P. 1
KsatriaNegeriSalju-SUJOKO-TMT (1)

KsatriaNegeriSalju-SUJOKO-TMT (1)

|Views: 4|Likes:
Published by endrokosihsintatika

More info:

Published by: endrokosihsintatika on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2014

pdf

text

original

Ksatria Negeri Salju

Oleh : Sujoko Seorang bocah lelaki berusia sepuluh tahun membongkar lemari tua milik kakeknya. Dari dandanan yang dipakainya tampak ia adalah seorang anak sekolahan. “Di sini tidak ada buku itu kek!” “Cari aja disitu! Pasti ketemu,” ujar kakeknya yang sudah berusia enam puluhan tapi masih terlihat gagah, dan dari tampilannya semua orangpun tahu ia seorang sastrawan. Dan di Kanglam ini siapa yang tidak mengenal Ouwyang Sim, guru besar para sastrawan. “Eh ini gambar siapakah kong-kong?” Kakek itu melirik kain yang dipegang si bocah. Sebuah gambar wajah lelaki tampan berbaju putih kembali hadir di depannya. Lelaki yang paling dihormatinya, setelah ayahnya sendiri Ouwyang Bun. “A Siu ini adalah lukisan sahabat sekaligus guru kong-kong, namanya......ksatria salju.” “Eh ini ada puisinya!” Kemudian bocah itu, yang bernama Ouwyang Siu membaca puisi dengan penuh penghayatan. Lelaki berbaju putih berjalan di atas rumput Berapa ilalang lagi harus kau susuri hei ksatria Berapa badai lagi mesti kau lalui Dan kau terus berjalan, menyusuri padang bunga, lembah delapan rembulan, puncak-puncak salju abadi Apakah yang kau cari? Ksatria Pengelana Siapa pesilat yang tak mengenalmu? Berbekal pedang sedingin salju Puluhan pesilat menghadangmu Tak satupun pernah menyentuh tubuhmu Pengembara hanya bernyanyi Syair merdu tentang burung-burung yang terbang di langit biru Anak-anakpun mengiringimu dengan lagu ceria itu Tapi siapa tak tahu mendung terus menggantung di hatimu Ksatria salju berjalan di atas awan Ketika senja yang paling ungu mekar di puncak Gongga Bukankah engkau tahu wahai sang guru Jarak terjauh yang pernah ada di semesta ini

Adalah masa lalu? Seribu tahunpun tak kan pernah kau bertemu Air mata sang kakekpun meleleh tanpa usaha untuk mencegahnya. Puisi itu mengingatkannya pada kisah sepenggal perjalanan hidup ksatria salju muda, Tiong Gi. Bersama dengan Chien Ce, Souw Mei dan Liu Siang, mereka sama-sama berjuang mengungkapkan jati dirinya. Mereka memiliki sejarah masa kecil yang berbeda, namun kemudian dibesarkan pada dunia yang serupa, dunia yang mendidiknya menjadi ksatria sejati. Seringkali mereka dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka berbuat di luar kemampuan sewajarnya. Maka ketika bocah itu memintanya agar ia bercerita, kakek itupun dengan penuh semangat menuturkan kisah ini.

Bab 1. Yu Liang Pay
Pegunungan Fan Cing san merupakan pegunungan yang sangat terkenal di Cina Tengah. Salah satu daya tarik pegunungan ini adalah puncak awan merah atau Hung Huang Teng yang merupakan salah satu dari tiga puncak pegunungan yang berada di sebelah utara kota Kwei Yang yang termasuk propinsi Kwei chow (Guizhou). Jika ada awan yang berarak ke puncak ini pawa waktu fajar atau sore, tampaklah semburat kemerahmerahan pada awan itu. Pada jaman kisah ini dituturkan yaitu masa dinasti Sung utara, puncak ini juga dikenal dengan nama puncak Tiong Kiam atau pedang tengah, karena memiliki pemandangan yang unik di puncak yaitu adanya bukit pagoda, yang menjulang di antara bebukitan. Pada waktu awan berarak dan menyelimuti bebukitan, maka puncak ini dilihat dari kejauhan seperti pedang raksasa yang tinggi menembus langit. Memandang jauh kebawah dari puncak ini terlihat bentang alam yang sungguh mempesona. Bagian dasar pegunungan yang hijau rapat oleh belantara hutan subtropis, bagian atasnya ditumbuhi hutan campuran luruh daun, bagian tengah yang ditumbuhi pohon pinus dan bagian puncak tumbuh pohonan yang mulai jarang diselingi semak dan rerumputan disela-selanya yang pada musim panas menghijau bak beludru. Pucak Tiong Kiam berketinggian 340 m dan diameter 50 m dari pangkal punggung suatu bukit. Puncak ini dikelilingi bebukitan. Bukit-bukit di sebelah barat dan di sebelah timur dibelah oleh sungai Wu (anak sungai Yang Ce Kiang) yang mengalir dari pegunungan Shao Tong san di wilayah Kwei chow selatan menuju ke kota Chuan Sing, dan bertemu dengan sungai Yang Ce Kiang di timur kota ini, terlihat dari puncak seperti lekuk tubuh naga. Sungai ini pula yang memisahkan propinsi Hunan disebelah timur dengan Propinsi Kwei chow di sebelah barat. Dari puncak ini di sebelah timur meski berjarak ribuan li masih terlihat kota Shao Yang, di sebelah selatan terdapat kota Kwei Yang, yang merupakan kota terbesar di wilayah Kwei chow.

Berlawanan dengan tamasya alam disekelilingnya yang demikian penuh pesona. Pemandangan di bukit pedang itu sendiri sungguh mengerikan. Pada akhir jaman Tang, orang-orang Tionggoan sangat gemar membentuk sekte-sekte magis. Sekte-sekte seperti ini belum mengenal mengubur mayat atau membakarnya secara layak. Mereka memang mengubur badan namun setelah sepuluh tahun lebih, kuburan tersebut dibongkar, dan tengkoraknya dibuatkan lubang-lubang pada dinding bukit pedang, dan menjadikan puncak pedang sebagai berhala sesembahan. Karena letaknya yang ditengah-tengah dan dianggap strategis, selama ratusan tahun pengunungan ini dijadikan rebutan untuk menjadi markas perkumpulan kaum bulim dan kangouw. Sudah berpuluh perkumpulan atau partai muncul dan runtuh di pegunungan ini. Karena selalu jadi rebutan, tak terhitung pula berapa ribu manusia telah binasa menjadi korban nafsu angkara ingin mendapatkan posisi di tengah ini, meski pada kenyataannya dibandingkan keuntungan lebih banyak kerugian yang ditangguk oleh mereka yang tinggal di pegunungan ini. Satu dapat, yang lain beramai-ramai mengeroyoknya bagaikan seekor harimau dikeroyok puluhan serigala. Dengan melihat deretan relung tengkorak di bukit pedang yang sangat tinggi bagai jendela-jendala pagoda, orang akan tahu betapa di tempat yang mestinya damai itu telah banyak nyawa manusia melayang. Maka lambat laun karena sudah terlalu bosan dan lelah, puncak ini akhirnya ditinggalkan oleh rombongan penghuni terakhir dari sekte Shin. Setelah puluhan tahun kosong, di akhir dinasti Tang puncak ini kembali di datangi oleh berbagai golongan karena terjadi pergolakan di manamana. Kelompok yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian akhirnya kembali berbondong-bondong ke Fan Cing san. Salah satu rombongan yang kembali datang adalah orang-orang dari sekte Shin yang dipimpin oleh Huang Shin. Dulu Huang Shin muda dan kawan-kawannya termasuk yang menolak untuk meninggalkan Fan Cing san, namun tak mampu menolak keputusan tetua. Rombongan lainnya berasal dari berbagai kota. Dua rombongan yang terbesar adalah golongan Duang yang dipimpin oleh Tan Hong Bu dari Siang Tan dan golongan Im Yang Pay yang dipimpin Kang Kiu Yang dari Kwei Yang. Untuk menghindari perebutan demi perebutan Huang Shin, memutuskan untuk menyatukan berbagai golongan yang berebut itu. Huang Shin membagi wilayahwilayah yang bisa ditempati dengan cukup adil, dan menawarkan kepada tiga kelompok terbesar untuk menyatu membentuk satu perkumpulan besar. Huang Shin membangun pusat perkumpulan di puncak bukit di sebelah selatan Tiong Kiam. Singkat cerita terbentuklah satu perkumpulan besar gabungan beberapa golongan yang dipimpin tiga golongan, yang bernama Yu-liang-pay. Untuk menghindari bentrokan maka Huang Shin membuat peraturan bahwa ketua partai harus dijabat secara bergiliran dari ketiga golongan. Dengan urutan sekte Ming, Duan dan Im Yang. Adapun para anggota dibebaskan untuk mempelajari ilmu dari ketiga perkumpulan itu. Untuk menyatukan berbagai kelompok, maka selama beberapa tahun Huang

Shin bersama kedua tetua yang lain menciptakan suatu ilmu pedang baru yang dinamakan Yu Liang Kiamhoat. Pada masa inilah tradisi menyimpan tengkorak di dinding bukit dihapuskan. Itulah sekilas sejarah Yu-liang-pay, tempat kisah ini dimulai. Pagi itu, tanggal ke enam bulan ke lima, tahun 978 merupakan suatu pagi yang cerah di musim semi. Burung-burung yang beterbangan, kupukupu yang menari disela-sela semak dan bunga-bunga yang bermekaran, kesegaran udara musim semi yang melapangkan dada dan urat-urat kepala. Beberapa pepohonan yang semula tinggal batang dan ranting seperti bayi yang bugil, kembali dihiasi daun-daun baru. Sedangkan pohon yang lain menyambut datangnya musim semi dengan menumbuhkan kuncuk-kuncup bunga yang sebagian telah bermekaran. Bagi mereka yang pernah mengujungi keindahan musim semi di puncak ini tak heranlah mengapa tempat ini menjadi rebutan. Fan Cing san adalah gunung yang menyimpan keragaman bunga yang paling tinggi seluruh daratan Cina waktu itu, lebih dari empat per lima bunga yang ada di Tionggoan dapat dijumpai di sini, mulai bunga siang, bunga lee, bunga kiok, bunga anggrek, bunga jit dan yang lainnya. Namun kedamaian pagi itu terusik dengan suara kaki-kaki manusia yang menapaki puncak secara berombongan. Berbondong-bondong rombongan orang berpakaian singsat menaiki dari berbagai jurusan. Sebagian naik dengan berjalan lambat sambil menikmati wisata alam gunung Fan Cing san yang sangat indah. Kelompok yang datang belakangan menaiki punggung bukit dengan gerakan yang sangat gesit. Beberapa orang dari setiap kelompok terlihat membawa pedang atau golok. Dari gerakan dan dandanan, tampak mereka adalah orang-orang kangouw yang berkepandaian. Ada apakah yang terjadi di puncak sana? Di awal musim semi ini, Yu-liang-pay mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 100. Ulang tahun yang spesial sehingga dirayakan cukup meriah oleh Yu-liang-pay. Tamu dari berbagai golongan semua diundang dalam pesta itu. Dari rombongan putih terlihat tamu dari Siauw-lim Pay, Kunlun-pay, dan Kong Thong Pay, ketiga perguruan ini merupkan perguruan tua yang sudah berdiri pada masa itu. Dari rombongan lain dari berbagai golongan, sedangkan dari golongan hitam juga ikut menghadiri pesta yang berasal dari kelompok Pek Tung Pang, Ang Lian Pang, Hek In Pang, dan Tok Nan-hai Pang. Saat itu di halaman depan Yu-liang-pay yang luas telah dipasang tenda, dan ditata kursi secara setelah lingkaran. Tanpa dipersilakan para tamu langsung mengambil posisi duduk masingmasing, seolah-oleh sudah tahu dimana tempat mereka seharusnya. Kelompok hitam dan putih tanpa dikomandopun mengambil posisi yang memisah, kelompok pendekar berada di sebelah kanan sedang kelompok penjahat berada di sebelah kiri. Riuh rendah obrolan yang diucapkan oleh semua orang seperti pasar. Harap maklum mereka jarang sekali dapat kesempatan bertemu dengan anggota partai atau perguruan lain, apalagi dalam jumlah yang boleh dikatakan lengkap seperti saat itu. Obrolan paling hangat tentu saja kabar burung mengenai ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat yang berhasil disempurnakan oleh Yu Liang Pangcu. Seperti apakah gerangan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat itulah yang membuat penasaran kaum kangouw, sehingga

mereka rela berlelah-lelah menempuh perjalanan ribuan li. Di tengahtengah ruangan yang bertenda berdiri sebuah panggung, tempat berbagai pertunjukan. Pada waktu itu Yu-liang-pay dipimpin oleh Kwan Liong Ping, generasi ke empat dari golongan Duang. Jika melihat betapa besarnya Yu-liang-pay yang memiliki banyak anggota, area gedung-gedung yang luas dan usia yang cukup tua untuk ukuran partai saat itu, maka para tetamu memandang heran dengan penampilan Yu Liang Pangcu Kwan Liong Ping ini. Usia Liong Ping saat itu tidak lebih dari lima puluh lima tahun, suatu umur yang termasuk sangat muda untuk ukuran pemimpin partai besar saat itu. Sebagai perbandingan ketua Siauw-lim Pay sudah berusia seratus sepuluh tahun, sedangkan ketua Kong Thong Pay berusia sembilan puluh lima tahun. Setelah tamu berdatangan Liong Ping memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah disediakan. Ia memakai jubah sutera biru tua yang bersulam, tampak gagah berwibawa. Sinar matahari pagi yang mulai terang membuat wajah ketua ini tampak dengan jelas oleh seluruh hadirin. Meskipun sudah berusia di atas lima puluh tahun, namun wajah itu masih tampak tampan dan padat. Janggut dan kumis pria yang agak kurus dan jangkung tetapi masih kelihatan gagah bersemangat ini dicukur rapi. Rambutnya disisir rapi dan kelimis, disanggul ke belakang, dan ditali kain yang menjuntai. Di sebelah kirinya duduk Sam Pangcu Siong Hok Cu seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bermuka mulus, berjenggot tipis dan bertubuh tinggi gagah. Kepalanya ditutup kopyah pada bagian belakang terlihat mencuat ke samping khas gaya Tang. Sedangkan di sebelah kanan duduk Ji Pangcu Lauw Kian Bu, pria berusia lima puluh tiga tahun, berwajah dusun berbaju hijau tua sederhana dari kain katun. Di belakang ketiga orang ketua ini duduk para tetua yang berusia lebih dari enampuluh tahun dengan sikap keren, semuanya berbaju hitam dan berpenutup kepala kain warna merah. Mereka tokoh kawakan dari generasi tua. Setelah hampir semua perwakilan yang diundang datang, Ji Pangcu menaiki panggung dan berkata dengan lantang: “Cuwi sekalian, mewakili tuan rumah kami mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam atas kehadiran cuwi memenuhi undangan kami. Perkenalkanlah saat ini kami bertiga adalah pimpinan di Yu-liang-pay, toa pangcu kami adalah Kwan Liong Ping, aku sendiri ji pangcu dan yang duduk di samping kiri toa pangcu adalah sam pangcu Siong Hok Cu. Berbahagia sekali pada kesempatan yang baik ini kami dapat merayakan ulang tahun Yu-liang-pay yang ke seratus. Pertama-tama perkenankanlah kami untuk menghormati leluhur kami terutama adalah sucouw kami Huang Shin.” Dengan dipimpin oleh Kwan Liong Ping yang membawa tiga biting dupa, para murid Yu-liang-pay kemudian berlutut menghormat meja sembah yang di atasnya masih disimpan abu Huang Shin dan kedua pendiri lainnya. Pada bagian yang biasa ditempati cermin pada meja itu

! Crat…. Diantara decak kagum penonton. tapi lama-kelamaan gerakannya makin hebat.. amat sukar diduga perubahannya sehingga pandang mata penonton yang tingkat ilmunya rendah berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Setelah selesai bersembahyang ji pangcu berseru: “Silahkan dicicipi hidangan arak dan makanan yang telah kami siapkan.. namun tamu yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan maklum belaka bahwa ketua Yuliang-pay sedang membanggakan ilmu pedangnya. Sinar pedang gelap itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuh mangsanya.!” Pedang itu tepat menembus tengah-tengah papan kayu tebal yang sengaja disiapkan. dan hiburan tari-tarian yang sebentar lagi akan kami panggungkan. Pada jurus ke enampuluh setelah bersalto dua kali secepat kilat wanita itu berteriak sambli melontarkan pedangnya ke belakang. Setelah memberi hormat ke semua sisi dengan bersoja. mulailah ia memainkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat. Ujung pedangpun seolah berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga. Ia berumuran tigapuluh tahunan. seperti tarian bidadari. Harap maklum jurus-jurusnya masih belum sempurna!” Ucapan ini sepertinya berendah hati. Mereka semua makan minum dengan gembira sambil menikmati hiburan tari-tarian baik tarian yang berasal dari timur maupun dari barat.. Gerakan itu seakan-akan memancarkan hawa magis yang dasyat sehingga penonton yang jaraknya jauh terlihat menggoyang kepala dan badannya karena seakan-akan serangan pedang itu mengarah ke dirinya. Dengan cekatan pelayan mengedarkan arak dan makanan.. Ujung pedang amblas hampir separohnya.” Setelah semua tamu menghaturkan selamat dan memuji keberhasilan Yu-liang-pay membentuk partai yang besar dan kuat.. Baru murid tingkat . Selanjutnya seorang murid wanita maju ke atas panggung. Sampai kemudian terdengan celetukan dari salah seorang tamu. wajahnya terlihat cukup cantik dan montok.. Toa pangcu memberi kode pada seorang murid. “Hiaaat. “Wahh. namun baju hitam dan pedang yang berwarna gelap pekat yang dikenakannya membuat kesan yang menggiriskan. mereka kembali duduk ke tempat masing-masing sambil terus saling bercerita tentang pengalaman mereka di dunia persilatan.kapan pertunjukkan Kiamhoatnya?” Celetukan itu segera ditingkahi berbagai cecowetan tamu lainnya. Toa pangcu berdiri dari tempat duduknya dan berseru: “Maafkan kalau pertunjukan ilmu pedang murid tingkat dua kami tidak memuaskan. Gerakannya mula-mula lembut dan indah.ditempel gambar Huang Shin dalam ukuran cukup besar..

apalagi kehadirannya di panggung tanpa permisi lebih dahulu. Terkurung serangan sedasyat itu seolah-oleh tubuhnya lemas lunglai. Sambil cengar-cengir ia coba merayu.. Namun ia tidak punya banyak kesempatan untuk melamun. wajahnya kecoklatan. Baru saja wanita itu mencabut pedangnya dan bersoja ke empat penjuru. tubuhnya kekar. lelaki itu roboh dan goloknya jatuh tepat di telinga.” Ucapan pria setengah baya itu sungguh enak didengar tapi sangat tidak sopan diucapkan kepada wanita.. karena serangan demi serangan segera mengurungnya. hanya dalam waktu dua puluh jurus seorang murid perkumpulan awan hitam yang sangat terkenal di utara dapat dikalahkan..! Crapp. Ia adalah murid termuda dari Hek In Pangcu (ketua perkumpulan awan hitam) dari bukit awan hitam.. Laki-laki itu berumur sekitar empat puluh tahunan.. Laki-laki itu terkesiap demi merasakan tangannya tergetar hebat.. Golok di tangan lelaki itu segera disilangkan untuk menangkis serangan pertama “Cring. Namun wanita yang jadi lawannya tidak membiarkan orang berlama-lama heran. Peluh di dahi lelaki itu sudah meleleh membasahi mukanya.” Tak ayal. dalam waktu bersamaan kaki kirinya mengait kaki kanan lawan.. apalagi murid tingkat satu atau pimpinannya sendiri. “Brugg.! Ayyaaaaaa. Dengan dingin ia kemudia membalas ucapan lelaki setengah baya dihadapannya: “Ambil senjatamu di rak sana! Pedangku tak bermata maka siaplah rasakan setiap goresannya!” Para tamu sekejab jadi melongo melihat sebuah golok panjang tiba-tiba sudah ada di tangan laki-laki ini. Tiba-tiba pada jurus ke duapuluh dengan gerakan naga sakti mengibaskan ekor. Berkali-kali ia hanya mampu menangkis sambil mundur.dua saja sudah sedasyat itu ilmu pedangnya. ilmu pedangmu sangat indah. Rupanya ia masih menyimpan senjata meskipun sudah melewati pemeriksaan... Wanita itu menoleh ke Liong Ping dan dibalas dengan anggukan meski sambil berdehem dua kali...... pedang di tangan wanita itu seakan-akan mencongkel pangkal golok yang digenggam lelaki. Selesai mengucapkan jawaban itu tubuhnya langsung meloncat melancarkan serangan pertama. Penonton yang lain hanya dapat menahan napas. sekonyong-konyang seorang laki-laki meloncat ke panggung menghadapinya... dengan sigap melompat ke . Jie Kung sute ketiga dari Hek In Pangcu yang memimpin rombongan dari awan hitam. Tak disangka bahwa wanita itu memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya...!” bunga api berpijar disertai suara yang menggores di telinga... “Nona. sehingga daun telinga lelaki itu terbelah... tanpa dapat dicegah. bolehlah aku coba merasai belaiannya.. kumis dan janggutnya tak terawat.

lelaki ini diam-diam telah melumuri kedua tangannya dengan racun yang selalu dibawanya. mengapa mesti bocah ingusan ini yang kau sodorkan padaku?” Diacuhkan seperti ini membuat Siong Chen mendongkol juga. ia justru berkata lantang kepada Toa-pangcu. Sesuai dengan julukan perkumpulan awan hitam. apakah kau merasa terlalu rendah untuk berbicara pada kami. wajahnya tampan dan berdandan perlente. “Liong Ping pangcu.panggung. bahkan baru tersentuh saja. aku bersumpah tak kan pernah menginjakkan kakiku di Fan Cing san. Pemuda itu adalah putera sam-pangcu Siong Hok Cu. kau mau adu mulut apa adu silat? Silahkan pilih tangan kosong apa pakai senjata!” “Bocah sombong. akan tetapi biarpun hanya memukul dengan tangan kosong. racun ini dapat meresap melalui lubanglubang kulit dan membuat daging menjadi membusuk dalam waktu singkat! Hebat sekali serangan yang dilancarkan Jie Kung. tangannya menyambar-nyambar seperti sambaran geledek di antara kepulan awan . kalau aku tidak bisa merobek mulutmu. digantikan oleh seorang pemuda. Siong Chen berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Dengan wajah keruh ia memelototkan matanya seperti hendak meloncat keluar. Bersiaplah!” Jie Kung segera menyerang dengan tangan kosong. yang bernama Siong Chen. “Hari ini penghinaan Yu-liang-pay hanya bisa ditebus dengan nyawa!” Tanpa dikomando wanita yang tadi mengalahkan murid awan hitam mundur. “Perkenalkan namaku Siong Chen. Kini kedua tangannya itu mengeluarkan asap hitam dan racun yang dipakai di kedua tangannya amat jahat karena jangankan sampai lawan yang terpukul robek kulitnya sehingga racun itu dapat meracuni darah. “Loheng. segera ia jawab. anggota hek in pang dengan sigap menyambut lontaran. Apakah ada tindakan kami yang tidak adil? Kami masih belum memberi kesempatan pada tamu untuk maju memberi wawasan pada kami. Mohon loheng menjelaskan apa maksud loheng dengan penghinaan?” Jie Kung tidak melayani jawaban Siong Chen. putera dari sampangcu Siong Hok Cu. anggota tingkat satu perkumpulan ini semua memiliki keahlian menggunakan racun. Jie Kung berusia paling banyak sepuluh tahun di atas murid Hek In Pangcu yang dilontarkan. Tangannya langsung mencekal baju di bagian punggung dan melontarkan tubuh anak buahnya itu ke belakang.

"Anak muda. Sebaliknya posisi Jie Kung makin lemah. Meski tidak berat. dengan gerakan ginkang yang sudah mencapai tingkatan tinggi ia lebih banyak menghindar sambil mencari kelemahan lawan.. Jurus demi jurus sudah berlalu. Yuliang-pay terkenal baru saja menyempurnakan ilmu pedang. Pedangnya makin ganas saja menyambar-nyambar. Satu-satunya niatan dalam hatinya hanya mengalahkan dengan senjata. Siong Chen menghadapi dengan hati-hati namun jurus-jurus pedangnya makin lama makin kuat dengan hawa magis yang jauh lebih hebat dari wanita yang tampil sebelumnya. Serangan yang dilakukan dengan tubuh melayang dengan luncuran kilat ini takkan dapat ditangkis atau dielakkan lagi oleh lawan.. terus mendesaknya.. Adapun dua orang muda itu yang melihat keadaan lawan makin lemah. Ia sudah tidak mungkin lagi menyerang dengan tangan kosong. kepalanya terasa pening.!” dari belakang anak buah awan hitam melontarkan golok yang telah diambil dari rak. Kalau lawan . biar aku mengadu nyawa denganmu!" Tiba-tiba Jie Kung yang sudah pening dan sudah gelap pandang matanya itu mengeluarkan suara melengking keras dan tubuhnya melayang naik terus meluncur seperti burung garuda menyambar ke arah Siong Chen dengan golok di depan.hitam.. napasnya makin memburu dan pandang matanya mulai berkunang.. Siong Chen berlaku cerdik. Dadanya terasa nyeri. “Wuss. namun berusaha menyerang bagian tubuh lain. apalagi yang dihadapi adalah murid langsung toa-pangcu. Jie Kung menangkap gagangnya. maka dia makin memperkuat serangannya. melihat lawannya selalu menghindar Jie Kung mengira lawannya takut. Jie Kung terdorong tiga langkah ke belakang. Tak dinyana.. Jie Kung menyambut serangan dengan tangkisan berbentuk cakar harimau..!” Hebat sekali hasil pertemuan kaki dan tangan... Inilah jurusnya yang terakhir. Baru murid tingkat dua saja sudah mampu merobohkan murid tingkat satu Hek-inpang. dan turun dengan ringan. Baru angin yang ditebarkan saja sudah membuat rambut Jie Kung berkibar-kibar.. Ia tidak mau menangkis serangan lawan. Tapi justru inilah kesalahan terbesarnya. Jie Kung mulai melancarkan serangan-serangannya. Jurus tendangan bayangan budha yang dilancarkan dari udara benar-benar dasyat. Mula-mula serangan yang dilancarkan cukup hati-hati namun lama-lama makin ganas. Siong Chen bersalto dua kali. karena tangkisan lawan tentu akan dibarengi dengan pukulan tangan kiri. atau mati bersama. Siong Chen tak berani memandang rendah. Golok ini menusuk ke arah tubuh lawannya. Julukan ini bernama Hui-seng-coan-in (Bintang Terbang Menembus Awan). tapi cukup membuat dadanya serasa sesak. jurus terlihai akan tetapi juga merupakan jurus bunuh diri atau mengajak lawan mati bersama. sedangkan elakan tak mungkin dilakukan karena golok dapat digerakkan mengejar tubuh lawan. “Desss. ia merasakan hawa pukulannya membalik.. pada jurus ke tiga puluh Siong Chen melompat tinggi dan menyerang dengan kakinya.

.. Bhok Kian Tosu memang paling berangasan dibandingkan saudara-saudaranya.” “Marilah kita mulai totiang! Silahkan sebagai tamu totiang menyerang dahulu. Bhok Kian Tosu bangkit dan berseru: “Sungguh penasaran. Entah sudah setinggi apa gunung Fan Cing yang menjulang di puncak keseratusnya. sebagai orang muda saya mohon petunjuk totiang!” “Hmmm.! Bruug! Krontang. jalan satu-satunya bagi lawan hanya membarengi dengan serangan balasan terhadap tubuh melayang yang tidak memperdulikan akan penjagaan diri melainkan sepenuhnya dicurahkan untuk menyerang itu. Siong Chen segera merangkapkan tangan dan berkata: “Maafkan kami. ternyata disuguhi berbagai kesombongan Yu-liang-pay. “Proook. sehingga seorang tokoh dari Kun-lun-pay.. Tak ayal..” Bhok Kian Tosu. pukulan tangan kiri dapat di tangkis dengan pedang. dan segera berlalu dari ruangan. “Totiang. Siong Chen dibuat bingung dengan serangan ini..... tendang perut lawan sekuat tenaga dari bawah. kami para tamu yang diundang jauh-jauh untuk berkenan mengikuti ulang tahun partai.!” Tangan kiri Jie Kung putus sebatas ujung lengan. Usianya sekitar lima puluh tahunan. perkenalkan saya Kwan Tiong San. tapi tak tahu kenapa Yu Liang menurunkan kamu untuk melawan aku. namun telinganya menangkap bisikan dari suhunya.” Bisikan itu sungguh halus. jangan dianggap aku menghinamu. golok Jie Kung dapat disampok. jatuhkan badanmu. Anak buah Hek In Pang segera merubung dan membopong susiok mereka.” . Betapa gusar ia dibuat ketiga dari pihak tuan rumah menurunkan murid yang lebih muda dari pada Siong Chen.berkepandaian tinggi.. Biarlah aku mewakili Kun Lun. Maka begitu kata-kata suhunya diikuti. maju untuk meminta pelajaran. sehingga hanya Siong Chen yang mendengar. tak kukira tokoh Hek In Pang bisa bertindak senekat itu!” Anak buah awan hitam yang berjumlah lima belas hanya mendengus. tubuhnya roboh muntah darah dan langsung pingsan... yang menjadi pimpinan rombongan hanya hanya memandang diam saja ketika sutenya maju. Kejadian dua pertarungan yang dilihat itu membuat gusar sebagian besar penonton.anak muda.. “Tangkis golok dengan cara menyampok. adalah pentolan Kun Lun yang sudah sering malang melintang di dunia persilatan. sedang tendangan kakinya membuat lawan terjengkang. Ki Liang Tosu. Ia datang bersama tujuh tosu yang lainnya.

Dari samping Tiong San menangkis.. Ketika dapat kesempatan menyerang. otomatis tenaga serangannya menurun. Ia terdorong selangkah ke belakang. pertanda selisih sinkang mereka cukup tipis. Sebaliknya posisi Tiong San makin lemah. segera Tiong San melompat tinggi hendak melancarkan serangan tendangan budha tanpa bayangan.. seperti awan menindih bukit..plaak. Meskipun ringan namun Tiong San merasakan dadanya sedikit nyeri. Tiong San tak berani langsung menangkis dari depan.!” Tiong San meloloskan pedang dari sarungnya yang terikat di pinggang. Tiong hanya mampu menangkis dan menghindar. Hanya dengan daya tahan yang sangat itu ia mampu melayani sampai lebih dari seratus jurus. tanda ia telah terluka. “Sraattt.” “Majulah anak muda. Hadirin yang duduk di belakangpun dapat merasakan angin sambarannya.Merah muka Bhok Kian Tosu. Sayangnya.!” dari pertemuan dua lengan.. Mula-mula serangan yang dilancarkan cukup hati-hati namun lama-lama makin kuat.. Kun Lun juga memiliki ilmu pedang yang tak kalah bagusnya dengan Yu Liang Kiamhoat. Tiong San dapat merasakan tenaga sinkang lawan sangat kuat.. Serangan pembukaan Bhok Kian Tosu sangat hebat karena ia menggunakan jurus Lao Seng Yikai In (Nabi Lao menghalau awan). sedangkan Bhok Kian mundur tiga langkah. Namun sudah kepalang basah maka mulailah Bhok Kian Tosu menggerakkan tangan dan kakinya mulai menyerang Tiong San. ia bergerak cepat kekanan.dessss!” Hasilnya luar biasa. “Plak. ujar Bhok Kian sambil menangkap pedang yang dilontarkan kepadanya... Bhok Kian tosu menghadapi dengan hati-hati namun jurus-jurus pedangnya mampu mengimbangi gerakan Tiong San. Tiong San terlempar lima langkah. “Dalam pertarungan tangan kosong.. Tiong San mulai melancarkan serangan-serangannya.. tapi sebelum totiang bisa mengalahkan ilmu pedang kami.. Namun begitu sudah tiga puluh jurus lewat. saya belum menyerah. Makin lama gerakan pedang Bhok Kian tosu makin cepat menderu-deru.. saya mengaku kalah.. dalam peraturan tak tertulis di dunia persilatan menyerang lebih dulu biasa dilakukan oleh pihak yang kedudukannya lebih rendah. Adapun melihat lawan mulai melemah. Bhok Kian Tosu bersiap menerima tendangan dengan menggerakkan tubuhnya seperti kitiran. sedang tangan Bhok Kian Tosu tergetar. Serangan Bhok Kian Tosu terpaksa dibelokkan. Kembali Bhok Kian melancarkan serangan demi serangan yang sangat kuat. Tangannya bergerak semakin cepat. “Plaaak. masih belum ada pukulan telak yang mengenai tubuhnya. Bhok Kian makin memperkuat . karena sudah melihat pertarungan Siong Chen dengan Jie Kung.

plak! Bhok Kian Tosu dua kali menangkis serangan. Bu Sian Taisu. dan mulailah ia menyerang dari atas. maka tak ayal pada serangan ke tiga.” ucapan yang cukup nyaring dari seorang biksu membuat semua hadirin terdiam. Tiba-tiba salah seorang tamu yang berasal dari kelompok kiri berseru lantang: . pihak kami hanya menerima tantangan dari tamu. bahkan sampai terdengan suara mencicit-cicit seperti anak tikus mencari induknya. namun tak dapat disangkal pernyataan Yu-liang-pay tak ada yang keliru.. Tubuh Tiong San terbanting. Pada jurus ke seratus sepuluh. pedangnya berputar seperti kitiran. Pedangnya makin kuat saja menyambar-nyambar sedangkan gerakan pedang Tiong San makin mengecil.. tidak kami sangka Yu-liang-pay sudah sedemikian pesat majunya. Hanya dengan gerakan miringkan kepala. Namun Bhok Kian juga terluka. “Criiing. sekonyong-konyong Tiong San melompat tinggi tubuhnya jungkir balik di udara. ketahuilah bahwa dua orang murid kami Siong Chen dan Tiong San.biarlah hari ini pinto menerima kekalahan ini... tak ada adegan yang lebih menyenangkan selain melihat orang berpibu.. Lagi pula. untuk menghibur biarlah kami tampilkan pertunjukkan tari lagi agar hilanglah segala ketegangan.. “Hmmm. tanpa menyadari bahwa napasnya mulai memburu. Suasana menjadi riuh rendah dan tidak enak bagi ketiga ketua Yu-liang-pay. tanda ia telah terluka. Biksu yang barusan berkata ternyata pimpinan rombongan dari Siauwlim. sehingga tidak memandang mata kepada para tamu. dan pedangnya terlepas. Namun demikian. lain kali kami akan datang lagi meminta tambahan pelajaran dari ketua Yu-liang-pay. juga sempat belajar pada couw-su kami. mulutnya mengeluarkan darah. Tubuhnya merendah hampir jongkok.. maka kedudukannya tidak berselisih jauh dari tingkatan kami. pedang Tiong San hampir menebas kepala. Bhok Kian mampu menghindar dan hanya pundaknya yang tertusuk. mulailah ia merapalkan matera gerakan pedang magis. namun tangan kirinya mampu menohok punggung lawan..gerakan pedangnya. semua serangan Bhok Kian dapat tertangkis dengan baik. Kwan Liong Ping maju kedepan merangkapkan tangan bersoja dan berseru: “Cuwi sekalian mohon dimaafkan sikap kami. Bhok Kian tosu membalikkan badan dan dengan dipapah oleh tosu-tosu yang lain ia meninggalkan Yu-liang-pay. namun masih belum mampu menghalau jurus Hui-liong-coan-san (naga terbang menembus bukit). Tiong San mengubah gerakan.criiing! crok. Sungguh posisi kami sangat terdesak” Meskipun dalam hati sebagian tamu menggerutu dan mengomel. Dan tak dipungkiri sebagai para pesilat. Pada suatu kesempatan.. “Omitohud.

sedetik setelah pukulan Tiong San mengenai dadanya. Berbagai lampion digantungkan di tiang-tiang. dan memperlemah pukulannya.“Ahh. Siong Chen segera berseru: “San-te. Masing-masing menggunakan pedang yang biasa dipakai untuk berlatih. dan hawa magis yang tersembunyi. Namun sesungguhnya di dalam keindahan "tarian" ini tersembunyi tenaga sinkang yang menyambar-nyambar dahsyat. dan pimpinan Kong Thong Pay. untuk itu. pada malam yang spesial ini.” Pertarungan Siong Chen dan Kwan Tiong San berjalan seperti berlatih. maka sekejap. Sadar pukulan tangan kirinya bisa mengenai lawan. Dengan semedi sebentar dan perawatan yang dilakukan oleh Sam Pangcu. sebagian diletakkan di dekat bunga-bunga yang bermekaran.. Amat indah tampaknya. marilah kita nikmati keindahan musim semi di temaraman malam di taman cemara biru ini. Makanan dan arak dihidangkan. Tiong San menarik tenaga sinkangnya. kami . kalau dua murid Yu Liang diadu ketangkasan kiamhoat itu. Tiong San sudah pulih. Bab 2. Ditengah-tengahnya dipasang lilin yang besar. Setelah semua tamu duduk. Siong Chen mengajak Kwan Tiong San untuk naik kembali ke panggung. Para tamu duduk melingkar pada meja-meja yang disediakan. Siong Chen waspada. Huru-hara di Yu Liang Pay Persekongkolan untuk meracuni Tiong San Pada malamnya kembali perjamuan diadakan. apa kau tak apa-apa?” secepatnya ia merangkul Tiong San dan langsung memapahnya masuk ke dalam. kami akan persembahkan berbagai hidangan dan hiburan. ternyata pertarungan berlangsung sungguh-sungguh. Meski pukulan itu tak terlalu berat. Makin lama. sambil memegang cawan arak Liong Ping berpidato: “Cuwi sekalian. secepat kilat ia balas memukul dengan sungguh-sungguh. Akibatnya Tiong San terdorong tiga langkah. sekejap tidak mengucapkan sepatah kata. Pesta malam diadakan di taman. Toa pangcu duduk semeja dengan Bu Sian taisu. Gerakannya keduanya mula-mula kelihatan lambat namun pedangpedang itu seolah-olah berubah menjadi dua ekor naga putih berebut mustika. hanya melirik ke kedua belah muridnya.bosan pertunjukan tarian bebek melulu. Di satu kesempatan Siong Chen sengaja bergerak lambat. kalau tamu menghendaki marilah kita bermain-main sebentar. seolah-olah sepasang dewa yang sedang menari-nari. “San te. Masing-masing meja diisi empat sampai lima kursi. tapi tetap saja menimbulkan luka dalam. kami akan maafkan Yu Liang .” Kwan Liong Ping terperangah.

. “Terlambat!” Nenek yang berwajah bundar yang datang belakangan dengan berseru keras: “Dia tertotok!” serunya sambil membuka punggung Tiong San. “Ada pengkhianat datang! Hai orang-orang tengkorak hitam majulah! Lawanlah aku secara terang-terangan! Huh beraninya hanya membokong. istri Tiong San yang sedang memegangi suaminya. “Dia keracunan!” tamu yang di dekat Tiong San berteriak.takdir tuhan tak bisa diubah! Semoga Budha memberkati! Sungguh aneh. dan dilanjutkan dengan makan minum menikmati hiburan yang ada.. hari ini kemunculannya pasti akan menimbulkan kehbohan-kehebohan” Secepat kilat nenek itu berkelebat ke taman tempat pesta. Liong Ping berusaha menenangkan suasana. Saat malam makin larut dan pesta semakin meriah. Semua tamu mengarahkan pandangan ke Liem Bi Lian. ilmu ini sudah lama tidak muncul di Tionggoan. Mereka semua makan minum ditingkahi lantunan musik yang meriah. mari Bersulang!” Para tamu mengikuti bersulang.. masing-masing bergabung ke kelompoknya.pertama-tama mari kita cicipi arak wangi yan-tai-jing dari Kwei Yang. apalagi sebagian ada yang mulai mabuk. Namun ji pangcu menggeleng.. Tampak mulut Tiong San berbusa namun tubuhnya kaku. pengecut!” Teriakan yang disertai khikang bagai guntur itu membuat semua orang terpana. “Omitohud. namun teriakan nenek yang baru datang membuyarkan usaha Liong Ping. biar saya periksa” ujar biksu itu lembut. semua mata memandang awas kekanan-kekiri. maka omongan yang diucapkan juga makin ngelantur. Dengan sigap Ji pangcu yang ada di dekatnya menyambar tubuh Tiong San dan dibopong masuk menuju ke kamar. Seorang nenek dan Bu Sian taisu tergopoh-gopoh memasuki kamar. “Ilmu totok delapan belas jari iblis!” hampir bersamaan biksu Siauw-lim dan nenek berwajah bundar itu berteriak mengagetkan. sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang wanita. Makin malam makin ramai. Ketika ia datang suasana sudah berubah ramai. Semua tamu berdiri dengan sikap waspada.. Tiong San dan istrinya semeja dengan tamu-tamu muda yang berpasangan. “Saya bisa sedikit pengobatan. Para tamu menjadi ribut. pedang dan semua senjata yang tersusun di rak-rak sudah berpindah digenggaman secara erat di tangan masing-masing.

. Tidak berlebihan dugaan Siong Chen. Ada pengkhianat di dalam rumah kita.. Dengan mata berlumuran darah dia ... Pada jurus ke enam. Seorang pelayan yang beberapa waktu sebelumnya menyajikan minuman ke Tiong San terlihat kaget.. niatan jahat ada pada anak buahmu sendiri. dan tak menduga akan menghadapi suasana seperti itu. “Istrikuuu. Karena terus mundur tak terasa posisi pelayan itu menghadapi lampu penerangan. Tembok setinggi dua tombak dengan enteng dilompati begitu saja. Tangkap seluruh pelayan dapur!” seru Siong Chen secara mendadak. Teriakan Liong Ping dari bawah tak dihiraukannya. tangannya tergetar sampai linu.. Tangannya tergetar hebat dan kakinya terdorong dua langkah. Tak henti disitu saja. Namun untung.. melompat tinggi dan menghilang dibalik tembok pagar. Demi melihat secara pasti wajah itu timbul senyum mengejek di wajah Siong Chen. Kalau kamu tidak puas datang saja sendiri ke bukit tengkorak salju!” Dengan berkelebat secepat hantu Tung Nio. Tubuh para tamu tergetar melihat pemandangan yang sehebat itu.. dan ketika sampai di lorong menuju pintu belakang Siong Chen berhasil mencegat pelayan itu.. ia hanya berkeinginan lolos secepatnya.. “Mau minggat kemana kau pengkhianat!” jengek Siong Chen sambil menusukkan pedangnya. Aku hanya membantu saja. sedangkan tangan kanan dikibaskan untuk menyampok belatinya dan "Cratt!. tanpa mampu membalas sedikitpun. Hari ini kami cukup puas menjadi saksi maut satu nyawa orang Dalu.. Siong Chen segera melancarkan serangan-serangan susulan yang mengarah pada titik-titik yang mematikan.. "Trangg!" Terdengar dentingan pedang beradu belati yang memekakkan ketika pelayan itu menangkis serangan Siong Chen... Pelayan itu terus terdesak mundur hanya mampu menangkis. Bu Sian taisu dari Siauw-lim juga diamdiam mengakui ilmunya masih belum dapat menandingi nenek itu. hampir tak pernah mimpi mereka melihat pameran ginkang yang sedemikian sempurna. sehingga terlihat jelaslah mukanya. Pelayan itu cepat berkelebat lari ke bagian belakang.Tiba-tiba terdengar gema jawaban dari kejauhan: “He he heh. ketika pelayan itu berusaha menangkis secepat kilat Siong Chen memindah pedangnya ke tangan kiri.Tung Nio. dan di sela-selanya sekonyong-konyong terdengar teriakan seorang pemuda. usaha pelayan untuk melarikan diri diketahui Siong Chen. hati-hatilah menghadapi musuh berilmu tinggi!” Suasana gempar. dengan gerakan tipu pelangi menyongsong rembulan Siong Chen memutar pedangnya seakan-akan mengarah ke jantung.aiiiih!" pelayan yang bernama Cu Hoa Naynay itu mengeluarkan jerit pendek ketika pedang di tangan kiri Siong Chen berhasil menusuk mata kanannya. Masih untung aku tidak membunuh dia. Tidak sempat berpikir banyak. sepertinya ia melihat bahwa besar kemungkinan pelayan terlibat. pelayan yang biasanya berjalan lemah gemulai sekonyong-konyong bisa melompat gesit.

Sadar bahwa dirinya sudah terkurung. namun untuk sementara ia bisa lolos. sambil berteriak ke Siong Chen "Berhenti! Jangan halangi aku. terbersit gagasan licik di pikiran Cu Hoa. karena suasana pesta anak-anak masih bermain di luar kamar. membuat Cu Hoa lebih leluasa meloloskan diri. Jalanan menurun itu memiliki satu tujuan yang sudah dipersiapkan Cu Hoa. Seorang dayang hanya mempu menjerit kecil ketika tanpa aba-aba Cu Hoa menebaskan belati ke lehernya.. para pencegatnya sejenak terperangah tak mampu bertindak apa-apa. Sementara itu mendengar jeritan seorang wanita para murid tingkat dua cepat berlari ke arah lorong. karena para dayang lari serabutan. secepat kilat Cu Hoa menyambar salah seorang bayi berusia satu tahunan.. Serangan-serangannya mengarah ke titik-titik maut tanpa mempedulikan keselamatan dirinya.masih terus berusaha bertahan sambil mundur. Cu Hoa tahu kemana dia harus lari. demi melihat jendela masih terbuka. Cu Hoa berhasil menggertak "Jangan halangi aku. Demi melihat sasaran di depan mata. atau bayi Siong Chen mampus!" Siasat Cu Hoa berhasil. Ketika bisa keluar dari bangunan. Sesampainya di tepi sungai. Tak disangka justru kedatangan para murid ini mempermudah jalan dia meloloskan diri. dan menempelkan belatinya ke lehernya.minggir. Di luar kamar terdapat taman bermain. Ketika melesat ke pinggir bangunan. Dalam keadaan yang ramang-remang sulit sekali memastikan siapa bayi yang direnggut Cu Hoa. sungguh mujur nasib Cu Hoa karena ada satu perahu yang menganggur. Kamar yang dimasukinya ternyata kamar dayang pengasuh anak. Seperti sudah merencanakan jalan lolos. meski beberapa tusukan mengenai kakinya. Kekagetan Siong Chen yang tak menduga Cu Hoa punya jalan pikiran gila. cepat pelayan melompat masuk ke dalam. menyongsong pelayan itu dari belakang. Demi melihat dayang pengasuh anak. atau anakmu menyusul mampus dayangnya!" Sesaat Siong Chen memandang tertegun mendengar teriakan Cu Hoa. baik pukulan maupun sambitan senjata rahasia. Segera ia melompat ke dalam dan mendayungnya cepat. . dia nekad untuk mengadu jiwa. Setelah keluar dari kawasan Yu Liang Pai. "Minggir. tempat para dayang mengasuh bayi dan anak-anak. ditingkahi jeritan dan tangis anak-anak. Dengan berpoksai dia menjadikan bahu-bahu mereka pijakan. Waktu yang meski singkat tapi cukup berharga bagi Cu Hoa untuk meloloskan diri. Sementara itu gerakan Siong Chen terhambat kehadiran murid-murid tingkat dua yang baru datang. Cu Hoa berlari menyusuri jalan yang baru bukan jalan yang umum dipakai. biarkan aku dulu yang masuk!" Ketika Siong Chen berhasil masuk dia hanya sempat melihat tubuh dayang roboh bersimbah darah. sedangkan Cu Hoa yang dikejar sudah mendobrak pintu kamar. Meskipun sudah malam. karena jalanan menurun dan banyak pepohonan Cu Hoa selalu lolos dari serangan gelap dari belakang. meskipun dicegat beberapa murid yang bahkan dipimpin langsung oleh Ji Pangcu Lauw Kian Bu. Namun secepat kilat suasana di taman itu telah berubah onar. "Hei lepaskan dia!" teriak Siong Chen sambil matanya jelalatan mencaricari bayi yang lain dengan harapan anak yang dipondongan Cu Hoa bukan anaknya. Meski dikejar-kejar.

Maka selama itu para pengejar takdapat berbuat apa2. Mereka masih terus mengikuti peristiwa demi peristiwa yang cukup mendebarkan. Begitu cepat larinya hingga sampan Cu Hoa kalah cepat meluncurnya. Meski kejaran mereka dapat melampaui perahunya Cu Hoa. terpaksa Cu Hoa merebahkan diri kelantai perahu hingga batu itu persis menyambar lewat di atas telinganya. kalau tidak. karena jarak sudah mulai jauh. Ji Pangcu masih tidak rela melepaskan Cu Hoa begitu saja. Dengan tepat batu itu kena dihaluan perahu hingga kayu bubuk bertebaran. berturut2 sambitan batu Ji Pangcu diikuti oleh murid-murid yang mengikutinya itu. Cu Hoa sendiripun sedang curahkan antero perhatiannya terhadap batu sambitan pangcu itu sambil tetap mendayung se-kuat2nya. tapi batu kedua menyambar datang dengan sangat rendah. menyusul tangan yang lain sambar sepotong batu lagi dan segera disambitkan pula. ia harus mengejar menyusur tepi sungai. Para tamupun tak beranjak pamit dari Yu-liang pay. Aliran sungai Wu di bagian itu cukup deras karena berada di perbukitan. namun tengah malam langsung berubah menjadi duka. “plok”. Begitu cepat segala sesuatu berubah. sebaliknya Cu Hoa mendayung perahunya menyorong ketepi barat. serendah badan perahunya. Setelah mentari diufuk mulai menunjukkan semburat cahayanya sebagai pertanda fajar telah menyingsing. tetamu yang sebelumnya menyampaikan ucapan selamat juga berubah menjadi ucapan bela sungkawa. Ji Pangcu semakin mendongkol ketika melihat perempuan itu dapat menghindarkan setiap timpukannya. Berita yang mereka . Cuma sayang rombongan mengejar sisi timur. selisihnya cuma beberapa senti saja. peristiwa yang memang menjadi kejaran kaum kang-ouw. segera kucabut nyawamu!” Sudah tentu Cu Hoa tak gubris pada teriakannya. Kian Bu menjadi murka. Biasanya lalu-lintas perahu dan sampan disungai Wu itu sangat banyak. ia mendayung lebih keras malah. Batu pertama dengan mudah dapat dihindarkannya dengan merendahkan tubuh. tapi jaraknya juga bertambah jauh. Dan baru saja ia berbangkit. Meski satu dua tepat mengenai sasarannya. sekonyong2 batu lain menyambar tiba pula. mereka baru kembali ke markas. namun cuma menghancurkan sedikit papan dan dinding perahu saja. Bukankah benar kata orang-orang bijak bahwa dunia itu tempat yang fana? Lantas mau menunggu apa kita kalau tidak segera berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya? Baik Ji pangcu maupun Tung Nio kembali dengan tangan hampa. papan haluan perahu telah sempal sebagian.Orang-orang yang mengejar Cu Hoa berhenti di tepi sungai. Karena cuaca gelap maka sambilatn itu dilakukan secara serabutan tak tentu arah. Tapi kini jaraknya sudah makin jauh. hanya suara tangis bayi saja yang dijadikan patokan. untung Cu Hoa karena sepanjang beberapa li dipantai timur sana tiada sebuah perahupun yang berlabuh di sana. baru saja sore itu mereka bersuka ria dalam pesta. cepat ia jemput sepotong batu terus menimpuk. Keruan rombongan pengejar yang dipimpin oleh Ji Pangcu bertambah gopoh ingin lekas2 dapat membekuk Cu Hoa. Ji Pangcu Kian Bu segera membentak: “Hayo engkau lekas balik kemari. dan setelah kelokan amanlah Cu Hoa dari kejaran.

Baru sekarang terasa sakit di sekujur tubuhnya. meskipun belajar pada Liong Ping. selama itu Siong Chen mengajarkan ilmu pedang kepada Cu Hoa. setelah mengorbankan tubuhnya kepada Kwan Liong Ping. namun kecantikan dan kemontokan tubuhnya membuat Siong Chen mengilar. Karena hubungan mulai dekat. Ia diterima menjadi murid tingkat tiga. bak gayung bersambut.peroleh akan menjadi bahan rapat yang sangat berharga bagi tiap-tiap perkumpulan mereka. sehingga mengesankan sebagai lelaki yang jantan. Namun kalau ditelisik lebih dalam. Melihat kesempatan yang ada mulailah Siong Chen mendekati Cu Hoa. Cita-citanya adalah mempelajari ilmu-ilmu Yu-liang-pay. Meski agak pendek namun tubuhnya kekar. dia juga khawatir . Dia tahu Cu Hoa bukan gadis baik-baik. Empat tahun yang silam Cu Hoa disusupkan oleh Hek In Pang ke Yuliang-pay. Oleh karena itulah maka ia lebih banyak menghabiskan waktunya berguru pada Ji Pangcu Lauw Kian Bu. Untuk menjalankan siasatnya Cu Hoa mencoba mendekati dua orang muda calon pengganti Liong Ping. Tapi sakit di tubuhnya masih tak seberapa dibandingkan dengan sakit di hatinya akibat dikhianati oleh Siong Chen. namun anaknya justru menurun tabiat dari Toa Pangcu Liong Ping. Karena pada dasarnya bukan gadis baik-baik. terutama ilmu pedangnya yang sangat terkenal. dia tidak cocok pada tabiat ayahnya. Siapakah sebenarnya Cu Hoa? Setelah jauh dari pengejarnya. Sungguh aneh memang. perlahanlahan Cu Hoa membalut matanya dan kakinya. terutama di mata kanannya. ketua pertama yang pemogoran itu. Dengan menjanjikan akan mengajarkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat. yaitu Sam Pangcu Siong Hok Cu terkenal sebagai lelaki yang alim. Dari perkenalan dan pengamatan. Cu Hoa menuliskan kembali gerakan-gerakan ilmu pedang yang dipelajarinya. Di saat sendirian seringkali ia termenung memikirkan Tiong San. Sebaliknya Tiong San. Siong Chen selalu mengamati perilaku Cu Hoa. pelan-pelan Cu Hoa tahu kalau Siong Chen ada perasaan iri kepada Tiong San. rayuan Siong Chen ditanggapi oleh Cu Hoa. Dia sama sekali tak mengira Yu-liang-pay yang di seluruh pelosok kangouw terkenal sebagai partai aliran putih memiliki pemimpin mata keranjang yang doyan perempuan. kulit putih dan agak pendiam. Ia termasuk lelaki yang cinta pada keluarganya. Siong Chen selain belajar dari ayahnya juga berguru pada Liong Ping. Siong Chen merasa iri dengan bakat Tiong San yang cepat mempelajari ilmu silat. dan perilaku Liong Ping lebih banyak mempengaruhinya. Cu Hoa justru makin tergila-gila. Tujuan utama kedatangan Cu Hoa adalah mencuri ilmu pedang Yu Liang kiamhoat. Meskipun sudah punya tiga istri Siong Chen tak pernah puas memenuhi nafsu syahwatnya. Tiong San bukan tipe lelaki hidung belang. Namun berbeda dengan ayahnya. Tak heran kalau semenjak Liong Ping memimpin partai ini menerima murid-murid perempuan. Selain itu. Cu Hoa tertarik pada Tiong San yang memiliki wajah khas. hal ini sangatlah beralasan. Karena kepribadiannya yang penuh pesona. ayah Siong Chen. Siong Chen benarbenar dapat memenuhi hasratnya. Biasanya setelah Siong Chen pergi. Tiong san berumur tiga puluh tahun lebih waktu itu. Selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan.

. Di suatu malam..jika Liong Ping berumur panjang dan setelah ia meninggal kelak.. ketika Siong Chen menginab di kamarnya. Mereka bersepakat untuk meracuni istri Tiong San. Sungguh siasat yang sangat culas.. Senyum yang mengandung ejekan.. bagaimanakah ide kamu?” “Aku ingin menghancurkan keluarga Tiong San” “Dan bagaimanakah caranya?” “Tiong San sangat mencintai keluarganya. Keterkejutan dan kegalauan membuat Cu Hoa tak sadar makin dalam masuk ke arus sungai yang semain melaju.. pantas saja Siong Chen sengaja mengajak Tiong San bertanding. lalu mengapa yang jadi korban adalah Tiong San? Ah betapa bodohnya aku! Pasti bubuk yang aku bawa bukan bubuk racun tapi bubuk penawar. Gerakannya membuat tangisan bayi yang dipangkunya.. meski sekuat tenaga berusaha mengayuh dayung kembali ke hulu. dan dengan mata kepala sendiri dia lihat Liem Bi Lian menyantap daharan yang diserahkan.... pasti dia akan kehilangan dan hancurlah hidupnya!” “Ide gila! Bagaimana caranya?” “Dekatkan telingamu Chen ko!” Berbisik-bisiklah dua orang itu merencakan suatu kejahatan. Ia meletakkan bayi ke buritan dan mengamati wajah bayi dengan seksama.. sehingga kecurigaan bisa ditimpakan ke pihak tamu. agar tubuhnya lemah sehingga pengaruh racunnya dapat mematikan. Tergagap-gagap Cu Hoa memutar balik haluan demi menyadari di depannya ada air terjun. sudah jelas bubuk yang diberikan Siong Chen dimasukkan ke makanan yang dihantarkan ke Liem Bi Lian. Ji Pangcu yang berhak menggantikan posisinya sudah merasa tua. Cu Hoa sengaja memancingnya dan mulailah Siong Chen mengungkapkan kebenciannya Karena perbincangan seperti inilah Cu Hoa menyampaikan niatnya “Chen ko. mengingat Ji Pangcu tidak menikah dan sangat sayang pada Tiong San.namun buru-buru Cu Hoa tersenyum. maka bisa saja Ji Pangcu memilih Tiong San. biar kelak tidak menjadi duri dalam daging . – aku akan titipkan dulu pada orang di kampung depan. dia.. Siong Chen menyungging senyuman. “Hmmm. Sekejap Cu Hoa diam mematung.. Timbul gejolak di hatinya. maka bagaimakah pendapatmu kalau kita bekerja sama untuk menyingkirkannya?” “Hoa moy. . apa daya kekuatan alam tak mampu di lawannya..tak terasa Cu Hoa terkejut seperti disengat kalajengking demi menyadari bahwa bayi yang diculik adalah anak Tiong San. lamunan Cu Hoa terputus oleh suara gemuruh air di kejauhan. awas Siong Chen. –Apa sebaiknya aku ceburkan aja di sungai ini. Cu Hoa masih ingat seluruh pembicaraan di malam itu. Namun siapa kira Siong Chen berkhianat. mau diapakan anak itu. Ketika sudah sadarpun terlambat. kelak aku akan ambil kembali untuk mendidiknya. Setelah lebih dari seperempat malam. Untuk menyelamurkan siasatnya sengaja mereka menunggu acara ulang tahun Yu-liang-pay.dia. Diluar penglihatan Cu Hoa. Kita bunuh istrinya. – ohhh ternyata dia bukan anak Siong Chen.tunggu saja pembalasanku kelak.. aku tahu kau tidak suka pada Tiong San.

berdiri sekumpulun bangunan kota berarsitektur tibet. Di tempat setinggi itu..... jatuh ke jurang seperti itu tentu kecil kemungkinan masih hidup..” Dengan lengkingan yang tinggi Cu Hoa. Di tempat yang sangat sepi dan jarang dikunjungi manusia ini berdiri kokoh sebuah partai yang tidak hanya terkenal di bagian barat.... namun ketinggiannya tidak kurang dari 3500 m.. Dengan tertatih-tatih ia berhasil keluar sungai.. Inilah tempat yang dikenal dengan nama Kun Lun San.. Kita tinggalkan dulu Cu Hoa dan Tiong Gi. Adapun bayi yang diculik Cu Hoa beruntung hanya terseret satu dua li dan tersangkut pada jala yang dipasang nelayan sungai. Tosu yang berwajah teduh ini berumur hampir .. karena tempat itu terletak di kaki-kaki pegunungan. namun juga sangat dikenal di Tiong goan: Kun Lun Pai. Namun Cu Hoa. sekalipun ia adalah kaisar.. marilah kita lihat situasi di tempat lain. meski sekujur tubuhnya penuh benjolan luka luar. meskipun bersembunyi di dalam benteng yang kokoh. sejauh mata memandang hanya bisa menemukan padang rumput.. di pegunungan yang sangat tinggi.. Bagi orang biasa.. Cu Hoa berkelana menyusuri sungai dan mencari bayi yang dulu diculiknya. Ketua Kun-lun-pay Giok Yang Cinjin. Di desa-desa sekitar air terjun itu selama berbulan-bulan ia mencuri dengan informasi tentang bayi yang hanyut di sungai.. Pegunungan yang memiliki luas hampir menyamai Borneo.... Meskipun di sebut dataran rendah. sampan dan bayi yang diculiknya terjatuh ke dasar air terseret arus dan terjun ke dasar yang sangat dalam. Tak ada lagi jenis pepohonan yang mampu tumbuh di ketinggian itu.. namun beruntung ia selamat... Bahkan ada anggapan pegunungan tersebut merupakan tempat bersemayam para dewa. Pada saat itu di di bangsal utama tempat biasa para tosu belajar agama..”Aaaa.. namun hidup mati semua orang ada di tangan Tuhan.. Cu Hoa jatuh dan terseret air ratusan li jauhnya. Ketika pada pagi harinya nelayan setengah baya hendak mengambil jalanya. semak dan hutan yang didominasi oleh pinus. Kalau Tuhan belum menghendaki. Usahanya tak sia-sia. Sebaliknya.. Di salah satu dataran rendah di pegunungan itu. ia dengan sabar menunggu empat tahun lagi.. tampak sedang memberi pelajaran To bagi murid-muridnya. kalau kematian sudah datang... Pegunungan yang puncak-puncaknya berselimut salju abadi dan jarang sekali dikunjungi manusia.. tak seorangpun bisa menolaknya. dan selama satu bulan bersembunyi di suatu goa dalam hutan yang lebat.. cukup cerdik ia tidak mengambil tindakan saat itu. betapa terkejutnya dan sekaligus bersyukur karena ia sendiri sudah belasan tahun menikah tak dikaruniai anak.. Jauh di sebelah barat. meskipun menghadapi perang dan diserang ratusan senjata mudah saja seseorang lolos dari kematian. Setelah pulih dari luka. Maka ia kemudian mengangkat bayi yang kemudian diberi nama Tiong Gi. dalam tempo setengah tahun ia sudah menemukan titik terang..

Giok Yang Cinjin memberi wejangan kepada murid-murid Kun-lun-pai. sedangkan rambutnya disanggul ke atas khas sanggulan agama To. Ki Liang sangat dipercaya untuk menghadapi urusan luar Kun Lun. murid ketua yang memiliki kelihaian sangat tinggi. Jangan sekali-kali menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. taecu Ki Liang. “Suhu. Wajah tosu yang biasanya tenang ini dibuat berkerut-kerut tanda ada keganjilan dalam peristiwa yang dihadapinya. dapat dikalahkan oleh murid Yu Liang yang barusia tak lebih dari dua puluh lima. biar pinto berusaha untuk mengobati Bhok Kian dulu” ucap Giok Yang tosu dengan tenang meskipun wajahnya berubah pucat ketika menyambut kedatangan muridnya di tandu. menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. sejak kapan Yu-liang-pay menggunakan racun pada senjatanya. Sulit sekali dipercaya. dan menyalurkan tenaga sinkangnya.. Selanjutnya Giok Yang menotok jalan darah sana-sini.sungguh aneh. Semua yang melihat terperanjat. Dan yang membuat suasana menjadi gaduh adalah sebuah tandu yang diusung rombongan. Suasana belajar yang penuh kedamaian ini pecah ketika tiba-tiba serombongan tosu yang dipimpin Ki Liang tosu masuk.sembilan puluh tahun. Sebagai murid langsung ketua Kun Lun. Hanya bergerak untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. tampat mereka baru datang dari tempat yang jauh.” sungut ketua Kun-lun-pay sambil mengelus-elus jenggotnya. tapi dia perlu istirahat tiga bulan untuk memulihkan kesehatannya. Cerita yang disampaikan Ki Liang membuat semua murid terperanjat. Begitu datang ketua rombongan langsung buka tutup tandu. Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran. mohon perkenan untuk melaporkan hasil kunjungan ke Yu-liang-pay!” “Ahhh…Ki Liang kamu tenanglah.. “Lukanya tidak berbahaya. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Dilihat dari pakaiannya yang berdebu dan wajahnya yang kusut. di dalam tandu itu Bhok Kian tosu tampak sedang terkena demam tinggi. bahkan tidak selisih jauh dari suhengnya yang calon ketua. Kumis dan jenggotnya yang sudah memutih dibiarkan panjang. . Siapakah yang melukainya dengan tusukan beracun ini Ki Liang?” Selanjutnya Ki Liang menceritakan pengalamannya di Yu-liang-pay.. “Hmmm..

kita harus membalaskan sakit hati ini dan yang lebih penting kita musti menyelidikinya.” Giok Yang tosu. Tosu ini sedang melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar dan penyebar Agama To ke bagian utara Tai Swat shan.” “Hmmm. dan sudah tiga tahun dia berada di kuil itu. Suhu perkenankanlah taecu membawa beberapa susiok untuk kembali ke sana. Semoga Thian selalu memberi petunjuk padamu. Kun Lun sam lojin. Ki Liang tosu. pandangan luas dan penuh pengertian. Ki Liang tosu menemukannya tergeletak pingsan di dekat gelimangan mayat pada usia dua tahunan. Bhok Kian sungguh hatimu telah dibakar oleh kesumat.Bhok Kian yang baru saja baikan. dari kain katun kasar...” Pertemuan itu bubar.. berwajah tampan dan berpakaian sederhana. dan Kun-lun-pay tidak ikut campur urusan kalian.. tosu-tosu yang lain terkejut mendengar ucapan Bhok Kian. Ki Liang tosu sendiri tidak melihat kejadiannya. Chien Ce si putra salju Anak laki-laki ini berusia kurang lebih enam tahun. banyak sekali keganjilan yang taecu temui di sana. semua dikabarkan telah tewas dalam perjalanan pergi ke luar daerah. Aku tidak bisa melarangmu menemui pamanmu. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya.. Berita ini justru harus menjadi cambuk bagi kita untuk lebih giat belajar dan berlatih.. yaitu . karena pandang matanya amat tajam.tidak baik.. Chien Ce sendiri beruntung bisa sembunyi pada saat kejadian.. Dia adalah seorang anak yatim piatu. “Suhu. asal kita bersungguh-sungguh mempelajarinya.. Tai Swat shan merupakan dataran tinggi di sebelah timur pegunungan Kun Lun. Namun tanpa sepengetahuan mereka semua ada seseorang yang menguping seluruh pembicaraan yang terjadi. Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. “Ah. Hanya satu tanda yang bisa menjadi petunjuk yang kemudian disimpan oleh tosu ini. dengan biji mata yang terang jarang bergerak. karena keluarganya. segera menjawab. aku akan menemui pamanku. ayah-bundanya dan saudara-saudaranya. Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Shu Chien Ce. Lagi pula tidak baik memendam rasa dendam.” “Kalau suhu tidak mengijinkan aku mengajak susiok. Bab 3.tidak baik.. Ilmu Kun Lun tidak kalah dengan partai manapun.. membayangkan pikiran yang dalam. kau harus istirahat dulu Bhok Kian.

Ki Liang pasti mengajarinya. tergerakkan Chien Ce untuk mengikutinya. bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah. Bhok Kian sudah sehat kembali. Chien Ce sudah lama ingin sekali jalan-jalan keluar kuil. semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin. Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan. Karena sudah tidak mempunyai keluarga maka ia bekerja sebagai seorang kacung. Pada waktu itu. semua pekerjaan dia pegang. . Chien Ce hendak dijadikan murid Kun-lun-pai. murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras peraturan.keping besi berwarna hitam berbentuk seperti tengkorak manusia. membuat Chien Ce makin hati-hati agar tidak mengganggu. Setelah mandi Bhok Kian tampak berkemas hendak berangkat. Ia mendengarkan terus. Pada pagi itu cuaca cukup hangat. Kemudian oleh Ki Liang tosu yang merasa kasihan melihat Chien Ce. dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya. Sebetulnya. Mengisi tempat air. sehingga punya kebiasaaan jalan-jalan. juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kunlun. pelajaran-pelajaran Tao. Chien Ce sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika rombongan Ki Liang tosu datang disongsong oleh Giok Yang Cinjin dan anak muridnya yang berkumpul di ruangan belajar. sungguh hubungan merka bagaikan anak dan ayah. akan tetapi bocah ini masih terlalu kecil untuk menjadi tokong (calon tosu). maka Chien Ce dapat melihat dan mendengar semua. Tentu saja karena tidak ada gurunya. saat pulang dari perjalanan jauh. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara. tanpa diperintah dia kerjakan. Sebulan setengah setelah peristiwa itu. namun dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar halhal yang amat menarik hatinya. karena musim panas telah tiba. apalagi Ki Liang tosu yang membawanya adalah tosu urusan luar. Maka demi mendengar tosu itu hendak menemui Kun Lun sam lojin. merawat bunga. yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu. anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu ia bekerja sebagai seorang kacung. meskipun wajahnya masih pucat. Semenjak kecil. dia boleh ikut belajar baca tulis yang diperuntukkan bagi tokong. bahkan bisa lebih dekat lagi seperti sahabat. Di malam hari. semua dia baca di usia yang sangat dini enam tahun. menyapu lantai dan kebun. apa saja yang diperlukan. membersihkan kuil. Dan di waktu kembali dari perjalanan tosu itu selalu mempunyai banyak cerita untuknya. karena para tosu yang sayang kepadanya. Dia rajin sekali. Suasana di ruangan belajar itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan. Ia juga diijinkan memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab.

meskipun dia tetap sok jual mahal. Banyaknya puisi dan ujar-ujar kuno yang dihapal Chien Ce sungguh membuat Bhok Kian tidak menyesal mengajak anak itu. kalau perjalananmu kali ini tidak jauh ajaklah aku. Hei tahukah kamu aku tidak hendak berpesiar ke taman binatang bicah. tapi harus berjanji ketika aku bertemu dengan orang lain.” Maka berangkatlah mereka menuju ke suatu puncak bukit di sebelah utara Kun-lun-pay. Bhok Kian sadar perjalanannya diikuti.” “Ehhh. Chien Ce berbicara banyak hal.Chien Ce dari tadi sudah mengawasi Bhok Kian. namun betapa kagetnya ia ketika sembunyi untuk coba menengok ternyata yang mengikutinya adalah Chien Ce. sikap Kun-lun sam-lojin tidak seperti biasanya.. Dan ketika tosu itu berangkat iapun mengikutinya. . “Baiklah kau boleh ikut. asal tidak jauh aku pasti tidak akan kecapaian. “Kenapa engkau mengikutiku bocah. Biasanya sebelum sampai di goa. baru kemudian muncul suara balasan yang sangat pelan: “Kian-ji..” “Baik totiang. dan perjalanannya paling lama setengah hari. Bhok Kian tosu sampai mengulang tiga kali. ia hanya bisa tersenyum malu. Aku berjanji tidak akan mengeluh dan memberatimu. siauwte Bhok Kian mohon menghadap!” Lama tak terdengar suara. lagipula ia tidak sedang tergesa-gesa. namun tak kuasa menolak permintaannya. kau tidak boleh ikut berbicara. maka bisa dibayangkan kekagetannya.kau ingin jalan-jalan?. aku ingin jalan-jalan. aku berjanji. Selama ini ia jarang mengamati kacung kecil ini. ketika ia membalikkan badan.” Bhok Kian sebenarnya malas untuk mengajak anak itu. Bhok Kian berseru: “Samwi locianpwe. Di depan pintu goa. Betapa terperanjatnya Chien Ce ketika pundaknya ditepuk seseorang. ada maksud apa kau mengunjungi kami? Siapa yang kamu bawa?” Bhok Kian tertegun. mulai dari barang permainan sampai karya sastera. Lewat seperempat hari tibalah mereka di sebuah pintu goa. Di sepanjang perjalanan Bhok Kian lebih terkesima lagi dengan wawasan yang dimiliki oleh anak sekecil itu. hei bukankah engkau kacung kecil yang dibawa Ki Liang suheng?” “Totiang. Lewat sepeminuman teh.. aku sedang melakukan tugas yang sangat penting!” “Aku tidak peduli kemanapun totiang pergi. dari kejauhan Bhok Kian sudah melihat pamannya menyambut di depan pintu goa.

Bergantian Chien Ce memandangi wajah ketiga pertapa yang namanya menjulang tinggi lebih dari enam puluh tahun yang lalu. “Masuklah kalian!” Chien Ce tidak melihat kakek itu membuka mulut. dan tiba-tiba mereka sudah berada di suatu ruangan yang cukup terang. hanya cawat yang menutupi tubuhnya inilah orang kedua dari Kun-lun sam-lojin. Sebelum menyadari kejadian selanjutnya. ah dia ini masih anak kecil. karena ada hal yang sangat menganggu. Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara lirih namun bening. katakanlah kepada kami!” tanya sam lojin menyelidik. bicaranya serak-serak basah. wajahnya selalu berseri. Tak lupa keracunan yang dialami juga turut disampaikan. rambut. sampai dengan peristiwa yang terjadi di sana. Bhok Kian kemudian berlutut di hadapan tiga kakek tua ini. di tangan kanannya ia memegang sebatang tongkat bambu yang sudah tua. alis. tapi ada suara parau yang tiba-tiba keluar. Ketiga-tiganya memeramkan matanya. Siauwte punya urusan yang sangat penting. mukanya cekung. karenanya mohon kesediaan sam-wi locianpwe membantu kami menyelidiki Yu-liang pay.” “Hal apakah itu Liang ji. Keduanya susah ditaksir berapa umurnya. seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. . sekonyong-konyong ia merasakan ada tenaga tarikan yang sangat kuat. pakaiannya lengkap semodel dengan pakaian Bhok Kian tosu. “Demikianlah yang terjadi. Tubuh kakek ini kurus sekali. “Taecu Bhok Kian mohon maaf mengganggu ketenangan sam-wi locianpwe. terus terang saja ada taecu ingin memohon pertolongan. wajahnya tirus. kumis maupun janggutnya dibiarkan panjang menjuntai. berkulit putih. Yang pertama bertubuh pendek bulat seperti jai la hud. tangannya membawa kipas bulat.“Siuwte membawa kacung Kun-lun-pay. matanya selalu mengatup. Selanjutnya Bhok Kian menceritakan dari mulai datangnya undangan dari Yu-liang-pay. Ketiga pertapa tua tersebut menyimak cerita Bhok Kian dengan penuh perhatian. Yang kedua bertubuh tinggi. Bhok Kian mengakhiri cerita dengan satu permintaan. Di ruangan itu duduk dua orang kakek yang bentuk tubuh dan penampilannya sangat aneh. Chien Ce dan Bhok Kian tersedot tenaga yang keluar dari tubuh kakek itu. kepalanya pelontos tanpa kumis maupun janggut. rasanya ada yang nggak beres di sana!” Beberapa saat suasana hening.” Tiba-tiba seorang kakek sudah berdiri di depan pintu goa.

” “Ilmu sihir seperti itu hanya dimiliki oleh dua kelompok. himalaya atau india.” papar toa lojin sambil tetap memejamkan mata.. Hanya ada dua kemungkinan. Chien Ce yang masih kanak-kanak tak bisa mencerna apa yang dibicarakan. Kekuatan seperti ini mudah dipunahkan jika pihak yang diserang memiliki sinkang yang kuat. memegang pundak dan tangannya.dia ini. Namun belum ada tiga langkah. sekonyong-konyong Ji-lojin berseru. dia belum diangkat sebagai murid Kun-lun.Yu-liang Kiamhoat baru diciptakan oleh Huang Shin ketika aku masih muda. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa dari ilmu pedang ini. masih seorang kacung. Bhok Kian. Sekarang kalian kembalilah..... Bhok Kian dan Chien Ce membalikkan badan dan hendak meninggalkan ruang itu. . aku akan menemaniku kembali kesana. Sementara kedua orang tamunya masih melamun dengan pikiran masing-masing. kecuali perkembangan jurus-jurusnya yang sangat banyak.. Aku agak heran kalah ilmu pedang seperti itu bisa digabung dengan unsur magis. Bhok Kian yang sudah belasan tahun terjun ke dunia persilatan masih merasa asing dengan segala macam sihir yang bisa menggerakkan orang lain. Namun jika dibandingkan dengan Kun-lun Kiamhoat yang sangat kuat dalam pertahanan dan penyerangan serta lebih murni. Pelakunya dibekingi oleh dukun atau pelakunya kesurupan. “Begini saja. “Bhok Kian.. sam lojin berujar. apakah anak yang kau bawa ini murid Kun-lun?” tanya ji lojin penuh selidik. sebulan lagi setelah kesehatanmu benar-benar pulih aku tunggu kamu di lembah bunga mawar. “Emm.. Bhok Kian. Dia hanya tertarik membayangkan tempat-tempat yang jauh yang belum pernah dikunjunginya. mungkin sekitar sembilan puluh tahun lalu... dia justru mendekat ke Chien Ce.wah kurang ajar sekali Yu-liang pay berani-beraninya sekarang berkongsi dengan segala dukun. maupun Chien Ce mengikuti tutur kedua lojin itu dengan mulut terbuka. Sebenarnya Yu Liang Kiamhoat masih belum bisa menandinginya. Di lain pihak. Mengapakah locianpwe menanyakan hal ini?” Ji lojin bukannya menjawab pertanyaan Bhok Kian. “Dukunnn. Selama ini Bhok Kian hanya pernah berhadapan denga tukang sihir yang hanya memengaruhi pikiran seseorang.” ujar ji lojin. biar dibuktikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dalang dibalik perubahan gaya pedang Yi Liang Pay.“Hmmm. “Tunggu!” Bhok Kian dan Chien Ce berhenti dan membalikkan badan.

Beberapa kali dia memang pernah diminta pamannya untuk mewarisi kepandian Kun-lun-sam-lojin.. Berbagai ilmu silat tingkat tinggi dipelajarinya dengan kesungguhan. bukan begitu sam-te?” Sam-lojin yang diajak bicara ji lojin memandang tajam keponakannya. Sebulan lagi biar siauwte datang kembali kesini mengantar anak ini dan menjemput sam-lojin. namun demikian saya harus melapor dulu ke pimpinan di Kun Lun.tapi aku ingin belajar sambil jalan-jalan ke kota atau ke India. “Kionghi Ce-ji... untuk melepas rasa tidak enaknya maka dengan muka yang diramah-ramahkan ia mengucapkan selamat ke Chien Ce.anak ini ternyata berotak lebih encer dari majikannya... marilah kita ikuti petualangan Bhok Kian dan sam-lojin di Yu-liang-pay..engkau kini murid tiga suhu yang paling sakti di kolong langit”. Sebulan kemudian Bhok Kian tosu kembali ke goa itu mengantar Chien Ce dan mengajak sam lojin yang juga pamanya ke Yu-liang-pay. Dua orang penjaga itu begitu melihat dua orang tamu yang berkunjung bertampang orang persilatan. Namun Bhok Kian punya pandangan lain. aku mau beli permen.. toako bukankah cukup pantas kalau kita minta imbalan atas bantuan kita ke Bhok Kian dengan meminta anak ini jadi pewaris ilmu kita.. dan dengan kerennya mereka membentak. Pagi-pagi ketika mereka tiba di pintu gerbang.“Tulang bagus. apa suhu bisa mengajak aku kesana?” Segera ji-lojin berujar sambil melirik Bhok Kian “Nahh. apakah dia mau jadi murid kita?” Chien Ce yang masih kanak-kanak cukup cerdas untuk mencerna pembicaraan mereka. Nah.. kami mohon diri" Tosu itu kemudian mengandeng tangan Chien Ce untuk kembali ke Kun-lun-pay.. “Siauwte mengucapkan terima kasih kepada sam-wi locianpwe. supaya hubungan kita tetap baik.... mereka disambut penjaga dengan wajah yang galak dan tegang... Bhok Kian dan sam-lojin melakukan perjalanan cepat ke pegunungan Fan Cing san tempat Yu-liang-pay. Sebagai murid yang bercita-cita tinggi ingin menjadi yang terbaik di Kun-lun-pay.” “Jite. “Mau. Bhok Kian yang jadi pusat perhatian hanya tersenyum hambar. Namun dengan polos ia menjawab.. Bhok Kian tentu saja menolak segala tawaran dari ‘sumber lain’.. kamu belum bertanya ke anak itu. Kita tinggalkan dulu Chien Ce yang sedang belajar di goa di bukit sebelah utara Kun-lun-pay.tulang bagus. “Siapa kalian dan ada urusan apa datang ke sini!” .mau.. ia sudah merasa nyaman menjadi tosu di Kun-lun-pay.. langsung mencabut pedang. selama ini dia selalu jual mahal kalau ditawari oleh sam-te.. Mulai saat ini Chien Ce belajar dengan tekun dibawah bimbingan toa-lojin dan ji-lojin. Dan Kun-lun-pay punya peraturan ketat yang melarang murid Kun-lun-pay mempelajari ilmu dari sumber lain.

. karena Bhok Kian sudah berteriak mengirimkan suara ke penghuni gedung utama. kami menunggu di sana. aku Bhok Kian tosu ingin bertemu!” “Ooooh rupanya tosu dari Kun Lun. “Hei kami ini tukang sulap yang diundang untuk menghibur majikan kalian. Lima orang murid tingkat dua dipimpin seorang wanita menyambut kedatangan tamu.. dalam kekagetan penjaga pertama tadi mundur hingga tubuhnya membentur pintu.” Bhok Kian memasuki ruangan lian bu thia. Bak dipatuk ular. “Ji wi totiang siapakah? Mohon sebutkan nama dan keperluan!” bentak wanita yang dulu pernah memamerkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat itu galak. Akibatnya empat orang langsung terlempar tiga tombak ke belakang dan jatuh terjengkang. giginya menggeletuk. akan tetapi kini dikelilingi pagar hidup berupa anak murid Yu-liang-pay yang berdiri dengan disiplin baik. Kedua penjaga hendak membunyikan kentongan.” Demi mendengar suara ini. Bentakan ini ditimpali dengan ketukan tongkat sam lojin lima kali ke lantai di depannya. sehingga dengan mudah kentongan direbut. dengan nada suara yang lebih ramah. tidak ada yang . Luar biasa sekali akibat dari lima kali ketukan ini karena dari masing-masing ketukan keluar hawa pukulan yang dapat menjalar di lantai dan menyerang lima murid Yu-liang-pay. nona katakan saja kepada pangcumu. jangan hanya mengandalkan bangsat kunyuk seperti kalian!” bentak Bhok Kian dengan suara menggelegar.” Disusul dengan ajakan ke dua tamu. maka tidak lekas laporkan majikan tunggu apa lagi.” Tiba-tiba pedang di tangan penjaga kedua tersedot oleh tenaga yang tersembunyi kemudia bergerak sendiri hendak menusuk penjaga pertama yang bicara. Hatinya terkejut dan kagum.Sam-lojin yang banyak pengalaman menggoda. wajahnya yang semula keras dan galak kini memucat. “A Hui. Ruangan itu luas. Temannya hanya mampu menonton sambil mulutnya mangap. matanya melotot. Sedangkan wanita yang memimpinnya hanya terhuyung empat langkah.. ajaklah tamu ke lian bu thia. Pintu utama dibuka dari dalam. langsung menjawab. Mengetahui bahwa yang datang adalah lawan yang berkepandaian. Namun keributan itu tidak berlangsung lama. apakah dulu gebukan kami kurang keras!” kalimat ejekan yang dilontarkan wanita ini sungguh membuat muka Bhok Kian memerah. “Silahkan jiwi ikuti aku. “He he he heh. “Sekonyong-konyong terdengar suara yang menggetarkan. Tapi terlambat usaha mereka ternyata diketahui oleh dua orang tamu. wanita yang bernama Lian Hui ini lantas menjawab. “Bangsat sundal! Suruh keluar Liong Ping menghadapi kami. “Baiklah pangcu.

dan siapakah totiang ini?” ujar Liong Ping sambil tersenyum. toa-pangcu Liong Ping sedang tidak ada. sebelah utara Fan Cing san. “Aku sam-lojin.” “Kiranya Kun Lun sam-lojin. panggillah murid yang dulu melukai pinto. kemudian lirih menjawab. Namun untunglah pada saat kunjungan mereka. kami meminta pancu menuliskan surat permohonan maaf secara resmi ke . “Kalau memang demikian. Apakah memang Yu-liang-pay hendak menantang Kun-lun-pay?” Bhok Kian berkata dengan berapi-api. Kami ingin bicara langsung dengannya!” pinta Bhok Kian tosu dengan nada tegas. yang langsung menyambutnya dengan keramahan. maka kini tuntutan kami yang kedua. ada keperluan apakah kunjungan jiwi ke sini. “Liong Ping! Tidak perlu kita berbasa-basi. Masing-masing akan diwakili tiga orang. bukan Ki Liang.bicara. Kalau pangcu masih memandang muka Kun-lun-pay. Dulu kalian hendak mencelakai aku dengan racun. toyu ini orang keberapakah?” potong Liong Ping. Baik aku lanjutkan. Dari dalam kemudian muncullah dua ketua Yu-liang-pay. Senyuman sinis yang penuh nuansa ejekan. namun dengan sikap siap siaga dan penuh kewaspadaan semua mata ditujukan kepada mereka. parau dan nyaris tak terdengar beda vokal dan konsonan dalam kata-katanya. karena terus terang kejadian itu diluar sepengetahuanku. Mereka menuntut keadilan. karena waktu itu buru-buru Bhok Kian mengundurkan diri maka kejadian selanjutnya tidak dia ketahui. Kedatangan pinto dengan pamanku ini tidak lain hendak menuntut pertanggung jawaban kalian. di puncak bukit Yuan Ling san. masing-masing. “Ahh kiranya Bhok Kian toyu yang berkunjung. sehingga mereka ditemui ji-pangcu yang lebih sabar. “Ahhh begitukah kiranya? Maafkan aku Liang toyu.” jawab sam-lojin pendek. lagi pula bagi kami apakah untungnya memusuhi kalangan kang-ouw?” “Aku adalah Bhok Kian. Jumlah anak murid yang berkumpul disitu dia taksir tidak kurang dari seratus orang! Bhok Kian tidak tahu bahwa belum sebulan berselang Yu-liang-pay juga dikunjungi lima tokoh dari Hek-in-pang. Liong Ping menatap kedua tamunya dengan pandangan penuh selidik. Ji-pangcu menjanjikan akan menyelesaikan masalah satu tahun lagi. sungguh peristiwa ini perlu kami selidiki. Wajahnya memerah penuh hawa kemarahan. “Pada hari itu pula kami juga kehilangan anak murid kami Tiong San.” Kali ini giliran Bhok Kian tosu dan sam-lojin yang terperanjat. Siapa pelakunya sampai saat ini masih kabur bagi kami.

pihak Kun-lun-pay.. sebagai manusia biasa sam-lojin juga masih memiliki perasaan termasuk rasa amarah. melatih kesabaran. “Silahkan lotiang memulai." pukulan sam-lojin ditangkis. Sam-lojin tidak menyangka pukulan yang dilancarkan tiga perempat tenaga hanya mampu mendorong lawan dua langkah. pendekar sakti yang sudah lebih dari tiga puluh tahun mengundurkan diri. Akibatnya sam-pangcu terdorong dua langkah.. Tak pelak sam-pangcu kemudian mencabut pedangnya. Huh. aku tuan rumah akan melayani berapa jurus yang kau kehendaki!” Dihadapi hanya oleh orang ketiga membuat wajah sam-lojin sebentar merah sebentar pucat.. Selama ini ia telah giat belajar memperdalam sinkang. “Kalau memang Yu-liang-pay tidak berkenan meminta maaf.. “Kalah menang dalam sebuah pibu adalah hal yang sudah sewajarnya. Pada pukulan pertama ini sengaja ia ingin menguji kekuatan sinkang lawan.. Dulu mendiang Hong Bu pangcu juga tidak akan gegabah menghadapiku. Keduanya terkejut.” Sejenak Liong Ping terdiam sambil memicingkan matanya.” sam-lojin segera melontarkan sebuah pukulan pembuka. lantas ia menjawab seolah sedang bergumam. Lebih terkejut lagi adalah sam-pangcu. Kenapa tidak terus terang saja dari tadi! Sam-pangcu silakan layani lotiang ini!” Liong Ping menoleh ke Sam-pangcu dan menyuruhnya melayani tamu bersilat. Ia memang belum mengenal Kun-lun-sam-lojin.. dan berkata dengan lantang.” “Ooo. “Plaak.” Jawaban toa-pangcu ini kontan disambut ramai oleh anak-anak murid Yuliang-pay. kiranya masih jauh dari kesempurnaan. Sam-pangcu melompat ke depan dengan gagah.. yang ditulis pangcu sendiri dan akan kami bawa sendiri ke Kun Lun. . jangan tanggung-tanggung pamanku juga ingin meminta pelajaran dari pangcu..begitu rupanya.. “Sam-pangcu menurut kedudukan mestinya gurumu yang menyambut aku. Meskipun sudah berpuluh tahun menenangkan diri. bukankah begitu anak-anak? Entah kalau di Kun-lun ada aturan yang berbeda. beberapa mengeluarkan ucapan-ucapan ledekan yang menghina.” “Hiaaattttt. sedang sam-lojin merasakan kesemutan. barangkali saja memang ilmumu sudah melampaui kepandaian guru kalian. Biarlah aku mulai menyerang. kura-kura meminta naga tak berbasa-basi siapa sangka kura-kura menyampaikan hajat dengan berbelit-belit..di sarang naga.

Namun sam-pangcu adalah orang yang cerdik dan sudah cukup banyak pengalaman. secepat kilat ia gerakkan pedangnya memutar untuk menangkis serangan dari bawah. kalau saja tidak dia genggam erat-erat. namun pedangnya yang terpental itu diikuti dengan tubuh. ia tahu asal-usul hawa magis yang menyerangnya. Pedang ditangannya diputar membentuk gulungan sinar yang menyilaukan. tampaknya serangan demi serangan pedang sam-pangcu selalu terbentur tembok pertahanan tongkat yang sangat kuat. hampir bersamaan dengan serangan sampangcu sehingga ketua ketiga Yu-liang-pay ini terkejut dan cepat meloncat sabil miringkan tubuh dan dia pun meniru lawan untuk bergerak cepat. "Lihat serangan!" Sam-pangcu membentak dan pedangnya menyambar. “Traang. Dari tangkisan ini ia merasakan getaran aneh. dan ia kini melompat ke kiri. Sam-pangcu tidak berani gegabah menyambut serangan. “Marilah kita main-main sebentar dengan senjata. lotiang!” “Aku sudah siap pangcu!” jawab sam-lojin sambil mementang kaki membentuk kuda-kuda yang kokoh. Sam-lojin ini melihat bahwa gerakan lawannya cukup kuat dan cepat baginya.. . Gerakan ini sepertinya sudah diduga oleh sam-lojin.“Sratt! Sambil menghunus pedang sam-pangcu berseru. Namun kali ini wajah sam-lojin berubah pucat. Cepat sekali gerakannya itu. Sam-lojin menggunakan tenaga totolan kaki untuk meloncat jauh ke belakang. Dengan tenang sam-lojin kembali menangkis serangan pedang. sambil menyapu pandangan ke bagian tembok di belakang. Dengan perasaannya yang sudah sangat terasah. dan balas menyerang bagian perut sam-lojin. hingga akhirnya pada jurus ke lima belas. Hampir saja pedang di tangannya lepas. Maka ketika dia mendapat kesempatan menyerang. menyerang kepala sam-pangcu. Ia merendahkan tubuhnya. Sungguhpun dari getaran yang melalui pedang mereka itu jelas membuktikan bahwa tenaga sinkang orang tua ini seperti yang sudah dia ketahui amat kuat. Jurus demi jurus telah dilalui. Ia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sehingga ia tahu bahwa pedang itu akan melewati atas kepalanya dan langsung ia membalas dengan gerakan tongkatnya menyerampang kaki lawan. "Trang!" pedang sam-pangcu sudah menangkis serangan tongkat itu. karena secepat kilat kakinya menotol pedang yang sedang menyambar.. Cepat sekali sam-pangcu kembali melancarkan serangan-serangannya. menjadi sinar keperakan menebas ke arah leher sam-lojin.” kembali terdengar suara benturan yang sangat keras. menuju tembok. Ia melompat ke belakang. kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dan yang tampak hanyalah sinar pedang tebal meluncur ke arah sam-lojin. digerakkanlah tongkatnya dengan hebatnya. dan langsung menusuk tembok dengan tongkat.. seperti suara yang menusuk-nusuk dadanya.

“Bruaaakkkk. Sedangkan sam-lojin duduk bersamadi. Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di padang bunga itu sudah remang-remang. dukun pembokong ada di balik tembok.. Sam-lojin hanya sempat melihat kelebatannya saja. Namun sayang pelakunya sudah keburu melesat. Sengaja ia mengarahkan tenaga luncurannya ketika mencongkel Bhok Kian. Dengan dua kali loncatan ia sudah keluar dari kompleks gedung Yuliang-pay dan dengan menyambar tubuh Bhok Kian bersama-sama mereka menuruni bukit dan menghilang di atas sungai.!” tusukan tongkat di tangan sam-lojin menyebabkan bunyi ledakan yang keras. Ketika ia mulai menangkis serangan pedang yang bertubi-tubi. Setelah senja tiba. sekonyong-konyong tubuhnya dicongkel oleh tongkat sam-lojin dan dilontarkan ke luar. Bhok Kian tosu lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak diganggu nyamuk. Semua orang terkejut tak tahu apa yang terjadi. toa-pangcu sudah memberikan komando ke seluruh murid. Karena sudah menjelang malam. Hanya sepenanakan nasi mereka mendayung perahu. terlihat dari tanda-tanda. Padang bunga merah ini padang yang sangat luas. “Bentuk formasi lima elemen. Bhok Kian tosu hampir terlambat menyadari perubahan yang terjadi. Bhok Kian. Pada waktu yang sesingkat itu bebagai pikiran berkelebat di benak sam-lojin. persis kejadian lolosnya Cu Hoa. dan akibatnya sungguh luar biasa. sehingga tusukan yang diterimanya tidak sampai melukai tubuh. dan menyambar dengan tangannya. Puluhan murid tingkat dua terlempar ke kanan ke kiri seperti debu yang ditepuk sapu. Secepat kilat ia sudah memutuskan untuk mencongkel dupa. seperti anjing bangun dari tidur. Begitu menyentuh tanah sam-lojin melakukan gerakan mengibas-ngibas. Dengan mengandalkan kekebalan ia terima tusukan-tusukan pedang. Sam-lojin sendiri terkurung oleh serbuan pedang. juga agak terang. jauh dari desa atau pemukiman penduduk. Benar saja dugaan sam-lojin. kepung dan tangkap mereka berdua!” Secepat kilat murid-murid sudah membentuk barisan yang rapi dan langsung mengirimkan serangan. Namun pada saat itu. ke arah murid-murid tingkat dua. Secepat kilat sam-lojin menotolkan tongkatnya dan melompat jauh. dan melanjutkan perjalanan ke barat. Mereka mengira tubuh sam-lojin terlontar sampai menubruk tembok. kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata sam-lojin sambil melempar tubuh di atas rumput hijau. mereka akhirnya memutuskan untuk bermalam di dekat telaga kecil di padang itu. adanya dupa yang masih menyala. Kemudian dengan gerakan melompat ia sudah kembali ke arena. dan langit memerah mereka sampai di padang bunga merah. diikuti ambrolnya tembok meninggalkan lubang seukuran tubuh lembu muda. setelah menemukan desa mereka menyeberang. .

” “Fitnah besar akan segera melanda kang-ouw.” Dengan wajah serius sam-lojin konsentrasi mendengarkan suara yang masih jauh. Aku melihat sekelebatan sosok yang berada di belakang layar. Sam-lojin membuka mata.. seakan-akan ratusan iblis hendak mengepung padang itu. Hal itu tak lain akibat tertular sikap sam-lojin yang sangat hati-hati. yang kedua adalah Vicitra Rahwananda.” belum selesai Bhok Kian bertanya. Tiba-tiba terlihat nyala api. Tugas kamu makin berat Liang-ji. “Dunia persilatan dalam bahaya Liang ji. Belum sampai sepuluh langkah. Setelah sepeminuman teh suara itu makin jelas terdengar. Ia mengambil sedikit daging yang disodorkan Bhok Kian. ”Ada yang datang..Sepenanakan nasi kemudian Bhok Kian memanggang daging kelinci yang berhasil ditangkap.. “Di dunia ini aku hanya mengenal dua orang dukun sihir yang mahir pula bersilat. separo rembulan tanggal tujuhan sudah dari sore muncul-sembunyi sehingga cahayanya redup. Rupanya mereka sudah mengetahui kehadiran dua orang . Mendung yang menebal dan suara lolongan anjing dari kejauhan menambah nuansa seram yang dirasakan. Sam-lojin menyambar tangan Bhok Kian tosu dan mengajaknya berlari. Ketika sosok-sosok mereka sudah mulai terlihat tiba-tiba saja berhenti. Sekonyong-konyong terdengar bunyi menjepret. Malam itu cuaca berawan.” “Siapakan dia paman?” tanya Bhok Kian penasaran. Sam-lojin memberi tanda supaya dia tidak bersuara.. Bhok Kian segera mematikan api unggun.. dan sambil menikmati tak lupa menawarkan ke sam-lojin. dan tak sampai sedetik sebuah panah api melesat mendekati tempat istirahat mereka. Bhok Kian melihat pemandangan yang remang-remang dengan muka tegang. baru kali ini ia merasakan suatu ketegangan yang sangat mencekam. Yang pertama adalah Pek-mau Say-ong (Raja singa berambut putih). Cepat matikan api unggunnya!” jawab sam-lojin. tiba-tiba terdengar bunyi kuda berlari cepat ke arah mereka. Selama belasan tahun terjun ke dunia persilatan.. ”Siapakah mereka dan berapa jumlahnya?” tanya Bhok Kian dengan wajah menegang karena ia sendiri belum mendengar apa-apa. Aku menduga salah seorang yang kulihat sekelebatan. dari satu kemudian bertambah banyak sampai enam buah.” ”Kira-kira bagaimana kita bisa menga. Dengan berbisik sam-lojin berkata. yang kedua asli India. Yang pertama berdarah campuran. ”Aku mendengar lebih dari sepuluh ekor kuda.

Beberapa mampu ditangkisnya tapi ada sebagian yang dihindari. Dari gerakan silat mereka.. Pada saat yang hampir bersamaan.... ”Desss.ha. Hal yang membuat Bhok Kian dan sam-lojin kaget setengah mati adalah. sekarang mampuslah kalian. Pada jurus ke empat puluh dua orang dari pihak pengejar roboh bersimbah darah. Namun satu pukulan terakhirnya juga tak mampu dihindari lawan.. Mulailah terjadi pertarungan yang sangat seru dan mati-matian... Hingga pada jurus ke seratus. hiaatttt!” seorang yang paling tinggi di antara penyerang menyambitkan puluhan jarum-jarum beracun. Lewat tiga puluh jurus terlihat pihak Bhok Kian mulai kewalahan dan terus terdesak. karena posisi bersatu punggung. jarum-jarum rahasia yang dihindari mengenai tubuh samlojin...auurrggg. Bhok Kian dan sam-lojin dapat menduga bahwa lawan yang mengeroyok berasal dari Yu-liang-pay. namun pukulan susulan yang dilancarkan tak sanggup lagi ditangkisnya. akhirnya mereka turun dan mengepung dua orang sasaran. Celakanya.. ”Triingg...pamaann. Gerakan mereka sangat tangkas.croott. Namun serangan yang ditujukan ke dua sasaran justru makin meningkat. Ia sangat kepayahan.. Pukulan dan hujaman pedang tiga orang musuh yang mengepungnya tak sanggup dilawan semuanya. Kali ini ia bertekad mengeluarkan tenaga terakhirnya..! sejengkal sebelum ujung pedang itu menyentuh tubuh Bhok Kian.. sebuah pisau kecil terbang menyampoknya.!” Jerit parau melengking yang keluar dari mulut sam-lojin adalah jerit kematian. Semak dan rerumputan pada jarak empat tombak sudah roboh seperti tertiup angin topan. Masing-masing dinaiki oleh seorang bertopeng. hanya mampu ditangkisnya lemah. Yang luar biasa adalah tingkat kepandaian mereka yang tidak disebelah bawah sam-pangcu... karena ia berkonsentrasi menghadapi serangan dari depan. sam-lojin mulai terhuyunghuyung..!” seru Bhok Kian tosu pilu. .. ”Paman. tingkat kepandaian mereka yang sangat tinggi. Tongkat di tangan sam-lojin terus berputaran dengan cepatnya.. Pertarungan ini sungguh sangat seru. Tubuhnya limbung. dan memakai caping. bunyi mengaung-ngaung cukup memekakkan telinga mereka yang memiliki sinkang rendahan.. karena selain berusaha melindungi diri sendiri dia juga ingin melindungi keponakannya. ”Ha. Tanpa kata-kata kemudian mereka mulai menyerang. Sabetan dari samping yang mengarah ke leher. Karena kesulitan menyerang dari kuda. Mereka terkesiap melihat sepuluh ekor kuda sudah mengelilingi dari berbagai arah.... Namun mereka berdua seakan bersepakat untuk terus melawan sampai titik darah penghabisan. Merasa usahanya bakal sia-sia Bhok Kian dan sam-lojin berhenti kemudian berbalik.buruan. Bunyi dentingan dan pijaran bunga api dari jauh seolah-olah sedang ada pesta kembang api.ha. Tusukan pedang ke arah punggungnya berkelebat cepat.... serangan pedang lawan juga sangat hebat. Bhok Kian berusaha menangkis.

“Foi sicu.. Darah bercucuran keluar dari luka. Apalagi disampaikan oleh orang bertopeng yang jelas-jelas tak ingin identitasnya diketahui. Kebetulan aku dapat resep membuat racun itu dari perwira Sung yang menjadi murid iblis timur. Bhok Kian bukannya tidak tahu kalau sedang dibokong. Selama ini dunia persilatan hanya mengenal racun perampas ingatan yang dimiliki klan Tok Nan-hai pang (Perkumpulan racun dari Nan-hai).! auggghhh. Segera ia mendekati Bhok Kian. Sekaligus aku memang ingin mencoba khasiatnya. Lelaki yang bertubuh tinggi bertopeng setan merah itu menotok beberapa bagian tubuhnya. Tubuh Bhok Kian lunglai dan pingsan tak sadarkan diri.! lengan kiri Bhok Kian putus. takut apa sama Kun-lun-pay!” Ucapan ini sungguh jumawa. “Aku sudah meracuninya! Begitu bangun dia akan kehilangan ingatannya. di depan goa tempat bersemayam Kun-lun-sam-lojin terjadi obrolan serius dua kakek penunggu goa itu di atas sebuah dahan. Setelah menuangkan isi botol kecil itu.. dan mengayunkan pedang ke pangkal lengan kiri Bhok Kian. Lagian kalaupun racun itu tidak ces pleng. agar menjadi fitnah bagi dunia persilatan. sambil membawa mayat tiga orang saudaranya. Dan padang bungapun kembali sunyi. Kemudian orang itu mengajak anak buahnya pulang. dengan paksa laki-laki itu mencekoki Bhok Kian dengan suatu cairan. hanya bunyi jangkerik dan suara serangga malam yang terdengar. wajahnya yang bertopeng melawan sorotan sinar rembulan yang baru muncul dari balik awan kelam.. hingga membuat bulu kuduk meremang. Namun tak seorangpun membantahnya. Dengan cekatan anak buahnya menjalankan perintah itu. orang yang bertanya dapat melihat betapa dingin tatapan matanya. tak ada kabar beritanya. Tak jauh dari tempat mereka kangkauw-kangkauw seorang anak lelaki sedang melakukan gerakangerakan silat. Namun seseorang yang bertubuh agak pendek berkata agak mencela. Setelah luka itu terbalut. Namun sampai saat ini. ”Crooott.. Aku sengaja membiarkan dia hidup. kenapa engkau tidak binasakan saja tosu keparat itu sekarang juga? Sesungguhnya kalau dibiarkan dia bisa bocorkan rahasia kita!” Lelaki bertubuh tinggi itu menoleh ke orang yang baru saja bicara. Anehnya ia memerintahkan anak buah untuk menaburi luka itu dengan obat dan membalut lukanya. sudah lebih dari dua bulan sam-te dan Bhok Kian pergi menyelidiki Yu-liang-pay. Dua bulan setelah peristiwa di padang bunga merah itu. Maka perlahan-lahan mereka kembali naik dan keprak kudanya. Kemudian rombongan penyerang itu dengan cepat meninggalkan tempat pertarungan. lelaki bertubuh tinggi itu memerintahkan penguburan sam-lojin..”Jangan bunuh dia!” ujar orang bertubuh paling tinggi yang melontarkan pisau kecil itu. Apakah . ia seakan tak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya. namun karena konsentasinya terpecah ke pamannya. “Ji-te..

Di kota Heng Yang. aku tidak pernah mendengar ada orang yang melihat kepulangan mereka. Biarlah sekarang juga aku mencari berita mereka berdua. Jauh di sebelah timur pegunungan Fan Cing san...prakk.. di musim dingin yang sangat menusuk tulang. Dengan tingkat kelihaian sute Tanpa berpamit.siancay. Saat semua orang terlelap dalam bilik masingmasing terbungkus selimut tebal.praaak... Biarlah kita menunggu saja kabar berita dari tosu Kun-lun-pay..engkau keberatan mengunjungi Kun-lun-pay.” Ucapan yang damai dari toa-lojin ini membuat suasana kembali tenang.” “Benar. Di sepanjang perjalanan. Pada suatu malam yang kelam. tapi kalau hilang tanpa jejak juga akan membuat orang penasaran.. dan kemudian melarikan diri. Akupun khawatir terjadi sesuatu atas mereka. Dia tetap bersemangat berlatih silat dibawah bimbingan dua pendekar tua yang namanya sangat mashur puluhan tahun silam. dengan sekali ayun bagaikan terbang kakek bertubuh gembul ini telah berkelebat ke arah selatan.!” Enam orang tampak sedang mencoba untuk menebang batang pohon hek siong yang sangat besar berukuran lebih dari dua orang dewasa. Sedang di Yu Liang mereka berdua pernah bentrok dengan anak-anak murid Yu-liang-pay.. menanyakan kepada para tosu kabar berita mereka berdua?” Yang ditanya sambil tersenyum menjawab. Dua minggu setelah kepergiannya...” “Siancay.. Hujan es bercampur salju dari sore turun dengan lebat disertai kilat yang menyambar-nyambar.. Lukisan misterius Sepuluh tahun tak terasa berlalu sejak peristiwa kegemparan di Yu-liang Pay. terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan. Kita tidak pernah sayang pada nyawa. Malam ditemukannya sebuah lukisan misterius. Bab 4. “Praakk.. “Sama sekali tidak loheng. Kota yang saat itu menjadi ibu kota propinsi Hu-Nan. akupun hendak menyampaikan hal ini kepadamu. Chien Ce juga sudah tidak pernah lagi bertanya tentang keadaan mereka berdua. Di Kun Lun tak seorangpun mendengar berita Bhok Kian. Jika kelak memang ada sesuatu musibah yang menimpa mereka. kita punya murid yang bisa mengemban tugas ini. “Berita tak baik loheng. Malam itu. ia kembali dengan wajah kusut.. Di depan gedung tua yang cukup megah di kota Heng Yang terdengar suara keras beradunya kapak dengan batang kayu. ..kehendak Thian tak seorangpun yang tahu. menurut perhitunganku mereka tak kan lebih dari dua minggu berkunjung ke sana.

pada saat musim semi dan panas terjadi kekeringan yang sangat. Beberapa perahu tampak sedang terapung-apaung di tengah danau tersebut. Di bawah cahaya lampion yang remang-remang ia dapat melihat memang itu lukisan adanya. . Bahkan pohon hek siong semacam pinus yang batangnya berwarna hitam yang berada di depan sebuah gedung tua yang berarsitektur sangat indah. bukan seruling tapi hanya tabung saja”. A Cin yang memimpin penebangan pohon hek su gi di depan gedung tua itu melihat ditemukannya tabung perak sepanjang dua jengkal. teman yang lainnya menimpali. kuno dan unik tak luput dari penebangan itu.... Ketika A Cin coba putar-putar ternyata tabung terbuka. orang sudah tidak lagi memedulikan jenis pohon...Hentikan!” seorang tua yang menjadi pemimpin penebang pohon berseru begitu mendengar suara aneh.. “Ehh.. Pohon ini sebenarnya cukup mahal untuk dijadikan kayu bakar. jadi tidak bisa membaca isi tulisan itu. Bagi yang berpengetahuan sekilas latar belakang itu mirip peta. “Seperti lukisan!” anak buah yang menemukan berseru. sedang mengalami bencana salah musim yang parah.. tak heran jika dingin yang dirasakan semua orang sangat menusuk hingga terasa ke tulang belulang. Dan pada musim dingin terjadi badai yang luar biasa.. “Ada logam seperti perak.ting!” tiba-tiba terdengar suara nyaring beradunya dua logam.. dan diikuti kekurangan pangan. Sungguh berani sekali tindakan penebang itu karena gedung tua itu adalah gedung gudang senjata tentara gubernur Heng Yang. Penduduk menebangi berbagai pohon untuk dijadikan kayu bakar. Namun di musim seperti ini. Anehnya malam itu tak seorang prajuritpun yang menjaga di luar gedung dan keadaan di luar gedung itupun gelap gulita. “Hei suara apa itu. Dibawahnya terdapat danau yang bening. Tabung yang berukuran seperti suling itu memang bukan suling. “Prakk. pepohonan yang rindang salah satunya pohon hek siong dan angsa yang saling berkejaran..Pada waktu itu di propinsi Hu-Nan.. ada sedikit bagian gambar yang menjadi luntur... namun masih terlihat jelas menggambarkan suasana pegunungan.. A Cin segera berlari menuju emperan sebuah toko yang sudah dari sore tutup. Lukisan itu meskipun sudah lusuh dimakan usia. Pada bagian bawah lukisan tertulis “siapa mendapatkan lukisan ini sungguh akan sangat beruntung”. Di dalamnya terdapat selembar kain.!” teriak salah seorang anak buah yang kapaknya beradu dengan logam tadi. Dia lantas menyelidiki sumber suara. Karena sempat terpercik air. teman-teman yang lainnya kontan langsung merubungi..seruling perak. Celakanya A Cin dan kawan-kawannya tidak pernah makan sekolahan. Lukisan tua yang aneh pada bagian bawah ada lukisan pemandangan alam yang cukup indah namun bagian latarnya terdapat coretan-coretan mirip cacing menuju lubang.

*** Esok harinya. kota Heng Yang ramai dikunjungi orangorang luar daerah. Namun bagi A Cin. Tak berselang hari. beberapa kali menterornya. A Cin memutuskan untuk menjual rumah dan pindah ke kota lain. sedang komandan prajurit yang tahu kelicikan juragan Kong minta harga tinggi. apa yang harus kita lakukan? apa perlu kita sampaikan lukisan ini ke Kong tauke?” salah seorang dari mereka bertanya. juragannya. opas-opas Kong taukue. kabar penemuan lukisan ini sudah tersiar luas ke seluruh penjuru kota. Mulailah orang-orang ramai berdatangan ke rumah A Cin. Mereka rata-rata berpakaian gelap dan ringkas. *** Seminggu setelah kejadian itu. untuk melihat seperti apa adanya lukisan aneh itu. Ia juga tidak pelit memberi persen bagi para prajurit jaga. tak peduli dengan cara bagaimana pohon itu roboh. Ayo kembali lagi bekerja!” tegas A Cin. ia justru harus membayar mahal. sambil memasukkan kembali lukisan ke tabung perak dan mengantonginya dengan cepat. “Tidak! Ini adalah rejeki kita! Kita hanya bertugas menebang kayu dan besok kita lanjutkan lagi memotong-motong kayu ini. Rupanya mereka sedang tawar menawar harga kayu yang roboh itu. Bagi orang seperti Hung tauke yang bergelimang harta. Padahal prajurit itu tahu belaka bahwa dari bekasnya pohon itu roboh ditebang. Meski . A Cin segera menjual lukisan itu ke Hung tauke. Semua melihat lukisan itu seperti kucing kelaparan melihat mangsa. Tak tahan mendapat teror terus menerus. Juragan Kong minta harga yang rendah. akhirnya disepakati harga tengahtengah dengan catatan ang-pao prajurit ditanggung si juragan. Beberapa orang bahkan menawarnya itu dengan harga yang cukup tinggi. Prajurit penjaga gedung yang bertugas jaga hanya dapat bersungut-sungut ketika mereka berkilah bahwa pohon itu sudah terlanjur roboh akibat disambar petir. Toh sebentar lagi mereka akan tersenyum kalau sudah kecipratan ang-pao dari Kong tauke. namun A Cin masih menolaknya. Si juragan kayu ini memang pandai sekali merayu komandan tamtama agar diperkenankan mengambil kayu dari pohon-pohon yang roboh. Maklumlah meskipun mereka tinggal di kota. Maka dengan enteng keenam penebang itu melanjutkan pekerjaannya. tiga tail emas tidak seberapa dibandingkan dengan hoki yang dipercaya datang dari lukisan itu. orang-orang yang perpenampilan asing dengan berbagai logat. namun pola pikir jaman itu sangat dalam sekali oleh pengaruh mistik dan budaya. Ia menerima tiga tail emas untuk lukisan itu. kadang satu dua terlihat membawa senjata seperti golok atau pedang. Setelah ada tawaran yang besar.“Cin ko. di depan gedung itu juragan Kong tampak sedang berbincang serius dengan komandan prajurit penjaga gedung. Namun bagi prajurit jaga yang biasa ternaungi oleh pohon itu sudah kebayang hari-hari kedepan di musim panas adalah hari jaga yang bakalan berat.

*** Dua hari setelah kejadian itu. sehingga masih banyak pepohonan yang rimbun menghijau. begitu cepat gerakan bayangan-bayangan itu sehingga agaknya iblisiblis sendiri yang sedang sibuk mencari korban. pagi-pagi setelah kejadian langsung bergerak mengejar pelaku. kota Siauw-koan ini tidak mendapat serangan badai musim dingin. pagi harinya. sekujur tubuh penuh lebam bekas pukulan. Berbeda dengan Heng Yang. perutnya dan bawahnya berlumuran darah. Mereka melompati gedung tinggi itu dengan menggunakan tangga tali. tempat seperti itu paling cocok menjadi tempat tinggal setan iblis dan siluman. pada malam hari itu. . Siapakah pelaku perampokan di rumah Hung tauke? Tak ada seorang pendudukpun tahu. Sekilas saja orang sudah menebak apa yang terjadi. beberapa saat setelah kelebatan manusia-manusia itu dari kejauhan orang akan mendengar teriakan-teriakan disertai suara beradunya senjata tajam. Rambutnya awutawutan. pakaiannya tak karu-karuan. Tak lain adalah lukisan misterius. ketika hujan kembali tercurah dari angkasa. Mereka telah menyiapkan kuda untuk meloloskan diri. Akan tetapi. Pelaku pencurian dan pengejarnya rupanya memang telah mempersiapkan diri dengan baik. Hujan yang masih cukup deras mengaburkan pemandangan ini. keadaan di sekeliling rumah tampak amat menyeramkan karena ada bayangan-bayangan yang berkelebatan. Biasanya. dan jeritan histeris perempuan. jelaslah mereka bukan tergolong pencuri kampung. memaksa juragan Hung menyerahkan lukisan misterius. orang-orang berwajah luar daerah yang datang ke kota Heng Yang. Yang paling mengenaskan nasib Hung Chi Yi. Opas-opas Hung tauke yang hanya jagoan kandang pagi-pagi sudah terkapar di halaman rumah. di lembah antara Pegunungan Lian-san. Melihat kelihaiannya. menggasak harta benda. Rumah itu bukan lain milik Hung tauke. kota kecil di sebelah selatan Heng Yang. di sebelah selatan kota Siauw-koan. Namun. Rumah yang biasanya banyak dihiasi lampu-lampion yang besar dan indah. setelah fajar menyingsing diketemukan pedagang tergeletak di tepi sungai Cho. bersikap kasar dan berwajah liar. Tak ketinggalan cucu Hung tauke yang baru berusia dua belas tahunpun tak lepas dari sasaran penculikan. Akan tetapi kalau diperhatikan. Pada malam harinya. di sebuah kuil tua yang berdiri di tepi Sungai Pei-ho. cucunya yang diculik itu. kuil ini kosong dan bagi yang percaya. Suatu tempat yang sunyi dan kuno sehingga kuil yang amat kuno dan sudah bobrok itu cocok sekali dengan keadaan alam yang sunyi dan liar di sekelilingnya.dari berbagai wilayah namun kedatangan yang berbarengan menunjukkan ada persamaan tujuan. Serombongan pencuri bertopeng seram menyatroni rumahnya. Berbeda dengan penduduk. bayangan-bayangan itu sama sekali bukanlah setan melainkan manusia-manusia. sungguhpun manusia-manusia yang menyeramkan karena mereka yang berjumlah lima orang itu bertubuh tinggi besar. Di suatu gedung megah di pinggir jalan utama kota Heng Yang.

yang dipimpin oleh Siong Chen. “Tunggu! Kalau memang ingin menyerbu sebaiknya kita cari dahandahan pohon kita buat batu loncatan atau jembatan.. Memang sesungguhnyalah bahwa lima orang tinggi besar ini bukan orang-orang sembarangan. Apakah orang itu . Mereka adalah lima orang tokoh dari Yu Liang Pay. maka bisa dibayangkan tingkat kelihaiannya dibandingkan dengan yang dulu. Uap racun itu masih berbahaya pada jarak satu tombak di atas tanah. mengapa kelihatan sunyi dan kosong?! Apakah sepagi ini mereka sudah meninggalkan kuil? Namun kita tidak menemukan jejaknya” “Lebih baik kita serbu saja ke dalam!!” kata Si Tahi Lalat sambil mencabut goloknya. seperti hendak menyelidiki keadaan kuil yang sunyi dan kelihatan kosong itu. Rombongan yang pertama datang adalah lima orang yang rata-rata berusia di atas tiga puluh lima tahunan. Kalain tidak tahu kehebatan racun putih tepung setan itu. Akan tetapi sungguh heran. Dan betapa merindingnya mereka melihat tebaran tepung kasar seperti garam di sekitar kuil yang cukup lebar. Kuil ini mulai didatangi beberapa rombongan. Meskipun kita bisa melompatinya tanpa jembatan atau tangga yang tinggi kita pasti kena racun itu. Rombongan ini dipimpin oleh orang paling muda yang berpakaian perlente. meski matahari belum terbit. apakah benar kata desas-desus bahwa lukisan itu berisi peta rahasia penyimpanan harta karun Lau Cin Shan. karena selain cepat juga membayangkan kekuatan yang jauh lebih daripada manusia-manusia biasa.!” hampir semua anak buah Siong Chen berseru terheran-heran. Gerakan mereka tidak seperti orang biasa. yang mempunyai tahi lalat besar di dagunya. bertanya kepada Siong Chen. Namun ketika hendak mencoba mendekat. “Tahaann!” Sebelum Siong Chen menjelaskan. Dengan golok dan pedang dengan cepat mereka menebangi pohon. Sejak tadi lima orang ini berkelebatan di sekitar kuil tua. orang yang diseru bertanya.. tidak kelirukah kita? Apakah benar kuil ini yang dijadikan tempat sembunyi pencuri dari Nan-hay itu?! Tiba-tiba seorang di antara mereka. “Lihat di sekeliling kuil bertebaran bubuk racun warna putih. hampir setombak lebarnya. Siong Chen berseru mencegahnya.. “Chen-te. sehingga cuaca masih gelap karena awan mendung belum luruh semuanya menyirami bumi. Siong Chen selalu memperdalam ilmu pedangnya. Kepandaian mereka amat tinggi karena mereka ini adalah murid-murid tingkat satu. “Chente. Apalagi sejak peristiwa kegemparan di Yu Liang Pay. Mereka benar-benar merasa kagum atas pengetahuan Siong Chen.Namun di pagi buta itu. Pedang dan golok yang terselip di pinggang lima orang tinggi gagah itu menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mengandalkan ilmu silat dan senjata mereka. “Tidak salah lagi!” jawab Siong Chen yang kini usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun itu sambil memandang ke arah kuil tua.” “Ahhh.

sastrawan dan penasihat gubernur maupun raja. hingga yang maestro harus pergi berjuang sebagai penasihat perang ke wilayah Secuan dan tak pernah kembali lagi selamanya. Bahkan ia dipercaya sebagai arsitek terakhir pembangunan patung budha terbesar di Secuan. Pria yang merupakan seorang sastrawan sekaligus pelukis sekaligus pesilat yang sangat terkenal seantero Tionggoan. merupakan kota yang sangat terkenal sebagai pusat kebudayaan dan kesenian. nama Lau Cin Shan sang maestro bahkan jauh lebih terkenal dibandingkan dengan nama gubernur atau kaisar sekalipun. Tak terhitung berapa puluh wanita yang pernah menjadi isterinya yang tersebar di berbagai kota sepanjang propinsi Hu-Nan sampai Secuan. Hanya yang masih belum jelas apa warisan yang disimpan dalam tempat di peta itu. Satu hal yang membuat kekecewaan dan kegusaran istri-istri Lau Cin Shan adalah karena tak seorangpun dari mereka yang dapat mengandung. Bukan hanya kepandaiannya melukis yang mebuat namanya demikian menjulang. Di kota Heng Yang. di masa keemasan dinasti Tang. Patung budha yang dimaksud adalah patung budha berukuran tinggi sepuluh tombak berada di selatan menghadap sungai Toa-tu dan sungai Beng. diproduksi oleh berbagai pengrajin. ilmu perbintangan bahkan ilmu nujum. dan yang lebih membuat ibu-ibu atau anak gadis kepincut adalah ketampanan rupa dan keromantisannya.memang benar-benar ada?” salah seorang yang berhidung mancung bertanya. dengan minat menonton masyarakat yang sangat tinggi. Berbagai hasil barangbarang seni tingkat tinggi seperti keramik. sering bergolak. Setelah dinasti Tang jatuh. lampion. Dahulu. Pertunjukan seni dan taripun mudah di jumpai di berbagai gedung teater. Siapakah sebenarnya Lau Cin San? Kota Heng Yang yang terletak ribuan li di sebelah timur Fan Cing san. ia memang benar-benar pernah ada. dan menjadi . patung-patung kayu dan batu. sastra. namun juga kepandaian silat. sehingga seakan-akan rohnya tetap memantau pembangunan” papar Siong Chen. Sebagai propinsi di daerah perbatasan maka HuNan menjadi daerah yang kurang aman. ilmu perang. “Menurut toa-pangcu begitu. Lau Cin Shan bukan hanya tokoh dongeng. namun begitu Lau Cin Shan tetap mampu melakukan tugas-tugas sebagai pelukis. banyak yang meninggalkan Lau Cin Shan. terakota. dan langsung berbatasan dengan wilayah yang dikuasai kerajaan Tayli. Patung ini dibangun selama sembilan puluh tahun pada jaman dinasti Tang. Tak heran kalau dari tempat seperti ini ratusan tahun silam pernah lahir seorang maestro besar. Ia seorang pelukis dan pesilat besar jaman Tang. meskipun tidak sampai selesai namun tempat kematiannya berada di bukit di seberang patung itu. Lukisan itu berisi petunjuk warisan Lau Cin San. Maka satu per satu karena pupusnya harapan. hingga akhirnya di usia yang lima puluhan hanya tiga orang yang masih setia mendampingi sang maestro. pada tahun 713 – 803. propinsi Hu-Nan merupakan propinsi paling selatan dari dinasti Sung.

“Cong taisu adalah Lau Cin Shan itu sendiri. Seketika mereka membalikkan badan.clap. mulailah mereka menancapkan tonggak-tonggak dahan sebesar betis orang dewasa berjajar. nama aliasnya!” jelas Siong Chen. mata mereka sudah melotot... coba aja kalau berani menginjak tanah! Mana ada hak mereka mengaku-aku ahli waris Lau Cin Shan!” Teriakan ini segera ditimpali tertawa pihak Yu-liang pay.. tapi nyalinya tak ada.. monyet-monyet kudisan macam mereka berani bersaing dengan kita! Sungguh menjemukan!! Bambunya saja yang mengerikan. “Biarlah nanti toa-pangcu yang memutuskan!” jawab Siong Chen.. hanya menduga bahwa mereka adalah rombongan musuh. Mendengar ejekan dari Siong Chen. ia tahu lawan hendak menyeberangi pembatas taburan racun dengan tonggok-tonggak itu. “Ha.. Berbeda dengan kakak-kakak seperguruannya. Namun ketiga mereka masih sibuk meruncingi ujung dahan yang hendak ditancapkan dengan cara dilepar dari atas tonggal luar.... membentuk posisi mengelilingi kuil.wusss. mereka bisa bergerak tanpa menjejakkan kaki di tanah.” nampak sinar putih meluncur secepat kilat dari atas pohon..clap..wuss.ha.. Aneh..... Golongan yang kedua datang ini terdiri dari orang-orang berumur campuran ada yang masih muda ada yang sudah tua.. Mereka tidak tahu apa yang bergerak itu.ha.. dan langsung memberi komando kepada anak buahnya.clap. Setelah dekat mereka kemudian bertengger di pohon-pohon yang masih tersisa. Namun pemimpin rombongan yang memakai rompi cokelat berpikir cerdik. Ternyata pimpinan rombongan klan bambu putih berpandangan tajam juga. ada laki-laki ada perempuan semuanya berpakaian putih dan memakai caping dari bambu yang dicat putih..ha. “Bukankah pembuatnya bernama Cong taisu?” timpal lelaki bermata lebar.. . Hal itu sudah membuat hati mereka bergetar. begitu melihat rombongan pertama hendak memasang tonggak-tonggak.. ia tidak mau melayani olok-olok pihak Yu-liang pay. Sekonyongkonyong terdengan suara ribut berdengung-dengung dari kejauhan. Siong Chen yang mengenali rombongan mereka sebagai kelompok bambu putih segera berseru. Mereka harus menancapkan tonggal-tonggak itu di dekat kuil. Rupanya orang-orang bambu putih melontarkan bambu putihnya. jumlahnya ada belasan..... Dari kejauhan terlihat daun-daun dan ranting pepohonan bergoyang-goyang..sarang berbagai kelompok yang anti pemerintah pimpinan Tio Kuang Yi.... termasuk bambu putih.lihat suko.. Setelah lebih dari sepuluh batang ditebang.. “Pasang formasi perisai bambu!” “Wuusss. “Apakah lukisan yang dicuri orang-orang Nan-hay peta asli?” kembali si hidung mancung bertanya....

Senjatasenjata sudah ditangan. Puluhan bambu yang kedua ujungnya runcing menancap mengelilingi bangunan kuil seperti pagar. dan itu berarti cukup waktu untuk memperebutkannya. Dengan saudara sendiri saja tega memangsanya apalagi orang lain!” Teriakan ini segera ditimpali tertawa pihak bambu putih. Sedangkan lima orang dari pihak bambu putih mulai turun.. Mereka yang sudah tegang menjadi lebih terhanyut suasana yang makin menegangkan lagi... Namun sebelum ada salah seorang yang mau mengumpat sekonyong-konyong terdengar suara derap kuda. Sungguh bunyi yang sangat tak sopan. “Kawankawan lihat sekawanan tikus kanibal kehilangan liang... rombongan yang terdiri dari tiga orang. Hmmm... pimpinan rombongan ini masih mencoba bersikap tenang. kuperingatkan kalian agar hait-hati berhadapan dengan mereka. Tak berselang lama muncullah rombongan ketiga. Pihak Yu-liang Pay dibuat terkejut terkejut. maka gerakan Yuliang untuk melompati sungai racun jadi terhambat.. Mereka adalah rombongan Nan-hai yang sedang mencari kuda pengganti. Suasana menjadi penuh ketegangan. bahwa kawan-kawan rombongan yang baru datang ini masih ada di dalam kuil. Ayo pergi!” “He. “Enam orang!” bisik masing-masing yang berilmu tinggi.. Muka tiga orang ini berubah pucat... Dari hitung-hitungan kalau mereka mengepung mereka pasti kemenangan berada di pihaknya. Kalaupun salah satu mereka mendapatkannya. Siong Chenpun menjadi malu. Urusan dengan bambu putih bisa diselesaikan belakangan.! Siong Chen berteriak memperingatkan kawan-kawannya.. Siong Chen yang cerdik tahu. Kontan aja mereka jadi kebakaran jenggot. namun kelihaiannya tak kalah mengerikan. Dengan tertancapnya puluhan bambu di sekitar kuil.he.. Gantian pimpinan bambu putih berseru. yang berbaju seperti nelayan. Bambu-bambu itu berwarna putih seperti dicat.orang-orang Nan-hay dari dulu tidak pernah memandang sebelah mata pada orang lain..sreett..srett. kalau dilihat dari jumlah kuda yang datang mestinya yang didalam berjumlah tiga. “Sret.he. Semua menahan nafas.. perjalanan pulang memerlukan waktu cukup lama..” orang-orang dari Yu-liang pay sudah mencabut senjata masing-masing. Betapa kagetnya ketika melihat banyak orang sudah mengelilingi kuil. “Kalian siapakah dan mau apa bergerombol di depan kuil kami? Kami tidak punya uang receh untuk gelandangan-gelandangan seperti kalian. Tiba-tiba... Namun.” jawab Siong Chen sambil tersenyum mengejek.. bahkan beberapa menutup hidung sambil mengipas-ngipaskan tangannya.“Awaass. Meskipun bahannya berbeda dengan racun yang ditaburkan pihak Nan-hay. Namun jika orang-orang Nan-hay .hendak kulihat apakah hari ini kalian bisa lolos dari kepungan dengan membawa peta itu. dari kejauhan. Tiba-tiba suasana sunyi itu dipecahkan oleh bunyi kentut dari orang bertahi lalat besar. betapa lucunya. Tapi bagi yang mengenal tahu belaka bahwa bubuk putih yang dilaburkan ke bambu bukan cat melainkan racun.. Semua mata melotot dengan waspada. Awalnya mereka menyangka musuh hendak menyerang tapi ternyata mereka lontarkan bambubambu ke sekeliling kuil. demi mengetahui yang datang dari Yu-liang pay dan bambu putih.

Dan ia tahu posisinya lebih di atas angin daripada kedua rombongan yang dihadapi. Posisi mereka masih belum jelas.” “Hei. Pihakku paling banyak jumlahnya dan paling berhak atas peta itu!” ujar pimpinan rombongan bambu putih yang bernama Tik Coan Kok. Tak mau kalah gertak. namun mereka paham medan. “Ha-ha-ha. terdengar teriakan seorang wanita dari pihak bambu putih: “ Sudah cukup! Cih kaum lelaki tak tahu malu. sehingga bisa menguasai pertandingan. ayo serahkan saja peta itu pada kami! Saat ini. “Kita bereskan dulu ikanikan kerapu amis ini! Baru nanti kalau peta sudah ada kita selesaikan sengketa kita.” “Mana mungkin. “Tunggu! Biarlah kami yang mengajukan usul!” “Apa usulmu?” sergah Coan Kok.hei. sedang ketua rombongan sudah mampu menenangkan diri. Can Seng yang tahu gelagat menjulurkan tangan ke depan dengan telapak terbuka. dan tanpa dikomando keduanya memandang Can Seng dengan mata melotot.. Setelah beberapa ... “Ha. Katanya. Aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan.Siong Chen. Sehingga suasana mirip pasar. jadi posisi kalian sebenarnya sudah diujung jurang.waktu sesingkat itupun cukup bagi bala bantuan kami datang dari Nan-hay. Pimpinan rombongan diam sejenak. “Kami tunggu disinipun kawan kalian yang di dalam akan dapat pasokan makanan dari mana?” jawab Siong Chen cerdas. “Apa susahnya kami keluar lewat genting?” jawab ketua rombongan Nan-hay. dan ternyata ucapan mereka besar-besar. Meskipun jumlah orang-orang Nan-hay yang di luar hanya tiga.. tidak salah. ia memandangi dua orang kawannya. Sebagai orang yang paling tua diantara mereka pengalamannya lebih banyak. Mana bisa seenak perutmu sendiri kau meminta peta itu diserahkan padamu.” seru Siong Chen. Can Seng memandang dengan tersenyum. mereka masih mampu keluar membantu kami. Peta belum di tangan sudah hendak adu nyawa. rombongan Yu-liang Pay juga membalas adu mulut dengan tak kalah berbusanya. kamu tidak boleh sok jago.ha. Tiga orang yang baru datang ini tampak tereheran namun tidak terkejut.. kuil itu sudah dikepung bambu putih!” seru salah seorang anggota bambu putih. apakah kalian tak bisa lihat...ha. kalian anggap kami ini sebagai apa. Ucapan ini segera ditimpali oleh anak buah rombongan bambu putih. Apa hendak menjadi anjing memperebutkan tulang!” Siong Chen maupun Coan Kok tersadar. Ketika kedua belah pihak sudah hendak saling serang.” laki-laki berkulit hitam pemimpin rombongan Nan-hay balik mengejek. Karena itu maka Siong Chen berkata. tapi belum tentu kalian mampu mengalahkan kami.dibiarkan maka dalam waktu sehari perjalanan kuda mereka akan sampai ke daerah kekuasaannya di laut selatan. namun semuanya geleng-geleng kepala. kalian mau apa?” “Kepung mereka!” ujar pimpinan rombongan dari bambu putih. lagi pula hanya beberapa li dari sini sudah masuk wilayah kekuasaan kami. “Can Seng! Dengan jumlah anak buah paling sedikit bagaimana kamu masih bisa berlagak. kami masih mempunyai kawan di dalam. tidak salah kabar orang! Kabarnya Yu-liang pay amat sombong. “Kalian bisa mengepung kami. Siong Chen mengikuti perdebatan itu dengan bersungut-sungut.

Tak seorangpun dari pihak lawan yang mengganggunya. itu baru adil. tampak pihak Nanhay mulai terdesak dan hampir berbarengan keduanya roboh tersungkur. sungguh itu sama dengan bo-ceng-li. Untung luka mereka tidak terlalu parah. tak enak di kami. mari hadapi aku. kalian masing-masing satu jago. Kalau aku sudah terkalahkan. kami harus dua kali mengalahkan kalian. emangnya kami orang-orang bodoh.” “Hmmm. Can Seng meskipun bertampang kasar namun cukup cerdik. Dua orang dari Nan-hay pun maju kedepan.” “Gan Hung. “Ma Ciu.. nah sekarang kau boleh pilih: menyerahkan peta kemudian bunuh diri atau menyerah kupenggal!” Sungguh hebat sekali hinaan yang dilontarkan Siong Chen. Serangan pedang dan golok bergantian meluncur dari kedua belah pihak. enak di kalian. Namun dengan sigap ia segera memberi pertolongan dan mendekatkan mereka dengan kuda yang ditambat dibelakang. Setelah saling berhadap-hadapan maka dimulailah pertandingan. itu tak adil. Kalau jago kalian kalah dalam satu babak. Kalau salah satu jagon kami kalah. wajah pimpinan Nan-hay terlihat gelisah. “Begini saja. karena kedua pasangan yang cukup seimbang ilmunya. “Siong Chen. Mereka berdua kemudian melakukan siulian untuk memulihkan luka. tapi kalian minta sekali kalah kami haruh enyah.. Dalam kondisi terdesak seperti itu ia masih mampu berpikir jernih. kau bukan lagi lawanku. Melihat kedua jagoannya roboh. Siong Chen mulai tak sabar melihat musuh yang bekerja klemar-klemer segera berseru “Ha. tanda kemarahannya sudah melonjak.. Mata lelaki tinggi besar bermuka brewok yang dipanggil Can Seng itu sudah menyala. Tantangannya membuat kedua lawannya tidak segera menyerang. kami masingmasing juga dua. salah satunya Siong Chen. siapakah masing-masing wakil kalian?” Dua orang dari bambu putih maju. hadapi orang she Ma ini!” perintah Siong Chen. Gerakan-gerakan mereka cukup tangkas dan kuat. Akhirnya Ma Ciu berhadapan dengan Gan Hung. Demikian pula dari Yu-liang-pay yang muncul juga dua. majulah!” seru lelaki itu.baiklah. sudah lama aku dengar kelihaian pedangmu!” kata lawan Siong Chen yang bernama Ma Ciu. Sebagai pimpinan rombongan tentu saja . salah satunya adalah pimpinan. kalian mengajukan dua jago. maka kalian harus enyah dari sini!” “Mana bisa seperti itu. mereka berdua sejenak hanya saling tatap. dulu guru besar kalian memang pernah menakhlukkan ilmu pedang kami. Pertarungan itu cukup seru. si pimpinan rombongan itu berkata. aku akan berikan obat pemunah racun tepung setan. sedang saudaranya yang bernama Ma Kun bertanding dengan orang kedua dari bambu putih. kami mengajukan dua jago. Jika kedua jago kami kalah.saat dilanda kebingunan.. Rupanya mereka telah saling kenal satu dengan yang lain. tapi setelah ilmu pedang itu kami sempurnakan.. Namun setelah bertanding empat puluh jurus.apakah kalian hendak mengeroyokku? Silahkan-silahkan.ha Can Seng! Jagoanmu ternyata tak lebih tukang pukul kampung nelayan. Kalian dua. “Hmmm. jago kalian berdua harus untuk menentukan pemenang untuk menghadapi aku.ha. maka pihak pemenang bertarung untuk menyelesaikan pertandingan.

Ilmunya sudah tidak kalah dengan paman-paman gurunya. Setelah tiga puluh jurus berlalu. Sungguh cerdik sekali tantangan Can Seng ini. Maka mulailah satu dua pukulan Siong Chen mengenai tubuhnya. Bagaimana dua lawan mereka yang tadi masih bersiulian tiba-tiba saja sudah meloncat ke atas kuda dan segera membedal kuda mereka. namun untuk menentukan siapa yang harus menghadapi lawan merekapun tidak ada yang mau berinisiatif. karena mereka tahu siapa yang maju duluan tenaganya akan terkuras. bukan anak hijau lagi. hingga seluruh kulit seperti terkena bulu-bulu ulat. Meskipun ia menang pengalaman dan banyak memiliki gerak tipu. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya. Maka mulailah keduanya memasang kuda-kuda dan mulai saling serang. mau tak mau Siong Chen merasa pihaknya yang harus maju. karena dengan secepat kilat mereka memanfaatkan keterkejutan lawan untuk angkat kaki secepatnya. namun yang dihadapi adalah pendekar Yu-liang Pay yang sudah matang. hayo lawanlah aku dengan tangan kosong kalau kau berani!” jawab Can Seng sambil tersenyum mengejek. Kedua rombongan lawan menjadi kebingungan. Ketika saat-saat kekalahan Can Seng sudah didepan mata sekonyong-konyong terdengar suara ledakan keras di angkasa. Siong Chen sudah mendapat kemajuan yang hebat..ha. Ia tahu pihak Yu-liang Pay sangat hebat ilmu pedangnya. Sungguh racun yang sangat jahat. Can Seng hampir mewarisi seluruh ilmu gurunya. kalau dia takut. Di tengah situasi yang membingungkan Coan Kok berteriak. sehingga kehebatannya tidak usah diragukan. Sambil melompati pepohonan mereka melontarkan .malu untuk mengeroyok... ledakan seperti kembang api berwarna merah itu seakan genderang bagi Can Seng dan kawan-kawannya. tangannya yang berubah keputihan penuh dengan hawa racun. Siong Chen menghadapi pukulan itu dengan pukulan yang tak kalah hebatnya. Sejak kejadian di Yu-liang Pay. tangannya seakan-akan diselimuti halimun merah yang mampu meredam serangan racun dari pukulan-pukulan Can Seng. Berbagai pukulan yang dilontarkan Can Seng sangat kuat. Maka sambil melontarkan ejekan ia maju ke depan dan berkata: “Ha. tampak posisi Can Seng mulai terdesak. Jika sehari saja tidak dapat pertolongan maka yang kulit yang bersangkutan akan terkelupas semua bahkan daging di bawah kulit akan segera membusuk. “Ayo majulah!” seru Can Seng. “Hentikan mereka! Formasi biting salju!” Anak buah bambu putih yang sebagian masih bergelantungan segera mengejar lawan. karena rombongannya hanya sedikit. Tapi Can Seng keliru menilai Siong Chen. posisi tawarnya lemah. Kini pertarungan kedua belah pihak jauh lebih seru. dedengkot setan tangan beracun dari Nan-hay.kalau bambu putih tak berani melawanmu hayoh kau lawanlah aku Can Seng!” “Baguslah kalau memang kamu maju sendiri. Karena pimpinan bambu putih hanya menatap saja. Sebagai murid ketiga Tok Ciang Sin Kwi.ha. Seujung kukupun jika terkena akan mengalami gatal yang hebat dan bisa segera menjalar ke seluruh tubuh. sedang dia lebih hebat ilmu tangan kosongnya karena kelompok Nan-hay sangat terkenal dengan jurus-jurus tangan beracunnya. Ini membuat posisi Siong Chen di bawah angin. Dengan menggunakan ilmu Fan cing san ang in ciang hoat..

Celaka bagi rombongan Nan-hay yang tak berkuda. Untuk itu serahkan kembali lukisan itu kepada kami dan menyerahlah!” ucap gubernur tegas. Kedua rombongan ini terpisah. Hebat sekali akibatnya. karena dalam jarak yang sudah cukup jauh masih ada satu biting yang mengenai punggung lawan. Gundukan tanah itu ternyata berasal dari sebuah lorong bawah tanah yang berasal dari kuil. Ia berlaku cerdik. karena biting yang kelihatan terbuat dari bambu itu ujungnya terbuat dari besi yang direndam larutan racun yang sangat hebat. "Tihu-tayjin tiba. “Tahan dulu. siapapun dilarang bergerak!” seorang komandan prajurit berteriak. dari pinggir lereng mereka melihat gundukan tanah bekas galian. karena tergesa-gesa tak mereka tak memikirkan arah. rombongan dari Nan-hay. “Celaka orang-orang Nan-hay ternyata menggunakan kesempatan membuat lorong bawah tanah dan keluar dari lorong itu. tiba-tiba saja barisan prajurit yang lain juga sudah mengepung di belakang mereka. Baru saja dua puluh tombak mereka berlari. diperintahkannya rombongan dari Yu-liang Pay mengejar arah kembang api. Coan Kok sendiri bersama dua orang anak buahnya termasuk seorang wanita mengejar tiga ekor kuda yang berlarian tak karuan ditinggal oleh si empunya. Sementara Siong Chen yang melihat gelagat tidak baik segera berkata. Maka dari barisan prajurit keluarlah seorang lelaki dengan pakaian kebesaran. “Gu Tian pimpin lima orang tetap jaga di sini. Begitu kuda tertangkap segeralah mereka membedal kuda. jika terbukti tak bersalah kalian akan dibebaskan!” . disampingnya berdiri Hung tauke dengan muka memerah penuh kesumat. “Gan Hung periksa bekas galian itu kami akan terus mengejar!” Gan Hung yang memeriksa gundukan tanah itu terperanjat. Rombongan berkuda dikejar oleh tiga orang dari bambu putih yang juga berkuda. tapi keringat sebesar biji jagung sudah deras keluar dari dahinya. Kejar mengejar tak terhindarkan lagi. akibatnya justru mereka berbalik arah ke Heng Yang. yang lain ikuti jejak kami!” Melihat gelagat keanehan. Lewat sepeminuman teh kedua rombongan ini sampai di sebuah padang rumput yang sudah terkepung prajurit. “Kalian telah berbuat keonaran di Heng Yang. Siong Chen melarang anak buahnya mengejar Can Seng. apakah rombonganmu bukan bagian dari mereka? Jangan kawatir. Laki-laki pemimpin rombongan Nan-hay mencoba bersikap tenang. sambil berseru pada anak buahnya. Begitu terjungkal ia langsung diserbu oleh rombongan yang mengejar mereka. tayjin ijinkan hamba menyampaikan pendapat terlebih dahulu!” “Siapakah kamu anak muda? Bajumu berbeda dengan mereka. Lelaki itu bukan lain adalah gubernur Heng Yang itu sendiri. Begitu mereka hendak berbalik. Celaka sekali Ma Kiu yang terkena biting itu.biting-biting berwarna putih. sedang rombongan yang tak berkuda juga dikejar yang tak berkuda.” pikir Gan Hung.

” “Hmmm. untuk apa gubernur punya tentara kalau tak sanggup melindungi rakyatnya!” Melihat suatu gelagat tak baik. Suasana pagi yang dingin seperti ini biasanya orang lebih suka . “Tapi bukankah lukisan ini miliki Lau Cin Shan? Sedangkan dia adalah guru besar kaum persilatan. Sekuat apapun Siong Chen berusaha merebut tabung perak. Secepat kilat mereka menerobos lowongan.” “Kalau kaum kang ouw dibiarkan seenaknya bertindak pada orang awam maka rusaklah tatanan masyarakat. dari tadi orang-orang Nan-hay saling berdekatan dan berbisik-bisik tanpa menolehkan mukanya.. Sekejab mata kemudian pimpinan rombongan Nan-hay melempar tabung perak ke arah prajurit bagian belakang. Akhirnya lukisan itu jatuh ke tangan gubernur Heng Yang. kami tidak melakukan tindakan makar. tiga prajurit telah terjungkal bermandikan darah. mengapa harus menghadapi prajurit? Urusan kaum kang ouw biarlah diselesaikan dengan cari kami. sambil berteriak menggunakan kiekhangnya. “Nih kuserahkan lukisan yang tak ada harganya!” Mendapatkan lontaran seperti itu para prajurit jadi gelagapan. Suasana kemudian menjadi kacau. suatu tempat yang sangat sunyi di perbukitan yang agak berkabut ada peristiwa yang menarik untuk diikuti. Namun serangan dari prajurit berturut-turut tak mampu dilawan. Akhirnya setelah dua anggotanya roboh bermandikan darah iapun melompat melarikan diri beserta satu saudaranya yang masih hidup.bukan begitu gubernur. Angin berhembus cukup kencang menggoyang rumpun bambu di tepian sungai.urusan kang ouw? Sejak kapan kalian menganggap Hung tauke sebagai pesilat?” jawab gubernur sinis.. marilah kita tengok keadaan tempat lain di perbukitan yang berada di tepi barat sungai Wu.. Sedikit lowongan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang Nanhay. Adapun rombongan Siong Chen juga ikut mengejar ke arah lontaran tabung perak. Orang-oang Nan-hay berusaha melarikan diri. tapi ini adalah urusan kaum persilatan. Sebagian berusaha menangkap peta yang terlontar cukup jauh ke belakang. dua bulan sejak peristiwa di Heng Yang. Tiong Gi mendapatkan lukisan kedua Kita tinggalkan dulu kota Heng Yang yang perlahan-lahan kembali pulih dari badai.“Hmm. di pinggiran suatu hutan yang sangat lebat. Hung tauke hanya bisa berteriak-teriak supaya prajurit ada yang mengejar rombongan Nan-hay. Sementara banyak prajurit yang berebut tabung berisi lukisan dengan rombongan dari Yu-liang Pay.. Di akhir dingin yang sangat berat di Tiongoan ini. Lama sekali gubernur Heng Yang mempelajari gambar di lukisan itu namun tak ada petunjuk yang bisa menjelaskan letak penininggalan Lau Cin Shan. Bab 5.

antarkan aku pulang bibi! Seru si bocah merengek..... gerakanmu sudah cukup bagus.” “Bibi... Namun.hup.. Bagi orang yang mengikuti peristiwa kegemparan di Yu-liang. Meski sudah siang.. Namun sayang mata sebelah kanan tertutup kain hitam. kau harus belajar giat kalau ingin menjadi orang yang berguna. membunuh Tiong San. Suara beradunya pedang dan teriakan kedua belah pihak menandai adanya pertarungan di situ. barulah terdengar suara dentingan makin melemah dan diakhiri dengan suara. Sambil beristirahat tangan kanan wanita itu merogoh obat luka dan melemparkannya ke depan si bocah dan berujar. seranganmu sungguh sulit kutangkis...trang!” “Aahh..sebenarnya untuk apa kita bercapai-capai berlatih silat ini. maka bisa menebak wanita itu adalah murid yang bersekongkol dengan Siong Chen...aku ingin pulang aja. dan bocah yang dilatihnya adalah yang putera Tiong San yang diculiknya. engkau belum pernah mengajarkan jurus ini. “Bibi Ciu. Di depannya seorang wanita setengah baya berbaju hitam. sungguh aneh dari dalam hutan yang lebat itu terdengar suara pedang berdenting nyaring diselingi teriakan seorang bocah dan bentakan wanita. Sudah lebih dari seperempat hari mereka bertarung belum terlihat tanda-tanda pihak yang kalah atau yang menang.. sedangkan lawannya adalah wanita setengah baya. Lewat beberapa waktu setelah matahari mulai meninggi.. sedangkan wanita berusaha menangkis dan balik menyerang saat terlihat ada gerakan yang lowong... Pertarungan itu tampaknya seimbang. melihatnya dengan pandangan bengis. Anak itu sebenarnya lebih suka kembali lagi ke kampung halamannya.....bergerombol mengelilingi tungku api atau meringkuk di atas ranjang.. Aku selalu kesulitan mengatur nafasku!” jawab bocah itu penasaran.trang. sedangkan hewan saja masih bermalas-malasan untuk mencari makan di pagi sedingin itu. Namun wajah wanita paruh baya yang mestinya masih menyimpan daya tarik itu sungguh tambah mengerikan dengan adanya satu garis panjang di pipi kiri sampai ke bibir atas bekas goresan pedang makin menambah kesan angker sehingga tampak seperti layaknya wajah bajak laut. Jangankan manusia.! Bibi. Kalau diperhatikan lebih dekat di wajah itu masih tampak bekas garis kecantikan meskipun sudah mulai keriput.aduhhh.. “Anak bodoh! Sudah berapa kali kukatakan petani itu bukan orang tua . Si anak laki-laki memainkan jurus-jurus serangan dengan sangat agresif dengan pedangnya.” teriak bocah laki-laki sambil meringis memegangi pahanya yang terluka.. namun masih lambat. menimpa wajah wanita yang berumuran empat puluh tahunan.hiaaahhh. “Gi-ji. Di balik rimbun pepohonan. Bagaimana tidak penasaran sudah lima tahun ia diculik oleh wanita yang mengaku sebagai bibinya dan dibawa ke tempat-tempat sepi untuk menerima hajaran yang dikatakan sebagai latihan silat. tepat di atas tanah lapang seluas satu petak yang hanya ditumbuhi rerumputan pendek tampak dua tubuh manusia berkelebat saling serang. cahaya matahari buram terhalang tirai kabut yang berarak dihembus angin. “Ciattt. karena yang satu adalah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahunan.

Tiong Gi. Perempuan seperti Cu Hoa yang menghamba pada nafsu. takkan sanggup untuk bertobat meski wajahnya sudah lebih mirip hantu dibandingkan manusia. . batin Cu Hoa sambil terkekeh. Sebagai guru yang membutuhkan penghargaan dari muridnya. si bocah. Karena masih kanak-kanak sifatnya tak mau kalah. Gi-ji. Sebelumnya ia selalu menyatakan bahwa ayahnya adalah kakak kandungnya. Anak itu kemudian tertatih-tatih lari turun bukit sambil menyeka pipinya.kamu. Tapi demi mengingat anak itu masih polos dan sebentar lagi akan menjadi anak dewasa. sudah kukatakan berkali-kali padamu. Ilmu silat yang kamu pelajari masih cetek. “Bibi. Sungguh lima tahun bersama Tiong Gi. Peristiwa terceburnya mereka ke air terjun dulu sepertinya menyebabkan sumbatan ke beberapa pembuluh darah Tiong Gi. kamu harus pandai bermain silat dulu. Belakangan ini. Kalau sudah terdesak Tiong Gi sering tidak mengindahkan teknik jurus yang diajarkan dan menyerang membabi-buta sehingga mengenai tubuh Cu Hong. tahu! “Bibi. setiap ada kesempatan. Namun lekuk senyum yang terbentuk dari bibirnya lebih mirip senyuman sinis yang mengejek meski di dasar hati perempuan ini sebenarnya keadaanya telah terkoyak. Akulah satu-satunya keluargamu yang masih hidup. Peristiwa yang menyebabkan dia harus kehilangan mata kanannya itu tak pernah seharipun rehat dari pikirannya.sebenarnya siapakah ayah ibuku? Wanita itu terdiam sejenak hanya berusaha memaksa menyunggingkan senyuman. “Anak itu sudah mulai hafal caraku menotoknya atau menyampok tangannya agar pedangnya terlepas. “Wajahnya cukup tampan meski agak berbeda dengan wajah orang kebanyakan dan daya tahan tubuhnya juga sangat kuat”. baru aku akan ceritakan tentang orang tuamu. Meskipun tidak mengeluarkan suara tapi Cu Hoa yang mengaku ke Tiong Gi bernama Ciu Hong tahu kalau Tiong Gi menangis. Namun belum pernah ia menceritakan dimana dan siapa orang tua Tiong Gi. ujar Cu Hoa sambil meraba pipi kirinya. Akhir-akhir ini tiap kali berlatih selalu ia mengakhirinya dengan melukai badan Tiong Gi. Masalah yang Cu Hoa Nionio enggan membicarakannya. Kena segebrakan dengan pendekar kelas tigapun pasti kau sudah terkapar.. ngilar Cu Hoa dibuatnya. Pukulannya ke paha tadi memang cukup keras palagi disertai pengerahan dua pertiga bagian sinkangnya. selalu menanyakan soal yang itu-itu juga. Karena itu kamu harus patuh pada bibimu.” bantah Tiong Gi sambil membanting pedangnya. Sudah saatnya Tiong Gi belajar pada guru yang lain. nafasnya memburu demi mengingat kejadian peristiwa delapan tahun yang lalu. Namun harapan itu makin lama makin memupus seiring makin besarnya Tiong Gi. meskipun kemampuan menghimpun hawa murninya payah. Matanya memerah.. merupakan waktu yang sangat berat. kalau kau gak mau menceritakannya. karena sudah tidak mampu lagi mengalahkannya dengan membuat pedang Tiong Gi atau menotoknya. aku tidak mau belajar silat lagi. Cu Hong juga ingin dihormati oleh Tiong Gi. Sudah sebulan Tiong Gi mengalami kemajuan gerakan silat yang pesat.

semakin hari semakin memudar. Cu Hoa mempelajari catatan ilmu pedang Yu-liang Kiamhoat yang dipelajari dari Siong Chen. Namun siapa sangka meski sudah mempelajari ilmu pedang Yu-liang Kiamsut. Hek in Loco guru Cu Hoa sampai dibuat gusar. dan menyalahkan kekalahan mereka pada Cu Hoa “Dasar perempuan sundal berotak kerbau. Dengan tingkat sinkang yang dimiliki cuaca dingin di luar tidak lagi terasa.Perlahan-lahan Cu Hoa memasuki gua dan merebahkan diri di tumpukan jerami yang dipakai untuk alas tidur. guru mereka kemudian mencoba mempalajari kelemahan-kelemahan ilmu pedang itu. Dengan membawa luka hati yang berdarah-darah Cu Hoa minggat dari puncak awan hitam.Tidak berhenti sampai di sini. taecu sudah berusaha dan berkorban banyak hal. untuk diajak bersama-sama membalaskan dendamnya dan hidup berdua selamanya. namun tak kukira bahwa ilmu pedang yang diajarkan Siong Ceng hanya sebagiannya ilmu pedang mereka” “Dasar tolol” bentak Hek Shin Loco sambil menendang perut Cu Hoa. empat tahun bercokol di sana masih tidak bisa menyerap ilmu pedang yang benar. satu-satunya harapannya adalah mendidik Tiong Gi. namun suara gemerisik daun-daun bambu di kejauhan sungguh seperti irama yang menyayatnyayat hatinya. “Suhu ampunkan taecu. Siapakah locianpwe yang ilmunya lebih tinggi dari Yu- . Masih melekat rasa sakit yang dialaminya waktu itu. Dua tahun semenjak melarikan diri dari Fan Cing san. tanpa memberi aba-aba ketika Cu Hoa kembali bangkit secepat kilat Hek in Loco mencabut pedangnya dan menyayat pipi Cu Hoa. Ia menyadari bahwa harapan itu sangatlah tipis. Setelah dua tahun berlatih mereka menantang pihak Yu-liang Pay. Siong Chen dan Tiong San juga terluka. bersama suhu. Namun dengan tingkat kepandaian seperti ini bagaimana mungkin mereka akan mampu membalaskan sakit hati itu? Harapan Cu Hoa agar suatu ketika Tiong Gi dapat diambil oleh seorang locianpwe yang maha sakti dan kelak membantunya melunasi hutang-hutang Siong Chen. apa saja yang telah kau lakukan!” Semprot gurunya. Namun sakit di pipi masih belum seberapa di bandingkan sakit hatinya terhadap gurunya. sekan-akan pisau yang mengoyak pipi Cu Hong. sedangkan dari Yu-liang Pay diwakili Ji Pangcu. Pada pertemuan itu Pihak awan hitam yang diwakili susiok dan dua suheng Cu Hoa. bahkan harus kehilangan susiok mereka. Dari gerakangerakan yang diperagakan Cu Hoa. “Ini ampunan yang setimpal untuk murid bodoh yang tak berguna!” Hembusan angin yang datang tiba-tiba menyapu mukanya. Siong Chen dan Pat Sun. dan terlebih lagi Siong Chen yang telah menggombalinya. Dalam bentrokan sebelumnya meski pihak awan hitam kalah dan kehilangan seorang murid namun ketiga musuh yang waktu itu diwakili oleh Sam Pangcu. tetap saja pihak awan hitam kalah. susiok dan dua orang suhengnya.

Dari kejauhan terlihat tubuh seorang bocah yang sudah mulai gede. Tiong Gi biasa menaman lobak dan kubis. sehingga ilmu pedang Yuliang kiamhoat yang baru. Masih segar diingatannya ia hidup damai dengan ayah dan ibu yang menyayanginya. Unsur magis inilah yang tidak diajarkan oleh Siong Chen. Cahaya yang bagaikan kilat membawa ingatan Cu Hong pada seorang tokoh raja siluman penukar rupa Hoan Bin Kwi Ong Tian Ce Ting. Hati-hati jaga diri!” ujar Cu Hoa begitu dekat dengan Tiong Gi. atau mencari katak di sawah buat dimasak swike. Sekonyong-konyong sinar matahari menerobos ke pintu gua. . desir angin tidaklah sekencang di goa. orang yang mengaku sebagai bibinya.liang Pangcu? Suhunya sendiri mungkin tidak ada setengah kepandaian ketua pertama Yu-liang Pay itu. sedangkan murid Yu-liang Pay saja tidak banyak yang tahu kalau ketua terakhir sebelum Liong Ping telah memperbaiki ilmu pedangnya dengan mencampurkan unsur magis. Ketua yang bernama Hong Bu. memiliki gerakan-gerakan tertentu yang bisa didukung oleh hawa magis yang luar biasa. Ciu Hong sering meraba-raba tubuhnya. dan ia pernah melayani siliman itu dengan baik. Aku harus mendekatinya kembali. sehingga meskipun ilmu pedangnya sudah cukup bagus tapi tetap belum mencapai kesempurnaan ilmu pedang. Seketika bangkit kembali semangat Cu Hoa. bahkan kadang-kadang pada malam hari bibinya sering berbuat aneh. sehingga seolah-olah sayuran yang di tamannya bagian dari semak-semak tersebut. bagaikan langit dan bumi. Yang dimaksud dengan kebun tidaklah seperti kebun yang sering kita lihat. Ketua Siauw Lim saja belum tentu lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Kwan Liong Ping. Gerakan pohon-pohon bambu selalu mampu mengusir kegusaran bocah itu. sudah lima hari ini kita hanya makan dari sayuran di kebun kita. yang merupakan sahabat gurunya. dilukai. Ia sering dimarahi. Ia ingat diajak ayahnya mencari ikan. Akhirakhir ini ia merasakan adanya kejanggalan-kejanggalan hidup dengan Ciu Hong. Namun ketika bangkit baru terasa perutnya dari tadi berkukuruyuk. “Gi-ji aku mau pergi ke pasar.” Cu Hoa tahu tempat biasanya Tiong Gi menyendiri. Vicitra Rahwananda. Kini keadaan yang dialami sungguh sangat jauh berbeda. Dulu ia masih ingat. “Hmmm sekarang saatnya aku menagih bayarannya”. “Ahh bocah itu pasti lebih lapar lagi. Kenapa Liong ping demikian sakti dari mana ilmunya? Jangankan Cu Hoa. karena Tiong Gi menanam sayuran di antara semak-semak yang ada di bagian lembah di dekat sungai secara sembarangan. Perlahan-lahan Cu Hoa mendekati sungai kecil di bawah bukit. “Iya!” balas Tiong Gi dingin. hidup sebagai petani dan nelayan. memendarkan sinar yang lebih terang dibandingkan sebelumnya. menyempurnakan ilmu pedang itu dibantu sahabatnya seorang dukun yang berasal dari India. Di tempatnya berdiam. siluman yang berwajah mirip kera itu sering menggodanya ketika ia masih gadis.

sekonyong-konyong terdengar lemparan gulungan kertas. tempat itu sudah sepi. sebaiknya kau serahkan lukisan itu pada kami!” “He. Dua dari pihak lawan satu dari pihak pembawa gulungan. Tiong Gi menyelinap di balik gerumbulan semak-semak. Dari lacakan tahulah mereka sedang berhadapan dengan tosu-tosu dari Kong-thong pay. Lewat lima puluh jurus tiga orang sudah roboh bermandikan darah. karena ternyata salinan lukisan itu sudah beredar luas di kalangan kang ouw. maka bergegaslah mereka menuju ke bukit itu. Ada sekitar sepuluh orang. Setelah kegagalan mendapatkan lukisan yang dirampas oleh pasukan gubernur. rasakanlah ini!” Serentak pihak Tok Nan-hay pang memulai menyerang. Terperanjat Tiong Gi demi melihat gulungan kertas itu melayang ke arahnya.heh. Melihat keadaan sangat mendesak. dikeroyok oleh enam orang dari Tok Nan-hay pang. suatu ketika mereka mendengar kabar. hanya suara cecowetan burungburung pemangsa sedang memperebutkan bangkai manusia. huh enyahlah!” Rupanya mereka senang memperebutkan sebuah gulungan kertas. namun sudah sebulanan ia merasakan bahwa itu hal yang aneh. Dari balik semak-semak itu. tapi betapa terkejutnya mereka. Kalian orang-orang racun timur mau enaknya saja minta lukisan ini. entah angin apa yang menghembusnya. Ternyata. Tok Nan-hay pang yang sudah memiliki salinan lukisan itu berusaha mencari peninggalan Lau Cin San.. sehingga mereka mendapat banyak pesaiang. Sebelumnya Tiong Gi tidak merasakan suatu keanehan. ada lukisan yang sama anehnya ditemukan orang di bukit menjangan salju. ia dapat mendengar apa yang dipertengkarkan oleh dua kelompok itu.mana ada aturan itu.bahkan menciuminya. Tiong Gi perlahan-lahan mendekat hendak melihat apa gerangan yang terjadi. Maka. Kadang kala bibinya minta ia meraba-raba selangkangannya. Bahkan. dengan penuh gopoh mereka coba mengejar jejak rombongan terakhir.he. “Tosu muka kadal. dan karena tak ingin menyerah begitu saja. sejak kecil sudah menjadi budak pelecehan seksual bibi palsunya. gulungan kertas itu mengarah ke Tiong Gi... Bibinya menciuminya dengan nafas memburu dan mulut yang mendesah. Meskipun perbandingannya tidak imbang namun pertarungan berlangsung seru... karena rasa penasaran dan rasa gusar . Pihak yang membawa gulungan kertas berjumlah empat berpakaian tosu. “Cun Kak tosu. Beberapa waktu berselang. Sungguh kasihan nasib Tiong Gi. kalau kalian tidak mau serahkan itu lukisan. Siapa sangka ketika mereka datang. enam lawan empat. dari tempat menyendiri Tiong Gi mendengar suara dentingan pedang dan teriakan beberapa orang seperti sedang terjadi perkelahian. Pihak lawan terus merangsek pembawa gulungan. kami yang merebutnya dari bukit menjangan salju..

Namun.! Ikuti aliran sungai ini.. dan sebuah pohon miok berdaun merah.. aku pingin jadi anak pintar yang bisa baca tulis!” . akibat tergesa-gesa tak sadar kaki kanan Tiong Gi terantuk batu dan dia kecebur dalam kali.. Bergegas mereka berebut mengikuti aliran sungai.. aku ingin sekolah! Antarkan aku ke sekolah bibi!” “Sekolah? Buat apa sekolah? Untuk jadi orang hebat yang penting bisa silat! Tidak perlu sekolah.tidak. sehingga dengan kegesitannya Tiong Gi segera naik ke tepi dan kabur di balik tikungan pepohonan...” “Kejar. karena bukan orang sekolahan Tiong Gi tidak bisa membaca tulisan di balik lukisan tersebut.. Sebelum lukisan dimasukkan.. rumah-rumah yang ada di gambar itu berbentuk seperti tempurung kelapa.!”seru yang lain. namun ketika gulungan kertas itu terlepas dan dikira jatuh ke sungai... Anehnya. “Bibi. ngabisin duit!” “Bibi.. pasti kalau lukisan ini harganya mahal hasilnya dimakan sendiri....pasti sudah terhanyut aliran kali. Di dalam gua Tiong Gi membuka gulungan kertas itu yang ternyata adalah sebuah lukisan. bergegas mereka meninggalkan gelanggang beramai-ramai. Ketika kertas itu dibalik terlihatlah bercak-bercak air yang seperti mengandung tulisan.... Lukisan itu menggambarkan suatu perkampungan di suatu lembah. Untunglah kali itu hanya sedalam paha. Dari hulu sampai hilir. Maka segera kertas itu dibasahi dengan air yang menetes-netes dari langit gua. Tiong Gi langsung sambar gulungan kertas itu dan dengan sigap memutar tubuh berbalik kanan untuk kabur. Cu Hoa mendapatkan Tiong Gi merengekrengek minta sekolah.” Dicarilah bagian dinding goa yang agak lunak kemudian Tiong Gi membuat lubang. karena orang-orang yang berebut gulungan hanya mendengar kecipakan air dan menyangka gulungan kertas tersebut jatuh ke dalam air... meski sebelumnya mereka sekali sudah saling berebut dan dengan sendirinya saling baku hantam. terlebih dahulu ditaruh di sebuah bambu seukuran suling. Kejadian ini malah menguntungkan Tiong Gi...Ahhh.. Di bagian tepi terlihat ada telaga yang jernih..begitu pikir Tiong Gi.. Anehnya. Ciu Hong Nionio sangat pelit..demi menyaksikan orang-orang itu merusak kebunnya..kalau gitu aku tunggu saja Ciu Hong Nionio untuk menanyakan isi tulisan ini”. “Ah tidak.. Namun teringat bahwa gambar itu habis diperebutkan. “Ah.. namun dia tahu bahwa itu adalah suatu tulisan.kiranya kertas ini harus di basahi dulu dengan air supaya gambarnya bisa terlihat”. Aku harus menyimpannya. “Peta itu jatuh kesini!” .. Namun bukan gambar yang muncul tapi tulisan.. Tiong Gi punya firasat bahwa gambar itu berisi suatu rahasia.. Tiong Gi sering melihat lembaran-lembaran tulisan yang dimiliki oleh bibinya atau yang “Hmm. Sekembalinya dari pasar.

aku akan mengajarimu!” “Benar bi?” “Tentu saja. Sekolah itu terletak di pinggiran desa. karena ia tidk pergi jauh.. Keesokan harinya Tiong Gi masih belum juga datang... dan kini keinginannya untuk bersekolah tak bisa dibendung lagi. Namun karena tidak berbakat mengajar. aku ingin bersekolah seperti anak-anak yang lain. Kamu tidak perlu bergaul sama mereka!” “Aku tak peduli... Cu Hoa juga membatin. maka ia lantas sampaikan ke Cu Hoa. Tak sulit mencari Tiong Gi. Sehingga justru memusingkan yang diajari. Cu Hoa mulai khawatir. Di pojok pasar. Kini dengan mata memerah ia merangsek dan memukul dengan kedua tangan sekenanya ke Cu Hoa. Semua pakai baju seragam berwarna putih dengan rompi warna biru. “Anak setan. kertas dan alat tulis? Dari mana bis didapatkan? “Ini neh. Anak-anak belajar di sebuah pendopo... Sudah dua kali Tiong Gi melihat pemandangan seperti itu. Tiong Gi adalah satusatunya harapannya. Mereka duduk bersila bersaf-saf dengan teratur. namun ia masih belum rela melepaskannya. namun ditunggu-tunggu sampai sore. Cu Hoa lantas mulai mencari-cari..pergi kau!” Cu Hoa membalas pukulan dengan pukulan dan tendangan dengan tendangan yang lebih keras lagi.!” “Plok!” sebuah gamparan mendarat di pipi Tiong Gi. ia ditemukan meringkuk di . “Bibi. Lewat dua bulan.. Huruf yang diajarkan tidak berurutan. tampak perlente dan berwibawa. ia belum juga kembali..aku mau sekolah. Tiong Gi menjadi bosan dan malas. yang kerjanya memerah tenaga orang-orang kecil seperti kita. Cu Hoa dibuat kerepotan karenanya... Biasanya Tiong Gi diam saja atau menangis. itu mengajari dengan cara yang buruk. Sehari kemudian Cu Hoa mengira Tiong Gi akan kembali.pergi. tuan tanah. meski sudah merasa jenuh dan bosan menjaga Tiong Gi. rambut kepalanya disanggul. hayo cari kertas dan alat tulis!” Tiong Gi diam saja... Ketika guru mengucapkan sesuatu mereka mengikutinya.“Sudahlah kau belajar padaku saja. cukong. Tiong Gi jatuh berguling-guling dan bergegas pergi. mengapa aku tidak seperti mereka?” “Mereka itu anak-anak orang kaya.. Di depan masing-masing anak ada meja kecil.uang buat beli kertas dan pit!” Sejak hari itu mulailah Tiong Gi belajar baca dan tulis. Sesekali ia berjalan ke kampung ia suka melihat anak-anak sedang belajar di sekolah.

Demikianlah satu bait kata-kata bijak selesai diganti dengan bait yang lain. Hari itu musim dingin sudah mulai berangsur pergi. pikirannya sudah melayangjauh ke sekolah di tepi desa.” “Benarkan?” tanya Tiong Gi dengan mata berbinar. Pada waktu itu. Ia mengikuti apa yang diucapkan oleh Guru Tien: berbakti pada orang tua. Cu Hoa hanya tersenyum sinis. Tiong Gi kalau kamu sudah besar nanti. “Apaa. Ia kemudian menuju ke warung pakaian. tahu?” Tiong Gi tak menjawab sepatah katapun. Guru Tien cukup ramah namun tegas. Ia duduk di bangku paling belakang. berilah aku separoh bakpaomu!” pinta Tiong Gi dengan penuh harap. Karena pembeli pagi itu sedang ramai. Seketika itu kemarahan Tiong Gi meluap. Dengan setengah menyeret Cu Hoa menggelandang Tiong Gi. Tiong Gi tidak membawa makanan.” ucapnya sambil melempar segumpal rumput dan serasah ke arah muka Tiong Gi. Kemudian guru Tien menunjuk salah seorang untuk menghapalkannya secara bergantian. kau harus hati-hati kalau mau ambil barang pedagang. tubuhnya tambun wajahnya bulat. Maka berkatalah ia pada salah seorang dari mereka. tumbuhlah keinginannya untuk makan juga. Kalau ketauan mereka bisa pukuli kau sampai babak belur. gembel busuk anak petani kudisan! Neh makan bakpaomu. mereka biasanya memakan makanannya...huh. Kemudian beristirahatlah anak-anak itu. Sun Kian adalah anak tauke beras di desa itu.minta. penjual tidak melihatnya... Sun Kian sebenarnya sedikit-sedikit . Guru Tien memperkenalkannya pada seluruh teman yang ada. Cu Hoa melakukan hal yang sama. Di sekolah Siauw Can Bun Tiong Gi mulai bersekolah. dekat sawah yang sedang menghijau. dengan gerak tangan yang tak kentara ia mengambil begitu saja dagangan yang dijual. “Heh. “A Sun. Melihat kawan-kawannya makan. “Kamu benar-benar mau sekolah? Baiklah ayo kita cari baju seragam dan alat tulismu.. Kemudian mulaiah Tiong Gi belajar.. Dengan beringas ia menendang Sun Kian. Saat itu ia sedang duduk agak jauh dari kawan-kawan yang lain. Demikian juga waktu di toko alat tulis. berbakti pada negara anak Siauw Can Bun bersikap ksatria dan berbudi luhur rajin belajar dan bekerja demi mengabdi pada yang mulia Tio Kuan Yi Tiong Gi dan kawan-kawan yang lain mengulanginya berkali-kali.bawah kios tua yang ditutupi oleh daun-daun oleh Tiong Gi sendiri. Tiong Gi hanya memandangi saja. matahari muncul dengan cerahnya.

kenapa kamu pukuli Sun Kian? Dasar anak baru yang tak tahu diri! Besok kamu tak usah masuk sekolah lagi. Karena posisi centeng itu berada di atas. Kontak perut Sun Kian menjadi mulas dibuatnya. Disampingnya berdiri Sun Kian dengan wajah masih lembam. sehingga lebih leluasa memukuli Tiong Gi.. Guru Tien memandang Tiong Gi dengan berapi-api. satu dua pukulannya menembus pertahanan Tiong Gi. apa yang kau andalkan?” begitu selesai bicara langsung tangannya bergerak menonjok. Ia tidak peduli dengan larangan guru Tien.. Keesokan harinya. namun Sun Kian sudah KO.plok.”! “Ehh.belajar silat. Dengan tenaga yang sangat kuat tentu saja. “Plaakk. putera majikanku. Dengan sigap Tiong Gi menangkis.plok” bunyi pukulan demi pukulan ke muka Tiong Gi ditingkahi tepuk tangan Sun Kian dan beberapa temantemannya yang baru datang..kau bisa berkelahi rupanya!” Merasa pukulannya bisa dihindarkan... Kelaspun dibubarkan.. “Buggg” sebuah tonjokkan tangan mengenai lambung kiri Sun Kian. “Bocah pembawa sial.. dia menang angin. di rumah maksudnya di goa ia dididik dengan cara-cara yang mengandalkan kekerasan. Meskipun sempat menghindar tendangan pertama.. Tiong Gi mundur beberapa langkah.. dan mulai melancarkan serangan demi serangan. “Bocah sial... “Buk.. kembali Tiong Gi ke sekolah. Sebagai centeng cukong terkenal di desa Cong Bun pria itu sedikit pernah belajar silat..buk. Terlambat.. Meski hanya mendapat tiga kali bogem mentah. “Hoeekkk.. namun ia anak yang pemalas. Sebagian bersorak memberi semangat. mana bisa berubah dalam sekejap mata. Dengan tergopoh-gopoh guru Tien mendatangi mereka mencoba untuk melerainya. Bagaimana ia bisa paham. Celakanya.. Dengan menahan amarah guru Tien berkata ketus. Begitu Tiong Gi datang langsung disemprot si centeng dengan kata-kata.plok. Pada jurus yang ke sepuluh tiba-tiba saja Tiong Gi menarik baju lelaki itu sehingga keduanya terguling ke tanah. di sekolah itu pagi-pagi sekali seorang pria setengah baya bertubuh tinggi brewokan sudah menghadang.. ia tak mampu menangkis tonjokan tangan kanan Tiong Gi.. Namun tepuk tangan mereka tidak .!” Begitu melihat keributan anak-anak bergerombol mengerumuni mereka..! Plok. Dan ia tak bisa menahan laju makanan keluar dari kerongkongannya..” Habis berkata-kata guru Tien menolong Sun Kian. centeng itu makin bertambah kalap.. dan mengantarnya pulang. beraninya kamu pukul Kian kongcu.

siapa dia?” kata biksu itu penuh tanda tanya. karena sekonyong-konyong terdengar jeritan menyayat. Ada lima orang biksu yang berada di kuil itu. Tiong Gi masih tetap dalam posisi tertidur. “Omitohuud. Jeritan si centeng ditimpali jeritan siswa sekolah itu. Biksu muda yang menjumpainya berteriak membuat seisi kuil keluar. Yang ia tahu hanyalah berlari secepatnya kemanapun ke arah timur. Maka larilah ia sekencangnya keluar dari desa itu. Kalau Tiong Gi tahu arah mata angin sebenarnya ia bisa belok ke selatan menuju ke arah hulu dari sungai ini untuk kembali ke petani yang dulu mengasuhnya yang disangkanya sebagai orang tua. sejauh kaki bisa melangkah.. Memang si centeng Sun tauke terkenal galak ke petani. Sungguh seperti peribahasa senjata makan tuan. karena ia tahu pasti akan dimarahi. Empat biksu menjadi kelabakan dibuatnya. coba melihat barangkali ada seseorang yang mencari anak itu. Bin bin ada apa engkau berteriak seperti itu?” biksu kepala yang bertubuh pendek gemuk itu berseru.. Jeritan siswa terdengar ke rumah-rumah di dekat sekolah sehingga beberapa penduduk berdatangan. Empat biksu muda dan satu biksu tua yang sekaligus biksu kepala biara. Pada detik itu pula Tiong Gi telah berhasil meloloskan diri. mari kalian angkat bocah ini. Sun Kian hanya melongo dan dengan ketakukan lari lintang pukang. Ia tidak ingin kembali ke bibinya. tangannya mendekap ulu hatinya yang telah menucurkan darah segar. Memang dialah yang menusuk si centeng dengan golok milik centeng itu sendiri.! Tubuh centeng itu tiba-tiba saja terguling. sambil kepalanya tengok ke kanan dan ke kiri. dan beberapa kali ia mengigau.. Setelah seharian penuh ia berlari sampailah ia pada kota kecil Tee-kim. Maka dengan bahan seadanya atas . Akhirnya di ujung desa di depan kuil yang cukup besar ia terjatuh kelelahan dan langsung tertidur. Tapi begitu melihat korban mereka hanya diam seribu basa. “Aaaaaagggggghhh.. “Ehhh ada bocah yang tergolek di sini. Rata-rata adalah petani. Kota ini berada di tepi sungai Yang ce kiang. Sungguh malang nasib si centeng. Ia lantas mendekat Bin bin... “Ah sebaiknya kita tolong saja dulu..” Empat orang biksu murid bersama-sama kemudian angkat tubuh Tiong Gi dan dibawa masuk ke dalam untuk mendapat perawatan sekedarnya.berlangsung lama. Pada malam harinya tubuhnya terkena demam. Tiong Gi merasa terkejut sekali dengan perbuatannya. Namun saat itu keinginannya adalah pergi jauh. Bahkan kalau ada yang mendekat akan terdengarlah bisik-bisik yang menunjukkan perasaan lega dan gosip nyukurin korban. Kegembiraan memukuli korbannya membuat si centeng kehilangan kewaspadaan sehingga tidak sempat mencegah ketika tangan Tiong Gi menarik golok di pinggang kirinya dan menusuk ulu hati. menjauhi goa tempat tinggal dia yang berada di barat.

agar ia tidak ketahuan. “Aku. Saya tidak punya orang tua lagi. siapakah nama dan dari mana asal usul siauw kongcu?” tanya biksu kepala itu dengan ramah. berasal dari barat. Pengalaman itu pula yang menjadikan dia memiliki kepekaan luar biasa terhadap sifat .aku. Tak peduli ada lauknya apa tidak.” “Apakah nama desa siauw kongcu?” “Aku tinggal di desa Cong Bun. dan sayur kubis. “Saya bernama Tiong Gi. Pagi itu karena saya membuat ulah di sekolah bibi memukuli saya hingga babak belur. Sekujur tubuhnya terasa penat luar biasa. Saat terbangun di pagi hari Tiong Gi menemukan dirinya tergolek di sebuah dipan. Namun bibi saya galak sekali dan sering memukuli. kongcu sudah bangun rupanya. bubur itu disantapnya sampai tandas. Dengan tertatih-tatih ia mencoba keluar dari kamar.. selama ini saya tinggal bersama bibi.. ia mesti menutupi peristiwa penusukan itu. namun bajunya yang compang camping dan terlihat ada percikan darah sungguh mencurigakan. Ketika Tiong Gi masuk menghadap ia berhenti berliamkeng dan membuka matanya. Sekejap terjadi perubahan raut muka di wajah teduh itu. Di ruang tengah..beri aku makan siauw suhu!” Biksu itu tersenyum.. Kemudian ia bangkit dari dipan itu. Sambil berjalan Tiong Gi berpikir apa yang harus dia ceritakan.lapar. Pagi itu seorang biksu muda mengajaknya menghadap ke biksu kepala. “Omitohud. “Silahkan kongcu ini disantap sarapannya” Tiong Gi makan dengan lahapnya karena sudah seharian kemaren ia belum makan.. Sebagai biksu yang sudah berpuluh tahun menyebarkan ajaran budha di wilayah itu ia tahu betapa jauhnya desa Cong Bun. Setelah dua hari tinggal di kuil itu kesehatan Tiong Gi mulai pulih. tapi tubuh kongcu masih lemah. seorang biksu tua sudah menunggu sambil berliamkeng. Bagus sekali pagi yang cerah ini pinceng bisa menerimamu. “Selamat pagi siauw kongcu.. menyapa. Mohon losuhu tidak memberitahukan keberadaan saya jika bibi saya datang. Lalu dengan sopan ia kemudian masuk ke dapur mempersiapkan semangkuk bubur. Di lorong salah seorang biksu yang kemaren membopongnya.. sebaiknya beristirahat saja.” Biksu kepala itu yang bergelar Kim-sim hosiang menggeleng-gelengkan kepala.petunjuk biksu kepala mereka merebus obat dan meminumkannya pada Tiong Gi. kongcu sudah bangun.

Turun aja di sini!” omel si nahkoda. bolehkah?” “Mana orang tuamu?” “Aku sendirian!” “Heh!. Setelah menunggu tiga orang penumpang lagi.naik..” singkat sekali jawaban Tiong Gi. Nahkoda menanyai satu persatu tujuan masing-masing penumpang dan menarik ongkos.heh. aku mau ikut naik perahu. ..apakah kalau perahu ini menuju neraka kamu juga mau ikut. pinceng hanya bisa berpesan agar kongcu hati-hati. Kalau kongcu berjalan lurus memasuki desa nanti akan bertemu pasar beloklah ke kiri.. mengikuti petunjuk Kim-sim hosiang menuju ke dermaga kecil di desa itu.. Ketika Tiong Gi hendak menaiki tangga perahu. “Kemana aja? He..” “Iya.. Dan sekali melihat ia merasakan aura kegelapan menyelimuti wajah yang masih kanak itu... Bab 6: Kelompok pengemis sabuk hitam Kebetulan pada saat ia datang di dermaga kecil itu ada perahu yang cukup besar. Si nakhoda melihatnya dengan mata berbinar.heh. kau kira naik perahu gratis? Kau punya uang nggak?” “Neh.” “Kalau demikian rencana kongcu. Kalau kongcu belum menetapkan tujuan. aku ingin pergi jauh dari bibi Ciu.. perahu besar itu mulai berlayar. “Lalu kemanakah tujuanmu sekarang?” “Aku hanya ingin menuruti langkah kakiku. Tiga tael perak ini mungkin bisa membantu kongcu dalam perjalanan. sampai terakhir dia menoleh ke Tiong Gi. “Aku.seseorang. seorang lelaki yang mengawasi perahu itu menegurnya. “Eh bocah. Dasar bocah edan.. kau akan menemukan sungai. tunggu! Hendak kemana kamu?” “Lopeh. Barangkali saja ada perahu yang berlayar menuju ke timur. tak ada salahnya kongcu mampir ke kuil suheng pinceng Kong-sim hosiang di desa Sin heng. silahkan siauw kongcu!” serunya sambil mendukung Tiong Gi menaiki tangga perahu.aku mau kemana aja!” jawab Tiong Gi gagap.. Berkarung-karung barangbarang bawaan sedang ditata oleh anak buah perahu. Pada saat itu sudah ada lima penumpang dengan membawa barang bawaan yang sangat besar. dan tanpa permisi ia lantas meninggalkan kuil itu.” jawab Tiong Gi sambil menunjukkan tiga tael perak di tangannya.. desa di pinggiran kota Yi chang. “Naik.

“Cring. bajak sungai Tiat-sim heng-kang pang (Bajak berhati besi merintangi sungai). Diserang seperti itu para bajak tidak tampak terkejut.Croott.“Aku turun di pelabuhan terakhir aja!” “Ke Sanshi? Tahu kamu berapa lama perjalanan ke sana? Tiga hari tiga malam. “Tinggalkan perahu dan semua uang kalian. Dengan golok panjang di tangan salah seorang membentak. ia melontarkan jarum rahasia ke Tiong Gi... “Wusss. Keesokan harinya perahu melanjutkan perjalanan. nanti kalau aku bosan. Seperti hari sebelumnya setiap dermaga besar perahu merapat. Setiap ada dermaga besar perahu berhenti menurunkan atau menaikkan penumpang. Pandangan matanya berkunang-kunang. Putar haluan!” perintah nahkoda dengan wajah pias.. di sebuah tikungan terdapat perahu besar melintangi sungai. Secepat kilat empat orang berwajah garang melompat ke perahu. secepat kilat Tiong Gi mengirim pukulan ke arah ulu hati... dengan golok dia segera menyerang gerombolan bajak itu. Namun. . Satu bajak roboh bersimbah darah...Auughhhh!” Pukulan itu terkena telak..” “Mana kasih aku dua keping!” Perahu itu berlayar tenang mengikuti arus.... Tiong Gi turun mencari makan... Ketika ada pembajak yang menghindar ke arah Tiong Gi.! Aduuhh. atau menggelindinglah ke neraka!” Nahkoda yang digertak tak terima begitu saja.criing. Ketika senja sudah mulai memerah. Semua penumpang ribut. Terlambat. Tiong Gi merasakan rasa panas dan gatal sekujur tubuhnya. “Buggg. Perahu-perahu kecil sudah meluncur ke arah mereka. dan kau harus bayar tiga keping perak!” “Sudahlah lopeh.cring!” denting beradunya golok tak bisa terhindarkan lagi. Pertarungan di atas perahu yang tidak terlalu lebar itu menjadi kurang leluasa. dari pihak awak kapal satu orang juga sudah roboh tak bernyawa. Malam harinya perahu merapat ke dermaga dan nahkoda beristirahat. Ketika ada warung roti kering maka segera ia sambar beberapa potong roti... Karena penasaran ia menjadi nekad menyerang pimpinan bajak itu.... Pada suatu kesempatan dengan gerakan tersamar. sementara ada satu orang yang ikut meramaikan gelanggang.. Karena yang bersangkutan tidak menyangka ia tidak melindungi tubuhnya dengan sinkang.cep! Aduuhh!” Jarum seukuran satu dim itu terkena ke pundak Tiong Gi dan masuk seluruhnya. Akibatnya tangkisannya jadi kendur dan pedang lawan yang kebetulan juga penumpang menembus lehernya. Penumpang yang sudah ketakutan mulai menceburkan diri.. aku akan turun aja. Pimpinan yang sempat melirik kejadian menjadi jengkel dan marah kepada Tiong Gi. “Celaka. wajah mereka menunjukkan ekspresi ketakutan yang sangat..

Diambilnya golok milik mayat yang tergeletak dan mulailah ia ikut terjun ke gelanggang mengeroyok si pimpinan bajak. Sampai lewat sepeminuman teh akhirnya kepalanya tak muncul-muncul lagi.. tapi si pimpinan bajak masih sanggup berkelit. Gerakan-gerakan yang sangat kuat ini membuat perahu oleng. Dalam keadaan setengah sadar. Tangkisannya hampir terlambat.. Sungguh mujur nasib Tiong Gi karena ia terdapar di dekat mereka. kita harus bersulang untuk sam-suko...” Dengan penuh gopoh kedua orang pengemis itu menggotong Tiong Gi ke tempat yang disebut markas. di pinggiran sungai tampak tiga orang yang sedang memanggang ikan di pinggiran sungai..selamat panjang umur!” seorang yang lebih muda kepada seorang yang lebih tua. biarpun hanya pengemis kitapun tak ada salahnya merayakan ulang tahun seperti kongcu-kongcu itu.. Tanpa terasa ketiga orang ini sudah berada di pinggiran perahu. Bersamaan dengan itu perahu yang olengpun menjadi terbalik. Pada saat mereka hendak bersulang inilah tubuh Tiong Gi terlihat terdampar. Meski tubuh mereka terlihat kekar tapi pakaiannya dekil dan compang-camping. Tiba-tiba saja tubuh Tiong Gi memasuki arus pusar yang mendorong tubuh Tiong Gi atas dan menghempaskannya ke samping hingga terdampar di bantaran sungai. Tiong Gi terseret arus sampai megapmegap. *** . “Ayo kita bawa ke markas. Pada saat itu ketika matahari sedang memasuki peraduannya. Serangan maut itu sudah tak bisa ditangkis. Dalam keadaan seperti itu.. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh nahkoda perahu untuk mengirimkan bacokan maut ke arah leher... dengan sisa tenaga ia masih sanggup menendang Tiong Gi.ada mayat!” Begitu melihat ada tubuh yang terhempas ketiganya jadi terkejut dan bergegas mendekatinya.. “Desss.” kata salah seorang pengemis itu ketika memegang tangannya. “Suko kionghi. “Masih ada detak jantungnya. “Heii.” “Silahkan ikannya di santap sute.” “Tunggu dulu.! Byuurrr. “Sute terima kasih. sehingga hanya pundak kanannya yang robek sampai ke tulang-tulangnya.. Tetapi. Namun benar kata orang bijak bahwa hidup mati di tangan Tuhan. Kepalanya timbul tenggelam. kemungkinan hidup sangat tipis sekali.” kata orang ke tiga. mari ini aku bawakan arak harum dari Tong-ten... Pimpinan bajak tidak menyangka mendapat serangan.!” tubuh Tiong Gi terlempar keluar perahu dan tercebur ke sungai.

sorot matanya tajam. sebagian juga memakai sabuk seperti yang kita pakai. . Campurkan serbuk ini dan rebus kemudian minumkan setelah ia siuman.” gumam seorang lelaki berjanggut panjang setelah memeriksa tubuh Tiong Gi. Dan kabarnya ini ada hubungannya dengan kebangkitan bangsa Khitan di timur. Tubuhnya kekar.” tambah Te Kang lo kay. Seorang lelaki berusia lebih dari enam puluhan di ruang tengah sedang memimpin pembicaraan dengan dua orang lainnya. Darah hitam keluar dari lubang bekas eraman jarum. racunnya sudah keluar. aku melihat banyak pengemis dari luar berdatangan ke sini. Mereka adalah pimpinan pengemis sabuk hitam kota Yi Chang. Dan sebentar lagi Hoan bin kauw ong pemimpin bajak sungai Yang tze akan mengundurkan diri. lelaki itu kembali ke ruang tengah di sebuah gedung yang cukup besar. Setelah darah hitam keluar tiga sendok maka kemudian berubah menjadi merah. orang ke tiga. bagaimana keadaannya sekarang?” tanya salah satu anak murid yang menggotong Tiong Gi. kudengar mereka sedang mempersiapkan pesta perhelatan pergantian ketua baru. Mereka rata-rata berwajah dusun tak terawat. Lelaki ini kira-kira berusia empat puluh lima tahunan. Kota Yi Chang merupakan kota paling timur kekuasaan pengemis sabuk hitam. “Dalam beberapa minggu terakhir ini kelompok Tiat-sim heng-kang pang sangat agresif mencari mangsa. “Susiok. Karena berada di kota-kota di lembah sungai Yang-tse tak aneh jika mereka sering bersinggungan dengan kelompok bajak sungai Tiat-sim heng-kang pang..! sudah terkena jarum beracun masih bisa bertahan dan aneh sekali racun itu tidak sampai menjalar ke perut.“Luar biasa.. syukurlah Sin Hwat. Kay pang sabuk hitam adalah kelompok pengemis yang menguasai kota-kota yang dilewati sungai Yang-tse Kiang mulai dari Jung-hu di barat. “Ada hal yang berbahaya pancu. berumuran empat puluh sampai limapuluhan.. “Ah. Kay pang sabuk hitam ini merupakan cabang kaipang sabuk hitam paling timur.” jawab orang yang duduk paling dekat pangcu.” Setelah mengobati Tiong Gi. benarkah demikian?” sang ketua memulai rapat malam itu. Dengan tenaga sinkangnya ia telah berhasil mengeluarkan jarum yang mengeram di tubuh Tiong Gi. Ketiga pengemis ini bersama dengan pengemis berjenggot panjang adalah adalah pimpinan kay pang cabang Yi Chang yang bergelar Yi Chang su-sin-kay. Gedung yang dari luar terlihat kuno dan tidak begitu indah tapi di dalamnya sangat bersih dan indah. “Benar pangcu! Aku melihatnya sendiri mereka merampasi perahuperahu yang lewat bahkan menjarah ke daratan.. Anak ini pada hari itu berusia lima belas tahun. berbaju tambal-tambalan namun bersih dan bersabuk hitam. wajahnya cukup tampan.

Namun saya kita kita pantas menyuruhnya. sudah terkena jarum hek-tok-ting masih sanggup bertahan. kita sambil terus memantaunya....” “Oh ya.. kita belum tahu. puteranya yang baru menyelesaikan pertapaannya. “Baiklah kita kirim dia kesana. ia baru saja berguru pada nenek iblis kelabang emas.aku punya ide. Kalau mereka benarbenar mau membuat cabang di sana. Dia berada di sebuah kamar yang agak kecil. bagaimana kalau anak itu kita kirim ke sana untuk menyelidiki keadaan kuil.” timpal pengemis yang berjenggot yang baru saja datang. bagaimana keadaan bocah itu?” tanya su-kay pada pengemis berjenggot yang baru masuk itu... kuil Khong-sim liok si sepertinya sudah terjatuh ke tangan orang-orang asing. Hmmm.bagaimana pendapat pangcu sendiri.. “Anak itu bertulang baik.” tanggap ji-kay.” “Aha. Racunnyapun tidak sampai menjalar ke tempat yang lain. kemudian ia menghela nafas dalam-dalam.” Pagi harinya ketika siuman Tiong Gi merasa tubuhnya sudah agak baikan. “Benarkah itu? Iblis kelabang emas sudah setengah abad tidak pernah terdengar lagi beritanya. anak masih kecil seperti dia tahu apa?” bantah su-kay.“Dan digantikan dengan Hiat kiam Lomo. Benarkah ia masih hidup?” pangcu bertanya dengan suara tercekat. sungguh celaka. “Ah seadainya Gan supek punya penerus. “Itulah yang kukuatirkan. Ada kabar kurang baik yang baru-baru ini kita dengar tentang bajak itu. “Nenek iblis kelabang emas???” berbarengan ketiga pengemis itu berseru kaget..” “Ji-te kita sedang membicarakan masalah pergerakan Tiat-sim hengkang.” “Benarkah kabar yang mengatakan mereka akan mendirikan pusat pergerakan di bukit ular merah?” tanya ji-kay. Kabar yang santer menyatakan bahkan ilmu Hiat kiam Lomo lebih hebat dibandingkan Hoan bin kauw oang. “Bocah yang luar biasa. di samping . Wajahnya berubah menjadi menegang. Mereka pasti akan melabrak kita. Apakah ada hubungannya dengan kelompok Tiat sim heng kang. Dia bukan anggota kay-pang kita toh.... Tubuhnya juga sangat kuat. ji-te.. Sebenarnya sayang kalau kita sampai mengorbankannya. “Ah itu tidak baik sam-ko.” usul sam-kay. seperti ada yang menotok jalan darah di punggungnya.

Halaman ini dekat dengan ruangan berlmpat itu sudah ada kursi tinggi.” “Siapakah penjahat itu. “Ah kasihan sekali dirimu Gi te.” jawab Tiong Gi singkat. Ketika ia bangkit. boleh aku makan bubur ini?” “O. Tapi ia kemudian tahu apa yang hendak dilakukan. hanya menyisakan kepalanya saja. seorang pengemis cilik mendatangi mereka. Tiong Gi menatap pemuda itu dan menjawab datar. “Ehh. Di atas meja ada mangkok yang berisi bubur.. dari luar masuk seseorang... dan seseorang yang membelakangi mereka. Lewat sepeminuman teh. Pisauku takkan melukai kulitmu . keadaanku juga tak jauh berbeda. “Eh. masih sakit?” tanya Wan Sin Hwat ramah. atih silat. Mulutnya mulai menyantap bubur itu dengan lahapnya... Setelah bercerita tangannya mengepal. “Aku baikan. aayaa. dia dipanggil sam-susiok!” “Ohh.kau pasti seorang kongcu muda ya? Bagaimana keadaan keluargamu. Begitu tiba. Orang tuaku sendiri sudah sejak aku berumur dua tahun meninggal dunia.Eh di mana rumahmu Gi Te?” Sin Hwat terus saja nerocos..tidak baju yang kau pakai..aku mau diapakan?” tanya Tiong Gi. kamu kalau tidak punya rumah tinggal aja di sini! Eh tidak. sementara Tiong Gi hanya menjawab sepatah dua patah kata. Hwat ko?” “Belum tahu. “Gi te. apakah sudah ditangkap.” papar Sin Hwat pelan. siapa namamu hiante?” “Tiong Gi. ayahku beserta tiga saudaranya termasuk paman mengikuti pertemuan pendekar di suatu perguruan. sam-susiok memanggilmu. tenanglah aku tukang cukur paling top di Yi Chang. pulangnya di tengah jalan mereka dicegat oleh pihak lawan dan terjadilah peristiwa itu. O ya.. Tiong Gi langsung didudukkan dan ditutup dengan kain besar. “Rambut siauw kongcu sudah sangat panjang.hiante kau sudah baikan? Gimana punggungmu..silahkan bubur ini memang untukmu.dipannya ada meja kecil.ayo Gi te. “Kalau tamu kita sudah siuman. Sin Hwat juga agak heran melihat Tiong Gi didudukkan di kursi itu. matanya menitikkan air mata. Waktu itu kata paman. Seorang penjahat telah membunuh kedua orang tuaku. Sejak peristiwa itu ibuku menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia ketika aku berumur enam tahun. hanya beruntung aku dipungut oleh pamanku.” Bergegas penegmis cilik itu mengajak Sin Hwat dan Tiong Gi ke halaman belakang. su-kay.. mereka penjahat bertopeng.

he.. he he he. Gi te. atau ada sesuatu yang terjadi” berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya. Kamu mengerti anak baik?” Tiong Gi terkejut demi mendengar nama kuil yang disebut. sebaiknya kamu berganti nama juga Tiong Gi hwesio. lebih baik kau penggil beliau sam-lokay atau cianpwe. dengan mimik serius ia memerintah Tiong Gi. Kuil yang dipimpinnya sekaligus juga menjadi klinik pengobatan bagi mereka yang memiliki kelainan jiwa. kenapa aku harus ke sana?” “Eh.. sedikit banyak Sin Hwat juga merasa aneh. dia masih muda. tandaslah seluruh rambut kepala Tiong Gi.” ujar Sin Hwat.” yang diejek hanya melototkan mata saja. mengapa anak yang berpakaian anak sekolah seperti tidak mengenal tata krama. apa mereka belum pernah ke sana. melihat kelakuan Tiong Gi. Sin Hwat memoyokinya sambil “Wahh.kini dirimu telah berubah menjadi siauw suhu. biarlah aku berterus terang saja. maka kehadiranmu mungkin tidak terlalu mencurigakan. harus diganti!” katanya sambil melucuti baju Tiong Gi dan menggantinya. untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. karena memang di kay-pang ini budi pekerti masih tetap dijunjung tinggi.he. “Kuil apakah itu lopeh. maunya sih Tiong Gi balas. Kay-pang kami memiliki hubungan yang baik dengan Kong sim liok si. biksu yang sabar dan lembut. cocok sekali itu.. Tapi barubaru ini ada gerakan tersembunyi yang hanya kami dengar dari kabar angin saja.. kemudian apapun yang terjadi kamu harus bisa kembali ke sini memberi laporan. justru karena kau bukan anggota kay-pang kami maka mereka tidak akan mencurigaimu. tinggallah dua tiga hari disana untuk melihat keadaan. Kami mengenal pimpinannya yang bernama Kong sim hosiang. setelah dibebaskan dari totokan tukang cukur itu langsung melucuti baju luarnya dan menggantinya dengan kain yang dililitkan. tapi terburu munculnya sam-kay. kami masih melihat orangorang berpakaian biksu di kuil itu. lewat sepeminuman teh. untuk memuaskan segala yang berkelebat dipikirannya Tiong Gi bertanya. Gi te. Tiong Gi.” kata lelaki itu sambil mendudukkan Tiong Gi dan menotoknya.he. kami memberi tugas kepadamu untuk mendatangi kuil Kong-sim liok si di sebelah utara.. Sin Hwat belum tahu kalau Tiong Gi baru sempat setengah hari makan sekolah sebelum akhirnya ia membuat keributan.. meskipun pengemis Sin Hwat belajar budi pekerti dengan baik. “Bukankah kuil itu yang disebutkan oleh biksu Kim sim hosiang? Apa yang terjadi. “Baju kongcu juga sudah lusuh...” . “Tiong Gi. Kami akan mengirimmu ke sana.” “Tapi aku bukan anggota kay-pang sam-lokay. “Biarlah Sin Hwat. Melihat dandanan Tiong Gi berubah.. kenapa tidak pengemis yang lain saja yang lebih tahu keadaan?” “Pertanyaan cerdas.segorespun.

murid suhu Kim sim hosiang.. hendak menghadap supek Kong sim hosiang. Waktu ia berpaling. Mereka juga ikut menendang dan memukuli Tiong Gi. kemudian merasakan punggung. Kuil itu terletak di suatu perbukitan di luar kota Yi Chang. Ia lihat orang itu penuh berewok. Tiba-tiba dari belakang muncul dua lelaki berpakaian hitam-hitam dan langsung hendak menangkap Tiong Gi. Pintu penjara terbuat dari jeruji besi yang kokoh. Ia ingin membalik tubuh supaya tempat yang kesakitan itu tidak tertindih dibawah.. Sampai tiga kali mengubar mereka masih belum bisa menangkap. Biksu berbaju merah muda menjadi gusar. jalanan menuju kuil cukup lebar dan dikelilingi pepohonan yang rindang. Mereka menyangka menemui makanan empuk sehingga mereka menjulurkan tangan hendak menangkap Tiong Gi sambil menyeringai. lantainya batu. Tiong Gi mencoba memasuki gedung yang paling dekat dengan gerbang. siapakah namamu dan apa tujuanmu?” tanya biksu itu dengan pandangan menyelidik. Pelahan-lahan ia merasakan kesakitan luka jari tangannya itu. ketika Tiong Gi sudah dekat ia melihat bangunan kuil yang cukup megah. secepat kilat ia mengirimkan tendangan. ia lihat diujung sana ada sepasang mata yang bengis sedang melotot kepadanya. Di depan kuil tidak ada penjaga sehingga ia bebas memasukinya. Tiong Gi menjadi gugup sehingga terlambat menangkis.Maka berangkatlah Tiong Gi menuju kuil Kong sim liok si. bau yang tercium olehnya adalah bau apek dan bacin melulu. “Bugg! Auhh. luasnya kira-kira tiga meter persegi. “Aku Tiong Gi. Tiong Gi yang tubuhnya masih lemah tak sanggup membela diri. “Selamat datang siauw hwesio. Melihat gelagat datangnya dua orang ini. Tiong Gi berkelit. Tak tersangka olehnya didalam bui itu masih ada seorang lain lagi. Selain melayani orang yang hendak bersembahyang. Dua lelaki yang kepalanya diikat kain kelabu itu terkejut melihat lawan bisa bergerak sedemikian lincahnya. Setelah duduk sebentar dan agak tenang.. Dipojok sana terdapat sebuah tong kotoran. Karena mendapat serangan tiba-tiba. Begitu masuk dia disambut oleh seorang berpakaian biksu yang berkulit gelap.!” tubuh Tiong Gi terpental. kesempatan ini tak disiasiakan oleh kedua lawan. Usianya sekitar empat puluh tahunan. Ketika Tiong Gi siuman ia sudah berada di dalam penjara. ia coba memeriksa keadaan kamar bui yang terbuat dari tembok tebal itu. paha dan bokong juga kesakitan sekali. kemudian tangannya bertepuk tiga kali. ia tidak tahu dimana dirinya berada saat itu dan sudah lewat berapa lamanya. Kuil Kong sim liok si merupakan kuil terbesar di kota ini. Dua orang itu menyeretnya ke sebuah ruangan di belakang. rambutnya panjang .” Biksu yang diajak bicara terbelalak. kuil ini juga merawat para penyandang cacat jiwa. dindingnya dari tembok tebal. Tiong Gi terkejut. Dari gerbang terlihat berderet bangunan-bangunan yang sudah cukup tua tapi sangat menarik. ia merasa kepalanya sangat berat. Di dalam ruangan tak ada. beberapa kali bogem mentah mendarat di sekujur tubuhnya hingga ia pingsan. Di bagian belakang dari gedung ini terdapat kamar-kamar yang disulap menjadi penjara.

ia kemudian menempelkan tangan di punggung Tiong Gi dan keluarlah hawa hangat dari tangan itu. Melihat itu. ia hampir muntah dibuatnya. tukang pukul di kampung. sehingga tidak terlalu leluasa untuk bergerak. dan sering merebut makanannya. Kemudian ia terjatuh ke sungai hampir mati tenggelam. Maka mendaratlah satu dua pukulan ke tubuh Tiong Gi. dari menuduh Tiong Gi menyerobot tempatnya sampai tuduhan pembunuhan. karena ia juga merasa muak dengan guyuran itu. si jembel tua sudah menyerobotnya dulu. ia menjadi tak tahan lagi. terus saja ia siramkan air itu kebadan Tiong Gi. berbagai perasaan timbul di hati Tiong Gi. Karena tak tahan sore harinya tubuh Tiong Gi mulai demam. setelah matahari agak naek. baki itu di taruh di bagian bawah jeruji. Tiong Gi mencium bau anyir. Di tegur seperti itu bukannya diam Tiong Gi justru berteriak terlebih keras lagi. jembel itu kakinya diborgol rantai besi. Terbayang peristiwa-peristiwa pukulan bibi Ciu. Tiong Gi tidak tahu siapa nama pengemis itu. akhirnya ia menangis ter-gerung2 dengan keras. Tapi ternyata pertolongan mereka hanya semu belaka karena mereka kemudian menjerumuskannya ke tempat seperti ini. Ketika hendak merebut. Tangan kirinya buntung. tapi selama itu ia mengertak gigi bertahan sebisanya dan tidak pernah meneteskan air mata. Pengemis yang sekamar dengannya selalu di depan pintu jika sudah waktu kiriman ransum tiba. sembari berkata. jengkel. jembel tua itu kasihan juga. aku tak mau tinggal di sini. Betapa setelah mengikuti bibi Ciu hidupnya terus dirundung kemalangan dan duka. namun ditolong oleh pengemis sabuk hitam. Rupanya air yang disiramkan adalah air comberan. Berbeda dengan Tiong Gi. seorang lelaki muda mendatangi mereka dengan membawa baki isi makanan. Keesokan harinya Tiong Gi sudah agak segar. Namun tetap saja ia masih lebih gesit dibandingkan Tiong Gi. “Ini makanan kalian. marah. sudah banyak derita yang dirasakan. Sungguh apes nasib Tiong Gi. karena jembel itupun tidak kenal sama dirinya sendiri. “Keluarkan aku. mangkok kecil ini untuk si bocah. tapi jika ia diam pengemis itu juga diam. “Diammm! Kamu ini laki-laki apa banci huh!” semprot orang tua itu. ejekan-ejekan orang. Jembel tua itupun tambah keras memarahinya.” Belum sempat Tiong Gi mengambil mangkok yang dikatakan untuknya. Jika Tiong Gi melawan ia akan marah dan memukul. Mendadak ia menangis. Sering ia melihat pengemis itu nyerocos .terurai sampai diatas pundak. menyengir ejek sekali. ia putar badan dan datang pula dengan membawa seember air. *** Tiap hari peristiwa yang dilalui Tiong Gi hampir sama. Waktu terjatuh ke sungai dan terluka karena serangan gelap bajak sungai. si tua itu mengepalkan tangannya. Sepertinya si jembel sudahmeminta agar kamar diguyur air bersih. Dari luar jeruji kamar tahanan. bajunya compang-camping tak keruan hingga lebih mirip orang hutan. Demi melihat Tiong Gi deman. pindahkan aku ke tempat yang lain!” Penjaga bui yang berkepala gundul. Di kamar itupun sudah tidak terlalu bacin lagi. Begitu Tiong Gi siuman ia nyerocos gak karuan. sakit hati sampai putus asa. Hanya sedikit nasi yang dimakannya.

. awas kalau tidak hik. jantungnya berdegup kencang. pikir Tiong Gi. Tiong Gi melihat gerakan hewan raksasa yang aneh. Begitu dekat baru kelihatan bahwa yang datang bukan raksasa namun rombongan orang yang dibungkus benda seperti barongsai.” “Wuussss. Tercium bau wangi sebelum selendang itu nyampai. dan menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan ilmunya.ngalor-ngidul. dan mengomel-omel. Selendang itu meluncur ke arah tubuh Tiong Gi dengan cepat. Tiba-tiba “kaki depan” kelabang membunyikan gambreng. biksu baju merah berkata. baru pada larut malam ia tertidur. Setelah selesai seperti disedot selendang itu masuk kembali ke lubang di kepala.. Suaranya melengking tingi mencicitcicit seperti burung hantu.bu.srett. seminggu lagi aku hendak kemari lagi. Tiong Gi menjadi kaku dan bebaslah selendang membelit beberapa bagian tubuhnya. meskipun Tiong Gi sudah berusaha menghidar selendang itu seakan-akan bagai ular yang bermata..hik.!” Tiong Gi terlongong-longong setengah mati mendengarnya. Tapi sering juga ia melihat pengemis itu diam termenung.. sekonyong-konyong ia terbangun dan terperanjat kaget. menotok bagian sana-sini..... Yang mengerikan adalah bentuk gambreng itu yang bergerigi runcing.. kakinya lebih dari lima pasang.. sebuah selendang meluncur keluar lubang kecil di kepala. Di bagian kepala yang berukuran besar terdapat dua lubang..bi.hik.. Dugaan Tiong Gi tak keliru karena pada tengah malam beberapa penjaga membawa sisa-sisa makanan dan dibagikan ke penghuni penjara... Tapi dilihatnya jembel yang sekamar dengannya cuma duduk terpekur diam.. suatu hari para penjaga seperti terlihat sibuk. Tapi bentuk barongsai itu bukan harimau melainkan mirip hewan melata seperti kelabang raksasa.. Ia tidak tahu bahwa suara yang didengar bukan suara orang berkelahi namun orang berlatih ilmu baru.... Ia sampai menjerit lirih.. apakah sian-li ingin memeriksanya. sayang masih kurus.! tanpa berkata ba.. Biksu baju merahpun ikut-ikutan sibuk. seperti barongsai tapi panjang. Bertambah hari bertambah aneh saja kejadian yang dialami oleh Tiong Gi. “Heh heh heh.. Kelabang raksasa itu diiringkan oleh penjaga dan biksu baju merah. Karena ada keramaian Tiong Gi kesulitan tidur. “Pranggg. Ia tak tahu bahwa jembel di sampingnya sedang duduk semedi. inilah kamar anak yang taecu maksud. dan dia harus lebih gemuk.. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti pikirannya.. “Sian-li. Kulitkulit yang menyelubunginya berbentuk perisai terbuat dari logam yang dicat keemasan... diselingi berbagai nyanyian dan bunyi-bunyi lainnya. sejak beberapa hari setiap sore ia sering mendengar suara orang berkelahi dan selalu diakhiri dengan teriakan yang menyayat. Ternyata pada bagian kepala kelabang .tuk.. Di lorong yang menuju ke kamar tahanan. Pada kedua tangan orang-orang yang memanggul kelabang itu terdapat sepasang gambreng. Sepertinya sedang ada pesta. Setelah dekat. Setelah dua minggu tinggal di tempat sial itu. Malam harinya Tiong Gi mendengar suara alunan musik yang merdu.tuk.” nyaring sekali ucapan yang dikeluarkan oleh orang terdepan dari kelabang raksasa itu..santapan lezatt... untuk melindungi serangan khikang yang keluar dari gambreng.

Sayup-sayup ia masih mendengar percakapan mereka. Begitu jembel tua keluar pintu ditutup kembali.akan taecu pindah!” “Hemm bagus. Yang lain sudah penuh semua.. Tiong Gi yang tak tahan menutup telinganya. anak itu tak gemuk-gemuk kalau dikumpulkan dengan si jembel. Pintu kamar kemudian di buka. aku ingin melihat kamar tahanan biksu tak berhati. ah bagaimana nasib si jembel?” pikirnya. Dan akhirnya iapun pingsan. Pengemis kumal itu tentu saja tidak membiarkan dirinya mendapat serangan dari selendang sehingga ia menangkis. dua orang penjaga dan biksu baju merah mendatangi kamar tahanan. *** Sore harinya.. hari ini kamu akan menerima hukuman setimpal atas kesalahanmu... kalau begitu. Ketua kami akan membuat perhitungan denganmu. yang satu dipanggul yang lain.. Dan secara kebetulan hari itu muridmurid kuil Kong-sim liok si datang bersama serombongan biksu berbaju kuning. Setelah itu ketiga orang yang menjemput si jembel kembali menggelandangnya menuju kamar Tiong Gi. kamar sebelah sana saja... tiba-tiba selendang meluncur ke kepala gundul si biksu dan terdengar bunyi “Tokkk” seperti kepala diketok..ampunkan taecu sian-li.ha. namun tetap saja suara itu membuat kepalanya pening. Tiong Gi tidak tahu apa yang terjadi tapi lewat setengah jam lapat-lapat ia mendengar suara suara pertarungan. Tiba-tiba selendang itu meluncur lagi namun kali ini ke arah si jembel. “Ampun sian-li.. kemudian terdengan suara biksu baju merah yang dia hapal berseru. Tapi ketika pengawal hendak membuka pintu si biksu mencegahnya.. “Iiihhh.. “Ha..” Tiong Gi mencelos mendengar seruan itu. Bagi yang mengenal raksasa ini. “Jangan di kamar ini bodoh! Ingat pesan sian-li. Mayatnya sengaja dibuang di tempat umum. tapi ruangannya sudah habis. “Jadi barusan biksu Kong-sim hosiang dibunuh. Selendang ditarik kembali tidak melanjutkan serangan.” “Brengsekk! Berani kau membantah subomu!” “Duggg!” Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja biksu baju merah terjengkang karena terkena tendangan di bagian bokongnya...ha. .raksasa terdapat dua orang.mampuslah sekarang kau Kong-sim hosiang. Tiong Gi mendekatkan mukanya ke pintu jeruji. Par biksu baju kuning itu ada sejumlah lima belas orang yang .ada jembel busuk di kamar ini. “Stttt.” katanya sambil menyeret tubuh jembel tua. kapan ia bisa jadi gemuk..... “Aduhhh. Meskipun lirih namun karena angin berhembus ke arah yang berlawanan maka Tiong Gi masih sempat mendengarnya.... Tiong Gi bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya tubuhnya supaya gemuk dan sumsumnya segar??? **** Peristiwa kematian biksu Kong-sim hosiang berbuntut panjang.” jawab biksu pelan.baiklah. “Emangnya kalau kurus kenapa twako?” tanya salah seorang pengawal... buru-buru mengerahkan lweekang untuk melindungi telinganya.. “Jembel tua.. Terdengan bunyi bag-bug dan diakhiri dengan suara rintihan yang makin lama makin perlahan.” Merekapun kemudian berlalu...lo-sian-li ingin tubuhnya gemuk sehingga sumsumnya segarrr. kenapa kau kumpulkan anak itu dengannya!?? Bodoh!!..

bukankah itu ilmu tongkat dari Kun-lun pay?” “Dan ini. yang ia tahu di selatan terletak kota. Tiba-tiba pengemis berbaju kumal sudah ada di depan pintu kamar.. gusar dan marahnya mereka semua. tapi apapun ini harus kita laporkan ke ketua... Ia menjadi kebingungan. tak tahu bagaimana kalau api ikut melalap bangunan kamarnya. *** Apa sebenarnya yang terjadi di kuil Kong-sim liok si? Kuil Kong-sim liok si didirikan oleh Kong-sim hosiang.. “Prangg!” pintu kamar tahanan terbuka begitu si jembel mematahkan gembok penguncinya. namun karena keahlian Kong-sim hosiang dalam menyembuhkan orang sakit lama-lama kuil berkembang menjadi klinik.. dan Kong-sim hosiang bertindak sebagai dokter. “Ayo cepat keluar! Lari. Tiong Gi salah terima. untuk meminta bantuan. Tiba-tiba salah seorang yang mengerubuti mayat berseru. ia tinggal beberapa hari di kuil. bukankah di kota ini juga ada markas pengemis sabuk hitam? kita datangi mereka meminta pertanggung jawaban. Kong-sim hosiang menyambut dengan tangan terbuka dan melayani dengan baik. Akibat terusir sejak peristiwa pengambil alihan kuil itu beberapa murid pergi ke Kuil Siauw Lim cabang selatan. Di kuil itu mula-mula hanya melayani orang bersembahyang. Maka berserulah ia minta tolong. Mereka mengisi hari dengan berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan. “Mengapa bisa begitu? Apakah orang-orang yang merebut kuil berasal dari Kun-lun pay? Sungguh sulit dipercaya. seorang biksu murid Siauw-lim pay cabang selatan.rata-rata berkepandaian.” “Suheng. sedangkan pengemis baju kumal lari ke utara.lari ke luar lewat pintu samping!” seru si pengemis baju kumal ini sambil lari ke arah samping.. sampai ke hal-hal filosofi dan kejiwaan.kenapa ini. Dan tepat pada hari yang sama mereka menemukan mayat biksu Kong-sim. seorang suku uigur. Tiong Gi tak tahu arah tujuan.. betapa sedih. dengan membawa golok besar.... karena suasana hiruk pikuk tak seorangpun yang menghalagi lari mereka. Pertentangan antara pengemis sabuk hitam dan biksu Siauw-lim cabang selatan Keluar dari gedung Tiong Gi lari ke selatan.bukankah ini bekas pukulang tongkat Thai-kek sintung hoat?” “Thai-kek sin-tung hoat.bukankah ini tanda bekas pukulan tapak tangan delapan jurus sakti dari perkumpulan pengemis sabuk hitam?” timpal biksu kedua yang ikut memeriksi. *** Malam harinya ketika sudah mulai mengatupkan mata terdengar suara ribut-ribut. Rupanya di daerah . Hari sudah gelap. Karena menyukai pemandangan di tepi sungai Yang-tse. Ia tidak berniat kembali ke perkumpulan pengemis sabuk hitam lagi...” “Tidak usah sekarang! yang penting kita serbu dulu kuil untuk kita ambil alih kembali. Suatu ketika bertandang seorang pelancong dari barat. tapi dari bangunan samping Tiong Gi melihat ada api dan asap tebal membumbung. “Ahh. Ia sangka jembel itu hendak membunuhnya. Bab 7. rupanya terjadi kebakaran.

Suara-suara seperti pertarungan yang didengar Tiong Gi sebenarnya adalah latihan ilmu ini. berkulit bersih. makin tinggi pohon makin kencang angin bertiup. Mereka di terima oleh keempat pimpinan kaypang di ruang lian-bun-tia. Malam ketika Tiong Gi mendengar suara tetabuhan adalah malam kedatangan Kim-hu moli si biang iblis kelabang emas bersama Hiat kiam Lomo. Orang tua itu berumuran enam puluhan. kuil Tong-im bio pimpinan Ang I hwesio si biksu baju merah. Namun suasana panas penuh amarah masih membara. Demi merasakan kemunduran kuilnya. Biksu yang bertubuh kekar ini masih adik seperguruan . Kuil Tong-im bio menjadi sepi pengunjung sejak pesaingnya maju. Maka dengan mudah kuil diduduki dan biksu berhati kosong karena ketulusannya itu dapat ditawan. kumis dan jenggotnya dipelihara rapi. Sejak mendirikan kuil. yang selalu ingin dipanggil sian-li (dewi). dengan memakai pasien-pasien lama kuil sebagai obyek percobaan latihan ilmu ini. Karena mempelajari ilmu jiwa maka Kong-sim hosiang bisa mengobati penderita sakit mental maupun jiwa. Maka. Ilmu tapak kelabang adalah sejenis pukulan yang sangat kejam dan mengandung racun kelabang yang sangat hebat. Sungguh rencana busuk yang sangat keji. Kuilnya makin besar dan berkembang. namun setengah bagian kuil sudah hangus terbakar. demikian juga murid-muridnya. Mereka merencanakan tindakan selanjutnya yaitu mengadu domba kaum persilatan antara anak buah. Pasiennya berasal dari berbagai penjuru dunia. gedung kemudian dibakar oleh anak buah kelabang emas. mayat semua biksu termasuk Kong-sim hosiang dikremasi. sedang sisanya diberi dua pilihan mengabdi pada Ang I hwesio atau dijadikan kelinci percobaan ilmu pukulan tapak kelabang yang dikembangkan oleh nenek kelabang emas yang mendatangi Tiong Gi dalam bentuk kelabang raksasa.asalnya pelancong ini adalah seorang ahli kejiwaan. pada suatu hari terjadilah penyerangan secara mendadak ke kuil Kong-sim liok si. bersama-sama dengan anak buah kelabang emas. Pada saat yang sama ternyata beberapa orang berseragam pengemis sabuk hitam sudah menanti di kuil. Orang yang terkena pukulan itu akan hancur isu perutnya. Ajakan Hiat kiam Lomo bukan tanpa tujuan. maka disusunlah rencana menyerang dan menduduki kuil Kong-sim liok si. Kedatangan biksu-biksu dari Siauw-lim cabang selatan sudah diketahui dengan baik oleh anak buah yang sengaja disebar untuk memata-matai meraka. Kong-sim hosiang sudah tidak pernah berlatih silat lagi. Mereka kehilangan empat orang biksu. Matahari baru sepenggalah naik. ketika tujuh biksu datang ke markas pengemis sabuk hitam. Perlahan-lahan kuil bisa dibangun kembali. Sisa-sisa pasien diangkut dengan gerobak-gerobak kuda. Beruntung jembel gila berlengan satu yang dijadikan tawanan berhasil lolos kemudian menolong Tiong Gi untuk melarikan diri. mengenakan jubah berwarna ungu. Ang I hwesio menjadi gusar bahkan mulai panik ketika muridmuridnya satu persatu meninggalkannya. Sesuai hukum alam. Dan angin itu bertiup dari salah satu kuil yang merasa tersaingi. Setelah setengah hari bertempur akhirnya anak murid Kong-sim hosiang yang dibantu biksu-biksu dari Siauw-lim berhasil menguasai kembali kuil. Dari duapuluhan murid yang dimiliki hanya empat orang yang berhasil meloloskan diri atau sengaja dilepaskan. Dua tiga kali datang maka mulailah ia terpengaruh oleh omongan orang tua yang bukan lain Hiat kiam Lomo. Jika kuat bertahan maka kulitnya akan melepuh dan menjadi borok di sekujur tubuhnya. Suatu ketika datanglah seorang tua ingin bersembahyang. Setelah itu ia memberikan uang yang cukup besar. perselisihan tak dapat dihindari maka terjadilah peristiwa pertempuran kecil di kuil Kong-sim liok si. Maka tidak menunggu lama. karena sedemikian terkesan dengan pelayanan biksu Kong-sim ia kemudian meninggalkan satu buah kitab tentang ilmu jiwa yang kemudian diterjemahkan sendiri ke bahasa mandarin. namun setelah selesai ia mengajak Ang I hwesio untuk bercakap-cakap. Biksu ini dipimpin oleh Kong-san hwesio. keesokan harinya tujuh biksu mendatangi markas pengemis sabuk hitam untuk meminta pertanggung jawaban. dan mereka melarikan diri. setelah bergabung dengan mereka. Di hasut seperti itu api kedengkian di hati Ang I hwesio makin membara sehingga ia menurut saja diajak oleh Hiat kiam Lomo berguru ke biang iblis kelabang emas.

“Su-wi pangcu. terus terang saja kedatangan kami ini bukan untuk beramah-tamah. kemaren kami menemukan jenasah yang bukan lain adalah tubuh Kong-sim hosiang. Kami ikut prihatin dengan kondisi yang dialami kuil itu. Dua orang biksu tiba-tiba masuk dengan menyeret seorang berpakaian pengemis. Seruni lebat di rawa lembab. tidak ada yang bicara.. Semalam kami mendatangi Kong-sim liok si.” “Cuhh... pengemis ketiga bertubuh pendek kurus berjuluk Te Kang lo-kay sedang yang terakhir berjuluk Siong Kang lo-kay.. Pukulan tapak tangan delapan jurus sakti hanya dimiliki oleh pengemis tingkat tinggi di kay-pang sabuk hitam. kalau saya tidak salah lihat bukanlah cit-suhu ini dari Siauwlim pay cabang selatan? Gerangan apakah yang membawa langkah cit-wi suhu dari Wu-han berkenan mengunjungi gubug kami yang lusuh ini?” sapa Tiong Kang lo-kay. tapi dukungan kay-pang sabuk hitam kepada pihak perampok sungguh tidak kami mengerti.! Kura-kura dalam perahu.. yang memiliki ilmu itu dalam tingkat yang masih rendah. bertubuh sedang. kemudian ujarnya “Sungguh kami sendiri tidak memahami apa yang terjadi di kuil Kong-sim liok si.. selain ke-empat pimpinan hanya ada dua anggota. ataukah yang berbuat pengemis dari pusat atau cabang lain” pikirnya penuh kekawatiran. bawa kemari!” perintah Kong-san sambil bertepuk tangan.” “Memang barangkali saja benar ada biksu dari kuil lain yang mengambil alih.. Pang-cu dari sabuk hitam menarik nafas dalam-dalam. sampai kemudian kami mendengar kuil itu diambil alih oleh kelompok lain.. sungguh watak rendahan!” potong salah seorang biksu yang bertubuh kurus berwajah tirus yang sudah agak tua.. Tiong Kang lo-kay agak maju ke depan menatap lekat-lekat ke baju di tangan Kong-san hwesio. dan mendapatkan beberapa pengemis sabuk hitam berada di belakang pihak perampas kuil kami. sehingga cenderung terkesan kaku.” desis Tiong Kang lo-kay dengan wajah memucat. Di cabang Yi Chang sendiri. “Siapakah dia? Mungkinkah ada anggota pengemis yang memiliki pukulan lebih hebat dari yang kuasai. namun berbeda dengan Kong-sim hosiang yang berwatak lemah lembut dan welas asih.. pengemis kedua yang bertubung tinggi berjenggot panjang berjuluk Lim Kang lo-kay. namun dengan sikap siap siaga dan penuh kewaspadaan semua mata ditujukan kepada mereka. di tubuhnya terlihat beberapa bekas pukulan. di depan mereka berdiri gagak ke-empat pimpinan pengemis.. kami sengaja datang atas keributan di Kong-sim liok si. tidak berjenggot. “Lihat ini buktinya!” sahut Kong-san hwesio tegas. Hubungan kami dengan kuil itu dari dulu selalu akur. Kong-san hwesio sangat tegas dan keras memegang prinsip. Harap su-wi pangcu bisa menjelaskan dan mempertanggung jawabkan peristiwa di kuil suheng kami! Apa sebenarnya yang kay-pang sabuk hitam kehendaki?” Tiong Kang. Pengemis berbaju kain satin tua. berani berbuat tak mau tanggung jawab. Saat ke-empat pimpinan kay-pang melihat secara seksama. biar gak tanggung-tanggung.” bantah Kong-san hwesio.ah aku sendiripun belum bisa memukul sehebat ini. Kami tidak bercuriga karena pemimpin baru kuil itu juga seorang biksu. “Jika masih belum puas.. Jumlah anak buah kay-pang yang berkumpul disitu tidak kurang dari lima puluh orang. yang salah satunya kami kenali sebagai pukulan Pat sin kun ciang hoat. Dengan agak tergetar Kong-san hosiang mengeluarkan baju luar yang ditemukan dipakai oleh biksu Kong-sim hosiang. Ruangan itu cukup luas. tapi.. “Apa maksud lo-suhu? Kami tidak mengerti.Kong-sim hosiang... jurus ke tujuh . akan tetapi kini dikelilingi pagar hidup berupa anak buah kay-pang yang berdiri dbersaf-saf. pengemis . yang menajadi ketua itu berjuluk Tiong Kang lo-kay. “Ah selamat datang cit-suhu. tapak tangan delapan jurus sakti” teriakan itu hampir serempak meloncat keluar dari mulut ke-empat pimpinan kay-pang sabuk hitam..benar memang itu adalah pukulan tapak tangan kay-pang kami. “Su-wi kay-pangcu. siapa lagi yang mampu menggunakan jurus itu kalau bukan pengemis sabuk hitam?” “Ahhh. “Hmmm..

lihat suheng.. tapi tubuhnya gemuk.” tiba-tiba ji-kay Lim kang membantah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan ke Nyo Beng. “Ciam Tek!. “Apakah kalian yakin semalaman penuh terus menerus di dekat Nyo Beng?” tanya biksu kurus.. karena ia juga mengemis di pasar Kee-siang. segera ia kirimkan beberapa totokan sehingga tubuh pengemis itu menjadi kaku..” desak sam-kay dengan wajah memerah. Dengan penuh kegusaran dan rasa penasaran diserangnya Nyo Beng dengan jurus-jurus pilihan Pat sin kun ciang hoat.. “Alahh paling-paling hanya akan menjilat ludah sendiri. namun masih bisa bicara.tuk.. “Ah. Tiong Kang. Lim-kang terdiam.tuk.. Yang dijadikan sasaran tembak tercekat hatinya serasa mencelat saking terperanjatnya.” terang Sin Hwat meluruskan kesalah pahaman.. membayangkan bahwa ada anak buah pengemis yang terlibat.” Beberapa kali ia memukul dan menotok hingga Nyo Beng terkapar. malam sebelum kejadian aku bersama Nyo Beng sedang berdiskusi tentang kebangkitan musuh-musuh kerajaan.. tapi dia tidak bisa menjamin Nyo Beng tidak kemana-mana..” cela biksu kurus yang bermulut tajam. Setelah .. Sin Hwat segera berlari ke depan memberi pertolongan kepada Nyo Beng. meskipun ia yakin setelah diskusi itu Nyo Beng kecapaikan dan pasti langsung tidur. Rupanya yang berseru adalah Sin Hwat.. yang berarti hilanglah seluruh kemampuannya bersilat selamanya. coba sebutkan ciri-ciri pimpinan yang mengajak kamu dan tunjuk orang itu. hanya jerit rintih Nyo Beng yang terdengar... “Aku tidak mengamati seksama wajahnya. seluruh urat-uratnya telah putus... bukan aku... Sambil membawa tubuh Nyo Beng. “Sin Hwat! Siapakah pengemis ini? Setahuku tidak ada anak buah kita bernama Ciam Tek.bukan aku pelakunya! Aku tak tahu apa-apa!” serunya sambil berkelit dari kerubungan orang-orang. betapa menjemukan!” sahut biksu bertubuh kurus yang merupakan sute kelima dari Kong-san hwesio.. wajahnya bulat bertahi lalat di dahi kiri. betapa setelah bukti kita ajukan mereka masih coba berkelit cuci tangan.cu-wi lo-suhu salah sangka. lagi pula bukankah semalam pang-cu juga sempat melihat Nyo Beng dan sam-te berlatih Pat sin kun ciang hoat. kay-pangcu terkejut mendengar seruan ini. Tiong Kang lo-kay bertindak cepat...” Semua orang terkejut dan serempak mengarahkan pandangan pada satu titik. Nyo Beng digotong ke dalam.tuk. sebelum aku menurunkan tangan kerasku!” tanya pangcu dengan suara keras namun terdengar bergetar.muda yang didorong dengan paksa bersimpuh di tengah ruangan.. aku memang mengenal Ciam Tek.???”... Ciam Tek apakah yang terjadi. Dua pengemis muda lainnya membantu. Sin Hwat sempat menatap tajam wajah Tiong pang-cu dengan tatapan penuh perasaan tak percaya dan penasaran.. Mana mungkin Nyo Beng yang berbuat itu.. wajahnya mengeras.. “Pang-cu apalagi sekarang yang menjadi keraguanmu?” desak Kong-san hwesio.. coba katakan sebenarnya!” “A..!” “Aacchhhhh... ia mengeluh dalam hati. “Nyo Beng! Katakan apa alibimu. jembel busuk macam mereka mana tahu harga diri dan kehormatan. sekonyong-konyong dari belakang ada seruan memanggil “Ciam Tek. “Nah.. jika ada di sini biar aku yang akan menghukumnya!” desak Tiong Kang dengan suara mengguntur. tapi ia bukan anggota pengemis sabuk hitam. pengemis berbaju kedodoran bertubuh gemuk bertahi lalat di dahi yang bediri di belakang su-kay. Suasana hening..nah. “Eehh aku.. Suasana menjadi ramai. “Pang-cu tunggu dulu. “Eh.. Wajah Tiong Kang lo-kay yang sudah dari tadi memucat semakin pias.aku diajak oleh kawan-kawan pengemis lain sebagian tidak kukenal tapi mereka memakai sabuk hitam dan bisa memainkan jurus yang kukenal dari sabuk hitam” jawab Ciam Tek terbata-bata... “Dess.tuk...

Tak ada yang berbicara di sepanjang perjalanan itu... Mereka tidak meragukan pukulan kay-pangcu. Sepanjang sisa hidupku aku pasti akan sangat menyesali perbuatanku ini. dengarkanlah perintahku ini.. Kalau tadi siang aku memutuskan untuk melawan pasti permusuhan akan makin runcing dan menyeret dua perkumpulan besar. Mari kita ikuti perjalanan biksu-biksu dari Siauw-lim selatan. dan nenek kelabang emas.!” tubuh Ciam Tek terlempar dua tombak sehingga tepat terkapar di depan kaki Tiong Kang pang-cu. “Sin Hwat. Tapi siapa nyana di pinggiran hutan menuju ke perbukitan di utara kota. Hanya aku sangat ragu siapakah mereka. bawalah dua suratku ini. dan tempuhlah jalan darat sampai kota Hong ji. namun ada rasa puas tersendiri karena merasa biang keladi peristiwa kehancuran kuil Kong-sim liok si sudah diberi balasan setimpal.mereka masuk ke dalam... Tadi siang aku menghadapi suasana yang sangat mendesak dan menjepit posisi pengemis sabuk hitam. namun aku yakin kamu masih polos. “Lo-suhu tolong aku. Dan di dalampun aku yakin ada pengkhianat. belum terseret oleh arus. Tiong pang-cu memanggil Sin Hwat ke kamarnya. Semua orang seperti sepakat mengunci rapat-rapat mulutnya... Meski kegeraman masih belum pudar dari wajah-wajah mereka.. Aku yakin ada pihak-pihak tertentu yang bermain mengadu domba berbagai perkumpulan silat.. Rahasiakan tugas dan kepergianmu dari siapapun. “Desss. Malam harinya.. semua mulut tertutup rapat. jangan tinggalkan aku disini!” ratap Ciam Tek sambil memeluk kaki salah satu pengawal.. aku telah memberikan hukuman setimpal pada anggota kami sesuai dengan ucapanku. aku mengutusmu berangkat ke Chong King melaporkan kejadian ini pada perkumpulan pusat. “Cit-wi lo-suhu. Setelah menyelesaikan masalah dengan kaypang mereka bergegas kembali ke kuil Kong-sing liok si. Besar kecurigaanku pada perkembangan bajak sungai Tiat-sim heng-kang. namun baru dua tindak terdengar seruan Tiong Kang pang-cu. sekarang juga kalau cit-wi tidak tinggalkan markas kami. Kata-katanya tidak lagi lembut. Namun sekonyong-konyong kesiuran angin menyambar dadanya disusul datangnya tendangan dari biksu kurus bermata tajam.pertikaian seperti sekarang. Mereka bisa melihat sendiri ketua pengemis itu menghukum Nyo Beng hingga berdarah-darah.” “Hayo kita pulang. “Persiapkan barisan tujuh pintu bintang! . dengan suara keren Tiong Kang pang-cu membentak rombongan biksu. dan iapun berpikir membenarkan ucapan ngosutenya. Kong-san hwesio tak kuasa mencegah.. Tiong Kang pang-cu segera memerintahkan anak buah untuk merawat Ciam Tek. “Tunggu! Tinggalkan bocah she Ciam di sini!” Ke tujuh biksu itu menatap Ciam Tek yang sudah hendak dibawa oleh dua pengawal mereka. Satu untuk tai pang-cu. kami benarbenar akan melupakan rasa malu untuk mengambil tindakan apapun untuk memaksa cit-wi keluar dari sini.. dan terputus-putus diselingi hisapan nafas yang dalam. dan mengurungnya di kamar tahanan bagian belakang. Oleh karena itu... Dengan langkah cepat karena menggunakan ginkang mereka bergerak ke utara. Sim Hwat melihat wajah suhunya yang biasanya tenang dan sejuk seperti aliran sungai Yang tse di musim dingin sekarang menjadi keruh dan bergelombang seperti deru banjir sungai Huang di musim hujan. jangan sampai seorangpun tahu kepergianmu..kupercaya. sementara ini kita anggap selesai urusan kematian suheng Kong-sim hoasiang!” perintah Kong-san hwesio pada anak buahnya. satunya lagi untuk suhu Pek Mau lo-kay. pemimpin mereka tiba-tiba berhenti. Suasana di markas pengemis sabuk biru menjadi sangat beku.. namun itu kulakukan demi melindungi perkumpulan kita.. meski aku yakin ia tak salah. Ciam Tek segera berlutut dengan tubuh gemetar. Bergegas mereka membalikkan badan... Sekarang kamu sudah cukup dewasa. kamulah muridku yang paling.” *** Kita tinggalkan dulu Sin Hwat yang sedang mendapatkan tugas ke barat. karena aku khawatir bajak ini masih berkeliaran di sepanjang sungai Yang tse di barat kota ini. “Kami sudah tak memerlukanmu lagi!” bentak biksu kurus.... Sekarang juga kamu berkemas. Terpaksa aku mengorbankan Nyo Beng.

Meskipun mereka bertiga namun sejatinya justru merekalah yang dikeroyok oleh delapan bayangan Nyo Beng. Seluruh tubuhnya merubah membiru tanda keracunan yang hebat. hati-hati dengan gebukannya!” Serempak berlima mereka terjun ke gelanggang menyerang ke empat biksu yang masih tersisa. namun dari cara tertawa dan deretan gigi yang terlihat Kong-san tahu bahwa orang yang mirip dengan Nyo Beng berkedok..cring. dan kau Ang sicu dan sam-kay sicu tangkap hidup-hidup biksu Kong-san... “He.ha..... Namun terlambat meskipun beberapa senjata bisa mereka tangkis. “Nyo sicu. “Wusss. Jurus-jurus mereka mental semua terkena hawa pukulan yang keluar dari tangan Nyo Beng..cring. belum hilang kekagetan mereka karena suheng yang memimpin tiba-tiba berteriak memerintah tiba-tiba datang kesiuran angin disertai hujan senjata gelap....he.cep..” Kehadirannya diikuti oleh lima orang yang berseragam coklat bersabuk hitam dipimpin oleh seorang tua berumur enam puluhan berwajah putih halus.. namun masih ada satu dua senjata yang meluncur bebas menembus kulit daging mereka.cep.Nyooo Beng.. Empat orang dibelakangnya berumuran empat puluh sampai lima puluh tahunan. hadapi tiga tikus gundul yang lain... Menghadapi gempuran demi gempuran ke-tiga biksu seperti serpihan kertas yang berputar-putar terkena arus yang disemburkan dari hawa pukulan Pat sin kun ciang hoat.... Lima belas jurus berlalu dan mereka sudah terlempar seperti layang-layang putus talinya. Sebelum tubuh ke-tiganya terjatuh berdebum di tanah dari mulut mereka telah menyembur darah segar. “Nyo. Tiga orang yang terkena termasuk biksu kurus berlidah sembilu hanya mampu menjerit sebelum berkelejotan tewas.. Semak-semak dan batu kerikil semua bertumbangan yang terbang terkena kesiuran hawa yang keluar dari Pat sin kun ciang hoat itu.. Selesai hujan senjata yang bertubi-tubi suasana kembali tenang.” desis mulut mereka dengan tubuh agak tergetar.. tapi aku Kong-san hwesio tak bisa kau kelabuhi......” belum selesai Kong-san hwesio menyelesaikan perintah ke anak buahnya sekonyong-konyong dari segala penjuru meluncur senjata-senjata rahasia berbentuk bintang.cep aurrrgghhh ” Puluhan senjata rahasia yang berwaran hijau itu meluncur dengan cepat menghujani mereka.wussss. Sementara itu keempat biksu yang masih tersisa juga tidak mendapat kesempatan untuk menolong sute-sute mereka karena mereka juga sedang disibukkan oleh serangan gelap... tikus gundul dari Wu Han kini tinggal berempat.... semutpun pasti tak takut melawan kalian ha. diikuti oleh beberapa anggota. “Nyo Beng palsu! Orang lain boleh kau tipu dengan kedok busukmu. Kong-san hwesio yang paling awas di antara mereka merasakan adanya kejanggalan... Pertandingan ke tiga biksu dengan Nyo Beng tidak berlangsung lama.Ayaaa.. Kong-san hosiang membentak dengan suara menggelegar “Pengecut rendah keluar kalian! Siapa berani bermain gila dengan Wu Han cit ceng” Tiba-tiba melompat keluar seorang bertubuh gemuk bertahi lalat di dahi sambil tertwa terkekeh-kekeh.ha... Namun ke-empat biksu yang masih mampu berdiri itu masih tegak dengan sikap waspada di tempat masing-masing. Secepat kemampuan mereka memutar toya..cring cring... Dengan cepat Kong-san hwesio memutar tongkat yang dibawanya. majulah biar pinceng antarkan rohmu ke alamat Giam-lo-ong yang tepat!” bentak Kong-san dengan mata berapi-api. Betapa terperanjatnya ke-empat biksu dari Siauw-lim cabang selatan yang berpusat di Wu Han itu. namun tak demikian dengan tiga sutenya. Sungguh suatu tingkatan tapak tangan delapan jurus sakti yang sejajar dengan ketua kay-pang sabuk hitam pusat atau bahkan setingkat dengan Pek Mau lo-kay sendiri.he. suhu dari Tiong Kang yang sudah menggundurkan diri selama 30 tahunan..... .... Dibentak seperti itu Nyo Beng jadian hanya terkekh saja sedang salah seorang yang sepertinya memimpin rombongan itu memberi perintah. Dengan menggunakan pukulan-pukulan Pat sin kun ciang hoat yang tingkatannnya sudah sangat dasyat.wusss. Dan sesaat setelah menyentuh tanah putuslah hubungan badan dan roh mereka. ketiga biksu dari Wu Han itu hanya bisa bertahan. salah satunya berkepala gundul..

Gerakan pertahanan Lohan sian tung hoat tidak mampu membendung serbuan ke-empat serangan tangan kosong yang membawa hawa panas beracun. Namun keheranan itu menjadi semakin menjadi-jadi ketiga tiba-tiba biksu kurus bermulut setajam sembilu itu bangkit mengibaskibas bajunya dan mebuang senjata rahasia yang mengenai dadanya. Lima puluh tahun aku menahan dendam. posisi Siauw-lim selatan akan menjadi lemah. jangan bunuh ia masih diperlukan!” seru orang tua berwajah putih itu. Oleh karena itu tak hiran pada jurus ke enam belas.. Tubuh Kong-san hwesio limbung kemudian roboh. golongan bersih. Lohan sian tung hoat pada dasarnya merupakan jurus-jurus pukulan toya yang merupakan jurus untuk membentuk barisan sehingga lebih efektif kalau dilakukan secara bersamaan dengan membentuk suatu barisan. “Tao Leng bangunlah! cukup sudah sandiwaramu yang mengesankan itu. sedangkan Siauw-lim cap sha lohan gurumu sendiri juga belum tentu mampu melawan kamu. Ia sendiri tak yakin jika tidak segera mendapat pertolongan berapa menit lagi ia mampu bertahan. sedangkan mayat yang dibinasakan oleh pengemis berwajah Nyo Beng dibiarkan begitu saja. ayo lakukan tugasmu selanjutnya sesuai rencana kita!” ucapan orang tua yang menjadi pimpinan mereka itu. Setelah diam sejenak ia melanjutkan lagi analisisnya. dan kalau Siauwlim pusat turun tangan.. roboh dan berdarah. putra Tao Keng Bu. sebuah pukulan tapak tangan dengan telak mengenai pinggang Kongsan hwesio disusul pukulan yang lain ke beberapa bagian tubuhnya. Biarkan mereka membangun lagi kuil yang rusak itu. sedangkan jika dilakukan sendiri maka banyak kelemahan yang tidak ditutupi oleh kawan yang lain. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. “Ahhh lega rasanya. dapat dipastikan pertarungan dengan pengemis sabuk hitam akan makin melemahkan kekuatan mereka yang selalu sok suci mengaku sebagai pendekar. serangan ke-empat orang yang mengeroyoknya sungguh sangat dasyat. sebentar lagi kuil itu benar-benar akan menjadi markas kita bukan Loco?” tanya orang tua berkepala gundul. apalagi keroco macam kamu. Kerbau gundul macam kamu mana mampu menandingi kami.. Dengan sisa-sisa tenaganya Kong-san duduk bersemedi memusatkan perhatian pada penyembuhan luka dalam yang sangat hebat.rencanamu memang hebat Loco! Tak heran jika sian-li sangat sayang kepadamu!” dengan terkekeh-kekeh biksu yang ternyata pengkhianat itu mendekati Kongsan hwesio.heh. Ia sudah tidak berdaya ketika sebuah tendangan meluncur ke arah dadanya.. dan melaporkan peristiwa ini ke Hong thio Siauw-lim di Siong san.heh.. hari ini kau saksikanlah aku Tao Leng. “Dessss! Tahan.” “Dan kau Tao Leng. setelah selesai kita akan kembali serbu. Dan dengan demikian rencana mengambil alih kekuasaan kay-pang sabuk hitam akan mulus kan Nyo Beng sicu? Tak kan lama lagi. Tiga pukulan tapak kelabang yang berwarna biru telah membuatnya keracunan. dan sudi merendahkan diri berguru di kuil kecil Wu Han. “Cuhh! Swi Kiong selama itu kau selalu mengagungkan kebodohan sendiri. Namun ketika gerakan kaki itu sudah tinggal berjarak satu dim terdengar tangkisan. “Bodoh. Nyo Beng palsu dan tiga orang anak buah yang mengeroyok Kong-san menjadi heran karena mereka tidak ada yang bernama Toa Leng. “Dengan kematian Wu Han cit ceng. menyatakan permusuhan pada Siauw-lim” “Tao Leng. tunggu dulu. Kiranya ia hanya berpura-pura saja. daerah di lembah dua sungai .Keadaan Kong-san hwesio tidak lebih baik. apa-apaan sih! Usaha kita masih baru permulaan tidak perlu didramatisir seperti itu! Sekarang tugas kalian adalah mengubur mereka yang terkena bintang kelabang maut! Kalian bertiga bantu Toa Leng!” Bersama-sama mereka kemudian membawa jenasah ke sebuah lubang gua kecil dan menimbunnya dengan batu.” perintah orang tua yang bukan lain adalah Hiat kiam Lomo. terkena senjata gelap. “Heh. tugasmu sekarang adalah kembali ke Wu Han.

Atas saran iblis kelabang emas. Apakah yang akan terjadi pada kay-pang sabuk hitam yang bertahun-tahun terkenal sebagai kay-pang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kegagahan? Mungkinkah mereka akan bertarung sendiri dengan biksu-biksu suci dari Siauw-lim si? Masih banyak pertanyaan lain yang masih menggantung. meskipun masih menyisakan satu anak yang seperti lenyap ditelan bumi pada saat keluarga itu dibantai. perampokan merupakan berita sehari-hari yang biasa terdengar. Namun dendam Tao Leng belumlah pupus. Tao Keng Bu dan kakaknya tewas dalam pertarungan hidup mati selama sehari semalam. sehingga situasi keamanan sangat buruk. Sedang dalam keadaan tidak terusik saja para pendekar dari golongan yang lurus akan selalu menentang mereka. tak bakalan berani melawan arus kita yang sudah sedemikian besar. dengan suami nenek iblis kelabang emas. Nenek iblis kelabang emas sendiri masih beruntung dapat diampuni oleh kedua pendekar itu. Karena tidak mampu membalas sakit hatinya.” Semua yang mendengar analisa ini mengangguk-angguk tanda setuju dan tersenyum membayangkan masa depan yang lebih cerah. Tao Leng masih berumur lima tahun saat kejadian itu biasanya kalau ayahnya pergi jauh ia selalu mendapat oleh-oleh yang ditunggu-tunggu. pencopetan.. Dua pendekar itu terlalu perkasa untuk Tao Leng. sayang hingga akhir hayat dua pendekar itu upaya balas dendam Tao Leng tak pernah kesampaian. namun tiba-tiba keceriaan itu dipecahkan oleh sebuah pertanyaan. Puluhan tahun yang silam mereka bertiga. namun mari kita ikuti dulu perjalanan Tiong Gi.selama ini memang Suma Tiat selalu keras kepala. atas usul iblis kelabang emas ia diajak bersama-sama membasmi keturunan pendekar bukit merak. langit mulai semburat merah. sedang pendekar dari Siauw-lim tidak punya keturunan. Maka suatu ketika datangnya dua pendekar muda yang memiliki kepandaian luar biasa yang menundukkan mereka. ia kemudian diminta untuk berpurapura menjadi biksu di kuil Siauw-lim cabang Wu Han. Kaum pendekar benar-benar dalam bahaya. ia segolongan dengan kita. ia memiliki hubungan baik dengan mereka. Lembah delapan rembulan . Bab 8.. apalagi ini mereka telah memberanikan diri mengusik ketenangan biara..benar-benar akan kita kuasai.” Akhirnya setelah senja tiba.“Bagimana halnya dengan Hek in pang di bukit awan hitam di tepi selatan Yang tse?” “Hemm. semerah percikan-percikan di atas rumput dan batu bekas pertarungan yang tidak seimbang itu. Keturunan pendekar bukit merak akhirnya dapat terbasmi. sedang satunya lagi berjuluk pendekar bukit merak yang tinggal di bukit merak di kawasan pegunungan Tapa san. Dan kita tidak akan malu untuk menuntut posisi tinggi di samping Ong-ya. hanya kedua kaki sebatas lutut dan tangan sebatas siku yang dikutungi sebagai hukuman. Ketiga iblis itu suatu ketika mengusik perguruan-perguruan golongan lurus seperti Siauwlim pay dan Kong-thong pay. Salah satu pendekar itu adalah murid preman dari ketua kuil Siauw-lim si waktu itu. Pencurian. Rencana-rencana yang kejih yang menyembur dari mulut-mulut mereka sungguh merupakan racun yang akan mengancam dunia persilatan. mereka merajalela menebar kejahatan di wilayah itu. merupakan tiga serangkai iblis sakti yang menguasai lembah di antara dua sungai. kejadian ini sungguh menggoreskan kesedihan dan kesumat yang membara. Pada saat itu kerajaan yang berada di bawah dinasti Tang sudah kehilangan kendali pemerintahannya. ia mencoba mencari pelampiasan. dan jadilah ia biksu yang ikut juga malang melintang dengan keenam saudara seperguruannya sebagai Wu Han cit ceng. Sapa kira kedatangan rombongan anak buah tiga iblis lembah dua sungai membawa oleh-oleh mayat ayahnya. Siapakah sebenarnya Tao Leng? Orang tua Tao Leng yang bernama Tao Keng Bu adalah adik sepupu dari biang iblis kelabang emas. Kalaupun tidak biarlah Kwi ong yang mengatasi. Itulah sekelumit kisah dari Tao Leng yang mempunyai nama biksu Kong-meng hwesio. ke-enam iblis berbaju manusia itupun meninggalkan pinggiran hutan itu.

kita cari dulu informasi di kota ini.” ujar orang tertua. “Nanti siang kalau sudah ramai pasti banyak orang yang tahu. Secara tak sengaja Tiong Gi mendengar percakapan ke-tiga orang ini. Kiranya mereka adalah beberapa keluarga yang sedang pindahan. maka percakapan mereka bisa ditangkap dengan baik. Tapi apa boleh buat. tiga orang kemudian berjalan menuju ke pasar. dan karena hari masih agak gelap pasar itu masih sepi. “Gimana kalau kita cari penginapan saja twako. karena arah itu yang dituju oleh musuh-musuh yang menangkap mereka. Setelah keluar dari warung. “Twako. Pakaiannya ringkas dan membawa senjata yang tergantung di pinggang. Orang ketiga menyikut pinggangnya. hanya satu dua warung yang sudah buka. tapi twako mereka . beruntunglah keduanya tidak lari ke arah timur. Tiba-tiba ia melihat serombongan kereta yang berhenti di pinggir jalan besar menuju ke pasar. “Eh siauw suhu dapatkah membantu kami. kalau sudah mendapat tempat aman kita ajak orang tua ke tempat kita yang baru. Tiong Gi mengangsurkan tangannya menadah. Sengaja ia menuju ke pasar karena dia merasa lapar dan di tempat ini banyak dijumpai warung makan. di sana pasti orangorang yang datang dari jauh tahu banyak informasi dari berbagai tempat!” usul orang ketiga.. Setelah keluar dari kuil Tiong Gi lari keselatan ke arah kota. sialan!” gerutu orang kedua. apakah kita berhenti dan menetap di kota ini?” orang termuda bertanya pada salah seorang dari kedua orang yang lebih tua. “Tidak. Desa tempat tinggal mereka baru saja diserang oleh orang-orang jahat. kami ingin tahu apakah kota ini pernah didatangi orang-orang yang mencari-cari anak kecil?” tanya orang pertama.. “Sam-te. atau lebih tepatnya mengungsi. sedangkan pengemis berlengan tunggal lari ke utara.” Tiong Gi mendengarkan dengan baik ucapan mereka. Orang kedua sudah melotot. rata-rata berumuran tiga puluh lima hingga empat puluh lima tahun. Setelah berkumpul sebentar berbagi tugas. kabar berita apa yang lopeh cari di kota ini?” tanya Tiong Gi ketika mereka sudah dekat dengannya. Di pasar itu Tiong Gi duduk di tepi jalan masuk ke pasar.” jawab orang tertua. Dilihat dari bentuknya kereta itu merupakan jenis kereta barang yang biasa dipakai oleh piauw-su. Aku tahu kita sudah lelah sekali. Semalaman Tiong Gi berjalan ke Yi Chang hingga akhirnya menjelang fajar ia sampai di sebuah pasar. “Ahhh. Ada enam orang yang turun.” jawab orang tertua. Beberapa lelaki turun dari kereta dengan wajah kusut dan pakaian kumal meskipun terbuat dari bahan yang mahal. Tiong Gi diselamatkan oleh jembel berlengan tunggal. kita hanya pindah untuk sementara... apakah aman atau tidak.Pada malam hari kebakaran di Kong-sim liok si.tidak. “Tak ada satu informasipun yang penting.aku masih kepikiran nasib orang tua kita yang harus ditinggalkan anak-cucunya” desis orang kedua. tanda mereka orang-orang yang tahu silat. sedang tangan kirinya mengelus perutnya. “Sudahlah ji-te. “Lopeh. “Diam! Anak kecil tahu apa?” sahut orang kedua. kita harus berhemat uang! Kita tidak sedang mengirim barang. demi keselamatan anak-anak kita. wajah mereka masih tetap bersungut-sungut.

bagaimana mereka berjuang mati-matian melawan anak buah nenek kelabang emas. aku suka sekali ikut kalian. Di dalam kereta terdapat ibu dan beberapa anak-anak. Dari bercakap-cakap di sepanjang perjalanan dengan mereka tahulah Tiong Gi bahwa mereka adalah tukang kirim barang. Bagaimana mereka harus bahu membahu menyelamatkan diri. “Dua hari yang lalu Kong-sim hosiang tewas dibunuh! Setelah raksasa binatang berbentuk kelabang datang menyatroni kuil. Mereka berasal dari Shashi. Sambil cemberut orang itu mau juga ngasih sambil ngancam. kenapa siauw suhu tidak ikut bersama kami saja?” ajak orang pertama. Sungguh kekejaman yang sulit dibayangkan dengan pikiran sehat. lahir dalam keluarga pesilat tangguh namun dibesarkan oleh wanita berhati iblis. sebaiknya cu-wi lopeh segera meninggalkan kota ini sambil mencari tempat lain yang lebih aman. “Kelainan jiwa?” “Itu kata lain dari gila!” jawab orang kedua gusar. Cerita mereka sungguh berkesan di hati Tiong Gi. Namun dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya tahulah ia watak manusia berbeda-beda. Yach itulah yang dirasakah oleh Tiong Gi. sehingga sulit sekali membedakan tindakan yang baik atau yang buruk.mengode supaya mereka memberi satu bakpao. Perjalanan dari Yi Chang ke Hong ji memerlukan waktu dua hari semalam. Selanjutnya Tiong Gi menceritakan kejadian yang dialami di kuil itu secara singkat. Terlihat ketiga orang berpakaian piauw-su itu mendengarkan dengan mata terbelalak. dan langsung dibawa pergi ke arah barat. Di punggung mereka ditemukan bekas-bekas tusukan jarum besar. Tiong Gi-pun ikut diajak serta oleh anak-anak seumuran dirinya. “Kota ini tidak aman. kalau begitu kami akan pergi saja.” papar Tiong Gi. eh siauw suhu sendiri mau kemanakah?” seru orang ketiga. Dalam keadaan tergesa-gesa mereka mencoba menyelamatkan anak istri mereka. Tahukan lopeh kuil apakah itu?” “Kuil Kong-sim liok si??? Tentu saja kami tahu itu kuil tempat pengobatan terutama bagi orang yang memiliki kelainan jiwa. Semalam terjadi pembakaran kuil Kong-sim liok si. “Kalau kalian tidak berkeberatan.” jawab orang ketiga. Lebih dari separo anakanak berusia belasan tahun di desa itu tewas mengenaskan. sehingga dua suadara mereka ada yang gugur. . “Aku tidak tahu!” “Kalau begitu. dan ia mulai respek pada watak orang-orang yang berbuat baik.” Demikianlah akhirnya Tiong Gi mengikuti rombongan piauw-su itu sampai ke kota Hong ji. Kasihan sekali nasib Tiong Gi. Ketika mereka beristirahat sore hari. Tiong Gi menggeleng sambil jari tangannya diajungkan membentuk tanda dua. anak-anak pada bermain-main. Inilah pengalaman kedua Tiong Gi bertemu dengan orang-orang yang memiliki sikap sebagai orang-orang yang baik. Ada juga yang ditemukan dalam keadaan tubuh hangus. sedang di dada ada bekas telapak tangan yang menghitam. Para piauw-su ini baru saja datang dari mengantar barang ketika desa mereka diserang oleh rombongan nenek kelabang emas. Tiong Gi baru paham kuil apakah itu. Tiga diantarnya sebaya dengan Tiong Gi. “Sungguh tak kami sangka kejadian di sini seperti itu.

dan Tiong Gi diaulat menjadi Sam-pek-nya. Drama yang dimainkannya sungguh mengesankan. pertandingan kali ini berlangsung sangat seru. she kami adalah Tauw. “Apa itu aktor?” “Hah.. Kakakku bernama Kee Han dan dia sepupuku bernama Bin Chao. dengan perasaan haru. Selama ini jarang sekali ia melihat orang saling berlatih silat. Tiong Gi mendengarkan dengan rasa malu. kamu berbakat jadi aktor loh!” seru Kee Han. Jurus beradu jurus. Selanjutnya mereka saling cerita. karena dasar-dasar ilmu silat mereka berbeda. “Namaku Tiong Gi!” “Kamu she Tiong?” “Mmm bukan. Kemudian mereka mulai saling serang. hanya memikirkan makan. Tiong Gi meladeni. Setahun yang diterima hanya dua ratus. Para orang tuapun ikut-ikutan menonton. Setelah lewat dua puluh jurus terlihat . kasian dirimu Gi ko.. “Siapa namamu hiante?” tanya salah seorang anak lelaki yang berkulit putih bermuka lonjong. yang lebih sering adalah melihat pertempuran mati-matian. Sekonyong-konyong hanya dari melihat saja. Anak ini berumuran setahun lebih tua dari Tiong Gi. terkadang diselingi main petak umpet.” papar Kee Ling yang wataknya memang suka ngomong.” kata seorang gadis kecil. “Waa. Kalau kamu ikut kelompok drama kamu nanti akan menjadi aktor!” “Tapi aku tak ingin jadi aktor!” “Emang kamu pengen jadi apa?” selidik gadis kecil itu. bayangkan!” timpal anak lelaki yang lain yang berkulit kecokelatan yang bernama Bin Chao.. namun menurut bibiku. Tiba-tiba Bin Chao mengajak Kee Han berlatih silat. Ternyata selama ini dia memang terkurung. “Benar Gi-te. terbawa oleh cerita yang memang menyedihkan. tidur. eh boleh aku panggil kamu seperti itu? Kenalkan aku bernama Kee Ling. Mereka bermain drama sam-pek eng-tai.. “Hmmm.. kamu keseringan berliamkeng kali. Ketika selesai berlatih mereka mengajak Tiong Gi ikut berlatih. dua tahun lebih muda dari Tiong Gi. gerakangerakan tersebut melekat di kepala Tiong Gi dan menambah pengertiannya tentang gerakan silat. itu artinya pemain drama. Kalau mereka berbicara satu dengan yang lain. aku ingin belajar baca tulis!” “Oooo kamu ingin jadi siaucay?” “Siaucay.kamu sudah tidak punya orang tua. aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku.apa yaa.akting kamu bagus sekali Gi hian-tit !” puji salah seorang ibu muda berusia tiga puluhan. masa aktor nggak tahu sih. gak pernah gaul. “Tapi sekarang kalau ikut ujian jin-shi sangat sulit. Siaucay itu sastrawan atau orang terpelajar karena belajar ilmu membaca dan menulis.Meskipun agak kikuk namun akhirnya mau juga Tiong Gi bermain bersama mereka. latihan silat. seluruh Tionggoan. itupun silat yang sangat cetek. pukulan beradu pukulan. Jurus-jurus mereka sangat cepat dengan gerakan yang indah. aku she Ciu!” “Ooo. apa itu? “Waahhh masa sih nggak tahu siaucay. Meskipun tidak pernah belajar sebelumnya ternyata akting Tiong Gi cukup sangat menawan. tak tahu apa-apa.

Di kota ini ke-enam piauw-su berlabuh. “Desss!” Betis Tiong Gi yang tertangkis kaki pemimpin piauwsu terasa nyeri. tentu saja dia tidak pernah menyinggung soal lukisan.. aku.” Meskipun curiga.bahwa Tiong Gi mampu mendesak lawannya.... Dua hari berguru di suatu kuil cukuplah bekal yang dibawa Tiong Gi menjadi biksu. Tak banyak orang yang mengerti sebabnya. Kota Hong ji terletak di suatu pegunungan. Namun ia lebih berhata-hati. Entah kenapa ia merasa dengan berpakaian seperti itu ia lebih berharga mendapat sumbangan dari orang-orang kaya daripada menjadi pengemis. ia tak segan bertanya pada pengunjung kuil. Para piauwsu yang tergerak untuk melihat pertandingan memandang heran. Hampir saja ia melanjutkan dengan tendangan jika tidak segera ditangkis oleh ketua rombongan piauwsu. Untuk melancarkan penyamaran ia mencari kuil untuk belajar agama. yaitu pegunungan Tapa san. akhirnya para piuwsu itu mau mendengarkan keterangan yang disampaikan oleh Tiong Gi. hanya kaum tua saja yang suka cerita bahwa ada suatu masa dimana kejahatan di Hong Jie merajalela. Akhirnya lawan Tiong Gi menyerah setelah pukulan Tiong Gi mengenai pinggangnya. Memang jika dibandingkan dengan ilmu silat kaum piauwsu. “Hah. Hanya saja memang ilmu silat tangan kosong yang diwarisi Tiong Gi banyak yang berasal dari silat perkumpulan Awan Hitam. tapi tidak untuk pasar di wilayah Hong Jie.. Sengaja ia membeli kain yang bisa dibuat menjadi jubah hwesio. sehingga meskipun gerakan Tiong Gi masih mentah. “Awan hitam. *** Suatu hari di pasar Tiong Gi dikejutkan oleh peristiwa pencopetan. bibiku tidak pernah menyebut-nyebut nama itu. Seketika pandangan mereka terhadap Tiong Gi berubah curiga. Pada saat kritis itu . Seperti biasanya. Kekerasan memang biasa dihadapi oleh kaum piauwsu. golongan yang sering dia hadapi sebagai lawan. Pengalaman berthuntahun membuatnya kenal terhadap berbagai macam jurus dari golongan hitam. awan hitam!” desis piauwsu yang lain. Tiong Gi menolak diajak serta. Tiong Gi minta turun di pasar besar di kota. sehingga banyak gerakan yang ganas. Ia lihat dulu beberapa hari apakah kuil itu aman atau tidak. Sudah hampir sebulan Tiong Gi tinggal di kota ini. Karenanya letaknya berbukit-bukit. sebelum mendatangi kuil.. namun tidak punya alasan menyalahkan Tiong Gi. seakan-akan kota ini memiliki penjaga atau opas yang sangat kuat. “Tiong Gi! Siapa kamu sebenarnya? Bukankah ilmu silat yang kau pakai adalah jurus-jurus dari perkumpulan Awan Hitam?” tanya pemimpin rombongan piauwsu yang tiba-tiba berubah galak.. ilmu silat dari bibi Ciu lebih bermutu. Para piauwsu itu sendiri meskipun tidak senang. Tak mereka sangka biksu kecil itu bisa silat sehebat itu. Pertanyaan-pertanyaan mereka dijawab lancar oleh Tiong Gi. ia lebih suka hidup bebas mencari seorang guru yang benar-benar mumpuni. Peristiwa pencopetan sebenarnya biasa terjadi di pasar. ia tidak pernah sekalipun menjumpai kejahatan. bahkan hampirhampir mereka bisa menguasai pemerintahan.aku sendiri tidak tahu. Dengan berbekal beberapa potong uang dari piauw-su ia bisa membeli pakaian dan makanan. Mereka membeli sepetak tanah di pinggiran kota dan mendirikan rumah di sana.

kelabang. Di sekitar telaga bertumbuhan berbagai jenis bunga yang berwarna elok. orang-orang berpakaian putih bermantel tebal. seperti bangkai. Sungguh aneh sekali keadaan lembah yang demikian indah dikelilingi oleh tempat yang sangat buruk yang menebarkan bau kematian. Keanyiran hutan makin lengkap dengan adanya jenis tumbuhan yang memiliki bunga yang berbau sangat menusuk. pergi meninggalkan kota. Selain itu juga terdapat berbagai tumbuhan seperti talas dan jamur yang beracun dan berbagai tumbuhan berduri. Yang orang-orang ketahui kemudian adalah munculnya istana kecil yang indah di lembah delapan rembulan. bagaikan piring perak berbentuk pat kwa. Untuk mendapati pemandangan indah seperti ini tidaklah gampang. yang terbuat dari batu karang yang berwarna putih. Pada bulan-bulan yang lain orang hanya akan mendapati selapis kabut yang menyelimuti seluruh bagian lembah. Tak seorangpun tahu siapa yang membangun istana dan taman di situ dan . karena baunya yang sangat busuk. Sungai itu mengalir menembus dinding jurang. sekitar tujuh puluh li dari kota Hong Jie. Karena seringnya hewan besar atau orang mencoba-coba masuk dan tersesat dan tak bisa kembali. Mereka kemudian menakhlukkan penjahat. seperti pakaian suku-suku pedalaman di barat sekitar Tibet. dari puncak bukit di sebelah timur dapat dilihat pemandangan yang indah sekali. Kebetulan sekali selang beberapa tahun semenjak peristiwa itu dinasti yang baru memiliki kerjaan pengembangan budidaya padi. dan keluar di tempat yang lain dalam bentuk mata air. dan mengikat perjanjian bahwa penjahat-penjahat itu harus melindungi kota. Sudah lebih dari dua puluh tahun di lembah itu berdiri sebuah istana kecil. pantulan rembulan dari telaga yang membuat seolah-olah ada delapan rembulan di dasar lembah. kalajengking. maka dikenallah kemudian hutan rawa itu sebagai hutan rawa bangkai. Satu-satunya jalan masuk ke lembah yang tidak terjal adalah hutan yang sangat lebat dan memiliki rawa-rawa yang terkenal sebagai hutan rawa bangkai. entah kemana. Di tambah lagi adanya lumpur pasir yang dapat menghisap hewan atau orang yang tak sengaja menginjaknya. Pada dinding di sebelah barat terdapat sebuah air terjun mengucur dari puncak tebing. Orangorang itu kemudian meminta kepala daerah membebaskan beberapa petak lahan yang kemudian dijadikan ladang atau sawah. Yang masih belum jera untuk melakukan kejahatan dapat dipastikan keesokannya tubuhnya sudah menjadi mayat. Percikan air yang dihasilkan membentuk kabut air yang kadang-kadang membentuk bianglala. Hampir seluruh bagian lembah ini di kelilingi oleh dinding karang yang terjal. Lembah ini terkenal karena pemandangannya yang indah. dan laba-laba.munculah orang-orang misterius. Lambat laun wilayah Hong Jie menjadi kota yang aman tenteram. ular. Adapun orang-orang asing yang membantu mereka. sehingga orang-orang jahat itu kemudian berangsur meninggalkan kebiasaannya dan menjadi petani. di seberang jurang. karena banyak terdapat hewan-hewan berbisa. Air dari telaga mengalir dan bersambung ke sungai kecil dari air terjun. Lembah delapan rembulan adalah sebuah lembah di pegunungan Tapa san. Jika malam purnama tiba. karena setahun paling sering hanya dua kali purnama orang bisa menyaksikan pantulan rembulan dari delapan telaga. Di dalam lembah itu terdapat delapan telaga kecil yang ukurannya berbeda-beda. Namun jalan ini sungguh sangat berbahaya. Tak seorangpun tahu.

Siapakah sebenarnya penghuni lembah itu? Peristiwa pencopetan di dekat Tiong Gi membuat anak itu bertindak cepat. sehingga membuat copet kalap dan menyabetkan golok sehingga melukai lengannya. “Ah syukurlah kau sudah mendapat pertolongan bibi!” ujar lelaki yang sudah berusia lima puluhan itu lega. Karena tidak ada yang bisa kembali maka tak seorangpun pernah bercerita keadaan di dalam lembah. banyak jago-jago dari berbagai golongan. Suasana pasar menjadi riuh rendah. tanpa benar-benar melihat kejadian yang sesungguhnya. Namun siapa saja tidak perduli ia adalah tokoh atau jago ternama di kalangan Kangouw. Dan rimba itu merupakan tempat sangat keramat yang ditakuti oleh setiap orang. Di pinggir lorong pasar mereka mendapati bibi pengasuh anaknya sudah ditolong oleh seorang biksu kecil. yang mereka tahu adalah tiap malam di padang rumput di depan istana. Namun tak pernah terdengar kabar kembali. Heran sekali. Perempuan itu berusaha mempertahankan tasnya yang berisi uang. Keangkeran hutan rawa bangkai dan kehadiran penduduk lembah menarik orang-orang awan dan pendekar dalam rimba persilatan untuk datang sekedar menyaksikan dari atas bukit atau mencoba-coba memasukinya. asal bibi ini bisa cepat sembuh hatikupun turut lega. ada belasan orang sedang berlatih silat di bawah temeraman cahaya obor. Setelah di taburkan ke luka. seperti baju yang dikenakan oleh gadis kecil itu. Dengan cekatan Tiong Gi menotok jalan darah di lengan kemudian meminta obat penyembuh luka kepada pedagang pasar yang kebetulan memilikinya. “Terima kasih banyak kami haturkan kepada siauw suhu inkong. sungguh mengherankan sekali jawaban . baik dari kalangan hitam maupun putih. semua kepingin tahu rahasianya istana lembah delapan rembulan tersebut. pengasuh anak yang bertubuh agak gemuk yang tangannya terkena sabet golok si pencopet. siapakah nama siauw suhu dan dari kuil manakah suhu berasal?” tanya laki-laki itu ramah. “Ah tidak perlu disebut-sebut pertolongan ini paman. wajah mereka penuh kekhawatiran. Dengan tergopoh-gopoh mereka kemudian menyibak kerumunan orang.” jawab Tiong Gi tenang. Di tolongnya seorang perempuan setengah tua. sudah dua bulan aku tinggal di sini selalu aman entah copet dari mana yang pagi-pagi seperti ini berani bermain gila di pasar Hong Jie. selama dua puluh tahun lamanya. Teriakan si bocah perempuan itu mengejutkan sepasang orang tua yang berbaju mewah. Maka istana lembah delapan rembulan itu tetap merupakan satu rahasia bagi dunia persilatan. dibalutlah luka dengan lembaran kain jubahnya yang masih bersih.bagaimana mereka bisa memasuki lembah. Bagi orang yang mengenal Tiong Gi. pernah satu dua kali ada yang mencoba turun menggunakan tapi di waktu malam. Hingga dua puluh tahun lebih belum pernah ada yang bisa keluar lagi. Namun tak seorangpun yakin bahwa yang sedang berlatih silat itu adalah manusia karena mereka lebih sering hanya mendengar bunyi bertemunya dia senjata tajam dan suara teriakan dan auman yang sangat keras di bawah selimut kabut tebal. Seorang anak perempuan yang ada di dekat bibi pengasuh itu hanya bisa mewek dan menjerit-jerit sejadi-jadinya.

beri aku minum! Kita berhenti dulu sebentar di sini. sehingga sering dilewati oleh orang-orang yang hendak pesiar melihatlihat pemandangan lembah delapan rembulan. membuka warung. tapi kalau tuan tidak keberatan aku ingin berjalan-jalan. Tiong Gi diajari mengusiri kereta. tiba-tiba mulutnya tercekat. Liu Gan berwatak ramah dan suka berbicara. Liu Gan adalah seorang juragan sekaligus cungcu dari desa Lim Kee Cung. Liu Gan adalah seorang juragan yang terampil sekali berusaha. “Kami keluarga Liu sungguh berhutang budi kepada siauw suhu. sehingga tawaran Liu Gan agar ia tinggal di rumah itu menjadi kacung tak ditampiknya. entah dengan cara apa kami bisa membalasnya. Kereta itu dikusiri sendiri oleh Liu Gan. kau bisa bawakan keranjang kami. Aku ingin menambah pengalaman” jawab Tiong Gi. bergaul dengan pedagang pasar. Dua hari tinggal di desa itu membuat Tiong Gi merasa betah. Istrinya bernama Siok Peng. sehingga Tiong Gi ditawari untuk menginap. karena piauwsu sudah banyak yang kelelahan.yang keluar dari mulutnya. Sesampainya di Lim Kee Cung hari sudah sore. “Tuan bolehkan aku menggantikanmu mengusiri kereta ini?” tanya Tiong Gi. “Aaa ah tidak aku kehausan.” jawab lelaki yang bernama Liu Gan itu sambil menunjukkan keretanya. berkawan dengan beberapa biksu yang kadang-kadang ia temui telah sedikit merubah wataknya. Apa yang disentuhnya seakan-akan berubah menjadi ladang uang. “Aku tidak ingin mengharap balasan. hingga cerita tentang sungai yang airnya jernih.” kembali terdengar ucapan ramah dari lelaki yang dari dandanannya terlihat seperti seorang juragan. maka di sepanjang perjalanan ia banyak sekali menceritakan keadaan desanya. Setelah berkenalan dan berbelanja barang lain maka berangkatlah kereta itu ke desa tempat tinggal Liu Gan dan keluarganya. mulai dari beternak kerbau. menjadi tuan tanah. bahkan ia juga menyewakan beberapa kamar bagi pendatang. “Baiklah kalau begitu. kambing. hatihati jangan terlalu kencang!” Tiong Gi mengambil alih kendali kuda. Biasanya ia selalu bersikap pendiam dan dingin sekali.” jawab Liu Gan sambil tangannya dijulurkan ke dalam meminta air minum. Sifatnya . Tiong Gi duduk disampingnya. Mulai dari cerita tentang kerbaunya yang baru seminggu lalu melahirkan tiga ekor anak. Namun ketiga hendak menceritakan tentang lembah delapan rembulan. anaknya bernama Liu Ce Lin. “Tuan kenapakah?” tanya Tiong Gi. namun setelah dua bulan tinggal di pasar itu. ke kereta itu. bolehkan aku ikut numpang perjalanan paman. Namun benarkan demikian? Kita ikuti saja perkembangan selanjutnya. Di sepanjang perjalanan gadis kecil anak semata wayang dari juragan ini hanya mewek saja dipangkuan ibunya. Ketika bersama dengan rombongan piauwsu yang berpindah. Desa Lim Kee Cung terletak tepat berbatasan dengan hutan rawa bangkai. “Bisakah kamu? Cobalah kalau memang kau bisa mengendalikan. Oleh karenanya jalan menuju desa itupun keadaannya cukup baik.

Lelaki tua yang memakai baju kuning dengan jubah kecokelatan rapi itu membawa sebatang mauw pit. Di rumah tiap sore Ce Lin belajar les pada guru itu. Cepat sekali otak Tiong Gi menyerap pelajaran guru Wang. pipinya kempot. Sebenarnya Guru Wang baru berusia enam puluh tahun lebih sedikit. Ce Lin memanggil gurunya dengan sebutan guru Wang. gaya bicara guru Wang cukup lembut dan tertata baik. Pandangan matanya seakan-akan mampu menjenguk isi hati Tiong Gi. hanya dengan mengulang semalam. Wajahnya tirus. Dan yang lebih membuat orang-orang tidak habis pikir adalah perbedaan sifat Liu Gan dengan puteri semata wayangnya. Pada malam harinya Tiong Gi menuliskan kembali apa yang diajarkan oleh guru Wang. semua pelajaran paginya bisa dihapalkannya. namun sengaja ia diam saja. Wataknya juga agak tinggi hati dan judes. ciri seorang yang sangat terpelajar. Karena putrinya rada bodoh maka pelajarannya sangat lambat sehingga Tiong Gi mudah mengikuti. Tinggi tubuhnya sedang tapi badannya kurus agak melengkung seperti hanya tulang terbungkus kulit. Di sekolah ia sering mendapat nilai buruk. Sorot mata yang dipancarkannya sungguh sangat mencorong seperti bintang timur. Sambil bekerja di rumah juragan Liu Gan. Liu Gan memanggil guru les untuk Ce Lin. sehingga hanya sewaktu-waktu saja Tiong Gi mencuri pelajaran sambil pura-pura menyapu atau membereskan perabotan di rumah juragannya. Guru Wang bukannya tidak mengerti kalau pelajarannya dicuri dengar oleh kacung juragan Liu. membayangkan pengalaman hidup yang penuh dengan kepahitan dan beban yang sangat berat. Tak terasa setahun sudah Tiong Gi berada di rumah juragan Liu. Terkesiap Tiong Gi dibuatnya. namun sayang masih . Tiong Gi menyempatkan untuk mencuri dengar ketika putri Liu Ce Lin belajar menulis di rumahnya. sangat manja dan bodoh. namun kerut di wajahnya membuat raut muka itu jauh lebih tua dari umurnya. Sudah banyak pelajaran yang diserapnya dari guru Wang. Sayang sekali Liu Gan hanya memiliki satu anak. jenggotnya selalu dicukur tapi kumisnya dibiarkan tak terawat seperti lidi. Karena khawatir perkembangan pendidikan anaknya. Sebagai bocah yang sering berhubungan dengan orang persilatan Tiong Gi tahu bahwa sorot mata seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang ada “isi”nya. Liu Ce Lin meskipun parasnya cantik dan manis. Sehingga jarang ada temannya.yang ramah dan dermawan makin membuatnya dihormati dan disegani oleh semua orang di Lim Kee Cung. Sore itu untuk pertama kali Tiong Gi bertemu dengan guru Wang. pantas sekali ia menjadi guru di desa itu. itupun lahir setelah hampir dua puluh tahun setelah pernikahan dengan isteri ke tiga. Sebaliknya putri juragan Liu setidaknya membutuhkan waktu empat sampai lima hari. Berlawanan dengan wajahnya yang terkesan keras.

. aku dapat wasiat dari nenek moyangku agar menemukan warisan.. “Guru Wang.. bagaimana aku bisa menerimamu?” “Maksud suhu? Aku tak paham. aku tidak mendengar kejujuran di ucapanmu bocah. tapi guru Wang tak bergeming. bodoh! “Lopeh. “Hmmm.ha...... selebihnya adalah huruf-huruf yang jauh berbeda. siapakah sebenarnya dia?” ..ha. di sini tidak ada awan!” “Apa sebenarnya yang kau cari anak baik?” “Aku ingin belajar supaya menjadi orang pandai!” “Untuk apa jadi orang pandai?” “Agar aku bisa jadi orang berguna.” “Sebenarnya.he. segenap kemampuan inderanya tidak menangkap ada sesuatu keanehan dalam nada suara anak didepannya.gajimu sebulan paling banter sama dengan gajiku sekali ngajar Liu siocia. Ketiga kalinya.” Dua kali sudah Tiong Gi ketemu dan meminta agar guru Wang mau menerimanya.. aku akan kasih semua gajiku tiap bulan..” “He. aku ingin belajar membaca dan menulis padamu.belum ada sepersepuluh hurup di balik lukisan misterius yang disalin di kulit rusa yang pernah diajarkan..alangkah lucunya permintaanmu bocah.kerjakan aja tugas kamu. “Tiong Gi. aku masih melihat awan hitam menyelimuti dirimu..anak ini memiliki latar belakang yang sangat membuat penasaran.” “Huhh.. Guru Wang yang sudah sedemikian matang pengalaman dan kemampuan bathinnya sehingga mampu membaca suara hati orang lain yang tak terungkapkan. Suatu ketika dia menemui guru Wang.” Guru Wang memandang terkejut. tidak merasakan tanda-tanda itu. Bujang seperti kamu mana ada kemampuan belajar baca tulis! Lagian dari mana kamu dapat uang untuk bayar gurumu hah? Heh jangan mimpi bisa membaca ya. asal kamu mau mengajar aku setiap malamnya. ia sengaja mengejar guru Wang dan di jalan kecil menuju ke ujung desa ia berlutut dan memohon untuk yang ketiga kalinya. ketiga beliau sedang minum arak selepas mengajar. apakah pada malam hari engkau bisa mengajari aku?” “Ha.he.....

Kalau ada bakat aku tidak hanya ajar kamu tiap minggu tapi kamu akan dapatkan semua ilmu surat yang kumiliki. Tiong Gipun masuk ke dalam rumah itu. sembari menghela nafas dalam. Apalagi ketika dilihat wajah anak itu secara lebih seksama sambil berjongkok. Kalau kau lulus peganglah janjiku! Aku akan melukis di kain ini. betapa terheran-herannya Guru Wang demi merasakan bahwa bocah yang hanya menjadi bujang di perkampungan memiliki tulang bagus seperti itu. Rumah guru Wang berada di ujung jalan menuju ke sungai. baiklah nanti malem kita coba... bahkan kalau kau bersedia aku juga akan mengajarimu ilmu silat. dan siapa orang tuamu anak baiksiapa dirimu dan apa maksudmu?” Kali ini Guru Wang bertanya dengan wajah sungguh-sungguh dan pertanyaan yang tegas. ia seperti tidak asing dengan wajah itu. Taman yang terlihat sangat indah dengan komposisi yang serasi. seru guru Wang dari dalam rumahnya. ”He he heh. katakan terus terang. sejauh mana tingkat pentingnya suatu jati diri? Siapa sebenarnya diriku?” Pandangannya kemudian menerawang jauh. Untuk kesekian kalinya orang menanyakan asal-usul nenek moyangnya. siapakah she-mu. Ketika tangannya memegang lengan Tiong Gi. Malam itu guru Wang sudah menunggu. Di dekatnya ada kain cukup besar.. “Kenapa orang selalu menanyakan itu. terlihat raut mukanya berubah.bocah pintar.. lembu dan seekor burung pipit terbang. . Ruang tamu rumah itu cukup lebar dan di ujung sebelah dalam guru Wong sudah duduk menunggu. Tiba-tiba guru Wang merasakan suatu kedekatan perasaan terhadap anak yang dihadapannya. “Masuklah Tiong Gi!”. “Tiong Gi. Meski kecil tapi taman bunga di depan rumah menambah keasrian. Dalam hati Tiong Gi merenung. Di bawah lukisan ia menuliskan kata-kata: ta-gu-niu-hui.. Kembali Tiong Gi menjelaskan latar belakang dirinya secara sekilas. tidak lebih dari sepeminuman teh Guru Wang sudah menyelesaikan sebuah lukisan pemandangan di pedesaan: ada sawah. ini ujian untukmu. seperti terawat oleh tangan yang terampil.“Tiong Gi. setelah selesai tolong tirukan lukisanku di papan tulis di sampingmu!” Setelah selesai bicara Guru Wang langsung menggoreskan pena bulunya dengan cepat. Di depan rumahnya tiap malam selalu di pasang lampion warna-warni.” “Hahh. “Hmmm kenapa anak harimau segagah ini hidup di antara kerbau?” pikirnya. ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya.benarkah suhu???” Malam harinya dengan berindap Tiong Gi keluar dari kamarnya untuk pergi ke rumah guru Wang.

“Suhu bolehkan aku pinjam pedang?” “Ambil sendiri di rak senjata” Tiong Gi segera mengambil pedang. Cepat otak dan tangannya bekerja menyalin tulisan di bawah lukisan terlebih dahulu. Gerakan silat yang dipraktikkan adalah ilmu silat Hek in Cianghoat.. sambil terkekeh. Tiong Gi melirik gurunya yang sedang asik menghisap tembakau dengan huncwe yang panjangnya selengan. Setelah selesai Tiong Gi meminta guru Wang meminjami pedang. kau akan mendapatkan apa yang mampu kau lukiskan!” Tiong Gi memeras otak untuk melukiskan apa yang dilihatnya. “Coba kau lebih mendekat!” Setelah Tiong Gi mendekat. karena itu bagian yang paling sulit diingat. “Suhu aku sudah selesai!” Guru Wang membuka mata dan membeliak. seakan-akan hampir loncat bola matanya demi melihat lukisan di papan itu. sedangkan lukisan di atasnya jauh lebih teratur goresan garis-garisnya antara yang tebal dengan yang tipis.“Lihat baik-baik lukisan ini Tiong Gi. katakan terus terang apakah sebelumnya kau pernah belajar?” “Aku hanya belajar dari mengintip pelajaran yang suhu berikan pada Liu socia. sehingga ada kesan lebih hidup. “Coba tunjukkan ilmu silat yang kau pelajari dari bibimu!” Tiong Gi segera mengambil posisi kuda-kuda dan mulai melakukan gerakan-gerakan jurus-jurus silat. Setelah selesai Tiong Gi membangunkan gurunya. Kata-kata di bawah lukisan itu persis seperti yang dituliskan. dan mulai mengayun-ayunkan pedang memeragakan ilmu pedang Yu Liang . secepat kilat Guru Wang menotol ujung huncwe beberapa kali ke bagian tubuhnya.. sedang lukisan sawah kerbau dan burung lebih mudah untuk dikarang-karang...Guru Wang bergumam sendiri. sekonyong-konyong muncul bau apek seperti daun tembakau dibakar. namun gerakan-gerakan yang dilakukan masih sangat kaku dan banyak kesalahan.. “Tiong Gi. Matanya merem melek menikmati rasa nikotin tembakau. taecu akan mulai..” Dengan kapur tulis Tiong Gi mulai melukis seperti yang diminta suhunya. Apa lukisanku aneh suhu?” “Aku tahu kau mencuri dengar ajaranku ke Liu siocia!” Hemm tak mungkin. Beberapa saat ia melukis.. Sesaat ia ingin menengok kembali lukisan suhunya. “Anak baik.tak mungkin. dan kau tirukan lukisan maupun tulisan di bawahnya!” “Baik suhu. Tak dinyana suhunya telah menggulung lukisannya.

. Aku tidak percaya. Ketika Tiong Gi hendak menguluk salam gadis tanpa menoleh berkata: “Kaukah murid baru kakek? Kabarnya bakat kamu bagus. Gadis itu bernama Wang Liu Siang.Kiamhoat. “Nona aku mengaku kalah!” “Namaku Wang Liu Siang. bukan hanya jurus-jurus serangan tangan dan kakinya saja yang indah. Tiong Gi dibuatnya gugup tak mengira akan mendapat sambutan sehangat itu. Guru Wang memegang pundaknya. “Hanya ada dua kemungkinan. Hanya sedikit komentar yang disampaikan ke Tiong Gi. Betapa tidak.. Tiong Gi melihat seorang anak perempuan berusia sebelas tahunan sedang menyalakan Lampion. Tapi apapu kemungkinannya. jalan darahmu Leng thay hiat di punggung tertotok bertahun-tahun.aneh. Tapi aneh. namun pada jurus ketiga. Meski gerakannya kaku dan banyak kekeliruan. Bangkitlah!” gadis itu mengulur tangan dan menarik Tiong Gi. “Gerakan silatmu sangat kaku dan banyak lubang-lubangnya. Wajah yang manis ayu dengan rambut dikuncir dan senyum dikulum menambah pesona yang bisa membuat copot jantung lelaki. “Coba kau kerahkan sinkang di tubuhmu!” Tiong Gi mencoba namun kemudian kesakitan. Setelah malam itu. Pada pertemuan berikutnya. atau kau mempraktikkan ilmu yang bersifat im. Jurus pertama dan kedua dapat dipapaki dengan baik. untuk membebaskan totokannya. lain kali kamu jangan pakai lagi jurus ganas seperti itu.” ujar guru Wang sambil mengajarkan teknik-teknik mengatur pernafasan. guru Wang menjanjikan pertemuan dua malam lagi. sampai selesai tidak tampak ada perubahan raut muka dari guru Wang. ketika Liu Siang menggunakan gerakan tipu burung hong mengepak sayap. tapi juga jurus serangan jantung.” kata guru Wang sambil menotok punggung Tiong Gi. tapi tak ada tanda-tanda keracunan yang kau alami. tangan kanan berhasil menyodok dada. “Hmmm. Aku akan mengajarimu teknik mengumpulkan tenaga murni. Setelah Tiong Gi mendekat. . kau memiliki keturunan dari suku yang tinggal di daerah dingin. Coba kau sambut ini. yang jelas sekarang kau sudah terbebaskan.” Selesai mengucapakan kata-kata sambutan Liu Siang langsung bergerak melancarkan serangan demi serangan. para pendekar yang banyak pengalaman akan mengenali bahwa ilmu pedang yang dipergakan adalah ilmu pedang dari Yu Liang Pay. Tiong Gi baru menyadari kalau sudah kena tojok telak setelah terdorong tiga langkah dan terkapar.” Coba mendekatlah kemari Tiong Gi” ujar Guru Wang sambil melambaikan tangannya.

ia sering mengajak Tiong Gi bermain ke dekat sungai memancing ikan atau mencari madu. Pada hari itu. Ada tiga jenis silat yang diajarkan ke Tiong Gi. sejenis ilmu teriakan yang disertai pengerahan khiekang yang dapat menggetarkan lawan. yang pertama ilmu pukulan bersifat dingin. Ilmu pedang ini sebenarnya terdiri dari lima puluh jurus. Setiap hari keenam dan ketujuh guru Wang meliburkan kelasnya. sedangkan lima jurus tambahan merupakan jurus kembangannya. Ilmu silat guru Wang sebagian besar bersumber dari silat nenek moyangnya. namun dengan ringan guru Wang menjawab Liu Siang tidak tinggal bersamanya. Ilmu yang terakhir adalah Sai cu hokang (auman singa). bersama Liu Siang. maka guru Wang mengajarkan ilmunya kepada Tiong Gi dengan cara yang luar biasa. guru Wang mulai menjelaskan dasar-dasar ilmu tulis dan ilmu silat. Tiong Gi mulai mempraktikkan teknik penulisan dan kuda-kuda. tingkatan ketiga adalah penguasaan harmonisasi gerakan dan ukuran tenaga. ilmu silat pukulan badai angin salju (Swat im soan hong sin ciang). sehingga ia memberanikan diri bertanya kepada guru Wang. Ia meminta Tiong Gi menghafalkan teori-teorinya. Tingkatan pertama adalah penguasaan gerakan luar (gwakang). Selama lima hari Liu Siang tinggal di rumah guru Wang. Ada lima tingkatan yang bisa dilalui. bahasa puisi.“Nona Siang. Gaya bicara Liu Siang sangat menarik. Setelah kembali lagi belajar di rumah itu Tiong Gi tidak pernah melihat lagi batang hidung Liu Siang. namun guru Wang sendiri hanya menguasai tiga puluh jurus asli. Demikianlah kegiatan yang dijalani Tiong Gi. karena aku kan lebih dulu jadi murid kakek. tingkatan keempat adalah harmonisasi gerakan. Ilmu yang terdiri dari tiga puluh tiga jurus ini lebih menekankan im. “Panggil saja aku suci atau enci. Tiap minggu selalu saja ada dua hari guru Wang tidak mengajarnya. demikian juga dengan pelajaran Tiong Gi. “Kita berdua adalah cucu guru Wang. juga tidak ada di rumah. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh . sedangkan tingkatan terakhir adalah tingkatan harmonisasi sekeluruhan dengan hati. jadi tidak perlu nona-nonaan segala!” jawab Liu Siang singkat. Ilmu yang kedua adalah ilmu pedang cahaya salju (Sue kong kiam hoat). sehingga membuat Tiong Gi tak berdaya untuk menolak. apakah engkau ini cucu dari guru Wang?” tanya Tiong Gi tenang. sekalipun ia harus menyancang kerbau-kerbaunya. Anehnya Tiong Gi merasa kesulitan menghafal dalam bentuk teknik terstruktur. tenaga dan pikiran. tingkatan kedua adalah penguasan tenaga dalam (lweekang). apalagi gerakangerakan tangannya menirukan ikan yang menggelepar-gelepar atau tawon yang berhamburan mengejar buruannya. Pada tingkatan terakhir ini seseorang yang menguasai ilmu ini bisa tetap melakukan penyerangan meskipun dalam keadaan terbelenggu kaki dan tangannya. Karena singkatnya pertemuan mereka. namun justru mudah hafal dalam bentuk bahasa aslinya.

benarkah demikian?” Guru Wang hanya terkekeh pelan. Malam harinya ketika kembali belajar ke guru Wang.. “Tempat yang keramat menjadi sarang hantu atau orang yang ingin menjadi hantu. Tiong Gi meradang. menurut orang-orang hutan rawa bangkai dan lembah delapan rembulan adalah tempat yang keramat. suatu waktu ketiga saking getolnya belajar silat. rasanya hendak memuntahkan seluruh amarah di dadanya. aku mau tahu dari mana ia dapat uang gantinya kalau bukan dari mengemis. “Ini pasti gara-gara dia itu keseringan main ke rumah guru Wang. kacung bodoh sok-sok mau belajar baca tulis. Latihan samadhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh. senyum yang getir. sehingga tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam nafsu angkara. Huh. ketika Tiong Gi hendak mencari ia melihat tulisan larangan memasuki hutan. semua itu dikendalihan oleh bathin atau oleh hati. Tak ada hal yang aneh. sebaiknya kita minta saja dia mengganti kerbau yang hilang. Begitu ia sadar anak kerbau itu sudah lenyap ke jantung rimba itu. Itulah pentingnya ilmu mengelola hati. karena tak ingin terlihat oleh orang lain. sehingga mau memaafkan. Apakah kau ingin pergi kesana?” jawab guru Wang singkat. ia sudah lupa dulu kita temukan sebagai apa!” timpal nyonya Liu. Tiong Gi tidak memperhatikan salah satu anak kerbaunya berjalan jauh meninggalkan induk menuju hutan rawa bangkai. sehingga ia ragu. apalagi ia harus menyelamatkan kerbau-kerbau lain yang masih ada. “Ad. Tiong Gi menyempatkan untuk bertanya kepada guru itu.” ujar nona Liu ketus. namun kemudian ia ingat nasihat guru Wang. Liu Gan merasa kasihan. namun Liu Gan masih berusaha sabar sehingga hanya memberi hukuman potong gaji dua bulan.muridnya. namun membuat jantung Tiong Gi berdegup kencang. “Tubuh dan pikiran manusia hanyalah alat saja Tiong Gi. “Suhu. namun kemudian tersenyum. namun juga dilatih sambil menggembala kerbau-kerbaunya. sambil sedikit demi sedikit "memindahkan" sinkangnya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya.da apakah di sana suhu? Apa itu tempat sembunyi dewa?” . Tiong Gi mempraktikkan pelajaran silat tidak hanya saat di rumah guru Wang.” Karena ia hanya menunduk saja. Namun tak tertangkap oleh indera Tiong Gi. Kejadian ini membuat keluarga Liu marah. Tak terasa tiga bulan berlalu. “Kakanda Liu. Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang berhasil mengendalikan tubuh dan pikirannya.

itu artinya kau sudah beranjak dewasa anakku. Tiap hari waktu luangnya diisi dengan berlatih dan berlatih.“Kalau kau mau memegang rahasia. ia boleh ke lembah delapan bunga. Tanpa terasa. Yung Ci nama asli guru Wang. Sebagai seorang guru. namun tak kuasa melarang usul guru Wang.. dengan syarat ia akan menjadi warga lembah. Teman sepermainannya hanyalah kerbau-kerbau piaraannya. Tiong Gi makin giat belajar dan berlatih. aku akan mengajakmu ke sana. Bab 9. Jauh sekali beda watak nona Siang dengan nona Lin. Di sana ada Liu Siang. apakah masih perlu hal itu kamu pertanyakan?” Namun kamu harus menunggu sampai enam bulan lagi. sangat memahasi kebutuhan sosialisasi anak. enam bulan lebih waktu sudah terlewati. Ucapan guru Wang sangat sulit dipercaya oleh Tiong Gi. Pesan guru Wang benarbenar membuatnya deg-degan. dan ingin ketemu dengannya?” “Aha. “Jadi apakah guru Wang anggota penghuni lembah itu?” “Anak bodoh. Ia lalu meminta ijin ke juragan Liu untuk membawa Tiong Gi.. di wajah guru Wang.. Setiap dua hari dalam seminggu aku pulang kesana” papar guru Wang. “Suhu. Karena dijanjikan hal seperti ini. Riwayat penghuni lembah delapan rembulan . meskipun hanya dalam waktu singkat. Perjalanan ke sana memerlukan keterampilan khusus yang hanya dimiliki oleh pesilat tingkat atas..iya memang aku sudah mengalaminya” jawab Tiong Gi malumalu. Berdebar-debar rasa hati Tiong Gi meninggalkan rumah-rumah di desa Lim Kee Cung menujua hutan rawa bangkai. Liu Gan memandang heran. Di tambah lagi kerinduan bertemu nona Siang yang cantik dan lucu. namun ia tidak kehilangan kemampuan interaksi dan komunikasi karena guru Wang juga sering mengajaknya ke kelas yang diasuh guru itu. Namun ia tidak melihat raut muka bergurau. Suatu ketika guru Wang bermaksud mengajak Tiong Gi ke lembah delapan rembulan. Makanya tidak aneh ketika Tiong Gi mengungkapkan perasaan hatinya. apakah kau sudah pernah mimpi basah?” “Apa itu mimpi basah suhu?” “Itu adalah pertanda engkau harus lebih hati-hati dalam bersikap dan kendalikan dirimu baik-baik! Seorang laki-laki dewasa harus berani bertanggung jawab atas segala tindakannya!” “Oo. kenapa beberapa waktu terakhir ini saya selalu ingat Siang suci.. dan terikat dengan peraturan lembah.

setelah menutup kembali batu itu. namun sampai sekian tahun mereka tak satupun yang mampu menembus tembok tebing yang mengelilingi lembah itu. dia melihat bahwa kini dia berada di dasar lembah. namun selalu mereka gagal membuka pintu gua di tebing. Seluruh tubuhnya menggigil. Namun tebing ini lebih landai dibanding tebing lainnya. Kadang-kadang menjejakkan kaki ke lantai hutan. Bagaimanakah tokoh berbagai golongan ini bisa bersatu di lembah? Mereka adalah para petualang yang mencoba-coba memasuki lembah dan tertangkap dan dikalahkan oleh penghuni lembah. dan Tiong Gi memandang sekelilingnya. sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap bertahan. Mereka bukanlah orang sembarangan. dan guru Wang sendiri yang menyusun jalan itu. yang berjuluk Sim Beng Tosu. guru Wang menekan suatu tombol. kadang-kadang meraih akar-akar pohon kemudian berpindah menggunakan akar-akar pohon tersebut. dua lelaki berusia lima puluh tahun dan enam puluh tahunan serta ada empat orang kakek seumuran guru Wang. sampai akhirnya mereka menemukan jalan buntu karena terhalang bukit karang yang tinggi. akan tetapi Tiong Gi menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak menyatakan rasa ngerinya! Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian dasar lembah. Di ujung gua.Begitu sampai di pinggiran hutan. Di lembah itu selain bertemu Liu siang ia juga dikenalkan dengan penghuni yang lain. Balasan atas janji mereka adalah kebebasannya. ia kembali mengempit tubuh Tiong Gi dan dibawa lari menuruni gua. Gua itu ternyata terbuka ke tebing. sedangkan lelaki berjubah biksu adalah Bu Kong Taisu. Bukannya mereka ini tidak pernah mengikuti guru Wang. suheng dari Bu Sian Taisu. Tiba-tiba guru Wang berhenti dan menuju ke batu yang ukurannya sebesar sapi. Seorang lelaki berpakaian tosu adalah murid Kong Thong Pay. Sepasang lagi yang berbaju hijau putih adalah murid dari Hoan Bin Kwi Ong. namun kemudian dibebaskan karena mereka berjanji untuk membantu lembah menghadapi musuh dari luar. Guru wang menarik tangan Tiong Gi. Ternyata cara memasuki hutan itu dengan aman memang ada rahasianya. ternyata di balik batu itu ada gua kecil yang menjorok kebawah. Gerakan guru wang sangat cepat seperti berputar-putar. Ketika suhunya melepaskannya ia merasa ngeri. Mereka semula dikurung. Setidaknya masih ada tonjolan-tonjolan batu yang dapat dijadikan batu loncatan. Ada dua pasang keluarga usia empat puluh lima tahunan. Guru Wang menggeser batu. mereka berasal . sehingga pintu besi diujung gua itu terbuka.Sepasang lelaki dan perempuan berpakaian biru-biru berusia empat puluhan lima adalah sute dari Hek in Loco. Adapun empat orang lelaki seumuran guru Wang yang bergaya pakaian barat ini adalah kawan-kawan seperjuangan guru Wang. Tiong Gi hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. ia adalah sute dari ketua Kong Thong Pay. Mereka sudah tinggal selama lebih dari lima belas tahun sampai yang paling belakangan datang adalah sute ketua Kong Thong Pay. Meskipun begitu mereka tak hentihentinya mencoba untuk keluar. tidak mau mengeluh sama sekali. guru Wang Ketika mengempitnya dan melompati dahan dahan pepohonan.

ayo kita berlatih di dekat telaga. Liu Siang memapakinya dengan tangkisan tangan yang mengandung kekuatan yang tak kalah hebatnya. tubuhnya merendah dan menyerang bagian bawah. mereka dinamakan Tai Swat San Kiu Tiauw Kwi (Sembilan burung hantu dari gunung salju besar). Ilmu ini cocok sekali dengan karakter Liu Siang yang langsing dan berbakat dalam ilmu meringankan tubuh. pakai jurus naga salju menyemburkan api. Ilmu yang bernama Pat kwa sin tiauw ciang hoat (Pukulan cakar rajawali pat kwa). bisa mendapatkan sepasang anak naga yang sangat berbakat. Tangan Tiong Gi bergerak cepat dari kedua tapak tangan tersebut keluar serangkum hawa dingin yang luar biasa. Ilmu ini berdasarkan pada gerakan segi delapan. Bahkan angin pusaran yang dihasilkan membuat terbang dedaunan di sekitarnya. Meski seumuran mereka sebenarnya berguru pada guru Wang. lama sekali kita tak bersua. gerakan lincah tangan Liu Sian benarbenar seperti patukan rajawali.” seru Liu Siang saat bertemu dengan Tiong Gi. gimana perkembangan ilmu surat dan ilmu silatmu. “Gi sute. ingin sekali aku kembali merasakan tendanganmu!” jawab Tiong Gi ceria. Tiong Gi menggunakan jurus-jurus dari pukulan saljunya sementara Liu Siang menggunakan jurus-jurus dari ilmu delapan unsur pat kwa. Hati-hati Sian serangan pukulan salju mengepung gunung harus kau bendung dari bawah. Selanjutnya mereka berdua sudah terlibat latihan silat tingkat tinggi yang sangat luar biasa. bahkan ia . “Liu cici. namun demi mendengar nasihat dari Bu Kong taisu ia juga merubah gerakan mengeluarkan jurus kepakan sayap ke bagian bawah. “Gi ji. Ilmu ini diajarkan oleh guru Wang dan dikembangkan lebih lanjut dengan tambahan pengertian dari Bu Sian Taisu dan Sim Beng Tosu.dari daerah yang sama di barat. Para penghuni lembah menonton dengan mata berbinarbinar. “Omitohud. sedangkan gerakan Tiong Gi tenang namun pukulan-pukulannya mengandung kekuatan tenaga im yang menggiriskan. keluarkan jurus rajawali mengepak sayap” kata Bu Kong Taisu. Puncak pertarungan ini terlihat ketika Tiong Gi mengeluarkan jurus badai salju kutub utara yang dihadapi oleh Liu Siang dengan serangan tapak sakti delapan dewa rajawali.” tiba-tiba terdengar seruan salah seorang dari Kiu Tiauw Kwi. Latihan makin sengit. Tiba-tiba Tiong Gi mengubah gerakan. Hampir saja Liu Sian terdesak. menggunakan kecepatan tinggi dan ketepatan pukulan. Latihan itu sungguh luar biasa. Ditambah lima orang yang ada di luar lembah. aku akan mengajarimu cara pernafasan untuk menghangatkan badan. dari hanya latihan biasa menjadi pertarungan tersembunyi antara Bu Kong Taisu dengan salah seorang tetua negeri salju. sungguh besar sekali peruntungan Yung taihiap.

Rupanya di bagian belakang istana ada tiga gua. Namun setelah satu bulan ia sudah mampu mempraktikkan teknik untuk mengumpulkan hawa yang mampu menghangatkan tubuh. Namun untuk bertanya langsung ke guru Wang ia ragu. mending kalau berhadap-hadapan bertarung secara jantan. “Yaa tapi taruhannya nyawa.. masih ada dua lagi yang dijadikan kamar tawanan. Tepuk tangan bergema.. Di lembah delapan rembulan Tiong Gi makin giat berlatih. khiekang kamu jauh lebih dalam dibandingkan khiekangku.” . setahilpun kau tak punya khan? Lagian aku ingin kau membayarnya dengan mengajari aku ilmu auman harimau. apalagi kalau kau jadi mata-mata wah itu satu dua katapun bisa berharga puluhan tael emas!” “Hah.” “Iya..” “Loh. Selain yang ditempati Tiong Gi. masa juru dongeng profesional seperti daku ini harus cuap-cuap tanpa bayaran sih?” “Aduh cici. maka saat memancing ikan di tepi sungai bersama Liu Siang. sedangkan Liu Siang bisa berpoksai dua kali dengan indah.. ia kembali teringat peristiwa di kuil Kong-sim Liok si. “Waahhh Gi te. ceritanya panjang.masih sempat melayangkan satu jurus ke Tiong Gi.. trus tidak gratis. Kebanyakan mereka meregang nyawa di kamar-kamar penyiksaan. apalagi kini ia punya lawan latihan yang sangat cerdas. “Blaaarrr!” Tiong Gi terdorong tiga langkah dan terpelanting. Dua benturan jurus yang sangat hebat ini menimbulkan bunyi yang sangat keras. ada kalanya kita tidak memberi informasi secara percuma Gi te. masa sih sama adik sendiri main palak segala. Tiong Gi masih kalah pengalaman dan kecolongan satu jurus. Karena kata suhu.iya. namun kukira riwayat itu belumlah lengkap. karena masih banyak sisi-sisi yang masih misterius!” “Coba ceritakan padaku cici!” desak Tiong Gi. Hari-hari pertama Tiong Gi ditempatkan di bagian belakang yang ada guanya. apakah engkau mengetahui riwayat lembah ini?” “Tentu saja. Di lembah yang dari atas terlihat istana kecil ternyata dari dekat istana itu cukup luas. ia bertanya “Siang cici. Tampak dari hasil latihan ini. Namun dinginnya luar biasa. Tiap malam ia membuat api unggun. Tiong Gi menjadi terperanjat dan menatap curiga. Guru Wang tampak puas.lantas berapa tael yang enci mau?” “Alaa sok kaya. Ia teringat dengan tawanan di Kuil Kong-sim Liok si. benarkah?” desis Tiong Gi perlahan.

Namun bagi musuh-musuhnya ia adalah pembelot. Singkat kata ia kemudian berkenalan dan menikah dengan wanita yang bukan lain anak kepala suku di wilayah itu. menghadapi pasukan Tibet yang didukung oleh Buthan. Namun cinta mengatasi semuanya. Lau Cin San rela mengorbankan jiwa dalam peperangan itu. Kim. Pegunungan yang terletak di antara dua sungai besar Yalong dan Linsha ini memiliki perbukitan yang sebagian besar adalah puncakpuncak salju abadi. Lau Cin San tetaplah harum dikenal sebagai seorang pahlawan. sehingga mestinya ia berhadapan dengan suku itu sebagai musuh. Dari hasil perkawinannya ia meninggalkan keturunan yang bernama Lau Shu Han.” “Negeri salju???” “Ya benar! Di negeri ini pernah berdiam seorang maestro dunia persilatan waktu itu yang bernama Lau Cin Shan. Lau Shu Han tumbuh besar menjadi seorang ksatria dan bersama dengan empat saudara seperguruannya yang memiliki she Yung. Meskipun dalam pertemuan terakhir mereka mengalahkan musuh besar mereka.“Benarkah suhu berkata seperti itu?” Liu Siang hanya mengangguk. ia mendirikan klan ksatria salju. namun saat itu tokoh terlihai mereka lenyap.” “Lalu kenapa mereka tinggal di sini?” “Mereka lari mencari tempat yang tersembunyi agar tidak dapat ditemukan oleh musuh mereka. Shu dan Toan di bawah asuhan ibunya. Tak heran jika ada yang menyebutnya sebagai negeri salju. Selarik senyum dikulum menambah kecantikannya. meskipun hanya beberapa hari. “Penghuni lembah delapan rembulan sebenarnya berasal dari pegunungan Tai Sui san (pegunungan salju besar) yang terletak di Secuan barat. Pada saat itu Lau Cin Shan diterjunkan ke medan pertempuran sebagai penasihat perang kerajaan Tang. Tibet dan Tayli. yang sering menjadi daerah konflik. Entah yang manakah yang benar. ci! Apakah kita tidak membentuk pasukan tandingan?” Tentu saja sejak dulu juga sudah dibentuk oleh putera Cin Shan. karena negeri salju sendiri berdiri di belakang Tibet. Tak lupa Lau Cin Shan mewariskan berbagai ilmu untuk keturunannya melalui isterinya. Bagi penduduk Hu Nan. Saat itu ia bertemu dengan seorang gadis dan berkenalan.” “Wah ancaman besar bagi kita. Bahkan demi menjaga kehormatannya yang dituduh membelot. Pernikahannya dengan anak kepala suku negeri salju itu sangatlah aneh. Pegunungan Tai Swat San memanjang dari utara yang berbatasan dengan Bayan Har san hingga ke selatan berbatasan dengan propinsi Yunnan. Tujuan . Pegunungan ini merupakan daerah perbatasan antara Tionggoan. Dan mulailah ia bercerita.

sebenarnya siapakah musuh besar itu?” Liu Siang kembali melanjutkan ceritanya. Wan Cun Ming adalah iblis bertangan besi dalam menghadapi orang-orang dari negeri salju. Kelompok ini punya pasukan iblis berani mati yang menggunakan topeng tengkorak. tolong gunakan istilah yang aku pahami!” “Gi te. Menjelang berakhirnya pemerintahan . kamu harus lebih rajin belajar! Biar jadi orang cerdas!” “Iya.” “Daerah otonom? Kawasan konflik? Aduh cici. “Musuh utama negeri salju ini adalah kelompok tengkorak hitam. Topeng memang benar-benar tengkorak nenek moyang mereka yang dilapisi besi yang dapat melindungi kepala. aku janji akan lebih giat belajar biar jadi anak cerdas seperti cici. Kelompok tengkorak hitam adalah kelompok iblis yang paling ditakuti di wilayah itu. menjelang akhir masa dinasti Tang. Kelima ksatria salju tewas satu persatu di tangannya.dibentukkan klan ini adalah mempertahankan negeri salju sebagai daerah otonom. Pada masa Lau Shu Han. Namun seiring waktu. “Eh. pembentukkan klan ini menimbulkan reaksi berlebihan dari lawan-lawan mereka. bahkan kelihaiannya diakui oleh pesilat Tionggoan. runtuh pula pondasi negeri salju.” “Benarkah aku cerdas Gi te? He he he. makasih ya pujiannya.. Dendam membuat Yung Ci memperkuat diri di pengasingan. Kelompok ini dibentuk oleh Wan Cun Ming seorang mantan mata-mata kerajaan Tang. sayang neh gak ada uang receh. Kekalahan dan kemenangan silih berganti di antara dua kelompok (tengkorak hitam musuh keturunan ksatria salju). bahkan dianggap sebagai jelmaan iblis itu sendiri. Seratus tahun silam. karena ia mendendam kepada Lau Cin Shan yang telah membunuh kakeknya. sehingga negeri salju selama puluhan bahkan ratusan tahun setelahnya menjadi kawasan konflik. dibentuklah sebuah kelompok milisi untuk menghadapi perlawanan musuh-musuh Tang. Dalam masa kepemimpinannya ia telah membantai tak kurang dari lima ratus orang yang tinggal di negeri salju.iya deh. bahkan keturunan ksatria terakhir waktu itu yang dipimpin oleh Yung Ci terpaksa melarikan diri hingga ke lembah delapan rembulan. negeri salju mencapai puncak kejayaan dan benar-benar menjadi daerah otonom. Cun Ming ternyata memiliki agenda tersendiri. Salah satu kelompok yang beroperasi di wilayah yang dikuasai kerajaan Tayli dan sekitarnya termasuk negeri salju adalah kelompok tengkorak hitam. Api permusuhan yang disulut Wan Cun Ming menjadi dendam hingga tujuh turunan.” Keduanyapun kemudian tertawa. Kelihaiannya sungguh luar biasa. Menjelang keruntuhan masa lima dinasti dan sepuluh kerjaan.

pertikaian ini akan berlangsung selama tujuh turunan. Menurut suhu.. ia mendapatkan diriku berada di bawah tumpukan jerami makanan kuda yang terlempar dari gerobak.Kaisar Petama Sung yang berjuluk Sung Tai Cu. “Benarkah begitu? Lantas siapakah orang tuamu?” “Aku tidak tahu.orang selihai suhu masih cemas menghadapi mereka.” “Gi te. karena mereka adalah keturunan kelima..” Tiong Gi terperanjat mendengar pengakuan Liu Siang. kiranya dulu ucapan Liu Siang hanya gurauan. dan turunan terakhirlah yang akan menyelesaikannya. akan sangat berbahaya sekali. Aku juga punya bibi pengasuh yang didatangkan oleh suhu. dan akibatnya jika didengar oleh tengkorak hitam.” *** . Sedang seluruh keluargaku telah meninggal semua. mereka tidak dilepaskan karena kawatir akan membocorkan rahasia lembah ini ke kalayak ramai. Bahkan dua dari tiga cucu Wan tewas ditangan puteranya. Tak ada orang di sekitar tempat ini yang mengenal keluarga kami. tapi menurut Cit Tiauw (burung hantu ke tujuh). karena sesuai dengan perjanjian nenek moyang mereka. semua orang yang disini adalah pengganti orang tua kita. pasukan Yung Ci mampu menakhlukkan pasukan tengkorak hitam.” “Siapakah keturunan terakhir itu? Apakah suhu dan Kiu Tiauw?” “Bukan! Keturunan terakhir ksatria salju adalah generasi cucu mereka. puncak pertikaian kedua belah pihak akan pecah dalam waktu dekat. Tapi dia menjadi heran karena tidak melihat perubahan ekspresi di wajah Liu Siang.” “Cici. apakah mereka memang benar-benar sakti?” “Tak seorangpun tahu.” “Berarti kamu kan cici? Bukankah kamu cucu dari suhu?” “Bukan. Belajar dari siklus dan melihat tanda-tanda alam dengan mata bathinnya guru Wang yang bukan lain adalah Yung Ci dapat merasakan waktu pembalasan dari tengkorak hitam sudah dekat.. aku bukan cucunya.” “Lantas kenapa di belakang istana terdapat gua yang berisi penjara?” “Gi te.” “Ooo. sampai detik ini ia masih menganggapnya begitu. kamu tidak tampak sedih sudah tidak memiliki orang tua lagi. di sana dikurung tokoh-tokoh yang tidak mau bekerja sama dengan kita. Lagi pula belum tentu memiliki orang tua keadaannya lebih baik dari yang kita rasakan sekarang. hati-hati kamu.

” ujar guru Wang. Meskipun gingkannya sudah maju pesat. dan kita bisa berlatih selama beberapa bulan sebelum musim salju tiba. apapun yang terjadi pada kami kau harus mentaati perintahku.Lima bulan berlalu tanpa terasa. Kalau kita berangkat dalam waktu dekat dan sampai di sana pada saat musim panas. mengira bayangan itu adalah setan. Berbeda dengan saat datang. Di ruang depan istana delapan rembulan. meskipun Tiong Gi harus berjuang keras mengatasi musim salju yang sangat luar biasa dinginnya. Saat itu umur Tiong Gi sudah empat belas tahun.” “Taecu mengerti suhu!” Setelah bersiap. Masih terngiang-ngiang percakapannya dengan tiga Kiu Tiauw Kwi yang baru saja datang. Ia tumbuh menjadi pemuda yang bertubuh tegap.” “Taecu berjanji suhu!” “Ingatlah Tiong Gi. maka pada malam hari itu juga mereka berangkat. wajahnya agak bulat. “Bagaimana dengan Siang cici. datanglah susim semi yang indah. Tiong Gi dibiarkan berlari sendiri. rahangnya kokoh. ia berlutut di hadapan suhunya. matanya agak lebar. Dan pada saat musim salju kamu akan menjalani latihan terakhir. dia akan dididik oleh lima dari Kiu Tiauw Kwi di sini. dan mereka sangat puas.” “Dan kamu harus berjanji padaku Tiong Gi. Saat ini adalah waktu yang tepat. alisnya tebal. “Tiong Gi. apakah dia akan ikut?” “Tidak. karena tak ingin menarik perhatian orang mereka . beberapa hari yang lalu tiga dari Kiu Tiauw Kwi telah datang. Malam itu kalau ada orang yang melihat berkelebatnya enam bayangan keluar dari hutan rawa bangkai pasti akan lari ketakutan. ketika keluar meninggalkan lembah. dan aku sudah berketetapan untuk menunjukmu sebagai ahli waris ilmu-ilmu ksatria salju dengan tugas yang berat. nyawa tidak ada artinya bagi kebenaran dan keadilan. Bunga-bunga yang elok bersemi. sambil matanya mengatup. Percakapan yang menuntut ia mengambil keputusan yang disampaikan ke Tiong Gi. Mereka berenam kemudian bergerak menuju ke barat. namun tetap ia masih ngos-ngosan mengikuti gerakan mereka berlima yang berkelebat secepat kilat. kau akan dapat menyesuaikan diri. Saat itu suhunya sedang memberi pesan-pesan yang sangat penting. Perjalanan dilakukan lewat darat. ia masih melamunkan peristiwa tadi malam. Untuk itu maka kami berlima akan membawamu ke gua harimau salju di puncak Gongga Ma.” Yung Ci Tianglo dan keempat Tiauw Kwi memang sengaja menguji perkembangan Tiong Gi. Akhirnya setelah tinggal di lembah itu selama setengah tahun. Kami kemudian berembug untuk menentukan rencana kedapan.

lanjutkanlah perjalanan kalian berdua ke Tai Swat san untuk mencari bibit-bibit yang bisa kita didik menjadi generasi penerus. Apalagi menghadapi cuaca yang sangat ekstrim dinginnya. Ketika menuju ke sana. sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap coba bertahan. Embun yang menerpa wajah dan rambutnya dalam waktu beberapa menit telah berubah menjadi es. Hari pertama latihan. Tak ada waktu untuk berleha-leha bagi Tiong Gi. Seluruh tubuhnya menggigil. Setelah sampai di lembah bunga kiok. Ada tiga gua yang berdampingan dan satu gua yang agak jauh. “Cit Tiauw dan kamu Pat Tiauw. Setelah sebulan mereka yang tinggal disitu . Jika gua itu terus dimasuki akn tembus ke sebuah lembah yang dikelilingi oleh tebing salju yang curam persis tempat di lembah delapan rembulan. Puncak ini memiliki salju abadi yang menyelimuti kawasan di atas ketinggian lima li. Dari luar gua itu sangat sempit namun setelah masuk makin lebar. merupakan salah satu dari tiga puncak tertinggi di luar wilayah himalaya. Karena dilakukan dengan jalan darat maka perjalanan itu menempuh waktu satu bulan. demikian terus menerus sampai satu bulan lamanya. Jika tidak berlatih silat.melakukan perjalanan dengan jalan kaki seperti orang awam. tidak mau mengeluh sama sekali. Tiong Gi hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Bagaimanapun hidup di luar rumah tempat tinggal yang paling nyaman. Tidak perlu banyak-banyak yang penting kejujuran dan bakatnya. makin lama makin sulit jurus-jurus yang harus dikuasai dan makin lama bertahan di bawah kabut salju. Yung Ci Tianglo dan Tiong Gi sendiri tidak perlu repot-repot mencari makan. Meski hanya satu jam rasanya setahun aja. Untuk mendaki ke puncak ini sungguh sangat sulit dan berbahaya karena punggung-punggung bukit karang yang curam yang langsung berbatasan dengan jurang-jurang yang terjal. mereka harus merayap dan merangkak. Demikian terus menerus kegiatan yang menjadi rutin. karena dua Tiauw Kwi siap bertugas melayani kebutuhan mereka. maka ia belajar ilmu surat. Tiong Gi harus melakukan semedi di luar gua selama satu jam.” “Baik suhu!” Mereka kemudian berpisah di lembah itu. saking terjalnya. Kulit tubuhnya yang terpapar udara mulai memerah. merupakan perjuangan tersendiri. Yung Ci Tianglo memerintahkan dua diantara Tiauw Kwi melanjutkan perjalanan ke Tai Swat san untuk mencari murid. Pergilah lewat sungai Yalong. Setiap hari selalu digunakan untuk berlatih. Gunung Kongga atau dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan Minja Konka. gua yang nyaris tak terjamah karena sulitnya jalan menuju ke gua itu. Setiap minggu latihan ditambah. Dinamakan demikian karena dulu pernah dijadikan sarang harimau. sedangkan mereka mendaki ke Gongga Ma. Di salah satu dinding bukit yang menghadap ke selatan terdapat gua yang dikenal dengan gua harimau salju.

Kita masih harus menunggu musim dingin. hanya roti tawar saja yang dimakannya. Tubuhnya terguling... Ia merasakan seluruh tubuhnya ngilu-ngilu saking dinginnya.! Taecu mau pulang saja. sedangkan tingkat tiga pada usia dua puluh lima tahun!” “Suhu. “Desss!” sebuah tendangan membuat tubuh Tiong Gi melayang kembali ke luar. latihan kamu masih belum ada apa-apanya. Di hadapanmu kelak akan bermunculan musuh-musuh yang memburumu. “Taecu sudah tidak kuat. Kiu Tiauw baru saja datang. Maka mulailah timbul kekesalannya. Hayo keluar!” bentak Yung Ci. Tapi sedingin itu masih belum apa-apa dibandingkan nanti waktu puncakpuncaknya. Memasuki minggu kedua musim dingin. pada waktu itu kamu harus mampu bertahan semalam suntuk. dan ia membawa daging. taecu sudah bosan!” “Ingat Tiong Gi. Namun ia adalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan. Semoga di musim itu kita dapatkan badai salju.. kenapa sekarang malah lebih mundur. “Bertahanlah! Kemarin kamu bisa bertahan dua jam.mulai dihinggapi kejenuhan. Ataukah kau akan lari menjadi seorang pengecut?” Nasihat-nasihat Yung Ci Tianglo awalnya dapat diresapi dengan baik oleh Tiong Gi.” rengek Tiong Gi sambil tubuhnya telentang. rasanya ia sudah tak mampu bertahan lebih lama dari satu jam. Sudah dua hari ia tak mendapat asupan daging. dengan merayap. “Suhu aku kedinginan.. Kekesalannya seakan-akan dapat muara. “Suhu. Tiong Gi yang semula mencoba untuk bertahan mulai menunjukkan kerewelan. Kami baru saja mau mempersiapkan pembakaran! Hayo kembali lagi!!” seru Yung Ci keras. meskipun ia sudah menggunakan tenaga lwekangnya. masih berapa lama lagi kita tinggal di sini?” “Tiong Gi. Yung Ci saat itu sedang sibuk membuat api. . suhu. Kalau kamu mampu bertahan maka ilmu Swat im soan hong sin ciang sudah akan kamu kuasai pada tingkatan kedua. dan itu hasil yang luar biasa karena aku dulu menguasai tingkat dua pada usia duapuluh tahun. namun sudah beberapa kali mencoba masih belum nyala. sehingga ia menghentikan latihannya dan masuk ke gua.” seru Tiong Gi yang sudah sulit bertahan. kau harus membulatkan tekad. tinggal sedikit pematangan untuk mematangkan keselarasan gerak dan tenaga maka di akhir pertapaan kita kamu sudah mencapai tingkatan tiga. “Anak bodoh! Kami semua disini berjuang dan bertahan demi kamu. tapi kamu males-malesan. aku tak tahan lagi.. Ia sebenarnya juga merasakan malam itu suhu tiba-tiba turun dengan sangat drastis.

bahkan otot kakinya sudah sulit digerakkan karena kram. Tak biasanya suhunya bersikap seperti itu. Bentakan Tendangan itu meskipun perlahan, dan tidak mengandung tenaga keras, namun cukup membuat dadanya tambah nyeri, sehingga ia makin kesulitan mengatur nafas. Ketika sudah sulit bertahan ia kembali merayap ke dalam. Untung saat itu api sudah mulai menyala sehingga sampai di pintu guapun ia sudah bisa merasakan hawa yang lebih hangat. Tapi siapa sangka suhunya sudah menunggu di mulut gua. “Tiong Gi, seorang ksatria harus siap menghadapi maut tanpa keluhan. Kamu ini anak macam apa, baru sebentar sudah merengek-rengek minta berhenti!” “Su...hu...taecu...sudah...tak tahaan.....!” “Keparat, berani melawan perintah guru!” seru Yung Ci dengan mata melotot, nafasnya mulai tak beraturan, pertanda kemarahan mulai menguasainya. Sekejap kemudian tangan kanannya terangkat dan “Plaaakk!” bunyi benturan tapak tangan dan lengan terdengar cukup keras, meskipun keduanya tidak berisi sinkang. “Kiu Tiauw, kau.....ahh!” ucapan keras Yung Ci berubah keluhan pendek. Rupanya tadi tangan Kiu Tiaauw yang menangkis tamparan Yung Ci. Begitu menyadari dirinya telah dikuasai nafsu amarah tersadarlah Yung Ci. “Suhu, ampunkan taecu, bersabarlah, ingatlah pada Yung Lu,” jawab Kiu Tiauw sambil memeluk pinggang Yung Ci dan menariknya ke dalam. Tampak setitik air mata di pelupuk kedua lelaki tua ini yang tak dicoba untuk diusap. Sebenarnya Kiu Tiauw dan Yung Ci seumuran. Namun karena Kiu Tiauw belajar pada Yung Ci, maka ia memanggil suhu padanya. Kiu Tiauw segera merawat Tiong Gi yang mengeletak pingsan di luar. Sedangkan Yung Ci menyendiri melakukan semedi. Berbagai perasaan berkelebat di hatinya. Pikirannya menerawang jauh mengingat salah satu puteranya yang disebut Kiu Tiauw, Yung Lu. Musim dingin di Kongga san sangatlah dingin luar biasa. Angin bertiup sangat kencang, sedangkan salju turun hampir tiap hari, membuat pemandangan yang sudah putih menjadi semakin berkilauan bagaikan perak. Mendung dan kabut tidak pernah meninggalkan puncak pada musim itu, hingga siang malam sulit dibedakan. Latihan Tiong Gi sudah hampir mendekati saat-saat terakhir, karena sebentar lagi puncak musim dingin yang ditandai dengan datangnya badai salju. Selama dua minggu Tiong Gi sudah mampu bertahan lebih dari empat jam berdiam di luar gua. “Tiong Gi, dalam dua tiga hari mendatang badai salju akan tiba, saat itu kau harus melakukan latihan di puncak bukit harimau itu. gunakan seluruh kemampuanmu untuk tetap bertahan, dan jika kau sudah tidak

tahan lagi, biarlah dirimu memasuki badai, menyatulah dengan arus aliran angin kemanapun ia bergerak, seraplah unsur im sebanyak kamu mampu dan biarkan aliran hawa ini menyelimuti tubuhmu. Jangan melawan dan tetaplah konsentrasi. Yakinlah Thian akan melindungimu.” Puncak harimau (Hauw swat teng) adalah puncak tertinggi ke lima yang terletak di sebelah timur dari Kongga san. Pada musim dingin jalan menuju puncak ini bisa di kelilingi oleh timbunan-timbunan salju setinggi sepuluh meter. Bagi manusia biasa melewati timbunan salju seperti ini haruslah menggunakan tali. Pagi-pagi sekali Tiong Gi sudah bersiap menuju ke puncak. Yung Ci sudah dari fajar berada di luar gua, memusatkan seluruh panca indera dan segenap kemampuan bathinnya. Hatinya agak bergetar demi merasakan cuaca sedemikian tenangnya, setelah seminggu lebih badai selalu mendera dari arah barat. Ketenangan yang merupakan pertanda bahwa badai yang akan datang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Sebenarnya ia ragu untuk melepas Tiong Gi, namun ia sudah membulatkan tekad, kembali bersama atau tinggal di situ selamanya. Tiong Gi perlahan-lahan mendaki jalur yang sudah ditetapkan oleh suhunya. Ia dipesankan untuk tidak menggunakan ginkang menghambur-hamburkan tenaga. Tepat sore hari ia sudah sampai di puncak dan segera bersila melakukan semedi seperti yang diajarkan suhunya. Sampai pukul sembilan malam cuaca masih sedemikian tenang. Langit berkabut. Menjelang pukul sepuluh tiba-tiba cuaca berubah, mendung mulai menebal, angin datang berkesiuran susul menyusul berputaran. Sepenanakan nasi kemudian badai salju datang mengamuk. Suara guntur dan angin puting beliung yang datang silih berganti memekakkan telinga. Dua kekuatan angin dari barat dan timur bertemu menghasilkan pusaran badai yang sangat dasyat. Es putihpun tercurah seperti butiran-butiran kerikil jatuh dari angkasa, disusuli kemudian pusaran angin yang membawa bongkahan-bongkahan salju berputar-putar menghantam apapun yang dihadapinya. Tiong Gi mulai memainkan jurus-jurusnya dengan baik, gerakannya sangat sempurna, sesuai pesan suhu ia bergerak mengikuti arus putaran badai. Tenaganya diatur sedemikian rupa menyesuaian dengan hantaman-hantaman topan. Selama hampir dua jam ia terus menerus melatih ilmunya, baik secara tangan kosong atau dengan menggunakan pedang. Tepat tengah malam badaipun memuncak, pusaran angin yang semula simpang siur mulai menyatu membentuk kekuatan dasyat menyapu segala yang ada. Angin dingin yang menderu-deru itu seperti roh-roh gentayangan yang berpesta pora menyanyikan lagu yang memekakkan telinga. Manusia mana yang bisa berdiri menyombongkan hartanya, kedudukan, kecantikan atau kegagahannya di tengah-tengah kekuasaan alam yang yang takluk diatur oleh satu tangan yang tidak kelihatan, tangan Sang Pencipta. Tiong Gi mulai memainkan jurus-jurus baru yang dipelajarinya, dewa salju membuka gerbang (Swat sian kuan men) dengan jurus ini gempuran badai tak dilawan, bahkan dirinya menyatu dengan kekuatan maha dasyat yang diperlihatkan oleh badai, karena gerbang pintu masuk

kekuatan luar telah dibuka. Tubuh Tiong Gi-pun terhempas badai terbawa berputar-putar mengikuti kemanapun arah pusaran. Kadangkadang badai melontarkannya tinggi ke angkasa bertombak-tombak dari bumi, melewati puncak-puncak bebukitan, kadang menghempaskannya ke onggokan salju dan menyeretnya berli-li jauhnya. Yung Ci berdiri tegak di pintu gua, mulutnya berkemak-kemik memanjatkan do’a. Badai kali ini berbeda sekali dengan badai yang dulu dialami, dinginnya dan dasyatnya sungguh membuat harapannya tinggal sekuku kelingking. Angin salju yang menerpanya tak dirasakan. Ia tetap kokoh berdiri semalam suntuk. Menjelang subuh badaipun reda. Dengan bergegas segera ia dan Kiu Tiauw keluar gua menyusuri bekas-bekas badai. Sungguh bentuk permukaan gunung telah berubah akibat badai. Punggung-punggung bukit yang sebelumnya meruncing menjadi lebih tumpul, jurang-jurang yang dalam menjadi lebih dangkal. Dengan membawa logam tipis yang terikat pada lingkaran kayu seperti raket ia menyusuri punggung-punggung bukit sambil melongok ke kanan dan ke kiri. “Suhu benda apakan yang suhu bawa itu?” “Kiu Tiauw, ini adalah besi getar. Alat ini berguna untuk mencari benda hidup. Aku mendapatkannya dari Turki. Jika melewati daerah yang bersuhu panas ia akan bergetar.” Kiu Tiauw melihat benda yang berbentuk aneh itu. Suhunya menyusuri jalanan sambil tangannya menggerak-gerakkan gagang besi getar ke kanan dan ke kiri. Mereka mencari-cari di sekitar puncak harimau. Secara bergantian mereka berteriak-teriak memanggil Tiong Gi. Seharian mereka mencari ke sana ke mari, tanpa hasil. Tiong Gi tak ketahuan jejaknya sama sekali. “Ia sepertinya telah terkubur suhu,” kata Liu Tiauw. “Tidak...tidak, aku masih merasakan getaran kehidupannya, meskipun lemah dan jauh,” jawab Yung Ci yakin. Ketika senja tiba, cuaca mulai remang, mereka kemudian memutuskan untuk menuruni puncak menuju ke barat, sesuai dengan arah angin badai. Hampir sepenanakan nasi kemudian, setelah baru saja matahari tenggelam, mereka baru menemukan jejak Tiong Gi, berupa potongan kain yang dipakainya. “Suhu....taecu menemukan potongan kain, bukankah ini yang dipakainya?” “Aa.. benar...benar memang itu kain yang dipakai olehnya, ayo kita cari sampai dapat, sebelum hari benar-benar menjadi gulita.” Sepeminuman teh kemudian barulah besi getar menunjukkan tandatanda getaran. dan memang di daerah sekitar situ terdapat sepihan kain yang dipakai Tiong Gi. Ternyata getaran itu berasal dari lembah yang cukup curam. Dengan hati-hati mereka menuruni lembah. “Getarannya cukup kencang di sekitar sini, ayo kita gali bagian sebelah sini,” perintah Yung Ci. Setelah lewat setengah jam menggali di beberapa bagian, barulah Tiong Gi ditemukan dalam keadaan telanjang bulat. Luar biasa sekali, meskipun sudah sangat lemah ia masih memiliki detak jantung. Yung Ci segera menyalurkan lwekangnya. Akibat dingin yang sangat luar biasa, beberapa bagian kulit tubuh Tiong Gi menghitam dan mati, meskipun Yung Ci telah melumurinya dengan

cairan lemak beruang kutub yang sangat mujarab, namun tetap saja ada bagian yang mengalami luka. Dua minggu berikutnya Tiong Gi hanya diam menjalani perawatan lukanya. Setelah sembuh sebulan kemudian mereka turun gunung untuk kembali ke lembah delapan rembulan. Empat orang itu berjalan dengan langkah gagah menyusuri tepian hutan, meskipun pakaian yang melekat di tubuh mereka sudah kumal, tanda bahwa mereka telah melakukan perjalanan jauh. Sudah empat hari mereka menyusuri hutan di sebelah barat kota Ping Ho. Tiga di antaranya sudah berusia lanjut dipimpin seorang berpakaian rapi berwajah tirus, sedang seorang lagi pemuda yang masih remaja. Sudah seharian mereka berjalan dan berharap sebelum senja mereka bisa menemukan desa. Namun sayang, alih-alih desa, sedangkan rumah saja tak satupun mereka jumpai. “Suhu sepertinya malam ini kita harus menginap di hutan,” kata salah seorang dari mereka. “Iya, sepertinya memang desa masih jauh. Coba kita cari kuil atau bangunan kuno lainnya, Kiu Tiauw!” perintah Yung Ci Setelah berjalan kira-kira sepenanakan nasi, tepat ketika matahasi sejengkal dari tempat peraduannya, mereka menemukan sebuah bangunan kuno, mirip sebuah kuil atau tempat pemujaan. Mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di kuil tua itu. Tiong Gi membersihkan kuil itu, dan mereka berjaga bergantian. Sampai fajar menjelang tidak ada peristiwa apa-apa, namun ketika semburat matahari mulai merekah di timur. Tiba-tiba saja terdengar bentakan menggeledek dari luar. “Yung Ci, keluarlah menerima pembalasan!” Tiong Gi tergagap mendengar bentakan ini, namun tiga orang tua dari lembah delapan rembulan itu dengan tenang bergegas keluar kuil. Tiong Gi sambil mengucak-ngucak matanya mengintip dari dalam, tak terlihat adanya bayangan. Ketiga tetua lembah delapan rembulan diam mematung sudah siap menanti. Kiranya bentakan itu dikirim dari tempat yang sangat jauh. Dan dari kuatnya getaran yang ditimbulkan dapat ditebak pengirimnya bukan orang sembarangan. Yung Ci Tianglo mengeluh dalam hati karena penyamaran mereka sudah ketahuan, bahkan sebelum orang itu sampai di depan kuil. Hal itu hanya menunjukkan bahwa mereka telah dimata-matai. Sepeminuman teh kemudian berkelebatan delapan sosok tubuh, bagaikan setan saja mereka telah tegak berdiri di pelataran kuil yang ditumbuhi rumput dan semak setinggi lutut. Saat itu cuaca yang baru terang tanah, dalam selimutan kabut tipis kehadiran kedelapan sosok ini bak hantu bergentayangan. Semua berbaju hitam empat diantaranya berjubah panjang juga berwarna hitam, serta bertopeng yang lagi-lagi berwarna hitam bergaris putih di pinggirnya. Yang membuat topeng itu mengerikan adalah bentuknya seperti tengkorak. Hanya sorot mata dari lubang pada bagian mata yang berbentuk bulat bercat merah di pinggirnya, yang menunjukkan di balik topeng itu wajah manusia.

“Tengkorak hitam......” desis kedua Tiauw kwi tercekat. Tiong Gi menatap tak berkedip. Tak terasa bulu kuduknya meremang, manusia atau hantukaha yang datang. Namun demi melihat tiga tetua lembah masih berdiri dengan tenang. Iapun berusaha tabah. Yung Ci Tianglo terbelalak demi melihat bahwa sosok yang mendatangi kuil berbaju terngkorak hitam. Sejenak wajahnya berubah pias, namun perasaan itu tak lama karena sedetik kemudian ia sudah bisa menguasai diri. “Siapa kalian!” bentaknya dengan suara mengguntur. Tiong Gi yang berada di belakangnya juga merasakan jantungnya bergetar oleh hawa khikang yang dikeluarkan. Memang bentakan ini mengandung serangan khikang yang menggunakan seperempat Sai cu hokang. Yang berada di belakang saja sudah sedemikian besar pengaruhnya, bisa dibayangkan jika yang di depan. Tapi yang diserang hanya empat orang saja yang tidak bertopeng yang terlihat bergetar, sedang yang bertopeng hanya tersenyum sinis. “Heh..heh..heh, Yung Ci tidak usah pura-pura, aku tahu nyalimu sudah terbang melihat kehadiran kami? Bertahun-tahun kau menyembunyikan diri, kalau sudah saatnya untuk membayar hutang, takdir juga yang akan membawamu ke liang kubur menyusul murid-muridmu yang lainnya....ha..ha..ha...., ” jawab salah seorang bertopeng yang tubuhnya paling pendek. Kiranya orang ini pimpinan mereka. Yung Ci tercekat mendengar ucapan ini, jantungnya berdetak bagaikan ditabuh bertalu-talu. Mata bathinnya dapat merasakan ancaman besar di lembah delapan rembulan. Kiranya orang-orang tengkorak hitam sudah mengetahui letak persembunyian mereka di lembah delapan rembulan. Dan itu hanya berarti satu hal: mereka yang berada di sana dalam bahaya. Yung Ci tidak memikirkan murid-muridnya Kiu Tiauw Kwi, tapi kepalanya ruwet memikirkan nasib Liu Siang. Dari gertakan awal, tampaklah musuh sudah lebih menang posisi. Benarkan ucapan orang-orang tengkorak hitam? Apakah yang sebenarnya terjadi di lembah delapang rembulan? Marilah kita ikuti peristiwa yang terjadi sejak mereka ditinggalkan Yung Ci.

Bab 10. Peristiwa di lembah
Pada saat Yung Ci meninggalkan lembah, di lembah terdapat lima Tiauw Kwi, secara bergantian mereka menjaga lembah dan mencari bahan makanan. Biasanya yang menjaga lembah berjumlah tiga orang. Liu Siang belajar kepada mereka. Ia sangat rajin sekali melatih ilmu-ilmunya. Mereka juga mulai mengajari ilmu pukulan salju kepada Liu Siang. Pada suatu pagi di akhir musim panas, saat seperti biasanya Liu Siang sedang berlatih dengan dua orang Tiauw Kwi, yaitu orang ketiga atau Sam Tiauw dan orang keempat atau Si Tiauw tiba-tiba terdengar suara teriakan. Teriakan terjadi di belakang istana. Demi mendengar teriakan

Iapun langsung kaku tak mampu apa-apa. sambil secara kurang ajar menowel pipi dan dada Liu Siang. Setelah sekian tahun. namun tendangan secara telak mengenai lambungnya. Mukanya putih pucat namun rambutnya masih hitam lebat. Mereka mengapit seorang kakek tua bertubuh kate. pukulan susulan masih dapat ditangkis.. begitu mendengar lembah delapan rembulan dihuni oleh orang asing ia bersama Hek in Siang Houw mendatangi lembah. sehingga ia dibebaskan dari penjara dan dibiarkan berkeliaran bebas di lembah.heh.. Liu Siang menyusul di belakang.itu. Sementara itu di bagian belakang. Di belakang kakek kate ini ada nenek yang bertubuh kecil ramping. namun siapa kira ketika sampai di pojokan sudut istana ia diserang secara mendadak. karena pagi ini mereka membebaskan guru mereka dan bersekongkol untuk keluar dari lembah. Sebuah pukulan mengenai lengan. Siapakah kakek ini? Kakek ini tak lain adalah guru Hek in Siang Houw. yang sudah kumal dan apak. telah berdiri sepuluh orang penghuni lembah. “Dukk. yang berjuluk Hek in Pek Houw (harimau putih awan hitam). dengan kepala kecil gundul yang sedang menotok perempuan yang bukan lain adalah pasangan Coa Ting.. Kiranya tobat itu palsu belaka.. plakk desss.! Auughhh.anak manis. Jika ditaksir usianya pasti sudah lebih dari delapan puluh tahun. karena dia adalah sumoi dari Hoan bin Kwi Ong. Tiga Tiauw Kwi sudah berhadaphadapan dengan sepasang sute dari Hek in Loco yang juga berjuluk Hek In Siang Houw (sepasang harimau awan hitam). keduanya secepat kilat berkelebat ke sumber suara.. sehingga kemudian dipenjarakan. Mereka memerlukan waktu hampir dua bulan untuk dapat menembus pertahanan lembah. sayang. di depang gua tahanan. atau susiok dari Hek in Loco. Hanya karena kulit tubuhnya berwarna putih saja yang membuat penampilannya tidak rombeng-rombeng amat. “He. Kiranya pelakunya adalah Coa Ting murid Hoan Bin Kwi Ong. sebaiknya engkau ikut aku. Puluhan tahun silam. pakaian yang dikenakan kakek kate ini juga aneh sekali. hanya kain yang dililit-lilitkan di bagian bawah perutnya seperti cawat. Nenek ini juga bukan orang sembarangan. Dan setelah beberapa kali mencoba akhirnya mereka dapat juga memasukinya. Sebagai susiok dari Hek in Loco dapat dibayangkan betapa tinggi tingkat kesaktiannya. karena ia langsung ditotok di beberapa titik jalan darahnya termasuh jalan darah gagu. Namun di dasar lembah mereka dikalahkan oleh Yung Ci dan murid-muridnya.. Hanya keluhan pendek yang mampu keluar dari mulut Liu Siang.he. Hek in Siang Houw menyatakan tobat dan bersedia bekerja sama. Rupanya ada orang yang membokong. Julukannya Pek Bin Hek Mau Kwi bo.” rayu seorang lelaki sambil menyeringai dan tanpa menunggu jawaban langsung mengempit tubuh Liu Siang.. Selain tubuhnya. Mengapa ia membiarkan .

kamu tidak tahu di dalam hati mereka sudah dirasuki ketakutan yang disembunyikan kek.” ujar nenek Hek mau Kwi bo. Tapi kali ini Sam Tiauw sudah kepalang marah.... Sudah tahu posisinya sangat tersudut masih berlagak sok kuasa.begitu saja murid keponakannya ditotok.. sebaliknya kelompok merekalah yang biasa menggunakan cara-cara curang seperti itu.. . yang dari hawa pukulannya saja sudah mampu mengurung Coa Ting.heh. Kiranya dengan menggunakan ilmu memindah tenaga lawan.. Sam Tiauw sengaja memukul untuk mengambil tenaga tangkisan untuk menyerang sasaran utama.hik. Sebagai kaum persilatan yang sudah puluhan tahun terjun di Bu Lim. jangan kalian kira mudah keluar dari sini. ia tidak terbiasa menghadapi serangan tiba-tiba dari kaum yang mengklaim diri pendekar.hik. lepaskan Liu Siang! Aku bersumpah akan membeset kulitnya sekerat demi sekerat jika kau berani seujung rambutpun mengganggunya!” bentak Si Tiauw yang paling sayang kepada Liu Siang dengan suara menggeledek. Sekonyong-konyong tubuh yang tiba-tiba ada di depan Coa Ting sudah melakukan serangan yang sangat dasyat. “Coa Ting. Melangkahi kami bertiga saja belum tentu kalian sanggup.heh.!” Tanpa diduga oleh siapapun begitu ditangkis tubuh Sam Tiauw seakanakan terpelanting ke arah Coa Ting...Kwi bo manis.. Betapa marahnya ketiga Tiauw Kwi itu.lihat Pek Houw betapa lucunya orang-orang Tibet ini. Coa Ting sudah mencoba menangkis tapi terlambat. jelaslah apa yang telah terjadi... “Hik. Begitu selesai berkata dengan secepat kilat sudah melompat kedepan menyerang Pek Houw.. namun mereka tetap berusaha menguasai diri.”jawab Pek Houw... sehingga ia sudah tidak mampu berkelit kemanapun. karena kemarahan adalah pangkal kekalahan dalam pertandingan silat.kek. karena hawa pukulan yang sedemikian dingin sudah menimpanya. “Heh... Hayo kalau memang kalian ingin mencoba-coba kelihaian lembah delapan rembulan. “Dengarkan heh kalian setan keparat. majulah!” ujar Sam Tiauw yang saat itu jadi pimpinan mereka. Apalagi ketika melihat kedatangan Coa Ting yang mengempit tubuh Liu Siang.. sehingga tak lagi mengindahkan segala aturan yang sering justru membelenggu diri sendiri. Pek Houw yang dijadikan sasaran serangan tidak menduga sama sekali... “Plak wuiss.. Kakek kate itu tidak sempat berpikir panjang mengapa Sam Tiauw melakukan serangan pengecut seperti itu. sungguh kepongahan yang menjemukan..kek. Dengan sigap ia menangkis. Meski hanya sekilas namun ketiga Tiauw Kwi sadar mereka telah dikhianati.

Dulu waktu pertama kali datang ia masih satu tingkat di atas kakek kate itu. Keduanya samasama terdorong satu langkah..” seru Si Tiauw yang langsung menyerang nenek rambut hitam. namun hawa pukulan tapak kelabang yang dilancarkan sudah mampu melukai Liu Siang. Namun luka pukulan yang mengenai pangkal lengan juga sangat berbahaya.celaka.. Tangan nenek rambut hitam ini sebenarnya tidak sampai menyentuh.. “Awasss!.katakan apa mau kalian?” . Hayoo berikan penawar racunnya.. “Keparat katak busuk! Beraninya kalian bermain curang menyerang murid kami. “Tahaan. hingga mereka hanya mampu berteriak mengingatkan suheng mereka. “Hmmm. Begitu tangan kirinya memukul Coa Ting. Kali ini yang diserang adalah Liu Siang.... Namun baru saja Liu Siang berpindah tangan.. Ia juga tidak menduga mendapat serangan dari nenek itu.. Namun seperti sudah menduga akan terpelanting.” seru Pek Houw.. Sam Tiauw hanya sempat mengegoskan tubuh Liu Siang sehingga serangan ke arah dada dapat dihindari.“Duggg.” teriak Sam Tiauw. Betapa kagetnya Si Tiauw merasakan tangkisan kakek kate itu..! Augghh. “Sam wi Tiauw Kwi. siapa nyana kini kakek kate itu sudah memperoleh banyak kemajuan. Nyawa Liu Siang jadi taruhannya.!” seru kakek kate sambil menangkis serangan Si Tiauw. Masih untung sepasang Hek in Siang Houw sudah berada di belakangnya. Tangkisan itu sebenarnya sudah membuat tubuh nenek itu terpelanting. serangan pertama masih dapat di tangkis.!” tubuh Coa Ting terlempar dua tombak dan langsung muntah darah. justru dari bawah ia kembali melancarkan serangan kedua. sekonyong-konyong nenek rambut hitam sudah melancarkan serangan ke Sam Tiauw.... tangan kanan Sam Tiauw mencoba merebut Liu Siang. apakah kita akan menyelesaikan pertarungan ini dan membiarkan murid kalian sekarat meregang nyawa.tahaan. Namun sebelum mengenai nenek itu. Dapat dibayangkan jika pukulan itu menyentuh langsung ke kulit.. kakek kate Pek Houw sudah menangkisnya. sudah hendak mengambil tindakan. Namun ia menyadari posisinya tidak menguntungkan. dan langsung menyambar tubuh itu sehingga tidak jatuh di tanah. “Plakkk. atau kalian mau bicara baik-baik? Ingat nyawa murid kalian sudah diujung tanduk. demi melihat Liu Siang telah terkena pukulan. teriak Si Tiuw.bugg!” “Ayaaa.... Sam Tiauw yang memang berwatak keras... Dua Tiauw kwi lainnya juga terkejut melihat serangan yang sangat cepat ini....

empat dari kami. Akhirnya ia mengangguk. begitu yang .tak disangka Kiu Tiauw Kwi yang namanya terkenal gagah bisa mengajukan usulan keji untuk memecah belah kami.ha.” “Empat lawan dua. Si kate terkesiap mendengar jawaban seperti ini. Pek Houw agak terkejut melihat yang maju Si Tiauw. Begini saja. Ketika nenek itu menoleh lantas saja ia melotot kepadanya. Si Tiauw menggelengkan kepala sedang Go Tiauw membisikkan sesuatu. Sam Tiauw menoleh ke kedua saudaranya. Dari tantangan ini sepertinya musuh ingin mengambil poin kemenangan pertama.. “Kalau seperti itu tentu saja sulit menetukan pemenang kalau hasilnya satu – satu. tiga lawan enam!” Pek Houw diam sejenak.” kata Sam Tiauw tegas.” Sam Tiauw berfikir sejenak. kami akan mengajukan jago terlebih dahulu. “Ha. Ia makin mendongkol demi melihat si nenek tersenyum-senyum penuh kemenangan.” tantang Pek Houw.. “Baiklah. maka kekalahan dari pihaknya sudah dapat diperkirakan dari awal. “Baiklah tiga lawan enam. tapi kalian dulu yang mengajukan jago.. pihak pemenang yang harus mengajukan jago lebih dahulu.“Tentu saja kami ingin kebebasan. Nenek rambut hitam menyadari betapa berbahanya jika ia terpecah dengan rombongan Pek Houw “Hmmm kalau itu kehendak kalian. Kalau ia mengajukan Go Tiauw. Ini diluar perhitungannya. baiklah berapa jago kalian yang akan kalian ajukan. kalau memang gagah hayo bertanding sampai mampus. sungguh berbahaya jika nenek muka pucat itu menerimanya. namun untuk pertandingan pertama. ia coba hitung-hitung kemungkinannya. dua dari kalian. kalau kalian mengantar kami keluar. Sebaliknya kalau ia maju lebih dulu mungkin dapat musuh yang terlalu empuk. kami akan berikan obat penawarnya!” jawab Pek Hauw tak kalah sengitnya. jika ia bisa menyembuhkan Liu Siang.” jawab kakek kate itu penuh keyakinan.ha. majulah!” Si Tiauw-pun maju. karena kalau yang maju pertama Go Tiauw pihaknya akan mengajukan pihak nenek muka pucat dan muridnya untuk mengambil keuntungan pada pertandingan pertama. “Kami akan beri kebebasan kepada Pek Bin Hek Mau Kwi bo.. “Hmmm aku harus mengajukan Si te lebih dahulu!” pikirnya. dan ia boleh membawa serta kedua muridnya. Si te.

Wajah Pek Houw bersungut-sungut penuh rasa mendongkol. Coa Tingpun terpaksa ikut maju meskipun telah terluka sebelumnya. namun kekuatan racunnya justru sangat berkurang drastis. Pukulanpukulan tangan es dilakukan dengan penuh perhitungan.maju Si Tiauw. Si Tiauw melayani keroyokan mereka bertiga dengan mantap. sementara itu Sam Tiauw sibuk memberikan perawatan pertama pada Liu Siang. jangan mengejek kami. diiringi gerakan Pat kwa tiauw kwi ciang hoat yang didasarkan pada Pat kwa sin tiauw ciang hoat sehingga kedudukannya tidak menjadi terdesak. Ketika kemudian nenek muka pucat dan kedua muridnya mengeluarkan jurus kelabang emas terbang ke delapan penjuru (Pat hong hui kim hu ciang hoat). Tapi apakah bersenjata atau tidak?!” “Huh. Pek Bin Hek Mau Kwi bo dan muridnya. Kepalanya bergerak memberi kode supaya kedua murid keponakan nenek muka putih itu maju semua.” Kiranya. sejak kami kalian kalahkan belasan tahun silam kapan kami pernah menggunakan senjata. meskipun dari sisi tenaga lweekang mereka bertiga memperoleh kemajuan hebat saat di lembah. Hanya sesekali saja dengan menggunakan hewan-hewan beracun yang ada di lembah. tapi kalian juga tidak boleh menggunakan senjata!” Dengan majunya Si Tiauw. ia ragu untuk maju terlebih dahulu. sejak di lembah mereka tidak dapat lagi berlatih dengan merendam tangan dalam cairan beracun terutama racun kelabang sebagaimana mestinya. Nenek muka putih dan kedua muridnya bahu membahu melakukan serangan bertubitubi ke Sam Tiauw. “Baik marilah kita mulai. malah kadang-kadang dengan kelincahannya ia bisa balik memberikan serangan seolah-olah ada delapan burung hantu yang mematuk-matuk mangsa. Kedua tangan mereka penuh berisi tenaga pukulan yang mengandung racun. Hanya Go Tiauw yang terlihat tenang. Siapapun yang dapat memenangkan pertandingan ini dapat dipastikan akan memetik keuntungan. maka serangan tangan dengan jari-jari yang digerakgerakkan secara aneh seperti cakar ini bagaikan ratusan kelabang . pihak Pek Houw tak mau kepalang. “Biarlah biksu Bu Kong menjadi wasitnya!” seru Sam Tiauw. Itupun pukulan nenek muka pucat masih mampu melukai Liu Siang. Maka ia tetap mengajukan nenek muka pucat dan muridnya. maka justru pertandingan pertama menjadi penentu kemenangan. Maka dapat dipastikan pertarungan ini mejadi sedemikian seru. Serang menyerang makin seru dan menegangkan. silahkan kalian menyerang lebih dahulu. “Dari pihak kami. Hanya sayang.

Akibatnya tubuh Coa Tingpun hancur berkeping-keping. posisinya menjadi berjumpalitan.! ”Blarrr.. sehingga dapat dipastikan hantaman itu akan menggencet tubuhnya. menjadi serpihan daging beku. Meskipun hantaman kaki itu bisa ditangkis namun posisinya yang ada di bawah tetap sangat rugi.. tangan Si Tiauw masih sempat meraih mayat Coa Ting dan dijadikan tameng untuk menangkis hantaman kaki. karena serangan ke kakinya paling banter hanya satu yang dapat ditangkis.. Sungguh berbahaya posisi Si Tiauw saat itu. Karena harus membagi tenaga. Pada waktu yang sangat kritis... Pukulan itupun mengenai punggungnya dan Coa Ting tewas seketika. Sementara itu. namun kemudian dengan gerakan merayap yang aneh seperti gerakan kadal mereka berdua menyerang bagian kaki.. Pada saat yang bersamaan nenek muka pucat melakukan serangan dengan tendangan kaki dari atas.. darahpun tak bisa mengalir keluar dari mulutnya karena tubuhnya sudah membeku. Dengan cepat Si Tiauwpun mengeluarkan jurus naga salju menyembur api. mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau busuk seperti kelabang beracun.” Dasyat sekali pertemuan empat kekuatan ini. nyawanya diujung tanduk..desss. Si Tiauwpun untuk sementara selamat.. tangkisan kaki Si Tiauw menjadi lemah. Sungguh dasyat sekali akibatnya jika hentakan kaki ini berhasil mengenai sasarannya..menerjang Si Tiauw... Keadaan Si Tiauw sangat kritis. Kedua pukulan tangan Si Tiauw bertemu dengan tangkisan tangan istri Coa Ting.. kedua tangannya melakukan serangan ke sepasang suami istri yang menyerangnya dari bawah. sekonyong-konyong Si Tiauw melakukan gerakan berpoksai.plakkk. karena sepasang murid keponakan nenek muka pucat ini merangsek maju secara nekat. dan kembali berdiri meskipun sudah tidak tegak. ”Plakk. sehingga iapun terpelanting dan jatuh dalam posisi menelungkup. Demi melihat kedua murid keponakannya roboh tak sanggup bangun lagi Pek Bin Hek Mau Kwi bo menjerit. Serangan ini sungguh sangat keji karena musuh dalam posisi tidak siap.. kebalikan dari ilmu pukulan saljunya. ia muntah darah...! Augghhh. karena tidak ada ruang untuk terlontar. Sedang salah satu kakinya digunakan untuk menangkis serangan nenek muka pucat. pasangan Coa Ting terluka dalam akibat pertemuan tenaga tadi.. Si Tiauwpun menjadi kelabakan dibuatnya. . Posisinya terjepit. namun Coa Ting sendiri sudah tidak sanggup menangkis.desssss krotak!” Pada saat yang sangat kritis dengan gerakan yang sangat cepat.. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengginjakkan kakinya ke tubuh Si Tiauw yang sedang terjatuh. dan kali ini kejadian yang tak terduga oleh sepasang iblis murid Hoan bin kwi ong itu adalah tangkisan yang dilontarkan oleh Si Tiauw bersifat panas. Keduanya menjadi terpelanting.. “Wuss.

akibatnya dadanya terkena pukulan tangan kiri Pek Bin Hek Mau Kwi bo... Akibat tendangan kaki kiri Si Tiauw dan pukulan tangan kiri nenek muka pucat..bluarrr!!!” Dasyaat sekali pertemuan dua tenaga raksasa di udara. Namun mereka tak keburu mencegah ketika Pek Bin Hek Mau Kwi bo membetot tubuh Si Tiauw yang telah terbelit selendang yang terbuat dari robekan kain yang disambung-sambung. Daun dan debupun beterbangan di sekeliling tempat pertarungan.. tulang-tulangnya sepertinya ada yang retak. “Wussss.. sehingga pihak penyerang ketika membetot selendangnya akan mendapat tenaga tarikan dari lawan yang terbelit.dessss. tapi siapa sangka justru yang dihantam itu adalah mayat Coa Ting.. Pada saat seperti ini ketenangan serta pengalaman bertanding sangat menentukan kemenangan seseorang.sret. Dari kedua mulut orang yang bertanding itu keluar darah segar. bertemu dengan berbagai kalangan persilatan mengenal dengan baik teknik-teknik bersilat. karena di awal pertandingan nenek itu sepakat untuk tidak menggunakan senjata. menyesal..!” Sekonyong-konyong dari lengan baju nenek muka pucat itu keluar selendang yang langsung menyambar Si Tiauw dan membelitnya. Dalam keadaan terbetot Si Tiauw justru menggunakan kesempatan tarikan untuk menendangkan kakinya. keduanya terlempar ke belakang sejauh tiga tombak. iapun mengumpat sambil melancarkan serangan pamungkas. Biasanya lawan yang terbelit akan bertahan dan berusaha untuk membebaskan belitan. Perasaan marah. Serangan ini sangatlah curang.. Namun Si Tiauw yang paham teknik ini bertindak sebaliknya.. Baik Si Tiauw maupun Pek Bin Hek Mau Kwi bo terluka dalam. Untung bagi nenek muka pucat itu karena tendangan kaki Si Tiauw sudah lemah. sedangkan ulu hati nenek itu terkena tendangan.. Pek Bin Hek Mau Kwi bo tidak keburu untuk menangkis karena iapun dalam posisi melayang. Pek Bin Hek Mau Kwi bo kembali menjerit mukanya yang pucat menjadi semakin memutih.. tahu belaka bahwa serangan selendang yang membelit dirinya akan diikuti pukulan tangan.Kaki kanannya yang digunakan menangkis tendangan si nenek terasa sangat nyeri.. rasakan kini jurus pamungkas serangan kelabang membelit mangsa!” “Wussss... beraninya kau pakai muridku sebagai tameng. Ia mengira dirinyalah yang membunuh Coa Ting.sret. Kiu Tiauw Kwi dari yang tertua sampai Go Tiauw selama belasan tahun bertugas di luar. ia tidak berusaha melawan tarikan sehingga tubuhnyapun melayang dan bertemu di udara dengan nenek itu. “Setaaaan.. “Tahaaan!” bentak Sam Tiauw dan Bu Kong Taisu secara serempak. . dan mendongkol membuatnya gelap mata. Semula ia senang karena tendangannya mengenai sasaran. Nenek itu sangat terperanjat melihat tubuh Coa Ting menjadi berkepingkeping..

tidak tahu apakah Pek Houw masih ingin melanjutkan pertandingan? Bagaimanapun peluang kalian menang sudah tertutup. silahkan Sam Tiauw mengajukan jago ketiga!” kata Bu Kong Taisu. tapi kalau memang Kiu Tiauw Kwi sudah kehilangan ... hayo serahkan saja obat penawar itu. hasil pertandingan seri. “Hmmm tapi pihak kalian telah berlaku curang. “Dari pihak kedua belah pihak sama-sama tinggal dua orang. Tapi apakah bersenjata atau tidak?!” “Dari pihak kami.” kelit Pek Houw. aku yang akan maju! Go te. “Tidak bisa. Hek in Houw ko (harimau jantan awan hitam). “Keduanya terluka. karena dari awal sudah dapat ditebak pemenangnya.he. dan dapat dipastikan dalam pertandingan itu kami akan kalah. “He. karena ia ingin mengakhiri pertarungan secepatnya. jurus-jurus serangan Sam Tiauw sangat mantap dan terasa menggiriskan. Pek Houw!” balas Bu Kong Taisu.heh.he. Namun karena sudah terlanjur kesal.. Sam Tiauw kalau kami berdua melawan kalian berdua jelas kami merendahkan kemampuan Kiu Tiauw Kwi. “Biarlah pertandingan pertama ini dinyatakan seri!” jawab Sam Tiauw pahit. “Baik marilah kita mulai. pihak kami bukan pemenang. “Sekarang gantian pihakmu yang mengajukan jago Pek Houw!” timpal Go Tiauw. dan kami akan ampuni jiwa anjing kalian!” bentak Sam Tiauw. pihak kami tidak bisa dibilang kalah!” seru Pek Houw keras. tolong jaga Liu Siang” jawab Sam Tiauw pendek..tidak bisa. artinya pihak kalian lagi yang harus mengajukan jago. Pertarungan kemudian segera dimulai. “Baik.Adapun pukulan tapak tangan kiri Pek Bin Hek Mau Kwi bo yang beracun bisa membahayakan. sehingga tangan keduanya patah-patah. Perlu waktu beberapa tahun untuk bisa menyembuhkannya. “Pertandingan kedua dimenangkan oleh pihak Sam Tiauw. silahkan kalian menyerang lebih dahulu. maka Sam Tiauw segera merawat Si Tiauw. Pertandingan antara Sam Tiauw dan harimau jantan terasa kurang menarik. tapi kalau kalian berani maju satu per satu matipun kami rela jika kalian bisa mengalahkan kami. Sam Tiauw melukai Hek in Houw ko.” Lelaki berusia empat puluhan lebih yang merupakan murid Pek Houw segera bersiap.

Sungguh kemahiran bicara Pek Houw harus diakui sangat lihai. mereka dapat menikmati dan mengagumi jurus-jurus yang belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. “Baiklah. Pertandingan satu lawan dua tidak seimbang untuk Go Tiauw.sifat keksatriaan aku tak tahu lagi. Wajah Sam Tiauwpun menjadi merah padam. Bu Kong Taisu makin terpaku pada pertandingan sehingga. namun dalam hal lweekang masih di bawah Pek Houw. tak menyadari bahwa sejak beberapa saat yang lalu.” kelit Pek Houw membela diri. Go te lawanlah mereka! Jangan kasih ampun yang muda sekalipun!” Maka majulah Go Tiauw ke kalangan. Mereka adalah orang-orang sakti maka dengan pandang mata mereka yang terlatih. Bu Kong Taisu dan Sim Beng Tosu yang menonton hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum. Sam Tiauw mengegoskan kepala. sementara dengan jerit melengking Hek in Houw nio (harimau betina awan hitam) mulai melancarkan serangan pembukaan. kerahkan seluruh kemampuanmu!” bentak Sam Tiauw. Kedua pihak kemudian bersiap. Bersamaan dengan itu serangan susulan dilakukan oleh Pek Houw. Houw nio menarik tangannya karena tak ingin kena totok. Mereka sudah saling terjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi daripada tadi. menahan rasa gusar. pasir dan dedaunan yang sudah berserakan jauh ketika pertempuran sebelumnya makin terbang lebih jauh. meskipun ia masih menang dalam hal ginkang. Go Tiauwpun kemudian bersila untuk bersamadi memulihkan lukanya. “Sim Tosu. Tanpa . jari-jari tangannya menyentil siku harimau betina. Yang tampak olehnya hanyalah putaran tangan berwarna putih di antara asap hitam. Akibatnya luar biasa. Juga mereka merasa ngeri karena setelah kini mereka dapat mengikuti serangan iblis kate itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya. pertandingan terakhir adalah penentuan!” kata Bu Kong Taisu. karenanya dalam dua puluh juruspun sebuah pukulan mengenai dadanya dan membuatnya terjatuh. penasaran dan malu. seperti merpati bermain-main diantara awan hitam. Sim Beng Tosu sudah menjauhinya untuk mendekati nenek muka pucat. tangannya membentuk cakar penyambar cepat ke ubun-ubun Sam Tiauw. majulah! Jangan kepalang. keadaan jadi seri. Bayangan mereka sudah lenyap. Pek Houw memasang kuda-kuda. sudikah menjaga Liu Siang sebentar?” pinta Sam Tiauw pada tosu Kong Thong Pay yang tak lain adalah sute dari ketua Kong Thong Pay. Sam Tiauw mengimbangi dengan tangkisan dan serangan balasan yang tidak kalah sengitnya. “Pertandingan tiga dimenangkan oleh pihak Pek Houw. cakar tangannya menyambar-nyambar. dan akal bulusnya sangat licin. “Pek Houw. dari lengan keluar kabut hitam yang berbau sangit seperti karet dibakar.

Sam Tiauw bukannya tidak sadar kalau dibokong tetapi karena ia sedang konsentrasi menghadapi serangan Pek Houw maka senjata rahasia berupa karang yang diasah hingga runcing amblas ke dalam punggungnya..!” “Ayaa. Akibatnya tubuhnya terlontar satu tombak dan roboh terguling.. Yang jelas begitu menerima tubuh Liu Siang.. “Wuss.. “Berhenti hoi! Tunggu! Pengecut!” Bu Kong Taisu berteriak-teriak dengan suara mengguntur sambil lari mengejar lawan...prakk. Bu Kong Taisu masih terpaku dengan mata yang berbinar-binar... menuju dinding bukit yang ada guanya. Mereka berlima tanpa mengindahkan seruan biksu itu tetap saja tunggang langgang melarikan diri dari arena.. Wajah tosu itu kelihatan memerah. semoga budha mengampuni hamba yang kesalahan tangan memukul lelaki ini hingga mati” kata Bu Kong Taisu dengan wajah sedih.auuughh.... Entah pikiran apa yang berkelebat di otak tosu itu.. Tetapi yang mengejukan Sam Tiauw adalah pukulan kakek kate yang terasa dingin.. Lebih dari lima senjata rahasia dilontarkan secara menggelap oleh nenek muka pucat untuk menyerang Sam Tiauw. “Lariii!” seru Sim Beng Tosu. Seketika itu juga ia tak mampu menggerakkan tangan. Gerakan Sam Tiauw dan lawannya makin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi. dan akibatnya dua pukulan dan satu tendangan Pek Houw mengenai dada dan perutnya.sepengetahuannya. Akibatnya tubuhnya roboh terguling dan menghembuskan nafas terakhir. jika ada orang memperhatikan pasti akan kaget.... Terlihat bahwa tingkatan Sam Tiauw masih satu level di atas Pek Houw. Ditambah lagi asap hitam yang makin tebal keluar dari tangan Pek Houw makin mngaburkan pandangan. Beberapa saat kemudian nenek itu seperti sudah pulih dari lukanya. dengan nafas yang bergelombang dan tangan gemetar. yang satu tidak mengenai sasaran sedang yang satunya lagi mengenai punggung Sam Tiauw.. tapi tiba-tiba binar itu berubah ketika sekonyong-konyong terdengar bunyi desingan senjata rahasia yang dilontarkan dalam jarak dekat.. Namun perlahan asap itu terlihat makin meminggir terkena gelombang hawa pukulan Sam Tiauw. hanya selisih sedikit dengan kemampuannya. tosu itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung si nenek.wusss. “Omitohud.” seru Bu Kong Taisu...dess!” bunyi desingan senjata rahasia itu mengakhiri pertandingan antara keduanya.. Bu Kong Taisupun terkejut dengan akibat serangan yang ditimbulkannya. “Prak.wuss. sambil menggendong Liu Siang.. Ia tak mampu menahan serangan pukulan jarak jauh Bu Kong Taisu. Houw ko (harimau jantan) yang sudah terluka lari paling belakangan. Bu Kong Taisu hanya mampu menangkis tiga diantaranya. .

.siapa percaya omongan tosu tengik seperti kamu.Dengan pengecut Pek Bin Hek Mau Kwi bo... “Bagaimana kalau kita tawarkan kesembuhan gadis ini.” seru nenek itu perlahan.heh.. pasti mereka tidak akan mau. “Suhu.. bukankah kamu menghendaki gadis itu...tidak sebaiknya kita kembali ke sana.plakk. baik menekan-nekan sampai berusaha mendobrakknya. Serangan keduanya sungguh dasyat bukan kepalang.. “Ahh. kita semua bernasib sama di sini. namun tangkisannya tidak cukup untuk membendung benturan tenaga yang sangat dasyat.” Bu Kong Taisu menangkis serangan mendadak ini. apakah maksudmu membawa gadis ini?” tanya kakek kate itu dengan mulut menyeringai dan mata memandang curiga. dan hmmm kalian jangan bercuriga seperti itulah.ini dia.percuma.” jawab Sim Beng Tosu. berkali-kali ia mencoba namun tetap gagal. padahal mereka berempatlah yang telah berkorban untuk menyelamatkan mereka. “Apakah kita paksa saja orang-orang tibet itu untuk mengaku?” tanya nenek muka pucat. iya.. Bu Kong Taisu terus mengejar. dan tanpa komando menyerang secara bersamaan. Merekalah yang telah berkhianat mengeluarkan kakek kate dan nenek muka pucat itu. “Dugg. Kesempatan ini digunakan oleh kedua lawannya untuk mendaki dinding tebing. Akibatnya tubuhnya terdorong satu tombak.. “Gimana baiknya?” tanya Sim Beng Tosu.. akhirnya mereka beristirahat. .. heh jangan harap ya! Selama nenek muka cantik ini tak memberikan obat penawar jangan harap ia bisa bangun lagi. dan bergoyang-goyang. “Eh. disini letak kuncinya. mereka pasti sudah tak mau mengampuni kita.Sim Beng Toyu.. cepat gunakan tenaga es yang sudah suhu latih itu!” kata Houw nio. Ketiga memasuki gua itu Houw nio meraba-raba dinding dan mendapati tempat yang merupakan kunci pintu goa.” cibir nenek muka pucat itu. Sedang serangan satu orang saja sudah sedemikian hebatnya. “Tidak..he.. “Huhh. Betapa malangnya nasib anak buah yang ditinggalkan.. Namun sampai yang kesekian kalinya masih tetap gagal. Yang lainpun secara bergantian ikut mencoba..” jawab Pek Houw.. Pek Houw dan Hek in Siang Houw yang tinggal betinanya saja.. lari terbirit-birit meninggalkan anak buah yang telah terkapar.. Kakek kate itu mencoba menuruti usul muridnya. namun ketika mendekati dinding kedua kakek dan nenek itu menghadang.he.

“Aha.” lerai Pek Houw. kita sate rame-rame tosu cobul ini!” ancam Pek Houw.dulu. hanya saja sepertinya mereka cepat sekali gerakannya.“Toa nio dalam keadaan seperti ini masih perlukan omongan seperti itu? Jika tidak karena aku bantu apakah kiranya kita bisa lolos dari tiga burung hantu itu?” balas Sim Beng Tosu tak kalah sengit.Houw Nio. Biasanya mereka keluar fajar. aku masih mengira-ngira.. ketika Pek Houw mencoba-coba setelah beberapa kali akhirnya bisa juga pintu itu terbuka. Houw Nio lama sekali untuk bisa mengintip gerakan mereka..” balas Sim Beng Tosu enteng. mungkin nasib kita harus mati kedinginan di sini... hanya . “Sudah.ho..” “Ho. Meskipun keadaan masih belum terlalu terang. “Apakah kau melihat mereka mencuci tangan .sudah. lapat-lapat aku mendengar gemericik air tanda ia cuci tangan. namun gua itu terus naik dan berujung buntu.” jawab Houw Nio yang menjadi matamata mengawasi bagaimana cara Kiu Tiauw Kwi keluar. “Baiklah. eh.. menurutku kunci pintu itu harus dibuka dengan kekuatan hawa im yang mampu membentuk air ini menjadi kunci tiruan. apakah kamu mengamati apa saja yang dilakukan oleh mereka kalau sudah sampai gua ini?” tanya Sim Beng Tosu “Mana aku tahu.” “Benarkan.kalau begitu aku kira-kira tahu!” “Tahu apa? Eh katakan apa yang kau ketahui tosu busuk!” “Sabar. “Ya sudah kalau memang begitu. aku akan coba!” Benar saja. susunya aja udah nonjol gitu! Sapa yang tak tahu otak mesummu tosu palsu. Luar biasa sekali memang pintu keluar ini. Kita harus memikirkan cara keluar dari neraka ini.” jengek nenek muka pucat.. atau mengambil air?” “Aahh iya benar. aku hanya melihat dari kejauhan. nah Pek Houw cianpwe pasti bisa melakukannya. tapi juga kemampuan pendengaran. Kwi bo apa salahnya kalau kamu memberikan sedikit obat penawarnya? Yang penting kita bisa lolos.. hanya saja kalau memang idenya ternyata sampah.. tunggu dulu jangan pundung. apa balasan untuk ide cermerlangku? Toanio berjanjilah memberi obat untuk bocah ini!” “Huh siapa sudi! Bocah apanya... Namun karena terbiasa maka Houw Nio tidak lagi mengandalkan kemampuan penglihatan saja.sabar.cukup! Keadaan kita masih belum aman. “Eh Sim Beng toyu. dari kejauhan. tapi kalau benar pendapatku..

Anggota perkumpulan ini tidak terlalu banyak hanya sekitar empat puluhan. “Heh kunyuk buka pintu untuk kakek gurumu. Sim Beng Tosu masih terus mengikuti mereka. dan belum berani kembali ke Kong Thong Pay.” balas salah satu penjaga dengan muka tak kalah garang.. dengan posisi menujulang di dekat sungai besar. Dari sungai itu perjalanan dapat ditempuh sekitar setengah hari berkuda..ho. di puncak bukit awan hitam keadaan Liu Siang masih aman. “Ho.. Meskipun paham bahwa yang datang bukan orang sembarangan. berdiri perkumpulan yang menamakan diri perkumpulan awan hitam (Hek in Pang). karena awan yang memayungi bukit ini adalah awan mendung yang berwarna gelap keabu-abuan.! Praakkkk. Dinamakan awan hitam. membentuk perkampungan kecil. Lama sekali mereka mencari-cari tombol rahasia. kami tidak melayani pengemis.belum kenal kakek gurumu rupanya. Dengan kepandaian mereka meskipun menghadapi serangan binatang berbisa dan rawarawa berbahaya tidak banyak masalah yang mereka temui.. awan yang berasal dari penguapan sungai mudah sekali berarak ke bukit ini.. Ketika sampai di pintu gerbang. tosu yang membopong seorang gadis.. diiringi seorang nenek yang mukanya putih pucat.. Dan inilah awal malapetaka yang menimpa lembah keramat ini... Puncak awan hitam adalah puncak sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan sungai Yang tse kiang. Di puncak awan hitam inilah. Karenanya sampai di gerbang Hek in Pang.. sehingga perlahan keadaan Liu Siang membaik. yang berjuluk Hek in Lo kwi. namun tak ketemu. Blughh. “Siapa kalian! Katakan nama dan keperluan. Perkumpulan ini didirikan oleh suheng dari Pek Houw.. namun dua orang penjaga ini tak mau percaya begitu saja kalau kakek kakek kate ini kakek guru mereka. neh kenalkan. Terbebaslah mereka dari lembah delapan rembulan. Pek Bin Hek Mau Kwi bo menepati janjinya memberi obat.mereka yang menguasai ilmu es saja yang bisa membukanya. Pek Houw membentak penjaga. namun keadaannya masih lemah dan selalu dalam keadaan tertotok. Mereka tinggal di sekitar markas utama.. Maka keadaan Liu Siangpun tidak mendapatkan gangguan yang berarti karena Hek Mau Kwi bo tak sudi melihat tosu itu memperkosa anak gadis. dengan gaya pongah. Baru setelah hampir putus asa mereka bisa mendorong batu. dan berlututlah seratus kali menyambut kedatangan kami!” Dua orang penjaga itu terkejut melihat kedatangan seorang kakek aneh yang hanya bercawat...! Kompraang!” . bahkan Kiu Tiauw Kwi ke enam ke bawahpun belum bisa melakukannya. Hanya sedikit masalah yang dihadapi Houw Nio ketika kakinya menginjak jebakan yang membuat satu kakinya terluka sehingga terpaksi dipotong sebatas lutut. Karena masih belum tahu tujuan.ho.

namun berbulan-bulan mencari ia tak mendapatkan titik temu. “Ahaa. Tak disangkanya tenaga yang hanya setengahnya mampu mendorong sedemikian hebatnya. tapi dirinya sendiri memiliki wajah yang berbulu agak tebal mirip monyet. kiranya Pek Houw sicu yang datang. Drama itu berjalan mulus. dan ia bersama dengan Hoan bin Kwi Ong berhasil menguasai Hek in Pang.Hanya dengan menghentakkan kakinya akibatnya dasyat. Kejadian ini tidak banyak diketahui oleh anak murid Hek in Pang. Dan . selamat datang. ketua Hek in Pang. Setelah ditinggalkan Tiong Gi. Kakek muka monyet itupun terkejut demi mengenali kakek kate yang baru datang yang bukan lain adalah Pek Houw dan disertai tiga orang yang salah satunya adalah sumoynya. tapi menghadapi keroyokan mereka berdua. akhirnya iapun tewas. murid tertua suhengnya. Dengan mata melirik ke kanan dan ke kiri Pek Houw tidak melihat Hek in Loco. Kebetulan pada saat yang bersamaan Hoan bin Kwi ong mendapatkan tugas untuk menakhlukkan Hek in Pang. Penyebab kematian kemudian dirahasiakan oleh Cu Hoa. Betapa herannya perempuan setengah baya yang memiliki codet di pipi melihat siapa yang datang. Pek Houwpun terkejut melihat hasil yang diluar dugaannya. karena pestanya hanya dihadiri oleh beberapa orang murid saja. maka seketika itu kehadiran Cu Hoa bagai pucuk dicinta ulam tiba. Cu Hoa Pangcu cepatlah beri ucapan selamat datang kepada kakek paman gurumu. Maka gemparlah perkumpulan ini. serta wajahnya yang menunjukkan kelelahan lahir batin. hingga langsung membuat seorang perempuan setengah baya yang sepertinya menjadi pimpinan mereka dan kakek tua berwajah seperti monyet keluar ke halaman depan. mereka berdua datang untuk mengajak kerjasama. ia tak mampu melawan. Hek in Loco sebenarnya tidaklah semudah itu ditakhlukkan. atau yang aslinya Cu Hoa Nionio. Dua orang penjaga itu terlontar hingga menubruk pintu. Cu Hoa berusaha mencari anak pungutnya itu. Aneh memang untuk mendandani orang lain ia adalah ahlinya. kakek muka monyet yang ahli mengubah atau menyamar bentuk muka. selamat bergabung kembali dengan Hek in Pang. akhirnya ia memutuskan untuk mencari Hoan bin Kwi ong. Ia tidak mengenali perempuan setengah baya yang merupakan murid dari Hek in Loco. racun saja tidak mungkin membunuhnya karena ia sendiri mahir menggunakan racun. Iapun bersedia terlibat dalam drama pelenyapan Hek in Loco. bahkan pintu itupun jebol dibuatnya. namun saat pesta. Apakah yang telah terjadi di Hek in Pang? *** Telah lama kita tidak mengikuti perjalanan bibi Tiong Gi yang mengaku bernama Ciu Hong. bahkan salah satu di antaranya hanya berpakaian kain cawat. kionghi. tapi ia mengenali kakek muka monyet yang tak lain adalah Hoan bin Kwi ong. Empat orang yang tiba itu pakaiannya sudah sangat kumal dan kulitnyapun kehitam-hitaman dan berdebu. Cu Hoa menaburkan racun ke minuman Hek in Loco. kawan lama.

syukurlah kau telah kembali. bahwa gurunya masih memiliki seorang susiok kiranya inilah orangnya yang datang. ia dapat merasakan desakan tenaga yang sangat hebat sehingga membuat tubuhnya terhuyung. kami bertahun-tahun mencari jejakmu tapi tak seorangpun pernah menemukan!” “Kwi ong suheng.. Tapi ucapan seperti ini tidak membuat panas hati Hoan bin Kwi Ong.. sehingga ia tidak terdorong lebih jauh. huh lakilaki mulut buaya?” Di dunia hitam dialog memang beda dengan dunia para pendekar yang penuh dengan tata kerama dan sopan santun. tentu saja sebagai tamu aku tidak berani turut campur masalah tuan rumah. sedangkan susiok-susiok yang lain sudah lama meninggal karena permusuhan dengan Yu Liang Pay. ia sudah hafal sekali tabiat dari kakek kate ini. coba kalau Houw nio sudah sembuh ingin sekali aku melihat bagaimana kemampuan kalian. jadi aku tidak bisa dikatakan lagi sebagai orang luar. dan adikadiknya?” tanya Pek Houw sambil mengirimkan serangkum pukulan dari telapak tangannya. Dengan agak berdebar-debar ia menyampaikan juga ucapan selamat datang sambil membungkuk. jika susiokcouw ingin memberikan petunjuk bagi taecu. “Ah kau mengecewakan jadi pangcu dari Hek in Pang. Mereka yang terbiasa berdekatan dengan orang-orang kasar memang sering berbicara lebih blak-blakan.. karena memang ucapan itu banyak benarnya. Adapun Cu Hoa.. maka Ciok Seng. taecu akan melaksanakan petunjuk susiokcouw.Pek Houw sicu kulihat semakin tua kau semakin gagah. sebagai orang luar. Hoan bin Kwi Ong tersenyum saja melihat sodokan pertanyaan seperti ini. sedangkan semua anak murid langsung berlutut. tapi harap kau ketahui sekarang Cu Hoa ini menjadi muridku.” jawab Cu Hoa. “Susiokcouw. Serangkum angin pukulan menghantam Cu Hoa. apakah kau bicara dalam keadaan sehat? Sedangkan dulu ketika aku masih selalu mendampingimu engkau sering acuhkan aku.he. “He.kau sumoy. apakah hubunganmu dengan peristiwa ini?” dengan lantang Pek Houw langsung saja bertanya blakblakan tanpa tedeng aling-aling.. semoga susiokcouw selalu panjang umur!” “Benarkah kau pimpinan baru Hek in Pang. benarkah kau pernah menyuruh anak buahmu mencariku. Untung di belakangnya Hoan bin Kwi Ong cepat memberi bantuan. meskipun aku hadir di .he. Dan iapun tahu belaka kalau dulu sumoy-nya pernah ada hati sama dirinya. waktu masih muda ia hanya mengenal namanya saja. Eh Ce Ting. ia menjadi terkejut sekali mendengar disebutnya namanama ini. suhu Hek in Loco telah meninggal karena sakit. “Taecu Cu Hoa mengaturkan ucapan selamat datang kepada yang mulia susiokcouw.

. okey tak masalah. aku akan lawan pukulanmu dengan ilmu-ilmuku yang lama maupun yang baru.” jawab Pek Houw. sehingga lebih sering berhubungan dengan wanita yang jadi pelanggannya. gaya bicara Hoan bin Kwi Ong sangat halus. kalau aku kalah sudah sepantasnya menuruti kemauan yang menang.apa maumu? Apakah aku harus hengkang dari sini. sudah jelas belangnya! Kaulah dalang semua peristiwa ini.” “Ah kau keliru sicu. “Ahh kiranya Pek Houw sicu masih berjiwa muda. ia memang seorang perias.tidak seru kalau tanpa taruhan.. tunjukkan padaku kelihaianmu. Terbongkarnya lembah delapan rembulan “Hemm. mari sicu tidak perlu sungkan. hayo gini saja kalau kau kalah kau harus ceritakan semua peristiwa yang terjadi dan bagaimana sikapku nanti tergantung dari jawabanmu. Tapi tunggu dulu. baiklah pantang bagi Hoan bin Kwi Ong untuk menolak tantangan.” . sicu?” Bab 11. dan bergaya orang sekolahan. tapi yang paling penting dalam mewujudkan cita-cita besar. tentu saja aku akan disebut pengecut kalau tidak berani menghadapi pukulan awan hitam. apa kirakira taruhannya.sini sebagai tamu. kalah lawan Hoan bin Kwi ong cukup wajar jika memaksaku pergi dari sini.benar. hayo aku ingin sekali mencoba kelihaianmu merias wajahku.” jawab Hoan bin Kwi Ong tenang. jadi bisa kita sepakati taruhannya?” “Kerjasama? Dalam hal apa?” “Dalam banyak hal. “Hayo kau keluarkanlah tapak kelabang andalan perguruan kalian atau tapak yang lainnya. Pada masa mudanya..” “Ah sesukamulah..” seru Pek Houw sambil ancang-ancang mulai serangan.. hayo kamu pake senjata apa tangan kosong?” “Hmmm. “Bagaimana kalau aku yang menang sicu?” “Ah tidak mungkin! Tapi hmmm. Aneh memang meski tampangnya seperti genderuwo tapi lagaknya yang lembut sangat menawan para pelanggan. “Huh. aku justru ingin mengajakmu kerjasama. Memang kontras sekali dengan bentuk tubuh dan wajahnya.

sedangkan Kwi Ong terpental lima langkah. Dua hawa pukulan yang mengandung hawa sakti yang berlawanan sifat bertemu di udara...... keganasan sifat pukulan tapak kelabang menjadi lebih buas lagi. Dengan gerakan memutari ia sering bisa mencuri setengah atau satu jurus pukulan. Pukulan dari tangan Pek Houw yang bersifat im bertemu dengan pukulan Kwi Ong yang bersifat panas. Dadanya terasa agak nyeri.bluarrrr!” Terdengar bunyi mirip logam panas yang dicelup ke dalam air es. aku mengaku menyerah. digabungkan dengan ilmu barunya yang dinamai Hwee kauw sin kun (silat sakti kera api). awan hitam membongkar gerbang! Hiaaatt.Serangan demi seranganpun mulai dilancarkan kedua belah pihak.. Dari tangan Pek Houw keluar asap hitam yang sangat tebal. Sedangkan Kwi Ong menggerakkan kedua tangannya seperti kitiran. hayo sesuai janjimu coba ceritakan apa . “Cessssssss.! Pek Houw bergerak bagai terbang ke depan. Namun meskipun bertubuh kate orang keliru kalau menilai Pek Houw lebih lemah.... Hawa dingin yang keluar dari tapak tangan itu sungguh menggiriskan..! “Pek Houw. hingga seakan-akan awan sungguhan yang bergerak.. asap hitam yang keluar dari kedua lengannya seolah membungkus tubuhnya. bahkan kadang-kadang bisa mulur ke depan sehingga membuat gerakan Pek Houw yang kate seperti hanya berputar-putar di tempat. “He he heh. Para penontonpun yang melihat mulai pening mengikuti gerakan yang sangat cepat itu. Pukulan demi pukulan yang dilancarkan juga membawa kesiuran angin yang berhawa dingin menusuk tulang. meskipun terluka namun tidak terlalu parah.. “Ce Ting coba tahan pukulanku ini. seperti awan hitam menerpa baling-baling berwarna merah. Dengan gabungan kedua ilmu ini. diringi suara benturan keras. Arena pertarungan juga menjadi makin lebar..Hek in Pek Houw makin tua makin gagah.. dari tapak tangannya keluar serangkum hawa yang panas luar biasa. lengannya memerah.. karena bagi orang yang telah menguasai ilmu secara sempurna jarak tetap bisa diatasi dengan kecepatan. akibatnya Pek Houw terdorong satu langkah ke belakang. Lantai yang mereka injakpun sudah melesak ke dalam.. Sebaliknya Hoan bin Kwi Ong juga melayani serangan lawan dengan mengeluarkan ilmu-ilmu lama seperti pukulan tapak kelabang khas perguruan mereka. Luar biasa sekali hasil dari gempuran-gempuran awal.!” . Tangannya bergerak cepat. Telapak tangannya berubah memerah seperti bara.. Kedua tapak tangannya terbuka...” “Hmmm kalau bukan sobat lama tentu aku tidak bermurah kepadamu Kwi Ong... awas serangan balikku kera api membakar langit! Hiaatt..

Pek Houw memang sengaja melakukan itu agar tengkorak hitam turun gunung. Ketika Sim Beng tiba diluar. tempat persembunyian orang-orang tibet yang berjuluk burung hantu dari gunung salju besar. yang berarti cerita mengenai lembah akan dikenal oleh semua orang termasuk kelompok tengkorak hitam. Pek Houw. Di luar ia dihadang oleh tiga orang penjaga. Makin yakinlah ia Liu Siang telah berhasil melarikan diri. *** Begitu kelompok ini mendengar berita. Lebih sedih lagi karena Sam Tiauw kini menjadi orang cacat yang sudah tidak bisa lagi bersilat. namun ia bersabar menanti saat-saat yang paling tepat. “Heiii kemana anak gadis itu? Celaka ia melarikan diri. segeralah mereka menyerbu ke lembah. hingga semua roboh tak sadarkan diri. dua orang yang baru datang dari negeri salju masing-masing membawa seorang remaja yang akan mereka didik. Ia berusaha lari ke arah utara. Ji Tiauw. Akhirnya Cu Hoa dengan nada membentak menyuruh beberapa anak buahnya membantu mencari anak gadis yang telah melarikan diri. Betapa sedih dan gusarnya keempat tetua ini demi mendengar cerita pengkhianatan di lembah yang menyebabkan lolosnya tawanan. Karena keadaan genting It Tiauw memerintahkan Si Tiauw dan Go Tiauw untuk mencari bantuan kepada nenek besar dari Tai Swat san untuk mencari suhu mereka dan Liu Siang. Beruntung saat itu di lembah empat dari Kiu Tiauw Kwi telah kembali ke markas. terlihat ada tiga anak buah awan hitam yang tergeletak pingsan di halaman belakang. Kwi Ong dan Kwi bo hanya mengomel dan menyumpah serapah atas kebodohon tosu cabul itu. Cit . namun karena bingung menentukan arah yang tepat ia justru lari ke arah barat laut. Gosip inilah yang akhirnya tersebar ke seantero dunia persilatan hingga terdengar kelompok tengkorak hitam. Adapun It Tiauw. karena suasana telah berubah. ia dengan merangkak berhasil keluar dari kerumunan penonton dan segera melarikan diri menuju ke arah belakang. Sekalian mereka membawa dua remaja untuk dikembalikan ke asalnya. dan setelah memperoleh informasi yang dibutuhkan. Liu Siang terus melarikan diri menjauhi bukit itu. ia memang tahu permusuhan tujuh turunan dua laskar ini. Dan memang dugaan Sim Beng Tosu tidaklah keliru. Sebenarnya sudah sejak diturunkan dari pondongan totokannya telah terbebaskan. dengan perlahan-lahan.Belum selesai Pek Houw bicara sekonyong-konyong terdengat teriakan Sim Beng Tosu. Pada saat ia asik mengikuti pertandingan. Maka ketika Sim Beng Tosu terlena. Karena tawanannya lolos maka Pek Houw menyuruh Cu Hoa untuk menyebarkan informasi mengenai lembah delapan rembulan. namun kalau hanya menghadapi kroco-kroco begitu dengan enteng Liu Siang berhasil memberikan hadiah bogem mentah kepada ketiganya.” Suasana mencari riuh rendah ketika Sim Beng Tosu berusaha mencari kesana-kemari. Liu Siang bisa meloloskan diri. langsung saja mereka bergerak menuju sumber berita.

“Bagaimana kalau musuh datang.he. “He.. keadaan di lembah benar-benar terasa dingin menusuk tulang. Keempat tetua menjadi terkesiap. dan mencari suhu?” tanya Pat Tiauw pada suheng pertamanya.Tiauw dan Pat Tiauw tetap berdiam di lembah..” timpal Sam Tiauw.” desis Pat Tiauw dengan wajah pucat. “Suheng. “Tengkorak hitam. Belum selesai mereka berdiskusi. “Ha.aku khawatir ketika suhu datang. Kabut dari pagi menyelimuti lembah itu. kalaupun kalian meninggalkan lembah ini aku tetap akan tinggal di sini. Jubah mereka berkibar-kibar terkena angin.. Dia pula yang paling khawatir mendapat serangan musuh. lembah dalam keadaan kosong.ha.. dari getaran suara yang terkirim mereka bisa menduga bahwa musuh yang datang adalah lawan-lawan yang berat... Keempat kakek ini ratarata sudah berusia di atas enam puluh tahun.benar kami telah datang!” Benar saja. bagaimana kalau kemudian lembah diduduki oleh pihak musuh? Sebaiknya kita disini saja!” “Benar.. Ketika dekat titik itu terlihat yang berbentuk seperti payung itu membawa delapan orang berjubah hitam.heh. lima orang pendekar yang namanya pernah harum di negeri salju duduk bersila mengelilingi api unggun. apa tidak sebaiknya kita tinggalkan saja lembah. itupun keadaan sam suheng seperti ini” bantah Pat Tiauw.. dari balik keremangan kabut dari atas tiba-tiba mereka melihat delapan titik melayang turun ke bawah.. “Hmmm..ha. Mereka sedang mendiskusikan masalah yang sedang mereka hadapi. sedangkan kita disini hanya berlima. aku tidak melihat Yung Ci. . Waktu itu musim dingin telah tiba. Di antara sembilan burung hantu gunung salju besar memang dia yang paling mudah panik.. Topeng tengkorak berwarna hitam. Delapan orang adalah jumlah terbesar yang pernah keluar dari markas tengkorak hitam. It Tiauw dan keempat sutenya benar-benar terperanjat melihat kedatangan mereka. sekonyong-konyong terdengar suara ketawa bergema di lembah. Sungguh kedatangan musuh besar yang berkekuatan hampir penuh. Begitu kaki mereka menyentuh tanah tampaklah semuanya bertopeng. Di depan istana kapur.. Ayo Yung Ci keluarlah!” seru salah seorang bertopeng itu dengan suara menggelegar. hanya Pat Tiauw yang bertubuh paling berisi di antara mereka yang berusia lima puluh lima tahun. apakah dia masih bersembunyi di balik selimut.

.. tapi memperdalam kepandaian. Kini kekuatan mereka telah kembali pulih bersebelas. iblis tengkorak emas. suhu kami tidak lari. tak tahu apa maksud kedatangan kalian? Kalian telah mengusir kami dari kampung halaman..ha.. tak sedikitpun kami gentar!” balas It Tiauw dengan suara tak kalah bergemanya.. Jangan kira kami takut atau akan mundur selangkahpun menghadapi kalian! Jangankan hanya berdelapan.ha.Tapi bukan sifat mereka takut menghadapi musuh dalam keadaan bagaimanapun. bahkan sampai sekarangpun suhu belum kembali!” balas orang yang paling pendek di antara mereka.. biarlah selamanya aku tak kan menginjakkan kaki lagi ke sini...masih perlukah diperdebatkan lagi dendam yang telah berakar selama tujuh turunan. sekalipun bertiga belas. Dan jika orang memicingkan mata melihat tulisan di jubah bagian dada kanan. apakah kalian telah lupa belasan tahun silam kalian telah bunuhi saudara-saudara kami. tinggal menunggu ketua mereka dan tengkorak emas.. berarti memang kepergian mereka bukan main-main. awas kelak kalau beliau datang. maka mereka tinggal dua belas. Kini kami telah hidup tenang di lembah ini. “Keparat.. ia akan tahu tengkorak nomer berapa yang berbicara..penjajah selalu punya alasan untuk meneror pejuang. Dengan hanya menyisakan tiga orang lagi di markas. “Tengkorak hitam! Ketahuilah kami di sini hanya berlima. di lembah dingin seperti ini. Tengkorak hitam adalah laskar yang berjumlah tiga belas. Namun di tangan mereka senjata-senjata itu .ha. huh kalau hari ini aku tidak bisa sate kalian semua.. si iblis.belasan tahun kalian menyembunyikan ekor. sedangkan suhu kalian aja terbirit-birit meninggalkan gelanggang!” jawab Ji Tiauw.. keduabelas tengkorak hitam bertanding dengan dua belas ksatria salju. mula-mula dibentuk oleh Wan Cun Ming.. “Ha.. masih tak bermalu mengaku pemberani. Karena tengkorak emas sudah puluhan tahun lenyap. Senjata yang dilemparkan memang hanya sebuah besi pipih berbentuk tengkorak seukuran jempol tangan.kawan-kawan bentuk formasi badai meteor!” Secara teratur empat orang kemudian membentuk formasi setengah lingkaran dan tiba-tiba empat yang lainnya menaiki pundak kawannya dan langsung melepaskan puluhan senjata rahasia.. sehingga mereka tinggal lima.” “Siapa takut menghadapi kroco-kroco seperti kalian. Pada belasan tahun silam. Kelimanya selanjutnya merekrut anggota baru dan mendidiknya. Sisa enam orang dari tengkorak hitam itupun kemudian ditinggalkan oleh tengkorak nomer satu.ha. Dengan sikap gagah mereka berdiri menyambut kedatangan musuh-musuh yang siap bertempur. “Hemm. atau pimpinan mereka. Hasilnya enam dari dua belas tengkorak hitam tewas. sedangkan dari pihak ksatria salju hanya dua. apakah kalian masih belum puas?” “Ha.

. Jangankan tubuh manusia. mereka lupa pada Sam Tiauw yang hanya bisa duduk di kursi. “Awas lindungi sam sute!” teriak It Tiauw sambil melirik sutenya. Selanjutnya terjadilah pertempuran perang campuh yang sangat hebat. tiga senjata rahasia yang luput dari kedua sutenya langsung menyelonong mengenai dirinya.. Dari tingkatan kepandaian.cring. secepat kilat keempat Tiauw Kwi meloloskan pedang dan memutarnya sebagai bentuk pertahanana..cring... senjata tengkorak hitam berbentuk seperti tulang lengan. Namun berbeda dengan senjata orang kebanyakan.wuss.wuss. empat Tiauw Kwi sebenarnya seimbang dengan empat dari tengkorak hitam. Namun karena kabut mereka tidak bisa melihat apa-apa.wuss. sedangkan pohon maupun batupun berlubang tertembusi senjata ini.. tanpa kuasa menangkisnya..cring.augh. sedangkan empat .. Beberapa butir senjata milik mereka yang sempat di tangkapnya dilepaskan kembali saat ia terbang. Semuanya menggunakan senjata. meskipun sebilah pedang ada di tangan. Dengan secepat kilat tengkorak nomer dua telah meloloskan senjata dan menangkis serangan It Tiauw.. Sayang teriakannya telah terlambat. sehingga sosok yang disungginya ikut kerepotan..wuss.. Sungguh seperti kata pepatah: senjata makan tuan! Dua orang yang tertembusi pahanya oleh senjata rahasia jatuh tersungkur. Namun mereka tak kalah sigap. dengan ujungnya berupa mata tombak... Kemarahan menyelimuti rona muka It Tiauw. bagaikan hujan meteor..wuss. cring. Suasana pertarungan mirip peperangan.. karena tingkatan empat tengkorak hitam ini urut dari nomor dua sampai nomor lima...wuss.cring. yang merah membara saking panasnya. Tiga buah piauw telah menembusi dada dan perutnya..wuss..wuss. sehingga dua orang diantaranya tertembusi oleh piauw mereka sendiri.... Tiga buah piauwpun meluncur cepat dari tangannya mengarah ke sosok yang berada di bawah..cring.. “Wuss... Panas yang ditimbulkan juga menyebabkan rumput-rumput kering menjadi terbakar. orang-orangpun kemudian menaiki bukit di sebelah timur lembah untuk melihat apa yang terjadi. dengan penuh keberanian ia kemudian nekad melompat tinggi untuk menyerang salah satu dari penyerangnya..cring.bisa berubah menjadi hujan badai bintang jauh.. Enam manusia bertopeng tengkorak mengepung empat orang Tiauw Kwi. Bunyi denting bertemunya logam terdengar sangat nyaring dan bergema hingga ke desa-desa sekitar.!” Puluhan senjata-senjata rahasia meluncur dari tangan keempat tengkorak hitam penyerang yang berada di atas pundah kawannya.. Namun karena saking terpakunya pada serangan pada diri masing-masing..crin g. Serangan balik ini sungguh tak pernah diduga sebelumnya. Karena dua anggotanya terluka sehingga tinggal berenam merekapun tidak bisa membentuk pola penyerangan dalam barisan.. cring.

Pada saat itu. Namun secepat kilat pedang di tangan kanannya meluncur kedepan. sehingga ketiga sutenya bisa terbebas dari kurungan. Swat kong kiam hoat aslinya diciptakan oleh Lau Cin Shan. It Tiauw mendengar suara lembut dari kejauhan. “Haiyaa. namun jurus yang diajarkan kepada istrinya hanya sampai ke tiga puluh. sedangkan tangannya sekuat tenaga melancarkan pukulan tapak es ke salah satu kaki penyerangnya. It Tiauw sebenarnya sedikit lebih tinggi kepandaiannya dari tengkorak nomor dua. Makanya hal ini sungguh mengejutkan hati It Tiauw.. Dengan segera iapun memerintahkan sutenya untuk lari ke dalam istana. Karena di kepung oleh enam orang. Padahal jika saja Yung Ci mendapatkan jurus-jurus terakhir itu. Hawa panas yang keluar telah membakar semak-semak dan bunga di sekitar mereka. tiba-tiba berkelebat kekhawatiran bahwa ilmunya kelak akan disalah gunakan orang. namun It Tiauw masih belum lupa siapa pengirimnya. Namun sebaliknya posisi It Tiauw yang rebah juga sangat rawan serangan tendangan lawan. Namun sebisa mungkin mereka tetap memberikan perlawanan yang kokoh.tenaga tambahan yang juga memakai topeng adalah anggota baru. Dari pihak lawanpun selain memainkan senjata mereka juga mengirimkan ilmu pukulan yang mengandung hawa tenaga yang sangat dasyat.aduhhh!” terdengar teriakan dari salah seorang penyerangnya yang kakinya telah retak terkena pukulan. seorang diripun ia sanggup mengalahkan kekuatan dua belas tengkorak hitam saat ini. Lingkaran pedang mereka semakin lama semakin sempit.” Meskipun sudah lama tidak pernah mendengar suara ini. nenek besarmu telah bertemu dua orang sutemu dan menolong Liu Siang.. terdiri dari lima puluh jurus.. Serangan ini membuat lubang terbuka. perlahan-lahan kedudukan mereka menjadi terdesak. Akibatnya “Bresss!” sebuah tendangan mengenai lengan kirinya. “It Tiauw bawalah sute-sutemu lari dari lembah ini. Secepat kilat mereka kemudian melompat sambil menarik tangan It Tiauw. tubuhnya seolah-olah rubuh ke depan dengan posisi telentang. Itulah sebabnya maka ia menyimpan dua puluh jurus terakhir di suatu tempat. Dua puluh jurus sisanya baru selesai dituliskan pada saat-saat istirahat dalam perang. Belasan tahun yang silam mereka kelihaian orang-orang tengkorak hitam belumlah seperti sekarang ini. Dalam posisi miring ia mengirimkan dua kali tusukan ke kanan dan ke kiri. Pada saat dalam perjalanan menuju ke rumah isterinya.. Ji Tiauw seimbang dengan tengkorak nomor tiga namun Cit Tiauw dan Pat Tiauw lebih rendah dari si nomor empat dan nomor lima. Dengan menggunakan ilmu pedang cahaya salju (Swat kong kiam hoat) yang memang memiliki daya tahan sangat luar biasa. Ilmu pedang ini memang cocok untuk pertahanan. Aku tunggu di tepi sungai. Serangan yang dilakukan menyebabkan mereka melupakan . Dengan nekat ketiga sutenya melancarkan serangan-serangan dasyat ke arah kepungan lawan. Tiba-tiba It Tiauw merubah gerakan pedang. sampai puluhan jurus mereka mampu bertahan. menyerempet dada lawan.

“Hmm apakah mereka lari keluar lewat lorong rahasia?” bisik tengkorak nomor dua. namun karena keterpaksaan mereka mengisinya berempat. Maka begitu pelontar itu bergerak...wuss. dengan bergegas mereka mengambil tongkat pelontar itu.. Begitu sampai di ujung lorong itu mereka kemudian menggeser batu penutup lorong rahasia.pertahanan sehingga satu dua tusukanpun mengenai tubuh mereka.. Di sungai kecil yang airnya deras itu terdapat tiang pelontar. Ketika empat orang tengkorak hitam hendak mengejar... dua orang sudah keburu masuk istana.. Tangannya sudah mengepal kepingkeping senjata rahasia. Lorong inilah yang menghubungkan istana dengan sungai... Kita tunggu saja dulu sebentar!” Tengkorak nomor dua kemudian duduk bersila.... dengan sikap mematung.. Ia bertekad untuk menyimpan mayat sutenya di dalam istana.. Dan tepat di ruang tamu tiba-tiba saja lantai yang mereka injak terbuka.aaachh.cepp.. Tak lupa It Tiauw meskipun dalam keadaan kepayahan masih sempat menyambar tubuh Sam Tiauw... tangan tengkorak nomor dua mengibaskan pelorpelor senjata rahasia. Karena tertindas suara gemericik air sungai kegiatan mereka tak terdengan oleh tengkorak nomor dua.. Ia mengerahkan segenap kemampuan pendengarannya yang memang terlatih baik.. pimpinan mereka melarang. Mata yang mencorong dibalik topeng itu bergerak liar ke sana ke mari.wusss.cring.cring. melemahnya kepungan menyebabkan mereka bisa lolos dan lari ke dalam istana. dengan kecepatan seperti iblis.. memasang keranjang dan menaikinya.. Sesampainya di mulut lorong. Melalui lorong yang menghubungkan mereka ke sungai.. dua diantaranya berhasil ditangkis oleh . Dari dalam istana mereka berempat sudah mempersiapkan keranjang. Sebenarnya keranjang itu hanya mampu menampung dua orang. kalian tetap kejar juga. dua orang sute terjatuh! Bagaimana kita dapat menolongnya?” “Sudah kukatakan jangan kejar. dan mereka terjatuh ke dalam penjara bawah tanah. keempat Tiauw Kwi ini berjalan perlahan menuju ke arah sungai. “Jangan kejar!” Namun terlambat. “Wusss. Memang benar dugaan tengkorak nomor dua ini... Namun beruntung..! Lima keping senjata rahasia berbentuk tengkorak melaju dengan kecepatan yang luar biasa. Betapa terkejutnya ia demi menyadari ada gerakangerakan halus di bawah. “Hei dasar tolol! Berbahaya sekali memasuki istana yang telah berisi jebakan!” “Suheng. Namun jangan dikira dia kehilangan kewaspadaan..

akibatnya ia terlempar dari keranjang.” “Selamat tinggal saudaraku. dan sesaat kemudian dari balik semaksemak bermunculan Si Tiauw. Dalam waktu sekejab ujung tiang pelontar itupun sudah membentur dahan pohon yang cukup tinggi dan tepat pada saat terlontar. matanya bening teduh. Go Tiauw. sehingga Pat Tiauw harus meneteskan air mata.. Dalam posisi masih melayang di udara. Tubuhnyapun ikut terjatuh ke dalam danau kecil di bawah air terjum. dan mendarat dengan selamat di atas rerumputan di atas tebing. tetapi bagian lengan tidaklah terlalu berbahaya. karena seakanakan perpisahan itu terjadi untuk selama-lamanya. Dengan sesenggukan Pat Tiauw tidak bisa menutup-tutupi kesedihannya. posisi lontaran mereka tidak tepat. jika Thian belum menghendaki saudara-saudara mati. Pat Tiauw yang secepat kilat menjulurkan tangannya meskipun berhasil menangkap baju..” ketiga orang itupun terlontar ke arah barat ke dekat air terjun.. namun satu keping berhasil mengenai pundak kiri Cit Tiauw. meskipun sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun. Ji Tiauw dan Pat Tiauwpun terlontar ke atas. kelahiran.. ketiganyapun menjejakkan kaki mereka mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh ginkang.” teriakan Pat Tiauw dari atas tebing bergema ke seluruh lembah. meskipun terkenal mengandung racun maut. ... mautpun masih enggan menjemputnya!” tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinga mereka. Bagaimana dia tidak merasa sedih kalau kematian suhengnya adalah demi menyelamatkan jiwanya.. namun tiba-tiba lengannya kesemutan dan akhirnya iapun melepas Cit Tiauw.. Seruan yang sungguh mengharukan. “It suheeeeng. masih mampu melayang ke arah semak di sekitar air terjun. “Suheeeenggg. Namun gerakan refleks tangan kanan menutup pundak kiri membuat keranjang kecil yang penuh sesak itu oleng. It Tiauw mendorongkan serangkum tenaga sekuatnya ke arah dua orang sutenya. Mestinya mereka dapat mendarat dengan aman di semak-semak sebelah kiri air terjun. Luka yang ditimbulkan sebenarnya tidak terlalu membahayakan. “Tidak perlu ditangisi. “Wesssss. Jarak antara pohon yang menjadi as pelontar dengan ujung dinding sebenarnya ada puluhan tombak.. Liu Siang dan seorang nenek berwajah teduh menyunggingkan senyum yang ramah luar biasa. namun bagi mereka yang memiliki kemampuan ginkang tingkat tinggi. wajahnya agak bulat. namun masih terlihat bugar. namun karena oleng posisinya justru tepat ke arah air terjun.pedang Ji Tiauw. namun sebagai akibat dari gerakan ini tubuh It Tiauw meluncur ke arah air terjun dan terjatuh ke bawah bersama kucuran air. jodoh dan kematian sudah tercatat dalam suratan takdir. Sayang karena oleng dan kelebihan beban. dua lagi dapat mereka hindari.. jaga diri kalian baik-baik!” dalam keadaan melayang di udara Cit Tiauw masih sempat mengucapkan kata perpisahan yang menggores di hati mereka.. begitu menyadari posisi mereka tidak akan sampai di ujung tebing.

Waktu ia bertanya-tanya ke mereka. Laskar negari adalah laskar penjajah bentukan Sung. Marilah kita ikuti perjalanan Liu Siang melarikan diri dari puncak awan hitam. dan ditugaskan di wilayah-wilayah sempadan. *** Setelah bisa meloloskan diri dari puncak awan hitam Liu Siang berusaha lari ke arah utara. memiliki kepekaan bathin yang bahkan melampaui kemampuan sutenya. ia sudah merasakan ada hal yang tidak beres di tempat persembunyian Yung Ci dan murid-muridnya. Meskipun di sana ia harus menelan mentah penghinaan yang dialami oleh warganya. nenek Wei Sian tidak mau meninggalkan kampung halamannya.“Nenek besar?” “Lau Ceng. Berbeda dengan Yung Ci. maka diikutilah rombongan itu. Laskar ini kemudian makin menggila karena mendapat dukungan dari laskar tengkorak hitam. Ketika sampai di kota ini. Dan benar saja di pinggiran kota Chon King. Maklum sebagai petani mereka jarang bepergian dan awam terhadap nama-nama kota. Hanya di kampungnya saja wilayah yang cukup aman dari gangguan laskar negari. Sekarang sebaiknya kita cegat saja mereka di jalan keluar yang biasa kalian lalui. nenek Wei Sian justru mengajak Si Tiauw dan Go Tiauw melakukan perjalanan dengan berkuda melalui kota-kota. sebenarnya laskar ini adalah bekas prajurit masa 5 dinasti dan 10 kerajaan. Perjalanan yang mereka tempuh tiga hari. Banyak gedung-gedung yang besar berjejeran di sepanjang jalanan yang besar. Jalanan di kota sangat lebar. orang berlalu lalang dengan bergegas tak mempedulikan orang lain. Maka merekapun bergegas menuju ke tepi hutan rawa bangkai. ayo tunjukkan kepadaku tempat itu!” kata nenek itu dengan penuh semangat. Tujuan mereka yang pertama-tama adalah mencari Liu Siang. Berbeda dengan Yung Ci dulu. Saat itu Liu Siang sedang bertempur dengan beberapa pengemis bersabuk hitam. pada saat yang tepat. mereka bisa menemukan Liu Siang. tak satupun yang mengenal kampung Lim Kee Cung. Bagimanakah Liu Siang sampai bisa di pinggiran kota itu dan bertempur dengan pengemis sabuk hitam. aku yakin Lau Keng bisa menjaga diri. Ketika ia dihubungi oleh Si Tiauw dan Go Tiauw. bahkan kota Hong Ji juga tidak mereka kenal. agar ia mengikuti rombongan menuju ke kota Chon King. datuk negeri salju. termasuk di negeri salju. Karena di wilayah Sung mereka sering berulah maka mereka kemudian disatukan oleh kaisar Sung waktu itu yaitu Sung Tai Cu. Suatu ketika ia bertemu dengan rombongan petani yang akan menjual hasil panennya ke kota. Akhirnya Liu Siang menerima saran mereka. Makanya begitu diminta iapun segera berangkat mengikuti mereka. maka ia tidak terlalu khawatir karena ia bukan target dari laskar tengkorak hitam. Karena ia wanita. Ada pula taman-taman kota yang . Siapakah nenek yang disebut nenek besar itu? Nenek ini bernama Wei Sian. namun karena bingung menentukan arah yang tepat ia justru lari ke arah barat laut. bingunglah Liu Siang dengan suasana kota yang sangat ramai. Beruntung mereka karena nenek yang masih tampak bersemangat itu. yang juga suci dari Yung Ci.

sini biar aku keratnya sekilo aja!” jengek pengemis kedua. bajunya compang-camping. “Pasti kakek itu menyangka aku seorang pengemis” pikirnya. aku akan seret jembel itu ke sini!” timpal pengemis pertama. Tiba-tiba ada kakek tua yang berpakaian sederhana mengulungkan sekeping uang kepadanya. “Aku ikuti saja mereka! Aku ingin tahu apa yang akan mereka kerjakan. Liu Siangpun tertarik untuk mengikuti apa yang terjadi.bug. badannya dekil sekali. bahkan mungkin lebih kumal dari yang dipakai pengemis di kota itu. ia melihat ada dua lelaki berpakaian pengemis berumur tiga puluhan sedang adu mulut dengan pemilik warung. baru sebentar saja. biar untuk beberapa waktu aku bisa bertahan di sini. apa yang harus kukasihkan pada kalian!” “Cuh. Namun hal yang aneh. Namun ia tetap membantah meskipun dengan terbata-bata. “Heh. Tanpa bekal uang sepeserpun bagaimana ia dapat bertahan hidup di kota.. sabuk berwarna hitam.. namun ia cepat sadar dengan keadaannya. persis perbuatan preman. apa ini?” kata Liu Siang. Suatu pagi ia mendengar suara ribut-ribut di sebuah kedai.. aku tahu sejak datang jembel buntung busuk itu kau jadi berani sama kami.” . berani kau ya sekarang melawan kami! Apa yang kamu andalkan? Keponakanmu yang baru pulang dari sekolah silat?” bentak pengemis pertama. ia sudah dapat mengumpulkan beberapa keping uang. “Ah tidak apa-apa. A Sam.... hari ini masih pagi. aku belum dapat untung sedikitpun. sambil menatap Liu Siang dengan pandangan penuh kebencian. Liu Siang tak tahu mengapa demikian. kau lihat saja. ternyata menjadi pengemis di kota ini sangat enak. Ia kemudian mengawasi kedai dari kejauhan. Baru ia sedikit menyadari ketika ia bertemu dengan pengemispengemis lain yang semuanya menggunakan satu penanda. “Eh.sangat indah. banyak juga diantaranya yang mengeluarkan uang dengan penuh keterpaksaan. Lelaki pemilik warung yang bernama A Sam itu terlihat ketakutan. Iapun mengaduh kesakitan. Benar saja. Di warung makan itu. Atau oooo. tidak semua orang menderma dengan iklas. Apakah semua pengemis di kota itu telah menjadi preman? “Aku harus beri pelajaran pada mereka!” pikir Liu Siang. Namun sebelum ia bertindak terlintas di benaknya untuk menyelidiki dulu keadaan pengemis sabuk hitam ini. Baik.. “Bug. Liu Siang mengikuti percakapan mereka dengan hati penasaran sekali. tubuh yang gembul itu bergoyang-goyang gemetaran di bentak-bentak oleh dua orang pengemis.Aduhh!” dua buah bogem mentah bersarang di perut A Sam. “Bu buukan tuan. mengapa pengemis meminta sumbangan dengan cara memaksa. biarlah untuk sementara aku pura-pura aja jadi pengemis. pemilik warung pelit! Daging tubuhmu saja segede itu.

di bawah sebuah pohon tiba-tiba salah seorang mengaduh. Mereka kemudian berjalan bergegas menuju ke sebuah tempat.Ketika pengemis itu berjalan melewati depan gedung tempat sembunyi Liu Siang. pengemis itupun kesakitan. Mereka tidak melintas jembatan namun justru menuruninya. Setelah lima puluh jurus lebih. Liu Siang tidak bisa mendengar apa perkataan mereka. tapi yang membuat Liu Siang tertarik adalah gerakan jembel yang ternyata berlengan tunggal. “Tuk. datanglah bantuan. tahu rasa kamu sekarang!” katanya dalam hati. Mereka datang-datang langsung menyemburkan umpatanumpatan kotor sedangkan jembel berpakaian kumal itu cengar-cengir saja. terlihat si jembel tua mulai kepayahan. Kiranya yang datang adalah seorang gadis muda berpakaian compangcamping. sangat hebat. ketujuh lawannyapun dibuat kerepotan. Begitu datang ia langsung berteriak lantang. Sebuah ranting menangkis serangan tongkat lawan. Kemudian ditendangnya dahan itu keras-keras ke arah pohon sehingga menjadi hancur berkeping-keping. Liu Siang hanya tersenyumsenyum nakal penuh rasa kemenangan. Kepalanya terbenam di antara kedua lututnya. Tapi. “Perampokperampok tak tahu diri! Rasakan ini derma dari nonamu!” Ranting di tangan Liu Siang digerakkan dengan cepat menggunakan jurus-jurus ilmu pedang cahaya salju. Beberapa kali tongkat lawan mengenai tubuhnya. Terantuk sebenarnya perkara sepele bagi pesilat. namun karena tidak mengerahkan lweekang karena tidak menyadari. Pada saat keadaannya sudah sangat kritis. Dari kejauhan Liu Siang melihat mereka bertujuh mendatangi seorang jembel tua yang sedang duduk terpekur di bawah jembatan. “Sukurin. tahu-tahu mereka terlibat sebuah perkelahian.aduhh! Apa ini. kenapa tiba-tiba ada dahan disini!” teriaknya sambil meringis memegangi kakinya yang terantuk sebuah dahan. Rupanya tanpa sepengetahuan mereka liu Siang memasang benang pada dahan itu. Tongkat di tangannya bergerak sangat lincah mengikuti pola jurus-jurus yang teratur. Jembel itu mengenakan caping yang sudah banyak berlubang. Ketika ketujuh orang pengemis sabuk hitam mendatanginya ia mendongakkan kepala. Rupaya yang dituju adalah sebuah jembatan. Dan jembatan yang mereka tuju adalah salah satu dari jembatan itu. Tangannya memegang sebuah tongkat butut. Liu Siang mengawasi dari atas sebuah pohon yang sangat rindang. dan dialah yang menarik benangnya. Perkelahian satu dilawan tujuh memang tidak imbang. gedung itu dari luar tampak sepi. Dua orang pengmis itu kemudian pergi ke sebuah gedung tua di pinggiran kota. Gayanya juga lebih berwibawa. Setelah sepeminuman teh ia melihat dua orang pengemis itu keluar lagi bersama lima pengemis lain yang lebih tua dan dandanannya lebih keren. tanpa diketahui oleh kedua pengemis itu. sedikit demi sedikit mereka kemudian mampu menekan si jembel berlengan tunggal. karena terlalu jauh. namun senjata lain semisal tongkat juga bisa . Tongkat itu bergerak berputaran seperti kitiran. dan terus menyerang mengacaukan barisan penyerang... Pada masa itu di kota Chon King baru ada dua jembatan yang dibangun di atas sungai Yang tse. Namun karena mereka bergerak secara keroyokan. Jembatan itu termasuk jembatan yang cukup besar karena sungai yang mengalir di bawahnya adalah sungai Yang tse kiang. Sebenarnya ilmu ini cocok dipakai menggunakan pedang.

. Liu Siang menyerang mereka dengan seenaknya.. rambutnya yang sebagian besar telah memutih panjang terurai sampai diatas pundak. “Desss. Pengemis yang berkumis tebal yang menjadi pimpinan rombongan kemudian berteriak.. namun tidak terjatuh.. “Nona Sin Tung Bi Liu. “Paman kau tidak apa-apa?” tanya Liu Siang mendekati jembel tua itu. mengaku-aku pengemis. karena Liu Siang hanya menggunakan setengah bagian tenaganya. aku disini saja..digerakkan menurut ilmu ini. “Anak baik. kenapa engkau berani-beraninya mencampuri urusan kelompok pengemis sabuk hitam!” Ia mengira nona itu akan lari terbirit-birit mendengan disebutnya nama pengemis sabuk hitam. “Nona kecil.” Akibatnya lawan terdorong sampai dua tombak. beberapa bahkan kemudian mengaduh-aduh kesakitan karena tulang keringnya kena pukulan. Meskipun bekas pukulan di tangannya terlihat memar.. aku tak peduli mereka mau berbuat apa. tapi sepertinya tidak dirasakan. Dua orang bahkan sudah tertotok tak sanggup bergerak... “Ah biarlah. Ia hanya nyengir saja menunjukkan giginya yang sebagian sudah ompong. hari ini nonamu bersedia mengampuni jiwa anjingmu. sebaiknya engkau juga pergi dari sini kek!” bujuk Liu Siang. Serangan tongkat bisa dihindari tapi pukulan susulan tangan kirinya yang mengandung hawa dingin tak kuasa ditangkis. katakan siapa namamu. Umurnya sulit ditaksir. tapi lain kali. tapi dari kerut wajahnya jelas ia sudah kakek-kakek.pergilah jangan mencari perkara di sini!” ujarnya..! Ayaaaa. bajunya compangcamping tak keruan hingga lebih mirip orang gila. Orang itu penuh berewok.anak baik.” “Kalau kakek tidak pergi aku juga tak mau pergi!” . aku sudah tak punya apa-apa lagi yang perlu kukhawatirkan.. karena ternyata jembel itu sudah tua. jumlah mereka pasti banyak sekali. Gerakan ketujuh pengemis menjadi kacau balau. Jangan salahkan aku Sin Tung Bi Liu (Liu cantik bertongkat sakti) kalau menurunkan tangan keras!” bentaknya sambil menusukkan tongkat ke ulu hati pengemis berkumis tebal itu.. tapi tunggu saja pembalasan kami!” katanya penuh rasa gusar. “Kek.. kali ini kami mengalah.. aku tahu engkau dimusuhi oleh mereka. ketujuh pengemis itu tentu saja bukan lawannya. tapi siapa sangka dengan nada mencibir si gadis kecil itu justru mengejek mereka “Kalian ini perampok muka tembok. Tangan kirinya buntung.. tentu saja dengan kembangan-kembangan yang menyesuaiakan bentuk tongkat. Kini ia ganti penggilan menjadi kek. awas.

empat pengemis telah menantinya. horee. jangan sampai kami kesalahan tangan memusuhi orang muda!” tanya pengemis yang paling tua berjenggot putih dengan nada merendahkan.” lapor pengemis kumis tebal.nama yang bagus. perlukah itu?” Kakek itu kemudian bergumam seorang diri.. “Susiok. di sebuah lapang rumput. “Huh.. dan aku mengenalmu It Jiu Lokay!” “It Jiu Lokay.. aku hanya membela orang tua lemah dari keroyakan anak buah kalian. dan dari perguruan mana.nama yang bagus. Liu Siang memandang dengan tatap heran. “Anak setan! Siapapun dirimu aku bersumpah akan merobek mulut busukmu!” bentak pengemis yang berdiri di samping kiri pengemis tua berjenggot putih. Kakek ini kadang bicara seperti orang bia sa. Belum sampai sepuluh tombak dari jembatan. dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Bab 12. Secepat kilat ia mengirimkan pukulan jarak jauh. Liu Siangpun menggerakkan pundaknya ke atas.. Yang tiga lagi berumur di atas lima puluhan.. Wajahnya lebih berwibawa dibandingkan yang sebelumnya. tak disangka bahwa nona yang bisa mengalahkan tujuh pengemis tingkat dua hanyalah seorang gadis dekil berbaju compang-camping.. tanda amarah sudah menguasai hati mereka. pengemis tua. Ketika pengemis itu memandang heran. “Dari mana asal kakek? Apakah kakek asli orang sini?” “Aku? Siapa aku.!” kata kakek itu sambil berjingkrak-jingkrak.. aku tidak membawabawa nama suhuku. Tak tahu kalau memang perkumpulan pengemis sabuk hitam adalah perkumpulan pengecut yang beraninya main keroyokan. akupun tak tahu. Penyelamatan Liu Siang . dari mana aku.” balas Liu Siang dengan nada mengejek tak mau kalah. kadang seperti orang tak waras. Salah seorang dikenalnya sebagai pengemis kumis tebal yang barusan mengeroyok jembel lengan satu. dan pergi meninggalkan kakek jembel itu. di wilayah mereka sendiri.. itulah nona yang membantu jembel lengan buntung.“Eh kenapa begitu!” “Karena aku mengkhawatirkan keselamatan kakek!” “Tapi aku tak kenal kamu dan kau tak kenal aku.. Wajah ketiga pengemis tua itu seketika berubah memerah. Tak mereka nyana ada seorang gadis muda berani menghina mereka. aku berjuluk Sin Tung Bi Liu.. kenapa kau khawatirkan aku?” “Sekarang engkau mengenalku Sin Tung Bi Liu. “Nona siapakah..

.. tapi tak tahu harus berbuat apa.. seolah-olah tiga pengemis lihai itu dikendalikan oleh sebuah pikiran dan perasaan.. Pengemis kumis tebal yang menjaga pertandingan tak kuasa mencegahnya. Liu Siang mulai terdesak. Tapi siapa kira nona itu berani memapaki pukulan jarak jauhnya dengan tangkisan yang tak kalah kuatnya. sampai sepuluh jurus mereka masih belum bisa mengenali gerakan tongkat Liu Siang.. Kalau hanya mengandalkan senjatanya untuk menangkis hujan serangan itu saja. Liu Siang masih terlalu muda dan baru saja terjun di dunia ramai sehingga tidak terlalu paham kalau mereka menggunakan gerakangerakan teratur dari sam-kak-tin (Barisan Segi Tiga) sehingga mereka itu bergerak saling bantu. Tongkat di tangannya langsung bergerak memutar dengan cepat.haiyaa.tak. sambil masuk ke kalangan. Gadis itu kini memutar ranting di tangannya dengan memegang senjata itu bagian tengah sehingga kedua ujung tongkat menyambar-nyambar dan ujungnya berubah menjadi banyak saking cepatnya gerakannya. dia laksana seekor capung yang dikejar-kejar hendak ditangkap oleh tiga orang anak-anak.. Ia hanya berteriak-teriak melarang. tentu dia tidak kuat bertahan lama. mengelak dan menangkis. belum sempat ia menggerakkan tangan untuk membalas serangan. Tongkat di tangan mereka bergantian bergerak menyerang secara teratur.. “Tak. sudah datang serangan susulan secara bertubi-tubi. sehingga Liu Siang menjadi kerepotan.. ia jelas tidak berani mengganggu ketiga susiok mereka. Terpaksa gadis muda ini mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri. maka ia pun mengerahkan ginkangnya yang luar biasa untuk berloncatan kesana ke mari. Keroyokan mereka benarbenar teratur. Gerakan Liu Siang amat ringannya. Mulailah ia menggerakkan ranting di tangannya dengan gerakan cepat sekali.tahan. Dengan gerakan gesit ketiga pengemis sakti itu mengelilingi Liu Siang. Untunglah tiba-tiba datang bantuan. “Hmmm kiranya kau ada sedikit kepandaian hingga berani menghadapi kami.tak.. tapi kalau terkena pohon berukuran tubuh manusiapun akan roboh terhempas.Meski jarak antaranya dengan nona baju kumal itu ada lima tombak... “Bresss” Hawa tangkisan itu bahkan masih terasa sampai membuat rambut keempat pengemis itu berkibar. “Nona aku membantumu!” seru jembel tua berlengan tunggal. Tapi karena mereka langsung maju bersamaan maka kehebatan mereka menjadi berlipat-lipat.. Setiap ia menangkis satu pukulan.Thai-kek sin-tung hoat.. baiklah jangan salahkan Chon King Sam Sinkay kalau hari ini terpaksa kami turunkan tangan kejam padamu! Kepung!” perintah pengemis jenggot putih.. Hal yang mengherankan tiga pengemis tua ini.. Yang mereka tahu hanyalah bahwa gerakan tongkat Liu Siang berasal dari barat.. kalau melawan salah seorang dari mereka ia tidak akan kalah.. bukankah . Menurut penilaian.

”dengan tenaga menyedot dari jarak lima tombak nenek ini menarik tubuh Liu Siang dan jembel tua itu...tak. Mereka bertigapun menghentikan gerakan. Si Tiauw langsung menggandeng jembel tua dan bergegas mereka berlari meninggalkan lapangan itu. Pada saat yang kritis inilah datang nenek besar dan dua Tiauw Kwi... Saat itu juga nenek besar sudah berminat mengambil Liu Siang menjadi muridnya.. Sedangkan tiga pengemis lihai ikut terkejut dan jantungnya tergetar luar biasa. Pengemis tingkat kedua seperti kumis tebal terdorong tiga langkah..” Kembali serangan demi serangan mereka lancarkan. kalian bisa apa?” balas Liu Siang tak mau kalah... “Sreeeeerrr. Selanjutnya mereka berempat bergerak cepat menuju lembah. tapi aku tak perlu membawa-bawa nama itu.! teriak nenek besar dengan mengerahkan khikang Sai cu hokang tingkat tinggi sekali. dan biarkan kalian pergi dari sini. dan terkejut menyadari bahwa lapangan itu telah dikepung sedikitnya tiga puluh orang.” ujar pengemis tua itu.itu ilmu tongkat dari Kun-lun pay? Apakah hubunganmu dengan Kun-lun pay?” tanya pengemis tua berjenggot putih itu.tak. baiklah kami tidak bermaksud jahat kepada kalian.. Kalau kalian mau berlutut dan meminta ampun. tapi jangan kalian kira kalian boleh seenaknya mengganggu kelompok kami. “Lihatlah. hanya dalam sehari keadaan mereka telah pulih. Setelah berada di luar kota.” jawab pengemis tua itu. “Hiyaaaatt. begitu. Dan dengan kecepatan luar biasa dia sudah memanggul Liu Siang dan menyerahkan jembel tua itu kepada dua orang Tiauw Kwi. Begitulah cerita pertemuan Liu Siang dengan nenek besar. Kali ini serangan ketiga pengemis sudah tidak lagi serangan biasa. sekeliling kalian. “Kun-lun pay??? Aku sepertinya pernah mendengar kata itu.... Lengkingan yang mengandung tenaga getaran yang kuat luas biasa ini bagai gelombangnya air bah yang menghanyutkan apa saja didepannya. pengemis-pengemis tingkat rendah yang ilmunya cetek langsung roboh dan bahkan masih terdorong oleh gelombang serangan satu tombak. Karena tidak mengalami luka dalam maupun luka racun. tubuh mereka bergetar hebat. Pengemis jembel lengan tunggal karena “tidak bisa diajak bicara” dibiarkan pergi begitu saja.tak. aku tak peduli dengan perkumpulan apapun!” “Hmm. “Hentikan. Beberapa kali pukulan mengenai tubuh mereka berdua. Liu Siangpun terkejut mendengar ucapan pimpinan Chon King Sam Sinkay ini. ..... kami akan maafkan.... Liu Siang melirik ke sekeliling. Keadaan jembel tua lengan tunggal justru lebih parah. “Emang kalau kami menghendaki pergi dari sini. Setelah bertahan seratus jurus mereka berduapun mengalami kelelahan. barulah mereka mengobati luka-luka Liu Siang dan jembel tua. tapi serangan-serangan maut. kami masih mau bermurah memberi kesempatan kepada kalian untuk menyadari kekeliruan. sekujur tubuhnya sudah lebam-lebam. Ia yang masih muda belum banyak mengenali gerakan-gerakan silat lawan.. darah mengucur dari beberapa luka di tubuh mereka. Dengan mengemposkan semangat ia kembali memusatkan konsentrasi untuk melawan tiga pengemis lihai ini. Gerakan Liu Siangpun sudah mulai lemah.... Akibatnya sungguh dasyat. Tak ada ruang untuk meloloskan diri. Namun bukan Liu Siang kalau mudah digertak begitu saja.

tapi tangkisan yang sia-sia karena tendangan yang mengandung sinkang sekuat tenaga gajah bagai tendangan gajah Ting ting (gajah di legenda see yu) akan .... Seperti dugaan nenek besar. Berbeda dengan It Tiauw..... Hebatnya. Pukulan yang dilakukan dua kali... begitu keluar hutan langsung disambut mereka berenam. Tapi It Tiauw dan nenek besar yang jadi sasaran bukanlah orang lemah... dan memiliki sinkang penuh.. tendangan ini bersifat lemas.. Namun dengan secepat kilat nenek besar melancarkan serangan khikang Sai cu hokang.. empat kali itu pula tendangan nenek ini mengenai dada empat tengkorak hitam. Saudara-saudaranya sontak menangkisi semua senjata rahasia itu.”kata It Tiauw. *** Kita kembali ikuti perjalanan nenek besar Wei Sian. Tubuhnya melenting ke atas dengan kecepatan sulit diikuti pandangan mata. It Tiauw tidak dibunuh oleh tengkorak hitam.... tapi aku harus dalam keadaan sembuh.dess... nenek besar menangkapi senjata-senjata yang dilontarkan dan dilontarkan balik saat tengkorak nomor dua bangkit kembali. dan mereka memang membutuhkan It Tiauw untuk keluar dari tempat itu. karena seorang anggota tewas terkena jebakan di rawa bangkai. Meskipun sebagian berhasil menangkis. mereka sadar pelontar yang dipakai meloloskan diri hanya bisa dipakai sekali.. “Aku berjanji membawa kalian keluar.. Betapa terperanjatnya tengkorak hitam yang kini tinggal tujuh orang. Gagal dengan serangan itu.dess. empat Tiauw Kwi dan Liu Siang mencegat musuh di hutan rawa bangkai.des. Namun sayang yang diserang adalah anggota tengkorak hitam yang memiliki tingkat kelihaian tak disebelah bawah Tiauw Kwi. pada saat yang singkat ini pukulan Wei Sian yang kedua segera menyusul diarahkan ke dada lawan yang terbuka.!” lengkingan yang mengandung tenaga getaran yang kuat luar biasa ini gelombangnya seperti air bah menghanyutkan apa saja yang didepannya. Bentuk tubuh tengkorak nomor dua yang pendek menguntungkannya bersembunyi di balik It Tiauw.Sebenarnya apakah yang terjadi di perkumpulan pengemis sabuk hitam pusat? Mengapa mereka seperti kehilangan sifat kependekaran? Kelak akan diceritakan kejadian di perkumpulan itu... Lengkingan ini tak akan banyak pengaruhnya jika tidak diikuti pukulan lanjutan..... sehingga It Tiauw hanya merasa kesakitan dan secara refleks berlutut. “Wusss.. Karena itulah maka ia bisa ikut keluar dalam keadaan selamat.” empat kali menendang. tengkorak nomor dua dalam keadaan terjengkang masih sempat melontarkan senjata rahasia. “Desss.. nenek besar langsung maju melakukan serangan ke mereka...desss. Dari jarak empat tombak nenek ini melepaskan sebuah pukulan jarak jauh yang sangat kuat. “Lepaaaskaaaaan.. yang pertama tendangan jarak jauh ke arah lutut It Tiauw. Senjatanya terlepas. It Tiauw yang masih dalam keadaan terikat ditarik dan ditodong senjata oleh tengkorak nomor dua. It Tiauwpun terbebas. It Tiauwpun dibantu kesembuhannya.” tengkorak nomor duapun terjengkang terkena pukulan ini.... Gerakan tubuh dan pusaran tenaga yang dihasilkan seakan menjepit posisi mereka dan menutup pintu keluar bagi ketujuh tengkorak hitam itu. Dengan mengibaskan tangan ke belakang senjata-senjata itupun runtuh..

.. sejak dulu nenek moyang kami adalah pendekar-pendekar berjiwa ksatria.. Meskipun kegembiraan di wajah orang-orang bertopeng tengkorak itu tak terlihat karena tertutup topeng. tanda bahwa tenaga mereka seimbang. dan hampir saja terjatuh kalau saja tidak segera berpoksai.. sekonyong-konyong berhembus angin pukulan bersifat panas yang luar biasa hebatnya.cesssss..menghempaskan apa saja. bagai bara diguyur air. jadi kamukah pelakunya? Ketahuilah orang-orang bertopeng yang tak punya rasa malu..” ucap sosok bertopeng tengkorak itu.” gumam sosok berjubah hitam bertudung itu.kek. betapa menggembirakan kek.rupanya tokoh-tokoh puncak gunung salju besar sudah bermunculan.kek. namun binar di sorot mata mereka menunjukkan suasana ini.. Kiranya yang datang adalah tengkorak nomor satu. “Hemmm kiranya Kui bin pangcu sudah muncul dari persembunyian.” ucapan ini sangat dalam menyindir tengkorak yang baru muncul ini.. senjata sudah ditangan.. tinggal dua lelaki she Yung itu saja yang masih membangkang.hah.. pasti akan membawa keberanian yang lebih baik.. Adapun lawan yang datang. tak pernah terbersit ketakutan di hati kami melawan kalian. Kedua kelompok kemudian samasama bersiap. “Ha.ha. seperti suporter sepak bola. tidak perlu menunggu bambu bumbung berbunga. Tapi apalah artinya? Kalian tidak punya kesempatan lagi. ketahilah kalau belasan tahun yang lalu pasukan Yung Ci tak sanggup membasmi seluruh binatang berjiwa kerdil seperti kalian.ha.” Benturan dua tenaga mukjizat menimbulkan bunyi yang sangat keras. “Bresss. Suasana makin menegangkan.. Namun pada tendangan kelima yang mengarah pada tengkorak nomor dua. “Nenek gembrot ketahuilah belasan tahun silam aku memang mengalah pada kalian.. Karena inilah tendangan ini bernama tendangan kaki gajah dan cocok sekali dengan bentuk tubuh nenek besar yang gempal... “Suhuuu.. hayo majulah kalau memang punya keberanian. Akibatnya Wei Sian terpelanting. tetapi ketegaran hatinya mengatasi perasaan.. Batu karangpun hancur terkena tendangan ini.!” teriak tengkorak dua dan tiga.... yang berjubah lebar dan bertanda pada dadanya. tapi perlu kalian ketahui keturunan murni ksatria sudah tinggal kenangan. Hatinya mencelos menyadari munculnya lawan yang sungguh lihai luar biasa.. “Hmmm...ha...ha...hayo majulah! Ingin kulihat kemajuan yang telah kau yakini pangcu!” Perdebatan makin lama makin panas. kini biarlah aku yang akan menyelesaikannya!” “Tua bangka keparat! Nyawa sudah diujung tanduk masih bermulut besar. sekarang juga bersiaplah menerima pembalasan kami!” “Baguuss. dan keturunan ketujuh nenek moyang kamilah yang akan menjagoi pertemuan nanti ha.. satu setrip yang bermakna satu.. atau pimpinan kelompok tengkorak. seorang lelaki berjubah hitam dan juga bertopeng tengkorak juga terdorong empat langkah lebih. seratus tahun setelah kematian sucouw kami sebagai pertemuan terakhir kita tinggal empat tahun lagi. Di . Seketika mereka berteriak-teriak penuh semangat... Wajah nenek besar berubah pucat...

” .ha. Setelah ia mati topeng itupun tak tahu rimbanya. namun pria bertopeng yang baru datang sepertinya punya perhitungan lain. Ada yang bilang bahwa topeng itu dikuburkan bersama dengan jasad Wan Cu Ting.kehancuran kalian hanya tinggal tunggu waktu saja!” ujar lelaki bertopeng yang bertubuh pendek. topeng yang dibuat sendiri oleh Wan Cu Ting ini bagian luarnya dilapisi emas. terjadilah adu mulut di antara dua kubu.. mencari Yung Ci. Sementara itu. “Yung Ci. bersiaplah menerima serangan kami. Dengan menggunakan topeng inilah ia memimpin anak buahnya membumi hanguskan negeri salju.nenek bau tanah. Tiauw Kwi ditugaskan untuk mencari Yung Ci sedangkan nenek besar langsung membawa Liu Siang ke gunung salju besar..ha. Siapakah yang dimaksud dengan topeng emas? Pada masa berjayanya Wan Cu Ting. Pangcu kami memang sengaja mengalah kepada kalian. *** Kita kembali ke perjalanan Tiong Gi dan rombongan Yung Ci Tianglo? Marilah kita ikuti perkembangan kejadian yang menimpa mereka.. dan menghilang di tikungan. Tujuan mereka jelas. Tengkorak itu kemudian ditatah menjadi topeng.. Lagi pula sasaran utama mereka bukan nenek itu melainkan Yung Ci. Topeng itu seolah-olah topeng yang keramat bagi kelompok ini. dan tidak ada ketua penggantinya yang mencoba memahat topeng baru yang berlapis emas. Kini pemimpin kami telah kembali dan berhasil menemukan topeng emas. Meski pihaknya berjumlah lebih banyak. Kalau sampai dia kehilangan anak buah di sini tentu pihaknya yang menderita banyak kerugian. yang merupakan tengkorak nomor dua. Bertahun-tahun kemudian topeng emas menjadi legenda di laskar tengkorak hitam. namun ketika kuburannya dibongkar topeng itu tak ditemukan. “Hmmm. tapi selisih satu tidaklah sangat menguntungkan. Ha. bahkan kelima ksatria salju tewas di tangannya.kita lihat saja nanti apakah memang topeng emas kalian memiliki harga setinggi sepuhannya!” jawab Yung Ci Tianglo tak mau kalah... si iblis tengkorak emas. ia membongkar kuburan nenek moyangnya dan mengambil tengkorak nenek moyang yang dikalahkan oleh Lau Cin Shan puluhan tahun sebelumnya. berbeda dengan topeng-topeng yang lainnya yang dipakai anggota tengkorak hitam.. “Ketahuilah oleh kalian.ha. “Ha. ayo kita pergi!” Dengan tergopoh-gopoh semua anak buah tengkorak hitam lalu pergi menuruni perbukitan. Karena topengnya maka ia mendapat julukan iblis topeng emas. rombongan nenek besar kemudian juga dibagi dua.ha.. biarlah lain kali kita bertemu lagi. karena diyakini ilmu rahasia si iblis topeng emas dituliskan di topeng itu.pihak tengkorak hitam jumlah personilnya lebih banyak. hari ini kamu bermurah hati mengampuni kalian. karena topeng emas belum muncul.. orang yang menemukannya dipercaya akan memiliki kekuatan sebagaimana kekuatan pembuatnya. saat itu kami berjumlah dua belas. Setelah mereka dikepung oleh delapan orang musuh.

cring. Awalnya Tiong Gi berusaha melawan dengan memapaki tulang-tulang ini memakai pedangnya.!” Puluhan senjata-senjata rahasia meluncur dari tangan keempat tengkorak hitam penyerang yang berada di atas pundah kawannya. Tiong Gi menyambut serangan hujan senjata rahasia dengan memutar pedangnya.cring.cring. wuss. karena pentalan senjata itu belik menyerang ke pengirimnya..... namun ia kemudian sadar bahwa ternyata sepasang tulang itu bukan dilontarkan begitu saja.. Mereka yang didepan masingmasing kemudian mengambil dua buah tulang dari balik jubahnya. Seorang bahkan telah terkena. “Formasi badai meteor!” Secara teratur empat orang kemudian membentuk formasi setengah lingkaran dan tiba-tiba empat yang lainnya menaiki pundak kawannya dan langsung melepaskan puluhan senjata rahasia.crin g. Namun di tangan mereka senjata-senjata itu bisa berubah menjadi hujan badai bintang jauh.wuss....wuss.cring.. cring. bahkan sebagian terhisap oleh Tiong Gi tanpa ia sadari.. bagaikan hujan meteor..... Hebat sekali putaran pedang di tangan Yung Ci. Namun ia dibentak oleh suhunya. Senjata yang dilemparkan memang hanya sebuah besi pipih berbentuk tengkorak seukuran jempol tangan..augh....wuss... “Wuss. akibatnya memang tulang-tulang itu terpental satu dua tombak. meskipun Tiong Gi berhasil mundur tapi serangan tulang itu terpaksa ditangkis. “Wusss.. pedang dan tulang bertemu... melainkan dikendalikan dengan tenaga dari jarak jauh.Begitu selesai berkata-kata keempat sosok bertopeng tengkorak ini mengeluarkan seruan...wuss.wuss...... Pedang dan tulang belulang berputaran diudara dan .wuss.wuss.. Tiba-tiba orang yang tadinya dipundak meloncat ke depan dan lantas duduk bersila.. cring.cringg..wuss.. Pada jarak tengah-tengah di antara dua kubu..Tiong Gi mundurlah!” Tiong Gi awalnya tidak mengetahui apa artinya perintah dari suhunya.... tulang yang berwarna kehijau-hijauan.... dan terjadilah pertarungan senjata diudara yang sungguh ajaib..criiinggg. Luar biasa sekali cara penyerangan seperti ini. “Cringgg.wuss. yang merah membara saking panasnya.wuss!” “Haiyaaa..!” Tiga kali Tiong Gi menangkis serangan. ia terkejut sekali mendapati tenaga luncuran senjata itu yang sedemikian kuat dan panasnya.wuss..... sedang orang yang tak bertopeng yang sebelumnya ada di posisi bawah juga duduk bersila dibelakang masing-masing pasangannya dan menempelkan kedua telapak tangan. Yung Ci dan kedua Tiauw Kwi begitu melihat musuhnya meloloskan tulang juga ikut duduk bersila dan melontarkan pedang kedepan. meskipun sudah memakai baju pelapis yang tebal namun tetap saja mereka terluka.... Satu pasang penembak roboh....cring. secepat kilat Yung Ci dan ketiga muridnya meloloskan pedang dan memutarnya sebagai bentuk pertahanan..... “Awas tulang beracun!” Namun terlambat.... namun benturan senjata telah menyebabkan bubuk racun yang menempel di tulang runtuh dan beterbangan.....wuss.cring... Berbeda dengan Tiong Gi.wuss. Begitu diloloskan tulang itu seperti dilontarkan ke arah kubu Yung Ci dan Tiong Gi.. “Formasi delapan tulang!” komando tengkorak nomor dua...wuss.wuss.

seraaaannnggg.. dulu seorang diripun Yung Ci mampu menghadapi empat tengkorak hitam. namun beberapa saat kemudian terlihat posisi pedang Yung Ci mampu mendesak tulang-tulang yang mengerubutinya.. Kadang-kadang posisi tapak tangan mendorong.... Ini dapat dilihat dari gerakan tangan dari dua kubu yang menari-nari di depan dada.. pedang kedua Tiauw Kwi makin terdesak. Sebenarnya bukan hantu yang bertempur melainkan gerakan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkatan sedemikian tingginyalah yang mampu menggerakkan senjata secara sedemikian anehnya. Ia terus mundur hingga posisinya tak terjangkau lagi... ini adalah pengalaman pertandingan pertamanya secara sungguh-sungguh.... bagaimana mereka sekarang bisa memiliki kelihaian sehebat ini.. “Criing... Hingga akhirnya hampir berbarengan. kubu musuh tidak tampak menunjukkan kelelahan itu.wess.. Sementara itu tulang yang semula menyerang Tiong Gi ditarik dan diarahkan untuk mengeroyok pedang Yung Ci.. Berbeda dengan keadaan kubu Yung Ci yang terlihat sangat kelelahan tampak dari butiran-butiran keringat yang membasahi tubuh ketiganya. kemudian semuanya berdiri. Dari tingkatan kepandaian.. Hati Yung Ci makin miris memikirkan nasib Liu Siang.criing. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka ibaratnya menyatukan dua tenaga. “Haiiittt...criing. bahkan golongan preman yang tidak bertopengpun telah memiliki kelihaian yang tidak kalah dengan mereka yang bertopeng sebelum mendapat didikan dari pangcu mereka..wess..... Adapun pertandingan tiga pasang mula-mula terlihat seimbang. Adapun bagi Tiong Gi. Bunyi denting bertemunya logam terdengar sangat nyaring dan bergema....criiing.... tanda kekaguman yang luar biasa.... dan ia bisa mengembangkan jurus-jurus ilmu . Berkebalikan dengan pedang Yung Ci. kadang-kadang memutar.!” berbarengan dengan mundurnya dua orang ini.. sementara kepala mereka mengepul uap putih... Biasanya ia berlatih secara satu lawan satu.clap” “Wesss. gerakan tangan mereka juga makin berat. itulah yang menyebabkan keadaan kubu Yung Ci terdesak hebat.wess. Yung Ci merasa tidak habis pikir.. Tapi hanya sekitar sebulan berselang sejak pangcu tengkorak hitam kembali dari pertapaannya. seolah-olah senjata itu digerakkan hantu yang sedang bertempur.. dari kubu tengkorak hitam juga menarik tulang-tulang mereka.sesekali berbenturan menimbulkan percikan api dan bunyi dentingan yang sangat keras. Masih di posisi itu pula terjadi gerakan-gerakan menangkis dan menyerang.. tanda mereka telah melakukan pengerahan tenaga yang sangat besar. senjata yang dipakaipun berubah. sehingga menambah kekuatan dan pertahanan mereka... makin lama pedang makin dekat ke arah mereka berdua.. “Formasi gelombang kerangka. Tiong Gi yang melihatpun ikut meleletkan lidahnya...! Serempak mereka kemudian menyerang. Kini mereka menggunakan tulang yang ujungnya dipasang logam seperti tombak yang runcing. karena setiap penyerang didukung oleh orang di belakangnya yang menyalurkan hawa sinkang ke penyerang.. mereka meloncat kebelakang sambil menarik pedangnya.!” Delapan orang bergerak dalam barisan yang rapi...

dan ketika asap itu mulai menipis ditiup angin. Beberapa kali pedangnya berbenturan dengan senjata lawan. orang-orang tengkorak hitam sudah tidak tampak lagi banyangannya. maka tak mengherankan jika sudah ada empat tusukan yang mengenai tubuhnya. Hampir seharian penuh mereka bertarung. Rombongan ini dipimpin oleh pria berumur lima puluh tahunan. Mereka beristirahat sampai malam tiba. dan baru sore hari selesai. Adapun lawannya meskipun masing-masing hanya terkena satu tusukan namun luka yang ditusukkan oleh Tiong Gi cukup dalam. Berbeda Tiong Gi. dan kekuatan barisan menjadi pudar. maka posisi Tiauw Kwi sangat terjepit. dengan masingmasing kadang-kadang dibantu seorang anggota preman. Tiong Gi berangkat tidur duluan. Keadaan dua Tiauw Ki sungguh paling parah. Memasuki kalangan dan menyerang tengkorak hitam. sehingga sejauh ini ia sudah hampir enam kali tergores. sungguh ia kemudian merasa seperti bersilat diluar pakem. ia tidak kalah dengan lawannya. bernama Tik Coan Kok. dan munculah bantuan ke dalam kalangan. Kini menghadapi keadaan pertarungan model keroyokan seperti ini. Ketika malam sudah tiba orang-orang berbaju putih inilah yang mempersiapkan ruangan dan makan malam. akhirnya menyadari posisinya sudah tidak menguntungkan secara tiba-tiba terdengar bunyi ledakan disusul keluarnya asap yang pekat. Dari bertanding secara sungguhsungguh inilah akan diperoleh cara bersilat yang senyatanya. bersenjata bambu yang ujungnya runcing berwarna putih. gerakan pedangnya meskipun masih jauh lebih kuat dibandingkan gerakan Tiong Gi. namaun sudah lemah dibandingkan kemampuannya yang sebenarnya. . beban pikiran membuat konsentrasinya sering buyar. dan sebelumnya ia hanya menunggu saja. apalagi lawan mereka yaitu tengkorak nomor lima dan nomor enam memiliki tingkatan sedikit diatas mereka. Tapi justru pengalaman bertanding seperti inilah yang akan menentukan kematangan ilmu silat seseorang. Sebagai tenaga paling muda. teratur dan sesuai dengan teori. dan Tiong Gi patut berbangga karena dalam hal lweekang. Tiong Gi paling bersemangat di antara keempatnya. kuat. Pedangnya berputar-putar dengan bunyi yang mengaung dasyat. namun disaat yang sangat kritis itu tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan. yang dihadapinya adalah dua orang laskar preman yang tidak bertopeng. Semua orang kemudian langsung menyingkir. Orang-orang berbaju putih ini kemudian membawa masuk mereka ke kuil dan merawat ketiga tetua ini. darah sudah banyak bercucuran dari luka. keadaan Yung Ci sudah amat payah. Terdapat lebih dari enam orang berbaju putih. memakai rompi warna cokelat muda. meski hanya goresan ringan. malah masih menang satu lapis. meskipun dari gerakan maupun kekuatan senjatanya masih dibawah Tiong Gi. Desakan-desakan lawan membuat pertahanan mereka kacau. ya memang benar mereka dari kelompok bambu putih. Melihat posisi ini sepertinya mereka tidak akan bertahan lebih dari sepuluh jurus lagi.silatnya secara mantap. namun bantuan ini mampu membuat buyar kepungan mereka. Siapakah mereka yang membantu rombongan Yung Ci ini? Pembaca pasti bisa menebaknya. Namun dalam hal pengalaman bertanding memang jauh.

. namun pada kenyataannya hal itu tidaklah mudah” timpal orang kedua. ada dugaan setelah mendapatkan peta. sehingga hasilnya justru banyak yang diabaikan. sepertinya beliau ingin kembali mengajak locianpwe untuk bersedia tinggal bersama pangcu di Siang Yang. sepertinya ia tidak pernah tertarik dengan rebutan warisan meskipun ia merasa lebih berhak atas warisan itu. beberapa waktu terakhir ini pangcu sering membicarakan locianpwe. kalau ia mau berpisah dari golongan hitam. mau meninggalkan segala macam racun.. tapi memang agak bandel. katakan saja kepada Yung Lu. aku sering membandingkannya dengan Yung Ceng kakaknya. aku bersedia tinggal lagi bersamanya. “Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan lagi masalahnya. sampai kapan locianpwe bersikap seperti ini. Aku memintanya untuk menikahi Shu Kiok Nio tapi ia menolaknya. Menurut khabar. kemudian ia justru memilih orang Han.” “Yaachh ini memang salahku. Ia menarik nafas panjang dan kemudian terbatuk-batuk.” “Rupanya ia masih ingat diriku. tapi biarlah kalian juga perlu ketahui.“Aku menyampaikan terima kasih atas bantuan kalian. dan kini hendak ke selatan. Beban bathin yang dideritanya seakan himpitan batu yang sangat berat. mungkin ini kesalahanku. Anehnya meskipun sudah menikah sesuai pilihannya. mereka lari ke timur.. peta ketiga Lau Cin Shan sudah ditemukan. aku seakan menuntut ia bisa seperti kakaknya... “Locianpwe. kenapa ia mesti mengganggu isteri orang.” “Yung Lu Pangcu sudah berusaha untuk mengurangi jumlah dan peran mereka. biarlah hari ini aku akan bicara blak-blakan kepada kalian. kami mendapat tugas dari pangcu untuk menyelidiki masalah peta harta karun Lau Cin Shan.” gumam Yung Ci dengan wajah yang berkerut-kerut. Aku memintanya menyelesaikan masalahnya dengan bijak ia selalu saja abaikan nasihat orang tua. Yung Ci tidak menanggapi pertanyaan Coan Kok. hhhh. mau menyelesaikan masalah keluarganya.. Karena kakaknya meninggal dalam usia muda. apakah locianpwe pernah berjumpa dengan rombongan mereka?” tanya Coan Kok bersemangat. barangkali aku memang terlalu keras mendidiknya.... bagaimana kalian bisa kebetulan lewat di sini” Yung Ci mengucapkan kata pembukaan perbincangan mereka. namun kami sudah seminggu kehilangan jejak. . namun kini keberadaannya belum diketahui dengan pasti. hhhh. Yung Lu sebenarnya anak baik. kemudian ke utara. ia hanya menggeleng pendek. apakah locianpwe masih belum bisa memaafkan pangcu. Tapi penentangan demi penentangan selalu saja dilakukannya. Dan pangcu kalianpun tahu belaka apa jawabanku.” “Ahh. “Locianpwe.

Seringkali ia merindukan kehidupan keluarga yang tenang.” sergah orang ketiga. Kepala batu!” bisik Yung Ci. semoga locianpwe baik-baik jaga diri. bahkan bakat-bakatnya melebihi semua putra dan muridku. “Hmm. tapi aku yakin ia berhati baik. kalau kita bisa bersatu tentu kekuatan kita berlipat-lipat” ujar orang ketiga. aku sudah menyambungkan satu pasangan ksatria. aku tidak sedikitpun bergeming. locianpwe?” “Aku sendiri tidak mengetahui latar belakang kehidupannya. Seorang ksatria pantang untuk lari dari gelanggang ketika musuh sudah datang. Tanpa disadari ujung patung yang dipegangi sudah beberpa serpihan yang diremasnya menjadi bubuk. damai dan bahagia. dan aku sudah menemukan orang yang akan melanjutkan tugas hidupku. harus memegang ajaran seperti itu.” “Tapi locianpwe. Betapa rindunya ia terhadap puteranya. Aku sudah mendidik pangcu kalian. mereka yang masih panjang harapan hidupnya. bukankah para pendekar selalu mengajarkan bahwa dalam posisi terdesak tindakan bertahan bukanlah tindakan ksatria tapi tindakan bodoh. Betapa bahagianya. Bayangan-bayangan yang indah tentang kehidupan berkeluarga. mohon pamit. Kalau aku boleh memilih aku ingin kembali ke sana. tapi tidak bagiku.” Pagi harinya rombongan dari bambu putihpun berpamitan.“Anak memang tidak jauh dari watak orang tuanya. Bahagia? Benarkah anggapan seperti itu? Seringkali kita punya anggapan kalau cita-cita berhasil kita akan bahagia. “Mereka yang masih muda.. getaran yang menular ke tangannya. Kalau urusan kami sudah selesai kami akan kembali ke markas untuk melaporkan ke pangcu. “Apakah kalian kira aku takut? Biarpun seluruh pasukan mereka kerahkan untuk tangkap aku. Tapi. Bagaimana locianpwe menyikapi ajaran seperti ini.keparat-keparat itu sungguh menjemukan!” ujar Guru Wong bergetar. tinggal di rumah yang megah. sebagian hati Yung Cipun berlalu. “Baiklah locianpwe. kami enam pasukan sayap perkumpulan Bambu Putih mohon pamit.” Setelah rombongan bambu putih berlalu. mereka yang masih layak dibebani tugas yang berat.. “Apakah pemuda itu yang locianpwe maksud? Siapakah pemuda itu sebenarnya. aku sudah membesarkan anak yang dulu kutemukan. Permata yang perlu diasah.begitu tahu locianpwe ada di sini orang-orang tengkorak hitam itu pasti akan kembali lagi. ahh. Punya anak-anak yang berhasil. dan ia sangat berbakat. Ia seperti Yung Ceng. menimang cucu dan mendidiknya ilmu silat dan ilmu surat. Benarkah anggapan bahwa dalam masa tua berkumpul dengan anak cucu. hidup selalu dilayani oleh orang-orang dekat akan menjamin kebahagiaan itu? Dan haruskah selalu .

Luka-luka mereka serasa sulit sekali disembuhkan. akupun masih ada harapan selamat”. Namun demikian ketika masih muda namanya kalah terkenal dibandingkan dengan pendekar Siauw Lim yang bersama-sama pendekar bukit merak menjagoi rimba persilatan di Tionggoan tengah dan utara. Dulu bersama dengan Thian Ho Taisu. Bab 13. Goan Kin Taisu merupakan ahli obat nomor satu di Siauw Lim. Yung Ci mendapati dua mayat muridnya Sam Tiauw dan Cit Tiauw. mempunyai murid muda yang berbakat. Bu Sim Siansu dan masih merupakan susiok dari Bu Sian Taisu. guru Yung Ci dan Wei Sian. maka Yung Ci akhirnya memutuskan untuk menggunakan perjalanan lewat sungai Yang tse. Diberi julukan seperti itu karena Sun Ciak Kun selain memiliki keahlian sebagai ahli obat juga ahli membuat keramik. pendekar Siauw Lim. kurang apa lagi? Kenapa ia masih terus berobsesi anakanaknya bisa kembali. muridmurid yang setia. jika mayatku tak ditemukan di lembah ini. Ia adalah murid preman dari Siauw Lim satu generasi di atas ketua Siauw Lim yang sekarang. dari harapan-harapan yang dicita-citakan. Karena ingin cepat. guru Bu Sian Taisu. dan ia bisa mendapatkan cucunya yang berdarah ksatria murni? *** Perjalanan mereka menuju lembah agak tersendat karena kedua Tiauw Kwi yang menderita luka yang perlu banyak istirahat. sehingga ia juga dekat dengan Shu Hwang Ti. Sun Ciak Kun. Pat Tiauw selamat. yang siap setia melayaninya. Setelah menyelenggarakan ritual penguburan. yang diberi julukan si guci obat. Yung Ci memutuskan untuk tinggal dulu di lembah sampai kedua Tiauw Kwi pulih kesehatannya. bukankah Yung Ci sudah memiliki banyak hal. Tapi ia menjadi agak tenang ketika mendapati pesan yang ditulis It Tiauw yang berbunyi “Liu Siang diselamatkan nenek besar. ia berguru pada Goan Kin Taisu. Mereka berempat memasuki lembah dengan penuh gopoh. Dulu ia pernah merawat salah satu ksatria salju yang terluka berat karena pukulan kejam Wan Cun Ming. Jika mau meresapi. Di rimba persilatan ia adalah tokoh sakti sekaliber pendekar bukit merak. bahkan di beberapa bagian menjadi borok. si guci obat Akhirnya Yung Ci memutuskan untuk membawa mereka ke raja obat sahabatnya di daerah timur. Lagi pula ia termasuk yang jarang bermusuhan dengan kaum liok lim. Perjalanan memerlukan waktu hampir lima hari. Pek Mau Lokay dan Kun-lun sam-lojin. yang hidup di pengasingan. . bahkan saat itu barangkali merupakan ahli obat nomor satu di dunia. Karena itulah maka Sun Ciak Kun juga memiliki keahlian pengobatan yang tinggi. Sun Ciak Kun. Sun Ciak Kun bukanlah orang sembarangan. memiliki rumah yang megah di lembah delapan rembulan. Betapa kaget dan sedihnya. Persahabatan gurunya dengan para ksatria salju juga diturunkan kepadanya. terutama guci.lengkap? Benarkah selalu seperti itu? Jawabannya akan sangat tergantung banyak hal. Namun harapannya sepertinya sulit terwujud karena justru keadaan dua Tiauw Kwi itu makin memburuk. Adapun Tiong Gi yang sempat menghirup bubuk racun pada tulang hijau tengkorak hitam juga sering mengeluhkan sakit kepala.

Kedua tangannya dengan sangat lentur membentuk tanah liat. Sadar keadaannya diawasi terus oleh lawan yang sedang mengincar. Dan kemudian menggandeng keempatnya ke gedung balian belakang. Perjalanan dari kota Hong Jie. danau yang tenang. . Wajah Soan Ceng kemudian berubah serius.Sebagai raja obat. bisa semingguan. peternak yang menggembalakan bebeknya. Dialah yang menyambut kedatangan rombongan Yung Ci. Di rumah yang besar itu juga digunakan sebagai bengkel membuat keramik. ia lebih banyak bersikap netral. dan gunung-gunung yang hutannya lebat. kini dibuat terpesona dengan keindahan alam Kang Lam. Namun kepada para muridnya yang pendekar ia menekankan supaya mereka bersikap sebagai pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Tiong Gi yang selama ini selalu melihat bukit-bukit. Meskipun belajar ilmu silat tapi bakatnya tidak terlalu baik. Memang inilah salah satu kelebihan Soan Ceng. Sun Ciak Kun tinggal di kota Hang Chao daerah Kang Lam.. Begitu masuk. gayanya seperti tauke yang biasa berdagang. anehnya alas pembuat guci yang terbuat dari kayu itu bergerak terus tanpa sekalipun tangan orang itu menyentuhnya. Badannya subur. sehingga dialah yang memajukan usaha keramik kakeknya. Satu dua kali mereka mendapat gangguan dari gerombolan bajak sungai Yang tse Tiat-sim heng-kang pang. Saat itu usaha keramik dilakukan oleh cucu luar Sun Ciak Kun yang bernama Gu Soan Ceng. seperti berpantun. Sungguh suatu wisata pedesaan yang mengesankan. siapapun membutuhkan pertolongan ia siap membantu. dan menyewa jasa Piauw Kiok. pohon-pohon bambu yang daunnya tidak pernah berguguran. Mereka berangkat waktu fajar. nelayan yang menjala ikan di sungai adalah pemandangan yang khas di daerah ini. Tapi keahlian dagangnya sangat bagus. namun wajahnya cerah. namun gangguan seperti mereka bagaikan lalat mendekati api. rambutnya jarang-jarang berwarna putih semua. Ia tampak sedang sibuk membuat suatu guci dari tanah liat. Gu Soan Ceng adalah seorang lelaki berumuran lima puluh tahunan. Wilayah Kang Lam sangat terkenal dengan pemandangan alam yang khas daerah hilir. rumahnya besar dengan halaman yang sangat luas karena dipakai untuk menjemur keramik. Ia selalu menyambut sendiri tamu relasi bisnis atau yang berusia di atas usianya. yaitu sebelah selatan muara sungai Yang Tse Kiang. Di suatu ruang pembuatan keramik. ada keperluan apakah?” “Kong cu.cuwi loya sepertinya datang dari jauh. Hamparan bumi di daerah ini sebagian besar adalah tanah-tanah datar. dan melelahkan.” jawab Yung Ci ramah. benarkah ini rumah Sun Ciak Kun? Lohu ingin menemui beliau. Yung Ci sengaja menyamar sebagai pedagang. Perjalanan mereka cukup lancar meskipun boleh dibilang lama. mereka melihat seorang tua yang tubuhnya kurus sekali lebih kurus dibandingkan Yung Ci. lahan-lahan murbei yang menghijau. Dialah satu-satunya cucu yang berbakat bisnis. Rumah Sun Ciak Kun berada di perkampungan yang cukup padat. Tepat seminggu kemudian sampailah mereka di wilayah Kang Lam. “Hayaa…. sehingga tidak terlalu lihai. Bentangan sawah yang sangat luas. tanpa menoleh ia langsung berkata ke keramik yang dibuatnya.

!” “Kami yang mestinya minta maaf. Sayang sungguh sayang. Soan Ceng langsung saja meninggalkan mereka. kepandaiannya tidak bertambah banyak sejak kau mengurungkan diri di lembah itu. “Darah kalian keracunan. guci” katanya kemudian menoleh.“Wahai guci. rupanya Yung sicu yang datang. tapi tidak habis mengerti apa maksud orang tua itu. sehingga tidak mampu membeku. sicu. kemudian mengambil dua jarum yang satu ditusukkan ke bagian leher Kie-kut-hiat dan lain pada Sin-to-hiat pada punggung. Murid-muridmu tidak perlu dikhawatirkan.. dan meminta untuk mengantarkan ke Kang Lam Yok Ong. Saya akan tuliskan resep. tak disangkanya Ciak Kun tahu belaka peristiwa yang dialaminya.. tahukah kamu bedanya mendidik anak dengan membuat keramik?” Yung Ci tampak tercekat dan kemudian terdiam. Sambil bekerja kemudian ia melanjutkan kata-katanya. tapi penyakit siculah yang aku khawatirkan. kelihatannya engkau sakit sekali sicu? Coba saya periksa!” “Bukan siauw-te locianpwe. Yung Ci menjadi terkejut.” ucap Yung Ci. dan kali ini dia menggeleng-geleng. “Apakah penyakitnya berbahaya? Locianpwe bisa mengobati bukan?” Ciak Kun kemudian tersenyum memamerkan gusinya yang sudah ompong.mari ke kamar sebelah!” “Tapi kali ini racun yang mereka gunakanberbeda. kita sembuhkan dulu lukanya. dengan cara membusukkan luka luar!” “Aku tahu.” Yung Ci terperanjat. Ia kemudian mengangguk-angguk. muridku yang nanti akan tangani!” Ciak Kun lantas memanggil pembantunya. muridnya. Sepertinya kau sangat bernafsu untuk mendapatkan keturunan seorang ksatria. padahal ia sudah sedemikian rapi menyimpan rahasia tempat tinggal maupun tugas-tugas yang . lukanya tidak terlalu sulit disembuhkan. “Ah. Tiong Gi dan kedua Tiauw Kwi juga ikut terdiam. coba aku periksa!” Ciak Kun lantas memegang tangan Tiauw Kwi bergantian. saya Yung Ci dan murid-murid mohon menghadap kepada locianpwe Sun Ciak Kun.. obatnya gampang. Seperti sudah biasa dengan gaya kakeknya. “Aku menggeleng bukan untuk penyakit anak ini. Kembali Ciak Kun memegang tangan pasiennya. Berapa tahun kau habiskan untuk melakukan pencarian sia-sia itu sicu?” Yung Ci sungguh bagai disengat lebah. tapi lagi-lagi Yung Ci menyodorkan muridnya yang tinggal Tiong Gi yang ada.rupanya ada tamu yang berkunjung ke rumah kita. tapi murid-murid siauw-te ini!” “Hmmm. dan melihat lukanya. racunnya memiliki sifat serangan yang lama. “Murid-muridmu sungguh sangat berbakat sicu. Ciak Kun menyuruh Tiong Gi membuka baju kemudian duduk bersila membelakanginya. Kakek itu langsung melanjutkan ucapannya. Matanya menatap lekat-lekat orang tua yang sudah berusia lebih dari seratus tahun itu memohon penjelasan. “Ah. Kemudian tangannya dengan terampil melakukan beberapa totokan. guci.lagi-lagi tengkorak hitam bukan? Mari. baru kemudian kita obati penyebabnya. “Mereka sama-sama membutuhkan kelembutan dan kelenturan tangan. Kemudian ia meminta Yung Ci untuk diperiksa. tanpa berusaha mengenalkan. tapi anak bukanlah tanah liat yang mudah dibentuk sesuai kehendak hati....

dak kependekaran. iapun masih aktif mengikuti omongan-omongan kaum persilatan di kedai-kedai yang terkenal sebagai kedai-kedainya kaum persilatan di Kang Lam. apakah Lau Sen Bu bukan berdarah ksatria murni? Tapi kenapa ia tidak mewarisi watak nenek moyangnya?” Mata Yung Ci terbeliak. Tapi Yung Ci memandang rendah jika menyangka Ciak Kun tidak tahu peristiwa di bu lim..diembankan kepada murid-muridnya. Ada dua hal yang tidak dia duga. kepribadian. tapi mengabaikan murid-muridmu sendiri bahkan telah mengabaikan pendidikan bagi anak-anak naga. Darah ksatria tidaklah harus diturunkan secara alamiah melalui perkawinan. sungguh siauw-te tidak pernah menyangka. Kemudian ia menunduk dan bergumam pelan sekali. Tiga hari sekali pasti ia menyempatkan untuk mengunjungi kedai-kedai itu sekedar mengurut sang juragan. nafasnya seakan berhenti diingatkan seperti ini. Ia sangat hafal penyakit tukang kedai yang kebanyakan bertubuh gembul kebanyakan menyimpan lemak. Itupun terkadang masih dilimpahkan ke muridnya. “Darimana locianpwe tahu itu semua? Sungguh aneh. “Bagaimana sampai dia tahu” pikirnya.ha. Perkiraan pertamanya tidaklah meleset. Dan tak seorangpun tahu. seperti samudera yang siap selalu menerima limpahan air dari manapun. Yang kedua ia mengira Ciak Kun tidak tahu peristiwa-peristiwa di bu lim. meskipun sudah berpredikat sebagai guru besar ilmu pengobatan. Engkau belasan tahun menjadi ksatria berdarah murni. “Ya. “Ha.ha. yang pertama dia mengira Ciak Kun tidak memiliki kemampuan menebak pikiran orang.. jika tidak. yang masih mau dilayani sendiri. Sekarang aku tanya kepadamu sicu. Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kalian mempercayai kalau ksatria salju titisan salah satu dari 5 ksatria salju ratusan tahun silam akan muncul menjadi dewa penyelamat. Orang tua yang aneh. Agaknya Yung Ci masih memandang ringan kemampuan Ciak Kun. Hanya orang-orang yang sangat dikenalnya saja. Cucu-cucu muridnya yang mahir silat masih aktif di dunia persilatan. tolong tunjukkan di mana salahnya?” “Pandangan seperti itu memang tidak bisa disalahkan. Sun Ciak Kun. tapi kau keliru memahami sicu. Apa kau kira aku tidak tahu kau memaksa-maksa anakmu Yung Lu untuk menikahi Shu Kiok Nio agar kau bisa mendapatkan seorang keturunan berdarah murni?” “Pengetahuan locianpwe tentang sejarah kami sangatlah dalam. memang ia berdarah murni.” . tak mungkin aku sudi jadi besannya. aku menyuruh murid-muridku mencari keturunan ksatria salju. Yang kedua. lembah delapan rembulan belasan tahun siauw-te rahasiakan. Karena sifat seperti inilah maka ia sangat dikenal oleh penduduk Kang Lam. aku tidaklah seperti katak yang mengurung diri dalam tempurung sicu! Karena kenyataan kehidupan bisa aku terima dengan lapang. Ia membiarkan penyakit-penyakit berat ditangani oleh murid-muridnya. atau mengajaknya minum teh bikinannya. meskipun namanya tidak pernah terkenal di rimba persilatan. Apakah menurut locianpwe pandangan kami salah.. Tapi justru karena sifat inilah maka murid-muridnya berhasil mengembangkan kemampuan pengobatan. siapa tak kenal dengan Guci Obat dari Kang Lam. tapi masih suka berkeliaran seperti sinshe keliling. tapi harus diwariskan melalui pembentukkan watak. Tapi harus siauw-te akui memang benar belaka bahwa siauw-te mempercayai pandangan seperti itu.

bolehkah aku belajar membuat dan melukis keramik padamu?” Ciak Kun menatap balik Tiong Gi. Hanya satu orang saja. apakah tidak mungkin Lau Sen Bu memiliki keturunan seperti dirinya?” “Tapi coba bandingkan dengan murid-murid sicu. bahwa selama darah masih mengalir. Ia sudah berusia dua puluh tiga tahun. pandangan mata seakan berbinar. “Sicu. dan itulah inti ajaran yang harus kita petik. lohu lupa sedang berhadapan dengan seorang guru. masih bayi. karena ia tidak ketahuan keturunan siapa.” Tiong Gi yang ikut mendengar percakapan ini. kalau Lau Shu Han saja bisa memiliki keturunan seperti Lau Sen Bu. Ketika suhunya menjenguk Tiauw kwi di rumah murid Ciak Kun. punya anak satu.“Sicu. Mulai hari ini siauw-te akan lebih memperhatikan kemajuan mereka. Anak-anak Soan Ceng kebanyakan sudah menikah dan memiliki usaha sendiri-sendiri. tidak ada manusia yang sempurna.” pikirnya.” Ciak Kun kemudian memegang pundak Yung Ci. seorang wanita yang mengikuti jejak ayahnya berbisnis keramik. tapi ia mencoba untuk meresapi banyak hal. tapi dibandingkan dengan ribuan biksu dan pendekar yang pernah dihasilkan. sehingga rumah itu terasa sepi sekali.” “Siauw-te kini paham.” Tiba-tiba wajah Yung Ci yang semula keruh. Semangatnya pulih. jumlah yang menyimpang tentu sangat sedikit. Dua hari Tiong Gi berada di rumah itu. dan sering menunduk menjadi cerah. “Locianpwe. manusia tetap berpeluang berbuat salah. Hanya keluarga inilah yang menempati rumah. padahal pentingnya pendidikan bukankah untuk mengembangkan bakatbakat itu. “Taecu kini paham! Terima kasih atas wejangan suhu yang sangat bermakna ini. benarkah kau sungguhsungguh ingin belajar? Apakah engkau tidak mau kembali ke suhumu?” . Ia seakan-akan menemukan kepercayaan pada dirinya. justru karena itulah maka para nabi dan orang suci selalu menjadi guru dan penasihat bagi semesta. Itulah pentingnya pendidikan sicu. “Anak baik. Tiba-tiba ia berlutut. Tiong Gi mendapat kesempatan untuk melihat cara membuat keramik dan melukisnya. Sicu punya berapa murid? Berapakah murid sicu yang tidak mewarisi sifat ksatria seperti yang sicu harapkan? Di Siauw Lim juga ada murid yang menyimpang. Ia selama ini selalu memandang rendah diri sendiri. “Ahh aku harus berguru pada kakek tua ini. oleh karena itu jangan segan-segan meminta maaf dan untuk saling menasihati. dan menariknya sehingga ia bangun kembali. dia diberi keleluasaan untuk jalanjalan keluar. kembali. Ia tidak terlalu menghargai bakat-bakat yang dipunyai. meskipun materinya untuk orang-orang dewasa. aahh maaf. aahh ternyata siauw-te banyak bersalah kepada anak-anak dan murid-murid sendiri.

dan khikang. Pada hari yang ketiga luka Tiauw Kwi sudah mengering. “Suhu ijinkanlah aku tinggal di sini barang sebulan dua bulan. Berbeda dengan ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Tiong Gi dari Yung Ci. Tetapi ia juga diajari suatu ilmu tingkat tinggi yang pertama adalah Kiu Yang Sin Ciang. sehingga tak sadar ketika Yung Ci sudah kembali. yang kebanyakan bersifat im. Maka Yung Ci hendak berpamitan. biarlah untuk sementara ia disini. Karena dalam penggunaannya ilmu ini sangat menguras tenaga maka Ciak Kun sendiri jarang menggunakan. bisa belajar dari tokoh persilatan sekaliber Ciak Kun. Mulai hari itu. nanti tentu saja aku akan kembali pada suhu. Yung Ci melihatnya dengan menganggukanggukkan kepala. Tiong Gi belajar pada Ciak Kun. Ia sebenarnya ingin mengajak pulang murid-muridnya. atau baju jirah yang tahan pedang. Ilmu yang kedua yang diajarkan Ciak Kun adalah I-kiong-hoan-hiat yaitu ilmu memindahkan jalan darah. sinkang. teknik membuat air dalam guci dingin dengan . Ilmu ini bersumber dari Kiu Yang Cin Keng yang di Siauw Lim sendiri tidak banyak pendeta maupun pendekar yang mampu menguasai. Getaran atau gelombang yang membawanya harus dikuasai dengan penguasaan tenaga khikang. ia kemudian mengambil tanah liat dan menyerahkan ke Tiong Gi.” Yung Ci tersenyum. Sungguh beruntung sekali nasib Tiong Gi. aku ingin belajar membuat keramik pada Ciak Kun locianpwe!” Yung Ci menatap muridnya. Ilmu ini sangat berguna untuk menghindarkan dari totokan lawan. ia ingin berkonsentrasi mendidik mereka. Hal ini karena cara kerja dari pukulan ini adalah kekuatan “yang” yang harus dihantarkan melalui sebuah getaran atau gelombang dan terkendali jarak dan arahnya. Kekuatan “yang” tersebut baru bisa dikuasai jika seseorang memiliki hawa sinkang yang sangat tinggi. aku hanya belajar sementara. pukulan yang dilancarkannya tetap mampu menembus penghalang tersebut. melukis keramik sampai belajar menjualnya. Dari orang tua itu Tiong Gi bahkan bukan hanya belajar membuat keramik. Tiba-tiba Tiong Gi berkata. “Yung Ci. Lama ia tidak menjawab sampai Ciak Kun duluan yang menanggapi. Dengan ilmu ini meskipun lawan yang dihadapi menggunakan tameng baja yang sangat tebal. tidak usah khawatir. dan tinggal terapi obat dalam saja.” Ciak Kun tersenyum. agak kurang percaya. tapi kemudian Ciak Kun mengajarkan. Pada satu minggu pertama mula-mula memang Tiong Gi diajarkan cara membuat keramik seperti cara yang umum dipakai orang. Yang hebat dari ilmu ini adalah sifatnya yang mampu menghancurkan bagian dalam tanpa merusak bagian luar. Kiu Yang Cin Keng bersifat keras dan panas. “Ikuti caraku!” Asik sekali Tiong Gi belajar membuat keramik. sebaiknya memang kau berkonsentrasi mendidik Tiauw Kwi. kemudian merekapun berpamitan.“Ah bukan begitu maksudku. Ilmu yang tergolong langka dan sulit sekali dipelajari karena harus memadukan kemampuan lweekang. Kiu Yang Sin Ciang adalah ilmu kembangan Ciak Kun sendiri yang merupakan ilmu pukulan bersifat keras.

Maka setelah dua minggu terus menerus mempelajarinya akhirnya iapun mampu memanaskan air dalam guci meskipun terhalang. Mula-mula Tiong Gi belajar tiga guci. Pengaliran "Hawa murni" dari tantian ketantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan di ulang lagi. mulai mengajarkan teknik pernafasan untuk menguasai hawa yang. selanjutnya kau harus mempelajari sendiri!” katanya mengakhiri pelajaran Kiu Yang Sin Ciang. ”Bahkan bisa merusak seperti ini. Tiong Gi dengan sungguh-sungguh dan tak kenal lelah mematangkan ilmuilmunya. “Aku sudah mengajarkan dasar-dasarnya. Selain itu ilmu membuat dan melukis guci dipelajari dengan sangat mudah oleh Tiong Gi. secara terus menerus. Guci-guci itu ditata secara teratur dalam satu garis.” lanjut Ciak Kun sambil memeragakan cara menghancurkan guci-guci itu dengan urutan sama persis dengan sebelumnya. jika kau sudah mahir maka kau bukan saja mampu mendidihkan air. Namun karena Tiong Gi sebelumnya hanya melatih hawa im. tapi juga mampu membakar guci seperti ini. beberapa kali ia merasa tubuhnya panas dingin. maka latihan ini terasa sangat menyiksa baginya. Tiong Gi sudah mahir memanaskan air dalam guci yang terhalang delapan guci di depannya. Pada minggu kesepuluh. membuat Ciak Kun sangat kagum. Dan pada minggu ke delapan. Sesudah selesai satu putaran. lama-lama menjadi lima. maka ia tidak terlalu kesulitan. Apalagi dalam hal khikang. Latihan ini tidak terlalu sulit namun butuh kesabaran dan pemahaman yang lengkap mengenai jalan-jalan darah. Baik murid maupun guru berlatih dengan penuh semangat.” Ciak Kun lalu memeragakan cara membakar guci-guci itu urut dari ujung yan terjauh sampai pangkal yang terdekat. Pada bulan keempat sampai bulan kedua belas. Obyekobyek yang dilukis Tiong Gi bahkan jauh lebih indah dan lebih beragam . Hawa pukulan yang dilepaskan mampu memanaskan air dalam guci nomor lima. berkat latihan Sai cu hokang. Ciak Kun mengatakan. Baru pada minggu kedua belas Tiong Gi belajar ilmu seni melukis guci dan keramik. Ciak Kun sendiri merasa sangat beruntung menjelang akhir hayatnya ada murid yang mampu mewarisi kepandaiannya. namun kini ia tidak mau mengeluh. kemudian ia melancarkan pukulan dari dapan pangkal barisan guci itu. Tiong Gi mulai belajar ilmu memindahkan jalan darah. Tiong Gi diharuskan membangkitkan Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir keberbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian. namun air di guci paling depan maupun guci nomor empat tiak terpengaruh oleh hawa ini. Belasan murid-muridnya terdahulu tak satupun yang sanggup mempelajari ilmu Kiu Yang Sin Ciang. baginya keyakinan akan diri sendiri dan guru diatas rasa sakit itu. mestinya orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. melatihnya. ”Tiong Gi. Ia mencontohkan cara penggunaan ilmu itu dengan menata tujuh guci besar yang berisi air. Ciak Kun. Tiong Gi sudah cukup maju. Pada minggu keenam Ciak Kun mengajarkan teknik mengatur kekuaran pukulan. Ciak Kun. oleh karena ia ingin mengajarkan prinsip terlebih dahulu maka pertama yang diajarkan adalah teknik penggunaannya. mengetahui ilmu yang dimiliki oleh Tiong Gi bersifat Im.memberi penghalang pada guci tersebut. Pada minggu ketiga. Pada akhir pelajaran ini. Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudah ditetapkan.

beberapa diantaranya kami yakini tewas. murid siauw ceng. Namun belum sempat kami membebaskan. Masalah ini dimulai dari kejadian aneh di Kuil Kong-sim Liok Si. utusan dibagi menjadi dua. . Tiga orang utusan Siauw Lim itu meminta bantuan Ciak Kun untuk mencari penyelesaian kemelut yang dihadapi Siauw Lim. Kuil kecil di kota Yi Chang. suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh generasi siauw ceng. di tepi sungai Yang tse kiang itu suatu ketika diambil alih oleh pihak-pihak perusuh. “Tugas apakah itu suhu?” “Dua hari yang lalu tanpa kau ketahui karena barangkali kau sangat sibuk. Dan aku mempunyai tugas untukmu. Kemudian kuil Siauw Lim Si cabang selatan yang berpusat di Wu Han mengirimkan tujuh utusan. Mereka adalah Bu Sian Taisu dan dua orang murid ketua yang sekarang. Belakangan utusan ke Kun-lun tidak pernah kembali. seperti sudah tahu kehadiran kami. dan menceritakan bahwa saudarasaudaranya yang lain telah dibunuh oleh para pengemis sabuk hitam. kami bertiga beruntung bisa meloloskan diri. dibandingkan dengan rencana semula. membuatnya sering menggeleng-gelengkan kepala. dari lukanya terlihat ada bekas-bekas pukulan dari tongkat Kun-lun (sudah diceritakan pada bab 6). Adapun kematian Kong Sim hosiang cukup anehnya. sudah setahunan kau tinggal di sini. Siauw ceng coba selidiki kebenaran cerita biksu yang masih hidup. Karena itu sudah saatnya kau merantau meluaskan pengetahuan Tiong Gi. Kami sudah mencoba bicara baik-baik tidak diterima akhirnya terjadilah pertarungan mati-matian.dibandingkan yang pernah dilukis oleh Ciak Kun sendiri. Maka kemudian kami coba selidiki markas pengemis sabuk hitam malammalam. dan benar kami mendapati seorang biksu murid terpenjara di situ dalam keadaan mengenaskan. susiok. yang dipimpin oleh dua orang susiok. tiba-tiba kami dikepung. tinggal melatihnya saja. waktu setahun sudah lebih dari cukup dan teori dari pelajaran yang kuberikan juga sudah cukup kau pahami. Kong Sim hosiang. “Dua tiga tahun berselang Siauw Lim menghadapi ujian yang berat. datang tiga utusan dari Siauw Lim Pay. Memang sudah jadi kebiasaan. Akhirnya setelah setahun tinggal di Kang Lam barulah Tiong Gi dipanggil oleh Ciak Kun ke ruang pribadinya. Selanjutnya Ciak Kun menggambarkan yang terjadi seperti kisah dibawah. maka harus diselesaikan oleh generasi di atas siauw ceng.” Ciak Kun berhenti sebentar menarik nafas.” papar Ciak Kun memulai ceritanya. dua diantara sute kami tewas. Dari pihak musuhpun ada belasan yang roboh. masing-masing terdiri dari tiga puluh murid. Meskipun usiamu masih muda. dan menyatakan bahwa peristiwa kerusuhan di kuil itu didalangi oleh pengemis sabuk hitam. yang satu dikirim ke markas utama di Chon King. Karena masalah tidak bisa kami selesaikan maka Siauw Lim memutuskan untuk mengirimkan utusan yang jauh lebih besar. ditemukan meninggal. Kemudian dikirim dua kelompok utusan ke Yi Chang yang siauw ceng sendiri yang memimpin. tapi pengalaman di dunia perlu dicari sejak muda. Ketika kami selidiki di kuil Kong-sim Liok Si itu. yang satu dikirim ke markas pengemis sabuk hitam di Yi Chang. bersama empat orang sute. Namun kemudian utusan ini hanya kembali seorang. ternyata penghuni baru kuil mengaku mengurusi kuil karena kuil kosong. Dan utusan ke Kun-lun. “Tiong Gi.

semacam Tiat-sim heng-kang pang maupun Hek-in Pang. dan menunjuk suheng Bu Sim Siansu sebagai penggantinya. Siauw ceng sendiri mendapat bagian kelompok kedua yang dikirim ke markas pusat di Chon King. termasuk biang setan kelabang emas. seperti ada pihak-pihak yang sengaja menjelek-jelekkan nama Siauw Lim. Namun berbeda dengan di pusat. Tiong Gi! Dunia persilatan sekarang dalam ancaman yang berbahaya muridku! Ada barisan orang-orang dari golongan hitam yang sedang mengobok-obok partai-partai persilatan. Sungguh jumlah korban yang sangat besar. murid biksu yang ditawan dan bisa membawa kembali dua mayat sute. Meskipun disambut tegang. duka Siauw Lim dukaku juga. karena citra Siauw Lim menjadi merosot tajam. meminta maaf. Siauw Lim kemalingan. Lihatlah baik-baik benda ini. Datuk-datuk besar sudah bergabung di dalamnya. tidak bisa menghindari kekerasan. Lebih celaka lagi pada saat banyak tokoh keluar. Dan yang sangat membahayakan. ciangbujin Siauw Lim saat itu. apakah masih hidup atau sudah mati? Kabar terakhir menyatakan bahwa barisan ini sudah menguasai lembah dua sungai besar. Akibat dari semua peristiwa ini membuat susah hat supek Thian Jin Siansu. tetapi korban yang jatuh dari kedua belah pihak sangat banyak. aku memberi tugas yang sebenarnya cukup berat bagimu. tapi siapa nyana. karena ia adalah utusanku. utusan yang dikirim ke markas cabang di Yi Chang.” kata Ciak Kun sambil menunjukkan sebuah guci bergambar kepala harimau. yang segenerasi denganku. Maka dari itu sutit mohon bantuan pada susiok. Berita ini datang dari laporan yang berkembang di rimba persilatan. Akibat dari peristiwa ini sungguh sangat membuat Siauw Lim merasa tidak enak. Karena itulah maka besok kau harus turun gunung. dalam barisan ini sudah bergabung perkumpulan-perkumpulan sesat. Meskipun pada akhirnya kami bisa membebaskan Kong-san hwesio. “Begitulah kisahnya.Karena susiok yang masih hidup hanya dua. dedengkot pengemis sabuk hitam. ia berjanji akan menyelesaikan masalah secepatnya. namun pimpinan pengemis sabuk hitam yang saat itu dipegang Sin ci Lokay. Perkumpulan pengemis sabuk hitam yang dulu terkenal sebagai perkumpulan pengemis yang gagah sudah disusupi dan dikuasai. Di pihak lawan lebih dari tiga puluh murid tewas. sehingga ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Setelah mendapat kepastian kesediaan Ciak Kun untuk membantu tiga utusan itupun besoknya kembali ke Siauw Lim. aku akan membantu Bu sutit. apakah dia yang memakai rangka barongan . sedang di pihak kami ada sepuluh murid yang tewas. untuk ikut membantu masalah Siauw Lim. Keteganganpun bisa diselesaikan.” “Tentu saja. sakit Siauw Lim sakitku pula. bantulah Siauw Lim menyelesaikan masalahnya!” “Nenek kelabang emas. Aku sendiri tidak tahu kabar terakhir Pek Mau Lokay. dan menceritakan bahwa perkumpulan sabuk hitam sedang dilanda kemelut internal. Siauw Lim kemudian mencoba menutup diri. hanya berselang sebulan dari peristiwa itu kembali Siauw Lim mendapat berita duka. utusan yang dikirim ke Kun-lun dipastikan telah meninggal. termasuk wakil kepala biara. Sebuah kitab ilmu yang sangat penting yaitu Liong Jiauw Ciu dicuri maling. maka keduanya diterjunkan semua. jika kelak ada orang yang membawanya kepadamu terimalah ia dengan baik.

.suhu taecu ingat. tepatnya ia adalah ayah dari Lau Shu Han.” kata Tiong Gi. Aku adalah sahabat Lau Cing San sehingga tahu riwayat mereka.berbentuk kelabang raksasa taecu. Lau Cing San sendiri adalah ayah dari Lau Sen Bu.” “Warisan Lau Cin Shan??? Bukankah ia nenek moyang dari guru Yung? Nenek moyang ksatria salju. dan yang lebih penting lagi siapa yang menggerakkan mereka. “Sun Kian. Tiong Gi melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki.. “Ahh.” “Tahukah suhu kenapa mereka bermusuhan dengan kelompok tengkorak hitam?” “Ya. tapi intinya karena kelompok tengkorak hitam tidak menghendaki negeri salju menjadi daerah mandiri. suhu?” “Benar ia adalah nenek moyang ksatria salju. Barulah keesokan harinya. Tiong Gi dilepas berangkat menuju ke kota Yi Chang. seorang pemuda gagah yang masih berusia remaja yang akan mendapati berbagai pengalaman baru yang menegangkan. keponakanku mewarisi ilmu melukis yang sangat baik. Marilah kita tengok peristiwa yang terjadi di tubuh partai pengemis sabuk hitam. Setelah terjadi kerusuhan di kaypang cabang Yi . benarkah demikian. “Ilmu melukis dan membuat keramik. pesilat-pesilat dari selatan lebih tergiur berebut warisan Lau Cin Shan couwsu.” Hampir semalam suntuk mereka berbicara banyak hal. kakek dari Lau Bin Siong.” kata Tiong Gi penuh semangat. sambil membayangkan peristiwa dipenjara Kuil Kong-sim Liok-si. Tiong Gi agak terperanjat mendengat jawaban ini. Dan perlu kau ketahui pula di saati kaum persilatan di wilayah tengah disibukkan oleh masalah pertikaian antar partai. ketika matahari sudah lebih dari sepenggalah. kakek buyut Lau Cing San. ia pasti dibunuh oleh kawanan penjahat-penjahat itu. Ia memang sengaja hendak mencari pengalaman di dunia persilatan. kepala kuil itu kalau memang meninggal. “Warisan kosong!” jawab Ciak Kun pelan. panjang sekali cerita dendamnya. *** Kita tinggalkan dulu Tiong Gi. Dari kota inilah ia akan menyelidiki pelaku-pelaku peristiwa yang terjadi waktu itu.. taecu tahu peristiwa yang terjadi di kuil Kongsim Liok-si. entah untuk apa. Ia merasa tertarik sekali pada pembicaraan gurunya. selain itu tidak ada yang diwariskan secara lengkap!” kata Ciak Kun menjawab sendiri pertanyaannya.. besan Yung Ci. terakhir kudengar mereka mulai merambah Kang Lam.taecu pernah bertemu dengannya. Ia hanya menggeleng ditanya balik seperti itu. “Apa maksud suhu?” “Tahukan kamu apa warisan Lau Cin Shan yang lengkap?” Mata Tiong Gi berbinar-binar mendengar percakapan mereka ini. kepandaiannya sungguh menggiriskan. mulai keadaan dunia persilatan sampai rahasia ilmu melukis. mereka menghendaki negeri itu tetap dalam genggaman mereka!” “Apakah suhu tahu apakah warisan Lau Cin Shan. “Eh kau tahu siapa pelakunya? Aku sendiri hanya bisa menduga-duga siapa dibalik peristiwa ini. ia tinggal di Heng Yang. yang diperbutkan kaum persilatan itu?” tanya Tiong Gi memancing. karena gerakan mereka bukan gerakan biasa tapi berpilin dengan gerakan perebutan kekuasaan.

khas suara orang tua. Persis seperti gelar yang disandang.. pangcu menyuruhku menghadapkannya padamu. Aku akan mengutus salah seorang sute membawamu ke sana!” Selanjutnya Sin ci lokay mengutus seorang sutenya yang bergelar Sin tung lokay membawa Sin Hwat ke Pek Mau lokay. Sin Hwat disambut dengan baik oleh Ciangbujin kaypang yang berjuluk Sin ci lokay (pengemis tua berjari sakti).. Mata yang memiliki sinar mencorong seperti itu diakui pemiliknya sudah rabun. Tempat yang mereka tuju adalah sebuah perbukitan di belakang markas. Tapi akan sayang kalau aku harus mati meninggalkan ilmu yang baru aku sempurnakan. hanya itu maksud kedatangan taecu. Rambut yang masih subur itu dibiarkan terurai begitu saja. siapa anak yang kaubawa ini?” ucap kakek tua itu dengan suara yang dalam dan berat. “Suhu. Dan ketika ia membuka matanya.. beliau sudah nyepi ke suatu perbukitan. pengemis ini memang sudah sangat tua. Apakah aku bersedia .surat dari suhumu sudah kubaca dengan baik Sin Hwat! Diakhir surat gurumu memohon agar aku sudi mengijinkanmu menemui Pek Mau suhu. Sin ci lokay ini adalah murid pertama dari Pek Mau Lokay. kiranya bisa menampung lima ribu orang. dia adalah murid Tiong Kang sute di Yi Chang. dan rambutnya sudah memutih semua persis benang-benang salju. “Ada maksud apakah kedatanganmu Keng Ci. Untuk bisa menemui beliau hanya pada muridnya yang tinggal disini yang tahu tanda untuk menghadap beliau. mari coba kita lihat sejauh mana bakatmu. Baiklah anak muda.. di situlah markas besar pengemis sabuk hitam.mataku sudah lamur. yang intinya memohon agar Sin Hwat diberi petunjuk ilmu lebih lanjut supaya bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh cabang Yi Chang. hanya saja.” Sin Hwat menjadi terheran dengan ucapan ini. Pelataran gedung itu sedemikian luas. apakah lagi jika masih melek dengan sempurna. perlu kau ketahui Pek Mau suhu sekarang sudah tidak lagi tinggal di markas..aku sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan. Mereka berdua akhirnya bisa menghadap Pek Mau lokay. Di luar kota terletak sebuah gedung besar yang cukup kuno. suhu mengirim surat itu untuk sucouw!” “Hmmm. terdapat gua yang menjadi tempat pertapaan pengemis tua itu.Chang. Setelah mengucapkan kata-kata sandi permohonan menghadap. sesepuh pengemis sabuk hitam yang paling dihormati. terdengar suara yang berat dari dalam mempersilahkan mereka masuk. mungkin sudah berusia lebih dari seratus tahun.. Di markas itu setelah diuji permainan tongkatnya. markas pusat pengemis sabuk hitam. kalau suhu tidak ada keperluan untukku taecupun akan berpamit.” Lalu Sin tung Lokaypun berpamitan. “Hmmm.. “Hmmm. “Apa maksud Tiong Kang menyuruhmu menghadapku anak muda?” “Sucouw. Maka Sin Hwatpun membacakan surat gurunya. Aku sama sekali tidak keberatan. ketua cabang waktu itu Tiong pangcu mengutus Wan Sin Hwat ke Chon King. Sin Hwat dibuat kagun sekali dengan keindahan kota Chon King yang dikelilingi oleh pegunungan yang tinggi menjulang.. Di sebuah tebing. cobalah bacakan saja surat itu untukku. Sin Hwat dibuat terkejut dengan tatap mata yang mencorong sedemikian tajamnya.

Banyak tugas yang harus kau emban. Beruntung sekali nasib Sin Hwat karena mendapat kesempatan berguru langsung dari dedengkotnya pengemis. dan langsung berbatasan dengan jurang. “Sin Hwat. Gua itu ternyata tembus ke sebuah tanah datar yang hijau. Ia lebih memilih hidup sebagai petani. Ia hanya berpesan kelak murid terakhirnya akan ditugaskan untuk itu.mendidikmu atau tidak tergantung jodoh. Tanah datar itu luasnya kira-kira hanya seratus meter persegi. setelah ia mendapat sebuah kitab dari suhengnya. Boleh dikatakan kini kepandaiannya setingkat dengan Sin ci lokay. karena ternyata beberapa tahun berselang ia . sama-sama bersemangat tak kenal lelah dalam mengajar dan belajar. Yang pertama adalah tugas mencari kitab enam belas jurus merak sakti. Bahkan Pak Mau lokay terpaksa tidak ikut campur terhadap masalah yang dihadapi oleh kaypang. Kitab itu ditulis oleh suhengku pendekar bukit merak. Ia tinggal di bukit merak. Karena itulah ia terkenal sebagai pendekar bukit merak. guru Sin hwat memanggilnya. hari ini aku mencukupkan dalam membimbingmu. Tugas ini sangat rahasia. Sin Hwat pun berlulut. Sin Hwat lulus ujian dan diterima sebagai murid terakhir dari Pek Mau Lokay. Hang liong tung hoat (ilmu tongkat penakhluk naga) dan ilmu terakhir yang baru diselesaikan oleh Pak Mau Lokay yang diberi nama Koai Eng Sin kun (Silat sakti rajawali siluman). karena kisah pencurian itu hanya sedikit yang tahu. dan memang menjadi rahasia bagiku. Kami dulu sama-sama berguru kepada seorang orang tua sakti yang hidupnya menggelandang. Maka boleh dikatakan setelah berguru hampir tiga tahunan. Nasib kaypang ini ada ditanganmu. Tapi belakangan baru aku ketahui pesan itu adalah pesan wasiat. Dari guru yang sakti ini. Waktu itu aku heran mengapa ia tidak wariskan langsung saja ke anak cucunya. muridku. penuh dengan tenaga yang dilepas. Di lapangan inilah kemudian Pek Mau lokay menguji Sin Hwat. Sin Hwat telah berubah menjadi rajawali sakti yang sulit dicari tandingannya. Ada dua tugas yang harus kau selesaikan. Puluhan tahun yang lalu ia datang kemari menitipkan sebuah kitab. sudah waktunya engkau turun gunung. Apalagi tampaknya guru baru Sin Hwat sangat mengasihi murid terakhirnya. Ilmu ini memang sengaja diciptakan oleh Pek Mau Lokay. gesit. suheng memilih jalannya sendiri. Berbeda dengan jalan kita. tapi berpesan bahwa kitab itu kelak harus kukembalikan lagi kepada keturunannya. bahkan dengan ilmu barunya ia memiliki kelebihan dibandingkan dengan ketua pengemis pusat itu. Ilmu yang terakhir ini merupakan ilmu kembangan dari Pat sin kun ciang hoat dan ilmu yang diwariskan oleh suheng Pek Mau Lokay. Jika Pat sin kun ciang terdiri dari jurus-jurus yang bersifat keras dan kuat. tapi setelah lebih dari dua puluh tombak terdapat percabangan gua yang salah satunya lebih terang. Mari ikutilah aku!” kata pengemis tua itu mengakhiri percakapan. dan mengandung tenaga lemas yang mengandung kekuatan tersembunyi. Ia kemudian belajar selama kurang lebih dua tahunan. aku yakin kau bisa memikulnya dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak mau mengikuti jalan hidup suhu sebagai pengemis. sifatnya lentur. ia menyempurnakan Pat sin kun ciang hoat (ilmu pukulan tapak tangan delapan jurus sakti). Ia lalu berjalan ke belakang menyusuri lorong-lorong gua yang gelap. sebaliknya Koai Eng Sin Kun terdiri dari dari hampir tiga puluh dua jurus. Ia memperbolehkan aku mempelajari kitab itu. Baik guru maupun murid. di musim gugur pengemis tua. Pada suatu pagi.

apa jarang di bersihkan!?” tanya Sin Hwat sambil tersenyum. Di depan pintu gerbang markas. Oleh karena itu muridku. sekarang waktunya sudah sangat genting. aku kehilangan kitab itu. Aku sudah berusaha memerintahkan murid-muridku mencari jejak keturunan terakhir dari suheng. ketika aku sendiri turun gunung. Ia ingin mengetahui dulu yang telah terjadi. karena pohon yang terdekat dari mereka berjarak lebih dari tiga tombak. Sampai sekarang aku masih belum menemukan titik terang siapa kira-kira pelakunya. Barisan sepuluh pengemis ini segera mengepung Sin Hwat. tapi jika pelakunya muridmuridku juga sulit dipercaya mereka berani melakukan pencurian di kamar suhunya sendirian... tanpa sepengetahuan Sin Hwat. mereka semua telah roboh terkena tendangan dan pukulan Sin Hwat. Tapi aku yakin ada hubungannya dengan kerusuhan yang akhir-akhir ini melanda kaum persilatan terutama yang sedang dihadapi oleh kaypang kita. Celakanya. ingin memberi pelajaran kepada pengemis muda yang dianggap tak sopan. Maka gemparlah markas . Maka kau harus bergegas menyelesaikannya. tapi nihil. Maka betapa herannya ia ketika di sudut kota menemui pengemis yang bersikap garang. Robohnya barisan pertama. menjadi ikut terheran-heran. Teman penjaga yang satunya lagi. Ia mencoba untuk tidak turun tangan langsung. Dengan segera Sin Hwat berhadapan dengan barisan pengemis ini.. taecu akan selalu ingat pesan suhu dan akan taecu junjung tinggi untuk taecu laksanakan dengan segenap kemapuan!” “Sudahlah Sin Hwat. Ketika ia ikut membantu kawannya. Barisan inipun kocar-kacir tak lebih dari sepuluh jurus.meninggal.” Sin Hwatpun berpamit.. Tiba-tiba di halaman depan itu sudah berdiri sepuluh orang pengemis tingkat tiga. atau dengan kata lain adalah merampok. Tempat yang mula-mula dituju adalah markas kaypang. Dua tahun lebih ternyata waktu yang cukup panjang untuk mengubah wajah kaypang sabuk hitam ini.” “Baik suhu. Tidak ada tanda-tanda pencurian dari luar. Tapi mereka terlalu memandang rendah Sin Hwat dengan mengajukan barisan tingkat tiga. “Ah tuan pengemis gagah kenapa di pintu gerbang ini bisa kejatuhan dahan sebesar ini yaa. Ada kemungkinan penyusup masuk atau murid yang bekerja sama dengan orang luar. Tak lebih dari lima jurus. yang kusimpan dikamar. tiba-tiba pemuda yang didepannya sudah berkelebat lenyak dari pandangan. sambil iseng kakinya menendang. dan keturunannya dikejar-kejar oleh salah satu musuh besarnya. “Tukk! Aduuhh!” teriak pengemis itu sambil memegang-megang kakinya. aku tak perlu segala ikrar dan janjimu yang penting sumpah dalam hati untuk melaksanakannya. langsung disusul oleh munculnya barisan kedua. Maka secepat kilat ia membunyikan loceng tanda bahaya. “Siapa kamu dan apa keperluan!” bentak salah seorang penjaga galak. Entah kenapa dan bagaimana caranya tiba-tiba ada kayu yang melintang di depannya. aku Sin Hwat ingin menghadap kay pangcu!” “Enak aja bilang aku pengemis tua. aku masih muda tahu!” balas penjaga tadi. tugas kamu yang kedua adalah membantu menyelesaikan masalah kaypang kita. “Lokay. ia dicegat oleh dua pengemis penjaga. Barisan ini terdiri dari lima pengemis tingkat dua. bahkan ada sebagian yang ditemui sedang memaksa meminta sumbangan.

Bab 14. Mereka telah mendengar bahwa Pek Mau Lokay beberapa tahun terakhir mengambil murid terakhir bernama Sin Hwat. kami Chon King Sam Sinkay ingin meminta pelajaran darimu. maka ia pun mengerahkan ginkangnya untuk berloncatan kesana ke mari. Jawaban ini membuat air muka ketiga pengemis tua ini berubah. “Sam-wi lokay. Bahkan dua orang terserempet pukulan itu. beberapa kali mereka menjadi terkejut karena belum pernah melihat jurus-jurus seperti itu sebelumnya. dan dari kaypang mana? Dilihat dari pakaian dan jurus yang kau pakai mestinya kau anggota sabuk hitam. Jurusjurus ini cocok sekali menghadapi serangan tongkat yang datang bertubi-tubi seperti kitiran. Maka kini Sin Hwatpun merasakan lawan yang cukup setimpal. mengelak dan menangkis. ketiga pengemis ini telah banyak kemajuan. Pengalaman menghadapi orang-orang pesilatan yang berilmu tinggi membuat mereka lebih waspada. Tongkat di tangan mereka bergantian bergerak menyerang secara teratur. aku juga anggota kaypang sabuk hitam. Berbeda dengan pengemis-pengemis sebelumnya. Setelah Sin Hwat mengubah cara bersilat. sehingga memaksa mereka mengeluarkan tongkat. Maka serangan ketiga pengemis inipun segera mendapat lawan yang tangguh. banyak kembangannya dan memiliki banyak tipuan. Setelah jurus ke sepuluh dari Koai . baiklah siauw susiok.pengemis ini. Setiap ia menangkis satu pukulan. Dengan gerakan gesit ketiga pengemis sakti itu mengelilingi Sin Hwat. sehingga Sin Hwat menjadi kerepotan. ketika menghadapi Liu Siang. maka mulainya ia mempraktikkan ilmu barunya Koai Eng Sin Kun. segera disusul pukulan susulan secara bertubi-tubi. mereka lebih rajin berlatih. “Anak muda siapakah namamu. Kalau hanya mengandalkan senjatanya untuk menangkis hujan serangan itu saja. Koai Eng Sin Kun merupakan ilmu silat yang terdiri dari jurus-jurus yang dimainkan secara cepat. Namun ia tetap bergeming dengan tangan kosong. “Ahhh kiranya kau murid Pek Mau Lokay. Menyelesaikan kemelut kaypang sabuk hitam Setelah menggunakan tongkat keroyokan mereka benar-benar menjadi lebih berisi. tentu dia tidak kuat bertahan lama. Mulailah ia mempraktikkan Pat sin kun ciang. siapakah gurumu? Jangan sampai kami kesalahan tangan memusuhi orang sendiri!” tanya pengemis yang paling tua berjenggot putih. sehingga membuat tiga pengemis yang dulu pernah menghadapi Liu Siang muncul. sedikit demi sedikit tekanan Sam Sinkay mengendor. aku ingin menghadap kay pangcu!” jawab Sin Hwat tenang. tiga pengemis ini lebih bersikap hati-hati melihat kedatangan seorang pemuda yang tampaknya berisi. Dibandingkan beberapa bulan yang lalu. bersiaplah!” kata pengemis ini sambil memberi abaaba ke kedua kawannya. sehingga Sin Hwat seperti terus tergencet serangan-serangan tongkat mereka. Karena jurusjurus Pat sin kun ciang sepertinya sudah dikenal oleh mereka. Mereka memang terkejut mendengar nama ini. namaku Sin Hwat. mestinya aku memanggilmu susiok.

oleh karena itu kami memintamu untuk bergabung dengan kami sicu.Eng Sin Kun.. hmm aku harus lebih berhati-hati. Untunglah tamparan yang hadiahkan bukan tamparan maut.. kelak kalau perjuangan kita berhasil apapun yang sicu kehendaki pasti akan teraih.” ujar Sin Hwat sambil tangannya memegang arak. “Sicu. dan hasil sumbangan ini tidak kita gunakan untuk memperkaya diri. Mereka memasuki ruang tamu yang cukup luas. dan Sin Hwat masih bisa merasakan kesiuran tenaga yang sangat kuat. tapi untuk sebuah perjuangan. masuklah supaya kita bisa minum secawan arak. hidup bergelimang kesenangan??” bujuk Sin Tung Lokay. jangan khawatir. merampok harta orang dan mengganggu orang-orang kecil. Seorang pelayang kemudian menghidangkan arak. “Baiklah Lokay. Sin Hwat agak ragu untuk memulainya. ketahuilah Sin ci suheng sudah mengundurkan diri. dan untuk perjuangan itu. aku melihat beberapa pengemis melakukan hal yang memalukan. . satu dua pukulan Sin Hwat bersarang di tubuh mereka bertiga. Tapi heran tampilannya berubah sekali dan tenaga tangkisan yang dirasakan benar-benar membuat Sin Hwat meragukan kemampuannya.” “Sicu masih terlalu muda. apakah sicu tidak ingin menjadi seorang kongcu yang dihormati. Sin Hwat tersentak. mari silahkan sicu. Sin Hwat terperanjat demi melihat pengemis yang dihadapannya bukan lain adalah Sin tung Lokay.pangcu kenapa engkau membawa kaypang ke arah yang sesat. memiliki banyak kekasih. kita tidak sembarangan meminta sumbangan. silahkan diminum. “Aha kiranya Hwat sicu yang datang. Barisan mereka menjadi berantakan. mereka duduk di kursi. hanya kepada orang-orang kaya yang pelit saja kami melakukan hal itu. Akibatnya pukulan itu melenceng.” pikirnya. di salah satu meja. kemanakah Sin ci pangcu? Aku ingin menemuinya!” kata Sin Hwat membuka percakapan. berbaju kain sutera. kita membutuhkan tenaga muda. Di depannya sudah berdiri seorang pengemis tua. sehingga dengan mudah pada jurus berikutnya Sin Hwat memberikan tamparan keras. aku yakin kau tidak akan menghina yang muda. “Bagaimana ia tahu pikiranku.” “Ah benarkah? Hmmm. “Lokay. Kemudian diminumnya arak itu. sekonyong-konyong ada hawa tangkisan yang menahan tamparan Sin Hwat. apakah kau takut aku meracunimu?” tanya Sin tung Lokay. dan muridmurid yang lain kemudian mengangkatku menjadi pimpinan kaypang. “Mari sicu. dan sebelum tamparan itu mengenai tubuh mereka.” kata Sin tung Lokay berubah ramah.

setiap perjuangan butuh pengorbanan. Silahkan sicu pikirkan ajakan kami!” Sin Hwat meninggalkan markas dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. aku tidak paham soal segala perjuangan. Setelah tidak menjabat pangcu. Kalau memang sicu ingin mencarinya. sehingga lima belas pengemis harus terusir dari markas. dan agak tak terurus. “Perjuangan apakah pangcu? Lantas kenapa para pengemis dibiarkan berbuat jahat seperti itu?” “Sicu. Pada saat Sin Hwat datang. ia kemudian meninggalkan markas. jangan segan-segan berkunjung ke markas. Ia masih terlalu muda untuk bisa memahami pergolakan yang terjadi.” Selanjutnya Sin ci Lokay menceritakan peristiwa hebat yang dialami kaypang. Sin ci Lokay berembug dengan saudara-saudaranya membahas masalah Yi Chang. kalau begitu aku permisi dulu pangcu.” “Silahkan sicu. ada pihak-pihak yang menganggap aku gagal. Hanya tiga dari 20 pengemis yang dikirim ke Yi Chang bisa kembali ke markas. . Namun baru tiga bulan kemudian ia bisa menemukannya. Ia masih terlalu hijau dalam berdiplomasi. sehingga bukannya selesai justru masalahnya makin pelik. kita sedang berjuang untuk mengentaskan oran-orang miskin terbelakang. Sin ci Lokay yang terlah berusia tujuh puluh limaan tubuhnya tambah kurus. Setelah itu suasana di markas menjadi panas. bersama sekitar lima belas pengemis lainnya. pertentanganpun tak dapat dihindarkan. Sin ci Lokay tinggal di sebuah kuil tua. Gerakan mereka makin tak terbendung. sehingga mengakibatkan aku mundur. apalagi dari kedua belah pihak ada durna yang mengipas-ngipasi perselisihan. Beberapa bulan kemudian datang utusan dari Siauw Lim. tidak dia duga Sin Tung Lokay justru mengajaknya bergabung. “Pangcu. tahukan sicu untuk apa dibentuk kaypang ini? Tidak lain untuk mengangkat derajat pengemispengemis miskin. apakah yang terjadi?” “Panjang ceritanya sicu. aku harus berbicara padanya!” “Akupun tak tahu kemana ia sekarang. Sayang yang dikirim adalah tetua yang beradat keras. “Pangcu. Karenanya ia kemudia berusaha untuk mencari Sin ci Lokay. Berminggu-minggu ia melakukan penyelidikan. tapi nalurinya memberi tahu kalau ada hal yang tidak beres.” Untuk beberapa saat Sin Hwat tidak bisa bicara apa-apa. Termasuk dua tetua. itu yang sedang kita lakukan sicu. Sin Hwat berasa terharu melihat kondisi mereka. nanti kalau kami tahu kami sampaikan ke sicu. ada kelompok pengemis yang memecah belah kaypang kita. makanya kita meminta dukungan dari orang-orang kaya. dua diantaranya sute dari Sin ci Lokay sendiri.” “Baiklah. hingga akhirnya ia dapat informasi posisi Sin ci Lokay. jauh di pinggiran kota. tolong katakan dimana Sin ci Lokay. Ketika bertemu. akhirnya diputuskan untuk mengirim 20 pengemis. nah setelah para pengemis ini bisa terentaskan giliran orang-orang miskin yang akan kita perjuangkan. aku bisa mengerahkan pengemis untuk mencari beliau. Ia merasa bingung. Pertikaian antara kaypang dengan Siauw Lim tak dapat dihindarkan. yang terpenting sekarang.Sin Hwat tersentak dengan ajakan ini. Korbanpun berjatuhan dari kedua belah pihak.

dan Pek Tung Lokay. gigi-giginya sampai menggeretak menahan amarah yang hendak meledak. Sayang suhu tidak bersedia turun tangan. karena pelakunya juga orang-orang dalam. tapi sepertinya bukan orang luar. Di markas mereka disambut baik. Pertandingan kemudian dibuka antara Chon King Sam Sinkay melawan sepasang pengemis tangan sakti. namun gempuran ini menghadapi pertahanan kokoh sepasang karang yang bisa bergerak dengan dinamis berkat pengaturan Pek Tung Lokay. namun suasananya tegang sekali. silahkan tanggalkan sabuk kalian atau bersiaplah menerima hukuman. baiklah sekarang kita ajukan lima jago dari kalian dan lima jago dari kami! Dan bersiaplah tiga dari lima jago kami akan maju bersamaan.” “Kita harus temukan pimpinan mereka. sadarlah untuk kembali ke jalan yang benar!” “Kalianlah para pengacau itu.. tapi kalau kau masih punya sedikit kegagahan hayo hadapi kami secara jantan!” Meradang rasanya hati Sin Tung Lokay mendapat tantangan seperti ini. namun kelemahan ini bisa ditutup oleh kepemimpinan Pek Tung lokay yang cukup hebat mengarahkan Sin ciang Siangkay. Maka berangkatlah mereka bertujuh belas ke markas.aku tahu kau punya banyak pengikut sute. berbasa-basi. “Aku tahu kalian membawa jago baru. “Siapakah orang-orang dibalik mereka. “Masih belum jelas siapa mereka.“Begitulah yang terjadi Sin Hwat. bahwa kau bukan lagi pangcu disini. aku adalah pangcu sekalian pengemis sabuk hitam. Tongkat Chon King Sam Sinkay menyerang bertubi-tubi seperti gelombang samudera. Siapa jago kalian?” Sin ci lokay lantas berunding dengan Sin Hwat. Pertandingan ini karena berpasangan dianggap sebagai satu paket. katakan saja apa yang kau kehendaki!” bentak Sin Tung Lokay langsung memanggil nama Sin ci Lokay. “Sute tidak perlu kita berbasa-basi. Maka dipilihlah lima jagoan yang akan mewakili pihak mereka yaitu sepasang pengemis tangan sakti murid dari Sin ci Lokay. “Suheng syukurlah bisa datang kembali dalam keadaan sehat!” ucap Sin Tung lokay. kalian tentu tahu belaka kedatangan kami kemari untuk membersihkan kaypang dari tangan-tangan jahat!” “Orang she Boh. memudian Sin Hwat dan Sin ci Lokay sendiri. “Sute.” keluh Sin ci Lokay. sepertinya kau lupa. Diputuskan agar kaypang pusat dibersihkan terlebih dahulu. namun melihat situasi sebagai pihak penantang akan sangat memalukan jika tidak berani menyambut tantangan lawan. pangcu!” Selanjutnya mereka merencanakan tindakan selanjutnya. kemudian sute Sin ci Lokay yang bergelar Pek Tung Lokay karena selalu membawa tongkat berwarna putih. pihak Pek Tung Lokay . Sehingga pertarungan menjadi benar-benar seru. Pertandingan ini sangat seru karena mereka bertanding dalam barisan. Ia merasa sedih. Posisi kubu Sin Hwat sebenarnya tidak menguntungkan karena mereka bertiga bukanlah pasangan segi tiga. jika kalian tidak lagi mentaati perintahku. Bahkan pada paruh waktu kedua. Paling tidak mereka masih anggota cabang. mereka sebenarnya ingin mengajukan komposisi pertandingan tiga lawan tiga. pangcu?” Sin ci Lokay menarik nafas panjang. “Hmm..

ia kecolongan karena ternyata lawan menggunakan gerak tipuan yang sungguh indah. Ciam Lun memang pihak luar. sedang pihak lawan yang maju adalah Ciam Lun. kecuali satu hal yang diyakini. lebih parah lagi ketika mereka setengah-setengah dalam menangkis pukulan tapak tangan delapan jurus sakti. namun dari pihak lawanpun sebagian masih ada yang setia pada Sin ci Lokay. Sebagai bekas Ciangbujian kelihaiannya sudah bisa dikatakan mumpuni. dan dalam hati mendoakan kemenangannya. dari pihak Sin ci Lokay. bahkan sampai ia benar-benar terdesak. dia sendiri yang maju. ia tidak mengenal ilmu silat lawan. Ia ingin melihat gaya silat lawan untuk bisa menebak asal-usul perguruan lawan. tubuh mereka lenyap tinggal bayang-bayang saja. dan akan dihadapi oleh Sin Hwat. terlambat mereka tangkis. namun dari mana asalnya banyak orang yang tidak tahu. karena sebelumnya belum pernah bertemu. ia lebih banyak bertahan. Sin ci Lokay bukan tanpa alasan mencoba lebih banyak bertahan. jurus-jurus lawan bergaya Tibet atau Tayli. Pertandingan kedua. Pertarungan dua orang ini lebih seru dari pertarungan pertama. Orang berpakaian pengemis ini agak asing bagi Sin ci Lokay. meskipun dari kubu Sin ci Lokay hanya membawa 16 anak buah. Ketika pukulan lawan yang mengarah dadanya coba ditangkis. Sin ci Lokaypun berhati-hati menghadapinya. Ia menduga-duga bahwa orang ini adalah pihak luar yang mengobok-obok. tubuhnya meliuk seperti burung dan tangan satunya berhasil mematuk paha kanan Sin ci Lokay. Maka pertandingan keduapun dimenangkan pihak Sin Tung Lokay. sedangkan tongkat pengemis berjenggot putih yang menjadi orang nomor satu dari Chon King Sam Sinkay dibuat patah oleh pukulan tongkat putih Pek Tung lokay. Namun percuma saja. seakan-akan terdesak menipu mereka. Sin ci Lokaypun terhuyung-huyung ke belakang. Pat sin kun ciang. tak satupun jenis pukulan yang dikenalnya. sementara itu Pek Tung Lokay yang bergerak mundur. gebukan tongkat mereka menjadi berkurang kekuatannya karena gerakan mereka menjadi lebih sempit. dan menjadi pertandingan penentu. sebaiknya kamu menyerah saja. “Pangcu palsu. akibatnya serangan tongkat sepasang pengemis tangan sakti. Pada pertarungan terakhir ini dari pihak lawan Sin Tung Lokay sendiri yang maju. supaya Sin ci pangcu bisa mempertimbangkan untuk memberi keringanan hukuman!” kata Sin . Padahal kemampuan totokan satu jarinya sangatlah lihai. dua dari tiga Chon King Sam Sinkay terdorong dua tombak kebelakang. Tetapi Sin ci Lokay terkesan kurang leluasa mengembangkan kemampuannya. namun karena pertarungan tunggal maka tidak semeriah sebelumnya. Akhirnya Chon King Sam Sinkay mengakui kekalahannya maka pertandingan dihentikan dan pihak Sin ci Lokay dinyatakan sebagai pemenang. Kepandaian Sin ci Lokay di kaypang saat itu boleh dibilang sulit mencari tandingan. Pertandingan ketigapun digelar. Ketiga pengemis sakti Chon King terlambat menyadari bahwa posisi mereka terjepit. namun kalau dilanjutkan pasti ia akan kalah. Sin ci Lokay merasa heran. Maka bertandinglah keduanya dengan kecepatan tinggi. Kedua kubupun merasakan ketegangan. Akibatnya. Namun lawan yang dihadapi kali ini adalah orang asing yang tak dikenal.berhasil mengatur sepasang pengemis tangan sakti supaya berposisi capit udang untuk menjepit Chon King Sam Sinkay. Meskipun tidak terluka parah.

Karena lamanya pertarungan dari pertandingan yang pertama sampai yang ketiga. Ruang pertandingan makin melebar. Gerakan yang mirip burung yang sedang mematuk-matuk ini sungguh sangat luar biasa. sehingga dalam dua jurus awal ia terdesak dan terserempet hawa pukulan. Bayangan yang dibentuk dari lampu-lampu obor di pinggiran seolah-oleh terjadi pertarungan dua burung raksasa di angkasa. Serangan demi serangan dengan menggunakan ilmu yang sama membawa perbawa yang luar biasa. Tongkatnya berpindah ke tangan kiri dan bergerak melambat tapi tangan kanannya segera memainkan jurus-jurus Pat sin kun ciang. Serang demi serangpun berlangsung dengan serunya. dan penonton makin meminggir ke tepi lapangan. “Ha. Betapa marah rasa hati Sin Tung Lokay. Kecepatan gerakan membuat penonton yang berkepandaian cukupan untuk menggertak pedagang dan penjual makanan. . “Sute ilmu apa yang kau gunakan. dari mana kau mempelajarinya?” bentak Sin ci Lokay. ”Hmm bocah bau bawang. Namun keunggulan ini belum mampu menembus kematangan gerakan Sin Tung Lokay yang sudah berpengalaman puluhan tahun.Boh Ceng! Mana pernah ada larangan pengemis sabuk hitam mempelajari ilmu lain!” balas Sin Tung Lokay. Karena lawan bertongkal. Jurus demi jurus sudah berlalu. Dari tapak tangan tersebut keluar serangkum hawa panas yang luar biasa yang menyambarnyambar ke arah Sin Hwat. Dia tidak akan membiarkan dirinya termakan dipanas-panasi lawan. sebagai tongkat ketua. Kelenturan jurusjurusnya sudah mendekati sempurna. merasa pusing.ha. Sambaran-sambaran kaki yang tinggi juga membuat gerakannya mirip sambaran burung.. namun sebagai orang berpengalaman ia paham rasa marah bisa membuat gelap pikiran. Merasa masih belum mampu menundukkan lawan. “Ilmu apa itu?” teriak sebagian pengemis. Namun cepat ia juga menyesuaikan diri dengan menggunakan ilmu pukulan yang sama. Sin Tung Lokay mengubah cara bersilat.. dan langsung melancarkan pukulan pertama. Pada awalnya Sin Hwat terkejut mendapati perubahan ini. Semua pengemis termasuk Sin ci Lokay dibuat perpana. jangan kau kira setelah berguru pada orang tua tak berguna kau punya kepandaian yang bisa kau pamerkan. maka Sin Hwa juga menggunakan tongkatnya. Tiba-tiba Sin Tung Lokay mengubah gerakan. hayo majulah tunjukkan kebodohanmu!” bentak Sin Tung Lokay. atau ayam jago. namun dari segi ginkang Sin Hwat sedikit lebih unggul. jurus-jurusnya juga tak kalah dasyatnya. tak terasa hari sudah berganti..Hwat. meskipun tampaknya Sin Hwat agak kewalahan mengahadapi jurus-jurus lawan. Kekuatan sinkang keduanya tampaknya sama. namun karena jurus-jurus yang digunakan sama-sama sudah dikenal dengan baik maka puluhan juruspun belum mampu memunculkan siapa yang lebih unggul.. Sin Hwat segera memapaki serangan pertama ini. Sambaran angin yang keluar dari jurus-jurus itu membuat rambut penonton berkibar-kibar. Jari-jari tangannya dirapatkan seakan-akan berubah berbentuk mulut atau paruh. Hingga pukulan kedelapan juga masih belum muncul siapa yang lebih unggul. gerakannya lebih cepat. Para pengemispun menyalakan lampion dan lampu obor. sehingga gerakannya lebih lincah.ha..

dengan pengerahan seluruh daya dan kemampuannya.!” Akibatnya sungguh dasyat tubuh keduanya terlontar kebelakang. Pertemuan dua jurus dan dua tenaga yang samasama luar biasa menimbulkan bunyi ledakan yang luar biasa. jika dilanjutkanpun akhirnya ia akan kehabisan tenaga. jurus-jurus tingkat tinggi yang digunakan keduanya mampu membuat semua orang disekeliling mereka terlongong-longong. dan pasti butuh waktu panjang untuk memulihkannya. kakinya berposisi menendang.Sin ci Lokay terdiam. namun jangan dikira daya serangnya melemah. Hasilnya bisa dipastikan keduanya bakal terluka berat. Tetapi. Maka begeraklah ia melakukan serangan terakhir yang sangat dahsat. Dari kepala keduanya muncul uap putih tanda mereka telah mengerahkan tenaga pada tingkatan tertinggi. Keadaan ini jelas sangat berbahaya. memang jurus yang baru ini daya hawa pukulannya melemah sehingga tidak terasa sambaran angin keluar dari jurus tersebut. Karena seperti sudah habis upaya yang dilakukan Sin Tung Lokay menjadi nekad. jurus rajawali siluman mematuk lawan. namun bekas goresangoresan tapak delapan jurus sakti lawan menimbulkan luka yang mengeluarkan darah. karena kaypang ini memang bukan partai silat yang khusus mengembangkan ilmu-ilmu khusus. sampai ada yang leletkan lidah. karena bila benturan keras terjadi. Koai Eng Sin kun terdiri dari tiga puluh dua jurus yang kaya kembangan. Keadaan Sin Hwat meskipun terlihat masih lebih bugar. “Blaaarrrr. Posisi . Tangan kanannya memapaki jurus tangan. Sin Hwat tidak mau kepalang. Dibandingkan dengan jurus-jurus Pat sin kun ciang. memang benar dalam perkumpulan pengemis sabuk hitam tidak ada larangan mempelajari ilmu lain. Keringat sebesar biji jagungpun mulai bercucuran keluar dari Sin Tung Lokay.. ia juga memapaki serangan akhir lawan dengan jurus yang tidak kalah berbahayanya. Gerakan tangan dan kaki keduanya diikuti dengan gerakan Hang liong tung hoat dengan tangan kiri membuat pertarungan sudah mencapai tingkat akhir. bila pengerahan tenaga tidak seimbang. salah satunya sangat mungkin terluka parah dan bahkan jatuh binasa. Posisi ini jadi lebih menguntungkan Sin Hwat karena ia lebih mudah menyesuaikan diri terhadap jurus lawan.. Beruntung Sin Hwat mempelajari jurus-jurus yang lebih banyak kembangannya. namun bersifat paguyupan pengemis dari golongan manapun.. Tampaknya mereka sudah mulai memasuki tahap akhir.. iapun mulai memainkan ilmu barunya Koai Eng Sin kun (Silat sakti rajawali siluman). jurus ini akan diikuti dengan pukulan tongkat terakhir dari tangan kiri. dan keduanya dalam keadaan pengerahan tenaga yang seimbang. Tangan kanannya dipentang kedepan. Tubuhnya melompat tinggi menggunakan jurus yang bernama burung merak melabrak awan.. Betapa kagetnya Sin Tung Lokay melihat kenyataan lawan masih memiliki jurus simpanan yang tak kalah dasyatnya. Gerakan keduanya semakin cepat sehingga kelebatan-kelebatan bayangannya cukup membuat pusing pengemis tingkat dua sekalipun.. Sepuluh jurus sudah berlalu. tongkat kirinya juga bersiap menangkis serangan susulan.. dan kalah juga. Tampak gerakan Sin Hwat juga mirip dengan gerakan Sin Tung Lokay. Sin Hwat tak mau kalah dengan jurus-jurus lawan.. karena jurus-jurus ini mengandung getaran dan sinkang lunak yang langsung menyerang inti kekuatan lawan.

. telah mampu menyihir semua yang ada menjadi terdiam.. sebuah tangan menyambarnya. sosok yang membantu Ciam Lun berjubah hitam betudung dan bertopeng tengkorak.. Kiranya dialah yang membantu Sin Hwat supaya tidak terbanting ke tanah.” desis Pek Mau Lokay dan Sin ci Lokay hampir bersamaan. membahas peristiwa yang terjadi saat pertandingan itu. Ciam Lun melesat cepat keluar pekarangan. hingga Pek Mau Lokay terdorong satu tombak lebih. Pukulan yang dilancarkan bukan pukulan biasa. Karena. Dan aku makin tak mengerti mengapa mereka juga mencuri kitab enam belas .. “Tunggu.. Entah kapan datangnya tiba-tiba di tempat itu sudah muncul kakek pengemis yang bertubuh kurus berambut putih yang dibiarkan terurai.. Chon King Sam Sinkay ingin memanfaatkan kegaduhan untuk melarikan diri namun terlambat. Karena yang dikejar tak mau berhenti Pek Mau Lokay melancarkan pukulan jarak jauh. “Suhu. Ia setidaknya perlu waktu tiga hari sampai satu minggu untuk memulihkan kondisinya. Meskipun Ciam Lun berjarak lebih dari empat tombak. Hanya sesaat saja tubuh Sin Tung Lokay menyentuh tanah. Namun tetap mereka mendapat hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan. Para pengemispun menjadi gempar mendengar nama itu. Akibatnya dapat diduga ia menderita luka yang jauh lebih dalam. Mereka bertigapun ditahan dihukum sesuai peraturan yang berlaku di kaypang. mampu meringkusnya. Pak Mau Lokaypun dengan kecepatan tinggi mengejar. pasti ia akan terjatuh. sebaliknya Sin Tung Lokay yang nekad sudah tidak memikirkan pertahanan tubuhnya. Dan langsung balik kanan hendak melarikan diri. “Tengkorak hitam. Orang itu yang bukan lain Ciam Lun. Suasana akhirnya kembali damai...!” Sekonyong-konyong muncul bayangan menangkis pukulan ini. Pek Mau lokay kemudian membawa Sin Hwat ke salah satu kamar di markas. "Wusss. Setelah Sin Hwat mulai pulih mereka berempat kemudian berunding. Luka yang dideritanya tidaklah ringan. dan berusaha mengobatinya di sana.. dengan gesit Sin ci Lokay dan Pek Tung Lokay. namun jika terkena.Sin Hwat masih lebih beruntung karena ia masih siap dengan jurus tangkisan.. Sementara lawan yang menangkis pukulan itu menggunakan tenaga dorongan untuk melompat ke belakang dan hilang di balik gulita malam. Adapun para anggota pengemis yang menjadi anak buah mereka semuanya kemudian berlutut mohon ampun.! hanya itu yang terucap dari Sin ci Lokay dan sutenya. Karena orang yang memanggul tubuh Sin Tung Lokay tidak mau berhenti. dari mulutnya mengalir darah segar. Waktu yang sangat singkat itu tidak memungkinkan kakek tua yang bukan lain Pek Mau lokay menanggapi ucapan murid-muridnya.! Berhenti !” serunya ketika melihat seseorang telah menyambar tubuh Sin Tung Lokay. bahkan tenaga tangkisannya sedemikian kuatnya.. Namun gerakan yang hanya sekejab mata itu... Tenaga itu pula yang mengarahkan Sin Hwat untuk ditangkap oleh Sin ci Lokay. “Aku tak menyangka tengkorak hitam berada di balik peristiwa ini. namun untuk tidak terkena hawa racun..desss. Sementara itu tubuh Sin Hwat seperti ditangkap sebuah tenaga yang lunak sehingga terhindar dari bantingan. Tubuhnya roboh terkapar dan terbanting ke tanah......

“Sialan sungguh sialan. nama tengkorak hitam bagaikan dongeng. Awalnya Tiong Gi tidak begitu tertarik karena ia bisa melihat gaya mereka bukan gaya orang berisi. Tiong Gi menjadi agak kaget ketika mereka menyebut-nyebut peta. Sehingga tidaklah aneh.” jawab orang kedua dengan berbisik. tapi dia adalah siaucay (sastrawan) paling terkenal di Kang Lam. Perjalanan Tiong Gi ke Yi Chang dilakukan dengan perjalanan darat sambil menambah cakrawala pengalaman. karena mereka hampir tidak pernah berinteraksi dengan partai persilatan Tionggoan. dan menjadi ancaman juga bagi mereka. tadi pagi mata-mata kita sudah berhasil mengintainya. padahal kalian ingat khan. . Ia memang sudah diajari oleh guru barunya bagaimana cara mencuri dengar pembicaraan orang-orang persilatan. Tubuhnya semuanya tegap dan kekar. Bagi sebagian besar kalangan persilatan. “Dan kudengar banyak para pendekar persilatan juga pernah berguru padanya. Ia mendapat tiga tugas. kita sudah tiga kali hampir menangkap dia!” keluh si pimpinan. Ia ada di kota ini.” kata orang ketiga. Usia mereka antara empat puluh sampai lima puluh.” kata Pek Mau Lokay dengan suara berat.” kata pimpinan.” kata orang kedua. Singkat cerita akhirnya Sin Hwat diutus untuk membongkar peristiwaperistiwa yang terjadi di kaypang. jika Pek Mau Lokay sendiripun tidak mengenal mereka. aku dari dulu tak habis mengerti deh dengan permintaan suhu. Tapi kini mereka terbuka matanya. bahwa memang tengkorak hitam benar-benar ada. menyampaikan surat ke Sun Ciak Kun sahabat Pek Mau Lokay. kami hanya pernah dengar nama kelompok yang bagai legenda itu?” tanya Sin ci Lokay. memulai perbincangan.jurus merak sakti. Mari kita kembali ikuti perjalanan Tiong Gi. Orang tertua. Rumah makan itu cukup terkenal rupanya karena ramai didatangi pengunjung. Bab 15. “Tapi kali ini dia tidak akan lolos dari terkaman kita. namun isi pembicaraannya sungguh sangat membuatnya ingin lamalama mendengar. “Suheng. Kang Lam Siaucay Ouwyang Bun Kita tinggalkan dulu perjalanan Sin Hwat ke timur. beberapa saat setelah ia duduk. yang menjadi pimpinan mereka memulai pembicaraan. dan menyampaikan surat ke Siauw Lim Pay. “Dia memang orang lemah. memang Ouwyang Bun tidak mengenal silat. “Suhu siapakan tengkorak hitam itu. untuk lebih mudah melakukan pengawasan.” kata orang termuda. kalau tidak mana mungkin ia bisa menerjemahkan isi peta suhu. nanti sore kita cari dan habisi. sudah berpuluh hari kita mencari tak juga mampu mencekik betet tua itu. Benar saja. “Sam-te kau memang masih kurang pengalaman. Pada suatu siang tibalah ia di sebuah kota kecil di seberang sungai Yang tse. kenapa mesti dihabisi? Orang selemah dia sebenarnya apa yang yang perlu ditakutkan. Tiong Gi memilih duduk di tepi agak dalam. tapi herannya kenapa ia selalu dikelilingi oleh pendekar-pendekar yang tangguh. membenahi kaypang di Yi Chang. Karena sudah lapar maka iapun menuju ke rumah makan. terlihat empat orang berpakaian orang persilatan masuk.

Di tengah-tengah taman yang banyak ditumbuhi bunga seruni terdapat seseorang sedang duduk membelakangi mereka memainkan sebuah yang-kim. pakaiannya merah menyala cocok dengan kulitnya yang . adakah sesuatu lebih dekat darimu selaksa kura-kura dipelihara kau datang tak kenal tempat tak tahu waktu seribu bentengpun tak kuasa membendungmu Pimpinan empat orang yang berpakaian ringkas itu sudah kehilangan kesabaran.. ha..” jawab orang tua yang dipanggil burung betet itu..ha. sebutir batu sudah digenggamnya. Wajah gadis itu dari kejauhan terlihat sangat manis. dan benar saja. Dimana lihat sebaris bebek menyusuri pematang sawah? Terkadang selulup kepalanya mencocoh cacing Dimana kau dengar gemersik daun bambu setengah kering di musim panas? Terkadang gemerisik angin meliukkan batangnya mencumbu air danau Dimana kau nikmati aroma teh hijau bercampur bunga kui hwa? Terkadang sedapnya membuat mabok para pecandu Wahai pelancong dan pencari ketenangan Datanglah ke wisata alam penuh pesona Saat panen daun murbei tiba Di Kang Lam kita berpesta Entah tidak menyadari kalau sedang diindap oleh empat orang atau memang tidak peduli. Tapi begitu melihat pedang terhunus. Namun belum sampai Tiong Gi turun tangan tiba-tiba muncul seorang gadis mungil yang masih remaja.” Sebilah pedangpun sudah ditangannya. Dan “siiingg….“Peta apakah itu? Aku harus kuntiti mereka.ha…ha kau mengatakan sesuatu yang tak satupun mahkluk mengetahui rahasianya. Kemudian iapun kembali berpuisi “Kematian….”pikirnya. mereka tampak sedang mengindap di sebuat taman. “Kau berkata kepada siapakah tuan? Apakah kepadaku? Ha. usianya dia taksir masih lebih muda setahun dua tahun darinya.” kata orang tertua. Sungguh indah sekali nada-nada petikannya.ha. Tiong Gi kemudian menguntit terus kemanapun mereka berempat pergi. hayo sekarang saatnya kau berdoa sebelum kepalamu berpisah dari tubuhmu. Setelah selesai memetik mulailah ia membacakan sebuah puisi yang indah sekali. “Betet tua! Rupanya di sini kau sembunyi. Orang tua itu tetap bernyanyi meskipun sudah dikepung empat orang.. orangpun bergegas meninggalkan taman. Di taman ini sebenarnya ada beberapa orang yang lalu lalang. Betapa herannya dia melihat orang yang dikepung itu tampak tenang-tenang saja. Pada suatu sore. Tiong Gi bersiap-siap.

ada orang-orang dari selatan lebih tergiur berebut warisan Lau Cin Shan yang mendatangi Kang Lam. Gadis itu kemudian menghadapi keempat orang bertampang garang. untuk suatu keperluan. Tidak sembarang sastrawan bisa melakukannya dalam jumlah sebanyak yang diketahui Ouwyang Bun. Karena keahliannya inilah ia lulus ujian jian-shi yang mendapat jabatan penting di kota Hang Chou. Tapi perbuatannya dicoba untuk ditahan.ha. karena ia bergelar Kang Lam Siaucay Ouwyang Bun. ilmu sejarah bahkan sedikit bisa ilmu pengobatan hasil belajar dari si guci obat. kalau ada orangorang yang mengandalkan senjata untuk menindas yang lemah memang hal yang patut dicela. sementara dari lirikan mata ia masih melihat si nona berurusan dengan empat orang lawannya. Ingin rasanya Tiong Gi mendekati dan membantunya... Keperluan menemui sastrawan tua inilah yang menjadi penyebabnya.. tapi seperti menginterograsi mereka. kau benar pak tua. Akhirnya Tiong Gi mengikuti orang itu. pelit. menindas.. karena setelah belasan jurus satu per satu kemudian terdengar suara mengaduh. Sayang saat menjabat ia bersikap buruk. si nona setelah meng-KO keempat orang berwajah garang itu bukannya mengusir. penindasan dan perlawanan. Seperti yang pernah disinggung gurunya. tepatnya memandunya. dan yang membuat ia dikejar-kejar oleh orang persilatan adalah kemampuannya membaca tulisan mulai jaman dinasti Cin sampai Tang. Yang lebih mengherankan lagi. tapi jika itu untuk melawan keangkara murkaan bukankah sudah pada tempatnya? Dan kenapa engkau tidak mengucapkan terima kasih pada penolongmu?” “Ha. malah kemudian ngeloyor saja sambil mengomel. nona itu tak membutuhkan terima kasihmu!” Siapakah orang tua itu? Orang Kang Lam pasti mengenalnya.putih halus. “Hmmm. apakah kalau menolong selalu ingin mendapat imbalan terima kasih?” katanya tanpa memalingkan wajah.ha. catatan yang ditulis lebih dari dua ratus tahun berselang. sebagai orang sekolahan ia juga belajar ilmu matematika. korup. anak muda? Lagipula. “Ooo. “Ah orang-orang persilatan selalu saja mengandalkan ketajaman pedangnya!” Iseng-iseng Tiong Gi mendekati orang tua yang berpakaian sastrawan namun sudah kumal untuk menegurnya.rupanya pak tua ini buta” pikir Tiong Gi baru menyadari. Tangan kanannya memegang tongkat yang digerakkan ke kanan dan ke kiri di depan kakinya.nona itu. dan . bukankah batasnya tipis sekali.. Pertarungan itu berlangsung cukup seru namun keempat orang ini tampaknya bukan lawan si nona berbaju merah itu. Terlibatlah mereka dalam suatu perselisihan dan pertempuran. “Pak tua.. Keempatnya telah terkapar mendapat tendangan atau pukulan.. Ouwyang Bun tidaklah dikenal luas jika tidak punya banyak keahlian. Yang membuat Tiong Gi tidak habis pikir adalah karena orang tua yang ditolong itu.

. sebuah gelar kosong. Sudah lebih dari sembilan tahun ia meninggalkan semuanya. mereka pernah memperebutkan lukisan yang kemudian tak sengaja terlempar ke arahnya. tampaknya mereka orang-orang Kong Thong Pay. Dulu pernah jadi pejabat yang kaya raya. Setelah turun sebagai pejabat mulailah dia menyesali perbuatannya. sangat diharapkan. Orang-orang awam kemudian sulit sekali menentukan sikap melihat keadaan Ouwyang Bun yang sekarang. “Kenalkan nama cayhe Tiong Gi. losiaucay?” “Kenapa? Haiyaa. “Kenapa mereka mengejarmu. siapapun adanya dirimu.senang memperkaya diri. hayo serahkan sastrawan itu pada kami. “Anak muda. kenapa mereka masih mengejar-kejar aku. gaya pendeta To. Orang yang pertama yang menjadi juru bicara berusia sekitar empat puluh lima tahun. Tapi bagai kaum pesilat. Namun semuanya memakai gaya pakaian yang sama. Mereka kemudian terlibat perselisihan dengan Tiong Gi karena mengincar sastrawan she Ouwyang.” “Benarkah?” Guru Sun pernah menceritakan tentang sastrawan Kang Lam yang bertabiat aneh. Karenanya banyak yang tidak menyukainya. karena tiba-tiba di depannya sudah berdiri lima orang. Dan jika dilihat dari tanda di dadanya. lopeh?” “Aku dikenal orang dengan Kang Lam Siaucay. wajahnya juga tidak semua garang. dan lebih memilih hidup menggelandang. Lima orang ini berbeda dengan orang yang sebelumnya. Akibatnya dia mudah sekali digeser oleh lawan-lawannya. Bentuk tubuh mereka ada yang kurus ada yang gemuk. Ia sendiri kemudian bersumpah untuk hidup menggelandang selama sembilan tahunan. bolehkan aku mengenal namamu. dan secara ekstrem kemudian membagi-bagikan hampir seluruh hartanya kepada kaum papa. aku sudah bantu mereka menterjemahkan suatu puisi kuno.mereka memang rakus. terlebih bagi pelahap tulisan kuno. keahlian Ouwyang Bun baik dalam sastra maupun ilmu yang lain. meskipun ia ingin banyak mengungkap hal yan terjadi. aku tahu sedang berhadapan dengan gerombolan macam apa?” . kau boleh panggil aku Ouwyang Bun. waktu yang sama ketika ia menjadi pejabat. apakah merasa kasihan atau bersukur. Tiong Gi teringat... namun kemudian meninggalkan semua itu. huh orang persilatan memang selalu mengandalkan pedang!” Tiong Gi sudah tidak banyak tanya lagi. aku tidak kenal siapa kalian tapi dari gerak-gerik kalian saja. kami hanya butuh keterangannya sebentar saja!” “Ngo-wi totiang.

sekarang apakah masih ada yang ingin totiang sampaikan?” “Ilmu apa itu tadi. tosu-tosu tingkat dua dari Kong Thong Pay harus menghadapi seorang bocah yang baru berumur belasan tahun. Hebat sekali pengaruh dari petikan ini. Tanpa ia sadari matanya menjadi berkilat-kilat. ia sebenarnya bisa merobohkan mereka semuanya. tapi karena ia ingin menambah pengalaman bertanding. kalau saja Tiong Gi tidak mendengar petikan yangkim Ouwyang Bun. Orang yang melihat sorot mata seperti itu tentu akan menciut hatinya. Bahkan kalau dia mau dalam sepuluh jurus saja. Pikirannya tersentak mendengar bunyi nada-nada yang menyejukkan hati itu. Hanya dalam dalam 5 jurus saja ia sudah rubuh. Meskipun pemetiknya bukannya orang persilatan yang memiliki tenaga khikang. Go-te hadapi dia!” Kiranya memang banyak pihak-pihak yang mengejar sastrawan tua itu. Akibatnya sungguh dasyat. tosutosu kenamaan dari Kong Thong Pay. Tiong Gi menghadapi mereka dengan tenang. . sambil bersila. Selain itu juga ia ingin mempraktikkan ilmu yang baru saja dipelajarinya dari si guci obat Ciak Kun. Pimpinannya sampai terbelalak tak menyangka anak buahnya akan dapat dipukul roboh dengan sedemikian mudahnya. Perlahan-lahan ditambahnya tenaga serangannya. bahkan orang yang sudah berlindung di belakang kawannya juga bisa terkena getaran yang berisi kekuatan yang mampu merobohkan. tapi di tangan sastrawan macam Ouwyang Bun. Dengan tenaga yang sudah bisa dikuasai dengan terukur ia mencoba melakukan serangan-serangan. Akibatnya dua tosu terjerembab karena kakinya patah-patah. Maka dengan memberi aba-aba ia memerintahkan sute-sutenya untuk mengeroyok pemuda itu. pendekar muda didikan tokoh-tokoh ternama yang namanya bahkan bagaikan legenda. barisan yang teratur menjadi kocar-kacir karena serangan-serangan dengan pukulan Kui Yang Sin Ciang bisa menyerang siapa saja.“Kurang ajar. ia melayani mereka hingga lebih dari tiga puluh jurus. Namun begitupun pundak kedua tosu itu menjadi retak. Tapi lawan yang dihadapi orang kelima yang berbadan gemuk itu adalah Tiong Gi. Tiong Gi akhirnya sengaja memelencengkan pukulannya. Tiong merasa sangat gembira sekali melihat hasil pukulannya. Gerakangerakannya dilakukan dengan teratur sehingga gelombang serangan lawan semua bisa dipatahkan. yang kau pakai?” kata salah seorang yang masih jatuh terduduk. Sungguh pemandangan yang memalukan. Karena perang mulut tidak dapat diselesaikan. dengan nada dingin ia kemudian berujar: “Nah totiang. Setelah melihat keempatnya terkapar Tiong Gi merasa menyesal melihat hasil perbuatannya. bocah kemaren sore berani banyak mulut pada kami. maka kemudian terjadi pertarungan otot kedua belah pihak. Hampir saja dua tosu sisanya terkena sambaran pukulan yang lebih berat. Mukanya kemudian mengeras. petikan tangannya mampu menggetarkan dawaidawai yangkim jauh lebih nyaring dan menyentuh hati.

“Pelajaran yang tak sempurna. yang sangat terkenal di di tempat tinggalku di Kang Lam.. jadi selamat tinggal!” Kelima tosu itu melihat kelebatan Tiong Gi membopong Ouwyang Bun dengan cepat. kamu memang anak terpelajar. karena guru mengajakku ke Gongga san. silahkan dicicipi teh hijau campur bunga kui hwa. Dan sejak saat itu didunia persilatan orang ramai membicarakan munculnya seorang pendekar muda yang memiliki ilmu pukulan Kui Yang Sin Ciang. ilmu langka yang jarang sekali muncul di dunia persilatan.jangan katakan padaku engkau pernah ke gunung salju besar!” “Memang belum. “Hei. “Terima kasih banyak atas tawaran. dikiranya kalau seorang sastrawan tidak tahu ilmu . Tiong Gi lantas menceritakan sedikit pengalamannya. apa saja yang kau pelajari dari gurumu?” Mereka kemudian memasuki kamar. namun dengan tersenyum ia membalas. Tapi dia selalu ketawa saja.“Ketuilah aku baru saja menggunakan Kui Yang Sin Ciang! Maaf totiang sebenarnya tidak ada permusuhan pribadi antara aku dan Kong Thong Pay.. “Maaf aku orang tua tidak suka minum arak. Tapi apakah aku tidak mengganggumu?” “Ha. dan menghidangkan untuk mereka berdua... Berbeda dengan penampilannya yang terlihat kumal.ha. aku sudah berkali-kali katakan ke Yung Ci. “Anak muda kalau kau tidak keberatan. jadi hanya ini yang bisa kuhidangkan.ha. tinggallah sekamar denganku!” Tiong Gi memandang heran..bukankah kau membutuhkannya? Jangan salah sangka aku laki-laki normal!” Tiong Gi sebenarnya masih tidak paham maksud kata-kata terakhir dari sastrawan itu. lo-siaucay. Tiong Gi juga akhirnya memutuskan untuk tinggal di situ. Anehnya sastrawan itu malah menawari Tiong Gi.sungguh sulit dipercaya.” “Haiyaa. dalam hati mereka menjadi kagum sekali. Ouwyang Bun ternyata tinggal di penginapan yang sangat bagus di kota itu.. aku sudah lama tak pernah jumpa Yung Ci di dunia persilatan. siapakah gurumu. anak muda?” “Aku pernah belajar pada Yung Ci Tianglo!” “Benarkah? Haiya.. Ouwyang Bun lantas meramu teh. pelajaran ilmu silat yang dipelajari masih belum lengkap.

. Justru karena itu aku tahu ilmu silat yang diwariskan ke keturunannya tidak lengkap.. Tapi kelihatannya lo-siaucay tidak takut ke mereka. benar memang begitu.. pada saat itu pimpinan ksatria salju yaitu ksatria she Toan. ada satu pertanyaan. kau harus berhati-hati menghadapinya.” “Hidup mati bukan di tangan mereka. dan bisa membaca isinya... mereka membutakan mataku. apakah warisan Lau Cin Shan yang disampaikan dengan lengkap?” “ Setahu cayhe ilmu melukis dan membuat keramik. Pertarungan dua kubu ini kemudian berulang 100 tahun berikutnya.Tapi mereka adalah orang-orang jahat. meninggal. Tahun 895 adalah pertarungan terakhir mereka.” “Jadi lo-siaucay bisa membaca isi peta? Dan gara-gara itu lo-siaucay dikejar-kejar oleh mereka?” “Ya. benarkah?” “Ha.. Dan mereka akan bertemu kembali tahun 995. Dan mereka tidak puas mengambil mataku kini mereka mengincar nyawaku..” “Hah. apakah ada catatan lengkapnya dan dimana?” “Di simpan di suatu tempat!” “Siapa yang tahu tempat penyimpanannya itu?” “Yang tahu yang punya petanya.” “Kalau begitu. dasar Ciak Kun cianpwe tak pernah mau kalau sama suhuku.dua tahun lagi!” .silat. kenapa mesti takut?” “Lo-siaucay. mulai dari tahun 885 dan baru berakhir tahun 895 antara cucu iblis api yang bergelar iblis tengkorak emas melawan ksatria salju. kenalkan siaucay pada orang-orang yang bertopeng tengkorak. Menurut kepercayaan mereka dendam ini baru akan berakhir pada keturunan ke tujuh dari kedua belah pihak.ha. terjadi pertarungan hidup mati antara Lau Cin Shan dan iblis api. kenapa mereka memusuhi suhu?” “Dua ratus tahun yang silam. padahal aku juga mendapatkan ilmu sejarah yang luar biasa lengkapnya. hanya dia yang mengira mendapatkan ilmu yang lengkap. tepatnya tahun 795. Gara-gara aku sebarkan bahwa Boan ciangkum dapat peta.ha. mereka mengejar-ngejar aku. Tapi gara-gara aku bocorkan informasi itu. Eh tahukah kamu. Aku sudah berbaik hati menterjemahkan sebuah puisi dengan bayaran yang belum tunai.” “Ahhh sungguh keterlaluan.

Ia merasa sulit membayangkan kesaktian iblis itu. “Ahh kasihan suhu.” “Tapi tidak semua bersikap seperti itu. malam ini juga!.. mereka harus bangga memiliki murid sepertimu. Ouwyang Bun kemudian memegang lengan itu. orang persilatan memang selalu hidup dalam kekerasan mengandalkan pedang. kecuali sedikit saja. Dulu ia pernah dikalahkan oleh keturunan ksatria salju She Kim. lo-siaucay. aku harus bantu. anak panah tersebut ternyata membawa selembar kertas bertuliskan: Kalau ingin si baju merah selamat! Serahkan sastrawan betet tua she Ouwyang pada kami di taman bunga seruni. seperti Lau Cin Shan. Haiyaa. Jika dua ilmu tingkat atas itu bisa mereka kuasai dan digabungkan. Entah berasal dari mana. tiba-tiba terdengar suara desingan. atau nona kecilmu hanya akan tinggal nama. Tapi mana si sastrawan tua itu bisa . Ketika ditanya oleh sastrawan tua. tetapi ilmu itu tentang penguasaan tenaga inti api dan tenaga inti tanah. Karena itu ia bersumpah untuk tidak akan muncul lagi sampai pertemuan yang terakhir dua tahun lagi.“Benar! Dan itu akan menjadi pertemuan penentuan kubu siapa yang akan menang siapa yang akan hancur. Aku baru tahu kalau yang kuterjemahkan adalah ilmu silat setelah aku bertemu berdiskusi dengan Sun Ciak Kun.” Tiong Gi merasa tercekat mendengar cerita itu. ia coba berbohong bahwa yang berdesing bukan panah melainkan ada ranting dibawa angin. Konon guru besar mereka. Selama mengembara aku pernah disekap di perkampungan orang-orang tengkorak hitam. dan sebuah anak panah menancap di tiang... Tiong Gi.!” bisik Tiong Gi dengan penuh penghayatan. Tangannya mengepal. benar khan?” “Iya. aku punya rahasia yang tak pernah kusampaikan kepada orang lain.. kau harus berhati-hati.meskipun nyawa taruhannya. Hampir-hampir saja ia tidak percaya. putra si iblis tengkorak emas.. semangatmu tak kalah dari mereka.” Belum selesai mereka berbicara.. andaipun kau bukan keluarga mereka.... Dan kini ia sedang memperdalam penguasaan ilmu-ilmu si iblis tengkorak emas.. memang sengaja memperdalam kepandaiannya. Tiong Gi menjadi bingung menentukan sikap.” “Eh. sebagai murid Yung Ci. sedangkan menghadapi anak buahnya yang tidak bertopeng ia merasa kerepotan. kiamatlah dunia persilatan jika inkarnasi Lau Cin Shan tidak muncul. Mereka memaksaku menterjemahkannya.aku harus bantu.. tetapi aku seperti punya keyakinan kaulah pewaris ilmu-ilmu Lau Cin Shan. sayang aku sudah tidak ingat lagi isinya. yang selengkapnya.. yang berpuluh tahun menyembunyikan diri. melalui catatan yang ditinggalkan di tengkorak emas. “Tiong Gi.

dengan bergegas mereka menuju ke Hui Liong Piauwkiok (perusahaan pengantaran barang naga terbang)...” gumam Tiong Gi sambil garuk-garuk kepala. mari kita segera bergerak!” Maka malam itu juga. kemampuan pendengarannya sudah sedemikian terlatih. Aku sebenarnya memesan mereka untuk besok pagi.kalau begitu cepat kau selamatkan nono itu.gimana baiknya yaa. “Haiyaa.” potong Ouwyang Bun. tolong kalian minta saja ke guruku..” kata Tiong Gi. yang kedua selembar kertas agak kumal... sengaja Tiong Gi memakai penutup kepala. Tiong Gi bahkan menunjukkan tanda guci kemala pemberian gurunya. “Ah Sun locianpwe?Tidak perlu. “Paman. sehingga bisa menggantikan indera penglihatannya.” kata pimpinan piauwkiok yang berjuluk Hui Liong Piauwsu. baik mungkin sebaiknya kita kesana. benda apa itu yang berdesing?” “Ah lo-siaucay.dibohongi. “Aku boleh kau tinggal di sini atau kau titipkan ke kenalanku. Setelah menjempuk Ban kauwsu mereka langsung menuju ke Hui Liong Piauwkiok. Ouwyang Bun mengantarkannya sampai ke halaman depan. tolong jaga baik-baik lo-siaucay ini. gerombolan orangorang garang itu menangkap nono baju merah. bahkan kemudian ia merogoh kantung baju dan mengeluarkan dua benda. jika biayanya masih kurang. biarlah malam ini dia tinggal bersama kami. untuk membantu penyamaran. . tidak baik berangkat malam-malam. si guci obat.. biaya yang sudah kami sepakati dengan siaucay sudah cukup. keadaan sekarang agak genting. jangan kau pikirkan aku anak muda!” “Aku memikirkan keselamatanmu lopeh. “Keduanya perlu kita hubungi.. kenapa aku tidak kepikiran menitipkan paman ke tempat lain. yang bertama sebuah buku kecil.katakan saja terus terang anak muda. bahkan aku sendiri yang besok pagi-pagi akan mengantarkannya. dan mereka meminta agar lo-siaucay menyerah!” “Haiyaa.. Sun Ciak Kun!” kata Tiong Gi. “Atau kalau perlu sekalian saja kita ke Hui Liong Piauwkiok (perusahaan pengantaran barang naga terbang). Tenang rasanya Tiong Gi meninggalkan sastrawan tua itu. setelah kepastian ia menitipkannya ke tempat yang cukup aman. hmm. Iapun berpamitan. Ban kauwsu (guru silat she Ban)!” “Haiyaa.tidak perlu. dan diterima dengan baik.

Ketiganya berumuran empatpuluhan berpakaian ala nelayan. tolong jaga baik-baik semoga bisa memberi manfaat buat kamu dan buat orang banyak. karena ketiganya masih tingkat rendahan. sebentuk watak yang aneh. yang ada dihatimu. dan selembar kertas ini berisi ujar-ujar bagi orang buta. dan lantas meninggalkan gedung Piauwkiok menuju ke taman yang dijanjikan. Malam hari di musim semi masih cukup dingin bagi orang awam.” ! kata Tiong Gi memulai pembicaraan. Secepat kilat bayangan itu menyambar dan mengirimkan beberapa totokan. Meskipun aku tidak bisa melihat tapi aku bisa merasakan ada segumpal awan hitam. Ini adalah buku kamus bahasa Tiongkok kuno. kenama gedung kantor kabupaten (tikoan) bisa dijadikan tempat persembunyaian penjahat-penjahat seperti itu. Tiong Gi telah behadap-hadapan dengan tiga orang yang mengurung nya. Si nona ternyata disekap di gedung Kam tihu. barulah mereka mengaku. kemudian ketika ia melihat ada dua prajurit jaga melintas. selain rahasia tentang puisi pada lukisan yang ditemukan perwira she Boan. yang biasanya dipakai sebagai ruang latihan. Tiong Gi kemudian mengikuti petunjuk yang diberikan prajurit itu. Di bawah temeraman cahaya sepotong rembulan. Namun sesosok bayangan tampak berkelabat cepat menuju ke gedung tikoan. merekapun bernyanyi. Ketiganya tak menyangka sama sekali anak muda yang dihadapi sehebat itu. ingatlah pesanku Tiong Gi. Mereka kemudian terlibat perselisihan dengan Tiong Gi dan kemudian terjadi pertarungan. karena ternyata petunjuk yang diberikan justru mengarah ke sebuah ruangan yang cukup besar. Pertarungan tidak terjadi lama. Selamat jalan sahabat mudaku. Dua prajurit itupun menjadi kaku.“Tiong Gi. di taman yang lumayan lapang di pinggiran kota. tiba-tiba disekelilingnya sudah ada lebih dari 25 orang mengepung ruangan tersebut. selamat berjumpa lagi ksatria!” Tiong Gi memasukkan dua catatan penting itu. Keduanya merasa kecewa tidak melihat sandera masing-masing. “Mana nona itu. salah satu benda inilah yang banyak menjadi incaran kaum persilatan. Tiong Gi merasa heran. Dibawah ancaman Tiong Gi. semua dalam posisi siaga. Tak lama . jadilah orang yang lebih sabar. namun sayang belum sempat ia beranjak. Di kedaipun pintu-pintu dan jendela sudah ditutup rapat. “Celaka mereka menipuku!” pikir Tiong Gi. Setelah beridap-indap disekitar wuwungan bayangan itu kemudian menyelidiki keadaan gedung. Sejenak ia terlihat mengawasi gedung itu.Tiong Gi kemudian memaksa mereka menunjukkan tempat penyekapan si nona. Semuanya kuberikan padamu. Setelah Tiong Gi memaksa mereka dengan totokan-totokan yang mengarah pada saraf rasa sakit. “Mana si betet tua?” balas pimpinan mereka bertiga. dalam sakunya. namun ia keliru menyangka mereka tidak mempersiapkan hal-hal seperti ini. hanya dirimu yang tahu.

tak satupun senjata mampu menyentuhnya.ha.. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. menandakan jenis pukulan yang sangat berbahaya.ha. Beberapa jurus berlalu namun posisi seakan tidak berubah. bahkan pukulan tangan mereka jauh lebih berbahaya dibandingkan pedang. Can Seng langsung membentak anak buahnya untuk mundur dan digantikan dengan barisan kedua. Sungguh seru sekali pertandingan kedua ini.. dalam dua kali serangan balik sudah dua orang rebah dengan tulang retak.. Barisan ini tidak boleh diremehkan karena bahkan Can Seng sendiri kalah oleh barisan ini. yang bertampang prajurit. rombongan ini adalah anggota Tok Nan-hai Pang. ha.itu rupanya yang kau kehendaki anak muda.. Kepungannya merenggang. “Ha. Sehingga sudah sepuluh jurus berlalu. tentu aku akan sangat berterima kasih!” kata Tiong Gi tenang. kalau kau mau membebaskannya. Tiong Gi berkelebat-kelebat di antara kepungan tiga lawan yang melancarkan pukulan-pukulan beracun. Namun yang dihadapi adalah remaja gagah murid locianpwe kenamaan.. Tiba-tiba lawannya mengubah cara bersilat. Tiong Gi merasakan sambaran-sambaran hawa berbau amis.. Orang bertubuh tinggi hitam yang bernama Can Seng itupun dibuat kagum atas ketabuahan anak muda ini.. Tiong Gi berhati-hati sekali menghadapi ketiga lawannya yang cukup berat ini.. sungguh bagus sekali perbuatanmu. Namun jangan dikira mereka tidak berbahaya. tetapi kedatanganku adalah untuk membebaskan nona baju merah itu. membawa hawa yang dingin luar biasa.ha. “Ooo.. bagai gelombang samudera menghantam pantai. “Lopeh. Berbeda dengan barisan pertama barisan kedua ini tidak bersenjata. Merasakan tekanan dari pihak musuh Tiong Gi ikut mengubah cara bersilat. Melihat gelagat yang merugikan. Serangan kesepuluh orang ini tidak boleh dianggap remeh.. yang satunya kucing muda yang binal.pasukan pertama maju.. satunya lagi anjing jantan yang bego. Orang yang pertama.ha. Sebagai murid Can Seng mereka terlatih untuk melakukan pengeroyokan.” oceh orang yang bertubuh tinggi itu. Bahkan perlahan tapi pasti pukulan demi pukulan yang dilancarkan Tiong Gi mampu membuat barisan menjadi kocar-kacir. Berbeda dengan rombongan yang mendatangi Ouwyang Bun pada sore. gerakan bersilatnya lebih lambat namun tangan mereka semuanya berubah keputihan penuh dengan hawa racun. Mulailah ia menggunakan jurus- . semua bersenjata dengan jenis senjata yang berbeda-beda. maafkan kelncanganku.. habisi pemuda itu hidup atau mati!” Kelompok yang disebut pasukan pertama berjumlah sepuluh orang. Barisan kedua berisi tiga orang yang terdiri dari sute Can Seng sendiri. bertubuh tinggi besar berkulit gelap. Menghadpi tekanan yang bertubi-tubi dari lawan ia memapaki dengan jurus-jurus dari pukulan badai angin salju. sungguh pemberani hua ha ha.. namun penampilannya lebih tenang dari barisan pertama. Mereka adalah murid-murid binaan Can Seng. minta pembebasana sandera tanpa tebusan. salah seorang diantaranya langsung ketawa. tangannya berkelabat cepat ke arah lawan-lawannya... Wajahnya garang..kemudian muncullah tiga orang dan langsung memasuki ruangan.

Pundaknya terasa perih dan gatal. dan memuntahkan darah segar. Dengan gerakan kilat dilancarkanlah pukulan ke salah satu lawan. Namun kali ini Can Seng seperti sudah tahu maksud Tiong Gi sehingga buru-buru ia mendorong kawannya ke samping. kalau begini terus aku bisa keracunan!” pikir Tiong Gi. Untunglah dasar jebakan itu terisi jerami yang tidak keras. Untungnya Tiong Gi menggunakan pukulan Kiu Yang Sin Ciang.. Gerakan silatnya menjadi tidak teratur. tetapi karena keadaannya sudah cukup payah ia tidak bisa banyak berkutik.. namun dilain pihak Tiong Gi juga dua kali terserempet pukulan lawan. Begitu Tiong Gi masuk..dessss..bluarrr. Kiranya ia masuk ke dalam sebuah jebakan. Gerakan tangannya juga lebih lambat. Oleh karenanya Tiong Gi tidak roboh oleh pukulan lawan. .. yang ikut roboh. namun kurang pengalaman.. “Celaka. Pemuda ini terpengaruh oleh nafsu marah dan terus mengamuk seperti harimau terluka. Pukulan yang mengandung getaran yang sangat hebat. Pada satu kesempatan ia nekad melontarkan subuah pukulan ke arah lawan dengan kekuatan penuh. Sekonyong-konyong mata Tiong Gi mengeluarkan cahaya berkilat yang aneh. Akibatnya pukulan lawan mengenai tubuh Tiong Gi dan tiba-tiba ia merasa kakinya tidak mendapat pijakan. Tiong Gi tidak tahu maksudnya.. Tubuhnya serasa gatal.. “Posisi jaring!” tiba-tiba Can Seng memberi komando ke anak buahnya.jurus Kiu Yang Sin Ciang. yang bersifat “Yang” sehingga mampu membendung serangan pukulan lawan yang bersifat “im”... Ia mengabaikan pertahanan. sedangkan perisai besipun mampu ditembusnya. Lawan yang menghadang Tiong Gi juga ikut membendung serangannya. Tapi jangan dikira jurus ini tidak berbahaya.. dan tubuhnya meluncur ka bawah. Dari kumpulan ini maju lima orang yang bersama-sama dan dua orang lawan Tiong Gi yang masih tersisa pelan-pelan mendesak Tiong Gi ke arah suatu sudut. “Hiaatttt.... dihadang lawan yang lain. meskipun ia merasa keracunan. Pukulan-pukulan yang tak terasa sambarannya mulai dirasakan pihak pengepung. mereka seperti gerakan prajurit saja berpindah mengelompok dalam satu sisi. bahkan tidak mengeluarkan angin sambaran... Kepungan lawan berubah. maka tutup luarpun tertutup kembali..! Pukulan Tiong Gi yang ditujukan pada salah satu lawannya. Dua dari tiga lawannya oleng. meskipun ia masih sempat mengegos ke samping sehingga yang terkena pukulan adalah dada bagian tepi. Akibatnya seorang pengeroyoknya terlontar ke belakang menghantam salah satu anggota Tok Nan-hai Pang.. Menyadari dirinya jatuh Tiong Gi mengerahkan ginkangnya.. Gerakannya menjadi lebih menggiriskan. Tapi mereka tidak tahu kehebatan Kiu Yang Sin Ciang ini yang bisa menembus hadangan lawan. Tiong Gi mengerahkan lebih dari tiga perempat tenaganya. Posisi itu baru diperoleh saat Tiong Gi sudah makin terdesak ke sudut ruangan. Tiong Gi biarpun lihai. Namun dilain pihak pukulan penghadang ke arah dada Tiong Gipun tak sanggup ditangkisnya. ia lebih banyak mundur untuk mencari saat yang tepat guna melancarkan kembali pukulan Kiu Yang Sin Ciang.

“Anak muda. entah siapa dirimu dan dari kalangan mana. berusaha untuk mengulur waktu dengan bertanya. Belakangan Ciu Sian Koai Lojin mengambil dua murid yaitu Pek Mau Lokay dan pendekar bukit merak. kelihaianmu sungguh mengagumkan aku. berilah aku tangguh dua atau tiga hari. Kim Bu Shin dan kemudian didapatkan oleh Ciu Sian Koai Lojin (Orang tua aneh dewa arak). bergabunglah dengan kami. Dari guci ini ia kemudian meminum air yang berkhasiat menawarkan segala macam racun. dan oleh pendekar Siauw Lim guci itu diberikan ke si guci obat. Sungguh guci yang luar biasa. Setelah meminum air dari guci itu tubuh Tiong Gi rasanya lebih nyaman. Untunglah ia membawa guci kemala pemberian gurunya. Benar saja. tentu saja kau tidak ingin mendapatkan jawaban yang tergesa-gesa dariku bukan?. berarti nyawanya masih dibutuhkan. Ia kemudian bersamadi memulihkan kesehatannya. memiliki banyak kekasih. Ia punya keyakinan jika pihak lawan tidak membunuhnya. pagi harinya pihak musuh mendatangi kamar tahanan Tiong Gi.” . Ia kemudian teringat peristiwa di kuil ketika ia tertawan oleh kelompok Tiat-sim hengkang. Dengan alasan yang panjang lebar yang tidak dijelaskan dalam cerita ini. aku belum bisa berpikir jernih. Namun kali ini sekujur tubuhnya terasa nyeri dan gatal. dan memang guci ini memiliki riwayat yang sangat menarik. Goan Kin Taisu. Menjelang wafat ia kemudian mewariskan guci itu ke pendekar bukit merak. Mereka yang berebut termasuk iblis tengkorak emas. Ada tiga orang yang mengunjungi kamar tahanan itu dan Can Seng sendiri yang memimpin. aku tidak peduli. kelak kalau perjuangan kita berhasil kaupun pasti akan menjadi kongcu yang dihormati. pertimbangkan tawaran kami.Kamar tahanan itu ukurannya hanya dua kali tiga meter. rahasia yang lainnya masih gelap. aku masih kesakitan. tapi mumpung kamu masih muda. hidup bergelimang kesenangan??” Tiong Gi yang sebenarnya cukup cerdas. sampai perjuangan kita berhasil!” “Termasuk perintah untuk memusuhi Ouwyang siaucay?” “Semua perjuangan membutuhkan pengorbanan anak muda!” “Lopeh. Semua pemegang guci itu dengan sangat sabar meneliti gerangan apakah rahasia yang terdapat pada guci kemala itu? Dan selama lebih dari seratus tahun hanya rahasia kemampuan pengobatannya saja yang terbongkar. suatu ketika pendekar bukit merak menyerahkan guci itu ke sahabatnya yaitu pendekar Siauw Lim. Guci ini dulu pernah menjadi rebutan kalangan persilatan karena adanya isu yang menyebutkan ada rahasia tertentu dalam guci. “Apa yang harus kulakukan kalau aku bergabung?” “Tentu saja kau harus ikuti semua perintah kami.

“Hmm. dengan iming-iming perjuangan yang bisa mengantarkan mereka menjadi orangorang penting. Heii. namun berbeda nasibnya dari Boan ciangkum. ia adalah murid dari mendiang supeknya. Hingga saat ini.kenapa aku teringat pada pengemis itu?” Entah kenapa begitu teringat pada pengemis itu. namun hingga sore hari ini tetap gagal mengendalikannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengubahnya dengan mencoba mengikuti cara mengendalikan seperti yang diajarkan oleh Ciak Kun suhu. Dalam samadi ia dapat mendengar ada suara lain di kamar sebelah kirinya. Mungkinkah nona baju merah itu juga ditawan di deretan kamar itu? Bagaimanakah aku bisa bebas dari kerangkeng ini?” Tiong Gi berpikir tajam. namun begitu bertemu dengan nona baju merah itu. maka ia manfaatkan untuk bersiulian. termasuk Kam tihu. “Ah andaikan ada pengemis tua berlengan tunggal. timbul perasaan tertentu dihatinya. “Baiklah anak muda.. Pada pagi hari seperti biasa. Pelayan itu meletakkan sarapan pagi ke bagian bawah yang . setelah setengah hari ini bersiulian ia merasa lebih bugar. Namun dasar pertimbangannya agak berbeda. namun kalau nafsu sudah memenuhi isi kepala. Maka malam itupun ia tidur dengan tenang.sepertinya ini adalah deretan kamar penjara bawah tanah. Karena itulah ia yakin pemuda itupun akan mau bekerja sama. tapi sayang ruangan tahanan itu gelap. mana ada puasnya untuk mereguk kesenangan dunia. Kam tihupun tertarik. Tiong Gi berusaha mengumpulkan kembali tenaganya. ada pelayan yang bertugas mengantarkan makanan. ia menjadi kepala daerah setingkat kabupaten.. tiba-tiba ia merasa seperti anak muda lagi. terbersit akal untuk bisa membebaskan diri. Sebenarnya usia Can Seng saat ini sudah lebih dari lima puluh tahun. Ia awalnya menduga ini berasal dari racun. Hal yang sama ia lakukan juga terhadap nona baju merah. namun ada rasa aneh di tubuhnya karena ia merasa ada hawa liar yang bergerak-gerak diluar kendalinya. tapi Can Seng tidak gubris. ingat aku hanya beri waktu kamu dua hari. Oleh karenanya ia kemudian kembali memusatkan pikirannya untuk mencoba mengendalikan hawa ini sesuai dengan cara yang diajarkan Yung Ci suhu. Bahkan kini ia merasa lebih bugar. Anehnya setelah beberapa saat hawa itu ternyata mampu dikendalikan dan disimpan dengan baik di tantian. ia sudah berhasil menarik lima tenaga pendukung untuk bergabung dengan mereka. Kam tihu sebenarnya adalah bekas sahabat Boan ciangkum.Dua orang disamping Can Seng sebenarnya mengomel panjang pendek.. Sebenarnya jabatan kepala daerah meskipun hanya tingkat kabupaten adalah jabatan yang cukup basah. tentu saja aku tidak merasa kesepian. hawa yang ia yakini bersifat “im”. dan pada hari ketiga aku akan datang lagi menagih janjimu!” Bukan satu dua kali Can Seng mampu merekrut tenaga-tenaga bantuan untuk keperluan sesuatu yang disebut perjuangan oleh mereka. Boan ciangkum sendiri adalah suheng luar dari Can Seng. Pada hari barikutnya sebenarnya ia ingin membaca catatan dari Ouwyang siaucay. begitu ia melihat nona itu yang ditangkap oleh tiga orang yang mengeroyok Tiong Gi. dan diiyakan saja olehnya.

namun begitu mendekat mereka menjerit karena merasakan hal yang sama dengan pelayan itu. Dengan cepat Tiong Gi menggunakan kunci untuk membuka satu persatu kamar-kamar tahanan.tolong apa yang terjadi pada pelayan ini. Dan betapa kecewanya ketika ia melongok kamar terakhir ia masih tidak menjumpai si nona. Salah seorang dari tawanan yang dibebaskan berkata. dan lekas setelah pihak lawan keluar dari lorong penjara mereka segera menutup pintu kedua. Suasana menjadi kacau balau. dua penjaga tiba di hadapan Tiong Gi. Rupanya di bagian ataspun ruangannya berpintu.. “Penjaga.” Mendengar teriakan ini dua orang penjagapun menjadi terpancing. namun apalah artinya dia penjaga itu bagi Tiong Gi. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang menuruni tangga.. salah seorang dari mereka berbisik ke Tiong Gi. Tiong Gi mengeluarkan tangannya dari jeruji untuk menarik tubuh penjaga itu. maka Tiong Gi pura-pura berteriak-teriak penuh kekagetan. Sepertinya jeritan penjaga itu menarik perhatian penjaga yang lain.” . Beruntung nasibnya karena ia segera mendapatkan kunci itu. Bentrokkan itu makin seru setelah Tiong Gi ikut terjun. Sudah tiga kamar dibuka namun ia belum menemukan nona baju merah.ada rongga.” Dengan menggunakan pedang rampasan Tiong Gi membuat lubang di langit-langit dan secara bergantian Tiong Gi menyunggi keempat tawanan itu agar mudah keluar. “Sui siocia disekap di sabuah kamar.. Begitu sampai di genteng. dan segera dipakai untuk membuka ruangan. Ia tak tahu Tiong Gi telah melancarkan pukulan Kiu Yang Sin Ciang bertenaga im. Membebaskan nona baju merah Teriakan penjaga ini mengejutkan orang-orang yang ada di atas. Tapi tubuh mereka juga menjadi kaku. maka Can Sengpun bergegas memimpin sendiri anak buahnya menuju penjara bawah tanah... “Pintu ini dari besi. dengan menggunakan Kiu Yang Sin Ciang ia mampu merobohkan lawannya meskipun lorong penjara itu sempit. “Sebaiknya kita dobrak saja pintunya!” “Tunggu!” bantah Tiong Gi. kedua belah pihak merasa ruangan terlalu sempit. kita lewat atap saja. Pada saat itu rombongan anak buah Tok Nan-hai Pang dan prajurit tikoan sudah berada di lorong. Begitu ruangan terbuka. Karena pelayan itu menjadi kaku. tapi kami tak tahu kamar sebelah mana. Terjadilah bentrokan antara mereka dengan tahanan yang baru saja dibebaskan Tiong Gi. tapi ketiga hendak bangkit setelah meletakkan nampan tiba-tiba ia merasa tubuhnya kaku. Bab 16... sehingga lawanpun mundur. tidak mudah didobrak. dan keluar dari lorong naik ke tangga. Sayangnya sebelum Tiong Gi sempat merobohkannya ia keburu berteriak keras. Dengan tergesa-gesa Tiong Gi menrogoh kantung penjaga itu untuk mencari kunci.

Dan timbulnya korban yang cukup besar bisa dipastikan jika melihat sepak terjang tawanan. Tampak salah seorang dari mereka meninggalkan halaman dan memasuki gedung. Ia yakin tiga jagoannya bisa memenangkan pertarungan. anak muda baju putih. Dan kalau kami yang lolos. Maka dibuatlah sebuah arena yang cukup luas. sebaiknya kalian menyerah saja.”Lopeh. Jika pihak kalian yang menang. ia menjadi meragukan kemampuan mereka untuk menangkap keempat tawanan. kalian sudah terkepung. Di bagian depan dari barisan Can Seng sudah berdiri sambil tangan kanannya menodongkan senjata ke leher nona berbaju merah. Apalagi Tiong Gi masih tahap pemulihan akibat luka tiga hari sebelumnya. sedangkan tangan kirinya menelikung kedua tangan nona itu. Aku punya tawaran yang dapat kalian semua pertimbangkan. Can Seng merasa mampu mengatasinya. Selain itu. separo diantaranya berpakaian prajurit. setelah berpikir sejenak berkata. mari kita selesaikan masalah kita secara jantan. kalian tidak akan bisa memaksa kami! Hayo kalian maju. Akan sangat mudah bagi kami untuk bisa meloloskan diri. “Heh kalian berempat. Kami masih akan mempertimbangkan untuk mengampuni jiwa kalian jika saja kalian mau bekerja sama!” “Genderuwo hitam. Namun salah seorang tamtama pengawal Kam tihu yang tiga hari yang lalu ikut mengepung Tiong Gi meyakini bahwa ada kemungkinan mereka bisa lolos jika dilakukan upaya pemaksaan. seperti mencela usulan Tiong Gi. Ia sudah berumuran tiga puluh limaan. Awalnya Can Seng yakin akan kemampuan mereka meringkus keempat tawanan... Dan kita jadikan nona Sui sebagai taruhan. melihat posisi kepandaian mereka. dan kami bertiga rela kembali ke kamar tahanan. pihak Can Seng sangat yakin akan keunggulan diri. meskipun keadaan kami terkepung tapi posisi kami sekarang ada di atas. Wajah nona yang dipanggil Liu siocia itu terlihat sangat pucat. monyet keparat. terserah apapun tindakan kalian! Dengan demikian timbulnya korban bisa ditekan.Mereka tak perlu mencari-cari karena di halaman tengah sudah berkumpul hampir lima puluh orang. satu lawan satu. Namun ia kemudian mendiskusikan usulan itu dengan anak buahnya. berikan seekor kuda dan bebaskan nona Sui. kedua belah pihak sama-sama mengajukan tiga jago. Tidak ada gunanya kalian melawan.” Can Seng terlihat terkejut dengan usul Tiong Gi. namun orang tertua dari mereka membujuk keduanya. “Ha. Pertandingan silat selalu menarik bagi . Sepertinya dia bisa menerima usul Tiong Gi. Toch kalau kalah. belum terlambat untuk mengambil tindakan selanjutnya. aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pengkongsian kalian.ha. Jika pihak kami yang menang..ha. Akhirnya Can Seng bisa menerima usulan. Sementara dua dari empat orang tawanan yang lolos. mari bertanding satu lawan satu secara jantan!” seru salah seorang tawanan yang paling tua. bagaimana pendapatmu?” Tiong Gi yang dimaksud.monyet dari teratai merah memang banyak bicara.

sayang kepandaian Tiong Gi belum sempurna dan ia masih tahap penyembuhan luka dalam. Tangannya berubah memerah dan Tiong Gi bisa melihat adanya hawa racun dalam pukulan itu. yang kuat dan ganas. karena memang secara tingkat kepandaian Ang Siu masih jauh dibanding lawannya. bahkan Kam tihu sendiri keluar dari gedung ikut menonton pertandingan di halaman itu. dedengkot datuk sesat dari laut selatan. Tok Ciang Sin Kwi (setan sakti tangan beracun). Pertandingan makin seru ketika keduanya mulai melancarkan pukulanpukulan jurus simpanan. sebuah adu pukulan berakhir dengan robohnya pihak lawan. jurus-jurus pukulan makin dasyat. namun yang dihadapi kali ini adalah pemuda tempaan ahli-ahli silat kenamaan di dunia kang ouw. ia bisa melihat dasar ilmu dari daerah utara sungai. Pertandingan pertama ini kurang menarik. ia masih bisa bertahan berdiri. Dari pihak Tiong Gi. suasana pertarungan makin seru. sehingga pukulan lawan tidak sampai mengancam nyawanya. Pertarungan kedua antara Hai Liong lebih seru. Dari tingkat kedudukan Can Seng memiliki kelihaian yang hanya seusap dibawah gurunya. tawanan yang paling tua yang bernama Hai Liong dan adik seperguruannya yang bernama Ang Siu Kun. Saling serang dan saling kelit berlangsung beberapa jurus. Tiong Gi membuka serangan dengan jurus-jurus badai salju. Can Seng merasa terkejut sekali merasakan sambaran angin pukulan lawan. tiga hari yang lalu pihak lawan belumlah sehebat ini. Tangannya bergerak cepat membawa pukulanpukulan berhawa dingin. Pertandingan pertama Ang Siu melawan salah satu pengeroyok Tiong Gi. meskipun dampak racun sudah hilang. Dari pihak lawan yang jadi jagoannya adalah Can Seng dan dua lawan yang waktu itu mengeroyok Tiong Gi. sebagian menjadi layu karena kena terjangan hawa yang luar biasa dinginnya. Sambil menonton Tiong Gi mencoba mempelajari jurus-jurus Hai Liong. Tiong Gi bertekad untuk tampil habis-habisan dalam pertandingan ini meski lawan yang harus dihadapi adalah musuh terberat dari pihak lawan. dalam belasan jurus ia sudah roboh terkapar. Mereka bertanding dengan tangan kosong. Rumput-rumput beterbangan. tapi luka pukulan . sebagian lagi layu karena terkena pukulan beracun. ia mengajukan dirinya sendiri.mereka yang terbiasa terjun di dunia kang ouw. hingga akhirnya keuletan dan kedisiplinan Hai Liong menjadikannya lebih unggul tipis. Semua penonton merasa kagum sekali melihat pertarungan yang sangat sengit dan seru. Tiga puluh jurus sudah berlalu. sementara Hai Liong hanya terdorong dua tombak. namun dari jurus-jurus awal Tiong Gi bisa mengukur Hai Liong lebih menang kemampuan ginkang. Arena pertarungan menjadi semakin luas. Dapat dibayangkan betapa lihainya. berhadapan Can Seng dengan Tiong Gi. Masih untung ia tidak nekad. muntah darah. Iapun membendung serangan lawan dengan jurus-jurus serangan khas daerah selatan. Tiong Gi melihat pukulan Hai Liong juga mengandung unsur-unsur keganasan. tetapi dari hasil ia belajar pada Ciak Kun. kedua belah pihak tampaknya kedudukannya seimbang. Pertandingan ketiga. Ia tidak mengenal jenis jurus tersebut. Ia tidak menyadari ada kemungkinan bahaya yang mengancamnya.

... hiyaat. ilmumu sungguh hebat.. Can Seng . secara tiba-tiba Tiong Gi mengubah tangannya seperti mematuk-matuk dari tapak tangannya mengeluarkan hawa panas luar biasa.. Secara berubah-ubah ia mengganti hawa sinkang im dan yang. Ia kesulitan untuk menyesuaikan pukulan lawan yang berselang-seling. ia memapaki serangan Tiong Gi dengan pukulan tangan terbuka.. secepat kilat Tiong Gi memanfaatkan waktu kelengahan lawan untuk melakukan sebuah pukulan terakhir..masih perlu beberapa hari untuk pemulihan. Meskipun ia sudah berusaha menangkis. Hebat sekali pengaruh menawarkan racun dari air yang diminum dari guci sakti itu. Gerakannya menjadi lebih lambat. namun lawannya terpelanting dan jatuh terduduk. Jika saja ia sudah bisa menyempurnakan ilmu dan mengembalikan tenaganya.! Tiba-tiba ketika jarak mereka tinggal tiga meteran. Can Seng yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Pada jurus ke empat puluh Can Seng mengubah cara bersilat. aku kagum padamu. kemudian ia berkata.. karena jurus-jurus pukulan tangan cocok untuk serangan atas.!” Pasir putih yang sebenarnya adalah racun putih tepung setan. Hanya dalam beberapa kejap mata. namun akibatnya naas. Wwusss. pukulan-pukulan yang dilancarkan sangat berat dan mengandung hawa yang sungguh amis. Can Seng melompat tinggi selangkah kedepan sambil menghamburkan segenggam pasir putih.! Pertemuan dua tenaga pukulan membuat Tiong Gi terdorong lima langkah ke belakang.. Can Seng merasa kerepotan sekali. Dengan sempoyongan Can Seng kemudia maju beberapa tindak... Belum selesai kekagetan Can Seng.. “Anak muda..cessss. Tiong Gi merasakan hujan yang sangat pedih. Tubuh Tiong Gi seperti melayang dengan kecepatan seperti bayangan ke arah lawan... Tiong Gi memapaki pukulan lawan dengan mengubah cara bersilat menggunakan Kiu Yang Sin Ciang... Perlahan-lahan Can Seng terlihat mulai terdesak.. maka dapat dipastikan Can Seng tak kan mampu bertahan lebih dari lima jurus. Can Seng yang sudah mulai kewalahan menjadi nekad. Tubuhnya merendah dan menyerang bagian bawah lawan.. Tangannya berubah putih. “Bresss. namun masih ada beberapa yang mengenai kulit lengan dan mukanya.. ia menggunakan jurus hujan salju menerobos awan. padang matanya berkunang-kunang. Pada jurus ke lima puluh ia mengeluarakan jurus pukulan salju mengepung gunung. iapun mundur sambil tangannya merogoh kantung mengambil guci dan segera meminumnya.. pasir itu mengguyur tubuh Tiong Gi. kedudukannya menjadi goyah. tangan kanan dan kirinya bergerakgerak melancarkan pukulan demi pukulan secara bergantian. Beberapa kali kakinya terserempet pukulan Tiong Gi.. namun dari tangannya keluar hawa pukulan beracun yang sungguh kejih. Bagaikan titik-titik air hujan. dari mulutnya keluar darah. Tiong Gi sudah bisa bangkit kembali namun ia pura-pura kesakitan.

ia yang sebelumnya tidak terlalu dekat melihat pertarungan Tiong Gi. tubuh Tiong Gi limbung. Melihat Tiong Gi bisa diselamatkan Hai Liong bernafas lega. namun ia masih mampu melakukan poksai (salto) di tanah. tetapi di pihak lain Tiong Gi yang keadaannya sudah kepayahan karena tenaganya sudah hampir habis ketika melawan Can Seng ikut roboh.. Namun buru-buru ia meminum air dari guci saktinya. prajurit-prajurit yang didekatnya langsung menyerbu. kemudian menerobos kepungan prajurit dan meloloskan diri. karena merasa lima sampai enam prajurit yang didepannya mampu melindunginya. hingga sampailah ia berhadapan dengan barisan pelindung utama tihu. Akibatnya tihu itu sampai terjengkang.. tubuh Can Seng terlontar menabrak salah satu anak buahnya. dan menghantam dirinya. dengan menggunakan kata-kata sandi ia memberi perintah pada ketiga sutenya.!” Benturan dua tenaga dengan masing-masing berkekuatan penuh tak dapat dihindarkan. dan sekonyong-konyong Kam tihu mengeluarkan perintah. Ternyata pukulan ke Kam tihu adalah tenaga tersisa yang dilancarkan seluruhnya. Kam tihu tidak tahu apa yang akan dilakukan kedua tawanan mereka. seperti berebut untuk membacokkan senjata-senjata mereka. sehingga bisa kembali bangkit. Namun ia tetap tidak peduli.. sambil memapah Kam tihu. dan keduanya roboh. tapi cepat ia sudah dibisiki oleh Tiong Gi. bahkan masih bisa melindungi Tiong Gi... sehingga beberapa prajurit yang mengepungnya bisa dibereskan. hanya bisa mencelos hatinya melihat kelebatan pedang atau golok lawan. Hanya saja..akibatnya “Bresssss..merasakan kesiuran hawa yang sangat dingin. tapi siapa sangka pukulan itu bisa melewati begitu saja kelima prajurit yang melindunginya. sehingga ketika Tiong Gi melancarkan pukulan Kui Yang Sin Ciang ia tidak mencoba untuk mengelak. namun ia sudah waspada. . dan bantu aku menelikung tihu she Kam itu!” Hai Liong kerepotan mendapat bisikan itu sementara ia sudah mulai diserang oleh lawan. tanda ia terluka... tidak menyadari kelihaian pemuda itu. sehingga mereka bisa leluasa mendekati Kam tihu. “Tangkap keenam tawanan hidup atau mati!” Hai Liong dan ketiga kawannya terkejut sekali mendengar perintah seperti ini.. “Perintahkan ketiga sutemu merebut Sui siocia.duaaarrr. meskipun dari mulutnya berlumuran darah.. ketika tiba-tiba Ang Siu berseru agar mereka segera melarikan diri karena nona Sui sudah dapat mereka selamatkan.. yang terus menerus mundur ke arah gedung.. Hai Liong yang sudah keburu berada di depan. Tapi disaat yang sedemikian gentingnya. Hai Liong hendak merangsek barisan prajurit yang mengelilinginya. Sebaliknya. Dan loloslah semua tawanan. tiba-tiba saja muncul sebilah golok menangkis semua serangan dan orang yang berkerudung dan menggunakan penutup kepala dengan gesit sudah menarik dan membopong Tiong Gi. Ia sendiri yang mendapat pedang titipan Tiong Gi lebih mudah menghadapi lawan. Nyawa Can Seng tak dapat diselamatkan.. Melihat tawanan roboh. buru-buru ia mencoba menangkis. Akibatnya suasana menjadi gaduh.

Betapa marah dan gusarnya Kam tihu setelah kondisi kesehatannya pulih. Ia kehilangan lebih dari dua puluh anak buah, sedangkan anak buah Tok Nan-hai Pang yang tewas ada belasan. Siapakah yang menyelamatkan Tiong Gi? Seorang tua berkerudung dengan gesit membawa Tiong Gi ke sebuah kuil di pinggiran kota. Begitu memasuki kuil yang masih terlihat baru itu ia diterima seorang tosu, setelah berbicara sebentar ia kemudian kembali meninggalkan tempat itu. Seorang tosu yang ternyata bisa ilmu pengobatan menjadi terkejut ketika melihat sebuah guci yang sangat dikenalnya. Selanjutnya ketika Tiong Gi sadar pada keesokkan harinya, iapun dirawat oleh tosu yang ternyata adalah murid dari si guci obat. Hanya sehari semalam Tiong Gi tinggal di kuil itu, ia sudah pulih kembali. “Terima kasih banyak kuucapkan, selamanya Tiong Gi tak bisa lupakan budi totiang.” “Anak muda, namamu Tiong Gi? Darimanakah engkau mendapatkan guci ini?” “Ini guci kuterima dari suhu Sun Ciak Kun locianpwe!” “Ah, kalau begitu kita orang sendiri, ketahuilah namaku adalah Kiong Tojin, suhengmu, tapi aku lebih banyak belajar ilmu pengobatan pada suhu.” “Ah benarkah? Suhu memang pernah menyinggung nama suheng. Tapi suhu sendiri tidak tahu kalau suheng tinggal di sini.” “Benar, aku baru saja mendirikan kuil di sini, bersama dengan beberapa tosu yang lain. Untuk sementara kamu tinggallah di sini untuk memulihkan keadaanmu.” “Oh ya, Kiong suheng, siapakah yang membawaku kemari?” “Dia tidak mau kusebutkan namanya, tapi kau telah bertemu dengan beliau beberapa malam yang lalu bersama Ouwyang siaucay.” Tiong Gi menebak-nebak siapa gerangan yang membantunya. “Hmm ternyata masih sedemikian banyak tokoh baik di dunia ini, yang bahkan tidak mau disebutkan namanya, meskipun telah menyelamatkan orang lain,” pikir Tiong Gi. Demikianlah selama beberapa hari Tiong Gi tinggal di kuil itu untuk memulihkan diri. Pada saat-saat kosong, ia membukabuka catatan yang diberikan oleh Ouwyang siaucay. Betapa terperanjatnya ia, demi melihat isi dari kitab yang pertama. Kitab yang berjudul kamus tulisan kanji mulai jaman dinasti Cin hingga Tang, berisi huruf-huruf yang ingin ia pelajari. Itulah alasan utama dia lari dari gua. Ternyata ia mendapatkan secara kebetulan. “Hmmm pantas saja, suhu Yung Ci sendiri banyak yang tidak tahu makna satu dua huruf yang

pernah ia tanyakan. Ternyata lukisan yang ditemukan adalah warisan Lau Cin Shan yang dibelakangnya berisi puisi yang ditulis dengan kanji pada jaman itu. Inilah yang selama bertahun-tahun kucari. Sungguh sebuah keberuntungan yang sangat kebetulan.” Adapun tulisan kedua yang hanya selembar kain berisi dua bait puisi. Menari ia di panggung kehampaan Mengalun ia di dasar samudera Mengalir ia di lempeng yang datar Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang member manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah karena itu sifatnya berdekatan dengan Too Tiong Gi mengulang-ulang mengucapkan kalimat-kalimat itu, namun meskipun ia benturkan kepala pada tulisan di depannya tetap saja ia tidak mampu mengerti makna dari tulisan itu. *** Kita tinggalkan dulu Tiong Gi yang masih sibuk memulihkan kesehatannya dan mencari makna atas puisi yang didapatkan. Kita beralih sebentar ke rombongan nona baju merah she Sui, yang lengkapnya adalah Sui Souw Mei. Setelah berhasil meloloskan diri mereka seharian penuh lari ke arah utara. Hingga akhirnya setelah malam mereka sampai di pinggiran hutan. Dengan cara duduk mengelilingi api unggun, mereka memanggang hewan buruan untuk santapan malam dan tak habis-habisnya mereka membicarakan Tiong Gi. Apalagi bagi nona Sui, gadis manis yang baru mekar, membicarakan pemuda sungguh membuatnya tersipu-sipu. Entah kenapa, ia merasakan ada lampion di hatinya yang berpendar-pendar. Tapi yang keluar dari mulut mungil itu justru kekhawatiran. “Hai ko, bagaimanakah kira-kira nasib inkong (tuan penolong)?” “Sui moy, aku tidak tahu pasti, tapi sekilas aku melihat sesosok banyangan menangkis senjata-senjata yang mengarah padanya, dan memondongnya ke luar arena. “Ah kasihan sekali inkong, dia masih sangat muda, tapi sudah menunjukkan sikap yang gagah, bagaimanakah keselamatannya?” “Tenang saja Sui moy, orang baik biasanya bernasib mujur, kita doakan saja!” jawab orang she Ang. “Kelak kita masih ada kesempatan untuk mencarinya, sekarang yang penting kita kembali ke markas pusat. Kita laporkan ke suhu. Sungguh tak pernah kita duga, di kota sekecil ini mereka menempatkan orang selihai itu,” gumam Hai Liong.

“Twako, apakah tidak lebih baik kita laporkan saja persekutuan mereka ke tentara di kota raja?” tanya salah satu dari dua lelaki yang berusia paling muda. “Tidak, kita hanya bertindak atas perintah suhu. Lagipula kegiatan seperti itu pasti dilakukan sembunyi-sembunyi, kita tidak punya bukti, kita hanya membawa berita. Dunia mata-mata sungguh kejam, jika kita tidak dipercaya oleh tentara, malah kita yang akan kena hukuman.” Begitulah, lebih dari sepenanakan nasi mereka berbicara banyak hal. Hingga akhirnya mereka bergantian berangkat tidur berselimutkan mimpi. Dan bagi nona Sui, mimpi apalagi yang lebih mengesankan selain mimpi bertemu dengan seorang pangeran berwajah pemuda yang menolongnya. Sebenarnya siapakah mereka berlima? Mereka adalah anggota kelompok teratai merah, sebuah kelompok oposisi yang bekerja di bawah tanah. Berbeda dengan kelompok teratai putih yang membuat partai bahkan agama tersendiri dan sering menyimpangkan arah perjuangan. Kelompok teratai merah tidak terang-terangan menggunakan simbolsimbol perjuangan tetapi lebih murni dalam memperjuangkan keadilan dan kedamaian untuk orang-orang kecil. Mereka memusatkan pergerakan pada pembinaan pesilat-pesilat yang diluluskan dari bukoan yang di buka di tiap kota. Kelompok teratai merah sebenarnya tergolong masih muda, karena baru berumur lima puluh tahunan. Pertama-tama berdiri merespon kekacauan yang timbul pada pertengahan tahun 950-an. Kelompok ini didirikan oleh Sui Tek Han, pendekar segenerasi dengan Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay. Sui Tek Han sendiri belajar silat dari guru-guru silat daerah utara. Kelihaiannya tidak disebelah bawah dua pendekar tersebut, bahkan ia bersama dengan Kun Lun Sam-lojin pernah bentrok dengan Nan-hai su kwi, pimpinan Tok Nan-hai Pang yang menyebabkan kematian salah satu dari empat setan itu. Karenanya ia memiliki hubungan baik dengan pesilat dan pendekar dari wilayah Mongol dan Khitan. Sui Tek Han sudah belasan tahun meninggal. Kedudukan ketua juga sudah berpindah beberapa kali, yaitu Sui Kong Sian, Sui Bok Yang dan Sui Bok Leng. Sui Bok Yang adalah ayah dari Sui Souw Mei, sedangkan Sui Bok Leng adalah pamannya. Kepemimpinan dari Sui Bok Yang tergolong sangat singkat. Baru enam tahun memegang kepemimpinan timbul malapetaka yang melanda keluarganya, malapetaka yang menyebabkan meninggalnya ibu Sui Souw Mei. Malapetaka itu berawal dari kepergian mereka berdua ke Heng Yang. Mereka bersama dengan enam orang lainnya dari teratai merah menghadiri acara pernikahan anak dari pimpinan cabang Heng Yang. Sepulangnya dari acara itu mereka dikepung oleh gerombolan Tok Nan-hai Pang. Dua anak buah mereka tewas, mereka kemudian bisa ditawan oleh gerombolan ini. Beruntung mereka bisa diselamatkan oleh Yung Lu. Namun keberuntungan ini berubah karena mereka kemudian mengikat suatu perjanjian yang aneh. Di kemudian hari ada pihak yang

merasa dikhianati sehingga terjadilah pembunuhan ibu Souw Mei. Kejadian itu sungguh menjadi rahasia besar keluarga Sui dan Souw Mei hanya tahu bahwa pembunuh ibunya adalah Yung Lu. Karena ibunya meninggal maka sejak kecil ia tinggal bersama neneknya di ibu kota. Sedangkan ayahnya lebih banyak menutup diri bahkan seperti mengalami penderitaan bathin yang dalam. Sou Mei tumbuh menjadi gadis yang manis, manja, melankolis namun memiliki kekerasan hati. Yang lebih menonjol dari itu semua adalah suaranya yang lembut merdu, yang mampu membetot hati pria manapun. Pada usia dua belas tahun, pamannya memanggil dan mendidik silat padanya. Sebulan yang lalu, ada desas-desus kelompok teratai merah di Heng Yang akan diserang musuh pihak Tok Nan-hai Pang. Ternyata dari hasil penyelidikan, memang terlihat adanya gerakan kelompok Tok Nan-hai Pang, yang mengarah pada penggalangan kekuatan. Karena itulah maka Sui Bok Leng menugaskan dua tim, yang pertama ke kota Heng Yang, yang kedua ke kota Lok An.Tim yang dikirim ke Lok An, sebenarnya rencananya hanya lima, namun Souw Mei memaksa diri ikut, sehingga berangkat berenam, sayang salah seorang anggota tewas dalam pertarungan awal dengan gerombolan Tok Nan-hai Pang, sehingga mereka akhirnya ditawan. Demikianlah sekilas mengenai asal-usul kelompok teratai merah. *** Sudah lama kita meninggalkan puncak Fan Cing San, tempat berawalnya cerita ini. Bagaimanakah keadaannya sekarang? Malam sudah sangat larut, ketika suatu kereta kuda memasuki gerbang Lu Liang Pay dan berhenti di halaman depan. Kedatangannya seperti sudah diketahui tuan rumah, terlihat penjaga langsung mempersilahkan masuk, dan dihalaman itu mereka segera disambut oleh pria setengah baya dan empat orang murid Yun Liang Pay menyambutnya. Pria yang menyambut tamu, kira-kira berumuran tiga puluh sembilan tahunan, berwajah tampan berdandan perlente. Di Yu Liang Pay, siapa lagi tokoh setengah baya yang berdandan seperlente itu selain Siong Chen. Seorang pria bertubuh tinggi kekar turun dari kereta, disusul dibelakangnya orang tua bertubuh pendek kurus berkumis panjang. Keduanya memiliki kulit kehitam-hitaman. Orang yang pertama berusia sekitar lima puluh enam tahunan namun terlihat masih gagah, kumisnya dicukur bersih, sedang jenggotnya dibiarkan panjang. Dari gerakannya yang gesit dan wajahnya yang penuh perbawa dengan pandangan tampak angkuh, orang akan menduga dia seorang pejabat. Memang tidak salah dugaan seperti itu karena dia adalah Boan Tek Ciangkum (perwira). Adapun pengawalnya juga jelas bukan orang biasa, meskipun terlihat sudah tua, pendek dan kurus tetapi jalannya nyaris tidak menimbulkan bunyi, seperti mengambang saja di udara.

Perwira Boan Tek adalah tentara berpangkat jenderal muda yang menguasai pasukan harimau besi. Pasukan harimau besi sangat terkenal sebagai pasukan pendobrak musuh dalam peperangan. Di usianya yang lima puluh tujuh memang Perwira Boan Tek sudah harus pensiun dari ketentaraan. Hanya karena rekomendasi dari pamannya yaitu Menteri Boan Shu ke kaisar, maka Boan Tek masih bisa bertahan. Menurut tradisi kerajaan Song, usia pensiun untuk perwira adalah lima puluh lima tahun, hanya panglima saja yang bisa pensiun pada usia lebih dari lima puluh lima tahun. Karena desakan menteri Boan Shu yang pandai menjilat, kaisar memperpanjang jabatan kepada Boan Tek selama dua setengah tahun. Ini adalah tahun terakhir Boan Tek menjabat, dan selama setahun ini tidak ada prestasi yang membanggakan yang bisa diandalkan untuk loncat menjadi pejabat sipil setingkat menteri, sedangkan pesaingnya sungguh luar biasa banyak. Karena itu, banyak rencana yang sudah dipikirkan olehnya. Salah satu rencana yang paling berpeluang besar inilah yang akan dijalankannya. Apakah rencana itu, marilah kita ikuti dialognya dengan ketua Yu Liang Pay. Siong Chen dan empat murid tingkat dua mengawal Perwira Boan Tek dan centengnya ke ruang tamu khusus di dalam gedung tempat tinggal Ketua Yu Liang. Hanya Siong Chen saja yang menemani ketua menemui kedua tamu ini, empat orang pengawal lain menjaga di luar. Segera ketua Yu Liang yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun menyambut dengan wajah berseri. ”Ah kiranya Boan Ciangkum, tak tahu angin apakah yang menuntun Ciangkum mengunjugi gubug kami di pegunungan ini.” Liong Ping tergopoh-gopoh menyambut Boan Tek perwira dari kota raja Kai Pong. Ketika pandangan Liong Ping bertemu dengan pengawal Boan Tek, wajahnya berubah serius. “Bukankah loheng ini adalah Tok Ciang Sin Kwi?” Orang tua yang menjadi centeng Boan Tek hanya menjengek kecil “Pandangan ketua Yu Liang ternyata masih belum lamur. Tak tahu apakah ilmu pedangnya juga masih sehebat dulu?” Berbeda dengan bentuk tubuhnya yang kecil, suara yang keluar dari mulut yang Dugaan Liong Ping memang tidak salah, orang tua yang seumuran dengan Liong Ping itu memang Tok Ciang Sin Kwi, guru Can Seng. Dia adalah susiok (paman guru) Boan Tek. Karena seangkatan, meski lebih dari lima belas tahun tak pernah bersua, sekali melihat bentuk tangan yang kecil dan berwarna kehijau-hijauan maka Liong Ping tak dapat melupakannya. “Ha..ha..ha...Sien Ping, perkumpulan ini tambah maju pesat saja sejak kau pimpin, hemmm sekarang anak gadispun bisa menuntut ilmu di sini,” ucap Boan Tek. “Tentu saja ciangkum, kami tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, dan kalau ciangkum berminat, tinggal tunjuk saja kami

aku lupa. sepertinya lukisan kuno? Apakah.. Liong ping sudah mampu menguasai diri..” Liong Ping tidak melanjutkan pertanyaannya..dengan senang hati akan menghaturkan ke ciangkum he. Ia paham sekali orang macam apa yang dihadapi. Tapi sebagai orang yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia kang ouw. sebaliknya malah..mujur sekali nasibmu pangcu. “Lukisan apa ini ciangkum. lihat ini yang aku bawa. tapi Liong Ping atau Toa Pangcu. .. “Oo.. “Tentu saja tanpa bantuan ciangkum..... Tapi terakhir dia mendengar lukisan itu sudah dapat diambil oleh Gubernur Heng Yang..” balas Liong Ping merendah. Apakah Boan Tek mampu mencuri dari kantor gubernur? Kalau memang bisa mengapa mesti minta bantuan dia untuk urusan yang dibisikkan itu. di sini sudah tidak ada lagi yang bernama Sien Ping.” jawab perwira itu dengan senyum yang hanya Liong Ping saja yang bisa memaknai.. tapi bukan perwira yang matang kalau tidak paham arah omongan seperti itu. berarti kau siap membalasnya khan?” “ Bantuan apakah yang ciangkum harapkan?” “Sini dekatkan telingamu pangcu!” Liong Ping terhenyak mendengar apa yang dibisikkan oleh Boan Tek.heh. golongan pendekar yang membela kebenaran dan keadilan..apakah. dalam hatinya ingin mengumpat omongon Liong Ping yang bau kentut.. sebagai Pangcu partai besar tentu saja Liong Ping mendengar kabar munculnya lukisan misterius warisan Lau Mei Shan. Mana mungkin Yu Liang Pay terlibat dalam urusan seperti itu ciangkum??? Yu Liang Pay dari dulu terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah. mana mungkin saya bisa semujur ini.he.. namun buru-buru dia merubah mimik mukanya seakan-akan sangat terkejut. “Ternyata kau tidak melupakan budi itu.saya sungguh tak menyangka sama sekali permintaan ciangkum seperti ini. sekarang kau bukan buronan lagi ha ha ha.Oh ya ciangkum.. “Ah. “Pangcu mana mungkin aku ingin menjerumuskan Yu Liang Pay ke sumur kehancuran.” Perwira Boan Tek merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan gulungan kain yang segera dipentang di depan Liong Ping. aku ingin memajukan Yu Liang Pay.. Sebenarnya ia tidak terkejut dengan permintaan Boan Tek.” Perwira Boan Tek hanya menyunggingkan senyuman sinis.

. Puncak Siauw Tong San di musim semi Di padang bunga bo tan Akankah lahir pendekar pedang kedua Bukalah mata hati Pendekar pedang sejati Meski tak ada senjata di tangan Saljupun bisa setajam pedang Liong Ping agak terperanjat mendengar isi puisi itu.dasar gubernur bodoh itu. Ilmu pedang yang hebat di tambah lagi pedang pusaka yang tak ada tandingannya. Pedang Salju!” “Pedang Salju???” hampir berbarengan Liong Ping dan Siong Chen. biar susiok yang membaca artinya untuk kalian!” Selanjutnya Tok Ciang Sin Kwi membaca terjemahan. berseru tertahan... Sayang untuk itu kami harus mengorbankan salah satu sute kami. murid Tok Ciang sosiok. bukankah ini huruf kuno?” “Benar ha ha ha ..” Liong ping bergumam sambil mencoba mengeja tulisan di balik lukisan itu...” “Lihatlah baik-baik!” seru Boan Tek sambil membalik lukisan itu.. “Benar. Pedang Salju yang akan mengangkat nama Yu Liang Pay. namun ia tahu asal usul dari sajak terkenal itu.“Dengan lukisan ini Pangcu bisa mendapatkan warisan pendekar besar Lau Mei Shan. Meskipun tak tahu pasti maknanya. Sungguh ibarat elang tumbuh taring. berarti dibalik lukisan yang ditemukan gubernur juga ada tulisannya. “Tulisan ini sulit diartikan ciangkum.. bukan?” “Sungguh saya tak menyangka ciangkum mampu membeli lukisan itu dari gubernur.. . yang didapatkan dari Ouwyang siaucay.. melainkan pujangga yang lebih kuno lagi.” “Dengarkan baik-baik. “Ciangkum ini seperti puisi pujangga Yang Chen. mana tahu dia letak rahasia lukisan itu. “Ahh. Dan aku tahu arti tulisan ini.” “Ahhh siapa yang membeli lukisan gubernur? Ini adalah lukisan kedua Lau Mei Shan yang berisi harta warisannya. Sebenarnya ia sendiri tahu itu bukan karya Yang Chen..” “Bagaimana ciangkum yakin ini menunjukkan peta tempat pedang itu disimpan? Saya tidak melihat ada petunjuk apapun.dibalik lukisan itu ada tulisannya? Hmmm. apakah sudah ada yang mencarinya ke sana?” tanya Liong Ping mencoba mengukur tingkat pemahaman si perwira..

ketika sepasukan prajurit berhasil menangkapnya. “Aku tidak tamak pangcu. Hitung saja sendiri kapan Yu Liang Pay akan kesana. bersedia menyelamatkannya. ia waktu itu ikut memimpin sepasukan laskar. Dan hari ini sang prajurit datang untuk menagih hutangnya. untuk itulah Boan goanswe kesini. Sehingga sedikit banyak kaisar ini juga termotivasi mengikuti petuah-petuahnya. aku tinggal tunggu tugas yang kuminta beres.” “Hmmm. sebagai pihak penentang. Untunglah datang dewa penyelamat yang bernama Boan Tek. Ia sendiri kemudian meninggalkan . namun keburu keduanya sudah berlalu. ia terlibat dalam konflik penyatuan kerajaan. Musim panas tinggal dua bulan lagi. namun puisipuisinya dan terutama kepandaian ilmu perangnya sangat menggugah semangat kaisar. Dengan bergegas keduanya sudah menuju ke halaman depan dan segera meninggalkan Liong Ping yang duduk termangu. menyerahkan jabatan kepada ketua baru Lauw Kian Bu. Siong Lee dan lebih dari dua puluhan anak buah untuk mencari pedang salju. silakan pangcu cari! Kalau ketemu. sedang perjalanan ke sana bisa menyita waktu seminggu.“Bukan! Ini adalah karya Liu Pu Yi. Kukira cukup pangcu. dengan syarat ia harus mendukungnya. Ketika pasukan Sung memenangkan pertempuran. dijaman Cin. Tok ciang sin kwi yang lebih banyak diam berkata “Tugas Yu Liang Pay mencari pedang ini pangcu. Satu bait sajak yang disampaikan oleh kaisar kepada bu beng hiap yang terkenal dengan sajak jalan pedang menunjukkan adanya pengaruh ini.” Liu Pu Yi adalah pujangga terkenal.. meski tak terucap sepatah katapun. Tok Ciang Sin Kwi melotot. Keesokan harinya terjadilah peristiwa yang luar biasa di Yu Liang Pay. Petualangannya tidak berlangsung lama. dan menjadi penasihat pribadi kaisar Shi Huang Ti. waktu itu. Celakanya. ia termasuk dalam daftar pencarian. Permisi!” Liong Ping hendak mencegah perwira itu. Liong Ping menugaskan Siong Hok Cu.bagaimana kalau tidak ditemukan? Dan apakah Sin Kwi dan anak buah pantai selatan tidak menghendaki?” pancing Liong Ping. Ketika itu ia masih muda. karena keburu perwira Boan menengahi. Siong Lee adalah anak lelaki Siong Chen. Siong Chen. seorang prajurit yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun. Meskipun tidak pandai ilmu silat. yang sebelumnya Ji Pangcu. Sayang di masa tuanya karena tuntutan kaisar yang ingin hidup selamanya untuk dicarikan obat panjang umur membuat pujangga ini harus gugur menjalankan tugas mencari obat yang tak pernah ditemukan orang selamanya. Terbayang kembali peristiwa empat puluhan tahun yang silam. Hal inilah yang menyebabkannya harus tersaruk-saruk mencari perlindungan hingga ke negeri salju. Ketua Kwan Liong Ping mengundurkan diri.. Namun sebelum itu. ketika ia keluar dari negeri itu. tampak wajahnya memerah tanda aliran darah sudah mulai meninggi.

Bab 17. Tapi benarkah demikian? Keliru Chien Ce jika merasa demikian. Tapi karena tugas yang diembannya. murid Kun Lun Sam-lojin. Pemuda yang berwajah tampan dan jangkung itu sepertinya ia sudah terbiasa dengan hutan pinus di pegunungan itu. sehingga sampai hari ini penyamarannya belum ketahuan. Di sekeliling dasar dari bukit pedang itu oleh pimpinan Yu Liang Pay. Pemuda ini tak lain adalah Cien Ce. karena adanya larangan yang tegas dari Yu Liang Pay. Tidak sembarangan orang boleh mengunjungi puncak ini. Karena tempat terakhir yang diyakini telah didatangi adalah Yu Liang Pay. Puncak itu dari dari jauh seperti pedang yang mencuat. Setelah lebih dari sepuluh tahun belajar di sebuah tempat di Kun Lun san. Namun apa yang akan diperbuatnya sungguh membahayakan diri sendiri. Chien Ce tidak merasa takut untuk menyelidiki puncak ini. Cien Ce akhirnya diijinkan turun gunung.markas dan tinggal di salah satu rumah di perkampungan di sekitar markas. ia sepertinya tahu sedang diikuti oleh seseorang. beberapa hari setelah peristiwa pergantian pimpinan Yu Liang Pay. maka dari sinilah ia mencari rahasia itu. Di ujung hutan pinus Chien Ce berhenti. Ia mendapatkan tugas untuk menguak misteri kematian sam-lojin yang hingga saat ini masih belum jelas. dari dekat terlihat bagaikan pedang. diterima sebagai anak murid. orang akan tahu betapa di tempat yang mestinya damai itu telah banyak nyawa manusia melayang. Ia juga mendapat bimbingan dari Lauw Kian Bu. ia mengawasi keadaan puncak yang tinggal berjarak satu li di depannya. Memang tidaklah keliru menebak bahwa ia adalah anak murid Yu Liang Pay. Dengan melihat deretan ceruk-ceruk tengkorak di bukit pedang yang sangat tinggi bagai jendela-jendala pagoda. Puncak itu berdiri berdiri kokoh menjulang dari dasar punggung bukit. Diawasi oleh sepasang mata yang nampak menyorotkan sinar penasaran dan kekhawatiran. Terkuaknya rahasia bukit pedang Pada suatu pagi buta yang masih remang-remang. dari dekat bagaikan pagoda raksasa. puncak pedang (Tiong kiam teng). di buat benteng yang mengelilinginya. ternyata tidak membuat Chien Ce khawatir. Kepalanya tertutup caping yang agak lebar. di punggung ia menggendong sebuah bungkusan. tinggal tempat inilah yang belum . Untuk itu sudah lebih dari dua tahun ia menyusup ke sana. ada sepasang mata yang mengawasinya. Ia mendekati daerah yang sangat dikeramatkan oleh Yu Liang Pay. bahkan ia sering menjadi teman berlatih Siong Lee. atau lebih tepatnya ia hanya dididik oleh dua dari mereka. Sepasang mata yang sebening telaga. Hebat sekali memang sandiwara Chien Ce. seorang pemuda tampak mendaki salah satu puncak di pegunungan Fan Cing San dengan cepat. Selama dua tahun ada di Yu Liang Pay. Yang jelas pada pagi ia mendaki pegunungan menuju puncak Tiong Kiam. Siapakah gerangan pemuda yang sudah sedemikian nekad mendatangi tempat yang dikeramatkan oleh Yu Liang Pay.

Di dalamnya berisi tengkorak utuh atau beserta sebagian tulang belulang kerangka manusia. namun sinarnya belum mampu menerangi seluruh sudut di dalam benteng itu. Tiga pisau yang meluncur itupun bisa ditangkisnya. Sesampainya di atas tembok benteng. Chien Ce berhenti kemudia berteriak.. Chien Ce perlahan-lahan turun dari tembok dan menginjak rumput. sehingga menyerang orang secara pengecut?” . Chien Ce kemudian berjalan perlahan-lahan menerobos semak belukar yang terlihat seakan tidak pernah dikunjungi manusia. Dilontarkannya tali itu keatas.pernah dikunjungi. Tiba-tiba dari samping terdengar suara tengkorak keluar dari dinding dan menggelinding ke bawah. namun cukup bergema di sekitar benteng. “Siapapun penghuni gudang ini keluarlah! Aku Chien Ce ingin bertemu!” Suaranya tidak terlalu keras.. Benteng itu terbuat dari batu setinggi tiga tombak.criing. Suasana sungguh sepi mencekam. Setelah menyeberangi sungai kecil ia kemudian mendaki punggung bukit yang berbatu. Ceruk-ceruk yang digali di tebing bukit itu bentuk dan ukurannya tak beraturan. Dari tempatnya berdiri Chien Ce dapat mencium bau wangi dupa. Dari hasil penyelidikan awal. Dari ujung hutan itu sebelum sampai ke punggung bukit tempat bersemayamnya puncak bukit pedang. Akhirnya sampailah ia di depan benteng yang cukup kokoh mengelilingi bukit pedang.. Chien Ce harus turun ke sebuah lembah.. Terdengar bunyi benturan senjata yang keras. yang ternyata berisi tali dengan gaetan pada ujungnya. rumput berganti pasir. menyeberangi sungai kecil. dan Chien Ce merasakan tangannya sedikit tergetar menandakan peluncur memiliki tenaga yang cukup kuat. yang dari luar lebih mirip gudang dibandingkan rumah.. maka ia mulai mendaki menggunakan tali..! tiga kali bunga api berpijar. Tengokan yang hanya sekejap tapi cukup mengecoh Chien Ce karena tiba-tiba jendela gudang terbuka dan langsung meluncur cepat tiga pisau terbang ke arah Chien Ce. meskipun matahari sudah terbit. ia pernah melihat ada sosok bayangan berkelebat menuju ke arah puncak ini. Chien Ce menengok ke samping..criiing. Chien Ce memeriksa benteng itu dengan cara mengelilinginya. Perlahan-lahan ia mendekati bangunan di salah satu sudut itu.cringg... Kira-kira berjarak tiga tombak dari gudang itu. menambah suasana yang lebih mencekam. “Ayaaa.. Namun adanya dupa juga pertanda bahwa ada manusia yang menyalakannya. namun ia hanya menemukan satu pintu saja. Chien Ce makin hati-hati. Dari dekat wajah bukit pedang itu jauh mengerikan dari yang dibayangkan. “Hmmm.. yang tertutup rapat. Ia membuka bungkusan yang digendongnya. diloloskannya sebilah pedang. Setelah memeriksa keadaan sekeliling untuk sesaat. apakah penghuni benteng bukit tengkorak sudah tak punya rasa malu. dan mendaki punggung bukit yang berbatu. dan menemukan benteng yang agak rendah. ia melihat di salah satu sudut benteng terdapat sebuah banguan.. setelah ditarik-tarik dan terasa sudah kuat.

Darahpun mulai mengucur di beberapa tubuh Chien Ce. Dari tangkisan ini ia merasakan getaran aneh. serangan-serangan pedang lawan seakan-akan mengepungnya. “Siong kauwnio. Sekejap ia harus memecah perhatian untuk mengusir pengaruh jahat ini. tetapi perbuatanmu sungguh mengundang bahaya yang besar bagi dirimu!” balas gadis yang bernama Siong Bwee Nio. Bersamaan dengan itu..Beberapa saat kemudian. karena ia adalah puterti Siong Chen. Begitu muncul langsung sebilah pedang yang bentuknya melengkung meluncur ke beberapa titik berbahaya Chien Ce dengan serangan dasyat. Begitu datang. Kun-lun sin kiam hoat. Namun sekonyong-konyong dari pintu muncul sesosok bayangan yang tinggi besar. Gadis yang masih muda. Makin lama getaran itu dirasakan makin kuat menusuk dadanya. terima kasih banyak atas bantuanmu. “Chien ko.. Gadis kecil ini bukanlah orang sembarangan di Yu Liang Pay. Jurus-jurus itu sangat kuat dan murni.” kata Chien Ce lembut. tampaknya serangan demi serangan pedang lawan selalu terbentur tembok pertahanan ilmu pedang yang sangat kuat. pedangnya diayunkan cepat kedepan. seperti suara yang menusuk-nusuk dadanya. sangat muda sekali karena baru empat belas tahunan. meskipun ia sadar serangan lawan pasti mengenainya. pada suatu serangan pedang lawan dari atas sebuah tangkisan menghalau. seorang gadis cantik yang matanya bersinar kocak. Namun kali ini wajah Chien Ce berubah pucat. aku tidak tahu kenapa engkau melakukan hal ini. tapi ia masih berharap pedangnya juga mampu melukai lawan. Meskipun berada di lingkungan perguruan yang tidak terlalu menjunjung kegagahan. Chien Ce lantas memainkan jurus-jurus pedang yang dipelajarinya. sekonyong-konyong meluncur sebuah pecut baja yang memapaki serangan lawan. membuat konsentrasi Chien Ce menurun. suasana menjadi senyap kembali.. Beberapa kali tangkisan membuat keduanyanya agak terkejut karena masing-masing memiliki sinkang yang sangat kuat.” kembali terdengar menimbulkan suara benturan yang sangat keras. Posisi Chien Ce makin lemah. Chien Ce memapaki serangan dengan tangkisan. Tangan kiri lawan tiba-tiba mengeluarkan uap hitam. dan bahkan masih mampu meliuk hampir menotok pergelangan lawan. Lawan kelihatan terkejut melihat sosok yang datang menolong Chien Ce. Chien Ce sudah pasrah. langsung menangkis serangan lawan. namun ia didik . akibatnya beberapa kali ia tergores pedang lawan. hingga akhirnya pada jurus ke sekian belas. dari isteri keduanya Liem Bi Lian. sekonyong-konyong lawan mengubah cara memainkan pedangnya. Tak tahu kenapa engkau melibatkan diri dalam urusanku. Sesampainya di hutan pinus Chien Ce meminta berhenti. Pada saat yang kritis. mereka akhirnya beristirahat sebentar sambil mengobati luka-luka. Keterkejutan lawan dimanfaatkan untuk menarik tangan Chien Ce dan dengan tali yang dipakai sebelumnya mereka melarikan diri. “Traang. bahkan hampir seimbang.

langsung oleh orang-orang yang masih lurus di Yu Liang Pay, sehingga sedikit banyak tahu sifat-sifat pendekat. “Aku mengkhawatirkanmu, kauwnio sungguh selalu baik kepada saya!” “Sudah..tidak perlu kauwnio segala, panggil aja aku Bwee Nio. Sekarang kalau twako kembali ke perguruan, pasti pangcu marah padamu, sebaiknya twako pergi saja dari sini.” “Ya, memang aku akan pergi dari sini, terima kasih banyak atas bantuanmu, Bwee moy. Seumur hidup aku tidak akan melupakan bantuan ini, aku akan tulis di dasar hatiku, sebagai sebuah kenangan yang sangat indah dengan gadis yang pualiing manis,” kata Chien Ce romantis. Bwee Nio hanya tersenyum, ia masih terlalu polos untuk merasakan adanya getar-getar tertentu. Selama berguru di tempatnya, ia melihat Chien Ce sebagai pemuda yang sungguh mengagumkan, tampan, ramah, ringan tangan, tetapi tidak suka usil. Kepadanya pemuda itu suka sekali membantu, selalu bersikap hormat dan lembut. Sikap yang membuat gadis kecil itu sangat kagum kepadanya. Kakaknya sendiri Siong Lee juga tampan, tapi mulutnya ceriwis, kata-katanya juga kadang kasar, dan selalu memaksa kalau punya kehendak. Dan lebih buruknya lagi Siong Lee terkenal sangat angkuh di Yu Liang Pay, melebihi kakek dan ayahnya. Kepada Kwan Bu saja ia bisa bersikap seakan-akan mereka sederajat. Bisa dibayangkan sikapnya ke yang lain. Seakan-akan Yu Liang Pay miliknya seorang. Setelah bersoja, akhirnya Chien Ce meninggalkan Siong Bwee Nio yang untuk beberapa saat masih duduk tercenung, memikirkan alasan untuk berkelit. Chien Ce menuruni dengan cepat jalanan setapak Fan Cing san dan berniat kembali ke Kun Lun san. Chien Ce mengerahkan kemampuan lari cepatnya. Ia berlari terus sampai kelelahan. Setelah senja tiba, dan langit menjadi ungu sampailah Chien Ce di tepi hutan. Malam itu ia beristirahat di tepi hutan itu dan baru keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan. Entah kebetulan entah memang ada kekuatan gaib yang memandunya, Chien Ce siang harinya melewati padang bunga merah. Padang bunga merah ini padang yang sangat luas, jauh dari desa atau pemukiman penduduk. Ia berjalan perlahan, ketika suara derap kaki kuda terdengar mendekat. Awalnya ia tidak menyadari bahaya yang mengancam dari sosok-sosok yang dibawa oleh kuda. Barulah setelah mendengar desingan senjata rahasia, hatinya mencelos. Diloloskan pedangnya dan ia membalikkan badan sambil menangkis beberapa kali. “Cringg...criing...criiing....! tiga kali Chien Ce menangkis, tiga kali pula bunga api berpijar. Tiga buah amgi yang meluncur itupun bisa ditangkisnya. Ia terperanjat melihat empat orang yang datang menunggang kuda. Orang pertama bertubuh tinggi besar berkulit kehitaman, berhidung mancung berbentuk betet, kepalanya bersorban,

usianya ditaksir sudah delapan puluh tahunan. Tiga pengawalnya juga terlihat sudah tua, ada yang kurus ada yang gemuk. “Ha...ha...ha.....sam hengte, lihatlah seekor anak rusa didepan kita. Hayo kita balapan, siapa bisa menangkapnya duluan! Awas hati-hati ia adalah murid tiga orang jompo dari Kun Lun!” “Foi sicu, mari kita praktikkan ilmu baru kita, aku sungguh penasaran ingin melihat hasilnya, hi..hi..hi...!” ajak salah satu kakek tua yang bertubuh pendek. “Benar..ayo..ayo...!” timpal yang lain sambil menghunus pedang. Ketiga kakek tua pengawal kemudian duduk bersila di atas rumput yang tebal. Tangan kiri mereka ditempelkan pada dada kanan atas dekat pundak, tangan kanan yang memegang senjata berposisi lurus ke depan. Pedang ditudingkan ke arah Chien Ce. Lelaki bertubuh tinggi bersorban berdiri di belakang mereka. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Sebilah pedang melengkung ditancapkan di depan kakinya. Tangannya bergerak-gerak ke depan seperti penari kecak. Tiba-tiba pedang yang ditancapkan tercabut dari tanah dan bergerak perlahan menuju ke atas tiga kakek yang bersila di depannya. Beberapa saat kemudian pedang itupun berposisi sama dengan pedang yang dipegang tiga kakek, itu. Namun sekejap kemudian pedang itu sekonyong-konyong meluncur cepat ke arah Chien Ce. Seakan-akan ada tenaga yang bisa membawanya pedang itu seperti digerakkan oleh tangan gaib menyerang Chien Ce bertubi-tubi. Chien Ce berusaha menangkis dan terjadilah perang tanding yang tidak kasat mata. Antara Chien Ce melawan sebuah pedang. Pada saat yang sama ketiga kakek yang duduk bersila kemudian menggerak-gerakkan pedangnya seakan-akan menggores-gores sesuatu yang ada di depan. Akibatnya luar biasa, Chien Ce merasa tubuhnya benar-benar tergores oleh tenaga gaib yang keluar dari pedang lawan. Ditambah lagi seakan-akan ada bunyi berdenging di telinganya, konsentrasinya menjadi buyar, sehingga pedang berbentuk melengkung beberapa kali mulai berhasil melukainya. Padahal luka yang kemaren, masih belumlah kering, masih ditambah lagi luka baru, betapa beratnya penderitaan Chien Ce. Ia semakin kepayahan. Pada jurus ke lima puluh, ia sudah sempoyongan. Namun rupaya musuh tidak ingin segera mengakhiri jiwanya. Terbukti kemudian ketika Chien Ce benar-benar roboh. Pedang yang menyerangnya ditarik oleh kakek tinggi besar bersorban. Pada saat yang sama ketiga kakek tua yang sebelumnya duduk bersila juga mengakhiri serangan dan bangkit. Dengan beriringan mereka mendekati Chien Ce, sambil tertawatawa gembira. Tertawa yang bisa menegarkkan bulu remang, karena tidak mirip dengan tertawa manusia biasa tetapi tawaan setan. “Ha..ha...ha...lihat kawan-kawan, seekor rusa muda yang kita dapatkan, akan kita apakan sebaiknya? Seperti orang jompo Kun Lun atau tosu buntung?Sungguh kasihan, nasib murid tak jauh-jauh dari gurunya.....”ujar orang tua bersorban. Sambil mendekat diputar-putar pedangnya.

Siapakah kakek-kakek, yang mengeroyok Chien Ce ini? Pembaca pasti masih ingat peristiwa di padang yang sama, ketika mereka mengeroyok orang ke tiga dari Kun Lun Sam-lojin. Memang benar kakek yang sudah terang-terangan membuka topengnya adalah Vicitra Rahwananda, atau yang disebut kawan-kawan dengan panggilan Foi Cit Ra, Foi sicu. Dan tiga kakek yang mengawalnya juga bukan orang sembarangan karena dia adalah tiga dari beberapa orang saja generasi di atas Liong Ping yang masih hidup. Mereka bersama-sama tinggal di gudang di dalam benteng bukit pedang. Orang-orang sesat macam mereka memang sudah biasa membicarakan kematian orang seperti kematian ayam. Mereka tak menyadari bahwa kematian adalah hak Tuhan yang tak bisa diganggu gugat. Jika belum saatnya mati, ajalpun tak jua menjemput. Hanya kurang dari dua tombak jarak mereka dari Chien Ce, tiba-tiba terdengar bunyi dengung dari hutan bambu kejauhan. Begitu sampai di padang, terlihat ada sepuluh orang berlari-lari ke arah mereka. Rombongan ini terdiri dari sembilan lelaki berusia di atas lima puluh tahunan dan seorang dara yang berusia tujuh belasan, yang berwajah cantik. “Hmmm....empat kerbau bau tanah mengeroyok anak muda, sungguh menjemukan!” ujar salah seorang yang baru tiba. Di lihat dari seragamnya, yang putih-putih dan memegang bambu putih, orang langsung tahu mereka adalah rombongan dari bambu putih. Memang benar, rombongan ini dipimpin oleh lelaki berumur lima puluh tahunan, memakai rompi warna cokelat muda, bernama Tik Coan Kok. Di samping kanan dan kiri berdiri dua orang tua berwajah khas, dua Tiauw Kwi, yang dulu ikut bersama Tiong Gi ke Hang Chow. Begitu tiba mereka langsung melontarkan lima bambu ke arah lawan. Lawan sempat mundur dua langkah. Namun sebenarnya bambu ini sengaja dilontarkan untuk menjadi pagar bagi Chien Ce. Begitu tiba di dekat Chien Ce beberapa orang mendekati tubuh pemuda ini untuk memberikan bantuan. Mereka menggotong Chien Ce ke pinggir kalangan. Liu Siang mengobati lukalukanya. *** Bagaimanakah Coan Kok dan dua Tiauw Kwi bisa sampai ke tempat ini? Sebenarnya bukan suatu kebetulan mereka sampai di sini. Sejak meninggalkan Hang Chow, Yung Ci memutuskan untuk mengunjungi puteranya Yung Lu di markas bambu putih yang terletak di sebelah selatan kota Siang Yang. Di markas ini kemudian Yung Ci diminta puteranya agar menetap supaya lebih bisa konsertrasi mendidik Tiauw Kwi. Dua bulan setelah Yung Ci tinggal di markas, Tiauw Kwi yang lain datang dan berkumpul di markas. setahun lamanya Yung Ci mendidik Tiauw Kwi yang tinggal tujuh. Ikut didik pula putera Yung Ci yang bernama Yung Seng. Pada waktu itu Yung Seng sudah berusia tujuh belas tahun. Berbeda dengan Kakeknya yang berwatak agak kaku dan berapi-api, atau ayahnya yang berwatak gembira, selalu ingin enaknya sendiri, dan mata keranjang. Yung Seng adalah remaja yang tenang dan sabar. Meskipun bakat silatnya tidak sebaik Tiong Gi ataupun Liu Siang, namun Yung Ci tetap puas, karena jika dididik dengan baik, kemampuannya tidak akan kalah dengan Tiauw Kwi.

Berbeda dengan sikap ayahnya yang lebih suka menyembunyikan diri, kelompok bambu putih yang didirikan Yung Lu sangat aktif terlibat dalam arena dunia persilatan, sehingga pengetahuan dan pengalaman mereka sangat kaya. Yung Lu juga sangat aktif merekrut anak buah dan melatihnya, sehingga di markas itu telah terdapat anak murid yang berjumlah lebih dari dua ratus orang, jumlah yang sangat diperhitungkan lawan. Karena sering membantu masyarakat di sekitar markas, dan juga penduduk kota Siang Yang pada umumnya, maka kehadiran bambu putih dapat diterima. Selain di luar kota Siang Yang, kelompok bambu putih sejak ada kabar penemuan lukisan milik Lau Cin Shan, membuka cabang di kota Heng Yang. Di cabang ini Yung Lu menempatkan lima puluh buah anggota, yang kemampuannya sudah teruji. Dari hasil pemantauan selama lebih dari satu tahun, Yung Lu melihat adanya gerakan dari Tok Nan-hai Pang, yang mulai mendekati Yu Liang Pay. Ia juga mendengar adanya sas-sus yang menyatakan bahwa Tok Nan-hai Pang telah mendapatkan lukisan berisi peta dan bahkan puisinya sudah tersebar di dunia kang ouw. Kalau ayahnya tidak suka terlibat dalam urusan warisan Lau Cin Shan, Yung Lu bersikap sebaliknya, menurutnya warisan Lau Cin Shan adalah warisan milik ksatria salju, dan sebagai ksatria berdarah murni ia merasa sangat berhak atas warisan itu, itulah sebabnya kenapa pihak bambu putih sangat antusias berebut lukisan Lau Cin Shan yang berisi peta penyimpanan harta karunnya. Setelah setahun dididik oleh Yung Ci, Yung Lu kemudian meminta agar Tiauw Kwi dilibatkan dalam pencarian lukisan. Awalnya Yung Ci tidak setuju, namun desakan terus menerus dari Yung Lu, akhirnya meluluhkannya, apalagi Yung Lu juga berjanji akan membantu mencari bibit-bibit baru yang dapat memperkuat barisan ksatria salju. Karena itu dibentuklah dua kelompok, yang pertama yang dipimpin oleh Coan Kok, bertugas untuk berkunjung ke gunung salju besar menengok perkembangan Liu Siang dan mencari bibit baru. Di perkampungan salju tempat tinggal nenek besar Toan Wei Sian, mereka tinggal selama beberapa hari, kebetulan sebulan sebelumnya datang serombongan tosu dari Kun Lun Pay, yang dipimpin langsung oleh Ki Liang tosu. Kedatangan Ki Liang tosu selain untuk menjalin tali persahabatan juga ingin meminta bantuan nenek besar untuk ikut membantu memikirkan, syukur-syukur bisa ikut membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh Kun Lun Pay. Kun Lun Pay sejak peristiwa di Yi Chang menghadapi ketegangan dengan Siauw Lim Pay. Utusan kedua belah pihak yang dikirimkan selalu mendapat serangan yang diduga dilakukan oleh pihak lain. “Begitulah locianpwe, suatu ketika pernah datang utusan dari Siauw Lim Pay, yang menyatakan bahwa anak muridnya tewas oleh pukulan tongkat khas Kun Lun Pay, mereka juga menuduh kami berkomplot dengan gerombolan penjahat dan berhadap-hadapan dengan biksu dari Siauw Lim. Sebaliknya ketika kami mengirimkan utusan ke Siauw Lim, dua dari lima utusan kami tewas, diserang oleh lawan gelap, namun dari bekas lukanya, jelas mereka kena pukulan cakar naga, khas Siauw Lim. Bagaimana pangcu kami tidak prihatin atas kondisi seperti itu. Sejak saat itu sudah tak terhitung berapa kali anak murid kedua belah pihak terlibat

bentrokan. Karena gunung salju besar termasuk tetangga kami, maka sengaja kami datang ke sini. Kami tidak terlalu berharap besar, karena kami juga tahu bagaimana keadaan di sini. Tapi barangkali saja kami bisa berbagi informasi yang penting bagi penyelidikan masalah ini. Oh ya, belasan tahun yang silam kami pernah menemukan seorang anak lelaki di antara beberapa orang yang tewas mengenaskan di daerah utara gunung besar. Di sekitar bekar pertempuran itu kami mendapatkan banyak sekali senjata rahasia berupa kepingan besi seperti ini, aku pernah mendengar dari suhu laskar yang bernama tengkorak hitam, benarkan memang benar-benar ada?” tanya Ki Liang tosu sambil mengulurkan tangannya menunjukkan sekeping besi berbentuk tengkorak kepada nenek besar. “Ooohhh.......Shu Jit Su...........ternyata kau tak pernah sampai ke suhu,” gumam nenek besar dengan mata menerawang. Tangannya gemetar memegang keping amgi (senjata rahasia) itu. Air matanya meleleh membasahi pipi, namun tak ada sedu sedan. Tanda kesedihan yang tertahan. Hanya sebentar saja nenek yang sudah kenyang asam garam meluapkan emosi sesaat, sesudahnya ia kembali lagi dengan ekspresi semula. Sungguh kematangan bathin seorang perempuan yang luar biasa. “Ahh, maafkan kami, tak kami sangka locianpwe mengenal rombongan yang meninggal itu. Kami telah menguburkan mereka semua termasuk kudanya. karena kami tidak mengenali kami tidak memberi nama pada batu nisannya. Tapi kami masih ingat tempatnya!” “Benar memang, aku yakin sekali mereka rombongan Shu Jit Su sekeluarga. Akulah yang menyuruh mereka meninggalkan negeri ini, mencari suhuku yang masih terhitung kakek Shu Jit Su. Antek-antek tengkorak hitam mengetahui rencana Yung Ci hendak menjodohkan puteranya dengan adik Jit Su yang bernama Shu Kiok Nio. Meskipun perjodohan itu batal, namun kehadiran Yung Ci ketahuan pihak lawan. Ketika kemudian muncul laskar tengkorak hitam menyerang rombongan Yung Ci, Shu Jit Su ikut membela Yung Ci. Nah karena ketahuan bisa silat Shu Jit Su dimusuhi oleh tengkorak hitam. Karena khawatir keselamatannya maka aku minta dia untuk mengungsi ke utara. Sayang ternyata semuanya sudah terlambat.” “Kiranya begitu kejadiannya. Kebetulan sekali kalau begitu. Perlu saya sampaikan pada saat ini putera Shu taihiap, yang kami beri nama Chien Ce sedang berguru pada Kun Lun Sam-lojin. Kalau locianpwe berkenan menengok, mereka ada di sebelan utara markas kami.” “Terima kasih totiang, budi totiang tak kan kami lupakan, kami berjanji akan memberi bantuan sesuai dengan kemampuan kami!” Sebulan kemudian kedatangan rombongan dari bambu putih diterima dengan gembira oleh nenek besar. Iapun menugaskan mereka untuk menemui putera Shu Jit Su, dan bersama-sama dengan Liu Siang, akhirnya rombongan ini berangkat ke Kun Lun, di Kun Lun mereka di

sungguh lucu. sehingga arena makin luas. Sebuah adegan yang mengagumkan. Ji-lojin pada saat itu tinggal sendirian di gua. mulai mencabut pedang. Tiga kakek tetua Yu Liang Pay ini memang sudah terlatih menyerang dalam barisan sehingga mereka bisa bekerja sama dengan baik.. *** “Monyet-monyet bambu putih sungguh lancang berani bermain gila dengan tetua Yu Liang Pay!” kata Vicitra sambil melontarkan pedangnya ke depan. jangan tanggungtanggung sekalian bersepuluh maju semua.ha. Ditambah lagi dengan Liu Siang yang menyerang dengan tak kalah hebatnya.terima oleh ji-lojin. Namun lawan yang mereka hadapi kini adalah dua Tiauw Kwi yang sudah digembleng oleh Yung Ci sehingga kelihaian mereka maju pesat dalam setahun terakhir. “Kami rombongan bambu putih tidak bermaksud turut campur. maka tiga tetua Yu Liang Pay..ha.. Namun Tiauw Kwi berdua sudah maju ke depan. Mendapat tantangan seperti itu Tik Coan Kok melototkan matanya kepada lawan. Melihat yang maju dua orang kakek dan seorang gadis. anak-anak kemaren sore sungguh berani mati menantang kami. Maka rombongan ini bergegas ke Yu Liang Pay... Ia hendak memberi aba-aba kepada enam anak buahnya untuk melayani tantangan. Dengan membulatkan tekad ia berkata.. sehingga sekali tebas saja. dan di lembah bunga inilah mereka bertemu dengan empat kakek tua yang sedang mengeroyok seorang pemuda.. mampu di bendung oleh lawan. namun kami tidak akan membiarkan setan-setan bangkotan seperti kalian berbuat jahat di depan kami!” “Ha. Hayo majulah. karena toahengnya sudah meninggal. Vicitra meminta tiga tetua Yu Liang Pay menghadapinya. biar cepat kami memenggal leher kalian sebelum kami kerat daging bocah itu sekerat demi sekerat!” ujar Vicitra. lima bambu utung hingga tinggal tonggak-tonggaknya saja. Hawa pukulan-pukulan yang dilepaskan juga makin lama dirasa makin berat. Dan pedang itu lantas kembali lagi ke tangan pemiliknya. Jurus demi juruspun berlalu. namun tidak membuat rombongan Tik Coan Kok keder.sungguh lucu. sedangkan Liu Siang menggunakan . Tiauw Kwi juga melayani dengan mencabut pedang. Maka dimulailah pertarungan tiga lawan tiga yang sangat seru. “Biarlah kami melayani kalian sebentar!” “Aku ikut!” tiba-tiba Liu Siang juga sudah melompat ke samping dua kakek Tiauw Kwi. Pedang itu seperti digerakkan oleh tangan saja menebas pagar bambu yang dibuat Tik Coan Kok dan rombongannya. makin lama serangan-serangan kedua belah pihak makin cepat dan sulit diikuti oleh pandangan mata rombongan bambu putih. Karena serangan tangan kosong. Ia juga menyampaikan bahwa Chien Ce sudah mereka kirim ke Yu Liang Pay.

! pedang lawan dapat ditangkis oleh salah seorang dari Tiauw Kwi.. Tangkisan dan serangan balasan dari dua Tiauw Kwi menyambarnyambar bagaikan rajawali. Namun jangan dikira tongkat ditangannya rapuh. sungguh sangat ketat. Ketika sampai pada jurus ke dua puluh enam. kedua Tiauw Kwi mengubah gerakan pedangnya dengan lebih banyak menyerang. bahkan sudah dua kali berhasil menggores lengan lawan. lengkingan yang mengandung getaran yang luar biasa.. Dan dimainkan oleh tetua yang ikut merintis perkembangan ilmu pedang ini sejak masih kanak-kanak. Tongkat ini memang peninggalan salah satu ksatria salju yang bersenjatakan tongkat. Akhirnya mereka seperti bersepakan. Liu Siang mencari posisi yang tepat untuk bisa membantu memberikan perlindungan atau memperkuat pertahanan. Meskipun hanya sekejab namun cukup mengganggu konsentrasi mereka. nyaris tidak menyisakan satu celahpun bagi masuknya serangan lawan. bergerak sangat hebat. dapat dibayangkan betapa hebat serangan pedang mereka. mulutnya berkemak-kemik. baik Tiauw Kwi maupun Liu Siang merasa ada suara aneh yang menusuk-nusuk telinga. melompat mundur tiga tombak.. Akibatnya. yang baru-baru ini sempat menggemparkan karena daya magisnya. “Auuoooooooooooooommmm!” Lengkingan dasyat keluar dari ketiga mulut mereka. Pedang di tangan tiga tetua Yu Liang Pay. “Pranggg. ia memang merasa cocok sekali bersenjatakan tongkat. Melihat kedudukan ketiga tetua itu makin lama makin terdesak. salah satu ilmu pedang terbaik di rimba persilatan. sehingga ketika sebuah tusukan mengancam dadanya. kemudian mengumpulkan seluruh hawa khiekang ke pangkal pita suara. tidak mampu melakukan tangkisan. Mereka bertiga kemudian menarik nafas hingga dadanya mengempang. mengakibatkan ketiga lawan seperti tersapu oleh angin yang tidak tampak. Liu Siang paling terlambat menyadari kelengahan sesaat mereka. dan bersiap melakukan serangan dengan tenaga Sai Cu hokang. Vicitra sendiri dibuat . Mulai dari jurus kedua puluh enam. Melihat kedua suhengnya sudah lebih banyak maju. namun masih diusahakan menghindari dengan menjatuhkan diri. Berkali-kali pedang di tangan Tiauw Kwi mengancam jalan darah utama lawan. Kedua Tiauw Kwi menjadi terkejut dan khawatir melihat keadaan Liu Siang. dan masih dibantu oleh Liu Siang. Vicitra bersedekab. Mereka memainkan Yu Liang Kiam Hoat. Tongkat di tangan Liu Siang adalah tongkat kayu cendana yang didalamnya terdapat baja yang keras luar biasa. memang gerakan ilmu pedang ini sungguh dasyat. meliuk-liuk bagaikan naga. namun masih menyerempet lengan Liu Siang. Namun yang mereka hadapi adalah dua dari tujuh burung hantu gunung salju. Pertahanan ilmu pedang mereka Swat Kong Kiam Hoat. ia seperti sudah terkunci. Mereka lebih serang maju kedepan. pedang mereka berputar cepat hingga berdengungdengung seperti bunyi lebah.tongkat. pedang berkelebat ke kanan kekiri.

kami ini rombongan dari bambu putih. dan binar mata yang berbulu lentik itu.. benarkan kau bidadari sorga?” ucap Chien Ce perlahan. ke arah Liu Siang. “Siapakah kalian?” “Ketahuilah Ce kongcu. “Sai Cu hokang kalian sungguh luar biasa. Salah satu dari mereka kemudian menempelkan tangan ke punggung. Nafanya sesak.mundur satu tombak. Matanya seperti terpaku pada wajah gadis yang ada didepannya. Rona merah pipi kiri dan kanan. cuhh!” Vicitra mengakhiri kata-katanya dengan meludah. “Ah. sambil berkata.” ujar Kiu Tiauw sambil mengangkat pundak pemuda yang masih rebah itu dan memeluknya. Posisinya tidaklah di atas tetua Yu Liang Pay. sorbannya terbang entah sampai mana.laki-laki mulut buaya!” gumam Liu Siang sambil mengegoskan kepalanya.. sehinggi ia tidak dapat memerintah mereka. terima kasih banyak atas bantuan locianpwe. Entah kebetulan atau tidak ketika siuman. kalau boleh tahu siapakah nama dan dari mana asal kongcu?” kata Kiu Tiauw mengalihkan pembicaraan. Duhai bidadari. Nasibnya ditentukan oleh akhir pertarungan hari ini. Kita orang sendiri. dimanakah aku sekarang. “Ihh. ketiga tetua Yu Liang Pay. “Hari ini kalian monyet bambu putih boleh merayakan kemenangan. “Ehm. Begitu musuh mundur. kalau tidak keburu datang tentu nyawaku sudah tidak bisa diselamatkan!” “Chien Ce? Shu Chien Ce? Ya Tuhaaan.” Vicitra merasa serba salah. kedua Tiauw Kwi mendekati Chien Ce. sungguh ludah yang sangat menjijikkan. seakan mengharapkan lebih banyak lagi pujian keluar dari mulut itu. bukan hanya karena kesulitan bernafat tetapi karena amarah yang mulai berkecamuk di dalam dadanya. ia terpaksa mundur.. kedudukan bahkan nyawanya bisa teranca. wajahnya menghadap ke kiri. Akhirya dengan lemas. “Tunggu saja babi hutan bersorban! Kelak masih ada waktu bagi kami untuk mengusirmu dari sini!” balas Coan Kok tak kalah kasarnya.. biar lain kali kita ketemu lagi.. dan begegas mendekati kuda-kuda mereka.syukurlah kongcu sudah bisa kami temukan dengan selamat. Namun belum sempat ia bertindak. tapi kelak aku akan buat perhitungan.ehem.! Syukurlah kongcu sudah siuman. sudah balik kanan.. “Nama boanpwe Chien Ce. apakah aku sudah ada di sorga. Tapi lain di mulut lain di wajah. kalau ia kalau dan pemuda itu sempat ditolong. dan sejenak kemudian Chien Ce sudah siuman... kami bertiga bersama dengan kakakku Go Tiauw dan nona Liu . dari Kun Lun san.

Meskipun matahari belum ada sepenanakan nasi terbit. maka Tiong Gi menumpang perahu ini. Dengan langkah mantap ia berangkat ke Yi Chang dengan menumpang perahu. ketika ia bertanya tentang makna selembar tulisan dari Ouwyang siaucay. Setelah beberapa malam tinggal di kuil di luar kota An King. asal usul nenek moyangmu!” ucap Kiu Tiauw sambil matanya berkaca-kaca. terutama dalam merespon kejadian di Yu Liang Pay. Air sungai Yang tse mengalir dengan tenang. namun hawa hangat di musim panas sudah mulai menjalari tubuh semua penumpang. Mari kita ikuti kembali petualangan Tiong Gi. Dengan cepat Liu Siang dan Chien Ce menjadi akrab. Ia sama sekali tidak menyangka kisahnya seperti itu. Ji-lojinpun akhirnya berkenan mengunjungi Kun Lun.” Akhirnya rombongan ini mencari desa terdekat dan menginap di bangunan tua yang kosong. Tulisan yang yang berbunyi: Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang memberi manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah meski tak disukai orang. Bab 18. Kiong tojin menjelaskan panjang lebar mengenai sebaris terakhir dari baik puisi yang ditulis siaucay buta.Siang ini juga berasal dari negeri salju. karena itu sifatnya . pada saat-saat yang sedemikian gentingnya bagi keselamatan jiwanya. “Negeri salju? Di manakah itu? Benarkah aku berasal dari sana?” “Tentu saja panjang ceritanya. Bahkan nenek besarpun berkenan untuk ikut serta rombongan. sungguh kebetulan sekali ia bisa bertemu dengan orang-orang dekatnya. Ciangbujin Kun Lun Pay. ia berpamitan ke Kiong tojin. Membawa saksi ke Siauw Lim Kita tinggalkan dulu mereka yang masih sibuk berdiskusi di sebuah ruangan di salah satu gedung di markas Kun Lun Pay. akhirnya pada pagi harinya mereka memutuskan untuk kembali ke gunung besar dan melanjutkan lagi perjalanan ke barat. Angin di awal musim panas berhembus perlahan-lahan. Chien Ce mendengarkan penuturan dari Kiu Tiauw dan ditimpali oleh Go Tiauw dan Liu Siang dengan penuh perhatian. Pada kesempatan itu Chien Ce juga mengundang gurunya untuk berkunjung ke Kun Lun San. Ki Hun Sengjin adalah murid tertua Giok Yang Cinjin. mari kita mencari tempat istirahat yang nyaman dulu. ke Kun Lun Pay. ia terpilih menggantikan suhunya yang sudah sangat tua. Setelah beristirahat semalaman. Di atas perahu Tiong Gi merenungkan kata-kata Kiong tojin suhengnya. yang masih terhitung suheng Ki Liang tosu. soal negeri salju gampang diceritakan nanti. Kebetulan ada perahu yang berlayar ke kota Wu Han. rombongan ini kemudian di terima dengan ramah oleh Ki Hun Sengjin. Dua minggu kemudian mereka sampailah di Kun Lun Pay. Mereka kemudian duduk bersama untuk membicarakan masalah yang dihadapi.

berdekatan dengan Too. Kalimat yang dinukil dari kitab tao tik keng ajaran To. Banyak sifat-sifat air yang disampaikan oleh Kiong tojin yang memberi pelajaran bagi Tiong Gi, sifat yang selalu memberi manfaat sebagai sumber kehidupan, sifat selalu mengalir ke tempat yang rendah, sifat yang tenang namun juga sifat yang bisa menganyutkan apa saja yang dihamtam oleh gelombang. “Lihatlah air tidak punya mata, namun bisa berjalan, karena mengikuti sifat-sifat ini. Barangkali itu yang dimaksud oleh Ouwyang siaucay!” ujar Kiong tojin menutup nasihatnya.“Hmmm...sifat ini cocok untuk menggerakkan hawa sakti guna membuka jalan-jalan darah,” renung Tiong Gi. Maka dalam perjalanan selama empat hari, di atas perahu, dimanfaatkan oleh Tiong Gi untuk melatih kembali cara-cara bersamadi mengumpulkan hawa murni, dan mengalirkannya untuk membuka jalan darah di beberapa bagian tubuhnya. Tak terasa, ternyata setelah dengan tekun beberapa kali mencoba akhirnya Tiong Gi bisa merasakan manfaat dari tulisan Ouwyang siaucay, yang notabene bukanlah seorang pesilat. Karenanya maka di waktu-waktu lenggang ia terus melatih teknik mengumpulkan hawa murni. Sehingga mendapat kemajuan yang cukup pesat. Setelah empat hari, perahu akhirnya merapat di pelabuhan Wu Han. Dari pelabuhan ini tidak ada perahu lanjutan yang langsung ke Yi Chang, karena daerah di sungai itu sudah dikuasai oleh kelompok bajak sungai Tiat-sim heng-kang, sehingga Tiong Gi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan darat. Perjalanan darat yang ditempuh oleh Tiong Gi melalui bukit-bukit, padang, dan hutan belantara. Beberapa kali ia harus berhadapan dengan penjahat yang mencegatnya, namun dengan tingkat kelihaiannya yang dimiliki, mana ada penjahat yang mampu menyentuhnya. Pada hari kesepuluh dalam perjalanan darat barulah Tiong Gi sampai di Yi Chang. Sengaja Tiong Gi mencari warung makan yang cukup besar, dan seperti sebelum-sebelumnya, ia memilih tempat duduk di samping, sehingga cukup leluasa melihat sekeliling. Belum sampai makanan yang dipesan datang, tiga orang lelaki berpakaian singsat memasuki kedai. Mukanya terlihat kalut. Salah seorang dari mereka yang bertubuh agak gemuk mengeluh, “Suko, celakalah kita kalau kita berlama-lama di sini, kalau ketahuan gelandangan sabuk hitam kita pasti ditangkap!” Orang kedua yang berkumis tikus menimpali, “Benar toa-suko, kita harus segera mengambil sikap, apa sebenarnya maksud Chang susiok untuk mengundang kita makan di sini, bukankah berbahaya sekali?” “Kalian berdua tenang saja, Chang susiok pasti punya rencana untuk kita. Tempat ini cukup aman, para pengemis itu masih sibuk dengan kekisruhan di rumah mereka sendiri!” kata orang pertama yang berwajah tirus, bengis, dan berkumis.

Tak lama kemudian pesanan Tiong Gi tersajikan. Pada saat yang sama seorang lelaki agak pendek berusia lima puluhan memasuki kedai, dan langsung bergabung dengan ketiga lelaki yang sudah duduk mengelilingi meja. Mereka kemudian membicarakan sesuatu. Tiong Gi, tidak memperhatikan wajah mereka, namun ia memasang pendengaran dengan sebaik-baiknya. Ternyata lelaki tua yang baru datang itu memberi perintah kepada ketiganya untuk meminta bantuan ke Hek in Pang. Mendengar disebutnya nama Hek in Pang, Tiong Gi sudah mulai curiga. Selepas makan, ia kemudian membuntuti tiga lelaki tersebut, yang ternyata berjalan ke arah sungai. Tepat di suatu belokan di hutan yang tidak terlalu lebat, ketiga lelaki ini dikejutkan dengan munculnya seorang pemuda. Ternyata Tiong Gi yang mencegat mereka. “Heh, bocah gendeng, minggir! Biarkan kami lewat, atau kau terimalah ini!” lelaki yang agak gemuk yang paling berangasan, mengulurkan tangan hendak menangkap baju Tiong Gi. Namun beberapa sentilan membuatnya terdiam kaku dalam posisi tangan tangan kiri hendak mengcengkeram. Melihat saudara termudanya dengan mudah ditotok oleh lawan, kedua lelaki tersebut mencabut golok dan mulai menyerang Tiong Gi. Tiong Gi memapaki serangan mereka dengan dua kali kibasan. Dan hasilnya luar biasa. Golok di tangan lawan patah, dan mereka berdua terpelanting ke kanan dan ke kiri, tangan mereka rasanya seperti mau patah. Tiong Gi mengambil patahan golok dan menodongkan pada lelaki berkumis tikus. “Hayo katakan, apa yang telah terjadi di markas pengemis sabuk hitam, dan siapakah kalian?” “Aku tidak tahu!” “Wusss......crooott! Aaaaarrrch.......!!!” Patahan golok itu meluncur cepat, membabat telinga kiri. Darah mengalir membasahi leher dan dada. Lelaki berkumis tikus, melirik sepotong telinga yang tergeletak di tanah dengan tatapan ngeri. Ia hendak beringsut mundur, namun sebuah tendangan membuatnya roboh. “Jika kau tidak mengatakannya, bukan telinga sukomu yang tergeletak di tanah, melainkan telingamu, apakah kau mau seluruh panca inderamu kukerat sedikit demi sedikit?” ancam Tiong Gi. Mendengar ancaman seperti ini, akhirnya mengakulah si kumis tikus. Apakah sebenarnya tang telah terjadi di markas kaypang sabuk hitam cabang Yi Chang ini? Dua hari yang lalu perkumpulan kaypang sabuk hitam di Yi Chang kedatangan lima orang tamu daru markas pusat Chon King. Lima pengemis yang datang ini dipimpin langsung oleh Sin Hwat. Setelah beberapa waktu menyelidiki, akhirnya mereka mendatangi markas

cabang. Sin Hwat ingin mengajak pengemis di markas untuk kembali ke jalan yang lurus. Tapi pihak penentang mana sudi menuruti kata-kata Sin Hwat. Maka terjadilah pertarungan yang hebat, lebih dari sepuluh orang tewas dan puluhan orang lainnya akhirnya dipenjarakan. Namun Sin Hwat tidak menjumpai keempat tetua kaypang yang menjadi pimpinan mereka, termasuk pamannya. “Kemana perginya keempat pangcu?” tanya Sin Hwat kepada salah seorang pengemis yang menyerah. Ia mengenal pengemis muda itu adalah sahabatnya sendiri, yang dulu bersama-sama bercengkerama di tepi sungai Yang tse merayakan ulang tahunnya. “Sejak saat itu, ketua Tiong sakit-sakitan dan meninggal beberapa bulan kemudian. Setelah itu ketua cabang dipegang oleh Lim Kang lokay. Beliau gugur ikut ketika datang serangan dari Siauw Lim. Karena dua suhengnya sudah meninggal akhirnya Te Kang susiok, mengambil alih pimpinan cabang, namun baru sebulan timbullah huru-hara, yang memecah belah kaypang. Te Kang susiok meninggal dalam pertikaian ini. Dalang dari kericuhan ini adalah Chang lokay. Sekarang ia melarikan diri.” “Lantas pamanku? Kemana beliau?” “Beliau menghilang bersamaan dengan kepergianmu, kami malah menyangka ia ikut mengantarkanmu, eh sam-ko kau bakalan lama disini khan? Ajari aku ya...!” Sin Hwat tersenyum hambar, sutenya memang belum tahu bahwa kini dipundaknya terdapat beban tanggung jawab yang besar, namun ia tetap mengangguk perlahan. Keesokan harinya Sin Hwat mendatangi Kuil Kong sim liok si di sebelah utara kota. Namun ternyata kuil itu sepi, meskipun ada satu dua orang yang menjaga, namun sebagian besar penghuni kuil pergi ke ibu kota. Sin Hwat menangkap salah seorang yang memaksanya berbicara. Ternyata penghuni kuil sudah seminggu berangkat ke kota raja. Setelah berbicara dengan para tetua yang menyertainya, Sin Hwat akhirnya memutuskan untuk menyusul ke kota raja. Ia berangkat sendirian, sekalian meluaskan pengalaman. Begitulah kejadian yang baru-baru ini terjadi di Yi Chang, namun tentu saja tidak semua kejadian itu disampaikan oleh lelaki yang ditangkap Tiong Gi. Mendengar berita Sin Hwat telah kembali hati Tiong Gi menjadi tenang, setidaknya keadaan Yi Chang sudah tidak perlu dikhawatirkan, ia justru berencana menyusul Sin Hwat ke kota raja, “Bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah sudah jadi pengemis yang sakti? Tentu saja sekarang ia makin matang,” pikir Tiong Gi. Tiong Gi baru saja mau beranjak ketika ia tersadar bahwa tiga lelaki itu hendak melarikan diri. Tiba-tiba saja di kepalanya terbersit pikiran untuk membawa salah seorang sebagai tawanannya ke Siauw Lim Pay. Maka

meloncatlah Tiong Gi mengejar salah seorang dari mereka, dan orang yang diinterogasi sebelumnya akhirnya tertangkap dan ditalilah tangannya. Selanjutnya dengan menggunakan kuda yang dibeli dari pasar, Tiong Gi melanjutkan perjalanan ke Siauw Lim Pay. Perjalanan ke Siauw Lim bagi seorang pemula macam Tiong Gi tidaklah mudah. Dengan menunggang satu kuda, Tiong Gi hanya mendapat petunjuk dari pedagang yang ditanya bahwa Siauw Lim berada di sebelah utara. Jarak antara Yichang yang berada di propinsi Ouw-pak dengan Siauw Lim di Ho lam barat, normalnya hanya memerlukan waktu beberapa hari. Namun karena tidak pengalaman serta membawa tawanan perjalanan Tiong Gi berlangsung hampir satu bulan. Bisa dibayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi. Beberapa kali ia sempat dicurigai sebagai orang jahat, karena membawa tawanan dalam keadaan terikat. Beberapa kali tawanannya hendak melarikan diri. Bahkan pernah ada yang melakukan serangan senjata rahasia secara menggelap. Namun untung seperti ada senjata lain yang menangkis. Meski hanya sekelebatan, namun Tiong Gi yakin perjalanannya ada yang membayangi. Tetapi yang membuatnya tenang adalah karena ada bayangan yang sepertinya melindunginya. Masih ditambah perjalanan darat yang melewati bukit-bukit tandus, atau padang ilalang, hutan belantara. Beruntung ketika ia tiba di lereng pegunungan Hoa San, ia melewati sebuah padang yang sebenarnya merupakan tempat yang sunyi, yang jarang dikunjungi. Di padang itu ia mendengar seseorang seperti sedang berteriak-teriak berlatih silat. Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat seorang pemuda sedang melakukan gerakangerakan silat, tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, sementara itu seorang kakek tua berpakaian khas pendeta To duduk bersila di atas sebuah batu. Kakek itu bertubuh kurus sekali, rambut, kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih semua. Melihat kedatangan Tiong Gi, mendadak pemuda itu berhenti dan menatap tamu yang tak diundang, dengan tatapan curiga. Tiong Gi segera mendekati mereka. “Mohon maaf atas kelancangan cayhe. Bukan maksud mengganggu jiwi, tapi kedatangan cayhe benar-benar ingin minta bantuan, sudilah menunjukkan letak kuil Siauw Lim Si.” “Hmmm, minta pertolongan dengan membawa seorang tawanan? Sungguh kami tak apa yang ada di benakmu anak muda,” jawab orang tua yang hanya duduk bersila itu. “Cayhe bisa menjelaskannya. Perkenalkanlah cayhe bernama Tiong Gi, utusan Sun Ciak Kun lociapwe dari Hang Chou.” “Dan aku adalah Cung Su, murid Nabi Lau Cu!” jawab kakek itu tanpa ekspresi. “Dan aku putra mahkota Chao Ceng!” kata pemuda yang habis berlatih sambil bersedekap dan mendongakkan kepala, berlagak seorang pangeran. Tiong Gi tertegun, ia menatap tak percaya, tapi yang bikin ia tambah heran, pemuda itu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ha...ha...ha.....Gi hiante, tak perlu basa-basi kalau memang murid Sun Ciak Kun, tentu saja kamu bisa membuka mata kami supaya kami benarbenar, supaya drama ini benar-benar happy ending (berakhir membahagiakan)!”

Tiong Gi kemudian tersenyum, otaknya yang cerdas akhirnya bisa memahami maksud mereka. Mereka kawatir ia hanya bersandirwara. Ia kemudian menunjukkan guci kemala pemberian gurunya. Kakek tua yang duduk tiba-tiba memandang takjub guci itu. Kemudian dengan perlahan ia berkata, “He..he..he....guci kemala itu memang punya Sun Ciak Kun, tapi cobalah tunjukkan keasliannya, bersiaplah menahan seranganku anak muda!” Selesai mengucapkan kata-katanya, kakek itu kemudian menggerakkan kedua tangannya kedepan, serangkum pukulan dasyat keluar dari tangan tersebut menyambar ke arah Tiong Gi. Jarak antara kakek itu dengan Tiong Gi berdiri lebih dari lima tombak. Namun Tiong Gi yang sudah siap juga menggerakkan tangannya dengan posisi bersilang untuk menangkis hawa pukulan lawan. “Desss....!” Hawa serangan lawan bisa dipunahkan oleh tangkisan Tiong Gi, namun ia terdorong satu langkah, dan masih merasakan hembusan gelombang hawa tersebut, meskipun sudah lemah. Kakek itu memandang kagum, kepalanya mengangguk-angguk. “Bagaimanakah kabarnya Sun Ciak Kun? Lama sekali aku tak jumpa pasti sekarang ia tambah keriput saja.” “Suhu baik-baik saja, siapakah nama locianpwe yang mulia?” “Orang memanggilku Hoa-san Siauw-jin, dan ini muridku yang terakhir Sim Houw!” Setelah saling berkenalan Tiong Gi kemudian menceritakan masalah yang dialaminya. “Kong sim hosiang? Aku tahu..aku kenal biksu suci itu. Beberapa tahun yang silam aku bahkan pernah berkunjung ke kuilnya. Singkat kata mereka berdua berkenan membantu Tiong Gi. Seorang anak murid tosu itu yang dikenalkan sebagai Hung Sim Houw bersedia membantu, setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Tiong Gi. Perjalanan dari Hoa San menjadi lebih santai karena Sim Houw sangat ramah dan pandai berkelakar. Tiong Gi jadi teringat Sin Hwat. Sin Hwat juga ramah, namun jarang berkelakar tidak seperti Sin Houw ini. Sehingga perjalanan lima hari serasa hanya sehari saja. Sesudah mendaki Siauw sit san, Sin Houw meminta Tiong Gi menambat kuda didahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sambil berjalan, mereka berbincang-bincang sambil mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw Lim Sie dari kejauhan. “Gi-te, jagalah sikap dan bicaramu kalau menghadapi para losuhu di sana,” Sim Houw memulai perbincangan dengan ramah, karena lebih tua beberapa tahun, ia memanggil hiante (saudara muda) ke Tiong Gi. “Memangnya kenapa Houw-ko?” “Kuil Siauw Lim merupakan salah satu kuil yang sangat keramat. Gedung-gedungnya sudah berumur ratusan tahun. Biksu-biksunya sangat alim dan lihai. Kalau tidak hati-hati bicara, kau bisa menjadi gagu!” “Ah benarkah demikian?” “Benar, suhuku saja pernah membawa keledai ke sana. Pulang-pulang keledai itu tidak bisa bicara sama sekali.” “Ha..ha...ha....mana ada keledai yang bisa bicara Houw ko, kau ini bisa

“Anak buah??? Haa. mereka membentuk komplotan untuk maksud jahat. Tidak menghiraukan tawanan yang cemberut dengan wajah yang nelangsa.” Salah seorang pendeta terlihat terkejut. Hampir semua pendeta Siauw Lim tahu belaka siapa Sun Ciak Kun. Siauw Lim tidak perlu datang memohon-mohon bantuan kepada Sun Ciak Kun locianpwe yang kabarnya berilmu tinggi bagaikan dewa. “Omitohud. Biksu yang agak kurus memperkenalkan diri sebagai Kong Ci Taisu.” Pendeta itu makin terperanjat dengan disebutnya nama Sun Ciak Kun. dan berpaikaian kuning muda.” Mendengar Bu Sian Taisu sedang keluar... Tiong Gi sama sekali tidak menduga mendapat respons dari tuan rumah seperti . Sin Houw menghampiri dan sesudah memberi hormat. Kong Ci menyikut tangan Kong Han disertai tatapan mata menegur. Dengan panjang lebar ia menjelaskan kejadian yang diingatnya saat ditawan di kuil Kong-sim Liok-si.jiwi siapakah eh siapa pula orang ini?” tanya Kong Ci Taisu. apakah dia ini sedang sakit?” tanya pendeta berbaju abu-abu dengan nada keren. Dua-duanya pelontos. dan malulah mereka!” Benar saja dugaan Tiong Gi. hingga huru-hara yang menyebabkannya lari ke Hong Jie.. Kalau wakil dari Bu Siang Taisu tidak memuaskanmu. Namun Kong Han tidak berhenti sampai disitu saja ia masih melanjutkan. mereka tiba di pendopo Lip soat teng. ia ditemui dua orang biksu setengah baya.” jawab Tiong Gi tegas. hanya sayang Bu Sian Taisu sedang ada keperluan ke luar kota. tidak biasanya ada tamu yang masih muda mencari Bu Sian Taisu. Tiong Gi merasa kecewa sekali. Tak lama kemudian. Selanjutnya ia menyerahnya lelaki tua yang wajahnya makin pucat.. karena beliau memang pernah belajar di Siauw Lim. “Jangan khawatir. nanti kan para tetuanya akan datang.saja!” Merekapun tertawa lepas.. tapi yang lebih penting tolong suhu katakan siauw-te utusan Sun Ciak Kun locianpwe ingin menghadap. dua pendeta kelihatan mendatangi. setalah beberapa menit menunggu. “Dia adalah anak buah pengemis sabuk hitam palsu. ia berkata: “Siauw-te Sin Houw dari Hoa San. di Siauw Lin ini banyak biksu yang bersikap sangat bijak. “Ada keperluan apakah kalian bertiga datang menghadap. Kebetulan. Tiong Gi kemudian menceritakan maksud kedatangannya.hanya anak buah?” ucap Kong Han Taisu dengan nada meremehkan.” Baik Tiong Gi maupun Kong Ci Taisu tertegun dengan ucapan terakhir Kong Han Taisu yang tak bisa dibantah kebenaran logikanya. “Kalau hanya anak buah sih. “Silahkan masuk ke pendopo. yang satunya lebih gempal bernama Kong Han Taisu. kita bisa bikin ribut di sini.hmm. datang mengantarkan adik Tiong Gi yang ingin bertemu dengan Bu Sian Taisu. Kemudian bertemu dengan biksu berjubah merah. didatangi barong berbentuk kelabang. termasuk mengadu domba para pendekat persilatan. bertemu dengan jembel berlengan tunggal. namun ada yang akan mewakili. “Ayo kamu jelaskan Gi-te!” “Memang tidak salah dia sedang sakit. Untung ada Sin Houw yang pandai menghibur.

Tiong Gi merasa menyesal telah merobohkan lawan. sudah kita pulang saja Gite. Kong Han Taisu yang memang berwatak berangasan.. . atau setidaknya bantuannya akan dihargai oleh tuan rumah.!” Tendangan Sim Houw tertangkis. siapa bisa menahan kesabaran. tubuhnya menggigil.. dan sebagian besar pendeta Siauw Lim memang berharap datangnya bantuan bisa cepat dan segera mengatasi kemelut.” ujar Sim Houw. Orang kalau sudah memohon bantuan berarti dirinya sudah kesulitan memecahkan permasalahannya. “Suhu. Betapa terkejutnya ia. “Waahhh. tak tahan untuk tidak ikut terjun. kemanakah sebenarnya perginya Bu Sian Taisu!” bentak Tiong Gi dengan mengerahkan separoh khikangnya.....sepertinya bantuanmu sia-sia Gi-te... Dan kalau hanya dirinya saja yang diremehkan. Ternyata hasil usahanya selama sebulan ini hanya untuk diremehkan. Dengan suara keras ia berkata.. Suaranya mengguntur. sambil tersenyum-senyum... ia masih bisa menahan diri. merasa pihak tamu mulai cari gara-gara.ini. bahkan bisa membalas.aiihhh.. “Omitohud. melihat anak muda yang diserang tanpa sedikitpun menggeser kakinya mampu menahan serangannya. biarlah kita bunuh saja disini!” Sim Houw mulai pasang kuda-kuda hendak menendang lelaki yang sudah tidak berdaya itu. masih saja hawa pukulan yang dilancarkan Tiong Gi menerobos pertahannnya... Sim Houw sudah kehilangan kesabaran. kalau memang Siauw Lim bisa menyelesaikan sendiri masalahnya.. mampir ke kota Lok Yang berpesiar!. “Tahan! Tak seorangpun boleh melakukan pembunuhan sembarangan di Siauw Lim!” “Desss. Setelah saling berhadap-hadapan untuk saling menjajaki mulailah ia melancarkan beberapa serangan. kalau jiwi ingin melancong dulu silahkan. Ia terdorong satu langkah.. Meskipun sudah mencoba menangkis. “Kalau memang Siauw Lim tidak membutuhkan tawanan ini. suhu sedang ke luar kota. tetapi jika nama suhunya diseret-seret dengan nada merendahkan seperti itu..... mungkin baru kembali satu minggu lagi.... Kalau tahu diri sebenarnya kedua biksu itu malu melihat senyum penuh ejekan itu. namun ia tidak tahan mendengar ucapan Kong Han Taisu yang sangat tajam. minggu depan datang lagi!” kata Kong Ci Taisu. gigi-giginya bergemeretakan.sicu harap menahan diri. Ia menyangka akan disambut dengan penuh keramahan dan ucapan terima kasih yang besar.. dengan berteriakteriak ia melabrak Kong Ci Taisu.. namun nada suaranya mulai meninggi. Namun Kong Han lupa bahwa kedatangan wakil Siauw Lim ke Hang Chow adalah permintaan resmi permohonan bantuan. Terlihat mereka kemudian bersedekap memusatkan pikiran untuk menghalau pengaruh getaran khikang dari suara Tiong Gi.!” Kong Han Taisu terdorong tiga tombak dan roboh kaku. membuat dua biksu separoh baya itu bergetar. sedang Kong Ci Taisu yang menangkis tendangannya merasa tulang keringnya kesemutan. Wajah Tiong Gi mengeras. Lebih kaget lagi ketiga sekonyong-konyong ada hawa dasyat dingin menyambar. ia masih coba bersikap sabar. Adapun Kong Han. “Desss. Sim Houw tidak berhenti sampai disitu..

. Baju kuning yang dikenakan meskipun sederhana namun berbeda dengan biksu yang lain. Gerakannya enteng sekali. Tiba-tiba terdengar suara bentakkan yang nyaring menggelegar “Berhenti! Hentikan pertarungan!” Namun tak terlihat ada tanda-tanda kehadiran manusia.. Cit te. kenapa guci ini diwariskan ke orang luar. Dengan tutur lebih tenang ia berkata: “Siauw-te yang mewakili suhu. Kedua belah pihak akhirnya menahan serangan.jiwi sicu. Kong Ci sudah melompat ke arah Kong Han ketika dilihatnya sutenya roboh kaku. Sementara biksu yang mengawal seperti dikomando mendesiskan suara kekagetan yang ditahan. marilah ikut dengan kami.” kata Tiong Gi sambil menunjukkan gucinya..menyayat perasaan. mohon maaf kalau kedatangan siauw-te hanya membuat kekacauan di Siauw Lim sini. Ia kemudian menyalurkan hawa murni ke tubuh sutenya itu. karena selempang berwarna merah kotak-kotak. kegusaran Tiong Gi mereda. Biksu tua yang baru datang kemudian mengibaskan tangan tanda untuk menyuruh mereka berdiri. Dan memang mendengar suara ini kedua biksu golongan Kong yang dihadapi mereka berdua. Sebenarnya ada sedikit kegemasan dalam lubuk hati mereka. tolong urus tamu dan tawanan kita Dan kau sicu. “Siauw-te bernama Tiong Gi. yang pagi itu sedang belajar. sepertinya tidak menyentuh tanah. sebentar-sebentar terlihat memucat dan tampak kesal. Dari getaran khikang yang dihasilkan menunjukkan pengirimnya bukan orang sembarangan. Ada sekitar tiga puluhan murid yang datang dengan tertib dan langsung membentuk barisan di belakang ciangbujin.” “Baiklah Tiong Gi. ciangbujin Siauw Lim. Tak berselang lama. menjadi terpaku. Kiranya suara itu dikirimkan dari jarak jauh menggunakan ilmu mengirim suara (Coan im jip pit). “Guci sakti. Muka Kong Ci sebentar-sebentar terlihat memerah. Beberapa guru dan murid kemudian berdatangan memenuhi pendopo melihat apa yang terjadi.” Seorang biksu dari lima orang yang mengawal ciangbujin keluar . Rombongan ini dipimpin oleh biksu berkepala kelimis dengan ikat kepala yang pada bagian dahi ada hiasannya.. silahkan duduk.. seperti jimat. siapa yang menjadi wakil Sun susiok?” Melihat kehadiran biksu yang lebih tua yang kedudukannya seperti sangat dihormati oleh yang lain.?”Rata-rata biksu tua di Siauw Lim tahu pasti riwayat guci ini. Hanya sebentar saja Kong Han sudah bisa duduk bersila dan langsung melakukan siulian. Melihat kedatangan ciangbujin atau ketua partai kedua Kong Ci berlutut. Dengan suara lembut namun berwibawa kemudian ia berkata. selain itu juga tangan kirinya membawa tasbih dengan biji yang sangat besar. pendopo itu didatangi rombongan biksu yang dipimpin oleh biksu tua berumur tujuh puluh limaan. Kegaduhan di pendopo menarik perhatian murid-murid Siauw Lim. Biksu tua yang dikawal oleh lima biksu ini menatap wajah kedua tamu mudanya bergantian.. Terlihat biksu tua yang berbadan kurus itu terkejut namun menganggukangguk. “Anak muda. Meskipun wajahnya mengeras namun senyumnya tetap menghiasi bibir. siapakah namamu?” tanya Bu Sim Siansu. “Omitohud apakah yang terjadi di sini? Hmmm. harap bersabar menunggu di sini.

karena tubuhnya sudah diselimuti oleh hawa sakti yang sangat hebat. murid nomer dua. Maka mulailah ia mengeluarkan jurus-jurus pukulan salju. Selesai berkata Bu Sim Siansu. dan memang benar dia adalah biksu Bu Kong Taisu yang ikut meloloskan diri dari lembah delapan rembulan..” teriak salah seorang biksu yang ada di samping Bu Sim Siansu. Setelah saling bersoja. Namun kemanapun jari itu menyambar. dan seperti memiliki getaran kejut. “Pukulan salju? Ah bocah ini…bocah ini pasti dari lembah delapan rembulan. “Plak!” Kong Sun terkejut sekali merasakan lengannya menyentuh tangan lawan yang sangat dingin. Sebelum serangan sampai Tiong Gi sudah dapat merasakan hawa panas luar biasa keluar dari serangan ini. Kong Sun kemudian merubah cara bersilat. tubuh Tiong Gi seakanakan ikut terdorong oleh tenaga jari-jari yang menotok.. beliau mengangguk.heeii benar kau adalah bocah yang dibawa oleh ketua Yung Ci. hong thio Siauw Lim balik kanan dan berjalan cepat diiringi empat biksu yang seumuran. tanpa bermaksud meragukan kemampuanmu. Ia mulai melancarkan totokantotokan sakti Im Yang Tiam Hoat. Tubuhnya merendah kedua tangannya bergerak-gerak memutar secara bergantian. atau sute langsung dari Bu Sim Siansu. Selanjutnya tubuh tadi meloncat tinggi dan melakukan serangan dari atas. Sebaliknya dari tangkisan lawan Tiong Gi bisa mengukur tenaga lawan. Sekejab ia menoleh ke arah suara biksu tadi. tanda persetujuan. Ia makin hati-hati. Lawan mundur selangkah tangan kiri membentuk siku ke atas untuk menangkis. salah satu jenis totokan yang sangat ditakuti di dunia persilatan.dari barisan. yang ia mendapatkan keyakinan bahwa memang biksu itu Bu Kong Taisu. Jari-jari tangannya menyambar-nyambar dengan suara mencicit ke arah delapan titik darah mematikan di tubuh Tiong Gi. “Silahkan mulai duluan. ia tidak lagi menggunakan totokan Im Yang Tiam Hoat. Maka marilah kita berlatih silat sebentar!” Tiong Gi menatap Bu Sim Siansu. Kong Sun merasa mendongkol lawan seenaknya saja bersilat bahkan masih sempat menengok ke samping. Sedangkan seorang biksu yang berusia sekitar lima puluhan mempersilahkan Tiong Gi berhenti dan berkata: “Tiong sicu. Ia tidak mau . lihat serangan hiaatt…. Ciangbujin dari Siauw Lim Pay. Melihat lawan hanya menghidar. Tiong Gi juga terkejut mendengar suara biksu itu yang dikenalnya. sicu!” “Baiklah. Seandainya jarijari itu mampu menotokpun tak seusap mampu mempengaruhi Tiong Gi.!” Tiong Gi memulai serangan dengan sebuah pukulan dengan tangan mengepal ke arah dada. Mereka kemudian menuju ke ruangan lian bun thia.. keduanya lantas memasang kudakuda. kami tentu saja sangat ingin berkenalan lebih dekat. perkenalkan aku bernama Kong Sun Taisu. Biksu ketua dan keempat biksu lainnya kemudian duduk bersila di kursi lebar beralaskan tikar babut yang cukup tebal. Kong Sun adalah murid dari Bu Kak Taisu.

Bu Kian sute silahkan! Bagaimanakah Gi-sicu. bahkan ia bisa menduga siapa adanya orang ini. Untunglah sebelum Kong Sun nekad menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki ia mendengar suara suhunya menyuruhnya mundur. kali ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa. oleh karena itu jika tamu kita sanggup menghadapi kita akan mengajukan satu lagi. ia mendengar ada suara berkelebat sebuah sosok menuju ke suatu pot bunga. maka ia juga menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis serangan dengan salah satu jurus dari Kiu Yang Sin Ciang. “Plaakk. Belum selesai rasa heran mereka. “Jurus-jurus sicu sungguh hebat. apakah bersedia menghadapi sha-kak tin dari Siauw Lim?” Belum sempat Tiong Gi menjawab. Ia mengerahnya separoh bagian dari sin-kang yang dimilikinya.. yang lebih murni. jika kalian maju satu persatu. sekonyong-konyong dua bayangan maju ke depan. Kiu Yang Sin Ciang. masing-masing juga merasa kaget.desss. Bahkan kini ia menggunakan kombinasi serangan totokan dengan pukulan-pukulan yang menggunakan tenaga sakti Kiu Yang Sin Kang. Belasan jurus berlalu. Bu Sim Siansu sudah memberi sabda. Sungguh murid yang kita ajukan tadi bukanlah lawan tamu muda kita. majulah bersama. jangan tanggung-tanggung. Kiranya Bu Sim Siansu juga melihat sosok yang datang. Kalau tidak mana mungkin siauw-te mampu mendesak suhu!” Jawaban Tiong Gi yang merendah cukup melunakkan kemendongkolan Kong Sun.. namun makin lama makin tampak Kong Sun terus terdesak. Keduanya sepertinya sudah gatal-gatal ingin menjajal kepandaian Tiong Gi. sehingga dengan bersoja ia mengakui keunggulan lawan. muridnya mendapatkan bimbingan juga dari Bu Sim Siansu sehingga bisa menguasai Im Yang Tiam Hoat. Keduanya menghadap ke Bu Sim Siansu. namun ia tidak surut. Masih beruntung Kong Sun.!” Akibat tangkisan Kong Sun terdorong dua tombak. Kembali ia melakukan serangan demi serangan dengan menambah kekuatan daya serang. iapun kemudian mundur. seperti dikomando.. Bu Kak Taisu.ambil resiko. . Sebenarnya kalau mau dalam sekali gebrakan saja Tiong Gi mampu menjatuhkan Kong Sun.. Ia menoleh ke belakang. namun sebagai pemula di dunia persilatan.. aku tidak yakin kita bisa menguji tamu kita. siauw-ceng mengaku kalah!” “Ini karena siauw-te menggunakan sumber ilmu yang sama.. ia selalu punya keinginan untuk melihat jurus-jurus lawan. Gerakannya enteng sekali bagaikan burung. namun sudah tidak terlihat lagi bayangan tadi. “Bu Kong dan Bu Kak sute. namun karena tekunnya ia hampi tidak menguasai ilmu-ilmu yang lainnya. guru Kong Sun Taisu adalah biksu yang menekuni ilmu Kiu Yang Sin Kang. Setelah Kong Sun Taisu mundur. Tingkatannya dalam menguasai ilmu ini bahkan tidak disebelah bawah tingkatan Bu Sim Siansu sendiri. kenapa bisa bersamaan.

Mereka berdua sebenarnya masih lima sepuluh tahun lebih tua daripada ketua Siauw Lim yang sekarang. Sin Houw keluar dari balik pot bunga.. yang masih bodoh ini. mohon jiwi suhu tidak terlalu keras memberi pelajaran pada siauw-te.” “Oh ya.. kalaupun mau apa kau kira masih sanggup ketawa? Sebelum digelitik kau pasti sudah pingsan duluan!” “Lo-suhu apakah bisa dimulai?” tanya Tiong Gi. “Sambut serangan!!” Tiba-tiba bentakan ini keluar dari tiga buah mulut secara serentak dan bergeraklah tiga orang paderi tua itu menyerang mereka berdua. Tiong Gi melirik Sim Houw. kiranya sicu dari Hoa-san juga ingin menonton latihan. pukulan-pukulan yang dilancarkan mantap dan kuat. lagi pula siauw-te masih belum kawin!” “Silahkan dimulai!” ucap Tiong Gi. namun belakangan mereka tidak lagi aktif. Hung Sin Houw memang murid suhu Hoa-san Seng-jin.tunggu. “Siauw-te.“Aya. Puluhan tahun yang lalu nama mereka cukup terkenal di daerah Sansi. siapakah namamu sicu? Dan bagaimanakah kabar Hoa-san Siauw-jin (Orang rendah dari Hoa-san). “Terima kasih banyak lo-suhu.. sekali pandang saja ia sudah bisa menebak asal usul pemuda yang baru datang ini. tubuhnya bagaikan tubuh seekor walet saja ringannya dan dengan kecepatan yang mengagumkan ia telah mengelak dari setiap pukulan . dengan wajah yang tetap ceria. dan kukira tak ada biksu yang mau menggelitikimu. Gerakan ketiganya amat cepat dan langkah-langkah mereka teratur. Kalau memang kesalahan ini tak termaafkan saya rela dihukum gelitik sepuasnya!” “Tidak ada yang perlu dimaafkan sicu. mohon maaf telah berani lancang ikut menonton pertandingan persahabatan ini. jauh lebih kuat dibandingkan biksu generasi Kong. Tidak percuma Bu Sim Siansu menjadi orang nomor satu di Siauw Lim. yang sedang menggunakan ginkangnya. Ilmu ginkang (meringankan tubuh) Hoasan Siauw-jin memang jempolan. sungguh kehormatan besar sekali siauwte diperkenankan melihat pertunjukan ilmu-ilmu yang luar biasa ini. “Tunggu. dengan senyum lebar yang tak disembunyikan. Hoa-san Siauw-jin adalah guru Sin Houw. pengetahuaannya dan pengalamannya di dunia persilatan sungguh sangat luas.bukankah akan lebih menarik kalau Houw sicu juga ikut latihan sebentar? Bagaimana Houw sicu?” “Kalau hanya sebuah latihan maka tidak sedikitpun siauw-te merasa keberatan. silalahkan duduk di dalam saja!” Dan benar saja.?” Sin Houw agak terkejut dengan ucapan ketua Siauw Lim yang tepat sekali menebak gurunya. meskipun masih sedikit dibawah sucinya yang sudah sudah lama menghilang.

Meskipun lebih sering tertangkis namun satu dua pukulan yang mengenai tubuh mereka cukup membuat isi dada mereka terguncang. ada yang menggunakan pukulan tapak tangan. Ia maklum bahwa andaikata ia tidak memiliki sinkang yang jauh lebih tinggi sehingga ia dapat mengandalkan kekebalan tubuhnya yang dilindungi sinkang dan mengandalkan pula kecepatan gerakannya mengandalkan ginkang. Pukulanpukulan tangan Tiong Gi. sehingga beberapa kali ia seperti hampir terpelanting. kiranya ia akan celaka di tangan tiga biksu ini. Tiong Gi sendiri sudah menggerakkan kedua tangannya secara bergantian. Tiong Gi makin kagum. Mereka bertiga bersilat menggunakan berbagai ilmu yang berbeda. Di pihak Sim Houw. Ia sudah mengerahkan hampir tiga perempat bagian sinkangnya. Belum pernah mereka bertiga menghadapi lawan yang sehebat ini. Apalagi pukulan Bu Kak Taisu yang mengandung sinkang yang sangat dasyat. melompat kebelakang. ada yang menggunakan totokan. ia tak menyangka Sim Houw memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian hebatnya. kini tidak pernah mereka membiarkan lengan mereka tertangkis lagi! Tiap kali lengan meereka ditangkis. Akan tetapi betapapun cepat gerakannya. Tiong Gi maklum biksu ini adalah guru dari Kong Sun. ada yang menggunakan tinju. Ke manapun kedua pemuda itu mengelak. Sehingga setelah belasan jurus posisi mereka belum terdesak. Berbeda dengan Sim Houw. setelah belasan jurus keringat dingin mulai membasahi leher mereka. Dan terlebih lagi ketiganya sepertinya sudah sejiwa sehingga gerakan-gerakan mereka seolah-olah diatur oleh satu pikiran. Beberapa kali saja menangkis.dan perlahan gerakan para biksu itu mulai berubah. namun semuanya seperti digerakkkan oleh satu jiwa saja. apalagi keduanya masih begitu belia. terdengar seruan-seruan kagum dari para biksu yang tertangkis lengannya. namun tangkisannya kalah kuat dibandingkan Tiong Gi. Terpaksa pemuda ini menggunakan lengannya menangkis. mereka sudah menarik kembali tangan mereka untuk disusul dengan lain pukulan dari lain jurusan oleh hwesio lain. Tiong Gi hendak mengejar Bu Kak Taisu. ia tidak dapat mengatasi kecepatan gerakan tiga orang sekaligus.yang menyerangnya. meskipun tidak ada satupun pukulan yang mengenai tubuhnya. namun tiba-tiba tubuhnya seperti tertahan oleh hawa yang tidak tampak. dirasakan seperti terjangan badai salju di suatu saat. . dan disaat yang lain seperti pukulan godam. sehingga tak satupun pukulan yang mampu mengenai tubuhnya. Barisan segi tiga yang kaya akan kembangan. tentu saja mahir menggunakan Kiu Yang Sin Kang. Ketiga biksu tua itu ternyata bukan sembarangan bergerak mengandalkan kepandaian perorangan. Sebaliknya dari pihak ketiga paderi tua itu. Untunglah kerja sama dengan Tiong Gi bisa berjalan cukup baik. Setelah memasuki jurus keduapuluh. di situ telah menanti pukulan tangan kosong lain biksu yang disusul dengan pukulan-pukulan lain dari segala jurusan sehingga bagi keduanya seolah-olah tidak ada jalan keluar lagi. tiba-tiba ketiga biksu tua itu. Tiong Gi sudah beberapa kali merasakan beberapa buah pukulan para pengeroyoknya yang tak dapat ia elakkan dan terpaksa ia terima dengan pengerahan hawa sinkang bergantian im dan yang. melainkan bergerak menurut ilmu barisan yang aneh dan hebat.

kami akan bersabar dan sebaiknya sicu beristirahat saja nanti sore kita bertemu di ruang pertemuan Tat Mo.cukuplah sudah!” kata Bu Sim Siansu sambil menurunkan tangannya yang telah dipakai untuk mengirimkan hawa pukulan perisai kehampaan. Karena di bagian bawah penuh maka mereka mencari tempat duduk di bagian loteng. Bab 19. namun setidaknya ada titik terang apa yang mesti dilakukan. mungkin kita bisa mengorek keterangan lebih dalam. Belum sampai sepeminuman teh. Selanjutnya mereka kemudian merundingkan rencana-rencana ke depannya. Kami juga punya keyakinan bahwa ada pihak dalam yang membantu mereka.. Salah satu dari jurus yang didasari tenaga Kiu Yang Sin Kang. Siapa orangnya masih kami raba-raba.” Seorang kacung kemudian mengajak kedua pemuda itu menuju sebuah kamar. Tapi kelompok mereka sungguh sangat kuat. Keributan di kedai Kao-ya Keesokan harinya Tiong Gi dan Sim Houw berpamitan. atau pengemis lengan tunggal. dua buah kursi yang telah disediakan. mereka berdua berhenti mencari kedai nasi. namun karena posisinya di pinggir jalan dan jauh dari kedai yang lain maka pengunjungnya cukup ramai. Setelah ramah tamah mereka kemudian mendiskusikan perkembangan dunia persilatan terkini. Mereka kemudian menuju ke ibu kota. tak mungkin Siauw Lim bersikukuh menuntut lebih. Terakhir menurut hasil pemantauan terdapat suatu pergerakan dari selatan menuju ke ibu kota. Di loteng hanya tersisa satu kursi kosong sehingga terpaksa Tiong Gi menunggu sambil berdiri. Sore harinya ketika kacung yang sama menjemput mereka. Jika kita bisa menghadirkan Ang I Hwesio.. tingkat atas. Mereka kemudian memasuki kamar itu membersihkan diri dan beristirahat sebentar. namun kami terus memantau keadaan. saat ini kami sudah mengirimkan Bu Sian Taisu ke sana.. Siauw Lim memang kemudian memutuskan untuk tidak melibatkan diri di dunia bu lim. tokoh utama penggerak kerusuhan harus ditangkap untuk diadili. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke ruang pertemuan yang cukup besar. “Semenjak dirundung berbagai masalah. Hasilnya sama dengan temuan kalian. meskipun tugas masih belum selesai. Kedai yang mereka masuki tidak terlalu besar. Dari Siauw Lim menuju ibu kota sebenarnya sudah dekat. mereka mendengar datangnya . Permintaan Siauw Lim jelas. ada pihak ketiga yang mengadu domba partai-partai bersih. Menjelang kota Ceng Cou. Panjang lebar akhirnya diskusi yang mereka bicarakan. “Omitohuud. namun kami masih belum bisa bertindak tanpa bukti.meskipun sekejab cukup untuk menghentikan serangannya. Di atas pintu gerbang tertera nama kedai Kao-ya.. di ruang pertemuan sudah duduk tujuh orang biksu dengan sikap sangat tertib. “Pasti masakan bebek menjadi menu utama” pikir Tiong Gi. Lepas sudah salah satu beban berat dipundak Tiong Gi. “Dua naga sudah keluar dari liangnya.” tutur Bu Sim Siansu dengan muka murung. kami tidak bisa bergerak sendiri.

Kakek yang pertama berkulit bersih. Meskipun tidak bisa murni digolongkan sebagai pesilat aliran putih. Kakek yang kedua berumur empat puluh limaan. Di utara nama Ho-pak Sanjin Ha Chi Sui. ia sudah . tidak perlu kawatir. dengan muka serius ia berbisik ke telinga Sim Houw.. Wajah Sim Houw sontak memucat. belum tentu mereka mengenalimu. Orang kelima adalah kakek kurus berbaju biksu namun memakai caping sehingga wajahnya terhalang. Ia lebih tenang menghadapi situasi sulit sekalipun. Belum sampai menginjak tangga kedua. mengenakan jubah berwarna biru tua. Betapa terperanjatnya ia melihat siapa yang datang. tidak percuma pemuda itu punya pengalaman bertualang yang cukupan. adalah nama yang menggetarkan seluruh pendekar di sebalah utara sungai Huang ho. kumis dan jenggotnya dipelihara rapi.rombongan berkuda datang. ksatria. Maka dengan perlahan ia turun dengan perlahan seperti tamu yang telah selesai makan. Tapi hanya sekejab saja. “Ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali? Wah lihat gadis cantik yaa. seperti disengat kalajengking saja mendengar berita ini. Dua kakek yang turun dari kuda masih dikenali dengan baik oleh Tiong Gi. rambutnya digelung ke atas ditali dengan hiasan berbentuk bulat dari perak yang di tengah-tengahnya ada gambar pedang berwarna merah. sedang dua orang terakhir berpenampilan sebagai pengawal saja. ia sendiri sudah hampir tidak mengenali lagi biksu baju merah. naman Ho-pak Sanjin terkenal berwatak gagah. Orang yang mengenalnya pasti akan terperanjat melihat ia turun gunung dan bergabung dengan datuk-datuk hitam semacam Hiat Kiam Lomo. Rombongan ini memang tidak lain adalah rombongan penjahat yang dulu mengobok-obok kelompok pengemis sabuk hitam. pura-pura jadi pelayan. datang membawa tamu pesilat dari khitan yang berjuluk Ho-pak Sanjin. Ia kemudian mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan beberapa huruf: Sebaiknya kamu turun saja. keduanya berpakaian agak aneh. Tiong Gi menjadi lebih tenang melihat tulisan itu. dan mengenal budi. Rombongan sembilan kuda itu ternyata bukan orang-orang sembarangan. karena memang pakaiannya khas daerah utara. berumuran enam puluh lima tahunan..?” Tiong Gi hanya meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Tiong Gi melongok lewat jendela ke bawah. Ia adalah sute dari kok-su kerajaan khitan yang berjuluk Pak San Koai Ong. Memang benar. siapa lagi kalau bukan Ang I Hwesio. Dengan tergopoh-gopoh Tiong Gi membalikkan badan dan memberi kode kepada Sim Houw untuk turun. Orang ketiga dan keempat tidak dikenali oleh Tiong Gi.. dibandingkan Tiong Gi yang masih muda dan kurang pengalaman. Pemimpin rombongan ini yaitu Hiat Kiam Lomo. meski kepalanya sudah ditumbuhi rambut namun Tiong Gi tidak lupa dengan bajunya yang selalu berwarna merah. Orang keenam dan ketujuh tidak dikenali oleh Tiong Gi.

“Ayo cepat suruh semua yang ada di loteng turun! Kami akan menempati tempat duduk di sana! Siapa berani membantah akan bernasip lebih sial dari pada jongos muka kuda!” bentaknya. ia masih menjewer juragan yang bertubuh gendut itu. Sepertinya ia membantah perintah anak buah Hiat Kiam Lomo.ampun tuan.. dan bersiap-siap hendak membayar. Pemilik kedai menjadi kelabakan.jangan. Tangan dan kakinya masih sempat-sempatnya menampar dan menendangi para tamu tak bersalah. “Eh tuan. dua orang anak buah Hiat Kiam Lomo tidak membiarkan begitu saja para tetamu lewat bebas.oe.mendengar suara keributan di bawah. bangun Ma ko!” Entah sadar karena tepukan ke muka. karena orang-orang yang di loteng sudah buru-buru turun dengan penuh gopoh.!” “Ooo kau takut rugi yaa?? Hah! Masih untuk kami tidak sate tubuhmu saja!” Masih belum puas merampok.. bahkan uang hasil pembayaran mendadak para pelanggan dirampas salah seorang pengawal berbaju hitam. “Ampun.!” ... “Ma ko. Salah seorang pelayan hendak naik ke loteng. hingga roboh tak sadarkan diri. “Heh kamu tidak perlu bantu dia...bisa rugii aa. Meskipun marah melihat sikap sok jagoan dari pengawal itu. masuk ke dalam ruangan dalam.haiyaa. lelaki itu memang mulai siuman. cepat siapkan hidangan paling lezat.. Ia masih melihat juragan pemilik warung disumpah serapahi.. entah karena bantuan pengobatan tersembunyi.. Seorang pelayan ditampar dan ditendang. Setelah itu ia kembali lagi dan langsung menuju dapur. jangan. Dengan lagak berat Tiong Gi memapah pelayan itu. untuk tuan besarmu!” Tiong Gi membawa masuk pelayan itu ke suatu kamar dan membaringkannya di tempat tidur.. ia bisa berkelit dengan pura-pura tersandung. Dasar memang tangan sudah gatal. Tidak hanya yang di loteng saja. Dengan lagak sudah kenal Tiong Gi menggoyang-goyang muka pelayan itu. ia kemudian melucuti pakaian luar pelayan itu untuk dikenakan... yang duduk dibawahpun buru-buru menghabiskan makanannya. namun Tiong Gi masih menahan diri. suasana menjadi kacau. Untung saja. Beberapa tamu terpelanting roboh.. sehingga lawan tidak mengacuhkannya meskipun tamparannya hanya kena angin kosong.. kecuali Sim Houw. namun sebenarnya tidak perlu.ain hendak memberi bantuan. Seorang pelayan l. Tiong Gi yang ikut berdesakan turun langsung mendekati pelayang yang roboh pingsan itu. yang jelas tak berselang lama.. namun buru-buru dibentak oleh pengawal yang barusan memberi tamparan.

malah marah-marah tak karuan. Ia heran melihat Sim Houw sedang memijat punggung salah seorang tamu yang bepakaian asing itu...eh ini tayjin ampunkan hamba. heh jangan ngomong ngaco balau yaa.. mereka pasti sudah tidak sabaran! Biarlah saya nanti yang akan membantu membawa makanan ini ke loteng!” “Eh. maka bisa dipastikan juragan itu akan memarahi anak buahnya. ia tidak merasa kalau ditolong.” kata Sim Houw sambil berlutut dan menyembah-nyembah kepada Hiat Kiam Lomo..hamba hanya. Setelah semua masakan siap. entah apa yang dilakukan pemuda itu. “Ayo cepat loya.” “O. Dan melihat seorang pemuda yangh lemah seperti Sim Houw.... Namun dasar juragan sial. Sampai sepeminuman teh lamanya.kau. tidat terbersit suatu kecurigaanpun ketika dengan sok ramah Sim Houw.?” Belum selesai juragan itu bicara Tiong Gi sudah berkedip-kedip memberi tanda agar ia menuruti perintah tamu yang baru datang itu..???” .. Dan dasar memang lagi bernasib mujur. “Eh.. Dengan mengerahkan sinkang tenaga lembek kaki Tiong Gi menerima tubuh sebesar gajah itu tanpa mengalami luka sedikitpun.. di gagang golok pengawal itu ada satu huruf tanda “she” dari pengawal yang berkumis njabrik itu.... Namun Tiong Gi tidak melayani omelan juragan itu.. Untunglah sebelum mukanya menabrak lantai.. Tiong Gi tidak melihat Sim Houw turun ke bawah. bersoja dan memeluk salah satu pengawal.. dan segera mengomando anak buah yang lain untuk mempersiapkan masakan.iya. Ia tahu memang kalau juragannya dimarahi orang.. Mereka sudah terlanjur beranggapan tidak akan ada yang berani mati curi dengar pembicaraan mereka... mana mungkin punya anak macammu.kamu sia... dasar babi pemalas!” kata pengawal itu sambil menendang pantat juragan. ibu mungkin lupa memberi tahu ke paman. Untung saja rombongan itu sudah merasa sedemikian tinggi hati. kaki Tiong Gi sempat menggaetnya dengan gerakan tak kentara. Juragan itupun terdiam. “Ah paman Tan..... sehingga tidak peka lagi terhadap mata-mata. Dengan sigap ia membagi-bagikan masakan ke beberapa meja. kelak kalau paman sudah pensiun tinggal aja di kampung kami paman!” “Kau.. kalau ayahku seorang tuan tanah yang kaya raya.“Sana cepat kerja masak yang paling enak untuk kami.lupakah sama keponakanmu? Wahh paman sekarang sudah jadi kapter rupanya. siapa pernah punya keponakan macam kau? Ibumu hanya seorang pelacur jalang. Tiong Gi akhirnya membawanya ke atas.. seakan-akan tak sengaja.

warung kami sudah tutup. Rata-rata mereka berumuran di atas empat puluh tahun... ya benar memang rombongan ini dipimpin oleh Sim Beng Tosu. Begitu datang ia diterima kembali oleh suhengnya dan banyak diberit tugas-tugas penting mewakili Kong Thong Pay. harap mencari warung lain!” “Ah. Sim Houw akhirnya juga ikut menikmati makanmakan bersama mereka.Pengawal itu mendorong tubuh Sim Houw. mendadak masuk rombongan tosu berjumlah tujuh. Sim Houw pura-pura akrab dengan mereka. hingga terpelanting. Tiong Gi di bantu beberapa pelayan yang lain. padahal kalau sampai mereka mengenali diriku. Tiong Gi kemudian datang mendekat. kalau paman kau tak sudi akui kau. omongan bau kentut macam apa yang kau keluarkan. kalau sampai mereka ketebu pasti mereka terlibat bentrokan. aku sudah sangat kecapaikan ini!” kata Ho-pak Sanjin. Di atas meja itupun masih terlihat bekas tapak tangan yang meninggalkan cetakan di atas meja sedalam setengah sentian. Ia tentu saja tak mau kedainya menjadi ajang pertarungan dua kelompok ini. Kiranya mata mereka yang tajam tidak melewatkan pandangan kepada tamu-tamu yang datang. “Heh pelayan. “Maaf tuan. maka ia mencari-cari Tiong Gi. Namun hanya sedikit yang dapat ia tangkap. kemudian dengan tangan kiri keping itu digebrakkan pada meja. pasti aku akan celaka!” pikir Tiong Gi. dengan sigap melayani mereka. Sesekali ia curi-curi dengar omongan mereka. Untung saja. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu. kenapa kau tak sudi terima kami? Kau kira kami tidak bisa bayar??? Nih liat!” Tosu itu mengeluarkan sekeping uang perak.!” Keping perak itu melesak ke dalam meja. hayo cepat kalian layani kami!” bentak salah seorang tosu yang bertubuh paling pendek. “Prokkk. Begitulah dengan gayanya yang tengil. aku liat sendiri kau masak begitu banyak. tak usah kau pikirin. ujung keping rata dengan meja. Pada saat mereka mendengar berita mengenai pedang salju. tiba-tiba salah seorang tamu yang berpakaian gaya utara berseru: “Heh keponakannya Tan. Sim Beng Tosu mendapat tugas untuk ikut memperebutkan pedang itu. Salah seorang diantaranya dikenal baik oleh Tiong Gi. sini-sini tolong kau pijiti punggung dan kakiku. Belum selesai acara pesta pora di atas. . Suasana di loteng itu benar-benar mirip pesta. Juragan gemuk pemilik kedai itu kiranya juga tahu gelagat kedatangan orang-orang persilatan yang bisa bikin onar. Juragan itu terlihat kebingungan. Dua diantaranya adalah wanita. dari atas sudah turun tiga orang. “Celaka.

.Bak disengat kalajengking. merasa keheranan.. Tiong Gi hampir bersorak melihat sikap kedua belah pihak yang kemudian terdiam.apa sebenarnya maumu. Ia sudah berencana segera minggat dari kedai ini. Tiong Gi menjadi lebih khawatir lagi..” bentak Hiat Kiam Lomo sambil melakukan serangan dengan mengebutkan lengan jubahnya yang longgar.. Sim Houw akhirnya ikut turun ke bawah. begitukah? Ingin kulihat seberapa besar nyalimu.. “Ha. Sampai di sana mereka mendapati kedua belah pihak terlibat adu mulut. meskipun dirinya sendiri belum sesuapun menikmati makan siang... Diingatkan hal ini. benarkah? Kenapa yang datang hanya tujuh. di antara dua pihak yang sedang ribut-ribut itu ada seorang pengemis yang tiba-tiba nyonong tanpa permisi.”pikir Tiong Gi. “Ah kongcu tampan apa tidak ingin lihat keramaian dibawah?” tanyanya dengan nada kesal... lomo?” Tiong Gi sudah hampir memutuskan untuk meninggalkan kedai itu. “Sudah. Ia kemudian mendekati Sim Houw dan pura-pura membereskan mangkok yang sudah kosong. mana satunya lagi?” Merah padam muka Sim Beng Tosu mendengar sindiran yang sangat menusuk atas ditahannya dirinya di lembah delapan rembulan.. Dan terdengarlah bentakan keras seorang bercaping yang bukan lain adalah Ang I Hwesio. dan langsung mendekati dapur. “Sialan. hiaattt. bersiaplah. Tetapi Sim Houw masih belum juga turun. “Ternyata kau boleh juga sutay!” ejek Hiat Kiam Lomo. Sim Beng tosu kaget bukan kepalang melihat siapa yang ada dihadapannya.ha. “Wusss.kiranya Kong-thong pat-lo yang datang.. aku dengan anda baru saja dibebaskan dari lembah delapan rembulan. Akhirnya ia memutuskan untuk naik ke loteng. “Hmm.... . “Heh.ha. sungguh menggembirakan bisa berkenalan dengan ahli-ahli tongkat dari Kongthong! Aha bukankah anda ini Sim Beng tosu. sambil minum arak.!” serangkum hawa panas yang berkekuatan dasyat menyambar. Pada saat itu kawa-kawan Hiat Kiam Lomo sudah ikut turun melihat keributan di bawah... kau bicara ngaco balo. Ia pikir bisa memanfaatkan situasi ini untuk melarikan diri. iblis pisau merah! Jangan kau kira kami takut padamu..sudah cukup. Membuat pendeta wanita yang berjuluk Sim Lian Sutay itu kelabakan dan terpaksa mundur tiga langkah.. rupanya ia di sini malah enak-enakan minum-minum..” bentak salah satu sumoi Sim Beng Tosu. Jembel yang pernah ditemui di kuil Kong sim liok si. ketika mendadak. Tapi siapa mengira yang datang adalah pengemis berlengan tunggal.... Melihat raut muka Tiong Gi yang penuh kecemasan.. Sampai di dekat Sim Houw kemudian disikutnya pemuda itu. Dilihatnya Sim Houw masih bercanda dengan pesilat dari khitan.

. tapi dasar memang di kehidupan dulu kau pernah berbuat dosa padaku. cuh betapa menjemukan!” Sim Houw mendekati Tiong Gi.. haiyaa. Tongkatnya membentuk pertahanan yang cukup kuat.. seorang pendek kurus yang juga bercaping ikut terjun membantu Ang I Hwesio.. “Ahh aku ingat sekarang. Bahkan dari beberapa kali tangkisan Ang I Hwesio merasakan betapa kuatnya lweekang yang dimiliki oleh lawan. Barulah setelah ia memeras pikirannya ingatannya menerawang ke kejadian beberapa tahun silam.. Kontan tubuh sebesar kerbau itu langsung terbanting menimbulkan bunyi gedebug yang cukup keras.berhenti. Toya ditangannya tergetar.. sehingga kini kau datang mengantar nyawa!” Pengemis itu menoleh dan melotot ke arah Ang I Hwesio. Pengemis itu makin kewalahan. Namun ia sama sekali tidak menduga bahwa pengemis yang baru datang inilah yang menjadi salah satu saksi kunci peristiwa di kuil Kong sim liok si. dikepung oleh kedua biksu berhati palsu.. “Hei. Baru beberapa jurus sudah dua kali suara bag.kenapa kalian mengeroyok. dan akulah yang menyuruh seorang pengemis muda untuk mengantarkannya ke kuil Kong sim liok si. Tetapi ia seperti banteng yang pantang menyerah. ia melihat wajah pemuda itu penuh ketegangan. ha. Karena di dalam kedai sempit dan tidak leluasa. Dia kemudian menudingkan tongkatnya ke arah Ang I Hwesio. di suatu kota kecil ia pernah bertemu dengan pengemis lengan tunggal itu. Karena sudah beberapa gebrakan justru Ang I Hwesio tampak keteteran.terdengar.” “Ayo kita bantu pengemis itu Houw ko!” kata Tiong Gi masih dengan berbisik.!” teriak majikan berbadan gendut sambil berusaha melerai. Telah beberapa pukulan dari kedua biksu palsu itu mendarat di sekujur tubuhnya... beberapa kali ia mencoba untuk menotol tubuh lawan. Tatapan matanya sungguh mengerikan. perkelahian sudah berpindah ke luar.. Pelayan-pelayan lain ribut tak tentu arah.. Tapi buru-buru terdengat suara “hekk” ketika pengawal yang sebelumnya menendang pelayan muka kuda menyikut perut majikan itu. Tongkat bututnya diputar membentuk benteng pertahanan .oe bisa rugi waa.. dan tanpa aba-aba kedua belah pihak langsung terlibat pertarungan. Sementara itu pertarungan makin seru tapi kini kedudukan menjadi tidak seimbang.ternyata umurmu panjang juga.jangan bertarung di sini.ha. Ang I Hwesio memutar toyanya.bug. Namun kiranya pengemis lengan tunggal itu punya kepandaian yang tidak boleh diremehkan. kira-kira empat tahun silam sehabis meminta obat kepada Kong sim hosiang aku bertemu dengan pengemis tua itu. seperti tatapan mata orang yang tak normal. ia merasa tangannya kesemutan. “Berhenti. rupanya kau yang datang..“Heh jembel busuk.. Tasbih di tangan kirinya digerak-gerakkan menyerang lawan.ha. Ia mengira Tiong Gi gentar melihat lawan-lawannya.

Ia segera membopong pengemis yang sudah roboh. “Siapa kau!” bentakknya. Saking kerasnya tangkisan hingga kakinya patah.yang sangat rapat.. Tapi pukulan tongkatnya juga berhasil mematahkan toya lawan. Sudah tiga kali tasbih di tangan kiri biksu kurus menyambar dan melukai lengan. pukulan demi pukulan makin mengurung rapat pengemis lengan tunggal.krekk!” “Auuuhhhhh... menoleh ke belakang. Pengemis lengan tunggal menotolkan kakinya dan melompat ke arah Ang I Hwesio. sehingga darahpun mengalir dari sekujur luka. Namun dengan tangan tunggal. Saudara-saudaranya kemudian juga mendesis perlahan penuh keheranan.. ia terhuyung beberapa langkah.. ia tak mengira tangkisannya berakibat seperti itu..bukankah itu jurus Thai-kek sin-tung hoat dari Kun Lun Pay?” teriak Sim Lian Sutay.. dada dan punggungnya. “Heii... pengemis tua itu sudah terpelanting roboh. Iapun roboh menjerit memegangi kakinya. beberapa malah sempat masuk kembali ke kedai.!” Sebuah pukulan yang dilancarkan biksu kurus mengenai dadanya. “Bukk!.. darah mengalir dari mulutnya.Trakk. Jurus demi jurus.. praktis pertahanan yang dilakukan tetap lemah... “Kebakaran. Sebuah tendangan dari Ang I hosiang mengarah ke lambungnya.. Pada saat itu... biksu palsu berhati iblis!” balas Tiong Gi tak kalas sengit....! Ang I hosiang mengaduh-aduh. Sebuah serangan menggelap biksu kurus itu berhasil dielakkan. Biksu kurus tak kalah terkejutnya......... Kiranya ia terlalu memandang tinggi kemampuan lawan. Pada suatu kesempatan ia memang sengaja menerima serangan Ang I Hwesio. Toya ditangan biksu baju merah itu menyapu ke bagian bawah. “Dessss. “Siapapun aku bukan urusanmu..kebakaran. Pemuda yang barusan menangkis serang juga tak kalah terkejutnya. kakinya tertangkis oleh tendangan pemuda yang berpakaian pelayan. .. tanpa menghiraukan pukulan dari biksu kurus..!” Sontak orang-orang yang menonton pertarungan yang tidak seimbang itu.. bagaimanakah bisa seorang pengemis gila mampu menguasai ilmu itu.. Mendadak terdengar teriakan dari belakang.prang.

Belum pernah pukulan tangan Hiat Kiam Lomo kuat ditahan oleh lawan. ikut terkejut melihat munculnya seorang pemuda yang tak lain adalah pelayan yang meladeni mereka. Mendengar jeritan Ang I hosiang barulah sebagian sadar bahwa mereka sedang ditipu oleh dua pemuda bengal.. Namun kejadian yang berlangsung singkat itu sudah . dan melancarkan pukulan tapak kelabang yang berhawa racun. Jika tidak mati maka kulit lawan akan melepuh dan menjadi borok di sekujur tubuhnya. sehingga terpaksa menunda serangan ketiga. Sementara Tiong Gi menggunakan tenaga benturan itu untuk terus mundur ke belakang untuk melarikan diri.!” Serangan dan tangkisan yang disertai tenaga lweekang yang sangat kuat membuat tangan biksu kurus itu tergetar hebat. dan digunakan untuk menangkis serangan tapak tangan Hiat Kiam Lomo. Hawa pukulannya sudah menyambar sebelum tangan sampai ke sasaran. Hebat sekali serangan ini.. Namun iblis itu keliru jika mengira Sim Houw tidak bisa berkelit.. Maka dengan meliukkan badannya serangan tasbih itupun hanya menyapu baju luarnya. Di tangan Hiat Kiam Lomo ilmu ini menjadi dasyat bukan kepalang. ia tidak berusaha menarik pukulannya. Pukulan tapak tangan Hiat Kiam Lomo justru berbalik arah dan dimenuju ke Sim Houw. “Plakkk. bahkan tulangnya serasa copot. Ia sudah melompat ke arena. Merasakan sambaran serangan Sim Houw langsung merendahkan tubuhnya. Dua kali tangan Hiat Kiam Lomo menyambar. dan tibatiba sebuah kepala menguak kerumunan dan langsung menyeruduk Hiat Kiam Lomo. Kiranya yang muncul memberi bantuan adalah Sim Houw. Inilah salah satu kelebihan ginkang yang dimiliki oleh pemuda itu. “Bresss. Sim Houw berjumpalitan dengan posisi kaki di atas. tasbih di tangan kirinya mengarah ke lambung kanan Tiong Gi. tubuhnya roboh dan terseret hawa pukulan sejauh satu tombak. Biksu kurus yang menyamarkan mukanya dengan caping secepat kilat melancarkan serangan sekuat tenaga. sedangkan serangan utama adalah cakar di tangan kanan.. Dibandingkan dengan tingkatan Hoan Bin Kwi Ong ayahnya. tingkatan Hiat Kiam Lomo bahkan sudah jauh lebih tinggi. Sungguh gerakan yang sangat aneh luar biasa..Penonton yang sebelumnya menoleh ke arah belakang. Iblis itu terkejut namun tetap tenang. Mendadak dari belakang terdengar suara bentakan. dan menerobos dari bawah. Secepat kilat begitu lolos.. sedang tangan kanannya membentuk cakar dilancarkan ke arah muka.!” Kaki Sim Houw tertolak. sedangkan tangan kanan Tiong Gi mengepal dan bergerak dari bawah ke atas menangkis sambil mundur satu langkah. namun bisa dielakkan oleh Tiong Gi... Iblis tua itu kaget tidak kepalang. Hiat Kiam Lomo tidak tinggal diam.. iapun terdorong dua langkah. Namun Tiong Gi bisa menduga bahwa serangan tasbih di tangan kiri hanya serangan pancingan.

. Dalam keadaan roboh kaki biksu yang ada di dekat robohnya Sim Houw langsung menendang Sim Houw. dan membawanya berlari. Tiong Gi mengajak berbicara. . racun yang mempengaruhi sarafnya.. Setelah sebelumnya Hoa-san Siauw-jin berhasil menyelamatkan muridnya. Ho-pak San-jin dan pengawalnya. Tiong Gi sendiri yang perutnya keroncongan memilih mencari santapan makan malam. Untuk itupun ia harus diminumkan sari bunga rumput embun yang tidak ada si sekitar sini. Saraf-saraf diotaknya sudah banyak yang rusak. padahal baru saja mereka mendapat serangan cukup kuat dari orang bertopeng. “Bresss. Semalaman dua kakek itu merawat dua orang yang terluka. namun sepertinya ia sudah tidak mengenalinya lagi. Beruntung ketika hampir saja mereka tersusul.. Dan lantas tidak ingat apa-apa. meskipun hanya mendapatkan dua ekor ular yang tidak begitu besar.. bersama suhunya dan Sun Ciak Kun. Ia sudah belasan tahun keracunan. ia hanya dapat dipulihkan ingatannya pada kejadian yang paling berkesan di otaknya saja.mampu membendung serangan Hiat Kiam Lomo sehingga Tiong Gi sudah bisa lolos... Pagi harinya pengemis lengan tunggal siuman lebih dahulu. Namun justru nyawa Sim Houw terancam karena biksu kurus bercaping yang melihat lolosnya Tiong Gi melampiaskan kemarahan pada Sim Houw. namun mendapat keroyokan empat tokoh bu-lim yang sangat kosen iapun kerepotan. mereka mulai mencari-cari tempat sembunyi dan berhasil menemukan sebuah gua. muncullah Sun Ciak Kun. Untunglah pada saat yang genting suhumu dan suhuku datang memberi pertolongan!” katanya sambil menoleh ke arah kedua kakek tua yang sedang bermain catur dengan gembiranya. Begitu sadar ternyata mereka sudah berada di sebuah gua. Aneh.. dimana aku?” “Sttt. biksu kurus bercaping. keadaannya sungguh lemah.!” Tubuh Sim Houw terlempar tiga tombak. “Eh. selebihnya sudah tidak bisa disembuhkan.tenanglah Houw ko! Untuk sementara kita aman disini. Saat berlarian mereka dikejar oleh rombongan Hiat Kiam Lomo. “Dimanakah tempat tumbuh rumput itu suhu?” “Ada di pulau kabut!” “Pulau kabut???” tanya Tiong Gi tak percaya. Sun Ciak Kun berhasil menghambat mereka. Setelah malam tiba barulah mereka cukup aman.” kata Sun Ciak Kun perlahan. Ia sudah tidak dapat diobati. Ia merasa kepalanya langsung berkunang-kunang. Empat orang pengejar terdepan adalah Hiat Kiam Lomo. dan langsung memuntahkan darah segar. hingga akhirnya ikut melarikan diri. “Aku sudah memeriksanya. Tatapan matanya kosong...

.. masih ada satu tempat lagi dapat dicari rumput itu!” “Benarkah? Katakan dimana tempat itu?” “Di neraka! Ha. Ia menjadi teringat dengan orang-orang tengkorak hitam. “Sialan mereka rupanya mau membuat kita mati kehabisan nafas. Sun Cak Kun bertanya kepada Hoa-san Siauw-jin: “Siauw-jin apakah kau punya ide?” “Aha. Setelah beberapa saat mereka semua terpekur. pulau itu ada di sebelah utara. barulah ia akan menemukan pulau kabut. Dengan sembarangan ia kemudian mencengkeram kerah baju Hoa-san Siauw-jin sambil berseru keras di mukanya: “Kalau begitu kamu saja yang mencarikan rumput itu di neraka!” Tiba-tiba dari luar gua terdengar suara ancama halus. Tiong Gi.. Dinamakan begitu karena hampir sepanjang tahun ia selalu diselimuti oleh kabut. dan dua pesilat kosen dari khitan berdiri di belakang. Hanya pada bulan ke tujuh dan ke delapan saja kadangkadang ia bisa dilihat dengan kabut yang sangat tipis... Mereka mencoba mengingat-ingat siapakah tokoh yang yang memiliki ciri-ciri seperti di depan mereka. Mereka bertiga langsung menghambur keluar. yang juga memakai topeng. Di luar gua sudah menunggu empat orang yang berdiri tegak dengan sikap angkuh.. ayo bersiap keluar!” seru Cak Kun. Sepasang mata di balik topeng itu menatap dengan sorot yang sedemikian tajamnya.ha. Orang ini bertubuh agak pendek. Hiat Kiam Lomo.. Tapi sepertinya Sun Ciak Kun sudah kenal baik dengan gaya dan wataknya yang ugal-ugalan. dan rata-rata bermata tajam...” ujar Sun Ciak Kun perlahan.. jika tidak gua ini akan ditutup dengan batu!” “Bau asap.” Orang yang tidak kenal Hoa-san Siauw-jin pasti marah besar diledekin seperti ini. Namun tentu saja Sun Ciak Kun emoh dikelakari tanpa ada balasan. Kedua kakek tua guru Tiong Gi dan Sim Houw juga terheran melihat orang bertopeng yang dilihat dari posisinya sepertinya kedudukannya di atas Hiat Kiam Lomo. dari teluk Pohai orang harus berlayar semalaman menyusuri pantai. sedangkan di depan mereka seorang bercaping mengenakan topeng dewa penjaga gerbang (Hengha Erchiang). Orang-orang Hiat Kiam Lomo yang sedang membakar kayu semak dan serasah hutan langsung terpelanting ke kanan dan ke kiri begitu mereka bertiga keluar. “Siapa saja yang ada di dalam gua harap menyerahkan diri keluar... !” teriak kedua kakek itu hampir bersamaan.”Ya. sehingga membuat bulu kuduk Tiong Gi meremang.ha.

. karena itulah maka iblis tua itu bergelar Hiat Kiam (pedang darah). baiklah kalau dulu Kim-hu subo tidak berhasil mencincangmu. “Kau. Meskipun masih berada di bawah tingkatnya sendiri.. “Aku melihat kalian menyeret keluar pengemis itu dan memaksanya menyerang Kong sim hosiang! Jika tidak karena kalian panas-panasi mana mungkin pengemis lengan tunggal mau menyerang Kong sim hosiang!” lanjut Tiong Gi. “Pakailah gucimu! Jangan pernah tatap matanya!” .. “Kau pasti telah melupakanku. dan belum pernah pedang itu keluar dari sarung tanpa meminum darah..siapa kau. Orang-orang yang lemah sudah terjengkang mendengar suara mengguntur ini.Sun Ciak Kun? Si guci obat? Tak tahu ada angin apa yang membuat guci obat dari Hang chou menjadi berpihak pada pembunuh Kong sim hosiang!” ujar orang bertopeng itu.. Sungguh tak biasanya iblis ini mengeluarkan pedangnya..tak tahu siapapun nama dan gelarmu. Pedang yang aneh sekali warnanya.“Hmmm.. tapi kalianlah yang telah memaksanya!” bantah Tiong Gi.. “Diam!!! Tutup mulutnya bocah gila! Kau anak kemaren sore tahu apa tentang pembunuh Kong sim hosiang!” bentak orang bertopeng dengan suara mengguntur. Hiat Kiam Lomo terlihat sangat terperanjat mendengar jawaban dari mulut Tiong Gi. “Pengemis itu bukan pembunuh Kong sim hosiang. namun Tiong Gi dan dua kakek tua tampak tenangtenang saja. Rupanya ia mengerahkan tenaga khiekangnya ketika membentak tadi. bocah yang dulu kau kurung. aku Sun Ciak Kun takkan membiarkan orang mengasapku seperti mengasap tikus sawah!” “Hmm.. Bahkan dengan suara yang tidak kalah menggelegarnya ia telah membalas: “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” Orang bertopeng itu kelihatan terkejut mendengar balasan Tiong Gi yang memiliki khiekang yang tak kalah hebatnya.!” ucapnya dengan tatap tak percaya. Hiat Kiam Lomo langsung melompat ke depan dengan sikap mengancam. Sebilah pedang berwarna merah tua keluar dari sarungnya.jadi kamu rupanya bocah sial itu. biar sekarang aku mewakilinya!” kata Hiat Kiam Lomo sambil menghunus senjata. dan bahkan hendak dijadikan korban untuk iblis ratu kelabang!” “Ooo.. Sebelum maju Tiong Gi menatap gurunya meminta pertimbangan..

seraya membentak keras. Makin lama Hiat Kiam Lomo makin mempercepat serangan pedangnya. Dengan mendadak.. bahwa tersohornya nama guci sakti bukanlah isapan jempol. Ujung pedang merah darah itu berkeredepan. ia mengubah Kiam hoatnya. Biapun sudah menyerang bagaikan topan. Tiong Gi segera memainkan jurus-jurus Kiu Yang Sin Ciang. pedang yg kaku menjadi lemas.! ”Plaaakkkk.. Kelebatan buli-buli kemala yang menimbulkan warna kehijau-hijauan menyelimuti tubuh pemuda tanggung itu dengan sangat rapat.. Sun Ciak Kun sendiri tak kalah kagumnya. keringat dingin mulai membasahi lehernya. Pertarungan di depan gua Sebaliknya Tiong Gi juga sangat terpesona menyaksikan kehebatan ilmu iblis murid nenek kelabang emas ini. pertempuran lantas saja berlangsung dengan hebatnya. Tangannya bersoja. Bab 20. Setelah lewat gebrakan pertama. ”Traangg. ”Jika aku tidak memperoleh kemenangan. Tapi biarpun begitu. demikian juga serangan pedang datuk sesat itu terarah. Tubuh iblis pedang darah itu dibungkus sinar merah yang berkilauan. Hiat Kiam Lomo mulai merasa risau. seperti ikatan pinggang..Tiong Gi dengan tenang maju ke depan. Di lain pihak. Dengan senjata yang lebih aneh. pedang Hiat Kiam Lomo masih tetap tak bisa menembus garis pertahanan si pemuda itu. ilmu ini tidak bisa dibuat main-main. Kemana saja Tiong Gi bergerak. Hoa-san Siauw-jin dan Ho-pak Sanjin menonton dengan berbinar-binar. Pedangnya mendesingdesing bagaikan bermata. dimana aku harus menaruh mukaku?” Memikir begitu. seolah2 puluhan batang pedang menyambar dengan cepat mengancam delapan jalan darah kematian di tubuh Tiong Gi. gerakan2 Tiong Gi kelihatan kaku dan perlahan. orang2 tersebut masih merasa sangat kagum akan lihainya Hiat Kiam Lomo. Hiat Kiam Lomo membuka serangan dengan jurus delapan jalan darah kematian. Hiat Kiam Lomo menyerang bagaikan setan edan dalam sekejap ia telah mengirim duapuluh lebih serangan yg membinasakan. Hiat Kiam Lomo benar-benar terkejut tak manyangka sama sekali bocah belasan tahun di depannya mampu menangkis pedang dan juga pukulan tapak kelabangnya. bahwa si anak muda itu melayani lawanya dengan pukulan2 yg disertai lweekang yg sangat tinggi dan berselang seling. tak disangkanya muridnya bisa memainkan guci dengan hebatnya. Akan tetapi orang2 yg berkepandaian tinggi mengetahui. Tetapi musuh tidak menggubrisnya malah tanpa sungkan2 lagi menebaskan pedangnya. sedang tangan kirinnya melancarkan ilmu silat tangan kosong yang sangat keji karena mengandung hawa yang sangat beracun serta dilembari sinkang yang sudah tinggi sekali. Gerakan pedang di tangan kanan iblis itu sungguh sangat cepat dan ganas. Pertempuran ini benar-benar luar-biasa hebatnya. Iapun tahu. Sambil menangkis dengan guci sakti yang dicekal dalam tangan kirinya. Itulah Jiauw tiam hoat Jiu Kiam(ilmu .. Mereka harus mengakui. sehingga belakangan orang hanya bisa melihat sinar berkelebatnya pedang dan tak bisa mengenali lagi gerakan pukulan2nya.!” Dalam gebrakan pertama.

kemudian setelah dekat dengan lawan tangannya bergerak-gerak dengan cepatnya. Dengan posisi menelungkup seperti hewan melata tangan dan kakinya dipentang. Tiba-tiba dari seluruh tubuhnya seperti keluar kabut yang berwarna kuning keemasan. Kemudian ia memasang kudakuda dan berganti gaya bersilat. hampir-hampir saja membunuh suci dari Hoa-san Siauw-jin. hanya dengan bersalto ia selamat dari terjengkang. Mendadak terdengar suara “Croott… !” ujung pedang membal dan menikam pundak kirinya! Pada saat hampir bersamaan tendangan kaki kanan Tiong Gi mendarat telak di perut lawan. ia bersiap memainkan jurus Swat sian kuan men (dewa salju membuka gerbang). Sekonyong2 pedang merah itu menyambar dada Tiong Gi. bahwa serangan pedang yg lemas seperti sabuk atau selendang sangat sukar ditangkis. Namun dipihak lain Tiong Gi memusatkan seluruh perhatiannya. Mendadak tubuhnya dijatuhkan ke depan. Mendadak tubuh Hiat Kiam Lomo melesat ke depan dan berputar-putar di udara dalam posisi masih menelungkup. tak terasa darah mengalir dari mulutnya. kemudian ia mengirup banyak udara. Begitu mendarat ia merasakan perutnya mulas luar biasa. Tapi sebelum menyentuh dada..!” Hiat Kiam Lomo terdorong ke belakang. tangannya mula-mula dirangkapkan di depan dada. darah berwarna biru mengucur deras dari pundaknya. Inilah ilmu yang baru diciptakan oleh nenek kelabang emas. Hanya dengan meminum air di guci sakti saja. maka dapat dibayangnya betapa dasyatnya. ujung pedang mendadak membengkok dan menyambar pundak kanannya. puluhan tahun silam suami nenek kelabang emas. Sepanjang hidup Tiong Gi belum pernah bertemu dengan kiam hoat yang seaneh itu. Sulit dibayangkan kedasyatan ilmu ini. sebelum serangan itu sampai. Dalam menggunakan ilmu pedang ini. Ilmu ini merupakan kembangan dari pukulan ilmu tapak kelabang yang dikombinasikan dengan ilmu menyedot tenaga bumi. Demikianlah. Keadaan Tiong Gi juga payah. Hiat Kiam Lomo menancapkan pedang di tanah. Mula-mula tangannya lurus . Dapat dimengerti. Jurus ini kemudian dikombinasikan dengan ilmu silat Kiu Yang Sin Ciang.pedang lembek memutari jati tangan) itu yang semuanya memuat lima puluh lima jurus. sebuah ilmu hitam yang mengandung unsur magis dan kekejihan yang luar biasa. guru Hiat Kiam Lomo. sehingga rambutnya yang hitam tampak riap-riap. dan hanya hanya bisa ditundukkan oleh pendekar bukit merak dan pendekar Siauw Lim. sebuah ilmu yang diberi nama kelabang emas mengejar arwah. ia mengengos sebab sudah tidak keburu untuk menangkis lagi. Sedangkan tangannya berubah berwarna merah.. Begitu ia menyerang. Tali rambutnya dilepas. Dengan menggunakan ilmu menyedot tenaga bumi. Karena dengan bersenjata banyak menghamburkan tenaga. ”Ngeekk. orang harus mempunyai Lweekang yg sangat tinggi untuk mengubah sifatnya pedang dari kaku menjadi lemas. ia terhindar dari keracunan karena memang pedang merah darah di tangan Hiat Kiam Lomo mengandung racun yang sangat jahat. yang merupakan jurus paling hebat dari silat pukulan badai angin salju yang telah dipelajari dengan penuh keyakinan. melihat sambaran pedang ke arah jalan darah di lehernyanya. Dari gerakan tangan keluar hawa serangan yang dasyat luar biasa. getaran tenaga sakti itu sudah menekan isi dada Tiong Gi.

!” Maka terjadilah pertempuran yang luar-biasa hebatnya.. kedua kakek tua inipun tak bisa berpangku tangan lagi.... Ilmu Kiu Yang Sin Ciang yang dikembangkan oleh Sun Ciak Kun memang bisa menyerang tanpa hawa pukulannya dapat dirasakan lawan. Dari tubuh Tiong Gi seakan-akan muncul uap yang menyelimuti seluruh tubuhnya... dan ia seperti langsung ditarik masuk ke dalam gua.blaarrrrr.. Sebenarnya uap itu bukan keluar dari tubuh melainkan uap yang ada di sekitarnya yang mengenai tubuhnya yang telah menjadi dingin oleh ilmu silat badai salju.. “Swat im soan hong sin ciang!Heiii darimana kau dapatkan ilmu itu.. Kedua tangan Tiong Gi kemudian berputar-putar secara indah. Sun Ciak Kun langsung meminta Hoasan Siauw-jin membawa masuk Tiong Gi.. Inilah ilmu silat pukulan badai angin salju tingkatan yang sangat tinggi. Pada awalnya Hiat Kiam Lomo merasa di atas angin karena ia sama sekali tidak merasakan hawa pukulan lawan.... hampir berbarengan mereka melesat ke arah orang bertopeng itu. ”Manusia bertopeng.. dan terlihat dua orang khitan itu mendekati untuk merawatnya. pasti kau antek Yung Ci!” Sekonyong-konyong tubuh itu meluncur cepat ke arah dua pihak yang bertarung. majulah!” Orang bertopeng itu melirik ke arah Hiat Kiam Lomo.. Sun Ciak Kun dan Hoa-san Siauw-jin. tangan kanan lima kali. debu tanah berhamburan kemana-mana tergencet dua arus tanaga sakti yang saling berbenturan.kedepan dengan tapak tangan menghadap ke bumi. ”Sun Ciak Kun. Pertemuan mereka bersamaan pada saat puncak pertemuan kedua tenaga dengan kekuatan penuh dari Tiong Gi dan Hiat Kiam Lomo.. empat tombak. Keduanya mengirimkan pukulan-pukulan dari jurus kungfu yang sudah mencapai taraf tinggi sekali.... Karena hawa sakti itu bergerak mengikuti gelombang tinggi. ia sedikit tenang karena meskipun teluka parah namun nyawanya belum putus. kemudian tapak tangan itu mulai tergetar hebat sekali tandan bahwa pengguna jurus ini telah mengerahkan tenaga khiekangnya dengan kekuatan makin lama makin penuh.!” “Haiiiitt. orang tua bau tanah.. Sebaliknya tubuh Hiat Kiam Lomo terlempar seperti ranting terbawa gulungan ombak dan dihempaskan di pantai karang. bahkan bisa berubah menjadi kristalkristal es yang kecil sehingga terlihat seakan tubuhnya diselimuti oleh intan permata. tangan kiri empat kali “Hiaaattttt. Tapi inilah kekeliruannya. sedangkan ia menghadapi setan bertopeng itu. Pohon-pohon di sekitar pertempuran itu menjadi tumbang.. seranggan membokong orang bertopeng juga membuat orang itu tertotal dan hanya dengan berpoksai tiga kali saja ia bisa menghindari jatuh terhempas.wuss... Mendadak orang bertopeng yang ada di pihak Hiat Kiam Lomo berteriak kaget.. jelas ia telah terluka sangat parah. perlahan-lahan tapak tangan itu bergerak ke atas sehingga posisinya tegak lurus dengan bumi atau sejajar dengan tubuh. ”Wusss.. hayo kalau kamu masih belum puas..... Hanya orang-orang yang memiliki lweekang dan khiekang yang tinggi saja yang dapat menguasai ilmu ini.... dari awal tidak pernah melepaskan mata dari orang bertopeng ini sehingga ketika ia menyerbu ke dalam arena.blarrrrr!” Tubuh Tiong Gi terdorong ke belakang. Adapun tangkisan kedua kakek tua terhadap.. marilah kita berlatih sebentar!” .

mohon bantuan. dan pundaknya terluka cukup dalam... pada saat itulah Sim Houw baru siuman. Sun Ciak Kun bersilat dengan ilmu silat khas Siauw Lim yang dikuasainya seperti Kim kong ci dan pukulan cakar naga. Sore harinya setelah enam jam bersamadi. Dua kakek tua itu masih main catur... untuk berbalik arah dan melompat ke belakang menyambar tubuh Hiat Kiam Lomo dan berkelebat pergi diikuti oleh dua orang dari khitan.ha. Anehnya lawan juga mengenali ilmu Siauw Lim ini. Setelah kembali ke gua Ciak Kun merasa tenang karena keadaan Tiong Gi tidak terlalu parah. sedangkan musuhnya seperti memanfaatkan daya tolak. mereka baru tergerak untuk menengok. namun harapan sembuh sangat besar... ilmu silat suhengmu sebenarnya tidak ada harganya bagiku.. Baru saja cengkraman pertama gagal. dengan dilambari sinkang Kiu Yang Sin Kang. Sun Ciak Kun itu seolah-olah seekor naga yang terbang di angkasa sambil mementangkan cakarnya sehingga semua gerakan orang bertopeng di bawah kekuasaannya. ”Ha.. yaitu enam belas jurus merak sakti.. cengkraman kedua yang lebih cepat dan lebih dahsyat sudah menyusul. ”cianpwe keadaan lomo sekarat. selamat tinggal. Mendadak Ho-pak Sanjin berseru.” ”Blaarrr. Bahkan ketika Sun Ciak Kun mulai mengubah serangannya menjadi pukulan-pukulan dari jurus tapak budha khas Siauw Lim.. Maka bisa dibayangkan tingkat kehebatannya. kenapa biji caturku bisa kaumakan? Kau curang! Dasar manusia rendah!” . Barulah setelah Tiong Gi memberi tahu mereka.. karena salah satu kakek itu seperti memanfaatkan kelengahan lawan saat menoleh untuk melakukan suatu manufer serangan catur.ha. tubuhnya terasa lebih baik. bahka ia kemudian melawan cakar naga dengan ilmu yang sama. pihak lawan masih bisa menghindari bahkan melawan dengan jurus-jurus yang sangat dikenal oleh Sun Ciak Kun.” kata Hoa-san Siauw-jin.”Aku sudah siap!” Berbeda dengan pertandingan antara Tiong Gi dan Hiat Kiam Lomo. Tangannya bergerak-gerak kadang melentikkan jari-jarinya kadang mencakar. Sungguh dasyat sekali pertandingan ini.Sun Ciak Kun. keadaannya jauh lebih segar. pertandingan dua dedengkot datuk persilatan lebih lamban. ”Wah.. Sun Ciak Kun menangkisnya. namun semua jurus-jurus dilambari tenaga sinkang tingkat sempurna. Cengkeraman demi cengkeraman sentilan demi sentilan menyambar-nyambar bagaikan hujan dan angin dalam sekejap..!” Sebuah pukulan dasyat dilontarkan oleh orang bertopeng. meskipun isi dadanya terguncang hebat. tapi sayang aku harus menyelamatkan Hiat Kiam Lomo. Itupun masih terdengar omelanomelan seperti anak kecil kalah bermain. Totokan dengan totokan juga. dan ia diberi bantuan hawa murni oleh Hoa-san Siauw-jin. darimana kau mencuri ilmu itu?” bentak Sun Ciak Kun. seakan tidak menyadari bahwa Sim Houw sudah siuman. ”Paling tidak kau perlu istirahat tiga hari penuh untuk memulihkan tenagamu. namun ia terdorong dua langkah. ”Heiii. Setelah lukanya ditutup..bukankah itu jurus merak sakti?Iblis laknat.

Siapa dalang di balik gerakan itu masih sulit diraba. sudah tersebar luas berita ini. entah siapa dan dari perguruan mana? Sungguh mengherankan! Bahkan ia bisa memainkan ilmu merak sakti peninggalan Gak taihiap. “Pedang itu adalah hak ksatria salju.” kata Tiong Gi ikut menimpali. Tiong Gi dan suhunya tinggal di kuil itu selama tiga minggu. Malam harinya mereka memutuskan untuk keluar dari gua. Padahal semenjak Gak taihiap berpulang ilmu itu seperti lenyap di telan bumi. besar kemungkinan di sanalah berkumpul musuh-musuh Siauw Lim. karena tidak ada keturunannya yang mewarisi kepandaiannya. kepergian mereka ke barat memang untuk memperebutkan pedang salju.” kata Bu Sim Siansu. kau ini kakek tua sudah pikun rupanya. menurut cerita Sim Houw. masih sok-sok jago huu.. Di Siauw Lim mereka diterima dengan penuh hormat dan gembira. sehingga ketua Siauw Lim sendiri mengaturkan rasa terima kasih yang sangat dalam.eh..!” Untunglah kakek yang diomeli tidak membalas lagi. Baru setelah itu Tiong Gi mendapatkan banyak petunjuk dari Sun Ciak Kun bahkan Bu Sim Siansu ketua Siauw Lim juga berkenan memperbaiki cara bersilat dan mengumpulkan hawa murni berdasarkan Kiu Yang Sin Kang. muridnya dan pengemis lengan tunggal pergi ke Siauw Lim.”Eh. Hoa-san Siauw Jin dan muridnya pergi mencari rumput kabut. “Tapi harus kuakui bahwa musuhku yang bertopeng itu memiliki kelihaian yang luar biasa. Karena akan banyak kubu yang menginginkannya. ada dua pergerakan di ibu kota.. Seumur hidup baru sekali ini kalah catur secara mengenaskan. meskipun perjalanan mereka terhitung lambat karena Tiong Gi dan pengemis lengan satu masih dalam keadaan terluka. Empat hari pertama dimanfaatkan untuk bersamadi memulihkan kesehatannya. Setelah enam hari berjalan cepat sampailah mereka ke Siauw Lim. Pada saat itu Bu Sian taisu juga sudah datang menyampaikan kabar terbaru di ibu kota. Meskipun tidak secara langsung memberikan praktiknya.sudah. karena secara praktis kemampuan Tiong Gi sudah sangat tinggi. “Benar. Selanjutnya mereka saat ini sedang bergerak ke barat untuk mencari pedang salju.lihat muridku sudah siuman.. datanglah Bu Sian taisu. di mana markas mereka di ibu kota tak ada yang tahu. Pada malam itu juga mereka membagi tugas. dengan tatapan tak percaya.. Yang jelas memang ada gerakan pesilat dari selatan memasuki ibu kota.” kata Sun Ciak Kun. . Berdasarkan laporan Bu Sian taisu. bahkan kini di dunia kang ouw.sudah.” ujar Bu Sian taisu.. Semua kejadian diceritakan dengan runtut oleh murid dan guru. maka mereka hanya memberi petunjuk-petunjuk teoritis saja. “Dapat dipastikan akan terjadi perebutan pedang yang sangat hebat. Sun Ciak Kun. kita tidak perlu ikut-ikutan. Perjalanan ke Siauw Lim cukup lancar dan aman. matanya masih menatap meja catur yang dibuat dengan menggoreskan kuku pada batu gua yang sangat keras.. Dua hari setelah mereka berdua tiba. sudah tahu dari tadi hampir keok. yang penting kalau memang ilmu cakar naga sudah muncul dari pimpinan mereka. dan bergerak perlahan. Dalam pertemuan yang diadakan di suatu malam mereka mendengarkan laporan masing-masing pihak dan berharap mendapat masukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi...

Tiga hari lamanya Sun Ciak Kun memberikan pengobatan dan perawatan pada pengemis lengan tunggal.” pikir Tiong Gi. Meskipun ingatannya belum bisa pulih. Aku dan muridku akan menunggu di sini sampai obat dari Hoa-san Siauw-jin datang. “Tapi apa alasan yang tepat?” Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran yang baik. Dan ingatlah di rimba persilatan ini banyak iblis berkepandaian tinggi. namun kita belum dapat mendamaikan Kun Lun dengan Siauw Lim. suhunya tidak ikut mengantar ke Siauw Lim. Bahkan setelah tiga hari dilakukan pengobatan. Setelah lebih dari dua minggu tinggal di Siauw Lim.kalau begitu dunia persilatan sedang menghadapi ancaman yang sangat hebat. taecu sudah lama meninggalkan Yung Ci suhu. Untuk menjelaskan duduk perkaranya dengan baik.. ia sudah bisa memilih pakaian. pahkan ketua Siauw Lim sendiri tidak tenang duduknya.Semuanya mendengarkan dengan penuh ketegangan. meskipun tugas yang kuberikan padamu sudah banyak yang terlaksana. tapi seperti petani. dan dua biksu dari generasi Kong. keadaan pengemis itu jauh lebih baik. kumis dan janggutnya dicukur. Dan tiba-tiba ia ingat tujuannya ketika melarikan diri. berbahaya sekali kalau kamu sendirian. taecu sudah kangen ke mereka. ke arah barat. “Ah. Kini bahkan aku sendiri yang memikul tugas itu. “Peta” ya demi sebuah peta ia rela meninggalkan bibi Ciu. sebenar-benarnya. Sun Ciak Kun.” “Jadi bagaimana baiknya?” tanya Bu Sian Taisu. Kini ia sudah tidak lagi berpenampilan seperti pengemis. “Aku sekarang sudah punya kitab kamus huruf kuno. “Begini saja. lagi pula aku masihbelum habis mengerti . “Muridku.. karena ada keperluan yang lain. Tiong Gi. Setelah agak baikan nanti aku akan membawa pengemis itu ke Kun Lun. ia masih belum bisa mengingat apa-apa. Aku curiga pengemis ini berasal dari Kun Lun Pay. ** Dua minggu kemudian kemudian datanglah Sim Houw membawa obat. Jawaban-jawabannya juga sudah mulai waras. Mendapat pikiran seperti itu kemudian ia berencana akan memisahkan diri dari rombongan ke Kun Lun. dan yang dipilih adalah model pakaian pendeta To. Di atas perahu ingatan Tiong Gi melayang-layang ke berbagai peristiwa yang sering dilalui di atas perahu. Sim Houw dan pengemis lengan tunggal ke Kun Lun. Apakah suhu berkenan kalau aku mencari mereka?” Sun Ciak Kun menatap muridnya lekat-lekat. Namun sejauh ini. “Suhu. Mereka melakukan perjalanan melalui sungai Huang Ho. kalau aku boleh usul. ia sulit sekali menyelami apa yang tersembunyi dalam diri anak ini. Rambutnya telah dirapikan. besok juga Bu Sian taisu berangkat ke Kun Lun Pay. Sehingga Tiong Gi memberanikan diri pamit ke suhunya. Hal ini makin menguatkan kecurigaan bahwa dia adalah tosu dari Kun Lun Pay. pasti sekarang bisa membacanya. dan ingin mengetahui keadaan mereka sekarang. namun pada hari ketiga ia sudah mulai tampak tenang dan bisa diajak bicara dengan baik. dan keesokan harinya berangkatlah rombongan Bu Sian taisu diiringi oleh dua orang suhengnya Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. Tepat tiga minggu tinggal di Siauw Lim.” Usul Sun Ciak Kun bisa diterima.

.kenapa manusia bertopeng tempo hari seperti memusuhimu. anak ini sudah mendapatkan ilmu-ilmu yang lihai..awas aku akan jitak kepalamu!” seru Sim Houw. betapa banyak musuh-musuhmu..” kata Sun Ciak Kun sedih. Tiong Gi menundukkan mukanya. tapi tidak ia ketahui kenapa demikian. “Oii Gi-te nanti kalau kamu sudah jadi taihiap (pendekar besar).. Tiong Gi hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.. maka hancurlah dunia persilatan. jangan lupakan aku yaa. Sorot mata itu seperti mengandung wibawa yang sukar untuk dibantah.” keluhnya dalam hati. Mendadak Sun Ciak Kun dilanda kekhawatiran kalau-kalau ia salah memilih murid.Tiong Gi. Dan ingatlah nasihatku nak.” ujar Sim Houw. Jika kau pergunakan kepandaianmu untuk kesesatan. “Suhu aku hanya ingin mengembalikan pedang itu kepada yang berhak! Aku tidak ingin pedang itu jatuh ke tangan orang-orang jahat yang tidak bertanggung jawab. Dan aku akan menjadi orang pertama yang akan memusuhimu! Pergilah. kemudian dengan suara perlahan ia mohon pamit.” “Hmmm. Perahu menepi ke selatan. mohon maaf. Sun Ciak Kun terkejut mendengar jawaban ini. “Celaka. anaku?” “Sun locianpwee. ada terbersit kekhawatiran di dalam hatiku. sungguh berat sekali penderitaanmu. ** Gua itu tidak banyak berubah bentuknya. “Yung Ci. mana takut sama segala macam manusia jahat seperti itu. Hanya saja semak belukar di . Jarak yang ditempuh sungguh cukup jauh. Tiba-tiba saja kakek tua yang begitu dihormati di rimba persilatan sebagai sesepuh kaum putih. Sorot matanya tiba-tiba mencorong dan berkilat-kilat. jika memang itu yang kau kehendaki.Yung Ci. dan dari sungai ini ia naek perahu untuk menyusuri tempat dulu ia mengahabiskan masa kecil. sudah bukan anak-anak lagi. Ia terus berlari melakukan perjalanan cepat. merasa menjadi orang tua yang bawel terhadap anaknya. tapi ucapan sudah terlancut meluncur dari mulutnya sudah tidak bisa dihapus lagi. kalau sampai salah arah bencana besar akan melanda rimba persilatan” pikir Sun Ciak Kun. “Begitukah Tiong Gi? Coba katakan kenapa engkau ingin meninggalkan kami?” “Aku ingin berebut pedang salju!” tiba-tiba saja terlontar ucapan itu dari mulut Tiong Gi. bahwa ucapannya sudah keliru. Ia sendiri terlambat menyadari apa yang barusan diucapkan. Ia kemudian bergerak cepat menuju ke selatan. “Untuk apa kau ingin memiliki pedang itu muridku?” Setelah bisa menguasai diri Tiong Gi sadar. Ia memang tahu bahwa muridnya membawa dasar watak yang sebagian gelap. ia melompat ke daratan. Sim Houw sendiri bergidik menatap mata Tiong Gi ketika mengucapkan kata-kata itu. tapi dia sekarang sudah dewasa.. sepertinya kata-kata itu tidak muncul dari otak tapi keluar begitu saja dari dasar hati. kepandaianmu saat ini sungguh kepandaian yang jarang dimiliki oleh pesilat manapun. Sun Ciak Kun sendiri tiba-tiba merasa tidak lagi mengenali muridnya.. bukan maksud boanpwee lancang mencampuri. namun dalam waktu satu minggu ia sudah bisa menemukan sungai Yang Ce.

lewat sungai maupun lewat darat. Semuanya dipenuhi kaum persilatan. Cu Hoa sudah tidak lagi tinggal di situ. Mereka mencoba menyelidiki lagi kemungkinan lukisan itu tidak kecebur di air. Sesampainya di gua ternyata keadaan di situ sunyi. yang dituju adalah Siauw Tong San. “Negeri salju? Apakah ini hanya kebetulan saja? Ada negeri salju. Tiong Gi kembali turun menyusuri sungai Yang Ce. Tiong Gi meraba-raba tempat dulu dia menyembunyikan lukisan. Setelah diikuti sampailah di depan sebuah gua tempat tinggal Cu Hoa Nionio. dan hanya karena menguasai medan dia bisa menyelamatkan diri.” Kemudian ketika membalik lukisan itu. “Sungguh mirip sekali. Demi melihat kembali lukisan itu. dan segera menyambut. tempat ini dengan Gongga. Tiong Gi melakukan perjalanan cepat. Setelah Tiong Gi meninggalkan gua itu.” Lukisan itu dibakar. dia terluka. tempat yang disinggung-singgung oleh Hiat Kiam Lomo saat bercanda dengan Sim Houw. ada pedang salju. Seminggu kemudian sampailah ia di kota Lu Ting. Di antaranya pembicaraan itu ada yang mengabarkan bahwa sudah hampir sebulan berputar-putar mencari tempat penyimpanan pedang namun masih belum juga dapat . Ia mendengarkan dengan baik seluruh pembicaraan orang-orang itu. Semuanya sedang membicarakan kabar hangat yang mereka terima. Tiong Gi membandingkan situasi di lukisan dengan tempat dia belajar di Gongga san. kaum kang ouw kembali lagi ke lembah tempat pertarungan mereka. Terjadilah keributan. Setelah memasuki goa. Demi mendengar tempatnya didatangi orang Cu Hoa terperanjat. diambilah lukisan itu. tapi jatuh ke semak-semak. Setelah meninggalkan gua. Akhirnya mereka menemukan bekas semak-semak yang tersibak bekas tapak kaki manusia. Di sebuah kedai yang cukup besar. terlihat dari dandanannya dan senjata yang dibawa. Terdapat suatu puisi yang berbunyi: Mendaki puncak Kongla Susuri bukit-bukit bersalju Akankah kujemput puncak itu Meskipun beribu gelar ada di pundak Negeri ini negeri salju Aku hidup dan mati di sini Di malam yang mengambang Diantara danau dan pohon siong Sinar perak akan menyelimuti semesta a1am. Tiong Gi mampir untuk makan siang. setelah Tiong Gi menggambar ulang di atas kulit yang kemudian dipakainya sebagai sabuk. Akhirnya bulat sudah keputusan Cu Hoa untuk menemui Hoan Bin Kwi Ong Tian Ce Tin. Kota ini merupakan kota kecil yang terletak di sebelah utara Gongga san. Tiong Gi duduk di sebuah sudut. kemudian disibak.depannya sudah sangat rimbun. Ia menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruangan. dan ternyata lukisan itu masih ada disana.

atau setidaknya menonton keramaian. Semua mata menatapnya dengan tatapan penuh curiga. karena kebanyakan kamar sudah dipenuhi para pesilat yang ingin memperebutkan pedang. Yach. Dinamakan demikian karena dilihat dari barat gunung ini berbentuk seperti anak kecil yang sedang tidur. namun sang ibu tidak pernah kembali karena sudah diterkam oleh harimau.terlambat. Di wajah semuanya terlihat gurat-gurat ketegangan. Pegunungan ini bersebelahan dengan gunung Gongga.. dan raut muka berdebar-debar.ditemukan. sebagian tidak dikenalinya. Ada tiga kelompok tenda yang cukup besar. Setelah makan malam.” Tiong Gi melangkah mantap melewati tenda-tenda itu menuju ke puncak. Tiong Gi mencari penginapan. Bab 21.sekarang semuanya jadi sulit!” Tiong Gi melangkah ke suatu tempat yang diduga dibawahnya tersimpan pedang.... meski pelan tapi sudah cukup membuat orang awam lebih memilih duduk mengitari tungku api. Selama empat hari Tiong Gi hanya berjalan-jalan berkeliling melihat keadaan. namun sejauh ini belum ada seorangpun berani bertindak. Ia mengamati di lereng timur timur pegunungan itu sudah ada puluhan tenda berdiri mengelilingi sebuah telaga yang airnya mengalir tenang. Setiap hari selalu ada saja yang mencoba-coba untuk menggali tanah. Ketika ia terus melangkah mendaki bukit itu. “Terlambat. Perebutan pedang salju Siauw Tong San adalah salah satu pegunungan yang masuk wilayah pegunungan salju besar. Sebagian wajah-wajah pengawal itu dikenali Tiong Gi sebagai wajah yang mirip dengan wajah Can Seng. Anak itu menunggu ibunya. siapa yang memulai keributan sebelum pedang itu ditemukan dia akan menderita kerugian besar. Mereka semua bercerita dengan suara perlahan-lahan. “Kenapa mereka menggali di lereng?” pikir Tiong Gi. Di puncak perbukitan Tiong Gi berhenti. Namun sampai sepenanakan nasi ia masih belum menemukan . Sebagian seperti tosu dari Kong Thong Pay. mata mencari-cari. Konon sebuah legenda menyebutkan bahwa di gunung itu pernah ada seorang anak kecil yang ditinggal ibunya untuk mencari makanan. Akhirnya ia mendapat sebuah kamar yang agak buruk dan terletak di belakang. satu dua orang mulai mengikutinya.. terutama di dekat telaga sudah ada belasan lubang-lubang besar bekas galian. “Kalau benar berada di sini. Ternyata agak sulit mendapatkan tempat kosong. karena mereka tahu. siapa pesilat yang tidak mengilar mendengar mitos pedang salju yang akan membuat siapa saja yang berhasil mendapatkannya akan menjadi jago pedang nomor satu? Angin gunung berhembus pelan-pelan. Anak itu menunggu terus sampai ia tertidur selamanya. Di sekitar tempat itu. dari berbagai pihak. pasti pedang itu tersimpat di puncak yang ditutup salju. murid dari perkumpulan Tok Nan-hai Pang. Namun di awal musim dingin seperti saat itu.

Tiong Gi menyingkirkan es disekitar logam yang ditemukan. Untunglah Tiong Gi tidak berniat mencelakakannya sehingga lukanya tidak parah. kemudian ia meminta diberi sebuah alat gali... namun makin lama makin banyak. Mendadak sekopnya membentur benda keras. Bongkahan demi bongkahan es dicongkel dari tempat itu. Mereka saling mengawasi satu dengan yang lain.. Dari rombongan Yu Liang Pay. Tampak kotak itu sudah berkarat saking tuanya. yang kepandaiannya tidak terlalu selisih jauh . “Lepaasskaann !!!” Hasilnya sedetik mereka semua dikejutkan oleh bentakan itu. pukulan menggelap yang dilancarkan ditangkis Tiong Gi dari bawah tanpa menoleh sedikitpun. Dan langsung saja ia menghambur lari ke bawah. Sungguh yang datang ke tempat itu adalah pesilat-pesilat nomor satu pada saat itu.. Ternyata logam yang didapat berupa kotak tang terbuat dari besi. Tiong Gi kemudian menggali tempat itu. Ia kemudian memutar-mutar kotak besinya. kakinya menghentak-hentak.tempat itu. Hanya tulang tangannya saja yang patah-patah. rombongan dari kota raja yang diwakili dua pesilat khitan dan biksu kurus yang tetap bercaping... namun seperti dikomando masingmasing pihak coba menahan diri. Hoan Bin Kwi Ong.bruaaakk!” Seorang dari Tok Nan-hai Pang jatuh berdebum. “Traang!” Tiba-tiba dari belakang seseorang melakukan pukulan menggelap.. Orang-orang lantas berkerumun di sekitarnya. sambil membentak dengan suara menggelegar disertai tenaga khikang Sai cu hokang. Bahkan ketika es yang digali sudah sedalam tubuh pemuda itu. kemudian dari Kong Thong Pay. Kemudian dari pihak Hek in Pang tampak Cu Hoa Nionio. Namun yang dihadapinya kini adalah pesilat-pesilat tingkat satu. Siong Chen dan Siong Lee. Mula-mula hanya sedikit dan berwajah kroco. Tiong Gi masih sempat melirik mereka yang datang. Sambil menggali. tampak Siong Hok Cu..deesss... dan beberapa mengomel panjang pendek.. Dengan kakinya. iapun tersenyum. Dicabutnya sebuah pohon di dekat situ. Namun yang sedetik itu cukup bagi Tiong Gi untuk menyerbu ke salah satu penyerang yang lemah untuk membuka jalan. orang-orang yang mengikuti sudah mulai bosan. Ia merasakan tempat itu jauh lebih dingin dari yang lainnya..Ayaaa. Tiong Gi jongkok mengambil kotak itu dan langsung dibawanya keluar.. Ia terus melangkah. “Kenapa rombongan dari bambu putih belum terlihat?” pikirnya.. Tiba-tiba di suatu bagian datar ia berhenti. Meskipun terdapat perasaan permusuhan atau dendam yang tak terselesaikan satu dengan yang lain.. Mereka menahan diri satu tombak dari lubang yang digali Tiong Gi. Kong Thong Pat lo sudah lengkap berdelapan.. “Wuusss. tokoh-tokoh pentingnya juga ikut berdatangan.. Pek Houw. Namun baru saja tubuhnya hinggap di atas.. puluhan senjata sudah menodongnya..

Meskipun ia tidak berhenti dari lari. Terpaksa ia memapaki dengan kotak besi ditangannya. “Anak itu. Mendapatkan serangan dasyat seperti itu dari tiga orang yang sangat kosen membuat Tiong Gi kerepotan. mendadak ada pukulan menyambar ke arah pundak kirinya.. seketika itu tanpa malu-malu semua tangan berusaha meraih dan menangkap pedang. Tiong Gi berlari ke arah utara... karena semak yang lainnya meluruhkan daun di saat musim dingin tiba..anak itu mirip sekali dengan Tiong Gi.. Seruan demi seruan terdengar saling bersahutan. “Sreeettt. dan terbuka.. sehingga ia terpaksa harus mengibaskan tangan ke belakang. Seorang kakek kate yang hanya bercawat tiba-tiba melonjak-lonjak karena kotak di tangan Tiong Gi lepas. Tiba-tiba seperti dikomando tiga orang sudah melancarkan seranganserangan hebat ke arah Tiong Gi.. dia. Sepeminuman teh kemudian ia telah sampai ke lembah dan secepat kilat lari ke arah padang. “Bocah itu telah membuat lumpuh Hiat Kiam Lomo!” seru biksu kerempeng di dekat dua pesilat Khitan. Saat itu padang itu hanya ditumbuhi rumput.” .. Can Kong (suheng pertama dari Can Seng). “Anak muda.dengan dirinya. Ternyata pukulan itu bersifat memutar untuk membetot senjata lawan. kau takkan bisa membawa keluar pedang itu. Maka iapun kemudian berhenti.” desis Cu Hoa. Dari kotak itu keluar sebuah pedang lengkap dengan sarungnya. “Ah benar. karena ia tidak mungkin lari terus-terusan dibayang-bayangi oleh semua orang. Berbagai senjata rahasia langsung meluncur ke arahnya. Bak anjing berebut tulah. Setelah tiba di padang itu timbul pikiran untuk menghadapi saja mereka. “Dia adalah bocah yang menyerbu An King dan membunuh Can susiok!” seru seorang anak buah Tok Nan-hai Pang.adalah murid Yung Ci Tianglo!” seru Sim Beng Tosu. Empat tangan berhasil memegang sarung pedang secara hampir bersamaan. Mereka adalah Hoan Bin Kwi Ong. Dialah yang telah melancarkan pukulan jarak jauh ke arah Tiong Gi. namun ketika ia hendak menangkis sambaran tongkat Sim Beng Tosu. hayo serahkan kepada kami!” kata Siong Hok Cu dengan muka mengeras. Tapi bertapa kagetnya mereka karena pada bagian gagangnya telah terlebih dahulu di pegang oleh Tiong Gi. namun gerakannya menjadi terhambat. Semua mata kini memandang Tiong Gi dengan tatapan liar penuh kobaran api amarah. Golok Can Kong dan pukulan Hoan Bin Kwi Ong bisa di tangkisnya. Pesilat-pesilat tingkat satuyang sudah menyusulnya kemudian mengepungnya. dan Sim Beng Tosu.

. namun hanya sekejab saja air itu sudah berubah menjadi kristal-kristal es. Ia cukup terperanjat mendengar mereka membicarakan soal pembunuhan orang tua bocah yang wajahny mirip dengan Tiong San. namun semua orang bisa mendengar. “Kau telah menculikku. bersemu malu. kalau kau bisa tunjukkan aku akan serahkan pedang ini padamu!” Meski mereka berdua berbicara tidak terlalu keras. aku bibi Ciu. lagi pula bocah ingusan seperti Tiong Gi mana mungkin punya . Namun ia tidak takut.” Tiong Gi menatap lekat-lekat wanita yang kini sudah beranjat tua itu. kau telah merusak hidupku!” “Tiong Gi.pembunuh orang tuaku ada di sini. siapa dia.. tapi berjanjilah kau sudi memberikan pedang itu untukku!” “Apa.. semua memandang takjub. Pembunuh orang tuamu ada di sini kau malah tidak sudi mendengarkan nama orang tuamu. tiba-tiba pedang itu seperti mengeluarkan air. Ia merasa jijik pada wanita yang ada di hadapannya. “Tiong Gi.. tunjukkan siapa dia!” “Berjanjilah untuk memberikan pedangmu!” “Aku tidak butuh pedang ini.ini aku nak. Tapi tiba-tiba wajahnya mengeras. akulah yang dulu merawatmu di gua di luar desa Kee Cung.. Pedang itu diselimuti sinar berwarna kebiru-biruan.. huh dasar kau anak tidak berbakti. Ingatannya kembali menerawang ke masa lalu..Semua mata memandang silau oleh sinar pedang yang ada di tangan Tiong Gi. dulu aku pernah berjanji memberi tahu nama orang tuamu. Mendadak Cu Hoa maju mendekat sambil merunduk. “Swat kong kiam!” hampir serentak bak dikomando semua berteriak tertahan.. termasuk Siong Chen.” “Apa...benarkah engkau Tiong Gi. Semua orang yang tadinya berada di dekat Tiong Gi pelahan-lahan mundur ke belakang. “Apakah kau tidak ingin mengetahui siapa orang tuamu sesungguhnya. kini biarlah aku menebus semua kesalahanku dengan melunasi janjiku.memberikan pedang ini padamu? Huh.bibimu!” “Siapa kau?” “Lupakan kau kepadaku.. Kini jarak mereka dengan Tiong Gi ada sekitar tiga tombak.. karena merasa diri unggul.. aku tak sudi!” seri Tiong Gi. nak.

. selama masih ada aku puterama. “Benarkah. sambil ketawa-ketawa. Betapa ringannya orang membicarakan telah meracuni orang lain. namanya Siong Chen!” teriak Cu Hoa sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke arah Siong Chen.. tidak melarikan diri. benarkah ayahku bernama Kwan Tiong San?” tanya Tiong Gi dengan suara tergetar..... Ia langsung melompat ke depan Tiong Gi. Orang-orang tidak segera memperebutkan pedang karena Cu Hoa tetap berdiri mematung. “Bocah ingusan.. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat.ha. tapi perempuan jalang itulah yang memasukkan racunnya.kau telah berjanji untuk menyerahkan pedang itu padaku kalau aku memberi tahumu pembunuh orang tuamu. Kemudian sambil membentak ia menantang Siong Chen untuk bertarung. “Tiong Gi. apa kamu hendak menyangkalnya Cu Hoa!” balas Siong Chen sambil balik menunjuk Cu Hoa... pikirnya. “Ha.memang benar aku yang menghidangkan racun kepada Tiong San. Api kemarahan telah menggelegak di dadanya. . tapi dengan menguatkan hati ia memaksa untuk tertawa.. Begitu pedang sudah diraih Cu Hoa. hayo maju hadapilah aku secara jantan! Atau kau bersedia meminta ampun dan mengutungi kedua tanganmu!” bentak Tiong Gi. Hoan Bin Kwi Ong dan Pek Houw beserta orang-orang Hek in Pang segera melidunginya.. pasti mereka berlebih-lebihan. Siong Lee yang dari tadi sudah merasa iri dan benci pada pemuda itu langsung berkobar rasa marahnya.kelihaian seperti yang digembar-gemborkan orang.ha. Sedangkan aku. akulah lawanmu!” bentaknya sambil menusukkan pedangnya.. “Siong Chen. Tatapan matanya berkilatkilat mengerikan. Tiong Gi bak disengat kalajengking langsung melompat ke arah Siong Chen.benarkah kau yang membunuh ayahku. Dengan tatapan bengis ia melempar pedang ke arah Cu Hoa. beraninya kau menantang ayahku pendekar Yu Liang Pay. Mereka ingin menyaksikan pertandingan antara Siong Chen dengan pemuda yang akhir-akhir ini menggemparkan rimba persilatan meskipun jarang yang tahu namanya.. “Itu dia! Dialah pembunuh ayahmu Kwan Tiong San. dan dia telah mengakui telah meracuni ayahmu. Siong Chen sebenarnya bergidik melihat tatapan mata seperti itu. Hayoo serahkan pedang itu!” Tiong Gi menatap kedua orang yang saling tuduh sebagai pembunuh ayahnya dengan sorot mata nanar.aku menyangkal tuduhannya.

. Adapun Siong Chen dan Siong Hok Cu terlempar ke belakang lima tombak. seperti saat ia menghadapi Hiat Kiam Lomo. Apalagi Tiong Gi sudah mengalami tingkat kemarahan yang tidak tertahankan lagi. ketika tangan kanannya hendak mencengkeram... Kemampuan Siong Lee memang masih jauh dari Dan dengan sekali lompat ia telah tiba di depan Siong Chen. bagaikan hujan. Dua jagoan Yu Liang Pay mengeroyok Tiong Gi. Siong Lee mencoba untuk menggeser tubuhnya perlahan ke arah ayahnya. Namun yang mereka hadapi saat ini adalah Tiong Gi. dari samping ia menyentil pedang di tangan Siong Lee.. dari samping kanan meluncur tubuh Cu Hoa dan dengan . yang terdiam berusaha untuk bisa bersamadi. secepat kilat ia bersiap memainkan jurus Swat sian kuan men (dewa salju membuka gerbang). Dua pesialat Yu Liang Pay yang dihadapi Tiong Gi bukanlah pesilat kacangan. langsung menghantamkan pukulan tangan kanannya. Tiong Gi kemudian menghantamkan tangannya ke dada Siong Lee secepat kilat sehingga pemuda itu terlempar tiga tombak.. Tiong Gi menangkis pukulan tangan ini dengan tangan kirinya. Siong Chen yang terkejut melihat kemampuan pemuda ini.. Serangan pertama gagal langsung saja Siong Lee melanjutkan serangan kedua. Karena gusar... Luka yang lebih serius dibandingkan dulu dengan Hiat Kiam Lomo. masih mampu mengendalikan arah tubuhnya sehingga ia dapat jatuh dengan bersalto di tanah.. Beruntung Siong Hok Cu. posisi kedua lawan Tiong Gi makin terlihat terdesak. Tubuhnya langsung berpoksai tiga kali. Dua puluh jurus sudah berlalu.. Siong Chen sudah tidak mampu lagi mengendalikan diri. Pada suatu kesempatan dengan sepenuh tenaga ia ingin mengakhiri pertarungan secepatnya. sehingga kepandaiannya tidak diragukan lagi. “Hiaattt. Dari mulutnya menetes darah. pemuda didikan Yung Ci Tianglo dan Sun Ciak Kun serta telah digembleng beberapa hari di Siauw Lim untuk mematangkan ilmu silatnya.. karena lawan tidak ada tanda-tanda menyerangnya. Maka iapun melompat ke belakang dua tombak untuk mengambil ancang-ancang. Pukulan demi pukulan sambar menyambar.blaaaarrrrrr. ia langsung memuntahkan darah segar.. namun ketiga turun ia seperti masih terkena imbas benturan sehingga terpelanting. sehingga tubuhnya luput dari serangan.wusss. Pertarungan ini sangat seru luar biasa. ia jatuh terhempas di dekat puteranya. Namun keburu ditangkis oleh Siong Ho Cu. Mendadak. yang merupakan jurus paling hebat dari silat pukulan badai angin salju yang telah dipelajari dengan penuh keyakinan. Meskipun masih hidup namun luka dalam tubuhnya sangat parah. Jarak ia dengan Siong Lee ada sekitar satu tombak.. mereka berkedudukan tinggi di Yu Liang Pay..Tiong Gi menggeser kakinya. tanda bahwa ia telah terluka di bagian dalam tubuhnya.. Jurus ini kemudian dikombinasikan dengan ilmu silat Kiu Yang Sin Ciang.!!! Tiong Gi terlontar tiga tombak ke belakang oleh tangkisan kedua pesilat dari Yu Liang Pay ini.. Pertarungan kini dilakukan dengan keroyokan.

“Crooot. Cu Hoa seakan tidak menghiraukan. Namun perebutan pedang belum berakhir sampai di situ.. karena sudah keburu membeku oleh hawa dingin pedang. bahkan ia telah menyerahkan tubuhnya dengan suka rela. dengan berseru penuh kegembiraan ia mengacungacungkan pedang dan berlari ke utara.. barulah ia menjerit keras. Matahari yang sudah meredup itupun sembunyi di balik awan. Hamparan savana yang belasan tahun lalu pernah menjadi saksi pembunuhan pendekar yang namanya harum di barat oleh . ketika menyadari kedua tangannya telah buntung. Tersadar bahwa ia diserang. kembali senyap. seperti tak mau melihat kekejaman umat manusia yang dianggap sebagai makhluk paling beradap di jagad raya. dan mereka sepakat untuk membuat saingan Siong Chen.. Dulu ia pernah mencintai lelaki itu. maka Cu Hoa juga akhirnya mengamuk menusuk membabi buta. Cu Hoa saat itu tidak bisa menguasai emosinya. bagaikan lolongan anjing. mereka menyerbu kearahnya. Segera sesosok tubuh berlari kearah kutungan itu. menukar cawan yang dihidangkan sehingga bukan isterinya yang meninggal tetapi Tiong San yang jadi korban.aaauuuuuggghhhh!” Tiga kali tusukan pedang salju memutuskan nyawa Siong Chen. Langit senja yang berlumuran warna kemerahan awan lembayung seakan muak melihat keangkaraan manusia yang demikian mudah melampiaskan nafsu membunuhnya. Siapa kira Siong Chen yang merasa dengki ke Tiong San. Sudah dua minggu lebih ia berada di situ melihat Siong Chen tanpa bisa membuat perhitungan atas dendam lamanya. Lima anak murid Yu Liang Pay. ayah Tiong Gi menderita dengan cara meracuni istrinya.. Tidak ada daras yang mengalir dari luka. tidak tinggal diam..cepat menusukkan pedangnya beberapa kali dengan penuh dendam. Untung saja kakek kate Pek Houw segera membantunya dengan mengirimkan berbagai pukulan maut. roboh tewas bersimbah darah.. Karena dikuasai oleh nafsu amarah yang luar biasa.. Bahkan ketika tangan kanannya juga ditebas. Padang rumput.. dan menyambar pedang. Hanya jeritan panjang yang lirih yang keluar dari mulutnya. ia masih tidak percaya. Kini pedang itu ada di tangan Sim Beng Tosu karena posisinya lebih dekat dengan Cu Hoa.. Kutungan tangan Cu Hoa masih menggenggam pedang salju. Saking asiknya terhanyut dalam suasana membalas kesumat. Siong Chenpun berjanji untuk menikahinya. menebaskan pedangnya ke tangan kirinya ia tidak sadar.. karena ia lebih di sayang oleh Kian Bu.. Matahari sudah condong ke barat. ia terus menusuk dan membacokkan pedang salju dengan membabi buta.croot. yang dikenal dengan padang bunga merah.croot. Pihak Hek in Pang dan Tok Nan-hai Pang terus mengejar. Namun di sisi lain. yaitu Tiong San. karena pada saat akhir musim semi padang ini akan berwarna merah bunga botan. Cu Hoa melupakan semua yang ada diluar dirinya. sambil berposisi masih terduduk. Tiga murid Yu Liang Pay. atau padang bunga botan.. karena berkonsentrasi pada penyerangan ia melupakan pertahanann sehingga ketika Siong Lee.

Tiba-tiba terdengan suara gemeresek langkah-langkah kaki menyibak rerumputan.pamaannn.. Pedang yang dicari sudah tidak ada lagi. seakan hukum karma telah mengejawantah untuk memutuskan keadilan bagi semesta. digandeng oleh seorang pemuda tampan. melainkan suara tangisan tua dari seorang kakekkakek. kini menjadi saksi kematian salah satu tokoh dari Yu Liang Pay.. Kakek yang rambutnya telah memutih dikuncir seperti pendeta To.ohhh huu huuu huuu. ia yang sadar lebih dulu kemudian malah menarik perhatian tubuh tua yang yang juga bertangan buntung itu.. “Paman. Sekonyong-konyong muncul sosok tubuh renta yang langsung meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah padang itu. Bhok Kian tosu. Tiong Gi dan Siong Hok Cu duduk bersila dengan mata rapat. Hanya suara jangkrik ditingkahi suara burung dari kejauhan yang masih mampu menghadirkan melodi-melodi kehidupan. Dua tosu yang lebih muda ikutan bersimpuh sambil merangkul kakek itu. beberapa kali ia menarik nafas panjang.. Seorang tosu yang dua tiga tahun lebih tua berdiri tiga tombak dibelakang mereka.. bagaikan kejadian kemaren sore saja. sedangkan Siong Lee dan Cu Hoa rebah tak sadarkan diri.orang-orang berhati iblis dari Yu Liang Pay. Kepalanya beberapa kali menggeleng-geleng. Maka beruntunglah Cu Hoa Nionio karena saat itu juga diangkat sebagai murid terakhir nenek keriput yang bukan lain adalah Nenek Kelabang Emas. tibatiba terdengar suara tangisan. Matanya jelalatan mencaricari.. Makin dekat langkah itu makin cepat.. Dan setelah berjarak seratus meteran dari Tiong Gi. dan langsung saja nenek dan Cu Hoa ikiut dibawa oleh rombongan ini meninggalkan padang bunga. Ketika ia mendengar suara keluahan wanita yang kehilangan kedua tangannya. Hampir saja rasa dongkolnya hendak dilampiaskan ke orang-orang yang masih bernafas. memandang peristiwa itu dengan tatapan duka.. Di sampingnya berdiri seorang kakek renta yang tubuhnya agak bongkok.” Suara tangisan itu sungguh menyedihkan. namun kenangan yang ditorehkan oleh kejadian dimasa silam itu seperti melekat kuat dalam ingatan kakek yang berlengan satu itu. bagaikan ratapan anak kecil ditinggal mati orang tuanya. . dengan posisi menyembah. nama kakek itu. Batu itu yang sudah lapuk dimakan umur. duduk bersimpuh di samping batu berbentuk segilima tak beraturan.. Sementara itu lima biksu berusia lebih dari enam puluh tahunan berdiri menundukkan kepala.. kedua tapak tangannya bertemu di depan dada.. Kakek yang kini berumur enam puluh lima tahunan itu mengguguk seperti anak kecil. Namun suara tangisan itu bukanlah suara tangisan anak-anak. namun sudah terlambat. Padang bunga kembali sepi untuk beberapa saat. Ternyata Cu Hoa belum mati. Namun sebelum matahari kembali ke peraduannya. Rombongan barongsai kelabang kemudian datang. nama yang telah hilang dari memorinya karena dirampas oleh racun perenggut ingatan buatan Vicitra Rahwananda.

” bujuk Sim Houw. “Terima kasih suhu. aku mau liat dulu ada kejadian lain di sekeliling kita!” jawab Sun Ciak Kun. Tiong Gi agak silau. Ia ngeloyor begitu saja ke arah bekas pertarungan. “Tidak tahu. Tiong Gi kembali memasuki tenda. syukurlah..kau sudah sadar. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan apa yang dilihat. kamukah itu?” “Memangnya ada Sim Houw palsu?” “Mana dia? Mana bibi Ciu.. Sim Houw. darah berceceran dimana-mana. “Houw-ko. namun kadang sabar. dengan peneragan beberapa lilin. tak nyambung. Petang telah berubah gelap. “Gi-te. Tiong Gi merasa lebih baikan. Ki Liang Tosu. keadaan di tenda itu remang-remang. lagian percuma kau lari-lari kesana kemari. “Gi-te apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Sim Houw. keadaanmu masih belum pulih. Mereka kemudian duduk berkeliling.. berseru perlahan sambil menggebutkan hudtim secara perlahan. seperti orang kampung yang tak terdidik. Dengan menunduk. mana orang-orang dari Yu Liang Pay?” Tiong Gi berlarian ke sana kemari namun ia hanya menemukan gundukan tanah basah. “Gi-te. dan lima biksu Siauw Lim Bhok Kian tosu dan dua orang tosu muda duduk memisah di pojokan.. ia kemudian meletakkan telapak tangannya di punggung Tiong Gi. masuklah dulu. Bukankah nafsu makin dituruti makin merajalela menuntut hal yang lebih. Dari kejauhan terlihat ada tiga sosok tubuh diam duduk mematung seperti arca. ugal-ugalan tak tahu sopan. Hatinya mencelos melihat salah satu orang yang bersamadi itu adalah Tiong Gi. Kenapa manusia selalu ingin memperturutkan hawa nafsunya. Ketika Tiong Gi tersadar ia telah berada di suatu tenda. “Apa yang telah dilakukan anak itu?” pikirnya. Watak kakek tua ini memang kadang aneh. kita bicara saja di dalam tenda.“Siancay. kau masih terluka. Di dalam tenda sudah berkumpul Sun Ciak Kun.. halus dan lemah lembut seperti seorang kuncu. dan sulit mengenali pemuda di depannya.. kami mengkhawatirkanmu!” ujar Sim Houw.siancay. beberapa mayat berserakan. Kapankah manusia merasa puas? Kenapa bisa begitu Sun taihiap?” tibatiba seorang kakek yang berbaju To seperti Bhok Kian tosu.hawa nafsu selalu melahirkan kerusakan semesta. Setelah sepenanakan nasi. Sun Ciak Kun kemudian meminta Tiong Gi untuk membuka baju. kemudian ia berhenti menyalurkan hawa sakti ke tubuh muridnya. Karena melawan arah cahaya lilin. taecu selalu saja merepotkan suhu!” .

“Sudah.. Bukan tidak mungkin dalang peristiwa ini bermula dari sana.sudah. “Hmmm.. juga kejadian-kejadian yang dialami oleh Tiong taihiap dan Sun susiok. “Lantas apa kaitannya sang tokoh dengan Yu Liang Pay? Kenapa dua orang dari Yu Liang itu begitu mudah menghilang.” Timpal Tiong Gi. kelak siauw-te akan mencarinya. dan kini ilmu cakar naga juga dikuasai oleh musuh. dan adakah tokoh kaypang yang sedemikian sulit diukur sampai dimana tingkat kelihaian. ” “O ya. lebih jauh dari kabar. siauw-te punya sahabat di sana. dan orang tuanya. ini memang sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling tolong menolong. siapa dalang di balik ini semua? Menurut keyakinan lohu... “Karena peristiwa ini bermula di sana. atau Ki Liang toyu dapat memberi masukan?” “Kami dari Kun Lun. Hanya saja. lohu menemui Pek Mau Lokay untuk meminta penjelasan mengenai kemungkinan ini!” . Sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi!” Selanjutnya secara singkat Tiong Gi menceritakan kejadian yang dia alami. mungkin Sun taihiap punya wawasan yang bisa dibagi kepada kita semua?” tanya Ki Lian tosu. dugaan kami sepertinya mendekati kebenaran. siapakah dalang peristiwa itu masih kabur. mungkin Sun susiok. sungguh perbuatan yang kejih!” ujar Bu Sian taisu. Tentu saja ia tidak menceritakan kejadian di gua. Dan musuh sengaja memanfaatkan Bhok Kian tosu untuk mengadu domba Kun Lun dan Siauw Lim. dari rangkaian peristiwa yang ada. kini kita mendapat titik terang dalang dibalik peristiwa ini. “Apakah losuhu mengenal biksu itu?” tanya Tiong Gi. “Dari bentuk tubuhnya kukira orang yang sama!” jawab Ciak Kun. “Eh.” jawab Ciak Kun. cuwi locianpwe. Setelah diam sejenak Ciak Kun melanjutkan lagi: “Biarlah. yang dulu melaporkan kejadian itu ke Siauw Lim. Biarlah nanti siauw-te coba telusuri lagi dengannya... hanya saja siapakah tokoh itu. kenapa demikian taihiap?” kali ini yang bertanya adalah Bu Kak taisu. meskipun di kaypang cabang. bahwa ada pihak dalam yang membantu mencuri kitab Liong Jiauw Ciu. apakah mungkin sosok yang barusan kita lihat orang yang berbeda?” tanya Bu Kak taisu.jadi jelaskan kini. “Hampir dapat pinceng pastikan dia adalah Kong Meng Hwesio.. namanya Sin Hwat. Masih gelap bagi kita. “Lohu sendiri masih penasaran. bagi kami. salah satu dari Wu Han Cit Seng. titik terangnya ada di kaypang sabuk hitam.

“Kalau ngo-wi suhu.” “Kami sendiri sepertinya akan ke Yu Liang Pay. ternyata di antara kita memang harus ada persatuan dan ada komunikasi satu dengan yang lainnya. kurasa sebaiknya kita ke Chon King terlebih dahulu.” “Kalau begitu. Tiong Gi merasakan hawa yang dingin menusuk tulang. . Dua hari berikutnya setelah keadaan Tiong Gi sudah lebih segar berangkatlah mereka ke timur. “Hanya dengan kekuatan berempat?” tanya Tiong Gi. “Sebenarnya. “Omitohud…. sehingga ia tega menusuk-tusuk tubuh Siong Chen yang sekarang dengan membabi buta? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menggantung. Ia tidak habis mengerti kenapa sesama saudara seperguruan bisa saling bunuh dengan kejamnya. Angin pegunungan berhembus perlahan. Namun ia masih sulit menebak apa kira-kira penyebab ayahnya dibunuh. Dari keduanya ia mendapat banyak keterangan yang sangat berharga. Apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa dia memanggil bibi Ciu dengan panggilan Cu Hoa? Mana yang benar? Kenapa pula bibi Ciu begitu benci kepada Siong Chen. Kenapa ayahnya mesti diracun? Apa kesalahan ayahnya? Dendam apa yang menyebabkan Siong Chen tega meracuni ayahnya. hendak melanjutkan perjalanan kemanakah?” tanya Ki Liang. Sun Ciak Kun sendiri tidak begitu paham. Tentang keluarga pimpinan Yu Liang Pay. tentang peristiwa huru-hara yang kemudian menyebabkan kematian ayahnya. Dan mengapa seakan-akan dia dan bibi Ciu saling melempar tuduhan. Saat istirahat di perjalanan Tiong Gi memanfaatkan untuk banyak bertanya pada gurunya tentang Yu Liang Pay. Mereka melakukan perjalanan cepat dengan membeli kuda dan menyewa kereta piauw kiok (perusahaan pengantaran barang). kita selesaikan dulu masalah yang paling dekat. Karena itu sebaiknya kalau sekarang kita bergerak bersama-sama. namun perasaannya terhadap orang-orang partai yang akan dikunjunginya jauh lebih dingin daripada angin yang menerpanya.” Malam sudah semakin tua ketika akhirnya pertemuan diakhiri. Sebesar apapun Siauw Lim. menuntut penjelasan dari mereka!” ujar Ki Liang tosu. kami sudah berjanji untuk bergabung dengan Sam-lojin. suatu ketika kami pasti membutuhkan bantuan suadara-saudara di luar Siauw Lim. nanti dari sana kita bisa melalui jalan darat. sehingga ia menyarankan agar Tiong Gi langsung saja bertanya pada Bu Sian taisu atau Ki Liang tosu yang banyak pengalaman berkecimpung di sungai telaga akhir-akhir ini. Yang tak bisa dijawabnya sendiri.peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Siauw Lim. baru kemudian kami mohon kesediaan cuwi untuk membantu Siauw Lim menangkap biksu palsu Kong Meng. sepertinya kawan-kawan dari bambu putih juga ikut membantu..

Banyak hal yang dibicarakan oleh Sun Ciak Kun dengan Pek Mau Lokay. yang hanya disampaikan empat mata. “Ayahku sudah meninggal beberapa tahun silam. Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay adalah dua sahabat lama. untuk apa?” . mendapat kabar yang mengagetkan mengenai pencurian kitab ilmu merak sakti.Angin berhembus lagi lebih kencang. Kecurigaannya kini makin tumbuh berkembang. nikmati saja hidup. Kalau pengemis anggota. Apakah kau tidak punya kecurigaan terhadap anak muridmu yang di sana?” “Lohu sendiri tidak begitu yakin. aku curiga asal muasal masalah ini dari cabang Yi Chang. aku tidak tahu pasti. “Lokay. meskipun persahabatan mereka lebih banyak karena pengaruh persahabatan suheng-suheng mereka. Memang saat itu ayahku sudah sakit parah. kita masih muda Gi-te. Pimpinan pengemis cabang Yi Chang dulu ada empat. toch itu tidak akan mengubah nasib mereka. Obat yang kudapatkan dari Kong-sim hosiang. sepotong ranting menegenai kakinya. Ciak Kun. dan aku pernah mungujinya.” “Ah. Tiba-tiba ia ingin bercakap-cakap dengan Sim Houw.” “Houw-ko. Namun sedikit banyak mereka pernah beberapa kali terjun bersama menghadapi musuh-musuh di rimba persilatan. kenapa duduk sendirian di sini. Bukan hanya antara Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay. Orang-orang sudah bersiap melanjutkan perjalanan. Tapi kalau memang benar. ayolah kita berangkat!” Di markas penemis sabuk hitam. Pundaknya tiba-tiba ditepuk orang.” “Eh Gi-te kenapa kau tanya hal ini?” “Aku tidak tahu. Memang perkumpulan kami tidak melarang anggota mempelajari ilmu dari golongan lain. Keempat pimpinan cabang kecil sekali terlibat di sana. Seorang pemuda yang dikenalnya. Dan mereka semua sama-sama kagum akan perkembangan ilmu yang telah dicapai masing-masing. hanya saja aku merasa aneh dengan peristiwa yang menimpa orang tuakau. mereka mampir dan tinggal selama sehari semalam. mereka semua pernah berguru padaku. hanya mampu bertahan beberapa bulan. namun sulit sekali rasanya mencurigai mereka. apakah kau masih punya orang tua?” tanya Tiong Gi sambil bangkit dan berjalan perlahan menuju kuda yang ditambatkan. sudahlah tidak perlu banyak kau pikirkan. “Gi-te. tetapi sejauh ini aku dapat mengenali asal-usul mereka. Dari keterangan. tetapi juga dengan Ki Liang dan Bu Sian. Bahkan mereka memanfaatkan momen pertemuan dengan menguji kemajuan ilmu masing-masing.

Shu Chien Ce. Beberapa saat kemudian rombongan dari Bambu putih juga datang. lokay.” kata Chien Ce. tapi ditelannya ucapannya. Tiba-tiba muka Tiong Gi terasa panas. Mereka melangkah dengan langkah ringan . hanya saja kini wajah itu makin cantik. memakai rompi warna cokelat muda. sambil merangkapkan kedua tangannya. dua Tiauw Kwi. beberapa orang dari negeri salju. rombongan dari gunung salju besar datang. bernama Tik Coan Kok. Setelah melepas rindu. dan orang melihat pemuda itu tersipu-sipu.“Keyakinan saja tak cukup. Tiong Gi segera mengenali kedua Tiauw Kwi dan langsung menghambur kearahnya. Kemungkinan paling besar adalah murid utamaku membocokan rahasia ini. maaf. Wajah ayu yang tidak asing lagi bagi Tiong Gi. Rombongan ini dipimpin oleh lelaki berumur lima puluh tahunan. jadi seperti perjalanan reunian saja. Ia seakan-akan menemukan kembali keluarganya.” Setelah puas beramah-tamah. Keesokan harinya mereka berpamitan. Pek Mau Lokay berkenan memberi bala bantuan sebesar sepuluh pengemis untuk mengikuti mereka ke Yu Liang Pay. Apakah mereka juga tahu kamu menyimpan kitab ilmu merak sakti?” “Tidak! Aku tidak pernah memberitahukan ke mereka. memeluk kedua orang itu dengan rasa haru. Semua sedang memperhatikannya. Dari keempatnya hanya yang tertua yang berguru lama padaku. “Gi-te!” “Siang cici!” Tiong tanpa sadar kemudian memegang tangan Liu Siang. dan mereka berempat akhirnya membentuk kelompok sendiri. perkenalkan cayhe Chien Ce. Sim Houw-pun akhirnya ikut nimbrung. Tapi sampai saat ini aku masih percaya padanya” “Hmmm sungguh aneh! Tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi. sedang yang tiga lainnya tergolong anggota baru. Tepat pada hari dan tempat yang dijanjikan di sebelah barat Sungai Wu. “Ah. saling ngobrol dan bercanda dengan asiknya. siapakah?” “Tiong hiante. murid Kun Lun Sam-lojin. dikuti Chien Ce. Di samping kanan dan kiri berdiri dua orang tua berwajah khas. Ji-lojin memimpin sendiri rombongan. namun dengan halus Liu Siang melepaskannya. sarang musuh. ia menatap seorang gadis yang tersenyum padanya. kau sekarang sudah tambah dewasa cici!” Hampir saja Tiong Gi mengatakan tambah cantik. saling bertukar wawasan mengenai ilmuilmu yang dilatih masing-masing. Liu Siang. diliriknya para tetua termasuk suhunya ada di situ. Perjalanan menuju ke Yu Liang Pay. Tiong Gi membalas dengan bersoja. Rambutnya yang hitam diikat dengan pita. “Dan sicu ini.

sesuai tuntutan mereka. Angin musim dingin yang berhembus juga tak pernah dirasakan. tengkorak serta tulang belulang yang ada di bukit di turunkan untuk dikremasi. ketika terbuka pertahanan Tung Nio. memang ini Kian Bu. kaukah itu?” sapa Ki Liang tosu. Namun mereka mempercayai Kian Bu.” “Eh. roboh terluka. Ia telah didaulat menjadi juru bicara rombongan. menyampaikan tuntutan agar. Vicitra Rahwananda diserahkan kepada mereka. membayar orang india itu. Kelihaian Vicitra Rahwananda sebenarnya dibawah Tung Nio. dada isterinya sendiri. Vicitra Rahwananda melawan nenek Tung Nio. “Kian Bu pangcu. pertarungan antara Vicitra Rahwananda melawan nenek Tung Nio berlangsung seru dan mati-matian. Yang dipimpin langsung oleh Kian Bu. Kian Bu dan Liong Ping. berbeda pandangan. namun tetap saja tingkat kepandaian Kian Bu masih dibawah Liong Ping. Pada saat mereka adu mulut. Kian Bu menginginkan benteng di bongkar. Pada saat itu mendadak orang yang dibicarkan muncul. mantan pancu. . Pedang itu terbenam dalam di dada Tan Tung Nio. bahkan marah-marah dengan sikap menentang. Namun sebaliknya.penuh keceriaan. Kakek yang kini sudah berumur enam puluh lima tahun lebih itu menggunakan tongkat dan masih dipapah oleh anak buahnya. sehingga setelah ratusan jurus. sehingga dia dibiarkan. akhirnya Kian Bu. ia justru mendukung pendapat Kian Bu. “Benar. rombongan Ji-lojin telah mendatangi Yu Liang Pay. Meskipun ia memiliki hubungan dengan Vicitra Rahwananda. namun ia merasa sudah cukup Yu Liang Pay. Namun Liong Ping menolak. Di tengah jalan tiba-tiba rombongan dihadang lima orang. Entah setan apa yang merasuki tubuh orang tua itu. Liong Ping melawan Kian Bu. Namun Liong Ping memang tidak bermaksud mencelakai Kian Bu. apa yang terjadi?” “Sudah tiga hari yang lalu lohu mundur dari kepemimpinan di Yu Liang Pay. namun bukannya membela isterinya Liong Ping justru ikut mengeroyok Tung Nio. sambil merangkapkan tangan bersoja. dan puncak pedang tengah di bersihkan. Telah terjadi peristiwa besar di sana!” Ki Liang dan Ji-lojin saling berpandangan. Waktu itu Kian Bu menangguhkan jawaban. Setelah mengalahkan Kian Bu. istri Liong Ping. namun karena mahir menguasai sihir. namun kini sudah bukan pangcu lagi. Pertarungan antara Liong Ping dan Kian Bu hampir berimbang. Liong Ping menusukkan pedang ke dada nenek tua berwajah bundar itu. Tan Tung Nio datang. dan sudah saatnya dia kembali. pertarungan itu berlangsung cukup sengit. Liong Ping terjun ke ke dalam pertarungan. Adu mulutpun berakhir dengan pertarungan. Apakah sebenarnya yang terjadi di sana? Sebulan sebelumnya. pada suatu kesempatan. karena hati mereka penuh dengan kehangatan. Namun bukannya membela suaminya.

dialah dahulu yang menerima Liong Ping muda. Sesekali puncak ini di selimuti salju. dalam keadaan sangat mengenaskan. persis topeng yang dipakai oleh lawan Sun Ciak Kun. lelaki tak tahu diuntung!” kata Tan Tung Nio perlahan.. Aku memang akan dicap sebagai pengkhianat Yu Liang Pay. dendam dan kesedihan. Ki Liang kemudian mengingatnya dengan baik. Dengan tongkatnya kemudian Kian Bu menggores-goreskan tanah menggambarkan lorong-lorong yang bisa dijadikan jalan keluar. orang bertopeng itu menolong mereka berdua. karena ia adalah buron. dengan mata terbelalak penasaran. Dan karena peristiwa seperti itulah maka mereka kemudian menuntut Kian Bu mundur. Betapa sakitnya. aku akan menunjukkan rahasia lorong-lorong di bawah puncak pedang tengah.. Orang itu menawarkan bantuan untuk membantu mereka mendapatkan pedang salju. Namun tak seorangpun tahu apa yang terjadi di dalam benteng. dan memang ternyata belakangan ia tidak pernah dikaruniai seorang anakpun. Sebagai cicit dari Tan Hong Bu. Bukan suatu kebetulan. bahkan saat itu Liong Ping tidak bisa dikatakan sebagai perjaka. Hanya saja karena saat itu ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan maka jabatan itu diserahkan padanya. . Keesokan harinya. dan keluar dari markas. Hanya hutan pinus yang berada di sekitar puncak saja yang dedaunannya masih utuh.“Kau. Hancurnya bukit pedang (TAMAT) Puncak Fan Cing San dimusim dingin sungguh berbeda dengan di waktu musim semi.. Tapi ternyata lelaki yang dulu ditolongnya dari lembah kesengsaraan kini tega membunuh perempuan yang sangat mencintainya dengan sepenuh kasih. Pohon-pohon tampak seperti telanjang. jikalau mereka menemui kesulitan.” kata Kian Bu mengutip kisah Ramayana dari India. bahwa bayangan yang terlihat olehnya ketika sedang menolong Hok Cu dan cucunya adalah bayangan orang bertopeng dewa penjaga kuil itu. Bab 22.karena dedaunan terlah luruh pada musim gugur. ia menyerahkannya pada Liong Ping. ayahnya lebih berhak atas kepemimpinan Yu Liang Pay. dan murid langsung dari ayahnya Tan Sin Hong. namun kemudian manggut-manggut. dan bahkan mengangkat Siong Lee untuk menjadi muridnya. Dan benarlah dugaan Ciak Kun. “Demikianlah yang telah terjadi di Yu Liang Pay. Siong Hok Cu dan Siong Lee menerima tawaran itu. namun demi menegakkan kebenaran untuk melawan Foi Cit Re (Vicitra) aku rela menjadi Wi Bi San (Wibisana). maka sebelum memulai penyerangan Ki Liang bersama dengan tetua yang lain berdiskusi melakukan perencanaan yang matang. mereka berdua di antar oleh seseorang yang bertopeng..beraninya kau. Di puncak Tiong Kiam dari luar suasana masih senyap. Betapa tidak penasaran.. namun akan cepat mengering. Tetapi jelas ada maksudnya.kau. Karena medapat berita baru. Dia yang merawat anak Liong Ping dengan penuh cinta. Ki Liang dan orang-orang dalam rombongannya tercengang. dengan syarat agar mereka bersedia membantu perjuangan orang bertopeng itu. datanglah Siong Hok Cu dan cucunya dengan wajah keruh penuh rasa penasaran.

Di lereng selatan puncak itu. Di pihak tuan rumah berdiri Siong Hok Cu.kedengarannya sih memang Yu Liang Pay lebih jantan. silahkan angkat kaki dari sini. terjadi ketegangan yang ramai.. silahkan saja cari sendiri Foi Cit Le! Yu Liang Pay akan berlepas.. yang kini berpasangan. namun itu adalah hal yang wajar. antara dua pihak. “Boleh juga. cuh tak tahu malu!” ujar Hok Cu angkuh.. kalau kalian bisa mengalahkan dua jagoan kami. dan sersumpahlah jangan pernah lagi keluar ke dunia persilatan. tapi apakah mengundang Foi Cit Re dari Thian Tok (India) adalah perbuatan seorang lelaki sejati. .ha. kalau bertanding satu lawan satu tentu saja cukup dengan dua kemenangan saja untuk tiga pertandingan!” jengek Ki Liang... dan orang bertopeng hengha. memang rombongan para pendekar ini dibagi menjadi dua. yang menjadi sumber kericuhan tak juga kelihatan batang hidungnya. Di belakang mereka berdiri para pengemis anggota sabuk hitam dan anggota bambu putih. kalau kalian bisa mengalahkan ketiga jagoan kami. tidak mampu menghadapi kami sendirian.Berkebalikan dengan suasana yang hening dan mistis di puncak pegunungan.ha. Sun Ciak Kun. tetapi jika kalian kalah atau seri. mana bisa aturan seperti itu. pihak tamu dan tuan rumah. Di belakangnya lagi ada belasan orang berwajah India yang berbaju hitam legam. bisa dipastikan anak buah Vicitra Rahwananda.. yang kini menjadi Pangcu. tepatnya di markas Yu Liang Pay. “Kami hanya menuntut agar pembuat bencana orang India berhidung betet diserahkan ke kami serta bangunan benteng di robohkan. dan Sim Houw. selama aku masih hidup!” Pernyataan jangan pernah lagi keluar ke dunia persilatan.. Kami menghargai jika Yu Liang Pay keberatan untuk menurunkan tengkorak dan kerangka yang ada di ceruk-ceruk tebing bukit!” “Ha. Siong Lee. Rombongan Ki Liang agak terkejut.. Pendekar yang lain memilih langsung menuju ke puncak Tiong Kiam. huh. Tiong Gi. tak tahu malu!” “Bangsaat! Kalau memang jantan. sungguh sangat berat. apalagi sebagai pihak penantang. seluruhnya berjumlah lebih dari tigapuluhan. menyeret-nyeret Siauw Lim dan bambu putih. tentu dia harus lebih siap. Tetapi orang yang dicari-cari. Pat Tiauw Kwi. silahkan lakukan apa yang kalian kehendaki!” “Huh. Bu Sian taisu. ada yang menghadap ke markas ada yang langsung ke sasaran. orang Liong Ping. hayo hadapi kami satu lawan satu.tosu-tosu anjing dari Kun Lun memang selalu pengecut. Dari pihak tamu Ki Liang. Di belakang mereka ada hampir empat puluhan anak murid yang masih setia. “Hmm.

“Dari kami Sun taihiap.” Hok Cu. Apalagi dua orang bertopeng dewa Heng yang salah satunya sudah menjadi guru puteranya tak diragukan lagi kemampuannya. “Kami mengajukan Tiauw Kwi! Silahkan cianpwe!” Sebenarnya orang bertopeng dewa Heng. guru dari Siong Lee sudah geregetan hendak maju. dewa Heng dan dewa Ha. namun dihalangi oleh Hok Cu. jurus-jurusnya memang terlihat lambat. akhirnya disepakati tiga jagoan yang diajukan. berarti lelaki tua itu kakeknya sendiri. Baiklah. dengan ilmu pedang gaib yang meraka miliki pasti bisa mengatasi lawan. Pikirannya menjadi tenang ketika melihat orang tua ini maju menyambuti Tiauw Kwi. Sambaran demi sambarannya saja sudah membuat penonton yang paling dekat kepanasan. Tangannya bergerak-gerak dengan sepenuh tenaga. Bagaimana kalau aku yang harus menghadapinya. “Kami mengajukan Kwan Liong Ping suko. Pertarungan segera dimulai. Inikah kakeknya? Kalau memang ayahnya Kwan Tiong San. dan Tiong Gi. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Tapi dua kemenangan sudah cukup bagi mereka. Hanya saja orang bertopeng dewa Ha yang dibawa oleh guru meskipun dalam ujian mampu mengalahkannya namun ia masih belum terlalu yakin. Ia yakin Liong Ping bisa mengatasi semua lawan. maka dari pihak tuan rumah Liong Ping langsung maju. Tangannya seakan-akan diselimuti halimun merah. mula-mula dilakukan dengan tangan kosong. bahkan sekalipun yang maju adalah Sun Ciak Kun sendiri.“Baik. Ia masih yakin Tiauw Kwi bisa diatasi oleh Liong Ping. Tiauw Kwi. Sebaliknya Tiauw Kwi memapakinya dengan pukulan-pukulan badai salju. Dengan penuh keyakinan diri Liong Ping langsung menantang lawan. kami terima! Dengan syarat kami juga diperkenankan menurunkan tengkorak-tengkorak di bukit pedang!” “Terserah! Siapa jago kalian!” Ki Liang berunding sejenak dengan rombongannya sebelum memutuskan tiga jagoan. tidak menduga kalau jago yang diajukan lawan termasuk Tiong Gi. Liong mengeluarkan jurus-jurus Fan cing san ang in ciang hoat. Gebrakan demi gebrakan dilakukan dengan cara yang luar biasa. pukulan tapak merah ini merupakan salah satu pukulan yang sangat di takuti di Cina tengah. Namun ia punya keyakinan besar pihaknya mampu mengatasi lawan. namun penonton yang ahli dapat merasakan bahwa setiap pukulan mengandung hawa lweekang dan sinkang tingkat tinggi. Dari tangannya seakan keluar kristal-kristal es yang . siapa jago yang akan kamu ajukan lebih dulu?” Tiong Gi menatap tak berkedip orang tua yang disebut namanya pertama kali.

ia merasa tergetar hebat. Jurus-jurus terakhir ilmu pedang ini memang dikhususkan untuk penyerangan. maju mundur. makin terlihat kedudukan Liong Ping makin terdesak. Semua pukulannya amblas di dalam benteng pertahanan lawan yang lihai. adalah ilmu pedang paling . hingga mau tak mau Tiauw Kwi melawan dengan juga dengan jurus-jurus pamungkas dari ilmu pedang Swat Kong Kiam Hoat. Pat Tiauw dapat kemajuan yang pesat. Kini keduanya sudah bertarung memainkan pedang pada tingkat-tingkat puncak. Bahkan Hok Cu dan orang bertopeng itu sendiri tersentak dibuatnya. beberapa diantaranya bahkan sudah roboh pingsan. sehingga pada jurus ke enam puluh ia mundur ke belakang kemudian meloloskan sebuah pedang. Sejak digembleng mati-matiang oleh Yung Vi. membuat penontong yang ilmunya cetek sudah berkunang-kunang. Pedangnya menyambarnyambar dengan cepatnya. Sinar perak berkelebat. jadi bisa dibayangkan tingkat kelihaiannnya. keringat dingin mengalir di lehernya demi melihat sedemikian hebatnya ilmu pedang lawan. ia sudah menggeser ke samping dan menyerang pula ke menebas ke arah kanan. bahkan desakan lawan makin dirasa menekannya. Melihat lawan memakai pedang Tiauw Kwi juga mengimbanginya. Karena gerakan Liong Ping semakin cepat. hatinya mencelos. tetapi kadang berpindah ke atap. saking cepatnya. Liong Ping mengeluarkan jurus-jurus andalan dalan Yu Liang Kiam Hoat. Sungguh pertarungan mati-matian yang sangat menarik untuk diikuti. Hanya dalam waktu singkat saja tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh kilatan pedang.menghujani kabut merah yang dikeluarkan oleh tangan Liong Ping. ia kadang duduk di kursi kadang berdiri. Tiauw Kwi memapaki serangan lawan dengan ilmu pedang cahaya salju (Swat Kong Kiam Hoat). terbenturlah kedua pedang dan menerbitkan suara nyaring. Mereka bahkan tidak hanya bertarung di arena halaman depan. Belum lagi serangan itu mengenai sasaran. Demikian pula Hok Cu. kadang di dalam pendopo. sinar pedang gemerdep melayang meliukliuk. "trang". kadang berlarian di wuwungan. Selama ini ia menganggap ilmu pedang Yu Liang Pay. Karena baru kali pertama melihat ilmu pedang lawan keduanya sama-sama kagumnya. ilmu pedangnya segera berubah. Merasakan situasi seperti ini Liong Ping menjadi gusar sekali. Pedangnya berputar-putar seperti kitiran membentuk benteng pertahanan yang sangat kokoh. melihat dengan berdebar-debar. menyusul sinar pedang gemerlapan pula. naik turun tak dapat diduga dan sulit diraba arahnya. Waktu Liong Ping itu menegakkan pedangnya. setelah belasan tahun menggembleng diri. pedang Tiauw Kwi menusuk cepat ke leher lawan. ilmu pedang yang selain kuat juga mengandung hawa magis. hati Ki Liang rasanya seperti di parut sedikit-demi-sedikit. Ilmu pedang murni yang berdasarkan hawa lweekang “im” tingkat tinggi. Semua penonton. hampirhampir saja pedang ini menebas lehernya. Lewat lima puluh jurus. saking kencangnya. boleh dibilang Liong Ping sudah taraf sempurna dalam meyakini ilmu pedang ini.

Hampir bersamaan Tiong Gi juga mendekati tubuh Liong Ping..?” desis Tiong Gi perlahan.pergiii jauh babi kurap!” bentak Hok Cu sambil menudingkan telunjutnya.. sambil mendekati orang tua yang roboh itu.plaakkk. hanya secara refleks saja ia berkelit ke kiri. Tiong Gi hampir bersorak girang mendengar ucapan orang tua ini.hebat. bahkan jauh lebih berat. Sekonyong-konyong dari arah belakangnya meluncur sesosok tubuh yang bergerak cepat.. Maka tanpa curiga ia mendekat dengan masih tetap berjongkok. “Tiong Gi. Matanya membeliak merah. Tangan kakek itu seperti menggapai-gapai kepada Tiong Gi.... maka ia bisa saja menjadi penengah agar pertumpahan darah bisa dihindari. awaassss.. Hok Cu dan Siong Lee menghambur ke arena. Tiauw Kwi tak sempat dan tak mungkin pula bisa menghindar. “Desss. Dan tak seorangpun mampu menandinginya.croot.aduuhhh!” Pedang lawan hanya merobek sedikit pinggang kirinya.!” . Liong Ping berkelit dan pedangnya menggunakan kesempatan penjagaan lawan yang kosong segera menusuk ke tengah... Tiong Gi tidak mempedulikan bentakan itu. aku anaknya!” kata Tiong Gi. Maka dengan hanya menggunakan tapak tangan ia menangkis sekuat tenaga. Tapi sapa kira hari ini ilmu pedang ini mendapat lawan yang tak kalah hebat.. “Siapa kau?” “Ayahku bernama Kwan Tiong San... Rasa haru sekonyong-konyong menyeruak dari dasar hati Tiong Gi. “Pergiii. Ia tidak sempat menangkis... Tiong Gi tersentak. tamparan itu berjarak sedemikian dekatnya. Makin lama pedang Tiauw Kwi semakin bertambah unggul. bahkan ia makin mendekat. ujung pedangnya menusuk miring. apalagi dengan hawa magis yang dihasilkan..... Suatu saat mendadak ia menyerang dengan jurus pedang salju menusuk awan. sambil berjongkok mendekat ke tubuh orang tua itu yang disangga oleh Siong Lee.. kalau memang dia kakeknya. Sedangkan pedangnya menusuk dalam dada kanan atas Liong Ping.. “Plakkk.!” Mendadak ketika kepala Tiong Gi sudah dekat tangan yang semula hendak mengelus berubah menjadi tamparan yang keras dan secepat kilat. “Coba mendekatlah sini!” seru kakek itu perlahan.. iapun roboh. namun kasib. Ia berusaha menahan tubuh dengan pedangnya namun gagal.kaukah kakekku. Liong Ping terhuyung-huyung ke belakang... “Kakeek. Darah mengucur deras dari lukanya..

.. dan melihat bekas tamparan yang membiru di kulit Tiong Gi.. Betapa teganya mereka menghina dirinya seperti itu. bu huuu. “Siauw-moy..dessss.. padahal semenjak tinggal di Yu Liang Pay.. jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka tubuh yang dirasakannya. Sebaliknya nasib wanita yang menyerang membabi buta itupun tak kalah mengenaskan.. . dan pakaian yang dikenakan sudah kumal. namun garis-garis kecantikannya seperti belum pudah.. “Ibu.....ha...ibuuu..... terima kasih atas bantuanmu. Dan meletakkan tapak tangan di punggung Tiong Gi..!” “Perempuan lancang! Pelacur busuk!” “Plaakkk. sayang dia telah meninggalkan kita... “Bibi.bibi.awasss...... “Bibi.jangan mati dulu bibi. siapakah nama bibi yang mulia?” “Kau.. Pukulan dan tamparan diterima dari ayah mertua dan anak tirinya... namun sayang rambutnya dibiarkan riap-riap....... Segera ia merobek baju bagian lengan.!!!” Orang yang baru datang adalah seorang wanita.bibi apakah kau ibuku???” Sekonyong-konyong dari barisan murid-murid Yu Liang Pay menyeruak seorang anak gadis..Tubuh Tiong Gi terpelanting..ayahmu anak pelacur haram! Cuh. Ia masih sempat mendengar umpatan busuk yang keluar dari mulut kakek tua itu: “Anak Tiong San. Pedangnya amblas... anjing kurap!” Ciak Kun segera menghampiri dan memapahnya keluar arena..” selesai mengucapkan kata-kata terakhirnya. Liong Ping hanya bisa menatap tak percaya akan pandangannya..... ia selalu melayani dan merawat mereka dengan baik... “Heiii.oohhh San-ko kau tunggulah aku. saat itu juga ia menghembuskan kata-kata terakhir..jangan tinggalkan aku. Dengan menggunakan pedang. Matanya terbelalak dan seketika itu juga nyawanya melayang.... apakah dia ini ibumu? tanya Tiong Gi berbisik. siapa sudi aku menjadi kakekmu... hua.. meskipun sudah setengah baya. Untunglah seperti tubuhnya sempat ditendang oleh seseorang yang tiba-tiba saja datang...crooootttt... ia menusuk Liong Ping. lengan kanannya yang terkena tamparan terasa panas dan patah-patah.. tolong kau jagalah Bwee Nio. mengaku-aku sebagai cucuku..huu...kau ah kau mirip sekali dengan dia.!” ratap gadis bermata jeli itu... cepat ia mengambil koyo dan menempelkannya di lengan itu.ha.. tepat di jantung Liong Ping.

. Karena tidak bisa memusatkan perhatian pada beberapa jurus terakhir Siong Lee benar-benar keteteran. tunggu. Kalau Tiong Gi dan Sim Houw bertempur dengan tenang dan hati-hati karena maklum akan kelihaian lawaan. ayahnya..siapaa.Gadis yang ditanya itu menengok ke arah Tiong Gi. Kiranya Yu Liang Pay telah menyiapkan segala kemungkinan. sehingga .jangan kau ganggu dia!” seru Tiong Gi. karena Tiong Gi sudah terluka.. karena dengan sigap anak murid Yu Liang Pay membereskan kedua mayat itu.. Demi thian aku akan memusuhimu kalau kau mengganggu gadis itu seujung rambutpun. kenapa wanita itu membunuh Liong Ping? Kenapa dia menyebut nama ayahnya. Namun pikir Hok Cu. “Heh. Bahkan dengan muka merah penuh emosi... maka secara psikologis pihaknya sudah kalah duluan. Karena lawan berpedang maka Tiong Gi juga meloloskan pedang yang memang sudah dipersiapkan. Jika saja pertandingan perorangan dilanjutkan kiranya banyak kemungkinan pihak mereka dapat memetik kemenangan. Pada saat yang berdekatan ia harus kehilangan ayah dan ibunya. benarnya nama “San” yang disebut itu adalah Tiong San.ayo. Mereka kemudian saling menyerbu berhadap hadapan. Pertandingan antara mereka berdua sudah berjalan puluhan jurus lebih. ia ingin mencari peluang untuk menghajar Tiong Gi. Mereka masih sedih memikirkan kehilangan orangorang tercinta. dan berteriak dengan gagah. Tapi nilah sebenarnya kesalahan Yu Liang Pay. makin lama makin seru dan gerakan kedua orang ini benar-benar dahsyat. “Siong Lee. anak nakal! Masuk. berarti anak Siong Chen. hanya saja kini mereka berpedang. Tapi kini ia dibantu Sim Houw.. sambil menyeret Bwee Nio ke dalam.. terutama Siong Lee. Tiong Gi kembali menghadapi Hok Cu dan Siong Lee. kalau dia adik Siong Lee. maka ada beberapa pendekar yang harus melayani dua lawan. tapi ia menjadi ragu...???” teriaknya lantang.!” Puluhan panah dan senjata rahasia di lontarkan dari atas.. Perang campuh tidak bisa dihindari. Tiong Gi tidak sempat lagi berpikir panjang. kalau Tiong Gi digantikan pihak lain. “Apa urusannya denganmu! Dia adikku!” bentak Siong Lee.. Dari pihak pendekar.. Ia tidak menjawab. malah kemudian menyeka air matanya. maka pertempuran berlangsung imbang.. Namun karena dipihak tamu banyak tokoh kosen.. Hok Cu dan Siong Lee bertarung dara rasa marah dan penasaran sekali. Dan dengan perang campuh.. berteriak: “Serbu. Karena jumlahnya tidak seimbang. Tiong Gi hendak mencegah. “Siapa yang membunuh ibuku! Siapaa. mereka yang sudah menyiapkan tameng menggunakan tamengnya.masukkk!” seru Siong Lee. dan mulut berapi-api Siong Hok Cu. sambil menarik tangan adiknya. “Adiknya.

. dan dibawa terbang keluar. Tapi ia agak heran karena musuh justru lebih ingin menyerang Tiauw Kwi. Namun pada saat-saat terakhir ia menderita kerugian besar. Pertarungan antara Sun Ciak Kun dan Pat Tiauw Kwi menghadapi iblis bertopeng dewa Heng dan iblis bertopeng dewa Ha. sehingga ia makin terdesak. bahkan dengan nafsu membunuh sangat besar. berlangsung paling seru dan dasyat. Untunglah. Kadang-kadang memasuki pendopo. dan seandainya pertarungan di teruskan ia bisa tewas. Mereka bertarung sambil berloncatan dan terbang seperti burung.beberapa kali pedang lawan. tetap saja banyak anak buah yang jadi .. sehingga daya tahan tubuhnya sudah lemah.. Sepuluh jurus berikutnya ia terdesak hebat. pada saat yang kritis itu Ki Liang menyadari satu hal. Dan mereka mendatangi markas sebenarnya bertujuan untuk menghambat gerakan orang-orang di markas. Chien Ce bertindak sebagai pemandu. bahwa tujuan awal mereka bukan untuk menyerbu Yu Liang Pay. berhasil melukai tubuhnya. sehingga ia terselamatkan. akhirnya ia hanya bisa menggunakan Kiu Yang Sin Ciang dengan tenaga mencongkel.. karena musuh masih sempat tiga kali memberikan pukulan telak padanya. iblis bertopeng itu tampak marah. Dua orang bertopeng lantas menyambar tubuh Hok Cu dan Siong Lee. Melihat serangannya gagal. Namun meski hanya tiga kali cukup menurunkan daya tahan tubuhnya. Namun karena di dalam benteng berisi banyak sekali jebakan-demi-jebakan.! Dengan nafas megap-megap.. Dan kini ia mengejar Ciak Kun... Sebaliknya lawan sepertinya masih jauh lebih muda. bahkan boleh dikatakan ia masih kalah seusap dalam hal lweekang. Ciak Kun yang ditinggalkan merasa segan untuk menyerang secara membokong. Ciak Kun langsung melompat mundur. Sementara itu pertarungan di luar markas berlangsung tidak kalah serunya dengan yang di dalam. Hanya dengan perlindungan sinkang yang cukup hebat saja. Bagaimanapun Ciak Kun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Untunglah Sim Houw tidak berniat membunuh. ia selalumemerintahkan anak buah untuk hati-hati. celakanya dengan cara melompat tinggi musuh masih terus melontarkan pukulan jarak jauhnya. Benteng yang mengelilingi bukit pedang sudah dibangun lebih kuat semenjak Chien Ce masuk ke dalamnya. sehingga meskipun terhalang lawan pukulannya tetap mampu mencongkel Tiauw Kwi. sehingga setelah menderita banyak luka ia dibiarkan begitu saja. Kedasyatan pukulan-pukulan iblis bertopeng dewa Heng yang menjadi lawannya sebenarnya sulit sekali di tahan Ciak Kun. Oleh karenanya ia kemudian berteriak memberi komando untuk mundur: “Munduuurrrr. Di tambah lagi tingkat kelihaian Ciak Kun tidak disebelah atas lawannya. ia tidak terluka parah. Pada suatu kesempatan bahkan sebuah lontaran pukulan jarak jauh sempat menyerempet Tiauw Kwi sehingga ia hampir saja terpelanting. tetapi untuk menangkap Vicitra Rahwananda.

Sementara itu dari pihak pendekar selain Ji-lojin terdapat Bhok Kian tosu. sehingga akhirnya terjadilah perang campuh. Liu Tiauw. jikalau Liu Tiauw Kwi tidak bertindak. Sekonyong-konyong ada ratusan bayangan yang menyerang pihak kaum pendekar. Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. Di belakangnya berdiri lima tetua Yu Liang Pay. Ji-lojin langsung menghadapi Vicitra Rahwananda. Sudah beberapa kali mereka terkena tusukan pedang. memerintahkan anak buah untuk menyerang dengan panah api. Para pendekar mulai keteteran. Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. dan Liu Siang menghadapi lima tetua Yu Liang Pay. Liu Tiauw. akibat serangan sihir lawan. atau ular berbisa. Pada saat itu benteng memang dipertahankan oleh Vicitra Rahwananda. sedang Bhok Kian tosu menghadapi Can Hok. Mulut mereka berkemik-kemik. Sai cu ho-kang. sehingga penyerbu bisa masuk. juga masih terpengaruh ilmu hitam lawan. Mereka duduk di atas benteng membawa dupa yang mengepul. sehingga gerakan mereka menjadi kacau balau. Beberapa sudah jatuh menjadi korban. Namun ketika kedudukan lawan mulai terdesak tiba-tiba berbunyi suara genta. dan mereka merasakan kelelahan yang amat sangat. namun betapa batapa kagetnya mereka ternyata di dalam benteng sudah banyak dipasang. Ia melancarkan serangan auman singa. Namun demikian serbuan penyerang tidak dapat dibendung. dan diikuti kehadiran lima orang India berpakaian serba hitam. Chien Ce. Gelombang suara yang dasyat meluncur cepat menghantam apa saja yang menjadi . Keadaan paling parah dialami oleh Bhok Kian tosu. dari pihak pendekar semua terpengaruh oleh hawa sihir lawan. permainan tongkatnya menjadi lemah.korban. dan sepuluh orang dari Tok Nan-hai Pang yang dipimpin oleh Can Hok. Pada awalnya kedudukan penyerang berada di atas angin. Bahkan mereka seperti melihat lawan bisa berubah menjadi raksasa. Mereka melihat ilmu pedang lawan bisa menjadi lebih dasyat. bahkan seolah-olah digerakkan oleh puluhan tangan. jebakan demi jebakan berupa sumur sumur yang dipenuhi oleh senjata. Ji-lojin beberapa kali berhasil memberi hajaran kepada Vicitra Rahwananda. Untunglah dari barisan pendekar kerjasama dilakukan dengan baik. dan Liu Siang. Suaranya di arahkan ke lima penyihir yang duduk di tembok benteng. Ji-lojin yang mendapat bagian untuk memimpin usaha mendobrak benteng. selain Ji-lojin dan Liu Tiauw yang memang sinkangnya sudah taraf sempurna. Chien Ce. Sedangkan anak buah tanding melawan anak buah. Akibatnya. Dua pendeta Siauw Lim meskipun memiliki kekuatan bathin yang hebat. Benteng yang sebagian terbuat dari kayupun terbakar. tidak menduga kalau di pihak lawan telah berdiri lima penyihir sakti yang langsung datang dari India untuk membantu Vicitra Rahwananda. dan dengan mudah ia terkena tendangan lawan. atau hewan-hewan buas. Situasi para pendekar berada dalam tekanan yang berat. Chien Ce dan Liu Siang paling menderita. Ji-lojin yang sudah mewanti-wanti anak buahnya untuk mewaspadai ilmu sihir lawan. suheng kedua dari Can Seng. Tubuh mereka menjadi lemah. Maka sibuklah anak buah yang menjadi tim pendobrak. bahkan beberapa anak buah sudah berguguran menjadi korban. ia melompat mundur dan dibantu oleh Ji-lojin yang menyibak jalan.

Sambil turun ia masih mencoba untuk membentak gadis itu. melainkan menjatuhkan diri. Ketika para pendekar berusaha mendobrak atau membongkar dinding gudang. Mendadak Vicitra meninggalkan lawan. lawan yang lemah.. Vicitra berusaha menangkis serangan.. tongkatnya digerakkan untuk menyerampang kaki. Seorang anak buah Tok Nan-hai Pang menaburkan garam racun dari lubang di dinding yang memang sudah disiapkan.. jika mereka tidak memiliki kelihaian yang memadai. namun Vicitra berhasil menangkisnya. namun akibatnya ia harus bersalto untuk menghidari luka. Mereka kemudian memasuki sebuah gudang. atau dari dinding bukit pedang. Terlambat.. sekonyong-konyong dari atas mengguyur hujan. pihak tuan rumah juga ada yang terkena serangan. bahkan pedang bengkok di tangannya berhasil mematahkan tongkat Chien Ce. Hampir-hampir saja kelima tukang sihir ini roboh terpelanting. Tapi ia keliru sangka kalau gadis itu. Tetapi bukan hujan sembarang hujan melainkan hujan garam beracun. tendangan yang disebut tendangan kaki gajah Ting-ting ini merupakan jenis tendangan yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Chien Ce berusaha memberikan pertolongan. dupa-dupa beterbangan. Garam ini ternyata ditaburkan dari atas. Ketika pihak pendekar hendak mengikuti mereka tiba-tiba pintu gudang. “Desss. Ia tidak menangkis sambaran. Namun dengan tabah ia berusaha untuk memusatkan perhatian dengan mengerahkan sinkangnya. Vicitra kemudian memberi komando anak buah untuk lari menyelamatkan diri. dengan tubuh gosong atau melepuh.. Sehingga suasana menjadi kacau balau.. bahkan bukan hanya para pendekar yang menjadi korban. dari belakang Can Hok berhasil menotoknya. yang lidahnya menjulur-julur. dan langsung berniat menyambar Liu Siang. dan langsung membopongnya. yang memiliki keberanian dan tekad yang luar biasa. namun dari bawah ia menlancarkan serangan dengan tendangan kaki. namun Liu Siang adalah gadis gemblengan lembah delapan rembulan dan ditambah lagi didikan dari nenek besar. Situasi segera berubah setelah itu. Tendangan kaki yang dilancarkan bukanlah tendangan sembarangan.!” Meskipun berhasil ditangkis.sasaran. Meskipun kekujur tubuhnya telah terkena beberapa kali goresan. Para anak buah pendekar merasa kesakitan. . karena kini para pendekar makin mempergencar serangannya. “Awass ular raksasa!” Sejenak Liu Siang terbelalak melihat di depannya tergolek seekor ular. dan banyak korban jatuh. yang terbuat dari besi tertutup.

Namun terlihat rombongan lawan sudah turun dan berlari menuju ke arah sungai.. Dengan cepat Ji-lojin menuruni tangga. Mereka kemudian menuruni tangga. namun dmi melihat ia menoleh ke kanan ke kiri. ternyata dibagian itu sudah dikepung banyak sekali oleh lawan yang menyiapkan barisan pendam untuk memukul dari belakang. sesampainya di bawah ternyata banyak terdapat lorong-lorong. karena memang tempat itu banyak ceruk. dengan geli. Akhirnya benteng itu ditinggalkan lawan. untuk meloloskan diri. perlahan-lahan ia bisa menuruni. Melihat pimpinan mereka sudah melarikan diri anak buah lawan menjadi kebingungan dan berlarian kesana-kemari. Tapi mendadak beberapa panah dijepretkan ke arah atas. Dengan hati-hati kemudian Ji-lojin mengikuti petunjuk Kian Bu. Dari tebing merena mendapati anak tangga. Rombongan Ji-lojin keluar ke arah tebing. Lima dari kaypang. Sedangkan korban dari pihak lawan ada dua puluh lima. Suasana menjadi kacau balau. dan . Ternyata lorong di bawah sangat panjang karena cukup rumit. kebingungan tidak mendapat jalan keluar. keadaan di situ cukup gelap. Meskipun awalnya dongkol dan marah. dan barulah setelah lebih dari sepuluh menit mereka bisa membobol dinding itu. Korban dari pihak pendekar ada sekitar dua puluh orang. Memang tempat itu disengaja dilubangi seukuran lemari kemudian orang memasukinya dengan menggunakan tangga. Lima ahli sihir dari India juga sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. rombongan Ki Liang berhasil menyusul.. tinggal satu saja anak buah dari Tok Nan-hai Pang yang masih ada di atas. Beberapa kali Ji-lojin. ia seperti terendam dalam garam racun. lima belas dari anak buah Bambu Putih dan dari negeri salju.!” Ternyata ia seperti dengan nekad berusaha menuruni. Setelah ditinggalkan lawan kini. di dalam gudang tenyata ada tangga menuju ke ruang bawah tanah.Ketika anak buah hendak berusaha keluar melalui pintu gerbang depan yang berhasil dibobol.. Akhirnya ia jadi tontonan anak buah pendekar yang berada di bawah. Begitu sampai bawah. dengan percaya diri ia tertawa. namun akhirnya mereka berhasil keluar. dan membuat barisan kocar-kacir. sehingga menyulitkan untuk mencari jalan yang dipakai oleh lawan. dan karung berisi garam terjatuh mengguyur tubuhnya. Belum puas anak buah pendekar masih menghujaninya dengan senjata. bahkan saking besarnya karung. “Tolonglah ambilkan tangga untukku!” Turunlah merayapi dinding!” “Jangan dilempari yaa. Liu Tiauw dan dua biksu Siauw Lim berusaha menjebol dinding. seperti monyet kena tulup. Mereka membawa lebih dari sepuluh anah buah. Sementara anak buah yang didepan akhirya mendapat bantuan dari bawah.

.. Bahkan Can Hok masih sempat membawa Liu Siang..ha. Tiba-tiba dua pemuda itu menari-nari sambil menguik mirip monyet.. namun kejadian ini membuat mereka lengah. Rombongan anak buah yang berada di belakang bermaksud menolong. hingga membuat Can Hok terkekeh. Matanya jelalatan ke kanan dan kekiri khawatir kawan-kawan anak muda itu datang. Tik Coan Kok dan beberapa anak buah bambu putih sengaja di tempatkan di tikungan sungai untuk menghadang lawan yang melarikan diri lewat sungai..anak muda. namun tidak demikian bagi anak buah yang ilmunya cetek. Ternyata memang seperti yang sudah direncanakan sebelumnya... mana mampu mereka menghadapinya. Akibatnya perahupun oleng dan mereka semuanya tercebur. Can Hok dan Vicitra langsung saja berlari. bukankah kalian berdua ini dua ekor monyet? Hayo menari-narilah di depanku!” perintah Vicitra sambil mengerahkan ilmu sihirnya. makin mempercepat gerakan renangnya. warna air sungaipun berubah merah. Perahunya meluncur dengan cukup kencang.. perahu bergoyang-goyang... Ternyata Can Hok dan Vicitra mahir berenang di sungai.. Sepeminuman teh kemudian... Dua orang pemuda secara gesit langsung terjun ke sungai dengan penuh rasa khawatir.langsung berusaha mengejar. “Bocah sial! Jangan halangi kami atau aku akan buat kulit halus putih kemerahan dan hangat ini kubuang.!” Tetapi betapa kagetnya mereka saat perahu melewati tikungan tiba-tiba dari dalam sungai muncul kawat besi yang merintangi perahu secara mendadak. “Ha..ha.. namun larinya kencang. Liu Siang yang masih dalam keadaan terikat juga ikut terjebur. Meskipun tubuhnya gembur.. Liu Tiauw juga mengikuti dari belakang. Seketika itu jeritan dan teriakan terdengar bersahut-sahutan. tertawalah mereka terbahak-bahak. Diikuti perahuperahu yang dinaiki anak buahnya. namun tiba-tiba dari atas meluncur puluhan bambu berwarna putih yang menghujani mereka.. Cak Hok dan Vicitra berhasil mendarat di pinggir sungai sebelah barat.. yang semuanya berjumlah empat.. namun keburu dua pemuda menghadangnya. Pemuda yang berenang mengejar mereka. Bagi dedengkot tidak ada kesulitan menangkisi serangan bambu dari atas. “Ha. seperti ada yang menarik dari dua tepi sungai.. Karena tangan dan kakinya terikat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Merasa tempat itu sepi tiba-tiba ia tertawa. kukupas hingga jadi tengkorak dengan daging membusuk!” ancam Vicitra sambil menempelkan pedang bengkoknya di kulit muka Liu Siang. Vicitra berhasil menaiki perahu dan meninggalkan lawan..ha. namun menghadapi dua iblis sesat. namun karena diisi oleh banyak manusia. beberapa anak buah bambu putih menghadang mereka..ha.kita bebas. Merski hanya beberapa kejab mata.

Sebaliknya bagi Vicitra yang habis bertarung mati-matian dengan Ji-lojin. Ia mengincar lengan kanan Tiong Gi. dia langsung menggunakan jurus badai salju menyapu awan yang dipadukan dengan Kiu Yang Sin Ciang. Keduanya merasa terperanjat dengan hasil pertemuan ini yang menunjukkan bahwa tenaga mereka berdua sama. lawan yang lebih tua mulai kelelahan. Bagaimanapun kalau terus-terusan ia bertarusng seperti ini. Akibatnya. Seranganserangannya sering menghadapi benturan hawa sinkang yang melindungi tubuh lawannya.. Namun justru karena ini.. Auman nyaring yang disertai sepenuh tenaga khikang membuat kedua iblis itu tersentak kaget. Tetapi.Mendadak terdengar auman nyaring “Auuuuuummmm!” dari salah satu pemuda yang bukan lain Tiong Gi. yang sangat ditakuti di Thian Tok. Vicitra mencerca Tiong Gi dengan serangan dasyat pukulan-pukulan yang sangat kuat. bertahan dan menyerang dengan sama baiknya. bahkan dia masih mampu melakukan serangan serangan yang membahayakan Vicitra. Serangannya hebat sekali karena kedua lengannya penuh dengan hawa imkang yang mukjijat. Inilah tahap akhir dari ilmu silat Jit kong ci. cukup ampuh untuk membuat lawan menjadi berhitung banyak. Sedangkan Tiong Gi tidak menduga bahwa lawannya kali ini sungguh sangat lihai. kini ia menggunakan jurus-jurus totokan Jit kong ci (jari sinar matahari).blaarrrr!” Pertemuan dua tenaga sakti menimbulkan bunyi ledakan yang luar biasa memekakkan telinga. Tiong Gi tidak tinggal diam dengan badai serangan yang . Belum lagi kegesitan lawan yang masih muda yang dapat bergerak cepat dan kokoh. Di sela-sela deburan arus sungai Tiong Gi lantas meloncat tinggi sambil berteriak nyaring. jari-jari tangan Vicitra bahkan bisa membara sehingga berwarna keperakperakan.. Vicitra tidak menyangka bahwa lawan yang masih sangat belia bisa memiliki tenaga sakti sehebat itu.. mendesak pemuda itu juga bukan perkara mudah. Totokan ini bukan main hebatnya... “Bressss. Kakek hidung betet itu terkejut mendengar desir angin serangan yang demikian dingin dan beku. dan dari atas ia mengirim serangan dorongan dengan kedua tangan ke arah dada Vicitra. Karena itu Vicitra kemudian mengubah ilmu silatnya. yang baru saja mendapatkan luka. Pukulannya badai saljunya. Jurus-demi juruspun mulai dipertontonkan.. ia kurang bisa mengembangkan jurusjurus pilikan dari ilmu silat badai salju maupun Kiu Yang Sin Ciang. maka cepat ia melompat menyongsong tubuh lawan dengan pedang yang pedang yang dibacokkan. Sampai seratus jurus Tiong Gi masih belum terdesak. sedang tangan kirinya melancarkan pukulan tenaga sinkang yang sangat kuat. Tiong Gi yang menyadari lawan mengincar lengannya bertindak hati-hati sekali. Dalam kemarahannya. Dan sedekit saja cukup kesempatan bagi Tiong Gi untuk melakukan serangan ke Vicitra.. Akibatnya masing-masing terdorong ke belakang dua tombak. Keringat dingin mulai mengalir di dahi kakek hidung betet itu. Pedang Vicitra terpental sebelum menyentuh tubuh lawan. lama kelamaan ia akan kehabisan tenaga.

namun tetap saja.... Dua puluh jurus berlalu tanpa hasil yang memuaskan membuat Vicitra makin lemas. Mendadak tubuhnya mendoyong ke depan rendah sekali.. totokan itu meninggalkan luka sedalam setengah senti. Akibatnya kaki Tiong Gi menjadi terkunci. telah menyelamatkannya. maka ia gerakkan lengan ke atas sehingga sejajar dengan tubuhnya dengan maksud menangkis serangan lawan. Tetapi mendadak arah totokan jari-jari tangan kanan lawan berpindah ke jalan darah mematikan di bagian dadanya. namun ia masih sempat menumpu kedua tangannya sehingga berhasil bersalto sekali.menimpanya.desss.. Tiong Gi tidak membiarkan lengannya terkena serangan lawan. ”Ha. apalagi ketika ia melirik arena pertandingan mereka sudah mulai di datangi oleh beberapa orang yang datang tanpa meninggalkan getaran suara yang keras. sampai jumpa di neraka aaaaachhh!” Selesai mengucapkan kata-kata itu tubuh Vicitra berkelejotan sebentar dan terdiam. Tiong Gi menjadi kehilangan keseimbangan sehingga ikut terpelanting.. Merasa lawan meningkatkan kekuatannya.. sepertinya lawan sudah nekat untuk mati bersama. sehingga dada Tiong Gi berdarah. Vicitra masih sempat tertawa dan berteriak girang. yang hanya berarti bahwa tempat itu sudah dikepung oleh orang-orang yang lihai. meskipun ia sudah melindungi tubuhnya dengan sinkang dan memindahkan jalan darahnya.!” Totokan lawan mengenai dada Tiong Gi. . ”Cussss... Maka ia menjadi gelap mata dan nekat melakukan serangan-serangan paling dasyat.. Kecerdasan dan ketenangan Tiong Gi. Tendangan kaki kanan Tiong Gi tidak ditangkisnya melainkan dipengang dengan tangan kirinya. akhirnya kita mati bersama. tiba-tiba jari-jari tangan kanan lawan meliuk dari kiri dan mengincar lengan kanannya. Di saat yang sama sekuat tenaga ia melancarkan pukulan badai salju menusuk awan dengan tangan kirinya.. karena isi dadanya terguncang. yaitu I-kionghoan-hiat atau ilmu memindahkan jalan darah yang sangat langka dari Siauw Lim.. sehingga lawan langsung jatuh berdebum.ha anak muda...ha.. Pedang di tangannya di bacokkan dua kali sehingga putuslah kedua lengan Vicitra. Waktu yang sekejab itu sungguh sangat menentukan bagi hidup mati Tiong Gi. tanpa menghiraukan lagi pertahanan tubunnya. Dan untuk membantunya melawan kekuatan musuh yang dirasanya masih di atas tingkatannya. meskipun isi perutnya terasa hancur luluh. dengan harapan lawan yang pertahanannya sudah terbuka akan menarik serangan. pegangan tangan kirinya lepas... Mellihat serangannya berhasil. Sebaliknya pukulan tangan kiri Tiong Gi dengan telak mengenai ulu hati lawan. kemudian duduk bersiulian. Mendadak dari kerumunan orang Bhok Kian menyeruak dan mendekati mayat lawan. Untunglah ia masih mengingat salah satu ilemu yang dipelajarinya dari Sun Ciak Kun.. anak muda inipun kemudian mengerahkan dan meningkatkan kekuatan sinkangnya untuk mengimbangi kekuatan musuh.

kini akupun membacok lengan kirimu. karena memang ia tidak ingin serangannya merupakan serangan terakhir yang mengantarkan lawan ke ajalnya. tak biasanya ia pendiam dan tidak ceria seperti itu. Setelah terdiam beberapa saat. yang satunya lagi bunganya! Kau dulu tidak membunuhkan. Matahari sore bersinar cemerlang bagaikan piringan bersepuh perak. Bhok Kian melanjutkan ucapannya: ”Cuwi sekalian dulu aku pernah ditawari oleh pamanku sam-lojin untuk berguru padanya. Can Hok dengan secepat kilat menebas jari-jari tangan kirinya. siapa sangka sepak terjangku di masa lalu justru menimbulkan pertentangan tajam antar partai persilatan. Sepenanakan nasi kemudian Tiong Gipun sadar. saat ini sungguh sangat tepat aku memohon maaf kepada cuwi sekalian. Sekalikali tindakanku itu bukanlah keluar dari kesadaranku. sehingga Tiauw Kwi membopongnya. Liu Siang telah dibebaskan dari ikatan namun karena ia sempat tenggelam. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Chien Ce yang sedang turun bukit dengan wajah pucat diliputi kecemasan. melainkan akibat diracun oleh manusia yang telah membujur kaku ini. bagi petani yang bekerja di sawah. Oleh karena itu. yang kanan adalah hutangmu. hingga ajal tiba. Can Hok yang sudah terkepung sendirinya ciut nyalinya.” . Mereka memang sudah berjanji untuk berkumpul di markas lagi. Bekas luka-lukanya masih dibalut di sana sini. Setelah melihat kedua lengan lawan terpisah dari tubuhnya. tubuhnya terasa segar.”Siancay. dan selamanya aku tidak akan pernah lagi terjun ke dunia persilatan!” Para pendekar mendengar dengan haru ucapan Bhok Kian yang penuh perasaan itu. Gemericik air sungai seolah menyanyikan simfoni pulang ke rumah. ”Aneh sekali kelakuan Ce-ko. Ngarai di tepi sungai Wu kembali sepi. Dan aku berjanji jika Kun Lun Pay mengijinkan. akupun tidak membunuhmu!” Sengaja memang Bhok Kian menunggu lawan sekarat. iapun bersujud menyembah-nyembah minta ampun. kondisinya masih lemah. sute kendalikan emosimu!” teriak Ki Liang seraya bergerak mendekati dan memegang kedua pundang sutenya. ia hanya menjawab singkat ”Aku harus mencari Bwee Nio! Selamat tinggal. karena aku ingin sepenuhnya mengabdikan hidupku pada Kun Lun Pay.” Tiong Gi menatap heran dan bergumam. sampai ketemu lagi. Orangorangpun akhirnya bubar meninggalkan tempat itu. Namun Bhok Kian memang tidak berniat lebih dari itu. Para pendekar sepakat untuk mengampuninya dengan syarat ia memotong kelima jari tangan kirinya. namun aku tolak. aku akan mendirikan kuil di padang bunga untuk menjaga makam pamanku. yang masih setia menunggu sahabatnya itu. Sim Houw memapahnya berjalan menusuri jalan yang barusan mereka lalui dengan tergesa-gesa begitu peristiwa di markas selesai. bahkan ia bertekad menemani Bhok Kian menyepi. Ketika mereka menyapanya. iapun berkata pelan ”Dulu kau menebas satu lengan kiriku saat aku tak berdaya. tinggal Sim Houw saja yang bertugas menjaga Tiong Gi sampai sadar.

Tiba-tiba Liu Siang memegang lengan kanan Tiong Gi dan menangis di pundaknya. apakah yang telah terjadi.” Tiong Gi mengangguk-angguk. ”Eh. tadi Chien Ce juga bersikap aneh sekali. Ia yang lebih dewasa dari Tiong Gi. Ia yang sejak bertemu pertama kali dengan Liu Siang merasa kagum. kau hendak kemana. Siang cici. dengan senyumnya yang tetap mengembang. tidak sepatutnya sebagai seorang gadis mengejar-kejar perjaka. Di Markas mereka di terima Kian Bu dan pendekar yang lain. kini menyadari bahwa gadis itu tidak ada rasa apapun padanya. Para pendekar masih bertahan karena mereka berencana untuk merobohkan benteng dan membersihkan bukit pedang keesokan harinya. karena hatinya telah diberikan pada Chien Ce.Tak berselang lama tampak sesosok bayangan lain mengejarnya. Bayangan Liu Siang. Memang watak dari kakek tua nomor dua ini sangat ramah dan suka tertawa. para pendekar bahu membahu bekerjasama dengan penuh persahabatan. ia hanya menggandeng Tiong Gi dan mengajak mereka berdua ke markas. ia menyeka air matanya. Tidak demikian halnya dengan Sim Houw. Dan saat itu pula ia sadar. mukanya memerah. tetapi Ciak Kun tersenyum cerah ketika Tiong Gi datang. Kini Kian Bu kembali memimpin Yu Liang Pay. Siang cici kau kenapakah? Apa yang terjadi. ”Eh. Tetapi sebagai akibatnya. Jika Tiong Gi seperti dapat memahami alasan Liu Siang. ”Ah tidak apa-apa Gi-te. namun mukanya pucat karena tubuhnya masih lemah. sehingga bisa menebak apa yang kira-kira terjadi di antara Liu Siang dan Chien Ce. bahkan di dalam hatinya telah terpasang lentera yang berpendar-pendar jika bertemu dengan gadis yang sangat elok ini.” Sejenak kemudian Liu Siang sudah bisa menguasai diri. ia merasakan suatu perasaan yang sukar dilukiskan bisa berdekatan lagi dengan Liu Siang. Sun Ciak Kun termasuk salah satu di antara yang tergolek di sebuah dipan. tiba-tiba saja Sim Houw merasa hatinya perih. ia merasa jengah untuk menceritakan perasaan hatinya. ”Suhu kau tidak apa-apa? Apakah suhu terluka? Pakailah guci ini suhu!” . Bayangan gadis yang sangat cantik. Di sampingnya duduk Jilojin yang sedang bercerita humor. Namun Sim Houw tidak berkata apapun. Ditanya seperti ini gadis itu terdiam. wajahnya masih memerah. Tiong Gi tidak mengerti mengapa Liu Siang mendadak menangis. Meskipun keadaannya sudah sangat lemah. sambil ketawa-ketiwi. kau hendak kemanakah?” tanya Tiong Gi. aku hanya terharu melihat peristiwa di atas. apalagi yang dikejar tampak tak menghendaki perjalanan bersama. Kebanyakan dari mereka terbaring lemah atau bersiulian untuk memulihkan luka. Gadis yang selalu dekat di hatinya.

Hanya saja. berlatih silat. tepat seperti matahari yang saat itu meninggalkan siang. karena dia mandul. Aku bahagia mati dalam keadaan seperti ini. Ingatlah selalu pesanku untuk menggunakan semua ilmu yang kuberikan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran!” Selesai berkata-kata seperti itu. agar hantu pergi dan penyakit tidak muncul dari bekas tengkorak manusia.” Sebelum berpamitan Tiong Gi menyempatkan diri berbincang agak lama dengan Kian Bu. karena ia menikah dengan ayahmu setelah engkau lahir.. Di depan makam yang sudah tua itu sukar sekali digambarkan apa yang ada di benak pemuda gagah itu. Tidak perlu sedih atau kau tangisi.. Tiong Gi tinggal di Yu Liang Pay selama tiga hari.. menurunkan tengkorak dan tulang belulang yang ada di ceruk-ceruk dinding bukit pedang.. kita bisa bercengkerama. Dulu Liong Ping datang kemari sambil menggendong bayi. ”Ayah.suhu. Jalan hidupnya ditutup. seperti apakah sosokmu? Inginnya aku kembali lagi ke masa lalu. Ceruk-ceruk itupun kemudian diisi kayu-kayu dan dibakar. atau berburu rusa. Lagipula aku tidak sakit maupun keracunan.” . Jadi sampai saat ini. memancing ikan. Setelah prosesi ritual kremasi jenasah Sun Ciak Kun.. Dunia persilatan berkabung kehilangan salah satu tokohnya yang telah mengabdikan hidupnya bagi orang-orang yang sakit dan membutuhkan pertolongan. air matanya berlelehan.”Tidak perlu muridku! Nyawaku tidak akan bisa diperpanjang oleh sebuah guci. Tokoh yang dianggap sesepuh kaum pendekar. Semua orang di situ juga merasakan kesedihan yang mendalam. Tak lupa ia menziarahi makam ayahnya yang terletak bukit di belakang markas.. Sedangkan ayahmu bukanlah putra Tung Nio. iapun mengumpulkan abunya untuk kelak dibawa ke Hang Chao.. Sun Ciak Kun menutup mata untuk selama-lamanya. Aku hanya merasa lemah. mati sebagai seorang ksatria yang gagah. tak seorangpun di Yu Liang Pay ini yang tahu. aku sendiripun tidak yakin dengan she-mu anakku. Dua hari sisanya ia membantu para pendekar merobohkan benteng. Jawaban Kian Bu seolah mempertegas jawaban yang diberikan Liong Ping. Ia menanyakan banyak hal mengenai jati diri orang tuanya. bermain berdua.jangan mati dulu suhu!” ujar Tiong Gi sedih. ”Liem Bi Lian bukanlah ibumu. yang jasanya sulit dilupakan begitu saja oleh mereka yang diberi bantuan dan diayomi. bakarlah mayatku dan bawalah abuku kepada cucuku di Hang Chao. Besi inilah yang menotok jalan darah ayahmu sehingga racun yang ditelan tak bisa dimuntahkan. yang dipimpin oleh Bu Kak taisu. kalau memang ajalku datang di sini.. dan sudah saatnya tiba masa berlalunya senja kehidupanku. Satu-satunya petunjuk yang barangkali berguna untuk melacak asal usul ayahmu justru sekeping benda ini. ”Suhu. Apakah bayi itu anaknya atau bukan.

Bagaimanakah nasib Cu Hoa. Cerita ini akan dilanjutkan dengan judul yang sama pada bagian kedua nantinya.Tiong Gi menatap lekat-lekat dengan mata terbelalak melihat potongan besi di tangan Kian Bu. Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar-debar. kelak entah kisah apa yang akan dihadapinya. Selain itu juga jati diri mereka semuanya akan diungkapkan secara lebih dramatis. Tapi mungkin tidak bisa disusun dalam waktu dekat. Dulu ketika kisah ini bermula. Dan masih banyak hal yang belum terjawab seperti: 1. ia dibawa turun dan membuat cerita. tentunya kisah cinta mereka akan menjadi lebih fokus karena mereka sudah menginjak masa-masa dewasa. seperti Chien Ce. Bwee Nio. Semoga cerita yang cukup singkat ini bisa menghibur cianpwe semua. Di sisi lain pergolakan yang melibatkan urusan kekuasaan juga lebih ramai. Bagaimanakah kisah perebutan pedang? 2. Seorang ksatria telah muncul di dunia sungai telaga. Lebih dari itu. selain tokoh utama yang sering muncul. kokoh seperti batu karang. Bagaimanakah nasib Siong Lee? 3. Ksatria melangkah perlahan menuruni fan cing san Kebekuan musim dingin menjejaki langkah Ketika daun-daun siong melambai dan menari Ksatria menatap gelombang awan yang bergerak lambat Selarik kegelisahan yang mengendap Dan perjalanan esok masih akan menjadi tanya Andai burung-burung dapat bertutur Ingin rasanya ia mendengarnya Arti sebuah senyum kerinduan Ksatria tiga kali bernyanyi Lagu tentang pahlawan pembela negara Namun dibenaknya masih ada tanda tanya: Adakah kisah pahlawan tanpa darah dan air mata? Ah kenapa ia mesti bertanya TAMAT Dan sampai disini pula bagian pendahuluan kisah ini. sesosok bayangan menuruni bukit dengan langkah tegap. Sin Hwat. Dan di tempat ini juga penulis mengakhiri bagian pendahuluan dari kisah Ksatria Negeri Salju. “Tengkorak hitam???” desisnya. nona Souw Mei. Sosok yang gagah. Dalam bagian yang kedua akan dieksplorasi lebih lanjut karakterkarakter tokoh yang baru muncul sekilas saja. Bagaimana akhir perseteruan dendam kesumat antara kubu ksatria salju (Yung Ci Tianglo) dengan kubu tengkorak hitam? . Siapakah iblis bertopeng dewa Heng dan Ha (dewa penjaga kuil)? 4. namun kadang-kadang bersikap sangat dingin seperti puncak Gongga. Sekeping besi berbetuk tengkorak. apa motivasi nenek kelabang emas mengambilnya sebagai murid? 5. Pagi itu ketika matahari bersinar dengan cemerlangnya.

6. Siapakah yang mencuri kitab ilmu merak sakti 7. Dan masih banyak hal lainnya .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->