SEMANTIK A.

Pendahuluan Pendidikan Bahasa Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan bebas hambatan. Betapa tidak, pada satu sisi dunia pendidikan Bahasa Indonesia saat ini dirundung masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan menghadapi milenium ketiga semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan Bahasa Indonesia kita memang sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan bangsa lain. Istilah semantik sudah ada sejak abad ke-17 bila dipertimbangkan dari semantic philosophy, tetapi istilah semantik baru muncul pada tahun 1894 yang diperkenalkan oleh organisasi filologi Amerika yang bernama “ American Philological Association “ dalam sebuah artikel yang berjudul Reflected Meaning : A Point in Semantic. Semantik baru dinyatakan sebagai ilmu makna pada tahun 1890-an dengan munculnya Essai de Semantique kaya Breal, yang kemudian disusul oleh karya dari Stern pada tahun 1931. Sejalan dengan berkembangnya zaman perkembangan bahasa pun juga ikut berkembang dan mengalami pergeseran-pergeseran makna. Pergeseran makna bahasa memang tidak dapat dihindari, hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang nantinya akan di bahas secara mendalam di dalam pembahasan. Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia muncul berbagai kata yang memiliki banyak makna baru. Meski demikian makna yang melekat terlebih dahulu tidak serta merta hilang begitu saja. Perubahan makna suatu kata yang terjadi, terkadang hamper tidak disadari oleh pengguna bahasa itu sendiri. Untuk itu perlu bagi kita sebagai calon guru Bahasa Indonesia untuk mengetahui dan memahami ilmu kebahasaan secara utuh salah sarunya tentang perubahan makna.

1

Perubahan Makna dalam Kalimat. 2007). hlm. sebagian lagi asosiasi itu hanyalah suatu wahana untuk suatu perubahan yang ditentukan oleh sebab-sebab lain tetapi bagaimanapun suatu jenis asosiasi akan selalu mengalami proses. 1993). Ilmu Semantik. 2 . Pengertian Semantik Semantik (Bahasa Yunani: semantikos. Dalam perubahan makna selalu ada hubungan (asosiasi) antara makna lama dan makna baru. atau jenis representasi lain. (Jakarta: Pustaka Pelajar. pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana. asosiasi bisa begitu kuat untuk mengubah makna dengan sendirinya. Menurut Djajasudarma. (Jakarta: Gramedia. 1 2 Djadjasudarma. Beberapa dari ahli semantik awal mengakui suatu asosiasinisme yang sederhana. penting. Tetapi seandainya para pengguna bahasa dalam bertutur satu sama lain tidak saling mengerti makna yang ada dalam tuturan maka tidak mungkin tuturan berbahasa bias berjalan secara komunikatif. Palmer. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna: sintaksis. kode. serta pragmatika. 5. hlm. Dalam pengertian ini asosiasi dapat dianggap sebagai suatu syarat mutlak bagi perubahan makna. makna hanya menyangkut unsur intrabahasa. Di sini dituntut antara penutur dan lawan tuturnya harus saling mengerti makna bahasa yang mereka tuturkan. tanda) adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa. dari kata sema. penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu. (Yogjakarta: Pustaka Pelajar. memberikan tanda. Dalam beberapa hal. 1976). hlm.B.3 Dalam sejarah ilmu semantik. tidak peduli apapun yang menyebabkan perubahan itu terjadi.1 Sedangkan menurut Palmer. 30. 3 Stephen Ullmann. makna adalah pertautan yang ada di antara unsurunsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). teori asosiasi muncul dalam dua bentuk. Pengantar Semantik.2 Dengan demikian makna merupakan aspek penting dalam sebuah bahasa karena makna maka sebuah komunikasi dapat terjadi dengan lancar dan saling mengerti. 263-264.

hlm. 1994).mereka mencoba menjelaskan perubahan makna sebagai hasil asosiasi antara kata-kata yang diisolasikan (berdiri sendiri). Sekarang kata “saudara” walaupun masih juga digunakan dalam artian tersebut tapi juga digunakan untuk menyebut siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang 4 5 Abdul Chaer. Resmini dkk. Linguistik Umum. 3 .Morfologi.4 C. hlm. Perkembangan sosial dan budaya Dalam perkembangan sosial dan budaya kemasyarakatan turut memengaruhi perubahan makna. Pandangan-pandangan baru atau teori baru mengenai “sastra” menyebabkan makna kata “sastra” yang tadinya “bermakna buku yang baik isinya dan baik bahasanya” menjadi berarti “karya yang bersifat imaginatif kreatif”. Diantaranya adalah sebagai berikut:5 1. 2. Pada beberapa dekade terakhir suatu pandangan yang lebih maju berdasarkan prinsip-prinsip struktural telah meluas.dan Semantik). Sebagai contoh perubahan makna kata “sastra” dari makna tulisan sampai pada makna karya imaginatif adalah salah satu contoh perkembangan bidang keilmuan. Sebagai contoh kata “saudara” dalam bahasa Sansekerta bermakna seperut atau satu kandungan. 2006). tetap digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagai akibat dari pandangan baru atau teori baru dalam satu bidang ilmu atau sebagai akibat dalam perkembangan teknologi. Kebahasaan (Fonologi. perhatian telah berubah dari kata-kata tunggal menjadi satuan-satuan yang lebih luas yaitu yang disebut “medan asosiatif” yang mencakupi kata-kata tersebut. Perkembangan dalam ilmu dan teknologi Dalam hal ini sebuah kata yang tadinya mengandung konsep makna mengenai sesuatu yang sederhana. Sebab-sebab Perubahan Makna Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna suatu kata. (Jakarta: Rineka Cipta.(Bandung: UPI PRESS.

ibu. Kemudian setelah kemerdekaan dan timbulnya kesadaran bahwa sebutan “tuan” atau “nyonya” berbau kolonial sehingga kia menggantinya dengan sebutan “bapak” atau “ibu”. tanah garapan dan sebagainya.sama. hanya perlu diingat bahwa makna baru kata-kata tersebut masih ada kaitannya dengan makna asli. Kesimpulannya makna kata yang digunakan bukan dalam bidangnya itu dan makna kata yang digunakan di dalam bidang asalnya masih berada dalam poliseminya karena makna-makna tersebut masih saling berkaitan atau masih ada persamaan antara makna yang satu dengan makna yang lainnya. 4. Misalnya kata “menggarap” yang berasal dari bidang pertanian dengan segala macam derivasinya seperti tampak pada frase menggarap sawah. adik. Dari contoh yang diuraikan maka kata-kata tersebut bisa jadi mempunyai arti yang tidak sama dengan arti dalam bidang asalnya. Penyebab perubahan makna ini dimungkinkan disebabkan karena dahulu pada zaman sebelum merdeka (dan juga beberapa tahun setelah kemerdekaan) untuk menyebut dan menyapa orang yang lebih tinggi status sosialnya digunakan kata “tuan” atau “nyonya”. 4 . Kata-kata tersebut digunakan dalam bidang lain secara metaforis atau secara perbandingan..cit. Adanya Asosiasi 6 Stephen Ullmann. kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna barunya yang berarti “mengerjakan” seperti tampak pada frasa menggarap skripsi. Sehingga kata-kata tersebut memiliki makna yang baru. menggarap naskah drama dan lain-lain. Op. atau makna lain disamping makna aslinya. Pebedaan bidang pemakaian Kata-kata yang menjadi kosa kata dalam bidang-bidang tertentu itu dalam kehidupan dan pemakaian sehari-hari dapat juga dipakai dalam bidang lain atau menjadi kosa kata umum. kakak.6 3. hlm. Hal ini terjadi pula pada hampir semua kata atau istilah perkerabatan seperti bapak. 264.

kedengarannya memang nikmat dan masih banyak contohcontoh yang lain. Contoh lain pada kata “kasar” yang seharusnya ditanggap oleh alat indera peraba yaitu kulit namun bisa juga ditanggap oleh alat indera penglihatan mata seperti pada kalimat “Tingkah lakunya kasar”. Dalam contoh kata “amplop” dengan kata uang terjadi asosiasi yaitu berkenaan dengan wadah. biasa pula dimasukkan benda lain seperti uang. Agak berbeda dengan perubahan makna yang terjadi sebagai akibat penggunaan dalam bidang yang lain. disini makna baru yang muncul adalah berkaitan dengan hal atau peristiwa lain yang berkenaan dengan kata tersebut. 5 . Contoh yang lain terjadi pada beberapa frase yaitu suaranya sedap didengar. Pertukaran Tanggapan Indra Dalam penggunaan bahasa banyak terjadi kasus pertukaran tanggapan antara indera yang satu dengan indera yang lain. suaranya berat sekali. 5. warnanya enak dipandang. Pertukaran alat indera penanggap ini biasa disebut dengan istilah sinestesia. bentuknya manis. makna asalnya adalah sampul surat. Rasa pedas. misalnya yang seharusnya ditanggap dengan alat indera perasa pada lidah tertukar menjadi ditanggap oleh alat indera pendengaran seperti tampak dalam ujaran katakatanya cukup pedas.Kata-kata yang digunakan di luar bidangnya seperti dibicarakan pada bagian sebelumnya masih ada hubungan atau pertautan maknanya dengan makna yang digunakan pada bidang asalnya. Kata “amplop” berasal dari bidang administrasi atau surat menyurat. Dalam kalimat itu kata “amplop” bermakna uang sebab amplop yang dimaksud bukan berisi surat atau tidak berisi apa-apa melainkan berisi uang sebagai sogokan. Ke dalam amplop itu selain biasa dimasukkan surat. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani sun artinya sama dan aisthetikas artinya tampak. Oleh karena itu dalam kalimat “Berikan dia amplop biar urusanmu cepat selesai”. Dalam pemakaian bahasa Indonesia secara umum banyak sekali terjadi gejala sinestesia ini.

Sebagai contoh ada yang berkata “ayahnya meninggal” tentu maksudnya meninggal dunia tapi hanya disebutkan meninggal saja. kata “bang” dan “bung”. kurang menyenangkan. Oleh karena itu kemudian banyak orang menggunakan singkatannya saja daripada menggunakan bentukya secara utuh. 6 . Perbedaan Tanggapan Setiap unsur leksikal atau kata sebenarnya secara sinkronis telah mempunyai makna leksikal yang tetap. ke perpus yang maksudnya ke perpustakaan. Kalau disimak sebenarnya dalam kasus penyingkatan kata ini bukanlah peristiwa perubahan makna yang terjadi sebab makna atau konsep itu tetap. Contoh kata “bini” sekarang ini dianggap peyoratif sedangkan kata “istri” dianggap ameliorative. Kata-kata yang nilainya merosot menjadi rendah ini disebut dengan istilah peyoratif sedangkan yang nilainya naik menjadi tinggi disebut ameliorative. 7. ke lab yang maksudnya ke laboratarium dan sebagainya. Nilai rasa itu kemungkinan besar hanya bersifat sinkronis. Yang terjadi adalah perubahan bentuk kata. Perkembangan pandangan hidup yang biasanya sejalan dengan perkembangan budaya dan kemasyarakatan dapat memungkinkan terjadinya perubahan nilai rasa peyoratif atau amelioratifnya sebuah kata. Kata yang semula berbentuk utuh disingkat menjadi bentuk yang lebih pendek. Namun karena pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan di dalam masyarakat maka banyak kata yang menjadi memiliki nilai rasa yang rendah. Di samping itu ada juga yang menjadi memiliki nilai rasa yang tinggi atau menyenangkan. Hal ini terjadi pula pada kata “berpulang” yang maksudnya berpulang ke rahmatullah.6. Begitupun terjadi pada kata “laki” dan “suami”. Adanya Penyingkatan Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan maka kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Secara diakronis ada kemungkinan bisa berubah.

Perubahan Meluas Yang dimaksud perubahan yang meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna tetapi kemudian karena berbagai factor menjadi memiliki maknamakna yang lain.cit..8. meluaskan maupun memberi makna baru. reduplikasi dan komposisi akan menyebabkan pula terjadinya perubahan makna. 9. 7 . Jenis Perubahan Makna Dalam bagian ini akan diuraikan beberapa jenis perubahan makna yang terjadi dalam bahasa Indonesia. Proses Gramatikal Proses gramatikal seperti afiksasi. Op. Dan maknamakna lain yang terjadi sebagai hasil perluasan makna itu masih berada dalam lingkup poliseminya artinya masih ada hubungannya dengan makna asalnya. Pengembangan Istilah Salah satu upaya dalam pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosa ata bahasa Indonesia yang ada dengan jalan member makna baru baik dengan menyempitkan. Proses perluasan makna ini dapat terjadi dalam kurun waktu yang relative singkat tetapi dapat juga dalam kurun waktu yang lama. Tetapi dalam hal ini yang terjadi sebenarnya bukan perubahan makna sebab bentuk kata itu sudah berubah sebagai hasil proses gramatikal dan proses tersebut telah melahirkan makna-makna gramatikal. D. Berikut pemaparannya:7 1. Seperti pada kata “papan” yang semula bermakna lempengan kayu tipis kini diangkat menjadi istilah untuk makna perumahan. kata “teras” yang semula bermakna inti atau saripati kayu sekarang memiliki makna yang baru yaitu utama atau pimpinan. Seperti pada kata “saudara” yang dahulu hanya mempunyai satu makna yaitu 7 Resmini dkk.

Kecenderungan untuk menghaluskan makna kata tampaknya merupakan gejala umum dalam masyarakat bahasa Indonesia. Lebih jauh lagi sekarang kata saudara bermakna siapapun orang tersebut dapat disebut saudara. seni tari. Misalnya kata “penjara” diganti dengan istilah lembaga pemasyarakatan. Perubahan Menyempit Perubahan menyempit merupakan suatu gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas namun kemudian berubah menjadi terbatas hanya memiliki sebuah makna saja.seperut atau sekandungan sekarang berkembang menjadi bermakna lebih dari satu. Dan mempunyai makna lain yaitu siapa saja yang sepertalian darah. Perubahan Total Yang dimaksud perubahan total yaitu suatu makna sebuah kata yang berubah total atau berubah sama sekali dari makna asalnya. Penghalusan (ufemia) Penghalusan dalam perubahan makna ini maksudnya adalah suatu gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna yang lebih halus atau lebih sopan daripada yang akan digantikan. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makna asal tapi keterkaitannya ini tampaknya sudah jauh sekali. 4. “pemecatan” diganti dengan 8 . Sebaliknya serendah berapapun indeks prestasi seseorang kalau dia sudah lulus dari perguruan tinggi dia akan disebut sebagai sarjana. 3. seni suara. Sebagai contoh kata “seni” yang mulanya bermakna air seni atau kencing sekarang digunakan sebagai istilah untuk sebuah karya atau ciptaan yang bernilai halus seperti seni lukis. Sehingga sepandai apapun seseorang sebagai hasil dari belajar sendiri. Kata “sarjana” yang pada mulanya berarti orang pandai atau cendekiawan dan sekarang kata itu hanya memiliki sebuah makna saja yaitu orang yang lulus dari perguruan tinggi. 2. kalau bukan tamatan perguruan tinggi maka tidak bisa disebut sebagai sarjana.

Faktor kesejarahan Faktor ini dapat dirinci menjadi factor objek. Misalnya kata “sahaya” yang pada mulanya bermakna budak tetapi karena kata ini berubah menjadi kata “saya” maka makna kata “saya” dihubungkan dengan orang pertama dan orang tidak menghubungkan dengan kata “budak” sehingga maknanya pun menjadi berubah. berikut uraiannya:8 1. Sebagai contoh factor objek. morfologi dan sintaksis. kata “wanita” yang sebenarnya berasal dari kata “betina”. Seperti pada kata “menjebloskan” untuk menggantikan kata “memasukkan”. 5. kata “mendepak” untuk menggantikan kata “mengeluarkan” dan sebagainya. faktor institusi.istilah “pemutusan hubungan kerja”. (Jakarta: Rineka Cipta. Semantik Leksikal. Kata “betina” selalu dihubungkan dengan hewan. dan faktor konsep ilmiah. 9 . E. Kata “betina” dalam perkembangannya menjadi batina lalu fonem /b/ merubah menjadi /w/ sehingga menjadi wanita. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan oleh orang dalam situasi yang tidak ramah atau dalam keadaan jengkel. hlm. Pengasaran (disfemia) Pengasaran yang dimaksud adalah suatu usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa menjadi kata yang maknanya kasar. Faktor yang Memudahkan Terjadinya Perubahan Makna Dalam hubungannya dengan perubahan makna Ullmann lewat Mansoer Pateda menyebutkan beberapa factor yang memudahkan terjadinya perubahan makna. “babu” diganti dengan istilah pembantu rumah tangga. 1996). Dan kata “wanita” 8 Mansoer Pateda. faktor ide. Faktor Kebahasaan Perubahan makna karena factor kebahasaan berhubungan dengan fonologi. 2. 198-210.

Misalnya kata “gerombolan” yang pada mulanya bermakna orang yang berkumpul atau kerumunan orang tapi kemudian kata ini tidak disukai lagi sebab selalu dihubungkan dengan pemberontak atau pengacau.ini berpadanan dengan kata “perempuan” dan sekarang orang tidak lagi menghubungkan kata “wanita” dengan kata “hewan”. “Hei bangsat. Sebagai contoh dari faktor tabu misalnya penggunaan kata “bangsat”. Faktor Sosial Perubahan makna yang disebabkan karena faktor sosial dihubungkan dengan perkembangan Makna kata dalam masyarakat. Hal itu disebabkan oleh interaksi antara sesama bangsa. 5. 3. sehingga ada perubahan makna pada kata tersebut. 4. Faktor Psikologi Faktor psikologi ini dapat dirinci lagi menjadi factor emosi dan katakata tabu. Pengaruh itu misalnya berasal dari bahasa Inggris yaitu pada kata “keran” yang berasal dari bahasa Inggris “crank” yang kemudian dalam bahasa Indonesia bermakna keran yang artinya pancuran air ledeng yang dapat dibuka dan ditutup. Itu sebabnya pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia juga tidak dapat dihindarkan. tetapi setelah tahun 1945 apalagi dengan munculnya pemberontak maka kata “gerombolan” enggan digunakan bahkan ditakuti. Sebelum tahun 1945 orang dapat saja berkata “Gerombolan laki-laki menuju pasar”. Dahulu makna kata “bangsat” dihubungkan dengan binatang yang biasa menggigit jika kita duduk di kursi rotan karena binatang itu hidup di sela-sela anyaman rotan. kenapa hanya duduk?” maka kata “bangsat” di sini tidak lagi diartikan sebagai binatang kecil tapi manusia yang malas yang kelakuannya menyakitkan hati. Sekarang kalau orang marah lalu mengatakan. Tetapi kalimat “Engkau masuk departemen dan 10 . Pengaruh Bahasa Asing Perubahan bahasa yang satu dengan yang lain tidak dapat dihindarkan.

F. adanya asosiasi. Hakikat perubahan makna adalah bahwasannya perubahan makna sebagai hasil asosiasi antara kata-kata yang diisolasikan (berdiri sendiri). Dengan kata lain manusia berhadapan dengan ketiadaan kata atau istilah baru yang mendukung pemikirannya. Kadang-kadang konsep baru itu belum ada lambangnya. Karena Kebutuhan Kata yang Baru Telah diketahui bahwa manusia berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. perkembangan social dan budaya. Kesimpulan 1. Makna keran tidak lagi katup penutup tapi lebih banyak dikaitkan dengan anggaran. proses gramatikal. 2. perbedaan tanggapan. 3. Misalnya karena bangsa Indonesia merasa kurang enak menggunakan kata “saudara” maka muncullah kata “Anda”. pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana. Kebutuhan tersebut bukan saja kata atau istilah tersebut belum ada tapi juga orang merasa bahwa perlu menciptakan kata atau istilah baru untuk suatu konsep hasil penemuan manusia. Kebutuhan tersebut perlu nama atau kata barukarena bahasa adalah alat komunikasi. Kata “saudara” pada mulanya dihubungkan dengan orang yang sedarah dengan kita tapi kini kata saudara digunakan untuk menyebut siapa saja. 6. perbedaan bidang pemakaian. serta pragmatika. pertukaran tanggapan indera. Sebab-sebab perubahan makna yaitu perkembangan dalam ilmu dan teknologi. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna: sintaksis. atau jenis representasi lain. kode. 11 . dan pengembangan istilah. penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu. Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa.dapat membuka keran untuk kemajuan daerah kita”. adanya penyingkatan.

4. perubahan total. factor social. factor kesejarahan. perubahan menyempit. Faktor yang memudahkan perubahan makna yaitu factor kebahasaan. penghalusan. factor psikologi. dan pengasaran. DAFTAR KEPUSTAKAAN Chaer. 12 . Jakarta: Rineka Cipta. Jenis perubahan makna yaitu perubahan meluas. Abdul. 5. 1994. Linguistik Umum. factor pengaruh bahasa asing dan factor kebutuhan kata yang baru.

Pateda. 13 . Ullmann. 2007. Semantik Leksikal. Kebahasaan (Fonologi. 1993. 1976.Djadjasudarma. Resmini dkk. Jakarta: Pustaka Pelajar. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. Ilmu Semantik. Jakarta: Gramedia. Mansoer.dan Semantik). Perubahan Makna dalam Kalimat. Palmer.Morfologi. Jakarta: Rineka Cipta. Stephen. 1996. Pengantar Semantik. 2006.Bandung: UPI PRESS.