P. 1
Makalah Pemikiran Cak Nur Dr Liza

Makalah Pemikiran Cak Nur Dr Liza

4.5

|Views: 2,622|Likes:
Published by senze_shin3

More info:

Published by: senze_shin3 on Apr 16, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2014

pdf

text

original

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

1

Kaji pemikiran cak Nur Dr liza Pasca Sarjana Stain Cirebon 2007 Siapa yang tidak kenal Nurcholis Madjid ? di percaturan perkembangan pemikiran islam modern di Indonesia, dengan keilmuan islamnya dan pembaharuan pemikiran pruralisme islam di Indonesia , kehadirannya memperkenalkan pandangan baru dan modernisasi dalam islam . Pemikirannya yang berlandaskan syariah Islam dan pengimplementasiannya secara moderen dan rasional, membawa angin segar yang patut menjadi bahan telahaan kita semua. Karena dalam kebebasan berfikir, kita semua mempunyai kewajiban untuk saling menghargai semua pendapat dan perbedaan berpendapat, tampa berhak menghakimi. Karena bila kita sudah menghakimi seseorang berarti kita sudah merasa paling benar, padahal kebenaran itu adalah Hak Allah swt. Semua yang ada didunia bersifat relatif. Kebenaran yang Absolut adalah Allah SWT. Menurutnya Cak nur “ mordenisasi ialah rasionalisasi, bukan westernisasi , mordenisasi identik dengan rasionalisasi yang berarti suatu perombakan pola pikir dan tata kerja yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang lebih rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal. Proses demikian diperoleh berdasarkan penerapan hasil temuan pengetahuan muktahir. Karena ilmu pengetahuan tidak lain adalah pemahaman manusia atas hukum-hukum obyektif yang mengatur alam semesta ini. Mordenisasi merupakan keharusan , dan bukan bisa disebut kewajiban mutlak sebab mordenisasi dalam pengertian ini berarti bekerja dan berfikir menurut aturan sunatullah. Menjadi modern berarti mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah serta bersikap dinamis dan progresif dalam mendekati kebenaran-kebenaran universal1 Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan khalayak, terutama para aktivis gerakan Islam, adalah saat pemimpin umum majalah Mimbar Jakarta ini melontarkan pernyataan “Islam yes, partai Islam no”. Nurcholish ketika itu menganggap partaipartai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dianggap sakral dan orang Islam yang tak memilih partai Islam
1

Abdul Qadir,M Ag, Jejak langkah Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia , pustaka setia bandung 2004 hal 109 dan dikutip dari Nurcholish majid , islam kemodernan dan keislaman, Bandung Mizan 1987 hal 172-173

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

2 dalam pemilu dituding melakukan dosa besar. Bahkan, bagi kalangan NU, haram memilih Partai Masyumi. Padahal orang Islam tersebar di mana-mana, termasuk di partai milik penguasa Orde Baru, Golkar. Pada waktu itu sedang tumbuh obsesi persatuan Islam. Kalau tidak bersatu, Islam menjadi lemah. Cak Nur menawarkan tradisi baru bahwa dalam semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena keyakinan, tetapi dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan.

BAB 1 CAK NUR , KELUARGA, KARYA DAN PENDIDIKANNYA A. KELAHIRAN , KELUARGA, DAN PENDIDIKANNYA Nurcholis Madjid Lahir di Jombang , Jawa Timur, 17 Maret 1939 Meninggal di Jakarta, tanggal 29 Agustus 2005 mempunyai satu orang Isteri bernama Omi Komariah mempunyai 2 orang anak yaitu Nadia Madjid, Ahmad Mikail dan seorang menantu yang bernama David Bychkon .2 Pendidikannya mulai di Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, pada tahun1955, kemudian Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960 Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hidayah tullah, Jakarta, 1965 (BA, Sastra Arab) Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hidayatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus, Sastra Arab) The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois,USA,tahun1984(Ph.D,StudiAgamaIslam).3 Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Keluarganya berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan ayahnya, adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi. Saat terjadi “geger” politik NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap bertahan di Masyumi. Sahabat Cak Nur, Utomo Dananjaya, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina mengatakan, “Dengan nuansa politik pada waktu itu, keluarga Cak Nur biasa mengobrol, mendengar, bicara soal-soal politik.” Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi

2

www.tokohIndonesia.com ibid

3

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

3 doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya4. kebangsaan. B. PEKERJAAN DAN KARYANYA Beliau pernah menjadi peneliti, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LEKNAS-LIPI), Jakarta 1978-1984, Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, 1984-sekarang. Dosen, Fakultas Pasca Sarjana, Institute Agama Islam Negeri (IAIN) SyarIf Hadayatullah, Jakarta 1985. Rektor, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta, 1998 . Anggota MPR-RI 1987-1992 dan 1992-1997 Anggota Dewan Pers Nasional, 1990-1998, Ketua yayasan Paramadina, Jakarta 1985 Fellow, Eisenhower Fellowship, Philadelphia, 1990. Anggota KOMNAS HAM, 1993 Profesor Tamu, McGill University, Montreal, Canada, 1991-1992. Wakil Ketua, Dewan Penasehat ICMI, 1990-1995. Anggota Dewan Penasehat ICM, 1996. Penerima Cultural Award ICM, 1995. Penerima “Bintang Maha Putra”, Jakarta 19985 C. KEGIATANNYA DIPERCATURAN INTERNASIONAL DUNIA PRESENTER PADA: 1.Seminar Internasional tentang “Agama Dunia dan Pluralisme”, Nopember1992, Bellagio, Italy 2. Konperensi Internasional tentang “Agama-agama dan Perdamaian Dunia”, April 1993, Vienna, Austria 3. Seminar Internasional tentang “Islam di Asia Tenggara”, Mei 1993, Honolulu, Hawaii, USA 4. Seminar Internasional tentang “Persesuaian aliran Pemikiran Islam”, Mei 1993, Teheran, Iran. 5. Seminar internasional tentang “Ekspresi-ekspresi kebudayaan tentang Pluralisme”, Jakarta 1995, Cassablanca, Morocco 6. seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, Maret 1995, Bellegio 7. seminar internasional tentang “Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, Juni 1995, Canberra, Australia 8. seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, September 1995, Melbourne, Australia 9. seminar internasional tentang “Agama-agama dan Komunitas Dunia Abad ke-21,” Juni 1996, Leiden, Netherlands. 10. seminar internasional tentang “Hak-hak Asasi Manusia”, Juni 1996, Tokyo, Jepang 11. seminar internasional tentang “Dunia Melayu”, September 1996, Kuala Lumpur, Malaysia 12. seminar internasional tentang “Agama dan Masyarakat Sipil”, 1997 Kuala lumpur Pembicara, konperensi USINDO (United States Indonesian Society), Maret 1997, USA

4 5

ibid ibic

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

4 13., Konperensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia”, Oktober 1998, Geneva, Switzerland 14. Konperensi Internasional tentang “Agama-agama dan Hak-hak asasi Manusia”, Nopember 1998 state Departmen (departemen luar negeri amerika), Washington DC, USA 15. “Konperensi Pemimpin-pemimpin Asia”, September 1999, Brisbane, Australia 16. Konperensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia, pesan-pesan dari Asia Tenggara”, Nopember 1999, Ito City, Japan PEMBICARA 1.Seminar tentang “Islam dan Masyarakat Sipil” Nopember 1997, Universitas Georgetown, Washington DC, USA 2. Seminar tentang “Islam dan Pluralisme”, Nopember 1997, Universitas Washington, dl Bab II PEMIKIRAN DR. NURCHOLISH MADJID A. PLURALISME Dr. Nurcholish Madjid , dalam bukunya Islam Dokrin dan Peradaban menyatakan ,bahwa Islam di Indonesia: adalah masalah kemajemukan. Pluralitas (kemajemukan) manusia adalah kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Jika dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai6 QS 49:13 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. , Maka prulalitas ini meningkat menjadi prulalisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu. Dalam kitab suci juga disebutkan bahwa perbedaan antara manusia dalam bahasa dan warna kulit harus diterima sebagai kenyataan yang positif, yang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah 7 QS, 30:22 Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Juga terdapat penegasan dalam kitab suci tentang kemajemukan dalam pandangan dan cara hidup antara manusia yang tidak perlu digusarkan dan hendaknya dipakai sebagai pangkal tolak berlomba-lomba menuju berbagai
Dr. Nurcholish Madjid , Islam Dokrin dan Peradaban ,penerbit wakaf Paramadina, jakarta 1992. kata pengantar hal ixviii
7
6

ibid

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

5 kebaikan dan bahwa Tuhanlah yang akan menerangkan mengapa manusia berbeda-beda , nanti ketika kita kembali kepada-Nya 8 QS 5:48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujia terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Berdasarkan prinsip pruralisme, umat islam melalui pemimpin dan ulamanya telah mengembangkan Pruralisme agama yang tidak hanya meliputi kaum Yahudi dan Kristen besetra aliran dan sektenya yang secara nyata disebutkan dalam Al-quran sebagai ahli kitab, tetapi juga mencakup golongan- golongan agama lain , kaum Majusi atau Zoroastrian sudah sejak zaman Nabi dipesankan agar diperlakukan sebagai ahl Al-Kitab dan itulah yang menjadi kebijakan Khalifah Umar . begitu juga Jenderal Muhammad ibn Qasim , ketika pada tahun 711 membebaskan lembah Indus dan melihat orang-orang Hindu di kuil mereka , dan setelah diberitahukan bahwa mereka itu juga mempunyai kitab suci segera menyatakan bahwa kaum hindu adalah termasuk Ahl al Kitab. Maka di Indonesia , Tokoh pembaharuan islam di Sumatra Barat ”Abd-al-hamid, hakim berpendirian bahwa agama-agama hindu –budha dan agama cina dan jepang termasuk agama Ahl al-Kitab, Karena menurutnya agama-agama itu bermula dari dasar ajaran Tauhid . Memang benar bahwa pendirian serupa itu dapat dan telah menimbulkan kontroversi dan polemik. Namun tetap penting dan menarik untuk diperhatikan betapa pandangan yang luas , lapang pandang dan cerah itu muncul dikalangan Umat Islam sebagai salah satu wujud nyata ajaran agamanya dengan agama-agama lain.9 Pruralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan (sunatullah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Dan Islam adalah agama yang Kitab suci-Nya dengan tegas mengakui hak-hak agama lain, kecuali yang berdasarkan paganisme atau syirik untuk hidup dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan. Kemudian pengakuan akan hak agama-agama lain itu dengan sendirinya merupakan dasar paham kemajemukan sosial budaya dan agama sebagai ketetapan Allah yang tidak berubah (QS 5: 44-50) Kesadaran segi komunitas agama juga ditegaskan dalam kitab suci diberbagai tempat , disertai perintah agar kaum muslim berpegang teguh kepada ajaran kontinuitas itu dengan beriman kepada semua para nabi dan rasul, tuhan tampa

8 9

ibid Nurcholis hal lxxi

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

6 kecuali dan tampa membeda-bedakan antara mereka, baik yang disebut dalam kitab suci maupun yang tidak disebutkan 10 QS 5 :48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, QS, 2:136 . Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"., QS 4:163-165, 163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasulrasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS 45:16-18 Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezki-rezki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.). Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Memang dan seharusnya tidak perlu mengherankan bahwa islam selaku agama besar terakhir, mengklaim sebagai agama yang memuncaki proses pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dalam garis kontinuitas tersebut. Tetapi harus diingat bahwa justru penyelesaian terakhir yang diberikan oleh islam sebagai agama terakhir untuk persoalan akan hak agama-agama itu berada dan untuk dilaksanakan, karena itu tidak saja agama tidak boleh dipaksakan 11

10 11

Nurcholis hal lxx ibid

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

7 QS, 2:256, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. QS 10:99 Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Bahkan al-Quran juga mengisyaratkan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya kepada tuhan dan Hari kemudian serta berbuat baik semuanya akan selamat QS 2:62, Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabii], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah], hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (beserta kemungkinan tarsirnya) inilah yang menjadi dasar toleransi agama yang menjadi ciri sejati islam dalam sejarahnya yang otentik, suatu semangat yang merupakan kelanjutan pelaksanaan ajaran al-Quran QS 42:15 Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNyalah kembali (kita)". Ringkasnya Pruralime adalah aturan Allah atau sunatullah, hendaknya perbedaan menjadi suatu yang saling melengkapi , bukan untuk membuat jurang konflik dan perbedaan berkehidupan bermasyarakat, karena tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Kita hidup harus dalam iklim saling hargai-menghargai. Karena keselarasan dan keamanan adalah kunci sukses pengabdian kira kepada Allah, dengan rasa aman dan pasra kepada ketentuan Allah, Tuhan yang maha Esa, kita hidup dan aman menjalankan kehidupan beragama dengan rasa cinta dan moral kepada sesama B. IMAN DAN TATA NILAI RABBANIYYAH Pertama-tama, kita beriman kepada Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Iman itu melahirkan tata nilai berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (rabbaniyah12) yaitu tata nilai yang dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup ini berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan (Inna Lillah wa inna ilayhi ra’jiun ), maka Tuhan adalah asal tujuan hidup , bahkan seluruh mahluk (dumadi)13. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah inti semua agama yang benar. Setiap pengelompokan (umat) manusia telah pernah mendapatkan ajaran tentang Ketuhanan
12 13

islam dan peradaban hal 1 ibid

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

8 Yang Maha Esa melalui ajaran para Rasul Tuhan, karena itu terdapat titik pertemuan (kalimah sawa) antara semua agama manusia dan orang-orang Muslim diperintahkan dan mengembangkan titik pertemuan itu sebagai landasan hidup bersama. 14 Semua agama yang benar, yang dibawa oleh para nabi, khususnya seperti yang dicontohkan oleh agama atau milat diri sepenuhnya hati, tulus, damai (islam) kepada Yuhan yang maha Esa. Adalah sikap berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan itu yang menjadi inti dan hakikat agama dan keagamaan yang benar15 Berislam bagi manusia adalah sesuatu yang alami dan wajar. Ber-islam menghasilkan bentuk hubungan yang serasi antara manusia dan alam sekirar, Berislam sebagai jalan mendekati Tuhan itu adalah dengan berbuat baik kepada sesama manusia disertai sikap menunggal tujuan hidup kepada-Nya tanpa kepada yang lain apapun juga. Karena kemahaesaan-Nya, Kemutlakan-Nya wujud Tuhan adalah wujud kepastiannya. Justru Tuhanlah satu-satunya wujud yang pasti, semua selain Tuhan adalah wujud yang tidak pasti, yang nisbi belaka. Termasuk manusia sendiri, betapapun tinggi kedudukannya manusia sebagai puncak ciptaan Tuhan, maka sikap memutlakan nilai manusia baik yang dilakukan oleh seseorang kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain adalah bertentangan dengan prinsip Ketuhanan yang maha esa atau tawhid, monotheisme, Beribadat yang tulus kepada Tuhan tidak bisa terjadi dalam satu pribadi dengan sikap memutlak sesama mahluk, termasuk manusia, pada khususnya , yang mengalami pemutlakan itu disebut thagut yang berarti tiran dan mahluk atau orang itu akan menjelma menjadi saingan Tuhan atau tuhan-tuhan palsu. Maka setiap bentuk pengaturan hidup sosial manusia yang melahirkan kekuasaan mutlak adalah bertentangan dengan jiwa tauhid. Pengaturan hidup dengan menciptakan kekuasaan mutlak pada sesama manusia tidak adil dan tidak beradab. Sikap pasrah kepada Tuhan, yang memutlakan Tuhan menghendaki tatanan sosial terbuka, adil, dan demokrasi. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi muhammad s.a.s yang keteladanannya di teruskan kepada para khalifah yang bijaksana sesudahnya.16 Berdasarkan prinsip diatas , masing-masing manusia mengasumsikan kebebasan diri pribadinya. Dengan kebebasan itu manusia menjadi mahluk moral, yaitu mahluk yang bertanggung jawab sepenuhnya atas segala perbuatan yang dipilih dengan sadar, yang saleh maupun jahat. Tuhan pun tetap memberikan kebebasan kepada Manusia untuk menerima atau menolak petunjukNya dengan resiko yang harus ditanggung manusia sendiri sesuai dengan pilihannya itu. Justru manusia mengada melalui dan didalam kegiatan amalnya. Dan amal itulah manusia mendapatkan eksistensi dan esensi dirinya, dan didalam amal yang iklas manusia menemukan tujuan penciptaannya, yaitu kebahagiaan karena pertemuan (liqa) dengan Tuhan dengan mendapatkan ridlaNya.17(QS 2:260, QS 53: 38-40) Karena manusia tidak mungkin mengetahui kebenaran yang mutlak, pengetahuan manusia itu betapa pun tingginya, tetap terbatas. Karena itu setiap orang ditunjuk untuk cukup bersikap rendah hati guna bisa mengetahui lebih tinggi. Tawhid menghasilka bentuk hubungan kemasyarakatan manusia yang

14 15

ibid ibid hal 2 16 ibid hal 4 17 ibid

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

9 menumbuhkan kebebasan menyatakan pikiran dan kesedian mendengarkan pendapat.18 C. SIMPUL-SIMPUL KEAGAMAAN PRIBADI :TAQWA, TAWAKAL DAN IKLAS, IBADAT Keagamaan dalam makna intinya sebagai kepatuhan (din) yang total kepada Allah, menuntut sikap pasrah kepadanya yang total (islam) pula , sehingga tidak kepatuhan atau din yang sejati tampa pasrah atau islam. Inilah sesungguhnya makna firman ilahi dalam QS, AL-Imran (3) 19 yang banyak dikutib dalam berbagai kesempatan , Inna al-din “ind Allah al Islam, sesungguhnya agama disisi Allah ialah Islam yang diterjemahkan mengikuti makna asal kata-kata disitu dapat menjadi “Sesungguhnya kepatuhan bagi Allah ialah sikap pasrah (kepada-Nya).” (Muhammad Assad menerjemahkan (Inggris ),” Behold the only (true) religion in the sight of God is (man’s) self surrender unto Him,” sedangkan A. Yusuf Ali menerjemahkan (juga Ingris ) the religion before God is Islam (submission to His Will). Firman lain yang berkaitan langsung dengan ini dan banyak sekali dikutip ialah QS Al-Imram (3):85,”Dan barang siapa mengikuti agama selain al-Islam (sikap pasrah kepad Tuhan) , maka ia tidak akan diterima dan di akherat ia akan termasuk golongan yang merugi,” penegasan bahwa beragama tanpa sikap pasrah itu tak bermakna.19 QS, Al-Imran (3) : 85, “Dan barang siapa mengikuti agama selain al Islam (sikap pasrah kepada Tuhan) maka ia tidak akan diterima dan diakherat akan termasuk golongan yang merugi, penegasan bahwa beragama tanpa sikap pasrah itu tidak bermakna. Karenanya kwalitas tawakal, taqwa dan iklas dengan kesadaran berketuhanan adalah mutlak. Yang diwujudkan orang tersebut dalam tingkah laku sosialnya.20 Makna taqwa bermakna kesadaran ketuhanan (God consciousness), yaitu kesadaran tentang adanya Tuhan yang Maha adil (Omnipresent) dalam hidup kita. Kesadaran seperti ini membuat kita mengetahui dan meyakini bahwa dalam hidup ini mendorong kita untuk menempuh hidup menurut garis-garis yang diridhoi-Nya , sesuai dengan ketentuan-ketentuanNya. Taqwa dalam pengertian mendasar adalah sejajar dengan pengertian Rabbaniyah (semangat ketuhanan) dalam firman lain yang menuturkan salah satu tujuan pokok diutusnya seorang rasul kepada manusia. Menurut nabi “Yang paling banyak memasukan seseorang kedalm surga ialah taqwa kepada Allah dan budi luhur, sedangkan menyempurnakan budi luhur itu , sebagaimana yang ditegaskan Nabi sendiri , adalah tujuan akhir kerasulan beliau.21 . Makna tawakal, secara harfiah “tawakal “ (arab)., dengan ejaan dan vokalisasi yang benar:”tawakul) berarti bersandar atau mempercayai diri . Dalam agama, tawakal ialah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Maka tawakal merupakan implikasi langsung iman , tiada iman tampa tawakal. Tawakal bukanlah sikap pasif, tapi sikap aktif , tumbuh dari pribadi yang memahami hidup dengan tepat serta menerima kenyataan hidup
18 19

ibid hal 5 HAL 41 20 ibid hal 42 21 Ibid hal 45

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

10 Ibadat sebagai institusi iman . ibadat dapat juga disebut sebagai ritus atau tindakan ritual, adalah bagian yang amat penting dari setiap agama atau kepercayaan (seperti system-sistem kultus). Ibadat , arab “ ibadah, mufrad ;ibadat , jamak) berarti pengabdian (seakar dengan kata arab, “abd yang berarti budak atau hamba) yakni pengabdian (dari kata “abdi” abd) atau penghambaan diri kepada Allah, Tuhan yang maha esa, Karena itu dalam pengertiannya yang lebih luas di dunia ini, termasuk kegiatan manusia yang hidup di dunia ini.Termasuk kegiatan duniawi sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah. , yakni sebagai tindakan bermoral. Inilah maksud firman Allah bahwa manusia (dan Jin) tidaklah diciptakan Allah melainkan untuk menempuh hidup dengan kesadaran penuh bahwa makna dan tujuan keberadaan manusia ialah “perkenan” atau ridha Allah Swt. Ibadat dalam pengertuan yang khusus menunjukan amal perbuatan tertentu yang secara khas bersifat keagamaan. Dari sudut pandangan ini juga digunakan istilah ubudiyah yang pengertiannya mirip dengan kata-kata ritus atau ritual dalam bahasan ilmu-ilmu social. Problema hubungan ibadat dan iman ,”Apakah manusia tidak cukup dengan iman saja dan berbuat baik, tampa perlu beribadat?’’ seperti kata Einstein keengganan memasuki agama formal yang penting berbuat baik22. Menurut Nurcholis Madjid ibadat itu merupakan satu kelanjutan logis system iman Jika tidak dikehendaki iman menjadi sekedar rumusan-rumusan abstrak tampa kemampuan memberikan dorongan batin kepada individu untuk berbuat sesuatu dengan tingkat ketulusan sejati, maka keimanan itu harus dilembagakan dalam peribadatan sebagai ekspresi perhambaan seseorang kepada pusat makna dan tujuan hidupnya, Yaitu Tuhan. Ditambahkannya lagi antara iman yang abstrak dan tingkah laku atau atau amal perbuatan yang kongkret itu ialah ibadat.Dengan ibadat seorang hamba Tuhan atau abd Allah merasakan kehampiran spiritual kepada khaliknya , Pengalaman kerohanian sendiri merupakan sesuatu yang dapat disebut sebagai inti rasa keagamaan atau religiositas, yang dalam pandangan mistis menurut kalangan sufis memiliki keabsahan yang tingi 23. Jadi ibadat merupakan lambang pengagungan seorang hamba kepada Khaliknya serta pernyataan akan penerimaan hamba itu akan tuntutan moral-Nya. Melalui ibadat seorang hamba mengharapkan bahwa sang Khaliq akan menolong dan membimbing hidupnya menempuh jalan kebenaran 24 Dalam Alquran terdapat penuturan mengenai nabi Yaqub yang sangat rajin beribadat , ketika ia bertanya kepada anak-anaknya apa yang mereka sembah , mereka menjawab,” kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan kami semua pasrah kepadaNya” dari penuturan ini tergambar sekap ubudiyah yang disertai dengan sikap pasrah (Islam) sepenuhnya kepada sesembahan yaitu Allah , Tuhan Yang Maha Esa.. Dalam Islam bentuk ibadat yang amat simbolik adalah Sholat, (sekumpulan bacaan dan tingkah laku yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam) . Dengan sholat seorang hamba diharapkan menghayati sedalam-dalamnya kehadiran Tuhan dalam hidupnya.”Seolah-olah Engkau melihat-Nya dan kalaupun tidak melihat-Nya , maka sesungguhnya engkau Dia melihat Engkau.” Maka tidak berlebihan bahwa Shalat yang sempurna itu yaitu dilakukan dengan kekhusukan dan kehadiran hati yang disertai
22 23

Ibid hal 51 Hal 61 24 Hal 63

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

11 ketenangan (thumaninah) seluruh anggota badan, dan membentuk rasa keagamaan satu religiousitas yang sangat tinggi. Shalat yang berhasil akan berdampak pada sikap jiwa yang bebas dari kekuatiran yang tidak pada tempatnya pada kehidupan ini baik hidup lahiriah maupun batiniah. Begitulah pula dengan puasa, dan haji, bersangkutan dengan keteguhan hati menempuh hidup karena ada haraan kepada Tuhan itu sendiri justru salah satu Iman yang akan melahirkan ketabahan hati menempuh hidup bermoral, yaitu hidup yang melahirkan rasa aman (al-iman melahirkan al-amn) kemudian rasa aman itu menjadi bekal hidup yang disemangati pleh kesadaran social yang tinggi. Ibadah yang tidak melahirkan kesadaran social , hidup yang bermoral akan kehilangan makna yang hakiki, sehingga pelaku suatu ibadat yang formal tampa kesadaran social justru dikutuk oleh Tuhan. 25. Ringkasnya Taqwa dalam pengertian mendasar sejajar dengan pengertian rabbaniyah (semangat ketuhanan) atau sikap pribadi yang secara bersungguh-sungguh berusaha memahami Tuhan dan menaati-Nya.26 Tawakal (arab , tawakul) berarti bersandar atau mempercayai diri. Dalam Agama adalah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, Tuhan yang maha Esa. Sehingga mengandung arti tawakal merupakan implikasi iman. Tawakal adalah sikap aktif dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan tepat pula.27 Ihsan , dari pandangan kesufian itu bahwa ibn Atha i-lah al-Sakandari mengatakan mengatakan bahwa ”Amal perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriah yang tegak, sedangkan ruh amal perbuatan itu ialah adanya keiklasan didalamnya. Ibadat (arab ibadah), berarti pengabdian, penghambaan diri kepada Allah yakni penghambaan diri kepada Allah , Tuhan yang maha esa , ibadat mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini termasuk kehidupan sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah yakni sebagai kegiatan yang bermoral inilah maksud firman Allah bahwa manusia (dan jin) tidaklah diciptakan Allah melainkan untuk mengabdi kepada Nya. Yakni untuk menempuh hidup dengan kesabaran penuh bahwa makna dan tujuan keberadaan manusia ialah ridha Allah SWT.28 Shalat yang berhasil akan mempunyai dampak membentuk sikap jiwa yang bebas dari kekuatiran tidak pada tempatnya menghadapi hidup. Ibadah yang tidak melahirkan kesadaran sosial suatu perwujudan nyata terpenting hidup bermoral akan kehilangan makna yang hakiki sehingga pelaku suatu bentuk ibadat formal tampa kesadaran sosial itu justru terkutuk oleh Tuhan.29 Ringkasnya Adalah menjadi kewajiban semua umat beragama untuk pasrah terhadap aturan Tuhan yang maha esa, menjalankan ketawaan , dan ibadat yang sungguh-sungguh, yang di implementasikan dalam kehidupan sosial ,kehidupan yang bermoral , yang membawa rahmat kepada masyarakat, bangsa dan negara.

25 26

Hal 67 ibid hal 45 27 ibid hal 46
29

Ibid hal67

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

12

D. DEMOKRASI dan PEMIMPIN Dalam membicarakan kaitan antara iman kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa dan usaha mewujudkan masyarakat yang adil, terbuka dan demokratis , pertanyaan mendasar yang tentunya muncul pertama-tama ialah , apakah ada korelasi antara iman dan suatu bentuk tatanan masyarakat tertentu, yakni benarkah iman menuntut konsekuensi usaha mewejudkan pola kehidupan sosial dan politik tertentu yang sejalan dengan makna iman itu sendiri.diperlukan keterbukaan dan keadilan, yang saling berkait karena keduanya merupakan kosistensi iman dalam dimensi kemanusiaan. Kini akan terlihat pula dengan demokrasi, yakni pengaturan tatanan kehidupan atas dasar kemanusiaan, yakni kehendak bersama. Dan iman kepada Allah menuntuk agar segala perkara antar manusia diselesaikan dengan musyawarah. 30 Demokrasi justru diciptakan untuk mengatasi perbedaan pendapat, tapi cara mengatasinya harus damai , human, konstitusional dan tidak berdarah. Sebab konflik bisa berdarah. Dan kalau setiap konflik diselesaikan berdarah kan masyarakat bisa hancur.31 Cak Nur juga menandaskan Indonesia memerlukan 3 , 4 partai politik, tapi bukan partai yang jumlahnya tidak terkendali, karena akan menyebabkan pemborosan dan tidak ekonomis, yang menjadi masalah berdirinya partai oposisi ini apakah melalui legitimasi formal atau proses, bila menyerderhanakan melalui proses lebih demokrari, dinamis dan representatit, kalau itu terjadi , kita akan punya wakil rakyat yang pas dengan constituennya 32 Ketika dimintai pendapatnya apa yang pastas dikritik untuk pak Harto (ketika itu masih menjabat sebagai presiden RI) tahun 1997. Yang jelas mengkritik itu jangan pribadinya. DiAmerika saja ada beda antara mengkritik (to criticize) dan menghina ( to insult) , mengkritik itu selalu baik dan menghina itu jahat dan bisa dituntut. Sayangnya sering kita tidak bisa membedakan kedua hal itu. Jadi kita harus mulai belajar . Dan Demoktrasi kan tidka langsung jatuh dari langit. Demokrasi itu harus melalui proses belajar dan pengalaman. Termasuk kita harus belajar mengkritik dan menerima kritikan , jangan salah kalau ada pejabat yang diritik nanti mengira dihina. Menurut Cak Nur, pemimpin itu yang pertama diantara yang sangat mendasar. The first among the equal . kalau prinsip itu tidak kita kembangkan dalam mekanisme demokrasi dengan institusi politik yang sehat , kedewasaan berbeda pendapat, maka kemungkinan terjadinya percecokan (querrel) diantara orang yang sama akan tidak terhindar. Karena kita selalu tergantung kepada Bapak Bangsa, jadi intinya samapai kehidupan berbangsa kita tergantung satu orang saja33 Apa yang terjadi sekarang adalah banyaknya partai-partai yang muncul di indonesia, menandakan demokrasi dan reformasi yang kebablasan, berkaca dengan pendapat Cak Nur bahwa jumlai partai itu jangan terlalu banyak karena pemborosan, sekarang yang terjadi malah yang tidak kita harapkan, mudahmudahan kedepan tidak lagi terjadi pemborosan dalam segala hal di peta politik

Ibid hal 118 -119 Dedy Djamaluddin Malik, Idi Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia, Pemikiran dan aksi politik, penerbit zaman wacana mulia, hal 286 32 Ibid hal 288 33 Dedy Jamaluddin, Zaman Baru Islam Indonesia hal 290
31

30

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

13 demokrasi kita. Dan Munculnya pemimpin yang arif dan bijaksana yang dapat menjadi teladan kita semua. E. ILMU DAN PENGEMBAN ILMU PENGETAHUAN, PERADABAN ISLAM Menurut Cak Nur ilmu tidak semata untuk ilmu saja, sehingga menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi ilmu adalah amal-dan amal berdasarkan ilmu. Kesadaran seorang muslim yang bersama dengan kesadaran keimanan dan amal perbuatan membentuk segitiga pola hidup yang kukuh dan benar yaitu keilmuan.Ilmu adalah bentuk kesadaran muslim yang juga amat sentral. Berkenaan dengan ini banyak sekali dikemukakan para ulama sabda-sabda Nabi, seperti ” ilmu kebijaksanaan (alHikmah) adalah barang hilangnya kaum beriman, barang siapa menemukannya hendaklah ia memungutnya. Sabda Nabi kelebihan orang berilmu (alim) atas orang beribadat (abid) adalah bagaimana kelebihan rembulan diwaktu malam ketika ia purnama atas sekalian bintang-bintang . 34 Sederetan temuan ilmuwan muslim akan sangat panjang untuk disebutkan , Peradaban islam klasik adalah yang pertama menginternasionalkan ilmu pengetahuan. Dalam dua bentuk :pertama sesuai dengan kedudukan dan tugas suci mereka sebagai saksi atas manusia orang –orang muslim klasik, yang menyatukan dan mengembangkan semua warisan ilmu pengetahan umat manusia dari hampir seluruh muka bumi, kedua: sejalan dengan keyakinan bahwa ajaran agama mereja harus membawa kebaikan seluruh umat manusia sebagai rahmatan untuk sekalian alam. Ilmu pengetahuan yang telah mereka satukan dan kembangkan itu mereka sebarkan kepada seluruh umat manusia tampa parokialisme dan fanatisme. Umat islam klasik menjadi pemimpin intelektual dunia sekurang-kurangnya 4 abad, dengan puncaknya zaman Khalifah Harun Al-Rasyid dan al makmun, yang cukup menarik bahwa Al-Rasyid adalah penguasa Islam yang berpihak kepada paham Alh-Sunnah, sementara anaknya mendukung paham mutazilah.

F. ANALISA CAK NUR Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah Pembicaraan ini bertolak pada usaha untuk mengenali segi-segi positif paham itu dan mencari jalan bagaimana mengembangkannya agar dapat menjadi suatu sumbangan kepada tantangan hidup masa kini. Juga dengan sendirinya pada usaha mengenali segisegi negatifnya serta sedapat mungkin menemukan jalan untuk menghindari atau menghilangkannya. Relevansi pembicaraan ini ialah bahwa sebagian besar kaum Muslimin Indonesia, jika tidak seluruhnya, menganut paham Asy'ari di bidang 'aqidah. Pertama, karena Islam di Indonesia beraliran Sunni, sehingga tidak menganut aqidah Syi'ah atau Mu'tazilah. Kedua, karena Islam di Indonesia bermazhab Syafi'i dan seperti di manamana, kaum Syafi'i kebanyakan menganut 'aqidah Asy'ari. Ini berbeda dengan kaum
34

Ibid hal 130

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

14 Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan) yang kebanyakan menganut 'aqidah Maturidi, dan dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia) yang tidak menganut Asy'ari maupun Maturidi, melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali. Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya, Ahl Sunnah wa al-Jama'ah -- baca: "Ahlusunnah waljama'ah") di negeri35 Nahdlatul 'Ulama', dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984 yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa paham Sunnah ialah paham yang dalam 'aqidah menganut al-Asy'ari atau al-Maturidi. Sedangkan kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyah sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yang biasanya oleh Nahdlatul 'Ulama' dipandang sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa al jama'ah (namun sebenarnya dalam banyak hal malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut al-Asy'ari dalam 'aqidah, tanpa banyak mengambil alih kritik para pemikir modernis Islam seperti Muhammad 'Abduh, ataupun pemikir reformis seperti Ibn Taymiyyah dan, apalagi, Muhammad ibn 'Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi paham Asy'ari itu. Maka membicarakan paham Asy'ari berarti membicarakan pandangan kepercayaan agama yang paling kuat dan luas di negeri kita.

Alur Argumen Kalam Asy'ari 36 al-Asy'ari, juga mengembangkan alur argumen logis dan dialektisnya sebagaimana ia pelajari dari para guru Mu'tazilah. Dan pengembangannya oleh alAsy'ari, yang kemudian lebih dikembangkan lagi oleh para pengikutnya, terutama al-Ghazali, menjadi tumpuan kekuatan paham Asy'ari itu sebagai doktrin dalam 'aqidah Islamiah kaum Sunni. Praktis semua nuktah kepercayaan dalam Islam ia dukung dengan argumen-argumen logis dan dialektis. Sebagaimana halnya dengan setiap pembahasan teologis, pusat argumentasi Kalam Asy'ari berada pada upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad raya, dan bahwa jagad raya itu ada karena diciptakan Tuhan "dari ketiadaan" (min al-'adam, ex nihilo). Karena tidak mungkin memaparkan keseluruhan argumen Kalam itu, maka di sini dikutipkan penjelasan sarjana Muslim moderen, al-Alousi, tentang argumen Kalam berkenaan dengan penciptaan alam raya ini.37

35 36

Dokrin, hal 269 Ibid hal 277
37

Menurut al-Alousi, ada enam argumen yang digunakan para tokoh Ilmu Kalam untuk membuktikan tidak abadinya alam raya: 37 (1) Argumen dari sifat berlawanan benda-benda sederhana (basith): unsur-unsur dasar alam raya (tanah, air, dan lain-lain) dan sifatsifat dasarnya (panas, dingin, berat, ringan dan lain-lain) semuanya saling berlawanan, namun kita dapati dalam kenyataan tergabung (murakkab); penggabungan itu memerlukan sebab, yaitu Pencipta.

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

15 Sudah diisyaratkan di atas bahwa sebagian dari argumen itu diwarisi para pemikir Muslim dari falsafah Yunani. Beberapa failasuf Islam seperti Ibn Rusyd dan alSuhrawardi memang menyebutkan nama Yahya al-Nahwi (Yahya si Ahli Tatabahasa, yaitu John Philoponus, meninggal sekitar tahun 580 M.), seorang pemikir Nasrani dari Iskandar, Mesir, telah merintis argumen "kalami" untuk adanya Tuhan dan terciptanya alam raya. Namun di tangan kaum Muslim, khususnya para penganut paham Asy'ari, dan lebih khusus lagi al-Ghazali pribadi, argumen itu berkembang seperti ringkasan al-Alousi di atas, dan menjadi salah satu segi kontribusi alam pikiran Islam yang paling orisinal kepada alam pikiran umat manusia. Sungguh sangat menarik bahwa dalam perkembangan teologis umat manusia, Ilmu Kalam seperti yang dipelopori oleh al-Asy'ari dan dikembangkan oleh al-Ghazali itu telah mempengaruhi banyak agama di dunia, khususnya yang bersentuhan langsung dengan Islam, yaitu Yahudi dan Kristen, sebegitu rupa. Sehingga banyak para pemikir Yahudi sendiri memandang bahwa agama Yahudi seperti yang ada sekarang ini adalah agama Yahudi yang dalam bidang teologi telah mengalami "pengislaman", seperti tercermin dalam pembahasan buku Austryn Wolfson, Repercussion of Kalam in Jewish Philosophy ("Pengaruh Kalam dalam Falsafah Yabudi"). Dan William Craig mengisyaratkan bahwa berbagai polemik teologis dan filosofis dalam Yahudi dan Kristen adalah karena pengaruh, dan merupakan kelanjutan, dari polemik teologis dan filosofis dalam Islam. Seperti kita ketahui, dalam Islam terjadi polemik antara Kalam (ortodoks) dengan falsafah, diwakili oleh polemik posthumous antara al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah, "Kerancuan para Failasuf') dan Ibn Rusyd (Tahafut al-Tahafut, "Kerancuannya Kerancuan"). Dalam Yahudi, polemik yang paralel juga telah terjadi, yaitu antara Saadia (pengaruh Kalam al-Ghazali) dengan Maimonides (pengaruh falsafah Ibn Rusyd), dan dalam Kristen polemik serupa ialah antara
(2) Argumen dari pengalaman: Penciptaan dari ketiadaan (al-ijad min al-'adam, creatio ex nihilo) tidaklah berbeda dari pengalaman kita, sebab, melalui perubahan, bentuk lama hilang dan bentuk baru muncul dari ketiadaan. (3) Argumen dari adanya akhir untuk gerak, waktu, dan obyek-obyek temporal: gerak tidak mungkin berasal dari masa tak berpermulaan, sebab mustahil bagi gerak itu mundur dalam waktu secara tak terhingga (tasalsul, infinite, temporal regress), sebab bagian yang terhingga tidak mungkin ditambahkan satu sama lain untuk menghasilkan keseluruhan yang tak terhingga; karena itu jagad dan gerak tentu mempunyai permulaan. Atau lagi, gerak tidak mungkin ada dari awal tanpa permulaan (azal, eternity), sebab mustahil bagi gerak itu mundur dalam waktu secara tak terhingga, karena sesuatu yang tak terhingga tidak dapat dilintasi. Atau lagi, jika pada suatu titik waktu mana pun, deretan tak terhingga, telah berlangsung, maka pada titik tertentu sebelumnya hanya suatu deretan terhingga saja yang telah berlangsung; tetapi titik tertentu itu terpisah dari lainnya oleh suatu sisipan yang terhingga; oleh karena itu seluruh deretan waktu itu terhingga dan diciptakan. (4) Argumen dari keterhinggaan jagad: karena jagad ini tersusun dari bagian-bagian yang terhingga, maka ia pun terhingga pula; segala sesuatu yang terhingga adalah sementara; oleh karena itu jagad adalah sementara, yakni, mempunyai suatu permulaan dan diciptakan. (5) Argumen dari kemungkinan (imkan, contingency): jagad ini tidaklah (secara rasional) pasti terwujud; oleh karena itu harus terdapat faktor penentu (mukhashshish, murajjih) yang membuat jagad itu terwujud, yaitu Pencipta. (6) Argumen dari kesementaraan (huduts, temporality): benda tidak mungkin lepas dari kejadian ('aradl, accident) yang bersifat sementara; apa pun yang tidak dapat terwujud kecuali dengan hal yang bersifat sementara tentu bersifat sementara pula; karena itu seluruh jagad raya adalah sementara (hadits) dan tentu telah terciptakan (muhdats)

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

16 Bonaventure (pengaruh Kalam al-Ghazali) dan Thomas Aquinas (pengaruh falsafah Ibn Rusyd). Sekarang ini, di zaman Moderen, para pengikut paham Asy'ari boleh merasa lebih mantap dan berbesar hati, sebab, sepanjang pembahasan William Craig, seorang ahli filsafat moderen dari Berkeley, California, ilmu pengetahuan mutakhir, khususnya teoriteori tentang asal kejadian alam raya seperti teori ledakan besar dalam Astronomi moderen, sangat menunjang argumen-argumen Ilmu Kalam, khususnya dalam pandangan bahwa alam raya berpermulaan dalam suatu titik waktu di masa lampau, dan bahwa ia diciptakan dari tiada. Sebagai seorang failasuf non-religi, Craig tetap skeptis tentang apakah Tuhan itu mempunyai sifat-sifat seperti yang dibicarakan dalam Ilmu Kalam. Namun ia menyimpulkan pembahasannya dengan mengakui validitas argumen Kalam tentang adanya Tuhan: Jadi telah disimpulkan tentang adanya suatu Khaliq yang personal bagi alam raya yang ada tanpa berubah dan lepas sebelum penciptaan dan dalam waktu sesudah penciptaan. Inilah inti pusat apa yang oleh kaum Ketuhanan dimaksudkan dengan "Tuhan". Kita tidak melangkah lebih jauh dari itu. Argumen kosmologis kalam membimbing kita kepada adanya Khaliq yang personal bagi alam raya, namun perkara apakah Khaliq ini Mahakuasa, baik, sempurna, dan seterusnya, kita tidak akan membahas. Meskipun skeptis tentang sifat-sifat Tuhan, namun, juga sebagai seorang failasuf non-religi, William Craig mengisyaratkan bahwa setelah terjadi kesimpulan mantap tentang adanya Tuhan, sepatutnya kita melihat apakah Tuhan itu "pernah" menyatakan Diri melalui wahyu-Nya seperti dikatakan dalam agama-agama, ataukah tidak. Jika jawabnya afirmatif, itu berarti landasan keabsahan bagi agama. Dan kalau negatif, maka barangkali Aristoteles benar bahwa Tuhan itu adalah penggerak yang tak tergerakkan, dan bahwa Dia tetap jauh dan lepas dari jagad raya yang telah diciptakanNya. Tentu saja para ahli Ilmu Kalam menolak konsep Aristoteles itu. Namun tetap bahwa kesimpulan failasuf moderen tersebut membuktikan segi paling tangguh dari paham Asy'ari sebagai doktrin 'aqidah Islamiah. Paham Asy'ari dengan deretan argumennya itu, seperti telah disebutkan, telah berjasa ikut memperkokoh konsep Ketuhanan dalam agama-agama besar, khususnya Islam sendiri, serta Yahudi dan Kristen. Dan jika Craig benar, paham Asy'ari juga akan berjasa ikut memperkokoh konsep Ketuhanan bagi manusia zaman mutakhir dengan ilmu-pengetahuan dan astronomi moderennya. Masalah Perilaku Manusia38 Menurut Cak Nur Paham Asy'ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy'ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dalam batasan ruang dan waktu, kita akan hanya menyinggung satu segi saja yang paling relevan dan juga paling banyak dijadikan
38

Hal 282

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

17 sasaran kritik, yaitu pandangan dalam sistem paham Asy'ari tentang perilaku manusia berkenaan dengan masalah sampai di mana manusia mampu menentukan sendiri kegiatannya dan sampai di mana ia tidak berdaya dalam masalah penentuan kegiatan itu berhadapan dengan qudrat dan iradat Tuhan. Dari kutipan tentang paham Ahl Al-Sunnah yang dijabarkan al-Asy'ari di muka -dan yang ia dukung dan anut sepenuhnya-- dapat kita baca pandangan tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya, yang bernada sikap pasrah kepada nasib (fatalisme). Sesungguhnya al-Asy'ari bukanlah seorang Jabari 'sehingga dapat disebut fatalis. Tetapi ia juga bukan seorang Qadari yang berpaham tentang kemampuan penuh manusia menentukan perbuatannya, seperti kaum Mu'tazilah dan Syi'ah. Al-Asy'ari ingin menengahi antara kedua paham yang bertentangan itu, sebagaimana dalam bidang metodologi ia telah menengahi antara kaum Hanbali yang sangat naqli (hanya berdasar teks-teks suci dengan pemahaman harfiah) dan kaum Mu'tazili yang sangat 'aqli (rasional). Dalam usahanya menengahi antara jabariah dan qadariah itu, Abu Hasan alAsy'ari tampil dengan konsep kasb (perolehan, acquisition) yang cukup rumit. Berikut ini tiga bait syair tentang pengertian kasb, dari kitab Jawharat al-Tawhid, salah satu buku teks dalam paham Asy'ari: Wa 'indana li al-'abd-i kasb-un kullifa Wa lam yakun mu'atstsir-an fa 'l-ta'rifa Fa laysa majbur-an wa la ikhtiyar-an Wa laysa kull-an yaf' al-u ikhtiyar-an Fa in yutsibna fa bi mahdl-i al-fadl'l-i Wa in yu'adzdzib fa bi mahdl-i al-'adl-i Artinya: Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,(usaha) Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh Maka manusia tidaklah terpaksa, dan tidak pula bebas, Dan tidak pula masing-masing itu berbuat dengan kebebasan Jika Dia (Allah) memberi pahala kita maka semata karena murah-Nya, Dan jika Dia menyiksa kita maka semata karena adil-Nya Jadi, jelasnya, manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya. Karena kewajiban usaha atau kasb itu maka manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya seperti kata kaum Jabari, tapi karena usahanya toh tidak berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya maka ia pun bukanlah makhluk bebas yang menentukan sendiri kegiatannya seperti kata kaum Qadari. Dan jika Allah memberi kita pahala (masuk surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya (bukan karena amal

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

18 perbuatan kita), dan jika dia menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah karena keadilan-Nya (juga bukan karena semata perbuatan kita). Kutipan itu menggambarkan betapa sulitnya memahami konsep kasb dalam paham Asy'ari. Maka tidak heran konsep itu menjadi sasaran kritik tajam para pemikir lain, termasuk Ibn Taymiyyah yang menganggapnya sebagai salah satu keanehan atau absurditas Ilmu Kalam. Ibn Taymiyyah malah menggubah syair yang dapat dipandang sebagai tandingan konsep kasb: Wa la makhraj-a li 'l-'abd-i 'amma qadla, Walakinnahu mukhtar-u husn-in wa saw'at-i |Fa laysa bi majbur-in 'adim-i 'l-iradat-i Wa lakinnahu sya'a bi khalq-i 'l-iradat-i Artinya: Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari ketentuan-Nya, Namun manusia tetap mampu memilih yang baik dan yang buruk Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan, melainkan ia berkehendak dengan terciptanya kemauan (dalam dirinya) Begitulah, Ibn Taymiyyah melihat bahwa dalam proses perkembangan paham Asy'ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya. Ibn Taymiyyah sendiri, karena menolak baik Qadariah maupun Jabariah, juga tampil dengan konsepnya jalan tengah, yaitu, sebagaimana ternyata dari syair tersebut, konsep bahwa Allah telah menciptakan dalam diri manusia kehendak (iradah), yang dengan iradah itu manusia mampu memilih jalan hidupnya, baik maupun buruk.

F. CAK NUR DAN FILSAFAT, Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya Di antara empat disiplin keilmuan Islam tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah, menurut cak Nur yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah yang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti paling banyak disalah pahami, sekaligus juga yang paling kontroversial..39 Menurut Cak Nur sumber dan pangkal tolak falsafah dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Para failasuf dalam lingkungan agama-agama yang lain, sebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious), sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justru berlawanan, dengan yang
39

Hal 218

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

19 dipunyai oleh kalangan ortodoks.Dan tidak mungkin menilai bahwa falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran Yunani atau Hellenisme. Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa kata Arab "falsafah" sendiri dipinjam dari kata Yunani yang sangat terkenal, "philosophia", yang berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom). Dengan sedikit perubahan, kata "falsafah" itu di-Indonesia-kan menjadi "filsafat" atau, akhir-akhir ini, juga "filosofi" (karena adanya pengaruh ucapan Inggris, "philosophy"). Dalam ungkapan Arabnya yang lebih "asli", cabang ilmu tradisional Islam ini disebut 'ulum al-hikmah atau secara singkat "alhikmah" (padanan kata Yunani "sophia"), yang artinya ialah "kebijaksanaan" atau, lebih tepat lagi, "kawicaksanaan" (Jawa) atau "wisdom" (Inggris). Maka "failasuf' (ambilan dari kata Yunani "philosophos", pelaku filsafat), disebut juga "al-hakim" (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan bentuk jamak "al-hukama". Dari sepintas riwayat kata "filsafah" itu kiranya menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan adanya masukan dari luar, khususnya jika datang dari kalangan yang tidak saja bukan "ahl al-kitab" seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari orang-orang Yunani kuna yang "pagan" atau musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din alSuyuthi (salah seorang pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan orangorang Yunani itu sebagai salah satu alasan keberatan mereka terhadap falsafah.

Neoplatonisme40 Dari berbagai unsur pikiran Hellenik, Platonisme Baru (Neoplatonisme) adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam sistem falsafah Islam. Neoplatonisme sendiri merupakan falsafah kaum musyrik (pagans), dan rekonsiliasinya dengan suatu agama wahyu menimbulkan masalah besar. Tapi sebagai ajaran yang berpangkal pada pemikiran Plotinus (205-270 M), sebetulnya Neoplatonisme mengandung unsur yang memberi kesan tentang ajaran Tauhid. Sebab Plotinus yang diperkirakan sebagai orang Mesir hulu yang mengalami Hellenisasi di kota Iskandaria itu mengajarkan konsep tentang "yang Esa" (the One) sebagai prinsip tertinggi atau sumber penyebab (sabab, cause). Lebih dari itu, Plotinus dapat disebut sebagai seorang mistikus, tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist" ataupun "guru ajaran esoterik", tetapi dalam artinya yang terbatas kepada seseorang yang mempercayai dirinya telah mengalami penyatuan dengan Tuhan atau "Kenyataan Mutlak."Untuk memahami sedikit lebih lanjut ajaran Plotinus kita perlu memperhatikan beberapa unsur dalam ajaran-ajaran Plato, Aristoteles, Pythagoras (baru) dan kaum Stoic.

40

Hal 224

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

20 Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat "akali" (ideas, intelligibles) dan yang bersifat "inderawi" (sensibles), dengan pengertian bahwa yang akali itulah yang sebenarnya ada (ousia), jadi juga yang abadi dan tak berubah. Termasuk diantara yang akali itu ialah konsep tentang "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan disebut sebagai berada di luar yang ada (beyond being, epekeina ousias). "Yang Baik" ini kemudian diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang tak terjangkau dan tak mungkin diketahui. Selanjutnya, mengenai wujud inderawi, Plato menyebutkannya sebagai hasil kerja suatu "seniman ilahi" (divine artisan, demiurge) yang menggunakan wujud kosmos yang akali sebagai model karyanya. Disamping membentuk dunia fisik, demiurge juga membentuk jiwa kosmis dan jiwa atau ruh individu yang tidak akan mati. Jiwa kosmis dan jiwa individu yang immaterial dan substansial itu merupakan letak hakikatnya yang bersifat ada sejak semula (pre-existence) dan akan ada untuk selamanya (post-existence immortality), yang semuanya tunduk kepada hukum reinkarnasi. Dari Aristoteles, unsur terpenting yang diambil Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang lebih tinggi daripada semua jiwa. Aristoteles mengisyaratkan bahwa hanya Akal-lah yang tidak bakal mati (immortal), sedangkan wujud lainnya hanyalah "bentuk" luar, sehingga tidak mungkin mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles juga menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme deity) ialah Akal yang selalu merenung dan berpikir tentang dirinya. Kegiatan kognitif Akal itu berbeda dari kegiatan inderawi, karena obyeknya, yaitu wujud akali yang immaterial, adalah identik dengan tindakan Akal untuk menjangkau wujud itu. Dualisme Plato di atas kemudian diusahakan penyatuannya oleh para penganut Pythagoras (baru), dan dirubahnya menjadi monisme dan berpuncak pada konsep tentang adanya Yang Esa dan serba maha (transenden). Ini melengkapi ajaran kaum Stoic yang di samping materialistik tapi juga immanenistik, yang mengajarkan tentang kemahaberadaan (omnipresence) Tuhan dalam alam raya. Kesemua unsur tersebut digabung dan diserasikan oleh Plotinus, dan menuntunnya kepada ajaran tentang tiga hypostase atau prinsip di atas materi, yaitu Yang Esa atau Yang Baik, Akal atau Intelek, dan Jiwa. Aristotelianisme41 Telah dinyatakan bahwa Neoplatonisme cukup banyak mempengaruhi falsafah Islam. Tetapi sebenarnya Neoplatonisme yang sampai ke tangan orang-orang Muslim, berbeda dengan yang sampai ke Eropa sebelumnya, yang telah tercampur dengan unsurunsur kuat Aristotelianisme. Bahkan sebetulnya para failasuf Muslim justru memandang Aristoteles sebagai "guru pertama" (al-mu'allim al-awwal), yang menunjukkan rasa hormat mereka yang amat besar, dan dengan begitu juga pengaruh Aristoteles kepada jalan pikiran para failasuf Muslim yang menonjol dalam falsafah Islam.
41

Hal 226

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

21 Neoplatonisme sendiri, sebagai gerakan, telah berhenti semenjak jatuhnya Iskandaria di tangan orang-orang Arab Muslim pada tahun 642.Sebab sejak itu yang ada secara dominan ialah falsafah Islam, yang daerah pengaruhnya meliputi hampir seluruh bekas daerah Hellenisme. Tetapi sebelum gerakan Neoplatonis itu mandeg, ia harus terlebih dahulu bergulat dan berhadapan dengan agama Kristen. Dan interaksinya dengan agama Kristen itu tidak mudah, dengan ciri pertentangan yang cukup nyata. Salah seorang tokohnya yang harus disebut di sini ialah pendeta Nestorius, patriark Konstantinopel, yang karena menganut Neoplatonisme dan melawan ajaran gereja terpaksa lari ke Syria dan akhirnya ke Jundisapur di Persia. Sebenarnya Neoplatonisme sebagai filsafat musyrik memang mendapat perlakuan yang berbeda-beda dari kalangan agama. Orang-orang Kristen zaman itu, dengan doktrin Trinitasnya, tidak mungkin luput dari memperhatikan betapa tiga hypostase Plotinus tidak sejalan, atau bertentangan dengan Trinitas Kristen. Polemik-polemik yang terjadi tentu telah mendapatkan jalannya ke penulisan. Maka orang-orang Muslim, melalui tulisan-tulisan dalam bahasa Suryani yang disalin ke Bahasa Arab, mewarisi versi neoplatonisme yang berbeda, yaitu Neo-platonisme dengan unsur kuat Aristotelianisme. Menurut pelukisan F.E. Peters, mengutip kitab al-Fihrist oleh Ibn al-Nadim, (Versi Arab tentang datangnya karya-karya Aristoteles di dunia Islam ada kaitannya dengan diketemukannya naskah-naskah di suatu rumah kosong. Seandainya benarpun, kisah itu menghilangkan dua rinci penting yang bisa melengkapi jalan cerita: pertama, naskah-naskah itu pastilah tidak tertulis dalam Bahasa Arab; kedua, orang-orang Arab itu tidak hanya menemukan Aristoteles tetapi seluruh rangkaian para penafsir juga). Menurut Cak Nur Ini berarti bahwa pikiran-pikiran Aristoteles yang sampai ke tangan orang-orang Muslim sudah tidak "asli" lagi, melainkan telah tercampur dengan tafsiran-tafsirannya. Karena itu, meskipun orang-orang Muslim sedemikian tinggi menghormati Aristoteles dan menamakannya "guru pertama", namun yang mereka ambil dari dia bukan hanya pikiran-pikiran dia sendiri saja, melainkan justru kebanyakan adalah pikiran, pemahaman, dan tafsiran orang lain terhadap ajaran Aristoteles. Singkatnya, memang bukan Aristoteles sendiri yang berpengaruh besar kepada falsafah dalam Islam, tetapi Aristotelianisme. Apalagi jika diingat bahwa orang-orang Muslim menerima pikiran Yunani itu lima ratus tahun setelah fase terakhir perkembangannya di Yunani sendiri, dan setelah dua ratus tahun pikiran itu digarap dan diolah oleh para pemikir Kristen Syria. Menurut Peters lebih lanjut, paham Kristen telah mencuci bersih tendensi "eksistensial" filsafat Yunani, sehingga ketika diwariskan kepada orang-orang Arab Muslim, filsafat itu menjadi lebih berorientasi pedagogik, bermetode skolastik, dan berkecenderungan logik dan metafisik. Khususnya logika Aristoteles (al-manthiq alaristhi) sangat berpengaruh kepada pemikiran Islam melalui ilmu kalam. Karena banyak menggunakan penalaran logis menurut metodologi Aristoteles itu, maka ilmu kalam yang mulai tampak sekitar abad VIII dan menjadi menonjol pada abad IX itu disebut juga sebagai suatu versi teologi alamiah (natural theology, al-kalam al-thabi'i, sebagai bandingan al-kalam al-Qur'ani) di kalangan orang-orang Muslim.

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

22

BAB III KRITIK TERHADAP PEMIKIRAN CAK NUR A. Kata Mereka Tentang Cak Nur42 1. Daud Rasyid, Menurut Daud, pengalaman Cak Nur terjun ke kancah politik belum ada. “Cak Nur cukup dekat dengan pemerintah Orde Baru, sering memanfaatkan situasi, dan mengikuti arah politik pada saat itu,” katanya. Nah, tipe pemimpin seperti itu, menurut Daud, susah diharapkan membawa bangsa yang besar. “Pemimpin yang dikenal tegar saja menghadapi sebuah rezim kadang-kadang tak kuat,” ujar Daud. KENYATAANNYA Daud tak menyimak sepuluh butir pernyataan yang menjadi platform Cak Nur. Salah satu butirnya menyebutkan perlunya dilakukan rekonsiliasi nasional. Dan hanya dengan cara Indonesia bisa menjadi bangsa besar. 2. Dalam buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) yang ditulis Nur Khalik Ridwan. Ridwan melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap bahwa Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan". 3. Dalam resensi yang ditulis J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta mencatat pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain. Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri. Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari
42

Diringkas dari Yayat www.tokohindonesia.com

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

23 kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi.

Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis. B. KRITIK TAJAM TERHADAP FIKIH LINTAS AGAMA43 Fikih Lintas agama, Tim penulis paramadina sembilan orang itu adalah; Nurcholish Madjid, Kautsar Azhari Noer, Komarudin Hidayat, Masdar F. Mas'udi, Zainun Kamal, Zuhairi Misrawi, Budhy Munawar-Rahman, Ahmad Gaus AF dan Mun'im A. Sirry. Mereka menulis buku yang judul lengkapnya; "Fikih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis". Cetakan: I, September 2003. "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapanucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci." (At-Taubah:32) Mereka itu secara terang-terangan mengusung keyakinan inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, dan secara blak-blakan memang mereka sengaja membuka jati diri mereka bahwa meskipun mengaku Islam namun juga mengakui bahwa aqidah mereka berbeda. Kalau mereka meyakini aqidah yang berbeda itu tanpa menyelewengkan pengertian ayat-ayat Al-Qur'an, As-Sunnah (Hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam), menghujat ulama, memelintir perkataan ulama, meninggikan tokoh-tokoh non Islam bahkan anti agama, dan menggiring umat ke filsafat yang tak punya landasan itu serta hanya untuk mereka 'nikmati' sendiri bukan dipropagandakan; maka urusannya masih sebatas urusan mereka. Urusan orang-orang tertentu dan terbatas yang lokasi kumpulnya di sekitar Ciputat, Pondok Indah, dan Utan Kayu Jakarta. Namun "aqidah yang berbeda" itu mereka pasarkan dengan cara-cara menyelewengkan pengertian ayatayat Al-Qur'an, As-Sunnah, menghujat ulama, memelintir perkataan ulama, meninggikan kedudukan dan suara serta tingkah tokoh-tokoh kafir bahkan sangat anti agama, mengekspose penyelewengan sebagian tokoh dijadikan sample/ contoh untuk dicarikan
TULISAN Hartono Ahmad Jaid, Jaringan Islam Liberal penyebar Fitnah kita lawan. 4 MEI 2004 , html document.
43

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

24 jalan keluarnya berupa penghalalannya, dan menggiring umat Islam untuk tidak meyakini Islam secara semestinya. "Aqidah yang berbeda" itu memerlukan "Fikih yang berbeda" pula. Mereka sendiri yang menyatakan itu, bahwa yang aqidahnya eksklusif maka Fikihnya eksklusif pula, sedang mereka (kaum liberal) yang aqidahnya inklusif pluralis alias menyamakan semua agama, maka memerlukan Fikih pluraris pula. Mereka buatlah ramai-ramai (9 orang) sebuah buku setebal 274 halaman dengan judul "Fikih Lintas Agama". Muslim dan kafir sama, namun jangan bawa-bawa agama untuk mengatur hidup ini. Ini artinya, aturan dari orang kafir harus dipakai, sedang aturan dari Allah tak boleh dipakai. Itulah "aqidah yang berbeda" maka memerlukan "Fikih yang berbeda" pula. Dan itulah Fikih yang pembuatan dan penerbitannya dibiayai oleh orang kafir. Propaganda kepentingan kafirin namun lewat jalur ilmu Islam praktis yakni Fikih inilah sebenarnya persoalan dalam pembicaraan ini. Namun kalau hanya dikemukakan bahwa itu upaya mengusung kepentingan orang kafir, lalu tidak disertai bukti-bukti hujjah yang nyata, maka persoalannya bisa mereka balikkan. Bahkan membalikkannya pun bisa pakai ayat atau hadits dengan disesuaikan dengan kepentingan mereka. Lalu khalayak ramai, kafirin plus sebagian umat Islam yang hatinya ada penyakitnya, bisa-bisa serta merta memberondongkan serangan yang menyakitkan, bukan sekadar kepada orang yang mengecam Paramadina namun bisa jadi terhadap Islam itu sendiri. Berhubung yang mengusung aqidah rusak berupa paham pluralisme agama, menyamakan Islam dengan agama-agama lain, itu bukan hanya tim 9 penulis FLA Paramadina, maka pemikiran, lontaran-lontaran, dan beberapa hal yang berkaitan dengan penyebaran paham pluralisme agama pun saya uraikan. Sehingga diharapkan buku ini akan bisa menguak sepak terjang mereka serta pola pikir dan kelicikan mereka. Sesuai dengan sifatnya 'yang berbeda', maka Fikih Lintas Agama itu pun berbeda dengan fikih hasil ijtihad para ulama. Di antara perbedaannya bisa disimplifikasikan/ disederhanakan sebagai berikut: 1. Dibiayai oleh lembaga orang kafir dan duit lembaga pendana itu dari orang kafir. 2. Ditulis oleh orang-orang yang latar belakang keilmuannya bukan ilmu fikih, namun rata-rata menggeluti filsafat atau perbandingan agama, atau tasawuf, atau ilmu kalam (bukan ilmu Tauhid). Kalau toh tadinya belajar ilmu fikih di Fakultas Syari'ah seperti Masdar F Mas'udi (salah satu dari 9 orang tim Penulis FLA Paramadina) pada perjalanan terkininya bukan lagi menekuni studi jurusan Fikih tetapi filsafat.

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

25 3. Cara ber-istidlal (mengambil dalil untuk menyimpulkan hukum) tidak ada konsistensi, sehingga antagonistis, bertabrakan satu sama lain. ,.Tidak jujur. dan Memperlakukan ayat-ayat Al-Qur'an semau mereka. 4. Pendapat yang sangat lemah pun dijadikan hujjah, lalu disimpulkan satu ketentuan, dan ketentuan yang berdasarkan pendapat sangat lemah itu kemudian untuk menghukumi secara keseluruhan. Akibatnya, hukum dibalik-balik, yang haram jadi halal. Pembolak-balikan itu untuk mempropagandakan "aqidah dan Fikih yang berbeda" yaitu di antaranya: Ulama diposisikan sebagai orang durjana, Orang kafir naik kedudukannya yanguaranya bisa dijadikan hujjah untuk membantah ulama, bahkan bisa-bisa untuk membantah hadits bahkan naik lagi bisa untuk membantah ayat Al-Qur'an. : (1)Orang kafir berhak nikah dengan Muslim dan Muslimat. (2)Orang kafir berhak mendapatkan waris dari orang Muslim. (3) Orang Muslim tidak boleh menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan siyasah. (4) Orang Muslim dalam kehidupannya hanya boleh diatur pakai selain syari'at Islam. Salah satu Komentar-Komentar Hartono dalam bukunya berjudul Menangkal bahaya JIL dan Fikih Lintas Agama.44 1. Prof Dr. Nurcholish Madjid ” Umat Islam pun diperintahkan untuk senantiasa menegaskan bahwa kita semua, para pengikut Kitab suci yang berbeda-beda itu, sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan sama-sama pasrah (muslimun) KepadaNya. KOMENTAR HARTONO Ini satu bentuk penyembunyian kebenaran, Sebab Allah Menegaskan dalam AlQuran : At-Tauba:29 29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. [638] Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.

2. Dr. Alwi Shihab, Ketua Umum PKB ,” Prinsip lain yang digariskan oleh AlQuran adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan dengan begitu , layak memperoleh pahala dari Tuhan. KOMENTAR HARTONO: ungkapan itu bertentangan dengan ayat-ayat Allah
44

Hartono Ahmad Jaiz, Menangkal bahaya JIL dan Fikih Lintas Agama.hal 56 -

59

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

26 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Dan Al-maidah 72. Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

3. Ulil Abshar Abdallah (JIL) ” Semua agama sama, Semuanya menuju jalan Kebenaran, Jadi Islam Bukan yang paling benar KOMENTAR HARTONO: Ungkapan ini bertentangan dengan ayat: Ali-Imram ; 85,Al-Baqarah : 147 dan Yunus 32 Al-Baqarah : 147 2:147. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu Yunus :32. Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Menurut Hartono Buku Fikih Lintas Agama Paramadina tersebut tidak ilmiah , memalukan dan menghina serta melecehkan , sahabat Nabi terutama Abu Hurairah (FLA Hal 70) dan juga imam Asy-Syafi ’ i serta memutar balikan peryataan Ibnu Taimiyah. Bayangkan didalamnya terdapat pembolehan untuk hadir diupacaraupacara orang kafir. Landasannya diantaranya adalah hadirnya Yasser Arafat dan istrinya Suha di acara tengah malam di Gereja Saint Catherine di Betlehem, dan perayaan Natal di gereja yang sama, setelah mengikuti Teraweh di Mesjid dekat Gereja tersebut. (FLA hal 85). Lalu pada halaman yang sama Ketua MPR RI Amien Rais menghadiri perayaan Natal di Gereja Sentrum Tondano , Ibukota kabupaten Minahasa Sul-sel, 19 desember 2000. Komentae larangan untuk hadir pada acara keagamaan orang kafir terdapat pada ayat Al-Furqan ayat 72 dengan artinya ” Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.45 Teologi Pruralisme itu kafir, terhadap akidah pruralisme agama, Hartono membacakan petikan fatwa Lajnah Dailamah yang terdapat dalam disertasi Dr. Ahmad Al-Qadhi yang berjudul Da’watut Taqriib Bainal Adyan 4 jilid, terbitan
45

Hartono, hal 116

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

27 Darul Jauzi, Damam Saudi Arabia, 1422 H intinya: ”Dan diantara Ushulil Islam (prinsip-prinsip Islam) bahwa wajid yakin kekafiran orang yang tidak masuk Islam, Yaitu Yahudi, Nasrani, dan lainnya, dan menamakan Kafir , Dia adalah musuh Bagi Allah, Rasul dan orang-oranga Mukmin dan dia termasuk ahli (penghuni tetap) neraka, sebagaimana firman Allah : : Al-bayyinah 1 dan 6 1. Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata 6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Menurut Hartono ajaran semua agama adalah kepasrahan terhadap Tuhan konsepini adalah jiblakan dari ide Wilfred Cantwell Smith, bisa dilihat dalam buku berjudul The Meaning and end of Religion sama dengan konsep sekularisme Cak Nur yang dibuktika oleh Adian Ide menjiblak ide Harvey Cox , segi persamaan yang sangan asasi antar semua kitab suci adalah ajaran ketuhana Yang Maha Esa. Kita dapat bertanya pada Cak Nur dan kawan-kawan apakah konsep trinitas , Trimurti dapat disamakan dengan konsep keTuhanan dalam Konsep Tauhid Islam46

C. KRITIK CAK NUR ATAS NALAR FUNDAMENTALIS ISLAM Sebagai pelarian, Fundamentalis keagamaan pun tidak begitu jauh dari kultus. Unsur-unsur yang menjadi ciri utama kultus juga merupakan unsur-unsur yang menjadi ciri utama fundamentalism seperti ketertutupan, pemaksaan disiplin keras, hasutan kepada pengorbanan hati dan jiwa yang tidak proporsional, janji janji keselamatan yang diberikan dengan tegas dan sederhana...karena itu bagaimanapun kultus dan fundamentalis hanyalah pelarian dalam keadaan tidak berdaya, sebagai sesuatu yang hanya memberikan hiburan ketenangan semu atau palliative, kultus, dan fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan Narkotika, tetapi narkotika menampilkan bahaya hanya melalui pribadi yang tidak memiliki kesadaran penuh (teler), baik secara perseorangan maupun kelompok, sehingga tidak akan menghasilkan gerakan sosial dengan suatu kedisiplinan keanggotaan para pengguna narkotika-bukan keanggotaan sindkat para penjualnya, sedangkan kultus dan fundamentalis dengan sendirinya melahirkan gerakan disiplin dengan disiplin yang tingi, maka penyakit yang terakhir inilah yang jauh lebih berbahaya dari pada yang pertama.47

Hartono , hal 125 Menembus batas tradisi menuju masa depan yang membebaskan, refleksi atas pemikiran Nurcholish Madjid. Universitas Paramadina., penerbit Kompas 2006 hal 56
47

46

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

28 Ciri-ciri fundamentalis Islam .(1) mereka yang penting adalah ketaatan mutlak kepada wahyu Allah yang berlaku secara universal, dimana iman dan ketaatan terhadap wahyu Tuhan sebagaimana tercantum dlam al-quran dan Hadist lebih penting dari pada penafsiran-penafsiran terhadap kedua sumber utama pedoman kehidupan umat manusia, kecenderungan dokrin secara murni dan totalitas.(2) fundamentalis menekankan pengunaan terminologi politik yang menurut anggapan mereka ”islami,” dokrin keagaman diterjemahkan bukan sekedar rumusan teologis tetapi juga suatu sistem keimanan dan tidakan politik yang komprehensif dan ekslusif, Karenanya bagi kaum fundamentalis, makna-makna subtantif dari suatu terminologi atau tindakan politik tidaklah terlalu penting. Pemeliharaan kaum fundalis terhadap skripturalisme , mendorong mereka untuk menggunakan pendekatan literal dan tekstual dalam mengartikulsikan gagasan-gagasan sosila politiknya48 (3) Dalam berpolitik fundamentalis menafsirkan syariah sebagai ruh dan pondasi tiga pilar utama yaitu : agama, dunia, dan negara, Syariah dianggap sebagai hukum Tuhan yang ditafsirkan secara ketat dan diimplementasikan dalam sistem kehidupan ketatanegaraan, kostitusi , pemerintahan, dan masyarakat. Dengan kata lain mereka umumnya hanya ”syariah minded”. Fundamentalis tidak mempunyai apresiasi dan bahkan antipati terhadap pruralisme. Kecenderungan untul menafsirkan teks-teks agama secara literal dan legal ekslusif telah menyebabkan mereka menarik garis demarkasi yang tegas antara muslim dan non muslim, bahkan kepada muslim sekalipun, jika dianggap tidak sesuai dengan tafsiran subyektif mereka tentang kebenaran yang diyakini. Dimana kaum fundamentalis mempunyai kecenderungan untuk berpijak pada konsep us (minna) dan them (minhum) yang bermuara pada justifikasi personal terhadap kaum yang lain dengan simplikasi penggolongan sebagai :muslim” atau kafir dalam konteks politik sekarang . Kaum fundalis sangat percaya dengan teori konspirasi yang didasarkan pada kecurigaan yang tinggi terhadap kelompok-kelompok non islam (terutama Yahudi dan Nasrani) tentang agenda-agenda politik mereka yang dianggap destruktif terhadap Islam dan umat Islam. 49 Cak Nur mendesak umat Islam untuk terbiasa berfikir ilmiah, rasional dan kritis terhadap perkembangan keadaan seiring dengan mordenisasi. Dan diharapkan umat islam membiasakan diri untuk terbuka terhadap perubahan termasuk merespons modernsasi, tetapi tetap aktif dan kreatif terhadap modernisasim Umat islam tidak statis merespons modernisasi dengan sikap kritis dan selektif, bisa memanfatkan ide-ide yang baik dari modernisasi itu sendiri, sayangnya menurut Cak Nur, Umat Islam saat itu termasuk ormas-ormasnya telah menjadi jumud dan bahkan mereka yang tergolong sebagai kelompok modernis Islam pun telah berhenti dan gagal sebagai pembaru. 50 Bagi Cak Nur bagaimana umat Islam mengembangkan dimensi pruralisme itu sebagai sistem nilai yang memandang secara positif optimis terhadap kemajemukan itu sendiri. Dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin atas dasar kenyataan itu. Jika dokrin Islam ini diproyeksikan kepada Masyarakat Indonesia , maka kemajemukan sosial – budaya yang merupakan ciri menonjol Indonesia sebagai sesuati nation harus dipertimbangkan.
48 49

Ibib hal 58 Menembus tradisi hal 58 50 Ibid hal 61

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

29 Menurut Cak Nur Pencarian kebenaran yang tulus akan menghasilkan sikap pasrah (islam) kepada kebenaran, Tanpa sikap pasrah menurut pencarian pada kebenaran tidak memiliki kesejatian (otentitas) dan tidak akan membawa kebahagiaan. Kemudian Caknur berkesimpulan sebaik-baiknya agama disisi Allah adlah semangat mencari kebenaran yang lapang toleran, tidak sempit , tidak fanatik, dan tidak membelenggu jiwa51

BAB IV MESTIKAH BUNDA TERESA MASUK NERAKA MURTHADHA MUTHAHHARI seorang Guru besar Unversitas Teheran , Arsitek Republik Islam Iran, dalam satu karyanya yang mendapat penghargaan UNESCO PBB, dalam bukunya yang berjudul ”MESTIKAH BUNDA TERESA MASUK NERAKA”? JIKA MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK DIMASUKAN KEDALAM API NERAKA ATAU JIKA AKHIR KEDIAMAN KEBANYAKAN MANUSIA ADALAH NERAKA MAKA SESEORANG HARUS MENERIMA BAHWA MURKA TUHAN MENGGANTIKAN KASIHNYA

Apakah karena beliau bukan muslim, tapi seorang non muslim yang mengabdikan dirinya pada manusia yang papa dan tidak dipedulikan sepanjang hidupnya yaitu pasienpasien miskin yang berpenyakit kusta, harus masuk Neraka, dan Segala perbuatan baiknya akan sia-sia. Kesimpulan dari buku tersebut adalah:52 1. Keselamatan maupun kemalangan , keduanya memilki derajat dan tingkatan, apakah berkenaan dengan orang yang sama tingkatannya, maupun yang berbeda tingkatannya. Tingkatan dan perbedaan ini disebut derajat ”tingkatan naik: berkenaan dengan penghuni surga. Dan darakah ”tingkatan turun” berkenaan dengan penghuni neraka. 2. Tidak berarti bahwa semua penghuni surga masuk surga sejak permulaannya, sebagaimana penghuni neraka juga tidak semuanya kekal didalamnya, kebanyakan penghuni surga adalah yang masuk surga setelah memjalani masa hukumannya terlebih dahulu, baik di alam barzah maupun di akhirat. Semua muslim non Syiah atau muslim syiah harus mengetahui bahwa anggapan ia mati dengan akdah yang benar, Jika Allah melarang dia berbuat dosa, zalim, jahat ,
51

Ibid hal 217

52

Murtadha Muthahhari, mestikah Bunda Teresa Neraka ? Pustaka Iiman , juli 2006 Hal 159-163

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

30 maka ia melewati tahap-tahap sulit dan menderita dan beberapa dosa memiliki bahaya lebih besar dan mungkin menyebabkan seseorang berada selamanya dineraka. Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan akhirat, umumnya tidak melakukan berbagai perbuatan dengan niat yang membuat amalnya naik menuju Allah, dan karena mereka tidak melakukan perbuatan baik dengan niat tersebut , mereka tidak keatas menuju Allah dan akherat. Jadi mereka tidak naik menuju Allah dan tidak mencapai surga. Karena mereka tidak bergerak kesana Jika orang-orang beriman kepada Allah dan Akherat serta melakukan perbuatan baik dengan niat mencari kedekatan dengan Allah, dan dilakukan dengan iklash, perbuatan mereka diterima Allah dan mereka berhak memperoleh pahala dan surga, baik mereka itu muslim atau pun Non muslim. Non Muslim yang beriman kepada Allah dan akherat serta melakukan perbuatan baik dengan niat memcari kedekatan dengan Allah, tetapi tidak beragama Islam sehingga terhalang dari menjalankan program ilahi, maka perbuatan baik mereka diterima selama sesuai dengan program ilahi, seperti berbagai bentuk pengabdian kepada mahluk Allah, tetapi amal ibadah tampa dasar tidak dapat diterimaa dan serangkai penyimpangan yang berasal dari tak tersediannya program yang sempurna. Diterimanya program baik apakah itu muslim atau bukan memiliki penyakit tertentu yang dapat merusak perbuatan baik tersebut, sumber segala penyakit adalah penolakan, pembakangan, keingkaran, kafir sengaja. Maka jika non muslim melakukan sejumlah perbuatan besar perbuatan baik dengan niat memdekatkan diri Kepada Allah,tetapi ketika kebenaran Islam dihadirka kepada mereka lalu mereka menolak dan membangkang serta mengabaikan kejujuran dirinya dan pencarian atas kebenaran , maka semua amal baiknya menjadi nihil dan sia-sia ” seperti debu yang tertiup angin kencang pada suatu hari berangin kencang. Muslim dan semua muwahid (monoteis) yang benar, jika mereka berbuat tidak senonoh dan melanggar serta menghianati aspek praktis program ilahi, berhak mendapat hukuman yang sama dialam barzah dan pada hari keadilan, Dan adakalanya kerena beberapa dosa, seperti membunuh orang beriman tak berdosa dengan sengaja akan menerima hukuman yang abadi Perbuatan yang baik orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Pengadilan, bahkan orang orang yang memnyekutukan Allah, akan diringankan hukuman mereka dan adakalanya dihapus. kebahagiaan dan kemalangan sehubungan dengan syarat-syarat aktual dan kreatif, bukan syarat-syarat konvensional dan buatan manusia

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Surat Al-baqorah (2) : 62, Sesungguhnya orang-orang mukmin , orang-orang Yahudi ,orang-orang Nasrahi dan orang-orang shabiin ,siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian , dan beramal saleh , mereka akan menerima pahala dari tuhan. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tiada pula mereka bersedih hati.

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

31

KESIMPULAN Nurcholis Madjid Lahir di Jombang , Jawa Timur, 17 Maret 1939 Meninggal di Jakarta, tanggal 29 Agustus 2005 mempunyai satu orang Isteri bernama Omi Komariah mempunyai 2 orang anak Pendidikannya mulai di Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1955, kemudian Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960 Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hidayah tullah, Jakarta, 1965 (BA, Sastra Arab) Institute Agama Islam Negeri (IAIN), syarif hidayatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus, Sastra Arab) The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois,USA,tahun1984(Ph.D,StudiAgamaIslam). Menurut Cak Nur Mordenisasi ialah rasionalisasi, bukan westernisasi , mordenisasi identik dengan rasionalisasi yang berarti suatu perombakan pola pikir dan tata kerja yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang lebih rasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh daya guna dan efisiensi yang maksimal. Proses demikian diperoleh berdasarkan penerapan hasil temuan pengetahuan muktahir. Karena ilmu pengetahuan tidak lain adalah pemahaman manusia atas hukum-hukum obyektif yang mengatur alam semesta ini. Mordenisasi merupakan keharusan , dan bukan bisa disebut kewajiban mutlak sebab mordenisasi dalam pengertian ini berarti bekerja dan berfikir menurut aturan sunatullah. Menjadi modern berarti mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah serta bersikap dinamis dan progresif dalam mendekati kebenaran-kebenaran universal53 Islam yes, partai Islam no”. Nurcholish ketika itu menganggap partai-partai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dianggap sakral dan orang Islam yang tak memilih partai Islam dalam pemilu dituding melakukan dosa besar. Dr. Nurcholish Madjid , dalam bukunya Islam Dokrin dan Peradaban menyatakan ,bahwa Islam di Indonesia: adalah masalah kemajemukan. Pluralitas (kemajemukan) manusia adalah kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Jika dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersukusuku agar mereka saling mengenal dan menghargai Dalam kitab suci juga disebutkan bahwa perbedaan antara manusia dalam bahasa dan warna kulit harus diterima sebagai kenyataan yang positif, yang merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Bahkan al-Quran juga mengisyaratkan bahwa para penganut berbagai agama, asalkan percaya kepada tuhan dan Hari kemudian serta berbuat baik semuanya akan selamat

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

32 QS 2:62, Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabii], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah], hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Ringkasnya menurut Cak Nur bahwa Pruralime adalah aturan Allah atau sunatullah, hendaknya perbedaan menjadi suatu yang saling melengkapi , bukan untuk membuat jurang konflik dan perbedaan berkehidupan bermasyarakat, karena tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Kita hidup harus dalam iklim saling hargai-menghargai. Karena keselarasan dan keamanan adalah kunci sukses pengabdian kira kepada Allah, dengan rasa aman dan pasra kepada ketentuan Allah, Tuhan yang maha Esa, kita hidup dan aman menjalankan kehidupan beragama dengan rasa cinta dan moral kepada sesama Karena manusia tidak mungkin mengetahui kebenaran yang mutlak, pengetahuan manusia itu betapa pun tingginya, tetap terbatas. Karena itu setiap orang ditunjuk untuk cukup bersikap rendah hati guna bisa mengetahui lebih tinggi. Tawhid menghasilka bentuk hubungan kemasyarakatan manusia yang menumbuhkan kebebasan menyatakan pikiran dan kesedian mendengarkan pendapat. Adalah menjadi kewajiban semua umat beragama untuk pasrah terhadap aturan Tuhan yang maha esa, menjalankan ketawaan , dan ibadat yang sungguh-sungguh, yang di implementasikan dalam kehidupan sosial ,kehidupan yang bermoral , yang membawa rahmat kepada masyarakat, bangsa dan negara demokrasi, yakni pengaturan tatanan kehidupan atas dasar kemanusiaan, yakni kehendak bersama. Dan iman kepada Allah menuntuk agar segala perkara antar manusia diselesaikan dengan musyawarah. Demokrasi justru diciptakan untuk mengatasi perbedaan pendapat, tapi cara mengatasinya harus damai , human, konstitusional dan tidak berdarah. Sebab konflik bisa berdarah. Dan kalau setiap konflik diselesaikan berdarah kan masyarakat bisa hancur. Menurut Cak Nur Sesungguhnya al-Asy'ari bukanlah seorang Jabari 'sehingga dapat disebut fatalis. Tetapi ia juga bukan seorang Qadari yang berpaham tentang kemampuan penuh manusia menentukan perbuatannya, seperti kaum Mu'tazilah dan Syi'ah. Al-Asy'ari ingin menengahi antara kedua paham yang bertentangan itu, sebagaimana dalam bidang metodologi ia telah menengahi antara kaum Hanbali yang sangat naqli (hanya berdasar teks-teks suci dengan pemahaman harfiah) dan kaum Mu'tazili yang sangat 'aqli (rasional). Dapat disimpulkan bahwa Sehingga adalah menjadi suatu pemahaman bahwa kepasrahan harus di ikuti dengan ikhtiar dan usaha, karena keadilan maupun kekuasaan AllAH adalah meliputi seluruh alam dan isinya Diluar kritik pedas maupun perbedaan pemahaman pemikiran yang ditujukan kapada Cak Nur bahwa Teologi Pruralisme itu kafir, terhadap akidah pruralisme agama, Hartono membacakan petikan fatwa Lajnah Dailamah yang terdapat dalam disertasi Dr. Ahmad Al-Qadhi Bila Berpegang pada keyakinan bahwa orang diluar Islam adalah kafir maka buda teresa yang non muslim tapi sangat baik pengamdiannya pada manusia adalah kafir yang akan masuk Neraka.

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

33 Menurut MURTHADHA MUTHAHHARI seorang Guru besar Unversitas Teheran , Arsitek Republik Islam Iran, dalam satu karyanya yang mendapat penghargaan UNESCO PBB, dalam bukunya yang berjudul ”MESTIKAH BUNDA TERESA MASUK NERAKA”? Non Muslim yang beriman kepada Allah dan akherat serta melakukan perbuatan baik dengan niat memcari kedekatan dengan Allah, tetapi tidak beragama Islam sehingga terhalang dari menjalankan program ilahi, maka perbuatan baik mereka diterima selama sesuai dengan program ilahi, seperti berbagai bentuk pengabdian kepada mahluk Allah, tetapi amal ibadah tampa dasar tidak dapat diteria dan serangkai penyimpangan yang berasal dari tak tersediannya program yang sempurna. Janganlah perbedaan pendapat membawa konflik yang menjerumuskan kita pada perpecahan, tapi menjadi wahana pengembangan ilmu pengetahuan dan pencerahan dalam kehidupan berkembangsaan yang adil , dan bijaksana. Perbedaan pendapat dan pemikiran, menjadi kancah keragaman ke bhinekaan yang tunggal ika. Karena Allah Dengan Keadilan dan Kekuasaannya Adalah menciptakan Manusia untuk Menjadi Khalifah dan menghadirkan Islan rahmatan lil alamin. Kepasrahan kita kepada Allah diimplementasikan dengan ikatan empati dan solidaritas sosial kepada sesama manusia tampa memandang ras, agama dan bangsa. Bila Diluar Islam adalah Kafir , berarti semua mahluk beragama diluar Islam adalha kafir, baik dia yang menjalankan agama nya dengan baik, yang berbuat baik atau pun yang mempunyai karya besar bagi umat manusia, apakah orang seperti Mother Teresa harus masuk Neraka? Surat Al-baqorah (2) : 62, Sesungguhnya orang-orang mukmin , orangorang Yahudi ,orang-orang Nasrahi dan orang-orang shabiin ,siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian , dan beramal saleh , mereka akan menerima pahala dari tuhan. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tiada pula mereka bersedih hati. JIKA MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK DIMASUKAN KEDALAM API NERAKA ATAU JIKA AKHIR KEDIAMAN KEBANYAKAN MANUSIA ADALAH NERAKA MAKA SESEORANG HARUS MENERIMA BAHWA NURKA TUHAN MENGGANTIKAN KASIHNYA

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

34 DAFTAR PUSTAKA

Dr. Nurcholish Madjid , Islam Dokrin dan Peradaban ,penerbit wakaf Paramadina, jakarta 1992. Hartono Ahmad Jaiz , Menangkal Bahaya JIL DAN FLA, Pustaka AlKautsar, 2004 Menembus batas tradisi menuju masa depan yang membebaskan, refleksi atas pemikiran Nurcholish Madjid. Universitas Paramadina., penerbit Kompas 2006 www.tokohIndonesia.com AL-QURAN DAN TERJEMAHAN Abdul Qadir,M Ag, Jejak langkah Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia , pustaka setia bandung 2004

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->