NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak Indonesia telah meratifikasi instrumen internasional konvensi hak anak (KHA) sejak tahun 1990 dengan keppres No. 36 tahun 1990 mengakibatkan adanya pengembang suatu kerangka kerja hukum yang relatif progresif untuk memajukan hak-hak anak. Undang-undang Perlindungan Anak No.23 tahun 2002, utamanya adalah realisasi legislative atas ratifikasi KHA tersebut. Sejumlah produk perundangan dan kebijakan nasional juga nyata telah menjadikan KHA sebagai acuan pemenuhan dan perlindungan hak anak.

Kerangka kerja hukum untuk upaya pencegahan dan respon terhadap kekerasan, perlakuan salah, penelantaran, eksploitasi dan pengabaian anak tetap kurang berkembang. Kerangka hukum yang efektif dalam perlindungan anak semestinya merupakan kerangka hukum yang menetapkan sebuah instansi pemerintah dengan mandat, wewenang dan tanggungjawab yang jelas dalam hal pengelolaan dan pelaksanaan pelayanan perlindungan anak sehingga menentukan kontinum dalam upaya pencegahan, intervensi dini, dan pelayanan guna mencegah dan merespon segala bentuk perlakuan salah terhadap anak. menentukan standar, kriteria, wewenang dan prosedur pengambilan keputusan yang sesuai untuk intervensi kasus, termasuk standar mengenai kapan suatu pelayanan perlindungan wajib dapat dijalankan.

Kesimpulan di atas, dapat juga dilihat dampaknya di tingkat lokal seperti kota Bandung. Data-data permasalahan perlindungan anak di Kota Bandung, sebagaimana yang dilansir berbagai Dinas atau Satuan Kerja Perangkat Daerah, media, tokoh pendidikan dan masyarakat, serta lembaga swadaya masyarakat dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan, dari segi jumlah maupun kualitas masalah. Jumlah anak yang mengalami keterlantaran dan harus hidup atau bekerja di jalanan nyata jumlahnya tetap tinggi, anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual cenderung meningkat, juga yang dieksploitasi secara ekonomi seperti dengan menjadi pembantu rumah tangga anak atau di sektor informal lainnya, anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang mengalami tindak kekerasan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, serta anak yang
1

terinfeksi atau terdampak HIV/AIDS. Sementara itu, respon yang dilakukan berbagai pihak tersebut terasa tidak memadai. Di samping itu, Bandung adalah kota yang pertama kali memiliki inisiatif untuk mengembangkan Kota Ramah Anak pada tahun 2004, serta pada tahun 2006 telah mendapatkan penghargaan sebagai pemerintahan yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan anak, sehingga telah dicanangkan sebagai Kota Layak Anak Mandiri. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini Kota Bandung belum mempunyai peraturan daerah terkait perlindungan anak yang merupakan salah satu prasyarat bagi terwujudnya Kota Layak Anak.

B. Maksud & Tujuan Naskah akademis ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dasar persoalan dan kebutuhan penyelenggaraan perlindungan anak yang ada di Kota Bandung. Gambaran yang tertulis diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengkajian materi rancangan Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Tujuan dibuatnya naskah akademis ini adalah: 1. Memberikan landasan dan kerangka pemikiran bagi Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak. 2. Memberikan kajian dan kerangka filosofis, sosiologis, dan yuridis serta teknis tentang perlunya Perda Penyelenggraan Perlindungan Anak di Kota Bandung. 3. Mengkaji dan meneliti pokok-pokok materi apa saja yang ada dan harus ada dalam Rancangan Perda tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, 4. Melihat keterkaitannya dengan peraturan perundang-undangan lainnya sehingga jelas kedudukan dan ketentuan yang diaturnya.

C. Sistematika Naskah akademik akan disusun dengan sistematika sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan, yang menggambarkan latar belakang munculnya kebutuhan peraturan daerah ini, yang antara lain memuat tentang kondisi dan permasalahan anak Indonesia secara umum dikaitkan dengan keberadaaan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak; serta kondisi anak-anak di wilayah Kota Bandung. Dalam Bab ini juga dipaparkan mengenai maksud dan tujuan dari naskah akademik ini, serta sistematika penyusunan dokumen naskah akademik ini.

2

Bab II : Telaahan Akademik, yang memaparkan tentang landasan perlunya Perda penyelenggaraan perlindungan anak yang meliputi pengkajian landasan filosofis, landasan yuridis, landasan sosiologis, dan kajian teknis. Bab III : Materi Muatan Peraturan Daerah, yang memaparkan tentang pokok dan lingkup materi apa yang ada dan harus ada dalam Peraturan Daerah Penyelenggaraan Perlindungan Anak, didalamnya mencakup ketentuan Umum, materi pokok yang akan diatur, serta ketentuan mengenai sanksi, dan ketentuan-ketentuan lain. Bab IV : Penutup, yang berisi kesimpulan dari keseluruhan naskah akademik dan rekomendasinya. Lampiran : Berisi Legal Drafting atas Rancangan Perda Perlindungan Anak beserta penjelasannya

II.

TELAAHAN AKADEMIK

A. Kajian Filosofis Amanat penyelenggaraan perlindungan anak nyata tercantum dalam UndangUndang Dasar 1945 (Perubahan II, 18 agustus 2000), Pasal 28B ayat 2 yang berbunyi: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”, berlanjut pada Pasal 34 (Perubahan IV, 10 Agustus 2002) yang berbunyi: (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara; dan (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Kedua ayat tersebut memberi kepastian bahwa penyelenggaraan perlindungan anak adalah hal wajib untuk mencapai kondisi masyarakat sebagaimana dicita-citakan dalam bagian Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencermati secara mendalam Visi Kota Bandung, yaitu menjadi “Kota jasa yang bersih, makmur, taat, dan bersahabat (bermartabat)”, berikut misi yang diemban terkait dengan upaya mencapai visi tersebut, maka salah satu kunci utamanya terletak pada keberhasilan “investasi” kepedulian dalam hal kesejahteraan dan perlindungan anak. Mereka yang saat ini berstatus anak lah yang sesungguhnya akan menjawab apakah visi tersebut dapat terwujud menjadi realitas yang melekat dengan nama Kota Bandung di masa datang. Kepedulian atas kesejahteraan anak bermakna pada kesungguhan upaya untuk mendukung pemenuhan hal-hal yang dibutuhkan anak untuk bertahan hidup dan tumbuh kembang secara optimal seperti pemenuhan kebutuhan dasar, kualitas
3

Kajian Yuridis Secara yuridis Negara Republik Indonesia telah berusaha untuk memberikan perlindungan tentang hak-hak anak sesuai dengan ketentuan internasional. Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984. Undang-undang Dasar 1945 sendiri memberikan kesempatan besar untuk itu melalui Pasal 18 (Perubahan II. dan ayat 6 yang berbunyi: “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. Konvensi ILO Nomor 182 Mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak. Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999. 7. 3. Konvensi Hak-hak Anak /CRC.pengasuhan dalam lingkungan keluarga. Kovenan Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya/ICESCR. Diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah”. “Masa depan kota dan masyarakat Bandung sesungguhnya sangat ditentukan oleh keberhasilan pemerintah dan warganya saat ini dalam melindungi dan memenuhi hak-hak setiap anak yang hidup di Bandung” hari ini”. Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik / ICCPR Diratifikasi melalui UndangUndang Nomor 12 Tahun 2005. 2. B. 5. adalah hal krusial bagi Kota Bandung untuk memiliki perangkat peraturan daerah yang bisa memberikan kepastian hukum dan kejelasan tanggungjawab bahwa setiap anak akan terperhatikan kebutuhan kesejahteraannya dan terlindungi. yaitu dengan diratifikasinya berbagai konvensi atau kovenan internasional sebagai berikut: 1. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan / CEDAW.Undang Nomor 11 Tahun 2005). 4 . yang pada gilirannya akan mengamankan pencapaian visi kota Bandung . Konvensi ILO Nomor 138 Mengenai Usia Minimum Untuk diperbolehkan bekerja. kesempatan pendidikan yang berkualitas. 6. atau Merendahkan Martabat Manusia / CAT Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun1998. serta kesempatan untuk belajar menjadi bagian dari proses di dalam masyarakatnya. 18 agustus 2000) ayat 5 yang berbunyi: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. Tidak Manusiawi. Oleh karena itu. Diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Diratifikasi melalui Undang. 4. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam.

maka Negara Republik Indonesia telah terikat baik secara yuridis maupun politis dan moral untuk mengimplementasikan peraturan-peraturan tersebut di atas. Sehubungan dengan konvensi-konvensi atau kovenan-kovenan tersebut di atas. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak 5 . Kekhususan konvensi/ kovenan di bidang HAM sebagai suatu bentuk perjanjian internasional ialah bahwa negara-negara yang meratifikasi konvensi/ kovenan dimaksud saling berjanji untuk terikat pada kewajiban guna memberikan hak kepada setiap individu yang berada di dalam wilayah hukum negara yang bersangkutan Dengan diratifikasinya konvensi-konvensi atau kovenan-kovenan internasional dan ditandatanganinya Deklarasi Dunia yang Layak Bagi Anak-anak. Konvensi Hak-hak Anak (KHA) merupakan instrumen internasional di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling komprehensif dibandingkan dengan konvensi-konvensi internasional lainnya. dan budaya.anak luar kawin. KHA yang terdiri dari 54 pasal. sedangkan kewajiban ada di pihak negara. Undang-Undang Dasar 1945 (amandemen ke-2) Pasal 28 B ayat (2) menyatakan.kewajiban orang tua terhadap anak.Di samping itu pada tanggal 10 Mei 2002 Indonesia telah ikut menandatangani Deklarasi Dunia yang Layak Bagi Anak-anak (World Fit For Children). . tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. sampai kini dikenal sebagai satu-satunya konvensi di bidang HAM yang mencakup baik hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi.kebelumdewasaan anak dan perwalian. . sosial. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. 3. Dalam perspektif HAM. maka secara yuridis peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak di Indonesia dapat dijumpai dalam : 1. manusia hanya mempunyai hak. . 2. Hukum Perdata (KUH Perdata) dan untuk yang beragama Islam Kompilasi Hukum Islam antara lain mengatur : .kedudukan anak sah dan hukum waris.

anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 7 ayat (1) huruf j menyatakan. hendaklah tetap dipertimbangkan bahwa pemisahan tersebut semata-mata demi 6 . yaitu perkara anak dapat diselesaikan secara restorative justice. 4. Pasal 2 ayat (4) menyatakan anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak telah mengamanatkan hal yang sangat prinsip dalam mengadili perkara anak. Mengingat ciri dan sifat anak yang khas tersebut. yaitu tercantum dalam alinea ke-4 penjelasan umum yang menyatakan: hubungan antara orang tua dengan anaknya merupakan suatu hubungan yang hakiki. yaitu pengalihan anak dari system peradilan pidana ke luar sistem. penyidik mempunyai wewenang mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Pasal-pasal tersebut sering disebut pasal tentang kewenangan diskresioner dari polisi dan jaksa. Dalam perkara anak diharapkan polisi dan jaksa menggunakan kewenangan diskresinya untuk melakukan diversi. maka dalam menjatuhkan pidana atau tindakan terhadap Anak Nakal diusahakan agar anak dimaksud jangan dipisahkan dari orang tuanya. baik hubungan psikologis maupun mental spiritualnya. atau karena sifat perbuatannya sangat merugikan masyarakat sehingga perlu memisahkan anak dari orang tuanya. Anak Pidana ditempatkan di LAPAS Anak Pasal 18 ayat (2) menyatakan. 6. Pasal 14 huruf i menyatakan. mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan Pasal 18 ayat (1) menyatakan.Pasal 2 ayat (3) menyatakan. 5. Apabila karena hubungan antara orang tua dan anak kurang baik. Anak Negara ditempatkan di LAPAS Anak Pasal 18 ayat (3) menyatakan. Anak Sipil ditempatkan di LAPAS Anak.

3 Tahun 1997 yang menggunakan istilah bagi anak yang dituduh dan/ atau telah terbukti melakukan tindak pidana dengan sebutan anak nakal. agama. Pasal 15 ayat (2) huruf k menyatakan. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Republik Indonesia. Sanksi untuk anak yang terbukti melakukan tindak pidana berupa pidana atau tindakan. dan 7 . ras. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 52 ayat (2) menyatakan.pertumbuhan dan perkembangan anak secara sehat. golongan. Sama halnya sebagaimana Pasal 7 ayat (1) huruf j KUHAP kewenangan tersebut adal kewenangan diskresioner polisi. budaya. 9. Non diskriminasi. bahwa negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku. Tindakan antara lain dapat berupa mengembalikan kepada orang tua. 10. Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya berwenang melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian. urutan kelahiran anak. status hukum anak. bahwa hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungannya. wali. b. 7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 2 menyatakan. etnik. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaaran Hak Asasi Manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Hak untuk hidup kelangsungan hidup dan perkembangan. c. Undang-Undang No. jenis kelamin. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM Pasal 6 menyatakan. Kepentingan yang terbaik bagi anak. dan bahasa. serta prinsip-prinsip dasar konvensi Hakhak Anak yang meliputi: a. Dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 dinyatakan. dan d. Penghargaan terhadap pendapat anak. 8. bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. atau orang tua asuh.

mental. b. narkotika. mental. pekerjaan-pekerjaan terburuk yang diamaksud pada ayat (1) meliputi: a. Segala pekerjaan yang memanfaatkan. pertunjukan porno. atau perjudian. Segala pekerjaan yang memanfaatkan. menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras. Selanjutnya Pasal 22 menyatakan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 menyatakan: (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan. Selanjutnya Pasal 69 ayat (1) menyatakan dikecualikan bagi anak berumur antara 13 (tiga belas) tahun s/d 15 (lima belas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik. 11. membimbing membantu. psikotropika. c. Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya. Pasal 10 menyatakan : Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan. emosional. intelektual.kondisi fisik dan/ atau mental. dan/ atau d. Pasal 11 menyatakan: 8 . produksi pornografi. dan sosial. atau menawarkan anak untuk pelacuran. dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 68 menyatakan pengusaha dilarang mempekerjakan anak. dan zat adiktif lainnya. 12. negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. dan/ atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. atau moral anak. Pasal 74 ayat (1) menyatakan siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaanpekerjaan terburuk dan ayat (2) menyatakan. (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik. keselamatan. menyediakan.

(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. (2) Anak warga negara asing yang belum berusia 5 (lima) tahun yang diangkat secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara Indonesia memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. (3) Dalam hal anak sebagaiamana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) memperoleh kewarganegaraan ganda. 13. Undang-Undang No. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. 15. Menurut Pasal 2 anak termasuk lingkup rumah tangga. Pasal 34 menyatakan : (1) Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar.(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan. (3) Wajib belajar mmerupakan tanggung jawab negara yang yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. dari ayah atau ibu yang memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia dengan sendirinya berkewarganegaraan Republik Indonesia.. 14. Pasal 7 menyatakan 9 . berada dan bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI Pasal 21 menyatakan : (1) Anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin. Pemrintah Daerah. dan masyarakat.

Pejabat Pencatatan Sipil mencatat Kelahiran. dan g. Pasal 25 ayat (1) menyatakan: (1) Instansi Pelaksana wajib melakukan pendataan Penduduk rentan Administrasi Kependudukan yang meliputi: a. Pengaturan teknis penyelenggaraan Administrasi Kependudukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. dan d. Penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan Administrasi Kependudukan berdasarkan asas tugas pembantuan. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. c. Komunitas terpencil. Koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. (1) Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran. f. Penduduk korban bencana alam. Pasal 27 menyatakan. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. c. Orang terlantar. e. Pasala 28 menyatakan (1) Pencatatan kelahiran dalam Register Akta Kelahiran dan penerbitan Kutipan Akta Kelahiran terhadap peristiwa kelahiran seseorang yang tidak diketahui asalpada Registrasi Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta kegiatan pelayanan masyarakat di bidang Administrasi 10 .(1) Pemerintah kabupaten/ kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan. d. b. Penduduk korban bencana sosial. Pelaksanaan kependudukan. Pengelolaan dan penyajian Data Kependudukan berskala kabupaten/ kota. yang dilakukan oleh bupati/ walikota dengan kewenangan meliputi: a. Pembentukan Instansi Pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang administrasi Kependudukan.

000. 120.000.usulnya atau keberadaan orang tuanya.(seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.(seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. atau pendamping lainnya. advokat. 600. Pasal 38 menyatakan: Penyidikan Penuntutan..000.000. didasarkan pada laporan orang yang menemukan dilengkapi Berita Acara Pemeriksaan dari Kepolisian.(enam ratus juta rupiah). 600. di setiap provinsi dab kabupaten/ kota wajib dibentuk ruang pelayanan khusus pada kantor kepolisian setempat guna melakukan pemeiksaan di tingkat penyidikan bagi saksi dan/ atau korban tindak pidana perdagangan orang.000.. setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apapun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 11 ..000.(enam ratus juta rupiah). (2) Kutipan Akta Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Pejabat Pencatatan Sipil dan disimpan oleh Instansi Pelaksana. 16.. orang tua asuh. 120.000. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pasal 5 menyatakan: Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara peling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. Selanjutnya Pasal 6 menyatakan. Pasal 39 ayat (2) menyatakan : Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) saksi dan/ atau korban anak wajib didampingi orang tua. wali. dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap saksi dan/ atau korban anak dilakukan dengan memperhatikan kepentingan yang terbaik bagi anak dengan tidak memakai toga atau pakaian dinas.000. Pasal 45 ayat (1) menyatakan: Untuk melindungi saksi dan/ atau korban.

relawan pendamping. kepolisian. pemulangan dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membentuk rumah perlindungan sosial atau pusat trauma. Pasal 58 ayat (3) menyatakan: bagi saksi dan/ atau korban tindak pidana 12 . Pasal 53 menyatakan: Dalam hal korban mengalami trauma atau penyakit yang membahayakan dirinya akibat tindak pidana perdagangan orang sehingga memerlukan pertolongan segera. atau pekerja sosial setelah korban melaporkan kasus yang dialaminya atau pihak lain melaporkannya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia. rehabilitasi sosial. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) diajukan kepada pemerintah melalui menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di daerah. rehabilitasi sosial. (2) Hak-hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh korban atau keluarga korban. dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang. pada setiap kabupaten/ kota dapat dibentuk pusat pelayanan terpadu perdagangan orang. Pasal 52 ayat (2) menyatakan Untuk penyelenggaraan pelayanan rehabilitasi kesehatan. pemulangan. maka menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di ndaerah wajib memberikan pertolongan pertama paling lambat 7 (tujuh) hari setelah permohonan diajukan. Pasal 51 menyatakan: (1) Korban berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan.Pasal 46 ayat (1) menyatakan: Untuk melindungi saksi dan/ atau korban. teman korban.

organisasi masyarakat. Menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat. Menggerakan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. 18. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. lembaga swadaya masyarakat. Menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa. rumah sakit. Menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. f. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. dan j. g. Membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit. Mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi. e. 17. Menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Undang-Undang nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasal 55 menyatakan : (1) Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat. dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/ atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara professional dan bertanggung jawab. organisasi profesi. c. b. h. 19. 13 . Kesehatan bayi s/d remaja diatur dalam Pasal 126 s/d 137. Pasal 6 ayat (1) menyatakan: Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk: a. d. Memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Pemerintah Daerah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah daerah. penegak hukum. dan peneliti/akademi. Menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin. i. atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

mengikuti. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Anak. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 5 ayat (1) menyatakan: Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali. Kebersihan. 21. 25. 29. Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. 14 . Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban. 30. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar. 24. 23. 28.3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak. sebagaimana telah diuraikan dalam uraian butir 6 tersebut di atas dalam Peraturan Daerah Kota Bandung akan diatur advokasiyang akan dilakukan gugus tugas perlindungan anak agar anak yang melakukan tindak pidana kecil ( petty crime) tidak dijatuhi sanksi pidana melainkan tindakan. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Usaha Kesejahteraan Anak bagi yang Mempunyai Masalah. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak.20. Keputusan Presiden Nomor 88 Tahhun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (Trafiking). 22. dan Keindahan. Keputusan PresidenNomor 77 Tahun 2004 Tentang Komisi Perlindungan Anak. Sehubungan dengan ketentuan tersebut dengan dihubungkan dengan asas yang terkandung dalam Undang-Undang No. 27. 26. Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Pasal 39 huruf e melarang menghimpun anak-anak jalanan untuk dimanfaatkan meminta-minta/ mengamen untuk ditarik penghasilannya dan penyalahgunaan pemberdayaan anak. dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2000Tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil.

dan yudikatif yang membidangi anak. penyakit menular. Menurut Pasal 9 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2009. gugus tugas KLA di kabupaten/ kota diangkat dan diberhentikan oleh bupati/ walikota. Meskipun telah terdapat sederetan peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. dan ketelantaran. organisasi profesi. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Sistem Kesehatan Kota Bandung. Pasal 10 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 26 Tahun 2009 Tentang kesetaraan dan Pemberdayaan Penyandang Cacat. gugus tugas KLA adalah lembaga koordinatif yang beranggotakan wakil dari unsur eksekutif. eksploitasi. sebagaimana tersebut di atas. orang tua dan anak. Kota Bandung yang telah dicanangkan menjadi Kota Layak Anak Mandiri sangat memerlukan Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan data-data yang dijumpai di lapangan sebagaimana tersebut di atas di Kota Bandung masih terdapat banyak anak yang perlu mendapat perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi. organisasi non pemerintah. Pemerintah Daerah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah daerah. dan dibantu seorang wakil ketua dari unit kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 15 . dunia usaha. Selanjutnya Pasal 11 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. dan dibantu seorang wakil ketua dari unit kerja yang sejenis. tapi perlindungan anak di Kota Bandung dalam kenyataannya masih belum memadai. dalam rangka efektivitas pelaksanaan kebijakan KLA di kabupaten/ kota dibentuk gugus tugas dan selanjutnya Pasal 9 ayat (2) menyatakan. gugus tugas KLA di Kabupaten/ Kota dipimpin oleh seorang ketua dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau unit kerja yang sejenis.31. legislatif. 32. trafiking. pelecehan seksual. Untuk mendukung program perlindungan anak secara komprehensif Pemerintah Kota Bandung perlu membentuk gugus tugas perlindungan anak yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Bandung sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 58 ayat (3) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang menyatakan. organisasi masyarakat. penegak hukum. penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya. lembaga swadaya masyarakat. dan peneliti/ akademisi. tindak kekerasan. perguruan tinggi.

Layanan Pencegahan Primer. monitoring. anak korban tindak pidana. keluarga yang memerlukan mediasi atau konseling untuk mengatasi kebiasaan menggunakan narkoba atau alkohol.Kabupaten/ Kota. anak putus sekolah. Layanan ini ditujukan kepada anak dan keluarga yang teridentifikasi rawan atau beresiko terjadinya perlakuan salah atau penelantaran. Layanan Pencegahan sekunder atau layanan intervensi awal. anak korban penyalah gunaan narkotika/ zat adiktif lainnya. anak terpapar penyakit menular seperti HIV/Aids. promosi alternative bentuk-bentuk penegakan disiplin tanpa kekerasan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk kekerasan terhadap anak. anak yang berhadapan dengan hukum. Layanan penanganan masalah perlindungan anak. Untuk mengatasi hal itu diperlukan penegasan mengenai kewajiban pemerintah dan tanggungjawab masyarakat. Layanan ini ditujukan kepada masayarakat secara keseluruhan dengan cara memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengasuh dan menjaga anak mereka agar tetap aman. gugus tugas lain di daerah yang memiliki tugas dan fungsi perlindungan anak dapat dijadikan gugus tugas KLA. layanan dukungan keluarga seperti program pendidikan bagi orang tua. 3. memperkuat keterampilan orang tua. Kondisi ini membutuhkan intervensi yang berkelanjutan seperti konseling. Pasal 12 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. serta kewajiban negara untuk melakukan intervensi terhadap kasus tersebut melalui supervisi. program terapi penyembuhan. gugus tugas perlindungan anak perlu membuat program pemberdayaan bagi keluarga yang dikembangkan melalui layanan primer. nasehat. penelantaran dan perlakuan salah. dan tertier. konseling bagi keluarga dan angota keluarga. keluarga yang mengalami kekerasan atau keluarga yang mengalami masalah kesehatan mental sehingga mengalami kesulitan dalam mengasuh anak. ekploitasi. sekunder. Untuk melindungi hak-hak anak yang berkonflik dengan hukum. Adapun struktur dan layanan harus dikembangkan meliputi : 1. Sebagai contoh adalah keluarga yang mengalami perceraian atau mengalami hidup terpisah. anak terlantar. Kegiatan secara langsung berdampak pada perubahan sikap dan perilaku sosial melalui advokasi dan kampanye peningkatan kesadaran. 2. dan atau menyediakan 16 . Layanan ini ditujukan kepada anak yang secara nyata telah mengalami kekerasan.

http://www.982 jiwa dengan luas wilayah 16. Secara administratif Kota Bandung berbatasan dengan daerah kabupaten/kota lainnya yaitu : 1.50 Ha.wikipedia.82 km²) dan pesawahan (21. dilihat dari segi komunikasi. sedangkan jumlah warga negara asing yang berdiam sementara di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 5. 2.id/? fa=sekilas. Hal tersebut disebabkan oleh : 1. Luas wilayah Kota Bandung 16.go.849 jiwa.67 Km 2 ).511 orang.52 km²).bandung.56 km²) dan sebanyak 8. sedangkan etnis Jawa merupakan penduduk minoritas terbesar di kota ini dibandingkan etnis lainnya. atau menyediakan pengasuhan alternative melalui putusan resmi dari pengadilan. Sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung. (167. (http://id. Kota Bandung terletak pada pertemuan poros jalan raya :  Barat Timur yang memudahkan hubungan dengan Ibukota Negara. sehingga kepadatan penduduknya per hektar sebesar 155 jiwa.55%) digunakan untuk daerah perumahan/pemukiman.35 (52. Komposisi penduduk warga negara asing yang berdomisili di Kota Bandung adalah sebesar 4. perbukitan (0. 3.65 Ha yang terdiri dari dataran (145.510. perekonomian maupun keamanan.301 jiwa.org/wiki/Kota_Bandung) Penduduk Kota Bandung menurut hasil survey sosial ekonomi daerah (susesda) tahun 2007 berjumlah : 2.detail&id=13) 17 .791. Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Cimahi.729. Jumlah warga negara asing menurut catatan Kantor Imigrasi Bandung yang berdiam tetap di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 2. terletak diantara 1070 Bujur Timur dan 6055 Lintang Selatan. Kota Bandung memiliki lokasi cukup strategis. C. di mana penduduknya didominasi oleh etnis Sunda.729.rumah perlindungan sementara bagi anak yang menjadi korban. 2. dan merupakan Ibukota Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Letak yang tidak terisolasi serta dengan komunikasi yang baik akan memudahkan aparat keamanan untuk bergerak ke setiap penjuru. Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat.  Utara Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah perkebunan (Subang dan Pangalengan). Kota Bandung merupakan kota terpadat di Jawa Barat. Kajian Sosiologis Kota Bandung adalah kota besar di Jawa Barat yang berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir.

Pada aspek luas wilayah. 56 lokasi karaoke. Selain itu ada kemungkinan sektor jasa-jasa menampung banyak tenaga kerja kurang produktif. Hal ini berdampak semakin besarnya permintaan khususnya barang konsumsi dan jasa di Kota Bandung. Ketiga hal tersebut di atas merupakan faktor penting dalam penentuan strategi pembangunan suatu kota. 36. 5 lokasi diskotik. dan restoran. 28 lokasi panti pijat. Kota dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah cenderung dapat menimbulkan kekumuhan. tingkat sosial ekonomi dapat membentuk watak dan kualitas kehidupan penduduk. hotel. Selain itu. sehingga semakin banyak jumlah penduduk. namun bila dibandingkan dengan jumlah produksi ekonomi.7% penduduk Kota Bandung bekerja pada sektor perdagangan. dan 51 lokasi mesin ketangkasan. struktur dan dinamika penduduknya. 14 lokasi kelab malam. di Kota Bandung terdapat 50 Lokasi bilyar. Kota Bandung telah menjadi salah satu tujuan wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) khususnya di masa akhir pekan. perkembangan dan pembangunan Kota Bandung tentu saja berkaitan dengan jumlah. Sebagai pusat perekonomian Jawa Barat dan sekaligus sebagai kota tujuan wisata dan pendidikan. pasca dibukanya akses jalan tol langsung menuju Kota Jakarta. sebaliknya kota dengan tingkat sosial ekonomi yang baik cenderung akan lebih teratur. tingkat sosial ekonomi serta luas wilayahnya. Di sisi lain. 12 lokasi bioskop.Sebagai salah satu kota besar di Indonesia. sehingga ada potensi pengangguran semu cukup besar pada sektor ini. akan berkaitan dengan tingkat mobilitas dan interaksi antar penduduk. maka semakin besar pula kebutuhan sarana dan prasarana di kota tersebut. Pada tahun 2007 IPM Kota Bandung mencapai 18 . Dampak yang dapat dilihat dari gerak ekonomi Kota Bandung adalah dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia. Kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Bandung telah menyatu dan relatif sulit untuk dapat dibedakan secara jelas dengan masyarakat daerah tetangga. Kondisi ini menunjukkan pekerja sektor jasa yang di dalamnya meliputi jasa pemerintahan umum dan sosial kemasyarakatan relatif mendapat tingkat pendapatan atau kesejahteraan yang relatif rendah atau distribusi pendapatan di sektor ini tidak merata. Tercatat ada 273 tempat menginap mulai hotel bintang sati sampai ke level Melati 3. Kota Bandung dapat dikatakan pusat aktivitas perekonomian Jawa Barat. aktivitas ketenagakerjaan di Kota Bandung pada umumnya adalah pada sektor jasa dan perdagangan.php). Menurut data resmi. Sebanyak 24. 5 lokasi karaoke dan pub. Kondisi ini menyebabkan Kota Bandung menjadi magnet penarik bagi kota-kota disekitarnya.com/gov_i. Jasa hiburan malam ini ditungjang dengan banyak tempat penginapan yang tersedia di Kota Bandung. Dalam sudut pandang tersebut. Pada tahun 2007. Jumlah penduduk yang banyak memerlukan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.9% tenaga kerja Kota Bandung bekerja di sektor jasa yang meliputi jasa pemerintahan umum dan swasta. maka produktivitas tenaga kerja di sektor jasa-jasa jauh lebih rendah dibandingkan sektor lainya. (http://bandungtourism. 25 lokasi pub. Walaupun menyerap tenaga kerja dalam jumlah terbesar.

Kantor Litbang dengan PT.65.blogspot. dan indeks daya beli masyarakat sebesar 64.928 jiwa dengan perbandingan persentase penduduk laki-laki dan penduduk perempuan adalah 50. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan dan pengelolaan sebuah kawasan mengakibatkan tumbuhnya pemukiman kumuh.71 persen. Secara Demografi. hal ini dapat dimaklumi karena kecamatan-kecamatan di Bandung lama sudah sangat jenuh. Menurut data kawasan kumuh di Kota Bandung yang telah dikeluarkan oleh Puslitbang Permukiman. indeks pendidikan sebesar 89. Batununggal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan BKKBN kota Bandung.html). Sebagai sebuah kota yang menjadi tujuan perpindahan. Kota Bandung memiliki penduduk yang cukup besar.com/2010/01/ekonomi-wilayahsosial-budaya-kota. Indeks tertinggi adalah indek pendidikan yang semakin mengukuhkan Kota Bandung sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia. Kota Bandung mengalami tingkat kepadatan penduduk yang luar biasa. peningkatan jumlah penduduk yang terjadi di Kota Bandung ditandai dengan laju pertambahan penduduk periode 2006-2007 sebesar 1. sedang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan kualitas pemukiman yang terwujud. sedangkan kondisi pra keluarga sejahtera data tahun 2010 di Kota Bandung telah mencapai 115. Ibid).04. yaitu dari 5.78. sejak krisis moneter tahun 1997 yang selanjutnya menjadi krisis ekonomi di Kota Bandung telah menyebabkan peningkatan jumlah keluarga prasejahtera. Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan permukiman. Kecamatan yang meningkat kekumuhan adalah kawasan baru yang dibangun oleh pengembang seperti Rancasari.329. Dep Kimpraswil. 2004). Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) tahun 2007 jumlah penduduk Kota Bandung adalah 2. peringkat tertinggi adalah Kecamatan Cicadas (27%) kemudian disusul Kecamatan Regol (25%) dan Kecamatan Bandung Kulon (15%). (Kajian Penataan Rumah Kumuh di Kota Bandung. terlihat bahwa hampir di setiap kecamatan terdapat kawasan kumuh. sedang pada periode 2007 – 2008 laju pertumbuhan penduduk meningkat menjadi 1. (Kajian Penataan Rumah Kumuh di Kota Bandung.60.90 persen.78 % dan 49.558 KK pada bulan Agustus 1998 menjadi 9967 KK pada bulan September pada tahun yang sama.22 %. Kalau melihat sebaran kawasan kumuh di Kota Bandung mulai menampakan perambahan di pinggiran kota. Dari angka jumlah penduduk Kota Bandung selanjutnya dapat dihitung angka kepadatan penduduk secara rata-rata mencapai 19 . dan Margacinta. baik yang berstatus kampung kota maupun permukiman liar.09.( http://andriakbar. dibentuk oleh indeks kesehatan sebesar 80. berdasarkan proporsi dan komposisi jumlah keluarga dalam peringkat pra sejahtera di wilayah kota Bandung. Mapalus Menggala Engineering. Sebaran lokasi kawasan kumuh di Kota Bandung pada tahun 2000 menunjukan bahwa hampir di setiap kelurahan terdapat kawasan permukiman kumuh.174 kk.

Misalnya anak yang ditelantarkan. Selain itu. pengemis bahkan anak jalanan yang berhimpun dalam kampung kota. Salah satu korban yang diperlakukan salah dan mengalami ekploitasi ekonomi dan seksual terbanyak di Kota Bandung adalah anak jalanan. Kebanyakan potensi tenaga kerja ini berlabuh di sektor manufaktur yaitu buruh dan berdagang. Konsentrasi kegiatan mereka pada umumnya di perempatan jalan raya dan pasar tradisional. Anak jalanan mendayagunakan jalan sebagai sumber mata pencaharian melalui kegiatan yang dapat memberikan keuntungan uang bagi mereka.821 anak peringkat pertama terbanyak di Jawa Barat.04 % penduduk bukan angkatan kerja.209 jiwa. Dedem Ruchlia (pemerhati anak) bila dibiarkan kemungkinan besar akan mengganggu fungsi dan peran warga lainnya serta tatanan kehidupan masyarakat secara lebih luas. Dari julah angkatan kerja yang ada hanya 84. wajar saja jika muncul fenomena kemiskinan. Situasional Malfunctioning ini menurut H. kekerasan. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Agustus tahun 2008 diketahui bahwa jumlah penduduk usia kerja ( 15 tahun ke atas ) di Kota Bandung sejumlah 1. yang kebanyakan urban hingga membentuk lingkungan sosial yang plural dan multikultur.419 orang saja. Mereka menggunakan jalan sebagai area untuk pemenuhan kebutuhannya. Jadi. membersihkan kendaraan. Belum lagi jika kemampuan kerja ini dikaitkan dengan tingkat pendidikan yang didominasi lulusan SMP dan SMA. sedangkan lowongan kerja yang tersedia sebanyak 1. Anak jalanan sendiri diartikan sebagai anak yang menggunakan sebagian besar waktunya di jalanan. mengamen dan lainnya. perkembangan masyarakat yang semakin kompleks telah memberikan pengaruh buruk terhadap pengasuhan dan perawatan anak. penelantaran anak dan bentuk-bentuk pelanggaran lainnya.. Dari jumlah tersebut 60.732 penduduk Kota Bandung tercatat sebagai pencari kerja tahun 2003. sedangkan sisanya 39. Sementara permasalahan lain yang sangat berdampak terhadap perlunya kebijakan perlindungan anak di Kota Bandung saat ini adalah terdapat berbagai permasalahan serius yang dialami oleh anak-anak Hal ini terlihat dari hasil penelitian dan pengamatan yang menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya permasalahan anak.879 orang dengan jumlah penempatan hanya untuk 1. 20 . Apalagi pekembangan permasalahan Anak jalanan baik secara kuantitatif maupun kualitatif semakin meningkat. baik jumlah maupun kualitasnya semakin meningkat.06 % penduduk termsuk angkatan kerja. Misalnya untuk bermain dan mencari nafkah guna kelanjutan kehidupan.872. diperlakukan salah dan dieksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual. keberadaan mereka di jalanan merupakan Situasional Malfunctioning karena pada usia anak seperti itu seharusnya mereka berada di dalam lingkungan dan perlindungan keluarga. koran. Menurut data Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat anak jalanan di Kota Bandung berjumlah 4. Secara kualitas menunjukkan permasalahan yang dialami Anak jalanan semakin kompleks.73 % penduduk yang bekerja. Menurut Laporan Dinas Tenaga Kerja sekitar 15. gelandangan. Bentuk kegiatan yang dilakukan mereka misalnya berjualan rokok. Eksploitasi anak secara ekonomi.009 jiwa/Km2.14. Apabila dilihat secara konsep Sosial Functioning. Orang-orang dari beragam asal-usul ini utamanya bergiat dalam kerja rutin mencari peluang hidup di kota.

Kekerasan pada anak1. kekerasan dalam rumah tangga. eksploitasi. kejadian traumatik. khususnya di Kota Bandung sangat heterogen dan bervariasi. koran eksploitasi seksual dan terlibat tindakan kriminal serta perbuatan asosial lainnya. sektor ekonomi informal di daerah perkotaan dan keberadaan subkultur jalanan. namun bukan satu-satunya yang menyebabkan anak-anak hidup dan mencari nafkah di jalan. Kemiskinan keluarga. mengenai gambaran permasalahan perlindungan anak di Kota Bandung. Sedangkan Guru Besar di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad. ”Oleh karena itu. Berikut ini adalah gambaran sejumlah masalah perlindungan anak yang ada di Kota Bandung yang ditulis berdasarkan temuan lapangan dan beberapa penelitian serta kajian yang telah dilakukan oleh sejumlah lembaga layanan yang ada di Kota Bandung. Termasuk dalam hal ini adalah juga anak-anak yang dalam Konvensi Hak Anak dimasukkan dalam kategori kelompok anak yang membutuhkan upaya-upaya perlindungan khusus. Permasalahan Perlindungan Anak di Kota Bandung Batasan penting yang harus ditegaskan di awal adalah bahwa cakupan masalah perlindungan anak meliputi segala bentuk kekerasan. Pertama. perlakuan salah. saling terkait dan saling pengaruh mempengaruhi. a. Dedem Ruchlia sangat kompleks. Faktor penyebab timbulnya permasalahan anak jalanan ini juga menurut H. semua masalah tersebut dapat mengancam semua anak yang berada dalam situasi hidup yang rentan karena berbagai alasan. penelantaran. H. berkurangnya modal sosial dalam masyarakat. Tetapi data dari literatur yang ada menunjukkan bahwa walaupun kemiskinan adalah faktor yang penting. mengenai model penanganan yang disarankan untuk dikembangkan dalam Perda. 1. D. Secara umum. Karena profil dan sebab terjadinya anak jalanan. ”Faktor-faktor utama yang membuat keluarga dan anak berpisah dan terkadang membiarkan anaknya untuk mandiri adalah faktor sosio-ekonomi makro. Sambas Wiradisuria berpendapat bahwa meskipun banyak orang percaya bahwa kemiskinan adalah faktor utama yang mendorong anak bekerja dan hidup di jalanan. serta diskriminasi terhadap anak. Kedua.Mereka menjadi korban kekerasan. 1 Data dikumpulkan Lingkar Perlindungan Anak dan BPPKB Kota Bandung tahun 2011 21 . Kajian Teknis Ada dua hal utama disajikan dalam kajian teknis ini. ketidaktahuan orangtua dan ketidakharmonisan keluarga mengakibatkan interaksi ketiga faktor tersebut menjadi faktor penyebab timbulnya masalah Anak jalanan yang sulit diurai ujung pangkalnya. penanganan masalah ini memerlukan upaya komprehensif dan integrated secara profesional serta sentuhan empati dan altruisme yang tinggi.

v.645 orang. iv. Kasus anak yang ditangani oleh UPT P2TP2A Kota Bandung pada tahun 2010 mengalami peningkatan 100 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 2 22 . 61 korban adalah anak.com 2010) Selama Januari . Bhayangkara pada tahun 2009 terdapat 40 anak menjadi korban kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). vii. viii. vi.841 orang anak hidup dan bekerja dijalanan Kota Bandung dan kecenderungannya semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun (data Dinas Sosial 2010) Hampir 95 % anak jalanan perempuan masih tinggal dengan orang tuanya dan 36 % diantaranya telah menjadi anak jalanan semenjak usia 0-6 tahun (baseline Save the Children 2010). Yayasan Masyarakat Sehat (YMS) dan Yayasan Komite Anti Pemiskinan (KAP) Indonesia mencatat lebih dari 50 % anak yang dilacurkan pernah mengalami kekerasan seksual sebelum mereka masuk ke dunia pelacuran. Yayasan Bahtera menemukan fakta dilapangan bahwa kekerasan juga banyak dijumpai pada kalangan anak jalanan. tahun 2009 terdapat 108 kasus 58 korban adalah anak sedangkan tahun 2010 terdapat 90 kasus. Yayasan Jari pada tahun 2008 menangani sebanyak 106 kasus kekerasan. Sebanyak 145 anak mengalami berbagai bentuk kekerasan seperti. iii.24 % dari jumlah anak usia 10-18 tahun atau sekitar 22. Sebagian besar merupakan kasus penelantaran anak yang disebabkan oleh perceraian orang tuanya. di mana sekitar 51 % diantaranya adalah kekerasan seksual. Belasan anak panti asuhan diduga telah menjadi korban pencabulan dari pengurus panti asuhan (detik. Ekploitasi2 i. pemerasan dan pemalakan dari orang dewasa di jalanan serta pelecehan seksual yang menimpa anak-anak jalanan perempuan. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) 2006. b. iv. tercatat jumlah pekerja anak di Sentra Industri Alas Kaki Cibaduyut pada tahun 2006 sebanyak 700 orang yang berusia antara 10 sampai dengan 18 tahun. Data Suseda 2007. ii. Hasil pemantauan media yang dilakukan oleh LPA Jawa Barat selama tahun 2009 untuk kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Barat termasuk di Kota Bandung.i. diperkirakan jumlah buruh anak di Kota Bandung mencapai 6.Juni 2010 LPA Jabar sudah menerima 50 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak. menjadi korban sodomi. 52 korban diantaranya adalah anak. Berdasarkan data Visum RS. ii. Dinas Sosial mencatat terdapat sekitar 4. iii. ditemukan sekitar 680 kasus kekerasan.

Kasus yang paling banyak dilakukan anak-anak adalah kasus pencurian. sedangkan kasus yang paling banyak melibatkan anak-anak terjadi pada kasus melanggar ketertiban umum (tawuran. Dengan situsi sebagai berikut: − 78 % anak putus sekolah. SMP. Permasalahan lain yang tak kalah memprihatinkannya adalah anak-anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) yang akhir-akhir ini meningkat tinggi. Berdasarkan data dampingan Yayasan Bahtera pada tahun 2010/2011 terdapat sekitar 57 % anak jalanan perempuan di Kota Bandung yang drop out sekolah pada semua tingkatan sekolah (SD. Jika pada tahun 2006 jumlah ABH hanya sebanyak 75 orang anak. geng motor. − 58 % anak bekerja langsung terjerat ESKA (eksploitasi seksual komersial anak). Hal ini meningkat 23 ix. vii. Presentase angka penahanan terhadap AKH pada tahun 2007 (Januari-Oktober) di wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung mencapai 95%. telah menunjukan kecenderungan menjadi daerah pengirim. Dalam kurun waktu tersebut anakanak yang berasal dari komunitas miskin padat di perkotaan dan anakanak yang berada di jalanan adalah korban terbanyak dari kasus trafiking di Kota Bandung. maka pada tahun 2007 menjadi sebanyak 93 anak dan meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 115 anak. dan − sekitar 17% sebelum terjerat ESKA dipekerjakan terlebih dahulu di tempat hiburan. viii. Sampai tahun 2011. dsb). Diperkirakan jumlah mereka bertambah setiap tahunnya. Ketidak mampuan keluarga dalammengasuh dan melindungi anak dan ketiadaan bantuan pemerintah terhadap keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak serta maraknya bisnis hiburan telah ikut mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap anak yang dilacurkan di Kota Bandung. usia termuda yang ditemukan adalah 12 tahun. Selama Mei 2010-Mei 2011. . Dalam perkembangan terkini. LAHA berhasil menjangkau 1.205 pekerja rumah tangga anak (PRTA) di Kota Bandung. − Tingkat pendidikan dari PRTA yang mendapat layanan paling banyak adalah 54% tamat SMP dan 33% tamat SD − 85 % anak kerja diatas 4 jam sehari vi. x. Yayasan Bahtera telah bekerja untuk pemulangan. dengan situasi sebagai berikut: − 49% berasal dari Kota Bandung. SMA). data YMS dan KAP menunjukkan terdapat lebih dari 260 anak yang telah teridentifikasi sebagai anak yang dilacurkan. Pada tahun 2011 saja Polrestabes Kota Bandung menangani 11 anak yang berasal dari Kota Bandung yang menjadi korban trafiking ke Pekanbaru. kota Bandung yang awalnya adalah daerah transit untuk kasus trafiking anak.v. rehabilitasi dan reintegrasi anak-anak yang menjadi korban trafiking di Kota Bandung sejak tahun 1998 sampai sekarang.

termasuk ketika anak memiliki kebutuhan khusus Orangtua/pengasuh yang terpaksa menjadikan anak sebagai kontributor penghasilan keluarga Lemahnya kepedulian antar warga di lingkungan sekitar anak dan keluarga anak Terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap masalah perlindungan anak dan situasi resiko yang ada di sekitar anak. 2009 oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Pengenalan Penyebab Sejauh ini belum ditemukan adanya studi mendalam yang dilakukan untuk mengetahui secara spesifik kontribusi dan keterkaitan berbagai faktor terhadap kemunculan masalah-masalah perlindungan anak di kota Bandung sebagaimana dipaparkan di atas. Informasi mengenai hal tersebut. yang menjadi landasan kajian ini diperoleh dari data berbagai lembaga yang selama ini terlibat penanganan maupun kajian. 2. Pemisahan anak secara tidak perlu dari lingkungan pengasuhan keluarga Pemanfataan secara negatif kemajuan dan kemudahan akses teknologi informasi • • • • • • • • 24 . Berikut ini beberapa situasi dan kondisi yang muncul dan didefinisikan sebagai faktor yang meningkatkan resiko atau menyebabkan anak mengalami masalahmasalah tersebut: • • • • • Anak keluar atau ada di luar layanan pendidikan karena tidak atau tidak mampu mengakses layanan pendidikan Kebutuhan biaya hidup anak Pengaruh/ajakan teman untuk melakukan hal beresiko Pengaruh dan dorongan gaya hidup konsumtif Kurangnya upaya pendidikan terstruktur mengenai keterampilan hidup yang terkait dengan pengembangan kepribadian dan keterampilan sosial anak Kontak dengan jaringan pelaku eksploitasi Lemahnya perhatian dari orangtua Lemahnya pemahaman/kemampuan orangtua/keluarga akan pengasuhan dan perlindungan anak.jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 85% (kajian Kota Layak anak di Kota Bandung.

penanganannya pun selayaknya dilakukan dengan pendekatan yang sistemik pula. Minimnya upaya deteksi dan intervensi dini terhadap resiko kemunculan masalah perlindungan anak Terbatasnya jumlah keluarga yang dapat dilayani atau mengakses layanan peningkatan kemampuan keluarga Kemiskinan keluarga dan faktor-faktor yang terkait dengan terbatasnya pilihan atau tak tersedianya atau tak memadainya sumber penghasilan keluarga. 25 . termasuk dalam penyiapan fasilitas dan kualitas tenaga pelaksana layanannya. dan penanganan kasus perlindungan anak mulai dari tingkat masyarakat yang secara konsisten diterapkan dan dapat dilakukan atau diakses masyarakat. dan sebaliknya setiap faktor penyebab bisa berkontribusi terhadap kemunculan beberapa kasus berbeda. dan anak. • • • • • • • Setiap kasus masalah perlindungan anak tentunya diakibatkan oleh kombinasi sejumlah faktor. pencatatan. keluarga.• • • • • • • Kemudahan jaringan pelaku eksploitasi seksual komersial dalam beroperasi Masih terdapatnya kelemahan dalam sistem kependudukan sehingga usia anak dapat dimanipulasi administrasi Tingginya permintaan tenaga anak dalam bisnis hiburan dan layanan seksual Tingginya permintaan tenaga anak untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga atau sektor informal lainnya Kurang efektifnya pengendalian migrasi pencari kerja ke kota Bandung Lemahnya pengawasan terhadap bisnis hiburan yang berpotensi melibatkan anak dalam pekerjaan eksploitaif dan berbahaya Lemahnya pengawasan terhadap kalangan pelaku bisnis/industri informal atau rumahan yang berpotensi melibatkan anak dalam pekerjaan eksploitaif dan berbahaya Keterbatasan ruang fisik/publik di lingkungan tempat tinggal untuk kegiatan anak di luar waktu sekolah Masih belum konsistennya penegakan hukum terhadap kasus-kasus perlindungan anak Pendekatan yang belum berperspektif hak asasi anak dalam penyelenggaraan sejumlah layanan perlindungan anak. pelaporan. Sekalipun belum dilakukan pengujian secara akademis. hubungan sebab-akibat dan keterkaitan antar faktor tersebut sesungguhnya telah dikenali pola umumnya untuk setiap jenis masalah. Sehingga dapat dikatakan bahwa hampir semua kasus atau masalah perlindungan anak terjadi secara sistemik. Tak adanya mekanisme pemantauan. bukan secara insidental. Oleh karena itu.

yang menggunakan pendekatan yang terbatas atau hanya berfokus pada isu misalnya terfokus pada isu anak jalanan. penguatan masyarakat dan upaya pencegahan semestinya mendapat perhatian lebih besar. dsb. 26 . Sudah saatnya untuk memberikan bobot lebih pada upaya-upaya yang bersifat penguatan masyarakat dalam menangkal masalah atau melakukan pencegahan dini di lingkungan masyarakat yang memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kekerasan. dan sering juga ditambah dengan dimensi sosial. perlakuan salah. beberapa hal berikut ini dapat menjelaskan kurang efektifnya upaya-upaya tersebut. emosi. perlakuan salah. Kurang Pencegahan dan Promosi Secara Terukur Dalam area perlindungan anak. terbukti tidak efektif dan efesien karena sesungguhnya akar masalah perlindungan anak bersumber pada ketidakmampuan keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak ditambah dengan belum optimalnya peranan negara dalam memberdayakan keluarga yang tidak mampu mengasuh dan melindungi anak. Strategi dan Model Penanganan Sejumlah upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Kota Bandung untuk merespon beragam permasalahan tersebut di atas. eksploitasi atau penelantaran. Penanganan yang Bersifat Diskontinu dan Tak Komprehensif Anak yang menjadi korban kekerasan.3. merespon ketika masalah telah terjadi. anak gagal pulih dan masalahnya pun dapat terulang kembali. atau hanya terfokus pada satu-dua aspek. tanpa mengesampingkan pentingnya layanan rehabilitasi. Akibatnya. menyelamatkan dan memulangkan anak dari jeratan eksploitasi seksual komersial. Fokus Pada Respon. sosial. Banyak layanan yang diberikan kepada mereka masih bersifat sepenggal-sepenggal. strategi penanganan yang paling dominan dilakukan oleh berbagai lembaga di Kota Bandung saat ini umumnya berada di fase penanggulangan. yang selama ini dapat dikatakan kurang mendapat perhatian. legal. Penertiban anak jalanan. mental. dan moralnya. terutama bila yang terluka adalah aspek mental. maka pemulihannya bukanlah hal yang mudah. dan penelantaran. Namun berbagai upaya tersebut tampaknya tak mampu mengimbangi dinamika perkembangan berbagai faktor resiko yang meningkat dengan cepat sejalan dengan dinamika ekonomisosial-budaya di Kota Bandung dalam beberapa tahun belakangan. Namun dari sisi strategi dan model penanganan yang ada. penertiban penyandang masalah kesejahteraan sosial. perlakuan salah. Padahal. ketika seorang anak telah menjadi korban kekerasan. b. eksploitasi. alokasi dana dalam jumlah besar diarahkan untuk membangun pusat fasilitas pelayanan rehabilitasi anak yang dikategorikan penyandang sosial. eksploitasi atau penelantaran umumnya mengalami masalah yang bersifat multi-dimensi. Penanganan isu perlindungan anak secara tradisional seperti demikian. pendampingan anak jalanan. ekonomi dan spiritual atau moral. a. Oleh karena itu. Bahkan terakhir. yaitu fisik. isu anak yang berkonflik dengan hukum. isu ekploitasi terhadap anak. Banyak faktor memang bisa ditunjuk sebagai penyebabnya. rehabilitasi.

dan 27 Prinsip-prinsip hak Anak . Kendala utama bersumber dati keterbatasan sumber daya yang dialokasikan untuk menjalankan seluruh mandat P2TP2A secara penuh. mencegah sejak dini resiko kemunculan masalah. termasuk yang masih berada dalam kandungan. situasi ini bahkan berakibat menjadi pengalaman buruk lanjutan bagi anak yang dilayani. d. dan mengembangkan layanan penanggulangan yang komprehensif dan terintegrasi. Hak. Tidak Terintegrasi dan Kurang Sinkronisasi Antar Lini dan Sektor Upaya Pemerintah Kota Bandung untuk mengintegrasikan penyelenggaraan layanan perlindungan anak antara lain melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan & Anak (P2TP2A) masih belum mampu menjawab kebutuhan layanan yang ada. III. Akibatnya. banyak kondisi spesifik yang terkait dengan karakteristik masa perkembangan anak dan kebutuhan khusus anak tak dipertimbangkan. Berbagai lembaga layanan yang ada masih cenderung bekerja secara sendiri-sendiri dan belum meleburkan diri secara penuh dalam sistem layanan yang lebih terpadu yang bersifat lintas sektor dan lini layanan. POKOK-POKOK MATERI/MUATAN A. c. yang terdiri dari: • Kepentingan terbaik untuk anak • Pemenuhan Hak Hidup.Masalah ini juga terjadi karena banyak lembaga pelayanan tak memiliki kecukupan kemampuan untuk menyelenggarakan layanan secara tuntas dan komprehensif karena keterbatasan sumberdaya.Adalah pedoman utama setiap upaya pemenuhan hak anak sebagaimana dinyatakan dalam Konvensi Hak Anak. Tumbuh-kembang. maka tak ada pilihan lain bagi Kota Bandung selain dari segera mengembangkan kerangka normatif yang dapat mendorong terbangunnya suatu sistem penyelenggaraan perlindungan (?) anak yang mampu meredam perkembangan masalah melalui penguatan kemampuan keluarga dan masyarakat. Ketentuan Umum Anak Adalah setiap orang yang belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun. Mencermati kondisi-kondisi pada kedua permasalahan tersebut. Penanganan Tak Berperspektif Anak Banyak ditemukan penyelenggaraan layanan terhadap anak yang dilakukan dalam sistem/mekanisme pelayanan yang bersifat umum yang biasanya disesuaikan dengan standar kebutuhan atau perlakuan terhadap orang dewasa. Dalam banyak kasus.

hukum. dan diskriminasi terhadap anak. baik 28 Masalah Perlindungan Anak Kekerasan Fisik . ketika anak menjadi korban eksploitasi ekonomi. • Melindungi. seperti ketika berada dalam situasi darurat pengungsian akibat konflik bersenjata atau bencana. Adalah setiap tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan menggunakan kekuatan atau tenaga fisik. penelantaran. anak dalam mendapatkan hak-haknya. penyalahgunaan NAPZA. eksploitasi. dan penelantaran. Masalah perlindungan anak dapat terjadi dalam “situasi normal” seperti di lingkungan keluarga. atau berada dalam situasi hidup tertentu yang di dalam pembahasan mengenai isi KHA disebutkan sebagai membutuhkan upaya perlindungan khusus. – Menyediakan – kewajiban untuk secara langsung menyediakan dukungan atau layanan untuk pemenuhan hak anak Perlindungan Anak Adalah setiap upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menangani terjadinya segala bentuk tindak kekerasan. ketika anak berhadapan dengan hukum. menghargai pendapat anak Kewajiban Sebagai pengemban kewajiban.• • kelangsungan hidup anak Non-diskriminatif Partisipatif. termasuk upaya promosi dan menyebarluaskan pemahaman atas hak anak. seksual. yaitu kewajiban untuk menghormati dan tidak mengganggu. yaitu: – Fasilitasi – kewajiban untuk mengambil tindakan legislatif. secara langsung atau tidak. pemerintah memiliki Pemerintah dalam kewajiban untuk: Pemenuhan Hak Anak • Menghormati. perlakuan salah. pendidikan. perlakuan salah. atau dalam situasi terpisah dari lingkungan pengasuhan orangtua/keluarganya. keuangan. eksploitasi. atau pergaulan anak. yaitu kewajiban untuk mencegah pihak lain mengganggu/menghalangi anak dalam mendapatkan hak • Memenuhi. dan upaya lain untuk mendukung pemenuhan hak anak. yang terdiri dari 2 pengertian. atau ketika mengalami perlakuan diskriminatif karena menjadi bagian dari kelompok minoritas atau komunitas adat tertentu. administratif. penculikan dan trafiking. Adalah setiap kejadian yang dialami individual atau kelompok anak yang di dalamnya terdapat unsur atau menyebabkan anak mengalami tindak kekerasan.

dalam bentuk ancaman ataupun tindakan nyata. keselamatan. Keselamatan Atau Moral Anak. seksual. pekerja rumahtangga anak. sosial. termasuk membiarkan anak dalam situasi bahaya. “luka” psikis. kematian. gangguan atau penyimpangan perkembangan atau pertumbuhan. tumbuh-kembang. Eksploitasi Anak Eksploitasi Ekonomi Bentuk-bentuk Disingkat BBPTA. termasuk juga pemberian beban tugas yang melampaui kemampuan normal anak untuk menanggungnya (diadaptasi dari berbagai sumber) Penelantaran Adalah tindakan pengabaian pemenuhan kebutuhan dasar dan pengasuhan. (disimpulkan dari berbagai sumber) Adalah eksploitasi anak untuk tujuan mendapatkan manfaat bernilai ekonomi (keuangan). Pasal 74 UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. Permendagri No. 235 /MEN/2003 tentang Jenis . Keputusan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi Nomor: KEP. Penetapan Rencana Aksi Daerah. Dalam beberapa definisi. atau juga politik. Pekerjaan Terburuk adalah kategori jenis pekerjaan yang dinilai paling bagi Anak membahayakan atau paling merusak bagi kelangsungan hidup. luka. terhadap anak yang mengakibatkan atau diperkirakan dapat menyebabkan cedera. anak yang dipekerjakan di jalan.Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Kesehatan. dan kesejahteraan anak. perawatan & pemeliharaan sehingga mengganggu atau menghambat tumbuhkembang anak. bagian dari eksploitasi ekonomi. Di dalamnya termasuk: pekerja anak. Adalah setiap penglibatan anak secara sengaja dalam kegiatan-kegiatan yang dapat merugikan kesejahteraan dan tumbuh-kembang anak atau membahayakan keselamatan anak untuk tujuan membuat orang lain dapat memperoleh manfaat ekonomi. yang telah diratifikasi dan diundangkan oleh pemerintah RI dalam Undang-Undang No. menyatakan 4 kategori pekerjaan sebagai BBPTA (Worst Form Of Child Labour). 182 tahun 1999. 29 . dll. 01 Tahun 2000. Konvensi ILO No. 6/2009 tentang Pedoman Pembentukan Komite Aksi Daerah. Dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.

bagi Anak penyatuan kembali. Atau sering disebut juga “Anak Tanpa Pengasuhan Orangtua”. unsur persetujuan anak tidak dapat dijadikan pemakluman. pengiriman. Adalah dokumen hukum yang menjamin pengakuan atas indentitas dan status kewarganegaraan anak yang diterbitkan oleh dan menjadi kewajiban Negara untuk segera menyediakannya kepada setiap anak yang terlahir. atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan. untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. perlakukan salah. penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat. baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara. eksploitasi. yang meliputi layanan medis. psikososial. dan dukungan proses adaptasi 30 . Trafiking merupakan situasi buruk yang dialami anak yang didalamnya seringkali melibatkan seluruh bentuk kekerasan dan penelantaran terhadap anak. penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan. penculikan. adalah anak yang karena suatu sebab tidak lagi berada dalam pengasuhan atau terpisah orangtua/walinya yang sah secara hukum maupun adat. Dalam perspektif hak anak. adalah kelompok bagi Anak jenis layanan yang ditujukan untuk memulihkan kerugian/dampak yang dialami oleh anak yang menjadi korban masalah perlindungan anak (kekerasan. penampungan. pengangkutan. pemindahan. yang didalamnya nyata terdapat unsur kekerasan seksual terhadap anak. penggunaan kekerasan. Layanan Pemulihan Disebut juga layanan rehabilitasi. hukum dan termasuk juga ganti-rugi. Trafiking. Layanan Reintegrasi Adalah layanan yang meliputi pengembalian.Eksploitasi Seksual Adalah bentuk eksploitasi anak untuk tujuan mendapatkan manfaat seksual. pemalsuan. Dalam banyak situasi. penipuan. juga melibatkan tujuan eksploitasi ekonomi misalnya ketika anak dilacurkan atau produksi pornografi. penyekapan. sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut. Perdagangan Orang/anak Akta Kelahiran Anak Terpisah Penelusuran Reunifikasi dan Adalah upaya sistematis untuk melacak keberadaan orangtua/keluarga dari anak yang terpisah dan menyatukan kembali anak dengan orangtua/keluarganya tersebut. penelantaran). Adalah tindak pidana yang mengandung unsur-unsur tindakan tindakan perekrutan.

didakwa. Pengembangan Partisipasi Anak Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan anak untuk terlibat dalam berbagai proses sosial di lingkungan masyarakatnya. termasuk dalam penyelenggaraan layanan pemulihan fisik dan psikologis serta reintegrasi sosial di dalam lingkungan yang mendukung kesehatan anak serta menjaga harga diri dan martabat anak. sehingga mampu mencegah atau menghindarkannya dari situasi pelanggaran terhadap hak-haknya. terintegrasi. eksploitasi. merespon secara tepat dan cepat terhadap masalah perlindungan anak yang muncul. eksploitasi. termasuk dalam pembuatan keputusan dan kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan mereka. B. dan penelantaran terhadap anak. perlakuan salah. perlakuan salah. perlakuan salah. dan c. 2. mengenali situasi beresiko dan melakukan intervensi dini terhadap kemunculan berbagai bentuk tindak kekerasan. Anak Berhadapan Hukum yang Adalah anak yang telah mencapai usia 12 (duabelas) dengan tahun tapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun yang diduga. atau penelantaran. eksploitasi. b. Tujuan penyelenggaraan perlindungan anak Penyelenggaraan perlindungan anak dilakukan untuk menjamin terselenggaranya upaya-upaya yang efektif secara sistematis. dan berkesinambungan yang dibutuhkan untuk membangun kemampuan lembagalembaga pemerintah dan masyarakat kota Bandung dalam: a. Lingkup Penyelenggaraan Perlindungan Anak 31 . Kerentanan Anak & Adalah kondisi anak dan/atau keluarga yang Keluarga menyebabkan anak berada dalam situasi beresiko tinggi untuk mengalami bentuk tertentu dari tindak kekerasan. atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana. dan penelantaran terhadap anak. Materi Pokok Yang Akan Diatur 1. mencegah terjadinya berbagai bentuk tindak kekerasan.kembali anak ke lingkungan keluarga/pengasuhannya semula. Upaya pengembangan kemampuan anak ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun faktor pelindung pada diri anak. atau yang menjadi korban tindak pidana atau melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana. disangka.

agama. administrative atau program ). perlakuan salah. Prinsip Pemandu Penyelenggaraan Perlindungan Anak Penyelenggaraan perlindungan anak dilandasi pemikiran bahwa masa anak adalah masa pembelajaran dan pembentukan menuju kematangan atau pencapaian status dewasa. Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak maka pertimbangan utamanya adalah demi kepentingan terbaik untuk anak. pelaksanaan adopsi. Tumbuh-kembang. 3. untuk melindungi kualitas proses tersebut. kelas sosial. dan bahwa setiap pengalaman dan perlakuan yang terjadi akan mempengaruhi proses tersebut. Termasuk di dalamnya mencegah atau menindak pihak-pihak yang mengganggu atau menghalangi anak dalam mendapatkan atau menikmati hakhak asasinya yang lain. Prinsip Kepentingan terbaik untuk anak. ketika pemerintah menjalankan kewajiban membantu keluarga yang tidak mampu dalam mengasuh/melindungi anak. Dan bahwa hal yang diputuskan atau dilakukan tersebut tidak mengakibatkan terganggunya atau terhalanginya perkembangan seluruh aspek atau salah satu aspek tumbuh-kembang anak. atau pandangan politis anak dan orangtua/pengasuh anak. kebangsaan. maka empat prinsip pemandu sebagaimana dinyatakan dalam Konvensi Hak Anak harus menjadi bagian dari setiap upaya Penyelenggaraan Perlindungan Anak dan perlu dituangkan secara jelas arti tiap prinsip dan kaitan antara tiap prinsip dengan isu hak anak lainnya sesuai logika konvensi. etnisitas. kecatatan atau perbedaan kondisi fisik dan mental anak. Prinsip Non-diskriminatif Bahwa setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak ditetapkan atau dijalankan tanpa adanya pertimbangan diskriminatif karena latar belakang jenis kelamin anak. b. dan perlu mendapat perhatian khusus dalam setiap keputusan yang berdampak pada pemisahan anak dari pengasuhan orangtua/keluarga. termasuk juga 32 . dan moral. pelaksanaan peradilan anak. dan tindakan penanggulangan untuk memenuhi hak anak atas perlindungan dari segala bentuk tindak kekerasan. eksploitasi. c. deteksi dan intervensi dini. Ini berlaku dalam pembuatan kebijakan pemerintah ( langkah-langkah legislasi. penelantaran. mental. Prinsip Pemenuhan Hak Hidup. baik aspek fisik. a. atau dalam penanganan pengungsi anak.Upaya penyelenggaraan perlindungan anak di kota Bandung meliputi hal-hal yang bersifat pencegahan. dan Kelangsungan Hidup Anak Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak merupakan bagian dari atau melibatkan juga upaya sungguh-sungguh untuk semaksimal mungkin menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh-kembang anak secara penuh. sosial. dan diskriminasi. kemampuan ekonomi. Oleh karena itu.

keluarga angkat. mental dan moral. Penelantaran atau pengabaian pemenuhan hak anak yang rentan dialami oleh anak yang tinggal di luar pengasuhan orangtua (keluarga asuh. Prinsip Menghargai Pendapat Anak Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak. eksploitasi seksual. sedapat mungkin disertai dengan pertimbangan atas pandangan atau pendapat yang disampaikan oleh anak sesuai dengan tingkat kematangan usianya. berkonflik dengan hukum. Anak adalah aktor penting dalam penyelenggaraan perlindungan anak. sehingga perlu dikembangkan upaya untuk membangun faktor pelindung pada diri anak. yang banyak dialami oleh anakanak yang bekerja di jalanan. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumahtangga. dll. terinfeksi HIV/AIDs. anak yang dipekerjakan di industri sepatu atau industri lain yang berbahaya bagi anak. b. pekerja anak. pembatasan atau penghilangan kesempatan anak mengakses hak-hak dan (yang) beresiko mengganggu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara perkembangan fisik. d. kesehatan. asrama. anak yang menjadi korban atau dilibatkan dalam penyalahgunaan dan usaha peredaran narkotika dan bahan adiktif terlarang. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. anak dengan kemampuan berbeda (difabel). atau bentuk lain). anak yang hidup dan bekerja di jalan. Bahwa upaya khusus perlu dilakukan untuk memastikan anak-anak yang rentan mengalami perlakuan diskriminatif karena menjadi korban masalah perlindungan anak di atas tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pemenuhan hak-haknya. anak yang menjadi korban semua bentuk eksploitasi seksual anak. anak yang ditempatkan dalam pusat 33 . anak yang berkonflik dengan hukum. Bentuk-bentuk eksploitasi di mana anak dipekerjakan atau dimanfaatkan dengan cara dan atau dalam situasi yang membahayakan keselamatan dan kesehatan anak. lembaga pengasuhan anak atau panti asuhan. sehingga mampu mencegah atau menghindarkannya dari situasi pelanggaran terhadap hak-haknya. anak yang menjadi korban atau dilibatkan dalam usaha layanan seksual. Kekerasan & perlakuan salah terhadap anak diyakini mengancam keselamatan. c. mental dan moral anak-anak yang berada dalam pengasuhan di luar lingkungan rumahnya orangtua/keluarga. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.perlakuan diskriminatif akibat pandangan salah dan stigmatisasi yang berkembang di masyarakat untuk anak-anak yang berada dalam situasi khusus seperti korban kekerasan. Bentuk-bentuk Masalah perlindungan anak kota Bandung Masalah perlindungan anak yang ada di Kota Bandung yang telah terindentifikasi atau diantisipasi kemunculannya terutama adalah: a. serta perkembangan fisik. termasuk pornografi dan pornoaksi. 4.

anak yang memiliki kebutuhan khusus karena kecacatan atau perbedaan kemampuan (difabel). yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterlibatan anak dalam pembangunan lingkungan yang lebih mampu melindungi mereka. ii. yaitu upaya untuk melibatkan warga masyarakat dan anak itu sendiri dalam menciptakan lingkungan yang protektif bagi anak. Kebijakan. Pengembangan kemampuan dan mekanisme di tingkat pemerintah kota dalam membangun kemampuan “masyarakat” Kota Bandung dalam menciptakan kondisi yang dapat mencegah terjadinya masalah perlindungan anak. dan penelantaran. anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. . i. 34 ii. yaitu upaya yang dilakukan secara terencana untuk menciptakan layanan dan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan aksi perlindungan terhadap anak (dan keluarganya) yang berada dalam situasi beresiko mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan. Upaya penanganan a. anak dalam keluarga yang gagal menjalankan fungsi pengasuhan karena kemiskinan.rehabilitasi/kesehatan. Membangun Kesadaran dan Sikap Masyarakat. Peningkatan Kesadaran. eksploitasi. yaitu upaya untuk membangun masyarakat kota Bandung menjadi masyarakat yang secara kolektif memiliki kesadaran tinggi dan kesiapan bertindak terhadap masalah perlindungan anak. Upaya untuk memastikan kesiapan Pemerintah dan masyarakat Kota Bandung dalam melakukan intervensi awal atau deteksi dini. iii. perlakuan salah. eksploitasi. perlakuan salah. anak yang tak terdampingi atau hidup sendiri. dan Mekanisme. anak yang hidup dan bekerja di jalan. Program. pekerja anak. i. dan penelantaran. Kebijakan. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. 5. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. anak dalam situasi darurat pengungsian. b. yaitu upaya-upaya untuk memastikan adanya langkah yang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat dan lembaga yang terlibat dalam upaya perlindungan anak Pelibatan Masyararakat. disharmoni atau karena sebab lain. anak yang berhadapan dengan hukum. segera dan memberikan perlindungan terhadap anak (dan keluarganya) yang berada dalam situasi beresiko mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan. Program. & Mekanisme. iii. bagian ini untuk memastikan adanya konsistensi dan upaya sistematis dalam penyiapan model dan pemenuhan standar layanan perlindungan anak di Kota Bandung Pengembangan Partisipasi Anak.

yaitu berupa dukungan layanan lanjutan pasca rehabilitasi untuk anak-anak korban kekerasan. rescue (penyelamatan). eksploitasi. UU Adminduk/Perda Adminduk yang bertanggung jawab adalah Dinas Kependudukan dan Capil. iii. maka BPPKB selayaknya ditetapkan untuk melakukan fungsi tersebut. perlakuan salah. rehabilitasi dan reintegrasi. v. yaitu upaya pemerintah kota dalam memastikan setiap anak yang menjadi korban kekerasan. yaitu upaya untuk mensistematisasikan. Untuk Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak.iv. memperlancar dan memastikan langkah perlindungan anak berjalan sesuai dengan tujuan. dan legal Reintegrasi. Layanan. i. dan penelantaran. yaitu jenis dan bentuk layanan yang perlu dibangun dan dikembangkan untuk mewujudkan perlindungan anak di Kota Bandung Koordinasi. Kelembagaan/Manajemen. UU Kesehatan/Perda Kesehatan : yang bertanggung jawab adalah Dinas Kesehatan. yaitu Upaya yang dilakukan oleh pemerintah kota untuk secara dini mengidentifikasi dan mengenali keberadaan anak-anak yang menjadi korban kekerasan. ekonomi. vi. Penanganan dimulai dari identifikasi. yaitu Upaya penyelamatan terhadap anakanak yang berada dalam situsi mendapatkan kekerasan. eklpoitasi dan penelantaran. 35 ii. kesehatan. ekploitasi dan penelantaran untuk memberikan jaminan agar anak bisa diterima/ kembali bersatu dengan keluarga dan lingkungannya serta terjamin tumbuh kembangnya dimasa mendatang. Pengembangan mekanisme ditingkat kota untuk memastikan dilakukannya respon berupa penanganan secara segera oleh pemerintah kota terhadap setiap anak yang menjadi korban dari berbagai bentuk tindak kekerasan. perlakuan salah. Penting untuk secara tegas ditetapkan penugasan kepada lembaga atau team atau badan tersendiri atau komite yang diberi mandat/kewenangan melakukan koordinasi. iv. psiko-sosial. perlakuan salah. Identifikasi dan reporting. UU Sisdiknas/Perda Pendidikan : yang bertanggung jawab adalah Dinas Pendidikan. penyelamatan. pendidikan. ekploitasi dan penelantaran mendapatkan dukungan rehabilitasi yang mencakup . . Contoh pada UU dan perda lainnya yaitu. ekploitasi dan penelantaran Rehabilitasi. Penarikan/ Rescue. perlakuan salah. c. Bagian ini merupakan upaya untuk memastikan setiap aksi perlindungan anak yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat berjalan secara maksimal dan terhindar dari tumpang tindih. perlakuan salah.

martabat. KETENTUAN PERALIHAN Pada saat berlakunya peraturan daerah ini. 2. 36 . D. Komplikasi dari berbagai situasi masalah sosial tersebut kemudian antara lain berdampak terhadap kehidupan anak di Bandung. penguatan atau sanksi yang diterapkan untuk tujuan penegakan ketentuan-ketentuan dalam peraturan daerah ini diarahkan untuk merujuk pada ketentuan dalam perundangan terkait yang berlaku. KETENTUAN SANKSI Pada intinya. Jika tak direspon segera secara bijak. sebagaimana dipaparkan dalam berbagai kajian di atas. KETENTUAN PENUTUP 1. kota Bandung tak lepas dari ekses perkembangan berbagai masalah sosial. Pemerintah kota mengembangkan mekanisme positif atau pemberian penghargaan untuk tujuan penguatan perilaku atau percepatan perbaikan layanan di lingkungan kelembagaan yang ada. yang pada dasarnya adalah cita-cita pembangunan masyarakat yang berupaya menempatkan kesejahteraan. kasus-kasus berbagai jenis masalah perlindungan anak di kota Bandung cenderung meningkat secara kuantitas maupun kualitasnya. PENUTUP Sebagai kota metropolitan yang terbuka dan terus berkembang dengan pesat. semua ketentuan dalam peraturan daerah lainnya yang berkaitan atau berdampak terhadap kepentingan anak dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan daerah ini. 4. peningkatan koordinasi serta membangun keberpihakan layanan terhadap anak-anak.v. dikhawatirkan dalam jangka panjang akan berdampak buruk terhadap keberhasilan pembangunan peradaban kota sebagaimana dicita-citakan dalam Visi kota Bandung. E. Manajemen Layanan. Peraturan daerah ini dilaksanakan oleh organ atau alat kelengkapan di lingkungan pemerintah kota Bandung yang terkait dengan layanan atau kegiatan yang diatur dalam Perda ini. Peraturan daerah ini disebut Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak Kota Bandung 3. yaitu upaya dalam membangun dan memperkuat sistem layanan. C. IV. selambatnya 6 bulan pemerintah kota Bandung harus sudah menerbitkan peraturan walikota sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan daerah ini. Peraturan daerah ini mulai berlaku sejak ditetapkan. Saat ini. Pada saat berlakunya peraturan daerah ini. dan nilai-nilai kemanusiaan pada level tertinggi.

Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menterjemahkan komitmen tersebut menjadi suatu sistem penyelenggaraan perlindungan anak melalui upaya yang terencana. 37 . dan terukur. diskontinu. sehingga penyelenggaraan perlindungan anak di kota Bandung dapat segera beralih dari caracara yang responsif. sistematis. Sudah saatnya disusun suatu acuan normatif yang dapat menjadi panduan dalam mengintegrasikan seluruh sumber daya pemerintah dan masyarakat. sporadis. dan fragmental menjadi cara-cara yang lebih sistemik yang memberikan bobot besar pada upaya pencegahan dan layanan integratif.Dan komitmen Pemerintah Kota untuk memberikan prioritas tinggi pada kesejahteraan dan perlindungan anak adalah keputusan yang bernilai strategis dan investasi jangka panjang terpenting untuk pencapaian dan kelanggengan kondisi sebagaimana digambarkan dari visi tersebut.