P. 1
Contoh Isi Buku: Fast Food United

Contoh Isi Buku: Fast Food United

|Views: 180|Likes:
Published by bisnis2030
Jika Anda menyukai fotografi, traveling dan alam bebas, Yudasmoro membagi pengalamannya. Lulusan S1 Admin Niaga Universitas Atma Jaya Jakarta ini, saat ini menjalani profesi sebagai seorang Travel Writer. Catatan petualangannya terekam jelas dalam buku ini.

Pengalaman sebelumnya sebagai Asisten Store Manager di sebuah restaurant Fast food, membuatnya bisa membeberkan intrik dan perseteruan di dalamnya dengan begitu detil dan lugas.
Jika Anda menyukai fotografi, traveling dan alam bebas, Yudasmoro membagi pengalamannya. Lulusan S1 Admin Niaga Universitas Atma Jaya Jakarta ini, saat ini menjalani profesi sebagai seorang Travel Writer. Catatan petualangannya terekam jelas dalam buku ini.

Pengalaman sebelumnya sebagai Asisten Store Manager di sebuah restaurant Fast food, membuatnya bisa membeberkan intrik dan perseteruan di dalamnya dengan begitu detil dan lugas.

More info:

Published by: bisnis2030 on Apr 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/23/2014

Fast Food United

117

q

Menu 23
NatureCare
Karena begitu frustasinya Andika dengan lingkungan kerja di BR, biasanya ia menyibukkan dirinya dengan browsing internet. Segala bentuk komunitas yang ia minati tak luput dari perhatiannya. Ia bergabung dengan komunitas fotografi, komunitas pecinta museum, komunitas backpacker dan forum diskusi keagamaan. Ia mulai merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Segala macam tembok-tembok yang semakin meninggi dengan mengatasnamakan karir telah membuat dirinya semakin hampa. Andika memang terjamin dari segi finansial namun ia merasa menjadi individu yang tak mempunyai jiwa. Semuanya kosong! Bahkan ia tidak tahu lagi bakat-bakat yang dimilikinya sejak kecil. Ilmu fotografi yang dulu pernah diajarkan ayahnya dan sempat membuatnya keranjingan seolah mati mendadak tak meninggalkan bekas. Ketika hendak mencari data tentang fotografi landscape, tak sengaja Andika menemukan web site sebuah organisasi pecinta lingkungan, NatureCare. Organisasi yang didirikan di Belanda tahun 1951 ini sudah merambah ke berbagai negara di dunia dalam mengkampanyekan misi cinta lingkungannya. Salah satu negara yang dirambahnya adalah Indonesia. NatureCare Indonesia sendiri sudah berdiri sejak tahun 1979. Relawannya mencapai jumlah 5.018 orang yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Proyek-proyek konservasi alam NatureCare untuk Indonesia sendiri sudah cukup

118

q

Fast Food United

banyak. Hampir di semua pulau besar di Indonesia dan beberapa pulau terpencil. ”Enak juga ya kalau punya kerjaan yang sesuai dengan hati nurani,” begitu pikirnya sambil melamun. Kesempatan untuk bergabung sebagai relawan pun tak disia-siakan Andika. Ia mendaftarkan diri sebagai relawan melalui internet. Dan memang benar, tidak sampai satu minggu Andika dihubungi oleh pihak NatureCare untuk mengikuti acara gathering sekalian untuk saling mengenal sesama relawan baru. Tentunya ini adalah kesempatan emas bagi Andika untuk keluar dari ”penjara” BR. Beberapa tahun terkungkung dalam ”penjara” BR memang sudah hampir mematikan semua susunan syaraf otaknya. Ia menjadi terbelenggu dalam rutinitas yang monoton, itu-itu saja. Jika tidak dicaci maki, ya menghamba pada para bos. Itulah dua elemen penting dalam dunia kerja di restoran fast food macam Burger Rep’s. Tidak boleh ada pemikiran baru yang berkembang, tidak boleh ada potensi-potensi yang muncul dalam diri individu karyawannya. Semua demi mencapai kepentingan para bos. Tidak ada tantangan lagi dan yang paling penting adalah Andika ternyata tidak bisa mencintai pekerjaannya sendiri meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga. ^^^ Acara gathering yang dihadiri sekitar seratus limapuluhan relawan itu berlangsung dengan lancar. Selain pengenalan programprogram NatureCare untuk masa depan, Andika mendapatkan banyak sekali teman. Ada beberapa yang datang dari luar kota khusus untuk mengikuti acara ini. Latar belakang pekerjaan dan pendidikan mereka pun beraneka ragam. Tapi setidaknya mereka yang hadir di sini paham betul siapa itu Napoleon. Jadi Andika tidak perlu merasa kuatir akan terkungkung lagi seperti di BR.

Fast Food United

119

q

Dalam presentasinya, NatureCare juga menawarkan para relawan untuk ikut bergabung dengan proyek-proyek mereka dalam konservasi alam. Sebenarnya Andika sangat tertarik untuk ikut dalam proyek pelestarian orang utan di Kalimantan Tengah, namun karena waktu program yang relatif terlalu dekat dan memakan waktu cukup lama, akhirnya ia membatalkan niatnya. Namun kekeceweaan itu terobati dengan adanya program penelitian habitat dolphin di Singaraja, Bali utara. Waktu program itu relatif masih lama, dua bulan lagi dan tidak terlalu panjang, cuma empat hari tiga malam. Setelah berpikir-pikir dan berdiskusi dengan beberapa teman barunya, akhirnya Andika memutuskan untuk ikut bergabung dengan program dolphin tersebut. Ia merasa penuh semangat dan sebuah kehidupan baru seolah tampak didepan matanya. Ia lebih merasa sebagai seorang relawan NatureCare daripada seorang manager restoran BR. Hari itu, seolah Andika mendapatkan suntikan darah baru dan kehidupan baru. ”Ternyata ada dunia diluar BR,” pikirnya. Meskipun masih dua bulan lagi, namun persiapan Andika untuk ke Bali ternyata tidak main-main. Ia mulai mempersiapkan segalanya mulai dari obat-obatan, peralatan survival hingga beberapa materi mengenai kehidupan dan sejarah dolphin. Untuk menjaga kebugarannya, Andika tak segan-segan untuk mengatur waktu tidur, mengkonsumsi vitamin dan berolah raga secara teratur. Ia melakukan fitnes kecil-kecilan dirumahnya. ”Tumben lu kenal sama olah raga,” kata Asha suatu ketika. ”Iya dong... latihan biar sehat terus,” jawab Andika. Meskipun orang seisi rumah sudah mengetahui bahwa Andika bergabung dengan NatureCare dan akan ke Bali dua bulan lagi, tapi tak ada yang menyangka akan keseriusan Andika dalam mempersiapkan dirinya.

120

q

Fast Food United

Menu 24
The Show Must Go On!

Satu-satunya kekhawatiran Andika menjelang keberangkatannya ke Bali adalah faktor cuaca. Hingga dua minggu menjelang keberangkatannya, Andika tetap dikonfirmasi sebagai peserta yang akan ikut ke Bali. Tidak ada berita pembatalan acara karena faktor cuaca. Setelah merasa sangat nyaman dengan cuaca Jakarta yang cenderung panas terik, Andika justru merasa khawatir pada saatsaat menjelang berangkat. Satu bulan menjelang berangkat, cuaca Jakarta terus memburuk hingga pertengahan bulan. Setelah itu, tidak ada tanda-tanda cuaca akan membaik. Justru melewati tengah bulan, cuaca semakin buruk dan bencana banjir terjadi di mana-mana. Bahkan melalui berita di TV, Andika sangat khawatir dengan berita dtutupnya perairan Lombok dan Nusa Tenggara Timur untuk pelayaran. Badai sedang mengamuk disana akibat dari badai tropis di kawasan perairan Australia. Di tengah segala kekhawatirannya, Andika berusaha untuk tetap optimis. Ini adalah jalan satu-satunya untuk membebaskan diri sementara dari belenggu BR. Hari cuti sudah diatur dan tidak mungkin untuk dibatalkan lagi. Mendapatkan cuti di BR adalah

Fast Food United

121

q

hal yang sangat langka. Seorang manager bisa tidak pernah cuti selama delapan tahun bekerja. Ada tiga faktor utama yang membuat mereka ini sulit untuk mengambil cuti. Pertama, adalah karena mereka memang tidak boleh cuti sama sekali tanpa alasan yang jelas. Biasanya adalah karena alasan kekurangan manager. Tapi alasan seperti ini sungguh tidak masuk akal. Atau hanya akal-akalan saja agar Store manager tidak perlu repot-repot menggantikan shift kerja para asistennya. Kedua, adalah para manager sendiri tidak tahu harus berbuat apa jika mendapat cuti. Karena terlalu lama terkorosi dengan budaya kerja di BR, biasanya mereka jadi kehilangan jati dirinya. Mereka tidak ingat lagi akan hobby, keluarga dan jati diri mereka. Para manager yang seperti ini biasanya tidak memiliki dunia yang lain selain dunia kerja di BR yang statis dan itu-itu saja. Ketiga, adalah karena faktor investasi. Jumlah hari cuti seringkali dijadikan investasi di BR. Semakin banyak sisa cuti, berarti akan semakin banyak pula uang cuti yang akan dibayarkan jika manager tersebut mengundurkan diri. Biasanya ini dilakukan oleh para manager yang sebentar lagi akan mengundurkan diri atau manager yang tidak memiliki kehidupan lain selain BR tetapi beranganangan memiliki pekerjaan baru. Andika sendiri tidak pernah peduli akan hal itu. Baginya, cuti adalah hak dan ia berhak mengambil apa yang sudah menjadi haknya. Waktu luang sesempit apapun akan dimanfaatkannya untuk menekuni hobby-hobbynya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu tenggelam dalam dunia kerja BR. Dua hari menjelang keberangkatannya, Andika tetap dikabarkan akan berangkat bersama rombongan. Semua persiapan sudah dilakukan. Andika siap memulai petualangan pertamanya di luar BR. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu di mana ia tidak perlu lagi untuk sementara mengurusi pekerjaannya yang membosankan itu. Tidak perlu lagi menjadi robot yang datang subuh hari dan pulang malam hari dengan fisik dan otak yang kelelahan. Tidak

122

q

Fast Food United

perlu lagi memakai seragam yang membuatnya kelihatan bodoh itu. Di hari keberangkatannya, Andika bangun lebih awal. Ia tidak bisa tidur menantikan hari besar ini. Asha pun terkejut melihat Andika yang sudah terbangun setengah jam sebelum gema Adzan subuh berkumandang. ”Tumben mas lu bangun pagi amat?” kata Asha sambil mengucekngucek matanya. ”Iya biar nggak telat. Pesawatnya pagi nih!” jawab Andika sambil berlalu masuk ke kamar mandi. Pagi itu Andika sudah benar-benar siap meskipun cuaca masih kurang bersahabat. Hujan semalaman masih menyisakan air rintikrintik yang tercurah dari langit subuh itu. Bunyi halilintar masih terdengar sedikit-sedikit dari kejauhan. Namun hari itu tekad Andika dan tim NatureCare sudah bulat nampaknya. Pagi itu mereka akan berangkat ke Bali untuk bergabung dengan para peneliti NatureCare yang sudah siap disana untuk meneliti kehidupan mamalia laut di perairan Indonesia. Di dalam kamarnya, sebuah backpack bermerk North Face sudah disiapkan Andika bersama dengan sebuah tas pinggang dengan merk yang sama. Perlengkapan kamera juga sudah dalam kondisi siap. Apapun yang terjadi pada hari itu, The Show must go on!

Fast Food United

123

q

Menu 25
Betawi Tulen!

Jam arloji ber-merk Titan buatan Inggris yang melingkar di tangan kanan Andika menunjukkan pukul 07.13. Cuaca Jakarta ternyata tidak seperti yang diharapkan Andika tadi malam. Awan cummulonimbus mulai terlihat menghadang langit sebelah barat. Hitam dan pekat. Sementara itu bis Damri, angkutan khusus Bandara Soekarno-Hatta terus melaju dan kini memasuki gerbang tol Slipi. Mata yang berat ternyata mengalahkan Andika dan ia tertidur sebentar sambil memeluk tas pinggang North Face-nya. Andika sudah mempersiapkan perjalanan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Meski banyak teman-temannya di BR menganggapnya sudah gila, Andika tidak pernah peduli. “Anggaplah aku gila, tapi aku tidak bodoh berdiam diri dalam kurungan seperti kalian,” begitu suara hati yang bergaung dalam sanubarinya. Andika dianggap nyeleneh karena perjalanannya ke Bali kali ini hanya karena ia bergabung dengan NatureCare dan ikut ambil bagian dalam penelitian dan pelestarian habitat dolphin di perairan Indonesia. Andika menyadari konsekuensi dari tindakannya. Ia bisa dipaksa mengundurkan diri dari BR karena kebiasaan di BR adalah mereka tidak pernah suka ada karyawannya yang mempunyai kegiatan yang jauh lebih baik dari pekerjaan mereka sebagai kuli restoran.

124

q

Fast Food United

Tanpa sadar, bergabungnya Andika dalam NatureCare adalah suatu peristiwa yang bakal menyentak jiwanya. Sebuah sentakan maut akan yang membuka semua tabir dalam diri Andika yang selama ini tertutup. Andika mungkin tidak pernah berpikir bahwa dalam dirinya sebenarnya tersimpan jiwa petualang, jiwa Indiana Jones, semangat Steve Irwin dan hasrat seperti Heinrich Harrer. Tapi seiring dengan keputusannya kali ini, jiwa-jiwa yang terpendam bertahun-tahun dan mati suri itu kian tumbuh lagi. ^^^ Bis Damri masih menyusuri jalan tol menuju bandara sementara awan mendung masih terus mengejar. Andika terbangun sebentar dan agak cemas dengan langit yang mulai tidak bersahabat. Mungkin karena faktor usia, Andika yang semasa kecilnya dulu paling senang jika naik pesawat dalam keadaan cuaca mendung, kini justru awan gelap itu membuatnya ciut. Mungkin juga karena Andika sering nonton Air Crash Investigation di saluran National Geographic. Jam 08.05 bis Damri tiba di bandara Soekarno-Hatta. Andika langsung bangkit dari kursinya dan mengambil backpack-nya yang berwarna hitam diselingi tali-tali berwarna kuning. Dan tidak ketinggalan, sebuah gantungan kunci keramat bergambar seorang tokoh yang paling terkenal se-antero ibu kota tersemat di penarik resleting tasnya. Tokoh yang paling diidolakan Andika dari semua tokoh nasional di Republik ini. Sebuah wajah yang menyiratkan kejeniusan dalam kesederhanaan, aset terbesar yang dimiliki masyarakat Jakarta dan sosok pejuang dalam kesenian tradisional. Gantungan kunci itu bergambar seorang pria berkumis tebal sambil tersenyum cerah. Ia memakai setelan jas lengkap dengan dasinya. Mirip sosok calon salesman yang hendak melamar pekerjaan. Dibawah gambar itu ada tulisan... “Benyamin S.” dan dibawahnya ada tulisan lagi... “Radja Lenong”. Itu belum semuanya, dibaliknya ada lagi sebuah tulisan yang ditulis dengan huruf kapital besar-besar yang berbunyi... “BETAWI TULEN!”.

Fast Food United

125

q

Menu 26
Waiting for Godot

Backpack kesayangan bermerk North Face itu selalu setia mendampingi Andika jika pergi keluar kota. Andika lebih senang menyebutnya si Betawi Tulen. “Terminal A! Lion, Air Asia, Wings...!” begitu teriak si supir bis. Andika yang memegang tiket Lion Air segera turun bersama beberapa orang penumpang lainnya. Si Betawi Tulen ditenteng dipunggungnya. Sebuah tas pinggang hitam berisi kamera menggantung dipinggang kirinya. Sesekali ia menengok HP Sony Erricson-nya berharap ada SMS dari Sita yang menanyakan khabarnya atau sekedar menyapa. Tetapi harapannya kali ini nihil belaka. Ruang tunggu terminal yang agak ramai membuat Andika lebih memilih executive lounge untuk menunggu boarding. “Nggak ada salahnya nikmatin fasilitas dulu sebelum berkelana di laut,” pikirnya. Sekali lagi ia menengok HPnya dengan harapan yang sama dan hasilnya pun ternyata nihil juga. Andika mulai gusar kembali dan bayangan berbagai pikiran buruk mulai merambah otaknya. Kini ia mulai terpengaruh dengan hembusan berita miring yang memilukan hatinya. “Apa semua yang dibilang orang-

126

q

Fast Food United

orang itu benar?” pikirnya dengan gundah. Sepintas, Andika pernah mendengar tentang issu bahwa Sidig Santosa sedang mengadakan pendekatan dengan salah seorang karyawan wanita BR Cinere. Tapi itu semua cuma issu belaka dan hanya dihembuskan oleh beberapa gelintir orang saja. Andika tidak mau terjebak dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu. Andika hafal betul sifat Sita yang tidak pernah mau menghubungi siapapun jika sedang stres menghadapi pekerjaan. Namun ia juga hafal betul jika Sita akan benar-benar cuek harga mati jika ia tidak suka dengan orang tertentu. Dan yang lebih mengerikan lagi, Sita akan dengan mudah mengubah perasaan sukanya pada seseorang menjadi tidak suka jika ia menemukan “orang baru” untuk disukai. Sita tidak akan pernah sampai kapanpun membalas SMS dari orang yang dia tidak suka atau sudah tidak disukainya lagi. Namun Andika tidak mau pikirannya mengganggu konsentrasi perjalanannya kali ini. Ia ingin kali ini ia tidak bergantung pada siapapun termasuk Sita. Ia ingin mandiri, berkelana menjelajahi daerah yang belum tersentuh, hidup dengan masyarakat setempat, jika perlu ikut bercocok tanam, merajut jala dan melaut hingga berhari-hari untuk menjaring ikan. Di lain pihak, Andika juga merasa rasa rindu yang amat dalam pada Sita. Ia ingin sekali Sita berada di sampingnya saat ini, mendampinginya berkelana, menggulung sleeping bag-nya, merapihkan matrasnya, mengulurkan tangannya ketika menyeberangi sungai dengan batu-batuan besar sehingga Andika bisa berperan sebagai si Indiana Jones yang membantunya menyeberang. Bagi Andika, Sita adalah merupakan suatu turning point. Sitalah yang membuat Andika merubah pandangannya tentang hidup berumah tangga. Sita jugalah yang membuat Andika mulai membenahi hidupnya, berpikir lebih bijak tentang masa depannya dan bersikap lebih dewasa. Bagi Andika, Sita adalah pintu pertobatan, malaikat utusan Allah yang dikirim khusus untuk

Fast Food United

127

q

memaknai kehidupannya. Persis film seri “Highway to Heaven” yang dibintangi Michael Landon. Pukul 09.10 panggilan untuk boarding akhirnya berkumandang. Andika sumringah meskipun sampai detik itu juga belum ada SMS apapun dari Sita. Lalu dengan sekejap ia memutuskan untuk mengirim SMS kepada Sita yang isinya : Aku berangkat nih.. kamu ati2 ya chayank.. miss u SMS itu terkirim tapi tetap tidak ada jawaban hingga Andika menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai, Bali. Cuaca panas dan cerah menyambut Andika yang tersenyum gembira dan agaknya hampir bisa melupakan Sita untuk sementara. Akhirnya Andika bisa kembali melihat Bali setelah 25 tahun yang lalu. Waktu itu Andika masih berusia balita dan tidak banyak yang bisa diingatnya kecuali rumah ibadah di seberang laut yang biasa disebut Tanah Lot, monyet-monyet Sangeh dan hotel tempatnya menginap yang banyak lintahnya. Tidak seperti turis-turis kebanyakan, Andika sangat menghindari berlama-lama di daerah Kuta yang baginya lebih mirip Tanah Abang di Jakarta. Hampir setiap sepuluh menit Andika menengok HP-nya dan berharap ada SMS dari Sita. Tapi hari itu nampaknya dewi fortuna sedang enggan menghampiri Andika. Setelah mendapatkan tempat penginapan yang murah meriah, Andika beristirahat sejenak dan mencoba mencari kawan sebanyakbanyaknya dengan harapan ia mendapat tumpangan ke Singaraja dengan gratis. Nasib sedikit berubah untuknya. Andika berkenalan dengan tiga orang turis asal Swedia yang kebetulan juga akan menjelajah ke Bali utara besok pagi. Mereka akan menyewa sebuah mobil jip. Tentunya biaya penyewaan akan lebih murah jika penumpangnya semakin banyak. Setelah menikmati ritual sunset, Andika lebih tertarik untuk terus memperhatikan HP-nya daripada mencari makan malam. Hatinya semakin gundah dan dadanya terasa ngilu. Mungkinkah kini Sita

128

q

Fast Food United

telah melupakannya? Pikirannya mulai dirasuki berbagai pikiran negatif. Mungkinkah Sita saat ini sedang asyik SMS-an dengan lakilaki lain pujaan barunya? Atau malah mereka sedang pergi berdua? Dan ketika SMS Andika diterima oleh Sita, Sita akan berkata “Ah sebel! Dasar orang gila! SMS gue melulu!” dan si laki-laki pujaan barunya itu akan tersenyum sambil bilang, “Kamu ganti nomer HP aja deh!” Andika hanya sedikit menyantap makanan malam itu dan pikirannya kembali tertuju pada Sita. Namun beberapa saat kemudian, ia sadar bahwa kedatangannya ke Bali bukanlah untuk dirundung kepedihan. Ia harus bisa membebaskan pikirannya dari Sita untuk sementara waktu. Ia berusaha membuka peta dan mempelajari rute untuk esok pagi bersama para backpacker Swedia itu. Perlahan, dadanya tak lagi terasa ngilu. Justru ia merasa bahagia dengan dunia barunya. Berkenalan dengan orang-orang dari mancanegara untuk memulai suatu perjalanan adalah hal yang mengasyikkan. Andika tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Ia terlalu lama terbelenggu dalam rutinitas BR yang menjemukan dan memasung otaknya. Hampir semalaman Andika mengobrol dengan para backpacker lain yang menginap disitu. Ada yang datang dari Belanda, Inggris, Australia dan Denmark. Mereka saling berbagi cerita tentang penjelajahan mereka. Dua orang backpacker Inggris dengan semangatnya bercerita tentang pengalaman mereka melintasi Thailand, Myanmar, Bhutan, Bangladesh hingga India. Mereka nyaris sampai di Nepal jika saja tidak terbentur waktu liburan mereka. “We’ll be back to India next year,” begitu kata mereka dengan logat mirip Harry Potter. Backpacker Denmark nampaknya lebih rendah hati. Ia hanya berkata, “Well, we’re just arrive yesterday. Nice island... do you know where the Ubud is?” sedangkan yang paling unik adalah backpacker Belanda. Mungkin karena mereka ini dulunya adalah penguasa di Nusantara, mereka merasa sangat yakin sekali akan seluk beluk Indonesia.

Fast Food United

129

q

“We’re going west tomorrow. Just keep on that way ‘till Batavia, my old ancestors home !” kata mereka. “Please God, no Jan Pieter Zoen Coen in Bali!” pikir Andika dalam hati. “Batavia? Well... it’s Jakarta now and you’ll be surprised when you arrived in Jakarta,” kata Andika sambil terus memperhatikan HP-nya. “Is something wrong with your cellphone?” Tanya si backpacker Denmark “Nope!... why?” jawab Andika “Well, you’re always looking at it like crazy. Every minutes, a whole days.” “I’m just waiting a message from my friend in Jakarta. She’s not sending me a single message since morning. I’m just worried about her and i missed her too.” “Ouw.. it’s a woman then…Well my friend, I think you’re waiting for Godot, you know?... This is Bali, my friend. Forget about Jakarta! You’re in Paradise now.” “Godot, huh?” kata Andika dengan tersenyum sambil menunduk, “You know what? you are absolutely right… I’m waiting for Godot!” kata Andika sambil berlalu masuk ke dalam kamar. Ia harus mengakui bahwa hari itu nampaknya Sita tidak tertarik sama sekali untuk berkomunikasi dengannya. Hatinya pilu dan sedih ketika ia menutup pintu kamarnya dan tidur.

130

q

Fast Food United

Menu 27
The Sound of Silence

Tiba di Lovina adalah hal yang melegakan setelah berjam-jam melewati jalan yang mirip rollercoaster. Beberapa anggota NatureCare sudah berkumpul di sebuah base camp yang bernama “InnHouse”. “Andika ya? Dari Jakarta? Sendirian aja?” sambut seorang anggota yang kelihatannya panitia acara. “Iya sendirian, tapi nggak juga kok. Saya bersama dua turis Swedia itu,” jawab Andika sambil menunjuk ke arah mobil yang berisi dua turis bule yang baru saja bergerak dan melaju lagi. Mereka melambaikan tangan pada Andika sambil berteriak, ”Bye!” “Saya Rani, panitia. Tinggal dua orang lagi yang belum datang. Dari Surabaya dan Manado,” kata Rani, gadis panitia yang bertubuh agak gemuk namun selalu berbicara dengan senyum yang bersahabat. Wajahnya juga manis mirip dengan Paramitha Rusady. Kemudian Andika diperkenalkan pada banyak anggota. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Kalimantan, Medan bahkan Maluku. “Mereka ini semua ada yang kerja di kantoran dan ada juga yang memang bekerja buat kita di NC (NatureCare),” kata Rani. Setelah melewati acara makan siang dan beristirahat, para peserta

Fast Food United

131

q

mengadakan briefing singkat tentang hal-hal yang harus mereka kerjakan. Malam harinya, para peserta banyak mengisi waktu dengan mengakrabkan diri dan mengobrol. Ada juga yang mempersiapkan peralatan selam, mengutak-atik kamera bawah air dan membaca peta. Andika lebih memilih untuk mengobrol dan beristirahat. Andika sendiri sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk bergabung dengan NatureCare karena ia hanya ingin tahu lebih dekat saja dengan program-program konservasi alam dan tidak terlalu menganggap serius. ^^^ Pukul 05.40 pagi di tengah laut pantai Lovina, Bali utara, perahu kayu bercadik yang membawa Andika dan tiga orang kawannya dari NatureCare melaju dengan tenang. Ombak sama sekali tidak bergejolak dan langit belum tersentuh sinar sang surya. Di timur, seberkas sinar keperkasaan matahari mulai tertoreh. Membuat batas langit menjadi berwarna merah dan kuning dengan sapuan beberapa awan yang mempercantik kubah tanpa batas itu. Indah sekali! Bak kain kanvas raksasa yang dilukis oleh jutaan Michael Angelo di langit. Sampai di tengah, mesin perahu dimatikan dan perahu terombangambing sebentar. Saat itulah terjadi keheningan luar biasa. Kesunyian yang begitu ramai mengisi kekosongan hati. Itulah saatsaat yang disebut “magnificent silence”. Saat-saat di mana kesunyian menjadi sebuah kekuatan luar biasa yang bisa mengubah hati atau

132

q

Fast Food United

pikiran seseorang. Mungkin itu juga sebabnya mengapa orangorang jaman dulu sangat percaya pada nasehat “jangan bengong, ntar kesambet!” Kesunyian mempunyai pengaruh yang luar biasa pada jaringan otak manusia. Tak sadar, air mata Andika mulai membasahi kelopak matanya. Tiba-tiba ia teringat akan ibunya yang pasti sedang kesepian di rumah, Asha yang sok tahu dan si Maman yang setia mengantarkan pesanan catering. Semuanya mengisi kekosongan hati Andika dengan deras sederas sungai di pegunungan. Mungkin itulah sebabnya Simon & Garfunkel menulis lagu The Sound of Silence. Hidup mereka mungkin telah dirasuki kesunyian yang luar biasa indahnya. Kesunyian yang bisa menghidupkan segala kenangan dan mimpi-mimpi manusia. Itulah juga sebabnya mungkin Via begitu mengidolakan mereka dan lagu itu. Hello darkness, my old friend, I’ve come to talk with you again, Because a vision softly creeping, Left it’s seeds while I was sleeping, And the vision that was planted in my brain Still remains Within the sound of silence. Kenangan terus mengisi pikiran Andika. Di lain pihak, ia masih merasa pilu terhadap Sita. Hingga detik itupun tak ada berita sama sekali darinya. Andika berusaha sekuat tenaga untuk tegar. Ia merasa akan kehilangan sosok yang amat disayanginya. Sosok yang mengubah dirinya untuk menjadi lebih dewasa. Strawberry kesayangannya, cinta sejatinya. Ketenangan sesaat pagi itu ternyata memang memberikan perubahan besar pada diri Andika. Ia mengambil kameranya dan membidikkannya pada satu objek. Mengarahkannya lagi ke tempat lain, memotretnya dan kemudian mengarahkannya lagi ke tempat lain untuk kemudian memotretnya lagi. Terus begitu dengan penuh antusias. Tangannya seperti ada yang menggerakan langsung dengan komando dari otaknya. Sedangkan otaknya seperti ada yang menyetirnya. Semua terasa begitu hening dan tiba-tiba...

Fast Food United

133

q

”Terlalu buru-buru Dik!... tenang sedikit, jangan gemetar tangan kamu. Ingat, atur napas, tenangkan tangan kirimu,...fokus!” Andika berhenti membidik sebentar, suara itu terdengar seperti sebuah bisikan namun sangat jelas terdengar. Itu nasehat yang selalu dikatakan ayahnya ketika Andika memotret. Ia menengok ke kanan dan kiri. Semua kawannya nampak tenang-tenag saja dan serius memperhatikan lautan. ”Pa... papa ada di sini ya?” kata Andika dalam hati sambil mulai menahan air matanya. Ia ingat betul nasehat-nasehat ayahnya ketika mereka dulu sering hunting photo bersama. Tidak ada suara bisikan apapun, semuanya hening. Hanya terdengar dua orang kawan Andika yang sedang bercakap-cakap pelan tentang dolphin. Andika mengarahkan kameranya lagi, kali ini ke arah sebuah perahu rekannya yang berada disamping perahu Andika. Perahu itu nampak dalam posisi yang sangat sempurna dengan arah sinar langsung mengenainya. Sementara, di belakangnya langit masih nampak biru gelap. ”Perfect!” kata Andika yang langsung mengarahkan lensa kameranya. ”Rasakan apa yang ada dalam diri kamu Dik,” suara itu terdengar lagi begitu Andika selesai memotret perahu itu. Andika kembali celingukan dan suara itu hilang kembali. Ia lalu menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya sejenak. ”Jangan pernah malu dan takut dengan kata hatimu, Dik,” bisik suara itu lagi. ”Tidak ada yang kebetulan, semuanya sudah diatur... Bangun! Lihat didepan kamu! Fokus!” kata suara itu lagi. Saat itu juga seketika, memecah keheningan di pagi hari itu, seekor dolphin melompat tinggi sekali, memecah ombak dan kembali menceburkan dirinya dengan cipratan yang mengejutkan para penumpang perahu disekitarnya. Andika terhenyak dan tak bisa

134

q

Fast Food United

berkata apa-apa. Cantik sekali! Hewan itu nampak begitu anggun dan juga perkasa. Kulitnya berkilauan bagai emas murni karena tersorot sinar matahari. Kemudian seekor lagi melompat tinggi, dua ekor, tiga ekor, empat... Benar-benar suatu atraksi yang luar biasa. Ini adalah dolphin liar, tanpa pelatih dan tidak pernah dilatih oleh manusia. Namun mereka mengerti betul nampaknya tentang art performance. Mereka seolah paham betul kalau sedang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Andika yang dari tadi nampak tenang, kini mulai berteriak-teriak histeris. Ia bahkan lupa akan kameranya, ia lupa untuk memotret makhluk-makhluk indah itu. ”Yaaa...yaaa... ayooo...” teriak Andika sambil tertawa lebar-lebar mirip anak kecil melihat pertunjukan badut sirkus. Sementara teman-temannya langsung mengarahkan kamera untuk mengambil gambar makhluk indah itu. ”Fokus Dik! Fokus! Mereka bisa muncul kapan aja di mana aja,” kata seorang kawan Andika sambil membidikkan lensanya. Andika baru ingat, dan dia pun meraih kameranya mengarahkan ke lautan sambil menunggu pertunjukan indah itu. Seekor dolphin kembali melompat ke udara, diikuti para kawanannya dan kemudian menghilang kembali. Suasana kembali tenang, lensa kamera tertuju ke sagala arah. Beberapa rekan Andika dari NatureCare ada yang sibuk membuat catatan, memotret, menggunakan alat rekam bawah air dan bahkan radar sonar. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sebagian lagi dari mereka hanya menikmati suasana itu. ”Arah barat!” kata seorang anggota NatureCare. ”Nggak! Mereka belok haluan, sebelah sana lebih banyak ikan buat makanan mereka,” kata yang lainnya. Nampaknya orang-orang ini bukan sembarangan pecinta lingkungan. Mereka paham betul segala sesuatu tentang dolphin. Mereka mempelajari apa yang mereka kerjakan dengan serius.

Fast Food United

135

q

”Dolphin itu mamalia paling cerdas, mas,” kata seorang wanita di belakang Andika. Wanita itu berambut agak pendek sebahu, lurus dan agak pirang. Wajahnya cukup manis. Mencerminkan bahwa ia adalah seorang gadis metropolis yang selalu mengikuti mode. Meskipun Andika belum mengenalnya, mereka berbicara seperti sudah saling kenal bertahun-tahun. Ia tampak begitu muda dan dari matanya sudah terlihat bahwa wanita ini walaupun bertubuh agak kecil, namun semangat petualangannya luar biasa. ”Oh iya?” kata Andika sok nggak tahu. ”Benar! Mereka selalu bergerombol. Tapi nggak biasanya mereka seperti tadi. Loncat beramai-ramai setinggi itu. Mereka ini sedang mencari makan dan nggak biasanya mereka show off begitu.” ”Mbak ngerti banyak tentang dolphin ya?” ”Sedikit,” katanya sambil menjulurkan tangan mengajak salaman. ”Nita, dari Jakarta,” katanya dengan tersenyum manis. Andika pun memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangannya yang mungil dan halus itu. ”Aku cuma senang aja sama dolphin,” kata Nita sambil mengarahkan pandangannya ke tengah lautan, ”Mereka itu unik, pintar dan bersahabat. Mereka lebih pintar dari simpanse, mereka bisa berhitung dan mengenal bentuk huruf. Meskipun mereka kelihatan lucu, kecepatan berenangnya bisa mencapai lima kali juara sprint Olympiade. Seratus meter? Mereka cuma butuh waktu dua detik... bayangin! Dua detik!” ”Dua detik?” kata Andika dengan wajah melongo. ”Iya... dua detik! Seorang Ben Johnson akan dibuatnya malu dalam dua detik.” ”Wow...!” ”Mas tahu nggak? Dolphin juga punya kontribusi besar buat peradaban manusia. Sistem sonar yang dipakai di radar itu hasil

136

q

Fast Food United

dari teknologi dolphin. Mereka memiliki sistem sonar yang luar biasa hebatnya. Kulit mereka juga jadi inspirator buat para produsen pakaian renang dan selam. Baju selam itu diadaptasi dari kulit dolphin lho mas,” kata Nita percaya diri. Setelah itu, pertunjukan kembali dimulai. Kawanan dolphin mulai melompat kesana-kemari sementara perahu hanya bisa mengejarngejar mereka. Udara semakin memanas dan matahari mulai semakin tinggi. Rombongan NatureCare terlihat sibuk sesuai dengan tugasnya masing-masing. Namun tidak semua nampak sibuk. Beberapa dari rombongan ini hanya sebagai peserta pengamat saja. Termasuk Andika yang hanya mengamati kesibukan rekan-rekan lainnya. Keheningan subuh tadi telah terpecah oleh sebuah pertunjukan mamalia laut yang super cantik, anggun dan mempesona. Selain itu, sebuah kejadian yang amat mengugah hati Andika membuat pagi itu menjadi pagi yang tak terlupakan. ”Bisikanbisikan” ayahnya yang tiba-tiba menghampirinya membuat Andika tersentak. Sesampainya di darat, Andika tiba-tiba merasakan rindu yang amat sangat pada almarhum ayahnya. Ia menggenggam eraterat kamera pemberian ayahnya. Meski kamera itu adalah type kamera kamera kuno, tapi kualitasnya masih menakjubkan. Andika tak pernah lupa akan teknik-teknik fotografi yang dulu pernah diajarkan ayahnya. Semuanya tiba-tiba menjadi suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan. Bergabungnya Andika dengan NatureCare dengan tidak sengaja, kepergiannya ke Bali yang dianggap suatu keisengan yang tak berguna oleh teman-temannya di BR, ”bisikan” misterius ayahnya, dolphin cantik yang muncul tiba-tiba dan Nita, wanita cabe rawit yang tiba-tiba akrab dengan Andika. Sepanjang hari itu Andika berpikir panjang, sesuatu telah menggugah hatinya. Nita menjadi semacam pasangan kerjanya selama berada di Bali. Penelitian tentang dolphin ternyata sangat menarik minatnya. Andika banyak terlibat di hampir semua kegiatan. Ia belajar mengumpulkan data, menganalisa, berdiskusi, belajar teknik

Fast Food United

137

q

menyelam dan semua yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan NatureCare. Hari itu, di Singaraja, Bali, Andika telah lahir sebagai sosok yang baru. Sosok yang dari dulu terkubur begitu lama dan membeku akibat kerasnya kehidupan di BR. Ia telah menjadi buta karena dunianya di BR yang telah memenjarakan jiwanya. Ia seolah telah diberi arahan tentang siapa sosok dirinya yang sebenarnya. Semua kejadian itu bukanlah suatu kebetulan. Babak kehidupan yang baru dan penuh tantangan akan segera terbentang di hadapan Andika.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->