PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS

……………. ……………………………… TAHUN …………………….

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH : ………………………………….. NIP : …………………………..

DINAS PENDIDIKAN KOTA ……………………… …………………………………………..

HALAMAN PENGESAHAN

KRYA ILMIAH

BERJUDUL : PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKn PADA SISWA KELAS ……………. …………………………………………… TAHUN …………………….

OLEH : ……………………………………………

TELAH DISETUJUI Pengelola Perpustakaan Ketua PGRI Kota ………………

………………………… NIP.

………………………… NPA.

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahanrahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul “Pengaruh Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PKn Pada Siswa Kelas …………….Tahun …………………….”. Penulisan karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi persyatratan kenaikan golongan profesi guru dari IV ke VI b. Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu terima kasih kami ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya kepada : 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kota ….. 2. Yth. Kepala PGRI Kota ……. 3. Yth. Rekan-rekan Guru ……. 4. Semua pihak yang telah banyak membantu, sehingga penulisan ini selesai. Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dasi semua pihak selalu penulis harapkan. ……………………., Desember 2003

Penulis

Simpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif dapat berepengaruh positif terhadap prestasi dam motivasi belajar siswa ……………………. sehingga pembangunan manusia seutuhnya menjadi terhambat.. siklus II (79. Karena banyaknya penyelewengan dan pengkhianatan Pancasila. kegiatan dan pengamatan. Kata Kunci : PKn . (b. siklus III (90. lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Apalagi akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang meragukan eksistensi PKn . .01%). Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi beljar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu . (c) Menyempurnakan pelaksanaan pembelajaran PKn . Dan ada pula yang mempertanyakan keberhasilan pengajaran PKn terhadap moral pelajar khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.ABSTRAK …………. Penelitian ini berdasarkan permasalahan : (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar PKn dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah ? (b) Bagaimanakah pengaruh pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah terhadap motivasi belajar PKn .) Mengetahui pengaruh motivasi belajar PKn setelah diterapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran bebasis masalah. siklus I (67.70%). Tahun …………. Setiap putaran terdiri dari 4 tahap.44%). Pengaruh pembelajaran Kontekstual Model pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PKn Pada Siswa Kelas ………………. serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran PKn .. 2003. basis masalah Perjalanan yang berliku-liku dan penuh tantangan semenjak proses terbentuknya sampai pada keadaan sekarang yang menghantarkan PKn sebagai bahan kajian yang menarik.. tahun pelajaran ………. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. yaitu : rancangan. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas …………. refleksi dan refisi. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah : (a) Mengetahui peningkatan prestasi belajar PKn setelah diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengjaran berbasis masalah. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif.

............................................................................. latar Belakang Masalah........................................................... Batasan Masalah BAB II KAJIAN PUSTAKA......................... Definisi Pembelajaran............ D............ A............................................................................................................. E....................... Daftar Lampiran......................................... A................................. Definisi Operasional Variabel...... Halaman Pengesahan................................ .................................................. D.. C. Kegunaan Penelitian...................... Rumusan Masalah................ B......... Motivasi Belajar...................................................................................DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul............................................................................................... Daftar Isi .................................. Meningkatkan Motivasi Belajar PKn Pada Siswa.......... BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. F.................................................................................................... Kata Pengantar........... Pengajaran Berbasis Masalah.......................................................................... B............................ C.................. Abstrak ................................................ Tujuan Penelitian.........................................................................

..................... dan Subyek Penelitian......................................................................................... BAB V SIMPULAN DAN SARAN........... Analisis Data Penelitian Persiklus......... C.......................... Alat Pengumpul Data................. Saran........................................................... B............................................ B. Analisis Data........................................................................................................ Tempat................ Pengajaran Berbasis Masalah Dengan Ketuntasan Belajar...................BAB III METODOLOGI PENELITIAN......... DAFTAR PUSTAKA......... C................... D..................... ............................................ Simpulan......... Rancangan Penelitian.... Hubungan Pembelajaran Kontekstual Model .............. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................. A.. Pembahasan....... B.................................................................................................................. Waktu.............................. A................................... A..................................................

.......... Lampiran 6............................. Hasil Tes Formatif Siklus I........... Rencana Pembelajaran I.................................................................... .. Lampiran 4................................................................. Lampiran 5........... Data Penganmatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran I.................. Lampiran 10............................................. Data Penganmatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran III....... Lampiran 7....... Lampiran 8................ Lampiran 11............... Lembar Aktivitas Siswa dan Guru Dalam KBM................ Data Penganmatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran II.. Rencana Pembelajaran II................... Lampiran 9.... Lampiran 3. Lampiran 2.......... Rencana Pembelajaran III........................... Hasil Tes Formatif Siklus II.... Hasil Tes Formatif Siklus III..DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1............ Lembar Pengamatan pengelolaan Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah...................

bukan selalu menanti perintah guru. . Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sarana dan prasarana apenunjang. sdan warga negara yang bertanggung jawab serta memberi bekal kemampuan untuk mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. seperti kurikulum. Apapun yang ternasuk petrangkat priogram pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien. PKN di tingkat SMA bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dalam memahami dan menghayati nilai Pancasila dalam rangka pembentukan sikap dan perilaku sebagai pribadi.BAB I PENDAHULUAN A. Anak didikpun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar. guru pengajar maupun metode pengajaran. Latar Belakang Masalah Pendidikan Panbcasila dan Kewarganegaraan adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari siswa. anggota msyarakat. Titik sentral yang harus dicapai setiap kegiatan beljar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran.

Karena PKn sebagai suatu bidang studi memiliki dasar konstitusional yaitu UUD 1945 dan ketetapan MPR No. Sehingga pembangunan manusia seutuhnya menjadi terhambat. Bahkan ada sebagian orang yang megusulkan agar PKn tidak diajarkan lagi sebagai salah satu dari komponen pendidikan. Ironisnya hal ini dilontarkan pada saat bangsa Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan Pembangunan Nasional di segala bidang.II/MPR/1993. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan menentukan metode yang bagimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. .Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. PKn sebagai salah satu bidang studi yang diberikan di sekolah-sekolah umum maupun madrasah-madrasah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tingi memiliki nilai-nilai histories yang tidak terdapat pada bidang studi lainnya. Pemilihan dan penentuan metode ini didasari adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dan ada pula yang mempertanyakan keberhasilan pengajaran PKn terhadap moral pelajar khususnya dan masyarakat luasa pada umumnya. Perjalanan yang berliku-0liku dan penuh tantangan semenjak proses terbentuknya sampai pada keadaan sekarang yang menghantarkan PKn sebagai bahan kajian yang sangat menarik. Apalagi akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang meragukan eksistensi PKn karena banyaknya penyelewengan dan pengkhianatan Pancasila.

Dengan memperhatikan gejala-gejala tersebut di atas. Tahun Pelajaran B. maka timbul pernyataan dalam benak penulis. sejauhmanakah keberhasilan pengajaran PKn selama ini? Padahal sering digembar-gemborkan sebagai bangsa Indonesia kita harus atau wajib mengamalkan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut di atas. maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Pengaruh Pembelajaran Konstektual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar PKn …………… Pada Siswa Kelas ………………………….? . Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar PKn dengan diterapkannya pembelajaran konstektual model pengajaran berbasis masalah pada siswa kelas …………… tahun pelajaran……………. Tetapi kenyataannya masih banyak terdapat penyimpangan-penyimpangan dan pengkianatan terhadap nilai-nilai luhir yang terkandung dalam Pancasila bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: 1. diantaranya faktor tersebut adalah strategi pembelajaran yang kurang mengena terhadap pembelajaran PKn dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap pebelajaran PKn .

? 3.? pada siswa kelas C.…. . Mengetahui pengaruh motivasi belajar PKn setelah diterapkan pembelajaran konstektual model pengajaran berbasis masalah pada siswa kelas …………… tahun pelajaran……………. D. Bagaimanakah pengaruh pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah terhadap motifasi belajar PKn ………………tahun pelajaran………. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru PKn dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn . Menyempurnakan pembelajaran PKn dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas ………………………….? 2. penelitian ini bertujuan untuk: 1. tahun pelajara………………….………. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai: 1..2. Mengetahui peningkatan prestasi belajar PKn setelah diterapkannya pembelajaran konstektual model pengajaran berbasis masalah pada siswa kelas …………… tahun pelajaran……………. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas.

Motovasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tungkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan . 4. Pengajaran berbasis masalah (problem-Based Learning) adalah: Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. 3. . Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn . maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Sumbangan pemikiran bagi guru PKn dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn . atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam memcapai tujuan tertentu. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa. E. 5. 2. Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran PKn . Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini.2.

setelah siswa mengikuti pelajaran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November semester ganjil tahun pelajaran ……………. F. Batasan Masalah 1. . Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan………………….. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas ……………… tahun pelajaran……………. 2.3. Prestasi belajar adalah: Hasil belajatr yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam betukskor. 3.

Sutomo (1993:68). kecakapan. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI. . Sependapat dengan pernyataan tersebut.BABA II KAJIAN PUSTAKA A. menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. bertambah pengetahuan. tetapi perubahan dalam kebiasaan . Pasal 1 Undang-Undang No. sikap dan lain-lain (Soetomo. Sedangkan belajar adalah suatu proses pertumbuhan yang bersifat fisik. berkembang daya pikir. pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakaukan kegiatan pada situasi tertentu. mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Definisi Pembelajaran Pembelajaran adalah proses. 1996:14). Jadi. 1993:120). 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. cara.

seperti Dr. bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu. Seekor kuda dapat digiring . Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi tentang kepribadian dan tingkahlaku manusia. kebutuhan. system persekolahan lainnya. yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik.B. yang terkenal dengan “pengajaran proyeknya”. serta perkembangan dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudin berubah. Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan. Sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua perbuatan. dan tingkat kesanggupan. yang berdasarkan pada masalahyang menarik minat siswa. Konsep Motivasi Pengertian tradisional menitik beratkan pada metode imposisi. Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya. serta pemahaman murid. Motivasi Belajar 1. Faktor siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran berdasarkan “Pusat minat” anak makan. tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang aa pada murid. minat. Oemar: 2001: 157). pakaian. John Dewey. permainan/bekeraja.

Demikian pula halnya dengan murid. 2000: 28). akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk belajar dalam arti sesungguhnya. guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepaa mereka. atau keadaan dan kesiapan dalam arti individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman. motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasai dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.. atau keadaan seorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku untuk memenuhi kebuuhan dan mencapai tujuan. sehingga siswa itu dapat menyerap dan mengendapkan materi itu. Inilah yang menjadi tugas paling berat yakni bagaimana caranya berusaha aga murid mau belajar. sehingga siswa itu akan menyerap dan .ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. Dalam proses belajar. dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinyu. 2. Hal ini sesui dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang bermotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu. Pengertian Motivasi Motif adalah daya daolam diri seseorang yang mendoronbgnya untuk melakukian sesuatu. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.

strategi tersebut adalah sebagai berikut :L 1) Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. 2) Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok.mengendapkan materi itu dengan lebih baik. atau paksaan dari orang lain. apakah karena adanya ajakan. Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai ujuan tertentu. suruhan. karena dalam setiap diri individu sedah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. sehingga dalam kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu untuk belajar (Usman. Menurut Winata (dalam Erriniati. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115). Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya. 3. 2000: 29). 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk mnembangun motivasi intrinsic. yaitu : a. Motivasi Intinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu. motivasi intrinsic adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu irangsang dari luar. motivasi dibedakan menjadi sua. .

b. Seseorang yang memiliki motivasi inrinsik dala dirinya. atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu ata belajar. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfunmgsi karena adanya perangsang dari luar. motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsic. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117). 2000: 29).3) Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan su. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mnotivasi intrinsic adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama di kelasnya.n apakah karena adanya ajakan.mber belajar di sekolah. berusaha . Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbut sebagai akibat pengaruh dari luar individu. maka secara sadar akan melakukan sesuatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan moivasi instrinsik antara lain : 1) Kompetisi persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. suruhan. 4) Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. (Usman.

guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri. Makin jelas tujuan. hendaknya terlebih dahulu menyamnpaikan kepada siswa TIK yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut. 6) Mengadakan penelitiaqn atau tes. 3) Tujuan yang jelas: Motif medorong individu untuk mencapai tujuan. makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan. bila guru mengatakan bahwa lusa akan . Dengan demikian. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tiak ada ulangan. sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya.memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. 2) Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru. kesenangan dan kepercayaan teradap diri sendiri. tentu saja dengan bimbingan guru. Akan tetapi. 5) Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar. 4) Kesempunaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas.

maka aa beberapa prinsip umum yang harus dipegang oleh guru PKn dalam menjalankan tugasnya. Jadi. Meningkatkan Motifasi Belajar Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci alam proses belajar mengajar. pabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tept untuk mentransferkan kepada siswa. Nasution.diadakan ulangan lisan. Disamping itu kegiatan mengajar adalah satu aktivitas yang sangan kompleks. karena itu sangat sukar bagi guru PKn bagaimana caranya mengajar dengan baik agr dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar PKn . Bila al ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. Dr. Untuk merealisasikan keinginan tersebut. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tibul dari luar individu yang berfungsinya Karen danya perangsang dari luar. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru biang studi pengjarannya. angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa. Menurut Prof. dn lain sebgainya. C. barulah siswa giat belajar dan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. untuk mencapi nilai yang tinggi. misalnya adanya persaingan dari luar. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru. S. prinsip-prinsip umum yang hrus dipegang oleh guru PKn dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut : .

5. 7. Menciptakan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingnya memiliki skill dan pengetahuan yang akan diberikan oleh program pendidikn itu. 3. Suton sebagi berikut : 1.1. 9. begitu pul dlam meningkatkan motivasi belajar sisw tampaknya guru yng mengetahui akan . 8. Guru yang bik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya. Dari prinsip-prinsip umum di atas. menunjukkan bahwa perann guru PKn dlm mengajar PKn dapat dikatkan sangat dominant. Guru menghubungkan pelajaran pada kehidupan siswa. 2. Menyelidiki dengan jelas dan tegas apa yang diharapkan dari pelajaran untuk di pelajari dan mengapa ia diharapkan mempelajarinya. 6. bukan hanya dengan kata-kata belaka. Guru terkait dengan teks book. 4. melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya. Hal ini unmtuk menghindari verbalisme pada murid. Guru yang baik tidak hanya mengjar dalam arti menyampaikan pengetahuan. Guru yang baik memberikan pengertian. Guru yang baik mengaktifkan siswa dalam belajar. Guru hendaknya menyesuaikan metode pengajar dengan pelajarannya. guru hendaknya menyesuikan bahan pelajaran yang diberikan dengan kemampuan siswa. 2. Sehubungan dengan upya meningkatkan motivasi belajar siswa ada dua prinsip yang harus diperhatikan oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. Guru yang baik memahami dan menghormaati siswa.

dan Achoered Intruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata)”. Experienced-Based Education (pendidikan berdasarkan pengalaman). Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis masalah (Problem_Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Authentic Laerning (pembelajaran Autentik). guru pula yang mengethui kesulitan-kesulitan memecahkannya. “Pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teacihg (Pembelajaran proyek). dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.kemampuan siswa-siswanya baik secr individual maupun secara kelompok. Pengajaran berbasis masalah tidak dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide . siswa teraap pelajaran PKn dn bagaimana cara D. mengajukan pertanyaan. Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah. Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 2). guru mengetahui persoalan-persoalan belajar dan mengajar. Pengajaran masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam suatu berorientasi masalah. termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar.

menghindari jawaban sederhana. Penyelidikan Autentik . Pengajuan pertanyaan atau masalah Pengajaran berbasis masalah bukan hanya menorganisasikan prinsipprinsip atau keterampilan akademik tertentu. Ciri-cirinya Berbagai pengembangan pengajaran berbasis masalah telah mencoba menunjukkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut : a. masalah yang akan diselidiki telah dipilih yang benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. c. Ilmu Sosial). b.secara terbuka. Secara garis besar pengajaran berbasis masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan ikuiri. 1. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik. pembelajaran berdasarkan masalahmenorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara social penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi itu. Matematika. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin Meskipun pengajaran berbasis masalah mungki berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA.

metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari. Mereka harus menganalisasi dan mendefinisikan masalah. Tujuan Pembelajaran Pengajaran berbassis masalah dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. 2. dan merumuskan kesimpulan. video atau program computer (Ibrahim & Nur.Pengajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencaripemecahan masalah nyata. mengembangfkan hipotesis dan membuat ramalan. model fisik. mengumpulkan dan menganalisis informasi. sudah barang tentu. melakukan eksperimen (jika diperlukan). membuat referensi. 2000: 5-7). Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya Pengajaran berbasis masalah menuurt siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. d. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak paluang untuk berbagai inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan social dan keterampilan berfikir. Produk itu dapat berupa transkip debat. laporan. Pengajaran berbasis masalah . Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil).

Apakah keterampilan berfikir itu dan terutama apakah keterampilan befikir itu? Berfikir adalah proses yang melibatkan operasi mental seperti induksi. dan keterampilan intelektual. Pernyataan simbolik (abstrak) seperti itu biasanya berbeda dengan operasi mental yang didasarkan pada tingkat konkret dari fakta dan kasusu khusus. pemecahan masalah. klasifikasi. dan penalaran. tetapi apakah sebenarnya yang terlibat dalam proses befikir?. deduksi. Berfikir adalah proses secara simbolik menyatakan (melalui bahasa) objek nyata dan kejadian-kejadian dan penggunaan pernyataan simbolik itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial tentang objek dan kejadian itu. Uraian rinci terhadap ketiga tujuan itu dijelaskan lebih jauh oleh Ibrahin dan Nur (2000: 7-12 berikut ini : a. dan menjadikan pembelajaran otonom dan mandiri. Keterampilan Berfikir dan Keteranpilan Pemecahan Masalah Berbagai macam ide telah digunakan untuk menggambarkan cara seseorang berfikir. . belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi.dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengemangkan kemampuan berfikir.

dan mencapai kesimpulan berdasar pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. Berfikir tingkat tinggi melibatkan banyak penerapan banyak criteria. Resnick (1987) memberikan penjelasan sebagai berikut : Berfikir tingkat tinggi adalah nonalgoritmik. Keseluruhan alurnya tidak dapat diamati dari satu sudut pandang. yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kita tidak mengakui sebagai berfikir tingkat tinggi . yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat diterapkan sebelumnya. Berfikir tingkat tinggi melibatkan banyak pengaturan diri tentang proses berfikir. Berfikir tingkat tinggi melibatkan ketidakpastian. mengkritik. Berfikir tingkat tinggi cenderung kompleks. masing-masing dengan keuntungan dan kerugian.- Berfikir adalah kemampuan untuk menganalisis. Berfikir tingkat tinggi sering kali menghasilkan banyak solusi. Berfikir tingkat tinggi melibatkan pertimbangan dan interprestasi. Segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tidak selamanya diketahui. Tentan berfikir tingkat tinggi.

Sebagai contoh. prose situ juga berfariasi bergantung pada apa yang difikirkan sseorang. bahwa Resnick menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti pertimbangan. dan ketidak pastian. Karena hakikat kekomplekan dan konteks dari keterampilan berfikir tingkat tinggi. Berfikir tingkat tinggi melibatkan melibatkan pencarian makna. maka keterampilan itu tidak dapat diajarkan menggunaan pendekatan . proses yang kita gunakan untuk memikirkan matematika berbeda dengan yang digunakan untuk memikirkan puisi. pencarian makna. Perlu dicatat. Ada pengarahan kerja mental besar-besaran saat melakukan berbagai jenis elaborasi dan pertimbangn yang dibutuhklan. pengaturan diri. Berfikir tingkat tinggi adalah kerja keras. menemukan struktur pada kedalaman yang tampaknya tidak teratur.pada seseorang. Meskipun proses memiliki beberapa kesamaan antarsituasi. Hal ini berarti bahwa proses berfikir dan keterampilan yang perlu dikatifkan sangatlah kompleks. jika ada orang lain yang membantunya pada setiap tahap. Proses berfikir yang digunakan untuk memikirkan ide abstrak berbeda dengan yang digunakan untuk memikirkan situasi kehidupan nyata. Resnick juga menekankan pentingnya konteks atau keterkaitan pada saat berfikir tentang berfikir.

dan kebanyakan program dan kurikulum dikembangkan untuk tujuan itu sangat mendasar diri pada pendekatan yang sama dengan poengajaran berbasis masalah. 2) Pengajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri. b. Keterampilan proses dan berfikir tingkat tinggi bagaimanapun juga jelas dapat diajarkan. 3. sehingga secara bertahab siswa dapat memahami peran penting dari aktivitas mental dan belajat yang terjadi di luar sekolah. Hal tersebut mendorong pengamatan dan dialog dengan orang lain. Pemodelan Peran Orang Dewasa Risnick juga memberikan rasional tentang bagaimana pengajaran berbasis masalah membantu siswa untuk kinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar tentang pentingnya peran orang dewasa.yang dirancang untuk mengajarkan ide dan keterampilan yang lebih konkret. 1) Pengajaran berbasis masalah memiliki unsur-unsur elajar magang. Dalam banyak hal pengajaran berbasis masalah bersesuaian dengan aktivitas mental di luar sekolah sebagaimana yang diperankan oleh orang dewasa. yang memungkinkan siswa menginterprestasikan dan menjelaskan fenomena dunia nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut. Pembelajaran yang Otonom dan Mandiri .

dan model serta membantu mereka berbagai tugas dengan temannya. 2. Tahap Pengajaran Berbasis Masalah Pengajaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan satu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analsis hasil kerja siswa. video. Dengan begitu. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengoranisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penyelasan dan pemecahan masalahnya. Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen .1. 4. memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh mereka sendiri.Pengajaran berbasis masalah berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom. menjelaskan logistic yang dibutuhkan. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual dan kelompok Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Tahap 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masaah 5. siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya. Bimbingan guru yang berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan. Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Tahap Pengajaran berbasis Masalah Tahapan Tahap 2 Orientasi siswa kepada masalah Tingkah Laku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.

dan peran siswa yang aktif. bukan guru yang ditekankan. Lingkungan belajar menekankan peran sentral siswa. BAB III . lingkungan belajar dan system manajemen dalam pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh sifatnya yang terbuka. aa prose demokrasi. norma di sekitar pelajaran adalah norma inkuiri terbuka dan bebas mengemukakan pendapat.Tidak seperti lingkungan belajar yang terstruktur secara ketat yang dibutuhkan dalam pembelajaran langsung atau penggunaan yang hati-hati kelomp[ok kecil dalam pembelajaran kooperatif. Meskipun guru dan siswa melakukan tahapan pembelajaran yang terstruktur dan dapat diprediksi dalam pengajaran berbasis masalah.

Keempat bentuk penelitian tindakan dio aas. Menurut Sukidin dkk. (3) Proses yang digunakan dalam melakukan penelitian. (2002: 54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan. (2000) (dalam Sukidin dkk. (2) Penelitian tindakan kolaboratif. Dalambentuk ini. observasi. (3) Penelitian tindakan simultan terintegratif. dan (4) Hubungan antara proyek dengan sekolah. ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada : (1) Tujuan utamanya atau pada teknannya. sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominant dan sangat kecil. guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan. dan (4) Penelitian tindakan social eksperimental.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). Dalam kegiatan ini. ada persamaan dan perbedaannya. tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti. (2) Tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar. karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. . 2002: 55). Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah. tindakan. dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif. dan refleksi. yaitu : (1) Penelitian tindakan guru sebagai peneliti.

dan Subek Penelitian 1. Tempat. B. Rancangan Penelitian . Penelitian ini bertempat di …………………….Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambingan. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. 2. Tempat penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian dalam memperoleh data yang diinginkan.. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup. Waktu. Kemmis dan Tagart (1988: 14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. A. tahun pelajaran ………………….. Penelitian ini dilaukan pada buan November semester ganjil ……………. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas ……………………. Mojokerto tahun pelajaran ……………… pada pokok bahasan penegakan HAM dan Implikasinya. 3. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan.

rinci. dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto. menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat keigatan utama. 4.Menurut pengertiannya. yaitu benarbenar nyata dan penting. pihakpihakyang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat mendukung satu sama lain. 2. 2002: 82). Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien. setiap langkah dari tindakan dirumuskan secara tegas. Suharsimi. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan invovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. 3. Metodoloi yang digunakan harus jelas. Dalam prosesnya. Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut : 1. artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu. penelitian tindakan adalah penelitian tentang halhal yang terjadi di sekelompok masyarakat atau sasara. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi criteria. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya. . kegiatan penelitian. dana dan tenaga. dan terbuka.

5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjtan(on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti, tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu. (Arikunto, Suharsimi, 2002: 82-83). Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari kemmis dan Taggert (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002: 83) yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalah. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut :

Putar an 1

Refleksi

Rencana Rencana awal/rancangan awal/rancangan

Putar an 2

Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Refleksi Tindakan/ Observasi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi Rencana yang Rencana yang direvisi direvisi

Putar an 3

Gambar 3.1. Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah : 1. Rancangan/ rencana awal, sebelum mengadakan penelitian, peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrument penelitian dan perangkat pembelajaran. 2. kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah.

3. refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. 4. Rancangan/ rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk melaksanakan pada siklus berikutnya. Observasi dibagi dalam setiap siklus 1, 2, dan seterusnya, dimana masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

C. Alat pengumpul Data Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah : (1) Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang dibertikan dalam waktu tertentu; (2) Untuk menentukan apahah suatu tujuan telah tercapai; dan (3) Untuk memperoleh suatu nilai. (Arikunto, Suharsimi, 2002: 149). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar secara individual maupun secara klasikal. Disamping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagain mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan, maka jua digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat

Menghitung jumlah skor yang tercapai dalam prosentasenya untuk masingmasing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian. Cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : 1. 3. BAB IV . sedangkan sklasikal dikataka tuntas belajar. 2. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat pada aktivitas guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. D. Analisis Data Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul. Merekapitulasi hasil tes. jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang tela mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. maka digunakan analisis data kuantitif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapat nilai minimal 65.

Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah. soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. B. Hubungan Pembelajaran Kontekstual Model Pengajaran Berbasis Masalah Dengan Ketuntasan Belajar Suatu pokok bahasan atau sub pokok bahasan dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 65 lebih dari atau sama dengan 85%. sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah seorang guru PKn dan wali kelas …… . dan lembar observasi aktifitas guru dan siswa. sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada pokok bahasan atau sub pokok bahasan tertentu jika mendapat nilai minimal 65. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pembelajaran 1. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 November 2004 di kelas ………… dengan jumlah siswa 43 siswa. Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I a. b.

Membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep C. Kegiatan Inti 1.Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Guru Antusias Jumlah Penilaian P1 P2 2 2 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 Ratarata 2 2 3 3 3 3 3 I II III 3 3 2 2 3 32 3 3 2 2 3 32 3 3 2 2 3 32 Keterangan : Nilai 1. Membimbing siswa melakukan kegiatan 3. Pengelolaan pembelajaran Pada Siklus I No Aspek yang diamati Pengamatan KBM A. Memberikan evaluasi Pengelolaan Waktu Antusiasme Kelas 1.1. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kegiatan belajar mengajar 5. Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa. 2. Tidak baik : Kriteria . Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Tabel 4. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Pendahuluan 1. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan belajar mengajar. Penutup 1. Siswa Antusias 2. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok 4. Motivasi siswa 2. Membimbing siswa membuat rangkuman 2. Menyampaikan tujuan pembelajaran B.

dan antusis. Keempat aspek yang mendapat penilaian kurang baik di atas.5 11. 3. menyampaikan tujuan pembelajaran.0 18. 4.3 6. merupakan suatu kelemahan yang terjadi pada siklus I. Hasil observasi berikutnya adalah aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut : Tabel 4.4 2.9 .3 21.2 8.0 8.9 6. pengelolaan waktu.3 Presentase 22.7 10.5 18.3 8.2 Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aktivitas Guru yang diamati Menyampaikan tujuan Memotivasi siswa / merumuskan masalah Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan materi / lankah-langkah / strategi Menjelaskan materi yang sulit Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan Memberikan umpan balik Membimbing siswa merangkum kegiatan Aktivitas Siswa yang diamati Mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru Membaca buku siswa Bekerja dengan sesama anggota kelompok Diskusi antar siswa / antara siswa dengan guru Menyajikan hasil pembelajaran Mengajukan / menanggapai pertanyaan / ide Menulis yang relevan dengan KBM Merangkum pembelajaran Mengerjakan tes evaluasi Presentase 5. dan akan dijadikan bahan kajian untuk refleksi dan revisi yang akan dilakukan pada siklus II.9 8. Kurang baik Cukup baik Baik Berdasarkan tabel di atas aspek-aspek yang mendapatkan criteria kurang baik adalah memotifsi siswa.3 8.9 5.2.7 13.7 14.

5%.7%. walaupun peran guru masih cukup dominant untuk memberiakan penjelasan dan arahan karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.3 %. Berikutnya adalah rekapitulasi asil tes formatif siswa seperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 4. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesame anggota kelompok.93 29 67. Pada siklus I secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah sudah dilaksanakan dengan baik.5%. yaitu 21. diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru.3% dan 13. yaitu 22.44 . Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominant adalah mengerjakan / memperhatikan penjelasan guru.Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominant pada siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep. dan membaca buku yaitu masing-masing 18. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I 70.3. 14. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah memberi umpan balik/ evaluasi/ tanya jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu masing-masing sebesar 18.7%.4 dan 11.

44% atau ada 29 siswa dari 43 siswa sudah tuntas belajar. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran 2) Guru kurang maksimal dalam pengolahan waktu 3) Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung d.93 dan ketuntasan belajar mencapai 67.44% lebih kecil dari presentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu ebesar 85%. c. . sehingga perlu adanya refisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diperoleh nilai rata-rata presentasi belajar siswa adalah 70. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I secara klasikal siswa belum tuntas belajar. Refisi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan.Dari tabel di atas dapat dijelaskan. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dalam mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan pembelajaran kontekstual metode pengajaran berbasis masalah. karena siswa yang belum memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 67.

Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dan lembar observasi guru dan siswa.. 2. Selain itu. adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada sikus I.1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. b. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Siklus II a. 3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa. sedangkan yang betindak sebagai pengamat adalah seorang guru PKn dan wali kelas …. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 November 2004 di kelas …… dengan jumlah siswa 43 siswa. sehingga siswa bisa lebih antusias. soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2. 2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan membri catatan. .

Siswa Antusias 2. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil penyelidikan 5. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut : Tabel 4. memberikan evaluasi Pengelolaan Waktu Analisis Kelas 1.4. Menyampaikan tujuan pembelajaran B. Penutup 1.5 4 4 4 3 3. Guru Antusias Jumlah Penilaian P1 P2 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 41 3 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 43 Ratarata 3 3. Pengelolaan Pembelajaran pada Siklus II No Aspek yang diamati Pengamatan KBM A. siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep C. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok 4.5 3. Kegiatan Inti 1. Pada akhir proses belajar mengajar. Memotivasi siswa 2.Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pendahuluan 1. Membimbing siswa melakukan kegiatan 3.5 4 2 3.5 4 42 I II III . Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa 2. Membimbin siswa membuat rangkuman 2.

tampak aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus II) yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapka pembelajaran kontekstualmodel pengajaran berbasis masalah mendapatkan penilaian yang cukup baik dari pengamat. sehingga mereka akan lebih memahami tentang apa yang telah mereka lakukan. Baik Dari tabel di atas. Tidak baik 2. Cukup baik 4.Keterangan : Nilai : Kriteria 1. Kurang baik 3. Dengan penyempurnaan aspek-aspek di atas dalam penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diharapakan siswa dapat menyimpulkan apa yang telah mereka pelajari dan mengemukakan pendapatnya. Namun demikian penelitian tersebut belum merupakan hasil yang optimal. membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep. dan pengolahan waktu. untuk itu ada beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian untuk menyempurkan penerapan belajar selanjutnya. Maksudnya dari seluruh penilaian tidak terdapat nilai kurang. Aspek-aspek tersebut adalah memotivasi siswa. . Berikut disajikan hasil observasi aktivitas guru dan siswa.

5. aktivitas ini mengalami peningkatan.8 Berdasarkan tabel di atas. Jika dibandingkan dengan siklus I.6 6.1 21.4 7.7 11.2 16. Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominant pada siklus II adalah bekerja dengan sesame anggota kelompok yaitu (21%). Meminta siswa mendiskusikan dan menyajikan hasil kegiatan (8. menjelaskan materi yang sulit (11. .7).7 6.9 12.7 Presentase 17.2%).0 13. Aktivitas Guru dan siswa Pada Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aktivitas Guru yang diamati Menyampaikan tujuan Memotivasi siswa / merumuskan masalah Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan materi / lankah-langkah / strategi Menjelaskan materi yang sulit Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan Memberikan umpan balik Membimbing siswa merangkum kegiatan Aktivitas siswa yang diamati Mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru Membaca buku siswa Bekerja dengan sesama anggota kelompok Diskusi antar siswa / antara siswa dengan guru Menyajikan hasil pembelajaran Mengajukan / menanggapai pertanyaan / ide Menulis yang relevan dengan KBM Merangkum pembelajaran Mengerjakan tes evaluasi / latihan Presentase 6. tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominant pada siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa dalammenemukan konsep.0 8. dan membimbing siswa merangkum pelajaran (6.6%). aktivitas ini mengalami peningkatan.7 6.7 25. Jika dibandingkan dengan siklus I.8 4.7 6.7 11.7%).Tabel 4. yaitu 25%. Aktivitas guru yang mengalami penurunan adalah memberi umpan balik / evaluasi / tanya jawab (16.7 10.6 5.

Aktivitas siswa yang mengalami penurunan adalah mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru (17.1%).7%). Adapun aktivitas siswa yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12.8%).7%) dan merangkum pembelajaran (6.4%) dan mengerjakan tes evaluasi (10.6%). Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa terlihat pada tabel berikut : Tabel 4. Diskusi antar siswa / antara siswa dengan guru (13.8%).9%). menulis yang relevan dengan KBM (7.42 34 79. Selain itu siswa jua sudah mulai mengerti apa yang . menyajikan hasil pembelajaran (4. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklu II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. menanggapi / mengajukan pertanyaan / ide (5. rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar Hasil Siklus 74. adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes.6.01% atau ada 34 siswa dari 43 siswa suda tuntas belajar. sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar.01 Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74.42 dan ketuntasan belajar mencapai 79.

c. 4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik. 3) Guru harus lebih sabar dalam membimbingsiswa merumuskan kesimpulan/ menemukan konsep. . sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa bak untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah. Revisi Rancangan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangankekurangan. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut : 1) 2) 3) Memotivasi siswa Membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep Pengelolaan waktu d. maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II. sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan yang diharapkan. antara lain : 1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya bisa membuat siswa lebihtermotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung 2) Guru harus lebih dekat dengan siswa.

. adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhtikan revisi pada siklus II. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Siklus III a. sehingga kesalahan atau kekurangan pa siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Selain itu juga dipersiapkan lembar observsi pengelolaan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Pada akhir prose bvelajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tinbgkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang dilakukan adalah tes . soal tes formatif 3 dan alat-alat pengjaran yang mendukung. sedangkan yang bertindak sebagai pengamat adalah seorang guru PKn dan wali kelas …. Pengamatan (observsi) dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan belajr mengajar. 3. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari 3.5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. Tahap kegiatan dan pengmatan Pelaksanan kegiatan belajar mengajar untuik siklus III dilaksnakan pada tanggal 18 November 200 di kelas …. Dengan jumlah siswa 3 siswa. b.

7.5 I II III Keterangan : Nilai : Kriteria 1. Siswa Antusias 4. Menyampaikan tujuan pembelajaran B. Membimbing siswa mendiskusikan hasil kegiatan dalam kelompok 4.formatif III. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan / menemukan konsep C. Cukup baik 4. dapat dilihat aspek-aspek yang diamati pada kegiatan belajar mengajar (siklus III) yang dilaksanakan oleh guru dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah mendapatkan penilaian cukup baik dari pengamatan adlah memotivasi . Penutup 3. Pendahuluan 4.5 3 4 4 2 4 4 44. Kurang baik 3. Guru Antusias Jumlah Penilaian P1 P2 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 45 3 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 4 44 Ratarata 3 4 4 4 4 3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil penyelidikan 5. Memotivasi siswa 5. Tidak baik 2. Membimbing siswa melakukan kegiatan 3. Membimbin siswa membuat rangkuman 4. Pengelolaan Pembelajaran Pada Siklus III No Aspek yang diamati Pengamatan KBM A. Baik Dari tabel di atas. Adapun data hasil penelitian pada suklus III adalah sebagi berikut : Tabel 4. memberikan evaluasi Pengelolaan Waktu Analisis Kelas 3. Mendiskusikan langkah-langkah kegiatan bersama siswa 2. Kegiatan Inti 1.

Tabel 4.7 6.0 22.7 13.9 4.0 Presentase 20.6%.6 10.8.1 7. sedangkan aktivitas menjelkaskan materi yang sulit dan memberi umpan bali/ evaluasi/ tanya jawab menurun masing-masing sebesar (10%) dan (11. Aktivitas Guru dn Siswa Pada Siklus III No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aktivitas Guru yang diamati Menyampaikan tujuan Memotivasi siswa / merumuskan masalah Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya Menyampaikan materi / lankah-langkah / strategi Menjelaskan materi yang sulit Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan Memberikan umpan balik Membimbing siswa merangkum kegiatan Aktivitas siswa yang diamati Mendengarkan / memperhatikan penjelasan guru Membaca buku siswa Bekerja dengan sesama anggota kelompok Diskusi antar siswa / antara siswa dengan guru Menyajikan hasil pembelajaran Mengajukan / menanggapai pertanyaan / ide Menulis yang relevan dengan KBM Merangkum pembelajaran Mengerjakan tes evaluasi / latihan Presentase 6.3 10. Penyempurnaan aspek-aspek di atas dalam menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diarapkan dapat berhasil semksimal mungkin.7 10.3 8. Aktivitas lain yang mengalami peningkatan adalah mengaitkn dengn pelajaran sebelumnya . membimbing sisw merumuskan kesimpulan/ menemukan konsep.siswa.2 6.8 13. dan pengelolan waktu.7 10.0 11.0 2.7%).5 Berdasarkan table di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominn pada siklus III dalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep yaitu 22.1 15.1 22.

8%).60 dari 43 siswa yang telah tuntas sebnyak 39 siswa dan 4 siswa belum mencapai ketuntasan belajar.7%) dan memotivasi sisw (6. aktivitas yang mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa (13. Hasil Tes Formatif Sisw pada Siklus III No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata tes formatif Jumlah siswa yang tuntas belajar Presentase ketuntasan belajar Hasil Siklus 78.9.7%).1%) dan siklus antar siswa/ ntara siswa dengan guru (15. sedangkan aktivitas yang lannya mengalami penurunan. meminta siswa menyjikan dan mendiskusikan hasil kegiatan (10%). Berikutnya adalah rekapitulasi hasil tes formatif siswa seperti terlihat pada table berikut : Tabel.0%).3%).4. Maka secara klasikal ketuntsan belajar yang telah tercapai sebesar 90. Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan hasil belajar pada siklus . Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominant pada siklus III adalah bekerja dengan sesam anggota kelompok. Adapun aktivitas yang tidak mengalami perubahan adalah menyampaiakan tujuan (6. yaitu (22.70 Berdasarkan table di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 78.1%) dan mendengarkan/ memperhatikan pelajaran guru (20. dan membimbing siswa merangkum kegiatan (10%). menyampaiak materi/ strategi/ langkah-langkah (13.60 39 90.(10%).70% (termasuk kategori tuntas).

sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengn pembelajaran seperti ini. 2) Berdasarkan data hasil pengamatan.II. dan dilihat dari aktivitas . d. 3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan. Danya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya penbingkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbsis masalah. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran kontekstual model pengajarn berbasis masalah. sehingga sisw lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. Meskipun ad beberapa aspek yang belum sempurna. Dari data-data yang diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut : 1) selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengn baik. tetapi presentase pelaksanaannya untuk masing-msing aspek cukup besar. diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. 4) Hasil belajar siswa pada siklus III mencpai ketuntasan. c. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru guru telah menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. sehingga menjadi lebih baik.

70%. sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.44%. Pembahasan 1. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan . Hal ini dapat dilihat dari semakain mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasn belajar meningkat dari siklus I. II. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis ata. Tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindak selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah da dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dapat meningkatkan proses belajar mengajar. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. dan 90. dan III) yaitu masing-masing 67. C. 2.01%. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Melalui asil penelitian ini menunjukkan bhwa pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah belajar dengn baik. diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbsis masalah dalam setiap siklus mengalami peningkatan. 79.

diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PKn pada pokok bahasan penegakan HAM dan Implikasinya dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah yang paling dominant adalah bekerja dengan sesame anggota kelompok. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. 3. . menjelaskan materi yang sulit. mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru. memberi umpan balik/ evaluasi/ tanya jawab. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. diantaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul. dan diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru. dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam pembelajaran Berdasarkan analisis data.dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

01%). Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus.70%). serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kelompok. Pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PKn . . 2. yaitu siklus I (67.44%0. hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. gagasan. Penerapan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah mempunyai pengaruh positif. ide dan pertanyaan. yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. siklus II (79. Pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus. 3. siklus III (90. 4.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 5. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok.

B. sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah memerlukan persiapan yang cukup matang. guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran. sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topic yang benar-benar bias diterapkan dengan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah dalam proses belajar mengajar. 2. maka disampaikan saran sebagai berikut : 1. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar PKn lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa. 3. agar diperoleh hasil yang lebih baik. dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru. memperoleh konsep dan keterampilan. walau dalam taraf yang sederhana. karena hasil penelitian ni hanya dilakukan di …………. sehingga diperoleh hasil yang optimal. Tahun pelajaran…………… 4. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut. . Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.

Jilid I. J. 1990. 2002. 1999. Arikunto. Jakarta: Rineksa Cipta.Fak. Universitas Negeri Surabaya. Daroeso. . Bandung: Remaja Rosdakarya. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Syaiful Bahri. Proses Belajar mengajar Pendidikan. Psikologi Pendidikan. 1997. Jakarta: Rineksa Cipta. Metodologi Penelitian Pendidikan. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Sutrisno. Jakarta: Bumi Aksara. Proses Belajar Mengajar. Psikologi Belajar. 1993. Masriyah. 2001. Hamalik. Nur. Suharsimi. Suharsimi. Azhar. Hadi. Jakarta: Rineksa Cipta. Metodologi Research. Pemotivasian Siswa untuk Belajar.J. Bambang. Syaiful Bahri. Lalu Muhammad. Psikologi UGM. Purwanto M. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Jakarta: Rineksa Cipta. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung: PT. 2001. 1998. Djamarah. Muh. Yogyakarta: YP. dan Murdjiono. Semarang: Aneka Ilmu. Surabaya: University Press. Margono. Djamarah. 1996. Jakarta: Rineksa Cipta. Remaja Rosdakarya. Muhammad. Psikologi Belajar dan Mengajar. 1993. 1982. Manajemen Mengajar Secara Manusuawi. 2002. 2002. 1989. Surabaya: Universitas Press. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Analisis Butir Tes. Jakarta: Usaha Nasional.DAFTAR PUSTAKA Ali. Arikunto. Ngalim. Suharsismi. Hasibuan. Oemar. Strategi Belajar Mengajar. Arikunto. 2002.

Rineksa Cipta. Bandung: Jemmars. A. B.M. Surabaya: Insan Cendekia. dkk. Winarto. Toeti. 2001. Uzer. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Usman. Soekamto. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. N. Jakarta: PAU-PPAI. Suatu pendekatan Baru. Metode Pengajaran Nasional. Jakarta: Bina Aksara. 1997. 1996. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Muh. Suryosubroto. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhibin.Rustiyah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. . Bandung: Remaja Rosdakarya. Menjadi Guru Profesional. Syah. Jakarta: Bina Aksara. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 1995. Psikologi Pendidikan. Sardiman.K. 2002. 1991. Universitas Terbuka. Surakhmad. Sukidin. 1990.

D. C. Mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam penegakan HAM di Indonesia. : Kewarganegaraan : Penegakan HAM dan Implikasinya : Pengertian. Mendiskripsikan pengertian HAM. Mendiskripsikan macam-macam HAM. Menganalisis beberapa peristiwa yang berkaitan dengan penegakan HAM dari media masa. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setalah mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat .Komunikasi lisan 3. dapat mengidentifikasikan hambatan dan tantangan dalam penegakan HAM di Indonesia. INDIKATOR PENCAPAIAN –PENCAPAIAN HASIL BELAJAR 1) Siswa mampu memahami dan mendiskripsikan pengertian dan macam-macam HAM. KOMPETENSI DASAR Kemampuan menganalisis penegakan HAM dan Implikasinya. 3.Menghubungkan dengan variable . PENGALAMAN BELAJAR Dalam kegiatan pembelajaran siswa akan dapat : 1. 4. hambatan dan tangtangan dalam penegakan HAM di Indonesia : 2 x 45 menit :1 A. Menganalisis dari berbagai pustaka (buku paket dan sumber lain). Macam-macam HAM. 2. Mengidentifikasikan perkembangan HAM. B. 1.Mengambil keputusan .Menggali informasi . 4. 2. Life Skill : . 2) Siswa mampu mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam penegakan HAM di Indonesia.Lampiran I Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu Putara RENCANA PEMBELAJARAN I : …………. mampu mendeskripsikan pengertian dan mavam-macam HAM.Mengolah informasi .Mengolah informasi .Menggali informasi . Kecakapan hidup : .

e. Guru memotivasi siswa b. Majalah G. informasi.Eksistensi diri . Siswa yang mengerjakan soal dengan nomor yang sama berkumpuk untuk mengdakan diskusi (kelompok ahli). Waktu 5 menit 70 menit 3 15 menit . b. Surat Kabar 4. Model : Pembelajaran kontekstual Berbasis Masalah. Penutup a. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR No 1 2 Pembelajaran Pendahuluan : a. Guru membimbing siswa merangkum hasil kegiatan belajar yang telah dilakukan. 2.. Metode : Eksopsitori. dan setiap siswa mengerjakan secara individu sesuai dengan nomor yang diterima. Guru membagikan tugas yang akan digunakan untuk kegiatan belajar pada masing-masing kelompok. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal evaluasi. yang masingmasing kelompok terdiri dari 5 siswa. F. Guru menyampaikan tujuan khusus pembelajaran Kegiatan inti : a. diskusi. Guru membimbing siswa untuk dapat menyimpulkan hasil kegiatan yang telah dilakukan. MODEL PEMBELAJARAN 1. Setiap kelompok mendapat 5 soal. g. c. f. LKS 3. Buku Kewarganegaraan 2.Potensi diri E. Dari kelompok ahli siswa kembali ke kelompoknya untuk menyampaikan hasilnya. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. SUMBER PEMBELAJARAN 1. b. Presentasi hasil kerja kelompok. d.

Mengelola informasi .Komunikasi tertulis 3. 4. Memprediksi konsekuensi jika suatu Negara tidak menegakkan HAM. surat kabar.Menggali informasi . Kecakapan hidup . 2. Mengidentifikasikan pelanggaran HAM setelah mengumpulkan dan menganalisis beberapa artikel tentang sanksi internasional atas pelanggaran HAM dari buku paket.Menghubungkan variable . PENGALAMAN BELAJAR Dalam kegiatan pembelajaran siswa akan dapat : 1. INDIKATOR PENCAPAIAN –PENCAPAIAN HASIL BELAJAR 1. Mengidentifikasi konsekuensinya jika suatu Negara tidak menegakkan HAM. Menganalisis sanksi internasional atas pelanggaran HAM.Mengambil keputusan .Mengolah informasi . KOMPETENSI DASAR Kemampuan menganalisis penegakan HAM dan Implikasinya. Menganalisis beberapa kasus pelanggaran HAM dari surat kabar. D. dan radio. 2. Mengidentifikasikan sanksi internasional atas pelanggaran HAM. B. : Kewarganegaraan : Penegakan HAM dan Implikasinya : Konsekuensi jika suatu Negara tidak menegakkan HAM. 2. Life Skill : .Menggali informasi .Mengambil keputusan . : 2 x 45 menit :2 A. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setalah mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat : 1.Kesadaran eksistensi diri . TV. sanksi internasional atas pelanggaran HAM. dapat memprediksi jika suatu Negara tidak menegakkan HAM. C.Menghubungkan variable kesadaran eksisensi diri .Lampiran 2 Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu Putara RENCANA PEMBELAJARAN 2 : ………….

Guru membagikan tugas yang akan digunakan untuk kegiatan belajar pada masing-masing kelompok. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal evaluasi. Dari kelompok ahli siswa kembali ke kelompoknya untuk menyampaikan hasilnya. Setiap kelompok mendapat 5 soal. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. b. c.- Kesadaran diri Kesadaran potensi diri E. Model : Pembelajaran kontekstual Berbasis Masalah. b. Penutup a. 2. Metode : Eksopsitori. Guru membimbing siswa untuk dapat menyimpulkan hasil kegiatan yang telah dilakukan. F. Surat kabar G. yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. f. Guru membimbing siswa merangkum hasil kegiatan belajar yang telah dilakukan. dan setiap siswa mengerjakan secara individu sesuai dengan nomor yang diterima. Waktu 5 menit 70 menit 3 15 menit . g. diskusi. Buku siswa 2. d. e. SUMBER PEMBELAJARAN 1. Majalah 4. informasi. Presentasi hasil kerja kelompok. Siswa yang mengerjakan soal dengan nomor yang sama berkumpuk untuk mengdakan diskusi (kelompok ahli). KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR No 1 2 Pembelajaran Pendahuluan : Guru memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan khusus pembelajaran Kegiatan inti : a. LKS 3. MODEL PEMBELAJARAN 1.

Menggali informasi . berbangsa. Menunjukkan mulai salah satu permainan tentang proses penagakan HAM di Indonesia dengan menganalisis berbagai berita dari surat kabar. 2. C. 2. berbangsa. B.Menghubungkan variable . INDIKATOR PENCAPAIAN –PENCAPAIAN HASIL BELAJAR 1.Mengambil keputusan . partisipasi Terhadap penegakan HAM dalam kehidupan Bermasyarakat. dan bernegara setelah menganalisis contoh kasus penegakan HAM dalam kehidupan sehari-hari. Berpartisipasi terhadap penegakan HAM dalam kehidupan bermasyarakat. : Kewarganegaraan : Penegakan HAM dan Implikasinya : Proses penegakan HAM di Indonesia.Kesadaran eksistensi 3.Kesadaran diri . dan bernegara. 2. berbangsa. Berpartisipasi terhadap penegakan HAM dalam kehidupan bermasyarakat.Lampiran 3 Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu Putaran RENCANA PEMBELAJARAN 3 : …………. dan bernegara. Mengidentifikasi proses penegakan HAM di Indonesia.Mengolah informasi . televisi. D. Siswa mampu berpartisipasi terhadap penegakan HAM dalam kehidupan bermasyarakat. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Setalah mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan siswa dapat : 1. Siswa mampu mensimulasikan proses penegakan HAM di Indonesia. dan bernegara. Kecakapan hidup : . dan media infoemasi lainnya. . : 2 x 45 menit :3 A. KOMPETENSI DASAR Siswa mampu menganalisis penegakan HAM dan Implikasinya. PENGALAMAN BELAJAR Dalam kegiatan pembelajaran siswa akan dapat : 1. berbangsa.

Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Presentasi hasil kerja kelompok. informasi. Penutup a. e. SUMBER PEMBELAJARAN 1. d. Guru membagikan tugas yang akan digunakan untuk kegiatan belajar pada masing-masing kelompok. f. Model : Pembelajaran kontekstual Berbasis Masalah. Majalah G. 2. c. F.4. yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Surat kabar 4. b. Setiap kelompok mendapat 5 soal. Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal evaluasi. Metode : Ekspositori. Siswa yang mengerjakan soal dengan nomor yang sama berkumpuk untuk mengdakan diskusi (kelompok ahli). b. Kecakapn hidup Menggali informasi Mengelola informasi Mengambil keputusan Menghubungkan variable Komunikasi lisan Kesadaran potensi diri Kesadaran eksistensi E. Buku siswa 2. Guru membimbing siswa untuk dapat menyimpulkan hasil kegiatan yang telah dilakukan. diskusi. Waktu 5 menit 70 menit 3 15 menit . dan setiap siswa mengerjakan secara individu sesuai dengan nomor yang diterima. Guru membimbing siswa merangkum hasil kegiatan belajar yang telah dilakukan. MODEL PEMBELAJARAN 1. LKS 3. g. Dari kelompok ahli siswa kembali ke kelompoknya untuk menyampaikan hasilnya. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR No 1 2 Pembelajaran Pendahuluan : Guru memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan khusus pembelajaran Kegiatan inti : a.

Pendahuluan 1. 4. Memberikan Kesempatan Pada Siswa Untuk Memprestasikan Hasil Penyelidikan. Siswa antusias 2. ) Keterangan : 1. Penutup 1. Guru antusias Tidak 1 2 3 4 II III ………………………. Kegiatan Inti 1. Sangat baik . 2. Membimbing Siswa Melakukan Kegiatan. Pengelolaan waktu Antusiasme kelas 1. C. Kurang baik 2. Membimbing Siswa Merumuskan Kesimpulan/ Menemukan Konsep. Membimbing Siswa Mendiskusikan Hasil Kegiatan Dalam Kelompok. Menyampaikan Tujuan Pembelajaran B. 2. 2003 Pengamat ( ………………………. Cukup baik 3. Membimbing siswa membuat rangkuman. 3.Lampiran 4 LEMBAR PENGAMATAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL PENGAJARAN BERBASSIS MASALAH Nama Sekolah : ………………… Nama Guru : ………………… Mata Pelajaran : ………………… Hari/ Tanggal : ………………… Sub Konsep : ………………… Pukul : ………………… Petunjuk Berikan penilaian anda dengan memberikan tanda cek (√) pada kolom yang sesuai. 5. Baik 4. Memberikan evaluasi. No I Aspek yang diamati Ya Pelaksanaan A. Memotivasi Siswa 2. Mendiskusikan Langkah Kegiatan Bersama Siswa.

Membaca buku. 5. 4. 3. Menyampaikan langkah-langkah/ strategi. Aktivitas Guru Menyampaikan tujuan Memotivasi siswa/ merumuskan masalah Mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya. kemudian 1 menit pengamat menuliskan kode kategori pemngamatan. Bekerja dengan sesame anggota kelompok. Setiap 2 menit pengamat melakukan pengamatan aktivitas guru dan siswa yang dominant. Aktivitas Siswa Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru. 9. Membimbing siswa merangkum pelajaran. Mengajukan/ menanggapi pertanyaan/ ide. 2. 2. Nama Siswa Nama Siswa Nama Siswa Nama Siswa Nama Siswa Nama Siswa . 8. 1. 4. 7. 7. Menjelaskan materi yang sulit. 4. 5. Pengamatan dilakukan sejak guru memulai pelajaran dan dilakukan secara serempak. Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru. 6. 8.Lampiran 5 LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA DAN GURU DALAM KBM Nama Sekolah : ………………… Tanggal : ………………… Kelas/ Semester : ………………… Waktu : ………………… Bahan Kajian : ………………… Nama Guru : ………………… Petunjuk Pengisian Amatilah aktivitas gur dan siswa dalam kelompok sample selama kegiatan belajar berlangsung. 3. Menulis yang relevan dengan kbm. Pengamat dalam melakukan pengamatan duduk di tempat yang memungkinkan dapat melihat semua aktivitas siswa yang diamati. Memberi umpan balik/ evaluasi/ tanya jawab. Mengerjakan tes evaluasi. Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan. kode-kode kategori dituliskan secara berurutan sesuai dengan kejadian pada baris dan kolom yang tersedia. pengamatan ditujukan untuk kedua kelompok yang melakukan secara bergantian setiap periode waktu tiga menit . Membimbing menemukan konsep. 6. Merangkum pembelajaran. Nama Guru : 1. 9. 2. Menyediakan hasil pembelajaran. 3. 5. kemudian isilah lembar observasi dengan prosedur sebagai berikut : 1.

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 No. Induk Nilai 70 60 80 60 80 80 80 60 60 70 80 70 80 80 90 70 60 60 60 70 80 Keterangan T TT T TT T T T TT TT T T T T T T T TT TT TT T T Keterangan : T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Skor Tercapai Rata-rata skor tercapai Prosentase ketuntasan : Tuntas : Tidak Tuntas : 29 : 14 : 3050 : 70.44% . Induk Nilai 80 70 70 60 80 60 80 80 80 60 60 70 70 70 80 50 90 70 60 60 70 80 Keterangan T T T TT T TT T T T TT TT T T T T TT T T TT TT T T No.93 : 67.Lampiran 6 HASIL TES FORMATIF SIKLUS I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 No.

01 . Induk Nilai 90 70 80 60 80 70 80 80 80 70 60 80 70 70 80 60 90 70 60 60 80 90 Keterangan T T T TT T T T T T T TT T T T T T T T TT TT T T No.Lampiran 7 HASIL TES FORMATIF SIKLUS II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 No.42 : 79. Induk Nilai 80 70 80 60 80 80 80 70 60 70 90 80 80 80 90 70 60 60 60 80 90 Keterangan T T T TT T T T T TT T T T T T T T TT TT TT T T Keterangan : T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Skor Tercapai Rata-rata skor tercapai Prosentase ketuntasan : Tuntas : Tidak Tuntas : 34 :9 : 3200 : 74. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 No.

Lampiran 8 HASIL TES FORMATIF SIKLUS III No. Induk Nilai 90 70 80 80 80 90 80 70 60 70 90 90 80 80 90 70 60 90 70 80 90 Keterangan T T T T T T T T TT T T T T T T T TT T T T T Keterangan : T TT Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Skor Tercapai Rata-rata skor tercapai Prosentase ketuntasan : Tuntas : Tidak Tuntas : 39 :4 : 4300 : 3380 : 90.70 . 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 No. Induk Nilai 90 90 80 70 80 70 80 80 80 70 60 80 70 90 80 60 90 80 60 80 90 90 Keterangan T T T T T T T T T T TT T T T T T T T TT T T T No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 No.

8 ……………………………. Rata-rata Prosentase ……………………………. ……………………………. Jumlah Rata-rata Prosentase rata-rata P P 1 P 2 X % P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 X % 1 2 2 2 6. 1 ……………………………. 3 ……………………………. ……………………………. ……………………………. ……………………………. …………………………….6 7 4 8 6 8 5 10 4 10 6 8 6 8 5 5 6 9 42 66 54 22.Lampiran 9 Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran I No Nama (Guru – Siswa) ………………. 5 ……………………………. ……………………………. 2 ……………………………. ……………………………. 4 ……………………………. 6 ……………………………. 7 ……………………………. 5 2 3 RP I (90 menit) 4 5 6 Jumlah 7 8 9 Keterangan: .

5 ……………………………. ……………………………. Rata-rata Prosentase ……………………………. 2 ……………………………. 3 …………………………….6 7 4 8 6 8 5 10 4 10 6 8 6 2 3 RP I (90 menit) 4 5 6 Jumlah 7 8 9 . 1 ……………………………. 4 ……………………………. 6 ……………………………. ……………………………. ……………………………. P P 1 P 2 X % P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 2 2 2 6. …………………………….Rata-rata (x) Jumlahhasilpengama tan x 100% jumlahrata − rata rata − rata x 100% jumlahrata − rata prosentase rata-rata (%) = Lampiran 10 Data Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran II No Nama (Guru – Siswa) ……………….

5 Keterangan: Rata-rata (x) Jumlahhasilpengama tan x 100% jumlahrata − rata rata − rata x 100% jumlahrata − rata prosentase rata-rata (%) = Lampiran 11 DATA Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa Putaran III No Nama (Guru – Siswa) ………………. P P 1 P 2 X % P 1 2 2 2 6. 7 …………………………….6 7 4 2 3 RP I (90 menit) 4 5 6 Jumlah 7 8 9 .……………………………. ……………………………. 8 ……………………………. Rata-rata Prosentase 1 ……………………………. ……………………………. Jumlah Rata-rata Prosentase rata-rata 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 X % 8 5 5 6 9 42 66 54 22.

……………………………. 5 ……………………………. 5 Keterangan: Rata-rata (x) Jumlahhasilpengama tan x 100% jumlahrata − rata rata − rata x 100% jumlahrata − rata prosentase rata-rata (%) = . 6 ……………………………. 2 ……………………………. 4 ……………………………. ……………………………. Jumlah Rata-rata Prosentase rata-rata 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 P 1 P 2 X % 8 6 8 5 10 4 10 6 8 6 8 5 5 6 9 42 66 54 22. ……………………………. ……………………………. 8 …………………………….……………………………. ……………………………. ……………………………. ……………………………. 7 ……………………………. 3 …………………………….