Kata Pengantar

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul rendahnya kualitas pendidikan indonesia . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah profesi pendidikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Medan, 20 mei 2013

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia menjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Perasan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar. Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Rendahnya sarana fisik. (3).918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan. (6). Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Rendahnya prestasi siswa. (4).Setelah kita amati. (7). efisiensi dan standardisasi pengajaran. baik pendidikan formal maupun informal. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. Permasalahan-permasalahan yang tersebut di atas akan menjadi bahan bahasan dalam makalah yang berjudul “ Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia” ini. (5). Rendahnya kesejahteraan guru. Rendahnya kualitas guru. nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan. (2). Dari 20.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu: (1). . Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.

Rumusan Masalah 1. 2. Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia? 2. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia. Tujuan Penulisan 1. 4. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini.B. BAB II . Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia? 3. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia? 4. 3. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia? C. Mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan di Indonesia.

Hal ini terbukti dari kualitas guru. Selain berpengalaman mengajar murid. guru-guru saat ini kurang kompeten. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal. melalui radio. dan murid-muridnya. Belum lagi masalah gaji guru. B. melalui kehidupan beragama di asrama-asrama. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia.PEMBAHASAN A. Memang. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. pemecahan berbagai masalah. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut. . Kualitas Pendidikan di Indonesia Seperti yang telah kita ketahui. Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikanpendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. surat kabar dan sebagainya. sarana belajar. tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun. lewat mimbarmimbar agama dan ketuhanan di televisi. kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia. mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat. Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruanperguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

• Langkah keenam. Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan. Jakarta. • Langkah ketujuh. Tolak ukurnya dari angka partisipasi. • Langkah keempat. C. “Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya.Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya. adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan. menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan. serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional. bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut. yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Namun.” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas. antara lain guru dan sekolah. serta jender. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan. • Langkah kedua. • Langkah terakhir. Senin (12/3/2007). Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia . antara lain yaitu: • Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah. • Langkah ketiga. terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen. pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. seperti ketidakmerataan di desa dan kota. yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. • Langkah kelima. pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Jl Jenderal Sudirman. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun. pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.

Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut. salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah. seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. yaitu: 1. Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya. 2. Selama ini. pendidik (dosen. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan.Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita. dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna. menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan. banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia . Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Dengan demikian. yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. guru. instruktur.

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih. nemun peserta didik tidak hanya itu saja. peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang . seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey.00 dan diakhiri sampai pukul 16. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran. Yang mengejutkanya lagi. Dengan survey lapangan. yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.. training. Di sekolah dasar negeri. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07. dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. waktu yang digunakan dalam proses pendidikan. kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah. Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya. namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku. Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan. karena ketika kami amati lagi. alat tulis. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik. kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran. Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan. hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan. dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Hal tersebut jelas tidak efisien. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya.00.

Yang kami lihat. kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994. yang sebenarnya bukan kompetensinya. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. kita juga mengganti cara pendidikan pengajar. Jelas juga terlihat. Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. dan sebagainya. banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah . dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Selain itu. bahasa. kurikulum 2004. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih. kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif. namun di mengajarkan keterampilan. Ketika mengganti kurikulum. hingga kurikulum baru lainnya. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik. masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik. pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa. sehingga mudah dimengerti dan membuat tertarik peserta didik. Dalam beberapa tahun belakangan ini. bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga. kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif. Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap.menghabiskan banyak waktu tersebut. karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang. Misalnya saja.

ditetapkan. standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil. maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaansumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat . demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. 3. Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terusmenertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Dunia pendidikan terus berudah. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan. Standardisasi Pendidikan Di Indonesia Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Seperti yang kita lihat sekarang ini. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar. Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi. akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Selain itu. Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Juga permasalahan yang ada di dalamnya. berikut ini akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh. namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya. Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. yang tentu lebih banyak. Selain hanya berlanhsug sekali. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja. dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas.digunakan. . Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas. hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun.

Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364. MTs. menilai hasil pembelajaran. 299.49% (negeri) dan 58. melaksanakan pembelajaran.440 atau 42. MA.918.62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.258 ruang kelas. serta untuk SMK yang layak mengajar 55. tidak memiliki perpustakaan. untuk SMA 65. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran. 2.581 atau 34. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik Untuk sarana fisik misalnya. Sementara laboratorium tidak standar. melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21.1. dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama. banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak.94% (swasta). sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. SMA. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1.26% mengalami kerusakan berat. pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. dari sekitar . Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.12% (negeri) dan 60.26% (swasta). tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.29% (negeri) dan 64. Rendahnya Kualitas Guru Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan.99% (swasta). untuk SMP 54. buku perpustakaan tidak lengkap.12% berkondisi baik. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri. melakukan pelatihan.2 juta guru SD/MI hanya 13. melakukan pembimbingan. Selain itu. Bukan itu saja.898 siswa serta memiliki 865.07% (negeri) dan 28.73% (swasta). kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah. Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri.052 lembaga yang menampung 25.237 atau 23. Keadaan ini juga terjadi di SMP.

460 ribu. Sekarang. pedagang mie rebus. Dengan adanya UU Guru dan Dosen. pedagang buku/LKS. pedagang pulsa ponsel. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005.680. idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. 13 Juli. baru 18. dan sebagainya (Republika. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi. Di lingkungan pendidikan swasta.8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas.48% berpendidikan S3). Dengan pendapatan seperti itu. Tapi. 2005). Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006. Rendahnya Kesejahteraan Guru Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. dari 181. banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. dari 337. sebanyak 70 persen dari 403 PTS .544 dosen. tunjangan yang melekat pada gaji. dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. baru 57. dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam.000 guru SLTP/MTs baru 38. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai. 3. kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. terang saja.5 juta. tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.503 guru. pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1. guru bantu Rp. antara lain meliputi gaji pokok. Di tingkat sekolah menengah. menjadi tukang ojek. tunjangan profesi. masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi.8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. sebagai cermin kualitas. Di tingkat pendidikan tinggi.86% yang berpendidikan S2 ke atas (3. memberi les pada sore hari. barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan.

prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA. diantara 38 negara peserta.0 (Singapura).5 (Hongkong). 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda. 65.di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006). hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-RepeatTIMSS-R. Dalam skala internasional. Rendahnya Prestasi Siswa Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik. 52. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.6 (Filipina).1 (Thailand). 4. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004). 1999 (IEA. Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Dalam hal prestasi. menurut Laporan Bank Dunia (Greaney. dan 51. 74. kualitas guru. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat. posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.7 (Indonesia). Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. 1999) memperlihatkan bahwa. Selain itu.1992). Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja. ke-34 untuk . Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75. studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah.

Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan.47%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999.3 juta siswa).4% (28. Diploma/S0 sebesar 27.4%. 8% (9. 6. setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94.21%.07%. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13.Matematika. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. ke-73 dan ke-75. 14. 5. dan 15. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur.5% dan PT sebesar 36.6%.4 juta siswa). Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54. Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. . ke-68.

Namun. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. pada tingkat implementasinya. Asumsinya.000. Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. Mahalnya Biaya Pendidikan Pendidikan bermutu itu mahal. Karena itu. segala pungutan uang selalu berkedok. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). — sampai Rp 1. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Hasilnya. Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. “sesuai keputusan Komite Sekolah”.7. pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. setelah Komite Sekolah terbentuk. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit. Akibatnya. Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500. dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya. Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah.000. . Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.000. MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. ia tidak transparan. Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Orang miskin tidak boleh sekolah. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir.or. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu. seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. misalnya. Dalam pasal itu disebutkan. Menurut dia. penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Akibatnya. Dengan begitu. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang . Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu.kau.id). akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial.82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. 10/5/2005). nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah. Dari APBN 2005 hanya 5. Akibatnya. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ). antara yang kaya dan miskin. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas. Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www. RUU Badan Hukum Pendidikan. privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Yanti Mukhtar (Republika. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. dan RPP tentang Wajib Belajar. 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Seperti halnya perusahaan.

dari SD hingga perguruan tinggi. atau tepatnya.wajib mencari sumber dananya sendiri. D. kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. tidak harus murah atau gratis. dan di beberapa negara berkembang lainnya. diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme). Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti . solusi untuk masalah-masalah yang ada. Solusi dari Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia Untuk mengatasi masalah-masalah di atas. Maka. yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan. khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik. maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu: Pertama. Prancis. Belanda. solusi sistemik. kesejahteraan guru. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal. Di Jerman. Akan tetapi. Bagi masyarakat tertentu. termasuk pendanaan pendidikan. banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

Kedua. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa. Rendahnya kualitas guru. juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Rendahnya prestasi siswa. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. (7). Rendahnya kesejahteraan guru. Rendahnya kualitas guru. . dan sebagainya. Mahalnya biaya pendidikan. Rendahnya prestasi siswa. dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Maka. solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. solusi teknis. (2). Kesimpulan Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. BAB III PENUTUP A. yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. (6). (3). Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas. di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu: (1). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan.dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara. (4). diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran. efisiensi. (5). dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya sarana fisik. misalnya. meningkatkan alatalat peraga dan sarana-sarana pendidikan. misalnya.

Manajemen Pendidikan Indonesia. http://www. Pidarta. dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa. http://www.com.com/2008/04/efektivitas-dan-efisiensi-anggaran.com. DAFTAR PUSTAKA http://forum. B.Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. sayapbarat. Made.detik. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.sib-bangkok. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia.detiknews. 2004.wordpress. Dr. Saran Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Prof. . http://tyaeducationjournals.org.blogspot.