Tipe-tipe Kepemimpinan : Tipe Otokratik

pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk : kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain: menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.

1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan

(6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar. tidak bisa mengontrol anak buah. (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative. dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal. keras dan sangat otoriter. (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. 5. (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif. Dominator) Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin. (7) adanya sikap eksklusivisme. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol. usul. (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. kaku dan seringkali kurang bijaksana. Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik. tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando. 3. yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikapoverprotective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan. ketat dan kaku. 4. tidak memiliki keterampilan teknis. sugesti. (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi. (6) komunikasi hanya berlangsung searah. kuno. (8) selalu ingin berkuasa secara absolut. (3) berambisi untuk merajai situasi. (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya. (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan. (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri. (3) sangat menyenangi formalitas. (5) tidak menghendaki saran. Tipe Kepemimpinan Militeristik . dan kritikankritikan dari bawahannya. tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif.untuk berinisiatif. Kedudukan sebagai pemimpin . tidak mempunyai wibawa. upacaraupacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan.

walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan. karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Tipe Kepemimpinan Populistis Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal. 8. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dalam . Tipe Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau. tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. 7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugastugas administrasi secara efektif. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi. Refleksi dari Tipe Kepemimpinan tsb: Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan. mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan.biasanya diperoleh dengan cara penyogokan. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu. 6. suapan atau karena sistem nepotisme. indutri. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter. dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.

Ketiga factor tersebut. c. merupakan masukan kedua yang sangat penting untuk situasi yang menguntungkan. b. adalah dimensi sangat kritis yang ketiga dari situasi. dan eksekutif.aplikasinya. Hubungan antara pemimpin dan anggota merupakan variabel yang sangat kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan. Model Kontinum Kepemimpinan (Tannenbaum dan Schmidt) Model ini berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin dalam memilh gaya kepemimpinan yang akan dilakukan. Berikutini adalah Model. Kelompok gaya efektif. Kelompok gaya tak efektif. organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat. latar belakang kehidupan pribadi. Derajat susunan tugas. Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler) . yaitu: a. b. misalnya latar belakang pendidikan. Kekuatan pimpinan. Kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melaui wewenang formal. yaitu: a. 3. terdiri dari gaya pemisah. pengabdi. pengetahuan. penghubung. tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga. pengalaman. dsb. terdiri dari gaya birokrat. penganjur. dan terpadu. c. dan kompromis.Model ini menjelaskan bahwa pemimpin akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda. 2. yaitu: a. terdiri dari gaya pelari. Kelompok gaya dasar. kecerdasan. Tidak ada pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. pengembang. Terdapat 3 ( tiga ) sifat situasi yang berpengaruh terhadap efektifitas kepemimpinan. . otokrat bijak.Model Kepemimpinan dari para ahli 1. Model 3 Dimensi Kepemimpinan (Reddin) Model 3 Dimensi Kepemimpinan atau yang juga dikenal dengan sebutan 3-D model karena menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan. otokrat.

Model Kepemimpinan Dinamika Kelompok (Dorwin Cartwright & Alvin Zander) Menurut model ini. hal ini menyebabkan pimpinan memilih gaya demokratis apabila bawahan sangat membutuhkan ketidaktergantungan dan kebebasan bertindak. hal ini mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan seperti suasana organisasi. b. Model Kontinum Kepemimpinan Berdasarkan Banyaknya Peran Serta Bawahan dalam Pembuatan Keputusan (Vroom-Yetton) Dalam model ini terdapat dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan bawahan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan. . identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan hubungan antar orang. b. terdapat dua macam perilaku kepemimpinan. Model Kontingensi Lima Faktor (Farris) Dalam model ini. dan faktor lingkungan lainnya. d. identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan tugas. Ketepatan jenis perilaku pemimpin tergantung pada 5 faktor. tekanan waktu. Wewenang pengawasan terhadap masalah yang ada Wewenang anggota kelompok terhadap masalah Pentingnya penerimaan dari pemberian keputusan terhadap pimpinan Pentingnya penerimaan keputusan terhadap anggota kelompok Tekanan waktu 6. e. Kekuatan situasi. Tingkat efektivitas teknis diantara para bawahan Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan 5. c. pengaruh terhadap perilaku pemimpin dapat datang dari pemimpin itu sendiri atau dari bawahan dan dapat disalurkan secara berbeda antara kedua pihak tersebut. c. kelompok kerja khusus. ingin memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan. Pemeliharaan dan penguatan kelompok itu sendiri. 4. Kekuatan bawahan. Pencapaian beberapa sasaran kelompok khusus.b. antara lain : a. b. yaitu: a. yaitu : a.

b. prestasi. ciri-ciri manajerial. Model Kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House) Pendekatan model kepemimpinan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada tiap bawahan. saling tergantung. 9. b. Tiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada bawahannya. kehangatan. kekuasaan. Perilaku Pemimpin . dan tanggung jawab pada kelompok. Model kepemimpinan jenis ini menitikberatkan pada “dyad” yaitu hubungan antara pemimpin dengan tiap bawahannya secara bebas. Model Kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” (Graen) Model kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” ini disebut juga dengan model “Vertical Dyadic Theory” oleh Martin J. Organisasi yang meliputi batasan. dan memusatkan perhatian dan pikiran pada diri sendiri. d. c. Tugas yang meliputi umpan balik. entrope. Gannon. 2. Hubungan a. kejelasan. memilih kesempatan. Model Kepemimpinan Sistem (Bass) Model Kepemimpinan Sistem terdiri dari: 1. Kepribadian bawahan yang meliputi kerjasama. rutin. Pembagian kekuasaan antara pimpinan dan bawahan Penyebaran informasi antara atasan dan bawahan Struktur ketat dan struktur longgar Tujuan jangka pendek dan jangka panjang 3. Kelompok kerja yang meliputi pertentangan didalam. otoriter. d. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan dan mencoba memprediksi bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi. dan lingkungan luar. 8.7. c. Input a. dan kepuasan bawahan. kerumitan.

Blanchard) Dalam model ini. Tipe Otokratis. pemimpin memberitahukan kepada bawahannya apa yang mereka inginkan. 3. pemimpin menunjukkan kepercayaan pada bawahan. memperlakukan bawahan sama. Prestasi Kepuasan yang meliputi pekerjaan dan pengawas 10. Partisipatif. di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian. dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan. fungsi.a. perilaku hubungan. harapan. Pendekatan berdasarkan atas hubungan antara perilaku tugas. memberikan perhatian kemajuan pada perubahan. 4. . pemimpin berbaik hati pada bawahan. pemimpin terus terang dan memberi kesempatan bertanya. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. Kepemimpinan situasional berdasarkan saling pengaruh antara: 1. membuat mereka berlomba satu sama lain. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya. Direktif. sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan sejumlah pendukungan emosional (perilaku hubungan) yang pemimpin berikan tingkat kematangan yang ditunjukan oleh bawahan dalam melaksanakan tugas khusus. Konsultatif. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. mudah didekati dan bersahabat.1997). Output c. Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. mendengarkan bawahan. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi. Delegatif. a. b. 1. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya. Tidak mau menerima kritik. saran dan pendapat. keyakinan. memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengikuti arah mereka sendiri. mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri. serta tingkat kematangan bawahan. menentukan kembali tugas-tugas untuk menyeimbangkan beban kerja. merubah perilaku untuk memastikan kesempatan. atau sasaran. mencoba ide mereka. menyusun pertemuan. e. Manipulatif. memasukan saran kelompok ke dalam operasi. berdasarkan pendekatan situasional tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi seseorang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. Model Kepemimpinan Situasional (Paul Hersey dan Kenneth H. 2. d. pemimpin membuat keputusan bersama. b.

profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan. Mengenai profil. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia. Tipe Paternalistis. dan bahkan kritik dari bawahannya. Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat. kesehatan. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik. Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan. dan sering bersikap maha tahu. Kekayaan. Sukar menerima kritikan dari bawahannya.Tipe Militeristis. Tipe Karismatik. umur. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang „ganteng”. John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Gandhi bukanlah seorang yang kaya. pendapat. maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan. Tipe Demokratis. senang menerima saran. . meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. bersikap terlalu melindungi (overly protective). Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma.

saluran komunikasi. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin. kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas. Namun. karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh. gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain. Perilaku demokratis. Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan. pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Selain bersifat negatif. (Lihat Gambar 1). perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. 1. pada umumnya dinilai bersifat negatif. Dalam penelitiannya. alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Model Kepemimpinan Ohio. dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. Selain itu. karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal. di antaranya adalah sebagai berikut. Namun. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan. dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok. Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. Beberapa model yang menganut pendekatan ini. di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Perilaku otokratis. orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. 1992). Adapun konsiderasi . Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara.Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Model Kepemimpinan. di mana si pemimpin senang menerima saran. pengambilan keputusan cepat. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey dan Blanchard. yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.

mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan. otoriter yang bijaksana. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini. dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran. (Lihat Gambar 2) Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System). Sistem Konsultatif. pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan. pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang . pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Selain itu. Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik). (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya. pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar. hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya. Dalam sistem ini. Untuk itu. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok. kepercayaan timbal-balik. (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya. Sistem Otoriter (Sangat Otokratis). pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun demikian. Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka. Oleh karena itu. Dalam menjalankan pekerjaannya. Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. dan partisipatif. pemimpin mau mengadakan perubahan. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya. Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem. Sistem Partisipatif. Pada sistem ini. yaitu sistem otoriter. konsultatif. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu. pada sistem inipun. rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan).

dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya. sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan. Dengan demikian.9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim). .menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah. Dalam sistem inipun.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan Perkumpulan). pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan. pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada bawahan. Grid 9. Untuk mewujudkan hal tersebut. Gaya kepemimpinan tersebut adalah : (Lihat Gambar 3) Grid 1.1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas). sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas. kebijakan-kebijakan yang harus diambil. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya. proses dan prosedur penyelesaian tugas. maka dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang. kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya. Dalam pemikiran modelmanagerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya. pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan. sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan. Grid 1. model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio.1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan yang Tandus). yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan. kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti. yaitu antara 0 sampai dengan 9. Jika dalam model Ohio. pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja. Model Kepemimpinan Managerial Grid. kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. Menurut Blake dan Mouton ini. Grid 9.

Menurut model kepemimpinan ini. Masing-masing bagian dimensi . Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan Tengah). dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi). Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. (Lihat Gambar 4). kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas). terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi. pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas. dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian. sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi. Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja. Secara umum. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota). di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan. Namun demikian. Berdasakan uraian di atas. namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan.Grid 5. Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun. tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya. Berdasar ketiga variabel utama tersebut. yaitu dimensi efektivitas. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda. Model Kepemimpinan Kontingensi. para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan. Fielder dalam Gibson. pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid. Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut. di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan. yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif. Model tiga dimensi ini.

(1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok. 1994).lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4. dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif. Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional. dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus. Pendapat lain mengemukakan. yaitu . untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa. 1. (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin. (1) sifat-sifat efektif. mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi. faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. dan (2). dan sentimen. berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. Perkembangan selanjutnya. Hal ini disebabkan. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik. Dari sisi teori kepemimpinan. karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. tempat dan situasi sesaat. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan. beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu. interaksi. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan. tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Asumsinya. intelektual dan tindakan individu. dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “Personal-Situasional”. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas. Untuk itu. teori kepemimpinn banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. 1994). tindakan. (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia. bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan . pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada. Beberapa pendapat tersebut. Beberapa penelitian lanjutan. energi. adalah Teori Interaksi Harapan. Teori Kepemimpinan. penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk . kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking & Boggardus. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior. pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu. (Lihat Gambar 5).

kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain. Jadi. Apabila dicermati. secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersamasama. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok. inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris. interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi. terdapat tiga variabel pokok. Blanchard. dan Douglas McGregor. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. Teori ini secara umum berpendapat. yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan. Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Kemudian dikemukakan. yaitu. Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin. Rensis Likert. dan (3). Dikemukakan. Pada tahun yang sama Fiedlermengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. 2001). Dikemukakan. (2). interaksinya semakin meluas. peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. (1). Atas dasar teori diatas. maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin. Dengan demikian. kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan. maka . terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. didalam Teori Humanistik. melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi. Teori kepemimpinan lain. efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. Zigarmi. Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran.dari norma kelompok. nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah. dan Drea bahkan menyatakan. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi. kebutuhan. Blake dan Mouton. Dikemukakan. dan kemampuan-nya.

Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”.implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Spencer dan kawan-kawan (1990). capabilities which may be expressed in a broad. Woodruffe (1990). Kedua pola kepemimpinan tersebut. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori. Teori ini sekaligus menjawab pendapat. dan skill ( Spencer. 1993). atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat “Competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. teamwork. 1993). Lebih lanjut Rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job. innovation. terdapat karakteristik kompetensi lainnya. dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. and strategic thinking”. Furnham (1990) dan Murphy (1993). self koncept (Spencer. even infinite array of on the job behaviour. 1993. 3. Rothwell and Kazanas. Examples of competencies are initiative. pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar. Kompetensi Kepemimpinan Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran. berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan . Menurut review Asropi (2002). Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988). yatu berupamotives. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut. kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan. Spencer (1993) berpendapat. Menurut Rotwell. fungsi. influence. knowledge. Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs. tugas. lengkap dengan model dan pengukurannya. adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”.

entrepreneurial orientation. service orientation. skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives. relationship building. Self concept adalah sikap. technical expertise. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa. develiping others. relatiuonship building. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu. team work. team work.tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. conceptual thinking. influence. atau bidang. Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu. Dikemukakan. dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). dan empowering others. baik mental atau pun fisik. atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”. concern for order. atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. result (achievement) orientation. analytical thinking. yaitu kompetensi berupa : result orientation. fungsi. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. initiative. influence. yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. interpersonal understanding. dan cross cultural sensitivity. developing others. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong. Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation. conceptual thingking. skill bersifat action. building organizational commitment. interpersonal awareness. dan knowledge. strategic thinking. developing others. empowering others. concern for quality. influence. strategic thinking. yang dapat mengarahkan. dantechnical expertise. Dalam pada itu. cross cultural sensitivity. interpersomal awareness. nilai. dan felexibilty. empowering others. flexibility. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise. building organzational commitment. initiative. 1990). entrepreneurial orientation. initiative. yaitu. relationship building. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang. result (achievement) orientation. Menurut Spencer (1993). developing others. service orientation. relationship building. mendorong. Berdasarkan penelitiannya. menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak. ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul. empowering others. service orientation. building organizational commitment. traits. (1) pemimpin yang . pimpinan menengah. Adapun kompetensipada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence. team work. analitycal thinking. self concept. cross cultural sensitivity. felexibilty.

memandang masa depan. Soetjipto Wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut. menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama. . apabila manajer memiliki sifat jujur. dan confidence. (2) memberikan inspirasi wawasan bersama. antusias. memiliki dasar spiritual yang kuat. Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal : attention (= vision). 1998. Dalam pada itu. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut. (4) mampu menjadi penunjuk jalan. a sense of purpose. kredibilitas. dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. disiplin diri yang tinggi. dan jiwa kepemimpinan. berwawasan luas. dan selalu siap melayani. dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik. memiliki komitmen organisasional yang kuat.32). keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning. trust (= emotional glue). 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain.. dan (d) Are purveyors of hope. Selain itu. ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa. competency yang cukup. stimulating. (b) Generate and sustain trust. diperlukan kompetensi kepemimpinan berupaconception yang tepat. optimism and a psychological resilience that expects success (lihat Karol Kennedy. visionary. mampu menangani setiap tekanan. (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi. dan Work is viewed as excisting. risk taking and curiosity. Fenomena ini menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah. and enjoyable. empati. Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah“empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : People feel important.menantang proses. tidak melakukan kesalahan yang sama. connection yang luas. berpikir positif. Sebelum itu. Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994). and self (= commitment. Kemudian pada tahun 1997. (c) Display a bias towards action. mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya. kemampuan komunikasi yang tinggi. p. Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain. menurut hubungan pemimpin dan pengikut.Sementara itu. Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed. Learning and competence are reinforced. Dinyatakan. karena memiliki komitmen. creating authentic relationships. manajemen waktu. memberikan inspirasi. willingness to take risk). dan integritas”. People feel they part of the organization. pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan “status quo” dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. dan (5) memotivasi bawahan. meaning (= communication). kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan.

sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”. melainkan masalah emosional. Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati.Dalam hubungan jiwa kepemimpinan. dan moral. Sedangkan Bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional. Mereka seringkali adalah pencari nyala api. Sumber : . Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan. jiwa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful