P. 1
Topologi Star.docx

Topologi Star.docx

|Views: 45|Likes:
Published by James E Hutapea

More info:

Published by: James E Hutapea on May 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2015

pdf

text

original

Sections

Topologi Star

Tujuan   Mempraktekkan simulasi topologi star. Memahami konsep topologi star setelah membuatnya.

Landasan Teori Setiap sentral (server, workstation dan peripheral) pada topologi star terhubung secara langsung ke pusat jaringan/terminal pusat yang dapat berupa hub/switch)‫‏‬

Tools Packet Tracer 5.0

Membuat Simulasi Jaringan Topologi Star Kita akan membuat simulasi jaringan topologi star. Setiap node yang ada dalam topologi star terhubung ke sebuah switch.

Gambar 1.1: Skema Topologi Star

Langkah kerja: 1. Siapkan sebuah switch jenis 2950-24 kemudian siapkan 12 unit PC mengelilingi switch tersebut. 2. Hubungkan masing-masing PC ke switch dengan automatic connection.

3. Konfigurasi masing-masing PC dengan IP yang seragam (dalam network yang sama) dan unik. Misalnya, dari ’10.0.0.2’ sampai ’10.0.0.13’. Subnetmask ’255.255.255.0’. Caranya klik salah satu PC, pilih tab Desktop, IP Configuration. Kemudian isikan IP Address dan Subnet Mask-nya. Lakukan juga pada PC lainnya.

Gambar 1.2: Konfigurasi IP Address pada PC

4. Setelah itu ping dari setiap PC ke PC lainnya lewat command line. Caranya klik salah satu PC, Desktop, Command Prompt. Kemudian ketik ‘ping <IP Address PC tujuan>’ misalnya ‘ping 10.0.0.3’. Jika terdapat reply, berarti PC sudah saling terhubung.

Gambar 1.3: Ping

Kesimpulan Pada topologi star terdapat terminal pusat dimana semua node terhubung pada terminal pusat ini. Topologi star cukup sederhana dan mudah untuk diimplementasikan.

Local Area Network (LAN)

Tujuan   Mempraktekkan simulasi LAN. Mengetahui manfaat LAN.

Landasan Teori Local Area Network merupakan jaringan milik 1 organisasi/perorangan/kampus. LAN menghubungkan antar komputer atau workstation untuk memakai bersama sumberdaya dan saling bertukar informasi.

Tools Packet Tracer 5.0

Membuat Simulasi Local Area Network

Gambar 2.1: Skema LAN

Kita akan membuat simulasi LAN dimana di dalamnya terdapat server, PC, printer, dan sumberdaya lainnya. Pada gambar 2, penggunaan Cloud-PT bertujuan untuk menghubungkan jaringan yang ada di luar. Untuk sementara ini, Cloud-PT tidak diaktifkan.

Langkah kerja: 1. Siapkan semua device yang dibutuhkan untuk jaringan seperti yang ditunjukkan pada gambar 2 di atas. Terdiri dari Server-PT, PC-PT, Switch 2950-24, Router 2811, Cloud-PT, AccessPoint-PT, Wireless PC, Wireless Printer, IP Phone 7960, dan Printer-PT. 2. Hubungkan setiap device dengan automatic connection kecuali device yang nirkabel. Hubungkan seperti pada gambar yang diberikan. 3. Pada jaringan ini, kita menggunakan Network ’10.0.0.0/24’. Berarti subnetmask-nya adalah ’255.255.255.0’. Default Gateway ’10.0.0.1’. IP DNS Server yang dipakai adalah ’10.0.0.2’. Kemudian konfigurasi IP pada masing-masing PC, Server, dan Printer. Jangan lupa untuk

melakukan konfigurasi terhadap router. Juga jangan lupa isi Default Gateway dan DNS Server pada konfigurasi IP Address PC.

Gambar 2.2: Contoh Konfigurasi Router

4. Untuk server, jika perlu, ubah script HTML-nya agar mudah dikenali saat dipanggil lewat web browser. 5. Untuk PC nirkabel dan printer nirkabel, jika access point menggunakan WEP jangan lupa untuk memasukkan key yang tepat pada konfigurasinya. Karena jika key-nya tidak sesuai, maka device tidak dapat terhubung dengan access point. SSID juga harus sama dengan yang ada pada access point.

Gambar 2.3: Konfigurasi Access Point

Gambar 2.4: Contoh Konfigurasi pada Wireless PC

Gambar 2.5: Contoh Konfigurasi pada Wireless Printer

6. Pada DNS, tambahkan domain name ‘www.dns.net’ dengan IP Address ’10.0.0.2’. Kemudian tambahkan juga domain name ‘www.web.net’ dengan IP Address yang sesuai dengan server ‘Web’.

Gambar 2.6: Contoh Konfigurasi DNS

7. Lakukan ping dari setiap PC ke setiap device dan pastikan semuanya terhubung dengan baik. Ping juga setiap sumberdaya seperti printer dan IP Phone. Jika berhasil, berarti sumberdaya telah terhubung dan dapat digunakan dalam jaringan. Kemudian coba buka ‘http://www.dns.net’ dan ’http://www.web.net’ lewat web browser masing-masing PC (Desktop → Web Browser). Jika tampil halaman web berarti sudah berjalan dengan baik. Jika tidak ditemukan, coba periksa kembali konfigurasi IP dan DNS Server.

Gambar 2.7: Memanggil Halaman Web Server

Kesimpulan Local Area Network memungkinkan penggunaan sumberdaya secara bersama-sama dalam satu jaringan sehingga lebih efisien karena satu sumberdaya dapat digunakan oleh banyak PC.

IPv4 (IP version 4)

Tujuan   Memahami IPv4. Mempelajari implementasi IPv4 pada jaringan.

Landasan Teori IPv4 ditulis sebagai 4 kelompok angka desimal yang dipisahkan oleh tanda titik. Setiap kelompoknya terdiri dari 8 bit (dengan range 0~255) sehingga IPv4 terdiri dari 32 bit. xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx Nilai x bisa saja ’0’ atau ’1’.

Contoh IPv4: 192.168.0.7 10.0.0.3 172.16.0.2

IPv4 dibagi menjadi beberapa kelas: a. Kelas A 0xxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (0.0.0.0 ~ 127.255.255.255). Netmask: 255.0.0.0

b. Kelas B 10xxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (128.0.0.0 ~ 191.255.255.255). Netmask: 255.255.0.0 c. Kelas C 110xxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (192.0.0.0 ~ 223.255.255.255). Netmask: 255.255.255.0

d. Kelas D 1110xxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (224.0.0.0 ~ 239.255.255.255). e. Kelas E 1111xxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (240.0.0.0 ~ 255.255.255.255).

Kelas A, B, dan C di-publish untuk umum. Kelas D digunakan untuk pengalamatan multicast. Kelas E digunakan untuk pengalamatan reasearch IETF.

Netmask digunakan untuk membedakan antara ‘network address’ dengan ‘host’ dimana kelompok yang bernilai ’0’ adalah untuk host dan kelompok yang bernilai ‘255’ digunakan untuk network address.

Selain itu, perlu diketahui bahwa pada setiap subnet di kelas A, B, dan C terdapat Network ID dan broadcast. Network ID memiliki alamat IP dimana oktet keempatnya bernilai ‘0’ (xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.00000000) sedangkan broadcast memiliki alamat IP dimana oktet keempatnya bernilai ‘255’ (xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.11111111).

Tools Packet Tracer 5.0

Implementasi IPv4 pada Jaringan

Gambar 3.1: Skema Jaringan

Langkah kerja: 1. Siapkan 1 router 2811, 2 switch 2950-24, 6 PC-PT kemudian susun seperti gambar 3. 2. Hubugkan device seperti pada gambar 3 dengan menggunakan automatic connection. 3. Kelas IPv4 yang akan digunakan adalah kelas C dengan subnetmask ‘255.255.255.0’. Kita akan menghubungkan 2 network yang berbeda dengan menggunakan router. Network yang kita gunakan adalah ‘192.168.0.0/24’ dan ‘192.168.1.0/24’. Sekedar informasi, ‘/24’ setelah IP menandakan bit masking-nya adalah 24-bit (11111111.11111111.11111111.00000000 atau 255.255.255.0). 4. Konfigurasi IP masing-masing PC pada masing-masing jaringan. Gunakan default gateway ’192.168.0.1’ dan ’192.168.1.1’ pada masing-masing PC dengan network yang tepat. Gunakan subnetmask ‘255.255.255.0’. 5. Konfigurasi IP masing-masing interface router sesuai dengan default gateway dari network yang terhubung pada masing-masing interface router. 6. Lakukan perintah ‘ping’ antar PC dan pastikan semua PC saling terhubung dengan baik. Jika terhubung dengan baik, maka konfigurasi jaringan sudah benar. 7. Sekarang kita akan menguji penggunaan address pada host dimana kelompok bit terakhir bernilai ‘0’ (Network ID) dan ‘255’ (Broadcast). Pilih salah satu PC misalnya PC yang IP Address-nya ‘192.168.0.2/24’. Coba ubah IP Address-nya menjadi ‘192.168.0.0’ atau ‘192.168.0.255’.

Gambar 3.2: Menggunakan Network ID sebagai Alamat Host

Gambar 3.3: Menggunakan Broadcast sebagai Alamat Host

8. Maka akan muncul pesan error seperti gambar 3.4 yang mengatakan bahwa alamat IP yang dimasukkan tidak valid.

Gambar 3.4: Pesan Error (Invalid IP)

Kesimpulan IPv4 terdiri dari 4 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 8 bit (0-255) sehingga semuanya berjumlah 32 bit. Address dimana kelompok bit terakhirnya ‘0’ dan ‘255’ tidak dapat digunakan untuk pengalamatan host karena digunakan sebagai Network ID dan Broadcast.

Internetworking (Part 1)

Tujuan   Memahami apa itu internetwork. Mempraktekkan simulasi internetwork.

Landasan Teori Pengertian dari internetwork adalah interkoneksi (hubungan komponen sistem) dalam suatu jaringan tertentu. Misalnya pada kampus atau perusahaan.

Tools Packet Tracer 5.0

Membuat Simulasi internetwork Pada bagian ini, kita akan membuat simulasi jaringan yang terdiri dari 4 network dimana keempat network ini dihubungkan dengan router. Salahsatu network digunakan untuk jaringan server.

Gambar 4: Skema Jaringan

Langkah kerja: 1. Siapkan 1 router 2811, 4 switch 2950-24, 9 PC-PT, dan 2 Server-PT. 2. Tentukan alamat untuk masing-masing network. 10.0.0.0/24 : untuk jaringan server. Default gateway ‘10.0.0.1’. 172.16.0.0/24 : untuk jaringan PC. Default gateway ‘172.16.0.1’. 172.17.0.0/24 : untuk jaringan PC. Default gateway ‘172.17.0.1’. 172.18.0.0/24 : untuk jaringan PC. Default gateway ‘172.18.0.1’. 3. Tentukan IP untuk server DNS. Di sini kita gunakan ’10.0.0.2’. 4. Hubungkan dengan automatic connection sesuai dengan gambar 4. 5. Konfigurasi IP setiap PC sesuai dengan masing-masing network. Jangan lupa dengan Subnetmask, Default Gateway, dan DNS Server-nya. DNS Server telah kita tentukan sebelumnya yakni ’10.0.0.2’. 6. Pilih salah satu Server-PT. Ganti labelnya dengan nama ‘DNS’. Konfigurasi IP dengan IP Address ’10.0.0.2’, Subnetmask dengan ’255.255.255.0’, Default Gateway dengan ’10.0.0.1’. Tambahkan domain name ‘www.dns.net’ dengan IP Address ’10.0.0.2’. Tambahkan domain name ‘www.web.net’ dengan IP Address ’10.0.0.3’. Jika perlu, ubah script HTML-nya agar mudah dikenali saat dipanggil lewat web browser.

7. Pilih Server-PT berikutnya. Ganti labelnya dengan nama ‘Web’. Konfigurasi IP dengan IP Address ’10.0.0.3’, Subnetmask dengan ’255.255.255.0’, Default Gateway dengan ’10.0.0.1’. Jika perlu, ubah script HTML-nya agar mudah dikenali saat dipanggil lewat web browser. 8. Konfigurasi IP masing-masing interface router sesuai dengan default gateway dari network yang terhubung pada masing-masing interface router. Pada RIP Routing, tambahkan network address berikut: 10.0.0.0 172.16.0.0 172.17.0.0 172.18.0.0 9. Lakukan ping pada setiap PC ke server dan PC lainnya untuk memeriksa apakah semua sudah terhubung dengan baik. Jika semua sudah terhubung dengan baik coba buka web browser pada salahsatu PC kemudian panggil ‘http://www.dns.net’ dan ‘http://www.web.net’. Jika tampil halaman web, berarti sudah berjalan dengan baik.

Kesimpulan Pada internetwork, dua atau lebih jaringan dihubungkan oleh router. Paket-paket yang dikirimkan oleh suatu jaringan yang tergabung dalam internetwork akan diteruskan oleh router dengan proses routing ke jaringan tujuan.

Internetworking (Part 2)

Tujuan   Memahami tentang static routing. Mempraktekkan simulasi static routing.

Landasan Teori Static routing merupakan suatu cara merutekan data pada jaringan dengan jalur yang tetap. Pada routing table ditentukan suatu ‘next hop’ yakni alamat interface router dimana data yang dikirim ke jaringan lain akan dioper ke router ini untuk selanjutnya di-forward atau dioper kembali ke router tetangganya hingga sampai ke jaringan tujuan.

Tools Packet Tracer 5.0

Simulasi Static Routing Pada bagian ini kita akan mempraktekkan cara static routing. Pada static routing kita harus menentukan alamat interface lompatan untuk menuju ke network tujuan.

Perhatikan skema jaringan pada gambar 5.1.

Gambar 5.1: Skema Jaringan

Dari skema pada gambar 5.1, terdapat network yang terhubung secara tidak langsung. Untuk itu, perlu didefinisikan alamat interface lompatan pada router untuk menghubungkannya agar bisa berkomunikasi.

Pertama-tama, kita buat tabel hubungan antar network berdasarkan gambar 5.1 seperti berikut ini:

Network asal 192.168.0.0 192.168.0.0 192.168.0.0 192.168.0.0 192.168.0.0 192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.1.0 192.168.1.0 192.168.1.0 192.168.1.0 192.168.1.0

Network tujuan 192.168.1.0 192.168.2.0 192.168.3.0 192.168.4.0 192.168.5.0 192.168.6.0 192.168.0.0 192.168.2.0 192.168.3.0 192.168.4.0 192.168.5.0 192.168.6.0

Lompatan Langsung Langsung via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 Langsung Langsung via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.2

Router Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0 Router0

192.168.3.0 192.168.3.0 192.168.3.0 192.168.3.0 192.168.3.0 192.168.3.0 192.168.5.0 192.168.5.0 192.168.5.0 192.168.5.0 192.168.5.0 192.168.5.0 192.168.6.0 192.168.6.0 192.168.6.0 192.168.6.0 192.168.6.0 192.168.6.0

192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.2.0 192.168.4.0 192.168.5.0 192.168.6.0 192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.2.0 192.168.3.0 192.168.4.0 192.168.6.0 192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.2.0 192.168.3.0 192.168.4.0 192.168.5.0

via 192.168.2.1 via 192.168.2.1 Langsung Langsung via 192.168.4.2 via 192.168.4.2 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 Langsung Langsung via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 Langsung Langsung

Router1 Router1 Router1 Router1 Router1 Router1 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2 Router2

Dengan tabel ini, kita akan lebih mudah untuk memahami hubungan antar network. Agar lebih mudah untuk dijadikan acuan konfigurasi, tabel ini perlu diringkas. Berikut ini langkahlangkahnya: 1. Hapus kolom network asal. 2. Hapus baris network yang memiliki lompatan langsung. 3. Pada router yang sama, network tujuan yang sama dan lompatan via yang sama disatukan saja sehingga tidak terdapat duplikat. 4. Kolom router pindahkan ke paling kiri.

Hasilnya seperti berikut ini:

Router Network tujuan Router0 192.168.3.0

Lompatan via 192.168.2.2

Router0 192.168.4.0 Router0 192.168.5.0 Router0 192.168.6.0 Router1 Router1 Router1 Router1 Router2 Router2 Router2 Router2 192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.5.0 192.168.6.0 192.168.0.0 192.168.1.0 192.168.2.0 192.168.3.0

via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.2 via 192.168.2.1 via 192.168.2.1 via 192.168.4.2 via 192.168.4.2 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1 via 192.168.4.1

Selanjutnya tabel ini dapat kita gunakan untuk acuan konfigurasi static routing.

Gambar 5.2: Static Routing pada Router0

Gambar 5.3: Static Routing pada Router1

Gambar 5.4: Static Routing pada Router2

Membuat simulasi jaringan dengan static routing.

Langkah kerja: 1. Susun sebuah jaringan seperti pada gambar 5.1. 2. Tentukan network sesuai dengan informasi yang ada pada gambar 5.1. 3. Seperti biasa, setting IP untuk masing-masing PC (xxx.xxx.xxx.2) dan interface pada router (xxx.xxx.xxx.1 sebagai default gateway). 4. Konfigurasi static routing pada router (ikuti tabel yang telah diringkas): Router0 (gambar 5.2) 192.168.3.0/24 via 192.168.2.2 192.168.4.0/24 via 192.168.2.2 192.168.5.0/24 via 192.168.2.2 192.168.6.0/24 via 192.168.2.2 Router1 (gambar 5.3) 192.168.0.0/24 via 192.168.2.1 192.168.1.0/24 via 192.168.2.1 192.168.5.0/24 via 192.168.4.2 192.168.6.0/24 via 192.168.4.2 Router2 (gambar 5.4) 192.168.0.0/24 via 192.168.4.1 192.168.1.0/24 via 192.168.4.1 192.168.2.0/24 via 192.168.4.1 192.168.3.0/24 via 192.168.4.1 5. Lakukan ping antar PC. Jika pesan yang muncul adalah ‘Destination host unreachable’, berarti masih ada konfigurasi yang salah. Coba periksa kembali static routing pada router dan pengalamatan pada node. Jika sudah ada reply diikuti informasi byte yang terkirim dan TTL, maka network telah terhubung dengan baik. 6. Sekarang kita akan menguji apa yang akan terjadi jika salah satu network tujuan tidak ditentukan routing-nya. Buka menu konfigurasi (config) Router0 kemudian pilih static. Hapus salahsatu network misalnya ‘192.168.3.0/24’. Kemudian ping dari PC0 (192.168.0.2) ke PC2 (192.168.3.2). Terlihat bahwa hanya ada reply dari Router0. Sekarang coba ping PC3 (192.168.5.2). Terlihat ada reply dari PC3.

Gambar 5.5: Ping

Kesimpulan Pada static routing, hanya network tujuan yang telah ditentukan routing-nya atau yang terhubung secara langsung yang bisa berkomunikasi. Sementara network tujuan yang tidak ditentukan routing-nya tidak mampu berkomunikasi kecuali network tersebut terhubung secara langsung. Oleh karena itu, setiap network yang tidak terhubung secara langsung, perlu ditentukan routingnya agar bisa berkomunikasi.

Internetworking (Part 3)

Tujuan   Mempelajari routing dengan OSPF. Mempraktekkan simulasi routing dengan OSPF.

Landasan Teori OSPF (Open Shortest Path First) merupakan protokol routing yang memerintahkan untuk mengirimkan link-state advertisement (LSA) ke semua router yang berada di dalam area hierarki yang sama. Router-router OSPF mengakumulasikan informasi link-state sehingga router-router ini menggunakan algoritma SPF untuk menghitung jalur terpendek ke setiap node.

Tools Packet Tracer 5.0

Routing dengan OSPF Kita akan mempraktekkan simulasi routing dengan OSPF.

Gambar 6.1: Skema Jaringan

Langkah Kerja: 1. Siapkan Router 2811 dan PC-PT kemudian susun dan hubungkan seperti skema pada gambar 6.1. 2. Network yang akan kita gunakan adalah ‘192.168.0.0/24’ sampai ‘192.168.23.0/24’ 3. Konfigurasi IP Address masing-masing PC dan interface masing-masing router sesuai dengan informasi yang ada pada skema jaringan pada gambar 6.1. 4. Lakukan konfigurasi OSPF pada semua router melalui CLI. Caranya pilih router yang ingin dikonfigurasi kemudian pilih tab CLI. Jika ada pesan ‘Press RETURN to get started!’, tekan ENTER. Kemudian ketikkan perintah berikut:
enable conf t router ospf 100 network 192.168.0.0 0.255.255.255 area 0

Gambar 6.2: Konfigurasi OSPF melalui CLI

5. Lakukan hal yang sama pada router lainnya. 6. Tunggu beberapa saat. Kemudian jalankan perintah ping antar PC dan pastikan semua terhubung dengan baik.

Berikutnya kita akan menguji apakah paket data yang dikirim benar-benar melalui rute terpendek. Dalam kasus ini cost tiap-tiap hubungan antar router dianggap sama pada jaringan yang baru saja kita simulasikan sehingga kita hanya akan melihat dari banyaknya router yang dilalui dan waktu rata-rata agar lebih mudah mengamatinya.

1. Ping dari PC ‘192.168.3.2’ ke PC ‘192.168.6.2’. Catat waktu rata-rata dan angka TTL-nya.

Gambar 6.3: Ping

2. Hapus kabel pada jaringan ‘192.168.5.0/24’ kemudian ping dari PC ‘192.168.3.2’ ke PC ‘192.168.6.2’. Catat waktu rata-rata dan angka TTL-nya.

Gambar 6.4: Ping

3. Hapus juga kabel pada jaringan ‘192.168.12.0/24’ kemudian ping dari PC ‘192.168.3.2’ ke PC ‘192.168.6.2’. Catat waktu rata-rata dan angka TTL-nya.

Gambar 6.5: Ping

Dari hasil percobaan diperoleh data:

Langkah ke: 1 2 3

Angka TTL (Time to Live) 125 123 121

Waktu rata-rata 175ms 220ms 303ms

Catatan: TTL adalah banyaknya lompatan (hop) yang masih bisa dilakukan sebelum suatu paket data dihapus. Makin besar angka TTL berarti makin sedikit router yang telah dilalui paket data. Makin kecil angka TTL berarti makin banyak router yang telah dilalui.

Sekarang coba hanya kabel pada jaringan ‘192.168.12.0/24’ saja yang dihapus. Ping dari PC ‘192.168.3.2’ ke PC ‘192.168.6.2’. Angka TTL yang diperoleh adalah ‘125’. Ini menunjukkan bahwa paket data dikirim via network terdekat yakni ‘192.168.5.0/24’ ketimbang network ‘192.168.5.0/24’ yang lebih jauh.

Gambar 6.6: Ping

Kesimpulan Protokol routing OSPF mengatur agar paket data yang dikirim melewati jalur dengan cost terkecil sehingga pengiriman paket data lebih optimal.

Pengkabelan

Tujuan Mempraktekkan crimping kabel UTP.

Landasan Teori Pemasangan kabel UTP mengikuti aturan standar internasional.   EIA/TIA 568A EIA/TIA 568B

Urutan warna pada EIA/TIA 568A adalah: Putih hijau, hijau, putih oranye, biru, putih biru, oranye, putih coklat, coklat.

Urutan warna pada EIA/TIA 568B adalah: Putih oranye, oranye, putih hijau, biru, putih biru, hijau, putih coklat, coklat.

Ada 2 cara pemasangan kabel UTP:   Straight Through (untuk menghubungkan peralatan yang beda jenis) Cross Over (untuk menghubungkan peralatan sejenis)

Pada Straight Through, kedua ujung kabel memiliki urutan kabel yang sama yakni standar EIA/TIA 568A saja atau standar EIA/TIA 568B saja. Standar EIA/TIA 568B banyak digunakan pada Straight Through. Pada Cross Over, kedua ujung kabel memiliki urutan kabel yang berbeda yakni ujung yang satu standar EIA/TIA 568A sedangkan ujung lainnya standar EIA/TIA 568B.

Alat dan Bahan     Tang Krimping. Cable Tester. Kabel UTP sepanjang 3 meter atau lebih. Sepasang konektor RJ45 atau lebih.

Pengkabelan Twisted Pair Sekarang kita akan melakukan crimping kabel UTP baik dengan cara pemasangan Straight Through maupun cara pemasangan Cross Over.

Langkah kerja: 1. Siapkan semua alat dan bahan. 2. Potong kabel UTP secukupnya kira-kira 1,5 meter. 3. Kuliti kedua ujung kabel secukupnya hingga kabel-kabel twisted pair di dalamnya kira-kira cukup untuk dimasukkan ke pin RJ45.

Gambar 7.1: Kabel UTP

4. Urutkan warna kabel sesuai dengan standar yang telah dijelaskan pada landasan teori. Urutan standar EIA/TIA 568A adalah: Putih hijau, hijau, putih oranye, biru, putih biru, oranye, putih coklat, coklat.

Urutan standar EIA/TIA 568B adalah: Putih oranye, oranye, putih hijau, biru, putih biru, hijau, putih coklat, coklat. Ingat! Pada Straight through kedua ujung harus menggunakan urutan yang sama sedangkan pada Cross Over kedua ujung memiliki urutan yang berbeda.

5. Setelah diurutkan, ratakan dan masukkan pada pin RJ45. Perhatikan posisi pin dan urutan warna kabel. Pin 1 ada di paling kiri dan urutan warna juga dimulai dari kiri.

Gambar 7.2: Posisi Pin dan Urutan Kabel

6. Pastikan kabelnya masuk dengan sempurna. Jika sudah, Krimping dengan tang krimping. 7. Uji dengan Cable Tester. Pada Straight Through nyala lampu indikator berurutan berpasangan, sedangkan pada Cross Over nyala lampu indikator akan berbeda karena urutan kabel pada ujung satunya berbeda.

Kesimpulan Jika lampu indikator pada cable tester menyala dengan benar, berarti kabel sudah dapat digunakan. Jika masih ada lampu indikator yang padam berarti masih ada kesalahan pada proses krimping sehingga kabel perlu dikrimping ulang.

Pengantar Wireless

Tujuan Mempraktekkan simulasi jaringan wireless.

Landasan Teori Jaringan wireless mengacu pada tiap jenis jaringan komputer yang nirkabel, dan biasanya berhubungan dengan jaringan telekomunikasi yang interkoneksi antar node-nya diimplementasikan tanpa menggunakan kabel dengan device wireless sebagai penggantinya.

Tools Packet Tracer 5.0

Jaringan Wireless Sekarang kita akan membuat simulasi jaringan wireless. Perhatikan skema jaringan pada gambar berikut ini.

Gambar 8.1: Skema Jaringan

Langkah kerja: 1. Siapkan 2 Server-PT, 2 Switch 2950-24, 2 Router 2811, 2 AccessPoint-PT, 2 WirelessRouter, dan 8 Wireless PC. Susun seperti pada gambar skema. 2. Hubungkan jaringan berkabel seperti pada gambar skema dengan automatic connection. 3. Gunakan Network Address dan IP Address sesuai dengan informasi yang ada pada gambar skema. Untuk wireless PC dekat wireless router, gunakan DHCP sehingga tidak perlu mengatur IP Address karena akan diatur secara otomatis oleh wireless router. Gunakan ketentuan-ketentuan berikut: Default gateway x.x.x.1 DNS Web IP Internet WR1 IP LAN WR1 IP Internet WR2 IP LAN WR2 ‘207.77.0.2’ ‘http://www.dns.net’ ‘207.77.0.3’ ‘http://www.web.net’ ‘207.77.2.2’ ‘192.168.0.1’ ‘207.77.2.3’ ‘192.168.1.1’

Gambar 8.2: Contoh Setting IP Internet dan LAN pada Wireless Router

SSID WR1 WEP WR1 SSID WR2 WEP WR2 SSID AP1 WEP AP1 SSID AP2 WEP AP2

‘WR1’ ‘3456789012’ ‘WR2’ ‘4567890123’ ‘AP1’ ‘1234567890’ ‘AP2’ ‘2345678901’

4. Untuk wireless PC dekat Access Point, konfigurasi IP static seperti biasa. Setelah itu pilih tab config, wireless. Isikan SSID dan WEP Key sesuai dengan Access Point tujuan. 5. Untuk wireless PC dekat Wireless Router, konfigurasi IP yang digunakan adalah DHCP. Pilih tab config, wireless. Isikan SSID dan WEP Key sesuai dengan Wireless Router tujuan. IP Configuration pilih DHCP.

Gambar 8.3: Contoh Konfigurasi IP Wireless PC dengan DHCP

6. Periksa masing-masing PC apakah sudah terhubung dengan internet atau belum. Buka web browser pada tiap PC kemudian panggil ‘http://www.web.net’. Jika tampil, berarti sudah terhubung dengan baik. Jika tidak, coba periksa DNS atau pengalamatan IP. Jika perlu, coba restart Wireless Router, Access Point, atau Wireless PC agar konfigurasi wireless-nya terupdate kemudian coba buka kembali halaman tadi lewat web browser.

Kesimpulan   Jaringan nirkabel juga bisa terhubung ke jaringan berkabel. Terdapat perbedaan antara jaringan nirkabel dengan jaringan berkabel. Perbedaannya terletak pada penggunaan SSID dan WEP juga penggunaan DHCP.

Network Service (XAMPP)

Tujuan   Mampu menggunakan network service. Menggunakan XAMPP.

Landasan Teori Network service merupakan pondasi dari lingkungan komputing yang terdapat dalam jaringan. Secara umum, network service ter-install pada satu atau beberapa server untuk menyediakan sumberdaya yang digunakan bersama kepada komputer-komputer klien.

XAMPP adalah paket web server gratisan yang open source dan cross-platform. Utamanya, dalam XAMPP terdapat Apache HTTP Server, database MySQL, dan interpreter untuk script PHP dan bahasa pemrograman Perl.

Software   XAMPP 1.7.1 Windows Mozilla Firefox

Menggunakan XAMPP XAMPP bisa diunduh di situs apache friends: ’http://www.apachefriends.org/en/xampp.html’

Langkah kerja: 1. Install XAMPP ke harddrive. Instalasinya cukup mudah hanya dengan mengikuti petunjuknya. 2. Setelah di-install, buka control panel lewat shortcut di desktop.

Gambar 9.1: XAMPP Control Panel

3. Untuk menjalankan service yang diinginkan, checklist pada service yang ada kemudian klik start maka akan muncul status ‘running’ setelah nama service-nya. 4. Buka web browser Anda misalnya Mozilla Firefox. Ketikkan alamat ‘http://localhost/’. Jika muncul halaman utama XAMPP, berarti sudah ter-install. Pilih menu ‘phpinfo()’ untuk melihat informasi mengenai modul PHP yang ter-install.

Gambar 9.2: Halaman Utama XAMPP pada Browser

5. Kita akan mencoba mem-publish CMS Joomla pada Apache. Direktori untuk dokumen web ada di folder ‘xampp/htdocs’. Dalam kasus ini, di ‘C:\xampp\htdocs\’. Copy folder Joomla atau ekstrak archive-nya ke lokasi tersebut. Pada web browser Anda, ketikkan alamat ‘http://localhost/Joomla/’. Jika tampil halaman instalasi Joomla, berarti sudah dapat digunakan untuk mem-publish CMS berbasis PHP.

Gambar 9.3: Menyalin CMS Joomla ke Web Root

Gambar 9.4: Halaman Instalasi Joomla

6. Sekarang kita akan melihat database MySQL. Sebelumnya, kita konfigurasi terlebih dahulu password untuk user root MySQL. Buka web browser Anda kemudian panggil ’http://localhost/security/xamppsecurity.php’. Isikan password baru untuk root kemudian klik ‘Password changing’.

Gambar 9.5: Mengatur Password MySQL

7. Setelah mengatur password, kembali ke halaman utama XAMPP. Pilih menu ‘phpMyAdmin’ pada grup ‘Tools’. Akan muncul halaman login. Isikan username dengan ‘root’ dan password dengan password yang telah dikonfigurasikan sebelumnya. Setelah login, akan muncul halaman phpMyAdmin. Di sini kita bisa melakukan management database MySQL.

Gambar 9.6: Halaman phpMyAdmin

8. Sekarang kita akan mencoba FTP FileZilla. Untuk melakukan administrasi, buka control panel XAMPP kemudian klik ‘Admin...’ pada FileZilla. Muncul box diaolog untuk koneksi ke server tujuan. Setelah itu, kita bisa melakukan pengaturan-pengaturan yang diperlukan.

Gambar 9.7: Koneksi ke Server

9. Saatnya mencoba FTP. Buka explorer kemudian ketikkan alamat misalnya ‘ftp://127.0.0.1’. Akan tampil isi dari folder pada node ‘127.0.0.1’.

Gambar 9.8: Memanggil 127.0.0.1 via FTP

Kesimpulan Network service memberikan berbagai layanan dalam jaringan. XAMPP misalnya, menyediakan web server untuk mem-publish web, MySQL sebagai database-nya, dan FileZilla sebagai File Transfer Protocol-nya untuk sharing file.

IPv6 (IP version 6)

Tujuan   Memahami IPv6. Mempelajari implementasi IPv6 pada jaringan.

Landasan Teori Panjang total IPv6 adalah 128-bit. Terdiri dari 8 blok berukuran 16-bit yang dapat dikonversi ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit.

Berikut ini adalah contoh alamat IPv6: 2001:0140:ffff:0001:0000:0000:0000:0002

Alamat tersebut dapat disederhanakan dengan menghilangkan banyak karakter 0 menjadi: 2001:140:ffff:1::2

Berbeda dari IPv4 dimana prefiksnya merujuk ke subnet mask, IPv6 memiliki prefiks yang tidak merujuk kepada subnet mask karena IPv6 memang tidak mendukung subnet mask. Cara penulisannya sama dengan IPv4. Contoh: 2001:140:ffff:1::2/64

Tools Packet Tracer 5.0

Implementasi IPv6 pada Jaringan

Gambar 11.1: Skema Jaringan

Langkah kerja: 1. Seperti biasa, siapkan device-device yang diperlukan yakni 6 PC-PT, 2 Server-PT, 4 Switch 2950-24, 1 Router 2811. 2. Susun jaringan sesuai dengan skema pada gambar 11.1. 3. Ketentuan-ketentuan: Network yang digunakan adalah: 2001:140:ffff:1::0/64 default gateway 2001:140:ffff:1::1 2001:140:ffff:2::0/64 default gateway 2001:140:ffff:2::1 2001:140:ffff:3::0/64 default gateway 2001:140:ffff:3::1 2001:140:ffff:4::0/64 default gateway 2001:140:ffff:4::1 Server: DNS Web

2001:140:ffff:1::2/64 www.dns.net 2001:140:ffff:1::3/64 www.web.net

4. Konfigurasi IP masing-masing PC dengan IPv6. Caranya klik PC, pilih tab config, settings. Pada groupbox Gateway/DNS IPv6, pilih opsi static kemudian konfigurasikan IPv6 Gateway dan IPv6 DNS Server sesuai address yang telah direncanakan sebelumnya. Kembali ke config, pilih FastEthernet. Pada groupbox IPv6 Configuration, pilih opsi static kemudian konfigurasikan IPv6 Address.

Gambar 11.2a: Contoh Konfigurasi IPv6 pada PC

Gambar 11.2b: Contoh Konfigurasi IPv6 pada PC

5. Konfigurasi Server dengan IPv6. Caranya hampir sama dengan konfigurasi IPv6 pada PC. Klik server, config, settings, isikan IPv6 Gateway. Config, FastEthernet, isikan IPv6 Address.

Gambar 11.3a: Contoh Konfigurasi IPv6 pada Server

Gambar 11.4b: Contoh Konfigurasi IPv6 pada Server 6. Konfigurasi interface router dengan IPv6 lewat CLI. Berikut ini adalah contoh perintahperintahnya:
enable conf t interface fastethernet0/0 ipv6 address 2001:140:ffff:1::1/64 no shutdown exit interface fastethernet0/1 ipv6 address 2001:140:ffff:2::1/64 no shutdown exit interface ethernet0/0/0 ipv6 address 2001:140:ffff:3::1/64 no shutdown exit interface ethernet0/1/0 ipv6 address 2001:140:ffff:4::1/64 no shutdown exit

Catatan: Alamat interface harus disesuaikan dengan network yang terhubung.

7. Periksa lewat command prompt melalui perintah ping apakah setiap PC dan server sudah terhubung dengan baik. 8. Buka web browser PC kemudian panggil ‘http://www.web.net/’. Jika muncul berarti sudah terhubung dengan baik. Lakukan pada setiap PC.

Kesimpulan IPv6 memiliki panjang total sebesar 128-bit sehingga bisa menampung lebih banyak host daripada IPv4 yang hanya 32-bit. Selain itu IPv6 juga menggunakan angka heksadesimal 4-digit pada tiap bloknya untuk mempresentasikan nilainya. IPv6 merupakan cara pengalamatan baru yang akan digunakan di masa depan.

Network Utility (Network Scanner)

Tujuan Menggunakan salah satu software network utility yakni SoftPerfect Network Scanner.

Landasan Teori Perangkat lunak utility digunakan untuk mempermudah user dalam melakukan suatu task. Penggunaan utility menjadi suatu pilihan yang penting jika suatu task sulit dikerjakan secara manual. Misalnya, kita ingin memeriksa node mana saja yang sedang terhubung dalam jaringan ‘192.168.1.0/24’. Kita bisa memeriksanya dengan cara mengetikkan perintah ping pada command line diikuti IP Address dari node yang akan dicek. Namun cara ini tidak efisien karena kita harus mengetikkan perintah ping satu per satu.

Bagaimana jika jumlah node dalam jaringan mencapai puluhan atau bahkan ratusan? Cara manual tidak lagi efektif. Untuk itu diperlukan suatu perangkat lunak utility yang mampu mempersingkat task tersebut.

Network Scanner dari SoftPerfect adalah salah satu network utility yang mampu melakukan pemindaian node berdasarkan range IP yang di-input. Selain itu kita juga bisa melihat folder yang di-share oleh host dalam jaringan.

Program ini bisa diunduh di situs SoftPerfect: http://www.softperfect.com/products/networkscanner/

Tools SoftPerfect Network Scanner

Menggunakan Network Scanner

Kita akan memeriksa jaringan ‘125.161.147.0/24’ menggunakan Network Scanner.

Langkah kerja: 1. Jalankan aplikasi kemudian pilih Options lalu Program Options untuk mengatur beberapa opsi.

Gambar 12.1: Memanggil dialog Options pada Network Scanner

2. Pilih tab Additional kemudian atur opsi seperti gambar berikut ini setelah itu klik OK. Pada opsi port, kita bisa menentukan port mana yang akan dicek. dalam hal ini kita isikan port 80.

Gambar 12.2: Dialog Options

3. Ketikkan range IP pada field IP Range misalnya '125.161.147.1' sampai '125.161.147.254'. Kemudian klik start scanning. Program akan memindai IP Address dari '125.161.147.1' sampai '125.161.147.254' kemudian menampilkan daftar node yang sedang on-line.

Gambar 12.3: Memulai Pemindaian

4. Tunggu beberapa saat. Setelah selesai scanning, akan muncul daftar IP dari node yang sedang terhubung.

Gambar 12.4: Hasil Pemindaian

5. Cari salah satu host yang terdapat shared folder kemudian pilih foldernya.

Gambar 12.5: Shared Folder 6. Akan terlihat isi folder tersebut pada explorer. Kita bisa menyalin file-file dari dan ke folder itu layaknya menyalin file pada explorer.

Gambar 12.6: Shared Folder pada Explorer

7. Selain mengakses shared folder, kita juga bisa membuka salah satu komputer dari daftar yang ada via web http (port 80), ftp (port 21), atau telnet (port 23). Namun itu tergantung status port-nya terbuka atau tidak.

Gambar 12.7: Open Computer

Kesimpulan Network utility memberikan kemudahan kepada pengguna dalam menyelesaikan suatu task. Network Scanner misalnya, mampu melakukan pemindaian IP Address dengan range tertentu sehingga tidak perlu lagi mengetikkan perintah ping berkali-kali pada command prompt. Dengan nework utility, suatu task dalam jaringan dapat dilakukan secara efisien.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->