P. 1
LAPORAN 1(1)

LAPORAN 1(1)

|Views: 26|Likes:
be a smart human
be a smart human

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Zulkifli Paldana Akbar on May 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

Sections

  • BAB I SPESIFIKASI UMUM
  • Pengertian dan Istilah
  • Ruang Lingkup
  • Prinsip-Prinsip Pengadaan
  • Etika Pengadaan
  • Pengguna Anggaran
  • Kuasa Pengguna Anggaran
  • Pejabat Pembuat Komitmen
  • Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan
  • Persyaratan Penyedia Barang/Jasa
  • Kemampuan Dasar
  • Penetapan Metode Pemilihan
  • Penetapan Metode Penyampaian Dokumen
  • Penetapan Metode Evaluasi Penawaran
  • Penetapan Metode Penilaian Kualifikasi
  • Penetapan Jenis Kontrak
  • Tanda Bukti Perjanjian
  • Tahapan Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi
  • Biaya penawaran
  • Dokumen Pangadaan Barang/Jasa
  • Jaminan Pengadaan Barang/Jasa
  • Jaminan Penawaran
  • Jaminan Pelaksanaan
  • Jaminan Pemeliharaan
  • Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen
  • Pemberian Penjelasan Lelang
  • Pemasukan Dokumen Penawaran
  • Pembukaan Dokumen Penawaran
  • Evaluasi Penawaran
  • Evaluasi Kualifikasi
  • Pembuktian Kualifikasi
  • Pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan (BAHP)
  • Penetapan dan Pengumuman Pemenang
  • Sanggahan
  • Sanggahan Banding
  • Penunjukan Penyedia Barang/Jasa
  • Pelelangan Gagal
  • Pelelangan Ulang
  • BAB II SPESIFIKASI ADMINISTRASI
  • Penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa
  • Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)
  • Penyusunan Program Mutu
  • Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak
  • Mobilisasi
  • Pemeriksaan Bersama
  • Pembayaran Uang Muka
  • Perubahan Kegiatan Pekerjaan
  • Laporan Hasil Pekerjaan
  • Pembayaran Prestasi Pekerjaan
  • Denda dan Ganti Rugi
  • Keadaan Kahar
  • Perpanjangan Waktu Pelaksanaan
  • Serah Terima Pekerjaan
  • Penghentian dan Pemutusan Kontrak
  • Pengendalian
  • Pengawasan
  • Pengaduan
  • Sanksi
  • Penyelesaian Perselisihan
  • BAB III SPESIFIKASI TEKNIS
  • Lingkup Pekerjaan
  • 1)Lingkup Pekerjaan
  • Divisi 1 Pekerjaan Persiapan
  • 1)Mobilisasi dan Demobilisasi
  • 2)Pembersihan dan Pengukuran Lokasi
  • 3)Pembuatan direksi keet
  • 4)Pembuatan gudang, bengkel dan barak pekerja
  • 5)Penyediaan air bersih
  • 6)Penyediaan Listrik dan Penerangan
  • 7)Pembuatan papan nama dan rambu lalu lintas
  • Divisi 2 Pekerjaan Tanah
  • 1)Galian
  • 2)Urugan
  • Divisi 2 Pekerjaan Beton
  • 1)Semen
  • 2)Agregat
  • 3)Air
  • 4)Admixture
  • 5)Mutu Beton
  • 6)Faktor Air Semen
  • 7)Test Kubus Beton (Pengujian Mutu Beton)
  • 8)Cacat pada Beton
  • 9)Pengecoran Beton
  • 10)Curing dan Perlindungan Atas Beton
  • 11)Pembongkaran Bekisting
  • Divisi III Divisi Struktur Menara
  • 1)Bahan
  • 2)Ketentuan
  • 3)Pelaksanaan
  • Divisi IV Pekerjaan Bekisting
  • 1)Umum
  • 2)Bahan
  • 3)Pembuatan Bekisting
  • 4)Pemeriksaan Bekisting
  • 5)Pembongkaran
  • Divisi V Pekerjaan Tulangan
  • Divisi VI Pekerjaan Perpipaan
  • 2)Patok Dan Tanda-Tanda
  • 3)Pemasangan Pipa
  • 4)Pengetesan Pipa
  • b.Hydrostatic Pressure Test
  • c.Pengujian Kebocoran (Leakage Test)
  • Divisi VII Pekerjaan Finishing
  • 1)Pengembalian Kondisi Awal
  • 2)Pengecatan
  • Tabel Bill Of Quantity
  • Tabel Lembar Pekerjaan

BAB I SPESIFIKASI UMUM Pengertian dan Istilah Pasal 1 1) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan

Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. 2) Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok adalah instansi yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2013. 3) Pengguna Barang/Jasa adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan Barang dan/atau Jasa milik daerah di Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok. 4) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut LKPP adalah lembaga Pemerintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 5) Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Pejabat yang disamakan pada Institusi lain Pengguna APBD. 6) Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan Kepala Daerah untuk menggunakan APBD. 7) Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. 8) Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta yang bersifat permanen, dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada. 9) Pejabat Pengadaan adalah personil yang memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa yang melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. 10) Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya. seluruh

11) Pakta Integritas adalah surat pernyataan yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme dalam Pengadaan Barang/Jasa. 12) Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh Pengguna Barang. 13) Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi bangunan atau pembuatan wujud fisik lainnya. 14) Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa adalah tanda bukti pengakuan dari pemerintah atas kompetensi dan kemampuan profesi dibidang Pengadaan Barang/Jasa. 15) Dokumen Pengadaan adalah dokumen yang ditetapkan oleh ULP/Pejabat Pengadaan yang memuat informasi dan ketentuan yang harus ditaati oleh para pihak dalam proses Pengadaan Barang/Jasa. 16) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya disebut Kontrak adalah perjanjian tertulis antara PPK dengan Penyedia Barang/Jasa. 17) Pelelangan Umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Pekerjaan Konstruksi. 18) Surat Jaminan yang selanjutnya disebut Jaminan, adalah jaminan tertulis yang bersifat mudah dicairkan dan tidak bersyarat (unconditional), yang dikeluarkan oleh Bank Umum/Perusahaan Penjaminan/Perusahaan Asuransi yang diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada PPK/ULP untuk menjamin terpenuhinya kewajiban Penyedia Barang/Jasa. 19) Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement adalah Pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. 20) Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang selanjutnya disebut LPSE adalah unit kerja Dinas Pekerjaan Umum yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik. 21) E-Tendering adalah tata cara pemilihan Penyedia Barang/Jasa yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Jasa yang terdaftar pada sistem pengadaan

secara elektronik dengan cara menyampaikan 1 (satu) kali penawaran dalam waktu yang telah ditentukan. 22) Katalog elektronik atau E-Catalogue adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai Penyedia Barang/Jasa Pemerintah. 23) E-Purchasing adalah tata cara pembelian Barang/Jasa melalui sistem katalog elektronik. 24) Portal Pengadaan Nasional adalah pintu gerbang sistem informasi elektronik yang terkait dengan informasi Pengadaan Barang/Jasa secara nasional yang dikelola oleh LKPP. Ruang Lingkup Pasal 2 1) Ruang lingkup RKS ini meliputi Pengadaan Barang/Jasa pada Proyek Pendistribusian Air Bersih di Kecamatan Cimanggis yang pembiayaannya seluruhnya bersumber dari APBD. 2) Pengadaan Barang/Jasa yang dananya bersumber dari APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup Pengadaan Barang/Jasa yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari pinjaman atau hibah dalam negeri yang diterima oleh Pemerintah Daerah. Pasal 3 Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dilakukan melalui pemilihan Penyedia Barang/Jasa. Pasal 4 Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam RKS ini meliputi Pekerjaan Konstruksi. Prinsip-Prinsip Pengadaan Pasal 5 Pengadaan Barang/Jasa menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. efisien; b. efektif; c. transparan d. terbuka; e. bersaing;

bekerja secara profesional dan mandiri. c. dan g. menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam Pengadaan Barang/Jasa. dan h. tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung yang berakibat terjadinya persaingan tidak sehat. tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah. b. g. komisi. baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses Pengadaan Barang/Jasa. menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak.f. menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. tidak menerima. melaksanakan tugas secara tertib. akuntabel. . imbalan. kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan Pengadaan Barang/Jasa. rabat dan berupa apa saja dari atau kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran. menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait. menetapkan Rencana Umum Pengadaan. f. adil/tidak diskriminatif. d. Pengguna Anggaran Pasal 7 1) PA memiliki tugas dan kewenangan sebagai berikut: a. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. e. serta menjaga kerahasiaan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam Pengadaan Barang/Jasa. Etika Pengadaan Pasal 6 Para pihak yang terkait dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa harus mematuhi etika sebagai berikut: a.

b. rancangan Kontrak. mengawasi pelaksanaan anggaran. mengawasi penyimpanan dan pemeliharaan seluruh Dokumen Pengadaan Barang/Jasa. PA dapat menetapkan tim teknis. menyelesaikan perselisihan antara PPK dengan ULP/ Pejabat Pengadaan. e. 3) KPA untuk dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan ditetapkan oleh PA pada kementerian/Lembaga/Institusi pusat lainnya atas usul Kepala Daerah. menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. h. 2) Selain tugas pokok dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan i. menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 2. spesifikasi teknis Barang/Jasa. Harga Perkiraan Sendiri (HPS). 4) KPA memiliki kewenangan sesuai pelimpahan oleh PA. . d. f. menetapkan Pejabat Pengadaan. Kuasa Pengguna Anggaran Pasal 8 1) KPA pada Kementerian/Lembaga/Institusi pusat lainnya merupakan Pejabat yang ditetapkan oleh PA. 2) KPA pada Pemerintah Daerah merupakan Pejabat yang ditetapkan oleh Gubernur atas usul PA. menetapkan PPK. dan 3. menetapkan rencana pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang meliputi: 1. g. Pejabat Pembuat Komitmen Pasal 9 1) PPK memiliki tugas pokok dan kewenangan sebagai berikut: a. dalam hal terjadi perbedaan pendapat. dalam hal diperlukan. mengumumkan secara luas Rencana Umum Pengadaan paling kurang di website Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok c.

melaporkan pelaksanaan/penyelesaian Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA. menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa. Pasal 10 1) PPK merupakan Pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA untuk melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. melaksanakan Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa. d. b. memiliki integritas. menetapkan besaran Uang Muka yang akan dibayarkan kepada Penyedia Barang/Jasa. e. memiliki disiplin tinggi. . menetapkan tim atau tenaga ahli pemberi penjelasan teknis (aanwijzer) untuk membantu pelaksanaan tugas ULP. perubahan paket pekerjaan.b. menandatangani Kontrak. PPK dapat: a. dan d. dan i. menetapkan tim pendukung. menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas. c. dalam hal diperlukan. perubahan jadwal kegiatan pengadaan. 2) Untuk ditetapkan sebagai PPK harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. bertindak tegas dan memiliki keteladanan dalam sikap perilaku serta tidak pernah terlibat KKN. d. b. mampu mengambil keputusan. melaporkan kemajuan pekerjaan termasuk penyerapan anggaran dan hambatan pelaksanaan pekerjaan kepada PA/KPA setiap triwulan. c. mengusulkan kepada PA/KPA: 1. h. atau 2. c. menyerahkan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa kepada PA/KPA dengan Berita Acara Penyerahan. mengendalikan pelaksanaan Kontrak. 2) Selain tugas pokok dan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. g.

b. 2) Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan e. Pasal 11 PPK dilarang mengadakan ikatan perjanjian atau menandatangani Kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa apabila belum tersedia anggaran atau tidak cukup tersedia anggaran yang dapat mengakibatkan dilampauinya batas anggaran yang tersedia untuk kegiatan yang dibiayai dari APBD. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan Pasal 12 1) PA/KPA menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. tidak menjabat sebagai pengelola keuangan. menandatangani Pakta Integritas. memiliki integritas. memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa. memiliki kualifikasi teknis. 3) Persyaratan manajerial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c adalah: a. menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui pemeriksaan/pengujian. b. dan c. memiliki kemampuan kerja secara berkelompok dalam melaksanakan setiap tugas/pekerjaannya. dan g. 3) Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempunyai tugas pokok dan kewenangan untuk: a. memahami isi Kontrak. f. berpendidikan paling kurang Diploma 3 (D3) dengan bidang keahlian yang sedapat mungkin sesuai dengan tuntutan pekerjaan. melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak. disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas. memiliki pengalaman paling kurang 2 (dua) tahun terlibat secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa. menandatangani Pakta Integritas. b. dan .e. c. tidak menjabat sebagai pengelola keuangan. d.

dan b) untuk usaha non kecil. termasuk pengalaman subkontrak. harus memperhitungkan Sisa Kemampuan Paket (SKP) sebagai berikut: SKP = KP – P KP = nilai Kemampuan Paket. ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf c. e. modal. 4) Dalam hal pemeriksaan Barang/Jasa memerlukan keahlian teknis khusus. nilai Kemampuan Paket (KP) ditentukan sebanyak 5 (lima) paket pekerjaan. Persyaratan Penyedia Barang/Jasa Pasal 13 1) Penyedia Barang/Jasa dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. P = jumlah paket yang sedang dikerjakan.2 (satu koma dua) N. c. pengalaman. dikecualikan bagi Penyedia Barang/Jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun. memperoleh paling kurang 1 (satu) pekerjaan sebagai Penyedia Barang/Jasa dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir baik dilingkungan pemerintah maupun swasta. d. g.c. dapat dibentuk tim/tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan tugas Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. memiliki keahlian. kemampuan teknis dan manajerial untuk menyediakan Barang/Jasa. . f. dengan ketentuan: a) untuk Usaha Kecil. nilai Kemampuan Paket (KP) ditentukan sebanyak 6 (enam) atau 1. kecuali untuk Pengadaan Barang dan Jasa Konsultansi. 5) Tim/tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan oleh PA/KPA. memiliki Kemampuan Dasar (KD) untuk usaha non-kecil. memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjalankan kegiatan/usaha. membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan. memiliki sumber daya manusia. peralatan dan fasilitas lain yang diperlukan dalam Pengadaan Barang/ Jasa. b. khusus untuk Pengadaan Pekerjaan Konstruksi.

yang dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani Penyedia Barang/Jasa. 2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c. 3) Pegawai Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta dilarang menjadi Penyedia Barang/Jasa. . i. huruf h dan huruf i. j. sebagai wajib pajak sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21. KD sama dengan 3 NPt (Nilai Pengalaman Tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir). PPh Pasal 23 (bila ada transaksi). huruf f. kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak sedang dalam menjalani sanksi pidana. Kemampuan Dasar Pasal 14 1) KD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf h pada subbidang pekerjaan yang sejenis untuk usaha non kecil dihitung dengan ketentuan sebagai berikut: a. tidak masuk dalam Daftar Hitam.N = jumlah paket pekerjaan terbanyak yang dapat ditangani pada saat bersamaan selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir. secara hukum mempunyai kapasitas untuk mengikatkan diri pada Kontrak. tidak pailit. memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan jasa pengiriman. huruf d. dan m. kecuali yang bersangkutan mengambil cuti diluar tanggungan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta 4) Penyedia Barang/Jasa yang keikutsertaannya menimbulkan pertentangan kepentingan dilarang menjadi Penyedia Barang/ Jasa. menandatangani Pakta Integritas. l. h. PPh Pasal 25/Pasal 29 dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak) paling kurang 3 (tiga) bulan terakhir dalam tahun berjalan. Untuk Pekerjaan Konstruksi. tidak dalam pengawasan pengadilan. dan 2) KD paling kurang sama dengan nilai total HPS dari pekerjaan yang akan dilelangkan. k. dikecualikan bagi Penyedia Barang/Jasa orang perorangan.

3) Ketentuan pada ayat (1) dikecualikan dalam hal Pengadaan Barang/Jasa tidak dapat diikuti oleh perusahaan nasional karena belum ada perusahaan nasional yang mampu memenuhi KD. 2) Metode satu sampul digunakan untuk Pengadaan Barang/Jasa yang sederhana dan memiliki karakteristik sebagai berikut: a. sehingga masyarakat luas dan dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. 3) Dalam Pelelangan Umum tidak ada negosiasi teknis dan harga. b. Pasal 16 1) Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi pada prinsipnya dilakukan melalui metode Pelelangan Umum dengan Pascakualifikasi. Pengadaan Barang/Jasa yang standar harganya telah ditetapkan pemerintah. Penetapan Metode Pemilihan Pasal 15 1) Pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi dilakukan dengan Pelelangan Umum. 4) Dalam hal kemitraan. . dan papan pengumuman resmi untuk masyarakat serta Portal Pengadaan Nasional melalui LPSE. Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi yang spesifikasi teknis atau volumenya dapat dinyatakan secara jelas dalam Dokumen Pengadaan. Penetapan Metode Penyampaian Dokumen Pasal 17 1) Metode pemasukan Dokumen Penawaran terdiri atas Metode Satu Sampul. yang diperhitungkan adalah KD dari perusahaan yang mewakili kemitraan (leadfirm). 2) Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi melalui Metode Pelelangan Umum diumumkan paling kurang di website Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok.

Penetapan Metode Penilaian Kualifikasi Pasal 19 1) Kualifikasi merupakan proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari Penyedia Barang/Jasa. menambah dan/atau mengurangi kriteria serta tata cara evaluasi setelah batas akhir pemasukan Dokumen Penawaran. jumlah harga pasti dan tetap serta tidak dimungkinkan penyesuaian harga. untuk Pengadaan Pekerjaan Konstruksi. dengan ketentuan sebagai berikut: a. Penetapan Jenis Kontrak Pasal 20 1) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa meliputi kontrak berdasarkan cara pembayaran. 5) Penilaian kualifikasi dilakukan dengan metode Sistem Gugur. 2) Kontrak Pengadaan Barang/Jasa menggunakan Kontrak Lump Sum. Pasal 21 1) Kontrak Lump Sum merupakan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam Kontrak.Penetapan Metode Evaluasi Penawaran Pasal 18 1) Metode evaluasi penawaran dalam pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi menggunakan Sistem Gugur. . 2) Dalam melakukan evaluasi ULP/Pejabat Pengadaan dilarang mengubah. 3) Pascakualifikasi merupakan proses penilaian kualifikasi yang dilakukan setelah pemasukan penawaran. 4) Pascakualifikasi dilaksanakan untuk Pengadaan Pelelangan Umum. 2) Kualifikasi dilakukan dengan cara Pascakualifikasi. kecuali Pelelangan Umum untuk Pekerjaan Kompleks.

pembayaran didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan sesuai dengan isi Kontrak. evaluasi kualifikasi.b. evaluasi penawaran. Pelelangan Umum untuk pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan pascakualifikasi yang meliputi kegiatan: 1. Tanda Bukti Perjanjian Pasal 23 1) Tanda bukti perjanjian terdiri atas surat perjanjian. 3. penetapan pemenang. c. pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan. 4. 11. 2. semua risiko sepenuhnya ditanggung oleh Penyedia Barang/Jasa. dan f. total harga penawaran bersifat mengikat. . 10. 7. 9. pembuktian kualifikasi. sifat pekerjaan berorientasi kepada keluaran (output based).000. pemberian penjelasan. Tahapan Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi Pasal 24 1) Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan metode Pelelangan Umum meliputi tahapan sebagai berikut: a. pembukaan Dokumen Penawaran. 5. pengumuman. sanggahan. e. 2) Surat Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pengumuman pemenang.00 (seratus juta rupiah). pemasukan Dokumen Penawaran. 8. digunakan untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan nilai diatas Rp100. pendaftaran dan pengambilan Dokumen Pengadaan. tidak diperbolehkan adanya pekerjaan tambah/kurang.000. d. 6. 12.

Jaminan Pelaksanaan. Dokumen Pangadaan Barang/Jasa Pasal 26 Dokumen Penyediaan Barang/Jasa terdiri paling sedikit atas: a. penunjukan Penyedia Barang/Jasa. b. d. e. Biaya penawaran Pasal 25 Seluruh biaya yang dikeluarkan oleh kontraktor untuk pengadaan dokumen ditanggung pihak kontraktor. formulir isian kualifikasi. Jaminan Pengadaan Barang/Jasa Pasal 27 1) Jaminan atas Pengadaan Barang/Jasa terdiri atas: a. Jaminan Pemeliharaan. Jaminan Uang Muka. sanggahan banding (apabila diperlukan). Jaminan Penawaran. Pakta Integritas.13. d. petunjuk pengisian formulir isian kualifikasi. dan 14. dan f. c. tata cara evaluasi kualifikasi. instruksi kepada peserta kualifikasi. . Jaminan Sanggahan Banding 2) Jaminan atas Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat dicairkan tanpa syarat (unconditional) sebesar nilai Jaminan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja. b. setelah surat pernyataan wanprestasi dari PPK/ULP diterima oleh Penerbit Jaminan. dan e. lembar data kualifikasi. c.

6) Perusahaaan Asuransi penerbit Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah Perusahaan Asuransi Umum yang memiliki izin untuk menjual produk jaminan (suretyship) sebagaimana ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 4) Jaminan dari Bank Umum. untuk nilai penawaran terkoreksi antara 80% (delapan puluh perseratus) sampai dengan 100% (seratus perseratus) dari nilai total HPS.00 (seratus juta rupiah). Jaminan Penawaran Pasal 28 1) Jaminan Penawaran diberikan oleh Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksipada saat memasukkan penawaran.000. atau b. yang besarnya antara 1% (satu perseratus) hingga 3% (tiga perseratus) dari total HPS Jaminan Pelaksanaan Pasal 29 1) Jaminan Pelaksanaan diberikan oleh Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi untuk Kontrak bernilai diatas Rp100. 5) Perusahaan Penjaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) adalah Perusahaan Penjaminan yang memiliki izin dari Menteri Keuangan. . 2) Jaminan Pelaksanaan diberikan setelah diterbitkannya SPPBJ dan sebelum penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi. besarnya Jaminan Pelaksanaan 5% (lima perseratus) dari nilai total HPS.3) ULP/Pejabat Pengadaan atau PPK melakukan klarifikasi tertulis terhadap keabsahan Jaminan yang diterima. Jaminan Pelaksanaan adalah sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak. untuk nilai penawaran terkoreksi dibawah 80% (delapan puluh perseratus) dari nilai total HPS. Perusahaan Penjaminan atau Perusahaan Asuransi dapat digunakan untuk semua jenis Jaminan.000. 3) Besaran nilai Jaminan Pelaksanaan adalah sebagai berikut: a.

Jaminan Pemeliharaan Pasal 30 1) Jaminan Pemeliharaan wajib diberikan oleh Penyedia Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya setelah pelaksanaan pekerjaan dinyatakan selesai 100% (seratus perseratus). 5) Jaminan Pemeliharaan atau retensi sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen Pasal 31 1) Pendaftaran bagi Penyedia Barang/Jasa yang berminat mengikuti pemilihan Penyedia Barang/Jasa. dapat mengikuti Pelelangan kepada ULP pada: Hari/tanggal Tempat Waktu : : Dinas PU Kota Depok Jl. 4) Penyedia Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dapat memilih untuk memberikan Jaminan Pemeliharaan atau memberikan retensi. 3) Jaminan Pemeliharaan dikembalikan setelah 14 (empat belas) hari kerja setelah masa pemeliharaan selesai. besarnya 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak Pengadaan Pekerjaan Konstruksi. atau b.4) Jaminan Pelaksanaan berlaku sejak tanggal Kontrak sampai serah terima Barang/Jasa Lainnya atau serah terima pertama Pekerjaan Konstruksi. 2) Jaminan Pemeliharaan sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak harus diberikan kepada PPK untuk menjamin pemeliharaan Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang telah diserahkan. penyerahan Jaminan Pemeliharaan sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak khusus bagi Penyedia Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya. 5) Jaminan Pelaksanaan dikembalikan setelah: a. penyerahan Barang dan Sertifikat Garansi. Margonda Raya : Hari kerja .

depok. Ketentuan dan cara sub kontrak sebagian pekerjaan kepada usaha kecil termasuk koperasi kecil. c. 3) Dalam acara penjelasan lelang. Hal-hal yang menggugurkan penawaran. dijelaskan mengenai: Metode penyelenggaraan pelelangan. 4) ULP/Pejabat Pengadaan dapat memberikan penjelasan lanjutan dengan cara melakukan peninjauan lapangan. ULP/Pejabat Pengadaan Pemprov DKI Jakarta mengadakan pemberian penjelasan yang akan diadakan pada: Hari /tanggal : Senin. Margonda Raya : Pukul 09.2) Atau mengunduh dari website Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok di http://www. 28 April 2013 Tempat Waktu a. Dokumen yang harus dilampirkan dalam dokumen penawaran. Acara pembukaan dokumen penawaran. b. f. Besaran. masa berlaku dan penjamin yang dapat mengeluarkan jaminan penawaran. . e.go.00 WIB s/d selesai 2) Dalam acara penjelasan dokumen lelang.id Pemberian Penjelasan Lelang (Aanwijzing) Pasal 32 1) Untuk memperjelas Dokumen Pengadaan Barang/Jasa. : Dinas PU Kota Depok Jl. diumumkan nilai total harga perkiraan sendiri (HPS). d.

5) Pemberian penjelasan harus dituangkan dalam Berita Acara Pemberian Penjelasan yang ditandatangani oleh ULP/Pejabat Pengadaan dan minimal 1 (satu) wakil dari peserta yang hadir. 9) Ketidakhadiran peserta pada saat pemberian penjelasan tidak dapat dijadikan dasar untuk menolak/menggugurkan penawaran. 12 Mei 2013 : Dinas PU Kota Depok Jl. maka Berita Acara Pemberian Penjelasan cukup ditandatangani oleh anggota ULP yang hadir.go. b. Jaminan Penawaran asli. Margonda Raya 2) Batas ahir pemasukkan Dokumen Penawaran pada : : 15. 7) Peserta lelang dengan risiko dan biaya sendiri dianjurkan untuk meninjau lapangan pekerjaan dengan saksama untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan guna menyiapkan penawaran 8) Berita Acara Pemberian Penjelasan dan Adendum Dokumen Pengadaan dapat di download oleh seluruh peserta lelang di portal e-procurement Kota Depok http://www. Pemasukan Dokumen Penawaran Pasal 33 1) Penyedia Barang/Jasa memasukkan Dokumen Penawaran pada : Hari/tanggal Tempat Waktu Hari/tanggal Tempat Waktu a.id 1 hari setelah penjelasan lelang. Margonda Raya : Hari kerja : Jumat.depok. Surat : Senin. 17 Mei 2013 : Dinas PU DKI Jakarta Jl. 6) Apabila tidak ada peserta yang hadir atau yang bersedia menandatangani Berita Acara Pemberian Penjelasan. .00 WIB penawaran yang didalamnya tercantum masa berlaku Penawaran dan 3) Dokumen Penawaran meliputi: mencantumkan harga penawaran.

b. kemudian direkat dengan lem. 4) Dokumen Penawaran disampaikan sebanyak 2 (dua) rangkap. keterangan isi di sebelah depan kiri atas serta 5 (lima) lak di sebelah belakang. menambah dan/atau mengganti Dokumen Penawaran sebelum batas akhir pemasukan penawaran. agar dimasukkan ke dalam sampul yang disediakan oleh pemborong sendiri dengan ukuran bebas tetapi dapat dimasukkan ke dalam sampul panitia. 9) Dokumen penawaran sebelum dimasukkan ke dalam sampul panitia. harus tidak tembus kaca. 10) Sampul dalam tidak diijinkan terdapat tanda-tanda/tulisan apapun terkecuali nama dan alamat pemborong di sebelah kanan. Surat perjanjian kemitraan/kerja sama operasi (apabila ada). yang terdiri dari: dokumen asli 1 (satu) rangkap dan rekamannya 1 (satu) rangkap ditandai “ASLI” dan “REKAMAN”. dan i. h. . Empat tempat masing-masing di sudut sampul. a. g. e. 7) Sampul direkat dengan lem. Dokumen lain yang dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan (apabila ada). Formulir rekapitulasi perhitungan TKDN. 8) Pada sampul tidak boleh terdapat tulisan-tulisan/simbol-simbol ataupun yang menandakan identitas peserta. terbuat dari kertas Samson warna coklat. Rincian harga penawaran (daftar kuantitas dan harga). 6) Dokumen Penawaran yang disampaikan melampaui batas akhir pemasukan penawaran tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan. 5) Penyedia Barang/Jasa dapat mengubah. Dokumen isian kualifikasi. Dokumen penawaran teknis. apabila diperlukan. Surat kuasa dari pemimpin/direktur utama perusahaan kepada penerima kuasa yang namanya tercantum dalam akta pendirian atau perubahannya (apabila dikuasakan). d. disebelah belakang dilak pada 5 (lima) tempat. Satu tempat ditengah-tengah. f.c. kecuali alamat penawaran di sebelah kanan.

19 Mei 2013 : Dinas PU Kota Depok Jl.00 WIB s/d selesai 2) Pembukaan Dokumen Penawaran dilakukan pada hari yang sama segera setelah batas akhir pemasukan penawaran. . yang dihadiri paling kurang 2 (dua) peserta sebagai saksi. kemudian dijadikan lampiran Berita Acara Pembukaan Dokumen Penawaran. maka pembukaan Dokumen Penawaran tetap dilanjutkan dengan menunjuk saksi tambahan di luar ULP yang ditunjuk oleh ULP. Margonda Raya : Pukul 09. 5) ULP membuka sampul Dokumen Penawaran di hadapan peserta. 4) Apabila setelah ditunda selama 2 (dua) jam. 3) Apabila tidak ada peserta atau hanya ada 1 (satu) peserta sebagai saksi. hanya ada 1 (satu) atau tidak ada peserta sebagai saksi. maka ULP menunda pembukaan Dokumen Penawaran selama 2 (dua) jam.Contoh sampul penutup Isi Dokumen Lak Alamat Penawaran Sampul Depan Sampul Belakang Pembukaan Dokumen Penawaran Pasal 34 1) Dokumen Penawaran akan dibuka dihadapan peserta pada: Hari/tanggal Tempat Waktu : Senin.

. 3. 2) Dalam evaluasi penawaran. formulir isian kualifikasi ditandatangani oleh: 1.6) Setelah dibacakan dengan jelas. dan ULP dapat mengunggah salinan tersebut melalui website Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta yang dapat diunduh oleh peserta. 2) Evaluasi formulir isian kualifikasi dilakukan dengan sistem gugur. 2. peserta perorangan. apabila: a. 7) Berita acara dilampiri Dokumen Penawaran. Evaluasi Kualifikasi Pasal 36 1) Evaluasi dilakukan terhadap calon pemenang lelang serta pemenang cadangan 1 dan 2 apabila ada. b. 4. kepala cabang perusahaan yang diangkat oleh kantor pusat yang dibuktikan dengan dokumen otentik. pejabat yang menurut perjanjian kerja sama berhak mewakili perusahaan yang bekerja sama. penerima kuasa dari direktur utama/pimpinan perusahaan yang nama penerima kuasanya tercantum dalam akte pendirian atau perubahannya. memiliki izin usaha pekerjaan konstruksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. atau 5. Berita Acara ditandatangani oleh anggota ULP yang hadir dan 2 (dua) orang saksi. ULP/Pejabat Pengadaan harus berpedoman pada tata cara/kriteria yang ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan. kecuali peserta perorangan. 3) Peserta dinyatakan memenuhi persyaratan kualifikasi. 8) Salinan berita acara dibagikan kepada peserta yang hadir tanpa dilampiri Dokumen Penawaran. Evaluasi Penawaran Pasal 35 1) Dalam melakukan evaluasi penawaran. ULP/Pejabat Pengadaan dan Penyedia Barang/Jasa dilarang melakukan tindakan post bidding. direktur utama/pimpinan perusahaan.

dalam hal peserta akan melakukan kemitraan: 1. PPh Pasal 23 (bila ada transaksi). j. memperoleh paling sedikit 1 (satu) pekerjaan sebagai penyedia dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir. untuk perusahaan yang melakukan kemitraan. i. menyampaikan pernyataan/pengakuan tertulis bahwa perusahaan yang bersangkutan dan manajemennya tidak dalam pengawasan pengadilan. memiliki kemampuan pada sub bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha non kecil dan kemampuan pada bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil. menyampaikan daftar perolehan pekerjaan yang sedang dikerjakan. e. tidak bangkrut dan tidak sedang dihentikan kegiatan usahanya. . evaluasi persyaratan pada huruf a) sampai dengan huruf j) dilakukan untuk setiap perusahaan yang melakukan kemitraan. h. Peserta dapat mengganti persyaratan ini dengan menyampaikan Surat Keterangan Fiskal (SKF). salah satu dan/atau semua pengurus dan badan usahanya atau peserta perorangan tidak masuk dalam Daftar Hitam. memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan pekerjaan konstruksi paling kurang 10% (sepuluh perseratus) dari nilai paket. peserta wajib mempunyai perjanjian Kerja Sama Operasi/kemitraan yang memuat persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili kemitraan tersebut. d. memiliki NPWP dan telah memenuhi kewajiban perpajakan tahun pajak terakhir (SPT Tahunan) serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21. f. baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak. g. k.c. memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan. PPh Pasal 25/Pasal 29 dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak) paling kurang 3 (tiga) bulan terakhir dalam tahun berjalan. dan 2.

maka lelang dinyatakan gagal. dan tanggal dibuatnya Berita Acara. nama semua peserta. teknis. BAHP harus mencantumkan pernyataan bahwa pelelangan dinyatakan gagal dan harus segera dilakukan pelelangan ulang. e. rumus yang dipergunakan. 2) BAHP bersifat rahasia sampai dengan pengumuman pemenang. 4) Apabila hasil pembuktian kualifikasi ditemukan pemalsuan data.Pembuktian Kualifikasi Pasal 37 1) Pembuktian kualifikasi terhadap peserta yang memenuhi persyaratan kualifikasi dilakukan setelah evaluasi kualifikasi. 3) BAHP harus memuat hal-hal sebagai berikut: a. apabila diperlukan. Apabila peserta yang memenuhi syarat kurang dari 3 (tiga). jumlah peserta yang lulus dan tidak lulus pada setiap tahapan evaluasi. badan usaha dan pengurus atau peserta perorangan dimasukkan dalam Daftar Hitam. dan harga yang dibuat oleh ULP dan ditandatangani oleh paling kurang seperdua dari jumlah anggota pokja ULP. g. 5) Apabila tidak ada penawaran yang lulus pembuktian kualifikasi. 4) Apabila tidak ada penawaran yang memenuhi syarat. harga penawaran atau harga penawaran terkoreksi. metode evaluasi yang digunakan. 2) Pembuktian kualifikasi dilakukan dengan cara melihat keaslian dokumen dan meminta salinannya. maka peserta digugurkan. b. c. f. d. Pembuatan Berita Acara Hasil Pelelangan (BAHP) Pasal 38 1) BAHP merupakan kesimpulan dari hasil evaluasi administrasi. dari masing-masing peserta. unsur-unsur yang dievaluasi. 3) ULP melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi kepada penerbit dokumen. maka peserta tersebut tetap diusulkan sebagai calon pemenang. keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu mengenai hal ikhwal pelaksanaan pelelangan. .

2) Surat sanggahan disampaikan kepada ULP dan ditembuskan kepada PPK. 2) Penyedia Barang/Jasa yang mengajukan sanggahan banding wajib menyerahkan Jaminan Sanggahan Banding yang berlaku 20 (dua puluh) hari kerja sejak pengajuan Sanggahan Banding. Sanggahan Pasal 40 1) Peserta pemilihan Penyedia Barang/Jasa yang merasa dirugikan. PA/KPA dan APIP Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok yang bersangkutan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman pemenang. .id dan papan pengumuman resmi. 3) ULP wajib memberikan jawaban tertulis atas semua sanggahan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah surat sanggahan diterima. adanya penyalahgunaan wewenang oleh ULP atau Pejabat yang berwenang lainnya. adanya rekayasa yang mengakibatkan terjadinya persaingan yang tidak sehat. Sanggahan Banding Pasal 41 1) Penyedia Barang/Jasa yang tidak puas dengan jawaban sanggahan dari ULP dapat mengajukan sanggahan banding kepada Gubernur Jawa Barat paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya jawaban sanggahan.go. baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan peserta lainnya dapat mengajukan sanggahan secara tertulis apabila menemukan: a. dan/atau c.depok.Penetapan dan Pengumuman Pemenang Pasal 39 1) ULP/Pejabat Pengadaan mengumumkan hasil pemilihan Penyedia Barang/Jasa setelah ditetapkan melalui website Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok di http://www. b. penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur yang diatur dalam Peraturan Presiden ini dan yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan Barang/Jasa.

7) Dalam hal sanggahan banding dinyatakan benar. Jaminan Sanggahan Banding dikembalikan kepada penyanggah.3) Jaminan Sanggahan Banding ditetapkan sebesar 20/00 (dua per seribu) dari nilai total HPS atau paling tinggi sebesar Rp50. Gubernur Jawa Barat memerintahkan agar ULP melanjutkan proses Pengadaan Barang/Jasa ulang. 3) Pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 9) Dalam hal sanggahan banding dinyatakan benar.000. b. Penunjukan Penyedia Barang/Jasa Pasal 42 1) PPK menerbitkan SPPBJ dengan ketentuan: a.00 (lima puluh juta rupiah). sanggahan atau sanggahan banding terbukti tidak benar.000. Gubernur Jawa Barat memerintahkan ULP/Pejabat Pengadaan melakukan evaluasi ulang atau Pengadaan Barang/Jasa ulang. atau c. 10) Dalam hal sanggahan banding dinyatakan salah. 5) LKPP dapat memberikan saran. masa sanggah atau masa sanggah banding berakhir. 2) Dalam hal Penyedia Barang/Jasa yang telah menerima SPPBJ mengundurkan diri dan masa penawarannya masih berlaku. Jaminan Sanggahan Banding disita dan disetorkan ke kas Daerah Jawa Barat. pengunduran diri tersebut hanya dapat dilakukan berdasarkan alasan yang dapat diterima secara obyektif oleh PPK. tidak ada sanggahan dari peserta. 8) Dalam hal sanggahan banding dinyatakan salah. 4) Dalam hal Penyedia Barang/Jasa yang ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan mengundurkan diri dengan alasan yang tidak dapat diterima dan masa penawarannya masih berlaku. maka: . 4) Sanggahan Banding menghentikan proses Pelelangan. dilakukan dengan ketentuan bahwa Jaminan Penawaran peserta lelang yang bersangkutan dicairkan dan disetorkan pada Kas Daerah. pendapat dan rekomendasi untuk penyelesaian sanggahan banding atas permintaan Gubernur Jawa Barat 6) Gubernur Jawa Barat memberikan jawaban atas semua sanggahan banding kepada penyanggah banding paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima.

sanggahan hasil Pelelangan dari peserta ternyata benar. seluruh harga penawaran yang masuk untuk Kontrak Lump Sum diatas HPS. pengaduan masyarakat adanya dugaan KKN yang melibatkan ULP atau PPK ternyata benar. 6) Dalam hal terdapat sanggahan dan/atau sanggahan banding. SPPBJ harus diterbitkan paling lambat 6 (enam) hari kerja setelah pengumuman penetapan pemenang dan segera disampaikan kepada pemenang yang bersangkutan. dan b. dalam evaluasi penawaran ditemukan bukti/indikasi terjadi persaingan tidak sehat. c. e. SPPBJ harus diterbitkan paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah semua sanggahan dan/atau sanggahan banding dijawab. Jaminan Penawaran yang bersangkutan dicairkan dan disetorkan pada Kas Daerah. serta segera disampaikan kepada pemenang. jumlah peserta yang lulus kualifikasi pada proses pascakualifikasi kurang dari 3 (tiga) peserta. b. PA/KPA sependapat dengan PPK yang tidak bersedia menandatangani SPPBJ karena proses Pelelangan Umum tidak sesuai dengan Peraturan Presiden ini. jumlah peserta yang memasukan Dokumen Penawaran untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi kurang dari 3 (tiga) peserta. f. tidak ada penawaran yang lulus evaluasi penawaran. b. setelah dilakukan evaluasi dengan sengaja tidak hadir dalam klarifikasi dan/atau pembuktian. g. . 5) Dalam hal tidak terdapat sanggahan. Penyedia Barang/Jasa dikenakan sanksi berupa larangan untuk mengikuti kegiatan Pengadaan Barang/Jasa di instansi pemerintah selama 2 (dua) tahun.a. calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2. Pelelangan Gagal Pasal 43 1) ULP menyatakan Pelelangan Umum gagal apabila : a. 2) PA/KPA menyatakan Pelelangan Umum gagal apabila: a. atau h. sanggahan dari peserta terhadap hasil pascakualifikasi ternyata benar. d.

Pelelangan Ulang Pasal 44 1) Dalam hal Pelelangan Umum dinyatakan gagal. 3) Dalam hal Pelelangan Umum ulang jumlah Penyedia Barang/Jasa yang memasukkan penawaran hanya 2 (dua) peserta. d. g. 3) ULP dilarang memberikan ganti rugi kepada peserta Pelelangan Umum bila penawarannya ditolak atau Pelelangan Umum dinyatakan gagal. pelaksanaan Pelelangan Umum tidak sesuai atau menyimpang dari Dokumen Pengadaan. Pelelangan Umum ulang dilakukan seperti halnya proses Penunjukan Langsung.c. 4) Dalam hal Pelelangan ulang jumlah Penyedia Barang/Jasa yang lulus pascakualifikasi hanya 1 (satu) peserta. dugaan KKN atau pelanggaran persaingan sehat dalam pelaksanaan Pelelangan Umum dinyatakan benar oleh pihak berwenang. 2) Dalam hal Pelelangan/Seleksi ulang jumlah Penyedia Barang/Jasa yang lulus prakualifikasi hanya 2 (dua) peserta proses Pelelangan dilanjutkan. e. . calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 dan 2 mengundurkan diri. sanggahan dari Penyedia Barang/Jasa atas kesalahan prosedur yang tercantum dalam Dokumen Pengadaan Penyedia Barang/Jasa ternyata benar. Dokumen Pengadaan tidak sesuai dengan Peraturan Presiden ini. pelaksanaan Pelelangan/Seleksi/Pemilihan Langsung melanggar Peraturan Presiden ini. atau h. Pelelangan ulang dilakukan seperti proses Penunjukan Langsung. f. maka ULP segera melakukan penyampaian ulang Dokumen Penawaran. 5) Dalam hal Pelelangan Umum ulang jumlah Penyedia Barang/Jasa yang memasukkan penawaran hanya 1 (satu) peserta. proses Pelelangan Umum dilanjutkan.

dapat menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa. tanggal mulai kerja dapat ditetapkan sama dengan tanggal penandatanganan SPK atau tanggal dikeluarkannya SPMK. sepanjang mendapat kuasa/ pendelegasian wewenang yang sah dari Direksi atau pihak yang sah berdasarkan Akta Pendirian/Anggaran Dasar untuk menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa. . 3) Dalam SPMK dicantumkan saat paling lambat dimulainya pelaksanaan Kontrak oleh penyedia.BAB II SPESIFIKASI ADMINISTRASI Penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa Pasal 45 1) PPK menyempurnakan rancangan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa untuk ditandatangani. 2) Penandatanganan Kontrak Pengadaan Barang/Jasa dilakukan setelah DIPA disahkan. 2) PPK menerbitkan SPMK selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sejak tanggal penandatanganan Kontrak. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Pasal 46 1) PPK menyerahkan seluruh/sebagian lokasi pekerjaan yang dibutuhkan kepada penyedia sebelum diterbitkannya SPMK. 3) Para pihak menandatangani Kontrak setelah PenyediaBarang/Jasa menyerahkan Jaminan Pelaksanaan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterbitkannya SPPBJ. 4) Untuk SPK. yang telah didaftarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5) Pihak lain yang bukan Direksi atau yang namanya tidak disebutkan dalam Akta Pendirian/Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (4). 4) Pihak yang berwenang menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas nama Penyedia Barang/Jasa adalah Direksi yang disebutkan namanya dalam Akta Pendirian/Anggaran Dasar Penyedia Barang/Jasa.

unsur perencanaan. d. c. tata cara pengaturan pelaksanaan pekerjaan. 2) Beberapa hal yang dibahas dan disepakati dalam rapat persiapan pelaksanaan kontrak adalah: a. informasi mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan. Mobilisasi Pasal 48 1) Mobilisasi paling lambat harus sudah mulai dilaksanakan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkan SPMK. c. program mutu. mempersiapkan fasilitas seperti kantor. b. pelaksana kerja. d. mendatangkan personil-personil. rumah. b. jadwal pelaksanaan pekerjaan. atau c. dan sebagainya. organisasi kerja. jadwal pengadaan bahan/material. . 2) Program mutu dapat direvisi sesuai dengan kondisi lokasi pekerjaan.Penyusunan Program Mutu Pasal 47 1) Program mutu disusun oleh penyedia paling sedikit berisi : a. e. yaitu: a. b. penyusunan rencana pemeriksaan lokasi pekerjaan. gedung laboratorium. dan f. dan e. mobilisasi peralatan dan personil. mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan. prosedur pelaksanaan pekerjaan. Rapat Persiapan Pelaksanaan Kontrak Pasal 48 1) PPK bersama dengan penyedia. gudang. dan unsur pengawasan. menyelenggarakan rapat persiapan pelaksanaan kontrak. prosedur instruksi kerja. 2) Mobilisasi dilakukan sesuai dengan lingkup pekerjaan. organisasi kerja penyedia. bengkel.

menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak. Apabila dalam pemeriksaan bersama mengakibatkan perubahan isi Kontrak. Perubahan Kegiatan Pekerjaan Pasal 51 1) Untuk kepentingan pemeriksaan. pembayaran uang tanda jadi kepada pemasok barang/material. 2) Apabila terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi lokasi pekerjaan pada saat pelaksanaan dengan gambar dan spesifikasi yang ditentukan dalam dokumen Kontrak. maka harus dituangkan dalam adendum Kontrak. PPK bersama-sama dengan penyedia melakukan pemeriksaan lokasi pekerjaan bersama dengan melakukan pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi lokasi pekerjaan untuk setiap rencana mata pembayaran. PA/KPA dapat membentuk Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak atas usul PPK. 3) Nilai Jaminan Uang Muka secara bertahap dapat dikurangi secara proporsional sesuai dengan pencapaian prestasi pekerjaan. mobilisasi alat dan tenaga kerja. 2) Uang Muka dapat diberikan kepada Penyedia Barang/Jasa untuk usaha non kecil paling tinggi 20% (dua puluh perseratus) dari nilai Kontrak Pengadaan Barang/Jasa. PA/KPA dapat membentuk Panitia/Pejabat Peneliti Pelaksanaan Kontrak atas usul PPK. Pemeriksaan Bersama Pasal 49 1) Apabila diperlukan. Pembayaran Uang Muka Pasal 50 1) Uang Muka dapat diberikan kepada Penyedia Barang/Jasa untuk: a.3) Mobilisasi peralatan dan personil dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. b. pada tahap awal pelaksanaan Kontrak. maka PPK bersama penyedia dapat melakukan perubahan Kontrak yang meliputi antara lain : a. . 3) Hasil pemeriksaan bersama dituangkan dalam Berita Acara. 2) Untuk pemeriksaan bersama ini.

2) Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan. 3) Pekerjaan tambah harus mempertimbangkan tersedianya anggaran dan paling tinggi 10% (sepuluh perseratus) dari nilai Kontrak awal.b. 4) Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh PPK secara tertulis kepada penyedia kemudian dilanjutkan dengan negosiasi teknis dan harga dengan tetap mengacu pada ketentuan yang tercantum dalam Kontrak awal. catatan-catatan lain yang berkenaan dengan pelaksanaan. c. keadaan cuaca termasuk hujan. mengubah spesifikasi teknis dan gambar pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lokasi pekerjaan. d. jenis. dan d. Laporan Hasil Pekerjaan Pasal 52 1) Pemeriksaan pekerjaan dilakukan selama pelaksanaan Kontrak untuk menetapkan volume pekerjaan atau kegiatan yang telah dilaksanakan guna pembayaran hasil pekerjaan. 3) Laporan harian berisi: a. 5) Hasil negosiasi tersebut dituangkan dalam Berita Acara sebagai dasar penyusunan adendum Kontrak. banjir dan peristiwa alam lainnya yang berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan. c. jenis dan kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan. penempatan tenaga kerja untuk tiap macam tugasnya. seluruh aktivitas kegiatan pekerjaan di lokasi pekerjaan dicatat dalam buku harian sebagai bahan laporan harian pekerjaan yang berisi rencana dan realisasi pekerjaan harian. . jumlah dan kondisi peralatan. mengurangi atau menambah jenis pekerjaan. Hasil pemeriksaan pekerjaan dituangkan dalam laporan kemajuan hasil pekerjaan. b. e. dan f. melaksanakan pekerjaan tambah yang belum tercantum dalam Kontrak yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan. jenis dan kuantitas bahan yang berada di lokasi pekerjaan.

untuk Kontrak yang mempunyai subkontrak. apabila diperlukan diperiksa oleh konsultan dan disetujui oleh wakil PPK. Pembayaran Tahap I Pembayaran Tahap II Pembayaran Tahap III Pembayaran Tahap IV 20% 40% 35% 5% . pajak dan uang retensi. pembayaran dilakukan dengan sistem termin sesuai ketentuan dalam Dokumen Kontrak.4) Laporan harian dibuat oleh penyedia. 6) Laporan bulanan terdiri dari rangkuman laporan mingguan dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu bulan. pembayaran dilakukan senilai pekerjaan yang telah terpasang. 5) Laporan mingguan terdiri dari rangkuman laporan harian dan berisi hasil kemajuan fisik pekerjaan dalam periode satu minggu. tidak termasuk bahan/material dan peralatan yang ada di lokasi pekerjaan. 7) Untuk merekam kegiatan pelaksanaan proyek. 2) Pembayaran terakhir hanya dilakukan setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus) dan berita acara penyerahan pertama pekerjaan diterbitkan. denda (apabila ada). permintaan pembayaran harus dilengkapi bukti pembayaran kepada seluruh sub penyedia sesuai dengan prestasi pekerjaan. d. Pembayaran Prestasi Pekerjaan Pasal 53 1) Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang disepakati dilakukan oleh PPK. pembayaran termin harus dipotong angsuran uang muka. b. dengan ketentuan: a. c. penyedia telah mengajukan tagihan disertai laporan kemajuan hasil pekerjaan. serta hal-hal penting yang perlu ditonjolkan. PPK membuat foto-foto dokumentasi pelaksanaan pekerjaan di lokasi pekerjaan. serta hal-hal penting yang perlu ditonjolkan. dan e.

bencana sosial. . 2) Yang dapat digolongkan sebagai Keadaan Kahar dalam Kontrak Pengadaan Barang/Jasa meliputi: a. 1/1000 (satu perseribu) dari harga Kontrak. 2) Besarnya denda kepada penyedia atas keterlambatan penyelesaian pekerjaan adalah: a. b. sedangkan ganti rugi merupakan sanksi finansial yang dikenakan kepada PPK karena terjadinya cidera janji/wanprestasi yang tercantum dalam Kontrak. Keadaan Kahar Pasal 55 1) Keadaan Kahar adalah suatu keadaan yang terjadi diluar kehendak para pihak dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. c. berdasarkan tingkat suku bunga yang berlaku pada saat itu menurut ketetapan Bank Indonesia. 4) Tata cara pembayaran denda dan/atau ganti rugi diatur dalam Dokumen Kontrak. sehingga kewajiban yang ditentukan dalam Kontrak menjadi tidak dapat dipenuhi. bencana alam. atau dapat diberikan kompensasi sesuai ketentuan dalam Dokumen Kontrak. pemogokan. bencana non alam. apabila bagian pekerjaan yang sudah dilaksanakan belum berfungsi.Denda dan Ganti Rugi Pasal 54 1) Denda merupakan sanksi finansial yang dikenakan kepada penyedia. 3) Besarnya ganti rugi yang dibayar oleh PPK atas keterlambatan pembayaran adalah sebesar bunga dari nilai tagihan yang terlambat dibayar.

Keadaan Kahar. 2) Waktu penyelesaian pekerjaan dapat diperpanjang sekurang-kurangnya sama dengan waktu terhentinya kontrak akibat Keadaan Kahar.d. atau e. b. . yang dituangkan dalam perubahan Kontrak. 5) Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang diakibatkan oleh terjadinya Keadaan Kahar tidak dikenakan sanksi. c. atau e. Penyedia Barang/Jasa memberitahukan tentang terjadinya Keadaan Kahar kepada PPK secara tertulis dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender sejak terjadinya Keadaan Kahar. 3) PPK dapat menyetujui perpanjangan waktu pelaksanaan atas kontrak setelah melakukan penelitian terhadap usulan tertulis yang diajukan oleh penyedia. 5) Persetujuan perpanjangan waktu pelaksanaan dituangkan dalam adendum Kontrak. 4) Tidak termasuk Keadaan Kahar adalah hal-hal merugikan yang disebabkan oleh perbuatan atau kelalaian para pihak. d. pekerjaan tambah. perubahan disain. 4) PPK dapat menugaskan Panitia/Pejabat Peniliti Pelaksanaan Kontrak untuk meneliti kelayakan usulan perpanjangan waktu pelaksanaan. Perpanjangan Waktu Pelaksanaan Pasal 56 1) Perpanjangan waktu pelaksanaan dapat diberikan oleh PPK atas pertimbangan yang layak dan wajar untuk hal-hal sebagai berikut: a. masalah yang timbul diluar kendali penyedia. gangguan industri lainnya sebagaimana dinyatakan melalui keputusan bersama Menteri Keuangan dan menteri teknis terkait. kebakaran. keterlambatan yang disebabkan oleh PPK. dengan menyertakan salinan pernyataan Keadaan Kahar yang dikeluarkan oleh pihak/instansi yang berwenang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. para pihak dapat melakukan kesepakatan. 3) Dalam hal terjadi Keadaan Kahar. 6) Setelah terjadinya Keadaan Kahar.

penyedia mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK untuk penyerahan akhir pekerjaan. Apabila terdapat kekurangan-kekurangan dan/atau cacat hasil pekerjaan. Penghentian dan Pemutusan Kontrak Pasal 58 . 6) Penyedia wajib memelihara hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan sehingga kondisi tetap seperti pada saat penyerahan pertama pekerjaan. 2) Dalam rangka penilaian hasil pekerjaan. sedangkan yang 5% (lima perseratus) merupakan retensi selama masa pemeliharaan. 9) Apabila penyedia tidak melaksanakan kewajiban pemeliharaan sebagaimana mestinya. PPK wajib melakukan pembayaran sisa nilai kontrak yang belum dibayar atau mengembalikan Jaminan Pemeliharaan. 7) Setelah masa pemeliharaan berakhir. penyedia wajib memperbaiki/menyelesaikannya. penyedia mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK untuk penyerahan pekerjaan. 4) PPK menerima penyerahan pertama pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Kontrak dan diterima oleh Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. 8) PPK menerima penyerahan akhir pekerjaan setelah penyedia melaksanakan semua kewajibannya selama masa pemeliharaan dengan baik. atau pembayaran dilakukan sebesar 100% (seratus perseratus) dari nilai kontrak dan penyedia harus menyerahkan Jaminan Pemeliharaan sebesar 5% (lima perseratus) dari nilai kontrak. 3) Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh penyedia. 5) Pembayaran dilakukan sebesar 95% (sembilan puluh lima perseratus) dari nilai kontrak. PPK menugaskan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan. maka PPK berhak menggunakan uang retensi untuk membiayai perbaikan/pemeliharaan atau mencairkan Jaminan Pemeliharaan.Serah Terima Pekerjaan Pasal 57 1) Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus perseratus).

4) Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan karena kesalahan penyedia: a. . denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat kesalahan penyedia sudah melampaui 5% (lima perseratus) dari nilai Kontrak. kecurangan dan/atau pemalsuan dalam proses Pengadaan yang diputuskan oleh instansi yang berwenang. dugaan KKN dan/atau pelanggararan persaingan sehat dalam pelaksanaan Pengadaan dinyatakan benar oleh instansi yang berwenang. sisa Uang Muka harus dilunasi oleh penyedia atau Jaminan Uang Muka dicairkan. melakukan KKN dan/atau pelanggararan persaingan sehat dalam pelaksanaan Pengadaan. Pengendalian Pasal 59 1) Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok dilarang melakukan pungutan dalam bentuk apapun dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. 5) Dalam hal pemutusan Kontrak dilakukan karena PPK terlibat penyimpangan prosedur. penyedia terbukti melakukan KKN. penyedia lalai/cidera janji dalam melaksanakan kewajibannya dan tidak memperbaiki kelalaiannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. maka PPK wajib membayar kepada penyedia sesuai dengan prestasi pekerjaan yang telah dicapai.1) Penghentian kontrak dapat dilakukan karena pekerjaan sudah selesai atau terjadi Keadaan Kahar. b. penyedia membayar denda. 3) Pemutusan Kontrak dilakukan apabila: a. 2) Dalam hal kontrak dihentikan. atau d. maka PPK dikenakan sanksi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Jaminan Pelaksanaan dicairkan. c. c. b. atau d. 2) Pimpinan Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok wajib melaporkan secara berkala realisasi Pengadaan Barang/Jasa kepada LKPP. pengaduan tentang penyimpangan prosedur. penyedia dimasukkan dalam Daftar Hitam.

Sanksi Pasal 62 1) Perbuatan atau tindakan Penyedia Barang/Jasa yang dapat dikenakan sanksi adalah: a.Pengawasan Pasal 60 Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok wajib melakukan pengawasan terhadap PPK dan ULP/Pejabat Pengadaan di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok masing masing. ditujukan kepada APIP Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok yang bersangkutan atau LKPP. dengan tembusan kepada LKPP dan BPKP. KKN dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah atau pelanggaran persaingan yang sehat dapat mengajukan pengaduan atas proses pemilihan Penyedia Barang/Jasa. 4) Hasil tindak lanjut pengaduan yang dilakukan oleh APIP sebagaimana dimaksud pada ayat (3). 5) Instansi yang berwenang dapat menindaklanjuti pengaduan setelah Kontrak ditandatangani dan terdapat indikasi adanya kerugian negara. 2) Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3) APIP Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok dan LKPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan kewenangannya menindaklanjuti pengaduan yang dianggap beralasan. dan menugaskan aparat pengawasan intern yang bersangkutan untuk melakukan audit sesuai dengan ketentuan. disertai bukti-bukti kuat yang terkait langsung dengan materi pengaduan. dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat dan dapat dilaporkan kepada instansi yang berwenang dengan persetujuan Gubernur Jawa Barat dalam hal diyakini terdapat indikasi KKN yang akan merugikan keuangan Daerah. berusaha mempengaruhi ULP/Pejabat Pengadaan/pihak lain yang berwenang dalam bentuk dan cara apapun. Pengaduan Pasal 61 1) Dalam hal Penyedia Barang/Jasa atau masyarakat menemukan indikasi penyimpangan prosedur. baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi .

d. tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan Kontrak secara bertanggung jawab. 3) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. maka ULP dikenakan sanksi administrasi dan dilaporkan secara pidana. 4) Apabila terjadi pelanggaran atau kecurangan dalam proses Pengadaan Barang/Jasa. e. 4) Daftar Hitam Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. Pasal 63 1) Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok dapat membuat Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) huruf b. pelaporan secara pidana kepada pihak berwenang. . b. dilakukan oleh ULP sesuai dengan ketentuan. sehingga mengurangi persaingan yang sehat dan merugikan orang lain. dimutakhirkan setiap saat dan dimuat dalam Portal Pengadaan Nasional. dikenakan sanksi berupa: a. c. b. memuat daftar Penyedia Barang/Jasa yang dilarang mengikuti Pengadaan Barang/Jasa pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok. 2) Daftar Hitam sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 2) Perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengundurkan diri dari pelaksanaan Kontrak dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atau tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan.keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak. 3) Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok menyerahkan Daftar Hitam kepada LKPP untuk dimasukkan dalam Daftar Hitam Nasional. dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan. sanksi administratif. membuat dan menyampaikan dokumen atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan. yang memuat identitas Penyedia Barang/Jasa yang dikenakan sanksi oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Depok.

maka alternatif terakhir dilakukan penyelesaian sengketa atau pengadilan yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. penyelesaian perselisihan tersebut dapat dilakukan melalui arbitrase. BAB III SPESIFIKASI TEKNIS Lingkup Pekerjaan 1) Lingkup Pekerjaan Lingkup pekerjaan dari kontrak ini meliputi: a. Pekerjaan Perpipaan f. Pekerjaan Tanah c. . b. 2) Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai. atau pemeliharaan berkala).Penyelesaian Perselisihan Pasal 64 1) Dalam hal terjadi perselisihan antara para pihak dalam Penyediaan Barang/Jasa Pemerintah. atau peningkatan jalan / penggantian jembatan. Pekerjaan Beton d. Pekerjaan Persiapan b. Pekerjaan Finishing Divisi 1 Pekerjaan Persiapan 1) Mobilisasi dan Demobilisasi a. Pekerjaan Struktur e. para pihak terlebih dahulu menyelesaikan perselisihan tersebut melalui musyawarah untuk mufakat. Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk base camp Kontraktor dan kegiatan pelaksanaan. Mobilisasi Kepala Pelaksana (General Superintentent) yang memenuhi jaminan kualifikasi (sertifikasi) menurut cakupan pekerjaannya (pembangunan. Jika melalui arbitrase pun tidak tercapai.

50 meter di bawah permukaan tanah pada daerah taman. pipa transmisi. gudang. Penyediaan dan pemeliharaan base camp Kontraktor. sampah yang tertanam serta material lain yang tidak diinginkan berada dalam daerah yang akan dikerjakan. Dari pengukuran ini dibuat gambar kerja yang memuat tentang pembagian lokasi/areal kerja untuk disetujui Konsultan Pengawas. d. e. dan menara. jika ada harus dihilangkan pula sampai kedalaman 0. tempat tinggal. kecuali tidak dapat dilakukan pengambilan batu-batu tersebut.c. Semua sisa-sisa tanaman seperti akar-akar. ditimbun kemudian dibakar atau dibuang dengan cara-cara yang disetujui oleh Direksi/Konsultan Pengawas. BPAB. rumput-rumput dan sebagainya harus dihilangkan sampai kedalaman 0. Pemborong harus mengerjakan pematokan dan pengukuran untuk menentukan batasbatas pekerjaan serta garis-garis kemiringan tanah sesuai gambar rencana.50 meter di bawah tanah dasar/permukaan. Pada umumnya tempat-tempat untuk bangunan dibersihkan penebasan/pembabatan harus dilaksanakan terhadap semua-semua semak belukar. Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang tercantum dalam Penawaran. harus dihilangkan. Jika ada perbaikan dari Konsultan Pengawas. c. a. d. e. Pembersihan dan pengukuran dilakukan di sepanjang proyek galian dan lokasi yang telah ditetapkan kontrak. f. penempatan bahan urugan atau penimbunan bahan. 2) Pembersihan dan Pengukuran Lokasi Sebelum Kontraktor memulai pekerjaan galian. Mobilisasi semua staf pelaksana dan pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan dalam Kontrak. dan semua bagian lapangan yang akan dikerjakan atau ditempati untuk rumah pompa. harus dibersihkan dari semua tumbuh – tumbuhan dan sampah yang kemudian dibuang ke tempat yang disetujui oleh Direksi Pengawas. Pemborong . dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan dimana peralatan tersebut akan digunakan menurut Kontrak ini. jika perlu termasuk kantor lapangan. sehingga jadwal pelaksanaan pekerjaan berikutnya dapat dilaksanakan. b. bengkel. Batu atau material lain yang sejenis. dan sebagainya.

Pemborong wajib memberitahukan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas. h. Patok utama yang dibuat dari beton dengan ukuran 20 x 20 x 70 cm setinggi 30 cm dari permukaan tanah. Patok yang lain digunakan untuk pembatas site. j. Ukuran maupun huruf yang dipakai pada gambar tersebut harus sesuai ketentuan Konsultan Pengawas dan dijadikan gambar pelaksanaan sebagai pengganti gambar lama. Konsultan Pengawas akan menandatangani persetujuan pada satu penyimpangan tersebut dan mengembalikannya kepada Pemborong. 1. Dinding penyekat ruangan : Plywood atau Softboard dalam rangka kayu Borneo Super yang dikeringkan. Sebelum pelaksanaan pematokan. lembar gambar . Rangka kayu Borneo super diserut halus untuk bagian expose dan dimensi untuk bagian tersembunyi. Direksi Keet disediakan oleh pemborong dengan menyewa bangunan penduduk yang memenuhi syarat. Jendela kaca bening dalam rangka kayu Borneo Super. dicor dengan beton dan diberi tanda koordinat. l. 2. Hasil pengukuran yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas dapat digunakan sebagai dasar bagi pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan pematokan yang telah selesai diukur oleh Pemborong. i. 3) Pembuatan direksi keet Direksi keet dengan luas 20 m² terdiri dari ruang rapat. Dinding multipleks dengan ketebalan 9 mm sebanyak ( satu ) lapis. g. Bahan-bahan yang digunakan adalah : 1. 4. Dalam hal ini harus ada patok referensi tetap yang tidak boleh diganggu. Bila terjadi penyimpangan dari gambar pelaksanaan Pemborong harus mengajukan 3 (tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok yang terjadi penyimpangan. Gambar revisi dibuat di kertas kalkir dengan 3 (tiga) lembar hasil reproduksinya. 3.harus melakukan pengukuran ulang. dimintakan persetujuan Konsultan Pengawas. ruang Konsultan Pengawas. diantaranya : a. terbuat dari pipa PVC pralon yang diberi tulangan besi dengan diameter 14 mm. k. 2.

bahan yang digunakan adalah : 1. bengkel dan barak pekerja Gudang. Kaso ukuran 5/7. f. 8 (delapan) pasang sepatu lapangan. air bekas dan septictank. 4) Pembuatan gudang. b. 6. serta 8 buah kursi lipat dengan penutup mejanya. telepon dengan nomor tersendiri. d. Dilengkapi dengan instalasi penerangan. 1 (satu) buah white board 2. Balok ukuran 8/12. c. k. b.2 m. jenis kayu meranti atau sejenisnya. i. j. a. 4. g. 1 (satu) buah lampu petromax atau lampu baterai. 1 (satu) unit meja gambar ukuran A1 dari kayu yang dapat dilipat. Atap terbuat dari asbes semen bergelombang 2. dengan kursi putar. bengkel kerja. Perlengkapan kantor : a. 2 (dua) unit komputer dan 2 (dua) buah printer ukuran A2. Finishing : dicat dengan cat kayu . 8. 7. Lantai : rabat beton dengan ketinggian 30 cm di atas permukaan tanah. Kantor untuk Pemborong di Proyek ini dibuat oleh Pemborong atas biaya Pemborong sendiri. Langit-langit : tripleks 4 mm di cat putih sebanyak 2 ( dua ) lapis. 3. 5. air bersih. Penutup : asbes semen bergelombang. l. ukuran 122 cm x 244 cm (1 lapis). 1 (satu) buah filling cabinet 3 (tiga) rak. h. dan barak pekerja dengan luas 70 m². 1 ( satu ) meja rapat ukuran 1 x 2 m. 8 (delapan) buah helm proyek. 1 Unit AC kapasitas 2 PK.5. 1 (satu) unit meja untuk memeriksa gambar. 4 (empat) meja kerja dengan 4 (empat) buah kursi putar dan 4 (empat) buah kursi biasa. 1 (satu) unit lemari kayu dari multipleks 50 x 200 cm panjang disesuaikan kebutuhan untuk penyimpanan contoh bahan/material dan peralatan. Bahan . Papan tripleks 4 mm. jenis kayu meranti atau sejenisnya.4 x 1. e.

harus terlindung. d. minimal 30 cm di atas permukaan plesteran. b. b. Mendapatkan penyambungan sumber air dari PDAM. Bengkel kerja digunakan sebagai tempat berkerja. yang dilengkapi dengan WC. Lantai pada gudang semen dibuat bebas dari kelembaban udara. 3) Sistem distribusi air bersih yang termasuk dalam lingkup pekerjaan adalah suatu sistem penyaluran air bersih dari Tangki Penyimpanan Air Bersih ( Ground Water Tank ) ke Tangki Atap dengan bantuan Pompa Pengisi Tangki Atap ( Trasfer Pump ) dan selanjutnya setiap titik pemakai seperti yang ditunjukkan dalam gambar rencana. 6) Penyediaan Listrik dan Penerangan a. 5) Penyediaan air bersih 1) Sumber air adalah dari PDAM dan Sumur Dangkal ( Shallow Well ) Uraian singkat lingkup tersebut meliputi : 1. Paku dan perlengkapan lainnya. Gudang bahan-bahan serta tempat penimbunan material seperti pasir. 2. Pembuatan Sumur Dangkal lengkap dengan pompa beserta peralatannya .6. dibuat secukupnya dan dapat dikunci. Kontraktor harus mengurus dan membiayai semua biaya yang diperlukan untuk memperoleh sumber air bersih dari PDAM sampai meter air berikut bak meter. 7. 3.Seluruh pekerjaan instalansi harus dikerjakan menurut “ Peraturan Umum Instalansi Listrik di Indonesia/Peraturan PLN “ edisi yang terakhir sebagai petunjuk dan juga . besi beton. serta perusahaan tersebut terdaftar sebagai instalatir resmi PLN dengan memegang pas instalatir kelas ( C ) yang masih berlaku untuk tahun terakhir yang berjalan. Bak penampung air dan kloset. 2) Penyambungan sumber air dari PDAM dan Sumur Dangkal. mempunyai reputasi yang baik dan mempunyai pekerja-pekerja yang cakap dan berpengalaman dalam bidangnya. Pemipaan dari meter air ke water tank. koral. c.Seluruh pekerjaan instalansi listrik yang akan dilaksanakan dikerjakan oleh subkontraktor yang dapat dipercaya. Barak pekerja sebagai tempat untuk penginapan para tenaga kerja.

Konsultan Perencana. e. Huruf harus jelas mudah dibaca . tebal 1 cm untuk Pemborong. b. Peralatan – peralatan yang terbuat dari logam. Pengadaan dan pengurusan penyambungan daya listrik dari PLN. g. Papan nama proyek diletakkan pada tempat yang mudah dilihat oleh umum dengan ketinggian ± 2 meter. peralatan serta instalansi pengkabelannya untuk seluruh beban-beban listrik yang ada sesuai gambar rencana. c. . Bentuk Tulisan : Tulisan dengan huruf kapital warna Hitam. Tinggi huruf 8 cm.Semua komponen dan sistem harus dipasang tanda characteristicnya. Papan nama mudah digeser dan dipindahkan.Pengadaan dan pemasangan instalansi penerangan dan stop kontak secara lengkap didalam dan diluar bangunan. 3. Instalansi hubungan pengetanahan untuk : 1.Pengadaan dan pemasangan instalansi penangkal petir f. karena pekerjaan berpindah. 2.bahan yang digunakan : Tiang Papan/rangka Ukuran Finishing Isi tulisan : Kayu kaso 8 / 12 : Seng : 1.5 m x 1 m : Cat dasar kuning : Minimal menyebutkan Nama Proyek. 3. d. Bahan . 7) Pembuatan papan nama dan rambu lalu lintas a. sebesar yang tertera dalam ganbar rencana. Pemborong. 2.Pengadaan dan pemasangan panel-panel. Bangunan dengan konstruksi baja. Konsultan Pengawas dan lain-lain yang berkenaan dengan nama Proyek ini.pindah.peraturan yang berlaku pada daerah setempat dan standard-standard / kode-kode lainnya yang diakui. huruf yang lain disesuaikan. Pelaksanaan 1. Perencana dan konsultan Pengawas.

4. dan elevasi yang ditentukan dalam Gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan dan harus mencakup pembuangan semua bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai. Divisi 2 Pekerjaan Tanah 1) Galian a. batu bata. f. d. e. Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade) yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke dalamnya. Penggalian harus dilaksanakan menurut kelandaian. sedangkan untuk galian perkerasan beraspal tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari yang disyaratkan. batu. b. beton. c. 5. Pemasangannya harus tegak dan kokoh. termasuk tanah. Kelandaian akhir. dan setiap galian terbuka pada lokasi jalur lalu lintas maupun lokasi bahu jalan harus diberi rambu tambahan pada malam hari berupa drum yang dicat putih (atau yang sejenis) beserta lampu merah atau kuning guna menjamin keselamatan para pengguna jalan. Pekerjaan galian dilaksanakan sepanjang lokasi yang telah ditentukan di daerah kelurahan Jagakarsa. Permukaan galian tanah maupun batu yang telah selesai dan terbuka terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin pengaliran air yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genangan. pasangan batu dan bahan perkerasan lama. Galian saluran atau galian lainnya yang memotong jalan harus dilakukan dengan pelaksanaan setengah badan jalan sehingga jalan tetap terbuka untuk lalu lintas pada setiap saat. . garis dan formasi sesudah galian selain galian perkerasan beraspal tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm dari yang ditentukan dalam Gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan pada setiap titik. garis. sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan. Pembuatan papan nama Proyek harus mendapat persetujuan perencana sebelum dilaksanakan. yang tidak digunakan untuk pekerjaan permanen.

d. Pengujian kepadatan di tempat Umum : satu pengujian untuk setiap 400 m3 pemakaian urugan. Pada areal penanaman sampai dengan pavements = kepadatan 85 %. Pekerjaan urugan dan pengurugan kembali sesuai dengan rencana. 2. 2. 3. h. Semua bahan galian tanah dan galian batu yang dapat dipakai dalam batas-batas dan lingkup proyek bilamana memungkinkan harus digunakan secara efektif untuk formasi timbunan atau penimbunan kembali. bebas dari batu karang atau bongkahan berukuran lebih besar dari 65 mm. Kedalaman 60 cm sampai dengan pavements = kepadatan 90 %. setiap lapisan maksimal 20 cm. keringkan bila terlalu basah dan basahi bila terlalu kering. Padatkan setiap lapisan dengan mesin temper atau yang sejenis sampai mendapatkan kepadatan yang disyaratkan. 2) Urugan a. Kontraktor harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu atas jadwal gangguan tersebut dari pihak yang berwenang dan juga dari Direksi Pekerjaan. Quality Control lapangan 1. b. Urugan dikerjakan lapis per lapis. Pemadatan dilakukan sebanyak 3 kali.g. Derajat kepadatan urugan : 1. Di bawah bangunan dan paling tinggi 60 cm di bawah pavements = kepadatan 95 %. mempunyai kadar lempung yang rendah. Penyimpanan : satu pengujian untuk mengontrol kualitas kelembaban. c. f. jaga agar kelembaban tanah maksimum ± 2 % dari kelembaban optimum. Pemadatan tidak boleh dilakukan pada waktu hujan. Bilamana lalu lintas pada jalan terganggu karena pekerjaan galian. Pengujian kelembaban dan kepadatan di laboratorium Pekerjaan massa : satu pengujian setiap kali pengangkatan dalam . Bahan yang digunakan untuk tanah urugan adalah tanah atau campuran tanah cadas bebas dari organik dan zat-zat lain yang merusak. e. nilai CBR minimum 4 %. atau efektifitas pemadatan. penggunaan.

Kantong-kantong semen yang rusak diperbolehkan untuk dipergunakan. Semen yang sebagian sudah membatu dalam kantong sama sekali tidak diperbolehkan untuk dipergunakan. f. dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih disegel dan tidak pecah. maka dapat dipakai semen merk lain tanpa meninggalkan syarat kualitas yang telah ditentukan. Semua semen yang dipakai harus dari satu merk yang sama. dalam keadaan baru dan asli.Satu pengetesan dari setiap 40 buah pengetesan lapangan. a. type dan jumlah semen yang akan dikirim bersama sertifikat hasil test dari pabrik yang menyatakan bahwa konsiliasi tersebut telah diadakan testing sesuai dengan segala sesuatu yang telah disebutkan dalam standarisasi. dan harus disimpan di gudang yang cukup ventilasinya dan diletakkan pada tempat yang ditinggikan paling sedikit 30 cm dari lantai. Kontraktor wajib menyerahkan kepada Konsultan Pengawas tentang konsinyasi semen yang menyatakan nama pabrik tersebut. Semua semen yang digunakan adalah semen Portland lokal setara dengan Semen Tiga Roda type I. setiap pengiriman baru harus ditandai dan dipisahkan dengan maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut urutan pengirimannya. Sak-sak semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai tingginya melampaui 2 meter atau maksimum 10 sak. Divisi 2 Pekerjaan Beton 1) Semen. b. Harus diterima dalam sak (kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat. dan robek jahitannya sama sekali tidak . Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan. Semen yang digunakan ini harus memenuhi syarat-syarat menurut Standart Semen Indonesia (SNI 15-2049-2004) baik mutunya maupun cara pengujian semen portland. Bila stoknya sedang tidak ada di pasaran. e. Minimum satu test setiap tipe bahan urugan. d. Pemakaian semen merk lain ini harus seijin dari Konsultan Pengawas secara tertulis. c.

5. Test abrous-horder (larutan NaOH) 3. harus berupa “crushed” yang mempunyai susunan gradasi yang baik. kerikil) tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % ditentukan terhadap berat kering. 3. dan yang diartikan lumpur adalah bagian yang dapat lolos melalui ayakan 0. d. Test-test yang dilakukan untuk agregat kasar dapat berupa : 1. 3) Air. batu pecah (agregat kasar) dalam pasir beton harus : 1. Test gradasi sesuai dengan ASTM C-136. Semua pemakaian koral (kerikil). Test-test lainnya bila dianggap perlu oleh Konsultan Pengawas. Juga tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton. cukup kekerasannya dan tidak terpengaruh oleh cuaca. Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan-pekerjaan di lapangan adalah air bersih. Bebas dari tanah liat/tanah (tidak bercampur dengan tanah/tanah liat atau kotoran -kotoran lainnya). 2. a. Test gradasi sesuai ASTM C-136 2. Test-test lainnya bila dianggap perlu. c. Agregat harus disimpan di tempat yang bersih. Apabila kadar lumpur melampaui 5 % maka agregat harus dicuci. Test-test yang harus dilakukan terhadap terhadap agregat halus (pasir) dapat berupa : 1. 2. b.063 mm atau ayakan No. a. tidak . Untuk agregat kasar (koral. Pasir tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). 200 bila ditest sesuai dengan ASTM C-120.2) Agregat. Tidak mudah hancur. 4. Test gradasi untuk kadar lumpur sesuai dengan ASTM C-117 3. tidak berpori. yang keras permukaannya dan dicegah supaya tidak terjadi pencampuran satu sama lain dan terkotori. Biaya pengetesan menjadi tanggung jawab Kontraktor. Kontraktor harus mengadakan contoh agregat halus yang akan dipergunakan untuk mendapat persetujuan Konsultan Pengawas. tidak berwarna. tidak mengandung bahan-bahan kimia (asam alkali).

agregat halus. Penggunaan Beton Readymix. merk aditif yang digunakan kepada Konsultan Pengawas. kontinuitas pengiriman mutu beton yang disyaratkan (mutu beton K-450). Kontraktor harus mengirimkan secara berkala komposisi bahan beton. Air yang mengandung garam (air laut) tidak diperkenankan untuk dipakai. Beton harus mempunyai kekuatan karakteristik. Volume beton. a. Direksi lapangan sewaktu-waktu akan mengadakan inspeksi ke Batching Plan. suppliernya. Mutu beton yang digunakan (K-450). 2. tidak mengandung minyak atau lemak. 4. Kepala Proyek berhak mengganti . b. 3. waktu pengikatan dan pengerasan maupun untuk maksud-maksud lain dapat dipakai bahan admixture. 5) Mutu Beton.mengandung organisme yang dapat memberikan efek merusak beton. 4) Admixture. Jika ternyata tidak sesuai dengan spesifikasi ini. Waktu pengecoran. berat semen. kadar air. Kontraktor diharuskan memuat adukan percobaan (trial mixes). sesuai dengan gambar rencana. sifat-sifat pengerjaan. Jenis dan jumlah bahan admixture yang dipakai harus disetujui terlebih dahulu oleh Perencana/Konsultan Pengawas. Ukuran agregat terbesar. Setiap pengiriman harus dicatat : • • • • • • • Nomor polisi truk. b. Kontraktor sepenuhnya bertanggung jawab terhadap kualitas beton yang disupply. c. Waktu kedatangan truk. 1. agregat kasar. Untuk memperbaiki mutu beton. Waktu pencampuran bahan-bahan beton.

• • •

Tempat dimana beton tersebut dicor. Slump. Kodefikasi kubus beton yang diambil dari truk tersebut.

5. Beton yang telah berumur lebih dari 2 (dua) jam setelah pencampuran bahan-bahan beton, tidak boleh digunakan dan harus direject. 6) Faktor Air Semen. a. Agar dihasilkan suatu konstruksi beton yang sesuai dengan yang direncanakan. maka faktor air semen ditentukan sebagai berikut : 1. Faktor air semen untuk balok sloof maksimum 0,60. 2. Faktor air semen untuk kolom, balok, pelat lantai tangga, dinding beton dan lisplank/parapet maksimum 0,60. 3. Faktor air semen untuk konstruksi tempat-tempat basah lainnya maksimum 0,55. b. Untuk konstruksi beton dengan faktor air semen maksimum 0,55 harus memakai plasticizer sebagai bahan aditif. Pemakaian merk dari bahan aditif tersebut harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas. 7) Test Kubus Beton (Pengujian Mutu Beton). a. Kepala Proyek berhak meminta setiap saat kepada Pemborong untuk membaut kubus coba adukan beton yang dibuat. b. Selama pengecoran beton harus selalu dibuat benda-benda uji sesuai dengan SK - SNI T - 15 - 1991 - 03 dan nomor urut yang menerus. c. Ukuran kubus coba atau benda uji adalah 15 x 15 x 15 cm3. Pengambilan adukan beton, percetakan kubus coba dan curingnya harus di bawah pengawasan. d. Jika beton tidak memenuhi syarat-syarat pengujian slump, maka kelompok adukan yang tidak memenuhi syarat itu tidak boleh dipakai, dan Kontraktor harus menyingkirkannya dari tempat pekerjaan. Jika pengujian tekanan gagal maka perbaikan harus dilakukan dengan mengikuti prosedur SK - SNI T - 15 - 1991 - 03, untuk perbaikan. e. Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan kubus coba menjadi tanggung jawab Kontraktor.

f. Semua kubus uji coba jika perlu akan dicoba dalam laboratorium yang berwenang, dan disetujui oleh Konsultan Pengawas. g. Laporan hasil percobaan harus diserahkan kepada Konsultan Pengawas segera setelah selesainya percobaan, paling lambat 7 (tujuh) hari setelah pengecoran, dengan mencantumkan besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standard, campuran adukan berat kubus benda uji tersebut, dan data-data lain yang diperlukan. h. Nilai slump beton berkisar 8 cm sampai 10 cm ± 2. 8) Cacat pada Beton. Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, Pemberi Tugas mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti berikut : a. Konstruksi beton yang sangat keropos. b. Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisinya tidak sesuai dengan gambar. c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang direncanakan. d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lain. 9) Pengecoran Beton. a. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton pada bagian-bagian utama dari pekerjaan, Kontraktor harus memberitahukan Kepala Proyek dan mendapatkan persetujuan. b. Adukan beton harus secepatnya dibawa ke tempat pengecoran dengan menggunakan metode yang sepraktis mungkin, sehingga tidak memungkinkan adanya pengendapan agregat dari tercampurnya kotoran-kotoran atau bahan lain dari luar. Penggunaan alat-alat pengangkutan mesin haruslah mendapat persetujuan dari KP, sebelum alatalat tersebut di datangkan ke tempat pekerjaan. c. Pengecoran beton tidak dibenarkan untuk dimulai sebelum pemasangan besi beton selesai diperiksa oleh dan mendapat persetujuan dari Kepala Proyek. d. Sebelum pengecoran dimulai, maka tempat-tempat yang akan dicor terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran (potongan kayu, batu, tanah, dan lainlain) dan dibasahi dengan air semen.

e. Pengecoran dilakukan selapis demi selapis dan tidak dibenarkan menuangkan adukan dengan menjatuhkan dari suatu ketinggian (tinggi jatuh maksimal 2 meter). f. Beton cetakan atau penulangan tidak boleh diganggu sampai 24 jam setelah beton dicor, semua pengecoran dilakukan siang hari dan pengecoran beton dari suatu bagian pekerjaan jangan dimulai bila tidak dapat diselesaikan pada siang hari, kecuali atas izin Pemberi Tugas/Konsultan Pengawas boleh dikerjakan malam hari. g. Pada penyambungan beton lama dan beton baru maka permukaan beton lama harus dibersihkan terlebih dahulu dan dikasarkan. h. Tempat dimana pengecoran akan dihentikan, harus mendapat persetujuan dari Kepala Proyek. 10) Curing dan Perlindungan Atas Beton a. Beton harus dilindungi selama berlangsungnya proses pengerasan terhadap matahari, pengeringan oleh angin, hujan atau aliran air dan pengerasan secara mekanis atau pengeringan sebelum waktunya. b. Untuk bahan curing dipakai Sealbond atau setara sebanyak 1 liter tiap 6 m2. 11) Pembongkaran Bekisting. a. Pembongkaran dilakukan sesuai dengan SK-SNI T-15-1991-03, dimana bagian konstruksi yang dibongkar cetakannya harus dapat memikul berat sendiri dan bebanbeban pelaksanaannya. b. Pekerjaan pembongkaran cetakan harus dilaporkan dan disetujui sebelumnya oleh Konsultan Pengawas. c. Waktu minimal dari saat selesainya pengecoran beton sampai dengan pembongkaran acuan dari bagian-bagian struktur harus ditentukan dari percobaan-percobaan kubus benda uji yang memberikan kuat desak minimal. d. Setelah acuan dibuka, sisi sudut yang tajam agar dilindungi dari benturan/pengerusakan dari pertolongan papan dan sebagainya. e. Lajur-lajur tulangan yang belum dicor pada bagian atas harus dibungkus dengan spesi semen supaya tidak berkarat dan meneteskan air karat pada permukaan beton.

Mur dan Ring 1. Mutu baja.f.90. b. Baut. baja karbon untuk paku keling. baut atau dilas harus sesuai dengan ketentuan AASHTO M183M .90 : Structural Steel. dan data yang berkaitan lainnya harus ditandai dengan jelas pada unit-unit yang menunjukkan identifikasi selama fabrikasi dan pemasangan. dan mempunyai kepala baut dan mur berbentuk segienam (hexagonal). c. Bahan Untuk Keperluan Pengelasan Bahan untuk keperluan pengelasan yang digunakan dalam pengelasan logam dari kelas baja yang memenuhi ketentuan dari AASHTO M183 . Baja Struktur Kecuali ditunjukkan lain dalam Gambar. Baut dan mur harus ditandai untuk identifikasi sesuai dengan ketentuan dari AASHTO M164M-90. Mur dan Ring dari Baja Geser Tegangan Tinggi Baut. Baja struktur untuk gelagar komposit harus mempunyai tegangan leleh minimum sebesar 3500 kg/cm2 dan tegangan tarik minimum sebesar 4950 kg/cm2. 3. Ukuran baut harus sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar. Divisi III Divisi Struktur Menara 1) Bahan a. mur dan ring dari baja tegangan tinggi harus difabrikasi dari baja karbon yang dikerjakan secara panas memenuhi ketentuan dari AASHTO M164M – 90 dengan tegangan leleh minimum 5700 kg/cm2 dan pemuluran (elongation) minimum 12 %. harus memenuhi ketentuan dari ASTM A233. Baja lainnya harus mempunyai tegangan leleh minimum sebesar 2500 kg/cm2 dan tegangan tarik minimum sebesar 4000 kg/cm2. 2. maka pemborong harus segera memberitahukan kepada Konsultan Pengawas untuk meminta persetujuan mengenai cara pengisian atau menutupnya. Baut dan mur harus memenuhi ketentuan dari ASTM A307 Grade A. . Setelah cetakan dibongkar ternyata terdapat bagian-bagian beton yang keropos atau cacat lainnya. yang akan mempengaruhi kekuatan konstruksi tersebut. Baut.

harus dibulatkan dengan suatu radius kira-kira 0. Pemotongan Pemotongan harus dilaksanakan dengan akurat. Setiap deformasi yang terjadi akibat pemotongan harus diluruskan kembali. untuk menjamin agar celah yang mungkin timbul antar permukaan bidang yang berdampingan yang tidak melampaui 1 mm untuk baut geser tegangan tinggi dan 2 mm untuk jenis sambungan lainnya. bilamana diminta oleh Direksi Pekerjaan.1. Sambungan dengan baut harus dilengkapi dengan pelat paking. maka setiap penyimpangan yang tidak dikehendaki akibat kesalahan penjajaran bagian-bagian yang akan disambung tidak melampaui 0. dan diserahkan kepada Direksi Pekerjaan tanpa biaya tambahan. hati-hati dan rapi. Sertifikat harus menunjukkan semua hasil pengujian sifat-sifat fisik bahan baku. baik perbedaan ketebalan yang timbul dari toleransi akibat proses rolling maupun kombinasi toleransi akibat proses rolling dan kesalahan penjajaran yang diijinkan di atas. tetapi setiap bagian yang tajam seperti duri akibat pemotongan harus dibuang.(4). Fabrikasi Semua elemen yang dirakit harus cocok dan tepat dalam toleransi yang disyaratkan dalam Pasal 7.4.d. Sudut tepi-tepi potongan pada elemen utama yang merupakan tepi bebas setelah selesai dikerjakan. batang pengikat dan pengaku lateral dapat dibentuk dengan pemotongan cara geser (shearing). . b.5 mm atau ditumpulkan. jika diperlukan. Akan tetapi. 2) Ketentuan a. Sertifikat Semua bahan baku atau cetakan yang dipasok untuk pekerjaan. Pengisi. Untuk sambungan las.15 kali ketebalan pada bagian yang lebih tipis atau 3 mm. pelat penyambung. maka penyimpangan yang melampaui 3 mm harus diperhalus dengan suatu kelandaian yang tidak curam dari 1 : 4. harus disertai sertifikat dari pabrik pembuatnya yang menyatakan bahwa bahan tersebut telah di produksi sesuai dengan formula standar dan memenuhi semua ketentuan dalam pengendalian mutu dari pabrik pembuatanya.

Sambungan Dengan Baut Standar (selain Baut Geser Tegangan Tinggi) Baut yang tidak dikencangkan terhadap beban percobaan (proof load) harus mempunyai mur tunggal yang dapat mengunci sendiri. c. dilas sebagaimana yang ditunjukkan dalam rancangan atau disyaratkan) pada flens dimana beban tersebut diteruskan atau dari mana diterimanya beban. Lubang untuk Baut 1. dipasang dengan cukup rapat untuk menahan air setelah digalvanisasi. pelatpelat tersebut harus digabung menjadi satu dengan menggunakan klem atau baut penyetel dan lubang harus dibor sampai seluruh ketebalan dalam satu kali operasi. Ring serong harus . d. di lapangan atau baja yang dapat dilas dan terletak di daerah tekan dari flens. Bilamana beberapa pelat atau komponen membentuk suatu elemen majemuk. Sudut-sudut ini umumnya dibulatkan dengan suatu radius 1. 3) Pelaksanaan a. Pengaku (Stiffer) Pengaku ujung pada gelagar dan pengaku yang dimaksudkan sebagai penunjang beban terpusat harus mempunyai bidang kontak sepenuhnya (baik yang dirakit di pabrik.0 mm. pelat atau komponen dapat dilubangi secara terpisah dengan menggunakan jig atau mal.Setiap kerusakan yang terjadi akibat pemotongan harus diperbaiki. Semua lubang harus dibor atau dibor kecil dahulu kemudian diperbesar atau dilubangi kecil dengan alat pons kemudian diperbesar. atau sebagai alternatif. pada pekerjaan yang sama dan dikerjakan berulang-ulang. Diameter lubang tidak boleh lebih besar 2 mm dari diameter nominal baut. kecuali ditunjukkan atau disyaratkan lain. Semua bagian tepi lubang yang tajam seperti duri akibat pelubangan harus dibuang. 2. Pengaku yang tidak dimak-sudkan untuk menunjang beban terpusat. Perakitan di Bengkel Bilamana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan maka unit-unit harus dirakit di bengkel sebelum dikirim ke lapangan. 3.

gemuk. b. Kepala baut harus diketuk dengan palu pada saat mur sedang dikencangkan. atau kerusakan lain yang akan menghambat elemenelemen tersebut untuk duduk sebagaimana mestinya atau akan mempengaruhi gaya geser di antara elemen-elemen tersebut harus dihilangkan. Setiap bagian yang tajam seperti duri akibat pemotongan atau pelubangan. Penyelesaian Permukaan Bidang Kontak Permukaan bidang kontak dan tempat-tempat yang berdekatan dengan sekeliling elemenelemen baja harus dibersihkan dari semua karat. Seluruh uliran baut harus berada di luar lubang. Ring harus digunakan kecuali ditentukan lain. kerak pabrik. untuk persetujuan dari Direksi Pekerjaan sebelum memulai fabrikasi. Baut harus dimasukkan ke dalam lubang tanpa adanya kerusakan pada uliran. c. Baut harus mempunyai panjang sedemikian hingga seluruh mur dapat dimasukkan ke dalam baut tetapi panjang baut tidak boleh melebihi 6 mm di luar mur. Cara menandai setiap pelengkap sementara harus disetujui terlebih dajulu oleh Direksi Pekerjaan. Kepala baut dan mur harus dikencangkan sampai rapat pada pekerjaan dengan tenaga manusia yang menggunakan sebuah kunci yang cocok dengan panjang tidak kurang dari 38 cm untuk diameter nominal baut 19 mm atau lebih. dempul atau benda-benda asing lainnya. 3. cat dasar. cat. Tidak ada sambungan yang akan dibuat sampai permukaan yang akan dihubungkan telah diperiksa dan diterima oleh Direksi Pekerjaan.digunakan dimana bidang kontak mempunyai sudut lebih dari 1 : 20 dengan salah satu bidang yang tegak lurus sumbu baut. termasuk keterangan tentang persiapan pemukaan-permukaan yang akan disambung harus diserahkan secara tertulis. Tidak ada prosedur pengelasan yang disetujui atau detil yang ditunjukkan dalam Gambar yang harus dibuat tanpa persetujuan dari Direksi Pekerjaan. . Prosedur pengelasan baik di bengkel maupun di lapangan. Suatu "snap" harus digunakan untuk mencegah kerusakan kepala baut. Pengelasan 1. Permukaan bidang kontak harus dikerjakan sampai mencapai suatu kekasaran yang cocok. 2.

Pengecatan dan Galvanisasi Semua permukaan baja lainnya harus dicat sesuai dengan ketentuan dari Seksi 8. ukuran.4. Agar dapat memperoleh ketebalan elemen baja yang penuh pada sambungan dengan pengelasan maka harus digunakan pelat penyambung “run-on” dan “runoff” pada bagian ujung elemen. tetap lurus (tidak berubah bentuk) dan tidak bergoyang.89. d. Semua percikan pengelasan yang mengenai permukaan harus dibersihkan. dan batas – batas seperti yang ditunjukkan pada ganbar konstruksi. Setiap goresan pada pelengkap sementara harus diperbaiki sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. 6. Plywood ini diberi penguat berupa kaso 5/7 untuk . ring. Cetakan beton harus dibersihkan dari segala kotoran-kotoran yang melekat seperti potongan-potongan kayu. 2) Bahan a. Bilamana perbaikan dengan pengelasan diperlukan. Cetakan beton menggunakan plywood dengan tebal minimum 18 mm dan dapat dipakai untuk dua kali pengecoran beton.5 dari Spesifikasi ini. Semua komponen Gelagar Baja Komposit termasuk balok. diafragma dan sejenisnya harus digalvanisasi dengan sistem pencelupan panas sesuai dengan ASTM A123 . Divisi IV Pekerjaan Bekisting 1) Umum Bekisting harus menghasilkan konstruksi beton akhir yang mempunyai bentuk. tanah dan sebagainya c. 5. b. Pemborong harus memberikan sample bahan yang akan dipakai untuk cetakan beton untuk disetujui oleh Konsultan Pengawas. Permukaan las yang tampak harus dibersihkan dari residu kerak. pelat. Cetakan beton harus dipasang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kebocoran atau hilangnya air selama pengecoran. baut. tahi gergaji. paku. maka perbaikan ini harus dilaksanakan atas persetujuan Direksi Pekerjaan. d.

b. sekurang-kurangnya 24 jam sebelum Kontraktor harus memberitahukan bahwa bekisting sudah siap untuk diperiksa. luka dan sebagainya) serta bebas dari bahan-bahan lain yang dapat mengurangi daya lekat terhadap beton. akan diperiksa oleh Direksi Proyek. lapisan minyak-minyak. karat. Tiang penyangga baik yang vertikal ataupun miring harus dibuat sebaik mungkin untuk memberikan penunjang yang dibutuhkan tanpa melakukan perpindahan tempat. Kontraktor harus memberitahu Direksi Proyek apabila bermaksud membongkar cetakan pada bagian – bagian yang vital.menjaga kestabilan bekisting tersebut.kurangnya cukup untuk memikul 2 kali beban sendiri. tidak boleh ada lekukan atau lubang. mengelupas. atau kerusakan pada beton. 5) Pembongkaran Bekisting harus dibongkar tanpa goncangan. Bekisting tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai suatu kekuatan kubus sekurang. Mempunyai penampang yang sama rata. Untuk menghindari keterlambatan dalam mendapatkan persetujuan. Cetakan ini dibuat untuk penyelesaian beton exposed maupun tertutup. . Divisi V Pekerjaan Tulangan. Permukaannya harus halus. 4) Pemeriksaan Bekisting Bekisting yang sudah selesai dibuat dan siap digunakan. Struktur ting – ting penyangga harus ditempatkan pada posisi sedemikian rupa sehingga kondisi bekisting benar – benar kuat dan kaku untuk menunjang beban hidup dan beban mati. c. 3) Pembuatan Bekisting Bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku. Bebas dari kotoran kotoran. Ukuran disesuaikan dengan gambar-gambar. tidak cacat (retak-retak. Bila perlu Kontraktor membuat perhitungan besar lendutan dan kekuatan bekisting tersebut. 1) Semua baja tulangan beton yang digunakan harus : a. rata. Keamanan dan tanggung jawab konstruksi beton seluruhnya terletak pada Kontraktor. dan overstress pada beberapa bagian konstruksi. kerusakan. getaran. Beton tidak boleh dicor sebelum bekisting disetujui oleh Direksi Proyek.

tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di udara terbuka untuk jangka waktu yang panjang. maka pada saat pemesanan baja tulangan Pemborong harus menyerahkan sertifikat resmi dari laboratorium. baja beton dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar. harus dilakukan di Laboratorium Uji Konstruksi BPPT (LUK .84. 5) Sambungan dan lewatan/overlap besi tulangan harus sesuai SK-SNI T-15-1991-03. Untuk itu sebelumnya pemborong harus membuat gambar pembengkokan baja tulangan (bending schedule). Pengambilan contoh baja tulangan akan . sebelum dan sesudah pengecoran tidak berubah tempat.0136 . 4) Kawat pengikat beton harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimal 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu. 6) Pembengkokan dan pelurusan baja tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin. Semua biaya pengetesan ini menjadi tanggung jawab Pemborong. 9) Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja tulangan sesuai dengan RKS ini. Hubungan antara baja tulangan yang satu dengan yang lainnya harus menggunakan kawat beton/diikat dengan kawat beton secara kuat dan tidak bergeser selama pengecoran beton berlangsung serta bebas dari lantai kerja atau papan acuan. diajukan kepada Konsultan Pengawas untuk mendapat persetujuan. 7) Harus dipasang sedemikian rupa. 10) Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan test periodik minimal 3 (tiga) contoh untuk setiap diameter baja tulangan. ditentukan oleh Konsultan Pengawas. 8) Baja tulangan harus disimpan dengan baik.2) Baja tulangan harus disupply dari satu sumber (manufacture) dan tidak dibenarkan untuk mencampuradukkan bermacam-macam sumber besi tulangan tersebut untuk pekerjaan konstruksi. dan tidak bersepuh seng.BPPT) Serpong atau Laboratorium lainnya yang direkomendasikan oleh Konsultan Pengawas dan minimal sesuai dengan SII . 11) Semua pengetesan tersebut di atas. khusus ditujukan untuk keperluan proyek ini. 3) Pemasangan baja tulangan dilakukan sesuai dengan gambar-gambar atau mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.

dan kontraktor dapat memintakan hasil-hasilnya kepada direksi proyek untuk dipelajari. pekerjaan boring test tersebut akan menjadi tanggung jawab pemberi tugas. c. Pipa yang digunakan untuk pendistribusian yaitu Pipa Black Stell dan Pipa Galvanis 3. Pemeriksaan dan trase jalan pipa. 2) Patok Dan Tanda-Tanda a. Data Geologi Untuk bagian pekerjaan jembatan pipa akan dilakukan pekerjaan boring test. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercakup dalam spesifikasi dapat dilaksanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan praktis yang berlaku di Indonesia dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk direksi proyek. Bila terdapat kerusakan-kerusakan pada bangunan bawah tanah yang ada sebagai akibat penggalian. b. . Kalau tidak ditentukan lain. 2. kontraktor harus memperbaiki kembali sesuai dengan keadaan semula dengan biaya kontraktor. baik kedalaman maupun kemiringannya. c. Pekerjaan penggalian harus dilakukan dengan hati-hati sedemikian rupa sehingga pekerjaan penggalian pada jalur yang tepat. Kontraktor harus melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan pemasangan pipa sesuai dengan yang disyaratkan dalam spesifikesi ini.Divisi VI Pekerjaan Perpipaan 1) Umum a. Trase jalan pipa akan diberikan oleh pemberi tugas lengkap dengan gambar-gambar. Persyaratan umum 1. b. Kewajiban kontraktor Kontraktor berkewajiban dan bertanggung jawab agar pipa yang sudah dipasang baik valve dan saluran-saluran lainnya yang diperlukan berada pada jalur yang ditentukan. Segala biaya yang timbul untuk menentukan trase ini termasuk pematokannya menjadi tanggung jawab kontraktor. Penyelidikan sarana-sarana di bawah tanah.

Biaya untuk pengembalian pipa dan potongan-potongan pipa dan perlengkapan pipa tersebut menjadi tanggungan kontraktor. diperlukan untuk menyelidiki dan menggali untuk menentukan bangunan-bangunan tanah yang ada. Pipa dan perlengkapan pipa yang telah diserahkan kepada kontraktor untuk dilaksanakan pemasangannya harus dijaga baik-baik jangan sampai hilang atau rusak. Sebelum dan sesudah dipasang. perlengkapan pipa dan bangunan pelengkapnya yang akan dipasang tersimpan di gudang penyimpanan pipa yang disediakan oleh pemberi tugas. Semua pipa. Penyimpanan dan pengangkutan. 4. 2. . kontraktor harus mengembalikan ke gudang atau tempat pengumpulan yang ditentukan oleh direksi proyek.Bilamana menurut direksi proyek. alat-alat bantu valve dan perlengkapan lainnya harus dengan hati-hati diturunkan kedalam parit galian satu-persatu dngan derek. Pengangkutan dari gudang ke tempat pemasangan menjadi tanggung jawab kontraktor termasuk pembiayaannya. penyambungan dari pipa-pipa dan ketentuan-ketentuan teknis cara pemasangan akan diberikan petunjuk oleh direksi proyek. 2. b. pipa-pipa dan perlengkapan pipa harus dijaga bersih dan diperiksa lagi atas kerusakan dan retak-retak. 3. tali-tali dan lain-lain alat yang sesuai agar terhindar dari kerusakan. 3) Pemasangan Pipa a. Apabila ternyata didalam pelaksanaan pemasangan pipa dan perlengkapannya terdapat kelebihan pipa atau perlengkapannya. Menurunkan pipa kedalam parit galian 1. Cara-cara pengangkutan. Pipa yang akan dipasang diturunkan kedalam galian parit dengan alat-alat khusus yang disediakan oleh kontraktor. Kontraktor harus melaksanakan penyelidikan penyuntikan pendahuluan trase pipa yang akan digali di bawah direksi proyek atas biaya kontraktor. Pipa. Kerusakan tau kehilangan setelah diserahkan kepada kontraktor. harus diganti sesuai dengan kualitas/ bentuk aslinya dan biaya yang ditimbulkan akibat penggantian tersebut menjadi tanggungan kontraktor. 1.

3. Pembersihan dan Alat-alat bantu Semua pipa yang akan dipasang harus bebas dari segala macam jenis kotoran. Bila ada ujung pipa terdapat bengkokan-bengkokan. alat-alat. e. hal terebut harus dihindarkan atau jung pipa yang bengkok harus dipotong sesuai dengan petunjuk-petunjuk Direksi proyek. Pemeriksaan sebelum pemasangan Semua pipa dan perlengkapan pipa yang akan dipasang serta alat-alat bantu untuk pemasangan tersebut harus diperiksa dengan cermat dan hati-hati sesaat sebelum pipapipa perlengkapan pipa tersebut diturunkan pada lokasi sebenarnya. c. Setiap pipa yang telah dimasukan ke dalam parit galian harus langsung dipasang dan disetel sambungannya dan kemudian diurug dengan bahan-bahan yang disetujui oleh Direksi proyek serta dipadatkan dengan sempurna kecuali pengurungan pada tempattempat sambungan pipa yang harus diperiksa dan disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Proyek. Pada pipa-pipa yang sudah dipasang dicegah jangan sampai kemasukan segala jenis macam kotoran umpamanya bekas puing-puing. bekas pakaian dan lain-lain kotoran yang dapat menganggu kebersihan dan kelancaran aliran air didalam pipa. harus ditutup sehingga kotoran ataupun air buangan masuk masuk ke dalam pipa. Tikungan/belokan (vertikal/horizontal) tanpa elbow dilaksanakan sedemikian rupa sehingga sudut sambungan anatra dua pipa tidak boleh lebih besar dari yang . kontraktor harus mengganti pipa-pipa yang rusak atau memperbaiki (bila masih dapat diperbaiki) kembali seperti semula dengan persetujuan direksi. 2. Setelah diperiksa dan disetujui oleh Direksi Proyek baru diperbolehkan untuk diurug. 4.3. Cara-cara penutupan pada ujung pipa tersebut harus disetujui Direksi Proyek. Semua ujung pipa yang terakhir yang pada saat pemasangannya berhenti.Bagian ujung pipa (flens Sphigot) yang akan dipasang harus dicuci terlebih dahulu samapai bersih bagian dalam pipa dari flens socket harus dibersihkan dan harus bebas dari minyak dan gemuk sebelum pipa dipasang sehingga pipa menjadi lebih stabil dan baik. d. Bila terjadi kerusakan pada pipa dan perlengkapan akibat kelalaian kontraktor. Pemasangan pipa 1.Pipa atau fitting yang rusak harus dipisahkan untuk diperiksa oleh Direksi proyek.

Disekeliling pipa harus diberi pasir urug sesuai dengan gambar atau bila tidak dinyatakan lain diberi lapisan pasir urug sedemikian rupa sehingga terdapat pasir setebal 10 cm dibawah. Pembengkokan atau merubah bentuk pipa dengan cara apapun tidak diperbolehkan tanap persetujuan Direksi Proyek. Setiap pekerjaan pemasngan pipa yang dihentikan pada waktu diluar jam kerja. pemotongan pipa dapat dilakukan kontraktor dengan persetujuan Direksi Proyek dan harus dilaksanakan dengan alat yang sesuai/khusus untuk jenis atau bahan pipa yang dipasang. elbow dan sebagainya harus diberi blok-blok angker dari beton campuran 1:2:3 10. begitu pula untuk percabangan dengan tee atau tee cross (sesuai dengan kebutuhannya). Penyambungan pipa hanya dilakukan dalam keadaan kering. parit galian atau perletakan pipa harus kering tidak boleh ada air sama sekali dan bagian dalam pipa harus bersih. . harus dilaksanakan dengan penyambung elbow sesuai.didizinkan oleh pabrik pipa yang bersangkutan. 9. 5. 8. Perubahan arah perletakan pipa (belokan /tikungan). Disamping pipa kecuali untuk pipa-pipa yang memotong jalan diurug dengan pasir pasang penuh. untuk itu akan diberikan petunjuk lebih lanjut oleh Direksi Proyek. agar benar-benar dijamin penyambungannya yang baik sesuai dengan syarat-syarat teknis dari pabrik pipa yang bersangkutan. f. 7. ujung-ujung pipa yang terakhir harus ditutup rapat air untuk mencegah masuknya kotoran/benda-benada asing/air kotor ke dalam pipa. 6. Pada waktu pemasangan pipa. Semua pemasangan fitting penyambungan pipa seperti tee. Pemotongan Pipa Apabila benar-benar diperlukan .

Uji coba tekan baru dapat dilakukan setelah 24 jam kemudian. dan apabila selama 1 (satu) jam tekanan tidak berubah atau turun. Penyambungan Pipa 1. b. pada pipa tersebut harus dilakukan pengujian tekanan hidrostatis (Hydrostatic Pressure Test). test dinyatakan berhasil dan dapat diterima. Segala biaya untuk pengujian ini menjadi tanggung jawab Kontraktor. Pengetesan dapat dilaksanakan dengan cara-cara sebagai berikut: • • Hydrostatic Pressure Test Leakage Test 6. Bila tidak ditentukan lain. Pada prinsipnya pengetesan dilakukan dengan cara bagian demi bagian dari panjang pipa dengan panjang pipa untuk tiap kali pengetesan tidak lebih dari 400 m. 3. Setelah pengleman bersihkan mulut socket dari sisi bahan prekat yang mungkin ada.Sesudah 2-3 menit. maka semua biaya yang timbul akibat pekerjaan pengetesan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor. 5. Umum 1. Pipa yang telah dipasang harus dites/diuji persambungannya untuk mengetahui apakah penyambungan pipa sudah dilakukan dengan sempurna. Penyambungan pipa dilaksanakan sesuai dengan petunjuk penyambungan pipa dari pabrik pembuat pipa dan atau berdasakan petunjuk dari Direksi Proyek 2. 2. Hydrostatic Pressure Test 1. Pengetesan pipa dilaksanakan harus dengan sepengetahuan dan disaksikan Direksi Proyek. Umum • Setelah pipa dipasang dan sebagian telah diurug. 3. 4. Pengetesan ulang harus dilaksanakan kembali bila hasil pengetesan belum mendapat persetujuan Direksi Proyek. . sambungan itu sudah menjadi kuat. Sambungan Pipa PVC dengan TS-Joint(dengan menggunakan lem). Pengetesan pipa harus dilakukan dengan tekanan minimal 20 (dua puluh) atmosfer atau dua kali tekanan kerja pipa.g. 4) Pengetesan Pipa a.

Bila kelihatan ada kebocoran-kebocoran pada sambungan-sambungan tersebut maka sambungan tersebut harus diperbaiki sehingga tidak terdapat kebocoran pada tempat sambungan tersebut. Setelah udara habis terbuang dari dalam pipa. Pengujian Kebocoran (Leakage Test) 1. Bila ada pipa-pipa. Pelaksanaan Pengujian • Sebelum dilaksanakan pengujian. . • 3. • • • • Umum Pengujian kebocoran harus dilaksanakan setelah pengujian tekanan hidrostatic selesai dilaksanakan dan disetujui Direksi Proyek. Bila pada jalur pipa yang diuji tidak terdapat valve pembuangan udara (air valve). sambungan pipa. kran pembuang udara ditutup rapatrapat dan kemudian pengujian dapat dilakukan.• Semua peralatan yang diperlukan untuk pengujian ini disediakan oleh Kontraktor. cara-cara pelaksanaan pengujian harus mendapat persetujuan Direksi Proyek. Hasil Pengujian Pada waktu pengujian. Lamanya pengujian untuk tiap-tiap kali pengujian adalah 2 jam dan selama pengujian. fittings maupun perlengkapan lainnya harus diuji atau dites pada galian parit yang terbuka (belum diurug). pipa-pipa harus tetap menunjukan tekanan normal 10 kg/cm2. fitting dan perlengkapan tersebut harus diganti dengan yang baru dan pengetesan pipa harus diulang kembali. semua kran-kran harus dalm keadaan tertutup. Hasil pengujian dianggap baik dan akan disetujui Direksi Proyek bila memenuhi standar pengujian kebocoran untuk tekanan 10 kg/cm2. c. semua sambungan pipa. Kontraktor harus mempersiapkan semua peralatan-peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan pengujian kebocoran. 2. fittings pipa lainnya yang retak ataupun rusak pada waktu pengujian tersebut. Kontraktor dapat memasang kran pembuang udara pada tempat yang disetujui Direksi Proyek. maka pipa. sambungan pipa. Lama pengujian dilaksanakan minimum 60 menit. semua udara harus dikeluarkan dari dalam pipa dengan cara mengisi pipa dengan air sampai penuh. • Saat-saat dilakukan pengujian.

Jalan batu harus kembali berbatu. Semua pipa baja yang terbuka terhadap udara. c. untuk semua bangunan dan konstruksi lainnya yang rusak oleh rekanan akibat pelaksanaan pekerjaan pemasangan pipa. Trotoar berbeton harus kembali berbeton.• Bila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Bagian pipa yang sudah diperbaiki tersebut. b. Biaya yang timbul akibat perbaikan ini adalah tanggung jawab Kontraktor. Setelah pemasangan pipa. Jalan aspal harus kembali beraspal. sisa-sisa tanah/material bekas galian/urugan harus diangkut dan dibuang ke tempat yang disetujui Direksi Proyek sehingga bersih/rapi dan biaya yang timbul untuk pekerjaan ini adalah tanggung jawab Kontraktor. . d. 2) Pengecatan a. b. Kontraktor dengan biaya sendiri harus memperbaiki kebocoran-kebocoran pada sambungansambungan pipa sampai hasil pengujian kebocoran memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Dan lain-lain yang dijumpai selama pelaksanaan pekerjaan. Semua sambungan pipa baja yang pengelasannya dilaksanakan di lapangan. maka setelah selesai dilas bagian lapisan dalam dan luar haerus diperbaiki kembali. harus dilapisi kembali dengan ter ataupun cat dasar meni merah seperti sebagaimana keadaan semula. harus diberi dua lapisan cat dasar setelah di permukaan pipa terlebih dahulu dibersihkan dan sudah kering. Bidang tanah berumput/tanaman-tanaman yang rusak harus kembali berumput/tanamantanaman seperti semula. Divisi VII Pekerjaan Finishing 1) Pengembalian Kondisi Awal Kontraktor berkewajiban serta bertanggung jawab untuk perbaikan kembali seperti keadaan/konstruksi semula (sebelum pemasangan pipa) dengan konstruksi dan kualitas yang minimal harus sama. antara lain: a.

3 2.34 18128.2 ¬ Sekunder 2.1 2.2 3.2 3.1.2 2.1 ¬ Distribusi 2.1. Bab I 1.1.1.5 ¬ Primer Galian Tanah untuk Pondasi ¬ Bangunan Pengolahan ¬ Pompa ¬ Menara Timbunan Pembuangan tanah sisa galian Pekerjaan Perpipaan Pipa Galvanis untuk ¬ Distribusi ¬ Sekunder ¬ Primer Alat Sambung / Pelengkap ¬ Elbow ¬ Socket ¬ Redusser ¬ Tee ¬ Alat Pelengkap 907.2.4 1.3 Pekerjaan Pembetonan Pekerjaan Finishing Pembersihan Lokasi Pengecatan Menara Dokumentasi 2012 Buah 56 Lembar 120 Batang 60 Units 637.1.91 96.2.2.4 Bab III 3.2.2.17 15306.2 Pekerjaan Pembekestingan ¬ Papan ¬ Kaso ¬ Klem 4.1 Galian Tanah untuk Pipa 2.63 3954 1529 38 Units Units Units Units Units Units Units Units 53 8336 7 26 113 Bab IV Pekerjaan Struktur 4.3 2.1.7 Uraian Pekerjaan Pekerjaan Persiapan Pembersihan dan Pengukuran Lahan Pembuatan Direksi Keet Pembuatan Gudang.1 Rangka Menara ¬ Horizontal ¬ Vertikal ¬ Diagonal 4.3 2.bengkel dan Barak Pembuatan Papan Nama Penyedian Listrik dan Penerangan Penyediaan sanitasi dan air bersih Mobilisasi dan Demobilisasi Jumlah 120 20 70 1 4 1 1 Satuan m2 m2 m2 Units Units Units Ls Bab II Pekerjaan Tanah 2.1 3.1 5.1 3.3 3.2 Bangunan Pengolahan 4.225 0.2.2 3.2.1 1.2.3 3.2.1 3.3 Bab V 5.4 3.2 m 3 1 20 1 Ls Kg Unit .1 Pekerjaan Penulangan 4.36 36 m m m m m m m m 3 3 3 3 3 3 3 3 34327.2 5.6 1.Tabel Bill Of Quantity Bill of Quantity Perencanaan Penyediaan Air Bersih Di Kecamatan Cimanggis No.2 1.2.2.2 2.95 18.5 1.3 1.

5 1 10 x 7 m² 70 4 Pembuatan Papan Nama .1 ls 1 .5 m² 20 3 Pembuatan Gudang.Jawa Barat No Pekerjaan Dimensi Perhitungan Jumlah Qty.Tabel Lembar Pekerjaan Detail Pekerjaan Proyek Penyambungan Penyediaan Air Bersih Di Kecamatan Cimanggis Depok .5 1 5 x 4 x 3.1 ls 1 7 Mobilisasi dan Demobilisasi . Unit P L T Volume Total BAB I Pekerjaan Persiapan 1 Pembersihan dan Pengukuran Lahan 15 8 1 15 x 8 m² 120 2 Pembuatan Direksi Keet 5 4 3.- - 4 - buah 1 6 Penyediaan sanitasi dan air bersih .- - 1 - buah 1 5 Penyedian Listrik dan Penerangan .bengkel dan Barak 10 7 3.

928 1 pxlxt m³ 18128. Galian Tanah Untuk Blok Beton 1 0.5 3 Urugan Tanah 10 Timbunan 7 3. Perhitungan Jumlah Unit Volume Total BAB II Pekerjaan Tanah 1 Galian Tanah Untuk Pipa a.69 1 m³ 15306.5 1 55 m³ 27. Pipa Sekunder 8463. Pondasi Pompa 0.5 1.5 x 0.9 m³ 18.No Pekerjaan P Dimensi L T Qty.95 2 Galian Tanah Untuk Pondasi a.111 1.6 x 0.6 x 0.91 4 Pembuangan tanah sisa galian 1 G.5 x 1. Pipa Distribusi 1225.166 1 m³ 907.45 0.63 .225 b.9 9 1.5 m³ 34327.36 c. Pipa Primer 3583. Pondasi Menara 3 3 1 4 1x3x3 m³ 36 d.U m³ 96.5 m³ 0.17 1.34 b.32 1.5 0.6 0.5 2 0.635 1.588 2.17 c.6 0. Pondasi Bangunan Pengolahan 1.

Satuan P L T Volume Total BAB III Pekerjaan Perpipaan 1 Pipa Galvanis a. Pipa Distribusi 38 Ø 20 / 6 m b. Socket Ø 50 Ø 35 Ø 20 c. Pipa Sekunder 1529 Ø 35 / 6 m c.No Pekerjaan Dimensi Perhitungan Jumlah Qty.Ø 35 Ø 35 .Ø 20 d. Alat Pelengkap Katup Kran Water Meter Water Pressure Barrel Union 1 19 33 Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit Unit 1 19 33 57 2302 5977 57 2302 5977 1 6 1 6 0 7 19 0 7 19 55 1 1 1 55 55 1 1 1 55 . Reduser Ø 50 . Pipa Primer 3954 Unit 38 Unit 1529 Unit 3954 2 Ø 20 / 6 m Alat Sambung a. Tee Ø 50 Ø 35 Ø 20 e. Elbow Ø 50 Ø 35 Ø 20 b.

2 Atas .3 c.5 10 x 7 m² 245 - - - 1 - buah 1 4.3 m 14 x 10 6 x 0.8 56 lembar 56 Kaso 4 0. Pekerjaan pembekistingan Papan 4 2 1.1.No Pekerjaan P Dimensi L T Qty. Perhitungan Volume Unit Jumlah Total BAB IV Pekerjaan Struktur 4. Batang Diagonal 10 Profil 2L 300 x 300 x 30 4.2. Pekerjaan penulangan Ø16 12 1662 buah 1662 Ø16 12 350 buah 350 b.3 m³ 637. Batang Vertikal m² Profil 2L 300 x 300 x 30 4.07 120 Klem c.1.1.1 Menara 4.1. Pelat 7 3. Batang Horizontal 1 22 x 165 m² 0 Profil 2L 300 x 300 x 30 4.4 d.1 a.1 Bangunan Pengolahan a.2 4.05 0.2 b. Pekerjaan pengecoran 60 Units 60 batang 120 Samping 14 10 6 9 Ketebalan 0.

No Pekerjaan Dimensi Perhitungan Jumlah Qty. Unit P L T Volume Total BAB I Pekerjaan Persiapan 1 Pengembalian Kondisi Awal m² 2 Pengecatan 1 22 x 165 m² 0 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->