1.

Epidemiologi Malaria Malaria dapat ditemukan mulai dari belahan bumi utara (Amerika Utara sampai Eropa dan Asia) ke belahan bumi selatan (Amerika Selatan); mulai dari daerah dengan ketinggian 2850 m sampai dengan daerah yang letaknya 400m di bawah permukaan laut. Keadaan malaria di dunia saat ini diperkirakan terdapat 300-500 juta kasus malaria klinis/ tahun dengan 1,5-2,7 juta kematian. Sebanyak 90% kematian terjadi pada anak-anak dengan rasio 1: 4 anak balita di Afrika meninggal karena malaria. Di Asia Tenggara negara yang termasuk wilayah endemi malaria adalah : Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas pada semua pulau dengan derajar dan berat infeksi yang bervariasi. Menurut data yang berkembang hampir separuh dari populasi Indonesia bertempat tinggal di daerah endemik malaria dan diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya. Malaria di suatu daerah dapat ditemukan secara autokton, impor, induksi, introduksi, atau reintroduksi. Di daerah yang autokton, siklus hidup malaria dapat berlangsung karena adanya manusia yang rentan, nyamuk dapat menjadi vektor dan ada parasitnya. Introduksi malaria timbul karena adanya kasus kedua yang berasal dari kasus impor. Malaria reintroduksi bila kasus malaria muncul kembali yang sebelumnya sudah dilakukan eradikasi malaria. Malaria impor terjadi bila infeksinya berasal dari luar daerah (daerah endemi malaria). Malaria induksi bila kasus berasal dari transfusi darah, suntikan, atau kongenital yang tercemar malaria. Keadaan malaria di daerah endemi tidak sama. Derajat endemisitas dapat diukur dengan berbagai cara seperti angka limpa, angka parasit, dan angka sporozoit, yang disebut angka malariometri. Sifat malaria juga dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, yang tergantung pada beberapa faktor, yaitu : parasit yang terdapat pada pengandung parasit, manusia yang rentan, nyamuk yang dapat menjadi vektor, dan lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup masing-masing. 2. Cara Penularan Penularan malaria kebanyakan berlangsung secara alami, yaitu melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liuarnya, disebut masa tunas ekstrinsik. Sporozoit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu: 1. Secara alami melalui vektor, bila sporozoit dimasukkan ke dalam badan manusia dengan tusukan nyamuk 2. Secara induksi, bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja masuk dalam badan manusia.

Walaupun jarang. Hospes Reservoar Manusia merupakan satu-satunya reservoir malaria yang penting. Lama hidup nyamuk dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Walaupun juga jarang. melalui semprit injeksi yang terkontaminasi parasit malaria (pada pecandu narkotik). dan sesudah itu menggigit manusia lagi. tetapi hanya 60 spesies berperan sebagai vektor malaria yang alami. karena berpindahnya infeksi malaria dari ibu ke bayinya melalui peredaran darah plasenta (malaria kongenital). Hal ini menyebabkan intensitas penulran malaria paling tinggi menjelang akhir musim penghujan. tetapi hanya 16 spesies yang berperan sebagai vektor malaria. suatu strain Anopheles harus mempunyai kebiasaan mengigit manusia dan hidup cukup lama untuk memberi waktu yang diperlukan oleh parasit malaria untuk menyelesaikan siklus hidupnya sampai menghasilkan bentuk infektif. tingkat penularan malaria tergantung pada beberapa faktor biologis dan klimatis. Begitu pula relaps atau kekambuhan malaria vivax menjadi lebih ringan dengan meningkatnya imunitas penderita. parasit malaria tidak bisa dipertahankan dalam kondisi terkendali sehingga terjadi serangan akut malaria 4. yang menyebabkan timbulnya fluktuasi dalam lama dan intensitas penularan malaria dalam tahun yang sama atau diantara dua tahun yang berbeda. 3. misalnya karena pertahanan tubuh yang menurun pada trauma yang berat. menentukan potensinya sebagai vektor malaria. Parasitemia dengan fase aseksual dan gametositemia pada malaria falciparum pada orang yang memiliki kekebalan yang tinggi bisa berlangsung tanpa gejala selama berbulan-bulan. Di indonesia ditemukan 80 spesies nyamuk Anopheles. terutama faktor suhu dan kelembaban udara. penularan bisa terjadi secara kongenital selama bayi masih dalam kandungan. dan Anopheles subpictus dan Anopheles maculatus sebagai vektor sekunder. Anopheles sundaicus dan Anopheles aconitus merupakan vektor malaria utama. Untuk bisa berperan sebagai vektor malaria. Penderita yang asimtomatik yang memiliki gametosit dalam darahnya bisa menjadi sumber penularan dengan perantaraan nyamuk vektornya. Vektor Malaria Di bumi ini hidup sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles. Suhu lingkungan berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan parasit malaria dalam tubuh nyamuk. Nyamuk Anopheles yang menjadi vektor . Kebiasaan mengigit nyamuk. dengan populasi nyamuk meningkat secara signifikan. Di Jawa dan Bali. respon imun yang melemah sesudah operasi pengangkatan limpa. 5. Hubungan Hospes –Parasit-Lingkungan Dalam hubungan trias di atas parasit malaria mempertahankan hidupnya sebagai spesies dengan jalan berada dalam tubuh manusia dalam waktu yang cukup lama untuk menjadi gametosit jantan dan betina dan menunggu saat yang tepat untuk ditularkan. Bila terjadi gangguan pada keseimbangan hospes parasit. penularan malaria mungkin terjadi melalui transfusi darah dan atau transplantasi sumsum tulang. Oleh karena itu.

kebiasaan istirahatnya. Hospes manusia yang baru. merozoit-merozoit yang dilepas dari sel hati tadi berubah menjadi trofozoit muda (bentuk cincin). tergantung dari dari spesiesnya. Dalam sel darah merah. pecah bersama sel darah merah yang diinfeksi.mempunyai kondisi biologis yang sesuai bagi parasit untuk berkembang menjadi bentuk yang infektif bagi manusia. masuk ke sel-sel parenkim hati. Sizon yang sudah matang dengan merozoit-merozoit di dalamnya dalam jumlah maksimal tertentu tergantung dari spesiesnya. Dalam sel-sel hati (hepatosit) sporozoit membelah diri secara aseksual. Dalam waktu yang sangat singkat (30 menit) semua sporozoit menghilang dari peredaran darah. yang ditandai dengan demam dan menggigil secara periodik. kondisi iklim setempat. yang dimaksudkan di sini adalah adanya kelompok manusia nonimun yang masuk ke wilayah endemis 4. tingkat berkembang biaknya. dan ini berkorelasi dengan munculnya gejala-gelaja malaria. termasuk adanya penderita malaria akut dan penderita tanpa gejala (asimtomatik) dan kadang-kadang malaria pada kera simpanse dengan parasitemia yang tinggi 2. yang segera masuk ke sel-sel darah merah. terutama faktor suhu dan kelembaban lingkungan 5. Sesudah sizon hati dalam sel hati menjadi matang. Manusia sebagai hoespes vertebrata pada dasarnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk ditulari parasit malaria. Satu siklus . kesesuaian spesies atau strain nyamuk Anopheles sebagai vektor. dan berubah menjadi sizon hati. Sebagai kesimpulan dari keseimbangan ketiga faktor di atas. Peristiwa pecahnya sizon-sizon bersama sel-sel darah merah yang diinfeksinya disebut proses sporulasi. kondisi geografis dan hidrografis setempat. reservoar. 1. tingkat penularan malaria di suatu wilayah ditentukan oelh hal-hal berikut. 3. dan jumlahnya. ditambah dengan aktivitas dan tingkah laku manusia. Trofozoit muda tumbuh menjadi trofosoit dewasa. Siklus Hidup Parasit Malaria Siklus hidup parasit malaria dimulai bila seseorang digigit nyamuk Anopheles (betina) yang mengandung sporozoit. tergantung dari spesies parasit malaria yang menginfeksi. memengaruhi tingkat terpajan dan akses mereka kepada tempat-tempat perindukan nyamuk Anopheles 6. Keseluruhan siklus yang terjadi berulang dalam sel darah disebut siklus eritrositik aseksual atau sizogoni darah. dan selanjutnya membelah diri menjadi sizon.000 merozoit. Sporozoit-sporozoit yang masuk bersama ludah nyamuk masuk ke peredaran darah. Dicerminkan oleh tingkat prevelensi malaria pada manusia. bentuk ini bersama sel hati yang diinfeksi pecah dan mengeluarkan antara 5.000-30. Seluruh proses tadi memerlukan waktu antara 6 sampai 12 hari untuk menjadi lengkap. kebiasaan makan. dan terjadinya malaria sangat ditentukan oleh status imunitasnya. jarak terbangnya. vektor. dan merozoit-merozoit yang dilepas itu kembali menginfeksi sel-sel darah merah lain untuk mengulang siuklus tadi.

Seluruh fase perubahan yang dialami Plasmodium falciparum dalam tubuh nyamuk vektornya berlangsung antara 11-14 hari. yaitu beberapa bulan antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama. Jika gametotosit yang matang siap diisap oleh nyamuk Anopheles. Pada infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. di dalam lambung nyamuk terjadi proses ekflagelasi pada gametosirt jantan. 9-12 hari untuk Plasmodium vivax. Strain Plasmodium vivax lainnya ditandai oleh rentang waktu yang lebih lama. dan berubah menjadi sizon lagi. Di dalam dinding lambung paling luar. menghasilkan zigot dengan bentuknya yang memanjang. Siklus EE sekunder bisa menyebabkan kekambuhan. Relapse disebabkan oleh merozoit-merozoit yang masuk ke peredaran darah. Siklus terakhir ini disebut siklus eritrositik seksual atau gametogoni. menyebabkan pola periodesitas tertiana (setiap hari ketiga) dan 72 jam untuk Plasmodium malariae. Di dalam ookista dihasilkan puluhan ribu sporozoit. yang disebut relapse. beberapa merozoit tidak lagi menjadi sizon. Selanjutnya pembuahan terjadi antara satu sel gamet jantan (mikrogamet) dan satu sel gamet betina (makrogamet). bisa selama beberapa bulan atau beberapa tahun. tetapi berubah menjadi gametosit dalam sel darah merah. 1415 hari untuk Plasmodium ovale.sizogoni darah berlangsung lengkap antara 44-49 jam untuk Plasmodium falciparum. dan 15-21 hari untuk Plasmodium malariae. ookinet mengalami pembelahan inti menghasilkan sel-sel yang memenuhi kista yang membungkusnya. dan Plasmodium ovale. Siklus EE sekunder berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama daripada siklus EE primer. dan Plasmodium ovale. Siklus EE sekunder tidak terjadi pada infeksi dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Sporozoit bersifat infektif bagi manusia jika masuk ke peredaran darah. lalu berubah menjadi ookinet yang bentuknya vermiformis dan bergerak aktif menembus mukosa lambung. yang terdiri dari gametosit jantan dan betina. Plasmodium vivax. yang berasal dari siklus EE sekunder. yaitu dikeluarkannya 8 sel gamet jantan (mikrogamet) yang bergerak aktif mencari sel gamet betina. Setelah siklus sizogoni darah berulang kembali beberapa kali. saat pecahnya sizon kriptozoit dalam sel hati. dan dalam beberapa jam saja menumpuk di dalam kelenjar ludah nyamuk. . pada malaria yang disebabkan oleh Plasmodium vivax. disebut ookista. menyebabkan ookista pecah dan menyebarkan sporozoit-sporozoit yang berbentuk seperti rambut ke seluruh bagian rongga badan nyamuk (hemosel). Siklus kedua yang berlangsung di dalam sel hati disebut siklus eksoeritrositik sekunder (= para-eritrositik). menyebabkan pola kuartana (tiap hari keempat). sebagian dari merozoit-merozoit yang lepas kembali menginfeksi sel parenkim hati yang lain. Suatu strain Plasmodium vivax mempunyai pola relaps yang ditandai oleh rentang waktu yang singkat antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama.

Sedangkan yang masuk dalam faktor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal. Plasmodium falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam sirkulasi. sejak semula ada sekelompok sporozoit yang menjalani suatu bentuk uninukleat yang dormant atau laten di dalam sel hati. Patogenesis malaria falciparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor penjamu (host). Gejala Klinis 7. dan virulensi parasit. merasa mual di ulu hati. Patogenesis dan Patologi Setelah melalui jaringan hati. Parasit dalam eritrosit (EP) secara garis besar mengalami dua stadium. Patogenesa malaria yang banyak diteliti adalah patogenesa malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. atau muntah. 28 hari untuk malaria kuartana. biasanya penderita merasa lemah. 14 hari untuk malaria vivax. kehilangan nafsu makan. Jenis kekambuhan yang terakhir disebut rekrudesensi.1 Gejala umum Malaria Gejala malaria terdiri dari beberapa serangan demam dengan interval tertentu (disebut paroksisme). genetik. dan 17 hari untuk malaria ovale. Masa tunas malaria sangat tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. 8. diselingi oleh suatu periode yangt penderitanya bebas sama sekali dari demam (disebut periode laten).Kekambuhan pada malaria Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae disebabkan oleh sisa-sisa Plasmodium yang berasal dari siklus sizogoni darah. sebuah teori lain menyatakan bahwa pada infeksi oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. dan apabila sizon ini pecah menimbulkan relaps atau malaria sekunder. Selanjutnya parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. Bentuk aseksual parasit dalam eritrosit (EP) inilah yang bertanggung jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia. yang kemudian akan menjalani proses sizogoni melalui fase EE sekunder. Yang termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi. mengeluh sakit kepala. dan status imunologi. 7. yaitu stadium cincin pada 24 jam pertama dan stadium matur pada 24 jam kedua. Merozoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. masa tunas adalah 12 hari untuk malaria falciparum. disebut bentuk hipnozoit. usia. status nutrisi. yang terpanjang pada malaria kuartana (Plasmodium malariae). yang penularannya melalui gigitan nyamuk. Permukaan EP stadium cincin akan menampilkan antigen RESA . Masa tunas paling pendek dijumpai pada malaria falciparum. yang memperbanyak diri samapi mencapai jumlah yang cukup untuk menimbulkan malaria sekunder. densitas parasit. Sebelum timbulnya demam. Sedikit lain dengan teori di atas. Gejala yang khas tersebut biasanya ditemukan pada penderita non-imun. Pada malaria yang alami. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis di limpa akan menginvasi eritrosit.

Gejala Klinis Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita. merasa dingin di punggung. 11. Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan. yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah. limpa akan teraba setelah tiga hari dari serangan infeksi akut. baru kemudian polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. kemoprofilaksis dan pengobatan sebelumnya. limpa menjadi bengkak. Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan Histidin Rich-protein-1 (HRP-1) sebagai komponen utamanya. dan periode berkeringat. nyeri sendi dan tulang. keadaan kesehatan dan nutrisi. eritrofagositosis. Puncak serangan panas terjadi berbarengan dengan lepasnya merozoit-merozoit ke dalam peredaran darah (proses sporulasi). Gejala yang klasik yaitu terjadinya ’Trias Malaria’ secara berurutan : periode dingin. Suatu paroksisme demam biasanya mempunyai tiga stadium yang berurutan sebagai berikut : . ada dugaan konstitusi genetik. Untuk beberapa hari pertama. malaise. Berat/ ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis Plasmodium (Plasmodium falciparum memberikan komplikasi). Limpa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria. anemia. Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni. hambatan eritropoiesis sementara. dan pengaruh sitokin. perut tidak enak. umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat). 9. diare ringan dan kadang-kadang dingin. Beberapa mekanisme terjadinya anemia adalah : pengrusakan eritrosit oleh parasit. akan dilepaskan toksin malaria berupa GPI yaitu glikosilfosfatidilinositol yang merangsang pelepasan TNF-alpha dan interleukin-1 (IL-1) dari makrofag.(Ring-erithrocite surgace antigen) yang menghilang setelah parasit masuk stadium matur. tingginya transmisi infeksi malaria. daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan). Manifestasi Umum Malaria Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik. Pada malaria falciparum pola panas yang ireguler itu mungkin berlanjut sepanjang perjalanan penyakitnya sehingga tahapan-tahapannya yang klasik tidak begitu nyata terlihat. sakit kepala. hemolisis oleh karena proses complement mediated immune complex. nyeri dan hiperemis. pola panas tidak beraturan. anoreksia. periode panas. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. dan splenomegali. Pembesaran limpa (splenomegali) sering dijumpai pada penderita malaria. Pola demam malaria Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme. sakit belakang. demam ringan. 10. penghambatan pengeluaran retikulosit.

umur dan tingkat imunitas penderita. Sesudah serangan panas pertama. termasuk pigmen ke darah memicu dihasilkannya tumor necrosis factor (TNF) oleh sel-sel makrofag yang teraktifkan. ia merasa lemah. ditentukan oleh waktu yang diperukan oleh siklus aseksual/ sizogoni darah untuk menghasilkan sizon yang matang. Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 410C. dan demikian selanjutnya. 12.1. Stadium ini berlangsung selama 2-4 jam. pada stadium ini penderita mengalami serangan demam. sakit kepala bertambah keras. Nadi penderita cepat. Demam terjadi menyusul pecahnya sizon-sizon darah yang telah matang dengan akibat masuknya merozoit-merozoit. Namun suhu badan pada fase ini turun dengan cepat. Pada malaria oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale sizon-sizon pecah . Kulitnya kering dan pucat. Stadium demam Setelah menggigil/ merasa dingin. misalnya pada malaria falciparum yang berat. terjadi interval bebas panas selama antara 48-72 jam. Demam yang tinggi dan beratnya gejala klinis yang lainnya. dan ini tergantung pada spesies parasit. yang sangat dipengaruhi oleh spesies Plasmodium yang menginfeksi. lalu diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertama. Bibir dan jari-jari pucat kebiru-biruan (sianotik). Masuknya toksin-toksin. kadang-kadang samapi di bawah normal. Stadium ini berlangsung selama 15 menit-1 jam. Mekanisme Paroksisme Panas Paroksisme demam pada malaria mempunyai interval tertentu. Stadium dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. Nadi penderita menjadi kuat kembali. Stadium ini berlangsung 2-4 jam. dan sering disertai dengan rasa mual atau muntahmuntah. Gejala-gejala malaria ’klasik’ seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap penderita. dan kotoran/ debris sel ke dalam peredaran darah. 2. tetapi lemah. kulitnya kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar. Stadium berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali. tapi tanpa gejala lain. penderita mungkin muntah dan pada penderita anak sering terjadi kejang. sampai membasahi tempat tidur. Muka penderita menjadi merah. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat terjaga. mempunyai hubungan dengan tingginya kadar TNF dalam darah. pigmen. toksin. 3.

13. Umumnya relaps terjadi beberapa bulan (biasanya > 24 minggu) sesudah malaria primer. terutama pada malaria falciparum. Pada malaria karena Plasmodium falciparum rekrudesensi terjadi dalam beberapa hari atau minggu (biasanya <8 minggu) sesudah serangan malaria primer. Berulangnya serangan malaria yang bersumber dari siklus EE sekunder pada malaria vivax/ ovale disebut relaps. Pada malaria karena Plasmodium malariae pecahnya sizon (sporulasi ) terjadi setiap 72 jam sekali.setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap hari ketiga. Kekambuhan malaria seperti ini disebut rekrudesensi. dan wanita hamil cenderung menderita malaria asimptomatik. Malaria pada wanita hamil sering menyebabkan hipoglikemi. dengan puncak panas cenderung mengikuti pola malaria tertiana (disebut malaria subtertiana). Malaria pada Kehamilan Pada wanita hamil. suatu saat kemudian penderita bisa mendapat serangan malaria yang kedua (malaria sekunder). Sebaliknya pada wilayah dengan tingkat transmisi Plasmodium falciparum yang tinggi terjadi imunitas yang tinggi. atau kematian ibu sendiri.kekambuhan terjadi dalam rentang waktu yang jauh lebih lama. biasanya panas badan di atas normal setiap hati. Namun pada malaria karena Plasmodium malariae -karena suatu mekanisme yang belum begitu jelas. Oleh karena itu. Pada wilayah dengan tingkat penularan Plasmodium falciparum yang rendah terjadi imunitas yang didapat yang rendah apada penduduk sehingga wanita hamil di daerah ini cenderung menderita malaria yang berat. Kekambuhan (Relaps dan Rekrudesensi) Serangan malaria yang pertama terjadi sebagai akibat infeksi parasit malaria. disebut long-term relapse. tetapi menyebabkan anemia . Akibatnya terjadi abortus. disebut short-term relapse. serangan panas terjadi setiap hari keempat (malaria kuartana). sesudah serangan yang pertama berakhir atau disembuhkan. bayi mati dalam kandungan. dengan adanya siklus ekso-eritrositik sekunder atau hipnozoit dalam sel hati. Pada infeksi oleh Plasmodium vivax / Plasmodium ovale. Pada malaria karena Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Kemungkinan berulangnya serangan malaria pada kedua jenis malaria ini disebabkan oleh kecenderungan parasit malaria bersisa dalam darah. Pada Plasmodium falciparum kejadiannya mirip dengan infeksi oleh Plasmodium vivax. Gejala-gejala malaria cenderung menjadi lebih berat. hanya interval demamnya tidak jelas. yang terhitung dari serangan demam sebelumnya (malaria tertiana). disebut malaria primer (berkorelasi dengan siklus sizogoni dalam sel darah merah). karena kedua spesies ini tidak memiliki siklus EE sekunder dalam hati. Bisa terjadi beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun sejak serangan malaria pertama. relaps dalam pengertian seperti di atas tidak terjadi. yang kemudian membelah diri bertambah banyak sampai bisa menimbulkan gejala malaria sekunder. 14. Terjadi penurunan daya pertahanan tubuh atau imunitas karena kehamilan itu sendiri.

mungkin terjadi sebagai akibat perpindahan infeksi parasit malaria dari ibu ke bayinya melalu peredaran darah plasenta yang mengalami kerusakan. 15. Pemeriksaan mikroskopis terhadap sediaan darah merupakan gold standard dalam diagnosis malaria. diagnosa banding tergantung manifestasi malaria beratnya. dan leptospirosis. tifoid ensefalopati. Pewarnaan yang paling banyak dipakai adalah pewarnaan Giemsa (untuk sediaan tipis dan tebal). ensefalitis. Tehnik Quantitative Coat (QBC) b. dengan membuat sediaan darah tipis maupun sediaan darah tebal. Berbagai pemeriksaan baru untuk malaria a. yaitu sediaan tipis dan sediaan tebal. diupayakan sebisanya agar wanita hamil non-imun tidak memasuki wilayah endemis malaria. Dip stick test d. yang juga dijumpai hampir pada semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada sistem respiratorius. Pemeriksaan serologi tidak diperuntukkan untuk diagnosis malaria yang akut. walaupun jarang. tripanososmiasis. pewarnaa Field (untuk sediaan tebal). Menetesi sediaan tipis atau tebal dengan larutan akridin oranye c. Bagi wanita hamil yang hidup di wilayah endemis malaria perlu diberikan perlindungan secara khusus untuk mencegah ditulari malaria. Hepatitis pada saat timbul ikterus biasanya tidak dijumpai demam lagi. Pada daerah hiperendemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis malaria. Kedua kondisi ini menyebabkan berat badan bayi yang rendah dan angka mortalitas neonatus yang tinggi. Berdasarkan hal-hal diatas. sediaan darah itu perlu diberikan pewarnaan lebih dulu. demam dengue. Tehnik biomelekular 16. Pada malaria dengan ikterus. Tehnik imunoserologi e. Pada malaria berat. dan infeksi bakterial lainnya seperti pneumonie. tuberkulosis. Pada malaria serebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti meningitis. dan Leishman (untuk sediaan tipis) 2. abses hati. infeksi saluran kencing. tetapi bisa dideteksi penyakit malaria yang lampau dan perannya adalah dalam penelitian epidemiologi. kolesistitis. demam tifoid. 1. malaria kongenital. influenza. Diagnosis Banding Malaria Demam merupakan salah satu gejala malaria yang menonjol. Oleh karena itu. Agar bisa melihat parasit malaria secara jelas di bawah mikroskop.dan parasitemia pada peredaran darah plasenta. cara diagnosis malaria yang paling penting adalah dengan memeriksa darah penderita secara mikroskopis. Penurunan . Pemeriksaan darah Ada dua jenis sediaan darah malaria. Pemeriksaan Laboratorium Diagnosis malaria secara pasti bisa ditegakkan jika ditemukan parasit malaria dalam darah penderita. diagnosa banding ialah demam tifoid dengan hepatis.

1 minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali. dan Azitromycin. yaitu : vaksin sporozoin (bentuk intra-hepatik). Menggunakan obat pembunuh nyamuk 3. Vaksin sporozoit bertujuan mencegah sporozoit menginfeksi sel hati sehingga diharapkan infeksi tidak terjadi. Vaksin bentuk aseksual yang pernah dicoba adalah SPF-66 atau yang dikenal sebagai vaksin Patarroyo. Oleh karenanya masih sangat dianjurkan untuk memperhatikan tindakan pencegahan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara : 1. hal yang menyulitkan ialah banyaknya antigen yang erdapat pada plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur plasmodium. vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. kaus/stoking). Pencegahan dan Vaksin Malaria Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang nonimun. Kemo-profilaksis yang dianjurkan ternyata tidak memberikan perlindungan secara penuh.5mg/kgBB/hari. dan tumor otak.00. gangguan serebro-vaskular (strok). walaupun demikian uji lapangan sedang dalam persiapan. Mencegah berada di alam bebas di mana nyamuk dapat mengigit atau harus memakai proteksi (baju dengan lengan panjang. Uji coba pada manusia tampaknya memberikan perlindungan yang bermanfaat. uremi). HOFFMAN berpendapat bahwa vaksin yang ideal ialah vaksin yang multi-stage . Memroteksi tempat tinggal/ kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti nyamuk Bila akan digunakan kemoprofilaksis perlu diketahui sensitivitas plasmodium di tempat tujuan. Etaquin. epilepsi. Vaksinasi terhadap malaria masih tetap dalam pengembangan. Nyamuk akan menggigit diantara jam 18. Vaksin ini dikembangkan melalui ditemukannya antigen circumsporozoit. Atovaquone/Proguanil. Profilaksis ini juga dipakai pada wanita hamil di daerah endemik atau pada individu yang terbukti imunitasnya rendah (sering terinfeksi malaria). Pada daerah dengan resisten klorokuin dianjurkan doksisiklin 100mg/hari atau mefloquin 250mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/ minggu ditambah proguanil 200mg/ hari. eklampsia. khususnya pada turis nasional maupun internasional. Obat baru yang dipakai untuk pencegahan yaitu primakuin dosis 0. Pada dasarnya ada tiga jenis vaksin yang dikembangkan. 4. Bila daerah dengan klorokuin sensitif (seperti Minahasa) cukup profilaksis dengan 2 tablet klorokuin (250mg klorokuin diphospat) tiap minggu. Nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 m. 17. Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida : pemethrin atau deltamethrin) 2.00-06.kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik (diabetes. Oleh karena yang berbahaya adalah Plasmodium falciparum sekarang baru ditujukan pada pembuatan vaksin untuk proteksi terhadap Plasmodium falciparum. yang pada penelitian akhir-akhir ini tidak dapat dibuktikan manfaatnya.

Golongan 4-kuinolon-metanol : meflokuin 2. tidak kalah penting adalah pengobatan penunjang. Vaksin ini dengan teknologi DNA akan diharapkan memberikan respon terbaik dan harga yang kurang mahal. kinkonin b. faktor pilihan dan penggunaan obat-obat antimalaria yang efektif disesuaikan dengan jenis kasus malaria yang dihadapi merupakan hal yang sangat penting. Golongan 9-fenatren-metanol : halofantrin 3. Derivat kuinolon a. doksisiklin. alkaloid kinkona : kinina. sekarang sudah tersedia beberapa obat yang lebih baru. multivalen (terdiri dari beberapa antigen) sehingga memberikan respon multi-imun. Diaminopirimidin : pirimetamin b. Tetrasiklin. Dalam tabel tersebut terlihat jelas bahwa ada obat-obat anti-malaria yang mempunyai efek membunuh fase ekso-eritrositik primer dan sekunder (oleh . kejang. Antibiotik a. Derivat dihirofolate reductase(DHFR) inhibitors a. yang dibagi menurut golongan kimianya antara lain : 1. keseimbangan asam-basa. sulfadiazin. aseksual). Pengobatan Dalam pengobatan malaria. hiperpireksia. Di samping itu. misalnya perbaikan keseimbangan cairan dan elektrolit. Biguanid : proguanil 4. sulfalen b. Ternyata golongan obat-obat anti-malaria tertentu mempunyai efek yang berbeda terhadap stadium dan spesies Plasmodium yang berlainan. Golongan hidroksi-naftokuinon : atovakon 4. 4 amino-kuinolon : klorokuin dan amodiakuin c. derivat sulfon : dapson 3. derivat sulfonamid : sulfadoksin. yang diperlukan untuk memperbaiki gangguan patofisiologi penderita sebagai komplikasi malaria yang berat. kuinidin.(sporozoit. 8 amino-kuinolon : primakuin 2. Obat-obat anti-malaria yang umum dipakai menurut golongan kimianya adalah : 1. klindamisin Di samping obat-obat anti-malaria di atas. muntah. 18. mengatasi anemia. Golongan seskuiterpen lakton : artemisinin Obat artemisinin dan derivatnya diisolasi dan dikembangkan dari bahan obat “Qinghaosu”(Artemisia annua) yang telah lama sekali dipakai secara tradisional di negeri Cina. dan kegagalan fungsi ginjal. Tabel berikut memuat beberapa jenis obat antimalaria yang sudah lama dipakai serta efek kerja farmakologi masing-masing terhadap empat Plasmodium manusia dalam beberapa stadium yang dijalani dalam siklus hidupnya. hipoglikemi. Derivat para amino benzoic acid (PABA) competitors a.

masalah resistensi terhadap obat-obat anti-malaria yang terjadi pada Plasmodium. Resistensi terhadap obat anti-malaria yang bekerja lemah dan lambat terhadap fase sizogoni daraha secara relatif lebih cepat timbulnya dibandingkan dengan resitensi terhadap obat yang bekerja kuat dan cepat terhadap sizogoni darah. yaitu memakai dua jenis atau lebih obat sizontosida darah yang mempunyai cara kerja farmakologi yang berbeda terhadap parasit malaria. primakuin dipakai untuk mencegah terjadinya relaps pada malaria vivax/ ovale (dipakai bersama klorokuin dalam pengobatan radikal). Obat-obat yang efeknya kuat terhadap gametosit disebut sebagai gametosida.karena itu. Resistensi Plasmodium terhadap Obat Malaria Resistensi obat didefinisikan sebagai kemampuan strain parasit malaria untuk dapat hidup dan/atau berkembang biak walaupun telah diberi obat dalam dosis standar atau lebih tinggi daripada dosis standar. Tujuan utama pemakaian kombinasi obat-obat antimalaria ini selain untuk meningkatkan efek obat-obat bersangkutan secara sinergis dan aditif.falciparum terhadap klorokuin baru terjadi kira-kira sesudah 15-20 tahun dipakai dalam pengobatan malaria. maka yang paling banyak mendapat perhatian adalah resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat antimalaria lainnya. contohnya adalah primakuin. berkembang suatu kecenderungan diantara para ahli untuk memakai obat-obat anti-malaria dalam kombinasi. resistensi Plasmodium terhadap pirimetamin dan proguanil sudah diketahui sejak lama. untuk mengobati malaria falciparum. . ada obat-obat yang mempunyai efek menghambat pertumbuhan gamet dalam nyamuk (sporontosida). Dalam pengobatan malaria. resistensi P. dan klorokuin terhadap gametosit Plasmodium vivax/ovale/malariae. terutama Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin dan obat-obat anti-malaria lain merupakan masalah yang rumit dan serius. contohnya adalah proguanil. Oleh karena itu. Secara umum resistensi terjadi sebagai akibat seleksi dan mutasi genetik pada parasit malaria. Di Indonesia. Ini disebabkan oleh pemakaian obat anti-malaria tertentu dalam waktu yang lama.disebut sizontosida darah oleh karena itu menjadi pilihan untuk mengobati serangan akut malaria. Falciparum secara tepat terhadap setiap obat. Dengan demikian. Ini terjadi hanya beberapa tahun sejak keduanya dipakai untuk profilaksis malaria. Selain itu. tetapi masih dalam batas toleransi penderita. Klorokuin. juga mencegah timbulnya resistensi P. sudah semestinya diperhatikan. Melihat akibat serius yang bisa terjadi karena adanya resistensi terhadap obat anti-malaria. Belakangan sebagai respon terhadap terjadinya resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat lain. disebut sizontosida jaringan). Sebaliknya. jika dipakai sendiri-sendiri. kina dan meflokuin mempunyai efek yang kuat dan cepat terhadap fase eritrositik aseksual (). contohnya adalah primakuin terhadap gametosit Plasmodium falciparum. 19. amodiakuin.

atovakuon-proguanil + artesunat b. R. 2010.. dan meflokuin + artesunat/ artemisinin. Agoes. Kegagalan fungsi organ. Dalam Malaria dari Molekuler ke Klinis. Patogenesis Molekuler Plasmodium falciparum. Natadisastra. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 044/ Menkes/ SK/I/2007 tentang Pedoman Pengobatan Malaria. W.  Kemenkes RI.. klorokuin +artesunat. Parasitologi Kedokteran. R. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Edisi I.  Noviyanti. DAFTAR PUSTAKA  WHO. 2011. I. Kegagalan fungsi organ dapat terjadi pada malaria berat terutama organ-organ vital. klorokuin + sulfadoksin-pirimetamin (SP). Kombinasi yang saat ini masih diteliti khasiat dan keamanannya antara lain adalah a. 3. Pribadi. Kepadatan parasit. amodiakuin+ SP 3. Prognosis Malaria Prognosis malaria tergantung pada : 1. D.. Susceptibility of Plasmodium Falciparum to Antimalarial Drugs: Report on global monitoring 1996-2004. terlebih lagi bila didapatkan bentik sizon dalam pemeriksaan darah tepinya. 2007. 2005. semakin baik prognosisnya. FKUI Press. semakin buruk prognosisnya. 2009. Parasitologi Kedokteran Ditinjau Dari Organ .Kombinasi obat-obat antimalaria yang sudah agak lama dipakai dalam pengobatan malaria falciparum adalah 1. 4. Makin cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya 2..   Sutanto. semakin padat/ banyak jumlah parasitnya yang didapatkan. kombinasi antara sulfadoksin + pirimetamin (SP) (Fansidar) 2. SP + artesunat. 2008. Kecepatan/ ketepatan diagnosis dan pengobatan. dan amodiakuin + artesunat. EGC 2010  Depkes RI. Pada pemeriksaan hitung parasit.1:1-16. kina+ antibiotika. Epidemiologi Malaria di Indonesia. WHO Press. 20.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful