P. 1
Filsafat Dan Sastra

Filsafat Dan Sastra

|Views: 8|Likes:
Published by Tirrahmah Fadhilla

More info:

Published by: Tirrahmah Fadhilla on May 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2014

pdf

text

original

Filsafat dan Sastra KAMIS, APRIL 01, 2010

MEN OF IDEAS

Dalam buku dengan judul diatas, Bryan Magee, berdialog dengan lima belas filsuf kontemporer dari berbagai negara. Antara lain dari Inggris, AS, dan Perancis. Dialog ini mula-mula ditayangkan melalui salah satu saluran televisi Inggris beberapa tahun silam. Setelah diadakan sedikit perubahan di sana-sini, terutama penyesuaian dari bahasa lisan ke bahasa tulisan agar dapat lebih mudah dicerna oleh orang awam, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan anak judul 'Some Creators of Contemporary Philosophy'.

Melalui prakata, Magee menegaskan bahwa penerbitan dalam bentuk buku ini terdorong oleh keinginan untuk memperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas beberapa wilayah yang menarik dalam aneka bidang filsafat. Pertanyaan-pertanyaan seperti siapa tokoh filsafat yang menyandang nama besar, apa yang mereka lakukan dan kenapa mereka dianggap besar, apa yang dimaksudkan dengan filsafat eksistensialisme, filsafat moral, filsafat politik, filsafat sains, dan filsafat kesusastraan adalah beberapa dari seruntun pertanyaan yang dijawab oleh buku itu. Berbagai bidang filsafat ini dikupas dalam bentuk diskusi, dan menjadi bacaan yang kian menarik karena Bryan Magee memberi penjelasan tambahan, mengambil kesimpulan serta menyuguhkan latar belakang sejarah lapangan filsafat tertentu terutama filsafat Marxis, dan filsafat logika positif.

Bagi yang ingin berkenalan dengan filsafat, pertanyaan paling pertama muncul dalam pikiran mungkin adalah: apakah filsafat? Dan justru memang pertanyaan

Pertanyaan yang kedua bersifat lebih abstrak dan formal. pertanyaan pertanyaan yang berpaut dengan pengalaman. atau menaklukkan lingkungannya. Atau jelasnya. tidaklah dimaksudkan bahwa pertanyaan itu berada pada jarak yang jauh dari perhatian kita sehari-hari. Pertama.filsafat yang paling mendasar inilah yang diajukan oleh Magee untuk membuka bagian pertama dari lima belas diskusi yang dihimpunnya ke dalam bentuk buku yang diberinya judul 'Men of Ideas'. mengamati. atau sebagaimana yang dikatakan oleh para filsuf: bersifat empiris. menyelidiki. Manusia sepanjang masa mencoba menemukan serta menguasai lingkungannya. dan oleh karena itu tidak dapat dijawab hanya dengan meninjau alam semesta. dan penulis biografi Marx. Misalnya pertanyaan pertanyaan dalam bidang matematika atau logika. hanya bisa terjawab pada akhirnya dengan meninjau pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Diskusi dengan Sir Isaiah Berlin yang diberi judul 'Pengantar ke Dalam Filsafat' ini berkisar pada berbagai permasalahan yang mendasar dalam filsafat. Sir Isaiah Berlin dari Oxford. melakukan percobaan terhadap semesta dan seterusnya. kurang lebih dapat kita simpulkan dengan mengatakan bahwa di tengah perjuangan mencari pengetahuan tentang manusia. berbagai pertanyaan mengenai dunia semesta. Pertanyaan jenis ini berkaitan dengan hubungan timbal-balik antara berbagai kesatuan dengan sistem formal. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut alam semesta ini. menurut Berlin lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu bersifat faktual. Satu sistem formal yang sudah sangat biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah . Pertanyaan ini diserahkanya kepada filsuf Inggris. menguji. menurut Berlin. Landasan titik tolak yang diambil oleh filsafat sebagaimana secara berlebar panjang dibentangkan oleh Isaiah Berlin. mereka pada umumnya mengajukan dua jenis pernyaan. Dengan mengatakan hal ini.

Atau. Hampir seluruh pertanyaan yang menunjukkan tanda-tanda pertanyaan filosofis tidak termasuk ke dalam dua golongan pertanyaan tadi. Sistem itu kita pergunakan setiap hari untuk menghitung sesuatu. Anggapan keliru yang terlanjur meluas di tengah masyarakat adalah perkiraan bahwa filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk moral tentang bagaimana semestinya kehidupan ini harus dijalani. atau berharap bahwa filsafat dapat menyodorkan penjelasan tantang manusia dan alam semesta. Namun tidaklah demikian halnya dengan pertanyaan pertanyaan yang bersifat filosofis. termasuk ke dalam salah satu dari golongan pertanyaan tadi. Oleh sebab itu kita tidak mengetahui apa yang harus diperbuat untuk menemukan jawabannya. keindahan. orang mencoba menghampiri filsafat untuk menemukan jawaban-jawaban yang serba pasti. Pertanyaan seperti apakah yang dimaksudkan dengan hak. menentukan waktu. Timbulnya pertanyaan yang menuntut jawaban tanpa suatu pengertian yang jelas tentang bagaimana menemukan jawabannya adalah awal dari langkah filsafat. tidak dapat sekadar dijawab hanya dengan meneliti ikatan suatu sistem formal atau meninjau fakta-fakta. tentang rahasia kehidupan. Dengan demikian. . membilang uang dan sebagainya.aritmatik. dan keadilan. terdapat dua golongan besar pertanyaan: berbagai pertanyaan empiris yang melibatkan ikhtiar meninjau berbagai fakta dan pertanyaan-petanyaan formal yang melibatkan upaya menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Hampir seluruh pertanyaan. dengan lain perkataan. Suatu sistem niskala memang bisa sangat berguna dan penting dalam kehidupan praktis kita sehari-hari. dan karena itu seluruh pengetahuan.

atau memberi berbagai petunjuk tentang bagaimana orang harus hidup. Menarik garis dari berbagai akibatnya yang mungkin terjadi serta berbagai implikasinya yang berpautan atau relevan. Mereka berusaha mengajarkan bagaimana membedakan antara yang buruk dengan yang baik. Kendati demikian. Moore. Stuart Mill. memberikan berbagai argumen yang pro atau menentangnya dengan seluruh pengetahuan. pengertian. Seorang filsuf tidak dapat berbuat lebih jauh dari itu atau melampaui batas tugasnya sebagai seorang penasehat filosofis. menguhubungakan sifat. kecakapan logika dan kedalaman moral yang dimiliki oleh sang filsuf. motif. Menurut Berlin. diakui pula oleh Berlin bahwa filsafat mengemban tugas ganda: menyelidiki. Menentukan posisinya berdasarkan suatu peta moral. . menganjurkan penerapan pola-pola yang benar ke dalam tingkah laku manusia. Tugas seorang filsuf. Bukanlah tugasnya untuk berkhotbah. para filsuf itu justru berbuat sebaliknya. hanyalah menempatkan arah dari satu tindakan dalam hubungan moralnya. tapi dalam hal ini kedudukannya hanya sebagai penasehat filosofis. Berlin menyuarakan keberatannya pada sebagian besar filsuf moral dan politik. mulai dari Plato dan Aristoteles sampai pada Immanuel Kant. khususnya mengecam pra-anggapan atas ketentuan-ketentuan nilai yang ditetapkan atau dirumuskan oleh manusia dengan pikiran maupun tindakanya. tujuannya pada kaitan seluk-beluk nilai ke dalam mana tindakan itu tergolong. maka ia telah menjalankan tugasnya bukan sebagai seorang pengkhotbah atau juru mudi kehidupan.Seorang filsuf memang bisa bicara tentang moral. melainkan sekadar sebagai seorang penasehat filosofis. serta kebanyakan para pemikir kontemporer. Berpijak pada pandangan tadi. menurut Berlin. Dengan demikian. mengutuk atau memuji.

Hare. Kedua filsuf yang disebut terakhir ini bahkan berhasil memenangkan hadiah Nobel dalam kesusastraan. Namun yang ingin dibicarakan di sini secara lebih panjang lebar adalah bagian terakhir itu: dialog Magee dengan Iris Murdoch.M. Magee berpendapat bahwa kesusastraan tidaklah begitu . Begitupun. serta Jean Paul Sartre. seorang filsuf dan novelis berdarah Irlandia terkenal yang telah memperkaya khasanah kesusastraan Inggris kontemprorer dengan sejumlah novelnya. Beberapa filsuf besar memang sekaligus pula pengarang besar atau pujangga besar. Tetapi sebenarnya berawal di Jerman. Tokohnya bukan Jean Paul Sartre melainkan Heiderger. kemudian beranjak menelusuri berbagai pokok pikiran dalam banyak lapangan filsafat lainya. Filsafat eksistensialisme moderen yang dikatakan lahir sebagai akibat pecahnya perang dunia II. dan Schopenhaeur. yang diduga bermula di Perancis. Mereka juga banyak menetaskan buku-buku kesusastraan. Descartes. Ini dibicarakan melalui diskusi dengan William Barret. Buku yang diawali dengan memperkenalkan filsafat melalui dialog dengan Sir Isaiah Berlin itu. seorang guru besar filsafat pada New York University. dibicarakan melalui dialog dengan Charles Taylor dari All Souls College.Sedangkan tugas lain adalah menampung atau melayani berbagai pertanyaan yang tidak termasuk baik ke dalam golongan formal maupun ke dalam golongan empiris yang telah disinggung dipermulaan tadi. dan seperti Salman Rushdie. pengarang buku terkenal 'Irrational Man'. Sejumlah nama-nama besar lain juga dapat dikatambahkan dalam kaitan ini seperti Nietzsche. ia pernah pula meraih hadiah sastra prestisius: 'Booker's Prize'. Filsafat moral dibahas dalam tanya jawab dengan Prof. Oxford. R. St Augustine. Contoh yang paling jelas adalah Plato. Berkeley dan Hume. Filsafat Marxis misalnya. Dan yang muncul abad ini: Bertrand Russel.

Ia menjadi tumpuan perhatian yang lebih menarik untuk dikaji.saja dapat dianggap sebagai cabang dari filsafat. Kalau seorang filsuf berhasil menciptakan karya sastra yang baik. Pada bagian diskusi pertama dibicarakan perbedaan antara filsafat dengan kesusastraan. dua bidang yang sama sekali berbeda. filsafat bertujuan memperjelas dan menerangkan. Sedangkan kesusastraan adalah satu seni. Dan masalah inilah yang menguasai diskusi Bryan Magee dengan Iris Murdoch. Di bagian kedua didiskusikan ide-ide filosofis mengenai kesusastraan. Orang mencampur-baurkannya sehingga tidak terlihat lagi perbedaan antara keduanya. menyandang predikat filsuf yang sekaligus juga novelis internasional yang produktif. dan di bagian terakhir kedua tokoh tadi membahas filsafat dalam kesusastraan. Kesusastraan merupakan satu bentuk pengungkapan diri. Satu segi dari suatu bentuk seni. ternyata memang seringkali mengalami tumpang tindih. sementara filsafat tidak demikian halnya. Menurut Iris Murdoch. Karena kwalitas serta arti penting filsafat bukan diperhitungkan berdasarkan nilai-nilai sastra atau estetika. Namun keberhasilannya mencipta karya sastra yang baik tidaklah dengan sendirinya membuatnya menjadi seorang filsuf yang baik. Sayang ia telah berpulang belum lama berselang. Penulisan filsafat harus dengan patuh berangkat menuju tujuan itu. Kesusastraan mengemban tujuan-tujuan kesenian. Hal ini agaknya memang perlu ditekankan karena dalam beberapa segi antara filsafat dengan kesusastraan. seorang yang seperti sudah dikemukakan tadi. filsafat mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang sulit dan sangat teknis sifatnya. ini merupakan satu kelebihan baginya. Filsafat tidak menuju pada satu bentuk penyempurnaan formal demi kepentingan filsafat itu .

ia mengatakan orang secara kasar memahami apa yang diartikan dengan istilah kesusastraan. dua tokoh yang oleh Dr Fuad Hassan dalam buku 'Berkenalan dengan Existensialisme' terbitan Universitas Indonesia dibicarakan sebagai filsuf Existensialist. Tulisan ilmiah juga bisa dianggap sebagai karyaa sastra. beragam bentuknya dan amat luas. Karya jurnalistik karena itu juga dapat dinilai sebagai karya kesusastraan. Filsafat dinilainya sempit dan sulit. tutur Murdoch. Murdoch menandaskan bahwa filsafat bukan suatu jenis pencapaian sainstifik. Kesusastraan mencoba menghasilkan suatu macam penyelesaian. Contoh yang dikemukakan Iris Murdoch adalah Soren Kierkergard dan Nietzsche. Karya sastra berusaha menciptakan ilusi. Banyak pemikir besar yang sekaligus juga pengarang besar. . Memang ada. 'Symposium' dapat dinilai sebagai satu pernyataan filsafat.sendiri. sementara filsafat justru berjuang melenyapkan ilusi. menurut Murdoch. Karya sastra adalah karya seni. Dan katanya pula. Walaupun demikian. siapa saja yang mengandalkan sains. Begitupun. Ditegaskan pula olehnya bahwa adalah dalam kaitannya dengan bagian karya filsafat Plato yang lain. Kendati Murdoch berpendapat bahwa kesusastraan dan filsafat merupakan dua lapangan yang berlainan. karya filsafat yang dapat sekaligus dinilai sebagai karya sastra atau seni seperti 'Symposium' karya Plato. namun mereka tidak bisa disebut filsuf. padahal kesusastraan bergelut dalam permasalahan kompleks dalam bentuk estetika. Filsafat menggoncangkan konsep-konsep semi-estetis terhadap mana kita umumnya bergantung. Kesusastraan. tetapi sangat jarang. Kesusastaran adalah bentuk seni yang menggunakan medium kata-kata. sementara karya filsafat adalah sesuatu yang lain. namun ia sendiri ternyata tidak mampu mendefinisikan apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesusastraan.

sementara imajinasi kreatif serta fantasi amat erat dan merupakan kekuatan yang tidak dapat dielakkan oleh seorang pencipta karya sastra. Filsafat dan kesusastraan. begitu juga halnya dengan filsafat. sebagaimana pada sains. kata Murdoch. Bukanlah ikhtiar yang gampang mengajak orang untuk dapat melihat tahap di mana filsafat melakukan operasinya. serta suasana yang melingkupi filsafat. Sastra bisa dianggap satu tehnik disiplin untuk membangkitkan emosi-emosi tertentu. sengan berbagai fantasi yang tidak baik. kata Murdoch.akan tersingkir ke luar wilayah filsafat. namun ia juga mengakui bahwa terdapat pula persamaan di antara keduanya. Filsafat adalah upaya untuk mengamati berbagai konsep yang paling umum dan mendalam. Meskipun Iris Murdoch bisa menerima filsafat dan kesusastraan sebagai dua bidang yang berlainan. termasuk emosi-emosi yang merangsang sensasi khayalan dan sensasi fisik. Kesusastraan adalah aktivitas imajinatif. Sebagian besar wujud kesenian. untuk memperjelas dan menentukan nilai diri. Karena itu ia berpendapat bahwa lebih menyenangkan untuk menjadi seorang seniman daripada berusaha menjadi seorang filsuf. Filsuf wanita itu menilai bahwa hasrat untuk mengungkapkan diri. Keduanya merupakan kegiatan yang disadari serta dilandaskan pada pengertian. adalah pencari kebenaran dan berupaya mengungkapkan kebenaran. Berbagai metoda yang diterapkan. Yang ia maksudkan dengan fantasi tidak baik . Dalam hal ini yang dimaksudkan Murdoch adalah karya sastra. berusaha menangkis berbagai godaan fantasi pribadi. merupakan motivasi yang kuat untuk berkarya. Tetapi pertanyaan pertanyaan yang dikejar oleh filsafat secara keseluruhan tidak serupa dengan pertanyaan-pertanyaan kongkrit yang ingin digapai oleh kesusastraan. atau bersifat kognitif. dikaitkan dengan sex.

jelas terlihat banyak bentuk seni dalam karya-karya Plato. Dan kita harus ingat. Plato takut terhadap kekuatan emosional yang irrasional dalam seni. bukan hanya bapak filsafat. Plato menyepakati sensor yang keras serta pembasmian para pengarang lakon sandiwara. terdapat pertenggkaran yang sudah berlangsung lama antara filsafat dengan puisi. Lantas kenapa Plato. padahal Plato sendiri dalam karya-karyanya justru sering menggunakan bentuk-bentuk seni. Iris Murdoch secara khusus berbicara tentang sikap permusuhan Plato terhadap seni. status dan kekayaan. Kenyataan bahwa karya Plato sendiri merupakan karya seni yang besar adalah dalam pengertian bahwa ia sendiri secara teoritis tidak mengakuinya. Filsafat memang mengalami kemajuan dengan membatasi dirinya sebagai sesuatu yang tersendiri. menimbulkan bentuk-bentuk pemanjaan diri sendiri dan yang biasanya menghasilkan berbagai nilai yang salah seperti pemujaan pada kekuasaan. sebagaimana yang dinilai oleh Murdoch. justru mengambil sikap bermusuhan terhadap seni? Dari titik tolak pertanyaan itulah Murdoch kemudian berangkat menguraikan teorinya mengenai pandangan filsafat terhadap kesusastraan. Bahkan melalui salah satu bukunya yang berjudul 'The Fire and The Sun'. Plato taat pada agama.itu adalah fantasi yang mengundang imaji pornografis. dan ia merasa bahwa seni memusuhi agama dan filsafat. Dikatakannya. Pada abad ketujuh belas memisahkan diri ilmu . tutur Murdoch. filsafat memisahkan diri dari kesusastraan. Sebagai seorang pakar teori politik. Seni menurut Plato merupakan suatu pengganti yang egoistis bagi disiplin agama. Dengan alasan ini pulalah sementara filsuf berbalik memusuhi seni. Atau seperti dikatakan Bryan Magee. kata Murdoch. Kekuatan untuk menyebarkan berbagai kebohongan yang menarik atau kebenaran-kebenaran subversif. pada masa Plato filsafat baru saja muncul atau lahir dari berbagai bentuk puisi dan spekulasi teologis. Pada masa Plato. melainkan juga seorang filsuf terbaik.

Murdoch berpendapat. Freud menilai seni sebagai fantasi seorang seniman yang berbicara langsung kepada fantasi penikmat karya seninya. Namun dipertanyakan oleh Bryan Maggee apakah kritik semacam itu hanya berlaku untuk seni yang buruk. tetapi peniruan yang buruk. satu jembatan untuk memperoleh kepuasan yang tidak sempat didapat dalam kehidupan nyata. Dan Ironisnya orang justru lebih menyukai seni yang buruk itu daripada yang baik. Selanjutnya Murdoch mengatakan bahwa Plato menilai seni sebagai usaha penjiplakan yang remeh terhadap obyek tertentu tanpa mengandung arti penting umum. Plato berkeyakinan bahwa seni pada hakikatnya adalah fantasi pribadi. suatu bentuk perayaan terhadap hal-hal tanpa nilai atau suatu bentuk penyelewengan dari hal-hal yang baik.alam. Pada abad kedua puluh memisahka diri dari psychologi. padahal karya seni yang dipamerkan di sana . Seni dalam pandangan Freud adalah satu bentuk hiburan pribadi. Iris Murdoch mengatakan bahwa seorang penikmat seni bisa saja menggunakan hasil seni untuk melayani tujuannya sendiri. kata Murdoch. Pornografi adalah contoh yang ekstrim dari seni tersebut. Oleh karena itu. memang benar bahwa lebih banyak seni yang buruk daripada seni yang bagus di sekitar kita. Sigmund Freud. Pendapat Plato ini menurut Murdoch tidaklah secara keseluruhan berbeda dengan pandangan Bapak psikologi. dan hanya seni yang bagus sanggup menolak tujuan-tujuan yang tidak baik dengan lebih berhasil. Maksudnya seseorang mungkin saja mengunjungi satu galeri hanya untuk menyaksikan citra (image) yang pornografis. kita bisa menyaksikan bagaimana sebuah cerita menegangkan atau filem yang sentimental dengan mudah bisa merangsang fantasi pribadi para pembaca atau penonton. Plato berpendapat seni adalah usaha meniru. Bagaimana halnya dengan seni yang baik? Menjawab pertanyaan ini.

kata filsuf wanita itu pula. kemungkinan suatu karya seni ditafsirkan secara tidak baik bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi. Karya itu hendaknya mampu mematahkan kebiasaaan kita untuk berfantasi. dan kita terkungkung di dalamnya. seperti yang dikatakannya sendiri. karya seni picisan itu. bahwa dengan berpandangan demikian. yang sanggup membuat kita bertenggang rasa dan lapang dada. Kita membangun dunia kecil kita untuk diri kita sendiri. Dikatakannya pula. dan sekaligus mendorong kita berusaha untuk mendapatkan pandangan yang benar tentang hidup dan kehidupan. karya seni yang besar. . Ditandaskannya bahwa pornografi mendatangkan akibat yang benar-benar merusak dan memerosotkan nilai seni. bukan berarti dirinya hanya menilai seni semata-mata dari sudut pendidikan serta faedahnya saja. adalah karya seni yang bersifat membebaskan. Dan disayangkannya pula bahwa lebih banyak orang justru menyukai. Dan Plato sekaligus mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik tentang itu. Kita seringkali tidak berhasil melihat kenyataan dunia yang luas ini. rasa iri. karena pandangan kita dibutakan oleh obsesi. kekhawatiran. Karya sastra yang baik. Plato setidaknya juga berpendapat betapa pentingnya seni itu dalam kehidupan manusia. bukan fantasi. tambah Murdoch. yang memungkinkan kita untuk melihat dan mendapatkan kesenangan dari sesuatu yang bukan melulu kupuasan kita akan diri kita sendiri. Seni lebih luas dari gagasan-gagasan sempit seperti itu. katanya menerangkan. yang mampu membuat kita menaruh perhatian kepada orang lain serta masalah-masalah lain. karya seni yang baik adalah karya seni yang mengandung imajinasi. Lalu karya seni bagaimana yang dinilai baik oleh Murdoch? Saya kira. Murdoch secara tegas menolak pornografi. Dan karena itu. adalah karya sastra yang sanggup mendorong serta memuaskan rasa ingin tahu kita. kejengkelan dan ketakutan. tegas Murdoch.barangkali tidak semuanya bisa menimbulkan citra pornografis. Seni yang bagus.

penciptaan seni Marxis itu sama sekali tidak digerakkan oleh dorongan seni yang murni. Dan untungnya. seni rupa dan sebagainya. filsuf Perancis Shopenhauer menilai seni sebagai titik pusat kehidupan manusia. dan membuat kita bisa melihat dunia nyata serta menghayati keindahan. Filsafat bisa membuat orang buta terhadap beberapa jenis seni. seperti dalam bentuk novel. menangkap arus pancaroba kehidupan. kata Murdoch. atau hanya mampu menghasilkan jenis-jenis seni tertentu. Semua hasil seni Marxis itu. Ia menilai seni sebagai kegiatan kecendekiaan. Menurut teori Marxis. Alasannya. seniman tidak terlalu banyak memperhatikan para filsuf. Dalam pada itu Murdoch menolak anggapan bahwa tugas seorang seniman adalah . dinilai Magee sebagai sampah. dan sang filsuf berbicara secara mendalam mengenai hal itu. Filsafat terkadang bisa merusak seni. Memang benar. Ia bahkan memutar balik pandangan Plato tentang seni. sandiwara.Iris Murdoch menilai para filsuf secara keseluruhan tidak sungguh-sungguh berusaha menulis dengan baik tentang seni karena mereka menganggap seni sebagai masalah kecil. kata Magee. ditegaskan oleh Murdoch bahwa Schopenhauer hanyalah satu perkecualian di kalangan para filsuf yang benar-benar mencintai dan menghargai seni. Schopenhaeur mengatakan bahwa seni menguakkan cadar atau kabut subyektivitas. ujar Murdoch. yakni menjadi alat atau instrumen dari revolusi sosial. adalah Marxisme. lukisan. satu usaha untuk mengatasi diri dan melihat dunia. Schopenhaeur memang bertikai pendapat dengan Plato. Pendapat Murdoch ini dikuatkan oleh Bryan Magee dengan mengemukakan contoh justru di dunia moderen. Dalam pada itu Magee berpandapat bahwa tidak seperti hampir semua filsuf lainnya. Di antara filsafat yang merusak seni. seni memiliki satu peranan khusus. aktivitas moral yang tinggi. Sekalipun demikian.

kata Murdoch. atau sentengah seniman. beranggapan demikian: tugas seorang seniman mengabdi kepada masyarakat. memang berhasil berbuat banyak hal. kata Murdoch. Ia misalnya berhasil sebagai pengarang besar yang imajinatif dan seorang kritikus sosial yang kukuh dan lantang. pengaruh sosial yang luas. dan seorang pengarang memang mungkin kadang-kadang merasa punya keharusan menulis sebuah artikel di surat kabar untuk membujuk atau meyakinkan masyarakat. Seorang warga negara memang memikul tugas kemasyarakatan. Tapi apakah pernyataan Murdoch yang terakhir ini bisa berlaku untuk Charles Dickens misalnya? Charles Dickens salah seorang pengarang besar Inggris dengan tujuan-tujuan sosial yang murni. Namun hal ini disebabkan oleh karena adanya berbagai skandal dalam masyarakat.melayani atau mengabdi kepada masyarakat. Marxis. mengungkapkan kebenaran melalui media seni yang dipilihnya. Sebuah karya teater yang penuh . dan ia harus berusaha untuk dapat melaksanakanya. Segera setelah seorang pengarang berkata kepada dirinya sendiri. Dickens. Dickens sangat berhubungan erat dengan kegaduhan serta perubahan sosial yang secara amat mendalam menjerat imajinasinya. kata Murdoch. Murdoch tetap berkeras untuk tidak beranggapan bahwa seniman. Ia tidak diragukan lagi telah berhasil mendatangkan. melalui karya karyanya. Dengan mengatakan itu. namun itu merupakan satu kegiatan yang lain sifatnya. maka besar kemungkinan pengarang itu akan merusak karya-karyanya. Kewajiban seorang seniman adalah kepada seni. meskipun dikatakannya pula sudah lama timbul pertikaian pendapat mengenai hal itu. bahwa saya harus mengubah masyarakat melalui tulisan-tulisan saya. di samping karena kedahsyatan imajinasinya yang sedikit saja berkaitan dengan pembaharuan atau perubahan sosial. Dickens menjadi pengarang besar berkat kemampuannya menciptakan perwatakan para pelakunya. mengemban satu tugas besar terhadap masyarakat. Tugas utama seorang pengarang adalah menciptakan karya-karya sastra sebaik yang dapat dilakukannya.

Sebuah tema sosial yang ditampilkan melalui satu bentuk karya seni. maka keadilanlah yang harus dijadikan tujuan utama. Dan seniman. demikian Murdoch. termasuk usaha melestarikan kesucian serta kemandirian penerapan praktek-praktek seni adalah penting sekali. Dalam setiap masyarakat. besar kemungkinan akan menjadi lebih jelas ditangkap maksudnya walaupun tema itu barangkali kurang mengandung daya untuk meyakinkan masyarakat. Masyarakat yang buruk. walaupun karya teater itu diilhami oleh sekian prinsip yang baik. terdapat propaganda. sembarang seniman. adalah masyarakat yang menindas kebebasan seniman karena masyarakat itu tahu bahwa seniman bisa mengungkapkan berbagai kebenaran . mengandung kemungkinan menjadi sebuah pernyataan yang menyesatkan. kata Murdoch. Satu masyarakat yang baik. Apabila seni yang betul-betul seni dijadikan sebagai tujuan. adalah masyarakat di mana para senimannya bisa melakukan berbagai hal yang berlainan.propaganda dan bersikap acuh tak acuh terhadap seni. sehingga kemampuan untuk membedakan propaganda ini. boleh saja secara sambil lalu melayani masyarakat dengan mengungkapkan hal-hal yang tidak diperhatikan atau difahami oleh masyarakat tersebut. kata Murdoch lebih lanjut. memiliki kemungkinan-kemungkinan propaganda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->