. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama. Pelaksanaan di luar sekolah. Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah.dilaksanakan secara ketat dengan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah. serta kultur sekolah.

suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya. yang mencakup cara berpikir. meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah. sikap. Dalam dunia pendidikan. Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat. semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku. Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut. Tetapi berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. padahal kultur negara- 106 . Bukti terakhir. dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan. bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. hasil TIMSS ( The Third International Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang. dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan inkonvensional yakni. Oleh karena itu. dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik. karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. nilai-nilai. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah. sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan. nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Namun. sikap hidup. perilaku.dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas.

para peneliti pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah. staf administrasi maupun siswa. Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas. 47 Ibid. yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial. seperti keberadaan guru yang berkualitas.com. 48 107 . tetapi juga dalam ujud non-fisik. normanorma. ritual.33 Konsep kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri. 2006). Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala sekolah. kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai. Oleh karena itu. p. yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. sebagaimana dikutip oleh Lukman ElHakim34. sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. bukannya kultur masyarakat secara umum. (Jakarta: Endonesa. 33 34 Lukman El-Hakim. p. sikap. guru. Salah satu ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog Clifford Geertz. mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. yakni berupa kultur sekolah". Paradigma Pendidikan Masa Depan. kelengkapan peralatan laboratorium dan buku perpustakaan. Tesis ini sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud fisik.negara tersebut berbeda.

e) ideologi organisasi yang kuat. dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung. h) hubungan akrab di antara guru. misi. melainkan lewat berbagai variabel. penerapan sistem pengawasan. Artinya. 2001). d) pemahaman tujuan sekolah. Kebersamaan dan keterbukaan antara warga sekolah secara kondusif telah membentuk suasana kerja yang menyenangkan dan bergairah. analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. g) kepemimpinan kepala sekolah. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi. antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi. kemudian pelaksanaan program pengembangan sekolah. b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. dan. seperti. f) partisipasi orang tua siswa. 35 36 Ibid.Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa telah dibuktikan lewat penelitian empiris. Buku I. sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain. p. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. 51 Depdiknas. b) sikap dan motivsi kerja guru. 36 Dengan kata lain. 32 108 . c) komunitas sekolah yang tertib. a) rangsangan untuk berprestasi. 35 Namun demikian. serta sasaran atau tujuan pengembangan sekolah. c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. p. (Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek perencanaan pengembangan sekolah yang di dalamnya termuat visi. dan. serta evaluasi program dan pelaksanaan program yang dilakukan secara konsisten ternyata mampu membentuk kultur baik di lingkungan sekolah.

Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini.2. yang meliputi faktor-faktor fisik. Kepala sekolah. Sekolah Komponen yang Berperan dalam Pengembangan Kultur Pengembangan kultur sekolah dibentuk dan ditentukan oleh berbagai faktor. perlu 37 Lukman El-Hakim. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. p. struktur organisasi. sebagai unsur pimpinan sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog. 37 Kultur sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolah. serta para siswa yang secara langsung memberikan warna tertentu ke dalam kultur sekolah yang dibentuk. kepuasan terhadap kelas. nilai-nilai dan normanorma. komite sekolah. khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh. guruguru. Faktor sumber daya manusia terdiri atas komponen pimpinan sekolah. dan produktivitas sekolah. saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. tenaga tata usaha. mana segi positif dan mana negatif. dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya.Cit. Op. staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini. harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini. non-fisik. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah. dan sumber daya manusia. 49 109 . Biarlah guru.

Karena. c) belajar dari guru. Dalam pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangatlah penting. Faktor berikutnya adalah peranan guru dalam melaksanakan fungsinya secara konsisten. memahami dan memecahkan berbagai problem yang terjadi di sekolah. Kultur sekolah akan baik apabila: a) kepala dapat berperan sebagai model. 38 Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam. kepala sekolah dan guru akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsung-nya proses pendidikan. b) mampu membangun tim kerjasama. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari pihak guru sendiri. orang tua. dan siswa. p. Konsistensi peranan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas ini perlu didukung oleh berbagai kemampuan dan sikap profesional yang hanya dapat tumbuh jika guru mau terus-menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman. guru. staf administrasi dan tenaga profesional. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji 38 Ibid. d) harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut.kolaborasi antara kepala sekolah. dan. akan memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat. 50 110 . Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya objek. staf.

Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. kerja efektifdan efisien. Untuk itu instruksi. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi. Upaya peningkatan kualitas sekolah. Salah satu yang mungkin dilaksana-kan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen.fenomena masyarakat secara efisien. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. Untuk itu. dan. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. lewat action research. Sekolah. Semakin besar otoritas 111 . Dalam kaitan inilah. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan.

materi pelajaran dan antar siswa sendiri. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya dapat diterima oleh siswa. Komponen berikutnya adalah siswa yang menjadi cermin per-lakuan sekolah melalui hasil didikan guru-guru yang membekas dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari. guru. seperti kepala sekolah. dan perkembang-an mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur sekolah. Nilai. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembangsuburkan. tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya. Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. 112 . Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara sekolah dan siswa. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak mendatangkan kebaikan bagi mereka. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. moral. Oleh karena itu. sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah. serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah.dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah.

sekitar 80% mau belajar keras kalau semua proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. p. 53 113 . Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan memperlakukan mereka sebagai anak kecil.000 siswa di New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik.Cit. mereka tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih banyak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai rapor yang jelek. Ann Bradley dalam 'Hardly Working' mengemukakan hasil penelitian tersebut. Sekitar 60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan tidak antusias dalam mengajar. Oleh karena itu sebagai balasan mereka juga tidak menghargai guru. Di samping itu sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam melaksana-kan proses belajar mengajar.Di Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini.39 39 Lukman El-Hakim. Penelitian yang mencakup 1. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting. serta tidak menguasai materi. Op. tetapi tidak diperlakukan sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai. dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR.

guruguru. keinginan berprestasi. sasaransasaran mutu yang dirumuskan oleh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh semua pihak. Hal ini menunjukkan bahwa segala program yang disusun oleh sekolah dirumuskan secara realistis serta tidak mengundang kecurigaan dari berbagai pihak. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Komitmen ini selanjutnya didukung oleh sikap dan perilaku siswa secara kondusif melalui perilaku belajar mereka sehari-hari. Di samping itu. kebersamaan dan 114 . Aspek-aspek Budaya Positif yang Dapat Dikembangkan dalam Kegiatan Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Untuk itu. Dalam menuju era globalisasi. 3. dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel. sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan. terutama para pengguna jasa pendidikan.Peneltian ini menunjukkan bahwa komponen pimpinan sekolah. serta keinginan menggunakan teknologi tinggi. Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan. dan siswa telah menunjukkan kinerja yang seimbang sehingga gambaran siswa sebagaimana yang berkembang di Amerika Serikat tidak terlalu tampak. Pimpinan sekolah dan seluruh guru memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh dalam membentuk kultur sekolah yang baik.

Secara umum telah diakui bahwa pendidikian merupakan penggerak utama (prima mover) bagi pembangunan. Persoalan pendidikan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan falsafah dan budaya bangsa. Di samping itu. pendidikan telah berhasil menanamkan semangat dan jiwa modern. bahwa ilmu kependidikan yang tidak lahir dan tidak 115 . dan kepercayaan bahwa diri mereka mempunyai ke-mampuan (self efficacy) untuk menciptakan masa depan sebagaimana yang mereka dambakan.. Pengalaman pembangunan di negara-negara yang sudah maju. Winarno Surachmad (1986). khususnya negara-negara di dunia barat. Dari aspek non-fisik.tanggung jawab. Persoalan-persoalan pendidikan dan pembangunan yang terjadi di negara sedang berkembang. sebagamana dikutip oleh Budisatyo.. memperingatkan ". yang diujudkan dalam bentuk kepercayaan yang tinggi pada "akal" dan teknologi. secara mendasar berbeda dengan problema yang ada di negara-negara Barat. Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. memandang masa depan dengan penuh semangat dan percaya diri. termasuk di Indonesia. Secara fisik pendidikan di dunia barat telah berhasil memenuhi kebutuhan tenaga kerja dari segala strata dan segala bidang yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan. pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat me-mahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. membuktikan betapa besar peran pendidikan dalam proses pembangunan.

Pengelolaan pembelajaran diarahkan kepada upaya peningkatan kualitas siswa sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik atas pengelolaan pembelajaran dan pendidikan di dalam sekolah. Pemberdayaan sekolah merupakan kunci utama dalam pe- ngembangan pelayanan pendidikan kepada masyarakat. 40 Barangkali. setiap komponen sekolah harus mampu berpijak pada dimensi garapannya sendiri secara total tanpa harus terlepas dari visi dan misi sekolah. sikap pengembangan secara meningkatkan profesionalitasnya. Selasa.suara-merdeka_online. 23 Agustus 2005).com download tanggal 29 Desember 2007 116 . artikel pada http://www. khususnya dari para perencana dan pengambil keputusan di bidang kebijaksanaan pendidikan. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Jiwa dan watak bangsa harus menjiwai sistem pendidikan itu sendiri. kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola 40 Budisatyo. yang di dalamnya termasuk peningkatan kualitas layanan pendidikan kepada masyarakat pengguna pendidikan. guru secara diri terus-menerus konsisten melakukan guna pembenahan diri. pendapat tersebut sangat ekstrim. Teori-teori Barat tentang pendidikan dan pembangunan tidaklah senantiasa bersifat universal.tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi ini". Di sisi lain. namun tuntutan bahwa ilmu kependidikan yang akan digunakan untuk memecahkan problema di suatu negara hendaknya tidak lepas dari kondisi budaya setempat memang perlu untuk mendapatkan perhatian dari semua pihak. Perencanaan pendidikan diarahkan kepada upaya peningkatan mutu sekolah.

sudah dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut telah membina kultur sekolah yang baik. Pelayanan sekolah pada dasarnya adalah dampak dari pembangunan kultur sekolah yang diwujudkan melalui peningkatan kualitas sekolah dalam berbagai bidang. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. peningkatan kualitas dan profesionalitas guru serta staf sekolah lainnya. serta memiliki kemauan untuk selalu berubah dan berubah setiap saat. serta peningkatan infrastruktur sekolah dalam bentuk sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kepentingannya.pembelajaran. Bidang-bidang yang dijadikan sasaran pengembangan mutu sekolah meliputi penngkatan kualitas pendidikan siswa. Apabila sekolah telah menunjukkan sikap pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat disertai dengan peningkatan prestasi siswa dalam bidang-bidang akademis dan non-akademis. Kesimpulan Penelitian tentang kultur sekolah dan pelayanan sekolah ini dimaksudkan untuk menggambarkan pengembangan kultur sekolah serta 117 . pengembangan wawasan ke arah yang lebih luas dan kontekstual. baik pendidikan akademis maupun non-akademis.

penataan komponen-komponen manajemen yang baik akan berdampak kepada pembentukan kultur sekolah yang baik pula. 1. maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh kepada siswa serta komponen-komponen lainnya. Kepala kapabilitas sehingga dalam dapat sekolah selaku pimpinan dan manajer komponen dan memiliki sekolah mengkoordinasikan mengembangkan seluruh perencanaan pelaksanaan peningkatan mutu sekolah sesuai dengan rencana yang telah dirumuskan. serta evaluasi program yang mengacu kepada program serta diarahkan demi perbaikan pengembangan sekolah akan melahirkan iklim kerja yang kondusif. 118 . Apabila guru sudah berorientasi kepada mutu dan peningkatan mutu dalam arah kinerjanya.bentuk serta kualitas layanan pendidikan di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada tahun pelajaran 2007-2008. diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. Aspek-aspek perencanaan yang baik dan mengedepankan kebersamaan serta langkah-langkah penyusunan yang benar. dari data yang berhasil dikumpulkan melalui teknik angket terhadap 37 responden guru serta pengolahan data dengan teknik analisis kualitatif. Iklim kerja inilah yang kemudian akan berpengaruh terhadap kultur sekolah yang berorientasi 122 kepada mutu. pengawasan atau kontrol yang objektif dan berkeisinambungan. pelaksanaan program pengembangan sekolah yang konsisten terhadap program yang telah dirumuskan. Oleh sebab itu.

pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur pada dasarnya telah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut secara konsisten meskipun pada bidang-bidang tertentu masih dijalankan apa 119 . Komponen kedua adalah guru-guru yang juga memiliki komitmen sungguh-sungguh yang diwujudkan melalui kinerja secara nyata sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya. serta penumbuhan dan pengembangan nilai-nilai budaya positif lainnya harus menjadi perhatian utama dalam proses pengembangan kultur sekolah. Pengembangan nilai-nilai keagamaan dan akhlak mulia. 3.2. Komponen selanjutnya adalah para siswa yang memiliki budaya berprestasi serta orang tua yang mendukung seluruh program sekolah secara komprehensif. peningkatan aktivitas proses belajar mengajar. serta rumusan target pencapaian mutu yang jelas pada setiap periode tertentu. penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman. Kultur sekolah dibentuk langsung secara simultan oleh komponen-komponen sekolah yang memiliki komitmen kuat dan sungguhsungguh untuk meningkatkan kualitas sekolah. kemampuan dalam merumuskan sasaran mutu yang jelas dan realistis. Komponen pertama adalah kepala sekolah yang ditentukan oleh tiga hal yang menjadi karakteristik dasar yang dimilikinya. yang memungkinkan terciptanya peluang membentuk kultur sekolah yang baik. yakni komitmen terhadap pembentukan kultur sekolah. kemudian pembinaan tata tertib dan disiplin siswa yang dijalankan secara konsisten.

adanya atau bahkan belum pernah dicoba sama sekali. tahap-tahap perencanaan sekolah hendaknya menjadi bagian penting dari proses pelibatan warga sekolah serta pengambilan keputusan yang berkaitan dengan proses kinerja guru secara keseluruhan. kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa kultur positif SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur belum sepenuhnya terbina dan berkembang sehingga memerlukan lebih dari sekedar perhatian dari seluruh warga sekolah. 120 . Pembentukan kultur sekolah bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan dapat tercipta begitu saja karena pembentukan kultur sekolah merupakan hasil dari suatu proses panjang yang diawali oleh penerapan komitmen kokoh terhadap pencapaian mutu serta keterbukaan (transparansi) dan akuntabilitas pengelolaan manaje-men sekolah. Oleh sebab itu. B. 1. maka disampaikan saran-saran sebagai berikut. Pelibatan dan pemberdayaan warga sekolah ini akan mendorong kinerja guru menuju pencapaian kualitas sehingga guru akan dengan suka rela menyumbangkan pemikiran dan kreativitasnya bagi kepentingan pengembangan mutu sekolah. Saran-saran Berdasarkan hasil temuan penelitian yang dikaitkan dengan fokus penelitian serta tuntutan penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang memiliki karakteristik terselenggaranya pengelolaan pendidikan yang berintikan transparansi. dan akuntabilitas.

4.2. Pemunculan program-program baru di tengah-tengah tahun kegiatan merupakan penyimpangan yang tidak dapat ditolerir dan hal tersebut tidak boleh terjadi. Seluruh komponen ini harus secara aktif memberikan program sumbangan pemikiran sehingga diperoleh rancangan pengembangan sekolah yang mewakili semua warga sekolah dan memiliki akuntabilitas tinggi. pelaksanaan program sekolah seharusnya selalu mengacu kepada Rencana Pengembangan Sekolah secara utuh. dan siswa) serta komite sekolah. guru. Program-program yang dikembangkan oleh sekolah pada sebelum awal tahun pelajaran berjalan harus memiliki daya ramal ke depan sehingga program tersebut dapat berjalan up to date sesuai dengan perencanaan. tata usaha. Oleh sebab itu. Pihak sekolah harus mampu memberdayakan Komite Sekolah secara maksimal bagi 121 . Oleh karena itu. dalam penyusunan RPS (Rencana Pengembangan Sekolah) seharusnya dapat melibatkan seluruh warga sekolah (kepala sekolah. Sebuah komitmen tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan konsistensi terhadap pelaksanaan program-program sekolah. Komite sekolah sebagai badan pendamping sekolah memiliki fungsi dan tugas yang jelas sehingga seharusnya menjadi salah satu perangkat yang dapat mempublikasikan rencana pengembangan dan peningkatan mutu sekolah kepada masyarakat luas. 3.

5. baik secara tertulis maupun secara lisan melalui pertemuan Komite Kelas. Komite Sekolah perlu menempat-kan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang 122 . tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. bantuan orang tua siswa. hendaknya selalu menjadi komitmen sekolah sehingga dapat terjadi komunikasi timbal balik antara sekolah dan masyarakat pengguna jasa pendidikan. yang dapat menyebabkan tumbuhnya kebersamaan antara pihak sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan serta menghilang-kan anggapan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah belaka. Pembiasaan penyampaian laporan perkembangan kompetensi siswa secara periodik. dan atau dunia usaha yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu sekolah. Pengadaan infrastruktur pendidikan merupakan salah satu hal yang harus menjadi agenda pengembangan mutu di SMP Negeri 3 Karangtengah Cianjur.kepentingan peningkatan mutu sekolah yang pada akhirnya akan mampu membentuk kultur sekolah yang baik dan kondusif. Akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. 6. Pengadaan infrastruktur ini dapat dilakukan melalui berbagai sumber yang dapat melibatkan pihak-pihak pemerintah (melalui bantuan atau grant yang relevan). terutama dalam mengadopsi teknologi tinggi sehingga para siswa dapat lebih mudah mengenal perkembangan zaman melalui akses internet.

pengamatan. biologi. Komite sekolah ini perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuas-kan masyarakat sebagai klien pendidikan. 7. Misalnya pengembangan kegiatan penelitian. pengembangan kelompok-kelompok belajar mandiri dalam mata pelajaran matematika. diharapkan akan dapat melakukan pengembangan dan 123 .pendidikan. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. Jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler strategis dan dapat merangsang kreativitas dan aktivitas siswa selayaknya dicoba. Dengan demikian. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pengembangan kultur sekolah. Komite Sekolah tidak perlu melaksana-kan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. dan penulisan karya ilmiah remaja. tetapi cukup dengan menggunakan data-data yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. IPS. fisika. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. Pada kegiatan ekstrakurikuler ini biasanya siswa lebih memiliki peluang dalam ”mengakrabi” mata pelajaran yang disukainya. 8. Pengembangan pembinaan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler hendaknya menjadi sebuah pemikiran serius bagi sekolah dalam upaya membentuk budaya berprestasi bagi siswa. dan sebagainya.

Bandung: IKIP Bandung 124 129 . DAFTAR PUSTAKA Abdullah NS. 1998. Pemberdayaan Budaya Organisasi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kinerja Lembaga Pendidikan .perbaikan melalui pencarian variabel-variabel yang lebih determinan dan strategis. Artikel dalam Mimbar Pendidikan Nomor 3 Tahun XVII – 1998.

Jakarta Bumi Aksara. 2001. Jakarta Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. " School-Based Management. and Heynderickx. Teori Budaya Organisasi. V. Kabupaten Cianjur Tahun 2005 – 2009 Negeri 3 Ross. Taliziduhu. Ketentuan Umum 2003a. Jakarta: Endonesa. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. 1994. Delray Beach: Published by St. M. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta Gunung Agung. 2002. Bandung: CV Remaja Rosda Karya Nawawi. 2003. Abin Syamsuddin. Lucia Press 125 . Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Nur. Administrasi Pendidikan. E.Ahmad Sanusi. Nasution. Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan. Hadari (1981). Oregon: ERIC Clearinghouse on Educational Management Makmun. Jakarta Ndraha. 1996. John. Bahan Workshop Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) Enoch. Taliziduhu. Jakarta: PT Ghalia Indonesia Ndraha. Budaya Organisasi." In School Leadership: Handbook for Excellence . Institut Ilmu Pemerintahan – UNPAD. Manajemen Mutu Terpadu. 1998. 2004. Bandung: Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan (BPTP) Burhanuddin (1994). Psikologi Kependidikan: Belajar dan Pembelajaran. Principles of Total Quality Management. Jakarta: PT Rineka Cipta Rencana dan Program Pengembangan Sekolah SMP Karangtengah. (2006) Paradigma Pendidikan Masa Depan. Kompetensi. 2000. Lukman El-Hakim. Kurikulum 2004 Berbasis Departemen Pendidikan Nasional.com Lindelow. 2003. Jakarta: Direktorat Jenderal Dikdasmen Direktorat PLP. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. James. Yusuf (1995). Buku I. J. 2nd edition. 1999.

Jane and Crang. Montreal. Winarno Hami. 1994. al. Robert J Starrat (1979). Jakarta Gunung Agung Stewart. USA: G&C Merriem Company SUMBER-SUMBER DARI INTERNET Baker. Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan. Jakarta Gunung Agung. Carolyn. Napier Street. Bandung: Alfabeta Turner. Educational Management Roles and Tasks: The School Manager. 2004. 1999. John Wiley & Sons Inc. (1990). Thomas. Bandung: Grafindo Media Utama. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Aileen Mitchel. New York: Me Graw-Hill Book Company. Peranan Staf dalam Management. Empowering People: Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. ---------(1983). Teacher Professionalism and the Emergence of Constructivist-Compatible Pedagogies . J. (1980). Webster’s New Colligiate Dictionary. 1998. Krisis Pendidikan dan Sekolah Unggulan. Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan Martabatnya. Depdiknas Sergiovanni. a paper presented at the 1999 meeting of the American Educational Research Association. et al. et. Hennry Jay. download tanggal 30 Januari 2008 Budisatyo. (Jakarta: Suara Merdeka On-line. Selasa. Exploring School Culture. John R. PPs IKIP Bandung ---------(1998) Pendidikan Alternatif Menyeluruh Arah Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Australia: Allen & Unwin Pty. 1992. Supervision: Human Perspective.edu/. Seno. North Sydney. Clifford.. & Riel. USA Siagian S. 1996. Jr.P. artikel pada 126 . Shermerchorn. Ahmad.uci. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Sugiono. Filasafat Administrasi. A paper submitted to the Centre for Leadership in Learning Turney. Henry Boosley. 1977.Sanusi. NSW 2059 Woolf. Margareth M. dari http://www. Metode Penelitian Administrasi. 1984. Managing Organizational Behavior . New York. Ltd. 23 Agustus 2005).

tanpa tahun). h.html downloaded tanggal 16 Juli 2007 Lightfoot. Leadership for School Culture . The Good High School: Portrait of Character and Culture. tanggal 6 Agustus 2007 Isjoni.uoregon.eddept.suara-merdeka_online. Guru Masa Depan. Sara.htm.edu.wordpress. http://eric. pada situs http://www. downloaded tanggal 16 Juli 2007 Isjoni. (artikel bebas pada http://www.com Desember 2007 download tanggal 29 Cheng Yin Cheong. 1993.com . download tanggal 30 Januari 2008 downloaded Lampiran 1 Kisi-kisi Angket: Pengembangan Kultur Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Sekolah pada SMP Negeri 3 Karangtengah Kabupaten Cianjur 127 .edu. New York: Basic Books. Kinerja Guru.8m. Penerapan MBS Di SLTPN 9 Jakarta . Trends and Issues: the Role of School Leader.edu/ download tanggal 30 Januari 2008 Nurkolis.com&wijayalabs.us/guru_masa_depan. downloaded tanggal 6 Agustus 2007 Wijaya Kusumah. Artikel Artikel pada http://www.http://www. Clearinghouse on Educational Management. 39 pada ERIC.go.omjay.wa. ERIC Digest.au/centoff/cpr/publications.uoregon. Number 91.pendidikan.html. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis .depdiknas. Tulisan pada http://www. 1983. Artikel pada http://www.id/MBS_di _SLTPN_9_Jakarta.

Pimpinan sekolah 44. 34. Pelaksanaan program sekolah 35. 39. 43. Indikator Kepala sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah Kepala sekolah menyusun RAPBS bersama warga sekolah lainnya Kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah Kepala sekolah membagi tugas kepada guru-guru dan staf sekolah Setiap komponen sekolah melaksanakan program sekolah Pengembangan inovasi terjadi dalam pelaksanaan program Kepala sekolah melakukan pengawasan melekat Setiap komponen sekolah memonitor pelaksanaan program Komite sekolah melakukan kontrol pelaksanaan program sekolah Evaluasi atas program dilakukan secara berkala Evaluasi dilakukan sebagai langkah perbaikan Revisi program dilakukan berdasar-kan temuan pada evaluasi Kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik Kepala sekolah menetapkan sasar-an mutu sekolah Kepala sekolah merumuskan target pencapaian mutu setiap periode tertentu Guru memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur Nomo r Item 1– 2 3– 4 5– 6 7– 8 9– 10 11 – 12 13 – 14 15 16 17 – 18 19 20 21 22 – 23 24 – 25 26 132 Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan kultur sekolah. 40. Evaluasi program pengembangan sekolah 41.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati Perencanaan 32. Komponen sistem sekolah yang berperan dalam pengembangan kultur sekolah. 45. 36. 128 . 42. 46. 37. Guru-guru 47. Pengawasan pelaksanaan program 38. 33.

keagamaan membiasakan shalat dzuhur dan akhlakulberjamaah. Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler olah raga prestasi 35 36 Pembinaan kegiatan 57. melaksanakan kegiatan kerja sama (team work) melalui aktivitas rutin sekolah seperti MOS. 30 51. Masyarakat (Orang tua siswa) 53. Indikator sekolah yang baik Guru terlibat dalam merumuskan sasaran pengembangan mutu sekolah Guru menyusun program pengembangan sekolah dan melaksanakannya Siswa berpartisipasi dalam mem-bentuk kultur sekolah yang baik Siswa memiliki budaya berprestasi dalam bidang akademis dan non akademis Siswa memiliki kecenderungan dalam menggunakan teknologi Masyarakat mendukung komitmen sekolah dalam mengembangkan kultur sekolah yang baik. melaksanakan peringat-an hari besar Islam. upacara bendera.55. melaksa-nakan kegiatan karimah Ramadhan yang bervariasi. Menerapkan disiplin siswa secara konsisten. 33 54. dan sebagainya. Siswa 50. menyelenggara-kan forum diskusi Islam Pembinaan kesiswaan 56. Masyarakat memberikan dukungan nyata dalam pembentukan kultur sekolah yang baik dengan cara mendukung program-program pengembangan mutu sekolah Nomo r Item 27 – 28 29 49. 31 32 52. 37 129 . Menerapkan budaya salam an nilai-nilai kepada setiap warga sekolah. upacara PHBN. 34 Aspek-aspek budaya positif yang dapat dikembangkan dalam kegiatan peningkatan mutu layanan sekolah Pengembang.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati 48. melakukan pembinaan kepemimpinan (leadership) kepada siswa.

menumbuhkan kegiatan-kegiatan penelitian.62. pengamatan. mengembangkan cinta lingkungan. Indikator Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Menyelenggarakan kegiatan ekstra-kurikuler organisasi dan keterampilan Menumbuhkan komunitas belajar di antara siswa. menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum 42 130 . 59. dan menerapkan budaya tertib dan protektif Nomo r Item 38 39 Peningkatan PBM 60. menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih. Mempertahankan nilai-nilai an nilai-nilai positif dari tradisi. dan sejenisnya. 40 Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman 61.Pertanyaan Penelitian Aspek yang Diamati ekstrakurikuler 58. 41 Pengembang. mengembangkan budaya berprestasi dalam bidang akademik Menumbuhkan budaya bersih lingkungan. menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi.

c. Disusun berdasarkan RPS yang telah disusun sebelum dimulainya awal tahun pelajaran dan dimusyawarahkan bersama Komite Sekolah. Kami mohon Bapak/Ibu dapat memberikan jawaban apa adanya dan tidak merekayasa kondisi yang ada. Pilihlah salah satu jawaban yang Bapak/Ibu anggap sesuai dengan atau mendekati kondisi sekolah Bapak/Ibu saat ini dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf jawaban yang ada di depan opsi jawaban. meminta bantuan salah seorang guru c. Ya. Tidak. Apakah pada setiap awal tahun pelajaran. b. Sering c. Jika RPS disusun setiap tahun. melibatkan seluruh guru dan staf sekolah 3. 1. 4. Disusun pada awal tahun pelajaran bersama beberapa orang guru dan staf tata usaha untuk diajukan kepada Komite Sekolah. Tidak pernah 2.Lampiran 2 Pengembangan Kultur Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Layanan Sekolah Petunjuk Khusus Persoalan di bawah ini disajikan dengan pilihan jawaban yang dapat Bapak/Ibu pilih. Selalu b. Jarang d. Apakah kepala sekolah menyusun RAPBS dengan salah satu cara berikut ini? a. Tidak. apakah kepala sekolah menyusunnya sendiri? a. dilakukannya sendiri b. Bagaimanakah cara RAPBS disahkan di sekolah Bapak/Ibu? 131 . Disusun sebelum awal tahun pelajaran dimulai dan diajukan sendiri kepada Komite Sekolah untuk disetujui. kepala sekolah menyusun program kerja tahunan dalam bentuk rencana pengembangan sekolah (RPS)? a. Jawaban yang Bapak/Ibu berikan tidak berpengaruh apa pun terhadap karier atau jabatan Bapak/Ibu.

selalu b. Mengundang seluruh guru dan Komite Sekolah. Ya. dan lain-lain) serta memberikan kesempatan kepada semua personal sekolah secara bergiliran? a. Diajukan oleh Kepala Sekolah kepada masyarakat secara langsung untuk disetujui dan disahkan. Apakah kepala sekolah menerima masukan dari warga sekolah lainnya tentang perencanaan dan pelaksanaan program pengembangan sekolah? a. Mengundang beberapa orang guru dan menyampaikan program sekolah secara lisan. Tidak pernah 7. Apakah Kepala Sekolah melakukan perubahan personal sekolah (PKS urusan Kurikulum. Jarang menerima e. b. Tim Pelaksana Peningkatan Sekolah/MPMBS.a. Tim Pembangunan Fisik Sekolah. Sering menerima c. Kelompok kerja selalu dipilih dari kelompok guru tertentu dan tidak merata. Tidak pernah. 6. Ya. Pembina Siswa. d. Tidak pernah dilakukan karena kegiatan sekolah dari tahun ke tahun sama saja. Diajukan oleh Komite Sekolah kepada masyarakat sebagai amanat yang dititipkan oleh pihak sekolah untuk disetujui. staf sekolah dan c. dan mempresentasikan program tersebut secara terbuka. membagikan program sekolah kepada seluruh peserta rapat. selalu. 8. Kepala sekolah dan Komite Sekolah telah menyepakati isi RAPBS sebelum musyawarah dilakukan dan musyawarah hanya sebagai persyaratan legalitas pengesahan RAPBS. Kadang-kadang menerima d. Dilakukan secara bertahap. b. Bagaimana kepala sekolah melakukan sosialisasi program sekolah? a. c. Ya. Apakah kepala sekolah membentuk kelompok-kelompok kerja tertentu bagi setiap kegiatan sekolah yang bersifat khusus (misalnya Tim Pengembang Kurikulum Sekolah. dan sebagainya) pada setiap periode tertentu (misalnya 3 tahun sekali)? a. Penentuan PKS adalah wewenang mutlak kepala sekolah. Mencetak RPS dan membagikannya kepada seluruh warga sekolah untuk dibaca dan dipelajari. b. 132 . 135 5. Tidak pernah. Kadang-kadang c. selalu b.

c. 13. Warga sekolah tidak bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. 10. efisien dan produktif meskipun kepala sekolah tidak berada di tempat? a. untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas bekerja. Apakah yang biasanya Bapak/Ibu lakukan? a. b. Melanjutkan pembelajaran apa adanya meskipun dalam suasana lesu kurang bergairah. Kurang dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Sangat perlu. b. c. d. Tidak pernah. Ya. seluruh warga sekolah bekerja dengan baik meskipun tidak ada kepala sekolah. Memberikan tugas untuk mengerjakan sesuatu kepada siswa dan meninggalkan mereka ke kantor. Lebih dari 50 % warga sekolah yang bekerja dengan baik ketika kepala sekolah tidak ada. Ya.9. Ketika Bapak/Ibu melaksanakan tugas mengajar. Meskipun penentuan staf sekolah adalah wewenang kepala sekolah. karena dalam inovaso dan improvisasi selalu terdapat dinamika kerja yang menggairahkan. Sebaiknya kita bekerja sesuai dengan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK) dan petunjuk teknis (JUKNIS) yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan program peningkatan mutu. apakah kepala sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh warga sekolah (yang dianggap berkompeten dan berdedikasi tinggi) untuk dipilih dan memilih staf sekolah dengan memperhatikan kepentingan peningkatan mutu sekolah? a. dilakukan secara periodik dan dipilih pada rapat khusus pembagian tugas. Mengganti model pembelajaran seketika yang lebih sesuai dengan kondisi pembelajaran saat itu. 12. c. apakah inovasi dan impriovisasi dalam bekerja perlu dilakukan? a. Apakah seluruh warga sekolah dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan rencana pengembangan mutu secara efektif. Ya. Berusaha memotivasi siswa untuk bergairah dengan menyajikan berbagai cerita yang relevan. b. kemudian ternyata situasi pembelajaran menjadi lesu dan tidak bergairah. 11. c. d. Tidak. apakah kepala sekolah melakukan pengawasan secara melekat? 133 . b. dilakukan secara periodik dan ditetapkan oleh kepala sekolah berdasarkan pengajuan warga sekolah. Menurut Bapak/Ibu. Sekali-sekali boleh.

16. b. Semua komponen sekolah melakukan monitoring sesuai dengan fungsinya. a. 17. Hasil evaluasi biasanya digunakan untuk apa? a. Komite sekolah tidak pernah hadir di sekolah selain pada saat musyawarah RAPBS. Ya. Ya. Wakil kepala sekolah b. Ya. c. Apakah fungsi Komite Sekolah tersebut dijalankan dengan benar? a. d. PKS Urusan Kurikulum) c. Evaluasi dilakukan setiap akhir program berjalan. 14. apakah evaluasi dilakukan secara berkala? a. a. Dalam melaksanakan monitoring pelaksanaan kegiatan pengembangan mutu. Kegiatan monitoring ini dilakukan …. Jika dilakukan evaluasi kegiatan. Sebagai Controlling Agency. Komite Sekolah juga seharusnya melakukan monitoring pelaksanaan program peningkatan mutu di sekolah. Sebagai bahan mendatang.a. Staf Komite Sekolah datang ke sekolah tapi tidak pernah memantau pelaksanaan program peningkatan mutu. Staf kepala sekolah yang ditunjuk (Misalnya. Kadang-kadang dievaluasi c. Ya. Setiap semester 15. Lebih sering tidak pernah dievaluasi d. c. selalu b. masukan bagi perbaikan program di masa 134 . Apakah program-program kegiatan sekolah yang dilaksanakan dievaluasi? a. Ya. Sama sekali tidak. b. 19. Monitoring Komite Sekolah dilakukan sesuai dengan fungsinya. monitoring juga dilakukan oleh …. Kadang-kadang memantau pelaksanaan program. tapi tidak terlalu ketat. Setiap awal bulan c. Evaluasi kinerja dan hasil tidak dilakukan hanya pada akhir program saja. Setiap minggu b. Selalu b. tapi juga di tengah-tengah program sebagai kontrol kualitas. Tidak pernah 18. Kepala sekolah melakukan monitoring secara berkala atas pelaksanaan program pengembangan mutu. Kelompok guru senior yang dipercayai d. Ya. Setiap triwulan d.

Kadang-kadang dilakukan seperti itu. 20. Hal itu dirumuskan dengan jelas dalam RPS. Samar-samar. karena kadang-kadang program sekolah bisa berubah di tengah jalan. Apakah kepala sekolah memiliki komitmen terhadap pengembangan kultur sekolah yang baik? a. Ya. Kadang-kadang c. Tidak pernah 22. Sebaiknya seperti itu b. b. Tidak. Apakah rumusan tujuan pengembangan sekolah yang disusun memiliki daya ramal ke depan sesuai dengan perkembangan zaman? a. maupun efisiensi dalam tujuan situasional pengembangan sekolah? a. Ya b. selalu dilakukan demikian. tetapi tidak dirumuskan dengan jelas. Tidak tahu 24. b. Ya. 21. Apakah kepala sekolah merumuskan tujuan pengembangan sekolah dalam bentuk sasaran-sasaran mutu yang jelas dan spesifik? a. 23. c. Apakah kepala sekolah memberikan target berupa peningkatan kualitas. Ya. Dilakukan analisis SWOT sehingga sasaran pengembangan mutu menjadi lebih realistis. Tujuan pengembangan sekolah dirumuskan secara global saja. produktivitas. Menggunakan arahnya. selalu b. Dirumuskan begitu saja sesuai dengan kebutuhan sekolah. efektivitas. Sebagai bahan kajian untuk dokumentasi. Disimpan saja. Ya.b. c. c. perkiraan-perkiraan kebutuhan yang tidak jelas 25. Tidak memiliki daya ramal c. c. Kadang-kadang ada target 135 . Apakah kepala sekolah melakukan koreksi atas hal-hal yang bersifat misinformation pada program dan pelaksanaannya serta mempublikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan? a. Dibiarkan saja berjalan karena kesalahan itu akan diperbaiki sambil berjalan. Bagaimanakah cara kepala sekolah menetapkan sasaran pengembangan mutu sekolah? a. c. b.

c. 30. Sikap siswa dibentuk sepenuhnya oleh instruksi guru. apakah Bapak/Ibu memiliki tugas dan tanggung jawab menyusun perencanaan pengembangan kualitas sekolah? a. Perencanaan pengembangan kualitas sekolah seharusnya menjadi tugas kepala sekolah. b. Ya. 27. 31. c. Tidak perlu membentuk kultur sekolah tertentu jika sekolah berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang baku dari pemerintah. Ya. Siswa akan dengan sendirinya ikut dalam situasi yang berlangsung. c. Hanya sebagian guru saja yang memperoleh kesempatan untuk memberikan masukan dan saran. 28. semua guru selalu diberi kesempatan yang sama untuk memberikan masukan dan saran bagi peningkatan kualitas sekolah. Dalam menentukan arah pencapaian kualitas sekolah. Apakah selama ini siswa-siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki budaya berprestasi? a. Menurut Bapak/Ibu. Saya tidak pernah memiliki komitmen apa pun. b. Tidak. Kadang-kadang saya terlibat juga. Sangat jarang guru terlibat dalam penyusunan program sekolah. apakah Bapak/Ibu diberi peluang untuk memberikan masukan dan saran bagi pengembangan sekolah? a.d. Selalu dilibatkan b. c. Tidak pernah memberikan target secara khusus. Ya. Tidak pernah terjadi guru memberikan masukan atau saran bagi pengembangan kualitas sekolah. Apakah Bapak/Ibu terlibat dalam menyusun rumusan sasaran dan target pengembangan mutu sekolah dalam bentuk program kegiatan sekolah? a. Tidak. b. Saya memiliki komitmen sungguh-sungguh dalam pembentukan kultur sekolah yang baik. b. d. karena siswa juga warga sekolah. Tentu saja. apakah para siswa turut menentukan pembentukan kultur sekolah yang baik? a. Dalam bidang akademis dan non akademis 136 . Perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah program peningkatan mutu sekolah jika dikelola dengan benar. Menurut pandangan Bapak/Ibu. Tidak. Apakah Bapak/Ibu selaku guru memiliki komitmen kuat dalam membentuk kultur sekolah yang baik? a. Ya. 29. Guru biasanya tidak pernah dilibatkan dalam menyusun program sekolah. 26. Ya. Ya.

Bagaimanakah bentuk dukungan nyata yang diberikan masyarakat dan orang tua siswa terhadap program peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. Melaksanakan shalat dzuhur berjamaah setiap habis jam pelajaran terakhir di mesjid sekolah. Apakah para siswa di sekolah Bapak/Ibu memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi (misalnya. d. 32. Pembiasaan mengucapkan salam pada saat bertemu dan berpisah Pembiasaan berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran. orang tua berpartisipasi meskipun secara material Orang tua hanya mau berpartisipasi jika secara material tidak membebani mereka. Melaksanakan tadarus bersama pada hari-hari tertentu. Ya. c..b. Hanya dalam bidang akademis saja. Tidak ada orang tua yang mau berpartisipasi. atau setiap hari selama beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. c. Hanya sedikit saja siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. Sebagian terbebani. b. UNTUK PERTANYAAN BERIKUT INI. b. 137 . b. Hanya sebagian kecil saja orang tua siswa yang memberikan dukungan. b. Ya. Nilai-nilai dan kebiasaan apa saja yang selama ini dikembangkan di sekolah Bapak/Ibu yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan akhlakul-karimah? a. 33. c. c. Hanya dalam bidang non akademis saja. Orang tua mengikutsertakan anak-anaknya dalam setiap program pengembangan kualitas sekolah beserta segala konsekuensinya. Apakah masyarakat di sekitar sekolah. terutama para orang tua siswa. Pada umumnya masyarakat orang tua siswa mendukung. internet)? a. Tidak. mendukung setiap program yang diajukan oleh sekolah demi peningkatan mutu di sekolah Bapak/Ibu? a. d. komputer. Hampir semua siswa mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. BAPAK/IBU DAPAT MEMILIH LEBIH DARI SATU JAWABAN PADA SETIAP PERTANYAAN 35. Mengembangkan studi amaliah Ramadhan melalui berbagai kegiatan. e. 34. Orang tua siswa selalu mendukung program sekolah yang diajukan. c. Ya. Tidak ada satu pun siswa yang mampu menggunakan teknologi komputer dan akses internet. d.

e. j.) 138 . Atletik (lari. d. infaq. k. j. …………………………. f. i. k. tolak peluru. i. Menyelenggarakan forum-forum diskusi keagamaan. loncat jauh. Renang Volleyball Basket ball Sepak bola Futsal Tenis meja Tenis lapangan Buku tangkis …………. g. l. f. Menerbitkan majalah sekolah. Mengelola kegiatan ZIS (zakat. h. g. c. b. Kegiatan-kegiatan apa saja yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu dalam rangka melakukan pembinaan siswa? a. lempar cakram. dll. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. c. Menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. lomba da’wah. h. apa saja yang sampai saat ini 37. Mengembangkan budaya bersih diri.. dan sejenisnya). Berbuka puasa bersama pada bulan ramadhan. …………………… agama (lomba Menyelenggarakan kegiatan peringatan hari besar agama. Melaksanakan upacara-upacara peringatan hari besar nasional. Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi (pengibaran bendera). j.. d. waktu. Melaksanakan kegiatan widyawisata bermanfaat.f. 36. dan yang lainnya). b. Menyelenggarakan lomba-lomba keterampilan mengahafal Al-Quran. Melaksanakan kegiatan MOS pada awal tahun pelajaran. h. Menerapkan disiplin dan tata tertib sekolah secara konsisten dan tegas (pakaian seragam. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan teman asuh. g. e. shadaqah). Penyelenggaraan kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) Penyelenggaraan upacara pelepasan siswa lulusan pada akhir tahun pelajaran. loncat tinggi. i.

. c.... 40... Menumbuhkan dan mengembangkan cinta lingkungan Menerapkan budaya terib dan protektif 139 .. g. e. e. e. d. b.. h. Apa saja yang dilakukan oleh sekolah guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman? a. dan sejenisnya Pengembangan budaya berprestasi dalam bidang akademik .... f... Membentuk komunitas belajar (kelompok belajar) mandiri. i.. Kegiatan ekstrakurikuler seni budaya apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a. pengamatan.. Kegiatan ekstrakurikuler keorganisasian dan keterampilan apa saja yang sampai saat ini dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu? a..38. Menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan bersih lingkungan. c.. c. g. Seni musik (band.... b. d. f.. b. 41...... Kegiatan apa saja yang dilaksanakan guna meningkatkan kemampuan kognitif siswa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu? a..... OSIS Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) Pramuka UKS – PMR PKS Paskibra ………….. d. f. c.... b. dangdut) Solo vokal Paduan suara Degung Tembang Sunda Drumband atau marching band Seni tari Teater / drama ……………… 39.. Membentuk English Conversation Club (ECC) Membentuk kelompok-kelompok belajar yang mengacu kepada mata pelajaran tertentu Pembentukan dan pengembangan kelompok-kelompok kegiatan penelitian.

. e. .... Nilai-nilai apa saja yang menurut Bapak/Ibu ditumbuhkan. Mempertahankan nilai-nilai positif dari tradisi yang ada di lingkungan sekolah. Melarang masuknya orang-orang di luar pendidikan memasuki kawasan sekolah. Melarang adanya benda atau kegiatan yang dapat mengundang keresahan lingkungan sekolah......... 42. 140 . d..... c. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya bersih diri dan bersih lingkungan.. ……………….. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya berprestasi..... Menumbuhkan dan mengembangkan budaya santun dan taat hukum.... perlu dipertahankan.. b.d.. dan dikembangkan di sekolah? a.. f. e.............

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful