P. 1
Budaya Politik Indonesia

Budaya Politik Indonesia

|Views: 10|Likes:
Published by Kirayama Febriant

More info:

Published by: Kirayama Febriant on May 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2013

pdf

text

original

Budaya Politik Indonesia Apa sebenarnya budaya politik? Banyak ahli mendefinisikan pengertian budaya politik.

Roy Macridis, mendefinisikan kebudayaan politik adalah sebagai tujuan bersama dan peraturan yang diterima bersama. Samuel Beer komponen-komponen kebudayaan adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap emosi tentang bagaimana pemerintah seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan pemerintah. Sedangkan menurut Finer, kebudayaan politik suatu bangsa terutama nampaknya terpusat terhadap legitimasi peraturan-peraturan dan lembaga politik serta prosedur. Kemudian Dennis Kavanagh, kebudayaan politik adalah sebagai pernyataan untuk menyatakan lingkungan perasaan dan sikap dimana sistem politik itu berlangsung. Adapun obyek-obyek politik mencakup bagian dari sistem politik, seperti badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, partai-partai politik, dan kelompok-kelompok organisasi, pandangan-pandangan individual sendiri sebagai pelaku-pelaku politik dan pandangannya terhadap warga masyarakat lain.

Robert Dahl, mendefinisikan kebudayaan politik adalah satu faktor yang menjelaskan pola-pola yang berbeda mengenai pertentangan politik. Adapun unsur budaya yang penting:

1.Orientasi masalah-masalah, apakah mereka pragmatik atau rasionalistis. Orientasi ini biasanya ditentukan/diarahkan oleh faktor-faktor eperti tradisi, kenangan sejarah, motif, agama, perasaan, dan simbol-simbol. Adapun komponen orientasi ini Cognitif (pengetahuan dan kesadaran tentang sistem politik), afektif, kecenderungan emosi terhadap sistem itu, dan evaluasi (pertimbangan terhadap sistem).

2.Orientasi terhadap aksi bersama, apakah mereka bersifat kerjasama atau tidak (kooperatif atau non kooperatif).

3.Orientasi terhadap sistem politik, apakah mereka setia atau tidak.

4.Orientasi terhadap orang lain, apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.

Menurut Pye, indikator-indikator kebudayaan politik suatu bangsa mencakup faktor-faktor seperti wawasan politik, bagaimana hubungan antara tujuan dan cara standar untuk penilaian aksi politik serta nilai-nilai yang menonjol bagi aksi politik.

Sedangkan orientasi yang bersifat evaluatif menyangkut kapasitas individu dalam rangka memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang berjalan dan bagaimana peranan individu di dalamnya (Gaffar. dan lain sebagainya.Definisi budaya politik yang lain diberikan Almond dan Verba. Pendapat lain lagi dikemukan oleh Rusadi Kantaprawira. Dalam kedudukannya sebagai satu subkultur. Sementara itu orientasi yang bersifat afektif menyangkut ikatan emosional yang dimiliki oleh individu terhadap sistem politik. 2. 1999:26). di satu segi massa masih ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul tanggungjawab politiknya . juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam sistem politik. pola sikapnya terhadap berbagai masalah politik dan peristiwa politik terbawa pula ke dalam pembentukan struktur dan proses kegiatan politik masyarakat maupun pemerintah(an). Jadi menyangkut feelings terhadap sistem politik. Lalu bagaimana dengan budaya politik Indonesia? Menurut Afan Gaffar (Gaffar. Jadi kebudayaan politik tidak lain adalah bagian dari kebudayaan suatu masyarakat. kecenderungan kepada patronage dan kecenderungan neo-patrimonialistik. 2004:99-100). karena sistem politik itu sendiri adalah interrelasi antara manusia yang menyangkut soal kekuasaan. kebudayaan politik dipengaruhi oleh budaya secara umum. Orientasi yang bersifat kognitif menyangkut pemahaman dan keyakinan individu terhadap sistem politik dan atributnya. Budaya politik merupakan persepsi manusia. Rusadi Kantaprawira. seperti tentang ibukota negara. dalam hal ini sistem politik kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam bentuk orientasi yang bersifat kognitif. pengaruh . mata uang yang dipakai. Keaneka ragaman subkultur ini ditanggulangi berkat usaha pembangunan bangsa (nation building) dan pembangunan karakter (character building). Budaya politik tidak lain daripada orientasi psikologis terhadap obyek sosial.Konfigurasi subkultur di Indonesia masih beraneka ragam.Budaya politik Indonesia bersifat parokial-kaula di satu pihak dan budaya politik partisipan dilain pihak. memberikan gambaran sementara tentang budaya politik Indonesia adalah sebagai berikut (Kantaprawira. aturan dan wewenang (Kantaprawira.yang mungkin disebabkan oleh isolasi dari kebudayaan luar. 2004:106-118) budaya politik Indonesia yang dominan adalah yang berasal dari etnis Jawa. Menurut keduanya budaya politik merupakan sikap individu terhadap sistem politik dan komponen-komponennya. afektif dan evaluasi. 1999:37-39): 1.

sedang di lain pihak kaum elitnya sungguhsungguh merupakan merupakan partisipan yang aktif – yang kira-kira disebabkan oleh pengaruh pendidikan moderen – kadang-kadang bersifat sekuler dalam arti relatif dapat membedakan faktorfaktor penyebab disintegrasi seperti agama.penjajahan. ikatan primordial . bapakisme. Bentuk-bentuk mempolitisasi agama ini dapat dilakukan dengan dua cara pertama dengan menggunakan dari ayat-ayat tertentu dari agama yang dapat membenarkan tindakan yang dilakukan . dampak yang menonjol selama orde baru adalah kolusi. keagamaan. perbedaan pendekatan terhadap keagamaan tertentu. feodalisme. sikap asal bapak senang. Pengangkatan seseorang pada jabatannya cenderung bukan berdasarkan prestasi tetapi pada kolusi atau nepotisme. 5. Di Indonesia. salah satu petunjuk masih kukuhnya ikatan tersebut dapat dilihat dari pola budaya politik yang tercermin dalam struktur vertikal masyarakat di mana usaha gerakan kaum elit langsung mengeksploitasi dan menyentuh substruktur sosial dan subkultur untuk tujuan perekrutan dukungan. korupsi dan nepotisme. 4. Akibat budaya politik seperti ini. peraturan tentang pengangkatan ada tetapi tidak ditaati. bersilangan. kadang-kadang berkoinsidensi yang bentuk potret sementaranya bergantung pada variabel tertentu yang relatif paling dominan. budaya politik tipe parokial kaula lebih mempunyai keselarasan untuk tumbuh dengan persepsi masyarakat terhadap obyek politik yang menyandarkan atau menundukkan diri pada proses output dari penguasa. puritanisme dan nonpuritanisme dan lain-lain.Sifat ikatan primordial yang masih berurat berakar yang dikenal melalui indikatornya berupa sentimen kedaerahan. sebagai indikatornya dapat disebutkan antara lain bapakisme. Di samping itu.Dilema interaksi tentang introduksi moderenisasi (dengan segala konsekwensinya) dengan pola-pola yang telah lama berakar sebagai tradisi dalam masyarakat. kesukuan dan lainnya.Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengkukuhi sikap paternalisme dan sifat patrimonial. Varibel-variebel tersebut di atas terjali satu sama lain. berinteraksi. 3. dengan kata lain kebudayaan politik Indonesia merupakan “mixed political culture” yang diwarnai dengan besarnya pengaruh kebudayaan politik parokial-kaula. kesukuan.

penyelenggaraan administrasi negara. apakah itu dalam bentuk demonstrasi atau pawai dijalanan istilah lainnya “tekanan dari jalanan”. Budaya politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan benegara. politik pemerintahan. adat istiadat.yaitu budaya politik yang masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonominya tetapi masih bersifat pasif. . Budaya politik partisipan. Budaya politik kaula. dan norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya. [sunting] Budaya politik berdasarkan Orientasinya Budaya politik parokial yaitu budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. hukum.dan dua dengan mengerahkan massa turun ke jalan.yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik yang sangat tinggi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->