CASE SCIENCE SESSION REFERAT IMUNISASI

Oleh : Erwin UF

Pembimbing : dr. Agus Saptanto, SpA

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

Imunisasi merupakan pencegahan primer terhadap penyakit infeksi yang paling efektif. Imunisasi bukan saja dapat melindungi individu dari penyakit yang serius namun dapat juga menghindari tersebarnya penyakit menular. WHO (World Health Organization) dan UNICEF mencanangkan GIVS (Global Immunization Vision and Strategy) yaitu rancangan kerja 10 tahun untuk mencegah penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi. Pemerintah indonesia sendiri mencanangkan Gerakan akselerasi imunisasi nasional sesuai dengan Universal Child Immunization pada tahun 2012. Pada tahun 2011 – 2014 ditargetkan untuk bayi mencapai 90% sementara pemberian imunisasi untuk anak tingkat sekolah dasar (SD) 95% sesuai dengan Universal Child Immunization (UCI). Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Berdasarkan cara timbulnya terdapat dua jenis kekebalan, yaitu:  Kekebalan Pasif : kekebalan yang di peroleh dari luar tubuh, bukan di buat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang di peroleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan di metabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG adalah 28 hari, imunoglobulin lainnya lebih pendek.  Kekebalan Aktif : kekebalan kekebalan yang di buat oleh tubuh itu sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. Biasanya berlangsung lebih lama karena adanya memori imunologik.

2

Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian dua macam bentuk yaitu immunoglobulin non spesifik atau gamaglobulin dan immunoglobulin yang spesifik yang berasal dari plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi. sedangkan waktu paruh immunoglobulin lainnya lebih pendek. atau terpajan secara alamiah. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Tujuan imunisasi Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau menghilangkan penyakit tertentu dari dunia 3 . yaitu kekebaln pasif dan kekebalan aktif. tidak terjadi penyakit. Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya memori imunologik. Antigen yang diberikan telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit namun mampu mengaktivasi limfosit menghasilkan antibody dan sel memori. Waktu paruh IgG 28 hari. sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan immunoglobulin. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan. bukan dibuat oleh tubuh itu sendiri.vaksinasi memiliki arti yang berbeda dengan imunisasi. Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan dengan antigen yang bersala dari mikroorganisme pathogen. Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibody) dari system imun di dalam tubuh.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi : Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibody secara pasif. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh.

    Berikan vaksin dengan teknik yang benar Setelah pemberian vaksin berikan edukasi pada orang tua mengenai kejadian pasca imunisasi. pencatatan.Prosedur Imunisasi Prosedur imunisasi dimulai dari menyiapkan dan membawa vaksin. teknik penyuntikan yang aman. Tata cara pemberian imunisasi:         Sebelum melakukan vaksinasi. Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal dan ditawarkan pula vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertingal (catch up vaccination) bila diperlukan. mempersiakan anak dan orang tua. Baca dengan teliit informasi tentang yang akan diberikan dan jangan lupa mendapat persetujuan orang tua. pembuangan limbah sampai pada teknik penyimpanan dan penggunaan sisa vaksin dengan benar. Periksa kembali persiapan untuk melakukan pelayanan secepatnya bila terjadi reaksi ikutan yang tidak diharapkan. Catat imunisasi dalam rekan medis secara rinci Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya dan tawarkan vaksinasi untuk mengejar ketertinggalan bila diperlukan.1 4 . dianjurkan mengikuti tata cara seperti berikut : Memberitahukan secara rinci tentang risiko imunisasi dan risiko apabila tidak divaksinasi. Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra terhadap vaksin yang akan diberikan Periksa identitas penerima vaksin dan diberikan antipiretik bila diperlukan Periksa jenis vaksin yang akan diberikan apakah tampak tanda-tanda perubahan.

varisella dan demam kuning) dan vaksi mati atau inaktif (DPT. tetapi ada perkecualian lain dalam beberapa hal seperti berikut : . polio inaktif. Aturan umum untuk sebagian besar vaksin. umur vaksin tidak lebih lama dari suhu +20 C s/d +80 C. Vaksin inaktif (mati) sebaiknya disimpan dalam suhu +20 C s/d +80 C juga.5 s/d 2 jam. Bila beku dalam suhu -0.50 C vaksin hepatitis B dan DPT-Hepatitis B (kombo) akan rusak dalam ½ jam. Standar jarum suntik ialah ukuran 23 dengan panjang 25 mm. DPTHepatitis B kombinasi sampai 14 hari. vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan mati dalam 7 hari. Typhoid. pneimokokus. BCG. 5 . pada suhu dibawah +20 C (beku) vaksin mati akan cepat rusak.pada bayi-bayi kurang bulan. Secara umum semua vaksin sebaiknya disimpan pada suhu +2 s/d +80C vaksin hidup akan cepat mati. tetapi dalam suhu diatas 80 C vaksin Hepatitis B bias bertahan sampai 30 hari. meningokokus). karena resiko infeksi. campak. Oleh karena itu vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan tidak perlu disimpan di 250 C s/d -150 C atau di dalam freezer. tetapi bias bertahan sampai 14 hari dalam suhu diatas 80 C. Apabila memakai botol multidosis maka jarum suntik yang telah digunakan menyuntik tidak boleh dipakai lagi mengambil vaksin.Penyimpanan Vaksin yang disimpan dan diangkut secara tidak benar akan kehilangan potensinya. Tekhnik dan ukuran jarum Pada tiap suntikan harus digunakan tabung suntikan dan jarum baru. Vaksin hidup potensinya masih tetap baik pada suhu kurang dari 20 C s/d beku. yaitu BCG tetap 1 tahun dan campak tetap 2 tahun. dapat pula dipakai jarum ukuran 26 dengan panjang 16 mm. vaksin BCG dan campak berbeda. bahwa vaksin harus didinginkan pada temperature 2-80 C dan tidak membeku. MMR. dipakai jarum ukuran 25 dengan panjang 16mm. umur dua bulan atau yang lebih muda dan bayibayi kecil lainnya. namun hanya bertahan 6 bulan pada suhu +20 C s/d +80 C. Secara umum ada 2 jenis vaksin yaitu vaksin hidup (polio oral. Sebaiknya tidak digunakan botol vaksin yang multidosis.Hib. vaksin polio hanya bertahan 2 hari. walaupun disimpan pada suhu -250 C s/d -150 C. sekali pakai dan steril. untuk bayi-bayi kecil dipakai jarum ukuran 27 dengan panjang 12 mm. influenza. Vaksin polio oral yang belum dibuka lebih bertahan lama (2tahun) bila disimpan pada suhu -250 C s/d -150 C. Dibekukan dalam suhu -50 C s/d -100 C vaksin DPT. DT dan TT akan rusak dalam 1. untuk suntikan subkutan pada lengan atas.

Kerusakan saraf dan pembuluh vascular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan pada sudut 900. Resiko kerusakan saraf ischiadika akibat suntikan di daerah gluteus lebih banyak dijumpai pada bayi karena variasi posisi saraf tersebut. AAP dan selandia baru telah memberi rekomendasi bahwa daerah anterolateral paha adalah bagian yang dianjurkan untuk vaksinasi bayi-bayi dan tidak pada pantat (daerah gluteus) untuk menghindari resiko kerusakan saraf iskhiadika (nervus ischiadicus). Sifat imunogenesitas vaksin hepatitis B dan rabies berkurang bila disuntikkan di daerah gluteal. WHO. Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan secara adekuat. sebab suntikan-suntikan diatas puncak pundak memeberi resiko terjadinya keloid. sehingga pada vaksinasi dengan suntikan intramuscular di daerah gluteal dengan tidak disengaja menghasilkan suntikan subkutan dengan reaksi local yang lebih berat. buku pedoman ACIP. Untuk otot vastus lateralis. Vaksinasi hepatitis B dan rabies bila disuntikkan di daerah gluteal kurang imunogenik. harus disuntik pada kulit diatas insersi otot deltoid (lengan atas). masa otot lebih tebal. Regio deltoid adalah alternatif untuk vaksinasi pada anak-anak yang lebih besar (mereka yang dapat berjalan) dan orang dewasa.1 Arah sudut jarum pada suntikan Intramuscular Jarum suntik harus disuntikkan dengan sudut 450 sampai 600 ke dalam otot vastus lateralis atau otot deltoid. Sedangkan untuk vaksin BCG. Pada suntikan dengan sudut jarum 450 sampai 600akan mengalami hambatan ringan pada waktu jarum masuk ke dalam otot.Menghindari resiko kerusakan saraf ischiadika pada suntikan daerah gluteal.1 Sejak akhir 1980. - untuk suntikan intradermal pada vaksinasi BCG dipakai jarum ukuran 25-27 dengan panjang 10 mm. hal ini berlaku untuk semua umur. 6 . Posisi anak dan lokasi suntikan Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur di bawahh 12 bulan adalah: . 1 Tempat suntikan yang dianjurkan Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi pada bayi-bayi dan anak-anak umur dibawah 12 bulan.- untuk suntikan intramuscular pada oaring dewasa yang sangat gemuk (obese) diapakai jarum ukuran 23 dengan panjang 38 mm. jarum harus diarahkan ke arah lutut dan untuk deltoid jarum harus diarahkan ke pundak.

dengan jarum kearah lutut. Gambar 3. Diagram Lokasi Suntikan Yang Dianjurkan pada otot paha. 7 . maka jarum tersebut harus menembus kulit selebar ujung jari diatas (kearah proksiimal) batas hubungan bagian atas dan sepertiga tengah otot. - Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.- Menghindari resiko reaksi local dan terbentuk pembengkakan ditempat suntikan yang menahun. yang mengisi bagian anterolateral paha. Vastus lateralis. Jarum harus membuat sudut 450-600 terhadap permukaan kulit. posisi anak dan lokasi suntikan Vastus lateralis adalah otot bayi yang tebal dan besar. Vaksin harus disuntikkan ke dalam batas antara sepertiga otot bagian atas dan tengah yang merupakan bagian yang paling tebal dan padat.

Bila bagian bawah deltoid yang disuntik. tarik garis yang menghubungkan kedua tempat tersebut. ada resiko trauma saraf radialis karena saraf tersebut melingkar dan muncul dari otot trisep.Letakkan bayi di atas tempat tidur atau meja. Perhatian untuk suntikan subkutan . membuka lengan atas dari pundak ke siku.Arah jarum 450 terhadap kulit. bayi ditidurkan terlentang.Gambar 4. Potongan Lintang Paha : Menunjukkan Bagian Yang Disuntik Lokasi suntikan pada vastus lateralis . maka lekukan yang dibuat oleh tractus iliotibialis menyebabkan garis bagian distal lebih jelas) Supaya vaksin yang disuntikkan masuk ke dalam otot pada batas antara sepertiga bagian atas dan tengah.Posisi seorang anak yang paling nyaman untuk suntikkan di daerah deltoid ialah duduk diatas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lokasi deltoid yang benar adalah penting supaya vaksinasi berlangsung aman dan berhasil. Tempat suntikan vaksin ialah batas sepertiga bagian atas dan tengah pada garis tersebut (bila tungkai bawah sedikit menekuk. posisi anak dan lokasi suntikan . Lokasi yang paling baik adalah pada tengah otot. Tungkai bawah sedikit di tekuk dengan fleksi pada lutut. jarumditusukkan satu jari diatas batas tersebut. Cubit tebal untuk suntikan subkutan 8 .sementara lengan lainnya diletakkan di belaknag tubuh orang tua atau pengasuh. yaitu separuh antara akromion dan insersi pada tengah humerus. Untuk mendapatkan lokasi deltoid yang baik. Deltoid. Cari trochanter mayor femur dan condylus lateralis dengan cara palpasi. Jarum suntik ditusukkan membuat sudut 450-600 mengarah pada akromion. Posisi yang salah akan menghasilkan suntikan subkutan yang tidak benar dan meningkatkan resiko penetrasi saraf. Lengan yang akan disuntik dipegang menempel pada tubuh bayi.

Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan. Apabila terdapat darah buang dan ulangi dengan suntikan baru.- Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan. untuk meyakinkan tidak masuk dalam vena. Untuk suntikan multipel diberikan pada bagian ekstrimitas berbeda. lakukan dengan cepat.Pakai jarum yang cukup panjang untuk mencapai otot. Lokasi Penyuntikan Subkutan Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b) Perhatian untuk penyuntikan intramuscular . Suntik dengan arah jarum 450 – 600 . Untuk suntikan multipel diberikan pada bagian ekstremitas berbeda. 9 . Gambar 5. Tekan kulit sekitar tempat suntikan dengan ibu jari dan telunjuk saat jaruum ditusukkan.

MMR.Gambar 6. Hib. indikasi kontra pemberian sesudah Sedang mendapat terapi vaksin tersebut berikutnya antibiotic  Reaksi anafilaksis terhadap  Masa konvalesen suatu penyakit konstituen vaksin. OPV. Varisela. Lokasi Penyuntikan intramuscular Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b) Pedoman penyuntikan subkutan Umur Tempat Bayi (0-12 bulan) Paha daerah antolateral 1-3 tahun >3 tahun Ukuran jarum Ukuran 23-25 panjang 16-19 mm Paha daerah antolateral Ukuran 23-25 panjang atau daerah lateral 16-19 mm lengan atas Daerah lateral lengan Ukuran 16-19 panjang atas 16-19 mm Pedoman penyuntikan intramuscular Umur Tempat Bayi (0-12 bulan) Otot vastus lateralus pada paha daerah antolateral 1-3 tahun Otot vastus lateralus pada paha daerah antolateral sampai masa otot deltoid cukup besar Otot deltoid di bawah >3 tahun acromion Ukuran jarum Ukuran 22-25 panjang 22-25mm Ukuran 22-25 panjang 16-32 mm Ukuran 22-25 panjang 25-32 mm Indikasi kontra dan perhatian khusus untuk imunisasi Indikasi kontra dan perhatian khusus Bukan indikasi kontra Berlaku untuk semua vaksin (DTaP/DTP. IPV. Hep B)  Reaksi anafilaksis terhadap  Reaksi local ringan sedang vaksin. indikasi kontra  Prematuritas pemberian semua vaksin yang  Terpajan terhadap suatu penyakit mengandung bahan konstituen menular tersebut  Riwayat alergi penisilin atau  Sakit sedang atau berat dengan alergi lain nonspesifik atau alergi atau tanpa demam dalam keluarga  Ensefalopati dalam 7 hari pasca  Kehamilan ibu DTaP/DTwP sebelumnya 10 .

Mumps and Rubela (MMR)  Reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin  Imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat. terapi imunosupresan dalam jangka waktu lama)  Imunodefisiensi penghuni serumah Perhatian khusus Kehamilan Vaksin Polio Inactivated (IPV) Reaksi anafilaktik terhadap neomisin.50c pasca DTaP/ DTwP sebelumnya Riwayat kejang dalam keluarga Riwayat SIDS dalam keluarga Riwayat KIPI dalam keluarga pasca DTaP/DTwP suntikan Demam ringan atau sedang pasca vaksinasi sebelumnya Sakit akut ringan dengan atau tanpa demam ringan    Menyusui Sedang dalam terapi antibiotic Diare ringan     Tuberculosis atau uji tuberculin positif Uji tuberculin bersamaan dengan imunisai Menyusui Kehamilan ibu atau penghuni serumah 11 .50c kolaps dan episode hipotonik hiporesponsif dalam 48 jam pasca DTaP/DTwP sebelumnya yang tidak berhubungan dengan penyebab lain  Kejang dalam 3 hari pasca DTaP/DTwP sebelumnya  Menangis terus > 3 jam dalam 48 jam pasca pemberian DTaP/ DTwP sebelumnya  Sindrom Gullain Barre dalam 6 minggu pasca vaksinasi Vaksin Polio Oral (OPV)  Infeksi HIV atau kontak HIV serumah  Imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat. imunodefisiensi congenital. streptomisin atau polimiksin B Perhatian khusus : Kehamilan Measles. terapi imunosupresan jangka panjang. Perhatian khusus  Demam >40. imunodefisiensi congenital. infeksi HIV dengan imunosipresi berat)       Penghuni rumah lainnya tidak divaksinasi Demam <40.

terapi imunosupresan jangka panjang) Perhatian khusus :  Baru mendapat immunoglobulin (dalam 5 bulan)  Riwayat imunodefisiensi dalam keluarga a. polio. imunodefisiensi congenital. 12 .Perhatian khusus :  Baru mendapat tranfusi darah / produk darah atau immunoglobulin  (3-11 bulan) Riwayat purpura trombositopenia   Haemophilus influenza tipe B Tidak ada Perhatian khusus : tidak ada Hepatitis B Reaksi anafilaksis terhadap ragi Varisela  Reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin  Kehamilan  Infeksi HIV  Imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat. DTP dan campak. Jadwal Imunisasi Imunodefisiensi dalam keluarga atau penghuni serumah Infeksi HIV tanpa imunosupresi berat Alergi telur Reaksi non anafilaksis terhadap neomisin Kehamilan    Imunodefisiensi penghuni serumah Infeksi HIV penghuni serumah Kehamilan ibu dan penghuni serumah Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG. hepatitis B.

IMUNISASI PADA ANAK a) Hepatitis B Jenis vaksin: Inactivated viral vaccine (IVV = HBsAg yang telah diinaktivasi)  vaksin rekombinan: HB Vax (MSD). Dosis kedua direkomendasikan pada umur 1-2 bulan dan ketiga 6-7 bulan atau bersama dengan vaksin campak pada umur 9 bulan. Diberikan booster 5 tahun kemudian.  Bayi yang lahir dari ibu HbsAg positif mendapat 0. Dosis kedua direkomendasikan pada umur 1-2 bulan dan ketiga 6-7 bulan atau bersama dengan vaksin campak pada umur 9 bulan.5 cc Hepatitis B immune globulin (HBIG) dalam waktu 12 jam setelah lahir dan 1 dosis anak vaksin rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived pada tempat suntikan yang berlainan. Cara pemberian: SC/IM Jadual imunisasi:  Disarankan untuk diberikan bersama BCG dan Polio I pada kesempatan kontak pertama dengan bayi.  Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg negatif mendapat ½ dosis anak vaksin rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived. Dosis kedua harus diberikan 1 bulan atau lebih setelah dosis pertama. Kontra indikasi: defisiensi imun (mutlak) 13 . dianjurkan pemeriksaan kadar anti HBsAg sebelumnya.5 mL/dosis. Bimugen (kahatsuka)  Plasma derived: Hepa B: vaksin hepatitis B (biofarma). Engerix (smith Kline Becham). Hepaccine B (Cheil Chemical & ford) Dosis: 0.  Bayi yang lahir dari ibu yang tidak diketahui status HBsAgnya mendapat 1 dosis anak plasma rekombinan atau 1 dosis anak vaksin plasma derived dalam waktu 12 jam setelah lahir.

Dosis: 0. b) BCG Jenis Vaksin: Calmette & Guerin (Biofarma.05 mL/dosis Jadual imunisasi: Pada kesempatan kontak pertama dengan bayi Tidak diperlukan booster Kontra indikasi: defisiensi imun (mutlak). rasa tidak enak pada saluran pencernaan. demam sedang 24-48 jam. lesu. Glaxo) suatu live attenuated vaccine (LAV). dermatosis yang progresif (sementara) Efek samping: reaksi lokal. Pasteur.Efek samping: reaksi lokal ringan. adenitis 14 .

Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak) Difteri : tidak ada Pertusis : riwayat kelainan neurologis → skema imunisasi DPT pada bayi dengan riwayat kejang. Pertusis (Inactivated Bacterial Vaccine-IBV.c) DPT Jenis vaksin: Difteri (toksoid).5 mL/dosis Cara pemberian: IM atau SC dalam Jadual imunisasi:  Imunisasi dasar: Tiga dosis dengan interval 4-6 minggu.  Booster: Dosis IV diberikan 1 tahun setelah dosis III dan Dosis V dan VI berupa DT diberikan pada umur 6 dan 12 tahun. Tetanus (toksoid) Dosis: 0. Bordetella pertusis tipe I). demam Reaksi akinetik. (lihat lampiran 1) Tetanus : tidak ada Efek samping: Reaksi lokal. gejala ensefalopati akibat komponen vaksin pertusis. Jika muncul reaksi ini. imunisasi DPT dilanjutkan hanya dengan DT  lihat bagan pedoman vaksinasi DPT pada anak/bayi dengan riwayat kejang d) Polio Jenis vaksin: vaksin polio oral sabin (LAV) Dosis: 2 tetes/dosis Cara pemberian: oral Jadual imunisasi: 15 . Dosis I diberikan pada umur 2 bulan. kejang.

 Dosis I diberikan pada umur sedini mungkin bila bayi lahir di RS (bersama dengan BGC) atau pada kontak pertama bila bayi datang ke RS atau posyandu (biasanya umur 2 bulan). polio IV diberikan 4-6 minggu setelah DPT/Polio III. Selanjutnya dosis II. Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak).  Booster: dosis V diberikan I tahun setelah dosis IV dan dosis VI dan VII diberikan pada umur 6 dan 12 tahun. 16 . bersamaan dengan DPT I. Jika BCG dan Polio I diberikan bersamaan dengan DPT I . Kemungkinan polio paralitik yang dapat dievaluasi dari 1 per 8 juta dosis pada anak yang telah diimunisasi dan 1 per 5 juta dosis pada kontak. diare (sementara) Efek samping: Tidak ada reaksi klinis.II dan IV diberikan dengan interval 4 minggu.II dan II.

Jeryl Lynn (MMR-MSD) Rubella : RA 27/73 Dosis: 0. ruam.e) Campak Jenis vaksin: Schwarz (LAV) Dosis: 0. ensefalitis parotitis. Mumps dan Rubella (LAV). meningoensefalitis. f) MMR (Measles-Mumps-Rubela) Jenis vaksin: Triple vaccine Measles.  Booster: diberikan pada umur 12 tahun Kontra indikasi: sama dengan campak Efek samping: sama dengan campak + parotitis: demam.5 cc/dosis Cara pemberian: SC atau IM Jadual imunisasi:  Imunisasi dasar: diberikan pada umur 12 bulan atau 6 bulan setelah imunisasi campak. isinya : Measles : campak Mumps : Urabe (trimovax-pasteur). tuli neural unilateral (tetapi dilaporkan sembuh sempurna tanpa gejala sisa). 17 .5 mL/dosis Cara pemberian: SC atau IM Jadual imunisasi:   Imunisasi dasar : diberikan pada umur 9 bulan Booster: tidak diperlukan Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak) Alergi terhadap telur (benar-benar terbukti) Mendapat injeksi gammaglobulin dalam 6 minggu terakhir Efek samping: demam dengan atau tanpa ruam 6-12 hari setelah diimunisasi pada 15-20% anak.

3 kali selang sehari.  Booster: Polisakarida diberikan setiap 3 tahun Oral: setelah 3-7 tahun.5 mL/dosis Oral: 1 kapsul lapis enterik atau 1 sachet.g) Tifus Abdominalis Jenis vaksin: Vi CPS (capsular poly sacharide) : Typhim Vi (Pasteur Merieux) Oral : Vivotif (Ty2/A strain) Dosis: Polisakarida 0. Jadual imunisasi:  Imunisasi dasar: Polisakasrida direkomendasikan diberikan pada umur > 2 tahun. Cara pemberian: Polisakarida : SC atau IM satu kali Oral. Oral direkomendasikan diberikan pada umur > 6 tahun dalam 3 dosis dengan interval dosis selang sehari. 18 .

sakit kepala. h) Varisela Jenis vaksin: Strain OKA dari virus Varicella zoster. Dosis: 0. tidak dianjurkan sebelum umur 6 tahun. erupsi papulo vesikular dengan lesi < 10. nyeri otot. Catatan: hindarkan pemberian salisilat selama 6 minggu setelah vaksinasi karena dilaporkan terjadi Reye’s Syndrome setelah pemberian salisilat pada anak dengan varisela alamiah. penyakit demam akut yang berat (sementara). malaise. komplikasi neuropatik. hipersensitif terhadap neomisin atau komponen vaksin lain.Kontra indikasi: < 2 tahun (mutlak). nyeri 1-5 hari. TBC aktif yang tak diobati. kolaps. Anak 13 tahun keatas diberikan 2 dosis dengan interval 4-8 minggu. Kontra indikasi: Defisiensi imun (mutlak). penyakit progresif Efek samping: Reaksi lokal ditempat suntikan : indurasi. kadang-kadang bisa shock. Reaksi sistemik : demam.  Booster: Jika diberikan pada umur 12 bulan harus diulang pada umur 12 tahun. penyakit kelainan darah. Proteinuria. Efek samping: Reaksi lokal di tempat suntikan: ringan Reaksi sistemik : demam ringan. 19 .5 cc/dosis Cara pemberian: SC Jadual imunisasi:  Imunisasi dasar : diberikan Anak umur 12 bulan sampai dengan 12 tahun 1 dosis.

pada umur  bila umur >12 bulan: Act HiB hanya diberikan 1 kali  Untuk vaksin Pedvax HIB MSD  Bila diberikan pada umur 2-14 bulan maka diberikan dalam 2 dosis dengan interval 2 bulan.i) Haemophylus Influenza Tipe B (Act-HiB) Jenis vaksin: Conjugate H. : Booster   Untuk Act-HIB: bila imunisasi dasar diberikan pada umur 2-10 bulan. booster pada umur 12-15 bulan setelah suntikan terakhir. Untuk Pedvax: bila imunisasi dasar sebelum 1 tahun.   Bila di berikan pada umur > 15 bulan maka diberikan 1 kali saja. 20 . booster diberikan 12 bulan setelah suntikan terakhir.4 dan 6 bulan  bila umur 6-12 bulan: direkomendasikan diberikan 2 dosis dengan interval 1-2 bulan. Influenza Tipe B (Act-HiB) PRP-T (Pasteur Merieux) Dosis: 0.5 cc/dosis Cara pemberian: SC atau IM Jadual imunisasi:  Imunisasi dasar :  Untuk vaksin conjugate H-Influenza Tipe B (Act-HiB)  bila umur 2-6 bulan: direkomendasikan diberikan pada umur 2.

muntah dan/atau diare. nyeri dan indurasi Reaksi sistemik : demam. tetapi bila ibu mempunyai B hepatitis surface antigen positif maka segera diberikan vaksinasi hepatitis B dan imunoglobulin anti hepatitis B bersamaan dalam waktu 12 jam tanpa mempertimbangkan berat badan bayi. nausea.1 dan 6 bulan. Imunisasi hepatitis B diberikan bila berat badan mencapai 2000 gram atau lebih.Kontra indikasi: Hipersensitif terhadap komponen vaksin Infeksi akut dengan demam Efek samping: Lokal : eritema. Kontra indikasi : defisiensi imun (mutlak) 1. Imunisasi pada Kondisi Tertentu a) Bayi Prematur Vaksinasi harus diberikan dan mulai pada usia kronologis serta sesuai jadwal untu anak cukup bulan.5 cc/dosis Cara pemberian: SC/ IM Jadual imunisasi: Imunisasi dasar: anak berumur > 2 tahun diberikan 3 dosis dengan jadual 0. b) Imunokompromais (infeksi HIV) 21 . menangis > ½-1 jam dan rash. j) Hepatitis A Jenis vaksin: partikel virus aktif yang diinaktivasi 9IVV0 Dosis: 0. Infeksi akut dengan demam.

walaupun respons terhadap imunisasi tidak akan optimal atau kurang.. i) Vaksin Kuman Mati Vaksin pneumokok dan vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib) Penderita HIV mempunyai resiko untuk mendapatkan infeksi dengan kuman pneumokok dan H. Hanya 37% mempunyai kekebalan setelah vaksinasi dengan Haemophilus influenza tipe B sehingga diperlukan vaksinasi ulangan.influenza tipe B sehingga dianjurkan untuk diberikan secepatnya.Pasien HIV mempunyai resiko lebih besar untuk mendapatkan infeksi sehingga diperlukan imunisasi. 22 . Vaksin influenza Respons imun yang timbul oleh vaksin influenza adalah sel T dependent maka penderita HIV yang lamjut tidak berguna diimunisasi dengan vaksin ini.

sedangkan di negara yang masih tinggi insiden tuberkulosisnya.Vaksin toksoid tetanus. sedangkan efek perlindungan vaksinasinya masih diragukan sehingga tidak dianjurkan untuk vaksinasi BCG terutama di negara yang maju. Vaksinasi BCG dapat menimbulkan infeksi tuberkulosis di kemudian hari. walaupun antibodi yang timbul cepat menghilang dan hanya 52% yang masih mempunyai efek antibodi setelah 1 tahun imunisasi sedangkan bila diberikan imunisasi efek samping tidak ada. Respons imunisasi campakadalah baik bila diberikan di bawah umur 1 tahun. difteri dan polio virus mati (IPV) Respons imun yang dihasilkan akan sama dengan anak normal apabila diberikan pada stadium dini walaupun terdapat vaksin difteri kurang sehingga diperlukan pemberian ulangan terutama di daerah endemik atau bila penderita HIV berkunjung ke daerah yang endemis difteri. Vaksin Hepatitis B Anak yang mendapat infeksi HIV dari ibu penderita HIV tidak akan mendapatkan respons imun yang baik bila diberikan imunisasi hepatitis B tetapi bila belum terinfeksi HIV. dan mempunyai antibodi HIV akan berespons lebih baik terhadap vaksinasi hepatitis B. 23 . Vaksin Bacille Calmette-Guerin (BCG) Penderita HIV mempunyai resiko untuk mendapat infeksi tuberkulosis. WHO menganjurkan untuk tetap diberikan vaksinasi BCG. ii) Vaksin Kuman Hidup Vaksin campak Penderita HIV yang mendapat infeksi campak mempunyai prognosis buruk dan fatal.

vaksin varciella dan yellow fever pada penderita HIV karena OPV dapat melumpuhkan. vaksin varciella-zooster. 24 .Vaksin polio oral (OPV). yellow fever Tidak diperbolehkan untuk memberikan OPV.

Keluarga penderita imunokompromais harus mempunyai status imunisasi yang lengkap.  Waktu pemberian imunisasi harus diperhatikan untuk mendapatkan respons yang baik pada penderita imunokompromais dan bayi prematur. sedangkan vaksinasi denan kuman hidup tidak diberikan.  Pada penderita imunokompromais vaksinasi dengan kuman mati dapat diberikan walaupun responsnya kurang.BAB III KESIMPULAN  Anamnesis yang baik harus selalu dilakukan sebelum pemberian imunisasi. 25 . apakah imunisasi yang diberikan kontraindikasi atau memerlukan perhatian khusus.

Sari pediatri. Sydney: Australian Department of Health and Ageing. 5. petugas lapangan dan organisasi kemasyarakatan. 3. 26 . 2008. 2005. 2011. IDAI 2. 2009. 4. Informasi dasar imunisasi rutin serta kesehatan ibu dan anak bagi kader. Jakarta: Balai penerbit FKUI. Pedoman Imunisasi di Indonesia edisi ketiga tahun 2008. Hot topics in pediatrics II. Jadwal imunisasi anak umur 0 – 18 tahun. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Imunisasi pada keadaan tertentu. Siregar SP.13(1).DAFTAR PUSTAKA 1. Australian Department of Health and Ageing. Understand childhood immunusation [pamphlet]. Ranuh. Ign. 2002. Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

27 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful