NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG PENYELENGGARAAN PERLINDUNGAN ANAK I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak Indonesia telah meratifikasi instrumen internasional konvensi hak anak (KHA) sejak tahun 1990 dengan keppres No. 36 tahun 1990 mengakibatkan adanya pengembang suatu kerangka kerja hukum yang relatif progresif untuk memajukan hak-hak anak. Undang-undang Perlindungan Anak No.23 tahun 2002, utamanya adalah realisasi legislative atas ratifikasi KHA tersebut. Sejumlah produk perundangan dan kebijakan nasional juga nyata telah menjadikan KHA sebagai acuan pemenuhan dan perlindungan hak anak.

Kerangka kerja hukum untuk upaya pencegahan dan respon terhadap kekerasan, perlakuan salah, penelantaran, eksploitasi dan pengabaian anak tetap kurang berkembang. Kerangka hukum yang efektif dalam perlindungan anak semestinya merupakan kerangka hukum yang menetapkan sebuah instansi pemerintah dengan mandat, wewenang dan tanggungjawab yang jelas dalam hal pengelolaan dan pelaksanaan pelayanan perlindungan anak sehingga menentukan kontinum dalam upaya pencegahan, intervensi dini, dan pelayanan guna mencegah dan merespon segala bentuk perlakuan salah terhadap anak. menentukan standar, kriteria, wewenang dan prosedur pengambilan keputusan yang sesuai untuk intervensi kasus, termasuk standar mengenai kapan suatu pelayanan perlindungan wajib dapat dijalankan.

Kesimpulan di atas, dapat juga dilihat dampaknya di tingkat lokal seperti kota Bandung. Data-data permasalahan perlindungan anak di Kota Bandung, sebagaimana yang dilansir berbagai Dinas atau Satuan Kerja Perangkat Daerah, media, tokoh pendidikan dan masyarakat, serta lembaga swadaya masyarakat dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan, dari segi jumlah maupun kualitas masalah. Jumlah anak yang mengalami keterlantaran dan harus hidup atau bekerja di jalanan nyata jumlahnya tetap tinggi, anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual cenderung meningkat, juga yang dieksploitasi secara ekonomi seperti dengan menjadi pembantu rumah tangga anak atau di sektor informal lainnya, anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang mengalami tindak kekerasan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, serta anak yang
1

terinfeksi atau terdampak HIV/AIDS. Sementara itu, respon yang dilakukan berbagai pihak tersebut terasa tidak memadai. Di samping itu, Bandung adalah kota yang pertama kali memiliki inisiatif untuk mengembangkan Kota Ramah Anak pada tahun 2004, serta pada tahun 2006 telah mendapatkan penghargaan sebagai pemerintahan yang memiliki komitmen kuat dalam upaya perlindungan anak, sehingga telah dicanangkan sebagai Kota Layak Anak Mandiri. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini Kota Bandung belum mempunyai peraturan daerah terkait perlindungan anak yang merupakan salah satu prasyarat bagi terwujudnya Kota Layak Anak.

B. Maksud & Tujuan Naskah akademis ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dasar persoalan dan kebutuhan penyelenggaraan perlindungan anak yang ada di Kota Bandung. Gambaran yang tertulis diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengkajian materi rancangan Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Tujuan dibuatnya naskah akademis ini adalah: 1. Memberikan landasan dan kerangka pemikiran bagi Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak. 2. Memberikan kajian dan kerangka filosofis, sosiologis, dan yuridis serta teknis tentang perlunya Perda Penyelenggraan Perlindungan Anak di Kota Bandung. 3. Mengkaji dan meneliti pokok-pokok materi apa saja yang ada dan harus ada dalam Rancangan Perda tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, 4. Melihat keterkaitannya dengan peraturan perundang-undangan lainnya sehingga jelas kedudukan dan ketentuan yang diaturnya.

C. Sistematika Naskah akademik akan disusun dengan sistematika sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan, yang menggambarkan latar belakang munculnya kebutuhan peraturan daerah ini, yang antara lain memuat tentang kondisi dan permasalahan anak Indonesia secara umum dikaitkan dengan keberadaaan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak; serta kondisi anak-anak di wilayah Kota Bandung. Dalam Bab ini juga dipaparkan mengenai maksud dan tujuan dari naskah akademik ini, serta sistematika penyusunan dokumen naskah akademik ini.

2

Bab II : Telaahan Akademik, yang memaparkan tentang landasan perlunya Perda penyelenggaraan perlindungan anak yang meliputi pengkajian landasan filosofis, landasan yuridis, landasan sosiologis, dan kajian teknis. Bab III : Materi Muatan Peraturan Daerah, yang memaparkan tentang pokok dan lingkup materi apa yang ada dan harus ada dalam Peraturan Daerah Penyelenggaraan Perlindungan Anak, didalamnya mencakup ketentuan Umum, materi pokok yang akan diatur, serta ketentuan mengenai sanksi, dan ketentuan-ketentuan lain. Bab IV : Penutup, yang berisi kesimpulan dari keseluruhan naskah akademik dan rekomendasinya. Lampiran : Berisi Legal Drafting atas Rancangan Perda Perlindungan Anak beserta penjelasannya

II.

TELAAHAN AKADEMIK

A. Kajian Filosofis Amanat penyelenggaraan perlindungan anak nyata tercantum dalam UndangUndang Dasar 1945 (Perubahan II, 18 agustus 2000), Pasal 28B ayat 2 yang berbunyi: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”, berlanjut pada Pasal 34 (Perubahan IV, 10 Agustus 2002) yang berbunyi: (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara; dan (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Kedua ayat tersebut memberi kepastian bahwa penyelenggaraan perlindungan anak adalah hal wajib untuk mencapai kondisi masyarakat sebagaimana dicita-citakan dalam bagian Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mencermati secara mendalam Visi Kota Bandung, yaitu menjadi “Kota jasa yang bersih, makmur, taat, dan bersahabat (bermartabat)”, berikut misi yang diemban terkait dengan upaya mencapai visi tersebut, maka salah satu kunci utamanya terletak pada keberhasilan “investasi” kepedulian dalam hal kesejahteraan dan perlindungan anak. Mereka yang saat ini berstatus anak lah yang sesungguhnya akan menjawab apakah visi tersebut dapat terwujud menjadi realitas yang melekat dengan nama Kota Bandung di masa datang. Kepedulian atas kesejahteraan anak bermakna pada kesungguhan upaya untuk mendukung pemenuhan hal-hal yang dibutuhkan anak untuk bertahan hidup dan tumbuh kembang secara optimal seperti pemenuhan kebutuhan dasar, kualitas
3

atau Merendahkan Martabat Manusia / CAT Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun1998. Konvensi ILO Nomor 182 Mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak. Kajian Yuridis Secara yuridis Negara Republik Indonesia telah berusaha untuk memberikan perlindungan tentang hak-hak anak sesuai dengan ketentuan internasional. dan ayat 6 yang berbunyi: “Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. serta kesempatan untuk belajar menjadi bagian dari proses di dalam masyarakatnya. yaitu dengan diratifikasinya berbagai konvensi atau kovenan internasional sebagai berikut: 1. yang pada gilirannya akan mengamankan pencapaian visi kota Bandung . Konvensi Hak-hak Anak /CRC. kesempatan pendidikan yang berkualitas.Undang Nomor 11 Tahun 2005). “Masa depan kota dan masyarakat Bandung sesungguhnya sangat ditentukan oleh keberhasilan pemerintah dan warganya saat ini dalam melindungi dan memenuhi hak-hak setiap anak yang hidup di Bandung” hari ini”. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah”. Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984. Diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999. Diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. 6. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan / CEDAW. 18 agustus 2000) ayat 5 yang berbunyi: “Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. 4. 5. Konvensi ILO Nomor 138 Mengenai Usia Minimum Untuk diperbolehkan bekerja.pengasuhan dalam lingkungan keluarga. Undang-undang Dasar 1945 sendiri memberikan kesempatan besar untuk itu melalui Pasal 18 (Perubahan II. Oleh karena itu. 3. Diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000. Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam. 2. B. Kovenan Hak-hak Sipil dan Politik / ICCPR Diratifikasi melalui UndangUndang Nomor 12 Tahun 2005. adalah hal krusial bagi Kota Bandung untuk memiliki perangkat peraturan daerah yang bisa memberikan kepastian hukum dan kejelasan tanggungjawab bahwa setiap anak akan terperhatikan kebutuhan kesejahteraannya dan terlindungi. Tidak Manusiawi. Kovenan Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya/ICESCR. Diratifikasi melalui Undang. 4 . 7.

Di samping itu pada tanggal 10 Mei 2002 Indonesia telah ikut menandatangani Deklarasi Dunia yang Layak Bagi Anak-anak (World Fit For Children). . dan budaya. KHA yang terdiri dari 54 pasal. Undang-Undang Dasar 1945 (amandemen ke-2) Pasal 28 B ayat (2) menyatakan. sampai kini dikenal sebagai satu-satunya konvensi di bidang HAM yang mencakup baik hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi. Sehubungan dengan konvensi-konvensi atau kovenan-kovenan tersebut di atas.kewajiban orang tua terhadap anak. setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. Hukum Perdata (KUH Perdata) dan untuk yang beragama Islam Kompilasi Hukum Islam antara lain mengatur : . .kebelumdewasaan anak dan perwalian.anak luar kawin. Dalam perspektif HAM. 3. tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. sosial. maka secara yuridis peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak di Indonesia dapat dijumpai dalam : 1. maka Negara Republik Indonesia telah terikat baik secara yuridis maupun politis dan moral untuk mengimplementasikan peraturan-peraturan tersebut di atas. Kekhususan konvensi/ kovenan di bidang HAM sebagai suatu bentuk perjanjian internasional ialah bahwa negara-negara yang meratifikasi konvensi/ kovenan dimaksud saling berjanji untuk terikat pada kewajiban guna memberikan hak kepada setiap individu yang berada di dalam wilayah hukum negara yang bersangkutan Dengan diratifikasinya konvensi-konvensi atau kovenan-kovenan internasional dan ditandatanganinya Deklarasi Dunia yang Layak Bagi Anak-anak.kedudukan anak sah dan hukum waris. 2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak 5 . Konvensi Hak-hak Anak (KHA) merupakan instrumen internasional di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling komprehensif dibandingkan dengan konvensi-konvensi internasional lainnya. . manusia hanya mempunyai hak. sedangkan kewajiban ada di pihak negara.

Anak Sipil ditempatkan di LAPAS Anak. Pasal 14 huruf i menyatakan. yaitu perkara anak dapat diselesaikan secara restorative justice. hendaklah tetap dipertimbangkan bahwa pemisahan tersebut semata-mata demi 6 . yaitu tercantum dalam alinea ke-4 penjelasan umum yang menyatakan: hubungan antara orang tua dengan anaknya merupakan suatu hubungan yang hakiki. 5. maka dalam menjatuhkan pidana atau tindakan terhadap Anak Nakal diusahakan agar anak dimaksud jangan dipisahkan dari orang tuanya. Pasal 2 ayat (4) menyatakan anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. 4. yaitu pengalihan anak dari system peradilan pidana ke luar sistem. Dalam perkara anak diharapkan polisi dan jaksa menggunakan kewenangan diskresinya untuk melakukan diversi. 6. Apabila karena hubungan antara orang tua dan anak kurang baik. Mengingat ciri dan sifat anak yang khas tersebut. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 7 ayat (1) huruf j menyatakan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan Pasal 18 ayat (1) menyatakan.Pasal 2 ayat (3) menyatakan. Anak Negara ditempatkan di LAPAS Anak Pasal 18 ayat (3) menyatakan. mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini. atau karena sifat perbuatannya sangat merugikan masyarakat sehingga perlu memisahkan anak dari orang tuanya. Pasal-pasal tersebut sering disebut pasal tentang kewenangan diskresioner dari polisi dan jaksa. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak telah mengamanatkan hal yang sangat prinsip dalam mengadili perkara anak. Anak Pidana ditempatkan di LAPAS Anak Pasal 18 ayat (2) menyatakan. baik hubungan psikologis maupun mental spiritualnya. penyidik mempunyai wewenang mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.

status hukum anak. urutan kelahiran anak. agama. 9. 10. dan bahasa. c. etnik. serta prinsip-prinsip dasar konvensi Hakhak Anak yang meliputi: a. Penghargaan terhadap pendapat anak. atau orang tua asuh. Hak untuk hidup kelangsungan hidup dan perkembangan. Pasal 15 ayat (2) huruf k menyatakan. golongan. Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya berwenang melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas kepolisian. Sanksi untuk anak yang terbukti melakukan tindak pidana berupa pidana atau tindakan. bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Non diskriminasi. Dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 dinyatakan. Sama halnya sebagaimana Pasal 7 ayat (1) huruf j KUHAP kewenangan tersebut adal kewenangan diskresioner polisi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 2 menyatakan. dan d.3 Tahun 1997 yang menggunakan istilah bagi anak yang dituduh dan/ atau telah terbukti melakukan tindak pidana dengan sebutan anak nakal. wali. jenis kelamin. b. ras. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM Pasal 6 menyatakan. Kepentingan yang terbaik bagi anak. dan 7 . Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaaran Hak Asasi Manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. 7. 8. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Republik Indonesia. Undang-Undang No. bahwa hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungannya.pertumbuhan dan perkembangan anak secara sehat. budaya. bahwa negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 52 ayat (2) menyatakan. Tindakan antara lain dapat berupa mengembalikan kepada orang tua.

(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik. Segala pekerjaan yang memanfaatkan. membimbing membantu. Pasal 74 ayat (1) menyatakan siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaanpekerjaan terburuk dan ayat (2) menyatakan. dan/ atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. keselamatan. pertunjukan porno. Selanjutnya Pasal 69 ayat (1) menyatakan dikecualikan bagi anak berumur antara 13 (tiga belas) tahun s/d 15 (lima belas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik. emosional. Selanjutnya Pasal 22 menyatakan. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 68 menyatakan pengusaha dilarang mempekerjakan anak. mental. c. atau menawarkan anak untuk pelacuran. dan/ atau d.kondisi fisik dan/ atau mental. Pasal 10 menyatakan : Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan. produksi pornografi. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 menyatakan: (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. atau perjudian. menyediakan. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan. dan zat adiktif lainnya. 12. psikotropika. dan sosial. Segala pekerjaan yang memanfaatkan. 11. pekerjaan-pekerjaan terburuk yang diamaksud pada ayat (1) meliputi: a. menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras. b. narkotika. intelektual. negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. atau moral anak. dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mental. Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya. Pasal 11 menyatakan: 8 .

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. (3) Wajib belajar mmerupakan tanggung jawab negara yang yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah. Menurut Pasal 2 anak termasuk lingkup rumah tangga. anak tersebut harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Pasal 34 menyatakan : (1) Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar. Pasal 7 menyatakan 9 . Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI Pasal 21 menyatakan : (1) Anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin.(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.. Undang-Undang No. dan masyarakat. (3) Dalam hal anak sebagaiamana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) memperoleh kewarganegaraan ganda. berada dan bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia. (2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. (2) Anak warga negara asing yang belum berusia 5 (lima) tahun yang diangkat secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara Indonesia memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia. serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. 15. Pemrintah Daerah. dari ayah atau ibu yang memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia dengan sendirinya berkewarganegaraan Republik Indonesia. 14. 13.

d. Pelaksanaan kependudukan. c. b. dan g. Pengaturan teknis penyelenggaraan Administrasi Kependudukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. yang dilakukan oleh bupati/ walikota dengan kewenangan meliputi: a. Pejabat Pencatatan Sipil mencatat Kelahiran. (1) Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh Penduduk kepada Instansi Pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran. Pasal 27 menyatakan. e. dan d. Orang terlantar. Pengelolaan dan penyajian Data Kependudukan berskala kabupaten/ kota. Penduduk korban bencana sosial. b. Komunitas terpencil. c. Pembentukan Instansi Pelaksana yang tugas dan fungsinya di bidang administrasi Kependudukan. Penugasan kepada desa untuk menyelenggarakan sebagian urusan Administrasi Kependudukan berdasarkan asas tugas pembantuan. f. Pasala 28 menyatakan (1) Pencatatan kelahiran dalam Register Akta Kelahiran dan penerbitan Kutipan Akta Kelahiran terhadap peristiwa kelahiran seseorang yang tidak diketahui asalpada Registrasi Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta kegiatan pelayanan masyarakat di bidang Administrasi 10 . Penduduk korban bencana alam. Koordinasi pengawasan atas penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Pasal 25 ayat (1) menyatakan: (1) Instansi Pelaksana wajib melakukan pendataan Penduduk rentan Administrasi Kependudukan yang meliputi: a. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(1) Pemerintah kabupaten/ kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan.

000. 600. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pasal 5 menyatakan: Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara peling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp..000.(seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.000. 600..(enam ratus juta rupiah). dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap saksi dan/ atau korban anak dilakukan dengan memperhatikan kepentingan yang terbaik bagi anak dengan tidak memakai toga atau pakaian dinas.(enam ratus juta rupiah). 16. (2) Kutipan Akta Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Pejabat Pencatatan Sipil dan disimpan oleh Instansi Pelaksana. atau pendamping lainnya..000. advokat. 120. 11 . Pasal 39 ayat (2) menyatakan : Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) saksi dan/ atau korban anak wajib didampingi orang tua. setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apapun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. di setiap provinsi dab kabupaten/ kota wajib dibentuk ruang pelayanan khusus pada kantor kepolisian setempat guna melakukan pemeiksaan di tingkat penyidikan bagi saksi dan/ atau korban tindak pidana perdagangan orang. Pasal 45 ayat (1) menyatakan: Untuk melindungi saksi dan/ atau korban. wali. orang tua asuh. 120.(seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. Pasal 38 menyatakan: Penyidikan Penuntutan.usulnya atau keberadaan orang tuanya.000..000.000. didasarkan pada laporan orang yang menemukan dilengkapi Berita Acara Pemeriksaan dari Kepolisian. Selanjutnya Pasal 6 menyatakan.000.

Pasal 52 ayat (2) menyatakan Untuk penyelenggaraan pelayanan rehabilitasi kesehatan.Pasal 46 ayat (1) menyatakan: Untuk melindungi saksi dan/ atau korban. (3) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (2) diajukan kepada pemerintah melalui menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di daerah. kepolisian. pemulangan dan reintegrasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib membentuk rumah perlindungan sosial atau pusat trauma. rehabilitasi sosial. Pasal 53 menyatakan: Dalam hal korban mengalami trauma atau penyakit yang membahayakan dirinya akibat tindak pidana perdagangan orang sehingga memerlukan pertolongan segera. Pasal 51 menyatakan: (1) Korban berhak memperoleh rehabilitasi kesehatan. (2) Hak-hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh korban atau keluarga korban. pemulangan. Pasal 58 ayat (3) menyatakan: bagi saksi dan/ atau korban tindak pidana 12 . relawan pendamping. dan reintegrasi sosial dari pemerintah apabila yang bersangkutan mengalami penderitaan baik fisik maupun psikis akibat tindak pidana perdagangan orang. atau pekerja sosial setelah korban melaporkan kasus yang dialaminya atau pihak lain melaporkannya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia. rehabilitasi sosial. teman korban. pada setiap kabupaten/ kota dapat dibentuk pusat pelayanan terpadu perdagangan orang. maka menteri atau instansi yang menangani masalah-masalah kesehatan dan sosial di ndaerah wajib memberikan pertolongan pertama paling lambat 7 (tujuh) hari setelah permohonan diajukan.

Membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit. d. Undang-Undang nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasal 55 menyatakan : (1) Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. 17. 13 . organisasi masyarakat. rumah sakit. Menggerakan peran serta masyarakat dalam pendirian Rumah Sakit sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. c. dan peneliti/akademi. b. Menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. lembaga swadaya masyarakat. e.Pemerintah Daerah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah daerah. Kesehatan bayi s/d remaja diatur dalam Pasal 126 s/d 137. 19. Menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat. i. Memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. h. Menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan kejadian luar biasa. Menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 6 ayat (1) menyatakan: Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk: a. organisasi profesi. Mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi. penegak hukum. Memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara professional dan bertanggung jawab. dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/ atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. 18. f. g. dan j.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Usaha Kesejahteraan Anak bagi yang Mempunyai Masalah. 23. 27. 24. Kebersihan. Pasal 39 huruf e melarang menghimpun anak-anak jalanan untuk dimanfaatkan meminta-minta/ mengamen untuk ditarik penghasilannya dan penyalahgunaan pemberdayaan anak. Keputusan Presiden Nomor 88 Tahhun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (Trafiking). Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar. Sehubungan dengan ketentuan tersebut dengan dihubungkan dengan asas yang terkandung dalam Undang-Undang No. mengikuti. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Pasal 5 ayat (1) menyatakan: Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali. sebagaimana telah diuraikan dalam uraian butir 6 tersebut di atas dalam Peraturan Daerah Kota Bandung akan diatur advokasiyang akan dilakukan gugus tugas perlindungan anak agar anak yang melakukan tindak pidana kecil ( petty crime) tidak dijatuhi sanksi pidana melainkan tindakan. 26.20. 30. Keputusan PresidenNomor 77 Tahun 2004 Tentang Komisi Perlindungan Anak. dan Keindahan. 14 . dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2000Tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil. 29. Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan. 21. 22. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2005 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban. 25. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Anak. 28.

31. sebagaimana tersebut di atas. penegak hukum. eksploitasi. perguruan tinggi. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Sistem Kesehatan Kota Bandung. tapi perlindungan anak di Kota Bandung dalam kenyataannya masih belum memadai. legislatif. Untuk mendukung program perlindungan anak secara komprehensif Pemerintah Kota Bandung perlu membentuk gugus tugas perlindungan anak yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Bandung sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 58 ayat (3) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang menyatakan. gugus tugas KLA di kabupaten/ kota diangkat dan diberhentikan oleh bupati/ walikota. Kota Bandung yang telah dicanangkan menjadi Kota Layak Anak Mandiri sangat memerlukan Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Perlindungan Anak. organisasi profesi. organisasi masyarakat. tindak kekerasan. trafiking. Selanjutnya Pasal 11 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. dan dibantu seorang wakil ketua dari unit kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 15 . penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya. Pasal 10 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 26 Tahun 2009 Tentang kesetaraan dan Pemberdayaan Penyandang Cacat. orang tua dan anak. Menurut Pasal 9 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2009. Meskipun telah terdapat sederetan peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. dan peneliti/ akademisi. gugus tugas KLA di Kabupaten/ Kota dipimpin oleh seorang ketua dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau unit kerja yang sejenis. 32. pelecehan seksual. gugus tugas KLA adalah lembaga koordinatif yang beranggotakan wakil dari unsur eksekutif. Berdasarkan data-data yang dijumpai di lapangan sebagaimana tersebut di atas di Kota Bandung masih terdapat banyak anak yang perlu mendapat perlindungan dari berbagai bentuk diskriminasi. organisasi non pemerintah. lembaga swadaya masyarakat. penyakit menular. dan dibantu seorang wakil ketua dari unit kerja yang sejenis. Pemerintah Daerah membentuk gugus tugas yang beranggotakan wakil-wakil dari pemerintah daerah. dan ketelantaran. dalam rangka efektivitas pelaksanaan kebijakan KLA di kabupaten/ kota dibentuk gugus tugas dan selanjutnya Pasal 9 ayat (2) menyatakan. dan yudikatif yang membidangi anak. dunia usaha.

nasehat. promosi alternative bentuk-bentuk penegakan disiplin tanpa kekerasan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk kekerasan terhadap anak. Untuk melindungi hak-hak anak yang berkonflik dengan hukum. Layanan ini ditujukan kepada masayarakat secara keseluruhan dengan cara memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengasuh dan menjaga anak mereka agar tetap aman. program terapi penyembuhan. keluarga yang mengalami kekerasan atau keluarga yang mengalami masalah kesehatan mental sehingga mengalami kesulitan dalam mengasuh anak. Layanan Pencegahan Primer. anak korban penyalah gunaan narkotika/ zat adiktif lainnya. Layanan ini ditujukan kepada anak yang secara nyata telah mengalami kekerasan. anak terpapar penyakit menular seperti HIV/Aids. 2. penelantaran dan perlakuan salah. Adapun struktur dan layanan harus dikembangkan meliputi : 1. Layanan penanganan masalah perlindungan anak. ekploitasi. 3. Layanan Pencegahan sekunder atau layanan intervensi awal. Layanan ini ditujukan kepada anak dan keluarga yang teridentifikasi rawan atau beresiko terjadinya perlakuan salah atau penelantaran. memperkuat keterampilan orang tua. monitoring. Sebagai contoh adalah keluarga yang mengalami perceraian atau mengalami hidup terpisah. Kegiatan secara langsung berdampak pada perubahan sikap dan perilaku sosial melalui advokasi dan kampanye peningkatan kesadaran.Kabupaten/ Kota. dan atau menyediakan 16 . anak yang berhadapan dengan hukum. konseling bagi keluarga dan angota keluarga. keluarga yang memerlukan mediasi atau konseling untuk mengatasi kebiasaan menggunakan narkoba atau alkohol. gugus tugas perlindungan anak perlu membuat program pemberdayaan bagi keluarga yang dikembangkan melalui layanan primer. gugus tugas lain di daerah yang memiliki tugas dan fungsi perlindungan anak dapat dijadikan gugus tugas KLA. anak korban tindak pidana. Pasal 12 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia menyatakan. layanan dukungan keluarga seperti program pendidikan bagi orang tua. anak terlantar. serta kewajiban negara untuk melakukan intervensi terhadap kasus tersebut melalui supervisi. sekunder. dan tertier. Untuk mengatasi hal itu diperlukan penegasan mengenai kewajiban pemerintah dan tanggungjawab masyarakat. anak putus sekolah. Kondisi ini membutuhkan intervensi yang berkelanjutan seperti konseling.

Komposisi penduduk warga negara asing yang berdomisili di Kota Bandung adalah sebesar 4.  Utara Selatan yang memudahkan lalu lintas ke daerah perkebunan (Subang dan Pangalengan). atau menyediakan pengasuhan alternative melalui putusan resmi dari pengadilan. Letak yang tidak terisolasi serta dengan komunikasi yang baik akan memudahkan aparat keamanan untuk bergerak ke setiap penjuru. http://www. perbukitan (0. Hal tersebut disebabkan oleh : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat.511 orang.982 jiwa dengan luas wilayah 16.id/? fa=sekilas.82 km²) dan pesawahan (21. di mana penduduknya didominasi oleh etnis Sunda.bandung. Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Cimahi.67 Km 2 ). (http://id.org/wiki/Kota_Bandung) Penduduk Kota Bandung menurut hasil survey sosial ekonomi daerah (susesda) tahun 2007 berjumlah : 2.rumah perlindungan sementara bagi anak yang menjadi korban. terletak diantara 1070 Bujur Timur dan 6055 Lintang Selatan. dan merupakan Ibukota Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.849 jiwa. Kota Bandung merupakan kota terpadat di Jawa Barat.65 Ha yang terdiri dari dataran (145.56 km²) dan sebanyak 8. Sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung. sedangkan etnis Jawa merupakan penduduk minoritas terbesar di kota ini dibandingkan etnis lainnya.510.detail&id=13) 17 . C. 2. sedangkan jumlah warga negara asing yang berdiam sementara di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 5.35 (52.729.729.wikipedia. sehingga kepadatan penduduknya per hektar sebesar 155 jiwa. 2.55%) digunakan untuk daerah perumahan/pemukiman.301 jiwa. perekonomian maupun keamanan. Luas wilayah Kota Bandung 16. Kajian Sosiologis Kota Bandung adalah kota besar di Jawa Barat yang berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Secara administratif Kota Bandung berbatasan dengan daerah kabupaten/kota lainnya yaitu : 1. Kota Bandung terletak pada pertemuan poros jalan raya :  Barat Timur yang memudahkan hubungan dengan Ibukota Negara. (167. dilihat dari segi komunikasi. 3. Kota Bandung memiliki lokasi cukup strategis.go.52 km²).50 Ha. Jumlah warga negara asing menurut catatan Kantor Imigrasi Bandung yang berdiam tetap di Kota Bandung setiap bulannya rata-rata sebesar 2.791.

12 lokasi bioskop. Pada tahun 2007. 5 lokasi diskotik. maka semakin besar pula kebutuhan sarana dan prasarana di kota tersebut. Kota Bandung telah menjadi salah satu tujuan wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) khususnya di masa akhir pekan. Pada tahun 2007 IPM Kota Bandung mencapai 18 . tingkat sosial ekonomi dapat membentuk watak dan kualitas kehidupan penduduk.Sebagai salah satu kota besar di Indonesia. tingkat sosial ekonomi serta luas wilayahnya. Selain itu. pasca dibukanya akses jalan tol langsung menuju Kota Jakarta. namun bila dibandingkan dengan jumlah produksi ekonomi. Tercatat ada 273 tempat menginap mulai hotel bintang sati sampai ke level Melati 3. Walaupun menyerap tenaga kerja dalam jumlah terbesar. Jumlah penduduk yang banyak memerlukan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai. 28 lokasi panti pijat. Dampak yang dapat dilihat dari gerak ekonomi Kota Bandung adalah dengan melihat Indeks Pembangunan Manusia. Kondisi ini menunjukkan pekerja sektor jasa yang di dalamnya meliputi jasa pemerintahan umum dan sosial kemasyarakatan relatif mendapat tingkat pendapatan atau kesejahteraan yang relatif rendah atau distribusi pendapatan di sektor ini tidak merata. struktur dan dinamika penduduknya. Kondisi ini menyebabkan Kota Bandung menjadi magnet penarik bagi kota-kota disekitarnya. dan 51 lokasi mesin ketangkasan.com/gov_i. sehingga semakin banyak jumlah penduduk. 36. 56 lokasi karaoke. Di sisi lain. dan restoran. perkembangan dan pembangunan Kota Bandung tentu saja berkaitan dengan jumlah. 14 lokasi kelab malam. Selain itu ada kemungkinan sektor jasa-jasa menampung banyak tenaga kerja kurang produktif. Dalam sudut pandang tersebut. 25 lokasi pub. Kota Bandung dapat dikatakan pusat aktivitas perekonomian Jawa Barat. Ketiga hal tersebut di atas merupakan faktor penting dalam penentuan strategi pembangunan suatu kota. sehingga ada potensi pengangguran semu cukup besar pada sektor ini. di Kota Bandung terdapat 50 Lokasi bilyar. akan berkaitan dengan tingkat mobilitas dan interaksi antar penduduk. aktivitas ketenagakerjaan di Kota Bandung pada umumnya adalah pada sektor jasa dan perdagangan. Sebanyak 24. Menurut data resmi. 5 lokasi karaoke dan pub. hotel. maka produktivitas tenaga kerja di sektor jasa-jasa jauh lebih rendah dibandingkan sektor lainya. (http://bandungtourism. Jasa hiburan malam ini ditungjang dengan banyak tempat penginapan yang tersedia di Kota Bandung. sebaliknya kota dengan tingkat sosial ekonomi yang baik cenderung akan lebih teratur. Hal ini berdampak semakin besarnya permintaan khususnya barang konsumsi dan jasa di Kota Bandung.php). Sebagai pusat perekonomian Jawa Barat dan sekaligus sebagai kota tujuan wisata dan pendidikan. Kota dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah cenderung dapat menimbulkan kekumuhan.9% tenaga kerja Kota Bandung bekerja di sektor jasa yang meliputi jasa pemerintahan umum dan swasta.7% penduduk Kota Bandung bekerja pada sektor perdagangan. Kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Bandung telah menyatu dan relatif sulit untuk dapat dibedakan secara jelas dengan masyarakat daerah tetangga. Pada aspek luas wilayah.

(Kajian Penataan Rumah Kumuh di Kota Bandung. sejak krisis moneter tahun 1997 yang selanjutnya menjadi krisis ekonomi di Kota Bandung telah menyebabkan peningkatan jumlah keluarga prasejahtera. Batununggal. Dari angka jumlah penduduk Kota Bandung selanjutnya dapat dihitung angka kepadatan penduduk secara rata-rata mencapai 19 . Kota Bandung memiliki penduduk yang cukup besar. Kalau melihat sebaran kawasan kumuh di Kota Bandung mulai menampakan perambahan di pinggiran kota. Sebagai sebuah kota yang menjadi tujuan perpindahan.174 kk. 2004).22 %.04. (Kajian Penataan Rumah Kumuh di Kota Bandung. dibentuk oleh indeks kesehatan sebesar 80. Indeks tertinggi adalah indek pendidikan yang semakin mengukuhkan Kota Bandung sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia.com/2010/01/ekonomi-wilayahsosial-budaya-kota.60. indeks pendidikan sebesar 89. Kantor Litbang dengan PT. Menurut data kawasan kumuh di Kota Bandung yang telah dikeluarkan oleh Puslitbang Permukiman. Kecamatan yang meningkat kekumuhan adalah kawasan baru yang dibangun oleh pengembang seperti Rancasari.329.78. Dep Kimpraswil. Sebaran lokasi kawasan kumuh di Kota Bandung pada tahun 2000 menunjukan bahwa hampir di setiap kelurahan terdapat kawasan permukiman kumuh.65.09.71 persen. Secara Demografi.blogspot. Berdasarkan penelitian yang dilakukan BKKBN kota Bandung. peringkat tertinggi adalah Kecamatan Cicadas (27%) kemudian disusul Kecamatan Regol (25%) dan Kecamatan Bandung Kulon (15%). sedangkan kondisi pra keluarga sejahtera data tahun 2010 di Kota Bandung telah mencapai 115. terlihat bahwa hampir di setiap kecamatan terdapat kawasan kumuh. yaitu dari 5. berdasarkan proporsi dan komposisi jumlah keluarga dalam peringkat pra sejahtera di wilayah kota Bandung. dan Margacinta.928 jiwa dengan perbandingan persentase penduduk laki-laki dan penduduk perempuan adalah 50. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan dan pengelolaan sebuah kawasan mengakibatkan tumbuhnya pemukiman kumuh.90 persen. sedang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan kualitas pemukiman yang terwujud. dan indeks daya beli masyarakat sebesar 64.558 KK pada bulan Agustus 1998 menjadi 9967 KK pada bulan September pada tahun yang sama. sedang pada periode 2007 – 2008 laju pertumbuhan penduduk meningkat menjadi 1. Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan permukiman. Mapalus Menggala Engineering. peningkatan jumlah penduduk yang terjadi di Kota Bandung ditandai dengan laju pertambahan penduduk periode 2006-2007 sebesar 1.( http://andriakbar. hal ini dapat dimaklumi karena kecamatan-kecamatan di Bandung lama sudah sangat jenuh. Kota Bandung mengalami tingkat kepadatan penduduk yang luar biasa. baik yang berstatus kampung kota maupun permukiman liar.html). Ibid). Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) tahun 2007 jumlah penduduk Kota Bandung adalah 2.78 % dan 49.

perkembangan masyarakat yang semakin kompleks telah memberikan pengaruh buruk terhadap pengasuhan dan perawatan anak.821 anak peringkat pertama terbanyak di Jawa Barat. baik jumlah maupun kualitasnya semakin meningkat. 20 .209 jiwa. Bentuk kegiatan yang dilakukan mereka misalnya berjualan rokok. diperlakukan salah dan dieksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual.872. Jadi. Belum lagi jika kemampuan kerja ini dikaitkan dengan tingkat pendidikan yang didominasi lulusan SMP dan SMA.06 % penduduk termsuk angkatan kerja. Situasional Malfunctioning ini menurut H. Mereka menggunakan jalan sebagai area untuk pemenuhan kebutuhannya. keberadaan mereka di jalanan merupakan Situasional Malfunctioning karena pada usia anak seperti itu seharusnya mereka berada di dalam lingkungan dan perlindungan keluarga.419 orang saja. Eksploitasi anak secara ekonomi. Misalnya untuk bermain dan mencari nafkah guna kelanjutan kehidupan. pengemis bahkan anak jalanan yang berhimpun dalam kampung kota. Anak jalanan mendayagunakan jalan sebagai sumber mata pencaharian melalui kegiatan yang dapat memberikan keuntungan uang bagi mereka. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) periode Agustus tahun 2008 diketahui bahwa jumlah penduduk usia kerja ( 15 tahun ke atas ) di Kota Bandung sejumlah 1. Menurut Laporan Dinas Tenaga Kerja sekitar 15. Menurut data Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat anak jalanan di Kota Bandung berjumlah 4.009 jiwa/Km2. Secara kualitas menunjukkan permasalahan yang dialami Anak jalanan semakin kompleks. gelandangan. Dari jumlah tersebut 60. Selain itu.732 penduduk Kota Bandung tercatat sebagai pencari kerja tahun 2003.73 % penduduk yang bekerja. koran. Dari julah angkatan kerja yang ada hanya 84. Konsentrasi kegiatan mereka pada umumnya di perempatan jalan raya dan pasar tradisional. Kebanyakan potensi tenaga kerja ini berlabuh di sektor manufaktur yaitu buruh dan berdagang.. Salah satu korban yang diperlakukan salah dan mengalami ekploitasi ekonomi dan seksual terbanyak di Kota Bandung adalah anak jalanan.04 % penduduk bukan angkatan kerja. Misalnya anak yang ditelantarkan. Sementara permasalahan lain yang sangat berdampak terhadap perlunya kebijakan perlindungan anak di Kota Bandung saat ini adalah terdapat berbagai permasalahan serius yang dialami oleh anak-anak Hal ini terlihat dari hasil penelitian dan pengamatan yang menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya permasalahan anak.879 orang dengan jumlah penempatan hanya untuk 1. Anak jalanan sendiri diartikan sebagai anak yang menggunakan sebagian besar waktunya di jalanan. yang kebanyakan urban hingga membentuk lingkungan sosial yang plural dan multikultur. Apalagi pekembangan permasalahan Anak jalanan baik secara kuantitatif maupun kualitatif semakin meningkat. Orang-orang dari beragam asal-usul ini utamanya bergiat dalam kerja rutin mencari peluang hidup di kota. kekerasan. wajar saja jika muncul fenomena kemiskinan. penelantaran anak dan bentuk-bentuk pelanggaran lainnya. Apabila dilihat secara konsep Sosial Functioning.14. membersihkan kendaraan. sedangkan lowongan kerja yang tersedia sebanyak 1. mengamen dan lainnya. Dedem Ruchlia (pemerhati anak) bila dibiarkan kemungkinan besar akan mengganggu fungsi dan peran warga lainnya serta tatanan kehidupan masyarakat secara lebih luas. sedangkan sisanya 39.

sektor ekonomi informal di daerah perkotaan dan keberadaan subkultur jalanan. penelantaran. kekerasan dalam rumah tangga. D. penanganan masalah ini memerlukan upaya komprehensif dan integrated secara profesional serta sentuhan empati dan altruisme yang tinggi. a. ”Faktor-faktor utama yang membuat keluarga dan anak berpisah dan terkadang membiarkan anaknya untuk mandiri adalah faktor sosio-ekonomi makro. Faktor penyebab timbulnya permasalahan anak jalanan ini juga menurut H. perlakuan salah. eksploitasi. namun bukan satu-satunya yang menyebabkan anak-anak hidup dan mencari nafkah di jalan. Kajian Teknis Ada dua hal utama disajikan dalam kajian teknis ini. Karena profil dan sebab terjadinya anak jalanan. semua masalah tersebut dapat mengancam semua anak yang berada dalam situasi hidup yang rentan karena berbagai alasan. Sedangkan Guru Besar di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad. mengenai gambaran permasalahan perlindungan anak di Kota Bandung. berkurangnya modal sosial dalam masyarakat. kejadian traumatik.Mereka menjadi korban kekerasan. koran eksploitasi seksual dan terlibat tindakan kriminal serta perbuatan asosial lainnya. Tetapi data dari literatur yang ada menunjukkan bahwa walaupun kemiskinan adalah faktor yang penting. Termasuk dalam hal ini adalah juga anak-anak yang dalam Konvensi Hak Anak dimasukkan dalam kategori kelompok anak yang membutuhkan upaya-upaya perlindungan khusus. mengenai model penanganan yang disarankan untuk dikembangkan dalam Perda. 1. ”Oleh karena itu. Kemiskinan keluarga. khususnya di Kota Bandung sangat heterogen dan bervariasi. 1 Data dikumpulkan Lingkar Perlindungan Anak dan BPPKB Kota Bandung tahun 2011 21 . Dedem Ruchlia sangat kompleks. serta diskriminasi terhadap anak. Sambas Wiradisuria berpendapat bahwa meskipun banyak orang percaya bahwa kemiskinan adalah faktor utama yang mendorong anak bekerja dan hidup di jalanan. Pertama. Secara umum. saling terkait dan saling pengaruh mempengaruhi. H. Kedua. Kekerasan pada anak1. ketidaktahuan orangtua dan ketidakharmonisan keluarga mengakibatkan interaksi ketiga faktor tersebut menjadi faktor penyebab timbulnya masalah Anak jalanan yang sulit diurai ujung pangkalnya. Permasalahan Perlindungan Anak di Kota Bandung Batasan penting yang harus ditegaskan di awal adalah bahwa cakupan masalah perlindungan anak meliputi segala bentuk kekerasan. Berikut ini adalah gambaran sejumlah masalah perlindungan anak yang ada di Kota Bandung yang ditulis berdasarkan temuan lapangan dan beberapa penelitian serta kajian yang telah dilakukan oleh sejumlah lembaga layanan yang ada di Kota Bandung.

Yayasan Jari pada tahun 2008 menangani sebanyak 106 kasus kekerasan. tahun 2009 terdapat 108 kasus 58 korban adalah anak sedangkan tahun 2010 terdapat 90 kasus. iii. Data Suseda 2007. Berdasarkan data Visum RS. Sebagian besar merupakan kasus penelantaran anak yang disebabkan oleh perceraian orang tuanya. tercatat jumlah pekerja anak di Sentra Industri Alas Kaki Cibaduyut pada tahun 2006 sebanyak 700 orang yang berusia antara 10 sampai dengan 18 tahun. ii. di mana sekitar 51 % diantaranya adalah kekerasan seksual. iv. vi.com 2010) Selama Januari . 2 22 . Sebanyak 145 anak mengalami berbagai bentuk kekerasan seperti. pemerasan dan pemalakan dari orang dewasa di jalanan serta pelecehan seksual yang menimpa anak-anak jalanan perempuan. iv. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) 2006. ii. viii.645 orang.24 % dari jumlah anak usia 10-18 tahun atau sekitar 22. v. Ekploitasi2 i. menjadi korban sodomi. ditemukan sekitar 680 kasus kekerasan. vii. b. diperkirakan jumlah buruh anak di Kota Bandung mencapai 6. Hasil pemantauan media yang dilakukan oleh LPA Jawa Barat selama tahun 2009 untuk kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Barat termasuk di Kota Bandung. Kasus anak yang ditangani oleh UPT P2TP2A Kota Bandung pada tahun 2010 mengalami peningkatan 100 % dibandingkan dengan tahun sebelumnya. iii. Yayasan Bahtera menemukan fakta dilapangan bahwa kekerasan juga banyak dijumpai pada kalangan anak jalanan. 52 korban diantaranya adalah anak. Yayasan Masyarakat Sehat (YMS) dan Yayasan Komite Anti Pemiskinan (KAP) Indonesia mencatat lebih dari 50 % anak yang dilacurkan pernah mengalami kekerasan seksual sebelum mereka masuk ke dunia pelacuran. 61 korban adalah anak. Belasan anak panti asuhan diduga telah menjadi korban pencabulan dari pengurus panti asuhan (detik. Bhayangkara pada tahun 2009 terdapat 40 anak menjadi korban kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).i.Juni 2010 LPA Jabar sudah menerima 50 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak.841 orang anak hidup dan bekerja dijalanan Kota Bandung dan kecenderungannya semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun (data Dinas Sosial 2010) Hampir 95 % anak jalanan perempuan masih tinggal dengan orang tuanya dan 36 % diantaranya telah menjadi anak jalanan semenjak usia 0-6 tahun (baseline Save the Children 2010). Dinas Sosial mencatat terdapat sekitar 4.

LAHA berhasil menjangkau 1. x. Jika pada tahun 2006 jumlah ABH hanya sebanyak 75 orang anak. sedangkan kasus yang paling banyak melibatkan anak-anak terjadi pada kasus melanggar ketertiban umum (tawuran.205 pekerja rumah tangga anak (PRTA) di Kota Bandung. Dalam kurun waktu tersebut anakanak yang berasal dari komunitas miskin padat di perkotaan dan anakanak yang berada di jalanan adalah korban terbanyak dari kasus trafiking di Kota Bandung. SMP. rehabilitasi dan reintegrasi anak-anak yang menjadi korban trafiking di Kota Bandung sejak tahun 1998 sampai sekarang. dengan situasi sebagai berikut: − 49% berasal dari Kota Bandung. viii. Selama Mei 2010-Mei 2011. Diperkirakan jumlah mereka bertambah setiap tahunnya. Kasus yang paling banyak dilakukan anak-anak adalah kasus pencurian. Permasalahan lain yang tak kalah memprihatinkannya adalah anak-anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) yang akhir-akhir ini meningkat tinggi. Yayasan Bahtera telah bekerja untuk pemulangan. dsb). Presentase angka penahanan terhadap AKH pada tahun 2007 (Januari-Oktober) di wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung mencapai 95%. geng motor. Sampai tahun 2011. Berdasarkan data dampingan Yayasan Bahtera pada tahun 2010/2011 terdapat sekitar 57 % anak jalanan perempuan di Kota Bandung yang drop out sekolah pada semua tingkatan sekolah (SD. vii. data YMS dan KAP menunjukkan terdapat lebih dari 260 anak yang telah teridentifikasi sebagai anak yang dilacurkan. SMA). Hal ini meningkat 23 ix. − 58 % anak bekerja langsung terjerat ESKA (eksploitasi seksual komersial anak). Ketidak mampuan keluarga dalammengasuh dan melindungi anak dan ketiadaan bantuan pemerintah terhadap keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak serta maraknya bisnis hiburan telah ikut mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap anak yang dilacurkan di Kota Bandung. kota Bandung yang awalnya adalah daerah transit untuk kasus trafiking anak. − Tingkat pendidikan dari PRTA yang mendapat layanan paling banyak adalah 54% tamat SMP dan 33% tamat SD − 85 % anak kerja diatas 4 jam sehari vi. usia termuda yang ditemukan adalah 12 tahun. maka pada tahun 2007 menjadi sebanyak 93 anak dan meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 115 anak. Dalam perkembangan terkini. telah menunjukan kecenderungan menjadi daerah pengirim. Dengan situsi sebagai berikut: − 78 % anak putus sekolah. dan − sekitar 17% sebelum terjerat ESKA dipekerjakan terlebih dahulu di tempat hiburan. Pada tahun 2011 saja Polrestabes Kota Bandung menangani 11 anak yang berasal dari Kota Bandung yang menjadi korban trafiking ke Pekanbaru.v. .

2.jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 85% (kajian Kota Layak anak di Kota Bandung. 2009 oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Pengenalan Penyebab Sejauh ini belum ditemukan adanya studi mendalam yang dilakukan untuk mengetahui secara spesifik kontribusi dan keterkaitan berbagai faktor terhadap kemunculan masalah-masalah perlindungan anak di kota Bandung sebagaimana dipaparkan di atas. Pemisahan anak secara tidak perlu dari lingkungan pengasuhan keluarga Pemanfataan secara negatif kemajuan dan kemudahan akses teknologi informasi • • • • • • • • 24 . Informasi mengenai hal tersebut. Berikut ini beberapa situasi dan kondisi yang muncul dan didefinisikan sebagai faktor yang meningkatkan resiko atau menyebabkan anak mengalami masalahmasalah tersebut: • • • • • Anak keluar atau ada di luar layanan pendidikan karena tidak atau tidak mampu mengakses layanan pendidikan Kebutuhan biaya hidup anak Pengaruh/ajakan teman untuk melakukan hal beresiko Pengaruh dan dorongan gaya hidup konsumtif Kurangnya upaya pendidikan terstruktur mengenai keterampilan hidup yang terkait dengan pengembangan kepribadian dan keterampilan sosial anak Kontak dengan jaringan pelaku eksploitasi Lemahnya perhatian dari orangtua Lemahnya pemahaman/kemampuan orangtua/keluarga akan pengasuhan dan perlindungan anak. yang menjadi landasan kajian ini diperoleh dari data berbagai lembaga yang selama ini terlibat penanganan maupun kajian. termasuk ketika anak memiliki kebutuhan khusus Orangtua/pengasuh yang terpaksa menjadikan anak sebagai kontributor penghasilan keluarga Lemahnya kepedulian antar warga di lingkungan sekitar anak dan keluarga anak Terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap masalah perlindungan anak dan situasi resiko yang ada di sekitar anak.

• • • • • • • Setiap kasus masalah perlindungan anak tentunya diakibatkan oleh kombinasi sejumlah faktor. Tak adanya mekanisme pemantauan. Oleh karena itu. dan penanganan kasus perlindungan anak mulai dari tingkat masyarakat yang secara konsisten diterapkan dan dapat dilakukan atau diakses masyarakat. bukan secara insidental. hubungan sebab-akibat dan keterkaitan antar faktor tersebut sesungguhnya telah dikenali pola umumnya untuk setiap jenis masalah. 25 . pelaporan. Sehingga dapat dikatakan bahwa hampir semua kasus atau masalah perlindungan anak terjadi secara sistemik. keluarga. termasuk dalam penyiapan fasilitas dan kualitas tenaga pelaksana layanannya.• • • • • • • Kemudahan jaringan pelaku eksploitasi seksual komersial dalam beroperasi Masih terdapatnya kelemahan dalam sistem kependudukan sehingga usia anak dapat dimanipulasi administrasi Tingginya permintaan tenaga anak dalam bisnis hiburan dan layanan seksual Tingginya permintaan tenaga anak untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga atau sektor informal lainnya Kurang efektifnya pengendalian migrasi pencari kerja ke kota Bandung Lemahnya pengawasan terhadap bisnis hiburan yang berpotensi melibatkan anak dalam pekerjaan eksploitaif dan berbahaya Lemahnya pengawasan terhadap kalangan pelaku bisnis/industri informal atau rumahan yang berpotensi melibatkan anak dalam pekerjaan eksploitaif dan berbahaya Keterbatasan ruang fisik/publik di lingkungan tempat tinggal untuk kegiatan anak di luar waktu sekolah Masih belum konsistennya penegakan hukum terhadap kasus-kasus perlindungan anak Pendekatan yang belum berperspektif hak asasi anak dalam penyelenggaraan sejumlah layanan perlindungan anak. dan sebaliknya setiap faktor penyebab bisa berkontribusi terhadap kemunculan beberapa kasus berbeda. penanganannya pun selayaknya dilakukan dengan pendekatan yang sistemik pula. pencatatan. dan anak. Minimnya upaya deteksi dan intervensi dini terhadap resiko kemunculan masalah perlindungan anak Terbatasnya jumlah keluarga yang dapat dilayani atau mengakses layanan peningkatan kemampuan keluarga Kemiskinan keluarga dan faktor-faktor yang terkait dengan terbatasnya pilihan atau tak tersedianya atau tak memadainya sumber penghasilan keluarga. Sekalipun belum dilakukan pengujian secara akademis.

dan penelantaran. Banyak faktor memang bisa ditunjuk sebagai penyebabnya. perlakuan salah. 26 . Fokus Pada Respon. perlakuan salah. a. maka pemulihannya bukanlah hal yang mudah.3. anak gagal pulih dan masalahnya pun dapat terulang kembali. legal. Namun berbagai upaya tersebut tampaknya tak mampu mengimbangi dinamika perkembangan berbagai faktor resiko yang meningkat dengan cepat sejalan dengan dinamika ekonomisosial-budaya di Kota Bandung dalam beberapa tahun belakangan. dan moralnya. ketika seorang anak telah menjadi korban kekerasan. Padahal. Strategi dan Model Penanganan Sejumlah upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Kota Bandung untuk merespon beragam permasalahan tersebut di atas. pendampingan anak jalanan. Namun dari sisi strategi dan model penanganan yang ada. rehabilitasi. menyelamatkan dan memulangkan anak dari jeratan eksploitasi seksual komersial. eksploitasi atau penelantaran umumnya mengalami masalah yang bersifat multi-dimensi. Penanganan isu perlindungan anak secara tradisional seperti demikian. beberapa hal berikut ini dapat menjelaskan kurang efektifnya upaya-upaya tersebut. isu ekploitasi terhadap anak. strategi penanganan yang paling dominan dilakukan oleh berbagai lembaga di Kota Bandung saat ini umumnya berada di fase penanggulangan. emosi. yang menggunakan pendekatan yang terbatas atau hanya berfokus pada isu misalnya terfokus pada isu anak jalanan. Sudah saatnya untuk memberikan bobot lebih pada upaya-upaya yang bersifat penguatan masyarakat dalam menangkal masalah atau melakukan pencegahan dini di lingkungan masyarakat yang memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya kekerasan. dan sering juga ditambah dengan dimensi sosial. merespon ketika masalah telah terjadi. Oleh karena itu. Akibatnya. Banyak layanan yang diberikan kepada mereka masih bersifat sepenggal-sepenggal. Bahkan terakhir. eksploitasi atau penelantaran. b. isu anak yang berkonflik dengan hukum. Kurang Pencegahan dan Promosi Secara Terukur Dalam area perlindungan anak. penguatan masyarakat dan upaya pencegahan semestinya mendapat perhatian lebih besar. mental. eksploitasi. ekonomi dan spiritual atau moral. yaitu fisik. Penanganan yang Bersifat Diskontinu dan Tak Komprehensif Anak yang menjadi korban kekerasan. alokasi dana dalam jumlah besar diarahkan untuk membangun pusat fasilitas pelayanan rehabilitasi anak yang dikategorikan penyandang sosial. tanpa mengesampingkan pentingnya layanan rehabilitasi. atau hanya terfokus pada satu-dua aspek. Penertiban anak jalanan. terutama bila yang terluka adalah aspek mental. yang selama ini dapat dikatakan kurang mendapat perhatian. sosial. dsb. perlakuan salah. terbukti tidak efektif dan efesien karena sesungguhnya akar masalah perlindungan anak bersumber pada ketidakmampuan keluarga dalam mengasuh dan melindungi anak ditambah dengan belum optimalnya peranan negara dalam memberdayakan keluarga yang tidak mampu mengasuh dan melindungi anak. penertiban penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Mencermati kondisi-kondisi pada kedua permasalahan tersebut. d. situasi ini bahkan berakibat menjadi pengalaman buruk lanjutan bagi anak yang dilayani.Adalah pedoman utama setiap upaya pemenuhan hak anak sebagaimana dinyatakan dalam Konvensi Hak Anak. Berbagai lembaga layanan yang ada masih cenderung bekerja secara sendiri-sendiri dan belum meleburkan diri secara penuh dalam sistem layanan yang lebih terpadu yang bersifat lintas sektor dan lini layanan. Ketentuan Umum Anak Adalah setiap orang yang belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun. POKOK-POKOK MATERI/MUATAN A. mencegah sejak dini resiko kemunculan masalah. Tidak Terintegrasi dan Kurang Sinkronisasi Antar Lini dan Sektor Upaya Pemerintah Kota Bandung untuk mengintegrasikan penyelenggaraan layanan perlindungan anak antara lain melalui Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan & Anak (P2TP2A) masih belum mampu menjawab kebutuhan layanan yang ada.Masalah ini juga terjadi karena banyak lembaga pelayanan tak memiliki kecukupan kemampuan untuk menyelenggarakan layanan secara tuntas dan komprehensif karena keterbatasan sumberdaya. III. Tumbuh-kembang. dan mengembangkan layanan penanggulangan yang komprehensif dan terintegrasi. termasuk yang masih berada dalam kandungan. Akibatnya. banyak kondisi spesifik yang terkait dengan karakteristik masa perkembangan anak dan kebutuhan khusus anak tak dipertimbangkan. Hak. Kendala utama bersumber dati keterbatasan sumber daya yang dialokasikan untuk menjalankan seluruh mandat P2TP2A secara penuh. maka tak ada pilihan lain bagi Kota Bandung selain dari segera mengembangkan kerangka normatif yang dapat mendorong terbangunnya suatu sistem penyelenggaraan perlindungan (?) anak yang mampu meredam perkembangan masalah melalui penguatan kemampuan keluarga dan masyarakat. c. Dalam banyak kasus. Penanganan Tak Berperspektif Anak Banyak ditemukan penyelenggaraan layanan terhadap anak yang dilakukan dalam sistem/mekanisme pelayanan yang bersifat umum yang biasanya disesuaikan dengan standar kebutuhan atau perlakuan terhadap orang dewasa. dan 27 Prinsip-prinsip hak Anak . yang terdiri dari: • Kepentingan terbaik untuk anak • Pemenuhan Hak Hidup.

dan upaya lain untuk mendukung pemenuhan hak anak. termasuk upaya promosi dan menyebarluaskan pemahaman atas hak anak. perlakuan salah. • Melindungi. anak dalam mendapatkan hak-haknya. baik 28 Masalah Perlindungan Anak Kekerasan Fisik . menghargai pendapat anak Kewajiban Sebagai pengemban kewajiban. Masalah perlindungan anak dapat terjadi dalam “situasi normal” seperti di lingkungan keluarga. pendidikan. Adalah setiap tindakan yang dilakukan secara sengaja dengan menggunakan kekuatan atau tenaga fisik. yaitu kewajiban untuk menghormati dan tidak mengganggu. atau ketika mengalami perlakuan diskriminatif karena menjadi bagian dari kelompok minoritas atau komunitas adat tertentu. keuangan. eksploitasi. penculikan dan trafiking. yaitu kewajiban untuk mencegah pihak lain mengganggu/menghalangi anak dalam mendapatkan hak • Memenuhi. ketika anak berhadapan dengan hukum. atau dalam situasi terpisah dari lingkungan pengasuhan orangtua/keluarganya. hukum. seperti ketika berada dalam situasi darurat pengungsian akibat konflik bersenjata atau bencana. pemerintah memiliki Pemerintah dalam kewajiban untuk: Pemenuhan Hak Anak • Menghormati. Adalah setiap kejadian yang dialami individual atau kelompok anak yang di dalamnya terdapat unsur atau menyebabkan anak mengalami tindak kekerasan. secara langsung atau tidak. atau pergaulan anak. administratif. dan diskriminasi terhadap anak. perlakuan salah. seksual. atau berada dalam situasi hidup tertentu yang di dalam pembahasan mengenai isi KHA disebutkan sebagai membutuhkan upaya perlindungan khusus. – Menyediakan – kewajiban untuk secara langsung menyediakan dukungan atau layanan untuk pemenuhan hak anak Perlindungan Anak Adalah setiap upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menangani terjadinya segala bentuk tindak kekerasan. ketika anak menjadi korban eksploitasi ekonomi. yaitu: – Fasilitasi – kewajiban untuk mengambil tindakan legislatif.• • kelangsungan hidup anak Non-diskriminatif Partisipatif. yang terdiri dari 2 pengertian. eksploitasi. penelantaran. dan penelantaran. penyalahgunaan NAPZA.

(disimpulkan dari berbagai sumber) Adalah eksploitasi anak untuk tujuan mendapatkan manfaat bernilai ekonomi (keuangan). termasuk membiarkan anak dalam situasi bahaya. yang telah diratifikasi dan diundangkan oleh pemerintah RI dalam Undang-Undang No. pekerja rumahtangga anak. termasuk juga pemberian beban tugas yang melampaui kemampuan normal anak untuk menanggungnya (diadaptasi dari berbagai sumber) Penelantaran Adalah tindakan pengabaian pemenuhan kebutuhan dasar dan pengasuhan. tumbuh-kembang. 235 /MEN/2003 tentang Jenis . Keselamatan Atau Moral Anak. seksual. kematian. sosial. Pasal 74 UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 01 Tahun 2000. dll. Adalah setiap penglibatan anak secara sengaja dalam kegiatan-kegiatan yang dapat merugikan kesejahteraan dan tumbuh-kembang anak atau membahayakan keselamatan anak untuk tujuan membuat orang lain dapat memperoleh manfaat ekonomi. bagian dari eksploitasi ekonomi. Permendagri No. Dalam beberapa definisi. Konvensi ILO No. Di dalamnya termasuk: pekerja anak. Eksploitasi Anak Eksploitasi Ekonomi Bentuk-bentuk Disingkat BBPTA.Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Kesehatan. “luka” psikis. dan kesejahteraan anak. luka. 6/2009 tentang Pedoman Pembentukan Komite Aksi Daerah. terhadap anak yang mengakibatkan atau diperkirakan dapat menyebabkan cedera. atau juga politik. Keputusan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi Nomor: KEP. Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. 29 . keselamatan. Pekerjaan Terburuk adalah kategori jenis pekerjaan yang dinilai paling bagi Anak membahayakan atau paling merusak bagi kelangsungan hidup. Penetapan Rencana Aksi Daerah. anak yang dipekerjakan di jalan. 182 tahun 1999. Dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak. menyatakan 4 kategori pekerjaan sebagai BBPTA (Worst Form Of Child Labour).dalam bentuk ancaman ataupun tindakan nyata. gangguan atau penyimpangan perkembangan atau pertumbuhan. perawatan & pemeliharaan sehingga mengganggu atau menghambat tumbuhkembang anak.

penelantaran). Dalam banyak situasi. pengiriman. yang didalamnya nyata terdapat unsur kekerasan seksual terhadap anak. penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat. penampungan.Eksploitasi Seksual Adalah bentuk eksploitasi anak untuk tujuan mendapatkan manfaat seksual. Adalah tindak pidana yang mengandung unsur-unsur tindakan tindakan perekrutan. Atau sering disebut juga “Anak Tanpa Pengasuhan Orangtua”. baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara. unsur persetujuan anak tidak dapat dijadikan pemakluman. Trafiking merupakan situasi buruk yang dialami anak yang didalamnya seringkali melibatkan seluruh bentuk kekerasan dan penelantaran terhadap anak. untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Dalam perspektif hak anak. adalah kelompok bagi Anak jenis layanan yang ditujukan untuk memulihkan kerugian/dampak yang dialami oleh anak yang menjadi korban masalah perlindungan anak (kekerasan. psikososial. Layanan Pemulihan Disebut juga layanan rehabilitasi. atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan. Adalah dokumen hukum yang menjamin pengakuan atas indentitas dan status kewarganegaraan anak yang diterbitkan oleh dan menjadi kewajiban Negara untuk segera menyediakannya kepada setiap anak yang terlahir. penipuan. sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut. penyekapan. pengangkutan. pemindahan. penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan. yang meliputi layanan medis. penggunaan kekerasan. Layanan Reintegrasi Adalah layanan yang meliputi pengembalian. juga melibatkan tujuan eksploitasi ekonomi misalnya ketika anak dilacurkan atau produksi pornografi. Trafiking. bagi Anak penyatuan kembali. hukum dan termasuk juga ganti-rugi. penculikan. eksploitasi. adalah anak yang karena suatu sebab tidak lagi berada dalam pengasuhan atau terpisah orangtua/walinya yang sah secara hukum maupun adat. dan dukungan proses adaptasi 30 . Perdagangan Orang/anak Akta Kelahiran Anak Terpisah Penelusuran Reunifikasi dan Adalah upaya sistematis untuk melacak keberadaan orangtua/keluarga dari anak yang terpisah dan menyatukan kembali anak dengan orangtua/keluarganya tersebut. pemalsuan. perlakukan salah.

atau yang menjadi korban tindak pidana atau melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak pidana. eksploitasi. dan c. Tujuan penyelenggaraan perlindungan anak Penyelenggaraan perlindungan anak dilakukan untuk menjamin terselenggaranya upaya-upaya yang efektif secara sistematis. mencegah terjadinya berbagai bentuk tindak kekerasan. Kerentanan Anak & Adalah kondisi anak dan/atau keluarga yang Keluarga menyebabkan anak berada dalam situasi beresiko tinggi untuk mengalami bentuk tertentu dari tindak kekerasan. perlakuan salah. merespon secara tepat dan cepat terhadap masalah perlindungan anak yang muncul. termasuk dalam pembuatan keputusan dan kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan mereka. perlakuan salah. dan berkesinambungan yang dibutuhkan untuk membangun kemampuan lembagalembaga pemerintah dan masyarakat kota Bandung dalam: a. Anak Berhadapan Hukum yang Adalah anak yang telah mencapai usia 12 (duabelas) dengan tahun tapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun yang diduga. Upaya pengembangan kemampuan anak ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun faktor pelindung pada diri anak. atau dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana. perlakuan salah. sehingga mampu mencegah atau menghindarkannya dari situasi pelanggaran terhadap hak-haknya. dan penelantaran terhadap anak. 2.kembali anak ke lingkungan keluarga/pengasuhannya semula. Lingkup Penyelenggaraan Perlindungan Anak 31 . B. eksploitasi. atau penelantaran. disangka. termasuk dalam penyelenggaraan layanan pemulihan fisik dan psikologis serta reintegrasi sosial di dalam lingkungan yang mendukung kesehatan anak serta menjaga harga diri dan martabat anak. Materi Pokok Yang Akan Diatur 1. terintegrasi. Pengembangan Partisipasi Anak Adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan anak untuk terlibat dalam berbagai proses sosial di lingkungan masyarakatnya. didakwa. eksploitasi. b. dan penelantaran terhadap anak. mengenali situasi beresiko dan melakukan intervensi dini terhadap kemunculan berbagai bentuk tindak kekerasan.

pelaksanaan peradilan anak. eksploitasi. pelaksanaan adopsi. termasuk juga 32 . sosial. kelas sosial. agama. untuk melindungi kualitas proses tersebut. etnisitas. dan perlu mendapat perhatian khusus dalam setiap keputusan yang berdampak pada pemisahan anak dari pengasuhan orangtua/keluarga. dan bahwa setiap pengalaman dan perlakuan yang terjadi akan mempengaruhi proses tersebut. deteksi dan intervensi dini. Oleh karena itu. perlakuan salah. dan diskriminasi. b. dan moral. administrative atau program ). kemampuan ekonomi. baik aspek fisik. Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak maka pertimbangan utamanya adalah demi kepentingan terbaik untuk anak. mental. Dan bahwa hal yang diputuskan atau dilakukan tersebut tidak mengakibatkan terganggunya atau terhalanginya perkembangan seluruh aspek atau salah satu aspek tumbuh-kembang anak. atau dalam penanganan pengungsi anak. penelantaran. kebangsaan.Upaya penyelenggaraan perlindungan anak di kota Bandung meliputi hal-hal yang bersifat pencegahan. kecatatan atau perbedaan kondisi fisik dan mental anak. ketika pemerintah menjalankan kewajiban membantu keluarga yang tidak mampu dalam mengasuh/melindungi anak. dan Kelangsungan Hidup Anak Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak merupakan bagian dari atau melibatkan juga upaya sungguh-sungguh untuk semaksimal mungkin menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh-kembang anak secara penuh. Ini berlaku dalam pembuatan kebijakan pemerintah ( langkah-langkah legislasi. maka empat prinsip pemandu sebagaimana dinyatakan dalam Konvensi Hak Anak harus menjadi bagian dari setiap upaya Penyelenggaraan Perlindungan Anak dan perlu dituangkan secara jelas arti tiap prinsip dan kaitan antara tiap prinsip dengan isu hak anak lainnya sesuai logika konvensi. atau pandangan politis anak dan orangtua/pengasuh anak. Prinsip Pemenuhan Hak Hidup. c. 3. dan tindakan penanggulangan untuk memenuhi hak anak atas perlindungan dari segala bentuk tindak kekerasan. Prinsip Pemandu Penyelenggaraan Perlindungan Anak Penyelenggaraan perlindungan anak dilandasi pemikiran bahwa masa anak adalah masa pembelajaran dan pembentukan menuju kematangan atau pencapaian status dewasa. a. Prinsip Kepentingan terbaik untuk anak. Prinsip Non-diskriminatif Bahwa setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak ditetapkan atau dijalankan tanpa adanya pertimbangan diskriminatif karena latar belakang jenis kelamin anak. Tumbuh-kembang. Termasuk di dalamnya mencegah atau menindak pihak-pihak yang mengganggu atau menghalangi anak dalam mendapatkan atau menikmati hakhak asasinya yang lain.

sehingga perlu dikembangkan upaya untuk membangun faktor pelindung pada diri anak. Kekerasan & perlakuan salah terhadap anak diyakini mengancam keselamatan. lembaga pengasuhan anak atau panti asuhan. berkonflik dengan hukum. anak yang menjadi korban atau dilibatkan dalam penyalahgunaan dan usaha peredaran narkotika dan bahan adiktif terlarang. 4. pekerja anak. Anak adalah aktor penting dalam penyelenggaraan perlindungan anak. yang banyak dialami oleh anakanak yang bekerja di jalanan. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumahtangga. keluarga angkat. serta perkembangan fisik. b. anak yang menjadi korban semua bentuk eksploitasi seksual anak. terinfeksi HIV/AIDs. pembatasan atau penghilangan kesempatan anak mengakses hak-hak dan (yang) beresiko mengganggu atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya secara perkembangan fisik. anak yang berkonflik dengan hukum. sehingga mampu mencegah atau menghindarkannya dari situasi pelanggaran terhadap hak-haknya. d. mental dan moral anak-anak yang berada dalam pengasuhan di luar lingkungan rumahnya orangtua/keluarga. Penelantaran atau pengabaian pemenuhan hak anak yang rentan dialami oleh anak yang tinggal di luar pengasuhan orangtua (keluarga asuh. mental dan moral. eksploitasi seksual. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Prinsip Menghargai Pendapat Anak Bahwa di dalam setiap keputusan yang diambil atau perlakuan atau tindakan yang ditujukan terhadap anak. termasuk pornografi dan pornoaksi. anak dengan kemampuan berbeda (difabel). kesehatan. Bentuk-bentuk eksploitasi di mana anak dipekerjakan atau dimanfaatkan dengan cara dan atau dalam situasi yang membahayakan keselamatan dan kesehatan anak.perlakuan diskriminatif akibat pandangan salah dan stigmatisasi yang berkembang di masyarakat untuk anak-anak yang berada dalam situasi khusus seperti korban kekerasan. anak yang dipekerjakan di industri sepatu atau industri lain yang berbahaya bagi anak. atau bentuk lain). Bahwa upaya khusus perlu dilakukan untuk memastikan anak-anak yang rentan mengalami perlakuan diskriminatif karena menjadi korban masalah perlindungan anak di atas tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pemenuhan hak-haknya. anak yang ditempatkan dalam pusat 33 . sedapat mungkin disertai dengan pertimbangan atas pandangan atau pendapat yang disampaikan oleh anak sesuai dengan tingkat kematangan usianya. dll. Bentuk-bentuk Masalah perlindungan anak kota Bandung Masalah perlindungan anak yang ada di Kota Bandung yang telah terindentifikasi atau diantisipasi kemunculannya terutama adalah: a. anak yang menjadi korban atau dilibatkan dalam usaha layanan seksual. c. anak yang hidup dan bekerja di jalan. asrama.

segera dan memberikan perlindungan terhadap anak (dan keluarganya) yang berada dalam situasi beresiko mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan. anak dalam keluarga yang gagal menjalankan fungsi pengasuhan karena kemiskinan. dan penelantaran. b. Kebijakan. . perlakuan salah. eksploitasi.rehabilitasi/kesehatan. anak yang menjadi korban eksploitasi seksual. yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterlibatan anak dalam pembangunan lingkungan yang lebih mampu melindungi mereka. Upaya untuk memastikan kesiapan Pemerintah dan masyarakat Kota Bandung dalam melakukan intervensi awal atau deteksi dini. iii. yaitu upaya-upaya untuk memastikan adanya langkah yang mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat dan lembaga yang terlibat dalam upaya perlindungan anak Pelibatan Masyararakat. Program. eksploitasi. pekerja anak. 34 ii. Program. anak yang memiliki kebutuhan khusus karena kecacatan atau perbedaan kemampuan (difabel). i. Kebijakan. anak yang berhadapan dengan hukum. Membangun Kesadaran dan Sikap Masyarakat. Pengembangan kemampuan dan mekanisme di tingkat pemerintah kota dalam membangun kemampuan “masyarakat” Kota Bandung dalam menciptakan kondisi yang dapat mencegah terjadinya masalah perlindungan anak. yaitu upaya untuk melibatkan warga masyarakat dan anak itu sendiri dalam menciptakan lingkungan yang protektif bagi anak. 5. bagian ini untuk memastikan adanya konsistensi dan upaya sistematis dalam penyiapan model dan pemenuhan standar layanan perlindungan anak di Kota Bandung Pengembangan Partisipasi Anak. i. Upaya penanganan a. perlakuan salah. yaitu upaya untuk membangun masyarakat kota Bandung menjadi masyarakat yang secara kolektif memiliki kesadaran tinggi dan kesiapan bertindak terhadap masalah perlindungan anak. anak yang tak terdampingi atau hidup sendiri. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. anak yang hidup dan bekerja di jalan. & Mekanisme. dan penelantaran. Peningkatan Kesadaran. iii. anak dalam situasi darurat pengungsian. disharmoni atau karena sebab lain. yaitu upaya yang dilakukan secara terencana untuk menciptakan layanan dan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan aksi perlindungan terhadap anak (dan keluarganya) yang berada dalam situasi beresiko mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan. ii. dan Mekanisme. anak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.

Untuk Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak. kesehatan. Bagian ini merupakan upaya untuk memastikan setiap aksi perlindungan anak yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat berjalan secara maksimal dan terhindar dari tumpang tindih. perlakuan salah. . UU Adminduk/Perda Adminduk yang bertanggung jawab adalah Dinas Kependudukan dan Capil. yaitu Upaya penyelamatan terhadap anakanak yang berada dalam situsi mendapatkan kekerasan. perlakuan salah. Kelembagaan/Manajemen. ekploitasi dan penelantaran untuk memberikan jaminan agar anak bisa diterima/ kembali bersatu dengan keluarga dan lingkungannya serta terjamin tumbuh kembangnya dimasa mendatang. ekploitasi dan penelantaran mendapatkan dukungan rehabilitasi yang mencakup .iv. pendidikan. memperlancar dan memastikan langkah perlindungan anak berjalan sesuai dengan tujuan. 35 ii. yaitu upaya untuk mensistematisasikan. UU Kesehatan/Perda Kesehatan : yang bertanggung jawab adalah Dinas Kesehatan. yaitu jenis dan bentuk layanan yang perlu dibangun dan dikembangkan untuk mewujudkan perlindungan anak di Kota Bandung Koordinasi. Penting untuk secara tegas ditetapkan penugasan kepada lembaga atau team atau badan tersendiri atau komite yang diberi mandat/kewenangan melakukan koordinasi. psiko-sosial. Layanan. UU Sisdiknas/Perda Pendidikan : yang bertanggung jawab adalah Dinas Pendidikan. rehabilitasi dan reintegrasi. yaitu upaya pemerintah kota dalam memastikan setiap anak yang menjadi korban kekerasan. yaitu Upaya yang dilakukan oleh pemerintah kota untuk secara dini mengidentifikasi dan mengenali keberadaan anak-anak yang menjadi korban kekerasan. ekonomi. ekploitasi dan penelantaran Rehabilitasi. c. dan penelantaran. Penanganan dimulai dari identifikasi. i. maka BPPKB selayaknya ditetapkan untuk melakukan fungsi tersebut. vi. penyelamatan. eksploitasi. eklpoitasi dan penelantaran. yaitu berupa dukungan layanan lanjutan pasca rehabilitasi untuk anak-anak korban kekerasan. Contoh pada UU dan perda lainnya yaitu. Identifikasi dan reporting. rescue (penyelamatan). iv. perlakuan salah. perlakuan salah. v. dan legal Reintegrasi. Pengembangan mekanisme ditingkat kota untuk memastikan dilakukannya respon berupa penanganan secara segera oleh pemerintah kota terhadap setiap anak yang menjadi korban dari berbagai bentuk tindak kekerasan. Penarikan/ Rescue. iii. perlakuan salah.

KETENTUAN SANKSI Pada intinya. Pada saat berlakunya peraturan daerah ini. 4. kota Bandung tak lepas dari ekses perkembangan berbagai masalah sosial. sebagaimana dipaparkan dalam berbagai kajian di atas. yang pada dasarnya adalah cita-cita pembangunan masyarakat yang berupaya menempatkan kesejahteraan. 36 . Pemerintah kota mengembangkan mekanisme positif atau pemberian penghargaan untuk tujuan penguatan perilaku atau percepatan perbaikan layanan di lingkungan kelembagaan yang ada. dikhawatirkan dalam jangka panjang akan berdampak buruk terhadap keberhasilan pembangunan peradaban kota sebagaimana dicita-citakan dalam Visi kota Bandung. selambatnya 6 bulan pemerintah kota Bandung harus sudah menerbitkan peraturan walikota sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan daerah ini. IV. penguatan atau sanksi yang diterapkan untuk tujuan penegakan ketentuan-ketentuan dalam peraturan daerah ini diarahkan untuk merujuk pada ketentuan dalam perundangan terkait yang berlaku. KETENTUAN PERALIHAN Pada saat berlakunya peraturan daerah ini. Komplikasi dari berbagai situasi masalah sosial tersebut kemudian antara lain berdampak terhadap kehidupan anak di Bandung. E. Peraturan daerah ini mulai berlaku sejak ditetapkan. yaitu upaya dalam membangun dan memperkuat sistem layanan. PENUTUP Sebagai kota metropolitan yang terbuka dan terus berkembang dengan pesat. Manajemen Layanan. Jika tak direspon segera secara bijak. kasus-kasus berbagai jenis masalah perlindungan anak di kota Bandung cenderung meningkat secara kuantitas maupun kualitasnya. C. KETENTUAN PENUTUP 1. peningkatan koordinasi serta membangun keberpihakan layanan terhadap anak-anak. Peraturan daerah ini dilaksanakan oleh organ atau alat kelengkapan di lingkungan pemerintah kota Bandung yang terkait dengan layanan atau kegiatan yang diatur dalam Perda ini. semua ketentuan dalam peraturan daerah lainnya yang berkaitan atau berdampak terhadap kepentingan anak dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam peraturan daerah ini. Saat ini. D. dan nilai-nilai kemanusiaan pada level tertinggi.v. martabat. 2. Peraturan daerah ini disebut Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak Kota Bandung 3.

dan fragmental menjadi cara-cara yang lebih sistemik yang memberikan bobot besar pada upaya pencegahan dan layanan integratif.Dan komitmen Pemerintah Kota untuk memberikan prioritas tinggi pada kesejahteraan dan perlindungan anak adalah keputusan yang bernilai strategis dan investasi jangka panjang terpenting untuk pencapaian dan kelanggengan kondisi sebagaimana digambarkan dari visi tersebut. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah menterjemahkan komitmen tersebut menjadi suatu sistem penyelenggaraan perlindungan anak melalui upaya yang terencana. 37 . dan terukur. sistematis. diskontinu. sporadis. Sudah saatnya disusun suatu acuan normatif yang dapat menjadi panduan dalam mengintegrasikan seluruh sumber daya pemerintah dan masyarakat. sehingga penyelenggaraan perlindungan anak di kota Bandung dapat segera beralih dari caracara yang responsif.