BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan

mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau jelas/dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah member obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya. Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami Sifat kerja obat secara fisiologis dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Serta mengetahui dan memahami tentang Standar Operasional Prosedur Pemberian Obat secara parental salah satunya melalui IM atau Intramuskuler. B. TUJUAN 1. Mengetahui Sifat kerja obat secara fisiologis. 2. Mengetahui standar operasional / prosedur pemberian obat secara Intramuskuler 3. Mengetahui Obat obat yang terkait dalam IM

1

Rute pemberian obat. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain : 1. Dokter dan Perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat. sehingga absorpsi menjadi lambat. berinteraksi dengan membrane sel. tetapi mengubah fungsi fisiologis. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat absorpsi 2 . Kebanyakn obat. Obat dan reseptor saling berikatan kuat. meningkatkan fungsi sel. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. dan keluar dari tubuh.hormone tiroid atau estrogen) Mekanisme Kerja 1. dan mengobservasi respons klien. 6. memilih rute pemberian obat. dimetabolisme. menilai resiko perubahan kerja obat. Reseptor melokalisasi efek obat 5.BAB II PEMBAHASAN A. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama.( insulin. kecuali obat yang digunakan secara topical untuk memperoleh efek local. Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung). setelah sifat sel berubah. SIFAT KERJA OBAT SECARA FISIOLOGI 1. harus masuk kedalam sirkulasi sistemik untuk menghasilkan efek yang terapeutik. mempercepat atau memperlambat proses kerja sel 4. bergantung pada struktur fisik jaringan. memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat. Kulit relative tidak dapat ditembus zat kimia. mencapai tempat kerjanya. obat mengeluarkan pengaruhnya. Absorpsi Adalah cara molekul obat masuk kedalam darah. Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor 2. Obat dapat menggantikan zat tubuh yang hilang. ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan Farmakokinetik Adalah ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh. Obat bekerja menghasilkan efek teraupetik yang bermanfaat 2. Obat-obatan misalnya gas anastesi umum. 3. Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain. 3.

Pada beberapa kasus . 2. Apabila perfusi jaringan klien buruk. 11. obat yang diberikan per intramuskuler (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan lewat per subkutan. Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan 6. 12. Injeksi Intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk kedalam sirkulasi sistemik. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. Obat yang bersifat basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus. absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. jika diberikan diantara waktu makan. 8. lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Beberapa makanan dan antacid membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna. 3 . Larutan dan suspensi. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. Daya larut obat. Obat oral lebih mudah diabsorpsi. sehingga absorpsi obat melambat. Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik. yang tersedia dalam bentuk cair. misalnya pada kasus syok sirkulasi . kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. Otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC). Karena obat yang diberikan peroral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi. Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat 10. 9. 3. isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum. misalnya zat besi dapat mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. 7. Saat lambung terisi makanan. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama makan. rute pemberian obat yang terbaik adalah melalui intravena. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. 4.akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar. yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut. Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah 5.

dan kecepatan aliran darah kesebuah jaringan. Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut. tingkat vasodilatasi atau vasokonstriksi local. obat didistribusikan di dalam tubuh kejaringan dan organ tubuh dan akhirnya ketempat kerja obat tersebut. misalnya pada klien lansia. 2. Obat lebih mudah keluar dari ruang interstisial kedalam ruang intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. Contoh. Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan distribusi obat. misalnya albumin.konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah otak karena masuknya obat larut-lemak kedalam otak lebih mudah. kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum 3.DISTRIBUSI Setelah diabsorpsi. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya BERAT DAN KOMPOSISI BADAN 1. Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan. Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum. 2. IKATAN PROTEIN 1. DINAMIKA SIRKULASI 1. dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. Klien lansia dapat menderita efek samping (mis. memengaruhi distribusi obat. Ketika molekul obat terikat pada albumin. 2. obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. 3. Obat yang tidak berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat 4 . Semakin kecil berat badan klien. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan. 4. Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotic yang langsung disuntikkan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. 3. jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intra muskuler.

Metabolisme 1. 7. usus dan kelenjar eksokrin. Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik 5. akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat. hati. 5 . dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak. kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati. kulit dapat mengalami iritasi 3. atau keduanya. misalnya laksatif dan enema. resiko pada bayi yang menerima obat dan resiko pada ibu yang tidak mendapatkan obat harus dipertimbangkan dengan cermat. Saluran cerna adalah jalur lain eksresi obat. sedangkan factor-faktor yang memperlambat misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat akan memperpanjang efek obat. zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus 6. Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan dieksresi kedalam empedu. sehingga lebih mudah di eksresi 2. obat keluar dari tubuh melalui ginjal. Setelah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu. walaupun paru-paru. Eksresi 1. obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif. 2. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan 6. mengurai (memecah). Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh. bayi yang disusui dapat mengabsorpsi zat kimia obat tersebut. Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae. mempercepat eksresi obat melalui feses. Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi. toksisitas obat. darah dan usus juga memetabolisasi obat. Kebanyakan biotransformasi berlangsung di dalam hati. 4. 5. Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah. Setelah dimetabolisme. ginjal.4. Setelah mencapai tempat kerjanya. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic. akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. ketika obat keluar melalui kelenjar keringat. 3. Perawat membantu klien melakukan praktik hygiene yang baik untuk meningkatkan kebersihan dan intergritas kulit 4.

Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat 2. obat akan dieliminasi dengan tepat. namun digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang dapat menyebabkan kematian. Contoh seorang anak yang menerima antihistamin menjadi sangat gelisah atau sangat gembira. Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang terapeutik. efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera. yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan. risiko toksisitas meningkat 8.7. Contoh penggunaan obat kodein fosfat dapat membuat seorang klien mengalami konstipasi ini dianggap tidak berbahaya. 6 . misalnya reaksi idiosinkratik. perawat memberi kodein fosfat untuk menciptakan efek analgesic dan memberi teofilin untuk mendilatasi bronkiolus pernapasan yang menyempit 3. bergantung pada kerja obat. Jumlah obat yang berlebihan didalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan. Efek Terapeutik 1. Ginjal adalah organ utama eksresi obat. 2. Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan. yang meliputi klien bereaksi berlebihan. Umumnya efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama 2. Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan. tidak bereaksi atau bereaksi tidak normal terhadap obat 2. 2. apabila fungsi ginjal menurun. Reaksi Idiosinkratik 1. Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien 3. bukan mengantuk. Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapeutik yang diinginkan. Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat dosis obat perlu dikurangi 9. Reaksi Alergi 1. Dari seluruh reaksi obat 5 % sampai 10% merupakan reaksi alergi. Efek Samping 1. contoh. Efek terapeutik merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. Efek Toksik 1. Apabila asupan cairan yang normal dipertahankan.

konsentrasi serum turun bertahap 4. Setelah mencapai puncak. 4.rhinitis 7. Gejala alergi yang umum antara lain adalah urtikaria. Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). yakni waktu yang diperlukan proses eksresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai setengahnya. Respons Dosis Obat 1. zat pengawet obat. seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik. edema faring dan laring. Dengan efek sinergis. Gejala alergi bervariasi. klien yang menderita hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat.hanya metabolisme. Ketika absorpsi berhenti . Konsentrasi serum tertinggi obat biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorpsi. Semua obat memiliki waktu paruh serum. Tujuan suatu obat deprogram ialah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman 2. Interaksi Obat 1. terjadi interaksi obat 2. Klien juga dapat mengalami hipotensi berat. Interaksi obat selalu diharapkan. 7 . kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila diberikan terpisah. Klien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut. Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat 3. Apabila suatu obat memodifikasi kerja obat yang lain. 5. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen. Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. pruritus. memicu pelepasan antibody. 6. 5. misalnya diuretic dan vasodilator. Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaksis di tandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus. Contoh. kedua obat tersebut dapat memiliki efek yang sinergis atau adiktif 4. Pada penginfusan obat intravena. atau metabolitnya. yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada kadar yang diinginkan. eksresi dan distribusi yang berlanjut 3. konsentrasi puncak dicapai dengan cepat. 8. 9. ruam. Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien.3. mengi berat dan sesak napas. Apabila dua obat diberikan secara bersamaan. bergantung pada individu dan obat. tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat 5. ia akan mengalami respons alergi terhadap obat.

Variabel fisiologis a. Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama c. Usia berdampak langsung pada kerja obat Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan memengaruhi respons terhadap terapi obat 8 . Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama. akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat. Durasi kerja obat : Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respons d. 2. Plateau : Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat yang sama kembali diberikan o Cara ideal yang digunakan untuk mempertahankan kadar obat yang terapeutik ialah melakukan penginfusan intravena secara kontinu. Dengan mengetahui interval waktu kerja obat. factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. Kerja puncak obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi dicapai c. Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat 1. Perbedaan Genetik a. Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat b. Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu b. Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian dosis. Awitan kerja obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons muncul setelah obat diberikan b.6. perawat dapat mengantipasi efek suatu obat : a.

Buku injeksi/daftar obat 4. Bak spuit 1 e. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat akan dilepaskan secara berkala dalam bentuk depot obat Jaringan intramuskular: terbentuk dari otot bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi (setiap 20 mm3 terdiri dari 200 otot dan 700 kapiler darah). Peralatan a.B. Obat sesuai program terapi h. Perlak dan pengalas g. Bengkok 1 i. Tujuan pemberian obat dengan cara ini adalah agar absorpsi obat lebih cepat.agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk syaraf. Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat Secara IM (Intra Muskuler) a. atau pada lengan bagian atas. misalnya pada bagian bokong.5 inci untuk dewasa. Kapas alkohol dalam kom (secukupnya) f. Sarung tangan 1 pasang b. Tahap PraInteraksi 1) Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada 2) Mencuci tangan. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan c. 25-27 G dan panjang 1 inci untuk anak-anak) d. 2. Tujuan Pemberian Obat secara Intra Muskuler Melaksanakan fungsi kolaborasi dengan dokter terhadap klien yang yang diberikan obat secara intra muskulus (IM). Aliran darah tergantung dari posisi otot di tempat penyuntikkan. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAMUSKULER 1. Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar. Pengertian Pemberian Obat secara Intra Muskuler Pemberian obat secara intra muskuler adalah Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam otot (muskulus). 3. 3) Menyiapkan obat dengan benar 4) Menempatkan alat di dekat klien dengan benar 9 . dan kaki bagian atas. Jarum steril 1 (21-23G dan panjang 1 – 1.

telentang. Tahap Orientasi 1) Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik 2) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien 3) Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan c.  Ventrogluteal : posisi klien berbaring miring. abrasi atau infeksi) 6) Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam ke luar diameter ±5cm) 7) Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk mereganggkan kulit 8) Memasukkan spuit dengan sudut 90 derajat. sesuai tempat penyuntikan 2) Memasang perlak dan alasnya 3) Membebaskan daerah yang akan di injeksi 4) Memakai sarung tangan 5) Menentukan tempat penyuntikan dengan benar ( palpasi area injeksi terhadap adanya edema. Tahap Kerja 1) Mengatur posisi klien. Hindari area jaringan parut. nyeri tekan. d. atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. massa. memar. jarum masuk 2/3 9) Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit 10) Memasukkan obat secara perlahan (kecepatan 0. 10 .b.  Lengan atas (deltoid) : posisi klien duduk atau berbaring datar dengan lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan.1 cc/detik) 11) Mencabut jarum dari tempat penusukan 12) Menekan daerah tusukan dengan kapas desinfektan 13) Membuang spuit ke dalam bengkok. Tahap Terminasi 1) Melakukan evaluasi tindakan 2) Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 3) Berpamitan dengan klien 4) Membereskan alat-alat 5) Mencuci tangan 6) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan Pilihan Tempat Injeksi Intra Muskuler  Paha (vastus lateralis) : posisi klien terlentang dengan lutut agak fleksi.

tonjolan tulang. tonjolan tulang. dan dapat melawan efek obat pertama yang tidak diinginkan. termasuk kebingugan saat tecapai keefektifan terapeutik dan efek samping serta perkembangan interaksi obat 11 . Sayangnya. beberapa masalah berkaitan dengan penggunaan obat bersamaan. dapat meningkatkan aksi terapeutik spesifik.  Pasien yang tepat  Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar. dapat di perlukan untuk mengobati penyakit yang terjadi bersamaan. otot atau saras besar di bawahnya.  Kondisi atau penyakit klien. Kontra indikasi Infeksi. lesi kulit.  Dosis yang diberikan harus tepat. jaringan parut. bebas dari infeksi.  Obat yang tepat dan benar. jaringan parut. lesi kulit.  Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.Hal-hal yang perlu diperhatikan Tempat injeksi :  Jenis spuit dan jarum yang digunakan. otot atau saraf besar di bawahnya Kewaspadaan Perawat Penggunaan obat secara bersamaan.Indikasi dan kontra indikasi Indikasi Biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. atau polifarmasi.

Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) 5. CONTOH OBAT YANG DI BERIKAN SECARA INTRAMUSKULER 1. Vaksin Campak 7. Gentamin 2. Injeksi Vitamin B Kompleks 4. Dll.C. Vaksin TT (Tetanus Toksoid) 3. 12 . Vaksin Hepatitis B 6.

KESIMPULAN Dalam pemberian injeksi dan obat harus dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar tidak terjadi kesalahan dan infeksi pada klien. Perawat harus memperhatikan kebersihan terutama pada kebersihan tangan dalam setiap melakukan tindakan kesehatan kepada klien. dan IV. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC. muncul resiko infeksi. Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. IM. Perawat tidak boleh menyepelekan hal kecil seperti mencuci tangan karna hal kecil itu bisa menjadi besar. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya bisa fatal. Dan paling utama perawat harus berhati-hati dalam setiap melakukan tindakan. IC. SARAN Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah menggunakannya. Memberikan injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu. 13 . Setelah jarum menembus kulit. bergantung pada kecepatan absorbsi obat.BAB III PENUTUP A. Selain itu distraksi dan relaksasi merupakan hal terpenting dalam menghilangkan dan mengurangi nyeri dalam pelaksaan asuhan keperawatan B. Perawat harus memperhatikan personal hygiene terutama melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful