P. 1
MAKALAH USHUL FIQH

MAKALAH USHUL FIQH

|Views: 113|Likes:
Published by Ega Ceniezz

More info:

Published by: Ega Ceniezz on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2013

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN

A. TAQLID 1.

Pengertian Taqlid Sama halnya dengan istilah yang terdapat dalam ilmu fiqh dan ilmu ushul fiqh, taqlid juga berasal dari bahasa Arab. Kata kerja (fi’il)-nya ialah: “qallada”, “yuqallidu”, “taqlidin”. Yang mempunyai arti bermacam-macam, seperti: “mengalungi”, “meniru”, “mengikuti”.1 Para ulama ushul memberikan defenisi taqlid dengan “ mengikuti pendapat seseorang mujtahid atau ulama tertentu tanpa mengetahui sumber dan cara pengambilan pendapat tersebut”. Sedangkan orang yang bertaqlid disebut mukallid. Adapun definisi lain yang mengartikan bahwa taqlid yaitu menerima suatu ucapan orang lain serta mempergunakannya tanpa mengetahui dalil atau alasan yang dipergunakan. Adapun contohnya yaitu:2 “ Si Abdul mengikuti pendapat suatu imam mazhab yang menanyakan bahwa membaca bismillah pada Al-fatiha ketika melaksanakan shalatharus di jabarkan, tanpa mengetahui alasan atau dalil yang dipergunakan oleh imam mazhab tersebut benar atau bagaimana”. Dari defenisi di atas terdapat dua unsur yang perlu diperhatikan dalam pembicaraan taqlid,3 yaitu:
1. Menerima atau mengikuti suatu perkataan seseorang. 2. Perkataan terserbut tidak di ketahui dasarnya, apakah ada dalam Al-Quran

dan Hadist tersebut. Pendapat ahli Fiqh ini hampir sama dengan pendapat Al-ghazali, Asy Syaukani, dan Ash shan’ani yang mengatakan bahwa taqlid itu ialah menerima atau
1 H. Alaiddin koto,M.A. 2009. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Pekanbaru: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Hlm. 132 2 DR. H. Nazar Bakry. 2003. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Hlm.247 3 H. Alaiddin koto,M.A. Op. Cit. Hlm. 132

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

mangamalkan pendapat orang lain yang tidak disertai atau tidak diketahui alasan (dasar hujjahnya) yang berasal dari Al-Quran dan Hadist. Muhammad Rasyid Ridha menetapkan definisi taqlid dengan

menghubungkannya dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat kaum muslimin. Menurut beliau taqlid ialah mengikuti pendapat orang yang dianggap terhormat dalam masyarakat serta dipercaya tentang suatu hukum agama islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya, baik atau buruknya, manfaat atau mudharat hukum itu.
2.

Hukum Taqlid Ada tiga macam hukum-hukum taqlid yaitu: Pertama : Taqlid yang Haram Para ulama sepakat bahwa haram melakukan taqlid yang semacam ini. Taqlid ini terdiri atas tiga macam pula, yaitu :4
a. Taqlid semata mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang

atau orang-orang dahulu kala, yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist. Contohnya ialah menurut adat kebiasaan dan perkataan orangorang dahulu jika seorang melakukan tirakatan selama tujuh malam di makan A, ia akan memperoleh apa yang diinginkannya. Adat kebiasaan dan perkataan ini diikuti orang, sedang tidak terdapat dasarnya dalam AlQuran dan Hadist. Bahkan Allah menyatakan dalam firmanNya:

Artinya: dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga),

4 H.A. Mu’in. Dkk. 1986. Ushul Fiqh (Metode Panggalian Hukum Islam). Jakarta: Institut Agama Islam Negeri. Hlm. 148

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".

(Q.S.2:170)

Dan firman Allah SWT:

Artinya: apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya". dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?(Q.S.

5:104)

Perbuatan mengikuti adat kebiasaan dan perkataan nenek moyang semacam itu termasuk perbuatan yang dilaknati Allah SWT, tidak akan mendapat pertolongan-Nya di dunia dan di akhirat nanti, sebagaimana firman-Nya:

Artinya:

Sesungguhnya

Allah

mela'nati

orang-orang

kafir

dan

menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. pada hari ketika

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

muka

mereka

dibolak-balikan

dalam

neraka,

mereka

berkata:

"Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (Q.S.33:64-68)

b. Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan

keahliannya, seperti orang yang menyembah berhala, tetapi ia tidak mengetahui kemampuan, kekuasaan atau keahlian berhala tersebut.5 Ia mencintai berhala-berhala itu kadang melebihi dari mencintai dirinya sendiri, sebagaimana yang diterangkan di dalam firman Allah SWT:

Artinya: dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah. (Q.S.2:165-166)

5 Ibid. hlm. 151

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

c. Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedang yang bertaqlid

mengetahui bahwa perkataan atau pendapatan itu salah, sebagaimana firman Allah SWT: 6

Artinya: mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orangorang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal. (Q.S 9:31)

Sehubungan dengan ayat diatas Ady Bin Hatim berkata: “Aku pernah datang kepada Rasulullah saw pada leherku ada slaib, beliau berkata: ‘Hai’ Ady, lemparkanlah salib ini dari lehermu dan jangan lagi kamu pakai”. Kemudian beliau membawa ayat 31 surat At Taubah ini. ‘Ady berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak menyediakan pendeta-pendeta itu sebagai Tuhan”. Rasulullah saw bersabda yang artinya sebagai berikut: “Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang telah diharamkan Allah dan mereka telah mengharamkan atas apa yang telah dihalalkan Allah bagimu. Lalu kamu mengharamkannya pula?”

6 Ibid. Hlm. 152

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Taqlid yang tiga macam ini dicela oleh Allah dan pelakunya akan dimintai untuk bertanggungjawab kelak di hari kemudian,sebagaimana firman-Nya:

Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S 17:36)

Ayat ini memperingatkan kepada kaum muslimin agar mereka tidak mengikuti atau mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui. Segala sesuatu yang akan dikerjakan terutam,a yang berhubungan dengan ajaran agama Islam hendaklah diyakini benar dasar atau alasannya. Jangan sekalikali berdasarkan ikut-ikutan atau karena fanatik kepada golongan tertentu saja. Seandainya seseorang merasa dirinya tidak mempunyai ilmu atau tidak dapat mengambil pengertian sesuatu ayat atauhadist, hendaklah ia menanyakan hal itu kepada yang ahlinya, sebagaimana firman Allah SWT:

Artinya: dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orangorang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab. (Q.S 16:43)

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Pada ayat diatas terdapat perkataan ”ahludz zikr”. Sebahagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “ahludz dzikr” pada ayat di atas ialah ulama yang ahli Al-Quran dan hadist, bukanlah maksudnya bahwa orang-orang yang tidak mengetahui agar bertaqlid kepada orangorang yang tahu. Jadi maksud ayat di atas ialah agar orang-orang yang tidak mengetahui tentang agama Islam, termasuk perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT, hendaklah bertanya kepada orang-orang yang dapt mem,ahami Al-Quran dan hadist dengan baik. Jika telah diyakini kebenarannya barulah diamalkan. Sehubungan dengan taqlid yang diharamkan yang tiga macam di atas Ad Dahlawi mengatakan bahwa tidak boleh seorang ‘awam bertaqlid kepada seorang ulama dengan anggapan bahwa semua yang dikatakan ulama itu pasti benar, serta enggan mengikuti perkataan atau pendapat orang lain sekalipun ada dalil yang membenarkan pendapat atau perkataan itu. Kedua: Taqlid yang dibolehkan Sedang dibolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid atau beberapa orang mujtahid dalam hal yang ia belum ketahui hukum Allah dan RasulNya yang berhubungan dengan persoalan atau suatu peristiwa, dengan syarat bahwa yang harus selalu berusaha menyelidiki kebenaran masalah yang diikuti itu. Dengan perkataan lain taqlid itu hanya untuk sementara saja.7 Seperti seorang mengikuti pendapat seorang mujtahid yang menyatakan jika seorang tidak sempat mengerjakan shalat Ashar, ia boleh mengkhadhanya pada shalat magrib berikutnya. Untuk sementara pendapat ini diikuti dahulu karena belum tahu dasar hukumnya, dengan syarat selalu berusaha mengetahuialasan pendapat mujtahid itu. Tetapi jika kemudian ternyata bahwa pendapat itu mempunyai alasan yang tidak benar, maka pendapat itu akan ditinggalkan. Termasuk taqlid yang kedua ini, taqlid sebahagian mujtahid kepada mujtahid yang lain. Taqlid ini dilakukan selama belum diketahui dalil yang kuat yang dapat dijadikan untuk memecahkan persoalan itu. Termasuk
7Ibid. Hlm. 155

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

pula di dalamnya taqlid orang ‘awam itu belum menemukan alasan dari pendapat-pendapat ulama yang didikutinya itu. Sehubungan dengan ini Ad Dahlawi berkata: taqlid yang dibolehkan adalah taqlid dalam arti mengikuti pendapat seorang alim, karena belum nyata hukum Allah dan Rasul-Nya namun akan segera meninggalkan pendapat itu bila ternyata berlawanan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Hal semacam inilah yang berlaku di kalangan umat Islam sejak zaman Nabi. Sekalipun para imam mujtahid, seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi;I, Ahmad bin Hanbal dan sebagainya tidak mengharuskan orang bertaqlid kepada pendapat mereka, namun sementara ulama mutaakhirin dalam kaitan bertaqlid kepada imam, terlebih dahulu membagi kelompok masyarakat kepada dua golongan yaitu:
1. Golongan awam atau orang yang berpendidikan wajib bertaqlid

kepada pendapat salah satu dari keempat mazhab tersebut.
2. Golongan yang memenuhi syarat-syarat ijtihat, sehingga tidak

dibenarkan bertaqlid kepada ulama-ulama yang berpendapat demikian antara lain:
1) Al’Adhud (wafat 573 H) 2) Ibnul Hajib (wafat 646 H) 3) Ibnus Subki (wafat 771 H) 4) Al Mahali (wafat 886 H)

Mereka ini menyatakan bahwa ada dua macam arti taqlid:
1) Taqlid dengan arti lughawi (bahasa), yaitu beramal

atau

mengikuti

pendapat

seseorang

tanpa

mengetahui sama sekali dasar dari pendapat itu.

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

2) Taqlid dengan arti ‘urfi’ (populer), yaitu beramal

atau mengikuti pendapat seseorang, sedang dasar dari pendapat itu tidak diketahui dengan sempurna. Ulama tersebut mewajibkan kaum muslimin melaksanakan taqlid ‘urfi’ ini. Sedang golongan ‘awam’ (orang yang bukan mujtahid) diharuskan bertaqlid kepada mujtahid atau kepada orang ‘alim’ yang meriwayatkan pendapat-pendapat mujtahid. Pendapat ini banyak diikuti oleh ulamaulama indonesia. Mereka membimbing umat kearah pendapat yang demikian.8 Adapun orang yang mempunyai kesanggupan untuk mengisthimbatkan hukum (mujtahid) mereka dilarang bertaqlid, dengan arti bahwa tidak boleh mengikuti langsung perkataan seorang mujtahid, tetapi harus dipikirkan terlebih dahulu untuk mengetahui sampai dimana kebenaran pendapat itu, jika benar diikuti, akan tetapi jika salah ditinggalkan. Ketiga : Taqlid yang diwajibkan Wajib bertaqlid kepada orang yang perkataannya dijadikan sebagai dasar hujjah, yaitu perkataan dan perbuatan Rasulullah saw.
3. Taqlid yang Berkembang

Taqlid yang berkembang sekarang terutama di Indonesia, ialah taqlid kepada buku, bukan taqlid kepada imam-imam mujtahid yang terkenal. Sebagaimana yang diketahui imam-imam mujtahid yang terkenal dan telah diakui oleh kaum muslimin sebagai imam mujtahid yang boleh diikuti, ialah imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy Syafi’i dan Imam Hambali. Pendapat Imam Asy Syafi’i yang murni terdapat dalam kitab Al Um dan Ar Risalah yang dikarang oleh beliau sendiri. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Orang mengaku bertaqlid kepada Imam Asy Syafi’i, tetapi ia tidak mengikuti pendapat Imam Asy Syafi’i, melainkan ia mengikuti pendapat seseorang yang digolongkan termasuk mazhab Asy Syafi’i yang termuat dalam kitab yang dikarangnya. Padahal Imam Asy Syafi’i sendiri tidak pernah berpendapat demikian.

8Ibid . Hlm. 157

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Sehubungan dengan ini Jamaluddin Al Qasimi (wafat 1332 H) menyatakan bahwa segala perkataan atau pendapat dalam satu mazhab yang tidak berasal dari pendapat atau perkataan imam mizhab itu sendiri tidak dapat dipandang sebagai mazhab tersebut, tetapi hanya dapat dipandang sebagai pendapat atau perkataan dari pendapat atau orang yang mengatakan perkataan itu. Maka barang siapa yang bertaqlid kepada Imam Asy-Syafi’i, tentulah kitab Al Um sebagai rujuknya. Apa yang ada di dalamnya ia pegangi dan apa yang tidak ada di dalamnya ia tinggalkan, karena tidak boleh bertaqlid kepada muqallid (pengarang kitab yang menyatakan dirinya termasuk pengikut mazhab Asy Syafi’i). Telah ditetapkan dalam ilmu Ushul bahwa hanya boleh bertaqlid kepada mujtahid, tidak kepada yang lain. Jadi kenyataan menunjukan bahwa taqlid yang berkembang pada saat ini, bukanlah taqlid kepada mujtahid, sebagaimana yang dikehendakki Al ‘Adhud’, Ibnul Hajib, Ibnu Suki, Al Mahali dan para ahli Ushul, tetapi adalah taqlid kepada yang mengaku bertaqlid kepada seorang imam mujtahid yang terkenal, sambil menyisipkan pendapatnya sendiri yang di tulis dalam kitab-kitabnya. Taqlid yang seperti ini tidak di bolehkan oleh Ad Dahlawi, Ibnu Abdil Bar, Al Jauzi dan sebagainya.

4.

Pendapat-pendapat Imam Madzhab tentang Taqlid Sepakat para ulama bahwa taqlid macam pertama, yaitu taqlid yang diharamkan di atas terlarang melakukannya sebagaimana sepakat pula bahwa boleh bertaqlid kepada seorang mujtahid yang telah diakui oleh para ulama sebagai mujtahid selama seseorang belum mempunyai kesanggupan untuk melakukan ijtihad, sesuai dengan ketentuan Ushul Fiqh bahwa dilarang bertaqlid kepada muqallid, sementara boleh bertaqlid kepada mujtahid. 9 Pada masa kehidupan imam-imam mazhab, yaitu antara tahun 100 sampai dengan 250 H, belum ada persoalan taqlid, karena seluruh imam-imam mazhab mendorong dan menganjurkan seluruh kaum muslimin agar menuntut ilmu Agama Islam, sampai dapat melakukan ijtihad. Dengan demikian setiap muslim akan dapat melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadist. Karena itu tidak ada pendapat imam-imam mazhab yang langsung berhubungan dengan
9 Drs. H. Zen Amiruddin. 2009. Ushul Fiqh. Yogyakarta: Penerbit TERAS. Hlm.295

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

taqlid. Yang ada hanyalah agarmelakukan semua ibadat sesuai dengan Al-quran dan Hadiat.mereka sangat mencela orang yng suka ikut-ikutan dan terlalu mengagungkan seseorang, sehingga semua perkataan dan perbuatannya diikuti, sekalipun perkataan dan perbuatan itu tidak pernah dikatakan atau diperbuat oleh Nabu Muhammad saw. Pendapat para imam mazhab tentang taqlid terfaham dari perkataan-perkataan mereka, sebagai berikut:10
a) Abu Hanifah (80-150 H)

Imam Abu Hanifah yang terkenal sebagai cikal bakal ulama fiqh sangat melarang seseorang mengikut apa yang telah dikatakannya, (pendapatnya), jika ia tidak mengetahui dasar perkataan itu. Beliau menyatakan: “ tidak boleh seseorang mengikuti perkataan(pendapat) yang telah kami katakana, sehingga ia mengetahui dari mana asal perkataan kami itu”. Bahkan beliau mengharamkan orang mengikuti fatwanya, jika orang itu tidak mengetahui dalil dari fatwanya tersebut. Mengenai pendapat beliau yang berlawanan dengan Al-Quran dan fahamnya dari percakapanbeliau sebagai berikut: “ Abu Hanifah pernah ditanya orang: ‘Apakah engkau akan mengatakan suatu perkataan sedang kitab Allah melarangnya, bagaimana pendapatmu’. Beliau menjawab: ‘tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah kitab Allah’. Selanjutnya orang itu bertanya: ‘ tinggalkan perkataanku, dan ikutilah khabar dan Rasulullah saw’. Kemudian beliau bertanya : ‘bila perkataan sahabat menyalahkannya’. Beliau menjawab: ‘Tinggalkanlah perkataan-perkataan dan ikutilah perkataan sahabat itu’. Dari ucapan Abu Hanifah itu terfaham bahwa beliau sangat melarang orang bertaqlid kepadanya tanpa pengetahuan tentang alasannya. Juka ada pendapat beliau, ujilah kebenaran pendapat itu dan sebagai batu ujiannya ialah Al-Quran dan Hadist.
b) Malik bin Anas (93-179 H)
10 Beni Ahmad. Dkk. 2008. Fiqh. Ushul Fiqh. Bandung: CV. Pustaka. Halm 60-63

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Imam Malik adalah teman Imam Hanifah, beliau seorang ahli fiqh dan ahli hadist. Beliau menyatakan bahwa ia adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Hal ini difahamkan dari perkataannya: “ sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah sebagai manusia biasa, mungkin aku salah dan mungkin pula benar. Karena itu hendaklah kamu perhatikan pendapatku. Semua pendapatku yang sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul, ambillah, dan semua yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul saw tinggalkanlah’. Dari pernyataan-pernyataan Imam Malik ini difahamkan bahwa beliau melarang seseorang bertaqlid kepada seseorang walaupun orang itu adalah orang terpandang atau mempunyai kelebihan. Setiap perkataan atau pendapat yang sampai kepadanya, kita harus diteliti lebih dahulu sebelum diamalkan.
c) Imam Asy Syafi’i (150-204 H)

Imam Asy Syafi’i adalah murid dari Imam Malik. Ia belajar kepada Imam Malik selama 9 tahun. Kemudian berguru kepada Imam Muhammad bin hasan, murid Imam Abu Hanifah selama lebih kurang 2 tahun: di banding dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, maka pendapat Asy syafi’i tentang taqlid ini lebih tegas, bahkan ada nada yang mengecam orang-orang yang melakukan taqlid dan orang-orang yang menganjurkan agar orang lain bertaqlid. Hal ini difahamkan dari pernyataan beliau berikut: “Terhadap apa yang telah aku katakan, sedang perkataan Nabi saw telah menyalahi perkataanku itu, maka (riwayat) yang benar dari Nabi saw lebih utama, dan janganlah kamu bertaqlid kepadaku”. Kepada Abu Ishaq beliau pernah berpesan: “ Hai Abu Ishaq, janganlah bertaqlid kepada setiap apa yang aku katakana, perhatikanlah yang denikian untuk dirimu sendiri, karena hal itu dengan masalah agama”. Perkataan seperti itu pernah pula disampaikan kepada AL Muzani.
d) Imam Hambali (164-241 H)

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Imam Ahmad bin Hanbal termasuk salah seorang imam mazhab, yaitu mazhab Hanbali. Beliau melarang keras perbuatan taqlid. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan pertanyaan beliau berikut: Imam Abu Daud berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada imam Ahmad bin Hanbal: Apakah Imam Auza’i yang aku ikut atau Imam Malik’. Beliau menjawab: ’jangan kamu mengikuti pendapat salah seorang dari keduanya dalam hal yang berhubungan dengan Agamamu. Apa yang berasal dari Nabi saw dan sahabatnya, hendaklah kamu ambil dan pegang kokoh, kemudian apa yang berasal dari tabi’in boleh kamu ambil setelah kamu seleksi atau teliti. Beliau pernah menyatakan bahwa tanda yang menjukkan sedikitnya ilmu seorang itu, ialah ai bertaqlid kepada seseorang tentang urusan agama. Banyak pertanyaanpertanyaan beliau yang menunjukkan bahwa seorang yang tidak menyetujui taqlid.
B. ITTIBA’ 1. Pengertian Ittiba’

Ittiba’ dari segi bahasa berarti “menurut” atau “mengikuti”,sedangkan orang yang diikuti disebut muttabi.11 Menurut Ushul Fiqh, ittiba’ ialah: mengikut atau menurut semua yang diperintahkan, yang dilarang dan debenarkan Rasullulah saw.
12

Dengan perkataan lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran Agama Islam sesuai

dengan yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW, baik berupa perintah atau larangan. Selanjutnya mereka mengatakan: Arti taqlid menurut syara’, ialah kembali (berpegang) kepada perkataan seseorang yang tidak adfa dasar hujjahnya. Yang demikian itu dilarang oleh syara’, sedang ittiba’ ialah pendapat yang ditetapkan berdasarkan hujjah. Para ulama ushul lain mengemukakan definisi yang hamper sama maksudnya dengan definisi di atas, yaitu: Ittiba’ ialah menerima pendapat seseorang sedang orang yang menerima itu mengetahui darimana (asal) pendapat itu. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa ittiba’ itu lawan taqlid, sebagaimana yang mereka kemukakan seperti telah disebut terdahulu. Yang dimaksud dengan dasar
11 H. Alaiddin koto,M.A. 2009. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. Pekanbaru: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Hlm. 129 12 H.A. Mu’in. Dkk. 1986. Ushul Fiqh (Metode Panggalian Hukum Islam). Jakarta: Institut Agama Islam Negeri. Hlm. 163

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

hujjah, ialah A;-Quran dan Hadist. Jadi maksudnya ialah pendapat yang tidak mempunyai dasar Al-Quran dan Hadist.

2. Macam-macam Ittiba’

Ada dua macam ittiba’, yaitu Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya dan ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya.13
a) Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya

Sepakat pada ulama bahwa seluruh kaum muslimin wajib mengikuti segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, sebagaiman firman Allah SWT yang artinya: “ Ikutilah apa yang kami turunkan kepadamu dan Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (Q.S. 7:2) Hadist di atas menerangkan dengan tegas agar kaum muslimin melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua laranganNya yang terdapat dalam Al-Quran, seperti perintah beriman kepad-Nya, mengerjakan shalat,menunaikan zakat,mengerjakan puasa bulan Ramadhan dan sebagainya. Sedang larangan-Nya seperti larangan mempersekutukan Allah, larangan makan darah, minum khamar dan sebagainya. Perintah dan larangan Rasul ini ada yang berupa menguatkan apa yang telah dinyatakan Al-Quran, atau menjelaskannya atau menyebutkan sesuatu yang belum disebut dalam Al-Quran. Seperti perintah berbuat baik yang tersebut dalam Al-Quran atau anjuran nikah, kemudian hal ini ditegaskan pula oleh hadist-hadist Nabi saw. Perintah mengerjakan shalat lima waktu disebut dalam Al-Quran secara garis besarnya saja, kemudian dijelaskan oleh hadist bagaimana cara-cara mengerjakan shalat itu dan sebagainya.

13 Ibid. Hlm. I64

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya ini dilaksanakan para sahabat dengan baik dimasa Rasulullah saw masih hidup dan diwaktu beliau telah meninggal dunia. Pada masa Nabi saw masih hidup para sahabat langsung mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dan mengentikan semua larangannya. Setelah beliau wafat mereka berittiba’ dengan mengikuti semua yang terkandung dalam A;-Quran dan Hadist. Cara yang dilakukan para sahabat ini dilakukan pula oleh para tabi’in dan generasi berikutnya.

b) Ittiba’ selain kepada Allah dan Rasul-Nya

Berbeda pendapat para ulama tentang ittiba’ kepada para ulama atau kepada para mujtahid. Ada yang berpendapat membolehkan dan ada yang tidak membolehkannya.14 Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ittiba’ itu hanya dibolehkan kepada Allah, Rasul-Nya dan para sahabat saja, tidak boleh kepada yang lain. Pendapat yang lain membolehkan berittiba’ kepada para ulama yang dapat dikategorikan sebagai ulama waratstul anbiyaa’ (ulama sebagai pewaris para nabi). Mereka beralasan dengan firman Allah SWT:

Artinya: dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab. ( Q.S 16:43 )

Pada ayat di atas terdapat perkataan “ahludz dzikr” (orang-orang yang mempunyai pengetahuan).yang dimaksud dengan ahludz dzikr menurut mereka adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu Al-Quran dan Hadist, bukan pengetahuan yang berdasarkan pengetahuan semata.
14Ibid. Hlm.168

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Yang menjadi persoalan ialah jika ahludz dzikr itu menafsirkan AL-Quran dan hadist terlalu jauh, menyimpang bahkan bertentangan dengan prinsipprinsip atau asas-asas ajaran Al-Quran dan Hadist. Terhadap ahludz dzikr yang demikian tidak dibolehkan kaum muslimin berittiba’ kepadanya bahkan dan hendaklah bersikap berhati-hati terhadap orang yang berbuat demikian diancam Allah dengan Azab, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari, Yakni: perintah-perintah, laranganlarangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.

3. Tujuan Ittiba’

Seorang yang akan melakukan ittiba’ tidak memerlukan syarat-syarat, seperti syarat-syarat yang diperlukan seorang Mujtahid.15 Jika ia tidak sanggup memecahkan suatu persoalan agama ia wajib bertanya kepada seorang mujtahid atau orang-orang yang benar-benar mengerti hukum-hukum Agama Islam yang berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Setelah ia menerima jawaban dan ia benarbenar yakin bahwa jawaban itu sesuai dengan Al-Quran dan Hadist, maka hendaklah ia mengamalkannya. Suatu ibadah atau amal jika dilakukan dengan penuh keyakinan akan menimbulkan keikhlasan dan kekhusukan. Keikhlasan dan kekhusukan merupakan syarat shahnya suatu ibadah atau amal yang dikerjakan.

15Ibid. Hlm.170

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

Seandainya jawaban yang diberikan oleh mujtahid atau ulama itu meragukan kebenarannya, maka orang yang berittiba’ itu tidak wajib mengamalkannya, ia boleh bertanya kepada mujtahid yang lain untuk mendapat jawaban yang memuaskannya. Berittiba’ tidak harus dilakukan kepada seorang mujtahid, tetapi dapat dilakukan kepada beberapa orang mujtahid. Mungkin dalam satu masalah mengikuti mujtahid A, tetapi dalam masalah yang lain mengikuti mujtahid B dan seterusnya. Adapun persamaan dan perbedaan antara Taqlid dan Ittiba’ yaitu:16
 Persamaannya: keduanya termasuk perbuatan mengikuti.  Perbedaannya: dalam Ittiba’ bahwa seseorang mengikuti mengetahui

sumber

yang

dijadikan

dasar

oleh

orang

yang

diikuti

dalam

mengemukakan pendapat. Sedangkan dalam taqlid seseorang yang mengikuti sumber yang dijadikan dasar oleh orang yang membolehkan seperti ittiba’ kepada para ulama’

16 http://www.almanhaj.or.id/content/2194/slash/0
USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’) 1

USHUL FIQH (TAQLID dan ITTIBA’)

1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->