KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DAN WABAH PADA DIARE

A. Definisi  KLB adalah keadaan yang melebihi dari keadaan biasa, pada satu / sekelompok masyarakat tertentu (Mac Mahon and Pugh, 1970).  KLB adalah peningkatan frekuensi penderita penyakit, pada populasi tertentu pada tempat dan musim atau tahun yang sama (Last, 1983).  Berdasarkan Peraturan Menteri KLB Kesehatan adalah RI No. atau

949/MENKES/SK/VIII/2004,

timbulnya

meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.  Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam msyarakat yang jumlahnya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Menteri menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah.

1

rata perbulan tahun sebelumnya  Angka rata-rata perbeluan selama 1 tahun menunjukan kenaikan 2 kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata perbulan tahun sebelumnya  Case fatality rate dari suatu penyakit dari satu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50 % atau lebih.hari. Kriteria Kejadian Luar Biasa (Keputusan Dirjen PPM No. dibandingkan CFR dari periode sebelumnya  Proporsional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yg sama dan kurun waktu tahun sebelumnya 2 . minggu bulan. hari. minggu)  Peningkatan kejadian penyakit/kematian. tahun)  Jumlah penderita baru dalam 1 bualan menunjukan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata .B. 451/91) tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :  Timbul suatu penyakit menular yang sebelumnya tdk ada/ tak dikenal  Peningkatan suatu kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam. 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam.

3.Tetanus neonatorum C. Beberapa penyakit khusus : “Kholera.Keracunan makanan . Kholera Pes Demam Kuning Demam Bolak-balik Tifus Bercak wabah DBD Campak Polio Difteri 10. 4. 7. DHF/DSS” Setiap peningkatan 1 kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis terdapat 1 atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut bebas dari penyakit bersangkutan)  Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita : . 6. Rabies 12. 8.Keracunan pestisida . 5. 2. 9. Malaria 3 . Permenkes 560/MENKES/PER/VIII/1989 Penyakit potensial wabah: 1. Pertusis 11.

4 . Meningitis 17.451-I/PD. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya. Influenza 14. Batasan KLB meliputi arti yang luas : 1. Antraks D.13. Meliputi semua kejadian penyakit. pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya. Keputusan Dirjen PPM & PLP No.04/1991 Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB: Kejadian Luar Biasa (KLB) Adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu. Tifus Perut 16. Ensefalitis 18. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal. Hepatitis 15. dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi. 2.03.

5 . 4. Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbesar di Indonesia tahun 1999 sebesar 5 per 1000 penduduk dan menduduki urutan kelima dan 10 penyakit terbesar.3. apakah dusun. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. kabupaten atau meluas satu propinsi dan negara. Penyakit diare di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit endemis dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di masyarakat oleh karena seringnya terjadi peningkatan kasus-kasus pada saat atau musimmusim tertentu yaitu pada musim kemarau dan pada puncak musim hujan (Sunoto. Pada definisi ini jelas menyebutkan frekuensi diare terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari (Smeltzer. 1990). Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB. kecamatan. 2002). KLB dapat terjadi dalam beberapa jam. desa. beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun. Diare adalah adalah kondisi di mana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali per hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 gram per hari) dan konsistensi (feses cair).

E. yaitu sebanyak 1. dan Environment  HOST Menurut prevalensi yang didapat dari berbagai sumber. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. Melihat data tersebut dan kenyataan bahwa masih banyak kasus diare yang tidak terlaporkan. penderita diare di Indonesia berasal dari semua umur. tercatat 2. Di awal tahun 2006. F. salah satunya dari hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) pada Tahun 2007.051 kasus diare sepanjang tahun 2005 lalu di 12 provinsi. diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16.159 orang di Jakarta yang dirawat di rumah sakit akibat menderita diare. Prevalensi Diare Prevalensi diare berdasarkan umur menurut data dari hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) tahun 2007. Agent.436 orang. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan dengan jumlah pasien diare pada tahun sebelumnya.cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Interaksi Host. departemen kesehatan menganggap diare merupakan isu prioritas kesehatan di tingkat lokal dan nasional karena punya dampak besar pada kesehatan mayarakat (Depkes RI 2008). Berdasarkan Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan 5. 6 .7%).

 AGENT Entamoeba hystolitica Infeksi terjadi karena tertelannya kista dalam makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja. namun.tetapi prevalensi tertinggi penyakit diare diderita oleh balita dan disusul oleh lansia yang berusia lebih dari 75 tahun. Masyarakat yang menderita diare dapat berasal dari berbagai jenis status sosial ekonomi dan berbagai pekerjaan. Trichuris trichiura Disebut juga cacing cambuk dan menimbulkan penyakit trikuriasis. prevalensi antara penderita dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama. nelayan. prevalensi tertinggi penyakit ini diderita oleh masyarakat yang tidak bekerja dan masyarakat yang bekerja sebagai petani.  ENVIRONMENT Beberapa faktor lingkungan yang menyebabkan penyebaran penyakit diare : Tidak memadainya penyediaan air bersih Air tercemar oleh tinja Pembuangan tinja yang tidak hygienis Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek 7 . 2006). Kista yang tertelan mengeluarkan trofozoit dalam usus besar dan memasuki submukosa (Chandrasoma dan Taylor. Berdasarkan jenis kelamin. atau buruh.

Menggunakan jamban sehat 8 . dan environment pada penyakit diare merupakan interaksi antara ketiga variabel tersebut. Memberikan ASI 2.- Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya Interaksi faktor host. Membuang tinja bayi yang benar 7. G. Mencuci tangan 5. Menggunakan air bersih yang cukup 4. Pencegahan Diare 1. Memberikan imunisasi campak 8. Memperbaiki makanan pendamping ASI 3. agent. Menggunakan jamban 6. Perilaku host juga dapat menjadi penyebab kuman penyebab diare masuk ke dalam tubuh host sendiri melalui jalur fecal oral. Menggunakan air bersih yang cukup 9. Lingkungan yang tidak bersih dapat menyebabkan kuman penyebab diare berkembang dengan pesat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful