P. 1
waris

waris

|Views: 18|Likes:
Published by Najichah Andzarini

More info:

Published by: Najichah Andzarini on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2014

pdf

text

original

KEWARISAN ANAK DALAM KANDUNGAN

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Salah Satu Tugas Mid Semester Mata Kuliah: Fiqh Mawaris Dosen Pengampu : Suhadi, M. SI

Disusun Oleh: Saiful Huda (209060)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN SYARI’AH/AS TAHUN 2013

? 3. Lalu bagaimana seharusnya Pengadilan Agama sebagai pengadilan yang mempunyai wewenang menyelesaikan perkara kewarisan umat Islam. Sehingga dengan adanya aturan Allah tersebut seseorang yang berhak menerima warisan kepadanya harus diberikan haknya sesuai dengan kadarnya masing-masing. RUMUSAN MASALAH 1. Salah satu ahli waris yang berhak menerima warisan adalah anak. Rahmat ini dalam bahasa hukum berarti “kemaslahatan ummat” baik dalam bentuk memberi manfaat bagi manusia atau menghindarkannya dari mudharat (bahaya). memperhatikan haknya anak dalam kandungan atau justru mengabaikan. 2. termasuk aturan tentang pembagian warisan atau ilmu faraid. Bagaimana Fiqh Islam dan hukum positif di Indonesia menempatkan posisi anak dalam kandungan sebagai ahli waris. II. Namun yang menjadi pertanyaan apakah anak dalam kandungan termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan atau tidak. diturunkan Allah untuk menjadi rahmat bagi umat manusia. namun juga mengatur aturan tentang pergaulan mereka dalam kehidupan di dunia yang disebut mu‟amalat dalam artian umum. PENDAHULUAN Islam bagi umatnya bukan hanya mengandung ajaran tentang keimanan dan apa-apa yang harus dilakukan untuk Khaliq (Pencipta) dalam rangka pelaksanaan ibadah. Bagaimana contoh pembagian kewarisan anak dalam kandungan? . bahkan ia adalah ahli waris yang paling dekat dengan pewaris.KEWARISAN ANAK DALAM KANDUNGAN I. Anak baik laki-laki maupun perempuan adalah ahli waris. Bagaimana pendapat para ulama tentang kewarisan anak dalam kandungan? Bagaimana hak kewarisan anak dalam kandungan menurut hukum positif di indonesia. Aturan-aturan yang ditetapkan Allah dimana ilmu faraid termasuk di dalamnya.

Mereka kemudian membagi yang pantas menerima hukum itu menjadi dua. sebab lazimnya seorang anaklah yang dilahirkan. hal. Ia pantas menerima hak-hak namun ia belum mampu menerima kewajiban. Dr.III. 1 Prof. Orang yang pantas menerima hukum secara tidak sempurna itu ialah bila ia hanya pantas menerima hak-hak saja tetapi tidak pantas memikul kewajiban atau sebaliknya. maka ditetapkan bahwa bayi dalam kandungan adalah ahli waris yang berhak. para ulama menetapkan pula syarat-syarat seseorang dapat menguasai atau mengendalikan harta yang dimilikinya itu. PEMBAHASAN 1. 125 .1 Apabila ada seorang laki-laki meninggal pada saat istrinya sedang hamil. Oleh karna masalah kewarisan itu hanya berkaitan dengan mendapatkan hak dan bukan menguasai atau mengendalikan hak. Pendapat Para Ulama Tentang Kewarisan Anak Dalam Kandungan Para ulama Ushul Fiqh dalam membicarakan orang-orang yang pantas menjadi subjek hukum atau mahkum fih. Hukum kewarisan islam. maka ia ditetapkan sebagai ahli waris yang berhak menerima harta warisan dari pewaris bila telah terdapat sebab dan syarat kewarisan pada dirinya. yaitu setelah ia mencapai taraf yang disebut “rasydu” dalam arti cerdas. Dalam mencontohkan orang yang pantas menerima hukum yang tidak sempurna itu yang biasa dikemukakan ialah anak dalam kandungan. Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang berapa besarnya bagian yang dipisahkan untuknya itu. maka jika memungkinkan diperoleh kejelasan tentang bayi yang ada dalam kandungan itu. sedangkan yang sempurna itu adalah bila ia pantas menerima keduanya. kedua orang yang pantas menerima hukum secara sempurna. diberikanlah untuk bayi dalam kandungannya itu bagian warisnya sesuai dengan hasil pembuktian yang dilakukan. pertama pantas menerima hukum secara tidak sempurna. Oleh karna bayi yang dalam kandungan itu dinyatakan sebagai orang yang pantas menerima hak. Imam Hanafi mangatakan: Disisakanlah untuknya satu bagian sebesar bagian seorang anak laki-laki. Imam Malik dan Imam Syafi‟i mengatakan: Disisakan untuk bayi yang ada dalam kandungan itu sebesar empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. membaginya kepada dua katagori yaitu pantas menerima hukum dan pantas menjalankan hukum. Tetapi apabila tidak mungkin melakukan pembuktian maka disisakanlah bagian tertentu untuk bayi yang masih dalam kandungan tersebut. Disamping itu. yang pada umumya dicapai seseorang dinyatakan dewasa. Amir Syarifuddin. sedangkan lebih dari seorang masih praduga.

Kata-kata “anak yang lahir” jika dianalogikan dengan pasal 174 ayat (1) KHI memberikan pengertian bahwa anak sebagai ahli waris adalah anak yang sudah lahir. bisa juga anak yang masih dalam kandungan. anak dalam kandungan itu bisa menerima waris dengan syarat dia dilahirkan dalam keadaan hidup dan kelahiran itu terjadi kurang dari enam bulan sesudah wafat. Selain itu. seperti suami istri. Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 174 ayat (1) yang berbicara tentang siapa-siapa yang berhak sebagai ahli waris : Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari : a. bagian minimalnya dari dua kemungkinan bagiannya (seperempat untuk suami dan seperdelapan untuk istri). bahkan boleh pula dalam waktu persis enam bulan. 576-577. hlm. padahal ini menimbulkan ketidakpastian. jika bayi tersebut dilahirkan lewat batas maksimal kehamilan sesudah kematian suami. anak laki-laki. saudara laki-laki. paman. yaitu manakala suami wanita hamil tersebut langsung meninggal dunia sesudah ia mencampuri istrinya. tidak anak yang masih dalam kandungan. Selanjutnya. maka ia tidak berhak menerima waris. bisa jadi yang dimaksud anak yang sudah lahir. Begitu juga jika dianalogikan dengan 2 UU Nomor 1/1974 pasal 42 Muhammad Jawad Mugniyah. . Kata-kata “anak laki-laki” dan “anak perempuan” tidak dirinci secara jelas. lalu kepada setiap ahli waris yang menerima fardh. Dalam penjelasan pasal inipun tidak dijumpai penjelasan masalah itu karena pasal ini dianggap cukup jelas. hendaknya kelahiran bayi tersebut tidak melampaui batas maksimal kehamilan sesudah kematian suami.Imamiyah mengatakan: Disisakan untuk bayi dalam kandungan itu bagian untuk dua orang laki-laki semata-mata untuk berhati-hati saja. Menurut hubungan darah : golongan laki-laki terdiri dari : ayah. Hak Kewarisan Anak dalam Kandungan menurut Hukum Positif di Indonesia Kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia tidak dijumpai aturan yang jelas. Demikianlah kesepakatan para ulama mazhab2 2. Fiqih Lima Mazhab. apakah yang dimaksud anak yang sudah lahir atau masih dalam kandungan. dan kakek. Golongan perempuan terdiri dari : ibu. saudara perempuan dan nenek. Namun pasal 186 KHI ketika menjelaskan kedudukan kewarisan anak luar nikah dirumuskan pasal sebagai berikut : “Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya”. anak perempuan. tapi dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan mazhab fiqih.

termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9) 7. bantuan sosial. berkembang. dan pasal 19 menjelaskan tentang kewajiban seorang anak. mencari. dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya. bermain.Undang ini ditemukan rumusan : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. dan diasuh oleh orang tuanya sendiri (pasal 7) 5. Hak menyatakan dan didengar pendapatnya. bergaul dengan anak yang sebaya. Oleh sebab itu apapun hak dan kewajibannya dalam undang-undang ini tetap berlaku selama seseorang masih disebut anak. dan sosial (pasal 8) 6. dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri (pasal 11) 9. Dalam pasal 1 Undang. Hak untuk beribadah menurut agamanya. Bab III ini terdiri dari 16 pasal yaitu pasal 4 sampai pasal 19.ketika menjelaskan anak sah ditemukan rumusan pasal sebagai berikut : “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”. dan berkreasi sesuai dengan minat. bakat. Hak untuk mengetahui orang tuanya. Adanya tambahan anak kalimat “termasuk anak dalam kandungan” memberikan pemahaman bahwa seseorang sejak masih dalam kandungan sampai berusia 18 tahun masih disebut anak. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (pasal 5) 3. Hak untuk dapat hidup. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak terdapat pengertian yang agak luas tentang anak. menerima. dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial bagi anak yang menyandang cacat (pasal 12) . Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik. Bab III UU Nomor 23/2002 menjelaskan tentang hak dan kewajiban anak. Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang. dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya (pasal 10) 8. tumbuh. (pasal 6) 4. Pasal 4 sampai pasal 18 menjelaskan hak seorang anak. (pasal 4) 2. berpikir. dibesarkan. berekreasi. Hak memperoleh rehabilitasi. Secara singkat dapat dijelaskan hak anak dalam UU Nomor 23/2002 sebagai berikut : 1. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. mental. dalam bimbingan orang tua. spiritual.

Ahli warisnya adalah isteri. yaitu KPK dari 8. pelibatan dalam kerusuhan social. untuk kasus ini. Hak untuk memperoleh perlindungan dari : penyalahgunaan dalam kegiatan politik. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan. anak perempuan. pelibatan dalam sengketa bersenjata. ibu.10. penelantaran. dan perlakuan salah lainnya (pasal 13) 11. dan 2): Isteri : 1/8 bagian = 3/24 bagian = 3/24 x Rp 216 juta = Rp 27 juta Bapak : 1/6 bagian = 4/24 bagian = 4/24 x Rp 216 juta = Rp 36 juta Ibu : 1/6 bagian = 4/24 bagian = 4/24 x Rp 216 juta = Rp 36 juta Anak perempuan : 1/2 bagian = 12/24 bagian = 12/24 x Rp 216 juta = Rp 108 juta Cucu laki-laki : Sisa = 1/24 bagian = 1/24 x Rp 216 juta = Rp 9 juta b) Jika cucu tersebut diperkirakan perempuan. kekejaman. atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi (pasal 16) 3. maka bagian masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut (di sini. dan pelibatan dalam peperangan (pasal 15) 13. dan ekonomi penganiayaan. Penyelesaian: a) Jika cucu tersebut diperkirakan laki-laki. maka bagian warisan yang harus ditahan/disimpan untuk cucu adalah bagian yang terbesar untuk dua perkiraan. asal masalah 27 setelah „aul dari 24): Isteri : 1/8 bagian = >> 3/27 bagian = 3/27 x Rp 216 juta = Rp 24 juta Bapak : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Ibu : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Anak perempuan : 1/2 bagian = >> 12/27 bagian = 12/27 x Rp 216 juta = Rp 96 juta Cucu perempuan : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Dari kedua macam perkiraan ini. asal masalah adalah 24. eksploitasi. maka bagian masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut (dalam hal ini. baik maupun seksual. dalam hal ini adalah Rp 32 juta untuk perkiraan perempuan. Jadi. kekerasan. dan cucu (dari anak laki-lakinya yang telah meninggal lebih dahulu) yang masih dalam kandungan. harta warisan sudah dapat diberikan . Hak mendapat perlindungan dari perlakuan: diskriminasi. penyiksaan. Hak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan. Contoh Pembagian Kewarisan Anak Dalam Kandungan Seorang laki-laki wafat dengan meninggalkan harta Rp 216 juta. Hak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri (pasal 14) 12. ketidakadilan. bapak. 6.

dan 12 juta sehingga penerimaan mereka masingmasing adalah 27 juta. Jika ada masalah dengan kesamaran tentang kondisi anak. kekerabatan. KESIMPULAN 1. sekurang-kurangnya “terlupakan”. PENUTUP Alhamdulillah ahkirnya saya dapat menyelesaikan makalah Fiqh Mawaris. 4 juta. jika ada perkara pembagian warisan yang kemungkinan ahli warisnya anak dalam kandungan. Padahal ini adalah persoalan besar yang harus diselesaikan. 2. sementara penerimaan untuk cucu lakilaki menjadi 9 juta. IV. Bahwa dalam Fiqh Islam anak dalam kandungan adalah ahli waris yang berhak menerima warisan jika padanya terdapat sebab-sebab kewarisan (perkawinan. 4 juta. Kelalaian terhadap kewarisan anak dalam kandungan akan mengakibatkan si anak akan terancam masa depannya. yaitu masing-masing harus diberikan tambahan sebesar 3 juta. Bahwa demi kepentingan anak dan keadilan masyarakat. . V. dan anak perempuan masing-masing diberikan 24 juta. berarti terjadi kekurangan penerimaan untuk keempat ahli waris ini dan harus diambil dari harta yang disimpan untuk bayi tadi.kepada para ahli waris yang lain dengan bagian dan penerimaan seperti pada perkiraan kedua. 36 juta.walaupun jauh dari kata sempurna namun saya sangat berusaha untuk menjadi yang sempurna dan baik dalm membuat makalah ini. tetapi berjenis kelamin laki-laki. yaitu untuk isteri. jalan sebaiknya yang ditempuh Pengadilan Agama (hakim) adalah : segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan dengan memperhitungkan hak waris anak dalam kandungan. pendapat saksi ahli (dokter kandungan) dapat didengar dan diajadikan pertimbangan. dan memerdekakan budak). 32 juta. dan 96 juta. Kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris dalam hukum positif di Indonesia kalau tidak boleh disebut “terabaikan”. 32 juta. dan 108 juta. Jika ternyata di kemudian hari bayi tadi lahir dengan selamat (hidup). 3. 36 juta. bapak. ibu.

Fifqh Mawaris. Hukum Kewarisan Islam. Amir. Semarang: Pt Pustaka Rizki Putra. Jakarta: Prenada Media. Tengku Muhammad Hasbi. Muhammad Jawad. 2001 Mugniyah. Fiqih Lima Mazhab Syarifuddin.DAFTAR PUSTAKA Ash Shiddieq.2004 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->