PEMANFATAN LUMPUR SAWIT UNTUK RANSUM UNGGAS: 1.

LUMPUR SAWIT KERING DAN PRODUK FERMENTASINYA SEBAGAI BAHAN PAKAN AYAM BROILER
A.P. SINURAT, T. PURWADARIA, P.P. KETAREN, D. ZAINUDDIN, dan I.P. KOMPIANG
Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogor 16002, Indonesia (Diterima dewan redaksi 18 Pebruari 2000)

ABSTRACT SINURAT, A.P., T. PURWADARIA, P.P. KETAREN, D. ZAINUDDIN, and I.P. KOMPIANG. 2000. Utilization of palm oil sludge in poultry diet. 1. Dried palm oil sludge and its fermented product in broiler’s diet. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5(2): 107112. Palm oil sludge a by product of palm oil industry is not commonly used in poultry feed due to some limiting factors such as low protein and amino acids content and high fiber content. These limiting factors were expected to be reduced by fermentation technology. Therefore an experiment was conducted to study the use of fermented (FLS) and non-fermented palm oil sludge (LS) for broiler chicken feed. Two hundred and ten day-old broiler chicks were used for this study. The birds were allocated into 35 cages with 6 birds in each cage. Each 5 group of birds were fed with one of 7 experimental diets. All diets were formulated with similar nutrient contents containing either LS or FLS at 3 different levels (5, 10 and 15%) and a control diet with no LS or FLS. The experimental diets were fed for 6 weeks and the performances were observed. Carcass yield, abdominal fat, weight of liver and gizzard were also measured at the end of the trial. The results showed that LS or FLS can be included in broiler’s diet, since the mortality, carcass yield, abdominal fat, liver and gizzard were not significantly affected. Best level inclusion of LS was 5%. Although inclusion of 10-15% LS did not affect growth and feed conversion significantly, the feed intake was significantly depressed. The best level inclusion of FLS was 10%, since higher level (15%) caused growth depression. Key words: Palm oil sludge, fermentation, broilers ABSTRAK SINURAT, A.P., T. PURWADARIA, P. KETAREN, D. ZAINUDDIN, dan I.P. KOMPIANG. 2000. Pemanfatan lumpur sawit untuk ransum unggas: 1. Lumpur sawit kering dan produk fermentasinya sebagai bahan pakan ayam broiler. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5(2): 107-112. Lumpur sawit (LS) yang merupakan salah satu limbah industri minyak sawit, sampai saat ini belum umum digunakan untuk pakan unggas karena mempunyai beberapa faktor pembatas seperti kadar protein dan asam amino yang rendah dan kadar serat kasar yang tinggi. Melalui fermentasi, faktor pembatas ini diharapkan dapat dikurangi. Oleh karena itu, suatu penelitian telah dilakukan untuk menguji penggunaan lumpur sawit (LS) dan lumpur sawit yang sudah difermentasi (FLS) sebagai bahan pakan ayam pedaging. Sebanyak 210 ekor anak ayam pedaging umur sehari digunakan dalam penelitian ini. Anak ayam tersebut dibagi secara acak kedalam 35 unit sangkar percobaan dengan masing-masing 6 ekor tiap unitr. Tujuh (7) jenis pakan percobaan disusun hingga mempunyai kandungan gizi starter dan finisher yang sama tetapi mengandung LS atau FLS pada tingkat 5, 10 dan 15% serta satu pakan kontrol yang tidak mengandung LS maupun FLS. Penelitian dilakukan selama 6 minggu dengan mengamati pertumbuhan, konsumsi ransum dan mortalitas. Pada akhir penelitian juga diamati persentase karkas, kadar lemak abdomen, berat hati dan berat rempela. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LS dan FLS dapat digunakan untuk bahan pakan ayam broiler karena tidak mempengaruhi mortalitas dan gangguan terhadap organ hati, rempela serta persentase karkas dan lemak abdomen. Pemberian lumpur sawit (LS) yang terbaik adalah 5%. Pemberian LS 10 hingga 15%, meskipun tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan persentase karkas, tetapi sudah menunjukkan penurunan dalam konsumsi ransum. Batas pemberian FLS dalam ransum ayam broiler adalah 10%, sedangkan pemberian 15% FLS sudah menyebabkan penurunan dalam pertumbuhan ayam. Kata kunci: Lumpur sawit, fermentasi, ayam broiler

PENDAHULUAN Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan bahan pakan yang dibutuhkan untuk peternakan unggas di Indonesia. Salah satu usaha

tersebut adalah dengan mencoba memanfaatkan bahan pakan yang belum lazim digunakan seperti limbah industri pertanian atau perkebunan (SINURAT, 1999). Dari berbagai industri perkebunan di Indonesia, kelapa sawit merupakan salah satu produk yang mempunyai

107

Pada akhir penelitian.A. Kandang tersebut ditempatkan di dalam satu bangunan tertutup yang dilengkapi dengan lampu penerangan. nilai energi dan protein termetabolis serta penurunan kadar serat (NDF). sampai saat ini belum umum digunakan untuk pakan unggas. Penelitian di Malaysia menunjukkan bahwa LS mempunyai faktor pembatas untuk digunakan sebagai bahan pakan unggas seperti kadar protein dan asam amino yang rendah dan kadar serat kasar yang tinggi (HUTAGALUNG.. Tingkat penggunaan LS dan LSF dalam pakan ditetapkan sebanyak 5. Kemudian setelah ayam berumur 3 minggu. Anak ayam divaksin untuk mencegah penyakit tetelo pada umur 3 dan 18 hari dan gumboro pada umur 3 hari. Pemberian produk fermentasi lumpur sawit (FLS) hingga 15% dalam ransum tidak nyata (P>0. Penerangan disediakan siang dan malam selama 6 minggu penelitian dan pemanas hanya disediakan selama 2 minggu pertama. Nilai konversi pakan dihitung dengan membagi jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan. Bobot badan dan konsumsi pakan diukur setiap minggu per ulangan kecuali bobot badan pada akhir penelitian (minggu ke-6) diukur per ekor. Untuk itu. Perkembangan industri minyak sawit akan meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan seperti bungkil inti sawit dan lumpur sawit yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Dengan peningkatan nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit. penelitian ini dirancang untuk mengetahui dampak penggunaan lumpur sawit dan produk fermentasi lumpur sawit (FLS) terhadap penampilan ayam pedaging (broiler) dan untuk mengetahui batas penggunaannya dalam ransum ayam broiler.. PASARIBU et al. protein sejati.8%). 1998). bobot hati dan rempela. untuk memanfaatkan LS perlu dilakukan usaha untuk menghilangkan atau mengurangi faktor pembatas tersebut dan atau meningkatkan nilai gizinya. ke-7 pakan starter yang mengandung LS dan LSF serta pakan kontrol diformulasikan untuk mencukupi kebutuhan ayam pedaging umur sehari hingga 3 minggu (Tabel 1). Seluruh bahan baku pakan yang digunakan dalam penelitian dianalisis di laboratorium kimia Balai Penelitian Ternak Ciawi. Setiap unit kandang kawat disediakan label sesuai dengan jenis pakan yang diberikan. Salah satu proses yang banyak dilakukan untuk meningkatkan nilai gizi suatu bahan berserat tinggi adalah melalui fermentasi (GHANEM et al.05) dipengaruhi oleh perlakuan. Pakan kontrol tidak mengandung LS maupun LSF. MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 jenis pakan sebagai perlakuan. daya cerna bahan kering invitro. Fermentasi LS dilakukan dengan menggunakan inokulum Aspergillus niger yang jumlahnya dipersiapkan sesuai kebutuhan penelitian. Penurunan konsumsi ransum dengan peningkatan kadar LS mungkin merupakan akibat kadar serat LS yang tinggi.. bila analisis keragaman menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0. Oleh karena itu.. pemanas dan pengatur sirkulasi udara. SINURAT et al. Pemberian lumpur sawit (LS) 10 atau 15% nyata menurunkan konsumsi ransum ayam dibandingkan dengan kontrol (Tabel 3). HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi pakan ayam nyata (P<0. disusun 7 jenis pakan finisher yang mengandung LS dan LSF serta pakan kontrol untuk memenuhi kebutuhan ayam pedaging berumur 3–6 minggu (Tabel 2).76% (SINURAT et al. 1998). Peningkatan kadar LS dari 5 menjadi 10 dan 15% menyebabkan peningkatan kadar serat kasar dalam ransum masing-masing sebesar 108 . pertambahan bobot badan. Pada awal penelitian anak ayam ditimbang dan dialokasikan secara acak kedalam kandang kawat yang berjumlah 35 unit. Pakan dan air minum disediakan secara tidak terbatas. kandungan lemak abdomen. Dari hasil analisis tersebut. 10 dan 15%. 5 ulangan untuk tiap perlakuan yang terdiri dari 6 ekor ayam untuk setiap ulangan. mortalitas ayam.P. Penempatan ke-7 perlakuan pakan dilakukan secara acak pada 35 unit kandang percobaan. satu ekor dari setiap kandang percobaan dipotong untuk mengetahui persentase karkas. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa LS mengandung serat kasar 29. 1998.05) menyebabkan perbedaan konsumsi pakan. maka diharapkan bahan ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan pakan untuk unggas. menurut prosedur yang diuraikan oleh PASARIBU et al. Lumpur sawit (LS) yang merupakan salah satu limbah industri minyak sawit.05). Selama penelitian dilakukan pengamatan terhadap konsumsi ransum. (1998). : Pemanfatan Lumpur Sawit untuk Ransum Unggas perkembangan yang cukup besar (ANONYMOUS. 1978). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi LS (SINURAT et al. 1996). Sebanyak 210 ekor anak ayam broiler umur sehari digunakan dalam penelitian ini. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis sidik ragam menurut pola rancangan acak lengkap. Perbedaan rata-rata perlakuan dihitung menggunakan uji beda nyata terkecil (LSD). Fermentasi LS dengan menggunakan inokulan Aspergillus niger dapat meningkatkan nilai gizi LS tersebut seperti tercermin pada peningkatan kadar protein kasar. bila dibandingkan dengan kontrol. 1991). menurut prosedur yang diuraikan oleh STEEL dan TORRIE (1980). Demikian juga YEONG (1983) melaporkan bahwa asam amino yang dapat dicerna dari lumpur sawit relatif rendah (hanya 24.

0 0.60 0.45 4.52 34.38 0.88 51.0 1.4 22.41 32.00 0.00 Lumpur sawit 10 10. sehingga tidak berbeda nyata dengan kontrol.0 1.0 1.18 0.50 3200 1.20 35.2 Th.50 100.00 0. 1998). INDARSIH et al.85 9.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol.50 100. Jumlah bahan dalam ransum perlakuan (%) Bahan Kontrol Lumpur sawit (LS) LS difermentasi (FLS) Dikalsium fosfat Tepung ikan Tepung kapur Jagung giling D-L Metionin Garam Bungkil kedelai Minyak nabati Vitamin-mineral premix Jumlah Perhitungan kandungan gizi : Protein kasar ( % ) Energi (Kkal ME/kg) Lisin total (%) Metionin total (%) Ca total (%) P tersedia (%) Serat kasar (%) 22.45 7.18 0.50 100. tidak menyebabkan perbedaan dalam konsumsi ransum ayam broiler.19 0.18 0.00 10 10.50 3200 1.59 37.0 0.39 11. 2000 1.20 33.00 0. dengan mempertahankan kandungan gizi yang sama dengan ransum kontrol.31 4.20 35. meskipun menunjukkan penurunan konsumsi ransum.32 4. Akan tetapi.4 1.76 45.00 5 5.50 100.0 1.55 1.00 15 15.55 1.24 0.00 0.50 3200 1. Pemberian FLS hingga 15%. Hal ini mungkin karena penambahan bahan berserat yang diberikan tidak terlalu tinggi.. meskipun jumlah LS atau FLS ditingkatkan.58 10.00 Lumpur sawit difermentasi 5 5.18 0.50 3200 1.20 4. Beberapa peneliti melaporkan bahwa penambahan bahan berserat kasar tinggi kedalam ransum ayam broiler menyebabkan peningkatan konsumsi ransum hingga batas tertentu (SUMMERS dan LEESON.50 100. yaitu hanya 0. tetapi penurunannya tidak sebesar pada pemberian LS.67 0.55 1.25 4. Susunan ransum starter ayam broiler energinya.75 hingga 8% dalam ransum.6% (Tabel 1 dan 2). LIPSTEIN dan HURWITZ (1980) juga melaporkan penurunan konsumsi ransum dan pertumbuhan pada ayam yang diberi 15% bahan berserat tinggi (algae).00 0. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini di mana energi metabolis semua ransum dibuat sama.34 4.15 5.08 7.3 22.50 100.90 0.36 4.00 0.8 22.83 5.50 3200 1..00 0.0 1. Hal ini mungkin erat kaitannya dengan lebih rendahnya kadar serat kasar FLS dibandingkan dengan LS (SINURAT et al. sehingga ayam broiler berusaha meningkatkan konsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan Tabel 1.23 0.84 7.49 0.55 1.45 3.50 100. 1986.0 0. dalam penelitian tersebut penambahan bahan berserat tinggi diikuti dengan penurunan energi ransum (pengenceran). Hasil penelitian ABDELSAMIE et al.00 0.0 1.28 0.4 22.1 22.5 22.69 0. tetapi mempertahankan energi metabolis ransum.55 1.76 0. 5 No.55 1.0 0.26 0.18 0.00 0. 1992).50 3200 1.00 109 .26 0.0 0.17 0.19 0.20 35.20 34.64 39.45 4.73 44.55 1.45 5.61 0.45 6.20 35.0 0.20 34.3 dan 2.26 0.71 0.22 0.0 0.50 3200 1.30 0.45 6. (1983) menunjukkan bahwa dengan penambahan bahan berserat tinggi (serbuk gergaji).00 15 15.33 9.20 0.

57 49.00 3100 1.20 26.0 20.45 0.13 2.50 100.52 0.11 0. : Pemanfatan Lumpur Sawit untuk Ransum Unggas Tabel 2.11 0.0 15% 15.0 0.08 0.20 0.20 8.07 0.00 0.22 0.7 6.00 3100 1.40 3.22 2.40 5.20 27.90 0.06 0.3 20.0 15% 15. konversi pakan dan mortalitas ayam pedaging Kadar LS atau FLS dalam pakan (%) 0 5 10 15 Konsumsi pakan (g) 3252c 3141 2963 bc ab a Jenis perlakuan Kontrol Lumpur sawit (LS) Bobot badan (g) 1509bc 1557 1425 1409 c ab ab ab Konversi pakan (g/g) 2.7 0 0 3.45 0.27 Mortalitas (%) 6.90 0.50 100.04 0.08 0.00 3100 1.40 4.04 5.71 55.50 45.11 0.38 4.74 56.50 0. bobot badan.93 4.2 20.16 6.08 2.0 1.2 Tabel 3.45 0.14 4.81 0.0 Lumpur sawit difermentasi 5% 5.50 100.45 0.45 0.40 7.00 3100 1.01 0.04 4.00 0.7 0 2898 3070 Lumpur sawit difermentasi (FLS) 5 10 15 abc 1439 3242c 3091 abc 1504abc 1395 a Keterangan: Nilai dengan huruf yang berbeda dalam satu kolom menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0.00 0.2 20.50 100.00 0.45 0.00 0.14 2.40 4.92 0.09 4.45 0.05) 110 .10 0.11 0.9 20.90 0.00 3100 1.3 20.40 5.20 28.06 4.3 6.21 2.09 0.08 0.45 0. Susunan ransum ayam broiler periode finisher Kadar bahan dalam ransum percobaan (%) Bahan Kontrol Lumpur sawit (LS) LS difermentasi (FLS) Dikalsium fosfat Tepung ikan Kapur Jagung giling D-L Metionin Garam Bungkil kedelai Minyak nabati Vitamin-mineral premix Jumlah Perhitungan kandungan gizi : Protein kasar (%) Energi (Kkal ME/kg) Lisin total (%) Metionin total (%) Ca total (%) P tersedia (%) Serat kasar (%) 20.0 1.00 0.86 62.0 1.50 100. SINURAT et al.A.20 28.50 100.07 4.6 1.0 5% 5.00 0.40 6.62 51.12 0. Pengaruh pemberian lumpur sawit (LS) dan produk fermentasinya (FLS) terhadap konsumsi pakan.0 10% 10.90 0.42 42.13 2.0 0.09 0.41 0.63 5.0 1.20 2.50 100.11 0.90 0.62 0.36 0.74 0.00 3100 1.90 0.20 28.99 4.20 25.35 0.17 8.P.90 0.0 Lumpur sawit 10% 10.88 7.00 3100 1.

01 3. Hasil ini berbeda dengan laporan peneliti lain yang menunjukkan adanya penurunan kandungan lemak abdomen dengan penambahan bahan berserat tinggi dan produk fermentasi dalam ransum ayam broiler (JORGENSEN et al. Faktor yang menyebabkan perbedaan ini belum dapat dijelaskan. berat hati dan berat rempela ayam pedaging Jumlah LS atau FLS dalam pakan (%) 0 5 10 15 Karkas (%) 66.92 3. hanya ayam yang diberi 15% FLS yang mempunyai bobot badan yang nyata lebih rendah. sehingga perbedaan pertambahan bobot badan merupakan refleksi dari perbedaan konsumsi ransum. R.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol.04 2.N. KOMPIANG et al. 1996. hati dan rempela tidak nyata (P>0. Sci. Hal ini kemungkinan karena kandungan gizi semua ransum percobaan dibuat sama. konversi pakan dan mortalitas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian KARASAWA (1998) yang menunjukkan bahwa RNA. Kemungkinan yang menjadi faktor pembatas adalah tingginya kandungan asam nukleat (RNA) yang merupakan komponen utama sel kapang yang terbentuk selama proses fermentasi.99 2.79 1.06 3. Br.97 2. Pemberian 5% LS dalam ransum nyata menghasilkan bobot badan yang lebih tinggi dari pemberian 10% LS.3 65.9 65. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa batas pemberian FLS dalam ransum ayam broiler hanya sampai 10%. persentase bobot lemak abdomen. DAFTAR PUSTAKA ABDELSAMIE. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian LS dalam ransum ayam broiler hingga 15% masih dapat dianjurkan. 5 No.05) dipengaruhi oleh perlakuan. 1983.77 Hati (%) 2. 1999). 24:383-390.20 Jenis perlakuan Kontrol Lumpur sawit (LS) Lumpur sawit difermentasi (FLS) 5 10 15 Bobot badan ayam broiler pada akhir percobaan nyata (P<0.08 3. The influence of fiber content and physical texture of the diet on the performance of broilers in the tropics..9 64. Ditinjau dari segi kadar serat kasar yang lebih rendah dan kandungan protein yang lebih tinggi dari LS (SINURAT et al.2 Th. RANAWEERA. (1997) dan KETAREN et al.71 2. KETAREN et al. Hal ini juga didukung dari hasil pengamatan terhadap organ hati dan rempela yang tidak mengalami perbedaan dengan kontrol (Tabel 4). 5% FLS. K. Pemberian lumpur sawit yang belum difermentasi (LS) yang terbaik dalam ransum ayam broiler adalah 5%. Mortalitas ayam selama penelitian juga tidak nyata (P>0.E. Persentase karkas. (1999) juga melaporkan bahwa penggunaan produk fermentasi lebih dari 10% dalam ransum ayam broiler sudah menunjukkan hambatan pertumbuhan.71 1.69 1.05) dipengaruhi oleh ransum perlakuan.00 2.65 1.05) dipengaruhi oleh ransum perlakuan (Tabel 4).. Akan tetapi bila dibandingkan dengan kontrol. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lumpur sawit maupun produk fermentasinya dapat digunakan sebagai bahan pakan ayam broiler.7 63. meskipun pemberian hingga 15% tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan.E. Oleh karena itu. Hal ini menunjukkan bahwa kedua bahan yang digunakan (lumpur sawit dan produk fermentasinya) tidak mengandung zat yang berbahaya bila diberikan hingga 15% dalam ransum ayam broiler.03 2. 2000 Tabel 4.18 1. Hasil ini sesuai dengan rekomendasi YEONG dan AZIZAH (1987).48 2.9 65. faktor pembatas dalam penggunaan FLS mungkin tidak lagi terletak pada kandungan serat kasarnya.05) dipengaruhi oleh perlakuan.. and W. 111 .P.16 1. Pengaruh pemberian lumpur sawit (LS) dan produk fermentasinya (FLS) terhadap persentase karkas.5 Lemak abdomen (%) 1.5 63.07 Rempela (%) 2. batas penggunaan FLS diharapkan sama atau lebih tinggi dari batas penggunaan LS. Konversi ransum (konsumsi ransum : pertambahan bobot badan) ayam broiler selama penelitian tidak nyata (P>0. dan 15% FLS. 1998). terutama adenine dalam RNA yang ada dalam protein sel tunggal dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan dan konsumsi ransum pada ayam broiler. NANO.13 2. 15% LS. Poult. Sedangkan batas pemberian lumpur sawit yang sudah difermentasi (FLS) dalam ransum ayam broiler adalah 10%.. lemak abdomen.

Protein enriched feedstuff from beet pulp. pp.P. KOMPIANG. ZHAO. Non tradiotional feedingstuffs for livestock. Assoc. KOMPIANG. Laporan Penelitian. KNUDSEN. A. 1986. 11:84-88. SINURAT et al... T. 1983. 16:129-141. and R. dan lama proses enzimatis. EL-GAZAERLY. KOMPIANG. Y. TORRIE. Penggunaan bahan pakan lokal dalam pembuatan ransum ayam buras.W. Pengaruh suhu ruang fermentasi dan kadar air substrat terhadap nilai gizi produk fermentasi lumpur sawit.H. Bungkil inti sawit dan produk fermentasinya sebagai pakan ayam pedaging. The influence of dietary fiber source and level on the development of the gastrointestinal tract. T. ROSIDA. 1998. Bull. Japan Poult. suhu. Amino acid availability of palm kernel cake. A. palm oil sludge and sludge fermented product (prolima) in studies with chickens.I. 1991. P.. weight gain and gut capacity of broilers. Ilmu Ternak Veteriner 3(4) : 225-229.B. pp 9499. X. Sci. K. EGUM. 1999. (Devendra. SYAMSUDIN.P. dan I. A. Conf.G. Br. MSAP. University Pertanian Malaysia. 1999. Biotech. and SUPRIYATI. Penggunaan Kulit Padi pada Ransum Broiler dalam Usaha Mengurangi Perlemakan.P.E. Nagoya. SUPRIYATI. 1980.P. H.). JORGENSEN. Proc. MARDI Res. PURWADARIA. HURWITZ. KARASAWA.P. HUTAGALUNG. GHANEM. J. B.M. J. KETAREN. A. WINATA. A. 10th Ann. 1998. J. Adverse effects observed when cell proteins are fed to chickens. Direktorat Jenderal Perkebunan. D. Malaysian Society of Animal Production. SINURAT.P. Jakarta. H..W. and A. 1987. D.H. T. PASARIBU. Statistik Perkebunan Indonesia. 1998. World J. R. SINURAT. T. SUMMERS. Anim. The nutritional value of algae for poultry.Q. PURWADARIA. 112 . J. PURWADARIA. LEESON. Ilmu Ternak Veteriner 2(3):181-183.. Wartazoa 9: 12-20. Influence of nutrient density on feed consumption. C. digestibility and energy metabolism in broiler chickens. SURACHMAN. YEONG. 6th Asian Pacific Poult.. 7:365-371. I. Peningkatan nilai gizi lumpur sawit melalui proses fermentasi: Pengaruh jenis kapang. J. dan H. eds. 1997. Mc. Malaysia. AZIZAH. K. Selangor.P. SINURAT. Principles and Procedures of Statistics. INDARSIH. 302-306. 75:379-395. A. C. Nutr. Graw Hill. S. ZAINUDDIN. Kelapa Sawit. New York.P. 21:9-21. and J. and S.A. Ilmu Ternak Veteriner 4(2):107-112. YEONG.J. LIPSTEIN. dan I. J.D. PURWADARIA. Sci. Tech. S. SINURAT.P. Poult. 1996.. Microbil. 2nd. DARMA. Cassapro in broiler ration: Effect of halquinol supplementation.A. 1980. Badan Litbang Pertanian dan Pusat Penelitian Universitas Mataram. SINURAT. H. Dried chlorella in broiler diets. and M. Ilmu Ternak Veteriner 3 (4) : 237-242.O. R. Congr. and S. Effect of processing on feeding values of palm oil mill effluent (POME) in nonruminants. T. dan I.P. 1996. and B. leghorns and turkeys reared to 26 days of age.P. B. 1992.I. Procs. Hutagalung. 1978. Br. : Pemanfatan Lumpur Sawit untuk Ransum Unggas ANONYMOUS. Serdang. In: Feedingstuffs for Livestock in Southeast Asia. EL-REFAI. J. STEEL. HAMID. HAMID. Feed Sci.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful