P. 1
Makala h

Makala h

|Views: 17|Likes:
Published by Sushe Geulis

More info:

Published by: Sushe Geulis on May 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2013

pdf

text

original

0

MAKALAH “SEKOLAH DAN PESANTREN SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA “

Mata Kuliah : Sistem Penyelenggaraan Pendidikan Islam Dosen Pengampu : Dr. H. Achmad Asrori., MM

Disusun Oleh : 1. Arafik Udin 2. H. R Jati Abas NPM. 1203020026 NPM.

PROGRAM DOKTOR (S3) PENDIDIKAN ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG BANDAR LAMPUNG TA. 2013

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Di tengah arus globalisasi dan modernitas seperti sekarang ini, karakter dan moralitas bangsa menjadi satu dari sekian banyak persoalan utama yang dialami oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Bagi negaranegara kapitalis, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial untuk memasarkan berbagai produk budayanya. Selain memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, sebagian masyarakat Indonesia mempunyai sifat konsumtif dan latah sehingga sangat berpotensi dijadikan pangsa pasar yang menguntungkan bagi produk-produk dari bangsa lain. Meskipun tidak semua produk budaya asing menimbulkan dampak negatif, namun hendaknya kita perlu berhati-hati dengan menyaring produk-produk asing yang bernilai positif dan mana yang kurang bermanfaat bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan bangsa. Apabila tidak ada upaya untuk memilah dan memilih, maka akan menimbulkan persoalan di kemudian hari, salah satu yang paling riskan tentu saja perihal karakter generasi muda. Pentingnya pendidikan karakter sabagai upaya untuk mewujudkan manusia yang berkualitas. Namun dewasa ini masyarakat maupun sekolah cenderung sekadar memacu siswa untuk memiliki kemampuan akademik tinggi tanpa diimbangi pembentukan karakter yang kuat dan cerdas. Upaya sekolah maupun orang tua agar murid atau anaknya mencapai nilai akademis tinggi sangat kuat, tapi mengabaikan hal-hal yang non akademis.

1

untuk menjawab tantangan zaman yang terus berjalan menuju masa depan yang semakin kompleksdibutuhkan suatu strategi yang mampu mengintegrasikan kecerdasan spiritual. maka sebaiknya kita lebih bijak dalam menyikapinya atau menolak dengan cara yang elegan. apabila produk-produk budaya asing itu dicurigai dapat menimbulkan efek yang kurang baik. Apabila ada produk-produk budaya asing yang bernilai manfaat. Salah satu sektor yang paling berperan dalam hal ini adalah pendidikan baik itu pendidikan formal. tentunya tanpa harus meninggalkan karakter dan ciri khas lokal yang sudah ada sebelumnya. bahkan akan hilang. dan emosional para generasi bangsa. memilah. intelektual. seperti disiplin yang tinggi. Justru Indonesia harus segera berbenah dan berupaya sekuat tenaga agar dapat bersaing dengan negaranegara lain di berbagai sektor kehidupan. dan memilih bukan berarti menolak semua produk budaya asing yang masuk ke negeri ini. Indonesia bukanlah bangsa yang menutup diri dari pergaulan dengan bangsabangsa lain di dunia. Oleh karena itu. kerja keras. Sebaliknya.2 Peran Sekolah dan Pesantren sebagai Upaya Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia yang terancam luntur. dalam hal apapun. Upaya untuk menyaring. dan lainlain tidak menjadi masalah jika kita menerimanya. informal. maupun nonformal. Pendidikan yang baik adalah salah satu syarat utama yang harus dipenuhi untuk menjamin eksistensi suatu bangsa agar mampu bersaing dan . Suatu kerugian besar apabila anak-anak negeri ini tidak lagi memiliki karakter luhur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dengan adat ketimuran.

kekhasan kualitas seseorang yang membedakan dirinya dari orang lain. melainkan juga pendidikan yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan serta menghasilkan output yang tidak sekadar mampu bersaing di dunia kerja. dan negara. yaitu keunggulan akademik dan keunggulan nonakademik (termasuk keunggulan spiritual). menjadi tumpuan untuk melahirkan manusia baru Indonesia dengan karakter yang kuat. seperti kejujuran. dan spiritual. moral. Adapun karakter kuat ini dicirikan oleh kapasitas moral seseorang. Bagaimanapun pendidikan merupakan investasi peradaban manusia. serta ketegaran untuk menghadapi kesulitan. Tidak hanya itu. ketidakenakan. maka diperlukan pendidikan yang mencakup dua unsur utama. Dengan pendidikan yang bermutu dan tersistem dengan baik. Untuk mewujudkan hal itu. 2008:184). sistem pendidikan di sekolah formal memang menekankan pencapaian prestasi anak didik dalam hal . namun juga mampu menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. maupun nonformal. informal. Karakter bangsa yang kuat bisa diperoleh dari sistem pendidikan yang baik dan tidak hanya mementingkan faktor kecerdasan intelektual semata. Sekolah formal adalah contoh lembaga pendidikan yang berfokus pada faktor kecerdasan akademik meskipun tidak lantas mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual atau keagamaan. agama. dan kegawatan (Hidayat. pendidikan juga sangat berperan untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas tinggi dan seimbang antara unsur intelektual. bangsa. Hanya saja. maka karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang unggul akan terbentuk dan terpupuk dengan baik pula.3 sejajar dengan bangsa-bangsa lain. baik secara formal. Proses pendidikan sejak dini.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia (RI) menggagas program ini dengan tujuan untuk mencetak anak didik yang paham keilmuan umum sekaligus keilmuan keagamaan atau anak didik yang berpengetahuan umum serta mempunyai kepribadian religius. Apabila keunggulan dari kedua lembaga pendidikan itu dipadukan. Secara umum. maka akan tercipta sebuah kekuatan pendidikan yang kuat dan berpotensi mampu menghasilkan generasi muda Indonesia yang unggul.4 kecerdasan intelektual yang pada akhirnya bermuara pada berbagai ukuran akademik. Upaya pembentukan dan pemnagunan karakter bangsa kepada generasi muda. dan berkarakter. sederhana. Dengan kata lain. sudah banyak pondok pesantren modern yang mencerahkan sekaligus mencerdaskan. sekolah dan pondok pesantren merupakan dua lembaga pendidikan yang masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda satu sama lain. . Sementara itu. pondok pesantren menjadi salah satu pilihan lembaga pendidikan yang mengutamakan upaya pencerdasan spiritual atau keagamaan meskipun sekarang ini banyak pondok pesantren di Indonesia yang juga memberikan pengetahuan umum secara terintegrasi. dan mandiri. melalui lembaga pendidikan dapat terwujud berkat adanya program Sekolah Formal yang berbasis pondok pesantren. dan spiritual. emosional. Pilihan memadukan sistem pendidikan di sekolah formal dan di pondok pesantren ini diambil setelah melihat dan mengamati secara seksama mutu pendidikan yang dilahirkan oleh masing-masing sistem. yang mencakup kecerdasan intelektual. handal.

3 Tujuan Penulisan Penulisan ini mencoba menguraikan permasalahan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia dalam hal ini berkaitan dengan pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan di sekolah formal dan melalui pendidikan di Pondok Pesantren.5 1. .2 Rumusan Masalah a) Bagaimanakah Sistem Pendidikan di Sekolah Dalam Membangun Karakter Bangsa? b) Bagaimanakah Sistem Pendidikan Pesantren Dalam Membangun Karakter Bangsa? c) Bagaimanakah Penggabungan Sistem Pendidikan Sekolah Berbasis Pesantren Dalam Membangun Karakter Bangsa? 1.

atau perbuatan mendidik. karakter merupakan sesuatu yang mengkualifikasi seorang pribadi. 2008:352). kecerdasan. FW Foerster. MenurutUndang-Undang SistemPendidikan Nasional (UU Sisdiknas) No.1 Pendidikan Pengertian pendidikan secara harfiah adalah proses. pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (KBBI. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontinguen yang 6 . pengendalian diri. pendidikan dapat dimaknai sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. cara. serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut tokoh pendidikan karakter dari Jerman. kepribadian. Secara lebih rinci.6 BAB II KAJIAN TEORITIK 2. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran. Secara psikologi. 20 Tahun 2003. pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. akhlak mulia. tujuan pendidikan adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia.

dan menuju kebiasaan (habit). 2005:1270). Musfiroh (2008:27) mengatakan bahwa karakter mengacu pada serangkaian sikap perilaku (behavior). dan keterampilan (skill) yang meliputi keinginan untuk melakukan hal yang terbaik. 2. serta tabiat dasar. Untuk menjadi manusia yang berkarakter. 1992:53). Semiawan (Soedarsono.7 selalu berubah. akhlak. bertindak (acting). motivasi (motivation). seseorang tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai moral tanpa disertai adanya karakter . Watak sendiri dapat dimaknai sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. 2007:242).2 Pendidikan Karakter Istilah karakter mempunyai beberapa pengertian. sifat-sifat kejiwaan. Rosada (2009:108) menjelaskan bahwa karakter dapat dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing). Sementara itu. budi pekerti. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya itu jika dia tidak berlatih untuk melakukan kebaikan tersebut (Lickona. tetapi perlu adanya perlakuan dan kebiasaan untuk berbuat. watak. Karakter bukan hanya sebatas pada pengetahuan saja. 1999:17) karakter adalah keseluruhan kehidupan psikis seseorang yang merupakan hasil interaksi antara faktor endogin dan faktor eksogin atau pengalaman dari seluruh pengaruh lingkungan. Foerster mengatakan bahwa dari kematangan inilah kualitas seorang pribadi dapat diukur (Ali. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter diartikan sebagai tabiat. atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain (Pusat Bahasa.

yakni pengetahuan tentang moral (moral knowing). religius. simpati. Adapun yang termasuk dalam karakter bermoral. seseorang sedang mengalami fase pencarian jatidiri yang ditandai dengan kemampuan berpikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang kongkret. Fase ini disebut dengan nama Period of Formal Operation. dan lain-lain. perasaan tentang moral (moral feeling). dan intrapersonal intelligence (Rosada. logical-mathematical intelligence. pada tahap Period of Formal Operation juga sedang berkembang 7 (tujuh) kecerdasan yang disebut Multiple Intelligences. Ketiga hal ini diperlukan agar seseorang mampu memahami. pendidikan tidak bisa mengabaikan pentingnya pembentukan karakter. Dengan demikian. spatial intelligence. 2009:108). peduli. Usia sekolah terutam apada saat remaja menjadi masa pengembangan karakter yang paling penting dalam fase kehidupan manusia. merasakan dan mengerjakan sekaligus nilainilai kebajikan dalam kehidupan seharihari. Sebagaimana telah ditulis di . menurut Lickona (1992) adalah tiga komponen karakter (components of good character). dan perbuatan bermoral (moral actions). Pada usia ini. bodily-kinesthetic intelligence. atau yang kemudian dikenal sebagai pendidikan karakter. Adapun ketujuh jenis kecerdasan itu mencakup linguistic intelligence. seperti berpikir positif. rendah hati. Lantas apakah pendidikan karakter itu? Secara umum pendidikan karakter adalah suatu istilah untuk menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Selain itu. bahkan objek visual sekalipun. interpersonal-intelligence. jujur. musical intelligence.8 bermoral. empati.

pendidikan karakter merupakan proses .9 atas. Keempat. Kedua. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna menilai apa yang dipandang baik. Ketiga. Hidayat & Widjanarko (2008: 184) menjelaskan bahwa yang termasuk area pendidikan karakter antara lain: penalaran moral atau pengembangan kognitif. moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. resolusi konflik. tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Sedangkan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang telah dipilih. pendidikan kesehatan. serta filsafat etik atau moral. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. otonomi yang menjadikan seseorang dapat menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. pendidikan kebajikan moral. Foerster (Koesoema. Tidak adanya koherensi dapat meruntuhkan kredibilitas seseorang. Dengan demikian. Pertama. atau nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Hal ini dapat dilihat dari penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan dari pihak lain. membuat seseorang teguh pada prinsip. pembelajaran sosial dan emosional. Lickona (1992) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya penanaman dan pembentukan karakter yang menekankan pada pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character).2007:42-43) membagi ciri dasar dalam pendidikan karakter menjadi 4 (empat). keteguhan dan kesetiaan. yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral. koherensi yang memberi keberanian. pendidikan keterampilan hidup. pencegahan kekerasan.

lembaga pembinaan moral. Pendidikan karakter juga menjangkau proses penanaman nilai-nilai agama. Pesantren dapat disebut sebagai model lembaga pendidikan asli (indigenous) Indonesia. pendidikan karakter adalah upaya agar peserta didik mengenal. dan sejenisnya) memfokuskan sistem pendidikannya pada sektor kecerdasan intelektual atau akademik. Dengan kata lain. lembaga dakwah. Jika sekolah formal (SD. dari pendidikan di dalam keluarga. Pandangan tentang pondok pesantren sendiri cukup beragam. pesantren memang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan pengajaran dalam bidang agama Islam (Widiyanta & Miftahuddin. 2. yang dalam hal ini mempunyai persamaan bentuk . adatistiadat. hingga di kehidupan bermasyarakat. SMK. baik formal.10 yang terintegrasi dengan pendidikan secara luas dan bertahap. mutlak diperlukan. 2009:180-181). Sejak didirikan pertama kali. dan menginteranalisasi nilai-nilai sehingga mereka dapat berperilaku sebagai insan kamil (Syafaruddin. informal. SMA. atau nonformal). seperti pondok pesantren. Pondok Pesantren dapat dipandang sebagai lembaga ritual. SMP.3 Pendidikan Karakter di Sekolah Formal dan Pondok Pesantren Dalam konteks lembaga pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai agama atau spiritual. lembaga pendidikan (misalnya sekolah. dan estetika. budaya. maka pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mengutamakan pengajarannya pada sektor kecerdasan spiritual dan pendalaman ajaran agama Islam. peduli. 2012:192). atau lembaga pendidikan Islam.

11 dengan pendidikan model Hindu di India. namun tidak dapat dijumpai di dalam sistem pendidikan Islam yang asli di Mekah. Sama seperti sekolah formal. Unsur-unsur tersebut antara lain adalah seluruh sistem pendidikannya yang bersifat keagamaan. pesantren dapat diartikan sebagai tempat tinggal para santri. kitab sebagai buku. santri sebagai murid. Unsurunsur yang terdapat di lembaga pondok pesantren pun serupa dengan yang terdapat di sekolah formal. Istilah pondok barangkali berasaldari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu. pendalaman ajaran agama . Istilah pesantren sendiri berasal dari kata santri. pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar-mengajar. guru yang tidak mendapatkan gaji. 1994:18). Pesantren disebut dengan pondok karena sebelum tahun 1960-an. dan penghormatan yang besar terhadap guru. Arti kata santri sendiri adalah orang yang mendalami agama Islam. Oleh karena itu. Ada kiai sebagai guru.dan akhiran -an. pusat-pusat pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh. atau barangkali berasal dari bahasa Arab yang berarti hotel atau asrama (Dhofier. 2008:1266). pondok sebagai kelas dan asrama. yang mendapatkan imbuhan berupa awalan pe. Tampak ada beberapa unsur yang sama yang dapat ditemukan baik di dalam sistem pendidikan Hindu maupun pesantren di Indonesia. Pesantren kemudian lebih dikenal dengan sebutan yang lebih lengkap. atau orang yang saleh (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. yaitu pondok pesantren.

dan mengamalkan ajaran agama dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. dalam perkembangannya pada konteks pendidikan. dan lain sebagainya. Oleh karena itu. 2009:181). langsung dari bahasa Arab.12 (termasuk pengajaran kitab) sebagai mata pelajaran. Pondok Pesantren La Tansa di Jawa Barat. 1994:55). universitas. di Indonesia sekarang ini banyak pesantren yang memperbaharui konsepnya menjadi lebih modern. dan sekolah umum pun terkadang menjadi unsur-unsur seperti sebuah pondok pesantren. mendalami. seiring perkembangan zaman. gedung pertemuan. . Namun demikian. tempat olahraga. dapat dijelaskan bahwa pesantren adalah tempat yang di dalamnya anak-anak muda dan dewasa belajar secara lebih mendalam dan lebih lanjut tentang ilmu agama Islam yang diajarkan secara sistematis. dan didasarkan pada pembacaan kitab-kitab klasik karangan ulamaulama besar (Widiyanta & Miftahuddin. Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur. makna pondok pesantren pun menjadi meluas dan tidak sempit lagi. Kuntowijoyo (1991:251). Secara konkret. tempat keterampilan (kursus). Pendidikan di pondok pesantren seringkali dikategorikan ke dalam sistem pendidikan tradisional karena lembaga ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam di Indonesia (Mastuhu. menggambarkan tempat-tempat seperti madrasah. seperti Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam di Jawa Tengah. dan seterusnya. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang memahami.

Bahkan sejak tahun 1928. menghormati kemanusiaan yang beradab. menghormati hak-hak asasi manusia dan. Karena salah satu sumber inspirasi Pancasila adalah ajaran Islam yang ada dalam al Qur’an dan al Hadist. Karakter dasar bangsa Indonesia yang mampu dirumuskan oleh para founding father tersebut terangkum padat di dalam Pancasila. ketika tema nation and character building hangat dibicarakan (Tobroni: 2010). Dalam perintah dan larangan mengandung banyak sekali karakter yang harus dimiliki dan dijalankan oleh umat manusia. mampu dirumuskan dan disepakati oleh para founding fathers beberapa bulan sebelum negara-bangsa Indonesia di deklarasikan. Yang kedua. Salah satunya tidak berbuat curang kepada siapapun. maka tidak heran jika organisasi Islam terbesar di Indonesia. selalu memanusiakan manusia dalam menjalankan proses pembelajaran dan mengikat hubungan dengan yang lain. Sedangkan ketakwaan sendiri menyimpan makna yang sangat luas. . yaitu imtitsal al awamir wajtinabuhu al nawah (menjalankan perintah dan menjauhi larangan).4 Upaya Bangsa Indonesia Dalam Membangun Karakter Bangsa Indonesia sejak lama dikenal oleh bangsa-bangsa dunia sebagai bangsa yang memiliki akhlak atau karakter mulia.13 2. Dalam Pancasila tersimpan karakter bangsa yang sangat luhur. dengan tidak berbuat dholim kepada orang lain. Ketuhanan Yang Maha Esa menyimpan makna ketakwaan. Karakter mulia yang diwarisi dari tradisi adi luhung bangsa Nusantara tersebut.

14 Selanjutnya berupaya menjaga persatuan dengan selalu menggalang solidaritas dan menumbuhkan kerjasama atau gotong royong antar sesama manusia sebagai cara alamiah manusia hidup di dunia. apabila ada persoalan selalu menggunakan cara penyelesaian melalui jalan musyawarah yang menjunjung tinggi nilai demokrasi. Cita-cita yang akan diraih dalam menjalankan itu semua adalah menciptakan tatanan kehidupan sosial yang adil. Cita-cita ini merupakan puncak pencapaian manusia hidup di dunia. diharapkan akan membangun karakter . Pendidikan karakter bisa diberikan melalui mata pelajaran khusus. Dengan demikian. Di lembaga pendidikan formal. Pengembangan model pendidikan formal berbasis pesantren sebenarnya merupakan wujud upaya dalam memadukan keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah dengan keunggulan pelaksanaan sistem pendidikan di pondok pesantren. atau bisa juga melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Dengan diterapkannya prinsip-prinsip pendidikan karakter di sekolah formal.5 Memadukan Pendidikan Formal Berbasis Pesantren Dalam Pembentukan Karakter Bangsa Yang Unggul Upaya memadukan pendidikan sekolah formal dengan pondok pesantren akan menghasilkan sistem pendidikan yang lebih kuat dan lengkap. Karena itu. disisipkan ketika guru menyampaikan pelajaran di dalam kelas. 2. pendidikan karakter telah menjadi bagian dalam struktur dan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). masing-masing sekolah mempunyai kewajiban untuk menerapkan pola pendidikan karakter kepada anak didiknya.

patuh kepada orang yang patut dihormati. dan inovatif). menghargai keberagaman. menghormati orang yang lebih tua. . para santri yang belajar di pondok pesantren diharapkan mempunyai karakter keagamaan yang kuat. Pendidikan karakter yang diajarkan di pondok pesantren lebih terfokus untuk menanamkan jiwa religius. Keunggulan yang terdapat pada masing-masing lembaga pendidikan itu akan semakin bermakna apabila keduanya diintegrasikan ke dalam satu model satuan pendidikan yang dikelola secara terpadu atau yang kemudian dikenal sebagai model sekolah formal berbasis pesantren (SBP). kerja keras. Alhasil. patuh pada aturan sosial. memiliki akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. dan memberikan pemahaman tentang makna hidup. berpikir cakap (logis. sadar hak dan kewajiban. Jika sekolah formal berbasis pondok pesantren dikelola dengan baik.15 anak bangsa seperti yang dicita-citakan. disiplin. ingin tahu. maka hasil yang akan diperoleh pun juga berkualitas baik. mampu mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dengan baik. demokratis. berjiwa wirausaha. cinta ilmu. Adapun ciri karakter anak yang diharapkan dapat dicapai melalui pendidikan karakter di sekolah formal antara lain: bertanggungjawab. percaya diri. kesederhanaan. mandiri. kritis. bergaya hidup sehat. cinta lingkungan. akhlakul hasanah. menghargai karya orang lain. sopan-santun. dan lain-lain. serta mampu memaknai tentang kehidupan berdasarkan Alquran dan Hadist. Integrasi ini akan menjadi instrumen yang berharga bagi peningkatan mutu SDM di Indonesia sehingga menjadi manusia yang kompetitif dan komparatif serta mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus meninggalkan karakter bangsa. nasionalis. kreatif.

. memiliki integritas intelektual. dan berbangsa demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang madani.16 Lulusan Sekolah Formal Berbasis Pesantren diharapkan bisa menjadi manusia Indonesia yang handal. serta berwatak plural dan multikultural. spiritual. dan emosional. berkarakter. menghargai hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat. serta mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. bernegara.

Di sekolah. pembinaan peserta didik. program pendidikan disusun secara hierarkis dan sistematis. di sekolah juga terjadi proses sosialisasi antara peserta didik dan warga sekolah lainnya. Keempat. pengetahuan. Ketiga. Sistem pendidikan formal atau sekolah formal mempunyai beberapa keunggulan dalam upaya pengembangan peserta didik. peran seleksi sosial. sekaligus keterampilan yang akan dijadikan bekal hidup di tengah-tengah masyarakat. Keunggulan yang utama adalah pelaksanaan sistem pendidikan yang berjenjang (misalnya dari SD. yang mencakup pemberian legalitas (misalnya berupa ijazah atau sertifikat) dan seleksi terhadap peluang kerja. Pertama. SMP. aktivitas kemasyarakatan. serta adanya standarisasi pencapaian keberhasilan pendidikan.17 BAB III PEMBAHASAN 3. siswa atau peserta didik menjalani proses pembelajaran untuk memperoleh wawasan. Selain itu. yang meliputi sikap. pengetahuan. Dalam konteks ini. pendidikan. juga berfungsi sebagai wadah transformasi sosial dan budaya. terutama dengan guru atau pendidik. Kedua. Sistem pendidikan formal juga memberikan peserta didik 17 . dan penanaman nilai-nilai serta moralitas. hingga SMA). Tidak hanya itu. pengetahuan. dan keterampilan. Proses sosialisasi tersebut dapat terjalin melalui pengajaran ilmu. proses sosialisasi yang dilakukan oleh sekolah setidaknya mencakup empat dimensi.1 Pembentukan Karakter Bangsa di Sekolah Formal Lembaga pendidikan formal atau sekolah sebagai media pengembangan kualitas sumber daya manusia.

karakter yang lebih popular disebut dengan istilah akhlakul karimah merupakan tujuan utama penyelenggaraan pendidikan.18 berbagai materi yang terstruktur. Upaya tersebut misalnya dengan menyusun kurikulum yang dinamis dan fleksibel dengan penyediaan bahan ajar yang disusun secara sisrematis sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. 3. lembaga pendidikan formal atau sekolah pada akhirnya dapat berperan sebagai mitra pemerintah dalam memberikan kontribusi bagi pembentukan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Bahkan. di kalangan masyarakat umum di Indonesia. Dalam bahasa pesantren. Terlebih lagi. dan dibutuhkan. serta sistem pengelolaan sekolah yang lebih profesional. Selain itu. peningkatan kualitas juga ditujukan untuk para pendidik yang harus memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai dan bisa dipertanggungjawabkan. Pemerintah melalui kementerian terkait sesungguhnya sudah berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikan formal melalui berbagai cara dan langkah yang terus disempurnakan. akhlakul karimah menjadi . Dengan demikian. pendidikan formal masih menjadi tolak ukur bagi tingkat kecerdasan seseorang. Pemerintah juga mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana sebagai penunjang proses pendidikan. terutama yang diperlukan dalam dunia kerja. Strategi dan model pembelajaranpun telah dirumuskan dengan bentuk yang variatif dan berorientasi pada efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.2 Pembentukan Karakter Bangsa di Pondok Pesantren Pesantren merupakan pola pendidikan yang sangat konsen dalam pengembangan pendidikan karakter. faktual.

kemandirian. Keunggulan Pendidikan Pesantren di bandingkan pendidikan disekolah yaitu : a. dan kesederhanaan atau yang lebih tepatnya belajar prihatin karena semua fasilitasnya amat terbatas. menjalin kebersamaan. kiai menjadi semacam “living curriculum” yang mengawasi perilaku anak asuhn ya selama 24 jam. tak heran dalam komunitas pesantren. b. meskipun kadarnya masih sangat rendah jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum. tawassuth (moderat). mempertahankan kearifan budaya lokal dan tradisional. tenggang rasa. mengajarkan nilai-nilai kebenaran universal berupa tasaamuh (toleransi). c.19 variabel terpenting dalam pola pendidikan yang dikembangkan pesantren. toleransi. ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Muslim). Karena itu. berpengetahuan luas. dan berpikiran bebas. meski belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang . Dengan belajar di pondok pesantren selain memperoleh pendidikan agama dan budi pekerti. Pesantren memiliki prinsip selalu mengedepankan budi pekerti tinggi (akhlakul karimah). gotong royong. Di pondok pesantren diajarkan beberapa keterampilan sebagai bekal hidup mandiri. kesederhanaan. kemandirian. dan tawazun (berimbang). dan ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia) mencerminkan semangat pendidikan karakter. Kiai memiliki peran sentral dalam memantau perkembangan akhlak santri. juga memperoleh pendidikan umum. Pesantren telah lama mengembangkan model pendidikan karakter. Pengajaran budaya ikhlas. Penyelengaraan pendidikan pondok pesantren dalam bentuk asrama memungkinkan para santri untuk belajar disiplin. ukhuwwah watoniyyah (persaudaraan kebangsaan).

yaitu melestarikan nilai-nilai tradisional yang positif. Motto yang paling populer yangg menjadi dogma kuat santri. e. . Dengan demikian. Sistem pondok memungkinkan timbulnya semangat belajar tanpa henti dikalangan para santri. f. Sistem yang dikembangkan pondok pesantren lebih memungkinkan para santri berkompetisi secara realistis. Sistem pendidikan pondok pesantren merupakan cerminan dari keunggulan spiritual. pendidikan berbasis lokal ini proses pembelajarannya berlangsung hingga 24 jam (Kemdiknas. serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang lebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat. Pondok pesantren menciptakan ikatan persaudaraan diantara para santri tanpa paksaan. Pengembangan sikap egalitarian dikalangan para santri merupakan ciri dan kelebihan pondok pesantren. Apabila proses pembelajaran pada pendidikan formal rata-rata membutuhkan waktu selama 12 jam sehari. 2011:1). Mereka belajar agar mampu mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Pesantren juga dikenal sangat ketat dalam mengontrol perilaku santri dan masyarakat agar selalu sesuai dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. maka tidak dengan pondok pesantren. d. dengan jangkauan yang luas dan panjang menjadi modal dasar terpenting dalam membangun masyarakat madani.20 sedang berubah serta model pembangunan ekonomi yang disebutkan di muka. para lulusan pondok pesantren maupun mereka yang drop out lebih mandiri ketika kembali kelingkungan masyarakatnya. yang belajar dengan sadar bagi perbaikan dirinya. “al muhaafazhatu ‘alal qadiemis shalih wal akhdzu bil jadidiel ashlah”. bukan saja dalam prestasi belajar tetapi juga prestasi dalam berusaha dan bekerja.

para Sahabat. sebagai sub kultur Indonesia yang lebih adaptatif dan menghargai tradisi dan kearifan budaya lokal. para Wali yang beroperasi mengajarkan akhlak luhur di Nusantara. Tabi’in. ramah. para Imam. Tenaga yang tersimpan dalam khazanah keilmuan pesantren tersebut diwarisi dari tradisi yang cukup panjang. 2011:3). kedua. misi pendidikannya banyak ditekankan pada aspek moralitas dan pembinaan kepribadian. Selanjutnya. mulai dari Nabi Muhammad SAW. namun pelestarian tradisi dan budaya pesantren diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya membangun karakter bangsa yaitu budaya pesantren. kultur kemandirian dan interaksi sosial dengan masyarakat sekitar secara langsung dan berlangsung 24 jam sehari. pesantren dapat mengembalikan akar budaya Indonesia yang cinta damai. toleran. Keunggulan yang dimiliki pondok pesantren antara lain. hingga para Kiyai sepuh pemuka pondok pesantren di Indonesia .21 Sistem pendidikan di pesantren memiliki beberapa keunggulan yang tentunya memiliki kekhasan tersendiri. yang sangat mempengaruhi ritme perjalanannya. kharisma kiai sebagai pimpinan dan pengasuh lembaga pesantren menjadikan panutan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari. serta hubungan kiai dan santri yang bersifat kekeluargaan dengan kepatuhan yang tinggi (Kemdiknas. Meskipun saat ini pondok pesantren berada di tengah-tengah dunia yang berubah sangat cepat. penguasaan literatur klasik yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan moral yang berguna bagi pengembangan peradaban yang beretika.

Sistem pendidikan yang dinilai tepat untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah sistem pendidikan unggulan yang merupakan perpaduan antara dua sistem pendidikan yang telah dimiliki oleh Indonesia saat ini. Keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual anak bangsa multak dibutuhkan demi keberlangsungan masa depan bangsa ini. Sepanjang tahun 2011. Perpaduan sistem pendidikan sekolah menengah pertama dan pondok pesantren menuntut adanya harmonisasi antara dua keunggulan model pendidikan dalam satu lingkungan yang dikelola secara terpadu.22 3. Tujuan tersebut tentu saja baru bisa dicapai apabila ada tindakan-tindakan kongkret yang dipelopori oleh pemerintah melalui kementerian terkait bersama-sama dengan lembaga pendidikan dan masyarakat. saling mengisi. dan mengembangkan potensi sekolah didik agar menjadi sumber daya manusia Indonesia yang handal. Kecerdasan intelektual tanpa disertai dengan kecerdasan spiritual akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kehilangan karakter dan jati dirinya.3 Pembentukan Karakter Bangsa Melalui Perpaduan Sekolah Berbasis Pondok Pesantren Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2008 sedang menggalakkan program sekolah berbasis pondok pesantren sebagai salah satu upaya untuk mencerdaskan sekaligus mencerahkan anak bangsa. yaitu sistem pendidikan formal dan sistem pendidikan pondok pesantren. Kemdikbud telah melakukan berbagai langkah nyata untuk mewujudkan pelaksanaan program sekolah berbasis pondok .

Jenis workshop yang diselenggarakan adalah mencakup workshop pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sekolah berbasis pesantren dan workshop pengembangan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) sekolah berbasis pesantren. dan lain sebagainya. Tindakan kongkret itu antara lain menyelenggarakan berbagai workshop untuk sekolah. verifikasi sekolah berbasis pesantren tahun 2011. memberikan bantuan pembinaan dan pengembangan. Dengan penerapan sekolah berbasis pesantren diharapkan akan mampu menjadi salah satu solusi yang tepat dalam upaya menanamkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa Indonesia.23 pesantren. .

disiplin. nasionalis. sederhana. berjiwa wirausaha. cinta lingkungan. bekerja keras. demokratis. percaya diri.1 Kesimpulan Pendidikan karakter bagi generasi muda menjadi salah satu tuntutan yang harus dipenuhi dalam zaman globalisasi dan modernisasi seperti saat ini. Pendidikan formal mampu membentuk peserta didik yang bertanggung jawab. dan inovatif).24 BAB IV PENUTUP 4. rasa ingin tahu. menghargai keberagaman. kedua. kritis. sadar hak dan kewajiban. pesantren dapat mengembalikan akar budaya Indonesia yang cinta damai. akhlakul hasanah. bergaya hidup sehat. mandiri. patuh pada aturan sosial. Budaya pesantren juga memberikan kontribusi bagi upaya membangun karakter bangsa yaitu budaya pesantren. kreatif. berpikir cakap (logis. 24 . ramah. sebagai sub kultur Indonesia yang lebih adaptatif dan menghargai tradisi dan kearifan budaya lokal. Sedangkan pendidikan di pondok pesantren dapat membentuk peserta didik yang berjiwa religius. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai upaya agar karakter kebangsaan dan identitas pada generasi muda tidak luntur akibat tergerus perkembangan zaman. sopan-santun. toleran. dan memahami filosofis kehidupan. menghormati orang yang lebih tua. cinta ilmu. menghargai karya orang lain.

Jika. . Model pendidikan ini berupaya menggabungkan keunggulan dari dua sistem pendidikan ini dalam membentuk peserta didik yang berkarakter.25 Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah melalui kementerian terkait bersama-sama dengan lembaga pendidikan serta masyarakat untuk membentuk karakter generasi muda adalah melalui program sekolah menengah berbasis pondok pesantren. Penerapan sekolah berbasis pesantren duterapkan maka diharapkan akan mampu menjadi salah satu solusi yang tepat dalam upaya menanamkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa Indonesia yang lebih kuat.

Edisi ke-3. Kuntowijoyo. 2009. September 2009. W. 1992. Jakarta: Penerbit Salemba. 2001. Educating for Character How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. 1991. Pendidikan Remaja Antara Islam dan Ilmu Jiwa.. Jakarta: INIS. Jakarta: LP3ES. Jakarta: Grasindo. Character Building. Jakarta: Grasindo. hlm. Thomas. Hidayat. No. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. 2008. Psikologi Kaum Muda Pengguna Narkoba. Rosada. 2007. Komaruddin & Putut Widjanarko.Reza Indragiri.26 DAFTAR PUSTAKA Amriel. 2005. Doni. Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Az-Zabalawi. 2007. Gulo. Vol. Reinventing Indonesia Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Mastuhu. “Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS di SMP I dan SMP VI Mataram”. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2008. Bandung: Mizan. 6. Faisal. Pusat Bahasa Depdiknas. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai. Format-format Penelitian Sosial. 2002. Zamakhsyari. 2.Tadkiratun. New York: Bantam Books. Pendidikan Karakter. 2008. Sanapiah. 103-119. Metode Penelitian. Jakarta: PT Mizan Publika. Jakarta: Balai Pustaka. Muhammad Sayyid M. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. . Koesoema A. Musfiroh. Dhofier. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gema Insani. Lickona. dalam Jurnal SOCIA. 1994. 1994.

Syafaruddin. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Winarno. September 2009. 2012. Metode. 2008. Vol. 1999. 1998. 6. h. ”Kajian Historis Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta”. Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar. Widiyanta. dalam Jurnal SOCIA. Bandung: Tarsito. Jakarta: Elex Media Komputindo. Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat. Medan: Perdana Publishing. No. Teknik). 2. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. Kamus Bahasa Indonesia.27 Soedarsono. Soemarno. Danar & Miftahuddin. Surakhmad. 2009. . 179-194.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->