P. 1
SKENARIO 1 20% lagi

SKENARIO 1 20% lagi

|Views: 5|Likes:

More info:

Published by: Oktavia Candra Utami on May 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2013

pdf

text

original

SKENARIO 1 TEMAN DEKAT Seorang wanita 25 tahun mengeluh diperkosa 5 jam yang lalu oleh teman dekatnya.

Kemudian pergi ke dokter untuk diminta visum, tetapi ditolak oleh dokter. Wanita tersebut segera lapor ke Polsek, dan ditindak lanjuti oleh Kepolisian dengan meninta Visum et Repertum pada dokter. Oleh dokter dilakukan pemeriksaan terhadap korban perkosaan, terhadap tersangka pemerkosa dan terhadap barang bukti. Pertemuan ke-1 (2 Mei 2013) Step 1 • Perkosaan ancaman kekerasan. • Visum et Repertum : keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter (dalam kapasitasnya sebagai ahli) atas permintaan resmi dari penegak hokum yang berwenang tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada objek yang diperiksanya dengan mengingat sumpah atau janji menerima jabatan. • Barang bukti : benda dan alat yang ternyata atau yang patut : persetubuhan yang dilakukan seorang laki- laki

kepada seorang perempuan yang bukan isterinya dengan kekerasan atau

diduga telah dipergunakan untuk melakukan tindakan pidana. Step 2 1. Apa status wanita umur 25 tahun mengeluh dipekosa 5 jam yang lalu oleh teman dekatnya? 2. Mengapa dokter menolak melakukan visum? 3. Pemeriksaan apa yang dilakukan pada korban, tersangka, dan barang bukti? Step 3 1. Status wanita umur 25 tahun mengeluh diperkosa 5 jam yang lalu oleh teman dekatnya belum bisa dikatakan sebagai korban pemerkosaan karena:

Perkosaan harus memenuhi 3 unsur : (1) • • Pelaku harus laki-laki Korban harus perempuan yang buka istri sah (berdasarkan negara) dari pelaku • Perbuatan paksaan dan kekerasan fisik atau ancaman fisik

Korban perkosaan / tindakan perkosaan hanya dapat dibuktikan di pengadilan. Yang bisa dilakukan dokter sebagai saksi ahli adalah : (1) • • • • Mengungkap apakah betul korban perempuan Membuktikan adanya persetubuhan (senggama baru atau lama) Mengungkap identitas laki-laki yang menyetubuhi Mengungkap kekerasan fisik / ancaman kekerasan

Jenis-jenis perkosaan menurut (erkotama, 2000) : (6) • Pemerkosaan saat berkencan, merupakan hubungan seksual secara paksa dan tanpa persetujuan, dilakukan oleh orang yang dikenal seperti teman, anggota keluarga, pacar • Pemerkosaan dengan obat, bisanya obat penghilang kesadaran atau penghilang ingatan • Pemerkosaan wanita, pelaku tidak bisa menahan hasrat bila melihat tubuh wanita • Pemerkosaan anak-anak (incest), dilakukan oleh kerabat dekan seperti paman, kakek, orang tua • • Pemerkosaan massal, dilakukan oleh kelompok Pemerkosaan dalam perang, bertujuan untuk mempermalukan musuh atau menurunkan semangat juang • Pemerkosaan dibawah usia

2. Permintaan visum wanita ke dokter ditolak karena: (2) • • Tidak ada surat permintaan dari penyelidik Bila membawa surat penyelidik pun yang membawa harus penyelidik yang meminta dan wanita selaku korban harus diantar penyelidik. Ketentuan standart pembuatan VeR: (2) a. Pihak yang berwenang meminta keterangan ahli menurut: • • KUHAP pasal 133 ayat (1) adalah penyidik PP 27/ 1983 adalah Pejabat Polisi Negara RI bila penyidik PNS serendah- rendahnya golongan IIb dan pembantu penyelidik golongan IIa. Sedangkan untuk kalangan militer maka Polisi Militer (POM) dikategorikan sebagai penyidik. • KUHAP 6 (1) penyidik serendah-rendahnya pembantu letnan dua dan pembantu penyidik adalah serendah-rendahnya sersan dua. b. Pihak yang berwenang membuat keterangan ahli menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) adalah dokter dan tidak dapat didelegasikan pada pihak lain. c. Prosedur permintaan keterangan ahli kepada dokter telah ditentukan bahwa permintaan oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis yang secara tegas telah diatur dalam KUHAP pasal 133 ayat (2). d. Penyerahan surat keterangan ahli hanya boleh dilakukan pada Penyidik yang memintanya sesuai dengan identitas pada surat permintaan keterangan ahli. Pihak lain tidak dapat memintanya. 3. Pemeriksaan yang dilakukan pada korban, tersangka, dan barang bukti Pemeriksaan pada korban (1,7) Tujuannya: untuk menyimpulkan terjadinya senggama dan untuk

menyimpulkan adanya kekerasan. • Tanda – tanda persetubuhan a. Tanda langsung o Robeknya selaput dara akibat penetrasi penis o Lecet atau memar akibat gesekan penis o Adanya sperma akibat ejakulasi b. Tanda tidak langsung o Terjadinya kehamilan o Terjadinya penularan penyakit kelamin • Tanda- tanda kekerasan Kekerasan adalah tindakan pelaku yang bersifat fisik yang dilakukan dalam rangka memaksa korban agar dapat disetubuhi. Kekerasan itu dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan atau untuk melemahkan daya lawan korban. Maka yang perlu dicari adalah tanda- tanda kekerasan fisik yang berada di luar alat kelamin, seperti cekikan di leher, pukulan pada kepala dan sebagainya. Termasuk kekerasan disini adalah penggunaan obatobatan yang dapat mengakibatkan korban tak sadar. Pemeriksaan pada tersangka (1,7) Pemeriksaan medik terhadap tersangka hanya dipergunakan apabila ia menyangkal dapat melakukan persetubuhan karena impotensi. Ini berkenaan dengan dengan salah satu syarat perkosaan, yaitu terjadinya senggama. Seorang laki- laki yang menderita impotensi tentunya tidak mungkin dapat melakukan persetubuhan, sehingga tidak mungkin dituduh telah melakukan perkosaan. Dalam kaitannya dengan impotensi tersebut, dokter hanya dapat memastikannya jika diitemukan penyakit- penyakit organik yang dapat mengakibatkan impotensi; seperti misalnya Diabetes mellitus, hernia scrotalis atau hydrocele. Impotensi juga dapat dialami laki- laki yang sudah tua.

Pemeriksaan terhadap barang bukti (1,7) • Sperma atau bercak sperma Adanya sperma bukan saja membuktikan adanya senggama, tetapi dari sperma itu juga dapat diketahui golongan darah (bagi type secretor) serta DNA yang akan sangat berguna bagi kepentingan identifikasi pelaku. • Rambut kepala Sering kali korban tindak pidana seksual berhasil menjambak rambut pelaku. Oleh sebab itu perlu dicari disela- sela jari tangan korban. Dari rambut tersebut dapat diketahui suku bangsa, golonngan darah, dan bakan DNA asalkan pada pangkal dari rambut tersebut ditemukan sel. • Rambut kelamin Rambut kelamin pelaku juga sering ditemukan pada tubuh korban sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi. • Darah Jika korban mencakar pelaku maka ada kemungkinan dibawah kukunya ditemukan sel- sel darah sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui golongan darah serta DNA pelaku. • Gigi Dalam kasus perkosaan mungkin terjadi perlawanan sengit yang mengakibatkan gigi pelaku tanggal. Dari gigi tersebut dapat diketahui ras, golongan darah serta DNA. • Jejas gigit (bite mark) dan air liur Jika pelaku tindak pidana seksual menderita sadisme maka ada kemungkinan dapat ditemukan jejas gigit pada tubuh korban dengan air liur di sekitarnya. Pola jejas gigit tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi dengan cara mencocokkannya dengan pola jejas gigit dari orang yang diduga sebagai pelakunya.

Sedangkan air liur yang ditemukan disekitarnya dapat digunakan untuk mengetahui golongan darah (bagi yang bertype secretor) atau DNA (sebab didalam air liur terdapat sel- sel buccal yang lepas). Waktu pemeriksaan korban dan alat bukti yang benar Pemeriksaan medis dilakukan sesegera mungkin jangan menunda alat bukti karena dapat menghilangkan fakta-fakta yang seharusnya ada. Pemeriksaan dilakukan setelah diterimanya surat permintaan keterangan visum dari penyidik dan serta diantarkannya korban oleh penyidik. Pada pemeriksaan korban kekerasan seksual salah satu pengambilan sample barang bukti yaitu bisa menggunakan sperma yang bisa dilihat pada tubuh korban yaitu bila sperma masih bergerak dalam vagina (2-3 jam) bila wanita haid sperma masih bergerak (3-4jam). Menurut Voight sperma masih didapat (4 jam) pasca persetubuhan. Menurut Gonzales sperma bergerak (30-60 menit) pasca persetubuhan. Menurut Ponzold sperma bergerak (5 jam) pascapersetubuhan bisa sampai 20 jam. Menurut Nickols sperma masih ditemukan 5-6 hari pasca persetubuhan. Menurut Voight 66jam pasca persetubuhan menurut Davies dan Wilson 30 jam. Pada orang mati bisa sampai 2 minggu pasca persetubuhan. Kesimpulannya : spermatozoa masih dapat ditemukan 3-6 hari pasca persetubuhan.(1)

Step 4

Wanita 25 thth Wanita 25 mengeluh diperkosa mengeluh diperkosa

Polisi Polisi

Dokter Dokter

Pemeriksaan: Pemeriksaan: Terhadap korban Terhadap korban Terhadap tersangka Terhadap tersangka Terhadap barang Terhadap barang bukti bukti

Sasbel Sasbel Visum etet Repertum Visum Repertum Menjelaskan VeR Menjelaskan VeR oleh dokter oleh dokter Definisi Definisi Landasan hokum Landasan hokum Syaratsyarat Syarat- syarat Prosedur Prosedur format format Menjelaskan etika medikolegal Menjelaskan etika medikolegal pemeriksaan korban pemeriksaan korban Menjelaskan pemeriksaan yang Menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan terhadap korban dilakukan terhadap korban Menjelaskan dari segi AIK Menjelaskan dari segi AIK Step 5 1. Menjelaskan Visum et Repertum • Definisi • Landasan hukum • Syarat- syarat • Prosedur

• Format 2. Menjelaskan etika medikolegal pemeriksaan korban 3. Menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan terhadap korban 4. Menjelaskan pemerkosaan dari segi AIK Step 6 Pertemuan ke-2 (7 Mei 2013) Step 7 Visum et Repertum Definisi Visum at Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter (dalam kapasitasnya sebagai ahli) atas permintaan resmi dari penegak hokum yang berwenang tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada objek yang diperiksanya dengan mengingat sumpah atau janji menerima jabatan. (1,7) Landasan Hukum Didalam KUHAP sendiri yang ada hanyalah istilah Alat bukti Kategori Surat, yang dibuat dengan sumpah atau janji (sebagaimana yang diucapkan di pengadilan) atau dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan (yang diucapkan setelah lulus dokter) sehingga pada hakekatnya merupakan keterangan tertulis. Pasal- pasal KUHAP yang mengatur tentang produk dokter sepadan dengan Visum et Repertum: • Pasal 1 : (28) keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. • Pasal 186 : keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di siding pengadilan Kewajiban dokter sendiri dalam membantu proses peradilan diatur dalam: • Pasal 133 : (1) dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena

peristiwa yang merupakan tindakan pidana, ia berwewenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau mayat dan atau pembedahan mayat. • Pasal 179 : (1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter keadilan. (2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik- baiknya dan sebenar- benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. (1) Syarat- syarat Syarat- syarat Visum et Repertum: (1) • • • • Dibuat tertulis Ada permintaan dari penegak hukum Menggunakan bahasa indonesia baku Penulisan angka diganti dengan bentuk kalimat atau ahli lainnya ahli wajib demi memberikan keterangan

Ketentuan pembuatan VeR :

• • • • • • • • • •

Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa Bernomor dan bertanggal Mencantumkan kata ”Pro Justitia” di bagian atas kiri (kiri atau tengah) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu mendeskripsikan temuan pemeriksaan Tidak menggunakan istilah asing Ditandatangani dan diberi nama jelas Berstempel instansi pemeriksa tersebut Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum . Apabila ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang untuk itu, maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum masing-masing asli.

Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun

Prosedur Prosedur permintaan Visum et Repertum adalah sebagai berikut: (1,7) 1. Pihak yang Berwenang Meminta Surat Keterangan Ahli Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1) adalah penyidik. Penyidik pembantu juga mempunyai wewenangan tersebut sesuai KUHAP pasal 11. Yang termasuk penyidik menurut KUHAP pasal 6 ayat (1) jo PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (1) adalah Pejabat Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh UU dengan pangkat serendah- rendahnya Pembantu Letnan Dua, sedangkan penyidik pembantu berpangkat serendah- rendahnya Sersan Dua. Dalam PP yang sama disebutkan bahwa bila penyidik tersebut adalah pegawai negeri sipil, maka kepangkatannya serendah- rendahnya golongan II/b untuk penyidik dan II/a untuk penyidik pembantu. Bila disuatu kepolisian sektor tidak ada pejabat penyidik seperti

diatas, maka kepala kepolisian sektor tidak ada pejabat penyidik seperti diatas, maka kepolisian sektor yang berpangkat Bintara di bawah Pembantu Letnan Dua dikategorikan pula sebagai penyidik karena jabatannya (PP 27 tahun 1983 pasal 2 ayat (2)) 2. Pihak yang Berwenang Membuat Keterangan Ahli Menurut KUHAP pasal 133 ayat (1), secara garis besar yang berwenang melakukan pemeriksaan forensic adalah semua dokter yang mempunyai surat penugasan atau surat izin dokter dapat membuat keterangan ahli. 3. Prosedur Permintaan Keterangan Ahli Permintaan keterangan ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis terutama untuk korban mati. Hal ini secara tegas telah diatu dalam KUHAP pasl 133 ayat (1). Jenazah harus diperlakukan dengan baik, diberi label identitas, dan penyidik wajib memberitahu dan menjelaskan kepada keluarga korban mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan. Mereka yang menghalangi pemeriksaan jenazah untuk kepentingan peradilan diperlukan diancam dengan hukuman sesuai dengan pasal 222 KUHAP. Korban yang masih hidup sebaiknya diantar oleh petugas kepolisian guna pemastian identifikasinya. Korban adalah juga pasien, sehingga ia masih mempunyai hak sebagai pasien pada umumnya. Surat permintaan ahli ditujukan kepada instansi kesehatan atau instansi khusus untuk itu, bukan kepada individu dokter yang bekerja dalam instansi tersebut. Format Format Visum et Repertum terdiri dari 5 bagian tetap, yaitu: (4) 1. Pro justitia Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu bermeterai 2. Pendahuluan Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan

pukul diterimanya permohonan VeR, identitas dokter yang melakukan pemeriksaan, identitas subjek yang diperiksa : nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan, dan tempat dilakukan pemeriksaan. 3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan) Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati, terutama dilihat dan ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai dari letak anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristik serta ukurannya. Rincian tersebut terutama penting pada pemeriksaan korban mati yang pada saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali. Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan terdiri dari: • ‘Pemeriksaan anamnesis atau wawancara’ mengenai apa yang dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan yang menyangkut tentang ‘penyakit’ yang diderita korban sebagai hasil dari kekerasan/tindak pidana/diduga kekerasan. • ‘Hasil pemeriksaan’ yang memuat seluruh hasil peme- riksaan, baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status lokalis). • ‘Tindakan dan perawatan berikut indikasinya’, atau pada keadaan sebaliknya, ‘alasan tidak dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan’. Uraian meliputi juga semua temuan pada saat dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal tersebut perlu diuraikan untuk menghindari kesalahpahaman tentang tepat/ tidaknya penanganan dokter dan tepat/tidaknya kesimpulan yang diambil.

‘Keadaan akhir korban’, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan hal penting untuk pem- buatan kesimpulan sehingga harus diuraikan dengan jelas.

Pada bagian pemberitaan memuat 6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan tindakan pengobatan atau perawatan yang diberikan. 4. Kesimpulan Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dari fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter pembuat VeR, dikaitkan dengan maksud dan tujuan dimintakannya VeR tersebut. Pada bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka. Hasil pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh hasil pemeriksaan lainnya, sebaiknya tidak digunakan dalam menarik kesimpulan. Pengambilan kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh dilakukan dengan penuh hati-hati. Kesimpulan VeR adalah pendapat dokter pembuatnya yang bebas, tidak terikat oleh pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga terdapat pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi dan ketentuan hukum yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat menjembatani antara temuan ilmiah dengan manfaatnya dalam mendukung penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume hasil pemeriksaan, melainkan lebih ke arah interpretasi hasil temuan dalam kerangka ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. 5. Penutup Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan mengingat sumpah atau janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan serta dibubuhi tanda tangan dokter pembuat VeR. Etika Medikolegal

Etika medikolegal terdiri dari: (5) 1. Status korban Status korban sebagai pasien, dan yang akan diperiksa adalah daerah “sensitif”, hal utama yang harus diperhatikan adalah memperoleh informed consent. Informasi tentang pemeriksaan harus diberikan atau sebelum teknik pemeriksaan dimulai dan antara lain, mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk pengungkapan kasus, prosedur pemeriksaan, tindakan pengambilan sampel atau barang bukti, dokumentasi dalam bentuk rekam medis dan foto, serta pembukaan sebagian rahasia kedokteran guna pembuatan visum et repertum. Apabila korban cakap hukum, persetujuan untuk pemeriksaan harus diperoleh dari korban. Syarat -syarat cakap hukum adalah: • Berusia 21 tahun atau lebih, atau belum 21 tahun tapi sudah pernah menikah. • Tidak sedang menjalani hukuman • Berjiwa sehat dan berakal sehat.12 Apabila korban tidak cakap hukum persetujuan harus diminta dari walinya yang sah. Bila korban tidak setuju diperiksa, tidak terdapat ketentuan undang- undang yang dapat memaksanya untuk diperiksa dan dokter harus menghormati ke- putusan korban tersebut. 2. Korban terdapat barang bukti (corpus delicti). Karena pada korban terdapat barang bukti (corpus delicti) harus diperhatikan pula prosedur legal pemeriksaan. Setiap pemeriksaan untuk pembuatan visum et repertum harus dilakukan berdasarkan permintaan tertulis (Surat Permintaan Visum/SPV ) dari polisi penyidik yang berwenang. Korban juga harus diantar oleh polisi penyidik sehingga keutuhan dan originalitas barang bukti dapat terjamin. Apabila korban tidak diantar oleh polisi penyi- dik, dokter harus memastikan identitas korban yang diperiksa dengan mencocokkan antara identitas korban yang tercantum dalam SPV dengan tanda identitas sah yang dimiliki korban, seperti KTP, paspor, atau akta lahir. Catat pula dalam rekam medis bahwa korban tidak

diantar oleh polisi. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari kemungkinan kesalahan identifikasi dalam memeriksa korban. 3. Seorang dokter yang memeriksa harus memiliki sikap,yaitu : • Objektif- imparsial artinya seorang dokter tidak boleh memihak atau bersimpati kepada korban sehingga cenderung mempercayai seluruh pengakuan korban begitu saja. Hal yang boleh dilakukan adalah berempati, dengan tetap membuat penilaian sesuai dengan bukti-bukti objektif yang didapatkan secara sistematis dan menyeluruh. Tetap waspada terhadap upaya pengakuan atau tuduhan palsu (false allegation) dari korban. Hindari pula perkataan atau sikap yang “menghakimi” atau menyalahkan korban atas kejadian yang dialaminya. • Konfidensialitas Komunikasikan hasil pemeriksaan hanya kepada yang berhak mengetahui, seperti kepada korban dan/atau walinya (jika ada), serta penyidik kepolisian yang berwenang. Tuangkan hasil pemeriksaan dalam visum et repertum sesuai keperluan saja, dengan tetap menjaga kerahasiaan data medis yang tidak terkait dengan kasus. • Profesionalitas Melakukan pemeriksaan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu kedokteran yang umum dan mutakhir, dengan memper- hatikan hak dan kewajiban korban (sekaligus pasien) dan dokter. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap korban 1.Anamnesis (5) Pada korban kekerasan seksual, anamnesis harus dilakukan dengan bahasa awam yang mudah dimengerti oleh korban. Gunakan bahasa dan istilahistilah yang sesuai tingkat pendidikan dan sosio-ekonomi korban, sekalipun mungkin terdengar vulgar. Anamnesis dapat dibagi menjadi anamnesis

umum dan khusus. Hal-hal yang harus ditanyakan pada anamnesis umum mencakup, antara lain: • • • • • Umur atau tanggal lahir Status pernikahan, Riwayat paritas dan/atau abortus Riwayat haid (menarche, hari pertama haid terakhir, siklus haid) Riwayat koitus (sudah pernah atau belum, riwayat koitus sebelum dan/atau setelah ke- jadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan kondom atau alat kontrasepsi lainnya) • • • Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA) Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu) Keluhan atau gejala yang dirasakan pada saat pemeriksaan.

Anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian kekerasan seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik, seperti: • What & How: o Jenis tindakan (pemerkosaan, persetubuh- an, pencabulanan sebagainya) o Adanya kekerasan dan/atau ancaman ke- kerasan, serta jenisnya, adanya upaya perlawanan o Apakah korban sadar atau tidak pada saat atau setelah kejadian, o Adanya pemberian minuman, makanan, atau obat oleh pelaku sebelum atau setelah kejadian, o Adanya penetrasi dan sampai mana (parsial atau komplit) o Apakah ada nyeri di daerah kemaluan o Apakah ada nyeri saat buang air kecil/besar o Adanya perdarahan dari daerah kemaluan o Adanya ejakulasi dan apakah terjadi di luar atau di dalam vagina o Penggunaan kondom, dan

o Tindakan yang dilakukan korban setelah kejadian, misalnya apakah korban sudah buang air, tindakan membasuh/douching, mandi, ganti baju, dan sebagainya. • When: o Tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan tanggal dan jam melapor, dan o Apakah tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang. • Where: o Tempat kejadian, dan o Jenis tempat kejadian (untuk mencari kemungkinan trace evidence dari tempat kejadian yang melekat pada tubuh dan/atau pakaian korban). • Who o o o o Apakah pelaku dikenal oleh korban atau tidak Jumlah pelaku Usia pelaku, dan Hubungan antara pelaku dengan korban

2. Pemeriksaan fisik (5) Saat melakukan pemeriksaan fisik, gunakan prinsip “top-to-toe”. Artinya, pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Pelaksanaan pemeriksaan fisik juga harus memperhatikan keadaan umum korban. Apabila korban tidak sadar atau keadaan umumnya buruk, maka pemeriksaan untuk pembuatan visum dapat ditunda dan dokter fokus untuk ”life-saving” terlebih dahulu. Selain itu, dalam melakukan pemeriksaan fisik, perhatikan kesesuaian dengan keterangan korban yang didapat saat anamnesis. Pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat dibagi menjadi pemeriksaan umum dan khusus. Pemeriksaan fisik umum mencakup: • Tingkat kesadaran

• Keadaan umum • Tanda vital • Penampilan (rapih atau tidak, dandan, dan lain-lain) • Afek (keadaan emosi, apakah tampak sedih, takut, dan sebagainya) • Pakaian (apakah ada kotoran, robekan, atau kancing yang terlepas), • Status generalis • Tinggi badan dan berat badan • Rambut (tercabut/rontok) • Gigi dan mulut (terutama pertumbuhan gigi molar kedua dan ketiga), • Kuku (apakah ada kotoran atau darah di bawahnya, apakah ada kuku yang tercabut atau patah) • Tanda-tanda perkembangan seksual sekunder • Tanda-tanda intoksikasi NAPZA, serta • Status lokalis dari luka-luka yang terdapat pada bagian tubuh selain daerah kemaluan. Pemeriksaan fisik khusus bertujuan mencari bukti-bukti fisik yang terkait dengan tindakan kekerasan seksual yang diakui korban dan mencakup pemeriksaan: • Daerah pubis (kemaluan bagian luar), yaitu adanya perlukaan pada jaringan lunak atau bercak cairan mani • Penyisiran rambut pubis (rambut kemaluan), yaitu apakah adanya rambut pubis yang terlepas yang mungkin berasal dari pelaku, penggumpalan atau perlengketan rambut pubis akibat cairan mani • Daerah vulva dan kulit sekitar vulva/paha bagian dalam (adanya perlukaan pada jaringan lunak, bercak cairan mani) • Labia mayora dan minora (bibir kemaluan besar dan kecil), apakah ada perlukaan pada jaringan lunak atau bercak cairan mani • Vestibulum dan fourchette posterior (pertemuan bibir kemaluan bagian bawah), apakah ada perlukaan

• Hymen (selaput dara), catat bentuk, diameter ostium, elastisitas atau ketebalan, adanya perlukaan seperti robekan, memar, lecet, atau hiperemi). Apabila ditemukan robekan hymen, catat jumlah robekan, lokasi dan arah robekan (sesuai arah pada jarum jam, dengan korban dalam posisi litotomi), apakah robekan mencapai dasar (insersio) atau tidak, dan adanya perdarahan atau tanda penyembuhan pada tepi robekan • Vagina (liang senggama), cari perlukaan dan adanya cairan atau lendir • Serviks dan porsio (mulut leher rahim), cari tanda-tanda pernah melahirkan dan adanya cairan atau lendir • Uterus (rahim), periksa apakah ada tanda kehamilan • Anus (lubang dubur) dan daerah perianal, apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis • Mulut, apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis • Daerah-daerah erogen (leher, payudara, paha, dan lain-lain), untuk mencari bercak mani atau air liur dari pelaku; serta • Tanda-tanda kehamilan pada payudara dan perut. Kesulitan utama yang umumnya dihadapi oleh dokter pemeriksa adalah pemeriksaan selaput dara. Pada kasus perkosaan bukti persetubuhan ada 3 macam antara lain: 1. Jenis robekannya 2. Lokasi/ arah Lokasi robekan dinyatakan sesuai dengan angka pada jarum jam. Pada pemeriksaan ini hanya membuktikan bahwa kejadian ini merupakan suatu tindakan persukaan atau perkosaan yang dapat dilihat dari jenis robekannya. Sedangkan arah jarum jamnya hanya membuktikan posisi saat melakukan hubungan seksual. Bentuk selaput dara pada wanita yang robek saat melakukan hubungan seksual pertama kali tanpa paksaan dalam

keadaan suka sama suka tampak robekan pada bagian belakang arah jam 4,5,7,8 dan robekan ini hanya terjadi pada satu atau dua lokasi terrsebut. Lokasi robekan selaput dara berdasarkan arah jarum jam pada pemerkosaan diklasifikasikan menjadi: • Bagian atas jika robekan terdapat pada jam 9, 10, 11, 12, 1, 2, 3. • Bagian bawah jika robekan terjadi pada jam 4, 5, 6, 7, 8 3. Kedalaman. Kedalaman hanya membuktikan hubungan yang terjadi pada korban bersifat persetubuhan atau hanya pelecehan seksual saja. Bentuk dan karakteristik selaput dara sangat bervariasi. Pada jenisjenis selaput dara tertentu, adanya lipatan- lipatan dapat menyerupai robekan. Karena itu, pemeriksaan selaput dara dilakukan dengan traksi lateral dari labia minora secara perlahan, yang diikuti dengan penelusuran tepi selaput dara dengan lidi kapas yang kecil untuk membedakan lipatan dengan robekan. Pada penelusuran tersebut, umunya lipatan akan menghilang, sedangkan robekan tetap tampak dengan tepi yang tajam. Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokumentasi yang baik sangat penting. Selain melakukan pencatatan dalam rekam medis, perlu dilakukan pemotretan bukti-bukti fisik yang ditemukan. Foto-foto dapat membantu dokter membuat visum et repertum. Dengan pemotretan, korban juga tidak perlu diperiksa terlalu lama karena fotofoto tersebut dapat membantu dokter mendeskripsi temuan se- cara detil setelah pemeriksaan selesai. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dokter tidak membuktikan adanya perkosaan, dokter hanya membuktikan: • • Adanya persetubuhan Adanya kekerasan

• • • • • • •

Adanya penyakit hubungan seksual Adanya kehamilan Adanya kelainan psikiatriik Usia korban

Pembuktian persetubuhan: Adanya deflorasi hymen Laserasi vulva/ vagina Adanya cairan mani dan sel sperma dalam vagina terutama dalam forniks posterior Pembuktian kekerasan Jejak kekerasan dicari di: • • • • • • • • Perineum Wajah Leher Payudara Perut Paha

Usia korban Dapat diketahui bila identitas dan asal usulnya jelas Bila tidak jelas, dicari tanda medik untuk memperkirakannya, misalnya: o Telah haid > 12 tahun o Adanya tanda seks sekunder yang berkembang >15 tahun AIK • QS. Al-Isyra (32)

artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. • QS An Nur

Artinya : Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. • Orang yang melakukan tindak pemerkosaan semacam ini dihukum sebagaimana hukuman orang yang berzina. Jika dia sudah menikah maka hukumannya berupa dirajam, dan jika belum menikah maka dia dihukum cambuk 100 kali serta diasingkan selama satu tahun.Sebagian ulama mewajibkan kepada pemerkosa untuk memberikan mahar bagi wanita korban pemerkosaan. Imam Malik mengatakan, “Menurut pendapat kami, tentang orang yang memperkosa wanita, baik masih gadis maupun sudah menikah, jika wanita tersebut adalah wanita merdeka (bukan budak) maka pemerkosa wajib memberikan mahar kepada sang wanita. Sementara, jika wanita tersebut adalah budak maka dia wajib memberikan harta senilai kurang sedikit dari harga budak wanita tersebut. Adapun hukuman dalam masalah ini hanya diberikan kepada pemerkosa, sedangkan wanita yang

diperkosa tidak mendapatkan hukuman sama sekali.” (Al- Muwaththa’, 2: 734). (3) • wanita korban, tidak ada hukuman untuknya jika dia benar-benar diperkosa dan dipaksa oleh pelaku. Hal ini bisa diketahui dengan teriakannya atau permintaan tolongnya.” (Al- Istidzkar, 7: 146). (3)

DAFTAR PUSTAKA 1. Abraham S, Arif RS, Bambang PN, Gatot S, Hadi BS, Intarniati, Kris P, Rara R, Saebani, Santosa, Sigid KLB. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Foransik. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2012 2. Afandi D. Visum et Repertum pada Korban Hidup. Riau : Pendidikan Berkelanjutan II FK UR; 2008 3. Hukuman bagi pemerkosa. Or [home page on internet] Jurnal Salafiun. [cited: 2013 mei 6th] Availabel from : http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/18/hukuman-bagi-pemerkosa/ 4. Maj Kedokt Indon, Vol 60, Nomor 4, April 2010. 5. Merlia PDA. Prinsip Pemeriksaan dan Penetalaksanaan Korban (P3K) Kekerasan Seksual. 2012. [cited 2013 mei 6th] CDK-196/Vol.39 No.8

6. Septiani, Finidya. Hubungan Antara Usia dan Perlakuan Perkosaan dengan Lokasi Robekan Selaput Dara pada Kasus Kejahatan Seksual di RS Bhayangkara tingkat II. RS Sukanto. Th.2010. [Skripsi] Jakarta : UPNVJ ; 2011 7. Sofwan Dahlan. Ilmu Kedokteran Forensik. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2000

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->