Tipe

Tipe-tipe Kepemimpinan : Tipe Otokratik

pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk : kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain: menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.

1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan

tidak memiliki keterampilan teknis. kuno. tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh. sugesti. (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. dan kritikankritikan dari bawahannya. (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.untuk berinisiatif. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. (3) sangat menyenangi formalitas. Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik. (7) adanya sikap eksklusivisme. 3. keras dan sangat otoriter. (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan. Tipe Kepemimpinan Militeristik . Dominator) Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi. ketat dan kaku. (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal. (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya. 4. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin. (6) komunikasi hanya berlangsung searah. yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikapoverprotective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan. usul. (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi. (6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol. dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. kaku dan seringkali kurang bijaksana. (5) tidak menghendaki saran. tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja. 5. upacaraupacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan. (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif. (8) selalu ingin berkuasa secara absolut. tidak bisa mengontrol anak buah. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando. (3) berambisi untuk merajai situasi. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative. (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri. tidak mempunyai wibawa. Kedudukan sebagai pemimpin .

indutri. Oleh karena itu dalam . Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi.biasanya diperoleh dengan cara penyogokan. manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugastugas administrasi secara efektif. suapan atau karena sistem nepotisme. karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Tipe Kepemimpinan Populistis Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Tipe Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu. Refleksi dari Tipe Kepemimpinan tsb: Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau. 7. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. 8. walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan. 6. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.

Kelompok gaya efektif. dsb. yaitu: a. Model Kontinum Kepemimpinan (Tannenbaum dan Schmidt) Model ini berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin dalam memilh gaya kepemimpinan yang akan dilakukan. kecerdasan. b. Hubungan antara pemimpin dan anggota merupakan variabel yang sangat kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan. merupakan masukan kedua yang sangat penting untuk situasi yang menguntungkan. misalnya latar belakang pendidikan. b. pengabdi. 2. otokrat. Berikutini adalah Model. Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler) . Kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melaui wewenang formal. dan eksekutif. terdiri dari gaya pelari. dan terpadu. Kelompok gaya tak efektif. Terdapat 3 ( tiga ) sifat situasi yang berpengaruh terhadap efektifitas kepemimpinan.aplikasinya. c. latar belakang kehidupan pribadi. terdiri dari gaya birokrat. . dan kompromis. Model 3 Dimensi Kepemimpinan (Reddin) Model 3 Dimensi Kepemimpinan atau yang juga dikenal dengan sebutan 3-D model karena menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan. c. terdiri dari gaya pemisah.Model ini menjelaskan bahwa pemimpin akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda. otokrat bijak. Derajat susunan tugas. pengalaman. penganjur. pengetahuan. Kekuatan pimpinan. yaitu: a. organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat. Tidak ada pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. Ketiga factor tersebut. yaitu: a. penghubung.Model Kepemimpinan dari para ahli 1. pengembang. tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga. adalah dimensi sangat kritis yang ketiga dari situasi. 3. Kelompok gaya dasar.

b. Model Kepemimpinan Dinamika Kelompok (Dorwin Cartwright & Alvin Zander) Menurut model ini. d. e. ingin memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan. hal ini mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan seperti suasana organisasi. Kekuatan bawahan. . Ketepatan jenis perilaku pemimpin tergantung pada 5 faktor. Model Kontingensi Lima Faktor (Farris) Dalam model ini. kelompok kerja khusus. hal ini menyebabkan pimpinan memilih gaya demokratis apabila bawahan sangat membutuhkan ketidaktergantungan dan kebebasan bertindak. tekanan waktu. b. pengaruh terhadap perilaku pemimpin dapat datang dari pemimpin itu sendiri atau dari bawahan dan dapat disalurkan secara berbeda antara kedua pihak tersebut. Pencapaian beberapa sasaran kelompok khusus. b. identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan hubungan antar orang. dan faktor lingkungan lainnya. yaitu : a. yaitu: a. b. c. Wewenang pengawasan terhadap masalah yang ada Wewenang anggota kelompok terhadap masalah Pentingnya penerimaan dari pemberian keputusan terhadap pimpinan Pentingnya penerimaan keputusan terhadap anggota kelompok Tekanan waktu 6. 4. Kekuatan situasi. Pemeliharaan dan penguatan kelompok itu sendiri. Tingkat efektivitas teknis diantara para bawahan Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan 5. Model Kontinum Kepemimpinan Berdasarkan Banyaknya Peran Serta Bawahan dalam Pembuatan Keputusan (Vroom-Yetton) Dalam model ini terdapat dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan bawahan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan. antara lain : a. identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan tugas. c. terdapat dua macam perilaku kepemimpinan.

b. Perilaku Pemimpin .7. b. Input a. kerumitan. c. kehangatan. 8. Hubungan a. d. Kelompok kerja yang meliputi pertentangan didalam. Model Kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House) Pendekatan model kepemimpinan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan dan mencoba memprediksi bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi. Model Kepemimpinan Sistem (Bass) Model Kepemimpinan Sistem terdiri dari: 1. 9. prestasi. otoriter. kekuasaan. Tugas yang meliputi umpan balik. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada tiap bawahan. rutin. Pembagian kekuasaan antara pimpinan dan bawahan Penyebaran informasi antara atasan dan bawahan Struktur ketat dan struktur longgar Tujuan jangka pendek dan jangka panjang 3. Gannon. ciri-ciri manajerial. Organisasi yang meliputi batasan. dan tanggung jawab pada kelompok. Model kepemimpinan jenis ini menitikberatkan pada “dyad” yaitu hubungan antara pemimpin dengan tiap bawahannya secara bebas. kejelasan. entrope. dan memusatkan perhatian dan pikiran pada diri sendiri. d. memilih kesempatan. Model Kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” (Graen) Model kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” ini disebut juga dengan model “Vertical Dyadic Theory” oleh Martin J. dan kepuasan bawahan. Tiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada bawahannya. c. 2. saling tergantung. dan lingkungan luar. Kepribadian bawahan yang meliputi kerjasama.

pemimpin memberitahukan kepada bawahannya apa yang mereka inginkan. Blanchard) Dalam model ini. di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian. memasukan saran kelompok ke dalam operasi. . Output c. berdasarkan pendekatan situasional tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi seseorang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. mendengarkan bawahan. merubah perilaku untuk memastikan kesempatan. mencoba ide mereka. Model Kepemimpinan Situasional (Paul Hersey dan Kenneth H. Konsultatif. pemimpin membuat keputusan bersama. d. membuat mereka berlomba satu sama lain. pemimpin menunjukkan kepercayaan pada bawahan. Prestasi Kepuasan yang meliputi pekerjaan dan pengawas 10. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. b. Tidak mau menerima kritik. dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan. mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri. sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan sejumlah pendukungan emosional (perilaku hubungan) yang pemimpin berikan tingkat kematangan yang ditunjukan oleh bawahan dalam melaksanakan tugas khusus. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya. fungsi. Delegatif. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi. menentukan kembali tugas-tugas untuk menyeimbangkan beban kerja. menyusun pertemuan. Kepemimpinan situasional berdasarkan saling pengaruh antara: 1. Manipulatif. 2. Partisipatif. atau sasaran. mudah didekati dan bersahabat. Pendekatan berdasarkan atas hubungan antara perilaku tugas. memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengikuti arah mereka sendiri. Tipe Otokratis. Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. e. b. memberikan perhatian kemajuan pada perubahan. Direktif. perilaku hubungan. a.a. 4. pemimpin terus terang dan memberi kesempatan bertanya. 1. saran dan pendapat. 3.1997). serta tingkat kematangan bawahan. keyakinan. harapan. memperlakukan bawahan sama. pemimpin berbaik hati pada bawahan.

Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik. tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. senang menerima saran. maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan. dan sering bersikap maha tahu. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. Tipe Karismatik. umur. selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang „ganteng”. . dan bahkan kritik dari bawahannya. Kekayaan. dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Tipe Paternalistis.Tipe Militeristis. Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat. bersikap terlalu melindungi (overly protective). Sukar menerima kritikan dari bawahannya. meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. Gandhi bukanlah seorang yang kaya. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan. kesehatan. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia. pendapat. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Tipe Demokratis. John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil.

dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Dalam penelitiannya. perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. 1. Perilaku otokratis. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara. sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). Perilaku demokratis. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin. orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan. Model Kepemimpinan. Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey dan Blanchard. Adapun konsiderasi .Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. pengambilan keputusan cepat. karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh. karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal. di mana si pemimpin senang menerima saran. alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan. pada umumnya dinilai bersifat negatif. gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain. di antaranya adalah sebagai berikut. Selain itu. Model Kepemimpinan Ohio. dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. saluran komunikasi. Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. Beberapa model yang menganut pendekatan ini. Namun. Namun. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. 1992). Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi. kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas. (Lihat Gambar 1). Selain bersifat negatif. yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan.

dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang . Dalam sistem ini. Dalam menjalankan pekerjaannya. Oleh karena itu. Sistem Konsultatif. Selain itu. rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). kepercayaan timbal-balik. pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini. otoriter yang bijaksana. dan partisipatif. pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran. yaitu sistem otoriter. Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka. sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan. Namun demikian. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu. (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya. Pada sistem ini. Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. (Lihat Gambar 2) Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System). pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan. Sistem Partisipatif. Untuk itu.mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan. yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Sistem Otoriter (Sangat Otokratis). konsultatif. hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya. pada sistem inipun. pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar. pemimpin mau mengadakan perubahan. dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok. Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik). pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati.

pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan. Dalam sistem inipun. sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas. Grid 9. pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja. proses dan prosedur penyelesaian tugas.9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim).1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan yang Tandus). kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya. model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio. yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. Untuk mewujudkan hal tersebut. kebijakan-kebijakan yang harus diambil. pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada bawahan. Jika dalam model Ohio. dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya. pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan. kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti. Gaya kepemimpinan tersebut adalah : (Lihat Gambar 3) Grid 1. maka dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan Perkumpulan). Menurut Blake dan Mouton ini. yaitu antara 0 sampai dengan 9.menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah. sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan. maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. Dalam pemikiran modelmanagerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya. sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan. Grid 9. . Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya. Dengan demikian. Grid 1.1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas). Model Kepemimpinan Managerial Grid.

Model tiga dimensi ini. namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian. Namun demikian. Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja. (Lihat Gambar 4). Model Kepemimpinan Tiga Dimensi. yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif. para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan. Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota). Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan. Masing-masing bagian dimensi . Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda. pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid. di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan. Secara umum. sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Menurut model kepemimpinan ini. Berdasar ketiga variabel utama tersebut. pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan. Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut. dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi). yaitu dimensi efektivitas. yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan Tengah). tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya. kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas).Grid 5. Fielder dalam Gibson. Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi. di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan. Model Kepemimpinan Kontingensi. Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Berdasakan uraian di atas. terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin.

Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan. dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif. dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus. dan (2).lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4. apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “Personal-Situasional”. faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok. dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior. Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional. (1) sifat-sifat efektif. pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu. tindakan. Perkembangan selanjutnya. 1994). tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan. Beberapa penelitian lanjutan. (Lihat Gambar 5). interaksi. dan sentimen. beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu. bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan . karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas. untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa. Pendapat lain mengemukakan. Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu. Teori Kepemimpinan. 1. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. tempat dan situasi sesaat. adalah Teori Interaksi Harapan. intelektual dan tindakan individu. Hal ini disebabkan. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik. Beberapa pendapat tersebut. kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking & Boggardus. pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada. mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. energi. yaitu . Untuk itu. (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin. berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. teori kepemimpinn banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. 1994). (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia. dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. Dari sisi teori kepemimpinan. penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk . Asumsinya.

yaitu. dan Drea bahkan menyatakan. terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. terdapat tiga variabel pokok. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Pada tahun yang sama Fiedlermengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. maka . inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Atas dasar teori diatas. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin. Apabila dicermati. dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. (2). yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. Zigarmi. peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. 2001). Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi. didalam Teori Humanistik. (1). Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok. dan (3). Dikemukakan. Kemudian dikemukakan. Rensis Likert. interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Teori ini secara umum berpendapat. kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain. Blake dan Mouton. tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi. House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. Jadi. Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersamasama. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah. interaksinya semakin meluas. Dengan demikian. Dikemukakan. melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. kebutuhan. dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi. Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris. Teori kepemimpinan lain. maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok. dan Douglas McGregor. organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan. Dikemukakan. Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin.dari norma kelompok. dan kemampuan-nya. Blanchard.

Kompetensi Kepemimpinan Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran. Teori ini sekaligus menjawab pendapat. even infinite array of on the job behaviour. 1993). Examples of competencies are initiative. knowledge. dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. dan skill ( Spencer. adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”. lengkap dengan model dan pengukurannya. yatu berupamotives. Rothwell and Kazanas. Lebih lanjut Rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job. berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan . Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar. and strategic thinking”. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori. self koncept (Spencer. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut. 3. terdapat karakteristik kompetensi lainnya. fungsi. Woodruffe (1990). kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. Kedua pola kepemimpinan tersebut. teamwork. influence. Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan. atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. capabilities which may be expressed in a broad. Spencer (1993) berpendapat. 1993). tugas.implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs. Menurut Rotwell. Furnham (1990) dan Murphy (1993). Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988). 1993. innovation. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat “Competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. Spencer dan kawan-kawan (1990). Menurut review Asropi (2002).

tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. influence. influence. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak. building organizational commitment. pimpinan menengah. Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu. relatiuonship building. service orientation. self concept. flexibility. conceptual thingking. team work. result (achievement) orientation. Menurut Spencer (1993). technical expertise. Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation. empowering others. 1990). skill bersifat action. interpersonal awareness. relationship building. service orientation. skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives. team work. initiative. team work. ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul. Self concept adalah sikap. empowering others. baik mental atau pun fisik. empowering others. develiping others. building organzational commitment. Adapun kompetensipada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence. entrepreneurial orientation. conceptual thinking. cross cultural sensitivity. menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang. initiative. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. entrepreneurial orientation. kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”. influence. Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa. fungsi. concern for order. atau bidang. dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). mendorong. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang. atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. dan cross cultural sensitivity. yaitu. (1) pemimpin yang . concern for quality. developing others. relationship building. service orientation. yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. nilai. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong. developing others. yaitu kompetensi berupa : result orientation. cross cultural sensitivity. dan knowledge. traits. Dikemukakan. strategic thinking. felexibilty. dan felexibilty. initiative. dantechnical expertise. building organizational commitment. interpersonal understanding. analitycal thinking. developing others. relationship building. strategic thinking. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu. dan empowering others. interpersomal awareness. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise. yang dapat mengarahkan. Berdasarkan penelitiannya. result (achievement) orientation. Dalam pada itu. analytical thinking.

empati. memandang masa depan. Sebelum itu. mampu menangani setiap tekanan. and self (= commitment. Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain. apabila manajer memiliki sifat jujur.Sementara itu. keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning. “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa. Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah“empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : People feel important. (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi. Fenomena ini menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. (2) memberikan inspirasi wawasan bersama. memiliki dasar spiritual yang kuat. creating authentic relationships. dan integritas”. risk taking and curiosity. dan confidence. memberikan inspirasi. berpikir positif. competency yang cukup. p. Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed. willingness to take risk). meaning (= communication). berwawasan luas. dan jiwa kepemimpinan. Dalam pada itu. optimism and a psychological resilience that expects success (lihat Karol Kennedy. visionary. 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain. Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah. dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. dan selalu siap melayani. People feel they part of the organization. karena memiliki komitmen. dan Work is viewed as excisting. (4) mampu menjadi penunjuk jalan. kredibilitas. Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994). dan (5) memotivasi bawahan. Kemudian pada tahun 1997. pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan “status quo” dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. connection yang luas. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan.. menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama.32). antusias. Learning and competence are reinforced. menurut hubungan pemimpin dan pengikut. tidak melakukan kesalahan yang sama. dan (d) Are purveyors of hope. Selain itu. Soetjipto Wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut. ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi.menantang proses. trust (= emotional glue). . manajemen waktu. mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya. memiliki komitmen organisasional yang kuat. a sense of purpose. Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal : attention (= vision). (c) Display a bias towards action. diperlukan kompetensi kepemimpinan berupaconception yang tepat. stimulating. kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. kemampuan komunikasi yang tinggi. (b) Generate and sustain trust. and enjoyable. Dinyatakan. 1998. disiplin diri yang tinggi. dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik.

sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”. Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan. Mereka seringkali adalah pencari nyala api. jiwa. Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati. dan moral. melainkan masalah emosional. Sedangkan Bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional. Sumber : .Dalam hubungan jiwa kepemimpinan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful