Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan

PT.INASA SAKHA KIRANA

BAB II. PENDEKATAN & METODOLOGI
A. PENDEKATAN Kebijakan dalam pengembangan industri di daerah diarahkan untuk meningkatkan daya saing daerah melalui pemanfaatan tangible assets seperti kekayaan alam, sumberdaya manusia, infrastruktur fisik serta pemanfaatan intangible asset seperti SDM yang terampil dan kreatif, teknologi, pengetahuan, proses kerja, dan perencanaan yang matang. Mengingat bahwa kekuatan utama daerah adalah sumberdaya alam (SDA) yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan, maka pembangunan industri di daerah yang mengedepankan pengembangan kompetensi inti industri daerah merupakan Pendekatan nilai tambah berbasis SDA dan SDM terampil yang berkelanjutan. Sedangkan dilihat dari dimensi daerah, pemilihan kompetensi inti harus memenuhi kaidah-kaidah seperti memiliki nilai tambah yang tinggi, memiliki keunikan, memiliki keterkaitan baik vertikal maupun horizontal yang kuat, serta memiliki peluang untuk menembus pasar global. Dengan demikian penentuan kompetensi inti industri suatu daerah harus dapat memberikan dampak yang besar dalam menstimulus perekonomian daerah. Strategi yang disusun dalam pengembangan kompetensi inti industri daerah tersebut lebih difokuskan untuk peningkatan daya saing daerah, melalui penciptaan dan peningkatan nilai tambah sepanjang rantai nilai untuk komoditi unggulan daerah, merancang rekayasa kelembagaan, membangun jejaring dengan seluruh pemangku kepentingan, peningkatan efisiensi dan produktivitas pengembangan industri, serta perkuatan dan pengembangan industri kecil dan Menengah secara terpadu. Dituangkan dalam suatu peta Panduan (roadmap) rencan tindak selama kurun waktu 5 (lima) tahun. Untuk itu setiap daerah dituntut memiliki kerangka dan landasan daya saing ekonomi daerah yang kuat. Seperti penciptaan iklim usaha yang kondusif,dan pengembangan kerjasam antar daerah yang memiliki potensi yang sama atau kedekatan daerah ataupun berdasarkan cakupan rantai nilai. Mengacu pada penjelasan di atas, untuk mendukung ketepatan hasil perumusan yang dilakukan, maka kajian pengembangan kompetensi inti industri daerah dalam rangka peningkatan daya saing daerah yang berkelanjutan harus mengacu pada konsep yang mengkombinasikan pendekatan resource based dan Market based. Pendekatan resource based view (RBV) tercermin dalam Teori kompetensi inti yang diperkenalkan oleh Gary Hamel dan CK Prahalad. Pendekatan ini melihat sumber strategi terletak pada potensi dan kemampuan Perusahaan itu sendiri, yang tidak mudah direplikasikan oleh perusahaan lain. Sedangkan pendekatan market based diwakili oleh teori positioning yang dikembangkan oleh Michael Porter. Pendekatan ini melihat strategi sebagai Upaya menempatkan posisi perusahaan relatif terhadap para pesaing. Model Porter yang digunakan untuk mendukung analisis permasalahan yang Dilakukan dalam kajian ini adalah model ima faktor persaingan dan rantai nilai (value chain) serta the four diamond framework dengan memperhatikan kriteria Perumusan kompetensi inti, yaitu: (1)

Laporan Akhir | II - 1

B. dalam hal ini penguasaan informasi eksternal. Analisis SWOT mempunyai keunggulan. Analisis SWOT Analisis SWOT.dan(4) non-substitutable capabilities. capabilities. Analisis ini didasarkan pada logika dan yang menjadi prinsip utama dalam analisis SWOT. analisis kesenjangan (Gap). yaitu dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). Berdasarkan konsep yang mengkombinasikan pendekatan resource based dan Market based tersebut. Opportunities and Threats) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). antara lain: o o o Dapat diaplikasikan di banyak bidang penelitian dan pekerjaan Mudah dimengerti dan sederhana aplikasinya Merupakan pendekatan kualitatif Hasil analisis SWOT sangat tergantung pada tingkat pengetahuan dan pemahaman penggunanya. analisis SWOT memerlukan langkahlangkah penyelesaian secara sistematis dengan menggunakan seluruh preferensi yang dimiliki. (2) rare capabilites. Semakin detail pemahaman pengguna maka semakin tajam pula hasil analisisnya. Analisis SWOT pada dasarnya adalah memanfaatkan semua data dan informasi dalam model-model kuantitatif untuk perumusan strategi (Freddy Rangkuti. Sedangkan metoda atau teknik analisis Dan pengolahan data yang digunakan. analisis SWOT (Strengths. strategi dan kebijakan maka diperlukan penganalisaan faktor-faktor strategis. Sebagai model pendekatan yang akan dilakukan dalam penyusunan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Indsutri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan ini. model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT. baik berupa konsep maupun yang bersifat pengalaman. adalah identifikasi dari berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Dalam analisis kasus yang bersifat strategis. Laporan Akhir | II . baik untuk mengidentifikasi keunggulan Komparatif maupun keunggulan kompetitif. diharapkan dapat dilakukan perumusan kompetensi inti Industri daerah yang bersifat holistik. SWOT akan menghasilkan rumusan masalah dan bahan untuk menentukan langkah-langkah penanganan selanjutnya.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Sedangkan untuk mendukung Penyusunan rencana strategis dan rencana tindak yang dituangkan dalam suatu Peta Panduan (roadmap) digunakan pendekatan klaster industri sebagai model Pengembangan perekonomian daerah. Dalam rangka formulasi rencana strategi yang mencerminkan perwujudan pandangan ideal dan hal-hal yang harus dicapai di masa mendatang dan selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Weaknesses. tidak ada jawaban yang benar atau salah. Proses analisis ini sering disebut sebagai Analisis Situasi. baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). tujuan. meliputi: analisis Supply and Demand. TEORI PENDUKUNG 1.2 . analisis Value Chain.INASA SAKHA KIRANA (3) imperfect imitable valuable capabilities. Hal ini disebabkan karena setiap kasus yang berhasil diselesaikan diikuti oleh pendekatan baru dan pencarian masalah baru yang muncul dari permasalahan sebelumnya.

dengan skala 1.External Strategic Factor Analysis Summary) Analisis faktor strategi internal dan eksternal adalah pengolahan faktor-faktor strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan pembobotan dan rating pada setiap faktor strategis.00. Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). kelemahan. Dyson. Nilai total ini menunjukkan penilaian terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Menganalisis lingkungan internal (IFAS) dilakukan untuk mengetahui berbagai kemungkinan kekuatan dan kelemahan.0 (menonjol) sampai dengan 1. a. sedangkan jika nilai kelemahan rendah/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4. kelemahan (Freddy Rangkuti. Kalikan bobot dengan nilai (rating) untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Berikan rating pada kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah).0 (tidak penting).Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan terhadap rata-rata pesaing utama. (Robert G. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun model IFAS adalah sebagai berikut:  Masukan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada Tabel IFAS kolom 1. 2001 : 22) Laporan Akhir | II . berdasarkan pengaruh faktor. untuk memperoleh total skor pembobotan. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya jika kelemahan besar sekali (dibanding dengan ratarata pesaing sejenis) nilainya adalah 1.0 (lemah). 2003:69). Faktor-faktor itu diberi bobot didasarkan pengaruh posisi strategis.     Menganalisis lingkungan eksternal (EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang dan ancaman. Berikan bobot masing-masing faktor strategis pada kolom 2.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Matrix Space. Susun 5 sampai dengan 10 faktor dari kekuatan. Model-model yang digunakan dalam analisis SWOT antara lain sebagai berikut :    IFAS – EFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary . kolom 1.INASA SAKHA KIRANA 2001:30). Susun 5 sampai dengan 10 faktor dari peluang dan ancaman (Freddy Rangkuti. Model IFAS – EFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary . 1990: 8-12 dalam Singarimbun. 2001 : 22). peluang dan ancaman yang memberikan pengaruh terhadap kondisi dan situasi yang ada dan memberikan keuntungan bila dilakukan tindakan positif. 1995:54 dan Sulistyani. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak melebihi dari skor total = 1. Matriks SWOT. Faktor strategis adalah faktor dominan dari kekuatan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.External Strategic Factor Analysis Summary). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun model EFAS adalah sebagai berikut:  Masukan faktor-faktor peluang dan ancaman pada Tabel EFAS.3 .

Besarnya rata-rata nilai bobot bergantung pada jumlah faktor-faktor strategisnya (5-10 faktor strategis) yang dipakai. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak melebihi dari skor total = 1. sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4. Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan internal dan eksternal harus berjumlah = 1 (satu) :      Skor Total Internal  Total Bobot Kekuatan + Total Bobot Kelemahan = 1 Skor Total Eksternal  Total Bobot Peluang + Total Bobot Ancaman = 1 Sedangkan nilai bobot menurut berdasarkan ketentuan sebagai berikut : “Skala 1. jika ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai 4. 2000:34). Nilai total ini menunjukkan faktor-faktor strategis eksternalnya. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama.4 . untuk memperoleh total skor pembobotan. Robert Simbolon. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya. sedangkan pada lingkungan eksternal didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya (Freddy Rangkuti. Faktor-faktor strategis internal dan eksternal diberikan bobot dan nilai (rating) berdasarkan pertimbangan profesional (Professional Judgment). Jumlah kan skor pembobotan (pada kolom 4). berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi bersangkutan.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Pembobotan (scoring) Pembobotan pada lingkungan internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh faktor strategis terhadap posisi strategisnya.INASA SAKHA KIRANA  Berikan bobot masing-masing faktor strategis pada kolom 2. MPA.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Laporan Akhir | II . Penilaian (rating) b. Faktor-faktor itu diberi bobot didasarkan pada dapat memberikan dampak pada faktor strategis. dengan skala 1. 1999:56 dalam Salusu. kompeten dengan sesuatu yang dipertimbangkannya (Drs.    Analisis SWOT memerlukan dasar yang kuat dalam pembobotan (scoring) dan penilaian (rating). Kalikan bobot dengan nilai (rating) untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.0 (tidak penting). Berikan rating dalam kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah).0 (sangat penting) sampai dengan 0.0 (lemah). 2001 : 22-24). Pertimbangan professional adalah pemberian pertimbangan berdasarkan keahliannya.0 (tidak penting)”. Dalam melakukan pertimbangan professional pada analisis faktor strategis internal–eksternal memiliki pembatasan sebagai berikut: a.0 (menonjol) sampai 1.00.

2001:69). Matrix Space digunakan untuk melihat garis vektor positif dan negatif untuk internal dan eksternal. Garis vektor internal sebagai garis horisontal dan garis vektor eksternal sebagai garis vertikal dalam diagram posisi perkembangan obyek yang dinilai. Variabel yang bersifat positif (variabel kekuatan atau peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama. 1996:87 dalam Rangkuti. sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaing nya nilainya 4. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya. Strategi ST adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan/mengoptimalkan kekuatan untuk mengurangi Laporan Akhir | II . Sedang strategi WO adalah strategi yang digunakan seoptimal mungkin untuk meminimalisir kelemahan. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman (eksternal) yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan (internal) yang dimiliki (Freddy Rangkuti. Tabel Model yang digunakan sebagai Matrix Space Faktor Strategis Internal Kekuatan (faktor-faktor yang menjadi kekuatan) Jumlah Kelemahan (faktor-faktor yang menjadi kelemahan) Jumlah Rating (rating dari tabel IFAS dengan nilai positif) Jumlah rating positif (rating dari tabel IFAS dengan nilai negatif) Jumlah rating negatif Faktor Strategis Eksternal Peluang (faktor-faktor yang menjadi peluang) Jumlah Ancaman (faktor-faktor yang menjadi ancaman) Jumlah Rating (rating dari tabel EFAS dengan nilai positif) Jumlah rating positif (rating dari tabel EFAS dengan nilai negatif) Jumlah rating negatif d.INASA SAKHA KIRANA Nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap kondisi dirinya (Freddy Rangkuti. Zulkieflimansyah. jika kelemahan atau ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1. Matrix SWOT Matrik SWOT adalah matrik yang mengintegrasikan faktor strategis internal dan eksternal. 2001:31). Strategi SO adalah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan/ mengoptimalkan kekuatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan berbagai peluang yang ada. c. Hasil dari interaksi faktor strategis internal dengan eksternal menghasilkan alternatifalternatif strategi.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. 2001 : 22-24) dengan ketentuan sebagai berikut: Skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah). Model Matrix Space Matrik space adalah suatu dasar untuk mengetahui posisi sesuatu yang dinilai yang didapat dari nilai rating yang dimiliki oleh faktor-faktor strategi nya.5 . Matrik SWOT menggambarkan berbagai alternatif strategi yang dapat dilakukan didasarkan hasil analisis SWOT (Purnomo.

Perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memaksimalkan pemanfaatan peluang Laporan Akhir | II . Kuadran II : Stability (Stabilitas) Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi kelemahan yang ada. b. Stabilitas diarahkan untuk mempertahankan suatu keadaan dengan berupaya memanfaatkan peluang dan memperbaiki kelemahan.6 .Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. 2001:43). adalah strategi organisasi dengan waktu yang lebih dari tahun ke 1 dan selanjutnya). adalah strategi mempertahankan pertumbuhan yang ada (kenaikan yang stabil. 1996:144 dalam Rangkuti. dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dicapai (Oka A. Ada beberapa pilihan strategi. misalnya:  Rapid Growth Strategy (strategi meningkatkan laju pertumbuhan cepat (tahun ke 2 lebih besar peningkatan kualitas yang menjadi pemanfaat kan semua peluang.INASA SAKHA KIRANA berbagai ancaman. 2001:67). faktor kekuatan untuk memaksimalkan  Stabel Growth Strategy (strategi pertumbuhan stabil). Kuadran I : Growth (pertumbuhan) Strategi pertumbuhan didesain untuk mencapai pertumbuhan (Freddy Rangkuti. yaitu :  Aggressive Maintenance strategy (strategi perbaikan agresif). Yoeti. pertumbuhan cepat). Strategi stabilitas terbagi dua. Rumusan setiap kuadran sehingga diadaptasi suatu rumusan sebagai berikut : a. Diagram posisi dibentuk oleh kuadrankuadran yang dihasilkan garis vektor SW dan garis vektor OT. Garis vektor pada diagram didasarkan pada logika faktor strategi internal membentuk garis horisontal dan faktor strategi eksternal membentuk garis vertikal. adalah strategi konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-perbaikan berbagai bidang. setiap kuadran memiliki rumusan strategi sebagai strategi utamanya. jangan sampai turun). Tabel Model Matrik Analisis SWOT IFAS Kekuatan (S) Strategi SO (Strategi yang menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang) Strategi ST (Strategi yang menggunakan kekuatan dan mengatasi ancaman) Kelemahan (W) Strategi WO (Strategi yang meminimalkan kelemahan dan memanfaatkan peluang) Strategi WT (Strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman) EFAS Peluang (O) Ancaman (T) Analisis SWOT juga perlu dilengkapi dengan proses pemetaan posisi obyek yang di analisis. Strategi WT adalah strategi yang digunakan untuk mengurangi kelemahan dalam rangka meminimalisir/menghindari ancaman. Pemetaan ini berguna untuk menentukan strategi yang tepat untuk mengembangkan sektor yang di analisis.

Kuadran IV : Diversifikasi Pada kuadran ini ada dua pilihan strategi yaitu: Diversifikasi concentric strategy (strategi diversifikasi konsentrik). yaitu apabila A lebih disukai daripada B dengan skala x. 3. bila asumsi tidak dipenuhi maka pengambil keputusan tidak memakai seluruh kriteria dan atau tujuan yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil tidak lengkap. artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dengan skala terbatas atau dengan perkataan lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu samalainnya. Bebas (Independence). adalah diversifikasi objek dan daya tarik sehingga dapat meminimalisir ancaman. Perbandingan kebalikan (Reciprocal Comparison). Kelebihan metode AHP dengan variabel kualitatif dalam pengambilan keputusan terletak pada kemampuannya dalam memecahkan masalah yang multi Objektif dan multi kriteria. Dalam metode AHP terdapat 4 buah aksioma yang perlu diperhatikan. yaitu: 1. metode ini dapat digunakan untuk memilih prioritas dalam pengambilan keputusan manajemen yang kompleks dengan memperhatikan variabel kualitatif. Kuadran III : Survival (Bertahan) Ada dua pilihan strategi untuk kuadran ini yaitu:       Turn around strategy (strategi memutar balik). 4. artinya pengambil keputusan harus dapat membuat preferensi dan memenuhi syarat kebalikan. c. adalah strategi merubah fungsi yang dimiliki dengan fungsi lain yang benar-benar berbeda. struktur hirarkhi diasumsikan lengkap. melainkan oleh tujuan (Objective) keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah. adalah strategi konsolidasi internal dengan melakukan perbaikan pada sesuatu yang menjadi kelemahan. artinya untuk tujuan pengambilan keputusan. Homogen (Homogenity). Memaksimalkan perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memanfaatkan peluang. adalah strategi yang membalikkan kecenderungan-kecenderungan negatif sekarang. sedangkan analisis kuantitatif menekankan pada satu tujuan dengan multi kriteria. maka B lebih disukai dari A dengan skala 1/x. Harapan (Expectation).INASA SAKHA KIRANA  Selective Maintenance strategy (strategi perbaikan pilihan). Metode AHP Metode Analitical Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Saaty (1980). adalah memasukkan investor untuk mendanai diversikasi yang mempertimbangkan laba.7 . Diversifikasi conglomerate strategy (strategi diversifikasi konglomerat).Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada. 2. Bila aksioma ini tidak dipenuhi maka harus dibentuk kelompok elemen yang baru. Guirelle strategy (strategi merubah fungsi). 2. Laporan Akhir | II . yaitu perbandingan antara elemen-elemen dalam satu tingkat dipengaruhi atau tergantung oleh elemenelemen yang ada di atasnya.

Masukan pendapat untuk menyandingkan pembanding dan dorong ke dalam hubungan kebalikannya.8 . 8.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. 4. 6. Menghitung prioritas dilakukan dengan cara menambahkan elemenelemen pada setiap kolom dan membagi setiap yang masuk dengan jumlah pada kolom. 7. jelas pada setiap matriks. sebagaimana mereka berbeda dari sekarang yang diasumsikan dengan angka nol. Rumuskan pertanyaan untuk menyandingkan pembanding dengan 9. Rumuskan masalah. Penyusunan prioritas sub kriteria dengan memperhatikan kriteria yang bersangkutan. Proses pemilihan alternatif kebijakan dengan metode AHP meliputi 15 langkah. Strukturkan hirarki kriteria-kriteria tersebut. 13. bila diperlukan letakkan dalam sistem yang lebih besar termasuk pelaku. adalah sebagai berikut: a) Melakukan identifikasi tujuan secara keseluruhan atau sering disebut sebagai “Goal”. juga sub kriteria. 3. Laporan Akhir | II . 12. 5.INASA SAKHA KIRANA Penyusunan hirarki dilakukan dengan cara menguraikan realitas menjadi kluster yang homogen dan menguraikannya lagi menjadi bagian yang lebih kecil dan seterusnya. Penyusunan prioritas kriteria utama dengan memperhatikan pengaruhnya terhadap tujuan keseluruhan (goal) yang dinamakan fokus. c) Melakukan identifikasi alternatif-alternatif lengkap dengan atributnya. yang nantinya akan diperoleh outcome gabungan. Pada kasus skenario kalibrasikan variabel-variabel dalam skala –8 ke +8. 2. Pada kelompok-kelompok masalah. tujuan dan kebijakan pelaku. 10. keuntungan naik. Proses penyusunan hirarki secara praktis. tingkatan (level) berhubungan dengan lingkungan. sebagai berikut: 1. pelaku. sehingga banyak informasi yang dapat diintegrasikan ke dalam struktur suatu masalah dengan demikian dapat terbentuk sistem keseluruhan yang lengkap. 11. properti (ukuran) alternatif serta alternatifnya sendiri. sebagai contoh biaya turun. Untuk menghilangkan arti yang mendua agar hati-hati dalam mendefinisikan setiap elemen dalam hirarki. tujuannya dan hasil (outcome). dan hasil (outcomes). Letakkan masalah dalam konteks yang lebih luas. b) Menentukan kriteria-kriteria yang diperlukan atau kriteria yang sesuai dengan tujuan keseluruhan (syarat atau kendala yang dapat menunjang goal). Ratakan baris dari matriks yang dihasilkan dan akan diperoleh vektor prioritas. perhatian penuh pada orintasi setiap pertanyaan. Identifikasi kriteria yang mempengaruhi perilaku masalah.

Komposisikan bobot dalam hirarki untuk memperoleh prioritas gabungan dan nilai gabungan variabel yang secara kolektif mendefinisikan outcome (hasil) gabungan. bila lebih dari 10% perlu dilakukan penyesuaian mengingat inkonsistensi yang tinggi memberikan adanya kesalahan atau kekurangpahaman ekspert dalam memberikan penilaian.0. yaitu dengan membagi setiap angka dalam suatu kolom dengan jumlah kolom tersebut. Hasil akhir dari perhitungan bobot prioritas tersebut merupakan suatu bilangan desimal dibawah satu (0. yaitu dengan skala nilai 1 sampai dengan 9.INASA SAKHA KIRANA 14. Operasi perkalian dimulai dengan mengalikan matriks gabungan vektor prioritas dari level terbawah dengan level di atasnya. kemudian hasilnya dikalikan lagi dengan level di atasnya lagi. Sedangkan eigenvalue. Dalam masalah prioritas biaya alokasikan sumberdaya secara proporsional ke prioritas-prioritas. Pada kasus alokasi sumberdaya. Cara menghitung bobot prioritas dengan metode normalisasi. C. Nilai rasio konsistensi menurut Saaty (1980) tidak lebih dari 10 %. KERANGKA KERJA Kajian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan bagaimana meningkatkan daya saing daerah secara berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan kompetensi inti industri (industrial core competence) sesuai dengan kemampuan Laporan Akhir | II . Setelah matriks tersebut diisi dan diperbandingkan. Dalam menentukan skala intensitas pentingnya suatu kegiatan diatas kegiatan yang lainnya dilakukan dengan skala perbandingan.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. sampai akhirnya dikalikan dengan level yang paling atas (goal).99). Selanjutnya dilakukan pembagian dari setiap total elemen menurut baris dengan jumlah totalnya agar didapatkan prioritas terakhir setiap elemen sama dengan total bobot prioritas sama dengan satu. yaitu mengukur konsistensi setiap matriks perbandingan dan mengukur konsistensi seluruh hirarki. Eigenvektor.01 . maka langkah selanjutnya menentukan sintesa akhir. Angka-angka baru yang dihasilkan tersebut dijumlahkan menurut baris. selanjutnya dilakukan perhitungan bobot prioritas setiap elemen dalam matriks dengan metode eigenvektor dan eigenvalue. Implementasi metode AHP dilakukan proses pengisian persepsi dalam suatu matriks perbandingan. hitung B/C ratio dan alokasi yang bersangkutan. adalah sebuah vektor yang dikalikan dengan bilangan skalar. hal yang sama dilakukan terhadap kolom lainnya. dengan metode eigenvektor maka hasil akhir perkalian tersebut merupakan vektor kolom sebagai vektor prioritas dari tujuan akhir hirarki. yang dilakukan berdasarkan operasi perkalian antara matriks dan vektor. Setelah semua matriks diisi lengkap dan diperiksa konsistensinya. Pengukuran konsistensi melalui dua tahap. agar dipilih alternatif yang memiliki prioritas tertinggi. dengan total prioritas semua elemen sebesar 1 (satu). alternatif-alternatif biaya yang dikeluarkan. adalah sebuah vektor yang apabila dikalikan dengan sebuah matriks maka hasilnya adalah vektor itu sendiri. dalam pengisian matriks tidak perlu mengisi semua elemenelemen akan tetapi hanya sebagian saja. Dalam kasus pemilihan dari sekian banyak alternatif.9 . baik secara penuh maupun proporsional. untuk matriks berukuran n. yang berdasarkan pada aksioma kebalikan (reciprocal). 15. pengambil keputusan cukup memberikan penilaian pada matriks sebanyak n(n-1)/2.

dan Barney. antara lain : Kontribusi terhadap PDRB. kebijakan Pemda dll. tradisi lokal. ditinjau dari : a.Berdasarkan teori-teori yang dikembangkan oleh Hammel. Nilai tambah ekonomi diantaranya adalah :  bahwa komoditi tersebut memiliki peran yang cukup penting dalam kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian lokal dan regional (provinsi). Ciri dari kompetensi inti (core competence) adalah (1) memberikan nilai tambah. penyerapan tenaga kerja. dan modal. Kompetensi inti pada daerah kajian ini pada dasarnya menggunakan indikatorindikator tersebut yang digabungkan dengan indikator-indikator ekonomi yang telah digunakan oleh Kemenperin (2007).Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Sehingga kriteria yang ditetapkan adalah : nilai tambah. dalam posisi saat ini dan bila dikembangkan. mendukung peningkatan kesehatan dan pendidikan masyarakat Kabupaten Seruyan. Komoditi tersebut sudah lama dikembangkan budidayanya oleh masyarakat di Kabupaten Seruyan. jaminan pasok. Berikut adalah uraian dari kriteria tersebut : 1. (3) sulit tergantikan dan (4) jarang. Tradisi Lokal. Masyarakat Kabupaten Seruyan sudah melakukan pengolahan dalam skala tertentu terhadap produk tersebut. menghasilkan keuntungan bagi pelaku yang terlibat. pasar. mendorong peningkatan Kabupaten Seruyan dalam penyerapan PMDN dan PMA. Nilai tambah dimaksud adalah nilai tambah ekonomi dan nilai tambah nonekonomi. nilai lokalitas. dilakukan modifikasi terhadap kriteria. Berdasarkan indikator-indikator sersebut maka kompetensi inti daerah pada hakekatnya akan menjadi daya dorong bagi pengembangan ekonomi daerah jika dapat di kembangkan dan didukung oleh semua stakeholder daerah. memicu pertumbuhan sektor-sektor yang lain di kabupaten Seruyan maupun daerah lainya. kelembagaan.          d. c.10 . sarana. dan memberi dampak multiplier bagi perekonomian daerah. b. Dalam hal penentuan KIID di Kabupaten Seruyan. memberi dampak pada pelestarian lingkungan.INASA SAKHA KIRANA dan potens daerah yang bersifat unik. Nilai tambah non-ekonomi adalah : 2. bahwa komoditi tersebut berperan penting terhadap penciptaan lapangan kerja. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. b. SDM. bahwa komoditi tersebut berperan penting terhadap peningkatan PAD baik dalam keadaan diolah maupun saat ini. Prahalad. Nilai tambah dimaksud bersifat langsung maupun tidak langsung. (2) sulit di tiru. Nilai Tambah : a. prasarana dan teknologi. Identifikasi. Laporan Akhir | II .

Perkembangan produksi saat ini sudah menimbulkan harapan dan keyakinan Pemerintah Kabupaten Seruyan maupun masyarakat kabupaten Seruyan untuk dikembangkannya sebuah industri pengolahan. serta tidak memiliki kompetitor yang sulit disaingi. Komoditi tersebut merupakan salah satu komoditi yang diunggulkan oleh Pemerintah Kabupaten Seruyan. Serangan hama sudah dapat diatasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. nasional. Produk atau teknik pengolahannya berpeluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki keunikan.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Kelembagaan. Laporan Akhir | II . Pasar. dalam pengertian mudah diserap oleh pasar dan kecenderungan meningkatnya serapan pasar. baik lokal. b. Produktivitas komoditi cenderung meningkat atau sekurang-kurangnya relatif tetap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Jumlah masyarakat pelaku budidaya relatif tetap atau meningkat. b. Luas lahan budidaya cenderung meningkat atau sekurang-kurangnya relatif tetap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. atau regulasi lokal lainnya. 4. dalam bentuk belum diolah. memiliki tingkat penjualan yang relatif meningkat serta peluang untuk ditingkatkan volume serapan pasarnya. e. a. diantaranya tercantum di dalam RPJMD. Jaminan Pasok. Pembudidayaannya relatif dapat dikuasai oleh masyarakat pelaku baik dari ketersediaan bibit maupun pengelolaan budidayanya. 3. dan internasional. c. Kabupaten Seruyan sudah cukup dikenal sebagai salah satu daerah utama di dalam menghasilkan komoditi tersebut. Masih memungkinkan untuk dilakukan perluasan lahan budidaya. baik bersumber dari APBD maupun APBN dalam pengembangannya pada kurun waktu 5 tahun terakhir. terutama dengan menempatkan Perusahaan Daerah atau koperasi sebagai lokomotif pengelolaan pengembangan komoditi tersebut. g. d. a. d. Kapasitas produksi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sudah mencukupi untuk dibangun industri pengolahan yang menghasilkan produk antara maupun produk akhir.INASA SAKHA KIRANA c. regional. Bila komoditi tersebut diolah. b. Tidak dikuasai oleh kartel perdagangan tertentu. Persaingan di dalam pemasaran relatif tidak terlalu sulit. Memiliki pasar yang “captive”. f. Dalam pengembangannya tidak sulit untuk dikembangkan organisasi pengelolaannya.11 . Pengelolaan komoditi tersebut sudah memiliki organisasi yang cukup terstruktur di Kabupaten Seruyan. c. maka memiliki diversifikasi produk olahan yang beragam. Adanya dukungan dari SKPD. c. Renstra Daerah/SKPD. h. d. a. d. sudah ditemukan di pasaran.

b. yang selanjutnya dibuat menjadi 9 komoditi Laporan Akhir | II . Kondisi geografis dan iklim (agroklimat) Kabupaten Seruyan mendukung pelestarian dan pengembangan budidaya komoditi. c. dan Teknologi. KIID tidak mengacu kepada satu produk. Teknologi budidaya sudah diketahui dan dikuasai. Bila dikembangkan akan memberikan dampak peningkatan jumlah pelaku (tenaga kerja) terutama dalam budidaya. 6. Rasio hasil penjualan terhadap modal memberikan keuntungan yang layak dan bankable. Dalam pengembangannya (terutama untuk budidaya). Saat ini sudah tersedia sarana dan prasarana yang mencukupi untuk transportasi. Kabupaten Seruyan memiliki kemampuan dalam menyediakan sarana dan prasarana.12 . b. 5. SDM. yang bersumber pada satu komoditi. Modal yang diperlukan untuk pengembangan budidaya relatif tidak mahal. c. Sudah ada inisiasi atau minimal pengetahuan mengenai pengolahan komoditi menjadi produk olahan. a. b. Dengan inovasi yang didukung oleh kemampuan SDM yang berkualitas. 7. dan sekaligus akan menjadi modal daya saing daerah. e. Modal. yang akan dikembangkan di dalam kerangka pengembangan KIID tersebut. a.INASA SAKHA KIRANA i. Masyarakat sudah memiliki perhitungan dalam permodalan yang layak secara ekonomis. d. Yaitu pada saat penentuan 10 komoditi unggulan di Kabupaten Seruyan. pergudangan. Dengan demikian pemanfaatan komoditas daerah yang berbasis pada kompetensi inti daerah akan melahirkan kompetensi Inti industri yang akan menjadi multiplier effect bagi pengembangan Ekonomi daerah.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Prasarana. Sehingga dalam implementasinya. Dalam Permenperind akan disebutkan kelompok bidang industri (sesuai dengan KLBI 2009). c. d. Metode kesepakatan bersama melalui FGD dilakukan sebanyak 2 kali. d. Sumber modal untuk pengembangan sudah dapat diprediksikan. KIID bisa menghasilkan bermacam-macam produk. Teknologi pengolahan sudah diketahui dan dikuasai. Regenerasi pelaku budidaya berjalan dengan baik. Modifikasi lainnya yang dilakukan di dalam penentuan KIID di Kabupaten Seruyan adalah dalam implementasi penggunaan metode. Tersedia skema pembiayaan baik komersil maupun bersubsidi dari lembaga keuangan. a. Masyarakat sudah menguasai teknik budidaya dan pembibitan. dan pembibitan komoditi. maka kompetnsi inti industri daerah tersebut akan menjadi daya saing daerah yang berkelanjutan (Sustainable Competive Advantage). Sarana. Dari kompetensi inti ini kemudian akan melahirkan kompetensi inti industri daerah sesuai dengan komoditas unggulan daerahnya. Kompetensi Inti Industri Daerah mengacu kepada industri pengolahan terhadap satu jenis komoditi yang diunggulkan di daerah tersebut.

dan 5 aspek utama pengembangan industri tersebut dilakukan melalui FGD. maka selanjutnya daerah tersebut diharapkan menyusun Masterplan Industrialisasi komoditi tersebut. 2. 4. FGD. Dari kesepakatan bersama tersebut akan dipilih 2 komoditi. Pemilihan strategi 6. Penentuan komoditi unggulan prioritas (daftar 5). yang kemudian ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah. dan penentuan komoditi yang menjadi industri pengolahan KIID. RUANG LINGKUP Pengumpulan data dan informasi. Penentuan industri pengolahan komoditi unggulan prioritas. Penetapan tujuan dan sasaran 5. Analisis kesenjangan. TINDAK LANJUT 1. Melalui FGD yang difasilitasi. dalam penentuan KIID di Kabupaten Seruyan dilakukan pada saat penentuan komoditi unggulan yang menjadi KIID. FGD Pemilihan dan penetuan industri pengolahan komoditi unggulan sebagai kompetensi inti industri daerah. 2. kemampuan serapan tenaga kerja. Survei lapangan guna perumusan strategi implementasi 7. Adapun pertimbangan utama di dalam memilih KIID tersebut adalah kemampuan membangun industri. Penentuan komoditi unggulan (daftar 10). Ditetapkannya kompetensi inti industri daerah. Sedangkan metode AHP yang oleh Kemenperin digunakan di dalam penentuan KIID. Penyusunan evaluasi dan indikator pengukuran kinerja 9. Proses pembandingan antara prioritas berdasarkan AHP terhadap komoditi. hasil akhir yang diharapkan adalah terpilihnya satu industri pengolahan suatu komoditi yang akan ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia dalam bentuk Roadmap Kompetensi Inti Industri Daerah. Di kabupaten Seruyan. dan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Seruyan. 8. yang meliputi pohon industri. Survey lapangan. Tersusunnya Masterplan Industrialisasi KIID yang di-Perda-kan oleh daerah sebagai implementasi dari Permen Roadmap KIID.13 .Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. 3. dan nilai investasi. Survei kondisi pasar dan industri pengolahan sejenis. yang kemudian dibuat rantai nilainya. Analisis SWOT Model 9 Faktor Dongsung Cho 3. 7. teknologi. Dalam penentuan KIID. Analytical Hierarchy Process (AHP) Komoditi unggulan prioritas. 1. Melalui rapat teknis lokal yang difasilitasi. dari 9 komoditi unggulan. Daftar peringkat prioritas tersebut kemudian dibandingkan dengan 5 aspek utama pengembangan industri (mengacu kepada metode kajian kelayakan pendahuluan dalam pengembangan industri yang ditetapkan oleh UNIDO). Melalui survey lapangan.INASA SAKHA KIRANA unggulan. Analisis rantai nilai komoditi unggulan prioritas. Penetapan kompetensi inti industri daerah. Berdasarkan kesiapan daerah dalam kurun waktu 5 tahun ke depan dalam merealisasikan rantai nilai tersebut kemudian dipilih KIID Kabupaten Seruyan. Penyusunan rencana tindak dalam bentuk peta panduan (roadmap) untuk kurun waktu 5 tahun. 6. langsung ditetapkan pringkat prioritas melalui AHP berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Analisis lingkungan 4. Strategi implementasi 8. dan studi kepustakaan. Berikut adalah kerangka kerja dalam penentuan KIID : TUJUAN Tersusunnya konsep kompetensi inti industri daerah yang menyeluruh mulai dari penentuan kompetensi inti industri daerah hingga rencana strategis implementasi dalam tahapan kurun waktu 5 tahun berupa Peta Panduan (roadmap). Diseminasi hasil rumusan kompetensi inti daerah Tersusunnya Peta Panduan (roadmap) rencana tindak Pengembangan kompetensi inti industri daerah. SASARAN Penetapan komoditi unggulan daerah. Studi literatur/kepustakaan. 9. 5. Sehingga penyusunan masterplan itu harus memenuhi syarat kondisi dimana telah Laporan Akhir | II . Setelah ditetapkan dalam bentuk Permenperind. SDM. pasar.

yaitu : 1. adalah data yang digunakan untuk tujuan lain. Wawancara (bila diperlukan). Pengisian kuisioner AHP. 1996). FGD. social ekonomi. Adapun penjelasan dari kedua sumber data tersebut. 1996). 2. bukan dengan tujuan menyelesaikan masalah yang sedang ditangani saat ini (Maholtra.. yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan. Pengambilan data akan dilakukan melalui : 1.(mengingat kebutuhan data yang bersifat time series). Jenis data yang diperlukan antara lain data tata ruang wilayah. 4. sarana prasarana. TEKNIK PENGAMBILAN DATA Data yang dikumpulkan untuk penelitian ini berupa data primer dan data sekunder.Pengkajian dan Penetapan Roadmap dan Masterplan Industrialisasi Kompetensi Inti Industri Daerah (KIID) Kabupaten Seruyan PT. Data Sekunder. Dalam penelitian ini. adalah data yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan penyelidikan yang sedang ditangani (Maholtra. 3. sosiodemografi. Laporan Akhir | II . b) Seruyan Dalam Angka terbaru.14 . data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait dengan penelitian ini. c) RPJMD Kabupaten Seruyan. Inventarisasi Data dan Informasi. Apabila Roadmap KIID berdurasi 5 tahun.INASA SAKHA KIRANA diterbitkan Permenperind Roadmap KIID. maka masterplan KIID berdurasi 20-25 tahun. D. 2. meliputi : a) Hasil Rapat Teknis/FGD Tim KIID Kabupaten Seruyan. Data Primer. e) Data-data dari SKPD terkait. f) Data dan informasi eksternal terkait komoditi. Data ini dikumpulkan secara langsung dari lapangan. d) RTRW Kabupaten Seruyan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful