P. 1
SNI 03-4431-1997 Kuat Lentur

SNI 03-4431-1997 Kuat Lentur

|Views: 161|Likes:
Published by Teuku N Indra Juana
Kuat Lentur dengan Dua Titik Pembebanan
Kuat Lentur dengan Dua Titik Pembebanan

More info:

Published by: Teuku N Indra Juana on May 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2013

pdf

text

original

SNI 03-4431-1997 METODE PENGUJIAN KUAT LENTUR NORMAL DENGAN DUA TITIK PEMBEBANAN BAB I DESKRIPSI 1.

1 Maksud dan Tujuan 1.1.1 Maksud Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Normal Dengan Dua titik Pembebanan dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam melaksanakan pengujian kuat lentur beton di laboratorium. 1.1.2 Tujuan Tujuan metode ini adalah untuk memperoleh nilai kuat lentur beton normal guna keperluan perencanaan dan pelaksanaan. 1.2 Ruang Lingkup Metode Pengujian ini: 1) Membahas ketentuan-ketentuan dan cara uji 2) Dilaksanakan dengan menggunakan mesin tekan beton dengan sistim pembebanan dua titik 3) Berlaku untuk benda uji beton normal berbentuk balok 1.3 Pengertian Beberapa pengertian yang berkaitan dengan metode pengujian ini adalah: 1) Beton normal adalah beton yang mempunyai berat sisi antara 2200 sampai dengan 2500 kg/m3 dengan bahan penyusun air, pasir, semen Portland dan batu alam baik yang dipecah atau tidak, tanpa menggunakan bahan tambahan, sesuai dengan SNI 03-2834-1992. 2) Kuat lentur beton adalah kemampuan balok beton yang diletakan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda uji patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan luas. 3) Sumbu panjang benda uji adalah garis yang melalui pusat berat benda uji pada arah panjangnya. 4) Tampang lintang benda uji adalah penampang benda uji apabila dipotong arah tegak lurus sumbu panjang. 5) Perletakan benda uji adalah dua alas penyangga atau penumpu berbentuk sylinder, dari baja yang dapat berputar pada jarak tertentu untuk meletakan benda uji (lihat lampiran B Gambar 1). 6) Titik pembebanan adalah dua titik pada jarak tertentu sebagai tempat beban diberikan (lihat lampiran B Gambar 1). 1

dua buah perletakan benda uji berbentuk titik. 2) Alat ukur panjang minimum sepanjang satu meter dengan ketelitian 0.2 Teknis 2. 2) Jumlah benda uji dengan campuran yang sama untuk satu kali pengujian minimum sebanyak tiga buah. 2. SNI 03-2493-1991. 2.3 Rumus-rumus perhitungan Rumus-rumus perhitungan yang digunakan dalam metode pengujian kuat lentur beton dalam mega pascal (MPa) adalah sebagai berikut: 2 . panjang 53 cm. SK SNI S-04-1989-F. dan dua buah titik pembebanan.2 Alat bantu lain berupa Alat bantu lain terdiri dari: 1) Timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0.1 Umum 2.1. ketelitian peralatan dalam hal pembacaan pada skala pembebanan minimum adalah 12. 3) Bahan penyusun benda uji harus memenuhi syarat sesuai yang dicantumkan dalam spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A. 2.1 Benda uji Beban untuk pengujian kuat lentur beton harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1) Bentuk dan dimensi benda uji sebagai berikut: (1) Benda uji dibuat dengan penampang bujur sangkar dengan ukuran lebar 15 cm.1.2.2.2.1 Peralatan Jenis dan ketelitian peralatan yang digunakan untuk menentukan kuat lentur beton harus dikalibrasi dan memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1) Mesin tekan beton yang dapat digunakan untuk pengujian kuat lentrur dengan perlengkapannya antara lain monometer dengan dua jarum pembacaan beban.2 Petugas dan penanggung jawab hasil uji Nama dan tanda tangan petugas dan penanggung jawab serta tanggal pada pelaksanaan uji harus ditulis dengan jelas pada formulir uji.1% 2. (2) Panjang benda uji 53 cm atau sama dengan jarak perletakan di tambah 8 cm.SNI 03-4431-1997 BAB II KETENTUAN-KETENTUAN 2.5 kg. tebal 15 cm.01%. 3) Jangka sorong ukuran 50 cm dengan ketelitian 0. 4) Pembuatan benda uji dilakukan dengan ketentuan pada Metode pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium No.1%.

maka kuat lentur beton dihitung menurut persamaan: P.1 …………………………………………………………………………….h 2 2) Untuk Pengujian dimana patahnya benda uji ada di luar pusat (diluar daerah 1/3 jarak titik perletakan) di bagian tarik beton.SNI 03-4431-1997 1) Untuk pengujian dimana patahnya benda uji ada di daerah pusat pada 1/3 jarak titik perletakan pada bagian tarik dari beton. 3) Untuk benda uji yang patahnya di luar 1/3 lebar pusat pada bagian tarik beton dan jarak antara titik pembebanan dan titik patah lebih dari 5% bentang.(2) σ1 = b.. hasil pengujian tidak dipergunakan.a ……………………………………………………………………………. 3 .h 2 Keterangan: = Kuat lentur benda uji (MPa) σ1 P = Beban tertinggi yang dilanjutkan oleh mesin uji ( pembacaan dalam ton sampai 3 angka dibelakang koma) 1 = Jarak (bentang) antara dua garis perletakan (mm) b = Lebar tampang lintang patah arah horizontal (mm) h = Lebar tampang lintang patah arah vertikal (mm) a = Jarak rat-rata antara tampang lintang patah dan tumpuan luar yang terdekat. dan jarak antara titik pusat dan titik patah kurang dari 5% dari panjang titik perletakan maka kuat lentur beton dihitung menurut persamaan: 3 P. diukur pada 4 tempat pada sisi titik dari bentang (m).(1) σ1 = b.

(2) Ukur dan catat panjang benda uji pada keempat rusuknya. dan jaga kecepatannya 8-10 kg/cm2 tiap menit. 2) Siapkan mesin tekan beton dan lakukan tahapan sebagai berikut: (1) Pasang 2 (dua) buah perletakan dengan lebar bentang sebesar tiga kali titik pembebanan dan pasang alat pembebanan sehingga mesin tekan beton berfungsi menjadi alat uji lentur. ditimbang dan diberi tanda pada tumpuan pada tempat yang tepat dengan kedudukan sisi atas benda uji pada waktu pengecoran berada dibagian samping alat penekan. 2) Atur benda uji sehingga siap untuk pengujian. (3) Tempatkan benda uji yang sudah diberi tanda di atas dua perletakan sedemikian hingga tanda untuk tumpuan yang dibuat pada benda uji. tepat pada pusat tumpuan dari alat uji.SNI 03-4431-1997 BAB III CARA PENGUJIAN 3. gambar 1). tunggu kira-kira 30 detik. 4 . 3) Atur pembebanannya sehingga tidak terjadi benturan. (3) Timbang dan catat berat masing-masing benda uji. 3) Siapkan formulir uji seperti pada contoh/isian formulir uji lampiran B.1 Persiapan Lakukan persiapan dengan tahapan sebagai berikut: 1) Siapkan benda uji dan lakukan hal-hal sebagai berikut: (1) Ukur dan catat dimensi penampang benda uji lentur beton dengan jangka sorong minimum di 3 (tiga) tempat.2 Pelaksanaan Pengujian Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut: 1) Hidupkan mesin uji tekan beton yang telah dipersiapkan. titik pembebanan. (5) Tempatkan benda uji yang sudah selesai diukur. 3. dan garis sejauh 5% dari jarak bentang diluar titik perletakan. (2) Atur pembebanan dan skala pembacaannya. 4) Atur katub-katub pada kedudukan pembebanan dan kecepatan pembebanannya pada kedudukan yang tepat sehingga jarum skala bergerak secara perlahan-lahan. (4) Buat garis-garis melintang sebagai tanda dan petunjuk titik perletakan. dengan kedudukan sisi benda uji pada waktu pengecoran berada dibagian samping dan alat penekan dapat menyentuh benda uji pada sepertiga panjang (lihat lampiran B.

8) Ukur dan catat lebar dan tinggi tampang lintang patah dengan ketelitian 0.25mm sedikitnya pada tiga tempat dan ambil harga rat-ratanya.3 Perhitungan Hitung kuat lentur beton dengan tahapan sebagai berikut: 1) Untuk pengujian dimana patahnya benda uji ada di daerah pusat pada 1/3 jarak titik kuat lentur beton dihitung dengan rumus (1) Sub Bab 2. dan jarak antara titik pusat dan titik patah kurang dari 5% dari panjang titik perletakan maka kuat lentur beton dihitung dengan rumus (2) Sub Bab 2.2. 5 . di bagian tarik dari beton dan jarak antara titik pembebanan dan titik patah lebih dari 5% bentang maka hasil pengujian tidak dipergunakan. 3) Untuk pengujian dimana patahnya benda uji terjadi di luar daerah sekitar 1/3 lebar pada pusat.3.3. 2) Untuk pengujian dimana patahnya benda uji ada di luar pusat (luar daerah 1/3 jarak titik perletakan) dibagian tarik beton.SNI 03-4431-1997 5) Kurangi kecepatan pembebanan pada saat-saat menjelang patah yang ditandai dengan kecepatan gerak jarum pada skala beban agak lambar. sehingga tidak terjadi kejut.2. 7) Ambil benda uji yang telah selesai di uji yang dapat dilakukan dengan menurunkan plat perletakan benda uji atau menaikan alat pembebannya. pada formulir uji sebagaimana lampiran contoh formulir uji. 3. 6) Hentikan pembebanan dan catat beban maksimum yang menyebabkan patahnya benda uji. 9) Ukur dan catat jarak rata-rata antara tampang lintang yang patah dari tumpuan luar terdekat pada 4 tempat dibagian tarik pada arah bentang dan ambil harga rata-ratanya.

lihat lampiran B contoh isian formulir uji LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH Kuat lentur Tumpuan Tampang lintang Jangka sorong.SNI 03-4431-1997 BAB IV LAPORAN UJI Laporan pengujian dicatat dalam formulir dengan mencantumkan hal-hal sebagai berikut: 1) Identitas contoh: (1) Nomor contoh (2) Nama contoh (3) Jumlah contoh (4) Nama pekerjaan (5) Tanggal pembuatan contoh (6) Tanggal pengujian 2) Laboratorium yang melakukan pengujian: (1) Nama teknisi penguji (2) Nama penanggung jawab penguji (3) Nama laboratorium yang melakukan pengujian 3) Hasil pengujian. alat sipat ukur Tegak lurus sumbu : Tensile Strength : Girder : Cross section : Capiler : Axial 6 .

SNI 03-4431-1997 LAMPIRAN B LAIN-LAIN 7 .

PERLETAKAN DAN PEMBEBANAN GAMBAR 2 GARIS-GARIS PERLETAKAN DAN PEMBEBANAN 8 .SNI 03-4431-1997 GAMBAR 1 BENDA UJI.

SNI 03-4431-1997 9 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->