1.

Epidemiologi Malaria Malaria dapat ditemukan mulai dari belahan bumi utara (Amerika Utara sampai Eropa dan Asia) ke belahan bumi selatan (Amerika Selatan); mulai dari daerah dengan ketinggian 2850 m sampai dengan daerah yang letaknya 400m di bawah permukaan laut. Keadaan malaria di dunia saat ini diperkirakan terdapat 300-500 juta kasus malaria klinis/ tahun dengan 1,5-2,7 juta kematian. Sebanyak 90% kematian terjadi pada anak-anak dengan rasio 1: 4 anak balita di Afrika meninggal karena malaria. Di Asia Tenggara negara yang termasuk wilayah endemi malaria adalah : Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Srilanka, dan Thailand. Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas pada semua pulau dengan derajar dan berat infeksi yang bervariasi. Menurut data yang berkembang hampir separuh dari populasi Indonesia bertempat tinggal di daerah endemik malaria dan diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya. Malaria di suatu daerah dapat ditemukan secara autokton, impor, induksi, introduksi, atau reintroduksi. Di daerah yang autokton, siklus hidup malaria dapat berlangsung karena adanya manusia yang rentan, nyamuk dapat menjadi vektor dan ada parasitnya. Introduksi malaria timbul karena adanya kasus kedua yang berasal dari kasus impor. Malaria reintroduksi bila kasus malaria muncul kembali yang sebelumnya sudah dilakukan eradikasi malaria. Malaria impor terjadi bila infeksinya berasal dari luar daerah (daerah endemi malaria). Malaria induksi bila kasus berasal dari transfusi darah, suntikan, atau kongenital yang tercemar malaria. Keadaan malaria di daerah endemi tidak sama. Derajat endemisitas dapat diukur dengan berbagai cara seperti angka limpa, angka parasit, dan angka sporozoit, yang disebut angka malariometri. Sifat malaria juga dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, yang tergantung pada beberapa faktor, yaitu : parasit yang terdapat pada pengandung parasit, manusia yang rentan, nyamuk yang dapat menjadi vektor, dan lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup masing-masing. 2. Cara Penularan Penularan malaria kebanyakan berlangsung secara alami, yaitu melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Waktu antara nyamuk menghisap darah yang mengandung gametosit sampai mengandung sporozoit dalam kelenjar liuarnya, disebut masa tunas ekstrinsik. Sporozoit adalah bentuk infektif. Infeksi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu: 1. Secara alami melalui vektor, bila sporozoit dimasukkan ke dalam badan manusia dengan tusukan nyamuk 2. Secara induksi, bila stadium aseksual dalam eritrosit secara tidak sengaja masuk dalam badan manusia.

karena berpindahnya infeksi malaria dari ibu ke bayinya melalui peredaran darah plasenta (malaria kongenital). penularan bisa terjadi secara kongenital selama bayi masih dalam kandungan. Begitu pula relaps atau kekambuhan malaria vivax menjadi lebih ringan dengan meningkatnya imunitas penderita. parasit malaria tidak bisa dipertahankan dalam kondisi terkendali sehingga terjadi serangan akut malaria 4. Anopheles sundaicus dan Anopheles aconitus merupakan vektor malaria utama. dengan populasi nyamuk meningkat secara signifikan. dan Anopheles subpictus dan Anopheles maculatus sebagai vektor sekunder. respon imun yang melemah sesudah operasi pengangkatan limpa. Bila terjadi gangguan pada keseimbangan hospes parasit. dan sesudah itu menggigit manusia lagi. Kebiasaan mengigit nyamuk. Untuk bisa berperan sebagai vektor malaria. Hal ini menyebabkan intensitas penulran malaria paling tinggi menjelang akhir musim penghujan. yang menyebabkan timbulnya fluktuasi dalam lama dan intensitas penularan malaria dalam tahun yang sama atau diantara dua tahun yang berbeda. Penderita yang asimtomatik yang memiliki gametosit dalam darahnya bisa menjadi sumber penularan dengan perantaraan nyamuk vektornya. misalnya karena pertahanan tubuh yang menurun pada trauma yang berat. Hospes Reservoar Manusia merupakan satu-satunya reservoir malaria yang penting. suatu strain Anopheles harus mempunyai kebiasaan mengigit manusia dan hidup cukup lama untuk memberi waktu yang diperlukan oleh parasit malaria untuk menyelesaikan siklus hidupnya sampai menghasilkan bentuk infektif. tingkat penularan malaria tergantung pada beberapa faktor biologis dan klimatis. penularan malaria mungkin terjadi melalui transfusi darah dan atau transplantasi sumsum tulang. 5. Hubungan Hospes –Parasit-Lingkungan Dalam hubungan trias di atas parasit malaria mempertahankan hidupnya sebagai spesies dengan jalan berada dalam tubuh manusia dalam waktu yang cukup lama untuk menjadi gametosit jantan dan betina dan menunggu saat yang tepat untuk ditularkan. Di Jawa dan Bali. terutama faktor suhu dan kelembaban udara. menentukan potensinya sebagai vektor malaria. Lama hidup nyamuk dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor.Walaupun jarang. Suhu lingkungan berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan parasit malaria dalam tubuh nyamuk. Oleh karena itu. tetapi hanya 60 spesies berperan sebagai vektor malaria yang alami. Parasitemia dengan fase aseksual dan gametositemia pada malaria falciparum pada orang yang memiliki kekebalan yang tinggi bisa berlangsung tanpa gejala selama berbulan-bulan. Nyamuk Anopheles yang menjadi vektor . Di indonesia ditemukan 80 spesies nyamuk Anopheles. 3. Walaupun juga jarang. tetapi hanya 16 spesies yang berperan sebagai vektor malaria. melalui semprit injeksi yang terkontaminasi parasit malaria (pada pecandu narkotik). Vektor Malaria Di bumi ini hidup sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles.

tergantung dari spesies parasit malaria yang menginfeksi. dan berubah menjadi sizon hati. Sporozoit-sporozoit yang masuk bersama ludah nyamuk masuk ke peredaran darah. merozoit-merozoit yang dilepas dari sel hati tadi berubah menjadi trofozoit muda (bentuk cincin). Satu siklus . Sesudah sizon hati dalam sel hati menjadi matang. pecah bersama sel darah merah yang diinfeksi. Dalam sel-sel hati (hepatosit) sporozoit membelah diri secara aseksual. Dalam sel darah merah.000-30. kondisi iklim setempat. ditambah dengan aktivitas dan tingkah laku manusia. tingkat penularan malaria di suatu wilayah ditentukan oelh hal-hal berikut. masuk ke sel-sel parenkim hati. Trofozoit muda tumbuh menjadi trofosoit dewasa. yang dimaksudkan di sini adalah adanya kelompok manusia nonimun yang masuk ke wilayah endemis 4. 3. kondisi geografis dan hidrografis setempat. Sizon yang sudah matang dengan merozoit-merozoit di dalamnya dalam jumlah maksimal tertentu tergantung dari spesiesnya. dan selanjutnya membelah diri menjadi sizon. memengaruhi tingkat terpajan dan akses mereka kepada tempat-tempat perindukan nyamuk Anopheles 6. Dalam waktu yang sangat singkat (30 menit) semua sporozoit menghilang dari peredaran darah. dan merozoit-merozoit yang dilepas itu kembali menginfeksi sel-sel darah merah lain untuk mengulang siuklus tadi. 1.000 merozoit. Dicerminkan oleh tingkat prevelensi malaria pada manusia. Sebagai kesimpulan dari keseimbangan ketiga faktor di atas. Seluruh proses tadi memerlukan waktu antara 6 sampai 12 hari untuk menjadi lengkap. yang ditandai dengan demam dan menggigil secara periodik. Manusia sebagai hoespes vertebrata pada dasarnya mempunyai kemungkinan yang sama untuk ditulari parasit malaria. Peristiwa pecahnya sizon-sizon bersama sel-sel darah merah yang diinfeksinya disebut proses sporulasi. bentuk ini bersama sel hati yang diinfeksi pecah dan mengeluarkan antara 5. tergantung dari dari spesiesnya. dan ini berkorelasi dengan munculnya gejala-gelaja malaria. dan terjadinya malaria sangat ditentukan oleh status imunitasnya. reservoar. kebiasaan makan. jarak terbangnya. yang segera masuk ke sel-sel darah merah. Hospes manusia yang baru. kebiasaan istirahatnya. kesesuaian spesies atau strain nyamuk Anopheles sebagai vektor. terutama faktor suhu dan kelembaban lingkungan 5. dan jumlahnya.mempunyai kondisi biologis yang sesuai bagi parasit untuk berkembang menjadi bentuk yang infektif bagi manusia. termasuk adanya penderita malaria akut dan penderita tanpa gejala (asimtomatik) dan kadang-kadang malaria pada kera simpanse dengan parasitemia yang tinggi 2. Siklus Hidup Parasit Malaria Siklus hidup parasit malaria dimulai bila seseorang digigit nyamuk Anopheles (betina) yang mengandung sporozoit. vektor. Keseluruhan siklus yang terjadi berulang dalam sel darah disebut siklus eritrositik aseksual atau sizogoni darah. tingkat berkembang biaknya.

yang berasal dari siklus EE sekunder. yaitu dikeluarkannya 8 sel gamet jantan (mikrogamet) yang bergerak aktif mencari sel gamet betina. Siklus EE sekunder berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama daripada siklus EE primer. menyebabkan ookista pecah dan menyebarkan sporozoit-sporozoit yang berbentuk seperti rambut ke seluruh bagian rongga badan nyamuk (hemosel). Suatu strain Plasmodium vivax mempunyai pola relaps yang ditandai oleh rentang waktu yang singkat antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama. Selanjutnya pembuahan terjadi antara satu sel gamet jantan (mikrogamet) dan satu sel gamet betina (makrogamet). ookinet mengalami pembelahan inti menghasilkan sel-sel yang memenuhi kista yang membungkusnya. pada malaria yang disebabkan oleh Plasmodium vivax. dan Plasmodium ovale. lalu berubah menjadi ookinet yang bentuknya vermiformis dan bergerak aktif menembus mukosa lambung. 9-12 hari untuk Plasmodium vivax.sizogoni darah berlangsung lengkap antara 44-49 jam untuk Plasmodium falciparum. tetapi berubah menjadi gametosit dalam sel darah merah. Setelah siklus sizogoni darah berulang kembali beberapa kali. bisa selama beberapa bulan atau beberapa tahun. menyebabkan pola periodesitas tertiana (setiap hari ketiga) dan 72 jam untuk Plasmodium malariae. Jika gametotosit yang matang siap diisap oleh nyamuk Anopheles. Siklus EE sekunder tidak terjadi pada infeksi dengan Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Pada infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. Seluruh fase perubahan yang dialami Plasmodium falciparum dalam tubuh nyamuk vektornya berlangsung antara 11-14 hari. yang terdiri dari gametosit jantan dan betina. Siklus terakhir ini disebut siklus eritrositik seksual atau gametogoni. menghasilkan zigot dengan bentuknya yang memanjang. Di dalam ookista dihasilkan puluhan ribu sporozoit. dan dalam beberapa jam saja menumpuk di dalam kelenjar ludah nyamuk. Siklus kedua yang berlangsung di dalam sel hati disebut siklus eksoeritrositik sekunder (= para-eritrositik). Strain Plasmodium vivax lainnya ditandai oleh rentang waktu yang lebih lama. beberapa merozoit tidak lagi menjadi sizon. 1415 hari untuk Plasmodium ovale. Relapse disebabkan oleh merozoit-merozoit yang masuk ke peredaran darah. yaitu beberapa bulan antara serangan malaria primer dan serangan relaps yang pertama. dan Plasmodium ovale. Plasmodium vivax. disebut ookista. Di dalam dinding lambung paling luar. saat pecahnya sizon kriptozoit dalam sel hati. Sporozoit bersifat infektif bagi manusia jika masuk ke peredaran darah. di dalam lambung nyamuk terjadi proses ekflagelasi pada gametosirt jantan. dan berubah menjadi sizon lagi. dan 15-21 hari untuk Plasmodium malariae. sebagian dari merozoit-merozoit yang lepas kembali menginfeksi sel parenkim hati yang lain. Siklus EE sekunder bisa menyebabkan kekambuhan. menyebabkan pola kuartana (tiap hari keempat). yang disebut relapse. .

yang penularannya melalui gigitan nyamuk. Patogenesis malaria falciparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor penjamu (host). Patogenesa malaria yang banyak diteliti adalah patogenesa malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Patogenesis dan Patologi Setelah melalui jaringan hati. Jenis kekambuhan yang terakhir disebut rekrudesensi.1 Gejala umum Malaria Gejala malaria terdiri dari beberapa serangan demam dengan interval tertentu (disebut paroksisme). Permukaan EP stadium cincin akan menampilkan antigen RESA . Selanjutnya parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. 28 hari untuk malaria kuartana. Masa tunas paling pendek dijumpai pada malaria falciparum. genetik. yang terpanjang pada malaria kuartana (Plasmodium malariae). masa tunas adalah 12 hari untuk malaria falciparum. 14 hari untuk malaria vivax. Sedikit lain dengan teori di atas. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis di limpa akan menginvasi eritrosit. dan apabila sizon ini pecah menimbulkan relaps atau malaria sekunder. yaitu stadium cincin pada 24 jam pertama dan stadium matur pada 24 jam kedua. 8.Kekambuhan pada malaria Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae disebabkan oleh sisa-sisa Plasmodium yang berasal dari siklus sizogoni darah. biasanya penderita merasa lemah. mengeluh sakit kepala. dan status imunologi. densitas parasit. atau muntah. dan virulensi parasit. Parasit dalam eritrosit (EP) secara garis besar mengalami dua stadium. Gejala yang khas tersebut biasanya ditemukan pada penderita non-imun. Bentuk aseksual parasit dalam eritrosit (EP) inilah yang bertanggung jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia. kehilangan nafsu makan. status nutrisi. Sedangkan yang masuk dalam faktor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal. diselingi oleh suatu periode yangt penderitanya bebas sama sekali dari demam (disebut periode laten). Plasmodium falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam sirkulasi. sebuah teori lain menyatakan bahwa pada infeksi oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale. Pada malaria yang alami. Merozoit yang dilepaskan akan masuk dalam sel RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. usia. yang kemudian akan menjalani proses sizogoni melalui fase EE sekunder. merasa mual di ulu hati. Sebelum timbulnya demam. yang memperbanyak diri samapi mencapai jumlah yang cukup untuk menimbulkan malaria sekunder. 7. disebut bentuk hipnozoit. Gejala Klinis 7. sejak semula ada sekelompok sporozoit yang menjalani suatu bentuk uninukleat yang dormant atau laten di dalam sel hati. dan 17 hari untuk malaria ovale. Masa tunas malaria sangat tergantung pada spesies Plasmodium yang menginfeksi. Yang termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi.

hemolisis oleh karena proses complement mediated immune complex. Untuk beberapa hari pertama. demam ringan. penghambatan pengeluaran retikulosit. sakit kepala. perut tidak enak. Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan Histidin Rich-protein-1 (HRP-1) sebagai komponen utamanya. Pada malaria falciparum pola panas yang ireguler itu mungkin berlanjut sepanjang perjalanan penyakitnya sehingga tahapan-tahapannya yang klasik tidak begitu nyata terlihat. nyeri dan hiperemis. umur (usia lanjut dan bayi sering lebih berat). limpa akan teraba setelah tiga hari dari serangan infeksi akut. malaise. ada dugaan konstitusi genetik. sakit belakang. nyeri sendi dan tulang. 10. limpa menjadi bengkak. Suatu paroksisme demam biasanya mempunyai tiga stadium yang berurutan sebagai berikut : . kemoprofilaksis dan pengobatan sebelumnya. hambatan eritropoiesis sementara. pola panas tidak beraturan. dan splenomegali. Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa kelesuan. Manifestasi Umum Malaria Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik. Limpa merupakan organ yang penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi malaria. dan periode berkeringat. Anemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi malaria. diare ringan dan kadang-kadang dingin. anoreksia. 9. daerah asal infeksi (pola resistensi terhadap pengobatan). eritrofagositosis. Gejala Klinis Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita.(Ring-erithrocite surgace antigen) yang menghilang setelah parasit masuk stadium matur. yang berhubungan dengan perkembangan parasit malaria dalam sel darah merah. baru kemudian polanya yang klasik tampak sesuai spesiesnya. tingginya transmisi infeksi malaria. Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni. periode panas. Berat/ ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis Plasmodium (Plasmodium falciparum memberikan komplikasi). Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. 11. Pola demam malaria Demam pada malaria ditandai dengan adanya paroksisme. merasa dingin di punggung. keadaan kesehatan dan nutrisi. Beberapa mekanisme terjadinya anemia adalah : pengrusakan eritrosit oleh parasit. akan dilepaskan toksin malaria berupa GPI yaitu glikosilfosfatidilinositol yang merangsang pelepasan TNF-alpha dan interleukin-1 (IL-1) dari makrofag. Gejala yang klasik yaitu terjadinya ’Trias Malaria’ secara berurutan : periode dingin. dan pengaruh sitokin. Pembesaran limpa (splenomegali) sering dijumpai pada penderita malaria. Puncak serangan panas terjadi berbarengan dengan lepasnya merozoit-merozoit ke dalam peredaran darah (proses sporulasi). anemia.

Demam yang tinggi dan beratnya gejala klinis yang lainnya. Bibir dan jari-jari pucat kebiru-biruan (sianotik). Demam terjadi menyusul pecahnya sizon-sizon darah yang telah matang dengan akibat masuknya merozoit-merozoit. pada stadium ini penderita mengalami serangan demam. termasuk pigmen ke darah memicu dihasilkannya tumor necrosis factor (TNF) oleh sel-sel makrofag yang teraktifkan. toksin. Pada malaria oleh Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale sizon-sizon pecah . ia merasa lemah. Stadium ini berlangsung 2-4 jam. mempunyai hubungan dengan tingginya kadar TNF dalam darah. penderita mungkin muntah dan pada penderita anak sering terjadi kejang. yang sangat dipengaruhi oleh spesies Plasmodium yang menginfeksi. dan demikian selanjutnya. umur dan tingkat imunitas penderita. tapi tanpa gejala lain. sampai membasahi tempat tidur. Sesudah serangan panas pertama. Nadi penderita menjadi kuat kembali. Nadi penderita cepat. Stadium ini berlangsung selama 2-4 jam. misalnya pada malaria falciparum yang berat. Masuknya toksin-toksin. Kulitnya kering dan pucat. Stadium ini berlangsung selama 15 menit-1 jam. sakit kepala bertambah keras. 12. dan ini tergantung pada spesies parasit. Mekanisme Paroksisme Panas Paroksisme demam pada malaria mempunyai interval tertentu. 2. Gejala-gejala malaria ’klasik’ seperti yang telah diuraikan tidak selalu ditemukan pada setiap penderita. Stadium berkeringat Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali. Biasanya penderita merasa sangat haus dan suhu badan bisa meningkat sampai 410C. 3.1. tetapi lemah. lalu diikuti dengan serangan panas berikutnya seperti yang pertama. terjadi interval bebas panas selama antara 48-72 jam. kadang-kadang samapi di bawah normal. dan kotoran/ debris sel ke dalam peredaran darah. Muka penderita menjadi merah. Namun suhu badan pada fase ini turun dengan cepat. Biasanya penderita tertidur nyenyak dan pada saat terjaga. dan sering disertai dengan rasa mual atau muntahmuntah. kulitnya kering dan dirasakan sangat panas seperti terbakar. Stadium dingin Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan sangat dingin. ditentukan oleh waktu yang diperukan oleh siklus aseksual/ sizogoni darah untuk menghasilkan sizon yang matang. Stadium demam Setelah menggigil/ merasa dingin. pigmen.

Kemungkinan berulangnya serangan malaria pada kedua jenis malaria ini disebabkan oleh kecenderungan parasit malaria bersisa dalam darah. terutama pada malaria falciparum. suatu saat kemudian penderita bisa mendapat serangan malaria yang kedua (malaria sekunder). disebut malaria primer (berkorelasi dengan siklus sizogoni dalam sel darah merah). yang terhitung dari serangan demam sebelumnya (malaria tertiana). Kekambuhan malaria seperti ini disebut rekrudesensi.setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap hari ketiga. sesudah serangan yang pertama berakhir atau disembuhkan. Malaria pada wanita hamil sering menyebabkan hipoglikemi.kekambuhan terjadi dalam rentang waktu yang jauh lebih lama. Pada infeksi oleh Plasmodium vivax / Plasmodium ovale. serangan panas terjadi setiap hari keempat (malaria kuartana). karena kedua spesies ini tidak memiliki siklus EE sekunder dalam hati. disebut long-term relapse. disebut short-term relapse. Sebaliknya pada wilayah dengan tingkat transmisi Plasmodium falciparum yang tinggi terjadi imunitas yang tinggi. Berulangnya serangan malaria yang bersumber dari siklus EE sekunder pada malaria vivax/ ovale disebut relaps. biasanya panas badan di atas normal setiap hati. 14. Bisa terjadi beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun sejak serangan malaria pertama. Pada malaria karena Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae. Malaria pada Kehamilan Pada wanita hamil. tetapi menyebabkan anemia . Gejala-gejala malaria cenderung menjadi lebih berat. Namun pada malaria karena Plasmodium malariae -karena suatu mekanisme yang belum begitu jelas. atau kematian ibu sendiri. 13. dengan adanya siklus ekso-eritrositik sekunder atau hipnozoit dalam sel hati. Pada Plasmodium falciparum kejadiannya mirip dengan infeksi oleh Plasmodium vivax. Pada malaria karena Plasmodium falciparum rekrudesensi terjadi dalam beberapa hari atau minggu (biasanya <8 minggu) sesudah serangan malaria primer. Kekambuhan (Relaps dan Rekrudesensi) Serangan malaria yang pertama terjadi sebagai akibat infeksi parasit malaria. relaps dalam pengertian seperti di atas tidak terjadi. Akibatnya terjadi abortus. Oleh karena itu. Terjadi penurunan daya pertahanan tubuh atau imunitas karena kehamilan itu sendiri. Pada wilayah dengan tingkat penularan Plasmodium falciparum yang rendah terjadi imunitas yang didapat yang rendah apada penduduk sehingga wanita hamil di daerah ini cenderung menderita malaria yang berat. dan wanita hamil cenderung menderita malaria asimptomatik. hanya interval demamnya tidak jelas. bayi mati dalam kandungan. Pada malaria karena Plasmodium malariae pecahnya sizon (sporulasi ) terjadi setiap 72 jam sekali. Umumnya relaps terjadi beberapa bulan (biasanya > 24 minggu) sesudah malaria primer. dengan puncak panas cenderung mengikuti pola malaria tertiana (disebut malaria subtertiana). yang kemudian membelah diri bertambah banyak sampai bisa menimbulkan gejala malaria sekunder.

tifoid ensefalopati. demam dengue. abses hati. Kedua kondisi ini menyebabkan berat badan bayi yang rendah dan angka mortalitas neonatus yang tinggi. cara diagnosis malaria yang paling penting adalah dengan memeriksa darah penderita secara mikroskopis. Pada malaria serebral harus dibedakan dengan infeksi pada otak lainnya seperti meningitis. Pada daerah hiperendemik sering dijumpai penderita dengan imunitas yang tinggi sehingga penderita dengan infeksi malaria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis malaria. Tehnik biomelekular 16. Diagnosis Banding Malaria Demam merupakan salah satu gejala malaria yang menonjol. Pada malaria berat. Berbagai pemeriksaan baru untuk malaria a. demam tifoid. infeksi saluran kencing. Menetesi sediaan tipis atau tebal dengan larutan akridin oranye c. Pemeriksaan serologi tidak diperuntukkan untuk diagnosis malaria yang akut. Tehnik Quantitative Coat (QBC) b. Hepatitis pada saat timbul ikterus biasanya tidak dijumpai demam lagi. mungkin terjadi sebagai akibat perpindahan infeksi parasit malaria dari ibu ke bayinya melalu peredaran darah plasenta yang mengalami kerusakan. ensefalitis. 1. yang juga dijumpai hampir pada semua penyakit infeksi seperti infeksi virus pada sistem respiratorius. tuberkulosis. Pemeriksaan mikroskopis terhadap sediaan darah merupakan gold standard dalam diagnosis malaria. pewarnaa Field (untuk sediaan tebal). tetapi bisa dideteksi penyakit malaria yang lampau dan perannya adalah dalam penelitian epidemiologi. dan infeksi bakterial lainnya seperti pneumonie. diagnosa banding ialah demam tifoid dengan hepatis. Pada malaria dengan ikterus. dan leptospirosis. kolesistitis. diupayakan sebisanya agar wanita hamil non-imun tidak memasuki wilayah endemis malaria. Dip stick test d. tripanososmiasis. sediaan darah itu perlu diberikan pewarnaan lebih dulu. Oleh karena itu. dan Leishman (untuk sediaan tipis) 2. Penurunan . Bagi wanita hamil yang hidup di wilayah endemis malaria perlu diberikan perlindungan secara khusus untuk mencegah ditulari malaria. dengan membuat sediaan darah tipis maupun sediaan darah tebal. Pemeriksaan Laboratorium Diagnosis malaria secara pasti bisa ditegakkan jika ditemukan parasit malaria dalam darah penderita. diagnosa banding tergantung manifestasi malaria beratnya. Tehnik imunoserologi e. 15. influenza. walaupun jarang. yaitu sediaan tipis dan sediaan tebal. Pewarnaan yang paling banyak dipakai adalah pewarnaan Giemsa (untuk sediaan tipis dan tebal). Berdasarkan hal-hal diatas. malaria kongenital. Agar bisa melihat parasit malaria secara jelas di bawah mikroskop. Pemeriksaan darah Ada dua jenis sediaan darah malaria.dan parasitemia pada peredaran darah plasenta.

Atovaquone/Proguanil. Pencegahan dan Vaksin Malaria Tindakan pencegahan infeksi malaria sangat penting untuk individu yang nonimun. epilepsi. Oleh karena yang berbahaya adalah Plasmodium falciparum sekarang baru ditujukan pada pembuatan vaksin untuk proteksi terhadap Plasmodium falciparum. 1 minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali. Vaksin sporozoit bertujuan mencegah sporozoit menginfeksi sel hati sehingga diharapkan infeksi tidak terjadi. Nyamuk jarang pada ketinggian di atas 2000 m.00-06. yang pada penelitian akhir-akhir ini tidak dapat dibuktikan manfaatnya. Bila daerah dengan klorokuin sensitif (seperti Minahasa) cukup profilaksis dengan 2 tablet klorokuin (250mg klorokuin diphospat) tiap minggu. Memroteksi tempat tinggal/ kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti nyamuk Bila akan digunakan kemoprofilaksis perlu diketahui sensitivitas plasmodium di tempat tujuan. yaitu : vaksin sporozoin (bentuk intra-hepatik). Menggunakan obat pembunuh nyamuk 3. uremi).00. Vaksin bentuk aseksual yang pernah dicoba adalah SPF-66 atau yang dikenal sebagai vaksin Patarroyo. dan tumor otak. khususnya pada turis nasional maupun internasional. walaupun demikian uji lapangan sedang dalam persiapan. kaus/stoking). dan Azitromycin. HOFFMAN berpendapat bahwa vaksin yang ideal ialah vaksin yang multi-stage . Etaquin. Nyamuk akan menggigit diantara jam 18.kesadaran dan koma dapat terjadi pada gangguan metabolik (diabetes. eklampsia. gangguan serebro-vaskular (strok). Kemo-profilaksis yang dianjurkan ternyata tidak memberikan perlindungan secara penuh. vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. 17. Pada dasarnya ada tiga jenis vaksin yang dikembangkan. Pada daerah dengan resisten klorokuin dianjurkan doksisiklin 100mg/hari atau mefloquin 250mg/minggu atau klorokuin 2 tablet/ minggu ditambah proguanil 200mg/ hari. Oleh karenanya masih sangat dianjurkan untuk memperhatikan tindakan pencegahan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk yaitu dengan cara : 1. Profilaksis ini juga dipakai pada wanita hamil di daerah endemik atau pada individu yang terbukti imunitasnya rendah (sering terinfeksi malaria). Vaksinasi terhadap malaria masih tetap dalam pengembangan. Vaksin ini dikembangkan melalui ditemukannya antigen circumsporozoit.5mg/kgBB/hari. Uji coba pada manusia tampaknya memberikan perlindungan yang bermanfaat. Obat baru yang dipakai untuk pencegahan yaitu primakuin dosis 0. 4. Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup pestisida : pemethrin atau deltamethrin) 2. hal yang menyulitkan ialah banyaknya antigen yang erdapat pada plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur plasmodium. Mencegah berada di alam bebas di mana nyamuk dapat mengigit atau harus memakai proteksi (baju dengan lengan panjang.

sulfalen b. klindamisin Di samping obat-obat anti-malaria di atas. Diaminopirimidin : pirimetamin b. Ternyata golongan obat-obat anti-malaria tertentu mempunyai efek yang berbeda terhadap stadium dan spesies Plasmodium yang berlainan. Golongan hidroksi-naftokuinon : atovakon 4. Derivat dihirofolate reductase(DHFR) inhibitors a. 18. alkaloid kinkona : kinina. derivat sulfon : dapson 3. sekarang sudah tersedia beberapa obat yang lebih baru. keseimbangan asam-basa. tidak kalah penting adalah pengobatan penunjang. Vaksin ini dengan teknologi DNA akan diharapkan memberikan respon terbaik dan harga yang kurang mahal. misalnya perbaikan keseimbangan cairan dan elektrolit. 8 amino-kuinolon : primakuin 2. hiperpireksia. kinkonin b. Antibiotik a. Obat-obat anti-malaria yang umum dipakai menurut golongan kimianya adalah : 1. kejang. Tetrasiklin. doksisiklin. dan kegagalan fungsi ginjal. multivalen (terdiri dari beberapa antigen) sehingga memberikan respon multi-imun.(sporozoit. Golongan 9-fenatren-metanol : halofantrin 3. aseksual). Tabel berikut memuat beberapa jenis obat antimalaria yang sudah lama dipakai serta efek kerja farmakologi masing-masing terhadap empat Plasmodium manusia dalam beberapa stadium yang dijalani dalam siklus hidupnya. yang diperlukan untuk memperbaiki gangguan patofisiologi penderita sebagai komplikasi malaria yang berat. yang dibagi menurut golongan kimianya antara lain : 1. 4 amino-kuinolon : klorokuin dan amodiakuin c. derivat sulfonamid : sulfadoksin. mengatasi anemia. Derivat para amino benzoic acid (PABA) competitors a. Derivat kuinolon a. hipoglikemi. faktor pilihan dan penggunaan obat-obat antimalaria yang efektif disesuaikan dengan jenis kasus malaria yang dihadapi merupakan hal yang sangat penting. Di samping itu. sulfadiazin. Golongan seskuiterpen lakton : artemisinin Obat artemisinin dan derivatnya diisolasi dan dikembangkan dari bahan obat “Qinghaosu”(Artemisia annua) yang telah lama sekali dipakai secara tradisional di negeri Cina. muntah. kuinidin. Dalam tabel tersebut terlihat jelas bahwa ada obat-obat anti-malaria yang mempunyai efek membunuh fase ekso-eritrositik primer dan sekunder (oleh . Pengobatan Dalam pengobatan malaria. Golongan 4-kuinolon-metanol : meflokuin 2. Biguanid : proguanil 4.

jika dipakai sendiri-sendiri. disebut sizontosida jaringan). primakuin dipakai untuk mencegah terjadinya relaps pada malaria vivax/ ovale (dipakai bersama klorokuin dalam pengobatan radikal). Tujuan utama pemakaian kombinasi obat-obat antimalaria ini selain untuk meningkatkan efek obat-obat bersangkutan secara sinergis dan aditif. kina dan meflokuin mempunyai efek yang kuat dan cepat terhadap fase eritrositik aseksual (). terutama Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin dan obat-obat anti-malaria lain merupakan masalah yang rumit dan serius. Obat-obat yang efeknya kuat terhadap gametosit disebut sebagai gametosida. contohnya adalah primakuin. Sebaliknya. .disebut sizontosida darah oleh karena itu menjadi pilihan untuk mengobati serangan akut malaria. Klorokuin. maka yang paling banyak mendapat perhatian adalah resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat antimalaria lainnya. Di Indonesia. Resistensi Plasmodium terhadap Obat Malaria Resistensi obat didefinisikan sebagai kemampuan strain parasit malaria untuk dapat hidup dan/atau berkembang biak walaupun telah diberi obat dalam dosis standar atau lebih tinggi daripada dosis standar. ada obat-obat yang mempunyai efek menghambat pertumbuhan gamet dalam nyamuk (sporontosida). yaitu memakai dua jenis atau lebih obat sizontosida darah yang mempunyai cara kerja farmakologi yang berbeda terhadap parasit malaria. amodiakuin. untuk mengobati malaria falciparum. 19. Dengan demikian. Dalam pengobatan malaria. Ini terjadi hanya beberapa tahun sejak keduanya dipakai untuk profilaksis malaria. Oleh karena itu. dan klorokuin terhadap gametosit Plasmodium vivax/ovale/malariae.karena itu. Falciparum secara tepat terhadap setiap obat. sudah semestinya diperhatikan. juga mencegah timbulnya resistensi P. contohnya adalah primakuin terhadap gametosit Plasmodium falciparum. masalah resistensi terhadap obat-obat anti-malaria yang terjadi pada Plasmodium. Melihat akibat serius yang bisa terjadi karena adanya resistensi terhadap obat anti-malaria. Resistensi terhadap obat anti-malaria yang bekerja lemah dan lambat terhadap fase sizogoni daraha secara relatif lebih cepat timbulnya dibandingkan dengan resitensi terhadap obat yang bekerja kuat dan cepat terhadap sizogoni darah. Belakangan sebagai respon terhadap terjadinya resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin dan obat-obat lain. resistensi P. Selain itu.falciparum terhadap klorokuin baru terjadi kira-kira sesudah 15-20 tahun dipakai dalam pengobatan malaria. contohnya adalah proguanil. berkembang suatu kecenderungan diantara para ahli untuk memakai obat-obat anti-malaria dalam kombinasi. tetapi masih dalam batas toleransi penderita. resistensi Plasmodium terhadap pirimetamin dan proguanil sudah diketahui sejak lama. Ini disebabkan oleh pemakaian obat anti-malaria tertentu dalam waktu yang lama. Secara umum resistensi terjadi sebagai akibat seleksi dan mutasi genetik pada parasit malaria.

4. 2011. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya. amodiakuin+ SP 3. atovakuon-proguanil + artesunat b. Agoes.. dan amodiakuin + artesunat.. EGC 2010  Depkes RI. semakin padat/ banyak jumlah parasitnya yang didapatkan. Prognosis Malaria Prognosis malaria tergantung pada : 1. semakin buruk prognosisnya. WHO Press. FKUI Press. kombinasi antara sulfadoksin + pirimetamin (SP) (Fansidar) 2. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Edisi I. klorokuin +artesunat. dan meflokuin + artesunat/ artemisinin. semakin baik prognosisnya. Dalam Malaria dari Molekuler ke Klinis.. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 044/ Menkes/ SK/I/2007 tentang Pedoman Pengobatan Malaria. DAFTAR PUSTAKA  WHO. Patogenesis Molekuler Plasmodium falciparum. Pribadi. 2007.   Sutanto. SP + artesunat. Pada pemeriksaan hitung parasit. R. 2008. Kegagalan fungsi organ dapat terjadi pada malaria berat terutama organ-organ vital. I.  Noviyanti.. Kegagalan fungsi organ. D. Parasitologi Kedokteran. 2009. Susceptibility of Plasmodium Falciparum to Antimalarial Drugs: Report on global monitoring 1996-2004. Kepadatan parasit. 20. terlebih lagi bila didapatkan bentik sizon dalam pemeriksaan darah tepinya. Makin cepat dan tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya 2. W. 3. klorokuin + sulfadoksin-pirimetamin (SP). Kombinasi yang saat ini masih diteliti khasiat dan keamanannya antara lain adalah a. 2010. Kecepatan/ ketepatan diagnosis dan pengobatan.Kombinasi obat-obat antimalaria yang sudah agak lama dipakai dalam pengobatan malaria falciparum adalah 1. 2005.1:1-16. Epidemiologi Malaria di Indonesia. kina+ antibiotika. Parasitologi Kedokteran Ditinjau Dari Organ . R. Natadisastra.  Kemenkes RI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful