P. 1
Cacing

Cacing

|Views: 86|Likes:
Bab 1 dan 2
Bab 1 dan 2

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Ernest Gamaliel Masayoshi on May 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Parasit masih merupakan masalah utama dalam suatu negara berkembang.

Penyakit parasit pada manusia bisa disebabkan oleh Hewan bersel satu (Protozoa), cacing (Helminth), dan ada pula yang disebabkan oleh hewan beruas – ruas (Anthropoda)1 Sekitar lebih dari 1,4 milyar orang penduduk didunia menderita penyakit cacingan. Penyakit ini dapat menyerang balita atau anak – anak sampai orang dewasa dimana dalam jangka panjang penderita bisa mengalami kelemahan fisik dan intelektual2-3 Nematoda usus ada yang ditularkan melalui tanah atau soil-transmitted helminthes. Beberapa contoh cacing melalui tanah (Soil-transmitted helminthes) adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus dam Ancylostoma duodenale (Cacing Tambang), dan Trichuris trichiura. Di indonesia terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-90 %. Hal ini disebabkan kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, bawah pohon, tempat mencuci dan tempat pembuangan sampah. Selain itu juga, Penggunaan tinja yang mengandung telur untuk pupuk di kebun sayuran juga merupakan sumber penularan telur cacing. Hasil penelitian Tjitra (2005) terdapat telur cacing Ascaris lumbricoides (6,16%) dan telur cacing tambang (36%) pada jenis sayuran terutama kol dan selada, dan juga terdapat telur Nematoda usus 36,8% pada air dan lumpur yang digunakan untuk menyiram dan menanam sayuran di Bandung. Pengolahan tanah pertanian/perkebunan dan pertambangan yang memakai tangan dan kaki telanjang atau tidak ada pelindung juga merupakan sumber penularan. Menurut Penelitian epidemiologi yang telah dilakukan hampir di seluruh Indonesia, terutama pada anak-anak sekolah dan umumnya didapatkan angka prevalensi tinggi yang bervariasi. Prevalensi askariasis di propinsi DKI Jakarta adalah 4-91%, Jabar 20-90%, Yogyakarta 12-85%, Jatim 16-74%, Bali 40-95%,

Obat – obat yang sering dipakai untuk nematode usus adalah Albendazol. peneliti akan mencoba untuk mencari dan merangkum hal efektifitas Carica papaya L terhadap Nematoda Usus yang ditularkan melalui tanah (SoilTransmitted Helminthes) pada manusia 1. Sumsel 51-78%. 2004). antimalarial. daun.2. Perumusan Masalah Apakah Carica papaya L mempunyai efek antihelmentik terhadap Nematoda Usus yang ditularkan melalui tanah (Soil-Transmitted Helminthes) pada manusia? . Sumut 46-75%. antifertility 4-5 . Setelah melihat manfaat dari Carica papaya L maka dalam karya tulis ini. Maka dilihat dari manfaat yang dapat diperoleh dari Carica papaya L banyak dilakukan penelitian terhadap buah ini. buah bahkan sampai bijinya diantaranya sebagai antimikroba. Pirantel pamoat dan Piperazin Sitrat. Maka diperlukan mencari obat cacing alternatif dimana murah. Salah satu tanamannya adalah Carica papaya L. immunomudulator. Mebendazol. mudah didapat dan digunakan secara masal dan mempunyai efek samping minimal(Onggowaluyo. Sumbar 2-71%. 2003) mengemukakan bahwa 80% infeksi kecacingan terjadi karena kontak dengan tanah melalui kuku yang kotor. tanaman ini mempunyai banyak manfaat yang bisa diperoleh mulai dari akar. Sulut 30-72% (Elmi et al..NTT 10-75%. Hepatoprotective. Selama ini obat – obat yang digunakan adalah obat – obatan kimia yang mempunyai efek samping yang kurang baik dan menimbulkan ketergantungan obat. Tanaman yang tumbuh dan dapat digunakan sebagai obat tradisional sebenarnya cukup banyak. Di Indonesia. getah. anti-amuba. obat luka luar. Data hasil penelitian (Setyawan. makan menggunakan tangan dan sering lupa mencuci tangan sebelum makan yang semuanya merupakan potensi tertelannya telur cacing (yang akan menetas di dalam tubuh manusia). Carica papaya L dapat tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. batang. 2002). antifungal.

Sebagai pedoman dalam pengobatan menggunakan antihelmintik . Pengembangan Penelitian . Tujuan Umum Mengetahui Efektifitas antihelmintik yang dimiliki oleh Carica papaya L terhadap Nematoda Usus yang ditularkan melalui tanah (S oilTransmitted Helminthes) pada manusia. Manfaat Adapun manfaat dari penelitian: 1. mudah didapat dan dapat diproduksi masal. Pelayanan Masyarakat Mencari Obat antihelmintik alternatif yang murah.3. 2. Bidang Ilmu Pengetahuan Menambah informasi tentang Antihelmintik dengan menggunakan Carica papaya L 3. . mempunyai efek samping yang minimal.4. Tujuan penelitian 1.Sebagai dasar untuk pengembangan penelitian selanjutnya dalam menemukan terapi alternatif untuk penyakit cacingan. Tujuan Khusus Mengetahui Efek dari antihelmitik yang diperoleh dari Carica Papaya L 1. sehingga dapat diterima di masyarakat 2.1.

HELMINTH (CACING) 2. Taenia solium. Helminth (cacing) termasuk dalam golongan Metazoa (binatang bersel banyak) yang dilengkapi dengan jaringan ikat dan organ-organ yang berasal dari ektoderm. Beberapa spesies dilengkapi dengan kelenjer yang sektesinya masuk kedalam mulut cacing dan berfungsi mencema jaringan host(inang) yang digunakan sebagai makanannya atau dapatjuga menyebabkan cacing bermigrasi dalam jaringan host (inang).1 Ciri -ciri umum cacing Helminth berarti cacing. Bentukan-bentukan tersebot biasanya terdapat disekitar mulut. Tanda-tanda umum cacing adalah : 1. Multiseluler Bilateral Simetris mempunyai tiga lapis germ (tripblastik meazoa) 2. menembus dan merusak jaringan host (inang). 3. Dapat dilengkapai oleh spine (spina).2 Habitat cacing A.BAB II DAFTAR PUSTAKA 2. Pada bagian usus halus terdapat beberapa cacing yang hidup adalah Taenia saginata. endoderm dan mesoderm. USUS Habitat cacing (helminth) pada manusia berada pada bagian usus dan somatik. Kebanyakan resisten terhadap pencemaan. stylet. baik yang hidup secara parasit maupun yang hidup bebas. Tily menolepisnana. untuk melekat. . Hooks (kait-kait). 2. Kulit cacing atau kutikula dapat keras atau kuat dan elastis.cutting plate. relatif lembut. Ascaris lumbri coides.

Mansonella azzardi. Adapun ciri-ciri cacng phylum nemathelminthes adalah Silindris. Class yaitu Class nematoda.Di Mesenterium beberapa cacing yang hidup adalah Acanthocheilonema perstans. 2. Tidak bersegmen. Tidak mempunyai rongga tubuh.Onchocerra volvulus. Sere: terpisah. Brugia malayi. Trichuris trichiura. trichinella spiralis. dan di Konjungtiva adalah cacing Loa-loa 2. Saluran pencemaan tidak lengkap. Jantan dan betina. B.Pada Paru-paru cacing Strongyloider stercoralis. Sedangkan pada bagian Caecum dan Appendine beberapa cacing yang hidup adalah Enterobias Vermicuralis.3 Klasifikasi cacing (helminth) Cacing-cacing yang penting untuk menusia dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu terdiri dari 2 phylum yakni Phylum Nemathelminthe dan Platyhelmintees. Jaringan Subkutan juga hidup beberapa cacing seperti Loa-loa. Pada umumnya hemaphrodite. Enteroius vermicu caris. Phylum platyhelminthe Class yaitu Class cestoda dan klas trematoda. Dianculculus medinensis. . Phylum Nemathelmintes terdiri dari. Sedangkan ciri-ciri cacing phylum pthatyhelminthes adalah Pipih seperti daun. Capillaria philipinensis. 1. Strongilides stercoralis. SOMATIK Didalam kelenjar somatik yaitu pada lyymphatik sistem beberapa cacing yang hidup adalah Wucheria brancofti. Saluran Pencemaan lengkap.Necator americanus. Brugia Timoris. panjang.Dan di dalam Usus besar terdapat cacing. atau pita/bersegmen. Mempunyai rongga tubuh ( body cavity).

1 Ciri . dan perantaraan hewan vektor. 2. Cara penularan (transmisi) Nematoda dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Mekanisme penularan berkaitan erat dengan hygiene dan sanitasi lingkungan yang buruk. Trichuris trichiura dan cacing tambang (Onggowaluyo. Penularan dapat terjadi dengan: menelan telur infektif (telur berisi embrio). tetapi yang ditularkan melalui tanah ada tiga yaitu: Ascaris lumbricoides. jaringan dan sistem peredaran darah. Nematoda adalah cacing yang bentuknya panjang. Potongan melintangnya berbentuk bulat. Nema artinya benang. Spesies Nematoda Usus banyak. panjang cacing ini mulai dari 2 mm sampai 1 m. Dewasa ini cara penularan Nematoda yang paling banyak adalah melalui aspek Soil-Trasmitted Helminth yaitu penularan melalui media tanah (Onggowaluyo. tidak bersegmen dan ditutupi oleh kutikula yang disekresi oleh lapisan hipodermis (lapisan sel yang ada dibawahnya).4. memakan larva dalam kista. keberadaan cacing ini menimbulkan manifestasi klinik yang berbeda-beda tergantung pada spesiesnya dan organ yang dihinggapi.4 Nematoda Nematoda berasal dari bahasa Yunani.2. larva (filariorm) menembus kulit. 2001) 2. mempunyai saluran pencernaan dan rongga badan. Nematoda yang ditemukan pada manusia terdapat dalam organ usus. rongga badan tersebut dilapisi oleh selaput seluler sehingga disebut Speudosel atau Psedoseloma.ciri umum : 1. tidak bersegmen dan tubuhnya bilateral simetrik. Menurut tempat hidupnya Nematoda pada manusia digolongkan menjadi dua yaitu Nematoda Usus dan Nematoda Jaringan. silindrik. . 2001).

2. yang merupakan penyakit kedua terbesar yang disebabkan oleh makhluk parasit. Askariasis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides.4. Ekor cacing jantan berbentuk kerucut. tanpa sayap kaudal tetapi terdapat sejumlah papila. I. Hospes dan Penyakit Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Salah satu jenis ini yang terdapat didalam Usus Manusia adalah lumbricoides. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut Askariasis. A. Di Indonesia golongan cacing ini yang penting menyebabkan masalah kesehatan masyarakat adalah: Ascaris lumbricoides. Ascaris lumbricoides Klasifikasi Ascaris lumbricoides Phylum : Nemathelminthes Class : Nematoda Subclass : Secernemtea Ordo : Ascoridida Super famili : Ascoridciidea Genus : Ascaris Species : Ascaris lumbricoides Ascaris adalah jenis cacing gilig yang besar. larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan akan mengalami kopulasi serta akhirnya bertelur. 2005). Trichuris trichiura dan cacing tambang (Tjitra. Di manusia. Ascaris . Bibirnya mempunyai peninggian bergigi. tetapi tidak ada interlabia atau sayap servikal.2 Nematoda Usus yand ditularkan oleh tanah (Soil-Transmitted Helminthes) Soil Trasmitted Helminth adalah cacing golongan Nematoda yang memerlukan tanah untuk perkembangannya.

Selanjutnya larva akan bergerak ke paru-paru ( Lung Migration ) Dimana larva yang baru menetes akan menembus dinding usus halus lalu sampai ke vena porta. sedangkan betina sekitar 22-35 cm. dan lebih optimal ditanah yang teduh. Kemudian Telur akan tertelan melalui mulut. Telur Ascaris lumbricoides berkembang sangat baik pada tanah liat yang memiliki kelembapan tinggi dan pada suhu 25° . prevalensi askariasis tinggi. terutama pada anak-anak. Pada kondisi ini. menuju kedalam lumen usus. pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi. Pertumbuhan telur ditanah sampai menjadi telur infektif butuh waktu kurang lebih 3 minggu. telur tumbuh menjadi bentuk infektif (mengandung larva) dalam waktu 2-3 minggu. Stadium dewasa cacing ini hidup di rongga usus muda. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). menjadi telur yang berisi larva. Migrasi ini berlangsung selama 10-15 hari. terdapat hampir di seluruh dunia.II. Daur Hidup dan Morfologi Cacing jantan berukuran sekitar 10-30 cm. menuju jantung sebelah kanan. larynx dan .30° C. Selanjutnya dari alveoli bergerak kembali menuju bronkus. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang baik. III. dan bersuhu ± 25°C. mengikuti aliran darah sampai paru . Prevalensi askariasis sekitar 70-80%. tak bersegmen (unsegmented ovum) dan tidak infektif. Unsegmental ovum bisa berkembang menjadi larva. Telur yang terdapat pada tinja Merupakan telur yang fertil. Pada cacing betina. berlumpur. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini. pharynx. Frekuensinya antara 60-90%. Di Indonesia. Dalam tahap ini telur yang berisi larva merupakan bentuk infektif dari spesies.paru dan berhenti serta tumbuh dan mengalami moulting 2 kali dalam alveoli paru. Epidemiologi Penyakit ini sifatnya kosmopolit. menetas dan larva akan keluar dibagian atas usus halus.

atau mulut.”6 Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200. Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (Cacing Tambang) a) Klasifikasi Necator americanus Phylum : Nemathelminthes Class : Nematoda Subclass : Adenophorea Ordo : Enoplida Super famili : Rhabditoidea Genus : Necator Species : Necator americanus b) Klasifikasi Ancylostoma duodenale Phylum : Nemathelminthes Class : Nematoda Subclass : Secernemtea Ordo : Rhabditida . hidung.000 telur per harinya. Setelah dewasa dan terbentuk jantan dan betina maka cacing dewasa akan kawin dan akan bertelur.akhirnya ikut tertelan masuk kedalam lambung dan Di usus halus moulting satu kali lagi. Telur Ascaris yang berisi embrio diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja pasien atau ditemukan cacing dewasa pada anus. B. bentuknya lebih besar sekitar 90 x 40 mikron. dan cacing tumbuh menjadi dewasa. telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3 minggu. Sedangkan telur yang tak dibuahi. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia. Periode ini disebut dengan periode prepatent. Telur yang telah dibuahi berukuran 60 x 45 mikron. Dalam lingkungan yang sesuai. betina sudah dapat menghasilkan telur kurang lebih 2 bulan sejak infeksi pertama.

Tempat hidup jenis cacing ini ada di dalam usus halus terutama jejunum dan duodenum. Cacing ini tidak mempunyai Hospes perantara. sedangkan Ancylostoma duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Daur Hidup dan Morfologi Cacing betina Necator americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira sekitar 9000 butir. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik. Bentuk badan Necator americanus biasanya menyerupai huruf S. Hospes dan Penyakit Hospes definitif kedua cacing ini. humus) dengan suhu optimal untuk Necator americanus 28°-32° C. III. Untuk menghindari infeksi salah satu antara lain. dengan memakai alas kaki (sepatu. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir. II. Kebiasaan defeksi dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun penting dalam penyebaran infeksi. sedangkan untuk Ancylostoma duodenale 23°-25° C. Necator americanus mempunyai benda kitin. Epidemiologi Insiden tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia terutama dipedesaan khususnya di perkebunan. . Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis. cacing jantan 0.Super famili : Rhabditoidea Genus : Ancylostoma Species : Ancylostoma duodenale I. sedangkan pada Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi. adalah manusia. sedangkan Ancylostoma duodenale kira-kira 10. Seringkali golongan pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%.000 butir.8 cm. sandal). Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm.

Perkembangan telur di atas tanah dipengaruhi oleh beberapa keadaan yang optimal untuk pertumbuhan telur adalah ditanah yang lembab. biasanya berisi blastomere. Bila sebelum periode infektif (filariform larva ) teijadi kontak dengan kulit manusia. Genital primordial yang tidak jelas. Inokulasi dan Penetrasi melalui kulit kejaringan.25-0. Biasanya yang .30 milimeter. Disini telur akan menetas dan keluar larva stadium 1 (rhabditoid larva) yang panjangnya kurang lebih 0. Buccal cavity menutup. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron. sedang pada Ancylostoma duodenale tidak.5 hari lalu akan terbentuk larva rabditiform. Telur yang keluar bersama faeces tidak infektif. berpasir. Bentu ini infektif untuk manusia dan dapat bertahan lama di atas tanah sampai beberapa minggu. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform. Dimana merupakan stadium yang aktif yang memakan bahan-bahan organik dan bakteri di sekitarnya. Pertumbuhan telur menjadi lambat pada faeces yang encer atau bahkan mungkin terhenti bila bercampur dengan urine. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron. Dan Oesphagus yang muskular dan berbentuk botol sepanjang 1/3 anterior panjang tubuh. gembur. teduh dan hangat. sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron. Di dalamnya terdapat beberapa sel.Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1. Oesoghagus yang muscular dan memanjang. selanjutnya Larva terus tumbuh dan dalam waktu 6-8 hari kemudian setelah moulting dua kali tumbuh menjadi larva stadium III (filariform) yang dapat dikenal dari. Rectum yang pendek. Stadium ini menjadi bentuk yang non feeding dimana tubuhnya tertutup oleh selaput/sheath/cuticula mulai dari ujung anterior sampai posterior sebagai bahan protektive. Bentuk dari rhabditiform larva ini dapat dikenal dari buccal caviti yang terbuka panjang. yang dapat menembus kulit dan dapat hidup dalam 7-8 minggu di tanah. Pada stadium ini dapat dibedakan karena filariform larva Necator americanus sheath yang membungkus tubuh nampak adanya garis-garis / striae tansversal. maka filariform larva akan menebus kulit dan masuk ke jaringan secara aktif. berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Bentuknya yang relatif langsing panjang 500-600.

” C. sampai kelapisan corium dan lapisan subcutan sampai ke venulae biasanya mati dan diphagositisis. terutama di daerah sekum dan kolon. setelah sampai di usus halus larva melepaskan kulitnya lalu melekatkan diri pada mucosa / vili usus. Infeksi juga bisa terjadi melalui mulut dimana filariform larva tertelan dan langsung sampai keusus dan tumbuh menjadi dewasa tanpa melalui lung migration. Cacing ini juga kadang-kadang ditemukan di apendiks dan ileum (bagian . waktu yang dibutuhkan meulai kulit sampai cacing dewasa betina menghasilkan telur kurang dari 5 mingu atau lebih. Penyakit yang disebabkannya disebut Trikuriasis dan sering ditemukan bersama-sama Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa hidup di dalam usus besar manusia. atau epidermis yang mengulupas.sering adalah kulit inter digiti melalui follicle rambut. Trichuris trichiura Klasifikasi : Trichuris trichiura Phylum : Nemathelminthes Class : Nematoda Subclass : Adenophorea Ordo : Enoplida Super famili : Tichinelloidea Genus : Trichuris Species : Trichuris trichiura I. Larva yang berhasil mencapai peredaran darah melalui venulae/pembunuh lymphe. paruparu (Lung migration) dan kembali tertelan masuk kedalam usus dan kemudian mengadakan moulting lagi yang ke 3. tumbuh dan mengadakan deverensiasi sexuil sampai menjadi dewasa dan terbentuk mulut yang sempuma. dengan mengikuti peredaran darah vena sampai kejantung kanan. penetrasi ke lapisan di bawahnya. Hospes dan Penyakit Manusia merupakan hospes cacing ini.

pembuatan jamban yang baik dan pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan. mencicu dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negeri-negeri yang memakai tinja sebagai pupuk. Cara infeksi langsung bila secara kebetulan hospes menelan telur matang. yaitu pada tanah yang lembab dan teduh. Telur berisi sel telur (dalam tinja segar). Kulit telur bagian luar berwarna kuning-kekuningan dan bagian dalamnya jernih. Frkuensi di Indonesia tinggi. Di berbagai negeri pemakaian tinja sebagai pupuk kebun merupakan sumber infeksi. III. berbentuk seperti tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Epidemiologi Penyebaran penyakit tersering akibat kontaminasi tanah dengan tinja. terutama anak. Daur Hidup dan Morfologi Cacing betina panjangnya kira-kira 5 cm. Telur tumbuh di tanah liat.usus palaing bawah). perkembangan didalam induk semang berlangsung didalam lumen usus dan massa prepaten 2-3 bulan. Cacing ini sering ditemukan melekat pada caecum II. Penularan terjadi secara langsung melalui telur infektif (L2). Bagian anterior langsing seperti cambuk. dan telur sangat bersifat resisten. Telur berukuran 50 – 54 mikron x 32 mikron. tempat lembab dan tduh dengan suhu optimum kirakira 30°C. panjangnya kira-kira 3/5 dari panjang seluruh tubuh.Di daerah yang sangat endemik infeksi dapat dicegah pengobatan penderita trikuriasis. Mencuci tangan sebelum makan. pada cacing betina bentuknys membulat tumpul dan pada cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikulum. Di beberapa daerah pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar antara 30 – 90 %. Bagian posterior bentuknya lebih gemuk. Larva keluar . sedangkan cacing jantan kirakira 4 cm. Telur tersebut menjadi matang dalam waktu 3 – 6 minggu dalam lingkungan yang sesuai. Telur yang dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja.

(Sotanto. Masa pertumbuhan mulai dari telur tertelan sampai cacing dewasa betina bertelur ± 30 – 90 hari.melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus.I. terutama sekum. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon. Is Suhariah) . Cacing ini tidak mempunyai siklus paru.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->