P. 1
Keracunan Kloroform CCl4

Keracunan Kloroform CCl4

|Views: 23|Likes:
Published by Detya Pertiwi

More info:

Published by: Detya Pertiwi on May 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/19/2013

pdf

text

original

Keracunan Kloroform CCl4

Pertanyaan: Tadi malam ada pasien masuk Rumah Sakit dalam keadaan keracunan. Pasien tersebut diduga mengalami keracunan kloroform. Saat ini pasien dalam keadaan asidosis berat. Ditanyakan apakah ada antidotum untuk keracunan kloroform. (Sinta, Perawat RSUD Cengkareng) Jawaban: Kloroform bersifat penekan sistem saraf pusat, toksik terhadap hati dan ginjal, embriotoksik dan terbukti bersifat karsinogen pada hewan. Dahulu kloroform digunakan sebagai bahan anestesi, tetapi karena sifatnya yang toksik terhadap hati, maka senyawa ini tidak lagi digunakan sebagai bahan anestesi. International Agency for Research on Cancer (IARC) menggolongkan kloroform ke dalam Grup 2B, kemungkinan karsinogenik terhadap manusia. Penatalaksanaan keracunan terhadap pasien di Rumah Sakit adalah dengan membebaskan jalan napas untuk menjamin pertukaran udara; memperbaiki fungsi jalan napas dengan cara memberikan pernapasan buatan untuk menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida; mengobati koma dan aritmia. Namun, hindari penggunaan epinefrin atau amina simpatomimetik lainnya karena dapat memicu aritmia menjadi lebih berat. Takiaritmia yang disebabkan oleh peningkatan sensitivitas miokardial dapat diobati dengan pemberian propanolol 1-2 mg secara intravena untuk orang dewasa, atau esmolol 0,025-0,1 mg/kg/menit secara intravena. Pemantauan terhadap pasien harus dilakukan sekurangnya selama 4-6 jam setelah terpapar bahan atau lebih lama lagi bila timbul gejala. Antidotum untuk keracunan kloroform adalah N-asetilsistein. Di Indonesia tersedia obat Acetylcysteine atau juga disebut Nasetilsistein dalam bentuk sediaan kapsul, kaplet, tablet effervescens, dan infus. Pemberian N-asetilsistein dapat meminimalkan toksisitas terhadap hati dan ginjal. Jika memungkinkan, asetilsistein dapat diberikan dalam 12 jam setelah terpapar bahan. Pengujian pada hewan menunjukkan bahwa pemberian cimetidine, calcium channel blocker, dan oksigen hiperbarik dapat mengurangi cedera pada hati, tetapi pengujian pada manusia untuk pengujian ini belum mencukupi. Pada kasus di atas, pasien mengalami asidosis. Asidosis metabolik adalah kondisi darah dengan tingkat keasaman yang berlebihan dan ditandai dengan kadar bikarbonat yang rendah dalam darah. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Pada

. umumnya diberikan bikarbonat secara intravena.1 – 7.pasien yang mengalami asidosis berat (pH < 7.2).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->