DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL SEKSI 6.

1 LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT

6.1.1. 1)

UMUM Uraian Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal berikutnya. Lapis Resap Pengikat harus dihampar di atas permukaan yang bukan beraspal (misalnya Lapis Pondasi Agregat), sedangkan Lapis Perekat harus dihampar di atas permukaan yang beraspal (seperti Lapis Penetrasi Macadam, Laston, Lataston dll).

2)

Pekerjaan seksi lain yang berkaitan dengan seksi ini a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Pemeliharaan Lalu Lintas Rekayasa Lapangan Bahan dan Penyimpanan Pelebaran Perkerasan Bahu Jalan Lapis Pondasi Agregat Lapis Pondasi Semen Tanah Campuran Aspal Panas Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama Pengembalian kondisi bahu jalan lama pada jalan berpenutup aspal : : : : : : : : : : Seksi 1.8 Seksi 1.9 Seksi 1.11 Seksi 4.1 Seksi 4.2 Seksi 5.1 Seksi 5.4 Seksi 6.2 Seksi 8.1 Seksi 8.2

3)

Standar Rujukan Standar Nasional Indonesia (SNI) : Pd S-02-1995-03 (AASHTO M82 - 75) Pd S-01-1995-03 (AASHTO M208 - 87) AASHTO : AASHTO M20 - 70 AASHTO M140 - 88 AASHTO M226 - 80 : Penetration Graded Asphalt Cement : Emulsified Asphalt : Viscosity Graded Asphalt Cement : Spesifikasi Aspal Cair Penguapan Sedang : Spesifikasi Aspal Emulsi Kationik

VI - 1

Brirish Standard : BS 3403 4) : Industrial Tachometers

Kondisi cuaca yang diijinkan untuk bekerja Lapisan Resap Pengikat harus disemprot hanya pada permukaan yang kering atau mendekati kering, dan Lapis Perekat harus disemprot hanya pada permukaan yang benar-benar kering. Penyemprotan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat tidak boleh dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan.

5)

Mutu pekerjaan dan perbaikan dari pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi dan tampak merata, tanpa adanya bagian-bagian yang beralur atau kelebihan aspal. Untuk Lapis Perekat, harus melekat dengan cukup kuat di atas permukaan yang disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik-bintik, sebagai akibat dari bahan aspal yang didistribusikan sebagai butir-butir tersendiri dapat diterima asalkan penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran pemakaiannya memenuhi ketentuan. Untuk Lapis Resap Pengikat, setelah proses pengeringan, bahan aspal harus sudah meresap ke dalam lapis pondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal yang dapat ditunjukkan dengan permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga (porous). Tekstur untuk permukaan lapis pondasi agregat harus rapi dan tidak boleh ada genangan atau lapisan tipis aspal atau aspal tercampur agregat halus yang cukup tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau. Perbaikan dari Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat yang tidak memenuhi ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk pembuangan bahan yang berlebihan, penggunaan bahan penyerap (blotter material), atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil pada Lapis Resap Pengikat harus segera diperbaiki menurut Seksi 8.1 dan Seksi 8.2 dari Spesifikasi ini. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar lubang yang besar atau kerusakan lain yang terjadi dibongkar dan dipadatkan kembali atau penggantian lapisan pondasi diikuti oleh pengerjaan kembali Lapis Resap Pengikat.

6)

Pengajuan kesiapan kerja Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut ini kepada Direksi Pekerjaan : a) Lima liter contoh dari setiap bahan aspal yang diusulkan oleh Kontraktor untuk digunakan dalam pekerjaaan dilengkapi sertifikat dari pabrik pembuat-nya dan hasil pengujian seperti yang disyaratkan dalam Pasal 1.11.1.(3).(c), diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai. Sertifikat tersebut harus menjelas-kan bahwa bahan aspal tersebut memenuhi ketentuan dari Spesifikasi dan jenis yang sesuai untuk bahan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat, seperti yang ditentukan pada Pasal 6.1.2 dari Spesifikasi ini. Catatan kalibrasi dari semua instrumen dan meteran pengukur dan tongkat celup ukur untuk distributor aspal, seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(3) dan 6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini, yang harus diserahkan paling lambat 30 hari sebelum pelaksanaan dimulai. Tongkat celup ukur, alat instrumen dan meteran pengukur harus dikalibrasi

b)

VI - 2

sampai memenuhi akurasi, toleransi ketelitian dan ketentuan seperti diuraikan dalam Pasal 6.1.3.(4) dari Spesifikasi ini dan tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi satu tahun sebelum pelaksanaan dimulai. c) d) Grafik penyemprotan harus memenuhi ketentuan Pasal 6.1.3.(5) dari Spesifikasi ini dan diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai. Contoh-contoh bahan yang dipakai pada setiap hari kerja harus dilaksanakan sesuai dengan Pasal 6.1.6 dari Spesifikasi ini. Laporan harian untuk pekerjaan pelaburan yang telah dilakukan dan takaran pemakaian bahan harus memenuhi ketentuan Pasal 6.1.6 dari Spesifikasi ini.

7)

Kondisi tempat kerja a) Pekerjaan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga masih memung-kinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang dilaksanakan dan hanya menimbulkan gangguan yang minimal bagi lalu lintas. Bangunan-bangunan dan benda-benda lain di samping tempat kerja (struktur, pepohonan dll.) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor karena percikan aspal. Bahan aspal tidak boleh dibuang sembarangan kecuali ke tempat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Kontraktor harus melengkapi tempat pemanasan dengan fasilitas pencegahan dan pengendalian kebakaran yang memadai, juga pengadaan dan sarana pertolongan pertama.

b) c) d)

8)

Pengendalian Lalu Lintas a) b) Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan Seksi 1.8, Pemeliharaan Lalu Lintas dan Pasal 6.1.5 dari Spesifikasi ini. Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap dampak yang terjadi bila lalu lintas yang dijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang baru dikerjakan.

6.1.2. 1)

BAHAN Bahan Lapis Resap Pegikat a) Bahan aspal untuk Lapis Resap Pengikat haruslah salah satu dari berikut ini : i) Aspal emulsi reaksi sedang (medium setting) atau reaksi lambat (slow setting) yang memenuhi AASHTO M140 atau Pd S-01-1995-03 (AASHTO M208). Umumnya hanya aspal emulsi yang dapat menunjukkan peresapan yang baik pada lapis pondasi tanpa pengikat yang disetujui. Aspal emulsi harus mengandung residu hasil penyulingan minyak bumi (aspal dan pelarut) tidak kurang dari 50 % dan mempunyai penetrasi aspal tidak kurang dari 80/100. Aspal emulsi untuk Lapis Resap pengikat ini tidak boleh diencerkan di lapangan. Aspal semen Pen. 80/100 atau Pen. 60/70, memenuhi AASHTO M20, diencerkan dengan minyak tanah (kerosen). Proporsi minyak tanah yang digunakan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, setelah percobaan di atas lapis
VI - 3

ii)

1. terbebas dari butiran-butiran berminyak atau lunak. pemanasan.1. Distributor aspal juga harus dilengkapi pipa semprot tangan.4. diencerkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal.8 (2.4 liter per meter persegi.3.15 sampai 2. 2) Distributor Aspal . 60/70 atau Pen.(2). dipasang pada jarak yang sama yaitu 10 ± 1 cm. Inggris. perbandingan pemakaian minyak tanah pada percobaan pertama harus dari 80 bagian minyak per 100 bagian aspal semen (80 pph kurang lebih ekivalen dengan viskositas aspal cair hasil kilang jenis MC-30). b) 6. Bilamana dimuati penuh maka tekanan ban pada pengoperasian dengan kecepatan penuh tidak boleh melampaui tekanan yang direkomendasi pabrik pembuatnya.pondasi atas yang telah selesai sesuai dengan Pasal 6. Kecuali diperintah lain oleh Direksi Pekerjaan.4 . pemompaan dan penyemprotan harus sesuai dengan ketentuan pengamanan dari Institute of Petroleum. harus dirancang. Tidak kurang dari 98 persen harus lolos ayakan ASTM 3/8” (9. dipelihara dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan panas yang sudah merata dapat disemprotkan secara merata dengan berbagai variasi lebar permukaan.36 mm).Batang Semprot a) Distributor aspal harus berupa kendaraan beroda ban angin yang bermesin penggerak sendiri. diperlengkapi. 80/100 yang memenuhi ketentuan AASHTO M20. Aspal semen Pen. 1) PERALATAN Ketentuan Umum Kontraktor harus melengkapi peralatannya terdiri dari penyapu mekanis dan atau kompresor. distributor aspal. b) Bilamana lalu lintas diijinkan lewat di atas Lapis Resap Pengikat maka harus digunakan bahan penyerap (blotter material) dari hasil pengayakan kerikil atau batu pecah. pada takaran yang ditentukan dalam rentang 0. Batang semprot harus terpasang dengan jumlah minimum 24 nosel. Alat penyemprot.5 mm) dan tidak lebih dari 2 persen harus lolos ayakan ASTM No. peralatan untuk memanaskan bahan aspal dan peralatan yang sesuai untuk menyebarkan kelebihan bahan aspal. 2) Bahan Lapis Perekat a) Aspal emulsi jenis Rapid Setting yang memenuhi ketentuan AASHTO M140 atau Pd S-011995-03 (AASHTO M208). Distributor aspal harus dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah horisontal dan vertikal. Sistem tangki aspal. b) c) d) VI . bahan kohesif atau bahan organik. memenuhi peraturan keamanan jalan. Direksi Pekerjaan dapat mengijinkan penggunaan aspal emulsi yang diencerkan dengan perbandingan 1 bagian air bersih dan 1 bagian aspal emulsi.

berdasarkan pada keluaran aspal dari nosel. dan peralatan untuk mengukur kecepatan lambat. Buku petunjuk pelaksanaan harus menunjukkan diagram aliran pipa dan semua petunjuk untuk cara kerja alat distributor. minimum garis tengah arloji 70 mm ± 2 persen dari total volume tangki.250 ºC. 5) Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaaan Distributor aspal harus dilengkapi dengan Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot.3. nilai maksimum garis skala Tongkat Celup 50 liter. tongkat celup yang telah dikalibrasi. meteran tekanan. rentang 0 . Grafik Penyemprotan juga harus memperlihatkan tinggi batang semprot dari permukaan jalan dan kedudukan sudut horisontal dari nosel semprot.(4) dari Spesifikasi ini. setiap saat. 4) Toleransi Peralatan Distributor Aspal Toleransi ketelitian dan ketentuan jarum baca yang dipasang pada distributor aspal dengan batang semprot harus memenuhi ketentuan berikut ini : Ketentuan dan toleransi yang dijinkan : Tachometer pengukur kecepatan kendaraan Tachometer pengukur kecepatan putaran pompa Pengukur suhu Pengukur volume atau tongkat celup : : : : ± 1. Setiap distributor yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan kiner-janya tidak dapat diterima bila VI . dalam keadaan baik.5 .5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan BS 3403 ± 5 ºC.3) Perlengkapan Perlengkapan distributor aspal harus meliputi sebuah tachometer (pengukur kecepatan putaran). 6) Kinerja Distributor Aspal a) Kontraktor harus menyiapkan distributor lengkap dengan perlengkapan dan operatornya untuk pengujian lapangan dan harus menyediakan tenaga-tenaga pembantu yang dibutuhkan untuk tujuan tersebut sesuai perintah Direksi Pekerjaan. Keluaran aspal pada nosel (liter per menit) dalam keadaan konstan.1. untuk menjamin adanya tumpang tindih (overlap) semprotan yang keluar dari tiga nosel (yaitu setiap lebar permukaan disemprot oleh semburan tiga nosel). sebuah termometer untuk mengukur temperatur isi tangki. Selanjutnya catatan kalibrasi yang teliti dan memenuhi ketentuan tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan BS 3403 ± 1. beserta tekanan penyemprotannya harus diplot pada grafik penyemprotan. Seluruh perlengkapan pengukur pada distributor harus dikalibrasi untuk memenuhi toleransi yang ditentukan dalam Pasal 6. Grafik Penyemprotan harus memperlihatkan hubungan antara kecepatan dan jumlah takaran pemakaian aspal yang digunakan serta hubungan antara kecepatan pompa dan jumlah nosel yang digunakan.

Sebagai alternatif.5 meter dari tepi bidang yang disemprot atau dalam jarak 10 m dari titik awal penyemprotan. kertas tidak boleh dipasang dalam jarak kurang dari 0. Batang semprot yang dilengkapi dengan lubang pengatur keluarnya aspal (nosel). Ketelitian yang dapat dicapai distributor aspal terhadap suatu takaran sasaran pemakaian alat semprot harus diuji dengan cara yang sama dengan pengujian distribusi melintang pada butir (b) di atas.6 . Untuk tujuan pengujian ini minimum 70 persen dari kapasitas distributor aspal harus disemprotkan. c) 7) Peralatan Penyemprot Aspal Tangan (Hand Sprayer) Bilamana diijinkan oleh Direksi Pekerjaan maka penggunaan perlatan penyemprot aspal tangan dapat dipakai sebagai pengganti distributor aspal. yang diambil sebagai harga rata-rata dari semua kertas resap tidak boleh berbeda lebih dari 5 persen dari takaran sasaran.(3). yang beratnya harus ditimbang sebelum dan sesudah disemprot. terdiri dari : a) b) c) Tangki aspal dengan alat pemanas. maka peralatan tersebut tidak diperkenankan untuk dioperasikan dalam pekerjaan.dioperasikan sesuai dengan Grafik Takaran Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan atau tidak memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi dalam segala seginya. Pompa yang memberikan tekanan ke dalam tangki aspal sehingga aspal dapat tersemprot keluar. Takaran pemakaian. takaran pemakaian rata-rata dapat dihitung dari pembacaan tongkat ukur yang telah dikalibrasi.1.(g) dari Spesifikasi ini. Lintasan penyemprotan minimum sepanjang 200 meter harus dilaksanakan dan kendaraan harus dijalankan dengan kecepatan tetap sehingga dapat mencapai takaran sasaran pemakaian yang telah ditentukan lebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan. Setiap modifikasi atau penggantian distributor aspal harus diuji terlebih dahulu sebelum digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan. seperti yang ditentukan dalam Pasal 6. Perlengkapan utama peralatan penyemprot aspal tangan harus selalu dijaga dalam kondisi baik. Perbedaan berat harus dipakai dalam menentukan takaran aktual pada tiap lembar dan perbedaan tiap lembar terhadap takaran rata-rata yang diukur melintang pada lebar penuh yang telah disemprot tidak boleh melampaui 15 persen takaran rata-rata. Dengan minimum 5 penampang melintang yang berjarak sama harus dipasang 3 kertas resap yang berjarak sama. b) Penyemprotan dalam arah melintang dari takaran pemakaian aspal yang dihasilkan oleh distributor aspal harus diuji dengan cara melintaskan batang semprot di atas bidang pengujian selebar 25 cm x 25 cm yang terbuat dari lembaran resap yang bagian bawahnya kedap. VI . Agar diperoleh hasil penyemprotan yang merata maka Kontraktor harus menyediakan tenaga operator yang terampil dan diuji coba dahulu kemampuannya sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan.4.

: Sesuai dengan jenis permukaan yang akan menerima pelaburan dan jenis bahan aspal yang akan dipakai.4. semua kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki menurut Seksi 8.2 sampai 1.6. bila jenis dari permukaan yang akan disemprot atau jenis dari bahan aspal berubah. Biasanya takaran pemakaian yang didapatkan akan berada dalam batas-batas sebagai berikut : Lapis Resap Pengikat : 0.(1) untuk jenis takaran pemakaian lapis aspal.7 Lapis Perekat . Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaru baja atau dengan cara lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan dan bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci dengan air dan disapu. permukaan yang hanya mengandung agregat halus tidak akan diterima. Untuk pelaksanaan Lapis Resap Pengikat di atas Lapis Pondasi Agregat Kelas A.4. VI . b) c) d) e) f) g) h) 2) Takaran dan Temperatur Pemakaian Bahan Aspal a) Kontraktor harus melakukan percobaan lapangan di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat (liter per meter persegi) dan percobaan tersebut akan diulangi. Sebelum penyemprotan aspal dimulai.1. Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan disemprot. Permukaan yang akan disemprot itu harus dipelihara menurut standar butir (a) dan butir (b) di atas sebelum pekerjaan pelaburan dilaksanakan. 6.4. Lihat Tabel 6. Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan pada perkerasan jalan baru atau bahu jalan baru. 5. 5. 4.4.4 sampai 1. perkerasan atau bahu itu harus telah selesai dikerjakan sepenuhnya.0 liter per meter persegi untuk Lapis Pondasi Semen Tanah. menurut Seksi 4. sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.3. atau 6.2. permukaan akhir yang telah disapu harus rata.1 dan Seksi 8. Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah disiapkan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.1.3 liter per meter persegi untuk Lapis Pondasi Agregat Kelas A 0. penyapuan tambahan harus dikerjakan manual dengan sikat yang kaku. bermosaik agregat kasar dan halus. permukaan harus dibersihkan dengan memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya. rapat. 1) PELAKSANAAN PEKERJAAN Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal a) Apabila pekerjaan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan pada permukaan perkerasan jalan yang ada atau bahu jalan yang ada.1. 6.6 dari Spesifikasi ini yang sesuai dengan lokasi dan jenis permukaan yang baru tersebut.1.2 dari Spesifikasi ini. Bilamana peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang benar-benar bersih.

Kecepatan pompa. Rentang Suhu Penyemprotan 110 ± 10 ºC 70 ± 10 ºC 45 ± 10 ºC 30 ± 10 ºC Tidak dipanaskan Tidak dipanaskan c) Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang-ulang pada temperatur tinggi haruslah dihindari.4. 25 pph minyak tanah Aspal cair. Tabel 6. 100 pph minyak tanah Aspal cair. Permukaan baru atau aspal lama yang licin 0. 3) Pelaksanaan Penyemprotan a) Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan harus diukur dan ditandai.0. Suhu penyemprotan untuk aspal cair yang kandungan minyak tanahnya berbeda dari yang ditentukan dalam daftar ini. Setiap bahan yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan. lebih dari 100 pph minyak tanah Aspal emulsi atau aspal emulsi yang di-encerkan Catatan : Tindakan yang sangat hati-hati harus dilaksanakan bila memanaskan setiap aspal cair. Khususnya untuk Lapis Resap Pengikat.20 . Alat penyemprot aspal harus dioperasikan sesuai grafik penyemprotan yang telah disetujui. kecuali jika penyemprotan dengan distributor tidaklah praktis untuk lokasi yang sempit. Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal harus disemprot dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang diperintahkan.1. lereng melintang yang besar atau permukaan yang tidak rata. temperaturnya dapat diperoleh dengan cara interpolasi.1.(1).20 0.1.8 .1. kecepatan kendaraan.b) Suhu penyemprotan harus sesuai dengan Tabel 6.50 0.35 0.4. Direksi Pekerjaan dapat menyetujui pemakaian penyemprot aspal tangan (hand sprayer).40 . 50 pph minyak tanah (MC-70) Aspal cair.4.(2).40 Permukaan porous dan terekpos cuaca 0. : Takaran Pemakaian Lapis Perekat Takaran (liter per meter persegi) pada Jenis Aspal Aspal Cair Aspal Emulsi Aspal Emulsi yang diencerkan ( 1 : 1 ) Catatan : * Takaran pemakaian yang berlebih akan mengalir pada bidang permukaan yang terjal. telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus ditolak dan harus diganti atas biaya Kontraktor.15 0. batas-batas lokasi yang disemprot harus ditandai dengan cat atau benang. ketinggian batang semprot dan b) VI .15 . : Suhu Penyemprotan Jenis Aspal Aspal cair.00 * Tabel 6.(1).0. kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan. 75 pph minyak tanah (MC-30) Aspal cair.

(2). khususnya untuk Lapis Perekat.1. harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah dipakai dibagi luas bidang yang disemprot.penempatan nosel harus disetel sesuai ketentuan grafik tersebut sebelum dan selama pelaksanaan penyemprotan. Jumlah pemakaian bahan aspal pada setiap kali lintasan penyemprotan harus segera diukur dari volume sisa dalam tangki dengan meteran tongkat celup. dalam toleransi berikut ini : ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ d) f) g) ⎛ 1 % dari volume tan ki Toleransi takaran pemakaian = ± ⎜ ⎜ 4 % dari takaran yang diper int ahkan + Luas yang disemprot ⎝ Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan penyemprotan berikutnya dilaksanakan dan bila perlu diadakan penyesuaian untuk penyemprotan berikutnya. Setelah pelaksanaan penyemprotan. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai seluruh batas bahan pelindung tersemprot.1.9 . Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan yang cukup kedap. Tempat-tempat yang disemprot dengan Lapis Resap Pengikat yang menun-jukkan adanya bahan aspal berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap (blotter material) yang memenuhi Pasal 6. h) i) Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada ketidaksempurnaan peralatan semprot pada saat beroperasi. Takaran pemakaian rata-rata yang dicapai harus sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan menurut Pasal 6. Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira 5 meter sebelum daerah yang akan disemprot dengan demikian kecepatan lajunya dapat dijaga konstan sesuai ketentuan.4. Demikian pula lebar yang telah disemprot harus lebih besar dari pada lebar yang ditetapkan. c) Bila diperintahkan. bahwa lintasan penyemprotan bahan aspal harus satu lajur atau setengah lebar jalan dan harus ada bagian yang tumpang tindih (overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur yang bersebelahan. dengan demikian seluruh nosel bekerja dengan benar pada sepanjang bidang jalan yang akan disemprot. agar batang semprot mencapai bahan pelindung tersebut dan kecepatan ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir. bahan aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat roda karet.(b) dari Spesifikasi ini sebelum penghamparan lapis j) VI . Takaran pemakaian rata-rata bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan. Sambungan memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak boleh ditutup oleh lapisan berikutnya sampai lintasan penyemprotan di lajur yang bersebelahan telah selesai dilaksanakan.(a) dari Spesifikasi ini. hal ini dimaksudkan agar tepi permukaan yang ditetapkan tetap mendapat semprotan dari tiga nosel. Luas lintasan penyemprotan didefinisikan sebagai hasil kali panjang lintasan penyemprotan dengan jumlah nosel yang digunakan dan jarak antara nosel. sikat ijuk atau alat penyapu dari karet..(1). sama seperti permukaan yang lain.2. e) Sisa aspal dalam tangki distributor harus dijaga tidak boleh kurang dari 10 persen dari kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap (masuk angin) dalam sistem penyemprotan.

2.1. oksidasi. VI . k) Tempat-tempat bekas kertas resap untuk pengujian kadar bahan aspal harus dilabur kembali dengan bahan aspal yang sejenis secara manual dengan kadar yang hampir sama dengan kadar di sekitarnya.(6).(1). Kontraktor harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan lalu lintas. Lapisan berikutnya hanya dapat dihampar setelah bahan resap pengikat telah meresap sepenuhnya ke dalam lapis pondasi dan telah mengeras. 6. cuaca.(5) dari Spesifikasi ini sampai lapisan berikutnya dihampar. 6. waktu penundaan harus sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan minimum dua hari dan tak boleh lebih dari empat belas hari. b) Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai bahan aspal telah meresap dan mengering serta tidak akan terkelupas akibat dilewati roda lalu lintas. Untuk Lapis Resap Pengikat yang akan dilapisi Burtu atau Burda. PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN DI LAPANGAN a) Contoh aspal dan sertifikatnya.1.1. Agregat penutup (blotter material) yang bersih.1.(d) dari Spesifikasi ini.(a) dari Spesifikasi ini harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal ke lapangan pekerjaan. tergantung dari lalu lintas.10 .1. Pelapisan lapisan beraspal berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan.1. Bila penghamparan agregat penutup pada lajur yang sedang dikerjakan yang bersebelahan dengan lajur yang belum dikerjakan. agar memungkinkan tumpang tindih (overlap) bahan aspal sesuai dengan Pasal 6.1. 1) PEMELIHARAAN DAN PEMBUKAAN BAGI LALU LINTAS Pemeliharaan Lapis Resap Pengikat a) Kontraktor harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat sesuai standar yang ditetapkan dalam Pasal 6. yang sesuai dengan ketentuan Pasal 6.(b) dari Spesifikasi ini harus dihampar sebelum lalu lintas diijinkan lewat. Dalam keadaan khusus. bahan aspal dan bahan lapis pondasi yang digunakan. debu yang tertiup atau lainnya. Agregat penutup harus disebar dari truk sedemikian rupa sehingga roda tidak melindas bahan aspal yang belum tertutup agregat. Bahan penyerap (blotter material) hanya boleh dihampar 4 jam setelah penyemprotan Lapis Resap Pengikat.4.5.berikutnya. seperti disyaratkan dalam Pasal 6. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup. 2) Pemeliharaan dari Lapis Perekat Lapis Perekat harus disemprotkan hanya sebentar sebelum penghamparan lapis aspal berikut di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang tepat. tetapi tidak boleh kurang dari empat jam setelah penghamparan Lapis Resap Pengikat tersebut. atau jika sampai tertutup harus dibuat tidak tertutup agregat bila lajur kedua sedang dipersiapkan untuk ditangani. sebuah alur (strip) yang lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang tepi sambungan harus dibiarkan tanpa tertutup agregat.(3).1.6. lalu lintas dapat diijinkan lewat sebelum waktu tersebut. Pemakaian agregat penutup harus dilaksanakan seminimum mungkin.

1. Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak 150.1.1.(g) dari Spesifikasi ini dan pemeliharaan permukaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang telah selesai menurut Pasal 6.1. Distributor aspal harus diperiksa dan diuji.b) Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dari distributor aspal.11 .(6) dari Spesifikasi ini sebagai berikut : i) ii) iii) Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada Kontrak tersebut. c) d) e) Gradasi agregat penutup (blotter material) harus diajukan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan. harus dibuat dalam formulir standar Lembar 1. Pekerjaan untuk penyiapan dan pemeliharaan formasi yang di atasnya diberi Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat. Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan jalan sesuai dengan Pasal 6. 1) PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN Pengukuran untuk pembayaran a) Kuantitas dari bahan aspal yang diukur untuk pembayaran adalah nilai terkecil di antara berikut ini : jumlah liter pada 15 ºC menurut takaran yang diperlukan sesuai dengan Spesifikasi dan ketentuan Direksi Pekerjaan.4.1.(a) dan 6. sesuai dengan ketentuan Pasal 6. sebagai rujukan di dalam Pasal 6. dipilih yang lebih dulu tercapai.3.1. Catatan harian yang terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan permukaan. Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi.4. Setiap agregat penutup (blotter material) yang digunakan harus dianggap termasuk pekerjaan sementara untuk memperoleh Lapis Resap Pengikat yang memenuhi ketentuan dan tidak akan diukur atau dibayar secara terpisah. 6. b) c) d) VI . sesuai dengan Pasal 6. Kuantitas dari aspal yang digunakan harus diukur setelah setiap lintasan penyemprotan. atau jumlah liter aktual pada 15 ºC yang terhampar dan diterima.1.1. termasuk pemakaian bahan aspal pada setiap lintasan penyemprotan dan takaran pemakaian yang dicapai.(3).000 liter.4. Pengukuran volume harus diambil saat bahan berada pada temperatur keseluruhan yang merata dan bebas dari gelembung udara.5 dari Spesifikasi ini harus dianggap merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang memenuhi ketentuan dan tidak boleh diukur atau dibayar secara terpisah.4 dari Spesifikasi ini.10 seperti terdapat pada Gambar.4. perlu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.(b) tidak akan diukur atau dibayar di bawah Seksi ini.7.(3). tetapi harus diukur dan dibayar sesuai dengan Seksi yang relevan yang disyaratkan untuk pelaksanaan dan rehabilitasi.(d) sampai 6. masing-masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat menjelang akhir penyemprotan.

2) Pengukuran untuk pekerjaan yang diperbaiki Bila perbaikan pekerjaan Lapis Resap Pengikat atau Lapis Perekat yang tidak memenuhi ketentuan telah dilaksanakan sesuai perintah Direksi Pekerjaan menurut Pasal 6. penyemprotan ulang. perlengkapan. 3) Dasar Pembayaran Kuantitas yang sebagaimana ditetapkan di atas harus dibayar menurut Harga Satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang tercantum di bawah ini dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga.(5) di atas.(1) 6. termasuk seluruh pekerja. Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan tambahan.1. Nomor Mata Pembayaran 6.(2) Lapis Resap Pengikat Lapis Perekat Uraian Satuan Pengukuran Liter Liter VI . maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya dibayar jika pekerjaan yang semula diterima.1.1.1. termasuk bahan penyerap (blotter material). dimana pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan penyemprotan seluruh bahan.12 . kuantitas maupun pengujian yang diperlukan oleh perbaikan ini. peralatan. dan setiap kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan dan memelihara pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.

2 LABURAN ASPAL SATU LAPIS (BURTU) DAN LABURAN ASPAL DUA LAPIS (BURDA) SEKSI INI TIDAK DIGUNAKAN VI .13 .SEKSI 6.

8 Seksi 1. Semua campuran dirancang menggunakan prosedur khusus yang diberikan di dalam Spesifikasi ini. yang dimulai dari memperoleh kepadatan agregat maksimum yang paling mungkin. 37.4 mm.SEKSI 6. untuk menjamin bahwa asumsi rancangan yang berkenaan dengan kadar aspal yang cocok.9 Seksi 1. tidak akan menghasilkan campuran yang memenuhi Spesifikasi ini.1 4) Tebal lapisan dan toleransi a) Tebal setiap lapisan campuran aspal harus dipantau dengan benda uji "inti" (core) perkerasan yang diambil oleh Kontraktor di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan.14 .1. serta menghampar dan memadatkan campuran tersebut di atas pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis. kelenturan dan keawetan ketebalan terpenuhi. lapis pondasi atau lapis aus campuran aspal yang terdiri dari agregat dan bahan aspal yang dicampur di pusat instalasi pencampuran. ketinggian dan potongan memanjang yang ditunjukkan dalam Gambar. Laston (AC) Aspal Beton (AC) terdiri dari tiga macam campuran.3. rongga udara.5 mm. Dalam hal ini penting diingat bahwa dalam dalam merancang aspal beton konvensional. Laston Lapis Aus (AC-WC).11 Seksi 6. stabilitas. Jarak memanjang dari penampang melintang yang diperiksa tidak lebih dari 200 m dan harus sedemikian rupa hingga jumlah total VI . Laston Lapis Pengikat (AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (AC-Base) dan ukuran maksimum agregat masingmasing campuran adalah 19 mm. 1) UMUM Uraian Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapisan padat yang awet dari lapis perata. 3) Pekerjaan seksi lain yang berkaitan dengan seksi ini a) b) c) d) Pemeliharaan Lalu Lintas Rekayasa Lapangan Bahan dan Penyimpanan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat : : : : Seksi 1. 25. Jarak dan lokasi pengambilan benda uji inti harus sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan tetapi paling sedikit harus diambil dua buah dalam arah melintang dari masingmasing penampang lajur yang diperiksa.3 CAMPURAN ASPAL PANAS (ATB) 6. 2) Jenis campuran aspal Jenis campuran dan ketebalan lapisan harus seperti yang ditentukan pada Gambar.

didefinisikan sebagai tebal rata-rata dari semua benda uji inti yang diambil dari ruas tersebut.3.0 6.1 dari Gambar. Untuk setiap ruas pekerjaan yang diukur untuk pembayaran. b) c) Tebal aktual campuran aspal yang dihampar di setiap ruas dari pekerjaan. harus sama atau lebih besar dari tebal nominal rancangan pada Tabel 6.0.15 .(a) dan tebal nominal rancangan yang disyaratkan dalam Gambar. Tabel 6.3. maka Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan pengambilan benda uji inti tam-bahan pada lokasi yang tidak memenuhi syarat ketebalan sebelum pembongkaran dan pelapisan kembali. menurut pendapatnya. Memeriksa peneraan dan ketepatan timbangan serta peralatan dan prosedur pengujian di laboratorium. tetapi tidak terbatas pada halhal berikut ini : i) ii) iii) Memerintahkan Kontraktor untuk lebih sering mengambil atau lebih banyak mengambil atau mencari lokasi lain benda uji inti (core).(1). Investigasi oleh Direksi Pekerjaan dapat meliputi.(4).(1) untuk lapis aus harus sama dengan atau lebih besar dari tebal nominal rancangan yang ditentukan dalam Lembar 2.1. : Tebal nominal rancangan Campuran Aspal Jenis Campuran Lapis Aus Laston Lapis Pengikat Lapis Pondasi Simbol AC-WC AC-BC AC-Base Tebal Nominal Minimum (cm) 4. sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 6. VI .(4). dapat menyetujui dan menerima tebal ratarata yang kurang dari tebal nominal rancangan asalkan campuran aspal yang dihampar di atas “hamparan baru” (bukan di atas perkerasan lama) mulus (sound) dan memenuhi semua ketentuan.1.3. Bilamana tebal setiap benda uji inti individu kurang dari tebal rancangan nominal pada setiap ruas. bilamana berat aktual bahan terhampar yang dihitung dari timbangan adalah kurang ataupun lebih lima persen dari berat yang dihitung dari ketebalan rata-rata dan kepadatan rata-rata benda uji inti (core). seluruh tebal campuran aspal tidak boleh kurang dari toleransi yang disyaratkan dalam Pasal 6. maka Direksi Pekerjaan harus mengambil tindakan untuk menyelidiki sebab terjadinya selisih berat ini sebelum menyetujui pembayaran bahan yang telah dihampar. Direksi Pekerjaan.0 d) e) Untuk semua jenis campuran.0 5.1. sebesar 3 mm untuk tebal nominal rancangan kurang dari 3 cm dan 5 mm untuk tebal rancangan nominal kurang atau sama dengan 3 cm. berat aktual campuran aspal yang dihampar harus dipantau oleh Kontraktor dengan menimbang setiap muatan truk yang meninggalkan pusat instalasi pencampur aspal.1.benda uji inti yang diambil dalam setiap ruas yang diukur untuk pembayaran tidak kurang dari 6 (enam). Memperoleh hasil pengujian laboratorium yang independen dan pemeriksaan kepadatan campuran aspal yang dicapai di lapangan.(b) di atas. Tebal aktual campuran aspal yang dihampar. Bilamana campuran aspal yang dihampar lebih dari satu lapis.3.

Metode pengujian daktilitas bahan-bahan aspal.075 mm). harus memenuhi berikut ini : i) Penampang Melintang Bilamana diukur dengan mistar lurus sepanjang 3 m yang diletakkan tepat di atas sumbu jalan tidak boleh melampaui 5 mm untuk lapis aus atau 10 mm untuk lapis pondasi.1.8. Dalam segala hal. Metode pengujian tentang analisa saringan agregat halus dan kasar. pembayaran harus didasarkan atas dimensi nominal lapisan beraspal seperti yang tercantum dalam Pasal 6.iv) Menetapkan suatu sistem perhitungan dan pencatatan truk secara terinci. ataupun tindakan lainnya yang dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan untuk mencari penyebab dilampauinya toleransi berat harus ditanggung oleh Kontraktor sendiri.86) Pd M-21-1995-03 (AASHTO T170 . untuk survei geometrik tambahan ataupun pengujian laboratorium.88) SNI-06-2456-1991 (AASHTO T49 .5 kali tebal nominal yang diberikan dalam Tabel 6. Meskipun demikian. VI . Perbedaan setiap dua titik pada setiap penampang melintang tidak boleh melampaui 5 mm dari elevasi yang dihitung dari penampang melintang yang ditunjukkan dalam Gambar. investigasi detil belum tentu dapat menghasilkan nilai-nilai yang lebih akurat dalam menentukan kuantitas bahan yang harus dibayar. Metode pengujian keausan agregat dengan mesin Los Angeles.16 . g) Bilamana campuran aspal digunakan sebagai lapis perata sekaligus sebagai lapis perkuatan (strengthening) maka tebal lapisan tidak boleh melebihi 2. dari Spesifikasi ini dan bukan atas berat bahan itu. Metode pengujian penetrasi bahan-bahan bitumen.90) : : : : : : : Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan No.89) SNI-06-2432-1991 (AASHTO T51 .200 (0.(1). f) Perbedaan kerataan permukaan campuran lapis aus (AC-WC) yang telah selesai dikerjakan. Metode pengujian sifat kekekalan bentuk batu terhadap larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat.90) SNI 03-1968-1990 (AASHTO T27 .3. ii) Kerataan Permukaan Setiap ketidakrataan individu bila diukur dengan mistar lurus berjalan (rolling) sepanjang 3 m yang diletakkan sejajar dengan sumbu jalan tidak boleh lebih melampaui 5 mm. tak peduli toleransi beratnya dilampaui atau tidak. 5) Standar Rujukan Standar Nasional Indonesia (SNI) : SK SNI-M-02-1994-03 (AASHTO T11 . untuk pencatatan muatan truk.3.89) SNI-03-2417-1991 (AASHTO T96 . Biaya untuk setiap penambahan atau meningkatnya frekwensi pengambilan benda uji inti (core). Metode pengujian pemulihan aspal dengan alat penguap putar.87) SNI-03-3407-1994 (AASHTO T104 .

Pd M-03-1996-03 (AASHTO T176 - 86) SNI-06-2440-1991 (AASHTO T179 - 88) SNI-03-2439-1991 (AASHTO T182 - 84) SNI-06-2489-1991 (AASHTO T245 - 90)

: : : :

Metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastis dengan cara setara pasir. Metode pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A. Metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal. Metode pengujian campuran aspal dengan alat Mar-shall.

Standar AASHTO :
AASHTO T73 - 89 AASHTO T164 - 90 AASHTO T165 - 86 AASHTO T166 - 88 AASHTO T168 - 82 AASHTO T209 - 90 AASHTO M17 - 77 AASHTO M20 - 70 AASHTO M29 - 90 AASHTO M226 - 90 AASHTO TP-33 : : : : : : : : : : : Flash Point by Pensky-Martens Colded Tester. Quantitative Extraction of Bitumen from Bituminous Paving Mixtures. Effect of Water on Cohesion of Compacted Bituminous Paving Mixtures. Bulk Specific Gravity of Compacted Bituminous Mix-tures. Sampling Bituminous Paving Mixtures. Maximum Spesific Gravity of Bituminous Paving Mix-tures. Mineral Filler for Bituminous Paving Mixtures. Penetration Graded Asphalt Cement. Fine Aggregate for Bituminous Paving Mixtures. Viscocity Graded Asphalt Cement. Test Method for Uncompacted Voids Content of Fine Aggregate (as influenced by Particle Shape, Surface Texture and Grading).

Standar Lainnya :
ASTM D4791 ASTM D5581 Pensylvania DoT Test Method, No.621 BS 598 Part 104 (1989) 6) : : : : Standard Test Method for Flat or Elonngated Particles in Coarse Aggregate. Marshall Prosedure Test for Large Stone Asphalt. Determining the Percentage of Crushed Fragments in Gravel. The Compaction Procedure Used in the Percentage Refusal Density Test.

Pengajuan kesiapan kerja
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan : a) b) Contoh dari seluruh bahan yang disetujui untuk digunakan, yang disimpan oleh Direksi Pekerjaan selama periode Kontrak untuk keperluan rujukan. Setiap bahan aspal yang diusulkan Kontraktor untuk digunakan, berikut keterangan asal sumbernya bersama dengan data pengujian sifat-sifatnya, baik sebelum maupun sesudah Pengujian Kehilangan Berat Berat dan Aspal sesuai dengan prosedur SNI 06-2440-1991. Laporan tertulis yang menjelaskan sifat-sifat hasil pengujian dari seluruh bahan, seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.2. Laporan tertulis setiap pemasokan aspal curah beserta sifat-sifat bahan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.2.(6).
VI - 17

c) d)

e) f) g) h)

Rumus Perbandingan Campuran dan data pengujian yang mendukungnya, seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.3, dalam bentuk laporan tertulis. Pengukuran pengujian permukaan seperti disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(1) dalam bentuk laporan tertulis. Laporan tertulis mengenai kepadatan dari campuran yang dihampar, seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(2). Data pengujian laboratorium dan lapangan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(4) untuk pengendalian harian terhadap takaran campuran dan mutu campuran, dalam bentuk laporan tertulis. Catatan harian dari seluruh muatan truk yang ditimbang di alat penimbang, seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.7.(5). Catatan tertulis mengenai pengukuran tebal lapisan dan dimensi perkerasan seperti yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.8.

i) j) 7)

Kondisi cuaca yang dijinkan untuk bekerja
Campuran hanya bisa dihampar bila permukaan yang telah disiapkan keadaan kering dan tidak turun hujan.

8)

Perbaikan pada campuran aspal yang tidak memenuhi ketentuan
Lokasi dengan tebal atau kepadatan yang kurang dari yang disyaratkan, juga lokasi yang tidak memenuhi ketentuan dalam segi lainnya, tidak akan dibayar sampai diperbaiki oleh Kontraktor seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Perbaikan dapat meliputi pembongkaran dan penggantian, penambahan lapisan "Campuran Aspal" dan/atau tindakan lain yang dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan. Bila perbaikan telah diperintahkan maka jumlah volume yang diukur untuk pembayaran haruslah volume yang seharusnya dibayar bila pekerjaan aslinya dapat diterima. Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan atau volume tambahan yang diperlukan untuk perbaikan.

9)

Pengembalian bentuk pekerjaan setelah pengujian
Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti (core) atau lainnya harus segera ditutup kembali dengan bahan campuran aspal oleh Kontraktor dan dipadatkan hingga kepadatan serta kerataan permukaan sesuai dengan toleransi yang diperkenankan dalam Seksi ini.

10)

Lapisan Perata
Atas persetujuan Direksi Pekerjaan, maka setiap jenis campuran dapat digunakan sebagai lapisan perata. Semua ketentuan dari Spesifikasi ini harus berlaku kecuali : a) b) Bahan harus disebut AC-WC(L), AC-BC(L) atau AC-Base(L) dsb. Ketebalan yang digunakan untuk pembayaran bukanlah Tebal nominal rancangan seperti yang diberikan dalam Tabel 6.3.1.(1) di atas atau dalam Gambar, tapi harus dihitung
VI - 18

berdasarkan kepadatan, luas dan berat sebenarnya campuran yang dihampar, yang memenuhi batas-batas yang disyaratkan dalam Pasal 6.3.8 di bawah ini.

6.3.2.
1)

BAHAN Agregat - Umum
a) Agregat yang akan digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar campuran aspal, yang proporsinya dibuat sesuai dengan rumus perbandingan campuran (lihat Pasal 6.3.3), memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.3.(1). Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan. Bahan harus ditumpuk sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 1.11 dari Spesifikasi ini. Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus sudah menumpuk setiap fraksi agregat pecah dan pasir untuk campuran aspal, paling sedikit untuk kebutuhan satu bulan dan selanjutnya tumpukan persediaan harus dipertahankan paling sedikit untuk kebutuhan campuran aspal satu bulan berikutnya. Dalam pemilihan sumber agregat, Kontraktor dianggap sudah memperhitungkan penyerapan aspal oleh agregat. Variasi kadar aspal akibat tingkat penyerapan aspal yang berbeda, tidak dapat diterima sebagai alasan untuk negosiasi kembali harga satuan dari Campuran Aspal. Penyerapan air oleh agregat maksimum 3 %. Berat jenis (spesific gravity) agregat kasar dan halus tidak boleh berbeda lebih dari 0,2

b) c)

d)

e) f) 2)

Agregat Kasar
a) Fraksi agregat kasar untuk rancangan adalah yang tertahan ayakan No. 8 (2,36 mm) dan haruslah bersih, keras, awet dan bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya dan memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabel 6.3.2.(1) di bawah ini. Fraksi agregat kasar harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah dan harus disiapkan dalam ukuran nominal tunggal. Ukuran maksimum (maximum size) agregat adalah satu ayakan yang lebih besar dari ukuran nominal maksimum (nominal maximum size). Ukuran nominal maksimum adalah satu ayakan yang lebih kecil dari ayakan pertama (teratas) dengan bahan tertahan kurang dari 10 %. Agregat kasar harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan dalam Tabel 6.3.2.(1). Angularitas agregat kasar didefinisikan sebagai persen terhadap berat agregat yang lebih besar dari 4,75 mm dengan muka bidang pecah satu atau lebih. (Pennsylvania DoT’s Test Method No.621 dalam Lampiran 6.3.B). Agregat kasar untuk Latasir kelas A dan B boleh dari kerikil yang bersih. Agregat kasar yang kotor dan berdebu, yang mempunyai partikel lolos ayakan No. 200 (0,075 mm) lebih besar dari 1 % tidak boleh digunakan.

b)

c)

d) e)

VI - 19

40 % Min.36 mm). Persentase maksimum yang disarankan untuk Laston (AC) adalah 15 %.(1).2. tidak diperkenankan untuk digunakan dalam campuran. Batas-batas yang ditentukan dalam Tabel 6. Dalam segala hal. harus terdiri dari pasir atau pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No. 10 % Catatan : 85/80 menunjukkan bahwa 85 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 80 % agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih.075 mm) lebih dari 8 % atau pasir yang mempunyai nilai setara pasir (sand equivalent) kurang dari 40 sesuai dengan Pd M-03-1996-03.621 Nilai Maks.(1) untuk partikel kepipihan dan kelonjongan dapat dinaikkan oleh Direksi Pekerjaan bilamana agregat tersebut memenuhi semua ketentuan lainnya dan semua upaya yang dapat dipertanggungjawabkan telah dilakukan untuk memperoleh bentuk partikel agregat yang baik. 95 % 85/80 95/90 60/50 80/75 Maks.3. keras. g) 3) Agregat Halus a) b) c) d) Agregat halus dari sumber bahan manapun. 200 (0.2. Batu pecah halus harus diperoleh dari batu yang memenuhi ketentuan mutu dalam Pasal 6.3. pasir yang kotor dan berdebu serta mempunyai partikel lolos ayakan No.2. VI . 12 % Maks. atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya. f) Fraksi individu agregat kasar harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold bin feeds) sedemikian rupa sehingga gradasi gabungan agregat dapat dikendalikan dengan baik. Pasir boleh dapat digunakan dalam campuran aspal. 8 (2. Agar dapat memenuhi ketentuan Pasal ini batu pecah halus harus diproduksi dari batu yang bersih. Bahan halus dari pemasok pemecah batu (crusher feed) harus diayak dan ditempatkan tersendiri sebagai bahan yang tak terpakai (kulit batu) sebelum proses pemecahan kedua (secondary crushing). Agregat halus harus merupakan bahan yang bersih. Fraksi agregat halus pecah mesin dan pasir harus ditempatkan terpisah dari agregat kasar.Tabel 6. bebas dari lempung. : Ketentuan Agregat Kasar Pengujian Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium dan magnesium sulfat Abrasi dengan mesin Los Angeles Kelekatan agregat terhadap aspal Angularitas (kedalaman dari permukaan < 10 cm) Angularitas (kedalaman dari permukaan > 10 cm) Partikel pipih dan lonjong Lalu Lintas < 1 juta ESA Lalu Lintas > 1 juta ESA Lalu Lintas < 1 juta ESA Lalu Lintas > I juta ESA ASTM D-4791 Standar SNI 03-3407-1994 SNI 03-2417-1991 SNI 03-2439-1991 DoT’s Pennsylvania Test Method.3. PTM No.(1).20 .

21 . Gradasi agregat gabungan harus mempunyai jarak terhadap batas-batas toleransi yang diberikan dalam Tabel 6. : Angularitas Agregat Halus Pengujian Angularitas (kedalaman dari permukaan < 10 cm) Angularitas (kedalaman dari permukaan > 10 cm) Lalu Lintas < 1 juta ESA > 1 juta ESA < 1 juta ESA > 1 juta ESA AASHTO TP-33 Standar Nilai Min.(2). 200 (75 micron) tidak kurang dari 75 % terhadap beratnya.3.0 % dari berat total campuran aspal.e) Agregat pecah halus dan pasir harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold bin feeds) yang terpisah sedemikian rupa sehingga rasio agregat pecah halus dan pasir dapat dikontrol dengan baik.(3).2. Bahan tersebut harus bebas dari bahan yang tidak dikehendaki.2. digunakan sebagai bahan pengisi yang ditambahkan maka proporsi maksimum yang diijinkan adalah 1. harus memenuhi batas-batas dan harus berada di luar Daerah Larangan (Restriction Zone) yang diberikan dalam Tabel 6. 40 % f) 4) Bahan pengisi (filler) untuk campuran aspal a) Bahan pengisi yang ditambahkan harus terdiri dari debu batu kapur (limestone dust). abu terbang.3. ditunjukkan dalam persen terhadap berat agregat.2.3. 40 % Min. abu tanur semen atau bahan non plastis lainnya dari sumber yang disetujui oleh Direksi Pekerjaaan. Agregat halus harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan Tabel 6.3.(3) dan terletak di luar Daerah Larangan. VI . 40 % Min. Tabel 6. 45 % Min. b) c) 5) Gradasi Agregat Gabungan Gradasi agregat gabungan untuk campuran aspal. Bilamana kapur tidak terhidrasi atau terhidrasi sebagian. Bahan pengisi yang ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalan-gumpalan dan bila diuji dengan pengayakan secara basah sesuai SK SNI M-02-1994-03 harus mengandung bahan yang lolos ayakan No.(2).2. semen portland.

23.5 2.6 11.8 18. 16 No.30. Contoh pertama yang diambil harus langsung diuji di laboratorium lapangan untuk memperoleh nilai penetrasi dan titik lembek. Sebagai tambahan. : Gradasi Agregat Untuk Campuran Aspal Ukuran ayakan ASTM 1½” 1” ¾” ½” 3/8” No. Pengambilan contoh bahan aspal harus dilaksanakan sesuai dengan AASHTO T40.600 0.90 28 . 8 No.7 .5 26.3. 8 No.3.600 0. 60/70. 16 No.075 4.8 . 30 % kesenjangan 40 Paling sedikit 32 8 atau kurang 50 Paling sedikit 40 10 atau kurang 60 Paling sedikit 48 12 atau kurang 70 Paling sedikit 56 14 atau kurang 6) Bahan aspal untuk campuran a) Bahan aspal harus dari jenis aspal semen Pen.Tabel 6. Bahan aspal harus yang memenuhi AASHTO M20 dan mempunyai titik lembek minimum 48 °C.90 WC % Berat yang lolos LASTON (AC) BC Base 100 90 . Bilamana hasil pengujian contoh pertama tersebut lolos pengujian.3 .31.4 3-7 100 90 .22 . 200 No.2.1 .18 0.5 25 19 12.5 9.2.100 Maks.36 1.36 mm) dan ayakan terkecil (0. berfungsi sebagai batas-batas rentang utama yang harus ditempati oleh gradasi-gradasi tersebut. Batas-batas gradasi ditentukan pada ayakan ukuran nominal maksimum.45 100 90 .5 4-8 DAERAH LARANGAN 34.10 39. 50 Catatan : • Untuk AC. Bahan aspal di dalam truk tangki tidak boleh dialirkan ke dalam tangki penyimpan sebelum hasil pengujian contoh pertama tersebut memenuhi ketentuan dari Spesifikasi ini.1 13.(3).90 Tabel 6.7 13.100 Maks.7 39.6 .300 4 .24.58 23 .39 19 . tengah dan bawah.17. (mm) 37.36 1.1 15.6 19.3 16.6 22.(4). pengambilan contoh bahan aspal dari tiap truk tangki harus dilaksanakan pada bagian atas.18 0. yang ditentukan sesuai dengan SNI 06-2434-1991 (AASHTO T53). 8 % lolos No.1 .100 Maks.6 . digunakan titik kontrol gradasi agregat. 4 No.1 25.28.75 2. tidak berarti bahan aspal dari truk tangki yang bersangkutan VI . : Contoh Batas-batas “Bahan bergradasi senjang” % lolos No. 30 No. ayakan menengah (2.20.075 mm). 30 No.

paling sedikit 60 hari sebelum usulan dimulainya pekerjaan pengaspalan.3.3.3.(1). aspal dan bahan pengisi (filler) harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjan sebelum pengiriman bahan. Agregat yang berabsorpsi akan mempunyai variasi penyerapan yang lebih besar. Aditif haruslah jenis yang disetujui Direksi Pekerjaan dan persentase aditif yang diperlukan harus dicampurkan ke dalam bahan aspal sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya dan untuk waktu yang demikianlah diperlukan untuk menghasilkan campuran yang homogen. Filler yang ditambahkan boleh digunakan bilamana diperlukan untuk menjamin sifat-sifat campuran memenuhi ketentuan yang disyaratkan Tabel 6. 8) Sumber Pasokan Persetujuan sumber pemasokan agregat. b) Bahan aspal yang diperoleh kembali dari benda uji pada rumus perbandingan campuran harus mempunyai nilai penetrasi tidak kurang dari 55 % nilai penetrasi aspal sebelum pencampuran dan nilai daktilitas tidak kurang dari 40 cm. Setiap jenis bahan harus diserahkan. Bahan aspal harus diekstraksi dari benda uji sesuai dengan cara SNI 03-3640-1994.3.23 . seperti yang diperuntahkan Direksi Pekerjaan. 2) Kadar Aspal dalam Campuran Persentase aspal yang aktual ditambahkan ke dalam campuran akan bergantung pada penyerapan agregat yang digunakan. VI . partikel mineral yang terkandung harus dipindahkan ke dalam suatu sentrifugal. Agregat yang mempunyai penyerapan tinggi akan membuat campuran menjadi mahal dan juga kurang dapat dipercaya. 1) CAMPURAN Komposisi Umum Campuran Campuran aspal terdiri dari agregat dan aspal. bila diperiksa masing-masing dengan prosedur SNI-06-2456-1991 dan SNI-06-2432-1991. Pemindahan ini dianggap memenuhi bilamana kadar abu dalam bahan aspal yang diperoleh kembali tidak melebihi 1 % (dengan pengapian). Bahan aspal harus diperoleh kembali dari larutan sesuai dengan prosedur AASHTO T 170. c) 7) Bahan aditif untuk aspal Aditif kelekatan dan anti pengelupasan harus ditambahkan ke dalam bahan aspal bilamana diperintahkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. 6. Setelah konsentrasi larutan aspal yang terekstraksi mencapai 200 mm.diterima secara final kecuali bahan aspal dari contoh yang mewakili telah memenuhi semua sifat-sifat bahan aspal yang disyaratkan dalam Spesifikasi ini. Agregat dari suatu sumber dengan penyerapan yang paling kecil dan harga yang bersaing harus digunakan.

berat jenis dan penyerapan air untuk semua agregat yang digunakan.24 .3. Buatlah benda uji dengan kadar aspal di atas.045 (% FA) + 0. Pengujian pada campuran aspal percobaan akan meliputi penentuan Berat Jenis Maksimum campuran aspal (AASHTO T209-90). pengujian sifatsifat Marshall (SNI 06-2489-1990) dan Kepadatan Membal (Refusal Density) campuran rancangan (BS 598 Part 104 .0 . dimana : Pb = kadar aspal. (Contoh. dibulatkan mendekati 0. Pengujian yang diperlukan meliputi analisa saringan.0 untuk HRS. Perkiraan awal kadar aspal rancangan dapat diperoleh dari rumus di bawah ini dan/atau kebutuhan kadar aspal efektif untuk tebal film aspal minimum 7. bilamana rumus VI . contoh diambil dari corong pemasok dingin (cold feed hopper).5 %. tetapai akan sulit memperoleh Rongga dalam Agregat (VMA) yang disyaratkan. Nilai konstanta sekitar 0. ii) Membuat Rumus Campuran Rancangan (Design Mix Formula) Lakukan rancangan dan pemadatan Marshall sampai membal (refusal).1.3) Prosedur Rancangan Campuran a) Sebelum diperkenankan untuk menghampar setiap campuran aspal dalam Pekerjaan.0 untuk AC dan 2.5 micron (keduanya hanya digunakan sebagai petunjuk) Pb = 0.035 (% CA) + 0.5 % ini. Juga semua pengujian sifat-sifat agregat yang diminta oleh Direksi Pekerjaan. Kontraktor disyaratkan untuk menunjukkan semua usulan agregat dan campuran yang memadai dengan membuat dan menguji campuran percobaan di laboratorium dan juga dengan penghamparan campuran percobaan yang dibuat di instalasi pencampur aspal. Meskipun demikian setiap Rumus Perbandingan Campuran yang ditentukan dari campuran laboratorium harus dianggap berlaku sampai diperkuat oleh hasil percobaan pada instalsi pencampur aspal. Pengujian percobaan campuran laboratorium harus dilaksanakan dalam tiga langkah dasar berikut ini : i) b) c) d) Memperoleh gradasi agregat yang cocok Suatu gradasi agregat yang cocok diperoleh dari penentuan persentase yang memadai dari setiap fraksi agregat. Lebih baik digunakan aspal beton bergradasi kasar (mendekati batas titik-titik kontrol bawah). FA = agregat halus. CA = agregat kasar. Campuran Aspal Beton (AC) dapat dibuat bergradasi halus (mendekati batas titiktitik kontrol atas). Gradasi akhir harus jauh dari kurva Fuller.18 (% Filler) + Konstanta.1989). Contoh agregat diambil dari penampung panas (hot bin) untuk pencampur jenis takaran berat (weight batching plant) maupun pencampur dengan pemasok menerus (continous feed plant) yang mempunyai penampung panas Untuk pencampur dengan pemasok menerus yang tidak mempunyai ayakan di penampung pana.5 . dengan tiga dua kadar aspal di atas dan dua kadar aspal di bawah kadar aspal perkiraan awal yang sudah dibulatkan mendekati 0.

3.(1). Ukur atau hitunglah kepadatan benda uji pada rongga udara nol.(1).5 %. Buatlah campuran dengan rongga dalam campuran pada kepadatan membal (refusal) sebesar 2. dan tentukan rentang kadar aspal yang memenuhi semua ketentuan dalam Spesifikasi.F. e) Petunjuk untuk campuran khusus Campuran bergradasi menerus (Aspal Beton) Jauhkanlah gradasi dari kurva Fuller dan kemudian arahkan gradasi memotong fraksi medium (2. Gambarkanlah batas-batas yang disyaratkan dalam grafik untuk setiap parameter yang terdaftar dalam Tabel 6. Suatu campuran yang cocok harus memenuhi semua kriteria dalam Tabel 6.BS 598 untuk empat kadar aspal (satu yang memberikan rongga dalam agregat di atas 6 %.3. VI .3. Lihat Tabel 6. Rentang kadar aspal ini dimaksudkan untuk mengakomodir fluktuasi yang sesungguhnya dalam produksi campuran aspal. Ukurlah berat isi benda uji.(1) dengan Suatu Rentang Kadar Aspal Praktis. iii) Memperoleh persetujuan Rumus Campuran Rancangan (DMF) sebagai Rumus Perbandingan Campuran (JMF) Nyatakan bahwa rancangan campuran laboratorium telah memenuhi ketentuan dengan membuat campuran di instalasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan serta dengan pengulangan pengujian kepadatan laboratorium Marshall dan membal (refusal) pada benda uji yang diambil dari instalasi pencampur aspal.7 %. Rancangan kadar aspal umumnya mendekati tengah-tengah rentang kadar aspal yang memenuhi semua parameter yang disyaratkan.3.5 % dan 5 %). satu yang 6 % dan dua yang di bawah 6 %). 6.5 %.25 . Hitunglah Rongga dalam Agregat (VMA).3.5 % untuk lalu lintas berat. buatlah benda uji dengan kadar aspal 5.3. 2 % untuk menengah dan 1 % untuk ringan. Rongga Terisi Aspal (VFB). Rentang kadar aspal untuk campuran aspal yang memenuhi semua kriteria rancangan harus mendekati (atau lebih besar dari) satu persen.36 mm) dan selanjutnya gerakkan gradasi ke arah bawah menjauhi kurva Fuller. stabilitas Marshall. dan 7 %. Ukur berat isi benda uji dan/atau hitung kepadatan pada rongga udara nol. dan Rongga dalam Campuran (VIM). dengan 6 %. Gambarkan rentang ini dalam skala balok seperti yang ditunjukkan dalam Lampiran 6. dibulatkan menjadi 5. kelelehan dan stablitas sisa setelah perendaman.5 %.memberikan nilai 5. Buatlah benda uji tambahan dan dipadatkan sampai membal (refusal) dengan menggunakan prosedur PRD .E.3.3. dengan 4. Gambarkan semua hasil tersebut dalam grafik seperti yang ditunjukkan dalam Lampiran 6.

Berat jenis efektif agregat akan dihitung berdasarkan pengujian Berat Jenis Maksimum Agregat (Gmm test. Maks.26 . Min. Untuk lalu lintas yang sangat lambat atau lajur padat. Min. 3) 4) VI .9 5.Tabel 6.5 juta ESA & < 1 juta ESA Lalu Lintas (LL)< 0. Min. Min. Min.5 juta ESA & < 1 juta ESA Lalu Lintas (LL)< 0.B).0 13 60 112 (1) 85 untuk Lalu Lintas > 1.5 juta ESA Min. Min. Maks.3. Untuk menentukan kepadatan membal (refusal).000 ESA 80 untuk Lalu Lintas < 1.7 untuk Lalu Lintas < 1. Min.000. Jika digunakan penumbukan manual jumlah tumbukan per bidang harus 600 untuk cetakan berdiamater 6 in dan 400 untuk cetakan berdiamater 4 in.0 5.3) Kepadatan membal (refusal) Lalu Lintas (LL)> 1 juta ESA > 0.000. AASHTO T-209).(1). Min.000 ESA 75 4. Maks. Maks. gunakan kriteria ESA yang lebih tinggi. WC Laston BC Base 1. Maks.000 ESA 2. Maks. Min. penumbuk bergetar (vibratory hammer) disarankan digunakan untuk menghindari pecahnya butiran agregat dalam campuran.2 untuk Lalu Lintas > 1.9 3. Maks.5 2 1 Catatan : 1) 2) Modifikasi Marshall (lihat Lampiran 6. Min.000 ESA 1.3. Min. 75 800 2 200 15 65 14 63 68 73 800 (1) 2 (1) 200 Maks.000. Min.9 3.000.9 4. Min. : Ketentuan Sifat-sifat Campuran Sifat-sifat Campuran Penyerapan kadar aspal Jumlah tumbukan per bidang Lalu Lintas (LL) > 1 juta ESA Rongga dalam campuran (%) (4) > 0.3. Maks.5 juta ESA Rongga dalam Agregat (VMA) (%) Rongga terisi aspal (%) Lalu Lintas (LL) > 1 juta ESA > 0. 60 ºC (5) Rongga dlm campuran (%) pada (2.5 juta ESA & < 1 juta ESA Lalu Lintas (LL)< 0.5 juta ESA Stabilitas Marshall (kg) Kelelehan (mm) Marshall Quotient (kg/mm) Stabilitas Marshall Sisa setelah perendaman selama 24 jam.

Bagaimanapun juga pembuatan suatu rumus campuran rancangan yang memenuhi ketentuan merupakan tanggungjawab Kontraktor. Kontraktor harus menyerahkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan. Pengondisian beku cair (freeze thaw conditioning) tidak diperlukan. dsb. Sumber-sumber agregat. atau Petunjuk Rancangan Campuran Aspal. dan kombinasi penggilas yang diusulkan mampu mencapai kepadatan yang disyaratkan dengan waktu yang tersedia untuk pemadatan selama penghamparan produksi normal. Suatu temperatur tunggal saat campuran dikeluarkan dari alat pengaduk. Gradasi agregat gabungan yang memenuhi gradasi yang disyaratkan dalam Tabel 6. 4) Rumus Campuran Rancangan (Design Mix Formula) Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan aspal.3.3.(1). Kontraktor harus menunjukkan bahwa setiap alat penghampar (paver) mampu menghampar bahan sesuai dengan tebal yang disyaratkan tanpa segregasi. tergores.2. Dalam tujuh hari Direksi Pekerjaan akan : a) b) Menyatakan bahwa usulan tersebut yang memenuhi Spesifikasi dan mengijinkan Kontraktor untuk menyiapkan instalasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan. Kontraktor harus menyediakan data dan grafik campuran percobaan laboratorium untuk menunjukkan bahwa campuran memenuhi semua kriteria dalam Tabel 6. penghamparan. usulan Rumus Campuran Rancangan (DMF) untuk campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan. pada penampung dingin maupun penampung panas. Selanjutnya Kontraktor harus melakukan percobaan campuran tambahan dengan biaya sendiri untuk memperoleh suatu campuran rancangan yang memenuhi Spesifikasi. dapat menyarankan Kontraktor untuk memodifikasi sebagian rumus rancangannya atau mencoba agregat lainnya. Sifat-sifat benda uji yang sudah dipadatkan harus dihitung menggunakan metode dan rumus yang ditunjukkan dalam Asphalt Institute MS-2 (1994). Segera setelah Rumus Campuran Rancangan (DMF) disetujui oleh Direski Pekerjaan. Kontraktor harus melakukan penghamparan percobaan paling sedikit 50 ton untuk setiap jenis campuran dengan menggunakan produksi. menurut pendapatnya. Standar minimum untuk diterimanya prosedur T283 harus 80 % Kuat Tarik Sisa. Puslitbang Jalan (1999).27 . Kadar aspal total dan efektif terhadap berat total campuran. Direksi Pekerjaan. Rumus yang diserahkan harus menentukan untuk campuran berikut ini : a) b) c) d) e) f) Ukuran nominal maksimum partikel. VI . Menolak usulan tersebut jika tidak memenuhi Spesifikasi.5) Direksi Pekerjaan dapat menyetujui prosedur pengujian AASHTO T283 sebagai alternatif pengujian kepekaan kadar air. peralatan dan prosedur pemadatan yang diusulkan. Persentase setiap fraksi agregat yang cenderung akan digunakan Kontraktor.3. 5) Rumus Perbandingan Campuran (Job Mix Formula) Percobaan campuran di instasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan akan menjadikan rancangan campuran dapat disetujui sebagai Rumus Perbandingan Campuran (JMF).(3).

Tabel 6. : Toleransi Komposisi Campuran Agregat Gabungan Lolos Ayakan Sama atau lebih besar dari 2.3.(2) di bawah ini.(4) dari Spesifikasi ini.36 mm 2. Contoh campuran aspal dapat diambil dari instalasi pencampur aspal atau dari truk di AMP.3.3. 200 Kadar aspal Kadar aspal Temperatur Campuran Bahan meninggalkan AMP dan dikirim ke tempat penghamparan Toleransi Komposisi Campuran ± 5 % berat total agregat ± 3 % berat total agregat ± 2 % berat total agregat ± 1 % berat total agregat Toleransi ± 0.Contoh campuran harus dibawa ke laboratorium dan digunakan untuk membuat benda uji Marshall maupun untuk pemadataan membal (refusal).(1). dalam batas rentang toleransi yang disyaratkan dalam Tabel 6. Direksi pekerjaan tidak akan menyetujui campuran rancangan sebagai Rumus Perbandingan Campuran (JMF) sebelum penghamparan percobaan yang dilakukan memenuhi semua ketentuan dan disetujui. 200 No.7. Kepadatan rata-rata (Gmb) dari semua benda uji yang diambil dari penghamparan percobaan yang memenuhi ketentuan harus menjadi Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density).(3) dan 6. Setiap hari Direksi Pekerjaan akan mengambil benda uji baik bahan maupun campurannya seperti yang digariskan dalam Pasal 6.7.36 mm sampai No.3.3.3.3.(1). terutama dalam toleransi yang diijinkan. atau benda uji tambahan yang dianggap perlu untuk pemeriksaan keseragaman campuran. Bilamana telah disetujui.3.3. Rumus Perbandingan Campuran (JMF) menjadi definitif sampai Direksi Pekerjaan menyetujui JMF penggantinya. Benda uji Marshall harus dicetak dan dipadatkan pada temperatur yang disyaratkan dalam Tabel 6.3. yang harus dibandingkan dengan pemadatan campuran aspal terhampar dalam pekerjaan. Bilamana percobaan tersebut gagal memenuhi Spesifikasi pada salah satu ketentuannya maka perlu dilakukan penyesuaian dan percobaan harus diulang kembali. 50 No. Setiap bahan yang gagal memenuhi batas-batas yang diperoleh dari Rumus Perbandingan Campuran (JMF) dan Toleransi yang diijinkan harus ditolak. 100 dan tertahan No. Hasil pengujian ini harus dibandingkan dengan Tabel 6. Mutu campuran harus dikendalikan. Dua belas benda uji Marshall harus dibuat dari setiap penghamparan percobaan. 6) Penerapan Rumus Perbandingan Campuran dan Toleransi yang diijinkan a) Seluruh campuran yang dihampar dalam pekerjaan harus sesuai dengan Rumus Perbandingan Campuran.3. seperti yang diuraikan pada Tabel 6.3. Pekerjaan pengaspalan yang permanen belum dapat dimulai sebelum diperoleh rumus perbandingan campuran (JMF) yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.(1) dan menggunakan jumlah penumbukan yang disyaratkan dalam Tabel 6.(2) di bawah ini.3 % berat total campuran Toleransi ± 10 ºC b) VI . dan dibawa ke laboratorium dalam kotak yang terbungkus rapi.28 .(2).3.5.

d) Interpretasi toleransi yang diijinkan Batas-batas absolut yang ditentukan oleh Rumus Perbandingan Campuran maupun Toleransi yang diijinkan menunjukkan bahwa kontraktor harus bekerja dalam batas-batas yang digariskan pada setiap saat. Instalasi pencampur aspal (AMP) harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu (dust collector) yang lengkap yaitu sistem pusaran kering (dry cyclone) dan pusaran basah (wet cyclone) sehingga tidak menimbulkan pencemaran debu ke atmosfir. Semua jam (pembacaan jarum) timbangan harus diletakkan sedemikian hingga mudah terlihat oleh operator pada setiap saat. Ujung jarum harus dipasang sedekat mungkin dengan permukaan jam dan harus berupa jenis yang bebas dari paralaks (pembiasan sinar) yang berlebihan. Skala pembacaan jam (pembacaan jarum) timbangan tidak b) c) VI .4. 1) KETENTUAN INSTALASI PENCAMPUR ASPAL Umum Instalasi pencampur aspal dapat berupa pusat pencampuran dengan sistem penakaran (batching) atau sistem menerus (continuous).3. tetapi menunjukkan perubahan yang konsisten dan sangat berarti atau perbedaan yang tidak dapat diterima atau jika sumber setiap bahan berubah. 2) Timbangan pada instalasi pencampuran a) Timbangan untuk setiap kotak timbangan atau penampung (hopper) harus berupa jenis jam (pembacaan jarum) tanpa pegas dan merupakan produksi standar serta dirancang dengan ketelitian berkisar antara setengah sampai satu persen dari beban maksimum yang diperlukan. Timbangan harus terpasang kokoh dan bilamana mudah berubah harus segera diganti. harus memiliki kapasitas yang cukup untuk memasok mesin penghampar secara terus menerus bilamana menghampar campuran pada kecepatan normal dan ketebalan yang dikehendaki. sebelum campuran aspal baru dihampar di lapangan. Instalasi ini harus dirancang.29 . maka suatu Rumus Perbandingan Campuran (JMF) baru harus diserahkan dengan cara seperti yang disebut di atas dan atas biaya Kontraktor sendiri untuk disetujui. dikoordinasi dan dioperasikan sedemikian hingga dapat menghasilkan campuran dalam rentang toleransi perbandingan campuran. Bilamana salah satu sistem di atas rusak atau tidak berfungsi maka instalasi pencampur aspal tidak boleh dioperasikan. Timbangan yang digunakan untuk menimbang bahan aspal harus memenuhi ketentuan untuk timbangan agregat. Instalasi pencampuran aspal harus dipasang di lokasi yang jauh dari pemukiman dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan sehingga tidak mengganggu ataupun protes dari penduduk di sekitarnya. 6. Timbangan harus dilengkapi dengan tanda (skala) yang dapat disetel untuk mengukur berat masing-masing bahan yang akan ditimbang pada setiap kali pencampuran.c) Bilamana setiap bahan pokok memenuhi batas-batas yang diperoleh dari Rumus Perbandingan Campuran (JMF) dan Toleransi yang diijinkan.

6) Ayakan Ayakan harus mampu mengayak seluruh agregat sampai ukuran dan proporsi yang disyaratkan dan memiliki kapasitas normal sedikit di atas kapasitas penuh alat pencampur. Pemanasan harus dilakukan melalui kumparan uap (steam coils). Kontraktor harus senantiasa menyediakan tidak kurang dari 10 buah beban standar 20 kg untuk pemeriksaan semua timbangan. Ayakan harus memiliki efisiensi pengoperasian yang sedemikian rupa sehingga agregat yang tertampung dalam setiap penampung (bin) tidak mengandung lebih dari 10 % bahan yang berukuran terlampau besar (oversize) atau terlampau kecil (undersize). Temperatur bahan aspal yang disyaratkan di dalam pipa. harus dipertahankan baik dengan selimut uap (steam jackets) ataupun cara isolasi lainnya. Sirkulasi bahan aspal harus yang lancar dan terus menerus selama periode pengoperasian. batang semprot.000 liter dan paling sedikit harus disediakan dua tangki yang berkapasitas sama. Daya tampung tangki penyimpanan minimum adalah 30. atau cara lainnya sehingga api tidak langsung memanasi tangki pemanas. Sekali ditetapkan. dan tempat-tempat lainnya dari sistem saluran. kedudukan pemasok tak boleh diubah tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan.boleh melebihi dari 1 kilogram dan harus memiliki kapasitas dua kali lebih besar dari bahan yang akan ditimbang serta harus dapat dibaca sampai satu kilogram yang terdekat. Atas persetujuan Direksi Pekerjaan. Pemasok untuk agregat halus harus dari jenis belt. Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu sirkulasi aspal ke alat pencampur. 4) Pemasok untuk mesin pengering (Feeder for Drier) Pemasok yang terpisah untuk masing-masing agregat harus disediakan. jenis lain diperkenankan hanya jika pemasok tersebut dapat menyalurkan bahan basah pada kecepatan yang tetap tanpa menyebabkan terjadinya penyumbatan. 3) Perlengkapan untuk penyiapan bahan aspal Tangki penyimpan bahan aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat dikendalikan dengan efektif dan handal sampai suatu temperatur dalam rentang yang disyaratkan. bahan aspal boleh dipanaskan terlebih dahulu di dalam tangki dan kemudian temperatur dinaikkan sampai temperatur yang disyaratkan dengan menggunakan alat pemanas "booster" (penguat) yang berada diantara tangki dan alat pencampur. Dengan persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. meteran. 5) Alat Pengering (Drier) Alat pengering berputar harus dirancang sedemikian hingga mampu mengeringkan dan memanaskan agregat sampai ke temperatur yang disyaratkan. d) Bilamana dianggap perlu oleh Direksi Pekerjaan. maka timbangan yang telah disetujuipun tetap akan diperiksa berulang kali sehingga ketepatananya dapat selalu dijamin. Seluruh pemasok (feeder) harus dikalibrasi. VI . listrik.30 . ember penimbang. Bukaan pintu dan pengatur kecepatan untuk setiap perbandingan campuran yang telah disetujui harus ditunjukkan dengan jelas pada pintu-pintu dan pada perlengkapan panel pengendali.

Untuk instalasi pencampuran sistem penakaran (batching plant). baik jenis penimbangan ataupun meteran harus disediakan untuk memperoleh jumlah bahan aspal yang tepat untuk campuran aspal dengan rentang toleransi yang disyaratkan dalam rumus perbandingan campuran. pompa meteran aspal haruslah jenis rotasi dengan sistem pengaliran yang handal serta memiliki susunan nosel penyemprot yang teratur pada alat pencampur. setelah melewati ayakan ini agregat lolos masuk ke penampung panas. Setiap penampung panas harus dilengkapi dengan pipa pembuang yang ukuran maupun letaknya sedemikian rupa sehingga dapat mencegah masuknya kembali bahan ke dalam penampung lainnya. sebelum ayakan ini agregat dapat lolos masuk ke penampung panas (sebenarnya agregat juga dapat lolos melewati ayakan ini). dalam penampung panas. Penampung harus dibuat sedemikian rupa agar benda uji dapat mudah diambil. Kecepatan jalan dari pompa harus disinkronkan dengan aliran agregat ke alat pencampur dengan pengendali kunci otomatis. Ukuran nominal minimum dalam setiap penampung panas adalah ukuran anyaman kawat dari ayakan. baik jenis arloji (pembacaan jarum). yang dipasang pada corong pengeluaran dari alat pengering untuk mencatat secara otomatis atau menunjukkan temperatur agregat yang dipanaskan. Untuk instalasi pencampuran sistem menerus (continous plant). Instalasi juga harus dilengkapi dengan termometer.31 b) . 8) Unit Pengendali Aspal a) Perlengkapan pengendali aspal yang handal. air raksa (mercury-actuated). Agregat yang terlalu kecil (undersize) secara tidak langsung dapat menyebabkan muatan berlebih (overload) pada ayakan. pyrometer listrik ataupun perlengkapan pengukur panas lainnya yang disetujui. b) Agregat yang terlalu besar (oversize). dan perangkat ini harus akurat dan mudah disetel. secara tidak langsung mengauskan atau merusak ayakan. 7) Penampung (Bin) Panas Penampung panas harus berkapasitas cukup dalam melayani alat pencampur bila dioperasikan dengan kapasitas penuh. Sebuah termo elemen (thermo couple) atau bola sensor (resistance bulb) harus dipasang VI . tidak termasuk bahan pengisi (filler). perangkat timbangan atau meteran harus dapat menyediakan kuantitas aspal rancangan untuk setiap penakaran campuran. Perlengkapan untuk memeriksa kuantitas atau kecepatan aliran bahan aspal ke alat pencampur harus disediakan.Maksud dari Pasal ini adalah : a) Ukuran nominal maksimum dalam setiap penampung panas adalah ukuran anyaman kawat dari ayakan terakhir. Jumlah penampung minimum tiga buah sehingga dapat menjamin penyimpanan yang terpisah untuk masing-masing fraksi agregat. b) 9) Perlengkapan Pengukur Panas a) Termometer berlapis baja yang dapat dibaca dari 100 ºC sampai 200 ºC harus dipasang di tempat mengalirnya pasokan aspal dekat katup pengeluaran (discharge) pada alat pencampur.

Semua roda gigi. Tempat ini harus selalu dijaga agar bebas dari benda yang jatuh dari landasan (platform) alat pencampur. 13) Ketentuan Keselamatan Kerja a) Tangga yang memadai dan aman untuk naik ke landasan (platform) alat pencampur dan landasan berpagar yang digunakan sebagai jalan antar unit perlengkapan harus dipasang. roda beralur (pulley). pengambilan benda uji dan lain-lainnya. b) 14) Ketentuan khusus untuk instalasi pencampuran sistem penakaran (Batching Plant) a) Kotak Penimbang atau Penampung (Hopper) Instalasi harus memiliki perlengkapan yang akurat dan otomatis (bukan manual) untuk menimbang masing-masing fraksi agregat dalam kotak penimbang atau penampung yang terletak di atas timbangan dan berkapasitas cukup untuk setiap penakaran tanpa perlu adanya perataan dengan tangan atau tumpah karena penuh.di dekat dasar penampung (bin) untuk mengukur temperatur agregat halus sebelum memasuki alat pencampur. Lorong yang cukup lebar dan tidak terhalang harus disediakan di dan sekitar tempat pengisian muatan truk. 10) Pengumpul Debu (Dust Collector) Instalasi pencampuran harus dilengkapi dengan alat pengumpul debu yang dibuat sedemikian rupa agar dapat membuang atau mengembalikan secara merata ke elevator. maka suatu sistem pengangkat atau katrol harus disediakan untuk menaikkan peralatan dari tanah ke landasan (platform) atau sebaliknya. rantai gigi dan bagian bergerak lainnya yang berbahaya harus seluruhnya dipagar dan dilindungi.32 . rantai. 12) Timbangan dan Rumah Timbang Timbangan dan rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truk bermuatan yang siap dikirim ke tempat penghamparan. Selanjutnya Direksi Pekerjaan dapat meminta grafik temperatur harian untuk disediakan. 11) Pengendali Waktu Pencampuran Instalasi harus dilengkapi dengan perlengkapan yang handal untuk mengendalikan waktu pencampuran dan menjaga waktu pencampuran tetap konstan kecuali kalau diubah atas perintah Direksi Pekerjaan. Untuk mencapai puncak bak truk. Kotak penimbang atau VI . perlengkapan untuk landasan atau perangkat lain yang sesuai harus disediakan sehingga Direksi Pekerjaan dapat mengambil benda uji maupun memeriksa temperatur campuran. sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. baik seluruh maupun sebagian bahan yang dikumpulkan. Timbangan tersebut harus memenuhi ketentuan seperti yang dijelaskan di atas. Untuk memudahkan pelaksanaan kalibrasi timbangan. c) Direksi Pekerjaan dapat meminta penggantian setiap termometer dengan alat pencatat temperatur yang disetujui.

Penghitung (counter) mekanis penakar harus dipasang sebagai bagian dari perangkat pengendali waktu dan harus dirancang sedemikian rupa sehingga hanya mencatat penakaran yang telah selesai dicampur. Periode pencam-puran kering didefinisikan sebagai interval waktu antara pembukaan pintu kotak timbangan dan waktu dimulainya pemberian aspal. Alat pencampur harus dirancang sedemikian rupa agar memudahkan pemeriksaan visual terhadap campuran. Bilamana digunakan agregat yang memiliki ukuran nominal maksimum lebih besar dari 25 mm. Alat pencampur harus memiliki kapasitas minimum 1 ton dan harus dibuat sedemikian rupa agar kebocoran yang mungkin terjadi dapat dicegah. Perangkat pengendali waktu harus dapat disetel untuk suatu interval waktu tidak lebih dari 5 detik sampai dengan 3 menit untuk keseluruhan siklus. VI . Periode pencampuran basah didefinisikan sebagai interval waktu antara penyemprotan bahan aspal ke dalam agregat dan saat pembukaan pintu alat pencampur. Ruang bebas antara pisau-pisau (blades) dengan bagian yang tidak bergerak maupun yang bergerak harus tidak melebihi 2 cm. Semua tepi-tepi. ujung-ujung dan sisi-sisi penampung timbangan harus bebas dari sentuhan setiap batang penahan dan batang kolom atau perlengkapan lainnya yang akan mempengaruhi fungsi penampung yang sebenarnya. maka ruang bebas ini harus disetel sedemikian rupa agar agregat kasar tidak pecah selama proses pencampuran. Ruang bebas yang memadai antara penampung dan perangkat pendukung harus tersedia sehingga dapat dihindari terisinya celah tersebut oleh bahan-bahan yang tidak dikehendaki. minyak panas.33 . yang dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah terlempar dari kedudukannya atau setelannya. kecuali bilamana ukuran nominal maksimum agregat yang digunakan lebih besar dari 25 mm. Alat pencampur harus memiliki suatu perangkat pengendali waktu yang akurat untuk mengendalikan kegiatan dalam satu siklus pencampuran yang lengkap dari penguncian pintu kotak timbangan setelah pengisian ke alat pencampur sampai penutupan pintu alat pencampur pada saat selesainya siklus tersebut. Perangkat pengendali waktu harus dapat mengunci ember aspal selama periode pencampuran kering maupun basah. Alat pencampur harus dilengkapi pedal (paddle) atau pisau (blade) dengan jumlah yang cukup dan dipasang dengan susunan yang benar untuk menghasilkan campuran yang benar dan seragam. Alat pencampur harus dipanasi dengan selubung uap. Kotak pencampur harus dilengkapi dengan penutup debu untuk mencegah hilangnya kandungan debu. Pintu pengeluaran (discharge gate) kotak penimbang harus terletak sedemikian rupa agar agregat tidak mengalami segregasi saat dituang ke dalam alat pencampur dan harus tertutup rapat bilamana penampung dalam keadaan kosong sehingga tidak terdapat kebocoran bahan yang akan masuk ke dalam alat pencampur pada saat proses penimbangan campuran berikutnya. atau cara lainnya yang disetujui Direksi Pekerjaan. b) Alat Pencampur (Mixer) Alat pencampur sistem penakaran (batch) adalah jenis pengaduk putar ganda ("twin pugmill") yang disetujui dan mampu menghasilkan campuran yang seragam dan memenuhi toleransi rumus perbandingan campuran.penampung harus ditunjang pada titik tumpu dan penopang tipis.

Lubang tersebut harus berbentuk persegi panjang. Sebuah timbangan datar yang akurat dengan kapasitas 150 kg atau lebih harus disediakan. Masing-masing lubang pintu penampung harus dilengkapi dengan ukuran berskala yang menunjukkan bukaan pintu dalam sentimeter. Benda uji harus mudah diperoleh dengan berat tidak kurang dari 50 kg. Waktu pencampuran (dalam det ik ) = Kapasitas penuh alat pencampur dalam kg Pr oduksi alat pencampur dalam kg / det ik VI . Pedal (paddle) haruslah dari jenis yang sudut pedalnya dapat disetel. Masing-masing penampung (bin) harus memiliki pintu bukaan yang dapat disetel untuk menyesuaikan volume bahan yang keluar dari masing-masing lubang pintu penampung (bin). kira-kira berukuran 20 cm x 25 cm.15) Ketentuan khusus untuk instalasi pencampuran sistem menerus (Continuous Mixing Plant) a) Unit Pengendali Gradasi Instalasi harus memiliki perlengkapan untuk mengatur proporsi agregat yang akurat dan otomatis (bukan manual) dalam setiap penampung (bin) baik dengan penimbangan maupun dengan pengukuran volume. menggunakan rumus sebagai berikut : (beratnya harus ditentukan untuk pekerjaan tersebut dengan pengujian yang dilakukan oleh Direksi Pekerjaan). c) Sinkronisasi Pemasokan Agregat dan Aspal Suatu perlengkapan yang handal harus tersedia untuk memperoleh pengendalian yang tepat antara aliran agregat dari penampung dengan aliran aspal dari meteran atau sumber pengatur lainnya. d) Alat Pencampur pada Sistem Menerus Alat pencampur sistem menerus (continous) adalah jenis pengaduk putar ganda ("twin pugmill") yang disetujui dan mampu menghasilkan campuran yang seragam dan memenuhi toleransi rumus perbandingan campuran.34 . Penetapan waktu pencampuran harus dengan metode berat. b) Kalibrasi Berat Pemasokan Agregat Instalasi ini harus dilengkapi kotak-kotak pengambilan benda uji untuk kalibrasi bukaan pintu dengan cara memeriksa berat benda uji yang mengalir keluar dari setiap penampung sesuai dengan bukaan pintunya. Unit ini harus mempunyai sebuah pemasok (feeder) yang dipasang di bawah penampung (bin). Alat pencampur harus dilengkapi dengan sekat baja yang dapat disetel dengan data volume neto untuk berbagai ketinggian sekat dan grafik yang disediakan pabrik pembuatnya yang menunjukkan jumlah pasokan agregat per menit pada kecepatan jalan instalasi. baik posisi searah maupun berlawanan arah dengan arah aliran campuran. dengan salah satu sisinya dapat disetel secara mekanis dan dilengkapi dengan pengunci.

Setiap elevator yang digunakan untuk memuat campuran aspal ke dalam bak truk harus memiliki penampung yang memenuhi ketentuan. Bilamana penghamparan terpaksa harus dihentikan.e) Penampung (Hopper) Alat pencampur harus dilengkapi dengan sebuah penampung pada bagian pengeluaran. kelandaian serta penampang melintang yang diperlukan. Jumlah truk untuk mengangkut campuran aspal harus cukup dan dikelola sedemikian rupa sehingga peralatan penghampar dapat beroperasi secara menerus dengan kecepatan yang disetujui. VI . Truk yang menyebabkan segregasi yang berlebihan pada campuran aspal akibat sistem pegas atau faktor penunjang lainnya. Ketentuan ini merupakan petunjuk pelaksanaan yang baik dan Kontraktor tidak diperbolehkan menuntut tambahan biaya atau waktu atas keterlambatan penghamparan yang diakibatkan oleh kegagalan kontraktor untuk menjaga kesinambungan pemasokan campuran aspal ke peralatan penghampar. minyak bakar yang tipis. 16) Peralatan Pengangkut a) Truk untuk mengangkut campuran aspal harus mempunyai bak terbuat dari logam yang rapat. dengan ukuran serta rancangan yang tidak akan mengakibatkan terjadinya segregasi. minyak parafin. yang mampu menghampar dan membentuk campuran aspal sesuai dengan garis. atas perintah Direksi Pekerjaan harus dikeluarkan dari pekerjaan sampai kondisinya diperbaiki. atau yang menunjukkan kebocoran oli yang nyata. b) c) d) 17) Peralatan Penghampar dan Pembentuk a) Peralatan penghampar dan pembentuk harus penghampar mekanis bermesin sendiri yang disetujui. Kontraktor tidak diijinkan memulai penghamparan sampai minimum terdapat tiga truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar. yang telah disemprot dengan sedikit air sabun. Kecepatan peralatan penghampar harus dioperasikan sedemikian rupa sehingga jumlah truk yang digunakan untuk mengangkut campuran aspal setiap hari dapat menjamin berjalannya peralatan penghampar secara menerus tanpa henti. Setiap genangan minyak pada lantai bak truk hasil penyemprotan sebelumnya harus dibuang sebelum campuran aspal dimasukkan dalam truk. Penghampar yang sering berhenti dan berjalan lagi akan menghasilkan permukaan yang tidak rata sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi pengendara serta mengurangi umur rencana akibat beban dinamis. Tiap muatan harus ditutup dengan kanvas / terpal atau bahan lainnya yang cocok dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi campuran aspal terhadap cuaca. bak truk hendaknya diisolasi dan seluruh penutup harus diikat kencang agar campuran aspal yang tiba di lapangan pada temperatur yang disyaratkan. maka Direksi Pekerjaan akan mengijinkan dilanjutkannya penghamparan bilamana minimum terdapat tiga truk di lapangan yang siap memasok campuran aspal ke peralatan penghampar. atau yang menyebabkan keterlambatan yang tidak semestinya.35 . Bilamana dianggap perlu. bersih dan rata. atau larutan kapur untuk mencegah melekatnya campuran aspal pada bak.

36 b) . evener arms (lengan perata).0 . Roda-roda harus berjarak sama satu sama lain pada kedua sumbu dan diatur sedemikian rupa sehingga tengah-tengah roda pada sumbu yang satu terletak di antara roda-roda pada sumbu yang lainnya secara tumpang-tindih (overlap). Semua alat pemadat harus mempunyai tenaga penggerak sendiri. maka penggunaan peralatan tersebut harus dihentikan dan peralatan penghampar dan pembentuk lainnya yang memenuhi ketentuan harus disediakan oleh Kontraktor. Kontraktor harus memberikan kepada Direksi Pekerjaan grafik atau tabel yang menunjukkan hubungan antara beban roda. Setiap roda harus dipertahankan tekanan pompanya pada tekanan operasi yang disyaratkan sehingga selisih tekanan pompa antara dua roda tidak melebihi 0. Untuk setiap ukuran dan jenis ban yang digunakan. straightedge runners (mistar lurus). hasil hamparan peralatan penghampar dan pembentuk meninggalkan bekas pada permukaan atau cacat atau ketidak-rataan permukaan lainnya yang tidak diperbaiki dalam waktu pengoperasian yang ditentukan. Setiap alat pemadat harus dilengkapi dengan suatu cara penyetelan berat total dengan pengaturan beban (ballasting) sehingga beban per lebar roda dapat diubah dari 300 .35 kg/cm2 (5 psi). lebar dan luas bidang kontak. Penampung (hopper) harus mempunyai sayap-sayap yang dapat dilipat pada saat setiap muatan campuran aspal hampir habis untuk menghindari sisa bahan yang sudah mendingin di dalamnya. penekanan.b) Alat penghampar harus dilengkapi dengan penampung dan dua ulir pembagi dengan arah gerak yang berlawanan untuk menempatkan campuran aspal secara merata di depan "screed" (sepatu) yang dapat disetel. Pada umumnya pemadatan dengan alat pemadat roda karet pada setiap lapis VI . Alat pemadat roda karet harus dari jenis yang disetujui dan memiliki tidak kurang dari sembilan roda yang permukaannya halus dengan ukuran yang sama dan mampu dioperasikan pada tekanan ban pompa 6. atau tindakan praktis lainnya yang efektif untuk menghasilkan permukaan akhir dengan kerataan atau tekstur yang disyaratkan. tanpa terbelah.5 kg/cm2 (85 .1 meter.375 kilogram per 0. Istilah "screed" (sepatu) meliputi pemangkasan. Alat penghampar harus mempunyai perlengkapan mekanis seperti equalizing runners (penyeimbang). tekanan pada bidang kontak.90 psi). Bilamana selama pelaksanaan. c) d) e) f) 18) Peralatan Pemadat a) Setiap alat penghampar harus disertai dua alat pemadat roda baja (steel wheel roller) dan satu alat pemadat roda karet. atau perlengkapan lainnya untuk mempertahankan ketepatan kelandaian dan kelurusan garis tepi perkerasan tanpa perlu menggunakan acuan tepi yang tetap (tidak bergerak). Tekanan dan beban roda harus disetel sesuai dengan permintaan Direksi Pekerjaan. Alat penghampar harus dilengkapai dengan "screed" (sepatu) baik dengan jenis penumbuk (tamper) maupun jenis vibrasi dan perangkat untuk memanasi "screed" (sepatu) pada temperatur yang diperlukan untuk menghampar campuran aspal tanpa menggusur atau merusak permukaan hasil hamparan. tergeser atau beralur. Peralatan ini harus dilengkapi dengan perangkat kemudi yang dapat digerakkan dengan cepat dan efisien dan harus mempunyai kecepatan jalan mundur seperti halnya maju. agar dapat memenuhi ketentuan setiap aplikasi khusus. Suatu perangkat pengukur tekanan ban harus disediakan untuk memeriksa dan menyetel tekanan ban pompa di lapangan pada setiap saat. tekanan ban pompa.6.

d) Dalam penghamparan percobaan. robek-robek atau tonjolan yang merusak permukaan perkerasan.37 b) . 3) Penyiapan Agregat a) Setiap fraksi agregat harus disalurkan ke instalasi pencampur aspal melalui pemasok penampung dingin yang terpisah. penyok. yang dapat menjamin kemajuan pekerjaan dengan tingkat kecepatan minimum 60 % kapasitas instalasi pencampuran. atau pekerja. PEMBUATAN DAN PRODUKSI CAMPURAN ASPAL Kemajuan Pekerjaan 1) Campuran aspal tidak boleh diproduksi bilamana tidak cukup tersedia peralatan pengangkutan. maka agregat harus kering dan dipanaskan terlebih dahulu dengan temperatur dalam rentang yang disyaratkan untuk bahan aspal.5 meter dan pemadat roda baja mempunyai berat statis tidak kurang dari 6 ton. sebelum campuran standar kerja (job standard mix) disetujui. Nyala api yang terjadi dalam proses pengeringan dan pemanasan harus diatur secara tepat agar dapat mencegah terbentuknya selaput jelaga pada agregat. c) Alat pemadat roda baja yang bermesin sendiri dapat dibagi atas tiga jenis : • • • Alat pemadat tiga roda Alat pemadat dua roda.000 liter aspal panas yang siap untuk dialirkan ke alat pencampur. tetapi tidak melampaui 15 ºC di atas temperatur bahan aspal. minimum harus terdapat 30. Agregat untuk campuran aspal harus dikeringkan dan dipanaskan pada alat pengering sebelum dimasukkan ke dalam alat pencampur. VI . 6. Bila agregat akan dicampur dengan bahan aspal. Tidak ada alternatif lain yang diperkenankan kecuali jika Kontraktor dapat menunjukkan kepada Direksi Pekerjaan bahwa kombinasi penggilas yang baru paling tidak seefektif yang sudah disetujui. Pada setiap hari sebelum proses pencampuran dimulai. Kontraktor harus dapat menunjukkan kombinasi jenis penggilas untuk memadatkan setiap jenis campuran sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Pra-pencampuran agregat dari berbagai jenis atau dari sumber yang berbeda tidak diperkenankan.campuran aspal harus dengan tekanan yang setinggi mungkin yang masih dapat dipikul bahan.3.5. Roda gilas harus bebas dari permukaan yang datar. tandem Alat pemadat tandem dengan tiga sumbu Alat pemadat roda baja harus mampu memberikan tekanan pada roda belakang tidak kurang dari 200 kg per lebar 0. penghamparan atau pembentukan. 2) Penyiapan Bahan Aspal Bahan aspal harus dipanaskan dengan temperatur antara 140 ºC sampai 160 ºC di dalam suatu tangki yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya pemanasan setempat dan mampu mengalirkan bahan aspal ke alat pencampur secara terus menerus pada temperatur yang merata setiap saat. Kontraktor harus melanjutkan untuk menyimpan dan menggunakan kombinasi penggilas yang disetujui untuk setiap campuran.1 meter di atas lebar penggilas minimum 0.

Bahan pengisi tidak boleh ditabur di atas tumpukan agregat maupun dituang ke dalam penampung instalasi pemecah batu. Muatan campuran aspal tidak boleh dikirim terlalu sore agar penghamparan dan pemadatan hanya dilaksanakan pada saat masih terang terkecuali tersedia penerangan yang dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. Proporsi takaran ini harus ditentukan dengan mencari gradasi secara basah dari contoh yang diambil dari penampung panas (hot bin) segera sebelum produksi campuran dimulai dan pada interval waktu tertentu sesudahnya.3.5. kemudian baru sejumlah aspal yang tepat ditambahkan ke dalam agregat tersebut dan diaduk dengan waktu sesingkat mungkin yang ditentukan dengan “pengujian derajat penyelimutan aspal terhadap butiran agregat kasar” sesuai dengan prosedur AASHTO T195 . dan dapat ditentukan dengan menyetel ketinggian sekat baja dalam alat pencampur. VI . 4) Penyiapan Pencampuran a) Agregat kering yang telah disiapkan seperti yang dijelaskan di atas. berat kosong dan berat neto. Temperatur campuran aspal saat dikeluarkan dari alat pencampur harus dalam rentang absolut seperti yang dijelaskan dalam Tabel 6.(1). untuk menghasilkan campuran yang homogen dan semua butiran agregat terselimuti aspal dengan merata. harus dicampur di instalasi pencampuran dengan proporsi tiap fraksi agregat yang tepat agar memenuhi rumus perbandingan campuran. waktu pencampuran yang dibutuhkan harus ditentukan dengan “pengujian derajad penyelimutan aspal terhadap butiran agregat kasar” sesuai dengan prosedur AASHTO T195 .(1). Tidak ada campuran aspal yang diterima dalam Pekerjaan bilamana temperatur pencampuran melampaui temperatur pencampuran maksimum yang disyaratkan. Bahan aspal harus ditimbang atau diukur dan dimasukkan ke dalam alat pencampur dengan jumlah yang ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan. b) 5) Pengangkutan dan Penyerahan di Lapangan a) b) Campuran aspal harus diserahkan ke alat penghamparan dengan temperatur dalam rentang absolut ditunjukkan dalam Tabel 6. Hal ini dimaksudkan agar pengendalian kadar filler dapat dijamin. seluruh agregat kering harus dicampur terlebih dahulu. dan paling lama 60 detik.67.c) Bila diperlukan untuk memenuhi gradasi yang disyaratkan. Setiap truk yang telah dimuati harus ditimbang di rumah timbang dan setiap muatan harus dicatat berat kotor. maka bahan pengisi (filler) tambahan harus ditakar secara terpisah dalam penampung kecil yang dipasang tepat di atas alat pencampur.5. Bilamana digunakan instalasi pencampur sistem penakaran.3.38 . untuk menjamin pengendalian penakaran. sebagaimana ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan. Waktu pencampuran total harus ditetapkan oleh Direksi Pekerjaan dan diatur dengan perangkat pengendali waktu yang handal.67 (biasanya sekitar 45 detik). Untuk instalasi pencampuran sistem menerus.

5 0. Viskositas aspal (PA. sebagimana yang ditunjukkan dengan adanya kelelehan plastis dan/atau kegemukan (bleeding). seluruh lapisan dengan bahan plastis ini harus dibongkar.5 .6.3.20 < 20 Suhu campuran aspal (ºC) Pen.2 0. Bilamana permukaan yang akan dilapisi terdapat atau mengandung sejumlah bahan dengan rongga dalam campuran yang tidak memadai. atau permukaan aspal lama telah berubah bentuk secara berlebihan atau tidak melekat dengan baik dengan lapisan di bawahnya.1.Tabel 6. semua bahan yang lepas atau lunak harus dibuang. PENGHAMPARAN CAMPURAN Menyiapkan permukaan yang akan dilapisi 1) a) Bilamana permukaan yang akan dilapisi termasuk perataan setempat dalam kondisi rusak. harus dibongkar atau dengan cara perataan kembali lainnya. Bilamana campuran aspal sulit dipadatkan (retak atau sungkur) temperatur campuran harus diturunkan lebih rendah dari yang ditunjukkan dalam tabel ini. Lapis perekat (tack coat) atau lapis resap pengikat (prime coat) harus diterapkan sesuai dengan Seksi 6. untuk menjamin agar rentang viskositas yang disyaratkan terpenuhi. b) 2) Acuan Tepi Balok kayu atau acuan lain yang disetujui harus dipasang sesuai dengan garis dan serta ketinggian yang diperlukan oleh tepi-tepi lokasi yang akan dihampar. VI .5 .0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Prosedur pelaksanaan Pencampuran benda uji Marshall Pemadatan benda uji Marshall Suhu pencampuran maks.39 .155 135 . permukaan yang akan dihampar harus dibersihkan dari bahan yang lepas dan yang tidak dikehendaki dengan sapu mekanis yang dibantu dengan cara manual bila diperlukan. Hal ini terjadi sehubungan dengan jenis campuran aspal yang berbeda (terlalu halus.(1).0 0.5. di AMP Pencampuran. rentang temperatur sasaran Menuangkan campuran aspal dari alat pencampur ke dalam truk Pemasokan ke Alat Penghampar Penggilasan Awal (roda baja) Penggilaan Kedua (roda karet) Penggilasan Akhir (roda baja) Catatan : 1) Direksi Pekerjaan akan menyetujui atau memerintahkan setiap perubahan yang dianggap perlu terhadap rentang suhu yang diberikan dalam tabel di atas. Sesaat sebelum penghamparan.0 1-2 2 .125 > 95 2) 6.1.4 tidak diperlukan 0. menunjukkan ketidakstabilan. Pembongkaran semacam ini harus diteruskan ke bawah sampai diperoleh bahan yang keras (sound). Toleransi permukaan setelah diperbaiki harus sama dengan yang disyaratkan untuk pelaksanaan lapis pondasi agregat. atau kadar pasir terlalu tinggi). bukan kriteria suhu.150 125 .2 .150 130 . 60/70 155 ± 1 145 ± 1 165 145 . dan permukaannya dibersihkan dan/atau diperbaiki dengan campuran aspal atau bahan lain yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Dengan demikian kriteria batas-batas viskositas inilah yang diatur dalam Spesifikasi.S) 0.3. : Ketentuan Viskositas Aspal dan Suhu Campuran Aspal No.145 100 .1 dari Spesifikasi ini. berdasarkan data pengujian viskositas aspal yang dipakai.

Bilamana jalan akan dihampar hanya setengah lebar jalan atau hanya satu lajur untuk setiap kali pengoperasian.3. atau bentuk ketidakrataan lainnya pada permukaan.10 menit 5 . Campuran aspal harus dihampar dan diratakan sesuai dengan kelandaian. koyakan atau alur dengan menaburkan bahan halus dari campuran aspal dan diratakan kembali sebelum penggilasan sedapat mungkin harus dihindari.15 menit < 45 menit b) VI . maka urutan penghamparan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga perbedaan akhir antara panjang penghamparan lajur yang satu dengan yang bersebelahan pada setiap hari produksi dibuat seminimal mungkin. Penggilasan campuran aspal harus terdiri dari tiga operasi yang terpisah berikut ini : No. Catatan : Operasi Penggilasan Awal atau Breakdown Penggilasan Kedua atau Utama Penggilasan Akhir / Penyelesaian Perkiraan waktu mulai setelah penghamparan 0 . koyakan atau alur pada permukaan. Kecepatan penghamparan harus disetujui oleh Direksi Pekerjaan dan ditaati. 4) Pemadatan a) Segera setelah campuran aspal dihampar dan diratakan. b) c) d) e) f) g) h) Harus diperhatikan agar campuran tidak terkumpul dan mendingin pada tepi-tepi penampung alat penghampar atau tempat lainnya. permukaan tersebut harus diperiksa dan setiap ketidaksempurnaan yang terjadi harus diperbaiki. 3. tetapi temperatur sisa campuran aspal harus dijaga tidak kurang dari temperatur yang disyaratkan dalam Tabel 6.3) Penghamparan dan Pembentukan a) Sebelum memulai penghamparan. Mesin vibrasi pada alat penghampar harus dijalankan selama penghamparan dan pembentukan. Penampung alat penghampar tidak boleh dikosongkan.5. Alat penghampar harus dioperasikan dengan suatu kecepatan yang tidak menyebabkan retak permukaan.3. koyakan.(1). serta bentuk penampang melintang yang disyaratkan. 2. Penambalan tempat-tempat yang mengalami segregasi. maka alat penghampar harus dihentikan dan tidak boleh dijalankan lagi sampai penyebabnya telah ditemukan dan diperbaiki. elevasi.40 . Bilamana terjadi segregasi.5(1). Temperatur campuran aspal yang terhampar dalam keadaan gembur harus dipantau dan penggilasan harus dimulai dalam rentang viskositas aspal yang ditunjukkan pada Tabel 6. sepatu (screed) alat penghampar harus dipanaskan. 1. Butiran kasar tidak boleh ditaburkan di atas permukaan yang dihampar dengan rapi. Penghamparan harus dimulai dari lajur yang lebih rendah menuju lajur yang lebih tinggi bilamana pekerjaan yang dilaksanakan lebih dari satu lajur.

Bilamana menggilas sambungan memanjang. penggilasan dilakukan sejajar dengan sumbu jalan berurutan menuju ke arah sumbu jalan. Setiap produk minyak bumi yang tumpah atau tercecer dari kendaraan atau perlengkapan yang digunakan oleh Kontraktor di atas perkerasan yang sedang dikerjakan. Semua jenis operasi penggilasan harus dilaksanakan secara menerus untuk memperoleh pemadatan yang merata saat campuran aspal masih dalam kondisi mudah dikerjakan sehingga seluruh bekas jejak roda dan ketidak-rataan dapat dihilangkan. Roda karet boleh sedikit diminyaki untuk menghindari lengketnya campuran aspal pada roda. Garis. maka lintasan awal harus dilakukan sepanjang sambungan memanjang untuk suatu jarak yang pendek.3. Roda alat pemadat harus dibasahi secara terus menerus untuk mencegah pelekatan campuran aspal pada roda alat pemadat. kecepatan dan arah penggilasan tidak boleh diubah secara tiba-tiba atau dengan cara yang menyebabkan terdorongnya campuran aspal. kecuali untuk superelevasi pada tikungan harus dimulai dari tempat yang terendah dan bergerak kearah yang lebih tinggi.Perkiraan waktu di atas hanyalah pedoman kasar. Penggilasan kedua atau utama harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda karet sedekat mungkin di belakang penggilasan awal. Selanjutnya. c) Penggilasan awal atau breakdown harus dilaksanakan baik dengan alat pemadat roda baja maupun dengan alat pemadat roda karet. Bila sambungan melintang dibuat untuk menyambung lajur yang dikerjakan sebelumnya. Setiap titik perkerasan harus menerima minimum dua lintasan penggilasan awal. Kecepatan alat pemadat tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk roda baja dan 10 km/jam untuk roda karet dan harus selalu dijaga rendah sehingga tidak mengakibatkan bergesernya campuran panas tersebut.(1). Penggilasan awal harus dioperasikan dengan roda penggerak berada di dekat alat penghampar. sampai seluruh permukaan tersebut dingin. sampai tercapainya sambungan yang dipadatkan dengan rapi. Bagaimanapun juga aplikasi penggilasan harus berdasarkan viskositas aspal yang ditentukan dalam Tabel 6. Lintasan yang berurutan harus saling tumpang tindih (overlap) minimum setengah lebar roda dan lintasan-lintasan tersebut tidak boleh berakhir pada titik yang kurang dari satu meter dari lintasan sebelumnya. dapat menjadi alasan dilakukannya pembongkaran dan perbaikan oleh Kontraktor atas VI . alat pemadat untuk penggilasan awal harus terlebih dahulu menggilas lajur yang telah dihampar sebelumnya sehingga tidak lebih dari 15 cm dari lebar roda penggilas yang menggilas tepi sambungan yang belum dipadatkan. tetapi air yang berlebihan tidak diperkenankan. Pertama-tama penggilasan harus dilakukan pada sambungan melintang yang telah terpasang kasau dengan ketebalan yang diperlukan untuk menahan pergerakan campuran aspal akibat penggilasan. Peralatan berat atau alat pemadat tidak diijinkan berada di atas permukaan yang baru selesai dikerjakan.5. Penggilasan dengan lintasan yang berurutan harus dilanjutkan dengan menggeser posisi alat pemadat sedikit demi sedikit melewati sambungan. Penggilasan harus dimulai dari tempat sambungan memanjang dan kemudian dari tepi luar. Penggilasan akhir atau penyelesaian harus dilaksanakan dengan alat pemadat roda baja tanpa penggetar (vibrasi).41 d) e) f) g) h) i) j) k) .

Seluruh tonjolan setempat. penyimpangan yang terjadi harus diperbaiki dengan membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan. m) 5) Sambungan a) Sambungan memanjang maupun melintang pada lapisan yang berurutan harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapis satu tidak terletak segaris yang lainnya. pemadatan atau komposisi harus diperbaiki sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Setiap bahan yang berlebihan harus dipotong tegak lurus setelah penggilasan akhir. Sambungan memanjang harus diatur sedemikian rupa agar sambungan pada lapisan teratas berada di pemisah jalur atau pemisah lajur lalu lintas. Toleransi harus sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 6. PENGENDALIAN MUTU DAN PEMERIKSAAN DI LAPANGAN Pengujian Permukaan Perkerasan 1) a) Pemukaan perkerasan harus diperiksa dengan mistar lurus sepanjang 3 meter atau mistar lurus beroda sepanjang 3 meter. Campuran aspal tidak boleh dihampar di samping campuran aspal yang telah dipadatkan sebelumnya kecuali bilamana tepinya telah tegak lurus atau telah dipotong tegak lurus. Sapuan aspal sebagai lapis perekat untuk melekatkan permukaan lama dan baru harus diberikan sesaat sebelum campuran aspal dihampar di sebelah campuran aspal yang telah digilas sebelumnya.3. dan dibuang oleh Kontraktor di luar daerah milik jalan sehingga tidak kelihatan dari jalan yang lokasinya disetujui oleh Direksi Pekerjaan. selanjutnya semua biaya pekerjaaan perbaikan ini menjadi beban Kontraktor. keduanya disediakan oleh Kontraktor.perkerasan yang terkontaminasi. kerataan lapisan ini harus diperiksa kembali dan setiap ketidak-rataan permukaan yang melampaui batas-batas yang disyaratkan dan setiap lokasi yang cacat dalam tekstur. b) VI . tonjolan sambungan. Pada tempat-tempat tertentu dari campuran aspal terhampar dengan luas 1000 cm2 atau lebih yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan bahan aspal harus dibongkar dan diganti. cekungan akibat ambles. b) 6. Setiap campuran aspal padat yang menjadi lepas atau rusak.(4).(f). Sambungan melintang harus lurus dan dihampar secara bertangga dengan pergeseran jarak minimum 25 cm. Kontraktor harus memangkas tepi perkerasan agar bergaris rapi. Setelah penggilasan akhir.42 . Pengujian untuk memeriksa toleransi kerataan yang disyaratkan harus dilaksanakan segera setelah pemadatan awal.1.3. tercampur dengan kotoran. dan segregasi permukaan yang keropos harus diperbaiki sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Sewaktu permukaan sedang dipadatkan dan diselesaikan.7. l) Permukaan yang telah dipadatkan harus halus dan sesuai dengan lereng melintang dan kelandaian yang memenuhi toleransi yang disyaratkan. Kontraktor harus menugaskan beberapa surveyornya yang sudah terlatih untuk menggunakan mistar lurus tersebut sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan untuk memeriksa seluruh permukaan perkerasan. atau rusak dalam bentuk apapun. harus dibongkar dan diganti dengan campuran panas yang baru serta dipadatkan secepatnya agar sama dengan lokasi sekitarnya. dilaksanakan tegak lurus dan sejajar dengan sumbu jalan. Selanjutnya pemadatan dilanjutkan seperti yang dibutuhkan.

5 Nilai minimum setiap pengujian tunggal (% JSD) 95 94.3.3. b) Pengendalian Proses Frekwensi minimum pengujian yang diperlukan dari Kontraktor untuk maksud pengendalian proses harus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 6. seperti yang ditentukan dalam AASHTO T 166.3.2) Ketentuan kepadatan a) Kepadatan semua jenis campuran aspal yang telah dipadatkan.(1) dan dalam jumlah tumbukan yang disyaratkan dalam Tabel 6.1 98.9 94.3.8 b) c) 3) Jumlah Pengambilan Benda Uji Campuran Aspal a) Pengambilan Benda Uji Campuran Aspal Pengambilan benda uji umumnya dilakukan di instalasi pencampuran aspal.08 : 1 maka benda uji inti tersebut harus dibuang dan serangkaian benda uji inti baru harus diambil. Enam cetakan Marshall harus dibuat dari setiap contoh.(4).7. Bilamana rasio kepadatan maksimum dan minimum yang ditentukan dalam serangkaian benda uji inti pertama yang mewakili setiap lokasi yang diukur untuk pembayaran. tetapi Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan pengambilan benda uji di lokasi penghamparan bilamana terjadi segregasi yang berlebihan selama pengangkutan dan penghamparan campuran aspal. Kepadatan benda uji rata-rata (Gmb) dari semua cetakan Marshall yang dibuat setiap hari akan menjadi Kepadatan Marshall Harian. Cara pengambilan benda uji campuran aspal dan pemadatan benda uji di laboratorium masing-masing harus sesuai dengan AASHTO T 168 dan SNI-06-2489-1991 untuk ukuran butir maksimum 25 mm atau ASTM D5581 untuk ukuran maksimum 50 mm.3.3.3 98.7.(2) di bawah ini atau sampai dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan. tidak boleh kurang dari 98 % Kepadatan Standar Kerja (Job Standard Density). disyaratkan (% JSD) 98 Jumlah benda uji per pengujian 3-4 5 6 Kepadatan minimum rata-rata (% JSD) 98.7.5.43 . lebih besar dari 1. Benda uji harus dipadatkan pada temperatur yang disyaratkan dalam Tabel 6. Kontraktor dianggap telah memenuhi kewajibannya dalam memadatkan campuran aspal bilamana kepadatan lapisan yang telah dipadatkan sama atau lebih besar dari nilai-nilai yang diberikan Tabel 6. : Ketentuan Kepadatan Kepadatan yg. Contoh yang diambil dari penghamparan campuran aspal setiap hari harus dengan cara yang diuraikan di atas dan dengan frekuensi yang diperintahkan dalam Pasal 6.3.(1). Tabel 6.(1).3. VI .(1).(3) dan 6.7.7.

VI .Benda uji inti (core) berdiameter 4” untuk partikel ukuran maksimum 1” dan 5” untuk partikel ukuran di atas 1”. 2 pengujian per hari) 200 ton (min.. Seluruh pengujian dari setiap ruas jalan.7.000 ton Setiap perubahan agregat/rancangan 200 meter panjang Paling sedikit 3 titik yang diukur melintang pada paling sedikit setiap 12. Marshall Quotient. kelelehan.000 m3 1.Elevasi permukaan.3.Suhu di AMP dan suhu saat sampai di lapangan . : Pengendalian Mutu Pengambilan Campuran Pengujian Frekwensi pengujian (satu pengambilan contoh per) Agregat : . 5.5 meter memanjang sepanjang jalan tersebut. untuk penampang melintang dari setiap jalur lalu lintas. c) Pemeriksaan dan Pengujian Rutin Pemeriksaan dan pengujian rutin akan dilaksanakan oleh Kontraktor di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan untuk menguji pekerjaan yang sudah diselesaikan sesuai toleransi dimensi.(2). diperbaiki sedemikian rupa sehingga setelah diperbaiki. kepadatan pemadatan dan setiap ketentuan lainnya yang disebutkan dalam Seksi ini. yang tidak memenuhi ketentuan yang disyaratkan harus dibuang dan diganti dengan bahan dan ketenga-kerjaan yang memenuhi Spesifikasi atau.Gradasi agregat yang ditambahkan ke tumpukan . stabilitas.Gradasi agregat dari penampung panas (hot bin) .Kepadatan. baik untuk pemeriksaan pemadatan maupun tebal lapisan : paling sedikit 2 benda uji inti per lajur dan 6 benda uji inti per 200 meter panjang.Nilai setara pasir (sand equivalent) Campuran : .Gradasi dan kadar aspal .Abrasi dengan mesin Los Angeles . meliputi bahan atau ketenaga-kerjaan.Campuran Rancangan (Mix Design) Marshall Lapisan yang dihampar : .3.Rongga dalam campuran pd. 2 pengujian per hari) 3. 2 pengujian per hari) 250 m3 jam 200 ton (min.7.Direksi Pekerjaan harus memerintahkan Kontraktor untuk mengulangi proses campuran rancangan dengan biaya Kontraktor sendiri bilamana Kepadatan Marshall Harian rata-rata dari setiap produksi selama empat hari berturut-turut berbeda lebih 1 % dari Kepadatan Standar Kerja (JSD). pekerjaan tersebut memenuhi semua ketentuan yang disyaratkan. Kontraktor dapat memilih untuk mengambil contoh di atas ruas yang lebih panjang (yaitu. semua biaya pembuangan dan penggantian bahan maupun perbaikan menjadi beban Kontraktor. Untuk mengurangi kuantitas bahan terhadap resiko dari setiap rangkaian pengujian. rongga dalam campuran pd. Kepadatan Membal . pada suatu frekuensi yang lebih besar) dari yang diperlukan dalam Tabel 6. bilamana diperkenankan oleh Direksi Pekerjaan. 75 tumbukan . Toleransi Pelaksanaan : .000 m3 250 m3 (min.44 . mutu bahan.(2). Tabel 6.

VI . Kadar aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi kadar aspal paling sedikit dua contoh. kelelehan. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Pekerjaan hasil dan catatan pengujian berikut ini. Marshall Quotient. beserta lokasi penghamparan yang sesuai : i) ii) iii) iv) Analisa ayakan (cara basah). Stabilitas. v) vi) vii) viii) 5) Pengendalian kuantitas dengan menimbang campuran aspal Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untuk pembayaran.1.45 . paling sedikit dua contoh. Kadar aspal yang terserap oleh agregat. yang dilaksanakan setiap hari produksi. yang dihitung berdasarkan Berat jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (AASHTO T209-90). Kepadatan Marshall Harian dengan detil dari semua benda uji yang diperiksa.(e) dari Spesifikasi ini. Biaya ektraksi benda uji inti untuk pengendalian proses harus sudah termasuk ke dalam harga satuan Kontraktor untuk pelaksanaan perkerasan lapis beraspal dan tidak dibayar secara terpisah. Rongga dalam campuran pada kepadatan membal (refusal).3. Bilamana cara ekstraksi sentri-fugal digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994. 4) Pengujian Pengendalian Mutu Campuran Aspal a) b) Kontraktor harus menyimpan catatan seluruh pengujian dan catatan tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan tanpa keterlambatan.(4).d) Pengambilan Benda Uji Inti Lapisan Beraspal Kontraktor harus menyediakan mesin bor pengambil benda uji inti (core) yang mampu memotong benda uji inti berdiameter 4” maupun 6” pada lapisan beraspal yang telah selesai dikerjakan. Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density) untuk setiap benda uji inti (core). yang dihi-tung berdasarkan Berat Jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (AASHTO T20990). paling sedikit 2 contoh agregat dari setiap penampung panas. Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalsi pencampur aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam). campuran aspal yang dihampar harus selalu dipantau dengan tiket pengiriman campuran aspal dari rumah timbang sesuai dengan Pasal 6.

8. terbelah. dan luas lokasi penghamparan yang diterima. yang dihitung sebagai hasil perkalian luas lokasi dan tebal nominal ran-cangan yang diterima.(1). maka tebal rata-rata yang ditentukan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan harus berdasarkan atas suatu perhitungan yang tidak berat sebelah dari tebal rata-rata yang dibutuhkan.3.3. VI . retak atau menipis (tapered) di sepanjang tepi perkerasan atau di tempat lainnya. ii) b) Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi dengan tebal hamparan kurang dari tebal minimum yang dapat diterima atau setiap bagian yang terkelupas. Untuk bahan lapisan perkuatan (misalnya AC-BC dan AC-Base) jumlah meter kubik dari bahan yang telah dihampar dan diterima.3.6. yang dihitung sebagai hasil perkalian dari panjang ruas yang diukur dan lebar yang diterima. harus dihitung berdasarkan tebal rata-rata yang diterima yang dihitung berdasarkan berat campuran aspal yang diperoleh dari penimbangan muatan di rumah timbang dibagi dengan luas penghamparan aktual dan kepadatan lapangan hasil pengujian benda uji inti (core).8.(1) di atas atau tebal rancangan yang ditentukan dalam Gambar. melebihi dari tebal aktual dibutuhkan (diperlukan untuk perbaikan bentuk).46 . Tidak ada penyesuaian luas atau volume hamparan seperti di atas yang dapat diterapkan untuk ketebalan yang melebihi tebal nominal rancangan bila campuran aspal tersebut dihampar di atas permukaan yang juga dikerjakan dalam kontrak ini. Direksi Pekerjaan dapat menyetujui atau menerima suatu ketebalan yang kurang berdasarkan pertimbangan teknis atau suatu ketebalan lebih untuk lapis perata seperti yang diijinkan menurut Pasal 6.(c) dari Spesifikasi ini maka pembayaran campuran aspal akan dihitung berdasarkan luas atau volume hamparan yang dikoreksi menurut butir (h) di bawah dengan menggunakan faktor koreksi berikut ini : Ct = Tebal no min al yang diterima Tebal no min al rancangan c) d) Diagram penggunaan rumus di atas diberikan terdapat dalam Lampiran 6.3. maka tebal campuran aspal yang diukur untuk pembayaran tidak boleh lebih besar dari tebal nominal rancangan yang ditunjukkan dalam Tabel 6. Kecuali yang disebutkan dalam (c) di atas. kecuali jika diperintahlan lain oleh Direksi Pekerjaan atau ditunjukkan dalam Gambar. Lokasi dengan kadar aspal yang tidak memenuhi Spesifikasi tidak akan diterima untuk pembayaran. Campuran aspal yang dihampar langsung di atas permukaan aspal lama yang dilaksanakan pada kontrak yang lalu. menurut pendapat Direksi Pekerjaan memerlukan koreksi bentuk yang cukup besar. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN Pengukuran Pekerjaan 1) a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran campuran aspal haruslah berdasarkan pada beberapa penyesuaian di bawah ini : i) Untuk bahan lapisan permukaan (AC-WC) jumlah per meter persegi dari bahan yang dihampar dan diterima. Bilamana tebal rata-rata campuran aspal yang telah diperhitungkan.1.A dari Spesifikasi ini.

VI . Lebar yang akan digunakan dalam menghitung luas untuk pembayaran setiap lokasi perkerasan yang diukur. peralatan. Pengukuran harus dilakukan tegak lurus sumbu jalan dan tidak termasuk lokasi hamparan yang tipis atau tidak memenuhi ketentuan sepanjang tepi hamparan. Pelapisan campuran aspal dalam arah memanjang harus diukur sepanjang sumbu jalan dengan menggunakan prosedur pengukuran standar ilmu ukur tanah. harus merupakan lebar rata-rata yang diukur dan disetujui. i) Bilamana perbaikan pada campuran aspal yang tidak memenuhi ketentuan telah diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan Pasal 6. j) 2) Dasar Pembayaran Kuantitas yang sebagaimana ditentukan di atas harus dibayar menurut Harga Kontrak per satuan pengukuran. pengujian. Pembayaran campuran aspal akan dihitung berdasarkan luas atau volume hamparan yang dikoreksi menurut dalam butir (h) di bawah dengan menggunakan faktor koreksi berikut ini.3.47 . Kadar aspal aktual (kadar aspal efektif + penyerapan aspal) yang digunakan Kontraktor dalam menghitung harga satuan untuk berbagai campuran aspal yang termasuk dalam penawarannya haruslah berdasarkan perkiraannya sendiri. dimana harga dan pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk mengadakan dan memproduksi dan mencampur serta menghampar semua bahan. maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah kuantitas yang akan dibayar bila pekerjaan semula dapat diterima.1. Tidak ada pembayaran tambahan untuk pekerjaan atau kuantitas tambahan yang diper-lukan untuk perbaikan tersebut. Tidak ada penyesuaian yang akan dibuat untuk kadar aspal yang melampaui nilai yang disyaratkan dalam Rumus Perbandingan Campuran. perkakas dan pelengkapan lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.e) Lebar hamparan campuran aspal yang akan dibayar harus seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dan harus diukur dengan pita ukur oleh Kontraktor di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan.(8) dari Spesifikasi ini. Cb = Kadar aspal rata − rata yang diperoleh dari hasil ekstraksi Kadar aspal yang ditetapkan dalam Rumus Perbandingan Campuran f) g) h) Luas atau volume yang digunakan untuk pembayaran adalah : Luas atau volume seperti disebutkan pada butir (a) di atas x Ct x Cb Bilamana tidak terdapat penyesuaian maka faktor koreksi Ct dan Cb diambil satu. termasuk semua pekerja. Interval jarak pengukuran memanjang harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan tetapi harus selalu berjarak sama dan tidak kurang dari 25 meter. Tidak ada penyesuaian harga yang akan dibuat sehubungan dengan perbedaan kadar aspal yang disetujui dalam Rumus Perbandingan Campuran dan kadar aspal dalam analisa harga satuan dalam penawaran. Bilamana Direksi Pekerjaan menerima setiap campuran aspal dengan kadar aspal ratarata yang lebih rendah dari kadar aspal yang ditetapkan dalam rumus perbandingan campuran. untuk Mata Pembayaran yang ditunjukkan di bawah ini dan dalam Daftar Kuantintas dan Harga.

(3) Laston Lapis Aus (AC-WC) Uraian Satuan Pengukuran m2 m3 m3 Laston Lapis Pengikat (AC-BC) Laston Lapis Pondasi (AC-Base) VI .3.(1) 6.(2) 6.3.3.48 .Nomor Mata Pembayaran 6.

49 .SEKSI 6.4 LASBUTAG DAN LATASBUSIR SEKSI INI TIDAK DIGUNAKAN VI .

2) Pekerjaan seksi lain yang berkaitan dengan seksi ini a) b) c) d) e) f) 3) Pemeliharaan Lalu Lintas Rekayasa Lapangan Bahan dan Penyimpanan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat Campuran Aspal Panas Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama : : : : : : Seksi 1. : Metode Pengujian Sifat Kekekalan Bentuk Agregat terhadap Larutan Natrium Sulfat dan Magnesium Sulfat. : Metode Mempersiapkan Contoh Tanah dan Tanah mengandung Agregat. : Metode Pengujian Kelekatan Agregat terhadap Aspal.50 . : Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles.8 Seksi 1.84) SNI 03-3407-1994 (AASHTO T104 .1 Standar Rujukan Standar Nasional Indonesia (SNI) : SK SNI M-02-1994-03 (AASHTO T11 . karena pengerjaannya lebih mudah dan tidak mudah tersegregasi. Campuran kelas E adalah bergradasi terbuka dan sesuai untuk digunakan dengan aspal emulsi. dan pelapisan kembali jalan dengan volume lalu lintas rendah. Kelas C adalah campuran bergradasi semi padat dengan menggunakan aspal cair (cut-back). Gradasi yang lebih halus (C/10 dan E/10) harus digunakan juka tersedia agregat yang memenuhi syarat.87) SNI 03-2439-1991 (AASHTO T182 .88) SNI 03-1975-1990 (AASHTO T87 . UMUM Uraian 1) Pekerjaan ini meliputi penyediaan. Untuk setiap kelas tersedia dua amplop gradasi.86) SNI 03-2417-1991 (AASHTO T96 . 200 (0. penghamparan dan pemadatan campuran bitumen dingin untuk pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan jalan.075 mm) : Metode Pengujian Tentang Analisa Saringan Agregat Halus dan Kasar. VI .1 Seksi 6.11 Seksi 6. perbaikan bentuk permukaan.1. pelebaran tepi untuk jalan dengan volume lalu lintas rendah dan sedang.86) : Metode Pengujian Jumlah Bahan Dalam Agregat yang Lolos Saringan No.90) SNI 03-1968-1990 (AASHTO T27 .5 CAMPURAN ASPAL DINGIN 6.9 Seksi 1.5. Campuran dirancang agar sesuai dihampar dan dipadatkan secara dingin setelah disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu. termasuk : penambahan dan pekerjaanpekerjaan kecil.SEKSI 6.3 Seksi 8.

51 . : Ketentuan Agregat Kasar Pengujian Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium dan magnesium sulfat Abrasi dengan mesin Los Angeles pada 500 putaran Kelekatan agregat terhadap aspal Standar SNI 03-3407-1994 SNI 03-2417-1991 SNI 03-2439-1991 Nilai Maks.11. 6.2.86) Pd S-02-1995-03 (AASHTO M82 .2.(1). : Spesifikasi Aspal Emulsi Kationik. Agregat kasar harus terdiri atas bahan yang bersih. yang mempunyai partikel lolos ayakan No.Umum 1) Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan.2.(1).5. dan permukaan yang disiapkan telah disetujui secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.075 mm) lebih besar dari 1 % tidak boleh digunakan.36 mm dan mempunyai dua bidang pecah harus tidak kurang dari 65 %. Bahan harus disimpan sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 1. 40 % Min.5. Agregat kasar yang kotor dan berdebu.75) Pd S-01-1995-03 (AASHTO M208 . keras.88 4) : Emulsified Asphalt. 95 % c) Agregat yang tertahan ayakan 2. AASHTO M140 . 2) Agregat kasar untuk campuran dingin a) Agregat kasar harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah.12 % Maks.Pd M-03-1996-03 (AASHTO T176 . BAHAN Agregat . Persentase butiran agregat yang mempunyai paling sedikit dua bidang VI . b) Tabel 6. awet dan bebas dari kotoran dan bahan-bahan lain yang tidak diinginkan dan harus memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabel 6. tidak turun hujan. 5) Ketentuan Lalu Lintas Tempat kerja harus ditutup untuk lalu lintas pada saat pekerjaan sedang berlangsung dan selanjutnya sampai waktu yang ditentukan dimana Direksi Pekerjaan menyetujui permukaan akhir dapat dibuka untuk lalu lintas.87) AASHTO : : Metode Pengujian Agregat Halus atau Pasir yang mengandung Bahan Plastis dengan cara setara Pasir.5. : Spesifikasi Aspal Cair Penguapan Sedang. Kondisi cuaca yang diijinkan untuk bekerja Campuran aspal dingin hanya boleh dihampar bilamana permukaan kering. 200 (0.

(2).2.5. Bilamana permukaan yang akan ditambal baru akan dilapis dengan campuran aspal panas atau pelaburan aspal dalam waktu tiga bulan. 4) Bahan Pengisi (Filler) untuk campuran dingin Ketentuan dalam Pasal 6.2. Untuk menghindari produksi campuran yang terlalu lambat pengerasannya maka kuantitas minyak tanah yang ditambahkan harus seminimum mungkin.5.3. 200 (0.(2).2. Pengambilan contoh harus sesuai dengan ketentuan SNI 03-19751990. VI . keras dan bebas dari gumpalan atau bola lempung. 3) Agregat halus untuk campuran dingin a) b) Agregat halus. sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan. Batu pecah halus yang dihasilkan dari pemecahan batu harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Tabel 6. maka campuran dingin harus menggunakan aspal emulsi. dari setiap sumber.(1). untuk mencapai penyelimutan aspal pada seluruh agregat. Tabel 6.pecah ditentukan dengan pemeriksaan setiap butir agregat pada agregat seberat sekitar 2 kg dan ditunjukkan berat butiran dengan 2 bidang pecah atau lebih sebagai persentase berat seluruh contoh. 5) Bahan Aspal untuk campuran dingin a) Bahan aspal boleh aspal cair atau aspal emulsi yang memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Tabel 6. harus terdiri dari pasir atau batu pecah halus atau kombinasi keduanya.075 mm) lebih dari 8 % atau pasir yang mempunyai nilai setara pasir (sand equivalent) kurang dari 50 % sesuai dengan Pd M-03-1996-03.52 c) . tidak diperkenankan untuk digunakan dalam campuran. Dalam segala hal. : Bahan aspal untuk campuran dingin Rancangan Campuran Aspal Cair Aspal Emulsi Standar Rujukan Pd S-02-1995-03 Pd S-01-1995-03 Jenis Aspal Cair atau Emulsi C MC 250 MC 800 E CMS2 CMS2-h CSS1 b) Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan penambahan minyak tanah untuk memperbaiki kelekatan bahan pengikat ke agregat campuran.5. Minyak tanah ini harus dicampur sampai merata dalam aspal cair dan/atau ditambahkan ke agregat dalam peralatan pencampur sebelum penambahan aspal emulsi atau cair.(4) harus berlaku. atau bahan lain yang tidak diinginkan. Agregat halus harus terdiri atas butiran yang bersih.2. pasir yang kotor dan berdebu serta mempunyai partikel lolos ayakan No.

5 No.10 0-2 4.5 > 4.5 > 5. Kontraktor dianggap sudah memperhitungkan penyerapan aspal oleh agregat. b) 6. Variasi kadar aspal akibat tingkat penyerapan aspal yang berbeda.8 2.d) 6) Untuk pelapisan kembali diluar koreksi bentuk untuk luas kurang dari 50 m2. aspal emulsi harus digunakan. Komposisi dan Sifat-sifat Campuran URAIAN Ukuran butiran nominal maksimum (mm) Jenis Gradasi Ketebalan lapisan nominal minimum (mm) GRADASI ASTM (mm) 1” 25 ¾” 19 3/8” 9.5. maka kalikan kadar aspal residu dengan : VI .3.2 (*) 20 E/20 19 Terbuka 40 100 85 .200 0.3. Untuk memperoleh kadar aspal cair.5. tidak dapat diterima sebagai alasan untuk negosiasi kembali harga satuan dari Campuran Aspal Dingin.3 > 5.A . CAMPURAN Komposisi 1) Campuran harus memenuhi resep yang diberikan dalam Tabel 6.8 3.5 Semi padat Terbuka 40 20 % Berat yang lolos 100 95 .(1).6 > 5.5.5 (*) 20 Catatan : (1) (2) (3) (*) : kadar aspal harus dioptimasi dengan cara yang diberikan dalam Lampiran 6. Tabel 6.100 15 .075 RESEP CAMPURAN Kadar aspal residu minimum (% terhadap berat total campuran) CAMPURAN RANCANGAN Batas kadar bitumen residual (% terhadap berat total campuran) Kadar efektif bitumen minimum (% terhadap berat total campuran) Ketebalan efektif film bitumen minimum C/10 9. Kadar aspal residu = kadar aspal efektif + % aspal yang diserap agregat.6.2 3.100 100 60 .25 0 . : Ketentuan Campuran Dingin.5 10 4.3.5.(1).55 0 .3 . Contoh masing-masing bahan harus diserahkan sebagaimana diperitahkan.53 .36 No.9 . Dalam pemilihan sumber agregat.0 10 100 95 .75 85 .100 15 . Sumber Pasokan a) Persetujuan atas sumber pasokan agregat dan filler harus diperoleh dari Direksi Pekerjaan sebelum bahan tersebut didatangkan.5 Semi padat 20 KELAS CAMPURAN C/20 E/10 19 9.100 20 .25 3-5 5.10 3-5 0-2 5.5.

sumber dan gradasi agregat. proporsi Rumus Campuran Rancangan dan hasil percobaan penghamparan campuran bilamana dilakukan.54 . campuran dengan usulan rumus campuran rancangan harus dibuat. Campuran harus menunjukkan bahwa usulan rumus campuran rancangan tersebut tahan terhadap deformasi dalam kondisi dimana campuran tersebut digunakan. maka campuran harus dirancang dengan memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam Tabel 6. 5) Percobaan Penghamparan Sebelum memulai pekerjaan percobaan. Kadar aspal efektif didefinisikan sebagai kadar aspal residu dikurangi dengan kadar aspal yang terserap oleh agregat. maka kalikan kadar aspal residu dengan : 100 (100 − % air dalam aspal emulsi) (5) 2) Pengujian harus dilaksanakan untuk menentukan Kadar Aspal Residu dan Kadar Aspal Efekif. termasuk jenis dan sumber bahan aspal. dihampar dan dipadatkan dengan menggunakan cara dan bahan yang diusulkan untuk pekerjaan tersebut. VI . penyelimutan butiran agregat dan bahan aspal sisa yang cocok.5. 100 Aspal Residu dan Kadar Aspal Efektif Kadar aspal residu didefinisikan sebagai kadar aspal yang masih sisa setelah penguapan semua air dan pelunak dari campuran.3.5. 3) Pemilihan Rumus Perbandingan Campuran Untuk pekerjaan minor Kadar Aspal Residu Campuran menurut Resep dapat diambil untuk memperoleh campuran dengan kelecakan (workability). Selanjutnya Direksi Pekerjaan dapat menyetujui rumus campuran rancangan tersebut atau memerintahkan pembuatan rancangan campuran berikutnya atau percobaan penghamparan.(100 − % min yak tan ah dalam aspal cair ) (4) Untuk memperoleh kadar aspal emulsi. Campuran Kelas E harus dirancang sesuai dengan cara yang diberikan pada Lampiran 6.A. 4) Persetujuan Rumus Perbandingan Campuran Kontraktor harus menyerahkan usulan Rumus Campuran Rancangan yang lengkap dan detil kepada Direksi Pekerjaan untuk persetujuannya. Untuk pekerjaan berskala besar termasuk perbaikan bentuk dan pelapisan kembali dengan luas yang melebihi 100 m2 atau dalam hal dimana gradasi yang disyaratkan tidak mungkin dipenuhi gradasi atau bilamana Kadar Aspal Residu Campuran menurut Resep ternyata menghasilkan satu campuran yang dengan kelecakan (workability) yang jelek. penyelimutan butiran agregat yang jelek atau aspal dalam campuran mengalir berlebihan.(1).

4. b) Pelapisan Ulang (Resurfacing) Ketentuan dalam Pasal 6.36 mm sampai No. : Toleransi Komposisi Campuran Agregat Gabungan Lolos Ayakan 2.(17) harus berlaku. VI .5.3.5.4.3.4. KETENTUAN PERALATAN PELAKSANAAN Alat Pencampur 1) Baik alat pencampur mekanis buatan untuk campuran dingin atau pengaduk beton molen berkapasitas tidak kurang dari 200 liter dapat dipergunakan. sekop. Alat pencampur harus mampu menghasilkan campuran yang homogen.55 . 4) Alat Pemadat a) Pekerjaan Minor Pemadat yang dibuat khusus. 100 No.(16) harus berlaku.5 % berat total campuran 6. timbris dan sapu harus disediakan. 3) Alat Penghampar dan Pembentuk a) Pekerjaan Minor Metode manual umumnya dapat digunakan.(2).3. Timbris manual yang disediakan harus mempunyai luas permukaan tidak kurang dari 15 x 15 cm dan beratnya tidak kurang dari 4 kilogram. 200 Kadar aspal Kadar aspal Toleransi Komposisi Campuran ± 5 % berat total agregat ± 1. pemadat dorong yang mudah dipindahkan atau timbris getar dapat digunakan.3. Perkakas tangan seperti alat perata. penyelimutan aspal yang merata pada seluruh agregat. 2) Alat Pengangkutan Ketentuan dalam Pasal 6.6) Penerapan Rumus Perbandingan Campuran dan Toleransi yang diijinkan a) Semua campuran yang selesai dikerjakan harus memenuhi Rumus Perbandingan Campuran yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan. dalam rentang toleransi seperti disyaratkan dalam Tabel 6.5 % berat total agregat Toleransi ± 0.(2) di bawah ini : Tabel 6.5.

5. ii) Campuran Bitumen Emulsi Agregat harus sekedar basah saja untuk menjamin penyelimutan pada seluruh agregat. menggunakan takaran yang benar-benar proporsional. Campuran dingin harus disimpan bangsal yang kedap air.5 meter dan tidak lebih dari 2.5 meter. Pengadukan harus dilanjutkan hingga seluruh agregat terselimuti dengan merata. PEMERAMAN DAN PENYIMPANAN CAMPURAN Pemeraman 1) Campuran yang menggunakan bitumen emulsi sebagai pengikat dapat langsung digunakan setelah dibuat.4.56 . 6. PEMBUATAN CAMPURAN Penyiapan 1) a) Penyiapan Agregat i) Campuran Dingin dengan Aspal Cair Agregat yang digunakan untuk campuran dingin dengan aspal cair harus sekering mungkin dan tidak boleh mempunyai air pada permukaan. maka pengadukan harus dilanjutkan hingga aspal emulsi berubah warna dari coklat menjadi hitam (initial break).5. b) Penyiapan Campuran Proporsi penakaran harus diukur dalam berat atau volume. Campuran yang menggunakan aspal sebagai sebagai pengikat harus diperam dalam jangka waktu yang cukup (minimum 3 hari) sebelum digunakan.b) Pelapisan kembali (Resurfacing) Ketentuan dalam Pasal 6. 2) Penyimpanan a) Penyimpanan Curah Tempat penyimpanan harus kuat.5. berdranaise baik dan bebas dari tanaman. Bilamana digunkan aspal emulsi.(18) harus berlaku. VI .3. Tinggi penyimpanan tidak kurang dari 1. Campuran dingin yang menjadi kering dan terlalu kaku tidak boleh digunakan. Semua penyimpanan harus dilindungi dari sinar matahari langsung dan hujan. 6. sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Kadar air campuran tidak boleh melampaui 2 % dari berat total campuran.6. kecuali alat pemadat roda karet tidak perlu disediakan.

Campuran dingin harus dipadatkan dalam lapisan tidak melebihi dua kali tebal nominal (Tabel 6.5. Kantong harus terbuat dari anyaman polypropylene atau kertas sak berlapis (kantong semen). Kantong tidak boleh disusun lebih tinggi dari 2. Penaburan (Blinding) a) Campuran Kelas C Sedikit penaburan dengan batu kapur pecah (crushed limestone).b) Penyimpanan dalam kantong Penyimpangan dalam kantong akan memperkecil pencemaran atau segregasi campuran dingin dan memperkecil campuran yang terbuang.6 harus berlaku.(4). 6.4.2. PENGHAMPARAN CAMPURAN Penyiapan 1) Segera sebelum penghamparan campuran aspal. kecuali : i) ii) 3) Ketentuan temperatur penghamparan tidak digunakan. Bahan taburan yang terdorong ke tepi jalan dapat disapu kembali selama beberapa hari sedemikian hingga lalu lintas yang melintasinya diharapkan dapat menanam bahan taburan tersebut ke dalam aspal dan memperkaku campuran aspal. Tepi-tepi lapisan beraspal lama juga harus mendapat semprotan aspal. 2).57 . bagian dalamnya dilapisi plastik atau timah yang kedap udara dan air.7. permukaan lama harus dibersihkan dari semua bahan yang lepas atau menggangu.3.(2) (kecuali untuk pekerjaan minor setiap metode yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan dapat digunakan untuk pemakaian lapis perekat). Penambalan yang lebih dalam dapat dilaksanakan lapis demi lapis. Bahan harus dibawa dan dihampar dengan hati-hati untuk mencegah segregrasi. Campuran dingin dapat disimpan untuk jangka waktu lama di dalam kantong yang ditutup rapat.5 meter.3. Pengantongan campuran dingin harus terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Lapis perekat harus disemprotkan sesuai Pasal 6.(1)). Kantong harus ditutup sedemikian hingga kedap udara. VI . Lokasi yang kurang dari 1 m2 dapat dipadatkan menggunakan timbris tangan.5. batu pecah halus atau pasir kasar harus dilakukan di atas semua permukaan yang akan segera dipadatkan. Lokasi yang lebih luas harus dipadatkan menggunakan alat pemadat mekanis atau pemadat pelat bergetar yang memenuhi ketentuan dalam Pasal 6. Alat pemadat roda karet tidak perlu disediakan. b) Pelapisan Ulang (Resurfacing) Ketentuan dalam Pasal 6.5. Taburan ini akan tertanam oleh alat pemadat atau timbris.1. Penghamparan dan Pemadatan a) Pekerjaan Minor Penghamparan dapat dilakukan dengan cara manual. menyelimuti seluruh permukaan yang akan dihampar campuran dingin dengan merata.

(1) Uraian Campuran Aspal Dingin untuk Pelapisan ( tidak digunakan ) Satuan Pengukuran m3 VI . 6.5.b) Campuran Kelas E Campuran dingin dengan aspal emulsi harus ditunggu sampai matang (fully breaking) sebelum penaburan sedikit agregat. penghamparan dan pemadatan bahan campuran dingin dan pemasokan serta penaburan lapisan agregat. Selanjutnya batu pecah halus atau pasir kasar harus ditebar di atas seluruh permukaan. Kontraktor harus menyimpan catatan luas dan ketebalan bahan campuran dingin dan kuantitas lapis perekat yang digunakan untuk pekerjaan minor dalam setiap kilometer proyek tersebut.58 . peralatan. pekerja. Taburan ini akan tertanam oleh alat pemadat atau timbris. Harga kontrak harus merupakan kompensasi penuh untuk pemasokan.8. Laporan tersebut harus diserahkan pada Direksi Pekerjaan secara mingguan.3. Jumlah yang ditebar harus cukup untuk mengisi seluruh rongga permukaan.1. perkakas. b) Pelapisan Ulang (Resurfacing) Ketentuan dalam Pasal 6. 2) Dasar Pembayaran Kuantitas. pengiriman. Bahan taburan yang terdorong ke tepi jalan dapat disapu kembali selama beberapa hari sedemikian hingga lalu lintas yang melintasinya diharapkan dapat menanam bahan taburan tersebut ke dalam aspal dan memperkaku campuran aspal. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN Pengukuran Pekerjaan 1) a) Pekerjaan Minor Kuantitas campuran dingin yang diukur untuk pembayaran harus merupakan volume padat yang dihamparkan dan ditentukan berdasarkan pengukuran luas permukaan dan tebal campuran dingin yang disetujui untuk tiap kelas perbaikan seperti diuraikan pada Seksi 8.8 harus berlaku.5. harus dibayar dengan harga kontrak per satuan pengukuran untuk mata pembayaran di bawah dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. yang ditentukan dari perhitungan di atas. pengujian dan hal-hal lain yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan pada Seksi ini. Nomor Mata Pembayaran 6.

6 LAPIS PERATA PENETRASI MACADAM SEKSI INI TIDAK DIGUNAKAN VI .59 .SEKSI 6.

SEKSI 6.7 PEMELIHARAAN DENGAN LABURAN ASPAL SEKSI INI TIDAK DIGUNAKAN VI .60 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful