P. 1
pengertian-ijtihad

pengertian-ijtihad

|Views: 32|Likes:
Published by irhas86

More info:

Published by: irhas86 on May 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

AnneAhira.

com

Agama & Kepercayaan

Islam

Ijtihad

Memahami Pengertian Ijtihad
Ilustrasi pengertian ijtihad

Pemahaman dan pengertian ijtihad perlu diketahui oleh seorang muslim, agar tidak salah menentukan pilihan dan tidak salah menginterpretasikan Al-Quran dan hadis. Meskipun Al-Quran berisi pedoman hidup manusia, tidak berarti semua perintah dan peraturannya bersifat praktis. Oleh karena itu pengertian ijtihad banyak digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis.

Pengertian Ijtihad
Kata ijtihad secara harfiah berasal dari kata al-juhd, al-jahd, dan ath-thaqat yang berarti 'kesusahan', 'kesulitan', atau 'kesanggupan'. Adapun Pengertian ijtihad secara terminologis adalah sebuah usaha dengan sungguh-sungguh untuk memutuskan hukum suatu masalah atau perkara yang belum atau tidak ada dasar hukumnya atau tidak dibahas dalam Al-Quran dan Hadis dengan menggunakan akal sehat serta pertimbangan yang sangat matang. Berbagai pengertian ijtihad: 1. Secara terminologis, ijtihad bisa juga diartikan sebagai kesanggupan seorang ahli hukum Islam untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hukum atas suatu hal melalui dalil syara (agama). Ijthad dilakukan dalam berbagai bidang, seperti falsafat, muamalah, dan akidah. 2. Menurut Ibnu Hajib, ijtihad merupakan pengerahan segala kemampuan yang ada oleh seorang ahli fikih demi mendapat suatu dugaan kuat mengenai sebuah ketetapan syariah. 3. Menurut Dr. Wahbah az-Zuahily, ijtihad adalah suatu bentuk usaha untuk mengistimbatkan hukum syara dari dalil-dalilnya secara terperinci sehingga mudah diaplikasikan dalam kehidupan. 4. Menurut Imam al-Ghazali, ijtihad adalah sesuatu yang sifatnya lebih umum dari qiyas. Ini karena ijtihad kadang mengharuskan mujtahid (pelaku ijtihad)

melakukan pemahaman nalar mendalam terhadap suatu lafaz umum dan dalil lain selain qiyas. Tujuannya agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa AlQuran dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Ijtihad sebaiknya dilakukan oleh orang yang mengerti serta paham dengan baik tentang Al-Quran dan hadis, hal ini dilakukan agar yang dihasilkan adalah sesuatu yang baik yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an juga hadis. Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Swt. secara lengkap dan sempurna mencakup seluruh alam beserta isinya. Akan tetapi tidak semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail dalam Al-Quran maupun hadis. Maka dari itu demi memenuhi keperluan masyarakat atau umat manusia sebagai pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah diperlukan upaya Ijtihad. Al-Quran adalah landasan dasar ilmu dan bagi orang yang berakal boleh mengembangkannya. Akan tetapi kita tidak boleh menafsirkan Al-Quran dengan sekehendak hati dan melencengkan dari arti yang sesungguhnya, seolah Al-Quran ikut akal manusia padahal sesungguhnya akal-lah yang harus mengikuti Al-Quran. Maka dalam berijtihad hendaknya mencari kemiripan yang terdapat dalam Al-Quran atau yang mendekati dalam hadis. Selain tersebut di atas ada perbedaan keadaan pada saat diturunkannya Al-Quran dengan kehidupan setelahnya. Terlebih pada saat ini yang disebut dengan era modern, di mana setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan memerlukan peraturan peraturan baru dalam melaksanakan ajaran Islam yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Ijtihad - Sejarahnya
Ijtihad telah dilakukan oleh para sahabat sepeninggalnya Rasulullah dan diikuti ulama ulama hingga saat ini. Sebagai contoh Abu Bakar as-Siddiq, beliau apabila menemui perselisihan maka hal pertama yang dilakukan adalah merujuk kepada Al-Quran. Jika tidak ditemukan maka ia menggunakan hadis nabi. Namun jika tidak ditemukan atau ragu dengan hukum yang didapat maka beliau mengumpulkan para sahabat untuk melakukan musyawarah. Apabila musyawarah telah dicapai mufakat beliau pun sepakat dengan pendapat yang dihasilkan dan memutuskan hukum sesuatu yang dipermasalahkan serta mengikutinya. Orang orang yang berijtihad ini disebut mujtahid.

Pengertian Ijtihad - Jenis-Jenisnya

Ada 6 jenis ijtihad yang masing-masing memiliki pengertian ijtihadnya sendiri. Inilah keenam jenis ijtihad tersebut:

1. Ijma
Ijmak secara harfiah berarti 'kesepakatan' atau 'setuju dengan suatu hal'. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis ijma adalah kesepakatan para mujtahid (orangorang yang berijtihad) mengenai hukum suatu peristiwa yang terjadi saat Rasulullah wafat. Contoh ijma adalah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertaman selepas wafatnya Nabi Saw. Pada saat itu tidak semua muslim setuju dengan ide pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Akan tetapi setelah berijtihad, kaum muslim mencapai kata mufakat.

2. Qias
Qias secara harfiah berarti 'membandingkan', 'mengukur', atau 'menyamakan'. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis qias adalah kesepakatan untuk menetapkan hukum atas sesuatu (kejadian atau benda) yang tidak ada dasar nashnya dengan membandingkan kejadian tersebut dengan kejadian yang sifat dan nilainya setara. Contoh qias adalah penentuan hukum bagi narkoba. Narkoba adalah haram hukumnya, seperti minuman keras. Para mujtahid menyepakati bahwa narkoba memiliki sifat dan pengaruh yang sama dengan minuman keras, maka hukumnya sama-sama haram.

3. Istihsan
Istihsan secara harfiah berarti 'mencari yang baik' atau 'menganggap baik'. Sementara itu menurut istiah, pengertian ijtihad jenis istihsan adalah kesepakatan untuk meninggalkan hukum yang mengatur suatu peristiwa dan menggantinya dengan hukum lain dari peristiwa yang sama, karena terdapat dalil yang mewajibkan umat muslim untuk meninggalkannya. Contoh istihsan adalah ketika hukum melarang jual beli (ijab kabul) terhadap benda yang tidak ada dan belum diketahui wujudnya, para ulama berijtihad untuk memperbolehkan istihsan pada jual beli dengan pemesanan, sewa menyewa, dan sebagainya yang ketika akad jual beli bendanya tidak ada.

4. Maslahah mursalah
Pengertian ijtihad jenis maslahah mursalah adalah ketetapan ketika hukum syar'i tidak mengatur suatu kejadian, tetapi tidak ada dalil yang melarang kejadian tersebut. Contoh maslahah mursalah adalah pembentukan lembaga penjara, pemungutan pajak, pencetakan mata uang, dan sebagainya.

5. Urf
Urf secara harfiah berarti 'kebiasaan'. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis urf adalah penetapan hukum mengenai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan tradisi, yang tidak melanggar hukum Al-Quran dan hadis. Contoh penerapan urf adalah halalnya jual beli tanpa mengucapkan ijab kabul secara lisan karena penjual dan pembeli sudah saling mengerti maksud satu sama lain tanpa harus dilisankan.

6. Istishab
Istishab secara harfiah berarti 'pengakuan akan suatu hubungan'. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis istishab adalah penetapan hukum atas sesuatu dengan bercermin pada peristiwa sebelumnya karena belum ditemukannya dalil terkait peristiwa tersebut. Contoh penerapan istishab adalah ketika mujtahid harus mencari tahu hukum tentang sebuah perjanjian tetapi ia tidak menemukan jawabannya. Lantas ia menetapkan hukum berdasarkan peristiwa yang sama sebelumnya.

Pengertian Ijtihad - Contoh Kasusnya
Salah satu contoh ijtihad yang sering dilakukan untuk saat ini adalah tentang penentuan tanggal 1 Syawal. Dalam kasus tersebut, para ulama berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan argumen masing-masing untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal. Begitu juga dengan penentuan awal Ramadhan. Masing-masing ulama memiliki dasar hukum dan cara dalam penghitungannya, apabila telah ketemu kesepakatan ditentukanlah 1 Syawal itu. Contoh lain adalah tentang bayi tabung, pada zamannya Rasulullah teknologi bayi tabung belum ada. Akhir-akhir ini bayi tabung dijadikan solusi oleh orang yang memiliki masalah dengan kesuburan. Pasangan yang sulit mendapatkan keturunan berharap dapat memenuhi pemecahan masalah agar dapat memperoleh keturunan dengan cara ini. Para ulama telah merujuk kepada hadis-hadis agar dapat menemukan hukum yang telah dihasilkan oleh teknologi ini. Di Indonesia, MUI menyatakan bahwa bayi tabung dari sperma dan ovum sepasang suami istri yang sah hukumnya mubah (boleh) karena hal ini merupakan ikhtiar yang berdasarkan agama. Allah sendiri mengajarkan kepada manusia untuk selalu berusaha dan berdoa. Sementara itu, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari suami istri yang menitipkan ke rahim perempuan lain, jika ada yang demikian maka hal ini memiliki hukum haram. Alasannya karena akan menimbulkan masalah yang rumit di kemudian hari terutama soal warisan.

Dalam Islam anak yang berhak mendapat warisan adalah anak kandung, jika demikian bagaimana status hubungan anak dari hasil titipan tersebut? Dikandung tetapi bukan milik sendiri, jadi hanya sekadar pinjam tempatnya saja, tentu hal ini membuat rumit. Demikianlah pengertian ijtihad yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah dan para ulama sampai saat ini yang tetap mencari rujukan terlebih dahulu dari Al-Quran dan hadis Nabi Saw. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan Anda seputar penetapan hukum dalam Islam. Wallahualam. Tolong di SHARE : Share

Artikel Terkait
            Makalah Tentang Ijtihad: Syarat-Syarat Mujtahid Pengertian Muamalah, Ibadah, serta Akidah dalam Islam Segelintir Tantangan Dakwah Kita Ijtihad Sebagai Sumber Hukum Islam Meluruskan Pengertian Ittihad Pelaksanaan Hukum Islam dari Waktu ke Waktu Berbagi Cerita tentang Dakwah Mengenal Macam-Macam Ijtihad Mengenal Tingkatan Mujtahid Dalam Makalah Ijtihad Mewaspadai Jaringan Islam Liberal Manfaat Mempelajari Sejarah Dakwah Islam Sejarah Ijtihad dan Jenis Ijtihad
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook

Beranda | Privacy
Kantor Pusat : Jl. Bojong Sereh No.668 Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->