Tujuan : untuk menentukan sifat kelainan pendengaran  Merupakan earphone sederhana yang dihubungkan dengan ossilator elektronik yang

mampu memancarkan suara murni dengan kisaran frekuensi rendahtinggi  Tingkat intensitas nol pada masing2 frekuensi adalah kekerasan yang hampir tidak bisa didengar oleh telinga normal  Volume dapat ditingkatkan,bika harus ditingkatkan hingga 30 desibel dari normal org tsb dikatakan kehilangan pendengaran 30 dB untuk frekuensi tertentu

  Pada tiap pemeriksaan  digunakan 8-10 frekuensi yang mencakup spektrum pendengaran Hasil  audiogram .

.

.

    Tuli saraf sebagian Pada frekuensi tinggi Kerusakan biasanya pada basis koklea Biasa terjadi pada orang tua .

.

  Paling sering : fibrosis telinga tengah akibat infeksi berulang atau penyakit herediter (otosklerosis) Pada beberapa kasus  terankilosis pada bidang depan stapes  pertumbuhan tulang stapes berlebihan ke tepi fenestra ovalis  tuli total  koreksi bedah .

.

.

.

mengetahui:  Compliance/mobilitas membrana timpani  Tekanan pada telinga tengah  Volume canalis auditorius eksterna .    Definisi : pengukuran tekanan telinga yang berhubungan dengan tuba saluran eustachius pada membran tImpani deteksi kehilangan pendengaran instrumen diagnostik Tujuan.

  Hasil  timpanogram Klasifikasi timpanogram :  tipe A (normal)  type B (menunjukkan adanya cairan di belakang membrana timpani)  tipe C (menunjukkan adanya disfungsi tuba eustachius)  Berguna untuk diagnosis dan follow-up penyakit pada telinga tengah (aling sering : otitis media pd anak-anak) .

0 mL).  Cara pemeriksaan: menggunakan probe dengan frekuensi 226 Hz Interpretasi :  Compliance membrana tympani (normal volume: 0.2 to 2.0 mL).  normal tekanan pada telinga tengah = +100 mm H2O s/d -150 mm H2O  Volume canalis auditorius eksternal = 0. .2 s/d 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful