P. 1
Teknologi Refining Oli Bekas

Teknologi Refining Oli Bekas

4.64

|Views: 17,654|Likes:
Published by pakde jongko
Perkembangan industri dan transportasi akan membawa dampak secara langsung kepada naiknya kebutuhan pelumas dan berkibat bertambahnya stok minyak pelumas bekas. Proses daur ulang minyak pelumas bekas menjadi minyak yang lebih baik secara langsung akan menyerap kebutuhan tenaga kerja masyarakat sekitarnya.

Sesuai dengan peraturan pemerintah tentang pengolahan limbah pelumas bekas agar menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, maka pengolahan limbah pelumas ini diusahakan semaksimal mungkin ramah lingkungan.

Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan untuk mengolah minyak pelumas bekas membutuhkan investasi yang sangat besar, proses daur ulang dengan teknologi distilasi vaccum, hydrotreating akan sulit untuk dijadikan model teknologi investasi rendah apalagi industri skala kecil.Penggunaan teknologi acid clay yang berinvestasi rendah sangat tidak ramah lingkungan walaupun dapat dilakukan untuk industri skala kecil. Adanya produk sampingan pada proses acid clay yaitu tar ( sludge ) yang sangat berbahaya pada lingkungan dan mengandung asam sulfat.

Teknologi pengolahan limbah pelumas untuk skala kecil dengan resiko pencemaran lingkunagn yang kecil untuk proses daur ulang pelumas bekas dapat memanfaatkan metode ekstraksi detergen, yaitu memberikan perlakuan awal terhadap limbah pelumas sehingga kandungan logam baik organik maupun anorganik dalam limbah dapat diturunkan, sehingga kebutuhan asam sulfat menjadi lebih minim atau ditiadakan. Beberapa penelitian untuk menurunkan kandungan logam dalam limbah pelumas bekas dengan pelarut air atau pelarut aktif permukaan menunjukkan adanya pengaruh yang positif. Untuk limbah yang kandungan tar masih banyak maka penggunaan asam sulfat adalah suatu kepastian.
Perkembangan industri dan transportasi akan membawa dampak secara langsung kepada naiknya kebutuhan pelumas dan berkibat bertambahnya stok minyak pelumas bekas. Proses daur ulang minyak pelumas bekas menjadi minyak yang lebih baik secara langsung akan menyerap kebutuhan tenaga kerja masyarakat sekitarnya.

Sesuai dengan peraturan pemerintah tentang pengolahan limbah pelumas bekas agar menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, maka pengolahan limbah pelumas ini diusahakan semaksimal mungkin ramah lingkungan.

Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan untuk mengolah minyak pelumas bekas membutuhkan investasi yang sangat besar, proses daur ulang dengan teknologi distilasi vaccum, hydrotreating akan sulit untuk dijadikan model teknologi investasi rendah apalagi industri skala kecil.Penggunaan teknologi acid clay yang berinvestasi rendah sangat tidak ramah lingkungan walaupun dapat dilakukan untuk industri skala kecil. Adanya produk sampingan pada proses acid clay yaitu tar ( sludge ) yang sangat berbahaya pada lingkungan dan mengandung asam sulfat.

Teknologi pengolahan limbah pelumas untuk skala kecil dengan resiko pencemaran lingkunagn yang kecil untuk proses daur ulang pelumas bekas dapat memanfaatkan metode ekstraksi detergen, yaitu memberikan perlakuan awal terhadap limbah pelumas sehingga kandungan logam baik organik maupun anorganik dalam limbah dapat diturunkan, sehingga kebutuhan asam sulfat menjadi lebih minim atau ditiadakan. Beberapa penelitian untuk menurunkan kandungan logam dalam limbah pelumas bekas dengan pelarut air atau pelarut aktif permukaan menunjukkan adanya pengaruh yang positif. Untuk limbah yang kandungan tar masih banyak maka penggunaan asam sulfat adalah suatu kepastian.

More info:

Published by: pakde jongko on Apr 14, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

Teknologi Penjernihan Oli Bekas

Acid clay treatment Water surfactant treatment

Duraposita chemical

Kata Pengantar Berdasarkan pancasila dan UUD 1945, kemudian Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 1999, tentang limbah dan pengolahan limbah. Pemanfaatan limbah dan pengolahan limbah untuk dijadikan barang yang lebih berharga dan bermanfaat, sebagai salah satu contoh adalah pengolahan minyak pelumas bekas yang dapat diolah manjadi bahan bakar dan minyak pelumas. Perkembangan industri dan transportasi akan membawa dampak secara langsung kepada naiknya kebutuhan pelumas dan berkibat bertambahnya stok minyak pelumas bekas. Proses daur ulang minyak pelumas bekas menjadi minyak yang lebih baik secara langsung akan menyerap kebutuhan tenaga kerja masyarakat sekitarnya. Sesuai dengan peraturan pemerintah tentang pengolahan limbah pelumas bekas agar menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, maka pengolahan limbah pelumas ini diusahakan semaksimal mungkin ramah lingkungan. Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan untuk mengolah minyak pelumas bekas membutuhkan investasi yang sangat besar, proses daur ulang dengan teknologi distilasi vaccum, hydrotreating akan sulit untuk dijadikan model teknologi investasi rendah apalagi industri skala kecil.Penggunaan teknologi acid clay yang berinvestasi rendah sangat tidak ramah lingkungan walaupun dapat dilakukan untuk industri skala kecil. Adanya produk sampingan pada proses acid clay yaitu tar ( sludge ) yang sangat berbahaya pada lingkungan dan mengandung asam sulfat. Teknologi pengolahan limbah pelumas untuk skala kecil dengan resiko pencemaran lingkunagn yang kecil untuk proses daur ulang pelumas bekas dapat memanfaatkan metode ekstraksi detergen, yaitu memberikan perlakuan awal terhadap limbah pelumas sehingga kandungan logam baik organik maupun anorganik dalam limbah dapat diturunkan, sehingga kebutuhan asam sulfat menjadi lebih minim atau ditiadakan. Beberapa penelitian untuk menurunkan kandungan logam dalam limbah pelumas bekas dengan pelarut air atau pelarut aktif permukaan menunjukkan adanya pengaruh yang

positif. Untuk limbah yang kandungan tar masih banyak maka penggunaan asam sulfat adalah suatu kepastian. Teknologi ini belum populer tetapi dapat dicoba sebagai titik awal untuk daur ulang pelumas bekas yang berinvestasi skala kecil dengan visi ramah lingkungan.

Pakde jongko 08176540345

Daftar isi
1. 2. i. ii. iii. 3. i. ii. iii. 4. i. ii. 5. i. ii. iii. 6. Lampiran 1. Istilah 2. Glossary Daftar pustaka Definisi limbah Latar belakang Potensi Minyak pelumas bekas Karateristik minyak pelumas Metode rerefining minyak pelumas bekas Minyak pelumas Asal muasal Tipe dan jenis minyak pelumas Aplikasi minyak pelumas Teknologi penjernihan minyak pelumas Acid clay treatment Ekstraksi detergen Aplikasi produk konversi ke bahan bakar cair minyak bakar bahan bakar emulsified Quality kontrol

1. Definisi limbah
1. Limbah Pengertian limbah menurut PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 : a. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan b. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. 2. Proses daur ulang a. Recycling (daur ulang) ; dalam teknologi penjernihan

perolehan kembali oli (minyak lumas) yang sudah tidak dapat / sesuai dengan kegunaannya untruk diproses agar dapat kembali menjadi oli yang bermanfaat. ASTM 1988 b. Reclaiming ; penggunaan metode pembersihan selama proses daur ulang khususnya untuk menghilangkan kotoran yang tidak larut yang akan membuat oli sesuai untuk penggunaan dan selanjutnya c. metode tersebut meliputi settling, heating, dehydration, filtrator dan certifuging. Re-Refinig (penjernihan) ; penggunaan proses penjernihan untuk pelumas Re-refining meliputi distilasi, selama recycling (daur ulang) untuk mendapatkan base stock yang kualitas tinggi hydrotreating, lempung dan atau bahan kimia lain.

2. Minyak pelumas
1.Asal muasal minyak pelumas
Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.

Gambar 1.1 flow diagram pengolahan bahan bakar minyak Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll. Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.

Empat alkana teringan- CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana) - semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C, dan -0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F). Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah C10 Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di antara C16 sampai ke C20. Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari "lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal. Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:

Gambar 1.2 flow diagram asal minyak pelumas
• • •

minyak eter: 40 - 70 °C (digunakan sebagai pelarut) minyak ringan: 60 - 100 °C (bahan bakar mobil) minyak berat: 100 - 150 °C (bahan bakar mobil)

minyak tanah ringan: 120 - 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga) kerosene: 150 - 300 °C (bahan bakar mesin jet) minyak gas: 250 - 350 °C (minyak diesel/pemanas) minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin) sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu

• • • •

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.

2.Tipe dan jenis minyak pelumas

Gambar 1.3 berbagai macam minyak pelumas yang beredar dipasaran Saat ini banyak dijumpai beragam jenis pelumas yang semuanya didasarkan atas penggunaan dan klasifikasi. Jenis-jenis pelumas tersebut dibedakan menurut sifat-sifat fisika maupun kimia dari komponen penyusunnya baik minyak dasar (base oil) ataupun aditif. Sifat fisika dan kimia dari campuran

kedua komponen inilah yang akan menentukan unjuk kerja pelumas secara keseluruhan. Dengan demikian keragaman jenis pelumas ditentukan dari komponen-komponen penyusun pelumas sesuai dengan spesifikasi kegunaan pelumas tersebut. Berdasarkan jenis base oilnya minyak pelumas diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : • Minyak pelumas mineral • Minyak pelumas sintetis • Minyak pelumas semisintetis Sebenarnya base oil ini mempunyai segala kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam pelumasan. Tanpa aditifpun, sebenarnya minyak dasar sudah mampu menjalankan tugas-tugas pelumasan. Namun unjuk kerjanya belum begitu sempurna dan tidak dapat digunakan dalam waktu lama. 1. PELUMAS MINERAL Pelumas mineral adalah semua pelumas yang dihasilkan dari refinery minyak bumi. Yaitu dari pengolahan lanjut long residue yang merupakan fraksi berat hasil destilasi minyak mentah jenis parafinik ataupun naphtenik. Disebut long residue karena residu ini masih dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan base oil. Pengolahan long residue menjadi base oil yang populer dilakukan adalah melalui proses Solvent Refining. Tahapannya adalah sebagai berikut : a. High Vacuum Distillation Dalam proses ini, fraksi long residue di destilasi di dalam kolom yang bertekanan rendah atau vakum. Tujuan dari proses ini adalah untuk memisahkan fraksi minyak pelumasnya. Fraksi-fraksi lanjutan yang dihasilkan dalam distilasi vakum ini berturut-turut adalah : • SPO (Spindle Oil) • LMO (Light Machine Oil) • MMO (Medium Machine Oil)

• BO (Black Oil) atau Short Residue (SR) Unit yang melaksanakan proses ini disebut High Vacuum Unit (HVU). Pada prinsipnya HMU tidak berbeda dengan proses distilasi biasa, dimana pemisahan fraksi demi fraksi dilakukan berdasarkan titik didih masing-masing hidrokarbon dalam fraksi tersebut. Karena long residue memiliki titik didih tinggi maka pelaksanaannya harus dilakukan dengan tekanan hampa (vakum). b. Furfural Extraction Furfural adalah solven yang berfungsi memisahkan komponen base oil dari komponen yang tidak dikehendaki berdasarkan perbedaan kelarutan tiap-tiap komponen tersebut. Pemisahan dengan solven furfural inilah yang menyebabkan keseluruhan proses pengolahan ini disebut Solvent Refining. Proses ini bertujuan untuk menaikkan indeks viskositas dari destilat pada HVU melalui penghilangan senyawa aromat yang memiliki indeks viskositas rendah, peningkatan mutu dan kestabilan terhadap oksidasi sekaligus mengurangi kemungkinan terbentuknya lumpur (sludge), deposit karbon, dan varnish. Unit yang melaksanakan proses ini disebut FEU (Furfural Extraction Unit). c. Prophane Deasphalting Proses ini dimaksudkan untuk mengambil senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki dalam black oil atau short residue, fraksi terberat pada HVU. Proses yang digunakan adalah ekstraksi menggunakan propane dan akan menghasilkan residu dengan BM besar seperti Asphalt dan Resin. Kandungan asphalt ini perlu dipisahkan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan asphalt dan fraksi minyak pelumasnya sebagai Deasphalted Oil (DAO). Ekstrak yang terjadi akan dimasukkan ke FEU. Unit yang melaksanakan proses ini adalah Propane Deasphalting Unit (PDU).

d. Dewaxing Digunakan untuk menghilangkan wax, sehingga pour point dari base oil yang dihasilkan dapat diturunkan hingga 5 – 15°F. Pelarut yang digunakan dalam proses ini adalah MEK (Metil Etil Keton). Proses dewaxing dilakukan pada suhu 10 – 25°C sehingga lilin akan mengkristal dan dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa. Filtrat yang diperoleh adalah produk akhir dari base oil. e. Finishing Tahap ini dilakukan untuk memperbaiki warna minyak pelumas dan stabilitas pelumas. 2. PELUMAS SINTETIS Minyak pelumas sintetis dibuat dari hidrokarbon yang telah mengalami proses khusus. Khusus yang dimaksud adalah bahwa minyak ini dibuat tidak hanya sama dengan minyak mineral akan tetapi melebihi kemampuan minyak mineral. Melalui proses kimia dihasilkan molekul baru yang memiliki stabilitas termal, oksidasi dan kinerja yang optimal. Sehingga harga minyak sintetis lebih mahal daripada minyak mineral. Pada kenyataannya minyak pelumas sintetis memang lebih unggul dalam unjuk kerja, baik respon terhadap mesinnya maupun umur pemakaiannya. Hal ini dikarenakan pembuatan minyak pelumas sintetis dirancang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Untuk itu pemilihan minyak pelumas yang tepat sangatlah penting. Dalam pembuatannya minyak pelumas sintetis dikontrol struktur molekulnya dengan sifat-sifat yang dapat diprediksi. Adapun jenis minyak sintetis yang banyak digunakan adalah sebagai berikut : a. Diester Diester merupakan salah satu bahan yang menonjol dari minyak pelumas sintetis. Diester mempunyai struktur yang paling sederhana untuk digunakan sebagai minyak pelumas. Bahan ini banyak digunakan sebagai minyak pelumas

atau pelumas gemuk yang mempunyai titik penguapan rendah pada mesin gas turbin. Diester diperoleh dari reaksi sintesa produk minyak bumi, dan sebagian dari lemak binatang dan minyak tumbuh-tumbuhan. Keuntungan diester adalah mempunyai viskositas yang relatif konstan terhadap suhu yang cukup baik, penguapannya sangat rendah, dan mempunyai stabilitas thermal yang bagus. Biasanya bahan ini tidak korosif terhadap logam, tidak beracun dan stabil terhadap hidrolisa. Sifat yang merugikan dari bahan ini adalah dapat bereaksi terhadap karet. Karena sifat fire-resistant dan stabilitas oksidasinya, maka pelumas diester banyak dipakai untuk kompresor udara. b. Fosfat Ester Fosfat ester telah lama digunakan sebagai aditif di dalam minyak pelumas mineral sebagai pelindung terhadap terjadinya pelumasan batas. Fosfat ester merupakan senyawa biodegradable yang disintesa dari komponen yang didapat dari coal tar. Karena natural ester merupakan campuran yang komplek dan sering mengandung ortho cresol yang beracun, maka diupayakan untuk mensintesa ester dengan bahan kimia murni untuk membentuk minyak dasar sintetis yang tidak mengandung cresol yang beracun. Sehingga natural ester dikombinasikan dengan fosfat. Fosfat ester memberikan ikatan yang cukup mantap dan stabil secara kimia yang memungkinkan untuk digunakan sebagai komponen utama dari minyak pelumas sintetis. Disamping itu fosfat ester biasa digunakan sebagai aditif EP. Stabilitas terhadap oksidasi dari bahan ini cukup baik yaitu sampai dengan F. Penggunaannya yang utama adalah sebagai minyak hidrolik di dalam pesawat°300 udara karena memberikan sifat anti api yang baik. c. Ester Silikat Mempunyai IV yang tinggi yaitu 150 – 200 dan mempunyai penguapan yang rendah. Ketahanan terhadap oksidasi pada suhu tinggi tidak begitu baik, tetapi hal ini dapat diperbaiki dengan penambahan aditif. Ester silikat tidak korosif

terhadap logam, plastik maupun karet. Tetapi pada suhu yang tinggi akan mengeraskan karet. d. Glikol Polialkilena Dan Turunannya Aplikasi dari glikol polialkilena (polieter) sangat luas yaitu sebagai pelumas pada motor bakar, roda gigi, kompressor, pompa. Bahan ini tidak begitu mahal dan mudah diperoleh di pasaran. e. Silikon Silikon merupakan minyak pelumas sintetis yang mempunyai bermacam-macam tingkat viskositas, yang tergantung pada panjang pendeknya rantai dari ikatan molekulnya. Silikon disintesa dari pasir (SiO2). Sifat yang paling menonjol dari silikon ini adalah memberikan kurva viskositas dengan suhu yang mendatar. Silikon memberikan ketahanan oksidasi yang baik pada suhu biasa, tetapi cenderung membentuk gel pada saat mengoksidasi sehingga tidak tepat digunakan sebagai minyak pelumas mesin turbin pesawat udara. f. Khlor Dan Fluor Hidrokarbon Sifat utama dari senyawa ini adalah dapat memberikan respon yang baik sebagai aditif EP dan low flammability. Aktifitas yang tinggi dari atom khlor dapat terbebaskan pada kondisi beban yang berat dan suhu tinggi. Dan hal ini menghasilkan produk yang korosifitasnya tinggi dan beracun sehingga penggunaannya dalam industri dibatasi. g. Poly Alkyl Glykol Produksi komersialnya dibuat sekitar tahun 1930 an sebagai penganti castor oil pada rem mobil. Polyalkylglycol dibuat dengan reaksi polimerisasi menggunakan katalis. Reaksi dapat dikontrol untuk mendapatkan range viskositas 8 – 19000 cSt. Biasa digunakan di industri baja dan tekstil. Semua

polyalkylglycol dapat menyerap air dari atmosfer sehingga harus dijaga dari kemungkinan kontaminasi. Akan tetapi kandungan air sampai 5% masih dapat ditoleransi. Pada temperatur rendah polyalkylglycol mempunyai karakteristik yang bagus, tetapi C membutuhkan aditif untuk meningkatkan°pada temperatur tinggi sampai 250 stabilitas thermalnya. Pelumas sintetis ini tidak dapat digunakan di atas temperatur tersebut. Polyalkylglycol mempunyai karakteristik yang bagus sekali pada viskositas 160 – 400 yang tergantung sekali pada cara memproduksinya. Polyalkylglycol sangat rentan terhadap oksidasi sehingga perlu ditambahkan aditif antioksidan. Umur pemakaian aditif pada polyalkylglycol lebih lama bila dibandingkan dengan mineral oil pada kondisi yang sama. Polyalkylglycol lebih polar sintetis ini tidak dapat digunakan di atas temperatur tersebut. Polyalkylglycol mempunyai karakteristik yang bagus sekali pada viskositas 160 – 400 yang tergantung sekali pada cara memproduksinya. Polyalkylglycol sangat rentan terhadap oksidasi sehingga perlu ditambahkan aditif antioksidan. Umur pemakaian aditif pada polyalkylglycol lebih lama bila dibandingkan dengan mineral oil pada kondisi yang sama. Polyalkylglycol lebih polar dibandingkan dengan senyawa ester, dan cocok sekali untuk seal dan plastik. Tetapi tidak untuk cat. h. Poly Alpha Olefin Polyalphaolefin dibuat pertama kali di Jerman pada masa Perang Dunia Kedua untuk menghemat pemakaian minyak mineral. Dan ternyata memberikan unjuk kerja pada range temperatur yang luas. Polyalphaolefin merupakan hidrokarbon sintetis, tidak seperti hidrokarbon pada minyak pelumas mineral. Karena polyalphaolefin merupakan cairan kimia murni yang dibuat dari polimerisasi katalitik ethylene. Produk yang dihasilkan dipisahkan dari komponen yang reaktif dan selanjutnya dipisahkan sesuai dengan viskositasnya. Dengan penambahan sedikit aditif antioksidan, polyalphaolefin menjadi lebih stabil bila dibandingkan dengan minyak mineral pada temperatur yang sama. Polyalphaolefin menunjukkan lebih tahan bereaksi dengan air bila dibandingkan

dengan minyak mineral dan minyak sintetis yang lain. Polyalphaolefin juga sangat cocok bila diblending dengan minyak mineral. Sifat PAO yang menonjol adalah sebagai berikut : - Titik tuangnya rendah - Volatilitasnya rendah - Good software compatibility - Stabilitas thermalnya bagus - Hidrolytic stability - Merupakan bahan kimia yang inert - Daya pelumasannya bagus Karenan PAO mempunyai titik tuang yang rendah, maka PAO digunakan pada kompressor pendingin, kompressor amonia dan kompressor fluorokarbon. i. Polyolester Sangat cocok digunakan untuk pelumasan batas. Mempunyai IV yang tinggi bila dibandingkan dengan minyak mineral. Mempunyai stabilitas thermal dan membuat mesin menjadi lebih bersih dan lebih sedikit depositnya. Volatilitasnya paling rendah dibandingkan dengan minyak pelumas sintetis yang lain. Polyolester dengan C hanya menguap sekitar 2 %. Polyolester relatif°viskositas 4,4 cSt pada 100 biodegradable tetapi prosesnya sangat lambat dibawah kondisi normal. Produk yang dihasilkan tidak beracun. Keuntungan polyolester adalah dapat digunakan dengan nitril rubber, yaitu tipe yang paling umum digunakan dengan minyak mineral. Juga sangat compatible apabila dicampur dengan minyak pelumas mineral. Banyak digunakan di berbagai industri. Hampir semua aditif larut dalam polyolester (POE). Dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan minyak pelumas sintetis lain atau minyak pelumas mineral. POE mempunyai high temperatur properties yang sangat bagus dan mampu meningkatkan properties pelumas melebihi diester. Aplikasi penggunaan POE :

- Minyak kompresor - Minyak turbin dan minyak hidrolik - Minyak gear - Pelumas bearing - Pelumas EP (Extreme Pressure) untuk boundary lubrication Keuntungan Miyak Pelumas Sintetis Meskipun harganya relatif lebih mahal, namun minyak pelumas sintetis dewasa ini lebih banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena : a. Umur pemakaiannya lebih lama karena meningkatkan stabilitas thermal (VI tinggi) dan tahan oksidasi. Keuntungannya : oli yang digunakan lebih sedikit, pemakaian filter awet, mengurangi pengeluaran. b. Mengurangi konsumsi oli karena volatilitasnya lebih rendah dan densitas lebih tinggi. c. Mempunyai spesifikasi yang dibutuhkan pemakai. d. Pengoperasiannya lebih aman karena flash pointnya lebih tinggi. Sehingga ongkos perawatan lebih rendah, penggantian spare part lebih sedikit. e. Sifat-sifatnya dapat diprediksi karena karakteristik produknya uniform. 3. PELUMAS SEMI SINTETIS Diperoleh dengan cara mencampur (blending) antara pelumas sintetis dengan pelumas mineral. Sehingga diperoleh kombinasi dari 2 sifat komponen penyusunnya. Dari unjuk kerja jelas lebih baik dari pelumas mineral. Namun harganya juga jauh lebih kompromi dengan keuangan kita daripada harga pelumas sintetis yang sangat mahal.

3.Aplikasi dan fungsi minyak pelumas
Minyak pelumas mesin atau yang lebih dikenal dengan nama oli atau oli mesin memang banyak ragam dan macamnya. Bergantung jenis penggunaan mesin itu sendiri yang membutuhkan oli yang tepat untuk menambah atau mengawetkan usia pakai (life time) mesin. Semua jenis oli pada dasarnya sama. Yakni sebagai bahan pelumas agar mesin berjalan mulus dan bebas gangguan. Sekaligus berfungsi sebagai pendingin dan penyekat. Oli mengandung lapisan-lapisan halus, berfungsi mencegah terjadinya benturan antar logam dengan logam komponen mesin seminimal mungkin, mencegah goresan atau keausan. Untuk beberapa keperluan tertentu, aplikasi khusus pada fungsi tertentu, oli dituntut memiliki sejumlah fungsifungsi tambahan. Mesin diesel misalnya, secara normal beroperasi pada kecepatan rendah tetapi memiliki temperatur yang lebih tinggi dibandingkan dengan Mesin bensin. Mesin diesel juga memiliki kondisi kondusif yang lebih besar yang dapat menimbulkan oksidasi oli, penumpukan deposit dan perkaratan logam-logam bearing. Fungsi-fungsi dasar pelumas tentu saja adalah mengurangi gesekan dan mencegah wear. Dalam realitanya, pelumas harus juga dapat memenuhi faktor lainnya yang juga vital dalam pengoperasian peralatan. Mercedes-Benz sebagai manufaktur otomobil dan engine telah membuat list, lebih dari 40 sifat-sifat yang diperlukan agar dapat memenuhi persyaratan sebagai engine oil. Minyak pelumas yang khusus seperti minyak hidrolik dan minyak transmisi juga mempunyai persyaratan lainnya yang harus dipertimbangkan, sedangkan produk padatan atau semi-padatan seperti gemuk juga mempunyai persyaratan khusus dan diukur dengan cara yang lain pula. Sifat-sifat pelumas yang diharapkan yaitu dapat menimbulkan aspek positif (seperti mencegah wear dll.) sedangkan sifat yang tidak diharapkan yaitu menimbulkan aspek negatif (seperti minyak menyebabkan bagian-bagian engine terkorosi dll.). Sifat-sifat positif pelumas secara praktis untuk pelumasan

kendaraan adalah sebagai berikut: Mengurangi gesekan - Dengan mengurangi gesekan berarti akan mengurangi juga energy dan juga mengurangi pemanasan lokal. Mengurangi wear - Adalah suatu kebutuhan menjaga peralatan agar tetap bisa beroperasi untuk periode yang lama dan bekerja secara efisien. Pendingin - Di dalam engine, pelumas juga berfungsi sebagai zat penukar panas antara bagian-bagian yang terpanasi akibat pembakaran (misal: piston) dan sistem pelepas panas (misal: jacket pendingin dll.). Pada sistem yang lain, pelumas sebagai pelepas panas dari hasil gesekan atau kerja mekanik lainnya. Anti korosi - Baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil pembakaran, pelumas bisa bersifat asam dan menjadikan korosi pada logam. Adanya uap air dapat juga menyebabkan karat pada besi. Oleh sebab itu pelumas harus bisa menanggulangi efek-efek tersebut. Pembersih - Pelumas juga sebaiknya bisa mencegah terjadinya fouling serpihan-serpihan yang dihasilkan dari proses mekanis, dari hasil degradasi pelumas itu sendiri maupun dari hasil proses pembakaran. Apa yang disebut deposit adalah seperti karbon padat, varnish atau endapan. Ini dapat mengganggu pengoperasian alat. Kasus ekstrem adalah ring piston tidak bisa bergerak, dan aliran minyak tersumbat, hal ini bisa terjadi jika minyak pelumas tidak mampu mencegah hal ini. Pencegahan deposit dan juga dispersi kontaminan termasuk dalam kategori ini. Seal - Minyak pelumas seharusnya dapat juga menjadi seal antara piston dan silinder (piston ke ring dan ring ke dinding silinder). Untuk mendapatkan fungsifungsi tersebut di atas berdasarkan tinjauan ekonomi, pelumas haruslah mempunyai sifat-sifat tertentu sesuai dengan alat dimana pelumas itu digunakan. Perlu ada kesesuaian antara persyaratan-persyaratan yang saling bertentangan, beberapa batasan negatif terangkum sebagai berikut dibawah ini, pelumas tidak boleh: Mempunyai viskositas yang terlalu rendah. Hal ini akan memungkinkan kontak antara logam dengan logam menyebabkan terjadinya wear serta dapat meningkatkan lepasnya/hilangnya pelumas. Mempunyai viskositas yang terlalu tinggi. Hal ini akan meningkatkan tenaga

dan, dalam kasus engine, dapat menyulitkan pada saat start. Mempunyai indeks viskositas yang terlalu rendah. Hal ini berarti bahwa lapisan film pelumas tidak terlalu tipis pada saat temperatur tinggi (atau tidak terlalu tebal pada saat temperatur rendah). Terlalu mudah menguap. Tingkat penguapan tinggi (high volatility) akan menyebabkan tingkat konsumsi pelumas naik akibat teruapkannya kandungan ringan dari pelumas tersebut. Berbusa saat digunakan. Jika berbusa, minyak akan kehilangan sifat pelumasannya, dan/atau berkurangnya minyak itu sendiri dari engine. Menjadi tidak stabil karena terhadap oksidasi ataupun reaksi kimia. Pelumas engine ditujukan untuk temperatur tinggi dan juga mencegah kontaminasi asam atau zat kimia lainnya. Minyak pelumas haruslah tahan terhadap hal ini agar pelumas tersebut tetap awet. Merusak komponen sistem emisi, coating ataupun seal. Unjuk kerja konverter katalis dapat terdegradasi oleh pelumas yang tidak stabil atau menggunakan additive yang tidak sesuai. Beberapa peralatan menggunakan cat atau coating dan kebanyakan mempunyai sifat sebagai seal. Bahan-bahan ini dapat terdegradasi secara serius oleh pelumas. Menghasilkan deposit dari residu. Jika minyak pelumas mengalami dekomposisi karena adanya logam yang padas (misalnya; ring dalam suatu zona). Kondisi seperti ini dapat menghasilkan produk-produk oksidasi yang berpolimerisasi membentuk lapisan kuning atau cokelat yang diketahui sebagai "varnish" atau "lacquer". Ini lama-lama akan bertambah terus dan kemudian terjadi karbonisasi sehingga menjadi Carbon padat. Deposit ini akan menggangu gerak pada bagian yang seharusnya bisa secara bebas gerakannnya (misal, ring piston). Selain tidak memproduksi deposit pada bagian yang bergerak engine, pelumas juga sebaiknya tidak menghasilkan deposit di ruang pembakaran. Ini mendorong terjadinya penyulutan awal (pre-ignition). Beracun atau bau tak sedap. Hal ini diperlukan untuk kenyamanan dan kesehatan pengguna

3. Minyak pelumas bekas
1.Potensi Minyak pelumas bekas
Minyak pelumas berfungsi sebagai pencegah keausan akibat gesekan komponen mesin, pendingin, perapat, peredam suara dan mencegah korosi. Dalam menjalankan fungsinya setelah jangka waktu tertentu minyak pelumas harus diganti karena tidak lagi memenuhi spesifikasi yang diperlukan oleh mesin. Sejalan dengan lajunyan pembangunan, makin banyak diperlukan alat transportasi dan mesin-mesin yang membutuhkan minyak pelumas. Hal ini berarti pula makin banyaknya jumlah minyak pelumas bekas yang dihasilkan. Apabila minyak pelumas bekas tersebut langsung dibuang, tentu saja akan mencemari lingkungan karena dalam minyak pelumas bekas terkandung kotoran-kotoran logam, aditif, sisa bahan bakar dan kotoran yang lain. Jika minyak pelumas bekas dipakai dalam pembakaran langsung akan mencemari lingkungan karena bau dan sisa karbonnya.

Gambar 1. Proses Minyak Pelumas Bekas sampai Produk Akhir Dalam perkembangan masyarakat juga dibidang kendaraan dan industri masalah minyak pelumas bekas tidak dapat dianggap masalah yang ringan. Sebelum mengulas beberapa teknik dalam produksi pelumas dari oli bekas, adalah sangat baik apabila memahami manfaat dari penjernihan kembali oli bekas sampai produk akhir.

Sesuai dengan prosedur standart setiap tahun berton-ton oli bekas terkumpul. Prosedur yang baik dan profesional dalam mengolah oli bekas, yaitu dengan memilih antara lain : 1. Meninggalkan oli bekas dalam lingkungan kita apa adanya. 2. Membuat oli bekas sebagai bahan bakar. 3. Penjernihan kembali oli bekas dan memproduksi base oli.

2.Karateristik minyak pelumas bekas
Membuang oli bekas dalam sekejap akan mempolusi lingkungan kita. Polutan dalam oli yang tak larut akan sangat merusak. Adalah sangat bijak apabila kita menjernihkan kembali oli bekas agar tidak merusak lingkungan. Oli bekas dapat diubah menjadi base oli dengan menghilangkan subtansi seperti air, senyawa hidrokarbon ringan, abu dan asphalt. Setelah filtrasi pertama penyesuaian yang kedua adalah penentuan nilai. 1. Viskositas yang sesuai 2. Viskositas indek yang sesuai 3. Low dropping point 4. pH 5. Colour (warna) Secara teknis minyak pelumas yang diperoleh dari proses penjernihan kembali lebih superior daripada oli yang berasal dari base oli. Dengan penjelasan bahwa dalam base oli orisinil ada banyak ikatan molekul yang lemah. Dalam mesin dengan temperatur tinggi dapat memutuskan ikatan molekul tersebut. Oli penjernihan kembali akan mempunyai molekul yang lebih kuat karena telah lolos melewati proses break down dalam mesin tersebut. Kontaminasi Kontaminasi terjadi dengan adanya benda-benda asing atau partikel pencemar

di dalam oli. Terdapat delapan macam benda pencemar biasa terdapat dalam oli yakni 1. Keausan elemen. Ini menunjukkan beberapa elemen biasanya terdiri dari tembaga, besi, chrominium, aluminium, timah, molybdenum, silikon, nikel atau magnesium. 2. Kotoran atau jelaga. Kotoran dapat masuk kedalam oli melalui embusan udara lewat sela-sela ring dan melaui sela lapisan oli tipis kemudian merambat menuruni dinding selinder. Jelaga timbul dari bahan bakar yang tidak habis. Kepulan asam hitam dan kotornya filter udara menandai terjadinya jelaga. 3. Bahan Bakar 4. Air. Ini merupakan produk sampingan pembakaran dan biasanya terjadi melalui timbunan gas buang. Air dapat memadat di crankcase ketika temperatur operasional mesin kurang memadai. 5. Ethylene gycol (anti beku) 6. Produk-produk belerang/asam. 7. Produuk-produk oksidasi Mengakibatkan oli bertambah kental. Daya oksidasi meningkat oleh tingginya temperatur udara masuk. 8. Produk-produk Nitrasi. Nitrasi nampak pada mesin berbahan bakar gas alam Tabel 3. 1Kadar logam dalam minyak pelumas menurut sumber asalnya. No 1 2. Sumber Asalnya Piston Ring Piston Unsur Logam Aluminium, copper dan iron Chromium, Nickel, Molybdenum Aluminium, Antimon, Cadmium, Cobal, Copper, Lead, Magnesium, Silver, Tin, Zinc Chromium, Iron Simbol Al, Cu, Fe. Cr, Ni, Mb

3.

Bantalan

Al, Sb, Cd, Co, Cu, Pb, Mg, Ag, Sn, Zn.

4.

Silinder Liner

Cr, Fe

3.Metode rerefining minyak pelumas bekas
Beberapa cara pemulihan kembali minyak pelumas bekas yang digunakan untuk industri , antara lain ; 1. Acid clay treating. Minyak pelumas bekas ditreating dengan asam sulfat pekat yang berguna untuk mengendapkan kotoran yang ada sehingga kotoran tersebut dapat dibuang. Selanjutnya di treating dengan clay yang berguna untuk menyerap aroma yang masih tertinggal didalam minyak oli bekas. Proses ini sederhana dengan biaya relatif murah. Kelebihan ; a) Sudah sejak lama dan sangat populer proses acid clay digunakan untuk recycling oli bekas, merupakan teknologi yang sudah terbukti dipakai bertahun tahun diseluruh dunia. Dapat diset up untuk kapasitas yang kecil. b) Modal investasinya rendah, membuatnya menjadi sangat efektif untuk plant skala kecil dan menengah. c) Prosesnya sangat sederhana, mudah dioperasikan, tidak ada peralatan yang rumit dan tidak membutuhkan operator ahli. Kekurangan a) Menyebabkan polusi lingkungan disebabkan munculnya acid sludge ( lumpur asam ) dan emisi gas asam. Buangan lumpur asam adalah masalah. b) Menyebabkan korosi peralatan akibatnya mengurangi umur pakainya. c) Hasilnya lebih sedikit. Disebabkan hilangnya oli dalam lumpur, apalagi jika dibutuhkan lumpur yang lebih banyak.

d) Kebanyakan pemerintahan sudah membuat peraturan melarang proses tersebut untuk mengontrol polusi lingkungan. Oleh karena itu proses ini tidak dipakai lagi.

2.

Detergent Extraction.

Mengunakan konsumsi air yang sangat banyak untuk mencuci pelumas bekas sehingga kandungan kontaminan yang berujud logam dapat dipisahkan. Penambahan surfaktan atau detergen agar diperoleh bentuk emulsi yang stabil. Emulsifier yang digunakan ABS, texafon, tepool dan lain lain. Untuk memecah emulsi digunakan CaCl. Proses ini serupa dengan memecah santan kelapa menjadi minyak dan blondo, untuk memecah emulsi disamping digunakan bahan kimia digunakan proses fisika juga, yaitu dengan mengalirkan sejumlah minyak yang teremulsi melewati sepasang logam yang bermuatan listrik maka akan terpisahkan dua komponen minya yang jernih dan air yang sudah mengandung kotoran. 3. Clay Distillation

Minyak pelumas bekas didestilasi vacum sehingga diperoleh lumpur, lube oil distillate, light oil, air. Lube oil distillate diproses lagi dengan clay treating agar diperoleh lube oil stock (base oil). Kelebihan a) Sangat sesuai digunakan untuk plant kapasitas tinggi b) Layak dioperasikan pada vakum tinggi dan biasanya digunakan untuk produk yang berharga dan sensitif terhadap panas. c) Tidak menyebabkan polusi. d) Sophisticated Equipments & Process e) Menghasilkan base oil kualitas tinggi. kekurangan:

a) Pengoperasian pada temperatur dan vakum yang tinggi membutuhkan sistem pemanasan dan fluida pemanas yang khusus. b) Membutuhkan investasi modal yang sangat tinggi. c) Plant harus yang berkapasitas sangat besar agar bisa mendapatkan keuntungan. d) Membutuhkan operator dan staf ahli yang sangat berpengalaman. e) Beaya bahan bakar yang lebih mahal. Disebabkan multiple stage distilasi yang meliputi pemanasan dan pendinginan. 4. Hydrotreating

Prinsipnya sama dengan clay distillation, hanya setelah distilasi vacum lube oil distillate diproses lagi dengan proses hydrotreating.

4. Teknologi penjernihan minyak pelumas
A. Acid clay treatment

Oli bekas dilewatkan dalam suatu suatu filter untuk memisahkan partikelpartikel yang besar dari oli bekas. Kemudian oli dilewatkan dalam filter magnit yang dapat menghilangkan partikel-partikel logam. Selanjutnya oli bekas dimasukkan dalam suatu reaktor untuk memisahkan gas dan air dari oli bekas. Setelah oli terpisah dari air kemudian oli masuk dalam tahap pengasaman yaitu oli bekas dicuci dengan asam sulfat pekat, manakala terjadi pemisahan antara tar (sludge) dan oli bagian atas oli yang mulai jernih ditransfer ke treatment lempung (clay). Pada tahap ini lempung (clay) digunakan untuk memudarkan warna minyak dan menghilangkan kelebihan asam selain itu juga untuk menyerap partikel-partikel karbon yang ada dalam minyak, kemudian oli dipompa dilewatkan dalam filter pres yang hasilnya merupakan base oli yang telah jernih dan dapat digunakan untuk produksi minyak mesin, minyak transmisi, minyak industri serta stempet. Penambahan asam sulfat dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang berupa hasil oksidasi pada temperatur tinggi, hasil cracking dan senyawa aroamtis lainnya. Kotoran tersebut akan bereaksi dengan asam sulfat dan membentuk lumpur (sludge) di bagian bawah. Sisa asam dan kotoran akan diserap pada clay treatment pada proses berikutnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi acid tretment : 1 Jumlah asam sulfat yang dipakai Pemakaian asam sulfat harus sesuai dengan kebutuhan. Semakin banyak asam sulfat yang dipakai semakin banyak pula senyawa aromatis dan hydrokarbon tak jenuh yang dihilangkan.

2

Konsentrasi asam sulfat Untuk minyak lumas bekas dipakai asam sulfat pekat dengan kadar kosentrasi 96 % teknis.

3

Temperatur Untuk minyak pelumas bekas suhu operasi pengendapan sekitar 43 – 82o C. apabila suhu rendah settling akan lama, tetapi bila suhu tinggi akan menimbulkan warna lebih gelap.

4

Waktu kontak Untuk mencari waktu kontak yang baik harus diketahui ukuran dispersi dari sludge dan waktu yang diperlukan untuk memisahkan sludge dari minyak. Untuk minyak pelumas diperluakan waktu 10 menit, jika dilakukan dengan proses kontinyu. Bila dilakukan dengan secara batch disertai dengan pengadukan waktu yang dibutuhkan + 90 menit.

1. Diagram Alir Proses Acid Clay. No 1 Proses Keterangan Penampunagan minyak pelumas bekas

2

Filter kasar digunakan untuk memisahkan minyak pelumas bekas dari pengotor yang besar, plastik , kayu, batu dll

3

Dewatering untuk memisahkan minyak pelumas bekas dari dari air yang ada didalamnya. Pemanasan sampai 120 der celsius

4

Cooling, untuk mendinginkan minyak pelumas sampai suhu kamar. Jika masih panas masuk proses acid treatment bisa meledak.

Acid treatment, asam sulfat ditambahkan kedalam tempat pencampuran. Oli 1 drum, 10 sd 20 kg asam sulfat, diputar selama 1 jam, 500 rpm

Decantasi, pengendapan. Penambahan asam sulfat digunakan untuk mengendapkan kandungan logam yang ada dalam minyak pelumas bekas, bagian atas yang jernih diambil untuk proses berikutnya.

Bagian bawah tempat pengendapan dijadikan satu, untuk dikumpulkan lumpurnya ( sludge ). Sludge sangat berbahaya karena mengandung asam sulfat pekat. Dadap diproses menjadi aspalt asam.

Clay treatment, Oli 1 drum, bentonite 1 sak ( 25 kg ), diputar selama 1 jam, 500 rpm, tempertur 150 der celsius

Filter press, Bentonit berguna untuk mengikat kandungan karbon ( ash ) yang ada dalam oli. Setelah melalui filter press oli menjadi sangat jernih

Penampungan sementara, Dari filter press oli masuk ke penampunagn sementara

Mixer yang digunakan untuk mengubah performan dari oli, penambahan paerfum aditif, pewarna dilakukan dlam mixer tersebut

Packaging

Tambahan Alat yang digunakan untuk memperbaiki drum yang rusak

2. Site Plant (Denah Lokasi) 1.Lay out bangunan pabrik

W

C
1 5 T N 4

2

1

1

2

3

9

A T

E

L

A K

1

I K

2

0 5

4

6 1 7 7

G B

U E

N

D

T

A

O

N

N

G

1 1 I T

8

1 1 1 3 1 2 1

8 9 1 0

6

Keterangan Gambar : 1.Sampai 3, Settling oil setelah treament H2SO4 4 mixer acid treatment 5 mixer clay treatment 4 drim 6 & 7 tenki pendinginan minyak 8 dewatering

9 genset 10 gudang oli bekas 11 filter pres 12 gudang base oli 13 gudang bentonit 14 gudang alat teknik 15 WC 16 Kantor 17 tanki penyimpan minyak tanah 18 kompresor angin 19 alat pemadam kebakaran 20 mixer clay treatment 40 drim 21 gas purification 2.Lay out bangunan dan areal pabrik 4 1

3 2 5

6 Keterangan Gambar : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pintu pabrik Bangunan pabrik Halaman belakang pabrik Kebun Kebun Kebun pabrik

3. Daftar peralatan yang digunakan.

Pretreatment Menghilangkan partikel padat

Alat : 1. Pompa 350 rpm 3 pk 2. Filter kawat kasa 3. Dinamo 3 pk Alat ; 1. Tangki kapasitas 5000 lt 2. Kompor/Burner 3. Thermometer 4. Dinamo 3 pk 5. Pompa 3 pk Alat ; 1. Bak pendingin 2 buah 2. Kipas pendingin 2 buah 3. Dinamo 3 pk 4. Pompa 3 pk Alat : 1. Tangki acid kap. 10 drum 2. Dinamo 3 Pk Alat ; 1. Tangki fiber glass kp. 25 drum 4 buah 2. Pemanas stainless Alat : 1. Tangki 40 drum 2. tangki 4 drum 3. Dinamo 3 pk 2 buah Alat ; 1. Filter press 90 cm 2. Filter press 50 cm 3. Dinamo 3 pk 3 buah 4. Pompa 350 rpm 3 buah Alat ; 1.Tangki kap 10 drum. 2.Dinamo 3 pk 3. Pompa 3 pk Alat ; 1. Tanki besar kap. 5000 lt 2. tanki kecil kap. 400 lt Alat : 2 buah alat peamdam kap. 2 kg Alat :

Menghilangkan air dalam minyak pelumas bekas

Pendinginan oli bekas

Acid Treatment Mixing Acid Treatment settling Clay Treatment Mixing

Filtering

Penampung

Tanki minyak tanah Pemadam kebakaran Packaging

Perawatan tangki

1. Dinamo 2 pk 2. Pompa 3. Drum 200 lt 100 bh Alat ; 1. Press tanki 1 buah 2. Bak pembersih tanki Alat : 1. Timbangan 2. Gelas ukur 3. Gelas reaksi 4. Tempat sample 5. pH meter 6. Mixer 7. pemanas listrik

Laboratorium

Pembangkit listrik

sumebr

daya Alat ; 1. Genset 13 pk 2. Genset 90 kva Alat ; Kompresor angin 3 pk Alat ; 1. Tanki penampung blotong 2. Mixer

Kompresor angin Limbah

3. Treatment terhadap Sludge Pada proses acid treatment maka akan dihasilkan tar (sludge), dalam hal ini sludge merupakan limbah yang sangat berbahaya maka perlu treatment kapur agar limbah tersebut dapat menjadi padat yang mana selanjutnya dapat digunakan untuk bahan bakar gamping. 4. Konversi acid sludge menjadi acid asphalt A process for converting acid sludge to un-oxidized asphalt, comprising: altering the pH of the acid sludge by adding a pH elevating agent to said acid sludge, said pH elevating agent having a pH ranging from 3-14, said volume and pH of said pH elevating agent being sufficient to raise the pH of said acid

sludge to from approximately 3 to approximately 7 such that the acid sludge does not become sandy and un-meltable at temperatures from room temperature up to approximately 275 degrees centigrade, thereby creating an intermediate mixture comprising a layer of liquid and a layer of intermediate sludge having a pH in the range from 3-7, and; separating said liquid layer from said layer of intermediate sludge; and heating said intermediate sludge to a temperature sufficient to evaporate the water content of said intermediate sludge and holding said intermediate sludge at an elevated temperature above the boiling point of water for a time sufficient to evaporate substantially all the water content of said intermediate sludge thereby converting the intermediate sludge to a soft, un-oxidized asphalt. ( US patents 5470455 ) Berikut adalah kumpulan patent dari USPTO ( united state patent office ) merubah acid sludge menjadi bahan lain; 3971713 4029569 4238241 4331481 4559128 5049256 5288392 Process for removing sulfur from crude oil Process for reclaiming spent motor oil Acidic asphaltic composition and method Acidic asphaltic composition and method Method for producing industrial asphalts Recovery of hydrocarbons from acid sludge Process for converting acid sludge to intermediate sludge Jul 27, 1976 Jun 14, 1977 Dec 9, 1980 May 25, 1982 Dec 17, 1985 Sep 17, 1991 Feb 22, 1994

B. Ekstraksi detergen 1. Kandungan logam dalam minyak pelumas bekas Pengolahan minyak pelumas biasanya mencakup beberapa tahap dan setiap tahap bertujuan untuk menghilangkan komponen tertentu yang tidak diinginkan agar didapat bahan minyak pelumas yang memenuhi syarat utama. Persyaratan utama yang harus dipenuhi sebagian bahan dasar minyak pelumas adalah indeks viskositas yang cukup tinggi, titik tuang yang

cukup rendah dan stabilitas terhadap oksidasi. Jenis hydrokarbon yang mempunyai sifat-sifat tersebut terutama jenis karbon parafinik, dan dari jenis isoparifinik atau berikatan naften atau aromat yang memiliki rantai panjang parafin. Hydrokarbon aromat, resin dan aspal dipisahkan dari bahan baku minyak pelumas tersebut dengan ekstrasi pelarut, misalnya furfural untuk mengeluarkan aromatnya dan menghilangkan aspal dengan pelarut propanal agar terpisah produk aspal dari resin. Senyawa logam-logam dalam produk berat bahan baku minyak pelumas merupakan senyawa logam organik dan anorganik. Logam organik biasanya terikat pada ikatan yang komplek seperti senyawa porfirin, sedangkan logam anorganik dapat berupa garam atau senyawa. Biasanya bahan minyak pelumas ini memerlukan peningkatan kwalitasnya yaitu dengan menambahkan zat tambahan (aditif) sebelum minyak tersebut siap pakai. 2. Ekstraksi. Proses ekstraksi dengan larutan detergent sebagai pelarut dapat menurunkan kandungan logam dalam minyak pelumas bekas. Ekstrasi dilakukan dengan mendispersikan pelarut dalam minyak pelumas bekas, dengan pengadukan dan pemanasan. Kandungan logam dalam minyak lumas bekas bukan berasal dari bahan dasar minyak pelumas, melainkan berasal dari aditif yang ditambahkan, logam ausan, kontaminasi dari bahan bakar bensin yang memgandung logam timah hitam, debu atau kotoran dari udara, zat pendingin serta air pendingin yang dipakai untuk mendinginkan mesin. Daftar berikut ini merupakan sumber asal unsur logam yang terdapat dalam minyak lumas bekas.

Tabel. Sumber asal unsur logam dalam minyak lumas bekas mesin diesel dan mesin bensin.

No
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

UNSUR LOGAM Aluminium Antimony Barium Boron Cadmium Calsium Chromium Cobalt Copper Iron Lead Magnesium Molybednum Nickel Phosphorous Potasium Silicon Silver Sodium Tin Zinc

SIMBU L A1 Sb Ba Bo Cd Ca Cr Co Cu Fe Pb Mg Mo Ni P K Si Ag Na Sn Zn

SUMBER ASAL Piston, bantalan, kotoran dari udara Bantalan Aditif, air pendingin Aditif, zat pendingin Bantalan Aditif, air pendingin Liner silinder, ring piston, poros engkol, zat pendinginan Bantalan Bantalan Liner silinder, poros engkol karat Bantalan bahan bakar Aditif, bantalan Aditif, ring piston Poros, ring piston Aditif, zat pendingin Aditif, zat pendingin Kotoran dari udara Bantalan Aditif, zat pendingin Bantalan, zat pendingin Aditif, bantalan

Untuk menurunkan kandungan logam dalam minyak lumas bekas dilakukan dengan proses ekstrasi menggunakan pelarut yang bersifat aktif permukaan. Senyawa-senyawa logam anorganik yang terdapat dalam minyak lumas bekas mudah dilarutkan oleh air, sedangkan senyawa logam organik menunjukkan sifat aktif permukaan karena dalam molekul yang sama mengandung gugus hydrofob dan hydrofil. Ekstrasi dengan menggunakan air kurang dapat menurun logam organik dalam minyak lumas bekas. Penggunaan pelarut yang bersifat aktif permukaan akan

dapat membantu menurunkan kandungan logam organik dalam minyak lumas bekas. Proses penurunan kandungan logam-logam dalam minyak lumas bekas pada prinsipnya aalah pencucian dengan mengunakan suatu zat yang bersifat aktif permukaan. Zat dengan aktif permukaan berfungsi sebagai zat pengemulsi yang akan menurunkan tegangan antar muka. Dengan turunkan tegangan antar muka antara minyak lumas bekas dengan pelarut kaka kotoran-kotoran dalam minyak lumas bekas akan tertarik kelapisan antara muka dan terselubungi oleh pelarut membentuk sistem emulsi. Sistim emulsi yang terbentuk dapat berjenis air dalam minyak atau minyak dalam air, tergantung perbandingan minyak - air dan jenis emulsifying agent yang digunakan. Sabun logam alkali, misalnya natrium oleat lebih larut dalam air dari pada benzene, sehingga akan membentuk emulsi dengan jenis minyak dalam air. Sedangkan sabun logam yang bermartabat dua lebih larut dalam minyak daripada dalam air, sehingga emulsi yang distabilisasi dengan calsium oleat akan berjenis air dalam minyak. Kestabilan sistim emulsi yang diperoleh tergantung pada volume pelarut yang digunakan. Makin sedikit jumlah pelarut yang digunakan maka emulsi yang diperoleh makin stabil, ini disebabkan karena fase terdispersi akan tersebar dalam fase kontinyunya sehingga mempersukar terjadinya penggumpalan fase terdispersi. Setelah terjadi kesetimbangan akan terbentuk sistem emulsi yang stabil, dimana zat terlarut didesak dari lapisan minyak dan terardsorpsi pada lapisan antara permukaan, sistim emulsi dipecah dengan menggunakan zat pemecah emulsi. Prinsip pemecah emulsi yang digunakan adalah membalik jenis emulsi stabil yang sudah terbentuk, yaitu dengan mereaksikannya dengan garam. Misalnya pengemulsi Natrium oleat dapat direaksikan dengan garam alkali

tanah sehingga berubah menjadi sabun bermartabat dua atau tiga yang berhasrat untuk membalik jenis emulsi. Pemecahan emulsi ini berfungsi untuk membuat tetes terdispersinya bergabung kembali. Dengan bergabungnya tetes terdispersinya maka logamlogam dan kotoran yang terdapat dalam minyak lumas bekas baik yang organik maupun anorganik akan turun kelapisan bawah. Dengan demikian maka logam-logam dan kotoran yang terdapat dalam minyak lumas bekas dapat diturunkan. Penambahan pelarut akan lebih menguntungkan jika dilakukan secara bertahap. Sebagai contoh, jika v ml larutan 1 yang mengandung w gram zat yang akan dipisahkan oleh s ml pelarut (larutan 2) dimana kedua larutan tak saling melarut. Sesudah proses pemisahan zat yang tertinggal dalam larutan 1 adalah sebanyak w1 gram dan bila d adalah koefisien distribusi, maka dalam larutan 1 kepekatannya adalah w1/v dan dalam larutan 2 kepekatannya adalah ( w – w1) / s. D W1 = [ (w – w1) / s] (w1 – v) = w / [v/(Ds + v)]

Jika fraksi yang tertinggal ini dikontakkan lagi dengan s ml pelarut yang sama maka jumlah yang tertinggal larutan 1 adalah : W2 = w1 [v/(Ds + v)] = w [v/(Ds + v)]2 Demikian seterusnya, bila yang ke-n kali maka ; Wn = w [v/(Ds + v)]n

Detergent ekstran yang digunakan merupakan bahan pembersih yang mengandung fosfat, kaustic soda, dan garam alkali.

4. Adsorpsi

Treatment dengan lempung ini dimaksudkan untuk menyerap kotoran yang masih tertinggal misalnya zat-zat karbon, air dan sisa asam. Selain itu juga dimaksudkan untuk memperbaiki warna minyak dan menghilangkan bau. Dengan menggunakan adsorbent dalam bentuk tepung yang halus yang dicampurkan dalam cairan minyak pelumas bekas yang sudah melalui proses acid treatment, campuran diagitasi dengan kecepatan dan dipanasi pada suhu tertentu. Kemudian adsorbent dihilangkan dari cairan dengan penyaringan dengan menggunakan filter press. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses kontak adalah ; 1. Lama waktu kontak antara bleaching earth dengan cairan yang dijernihkan. 2. Kecepatan putaran agitasi. 3. Konsentrasi bleching earth. 4. Suhu operasi proses kontak. 5. Filtrasi Dimaksudkan untuk memisahkan lempung dan minyak dengan menggunakan filter press. Penyaringan dengan filter press dilakukan karena dipakai proses kontak antara lempung dengan minyak lumas bekas dilakukan pada temperatur 120o C agar minyak lebih mudah melewati filter press.

Gambar filter press untuk menyaring dan memisahkan bentonit dari miyak pelumas bekas.

Untuk minyak pelumas bekas yang lebih kental suhu operasi dapat mendekati 150 derajat. Apabila suhu kurang dari suhu operasi maka minyak akan sulit untuk keluar dari filter press tetapi jika suhu sangat tiggi maka akan terjadi reaksi oksidasi menyebabkan berwarna hitam. 6. Blending.

Gambar mixer untuk mencampur pewarna dan parfum Adalah proses untuk merubah penampilan minyak agar lebih diterima konsumen khususnya merubah warna, bau dan kekentalan. Penambahan aditif pada minyak base oil agar sesuai dengan spesifikasi dengan standart API atau standar SII.

5. Aplikasi produk
Aplikasi dari hasil proses penjernihan minyak pelumas bekas ada berbagai macam, aplikasi yang disajikan berdasar pada penemuan patent di Amerika serikat. Paten tersebut sudah menjadi publik domain, oleh karena itu siapapun bisa menggunakan produk paten tersebut.

Aplikasi meliputi penggunaan untuk pelumas, bahan bakar dan bahan bakar emulsi. Penggunaan bahan bakar emulsi belum begitu dikenal di indonesia, padahal bahan bakar emulsi sudah dipakai dan diuji di eropa dan amerika. Kasus pak joko dari nganjuk yang mencampur bahan bakar diesel dan bensin dengan air bukan merupakan teknologi baru. 1. Konversi ke bahan bakar cair A process for converting oils comprising waste oil or fat to fuel, comprising flowing oil or fat to a primary pool in a thermocracking unit, heating the primary pool with a primary burner by producing a flame in a fire tube within the thermocracking unit, vaporizing a part of the oil or fat above the heated pool, flowing the vapor through a primary distillation tower, maintaining heat of the vapor by heating the distillation tower, condensing a part of the vapor in the primary tower and returning the condensed part to the primary pool, flowing a remainder of the vapor to a first overhead condenser, cooling and

condensing a part of the remainder of the vapor into a liquid, flowing the liquid downward through a secondary distillation tower into a secondary pool, heating the secondary pool with flue gases from the fire tube, combusting a fuel gas proximal the secondary pool for further heating the secondary pool, vaporizing a part of the liquid in the secondary pool and passing vapor from the secondary pool through the secondary distillation tower, condensing a portion of the vapor from the secondary pool in the secondary distillation tower and flowing the condensed portion downward to the secondary pool, flowing remaining vapor to a second overhead condenser, cooling the remaining vapor and condensing a part thereof, transferring the remaining vapor and the condensed part of the remaining vapor to a light ends flash tank to form liquid and gases, transferring the liquid from the light ends flash tank to a light ends liquid storage tank, flowing the gases from the light ends flash tank as fuel gases to an auxiliary burner, flowing liquid product from the secondary pool to a product cooler and cooling the liquid product, flowing the cooled liquid product to a sample point and sampling the cooled liquid product, flowing the cooled liquid product that is within-specification from the sample point to a diesel fuel storage tank, flowing off-specification liquid product from the sample point to a reflux storage tank, flowing the off-specification liquid from the reflux storage tank through a heater and into the upper end of the primary distillation tower and down through the primary distillation tower toward the primary pool, collecting sludge at a bottom of the primary pool and transferring the sludge from the primary pool to a sludge storage tank, flowing the sludge as fuel to the primary burner and burning the sludge in the fire tube for heating the primary pool, further comprising treating the waste oil or the fat prior to flowing the waste oil or the fat to the primary pool in the thermocracking unit, said treating allowing for removal of any unrequired organic compounds from the waste oil or the fat prior to the flowing in the thermocracking unit. US Patent 5527449

Proses diatas menggambarkan bahwa minyak pelumas bekas, minyak goreng bekas dan lemak binatang diproses kembali menjadi bahan bakar diesel dan naphta dengan thermocracking. Lebih jauh lagi dapat dipelajari dari US patent diatas. 2. Minyak bakar Method and apparatus for converting residual hydrocarbon oils to a fuel gas which has essentially the same heating value and density as natural gas and which may therefore be distribuied through the same lines. The residual oil containing one or more metallic modifiers as catalysts, which may be natnrally occurring in the oil or added thereto, is pyrolyzed at low temperatures (up to 1400" F.) and low pressures (up to about 30 p.s.i.g.); and from the products of pyrolysis a fuel gas is separated. The fuel gas is a mixture of methane, hydrogen and ethane/ethylene wherein the molar ratio of hydrogen to ethane/ethylene is about one-to-one. US Petent 3 712 800 Proses diatas menggambarkan suatu metode dan peralatan untuk memproses residu hidrokarbon berat dan secara khusus untuk memproduksi bahan bakar gas yang secara langsung dapat digunakan untuk mengganti gas alam, lebih lanjut dapat dipelajari di Patent diatas. 3. Bahan bakar emulsified Stable microemulsion fuel compositions are provided which comprise (a) a hydrocarbon fuel such as diesel fuel, jet fuel, gasoline, or fuel oil; (b) water and/or methanol; and (c) a novel cosurfactant combination of tertiary butyl alcohol and an ionic or nonionic surfactant. The compositions of the invention exhibit a high degree of phase stability even over wide variations of temperature, greatly improved salt tolerance and reduce smoke particulate and NO, emissions. US paten 4 744 796

Penemuan diatas membahas tentang bahan bakar emulsi untuk diesel, jet, bensin dan minyak bakar dicampur dengan air atau methanol dan berbagai macam surfaktan untuk mempertahankan kestabilan emulsinya. Baik surfaktan ionik dan non ionik. Lebih jauh lagi dapat dipelajari dari paten diatas.

Gambar diagram kestabilan emulsi bahan bakar emulsi Untuk bahan hidrokarbon yang lebih kental paten dibawah ini dapat dipergunakan sebagai refernsinya. A method for forming a stable emulsion of a viscous hydrocarbon in an aqueous buffer solution includes the steps of: providing a viscous hydrocarbon containing an inactive natural surfactant and having a salt content by weight of less than or equal to about 15 ppm and having a water content by weight of less than or equal to about 0.1%; forming a solution of a buffer additive in an aqueous solution to provide a basic aqueous buffer solution, the buffer additive

being operative to extract and activate the inactive natural surfactant from the viscous hydrocarbon; and mixing the viscous hydrocarbon with the aqueous buffer solution at a rate sufficient to provide an emulsion of the viscous hydrocarbon in the aqueous buffer solution, whereby the buffer additive extracts the inactive natural surfactant from the viscous hydrocarbon into the aqueous buffer solution and activates the inactive natural surfactant so as to stabilize the emulsion. According to the invention, the buffer additive is a water soluble arnine. The inactive natural surfactant contained in the viscous hydrocarbon includes carboxylic acids, phenols, esters, and mixtures thereof. Bimodal emulsions, having two distinct droplet size distributions, are also formed according to the method of the present invention and have improved viscosity characteristics. US Patent 5,556,574 Penemuan diatas menjelaskan emulsi bahan hidrokarbon yang kental dalam air yang dipergunakan sebagai bahan bakar. 4. Gemuk pelumas Merupakan dispensi dari sabun logam ( metalic soap) dalam minyak pelumas, dan bervariasi dari yang agak cair sampai padatan yang keras biasanya menggunakan sabun sodium atau kalsium tetapi untuk tujuan khusus digunakan sabun aluminium atau lithhium. Gemuk pelumas digunakan untuk melumasi bearing yang terbuka dan bagian yang bergerak dimana minyak pelumas tidak dapat digunakan. Komponen utama dari gemuk pelumas adalah minyak bumi dan sabun. Minyak bumi mengandung bagian yang bervariasi dari parafinik, naptenik da aromatik. Sabun yang digunakan untuk gemuk pelumas dapat berasal dari minyak binatang , tumbuhan dan asam lemak, lemak wool / lanolin vesin atau asam minyak bumi. Ada juga komponen tertentu yang ditambahkan pada gemuk pelumas untuk menambahkan sifat-sifat khusus. Komponen tersebut adalah rust inhibitor, ati oksidas, pacifator, colour stabiliser, VI improver dan agen

penjaga keausan. Gemuk produksi yang dipertebal secara baik agar gemuk tetap kontak dengan bagian yang bergerak dan tidak bocor karena pengaruh gravitasi atau oleh gaya sentrifugal, atau terdorong lepas karena tekanan dan menimbulkan gesekan awal pada bearing. Gemuk pelumas mempunyai konsistensi yang bermacam-macam dari cairan yang bergerak bebas sampai yang berbentuk semi padat dengan berbagai macam variasi derajat viscositasnya ditentukan sesuai dengan metode ASTM. Penyusun yang ada dalam pelumas gemuk bervariasi sesuai komposisinya. Penyusun utama gemuk adalah minyak pelumas dari kandungan 50% (sekeras bata) sampai kandunagan 90% gemuk pelumas yang sangat lunak. Gemuk mengandung bahan seperti ini : A. minyak mineral Adalah produk minyak bumi yang termasuk fraksidistilat berat. Mempunyai titik diatas 300°C, ditemukan dalam bentuk cair dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, khususnya untuk melumasi bagian mesin yang bergerak atau bergesekan. Merupakan komponen hidrokarbon dengan berat molekul yang tinggi yang mempunyai atom karbon 20-40 buah dan umumnya mengandung 1-2 inti naptena dan atom anomatik dengan berantai panjang parafin. Hidrokarbon ini mempunyai isomen-isomen yang jumlahnya mungkin B. thicner Thicner adalah sabun logam ( metal soap) diperoleh dari proses spontinasi minyak atau asam lemak dengan hidroksida dan kalsium, sodium, lithium, alumunium dan sebagainya. Kadang kadang juga digunakan thicner bahan sabun seperti pigment, phtalocyanine, silica gel, karbon black dan bentonite termodifikasi. C. Struktur modifer Struktur modifen merubah solubilitas dari thickener, beberapa modifen yang sangat dikenal adalah air, asam lemak, glykol dan garam dari asam yang molekulnya rendah.

D. aditif dan filler beberapa aditif yang ditambahkan dalam gemuk pelumas mencegah oksidasi, korosi dan pembentuan nust/kerak, pasivasi logam , menambah kekuatan film filer (pengisi) yang digunakan grafit, absestor , talk, nikel, bubuk logam, logam karbonat dan lain-lain bertambah dengan bertambahnya berat molekul.

5. 1. Kekentalan (Viskositas)

Quality kontrol

Kekentalan merupakan salah satu unsur kandungan oli paling rawan karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir. Kekentalan oli langsung berkaitan dengan sejauh mana oli berfungsi sebagai pelumas sekaligus pelindung benturan antar permukaan logam. Oli harus mengalir ketika suhu mesin atau temperatur ambient. Mengalir secara cukup agar terjamin pasokannya ke komponen-komponen yang bergerak. Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan. Dengan demikian, oli memiliki grade (derajat) tersendiri yang diatur oleh Society of Automotive Engineers (SAE). Bila pada kemasan oli tersebut tertera angka SAE 5W-30 berarti 5W (Winter) menunjukkan pada suhu dingin oli bekerja pada kekentalan 5 dan pada suhu terpanas akan bekerja pada kekentalan 30. Tetapi yang terbaik adalah mengikuti viskositas sesuai permintaan mesin. Umumnya, mobil sekarang punya kekentalan lebih rendah dari 5W-30 . Karena mesin belakangan lebih sophisticated sehingga kerapatan antar komponen makin tipis dan juga banyak celah-celah kecil yang hanya bisa dilalui oleh oli encer. Tak baik menggunakan oli kental (20W-50) pada mesin seperti ini karena akan mengganggu debit aliran oli pada mesin dan butuh semprotan lebih tinggi. Untuk mesin lebih tua, clearance bearing lebih besar sehingga mengizinkan pemakaian oli kental untuk menjaga tekanan oli normal dan menyediakan lapisan film cukup untuk bearing. Sebagai contoh dibawah ini adalah tipe Viskositas dan ambien temperatur dalam derajat Celcius yang biasa digunakan sebagai standar oli di berbagai negara/kawasan.

1. 5W-30 untuk cuaca dingin seperti di Swedia 2. 10W-30 untuk iklim sedang seperti dikawasan Inggris 3. 15W-30 untuk Cuaca panas seperti dikawasan Indonesia 2. Kualitas Kualitas oli disimbolkan oleh API (American Petroleum Institute). Simbol terakhir SL mulai diperkenalkan 1 Juli 2001. Walau begitu, simbol makin baru tetap bisa dipakai untuk katagori sebelumnya. Seperti API SJ baik untuk SH, SG, SF dan seterusnya. Sebaliknya jika mesin kendaraan menuntut SJ maka tidak bisa menggunakan tipe SH karena mesin tidak akan mendapatkan proteksi maksimal sebab oli SH didesain untuk mesin yang lebih lama. Ada dua tipe API, S (Service) atau bisa juga (S) diartikan Spark-plug ignition (pakai busi) untuk mobil MPV atau pikap bermesin bensin. C (Commercial) diaplikasikan pada truk heavy duty dan mesin diesel. Contohnya katagori C adalah CF, CF-2, CG-4. Bila menggunakan mesin diesel pastikan memakai katagori yang tepat karena oli mesin diesel berbeda dengan oli mesin bensin karena karakter diesel yang banyak meng- hasilkan kontaminasi jelaga sisa pembakaran lebih tinggi. Oli jenis ini memerlukan tambahan aditif dispersant dan detergent untuk menjaga oli tetap bersih. Sebagai tambahan, bila oli yang digunakan sudah tipe sintetik maka tidak perlu lagi diberikan bahan aditif lain karena justru akan mengurangi kireja mesin bahkan merusaknya. API Service Rating Untuk rating API service, dapat pula dirunut dari mesin-mesin keluaran lama. Namun, pada saat ini bisa juga dirunut dari katagori SF mengingat banyaknya katagori yang akan keluar. API mesin bensin * SM (Current) Diperkenalkan pada 2004. Ditujukan untuk semua jenis mesin bensin yang ada pada saat ini. Oli ini didesain untuk memberikan resistensi oksidasi yang lebih

baik, menjaga temperatur, perlindungan lebih baik terhadap keausan, dan mengontrol deposit lebih baik. * SL (Current) Merupakan katagori terakhir sampai saat ini. Diperkenalkan pada 1 Juni 2001. Oli ini didesain untuk menjaga temperatur dan mengontrol deposit lebih baik. Juga bisa mengkonsumsi oli lebih rendah. Beberapa oli ini juga cocok dengan spesifikasi terakhir ILSAC sebagai Energy Conserving. Untuk mesin generasi 2004 atau sebelumnya * SJ (Current) : Diperkenalkan untuk mesin generasi 2001 atau lebih tua * SH (Obsolete): Untuk mesin generasi 1996 atau sebelumnya * SG (Obselete): Untuk mesin generasi 1993 atau sebelumnya * SF (Obsolete): Untuk mesin generasi 1988 atau sebelumnya API mesin diesel * CJ-4 Diperkenalkan pada tahun 2006. Untuk mesin high speed, mesin 4-langkah yang didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 2007. Oli dengan kategori API CJ-4 memiliki kriteria performa lebih baik daripada yang dimiliki oleh oli-oli dengan kategori API CI-4 dengan CI-4 PLUS, CI-4, CH-4, CG-4 dan CF-4. Oli dengan kategori API CJ-4 juga mampu secara efektif melumasi mesinmesin dengan kategori di bawahnya. * CI-4 Diperkenalkan sejak 5 September 2002. Untuk mesin high speed, four stroke engines yang didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 2004. Oli CI-4 diformulasikan menjaga durabilitas mesin dimana gas buangnya disirkulasi ulang. Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur 0.5%. Bisa dipakai pada oli CD, CE, CF-4, CG-4 dan CH-4.

* CH-4 Diperkenalkan sejak 1998. Untuk mesin high speed, four stroke engines yang didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 1998. . Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur lebih besar 0.5%. Bisa dipakai pada oli CD, CE, CF-4, dan CG-4. * CG-4 Diperkenalkan sejak 1995. Untuk mesin kinerja sedang, high speed, four stroke engines. Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur kurang 0.5%. Cocok untuk standar emisi 1994 Bisa dipakai pada oli CD, CE, dan CF-4. * CF-4 Diperkenalkan sejak 1990. Untuk mesin high speed, four stroke engines, naturally aspirated dan mesin turbocharger. Bisa dipakai pada oli CD, dan CE. * CF-2 Diperkenalkan sejak 1994. Untuk mesin kinerja sedang, two stroke engines. Bisa dipakai pada oli CD-II. * CF Diperkenalkan sejak 1994. Untuk mesin off road, indirect injected dan beberapa mesin yang memakai bahan bakar dengan kandungan belerang/sulfur diatas 0.5%. Bisa mengganti pada oli CD.

Daftar pustaka
1. http://www.ccitonline.com/mekanikal/ 2. Kotawa,A,1986, Studi awal Pengawal logaman Minyak pelumas Bekas melalui proses ekstraksi dengan detrgent sitetis teepol sebagai pelarut. Lembaran Publukasi Lemigas 4. 3. Yuliyati, Y.B,1992, Pemulihan minyak pelumas bekas dengan cara ekstraksi dan adsorbsi oleh zeolit. Lembaga Penelitian UNPAD. 4. Gupta J.P. & Gupta R.P, Selected industrial Chemicals, Small Business Publication, PB No 2131, 4/45, Roop Naper, Delhi 116007. 5. Andini Sundowo, Siti Yubaidah, 2003, “ Sintesa Polyolester Sebagai Bahan Dasar Minyak Pelumas, Teknik Kimia, ITI. 6. PT. Hexindo Consult, 2000, “Prospek Industri dan Pemasaran Pelumas di Indonesia”, Jakarta. 7. Wartawan, AL, 1983, “ Minyak Pelumas Pengetahuan Dasar & Cara Penggunaan, Penerbit Gramedia, Jakarta.

1. appendiks Karakter aditif dalam minya pelumas
Characteristics of Additives Additive Name Detergency Phenaltes, Sulphonates, & cleaning Naphthenates action Characteristics Interacts with varnish or sludge to neutralise and solubilise. Dispersants are soluble in the oil and have a polar end PBI (Polyisobutylene) which attracts and binds to Dispersancy Succinimides contaminants preventing settling and adhesion to metal surfaces. Not really necessary for diesel engines in properly Silicone Polymers (very low designed systems, but Antifoaming concentrations) provides anti-foam in gearbox and also at the refinery during blending. Used in SAE 30 grades and Pour Point Polymethylacrylate below to ensure point criteria are met. Chemicals react with Anti-wear ZDTP surfaces forming films load (Zincdialkyldithiophosphate)ZDDP which have a slower shear carrying (Zincdiethlydithiophosphate) strength than parent metal. Increase in relative viscosity VI Polymers of: Methacrylate more at high than low Improvers Acrylate Olefin Styrene-Butadiene temperature. Rust and Sulphates, Thiourea type Chemically absorbed onto corrosion chemicals bare metal surfaces

inhibition

providing protection and neutralisation.

Apendiks 2. Viscosity Conversion Tables
Viscosity Conversion Table
Approximate Equivalents Redwood 1 seconds at 100°F 31 34 39 45 51 57 110

xc Gas & Diesel Oils

Kinematic cSt at 40°C 2 3 5 7 9 11 24

Engler degrees at Saybolt Universal 40°C seconds at 100°F 1.12 1.22 1.40 1.56 1.75 1.93 3.34 33 37 44 51 58 65 125

Viscosity Conversion Table 2
Approximate Equivalents fds Redwood 1 Kinematic cSt seconds at at 50°C 100°F 200 280 440 610 780 950 1,250 1500 2200 Engler degrees at 50°C 4.1 5.3 7.9 10.5 13.2 15.8 19.8 23.7 31.6 Saybolt Universal seconds at 100°F 230 320 510 700 900 1120 1400 1750 2370 Saybolt Furol Kinematic cSt seconds at at 82.2°C 100°F (180°F) 26 35 53 72 93 116 147 175 257 11 13.5 18 22.5 26.5 30 35 140 49

Fuel Oils 30 40 60 80 100 120 150 180 240

280 320 380 420 460

2500 2900 3600 4100 4600

36.9 42.1 50.0 55.0 61.0

2850 3300 4100 4650 5200

300 345 420 480 540

55 61 69 74 79

Appendix 3: daftar Acronyms
AA Atomic Absorption API American Petroleum Institute ASTM American Society for Testing and Material BDR Bunker Delivery Receipt BSI British Standards Institute CCAI Calculated Carbon Aromaticity Index CCR Conradson Carbon Residue CII Calculated Ignition Index CIMAC International Council on Combustion Engines DM Distillate Marine (as used in ISO 8217) DnV Det Norske Veritas FOBAS Fuel Oil Bunker Analysis and Advisory Service H2S Hydrogen Sulphide IATA International Air Transport Association IBIA International Bunker Industry Association ICP Inductively Coupled Plasma IF Inter Fuel IMDG International Maritime Agreement for the Carriage of Dangerous Goods IMO International Maritime Organisation IP

Institute of Petroleum IPA Iso Propyl Alcohol ISO International Standards Organisation (International Organisation for Standardisation) KOH Potassium Hydroxide LFL Lower Flammability Limit m/m Mass for Mass (by proportion) MCR Micro Carbon Residue MT Metric Tonne NOx Nitrous Oxides PSA Port of Singapore Authority (fuel bunkering standard) RCR Ramsbottom Carbon Residue RM Residue Marine (as used in ISO 8217) SAE Society of Automotive Engineers SAN Strong Acid Number SG Specific Gravity SI International System of Units SOx Sulphurous Oxides TAN Total Acid Number TBN Total Base Number TSA Total Sediment Accelerated TSE Total Sediment Existent TSP Total Sediment Potential V/V Volume for Volume (by proportion) VCF Volume Correction Factor

VI Viscosity Index

Appendiks 4: daftar istilah
Antioxidant A substance that retards the process of oxidation. API Gravity An arbitrary scale adopted by the American Petroleum Institute (API) for expressing the relative density of oils. Its relation to relative density is: 141.5 API gravity (degrees) = —————————————— - 131.5 Specific gravity at 60 / 60°F (The term Relative Density can be substituted for Specific Gravity) Small quantity of residue, free from carbonaceous matter, remaining after burning in air, of oil fuel at a prescribed temperature. Asphaltenes Those components of asphalt that are insoluble in petroleum naphtha but are soluble in carbon disulphide. (Other solvents may be stipulated). Hard and brittle compounds, made up largely of high molecular weight polynuclear hydrocarbon derivatives containing carbon, hydrogen, sulphur, nitrogen, oxygen and usually the three heavy metals - nickel, iron and vanadium. Ash Non-combustible fuel residues usually containing a mixture of aluminium, calcium, iron, nickel, silicon, sodium and vanadium. Contamination may be derived from the crude oil stock or from catalyst fines, downstream storage and airborne dirt. Barrel Unit of volume measurement used for petroleum and petroleum products. 1 barrel = 42 US gallons, = 35 Imperial gallons, = 159 Litres Blending The intimate mixing of various components in the preparation of a product of specified properties. Blow-by Passage of combustion gases past the piston rings of an engine. BN See TBN. Boundary Lubrication Lubrication between 2 rubbing surfaces without development of a full lubricating film. It occurs under high loads and low speeds. Bulk Modulus The reciprocal of compressibility of oil. The higher the BM, the less the fluid can be compressed. Cams Eccentric lobes typically used to open valves. Calorific Value See Specific Energy. Carbon Residue Residue left when an oil is heated under prescribed conditions. Hence carbon residue is an indicator of the coke-

forming tendencies of an oil. Catalyst A substance which accelerates or changes the course of a reaction without itself undergoing any chemical change. Catalyst Fines Small (typically less than 50 micron) particles in the form of complex alumino- silicates which may be present in residues from a catalytic cracking plant. Catalytic Cracking Process whereby cracking is accomplished by the use of heat and catalysts. Used primarily to convert high-boiling distillate to gasoline, gas oil, butanes and lighter gases. centiPoise (cP) See Viscosity. centiStoke (cSt) See Viscosity. Cetane Index A measure of the ignition quality of a distillate fuel, indicating the relative ease with which the fuel will ignite when injected into the combustion chamber of a compression-ignition engine. Higher cetane indices and numbers indicate shorter ignition lags and are associated with better all-round performances in most types of compression-ignition engines. Cetane Index is calculated from the API gravity and the boiling point characteristics of the fuel. Cetane Number Cetane Number is measured from a prescribed engine test. Cloud Point The temperature at which a cloud or haze begins to appear when an oil, which has been previously dried, is cooled under the prescribed conditions. Such cloud or haze is due to the separation of paraffin wax. Since a fuel must be “clear and bright” for the clouding to be observed, this parameter is only applicable to some distillate fuels. Clouding may be regarded as an advance warning of the onset of “pour” problems due to either low temperature or high wax content of a fuel. Compatibility When blending two or more fuels of different crude oil origins and/or different refinery processes, the resultant blend should be an homogeneous mixture in which asphaltenes remain in stable equilibrium. Conversely, when blending two or more fuels of different crude oil origins and/or different refinery processes, should the resultant blend precipitate asphaltenes, then the two or more fuels are incompatible. Corrosion Inhibitor A substance added to lubricating oil to protect active metal surfaces from corrosion. Cross Head Engine Slow-speed diesel engine where the piston rod is confined to move vertically and the piston pin is replaced by a cross head to transfer thrust to the connecting rod. Crown The top of the piston of a diesel engine exposed to the cylinder. Cylinder Oil Lube oil used in the cylinders of cross head diesel engines. Usually high viscosity and TBN greater than 70. Density Mass per unit volume. Detergent The ability of a lubricant to keep oil-wetted parts clean. Commonly metallic soaps with an alkaline reserve. Dispersant The ability of an oil to hold debris in suspension and thus prevent deposition on oil-wetted surfaces. Diesel Oil Oil used as fuel in diesel and other compression-ignition engines. Diluent In fuel oil blending, low viscosity materials having suitably high flash points are used to reduce the viscosity of residues.

Distillate Any product obtained by condensing the vapours distilled from petroleum or its products. Distillation Range The range of temperature, usually determined at atmospheric (Boiling Range) pressure by means of standard apparatus, over which boiling or distillation of a liquid proceeds. Only a pure substance has one definite boiling or distillation temperature at a given pressure. Mixtures of substances such as petroleum distillates have a distillation temperature range. Emulsion An intimate mixture of fine particles of one liquid in another. An emulsion is said to “break” when the particles join and the liquids become separate. End Point The highest temperature is indicated on the distillation (Final Boiling Point) thermometer when a light distillate is subjected to one of the standard laboratory methods of distillation. Ester Compounds of alcohol and fatty acid which form the major constituent of many synthetic oils. EP additives Additives provided to limit micro-seizure of contacting surfaces under Extreme Pressure lubricating conditions. Flash Point, Closed The lowest temperature at which application of a small flame causes the vapour above a petroleum product to ignite when the product is heated under prescribed conditions in a ‘closed’ container. Flash Point, Open The lowest temperature at which an application of a small flame causes the vapour above a petroleum product to ignite when the product is heated under prescribed conditions in an ‘open’ container. Fuels - Residual The residue remaining after removal of the lighter products. Fuel Oil The result of selective blending of various residues and distillate cutter stocks. Fuels - Marine A distillate or blended product containing some residue. Diesel Oil. Fuels - Gas OilA distillate fuel. Grease A lubricant composed of oil, thickened with a metallic soap or other compound to produce a semi solid lubricant. HydrocarbonsCompounds composed entirely of carbon and hydrogen. They form the basic building blocks of most fuel and lubricating oils. Inhibitor A compound added to lubricant to prevent or retard undesirable changes. Insolubles Contaminants that remain after extraction of the sample with a solvent. KV Kinematic Viscosity, measure of resistance to flow under gravity and at a specific temperature. Lands The vertical surfaces of a piston between the piston rings and or crown. Mineral Oil Lubricant derived from crude oil. Multigrade A term used to describe a lubricant where the viscosity temperature relationship has been altered by the addition of polymers that control viscosity limits at different temperatures. Nitration The process whereby nitrous oxides attack petroleum fluids at high temperatures. Common in gas fuelled engines and often associated with viscosity increase, deposits formation and oxidation.

Oxidation A process whereby oxygen attacks the lubricant. Oxidation is continuous in the presence of air but greatly speeded at high temperatures. inhibitor pH A measure of acidity or alkalinity expressed as the log of the hydrogen ion concentration. 0-acid, 7-neutral, 14alkali. Petroleum Crude Oil, i.e. oil in its natural state before it has been refined. Mineral Oil, normally a liquid mixture consisting essentially of many different hydrocarbons, occurring naturally and having a wide range of colours from yellow to black and characteristic odours. It is the raw material from which gasoline, kerosene, lubricating oil, fuel oil, paraffin wax, bitumen, petro-chemical feedstocks, etc. are obtained. Pour Point The lowest temperature at which a petroleum oil is found to pour or flow when it has been chilled under prescribed conditions. Relative Density The ratio of mass of a given volume of a substance to that of the same volume of pure water at constant temperature. Relative density decreases with increase of temperature and increases with decrease of temperature. It can only be compared at constant temperature. The standard temperature for quoting the relative density for most petroleum products is 15°C. Density is also referred to in absolute terms in units of kg/m3 at a particular reference temperature - usually 15°C. Residue The material remaining, as an un-evaporated liquid or solid, from a process involving distillation or cracking. Scuffing The abnormal wear that occurs due to seizure, micro-welding and subsequent tearing of the sliding surfaces. Specific Energy The amount of heat liberated by the combustion of a unit quantity under specified conditions. The gross specific energy is the sum of the heat produced by the total combustion of the fuel and the heat released by the condensation of the water formed by such combustion. This is applicable to a boiler. The net specific energy is the gross value minus the heat released by condensation of the water vapour formed by the combustion. The net value is applicable to a diesel engine. Straight Run Produced by distillation without cracking or alteration to the structure of the constituent hydrocarbons. Thermal Cracking A cracking process in which the reaction is prompted purely by the action of heat and pressure. Viscosity The measure of a fluid’s resistance to flow. With increasing temperature the viscosity decreases. There are two types of viscosity: kinematic and dynamic or absolute. The more common is kinematic viscosity, which is measured by the time taken for a fixed volume of oil to flow through a capillary tube. The usual unit is the centiStoke (cSt); one cSt = mm2/s Dynamic (absolute) viscosity is usually measured by a rotating viscometer and is commonly expressed in centiPoise (cP). 1 cP = 1 mPa.s Viscosity Index (VI) An arbitrary scale used to measure a fluid’s change in viscosity with temperature. VI Improver A compound used to raise the VI of a mineral oil or other product (see also multigrade).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->