P. 1
Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Media Audio Visual Pada Mata Pelajaran Ips Smp Muhammadiyah 2 Kadungora Kabupaten Garut

Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Dengan Menggunakan Media Audio Visual Pada Mata Pelajaran Ips Smp Muhammadiyah 2 Kadungora Kabupaten Garut

|Views: 35|Likes:

More info:

Published by: Dhuuchomi Setiaselalu on May 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2013

pdf

text

original

Sections

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terlibat dalam semua kegiatan belajar mengajar. Diantara faktor-faktor tersebut adalah siswa, guru, kebiajakan pemerintah dalam membuat kurikulum, serta dalam proses belajar seperti metoda, sarana dan prasarana (media pembelajaran), model, dan pendekatan belajar yang digunakan. Kondisi riil dalam

pelaksanaannya latihan yang diberikan tidak sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep. Rendahnya mutu pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya proses pembelajaran. Penyebabnya dapat berasal dari siswa, guru maupun sarana dan prasarana yang ada, minat dan motivasi siswa yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai akan menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif. Saat sekarang ini sistem pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang menggunakan sistem KTSP (Kurikulum Tingkat Kesatuan Pendidikan). Jadi pendidikan tidak hanya ditekankan pada aspek kognitif saja tetapi juga afektif dan psikomotorik. Permasalahan yang dialami dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial meliputi faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal yang dialamai oleh siswa meliputi hal-hal seperti; sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan 1 mengolah bahan belajar, kemampuan

menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, rasa percaya diri siswa, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa. Faktor-faktor internal ini akan menjadi masalah sejauh siswa tidak dapat menghasilkan tindak belajar yang menghasilkan hasil belajar yang baik. (Dimyati & Mudjiono, 2002). Faktor eksternal meliputi hal-hal sebagai berikut; guru sebagai

pembimbing belajar, prasarana dan sarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah. Dari sisi guru sebagai pembelajar maka peranan guru dalam mengatasi masalah-masalah eksternal belajar merupakan prasyarat terlaksanannya siswa dapat belajar.(Dimyati & Mudjiono, 2002) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai bagian integral dari kurikulum pembelajaran di persekolahan, selayaknya disampaikan secara menarik dan penuh makna dengan memadukan seluruh komponen pemebalajaran secara efektif. Selain itu, IPS sebagai disiplin ilmu yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap dinamika perkembangan masyarakat. Dalam praktek pembelajarannya harus senantiasa memperhatikan konteks yang berkembang. Pendekatan-pendekatan pembelajaran efektif yang diambil dari teori pendidikan modern menjadi salah satu intrumen penting untuk diperhatikan agar pembelajaran tetap menarik bagi peserta didik serta senantiasa relevan dengan konteks yang berkembang. Tujuan utama IPS adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental

2

positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat secara umum. Untuk mencapai tujuan di atas, diperlukan strategi yang memadukan setiap komponen pembelajaran secara integrated dan koheren. Penentuan materi yang tepat, metode yang efektif, media dan sumber pembelajaran yang relevan serta proses evaluasi yang dapat mengukur tingkat pencapaian proses dan hasil terhadap tujuan pembelajaran menjadi pekerjaan utama para aktor pembelajaran agar kegiatan belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Peran pendidik yang kini mengalami pergeseran dari teacher centered menuju student centered merupakan suatu fenomena yang memiliki makna filosofis terhadap praktek pembelajaran di persekolahan. Oleh karenanya, guru abad sekarang harus mampu meningkatkan profesionalismenya serta senantiasa beradaptasi dengan dinamika perkembangan dunia pendidikan pada khususnya dan dinamika global pada umumnya. Hasil belajar yang merupakan daya serap siswa yang berupa kemampuan kognitif atau kemampuan mengerjakan tes samapi sekarang masih menjadi pedoman untuk menaikan siswa ke kelas yang lebih tinggi dan menerima siswa atau mahasiswa baru. Oleh karena itu, mutu pendidikan yang digambarkan dalam hasil belajar bidang studi IPS masih sangat perlu segera ditingkatkan, terutama karena memasuki tantangan baru era globalisasi. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik.
3

Aneka macam bentuk dan jenis media

pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. Dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik di kelas. Dengan menghadirkan bendanya seiring dengan penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar. Kalau dalam pendidikan di masa lalu, guru merupakan satu-satunya sumber belajar bagi anak didik. Sehingga kegiatan pendidikan cenderung masih tradisional. Perangkat teknologi penyebarannya masih sangat terbatas dan belum memasuki dunia pendidikan. Tetapi lain halnya sekarang, perangkat teknologi sudah ada dimana-mana. Pertumbuhan dan perkembangannya hampir-hampir terkendali, sehingga wabahnya pun menyusup ke dalam dunia pendidikan. Di sekolah-sekolah kini, terutama di kota-kota besar, teknologi dalam berbagai bentuk dan jenisnya sudah dipergunakan untuk mencapai tujuan. Ternyata

teknologi, yang disepakati sebagai media itu, tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi juga sebagai sumber belajar dalam proses belajar mengajar. Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional, dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri, dan sebagainya. Anjuran agar menggunakan media dalam pengajaran terkadang sukar dilaksanakan, disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya. Menyadari akan hal itu, disarankan kembali agar tidak memaksakan diri untuk membelinya, tetapi cukup membuat media pendidikan yang sederhana selama menunjang tercapainya

4

tujuan pengajaran. Cukup banyak bahan mentah untuk keperluan pembuatan media pendidikan dan dengan pemakaian keterampilan yang memadai untuk tercapainya tujuan. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-visual adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Umar Hamalik (1986) dan Sudirman, dkk menyatakan media pembelajaran berfungsi sebagai : (1) menyiarkan informasi penting; (2) memotivasi siswa dalam pembelajaran; (3) menambah pengayaan dalam belajar; (4) menunjukkan hubungan-hubungan antar konsep; (5) menyajikan pengalamanpengalaman yang tidak ditujukan guru; (6) membantu belajar perorangan; (7) mendekatkan hal-hal yang ada diluar kelas ke dalam kelas. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran yang bisa melibatkan lebih dari satu indra akan berpengaruh terhadap kualitas informasi yang diterima, dan semakin efektifnya dalam proses mengingat terhadap informasi yang sudah diterima. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan mencoba melakukan penelitisan dengan judul : Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa dengan Menggunakan Media Audio-Visual Pada Pelajaran IPS Di Kelas VII-A SMP Muhammadiyah 2 Kadungora Kabutapen Garut.

5

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan Media Audio Visual di kelas VII-A SMP Muhammadiyah 2 Kadungora? 2. Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan menggunakan Visual di kelas VII, SMP Muhammadiyah 2 Kadungora? 1.3 Tujuan Penelitian Untuk memberi arah yang jelas tentang maksud dari penelitian ini dan berdasar pada rumusan masalah yang diajukan, maka tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui proses pembelajaran dengan menggunakan Media Audio Visual di kelas VII, SMP Muhammadiyah 2 Kadungora. 2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan Media Audio Visual di kelas VII, SMP Muhammadiyah 2 Kadungora. 1.4 Manfaat Penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Berikut penulis kemukakan manfaat dari penelitian ini, yaitu: 1. Secara Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pembuktian bahwa penggunaan media merupakan salah satu hal penting dalam meningkatkan Media Audio

6

hasil belajar siswa. Terlebih lagi penggunaan media audio visual yang memadukan antara indera pendengar dan indera penglihat 2. Secara Praktis a. Hasil pembelajaran sebagai umpan balik untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran b. Meningkatkan kualitas atau mutu sekolah melalui peningkatan prestasi siswa dan kinerja guru c. Mendorong untuk meningkatkan profesionalisme guru. d. Memperbaiki kinerja guru e. Menumbuhkan wawasan berfikir ilmiah f. Meningkatkan kualitas pembelajaran

g. Meningkatkan minat siswa dalam memahami Materi pelajaran. h. Memiliki rasa tanggung jawab terhadap perolehan ilmu. i. j. Memotivasi siswa untuk lebih mantap dalam belajar. Meningkatkan prestasi siswa.

k. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam menyeraf informasi yang ada. 1.5 Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahtafsiran terhadap pokok-pokok masalah yang diteliti, di bawah ini akan diterangkan secara operasional beberapa istilah teknis yang dipandang penting untuk diketahui kejelasannya. 1. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Peningkatan berarti mempertinggi (Purwadarman:1984). Sedangkan

kinerja adalah suatu proses yang disusun untuk meningkatkan hasil-hasil
7

produk (Soetisna, 2000:47).

Guru merupakan pekerjaan atau jabatan

profesional, artinya tidak semua orang mampu melakukan pekerjaan tersebut dengan baik. Hasil belajar siswa yaitu adanya perubahan tingkah laku pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar siswa yang dimaksud dalam penellitian ini adalah sebagai akibat dari penggunaan media Audio Visual pada proses pembelajaran. 2. Media Pembelajaran Audio Visual Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-Visual adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur

suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. 3. Pembelajaran IPS Setiap mata pelajaran tentu memiliki karakteristik yang membedakan dari mata pelajaran yang lain, demikian juga mata pelajaran Pengetahuan Sosial untuk SMP. Beberapa karakteristik mata pelajaran Pengetahuan Sosial, antara lain : a. Pengetahuan Sosial merupakan perpaduan antara sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan.

8

b. Materi kajian Pengetahuan Sosial berarti dari struktur keilmuan sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan. Dari kelima struktur keilmuan itu kemudian dirumuskan materi kajian untuk Pengetahuan Sosial. c. Materi Pengetahuan Sosial juga menyangkut masalah sosial dan tematema yang dikembangkan dengan pendekatan indispliner dan

multidispliner. Yang dimaksud indispliner yaitu melibatkan disiplin ilmu ekonomi, ekonomi, geografi dan sejarah. Sedangkan multidispliner yaitu materi kajian itu mencakup aspek kehidupan masyarakat. 4. Konsep Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), disebutkan bahwa : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayahwilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual,
9

teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitasaktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. 5. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Menurut Awan Mutakin (1998), berdasarkan rumusan tujuan umum tersebut dapat dirinci sebagai berikut: a. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat. b. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial. c. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. d. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat. e. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
10

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1 Belajar dan Pembelajaran 1. Hakikat Belajar dan Pembelajaran Belajar pada prinsipnya adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar baik secara sengaja dirancang atau tanpa sengaja dirancang (Suliana,2005). Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar. Selain itu kegiatan belajar juga dapat di amati oleh orang lain. Belajar yang di hayati oleh seorang pebelajar (siswa) ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi, belajar yang di alami oleh pebelajar terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindakan pendidikan atau pembelajaran. Dengan kata lain, belajar ada kaitannya dengan usaha atau rekayasa pembelajar. Dari segi siswa, belajar yang dialaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindakan pendidikan atau pembelajaran.

11

Proses belajar siswa tersebut menghasilkan perilaku yang dikehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran. (Dimyati & Mudjiono, 2002). Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai

tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa

memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar. Tabel 2.1 : Ciri-ciri Umum Pendidikan, Belajar, dan perkembangan. Unsur-unsur 1. Pelaku Pendidikan Guru sebagai pelaku mendidik dan siswa yang terdidik Membantu iswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh Proses interaksi sebagai faktor eksternal belajar Lembaga pendidikan sekolah dan luar sekolah Sepanjang hayat dan sesuai jenjang lembaga Guru memiliki kewibawaan pendidikan Belajar Siswa yang bertindak belajar atau pembelajar Memperolah hasil belajar dan pengalaman hidup Internal pada diri pembelajar Sembarang tempat Sepanjang hayat Motivasi belajar kuat Perkembangan Siswa yang mengalami perubahan Memperoleh perubahan mental Internal pada diri pembelajar Sembarang tempat Sepanjang hayat Kemauan mengubah diri

2. Tujuan

3. Proses 4. Tempat

5. Lama waktu 6. Syarat terjadi

12

7.Ukuran Terbentuk Keberhasilan pribadi terpelajar 8. Faedah Bagi masyarakat mencerdaskan kehidupan bangsa

Dapat memecahkan masalah Bagi pembelajar mempertingi martabat pribadi Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring

Terjadinya perubahan positif Bagi pembelajar memperbaiki kemajuan mental

9. Hasil

Pribadi sebagai pembangun yang produktif dan kreatif

Kemajuan ranah kognitif, akfektif, dan psikomotorik

Adaptasi dari Monks, Knoers, (Siti Rahayu, 1989) Apakah hal-hal di luar siswa yang menyebabkan belajar juga sukar ditentukan? Oleh karena itu, beberapa ahli mengemukakan pandangan yang berbeda tentang belajar. a. Belajar Menurut pandangan Skinner Skinner berpadangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. berikut : (i) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulakan respons pembelajar, (ii) respons si pembelajar, dan (iii) konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut. Pemerkuat Sebagai Dalam belajar ditemukan adanya hal

terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut.

13

ilustrasi, perilaku respons yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman. Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Pandangan Skinner ini terkenal dengan nama teori Skinner.

Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (i) pemilihan stimulus yang diskriminatif, dan (ii) Sebagai ilustrasi, apakah guru akan meminta

penggunaan penguatan.

respons ranah kognitif atau afektif. Jika yang akan dicapai adalah sekedar “menyebut ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta,” tentu saja siswa hanya dilatih menghafal. Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan sebagai berikut : (1) Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan

diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi. (2) Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat. (3) Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya. (4) Keempat, membuat program pembelajaran program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program

14

pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjutnya. (Sumadi Suryabrata, 1991). b. Belajar Menurut Gagne Menurut Gagne, “belajar merupakan kegiatan yang kompleks”. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan,

pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari (i) stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan (ii) proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru. Sebagai ilustrasi, siswa kelas dua SMP mempelajari nilai luhur Pancasila. Mereka membaca berita di surat kabar tentang bencana alam gempa bumi di Flores dan banjir di beberapa provinsi di jawa. Mereka bersama-sama mengumpulkan bantuan bencana alam dari orang tua siswa SMP. Mereka mampu mengumpulkan 4 kuintal beras, 100 potong pakaian, dan uang sebesar Rp 5.000.000,00. Hasil bantuan tersebut kemudian mereka serahkan ke Palang Merah Indonesia yang mengkoordinasi bantuan di kota setempat. Perilaku siswa mengumpulkan sumbangan tersebut merupakan hasil belajar nilai luhur Pancasila. Hal ini merupakan dampak pengiring. Menurut Gagne, belajar terdiri dari tiga komponen penting, yaitu kondisi eksternal, kondisi inernal, dan hasil belajar. Komponen tersebut dilukiskan dalam bagan 2.1 sebagai berikut.

15

Kondisi internal belajar
Keadaan internal dan proses kognitif siswa

Hasil Belajar
Informasi verbal Keterampilan intelek Keterampilan motorik Sikap Siasat kognitif

Berinteraksi dengan

Stimulus dari lingkungan

Acara Pembelajaran

Kondisi eksternal belajar

Komponen Esensial Belajar dan Pembelajaran (Adaptasi dari Bell Gredler, 1991:188). Bagan 2.1 melukiskan hal-hal berikut : (1) Belajar merupakan interaksi antara “keadaan inernal dan proses kognitif siswa” dengan “stimulus dari lingkungan”. (2) Proses kognitif tersebut menghasilakn suatu hasil belajar. Hasil belajar tersebut terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap dan siasat kognitif. Kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa. Kapabilitas siswa tersebut berupa : (1) Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilikan informasi verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.
16

(2) Keterampilan intelekutal adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta

mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep konkret dan terdefinisi, dan prinsip. (3) Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan

mengarahakn aktivitas kognitifnya sendiri.

Kemampuan ini

meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah. (4) Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan

serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani. (5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Gagne berpendapat bahwa, dalam belajar terdiri dari tiga tahap yang meliputi sembilan fase. Tahapan itu sebagai berikut : (i) persiapan untuk belajar, (ii) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi), dan (iii) alih belajar. Pada tahap persiapan dilakukan tindakan mengarahkan perhatian, pengharapan dan mendapat kembali informasi. Pada tahap pemerolehan dan perfomansi

digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali dan respons, serta penguatan. Tahap alih belajar meliputi pengisyaratan untuk membangkitkan, dan pemberlakukan secara

17

umum. Adanya tahap dan fase belajar tersebut mempermudah guru untuk melakukan pembelajaran. Dalam rangka pembelajaran, maka guru dapat menyusun acara pembelajaran yang cocok dengan tahap dan fase-fase belajar. Pola hubungan antara fase belajar dengan acara-acara pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk pedoman pelaksanaan kegiatan belajar di kelas. Sudah barang tentu guru masih harus menyesuaikan dengan bidang studi dan kondisi kelas yang sebenarnya. Guru dapat memodifikasi seperlunya. Tabel 2.2 : Hubungan antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran Persiapan Persiapan untuk belajar Fase belajar 1.Mengarahkan perhatian Keterangan Acara pembelajaran Menarik perhatian siswa dengan kejadian yang tidak seperti biasanya, pertanyaan atau perubahan stimulus. Memberitahu siswa mengenai tujuan belajar Merangsang siswa agar mengingat siswa agar mengingat kembali hasil belajar (apa yang telah dipelajari) sebelumnya. Menyajikan stimulus yang jelas sifatnya Memberikan bimbingan belajar Memunculkan perbuatan Siswa Memberikan balikan informatif Meningkatkan retensi dan alih belajar

2. Ekspektansi 3.Retrival (infromasi dan keterampilan yang relevan untuk memori kerja) 4.Persepsi selektif atas sifat stimulus 5.Sandi semantik 6.Retrival dan respons 7. Penguatan 8.Pengisyaratan 9.Pemberlakuan secara umum
18

Pemerolehan dan unjuk perbuatan

Retrival dan alih

(Belajar Menurut Pandangan Gagne)

c. Belajar Menurut Pandangan Piaget Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Selanjutnya menurut Piaget (Dahar, 1996) “perkembangan intelektual melalui tahap-tahap berikut. (i) sensori motor (0: 0-2; 0 tahun), (ii) praopterasional (2: 0-7; 0 tahun), (iii) operasional konkret (7: 0-11: 0 tahun), dan (iv) operasi format (11: 0-ke atas)”. Pada tahap sensori motor anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sonsorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan

penglihatan, penciuman, pengengaran, perabaan dan menggerak-gerakannya. Pada tahap pra-operasional. Anak mengembalikan diri pada persepsi tentang realitas. Ia telah mampu menggunakn simbol, bahasa, konsep sederhana, berpartisipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap operasi konkret anak dapat mengembangkan pikiran logis. Ia dapat mengikuti penalaran logis. Walau kadang-kadang memecahkan masalah secara “ trial and error”. Pada tahap operasi formal anak dapat berpikir abstrak seperti pada orang dewasa. Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun

sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bentuk,

19

yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan sosial. Belajar pengetahuan meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah fase

eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gelaja lain lebih lanjut. Menurut Piaget, pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut : (1) Langkah satu : sendiri. Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak

Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa

pertanyaan, seperti berikut : (a) Pokok bahasana manakah yang cocok untuk eksperimentasi? (b) Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok? (c) Topik manakah yan dapat disajikan pada tingkat manipulasi secara fisik sebelum secara verbal? (2) Langkah dua : Memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut. Hal ii dibimbing dengan pertanyaan seperti : (a) Apakah aktivitas itu memberi kesempatan untuk melaksanakan nictode eksperimen? (b) Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa? (c) Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara bernalar dalam mengikuti kegiatan di kelas?

20

(d) Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual? (e) Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif? (f) Dapatkah aktivitas itu dapat memperkaya konstruk yang sudah dipelajari? (3) Langkah tiga : Mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk

mengemukakan pertanyaan, yang menunjang proses pemecahan masalah. Bimbingan pertanyaan berupa: (a) Pertanyaan lanjut yang memancing berpikir seperti “bagaimana jika”? (b)Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan? (4) Langkah empat : Menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan, dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan berupa: (a) Segi kegiatan apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar? (b) Segi kegiatan manakah yang tidak menarik, dan apakah alternatifnya? (c) Apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari? (d) Apakah kegiatan itu dapat dijadikan modal untuk pembelajaran lebih lanjut?

21

Secara singkat, Piaget menyarankan agar dalam pembelajaran guru memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, ekperimental, dan eksplanasi (Bell Bredler, 1991 : 3001-357). d. Belajar Menurut Rogers Rogers menyayangkan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran. Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan dan pembelajaran tersebut sebagai berikut : (1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. (2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. (3) Pengorganisasisan bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. (4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses-proses belajar, keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan pengubahan diri terus-menerus. (5) Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar. (6) Belajar mengalami (experiental learning) dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi dirinya sendiri. Belajar mengalami dapat memberi peluang

22

untuk belajar kreatif, self evaluation dan kritik diri. Hal ini berarti bahwa evaluasi dari instruktur bersifat sekunder. (7) Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh. Rogers mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran itu meliputi hal berikut : (1) Guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur, (2) Guru menggunakan metode simulasi, (3) Guru menggunakan metode inquiri, atau belajar menemukan (discovery learning). (4) Guru menggunakan metode simulasi, (5) Guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain. (6) Guru bertindak sebagai fasilitator belajar. (7) Sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas (Snelbecker, 1974: 483494; Skager, 1984: 33”; Bergan dan Dunn, 1976: 122-128). Keempat pandangan tentang belajar tersebut merupakan bagian kecil dari pandangan yang ada. Untuk kepentingan pembelajaran, para guru dan calon guru masih harus mempelajari sendiri dari psikologi belajar. Di samping itu, para guru masih perlu memilih teori yang relevan bagi bidang studi asuhannya. Guru juga perlu memodifikasi secara praktis sesuai dengan

kondisi perilaku siswa belajar.

23

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. pencapaian tujuan pendidikan banyak Ini berarti bahwa keberhasilan tergantung terhadap kualitas

pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan mempengaruhi cara atau metode guru itu mengajar. Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh pakar-pakar, secara umum dapat diartikan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara lengkap,

Surya, (2003 : 7) menjelaskan pengertian pembelajaran dapat dirumuskan sebagai berikut: “pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 2. Masalah-masalah dalam Belajar Suryabrata (1984) mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu : a. Faktor-faktor non-sosial Kelompok faktor-faktor ini boleh dikatakan juga tidak terbilang jumlahnya, seperti misalnya : keadaan suhu, suhu udara, cuaca, waktu
24

(pagi, siang atau malam), tempat (letaknya, pergedungannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (alat tulis, buku, alat peraga, dan sebagainya yang dapat kita sebut sebagai alat pelajaran). b. Faktor-faktor sosial Yang dimaksud dengan faktor sosial disini adalah faktor manusia (semua manusia), baik manusia itu hadir maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, banyak kali mengganggu belajar itu; misalnya kalau satu kelas murid sedang melaksanakan ujian, lalu banyak anak-anak lain bercakap-cakap di samping kelas, atau seseorang sedang belajar di kamar, satu atau dua orang hilir mudik keluar masuk kamar belajar itu dan sebagainya. Selain kehadiran yang langsung seperti yang dikemukakan di atas, mungkin juga orang lain itu hadir tidak secara langsung atau dapat disimpulkan kehadirannya; misalnya saja potret dapat merupakan representasi dari seseorang, suara nyanyian yang dihidangkan lewat radio maupun tape recorder juga dapat merupakan representasi bagi kehadiran seseorang. 2. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, dan ini pun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan yaitu : a. Faktor-faktor fisiologi Faktor-faktor fisiologi ini masih dapat lagi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

25

1) Keadaan tonus jasmani pada umumnya Keadaan tonus jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatar belakangi aktivitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar, keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dari pada yang tidak lelah. Dalam hubungannya dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan yaitu : (a) Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah dan lain sebagainya. (b) Beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu. 2) Keadaan fungsi-fungsi fisiologi tertentu terutama fungsi-fungsi alat indra. b. Faktor-faktor psikologi Arden N. Frandsen (dalam S. Suryabrata, 1984) mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah sebagai berikut: 1) Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas 2) Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman. 3) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan kooperasi maupun kompetensi 4) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran 5) Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.

26

2.2 Media Pembelajaran 1. Pengertian Media Media pengajaran atau alat peraga lebih dikenal sebagai salah satu alat bantu pengajaran. Dikatakan sebagai alat karena fungsinya sebagai alat untuk membantu guru dalam memperlancar jalannya pengajaran, sehingga dapat memperjelas pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Alat bantu tersebut merupakan cara untuk menyajikan suatu materi pelajaran melalui peragaan. Hidayat (1991:107), menyatakan bahwa ”yang dimaksud dengan media pengajaran ialah suatu alat yuang dipergunakan dalam proses penyampaian pengajaran kepada siswa untuk membantu mempermudah, memperlancar jalannya pengajaran sehingga materi dapat dipahami oleh siswa”. Sadiman (1984 : 7) mengatakan bahwa, ”Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi dengan efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, Hastuti (1986 : 177) berpendapat bahwa ”Media berasal dari bahasa Latin dengan bentuk jamak medium yang berarti perantara, maksudnya segala sesuatu yang membawa pesan dari suatu sumber untuk disampaikan kepada penerima pesan”. Hamalik (1994:12) memberikan pengertian bahwa ”media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah”.

27

Menurut Subiakto (1993 : 206), yang dimaksud dengan alat atau media dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah segala alat yang dapat digunakan oleh guru atau pengajar serta pelajar untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan media dalam pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu alat atau perantara yang dipergunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran atau menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang minat dan perhatian siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Kedudukan media pengajaran dalam proses belajar mengajar itu memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain: tujuan, bahan, metode, dan alat serta evaluasi. Unsur metode dan alat atau media merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai kepada tujuan. Dalam pengajaran, tujuan, media atau alat memegang peranan yang sangat penting, sebab dengan adanya media tersebut bahan pelajaran dapat dengan mudah dipahami oleh siswa. Sejalan dengan fungsi media pembelajaran, Sudhana (1987 :100) berpendapat: Ada enam fungsi pokok dari media pengajaran, yaitu : 1) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. 2) Salah satu unsur yang harus dikembangkan guru. 3) Penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran. 4) Sebagai alat hiburan untuk menarik minat siswa. 5) Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan oleh guru. 6) Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
28

Namun hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media dalam pengajaran adalah prinsip tidak ada satu media pun yang paling baik untuk keseluruhan masalah atau tujuan pengajaran. Sebab setiap media memiliki karakteristik yang berbeda, yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, dalam pemilihan media harus disesuaikan dengan tujuan, kemampuan siswa, sifat materi, dan kemampuan guru dalam menjalankan media tersebut. Jadi, sebenarnya tidak ada suatu media pun yang dapat dipergunakan oleh segala macam situasi dan kondisi. Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa media merupakan suatu alat yang menjadi pengantar dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian, yang dimaksud dengan media pengajaran bahasa Indonesia adalah alat yang dapat dipergunakan oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. 2. Media Audio Visual Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-visual adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dalam proses belajar mengajar media pembelajaran berfungsi sebagai:1) menyiarkan informasi penting ; 2) memotivasi siswa dalam
29

pembelajaran; 3) menambah pengayaan dalam belajar; 4) menunjuka hubungan – hubungan antar konsep; 5) menyajikan pengalaman-pengalamn yang tidak ditunjukan guru; 6) membantu belajar perorangan; 7) mendekatkan hal-hal yang ada diluar kelas kedalam kelas. O. Hamalik (1982) dan Sudirman, dkk mengelompokan media berdasarkan jenisnya dalam beberapa kelompok : 1. Media auditif yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti tepe recorder. 2. Media visual yaitu media yang hanya mengandalkan indera penglihatan dalam wujud visual. 3. Media audio visual yaitu media yang mempunyai unsur suara dan gambar. Dalam sebuah penelitian bahwa penerimaan informasi sebelum menjadi ilmu pengetahuan dalam diri kita itu diawali melalui proses indra. Menyadur pendapat Vernon A. Magnesen bahwa dalam kegiatan belajar, sebuah ilmu pengetahuan bisa di terima oleh indra kita ternyata memiliki tingkatan prosentase yang berbeda, dengan pengklasifikasian sebagia berikut:  10% dari apa yang kita baca  20% dari apa yang kita dengar  30% dari apa yang kita lihat  50% dari apa yang kita lihat dan dengar  70% dari apa yang kita katakan  90% dari apa yang kita katakan dan lakukan

30

Aristoteles mengusulkan bahwa model pendidikan awal berasal dari serapan indra. Dan masing-masing indra mempunyai kontribusi yang berbeda. Penggabungan indra-indra dalam proses belajar akan menambah daya serap siswa. Dengan demikian penggunaan media belajar audio-visual akan merangsang keterlibatan indra penglihatan dan pendengaran dan juga suasana diri (mood) sehingga akan memudahkan dalam penyerapan informasi yang pada akhirnya akan di simpan di otak dalam memori. 2.3 Pembelajaran IPS 1. Pengertian Pendidikan IPS Istilah IPS merupakan sub program pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, oleh karena itu lahirlah Pendidikan IPS (dan Pendidikan IPA). Istilah ini adalah penegasan dan akibat dari istilah IPS-IPA saja agar bisa dibedakan dengan pendidikan tinggi di Universitas. Namun, menurut Al Mukhtar (1991: 47), ”mata pelajaran ilmu-ilmu sosial sendiri, sudah ada jauh sebelum digunakan istilah IPS seperti yang terdapat dalam kurikulum 1962 dan 1968”. Istilah lain yang muncul selain dari nama Pendidikan IPS ini adalah Studi Sosial. Istilah ini diperkenalkan di Indonesia pada Tahun 1971, pada ‘Seminar Nasional Civics Education di Tawangmangu - Solo, sebagai terjemahan dari istilah “Social Studies” yang telah digunakan di Amerika untuk mata pelajaran ini dalam kurikulum Sekolahnya” (Al Mukhtar, 1991: 48). Kendatipun istilah ini tidak dijadikan nama bagi Pendidikan IPS, namun menurut Al Mukhtar, istilah ini terus berkembang sebagai sebutan konseptual dalam pembaharuan pendidikan IPS yang secara operasional lebih berperan sebagai pendekatan dalam pengembangan kurikulum Pendidikan IPS.
31

Nama-nama lainnya yang identik dengan penamaan Pendidikan IPS (PIPS) dan Studi Sosial ini masih menurut Al Mukhtar (2001; 24-49), adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Ilmu Sosial (PIS), dan Ilmu Sosial Dasar (ISD). Setiap istilah yang digunakan, merupakan cerminan dari dasar pemikiran serta visi, misi dan arah pengembangannya, terutama tujuan dari setiap program. Namun, secara umum orang mengidentikkan IPS dan PIPS adalah sebutan untuk program pendidikan IPS di tingkat dasar dan menengah, sedangkan Studi Sosial, Pendidikan Ilmu Sosial dan Ilmu Sosial Dasar, adalah nama-nama untuk program pendidikan yang biasa dilaksanakan di tingkat Perguruan Tinggi. Sekalipun diajarkan di tingkatan yang berbeda, namun dua-duanya tetap mempunyai kesamaan, yakni sama-sama berbasiskan ilmu sosial, sedangkan perbedaannya terdapat dalam segi kedalaman dan keluasan isi materi, serta tujuan akhir dilaksanakannya program tersebut. Perbandingan pendidikan IPS untuk tingkat Dasar dan Menengah dan di Perguruan Tinggi, digambarkan oleh Somantri (2001:103) sebagai berikut: Pendidikan IPS untuk tingkat Dasar dan Pendidikan IPS untuk FPIPS dan Menengah jurusan IPS FKIP Pendidikan IPS merupakan Pendidikan IPS adalah seleksi dari penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan struktur disiplin akademik ilmu-ilmu modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan sosial yang diorganisasikan dan disajikan disajikan secara ilmiah (dan psikologis) secara ilmiah dan pedagogis psikologis untuk mewujudkan tujuan pendidikan untuk tujuan institusional pendidikan dasar FPIPS, dalam kerangka pencapaian dan menengah, dalam kerangka tujuan pendidikan nasional yang mewujudkan tujuan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila. yang berdasarkan Pancasila. Perbandingan Pend. IPS untuk tingkat Dasar & Menengah dengan di Perguruan Tinggi.

32

Di sekolah-sekolah Amerika sendiri yang sampai saat ini dianggap sebagai salah satu sumber utama dalam pendidikan IPS (studi sosial) di Indonesia ternyata mempunyai tiga tradisi dalam memandang (pendekatan) pendidikan IPS untuk proses pembelajaran di tingkat persekolahannya R.D. Barr et al. dalam David T. Nayloretal. (1987:35-37). Pertama, ada yang memandang IPS sebagai Pendidikan Kewarganegaraan yang bertujuan membentuk warga negara yang baik melalui penanaman nilainilai yang baik sebagai kerangka dasar pengambilan keputusan. Kedua, memandang IPS sebagai Ilmu Sosial yang bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik melalui pengambilan keputusan yang mendasar, dengan penguasaan konsep ilmu sosial, proses dan problem sosial. Ketiga memandang IPS sebagai Reflektif Inkuiri yang bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik melalui kesiapan dalam proses penelitian yang mana pengetahuan itu didapatkan dengan cara mengetahui/memahami kebutuhan-kebutuhan warga negara untuk membuat keputusan dan memecahkan permasalahannya. Penggunaan metode pada ketiga pendekatan IPS ini pun sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pada pendekatan IPS sebagai pendidikan kewarganegaraan, metode yang digunakannya adalah penanaman nilai dan konsep dengan teknik membaca, ceramah dan membahas tanya jawab dan contoh-contoh pemecahan masalah. Pada pendekatan IPS sebagai ilmu sosial, diserahkan pada tiap ilmu itu sendiri, karena tiap-tiap ilmu sosial tersebut mempunyai metodenya sendiri-sendiri dalam menguji pengetahuannya.

Sedangkan pada pendekatan IPS sebagai Reflektif Inkuiri, metode yang digunakannya adalah memberikan kesiapan pada siswa untuk mengambil
33

keputusan secara terstruktur dan disiplin, yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan merespon konflik melalui alat tes kognitif. Adapun mengenai isi materinya, untuk pendekatan IPS sebagai pendidikan kewarganegaraan, materinya merupakan hasil seleksi yang telah ditafsirkan oleh guru dengan keahliannya yang berfungsi memaparkan nilai-nilai, sikap dan kepercayaan. Pada pendekatan IPS sebagai pendidikan ilmu sosial, materinya yang tepat adalah mengajarkan struktur, konsep, problem dan prosesproses ilmu sosial. Sedangkan pada pendekatan IPS sebagai reflektif inkuiri materinya adalah menganalisis nilai-nilai individual warga negara serta masalahmasalah sosial yang timbul. Somantri dalam bukunya Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS (2001: 73, 92 dan 103), juga mencatat beberapa definisi dari Social Study (Pendidikan IPS) ini, termasuk menurut Somantri sendiri adalah sebagai berikut: 1. Menurut National Commission on Social Studies (NCSS) : The term social studies is used to include history, economics, anthropology, sociology, civics, geography and all modifications of subjects whose content as well as aim is social. In all content definitions, the social studies is conceived as the subject matter of the academic disciplines somehow simplified, adapted, modified, or selected for school instruction. 2. Menurut Somantri : a. Suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masnlah-masalah sosial terkait, yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis, untuk tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. b. Penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis, untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah, dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila 3. Menurut Rumusan Forum Komunikasi II HISPIPSI Tahun 1991 versi pendidikan dasar dan menengah : Pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmuilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorga34

nisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. 4. Menurut versi IPS jurusan Pendidikan IPS : Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin-disiplin ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Sedangkan Djahiri dalam bukunya Pengajaran Studi Sosial / IPS (1983: 2) mengartikan Pendidikan IPS sebagai: Ilmu Pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabangcabang ilmu sosial dan ilmu lainnya, serta kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik, untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. Jadi, IPS atau Studi Sosial konsep-konsepnya merupakan konsep pilihan berdasarkan kriteria tertentu dari berbagai ilmu, lalu dipadu dan diolah secara didaktis pedagogis kearah kecocokannya dengan siswa, baik aspek pribadi maupun aspek sosial serta ekologisnya. Dari beberapa pengertian tersebut di atas, kita dapat menarik kesimpulan. bahwa betapapun secara redaksional pengertian Pendidikan IPS itu berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun dilihat dari substansinya, tampak jelas bahwa pengertian-pengertian itu mempunyai substansi yang sama. Namun demikian, untuk ditingkat pendidikan dasar dan menengah Indonesia, rumusan Forum Komunikasi II HISPIPSI Tahun 1991 versi pendidikan dasar dan menengah tampaknya lebih cocok dianut di Indonesia. 2. Karakteristik Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial 1. Karakteristik IPS Setiap mata pelajaran tentu memiliki karakteristik yang membedakan dari mata pelajaran yang lain, demikian juga mata pelajaran Pengetahuan Sosial untuk SMP.

35

Beberapa karakteristik mata pelajaran Pengetahuan Sosial antara lain: a. Pengetahuan Sosial merupakan perpaduan antara sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan. b. Materi kajian Pengetahuan sosial berasal dari struktur keilmuan sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan kewarganegaraan. Dari kelima struktur keilmuan itu kemudian dirumuskan materi kajian untuk Pengetahuan Sosial. c. Materi Pengetahuan Sosial juga menyangkut masalah sosial dan tema-tema yang dikembangkan dengan pendekatan indisipliner dan multidisipliner. Yang dimaksud indisipliner yaitu melibatkan disiplin ilmu ekonomi, ekonomi, geografi, dan sejarah. Sedangkan yang dimaksud dengan multidisipliner yaitu materi kajian itu mencakup aspek kehidupan masyarakat. d. Materi Pengetahuan Sosial menyangkut peristiwa dan perubahan

masyarakat

masa lalu dengan sebab akibat dan kronologis, masalah-

masalah sosial dan isu-isu global yang terjadi di masyarakat. 2. Fungsi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Pengetahuan Sosial Geografi adalah salah satu program untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan siswa dalam menggunakan dan memanfaatkan peta dalam kehidupan sehari-hari. Standar kompetensi ini disiapkan dengan mempertimbangkan

kedudukan dan fungsi Pengetahuan Sosial Geografi, sebagai hasil cipta
36

intelektual dalam pemanfaatan peta yang berkonsekuensi pada fungsi dan tujuan mata pelajaran Pengetahuan Sosial Geografi sebagai : a. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan sosial. b. Sarana penyebarluasan informasi geografis Indonesia untuk berbagai keperluan. c. d. Sarana pengembangan penalaran Sarana pemahaman letak suatu daerah, negara sampai dunia.

3. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Menurut Awan Mutakin (1998), berdasarkan rumusan tujuan umum tersebut dapat dirinci sebagai berikut: a. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat. b. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
37

c.

Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.

d.

Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.

e.

Mampu

mengembangkan

berbagai

potensi

sehingga

mampu

membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat. 4. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam IPS Nilai-nilai yang dikembangkan dalam Ilmu Pengetahuan Sosial diantaranya adalah sebagai berikut: a. Nilai Ketuhanan Materi pembelajaran apapun dalam pendidikan IPS wajib

berlandaskan kepada nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan merupakan nilai transendental yang menjadi core value dari sistem nilai yang ada. b. Nilai Edukatif Salah satu tolak ukur keberhasilan pelaksanaan pendidikan IPS adalah adanya perubahan tingkah laku sosial peserta didik kearah yang lebih baik. Proses pembelajaran IPS tiidak hanya terbatas di kelas dan sekolah pada umumnya melainkan lebih jauh dari itu dilaksanakan dalam kekhidupan sehari-hari.

38

c. Nilai Praktis Pembelajaran tidak memiliki makna yang dalam jika tidak memiliki nilai praktis. Pokok bahasan IPS tidak hanya konsep teoritis belaka, melainkan digali dari kehidupan sehari-hari yang bersifat kontekstual. d. Nilai Teoritis Pembelajaran IPS tidak hanya menyajikan fakta dan data yang terlepas dari kerangka teoritis, melainkan dibina dan dikembangkan kemampuan nalar kearah sense of rality, sense of discovery, sense of inquiry, serta kemampuan mengajukan hipotesis terhadap suatu masalah. e. Nilai Filsafat Menumbuhkan kemampuan merenung tentang eksistensi dan pernannya di tengah masyarakat, sehingga tumbuh kesadaran mereka selaku anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial f. Nilai Kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, kedamaian, tanpa kekerasan, dan sebagainya perlu disaampaikan secara terpadu dalam pembelajaran IPS, sehingga dihasilkan kualitas lulusan yang unggul (human excellence) atau manusia utuh/kaffah sesuai dengan citacita pendidikan nasional. 5. Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik
39

secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Selah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Dengan pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang

dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari. Dalam pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. 3. Sumber Pembelajaran IPS Menurt association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber pembelajaran (learning resources) adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam

40

bentuk

gabungan,

untuk

kepentingan

belajar

mengajar

dengan

tujuan

meningkatkan ekektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sumber pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu : 1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan ( learning resources by design), yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal, serta dirancang untuk kepentingan pembelajaran yang akan diselenggarakan, seperti buiku teks,buku bacaan, media elektronik, serta multimedia; dan 2. Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by utilization), yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar, serta mempuanyai keterkaitan dengan bahan belajar yang akan dipelajari siswa. Baik sumber pembelajaran yang direncanakan (by design) maupun yang karena dimanfaatkan (by utilization), paling tidak mempunyai enam komponen sebagai berikut: 1) Pesan, yaitu informasi yang terdapat di dalam bahan ajar yang sudah mengandung makna, misalnya materi pelajaran yang siap untuk disampaikan oleh guru kepada siswanya. 2) Orang, iaitu semua yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam proses pembelajaran, misalnya : guru, siswa, kepala sekolah, tutor, instruktur, pustakawan, sebagainya.
41

sejarawan,

pengrajin,

petani,

pedagang,

dokter

dan

3) Bahan, yaitu sesuatu yang mengandung pesan yang memerlukan alat penampil, seperti program transparansi, program audio, program film bingkai, program video, buku, spanduk, atlas, globe, dan sebagainya. 4) Peralatan, yaitu semua peralatan yang digunakan untuk menampilkan perangkat lunak, seperti proyektor OHP, proyektor slide suara, tape recorder, proyektor video, VCD player, komputer dan sebagainya. 5) Teknik, yaitu semua cara, metode dan strategi yang digunakan untuk menyampaikan pesan agar dapat diterima oleh khalayak dengan efektif dan efisien, seperti pemanfaatan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, bermain peran, simulasi, inqiri, portofolio dan sebagainya. 6) Lingkungan, yaitu tempat dimana siswa belajar, misalnya kelas, perpustakaan, laboratorium, mesjid, rumah ibadah, lapangan olah raga, dan alam sekitarnya. Secara garis besar, lingkungan dapat terdiri atas lingkungan fisik (hutan, sungai, gunung, dll), sosial (organisasi pemuda, ormas, LSM, kelompok pencapir, dll), dan budaya (adat istiadat, seni tradisional, situs sejarah, mitodologi, dll). Uraian tentang enam komponen sumber pembelajaran di atas dapat ditampilkan dalam matriks di bawah ini:

42

Tabel 2.3. Komponen Sumber Pembelajaran No. 1. Komponen Yang Direncanakan Sumber (by design) Pembelajaran Pesan Kurikulum Matei pelajaran, dll. Guru Kepala Sekolah Buku Teks/Bahan Ajar Program : • OHP • Audio • Video • Komputer, dll Proyektor OHP/Slide/ Tape Recorder VCD player Kamera Film Radio, Televisi, dll. Metode : • Ceramah • Diskusi • Tanya Jawab • Simulasi • Inquiri, dll. Ruang kelas Perpustakaan Laboratorium, dll. Yang Dimanfaatkan (by utilization) Cerita Rakyat Nasihat Dongeng, dll. Sejarawan Petani Pengrajin Pengusaha, dll. Candi Arca Museum Internet

2.

Orang

3.

Bahan

4.

Peralatan

Mesin jahit\ Mobil Traktor, dll.

5.

Teknik

Dialog interaktif Dialog spontan Diskusi spontan Pertanyaan spontan, dll.

6.

Hutan, Orsospol, Ormas, Lingkungan LSM, Kesenian, dll. Sumber : diolah dari AECT (1977) ; Plomp dan Ely (1996); Rumampuk (1988). Dengan melihat uraian mengenai sumber belajar di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa sumber pembelajaran adalah media yang dijadikan rujukan dalam menopang kemudahan belajar.

43

4.

Pemilihan Sumber Pembelajaran IPS Sebagai sumber pembelajaran IPS, media pendidikan diperlukan untuk membantu guru dalam menumbuhkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS. Diversifikasi aplikasi media atau multimedia, sangat direkomendasikan

dalam proses pembelajaran IPS, misalnya melalui : pengalaman langsung siswa di lingkungan masyarakat; dramatisasi; pameran dan kumpulan benda-benda; televisi dan film; radio recording; gambar; foto dalam berbagai ukuran yang sesuai bagi pembelajaran IPS; grafik, bagan, chart, skema, peta; majalah, surat kabar, buletin, folder, pamflet, tanya jawab, cerita lisan, dan sejenisnya (Rumampuk, 1988 : 2327; Mulyono, 1980 : 10-12). Media pendididkan dapat dijadikan sumber pembelajaran IPS, baik sebagai hardware maupun software. Sebagai hardware IPS, media pendidikan merupakan educational tools, berarti media itu dipergunakan untuk menunjang kemudahan dalam suatu proses pembelajaran IPS. Sedangkan software IPS, isi atau pesan yang terdaspat dalam media dapat dijadikan content atau materi dalam suatu proses pembelajaran IPS. Dalam pemanfaatan media sebagai software, guru IPS tentu saja harus dapat memilah dan memilih isi atau pesan media mana saja yang relevan atau cocok untuk diadopsi menjadi content atau dalam suatu proses pembelajaran IPS. Adapun pemilihan media pendidikan, baik sebagai hardware maupun software IPS dapat melalui proses berikut ini : a. Harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa. b. Pemilihan media harus secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru, sekedar selingan, atau hiburan. Hendaknya pemilihan media

44

c. d. e. f. g.

itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk peningkatan efektivitas belajar siswa. Tidak ada satu pun media yang dipakai untuk semua tujuan. Tiap-tiap media mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Pemilihan media hendaknya disesuaikan, baik dengan metode mengajar yang digunakan maupun materi pelajaran, mengingat media adalah bagian integral dalam porses pembelajaran. Untuk dapat memilih media dengan cepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri media itu. Pemilihan media supaya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan. Pemilihan media juga harus didasarkan pada kemampuan, gaya/pola belajar siswa. (Gerlach and Ely, 1980; Sleelam and Cobun, 1978 dalam Rumampuk, 1988 : 19). Dari uraian diatas, pemilihan media pembelajaran selain terkait dengan

pencapaian kurikulum pembelajaran, juga harus memperhatikan kebutuhan belajar siswa dan karakteristik media itu sendiri yang mampu menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Selanjutnya, dalam hal pengadaan dan pemanfaatan media massa sebagai sumber pembelajaran IPS, maka langkah-langkahnya ialah sebagai berikut : 1. Membut daftar kebutuhan media melalui identifikasi sumber dan sarana pembelajaran yang diperlukan untuk proses pembelajaran IPS. 2. Menggolongkan ketersediaan alat, bahan atau sumber pembelajaran tersebut; dan 3. Bila sumber pembelajaran tersebut tersedia, pikirkan kesesuaian penggunaannya, bila belum, lakukan modifikasi bila diperlukan (Depdiknas, 2002 : 9). 2.4 Pola Pembelajaran Berbasis Media Ditinjau dari prosesnya, pendididkan adalah komunikasi, karena dalam proses pendidikan terdapat komunikator, komunikan, dan pesan ( message), yakni sebagai komponen-komponen komunikasi. Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris Communiation berasal dari kata Latin communicatio, yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si
45

pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya; ikut mengambil bagian. Kata kerjanya communicare, artinya berdialog, berunding atau bermusyawarah (Onong Uchjana Effendy, 1994:9 dan Anwar Arifin, 1992:19-20). Jadi, secara konseptual arti komunikasi itu sendiri sudah mengandung pengertian memberitahukan (dan menyebarkan) berita,

pengetahuan, pikiran-pikiran, nilai-nilai dengan maksud untuk menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama. Ditinjau dari efek yang diharapkan, tujuan komunikasi bersifat umum. Dalam hal inilah maka dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah seperti penerangan, propaganda, indoktrinasi, pendidikan dan lain-lain. Inti dari itu

semua adalah untuk mencapai persetujuan mengenai sesuatu pokok ataupun masalah yang merupakan kepentingan bersama. Dengan demikian, pendidikan adalah bagian khususnya komunikasi, karena ia memiliki tujuan yang bersifat khusus. Memang dalam berbagai komunikasi yang sekedarnya mungkin tidak direncana, karenanya tidak dikatakan sebagai komunkasi pendidikan (educative communication), sementara komunikasi dalam proses pendidikan terjadi karena ada rencana dan ada tujuan yang diinginkan. Pendidikan itu sendiri dpat dirumuskan dari sudut normatif, karena pendidikan menurut hakikatnya memang sebagai suatu peristiwa yang memiliki norma. Artinya, bahwa dalam peristiwa pendidikan, pendidik dan anak didik berpegang pada ukuran, norma hidup, pandangan terhadap individu dan masyarakat, nilai-nilai moral, kesusilaan yang semuanya merupakan sumber norma di dalam pendidikan. Aspek itu sangat dominan dalam merumuskan

46

tujuan secara umum.

Oleh karena itu, persoalan ini akan merupakan bidang

pembahasan teori dan filsafat ilmu pendidikan. Tetapi disamping perumusan secara normatif pendidikan dapat pula dirumuskan dari sudut secara teknis, yakni terutama dilihat dari segi peritiwanya. Peristiwa dalam hal ini merupakan suatu kegiatan prkatis yang berlangsung dalam satu masa dan terikat dalam satu situasi serta terarah pada satu tujuan. Pertistiwa tersebut adalah satu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia, yaitu rangkaian kegiatan yang saling mempengaruhi. Satu rangkaian proses perubahan dan penumbuhan-kembangan fungsi jasmaniah, penumbuh-kembangan watak, intelek dan sosial. peristiwa pendidikan. Semua ini tercakup dalam

Degan demikian, pendidikan itu merupakan himpunan

kultural yang sangat kompleks yang dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia. Sedangkan peristiwa atau proses interaksi pendidikannya adalah suatu proses teknis. Di dalam proses teknis inilah secara spesifik disebut proses pembelajaran. Kata pembelajaran sengaja dipakai sebagai padanan kata dari kata instruction (bahasa Inggris). Kata instruction mempunyai pengertian yang lebih luas

daripada pengajaran. Jika kata pengajaran ada dalam konteks guru-siswa di kelas (ruang) formal, pembelajaran mencakup pula kegiatan belajar mengajar yang tidak dihadiri guru secara fisik. Oleh karena itu, dalam pembelajaran yang

ditekankan adalah proses belajar, maka usaha-usaha yang terencana dalam memenipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa kita sebut pembelajaran.

47

Masalah pembelajaran itu sendiri merupakan masalah yang cukup kompleks dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak denfinisi

pembelajaran, di sini dikutip dua definisi yang dianut A. Cheadar Alwasilah (dalam pengantarnya untuk versi terjemahan buku Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning) sebagai berikut: (1) “A relatively permanent change in response potentiality which occurs as a result of reinforced practice” dan (2) “a change in human disposition or capability which can be retained, and which is not simply ascribable to the process of growth.” (1)”Pilihan potensinya relative tetap yang sama sebagai hasil dari kekuatan yang praktis. Dan (2) perubahan dalam diri manusia atau kemampuan pada mulanya dapat ditahan dan berasal dari proses perubahan yang tidak sederhana”. Dari dua definisi ini ada tiga prinsip yang layak diperhatikan. Pertama, proses pembelajaran menghasilkan perubahan perilaku anak didik yang relatif permanen. Tentunya, dlam proses ini terdapat peran penggiat pembelajaran,

yakni guru atau dosen sebagai pelaku perubahan (agent of change). Anak didik memiliki potensi, gandrung, dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan tanpa henti. Oleh karena itu, proses pembelajaran seyoginya menyirami benih kodrati ini hingga tumbuh subur dan berbuah. Proses belajar mengajar, dengan demikian, adalah optimalisasi potensi diri sehingga dicapailah kualitas yang ideal. Ketiga, perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh linear sejalan proses kehidupan. Artinya, proses belajar mengajar memang merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, tetapi ia didesain secara khusus, dan diniati demi tercapainya kondisi atau kualitas ideal seperti di atas. menegaskasn definisi pembelajaran.
48

Ketiga hal ini

Dari ketiga hal tersebut diatas, tampak bahwa guru berposisi sebagai peran pengingat dalam proses optimalisasi diri siswa untuk menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanent (kualitas ideal). Guru disebut sebagai peran pengingat, karena dengan pertimbangan bahwa siswa adalah orang yang memiliki benih kodrati yang tidak terpisahkan dari lingkungan khidupannya, maka dalam melaksanakan tugasnya sebagai peran pengingat, guru hendaknya memiliki kemampuan dalam merencanakan dan menciptakan lingkungan belajar secara kondusif bagi siswa-siswinya. Berdasarkan pemahaman tersebut, guru tidaklah dipahami sebagai satusatunya sumber belajar, tetapi dengan posisinya sebagai peran pengingat tadi-ia pun harus mampu merencanakan dan mencipatakan sumber-sumber belajar lainnya sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Sumber-sumber

belajar selain guru inilah yang disebut sebagai penyalur atau penghubung pesan ajar yang diadakan dan/atau diciptakan secara terencana oleh para guru atau pedidik, biasanya dikenal sebagai “media pembelajaran”. komponen-komponen komunikasi pembelajaran Dengan demikian, komunikator,

menjadi

komunikan, pesan dan media. Kata media sebenarnya bukanlah kata asing bagi kita, tetapi pemahaman banyak orang terhadap kata tersebut berbeda-beda. Saat mengajar, saya sering bertanya kepada mahasiswa tentang “apa arti media”, jawaban meraeka vriatif, ada yang mengartikan sebagai alat informasi dan komukasi, sarana prasarana, fasilitas, penunjang, penghubung, penyalur dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kata itu sendiri sering digunakan orang untuk beberapa hal yang

49

berbeda-beda pula, misalnya sebagai ukuran (size) pakaian dan tanda pengaturan mesin pendingin (air conditioner) yang biasa disingkat menjadi “M” sebagai kepanjangan dan “medium”, ada juga yang memakainya dalam menjelaskan kata “pertengahan” seperti dlam kalimat”medio abad 19” (atau pertengahan abad 19); ada yang memakai kata media dalam istilah “mediasi”, yakni sebagai kata yang biasa dipakai dalam proses perdamaian dua belah pihak yang sedang bertikai dan lain-lain. Sumber pembelajaran adalah media yang dijadikan rujukkan dalam menopang kemudahan belajar. Hal ini selaras dengan temuan Worth (1999), bahwa kemampuan rata-rata manusia dalam mengingat lebih kuat secara verbal dan visual daripada verbal saja atau visual saja. Untuk lebih jelasnya disajikan di bawah ini. Tabel 2.4. Mengingat Kemampuan Rata-rata usia dalam Mengingat Sesudah 3 jam Sesudah 3 hari

Verbal saja 70% 10% Visual saja 72% 20% Verbal dan Visual 85% 65% Sumber : The Psychology of Audiences by H.L. Holing Worth Kemudian dari Dale`s Cone Experience (1946 : 39) atau kerucut pengalaman Dale memperlihatkan, bahwa pengalaman belajar seseorang 75% diperoleh melalui indera lihat, 13% melalui indera dengar dan selebihnya melalui indera lainnya. Semakin menuju ke kerucut, pengalaman makin bersifat abstrak dan makin menuju ke dasar, pengalaman itu semakin konkrit. Selanjutnya, Sheal (dalam Depdiknas, 2002) lewat “kerucut pengalaman belajar”nya juga mengungkapkan bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca,
50

20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Secara visual, dapat digambarkan di bawah ini.
Yang kita ingat : 10% 20% 30% 50% katakan 70% 90% baca lihat Lihat dan dengar katakan katakan dan lakukan Visual Modus: Verbal

Berbuat

Sumber : Depdiknas, 2002

Gambar 2.3.Kerucut Pengalaman Belajar Berdasarkan kerucut pengalam belajar di atas, jika guru mengajar dengan banyak ceramah, maka siswa akan mengingat hanya 20% karena siswa Cuma mendengarkan, sebaliknya, jika guru mengajar siswa untuk melakukan sesuatu dan melaporkannya, maka mereka akan mengingat sebanyak 90%.

51

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menguraikan mengenai pelaksanaan penelitian dalam rangka penulisan skripsi, yakni : Pendekatan Penelitian, Prinsip-prinsip PTK, Prosedur PTK, Proses Pelaksanaan Tindakan, Latar Situasi Sosial, Subjek, dan Data Penilitian, dan Instrumen Penelitian. 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian ini dilakukan berdasarkan paradigma naturalistikkualitatif yang mengacu pada kondisi lingkungan alamiah (natural), sebab mengkaji fenomena yang lebih banyak berasal dari setting/contexts alamiah yang berpengaruh dalam memberikan arti/pengertian. Pendekatan kualitatif berpijak pada suatu asumsi, bahwa dunia, realitas, situasi, dan peristiwa yang terjadi sebagai objek suatu studi tentang perilaku manusia dan fenomena sosial seharusnya dipandang dengan cara yang bermacammacam dan oleh orang yang berbeda-beda, serta dipahami melalui pendekatan humanistik (Nasution, 1997); maka penelitian yang dikategorikan studi kasus kualitatif ini mempunyai karakteristik, antara lain: (1) latar belakang alamiah atau natural setting; (2) manusia sebagai alat atau instrumen penelitian dapat lebih adaptabel;(3) menggunakan metode kualitatif; (4) analisis data secara induktif; (5) teori dari dasar (grounded theory) melalui analisis secara induktif; (6) laporannya bersifat deskriptif;

52

(7) lebih mementingkan proses daripada hasil; (8) adanya “batas” yang ditentukan oleh fokus penelitian; (9) adanya kriteria khusu untuk keabsahan data; (1) desain penelitian bersifat sementara; (11) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama antara peneliti dengan responden dan narasumber. Dilihat dari aspek metodologis, penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan (action research), yang pada hakekatnya merupakan sebuah siklus dari sejak perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi, sebagaimana digagas pertama kali oleh kurt Lewin, seperti dibawah ini;

planning reflectin g observing

planning

acting

reflectin g observing

acting

Siklus I

Siklus II

Gambar 3.1. Desain Action Reseach Model Kurt Lewin Pemilihan metode ini dilatarbelakangi atas dasar analisis masalah dan tujuan penelitian yang memerlukan sejumlah informasi dan tindak lanjut yang terjadi di lapangan berdasarkan “daur ulang” yang menuntut kajian dan tindakan secara reflektif, kolaboratif, dan partisipatif. Oleh karena itu, maka penelitian ini

merupakan penelitian tindakan yang dipusatkan pada situasi sosial kelas yang membutuhkan sejumlah informasi dan tindak lanjut secara langsung berdasarkan situasi alamiah yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran. Pertimbangan

lainnya, bahwa perumusan rencana tindakan berdasarkan situasi sosial yang ada

53

dan berkembang dalam pembelajaran di dalam kelas mengingatkan serangkaian tindak lanjut dari situasi empirik yang mendukung bagi pelaksanaan program tindakan. Penelitian tindakan adalah suatu pendekatan khusus dalam penelitian kelas, sehingga merupakan akumulasi antara prosedur penelitian dan tindakan substantif. Sebagai prosedur penelitian, penelitian tindakan ditandi oleh adanya suatu kajian reflektif-diri secara inquiri, partisipasi, dan kolaborasi terhadap latar alamiah dan atau implikasi dari suatu tindakan. Sedangkan sebagai tindakan substantif, penelitian tindakan ditandai oleh adanya intervensi skala kecil berupa pengembangan program pembelajaran dengan memfungsikan latar

kealamiahannya sebagai upaya melakukan reformasi diri atau peningkatan kualitas pembelajaran IPS, melalui pemanfaatan media sebagai sumber pembelajaran, sehingga menjadikan pembelajaran IPS menjadi lebih bermakna. Penelitian terhadap pembelajaran yang terjadi di kelas, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengkaji dan memberikan solusi terhadap berbgai permasalahan yang terjadi dan dialami oleh guru dalam hubungannya dengan situasi kelas (Dunkin and Biddle, 1974; Hopkins, 1993), yang dalam pelaksanaannya bersifat kontekstual dan sangat tergantung pada realitas sosial kelas. Atas dasar ini, maka penelitian tindakan kelas ini menempatkan sentralitas dan otonomi profesional guru dalam proses refleksi terhadap kinerja dan aktivitas mengajarnya.

3.2 Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas
54

Esensi penelitian tindakan kelas merupakan kajian terhadap konteks situasi sosial yang dicirikan adanya unsur tempat, pelaku dan kegiatan dalam waktu tertentu untuk maksud meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Dalam memaknai situasi sosial kelas yang berlangsung di dalam situasi alamiah yang menuntut sejumlah informasi dan tindak lanjut secara langsung, maka penelitian tindakan kelas merupakan intervensi dalam skala kecil terhadap situasi sosial kelas, dengan tujuan meningkatkan mutu pembelajaran (Hopkins dalam Wiriaatmadja, 2005:12). Penelitian Tindakan Kelas terutama memanfaatkan data pengamatan dan perilaku empirik. PTK menelaah ada tidaknya kemajuan, sementara itu kegiatan proses pembelajaran tetap berjalan. Informasi-informasi dikumpulkan, diolah didiskusikan, dan dinilai. Perubahan kemajuan dicermati dari waktu ke waktu atau dari peristiwa ke peristiwa. Tujuannya adalah memberi masukan bagi pengembalian keputusan praktis dalam situasi kongkrit, dan validasi teori atau hipotesis yang dihasilkan tidak tergantung hanya pada uji kebenaran ilmiah semata, namun lebih-lebih dari manfaatnya dalam membantu orang untuk bertindak lebih terampil dan lebih intelejen dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam penelitian. Kemmis & McTaggart (1982) telah mengembangkan model Kurt Lewin menjadi perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen sama dengan desain Lewin, di mana satu untaian dipandang sebagai satu siklus, dan siklus pertama dapat disusul dengan siklus berikutnya. Oleh karena itu, pengertian siklus di sini adalah suatu putaran

55

kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Gambaran awalnya seperti tampak berikut ini:
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENELITIAN PENYUSUNAN RENCANA TINDAKAN
SIKLUS I

RENCANA

Pelaksanaan Tindakan Revisi Observasi Refleksi

SIKLUS II

Pelaksanaan Tindakan Revisi Refleksi Observasi
RENCANA SIKLUS III

SIKLUS IV

Pelaksanaan Tindakan
RENCANA

observasi refleksi

Revisi

Pelaksanaan Tindakan

revisi

observasi refleksi RENCANA

Pelaksanaan Tindakan Observasi Refleksi

RENCANA

Gambar 3.2.

Desain PTK Model Kemmis dan McTaggart

56

Gambar tersebut mengilustrasikan, bahwa dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas; Classroom Action Reserc), daur refleksi merupakan syarat utama yang harus dilakukan oleh peneliti agar mencapai hasil seusuai dengan apa yang diaharapkan. Untuk itu, maka prosedur pelaksanaan PTK, terdiri dari : (1)

mengidentifikasi masalah ; (2) merumuskan gagasan pemecahan masalah; (3) menyusun rencana tindakan dalam mengatasi masalah; (4) melaksanakan tindakan yang direncanakan; (5) melakukan observasi atas tindakan yang dilakukan; dan (6) melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan perumusan rencana tindakan berikutnya hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Langkah-langkah kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus selama penelitian, sesuai dengan karakteristik penelitian daur ulang (Elliot, 1991; Kemmis, 1982; Stenhouse, 1984). 3.3 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Prosedur PTK berbentuk “daur ulang” atau siklus (cicle) yang mengacu pada model Kemmis and McTaggart (Hopkins, 1993 : 48). Siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali, melainkan beberapa kali hingga tujuan pembelajaran melalui pemanfataan media massa sebagai sumber pembelajaran menjadikan pembelajaran IPS lebih bermakna. Secara operasional, tahap-tahap kegiatan penelitian dalam setiap siklus, adalah sebagai berikut :

1. Perencanaan
57

Perencanaan (planning) yaitu menyusun rencana tindakan dan penelitian (termasuk revisi dan perubahan rencana) yang akan dilaksanakan di dalam pembelajaran IPS. Perencanaan ini dibuat sesudah peneliti menyikapi kondisi siswa, fakta yang terjadi, melalui proses inkuiri. Hal ini dimaksudkan untuk menggalai keadaan yang terjadi, sehingga dapat menentukan strategi apa yang akan diterapkan oleh guru dalam pembelajaran. secara reflektif, partisipatif dan kolaboratif. 3. Tindakan Pelaksanaan tindakan (acting) yaitu praktik pembelajaran nyata berdasarkan rencana yang telah disusun bersama sebelumnya. Terkadang Di sini, rencana disusun

perubahan harus dilaksanakan, tatkala kondisi kelas memerlukannya. Tindakan ini diarahkan guna memperbaiki keadaan, meningkatkan kualitas, atau mencari solusi permasalahan. 3. Observasi Observasi atau pengamatan pelaksanaan tindakan di kelas harus dilakukan dengan cermat oleh peneliti dan mitranya, dengan membuat catatan lapangan. Catatan ini akan sangat berguna pada saat peneliti mengawali

kegiatan analisis terhadap apa yang sedang terjadi di kelas. 4. Refleksi Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mitra secara kolaboratif merenungkan kembali tentang rencana dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan berdasarkan hasil analisis terhadap data, proses, dan hasil

58

pelaksanaan tindakan yang telah dikerjakan. Dilihat dari proses dan waktu pelaksanaannya, refleksi dalam penelitian ini mencakup : a. Refleksi Awal, yakni refleksi yang dilakukan pada saat dilakukan masa orientasi terahadap berbagai permasalahan serta faktor-faktor pendukung dan penghambat rencana pengembangan model dalam pembelajaran pendidikan IPS. Refleksi di sini, bertujuan untuk merumuskan proposal awal terhadap situasi social dalam pengembangan model yang akan dilakukan, selanjutnya dituang kan ke dalam suatu rancangan awal rencana program tindakan yang akan dilakukan; b. Refleksi Proses, yakni refleksi yang dilakukan pada saat pelaksanaan program tidakan yang bertujuan untuk mengkaji proses, dan implikasi dari program tindakan yang dilakukan terhadap perolehan hasil belajar siswa, unjuk kerja guru dan siswa dalam pembelajaran IPS, serta implikasiimplikasi lain dimaksudkan untuk melakuakn revisi terhadap rencana yang telah disusun, serta sebagai dasar dalam merancang rencana program tindakan selanjutnya dalam hubungannya dengan pengembangan model pemanfaatan media massa sebagai sumber pembelajaran IPS dalam meningkatan hasil belajar siswa. c. Refleksi Hasil, yakni refleksi yang dilakukan pada akhir pelaksanaan program sesuai dengan rancangan program tindakan yang telah ditetapkan dan focus permasalahan serta tujuan pelaksanaan program tindakan. Artinya, program pelaksanaan telah dipandang berhasil dan mendukung ketercapaian tujuan dari program tindakan, yaitu setelah terjadinya

59

peningkatan perolehan hasil belajar siswa, baik dilihat dair pengusaan materi, sikap, serta keterampilan-keterampilan social, unjuk kerja guru, dan proses belajar mengajar dalam pembelajaran IPS. Refleksi disini, pada dasarnya dimaksudkan untuk melakukan rekonstruksi dan revisi terhadap model pemanfaatan media sebagai sumber pembelajaran IPS dalam meningkatkan hasil belajar siswa, yang dikembangkan dalam program tindakan ini sesuai dengan tujuan pokok dari pelaksaan tindakan. 5. Revisi Pada tahap ini, berdasarkan hasil kajian dan refleksi terhadap pelaksanaan program tindakan, sesuai dengan rancangan rencana program tindakan yang telah ditetapkan, peneliti dan guru mitra secara kolaboratif dan partisipatif melakukan revisi terhadap rencana program tindakan yang telah disusun dan ditetapkan sebelumnya. Revisi ini dimaksudkan untuk melihat kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran dan untuk melakukan perbaikanperbaikan terhadap rencana dan pelaksanaan program tindakan yang telah dilakukan serta sebagai dasar penyusunan rancangan rencana program tindakan selanjutnya. 3.4 Proses Pelaksanaan Tindakan Berdasarkan temuan dan refleksi awal pada saat orientasi terhadap pelaksanaan pembelajaran IPS, maka pelaksanaan program tindakan dalam upaya peningkatan Prestasi Belajar Siswa dengan menggunakan Media Audio Visual pada Pelajaran IPS di Kelas VII-A SMP Muhammadiyah 2 Kadungora Kabupaten Garut yang dilakukan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut :
60

1. Perencanaan Bersama (joint planning) Perencanaan bersama ini dilakukan antara peneliti dan guru mitra tentang topic kajian, berdasarkan criteria-kriteria yang telah sama-sama disepakati, waktu, dan tempat observasi yang akan dilakukan. 2. Pelaksanaan Program Tindakan (program action) Mempertimbangakan karakteristik penelitian situasi tindakan, social bahwa kelas, yakni sesuai dengan tindakan

rencana

program

berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan situasi lapangan (McNiff, 1992; Hopskins, 1993). Untuk itu, rencana yang telah ditetapkan tidak bersifat absolute melainkan berkembang sejalan dengan perkembangan situasi social di lapangan di mana program tersebut dilaksanakan (Hopskins, 1993; Suwarsih, 1994). Pelaksanaan program tindakan dilakukan dengan 3. Observasi Kelas (classroom observation) Pendekatan observasi yang dipakai adalah kemitraan (Partnership observation) atau observasi kolaboratif (collaborative observation) (Hopskins, 1993), yakni peneliti dan guru mitra mengamati proses pelaksanaan tindakan, pengaruh, kendala, dan atau permasalahn yang timbul salama pembelajaran IPS berlangsung. Observasi dilaksanakan terhadap fokus-fokus pengamatan yang telah disepakati bersama oleh peneliti dan dua orang mitra peneliti. 4. Diskusi Balikan (feedback discution) Diskusi balikan atau refleksi kolaboratif antara peneliti dan dua orang mitra terhadap hasil observasi dilaksanakan berdasarkan hasil pencatatan selama observasi berlangsung secara cermat dan sistematis di dalam catatan

61

lapangan (field notes) terhadap pelaksanaan tindakan. Hasilnya, selanjutnya didiskusikan bersama untuk direfleksi, recheck, dan atau reinterprestasi. Temuan yang dperoleh dan disepakati, kemudian dijadikan acuan bagi perumusan rencana pengembangan pembelajaran (action) berikutnya. 3.5 Latar Situasi Sosial dan Subyek Penelitian 1. Latar Situasi Sosial Penelitian Menurut Nasution (1992), latar situasi social penelitian merujuk pada lokasi situasi social yang ditandai oleh adanya tiga unsure yaitu : tempat, pelaku, dan kegiatan. Atas dasar ini, maka dalam penelitian ini termasuk dalam ketiga unsure tersebut ialah : a. Tempat, yaitu SMP Muhammadiyah 2 Kadungora, Jalan Raya Kadungora nomor 39, Kabupaten Garut : b. Subyek penelitian, yaitu siswa di kelas VII-A berjumlah 39 orang yang terlibat dalam proses pembelajaran IPS, dengan siswa yang terdiri dari beragam karakter, serta kondisi social ekonomi yang heterogen; dan c. Pemilihan kelas VII-A, sebab dalam stuktur kurikulum sekolah mata pelajaran IPS baru diberikan di kelas tersebut. Adapun pengambilan kelas VII A sebagai proyek penelitian, oleh karena itu karakterisktik kelas tersebut sesuai dengan focus kajian penelitian ini yang dapat memberikan informasi setuntas mungkin (redundant). Hal ini sejalan dengan prinsip purposive sample (Nasution, 1997; Moleong, 1994). d. SMP Muhammadiyah 2 Kadungora yang sedang mengembangkan diri kearah peningkatan kualitas pendidikan dalam berbagai segi. Hal ini, antara
62

lain, ditandai dengan penataan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di sekolah itu sehingga dapat menjelma menjadi sebuah sekolah yang ideal (sesuai konsepsi wawasan Wiyata Mandala). Hal ini terbukti, Kepala

Sekolah beserta para guru, dengan didukung oleh tenaga administrative bekerja keras untuk meningkatan kinerjanya di dalam peningkatan kualitas pendidikan, melalui berbagai kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Para siswa pun sangat antusias untuk mengikuti berbagai aktivitas pendidikan di sekolah ini, sebab mereka dijadikan sentral atau subjek utama di dalam keselurahan proses pendidikan. 2. Subyek Penelitian Subyek dalam kegiatan penelitian ini adalah siswa kelas VII-A sebanyak 39 orang, terdiri dari putra sebanyak 23 orang dan putri sebanyak 16 orang. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian tindakan kelas adalah peneliti sendiri, sebagai sole instrument (HopsKins, 1993), sedangkan teknik pengumpulan datanya ialah tes hasil belajar siswa, khususnya mengenai penguasaan terhadap materi atau pokok bahasan yang dibelajarkan dengan menggunakan model pemanfaatan media audio visual sebagai sumber pembelajaran IPS. Untuk menjaring data lain yang berkembang selama pelaksanaan tindakan, dan sebagai bahan pertimbangan untuk validasi data, peneliti juga

mempergunakan catatan lapangan ( field note).

63

3.7 Pengolahan Data Dalam penelitian tindakan, pada dasarnya proses analisis data sudah dilakukan sebelum program tindakan tersebut dilaksanakan, sehingga analisis data berlangsung dari awal sampai akhir pelaksanaan program tindakan itu (Suwarsih, 1994; McNiff, 1992). Dalam penelitian ini, data penelitian program tindakan sesuai dengan karakteristik focus permasalahan dan tujuan penelitian (Hopskins, 1993; Kemmis, 1983). Data penelitian akan dianalisis secara

kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dipergunakan untuk menganalisis data yang memperlibatkan dinamika proses, dengan memberikan pemaknaan secara kontekstual dan mendalam sesuai dengan permasalahan penelitian, yaitu data tentang unjuk kerja guru, aktivitas belajar siswa, pola pembelajaran, pendapat siswa dan guru tentang upaya peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan Media Audio Visual pada pelajaran IPS, serta kemungkinan aplikasi model ini bagi pembelajaran materi atau mata pelajaran lainnya. Adapun analisis kuantitatif mencakup deskripsi berbagai dinamika kemajuan kualitas hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan penguasaan konsep/materi pokok bahasan yang diajarkan oleh guru. deskriptif. Di bawah ini akan dijelaskan prosedur dan pengolahan data dalam penelitian ini. a. Pengumpulan, Kodifikasi, dan Kategorisasi Data Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan seluruh data yang telah diperoleh berdasarkan instrument penelitian, kemudian data tersebut Untuk itu dipergunakan analisis statistic

64

diberikan kode-kode tertentu menurut jenis dan sumbernya. Selanjutnya, peneliti melakukan interpretasi terhadap keseluruhan data untuk

memudahkan penyusunan kategorisasi data, sehingga dapat memberik penjelasan dan makna terhadap isi temuan penelitian. Kategorisasi data didasarkan pada tiga aspek, yakni : (1) Latar atau Konteks Kelas, yaitu berupa informasi umum dan khusus tentang latar fisik kelas dan latar para pelaku (guru dan siswa); (2) Proses Pembelajaran, yaitu berupa informasi tentang interaksi social guru dengan siswa, interaksi siswa dengan kelompoknya, interkasi antar kelompok di dalam kelas, dan suasana kelas selama pembelajaran IPS berlangsung; (3) Aktivitas, yaitu berupa informasi tentang tindakan para pelaku, yaitu tindakan guru dan tindakan siswa. b. Validasi Data Hasil interprestasi dan kategorisasi data, sehubungan dengan hasil pelaksanaan program tindakan yang telah dirumuskan, divalidasi dengan menggunakan beberapa teknik validasi data untuk memperoleh data yang benar-benar mendukung serta sesuai dengan karakterisktik focus

permasalahan dan tujuan penelitian (Rochiati, W: 2005). Teknik validasi data yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut: (1) Triangulasi Data, yakni untuk memeriksa kebenaran data dengan menggunakan sumber lain, misalnya membandingkan kebenaran data dengan data yang diperoleh dari sumber lain (guru, guru lain, siswa),

65

atau membandingkan data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan data yang diperoleh melalui observasi, dan seterusnya, sehingga diperoleh derajat kepercayaan yang maksimal. Kegiatan triangulasi

dalam penelitian ini dilaksanakan melalui kegiatan reflektif-kolaboratif antara guru, siswa, peneliti, dan mitra peneliti. Dari guru, dilakukan pada saat pelaksanaan diskusi balikan setelah pelaksanaan tindakan dan dengan data yang dijaring melalui lembar observasi yang dilakukan oleh guru itu sendiri. pembelajaran, Sedangkan dari siswa, setelah pelaksanaan wawancara dengan beberapa orang

dilakukan

diantaranya, penyebaran angket, dan tes formatif. Hasil triangulasi ini kemudian dijabarkan dalam bentuk catatan lapangan yang diberi kode. (2) Member Check, yakni untuk meninjau kembali kebenaran dan kesasihan data penelitian dengan mengkonfirmasikan kepada sumber data, yaitu guru dan siswa (Miles & Huberman, 1984; Nasution, 1997). Proses ini dilakukan secara reflektif-reflektif pada saat akhir pelaksanaan program tindakan dan pada waktu berakhirnya keseluruhan program tindakan yang direncakan sesuai dengan tujuan penelitian; (3) Audit Trai, yaitu mengecek keabsahan temuan penelitian beserta prosedur dan metode pengumpulan datanya, dengan mengkonfirmasikan bukit-bukti temuan (evidences) yang telah diperiksa dan di cek kesasihannya kepada sumber data pertama-guru dan siswa (Nasution, 1996). Selain itu, peneliti juga mengkonfirmasikan dan mendiskusikan temuan penelitian tersebut dengan beberapa narasumber seperti guru-

66

guru IPS yang tergabung dalam MGMP, guru-guru mata pelajaran lain, kepala sekolah, dan rekan-rekan sesame mahasiswa yang dipandang mempunyai wawasan yang memadai tentang permasalahan dan pelaksanaan pembelajaran IPS. (4) Expert Opinion, yaitu dilakukan dengan cara mngkonsultasikan hasil temuan penelitian kepada para ahli (Nasution, 1992). Dalam penelitian ini, peneliti mengkonsultaskannya kepada para pembimbing untuk memperoleh arahan dan masukan, sehingga validasi temuan penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah/akademis; (5) Interprestasi, yaitu dilakukan untuk mentafsirkan terhadap keseluruhan temuan penelitian berdasarkan acuan teoritik dan norma-norma praktis yang telah disepakati mengenai proses pembelajaran. Peneliti berupaya memunculkan makna dari setiap data yang diperoleh disamping menggambarkan perolehan data secara deskriptif analitik, sehingga akhirnya diperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai permasalahan penelitian. Dari gambaran tersebut akan dipergunakan untuk melakukan tindakan selanjutnya, untuk melahirkan peruhana, baik kinerja guru dan siswa, serta suasana social kelas, maupun sekolah secara keseluruhan.

67

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Deskripsi Awal Penelitian 1. Deskripsi Awal Proses Pembelajaran IPS Untuk mengetahui kondisi awal proses pembelajaran IPS di kelas VII, maka peneliti melakukan pengamatan ke kelas. Adapun pengamatan difokuskan pada kegiatan guru dalam membuka pelajaran, penyampaian materi, metode yang digunakan. media dan sumber belajar, aktivitas siswa, serta kegiatan menutup pelajaran dan evaluasi. Observasi pertama dilakukan pada hari Kamis, tanggal 7 Februari 2011, dengan pokok bahasan ”Perkembangan masyarakat kebudayaan dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia”, sub pokok bahasan ”masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia”. Pada kegiatan awal pembelajaran, setelah guru mengabsen siswa langsung menjelaskan bagaimana proses masuknya agama Islam di Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, dilanjutkan dengan proses perkembangan agama Islam di Indonesia. Metode pembelajaran yang dipergunakan adalah metode ceramah, dengan sekali-kali bertanya kepada siswa, dan dijawab oleh siswa secara serempak. Guru tidak menggunakan media pembelajaran lain selain kapur dan papan tulis, sedangkan sumber pembelajaran yang dipergunakan guru yaitu buku IPS terbitan Tiga Serangkai. Aktivitas siswa sangat kurang, mereka hanya mendengarkan ceramah dari guru dan sekali-kali menjawab pertanyaan guru secara serempak. Selanjutnya dalam

68

mengakhiri pelajaran guru hanya menyampaikan salam, tanpa memberikan kesimpulan ataupun penguatan-penguatan. Observasi kedua dilaksanakan pada tanggal 10 Februari 2011. Dengan pokok bahasan ”Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa kolonial Eropa”, sub pokok bahasan ”Proses masuknya bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia”. Pada observasi kedua kegiatan pembelajaran hampir sama dengan kegiatan pertama. Dalam membuka pelajaran setelah mengucapkan salam guru langsung menanyakan apakah ada siswa yang tidak masuk. Kemudian guru menjelaskan materi lanjutan minggu sebelumnya. Dimulai dengan perkembangan agama Islam di Indonesia dilanjutkan dengan proses masuknya bangsa Eropa ke Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode ceramah dengan sekali-kali bertanya pada siswa secara klasikal. Guru juga tidak memanfaatkan media pembelajaran. Sumber belajar juga sama yaitu buku IPS terbitan Tiga Serangkai. Setelah selesai menjelaskan, guru kemudian bertanya kepada siswa apakah ada yang ditanyakan. Namun tidak mendapat respon dari siswa, karena aktivitas siswa juga tidak jauh berbeda seperti aktivitas pada pembelajaran sebelumnya. Karena tidak ada yang bertanya kemudian guru menyuruh siswa mengerjalan soal dalam LKS dari penerbit. Siswa baru terlihat aktif mengerjakan soal di LKS dari penerbit. Bagi yang telah selesai mengerjakan soal-soal, kemudian hasil kerjanya dikumpulkan ke depan, kemudian guru langsung memeriksa dan segera dikembalikan kepada siswa. Selanjutnya guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan mengingatkan supaya belajar dengan baik karena tinggal beberapa hari lagi akan ujian semester.

69

Observasi ke tiga dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2011 dengan pokok bahasan ”Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa kolonial Eropa”, sub pokok bahasan ”Reaksi bangsa Indonesia terhadap bangsa Eropa; Perlawanan terhadap Portugis”. Pada observasi ke tiga proses pembelajaran juga masih didominasi oleh guru. Kegiatan pembelajaran diawali dengan mengucap salam dan dilanjutkan dengan menanyakan siswa yang tidak masuk. Selanjutnya guru memberi penjelasan tentang topik pada hari itu dan sekali-kali mengajukan pertanyaan kepada siswa secara klasikal. Selesai memberikan penjelasan guru kemudian meminta siswa untuk mengerjakan soal latihan yang ada di LKS dari penerbit. Bagi yang telah selesai kemudian dikumpulkan dan langsung diperiksa oleh guru. Selesai diperiksa buku LKS dari penerbit kemudian dibagikan kepada siswa. Kemudian guru mengakhiri dengan mengucap salam tanpa memberikan penguatan, kesimpulan atau menjelaskan kesalahan yang dibuat siswa dalam latihan mereka. 2. Analisis, Refleksi dan Rencana Pembelajaran dengan Menggunakan Media Audio Visual Berdasarkan hasil temuan awal pada pembelajaran IPS di kelas, menunjukkan bahwa pembelajaran IPS belum terlaksana dengan baik. Hal ini nampak dari kegiatan pembelajaran yang masih didominasi oleh guru. Guru terpaku pada materi yang disajikan yaitu yang ada pada buku pegangan sementara siswa hanya memiliki LKS dari penerbit sebagai buku pegangan, tidak ditunjang oleh media pembelajaran, gaya mengajar sangat monoton, guru menggunakan metode ceramah dan sekali-kali bertanya kepada seluruh siswa dan siswa menjawab dengan serempak. Di samping itu kondisi siswa cenderung pasif, bahkan terlihat ada beberapa siswa yang terus menerus
70

menguap dan menampakkan kejenuhan dalam belajar. Sering pula terlihat siswa yang duduk di belakang malah asyik mengobrol dengan teman sebangkunya. Secara umum siswa menunjukkan kurang bergairah dan kurang motivasi belajar. Kegiatan pembelajaran setiap pertemuan berlangsung selama 80 menit. Kegiatan inti berlangsung selama kurang lebih 60 menit, dilanjutkan dengan tes di mana guru mendiktekan soal yang kemudian dikerjakan oleh para siswa selama kurang lebih 15 menit (untuk pertemuan ke dua dan ke tiga). Hasil dari evaluasi siswa dikumpulkan kepada guru. Pada orientasi kedua hasil pekerjaan siswa hanya dikumpulkan sedangkan pada orientasi ketiga hasil kerja siswa langsung diperiksa dan dibagikan. Berdasarkan hasil temuan lapangan, maka pada analisis dan refleksi awal menunjukkan bahwa kondisi yang demikian menuntut guru agar meningkatkan kinerjanya dan melatih keterampilannya supaya ia mampu menyampaikan pelajaran IPS dengan baik, mampu membangkitkan semangat dan kegairahan dalam belajar, serta tertuntut untuk kreatif dan inovatif dalam belajar. Siswa diharapkan tidak hanya menunggu materi yang disampaikan guru, melainkan pula aktif dalam membaca dan menemukan materi yang dipelajarinya. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan media audio visual dapat digunakan sebagai salah satu alternatif perbaikan proses pembelajaran pendidikan IPS. Terlebih lagi dalam upaya membangkitkan semangat belajar siswa. Beberapa hal yang dapat memberikan peluang dan dimungkinkannya untuk pengembangan pembelajaran dengan menerapkan media audio visual, yaitu : adanya dukungan dari kepala sekolah dari hasil wawancara, potensi dan keinginan siswa dari

71

hasil wawancara dan pengamatan di kelas, serta dukungan dari guru IPS yang ingin belajar menerapkan pembelajaran dalam bentuk permainan. Untuk itu selanjutnya peneliti melakukan sosialisasi tentang penerapan pembelajaran dengan menerapkan media audio visual. 3. Sosialisasi Pembelajaran dengan Menggunakan Media Audio Visual Sebelum pelaksanaan tindakan kelas dimulai terlebih dahulu peneliti memberikan pemahaman yang mendalam kepada guru tentang pembelajaran dengan menerapkan media audio visual. Adapun materi yang dibahas, meliputi : a. Pengertian media audio visual. b. Pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. c. Keunggulan pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. d. Langkah-langkan penerapan pembelajaran dengan menggunakan media audio visual dalam pembelajaran IPS, yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Setelah dilakukan sosialisasi tentang pembelajaran dengan menggunakan media audio visual, tiga pertanyaan diajukan oleh guru : a. Apakah penerapan model pembelajaran ini nantinya tidak mengganggu proses pembelajaran ? b. Apakah nantinya target materi IPS bisa tercapai sesuai dengan waktu yang ada ? c. Apakah dalam merancang maupun dalam menerapkan model ini guru akan bekerja bersama-sama dengan peneliti?

72

Setelah dilakukan analisis dan refleksi terhadap gambaran awal pembelajaran IPS di kelas, serta hasil diskusi dengan guru, maka diperoleh suatu kesepakatan sebagai berikut: a. Pelaksanaan tindakan mengikuti jadwal pelajaran IPS. b. Pelaksanaan tindakan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPS, melalui pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. c. Pelaksanaan tindakan akan dilakukan beberapa kali sampai tujuan yang diharapkan tercapai. d. Adanya kerjasama antara peneliti dan guru yang berperan sebagai mitra di dalam penelitian tindakan kelas dalam membuat rancangan pembelajaran serta untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan tindakan. e. Guru juga tidak keberatan bahwa peneliti menggunakan alat bantu yang berupa media audio visual maupun kamera foto. f. Peneliti bersama guru membuat perencanaan pembelajaran. Untuk kegiatan pelaksanaan pembelajaran tindakan pertama akan dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2011. Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan adalah standar kompetensi ’Memahami kegiatan ekonomi masyarakat’. g. Proses pembelajaran difokuskan kepada pemberdayaan siswa agar tercipta suasana kelas yang aktif dan kreatif.

73

4.2 Pelaksanaan Penelitian 1. Siklus 1 a. Tahap Perencanaan Pembelajaran pertama direncanakan menyampaikan standar

kompetensi “Memahami kegiatan ekonomi masyarakat” dan yang menjadi materi pokoknya adalah ‘pengertian konsumsi dan jenis-jenis barang yang dikonsumsi siswa serta keluarganya’ dan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan sebagai siswa’. Pembelajaran ini akan dilaksanakan dengan menggunakan media audio visual. Penyampaian pelajaran tersebut

direncanakan diawali dengan mengingatkan siswa terhadap berbagai hal yang terkait dengan berbagai kegiatan ekonomi yang biasa dialami oleh siswa. Upaya untuk lebih fokus dalam mengamati setiap aktivitas siswa, pembelajaran akan dilaksanakan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang akan diamati oleh beberapa orang observer. Satu orang observer hanya mengamati secara seksama dua atai tiga kelompok. Sementara itu media audio visual yang akan digunakan telah disiapkan oleh guru yang dibuat dalam bentuk tayangan power point. Proses pembelajaran di rencanakan untuk kurang lebih 20 menit siswa menyimak materi yang ditayangkan melalui tayangan power point. Selanjutnya siswa berdiskusi mengenai materi yang dipelajarinya dan selanjutnya akan dikomunikasikan dan ditarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajarinya.

74

b. Tahap Pelaksanaan Proses pembelajaran pada siklus pertama, dilakukan pada hari Senin tanggal 21 Februari 2011. Guru memulai pembelajaran dengan mengucapkan salam, dilanjutkan dengan mengabsen siswa. Kemudian memberitahukan siswa bahwa kegiatan pembelajaran IPS pada hari ini akan membahas standar kompetensi “Memahami kegiatan ekonomi masyarakat” dan yang menjadi materi pokoknya adalah ‘pengertian konsumsi dan jenis-jenis barang yang dikonsumsi siswa serta keluarganya’ dan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan sebagai siswa’. Di samping itu guru menginformasikan pula bahwa materi tersebut akan disampaikan dengan menggunakan media audio visual. Kemudian guru melakukan apersepsi yang berkaitan dengan arti dan makna ’konsumsi’ dengan melontarkan beberapa pertanyaan: Guru Siswa 1 Guru Siswa 2 Guru Siswa 3 Guru : Anak-anak pada acara perpisahan, semua siswa menyantap makanan kecil atau snack, kalian tahu nggak apa istilahnya kegiatan siswa tersebut : Makan, bu . . .! : Iya bisa, .... tapi istilahnya apa itu . . . : Mengonsumsi, bu . . . salah seorang menjawab : Iya betul . . , Tapi yang lebih tepat adalah konsumsi. : Bu, bukankah yang dimaksud konsumsi itu adalah kuenya? (Salah seorang siswa bertanya) : Bagus pertanyaanmu Hana, selama ini kita menganggap bahwa konsumsi itu kuenya, tapi maksud yang sebenarnya dari konsumsi itu adalah kegiatannya, bukan barangnya. Jadi ketika kalian makan nasi berarti kalian mengkonsumsi nasi. Anak-anak, kalian pernah dengar tidak pernyataan presiden yang mengatakan bahwa ”konsumsi BBM di negara kita cukup tinggi”, nah kata ’konsumsi’ dalam pernyataan tersebut menurut kalian berarti apa ? : Menggunakan bu, : Bisa, apa lagi
75

Siswa 4 Guru

Siswa 5 Guru Siswa 6 Guru

: : : :

Memakai, bu Itu juga bisa, yang lain coba . . . yang lebih tepatnya apa ? Menghabiskan, bu Benar sekali, . . . jadi yang dimaksud konsumsi itu adalah kegiatan memakai atau menghabiskan barang atau jasa. selanjutnya guru menginstruksikan siswa untuk

Kegiatan

berkelompok. Sementara itu jumlah dan nama-nama angggota kelompok sudah ditentukan, dengan tujuan agar setiap kelompok seimbang. siswa berkelompok dengan cara membalikkan meja berhadap-hadapan. Dalam proses pembentukan kelompok ini masih ada siswa yang kurang mengikuti atau tidak sesegera mungkin bergabung dengan kelompoknya. Akibatnya proses penyusunan kelompok memerlukan waktu yang cukup lama. Selanjutnya, guru menginstruksikan siswa untuk menyimak tayangan power point yang telah dipersiapkan. Guru menginstruksikan pula pada siswa untuk menyediakan alat tulis agar siswa mampu menuliskan berbagai informasi yang disimaknya. Setelah seluruh peralatan siap, guru memulai menayangkan power point sementara siswa mulai melakukan kegiatan menyimak informasi yang disampaikan. Siswa nampak menyimak isi atau pesan yang disampaikan dari slide-slide power point yang disampaikan. Setelah selesai siswa menyimak, langkah selanjutnya guru menginstruksikan siswa untuk mengingat-ingat kembali seluruh materi yang ditayangkan dalam power point. Setelah selesai proses menyimak, selanjutnya guru mempersilakan siswa untuk berdiskusi sebentar terkait dengan penyampaian materi melalui tayangan slide-slide power point. Selanjutnya guru memberikan aeberapa

76

pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disampaikan melalu penayangan power point tadi. Sebelum pembelajaran berakhir, guru memberikan tes untuk diisi oleh siswa. Setelah diisi, guru menginstruksikan siswa untuk mengumpulkan kembali tes tersebut. Tes ini berisi beberapa pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan. Hal ini dimaksudkan untuk mngukur sampai seberapa besar kemampuan siswa menangkap materi yang dipelajari melalui tayangan power point. c. Hasil Pembelajaran Setelah semua hasil jawaban siswa dianalisis dengan merujuk pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa rata-rata siswa telah dapat menuliskan hal-hal esensial dari materi yang disimaknya. Hasil penilaian terhadap kemampuan siswa dalam memahami materi setelah tayangan media power point pada siklus I ini dapat deskripsikan pada tabulasi berikut ini.

Tabel 4.1 KETUNTASAN BELAJAR SISWA PADA SIKLUS I No. 1 2 3 4 5 6 Nama Siswa
Abdillah Saputra Agust Anas Ahmad Apriadi Ahmad Shobirin Aldi Cristianto Astri Nadia Sari

Nilai
50 60 65 65 50 70

Keterangan
Tdk Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas

77

No. 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Nama Siswa
Candra Eka Rahayu Chania Dian A. Danang Asmara David Saputra Dea Nabilla Dealfy Rangga Deni Ramadhani Desnanda Prayogi Dimas Imam Fauzi Dina Inayati Esti Madiyaningsih Gusti Fauzan Hartono Yupi Putra Hari Priantoro Ilham Setiawan Karina melati M. Fajar M. Tedi M . Fiki M. rizki Mutiara Lutfi Nagoti Putu Puri Tiara Raihana riska Rendi Wijaya Rezanof Azahri Riri Alfiani
78

Nilai
75 70 55 50 65 45 70 45 50 60 70 40 70 50 50 75 65 70 70 60 65 65 65 60 50 40 40

Keterangan
Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tdk Tuntas Tdk Tuntas

No. 34 35 36 37 38 39

Nama Siswa
Rizki Amalia Sinta Marliana Triana Kusuma Ulvi Febriyanti Vibby Yuliana Yuliana Erna

Nilai
70 70 50 65 65 40

Keterangan
Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas

Jumlah Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Tterendah Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas % Ketuntasan

2310 59,23 75 40 24 15 61,54

Hasil kemampuan penguasaan materi siswa yang ditunjukkan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah diinformasikan seperti pada tabulasi di atas, tampak bahwa secara umum kemampuan siswa dalam penguasaan materi baru berada pada kondisi yang cukup baik dengan pencapaian rata-rata 59,23. Nilai tertinggi yang dicapai siswa pada siklus I ini adalah 75 dan nilai terendah yang diperoleh siswa hanya 40. Sementara itu diamati dari ketuntasan belajar siswa pada siklus I ini baru mencapai ketuntasan belajar sebesar 61,54%. Ketuntasan tersebut menunjukkan pembelajaran belum tuntas.

79

d. Hasil Observasi Siswa Berdasarkan data observasi, guru telah menyampaikan penjelasan materi dengan jelas dan relevan dengan fokus pembelajaran siklus I. Guru juga sudah berhasil mengarahkan dan membimbing siswa untuk menuangkan hal-hal penting yang terdapat dalam materi yang disimaknya. Berdasarkan data observasi terhadap aktivitas siswa dalam

pembelajaran diperoleh persentase aktivitas siswa, seperti tampak pada tabel berikut ini.

TABEL 4.2 PERSENTASE AKTIVITAS SISWA PADA PEMBELAJARAN SIKLUS I
Aktivitas Siswa 1. Menjawab pertanyaan guru 2. Mengajukan pendapat atau bertanya 3. Tampil di depan kelas 4. Serius menyimak 5. Serius mengerjakan tugas 6. Perilaku yang tidak sesuai dengan KBM Persentase Rata-rata (%) 4 orang (10,26) 3 orang (7,69) 2 orang (5,13) 31 orang (79,49) 30 orang (76,92) 8 orang (20,51)

Berdasarkan tabel di atas, proses pembelajaran pada siklus I umumnya cukup baik, pada umumnya siswa memperhatikan isi materi dan serius dalam mengerjakan tugas, serta sebagian kecil siswa yang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan KBM, seperti mengobrol, tidak memperhatikan atau main-main dalam belajar. Segi keaktifan yang diharapkan dari siswa belum dapat terealisasi dengan baik. Dapat dilihatnya

80

dari hanya dua orang siswa yang mau tampil di depan kelas, bertanya ataupun mengemukakan pendapat Hal itu, disebabkan pertemuan ini adalah pertemuan pertama yang menyebabkan siswa terlihat malu dan ragu untuk aktif di kelas. Hasil catatan lapangan pembelajaran tindakan pertama dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

TABEL 4.3 CATATAN LAPANGAN PEMBELAJARAN SIKLUS I
Catatan Lapangan Pembelajaran Siklus I 1) Siswa masih merasa malu untuk menjawab atau memberikan pertanyaan. 1) Masih sedikitnya siswa yang mau tampil di depan kelas untuk membacakan hasil pekerjaannya. 2) Suasana hening saat menyimak materi yang dilakukan oleh temannya sebagai stimulus motivasi keaktifan siswa. 3) Siswa terlihat antusias saat guru menginstruksikan untuk belajar dengan menggunakan media audio visual power point. 4) Siswa dengan saksama memperhatikan segala sesuatu yang dikemukakan dalam power point. 5) Pujian yang diberikan guru dapat memotivasi siswa untuk lebih baik dalam belajar. 6) Guru sudah berhasil dalam mengarahkan dan membimbing siswa ketika menyimak. 7) Beberapa siswa ada yang mengobrol ketika mengerjakan tugasnya saat menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah disimaknya. 8) Guru belum dapat mengelola waktu dengan baik. Data observasi lainnya menyimpulkan bahwa penggunaan media audio visual dalam bentuk power point dalam pembelajaran IPS pada siklus I sudah berhasil menciptakan suasana dan situasi pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga siswa merasa nyaman dan termotivasi dalam menyimak materi yang disampaikan guru melalui media audio visual.

81

Pembelajaran IPS dengan menggunakan media audio visual dalam bentuk power point ini merupakan pengalaman pertama bagi siswa. Oleh karena itu, siswa merasa antusias dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran tersebut Siswa mengakui media audio viisual dalam bentuk power point sangat membantu mereka untuk mendapatkan inspirasi dalam menyimak materi pembelajaran. e. Refleksi Siklus I Setelah pelaksanaan siklus I selesai, peneliti bersama observer melakukan refleksi terhadap pembelajaran siklus I. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, jurnal siswa, dan hasil tes kemampuan penguasaan materi siswa selama tindakan pembelajaran siklus I, peneliti bersama observer mengadakan diskusi untuk mengetahui hal-hal yang harus dipertahankan, ditingkatkan, atau ditinggalkan. Kegiatan refleksi ini sebagai bahan perbaikan pada tindakan pembelajaran selanjutnya. Dari identifikasi masalah tersebut dapat disimpulkan bahwa proses tindakan siklus I masih harus ditingkatkan dalam hal keaktifan siswa di kelas. Terbukti selama pembelajaran siklus I dihadapkan dengan permasalahan keadaan kelas yang pasif. Belum banyaknya siswa yang berani untuk menjawab pertanyaan dari guru, mengemukakan pendapat atau pertanyaan, dan berani tampil di depan kelas untuk membacakan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Hal tersebut, diasumsikan karena pertemuan ini adalah pertemuan pertama yang menyebabkan siswa masih terlihat malu dan ragu untuk aktif di kelas. Dalam hal penugasan yang diberikan oleh guru, masih

82

ada siswa yang melakukan kegiatan di luar KBM, seperti mengobrol pada saat proses penyampaian materi dengan menggunakan media audio visual melalui power point dilaksanakan. Sementara itu penggunaan power point yang sederhana serta kurang memiliki variasi dalam hal tampilannya cenderung menunjukkan kebosanan dari siswa. Dengan demikian tampaknya perlu dilakukan perubahan dan penggunaan media audio visual dalam bentuk lain yang lebih menarik bagi siswa. Adapun hasil pembelajaran siswa yang ditunjukkan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang berhubngan dengan materi yang telah disampaikan selama kegiatan pembelajaran dilaksanakan, secara umum baru mencapai hasil yang cukup baik. Hal ini tampak dari pencapaian ratarata 6,84. Meskipun sudah mencapai batas ketuntasan yang telah ditentukan yaitu 6,5, namun apabila diamati dari ketuntasan klasikal atau ketuntasan belajar siswa, masih belum tuntas. Ketuntasan belajar siswa baru mencapai 68,4%, hal ini ditunjukkan dari 32 siswa hanya 23 orang siswa yang sudah mencapai atau melebihi batas ketuntasan yang ditetapkan, sementara 9 orang siswa masih belum mencapai batas ketuntasan yang diharapkan. Dengan demikian secara umum pembelajaran belum tuntas. 2. Siklus 2 a. Tahap Perencanaan Pada tahap kedua, perencanaan dilakukan sebagai upaya memperbaiki pelaksanaan pembelajaran pada siklus pertama. Ada beberapa hal yang

83

dilakukan dalam upaya melakukan penyempurnaan pada pembelajaran siklus pertama. Beberapa hal yang direncanakan pada siklus kedua antara lain: 1) Mengganti media audio visual yang lebih menarik, yaitu dengan meggunakan CD interaktif. 2) Mengatur waktu proses pembelajaran dengan lebih menekankan pada proses penggunaan CD Interaktif serta proses diskusi antar siswa. 3) Memotivasi siswa untuk senantiasa aktif dalam kegiatan pembelajaran. b. Tahap Pelaksanaan Proses pembelajaran pada siklus kedua dilakukan pada tanggal 7 Maret 2011. Proses pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam serta mengabsen siswa, selanjutnya guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, guru menjanjikan adanya penilaian bagi siswa yang mau menjawab pertanyaan, maupun yang mengajukan pertanyaan serta menanggapi suatu permasalahan. Kemudian guru menyampaikan informasi terkait dengan perilaku konsumtif yang biasa dilakukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tindak lanjut hasil temuan jurnal harian siswa pada pembelajaran siklus I, bahwa tingkat motivasi siswa yang masih kurang, guru menggambarkan bahwa belajar IPS tidak hanya bersifat teoritis saja, namun seringkali dapat diamati dan dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, di samping itu IPS sangat bermanfaat dalam membantu menyelesaikan masalah sehari-hari dan IPS berperan penting dalam perkembangan komunikasi sosial di antara sesama.

84

Menindaklanjuti hasil tes formatif I, bahwa masih ada siswa yang salah dalam memberikan pengertian dan pemahamannya terhadap konsep konsumsi serta bagaimana menentukan skala prioritas, guru mengulang kembali pengertian dan konsep konsumsi serta bagaimana langkah-langkah dalam menentukan skala prioritas dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Tujuannya adalah agar siswa dapat menumbuhkan kembali pengetahuan dan pengalaman tentang konsep yang telah dipelajari sebelumnya dimana konsep ini diperlukan dalam membahas materi yang akan dipelajari yaitu ‘dampak positif dan negatif dari perilaku konsumtif dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi seseorang’. Sebelum melakukan apersepsi untuk materi yang akan disampaikan, terlebih dahulu guru mengulas kembali bagaimana proses pembelajaran dengan menggunakan media audio visual. Guru menjelaskan bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan akan menggunakan media audio visual dalam bentuk CD interaktif. Apersepsi untuk materi pada tindakan kedua dilakukan dengan tanya jawab antara guru dan siswa. Guru Siswa Guru Tedi Karina Guru Karina : Anak-anak, pernahkah kalian pergi berbelanja dengan ibumu? : Beberapa anak menjawab pernah : Apakah kamu melihat ibumu membawa catatan daftar belanjaan : Tidak pernah bu, karena belanjanya hanya ke warung saja (siswa bernama Tedi menjawab) : Saya pernah bu, pada waktu ke toko swalayan (Karina menjawab) : Bagus, Karina, apakah pada saat itu ibumu berbelanja sesuai dengan daftar belanjaan tersebut, atau lebih banyak. : Lebih banyak bu, karena saya juga banyak membeli mainan yang tidak ada di catatan ibu
85

Guru Siswa Guru

: Nah menurut kalian, bagus atau tidak apa yang dilakukan ibunya Karina tersebut? : Bagus . . . (sebagian siswa menjawab) Tidakkk . . . (sebagian besar) : Itulah yang dimaksud dengan perilaku kosumtif yang tentu saja ada aspek positif (kebaikan) dan aspek negatif (keburukannya) Agar kalian dapat lebih memahami aspek positif dan negatif dari perilaku konsumtif, sekarang coba kalian pelajari dan diskusikan bersama teman-temanmu. Apersepsi tersebut tampaknya cukup berhasil membawa siswa ke arah

kesiapan mengikuti pembelajaran. Di samping itu pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan guru mampu dijawab siswa, tidak hanya secara serempak namun secara perorangan juga seperti yang dijawab ’Tedi’ dan ’Karina’. Kondisi ini merupakan hal positif dalam mewujudkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat atau menjawab pertanyaan. Tahap selanjutnya, guru menginstruksikan siswa untuk memulai memperhatikan tayangan CD interaktif yang telah disediakan. Guru mencoba menjadi operator pada setiap langkah CD Interaktif tersebut. Pada setiap langkah materi, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa apakah materi yang telah ditayangakan dapat siswa pahami atau belum, jika belum guru mencoba mengulanginya kembali. Langkah selanjutnya guru mencoba memandu seluruh materi yang telah disiapkan dalam CD Interaktif tersebut. Setelah selesai ssiwa memperhatikan CD Interaktif tersebut, seperti biasanya siswa mendiskusikan hasil simakan yang selanjutnya akan dijadikan sebagai bahan pemahaman siswa terhadap materi yang telah disimaknya. Di samping itu, guru menginstruksikan seluruh siswa untuk menuliskan kembali isi materi yang telah disimaknya.
86

Sebelum pembelajaran berakhir, guru memberikan evaluasi dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan melalui media CD Interaktif . Setelah diisi, guru

menginstruksikan siswa untuk mengumpulkan kembali hasil jawaban siswa. Untuk mematangkan pemahaman ssiwa terhadap materi yang telah disampaikan, guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk dikerjakan di rumah. c. Hasil Pembelajaran Setelah semua hasil pekerjaan siswa dianalisis dengan merujuk pada jawaban yang sebenarnya, dapat disimpulkan bahwa rata-rata siswa telah memiliki kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik, meskipun dalam soal-soal yang bersifat pemahaman siswa masih terbatas pada tataran teoretis saja. Hasil penilaian terhadap pekerjaan siswa pada siklus II ini dapat diamati pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 KETUNTASAN BELAJAR SISWA PADA SIKLUS 2 No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Siswa
Abdillah Saputra Agust Anas Ahmad Apriadi Ahmad Shobirin Aldi Cristianto Astri Nadia Sari Candra Eka Rahayu

Nilai
60 60 75 75 50 80 90

Keterangan
Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas

87

No. 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

Nama Siswa
Chania Dian A. Danang Asmara David Saputra Dea Nabilla Dealfy Rangga Deni Ramadhani Desnanda Prayogi Dimas Imam Fauzi Dina Inayati Esti Madiyaningsih Gusti Fauzan Hartono Yupi Putra Hari Priantoro Ilham Setiawan Karina melati M. Fajar M. Tedi M . Fiki M. rizki Mutiara Lutfi Nagoti Putu Puri Tiara Raihana riska Rendi Wijaya Rezanof Azahri Riri Alfiani Rizki Amalia
88

Nilai
70 70 70 80 60 70 65 65 60 80 60 80 50 65 90 65 80 70 70 70 75 65 80 80 40 70 80

Keterangan
Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas Tuntas Tuntas

No. 35 36 37 38 39

Nama Siswa
Sinta Marliana Triana Kusuma Ulvi Febriyanti Vibby Yuliana Yuliana Erna

Nilai
90 60 70 75 50

Keterangan
Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tdk Tuntas

Jumlah Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas % Ketuntasan

2715 69,61 90 40 35 4 89,74

Hasil kemampuan menyimak siswa yang ditunjukkan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah diinformasikan yang disimaknya seperti pada tabulasi di atas, tampak bahwa secara umum kemampuan siswa dalam menyimak berada pada kondisi yang baik dengan pencapaian rata-rata 69,61. Nilai tertinggi yang dicapai siswa pada siklus II ini adalah 90 dan nilai terendah yang diperoleh siswa hanya 40. Sementara itu diamati dari ketuntasan belajar siswa pada siklus II ini mencapai ketuntasan belajar sebesar 89,74%. Ketuntasan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran sudah tuntas.

89

d. Hasil Observasi Berdasarkan data observasi, guru telah menyampaikan penjelasan materi dengan jelas dan relevan dengan fokus pembelajaran siklus II. Guru juga sudah berhasil mengarahkan dan membimbing siswa untuk menuangkan hal-hal yang berkesan menurut apa yang dipikrkan dan dirasakan siswa dalam menyimak. Berdasarkan data observasi terhadap aktivitas siswa dalam

pembelajaran diperoleh persentase aktivitas siswa, seperti tampak pada tabel di bawah ini. TABEL 4.5 PERSENTASE AKTIVITAS SISWA PADA PEMBELAJARAN SIKLUS II Aktivitas Siswa 1. Menjawab pertanyaan guru 2. Mengajukan pendapat atau bertanya 3. Tampil di depan kelas 4. Serius menyimak penjelasan guru 5. Serius mengerjakan tugas 6. Perilaku yang tidak sesuai dengan KBM Persentase Rata-rata (%) 10 orang (25,64) 9 orang (23,08) 5 orang (12,82) 38 orang (97,44) 37 orang (94,87) 1 orang (2,56)

Berdasarkan tabel di atas, proses pembelajaran pada siklus II ini terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus sebelumnya. Hampir seluruhnya siswa memperhatikan penjelasan guru dan serius dalam mengerjakan tugas. Siswa telah aktif dalam pembelajaran. Dapat dilihatnya

90

dengan banyaknya siswa yang mau tampil di depan kelas, bertanya ataupun mengemukakan pendapat Hasil catatan lapangan pembelajaran tindakan kedua dapat dilihat pada tabel di bawah ini. TABEL 4.6 CATATAN LAPANGAN PEMBELAJARAN SIKLUS II Catatan Lapangan Pembelajaran Siklus II 1) Siswa antusias untuk mendiskusikan hasil pekerjaan yang telah dikerjakan dengan siswa lainnya di tempatnya masing-masing menjadikan suasana gaduh dalam pembelajaran. 2) Media Cd Interaktif sebagai media audio visual pembelajaran IPS menjadikan suasana pembelajaran lebih menyegarkan dan menyenangkan. 3) Seluruh siswa serius saat mengerjakan tugasnya untuk menyimak. 4) Sebagian siswa telah berani untuk mengajukan pertanyaan, terutama dalam menanyakan yang berkaitan dengan materi. Data observasi lainnya menyimpulkan penggunaan media CD Interaktif dalam pembelajaran IPS sudah berhasil menciptakan suasana dan situasi pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga siswa merasa rileks dan termotivasi dalam belajar. e. Refleksi Setelah pelaksanaan siklus II selesai, peneliti bersama observer melakukan refleksi terhadap pembelajaran siklus II. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, dan hasil tes kemampuan pemahaman siswa selama tindakan pembelajaran siklus II, peneliti bersama

91

observer mengadakan diskusi untuk mengetahui hal-hal yang harus dipertahankan, ditingkatkan, atau ditinggalkan. Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa proses tindakan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan, artinya segi proses tindakan siklus II berhasil. Terbukti bahwa penggunaan media CD Interaktif sudah mampu memancing motivasi siswa dalam pembelajaran IPS. Siswa merespon positif untuk menjawab pertanyaan dari guru, mengemukakan pendapat atau pertanyaan, berani tampil di depan untuk membacakan hasil jawabannya, dan penugasan dari guru. Adapun hasil kemampuan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan melalui media CD Interaktif, secara umum mencapai hasil yang baik. Hal ini tampak dari pencapaian rata-rata 69,61, yang sudah mencapai batas ketuntasan yang telah ditentukan yaitu 60. Ketuntasan belajar siswa sudah mencapai 89,74%, hal ini ditunjukkan dari 39 siswa, 35 siswa sudah mencapai atau melebihi batas ketntasan yang ditetapkan. Dengan demikian secara umum pembelajaran sudah tuntas. 4.3 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian pada tahap pelaksanaan tindakan, pada umumnya model pembelajaran yang dikembangkan cukup efektif, efisien, dan relevan untuk mengembangkan kemampuan menyimak siswa. Melihat uraian di atas, dapat diketahui bahwa penelitian yang telah dilakukan cukup efektif, efisien, dan relevan antara komponen-komponen pembelajaran yang
92

dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, dan waktu yang telah direncanakan. Diawali dengan identifikasi permasalahan yang diperoleh dari hasil observasi awal, dilanjutkan dengan implementasinya di lapangan beserta hasil refleksinya pada setiap siklus sudah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran IPS. Perbaikan terhadap model pembelajaran perlu terus dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Beberapa hal yang harus segera dibenahi pada saat penelitian, yaitu pemilihan media audio visual yang lebih menarik sehingga mampu memotivasi siswa dalma belajar. Agar penggunaan media audio visual sebagai media dan sumber belajar berhasil baik, hendaknya dipersiapkan secara saksama, mulai dari alokasi waktu yang digunakan sampai strategi pelaksanaannya. Persiapan ini bertujuan agar penggunaan media audio visual sebagai media dalam pembelajaran dapat menjadikan siswa merasa fun, santai, dan jauh dari kebosanan, yang pada akhirnya menimbulkan motivasi siswa untuk menyimak sehingga terhindar dari perilaku siswa yang menyimpang dari KBM. 1. Analisis Data Hasil Penelitian Pada bagian ini peneliti akan menganalisis seluruh hasil penelitian selama dua siklus. Adapun pembahasannya mengacu pada data instrumen, meliputi tingkat keberhasilan belajar siswa yang diwujudkan dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah dipelajarinya. 2. Tingkat Keberhasilan Siswa Menyimak Pembelajaran IPS dalam penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi siswa, walaupun demikian pada pertemuan pertama pada umumnya siswa telah dapat memahami materi dengan cukup baik. Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, siswa
93

mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam memahami materi yang dipelajarinya. Untuk mengetahui perkembangan keberhasilan menyimak siswa, peneliti memberikan penilaian tiap siklusnya dengan berpatokan pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan. Berikut ini merupakan nilai kemampuan menyimak siswa pada tiap siklusnya. TABEL 4.7 PEROLEHAN NILAI HASIL BELAJAR SETELAH SISWA MELAKUKAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PADA TIAP SIKLUS No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Abdillah Saputra Agust Anas Ahmad Apriadi Ahmad Shobirin Aldi Cristianto Astri Nadia Sari Candra Eka Rahayu Chania Dian A. Danang Asmara David Saputra Dea Nabilla Dealfy Rangga Deni Ramadhani Desnanda Prayogi Dimas Imam Fauzi Dina Inayati Esti Madiyaningsih Gusti Fauzan Hartono Yupi Putra Nilai Siklus I 50 60 65 65 50 70 75 70 55 50 65 45 70 45 50 60 70 40 70 Siklus II 60 60 75 75 50 80 90 70 70 70 80 60 70 65 65 60 80 60 80

94

No 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Nama Hari Priantoro Ilham Setiawan Karina melati M. Fajar M. Tedi M . Fiki M. rizki Mutiara Lutfi Nagoti Putu Puri Tiara Raihana riska Rendi Wijaya Rezanof Azahri Riri Alfiani Rizki Amalia Sinta Marliana Triana Kusuma Ulvi Febriyanti Vibby Yuliana Yuliana Erna Jumlah Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas % Ketuntasan

Nilai Siklus I 50 50 75 65 70 70 60 65 65 65 60 50 40 40 70 70 50 65 65 40 Siklus II 50 65 90 65 80 70 70 70 75 65 80 80 40 70 80 90 60 70 75 50

2310 59,23 75 40 24 15 61,54

2715 69,61 90 40 35 4 89,74

Hasil pembelajaran pada kedua siklus dapat digambarkan pada grafik berikut.

95

Hasil Belajar Tiap Siklus
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Rata-rata Tertinggi Terendah Tuntas Tdk Tuntas % Ketuntasan Siklus 1 Siklus 2

Berdasarkan tabel di atas, pada umumnya nilai kemampuan pemahaman siswa dalam setiap pembelajaran mengalami peningkatan, hanya ada beberapa orang siswa yang kemampuannya tetap namun tidak ada yang menurun. Peningkatan terjadi karena tumbuhnya motivasi dan ketertarikan siswa dalam belajar yang berdampak tumbuhnya keseriusan siswa dalam menyimak materi yang disajikan. Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa tingkat pemahaman siswa mengalami peningkatan. Diamati dari pencapaian rata-rata tampak jelas adanya peningkatan dari 59,23 pada siklus I menjadi 69,61 pada siklus kedua. Sementara itu dari pencapaian ketuntasan belajar siswa tampak juga terjadi peningkatan dari 61,54% pada siklus pertama dan menunjukkan pembelajaran belum tuntas menjadi 89,74% siswa telah tuntas pada siklus kedua dan menunjukkan pembelajaran telah tuntas. Terjadinya peningkatan hasil pembelajaran pada pelaksanaan penelitian ini salah staunya disebabkan penggunaan media pembelajaran. Pola pemanfaatan media di luar kelas menurut Arief S. Sadiman (1990:190-197) dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yakni kelompok yang terkontrol, tidak terkontrol (bebas), dan jumlah sasarannya.
96

Pertama, pemanfaatan media secara terkontrol, yakni media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu, seperti pemanfaatannya di dalam kelas dan pada program pendidikan jarak jauh. Hasil belajar melalui pemanfaatan media secara terkontrol ini biasanya

dievaluasi secara teratur dengan alat evaluasi yang terukur. Kedua, Pemanfaatan media secara bebas (tidak terkontrol), yakni pemanfaatan tanpa ada kontrol atau pengawasan, seperti media-media yang dimanfaatkan masyarakat secara luas dengan cara membeli. menentukan tujuan pemanfaatannya, yakni Masyarakat itu sendirilah yang dengan menyesuaikan dengan

kebutuhannya masing-masing, seperti pemanfaatan kaset pelajaran bahasa Inggris, video interaktif tentang Belajar Membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Ketiga, pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunaannya, yakni secara perorangan, kelompok, dan massal. Pemanfaatan media secara perorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaannya, sehingga pengguna dapat

memanfaatkannya secara mandiri, seperti modul.

Pemanfaatan media secara

kelompok, baik kelompok kecil (2 s.d 8 orang) maupun kelompok besar (9 s.d 40 orang). Media untuk kelompok ini biasanya dilengkapi buku petunjuk bagi pemimpin kelompoknya. Setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat

melakukan diskusi. Terakhir, media yang dimanfaatkan secara masal (mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). Media untuk massal ini biasanya disalurkan melalui pemancar, seperti radio dan televisi. Sebelum memanfaatkan media ini, peserta diberi bahan tercetak yang memuat tujuan pembelajaran, garis besar isi, petunjuk tindak lanjut, dan bahan dari sumber lain untuk pendalaman pemahaman.

97

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan hasil pembelajaran menyimak dengan menggunakan media audio visual, diambil simpulan sebagai berikut ini. 1. Proses pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan media audio visual dilakukan dalam dua bentuk media yaitu pada siklus 1 menggunakan power point dan pada siklus 2 menggunakan CD interaktif. Penggunaan media audio visual ini telah memunculkan beberapa perilaku belajar siswa yang lebih baik. Perilaku tersebut berupa aktivitas siswa yang aktif dalam belajar, seperti siswa yang aktif bertanya, mengemukakan pendapat, dan berani tampil di depan. Siswa juga merasa senang dan berkesan positif dengan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan media audio visual sebagai media pembelajaran dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut. a) Guru tyerlebih dahulu menjelaskan mengenai tujuan pembelajaran dan strategi pembelajaran yang akan dilakukan. b) Melakukan apersepsi untuk menghimpun perhatian dan mempersiapkan siswa dalam belajar c) Siswa memperhatikan penyampaian materi melalui tayangan media audio visual baiak dalam bentuk power point, maupun dalam bentuk CD

98

Interaktif. d) Siswa mendiskusikan materi yang telah dipelajarinya. e) Evaluasi 2. Hasil kemampuan pemahaman siswa dalam belajar IPS yang diukur dengan hasil jawaban siswa terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan dari setiap siklusnya mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan rata-rata nilai siswa. Pada siklus I rata-rata siswa mencapai 59,23; pada siklus II mencapai 69,61. Di samping itu dilihat dari ketuntasan belajar siswa juga terjadi peningkatan dari 61,54% pada siklus 1 meningkat jadi 89,74% pada siklus ke 2 yang sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran telah tuntas. 5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti laksanakan dapat dikemukakan saran yang bermanfaat bagi peneliti, selanjutnya guru dan sekolah sebagai berikut : 1. Agar penggunaan media Audio visual baik dalam bentuk power point maupun CD Interaktif sebagai media dan sumber belajar berhasil baik, hendaknya dipersiapkan secara saksama, mulai dari mendesain tampilan power point yang selektif, bervariasi, dan menarik, alokasi waktu yang digunakan, sampai strategi pelaksanaannya. Persiapan ini bertujuan agar penggunaan power point sebagai media dalam pembelajaran dapat menjadikan siswa merasa fun, santai, dan jauh dari kebosanan, yang pada

99

akhirnya menimbulkan motivasi siswa untuk menyimak sehingga terhindar dari perilaku siswa yang menyimpang dari KBM. 2. Sesuai dengan penelitian ini, peneliti menyarankan kepada para pengajar pelajaran IPS khususnya untuk memanfaatkan berbagai media, model, dan teknik pembelajaran. Dalam hal ini menggunakan media audio visual khusunya CD Interaktif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

100

DAFTAR PUSTAKA

Al Muchtar, S. (1991). Pengembangan Kemampuan Berpikir dan Nilai dalam Pendidikan IPS. Disertasi. Bandung : PPS IKIP Bandung. Al Muchtar, S. (2002). "Analisis Pembaharuan Kurikulum Pendidikan IPS ". Makalah pada Seminar Nasional dan Musda I HISPISI Jawa Barat, UPI Bandung, 31 Oktober 2002. Arsyad, Azhar. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Association for Educational Communication ant Technology (1977) The Definition of Educational Technology. Washington, DC: AECT. Awan Mutakin (1998) Model Pembelajaran IPS. Jakarta: P3MTK-Ditjen Dikti

Dahar, Ratna Wilis (2002) Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Dimyati & Mudjiono. (1994). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik, O., (1989). Media Pendidikan. Bandung: Alumni.
Nasution (1997). Metode Penelitian Naturalistik0Kualitatif. Bandung: Tarsito. Purwadarminta (1984). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud. Rumampuk (1988) Media Instruksional IPS. Jakarta: P2LPTK-Ditjen Dikti Sadiman (1984) Media Pendidikan; Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: Rajawali Pers

Somantri, (2001), Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS, Rosda, Bandung.
Suryabrata (1984) Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Wiriatmadja. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: PPS UPI dan Remaja Rosdakarya

101

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->