P. 1
SIfat Kerja Obat Secara Fisiologis

SIfat Kerja Obat Secara Fisiologis

|Views: 308|Likes:
Published by Ecky Freezee

More info:

Published by: Ecky Freezee on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan

mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau jelas/dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah member obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya. Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami Sifat kerja obat secara fisiologis dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Serta mengetahui dan memahami tentang Standar Operasional Prosedur Pemberian Obat secara parental salah satunya melalui IM atau Intramuskuler. B. TUJUAN 1. Mengetahui Sifat kerja obat secara fisiologis. 2. Mengetahui standar operasional / prosedur pemberian obat secara Intramuskuler 3. Mengetahui Obat obat yang terkait dalam IM

1

6. Obat dapat menggantikan zat tubuh yang hilang. obat mengeluarkan pengaruhnya. memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat absorpsi 2 . ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan Farmakokinetik Adalah ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh.hormone tiroid atau estrogen) Mekanisme Kerja 1. 3. meningkatkan fungsi sel.BAB II PEMBAHASAN A. harus masuk kedalam sirkulasi sistemik untuk menghasilkan efek yang terapeutik. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. memilih rute pemberian obat. Reseptor melokalisasi efek obat 5. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ. Kebanyakn obat.( insulin. dan mengobservasi respons klien. Kulit relative tidak dapat ditembus zat kimia. Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain. tetapi mengubah fungsi fisiologis. 3. Absorpsi Adalah cara molekul obat masuk kedalam darah. bergantung pada struktur fisik jaringan. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain : 1. Obat dan reseptor saling berikatan kuat. kecuali obat yang digunakan secara topical untuk memperoleh efek local. Obat-obatan misalnya gas anastesi umum. Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor 2. setelah sifat sel berubah. Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung). dan keluar dari tubuh. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. sehingga absorpsi menjadi lambat. Rute pemberian obat. mencapai tempat kerjanya. SIFAT KERJA OBAT SECARA FISIOLOGI 1. 4. Obat bekerja menghasilkan efek teraupetik yang bermanfaat 2. berinteraksi dengan membrane sel. dimetabolisme. menilai resiko perubahan kerja obat. Dokter dan Perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat. mempercepat atau memperlambat proses kerja sel 4.

obat yang diberikan per intramuskuler (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan lewat per subkutan. Daya larut obat. Karena obat yang diberikan peroral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi. sehingga absorpsi obat melambat. 11. Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan 6. rute pemberian obat yang terbaik adalah melalui intravena. absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. 2. Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah 5. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. 7. Pada beberapa kasus . yang tersedia dalam bentuk cair. lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. Obat oral lebih mudah diabsorpsi. Obat yang bersifat basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus. Injeksi Intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk kedalam sirkulasi sistemik. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. jika diberikan diantara waktu makan. 9. contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Apabila perfusi jaringan klien buruk. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama makan. 4.akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar. Larutan dan suspensi. 3. 3 . Saat lambung terisi makanan. 12. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut. Otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC). Beberapa makanan dan antacid membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna. 8. Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik. misalnya pada kasus syok sirkulasi . isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum. misalnya zat besi dapat mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat 10.

3. Obat yang tidak berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat 4 . Ketika molekul obat terikat pada albumin. 4. tingkat vasodilatasi atau vasokonstriksi local. 2. Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan. DINAMIKA SIRKULASI 1. semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya. jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intra muskuler. Obat lebih mudah keluar dari ruang interstisial kedalam ruang intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. Contoh. Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya BERAT DAN KOMPOSISI BADAN 1. dan kecepatan aliran darah kesebuah jaringan.konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah otak karena masuknya obat larut-lemak kedalam otak lebih mudah. Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum 3. 2. akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan distribusi obat. obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum. 3. 2. misalnya albumin. IKATAN PROTEIN 1. Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotic yang langsung disuntikkan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan. obat didistribusikan di dalam tubuh kejaringan dan organ tubuh dan akhirnya ketempat kerja obat tersebut. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut. misalnya pada klien lansia. memengaruhi distribusi obat. Semakin kecil berat badan klien.DISTRIBUSI Setelah diabsorpsi. Klien lansia dapat menderita efek samping (mis.

obat keluar dari tubuh melalui ginjal. Eksresi 1. Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan 6. Kebanyakan biotransformasi berlangsung di dalam hati. mengurai (memecah). Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. toksisitas obat. Setelah mencapai tempat kerjanya. ketika obat keluar melalui kelenjar keringat. Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah. obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic. 5 . 3. usus dan kelenjar eksokrin. misalnya laksatif dan enema. atau keduanya. resiko pada bayi yang menerima obat dan resiko pada ibu yang tidak mendapatkan obat harus dipertimbangkan dengan cermat. 2. kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati. Setelah dimetabolisme. Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae. mempercepat eksresi obat melalui feses. hati. ginjal. sedangkan factor-faktor yang memperlambat misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat akan memperpanjang efek obat. 4. dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Perawat membantu klien melakukan praktik hygiene yang baik untuk meningkatkan kebersihan dan intergritas kulit 4. Setelah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu. darah dan usus juga memetabolisasi obat. akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat. Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi. Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan dieksresi kedalam empedu. zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus 6.4. Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik 5. walaupun paru-paru. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh. sehingga lebih mudah di eksresi 2. 7. kulit dapat mengalami iritasi 3. Saluran cerna adalah jalur lain eksresi obat. Metabolisme 1. 5. bayi yang disusui dapat mengabsorpsi zat kimia obat tersebut. akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat.

Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang terapeutik. risiko toksisitas meningkat 8. Apabila asupan cairan yang normal dipertahankan. Jumlah obat yang berlebihan didalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan. Contoh penggunaan obat kodein fosfat dapat membuat seorang klien mengalami konstipasi ini dianggap tidak berbahaya. Efek Terapeutik 1.7. bukan mengantuk. obat akan dieliminasi dengan tepat. 6 . Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat 2. Efek terapeutik merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan. tidak bereaksi atau bereaksi tidak normal terhadap obat 2. perawat memberi kodein fosfat untuk menciptakan efek analgesic dan memberi teofilin untuk mendilatasi bronkiolus pernapasan yang menyempit 3. yang meliputi klien bereaksi berlebihan. Efek Toksik 1. Contoh seorang anak yang menerima antihistamin menjadi sangat gelisah atau sangat gembira. Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapeutik yang diinginkan. Reaksi Idiosinkratik 1. Reaksi Alergi 1. Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien 3. yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan. Dari seluruh reaksi obat 5 % sampai 10% merupakan reaksi alergi. Efek Samping 1. Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat dosis obat perlu dikurangi 9. contoh. apabila fungsi ginjal menurun. 2. Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan. 2. efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera. misalnya reaksi idiosinkratik. namun digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang dapat menyebabkan kematian. Ginjal adalah organ utama eksresi obat. bergantung pada kerja obat. Umumnya efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama 2.

8. ruam. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen. yakni waktu yang diperlukan proses eksresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai setengahnya. misalnya diuretic dan vasodilator. 9. Gejala alergi bervariasi. 5. terjadi interaksi obat 2. Contoh. Klien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut. Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat 3. atau metabolitnya. Dengan efek sinergis. Interaksi Obat 1. Ketika absorpsi berhenti . Respons Dosis Obat 1. Apabila dua obat diberikan secara bersamaan. seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik. Gejala alergi yang umum antara lain adalah urtikaria. Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien. Interaksi obat selalu diharapkan. bergantung pada individu dan obat. zat pengawet obat. 7 . 6.3. eksresi dan distribusi yang berlanjut 3. memicu pelepasan antibody. yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada kadar yang diinginkan. ia akan mengalami respons alergi terhadap obat. Pada penginfusan obat intravena.rhinitis 7. 5. Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). mengi berat dan sesak napas. Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat 5. Klien juga dapat mengalami hipotensi berat. pruritus. 4. Semua obat memiliki waktu paruh serum. Tujuan suatu obat deprogram ialah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman 2. kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila diberikan terpisah. klien yang menderita hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat. Setelah mencapai puncak. Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaksis di tandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus. Konsentrasi serum tertinggi obat biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorpsi. konsentrasi serum turun bertahap 4. kedua obat tersebut dapat memiliki efek yang sinergis atau adiktif 4. Apabila suatu obat memodifikasi kerja obat yang lain.hanya metabolisme. edema faring dan laring. konsentrasi puncak dicapai dengan cepat.

2. Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama c. Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian dosis. Perbedaan Genetik a.6. factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat 1. perawat dapat mengantipasi efek suatu obat : a. Usia berdampak langsung pada kerja obat Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan memengaruhi respons terhadap terapi obat 8 . Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat b. Plateau : Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat yang sama kembali diberikan o Cara ideal yang digunakan untuk mempertahankan kadar obat yang terapeutik ialah melakukan penginfusan intravena secara kontinu. akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat. Durasi kerja obat : Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respons d. Variabel fisiologis a. Kerja puncak obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi dicapai c. Dengan mengetahui interval waktu kerja obat. Awitan kerja obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons muncul setelah obat diberikan b. Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu b. Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama.

agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk syaraf. Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat Secara IM (Intra Muskuler) a. Bak spuit 1 e. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan c. Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar. Peralatan a. Aliran darah tergantung dari posisi otot di tempat penyuntikkan. Perlak dan pengalas g. Obat sesuai program terapi h. dan kaki bagian atas. atau pada lengan bagian atas. Tujuan pemberian obat dengan cara ini adalah agar absorpsi obat lebih cepat.5 inci untuk dewasa. Sarung tangan 1 pasang b. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat akan dilepaskan secara berkala dalam bentuk depot obat Jaringan intramuskular: terbentuk dari otot bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi (setiap 20 mm3 terdiri dari 200 otot dan 700 kapiler darah). 3. Kapas alkohol dalam kom (secukupnya) f. misalnya pada bagian bokong. Pengertian Pemberian Obat secara Intra Muskuler Pemberian obat secara intra muskuler adalah Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam otot (muskulus). 25-27 G dan panjang 1 inci untuk anak-anak) d. Bengkok 1 i. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAMUSKULER 1. Jarum steril 1 (21-23G dan panjang 1 – 1. 3) Menyiapkan obat dengan benar 4) Menempatkan alat di dekat klien dengan benar 9 .B. Tujuan Pemberian Obat secara Intra Muskuler Melaksanakan fungsi kolaborasi dengan dokter terhadap klien yang yang diberikan obat secara intra muskulus (IM). Tahap PraInteraksi 1) Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada 2) Mencuci tangan. 2. Buku injeksi/daftar obat 4.

abrasi atau infeksi) 6) Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam ke luar diameter ±5cm) 7) Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk mereganggkan kulit 8) Memasukkan spuit dengan sudut 90 derajat. telentang. jarum masuk 2/3 9) Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit 10) Memasukkan obat secara perlahan (kecepatan 0.  Lengan atas (deltoid) : posisi klien duduk atau berbaring datar dengan lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan. Tahap Orientasi 1) Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik 2) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien 3) Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan c.1 cc/detik) 11) Mencabut jarum dari tempat penusukan 12) Menekan daerah tusukan dengan kapas desinfektan 13) Membuang spuit ke dalam bengkok. Tahap Terminasi 1) Melakukan evaluasi tindakan 2) Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 3) Berpamitan dengan klien 4) Membereskan alat-alat 5) Mencuci tangan 6) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan Pilihan Tempat Injeksi Intra Muskuler  Paha (vastus lateralis) : posisi klien terlentang dengan lutut agak fleksi.b. memar. sesuai tempat penyuntikan 2) Memasang perlak dan alasnya 3) Membebaskan daerah yang akan di injeksi 4) Memakai sarung tangan 5) Menentukan tempat penyuntikan dengan benar ( palpasi area injeksi terhadap adanya edema. d.  Ventrogluteal : posisi klien berbaring miring. 10 . Tahap Kerja 1) Mengatur posisi klien. atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. massa. Hindari area jaringan parut. nyeri tekan.

atau polifarmasi.  Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi. lesi kulit. dan dapat melawan efek obat pertama yang tidak diinginkan.Indikasi dan kontra indikasi Indikasi Biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. otot atau saraf besar di bawahnya Kewaspadaan Perawat Penggunaan obat secara bersamaan. Sayangnya.Hal-hal yang perlu diperhatikan Tempat injeksi :  Jenis spuit dan jarum yang digunakan. dapat di perlukan untuk mengobati penyakit yang terjadi bersamaan. beberapa masalah berkaitan dengan penggunaan obat bersamaan. jaringan parut. bebas dari infeksi. lesi kulit. jaringan parut. dapat meningkatkan aksi terapeutik spesifik.  Kondisi atau penyakit klien. Kontra indikasi Infeksi. otot atau saras besar di bawahnya.  Obat yang tepat dan benar. tonjolan tulang. tonjolan tulang.  Pasien yang tepat  Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar. termasuk kebingugan saat tecapai keefektifan terapeutik dan efek samping serta perkembangan interaksi obat 11 .  Dosis yang diberikan harus tepat.

Vaksin Campak 7.C. CONTOH OBAT YANG DI BERIKAN SECARA INTRAMUSKULER 1. Dll. Vaksin TT (Tetanus Toksoid) 3. 12 . Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) 5. Vaksin Hepatitis B 6. Injeksi Vitamin B Kompleks 4. Gentamin 2.

Dan paling utama perawat harus berhati-hati dalam setiap melakukan tindakan. KESIMPULAN Dalam pemberian injeksi dan obat harus dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar tidak terjadi kesalahan dan infeksi pada klien. Perawat harus memperhatikan kebersihan terutama pada kebersihan tangan dalam setiap melakukan tindakan kesehatan kepada klien. kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. Setelah jarum menembus kulit. Selain itu distraksi dan relaksasi merupakan hal terpenting dalam menghilangkan dan mengurangi nyeri dalam pelaksaan asuhan keperawatan B. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC. IM. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat. Perawat tidak boleh menyepelekan hal kecil seperti mencuci tangan karna hal kecil itu bisa menjadi besar. Oleh karena itu. 13 . bergantung pada kecepatan absorbsi obat. IC.BAB III PENUTUP A. SARAN Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah menggunakannya. Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Perawat harus memperhatikan personal hygiene terutama melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Memberikan injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya bisa fatal. muncul resiko infeksi. dan IV.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->