P. 1
PENETASAN UNGGAS

PENETASAN UNGGAS

|Views: 61|Likes:
Published by adhari_globalnet

More info:

Published by: adhari_globalnet on May 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu. Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang berkembangbiak dengan cara bertelur. Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan. Bila tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja. Adapun untuk menetaskan telur perlu diperhatikan hal-hal yang menunjang keberhasilan dalam menetaskan. Untuk memperbanyak populasi hewan unggas seperti itik, ayam, dan burung puyuh dibutuhkan cara penetasan telur yang tepat, yaitu pengeraman telur tetas yang akan diperbanyak. Pengeraman ini dapat terjadi jika sifat mengerami telur pada unggas itu telah muncul. Misalnya pada ayam buras, sifat mengerami telur tampak jelas sekali. Pada saat sifat ini muncul, ayam buras tidak akan mau lagi bertelur. Berbeda dengan ayam ras yang sifat mengeramnya dapat diatur atau dihilangkan dari induknya. Penetasan pada prinsipnya adalah menyediakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan embrio unggas. Lama penetasan telur ditempat pengeraman sangat tergantung dari jenis hewannya. Semakin kecil hewan, semakin kecil telur yang dihasilkan. Dan, semakin tinggi suhu badan hewan, semakin pendek waktu penetasan telurnya. Bila bentuk telur dan ukurannya seragam, waktu penetasan akan selalu hampir bersamaan. Berbeda dengan ayam, jenis unggas lain seperti itik dan puyuh tidak mempunyai sifat mengeram. Dahulu, untuk memperbanyak populasinya hanya dengan seleksi alam, baik oleh induknya maupun oleh lingkungan. Namun saat ini, dengan adanya alat penetas buatan akan mempermudah perbanyakan populasi unggas ini.

1

Mesin tetas modern pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat sekitar abad 17-an dan berkembang terus hingga kini. Alatnya sederhana.2 Tujuan 1. 4.Sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi orang berusaha dan mencoba penetasan tiruan tanpa melalui induk unggas. karena memang prinsipnya sederhana. berupa tungku – tungku yang dapat memuat ribuan telur. Di Indonesia. Mengetahui syarat penetasan telur yang baik. 1. Usaha itu mulai dikembangkan pada akhir tahun 1959-an dan berkembang terus hingga kini. Mengetahui apa itu penetasan telur. Mengetahui faktor yang mempengaruhi penetasan telur. sebenarnya mesin tetas buatan telah ada sebelum zaman kemerdekaan dengan prinsip dan cara pengoperasian mirip dengan mesin tetas sekarang. 2. Usaha – usaha lain terdapat pula didaratan Cina. Usaha – usaha tersebut antaralain dilakukan oleh orang Mesir kuno yang pada saat itu memang sudah tinggi kebudayaannya. dan menghasilkan anak ayam yang cukup banyak (persentase daya tetas yang tinggi). Mulai dari kapasitas seratus hingga ribuan. Walaupun masih dalam bentuk yang sederhana. jauh sebelum jaman Aristoteles. tetapi Indonesia sudah mampu membuatnya. 3. juga ribuan tahun sebelum masehi. Mengetahui tata laksana penetasan telur. 2 . Di Mesir sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan sinar matahari telah dicoba orang kala itu.

Bila hal ini diabaikan. Menetaskan telur dengan induk ayam Pengeraman telur secara alami (dengan induk ayam) untuk memeperbanyak populasi telah dilakukansejak adanya pemeliharaan ayam. Perbanyakan populasi unggas biasanya ditempuh dengan cara menetaskan telur yang sudah dibuahi. 2000). Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman hanya sekitar 10 – 15 butir telur. selama mengerami telurnya tidak berproduksi telur serta memudahkan penularan penyakit dari induk kepada yang baru menetas (Sukardi. Menurut Paimin (2000) penetasan telur ada dua cara. Penetasan telur secara alami mudah dilakukan karena pengeraman telur sepenuhnya diserahkan pada induknya sehingga tidak memerlukan pengetahuan khusus. Saat itu belum ada alat pengganti induk ayam. 3 . untuk mesin tetas sangat bervariasi tergantung kapasitas mesinnya (minimal 100 butir telur). 1. kejelekan dari penetasan alami diantaranya adalah kapasitasnya kecil. Saat ini campur tangan manusia dalam pembuatan sangkar telah dilakukan. Yang perlu disiapkan untuk proses ini adalah tempat penetasan telur yang kelak akan menghasilkan individu baru. yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan melaui penetasan buatan (mesin tetas). Biasanya induk akan membuat sendiri sarangnya dengan menggunakan naluri kehewanan nya dan dapat menentukan baik tidaknya sarang yang telah dibuatnya. 1999). Alasnya terbuat dari rumput atau jerami yang bersih dan lembut. kegagalan penetasan menjadi lebih besar.BAB II PEMBAHASAN 2. tidak memerlukan peralatan khusus serta tidak ada ketergantungan terhadap tersedianya sumber panas. Akan tetapi.1 Penetasan telur Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Akan tetapi. Semua proses penetasan ditumpukan sepenuhnya pada induk ayam itu sendiri. Tempat penetasan ini biasa disebut sarang atau sangkar. terutama pada induk ayam yang baru belajar mengerami telurnya (Paimin.

2. Betapa kacaunya model pemeliharaannya karena harus punya beberapa kandang pembesaran. Agar produksi dari seekor induk lebih banyak. Jika mempunyai 10 ekor induk. tiga hari kemudian ada yang menetas lagi. ayam atau unggas itu tidak akan bertelur (Rasyaf. 3. Karena ada jenis unggas yang mempunyai naluri atau sifat mengeram sedikit atau bahkan tidak punya sifat itu seperti itik. Jumlah telur yang mampu dierami induk terbatas sehingga menyulitkan manajeman pemeliharaan. 1990). dan puyuh. sehingga telur dapat menetas (Sukardi. Selama mengeram hingga anaknya disapih. maka pada cara kedua ini 100% aktivitas penetasan itu membutuhkan campur tangan manusia dan sang induk tidak tahu menahu masalah penetasan. 2000). yaitu dengan matahari dan sekam serta mesin tetas. Kalau menggunakan jasa menthok atau lainnya maka perlu tambahan biaya untuk pemeliharaan menthok tersebut. bahkan dapat kita buat sendiri. yaitu menyediakan kondisi lingkungan (temperatur. Mengapa penetasan telur perlu dilakukan ? 1. dua minggu ada yang menetas lagi. 1999). baik panas matahari maupun panas listrik ataulampu teplok (Paimin. karena umumnya menggunakan tenaga panas. Saat sekarang ada yang menetas. Menetaskan telur dengan alat tetas buatan Berbeda dengan cara pertama. bahkan ada yang menetas mungkin satu-dua bulan lagi. Induk unggas itu hanya bertelur dan tidak punya tugas untuk menetaskan telur tetas melalui aktivitas pengeraman. Dari kedua jenis ini pun terdapat bermacam – macam jenis alat tetas yang prinsip kerjanya sama. Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami. ayam arab. 2. Alat – alat ini sederhana. 4. Hal ini disebabkan umur untuk berproduksi berkurang dengan adanya sifat mengeram dan mengasuh anak. Penetasan buatan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut mesin tetas atau inkubator. Sebagai sarana pencegahan penyakit. karena di dalam proses penetasan buatan terdapat program penyucihamaan telur dan ruangan mesin tetas dengan 4 . kelembaban dan sirkulasi udara) yang sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan optimal. Penetasan dengan alat tetas buatan terbagi atas dua car. Sehingga yang semula seekor induk hanya mampu berproduksi telur hanya 60-75 butir/tahun dapat meningkat menjadi 100-120 butir/tahun.

Sehingga suhu yang diperlakukan untuk penetasan telur ayam menurut kondisi buatan dapat sedikit berbeda dengan suhu optimum telur untuk mendapatkan hasil yang terbaik. sedangkan untuk hari – hari berikutnya diperlukan 70%.2 Syarat – Syarat Penetasan Telur Agar mencapai hasil yang diinginkan. Sedangkan pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban nisbi mendekati 60%. 2.55 – 1. 2008). Selama Kelembapan dalam induk buatan penetasan berlangsung diperlukan kelembapan yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan embrio. 5 .550C) atau rata – rata sekitar 100. maka telur yang ditetaskan harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut : 1. Kelembaban juga mempengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. Kalau penyucihamaan dilakukan dengan benar maka dapat memutus jalur penyebaran penyakit yang merugikan dapat merugikan (Harianto. sesudah telur diletakan dalam alat penetasan atau mesin tetas.110C).110C). Cara ini bertujuan untuk mendapatkan suhu telur tetas yang diinginkan.660C). Perlu diperhatikan bahwa suhu ruang penetasan harus sedikit diatas suhu telur yang dibutuhkan. perpindahan Ca dari kerabang ketulang – tulang dalamperkembangan embrio lebih banyak. sebaiknya suhu diturunkan sekitar 2 – 30F (0.40F. Saat kelembaban nisbi terlalutinggi. pembelahan sel segera berlangsung dan embrio akan terus berkembang sempurna dan menetas. Mulai hari pertama hiungga hari kedelapan belas kelembaban nisbi yang diperlukan sebesar 60%.desinfektan. Biasanya. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.33 – 40. Suhu dan perkembangan embrio Embrio akan berkembang cepat selama suhu telur tetap di atas 90 0F (32. Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas diperlukan suhu ruang penetasan antara99 – 1000F (35 – 41. 220C) dan akan berhenti berkembang jika suhu dibawah 800F (26. Kelembaban nisbi yang umum untuk penetasan telur ayam sekitar 60 – 70 %. sedangkan pada hari kesembilan belas hingga menetas. Adapun suhu yang umum untuk penetasan telur ayam adalah sekitar 101 – 1050F (38. 2.

8%.2000). Jika kerabang tertutup oleh kotoran. Menurut Djanah Djamalin (1981). Jangka waktu yang diperlukan untuk penetasan telur pada masing – masing spesie dapat dilihat pada tabel berikut : Spesies Ostrich Angsa Itik manila Kalkun Itik Puyuh bobwhite Ayam Puyuh Jepang Burung merpati (Sukardi. semakin besar ukuran tubuh dari masing – masing spesies semakin besar pula ukuran telurnya dan semakin lama jangka waktu yang diperlukan untuk menetaskan telurnya.5% gas CO2 dan 21% O2 (Paimin.5%. Jangka waktu lamanya penetasan yang diperlukan pada masing – masing spesies unggas berbeda satu sama lain. Peningkatan kadar karbondioksida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya daya teteas telur.5 – 0. pertukaran gas oksigen dan karbondioksida akan mengalami gangguan.5%.3 Tata laksana Penetasan Telur Keberhasilan penetasan telur sangat tergantung pada manajemen penetasan. Jika kadar karbondioksida meningkat 1%. Untuk itulah didalam mesin tetas harus cukup tersedia oksigen. Ventilasi Perkembangan normal embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori – pori kerabang telur. embrio akan mati sebelum menetas. 3. 2. Ada kecenderungan. dengan kadar optimum 0. maka kematian embrio dapat meningkat. sedangkan kadar oksigen menurun sekitar 0.kelembaban dapat diatur dengan memberikan air kedalam mesin tetas dengan cara meletakannya dalam wadah ceper. 1999). Penigkatan kadar karbondioksida yang masih diperbolehkan adalah sebesar 0. Hal – hal yang perlu diperhatikan pada tatalaksana penetasan adalah : Periode penetasan (hari) 42 35 35 35 28 24 21 17 17 6 . Sedangkan jika peningkatan sebesar 5%.5%. Dala keadaan yang demikian kadar karbondioksida akan meningkat sekitar 0. perimbangan udara dalam mesin tetas selama periode penetasan adalah 0.

Asal telur . Kerabang telur . b. 1999).1. 7 . dengan perbandingan untuk 1 m³ diperlukan KMnO4 6 gram dan Formalin 40% 12 ml. sehingga didalamnya tidak terkandung embrio ( infertil). Telur yang normal memiliki indeks telur sekitar 74%. telur yang terlalu kecil ataupun terlalu besar mempunyai daya tetas yang rendah. Fumigasi dengan menggunakan gas formaldehyde digunakan secara luas pada perusahaan penetasan telur. sehingga telur yang kecil akan menghasilkan bobot tetas yang kecil. d. c. Fumigasi merupakan upaya untuk membasmi mikroba tersebut. sehingga Pemilihan telur didalamnya terdapat embrio yang dapat berkembang bila kondisi lingkungannya sesuai. telur tetas adalah telur yang berasal dari induk yang dikawinkan. Bentuk telur . Disamping itu ukuran (bobot) telur mempunyai korelasi positif dengan bobot tetas. kemudian dilakukan fumigasi dengan menggunakan KMnO4 dan Formalin 40%. Besar telu . juga untuk melindungi isi sel telur dari gangguan fisik serta mencegah masuknya mikroba yang dapat merusak isi telur sehingga daya tetasnya rendah. telur mempunyai bentuk oval (bulat telur) dengan dua ujung yaitu ujung tumpul dan ujung lancip. gas tersebut mempunytai daya basmi terhadap mikroba yang tinggi ( Sukardi. demikian pula sebaliknya. yaitu telur konsumsi dan telur tetas. Jika telur tersebut dierami. setelah itu bak air dimasukkan dalam mesin tetas. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam memilih teluryang akan ditetaskan adalah : a. · Wadah/bak air diisi dengan air hangat-hangat kuku (38. Persiapan penetasan · Dengan melakukan sanitasi / membersihkan mesin tetas dari segala kotoran. Sesuai dengan kegunaannya. Fumigasi Telur yang baru diambil dari kandang telah tercemar mikroba yang populasinya tergantung pada tingkat kebersihan telur. kerabang telur disamping penting sebagai sumber mineral untuk pertumbuhan embrio. maka telur tersebut tidak dapat menetas. Telur konsumsi umumnya berasal dari unggas yang tidak dikawinkan.5ºC). telur dibedakan menjadi dua macam. karena disamping mudah dilakukan. 2. telur yang akan ditetaskan harus berasal dari induk yang dikawinkan.

dan bagian ujung tumpul berada diatas. 8 . atau sebaliknya apabila suhu sudah mencapai 101ºF tetapi lampu belum mati maka skrup pada termostat diputar ke kanan sampai lampu mati. · Susun telur yang akan ditetaskan pada rak telur dengan posisi kemiringan 45 derajat.· Hidupkan mesin tetas dan stabilkan suhu dalam mesin tetas hingga mendapatkan suhu yang konstan pada skala 101ºF. Cara mengatur suhu dengan merubah kedudukan skrup termostat. kemudian tunggu selama 24 jam. untuk telur itik perlu dilakukan penambahan kelembaban dengan pengabutan air pada telur maupun dalam mesin atau telur di basahi dengan air hangat dilakukan setiap pembalikan telur. Pekerjaan ini di ulang-ulang hingga diperoleh suhu 101ºF. · Penambahan kelembaban. apabila sudah tidak berubah lagi maka mesin tetas sudah siap digunakan. apabila suhu belum mencapai 101ºF lampu sudah mati maka skrup pada termostat diputar ke kiri sampai menyala. Pelaksanaan penetasan.

Hari ke 2 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. Hari ke 12 : Putar 3 kali dan pendinginan. Suhu 101ºF. m. Pemutaran dilakukan diluar sambil pendinginan 10 – 15 menit (Putar 3 kali dan pendinginan). Hari ke 14 : Putar 3 kali dan pendinginan. c. n. k. Ventilasi dibuka ¼ bagian. malam jam 22. Hari ke 17 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 16 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 11 : Putar 3 kali dan pendinginan. suhu 101ºF. d. g. Hari ke 13 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 7 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 19 : Putar 3 kali dan pendinginan.a. Hari ke 4 : Mulai pemutaran telur. ventilasi dibuka seluruhnya. l. ventilasi dibuka ¾ bagian. jangan lupa dicatat. b. Hari ke 9 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 3 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. siang jam 14. Hari ke 21 : Putar 3 kali dan pendinginan. kontrol air. v. kontrol air. pemutaran telur dilakukan sehari 3 kali yakni pagi jam 06. u. Hari ke 8 : Putar 3 kali dan pendinginan. Suhu 101ºF. ventilasi dibuka ½ bagian. j. h. p.00 (interval 8 jam) dengan cara membalik. Hari ke 5 : Putar 3 kali dan pendinginan. 9 . suhu 101 ºF. q. i. Hari ke 20 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 1 : Masukkan telur ke dalam mesin tetas setelah langkah-langkah persiapan sudah siap. Hari ke 22 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 23 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 10 : Putar 3 kali dan pendinginan. o. e. Lakukan pemerikasaan telur (candling) setelah 24 jam. ventilasi dibuka seluruhnya. f. Suhu 101ºF. catat posisi telur pada kartu kontrol. Hari ke 15 : Putar 3 kali dan pendinginan. r.00. mengeluarkan telur beserta raknya. air diperiksa dan jangan lupa dicatat. Hari ke 18 : Putar 3 kali dan pendinginan.00. s. w. Ventilasi ditutup rapat. dilakukan pemeriksaan telur dan hanya telur yang embrionya hidup yang dimasukkan kembali kedalam mesin tetas. Hari ke 6 : Putar 3 kali dan pendinginan. t. dilakukan pemeriksaan telur ke dua.

10 . keadaan mesin tetas utuh. rak maupun perlengkapan lainnya dikembalikan untuk disimpan atau digunakan lagi (Nuryati. anak itik dipindahkan ke kandang box dan diberi pemanas sebagai ganti induk itik dan diberi pakan starter. Hari ke 24 : Putar 3 kali dan pendinginan. 2000). Jangan lupa dicatat. untuk itik seyogyanya pemberian pakan dicampur air (sedikit basah).4 Faktor yang mempengaruhi Penetasan. aa. Hari ke 28 : Pada hari ini biasanya telur sudah mulai retak. air diperiksa jika perlu ditambah dengan air hangat. anak itik yang sudah kering dikeluarkan dari mesin tetas. z. 2. y. Hari ke 26 : Tidak dilakukan pemutaran tetapi tetap dikontrol. Hari ke 29 : Pada hari ini biasanya telur sudah menetas.x. pemeliharaan selanjutnya seperti memelihara itik unggas pada umumnya. Hari ke 25 : Putar 3 kali dan pendinginan. suhu dikontrol. peralatan thermometer. Pengakhiran praktikum Mesin tetas yang sudah selesai digunakan dicuci sampai bersih dan dicucihamakan kemudian dikembalikan ke ruang penetasan. Ventilasi dibuka seluruhnya. seperti kondisi saat peminjaman. Penanganan Anak itik Setelah anak itik menetas mencapai umur satu hari. dilakukan pemeriksaan telur ke tiga. ab.

Kelembaban yang dibutuhkan pada penetasan umur 1 hari – 25 hari adalah yang ideal antara 60% . e. adalah orang yang mengoperasikan mesin tetas. Lampu pijar harus mampu menghantarkan panas yang dibutuhkan untuk penetasan yakni 101ºF (38. Tugas operator selama penetasan adalah : a. sedangkan pada hari ke 26 sampai menetas membutuhkan lebih tinggi yaitu 75%. Mengatur suhu ruangan mesin tetas sesuai dengan suhu yang ditentukan.5ºC). Mengatur dan mengontrol kelembaban ruangan mesin tetas. Mencatat semua kegiatan yang dilakukan selama penetasan berlangsung. Pemutaran telur dilakukan dengan mengubah posisi telur dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Selain itu untuk mencegah agar embrio tidak menempel pada salah satu sisi kerabang telur. b. karena mesin tetas ini sumber panasnya dari energi listrik dan sebagai media penghantar panasnya menggunakan lampu pijar.70%. f. oleh karena itu air didalam mesin selama proses penetasan berlangsung tidak boleh kering. 11 . 2009). untuk menjaga kestabilan suhu digunakan alat yang namanya termoregulator. Sumber panas. Peneropongan. Melakukan pembalikan / pemutaran telur. 2. mempunyai tujuan untuk memberikan panas secara merata pada permukaan telur. Air. c. Pemutaran telur.Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan harus menjadi perhatian khusus selama proses penetasan berlangsung adalah : 1. 5. Operator. 4. Melakukan pemeriksaan telur dengan alat teropong. berfungsi sebagai bahan untuk mempertahankan kelembaban didalam ruangan mesin tetas. dilakukan karena untuk mengetahui keberadaan atau perkembangan embrio secara dini. 3. d. untuk telur dengan posisi mendatar yang bawah diputar menjadi diatas. kalau lampu pijar terputus harus segera diganti. Peneropongan biasanya dilakukan sebanyak 3 kali selama penetasan berlangsung yaitu pada hari ke 1. ke 7 dan hari ke 25 ( Gatot. apabila telur diberdirikan bagian yang tumpul harus diatas. maka selama proses penetasan berlansung lampu pijar harus diusahakan tidak terputus. Mengatur ventilasi mesin tetas.

b. Air. c. 12 . d. Syarat – syarat penetasan telur : suhu dan perkembangan embrio. kelembapan Tata laksana meliputi pemilihan telur dan fumigasi. Kesimpulan a.1. Peneropongan. dalam induk buatan dan ventilasi. Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Faktor yang mempengaruhi Penetasan yaitu : Sumber panas. Operator.BAB III PENUTUP 3. Pemutaran telur.

Rasyaf. Tips dan http://gatotleo. http://sentralternak. Muhammad. 2009. Penetasan 2008. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas. dkk. Harianto. Telur. 2000.com/2009/05/penetasanTrik dalam Penetasan Telur Unggas. 2000. Paimin. Sukardi. dkk. Fakultas Peternakan UNSOED. Yogyakarta. Kanisius. PT Penebar Swadaya. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Gatot. Diakses tanggal 25 Mei 2012. Jakarta.html.blogspot. 13 . telur. Tutik. 1999. Nuryati. 1990. Farry. Agus.php/2008/09/01/tips-dan-trik-dalam-penetasan-telurunggas/. Pengelolaan Penetasan. Dasar Ternak Unggas.com/index. Penebar Swadaya. Sukses Menetaskan Telur. Purwokerto. diakses tanggal 5 Mei 2012.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->