Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan

PT.INASA SAKHA KIRANA

BAB II. PENDEKATAN & METODOLOGI
A. PENDEKATAN Kebijakan dalam pengembangan industri di daerah diarahkan untuk meningkatkan daya saing daerah melalui pemanfaatan tangible assets seperti kekayaan alam, sumberdaya manusia, infrastruktur fisik serta pemanfaatan intangible asset seperti SDM yang terampil dan kreatif, teknologi, pengetahuan, proses kerja, dan perencanaan yang matang. Mengingat bahwa kekuatan utama daerah adalah sumberdaya alam (SDA) yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan, maka pembangunan industri di daerah yang mengedepankan pengembangan kompetensi inti industri daerah merupakan Pendekatan nilai tambah berbasis SDA dan SDM terampil yang berkelanjutan. Sedangkan dilihat dari dimensi daerah, pemilihan kompetensi inti harus memenuhi kaidah-kaidah seperti memiliki nilai tambah yang tinggi, memiliki keunikan, memiliki keterkaitan baik vertikal maupun horizontal yang kuat, serta memiliki peluang untuk menembus pasar global. Dengan demikian penentuan kompetensi inti industri suatu daerah harus dapat memberikan dampak yang besar dalam menstimulus perekonomian daerah. Strategi yang disusun dalam pengembangan kompetensi inti industri daerah tersebut lebih difokuskan untuk peningkatan daya saing daerah, melalui penciptaan dan peningkatan nilai tambah sepanjang rantai nilai untuk komoditi unggulan daerah, merancang rekayasa kelembagaan, membangun jejaring dengan seluruh pemangku kepentingan, peningkatan efisiensi dan produktivitas pengembangan industri, serta perkuatan dan pengembangan industri kecil dan Menengah secara terpadu. Dituangkan dalam suatu peta Panduan (roadmap) rencan tindak selama kurun waktu 5 (lima) tahun. Untuk itu setiap daerah dituntut memiliki kerangka dan landasan daya saing ekonomi daerah yang kuat. Seperti penciptaan iklim usaha yang kondusif,dan pengembangan kerjasam antar daerah yang memiliki potensi yang sama atau kedekatan daerah ataupun berdasarkan cakupan rantai nilai. Mengacu pada penjelasan di atas, untuk mendukung ketepatan hasil perumusan yang dilakukan, maka kajian pengembangan kompetensi inti industri daerah dalam rangka peningkatan daya saing daerah yang berkelanjutan harus mengacu pada konsep yang mengkombinasikan pendekatan resource based dan Market based. Pendekatan resource based view (RBV) tercermin dalam Teori kompetensi inti yang diperkenalkan oleh Gary Hamel dan CK Prahalad. Pendekatan ini melihat sumber strategi terletak pada potensi dan kemampuan Perusahaan itu sendiri, yang tidak mudah direplikasikan oleh perusahaan lain. Sedangkan pendekatan market based diwakili oleh teori positioning yang dikembangkan oleh Michael Porter. Pendekatan ini melihat strategi sebagai Upaya menempatkan posisi perusahaan relatif terhadap para pesaing. Model Porter yang digunakan untuk mendukung analisis permasalahan yang Dilakukan dalam kajian ini adalah model ima faktor persaingan dan rantai nilai (value chain) serta the four diamond framework dengan memperhatikan kriteria Perumusan kompetensi inti, yaitu: (1)

Laporan Akhir | II - 1

adalah identifikasi dari berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. dalam hal ini penguasaan informasi eksternal. yaitu dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). Dalam rangka formulasi rencana strategi yang mencerminkan perwujudan pandangan ideal dan hal-hal yang harus dicapai di masa mendatang dan selalu berkaitan dengan pengembangan misi. (2) rare capabilites. antara lain: o o o Dapat diaplikasikan di banyak bidang penelitian dan pekerjaan Mudah dimengerti dan sederhana aplikasinya Merupakan pendekatan kualitatif Hasil analisis SWOT sangat tergantung pada tingkat pengetahuan dan pemahaman penggunanya. Analisis ini didasarkan pada logika dan yang menjadi prinsip utama dalam analisis SWOT. strategi dan kebijakan maka diperlukan penganalisaan faktor-faktor strategis. B. Weaknesses. baik berupa konsep maupun yang bersifat pengalaman. SWOT akan menghasilkan rumusan masalah dan bahan untuk menentukan langkah-langkah penanganan selanjutnya. Sedangkan metoda atau teknik analisis Dan pengolahan data yang digunakan. tidak ada jawaban yang benar atau salah. Analisis SWOT pada dasarnya adalah memanfaatkan semua data dan informasi dalam model-model kuantitatif untuk perumusan strategi (Freddy Rangkuti. Berdasarkan konsep yang mengkombinasikan pendekatan resource based dan Market based tersebut. tujuan. Hal ini disebabkan karena setiap kasus yang berhasil diselesaikan diikuti oleh pendekatan baru dan pencarian masalah baru yang muncul dari permasalahan sebelumnya. baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Dalam analisis kasus yang bersifat strategis.2 . Proses analisis ini sering disebut sebagai Analisis Situasi. Analisis SWOT Analisis SWOT. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). diharapkan dapat dilakukan perumusan kompetensi inti Industri daerah yang bersifat holistik. baik untuk mengidentifikasi keunggulan Komparatif maupun keunggulan kompetitif. analisis Value Chain.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. analisis kesenjangan (Gap).INASA SAKHA KIRANA (3) imperfect imitable valuable capabilities. Semakin detail pemahaman pengguna maka semakin tajam pula hasil analisisnya. Laporan Akhir | II . Opportunities and Threats) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). analisis SWOT (Strengths. Sedangkan untuk mendukung Penyusunan rencana strategis dan rencana tindak yang dituangkan dalam suatu Peta Panduan (roadmap) digunakan pendekatan klaster industri sebagai model Pengembangan perekonomian daerah. Sebagai model pendekatan yang akan dilakukan dalam penyusunan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Indsutri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan ini. capabilities. TEORI PENDUKUNG 1. meliputi: analisis Supply and Demand. model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT. analisis SWOT memerlukan langkahlangkah penyelesaian secara sistematis dengan menggunakan seluruh preferensi yang dimiliki.dan(4) non-substitutable capabilities. Analisis SWOT mempunyai keunggulan.

0 (menonjol) sampai dengan 1. 1990: 8-12 dalam Singarimbun. Model-model yang digunakan dalam analisis SWOT antara lain sebagai berikut :    IFAS – EFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary . Faktor-faktor itu diberi bobot didasarkan pengaruh posisi strategis. 2001 : 22) Laporan Akhir | II . Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). dengan skala 1. Kalikan bobot dengan nilai (rating) untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Nilai total ini menunjukkan penilaian terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya jika kelemahan besar sekali (dibanding dengan ratarata pesaing sejenis) nilainya adalah 1. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak melebihi dari skor total = 1. Matrix Space. Menganalisis lingkungan internal (IFAS) dilakukan untuk mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan.External Strategic Factor Analysis Summary). a. 2001 : 22).00. peluang dan ancaman yang memberikan pengaruh terhadap kondisi dan situasi yang ada dan memberikan keuntungan bila dilakukan tindakan positif. untuk memperoleh total skor pembobotan. 1995:54 dan Sulistyani.0 (lemah). Susun 5 sampai dengan 10 faktor dari kekuatan.3 . Berikan bobot masing-masing faktor strategis pada kolom 2. kelemahan (Freddy Rangkuti. kelemahan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun model EFAS adalah sebagai berikut:  Masukan faktor-faktor peluang dan ancaman pada Tabel EFAS.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT.0 (tidak penting). Susun 5 sampai dengan 10 faktor dari peluang dan ancaman (Freddy Rangkuti. Faktor strategis adalah faktor dominan dari kekuatan. (Robert G.     Menganalisis lingkungan eksternal (EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang dan ancaman.INASA SAKHA KIRANA 2001:30). 2003:69). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun model IFAS adalah sebagai berikut:  Masukan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada Tabel IFAS kolom 1. sedangkan jika nilai kelemahan rendah/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4.External Strategic Factor Analysis Summary) Analisis faktor strategi internal dan eksternal adalah pengolahan faktor-faktor strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan pembobotan dan rating pada setiap faktor strategis. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Model IFAS – EFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary . Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan terhadap rata-rata pesaing utama. Matriks SWOT. berdasarkan pengaruh faktor.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Dyson. kolom 1. Berikan rating pada kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah).

Pertimbangan professional adalah pemberian pertimbangan berdasarkan keahliannya. dengan skala 1. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama. 1999:56 dalam Salusu.INASA SAKHA KIRANA  Berikan bobot masing-masing faktor strategis pada kolom 2. Nilai total ini menunjukkan faktor-faktor strategis eksternalnya.    Analisis SWOT memerlukan dasar yang kuat dalam pembobotan (scoring) dan penilaian (rating). 2000:34).0 (lemah). Robert Simbolon. Pembobotan (scoring) Pembobotan pada lingkungan internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh faktor strategis terhadap posisi strategisnya. sedangkan pada lingkungan eksternal didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya (Freddy Rangkuti.0 (tidak penting)”.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya. Besarnya rata-rata nilai bobot bergantung pada jumlah faktor-faktor strategisnya (5-10 faktor strategis) yang dipakai.0 (tidak penting). Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan internal dan eksternal harus berjumlah = 1 (satu) :      Skor Total Internal  Total Bobot Kekuatan + Total Bobot Kelemahan = 1 Skor Total Eksternal  Total Bobot Peluang + Total Bobot Ancaman = 1 Sedangkan nilai bobot menurut berdasarkan ketentuan sebagai berikut : “Skala 1.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Penilaian (rating) b.0 (menonjol) sampai 1. Laporan Akhir | II . kompeten dengan sesuatu yang dipertimbangkannya (Drs. Faktor-faktor strategis internal dan eksternal diberikan bobot dan nilai (rating) berdasarkan pertimbangan profesional (Professional Judgment). MPA. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak melebihi dari skor total = 1.4 . Faktor-faktor itu diberi bobot didasarkan pada dapat memberikan dampak pada faktor strategis. Dalam melakukan pertimbangan professional pada analisis faktor strategis internal–eksternal memiliki pembatasan sebagai berikut: a. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi bersangkutan. 2001 : 22-24). Kalikan bobot dengan nilai (rating) untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai 4. sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4. Berikan rating dalam kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah). untuk memperoleh total skor pembobotan.00. Jumlah kan skor pembobotan (pada kolom 4). jika ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1.0 (sangat penting) sampai dengan 0.

Garis vektor internal sebagai garis horisontal dan garis vektor eksternal sebagai garis vertikal dalam diagram posisi perkembangan obyek yang dinilai. Strategi SO adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan/ mengoptimalkan kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Matrik SWOT menggambarkan berbagai alternatif strategi yang dapat dilakukan didasarkan hasil analisis SWOT (Purnomo.5 . Variabel yang bersifat positif (variabel kekuatan atau peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama. 1996:87 dalam Rangkuti. Strategi ST adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan/mengoptimalkan kekuatan untuk mengurangi Laporan Akhir | II . Matrix SWOT Matrik SWOT adalah matrik yang mengintegrasikan faktor strategis internal dan eksternal. Sedang strategi WO adalah strategi yang digunakan seoptimal mungkin untuk meminimalisir kelemahan. Tabel Model yang digunakan sebagai Matrix Space Faktor Strategis Internal Kekuatan (faktor-faktor yang menjadi kekuatan) Jumlah Kelemahan (faktor-faktor yang menjadi kelemahan) Jumlah Rating (rating dari tabel IFAS dengan nilai positif) Jumlah rating positif (rating dari tabel IFAS dengan nilai negatif) Jumlah rating negatif Faktor Strategis Eksternal Peluang (faktor-faktor yang menjadi peluang) Jumlah Ancaman (faktor-faktor yang menjadi ancaman) Jumlah Rating (rating dari tabel EFAS dengan nilai positif) Jumlah rating positif (rating dari tabel EFAS dengan nilai negatif) Jumlah rating negatif d. 2001:31). Zulkieflimansyah. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya.INASA SAKHA KIRANA Nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap kondisi dirinya (Freddy Rangkuti. Matrix Space digunakan untuk melihat garis vektor positif dan negatif untuk internal dan eksternal. c. sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman (eksternal) yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan (internal) yang dimiliki (Freddy Rangkuti. jika kelemahan atau ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. 2001:69). Hasil dari interaksi faktor strategis internal dengan eksternal menghasilkan alternatifalternatif strategi. Model Matrix Space Matrik space adalah suatu dasar untuk mengetahui posisi sesuatu yang dinilai yang didapat dari nilai rating yang dimiliki oleh faktor-faktor strategi nya. 2001 : 22-24) dengan ketentuan sebagai berikut: Skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah).

adalah strategi konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-perbaikan berbagai bidang. Rumusan setiap kuadran sehingga diadaptasi suatu rumusan sebagai berikut : a. Tabel Model Matrik Analisis SWOT IFAS Kekuatan (S) Strategi SO (Strategi yang menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang) Strategi ST (Strategi yang menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman) Kelemahan (W) Strategi WO (Strategi yang meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang) Strategi WT (Strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman) EFAS Peluang (O) Ancaman (T) Analisis SWOT juga perlu dilengkapi dengan proses pemetaan posisi obyek yang di analisis. Kuadran II : Stability (Stabilitas) Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi kelemahan yang ada. Kuadran I : Growth (pertumbuhan) Strategi pertumbuhan didesain untuk mencapai pertumbuhan (Freddy Rangkuti. setiap kuadran memiliki rumusan strategi sebagai strategi utamanya. 2001:43). Strategi WT adalah strategi yang digunakan untuk mengurangi kelemahan dalam rangka meminimalisir/menghindari ancaman.INASA SAKHA KIRANA berbagai ancaman. Strategi stabilitas terbagi dua. Diagram posisi dibentuk oleh kuadrankuadran yang dihasilkan garis vektor SW dan garis vektor OT. misalnya:  Rapid Growth Strategy (strategi meningkatkan laju pertumbuhan cepat (tahun ke 2 lebih besar peningkatan kualitas yang menjadi pemanfaat kan semua peluang. Perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memaksimalkan pemanfaatan peluang Laporan Akhir | II . 2001:67). faktor kekuatan untuk memaksimalkan  Stabel Growth Strategy (strategi pertumbuhan stabil). jangan sampai turun). Yoeti. adalah strategi mempertahankan pertumbuhan yang ada (kenaikan yang stabil. Pemetaan ini berguna untuk menentukan strategi yang tepat untuk mengembangkan sektor yang di analisis. dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dicapai (Oka A. Garis vektor pada diagram didasarkan pada logika faktor strategi internal membentuk garis horisontal dan faktor strategi eksternal membentuk garis vertikal. 1996:144 dalam Rangkuti. Ada beberapa pilihan strategi.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. b. yaitu :  Aggressive Maintenance strategy (strategi perbaikan agresif). adalah strategi organisasi dengan waktu yang lebih dari tahun ke 1 dan selanjutnya).6 . Stabilitas diarahkan untuk mempertahankan suatu keadaan dengan berupaya memanfaatkan peluang dan memperbaiki kelemahan. pertumbuhan cepat).

Guirelle strategy (strategi merubah fungsi). adalah strategi merubah fungsi yang dimiliki dengan fungsi lain yang benar-benar berbeda.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dengan skala terbatas atau dengan perkataan lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu samalainnya. yaitu: 1. Kelebihan metode AHP dengan variabel kualitatif dalam pengambilan keputusan terletak pada kemampuannya dalam memecahkan masalah yang multi Objektif dan multi kriteria. artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada. Diversifikasi conglomerate strategy (strategi diversifikasi konglomerat). Bila aksioma ini tidak dipenuhi maka harus dibentuk kelompok elemen yang baru. Homogen (Homogenity). bila asumsi tidak dipenuhi maka pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria dan atau tujuan yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil tidak lengkap. 2.7 . artinya untuk tujuan pengambilan keputusan. adalah strategi yang membalikkan kecenderungan-kecenderungan negatif sekarang. c. Metode AHP Metode Analitical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Saaty (1980). 4. Memaksimalkan perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memanfaatkan peluang. Kuadran III : Survival (Bertahan) Ada dua pilihan strategi untuk kuadran ini yaitu:       Turn around strategy (strategi memutar balik). yaitu perbandingan antara elemen-elemen dalam satu tingkat dipengaruhi atau tergantung oleh elemenelemen yang ada di atasnya. Dalam metode AHP terdapat 4 buah aksioma yang perlu diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah. melainkan oleh tujuan (Objective) keseluruhan. Perbandingan kebalikan (Reciprocal Comparison). Kuadran IV : Diversifikasi Pada kuadran ini ada dua pilihan strategi yaitu: Diversifikasi concentric strategy (strategi diversifikasi konsentrik). struktur hirarkhi diasumsikan lengkap.INASA SAKHA KIRANA  Selective Maintenance strategy (strategi perbaikan pilihan). adalah memasukkan investor untuk mendanai diversikasi yang mempertimbangkan laba. 2. maka B lebih disukai dari A dengan skala 1/x. 3. sedangkan analisis kuantitatif menekankan pada satu tujuan dengan multi kriteria. metode ini dapat digunakan untuk memilih prioritas dalam pengambilan keputusan manajemen yang kompleks dengan memperhatikan variabel kualitatif. artinya pengambil keputusan harus dapat membuat preferensi dan memenuhi syarat kebalikan. Laporan Akhir | II . Bebas (Independence). adalah diversifikasi objek dan daya tarik sehingga dapat meminimalisir ancaman. Harapan (Expectation). yaitu apabila A lebih disukai daripada B dengan skala x. adalah strategi konsolidasi internal dengan melakukan perbaikan pada sesuatu yang menjadi kelemahan.

10. 2. 11. Laporan Akhir | II . Letakkan masalah dalam konteks yang lebih luas. dan hasil (outcomes). Menghitung prioritas dilakukan dengan cara menambahkan elemenelemen pada setiap kolom dan membagi setiap yang masuk dengan jumlah pada kolom. Penyusunan prioritas sub kriteria dengan memperhatikan kriteria yang bersangkutan. Pada kelompok-kelompok masalah. 4. c) Melakukan identifikasi alternatif-alternatif lengkap dengan atributnya. Proses penyusunan hirarki secara praktis. 3. Rumuskan masalah. jelas pada setiap matriks. Penyusunan prioritas kriteria utama dengan memperhatikan pengaruhnya terhadap tujuan keseluruhan (goal) yang dinamakan fokus. Ratakan baris dari matriks yang dihasilkan dan akan diperoleh vektor prioritas. perhatian penuh pada orintasi setiap pertanyaan. sebagai contoh biaya turun. Proses pemilihan alternatif kebijakan dengan metode AHP meliputi 15 langkah. juga sub kriteria. keuntungan naik.INASA SAKHA KIRANA Penyusunan hirarki dilakukan dengan cara menguraikan realitas menjadi kluster yang homogen dan menguraikannya lagi menjadi bagian yang lebih kecil dan seterusnya. 5. Untuk menghilangkan arti yang mendua agar hati-hati dalam mendefinisikan setiap elemen dalam hirarki. sebagaimana mereka berbeda dari sekarang yang diasumsikan dengan angka nol. bila diperlukan letakkan dalam sistem yang lebih besar termasuk pelaku. 13. sebagai berikut: 1.8 . tingkatan (level) berhubungan dengan lingkungan. adalah sebagai berikut: a) Melakukan identifikasi tujuan secara keseluruhan atau sering disebut sebagai “Goal”. yang nantinya akan diperoleh outcome gabungan. Pada kasus skenario kalibrasikan variabel-variabel dalam skala –8 ke +8. Rumuskan pertanyaan untuk menyandingkan pembanding dengan 9. Masukan pendapat untuk menyandingkan pembanding dan dorong ke dalam hubungan kebalikannya. Identifikasi kriteria yang mempengaruhi perilaku masalah. tujuan dan kebijakan pelaku. 7. b) Menentukan kriteria-kriteria yang diperlukan atau kriteria yang sesuai dengan tujuan keseluruhan (syarat atau kendala yang dapat menunjang goal). properti (ukuran) alternatif serta alternatifnya sendiri. sehingga banyak informasi yang dapat diintegrasikan ke dalam struktur suatu masalah dengan demikian dapat terbentuk sistem keseluruhan yang lengkap.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. tujuannya dan hasil (outcome). 8. pelaku. 6. 12. Strukturkan hirarki kriteria-kriteria tersebut.

hitung B/C ratio dan alokasi yang bersangkutan. Pengukuran konsistensi melalui dua tahap. baik secara penuh maupun proporsional. Cara menghitung bobot prioritas dengan metode normalisasi. Dalam kasus pemilihan dari sekian banyak alternatif. selanjutnya dilakukan perhitungan bobot prioritas setiap elemen dalam matriks dengan metode eigenvektor dan eigenvalue. Angka-angka baru yang dihasilkan tersebut dijumlahkan menurut baris. maka langkah selanjutnya menentukan sintesa akhir. Pada kasus alokasi sumberdaya.9 . 15.99). sampai akhirnya dikalikan dengan level yang paling atas (goal). Sedangkan eigenvalue. dengan metode eigenvektor maka hasil akhir perkalian tersebut merupakan vektor kolom sebagai vektor prioritas dari tujuan akhir hirarki.0. untuk matriks berukuran n. Hasil akhir dari perhitungan bobot prioritas tersebut merupakan suatu bilangan desimal dibawah satu (0.01 . Nilai rasio konsistensi menurut Saaty (1980) tidak lebih dari 10 %. yang berdasarkan pada aksioma kebalikan (reciprocal). Setelah semua matriks diisi lengkap dan diperiksa konsistensinya. adalah sebuah vektor yang apabila dikalikan dengan sebuah matriks maka hasilnya adalah vektor itu sendiri. dengan total prioritas semua elemen sebesar 1 (satu). Operasi perkalian dimulai dengan mengalikan matriks gabungan vektor prioritas dari level terbawah dengan level di atasnya. hal yang sama dilakukan terhadap kolom lainnya. Dalam menentukan skala intensitas pentingnya suatu kegiatan diatas kegiatan yang lainnya dilakukan dengan skala perbandingan. C. kemudian hasilnya dikalikan lagi dengan level di atasnya lagi. KERANGKA KERJA Kajian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan bagaimana meningkatkan daya saing daerah secara berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan kompetensi inti industri (industrial core competence) sesuai dengan kemampuan Laporan Akhir | II . adalah sebuah vektor yang dikalikan dengan bilangan skalar. Dalam masalah prioritas biaya alokasikan sumberdaya secara proporsional ke prioritas-prioritas. yaitu dengan skala nilai 1 sampai dengan 9. dalam pengisian matriks tidak perlu mengisi semua elemenelemen akan tetapi hanya sebagian saja. Implementasi metode AHP dilakukan proses pengisian persepsi dalam suatu matriks perbandingan. Komposisikan bobot dalam hirarki untuk memperoleh prioritas gabungan dan nilai gabungan variabel yang secara kolektif mendefinisikan outcome (hasil) gabungan. Selanjutnya dilakukan pembagian dari setiap total elemen menurut baris dengan jumlah totalnya agar didapatkan prioritas terakhir setiap elemen sama dengan total bobot prioritas sama dengan satu. yang dilakukan berdasarkan operasi perkalian antara matriks dan vektor. yaitu mengukur konsistensi setiap matriks perbandingan dan mengukur konsistensi seluruh hirarki. agar dipilih alternatif yang memiliki prioritas tertinggi. yaitu dengan membagi setiap angka dalam suatu kolom dengan jumlah kolom tersebut.INASA SAKHA KIRANA 14. alternatif-alternatif biaya yang dikeluarkan. Eigenvektor. Setelah matriks tersebut diisi dan diperbandingkan. pengambil keputusan cukup memberikan penilaian pada matriks sebanyak n(n-1)/2. bila lebih dari 10% perlu dilakukan penyesuaian mengingat inkonsistensi yang tinggi memberikan adanya kesalahan atau kekurangpahaman ekspert dalam memberikan penilaian.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT.

dan modal. Ciri dari kompetensi inti (core competence) adalah (1) memberikan nilai tambah. kebijakan Pemda dll. (3) sulit tergantikan dan (4) jarang. b. penyerapan tenaga kerja. Berikut adalah uraian dari kriteria tersebut : 1. menghasilkan keuntungan bagi pelaku yang terlibat. Nilai Tambah : a. Tradisi Lokal. Laporan Akhir | II . antara lain : Kontribusi terhadap PDRB. jaminan pasok. Nilai tambah dimaksud adalah nilai tambah ekonomi dan nilai tambah nonekonomi. Sehingga kriteria yang ditetapkan adalah : nilai tambah. Berdasarkan indikator-indikator sersebut maka kompetensi inti daerah pada hakekatnya akan menjadi daya dorong bagi pengembangan ekonomi daerah jika dapat di kembangkan dan didukung oleh semua stakeholder daerah.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. dilakukan modifikasi terhadap kriteria. SDM. mendukung peningkatan kesehatan dan pendidikan masyarakat Kabupaten Seruyan. Nilai tambah ekonomi diantaranya adalah :  bahwa komoditi tersebut memiliki peran yang cukup penting dalam kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian lokal dan regional (provinsi). b. c. mendorong peningkatan Kabupaten Seruyan dalam penyerapan PMDN dan PMA. Masyarakat Kabupaten Seruyan sudah melakukan pengolahan dalam skala tertentu terhadap produk tersebut. tradisi lokal. dan Barney. memberi dampak pada pelestarian lingkungan. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Nilai tambah non-ekonomi adalah : 2.Berdasarkan teori-teori yang dikembangkan oleh Hammel. prasarana dan teknologi. Nilai tambah dimaksud bersifat langsung maupun tidak langsung. pasar. bahwa komoditi tersebut berperan penting terhadap peningkatan PAD baik dalam keadaan diolah maupun saat ini. Kompetensi inti pada daerah kajian ini pada dasarnya menggunakan indikatorindikator tersebut yang digabungkan dengan indikator-indikator ekonomi yang telah digunakan oleh Kemenperin (2007). ditinjau dari : a. bahwa komoditi tersebut berperan penting terhadap penciptaan lapangan kerja. Dalam hal penentuan KIID di Kabupaten Seruyan. sarana. nilai lokalitas. Prahalad.10 . memicu pertumbuhan sektor-sektor yang lain di kabupaten Seruyan maupun daerah lainya. Identifikasi. (2) sulit di tiru.          d. dan memberi dampak multiplier bagi perekonomian daerah. dalam posisi saat ini dan bila dikembangkan.INASA SAKHA KIRANA dan potens daerah yang bersifat unik. kelembagaan. Komoditi tersebut sudah lama dikembangkan budidayanya oleh masyarakat di Kabupaten Seruyan.

b. dalam pengertian mudah diserap oleh pasar dan kecenderungan meningkatnya serapan pasar. maka memiliki diversifikasi produk olahan yang beragam. Luas lahan budidaya cenderung meningkat atau sekurang-kurangnya relatif tetap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. a. f. Produktivitas komoditi cenderung meningkat atau sekurang-kurangnya relatif tetap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Produk atau teknik pengolahannya berpeluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki keunikan. Laporan Akhir | II . terutama dengan menempatkan Perusahaan Daerah atau koperasi sebagai lokomotif pengelolaan pengembangan komoditi tersebut. Komoditi tersebut merupakan salah satu komoditi yang diunggulkan oleh Pemerintah Kabupaten Seruyan. Renstra Daerah/SKPD. b. h. Memiliki pasar yang “captive”. a. d. Kabupaten Seruyan sudah cukup dikenal sebagai salah satu daerah utama di dalam menghasilkan komoditi tersebut. baik lokal. dan internasional. Kapasitas produksi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sudah mencukupi untuk dibangun industri pengolahan yang menghasilkan produk antara maupun produk akhir. 3. c. d. Kelembagaan. Pasar. nasional. g.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. diantaranya tercantum di dalam RPJMD. a. 4. Persaingan di dalam pemasaran relatif tidak terlalu sulit.INASA SAKHA KIRANA c. Dalam pengembangannya tidak sulit untuk dikembangkan organisasi pengelolaannya. d. memiliki tingkat penjualan yang relatif meningkat serta peluang untuk ditingkatkan volume serapan pasarnya. Serangan hama sudah dapat diatasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Bila komoditi tersebut diolah. c. regional. dalam bentuk belum diolah. Pengelolaan komoditi tersebut sudah memiliki organisasi yang cukup terstruktur di Kabupaten Seruyan. sudah ditemukan di pasaran. Adanya dukungan dari SKPD. Jaminan Pasok. e. atau regulasi lokal lainnya. baik bersumber dari APBD maupun APBN dalam pengembangannya pada kurun waktu 5 tahun terakhir. serta tidak memiliki kompetitor yang sulit disaingi. Tidak dikuasai oleh kartel perdagangan tertentu. b. Jumlah masyarakat pelaku budidaya relatif tetap atau meningkat. Pembudidayaannya relatif dapat dikuasai oleh masyarakat pelaku baik dari ketersediaan bibit maupun pengelolaan budidayanya.11 . c. Masih memungkinkan untuk dilakukan perluasan lahan budidaya. Perkembangan produksi saat ini sudah menimbulkan harapan dan keyakinan Pemerintah Kabupaten Seruyan maupun masyarakat kabupaten Seruyan untuk dikembangkannya sebuah industri pengolahan. d.

Dengan demikian pemanfaatan komoditas daerah yang berbasis pada kompetensi inti daerah akan melahirkan kompetensi Inti industri yang akan menjadi multiplier effect bagi pengembangan Ekonomi daerah. d. KIID bisa menghasilkan bermacam-macam produk. c. 5. yang selanjutnya dibuat menjadi 9 komoditi Laporan Akhir | II . Bila dikembangkan akan memberikan dampak peningkatan jumlah pelaku (tenaga kerja) terutama dalam budidaya. Teknologi budidaya sudah diketahui dan dikuasai. c. 6. Kompetensi Inti Industri Daerah mengacu kepada industri pengolahan terhadap satu jenis komoditi yang diunggulkan di daerah tersebut. 7. Modifikasi lainnya yang dilakukan di dalam penentuan KIID di Kabupaten Seruyan adalah dalam implementasi penggunaan metode. Sarana. Kondisi geografis dan iklim (agroklimat) Kabupaten Seruyan mendukung pelestarian dan pengembangan budidaya komoditi. d. Sudah ada inisiasi atau minimal pengetahuan mengenai pengolahan komoditi menjadi produk olahan.12 . b.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Modal. Masyarakat sudah memiliki perhitungan dalam permodalan yang layak secara ekonomis. b.INASA SAKHA KIRANA i. Metode kesepakatan bersama melalui FGD dilakukan sebanyak 2 kali. Modal yang diperlukan untuk pengembangan budidaya relatif tidak mahal. Dalam pengembangannya (terutama untuk budidaya). Yaitu pada saat penentuan 10 komoditi unggulan di Kabupaten Seruyan. Saat ini sudah tersedia sarana dan prasarana yang mencukupi untuk transportasi. Regenerasi pelaku budidaya berjalan dengan baik. a. Dengan inovasi yang didukung oleh kemampuan SDM yang berkualitas. e. Kabupaten Seruyan memiliki kemampuan dalam menyediakan sarana dan prasarana. KIID tidak mengacu kepada satu produk. Dari kompetensi inti ini kemudian akan melahirkan kompetensi inti industri daerah sesuai dengan komoditas unggulan daerahnya. pergudangan. a. SDM. c. yang akan dikembangkan di dalam kerangka pengembangan KIID tersebut. Tersedia skema pembiayaan baik komersil maupun bersubsidi dari lembaga keuangan. d. Sehingga dalam implementasinya. Prasarana. dan pembibitan komoditi. Teknologi pengolahan sudah diketahui dan dikuasai. maka kompetnsi inti industri daerah tersebut akan menjadi daya saing daerah yang berkelanjutan (Sustainable Competive Advantage). dan Teknologi. a. b. Rasio hasil penjualan terhadap modal memberikan keuntungan yang layak dan bankable. Dalam Permenperind akan disebutkan kelompok bidang industri (sesuai dengan KLBI 2009). Sumber modal untuk pengembangan sudah dapat diprediksikan. dan sekaligus akan menjadi modal daya saing daerah. Masyarakat sudah menguasai teknik budidaya dan pembibitan. yang bersumber pada satu komoditi.

dari 9 komoditi unggulan. Survey lapangan. Adapun pertimbangan utama di dalam memilih KIID tersebut adalah kemampuan membangun industri. Sehingga penyusunan masterplan itu harus memenuhi syarat kondisi dimana telah Laporan Akhir | II . Daftar peringkat prioritas tersebut kemudian dibandingkan dengan 5 aspek utama pengembangan industri (mengacu kepada metode kajian kelayakan pendahuluan dalam pengembangan industri yang ditetapkan oleh UNIDO). RUANG LINGKUP Pengumpulan data dan informasi. Dalam penentuan KIID. 2. Dari kesepakatan bersama tersebut akan dipilih 2 komoditi. kemampuan serapan tenaga kerja. 3. Penetapan kompetensi inti industri daerah. Penyusunan evaluasi dan indikator pengukuran kinerja 9. Penentuan industri pengolahan komoditi unggulan prioritas. SDM. Analisis kesenjangan. Penyusunan rencana tindak dalam bentuk peta panduan (roadmap) untuk kurun waktu 5 tahun. Survei kondisi pasar dan industri pengolahan sejenis. Melalui rapat teknis lokal yang difasilitasi. dan studi kepustakaan. FGD Pemilihan dan penetuan industri pengolahan komoditi unggulan sebagai kompetensi inti industri daerah. Penetapan tujuan dan sasaran 5. yang kemudian dibuat rantai nilainya. Diseminasi hasil rumusan kompetensi inti daerah Tersusunnya Peta Panduan (roadmap) rencana tindak Pengembangan kompetensi inti industri daerah. TINDAK LANJUT 1. Analisis lingkungan 4. pasar. yang meliputi pohon industri. dan penentuan komoditi yang menjadi industri pengolahan KIID. Pemilihan strategi 6. 9. hasil akhir yang diharapkan adalah terpilihnya satu industri pengolahan suatu komoditi yang akan ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia dalam bentuk Roadmap Kompetensi Inti Industri Daerah. Berikut adalah kerangka kerja dalam penentuan KIID : TUJUAN Tersusunnya konsep kompetensi inti industri daerah yang menyeluruh mulai dari penentuan kompetensi inti industri daerah hingga rencana strategis implementasi dalam tahapan kurun waktu 5 tahun berupa Peta Panduan (roadmap).13 . teknologi. langsung ditetapkan pringkat prioritas melalui AHP berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Setelah ditetapkan dalam bentuk Permenperind. 2. Tersusunnya Masterplan Industrialisasi KIID yang di-Perda-kan oleh daerah sebagai implementasi dari Permen Roadmap KIID. Proses pembandingan antara prioritas berdasarkan AHP terhadap komoditi. Penentuan komoditi unggulan prioritas (daftar 5). 7. 6. yang kemudian ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah. dan 5 aspek utama pengembangan industri tersebut dilakukan melalui FGD.INASA SAKHA KIRANA unggulan. dan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Seruyan. Analisis SWOT Model 9 Faktor Dongsung Cho 3. 5. 1. FGD. maka selanjutnya daerah tersebut diharapkan menyusun Masterplan Industrialisasi komoditi tersebut. Sedangkan metode AHP yang oleh Kemenperin digunakan di dalam penentuan KIID. Analisis rantai nilai komoditi unggulan prioritas. Melalui FGD yang difasilitasi. Survei lapangan guna perumusan strategi implementasi 7. SASARAN Penetapan komoditi unggulan daerah. Di kabupaten Seruyan. Studi literatur/kepustakaan.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Berdasarkan kesiapan daerah dalam kurun waktu 5 tahun ke depan dalam merealisasikan rantai nilai tersebut kemudian dipilih KIID Kabupaten Seruyan. Analytical Hierarchy Process (AHP) Komoditi unggulan prioritas. dalam penentuan KIID di Kabupaten Seruyan dilakukan pada saat penentuan komoditi unggulan yang menjadi KIID. Penentuan komoditi unggulan (daftar 10). dan nilai investasi. Ditetapkannya kompetensi inti industri daerah. 8. 4. Strategi implementasi 8. Melalui survey lapangan.

TEKNIK PENGAMBILAN DATA Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.. adalah data yang digunakan untuk tujuan lain. bukan dengan tujuan menyelesaikan masalah yang sedang ditangani saat ini (Maholtra. yaitu : 1. c) RPJMD Kabupaten Seruyan. data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait dengan penelitian ini. f) Data dan informasi eksternal terkait komoditi. d) RTRW Kabupaten Seruyan. b) Seruyan Dalam Angka terbaru. Data Primer. sarana prasarana. 2. Dalam penelitian ini. Adapun penjelasan dari kedua sumber data tersebut. 4. 3.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Laporan Akhir | II . yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan.14 . 2. e) Data-data dari SKPD terkait. FGD. Pengisian kuisioner AHP. Wawancara (bila diperlukan). social ekonomi. 1996). Data Sekunder.(mengingat kebutuhan data yang bersifat time series).INASA SAKHA KIRANA diterbitkan Permenperind Roadmap KIID. Jenis data yang diperlukan antara lain data tata ruang wilayah. D. Pengambilan data akan dilakukan melalui : 1. Apabila Roadmap KIID berdurasi 5 tahun. maka masterplan KIID berdurasi 20-25 tahun. Inventarisasi Data dan Informasi. sosiodemografi. adalah data yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan penyelidikan yang sedang ditangani (Maholtra. meliputi : a) Hasil Rapat Teknis/FGD Tim KIID Kabupaten Seruyan. 1996). Data ini dikumpulkan secara langsung dari lapangan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.