ANALITIK INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI VISUAL

LAPORAN Oleh Kelompok 8 Widya Piqra Yulia Endah Permata 121411061 121411062

Kelas 1B Dosen Pembimbing Tanggal Praktikum : Dewi W : 21 Maret 2013

Tanggal Penyerahan Laporan : 28 Maret 2013

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2013

Oleh karena itu. maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible). umber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Mampu menentukan panjang gelombang maksimum 3. DASAR TEORI Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spectrometer dan fotometer.A. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang di transmisikan atau yang di absorpsi. Mampu membuat larutan Fe standar 2. Menentukan konsentrasi larutan cuplikan dengan menggunakan kurva kalibrasi B. Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memiliki warna. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita. Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Selama ia dapat dilihat oleh mata. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu. untuk sampel yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 ºC) dibanding logam lainnya. Pada spektrofotometri yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). TUJUAN 1. Spektrofotometri | 1 . Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan stabil. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74.

Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer. Jika dibuat suatu kurva antara absorbansi (A) lawan Konsentrasi (c). yaitu : A=kbc dengan : A = absorbansi b c k = ketebalan medium = konsentrasi larutan = tetapan atau koefisien absorpsi yang tergantung pada satuan konsentrasi k dinyatakan sebagai absorptivitas serapan (= a) jika konsentrasi larutan dalam satuan gram/liter dan k dinyatakan sebagai absorptivitas molar atau ekstingsi molar (= E). Kurva linier tersebut biasa dikenal dengan kurva kalibrasi atau kurva standar yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan uji (sampel) setelah absorbansi dari larutan uji tersebut diukur. jika konsentrasi larutan dalam satuan mol/liter. maka akan diperoleh suatu kurva garis lurus (linier). A = a b c (gram/liter) A = E b c (mol/liter) log = A dan T = T adalah cahaya yang diteruskan atau transmitansi A = log Dari persamaan Lambert-Beer diatas menunjukan bahwa absorbansi (A) berbanding lurus dengan konsentrasi larutan (c). Spektrofotometri | 2 .

ALAT DAN BAHAN Alat          Spektrofotometer ‘Spektronik 20’ Labu Takar 50 mL (6 buah) Labu Takar 100 mL (1 buah) Pipet Ukur 5 mL Pipet Ukur 10 mL Bola Hisap Gelas Kimia 100 mL Corong Botol Semprot     Bahan Larutan Induk Fe2+ 100 ppm Larutan HNO3 4 N Larutan KCNS 10% Aquades Spektrofotometri | 3 .C.

5 ppm Fe2+ 3 ppm Menambahkan 5 mL larutan KCNS 10% dan 5 mL larutan HNO3 4 N Encerkan setiap larutan dengan aquades hingga tanda batas . Membuat Larutan Standar Fe2+ Membuat larutan Fe2+ 100 ppm dari larutan Fe2+ 1000 ppm dan dilarutkan dalam labu takar 100 mL Menyiapkan labu takar 50 mL sebanyak 7 buah Memasukan kedalam masing-masing labu takar larutan Fe2+ 100 ppm 0 mL 2.D.5 mL 15 mL Larutan blanko 0 ppm Fe2+ 0.5 ppm Fe2+ 2 ppm Fe2+ 2.5 ppm Fe2+ 1 ppm Fe2+ 1.5 mL 5 mL 7. PROSEDUR KERJA 1.5 mL 10 mL 12.

Menentukan Panjang Gelombang Maksimum Menghubungkan alat dengan sumber listrik dan nyalakan Mengatur skala pada posisi 0 dan mengatur panjang gelombangnya Memasukkan kuvet yang berisi larutan blanko kedalam alat Mengatur skala %T pada posisi 100% Selanjutnya mengganti larutan blanko dengan larutan standar yang berkonsentrasi sedang. kemudian mengubah panjang gelombang sesuai dengan senyawa yang diukur Mencatat nilai %T yang tertera pada alat Mengulangi langkah diatas sampai diperoleh panjang gelombang maksimum .2.

3. Menentukan Konsentrasi Cuplikan Dengan Menggunakan Kurva Kalibrasi Mengulangi langkah (2) sampai mengatur skala %T pada posisi 100% Mengganti larutan blanko dengan larutan standar yang berkonsentrasi paling rendah dan catat %T Mengulangi langkah tersebut dengan mengganti larutan standar yang berbeda-beda konsentrasinya Mengulangi langkah sebelumnya dengan mengganti larutan standar dengan larutan cuplikan dan mencatat nilai %T nya .

5 79 80 82 83.5 77 77 77 78.0 2.0 2. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum.E.5 .5 3.5 ppm Panjang Gelombang (λ .5 1. nm) 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 530 540 %T 88 85 82 81 79. Menentukan Konsentrasi Cuplikan Dengan Menggunakan Kurva Kalibrasi (λmax = 470 nm) Konsentrasi (ppm) 0.5 55 81 63. PENGOLAHAN DATA 1.5 86 88 2. Pengenceran Larutan Fe2+ 1000 ppm Menjadi Lautan Fe2+ 100 ppm %T 90 83 67 71. DATA PENGAMATAN 1. menggunakan konsentrasi 7.0 Sampel-1 Sampel -2 F.

V1 V1 V1 = N2 .5 N2 N2 2. V1 100 . Membuat Larutan Blanko (0 ppm) N1 . kemudian diencerkan dalam labu takar 50 mL sampai tanda batas. Membuat Larutan Standar Fe a. 2. V1 V1 V1 = N2 . 50 = = 10 ppm Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 10/10 Spektrofotometri | 1 . 2.5 ppm  N1 . V1 1. 100 = = 10 mL Untuk membuat larutan Fe2+ 100 adalah melarutkan 10 mL larutan Fe2+ 1000 dalam labu takar 100 mL. 5 N2 N2 5 ml Larutan Fe2+ = N2 . Membuat Larutan Fe2+  N1 .N1 . V2 = N2 . V2 = N2 . b. V1 100 .5 ml Larutan Fe2+ = N2 . V1 100 . 50 = = 0 mL Ditambahkan 5 mL larutan KCNS 10% dan 5 mL larutan HNO3 4N.000 . 50 = = 5 ppm Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 5/10 = 0. V2 = 100 . V2 = 0 .

V2 = N2 . V2 = N2 . 15 N2 N2 Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 30/10 = 3 ppm Spektrofotometri | 2 .5 = N2 . V1 100 . 50 N2 N2 = = 25 ppm Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 25/10 = 2. 7. 50 = = 30 ppm 100 . 50 = = 20 ppm Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 20/10 = 2 ppm  N1 . 10 N2 N2 10 ml Larutan Fe2+ = N2 .5 ml Larutan Fe2+ = N2 . V1 10 ml Larutan Fe2+ = N2 .5 N2 N2 7.5 ppm  N1 .5 ml Larutan Fe2+ = N2 . V2 100 . 12.5 ppm  N1 . V1 12. V2 = N2 .= 1 ppm  N1 . 50 = = 15 ppm Dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali maka N2 = 1.5/10 = 1. V1 100 .

187 0. Menentukan Panjang Gelombang Maksimum.26 0.137 0.161 %T 73 68 62 58 55 51 49 47.323 0. Menggunakan Konsentrasi 25 ppm A = log A = .5 48.236 0.323 0.5 50.31 0.244 0.297 0.215 0.5 53.5 57 61 65 69 Spektrofotometri | 3 .5 47 47.208 0.log T Panjang Gelombang (λ .328 0.272 0.167 0. nm) 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 530 540 550 560 A 0.292 0.314 0.3.

260 0. Menentukan Konsentrasi Cuplikan Dengan Menggunakan Kurva Kalibrasi A = log A = .174 0.100 Absorbansi 0.5 3 Sampel-1 Sampel -2 %T 90 83 67 71.050 400410420430440450460470480490500510520530540 Panjang Gelombang (nm) Kurva Absorbansi Terhadap Panjang Gelombang Panjang gelombang ( ) maksimum adalah 470 nm 4.197 Spektrofotometri | 4 .Kurva Absorbansi Terhadap Panjang Gelombang 0.146 0.log T Konsentrasi (ppm) 0.070 0.120 0.081 0.046 0.090 0.092 0.080 0.5 A 0.5 1 2 2.060 0.110 0.5 55 81 63.

Dibuat juga 2 buah sampel untuk ditentukan Spektrofotometri | 5 .Menentukan konsentrasi cuplikan  Sampel-1 A = y = 0. dilakukan percobaan dengan menggunakan Spektrofotometri ‘Spektronik 20’. sebagian sinar itu ada yang diserap. PEMBAHASAN Pada praktikum ini.092 = 0. 1 ppm. Jumlah sinar yang diserap (absorban) akan berbanding lurus dengan konsentrasi medium (larutan) tersebut. 2 ppm.5771 ppm  Sampel-2 A = y = 0. Larutan yang digunakan harus berwarna dan transparan.0201x x x = = 4. 0. dan 3 ppm. data yang diperoleh adalah transmitan (T) dalam bentuk persen (%) dan dengan menggunakan persamaan A = log .197 = 0.0201x x x = = 9.5 ppm.5 ppm. dilanjutkan dan sedikit sekali yang dipantulkan.8009 ppm G.5 ppm. Alat spektronik 20 memanfaatkan warna dari larutan.0201x 0. dimana ketika sinar datang dengan intensitas tertentu kepada suatu medium yang memiliki konsentrasi tertentu. Konsentrasi Fe2+ yang dibuat antara lain 0 ppm (larutan blanko).5771 Konsentrasi Sampel-1 adalah 4. dapat diperoleh absorbansi dari setiap medium yang diuji.8009 Konsentrasi Sampel-2 adalah 9.197 y = 0. 1. Larutan yang diuji pada praktikum ini adalah larutan Fe2+ dengan berbagai variasi konsentrasi.0201x 0.092 y = 0. Dengan menggunakan ata yang dihasilkan spektronik 20 ini. 2.

Besi ini dalam suasana asam akan bereaksi dengan KSCN menghasilkan Spektrofotometri | 6 . dilakukan percobaan dengan menggunakan Spektrofotometer ‘Spektronik 20’. Langkah pertama yang dilakukan adalah menggunakan larutan blanko untuk mengatur %T pada posisi 100. sebagian sinar itu ada yang diserap. Pada praktikum ini. Hal ini dilakukan agar larutan menjadi berwarna sehingga dapat teramati oleh alat. Larutan yang digunakan harus berwarna dan transparan. Dari kurva tersebut didapat konsentrasi sampel-1 adalah 4. Bila larutan berwarna agak pekat. Setelah semuanya selesai. selanjutnya menentukan panjang gelombang maksimum dari Fe2+.5 ppm dan konsentrasi sampel-2 adalah 9. encerkan kembali larutan tersebut. diuji dari panjang gelombang 400 nm sampai 540 nm dan dicatat %T yang terbaca pada alat. Jumlah sinar yang diserap (absorban) akan berbanding lurus dengan konsentrasi medium (larutan) tersebut. dimana ketika sinar datang dengan intensitas tertentu kepada suatu medium yang memiliki konsentrasi tertentu.8 ppm. Alat Spektrofotometer ‘Spektronik 20’ memanfaatkan warna dari larutan. data yang diperoleh adalah transmitan (T) dalam bentuk persen (%) dan dengan menggunakan persamaan A = log absorbansi dari setiap medium yang diuji. Setelah menentukan panjang gelombang maksimum. Larutan yang diuji pada praktikum ini adalah larutan Fe2+ dengan berbagai variasi konsentrasi. Dengan menggunakan data yang dihasilkan Spektrofotometer ‘Spektronik 20’ ini. Langkah yang dilakukan adalah dengan menggunakan larutan Fe2+ … ppm. dibuat kurva kalibrasi antara absorbansi terhadap konsentrasi larutan Fe2+. Dimasukan juga larutan sampel yang akan dicari konsentrasinya. Selanjutnya memasukan masing-masing larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda kedalam alat dan dicatat %T yang terbaca oleh alat. selanjutnya menentukan konsentrasi sampel dengan menggunakan kurva kalibrasi absorbansi terhadap konsentrasi larutan Fe2+. Ditambahkan juga pada setiap masing-masing 5 mL larutan KCNS 10% dan 5 mL larutan HNO3 4 N. Setelah itu dibuat grafik antara absorbansi terhadap panjang gelombang dan didapat panjang gelombang maksimumnya adalah 470 nm. Setelah semua larutan sudah dibuat. dapat diperoleh .konsentrasinya dengan menggunakan kurva kalibrasi antara absorbansi terhadap konsentrasi larutan. dilanjutkan dan sedikit sekali yang dipantulkan.

Dalam menentukan panjang gelombang maksimum digunakan larutan Fe 1. Penambahan larutan HNO3 4 N bertujuan membuat larutan bersuasana asam yang mempermudah dalam pembentukan senyawa kompleks dengan larutan KSCN serta untuk mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ sehingga Fe total dapat dihitung. Pada percobaan ini diukur larutan standar 0. Proses awal adalah membuat larutan standar besi dengan variasi konsentrasi. Dari percobaan diperoleh panjang gelombang maksimum pada panjang gelombang 470 nm.5 dan 3 ppm dengan regeresi yang dihasilkan adalah sebesar ….5. Penentuan konsentrasi besi dari sampel dapat ditentukan dengan menginterpolasikan kedalam kurva kalibrasi besi. Larutan blanko yang digunakan adalah pereaksi yang digunakan (tanpa sampel atau larutan Fe). dimana warna tersebut sebagai syarat pengukuran menggunakan Spektrofotometer ‘Spektonic 20’. Pembentukan molekul yang dapat menyerap yang dapat menyerap sinar tampak.5 . Larutan dibuat berwarna dengan mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ karena penambahan HNO3. 3. Kemudian masing-masing larutan ditambahkan 5 mL larutan HNO3 4 N. 3 ppm.5. Langkah-langkah utama dalam analisis dengan sinar tampak adalah: 1. Ion-ion Fe3+ ini membentuk senyawa kompleks dengan KSCN. 2. 0.5. Pada panjang gelombang 400-470 nm kemampuan zat menyerap cahaya meningkat. Pada setiap pergantian pengukuran panjang gelombang selalu diukur terlebih dahulu larutan blanko. Pembuatan kurva kalibrasi. semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar nilai absorbansinya.2. sehingga konsentrasi Fe total dapat terukur. 2. ion Fe3+ dari sampel dan ion Fe3+ dari hasil oksidasi dari Fe2+ akan diukur konsentrasinya. dimana larutan blanko % transmitansinya harus 100. Dari larutan induk 100 ppm ini dibuat larutan deret standar 0. Pemilihan panjang gelombang maksimum.5 ppm. 1. 1. Dari data percobaan dapat diperoleh absorbansi dari sampel 1 adalah … dan absorbansi dari sampel 2 Spektrofotometri | 7 . namun kembali turun dalam penyerapan cahayanya pada panjang gelombang 480 nm.senyawa kompleks Fe(SCN)3 yang berwarna merah dan diukur pada panjang gelombang maksimumnya.5. hingga mencapai panjang gelombang maksimum nilai absorbansi mengalami penurunan.2 . 2. Setelah penambahan larutan HNO3 4 N kemudian ditambahkan larutan KSCN untuk membentuk senyawa kompleks Fe(SCN)3 yang berwarna merah. Kurva yang terbentuk berbentuk kurva dengan garis linier. Setelah diperoleh panjang gelombang maksimum dilakuakan kalibrasi. 1. 1. Semakin besar panjang gelombang maka semakin besar absorbansinya.

Ari. KESIMPULAN 1. Sehingga bilai diinterpolasikan kedalam kurva dengan mensubstitusi ke persamaan garis diperoleh konsentrasi Fe dari sampel 1 adalah sebesar … ppm dan konsentrasi Fe dari sampel 2 adalah sebesar … H.5 ppm. Dari hasil percobaan yang dilakukan. dkk. DAFTAR PUSTAKA Hendayana. dan 3 ppm. Spektrofotometri | 8 . dkk. 1 ppm. Bandung: Politeknik Negeri Bandung 2011. 1. 2. 2001. dibuat kurva kalibrasi absorbansi terhadap konsentrasi larutan Fe2+ dan didapat konsentrasi sampel-1 adalah … ppm dan konsentrasi sampel-2 adalah … ppm. Marlina. 2 ppm. Dari hasil percobaan yang dilakukan. 2.5 ppm. dibuat kurva antara absorbansi terhadap panjang gelombang dan diperoleh panjang gelombang maksimum larutan Fe2+ adalah 470 nm. Bandung: Politeknik Negeri Bandung. Sumar.5 ppm.adalah sebesar . 3. Buku Bahan Ajar Instrumensasi Analitik. Kimia Analitik Instrumen. Larutan Fe2+ 100 ppm didapat dari larutan induk Fe2+ 1000 ppm dan kemudian dibuat larutan standar Fe2+ dengan konsentrasi 0 ppm (larutan blanko)... 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Analitik Instrumen. Jakarata: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 0.

Spektrofotometri | 9 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful