P. 1
Epidemiologi Malaria

Epidemiologi Malaria

|Views: 22|Likes:
Published by Novi Kemala Sari
Kedokteran Komunitas
Kedokteran Komunitas

More info:

Published by: Novi Kemala Sari on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2013

pdf

text

original

1.

Epidemiologi Malaria Malaria dapat ditemukan mulai dari belahan bumi utara (Amerika Utara sampai Eropa dan Asia) ke belahan bumi selatan (Amerika Selatan); mulai dari daerah dengan ketinggian 2850 m sampai dengan daerah yang letaknya 400m di bawah permukaan laut. Keadaan malaria di dunia saat ini diperkirakan terdapat 300-500 juta kasus malaria klinis/ tahun dengan 1,5-2,7 juta kematian. Sebanyak 90% kematian terjadi pada anak-anak dengan rasio 1: 4 anak balita di Afrika meninggal karena malaria. Di Asia Tenggara negara yang termasuk wilayah endemi malaria adalah : Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas pada semua pulau dengan derajar dan berat infeksi yang bervariasi. Menurut data yang berkembang hampir separuh dari populasi Indonesia bertempat tinggal di daerah endemik malaria dan diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya. Malaria di suatu daerah dapat ditemukan secara autokton, impor, induksi, introduksi, atau reintroduksi. Di daerah yang autokton, siklus hidup malaria dapat berlangsung karena adanya manusia yang rentan, nyamuk dapat menjadi vektor dan ada parasitnya. Introduksi malaria timbul karena adanya kasus kedua yang berasal dari kasus impor. Malaria reintroduksi bila kasus malaria muncul kembali yang sebelumnya sudah dilakukan eradikasi malaria. Malaria impor terjadi bila infeksinya berasal dari luar daerah (daerah endemi malaria). Malaria induksi bila kasus berasal dari transfusi darah, suntikan, atau kongenital yang tercemar malaria. Keadaan malaria di daerah endemi tidak sama. Derajat endemisitas dapat diukur dengan berbagai cara seperti angka limpa, angka parasit, dan angka sporozoit, yang disebut angka malariometri. Sifat malaria juga dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, yang tergantung pada beberapa faktor, yaitu : parasit yang terdapat pada pengandung parasit, manusia yang rentan, nyamuk yang dapat menjadi vektor, dan lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup masing-masing. 2. Cara Penularan Penularan malaria kebanyakan berlangsung secara alami, yaitu melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liuarnya, disebut masa tunas ekstrinsik. Sporozoit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu: 1. Secara alami melalui vektor, bila sporozoit dimasukkan ke dalam badan manusia dengan tusukan nyamuk 2. Secara induksi, bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja masuk dalam badan manusia.

Hal ini menyebabkan intensitas penulran malaria paling tinggi menjelang akhir musim penghujan.Walaupun jarang. Walaupun juga jarang. Nyamuk Anopheles yang menjadi vektor . dan Anopheles subpictus dan Anopheles maculatus sebagai vektor sekunder. 3. Anopheles sundaicus dan Anopheles aconitus merupakan vektor malaria utama. Penderita yang asimtomatik yang memiliki gametosit dalam darahnya bisa menjadi sumber penularan dengan perantaraan nyamuk vektornya. Di Jawa dan Bali. Kebiasaan mengigit nyamuk. 5. Lama hidup nyamuk dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Di indonesia ditemukan 80 spesies nyamuk Anopheles. karena berpindahnya infeksi malaria dari ibu ke bayinya melalui peredaran darah plasenta (malaria kongenital). melalui semprit injeksi yang terkontaminasi parasit malaria (pada pecandu narkotik). Hospes Reservoar Manusia merupakan satu-satunya reservoir malaria yang penting. terutama faktor suhu dan kelembaban udara. dan sesudah itu menggigit manusia lagi. Hubungan Hospes –Parasit-Lingkungan Dalam hubungan trias di atas parasit malaria mempertahankan hidupnya sebagai spesies dengan jalan berada dalam tubuh manusia dalam waktu yang cukup lama untuk menjadi gametosit jantan dan betina dan menunggu saat yang tepat untuk ditularkan. Untuk bisa berperan sebagai vektor malaria. penularan bisa terjadi secara kongenital selama bayi masih dalam kandungan. respon imun yang melemah sesudah operasi pengangkatan limpa. Oleh karena itu. Bila terjadi gangguan pada keseimbangan hospes parasit. parasit malaria tidak bisa dipertahankan dalam kondisi terkendali sehingga terjadi serangan akut malaria 4. yang menyebabkan timbulnya fluktuasi dalam lama dan intensitas penularan malaria dalam tahun yang sama atau diantara dua tahun yang berbeda. Suhu lingkungan berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan parasit malaria dalam tubuh nyamuk. Vektor Malaria Di bumi ini hidup sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles. menentukan potensinya sebagai vektor malaria. Begitu pula relaps atau kekambuhan malaria vivax menjadi lebih ringan dengan meningkatnya imunitas penderita. penularan malaria mungkin terjadi melalui transfusi darah dan atau transplantasi sumsum tulang. suatu strain Anopheles harus mempunyai kebiasaan mengigit manusia dan hidup cukup lama untuk memberi waktu yang diperlukan oleh parasit malaria untuk menyelesaikan siklus hidupnya sampai menghasilkan bentuk infektif. tetapi hanya 16 spesies yang berperan sebagai vektor malaria. Parasitemia dengan fase aseksual dan gametositemia pada malaria falciparum pada orang yang memiliki kekebalan yang tinggi bisa berlangsung tanpa gejala selama berbulan-bulan. misalnya karena pertahanan tubuh yang menurun pada trauma yang berat. tetapi hanya 60 spesies berperan sebagai vektor malaria yang alami. dengan populasi nyamuk meningkat secara signifikan. tingkat penularan malaria tergantung pada beberapa faktor biologis dan klimatis.

Keseluruhan siklus yang terjadi berulang dalam sel darah disebut siklus eritrositik aseksual atau sizogoni darah. vektor. termasuk adanya penderita malaria akut dan penderita tanpa gejala (asimtomatik) dan kadang-kadang malaria pada kera simpanse dengan parasitemia yang tinggi 2. dan ini berkorelasi dengan munculnya gejala-gelaja malaria. Hospes manusia yang baru. Peristiwa pecahnya sizon-sizon bersama sel-sel darah merah yang diinfeksinya disebut proses sporulasi. Trofozoit muda tumbuh menjadi trofosoit dewasa. Dalam waktu yang sangat singkat (30 menit) semua sporozoit menghilang dari peredaran darah. Dalam sel-sel hati (hepatosit) sporozoit membelah diri secara aseksual. bentuk ini bersama sel hati yang diinfeksi pecah dan mengeluarkan antara 5. yang dimaksudkan di sini adalah adanya kelompok manusia nonimun yang masuk ke wilayah endemis 4. kondisi iklim setempat. Sesudah sizon hati dalam sel hati menjadi matang. Sizon yang sudah matang dengan merozoit-merozoit di dalamnya dalam jumlah maksimal tertentu tergantung dari spesiesnya. tergantung dari dari spesiesnya.mempunyai kondisi biologis yang sesuai bagi parasit untuk berkembang menjadi bentuk yang infektif bagi manusia. tingkat berkembang biaknya. merozoit-merozoit yang dilepas dari sel hati tadi berubah menjadi trofozoit muda (bentuk cincin). dan terjadinya malaria sangat ditentukan oleh status imunitasnya. Dalam sel darah merah. dan berubah menjadi sizon hati.000 merozoit. kondisi geografis dan hidrografis setempat. pecah bersama sel darah merah yang diinfeksi. kebiasaan istirahatnya. Sebagai kesimpulan dari keseimbangan ketiga faktor di atas. dan selanjutnya membelah diri menjadi sizon. dan merozoit-merozoit yang dilepas itu kembali menginfeksi sel-sel darah merah lain untuk mengulang siuklus tadi. kebiasaan makan. yang ditandai dengan demam dan menggigil secara periodik. Manusia sebagai hoespes vertebrata pada dasarnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk ditulari parasit malaria. yang segera masuk ke sel-sel darah merah. tergantung dari spesies parasit malaria yang menginfeksi. Siklus Hidup Parasit Malaria Siklus hidup parasit malaria dimulai bila seseorang digigit nyamuk Anopheles (betina) yang mengandung sporozoit. 3.000-30. tingkat penularan malaria di suatu wilayah ditentukan oelh hal-hal berikut. Seluruh proses tadi memerlukan waktu antara 6 sampai 12 hari untuk menjadi lengkap. Satu siklus . masuk ke sel-sel parenkim hati. Sporozoit-sporozoit yang masuk bersama ludah nyamuk masuk ke peredaran darah. kesesuaian spesies atau strain nyamuk Anopheles sebagai vektor. Dicerminkan oleh tingkat prevelensi malaria pada manusia. terutama faktor suhu dan kelembaban lingkungan 5. 1. ditambah dengan aktivitas dan tingkah laku manusia. jarak terbangnya. memengaruhi tingkat terpajan dan akses mereka kepada tempat-tempat perindukan nyamuk Anopheles 6. reservoar. dan jumlahnya.

dan Plasmodium ovale. tetapi berubah menjadi gametosit dalam sel darah merah. disebut ookista. Plasmodium vivax. Siklus EE sekunder bisa menyebabkan kekambuhan. Siklus terakhir ini disebut siklus eritrositik seksual atau gametogoni. Setelah siklus sizogoni darah berulang kembali beberapa kali. Jika gametotosit yang matang siap diisap oleh nyamuk Anopheles. Siklus EE sekunder berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama daripada siklus EE primer. yang berasal dari siklus EE sekunder. Siklus EE sekunder tidak terjadi pada infeksi dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. . yang disebut relapse. Sporozoit bersifat infektif bagi manusia jika masuk ke peredaran darah. Di dalam dinding lambung paling luar. Di dalam ookista dihasilkan puluhan ribu sporozoit. beberapa merozoit tidak lagi menjadi sizon. dan dalam beberapa jam saja menumpuk di dalam kelenjar ludah nyamuk. menghasilkan zigot dengan bentuknya yang memanjang. dan berubah menjadi sizon lagi. 9-12 hari untuk Plasmodium vivax. lalu berubah menjadi ookinet yang bentuknya vermiformis dan bergerak aktif menembus mukosa lambung. Seluruh fase perubahan yang dialami Plasmodium falciparum dalam tubuh nyamuk vektornya berlangsung antara 11-14 hari. Siklus kedua yang berlangsung di dalam sel hati disebut siklus eksoeritrositik sekunder (= para-eritrositik). Pada infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. yaitu beberapa bulan antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama. menyebabkan pola kuartana (tiap hari keempat). Selanjutnya pembuahan terjadi antara satu sel gamet jantan (mikrogamet) dan satu sel gamet betina (makrogamet). yang terdiri dari gametosit jantan dan betina. menyebabkan ookista pecah dan menyebarkan sporozoit-sporozoit yang berbentuk seperti rambut ke seluruh bagian rongga badan nyamuk (hemosel). menyebabkan pola periodesitas tertiana (setiap hari ketiga) dan 72 jam untuk Plasmodium malariae. sebagian dari merozoit-merozoit yang lepas kembali menginfeksi sel parenkim hati yang lain. bisa selama beberapa bulan atau beberapa tahun. 1415 hari untuk Plasmodium ovale. saat pecahnya sizon kriptozoit dalam sel hati. Relapse disebabkan oleh merozoit-merozoit yang masuk ke peredaran darah. yaitu dikeluarkannya 8 sel gamet jantan (mikrogamet) yang bergerak aktif mencari sel gamet betina. dan Plasmodium ovale. Suatu strain Plasmodium vivax mempunyai pola relaps yang ditandai oleh rentang waktu yang singkat antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama.sizogoni darah berlangsung lengkap antara 44-49 jam untuk Plasmodium falciparum. pada malaria yang disebabkan oleh Plasmodium vivax. di dalam lambung nyamuk terjadi proses ekflagelasi pada gametosirt jantan. ookinet mengalami pembelahan inti menghasilkan sel-sel yang memenuhi kista yang membungkusnya. dan 15-21 hari untuk Plasmodium malariae. Strain Plasmodium vivax lainnya ditandai oleh rentang waktu yang lebih lama.

Bentuk aseksual parasit dalam eritrosit (EP) inilah yang bertanggung jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia. Gejala Klinis 7. Pada malaria yang alami. Jenis kekambuhan yang terakhir disebut rekrudesensi. dan 17 hari untuk malaria ovale. Plasmodium falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam sirkulasi. Yang termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi. sejak semula ada sekelompok sporozoit yang menjalani suatu bentuk uninukleat yang dormant atau laten di dalam sel hati. biasanya penderita merasa lemah. diselingi oleh suatu periode yangt penderitanya bebas sama sekali dari demam (disebut periode laten). yaitu stadium cincin pada 24 jam pertama dan stadium matur pada 24 jam kedua. densitas parasit.Kekambuhan pada malaria Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae disebabkan oleh sisa-sisa Plasmodium yang berasal dari siklus sizogoni darah. merasa mual di ulu hati. 14 hari untuk malaria vivax. Selanjutnya parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. dan status imunologi. 8. Sebelum timbulnya demam. 28 hari untuk malaria kuartana. Masa tunas malaria sangat tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. Permukaan EP stadium cincin akan menampilkan antigen RESA . yang memperbanyak diri samapi mencapai jumlah yang cukup untuk menimbulkan malaria sekunder. Gejala yang khas tersebut biasanya ditemukan pada penderita non-imun. Patogenesis malaria falciparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor penjamu (host). mengeluh sakit kepala. Sedikit lain dengan teori di atas. disebut bentuk hipnozoit. Sedangkan yang masuk dalam faktor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal. Merozoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. status nutrisi. Parasit dalam eritrosit (EP) secara garis besar mengalami dua stadium. Patogenesa malaria yang banyak diteliti adalah patogenesa malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. 7. sebuah teori lain menyatakan bahwa pada infeksi oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. yang terpanjang pada malaria kuartana (Plasmodium malariae). atau muntah. yang penularannya melalui gigitan nyamuk. masa tunas adalah 12 hari untuk malaria falciparum. genetik. dan virulensi parasit. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis di limpa akan menginvasi eritrosit. Masa tunas paling pendek dijumpai pada malaria falciparum.1 Gejala umum Malaria Gejala malaria terdiri dari beberapa serangan demam dengan interval tertentu (disebut paroksisme). dan apabila sizon ini pecah menimbulkan relaps atau malaria sekunder. usia. Patogenesis dan Patologi Setelah melalui jaringan hati. kehilangan nafsu makan. yang kemudian akan menjalani proses sizogoni melalui fase EE sekunder.

10. Limpa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria. tingginya transmisi infeksi malaria. Puncak serangan panas terjadi berbarengan dengan lepasnya merozoit-merozoit ke dalam peredaran darah (proses sporulasi). demam ringan. limpa akan teraba setelah tiga hari dari serangan infeksi akut. dan periode berkeringat. 11. Beberapa mekanisme terjadinya anemia adalah : pengrusakan eritrosit oleh parasit. pola panas tidak beraturan. diare ringan dan kadang-kadang dingin. periode panas. limpa menjadi bengkak. Gejala yang klasik yaitu terjadinya ’Trias Malaria’ secara berurutan : periode dingin. hemolisis oleh karena proses complement mediated immune complex. Pembesaran limpa (splenomegali) sering dijumpai pada penderita malaria. Pola demam malaria Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme. eritrofagositosis. umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat). hambatan eritropoiesis sementara. merasa dingin di punggung. daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan). sakit kepala. dan splenomegali. ada dugaan konstitusi genetik. anemia. perut tidak enak. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan. penghambatan pengeluaran retikulosit. Gejala Klinis Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita. 9. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. Manifestasi Umum Malaria Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik. kemoprofilaksis dan pengobatan sebelumnya. Berat/ ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis Plasmodium (Plasmodium falciparum memberikan komplikasi). Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan Histidin Rich-protein-1 (HRP-1) sebagai komponen utamanya. Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni. sakit belakang. akan dilepaskan toksin malaria berupa GPI yaitu glikosilfosfatidilinositol yang merangsang pelepasan TNF-alpha dan interleukin-1 (IL-1) dari makrofag.(Ring-erithrocite surgace antigen) yang menghilang setelah parasit masuk stadium matur. keadaan kesehatan dan nutrisi. nyeri sendi dan tulang. dan pengaruh sitokin. Untuk beberapa hari pertama. anoreksia. yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah. Pada malaria falciparum pola panas yang ireguler itu mungkin berlanjut sepanjang perjalanan penyakitnya sehingga tahapan-tahapannya yang klasik tidak begitu nyata terlihat. nyeri dan hiperemis. malaise. baru kemudian polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. Suatu paroksisme demam biasanya mempunyai tiga stadium yang berurutan sebagai berikut : .

3. Stadium berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali. penderita mungkin muntah dan pada penderita anak sering terjadi kejang. Sesudah serangan panas pertama. pada stadium ini penderita mengalami serangan demam. kadang-kadang samapi di bawah normal. Namun suhu badan pada fase ini turun dengan cepat. misalnya pada malaria falciparum yang berat. dan sering disertai dengan rasa mual atau muntahmuntah. 12. termasuk pigmen ke darah memicu dihasilkannya tumor necrosis factor (TNF) oleh sel-sel makrofag yang teraktifkan. kulitnya kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar. Kulitnya kering dan pucat. terjadi interval bebas panas selama antara 48-72 jam. Demam terjadi menyusul pecahnya sizon-sizon darah yang telah matang dengan akibat masuknya merozoit-merozoit. toksin. dan demikian selanjutnya. pigmen. ia merasa lemah. Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 410C. umur dan tingkat imunitas penderita. Demam yang tinggi dan beratnya gejala klinis yang lainnya. 2. Stadium dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. Pada malaria oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale sizon-sizon pecah . Stadium ini berlangsung selama 2-4 jam. Nadi penderita cepat. Nadi penderita menjadi kuat kembali. tetapi lemah. sakit kepala bertambah keras. mempunyai hubungan dengan tingginya kadar TNF dalam darah. tapi tanpa gejala lain. dan ini tergantung pada spesies parasit. Bibir dan jari-jari pucat kebiru-biruan (sianotik). Stadium ini berlangsung selama 15 menit-1 jam. dan kotoran/ debris sel ke dalam peredaran darah. lalu diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertama.1. sampai membasahi tempat tidur. Mekanisme Paroksisme Panas Paroksisme demam pada malaria mempunyai interval tertentu. Masuknya toksin-toksin. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat terjaga. Stadium demam Setelah menggigil/ merasa dingin. Stadium ini berlangsung 2-4 jam. Muka penderita menjadi merah. Gejala-gejala malaria ’klasik’ seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap penderita. ditentukan oleh waktu yang diperukan oleh siklus aseksual/ sizogoni darah untuk menghasilkan sizon yang matang. yang sangat dipengaruhi oleh spesies Plasmodium yang menginfeksi.

tetapi menyebabkan anemia . Sebaliknya pada wilayah dengan tingkat transmisi Plasmodium falciparum yang tinggi terjadi imunitas yang tinggi.kekambuhan terjadi dalam rentang waktu yang jauh lebih lama. Kekambuhan (Relaps dan Rekrudesensi) Serangan malaria yang pertama terjadi sebagai akibat infeksi parasit malaria. hanya interval demamnya tidak jelas. disebut short-term relapse.setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap hari ketiga. karena kedua spesies ini tidak memiliki siklus EE sekunder dalam hati. yang terhitung dari serangan demam sebelumnya (malaria tertiana). bayi mati dalam kandungan. Bisa terjadi beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun sejak serangan malaria pertama. suatu saat kemudian penderita bisa mendapat serangan malaria yang kedua (malaria sekunder). Kemungkinan berulangnya serangan malaria pada kedua jenis malaria ini disebabkan oleh kecenderungan parasit malaria bersisa dalam darah. yang kemudian membelah diri bertambah banyak sampai bisa menimbulkan gejala malaria sekunder. 13. Pada malaria karena Plasmodium falciparum rekrudesensi terjadi dalam beberapa hari atau minggu (biasanya <8 minggu) sesudah serangan malaria primer. Terjadi penurunan daya pertahanan tubuh atau imunitas karena kehamilan itu sendiri. dan wanita hamil cenderung menderita malaria asimptomatik. Malaria pada wanita hamil sering menyebabkan hipoglikemi. dengan puncak panas cenderung mengikuti pola malaria tertiana (disebut malaria subtertiana). Pada infeksi oleh Plasmodium vivax / Plasmodium ovale. atau kematian ibu sendiri. serangan panas terjadi setiap hari keempat (malaria kuartana). Pada malaria karena Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Berulangnya serangan malaria yang bersumber dari siklus EE sekunder pada malaria vivax/ ovale disebut relaps. disebut malaria primer (berkorelasi dengan siklus sizogoni dalam sel darah merah). Gejala-gejala malaria cenderung menjadi lebih berat. Malaria pada Kehamilan Pada wanita hamil. Pada wilayah dengan tingkat penularan Plasmodium falciparum yang rendah terjadi imunitas yang didapat yang rendah apada penduduk sehingga wanita hamil di daerah ini cenderung menderita malaria yang berat. Namun pada malaria karena Plasmodium malariae -karena suatu mekanisme yang belum begitu jelas. sesudah serangan yang pertama berakhir atau disembuhkan. Kekambuhan malaria seperti ini disebut rekrudesensi. biasanya panas badan di atas normal setiap hati. Akibatnya terjadi abortus. relaps dalam pengertian seperti di atas tidak terjadi. 14. terutama pada malaria falciparum. Umumnya relaps terjadi beberapa bulan (biasanya > 24 minggu) sesudah malaria primer. Pada Plasmodium falciparum kejadiannya mirip dengan infeksi oleh Plasmodium vivax. Oleh karena itu. Pada malaria karena Plasmodium malariae pecahnya sizon (sporulasi ) terjadi setiap 72 jam sekali. disebut long-term relapse. dengan adanya siklus ekso-eritrositik sekunder atau hipnozoit dalam sel hati.

diagnosa banding ialah demam tifoid dengan hepatis. Pada malaria dengan ikterus. yang juga dijumpai hampir pada semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada sistem respiratorius. pewarnaa Field (untuk sediaan tebal). Berdasarkan hal-hal diatas. dengan membuat sediaan darah tipis maupun sediaan darah tebal. Agar bisa melihat parasit malaria secara jelas di bawah mikroskop. dan Leishman (untuk sediaan tipis) 2. tripanososmiasis. Penurunan . infeksi saluran kencing. tuberkulosis. cara diagnosis malaria yang paling penting adalah dengan memeriksa darah penderita secara mikroskopis. Berbagai pemeriksaan baru untuk malaria a. Pewarnaan yang paling banyak dipakai adalah pewarnaan Giemsa (untuk sediaan tipis dan tebal). Pada malaria berat. 1. walaupun jarang. Bagi wanita hamil yang hidup di wilayah endemis malaria perlu diberikan perlindungan secara khusus untuk mencegah ditulari malaria. Pada malaria serebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti meningitis. Pemeriksaan mikroskopis terhadap sediaan darah merupakan gold standard dalam diagnosis malaria. demam tifoid. kolesistitis. Pada daerah hiperendemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis malaria. dan leptospirosis. yaitu sediaan tipis dan sediaan tebal. Kedua kondisi ini menyebabkan berat badan bayi yang rendah dan angka mortalitas neonatus yang tinggi. Diagnosis Banding Malaria Demam merupakan salah satu gejala malaria yang menonjol. influenza. diagnosa banding tergantung manifestasi malaria beratnya. sediaan darah itu perlu diberikan pewarnaan lebih dulu. Pemeriksaan darah Ada dua jenis sediaan darah malaria.dan parasitemia pada peredaran darah plasenta. Oleh karena itu. tifoid ensefalopati. Menetesi sediaan tipis atau tebal dengan larutan akridin oranye c. dan infeksi bakterial lainnya seperti pneumonie. ensefalitis. mungkin terjadi sebagai akibat perpindahan infeksi parasit malaria dari ibu ke bayinya melalu peredaran darah plasenta yang mengalami kerusakan. demam dengue. 15. malaria kongenital. Tehnik imunoserologi e. Tehnik biomelekular 16. tetapi bisa dideteksi penyakit malaria yang lampau dan perannya adalah dalam penelitian epidemiologi. Tehnik Quantitative Coat (QBC) b. Pemeriksaan serologi tidak diperuntukkan untuk diagnosis malaria yang akut. abses hati. Dip stick test d. diupayakan sebisanya agar wanita hamil non-imun tidak memasuki wilayah endemis malaria. Pemeriksaan Laboratorium Diagnosis malaria secara pasti bisa ditegakkan jika ditemukan parasit malaria dalam darah penderita. Hepatitis pada saat timbul ikterus biasanya tidak dijumpai demam lagi.

Vaksin ini dikembangkan melalui ditemukannya antigen circumsporozoit. 17. Uji coba pada manusia tampaknya memberikan perlindungan yang bermanfaat. Memroteksi tempat tinggal/ kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti nyamuk Bila akan digunakan kemoprofilaksis perlu diketahui sensitivitas plasmodium di tempat tujuan. Etaquin. Nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 m. Oleh karena yang berbahaya adalah Plasmodium falciparum sekarang baru ditujukan pada pembuatan vaksin untuk proteksi terhadap Plasmodium falciparum.00. Pada daerah dengan resisten klorokuin dianjurkan doksisiklin 100mg/hari atau mefloquin 250mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/ minggu ditambah proguanil 200mg/ hari. Pada dasarnya ada tiga jenis vaksin yang dikembangkan. Obat baru yang dipakai untuk pencegahan yaitu primakuin dosis 0. Menggunakan obat pembunuh nyamuk 3. yaitu : vaksin sporozoin (bentuk intra-hepatik). epilepsi. eklampsia. Bila daerah dengan klorokuin sensitif (seperti Minahasa) cukup profilaksis dengan 2 tablet klorokuin (250mg klorokuin diphospat) tiap minggu. Mencegah berada di alam bebas di mana nyamuk dapat mengigit atau harus memakai proteksi (baju dengan lengan panjang. Nyamuk akan menggigit diantara jam 18. Vaksinasi terhadap malaria masih tetap dalam pengembangan. uremi). Vaksin sporozoit bertujuan mencegah sporozoit menginfeksi sel hati sehingga diharapkan infeksi tidak terjadi. Kemo-profilaksis yang dianjurkan ternyata tidak memberikan perlindungan secara penuh. Oleh karenanya masih sangat dianjurkan untuk memperhatikan tindakan pencegahan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara : 1. hal yang menyulitkan ialah banyaknya antigen yang erdapat pada plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur plasmodium. Profilaksis ini juga dipakai pada wanita hamil di daerah endemik atau pada individu yang terbukti imunitasnya rendah (sering terinfeksi malaria). gangguan serebro-vaskular (strok). yang pada penelitian akhir-akhir ini tidak dapat dibuktikan manfaatnya. Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida : pemethrin atau deltamethrin) 2. Vaksin bentuk aseksual yang pernah dicoba adalah SPF-66 atau yang dikenal sebagai vaksin Patarroyo. HOFFMAN berpendapat bahwa vaksin yang ideal ialah vaksin yang multi-stage . khususnya pada turis nasional maupun internasional. dan tumor otak. 1 minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali.5mg/kgBB/hari.kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik (diabetes. 4. dan Azitromycin. walaupun demikian uji lapangan sedang dalam persiapan. Pencegahan dan Vaksin Malaria Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang nonimun. vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. kaus/stoking). Atovaquone/Proguanil.00-06.

mengatasi anemia. Di samping itu. alkaloid kinkona : kinina. Tabel berikut memuat beberapa jenis obat antimalaria yang sudah lama dipakai serta efek kerja farmakologi masing-masing terhadap empat Plasmodium manusia dalam beberapa stadium yang dijalani dalam siklus hidupnya. hipoglikemi. yang diperlukan untuk memperbaiki gangguan patofisiologi penderita sebagai komplikasi malaria yang berat. Golongan 4-kuinolon-metanol : meflokuin 2. 4 amino-kuinolon : klorokuin dan amodiakuin c. Derivat dihirofolate reductase(DHFR) inhibitors a. derivat sulfon : dapson 3. Derivat para amino benzoic acid (PABA) competitors a. Vaksin ini dengan teknologi DNA akan diharapkan memberikan respon terbaik dan harga yang kurang mahal. yang dibagi menurut golongan kimianya antara lain : 1. Dalam tabel tersebut terlihat jelas bahwa ada obat-obat anti-malaria yang mempunyai efek membunuh fase ekso-eritrositik primer dan sekunder (oleh . derivat sulfonamid : sulfadoksin. Pengobatan Dalam pengobatan malaria. Obat-obat anti-malaria yang umum dipakai menurut golongan kimianya adalah : 1. sulfadiazin. klindamisin Di samping obat-obat anti-malaria di atas. Diaminopirimidin : pirimetamin b. kinkonin b. hiperpireksia. Golongan hidroksi-naftokuinon : atovakon 4. 18. tidak kalah penting adalah pengobatan penunjang. sulfalen b. sekarang sudah tersedia beberapa obat yang lebih baru. keseimbangan asam-basa. aseksual). kejang. 8 amino-kuinolon : primakuin 2. Biguanid : proguanil 4. Derivat kuinolon a. Golongan seskuiterpen lakton : artemisinin Obat artemisinin dan derivatnya diisolasi dan dikembangkan dari bahan obat “Qinghaosu”(Artemisia annua) yang telah lama sekali dipakai secara tradisional di negeri Cina. muntah. Golongan 9-fenatren-metanol : halofantrin 3. Antibiotik a. kuinidin. misalnya perbaikan keseimbangan cairan dan elektrolit. faktor pilihan dan penggunaan obat-obat antimalaria yang efektif disesuaikan dengan jenis kasus malaria yang dihadapi merupakan hal yang sangat penting. doksisiklin. Tetrasiklin. multivalen (terdiri dari beberapa antigen) sehingga memberikan respon multi-imun.(sporozoit. dan kegagalan fungsi ginjal. Ternyata golongan obat-obat anti-malaria tertentu mempunyai efek yang berbeda terhadap stadium dan spesies Plasmodium yang berlainan.

Tujuan utama pemakaian kombinasi obat-obat antimalaria ini selain untuk meningkatkan efek obat-obat bersangkutan secara sinergis dan aditif. contohnya adalah primakuin terhadap gametosit Plasmodium falciparum.disebut sizontosida darah oleh karena itu menjadi pilihan untuk mengobati serangan akut malaria. Oleh karena itu. Dalam pengobatan malaria. contohnya adalah proguanil. Ini disebabkan oleh pemakaian obat anti-malaria tertentu dalam waktu yang lama. disebut sizontosida jaringan). berkembang suatu kecenderungan diantara para ahli untuk memakai obat-obat anti-malaria dalam kombinasi. Ini terjadi hanya beberapa tahun sejak keduanya dipakai untuk profilaksis malaria. Selain itu. primakuin dipakai untuk mencegah terjadinya relaps pada malaria vivax/ ovale (dipakai bersama klorokuin dalam pengobatan radikal). yaitu memakai dua jenis atau lebih obat sizontosida darah yang mempunyai cara kerja farmakologi yang berbeda terhadap parasit malaria. Falciparum secara tepat terhadap setiap obat. dan klorokuin terhadap gametosit Plasmodium vivax/ovale/malariae. Dengan demikian. tetapi masih dalam batas toleransi penderita. Secara umum resistensi terjadi sebagai akibat seleksi dan mutasi genetik pada parasit malaria. Sebaliknya. Belakangan sebagai respon terhadap terjadinya resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat lain. sudah semestinya diperhatikan. contohnya adalah primakuin. Resistensi Plasmodium terhadap Obat Malaria Resistensi obat didefinisikan sebagai kemampuan strain parasit malaria untuk dapat hidup dan/atau berkembang biak walaupun telah diberi obat dalam dosis standar atau lebih tinggi daripada dosis standar. Di Indonesia. Klorokuin. kina dan meflokuin mempunyai efek yang kuat dan cepat terhadap fase eritrositik aseksual ().falciparum terhadap klorokuin baru terjadi kira-kira sesudah 15-20 tahun dipakai dalam pengobatan malaria. resistensi Plasmodium terhadap pirimetamin dan proguanil sudah diketahui sejak lama. ada obat-obat yang mempunyai efek menghambat pertumbuhan gamet dalam nyamuk (sporontosida). masalah resistensi terhadap obat-obat anti-malaria yang terjadi pada Plasmodium. Obat-obat yang efeknya kuat terhadap gametosit disebut sebagai gametosida. amodiakuin. resistensi P. . 19. juga mencegah timbulnya resistensi P. terutama Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin dan obat-obat anti-malaria lain merupakan masalah yang rumit dan serius. maka yang paling banyak mendapat perhatian adalah resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat antimalaria lainnya. untuk mengobati malaria falciparum. jika dipakai sendiri-sendiri.karena itu. Resistensi terhadap obat anti-malaria yang bekerja lemah dan lambat terhadap fase sizogoni daraha secara relatif lebih cepat timbulnya dibandingkan dengan resitensi terhadap obat yang bekerja kuat dan cepat terhadap sizogoni darah. Melihat akibat serius yang bisa terjadi karena adanya resistensi terhadap obat anti-malaria.

FKUI Press. atovakuon-proguanil + artesunat b. Kecepatan/ ketepatan diagnosis dan pengobatan. R. SP + artesunat.. 4. kina+ antibiotika.Kombinasi obat-obat antimalaria yang sudah agak lama dipakai dalam pengobatan malaria falciparum adalah 1. dan amodiakuin + artesunat. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya. Parasitologi Kedokteran Ditinjau Dari Organ . kombinasi antara sulfadoksin + pirimetamin (SP) (Fansidar) 2.  Noviyanti..1:1-16. Parasitologi Kedokteran. Pribadi. Agoes. 3.  Kemenkes RI. Kepadatan parasit. 2008. Natadisastra. Kegagalan fungsi organ. Kegagalan fungsi organ dapat terjadi pada malaria berat terutama organ-organ vital. W. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 044/ Menkes/ SK/I/2007 tentang Pedoman Pengobatan Malaria. semakin padat/ banyak jumlah parasitnya yang didapatkan. 2005. EGC 2010  Depkes RI. klorokuin + sulfadoksin-pirimetamin (SP). semakin buruk prognosisnya. Epidemiologi Malaria di Indonesia. terlebih lagi bila didapatkan bentik sizon dalam pemeriksaan darah tepinya.. Dalam Malaria dari Molekuler ke Klinis. Kombinasi yang saat ini masih diteliti khasiat dan keamanannya antara lain adalah a. klorokuin +artesunat. WHO Press. 20. semakin baik prognosisnya. amodiakuin+ SP 3. 2009. 2010. Pada pemeriksaan hitung parasit. dan meflokuin + artesunat/ artemisinin. D. Makin cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya 2.. I. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Edisi I. 2011. Patogenesis Molekuler Plasmodium falciparum. Susceptibility of Plasmodium Falciparum to Antimalarial Drugs: Report on global monitoring 1996-2004. Prognosis Malaria Prognosis malaria tergantung pada : 1. R. DAFTAR PUSTAKA  WHO. 2007.   Sutanto.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->