P. 1
KRITERIA KEBERHASILAN IMPLAN

KRITERIA KEBERHASILAN IMPLAN

|Views: 378|Likes:
Published by Vitta Permata Sarie

More info:

Published by: Vitta Permata Sarie on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2015

pdf

text

original

KRITERIA KEBERHASILAN IMPLAN : Setelah kita melakukan implantasi, maka kita harus mengetahui apakah implan yang telah

ditanam telah mengikuti kriteria keberhasilan atau belum. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implan diantaranya (Pedlar dan Frame, 2001): 1. Biokompatibilitas dari implan material 2. Desain implan 3. Karakteristik permukaan implan 4. Kesehatan fisik dari pasien 5. Kondisi anatomi yang baik 6. Kooperasi pasien, status oral hygiene, kebiasaan merokok 7. Pengalaman operator 8. Beban implan setelah osseointegrasi. Secara lokal pemeriksaan visual dan palpasi akan dijumpai keadaan-keadaan yang dapat mengganggu pemasangan implan, misalnya jaringan lunak flabby yang berlebihan, ridge yang sempit atau tajam, atau adanya undercut. Tetapi hal-hal tersebut akan tersamar bila jaringan lunak yang menutupi tulang sangat padat, immobile dan tibious. Untuk berhasilnya suatu implan sebaiknya kita perhatikan keadaan-keadaan dibawah ini (Karasutisna, 2002): 1. Ketebalan tulang di lingual ku rang lebih 1 mm dan 0,5 mm di sisi fasial dari implan 2. Jarak antar implan minimal 3 mm 3. Jarak antara implan dan nasal cavity minimal 1 mm 4. Jarak antara implan dan dasar sinus maksilaris minimal 1 mm 5. Ketinggian tulang yang adekuat umumnya dijumpai diantara nasal cavity dan sinus

maksilaris 6. Jarak antara implan dan canalis alveolaris inferior minimal 2 mm Menurut Schnitman dan Schulman (1979) (Anusavice, 2003): 1. Pada pemeriksaan klinis, mobilitas implan kurang dari 1 mm 2. Tidak terdapat radiolusensi 3. Bone loss harus kurang dari satu per tiga tinggi implan. 4. Tidak terdapat infe ksi dan kerusakan struktur. Bila terdapat inflamasi harus dilakukan perawatan kriteria keberhasilan suatu implan meliputi

Morfologi mandibula pada aspek lingual harus diketahui sebelum dilakukan preparasi (Pedlar dan Frame. Tidak terdapat gejala seperti nyeri. mentalis. 4. 2001). Setelah lubang preparasi sembuh. n. Sedangkan menurut Albrektsson. hubungan antara implan dengan rongga hidung atau sinus maksi lasis harus ditegakkan dengan foto radiograf. neuropathy. alveolaris inferior.et. (1986) diantaranya: 1. Terbukanya Sinus Maksilaris Pada saat merencanakan per awatan implan. Tingkat kesuksesan implan 75% atau lebih setelah 5 tahun fungsi. Untuk menghindari trauma saraf pada canalis mandibularis sebaiknya tidak menggunakan anestesi block tetapi anestesi infiltrasi lokal (Schroeder. Vertical bone loss kurang dari 0. Jika implanasi telah dilakukan. Saraf yang terkait diantaranya : n. Secara radiograf tidak menunjukkan adanya periapikal radiolusen 3. dapat dilakukan implan asi yang baru. n. Pada pemeriksaan klinis unattached implan tidak mobile 2. parestesi.5. Kerusakan pada Gigi Tetangga Pada kasus implan untuk menutup gap gigi tunggal ( single tooth gap ) kerusakan pada gigi tetangga a tau gigi sebelahnya dapat terjadi saat dilakukan preparasi pelebaran kavitas.. 3. Perforasi sinus dapat ditegakk an dengan blow test. dan kelainan pada canalis mandibularis 5. lingualis. Tingkat kesuksesan 85% atau lebih padaakhir 5 tahun periode observasi dan 80% pada akhir periode 10 tahun sebagai kriteria minimal kesuksesan impla Komplikasi Intraoperatif 1. 1991).2 mm pada tahun pertama pemakaian implan 4. adanya infeksi dan sinusitis m aksilaris harus dipert imbangkan kemungkinannya. hemoragi berasal dari pembuluh darah pada dinding sinus dan dapat dikontrol dengan melakukan penekanan atau menunggu hingga hemostasis alami terjadi. Pada regio maksila. 2. Hemoragi Penyebab hemoragi diantaranya perforasi pada lingual cortical plate dan ruptur pembuluh darah. . infeksi. al. 2005). Trauma Saraf Trauma saraf terjadi pada mand ibula. Jika hemoragi berlanjut dapat dilakukan elektro-kauterisasi (Sethi dan Kaus.

Hal ini dapat dilakukan di bawah lokal anestetik. Benda asing ini harus diangkat sebelum dilakukan implanasi. juga menginstruksikan pada pasien agar menghindari bersin atau meniup dengan hidung (tekanan intrao ral) pada awal postoperatif.Kerusakan seperti ini dapat dic egah dengan membuat foto radiograf perkiraan topog rafi yang tepat. 5. semakin b esar kemungkinan terjadinya hematoma postoperatif. sterilisasi yang terlalu sering dilakukan dan terlalu panas. dan yang lainnya. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya emfisema pada bagian wajah danleher diantaranya dengan tidak menggunakan turbin (kontraindikasi). penutupan suture (jahitan luka) yang baik. m aterial pengisi saluran akar. Hemoragi dan Hematoma Postoperatif Perdarahan postoperatif tidak dapat dihentikan dengan kompres konvensional. Komplikasi Awal Yang termasuk komplikasi awal diantaranya: 1. benda asing yang terdeteksi dapat berupa fragmen akar. disaran kan untuk dilakukan kompres dingin juga pemberian antibiotik. tetapi memerlukan perbaikan luka deng an menggunakan hemostatik yang sesuai dengan prinsip konvensional. hindari pembersihan luka dengan menggunakan hidrogen peroksida. Semakin luas area luka dan besarnya operasi. Komplikasi Postoperatif a. 2. Pembengkakan (wound edema) Pembengkakan tergantung pada l amanya pembedahan dan banyaknya trauma jaringan lunak intraoperatif. Fraktur implan atau bagian instrumen yang telah tertanam dalam tulang harus diangkat . 6. 7. fraktur instrumen endodontik. Benda Asing Adanya benda asing dapat memba hayakan implan. Emfisema di Bagian Wajah dan Leher Jika terjadi emfisema. Bahaya . memilih ukuran implan yang tepat dan juga memperhatikan arah aksis longitudinal dari gigi sebelahnya pada saat melakukan preparasi pelebaran kavitas. Secara radiograf. Semakin pendek atau kecil trauma pada saat operasi semakin kecil terjadinya pembengkakan.dan adanya kerusakan pada material instrumen atau cacat instrumen. Fraktur Implan dan Instrumen Fraktur instrumen biasanya terjadi karena penggunaan instrumen yang salah.

Jika tidak segera dilakukan pe ngangkatan. nyeri. das ar hidung. dan adanya eksudat pada daerah luka yang dapat dilakukan perawatan dengan membuka satu atau dua jahitan ( suture). Sensitivitas terhadap penekanan pada implan merupakan indikasi adanya kontak langsung implan terhada p saraf yang ada di dekatnya.infeksi j uga dapat terjadi. edema dan hematoma dapat menyebabkan kelai nan sensitivitas. atau neuritis n. hipertermia). Pada kasus ini. Kerusakan Saraf Pada regio n. eritem. poket yang dalam di sekita r implan dapat menyebabkan infeksi yang menga rah pada terjadinya fistulasi dan poket abses. sinus emfisema. 3. Adanya peningkatan mobilitas implan mengindikasikan bahwa implan harus diangkat untuk menghindari resorbsi tulang yang berlebih (bone loss). bengkak. Pada status febri s. Pengisian kembali (re-filling) kavitas ak ibat dicegah dengan meneka n balutan diatas jaringan lunak. Komplikasi Akhir Yang termasuk komplikasi akhirdiantaranya: 1. Jika terjadi rekuren abses maka pengangkatan implan harus dilakukan. mengarah pada terj adinya sinusitis maksilaris. Jika infeksi sudah mulai memba ik maka implanasi baru dapat dilakukan. harus Hematoma diantara permukaan tulang dan flap mukoperiosteal hematoma segera dibuka dan diaspirasi. dan panas yang berlebih saat preparasi. sebaiknyaimplan dilepaskan. 2. Infeksi Awal Manifestasi infeksi jaringan lunak diantaranya nyeri lokal. Jika implan menunjukkan peningkatan mobilitas yang mengarah pada inflamasi (bengkak. 4. . mentalis. dan isi dari canalis mandibularis juga dapa t terlibat. implan harus diangkat. adanya infeksi di sekitar implan. Jika dibiarkan dapat menyebabkan osteomyelitis. Infeksi akhir (late infection) Sejalan dengan poket periodont al. rhinitis. indikasi antibiotik diperlu kan. alveolaris inferior.. b. Implan longgar Faktor yang dapat menyebabkan implan menjadi longgar diantar anya ialah kurangnya stabilitas primer. dan dilakukan insisi serta drainase dengan menggunakan desinfektan. Perawatan yang dilakukan yaitu kuretase dan eliminasi dari p oket. dapat terjadi osteit is atau bahkan osteomyelitis. Daerah tetangga seperti sinus maksilaris. Hemostasis yang tepat pada saa t operasi dan aplikasi dingin lokal dapat mencegah terbentuknya hematoma.

Pada foto radiograf. overloading protesa.3. Quintessence Publishing Co.J. A. dan longgarnya implan. Degradasi Tulang Setelah osteoplasty dan reamin g dari dasar implan dengan countersinking. 2005 Practical Implant Dentistry. and Rangert. Schroder. Georg Thieme Verlag Stugart. Oral Implantology. Tinjauan Umum Dental Implan dan Pengenalan Sistem Implan ITI. Pedlar. 2002.. Karasutisna. 2003. Inc Sethi. proses inflamasi kronis pada daerah dasar implan mengarah terhadap peningkatan kedalaman sulkus. B. 1991). Saunders. an Objective BasedText Book. Basics ITI Hollow Cylinder System. 5. Churchill Livingstone Renouard. Ltd. 4. F. K. F. Philip’s of Dental Material 11Th ed. resorbsi tulang. 1999. G. Oral and Maxillofacial Surgery. Kerusakan tulang karena panas yang berlebih ( overheating) saa t reaming dasar implan dapat mengarah terhadapnekrosis tulang dengan degradasi tulang. Quintessence Pub.. Krekeler. yang mana dapat menyebabkan implan menjadi longgar. mentalis setelah pemakaian imp lan dalam jangka waktu yang la ma memerlukan klarifikasi radiologis untuk memastikan apakah implan terbenam atau proses osteitis telah menekan isi canalis mand ibularis. T. Co.Seperti periodontitis kronis. Pengangkatan implan merupakan sat u-satunya terapi yang dapat dilakukan.J and Frame. Bagian Bedah Mulut FKG UNPAD .. premature loading... Bahan Ajar Ilmu Bedah Mulut. and Kaus.. Jika terjad i hal ini maka implan harus diangkat dengan mengguna kan trephine drill khusus dan tempatkan implan yang lebih lebar (Renouard danRangert. 1999 DAFTAR PUSTAKA Anusavice. Kerusakan Saraf Sekunder Hipestesi ataupun parestesi yang muncul pada dae rah yang dilalui oleh n. Fraktur Implan Faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur implan diantaranya kesalahan perencanaan. A. . degradasi tulang ringan muncul pada batas tertentu di bawah kondisi normal. 2001. J.W. perubaha n osteolisis pada awalnya ditemukan pada daerah abutment kemudian menyebar ke seluruh permukaan badan implan. kurangnya kooperasi p asien berkaitan dengan oral hygiene (Schroeder. pembentukan poket. Risk Factors in Implant Dentistry . Sutter. T. 1991. Simplified Clinical analysis for Predictable Treatment.

Straumann. (Shulman and Shepherd. (McGlumphy and Larsen. 1996) 2. 2003)Ukuran panjang implan . Bila terasa terjadi perforasi kanalis mandibularis oleh pengeboran. Implan yang dipakai sebaiknya berada paling sedikit 3 mm di atas foramen. Komplikasi intra operatif 1. QuintessenzeVerlag. Untu k mencegah terjadinya merusakan nervus me ntalis. parastesia atau disestesia pada satu sisi atau pun kedua sisi. (Buserand Maeglin. Concept and surgical Procedure. Kerusakan Saraf Kerusakan saraf intraoperatif dapat terjadi pada mandibula b ila melibatkan nervus alveolaris inferior. 1996)Kerusakan nervus mandibula dapat menyebabka n anestesia. terjadinya perdarahan dapat dihindari. Perdarahan cukupberat dapat terjadi pada regio posterior mandibula bilakanalis mandibularis terlibatdan terjadi kerusakan pada pembuluh darahnya. Perd arahan yang sedang dapat terjadi pada saat preparasi endosseous yang akan dipasang implan dan akan berhenti pada saat implan diinsersikan. Namun demikian harus diingat bahwa kejadian -kejadian yang tidak diharapkan bisa terjadi baik pada waktu pemasangan maupun setelah pemasangan. alur anato mis kanalis mandibularis dan dimensi vertikal p ada tulang yang tersedia harus diukur dan diperkirakan secara tepat sebe lum dilakukan pembedahan. 1999) Perforasi pada kanalis d itandai dengan rasa sakit taja m dan terjadinya yang perdarahan secara tiba-tiba. hentikan pen geboran untuk menghindari trauma jaringan sa raf secara langsung. Keadaan ini dapat bersifat sem entara atau permanen. Untuk menghindari kerusakan nervus a lveolaris inferior. pada saat operasi regi o foramen mentalis harus dapat terlihat dengan je las. Perdarahan dalam hal ini dapatberhenti secara spontan. Straumann Dental. dapat digunakan periosteal elevator yang tipis antara permukaan lingual tulang dengan flap mukoperiost eal untuk melindungi jaringan saraf pada saat preparasi tulang. Perdarahan Bila tehnik operasi dan garis insisi telah direncanakan dengan tepat. Pengeboran dilakukan dengan hati -hati dan perlahan. Perdarahan dapat terjadi pada tul ang spongiosa pada waktu melakukan pengurangan te rhadap tepi krista alveolar ya ng tajam. maka implantasi siap dilaksanakan. Dan untuk menghindari kerusaka n nervus lingualis. Berlin KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI Setelah persiapan dilakukan dengan sek sama. ne rvus mentalis dan nervus lingu alis. 1995. (Buser and Maeglin.

Bur -bur berbentuk hollow lebih rapuh dibandingkan dengan bur-bur biasa pada umumnya. terpisahnya komponen dan patah. 1996)Banyak dari sistem implan menggunakan bor yang diirigasisecara internal untuk mendinginkan tulang pada saat dilakukan preparasi. . (Shulman and Shepherd. ketinggian vertikal tu lang yang tersisa harus d iperkirakan setepat mungkin dan dapat dibuat rontgent foto dengan pengukur ketinggia n yang dimasukkan ke dalam tulang yan g telah dipreparasi. sehingga dalam penggunaannya untuk mengebor tulang kortikal yang padat atau tulang dari hydroksilapatite sebelumnya sebaiknya dilakukandengan hati -hati.digunakan pada regio posterior biasanya adalah ukuran pendek yaitu (7. 1999) 3.10 atau 11 mm). superstructure dapat mengalami masalah kimiawi dan mekanis seperti longgar. 1999) P atahnya implan atau instrumen dalam pr oses pemasangan implan adalah sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. 1996) Namun bila perforasi implan pada sinus ha nya sedikit dan lubang apikal implan masih berada pada tulang. Implan yang digunakan sebaikny a satu untuk setiap giginya karena p endeknya ukuran implan sehingg a bila digunakan lebih dari satu gigi dapat ter jadi kemungkinan kegagalan kar ena beban yang ditanggung terlalu berlebih. Dalam hal ini sebaiknya dipergunakan implan screw yang solid. Apabila selama pengeboran tulang diperkirakan akan terjadi perforasi ke ant rum atau rongga hidung. jarak ketinggian antara implan dan sinus maksilaris serta rongga hidung harus dipe rhitungkan secara radiografis. (Buser and Maeglin. Kegagalan Sistem Implan Komponen-komponen pada sistem implan seperti bor. mungkin tidakakan menimbulkan masalah nantinya. . pemanasan yang ter lalu tinggi dan juga defek material. (Shulman and Shepherd. (McGlumphy and Larsen. (Buser and Maeglin. terlalu banyak proses s terilisasi.8. Hal ini dapat terjadi akibat manipu lasi alat yang tidak tepat. 2003)Implan dengan diameter kecil pada premolar pertama dan implan premolar kedua dengan panjang 6 mm pada dasar sinus maksilaris(Buser and Maeglin. koros i.Perforasi pada Antrum atau Rongga Hidung Dalam rencana perawatan. Fragmen atau p atahan implan yang masih tertanam di dalam tulang harus diangkat dengan m engorbankan tulang seminimal mungkin. post. Screw dipasangkan dalam posisi verti kal untuk mencegah masuknya screw ke dalam antrum atau rongga hidun g. 1996) 4. Implan jenis hollow cylinderatau hollow screw tidak direkomenasikan pengguna annya karena bila implan ini berkontak langsung dengan antrum atau rongga hidung yang telah perforasi akan dapat mengakibatkan terjadinya infeksi retrograde.

1996) Kegagalan pemasangan juga dapa t diakibatkan oleh penggunaan handpiece yang tidak tepat. ketepatan dan tid ak bergeraknya impan merupakan faktor -faktor penentu dalam keberhasi lan implan. posisi relatif implan terhadap gigi tetangga atau implan lainnya. (Buser and Maeglin. Perdarahan dan hematoma pasca operatif Bila perdarahan paska operatif tidak dapat dihentikan dengan cara penekanan yang ringan. 1999)Setelah pencabutan gigi sebaik nya implanasi dilakukan setelah tulang alveolar mengalami penyembuhan yaitu kurang lebih 9 sampai 1 2 bulan tergantung pada besarnya tulang alveolar dan usia pasien. inklinasi implan. densitas tulan g. Selain itu penggun aan kream heparin merupakan indikasi bil a terlihat hematoma pada jarin gan lunak yang ditandai dengan adanya perubah an warna pada kulit dan mukosa . Implan yang longgar Ahli bedah harus memperhat ikan banyak faktor dalam menem patkan implan pada tulang. 1999). posisi gigi lawan. struktur vital. tehnik preparasi yang konsentr is. Pemeriksaan radiografis mutlak dilakukan sebelum pemas angan implan untuk mengevaluasi proses penyembuhan tulang. Penggunaan dengan kecepatan tinggi yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya fr iksi dan . Penyembuhan akan terjadi leb ih cepat yaitu dalam 2 sampai 3 bulan dan prosedur implanasi dapat d ilakukan dengan segera. Kegagalan dalam mempertahankanstabilitas implan dapat terjadi pada saat manipulasi prepara si tulang yang kurang baik. 1996) 2. (Buser and Maeglin.(Shulman and Shepherd. (Shulman and Shepherd. 1996) Komplikasi pasca operatif 1. Resiko terjadinya infeksi pada hemato ma akan meningkat. Hemostasis yang baik pada saat pembedahan dan kompres dingin pasca operatif dapat mengurangi terj adinya hematoma. Hematoma di an tara permukaan tulang dan flap mukoperiosteal harus dibuka dan dievakuasi dengan suction. (Buser and Maeglin. Alternatif lain untuk memperce pat penyembuhan tulang adalah dengan menggunakan guided bone rege neration dengan Gore-Tex membrane.Stabilitas primer implan yang baik dapat tercapai dengan penggunaan drill dan bor yang sesuai dengan standar penggunaan. luka pa ska bedah harus tanggulangi de ngan cara konvensional di bawah anestesi lokal. Bila implan terlihat goyang pada saat diinsersikan disarankan untuk diangkat segera karena implan tidak akan berinteg rasi dengan tulang dan kemungk inan besar akan mengalami kegagalan. Temperatur.

Implan yang longgar Longgarnya implan setelah lebih dari 10 tahun bi asanya disebabkan oleh inflamasi periimplan. edema dan h ematoma yang berat pada region nervus mentalis dapat m enyebabkan gangguan sensori. (Buser and Maeglin. Infeksi dini Infeksi akibat prosedur implan dapat terjadi walaupun jarang . Penyebab lainnya kemungkinan d isebabkan oleh faktor oklusal. 1996)Implan traumatik yang terletakpada nervusmentalis dan alveolaris inferior (Shulman and Shepherd. Kontaminasi pada permukaan implan oleh minyak. Manifestasinya berupa sakit se tempat.12% tiga kali sehari) dan pemberian antibiotik selam a 5 hari. Rasa sakit pada pamakaian implan juga merupakan indikasi kontak langsung implan dengan saraf di bawahnya. Resesi gigiva Resesi pada mukosa peri-implan dapat mengakibatkan resorpsi dinding tulang bukal. Hal yang harus diperh . 1996) 5. debu. Hal ini dapat diterap i dengan melepaskan satu atau dua jahitan dan kumur dengan chlor-hexidine-gluconate (0. 1996) 2. Bila digunakan irigasi ekstern al. terlepas nya jahitan dan eksudasi purulent da ri luka. (Shulman and Shepherd. (Buser and Maeglin. (Buser and Maeglin. benang atau protein dapat mengganggu prose s osseointegrasi. pembengkakan. Adanya infeksi yang dini dapat pula menyebabkan longgarnya implan akibat infe ksi sekunder pada jaringan tul ang periimplan. Kerusakan saraf Pada kasus -kasus yang jarang. . 1999) 4. bur dilakukan dengan cara memompa ke atas kebawah agar tulang dapat teririgasi dengan baik. 1999) Komplikasi yang lambat terjadi 1. tarikan pada frenulum bukal atau labial dan kesulitandalam membersihkan implan. Untuk mencegah hal ini pemeriksaan radiografis mutlak diperlukan untuk menentukan adanya kerusa kan saraf akibat pemasangan im plan atau terdapatnya kontak antara impl an dengan jaringan sa raf. Panas yang direkomendasikan pada tepi pemotongan harus dibawah 3.menyebabkan panas yan g berlebihan pada tulang. Bur dengan kecepatan sangat re ndah d engan irigasi internal direkomendasikan dalam pemasan gan implan.

Setelah dilakukan flap. Hal ini dapat terjadi akibat beban yan g berlebih dikenakan pada impl an. . implan diambil dengan tang eks traksi dengan gerakan rotasi.(Buser and Maeglin. Penggunaan membran untuk memperbaiki d efek periimplan yang disebabkan oleh infeksi telah banyak dilakukan. 1996) Longgarnya implan hollow silinder pada region kaninus atas kanan ditandai dengan resorpsitulang disekitar implan. Selain untuk menghentikan infeksi. Setelah i mplan longgar. Tindakan bedah diindikasikan setelah pemberian antibiotik namun inf eksi terjadi kembali dengan re sorpsi tulang yang terlihat secara radiografis. jaringan tulang d i sekitar implan diratakan untuk mendapatkan permukaan implan. Setelah itu flap mukoperiostea l dikembalikan dan dijahit den gan jahitan terputus dan ditutup dengan periodontal dressing.. Permukaan ti tanium implan dibersihkan dengan larutan iritasi. Antibiotik diberikan se lama 10 hari dan dikombinasi dengan irigasi pok et jaringan lunak dengan chlorhexidine digluconate0. Pengeboran dengan bur diamond dilakukan disekitar implan dengan hati-hati dengan putaran 800 rpm da n irigasi pendingin. Jenis implandengan hollow cylinder dan hollow screw lebih beresiko patah dibanding kan dengan tipe solid. Antibiotik yang digunakan dalam terapi infeksi supuratif akut periimplan adal ah kombinasi amoxicillin dan metronidazol k arena adanya keterlibatan bakteri an aerob.12-0. (Buser and Maeglin. membran digunakan unt uk mendapatkan regenerasi tulang disekitar defek. 1996) 3. Pembersihan dil akukan pada permukaan titanium dan jaringan lunak yang terinfeksi .Bila infeksi tidak dapat ditan ggulangi. pelepasan i mplan merupakan indikasi. Setelah itu pasien diinstruksikan secara rutin untuk membersihkan sendiri dengan syringe irigasi dan kontrol yang ketat . Jaringan granulasi dibersihkan dan defek diisi dengan kolagen untuk stabilisasi gumpalan darah. jari ngan granulasi dibersihkan.2% tiga kali sehari selama 3 minggu untuk desinfeksi lo kal. kemudian diberikan chlorhexidine gel selama 5 menit untuk topikal d esinfeksi.Infeksi peri-implan Infeksi peri -implan akan menyebabkan lepasnya implan. 1996) 4. (Buser and Maeglin. Implan yang patah bila .atikan untuk mencegah terjadin ya hal ini adalah memperhitungkan beban yang optimum pada sentrik oklusi dan p ada pergerakan mandibula.Implan yang patah Patahnya implan merupakan komplikasi yang jara ng dilaporkan. Flap dikembalikan dan dijahitkan dengan jahitan terputus. Infeksi akut harus diterapi segera dengan antibiotik.

P. Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery. D. 2003.akan digantikan dengan yang baru harus diangkat.J. 1996. McGlumphy.' B.A and Larsen.and Shepherd. 5.B. St. J 1990. et al. Contemporary Implant Dentistry.V Mosby Shulman. 1996) DAFTAR PUSTAKA 1. L. 4"' ed.Louis: C. . Complication with ITI Implants in Schroeder A. namun bila tidak dapat dibiarkan saja. E. Buser.E . and Maeglin. L. In Peterson. (Buser and Maeglin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->