BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Perawat juga harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan

mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau jelas/dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Salah satu tugas terpenting seorang perawat adalah member obat yang aman dan akurat kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah. Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai dengan anjuran yang sebenarnya. Seorang perawat juga memiliki tanggung jawab dalam memahami Sifat kerja obat secara fisiologis dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. Serta mengetahui dan memahami tentang Standar Operasional Prosedur Pemberian Obat secara parental salah satunya melalui IM atau Intramuskuler. B. TUJUAN 1. Mengetahui Sifat kerja obat secara fisiologis. 2. Mengetahui standar operasional / prosedur pemberian obat secara Intramuskuler 3. Mengetahui Obat obat yang terkait dalam IM

1

Reseptor melokalisasi efek obat 5. SIFAT KERJA OBAT SECARA FISIOLOGI 1.( insulin. Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ. memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat. harus masuk kedalam sirkulasi sistemik untuk menghasilkan efek yang terapeutik. Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor 2. Kulit relative tidak dapat ditembus zat kimia. Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. 4. dan mengobservasi respons klien. mempercepat atau memperlambat proses kerja sel 4. memilih rute pemberian obat. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat absorpsi 2 . sehingga absorpsi menjadi lambat. 6. Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung).hormone tiroid atau estrogen) Mekanisme Kerja 1. Obat dan reseptor saling berikatan kuat. mencapai tempat kerjanya. Rute pemberian obat. tetapi mengubah fungsi fisiologis. Absorpsi Adalah cara molekul obat masuk kedalam darah. setelah sifat sel berubah.BAB II PEMBAHASAN A. 3. kecuali obat yang digunakan secara topical untuk memperoleh efek local. Obat-obatan misalnya gas anastesi umum. dimetabolisme. berinteraksi dengan membrane sel. 3. ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan Farmakokinetik Adalah ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh. obat mengeluarkan pengaruhnya. dan keluar dari tubuh. Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain : 1. bergantung pada struktur fisik jaringan. Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. menilai resiko perubahan kerja obat. meningkatkan fungsi sel. Obat dapat menggantikan zat tubuh yang hilang. Obat bekerja menghasilkan efek teraupetik yang bermanfaat 2. Kebanyakn obat. Dokter dan Perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat.

Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat 10. Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan 6. Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah 5. Injeksi Intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk kedalam sirkulasi sistemik. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. 8. Saat lambung terisi makanan. 3 . rute pemberian obat yang terbaik adalah melalui intravena. misalnya zat besi dapat mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. Otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC). Apabila perfusi jaringan klien buruk. Obat oral lebih mudah diabsorpsi. 11. Pada beberapa kasus . Larutan dan suspensi. Karena obat yang diberikan peroral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi. contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Daya larut obat. 7. misalnya pada kasus syok sirkulasi . 12. 3. Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik. Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan.akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar. Beberapa makanan dan antacid membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna. kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat. absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. 2. Obat yang bersifat basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus. obat yang diberikan per intramuskuler (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan lewat per subkutan. lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. jika diberikan diantara waktu makan. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. yang tersedia dalam bentuk cair. isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama makan. yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut. sehingga absorpsi obat melambat. 4. 9.

Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan. 2. misalnya pada klien lansia. 4. Klien lansia dapat menderita efek samping (mis. Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut. semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya. Semakin kecil berat badan klien. akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan distribusi obat. Contoh. Obat lebih mudah keluar dari ruang interstisial kedalam ruang intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotic yang langsung disuntikkan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. Ketika molekul obat terikat pada albumin. 3. dan kecepatan aliran darah kesebuah jaringan. 2. Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. obat didistribusikan di dalam tubuh kejaringan dan organ tubuh dan akhirnya ketempat kerja obat tersebut. Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan. Obat yang tidak berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat 4 . dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis. 3. 2. memengaruhi distribusi obat. jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intra muskuler.DISTRIBUSI Setelah diabsorpsi. Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. tingkat vasodilatasi atau vasokonstriksi local. IKATAN PROTEIN 1. DINAMIKA SIRKULASI 1. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya BERAT DAN KOMPOSISI BADAN 1. misalnya albumin.konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah otak karena masuknya obat larut-lemak kedalam otak lebih mudah. Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum. kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum 3.

Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah. walaupun paru-paru. usus dan kelenjar eksokrin. resiko pada bayi yang menerima obat dan resiko pada ibu yang tidak mendapatkan obat harus dipertimbangkan dengan cermat. sedangkan factor-faktor yang memperlambat misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat akan memperpanjang efek obat. 3. kulit dapat mengalami iritasi 3. obat keluar dari tubuh melalui ginjal. Saluran cerna adalah jalur lain eksresi obat. Setelah dimetabolisme. mengurai (memecah). Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik 5. Setelah mencapai tempat kerjanya. hati. Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi. zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus 6. Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae. bayi yang disusui dapat mengabsorpsi zat kimia obat tersebut. 7. mempercepat eksresi obat melalui feses. obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif. ketika obat keluar melalui kelenjar keringat. Metabolisme 1. Setelah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu. Perawat membantu klien melakukan praktik hygiene yang baik untuk meningkatkan kebersihan dan intergritas kulit 4. 5 . Eksresi 1. Kebanyakan biotransformasi berlangsung di dalam hati. Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan 6.4. misalnya laksatif dan enema. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic. kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati. 4. dan melepas zat kimia aktif secara biologis. toksisitas obat. Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan dieksresi kedalam empedu. sehingga lebih mudah di eksresi 2. akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. 5. atau keduanya. ginjal. akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat. darah dan usus juga memetabolisasi obat. Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh. 2. Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh.

Efek Terapeutik 1. misalnya reaksi idiosinkratik. 6 . bukan mengantuk. Reaksi Alergi 1. Dari seluruh reaksi obat 5 % sampai 10% merupakan reaksi alergi. Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien 3. namun digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang dapat menyebabkan kematian. Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat 2. Jumlah obat yang berlebihan didalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan. bergantung pada kerja obat. Efek Samping 1. yang meliputi klien bereaksi berlebihan. Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat dosis obat perlu dikurangi 9. Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan. Contoh penggunaan obat kodein fosfat dapat membuat seorang klien mengalami konstipasi ini dianggap tidak berbahaya. Ginjal adalah organ utama eksresi obat. Contoh seorang anak yang menerima antihistamin menjadi sangat gelisah atau sangat gembira. 2. Umumnya efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama 2. Efek Toksik 1. Apabila asupan cairan yang normal dipertahankan. apabila fungsi ginjal menurun. obat akan dieliminasi dengan tepat. Reaksi Idiosinkratik 1. Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan.7. risiko toksisitas meningkat 8. Efek terapeutik merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. tidak bereaksi atau bereaksi tidak normal terhadap obat 2. perawat memberi kodein fosfat untuk menciptakan efek analgesic dan memberi teofilin untuk mendilatasi bronkiolus pernapasan yang menyempit 3. 2. contoh. yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan. Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang terapeutik. efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera. Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapeutik yang diinginkan.

Tujuan suatu obat deprogram ialah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman 2. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen. Interaksi Obat 1. 5. Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). pruritus.rhinitis 7. memicu pelepasan antibody. 9. Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat 3. seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik. Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien. Pada penginfusan obat intravena. eksresi dan distribusi yang berlanjut 3. atau metabolitnya. Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. 6. 8. ia akan mengalami respons alergi terhadap obat. terjadi interaksi obat 2. Klien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut. yakni waktu yang diperlukan proses eksresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai setengahnya. bergantung pada individu dan obat. Setelah mencapai puncak. mengi berat dan sesak napas. yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada kadar yang diinginkan. kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila diberikan terpisah. klien yang menderita hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat. Klien juga dapat mengalami hipotensi berat. tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat 5. 5.hanya metabolisme. konsentrasi puncak dicapai dengan cepat. Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaksis di tandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus. 4. Dengan efek sinergis. Gejala alergi yang umum antara lain adalah urtikaria. Respons Dosis Obat 1. edema faring dan laring. zat pengawet obat. Semua obat memiliki waktu paruh serum. Gejala alergi bervariasi. misalnya diuretic dan vasodilator. Konsentrasi serum tertinggi obat biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorpsi. Ketika absorpsi berhenti .3. 7 . kedua obat tersebut dapat memiliki efek yang sinergis atau adiktif 4. Apabila dua obat diberikan secara bersamaan. konsentrasi serum turun bertahap 4. Interaksi obat selalu diharapkan. Apabila suatu obat memodifikasi kerja obat yang lain. ruam. Contoh.

Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama c. perawat dapat mengantipasi efek suatu obat : a. Variabel fisiologis a. Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian dosis. akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat. Awitan kerja obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons muncul setelah obat diberikan b. Dengan mengetahui interval waktu kerja obat. Kerja puncak obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi dicapai c. Plateau : Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat yang sama kembali diberikan o Cara ideal yang digunakan untuk mempertahankan kadar obat yang terapeutik ialah melakukan penginfusan intravena secara kontinu. Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu b. factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. Durasi kerja obat : Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respons d. Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat b. Usia berdampak langsung pada kerja obat Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan memengaruhi respons terhadap terapi obat 8 . Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat 1. Perbedaan Genetik a. 2.6. Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama.

Kapas alkohol dalam kom (secukupnya) f. Tujuan pemberian obat dengan cara ini adalah agar absorpsi obat lebih cepat. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat akan dilepaskan secara berkala dalam bentuk depot obat Jaringan intramuskular: terbentuk dari otot bergaris yang mempunyai banyak vaskularisasi (setiap 20 mm3 terdiri dari 200 otot dan 700 kapiler darah). misalnya pada bagian bokong. 25-27 G dan panjang 1 inci untuk anak-anak) d. Jarum steril 1 (21-23G dan panjang 1 – 1. Bengkok 1 i. Perlak dan pengalas g. Obat sesuai program terapi h. Aliran darah tergantung dari posisi otot di tempat penyuntikkan. dan kaki bagian atas.agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk syaraf. Tahap PraInteraksi 1) Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada 2) Mencuci tangan. Pengertian Pemberian Obat secara Intra Muskuler Pemberian obat secara intra muskuler adalah Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam otot (muskulus). Peralatan a. Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat Secara IM (Intra Muskuler) a. Buku injeksi/daftar obat 4. 2. 3. Tujuan Pemberian Obat secara Intra Muskuler Melaksanakan fungsi kolaborasi dengan dokter terhadap klien yang yang diberikan obat secara intra muskulus (IM). STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAMUSKULER 1. Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar. Bak spuit 1 e.5 inci untuk dewasa. 3) Menyiapkan obat dengan benar 4) Menempatkan alat di dekat klien dengan benar 9 . Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan c. Sarung tangan 1 pasang b. atau pada lengan bagian atas.B.

massa. Hindari area jaringan parut.1 cc/detik) 11) Mencabut jarum dari tempat penusukan 12) Menekan daerah tusukan dengan kapas desinfektan 13) Membuang spuit ke dalam bengkok.  Lengan atas (deltoid) : posisi klien duduk atau berbaring datar dengan lengan bawah fleksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan. jarum masuk 2/3 9) Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit 10) Memasukkan obat secara perlahan (kecepatan 0. 10 .  Ventrogluteal : posisi klien berbaring miring. Tahap Terminasi 1) Melakukan evaluasi tindakan 2) Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 3) Berpamitan dengan klien 4) Membereskan alat-alat 5) Mencuci tangan 6) Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan Pilihan Tempat Injeksi Intra Muskuler  Paha (vastus lateralis) : posisi klien terlentang dengan lutut agak fleksi. sesuai tempat penyuntikan 2) Memasang perlak dan alasnya 3) Membebaskan daerah yang akan di injeksi 4) Memakai sarung tangan 5) Menentukan tempat penyuntikan dengan benar ( palpasi area injeksi terhadap adanya edema. Tahap Kerja 1) Mengatur posisi klien. atau telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. nyeri tekan. memar. Tahap Orientasi 1) Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik 2) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien 3) Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan c. telentang. abrasi atau infeksi) 6) Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam ke luar diameter ±5cm) 7) Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk mereganggkan kulit 8) Memasukkan spuit dengan sudut 90 derajat.b. d.

tonjolan tulang. lesi kulit. otot atau saraf besar di bawahnya Kewaspadaan Perawat Penggunaan obat secara bersamaan. jaringan parut. dapat meningkatkan aksi terapeutik spesifik. termasuk kebingugan saat tecapai keefektifan terapeutik dan efek samping serta perkembangan interaksi obat 11 . bebas dari infeksi. dan dapat melawan efek obat pertama yang tidak diinginkan. beberapa masalah berkaitan dengan penggunaan obat bersamaan. atau polifarmasi.  Obat yang tepat dan benar.  Dosis yang diberikan harus tepat. otot atau saras besar di bawahnya. tonjolan tulang.  Kondisi atau penyakit klien.  Pasien yang tepat  Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar. lesi kulit. Sayangnya.Hal-hal yang perlu diperhatikan Tempat injeksi :  Jenis spuit dan jarum yang digunakan.  Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi. jaringan parut.Indikasi dan kontra indikasi Indikasi Biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberikan obat secara oral. Kontra indikasi Infeksi. dapat di perlukan untuk mengobati penyakit yang terjadi bersamaan.

Dll. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus) 5. Injeksi Vitamin B Kompleks 4. Gentamin 2. CONTOH OBAT YANG DI BERIKAN SECARA INTRAMUSKULER 1. Vaksin TT (Tetanus Toksoid) 3.C. 12 . Vaksin Hepatitis B 6. Vaksin Campak 7.

bergantung pada kecepatan absorbsi obat. Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Perawat tidak boleh menyepelekan hal kecil seperti mencuci tangan karna hal kecil itu bisa menjadi besar. IM. Dan paling utama perawat harus berhati-hati dalam setiap melakukan tindakan. Oleh karena itu. Memberikan injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukandengan menggunakan teknik steril. dan IV. SARAN Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika kita salah menggunakannya. kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. KESIMPULAN Dalam pemberian injeksi dan obat harus dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan agar tidak terjadi kesalahan dan infeksi pada klien.BAB III PENUTUP A. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya bisa fatal. Setelah jarum menembus kulit. muncul resiko infeksi. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat. Perawat harus memperhatikan kebersihan terutama pada kebersihan tangan dalam setiap melakukan tindakan kesehatan kepada klien. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC. Perawat harus memperhatikan personal hygiene terutama melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. IC. Selain itu distraksi dan relaksasi merupakan hal terpenting dalam menghilangkan dan mengurangi nyeri dalam pelaksaan asuhan keperawatan B. 13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful