P. 1
AIDS

AIDS

|Views: 5|Likes:
Published by thevitrosky
by vitrosky
by vitrosky

More info:

Published by: thevitrosky on May 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2014

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

Istilah

HIV

(Humam

Immunodeficiency

Virus)

dan

penyakit

AIDS

(acquired

immunodeficiency syndrome) memiliki arti yang berbeda. HIV merupakan nama dari virus penyebab penyakit AIDS. Sedangkan penyakit AIDS adalah penyakit yang ditimbulkan oleh adanya penurunan kekebalan tuybuh hingga ke level rendah akibat infeksi HIV. Penderita infeksi virus HIV belum tentu penderita AIDS. Ada tahapan yang dilalui penderita untuk dinyatakan positif AIDS. Salah satunya adalah penurunan sistem kekebalan tubuh hingga level terendah ( yang diukur dari sel CD4 ) yang disertai gejala-gejalanya. Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang mengandung HIV yang melalui hubungan seksual, baik homoseksual atau heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen darah dari ibu yang terinfeksi HIV kebayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu kelompok resikok tinggi terhadap HIV/AIDS misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana¹.

Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar mengancam Indonesia dan banyak Negara di sel, Badan WHO yang mengurusi masalah AIDS memperkirakan jumlah odha diseluruh dunia pada desember 2004 adalah 35,9-44,3 juta orang. Saat ini tidak ada Negara yang terbebas dari HIV/AIDS. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara bersamaan, menyebabkan krisis kesehatan, krisis pembangunan negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan krisis multidimensi. Sebagai krisis kesehatan AIDS memerlukan respon dari masyarakat dan memerlukan layanan pengobatan dan perawatan untuk individu yang terinfeksi.²

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi

AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Humam Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV .¹ AIDS merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. AIDS adalah sindrom akibat defisiensi immunitas selluler tanpa penyebab lain yang diketahui, ditandai dengan infeksi opotunistik keganasan berakibat fatal. Munculnya syndrom ini erat hubungannya dengan berkurangnya zat kekebalan tubuh yang prosesnya tidaklah terjadi seketika melainkan 5-10 tahun setelah seseorang terinfeksi HIV.²

2.2. Epidemiologi

Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Meskipun demikian, dari beberapa literature sebelumnya ditemukan kasus yang cocok dengan defenisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika Serikat. Sampel jaringan potong beku dan serum dari seorang pria berusia 15 tahun di St. Louis, AS, yang dirawat dan meninggal akibat Sarkoma Kaposi desiminati dan pada 1968, menunjukkan antibodi HIV positif dengan ELISA. Pasien ini tidak pernah keluar negeri sebelumnya, sehingga diduga penularannya berasal dari orang lain yang juga tinggal di AS pada tahun 1960-an,atau lebih awal.²

Sejak 1985 sampai tahun 1996 kasus AIDS masih amat jarang ditemukan di Indonesia. Sebagian besar pada periode itu berasal dari kelompok homoseksual. Kemudian kasus jumlah baru HIV/AIDS semakin meningkat dan sejak pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam yang terutama disebabkan akibat penularan melalui jarum suntik. Sampai dengan akhir maret 2005 tercatat 6789 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan. Jumlah itu tentu masih sangat jauh dari jumlah sebenarnya. Departemen Kesehatan RI pada tahun 2002 memperkirakan jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi HIV adalah antara 90.000 sampai 130.000 orang.

Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Sebenarnya sebelum itu telah

3

ditemukan kasus pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagonis AIDS dan hasil ELISA tiga kali diulang, menyatakan positif. Hanya, hasil tes Westren Blot, yang saat itu dilakukan di AS, hasilnya negative sehingga di laporkan sebagai kasus AIDS. Kasus kedua infeksi HIV ditemukan pada bulan Maret 1986 di RS Cipto Mangunkusumo, pada pasien hemophilia dan termasuk jenis non-progessor, artinya kondisi kesehatan dan kekebalannya cukup baik selama 1a7 tahun tanpa pengobatan, dan sudah dikonfirmasi dengan Western Blot, serta masih berobat jalan di RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2002.

Sebuah survey yang dilakukan di Tanjung Balai Karimun menunjukkan peningkatan jumlah pekerja seks komersil (PSK) yang terinfeksi HIV yaitu dari 1% pada tahun 1995/1996 menjadi lebih dari 8,38% pada tahun 2000. Sementara itu survey-survey yang dilakukan pada tahun 2000 menunjukkan angka infeksi HIV yang cukup tinggi di lingkungan PSK di Merauke yaitu 526,5%,3,36% di Jakarta Utara, dan 5,5% di Jawa Barat.

Menurut etimasi WHO pada tahun 2000 sekitar 30-40 juta orang tereinfeksi virus HIV, 1218 juta akan menunjukkan gejala-gejala AIDS dan setiap tahun sebanyak 1,8 juta orang akan meninggal karena AIDS. Pada saat ini laju infeksi (infection rate) pada wanita jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi, 90% akan terjadi di Negara berkembang, terutama asia.

CARA PENULARAN Banyak cara diduga menjadi cara penularan virus HIV yang diketahui adalah melalui : 1. Transmisi seksual Penularan melalui hubungan seksual baik homoseksual maupun heteroseksual. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya.

Homoseksual

Didunia Barat, AS dan Eropa tingkat promiskuitas homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV.

4

Heteroseksual

Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan heteroseksual pada promiskuitas dan [penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria maupun wanita yang mempunyai banyak pasangan, dan berganti-ganti.

2. Transmisi non Seksual

Transmisi Parenal

Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang terkontaminasi. Darah/produk darah yaitu transmisi melalui tranfusi atau produk darah terjadi di Negara-negara barat. Resiko tertular infeksi/HIV lewat tranfusi darah adalah >90%.

3. Transmisi Transplasental Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. 3

2.3. Etiologi

Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada 1984 mengisolasi HIV . Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV.

Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymposit T, karena ia memiliki reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymposit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderitaan tersebut.

5

2.4.

Patogenesis

Limfosit CD4 + merupakan target utama infeksi HIV karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Limfosit CD4+ berfungsi mengoordinasikan sejumlah

fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif.

Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus (SIV). SIV dapat menginfeksi limposit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. Virus dibawa oleh antigen-presenting cells ke kelenjer getah bening regional. Pada model ini, virus dideteksi pada kelenjer getah bening maka dalam 5 hari setelah inokolasi. Sel individual di kelenjer getah bening yang mengespresikan SIV dapat di deteksi dengan hibridisasi in situ dalam 7 sampai 14 hari setelah inokulasi. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari setelah infeksi.2

Dalam tubuh, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.3

Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda dan

gejala tertentu. Sebagian

memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjer getah bening, ruam, diare,atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun, dan ada pula yang perjalannya lambat (non progressor).

Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, odha mulai menampakkan gejalagejala akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjer getah bening, diare, tuberculosis, infeksi jamur, herpes, dll.

6

Tanpa pengobatan ARV, walaupun beberapa tahun tidak menunjukkan gejala,secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan memburuk, dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinis yang makin berat pasien masuk tahap AIDS.

Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak menunjukkan gejala,pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10 partikel setiap hari. Replikasi yang cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan seleksi, muncul HIV yang resisten. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi, untungnya tubuh masih bisa mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar 109 sel setiap hari.

Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Lebih dari 80% terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang tertular dengan cara lain. Lamanya pengguna jarum suntik berbanding lurus dengan infeksi pneumonia dan tuberculosis. Makin lama seorang menggunakan narkotika suntikan makin mudah ia terkena pneumonia dan tuberkulosis. Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk. Infeksi oleh kuman penyakit lain akan menyebabkan virus HIV membelah dengan lebih cepat sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Selain itu dapat menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T. akibatnya perjalan penyakitnya biasanya lebih progresif.

Perjalanan HIV yang lebih progresif pada pengguna narkotika ini juga tercermin dari hasil penelitian di RS. Dr. Ciptomangunkusumo pada 57 paien HIV asimptomatik yang berasal dari pengguna narkotika, dengan kadar CD4 lebih dari 200 sel/mm3. Ternyata 56,14% mempunyai jumlah virus dalam darah (viral load) yang melebihi 55000 kopi/ml, artinya penyakit infeksi HIV nya progresif, walaupun kadar CD4 relatif masih cukup baik .3

2.5. Fase-Fase Infeksi HIV

Atas dasar interaksi HIV dengan reson imun pejamu, infeksi HIV dapat dibagi menjadi tiga tahap :  Tahap dini, fase akut,ditandai oleh viremia transient, masuk ke dalam jaringan limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok,mialgia nonspesipik, dan meningitis aseptic.

7

Kesembuhan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu. 

Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis dengan replikasi virus yang rendah khususnya dijaringan limfoid, dan hi grtungan CD4+ secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjer limfe yang luas, tanpa gejala yang jelas. Tahap ini terjadi dapat mencapai beberapa tahun. Pada akhir tahap ini, terjadi demam, kemerahan kulit, kelelahan dan viremi. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.

Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/ml sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum terlihat.4

2.6. Gambaran Klinis 

Gejala mirip flu,termasuk demam ringan,nyeri badan, menggigil, dapat muncul beberapa minggu sampai bulan setelah infeksi. Gejala menghilang setelah respons imun awal menurunkan jumlah partikel virus, walaupun virus tetap dapat bertahan pasa sel-sel lain yang terinfeksi.

Selama periode laten, orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak memperlihatkan gejala, atau pada sebagian kasus mengalami limfadenofati (pembekakan kelenjer getah bening) peresisten.

Antara 2 sampai 10 tahun setelah infeksi HIV, sebagian besar pasien mulai mengalami berbagai infeksi oportunistik, bila tidak di tangani. Penyakit-penyakit ini megisyaratkan munculnya AIDS dan berupa infeksi ragi pada vagina atau mulut, dan berbagai infeksi virus misalnya varisela zoster (cacar air dan cacar ular),sitomegalovirus, atau herpes simpleks persisten. Wanita dapat menderita infeksi ragi kronik atau penyakit radang panggul.

Setelah terbentuk AIDS, sering terjadi infeksi saluran nafas, oleh organism oportunistik pneumocystic carinii. Dapat timbul tuberculosis yang resisten bermacam-macam obat

8

karena pasien AIDS tidak mampu melakukan respons imun yangf efektif untuk melawan bakteri, walaupun dibantu antibiotik. Pasien AIDS yang mengidap tuberkulosis biasanya mengalami perjalanan penyakit yang cepat memburuk yang menyebabkan kematian bulan. Penyakit biasanya cepat menyebar keluar paru termasuk otak dan tulang. 

Gejala pada susunan saraf pusat adalah sakit kepala,defek motorik, kejang,perubahan kepribadian, dan demensia. Pasien dapat menjadi buta dan akhirnya koma. Banyak dari segala tersebut timbul karena infeksi bakteri dan virus oportunistik pada SSP,yang menyebabkan peradangan otak. HIV juga dapat secara langsung merusak sel-sel otak.

Diare dan berkekurangan lemak tubuh sering terjadi pada pasien AIDS. Diare terjadi akibat infeksi virus dan protozoa. Infeksi jamur dimulut dan esofagus menyebabkan nyeri hebat sewaktu menelan dan mengunyah, dan ikut berperan menyebabkan berkurang lemak dan gangguan pertumbuhan.

Berbagai kanker muncul pada pasien AIDS akibat tidak adanya respons imun selular terhadap sel-sel neoplastik. Kanker yang sebenarnya jarang dijumpai,sarkoma Kaposi sering terjadi pada pasien AIDS. Sarkoma kopasi adalah kanker sistem vaskular yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah. Sebagian besar individu pengidap sarcoma Kaposi terinfeksi melalui hubungan homoseks. Hasil riset terkini menunjukkan bahwa ko-infeksi disertai virus herpes yang unik,human herpesvirus 8, memicu munculnya sarkoma Kaposi, human herpesvirus 8 jarang terjadi kecuali dikalangan homoseks. AS. 1

2.7. Pemeriksaan Penunjang HIV

Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti apakah seorang terinfeksi HIV sangatlah penting, karena pada infeksi HIV gejala klinisnya baru dapat terlihat setelah bertahuntahun lamanya. Terdapat beberapa jenis pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis infeksi HIV. Secara garis besar dapat dibagi menjadi pemeriksaa serologic untuk mendeteksi adanya antibody terhadap HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan virus HIV. Deteksi adanya virus HIV dalam tubuh dapat dilakukan dengan isolasi dan biakan virus. Deteksi antigen, dan deteksi materi genetik dalam darah pasien.

Pemeriksaan yang lebih mudah dilaksanakan adalah pemeriksaan terhadap antibody HIV. Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA (enzyme-linked immunosorbent

9

Assay). Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes antibodi HIV ini yaitu masa jendela. Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibodi yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibodi mulai terbentuk pada 4-8 minggu setelah infeksi. Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negative. Untuk itu jika kecurigaan akan adanya resiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan kemudian.2

2.8. Kriteria Diagnosis

Seorang dinyatakan tetinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan antibodi atau pemeriksaan untuk mendeteksi virus dalam tubuh. Infeksi oportunistik/ kondisi yang sesuai dengan kriteria diagnosis :                    

Cytomegalovirus (CMC) ( selain hati, limpa, atau kelenjar getah baning ) CMV retinitis ( dengan penurunan fungsi penglihatan ) Ensefalopati HIVa Herpes simplek, ulkus kronis 9 lebih dari 1 bulan ), bronkitis, pneumonitis, atau esafagagitis. Histoplasmosis, diseminata ekstraparu Isosporiasis, dengan diare kronik (lebih dari 1 bulan) Kandidiasis bronkus, trakea atau paru Kandidiasis esafagus Kanker serviks invasive Koksidodomikosis, desimata atau ektrsparu Kriptosporidiosis, dengan diare kronik ( lebih dari 1 bulan ) Leukoensefalopati multifocal progresif Limfoma, burkit Limfoma imunoblastik Limfonma, primer pada otak Mikobakterium tuberkulosiss, paru atau ekstraparu Pneumonia rekuren Sarcoma Kaposi Toksoplasmosis otak Wasting syndrome 4

10

2.9. Penatalaksanaan Belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan HIV perlu dilakukan. Pencegahan berarti tidak berkontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi HIV. Karena mustahil diketahui sebelumnya apakah suatu cairan tubuh yang terinfeksi oleh HIV, seseorang harus menganggapnya terinfeksi sampai terbukti sebaliknya. Untuk mencegah terinfeksi

HIV,seseorang harus :  

Melakukan abstinensi seks atau hubungan kelamin monogamy bersama dengan pasangan yang terinfeksi. Diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya virus paling 6 bulan setelah hubungan kelamin memerlukan waktu paling sedikit 6 bulan setelah pajanan virus untuk membentuk antibodi. Seks oral juga dapat menularkan virus.

Menggunakan kondom lateks apabila terjadi hubungan kelamin dengan orang yang status HIV nya tidak diketahui. Tidak melakukan tukar menukar jarum dengan siapapun untuk alas an apapun.

Mencegah infeksi ke janin atau bayi baru lahir. Seorang wanita harus mengetahui status HIV nya dan pasangannya sebelum hamil. Apabila wanita hamil positif HIV, obat-obat atau antibody antiHIV dapat diberikan selama kehamilan dan kepada bayinya setelah lahir. Terapi in utero (didalam rahim) juga efektif dalam mencegah penularan virus ke bayi atau bayi baru lahir. Ibu yang terinfeksi jangan menyusui bayinya. Pompa payudara jangan ditukar pakaikan.

 Pengobatan profilaktik pasca pajanan dengan penghambatan reverse transcriptase setelah pajanan ke jarum suntik yang tidak disengaja atau berhubungan kelamin menurunkan keganjilan infeksi HIV primer yang didapat2.

2.9.1. Terapi ANTIRETROVIRAL ( ARV )

Pemberian ARV telah menyebabkan kondisi odha menjadi jauh lebih baik. Infeksi kriptosporidiasis yang sebelumnya sukar diobati, menjadi lebih mudah ditangani. Infeksi penyakit oportunistik lain yang berat, seperti infeksi virus sitomegalo dan infeksi mikobakterium atipikal, dapat disembuhkan. Pneumonia Pneumocystis carinii pada os yang hilang timbul, biasanya mengharuskan odha minum obat infeksi agar tidak kambuh. Namun sekarang dengan minum obat ARV teratur, banyak pasien yang tidak memerlukan minum obat profilaksis terhadap pneumonia. Terdapan penurunan kasus kanker yang terkait dengan HIV

11

seperti Sarkoma Kaposi dan Limfoma dikerenakan pemberian obat- obat antiretroviral tersebut.

Waktu memulai terapi ARV harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat ARV akan diberikan dalam jangka panjang. Obat ARV direkomendasikan pada semua pasien yang telah menunjukkan gejala yang termasuk dalam kriteria diagnose AIDS, atau menunjukkan gejala yang sangat berat, tanpa melihat jumlah limpfosit CD4+. Obat ini juga direkomendasikan pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200-350 sel/mm3 dapat ditawarkan untuk memulai terapi. Pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+lebih dari 350sel/mm3 dan viral load lebih dari 100.000 kopi/ml terapi ARV dapat dimulai, namun dapat dimulai, namun dapat pula ditunda. Terapi ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan limfosit CD4+ lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load dari 100.000 kopi/ml.⁶

Saat ini regimen pengobatan ARV yang dianjurkan WHO adalah kombinasi dari 3 obat ARV. Kombinasi obat ARV ini pertama yang umumnya digunakan di Indonesia adalah kombinasi zidovudin (ZDV)/lamivudin(3TC), dengan nevirapin (NPV). Program pecegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obanting untuk mendapat perhatian besar meningkat sadah ada beberapa bayi di Indonesia yang tertular HIV dari ibunya. Eektifitas penularan HIV,ada 10-30 bayi yang akan tertular. Sebagian besar penularan terjadi sewaktu proses melahirkan, dan sebagai kecil melalui plasenta selama kelahiran dan sebagian lagi melalui air susu ibu.1

2.9.2. Interraksi dengan Obat anti Tuberkulosis ( OAT )

Masalah koinfeksi tuberkulosis dengan HIV merupakan masalah yang sering dihadapi di Indonesia. Pada prinsipnya pemberian OAT pada odha tidak berbeda dengan pasien HIV negative . Interaksi antara OAT dan ARV, terutama efek hepatoksisitasnya,harus sangat diperhatikan. Pada odha yang telah medapat obat ARVsewaktu diagnosis TB ditegakkan,maka obat ARV tetap diteruskan dengan evaluasi yang lebih dekat. Pada odha yang belum mendapat terapi ARV,waktu pemberian obat disesuaikan dengan kondisinya. Tidak ada interaksi bermakna antara OAT dengan ARV golongan non – nukleosida dan inhibitor protease. Obat ARV yang dianjurkan digunakan pada odha dengan TB adalah evafirenz. Rifampisin dapat menurunkan kadar nelvinafir sampai 28 % dan dapat menurunkan kadar nevirapin sampai 37 %. Namun jika avafirenz tidak memungkinkan diberikan,pada pemberian bersama rifampisin dan nevirapin, dosis nevirapin tidak perlu dinaikkan.1Tidak dianjurkan pada wanita hamil trimester pertama atau yang berpotensi tinggi untuk hamil.

12

2.9.3. EVALUASI PENGOBATAN

Pemantauan jumlah CD4 di dalam darah merupakan indicator yang dapat dipercaya untuk memantau beratnya kerusakan kekebalan tubuh akibat HIV,dan memudahkan kita dapat sarana pemeriksaan CD4,maka jumlah CD4 dapat diperkirakan dari jumlah limfosit total yang sudah dapat dikerjakan di banyak laboratorium pada umumnya. 2

Sebelum tahun 1996, para klinis mengobati,menentukan prognosis dan menduga staging pasien,berdasrkan gambaran klinik pasien dan jumlah limfosit CD4. Sekarang ini sudah ada tambahan parameter baru yaitu hitung virus HIV dalam darah ( viral load ) sehingga upaya tersebut lebih cepat.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa dengan pemeriksaan viral load, kita dapat memperkirakan resiko kecepatan perjalan penyakit dan kematian akibat HIV. Pemeriksaan viral load memudahkan untuk memantau efektifitas obat ARV.

Obat-obat golongan protea inhibitor (pls) seperti lopinarvir/ritonavir, atazanavir,saquinavir, fosampprenavir, dan danuravir memiliki barier genatik yang tinggi terhadap resistensi. Obat golongan ini memiliki barier yang rendah. Walau demikian, kebanyakan pasien mendapat plsteakhir HAART ( highly active anti-retroviral thrrapy) yang mengalami kegagalan virologist biasanya memiliki strain virus HIV yang masih sensitive, kecuali bila digunakan dalam jangka panjang.

Obat golongan ini biasanya menjadi resisten dalam waktu yang lebih singkat ketika terdapat kegagalan virologist. Indikasi untuk merubah terapi pada kaus gagal terapi adalah progresi penyakit secara klinis dimulai setelah >6 bulanmemakai ARV.2

Pada WHO stadium 3 : penurunan BB > 10 %,diarea atau demam>1 bulan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya,oral hairy leukoplakia infeksi bacterial yang berat atau “ bedridden” lebih dari 50 % dari 1 bulan terakhir . Tes resistensi seharusnya dilakukan selama terapi atau dalam 4 minggu penghentian regimen obat yang gagal.2

13

3. Upaya Pencegah dan Penanggulangan

Ada beberapa jenis program yang terbukti sukses dibeberapa Negara dan amat dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia, WHO,untuk dilaksanakan secara sekaligus yaitu: 1. Pendidikan kesehatan reproduksi untuk dewasa dan dewasa muda

Program pendidikan kesehatan reproduksi untuk remaja dan dewasa muda, perlu dipikirkan strategi penerapannya di sekolah, akademi dan univesitas dan untuk remaja yang di luar sekolah, walaupun sudah ada SK Mendiskusikan mengenai maslah ini , namun secara nasional belum diterapkan. Selain itu, sampai saat ini kurikulum nasional pendidikan HIV/AIDS untuk mahasiswa kedokteran, kedoteran gigi, kesehatan masyarakat, dan tenaga keperawatan masih dalam proses awal penyusunan . Penyelesaian kurikulum ini penting untuk disegarkan mengingat kebutuhan akan tenaga kesehatan yang mengerti seluk beluk HIV/AIDS sudah amat mendesak.

2. Program penyuluhan sebaya ( peer group education ) untuk berbagai kelompok sasaran

Untuk program penyuluhan sebaya, cukup banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai pengalaman dengan sasaran yang berbeda-beda. Program magang, akan berguna untuk daerah –daerah yang belum mengerjakan atau ingin memperluas cakupan kelompok sasaranya. Sistem magang antar LSM yang sekarang ini sudah berjalan terasa sekali manfaatnya dan perlu ditingkatkan.

3.

Program kerjasama dengan media cetak dan elektronik

Program kerjasama dengan media cetak elektronik

sudah

terbina dengan baik,

sehinggga tinggal melanjutkan agar ada keseimbangan. Setiap momentum yang terkait dengan HIV/AIDS perlu dimanfaatkan untuk mendorong parsipasi media untuk mendukung kegiatankegiatan tersebut.

4. Paket pencegahan komprehensif untuk pengguna narkoba, termasuk program pengadaan jarum suntik steril

14

5. Program pendidikan agama Kehidupan agama yang berjalan baik selama ini tertentu tidak lepas dari pendidikan agama di sekolah dan dirumah. Namun demikian ada beberapa hal yang mungkin dapat diperbaiki. Diantaranya diperlukan strategi belajar – mengajar yang berbijak pada kehidupan sehari- hari remaja. Demikian pula istilah heroin,metiletilendioksi metamfetamin, kokain, dan LSD tidak begitu dikenal oleh remaja- remaja kita. Mereka lebih mengebal dengan nama putauw, ekstasi,dan cimeng. 6. Program layanan pengobatan ineksi menular seksual ( IMS ) 7. Program promosi kondom dilokasasi pelacuran dan panti pijat 8. Pelatihan keterampilan hidup

Pelatihan keterampilan hidup amat diperlukan oleh remaja agar mengenal potensi diri, taju manfaatkan sistem informasi, serta mengenal kesempatan dengan cara mengembangkan diri. Bila kehidupan ekonomi dan pendidikan membaik, niscaya penularan HIV/AIDS dapat ditekan.

9. Program pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling Pengadaan tempat-tempat untuk tes HIV dan konseling yang mudah dicapai dan susunan akrab dan klien akan menyebabkan orang-orang yang merasa mempunyai resiko tinggi beringan kaki mendatangi tempat-tempat tes dan konseling HIV akan menerapkan seks aman dan tidak menularkan HIV ke orang lain. Sayangnya tempat-tempat tersebut masih langka sekali. Di Jakarta hanya ada beberapa buah, sementara di luar Jakarta sukar ditemukan.

10. Dukungan untuk anak jalanan dan pengetasan prostitusi anak.

Dukungan untuk anak jalanan dan pengetasan prostitusi anak memang bukan kegiatan yang mudah dikerjakan. Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan kepedulian dan partisipasi aktif berbagai lapisan masyarakat seperti LSM, ahli hukum , ahli ilmu social, media massa, kepolisian, Depertemen Sosial, Depertemen Kesehatan dan lain-lain.

11. Integrasi program pencegahan pengobatan, perawatan dan dukungan untuk odha.

Mengintegrasikan program pencegahan dengan program pengobatan, perawatan dan dukungan untuk odha merupakan syarat mutlak untuk keberhasilan program penanggulangan HIV/AIDS. Bila kita melaksanakan program pencegahan saja, hasilnya tidak akan sebaik bila dilakukan bersama program pengobatan, layanan dan dukungan untuk odha. Masyarakat yang

15

mendapat penyuluhan saja, kemudian merasa mempunyai perilaku resiko tinggi tidak akan mau melakukan tes HIV bila ia melihat tidak ada yang mau merawat odha, atau bila ia mengtahui ada odha yang cepat dari pekerjaannya, dan dikucilkan dari keluarga dan masyarakat. 12. Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak dengan pemberian obat ARV.2

16

KESIMPULAN

AIDS merupakan masalah kesehatan internasional yang perlu segera di tanggulangi. AIDS berkembang hampir disetiap Negara di dunia, termasuk Indonesia.

Epidemic yang terjadi meliputi penyakit (AIDS), virus (HIV) dan epidemic reaksi/dampak negative di berbagai bidang seperti kesehatan, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Sampai saat ini obat dan vaksin untuk menanggulangi AIDS belum ditemukan. Untuk itu alternative lain yang lebih mendekati dalam upaya pencegahan. Upaya pencegahan dapat dilakukan oleh semua pihak asal mengetahui cara-cara penularan AIDS.

Penelusuran AIDS terjadi melalui hubungan seksual, parental dan transplasental, sehingga upaya pencegahan perlu diarahkan untuk merubah perilaku seksual masyarakat (terutama yang memiliki resiko tinggi), menghindari infeksi melalui donor darah, dan upaya pencegahan infeksi perintal sebelum ibu hamil. Perubahan perilaku dengan penyuluhan kesehatan.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin, Elizabeth J. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. HIV/AIDS. EGC. 2009. 2. Sudoyo, Aru W. HIV/AIDS. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, edisi 5, 2009 3. Sudoyo, Aru W. HIV/AIDS. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, edisi 5, 2009 4. Kumar, Cotran, Robbins, 2005, Dasar Potologi Penyakit, Edisi 5 EGC. 2005. 5. Greenberg MSMichael G. Bueket’s Oral Medicine Diagnosis & Treatment. 10th ed 6. 2. European Assosiation of Oral Medicine. HIV/AIDS. School of Dental Medicine University of Zagreb. 2005. 7. Harrison, et.al., 2000, Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit-penyakit Dalam, Edisi 13th, diterjemahkan Aside AH., Penerbit buku kedokteran EKG, Jakarta.

CONTOH KASUS ANAMNESA PRIBADI :

18

Nama Usia Jenis Kelamin Status Agama

: doli : 32 tahun : laki-laki : menikah : islam

Pekerjaan : tidak bekerja Alamat : gunung tua

ANAMNESA PENYAKIT KU : mencret Telaah : os datang tanggal 16 november 2012 dengan keluhan mencret sudaah 3 minggu ,

BAB OS cair dan terkadang berwarna hitam ,dalam satu hari os mencret sebanyak 7x. os mengeluhkan lemas ±2 hari . os mual dan muntah . muntah isinya apa yang dimakan . os muntah dalam satu hari sebanyak 8x . os ada batuk dan sesak hanya pada saat setelah batuk . BAK os lancar dan berwarna kuning . os gelisah tidak bisa tidur dan istrinya mengeluhkan kalau os tidak nyambung saat diajak berbicara. Os juga suka berbicara sendiri. Os sudah lama menderita sariawan . sariawan nya diseluruh bibir , lidah dan diseluruh palatum . pada tahun 2010 lalu OS pernah dirawat di RSUD rantau prapat dengan keluhan sariawan yang penuh diseluruh mulut os (+) BB ↓, mencret selama 1 bulan ,demam menggigil selama 1 minggu. tidak mau makan dan ada kudis yang bernanah dibawah selangkangan. Dahulu nya os adalah seorang pemakai narkoba jenis heroin dan putau mulai dari OS SMA , os sering menggunakan media suntikan untuk menggunakan narkoba ini. OS mengaku tidak pernah berhubungan seksual dengan wanita lain kecuali istrinya . setelah dilakukan uji laboratorium OS positif AIDS, istri OS juga dilakukan uji laboratorium dan didiagnosa (+) HIV PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Sensorium : somnolen TD : 90/60 , HR : 60x/i , RR : 24x/i Anemis (+) Mukosa bibir , lidah , palatum , penuh dengan kandidosis oral Abdomen : palpasi : -nyeri epigastrium . hepar dan lien : tidak teraba jelas Perkusi : tympani Auskultasi : peristaltik usus (+) ↑↑ , soepel ka/ ki (+) Torax : SP: bronchial , ST : ronkhi basah d lapangan paru atas dan tengah (+)

Pemeriksaan laboratorium :

19

-

Patologi Klinik tanggal 25 november 2010 HASIL RUJUKAN

DIAGNOSTIK MOLEKULER CD 4 absolut

59 Se/µL

410- 1590 Ket: limfosit helper kurang

CD 4 %

5%

31- 60

-

Darah rutin : - WBC : 1,9 x 10³ , Hb : 8,6 g/dl , Ht : 23,9 % , PLT : 27.000 : AIDS : tidak jelas

RPT RPO

Diagnose : HIV AIDS dengan encefalopati + GE + kandidosis oral Th : betadine gargle 3x1 , nystatin drops 3x1 cc , metronidazole / 8 jam , ranitidine / 12 jam dan ceftriaxon / 8 jam Saran : os dikonsulkan ke bagian syaraf.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->