P. 1
PERNIKAHAN USIA DINI.docx

PERNIKAHAN USIA DINI.docx

|Views: 90|Likes:
Published by irhas86

More info:

Published by: irhas86 on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

PERNIKAHAN USIA DINI

Home » PERNIKAHAN USIA DINI PERNIKAHAN USIA DINI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif. Di sisi lain, Syeh Puji, begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama. Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan jaman dulu pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb. Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. B. Rumusan Masalah A. Apakah yang dimaksud dengan pernikahan dini? B. Faktor apa yang menyebabkan pernikahan dini? C. Dampak apa sajakah dari pernikahan dini itu? BAB II PEMBAHASAN A. Arti Pernikahan Dini Istilah pernikahan dini adalah kontemporer. Dini dikaitkan dengan waktu, yakni di awal waktu tertentu. Pernikahan dini disini adalah ‘pernikahan dini’ sebagai sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia di bawah usia yang dibolehkan untuk menikah dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974, yaitu minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. 1. Pernikahan Dini menurut Negara Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria

pemerintah hanya mentoleri pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. 2. jiwa. hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Dari kelima nilai universal Islam ini. sehingga gagasan ini tidak dianggap. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya. Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Sebaliknya. Oleh karenanya. nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis. gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang Perkawinan. pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. sosiologis. isu tersebut kembali muncul ke permukaan. dan kultural yang ada. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. ditinjau dari sisi sosial. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya. Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Sementara dalam kaca mata agama. Memahami masalah ini dari aspek historis. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”. keturunan. Oleh sebab itu. dan akal. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun). pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga.mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun. ketika ada jenazah. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan. Dari sudut pandang kedokteran. mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. dan melanggengkan keturunan. Dan kini. niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. secara hukum kenegaraan tidak sah. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas. Menurutnya. psikis dan mental. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil. Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga. Menurut para sosiolog. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik. harta. Terlepas dari semua itu. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. . Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan. Pernikahan Dini menurut Agama Islam Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama. Disamping itu. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur.

Dampak pernikahan dini (perkawinan di bawah umur) Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. Kuatnya tradisi memaksa anak-anak perempuan melakukan pernikahan dini. Dampak terhadap hukum Adanya pelanggaran terhadap 3 undang-undang di negara kita yaitu : 1. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kita tahu. UU No. ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan. Pasal 6 ayat (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Fenomena pernikahan diusia anak-anak menjadi kultur sebagian masyarakat Indonesia yang masih memposisikan anak perempuan sebagai warga kelas ke-2. Berita ini menarik perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. dia belum mengerti arti sebuah pernikahan. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Misalnya tentang kasus di daerah Tegaldowo. Sekalipun ada ketetapan undang-undang yang melarang pernikahan dini. Terlebih lagi.[2] . Rembang Jawa Tengah. Kebebasan yang sudah melampui batas. mengenai seorang perempuan yang pertama kali dijodohkan orangtuanya pada usia 11 tahun. yang dinikahkan karena tradisi yang mengikatnya. dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakantindakan asusila di masyarakat.Hadis Nabi kedua berbunyi.[1] B. penikahan dini juga mempunyai sisi positif. ternyata ada juga fasilitas dispensasi. Maraknya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan kuat tentang mitos anak perempuan. Kuatnya tradisi turun temurun membuatnya tak mampu menolak. C. maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”. Pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan. UU No. Rembang. Dia adalah satu dari sekian banyak perempuan di wilayah Tegaldowo. Faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini Praktek pernikahan dini dipengaruhi oleh budaya lokal. memelihara. 2. Pada hakekatnya. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk:    Mengasuh. Para orang tua ingin mempercepat perkawinan dengan berbagai alasan ekonomi. bakat dan minatnya Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. mendidik dan melindungi anak Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan. sosial anggapan tidak penting pendidikan bagi anak perempuan dan anggapan negatif terhadap status perawan tua. Apapun alasannya.

Karena kalau masik kenak-kanakan. Namun psikologisnya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi. sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. Atau ada juga yang masih muda tapi pikirannya sudah dewasa. Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut. apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan. Kalau kematangan psikologis tidak ditentukan batasan usia.3. Pernikahan pada anak perempuan berusia 9-12 tahun sangat tak lazim dan tidak pada tempatnya. Yang . Dampak biologis Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak kecil.[3] 2. 3. Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari. Jika dilihat dari tinggi badan.21 tahun 2007 tentang PTPPO. Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak. eksploitasi dan diskriminasi. Ia memanbahkan. maupun anak. secara mental ia belum siap untuk berhubungan seks. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak.[4] Banyak efek negatif dari pernikahan dini. ”Apa alasan ia menikah? Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik maupun psikologis”. perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. pasangan. Dampak psikologis Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks. kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak. maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan. Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut. Selain itu. agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup. mendidik anak itu perlu pendewasaan diri untuk dapat memahami anak. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Padahal kalau menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup dewasa dan siap untuk menghadapi permasalahanpermasalan baik ekonomi. Pada saat itu pengantinnya belum siap untuk menghadapi tanggungjawab yang harus diemban seperti orang dewasa. UU No. ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajib 9 tahun). Sementara itu mereka yang menikah dini umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalan secara matang. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma. wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. Kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan psikologisnya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi.

php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 [1] Yusuf Fatawie. Santri Lirboyo Kediri.com/index. Oleh karena itu patut ditentang.pesantrenvirtual.wordpress. Dampak Pernikhan Dini (Perkawinan Muda) Noni Arni. Namun jika dengan menunda pernikahan sampai usia matang mengandung nilai positif maka hal ini adalah lebih utama DAFTAR PUSTAKA        Abdul Bukhari Irwan Ibnu Abas.com/2010/10/15/makalah-pernikahan-dini/ Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan/Deputi Perlindungan Anak. Dampak sosial Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender. http://www.ada hanya akan merasa terbebani karena satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus mengurusi keluarganya. Yuk !. http://www. Ketahui Resiko Pernikanan Dini. Santri Lirboyo Kediri. http://www. Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan.pesantrenvirtual.Hum.Okezone. 4. M. yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Santri Lirboyo Kediri.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 Yusuf Fatawie. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin).pesantrenvirtual. Chaerunnisa. 1 tahun 1974 tentang perkawinan Yusuf Fatawie. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak.com tanggal 29 Oktober 2008 http://www. Kuatnya Tradisi. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur lebih bayak mudharat dari pada manfaatnya. Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 . Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara. BAB III PENUTUP A. Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara. Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini. Karena menurut Agama Islam jika dengan menikah muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan maka menikah adalah alternatif yang terbaik. http://www. Sosial Budaya tanggal 16 November 2009 UU No.com/index. Pernikahan Dini. SS. Namun dilain pihak permasalahan pernikahan dini tidak bisa diukur dari sisi agama terutama dari sisi agama Islam.com/index.

com/2010/10/15/pernikahan-dini/ [3] Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan/Deputi Perlindungan Anak. Sosial Budaya tanggal 16 November 2009 . Kuatnya Tradisi. Dampak Pernikahan Dini (Perkawinan Muda) [4] Noni Arni.wordpress. Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini.[2] http://www.

psikis dan mental. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. .Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara Ditulis oleh Yusuf Fatawie* Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Menurut para sosiolog. pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji. khususnya daerah Jawa. fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun. Dari sudut pandang kedokteran. Bahkan lebih jauh lagi. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. ditinjau dari sisi sosial. Di sisi lain. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik. pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Oleh karenanya. Bahkan—jaman dulu—pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb. Namun seiring perkembangan zaman. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh. begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya. Syeh Puji.[1] Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. image masyarakat justru sebaliknya. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto. hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita. gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Pernikahan Dini menurut Negara Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak.

Sementara dalam kaca mata agama. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas. dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”. sehingga gagasan ini tidak dianggap. satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Terlepas dari semua itu. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan. al Thalaq: 4. Memahami masalah ini dari aspek historis. secara hukum kenegaraan tidak sah. Menurutnya. ketika ada jenazah. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun). Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Sebaliknya. maka anak itu berdosa dan dosa . dan kultural yang ada. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan.[3] Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan. jiwa. isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan.[2] Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini.Pernikahan Dini menurut Islam Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama. sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Dari kelima nilai universal Islam ini. dan melanggengkan keturunan. nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis. Dan kini. Oleh sebab itu. masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. dan akal. Disamping itu. Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya. keturunan. Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan.[4] Hadis Nabi kedua berbunyi. Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga. niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. harta. mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya. pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut. sosiologis.

90 vol. pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut.id . relevan dan mampu merespon dinamika perkembangan zaman. maka kita dituntut untuk menakar mana maslahat yang lebih utama untuk dilaksanakan. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan. Semarang. hlm. Fathul Bari vol.9 hlm.237 Darul Kutub Ilmiah. Menyikapi masalah tersebut. Ibrahim. Jika dengan menikah usia muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan. Apa yang pernah digaungkan Imam Syatiby dalam magnum opusnya ini harus senantiasa kita perhatikan.210 Darul Kutub Ilmiah. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Hal ini bertujuan agar hukum Islam tetap selalu up to date. Sebuah permasalahan yang cukup dilematis. al Muwafaqot hlm. Wallahu A’lam *) Penulis adalah santri Lirboyo Kediri asal Pati. maka hal itu adalah yang lebih utama. 2 Toha Putra. maka menikah adalah alternatif terbaik.[5] Pada hakekatnya. Sebaliknya. Pemerintah melarang pernikahan usia dini adalah dengan pelbagai pertimbangan di atas. 6. 2.[7] Kaedah tersebut ketika dikaitkan dengan pernikahan dini tentunya bersifat individual-relatif. penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id al Ahkam. al Bajuri hlm. Ibnu Hajar al ’Asqalani. 3. Beirut. UU Perkawinan di www. ternyata juga mempunyai nilai positif. 5. jika dengan menunda pernikahan sampai pada usia ”matang” mengandung nilai positif.501.tersebut dibebankan atas orang tuanya”. Kita tahu. Ibid. . saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. penikahan dini juga mempunyai sisi positif. jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ? Penutup Substansi hukum Islam adalah menciptakan kemaslahatan sosial bagi manusia pada masa kini dan masa depan.220 Darul Kutub Ilmiah.[6] Permasalahan berikutnya adalah baik kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-sama mengandung unsur maslahat.depag. Hukum Islam bersifat humanis dan selalu membawa rahmat bagi semesta alam. Kebebasan yang sudah melampui batas. Jami’ al Shaghir hlm. Jalaluddin Suyuthi.go. Beirut. dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakantindakan asusila di masyarakat. Daftar Pustaka : 1. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan. Artinya ukuran kemaslahatan di kembalikan kepada pribadi masing-masing. Hemat penulis. Beirut. Begitu pula agama tidak membatasi usia pernikahan. Imam Syatibi. 4.

Beirut. Salam. Qowa’id al Ahkam hlm.90 vol.7. Izzudin Ibn Abd.II Darul Kutub Ilmiah. s .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->