NAMA PENULIS : ANINDITHA BYANTARA MANDALA

dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Amin..H. Wb Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT.H.. 25 Mei 2011 Aninditha Byantara Mandala . Bandung. karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. bapak Djanuardi. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan.. Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen mata kuliah Hukum Islam. yang telah membimbing saya dalam mata kuliah Hukum Islam. S.Makalah Tentang Harta Bersama Dalam Islam (Bidang Kajian Fiqih Munakahat) KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. M. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.

Perbedaan ini menyangkut tentang ada tidaknya harta bersama. Latar Belakang Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri. Penggunaan harta benda isteri oleh suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. ia tidak mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga. hak dan kewajiban yang mengikat pribadi suami isteri. Hukum Islam. Hubungan hukum kekeluargaan menentukan hubungan hukum kekayaannya dan hukum harta perkawinan tidak lain merupakan hukum kekayaan keluarga. 1 tahun 1974 adalah bahwa perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagaimana diketahui bahwa setiap perkawinan masing-masing pihak dari suami atau isteri mempunyai harta yang dibawa dan diperoleh sebelum melakukan akad perkawinan. dan perceraian menjadi jalan terakhir. Pada prinsipnya suatu perkawinan ditujukan untuk selama hidup dan kebahagiaan bagi pasangan suami isteri yang bersangkutan. Kelompok kedua. Perkawinan mempunyai akibat hukum tidak hanya terhadap diri pribadi mereka-mereka yang melangsungkan pernikahan. hibah maupun hasil usahanya sendiri. Seluruh biaya pemenuhan penyelenggaraan kehidupan rumah tangga menjadi kewajiban dan tanggung jawab suami. sehingga keduanya memang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.Bab I Pendahuluan A. Banyak faktor yang memicu keretakan bangunan rumah tangga. Tujuan Perkawinan menurut UUP No. tetapi lebih dari itu mempunyai akibat hukum pula terhadap harta suami isteri tersebut. Hukum Adat dan Hukum Perdata Barat (BW) mempunyai perbedaan dalam mengatur sumber pembiayaan bagi penyelenggaraan kehidupan keluarga. Keluarga yang kekal dan bahagia. pola pengelolaan harta bersama dan pembagian harta bersama karena perceraian. itulah yang dituju. Suami atau isteri yang telah melakukan perkawinan mempunyai harta yang diperoleh selama perkawinan yang disebut harta bersama. apabila . Hubungan hukum kekeluargaan dan hubungan hukum kekayaannya terjalin sedemikian eratnya. Kelompok pertama berpendapat bahwa pada asasnya dalam Hukum Islam tidak ada harta bersama. unsure-unsur yang membentuk harta bersama. hukumnya sebagai pinjaman/hutang yang harus dikembalikan. yang umumnya terdiri dari ulama mazhab Hanafi menyatakan bahwa suami dan isteri dapat membentuk harta bersama guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. Para ahli Hukum Islam berbeda pendapat dalam memandang hukum harta bersama ini. proses pembentukan harta bersama. Harta bersama merupakan salah satu bentuk sumber kekayaan yang diusahakan suami isteri dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Walaupun isteri memiliki harta baik berasal dari warisan.

semuanya menjadi harta bersama. lain.atan suami isteri untuk membentuk harta bersama. kutub kerabat dan kutub keluarga. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan. mengatur kemungkinan bagi para pihak suami isteri untuk membentuk harta bersama dalam keluarga. secara hukum dapat ditafsirkan sebagai adanya kesepak. Dalam hukum Islam tentang harta bersama suami isteri terdapat dalam surat An Nisa ayat 32 yang berbunyi : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Berkenaan dengan harta bersama. Dalam Undang-undang Perkawinan No. Kompilasi Hukum Islam secara tegas menyatakan bahwa suami bertanggungjawab menjaga harta bersama.pasangan suami isteri tersebut sepakat untuk membentuknya. harta yang diperoleh selama perkawinan. Pasal 85 sampai dengan 97 Bab XIII Kompilasi Hukum Islam di Indonesia yang merupakan produk fikih Indonesia. Secara tersurat. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. harta pribadi isteri dan harta pribadi suami sendiri. Tanpa persetujuan pihak. dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Harta bersama ini berada di antara dua tarikan kutub. Kesepakatan tersebut tidak harus berupa perjanjian. harta bersama dalam perkawinan adalah harta lepasan atau pecahan dari harta kerabat yang mengurung keluarga baru tersebut. Jika dalam kehidupan keseharian menun. Menurut pendapat kedua ini. suami atau isteri tidak boleh menjual atau memindahtangankan harta bersama. Kebolehan pembentukan harta bersama ini mereka kiaskan dengan diperkenankannya membentuk usaha dagang bersama (syarikat 'inan). Pada suatu ketika tarikan kutub keluarga lebih kuat. Pasal 65 Kompilasi tersebut menyatakan pula bahwa adanya harta bersama dalam keluarga itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik pribadi masing-masing suami dan isteri. Sedang menurut Hukum Adat. Unsur-unsur harta dari harta bersama menurut Hukum Adat adalah semua harta yang dihasilkan oleh suami isteri selama perkawinan dan harta yang diberikan kepada keduanya ketika menikah. isteri ikut bertanggungiawab meniaga harta bersama maupun harta pribadi suami yang ada padanya. dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan. Baik Hukum Adat maupun Hukum Perdata Barat (BW) menganut asas persatuan bulat. dan pada ketika yang lain tarikan kutub kerabat lebih kuat.jukkan adanya harta bersama. bila suami dan isteri sepakat. mereka dapat membentuk harta bersama. Hukum Perdata Barat (BW) menetapkan bahwa apabila tiada perjanjian khusus dalam perkawinanq maka semua harta yang dibawa oleh suami dan isteri. . 1 tahun 1974 mengenai harta bersama juga disebutkan harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri sepenuhnya menjadi hak dari masing-masing untuk mempergunakannya.

. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang harta benda dalam perkawinan khususnya harta bersama . 2. Pokok Masalah Dari uraian di atas. ada beberapa pokok masalah yang menjadi bahasan utama. Tujuan dan Kegunaan Sesuai dengan pokok masalah yang telah dirumuskan di depan. Sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah : 1.B. yaitu : “Bagaimana pengertian harta bersama menurut Fiqh dan Perundang-undangan di Indonesia?” C. penelitian ini mempunyai tujuan dan kegunaan Untuk mengetahui pengertian harta bersama suami isteri (gono gini) yang disebabkan perceraian menurut Fiqh dan Perundang-undangan di Indonesia. Dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kontribusi dalam ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan masalah harta bersama suami isteri dalam perkawinan.

dalam bukunya Hukum Perkawinan Islam menyebutkan bahwa hukum Islam memberi hak kepada masing-masing suami isteri untuk memiliki harta benda secara perseorangan. Dalam Kompilasi Hukum Islam. pembagian harta bersama suami isteri bila terjadi perceraian. dan menurut hukum Islam. 93. Adanya harta bersama dalam perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri. Ahmad Azhar Basyir. Harta bawaan yang mereka miliki sebelum perkawinan juga menjadi hak masing-masing pihak. kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW). mengatur tentang harta kekayaan dalam Islam yang terdiri dari 13 pasal yaitu pasal 85. seperti yang disebut dalam pasal 85 KHI. 89. 94. Suami atau isteri yang menerima pemberian. 92. . 90. seperti hukum adat.Bab II Tinjauan Pustaka Mohd. Ahmad Rofiq. dalam bukunya Hukum Islam di Indonesia menuliskan tentang harta kekayaan dalam perkawinan. 91. 97. warisan dan sebagainya tanpa ikut sertanya pihak lain berhak menguasai sepenuhnya harta benda yang diterimanya itu. 96. 86. Hal ini sesuai dengan Undangundang No. Adanya harta bersama dalam perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing. 88.masing suami isteri. yang tidak dapat diganggu oleh pihak lain. dalam bukunya Hukum Perkawinan Islam suatu Analisis dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam menuliskan tentang macam-macam harta yang dikenal dalam lembaga hukum. Idris Ramulyo. harta bersama bagi seorang yang mempunyai isteri lebih dari 1 orang. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. 87. baik cerai mati atau cerai hidup masingmasing berhak seperdua dari harta bersama. 95. 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Dalam pasal-pasal yang lain juga diatur tentang harta bawaan suami atau isteri.

e. sedangkan syirkah mufawadlah hukumnya boleh menurut mazhab Hanafi. dan tidak boleh menurut madzhab Syafi‟i. dan Hambali. Syirkah Milk ialah perkongsian antar dua orang atau lebih terhadap sesuatu tanpa adanya sesuatu aqad atau perjanjian. Syirkatul Wujuh Mufawadlah yaitu perkongsian yang bermodalkan kepercayaan saja. maka perlu membahas perkongsian yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan menurut pendapat para Imam madzhab. Para ulama berbeda pendapat dalam membagi macam-macam syirkah. Maliki. Syirkah Mufawadlah bil Amwal (perkongsian antara dua orang atau lebih tentang sesuatu macam perniagaan). Syirkatul ‘Abdan Mufawadlah yaitu perkongsian yang bermodal tenaga. Hambali. atau segala macam perniagaan . d. Syirkatul Wujuh ‘Inan yaitu perkongsian kepercayaan tanpa syarat. Abu Hanifah mensyaratkan sama banyak modal antara masing-masing peserta perkongsian. Adapun macam-macam syirkah yaitu : 1. b. Tetapi menurut madzhab Syafi‟i tidak boleh. Syirkatul ‘Abdan ‘Inan ialah kalau perkongsian tenaga tadi disyaratkan perbedaan tenaga kerja dan perbedaan tentang upah. Maliki. Menurut Fiqh Harta bersama atau gono-gini yaitu harta kekayaan yang dihasilkan bersama oleh pasangan suami isteri selama terikat oleh tali perkawinan. 2. Syirkah Uquud yaitu beberapa orang mengadakan kontrak bersama untuk mendapat sejumlah uang. f.Bab III Analisis Pembagian Harta Bersama Menurut Fiqh dan Perundang-Undangan di Indonesia a. Syirkah ini berjumlah 6 (enam ) macam yaitu : a. Untuk Syirkah Abdan boleh menurut madzhab Hanafi. Dalam kitabkitab fiqh. perkongsian itu disebut sebagai syirkah atau syarikah yang berasal dari bahasa Arab. atau harta yang dihasilkan dari perkongsian suami isteri. Syirkah wujuh boleh . Untuk mengetahui hukum perkongsian ditinjau dari sudut Hukum Islam. Syirkah ‘Inan bil Amwal ialah perkongsian antara dua orang atau lebih tentang suatu macam perniagaan. c. Syirkah ‘Inan disepakati oleh ulama tentang bolehnya. Bedanya Imam Malik mensyaratkan pekerjaan yang mereka kerjakan harus sejenis dan setempat.

Alasan Imam Syafi‟i tidak membolehkan syirkah abdan karena perkongsian hanya berlaku pada harta. Tetapi Imam Syafi‟i menolak pendapat ini. Alasan Imam Malik membolehkan perkongsian tenaga karena orang yang berperang sabil juga berkongsi tentang ghanimah. menerangkan bahwa alasan Imam Syafi‟i tidak membolehkan perkongsian tenaga dan perkongsian kepercayaan ialah karena pengertian syirkah menghendaki percampuran. Adapun bunyi ayat tersebut yaitu : "Apabila telah ditunaikan sembahyang. Secara logika perkongsian itu boleh karena merupakan jalan untuk mendapatkan karunia Allah. Dari macam-macam syirkah serta adanya perbedaan pendapat dari para Imam madzhab dan melihat praktek gono-gini dalam masyarakat Indonesia dapat disimpulkan bahwa harta gono-gini termasuk dalam syirkah abdan / mufawadlah. bahwa perkongsian bukan jual beli dan bukan pula memberikan kuasa. dan carilah karunia Allah" . bahwa dalam syirkah mufawadlah masingmasing kongsi telah menjualkan sebagian dari hartanya dan juga mewakilkan kepada kongsinya yang lain. Apa saja yang mereka hasilkan selama dalam masa perkawinan mereka termasuk harta bersama. kecuali yang mereka terima sebagai warisan atau pemberian khusus untuk salah seorang diantara mereka berdua. Perkongsian suami isteri tidak hanya mengenai kebendaan tetapi juga meliputi jiwa dan keturunan. meskipun barangkali pada perkongsian tenaga dan syirkah mufawadlah terdapat kemungkinan terjadi penipuan. Hanya saja karena fisik isteri berbeda dengan fisik suami maka dalam pembagian pekerjaan disesuaikan dengan keadaan fisik mereka. seperti dalam firman Allah surat Al-Jum‟ah ayat 10. jauh berbeda sifatnya dengan perkongsian lain. Selanjutnya dikatakan syirkah mufawadah karena memang perkongsian suami isteri itu tidak terbatas.menurut Ulama Hanafiah dan Ulama Hanabilah dan menurut Imam Maliki dan Syafi‟i tidak boleh. Praktek gono-gini dikatakan syirkah abdan karena kenyataan bahwa sebagian besar dari suami isteri dalam masyarakat Indonesia samasama bekerja membanting tulang berusaha mendapatkan nafkah hidup keluarga sehari-hari dan sekedar harta simpanan untuk masa tua mereka. Suami isteri di Indonesia samasama bekerja mencari nafkah hidup. kalau keadaan memungkinkan juga untuk meninggalkan kepada anak-anak mereka sesudah mereka meninggal dunia. Imam Malik berpendapat. dan percampuran itu hanya dapat terjadi pada modal. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid. Dalam hal ini hanya madzhab syafi‟i saja yang tidak membolehkan. Sebab perkongsian antara suami isteri. Alasan Imam Syafi‟i tidak membolehkan syirkah mufawadlah karena nama perkongsian itu percampuran modal. maka bertebarlah kamu di muka bumi. Waktu dilakukan ijab qobul akad nikah. sedang pada perkongsian tenaga dan kepercayaan tidak ada modal. perkawinan itu dimaksudkan untuk selamanya. bukan pada tenaga. Pada perkongsian gono-gini tidak ada penipuan.

ikatan yang nampak dari luar atau ikatan terhadap / atas dasar benda tertentu yang mempunyai wujud. baik dalam segi materiil maupun dalam segi spiritual. b. yang meliputi tidak hanya ikatan lahir. 1 Tahun 1974 dalam pasal 1 mengatakan bahwa : ”Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri. 1 Adat kebiasaan dapat diterima oleh perasaan sehat dan diakui oleh pendapat umum. dalam hal ini hokum Qur‟an memberi kesempatan kepada masyarakat manusia itu sendiri untuk mengaturnya. Menurut Perundang-undangan di Indonesia Menurut Undang-Undang Perkawinan No. berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. . dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. 3 Kebiasaan itu sudah berjalan atau sedang berjalan. batin atau ikatan rohani. Perkongsian yang menurut ulama tidak diperbolehkan yaitu yang mengandung penipuan Dalam kaitannya dengan harta kekayaan disyari‟atkan peraturan mengenai muamalat. yang berlainan dengan kebiasaan. 4 Tidak ada persetujuan lain kedua belah pihak. Jadi. Jadi menurut asasnya suami isteri bersatu. Karena harta bersama atau gono-gini hanya dikenal dalam masyarakat yang adatnya mengenal percampuran harta kekayaan maka untuk menggali hukum mengenai harta bersama digunakan qaidah kulliyah yang berbunyi : “adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum” Dasar hukum dari qaidah di atas yaitu firman Allah surat al Baqoroh ayat 233 yang berbunyi : “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut” Dalam ayat itu Allah menyerahkan kepada urf penentuan jumlah sandang pangan yang wajib diberikan oleh ayah kepada isteri yang mempunyai anaknya. bahwa antara suami isteri terdapat ikatan yang erat sekali. Tentu saja isi dan maksud peraturan atau perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan Qur‟an dan Hadits. tidak boleh adat yang akan berlaku. tetapi meliputi ikatan jiwa. 2 Berulang kali terjadi dan sudah uimum dalam masyarakat. Dalam pasal tersebut tersimpul adanya asas.Mengingat perkongsian itu banyak macamnya terjadilah selisih pendapat tentang kebolehannya. Apakah peraturan itu akan berlaku untuk seluruh masyarakat atau hanya sebagai perjanjian saja antara dua orang bakal suami isteri sebelum diadakan perkawinan. Qaidah Al-„Adatu Mukhakkamah dapat digunakan dengan syarat-syarat tertentu. 5 Tidak bertentangan dengan nash Hukum Qur‟an tidak ada memerintahkan dan tidak pula melarang harta bersama itu dipisahkan atau dipersatukan.

b. Dari pasal tersebut dapat disimpulkan. 1 Tahun 1974 menentukan : a. dalam undangundang maupun dalam penjelasan atas UU RI nomor 1/1974. Menurut UU No. Jadi yang sudah ada pada suami dan atau isteri ke dalam perkawinan. Hal ini berlainan sekali dengan sistem yang dianut B. maka harta bersama mulai dengan harta yang berjumlah nihil. 1 / 1974 kelompok harta yang mungkin terbentuk adalah : a. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. tetapi mengingat. kalau suami isteri tidak membawa apa-apa dalam perkawinannya. Apa yang dimaksud dengan ”harta bawaan”. paling-paling. 1 tahun 1974. sampai perkawinan tersebut putus. Harta pribadi Harta yang sudah dimiliki suami atau isteri pada saat perkawinan dilangsungkan tidak masuk ke dalam harta bersama.W yaitu bahwa dalam satu keluarga pada asasnya hanya ada satu kelompok harta saja yaitu harta persatuan suami isteri. baik terputus karena kematian salah seorang diantara mereka (cerai mati). bahwa menurut Undang-Undang Perkawinan. asal kesemuanya diperoleh sepanjang perkawinan. maka dapat diartikan bahwa yang dimaksud di sini adalah harta yang dibawa oleh suami isteri. sekalipun harta pokoknya tidak termasuk dalam harta bersama. Dengan demikian suatu perkawinan. Harta bersama Menurtu pasal 35 UU No. 2) Hasil dan pendapatan isteri. . di dalam satu keluarga mungkin terdapat lebih dari satu kelompok harta. Dengan demikian. Artinya harta yang diperoleh selama tenggang waktu. adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. tidak ada penjelasan lebih lanjut. harta yang telah dipunyai pada saat di bawa masuk ke dalam perkawinan terletak di luar harta bersama. maupun karena perceraian (cerai hidup). hanyalah meliputi hartaharta yang diperoleh suami isteri sepanjang perkawinan saja. 3) Hasil dan pendapatan dari harta pribadi suami maupun isteri. Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masingmasing sebagai hadiah atau warisan.Undang No. bahwa apa yang diperoleh sepanjang perkawinan masuk dalam kelompok harta bersama.Mengenai Harta Benda dalam perkawinan diatur dalam pasal 35 Undang. 2) Harta yang diperoleh suami isteri sebagai hadiah atau warisan. harta bersama suami isteri. tentang perkawinan”. antara saat peresmian perkawinan. Harta pribadi suami isteri. kecuali mereka memperjanjikan lain. bahwa termasuk harta bersama adalah : 1) Hasil dan pendapatan suami. b. sehingga boleh kita simpulkan. menurut pasal 35 ayat 2 UUP terdiri dari : 1) Harta bawaan suami isteri yang bersangkutan. (paling tidak bagi mereka yang tunduk pada Hukum Adat) yang dilangsungkan sesudah berlakunya UUP tidak mungkin mulai dengan suatu harta bersama dengan saldo yang negatif. Ketentuan tersebut di atas tidak menyebutkan dari mana atau dari siapa harta tersebut berasal.

yang menyebutkan bahwa yang suami dan atau isteri peroleh sepanjang perkawinan dengan Cuma-Cuma baik hibahan atau warisan masuk ke dalam harta persatuan kecuali nila ada perjanjian lain. 2. demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya. Mengenai harta bersama lebih lanjut diatur dalam pasal 85 sampai dengan pasal 97. Adalah sangat menguntungkan. suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Menurut pasal 85 adanya harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau isteri. Dalam Kompilasi Hukum Islam. harta bersama diatur menurut hukumnya masingmasing. 1 tahun 1974 yang mengatur harta bersama yaitu pasal 36 dan 37 yang berbunyi : Pasal 36 1. 1. Pasal 37 Bila perkawinan putus karena perceraian. sebagaimana yang diatur dalam pasal 35 UU No. maka ketentuan mengenai harta pribadi hibahan dan warisan. 1 tahun 1974.Adanya pemisahan secara otomatis (demi hukum) antara harta pribadi dengan harta bersama. kalau di kemudian hari dalam peraturan pelaksanaan diadakan ketentuan yang mewajibkan adanya pencatatan harta bawaan masing-masing suami isteri. Mengenai harta bersama. 2. Pasal 35 ayat 2 mengandung suatu asas yang berlainan dengan asas yang dianut dalam B. Pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan. Harta isteri tetap menjadi hak isteri dan dikuasai penuh olehnya. suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.W. Dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai harta kekayaan dalam perkawinan dibahas dalam Bab XIII. . kiranya hanyalah meliputi hibahan atau warisan suami / isteri yang diperoleh sepanjang perkawinan saja. Dalam Bab XIII tidak disebut mengenai terjadinya harta bersama. tetapi kalau kita mengingat pada ketentuan pasal 35 ayat 1. Mengenai harta bawaan masing-masing. tanpa disertai dengan kewajiban untuk mengadakan pencatatan pada saat perkawinan akan dilangsungkan (atau sebelumnya) dapat menimbulkan banyak masalah di kemudian hari dalam segi asal usul harta atau harta-harta tertentu pada waktu pembagian dan pemecahan baik karena perceraian maupun kematian (perceraian). khususnya mengenai hokum perkawinan banyak terjadi duplikasi dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang No. Tetapi dalam pasal 86 ditegaskan pada dasarnya tidak ada percampuran antara harta suami dan harta isteri karena perkawinan. Pasal lain dalam UU No. Walaupun tidak disebutkan dengan tegas dalam pasal 35 ayat 2. 1 tahun 1974.

atau kemungkinan harta tersebut tidak pernah dilakukan pembagian sehingga harta bersama tetap dikuasai oleh salah satu pihak. harta dan pendapatan isteri c. sebelum gugatan diajukan ke Pengadilan. sekalipun harta pokoknya tidak termasuk dalam harta bersama. harta dan pendapatan suami b. dimana pembagian dilakukan dan berapa bagian masing-masing suami isteri. Kenyataan dalam masyarakat diperkirakan sangat bermacam ragam. Negara yang mengenal harta bersama adalah negara yang memiliki adat istiadat untuk memisahkan adanya hak milik suami dan hak milik isteri. Sedangkan Harta bersama itu sendiri memiliki nama yang berbeda-beda di masingmasing tempat. kesadaran hukum dan lingkungan masyarakatnya. . Ketentuan ini tidak menyebutkan dari mana atau dari siapa harta tersebut berasal. kemungkinan pembagian dilakukan di bawah wibawa keputusan pengadilan. Harta bersama suami isteri atau harta gono-gini ialah harta kekayaan yang dihasilkan bersama oleh suami isteri selama dalam ikatan perkawinan. harta yang dihasilkan suami isteri termasuk dalam perkongsian yang biasa disebut syarikah atau syirkah. Dalam kitab-kitab Fiqh.Bab IV Kesimpulan dan Saran a. Dalam Perundang-Undangan di Indonesia seperti Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam menyebutkan harta bersama suami isteri hanyalah meliputi harta-harta yang diperoleh suami isteri sepanjang perkawinan saja. Kemungkinan pihak laki-laki yang menguasai harta bersama itu. asal kesemuanya diperoleh sepanjang perkawinan. kemungkinan kesepakatan pembagian tercapai di Pengadilan. Sehingga boleh dikatakan bahwa termasuk harta bersama adalah: a. Kemungkinan pembagian itu dilakukan dirumah. hasil dan pendapatan dari harta pribadi suami maupun isteri. kemungkinan pula pihak laki-1aki memperoleh bagian terbesar dari harta bersama itu atau mungkin pula sebaliknya. Kesimpulan Pada dasarnya tidak semua negara mengenal harta bersama. Bagaimana prosedur pembagian harta bersama jika terjadi perceraian. Besar kecilnya bagian masing-masing ini dipengaruhi oleh hukum yang dianut.

sedang pihak lain perpegang pada penafsiran lama yang tidak cukup untuk menghadap perubahan sosial yang ada. Satu pihak berpegang pada tradisi dan penafsiran ulama mujtahid terdahulu. Oleh karena itu penguasaan harta bersama ataupun harta bawaan dari salah satu pihak dalam bentuk bagaimanapun apalagi sampai merugikan pihak lain tidak dapat dibenarkan. Lebih jauh lagi dalam menetapkan porsi harta bersama untuk suami isteri digunakan kebiasaan yang berlaku setempat. sehingga terjadi keseragaman dalam memutuskan perkara di Pengadilan.b. Dalam permasalahan harta bersama. Selain itu di Amuntai harta bersama dibagi sesuai dengan fungsi harta itu untuk suami atau untuk isteri. meskipun dalam produk ulamaulam fiqh tidak pernah dibahas. Saran Masalah harta bersama ini merupakan masalah Ijtihadiyah karena belum ada pada saat madzhab-madzhab terbentuk. 1 Tahun 1974 agar umat Islam di Indonesia mempunyai pedoman fiqh yang seragam dan telah menjadi hukum positif yang wajib dipatuhi. Berbagai sikap menghadapi tantangan ini telah dilontarkan. Pengadilan Agama dalam menetapkan putusan maupun fatwa tentang harta bersama mengutip langsung ketentuan hukum yang ada dalam Al-Qur‟an karena tidak dikenal dalam referensi syafi‟iyah. namun ini berperan penting dalam kaitannya dengan hak-hak seseorang atas harta benda yang dimilikinya. sehingga terdapat penetapan yang membagi dua harta bersama di samping terdapat pula penetapan yang membagi dengan perbandingan dua banding satu. Sehingga masalah harta bersama ini perlu dibahas dalam KHI dan UU Perkawinan No. .

Pustaka Widyatama. Bulan Bintang. Nasroen. B. tt. Ash. Surin. Bidayatul ‘l-Mujtahid Juz 2. Soimin. 1. Cet. Asjmuni A. Juli 2004. 1996. Beirut. Kelompok Perundang-Undangan Kompilasi Hukum Islam Seri Perundangan. Depag. Jakarta. Soedharyo. Kelompok al-Qur‟an dan Tafsir Abdoerraoef. Jakarta. Bulan Bintang. 1. D. Shiddieqy. Darul Kutub Al Ilmiah. Logos. Bachtiar. 1975. 1996. Jakarta. Bandung. tt. 1. Haroen. Jakarta. Ushul Fiqh. Qa‟idah-Qa‟idah Fiqih ( Qawa‟idul Fiqhiyyah ). Penerbit Arkola. 1986. KUH Perdata. September. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Al-Qur’an dan Ilmu Hukum. Rahman. Ibnu Rusyd Al Qurtuby.DAFTAR PUSTAKA A. Beirut. 1 Tahun 1974. Cet. Cet. Abdurrahman. Sumatra. Jakarta. tt. cet. Semarang. Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an. Kelompok Fiqh dan Ushul Fiqh Al Andalusy. 1990 M / 1410 H. Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia No. Hasbi. Surabaya. Falsafah Hukum Islam. Darul Fikr. 1. Yogyakarta. 1976. Al-Jaziry. Al-Fiqhu ‘Alal ‘l-Madzaahibil Al-Arba’ah Jilid 111. Cet. Toha Putra. 1. Sinar Grafika. Bulan Bintang. .