LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FITOKIMIA

EKSTRAKSI METABOLIT SEKUNDER DARI SIMPLISISA TUMBUHAN OBAT (Rhei Radix)
Disusun oleh :

Tatu Ratna Sari Sarah Zielda Najib Talitha Nurul Bulan M. Garda Pakerti Rahajeng H.R.S Ita Puspitasari Ilham Jumadil Putra Nia Ari Pratiwi

260110090065 260110090066 260110090067 260110090069 260110090070 260110090071 260110090072 260110090073

LABORATORIUM FITOKIMIA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

EKSTRAKSI METABOLIT SEKUNDER DARI SIMPLISIA TUMBUHAN OBAT (Rhei Radix)
I. TUJUAN
1. Melakukan penyarian metabolit sekunder dari simplisia Rhei radix

menggunakan

metode ekstraksi dengan alat soxhlet.
2. Mengetahui kualitas ekstrak dilihat dari sifat fisik dan kandungan kimianya

(pemeriksaan parameter ekstrak).

II. PRINSIP 1. Ekstraksi Metode penarikan suatu senyawa dari bahan mentah atau setengah murni dengan perlakuan menggunakan pelarut yang sesuai. Dalam hal ini ekstraksi simplisia tumbuhan obat dilakukan dengan metode ekstraksi yaitu soxhlet.
 Like Dissolve Like

” Suatu senyawa cenderung mudah larut dalam pelarut yang memiliki kepolaran yang relatif sama ” 2. Bobot Jenis Perbandingan kerapatan zat terhadap kerapatan air. 3. Dinamolisis

III. TEORI I. TINJAUAN BOTANI Rheum officinale

Divisi : Spermatophyta Su divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Polygonales Suku : Polygonaceae Marga : Rheum Jenis : Rheum officinale Baill Sinonim (Syn): Rhubarb Nama umum : Kelembak Nama daerah : Kelembak (Melayu), Kaiemba (Sunda), Kalembak (JawaTengah) Kelembak (Madura) (Bambang, 2009).

Kalembak ini biasanya hidup (habitat) di daerah semak tahunan sedang berasal dari China,Tibet ,tingginya dapat mencapai 25-28cm. Tergolong jenis terna, yaitu perdu /pohon dengan daun tersebar dan selaput bumbung yang membalut batang. Bentuk batang dari tanaman ini terlihat pendek,beralur melintang dan tertanam dalam tanah, juga berbentuk masif dan berwarna coklat. Batangnya biasanya berasa pahit. Daun dari kalembak ini berjenis daun tunggal,bentuknya bulat telur tapi pada pangkalnya berbentuk jantung, daun ini diselimuti bulu-bulu halus, ujung daun berbentuk runcing dan tepi daun bergigi/utuh(rata). Rata-rata tanaman ini beranting 10-40 cm, tangkai daunnya juga terlihat memeluk batang, panjang daunnya sendiri sekitar 10-35cm, dan lebarnya 830cm,tentunya warna daun ini tidak berbeda dari tanaman lain. Bagian atas tanah terdiri dari daun-daun bertangkai yang keluar dari rimpangnya, tunas pendukung juga keluar dari rimpang tersebut. Dilihat dari sisi bunganya , tanaman ini dapat tergolong hermaprodit / kelamin ganda/banci tapi juga ada yang hanya berkelamin satu, aktinomorf. Bunga berwarna putih kehijauan/ putih kemerahan itu bergabung menjadi satu malai bercabang. Bunganya memiliki tenda bunga, mahkotanya terdiri dari 6 helai yang tersusun dalan lingkaran, bunga ini memiliki 9 benang sari,tangkai putik yang melengkung, kepala putik yang tebal, dan bakal buahnyA dikelilingi cakram, mempunyai 2-3 tangkai putik, beruang 1 dengan bakal biji pada dasar yang dapat atrop /anatrop. Buahnya mirip padi tapi sedikit bulat telur,punya 3 sayap dan

berwarna merah. Buahnya keras, pipih, bersegi 3 sering dibalut oleh tenda bunga/ sisa-sisa hiasan bunga. Bijinya memounyai endosperm tanpa perisperm. Sedang mengenai akarnya, tergolong tunggang, lunak,berbentuk bulat, dan berwarana coklat muda, tumbuh menyebar. Tumbuhan ini terkenal dengan rimpang serta akarnya, yang bernama Rhei Radix (Bambang, 2009).

Anatomi Dari tampak makroskopiknya potongan akar terlihat padat, keras,berat, bentuknya hampir silindrik, serupa kerucut atau bentuk kubus cekung, pipih, dan tidak beraturan. Kadang berlubang, panjangnya 5cm sampai 15cm, lebar 3 cm-10 cm, permukaan yang terkupas agak bersudut,umumnya diliputi serbuk berwarna kuning kecoklatan terang, bagian dalam berwarna putih keabuan dengan garisgaris coklat kemerahan. Pada penampang melintang akar tampak jaringan gabus, berdinding tipis, bentuk segi 4 memanjang , letaknya teratur. Sel parenkim korteks berdinding tipis,berisi butir pati, bentuknya bundar atau setengah bundar mempunyai hilus, tunggal/berkelompok ,juga terdapat kristal kalsium oksalatbentuk ronset besar dan tersebar. Floemnya terdiri dari sel parenkim floem dan lebih kecil dari sel parenkim korteks, jari-jari empulur terdiri dari 1-2 lapis sel. Bagian endodermisnya terdiri dari 1 sampai beberapalapis sel berdinding tipis, pada parenkim floem juga terdapat butir pati dan Kristal kalsium oksalat bentuk roset besar. Xilem terdiri dari sel parenkim xylem berdinding tipis, berisi butir pati dan Kristal oksalat besar, trakea besar bernoktah,jari-jari empulur terdiri dari 1-2 baris (Bambang, 2009).

Tanaman ini mmiliki manfaat untuk : Purgatif, antipiretik, antispamodik, stomakik antimutagen, tonik, astringent, antiinflammatory, antikolesterol, antiseptic, anti-hipertensi antitumor dan antioksidan. Banyak digunakan untuk memudahkan air besar dan sebagai

tapi jika terlalu banyak maka dapat menimbulkan efek laksatif (Bambang. antraglikosida dan frangula-emodin. II. tannin 11. Pada akarnya pula mengandung antrkuinon yang berefek purgative. TINJAUAN FITOKIM (KUINON DAN STRUKTUR BELUM ADA) IV. rafontisin dan saponin. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka. 1986).1. kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Sudjadi. . Akarnya mengandung glikosida adstringent yang berkelakuan sebagai zat penyamak. III. katekin.dan tannin yang berefek melawan astringen atau dapat disebut sebagai adstringent. sariawan dan batuk. Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. TINJAUAN METODE 4. 2009). Setiap bagian bagian tubuhnya mengandung zat-zat kimia yang berbeda. Pada batangnya mengandung asam krisofhanat . amilum dan kuinon. Masing-masing manfaat terperinci tiap bagiannya adalah sebagai berikut. emodian dan rhein (Bambang. TINJAUAN KIMIA Secara umum tanaman ini mengandung kandungan : Asam krisofat. sedangkan daunnya sendiri mengandung polifenol . batangnya dapat mengobati malaria. rien-emodin. Akar dan daunnya mengandung flavonoida. saponin. alizarin. di samping itu akarnya juga mengandung glikosida Reumemodin. krisofanin. 2009). aloe-emodin. Adapun tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. krisofanol. reokristin.pencahar. tetrazin. glukogalin. Ekstraksi Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat.tapi dalam jumlah kecil efek astringen juga dibutuhkan.80%.

4. misalnya alkaloid. Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Dalam situasi seperti ini. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu (Sudjadi. baik yang dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus (Sudjadi. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut. meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai (Sudjadi. dan biasanya dibuat dengan cara. zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel. misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme. 3. Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme.Secara umum. khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional (Sudjadi. flavanoid atau saponin. 2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu. 1986). Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional. . 1986). Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. 1986). metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi: 1. Dalam kasus ini. maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel (Sudjadi. 1986). 1986).

Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Gemini dan Abdul Rahim. ( Alam. cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh.Alauddin: Makassar. dan berat cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon. 2007.1 Prinsip ekstraksi  Prinsip Maserasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. lalu dipekatkan.  Prinsip Perkolasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam. Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut. seluruh cairan akan turun kembali ke labu alas . Perkolat yang diperoleh dikumpulkan.4. Gemini dan Abdul Rahim.)Penuntun Praktikum Fitokimia. kohesi. kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori.)  Prinsip Soxhletasi Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi.1. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. 2007. UIN. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. 24-26. ( Alam.

uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. 2007. campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah. Gemini dan Abdul Rahim. penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. ( Alam.)  Prinsip Refluks Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan. dan akan memisah antara air dan minyak atsiri. akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat. tidak tampak noda jika di KLT. Dengan bantuan pompa vakum. atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Air dipanaskan dan akan menguap. uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat. uap air akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna.bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.)  Prinsip Destilasi Uap Air Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. 2007. cairan penyari dapat menguap 5-10º C di bawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Gemini dan Abdul Rahim. demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna.)  Prinsip Rotavapor Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat.) . ( Alam. lalu akan melewati pipa alonga. Gemini dan Abdul Rahim. 2007. Gemini dan Abdul Rahim. 2007. uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. ( Alam. ( Alam.

cairan penyari yang digunakan lebih . ( Alam. yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen).2. Jenis-jenis ekstraksi tersebut sebagai berikut:  Cara Dingin o Maserasi. jenis –jenis ekstraksi Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara panas. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan ekstraksi maserat pertama dan seterusnya.1. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metoda pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. komponen kimia bergerak naik mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya. Gemini dan Abdul Rahim. Prinsip Ekstraksi Cair-Cair Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama. Maserasi kinetic berarti dilakuakn pengadukan kontinyu.) 4. lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair. 2007. Gemini dan Abdul Rahim.)  Prinsip Kromatografi Lapis Tipis Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi. 2007. hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada suhu kamar. dan komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap. ( Alam. lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok.

Prosesnya didahului dengan pengembangan bahan. tahap maserasi antara.banyak. tiraks dan lilin. o Soxhlet. tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin. Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi sebagai berikut :      o Modifikasi maserasi melingkar Modifikasi maserasi digesti Modifikasi Maserasi Melingkar Bertingkat Modifikasi remaserasi Modifikasi dengan mesin pengaduk Perkolasi. adalah ekstraksi pelarut pada temperature didihnya selamawaktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya pendingin balik. tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak) secara terus menerus samapai diperoleh ekstrak perkolat yang jumlahnya 1-5 kali bahan  Cara Panas Reflux. Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator. adalahmaserasi kinetic pada temperature lebih tinggi dari temperature kamar sekitar 40-50 C o Destilasi uap. adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya pada suhu ruang. adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial zat kandungan menguap dengan fase uap air dari ketel secara kontinyu sampai sempurna dan diakhiri . adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relative konstan dengan adanya pendingin balik. Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung. o Digesi.

tidak korosif. pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar. pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi.  Kemampuan tidak saling bercampur. maka untuk setiap proses ekstraksi harus dicari jenis pelarut yang paling sesuai dengan kebutuhan. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.dengan kondensasi fse uap campuran menjadi destilat air bersama kandungan yang memisah sempurna atau sebagian. tidak eksplosif bila bercampur udara. sedapat mungkin murah. Karena tidak ada pelarut yang sesuai dengan semua persyaratan tersebut. viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik. tidak beracun.  Titik didih. ( Rizki Kurnia. (Rizky Kurnia.  Reaktivitas.  Kriteria lain. tidak mudah terbakar. adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-98 C selama 15-20 menit. tersedia dalam jumlah besar. pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi. sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dengan bahan ekstraksi. titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan. pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan. Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh:   Selektivitas.2010) . distilasi dan rektifikasi. o Infuse.2010) Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkanyang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. pada ekstraksi cair.  Kerapatan. Kelarutan. buaka emulsifier.

.2. 1983). warna dan rasa ekstrak (Muhtadi.2. 3. yaitu perbandingan berat ekstrak yang diperoleh dengan berat simplisia awal.2 Rendemen ekstrak Hasil ekstraksi setelah dikeringkan diperoleh sebagai rendemen. Berat jenis larutan etanol semakin kecil. maka kadar etanol dalam larutan tersebut semakin besar. angka yang berikutnya menunjukkan temperatur air yang digunakan (Martin. al. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak yang telah diencerkan 5% dan 10% menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. 2005) Bobot jenis ekstrak dihitung dengan menggunakan piknometer.10-5 untuk pengenceran 10%. 8293 m/v ± 2. bentuk. Hal ini dikarenakan etanol mempunyai berat jenis lebih kecil daripada air sehingga semakin kecil berat jenis larutan berarti jumlah atau kadar etanol semakin banyak.2. bobot jenis juga terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan kontaminasi (Departemen Kesehatan RI. Berat jenis larutan etanol dapat diukur dengan piknometer.4. . (Mardoni.10-4 untuk pengenceran 5% dan 0. dan 4°/4°. 2008). Parameter Ekstrak 3.8489 m/v ± 5. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara saat zat ditimbang. 3. 2008). (Muhtadi.3 Berat Jenis Ekstrak Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4° atau temperatur lain yang tertantu. Ini menggambarkan besarnya massa persatuan volume untuk memberikan batasan antara ekstrak cair dan ekstrak kental. et.1 Organoleptik ekstrak Pemeriksaan menggunakan pancaindera meliputi bau.2. 25°/4°. Dimana didapatkan hasil sebesar 0. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis: 25°/25°. 2000).

Pereaksi dan larutan yang digunakan peka terhadap air. c. Titrasi dengan pereaksi Karl Fischer yang telah diketahui kesetaraan airnya (Departemen Kesehatan RI.2. Jika zat berupa pasta. Destilasi Bersihkan tabung penerima dan pendingin dengan asam pencuci. Titrasi dengan pereaksi Karl Fischer hingga titik akhir tercapai. ke dalam labui titrasi. Masukkan dengan cepat sejumlah zat yang ditimbang seksama yang mengandung 10-50 mg air. Cara penetapan. Titrasi Langsung Kecuali dinyatakan lain. misalnya dengan titrasi langsung atau tidak langsung (pereaksi Karl-Fischer). Untuk zat yang dapat menyebabkan gejolak mendadak. 1980). a. Titrasi kelebihan pereaksi dengan larutan baku air-metanol (Departemen Kesehatan RI. 1980). keringkan dalam lemari pengering. masukkan lebih kurang 20 ml metanol P ke dalam labu titrasi. Sedangkan cara destilasi menggunakan pereaksi toluene (Departemen Kesehatan RI. timbang dalam sehelai lembaran logam dengan ukuran yang sesuai dengan leher labu. pereaksi yang digunakan Karl Fischer dan larutan baku airmetanol. biarkan selama beberapa waktu hingga reaksi sempurna. 1980). Ke dalam labu kering masukkan sejumlah zat yang ditimbang seksama yang mengandung 2-4 ml air. aduk selama 1 menit.4. tambahkan dengan . dapat dilakukan dengan titrasi dan destilasi. Masukkan dengan cepat sejumlah zat ditimbang seksama yang mengandung 10-50 mg air. Tambahkan pereaksi Karl Fischer berlebih dan yang diukur seksama. hingga harus dilindungi dari pengaruh kelembapan udara. destilasi atau gravimetri (Departemen Kesehatan RI. b. Titrasi dapat dilakukan dengan titrasi langsung dan titrasi tidak langsung. 2000). Titrasi dengan pereaksi dari Karl Fischer hingga titik akhir tercapai.4 Kadar Air Ekstrak Penetapan kadar air ekstrak dapat dilakukan dengan beberapa cara. Titrasi Tidak Langsung Masukkan lebih kurang 20 ml metanol P ke dalam labu titrasi. bilas dengan air. campur.

Tuang toluen ke dalam tabung penerima melalui alat pendingin. sambil dibersihkan dengan sikat tabung yang disambungkan dengan kawat tembaga dan telah dibasahi dengan toluen. 1980). Biarkan tabung penerima pendingin hingga suhu kamar. sehingga merupakan lapisan tipis. murah.. Setelah iar dan toluen memisah sempurna. gosok dengan karet yang diikatkan pada sebuah kawat tembaga dan basahi dengan toluen hingga tetesan air turun. Setelah semua air tersuling.pasir kering yang telah dicuci secukupnya hingga mencukupi dasar labu atau sejumlah tabung kapiler. Panaskan labu hati-hati selama 15 menit (Departemen Kesehatan RI. suling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik. Jika ada tetes air yang melekat pada pendingin tabung penerima. 1991). sederhana. kemudian naikkan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik. hingga sebagian besar air tersuling. panjang lebih kurang 200 ml toluen ke dalam labu. 1980). Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Setelah toluen mendidih. cuci bagian dalam pendingin toluen.5 Kromatografi Lapis Tipis Teknik kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Egon Stahl dengan menghamparkan penyerap pada lempeng gelas. al. Lanjutkan penyulingan selama 5 menit. waktu analisis cepat dan daya pisah cukup baik (Sudjadi. 1988). . Sistem ini segera popular karena memberikan banyak keuntungan. misalnya peralatan yang diperlukan sedikit. baca volume air (Departemen Kesehatan RI. hubungkan alat. 4. Sifat utama yang terlibat adalah :    Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan) Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus (adsorpsi/penjerapan) Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (keatsirian) (Gritter et.2.

Jenis-jenis fasa diam yang dapat digunakan :       Silika gel : Silika gel dengan pengikat Silika gel dengan pengikat dan indikator fluorosensi Silika gel tanpa pengikat dengan indikator fluorosensi Silika gel tanpa pengikat Silika gel untuk preparatif o Alumina o Keiselguhr o Selulosa (Sudjadi. yang meliputi (sifat hidrofob menaik) methanol. Fasa diam Kondisi optimum suatu pemisahan merupakan hasil kecocokan antara fasa diam dan fasa gerak. dan fasa diam lainnya. 2000). pemilihan pelarut mengikuti aturan kromatografi kolom serapan. 1988) Fasa Gerak Untuk fasa diam yang menggunakan silika gel.Sekarang kromatografi mencakup beberapa macam proses didasarkan pada distribusi diferensial dari komponen-komponen sampel antara dua fasa. eter. Sistem tak berair paling banyak digunakan. kloroform (perlu diperhatikan pada kloroform yang distabilkan dengan .1-2 mm) yang terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga datar yang biasanya terbuat dari kaca. asam asetat. aseton. Fasa diam berupa lapisan tipis (tebal 0. 1991). etanol. Salah satu fasa yang tinggal dalam sistem dinamai fasa diam (stationary phase). tetapi dapat pula terbuat dari pelat polimer atau logam. alumina. Pergerakan dari fasa gerak menimbulkan migrasi diferensial komponen-komponen dalam sampel (Tjokronegoro. Dalam KLT fasa diam harus mudah didapat. fasa lain yang melalui fasa diam dinamai fasa gerak (mobile phase). etil asetat. Lapisan melekat kepada permukaan dengan bantuan bahan pengikat biasanya kalsium sulfat atau amilum (Gritter.

1988).6 Dinamolisis Dinamolisis adalah suatu metode yang digunakan untuk identifikasi zat berdasarkan diameter. Kertas saring bersumbu ini kemudian ditutupkan pada cawan petri yang berisi maserat atau ekstrak cair. Faktor Retensi (Rf) Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai faktor retensi Rf: Jarak yang telah ditempuh pelarut dapat diukur dengan mudah dan jarak tempuh cuplikan diukur pada pusat bercak itu. Campuran pelarut yang terdiri dari dua atau tiga pelarut dapat pula digunakan. Untuk keberhasilan praktikan di dalam bekerja dengan menggunakan kromatografi kolom vakum cair.3 Kromatografi Cair Vakum Kromatografi kolom cair dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau pada tekanan lebih besar dari atmosfer dengan menggunakan bantuan tekanan luar misalnya gas nitrogen. oleh karena itu syarat utama adalah mengetahui gambaran pemisahan cuplikan pada kromatografi lapis tipis (Harris. Penyusunan sistem pelarut dapat dipilih sesuai dengan kemampuannya membentuk ikatan hydrogen dalam satu seri dari hidrofil sampai ke hidrofob. 4.etanol). . 4. titik pusatnya dilubangi kemudian dipasang sumbu yang terbuat dari kertas saring. benzene. sikloheksan dan eter petroleum. 1988). Kombinasi pelarut yang mempunyai sifat berbeda memungkinkan didapatnya sistem pelarut yang cocok (Sudjadi. 2000).2. atau pada titik kerapatan maksimum (Sudjadi. Dinamolisis dapat dilakukan dengan cara kertas saring Whatman diameter 10 cm. Kemudian dibiarkan sampai terjadi proses difusi sirkular selama kurang lebih 10 menit (DepartemenKesehatan RI. 1982).

1994). Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Bila fasa gerak berupa gas. alasannya akan dibahas selanjutnya. Adapun cara kerja kromatografi cair vakum yaitu kolom kromatografi dikemas kering (biasanya dengan penjerap mutu KLT 10-40 μm) dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. disebut kromatografi cair (Hendayana. Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa. Vakum dihentikan. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan. fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. disebut kromatografi gas. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat cair.Kromatografi vakum cair dilakukan untuk memisahkan golongan senyawa metabolit sekunder secara kasar dengan menggunakan silika gel sebagai absorben dan berbagai perbandingan pelarut n-heksana : etil asetat : metanol (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen (Helfman. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. 1983). pelarut yang kepolarannya rendah dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. 1986). Fase gerak merupakan pelarut atau . Kolom dipisah sampai kering dan sekarang siap dipakai (Hostettman.4. 4. atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Kita akan membahasnya lebih lanjut.

Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika. tergantung pada:  Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Jadi. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut. atom silikon berlekatan pada gugus -OH. Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya. Apa yang memisahkan senyawa-senyawa dalam kromatogram? Ketika pelarut mulai membasahi lempengan. Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel silika. misalnya jel silika. pelarut pertama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis dasar.  Bagaimana senyawa melekat pada fase diam.campuran pelarut yang sesuai. Namun. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina. Senyawasenyawa akan cenderung bergerak pada lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut. sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol. pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Bagaimana cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada lempengan. Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. . pada permukaan jel silika.

Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap. Kita mengatakan bahwa senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der Waals. Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran dapat membentuk ikatan-ikatan hidrogen? Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ketika senyawa dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. yang satu dapat membentuk ikatan hidrogen. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan. Alat : ALAT dan BAHAN . semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan. dan karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan. terdapat pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut. dan yang lainnya hanya dapat mengambil bagian interaksi van der Waals yang lemah.2007) IV.Anggaplah bercak awal mengandung dua senyawa. Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. ( Jim Clark. Dalam contoh yang sudah kita bahas. Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada jel silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan silika. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika. Penjerapan bersifat tidak permanen.

 Alat soxhlet  Beaker glass besar  Botol bening besar  Botol coklat  Cawan penguap  Cawan petri  Gelas ukur  Kertas saring whatman  Lemari pendingin  Pelat silika gel  Piknometer  Pipa kapiler  Rotavapor  Timbangan  Spektroskopi UV 254 dan 366 nm Bahan :  Etanol 70%  Larutan pengembang = benzena : etil asetat : asam asetat glasial (75:24:1)  Penampak bercak (uap ammonia)  Simplisia Rhei radix Gambar Alat : alat soxhlet .

1. Serbuk simplisia sebanyak 120 gram disiapkan dalam kertas saring whatman dan dimasukkan ke dalam tabung soxhlet. Ekstraksi Dengan Alat Soxhlet Tuangkan 750 ml pelarut etanol 70% ke dalam labu alas bulat atau sampai kurang lebih 1/2 .2. Rendemen Ekstrak . Serbuk simplisia dibasahkan dengan etanol 70% sebanyak 100 ml dan heating mantle dinyalakan sampai suhu mencapai titik didih pelarut. Kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan rotavapor sehingga menjadi ekstrak kental. PROSEDUR 5. Ekstraksi simplisia sampai pelarut hampir tidak berwarna. 5. Alat soxhlet dipasang sesuai tempatnya.2/3 bagian volume labu dan ditambahkan batu didih.Destilator Rotavapor Bejana Kromatografi Lampu UV V.

Tinggi pengembang dari dasar wadah tidak lebih daripada 1 cm.3. Kemudian wadah ditutup dan ditunggu hingga larutan pengembang jenuh dan ditandai dengan hangatnya suhu di dalam wadah. Pelat kemudian disemprot dengan penampak bercak. Kromatografi Lapis Tipis Disiapkan pelat silika gel sebagai penyerap berukuran 10 x 2 cm. Lalu spot diamati secara berturut-turut di bawah sinar biasa. lalu piknometer diisi penuh dengan air dan ditimbang kembali. kemudian dihitung kerapatan air.5. Setelah itu piknometer dikosongkan dan dikeringkan kembali dan diisi penuh dengan ekstrak encer hasil refluks. Setelah itu ekstrak hasil ekstraksi ditotolkan pada pelat silika gel yang telah disiapkan. pelat diangkat dari wadah. lalu ditimbang. Kemudian disiapkan larutan pengembang untuk simplisia Rhei radix yaitu benzena. Ekstrak cair sebanyak 20 ml dituang ke dalam cawan petri. Lalu titik pusat kertas whatman tersebut dilubangi dan dipasang sumbu yang terbuat dari kertas saring.Diambil 20 ml ekstrak yang diperoleh dari hasil rotavapor. sinar UV 254 nm dan 366 . 5. Setelah itu pipa kapiler yang telah disediakan dibersihkan dengan ditotolkan ke dalam metanol lalu dikeringkan. Dan perambatan spot diamati. 5. Penetapan Bobot Jenis Ekstrak Ditimbang piknometer dalam keadaan kosong. kemudian dihitung rendemen ekstrak (% b/b). Melalui berat ekstrak yang mempunyai volume tertentu. etil asetat. Cawan petri ditutup oleh kertas whatman yang telah disiapkan dan dibiarkan sampai terjadi difusi sirkular selama 10 menit.4. Dinamolisis Disiapkan kertas saring whatman berdiameter 10 cm. dan asam asetat glasial dengan perbandingan 75 : 24 : 1. Berat ekstrak ditentukan setelah penguapan dengan mengurangkan dengan bobot cawan kosong. dimasukkan ke cawan penguap dan diuapkan di atas penangas air sampai diperoleh bobot yang tetap.masing berjarak 1 cm dari ujung bawah dan atas. dapat dihitung kerapatan ekstrak. Silika gel ditempatkan di wadah berisi pengembang. Pengembang ditempatkan pada wadah yang telah disediakan. Lalu pelat tersebut ditandai dengan cara memberi dua buah garis yang masing. 5. Setelah jarak rambat pengembang mencapai batas ujung pelat.

59 g Berat simplisia awal Rendemen ekstrak 3. suling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik. VI. biarkan tabung penerima mendingin hingga suhu kamar. 5.95 g : 250 g : 4. hingga sebagian air tersuling. DATA PENGAMATAN EKSTRAKSI METABOLIT SEKUNDER DARI SIMPLISIA TUMBUHAN OBAT Nama simplisia Metode ekstraksi Hasil percobaan : Rhei radix : refluks : 1. Kemudian dihitung Rf dari tiap-tiap spot lalu dibandingkan dengan literatur.Kadar Air Ekstrak Dimasukkan sejumlah 2 gram ekstrak kental ke dalam labu bersih dan kering kemudian ditambahkan 200 ml toluen.4 ml : 88. volume air dibaca dan dihitung kadar air dalam % v/b. kemudian naikkan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah toluen mendidih.45 g Berat cawan+ekstrak (setelah penguapan) : 98.6. Bobot jenis ekstrak Berat piknometer kosong : 12. dan alat dihubungkan. Organoleptik ekstrak Bentuk : cair Warna : cokelat-kehitaman Bau Rasa : tidak enak : sepat/kelat 2. Rendemen ekstrak Volume ekstrak kental Berat cawan kosong : 35.056 % b/b . Toluen dituangkan ke dalam labu penerima melalui alat pendingin dan dipanaskan selama 15 menit. Setelah air dan toluen memisah sempurna.nm. Setelah semua air tersuling.

1 0.08 g : 1 ml : 0.044 g/ml : 24.44 g : 10 ml : 1.025 0.124 g/ml : 1.Berat piknometer+air Berat air Volume piknometer Kerapatan air Berat piknometer+ekstrak Volume piknometer Berat ekstrak Kerapatan ekstrak Bobot jenis ekstrak 4.481 % v/b Pengamatan Sinar tampak hijau cokelat muda cokelat-hijau kuning cokelat kuning kuning-jingga pink kuning UV 254 nm biru cokelat biru ungu biru ungu orange UV 366 nm biru biru biru ungu biru-ungu orange .24 g : 1.33 0.3625 0. Kadar air ekstrak Berat ekstrak uji Volume air Kadar air 5.19 g : 10 ml : 11.4625 0.39 g : 10.75 0.044 : 2.875 : 23. Pola kromatogram lapis tipis No bercak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Rf 0.2875 0.8375 0.

Pola dinamolisis .6.

Data fraksi Fraksi 1 2 3 4 5 6 : Warna bening bening bening kuning kuning kuning Fraksi 7 8 9 10 11 Warna kuning kuning kuning kuning kuning .8 cm .2 cm .4 cm .Keterangan : Diameter 1 Diameter 2 Diameter 3 : 1. warna : cokelat : 2. warna : bening METODE PEMISAHAN EKSTRAK Komposisi larutan eluen : n-Heksana (mL) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Etil asetat (mL) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Hasil percobaan : 1. warna : kuning : 2.

9 0. PEMBAHASAN Pada percobaan kali ini dilakukan ekstraksi simplisia Rhei radix untuk memperoleh metabolit sekunder.9 0.9 0.2.9 Pengamatan Sinar tampak kuning kuning kuning kuning UV 254 nm cokelat cokelat cokelat UV 366 nm cokelat : silika gel : metanol . Pola kromatogram No bercak 4 5 6 7 Rf 0. Metode ekstraksi cara panas memiliki keuntungan yaitu jumlah pelarut yang digunakan . Data Rf: Penjerap Pengembang Penampak bercak 3.etil asetat – air : KOH VII. Metode ekstraksi yang dipakai adalah metode ekstraksi cara panas.

4ml. bau dan rasa. Sebelumnya cawan penguap ditimbang. Untuk menghitung persentase rendemen ekstrak Rhei radix. Untuk menetapkan rendemen ekstrak. Pemeriksaan parameter ekstrak yang kedua yaitu melakukan pemeriksaan terhadap rendemen ekstrak. berat cawan penguap+ekstrak setelah penguapan ditimbang. Dengan menggunakan rumus : % Rendemen = berat ekstrak total x 100% berat simplisia didapat persentase rendemen ekstrak Rhei radix sebesar 4. didapat berat ekstrak Rhei radix total yaitu 10. Setelah itu. berat ekstrak total didapat dari hasil pengurangan antara berat cawan penguap+ekstrak setelah penguapan dengan berat cawan penguap kosong. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pancaindera untuk mendeskripskan bentuk. berat ekstrak total Rhei radix dan berat simplisia awal harus diketahui. Banyaknya rendemen yang 35. didapat berat kosong cawan penguap yaitu 88.14 g.056%. Ekstrak Rhei radix yang didapat dari hasil ekstraksi dengan alat soxhlet berupa cairan berwarna coklat yang memiliki bau khas dengan rasa yang pahit.056%. Kemudian ekstrak kental Rhei radix dalam cawan penguap diuapkan di atas penangas air . ??? mpe rotavapor Terhadap ekstrak Rhei radix kemudian dilakukan pemeriksaan parameter ekstrak. sebanyak 188 ml ekstrak kental yang didapat dari hasil evaporasi disimpan ke dalam cawan penguap. sedangkan berat simplisia awal yaitu 250 g. didapat beratnya 98.59 g. Besarnya persentase rendemen ini menunjukan bahwa dari berat total simplisia Rhei radix sebanyak 250 g hanya terkandung ekstrak Rhei radix sebesar 4.tidak boros (karena ekstraksi berulang) dan prosesnya lebih cepat tetapi kelemahannya adalah dapat merusak metabolit yang bersifat termolabil. Terdapat 6 pemeriksaan parameter ekstrak yang perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas dari ekstrak Rhei radix. Volume ekstrak kental juga ditimbang. Pemeriksaan parameter ekstrak yang pertama dilakukan yaitu pemeriksaan organoleptik ekstrak Rhei radix. didapat beratnya yaitu dengan temperature 40-50oC sampai didapat bobot tetap.45 g. Metode ekstraksi cara panas yang digunakan dalam ekstraksi simplisia Rhei radixadalah reflux. warna.

Kerapatan air dapat ditetapkan dengan menggunakan rumus : ρair = berat air volume air berat air 10.dihasilkan ternyata tergantung dari keadaan tanaman simplisia dan proses ekstraksi yang dilakukan.Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat terhadap air volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama. Untung mendapatkan rendemen yang tinggi. Namun pada praktikum kali ini. Pada praktikum kali ini yang digunakan adalah piknometer tipe botol.39 g. yaitu tipe botol dengan tipe pipet. Ada dua tipe piknometer. tanaman simplisia harus bermutu baik selain itu proses ekstraksi yang dilakukan pun haruslah baik. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Untuk mengetahui bobot jenis ekstrak Rhei radix.95 g. didapat beratnya yaitu 12. bobot jenis ditentukan dengan piknometer. karena pada tangan terdapat minyak atau lemak yang akan ikut tertimbang pada saat penimbangan sehingga berat piknometer tidaklah akurat. didapat berat piknometer + air sebesar 23. yaitu penetapan bobot jenis ektrak Rhei radix. pertama-tama berat piknometer kosong ditimbang. . didapat berat piknometer+ekstrak sebesar 24. Pinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan ruangan yang ditempati cairan ini. harus menggunakan tisu.044 g/ml. timbangan hidrostatik (timbangan Mohr-Westphal) dan cara manometris. Pada saat akan ditimbang piknometer tidak boleh dipegang langsung oleh tangan.19 g. Penentuan bobot jenis berlangsung dengan piknometer. Dari data yang telah disebutkan didapat kerapatan air yaitu 1. ditimbang beratnya. Kemudian piknometer ditambahkan dengan air. Optimum ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Kemudian piknometer dikosongkan dan diisi penuh dengan ekstrak Rhei radix. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan parameter ekstrak yang ketiga.Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. ditimbang. areometer. sedangkan volume air sama dengan volume piknometer yaitu 10 ml.44 g didapat dari hasil pengurangan berat piknometer+air dengan berat piknometer kosong.

Lalu dipanaskan sampai air terpisah dari ekstrak. ekstrak Rhei Radix yang didapat dari ekstraksi dengan alat refluks berupa ekstrak cair digunakan sebagai sampel.044. Prosesnya. Toluen digunakan dalam proses ini karena bersifat non-polar. masukkan toluen sebanyak 200 mL ke dalam labu dasar bulat. Dari data yang telah disebutkan didapat kerapatan ekstrak yaitu 1. 10. Toluen berfungsi sebagai pelarut anethol yang juga bersifat nonpolar. sedangkan volume ekstrak sama dengan volume piknometer yaitu 10 ml. air yang bersifat polar akan memisah dengan anethol yang terlarut dalam toluen.124 g/ml. Toluen bersifat mudah menguap sehingga dapat mempercepat pemisahan air dan ekstrak. Cairan pengembang yang dipakai adalah campuran antara methanol .Sampel yang ditutulkan sebanyak dua buah dengan kepekatan yang berbeda. Pada penentuan pola KLT. Pengukuran parameter ekstrak selanjutnya adalah pola kromatografi lapis tipis.Kerapatan ekstrak ditetapkan dengan menggunakan rumus : ρekstrak = berat ekstrak volume ekstrak berat ekstrak 11. Pada saat proses pemanasan. Penggunaan batu didih bertujuan untuk mencegah bumping dan menjaga agar pemanasan merata karena batu didih memiliki pori-pori sehingga gelembung gas yang terbentuk kecil. Setelah diketahui kerapatan air dan kerapatan ekstraknya.5 . bisa didapat bobot jenis ekstrak menggunakan rumus : Bobot jenis ekstrak = kerapatan ekstrak Kerapatan air dari hasil perhitungan didapat bobot jenis ekstrak yaitu sebesar 1. etil asetat dan air dengan perbandingan 13. Kromatografi Lapis Tipis ( KLT) dilakukan dengan fasa diam silica gel GF 254 dan fasa gerak pengembang dengan perbandingan yang cocok. Pemeriksaan parameter ekstrak yang selanjutnya dilakukan adalah menentukan kadar air dalam ekstrak. Setelah itu tambahkan ekstrak cair sebanyak 3 mL dan batu didih.24 g didapat dari hasil pengurangan berat piknometer+ekstrak dengan berat piknometer kosong.Hal tersebut dilakukan untuk mencegah . 100 .

3625 dan 0. pada nilai Rf 0. pada nilai Rf 0.025. lampu UV 254 dan 366 nm dan dihitung Rf serta hRf setiap bercak yang teramati. Kemudian buat lingkaran diatas kertas saring . Pertama-tama ekstrak cair sebanyak 5 mL dituangkan ke dalam cawan petri bersih.Penempatan pelat pada pengembang tidak boleh melebihi garis yang ditentukan pada pelat dan harus tegak lurus terhadap pengembang agar pergerakan noda dan pembacaan harga Rf menjadi akurat.4025.8375 didapat warna merah muda.75 didapat warna kuning-jingga. Metode dinamolisis dianalogikan sebagai kromatografi sirkuler.33 didapat warna kuning.4025 didapat warna kuning.8375. pola yang terjadi terlihat jelas dan tampak terdapat sembilan buah bercak.Hal itu terjadi karena cairan pengembang kurang jenuh saat dipakai sehingga pola pada kromatogram sulit diamati.2875. Pemeriksaan parameter ekstrak yang selanjutnya dilakukan adalah pola dinamolisis. pada nilai Rf 0. dibiarkan beberapa saat hingga pelarutnya menguap.875.1 didapat warna coklat muda. Proses kromatografi dihentikan sampai cairan pengembang sampai garis depan. pada nilai Rf 0. Kemudian pola kromatogram diamati dibawah sinar tampak. Hasil kromatografi lapis tipis untuk ekstrak cair Rhei Radix yang dilihat pada sinar tampak hanya terlihat dua buah bercak dengan warna kuning dan orange. warna ungu pada Rf 0. Prinsip metode dinamolisis adalah difusi sirkuler. pada nilai Rf 0. Pada nilai Rf 0. Prosedurnya adalah ekstrak cair ditutulkan pada garis awal dengan menggunakan pipa kapiler.terlalu pekatnya sampel yang ditutulkan atau sebaliknya sehingga diperoleh pemisahan komponen senyawa dalam sampel terjadi dengan baik.Setelah itu pelat disemprot dengan penampak bercak dengan menggunakan penampak bercak KOH. warna jingga pada Rf 0.3625 didapat warna coklat. warna biru pada nilai Rf 0.2875 didapati warna coklat hijau. pada nilai Rf 0.Ketika pelat diamati dibawah lampu UV 254 dan 366 nm terlihat tiga buah bercak dengan warna yang khas namun tidak jelas.025 didapat warna hijau . Pada UV 254nm terlihat warna biru pada Rf 0.Setelah pelat disemprot.875 didapat warna kuning. warna coklat pada Rf 0. pada nilai Rf 0.Pelat silica kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang sebelumnya telah dijenuhkan dengan cairan pengembang.33 dan 0. pada nilai Rf 0.

dimasukan eluen yang bersifat non-polar yaitu n-heksana sebanyak 100 mL. Warna pada diameter terkecil adalah putih kehijauan. Pada dasar kolom telah terpasang kaca masir yang merupakan suatu penyangga berpori yang berfungsi untuk menahan fasa diam. dan warna pada diameter terbesar adalah putih kekuningan. Bagian pusat lingkaran dilubangi kemudian ditutup dengan kertas saring yang dibentuk seperti sumbu. Penggunaan n-heksana dengan volume sebanyak ini ditujukan sebagai eluen non-polar sekaligus sebagai pembasah silika yang akan menghasilkan bubur penjerap (silika gel) yang homogen sebelum dilakukan penghisapan menggunakan pompa vakum. warna pada diameter sedang adalah hijau.Whatman berdiameter sebesar 10 cm lalu digunting. dilakukan preparasi kolom untuk fast chromatography. Warna yang dihasilkan ini menunjukkan komponen senyawa yang tekandung pada ekstrak tersebut. Dan dari hasil difusi tersebut diperoleh 3 lingkaran dengan warna yang berbeda. Kolom berbentuk silinder dengan panjang kurang lebih 10 cm dan diameter kurang lebih 5 cm. proses pergerakan eluen dalam kolom meningkat dengan pesat. Sumbu harus menyentuh dasar cawan petri agar menyentuh ekstrak cair dan tidak boleh terlalu timbul karena dapat mengurangi keakuratan hasil dinamolisis. Penjerap (silika gel) . KCV dan KLT biasa PEMBAHASAN KCV Pertama-pertama. Kemudian dimasukkan fasa diam berupa silika gel sebanyak 30 gram secara hati-hati dan disebar secara merata. Kemudian kertas saring tersebut ditutupkan ke cawan petri yang berisi ekstrak cair sehingga ekstraknya berdifusi melalui sumbu. Pompa vakum pada dasarnya bekerja melalui mekanisme mengurangi takanan udara di dalam kolom sehingga akibat perbedaan tekanan ini. Setelah kolom siap. Ketersebaran ini akan sangat mempengaruhi dari efisiensi pemisahan yang akan dilakukan karena bila pada fasa terdapat udara ataupun ketidaksamaan fasa diam seperti tidak samanya kemampatan akan membuat derajat retensi dan kecepatan gerak dari eluen tidak stabil sehingga akan mengakibatkan kecepatan gerak sampel tidak merata.

Penggerusan ini dimaksudkan untuk mengeringkan dan menghomogenkan ekstrak dengan silika sehingga bila diletakkan pada kolom. Setelah silika gel siap. Diperhatikan keberadaan silika gel sebagai penjerap di semua tempat dalam kolom. karena adanya rongga-rongga udara atau ketidakbersamaan penjerap dalam kolom akan berpengaruh buruk pada proses pemisahan. Pada kromatografi kolom. bagian atas ekstrak kemudian ditutup menggunakan kertas saring Whatman yang telah disesuaikan diameternya dengan diameter kolom. maka dimasukkan 1 gram ekstrak yang telah terlebih dahulu digerus dengan 10 gram silika. Kolom yang dielusi dengan larutan pengelusi juga dimaksudkan untuk memperoleh kolom yang stabil. Setelah dihasilkan kolom yang mantap dijaga agar penjerap tidak kering agar kolom tidak retak. Kolom yang stabil diperoleh apabila tetesan yang dihasilkan sudah konstan. Penggunaan kertas saring ini ditujukan agar pelarut tidak mengabrasi ekstrak. komponen-komponen ekstrak akan terpisah sebagai pita-pita yang pada elusi seterusnya akan keluar meninggalkan kolom sebagai fraksi-fraksi komponen yang terpisah. Perbedaan migrasi dalam kolom pada dasarnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. pemisahan dapat terjadi secara efektif. Silika yang mengandung ekstrak kemudian dimasukkan diatas silika gel kolom secara merata. Larutan pengelusi disiapkan yaitu methanol air dan etil asetat dengan perbandingan yang disusun pada 11 komposisi yang berbeda dengan kepolaran yang terus dinaikkan. Di dalam kolom. . Setelah itu. Penggerusan ekstrak dengan fasa diam ini pun merupakan salah satu metode pemisahan yaitu metode pemisahan ekstrak kering. Ekstrak pada bagian atas kolom kemudian dielusi menggunakan pelarut yang bertindak sebagai fasa gerak. Larutan fraksi komponen yang keluar dari kolom ditampung sebagai eluat yang kemudian dianalisis lebih lanjut. namun faktor yang akan sangat berpengaruh ialah kepolaran eluen. Setelah itu labu Erlenmeyer dibawah kolom dihubungkan dengan pompa vakum. pemisahan pada dasarnya terjadi akibat perbedaan migrasi diferensial melalui kolom yang berisi fasa diam.perlu dibuat dalam bentuk bubur agar dihasilkan kolom yang baik dan tidak mudah retak.

Praktikum metode pemisahan ekstrak dari Rhei Radix pada dasarnya dilakukan dengan metode fast chromatography dan kromatografi lapis tipis.kepolaran komponen ekstrak dan jenis fasa diam. Kolom berbentuk silinder dengan panjang kurang lebih 10 cm dan diameter kurang lebih 5 cm. Penggunaan kertas saring ini ditujukan agar fasa diam dapat tersusun secara kompak dan merata. Pada dasar kolom telah terpasang kaca masir yang merupakan suatu penyangga berpori yang berfungsi untuk menahan fasa diam. Penambahan pelarut polar dilakukan secara bertahap selain untuk meningkatkan kepolaran. Sesuai dengan prinsip like dissolve like. Fasa diam berupa silika gel kemudian dimasukan secara hati-hati dan disebar secara merata. juga untuk memudahkan proses induksi polaritas dari eluen menjadi lebih polar. komponen ekstrak yang bersifat nonpolar akan lebih terikat pada eluen nonpolar serta sebaliknya. Pemisahan metabolit sekunder dilakukan melalui dua tahap yaitu fraksinasi menggunakan kromatografi kolom dipercepat atau fast chromatography menggunakan elusi gradien dengan kepolaran eluen yang terus ditingkatkan serta untuk menganalisis metabolit sekunder dari simplisia digunakan kromatografi lapis tipis. Secara prosedural. pertama-tama dilakukan preaparasi kolom untuk fast chromatography. Penggerusan ini dimaksudkan untuk mengeringkan dan menghomogenkan ekstrak dengan silika sehingga bila diletakkan . Setelah silika gel siap. Setelah kolom dibersihkan dan dibilas menggunakan eluen. maka dimasukkanekstrak yang telah terlebih dahulu digerus menggunakasilika dengan perbandingan 1:1. Ketersebaran ini akan sangat mempengaruhi dari efisiensi pemisahan yang akan dilakukan karena bila pada fasa terdapat udara ataupun ketidaksamaan fasa diam seperti tidak samanya kemampatan akan membuat derajat retensi dan kecepatan gerak dari eluen tidak stabil sehingga akan mengakibatkan kecepatan gerak sampel tidak merata. Penggunaan pelarut non-polar dilakukan terlebih dahulu untuk memisahkan komponen non-polar terlebih dahulu. bagian dasar kolom diatas kaca masir dilapisi terlebih dahulu menggunakan kertas saring Whatman sesuai dengan diameter kolom.

Penambahan pelarut polar dilakukan . Penggunaan n-heksana dengan volume sebanyak ini ditujukan sebagai eluen non-polar sekaligus sebagai pembasah silika sebelum dilakukan penghisapan menggunakan pompa vakum. Silika yang mengandung ekstrak kemudian dimasukkan diatas silika gel kolom secara merata. Di dalam kolom. pemisahan pada dasarnya terjadi akibat perbedaan migrasi diferensial melalui kolom yang berisi fasa diam. Setelah itu labu Erlenmeyer dibawah kolom dihubungkan dengan pompa vakum.pada kolom. kepolaran komponen ekstrak dan jenis fasa diam. komponenkomponen ekstrak akan terpisah sebagai pita-pita yang pada elusi seterusnya akan keluar meninggalkan kolom sebagai fraksi-fraksi komponen yang terpisah. Penggerusan ekstrak dengan fasa diam ini pun merupakan salah satu metode pemisahan yaitu metode pemisahan ekstrak kering. Larutan fraksi komponen yang keluar dari kolom ditampung sebagai eluat yang kemudian dianalisis lebih lanjut. Elusi yang dipakai merupakan elusi bergradien dengan komposisi eluen n-heksana : etil asetat (100:0) sampai n-heksana : etil asetat (0:100) yang disusun pada 11 komposisi yang berbeda dengan kepolaran yang terus dinaikan. pemisahan dapat terjadi secara efektif. Ekstrak pada bagian atas kolom kemudian dielusi menggunakan pelarut yang bertindak sebagai fasa gerak. Penggunaan kertas saring ini ditujukan agar pelarut tidak mengabrasi ekstrak. Setelah kolom siap. bagian atas ekstrak kemudian ditutup menggunakan kertas saring Whatman. proses pergerakan eluen dalam kolom meningkat dengan pesat. Penggunan pelarut non-polar dilakukan terlebih dahulu untuk memisahkan komponen non-polar terlebih dahulu. Setelah itu. Pompa vakum pada dasarnya bekerja melalui mekanisme mengurangi takanan udara di dalam kolom sehingga akibat perbedaan tekanan ini. namun faktor yang akan sangat berpengaruh ialah kepolaran eluen. Sesuai dengan prinsip like dissolve like. komponen ekstrak yang bersifat nonpolar akan lebih terikat pada eluen nonpolar serta sebaliknya. dimasukan eluen yang bersifat non-polar yaitu n-heksana. Perbedaan migrasi dalam kolom pada dasarnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Pada kromatografi kolom.

5:10). fraksi 11 kuning dengan bau n-heksana dan etil asetat dan bau khas Rhei Radix. Sejumlah 11 fraksi kemudian didapatkan. jangan sampai pelarut merendam plat melebihi batas karena akan mengganggu hasil kromatogram. untuk analisis Rhei radix bisa digunakan campuran pelarutdengan perbandingan pelarut etil asetat :methanol dan air (100:13. fraksi-fraksi memiliki warna yang bergradien dari fraksi 1 bening . Sedangkan garis yang berada di ujung atas sebagai batas bergeraknya pelarut/fase gerak. fraksi 9 kuning. fraksi 2 bening . fraksi 4 kuning. fraksi 10 kuning. KLT Pemeriksaan parameter ekstrak selanjutnya adalah melihat kromatogram lapis tipis untuk mengetahui senyawa apa saja yang terdapat pada simplisia Rhei radix berdasarkan nilai Rf. fraksi 3 bening. Garis batas bawah sebagai titik awal ekstrak yang akan di analisis untuk bergerak dan juga batas pelarut. mulut bejana dilapisi dengan vaselin hal ini dilakukan agar penjenuhan dapat sempurna dengan tidak adanya uap yang keluar karena pelarut yang digunakan bersifat volatile. Sebelum pelarut tersebut dicampurkan ke dalam bejana pengembang yang terbuat dari gelas. sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol. Secara organoleptis. fraksi 5 kuning. Hal ini dilakukan agar proses absorpsi bisa lebih cepat. Plat diberi batas garis atas dan bawah masing masing 1 cm dari ujung-ujungnya. Fraksi-fraksi ini kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan kromatografi lapis tipis. fraksi 7 kuning.Berdasarkan literature. Permukaan gel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya. juga untuk memudahkan proses induksi polaritas dari eluen menjadi lebih polar. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan pengembang (kombinasi pelarut dengan perbandingan yang cocok) sebagai fasa gerak.secara bertahap selain untuk meningkatkan kepolaran. Hal kedua yang perlu disiapkan adalah silika gel sebagai fase diamnya. fraksi 8 kuning.Penjenuhan dilakukan minimal 1 jam. fraksi 6 kuning. Garis ini .

penotolan dilakukan sebanyak 10 kali. Kedua titik tersebut berjarak sama 0. pelarut pertama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis . Kejenuhan bisa ditandai dengan adanya rasa hangat pada luar bejana jika disentuh dengan tangan.5 cm dari sampingnya. Jadi garis depan adalah titik tertinggi yang dicapai fasa gerak/ pelarut pada fasa diam setelah pengembangan selesai.disebut juga garis depan.5 1 cm= x Setelah dirasa cukup jenuh. sehingga diperoleh harga Rf =1. Pada titik sebelah kiri.5 0. Hal ini dilakukan agar jarak bercak yang terbentuk dapat berada pada kondisi yang sama. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Ketika pelarut mulai membasahi lempengan. noda terakhir berada tepat pada garis depan. 1 cm = y 8 cm = z 0. Pada percobaan. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. ekstrak cair yang ditotolkan sebanyak 5 kali dan setiap penotolan diberikan jarak waktu ke penotolan berikutnya agar pelarut yang masih terdapat pada ekstrak cair dapat menguap sehingga tidak terlalu menggangu hasil kromatogram. Untuk titik sebelah kanan. Faktor retensi R f diperoleh dengan membandingkan jarak tempuh noda/komponen terhadap jarak tempuh pelarut (garis depan). Ekstrak cair yang telah diperoleh ditotolkan di atas titik yang telah ditandai pada plat. plat dimasikkan kedalam bejana gelas yang campuran pelarut. Diusahakan bejana berada pada tempat yang datar dan tidak bergerak-gerak agar fase gerak juga tetap stabil sehingga tidak mengganggu pemisahan. Plat harus diletakkan tegak lurus agar pemisahan dapat terjdai dengan baik. Pada garis yang di ujung bawah. Penotolan dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler. dibuat 2 tanda titik sebagai tempat penotolan ekstrak Rhei radix.

sinar UV 254 nm dan 366 nm. Dari percobaan. Seharusnya digunakan larutan baku pembanding untuk mengidentifikasi metabolit sekunder apa yang terdapat dalam simplisia. lapisan tipis mudah rusak sehingga elusi noda tidak bersamaan o Bila menggunakan lebih dari satu pelarut. komponen yang lebih polar akan terikat lebih kuat pada lapisan silica gel sehingga akan tertahan lebih lama.nomor bercak 4. Untuk fasa diam silica gel biasa. noda muncul sebagai bercak hitam. maka terjadi lebih dari satu front. Bentuk noda yang ideal pada kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis adalah yang benar-benar bulat sehingga luas dapat diukur. yaitu pada sinar biasa. khususnya untuk noda yang tidak berwarna. Pada UV 366 yang hanya menghasilkan warna adalah pada nomor 4 (warna coklat) . berarti bahwa komponen yang berada di garis depan adalah komponen yang paling kurang polar di antara komponen-komponen lainnya.Tapi bila yang digunakan adalah silica gel berfluoresensi. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut. tetapi pada prakteknya tidak selalu bulat karena beberapa hal : o Zat yang ditotolkan terlalu banyak (volume besar atau konsentrasi tinggi) o Pada waktu pengembangan.5. Karena noda pada kromatogram yang diperoleh berwarna. fluoresensi di bawah sinar UV hanya terjadi jika senyawa tersebut berfluoresensi. noda dapat dideteksi pada tiga keadaan. akan terjadi dua noda. Dari percobaan.9 sinar tampak warna kuning pada Uv 254 didapat warna coklat kecuali pada nomor 7. Kromatogram yang diperoleh menunjukkan adanya 4 bercak yang terpisah.dasar.6.dan7 Rf 0. noda yang timbul . sedangkan komponen yang kurang polar akan cepat bergerak bersama campuran pelarut (yang relatif kurang polar jika dibandingkan dengan silica gel). sehingga noda berbentuk garis tipis o Bila satu komponen dapat terjadi dalam lebih dari satu bentuk. Metode yang cukup umum digunakan untuk deteksi kromatogram adalah penggunaan sinar UV panjang gelombang 254 nm dan 366 nm. Selama pengembangan.

Karena itu metode ini hanya cocok untuk fasa diam yang benar-benar berupa bahan anorganik seperti silica gel maupun alumina. untuk itu digunakan suatu penyemprot bercak agar noda tetap terlihat. sehingga diperkirakan bahwa dengan pelarut tersebut. senyawa organik akan hangus/menjadi karbon (arang) dan tampak berupa bercak hitam pada latar belakang putih.pada pengamatan disinar UV 254 nm (biasa) berwarna coklat sedangkan pada UV 366 nm terdapat bercak warna coklat Jika didiamkan beberapa lama. Sebab hasil kromatografi yang diperoleh akan dikerok untuk dilakukan uji lanjut. dan tidak dapat digunakan jika fasa diamnya adalah bahan organik atau pelat yang menggunakan pati sebagai pengikat. sebab pada fraksi ini terdapat empat buah bercak bewarna kuning yang jelas pada serapan UV 254.Sebelumnya telah dilakukan fast kromatografi dengan menggunakan variasi pelarut sebanyak 11 fraksi.Penyemprot bercak yang digunakan adalah KOH. lima. Dari percobaan terdapat warna kuning. enam dan tujuh yaitu dengan menggunakan pelarut n-heksan : etil asetat = 1 : 10. Dasarnya adalah bahwa dengan pemanasan sampai 100°C. zatzat yang terdapat pada ekstrak Rhei Radix terpisahkan dengan baik. Namun yang akan digunakan untuk tahap pemisahan lebih lanjut hanya satu yaitu yang paling baik pemisahannya. KLT preparative Pada Praktikum ini dilakukan pemisahan tahap lanjut dari zat aktif pada ekstrak setelah fast kromatografi. Namun yang membedakan adalah pada kronatografi ini plat silika gel yang dipakai lebih besar dan lebih tebal.KOH merupakan suatu penampak bercak yang umum digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh zat aktif lebih banyak. Perbedaan yang . Pada praktikum ini yang fraksi yang dipilih untuk tahap pemisahan selanjutnya adalah fraksi ke empat. Reaksi ini dapat terbentuk dengan pemanasan pelat pada 0-120°C. noda pada kromatogram dapat hilang. Pemisahan tahap lanjut yang akan dilakukan adalah kromatogafi preparatif. Pada kromatografi ini prinsipnya sama dengan kromatografi lapis tipis.

Selanjutnya fraksi yang telah dipekatkan tersebut ditotolkan di sepanjang garis yang telah dibuat pada silika gel. Campuran cairan pengembang harus dihomogenkan agar memperoleh kepolaran yang diinginkan. Fraksi yang akan diuji lebih lanjut tersebut kemudian diuapkan terlebih dahulu untuk memperoleh fraksi yang lebih kental. Oleh sebab itu setelah penotolan dilihat pada sinar tampak apakah penotolan sudah cukup atau belum. diantaranya :  Permukaan chamber tidak rata sehingga dengan pengaruh gravitasi menyebabkan perbedaan kecepatan naiknya pita. Selanjutnya plet kromatografi yang telah ditotolkan sampel diletakkan di atas cairan pengembang. Penotolan hendaklah dilakukan secara merata pada sepanjang garis agar kromatogram yang diperoleh bagus dan tidak berbelok-belok. cairan fraksi akan telarut pada cairan pengembang. maka zat akan menjadi tidak terpisahkan. Sebab jika terlalu encer. Kemudian dibiarkan sampai fasa gerak naik hingga garis batas fasa gerak. .maka fraksi yang diperoleh akan terlalu encer sehingga tidak dapat meresap kedalm silica gel dan tidak dapat dilakukan KLT. bukan berupa titik. jumlah fraksi yang harus ditotolkan akan menjadi semakin banyak sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. penguapan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Kemudian pengembang disiapkan dalam suatu chamber. Pengembang yang digunakan adalah campuran n. Namun jika penotolan yang dilakukan terlalu banyak sehingga melebihi kapasitas plat.heksan dan etil asetat dengan perbandingan 10 : 1. Pada praktikum ini pita kromatografi yang dihasilkan tidak berbentuk lurus melainkan berkelok-kelok. Pada kromatografi preparatif ini tempat penotolannya berupa garis.terdapat pada tempat penotolannya. Disamping itu penotolan jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak. Sebab jika terlalu dekat dengan dasar silika. Disamping itu resiko kurangnya jumlah penotolan juga besar sehingga kemungkinan pita yang kita harapkan pun menjadi tidak jelas. Jika penotolan terlalu sedikit maka kromatogram yang diperoleh akan menjadi tidak jelas dan zat yang terpisahkan pun menjadi sangat sedikit. Hal ini ditujukan agar fraksi tidak terlalu encer. Garis penotolan tidak boleh terlalu dekat dengan dasar silika. Namun.

230.25. setelah itu di klt kembali . di uv orange . Namun yang diambil hanya satu.35 sinar tampak orange .26. namun diketahui bahwa masih terdapat . pita tersebut kemudian dikerok dan hasil kerokan dilarutkan dalam metanol untuk tahap pemisahan yang lebih lanjut hingga terbagi 2 fasa.240.0.29.24. 0.35. 0. penampak bercak uap amonia warnanya merah . Dari hasil KLT biasa didapatkan hasil bercak nomor 1 dengan Rf yang dihitung setelah disinarilampu UV 254nm masing-masing 0. 270. Penotolan yang tidak sama banyak pada sepanjang garis penotolan sehingga bagian yang penotolan yang lebih sedikit akan bermigrasi lebih cepat (lebih jauh) Pengembang belum jenuh benar sehingga daya tarik fasa gerak berbeda-beda pada setiap sisi.27. Lali ditutulkan isolat no dua yang tadi telah diuji menggunakan KLT biasa.    Ketebalan silika gel yang tidak sama pada setiap sisi sehingga menyebabkan interaksi silika dan zat berbeda antara satu sisi dengan sisi yang lain.260. Sebab pita yang lan tidak bewarna maupun berflourosensi sehingga kemungkinan hanya mengandung silika gel saja. Kelima isolat yang telah dilarutkan dan disaring ditotolkan pada plat KLT.290. Memasukkan plat silika gel ke dalam chamber tidak vertical. Uji tahap lanjut dari pemurnian Rhei radix ini adalah KLT dan KLT dua arah. Jarak penotolan antar isolat perlu dijaga agar bercak yang dihasilkan tidak saling tumpang tindih satu sama lain pada saat kromatografi. hasilnya : Bomer bercak 1 Rfnya dihitung tiap titik 0.24. 0. 0. Masing-masing jarak dari pinggir diberi batas 1cm sebagai batas awal pergerakan pengembang dan batas akhir pengembangan. Hasil preparatif yang dikerok pita 1 kemudian setelah itu dimasukan kedalam botol fial kemudian direndam dengan metanol samapai ada 2 fasa . 0. yang fasa yang bening yang didekantasi kemudian diuapkan . Pada KLT preparatif ini diperoleh tiga pita.23. kemudian pada isolat tiga terdapat hanya satu bercak jingga yaitu pada Rf ??? Kemudian untuk melakukan KLT dua arah kita membutuhkan plat yang berukuran 4x4cm. 250. 0.

lalu alasan kedua digunakan isolat kedua adalah isolat kedua tersebut memberikan bercak dengan posisi yang sangat berdekatan bahkan berhimpitan. Jika pengembang yang digunakan pada kedua pengembangan.21 dan 0. maka kedua bercak tersebut tidak memberikan pemisahan. bercak tersebut naik mambentuk satu bercak berwarna jingga namun setelah dilakukan pengembangan kedua dengan pengembang n-Heksan : etil asetat = 7 : 3 bercak tersebut naik perlahan dan menghasilkan dua buah bercak dengan hasil yang berhimpitan.21 an 0. Maksud dari penggunaan pelarut yang berbeda pada kedu pengembangan adalah agar mendapatkan hasil yang yang baik.2. dapat dilihat dari hasil KLT dua arah yang menghasilkan dua bercak bersinggungan dengan Rf yang mirip yaitu 0. yaitu Toluen : etil asetat (7 : 3). . maksudnya adalah pada pengembangan kedua didapatkan pemisahan yang sempurna pada kdua bercak. saat dilakukan penyemprotan dengan uap amonia dalam metanol hanya terdapat satu bercak ungu yaitu pada Rf ??. Selain itu alasan digunakan isolat dua dan bukan isolat 4.2.hal ini juga berarti bahwa isolat kedua dari hasil KLT preparatif merupakan senyawa yang mirip karena memiliki Rf yang mirip pula. yang pertama. karena bercak yang dihasilkan isolat 4 berwarna sangat pudar sehingga saat disemprotkan uap amonia dalam metanol warna bercak tersebut hilang. Namun mengapa digunakan isolat dua dengan beberapa pertimbangan. dari hasil yang diperoleh ini diketahui bahwa isolat ke dua hasil KLT preparatif tidak murni.dua bercak yang berarti isolat tersebut belum murni. Setelah disinari UV 254nm diperoleh bercak ungu dan jingga yang berhimpit dan didapat Rf masing-masing 0. Kemudian setelah ditotolkan pada KLT dua arah dan kemudian dilakukan pengembangan setelah beberapa menit dengan pengembang pertama.

Edisi I. ITB. 1980. Harris. 1982.id/06/publ_dosen/far/mardoni. Gemini dan Abdul Rahim.ac. Yogyakarta Tjokronegoro. CARA KROMATOGRAFI PREPARATIF. M. Drs. farmasi. http://www. et. Hostettmenn.2007. Tersedia di:http://www. E.al.ac. Bandung Jim . Amsterdam.Alauddin: Makassar. Heftmann.pdf Sudjadi. 1994. 2009. STEROIDSDALAM KROMATOGRAFI.1986. UIN. 2000.id/projects/simplisia/index. 1983. Edisi IV.org/materi_kimia/instrumen_analisis/kromatografi1/kromatografi_lapis_tipis/ Mardoni.C. IKIP Semarang Press. R. 2005. Teknik Pemisahan Kimia. 24-26 Bambang. dkk.http://www. Sumar. KIMIAANALITIK INSTRUMENTASI. UGM Press. 2000. K. Holt-Savders Japan.Penuntun Praktikum Fitokimia.. Perbandingan Metode Kromatografi Gas Dan Berat Jenis Pada Penetapan Kadar Etanol Dalam Minuman Anggur. Bandung: Jurusan Kimia FMIPA UNPAD . Hendayana. Departemen Kesehatan RI. AN INTRODUCTION TO CHEMICAL ANALYSIS. Savders College Publishing Philadelpia. 1986.M.Metode Pemisahan. Fundamentals and Aplication.DAFTAR PUSTAKA Alam. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Kromatografi Lapis Tipis.usd.usd. Rincian Simplisia Rhei Radix (Akar Kelembak). Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.chem-is- try. Materia Medika Indonesia.php/detail_simplisia/26 Departemen Kesehatan RI. 2007. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional. dkk. Semarang.