P. 1
Makalah Filsafat

Makalah Filsafat

|Views: 234|Likes:
Published by Teguh Syahputra

More info:

Published by: Teguh Syahputra on May 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2016

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Puji syukur Saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas ridho dan karunianya Saya

dapat menyelesaikan makalah Filsafat Ilmu ini dengan lancar. Terima kasih yang tulus kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini, semoga segala bantuan yang telah diberikan menjadi kebaikan dan diridhoi oleh Allah SWT. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak …….selaku Dosen Mata kuliah dan, yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam mengikuti kegiatan perkuliahan dan menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari sepenuhnya makalah ini masih memiliki kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan baik dari sistematika penulisan maupun dari pemilihan kata-kata yang digunakan. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritikan yang membangun demi penyempurnaan makalah yang lain di masa yang akan datang. Akhirnya kepada Allah jugalah kita berserah diri, karena tidak satupun yang dapat terjadi jika tidak atas kehendak-Nya. Semoga bantuan dan kebaikan semua pihak dapat menjadi amal shaleh. Amien Ya Rabbal’Alamin. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekali lagi atas perhatian dari semua pihak kami mengucapkan terima kasih.

Bandung, 13 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ………

…………………………………………………………………… ………………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah …………………………...…………………………….……………… B. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………..…… BAB II PEMBAHASAN 1) Filsafat ……………………………………..………………………………………………………………..... A. Pengertian filsafat ……………………..……………………………………………………………. 1. 2. 3.

Secara Etimologi …………………..………………………………………………………………. Secara Terminologi ……………………………….……………………………………………………… Obyek Filsafat ………………………………..………………………………….…….

B. Pendekatan Dalam Mempelajari Filsafat………………..……………………………… 2) Ilmu Pengetahuan ……………………..………………………………….. A. Pengertian Ilmu ……………………………………………………………… B. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan …………………………..………………………………………. C. Obyek Ilmu ……………………………………………………..……………………………………………….. D. Perkembangan Ilmu …………………………………..………………………………………………… E. SIkap Ilmiah ……………………………………..………………………………………………. F. Fungsi Ilmu Pengetahuan …………………………………………..…………………………………… 3) Zoology ……………………………………..………………………………………………………………………… A. Pengertian Zoologi ………………………………..………………………………………. ……………… B. Nafs(Jiwa) Pada Hewan……………………………………………………………………… 1. 2. Wujud Nafs Pada Hewan……………………………………………………………………. Perbedaan Nafs Hewan Dan Manusia…………………………………………..………

C. Cabang Ilmu (Subdisiplin) Zoologi ……………………………..………………………………………….

4) Implementasi dan Manfaat Filsafat Zoologi Dalam Kehidupan ……………………………………….. A. Filsafat Dan Ilmu Kedokteran Hewan ………………………………..………………………………………. 1. Pengertian Ilmu Kedokteran Menurut Filsafat Ilmu…………………………………………………… 2. Apa manfaat filsafat ilmu bagi profesi kedokteran hewan..……………………………………….

3. Bagaimana hubungan filsafat ilmu dengan perkambangan ilmu kedokteran hewan………………………………………………………………………………………………………………………..
B. Manfaat Dan Bahay Mempelajari Zoologi ……………………………..…………………………………. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN ………………………………………………………………………………………..………………………….

DAFTAR PUSTAKA …………………………..………………………………………………………..…..………………………………

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat ilmu diberikan sebagai pengetahuan bagi orang yang ingin mendalami hakikat ilmu dan kaitannya dengan pengetahuan lainnya. Bahan yang diberikan tidak ditujukan untuk menjadi ahli filsafat. Dalam masyarakat religius, ilmu dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan, karena sumber ilmu yang hakiki adalah Tuhan. Manusia diberi daya fikir oleh Tuhan, dan dengan daya fikir inilah manusia menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi. Sebagai bagian dari bangunan besar filsafat, filsafat ilmu hilang dan tumbuh berganti dari mashab yang satu ke mashab yang lainnya. Ini karena pemikiran filsafat ilmu berasal dari pikiran manusia. “Filsafat adalah pengetahuan atas realitas dalam kemungkingn-kemungkinan akal manusia, karena filsafat berakhir pada teori ilmu pengetahuan untuk memperoleh kebenaran dan bertindak di atas rel kebenaran yang sudah ditemukan”, demikian kata Abu Y’aqub al-kindi (dalam Hossein Nasr, 1993). Dalam filsafat ilmu pengetahuan mempelajari esensi atau hakikat ilmu pengetahuan tertentu secara rasional. Filsafat ilmu pengetahuan merupakan cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu. Salah satu cara untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan yang lain adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan dalam hubungannya dengan objek apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi), bagaimana cara mengetahui pengetahuan tersebut (epistemologi) dan apa fungsi pengetahuan tersebut (aksiologi). Ontologi berasal dari bahasa Yunani, ontos (yang sedang berada) dan logos (ilmu). Dalam hal ini, ontologi diartikan sebagai suatu cabang metafisika yang berhubungan

dengan kajian mengenai eksistensi itu sendiri. Ontologi mengkaji sesuai yang ada, sepanjang sesuatu itu ada. Clauberg menyebut ontologi sebagai “ilmu pertama”, yaitu studi tentang yang ada sejauh ada. Studi ini dianggap berlaku untuk semua entitas, termasuk Allah dan semua ciptaan, dan mendasari teologi serta fisika Dengan pengetahuan manusia dapat mengembangkan mengatasi kelangsungan hidupnya, memikirkan hal-hal yang baru dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang khas di muka bumi ini. Sesuai dengan judul makalah ini, maka penulis akan membahas tentang Filsafat Ilmu Hewani secara ontology,epistimologi dan aksiologi. Adapun jika nantinya ada penjelasan yang tidak sesuai, sebelumnya penulis memohon maaf. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, muncul beberapa pertanyaan yang nantinya menjadi bahan dalam penjabaran makalah ini, yaitu : 1. Apa itu Filsafat? 2. Apa Itu Ilmu? 3. Apa itu Filsafat Ilmu? 4. Cabang Ilmu Pengetahuan ; Zoologi dan hubunganya dengan filsafat Jika di lihat dari Objek dan Sistematika filsafat 5. Cara Mengaplikasikan Metode Aristoteles yaitu Metode Rasional-deduktif dan metode Empiris-induktif Zoologi

BAB II PEMBAHASAN

1. PENGANTAR ILMU FILSAFAT

A. Pengertian Filsafat Pengertian fisafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan, antara satu ahli filsafat dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan terminologi. 1. Secara Etimologi

Filsafat dalam bahasa arab dikenal dengan kata falsafah. Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia yang terdiri dari dua suku kata yakni philos yang berarti cinta, atau philia yang berarti persahabatan, dan kata sophos yang berarti inteligensi, kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan. Sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaandalam arti yang sedalam-dalamnya, kemudian dari sini dikenal istilah philosophy dalam bahasa inggris. Dengan demikian seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Sejarah telah mencatat bahwa istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras pada tahun 572 – 497 SM (sekitar abad ke-6 SM). Istilah philosophia ini muncul berawal ketika Pythagoras ditanya tentang apakah ia termasuk orang yang bijaksana. Pythagoras dengan rendah hati menjawab pertanyaan tersebut bahwa dirinya adalah pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom). 2. Secara Terminologi

Istilah philosophia dan philosophos (falsafah dan failasuf) itu sendiri baru menjadi popular dan lazim digunakan pada masa Socrates dan Plato (sekitar abad ke-5 SM).
 

Plato (427-384 SM) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristóteles (382-322 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang meliputi kebenaran yang obyek kajiannya adalah ilmu metafísica, logika, retórika, etika, ekonomi dan estetika.

  

Al-Farabi (870-950 M) seorang filosof Islam mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bagaimana hakekat alam yang sebenarnya. Rene Descartes (1590-1650 M) mengatakan bahwa filsafat adalah kumplan semua pengetahuan diman Tuhan ,alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Imanuel Kant (1724-1804 M) mengasumsikan bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistimology (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.

Berdasarkan asumsi itulah, maka menurut Kant persoalan yang menjadi pokok kajian filsafat, yaitu; 1. 2. 3. 4. Apakah yang dapat manusia ketahui (dijawab oleh metafisika); Apa yang seharusnya diketahui / dikerjakan manusia (dijawab oleh etika); Sampai dimanakah harapan manusia (dijawab oleh agama); dan Apakah yang dinamakan manusia (dijawab oleh Anthropologi).

Langeveld berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir tentang masalah –masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu maslah–masalah mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian dan kebebasan. Menurut Harun Nasution, falsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata, yakni philein dalam arti cinta dan sophos dalam arti hikmat (wisdom). Harun mengatakan bahwa orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan tabiat susunan kata-kata Arab, yaitu falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Berdasarkan pola kalimat (kata) tersebut, maka penyebutan kata filsa fat dalam bentuk kata benda seharusnya falsafah atau filsaf. Lebih lanjut Harun mengatakan bahwa kata filsafat yang banyak digunakan dalam bahasa Indonesia, sebetulnya bukan murni berasal dari bahasa Arab falsafah dan juga bukan murni dari bahasa Barat philosophy. Akan tetapi, kata filsafat ini merupakan gabungan dari keduanya (bahasa Arab dan Barat). Kata fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari bahasa Arab. Berfilsafat menurut Harun adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar-dasar persoalan. Berdasarkan pengertian itulah, maka Harun mendefinisikan filsafat sebagai :
   

Pengetahuan tentang hikmah; Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar; Mencari kebenaran; dan Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.

M. Rasjidi dan Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa falsafah (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata philosophia, yang terambil dari akar kata philo atau philein yang berarti cinta (loving) dan shopia yang berarti pengetahuan, kebijaksanaan (hikmah atau wisdom). Jadi philosophia artinya cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan atau kebenaran menurut Rasjidi disebut philosophos, dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dengan demikian, philosophos atau failasuf adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usa dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, philosophos atau failasuf adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan dan kebenaran. Rasjidi lebih lanjut menyatakan bahwa meskipun falsafah berasal dari bahasa Yunani sebagai daerah sumber awal kegiatan berfalsafah, tetapi dalam bahasa Arab asli terdapat suatu kata yang mirip dengan makna filsafat, yaitu kata hikmat. Menurut Rasjidi, makna asal dari kata hikmat adalah tali kendali yang digunakan pada seekor kuda untuk mengekang keliarannya. Juga berarti pengetahuan atau kebijaksanaan. Atas dasar itu, maka diambillah kata hikmat sebagai sinonim dari kata filsafat. Karena seseorang yang memiliki hikmat (pengetahuan) itu, seharusnya dapat lebih bijaksana dan dapat membentengi dirinya dari perbuatan rendah dan hina. Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (bahasa Arab), philosophy (bahasa Inggris), philosophie (bahasa Jerman, Belanda dan Francis). Menurut Ali Mudhafir, semua kata itu berasal dari bahasa Yunani philosophia. Sedangkan kata philosophia itu sendiri terdiri dari dua suku kata, yakni philein, philos dan sophia. Philein berarti mencintai, philos berarti teman, sophos berarti bijaksana dan sophia berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, kata filsafat secara etimologi menurut Mudhafir memiliki dua pengertian yang berbeda. Pertama, istilah filsafat dilihat dari asal kata philein dan sophos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (filsafat sebagai kata sifat). Kedua, istilah filsafat dilihat dari asal kata philos dan sophia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat sebagai kata benda). Ia sendiri memberikan pendapat yang sangat beragam. Yakni sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Filsafat sebagai suatu sikap terhadap kehidupan dan alam semesta Filsafat sebagai suatu metode Filsafat sebagai kelompok persoalan Filsafat sebagai sekelompok teori atau sistem pemikiran Filsafat sebagai analisis logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah Filsafat merupakan usaha untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh

Dari pengertian dan definisi filsafat yang dikemukakan oleh para ahli dan filosof sebagaimana tersebut di atas, dapat dipahami bahwa: 1. Filsafat adalah usaha spekulatif yang rasional, sistematik dan konseptual untuk memperoleh pengetahuan atau pandangan yang selengkap mungkin mengenai

realitas (kebenaran). Tujuannya adalah untuk mengungkapkan atau menggambarkan dengan kata-kata, hakekat realitas akhir yang mendasar dan nyata. 2. Filsafat adalah ikhtiar untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan secara koheren dan menyeluruh (holistic dan comprehensive), sebagaimana yang tampak dari kegiatan filosofis yang mencari sumber, hakikat, keabsahan dan nilainilai pengetahuan apapun. 3. Filsafat adalah wacana tempat berlangsungnya penelusuran kritis terhadap berbagai pernyataan dan asumsi yang umumnya merupakan dasar suatu pengetahuan. 4. Filsafat dapat dipandang sebagai tubuh pengetahuan yang memperlihatkan lepada kita apa yang kita katakan, dan mengatakan kepada kita apa yang kita lihat. Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa ruang lingkup pembahasan filsafat adalah, pertama, kajian yang berkenaan dengan pencarian kebenaran fundamental dengan cara : (a) argumentatif, yakni pemaparan pendapat yang rasional dengan disertai dasar-dasar penalarannya; (b) non-empirik, yakni tidak berdasarkan pemahaman inderawi. Kedua, penalaran filosofis yang umumnya sibuk menanyakan serta menelusuri makna dan penyebab dasar dari berbagai pengetahuan tanpa mengenal batas apapun, baik batas alamiah, apalagi batas buatan manusia, seperti batas ruang, waktu, agama atau kepercayaan, adat istiadat, etnik, ilmu, dan hal-hal lainnya. Penalaran filosofis yang dimaksud adalah penalaran yang selalu mengandung ciri-ciri skeptis (meragukan), menyeluruh (holistic, comprehensive), mendasar (radikal), kritis, dan analitis. Filsafat adalah upaya manusia untuk menemukan kebenaran hakiki melalui cara berpikir yang sistematis, komprehensif (menyeluruh, meluas), dan radikal (sampai ke akar-akarnya). Melalui berfikir filsafat, diharapkan manusia menjadi lebih mampu bersikap. 3. Obyek Filsafat

Obyek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai obyek, yang dibedakan menjadi dua, yaituobyek material dan obyek formal. a) Obyek Material Filsafat Obyek material filsafat yaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, juga segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materi konkret, psisik, maupun yang material abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstraklogis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafattak terbatas, yakni segala sesuatu yang ada (konkret) dan yang mungkin ada (abstrak).

b) Obyek Formal Filsafat Obyek formal filsafat yaitu sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembetukan pengetahuan itu, atau dari sudut mana obyek material itu disorot, yang menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything). Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan. Karena filsafat berusaha mengerti sesuatu sedalam dalamnya. Satu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menimbulkan ilimu yang berbeda-beda. Misalnya yang menjadi obyek materialnya adalah manusia, bila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda-beda maka ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia, diantaranya psikologi, antropologi, soiologi dan lainnya. Dengan demikian pada dasarnya, untuk mengenal esensi suatu ilmu, bukanlah pada obyek materialnya, melainkan pada obyek formalnya. Menurut Ir. Pudjawijatna, obyek materi filsafat adalah ada dan mungkin ada. Obyek materi filsafat tersebut sama dengan obyek materi dari ilmu seluruhnya. Yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah obyek formanya, sehingga kalau ilmu membatasi diri dan berhenti pada dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam-dalamnya, inilah obyek formal filsafat.

B.

CABANG-CABANG STUDI YANG TERKAIT 1) Logika. Cabang ilmu ini sulit dipisahkan dari epistemologi namun secara umum dianggap sebagai disiplin yang berbeda. Logika adalah studi tentang berbagai jenis proposisi yang berbeda dan hubungan di antara mereka yang menjustifikasi kesimpulan. Beberapa bagian dari studi ini berhubungan erat dengan matematika, sebagian yang lain mungkin bisa diklasifikasikan termasuk ke dalam epistemologi. 2) Etika atau Filsafat Moral. Berhubungan dengan nilai-nilai dan konsepsi tentang “seharusnya”. Studi ini mengajukan pertanyaan seperti “Apakah kebaikan yang utama?” “Apakah definisi tentang baik?” “Apakah kebenaran suatu tindakan hanya bergantung pada konsekuensinya?” Apakah penilaian kita tentang apakah yang seharusnya kita lakukan bersifat subyektif atau obyektif?” “Apakah fungsi dari hukuman?” “Apakah alasan utama kenapa kita seharusnya tidak berbohong?” 3) Filsafat Politik. Aplikasi filsafat (terutama etika) pada persoalan yang berhubungan dengan individu-individu yang terorganisir di dalam suatu negara. Filsafat ini mernpertimbangkan pertanyaan seperti “Apakah individu memiliki h ak ketika

berhadapan dengan negara?” “Apakah negara melampaui dan berada di atas individu?” “Apakah demokrasi adalah bentuk terbaik pemerintahan?” 4) Estetika. Aplikasi filsafat pada persoalan seni dan keindahan. Estetika mengajukan pertanyaan seperti “Apakah keindahan bersifat subyektif atau obyektif?” “Apakah fungsi seni?” Sisi manakah dari kodrat kita yang tertarik oleh berbagai jenis keindahan?” 5) Teori Nilai. Kadangkala digunakan untuk mencakup studi tentang nilai, kendati istilah ini mungkin diletakkan di bawah heading etika atau filsafat moral. Tentu kita bisa menganggap nilai sebagai konsepsi umum, spesies-spesies tertentu dan aplikasi dari nomer (2), (3) dan (4).

2. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN A. Pengertian Ilmu Ilmu berasal dari bahasa Arab: 'alima, ya'lamu, 'ilman yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris ilmu disebut science dan bahasa latin scientia(pengetahuan). Dalam kamus besar bahasa Indonesia Ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metodemetode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu. Ada orang yang menamakannya ilmu, ada yang menamakannya ilmu pengetahuan, dan ada pula yang menyebutnya saint. Keberagaman istilah tersebut adalah suatu usaha untuk melahirkan padanan (meng-Indonesiakan) kata science yang asalnya dari bahasa Inggris. Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang dibaca dalam pustaka menunjukkan pada sekurang-kurangnya tiga hal: pengetahuan, aktivitas dan metode. Dalam hal yang pertama dan ini yang terumum, Ilmu senantiasa berarti pengetahuan. Diantara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah suatu kumpulan yang sistimatis dari pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah. Pengetahuan sesungguhnya hanyalah hasil atau produk dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Dengan demikian dapatlah dipahami bilamana ada makna tambahan dari ilmu sebagai aktivitas( atau suatu proses yakni serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manusia). Menurut Prof Harold H Titus, banyak orang telah

mempergunakan istilah ilmu untuk menyebut suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang objective dan dapat diperiksa kebenarannya. sementara itu dilihat dari ruang lingkupnya The Liang Gie menyatakan pengertian ilmu sebagai berikut :  Ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebutkan segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya.  Ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari pokok soal tertentu, ilmu berarti cabang ilmu khusus

sedangkan jika dilihat dari segi maknanya The Liang Gie mengemukakan tiga sudut pandang berkaitan dengan pemaknaan ilmu/ilmu pengetahuan yaitu :  Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.  Ilmu sebagai aktivitas, artinya suatu aktivitas mempelajari sesuatu secara aktif, menggali, mencari, mengejar atau menyelidiki sampai pengetahuan itu diperoleh. Jadi ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan (Study), penyelidikan (inquiry), usaha menemukan (attempt to find), atau pencarian (Search).  Ilmu sebagi metode, artinya ilmu pada dasarnya adalah suatu metode untuk menangani masalah-masalah, atau suatu kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang mana ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan dikenal sebagai metode.

Harsoyo mendefinisikan ilmu dengan melihat pada sudut proses historis dan pendekatannya yaitu :  Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan

Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh pancaindra manusia.

Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan pengertian ilmu yaitu :     Ilmu adalah sejenis pengetahuan Tersusun atau disusun secara sistematis Sistimatisasi dilakukan dengan menggunakan metode tertentu Pemerolehannya dilakukan dengan cara studi, observasi, eksperimen.

Dengan demikian sesuatu yang bersifat pengetahuan biasa dapat menjadi suatu pengetahuan ilmiah bila telah disusun secara sistematis serta mempunyai metode berfikir yang jelas, karena pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini merupakan akumulasi dari pengalaman/pengetahuan manusia yang terus difikirkan,

disistimatisasikan, serta diorganisir sehingga terbentuk menjadi suatu disiplin yang mempunyai kekhasan dalam objeknya.

B. Ciri - Ciri Ilmu ( Ilmu Pengetahuan) Secara umum dari pengertian ilmu dapat diketahui apa sebenarnya yang menjadi ciri dari ilmu, meskipun untuk tiap definisi memberikan titik berat yang berlainan. Menurut The Liang Gie secara lebih khusus menyebutkan ciri-ciri ilmu sebagai berikut :  Empiris (berdasarkan pengamatan dan percobaan)  Sistematis (tersusun secara logis serta mempunyai hubungan saling bergantung dan teratur)  Objektif (terbebas dari persangkaan dan kesukaan pribadi)  Analitis (menguraikan persoalan menjadi bagian-bagian yang terinci)  Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya) Sementara itu Beerling menyebutkan ciri ilmu (pengetahuan ilmiah) adalah :   Mempunyai dasar pembenaran Bersifat sistematik

Bersifat intersubjektif

Ilmu perlu dasar empiris, apabila seseorang memberikan keterangan ilmiah maka keterangan itu harus memmungkintan untuk dikaji dan diamati, jika tidak maka hal itu bukanlah suatu ilmu atau pengetahuan ilmiah, melainkan suatu perkiraan atau pengetahuan biasa yang lebih didasarkan pada keyakinan tanpa peduli apakah faktanya demikian atau tidak. Upaya-upaya untuk melihat fakta-fakta memang merupakan ciri empiris dari ilmu, namun demikian bagaimana fakta-fakta itu dibaca atau dipelajari jelas memerlukan cara yang logis dan sistematis, dalam arti urutan cara berfikir dan mengkajinya tertata dengan logis sehingga setiap orang dapat menggunakannya dalam melihat realitas faktual yang ada. Disamping itu ilmu juga harus objektif dalam arti perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senang harus dihindari, kesimpulan atau penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada, sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpa melibatkan perasaan pribadi yang ada pada saat itu. Analitis merupakan ciri ilmu lainnya, artinya bahwa penjelasan ilmiah perlu terus mengurai masalah secara rinci sepanjang hal itu masih berkaitan dengan dunia empiris, sedangkan verifikatif berarti bahwa ilmu atau penjelasan ilmiah harus memberi kemungkinan untuk dilakukan pengujian di lapangan sehingga kebenarannya bisa benar-benar memberi keyakinan. Dari uraian di atas, nampak bahwa ilmu bisa dilihat dari dua sudut peninjauan, yaitu ilmu sebagai produk/hasil, dan ilmu sebagai suatu proses. Sebagai produk ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang tersistematisir dan

terorganisasikan secara logis, seperti jika kita mempelajari ilmu ekonomi, sosiologi, biologi. Sedangkan ilmu sebagai proses adalah ilmu dilihat dari upaya perolehannya melalui cara-cara tertentu, dalam hubungan ini ilmu sebagai proses sering disebut metodologi dalam arti bagaimana cara-cara yang mesti dilakukan untuk memperoleh suatu kesimpulan atau teori tertentu untuk mendapatkan, memperkuat/menolak suatu teori dalam ilmu tertentu, dengan demikian jika melihat ilmu sebagai proses, maka diperlukan upaya penelitian untuk melihat fakta-fakta, konsep yang dapat membentuk suatu teori tertentu.

C. Objek Ilmu Setiap ilmu mempunyai objeknya sendiri-sendiri, objek ilmu itu sendiri akan menentukan tentang kelompok dan cara bagaimana ilmu itu bekerja dalam memainkan perannya melihat realitas. Secara umum objek ilmu adalah alam dan manusia, namun karena alam itu sendiri terdiri dari berbagai komponen, dan manusiapun mempunyai keluasan dan kedalam yang berbeda-beda, maka mengklasifikasikan objek amat diperlukan. Terdapat dua macam objek dari ilmu yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah seluruh bidang atau bahan yang dijadikan telaahan ilmu, sedangkan objek formal adalah objek yang berkaitan dengan bagaimana objek material itu ditelaah oleh suatu ilmu, perbedaan objek setiap ilmu itulah yang membedakan ilmu satu dengan lainnya terutama objek formalnya. Misalnya ilmu ekonomi dan sosiologi mempunyai objek material yang sama yaitu manusia, namun objek formalnya jelas berbeda, ekonomi melihat manusia dalam kaitannya dengan upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan sosiologi dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia.

D. Perkembangan ilmu Ditinjau dari perkembangannya maka ilmu dibagi dalam tiga tahap yakni: 1) Tahap sistematis Pada tahap ini ilmu mulai menggolong-golongkan objek empiris kedalam kategorikategori tertentu yang memungkinkan kita untuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum dari angggota-anggota yang menjadi kelompok tertentu. Ini merupakan pengetahuan manusia mengenali dunia fisik. . Struktur Ilmu Ahmad Tafsir, membagi sains menjadi dua, yaitu sains kealaman dan sains sosial. Dalam makalah ini, hanya ditulis beberapa ilmu. 1. Sains Kealaman
    

Astronomi Fisika : mekanika, bunyi, cahaya dan optik, fisika nuklir Kimia : kimia organik, kimia an organik, kimia teknik Ilmu Bumi : paleontologi, geofisika, mineralogi, geografi Ilmu Hayat : biofisika, botani, zoologi

1. Sains Sosial
    

Sosiologi : sosiologi pendidikan, sosiologi komunikasi Antropologi : antropologi budaya, antropologi politik, antropologi ekonomi Psikologi : psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan Politik : politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional 2) Tahap komparatif Pada tahap ini ilmu mulai mencari hubungan yang didasarkan pada perbandingan antara berbagai objek yang kita kaji.

3) Tahap Kuantitatif Pada tahap ini ilmu mencari hubungan sebab akibat berdasarkan pengukuran yang eksak dari objek yang kita selidiki.

E.

Sikap Ilmiah Adalah sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam

melakukan tugasnya untuk mempelajari meneruskan, menolak atau menerima serta merubah atau menambah suatu ilmu. Prof harsojo menyebutkan enam macam sikap ilmiah : 1) Obyektivitas , dalam peninjauan yang penting adalah obyeknya 2) Sikap serba relatif , ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara a priori telah diterima sebagai suatu kebenaran. Malahan teori-teori dalam ilmu sering untuk mematahkan teori yang lain. 3) Sikap skeptis adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataan pernyataan yang belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya. 4) Kesabaran intelektual , sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan cukup lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan. 5) Kesederhanaan adalah sikap cara berfikir, menyatakan dan membuktikan. 6) Sikap tidak memihak pada etik.

F.

Fungsi Ilmu Pengetahuan Drs R.B.S. Fudyartanta, dosen psikologi universitas gajah mada menyebutkan 4 tujuan ilmu pengetahuan: 1) Fungsi deskriptif: menggambarkan ,melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari 2) Fungsi pengembangan, menemukan hasil ilmu yang baru 3) Fungsi prediksi, meramalkan kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga dapat dicari tindakan percegahannya Fungsi Kontrol, mengendalikan peristiwa yang tidak dikehendaki.

3. ZOOLOGI

A. Pengertian Zoologi istilah zoologi tersusun dari dua kata , yaitu zoo dan logi. kata zoo memiliki arti hewan sedangkan logi memiliki arti ilmu pengetahuan. jadi yang dimaksud dengan zoologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hewan. selanjutnya ilmu zoologi berkolaborasi dengan ilmu botani sehinga secara bersama - sama membentuk ilmu biologi atau ilmu hayat. ilmu botani sendiri adalah ilmu pengetahuan tentang tumbuhan. hal ini terjadi karena Asas-asas terpenting dalam ilmu hayat atau ilmu biologi berlaku baik pada hewan maupun tumbuhan. dengan kata lain hewan dan tumbuhan merupakan objek kajian dari ilmu biologi. Asas-asas terpenting itu adalah: hewan dan tumbuhan mempunyai siklus hidup; keduanya makan dan bergerak, tumbuh dan berkembang, serta berlipat ganda maksudnya berkembang biak. Namun, meskipun hewan dan tumbuhan menjadi objek kajian ilmu hayat ( biologi ) ada beberapa asas yang hanya ada dalam wawasan zoology, asas-asas tersebut merupakan asas tambahan yang hanya berlaku pada hewan saja seperti antara lain mempunyai indera karena tumbuhan tidak memiliki indra, kemampuan bersuara karena tumbuhan tidak punya pita suara sehinga tumbuhan tidak bisa bersuara dan kejiwaan (psike) seperti yang kita jumpai pada kera dan anjing. berbeda dengan tumbuhan yang tidak punya psike atau kejiwaan sehingga kita tidak pernah mencupai tumbuhan marah, malu atau jengkel.

B. NAFS(RUH) HEWAN Ringkasan Pertanyaan 1. Apakah binatang memiliki ruh (jiwa) dan apabila mereka memiliki ruh, lantas apa bedanya ruh mereka dengan ruh manusia? Pertanyaan 2. Apakah binatang memiliki ruh (jiwa) dan apabila mereka memiliki ruh, lantas apa bedanya ruh mereka dengan ruh manusia? Jawaban Global

Sebelum menjelaskan persoalan yang mengemuka kiranya perlu disebutkan di sini bahwa asas dan pijakan jawaban yang diberikan adalah bersandar pada Filsafat Hikmah (filsafat Sadrian) dan berdasarkan pandangan Sadrian ini matlab-matlab yang mengedepan akan dijelaskan dalam dua pembahasan inti dan beberapa pembahasan lateral. Pembahasan pertama adalah pembahasan tentang “wujudnya nafs (jiwa) pada hewan.” Pada pembahasan ini terdapat beberapa masalah yang perlu mendapat perhatian: 1. Pada seluruh pembahasan filosofis yang bertautan dengan masalah nafs (jiwa) di antaranya adalah nafs hewan yang disebut sebagai salah satu instanta luaran (mishdaq) yang pasti. Kendati masing-masing dari instanta luaran ini memiliki tipologi tertentu yang membuatnya berbeda dan tipikal antara satu dengan yang lain. 2. Kehewanan hewan diperoleh lantaran adanya nafs hewani padanya. Dan apabila kita asumsikan hewan tidak memiliki nafs, maka tingkatan atau tingkatan-tingkatan sebelumnya tidak akan berbeda antara satu dengan yang lainnya dan sejatinya hewan tidak akan pernah mewujud. 3. Dalam bilangan-bilangan hewan seperti lebah, laba-laba dan sebagainya, pengaruh akan adanya nafs dengan jelas dapat disaksikan dari sebagian hewan tersebut. 4. Para pemikir otoritatif dalam beberapa analisa ilmiah menyebutkan bukti-bukti atas wujudnya nafs pada hewan. Di antaranya adalah ilmu hudhuri hewan pada dzatnya atau berpengaruhnya kehendak dalam perbuatan-perbuatan hewan, serta dikumpulkannya jiwa-jiwa hewan pada dunia yang lain (baca: Kiamat) dimana semua ini merupakan penjelas akan wujdunya nafs pada hewan-hewan.

5. Dalil-dalil atas wujudnya nafs pada hewan dengan bersandar pada pencerapan bentukbentuk mitsâli (ideal) dan mujarrad (non-material) oleh hewan dan juga tercetusnya perbuatan-perbuatan dan efek-efek variatif dan fluktuatif dari hewan. Matlab-matlab bagian kedua berjudul “perbedaan antara nafs hewan dan manusia” yang mengedapan antara lain: Nafs manusia dan hewan dari sudut pandang jasmani terdapat perbedaan dan rangkapan dimana materi benda manusia lebih seimbang dan sempurna daripada yang terdapat pada hewan. Dan juga dari sisi kejiwaan terdapat banyak perbedaan dimana atas alasan ini, menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Di antaranya, kekuatan manusia untuk berkata-kata dengan menggunakan huruf, kalimat, pikiran dan sebagainya yang ditransformasi kepada orang lain. Atau pengaruh-pengaruh psikologisnya atas ragam faktor seperti tertawa, menangis, bersedih dan sebagainya. Dengan adanyan seni, art, industri dan kreativitas manusia yang tidak terdapat pada dunia hewan, dan juga perebedaan esensial nafs manusia dan hewan yaitu pada sudut pandang bahwa nafs manusia adalah rasional dan nafs hewan adalah imaginal (khiyâli). Di samping itu, seluruh gairah dan kemampuan nafs hewani adalah sekedar untuk memenuhi segala kebutuhan jasmaninya. Adapun keluasan nafs insani dari sudut pandang praktis dan teoritis, dapat menjangkau tingkatan yang paling tinggi melebihi dari melulu kebutuhan jasmani. Jawaban Detil Pertanyaan di atas akan dikaji berdasarkan pada paradigma filsafat Sadrian. Pada karyakarya Mulla Shadra dan para pengikut maktab filsafatnya, dalam pembahasan terkait dengan nafs, ma’ad, ilmu dan kehendak (iradah) terdapat singgungan atau rincianrincian dalam masalah ini. Matlab-matlab yang dapat diuraikan terkait dengan masalah “wujud nafs pada hewan” dibagi ke dalam dua pembahasan utama dan lima bagian pembahasan ringkas. Dan kelanjutannya ihwal perbedaan nafs hewan dan manusia.

1.

Wujud nafs pada hewan a) Nafs hewan merupakan salah satu mishdaq nafs yang terdapat di alam semesta

Ghalibnya, dalam pembahasan filsafat yang bertautan dengan nafs (jiwa), kapan saja definisi tentangnya diutarakan, maka nafs nabati, nafs hewani dan nafs insani juga akan disebutkan. Meski masing-masing dari instanta luaran ini memiliki tipologi sendiri-sendiri yang membuat perbedaan di antara mereka. Namun ketiganya satu dan seragam dalam menikmati hakikat dan esensi. Nafs (jiwa) adalah suatu eksisten ruhani dan non-material

dimana seluruh anggotanya juga bercorak non-material. Apabila nafs itu rasional (‘aqlâni) maka anggotanya juga rasional. Jika nafs itu hewani maka anggotanya juga imaginal (mitsâli). Demikian juga dengan nafs nabati yang anggotanya sepadan dengan nafs nabati.

b) Pemberian nafs hewani merupakan salah satu tingkatan dari tingkatan penciptaan alam material Mulla Shadra merupakan salah seorang yang meyakini bahwa dalam penciptaan eksisten material terdapat tingkatan dan fase penciptaan yang dimulai dari hal-hal yang sederhana, tunggal dan simpel berproses seterusnya hingga tingkatan rangkapanrangkapan sempurna. Pada sebagian tingkatan ini, melulu rangkapan materi tidak akan berpengaruh. Dan penyempurnaan tingkatannya serta penyediaan kemunculan eksisten yang merupakan tuntutan mekanisme penciptaan membutuhkan disertakannya sebuah kekuatan nonmaterial. Di antara tingkatan ini adalah tingkatan pengadaan hewan. Kekuatan yang menyusun rangkapan pada tingkatan ini dan yang mewujudkan hewan disebut sebagai “nafs hewani.” Karena itu, tidak hanya hewan yang memiliki nafs, bahkan ketika nafs hewani ini tiada maka sekali-kali eksisten yang bernama hewan tidak akan pernah ada. Penyertaan nafs pada rangkapan-rangkapan material hewan merupakan salah tuntutan mekanisme alam material. Aturan yang juga berlaku pada manusia dan tumbuhtumbuhan. “Kekuatan non-material” atau “nafs” merupakan titik pembeda eksisteneksisten material antara satu dengan yang lain. Pada sebagian eksisten material tersebut misalnya mineral dan bebatuan (jamadat), tiadanya kekuatan ini yang membentuk identitasnya. Namun pada sebagian yang lain adanya kekuatan ini yang memformat identitasnya. Dan kemudian, perbedaan tingkatan nafs pada eksisten-eksistenyang memiliki nafs menjadi penyebab perbedaan tingkatan mereka. Nafs nabati (tumbuhan) berada pada tingkatan terrendah dan nafs manusia berada pada deretan tertinggi sementara nafs hewan menduduki posisi tengah.

c) Tanda-tanda lahir nafs pada hewan Nampaknya sebagain karya dari beberapa hewan misalnya membangun sarang enam sudut oleh lebah, merajut sarang laba-laba, burung Kakatua dan monyet yang meniruniru ucapan manusia, dan sebagian tipologi seperti, kuda yang menjadi hewan tunggangan, singa yang menjadi raja, kesetiaan anjing, muslihat dan kelicikan elang dan sebagainya dalam pandangan Mulla Shadra merupakan perlambang adanya

intelengensia partikular (yang bersumber dari nafs) pada hewan. Dan bahkan tingkatan mereka lebih dekat kepada tingkatan manusia.

d) Bukti-bukti ilmiah tentang adanya nafs pada hewan Hewan-hewan memiliki nafs imaginal sebagaimana nafs imaginal manusia yang bercorak non-material. Nafs hewan memiliki kenonmaterian barzakhi dan mitsâli. Artinya berasal dari tingkatan antara alam indrawi dan akal. Tingkatan akhir hewan adalah tingkatan imaginal (khiyal) dan waham (delusi). Dan sejatinya nafs-nya adalah nafs khiyâli dan mitsâli. Lantaran kenonmaterian ini dan melalui fakultas intrinsiknya, hewan mampu memahami dirinya dengan ilmu hudhuri Sementara tidak satu pun benda material yang memiliki kemampuan dan fakultas semacam ini. Menurut Mulla Shadra, seluruh perbuatan yang dilaksanakan di alam semesta dikerjakan dengan adanya motivasi irâdah (kehendak) bahkan pada dunia jamâdât (bebatuan) dan nabâti (tumbuhan). Namun kehendak ini keluar dari akal-akal dan jiwa-jiwa yang lebih tinggi. Dan mineral dan tumbuh-tumbuhan, secara terpaksa, menjadi media tercetuskannya kehendak ini. Namun pada hewan dan manusia, landasan perbuatan hingga mencapai tingkatan kehendak dan kemudian perbuatan, dilakukan oleh nafs mereka. Dan atas dasar ini, perbuatan-perbuatan hewan dan manusia beragam bentuknya. Sementara pada mineral dan tumbuhan senantiasa berstruktur dan bercorak tunggal. Landasan pertama seluruh perbuatan hewan adalah imaginasi (khiyâl) dan delusi (waham). Sementara pijakan pada manusia adalah akal praktis. Imaginasi, delusi, akal, kehendak dan sebagainya, semuanya merupakan efek dan tandatanda nafs dan menjadi titik pembeda dengan eksisten-eksisten lainnya yang tidak memiliki nafs. Di samping disebutkan efek-efek duniawi nafs, juga dalam masalah nafs ini disebutkan pada masalah ma’âd, hari masyhar jasmani dan ruh setiap eksisten yang memiliki nafs. Atas alasan ini, setiap orang yang mengulas pembahasan ma’âd mereka turut mengulas pembahasan ma’âd nafs-nafs hewani, kondisi dan tetek-bengeknya di hari ketika seluruh makhluk dikumpulkan kembali.

e) Dalil-dalil yang menunjukkan adanya nafs pada hewan Hewan tentu saja memiliki “nafs” dan dimensi eksistensial non-material karena memiliki fakultas khayal (imaginasi) yang dengannya ia mencerap dan memahami bentuk-bentuk mitsâli (ideal). Bentuk-bentuk ini, tidak dapat ditengarai secara indrawi. Karena itu tidak berada di alam materi (tidak sepadan dengan benda-benda materi). Dengan demikian tempat bentuk-bentuk mitsâli ini yang merupakan kediamannya juga tidak dapat

ditunjuk jari. Sebagai kesimpulannya, ia bukan benda dan tidak bercorak bendawi. Karena setiap benda dan bercorak bendawi memiliki kondisi material dan apa saja yang bertengger (qâim) di atasnya maka akan demikianlah kondisinya (material). Sementara bentuk-bentuk dan momok yang bertengger di atas fakultas imaginal ini tidak demikian adanya. Karena itu, fakultas khayal tidak memiliki kondisi material, juga bukan benda dan tidak bercorak bendawi. Di samping itu, keragaman efek dan perbuatan hewani tidak hanya merupakan tanda tentang adanya nafs pada hewan namun juga merupakan sebuah dalil rasional atas klaim ihwal keberadaan nafs pada hewan. Karena efek-efek yang keluar dari materi dan melulu tabiat senantiasa bersifat ulangan dan berasaskan pada satu metode. Namun tatkala tipologi ini berubah kepada kondisi dimana tidak dapat ditemukan dua contoh yang serupa dan setiap kali, berdasarkan tuntutan kondisi-kondisi lahir dan batin pelaku, perbuatan beragam yang dilakukan, akal menghukumi bahwa dalam masalah ini ada campur tangan sesuatu non-material dan non-jasmani.[

2.

Perbedaan nafs pada hewan dan manusia

Telah dijelaskan bahwa dalam perspektif filsafat, penciptaan alam material dilakukan secara gradual dan bertahap. Dimana pada setiap tahapan berbeda simplesitas, kerumitan materi dan pelbagai potensinya. Dengan demikian, materi hewan memiliki rangkapan yang lebih seimbang daripada materi tumbuhan dan hal itu membuat nafs hewani dapat diterima lebih baik (bagi pembentukan nafs manusia). Namun materi harus sampai pada tahapan yang mendekati seimbang sehingga ia dapat menerima nafs insan dan seterusnya hingga memunculkan eksisten manusia. Sebuah eksisten yang telah ditetapkan sehingga seluruh eksisten berjejer melayaninya dimana keberadaan dan wujudnya adalah tujuan dan sasaran penciptaan. Manusia meski dari sudut pandang logika dan filsafat berasal dari jenis hewan dan tergolong sebagai salah satu hewan, namun apa yang merubahnya dari tingkatan hewan adalah akalnya. Sedemikian mendalam sehingga seolah-olah seluruh jenis hewan di letakkan pada satu teraju dan jenis manusia pada sisi teraju lainnya, maka timbangan hewan sekali-kali tidak dapat dibandingkan dan ditunjukkan di samping teraju manusia. Manusia berkata-kata dan apa yang terlintas dalam ruh dan pikirannya, dengan menggunakan susunan huruf dan kalimat – dimana bentuk dan jenis susunan tersebut tidak berbilang – ia mentransformasi huruf dan kalimat itu kepada sesama jenisnya. Akan tetapi kemampuan hewan-hewan seperti burung Kakatua, dalam menggunakan kalimat terbatas dan sekedar meniru-niru tanpa adanya refleksi dan pemikiran di dalamnya. Atau apa yang telah terbukti pada hewan-hewan seperti lebah, semut dan

sebagainya, dimana pesan-pesannya disampaikan kepada yang lain dengan menggunakan sebagian audio atau alamat-alamat, kesemua ini dilakukan dengan satu cara dan corak sepanjang hidup mereka. Sementara manusia meski kebanyakan dari keahliannya berkomunikasi berdasarkan pada taklid dan mengikut pada orang lain namun masing-masing manusia memiliki metode khusus untuk diri mereka sendiri-sendiri dalam menjelaskan dan mentransformasi pelbagai konsep dan informasi. Pengaruh-pengaruh psikogis yang dialami manusia terhadap lingkungan yang nampak dengan bentuk pelbagai kondisi pada badan atau ruhnya. Misalnya merasa takjub, tertawa tatkala berhadapan dengan peristiwa yang jarang terjadi atau kejadian jenaka, bersedih hati dan menangis di hadapan pelbagai kepiluan dan nestapa, merasa malu untuk mengerjakan perbuatan tak senonoh, takut dan harap terhadap peristiwa masa lalu dan akan datang dan berdasarkan hal ini, pengambilan keputusan, pencanangan agenda dan program merupakan perkara-perkara yang terkhusus bagi manusia. Adapun masing-masing pekerjaan semut misalnya, dalam mengumpulkan makanan, dapat ditinjau sebagai jenis pandangan ke depan yang dilakukan oleh semut. Namun karena senantiasa dilakukan dengan satu metode dan pada suatu masa tertentu, maka hal ini lebih didominasi oleh insting dan sifatnya terpaksa ketimbang dimotivasi oleh pengetahuan dan kebebasan. Bahkan harus dikatakan bahwa kondisi-kondisi reaktif manusia ini atau minimal, ekspresinya seperti, tertawa, menangis dan sebagainya dilakukan dengan penuh kebebasan dan berdasarkan pada maslahat dalam pelbagai kondisi beragam. Ilmu, seni, kerajinan dan kreativitas, dalam pandangan Mulla Shadra, merupakan kerajinan praktis yang menakjubkan yang telah ditampakkan oleh manusia sepanjang kehidupannya. Manusia dengan tangannya sendiri telah merubah wajah dunia dan menguasai seluruh partikel dan atom semesta, dimana bahkan sebiji atom pun tidak dapat disaksikan pada dunia hewan-hewan. Yang membentuk seluruh kehidupan dan wujud hewan adalah gerakan, dari jenis tempatnya. Yang menentukan sumber, tujuan dan jalannya adalah fakultas khayal (imaginal) dan wahamnya. Perhitungan-perhitungan khayal dan wahamnya juga bersandar pada poros kesempurnaan atau keuntungan pribadi dan golongan. Hewan dengan menjaga badannya dari sakit dan luka, berusaha menyediakan air dan makanan dan memenuhi insting seksualnya dari satu sisi, dan dalam menjaga dirinya sendiri. Dan dari sisi lain, berusaha untuk tetap bertahan hidup. Atas alasan ini, nafs hewan disebut sebagai “nafs khiyâli” (imaginal) dimana pada tingkatan terakhirnya (ending point) adalah titik bermulanya (starting point) fitrah

manusia. Hewan hanya dapat bergerak maju hingga pada batasan kemanusiaan manusia bermula. Tingkatan akhir imaginal nafs dan bermulanya sisi rasional manusia, adalah langkah pertama pada alam kemanusiaan dan tingkatan akhir bagi hewan. Selepas itu tidak tergambarkan batasan bagi manusia setelah langkah pertama ini. Manusia menjadi manusia dengan akalnya. Dengan demikian manusia yang tidak memberdayakan akalnya adalah manusia yang tidak bergeming dan bertahan pada batasan kehewanan saja. Dengan perantara dimensi teoritis akal, manusia akan sampai pada makna-makna yang sama sekali non-material (mujarrad) dan menemukan segala yang majhul (yang tidak diketahuinya) pada bank maklumatnya. Dari segala apa yang dirasakan memiliki sesuatu yang dapat dipahami. Dan diambil dari lintasan pahaman-pahaman ini, dari luar mengambil pahaman-pahaman tingkatan sekunder yang lantaran universalitas dan kenonmaterian yang lebih besar, maka kekuatan kreativitas mentalnya semakin tinggi. Manusia dengan memanfaatkan kreativitas ini dapat menyusun pelbagai hukum, proposisi dan penalaran. Manusia dengan menempatkan pelbagai hukum, proposisi dan penalaran ini akan membawanya memasuki domain pemikiran, filsafat dan ilmu pengetahuan. Manusia apabila melanjutkan usaha terhadap masalah ini, hari demi hari cakrawala dan makrifatnya akan semakin meluas sehingga ia beranjak dari tingkatan kemanusiaan, yang merupakan pertautan antara jasmani-ruhan dan percampuran dari tuntutantuntutan jasmani dan fakultas ruhani rasional dan non-rasional, hingga pada tingkatan rasionalitas murni. Dan beranjak terus ke atas hingga manunggal dengan akal aktif dimana seluruh maklumat alam semesta senantiasa hadir dalam diri akal aktif ini. Manusia sejati pada dimensi perbuatan juga merupakan sumber gerakan dan diam akal praktis sehingga ia memilih pelbagai metode dan pendekatan berasaskan pengetahuan yang diraup dari akal praktis. Akal teoritis dan praktis manusia, dalam dimensi materi dan maknawi, memiliki kemampuan luar biasa dan tak-terbatas. Manusia inilah yang dengan kemampuan-kemampuan rasionalnya dapat mencapai makrifat yang tak dapat dicirikan terhadap seluruh fenomena. Berdasarkan makrifat ini ia mengubah wajah dunia dan tidak satu pun titik yang tak tersentuh oleh jangkauannya. Batin semesta juga dengan intensitas dan ketajamannya dapat diketahui olehnya, sebagaimana sebagian manusia sempurna dapat menggapai poin penting ini. Dan dengan makrifat yang dalam ini (baca: irfan) arah gerakannya sampai kepada kedekatan kepada Tuhan (qurb ilaLlah). Yaitu menembus dan melintas alam mulk, akal, malakut, jabarut hingga poin pamungkas yang dapat digambarkan manusia. Yang menarik adalah bahwa tidak satu pun dari dua arah ini, kurang-lebihnya, tidak terbatas. Artinya sampainya manusia pada tingkatan makrifat yang paling puncak dari

lahir dan batin semesta dan penguasaan pada dua sisinya (lahir dan batin), dimana hal ini tidak bertentangan satu dengan yang lain, melainkan sebaliknya, dengan mengkaji semakin besar pelbagai fenomena, bagi seseorang yang bukan pendurhaka, maka kedalaman semesta dan keagungan pencipta akan semakin benderang. Dan barangsiapa yang mengayungkan langkah kakinya pada domain irfan, pada setiap langkah yang diayunkannya, yang mengharuskan pendalaman yang lebih pada seluruh fenomena semesta, dengan maksud untuk menerangkan lebih keagungan Sang Pencipta, maka fenomena semesta dan keagungan Sang Pencipta akan semakin dapat dicerap. C. CABANG ILMU (SUBDISIPLIN) ZOOLOGI:                 Anatomi Hewan: Studi tentang struktur tubuh hewan Sitologi: Studi tentang struktur dan fungsi sel Ekologi Hewan: Studi interaksi hewan dengan lingkungan hidupnya. Embriologi: Studi tentang perkembangan hewan dari telur yang dibuahi hingga menetas atau dilahirkan. Genetika: Studi tentang mekanisme pewarisan sifat dari tetua kepada keturunannya. Histologi hewan: Studi tentang jaringan hewan. Biologi Molekular: Studi tentang struktur dan fungsi bagian-bagian subseluler pada hewan. Parasitologi: Studi tentang hewan yang hidup pada organisme lain dalam kaitan organisme lain tersebut sebagai inang (hospes). Fisiologi Hewan: Studi tentang fungsi hewan bagian-bagiannya. Sistematik Hewan: Studi tentang klasifikasi dan hubungan evolusi di antara kelompok hewan. Entomologi: Studi tentang serangga. Herpetologi: Studi tentang amphibia dan reptil. Ichthyologi: Studi tentang ikan. Ornitologi; Studi tentang burung. Mammalogi: Studi tentang mamalia. Protozoologi: Studi tentang protozoa.

4. IMPLEMENTASI DAN MANFAAT FILSAFAT ILMU ZOOLOGI DALAM KEHIDUPAN

A. FILSAFAT DAN ILMU KEDOKTERAN HEWAN 1. Pengertian ilmu kedokteran hewan menurut filsafat ilmu. Pengertian ilmu kedokteran hewan menurut filsafat ialah keselarasan berfikir dengan cara menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia mengenai ilmu

pengetahuan yang berhubungan dengan kedokteran hewan, Sesuai dengan fungsinya sebagai pioner dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok seperti contohnya tentang kesehatan hewan, penyakit-penyakit hewan, proses reproduksi dan perkembangan hewan. Jadi menurut filsafat ilmu, ilmu kedokteran hewan adalah proses pemahaman mengenai seluruh kegiatan dan pokok masalah yang berada dalam ruang lingkup ilmu kedokteran hewan dan semua yang berhungan dengan profesi dokter hewan. Hal itu antara lain adalah : a. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan ilmu kedokteran hewan? Bagaimana prosedurnya? b. Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan dan kesejahteraan hewan? c. Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan mengenai produksi hewan bagi kebutuhan manusia? Dan masih banyak lagi pokok-pokok masalah yang bisa ditelaah dengan filsafat ilmu. 2. Apa manfaat filsafat ilmu bagi profesi kedokteran hewan Manfaat filsafat ilmu bagi profesi dokter hewan sangat banyak, antara lain : a. Menambah Ilmu Pengetahuan yang berguna bagi profesi dokter hewan di masa depan. b. Lebih mudah mengetahui cara bagaimana suatu tindakan medis bisa terkondisikan dengan baik untuk hewan ataupun manusia. c. Meminimalisir dampak buruk dari tindakan medis dan perlakuan seorang dokter hewan terhadap pasiennya ataupun dampak terhadap manusia itu sendiri. d. Dapat lebih cepat dan tanggap melakukan pekerjaan dalam bidang profesi dokter hewan. e. Dengan mempelajari filsafat ilmu, seorang dokter hewan bisa mengetahui hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah dipelajari. 3. Bagaimana hubungan filsafat ilmu dengan perkambangan ilmu kedokteran hewan Hubungan filsafat ilmu dengan perkembangan ilmu kedokteran hewan bisa dikatakan cukup banyak, seperti salah satunya perkembangan kode etik kedokteran hewan seringkali memerlukan pemikiran dan logika para ahli filsafat. Kode etik itu contohnya : a. Seorang dokter hewan harus menjalankan hubungan baik dengan masyarakat umum, teman sejawat, kepada pasien-pasien mereka, serta terhadap persatuan profesi-profesi sehingga mereka diharapkan lebih aktif dan percaya diri.

b. Melaksanakan sifat dan tingkah laku secara professional sangat diharapkan pada semua dokter hewan. Tidak boleh mencelakakan teman sejawat lainnya walaupun sedikit atau mengutuk hal-hal yang tidak penting terhadap teman sejawatnya. c. Dokter hewan akan menghindari pelaksanaan metode-metode yang tidak tepat untuk menarik perhatian publik atau berbohong / membual bahwa dia memiliki pengetahuan yang tinggi dalam pengobatan,penanganan beberapa penyakit, atau bahkan dalam hal lainnya yang masih menyangkut masalah kesehatan hewan. B. MANFAAT DAN BAHAYA MEMPELAJARI ZOOLOGI
Manfaat : 1.Mengetahui segala tentang hewan 2.Mengetahui tingkah laku dan cara hidup hewan 3.Menambah ilmu dan wawasan 4.Dekat dengan hewan Bahaya & Kekurangan : 1.Dapat tertular penyakit jika sering melakukan kontak dengan hewan tertentu 2.Harus berhati2 dgn hewan liar dan buas 3.Zoology terkadang disalahgunakan untuk memperlakukan hewan dgn tidak semestinya seperti Sirkus dan Topeng Monyet yang beberapa diantaranya kasar dalam memperlakukan hewan. 4.Hewan yang langka & dilindungi terkadang,disalahgunakan untuk hewan peliharaan,hewan buruan,perdagangan satwa langka,hewan percobaan manusia,dll

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Banyak sekali hal yang dapat kita peroleh melalui belajar filsafat. Di antara pentingnya belajar filsafat adalah lebih mendidik dan mengembangkan diri kita, beberapa aspek yang dapat dikembangkan melalui belajar filsafat adalah menalar secara jelasn dapat membedakan argument baik dan buruk, menyampaikan pendapat baik lisan dan tulisan secara jelas, melihat sesuatu melalui orientasi yang lebih luas. Dapat menjadi orang yang mampu berpikir sendiri, memberikan dasar-dasar pengetahuan kita dan memberikan pandangan yang sintetis sehingga seluruh pengetahuan kita merupakan suatu kesatuan. Pandangan dan gagasan filsafat ilmu berkembang dalam dialektika yang sangat dinamis. Hal ini karena berbagai pemikiran baru muncul menggantikan konsep-konsep dan pikiran lama. Namun demikian, walaupun masing-masing aliran ada kelebihan dan kelemahannya, setiap aliran filsafat ilmu saling berkonstribusi dengan saling menyapa secara kritis. Dari pokok bahasan di atas, semua filsafat ilmu memberkan kontribusi yang signifikan bagi terbentuknya pemikiran ilmu pengetahuan modern. Melalui belajar filsafat, kita mampu mendapatkan banyak hal. Dan rasanya juga kurang etis jika mempelajari suatu ilmu pengetahuan tanpa mengetahui dasar dari pengetahuan itu sendiri (Ahmad Abdur Rohim).

DAFTAR PUSTAKA
Jujun S Suriasumantri.1993. Filsafat ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka sinar Harapan Ahmad Tafsir.1992. Filsafat Umum. Bandung. Remaja Rosdakarya Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Abbas Hamami M. 1976. Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat UGM 1980. Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat. Surabay: Bina Ilmu. Habermas, J, 1987, The theory of communicative action, Beacon Press, Boston Nasr, H, 1993, History of Islamic Philosophy, Ansariyan Publications, Shohada Str. Qum Noerhadi. T. H. (1998). Filsafat Ilmu Pengetahuan. (Diktat Kuliah). Pascasarjana Universitas Indonesia. Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Suriasumantri,Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan H.C. Webb, 1960. Sejarah Filsafat, Jogjakarta, Terban Taman 12. Beerling, et.al. 1997. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta. Tiara Wacana

Muhammad Syarif Nizham al-Din, Anwâriyah, terjemahan Suhrawardi, Intisyarat-e Amir Kabir, 1358 S Tema: Tafâwut-e Nafs-e Insân wa Hewân, hal. 129 – 148 Muhammad Taqi Ja’fari, Tafsir wa Naqd wa Tahlil Matsnawi, Teheran, Intisyarat-e Islami, 1362 S Tema: Ruh Hewâni wa Aql, jil. 10, hal. 563 – 612

Shadr al-Muta’allihin, al-Hikmah al-Muta’âliyah fi al-Asfar al-Arba’ah, Beirut, Dar Ihya alTurats al-‘Arabiyah, al-Thaba’a al-Rabi’ah, 1410 H Tema: Dalâili bar Tajarrud-e Nafs-e Hewân, jil. 8, hal. 42-44 Ibid Tema: Tafâwut-e Insân wa Hewân, jil. 9, hal. 78 – 82 Ibrahiim Amini, Khud Sâzi ya Tazkiyah wa Tahdzib-e Nafs, Qum, Intisyarat-e Syafaq, 1367 S Tema: Ruh Insâni wa Nafs Hewâni, hal. 12 - 15 Ali Allah Wardikhani, Mabda’ wa Ma’ad (Azaliyat wa Abadiyat), Cap wa Intisyarat-e Astane Quds-e Radhawi, cap-e Duwwum, 1376 S Tema: Tafâwut-e Nafs-e Nâthiqâ ba Nafs Hewâni, hal. 283-285 Syahid Muthahari, Maqâlât-e Falsafafi, Intisyarat-e Shadra, Cap-e Awwal, Paiz 1373 S Tema: Tafâwut-e Maujud Jândâr wa Bijân ke Dar Maurid-e Âtsar Hayât Bahts Mikunad wa Ruh Insân wa Hewân ra Niz Syâmil Misyawad, Az Maqâlâh Ashâlat Ruh, hal. 20-25 Syahid Muthahari, Muqaddame bar Jahân Bini Islâmi, Qum, Intisyarat-e Shadra, tanpa tahun Tema: Insân wa Hewân az Maqâlah Insân wa Imân http://id.wikipedia.org/wiki http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/06/makalah-aliran-aliran-filsafat.html http://muhammadimronpba.blogspot.com/2011/08/filsafat-klasik-abad-pertengahanmodern.html http://robbani.wordpress.com/2009/02/07/auguste-comte-dan-positivisme/ http://yunadi.blogspot.com/2008/08/sejarah-dan-perkembangan-filsafat.html http://Yahoo.Answer.com http://www.google.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->