1

KENDALA DAN PERSOALAN DALAM PENEGAKAN KODE ETIK NOTARIS DAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT)

I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Kode Etik merupakan suatu tatanan etika yang telah disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Kode etik umumnya termasuk dalam norma sosial, namun bila ada kode etik yang memiliki sanksi yang agak berat, maka masuk dalam kategori norma hukum. Kode Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional. Kode Etik merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mewujudkan suatu profesi notaris dan PPAT yang bermartabat dan beretika yang dilandasi suatu aturan yang jelas yang telah dibuat serta di jadikan acuan dalam suatu tindakan oleh para notaris dan PPAT. Aturan-aturan yang telah dibuat tersebut bersifat final dan berisikan sanksi yang jelas serta dijalankan dengan pengawasan baik yang dilakukan oleh organ nataris itu sendiri maupun pemerintah dan akademisi yang ditunjuk, seiring kemajuan zaman telah diberlakukannya beberapa aturan yaitu kode etik notaris dan PPAT secara jelas dan beserta pengawasannya, tetapi dalam prakteknya dengan adanya kode etik ini ada sedikit membawa perubahan dalam praktek notaris dan PPAT dalam berkerja, akan tetapi ada juga banyak aturan yang ada pada kode etik sering dilanggar dan seakan-akan tidak dihiraukan oleh para notaris itu sendiri. Berbicara masalah penegakan suatu aturan bukanlah merupakan suatu hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan tetapi butuh proses dan kesadaran baik dari notaris dan PPAt itu sendiri maupun dari pengawas aturan tersebut, masalah yang diangkat pada makalah ini adalah apa saja hal yang menjadi kendala dan persoalan dalam penegakan kode etik notaris dan PPAT. B. Rumusan Masalah 1.Apakah kendala dan persoalan yang ada dalam penegakan Kode Etik Notaris dan PPAT ?

penandatangan akta yang tidak dilakukan dihadapan notaris. ketentuan mengenai pemasangan papan nama di depan atau di lingkungan kantor notaris serta notaris yang membuat papan nama melebihi ukuran yang telah ditentukan. Namun sanksi tersebut di atas termasuk sanksi pemecatan yang diberikan terhadap Notaris yang melakukan pelanggaran kade etik bukanlah berupa pemecatan dari jabatan Notaris melainkan pemecatan dari kaanggotaan Ikatan Notaris Indonesia sehingga walaupun Notaris yang bersangkutan telah terbukti melakukan pelanggaran kode etik. persaingan tarif yang tidak sehat. Pelaksanaan sanksi yang dijatuhkan oleh Dewan Kehormatan Ikatan Notaris lndonesia sebagai organisasi profesi terhadap Notaris yang melanggar kode etik. yaitu sebagai berikut: 1. PEMBAHASAN Kode etik merupakan seluruh kaedah moral yang menjadi pedoman dalam menjalankan jabatan notaris dan PPAT. Dengan parameter kode etik dapat dicegah kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara sesama anggota kelompok profesi. Ikatan Notaris Indonesia (INI) sebagai perkumpulan organisasi bagi para notaris mempunyai peranan yang sangat penting dalam penegakkan pelaksanaan kode etik profesi bagi Notaris. sehingga sanksi tersebut terkesan kurang mempunyai daya mengikat bagi Notaris yang melakukan pelanggaran kode etik. pelaksanaan sanksi yang dijatuhkan Dewan Kehormatan Ikatan Notaris Indonesia sebagai organisasi profesi dapat mengikat terhadap Notaris yang melanggar kode etik. Kode etik profesi sebagai seperangkat kaidah perilaku yang disusun secara tertulis dan sistematis sebagai pedoman yang harus dipatuhi dalam mengembangkan suatu profesi bagi suatu masyarakat profesi memiliki beberapa tujuan pokok. Sebagai sarana kontrol sosial Kode etik merupakan kriteria prinsip profesional sehingga dapat menjadi parameter mengenai kewajiban profesional pars anggotanya. Adapun kode etik yang dibuat secara tertulis.2 II. atau antara anggota kelompok profesi dan masyarakat. Sebagai pencegah campur tangan pihak lain . memiliki alasan-alasan dan tujuan tujuan tertentu. Pelanggaran kode etik yang terjadi antara lain adalah : pembuatan akta yang telah terlebih dahulu dipersiapkan oleh notaris lain sehingga notaris yang bersangkutan tinggal menandatangani. melakukan publikasi atau promosi diri dengan mencantumkan nama dan jabatannya. peringatan dan pemberhentian dari keanggotaan perkumpulan. baik dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. membuat akta di luar wilayah jabatannya. melalui Dewan Kehormatan yang mempunyai tugas utama untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan kode etik. Ruang lingkup kode etik notaris berlaku bagi seluruh anggota Perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan notaris. adalah: teguran. menurut Sumaryono. Notaris tersebut masih dapat membuat akta dan menjalankan kewenangan lainnya sebagai Notaris. hal ini memperlihatkan betapa kurang efektifnya atau lemahnya fungsi kode etik itu sendiri. Anggota kelompok atau anggota masyarakat yang berkepentingan dapat melakukan kontrol melalui rumusan kode etik profesi. 2.

Dengan demikian pemerintah atau masyarakat tidak perlu lagi ikut campur tangan untuk menentukan bagaimana seharusnya anggota kelompok profesi melaksanakan kewajiban profesionalnya. dan kewajiban terhadap klien. tanggung jawab.Saran kontrol sosi al Kemandirian profesi yang dimiliki seringkali menjadikan sebuah profesisangat sulit untuk terjangkau oleh nalar mereka yang tidak mengemban atau mematuhi ciri profesi. Memberikan imbauan moralitas Kode etik memberi imbauan moralitas kepada anggotanya dalam melaksanakan tugas di bidangnya.Memberikan standar etika Standar etika yang harus dipenuhi oleh pelaku profesi dirumuskan dalam kode etik profesi. lembaga dan masyarakat pads umumnya. B. Pelaksanaan moral profesi adalah sesuatu yang bersifat luhur. Di dalamnya dijelaskan mengenai penetapan hak. paksaan atau kepura-puraan. Memberikan batasan kebolehan atau larangan Kode etik memuat batasan kebolehan dan atau larangan terhadap anggota profesi dalam menjalankan profesinya. Dengan imbauan meskipun bersifat moralitas. Dengandemikian. . Adapun yang menjadikan tujuan pokok dari rumusan etika yang dituangkan dalam kode etik profesi adalah : A. Meskipun demikian. C. tidak pada tempatnya apabila semua profesional selalu berlindung dalam etik profesinya. kode etik dapat mencegah segala kesalahpahaman dan konflik. dan sebaliknya berguna sebagai bahan refleksi nama baik profesi. seorang profesional menghadapi dilema dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat. seorang profesional diingatkan untuk melakukan profesi tanpa tekanan.3 Kode etik menentukan standarisasi kewajiban profesional suatu kelompok profesi. Tidak jarang dalam menjalankan tugas profesinya. Kode etik profesi yang baik adalah yang mencerminkan nilai moral anggota kelompok profesi sendiri dan pihak yang membutuhkan pelayanan profesi yang bersangkutan.Kemandirian profesional dikontrol melalui kode etik profesinya. sehinggamemuaskan pihak-pihak yang berkepentingan. Kode etik merupakankristalisasi perilaku yang dianggap benar menurut pendapat umum karenaberdasarkan pertimbangan kepentingan profesi yang bersangkutan. Sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik Substansi dari kode etik profesi adalah norma perilaku yang sudahdianggap benar atau yang telah mapan dan tentunya akan lebih efektif lagi apabila norms perilaku tersebut dirumuskan sedemikian baiknya. 3. Kode etik menjamin perlindungan sejauh moralitas dasar perbuatannya terpenuhi. D.

Kemudian. di dalam peraturan yang lebih lanjut yaitu Pasal 28 ayat (2) huruf c Perka BPN No.H.03. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (“PP 37/1998”). Rangkap jabatan profesi notaris dan PPAT memang dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan. martabat.01 Tahun 2003 tentang Kenotarisan.” Kewenangan pengawasan pelaksanaan dan penindakan kode etik Notaris ada pada Dewan Kehormatan yang berjenjang mulai dari tingkat daerah. wilayah. dan akan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan kode etik profesi. tingkah laku saya. termasuk di dalamnya para Pejabat Sementara Notaris. Notaris dan kode etiknya Setiap Notaris yang diangkat harus mengucapkan sumpah yang salah satu isinya adalah “bahwa saya akan menjaga sikap. Notaris dan PPAT adalah dua profesi yang berbeda dengan kewenangan yang juga berbeda. Notaris pengganti. dan pusat (Pasal 1 angka 8 Kode Etik Notaris). Organisasi Notaris satusatunya yang diakui oleh Pemerintah adalah Ikatan Notaris Indonesia (“INI”). Walaupun. dan tanggung jawab saya sebagai Notaris” (Pasal 4 ayat [2] UUJN). 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah. dalam keseharian kita banyak temui notaris yang juga berprofesi sebagai PPAT.Perbedaan Kode Etik Notaris dan PPAT Peraturan perundang-undangan yang utama mengenai Notaris adalah UU No. sedangkan mengenai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) adalah PP No. Berdasarkan Pasal 1 Angka 13 Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (“UUJN”). PPAT dan kode etiknya Kemudian mengenai PPAT. 1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.T. Akan tetapi.4 A. Kode Etik Notaris yang berlaku saat ini adalah Kode Etik Notaris berdasarkan Keputusan Kongres Luar Biasa INI tanggal 27 Januari 2005 di Bandung (“Kode Etik Notaris”). kehormatan. Kode Etik Notaris ditetapkan oleh Organisasi Notaris (Pasal 83 ayat [1] UUJN). Dalam Pasal 1 angka 2 Kode Etik Notaris disebutkan bahwa: “Kode Etik Notaris dan untuk selanjutnya akan disebut Kode Etik adalah seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia yang selanjutnya akan disebut “Perkumpulan” berdasar keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris. Berarti kode etik profesi Notaris merupakan pedoman sikap dan tingkah laku jabatan Notaris. dan Notaris Pengganti Khusus. disebutkan bahwa PPAT diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya oleh .M-01. di dalam ketentuan PP 37/1998 tidak disebut sama sekali mengenai etika profesi atau kode etik profesi.

Berikut ini dikemukakan mengenai alasan-alasan mendasar mengapa notaris dan PPAT cenderung mengabaikan dan bahkan melanggar kode etik tersebut. Sedangkan faktor eksternal mungkin dikarenakan lingkungan budaya yang melingkupi notaris dan PPAT. Dalam Pasal 1 angka 2 Kode Etik Profesi PPAT. disebutkan bahwa: “Kode Etik PPAT dan untuk selanjutnya akan disebut Kode Etik adalah seluruh kaid ah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan berdasarkan keputusan kongres dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan IPPAT dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan sebagai PPAT. termasuk di dalamnya para PPAT Pengganti. 2. dan dikeluarkan oleh dua organisasi yang berbeda pula. 4. Pengaruh konsumerisme. Pengaruh sifat kekeluargaan. 3. Menurut Abdulkadir Muhammad terdapat empat alasan mendasar mengapa notaris dan PPAT. Secara internal yakni dalam diri individu notaris atau PPAT itu sendiri mungkin dikarenakan sifat manusiawinya. Jadi. Alasan-alasan tersebut meliputi: 1. Kode etik profesi PPAT disusun oleh Organisasi PPAT dan/atau PPAT Sementara dan ditetapkan oleh Kepala BPN yang berlaku secara nasional (Pasal 69 Perka BPN 1/2006). .” Kewenangan pengawasan dan penindakan kode etik PPAT ada pada Majelis Kehormatan yang terdiri dari Majelis Kehormatan Daerah dan Majelis Kehormatan Pusat (Pasal 7 Kode Etik PPAT). namun dalam pelaksanaan nya banyak sekali permasalahan ataupun kendala yang hampir sama terjadi antar penerapan kode etik notaris dan PPAT itu sendiri. Kendala dan Penghambat proses penegakan Kode Etik baik itu Notaris ataupun PPAT : Aturan yang termuat dalam suatu kode etik terkadang tidak diindahkan baik itu oleh notaris maupun PPAT. kode etik notaris berbeda dengan kode etik PPAT karena keduanya mengatur dua profesi yang berbeda. misalnya sifat konsumerisme atau nilai salary yang diperoleh dalam menjalankan profesi sebagai notaris dan PPAT. dalam organisasi profesi. Pengabaian kode etik notaris dan PPAT tentu disebabkan adanya pengaruh negatif baik sebagai individu dalam masyarakat maupun dalam hubungan kerja. Pengaruh jabatan. Karena lemah iman. Organisasi PPAT saat ini adalah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT).5 Kepala Badan (BPN) karena melanggar kode etik profesi. Dalam laman resmi IPPAT dicantumkan Kode Etik Profesi PPAT yang berlaku saat ini yaitu hasil keputusan Kongres IV IPPAT 31 Agustus – 1 September 2007. mengabaikan kode etik.

Hal ini berpengaruh terhadap perilaku profesional hukum yang terkait pada kode etik profesi. Tuntutan konsumerisme yang merupakan bagian dari kehidupan materialistic dapat berasal dari diri sendiri maupun keluarga. Perlakuan ini merupakan perlakuan yang tidak adil dan karenanya notaris sebagai profesional telah melanggar etika. 3.6 I Gede A. Seorang notaris dan PPAT bila telah dihinggapi oleh sifat meterialistis dan konsumtif maka notaris tersebut seringkali melakukan langkah-langkah yang melanggar kode etik demi memenuhi kepuasan hidupnya. Penyalahgunaan profesi. Namun karena pengaruh jabatan yang melekat pada diri seseorang kadang kala notaris dan PPAT bertindak lebih istimewa terhadap seorang klien dibandingkan dengan klien yang lain. Kurangnya kesadaran dan kepedulian sosial. faktor yang Beberapa faktor diatas akan dijelaskan beberapa diantaranya yang menurut penulis lebih berpengaruh dan menurut penulis menjadi pengahabat atau kendala dalam penegakan profesi notaris dan PPAT adalah : 1.B. Pengaruh jabatan Pengaruh jabatan juga seringkali menjadi faktor yang menyebabkan notaris berlaku tanpa mengidahkan kode etik profesi. Dapat dikemukakan di sini sekedar sebagai contoh banyaknya notaris . 6. Perlakukan terhadap orang bukan keluarga lain lagi. Wiranata menginventarisir delapan mempengaruhi merosotnya moralitas profesi hukum yang meliputi: 1. 2. Profesi menjadi kegiatan bisnis. Seorang notaris atau PPAT yang profesional semestinya membedakan antara persoalan keluarga dan persoalan profesi. Notaris dan PPAT sebagai pejabat negara yang melayani publik semestinya memperlakukan semua masyarakat dalam kedudukan yang sama. Pengaruh jabatan. Pengaruh konsumerisme Kehidupan yang serba materialistis dapat berpengaruh negatif atas tindakan seorang notaris ataupun juga PPAT. Mungkin hal ini manusiawi namun secara tidak langsung telah membuat perbedaan antara satu manusia dengan manusia yang lain. yang seharusnya memberikan perlakukan yang sama terhadap klien. Hubungan kekeluargaan boleh ditanggalkan ketika berada di kantor namun hubungan kekeluargaan tetap dibina di luar kantor. Gaya hidup konsumerisme 7. Pengaruh sifat kekeluargaan Salah satu ciri kekeluargaan adalah memberikan perlakukan dan penghargaan yang sama terhadap anggota keluarga dan ini dipandang adil. Faktor keimanan dan pengaruh sifat kekeluargaan. 2. 3. Kontinuasi sistem peradilan 5. 4. Profesi dianggapnya sebagai ladang untuk mencari uang semata dan mengabaikan fungsi pelayanan yang melekat pada suatu profesi.

Terdapat dua asas yang mempengaruhi sistem imbalan jasa. 4. energi dan keahlian/spesialisasinya sebagaimana dirasakannya sebagai hal-hal yang memang perlu untuk disediakan. Profesi menjadi kegiatan bisnis Seorang yang mengabdikan dirinya pada suatu profesi mulia seperti notaris dan PPAT harus memahami bahwa profesi tersebut berbeda dengan kegiatan bisnis. Dengan taqwa manusia makin sadar bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Dengan iman yang kuat kebutuhan akan terpenuhi secara wajar dan itulah kebahagiaan. Asas ini memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyelewengan atau penyalahgunaan yang serius. 5. Pertama. Karena lemah iman Salah satu syarat menjadi profesional itu adalah taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Asas ini berlangsung atau dilaksanakan bila penyandang profesi mendasarkan imbalan jasanya atas keuntungan real atau keuntungan material dari pelayanan yang dilakukan bagi anggota masyarakat. Asas ini dapat ditemukan pada diri penyandang profesi yang mendasarkan imbalan jasanya atas waktu. sedangkan cita-cita suatu profesi didasarkan pada semangat kesediaan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Secara umum asas yang kedua ini dinilai lebih masuk akal. dan kemungkinan terjadinya penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan akan kecil saja. Jika manusia mempertebal iman dengan taqwa maka di dalam diri akan tertanam nilai moral yang menjadi rem untuk berbuat buruk. Kedua. terhadap sesamanya. Hukum ekonomi tidak dapat diterapkan dalam suatu profesi mulia.asas melayani sebatas upah yang diterima. adalah asas melayani sesuai dengan permintaan. Imbalan jasa dalam dunia profesionalisme bukanlah suatu hal yang utama. Dengan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.7 yang melakukan jemput bola terhadap klien demi untuk mendapatkan klien sebanyakbanyaknya atau menyarankan mengaktakan setiap perjanjian yang sejatinya tidak mesti menggunakan akta demi larisnya praktek notaris yang digelutinya. . tidak mudah tergoda dan tergiur dengan beragam macam bentuk materi di sekitarnya. bahkan tidak benar. Ketaqwaan adalah dasar moral manusia. Sistem demikian memungkinkan orang berpeluang menggunakan kemampuannya secara egois. Dalam suatu kegiatan bisnis dipentingkan nilai kuantitatif sementara dalam profesi yang dicari bukanlah nilai kuantitatif melainkan nilai kualitatif. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil. sebaliknya keburukan akan dibalas dengan keburukan. Bisnis memusatkan pada tujuan utamanya yakni untuk memperoleh keuntungan. yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi laranganlarangan Nya. profesional memiliki benteng moral yang kuat.

pemerataan serta propesionalisme dalam bertindak dan diatur oleh suatu kode etik masing. sedangkan mengenai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) adalah PP No. Pengaruh jabatan 3. Pengaruh sifat kekeluargaan 2. Dalam keberlangsungannya kode etik yang seharusnya menjadai landasan bertindak terkadang hanya sebatas aturan yang out putnya belum maksimal dikarenakan banyak faktor yang menyebabkannya. Karena lemah iman Lima faktor diatas memberikan pengaruh besar atau kendala yang menjadi kurang propesionalismenya seorang baik itu notaris maupun PPAT dalam melakukan pelayanan publik yang semestinya. PENUTUP 1. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN). dari kajian atau pendapat penulis sendiri faktor.masing yang sudah dijelaskan diatas.8 III. dalam pelaksaan kode etik kedua profesi berbeda ini bisa diliat bahwa ada kesamaan yaitu berupa sebagai pelayan publik yang mempunya aturan untuk mewujudkan keadilan. Namun kedua profesi diatas biasanya dijalankan bersaaman oleh seorang pejabat publik yang menjadi notaris sekaligus PPAT hal ini merupakan hal yang sudah menjadi hal yang biasa. Pengaruh konsumerisme 4. kode etik notaris dasar hukumnya adalah UU No. penulis menyimpulkan hal yang lebih memberikan pengaruh dalam penegakan kode etik itu adalah: 1. . Profesi menjadi kegiatan bisnis 5.faktor tersebut diatas memberikan suatu pengaruh yang mendasar terhadap pelaksanaan penegakan kode etik itu. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PP 37/1998).Kesimpulan Sejatinya antara kode etik notaris dan PPAT sangatlah berbeda dapat dilihat dari yang mengeluarkan aturan serta dasar hukumnya dan mengenai ketentuan-ketentuan yang ada didalamnya.

Notaris. Etika Profesi Hukum. 1993 Ketentuan PelaksanaanPeraturan Pemerintah tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuata Akta Tanah:Peraturan Kepala BPN No. Bandung: PT. Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum bagi Hakim. 2005.html pada pukul 13. 2007 “Tinjauan Terhadap Kode Etik Notaris” diakses dari http://mknunsri. Sinar Grafika. Kurator dan Pengurus. Jakarta. Lubis. „ . Jaksa.blogspot. Advokat. Media Makmur Majumandiri.9 DAFTAR PUSTAKA Suhrawardi K.10 tanggal 2 Januari 2013 Munir Fuady. 1 Tahun 2006. Jakarta. Citra Aditya Bakti hal 133.com/2012/08/tinjauan-terhadap-kode-etik-notaris.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful