Tipe-tipe Kepemimpinan : Tipe Otokratik

pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk : kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain: menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.

1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan

Tipe Kepemimpinan Laissez Faire Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin. (6) komunikasi hanya berlangsung searah. usul. (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya. (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh. (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri. 4. (6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar. kaku dan seringkali kurang bijaksana. (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan. sugesti. (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif. (5) tidak menghendaki saran. tidak memiliki keterampilan teknis. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative. (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal. dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. upacaraupacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. kuno. tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin . (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan. yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikapoverprotective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan. Tipe Kepemimpinan Militeristik . dan kritikankritikan dari bawahannya.untuk berinisiatif. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando. tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja. (8) selalu ingin berkuasa secara absolut. (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. keras dan sangat otoriter. Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik. (3) sangat menyenangi formalitas. Dominator) Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi. 5. (7) adanya sikap eksklusivisme. 3. tidak bisa mengontrol anak buah. tidak mempunyai wibawa. (3) berambisi untuk merajai situasi. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol. ketat dan kaku.

biasanya diperoleh dengan cara penyogokan. tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu. Tipe Kepemimpinan Demokratis Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. 8. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. suapan atau karena sistem nepotisme. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter. karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. indutri. manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat. 6. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi. dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme. Refleksi dari Tipe Kepemimpinan tsb: Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan. walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan. 7. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Oleh karena itu dalam . Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugastugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Tipe Kepemimpinan Populistis Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal.

b. Kekuatan pimpinan. b. Kelompok gaya dasar. Kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melaui wewenang formal.Model Kepemimpinan dari para ahli 1. misalnya latar belakang pendidikan. pengetahuan. . Derajat susunan tugas. pengabdi. 2. Hubungan antara pemimpin dan anggota merupakan variabel yang sangat kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan. dsb. terdiri dari gaya pemisah. yaitu: a. 3. Kelompok gaya tak efektif.Model ini menjelaskan bahwa pemimpin akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda. penghubung. Model Kontinum Kepemimpinan (Tannenbaum dan Schmidt) Model ini berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin dalam memilh gaya kepemimpinan yang akan dilakukan. organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat. yaitu: a. penganjur. pengembang. pengalaman. dan kompromis. Ketiga factor tersebut. kecerdasan. yaitu: a. c. merupakan masukan kedua yang sangat penting untuk situasi yang menguntungkan. dan terpadu.aplikasinya. dan eksekutif. terdiri dari gaya birokrat. tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga. latar belakang kehidupan pribadi. adalah dimensi sangat kritis yang ketiga dari situasi. Kelompok gaya efektif. otokrat bijak. Berikutini adalah Model. Model 3 Dimensi Kepemimpinan (Reddin) Model 3 Dimensi Kepemimpinan atau yang juga dikenal dengan sebutan 3-D model karena menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan. otokrat. Tidak ada pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. terdiri dari gaya pelari. Terdapat 3 ( tiga ) sifat situasi yang berpengaruh terhadap efektifitas kepemimpinan. Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler) . c.

e. pengaruh terhadap perilaku pemimpin dapat datang dari pemimpin itu sendiri atau dari bawahan dan dapat disalurkan secara berbeda antara kedua pihak tersebut. b. yaitu: a. Kekuatan situasi. dan faktor lingkungan lainnya. c. Kekuatan bawahan. hal ini mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan seperti suasana organisasi. Wewenang pengawasan terhadap masalah yang ada Wewenang anggota kelompok terhadap masalah Pentingnya penerimaan dari pemberian keputusan terhadap pimpinan Pentingnya penerimaan keputusan terhadap anggota kelompok Tekanan waktu 6. tekanan waktu. ingin memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan. kelompok kerja khusus. Pencapaian beberapa sasaran kelompok khusus. 4. antara lain : a. b. terdapat dua macam perilaku kepemimpinan. d. hal ini menyebabkan pimpinan memilih gaya demokratis apabila bawahan sangat membutuhkan ketidaktergantungan dan kebebasan bertindak. identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan hubungan antar orang. identik dengan perilaku pemimpin yang mengutamakan tugas.b. c. Tingkat efektivitas teknis diantara para bawahan Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan 5. b. Model Kepemimpinan Dinamika Kelompok (Dorwin Cartwright & Alvin Zander) Menurut model ini. Model Kontinum Kepemimpinan Berdasarkan Banyaknya Peran Serta Bawahan dalam Pembuatan Keputusan (Vroom-Yetton) Dalam model ini terdapat dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan bawahan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan. Pemeliharaan dan penguatan kelompok itu sendiri. Ketepatan jenis perilaku pemimpin tergantung pada 5 faktor. yaitu : a. Model Kontingensi Lima Faktor (Farris) Dalam model ini. .

Input a. Model Kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” (Graen) Model kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” ini disebut juga dengan model “Vertical Dyadic Theory” oleh Martin J. kerumitan. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan dan mencoba memprediksi bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi. otoriter. Kepribadian bawahan yang meliputi kerjasama. d. Tiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada bawahannya. Model kepemimpinan jenis ini menitikberatkan pada “dyad” yaitu hubungan antara pemimpin dengan tiap bawahannya secara bebas. kehangatan. Model Kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House) Pendekatan model kepemimpinan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. prestasi. Pembagian kekuasaan antara pimpinan dan bawahan Penyebaran informasi antara atasan dan bawahan Struktur ketat dan struktur longgar Tujuan jangka pendek dan jangka panjang 3. c. b. dan lingkungan luar. dan tanggung jawab pada kelompok. Hubungan a. dan memusatkan perhatian dan pikiran pada diri sendiri. memilih kesempatan.7. Tugas yang meliputi umpan balik. dan kepuasan bawahan. saling tergantung. ciri-ciri manajerial. Perilaku Pemimpin . entrope. 8. c. d. rutin. kekuasaan. 2. b. kejelasan. Kelompok kerja yang meliputi pertentangan didalam. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada tiap bawahan. Gannon. Model Kepemimpinan Sistem (Bass) Model Kepemimpinan Sistem terdiri dari: 1. Organisasi yang meliputi batasan. 9.

Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi. perilaku hubungan. saran dan pendapat. menentukan kembali tugas-tugas untuk menyeimbangkan beban kerja. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. Prestasi Kepuasan yang meliputi pekerjaan dan pengawas 10. di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya. 4. menyusun pertemuan. Blanchard) Dalam model ini. b. pemimpin membuat keputusan bersama. Manipulatif. keyakinan. mudah didekati dan bersahabat. memasukan saran kelompok ke dalam operasi. dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan. Tidak mau menerima kritik. 2. . Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. mendengarkan bawahan.1997). Kepemimpinan situasional berdasarkan saling pengaruh antara: 1. Model Kepemimpinan Situasional (Paul Hersey dan Kenneth H. b. atau sasaran. berdasarkan pendekatan situasional tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi seseorang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengikuti arah mereka sendiri. pemimpin terus terang dan memberi kesempatan bertanya. Konsultatif. serta tingkat kematangan bawahan. sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan sejumlah pendukungan emosional (perilaku hubungan) yang pemimpin berikan tingkat kematangan yang ditunjukan oleh bawahan dalam melaksanakan tugas khusus.a. pemimpin memberitahukan kepada bawahannya apa yang mereka inginkan. mencoba ide mereka. memperlakukan bawahan sama. Output c. Partisipatif. 1. 3. a. harapan. fungsi. pemimpin berbaik hati pada bawahan. Tipe Otokratis. membuat mereka berlomba satu sama lain. memberikan perhatian kemajuan pada perubahan. Pendekatan berdasarkan atas hubungan antara perilaku tugas. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya. pemimpin menunjukkan kepercayaan pada bawahan. e. Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri. merubah perilaku untuk memastikan kesempatan. Delegatif. Direktif. d.

Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. Tipe Paternalistis. bersikap terlalu melindungi (overly protective). Gandhi bukanlah seorang yang kaya. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia. selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya. selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya. senang menerima saran. profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. dan sering bersikap maha tahu. Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Tipe Karismatik. pendapat. selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan.Tipe Militeristis. ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. Kekayaan. dan bahkan kritik dari bawahannya. maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Sukar menerima kritikan dari bawahannya. dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. Mengenai profil. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain. John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Tipe Demokratis. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan. meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. umur. . kesehatan. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang „ganteng”. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar.

dan metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. (Lihat Gambar 1). melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim tersebut. Namun. Selain bersifat negatif. sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman.Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain. Selain itu. di antaranya adalah sebagai berikut. karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan. karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh. Namun. pengambilan keputusan cepat. di mana si pemimpin senang menerima saran. Perilaku otokratis. Adapun konsiderasi . Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis). Model Kepemimpinan Ohio. Dalam penelitiannya. Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya kepemimpinan yang berbeda. orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas. Perilaku demokratis. yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis. pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan. dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan. 1992). Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey dan Blanchard. alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Model Kepemimpinan. 1. Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis yang berorientasi pada hubungan. pada umumnya dinilai bersifat negatif. perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. saluran komunikasi. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara. Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok kerja dalam upaya membentuk pola organisasi. Beberapa model yang menganut pendekatan ini. kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok.

dan memerintahkan semua bawahan untuk menjalankannya. Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung lebih bersifat menudukung. Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem. Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik). kepercayaan timbal-balik. yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun struktur inisiasinya. dan (d) model kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya. hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem adalah saling curiga satu dengan lainnya. Namun demikian. Selain itu.mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan. pemimpin juga menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh bawahan. Pada sistem ini. Kedua faktor dalam model kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat kuadran. Untuk itu. pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan peraturan standar. Sedangkan contoh untuk faktor struktur inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota kelompok. yaitu sistem otoriter. konsultatif. rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin dengan anggota stafnya (bawahan). pimpinan cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. Penjelasan dari keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut ini. Dalam sistem ini. (Lihat Gambar 2) Model Kepemimpinan Likert (Likert’s Management System). pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang . Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. sikap pemimpin yang selalu memerintah tetap dominan. pada sistem inipun. Selain itu sistem kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu. pimpinan menentukan semua keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan. (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi maupun struktur inisiasinya. pemimpin mau mengadakan perubahan. Sistem Konsultatif. Sistem Partisipatif. pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan baik. (c) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya. otoriter yang bijaksana. Adapun contoh dari faktor konsiderasi misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota kelompok. dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang hal-hal yang diharapkan dari mereka. Sistem Otoriter (Sangat Otokratis). Oleh karena itu. Dalam menjalankan pekerjaannya. dan pemimpin bersikap bersahabat dan dapat didekati. dan partisipatif.

pemimpin biasanya menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang tinggi pada bawahan. kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut. . maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap bawahannya. Grid 1. Gaya kepemimpinan tersebut adalah : (Lihat Gambar 3) Grid 1. sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja (bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan dan bawahan. Untuk mewujudkan hal tersebut. sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas. Grid 9. Dalam pemikiran modelmanagerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya.1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas).9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim). kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur inisiasi dan konsideransinya. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan. kebijakan-kebijakan yang harus diambil. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan bawahan. maka dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang.menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat bawah.1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan yang Tandus). pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau kepentingan bawahan. model kepemimpinan yang disampaikan oleh Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang dikembangkan oleh Universitasi Ohio. Model Kepemimpinan Managerial Grid. yaitu dari sudut pandang struktur inisasi dan konsiderasi. pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan kerja. Dengan demikian. Dalam sistem inipun. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya. Jika dalam model Ohio. Grid 9.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan Perkumpulan). sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan. Menurut Blake dan Mouton ini. pola komunikasi yang terjadi adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan. proses dan prosedur penyelesaian tugas. yaitu antara 0 sampai dengan 9. kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti.

Namun demikian. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi. Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja. (Lihat Gambar 4). tidak dapat dipungkiri bahwasanya model ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama dengan model sebelumnya. di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan bersifat kebapakan.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan Tengah). Masing-masing bagian dimensi . Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut. dan kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi). Model Kepemimpinan Kontingensi. Berdasakan uraian di atas. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang sama tersebut memiliki perbedaan. sedangkan dua dimensi lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap sama. Fielder dalam Gibson. Berdasar ketiga variabel utama tersebut. Secara umum. namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. Namun perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum yang berbeda. pada dasarnya model kepemimpinan manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan kepemimpinan. pendapat Fiedler cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga dimensi ini. Ketiga variabel utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota). terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Menurut model kepemimpinan ini. Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder.Grid 5. pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid. para pemimpin yang berorientasi pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup menguntungkan. Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi pada model tiga dimensi. Fiedler menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak menguntungkan sekalipun. yaitu dimensi efektivitas. di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang memuaskan. kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas). Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama. dimensi efektivitas lingkungan terdiri dari dua bagian. yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas. yaitu dimensi lingkungan yang tidak efektif dan efektif.

bahwa peningkatan frekuensi interaksi dan partisipasi sangat berkaitan dengan peningkatan sentimen atau perasaan senang dan kejelasan . dan (2). berusaha menerangkan kepemimpinan sebagai efek dari kekuatan tunggal. 1994). (3) penampilan peran harus dimainkan sebagai pemimpin. Efek interaktif antara faktor individu dengan faktor situasi tampaknya kurang mendapat perhatian. adalah Teori Interaksi Harapan. 1994). Teori ini mengembangkan tentang peran kepemimpinan dengan menggunakan tiga variabel dasar yaitu. Untuk itu. dan sentimen. dan kekuatan moral serta mereka selalu dipimpin oleh individu yang benar-benar superior. tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pimpinan dengan kelompoknya. Dari sisi teori kepemimpinan. Beberapa penelitian lanjutan. penelitian tentang kepemimpinan harus juga termasuk . tempat dan situasi sesaat. (2) membayangkan bahwa terdapat sekelompok orang yang dia pimpin dan motifnya mengikuti dia. teori kepemimpinn banyak dipengaruhi oleh penelitian Galton (1879) tentang latar belakang dari orang-orang terkemuka yang mencoba menerangkan kepemimpinan berdasarkan warisan. pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba menerangkan dua hal yaitu. karena teori banyak membantu dalam mendefinisikan dan menentukan masalah-masalah penelitian. Teori kepemimpinan yang dikembangkan mengikuti tiga teori diatas.lingkungan ini memiliki skala yang sama 1 sampai dengan 4. faktor-faktor yang terlibat dalam pemunculan kepemimpinan dan sifat dasar dari kepemimpinan. Pendapat lain mengemukakan. energi. Penelitian tentang dua masalah ini lebih memuaskan daripada teorinya itu sendiri. Beberapa pendapat tersebut. (1) sifat-sifat efektif. Dari penelusuran literatur tentang kepemimpinan. kualitas individu dalam mengatasi situasi sesaat merupakan hasil kepemimpinan terdahulu yang berhasil dalam mengatasi situasi yang sama (Hocking & Boggardus. Teori Kepemimpinan. dimana untuk lingkungan tidak efektif skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya bertanda positif. beberapa ahli teori mengembangkan pandangan kemunculan pemimpin besar adalah hasil dari waktu. dan (2) kondisi khusus individu didalam pelaksanaannya. Namun bagaimanapun teori-teori kepemimpinan cukup menarik. intelektual dan tindakan individu. dan (4) kaitan kelembagaan melibatkan dia dan pengikutnya (Hocking & Boggardus. untuk mengerti kepemimpinan perhatian harus diarahkan kepada (1) sifat dan motif pemimpin sebagai manusia biasa. (Lihat Gambar 5). Perkembangan selanjutnya. pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada. tindakan. apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang “Personal-Situasional”. Asumsinya. (1) kualitas pemimpin dan kepemimpinan yang tergantung kepada situasi kelompok. interaksi. Dua teori yaitu Teori Orang-Orang Terkemuka dan Teori Situasional. yaitu . 1. Dua hipotesis yang dikembangkan tentang kepemimpinan. mengemukakan individu-individu dalam setiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda dalam inteligensi. Hal ini disebabkan.

Teori ini menekankan pada apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin. tingkat efektivitas kepemim-pinan makin tinggi. kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan.dari norma kelompok. dan Drea bahkan menyatakan. Motivasi dirubah dengan melalui perubahan harapan tentang hadiah dan hukuman. kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain. dan banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi. 2001). interaksinya semakin meluas. Apabila dicermati. yaitu. Semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok. House pada tahun 1970 mengembangkan Teori Kepemimpinan yang Motivasional. didalam Teori Humanistik. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Teori kepemimpinan lain. Kemudian dikemukakan. (2). Pemimpin yang memiliki orientasi kerja cenderung lebih efektif dalam berbagai situasi. maka aktivitasnya semakin sesuai dengan norma kelompok. dan (3). secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah atas kinerjanya. Dikemukakan. Pada tahun yang sama Fiedlermengembangkan Teori Kepemimpinan yang Efektif. organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan. terdapat perilaku yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersamasama. Rensis Likert. terdapat tiga variabel pokok. nilai seorang pemimpin atau manajer tergantung dari kemampuannya menciptakan harapan akan pujian atau hadiah. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Jadi. Blanchard. (1). Dengan demikian. Pada tahun 1957 Stogdill mengembangkan Teori Harapan-Reinforcement untuk mencapai peran. yang perlu dikemukakan adalah Teori Perilaku Kepemimpinan. Semakin sosiabel interaksi kesesuaian pemimpin. peran individu ditentukan oleh harapan bersama yang dikaitkan dengan penampilan dan interaksi yang dilakukan. maka . Jika suatu penelitian berhasil menemukan perilaku khas yang menunjukkan keberhasilan seorang pemimpin. Blake dan Mouton. Zigarmi. Atas dasar teori diatas. melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi. inti kepemimpinan dapat dilihat dari usaha anggota untuk merubah motivasi anggota lain agar perilakunya ikut berubah. Perubahan tingkahlaku anggota kelompok yang terjadi. Teori ini secara umum berpendapat. dan kemampuan-nya. Teori kepemimpinan berikutnya adalah Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris. kebutuhan. efektivitas pola tingkahlaku pemimpin tergantung dari hasil yang ditentukan oleh situasi tertentu. interaksi antar anggota dalam pelaksanaan tugas akan lebih menguatkan harapan untuk tetap berinteraksi. Dikemukakan. Fungsi motivasi menurut teori ini untuk meningkatkan asosiasi antara cara-cara tertentu yang bernilai positif dalam mencapai tujuan dengan tingkahlaku yang diharapkan dan meningkatkan penghargaan bawahan akan pekerjaan yang mengarah pada tujuan. dan Douglas McGregor. Dikemukakan.

1993). innovation. Spencer dan kawan-kawan (1990). Secara historis perkembangan kompetensi dapat dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang dikembangkan oleh Burgoyne (1988). Examples of competencies are initiative. Menurut review Asropi (2002). Woodruffe (1990). influence. capabilities which may be expressed in a broad. dan skill ( Spencer. Selain traits dari Spencer dan Zwell tersebut. teamwork. fungsi. Selanjutnya Bass (1985) meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai kedua pola kepemimpinan dan kemudian mengumumkan secara resmi sebagai teori. tugas. yatu berupamotives. kompetensi adalah an area of knowledge or skill that is critical for production ke outputs.implikasinya ialah seseorang pada dasarnya dapat dididik dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. 1993). Kompetensi Kepemimpinan Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran. lengkap dengan model dan pengukurannya. atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi. Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”. berbagai kompetensi tersebut mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang bersifat fisik dan . 3. 1993. Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. and strategic thinking”. pemimpin itu ada bukan hanya dilahirkan untuk menjadi pemimpin tetapi juga dapat muncul sebagai hasil dari suatu proses belajar. kompetensi adalah “… an undderlying characteristicof an individual that is causally related to criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or situation”. knowledge. Menurut Rotwell. Furnham (1990) dan Murphy (1993). dalam perkembangan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian para pakar maupun praktisi adalah dua pola dasar interaksi antara pemimpin dan pengikut yaitu pola kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Teori ini sekaligus menjawab pendapat. Kedua pola kepemimpinan tersebut. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat “Competencies can be defined as the enduring traits and characteristics that determine performance. self koncept (Spencer. Lebih lanjut Rotwell menuliskan bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their job. Spencer (1993) berpendapat. adalah berdasarkan pendapat seorang ilmuwan di bidang politik yang bernama James McGregor Burns (1978) dalam bukunya yang berjudul “Leadership”. terdapat karakteristik kompetensi lainnya. even infinite array of on the job behaviour. Rothwell and Kazanas. Selain teori-teori kepemimpinan yang telah dikemukakan.

Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan yang diharapkan (Amstrong. Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya lebih befokus pada technical expertise. yang memberikan keyakinan pada seseorang siapa dirinya. mendorong. Adapun kompetensipada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada influence. service orientation. service orientation. traits. influence. Self concept adalah sikap. atau citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri. technical expertise. dan empowering others. initiative. building organzational commitment. relationship building. empowering others. team work. interpersonal understanding. ditemukan bahwa terdapat 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul. dan knowledge. felexibilty. building organizational commitment. entrepreneurial orientation. analitycal thinking. Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial. fungsi. Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa. Ke 18 kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak. yaitu kompetensi berupa : result orientation. dantechnical expertise. 1990). yang dapat mengarahkan. empowering others. interpersonal awareness. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan seseorang. atau menyebabkan orang melakukan suatu tindakan. cross cultural sensitivity.tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau informasi. Knowledge adalah informasi yang dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. skill bersifat action. nilai. interpersomal awareness. develiping others. conceptual thingking. analytical thinking. strategic thinking. self concept. developing others. yaitu. relationship building. influence. dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor). concern for order. entrepreneurial orientation. flexibility. relationship building. building organizational commitment. influence. team work. result (achievement) orientation. empowering others. baik mental atau pun fisik. relatiuonship building. result (achievement) orientation. hanya dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima. developing others. developing others. Kompetensi pada pimpinan puncak adalah result (achievement) orientation. concern for quality. conceptual thinking. service orientation. Menurut Spencer (1993). skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives. Dalam pada itu. Skill adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu. team work. kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup yang dihasilkan dari “mutu pribadi total” ditambah “kendali mutu total” ditambah “mutu kepemimpinan”. initiative. menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993) terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau dipilah menurut jenjang. dan felexibilty. strategic thinking. Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang bersifat intention dalam diri individu. Berdasarkan penelitiannya. cross cultural sensitivity. pimpinan menengah. atau bidang. (1) pemimpin yang . dan cross cultural sensitivity. Dikemukakan. initiative.

Sebelum itu. karena memiliki komitmen. competency yang cukup. creating authentic relationships. dan Work is viewed as excisting. menurut hubungan pemimpin dan pengikut. Sedangkan Burwash (1996) dalam hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan. Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994). memiliki dasar spiritual yang kuat. (b) Generate and sustain trust.menantang proses.32). memiliki komitmen organisasional yang kuat. Learning and competence are reinforced. pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan “status quo” dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. Dinyatakan. “kepemimpinan yang kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan wibawa. Dalam pada itu. Fenomena ini menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan diri sendiri. Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed. kredibilitas. (2) memberikan inspirasi wawasan bersama. disiplin diri yang tinggi. kunci dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan yang terbaik. p. willingness to take risk). and enjoyable. mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya. meaning (= communication). Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain. (c) Display a bias towards action. Selain itu. dan (d) Are purveyors of hope. berpikir positif. dan integritas”. . dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin dinamik. and self (= commitment. Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa peran kepemimpinan adalah“empowering the collective effort of the organization toward meaningful goals” dengan indikator keberhasilan sebagai berikut : People feel important. optimism and a psychological resilience that expects success (lihat Karol Kennedy. keempat konsep tersebut diubah menjadi the new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning.. tidak melakukan kesalahan yang sama. memberikan inspirasi. empati. stimulating. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut. (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi. dan memiliki kecakapan teknikal maupun manajerial. kemampuan komunikasi yang tinggi. Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi bentuk kompetensi kepemimpinan berupa “the ability to manage” dalam empat hal : attention (= vision). risk taking and curiosity. dan (5) memotivasi bawahan. ia menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. memandang masa depan. (4) mampu menjadi penunjuk jalan. connection yang luas. diperlukan kompetensi kepemimpinan berupaconception yang tepat. antusias. manajemen waktu. a sense of purpose. menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua sisi dari proses yang sama. Kemudian pada tahun 1997. Soetjipto Wirosardjono (1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut. apabila manajer memiliki sifat jujur.Sementara itu. berwawasan luas. visionary. dan confidence. dan jiwa kepemimpinan. 1997) mengidentikasi kompetensi dalam nuansa lain. 1998. People feel they part of the organization. Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan bersedia mengikuti perilakunya adalah. trust (= emotional glue). mampu menangani setiap tekanan. dan selalu siap melayani.

sejumlah pengamat memasuki wilayah “spiritual”.Dalam hubungan jiwa kepemimpinan. Mereka seringkali adalah pencari nyala api. melainkan masalah emosional. Bardwick menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan. Sumber : . jiwa. Sedangkan Bell berpikiran bahwa pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional. dan moral. Rangkaian kualitas lain yang mewarnainya antara lain adalah hati.